P. 1
04610024

04610024

|Views: 123|Likes:
Published by Chandra Marboen

More info:

Published by: Chandra Marboen on Nov 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/22/2015

pdf

text

original

1

PEMBERIAN PENGUATAN (REINFORCEMENT)
DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SISWA DI SMP
NEGERI 18 MALANG


SKRIPSI



Oleh :
LAILATUL LAILIYAH
04610024









JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
2008



2

PEMBERIAN PENGUATAN (REINFORCEMENT)
DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SISWA DI SMP
NEGERI 18 MALANG

SKRIPSI


Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang
untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)



Oleh:
LAILATUL LAILIYAH
04610024







JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
2008



3

PEMBERIAN PENGUATAN (REINFORCEMENT) DALAM
MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM (PAI) SISWA DI SMP NEGERI 18 MALANG

SKRIPSI




Oleh:
LAILATUL LAILIYAH
04610024





Telah disetujui
Pada Tanggal 7 April 2008
Oleh
Dosen Pembimbing



Dra. Hj. Suti’ah, M. Pd
NIP. 150 262 509




Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam




Drs. Moh. Padil, M.Pd.I
NIP. 150 267 235








4

HALAMAN PENGESAHAN

PEMBERIAN PENGUATAN (REINFORCEMENT) DALAM
MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM (PAI) SISWA DI SMP NEGERI 18 MALANG
SKRIPSI

Dipersiapkan dan disusun oleh
Lailatul Lailiyah (04610024)
telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal
22 Oktober 2008 dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan
untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam
(S.Pd.I)
pada tanggal: 22 Oktober 2008.


Panitia Ujian
Ketua Sidang Sekretaris Sidang,




Dr. Hj. Suti’ah, M. Pd Drs. H. Suaib H. Muhammad, M.Ag
NIP. 150 262 509 NIP. 150 227 505


Penguji Utama Dosen Pembimbing


Dr. Baharuddin, M. PdI Dr. Hj. Suti’ah, M. Pd
NIP. 150 215 308 NIP. 150 215 308

Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang


Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony
NIP. 150 042 031


5

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini aku persembahkan untuk yang selalu hidup dalam jiwaku :
Allah SWT Yang telah membuka hati dan fikiranku, memberiku kemudahan dan
kelancaran. Terima Kasih Ya Lathif, perjalanan ini memang sulit tapi dengan-Mu
tidak ada yang sulit dan tidak ada yang tidak mungkin.
Juga Nabi Muhammad yang syafa'atnya selalu kuharap.
Ibu tercinta (Hj. Fatimah) dan Abah (H. Moh. Toib) yang tanpa kenal lelah
memberikan kasih sayang, motivasi serta dukungan demi keberhasilan puterimu
untuk mewujudkan cita-citanya dan mencapai ridha Allah. Semoga amal Abah,
Ibu diterima dan menjadi ahli surga. Amin Ya Rabbal 'Alamin.
Saudariku (Mb’ Ani) yang memberiku motivasi, kasih sayang dan dukungan.
Adikku (Fadholih) tersayang semoga kita semua bisa menggapai cita-cita dan
selalu menjadi kebanggaan bagi orang tua kita Amiin..
Dosen Pembimbingku (Ibu Suti’ah) yang telah banyak memberikan arahan,
motivasi, serta dengan sabar dan ikhlas membimbing dalam penulisan skripsi ini.
Terima kasih aku haturkan, Ibu telah banyak memberikan pengetahuan kepadaku,
dari Ibu aku belajar untuk tidak mentolerir sekecil apapun kesalahan. Semoga
Allah menerima amal baik Ibu sehingga memperoleh kebahagiaan dunia dan
akhirat.
Seluruh civitas akademik UIN Malang khususnya fakultas Tarbiyah, terimah
kasih aku ucapkan pada Pak Juwoto, sahabat-sahabat dekatku yang telah banyak
memberikan motivasi kepadaku dan juga membuat hari-hariku begitu indah,
terima kasih atas jalinan persaudaraan yang kalian eratkan. Semoga kita bisa
sama-sama memperoleh keberhasilan dan kebahagiaan.








6

Dr. Hj. Suti’ah, M. Pd
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang
NOTA DINAS PEMBIMBING

Hal : Skripsi Lailatul Lailiyah Malang, 7 Oktober 2008
Lamp. : 4 (Empat) Eksemplar

Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang
Di
Malang
Assalamu`alaikum Wr. Wb.
Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di
bawah ini:
Nama : Lailatul Lailiyah
NIM : 04610024
Jurusan : Pendidikan Agama Islam (PAI)
Judul Skripsi : Pemeberian Penguatan (Reinforcement) Dalam
Meningkatkan Motivasi Belajar Pendidikan Agama
Islam (PAI) Pada Siswa SMP Negeri 18 Malang.
Maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
diajukan untuk diujikan.
Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
Pembimbing,

Dr. Hj. Siti’ah, M. Pd
NIP. 150 262 509



7

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan.

Malang, 7 Oktober 2008

Lailatul Lailiyah














8

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan-Nya sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan. Setelah itu, shalawat serta salam semoga tetap
tercurahkan kepada Nabi Muhammad yang telah diutus untuk membawa risalah
dan membebaskan umat Islam dari belenggu kebodohan.
Selanjutnya, penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada pihak-pihak
yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam terselesaikannya skripsi ini,
di antaranya adalah:
1. Abah dan Ibu tercinta yang selalu memberikan dukungan moril maupun
materiil selama mununtut ilmu dari awal hingga akhir.
2. Kakakku dan Adikku yang tersayang yang selalu memberikan doa dan
motivasi.
3. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku rektor UIN Malang.
4. Bapak Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony, selaku dekan Fakultas Tarbiyah
UIN Malang.
5. Bapak Drs. Moh. Padil M.PdI, selaku ketua Jurusan Pendidikan Agama
Islam.
6. Ibu Dra. Hj. Suti’ah M.Pd, selaku dosen pembimbing yang telah
mencurahkan semua pikiran dan waktunya untuk memberikan arahan
dan bimbingan bagi penulisan skripsi ini.


9

7. Bapak Drs. H.Waris Santosa, M.Pd, selaku kepala sekolah SMP Negeri
18 Malang yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk
mengadakan penelitian di sekolah yang bapak pimpin.
8. Ibu Anis Fatimatus Zahra, S.PdI dan bapak Drs. Musthafa, selaku guru
pendidikan agama Islam yang telah banyak memberikan informasi dalam
penyelesaian skripsi ini.
9. Segenap sahabat/I dan semua pihak yang telah banyak memberikan
dukungan. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan sebaik-
baik balasan, amin
Sebagai manusia yang tak pernah luput dari kesalahan, penulis menyadari
penulisan skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Karena itu penulis mengharapkan
saran dan kritik yang bersifat membangun. Semoga skripsi ini bermanfaat. Amin

Malang, 11 Oktober 2008


Penulis


10

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN .......................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................ iv
HALAMAN MOTTO ....................................................................... v
HALAMAN NOTA DINAS PEMBIMBING ................................... vi
HALAMAN PERNYATAAN ............................................................ vii
KATA PENGANTAR ....................................................................... viii
DAFTAR ISI ..................................................................................... x
DAFTAR TABEL ............................................................................. xiii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................... xv
ABSTRAK ........................................................................................ xvi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................... 6
C. Tujuan Penelitian ..................................................................... 7
D. Manfaat Penelitian ................................................................... 7
E. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................ 8
F. Batasan Istilah ......................................................................... 9
G. Sistematika Pembahasan .......................................................... 10
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Pembahasan Tentang Penguatan (reinforcement) ...................... 13
1. Pengertian Penguatan (reinforcement) ................................ 13
2. Tujuan Pemberian Penguatan (reinforcement) .................... 14


11

3. Macam-macam Pemberian Pengutan (reinforcement) ........ 15
4. Kompenen Keterampilan Memberikan
Penguatan (reinforcement) ................................................. 15
5. Prinsip-prinsip Penggunaan Penguatan (reinforcement) .... 18
B. Tinjauan Tentang Motivasi Belajar ........................................... 20
1. Pengertian Motivasi Belajar ............................................... 20
2. Teori Motivasi ................................................................... 23
3. Ciri-ciri Motivasi Belajar ................................................... 30
4. Teori Belajar ...................................................................... 34
5. Fungsi Motivasi Belajar ..................................................... 37
6. Macam-macam Motivasi Belajar........................................ 41
7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar ......................... 42
8. Bentuk-bentuk Motivasi Belajar ......................................... 46
C. Tinjauan Tentang Pendidikan Agama Isalam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam .................................. 50
2. Dasar Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam ...................... 52
3. Standar Kompetensi Lulusan Sekolah Menengah ............... 59
4. Tujuan Pendidikan Agama Islam ....................................... 61
5. Urgensi Pendidikan Agama Islam ....................................... 63
D. Hubungan Penguatan (Reinforcement) Dalam Meningkatkan
Motivasi Belajar PAI Siswa ..................................................... 66
BAB III METODE PENELITIAN
A. Desain dan Jenis Penelitian ...................................................... 68
B. Lokasi Penelitian ..................................................................... 69
C. Instrumen Penelitian ................................................................ 70
D. Sumber Data ............................................................................ 70
E. Populasi dan Sampel ................................................................ 72
F. Prosedur Pengumpulan Data .................................................... 73
G. Analisa Data ............................................................................ 76
H. Tahap-tahap Penelitian ............................................................. 78



12

BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Latar Belakang Obyek Penelitian ............................................. 80
1. Sejarah berdirinya SMP Negeri 18 Malang .......................... 80
2.Visi Misi SMP Negeri 18 Malang ......................................... 82
3. Letak Geografis SMP Negeri 18 Malang .............................. 85
B. Penyajian Data ......................................................................... 86
C. Hasil Penelitian ........................................................................ 87
BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A. Bentuk-bentuk Pemberian Penguatan (reinforcement)
dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI
pada Siswa SMP Negeri 18 Malang ......................................... 100
B. Implikasi Pemberian Penguatan (reinforcement)
dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI
pada Siswa SMP Negeri 18 Malang ......................................... 101
C. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat
Pemberian Penguatan (reinforcement) dalam
Meningkatkan Motivasi Belajar PAI pada Siswa
SMP Negeri 18 Malang............................................................ 102
BAB VI KESIMPULAN
A. Kesimpulan .............................................................................. 106
B. Saran ....................................................................................... 108
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN











13

DAFTAR TABEL



TABEL HALAMAN
4.1 DATA GURU SMP NEGERI 18 MALANG ............................... 81
4.2 DATA SISWA SMP NEGERI 18 MALANG
DALAM EMPAT TAHUN TERAKHIR (2007-2008). ............... 82
4.3 PRESTASI AKADEMIK NILAI UJIAN SEKOLAH (US) ......... 82
4.4 PENGUATAN YANG SERING DIBERIKAN OLEH
GURU PAI KEPADA SISWA .................................................... 85

4.5 PENGUATAN YANG LEBIH DISUKAI SISWA ...................... 86
4.6 RESPON SISWA KETIKA DIBERI PENGUATAN .................. 86
4.7 PEMBERIAN PENGUATAN NEGATIF BERUPA
HUKUMAN DAPAT MENINGKATKAN
MOTIVASI BELAJAR. .............................................................. 87

4.8 PERASAAN SISWA BELAJAR PAI SETELAH DIBERI
PENGUATAN ............................................................................ 89
4.9 KEAKTIFAN SISWA DIDALAM KELAS SETELAH DIBERI
PENGUATAN ............................................................................ 90
4.10 SIKAP SISWA SETELAH DIBERI PENGUATAN
DAPAT MENGERJAKAN TUGAS DENGAN TEPAT ............. 90
4.11 KEINGINAN MENCAPAI NILAI MAKSIMAL
SETELAH DIBERI PENGUATAN ............................................ 91

4.12 SIKAP SISWA TERHADAP PELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ............................................... 92

4.13 MENANYAKAN MASALAH PAI PADA GURU ..................... 97
4.14 HARAPAN SISWA BELAJAR PAI ........................................... 93
4.15 KELENGKAPAN FASILITAS PAI YANG DIMILIKI
SMP NEGERI 18 MALANG ...................................................... 94



14

4.16 ORANG TUA MENANYAKAN ULANGAN PAI ...................... 95
4.17 ORANG TUA MEMBERIKAN HADIAH/PUJIAN JIKA
NILAI PAI BAGUS ..................................................................... 95

4.18 MEMPRAKTEKAN PAI DALAM
KEHIDUPAN SEHARI-HAR ...................................................... 96

4.19 METODE YANG DIGUNAKAN GURU PAI
DALAM MENGAJAR. ................................................................ 96

4.20 PROGRAM PERLOMBAAN PAI DISEKOLAH. ....................... 97
























15

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 : Stuktur organisasi SMP Negeri 18 Malang 2007-2008

Gamabar 2 : Dena SMP Negeri 18 Malang 2008











































16

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Surat permohonan bimbingan skripsi
2. Surat izin penelitian
3. Pedoman wawancara kepada guru PAI dan siswa SMP Negeri 18 Malang
4. Pedoman observasi dan dokumentasi
5. Sruktur organisasi
6. Dena sekolah
7. Dokumentasi penelitian
8. Surat keterangan penelitian
9. Bukti konsultasi


















17

ABSTRAK
Lailiyah, Lailatul. 2008. Pemberian Penguatan (Reinforcement) Dalam
Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam di SMP Negeri 18 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam,
Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Pembimbing: Dr. Hj.
Sutiah, M. Pd.

Kata kunci : Penguatan (Reinforcement), Motivasi, Belajar PAI.


Dalam meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam di sekolah,
ada salah satu cara yang dapat diterapkan oleh pendidik yaitu dengan memberikan
penguatan (reinforcement) yang tepat kepada siswa. Dengan memberikan
penguatan, siswa merasa dihargai segala usaha dan juga prestasinya. Saat ini
sebagian besar pendidik kurang memperhatikan dalam mengambil suatu tindakan,
karena sekecil apapun tindakan guru akan membawa dampak positif dan negatif
kepada siswa. Oleh karena itu seorang pendidik haruslah bijak dan memikirkan
terlebih dahulu dalam mengambil suatu tindakan. Semakin tepat tindakan yang
diberikan akan menjadikan siswa termotivasi untuk belajar. Karena dengan belajar
akan membawa suatu perubahan pada individu yang melakukannya. Perubahan itu
tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berupa
kecakapan, keterampilan, sikap, harga diri, minat dan penyesuaian diri.
Atas dasar latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah
adalah adalah tentang bentuk-bentuk pemberian penguatan yang diberikan guru
dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang,
Implikasi pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi
belajar siswa PAI di SMP Negeri 18 Malang, Faktor-faktor yang mendukung
keberhasilan dan penghambat pemberian penguatan (reinforcement) dalam
meningkatkan motivasi siswa PAI di SMP Negeri 18 Malang.
Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah kualitatif yang bersifat
deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi,
interviuw, dokumentasi dan angket dengan menggunakan analisis dengan rumus:
P =F x100%
N
Hasil yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah
Bentuk penguatan yang sering diberikan guru dalam meningkatkan motivasi
belajar siswa adalah bentuk penguatan verbal berupa pujian, penghargaan dan
persetujuan, dan bentuk penguatan nonverbal jarang diberikan kepada siswa.
Implimentasi pemberian penguatan ini adalah a) siswa senang belajar PAI setelah
diberikan penguatan. b) Menjadikan siswa aktif dikelas. c) Dapat menyelesaikan
tugas dengan tepat. d) Serta keinginan siswa mendapatkan nilai yang maksimal.
Faktor pendukung pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan
motivasi belajar PAI, a) Minat siswa dalam belajar PAI. Minat ini bisa muncul
karena adanya kebutuhan, karena itu dikatakan bahwa minat merupakan sarana
motivasi yang pokok atau utama, b) Keinginan siswa mempelajari PAI. Hasrat


18

untuk belajar berarti ada unsur kesenjangan ada maksud dan keinginan untuk
belajar. keinginan untuk belajar pada diri siswa berarti memang ada motivasi
belajar dalam diri siswa tersebut, sehingga tentu hasilnya akan lebih baik, c)
Fasilitas yang lengkap, d) perhatian orang tua. Sedangkan faktor penghambat dari
pemberian penguatan (reinforcement) adalah a) Masih adanya siswa yang belum
mempraktekkan pelajaran PAI dalam kehidupan sehari-hari, b) Metode yang
digunakan guru PAI kurang bervariasi. c) Kurang adanya program kompetisi PAI
disekolah. Kompetisi dapat dijadikan sebagai sarana motivasi untuk mendorong
belajar siswa.

Berdasarkan hasil penelitian diatas penulis memberikan saran sebagai
berikut: Hendaknya pemberian penguatan (reinforcement) kapada siswa perlu
diperhatikan, salah satunya yaitu sering diadakan program kompetisi atau
perlombaan PAI disekolah. Dan memvariasi metode pengajaran serta orang tua
siswa lebih memperhatikan lagi kepada anaknya agar siswa dapat mempraktekkan
pelajaran PAI dalam kehidupan sehari-hari.


















19

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang mempunyai
kemampuan untuk beragama. dalam perkembangannya ia memerlukan
bimbingan agar bisa mengembangkan dirinya secara optimal. Salah satu
bantuan dan bimbingan yang dibutuhkan adalah melalui proses pendidikan
agama Islam.
Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam mengantisipasi
masa depan, karena pendidikan selalu diorientasikan pada penyiapan generasi
mendatang yaitu peserta didik untuk memenuhi kebutuhan manusia. Hal ini
sejalan dengan apa yang diamanatkan oleh pemerintah yang tertulis di tujuan
Pendidikan Nasional yaitu mengembangkan manusia Indonesia sesuai dengan
fitrahnya untuk menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, demokratis, menjunjung tinggi hak asasi
manusia, menguasai ilmu pengetahuan teknologi dan seni, memiliki kesehatan
jasmani dan rohani, memiliki keterampilan hidup yang berharkat dan
bermanfaat, memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri serta memiliki
tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan agar mampu mewujudkan
kehidupan bangsa yang cerdas.
1


1
Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
(Bandung:Citra Umbara, 2003), hlm. 7


20

Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan adalah
usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi
pembawaan, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada
dalam masyarakat dan kebudayaan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk
menanamkan nilai-nilai dan norma-norma tersebut, serta mewariskannya
kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan dalam hidup dan kehidupan
yang terjadi dalam suatu proses pendidikan. Karena itu, bagaimana pun
peradaban suatu masyarakat, didalamnya berlangsung dan terjadi suatu proses
pendidikan sebagai usaha manusia untuk melestarikan hidupnya.
2

Dengan pendidikan akan mampu mengembangkan diri anak kearah
kedewasaan. Karena pendidikan itu sendiri adalah usaha secara sengaja dari
orang dewasa (orang tua atau orang yang atas dasar tugas dan kedudukanya
mempunyai kewajiban untuk mendidik, seperti guru, kiai, dan pendeta dalam
lingkup keagamaan dan lain-lain) dengan pengaruhnya meningkatkan si anak
kearah kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung
jawab moril dari perbuatan anak.
3

Melalui pendidikan, manusia juga bisa belajar melalui pengalaman dan
latihan untuk mengembangkan dirinya menjadi mahluk yang semakin dewasa,
baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik, sebagaimana dikemukakan
oleh Chaplin dalam dictionary of psychology. Bahwa belajar adalah perubahan
tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman.

2
Djumransyah, Filsafat Pendidikan (Malang:Bayumedia Publishing, 2004), hlm. 22.
3
Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan (Suatu Pendekatan Baru). (Bandung: PT
Rosdakarya, 1995), hlm. 11


21

belajar juga merupakan proses memperoleh respon-respon sebagai akibat
adanya latihan khusus.
4

Sedangkan pendidikan Islam adalah pendidikan individual dan
masyarakat, karena dalam ajaran agama Islam berisi tentang sikap dan tingkah
laku pribadi masyarakat, menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama
serta lebih banyak menekankan kepada kebaikan sikap mental yang akan
terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan sendiri maupun orang
lain.
5

Sehingga perubahan tingkah laku atau keterampilan pada seseorang
dengan serangkaian kegiatan seperti membaca, mengamati, mendengarkan,
meniru dan lain sebagainya. Jadi belajar akan membawah suatu perubahan
individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan
penambahan ilmu pengetahuan. Tetapi juga berbentuk kecakapan,
keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak dan penyesuaian diri.
Dengan kata lain belajar adalah rangkaian jiwa raga, psiko-fisik untuk menuju
perkembangan pribadi manusia seutuhnya yang berarti menyangkut unsur
cipta, rasa, karsa, ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
Atas dasar itu seorang pendidik haruslah bijak dalam mengambil
tindakan, karena sekecil apapun tindakan guru nantinya akan menimbulkan
dampak positif dan negatif pada siswa. Harus dipikirkan bagaimana
membentuk kepribadian siswa menjadi baik sesuai dengan tujuan pendidikan
dan terbentuknya kepribadian siswa baik.

4
Ibid., hlm. 90
5
Zakiah Darajat, dkk. Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara dan Depag, 1996),
hlm. 28


22

Untuk mengatasi masalah tersebut dan juga seorang pendidik
menginginkan kesuksesan dalam pendidikan dan pengajaran, disamping
ditentukan oleh kecakapan guru, dalam menggunakan sarana pendidikan dan
pengajaran serta kegiatan yang relevan dengan kebutuhan siswa, serta
ditentukan oleh bagaimana cara guru dalam memotivasi dan membimbing
siswa kearah belajar yang lebih baik. Dengan demikian dalam kegiatan belajar
mengajar guru harus bisa memotivator kepada peserta didiknya, agar mereka
senantiasa semangat dan giat dalam belajar. Dan diharapkan proses
pembelajaran pendidikan agama Islam dapat berhasil dan tujuan pendidikan
dapat tercapai.
Untuk mencapai tujuan tersebut guru juga perlu memahami latar
belakang yang mempengaruhi belajar siswa sehingga guru dapat memberikan
motivasi yang tepat kepada peserta didik. Apabila motivasi dapat ditimbulkan
dalam proses belajar mengajar, maka hasil belajar akan menjadi optimal,
makin tepat motivasi yang diberikan makin tinggi pula keberhasilan
pembelajaran itu, motivasi senantiasa menentukan intensitas usaha belajar
siswa, sehubungan dengan hal tersebut, motivasi merupakan hal yang sangat
penting dalam belajar. Namun ada cara lain yang bisa diterapkan selain
memberikan motivasi yaitu dengan memberikan penguatan (reinforcement)
kepada siswa, karena dengan memberikan penguatan siswa merasa dihargai
segala prestasi dan juga usahanya.
Penguatan (reinforcement) yang merupakan bagian dari modivikasi
tingkah laku siswa yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan


23

balik (Feet back) bagi si penerima (siswa) atas pembuatannya sebagai suatu
tindakan dorongan ataupun koreksi.
6

Penguatan (reinforcement) adalah respon terhadap sesuatu prilaku
yang dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali prilaku tersebut.
Penguatan dapat dilakukan secara verbal dan nonverbal, dengan prinsip
kehangatan, keantusiasan, kebermaknaan dan menghindari respon yang
negatif. Penguatan dapat ditujukan kepada pribadi tertentu, dan kepada kelas
secara keseluruhan. Dalam pelaksanaannya penguatan harus dilakukan dengan
segera dan juga bervariasi.
7

Penguatan merupakan salah satu sarana motivasi yang sangat pokok,
dalam proses belajar mengajar pemberian penguatan reinforcement (seperti
pemberian penghargaan, atau pujian terhadap perbuatan yang baik dari siswa)
merupakan hal yang sangat diperlukan sehingga dengan penguatan tersebut
diharapkan siswa akan terus berusaha berbuat yang lebih baik. Misalnya guru
tersenyum atau mengucapkan kata-kata “Bagus” kepada siswa yang dapat
mengerjakan pekerjaan rumah yang baik akan besar pengaruhnya terhadap
siswa, siswa tersebut akan merasa puas dan merasa diterimah atas hasil yang
telah dicapainya dan siswa lain diharapkan akan berbuat seperti itu.
Untuk itu dengan diberikannya penguatan (reinforcement) kepada
siswa dapat meningkat motivasi belajar, karena motivasi dan penguatan
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sebab berhasil tidaknya

6
Ibid., hlm. 91
7
Mulyasa, Menjadi Guru Profesional (Menciptakan pembelajaran kreatif dan
menyenangkan) ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 77-78


24

suatu proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh adanya motivasi belajar
siswa .
SMP Negeri 18 Malang merupakan salah satu lembaga yang guru
pendidikan agama Islamnya menggunakan penguatan (reinforcement) sebagai
suatu cara untuk meningkatkan motivasi belajar. Dan tentunya guru PAI
mempunyai cara tersendiri bagaimana penguatan yang diberikan tersebut
dapat direspon siswa dengan baik sehingga dapat meningkatkan motivasi
belajarnya. Maka dengan hal ini peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam
terhadap masalah tersebut dan mengadakan penelitian dilokasi ini sesuai judul
yang diambil peneliti yaitu Pemberian Penguatan (reinforcement) dalam
Meningkatkan Motivasi Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) di Siswa
SMP Negeri 18 Malang

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas, maka dapatlah dirumuskan masalah
sebagai berikut:
1. Apa saja bentuk-bentuk pemberian penguatan (reinforcement) dalam
meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam (PAI) siswa di
SMP Negeri 18 Malang?
2. Bagaimana implikasi pemberian penguatan (reinforcement) terhadap
meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam (PAI) siswa di
SMP Negeri 18 Malang?


25

3. Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan dan penghambat pemberian
penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar
pendidikan agama Islam (PAI) siswa di SMP Negeri 18 Malang?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan titik akhir dari suatu tindakan atau
kegiatan seseorang yang ingin dicapainya, begitu juga dalam penelitian ini
mempunyai tujuan yang hendak dicapai antara lain:
1. Untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk pemberian penguatan
(reinforcement) yang dapat meningkatkan motivasi belajar pendidikan
agama Islam di siswa SMP Negeri18 Malang.
2. Untuk mendeskripsikan implikasi pemberian penguatan (reinforcement)
dalam meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam siswa di
SMP Negeri 18 Malang
3. Untuk mendiskripsikan faktor-faktor yang mendukung keberhasilan dan
penghambat pemberian penguatan dalam meningkatkan motivasi belajar
pendidikan agama Islam siswa di SMP Negeri 18 Malang.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak:
1. Praktisi
a. Sekolah
Menjadi masukan bagi lembaga tentang pentingnya pemberian
penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar siswa
khususnya dalam pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI).


26

b. Bagi Guru
Sebagai bahan pertimbangan bagi guru-guru PAI untuk menerapkan
penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar
pendidikan agama Islam siswa.
c. Bagi Siswa
Pemberian penguatan (reinforcement) dapat meningkatkan motivasi
belajar dan juga prestasi siswa khususnya mata pelajaran pendidikan
agama Islama.
2. Bagi Penulis
a. Memberikan wawasan dan pengalaman praktis dibidang penelitian.
Selain hasil penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai bekal untuk
menjadi tenaga pendidik yang profesional.
D. Ruang Lingkup Penelitian
1. Penelitian ini dibatasi pada upaya guru dalam memberikan bentuk-
bentuk pemberian penguatan (reinforcement) verbal maupun non
verbal yang diberikan guru pendidikan agama Islam dalam
meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di kelas VII A SMP Negeri
18 Malang, meliputi:
a. Bentuk penguatan verbal (kata-kata pujian, penghargaan,
persetujuan)
b. Bentuk penguatan non verbal (anggukan, senyuman, acungan
jempol, pendekatan, sentuhan dan hadiah)


27

2. Implikasi pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan
motivasi belajar pendidikan agama Islam siswa pada kelas VII A SMP
Negeri 18 Malang, meliputi:
1. Motivasi Intrinsik: - Senang belajar PAI
- Aktif dikelas
2. Motivasi Ektrinsik: - Mengerjakan tugas dengan baik
- Ingin mendapat nilai tuntas mencapai
KKM PAI
3. Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan dan penghambat pemberian
penguatan (Reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar
pendidikan agama Islam (PAI) siswa di SMP Negeri 18 Malang, meliputi:
b. Faktor intern (kesiapan siswa mendapat nilai tertinggi, kebutuhan
siswa dalam menjalankan nilai-nilai agama).
c. Faktor ekstern (kondisi lingkungan siswa, upaya guru dalam
pembelajaran).
E. Penjelasan Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman penafsiran judul dalam penelitian
ini, maka peneliti akan memberikan penjelasan dan penegasan istilah, sebagai
berikut:






28

1. Motivasi adalah dorongan atau daya penggerak yang dapat
membangkitkan atau mendorong seseorang untuk melakukan suatu
tindakan dalam rangka mencapai tujuan.
8

2. Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respon, apakah bersifat
verbal ataupun nonverbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah
laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan
informasi atau umpan balik (feet back) bagi sipenerima (siswa) atas
perbuatannya sebagai suatu tindakan dorongan ataupun koreksi.
9

3. Belajar adalah sebagai suatu proses dimana suatu organisma berubah
perilakunya sebagi akibat dari pengalaman.
10

4. Pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh
peserta didik agar senantiasa dapat memahami agama Islam seluruhnya.
Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta
menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.
11

F. Sistematika Penelitian
Dalam membahas suatu permasalahan harus didasari oleh kerangka
berfikir yang jelas dan teratur. Suatu masalah harus disajikan menurut urutan-
urutannya, mendahulukan sesuatu yang harus didahulukan dan mengakhirkan
sesuatu yang harus diahirkan dan seterusnya. Karena itu harus ada sistematika

8
Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo,
1992) hlm. 173
9
Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001), hlm.
80
10
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pambelajaran (untuk membantu memecahkan
problematika belajar dan mengaja ), ( Bandung: Alfabeta, 2007) hlm. 13
11
Abdu Majid & Dian Andatani. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Konsep
Implementasi Kurikulum 2004) (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 130-131



29

pembahasan sebagai kerangka yang dijadikan acuan dalam berfikir secara
sistematis. Adapun sistematika pembahasan dalam skripsi ini adalah sebagai
berikut:
Sebelum membahas bab pertama terlebih dahulu diawali dengan
halaman judul, halaman pengajuan, halaman persetujuan, halaman pengesaha,
halaman motto, halaman persembahan, halaman kata pengantar, halaman
daftar isi, halaman daftar tabel, halaman daftar lampiran, halaman abstrak.
Untuk memberikan gambaran mengenai isi penelitian laporan penelitian ini
maka sistematika pembahasannya disusun sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan,
Berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, teknik data dan sistematika.
BAB II Kajian Pustaka,
Berisi tentang pengertian tujuan PAI, dasar-dasar pelaksanaan PAI,
kompetensi lulusan sekolah menengah, tujuan pendidikan agama
Islam (PAI), urgensi pendidikan agama Islam (PAI), motivasi belajar,
teori motivasi, karakteristik motivasi, teori belajar, fungsi motivasi
belajar, macam-macam motivasi belajar, faktor-faktor yang
mempengaruhi motivasi belajar siswa, bentuk-bentuk motivasi belajar,
pengertian penguatan, tujuan penguatan (reinforcement), macam-
macam pemberian penguatan (reinforcement), kompenen keterampilan
memberikan penguatan (reinforcement), macam-macam pemberian
penguatan, prinsip-prinsip penggunaan penguatan.


30

BAB III Metode Penelitian
Berisi tentang pendekatan penelitian, lokasi penelitian, kehadiran
peneliti, dan sumber data, prosedur pengumpulan data dan teknik
analisis data, pengecekan keabsahan data, tahap-tahap penelitian.
BAB IV Hasil Penelitian dan Analisis
Pada bab ini penulis memaparkan hasil penelitian dan analisis data
berkaitan dengan pemberian penguatan dalam meningkatkan motivasi
belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang.
BAB V Penutup
merupakan bab terakhir yang berisikan tentang kesimpulan dari semua
isi atau hasil penelitian ini. Dalam bab ini, juga dikemukakan beberapa
saran yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan




















31

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pembahasan Tentang Penguatan (Reinforcement)
1. Pengertian Penguatan (Reinforcement)
Menurut Soemanto yang dimaksud dengan pemberian penguatan
(reinforcement) adalah suatu respon positif dari guru kepada siswa yang telah
melakukan suatu perbuatan yang baik atau berprestasi. Pemberian penguatan
(reinforcement) ini dilakukan oleh guru dengan tujuan agar siswa dapat lebih
giat berpartisipasi dalam interaksi belajar mengajar dan mengajar dan siswa
agar mengulangi lagi perbuatan yang baik itu.
12

Dalam proses belajar mengajar, penghargaan atau pujian terhadap
perbuatan yang baik dari siswa merupakan hal sangat diperlukan sehingga
siswa terus berusaha berbuat lebih baik misalnya guru tersenyum atau
mengucapkan kata-kata bagus kepada siswa yang dapat mengerjakan
pekerjaan rumah yang baik akan besar pengaruhnya terhadap siswa. Siswa
tersebut akan merasa puas dan merasa diterima atas hasil yang dicapai, dan
siswa lain diharapkan akan berbuat seperti itu.
Menurut Moh. Uzer Usman Penguatan (Reinforcement) adalah segala
bentuk respon, apakah bersifat verbal ataupun nonverbal, yang merupakan
bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang
bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feet back) bagi

12
Wasty Soemanto, op.cit.,hlm. 95


32

sipenerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindakan dorongan
ataupun koreksi. Penguatan dikatakan juga sebagai respon terhadap tingkah
laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya tingkah laku
tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengganjar atau
membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi untuk interaksi
dalam belajar mengajar.
13

2. Tujuan Pemberian Penguatan
Menurut Mulyasa ada tiga tujuan pemberian penguatan yaitu:
a) Meningkatkan perhatian siswa terhadap pembelajaran.
b) Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar.
c) Meningkatkan kegiatan belajar dan membina prilaku laku yang
produktif.
14

Sedangkan menurut J.J Hasibuan dan Moedjiono ada enam tujuan
pemberian penguatan yaitu:
1. Meningkatkan perhatian siswa terhadap pembelajarn.
2. Melancarkan atau memudahkan proses belajar.
3. Mengontrol atau mengubah sikap yang mengganggu kearah tingkah laku
belajar yang produktif.
4. Mengembangkan dan mengatur diri sendiri dalam belajar.
5. Mengarahkan kepada cara berfikir yang baik atau divergen dan inisiatif
sendiri.
15


13
Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001), hlm.
80
14
Mulyasa, Menjadi Guru Profesional (Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan), (Bandung PT Remajakarya, 2008), hlm. 78


33

3. Macam-macam Penguatan
Menurut Uzer usman mengemukakan dua macam pemberian
penguatan, yaitu verbal dan non verbal. Kedua macam pengutan tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Penguatan verbal
Penguatan ini biasanya diungkapkan dengan menggunakan kata-kata
pujian, penghargaan, persetujuan dan sebagainya.
2. Penguatan nonverbal
Pengutan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
a) Penguatan gerak isyarat, misalnya anggukan, senyuman, acungan
jempol wajah cerah dan masih banyak yang lainya.
b) Penguatan pendekatan.
c) Penguatan dengan sentuhan.
4. Kompenen Keterampilan Memberikan Penguatan
Beberapa kompenen yang perlu dipahami yang dilakukan oleh guru
agara ia dapat memberikan penguatan secara bijaksana dan sistematis adalah:
a. Penguatan Verbal
Komentar guru berupa kata-kata pujian, dukungan, pengakuan dapat
digunakan untuk penguatan tingkah laku dan kinerja siswa. Komentar
demikian merupakan balikan yang diberikan guru atas kinerja ataupun prilaku
siswa.


15
J.J. Hasibuan dan Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Rosdakarya,
2008), hlm. 58


34

Penguatan verbal dapat dinyatakan dalam dua bentuk, yakni:
1. Kata-kata, seperti: bagus, ya, tepat, betul, bagus sekali, dan sebagainya.
2. Kalimat, seperti: pekerjaanmu bagus sekali, caramu memberi penjelasan
bagus sekali dan sebagainya.
b. Penguatan berupa mimik muka dan gerakan badan (gestural)
Penguatan berupa gerak badan dan mimik muka antara lain: senyuman,
anggukan kepala, acungan ibu jari, tepuk tangan dan sebagainya, seringkali
digunakan bersamaan dengan penguatan verbal. Verbal “pekerjaanmu baik
sekali”, pada saat itu guru menganggukkan kepalanya.
c. Penguatan dengan cara mendekati anak
Siswa didekati oleh guru pada saat mengerjakan soal dapat terkesan
diperhatikan. Keadaan ini dapat menghangatkan suasana belajar anak, yang
gilirannya dapat meningkatkan motivasi. Kesan akrab juga dapat timbul
dengan cara ini, akibatnya anak tidak merasa dibebani tugas. Beberapa prilaku
yang dapat dilakukan oleh guru dalam memberikan penguatan ini antara lain:
berdiri, disamping siswa, berjalan menuju siswa, duduk dekat dengan siswa
atau kelompok siswa, berjalan di sisi siswa dan sebagainya.
d. Penguatan dengan sentuhan
Teknik ini penggunaannya perlu menggunakan pertimbangan latar
belakang anak, umur, jenis kelamin, serta latar belakang kebudayaan setempat.
Dalam penggunaan penguatan ini, beberapa prilaku yang dapat dilakukan guru
antara lain: menepuk pundak atau bahu siswa, serta menjabat tangan siswa,


35

mengelus rambut siswa, atau mengangkat tangan siswa yang mengang dalam
pertandingan.
e. Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan
Motivasi belajar anak dipengaruhi pula oleh apakah kegiatan belajar
yang dilaksanakan tersebut menyenangkan dirinya atau tidak. Bentuk kegiatan
belajar yang disenangi anak dapat mempertinggi intensitas belajarnya,
sehingga apabila bentuk kegiatan belajar yang harus dilaksanakan tersebut
disukai, akibatnya anak tidak ada gairah untuk belajar.
Untuk menguatkan gairah belajar, guru dapat memiliki kegiatan-
kegiatan belajar yang disukai anak. Oleh karena itu tiap-tiap anak memiliki
kesukaran masing-masing, maka guru perlu menyediakan berbagai alternatif
pilihan yang sesuai dengan kesukaan masing-masing siswa. Dengan demikian
alternatif kegiatan belajar yang sesuai dengan kesukaannya tersebut, sekaligus
kegiatan itu merupakan penguatan bagi anak.
f. Penguatan berupa simbol atau benda
Jenis simbol atau benda yang diberikan diselaraskan dengan usia
perkembangan anak. Untuk anak tingkat dasar, berbeda dengan anak usia
sekolah lanjutan. Anak SMA yang berprestasi diberikan penghargaan berupa
pensil, tentunya kurang relevan. Penguatan yang berupa simbol atau benda ini
dapat berupa piagam penghargaan, benda-benda yang berupa alat tulis dan
buku, dapat pula berupa komentar tertulis pada buku anak.
16


16
Siti kusrini, dkk, Keterampilan Dasar Mengajar (PPl 1) Berorientasi Pada Kurikulum
Berbasis Kompetensi (Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 2007), hlm. 107-111


36

Jika anak memberikan jawaban yang hanya sebagian saja benar, guru
hendaknya tidak langsung menyalahkan siswa. Dalam keadaan seperti ini guru
sebaiknya menggunakan atau memberikan penguatan tak penuh (partial),
seumpama, bila seorang siswa yang hanya memberi jawaban sebagian benar,
sebaiknya guru menyatakan, “Ya, jawabanmu sudah baik, tetapi masih perlu
disempurnakan,” sehingga siswa tersebut mengetahui bahwa jawabannya tidak
seluruhnya salah, dan ia mendapat dorongan untuk menyempurnakannya.
17

5. Prinsip-prinsip Penggunaan Penguatan
Walaupun pemberian penguatan (reinforcement) sifatnya sederhana
dalam pelaksanaannya, namun dapat pula pemberian penguatan
(reinforcement) yang diberikan pada siswa enggan belajar, karena penguatan
yang diberikan tidak sesuai dengan yang dikehendaki siswa. Dalam pemberian
penguatan (reinforcement) yang penting harus sesuai dengan tindakan yang
dilakukan oleh siswa tersebut, pemberian penguatan yang berlebihan akan
berakibat fatal. Untuk itu maka guru harus memperhatikan prinsip-prinsip
dalam pemberian penguatan.
Ada beberapa cara pengguanaan penguataan yang perlu diperhatikan.
a. Penguatan pada pribadi tertentu
Penguatan harus jelas ditujukan kepada siswa tertentu. Oleh karena itu
pandangan guru harus tegas diarahkan kepada anak yang memperoleh
penguatan serta diusahakan menyebutkan nama anak yang mendapatkan
penguatan serta memandangnya.

17
Moh. Uzer Usman, op.cit., hlm. 82


37

b. Penguatan kepada kelompok
Penguatan dapat juga diberikan kepada sekelompok siswa, misalnya
jika satu tugas telah dilaksanakan dengan baik oleh satu kelas, guru dapat
mengizinkan kelas tersebut untuk bermain basket yang memang menjadi
kegemaran mereka.
c. Penguatan yang tidak penuh
Sering didapat jawaban anak yang diberikan anak atas pertanyaan guru
sedikit mengandung kebenaran. Untuk itu penguatan yang digunakan tentu
penguatan tidak penuh. Teknik ini dapat dilakukan dengan mengatakan
“jawabanmu ada benarnya, dan lebih sempurna dirinci secara
sistematis”. Tentang bagaimana teknik mengatakan tergantung kontek dan
keadaan jawaban anak. Prinsip dalam penguatan tidak penuh adalah
pengakuan guru atas jawaban yang sebagian jawaban yang salah.
d. Variasi Penggunaan
Untuk menghindari ketidak bermaknaan, guru dapat menggunakan
secara bervariasi. Penggunaan penguatan yang monoton dapat menjadi
bahan tertawaan anak. Bahkan anak-anak ikut serta memberikan
penguatan apabila teman lain menjawab dengan benar. Untuk menghindari
lunturnya makna penguatan dan kemungkinan terjadi bahan tertawaan
anak, guru dapat memvariasikan penggunaannya. Dan lebih penting untuk
itu adalah menerapkan prinsip-prinsip penggunaannya secara matang.




38

1. Kehangatan dan keantusiasan
Sikap dan gerak guru, termasuk suara, mimik, dan gerak badan akan
menunjukkan adanya kehangatan dan keantusiasan dalam memberikan
penguatan.
2. Kebermaknaan
Penguatan hendaknya diberikan sesuai dengan tingkah laku dan
penampilan siswa sehingga ia mengerti dan yakin bahwa ia patut diberi
penguatan.
3. Menghindari penggunaan respons yang negatif
Respon negatif yang diberikan oleh guru terhadap siswa akan
mematahkan semangat siswa dalam mengembangkan dirinya.
18

Sedangkan menurut Moh. Uzer Usman ada tiga prinsip dalam
penggunaan penguatan, yaitu kehangatan dan kantusiasan, kebermaknaan, dan
menghindari respon negatif. Namun selain selain ketiga prinsip tersebut Uzer
Usman juga menambahkan empat cara menggunakan penguatan dengan
segera, dan variasi dalam penggunaannya.
19

B. Tinjauan Tentang Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi Belajar.
Motivasi belajar terdiri dari dua kata yang mempunyai pengertian
sendiri-sendiri yaitu motivasi dan belajar, namun dalam pembahasan ini dua
kata yang berbeda tersebut saling berhubungan membentuk satu arti. Untuk
lebih jelasnya penulis akan memaparkan pengertian dua kata tersebut.

18
Ibid., hlm. 81-82
19
Uzer Usman, op.cit.,hlm. 82


39

Motivasi berasal dari dari kata motif, kata motif diartikan sebagai
upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat
dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan didalam subyek untuk
melakuakan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Berawal
dari kata motif itu maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang
telah menjadi aktif.
20

Motivasi merupakan segala tenaga yang dapat membangkitkan atau
mendorong seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Jadi secara etimologi
motivasi adalah dorongan atau daya penggerak yang dapat membangkitkan
atau mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan dalam rangka
mencapai tujuan.
Secara terminologi, banyak para ahli yang memberikan batasan tentang
pengertian motivasi antara lain sebagai berikut:
1) Mc. Donald mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu perubahan
energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afetif
dan reaksi untuk mencapai tujuan.
21


2) Clifford T. Morgan menjelaskan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal
yang sekaligus merupakan aspek-aspek dari motivasi yaitu keadaan yang
mendorong (motivating states), tingkah laku yang didorong oleh keadaan
tersebut (motivated behavior), dan tujuan dari tingkah laku tersebut (goals
or end such behavior).

3) James O. Whittaker, memberikan pengertian tentang motivasi sebagai
kondisi atau keadaan yang mengaktifkan atau memberi dorongan kepada
makhluk untuk bertingkah laku mencapai tujuan yang ditimbulkan oleh
motivasi.
22


20
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada ,
2007), hlm. 73
21
Oemar Hamalik, op.cit., hlm. 173
22
Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 205-206


40

Sedangkan pengertian belajar dapat didefinisikan menurut beberapa para
ahli sebagai berikut:
1) HC. Witherington memberi batasan belajar adalah perubahan di dalam
kepribadian yang menyatukan sebagai suatu pola baru dari reaksi yang
berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.

2) Morgan mengemukakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang
relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari
latihan atau pengalaman.
23


3) Lester D. Crow mengemukakan belajar adalah upaya untuk memperoleh
kebiasaan-kebiasaan, pengeahuan dan sikap-sikap.


4) Menurut Syamsudin Makmun (2003: 159) yang dimaksud dengan
perubahan dalam konteks belajar itu dapat bersifat fungsional atau
struktural, material, dan behavioral, serta keseluruhan pribadi.

Beberapa uraian diatas tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah perubahan tingkah laku individu baik fisik (jasmani) maupun psikis
(rohani) yang relatif menetap, serta perubahan tersebut terjadi setelah melalui
pengalaman dan latihan serta interaksi dengan lingkungan yang telibat proses
kognitif.
Dari pengertian motivasi dan belajar yang dikemukakan di atas, dapat
diambil kesimpulan bahwa motivasi belajar adalah totalitas daya penggerak
psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar dan memberi arah
pada kegiatan belajar untuk mencapai tujuan.
Dalam hal ini Sardiman mengemukakan bahwa dalam kegiatan belajar
motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri

23
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Rosdakarya, 2002), hlm. 84


41

siswa yang menimbulkan kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki
oleh subjek belajar dapat tercapai.
24

Sehingga perubahan prilaku dalam belajar relatif permanen. Dengan
demikian hasil belajar dapat diidentifikasikan dari adanya kemampuan
melakukan sesuatu secara permanen, dapat diulang-ulang dengan hasil yang
sama. Bisa membedakan antara perubahan prilaku hasil belajar dengan yang
terjadi secara kebetulan. Orang kebetulan dapat melakukan sesuatu, tentu tidak
dapat mengulang perbuatan itu dengan hasil yang sama. Sedangkan sesuatu
karena hasil belajar dapat melakukannya secara berulang-ulang dengan hasil
yang sama.
25

Beberapa uraian diatas dapat dipahami bahwa motivasi belajar
memegang peranan penting, sebab motivasi akan memberikan gairah atau
semangat seseorang (siswa) dalam belajar sehingga siswa akan memiliki
energi yang banyak untuk melakukan kegiatan belajar demi mencapai tujuan.
2. Teori Motivasi
Beberapa teori motivasi yang akan dibicarakan pada bab ini, yakni
terdapat lima teori: teori hedonisme, teori naluri, teori reaksi yang dipelajari,
teori daya pendorong dan teori kebutuhan. Adapun rinciannya sebagai berikut:
a. Teori Hedonisme
Hedone adalah bahasa Yunani yang berarti kesukaan, kesenangan atau
kenikmatan. Hedonisme adalah suatu aliran didalam filsafat yang
memandang bahwa tujuan hidup yang utama pada manusia adalah mencari

24
Ngalim Purwanto, op. cit., hlm. 73
25
Muhammad Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2004), hlm. 14-15


42

kesenangan (hedone) yang bersifat duniawi. Menurut pandangan
hedonisme, manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang mementingkan
kehidupan yang penuh kesenangan dan kenikmatan. Oleh karena itu setiap
persoalan yang perlu pemecahan, manusia cenderung memilih alternatif
pemecahan yang dapat mendatangkan kesenangan dari pada yang
mengakibatkan kesukaran, kesulitan, penderitaan dan sebagainya.
26

b. Teori Naluri
Pada dasarnya manusia memiliki tiga golongan nafsu pokok yaitu: 1)
Dorongan nafsu (naluri) mempertahankan diri. 2) Dorongan nafsu (naluri)
mengembangkan diri. 3) Dorongan nafsu (naluri) mengembangkan atau
mempertahankan jenis. Dengan demikian ketika naluri pokok itu, maka
kebiasaan-kebiasaan apapun tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia
yang diperbuatnya sehari-hari dorongan atau gerakan oleh ketiga naluri.
Oleh karena itu, menurut teori ini untuk memotivasi seseorangan harus
berdasarkan naluri mana yang akan dituju dan perlu dukembangkan.
Seringkali kita temukan seseorang bertindak melakukan sesuatu
karena didorong oleh lebih dari naluri pokok sekaligus sehingga sukar bagi
kita untuk menentukan naluri pokok mana yang lebih dominan mendorong
orang tersebut melakukan tindakan yang demikian itu. Sebagai contoh:
lauknya dan dapat memahami pula mengapa ia bereaksi dan bersikap yang
mungkin berbeda dengan orang lain dalam menghadapi suatu masalah.
27



26
Ngalim Purwanto, op. cit., hlm. 74
27
Ibid., hlm. 76


43

c. Teori Daya Pendorong
Teori ini merupakan perpanduan antara “teori naluri” dengan “teori
reaksi yang dipelajari”. Daya pendorong adalah semacam naluri, tetapi
hanya suatu dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum.
Misalnya suatu daya pendorong pada jenis kelamin yang lain. Namun,
cara-cara yang digunakan dalam mengejar kepuasan terhadap daya
pendorong tersebut berlain-lainan bagi tiap individu menurut latar
belakang kebudayaan masing-masing, oleh karena itu, menurut teori ini,
bila seorang pemimpin atau seorang pendidik ingin memotivasi anak
buahnya, ia harus mendasarkannya atas daya pendorong yaitu atas naluri
dan reaksi yang dipelajari dari kebudayaan lingkungan yang dimilikinya.
d. Teori kebutuhan
Teori motivasi yang sering banyak dianut orang-orang adalah teori
kebutuhan. Teori ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh
manusia pada hakikatnya adalah untuk kebutuhannya, baik kebutuhan fisik
maupun kebutuhan psikis. Oleh karena itu, menurut teori ini, apabila
seorang pemimpin atau pendidik bermaksud memberikan motivasi kepada
seseorang, ia berusaha terlebih dahulu apa kebutuhan-kebutuhan orang
yang akan memotivasinya.
Sejalan dengan itu pula terdapat adanya beberapa teori kebutuhan yang
sangat erat berkaitan dengan kegiatan motivasi. Berikut ini dibicarakan
salah satu dari teori kebutuhan yang dimaksud. Maslow mengemukakan
adanya lima tingkat kebutuhan pokok inilah yang kemudian dijadikan


44

pengertian kunci dalam mempelajari motivasi manusia. Adapun kelima
tingkat kebutuhan pokok yang dimaksud dapat dilihat pada gambar
berikut:


Aktualisasi diri
(Self Actualization)

Kebutuhan Penghargaan
(Esteem Needs)


Kebutuhan Sosial
(social needs

Kebutuhan Rasa Aman
Dan Rasa Perlindungan
(Safety and Security Needs)


Kebutuhan Fisiologis
(physiological Needs)

Keterangan:
1) Kebutuhan fisiologis: kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar, yang
bersifat primer dan fital yang menyangkut fungsi-fungsi biologis dasar
dari organisme manusia seperti kebutuhan akan pangan, sandang dan
papan, kesehatan fisik, kebutuhan seks dan sebagainya.
2) Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (safety and security) seperti
terjamin rasa keamanannya, terlindung dari bahaya dan ancaman penyakit,
perang, kemiskinan, kelaparan, perlakuan tidak adil dan sebagainya.
3) Kebutuhan sosial (social needs) yang meliputi antara lain kebutuhan akan
dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok,
rasa setia kawan, kerja sama.


45

4) Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), termasuk kebutuhan dihargai
karena prestasi, kemampuan, kedudukan atau status, pangkat dan
sebagainya.
5) Kebutuhan akan aktualisasi diri (self acualization), seperti: kebutuhan
mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki, pengembangan diri secara
maksimum, kratifitas dan ekspresi diri.
Tingkat atau hirarki dari Maslow tidak dimaksud sebagai suatu
kerangka yang dapat dipakai setiap saat, tetapi lebih merupakan kerangka
acuan yang dapat digunakan sewaktu-waktu bila mana diperlukan untuk
memperkirakan tingkat kebutuhan mana yang mendorong seseorang yang
akan dimotivasi bertindak melakukan sesuatu.
Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengamati bahwa kebutuhan
manusi itu berbeda-beda, faktor-faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan
tingkat kebutuhan itu antara lain latar belakang pendidikan, tinggi rendahnya
kedudukan, pengalaman masa lampau, pandangan atau falsafah hidup, cita-
cita dan harapan masa depan dari tia individu.
28

McClelland mengemukakan bahwa untuk mencapai prestasi atau Need
for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda,
sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi.
29

Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (High
Achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu :

28
Ibid., hlm. 77-78
29
http://smpn2ransel.wordpress.com/2008/03/19/teori-motivasi/


46

1) Sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat
kesulitan moderat.
2) Menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya
upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti
kemujuran misalnya.
3) Menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan
mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.
atan kebutuhan seseorang akan prestasi.
McClelland mengelompokan 3 kebutuhan manusia yang dapat memotivasi
gairah bekerja seseorang, yaitu :
1) Kebutuhan akan Prestasi ( Need for Achievment )
Kebutuhan, akan prestasi (needfor achievement=n Ach), merupakan daya,
penggerak yang memotivasi semangat bekerja seseorang. Karena itu, n
Ach akan mendorong seseorang untuk mengembangkan kreatifitas dan
mengarahkan semua kemampuan serta energi yang dimilikinya demi
mencapai prestasi kerja yang maksimal. Siswa akan antusias untuk
berprestasi tinggi, asalkan kemungkinan untuk itu diberi kesempatan.
Seseorang menyadari bahwa hanya dengan mencapai prestasi yang tinggi
akan dapat memperoleh pendapatan yang besar. Dengan pendapatan yang
besar akhirnya memiliki serta memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
2) Kebutuhan akan Afiliasi ( Need for Affiliation )
Kebutuhan akan affliasi (need for Affiliation=n. Af) menjadi daya
penggerak yang akan memotivasi semangat bekerja seseorang. Oleh


47

karena itu, n. Af ini merangsang gairah bekerja siswa karena setiap orang
menginginkan kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain
dilingkungan ia tinggal dan bekerja (sense of belonging), kebutuhan akan
perasaan dihormati, karena setiap manusia merasa dirinya penting (sense
of importance), kebutuhan akan perasaan maju dan tidak gagal (sense of
achievement), dan kebutuhan akan perasaan ikut serta (sense of
participation). Seseorang karena kebutuhan n Af akan memotivasi dan
mengembangkan dirinya serta memanfaatkan semua energinya untuk
menyelesaikan tugas-tugasnya.
3) Kebutuhan akan Kekuasaan ( Need for Power )
Kebutuhan akan kekuasaan ( needfor Power = n Pow). Merupakan daya
penggerak yang memotivasi semangat kerja. N Pow akan merangsang dan
memotivasi gairah kerja serta mengarahkan semua kemampuannya demi
mencapai kekuasaan atau kedudukan yang terbaik. Ego manusia ingin
lebih berkuasa dari manusia lainnya akan menimbulkan persaingan.
Persaingan ditumbuhkan secara sehat oleh manajer dalam memotivasi
bawahannya, supaya mereka termotivasi untuk bekerja giat.
30

Beberapa uraian tentang teori motivasi diatas bila dikaitkan dengan
motivasi belajar siswa terhadap pendidikan agama Islam dengan teori
kebutuhan Maslow dan McClelland yakni menduduki tingkat ke lima adalah
aktualisasi diri. Hal ini dapat dilihat bahwa individu tidak akan berusaha

30
http://www.geocities.com/guruvalah



48

memuaskan kebutuhan lain sebelum kebutuhan fisiologisnya terpenuhi, seperti
halnya siswa yang sedang lapar tidak akan bergerak untuk melakukan belajar
pendidikan agama Islam. Adapun kebutuhan akan rasa aman adalah satu
kebutuhan yang akan muncul dominan pada siswa apabila kebutuhan
fisiologisnya terpenuhi. Kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki adalah
kebutuhan yang mendorong individu untuk membangun hubungan dengan
orang lain baik lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan atau dalam
kelompok. Sedangkan kebutuhan akan rasa harga diri disini Maslow menjadi
dua yaitu: rasa harga diri dari diri sendiri dan penghargaan dari orang lain.
Setelah kebutuhan keempat tersebut terpuaskan baru muncul akan kebutuhan
aktualisasi diri. Kebutuhan aktualisasi diri merupakan kebutuhan individu
untuk mewujudkan apa yang ada dalam kemampuan. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa seorang siswa lapar tidak aman, tidak ada cinta dan rasa
memiliki, tidak ada penghargaan atas dirinya, maka siswa tidak termotivasi di
dalam belajar pendidikan agama Islam di sekolah.
Apabila menginginkan motivasi belajar pendidikan agama islam dapat
berjalan dengan baik, maka kebutuhan fisiologisnya harus terpuaskan terlebih
dahulu, maka secara otomatis siswa akan belajar pendidikan agama Islam
dengan baik.
3. Ciri-ciri Motivasi Belajar
Mengenai makna dan teori tentang motivasi, perlu dikemukakan
adanya beberapa ciri motivasi. Motivasi yang ada pada diri setiap orang itu
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :


49

1. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu
yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).
2. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa) tidak memerlukan
dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas
dengan prestasi yang telah dicapainya).
3. Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah untuk orang
dewasa.
4. Lebih senang bekerja mandiri.
5. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat
mekanis, berulang-ulang begitu saja sehingga kurang aktif).
6. Dapat mempertahankan pendapatnya. (kalau sudah yakni akan sesuatu)
7. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu.
8. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.
31

Apabila seseorang memiliki ciri-ciri seperti di atas, berarti seseorang
itu memiliki motivasi yang cukup kuat. Ciri-ciri motivasi seperti itu akan
sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar
mengajar akan mencapai keberhasilan yang baik, kalau siswa tekun
mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan berbagai masalah dan hambatan
secara mandiri. Siswa yang belajar dengan baik tidak terjebak pada sesuatu
yang rutinitas dan mekanis. Siswa yang harus mempertahankan pendapatnya,
kalau ia sudah yakin dan dipandangnya cukup rasional. Bahkan lebih lanjut
siswa harus juga peka dan responsive terhadap berbagai masalah umum, dan

31
Ibid., hlm.5


50

bagaimana memikirkan pemecahannya. Hal-hal itu semua harus dipahami
benar oleh guru, agar dalam berinteraksi dengan siswanya dapat memberikan
motivasi yang tepat dan optimal.
Indikator Anak Yang Termotivasi Belajarnya
Di antara indikator anak yang termotivasi belajarnya adalah:
a. Keinginan, keberanian menampilkan minat, kebutuhan dan
permasalahan yang dihadapi ketika belajar.
b. Keinginan dan keberanian serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam
kegiatan persiapan, proses dan kelanjutan belajar.
c. Penampilan berbagai usaha belajar dalam menjalani dan
menyelesaikan kegiatan belajar sampai berhasil.
d. Anak bergairah Belajar.
e. Kemandirian belajar.
32

Tataran utama yang dijadikan landasan untuk menentukan apakah anak
termotivasi dalam belajarnya atau belum, bisa dilihat dari indikator diatas.
Adapun ciri-ciri anak yang termotivasi dalam melaksanakan kegiatan
belajar mengajarnya adalah :
a. Mencari dan memberikan informasi.
b. Bertanya pada orang tua (pengajar) atau teman yang lain.
c. Mengajukan pendapat atau komentar kepada orang tua (pengajar) atau
teman yang lain.
d. Diskusi atau memecahkan masalah.

32
Ahmad Tafsir. 1993. Metodologi Pengajaran pendidikan Islam. (Bandung : PT. Remaja
Rosda Karya), hlm. 146


51

e. Mengerjakan tugas yang diberikan orang tua (pengajar).
f. Memanfaatkan sumber belajar yang ada.
g. Menilai dan memperbaiki nilai pekerjaanya
h. Membuat kesimpulan sendiri tentang pelajaran yang diterimanya.
i. Dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan orang tua (pengajar) dengan
tepat saat belajar berlangsung.
j. Memberikan contoh yang benar.
k. Dapat memecahkan masalah dengan tepat.
l. Ada usaha dan motivasi dalam mempelajari bahan materi.
m. Senang bila diberi tugas.
n. Bekerja sama dan menjalin hubungan/ komunikasi dengan teman yang
lain.
o. Dapat menjawab pertanyaan diakhir belajar.
Ciri-ciri di atas merupakan yang sering terjadi apabila anak telah
termotivasi dalam belajarnya, yaitu wujud dari respon yang akan membawa
dampak positif bagi anak.
Sardiman memberikan penjelasan ciri-ciri seseorang termotivasi
sebagai berikut :
a. Tekun menghadapi tugas.
b. Ulet menghadapi kesulitan.
c. Menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah.
d. Lebih senang belajar mendiri.
e. Cepat bosan dengan tugas rutin (kurang kreatif).


52

f. Sering mencari dan memecahkan soal-soal.
g. Tidak mudah melepaskan hal-hal yang sudah diyakini.
h. Dapat mempertahankan pendapatnya.
Apabila seorang anak memiliki ciri-ciri diatas berarti dia telah
memiliki motivasi yang kuat dalam melaksanakan proses belajr mengajar.
Ciri-ciri tersebut penting karena dengan motivasi yang kuat anak akan bisa
belajar dengan baik, lebih mandiri dan tidak terjebak pada sesuatu yang
rutinitas dan mekanis.
33

Berdasarkan uraian diatas jelaslah ciri seorang siswa yang mempunyai
motivasi tinggi adalah mereka sangat semangat untuk mencapai tujuannya dan
tidak mudah menyerah, sebelum mendapatkan apa yang inginkan. Siswa
mempertahankan pendapatnya, kalau ia sudah yakin dan dipandangnya cukup
rasional. Bahkan lebih lanjut siswa harus juga peka dan responsive terhadap
berbagai masalah umum, dan bagaimana memikirkan pemecahannya.
4. Teori Belajar
Menurut Syaiful Sagala bahwa banyak sekali teori belajar menurut
literatur psikologi, teori itu bersumber dari teori atau aliran-aliran psikologi.
Secara garis besar dikenal ada tiga rumpun besar teori belajar menurut
pandangan psikologi yaitu teori disiplin mental, teori behaviorisme, dan teori
cognitive gestalt-filed.



33
Sardiman op.cit., hlm. 98


53

a. Teori Disiplin Mental
Teori belajar ini dikembangkan tanpa dilandasi eksperimen, ini berarti
dasar orientasinya adalah “filosofis atau spekulatif”. Teori disiplin mental
(Plato, Aristoteles) menganggap bahwa dalam belajar mental siswa
disiplinkan atau dilatih. Dalam mengajar siswa membaca. Misalnya, guru
pengikut teori ini melatih, “otot-otot” mental siswa guru mula-mula
memberikan daftar kata-kata yang diinginkannya dengan menggunakan
kartu-kartu dimana tertulis setiap kata itu. Selanjutnya guru melatih siswa-
siswa mereka, dan setiap hari diberi tes, dan siswa-siswa yang belum
pandai harus kembali sesudah jamsekolah untuk dilatih lagi. Menurut
rumpun psikologi teori disiplin mental ini individu memiliki kekuatan,
kemampuan, atau potensi-potensi tertentu.
34

b. Teori Behavior
Teori behavior ini sangat menekankan pada prilaku atau tingkah laku
yang dapat diamati atau diukur. Tokoh yanng terkenal dalam
mengembangkan teori ini adalah Thordike (1874-1949), dengan
eksperimen belajar pada binatang yang juga berlaku bagi manusia yang
disebut Thordike dengan “trial and error”. Thordike menghasilkan teori
belajar “connectionism” karena belajar merupakan pembentukan koneksi-
koneksi antara stimulus dan respon. Thordike mengemukakan tiga prinsip
atau hukum dalam belajar yaitu: 1) Law of readines, belajar akan berhasil
apabila individu memiliki kesiapan untuk melakukan perbuatan tersebut.

34
Syaiful Sagala. Konsep dan Makna Pembelajaran. (Bandung: Alfabeta, 2007) hlm.39-40



54

2) Law of exercise yaitu belajar akan berhasil apabila banyak latihan dan
ulangan. 3) Law of effect yaitu belajar bersemangat apabila mengetahui
dan mendapatkan hasil yang baik. Teori ini dilatar belakangi oleh
percobaan Ivan Pavlov (1849-1936) dengan keluarnya air liur. Air liur
akan keluar bila anjung melihat atau mencium bau makanan. Setelah
diulang beberapa kali air liur tetap keluar. Penelitian ini menyimpulkan
bahwa prilaku individu dapat dikondisikan. Artinya belajar merupakan
suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu prilaku atau respon
terhadap sesuatu. Ivan Pavlov menghasilkan teori belajar yang disebut
“classical conditioning” atau “stimulus substitution”. Teori penguatan
atau “reinforcement” merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori
koneksionisme. Seorang anak atau siswa yang belajar dengan giat dan dia
dapat menjawab semua pertannyaan dalam ulangan atau ujian, maka guru
memberikan penghargaan pada siswa tersebut itu dengan nilai yang tinggi,
pujian, atau hadiah. Berkat pemberian penghargaan ini, maka siswa
tersebut akan belajar lebih rajin dan lebih bersemangat.
35

c. Teori Cognitive Gestalt-Filed
Teori belajar Gistalt ini lahir di jerman tahun 1912 dipelopori dan
dikembangkan oleh Max Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang
pengamatan dan problem solving, dari pengamatan ia menyesalkan
penggunaan metode menghafal disekolah, dan menghendaki murid belajar
dengan pengertian bukan menghafal akademik.

35
Ibid., hlm. 42-43


55

Belajar Gistalt menekankan pemahaman atau “insight” dan
pengamatan sebagia suatu alternatif. Berkat pengalaman seseorang siswa
akan mampu mencapai pengamatan yang benar objektif sebelum mencapai
pengertian. Dalam belajar siswa harus memahami makna hubungan antar
satu bagian dengan bagian yang lainnya. Manusia dihadapkan pada
problem atau “problem solving” mencoba memahaminya dengan
melakukan upaya menghubungkan unsur-unsur dalam problem tersebut
dengan menemukan makna yang terkandung dalamnya. Dengan demikian
unsur berpikir atau inteligen ikut berperan sehingga timbul dalam jiwa
yang bersangkutan pengertian atau insight. Setelah ia menemukan insight,
maka ia akan menyatakan insight itu dengan ekspresi yaitu “aku mengerti
sekarang”, “aku dapat menyelesaikannya”, dan sebagainya yang
menimbulkan rasa puas, karena mampu menyelesaikan problem yang
dihadapinya. Jadi dalam belajar pemahaman atau pengertian memegang
peranan amat penting bagi tuntasnya kegiatan belajar.
36

5. Fungsi Motivasi Belajar
Dalam kegiatan belajar mengajar pasti ditemukan anak didik yang
malas berpartisipasi dalam belajar. Sementara anak didik yang lain
berpartisipasi dalam kegiatan. Ketidak minatan terhadap suatu mata pelajaran
menjadi pangkal penyebab anak didik tidak bergeming untuk mencatat apa
yang telah disampaikan guru. Itulah sebagai tanda bahwa anak didik tidak
mempunyai motivasi untuk belajar. Maka seorang pendidik harus

36
Ibid., hlm. 45,47,48


56

memberikan suntikan dalam bentuk motivasi ekstrinsik. Sehingga dengan
bantuan ini anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar.
Bila motivasi ekstrinsik diberikan itu dapat membantu anak didik
keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar, maka motivasi dapat
diperankan dengan baik oleh guru dengan mengandalkan fungsi-fungsi
motivasi merupakan langkah akurat untuk menciptakan iklim belajar yang
kondusif bagi anak didik.
Baik motivasi intrinsik maupun ektrinsik sama berfungsi sebagai
pendorong, penggerak, dan penyeleksi perbuatan. Ketiganya menyatu dalam
sikap terimplikasi dalam perbuatan. Dorongan adalah fenomena psikologis
dari dalam yang melahirkan hasrat untuk bergerak dalam menyeleksi
perbuatan yang akan dilakukan. Karena itulah dorongan atau penggerak
maupun penyeleksi merupakan kata kunci dari motivasi dalam setiap
perbuatan dalam belajar.
37

Apabila motivasi dapat ditimbulkan dalam proses belajar mengajar,
maka hasil belajar akan menjadi optimal. Makin tepat motivasi yang diberikan
makin tinggi pula keberhasilan proses pembelajaran itu. Jadi, motivasi
senantiasa menentukan intensitas usaha belajar siswa. Sehubungan dengan hal
tersebut, maka motivasi yang sangatlah penting dalam proses belajar-
mengajar.



37
Saiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta PT Rineka Cipta, 2002) hlm. 122


57

Menurut Sardiman bahwa motivasi memiliki tiga fungsi, yaitu:
1. Mendorong manusia untuk berbuat, dengan kata lain motivasi
merupakan penggerak atau motor yang melepaskan energi. Dalam hal
ini motivasi menjadi penggerak setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai.
Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang
harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa
yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dan
menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan
tersebut.
Selain itu juga terdapat fungsi-fungsi motivasi yang lain. Motivasi
dapat berfungsi sebagai mendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang
melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik
dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Artinya dengan adanya
usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang
yang belajar itu akan dapat menghasilkan prestasi yang baik, intensitas
motivasi seseorang siswa akan sangat menentukan tingkat mencapai prestasi
belajarnya.
38

Sedangkan menurut Dimyati dan Mujiono melihat pentingnya fungsi
motivasi belajar menjadi dua, yaitu fungsi motivasi bagi siswa dan fungsi
motivasi bagi guru. Pentingnya motivasi belajar bagi siswa meliputi:

38
Sardiman, op.cit., hlm. 85-86


58

a. Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses dan hasil akhir.
b. Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, yang dibandingkan
dengan teman sebaya.
c. Mengarahkan kegiatan belajar.
d. Membesarkan semangat belajar.
e. Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan bekerja secara
berkesinambungan.
Sedangkan fungsi motivasi belajar bagi guru adalah sebagai berikut:
1) Membangkitkan, meningkatkan dan memelihara semangat belajar
siswa sampai belajar.
2) Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas yang
beraneka ragam.
3) Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu di antara
bermacam-macam peran seperti sebagai penasihat, fasilitator,
instruktur, teman diskusi, motivator, motivator, pemberi hadiah atau
pendidikan.
4) Memberi peluang guru untuk unjuk kerja rekayasa pedagogis.
Berbagai fungsi-fungsi motivasi yang telah diuraikan diatas, dapat
dikatakan bahwa peran motivasi dalam proses kegiatan belajar sangat penting
sekali, hasil belajar akan optimal jika adanya motivasi. Makin tepat motivasi
yang diberikan, akan semakin berhasil pula proses pembelajaran. Sehingga
dengan adanya motivasi seorang siswa akan lebih giat lagi dalam proses


59

bembelajarannya dan motivasi juga dapat mendorong usaha dan mencapai
pestasi siswa.
39

6. Macam-macam Motivasi Belajar
Megenai macam atau jenis motivasi ini dapat dilihat dari berbagai
sudut pandang. Dengan demikian motivasi atau motif-motif yang aktif itu
sangat bervariasi.
1. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya.
a. Motif bawaan yaitu motif yang dibawah sejak lahir, jadi motivasi
itu ada tanpa dipelajari. Contoh dorongan untuk makan dan
minum. Motif-motif ini seringkali disebut yang disyaratkan secara
biologis.
b. Motif-motif yang dipelajari yaitu motif-motif yang timbul karena
dipelajari. Contohnya: dorogan belajar untuk suatu cabang ilmu
pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu untuk masyarakat.
Motif ini sering kali disebut motif-motif yang disyaratkan secara
sosial. Sebab manusia hidup dalam lingkungan sosial dengan
sesama manusia yang lain, sehingga motivasi itu terbentuk.
Kemudian motivasi belajar siswa dibedakan lagi menjadi dua golongan
yaitu:
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau
berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap

39
Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta PT Asdi Mahastya, 2002) hlm.
85-86



60

individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Seperti halnya
seseorang suka membaca dan lain-lain.
40

Motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan
sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering
dipengaruhi oleh intensif eksternal seperti imbalan atau hukuman. Misalnya,
murid mungkin belajar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang
baik.
41

Kedua motivasi yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik sangat
perlu digunakan dalam proses belajar mengajar karena dari sekian banyak
mata pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa setiap hari disekolah, tidaklah
selalu menarik. Sehingga tidak realistis untuk selalu mengharapkan siswa
mempunyai motivasi intrinsik agar antusias melakukan hal-hal yang disukai
setiap hari. Apalagi keadaan siswa dinamis, berubah-ubah, dan mungkin
kompenen-kompenen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang
menarik bagi siswa sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.
Dan untuk menumbuhkan motivasi belajar baik intrinsik maupun
ektrinsik adalah suatu hal yang tidak mudah, maka seorang pendidik harus
mempunyai kesanggupan untuk menggunakan bermacam-macam cara yang
dapat membangkitkan motivasi siswa sehingga dapat belajar dengan baik.
7. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar
Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat
dibedakan menjadi tiga macam:

40
Ibid., hlm. 89-90
41
Jhon W. Santrock, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007)
hlm. 514


61

1. Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan atau kondisi
jasmani dan rohani siswa.
2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan
disekitar siswa.
3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis
upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang
digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-
materi pelajaran.
Faktor-faktor diatas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan
mempengaruhi satu sama lain. Seorang siswa yang bersikap conserving
terhadap ilmu pengetahuan atau termotif ekstrinsik (faktor eksternal)
seumpama, biasanya mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak
mendalam. Sebaliknya, seorang siswa yang berintelegensi tinggi (faktor
internal) dan dapat dorongan positif dari orang tuanya (faktor eksternal)
mungkin akan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kwalitas
hasil pembelajaran.
42

Selain faktor-faktor tersebut diatas ada beberapa faktor lain yang dapat
mempengaruhi motivasi belajar siswa seperti yang disebutkan oleh Dimyati
dan Sujiono yaitu:
1) Cita-cita atau aspirasi
Cita-cita atau aspirasi siswa dalam belajar merupakan tujuan belajar
yang diharapkan yaitu memperoleh hasil belajar yang diharapkan yaitu

42
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan (Suatu Pendekatan Baru). (Bandung: PT
Rosdakarya, 1995), hlm. 132


62

memperoleh hasil yang memuaskan. Cita-cita siswa akan terwujud
apabila di dalam dirinnya terdapat keinginan yang telah menjadi
kemauan untuk mewujudkan cita-cita. Dengan cita-cita, siswa akan
terdorong untuk memperkuat semangat belajar dan menggunakan
prilaku belajarnya untuk mencapai cita-cita tersebut. Dengan demikin
cita-cita akan memperkuat motivasi belajar intrinsik dan motivasi
ektrinsik.
2) Kemampuan siswa
Cita-cita atau keinginan seorang siswa perlu dibarengi dengan
kemauan atau kecakapan dalam mencapainya. Keinginan siswa untuk
memperoleh hasil belajar yang baik harus diikuti dengan kemampuan
siswa tersebut mempelajari atau menguasai sesuatu yang dipelajari.
Dengan demikian kemampuan siswa akan memperkuat motivasi siswa
untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.
3) Kondisi siswa
Kondisi siswa baik yang meliputi kondisi jasmani maupun rohani
mempenngaruhi motivasi belajarnya. Seorang siswa yang belajar
dalam kondisi yang tidak sehat seperti lapar dan sakit akan
mempengaruhi perhatiannya dalam belajar. Begitu juga sebaliknya,
siswa yang belajar dalam kondisi yang sehat atau gembira akan mudah
memusatkan perhatiannya pada penjelasan pelajar. Dengan demikian
jelas bahwa kondisi jasmani dan rohani siswa akan berpengaruh pada
motivasi belajarnya.


63

4) Kondisi lingkungan
Selain kondisi pribadi siswa, kondisi lingkungan di luar diri siswa juga
mempengaruhi motivasi belajarnya. Kondisi lingkungan tersebut
berupa keadaan alam. Tempat tinggal, pergaulan sebaya atau
kehidupan masyarakat. Kondisi lingkungan belajar yang sehat, aman
dan menyenangkan akan memotivasi siswa untuk lebih semangat
dalam belajar. Oleh karena itu, lingkungan belajar seperti sekolah,
kerukunan hidup di masyarakat serta ketertiban pergaulan dipertinggi
mutunya sebagai upaya membina motivasi belajar siswa.
5) Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
Unsur-unsur dinamis dalam belajar sangat mempengaruhi motivasi
siswa untuk belajar. Unsur-unsur tersebut berupa keadaan pribadi
siswa yang berupa perasaan, perhatian, kemauan dan pikiran, keadaan
lingkunan diluar diri siswa yang mendukung serta dinamika guru
dalam pembelajaran yang bersifat dinamis dan terus berkembang.
Siswa akan termotivasi untuk belajar apabila di dalam dirinya terdapat
kemauan dan perhatian yang ditunjang oleh lingkungan sosial yang
berupa pergaulan dengan teman sebaya ataupun lingkungan budaya
yang berupa televisi, surat kabar atau media elektronik lain serta
kegiatan guru dalam proses belajar mengajar yang berupa bahan,
media dan sumber belajar yang digunakan oleh guru.




64

6) Upaya guru dalam membelajarkan siswa
Belajar merupakan perubahan tingkah laku individu baik jasmani
maupun rohani yang terjadi senagai akibat interaksi dengan
lingkungannya. Guru dalam peranannya sebagai pendidik dan
penngajar harus mampu menciptakan perubahan tingkah laku yang
baik pada diri siswa. Oleh sebab itu partisipasi dan teladan guru dalam
memilih prilaku-prilaku yang baik sesuai dengan minat dan kebutuhan
siswa sebagai upaya membelajarkan siswa.
43

Dalam proses belajar, motivasi seseorang tercermin melalui ketekunan
yang tidak mudah patah untuk mencapai sukses, meskipun dihadang banyak
kesulitan. Motivasi juga ditunjukkan melalui intensitas unjuk kerja dalam
melakukan suatu tugas.
7. Bentuk-bentuk Motivasi Belajar
Dalam memberikan motivasi belajar pada siswa guru harus berhati-
hati, sebab terkadang guru bermaksud memberikan motivasi agar siswanya
lebih semangat dan tekun dalam belajar, tapi yang terjadi siswa tidak
termotivasi, karena motivasi yang diberikan kurang tepat.
Ada beberapa bentuk dan cara dalam menumbuhkan motivasi dalam
kegiatan belajar mengajar, yaitu:
1) Memberi angka
Angka merupakan simbol dari nilai yang dicapai siswa dalam kegiatan
belajarnya. Meskipun angka atau nilai bukan satu-satunya tujuan, tapi

43
Dimyati dan Mujiono, op.cit., hlm. 77-100


65

dalam kenyataannya banyak siswa yang mengejar nilai ulangan yang baik,
nilai rapot yang baik, bahkan nilai ujian akhir yang baik. Dengan kata lain
yang menjadi motivasi yang sangat kuat bagi siswa.
2) Hadiah
Hadiah dapat digunakan sebagai alat motivasi, tetapi tidaklah selalu
demikian. Karena hadiah untuk pekerjaan bagi seseorang bila ia tidak
senang dan tidak berbakat terhadap pekerjaan tersebut. Sebagai contoh,
hadiah yang diberikan untuk gambar terbaik, mungkin tidak akan menarik
bagi siswa yang tidak senang dan tidak memiliki bakat menggambar.
3) Kopetisi atau persaingan
Kompetisi dapat dijadikan sebagai sarana motivasi untuk mendorong
belajar siswa. Kompetisi baik secara individual maupun kelompok dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa. Memang unsur persaingan ini banyak
dimanfaatkan dalam dunia industri atau pedagangan, tetapi sangat baik
juga digunakan untuk meningkatkan motivasi siswa dalam kegiatan belajar
mengajar
4) Ego involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya
tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga mau bekerja keras
dengan mempertaruhkan harga diri menjadi salah satu bentuk motivasi
yang cukup penting. Pada dasarnya seseorang akan berusaha dengan
segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga
dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah simbol kebanggaan dan


66

harga diri. Demikian juga siswa, harga diri merupakan salah satu
pertimbangan hingga mereka mau belajar dengan giat.
5) Memberi ulangan
Siswa akan menjadi giat kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh
karena itu memberi ulangan juga merupakan sarana motivasi. Tetapi yang
harus diingat disini adalah jangan terlalu sering memberikan ulangan,
karena bisa membosankan dan bersifat rutinitas. Selain itu guru juga harus
terbuka dan memberitahukan kepada siswa kalau akan ulangan.
6) Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan akan mendorong siswa untuk lebih
giat belajar, apalagi kalau terjadi kemajuan. Semakin mengetahui bahwa
prestasi belajarnya meningkat maka ada motivasi pada diri siswa untuk
terus belajar dengan harapan hasilnya yang meningkat.
7) Pujian
Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus
merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu supaya pujian ini
merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat
akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah
belajar serta akan membangkit harga diri.
8) Hukuman
Hukuman merupakan reinforcement negatif tetapi kalau diberikan
secara tepat dan bijak bisa menjadi sarana yang dapat menumbuhkan


67

motivasi. Oleh karena itu dalam memberikan hukuman guru harus
memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.
9) Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesenjangan yaitu ada unsur
kesengajaan, ada maksud dan keinginan untuk belajar. Hal ini akan lebih
bila dibandingkan dengan segala kegiatan yang tanpa maksud dan
keinginan. Hasrat untuk belajar pada diri siswa berarti memang ada
motivasi belajar dalam diri siswa tersebut, sehingga sudah jarang tentu
hasilnya akan lebih baik.
10) Minat
Minat ini bisa muncul karena adanya kebutuhan, karena itu dikatakan
bahwa minat merupakan sarana motivasi yang pokok atau utama. Proses
belajar mengajar dapat berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Ada
beberapa cara untuk memunculkan minat yaitu membangkitkan adanya
suatu kebutuhan, menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang
telah lalu, memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik, dan
menggunakan berbagai macam bentuk atau metode mengajar.
11) Tujuan yang diakui
Tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, juga menjadi sarana
motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang ingin
dicapai maka akan timbul semangat untuk terus belajar demi menggapai
tujuan yang dimaksud.
44


44
Sardiman, op.cit., hlm. 91-95


68

C. Tinjauan Tentang Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pengertian pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana
dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati,
hingga mengimani ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntutan untuk
menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan
antar umat beragama hingga terwujudnya kesatuan dan persatuan bangsa.
(Kurikulum PAI, 2002)
Menurut Zakiah Darajat pendidikan agama Islam adalah suatu usaha
untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami
agama Islam seluruhnya. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat
mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. Tayar Yusuf
mengartikan pendidikan agama Islam sebagai usaha sadar generasi tua untuk
mengalih pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan kepada
generasi muda agar kelak menjadi manusia bertaqwa kepada Allah SWT.
45

Muhaimin mengatakan bahwa di dalam GBPP PAI di sekolah umum
menjelaskan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk
menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan
mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau
latihan dengan memperhatikan tuntutan menghormati agama lain dalam
hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk
mewujudkan persatuan nasional.


45
Abdul Majid & Dian Andayani, op.cit., hlm. 130


69

Dalam pengertian ini dapat ditemukan beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu sebagai
berikut:
Menurut Muhaimin ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam pembelajaran pendidikan Islam, terkait dengan pengertian diatas:
1. Pendidikan agama Islam sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan
bimbingan, pengajaran atau latihan yang harus dilakukan secara
berencana dan sadar atau tujuan yang hendak dicapai.
2. Peserta didik yang hendak dipersiapkan untuk mencapai tujuan, dalam
arti ada yang dibimbing, diajari atau dilatih dalam meningkatkan
keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman terhadap ajaran
agama Islam.
3. Pendidik atau Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) yang melakukan
kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan secara sadar terhadap
peserta didiknya untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam.
4. Kegiatan (pembelajaran) pendidikan agama Islam diarahkan untuk
meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman
ajaran agama Islam dari peserta didik, yang disamping untuk
membentuk kesalehan atau kualitas pribadi, juga sekaligus untuk
membentuk kesalehan sosial. Dalam arti, kualitas atau kesalehan
pribadi itu diharapkan mampu memancar ke arah luar dan dalam
hubungan keseharian dengan manusia lain (bermasyarakat), baik yang
seagama (sesama muslim) ataupun yang tidak seagama (hubungan


70

dengan non muslim), serta berbangsa dan bernegara sehingga dapat
terwujud persatuan dan kesatuan nasional (ukhwah wathoniyah) dan
bahkan hubungan persatuan dan kesatuan antar sesama manusia
(ukhwah insaniyah).
46

Dari beberapa pengertian pendidikan agama Islam diatas dapat diambil
kesimpulan bahwa pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar yang
dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk
meyakini, mamahami, dan mengamalkan ajaran agama Islam melalui kegiatan
bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
2. Dasar-Dasar Pelaksanaan PAI
Dasar adalah landasan tempat berpijak atau tegaknya sesuatu agar
sesuatu tersebut tegak kokoh berdiri. Layaknya suatu bangunan kekokohannya
sangat tergantung pada pondasi yang menjadi dasarnya, pondasi itu akan
menjadi sumber kekuatan dan keteguhan bangunan tersebut.
47

Dasar-dasar pendidikan agama Islam tentu tidak terlepas dari dasar
agama Islam sendiri, karena melalui pendidikan agama Islam dimaksudkan
untuk mengajarkan ajaran-ajaran Islam yang sekaligus untuk membentuk
kepribadian muslim, sehingga dasar pendidikan Islam selaras dengan dasar
agama Islam. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan pendidikan agama Islam

46
Muhaimin, dkk, (Paradigma Pendidikan Islam Upaya mengefektifkan Pendidikan
Agama Islam di Sekolah) (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2004), hlm. 75-76
47
Nur Uhbiyati dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: Cv. Pustaka Setia,
1998), hlm. 19


71

pada lembaga formal di Indonesia mempunyai dasar yang kuat. Dasar tersebut
menurut menurut Zuhairin dkk. Dapat ditinjau dari berbagai segi yaitu:
1. Dasar Yuridis atau Hukum
Yakni dasar-dasar pendidikan agama yang berasal dari peraturan
perundang-undang yang secara langsung atau secara tidak langsung
dapat menjadi pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama Islam
di sekolah secara formal. Adapun dasar pendidikan dari segi yuridis atau
hukum dapat kategori menjadi tiga macam, yaitu:
a. Dasar Ideal
Yaitu dasar yang bersumber dari pandangan hidup bangsa
Indonesia yakni pancasila, dimana sila yang pertama adalah
ketuhanan yang maha Esa, atau tegasnya harus beragama.
48

Dasar pernyataan diatas menunjukkan bahwa pendidikan
agama senantiasa menanamkan nilai-nilai ajaran agama kepada
anak atau generasi penerus, yang salah satunya melalui
pendidikan agama. Hal ini dimaksudkan untuk mewariskan nilai
dan norma agama kepada anak didik tersebut sehingga mampu
menghayati dan mengamalkan agama dalam kehidupan sehari-
hari.
b. Dasar Struktural/Konstitusional,
Yaitu UUD’45 dalam XI pasal 29 ayat 1 dan 2, yang
berbunyi: 1) Negara berdasarkan atas Tuhan Yang Maha Esa, 2)

48
Zuhairini dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
(Fakultas Tarbiyah UIN Malang dan UM Press, 2004), hlm. 9


72

Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agama
dan kepercayaannya itu.
49

Dari dasar tersebut diatas mengandung pengertian bahwa
negara Indonesia memberi kebebasan kepada warganya untuk
beragama dan beribadah menurut kepercayaan itu. Dan di
dalamnya juga terkandung maksud bahwa warga negara yang tidak
menganut suatu agama (tidak beragama) tidak berhak hidup di
negara Indonesia. Mengingat bahwa ajaran agama itu bersifat
normatif disamping ajaran yang bersifat praktis (amalan), maka
ajaran agama tersebut harus ditanamkan kepada anak didik sebagai
generasi penerus sekaligus sebagai warga negara yang beragama.
Dan pendidikan agama tersebut harus membawa peningkatan
kepada mutu pendidikan anak didik.
c. Dasar Operasional
Dengan Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang
SISDIKNAS Bab X pasal 37 ayat 1 dan 2 yang berbunyi seperti
berikut: 1) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib
memuat: a) pendidikan agama; b) pendidikan kewarganegaraan;
c) bahasa; d) matematika; e) ilmu pengetahuan alam; f) ilmu
pengetahuan sosial; g) seni dan budaya; h) pendidikan jasmani;
dan i) keterampilan/kejuruan dan muatan lokal. 2) pendidikan

49
Abdul Majid & Dian Andayani, op.cit., hlm. 132


73

tinggi wajib memuat: a) pendidikan agama; b) pendidikan
kewarganegaraan; dan c) bahasa.
50

Berdasarkan undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintah Daerah, telah diberlakukan otonami daerah bidang
pendidikan dan kebudayaan. Visi pokok dari otonomi dalam
penyelenggarakan pendidikan bermuara pada upaya
pemberdayaan (empowering) terhadap masyarakat setempat
untuk menentukan sendiri jenis dan muatan kurikulum, proses
pembelajaran dan sistem penilaian hasil belajar, guru dan kepala
sekolah, fasilitas dan sarana belajar untuk siswa.
Diantara otonomi yang lebih besar diberikan kepada kepala
sekolah/madrasah adalah menyangkut pengembangan kurikulum
operasional yang disusun dan dilaksanakan di masing-masing
satuan pendidikan (sekolah/madrasah). Sedangkan pemerintah
pusat hanya memberi rambu-rambu yang perlu dirujak dalam
pengembangan kurikulum, yaitu: 1) Undang-Undang No.
20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; 2) Peraturan
pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan; 3) Peraturan Manteri Pendidikan Nasional 22 Tahun
2006 Standar Isi (SI) untuk Satuan Dasar Pendidikan dan
Menengah; 4) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23
Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk

50
Zuhairini dan Abdul Ghofir, op.cit., hlm. 10


74

Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah; 5) Peraturan Menteri
Pendidikan Nomer 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan dari
kedua Peraturan Menteri Pendidikan Nasioal tersebut; dan 6)
panduan dari BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan.
51

2. Dasar Religius
Yaitu dasar yang bersumber dari ajaran agama Islam. Menurut
ajaran agama Islam pendidikan agama Islam adalah perintah Tuhan
dan merupakan perwujudan ibadah kepada-Nya.
52
Dasar pertama yakni
Al-Qur’an yang merupakan sumber kebenaran yang mutlak dalam
ajaran Islam yang sekaligus merupakan landasan pokok bagi
pelaksanaan pendidikan agama Islam. Sedangkan sumber kedua yakni
Al-Hadits berfungsi menjelaskan dan menerangkan ayat-ayat Al-
Qur’an yang masih global dan umum.
Tidaklah berlebihan apabilah Al-Qur’an dan Al-Hadits dijadikan
suatu pondasi utama bagi pelaksanaan pendidikan agama Islam, karena
keduanya sebagai landasan atau dasar tersebut terutama landasan yang
pertama (Al-Qur’an) yang bersifat universal dan dinamis. Diantara
ayat Al-Qur’an yang menunjukkan adanya perintah untuk
melaksanakan pendidikan agama adalah sebagai berikut:




51
Muhaimin, dkk, Pengembangan KTSP pada sekolah & Madrasah (Jakarta: Garfindo
Persada, 2008), hlm. 1-2
52
Abdul Majid dan Dian Andayani, Op.cit., hlm. 133


75

a. Dasar religius yang berkaitan dengan metode pendidikan. Surat An-Nahl
ayat 125
äí÷Š# ’<Î) È≅‹Î6™ 7În/´‘ Ïπϑõ3Ïtø:$Î/ ÏπàÏãöθϑø9#´ρ Ïπ´Ζ¡tø:# ( Οßγø9ω≈_´ρ
ÉL©9$Î/ ´‘Ïδ ß¡ôm& 4 ¨βÎ) 7−/´‘ ´θèδ ÞΟ=ôã& ϑÎ/ ¨≅Ê ã Ï&Î#‹Î6™ ( ´θèδ´ρ
ÞΟ=ôã& ωGôγßϑø9$Î/ ∩⊇⊄∈∪
Artinya:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya. Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang
siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
53


b. Dasar religius yang berkaitan dengan seorang pendidik. Surat Ali-Imran
ayat 104
δλιλιλδσιψυϖνηκι
Artinya:
Hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang mengajak kepada
kebaikan menyuruh berbuat baik dan mencegah dari perbuatan yang
munkar.
54

Selain ayat diatas disebutkan pula dalam hadits yang menunjukkan
perintah melaksanakan pendidikan agama yang berbunyi:

ً ªَ ,اْ,َ 'َ و _ -َ = اْ,ُ ·ِ 'َ -

53
Zuhairini dan Abdul Ghofir, op.cit., hlm. 11
54
Terjemahan (Bandung: Cv. Penerbit), hlm. 50


76

Artinya:
“Sampaikanlah ajaran-Ku kepada orang lain walaupun hanya
sedikit”. (HR. Bukhori)
Ayat dan juga hadits tersebut memberikan pengertian kepada kita
bahwa dalam ajaran agama Islam memang ada perintah untuk mendidik
agama, baik pada keluarga maupun kepada orang lain sesuai dengan
kemampuannya (walaupun hanya sedikit).
i. 3. Dasar dari Segi Sosial Psikologi
Semua manusia dalam hidupnya di dunia ini selalu membutuhkan
adanya suatu pegangan hidup yang disebut agama. Mereka merasakan
bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya Zat Yang
Maha Kuasa, tempat mereka berlindung dan tempat meminta pertolongan
Mereka merasakan ketenangan apabila mereka dekat kepada-Nya,
mengingat-Nya atau menjalankan segala perintahnya. Sesuai dengan
firman Allah dalam surat Ar-Ra’ad ayat 28, yang berbunyi:
Artinya: “Ketahuilah, bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati
akan menjadi tentram.
55

3. Standar Kompetensi Lulusan Sekolah Menengah
Dalam mencapai Standar Kompetensi Lulusan dikembangkan standar
kompetensi kelompok mata pelajaran, yaitu:
1) Agama dan akhlak mulia
2) Kewarganegaraan dan kepribadian

55
Zuhairini dan Abdul Ghofir, op.cit., hlm. 12


77

3) Ilmu pengetahuan dan teknologi
4) Estetika
5) Jasmani, olahraga, dan kesehatan
56

a. Tamatan Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah
diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Meyakini, memahami dan menjalankan ajaran agama yang diyakini
dalam kehidupan.
2. Memahami dan menjalankan hak serta kewajiban untuk berkarya dan
memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab.
3. Berpikir secara logis, kritis, kreatif inovatif, memecahkan masalah,
serta berkomunikasi melakukan berbagai media.
4. Menyenangi dan menghargai seni.
5. Menjalankan pola hidup bersih, bugar dan sehat.
6. Berpartisipasi dalam kehidupan sebagai cerminan rasa cinta dan
bangga terhadap bangsa dan tanah air.
57

Berdasarkan beberapa rumusan Standar Kompetensi Lulusan sekolah
menengah di atas bahwa lulusan SMP/MTs diharapkan mampu mencapai
Standar Kompetensi Lulusan yang sudah ditetapkn oleh pemerintah.
b. Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran Agama
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006
tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan

56
Muhaimin, dkk, op.cit., hlm. 266-268
57
Mulyasa, Kurikulum Yang Disempurnakan (pengembangan standar kompetensi dan
kompetensi dasar) (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2006), hlm. 34


78

menengah, dinyatakan bahwa standar kompetensi kelompok mata
pelajaran agama adalah sebagai berikut:
1) Agama dan Akhlak Mulia
a. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap
perkembangan remaja.
b. Menerapkan nilai-nilai kejujuran dan keadilan.
c. Memahami keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan
sosial ekonomi.
d. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan satuan yang
mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
e. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan
waktu luang sesuai dengan tuntunan agamanya.
f. Memanfaatkan lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan secara
bertanggung jawab.
g. Menghargai perbedaan pendapat dalam menjalankan agama.
58

Berdasarkan rumusan tersebut di atas bahwa lulusan SMP/MTs
kelompok mata pelajaran pendidikan agama Islam siswa diharapkan
mampu mencapai KKM dengan menjadi lulusan yang mampu
melaksanakan nilai-nilai ajaran agama.
4 Tujuan Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam disekolah atau madrasah bertujuan untuk
menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan

58
Muhaimin, Sutiah, Sugeng , op.cit., hlm. 265-266


79

pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta
didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus
berkembang dalam hal keimanan, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat
melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Kurikulum PAI:
2002).
59

Rumusan masalah tersebut mengandung pengertian bahwa proses
pendidikan agama Islam yang dilalui dan dialami oleh peserta didik disekolah
dimulai dari tahap kognisi, yakni pengetahuan dan pemahaman peserta didik
terhadap ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, untuk
selanjutnya menuju tahap afeksi, yakni terjadinya proses internalisasi ajaran
dan nilai agama ke dalam diri peserta didik, dalam arti menghayati dan
meyakininya. Tahap afeksi ini terkait erat dengan kognisi, dalam arti
penghayatan dan keyakinan peserta didik menjadi kokoh jika dilandasi oleh
pengetahuan dan pemahamannya terhadap ajaran dan nilai agama Islam.
Melalui tahapan afeksi tersebut diharapkan dapat tumbuh motivasi dalam
peserta didik dan tergerak untuk mengamalkan serta mentaati ajaran Islam
(tahapan psikomotorik) yang telah diinternalisasikan dalam dirinya. Dengan
demikian, akan terbentuk manusia muslim yang beriman, bertaqwa dan
berakhlaq mulia.
60

Segala usaha manusia yang dilaksanakan secara sadar mempunyai arah
tujuan yang hendak dicapai, dan untuk mencapai tujuan tersebut harus

59
Abdul Majid & Dian Andayani, op.cit., hlm. 135
60
Muhaimin, Sutiah, Sugeng Listiyo probowo op.cit., hlm. 79


80

mengacu pada dasar yang telah ditetapkan. Sebagaimana dasar diatas yaitu Al-
Qur’an dan Al-hadits.
Dari tujuan diatas terdapat beberapa dimensi yang hendak ditingkatkan
dan dituju oleh kegiatan pendidikan agama Islam yaitu:
1. Dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam.
2. Dimensi pemahaman atau nalaran (intelektual) serta keilmuan peserta
didik terhadap ajaran agama Islam.
3. Dimensi penghayatan atau pengalaman batin yang dirasakan peserta didik
dalam menjalankan ajaran agama Islam.
4. dimensi pengamalannya, dalam arti bagaimana ajaran agama Islam yang
telah diimani, dipahami dan dihayati oleh peserta didik itu mampu
diamalkan dalam kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Allah SWT, dan berakhlak mulia, serta diaktualisasikan
dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.
61

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa pendidikan agama Islam
baik makna dan tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam
dan tidak melupakan etika sosial dan moralitas sosial. Karena penanaman nilai
ini juga bertujuan untuk menuai keberhasilan hidup (hasanah) di dunia bagi
anak didik yang kemudian akan mampu memebuahkan kebaikan (hasanah) di
akhirat kelak.
Selain itu dengan adanya tujuan pendidikan agama Islam tersebut
maka setiap usaha yang akan dilakukan oleh guru akan lebih terarah, dan

61
Zuhairini dan Abdul Ghofir,op.cit,. hlm. 1-2


81

selanjutnya akan memudahkan guru untuk menentukan langkah-langkah yang
relevan dengan tujuan pengajaran, sehingga guru bisa menentukan
pendekatan-pendekatan serta model pembelajaran yang tepat dan sesuai agar
proses pendidikan bisa mencapai sasaran pendidikan.
5. Urgensi PAI
Manusia lahir tidak mengetahui apapun, tetapi ia dianugrahi oleh Allah
SWT pancaindra, pikiran dan rasa sebagai modal untuk menerima ilmu
pengetahuan, memiliki keterampilan dan mendapatkan sikap tertentu melalui
proses kematangan dan belajar terlebih dahulu. Mengenai pentingnya belajar
menurut A.R Shaleh & Soependi Soeryadinata: ”anak manusia tumbuh dan
berkembang, baik pikiran, rasa, kemauan, sikap dan tingkah lakunya. Dengan
demikian sangat vital adanya faktor belajar” .
Pendidikan agama Islam adalah suatu ikhtiar manusia dengan jalan
bimbingan dan pimpinan untuk membantu dan mengarahkan fitrah agama
anak didik menuju terbentuknya kepribadian utama sesuai dengan ajaran
agama. Dengan melihat antara pendidikan Islam dan ruang lingkupnya itu,
pendidikan agama Islam penting sebab secara sadar memimpin dan mendidik
anak diarahkan kepada perkembangan jasmani dan rohani sehingga mampu
membentuk kepribadian yang utama yang sesuai dengan ajaran agama.
Pendidikan agama Islam hendaknya ditanamkan sejak kecil, sebab
pendidikan pada masa kanak-kanak merupakan dasar yang menentukan untuk
pendidikan selanjutnya. Sebagaimana menurut pendapat Zakiyah Darajat


82

(tt:48) bahwa: ”Pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan,
pengalaman dan latihan yang dilaluinya sejak kecil”.
Jadi pendidikan agama Islam adalah ikhtiar manusia dengan jalan
bimbingan dan pimpinan untuk membantu dan mengarahkan fitrah agama
anak didik menuju terbentuknya kepribadian utama sesuai dengan ajaran
agama Islam.
Lapangan pendidikan agama Islam Menurut hasbi ash-Shidiq dalam
bukunya abdul Majid meliputi:
a. Tarbiyah Jasmaniyah, yaitu segala rupa pendidikan yang wujudnya
menyuburkan dan menyehatkan tubuh serta menegakkan, supaya dapat
merintangi kesukaran yang dihadapi oleh pengalamannya.
b. Tarbiyah aqliyah, yaitu sebagaimana rupa pendidikan dan pelajaran yang
akibatnya mencerdaskan akal, menajamkan otak, semisal ilmu perhitung,
c. Tarbiyah Adabiyah, yaitu segala rupa praktek mapun berupa teori yang
wujudnya meningkatkan budi dan perangai. Pendidikan budi pekeri atau
akhlaq dalam ajaran Islam merupakan salah satu ajaran pokok yang mesti
diajarkan agar umatnya memiliki akhlaq yang mulia yang telah
dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Oleh karena itu pendidikan agama Islam sangat penting. Sebab dengan
pendidikan Islam, orang tua atau guru berusaha secara sadar memimpin dan
mendidik anak didik diarahkan kepada perkembangan jasmani dan rohani
sehingga mampu membentuk kepribadian yang utama yang sesuai dengan
ajaran agama Islam. Pendidikan agama Islam hendaknya ditanamkan sejak


83

kecil, sebab pendidikan pada masa kanak-kanak merupakan dasar yang
menentukan untuk pendidikan selanjutnya.
Bagi umat Islam tentunya pendidikan agama yang wajib diikutinya itu
adalah pendidikan agama Islam. Dalam hal ini pendidikan agama Islam
mempunyai tujuan kurikuler yang merupakan penjabaran dari tujuan
pendidikan nasional sebagaimana yang termaktub dalam Undang-undang
Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, yaitu:
Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kratif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
62

Mengingat betapa pentingnya pendidikan agama Islam dalam
mewujudkan harapan setiap orang tua, masyarakat dan membantu
terwujudnya tujuan pendidikan nasional, maka pendidikan agama Islam harus
diberikan dan dilaksanakan di sekolah dengan sebaik-baiknya. Dan pendidikan
agama Islam harus ditanamkan pada masa kanak-kanak karena merupakan
dasar yang menentukan untuk pendidikan selanjutnya.





62
Abdul Majid & Dian Andayani, op.cit,. hlm. 137 -140


84

D. Hubungan Pemberian Penguatan (reinforcement) dalam Meningkatkan
Motivasi Belajar Pendidikan Agama Islam
Motivasi merupakan salah satu prasyarat yang amat penting dalam belajar.
Gedung dibuat, guru disediakan, fasilitas belajar yang lengkap dengan harapan
supaya siswa dapat masuk sekolah dan belajar dengan penuh semangat. Tetapi
semua itu akan sia-sia, jika siswa tidak ada motivasi untuk belajar.
Motivasi bagi siswa dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat
mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam kegiatan pembelajaran. Karena
motivasi dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri siswa
(motivasi intrinsik) maupun dari luar siswa (motivasi ektrinsik). Dan daya
penggerak itulah yang dapat menimbulkan kegiatan belajar mengajar itu sendiri
sehingga tujuan yang dikehendaki dapat tercapai.
63

Akan tetapi mengharap motivasi selalu muncul atau datang dalam diri
seseorang merupakan hal yang tidak mungkin, karena tingkat motivasi seseorang
cenderung berubah-ubah. Selain itu banyak hal yang harus dipelajari oleh siswa
setiap hari, disekolah pada dasarnya tidaklah selalu menarik belum lagi banyaknya
mata pelajaran yang harus dipelajari terutama pelajaran pendidikan agama Islam
sehingga cenderung membuat siswa menjadi bosan. Dan banyak pula siswa yang
meremehkan akan mata pelajaran PAI, karena menganggap pelajaran ini tidak
termasuk dalam mata pelajaran yang di UANkan. Padahal pendidikan agama
Islam sangatlah penting sebagai pegangan hidup siswa. Oleh karena itu perlu
adanya penguatan (reinforcement) dari guru pendidikan agama Islam. Ada banyak

63
Sardiman, op.cit., Hal. 75


85

upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan dan meningkatkan motivasi
belajar pendidikan agama Islam siswa, penguatan (reinforcement) merupakan
unsur yang paling penting dalam proses pembelajaran.
Beberapa uraian tentang penguatan dan motivasi diatas, bahwa hubungan
penguatan (reinforcement) dengan motivasi merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan. Jika motivasi sebagai ”penggerak” memiliki peranan yang sangat
penting dalam kegiatan belajar mengajar, maka penguatan (reinforcement) adalah
unsur yang tidak kalah pentingnya. Reinforcement adalah bagian dari motivasi,
artinya reinfocement merupakan salah satu atau bentuk dalam menumbuhkan
motivasi belajar siswa. Sedangkan motivasi sendiri dikatakan sebagai hasil dari
reinforcement. Jadi hubungan antara reinforcement dengan motivasi belajar dapat
dikatakan sebagai hubungan yang membutuhkan dan saling mengisi antara yang
satu dengan yang lain, terjadi proses take and give antara keduanya.












86

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan, penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif, karena data yang diperlukan bersifat data
yang diambil langsung dari objek penelitian. Menurut Bogdan dan Taylor
(1975:5) sebagaimana yang dikutip oleh Moleong metode kualitatif sebagai
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Sedangkan
menurut Kirk dan Miller (1986:9) mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif
adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental
tergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan
berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasannya dan dalam
peristilahannya.
64

Peneliti menggunakan metode pendekatan kualitatif karena
mempunyai tiga alasan yaitu: pertama, lebih muda mengadakan penyesuaian
dengan kenyataan yang berdimensi ganda. Kedua, lebih mudah menyajikan
secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan subyek penelitian
(responden). Ketiga, memiliki kepekaan dan daya penyesuaian diri dengan
banyak pengaruh yang timbul dari pola-pola nilai yang dihadapi.
65


64
Lexy. J. moleong, Metode penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2002), hlm. 3
65
S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 41


87

Peneliti menggunakan sendiri pengamatan atau wawancara terhadap
obyek atau subyek penelitian. Untuk itu, peneliti terjun ke lapangan dan
terlibat langsung. Tujuan menggunakan pendekatan kualitatif pada penelitian
ini adalah untuk mendeskripsikan tentang pemberian penguatan
(reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar PAI pada siswa di SMP
Negeri 18 Sukarno Hatta Malang. Kehadiran peneliti dalam hal ini sangat
penting sekali, selain itu peneliti sendiri bertindak sebagai instrument
penelitian. Dimana peneliti bertugas merencanakan, melaksanakan,
pengumpulan data, menganalisis, menafsir data dan pada akhirnya peneliti
juga menjadi pelapor hasil penelitiannya. Hal ini dikarenakan agar dapat lebih
dalam memahami latar penelitian dan konteks penelitian.
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah letak dimana penelitian akan dilakukan untuk
memperoleh data atau informasi yang diperlukan dan berkaitan dengan
permasalahan penelitian. Adapun lokasi penelitian ini adalah berada di SMP
Negeri 18 Jalan Sukarno Hatta A-394 Malang Kecamatan Lowokwaru. Lokasi
ini adalah wilayah yang cukup sejuk karena dihiasi beberapa tanaman
dihalaman sekolah. hampir semua ruangannya mendapat sinar matahari pagi,
lokasi ini terletak dibelakang MI Jendral Suderman terdapat dilingkungan
perumahan, serta lokasi ini lumayan jauh dengan jalan raya, sehingga boleh
dikatakan sekolah ini tempatnya kurang strategis.
Adapun peneliti memilih lokasi ini sebagai lokasi penelitian karena
sekolah ini adalah salah satu lembaga yang sudah menggunakan penguatan


88

(reinforcement) sebagai salah satu cara untuk meningkatkan motivasi belajar
PAI siswa, selain sudah adanya fasilitas yang ada disekolah ini.
C. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif ini yang menjadi instrumen adalah peneliti
sendiri dengan kata lain dalam penelitian ini peneliti menjadi instrumen utama
karena peneliti berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan
sebagai sumber data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan
atas temuannya. Adapun instrumen pendukung adalah pedoman wawancara,
observasi, angket, dokumentasi, tape rocorder dan kamera.
D. Sumber Data
Suharsimi Arikunto menyatakan yang dimaksud dengan sumber data
dalam penelitian adalah subjek dari mana data-data dapat diperoleh.
66

Sedangkan menurut Sukandarrumi sumber data adalah semua informasi yang
baik merupakan benda nyata, sesuatu yang abstrak, peristiwa atau gejala baik
secara kualitatif ataupun kuantitatif.
67

Berdasarkan pengertian tersebut dapat dimengerti bahwa yang
dimaksud dengan sumber data dalam penelitian ini adalah tempat dimana
peneliti memperoleh informasi sebanyak-banyaknya berupa data-data yang
diperlukan dalam penelitian. Sumber data dalam penelitian ini ada dua yaitu
sumber data primer dan sumber data skunder.


66
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian (suatu pendekatan praktis) (Jakarta: PT Asdi
Mastya, 2006),, hlm. 129
67
Sukandarrumi, Metode Penelitian (petunjuk praktis untuk peneliti pemula) (Yogyakarta:
Gadja Mada University Press, 2004), hlm. 44


89

a. Sumber data primer, yaitu sumber data yang langsung memberikan
data kepada pengumpul data.
68
.
Yang merupakan sumber data primer dalam penelitian ini meliputi:
1. Guru pendidikan Agama Islam (PAI).
2. Siswa dan siswi SMP Negeri 18 Malang.
Peneliti mengambil sampel random dari siswa SMP Negeri 18
Malang adalah sebesar 40 anak. Dari sumber primer ini diharapkan
peneliti dapat mengumpulkan data verbal dan non verbal.
Sebagaimana dikatakan S. Nasution (1988:69) bahwa data verbal
adalah data yang diperoleh peneliti melalui wawancara dengan
informan sedangkan data non verbal adalah data yang diperoleh
peneliti dari hasil pengamatan/observasi terhadap obyek penelitian.
69

b. Sumber data skunder adalah data yang bukan diusahakan sendiri
pengumpulannya oleh peneliti, atau data yang diperoleh berasal dari
hasil dokumentasi yang telah ada. Jadi data sekunder berasal dari
tangan kedua, ketiga dan seterusnya.
70

Adapun data skundernya adalah berasal dari hasil dokumentasi yang
meliputi:
1. Sejarah singkat SMP Negeri 18 Malang Sukarno Hatta.
2. Identitas Sekolah
3. Visi dan Misi sekolah

68
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif. (Bandung: Alfabeta, 2007) hlm 62
69
S. Nasution, Metodologi Penelitian Naturalistik-Kualitatif (Bandung: Tarsito, 1988),
hlm. 69
70
Ibid., hlm. 56


90

4. Keadaan guru di SMP Negeri 18 Malang.
5. Struktur organisasi sekolah
6. Nama-nama siswa dan siswi SMP Negeri 18 Malang.
7. Keadaan sarana dan prasarana.
8. Keadaam geografis sekolah SMP Negeri 18 Malang.
Dalam pencarian data ini, peneliti akan mengadakan serangkaian
pengamatan secara langsung, kemudian mencatat, memilih sera
mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
E. Populasi dan Sampel
Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin hasil, menghitung
ataupun pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik
tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin
dipelajari sifat-sifatnya. Sedangkan Sampel adala sebagian yang diambil dari
populasi.
71

Berdasarkan pada uraian diatas maka yang jadi populasi dalam
penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 18 Malang, mengingat terbatasnya
waktu, tenaga dan besarnya populasi yang ada, maka dalam penelitian ini
penulis memandang perlu untuk menarik sampel, sampel yang digunakan
adalah random sampling dimana penulis mencampur subyek-subyek didalam
populasi, sebagai subyek-subyek dalam populasi semua subyek dianggap
sama. Sehingga dengan demikian penulis memberikan hak yang sama kepada
kepada setiap subyek untuk memperoleh kesempatan yang dijadikan sampel.

71
Anas Sudjana, Metode Statistika (Bandung: Tarsito 2002), hlm. 6


91

Untuk menentukan sampel pada penelitian ini. Penulis berdasarkan
pendapat Suharsimi Arikunto bahwa bahwa apabila subjeknya kurang dari 100
lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian
populasi. Tetapi, jika jumlah subjeknya besar, dapat diambil antara 10-15%
atau 20-25% atau lebih .
72

Berdasarkan respon siswa terhadap pemberian penguatan dalam
meningkatkan motivasi belajar pendididikan agama Islam di SMP Negeri 18
Malang. Jumlah siswa 264, maka penulis mengambil siswa 40 karena
terbatasnya waktu dan banyaknya populasi yang ada di SMP Negeri 18
Malang, jadi hal tersebut sudah mewakili dari seluruh siswa, berdasarkan
pendapat Suharsimi Arikunto tersebut.
F. Prosedur Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang valid, maka peneliti menggunakan
metode sebagai berikut:
1. Metode Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan suatu obyek dengan
sistematika fenomena yang diselidiki. Observasi dapat dilakukan sesaat
ataupun mungkin dapat diulang.
73

Metode observasi ini digunakan untuk mengetahui kegiatan proses
belajar mengajar di kelas dan pemberian penguatan dalam meningkatkan
motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang.


72
Suharsimi Arikunto, op.cit., hlm. 134
73
Sukandarrumi, op.cit., hlm.69


92

2. Interview
Interview dikenal pula dengan istilah wawancara adalah suatu
proses Tanya jawab lisan, dimana 2 orang atau lebih berhadapan secara
fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengar dengan
telinga sendiri dari suaranya.
74
Metode interview merupakan salah satu
teknik pengumpulan data yang dilakukan untuk memperoleh pengetahuan
makna-makna subjektif yang dipahami oleh individu. Metode ini
digunakan untuk mendapatkan informasi dari informan dengan jalan tanya
jawab sepihak agar memperoleh data yang berkenaan dengan kondisi dan
situasi SMP Negeri 18 Malang.
Dalam wawancara, peneliti menggunakan alat pengumpul data
berupa pedoman wawancara yang berisi pertanyaan-pertanyaan untuk
informan. Peneliti menggunakan tipe wawancara di atas terhadap
informan-informan sebagai berikut:
a. Guru pendidikan agama Islam, untuk memperoleh data tentang proses
pembelajaran didalam kelas, bentuk-bentuk penguatan (reinforcement)
yang diberikan pada siswa, implikasi dan faktor-fakrtor pendukung
dan penghambat pemberian penguatan (reinforcement) dalam
meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran pendidikan
agama Islam di SMP Negeri 18 Malang.

74
Ibid., hlm. 88


93

b. Siswa SMP Negeri 18 Malang, untuk memperoleh data tentang
bagaimana respon siswa setelah diberikan penguatan (reinforcement)
oleh guru pendidikan agama Islam.
Dalam metode ini ada beberapa sumber data yang dapat penulis
ambil informasinya mengenai obyek penelitian adalah bentuk-bentuk
penguatan, implikasi pemberian penguatan dan faktor-faktor
pendukung dan penghambat pemberian penguatan dalam
meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang.
3. Angket
Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang
pribadinya, atau hal-hal yang diketahui.
75

Angket ini diberikan kepada siswa SMP Negeri 18 Malang kelas
7A. Dan metode ini di gunakan untuk memperoleh data tentang apa saja
bentuk-bentuk penguatan yang biasa diberikan pada siswa, implikasi
pemberian penguatan, faktor pendukung dan penghambat dari pemberian
penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa.
4. Dokumentasi
Menurut Suharsimi Arikunto (2002) bahwa Metode dokumentasi
adalah metode data mengenai hal-hal yang variabelnya berupa catatan,
transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda

75
Suharsimi Arikunto, op.cit., hlm. 151


94

dan lain sebagainya.
76
Metode ini digunakan peneliti melalui bagian tata
usaha untuk memperoleh data tentang.
a. Latar belakang SMP Negeri 18 Malang.
b. Sruktur organisasi SMP Negeri 18 Malang.
c. Data Guru dan siswa tahun 2007/2008
d. Prestasi Akademik Nilai Ujian Sekolah (US)
e. Sarana dan prasarana pendidikan di SMP Negeri 18 Malang tahun
2007/2008.
Adapun tujuan peneliti menggunakan metode ini adalah untuk
melengkapi penggunaan metode observasi dan wawancara.
G. Analisis Data
Setelah data terkumpul langkah selanjutnya adalah menganalisisnya.
Dalam skripsi ini ada data yang bersifat kualitatif dan kuantitatif.
Untuk menganalisis data yang diperoleh melalui observasi, interview,
dan dokumentasi, maka peneliti menggunakan teknik analisa deskriptif
kualitatif. Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan
penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan
prosedur-prosedur statistik. Oleh karena itu, dalam penelitian kualitatif data
yang di peroleh dianalisis dengan langkah-langkah peneliti dalam
menganalisis data adalah yang sesuai apa yang dikatakan Sugiyono sebagai
berikut:

76
Ibid., hlm. 132


95

1. Reduksi data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan
demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih
jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data
selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.
2. Data display (penyajian data)
Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan
data. Dalam penelitian ini penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian
singkat.
3. Verifikasi/ penarikan kesimpulan
Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan.
Kesimpulan yang dikemukakan dalam penelitian kualitatif harus didukung
oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten sehingga kesimpulan yang
dikemukakan merupakan temuan baru yang bersifat kredibel dan dapat
menjawab rumusan masalah yang sudah dirumuskan diatas.
77

Sedangkan data kuantitatif dianalisis secara statistik yang
menggunakan rumus prosentase yaitu:
P = F × 100%
N

Keterangan:
P = Persentase
F = Frekuensi jumlah jawaban

77
Sugiyono. 2007. op.cit., hlm: 92


96

N = Jumlah responden
100% = Bilangan standarisasi.
78

H. Tahap-Tahap Penelitian
Yang dimaksud dengan tahap-tahap penelitian adalah langkah-langkah
atau cara-cara penulis mengadakan penelitian untuk mencari data. Dalam
penyusunan skripsi ini, langkah-langkah yang dilakukan penulis adalah
sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
a. Pengajuan judul dan proposal ke jurusan
b. Konsultasi proposal ke dosen pembimbing
c. Melakukan kegiatan kajian pustaka yang sesuai dengan judul
penelitian
d. Menyusun metodologi penelitian
e. Mengurus surat izin penelitian kepada dekan fakultas Tarbiyah UIN
Malang yang ditujukan kepada Kantor DIKNAS kota Malang dan
kepala sekolah SMP Negeri 18 Malang.
2. Tahap pelaksanaan Penelitian
a. Pengumpulan data
Pada tahap ini yang dilakukan peneliti dalam pengumpulan data adalah:
1. Kepala sekolah SMP Negeri 18 Malang (melalui wawancara).

78
Anas Sudjiono, Pengantar Statistik Pendidikan (Jakarta: Rajawali Press, 1989), hlm. 41-
42


97

2. Guru-guru pendidikan agama Islam (PAI) (melalui
wawancara).
3. Siswa dan siswi SMP Negeri 18 Malang (melalui wawancara).
4. Observasi langsung dan pengambilan data langsung dari
lapangan.
5. Menelaah teori-teori yang relevan
b. Mengidentifikasi data
Data yang sudah terkumpul dari hasil wawancara dan observasi di
identifikasikan agar memudahkan peneliti dalam menganalisa sesuai
dengan tujuan yang diinginkan.
3. Tahap penyelesaian
a. Menyusun kerangka hasil penelitian
b. Menyusun laporan akhir penelitian dengan selalu berkonsultasi kepada
dosen pembimbing
c. Ujian pertanggung jawaban hasil penelitian di depan dewan penguji
d. Pengadaan dan penyampaian laporan hasil penelitian kepada pihak
yang berwenang dan berkepentingan.
Hasil penelitian ini dilaporkan dalam bentuk skripsi sebagai bahan
refrensi bagi kalangan pendidikan, baik akademik, pendidik, maupun pembina
pendidikan.





98

BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Latar Belakang Obyek Penelitian
1. Sejarah Berdirinya SMP Negeri 18 Malang
SMP Negeri 18 Malang berdiri tahun 1993 yang beralamat Jl.
Soekarno Hatta A-394 Kecamatan Lowokwaru Malang (Propinsi) Jawa
Timur. Dalam perjalannya tentunya SMP Negeri 18 banyak melakukan satu
perencanaan pengembangan dan semuanya bermuara pada masalah kualitas,
pada tahun 1993 proses pembelajaran sudah menggunakan aplikasi
teknologi informatika, Sekolah ini merupakan salah satu sekolah menengah
pertama di kota madya Malang yang berstatus negeri, pada tahun 2003 juga
SMP Negeri 18 sudah memberlakukan pembelajaran moving kelas penuh,
tahun 2004 berdasarkan pada nilai bebas atau berdasarkan akriditasi sekolah
kota malang dinyatakan akriditasi A (sangat memuaskan), kemudian tahun
2005 SMP Negeri 18 masuk dalam komunitas Internasional dibawah
bendera ALCOB (apec learning comuniti buildes) sehingga dengan adanya
comunitas tersebut maka merupakan suatu wadah untuk mengadakan satu
jejaring atau network dengan sekolah-sekolah yang ada diluar negeri,
khususnya sekolah-sekolah yang ada di korea selatan, pada tahun 2007
masuk pada sekolah jajaran sekolah standar nasional sehingga ini
merupakan satu langkah yang positif. Sehingga yang akan meningkatkan
kinerja semua personil yang ada di SMP Negeri 18.


99

Kemudian SMP Negeri 18 Masuk dalam status sebagai sekoalah SMP
inklusi artinya dalam kondisi yang seperti ini dengan adanya siswa yang
berkembang khusus maka SMP Negeri 18 bisa dikatakan sekolah SMP
inklusi, diluar itu tentunya akan menjadi kebanggaan bagi kami semuanya,
SMP Negeri 18 selain sebagai sekolah reguler, sekolah inklusi SMP Negeri
18 juga mengelolah sekolah terbuka, dengan adanya ini akan memberikan
warna tersendiri pada sekolah SMP Negeri 18.

IDENTITAS SEKOLAH

1. Nama Sekolah : SMP Negeri 18 Malang
2. No. Statistik Sekolah : 201056104118
3. Tipe Sekolah : B (A=27 A1=24 A2=21) (B=18 B1=15
B2=12) (C=9 C1=6 C2=3)
4. Alamat Sekolah : Jl. Soekarno Hatta A-394 Malang
: (Kecamatan) Lowokwaru
: Malang
: (Propinsi) Jawa Timur
5. Telepon/HP/Fax : ( 0341) 472418 / ( 0341) 417518
6. Status Sekolah : Negeri
7. Nilai Akreditasi Sekolah : 86,75 ( amat baik )
8. Nama Kepala Sekolah : Drs. H.Waris Santosa, M.Pd
9. NIP : 131353532


100

2. VISI DAN MISI
a. Visi SMP Negeri 18 Malang
Sekolah bertaraf Nasional yang mampu menghasilkan lulusan yang
berkualitas, berlandaskan pada IMTAQ dan IPTEKS serta yang mampu
bersaing pada tingkat Nasional dan Internasional.
b. Misi SMP Negeri 18 Malang
1. Menciptakan sekolah yang kondusif untuk melaksanakan pembelajaran
berbasis kompetensi.
2. Menciptakan organisasi dan manajemen sekolah yang dapat
menumbuhkan semangat berkemajuan dan kompetitif.
3. Meningkatkan kualitas personal sekolah agar memiliki kompetensi sesuai
dengan tugas dan fungsinya.
4. Melaksanakan proses pembelajaran yang mampu mengembangkan
kemampuan dan keterampilan di bidang IPTES (ilmu pengetahuan
teknologi dan seni) berbasis kompetensi.
5. Menanamkan pembiasaan yang mampu menumbuh-kembangkan
kesopanan, keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
6. Memberdayakan lingkungan sekolah dalam mewujudkan wawasan wiyata
mandala.
c. Keadaan guru SMP Negeri 18 malang
Untuk mengetahui kebutuhan jumlah siswa yang cukup banyak, maka
dibutuhkan tenaga pengajar. Adapun data guru SMP Negeri 18 Malang
berdasarkan kualifikasi pendidikan, status dan jenis kelamin yaitu:


101

Tabel 4.1 Data Guru SMP Negeri 18 Malang Berdasarkan Kualifikasi
Pendidikan, Status, dan Jenis Kelamin
No.
Tingkat
Pendidikan
Jumlah dan Status Guru
Jumlah GTT/PNS GTT/Guru Bantu
L P L P
1. S3/S2 1 - - - 1
2. S1 11 36 3 - 50
3. D-4 - - - - -
4. D3/Sarmud - - - - -
5. D2 2 - - - 2
6. D1 - - - - -
7. ≤
SMA/sederajat
- - - - -
Jumlah 14 36 3 - 53

d. Keadaan Siswa SMP Negeri 18 Malang
Untuk mengetahui keadaan siswa SMP Negeri 18 Malang selama
perjalanan, maka tabel berikut akan memaparkan data siswa SMP Negeri 18
Malang selama empat tahun terakhir ini:






102

Tabel 4.2 Data Siswa SMP Negeri 18 Malang dalam Empat Tahun Terakhir
(2007-2008)
No Tahun Pelajaran Kelas I Kelas II Kelas III Jumlah
Jumlah Jumlah Jumlah
1 2003/2004 263 296 303 862
2 2004/2005 255 261 291 807
3 2005/2006 273 269 259 801
4

2006/2007 248 240 265
753
5 2007/2008 264 241 246 751

Tabel 4.3 Prestasi Akademik Nilai Ujian Sekolah (US)



No Mata Pelajaran
Rata-rata Nilai US
Tahun
2004/2005
Tahun
2005/2006
Tahun
2006/2007
1 AGAMA 7,61 7,57 7,73
2 PPKN 7,80 7,75 7,85
3 IPA 6,45 6,35 7.31
4 IPS 7,12 7,10 6.70
5 MULOK 7,45 7,35 7.52


103

3. LETAK GEOGRAFIS
1. Intern
a. SMP Negeri 18 Malang berada dalam lingkungan yang cukup sejuk
karena dihiasi beberapa tanaman di halaman sekolah dan sinar matahari
yang cukup hampir semua mendapat sinar matahari pagi.
b. Komunikasi antar guru, karyawaan dan kepala sekolah cukup lancar
karena lokasi ruang guru, TU dan ruang kepala sekolah berhadapan
dengan wakil kepala sekolah.
c. Jalan konsultasi dari guru keurusan, dari urusan kewakasek dan
Lanjutannya wakasek kekepala sekolah
d. Secara berkala (sebulan sekali) kepala sekolah dan staf dan pembantunya
mengadakan pertemuan dalam rangka koordinasi dan evaluasi program.
Bila dipandang penting pertemuan dapat diadakan sewaktu-waktu
e. Pertimbangan pengangkatan personalia (staf dan bendahara) untuk
mengemban amanat adalah berdasarkan kemauan, tanggung jawab dan
kejujuran, disiplin, tertib serta dapat bekerja sama
f. Koperasi para guru dan karyawan yang dapat meningkatkan kesejahteraan
para anggotanya hendaknya ditata, diatur dan dikembangkan
g. Kopsis adalah koperasi siswa yang pengurus dan anggotanya terdiri dari
siswa dengan didampingi oleh pembina (guru) yang kegiatannya meliputi
simpanan pokok, simpanan wajib dan pertokoan.




104

2. Ekstern
a. SMP Negeri 18 Malang berada pada jalan Soekarno Hatta A-394 Malang
Kecamatan Lowokwaru telepon ( 0341) 472418 fax ( 0341) 417518, dan
sekolah ini berada dilingkungan perumahan.
b. SMP Negeri 18 Malang ini berada dibelakang MI Jendral Suderman
Malang.
c. Hubungan dengan masyarakat sekitar cukup bagus, misalnya;
mengadakan shalat Idul Adha bersama dan penyembelihan hewan qurban.
B. PENYAJIAN DATA
Berdasarkan hasil penelitian jumlah siswa di SMP Negeri 18 Malang
dari jumlah siswa 264 karena terbatasnya waktu dan banyaknya populasi yang
ada di SMP Negeri 18 Malang. Menurut pendapat Suharsimi Arikunto penulis
menentukan besarnya sampel responden 15% dari 264 siswa, yakni berjumlah
40 siswa.
Dalam penyajian data penulis sajikan berdasarkan wawancara dengan
guru pendidikan agama Islam dan siswa SMP Negeri 18 Malang dan
responden angket dari 40 siswa dengan menggunakan rumus:
P = F × 100%
N
Keterangan:
P = Persentase
F = Frekuensi jumlah jawaban
N = Jumlah responden
100% = Bilangan standarisasi.


105

C. HASIL PENELITIAN
1. Bentuk-bentuk pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan
motivasi belajar PAI pada siswa SMP Negeri 18 Malang.
Setelah penulis teliti secara langsung dan melaksanakan sesuai dengan
metode yang digunakan, maka hasil penelitian yang penulis peroleh dapat
diuraikan sebagai berikut:
a. Tingkat intensitas atau keseringan bentuk penguatan yang paling
banyak digunakan guru
Tabel 4.4 Penguatan Yang Sering Diberikan Oleh Guru PAI
Kepada Siswa
No Alternatif Jawaban N F P %
4 a. Hadiah
b. Pujian
c. Senyuman
d. Nilai bagus
e. ................
40 1
20

18

1
-
2.5%
50%

45%

2.5%
-
Jumlah 40 40 100

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, penguatan (reinforcement)
yang sering diberikan oleh guru PAI dari 40 responden yang menjawab
hadiah 1 siswa (2.5), pujian 20 siswa (50%), senyuman 18 siswa (45%),
nilai bagus 1 orang (2.5%) dan untuk lain-lain 0.
Berdasarkan angket diatas ini terbukti bahwa guru PAI di SMP Negeri
18 sering memberikan penguatan verbal (pujian) terhadap siswa. Hal ini
sesuai dengan hasil wawancara ibu Anis selaku guru pendidikan agama
Islam mengatakan:


106

Yang sering saya berikan pada anak-anak mbak adalah penguatan
(reinforcement) berupa kata-kata seperti: Bagus, pinter itu
termasuk rewad jangan sampai kita memberikan kata-kata yang
dianggap mematikan pada anak. Seperti kata “kamu bodoh, kamu
belum pintar, jawabanmu salah dan seterusnya”.
79


b. Tingkat kesesuaian bentuk–bentuk penguatan yang disukai siswa
Tabel 4.5 Penguatan Yang Lebih Disukai Siswa
No Alternatif Jawaban N F P %
5 a. Hadiah
b. Pujian
c. Senyuman
d. Nilai bagus
e. ................
40 20
2
-
18
50%
5%
-
45%
Jumlah 40 40 100%

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, penguatan yang disukai oleh
siswa dari 40 responden menjawab hadiah 20 orang (50%), pujian 2 orang
(5%), senyuman 0, nilai bagus 18 orang (45%) dan lain-lain 0.
c. Tingkat respon siswa terhadap penguatan positif yang diberikan guru
Tabel 4.6 Respon Siswa Ketika Diberi Penguatan Positif
No Alternatif Jawaban N F P %
6 a. Senang
b. Biasa saja
c. Tidak senang
40 28
10
2
70%
25%
5%
Jumlah 40 40 100%


79
Wawancara guru PAI Ibu Anis, (23 Mei 2008,07.15 di ruang tamu)



107

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, sikap siswa ketika diberi
penguatan oleh guru PAI dari 40 responden menjawab, senang 28 siswa
(70%), biasa saja 10 siswa (25%) dan tidak senang 2 siswa (5%).
Hal ini terbukti bahwa siswa SMP Negeri 18 lebih senang
mendapatkan penguatan (reinforcement) non verbal yaitu berupa hadiah.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Anjar Rizki dia adalah murid kelas satu,
dimana dia pernah mendapatkan penguatan (reinforcement) karena
mendapatkan nilai tertinggi ketika ulangan pendidikan agama Islam. Anjar
Rizki mengatakan:
Saya perna dulu dalam ulangan harian pendidikan agama Islam yang
diajarkan oleh ibu anis, saya mendapatkan nilai tertinggi dalam kelas dan
mendapatkan hadiah berupa buku tulis, saya bangga sekali karena saya
mendapatkan penghargaan. Sehingga saya lebih senang lagi untuk
belajar pendidikan agama Islam.
80


d. Tingkat respon siswa terhadap penguatan negatif yang diberikan guru
Tabel 4.7 Pemberian Penguatan Negatif Berupa Hukuman
Dapat Meningkatkan Motivasi Belajar
No Alternatif Jawaban N F P %
7 a. Ya
b. Kadang-kadang
c. Tidak
40 20
7
13
50%
17.5%
32.5%
Jumlah 40 40 100%

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, pemberian penguatan negatif
berupa hukuman terhadap siswa dari 40 responden menjawab, ya 20 siswa
(50%), kadang-kadang 7 siswa (17.5%) dan tidak 13 siswa (32.5%).

80
Wawancara Anjar Rizki (siswa) (25 Mei 2008, 09.30-09.40 di Kelas)


108

Dengan adanya tabel diatas sudah jelas bahwa pemberian penguatan
negatif berupa hukuman dapat meningkatkan motivasi siswa, dan
hukuman ini berlaku bagi siswa yang melanggar peraturan, Ibu Anis
selaku guru pendidikan agama Islam menjelaskan:
Penguatan yang negatif (hukuman) ini mbak saya berikan pada anak-
anak yang melanggar peraturan, akan tetapi hukuman ini adalah
kesepakatan kita bersama dengan anak-anak, apabila anak tidak bawah
juz Ammah, alat sholat, kalau 1,2,3 kali dapat toleransi akan tetapi
kalau masih melanggar maka dia harus membawahkan juz Ammah
pada sekolah dan juga akan mendapat hukuman yang lainnya, seperti
halnya mendapat cubitan anggur, cubitan strauberi, cubitan coklat, dan
saya menawarkan mau hukuman yang mana, kalau masih melanggar,
maka hukumannya pun tetap dilakukakan akan tetapi ini semua sesuai
dengan kesepakatan bersama. Dan respon siswa ketika dapat hukuman,
yaitu mereka malu terhadap hukuman yang dilakukan, dan bahkan ada
yang tidak akan mengulangnya lagi, tapi ada juga yang tetap
mengulangi, akan tetapi dia tetap mendapat hukuman dan hukuman
pun akan bertambah seperti saya laporkan pada guru BP, dan bisa juga
kepada orang tuanya.
81


Hal ini terbukti bahwa pemberian penguatan negatif berupa hukuman
dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, karena dengan adanya
hukuman siswa merasa takut dan tidak akan mengulanginya kembali.

2. Implikasi Pemberian Penguatan (Reinforcement) Terhadap Meningkatkan
Motivasi Belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang.
Pemberian penguatan merupakan upaya untuk meningkatkan motivasi
belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar siswa dikelas. Karena itu,
jika motivasi menjadi prasyarat amat penting untuk mencapai keberhasilan
dalam kegiatan belajar mengajar. Maka penguatan merupakan hal yang

81
Wawancara guru PAI Ibu Anis (22 Mei 2008,09.30) (di Ruang Tamu )



109

tidak kalah pentingnya, sebab tingkat motivasi belajarnya masih rendah,
dengan penggunaan penguatan maka motivasi belajar siswa terutama yang
masih rendah tersebut masih bisa ditingkatkan. Sehingga pemberian
penguatan disini juga sangat penting sekali untuk meningkatkan motivasi
belajar siswa. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan pada tabel dibawah ini:
a. Implikasi Motivasi Internal dalam Meningkatkan Motivasi
Kesenangan Belajar
Tabel 4.8 Perasaan Siswa Belajar PAI Setelah Diberi Penguatan
No Alternatif Jawaban N F P %
1 a. Senang
b. Kadang-kadang
c. Tidak Senang
40 22
18
-
55%
45%
-
Jumlah 40 40 100%

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, siswa senang belajar PAI dari
40 responden menjawab senang 22 siswa (55%), kadang-kadang 18 siswa
(45%) dan tidak senang 0.
Dari data angket diatas banyak siswa yang memilih senang ketika
mendapatkan penguatan dari guru PAI, hal ini sesuai dengan penjelasan
ibu Anis:
Implikasinya nggak mesti, kadang-kadang masih tetap, kalau anak
yang memiliki greget, diberi penguatan seperti itu kan tambah giat,
kadang yang namanya anak ada juga yang acuh tak acuh. Akan tetapi
ini jarang, dan kebanyakan memang mereka senang bila diberi
penguatan yang seharusnya.
82




82
Wawancara guru PAI Ibu Anis (22 Mei 2008,09.30) (di Ruang Tamu )



110

b. Motivasi ekternal dalam meningkatkan keaktifan belajar
Tabel 4.9 Keaktifan Siswa Didalam Kelas Setelah Diberi Penguatan
No Alternatif Jawaban N F P %
8 a. Ya
b. Kadang-kadang
c. Tidak
40 20
19
1
50%
47.5%
2.5%
Jumlah 40 40 100%

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, keaktifan siswa didalam
kelas setelah diberikan penguatan dari 40 responden menjawab, ya 20
siswa (50%), kadang-kadang 19 siswa (47.5%) dan tidak 1 siswa (2.5%).
c. Motivasi eksternal dalam memenuhi penyelesaian tugas-tugas
Tabel 4.10 Sikap Siswa Setelah Diberi Penguatan
Dapat Mengerjakan Tugas Dengan Tepat
No Alternatif Jawaban N F P %
9 a. Ya
b. Kadang-kadang
c. Tidak
40 39
1
-
97.5%
2.5%
-
Jumlah 40 40 100%

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, Setelah diberi penguatan
siswa dapat mengerjakan tugas dengan tepat, dari 40 responden
menjawab, ya 39 siswa (97.5%), kadang-kadang 1 siswa (2.5%) dan
tidak 0.




111

d. Motivasi eksternal dalam mencapai nilai maksimal
Tabel 4.11 Keinginan Mencapai Nilai Maksimal Setelah Diberi
Penguatan
No Alternatif Jawaban N F P %
10 a. Ya
b. Kadang-kadang
c. Tidak ingin
40 25
10
5
62.5%
25%
12.5%
Jumlah 40 40 100%

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, keinginan siswa mencapai
nilai maksimal setelah diberi penguatan, dari 40 responden menjawab,
ya 25 siswa (62.5%), kadang-kadang 10 siswa (25%) dan tidak ingin 5
siswa (12.5%).
Hal ini menunjukkan bahwa siswa akan berusaha mengerjakan tugas
dengan tepat setelah mendapatkan penguatan dari gurunya, karena siswa
merasa dihargai sehingga pemberian penguatan tersebut dapat
meningkatkan motivasi belajar.
3. Faktor-Faktor Pendukung Keberhasilan Dan Penghambat Pemberian
Penguatan (Reinforcement) Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI
Siswa di SMP Negeri 18 Malang.
Dalam pelaksanaan keberhasilan suatu kegiatan belajar sangat
dipengaruhi oleh faktor-faktor pendukung, disamping itu juga pasti adanya
juga faktor penghambat didalam suatu kegitan pembelajaran. Demikian juga
dengan pelaksanaan pemberian penguatan guna meningkatkan motivasi
belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang.


112

1) Faktor Pendukung
Faktor pendukung merupakan hal yang terpenting dalam rangka
mensukseskan pemberian penguatan guna meningkatkan motivasi
belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang diungkap oleh Ibu Anis
sebagai berikut:
Faktor pendukung dalam pelaksanaan pemberian penguatan ini adalah
adanya faktor intern dari anak itu sendiri yaitu adanya kesadaran sendiri
dari anak tersebut. Walau bagaimana pun usaha kita sebagai guru dalam
mendidik anak kalau tidak ada kesadaran sepenuhnya saya rasa sangat
sulit sekali.
83


a. Minat siswa dalam belajar PAI
4.12 Sikap Siswa Terhadap Pelajaran Pendidikan Agama Islam
No Alternatif Jawaban N F P %
2 a. Selalu memperhatikan
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah
40 21
19
-
52.5%
47.5%
-
Jumlah 40 40 100%

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, sikap siswa terhadap
pelajaran PAI, dari 40 responden menjawab, ya 21 siswa (52.5%),
kadang-kadang 19 siswa (47.5%) dan tidak pernah 0.






83
Wawancara guru PAI Ibu Anis (22 Mei 2008,09.30 (di Ruang Tamu )


113

b. Keinginan siswa mempelajari PAI
4.13 Menanyakan Masalah PAI Pada Guru
No Alternatif Jawaban N F P %
11 a. Ya
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah
40 20
18
2
50%
45%
5%
Jumlah 40 40 100%
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, bila terdapat masalah
dalam pelajaran PAI siswa menanyakan pada guru, dari 40 responden
menjawab, ya 20 siswa (50%), kadang-kadang 18 siswa (45%) dan tidak
pernah 2 siswa (5%).
4.14 Harapan Siswa Belajar PAI
No Alternatif Jawaban N F P %
17 a. Ingin menjadi anak yang sholih dan sholihah
b. Ingin mempunyai dasar agama yang kuat
c. Sekedar ingin tahu tentang ajaran agama
d. Ingin berguna bagi Agama, Nusa dan Bangsa
e. .......................................
40 13
16
-
11
32.5%
40%
-
27.5%
Jumlah 40 40 100%

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, harapan siswa belajar PAI
adalah dari 40 responden menjawab, ingin menjadi anak yang sholih dan
sholihah 13 siswa (32.5%), ingin mempunyai dasar agama yang kuat 16
siswa (40%), sekedar ingin tahu tentang ajaran agama Islam 0, ingin
berguna bagi Agama, Nusa dan bangsa 11 siswa (27.5%) dan lain-lain 0.




114

Aspirasi atau cita-cita dalam belajar yang menjadi tujuan hidup
siswa akan menjadi pendorong bagi belajarnya. Aspirasi atau cita-cita
tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat kemampuan siswa itu sendiri.
Siswa yang mempunyai tingkat kemampuan yang baik akan mempunyai
cita-cita yang lebih realistis jika dibandingkan dengan siswa yang
memiliki tingkat kemapuan yang rendah. Sehingga dalam masalah
motivasi yang paling penting adalah motivasi yang timbul dari diri
seseorang (motivasi intrinsik).
d. Lengkapnya fasilitas PAI yang dimiliki SMP Negeri 18 Malang
4.15 Kelengkapan Fasilitas PAI Yang Dimiliki SMP Negeri 18 Malang
No Alternatif Jawaban N F P %
16 a. Sudah
b. Hampir
c. Kurang
d. .............
40 18
17
5
-
45%
42.5%
12.5%
Jumlah 40 40 100%

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, mengenai kelengkapan
fasilitas PAI yang dimiliki SMP Negeri 18 Malang, dari 40 responden
menjawab, sudah 45%, hampir 42.5%, kurang 12.5% lain-lain 0.







115

e. Perhatian dari orang tua
4.16 Orang Tua Menanyakan Ulangan PAI
No Alternatif Jawaban N F P %
12 a. Sering
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah
40 18
17
5
45%
42.5%
12.5%
Jumlah 40 40 100%

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, Orang tua yang
menanyakan nilai ulangan, dari 40 responden menjawab, sering 18 siswa
(45%), kadang-kadang 17 orang (42.5%) dan tidak pernah 5 siswa
(12.5%).

4.17 Orang Tua Memberikan Hadiah/Pujian Jika Nilai PAI Bagus
No Alternatif Jawaban N F P %
13 a. Sering
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah
40 18
16
6
45%
40%
15%
Jumlah 40 40 100%

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, Orang tua yang
menanyakan nilai ulangan, dari 40 responden menjawab, sering 18 siswa
(40%), kadang-kadang 16 orang (16%) dan tidak pernah 6 siswa (15%).
Hal ini terbukti bahwa orang tua siswa memperhatikan tugas atau
pekerjaan rumah (PR) mata pelajaran PAI dan juga memberikan penguatan


116

kepada anaknya sebagai salah satu cara memotivasi anak agar selalu
meningkatkan belajar dan juga prestasinya.
2) Faktor penghambat
Faktor penghambat pemberian penguatan dalam meningkatkan
motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang adalah:
a. Masih ada siswa yang belum mempraktekkan PAI secara optimal dalam
kehidupan sehari-hari
4.18 Mempraktekan PAI Dalam Kehidupan Sehari-Hari
No Alternatif Jawaban N F P %
14 a. Ya
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah
40 6
32
2
15%
80%
5%
Jumlah 40 40 100%
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, siswa yang
mempraktekkan PAI dalam kehidup sehari-hari, dari 40 responden
menjawab, ya 6 siswa (15%), kadang 32 siswa (80%), tidak pernah 2
siswa (5%).
b. Metode yang digunakan guru PAI kurang bervariasi
4.19 Metode Yang Digunakan Guru PAI Dalam Mengajar
No Alternatif Jawaban N F P %
3 a. Senang
d. Biasa saja
e. Tidak senang
40 17
23
-
42.5%
57.5%
-
Jumlah 40 40 100%



117

Bersarkankan tabel diatas dapat diketahui bahwa, metode yang
digunakan guru PAI dalam mengajar, dari 40 responden menjawab,
senang 17 siswa (42.5%), biasa saja 23 siswa (57.5) dan tidak senang 0.
Dari pernyataan tersebut menunjukkan bahwa upaya yang
dilakukan oleh guru dalam meningkatkan motivasi belajar pendidikan
agama Islam melalui penggunaan metode dalam mengajar kurang
bervariasi. Sehingga diharapkan guru PAI dapat menggunakan metode
yang tepat dalam pembelajaran PAI agar mencapai hasil lebih maksimal.
c. Kurangnya program perlombaan PAI di sekolah.
4.20 Program Perlombaan PAI Disekolah
No Alternatif Jawaban N F P %
15 a. Sering
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah
40 4
20
16
10%
50%
40%
Jumlah 40 40 100%

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, program perlombaan PAI
disekolah, dari 40 responden menjawab, sering 4 siswa (10%), kadang-
kadang 20 siswa (50%) dan tidak pernah 16 siswa (40%).
Hal ini menunjukkan bahwa di sekolah SMP Negeri 18 Malang
kurang adanya program perlombaan atau kompetisi mata pelajaran PAI.
Padahal kompetisi dapat dijadikan sebagai sarana motivasi untuk
mendorong belajar siswa dan juga dapat meningkatkan prestasi belajar
siswa.



118

BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A. Analisis Data
Setelah dipaparkan hasil penelitian, maka penulis akan memberikan
analisa sebagai berikut:
1) Bentuk-bentuk pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan
motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang.
Bentuk penguatan yang sering diberikan oleh guru dalam
meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP negeri 18 Malang
adalah bentuk penguatan verbal seperti halnya pujian, penghargaan,
persetujuan dan seterusnya, hal ini terbukti persentase penguatan verbal
berupa pujian 50%, pemberian penguatan ini mendapatkan respon yang
baik dari siswa hasil persentase jawaban siswa senang bila mendapatkan
penguatan dari guru PAI 70%, begitu juga dengan adanya penguatan
negatif dapat meningkatkan motivasi belajar PAI dari 40 responden
menjawab, ya 50%.
Bentuk penguatan non verbal berupa hadiah jarang diberikan guru PAI
kepada siswa, terkadang penguatan ini diberikan setelah ujian tengah
semester ataupun akhir semester diberikan pada siswa yang mendapatkan
pringkat terbaik. Hal ini terbukti hasil persentase siswa dari 40 responden
yang menjawab 2.5%
Dari pernyataan diatas relevan dengan konsep motivasi berkaitan erat
dengan prinsip-prinsip bahwa tingkah laku yang telah diperkuat pada waktu


119

yang lalu barangkali diulang, misalnya siswa yang rajin belajar akan
mendapatkan pujian, nilai bagus atau diberi hadiah. Sedangkan tingkah laku
yang diperkuat atau dihukum tidak akan diulang, misalnya siswa yang
menyontek atau melanggar peraturan akan dihukum.

2) Implikasi Pemberian Penguatan (Reinforcement) Terhadap Meningkatkan
Motivasi Belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang.
a. Siswa senang belajar PAI setelah diberikan penguatan
Pemberian penguatan (reinforcement) diterapkan dengan suatu bukti
bahwa dengan adanya penguatan dapat membawa peserta didik kearah yang
lebih baik yaitu lebih termotivasi dalam belajarnya, yang dapat menunjang
dan membantu peserta didik dalam meningkatkan prestasinya, khususnya
pada pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 18 Malang.
sesuai hasil persentase pespon siswa mengenai belajar PAI setelah diberikan
penguatan senang 55%.
b. Menjadikan siswa aktif dikelas
Setelah mendapatkan penguatan dari guru, siswa merasa dihargai
sehingga ia dapat lebih aktif di kelas siswa menjawab ya, 50%.
c. Dapat menyelesaikan tugas dengan tepat 97.5%
d. Serta keinginan siswa mendapatkan nilai yang maksimal 62.5%
Jadi cukup jelas bahwa implikasi pemberian penguatan dalam
meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang yang
diberikan oleh guru PAI, sangat direspon baik oleh siswa SMP Negeri 18


120

Malang, sehingga dengan pemberian penguatan tersebut dapat meningkatkan
motivasi belajar dan juga prestasi siswa.
Dari pernyataan diatas sesuai dengan teori motivasi Maslow mengenai
kebutuhan akan aktualisasi diri (self acualization), seperti: kebutuhan
mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki, pengembangan diri secara
maksimum, kreatifitas dan ekspresi diri.
Tingkat atau hirarki dari Maslow tidak dimaksud sebagai suatu
kerangka yang dapat dipakai setiap saat, tetapi lebih merupakan kerangka
acuan yang dapat digunakan sewaktu-waktu bila mana diperlukan untuk
memperkirakan tingkat kebutuhan mana yang mendorong seseorang yang
akan dimotivasi bertindak melakukan sesuatu.

3) Faktor-Faktor Pendukung Keberhasilan Dan Penghambat Pemberian
Penguatan (Reinforcement) Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Siswa
di SMP Negeri 18 Malang.
Dalam melaksanakan suatu proses pembelajaran pasti ada faktor
pendukung dan penghambat, seperti halnya pemberian penguatan dalam
meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang,
memiliki beberapa faktor pendukung dan juga penghambat. Faktor pendukung
merupakan kunci sukses SMP Negeri 18 Malang dalam melaksanakan
pemberian penguatan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Faktor
pendukung tersebut adalah:



121

a. Minat siswa dalam belajar PAI
Minat ini bisa muncul karena adanya kebutuhan, karena itu dikatakan
bahwa minat merupakan sarana motivasi yang pokok atau utama. Proses
belajar mengajar dapat berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Ada
beberapa cara untuk memunculkan minat yaitu membangkitkan adanya
suatu kebutuhan, menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang
telah lalu, memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik, dan
menggunakan berbagai macam bentuk atau metode mengajar.
Kebutuhan siswa mempelajari PAI karena dengan mempelajari PAI
dia nanti akan mempunyai dasar-dasar agama yang kuat, dan bisa
menjalankan ajaran agama dengan baik.
Dan itu sudah terbukti dengan persentase siswa yang senang belajar
pendidikan agama Islam dan selalu memperhatikan 52.5%.
b. Keinginan siswa mempelajari PAI
Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesenjangan ada maksud dan
keinginan untuk belajar. Hal ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan
segala kegiatan yang tanpa maksud dan keinginan. Hasrat untuk belajar
pada diri siswa berarti memang ada motivasi belajar dalam diri siswa
tersebut, sehingga tentu hasilnya akan lebih baik. Hal ini dibuktikan
persentase siswa selalu menanyakan bila ada masalah PAI 50%, serta cita-
cita siswa belajar PAI adalah mempunyai dasar agama yang kuat 40%.
Aspirasi atau cita-cita dalam belajar yang menjadi tujuan hidup siswa
akan menjadi pendorong bagi belajarnya. Aspirasi atau cita-cita tersebut


122

sangat dipengaruhi oleh tingkat kemampuan siswa itu sendiri. Siswa yang
mempunyai tingkat kemampuan yang baik akan mempunyai cita-cita yang
lebih realistis jika dibandingkan dengan siswa yang memiliki tingkat
kemapuan yang rendah. Sehingga dalam masalah motivasi yang paling
penting adalah motivasi yang timbul dari diri seseorang (motivasi
intrinsik).
c. Fasilitas PAI yang lengkap
Fasilitas PAI yang berada di SMP Negeri 18 Malang sudah dikatakan
lengkap, karena untuk pelajaran PAI sudah tersedia kelas moving,
musholah, peralatan ibadah seperti mukena, sajadah dan Al-Quran. Hal ini
terbukti dari persentase siswa mengatakan sudah lengkap 45%.
d. Perhatian dari orang tua
Peran orang tua dalam pendidikan sangat penting sekali selain
motivasi intrinsik yang dimiliki anak untuk mempelajari PAI, dan ini
terbukti orang tua siswa SMP Negeri 18 Malang sudah memperhatikan
pendidikan anaknya melalui menanyakan ulangan PAI 35% dan
memberikan penguatan berupa pujian hadiah 45%.
Sedangkan faktor penghambat merupakan sebuah kendala pemberian
penguatan dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa. Faktor
penghambat tersebut adalah:
a. Masih ada siswa yang belum mempraktekkan pelajaran PAI dalam
kehidupan sehari-hari.


123

Ini terbukti persentase siswa masih banyak yang belum
mempraktekkan pelajaran PAI dalam kehidupan sehari-hari, kadang-
kadang 80%.
b. Metode yang digunakan guru dalam mengajar kurang bervariasi.
Dalam proses pembelajaran PAI di SMP Negeri 18 Malang, guru
sering menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan juga pemberian
tugas sehingga terkesan membosankan bagi siswa. Padahal seorang guru
dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif dalam pengajaran, terutama untuk
metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran. Sebab hal ini dapat
mempermudah siswa untuk memahami dan mengerti materi yang
disampaikan. Hal ini terbukti hasil prosentase siswa menyatakan mengenai
metode yang dipakai oleh guru PAI dalam mengajar, menjawab biasa saja
57.5%.
c. Kurang adanya program kompetisi PAI disekolah
Kompetisi dapat dijadikan sebagai sarana motivasi untuk mendorong
belajar siswa. Karena dengan adanya kompetisi tersebut siswa dapat
berlomba-lomba untuk meningkatkan motivasi belajar dan juga
prestasinya. Sesuai hasil prosentase siswa menyatakan program
perlombaan PAI di sekolah dan siswa menjawab kadang-kadang 50%.






124

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, peneliti dapat menyimpulkan
beberapa hal sebagai berikut:
1) SMP Negeri 18 Malang dalam meningkatkan motivisi belajar
pendidikan agama Islam, selain adanya fasilitas yang sudah terpenuhi
disekolah ini juga menggunakan penguatan (reinforcement) sebagai
salah satu alternatif untuk dapat meningkatkan motivasi belajar PAI
siswa.
bentuk penguatan (reinforcement) yang sering diberika guru
terhadap siswa adalah bentuk penguatan verbal dan hal ini terbukti
prosentase penguatan berupa pujian 50%, serta respon siswa mengenai
penguatan yang diberikan guru hasil persentase jawaban siswa senang
70%, begitu juga dengan adanya penguatan negatif dapat
meningkatkan motivasi belajar PAI siswa dari 40 responden
menjawab, ya 50%.
Sedangkan bentuk penguatan nonverbal yang berbentuk hadiah
jarang diberikan. Hal ini terbukti hasil persentase penguatan nonverbal
berupa hadiah yang diberikan kepada siswa 2.5%. Penguatan ini
biasanya diberikan setelah diadakan ulangan harian atau ujian akhir
semester.


125

2) Implikasi pemberian penguatan (reinforcement) di SMP Negeri 18
Malang ini adalah siswa lebih termotivasi untuk belajar pendidikan
agama Islam. a) Siswa senang belajar PAI setelah diberikan penguatan
55%, b) menjadikan siswa lebih aktif dikelas 50%, c) siswa dapat
mengerjakan tugas dengan tepat 97.5%, d) keinginan untuk
mendapatkan nilai yang maksimal 62.5%.

3) Faktor pendukung pemberian penguatan dalam meningkatkan motivasi
belajar PAI siswa adalah a) minat siswa dalam belajar PAI, siswa yang
senang belajar pendidikan agama Islam dan selalu memperhatikan
52.5%, b) keinginan siswa mempelajari PAI, hasrat untuk belajar pada
diri siswa berarti memang ada motivasi belajar dalam diri siswa
tersebut, sehingga hasilnya akan lebih baik. Hal ini dibuktikan
prosentase siswa selalu menanyakan bila ada masalah dalam PAI 50%,
dan cita-citanya ingin mempunyai dasar agama yang kuat 40%. c)
fasilitas mata pelajaran PAI yang lengkap seperti adanya kelas moving,
musholah, peralatan ibadah seperti mukena, sajadah dan Al-Quran. Hal
ini terbukti dari prosentase siswa mengatakan sudah lengkap 45%, d)
perhatian orang tua, dalam hal ini perhatian orang tua mengenai
pendidikan anaknya melalui menanyakan ulangan PAI 45% dan
memberikan penguatan berupa pujian/ hadiah 45%.
Sedangkan untuk faktor penghambat pemberian penguatan dalam
meningkatkan motivasi belajar PAI siswa adalah a) masih ada siswa


126

yang belum mempraktekkan pelajaran PAI dalam kehidupan sehari-
hari, dan siswa menjawab kadang-kadang 80%, b) metode yang
digunakan guru dalam mengajar kurang bervariasi, hasil prosentase
siswa menyatakan biasa saja 57.5%, c) kurang adanya program
kompetisi PAI disekolah siswa menjawab kadang-kadang 50%.

B. Saran
Dari hasil pembahasan diatas, maka ada beberapa hal yang perlu
diungkapkan sebagai saran dalam rangka meningkatkan motivasi belajar
PAI siswa melalui pemberian penguatan (reinforcement):
1. Bagi Sekolah
Hendaknya pemberian penguatan (reinforcement) kapada siswa
perlu diperhatikan, salah satunya yaitu sering diadakan program
kompetisi atau perlombaan PAI disekolah. karena dengan adanya
perlombaan dapat memacu siswa untuk lebih meningkatkan
motivasi belajar dan juga prestasi siswa.
2. Bagi Guru PAI
Hendaknya guru PAI lebih memvariasi lagi mengenai pemberian
penguatan kepada siswa, karena masih banyak bentuk-bentuk
penguatan (reinforcement) yang belum digunakan dan juga guru
PAI lebih meningkatkan lagi mengenai metode pengajaran yang
dipakai, agar metode pengajaran dikelas tidak terkesan monoton,
sehingga siswa lebih semangat belajar khususnya pelajaran PAI.


127

3. Hendaknya perhatian orang tua lebih ditingkatkan lagi kepada anaknya.
Dan mengontol anak agar selalu mempraktekkan pelajaran PAI dalam
kehidupan sehari-hari, sehingga pelajaran PAI tidak hanya dijadikan
sebagai landasan teori saja akan tetapi perlu adanya realisasi dalam
kehidupan sehari-hari.




















128


























129

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta:PT Rineka Cipta.
Ali, Muhammad. 2004. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar
Baru Algensind

Djamarah, Saiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Dimyati dan Mujiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Asdi
Mahastya.

Djumransyah. 2004. Filsafat Pendidikan. Malang: Bayumedia Publishing.
Darajat, Zakiah dkk. 1996. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara dan
Depag.

Djiwandono, Sri Esti Wuryani. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Grasindo.
Hamalik, Oemar. 1992. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.

Hasibuan, J.J. dan Moedjiono. 2008. Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT
Rosdakarya.

J, Lexy. Moleong. 2002. Metode penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.

Kusrini, Siti, Sutiah, Marno. 2007. Keterampilan Dasar Mengajar (PPl 1)
Berorientasi Pada Kurikulum Berbasis Kompetensi. Fakultas Tarbiyah UIN
Malang.

Muhaimin, Sutiah, Listiyo probowo, Sugeng. 2008 Pengembangan Model pada
Sekolah & Madrasah. Jakarta, PT RajaGrafindo Persada.

Muhaimin, Sutiah, dan Ali, Nur, 2002. Paradigma Pendidikan Islam. (Upaya
mengefektifkan Pandidikan Agama Islam) Bandung: Remaja Rosdakarya.


Mulyasa. 2008. Menjadi guru Profesional (Menciptakan pembelajaran kreatif dan
menyenangkan). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.



130

Majid, Abdul & Andayani, Dian. 2004. Pendidikan Agama Isalam Berbasis
Kopetensi (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004). Bandung: Rosda

Nasution, S. 1988. Metodologi Penelitian Naturalistik-Kualitatif. Bandung:
Tarsito.

Purwanto, Ngalim. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Rosdakarya.
Sardiman. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarata: PT
RajaGrafindo Persada.

Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan (Suatu Pendekatan Baru). Bandung:
PT Rosdakarya.

Sugiyono, 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sudjana, Anas, 2002. Metode Statistika Bandung: Tarsito.

Soemanto,Wasty. 1998. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Santrock, Jhon W. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group

Sukandarrumi. 2004. Metode Penelitian (petunjuk praktis untuk peneliti pemula)
Yogyakarta: Gadja Mada University Press.

Margono, S. 2006. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Usman, Moh. Uzer. 1994. Menjadi Guru Profesional, Dasar Metode Teknik,
Bandung: Tarsito.
Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Bandung: Citra Umbara, 2003

Uhbiyati, Nur dan Ahmadi, Abu. 1998. Ilmu Pendidikan Islam Bandung: Cv.
Pustaka Setia.

Sagala, Syaiful. 2007. Konsep dan Makna Pebelajaran, Bandung: Alfabeta.
Tafsir, Ahmad, 1993. Metodologi Pengajaran pendidikan Islam. Bandung : PT.
Remaja Rosda Karya.

Terjemahan, Bandung: CV Penerbit.

Zuhairini dan Ghofir, Abdul. 2004. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam. Fakultas Tarbiyah UIN Malang dan UM Press.


131


http://smpn2ransel.wordpress.com/2008/03/19/teori-motivasi/
http://www.geocities.com/guruvalah.









2

PEMBERIAN PENGUATAN (REINFORCEMENT) DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SISWA DI SMP NEGERI 18 MALANG
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh: LAILATUL LAILIYAH 04610024

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG 2008

3

PEMBERIAN PENGUATAN (REINFORCEMENT) DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SISWA DI SMP NEGERI 18 MALANG

SKRIPSI

Oleh: LAILATUL LAILIYAH 04610024

Telah disetujui Pada Tanggal 7 April 2008 Oleh Dosen Pembimbing

Dra. Hj. Suti’ah, M. Pd NIP. 150 262 509

Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

Drs. Moh. Padil, M.Pd.I NIP. 150 267 235

M. 150 227 505 Penguji Utama Dosen Pembimbing Dr. 150 042 031 . Pd NIP. M. H. PdI NIP. Baharuddin. Dr. Suti’ah. Suaib H. Muhammad. Djunaidi Ghony NIP. 150 262 509 Drs.4 HALAMAN PENGESAHAN PEMBERIAN PENGUATAN (REINFORCEMENT) DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SISWA DI SMP NEGERI 18 MALANG SKRIPSI Dipersiapkan dan disusun oleh Lailatul Lailiyah (04610024) telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 22 Oktober 2008 dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam (S. H. M. Pd NIP. Dr. 150 215 308 Dr.I) pada tanggal: 22 Oktober 2008.Ag NIP. Hj. Panitia Ujian Ketua Sidang Sekretaris Sidang.Pd. M. M. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang Prof. 150 215 308 Mengesahkan. Hj. Suti’ah.

Ibu diterima dan menjadi ahli surga. perjalanan ini memang sulit tapi dengan-Mu tidak ada yang sulit dan tidak ada yang tidak mungkin. terimah kasih aku ucapkan pada Pak Juwoto. Juga Nabi Muhammad yang syafa'atnya selalu kuharap. Amin Ya Rabbal 'Alamin. Semoga Allah menerima amal baik Ibu sehingga memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Ibu tercinta (Hj. kasih sayang dan dukungan. Saudariku (Mb’ Ani) yang memberiku motivasi. Dosen Pembimbingku (Ibu Suti’ah) yang telah banyak memberikan arahan. Seluruh civitas akademik UIN Malang khususnya fakultas Tarbiyah. Semoga amal Abah.. Terima Kasih Ya Lathif. Fatimah) dan Abah (H. Moh. Toib) yang tanpa kenal lelah memberikan kasih sayang. serta dengan sabar dan ikhlas membimbing dalam penulisan skripsi ini. Semoga kita bisa sama-sama memperoleh keberhasilan dan kebahagiaan. . motivasi. motivasi serta dukungan demi keberhasilan puterimu untuk mewujudkan cita-citanya dan mencapai ridha Allah. dari Ibu aku belajar untuk tidak mentolerir sekecil apapun kesalahan. Adikku (Fadholih) tersayang semoga kita semua bisa menggapai cita-cita dan selalu menjadi kebanggaan bagi orang tua kita Amiin. Terima kasih aku haturkan. Ibu telah banyak memberikan pengetahuan kepadaku.5 HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini aku persembahkan untuk yang selalu hidup dalam jiwaku : Allah SWT Yang telah membuka hati dan fikiranku. memberiku kemudahan dan kelancaran. terima kasih atas jalinan persaudaraan yang kalian eratkan. sahabat-sahabat dekatku yang telah banyak memberikan motivasi kepadaku dan juga membuat hari-hariku begitu indah.

: 4 (Empat) Eksemplar Kepada Yth. M. Wb. kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak diajukan untuk diujikan. 150 262 509 . Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan. 7 Oktober 2008 Lamp. dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawah ini: Nama NIM Jurusan Judul Skripsi : Lailatul Lailiyah : 04610024 : Pendidikan Agama Islam (PAI) : Pemeberian Penguatan (Reinforcement) Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) Pada Siswa SMP Negeri 18 Malang. Demikian.6 Dr. bahasa maupun teknik penulisan. Pembimbing. Suti’ah. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang Di Malang Assalamu`alaikum Wr. Pd Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang NOTA DINAS PEMBIMBING Hal : Skripsi Lailatul Lailiyah Malang. Hj. Wassalamu`alaikum Wr. M. Pd NIP. mohon dimaklumi adanya. Hj. baik dari segi isi. Maka selaku Pembimbing. Wb. Siti’ah. Dr.

7 SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan. 7 Oktober 2008 Lailatul Lailiyah . juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain. Malang. kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan. bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi. dan sepanjang pengetahuan saya.

H. 6. Bapak Drs. 3. selaku dosen pembimbing yang telah mencurahkan semua pikiran dan waktunya untuk memberikan arahan dan bimbingan bagi penulisan skripsi ini. Moh. 4. Bapak Prof. selaku rektor UIN Malang. Suti’ah M. . Djunaidi Ghony. penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam terselesaikannya skripsi ini. Imam Suprayogo. 5. M. Kakakku dan Adikku yang tersayang yang selalu memberikan doa dan motivasi. 2. Ibu Dra. Bapak Prof. Padil M. di antaranya adalah: 1. Abah dan Ibu tercinta yang selalu memberikan dukungan moril maupun materiil selama mununtut ilmu dari awal hingga akhir.8 KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Selanjutnya. H. Hj. Dr. shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad yang telah diutus untuk membawa risalah dan membebaskan umat Islam dari belenggu kebodohan.Pd. selaku dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang.PdI. Dr. selaku ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam. Setelah itu.

Segenap sahabat/I dan semua pihak yang telah banyak memberikan dukungan. S. Karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun. Ibu Anis Fatimatus Zahra. penulis menyadari penulisan skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Musthafa. Bapak Drs. H.9 7. M.Waris Santosa. 8. 11 Oktober 2008 Penulis . selaku kepala sekolah SMP Negeri 18 Malang yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk mengadakan penelitian di sekolah yang bapak pimpin. selaku guru pendidikan agama Islam yang telah banyak memberikan informasi dalam penyelesaian skripsi ini.Pd. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan sebaikbaik balasan. Semoga skripsi ini bermanfaat. Amin Malang. amin Sebagai manusia yang tak pernah luput dari kesalahan.PdI dan bapak Drs. 9.

. x DAFTAR TABEL ..... vii KATA PENGANTAR .................................... Rumusan Masalah ... iv HALAMAN MOTTO ............................... Tujuan Penelitian ........................... xv ABSTRAK .................................................................... 8 F............................................................... 10 BAB II KAJIAN PUSTAKA A................... Batasan Istilah ....................... 14 ...... Tujuan Pemberian Penguatan (reinforcement) ..................... Pengertian Penguatan (reinforcement)............................... v HALAMAN NOTA DINAS PEMBIMBING ............ i HALAMAN PERSETUJUAN .. 13 1............................................................................................................. xiv DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR ........ 1 B................... 7 D............... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ...... Sistematika Pembahasan ................................................................ 9 G............................................................................... Pembahasan Tentang Penguatan (reinforcement) ....................... Ruang Lingkup Penelitian ... vi HALAMAN PERNYATAAN ....................................................... viii DAFTAR ISI .......................................10 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................... Latar Belakang ......................................................................... 6 C...................... Manfaat Penelitian ........................... 13 2........................ 7 E............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .................................... xvi BAB I PENDAHULUAN A.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

................... Lokasi Penelitian ........ Macam-macam Pemberian Pengutan (reinforcement) ......... 50 2..........................................11 3................. 30 4............ Pengertian Pendidikan Agama Islam............ 20 2............................ 66 BAB III METODE PENELITIAN A........ Bentuk-bentuk Motivasi Belajar.......................................................... 63 D................................................... Tahap-tahap Penelitian.......... Prinsip-prinsip Penggunaan Penguatan (reinforcement) ......... Tinjauan Tentang Pendidikan Agama Isalam 1................ 70 D.. 76 H.. Kompenen Keterampilan Memberikan Penguatan (reinforcement) .... Prosedur Pengumpulan Data .......................... Ciri-ciri Motivasi Belajar ........................................................................ Dasar Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam.... 15 5.............................................................. Tinjauan Tentang Motivasi Belajar .. 72 F............... 59 4.................. Populasi dan Sampel ....... Pengertian Motivasi Belajar ..................................................................................................... 42 8............................... 15 4............ 18 B...... 41 7..................................................................... 73 G............................... 61 5...... 52 3...................... 34 5............ Analisa Data ............... Fungsi Motivasi Belajar ........... 68 B.. Sumber Data ......................................... 37 6... Desain dan Jenis Penelitian .............. 78 . Teori Belajar ..... Urgensi Pendidikan Agama Islam ................... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar ......................................................................... Tujuan Pendidikan Agama Islam . Standar Kompetensi Lulusan Sekolah Menengah .................... Hubungan Penguatan (Reinforcement) Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Siswa ....................... 69 C....................................... 70 E.... Instrumen Penelitian .................. 46 C.......................................................... Teori Motivasi ......................................... Macam-macam Motivasi Belajar....... 23 3............. 20 1.................................

....................... 85 B..................................................................... 86 C............................... Saran ......... Kesimpulan........ Bentuk-bentuk Pemberian Penguatan (reinforcement) dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI pada Siswa SMP Negeri 18 Malang ... 82 3............. 87 BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A.............................. 80 1................................ Penyajian Data ..... 100 B................................. 102 BAB VI KESIMPULAN A................................................ Hasil Penelitian .. 80 2................. 106 B................................................Visi Misi SMP Negeri 18 Malang .................. Letak Geografis SMP Negeri 18 Malang ................. Latar Belakang Obyek Penelitian ...... Implikasi Pemberian Penguatan (reinforcement) dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI pada Siswa SMP Negeri 18 Malang .............................................. Sejarah berdirinya SMP Negeri 18 Malang ................................12 BAB IV HASIL PENELITIAN A.............................. 101 C................................. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Pemberian Penguatan (reinforcement) dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI pada Siswa SMP Negeri 18 Malang.................................. 108 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN ...................

....14 HARAPAN SISWA BELAJAR PAI .................... 86 4... 89 4.....1 DATA GURU SMP NEGERI 18 MALANG.............4 PENGUATAN YANG SERING DIBERIKAN OLEH GURU PAI KEPADA SISWA .............13 MENANYAKAN MASALAH PAI PADA GURU .....12 SIKAP SISWA TERHADAP PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ........................................................................... 92 4...............9 KEAKTIFAN SISWA DIDALAM KELAS SETELAH DIBERI PENGUATAN .............................3 PRESTASI AKADEMIK NILAI UJIAN SEKOLAH (US) ................................................. 93 4......... 85 4.................... 94 .10 SIKAP SISWA SETELAH DIBERI PENGUATAN DAPAT MENGERJAKAN TUGAS DENGAN TEPAT ............................................. 81 4.........................................................................2 DATA SISWA SMP NEGERI 18 MALANG DALAM EMPAT TAHUN TERAKHIR (2007-2008)...... 87 4.6 RESPON SISWA KETIKA DIBERI PENGUATAN ................. 90 4............5 PENGUATAN YANG LEBIH DISUKAI SISWA .................. 82 4.......11 KEINGINAN MENCAPAI NILAI MAKSIMAL SETELAH DIBERI PENGUATAN . ..................................15 KELENGKAPAN FASILITAS PAI YANG DIMILIKI SMP NEGERI 18 MALANG .. ........13 DAFTAR TABEL TABEL HALAMAN 4..................... 86 4.............. 91 4.. 82 4...........................7 PEMBERIAN PENGUATAN NEGATIF BERUPA HUKUMAN DAPAT MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR.........8 PERASAAN SISWA BELAJAR PAI SETELAH DIBERI PENGUATAN .............. 90 4.......... 97 4...................

....19 METODE YANG DIGUNAKAN GURU PAI DALAM MENGAJAR...........20 PROGRAM PERLOMBAAN PAI DISEKOLAH........ 95 4......................... 97 ......................................18 MEMPRAKTEKAN PAI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HAR .................16 ORANG TUA MENANYAKAN ULANGAN PAI .......17 ORANG TUA MEMBERIKAN HADIAH/PUJIAN JIKA NILAI PAI BAGUS ...................... 96 4....... 95 4.................................................. ....... ...........................14 4. 96 4................

15 DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Gamabar 2 : Stuktur organisasi SMP Negeri 18 Malang 2007-2008 : Dena SMP Negeri 18 Malang 2008 .

16 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Dena sekolah 7. Bukti konsultasi . Pedoman wawancara kepada guru PAI dan siswa SMP Negeri 18 Malang 4. Surat permohonan bimbingan skripsi 2. Sruktur organisasi 6. Surat izin penelitian 3. Dokumentasi penelitian 8. Surat keterangan penelitian 9. Pedoman observasi dan dokumentasi 5.

Kata kunci : Penguatan (Reinforcement). Oleh karena itu seorang pendidik haruslah bijak dan memikirkan terlebih dahulu dalam mengambil suatu tindakan.17 ABSTRAK Lailiyah. Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif. Motivasi. tetapi juga berupa kecakapan. pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi. c) Dapat menyelesaikan tugas dengan tepat. Dengan memberikan penguatan. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan. Saat ini sebagian besar pendidik kurang memperhatikan dalam mengambil suatu tindakan. Implikasi pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar siswa PAI di SMP Negeri 18 Malang. Semakin tepat tindakan yang diberikan akan menjadikan siswa termotivasi untuk belajar. Hasrat . dokumentasi dan angket dengan menggunakan analisis dengan rumus: P =F x100% N Hasil yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah Bentuk penguatan yang sering diberikan guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa adalah bentuk penguatan verbal berupa pujian. b) Menjadikan siswa aktif dikelas. sikap. ada salah satu cara yang dapat diterapkan oleh pendidik yaitu dengan memberikan penguatan (reinforcement) yang tepat kepada siswa. Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Pd. Karena dengan belajar akan membawa suatu perubahan pada individu yang melakukannya. Minat ini bisa muncul karena adanya kebutuhan. interviuw. Hj. M. siswa merasa dihargai segala usaha dan juga prestasinya. Faktor pendukung pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar PAI. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Pembimbing: Dr. Fakultas Tarbiyah. minat dan penyesuaian diri. Skripsi. Atas dasar latar belakang diatas. maka yang menjadi rumusan masalah adalah adalah tentang bentuk-bentuk pemberian penguatan yang diberikan guru dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang. harga diri. penghargaan dan persetujuan. Belajar PAI. a) Minat siswa dalam belajar PAI. 2008. karena itu dikatakan bahwa minat merupakan sarana motivasi yang pokok atau utama. dan bentuk penguatan nonverbal jarang diberikan kepada siswa. Sutiah. b) Keinginan siswa mempelajari PAI. Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan dan penghambat pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi siswa PAI di SMP Negeri 18 Malang. Implimentasi pemberian penguatan ini adalah a) siswa senang belajar PAI setelah diberikan penguatan. Pemberian Penguatan (Reinforcement) Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 18 Malang. keterampilan. karena sekecil apapun tindakan guru akan membawa dampak positif dan negatif kepada siswa. Dalam meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam di sekolah. d) Serta keinginan siswa mendapatkan nilai yang maksimal. Lailatul.

keinginan untuk belajar pada diri siswa berarti memang ada motivasi belajar dalam diri siswa tersebut.18 untuk belajar berarti ada unsur kesenjangan ada maksud dan keinginan untuk belajar. c) Kurang adanya program kompetisi PAI disekolah. . Kompetisi dapat dijadikan sebagai sarana motivasi untuk mendorong belajar siswa. sehingga tentu hasilnya akan lebih baik. d) perhatian orang tua. b) Metode yang digunakan guru PAI kurang bervariasi. Sedangkan faktor penghambat dari pemberian penguatan (reinforcement) adalah a) Masih adanya siswa yang belum mempraktekkan pelajaran PAI dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian diatas penulis memberikan saran sebagai berikut: Hendaknya pemberian penguatan (reinforcement) kapada siswa perlu diperhatikan. Dan memvariasi metode pengajaran serta orang tua siswa lebih memperhatikan lagi kepada anaknya agar siswa dapat mempraktekkan pelajaran PAI dalam kehidupan sehari-hari. salah satunya yaitu sering diadakan program kompetisi atau perlombaan PAI disekolah. c) Fasilitas yang lengkap.

menjunjung tinggi hak asasi manusia. memiliki kesehatan jasmani dan rohani. demokratis.1 Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Bandung:Citra Umbara. Salah satu bantuan dan bimbingan yang dibutuhkan adalah melalui proses pendidikan agama Islam. Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam mengantisipasi masa depan. dalam perkembangannya ia memerlukan bimbingan agar bisa mengembangkan dirinya secara optimal. memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri serta memiliki tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan agar mampu mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas. karena pendidikan selalu diorientasikan pada penyiapan generasi mendatang yaitu peserta didik untuk memenuhi kebutuhan manusia.19 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang mempunyai kemampuan untuk beragama. 2003). menguasai ilmu pengetahuan teknologi dan seni. berakhlak mulia. Hal ini sejalan dengan apa yang diamanatkan oleh pemerintah yang tertulis di tujuan Pendidikan Nasional yaitu mengembangkan manusia Indonesia sesuai dengan fitrahnya untuk menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. memiliki keterampilan hidup yang berharkat dan bermanfaat. hlm. 7 1 .

afektif maupun psikomotorik. Karena pendidikan itu sendiri adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa (orang tua atau orang yang atas dasar tugas dan kedudukanya mempunyai kewajiban untuk mendidik. Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma tersebut. 2004). Karena itu. (Bandung: PT Rosdakarya. Djumransyah. Bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. hlm. 1995). baik secara kognitif.2 Dengan pendidikan akan mampu mengembangkan diri anak kearah kedewasaan. 11 3 2 . seperti guru. kiai. serta mewariskannya kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu proses pendidikan. sebagaimana dikemukakan oleh Chaplin dalam dictionary of psychology. hlm. didalamnya berlangsung dan terjadi suatu proses pendidikan sebagai usaha manusia untuk melestarikan hidupnya.3 Melalui pendidikan. manusia juga bisa belajar melalui pengalaman dan latihan untuk mengembangkan dirinya menjadi mahluk yang semakin dewasa. baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan.20 Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan adalah usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan. bagaimana pun peradaban suatu masyarakat. Psikologi Pendidikan (Suatu Pendekatan Baru). 22. Muhibbin Syah. dan pendeta dalam lingkup keagamaan dan lain-lain) dengan pengaruhnya meningkatkan si anak kearah kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari perbuatan anak. Filsafat Pendidikan (Malang:Bayumedia Publishing.

Atas dasar itu seorang pendidik haruslah bijak dalam mengambil tindakan. minat. mengamati. dkk. menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama serta lebih banyak menekankan kepada kebaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan. Jadi belajar akan membawah suatu perubahan individu yang belajar. hlm. 28 . watak dan penyesuaian diri. baik bagi keperluan sendiri maupun orang lain. Harus dipikirkan bagaimana membentuk kepribadian siswa menjadi baik sesuai dengan tujuan pendidikan dan terbentuknya kepribadian siswa baik. sikap. hlm. harga diri. ranah kognitif. Tetapi juga berbentuk kecakapan.. pengertian. karsa. 4 5 Ibid.21 belajar juga merupakan proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus. 4 Sedangkan pendidikan Islam adalah pendidikan individual dan masyarakat. keterampilan. psiko-fisik untuk menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya yang berarti menyangkut unsur cipta. karena sekecil apapun tindakan guru nantinya akan menimbulkan dampak positif dan negatif pada siswa. rasa.5 Sehingga perubahan tingkah laku atau keterampilan pada seseorang dengan serangkaian kegiatan seperti membaca. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan. afektif dan psikomotor. Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara dan Depag. karena dalam ajaran agama Islam berisi tentang sikap dan tingkah laku pribadi masyarakat. Dengan kata lain belajar adalah rangkaian jiwa raga. 90 Zakiah Darajat. 1996). meniru dan lain sebagainya. mendengarkan.

Untuk mencapai tujuan tersebut guru juga perlu memahami latar belakang yang mempengaruhi belajar siswa sehingga guru dapat memberikan motivasi yang tepat kepada peserta didik. makin tepat motivasi yang diberikan makin tinggi pula keberhasilan pembelajaran itu. motivasi senantiasa menentukan intensitas usaha belajar siswa. Dengan demikian dalam kegiatan belajar mengajar guru harus bisa memotivator kepada peserta didiknya. dalam menggunakan sarana pendidikan dan pengajaran serta kegiatan yang relevan dengan kebutuhan siswa. agar mereka senantiasa semangat dan giat dalam belajar. disamping ditentukan oleh kecakapan guru. motivasi merupakan hal yang sangat penting dalam belajar. sehubungan dengan hal tersebut. Namun ada cara lain yang bisa diterapkan selain memberikan motivasi yaitu dengan memberikan penguatan (reinforcement) kepada siswa. Penguatan (reinforcement) yang merupakan bagian dari modivikasi tingkah laku siswa yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan . serta ditentukan oleh bagaimana cara guru dalam memotivasi dan membimbing siswa kearah belajar yang lebih baik. karena dengan memberikan penguatan siswa merasa dihargai segala prestasi dan juga usahanya.22 Untuk mengatasi masalah tersebut dan juga seorang pendidik menginginkan kesuksesan dalam pendidikan dan pengajaran. maka hasil belajar akan menjadi optimal. Apabila motivasi dapat ditimbulkan dalam proses belajar mengajar. Dan diharapkan proses pembelajaran pendidikan agama Islam dapat berhasil dan tujuan pendidikan dapat tercapai.

dan kepada kelas secara keseluruhan. 91 Mulyasa. kebermaknaan dan menghindari respon yang negatif. 2008). karena motivasi dan penguatan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. siswa tersebut akan merasa puas dan merasa diterimah atas hasil yang telah dicapainya dan siswa lain diharapkan akan berbuat seperti itu. atau pujian terhadap perbuatan yang baik dari siswa) merupakan hal yang sangat diperlukan sehingga dengan penguatan tersebut diharapkan siswa akan terus berusaha berbuat yang lebih baik.7 Penguatan merupakan salah satu sarana motivasi yang sangat pokok.. hlm. dalam proses belajar mengajar pemberian penguatan reinforcement (seperti pemberian penghargaan.6 Penguatan (reinforcement) adalah respon terhadap sesuatu prilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali prilaku tersebut. Untuk itu dengan diberikannya penguatan (reinforcement) kepada siswa dapat meningkat motivasi belajar.23 balik (Feet back) bagi si penerima (siswa) atas pembuatannya sebagai suatu tindakan dorongan ataupun koreksi. hlm. Sebab berhasil tidaknya Ibid. Dalam pelaksanaannya penguatan harus dilakukan dengan segera dan juga bervariasi. Misalnya guru tersenyum atau mengucapkan kata-kata “Bagus” kepada siswa yang dapat mengerjakan pekerjaan rumah yang baik akan besar pengaruhnya terhadap siswa. 77-78 7 6 . Menjadi Guru Profesional (Menciptakan pembelajaran kreatif dan menyenangkan) ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya. keantusiasan. dengan prinsip kehangatan. Penguatan dapat dilakukan secara verbal dan nonverbal. Penguatan dapat ditujukan kepada pribadi tertentu.

Apa saja bentuk-bentuk pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam (PAI) siswa di SMP Negeri 18 Malang? 2. maka dapatlah dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Dan tentunya guru PAI mempunyai cara tersendiri bagaimana penguatan yang diberikan tersebut dapat direspon siswa dengan baik sehingga dapat meningkatkan motivasi belajarnya. Maka dengan hal ini peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam terhadap masalah tersebut dan mengadakan penelitian dilokasi ini sesuai judul yang diambil peneliti yaitu Pemberian Penguatan (reinforcement) dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) di Siswa SMP Negeri 18 Malang B. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang diatas.24 suatu proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh adanya motivasi belajar siswa . SMP Negeri 18 Malang merupakan salah satu lembaga yang guru pendidikan agama Islamnya menggunakan penguatan (reinforcement) sebagai suatu cara untuk meningkatkan motivasi belajar. Bagaimana implikasi pemberian penguatan (reinforcement) terhadap meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam (PAI) siswa di SMP Negeri 18 Malang? .

Untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk pemberian penguatan (reinforcement) yang dapat meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam di siswa SMP Negeri18 Malang. D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian merupakan titik akhir dari suatu tindakan atau kegiatan seseorang yang ingin dicapainya. Untuk mendiskripsikan faktor-faktor yang mendukung keberhasilan dan penghambat pemberian penguatan dalam meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam siswa di SMP Negeri 18 Malang. Sekolah Menjadi masukan bagi lembaga tentang pentingnya pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya dalam pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI). 2. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak: 1.25 3. Praktisi a. Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan dan penghambat pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam (PAI) siswa di SMP Negeri 18 Malang? C. . begitu juga dalam penelitian ini mempunyai tujuan yang hendak dicapai antara lain: 1. Untuk mendeskripsikan implikasi pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam siswa di SMP Negeri 18 Malang 3.

26 b. sentuhan dan hadiah) . Memberikan wawasan dan pengalaman praktis dibidang penelitian. 2. acungan jempol. Selain hasil penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai bekal untuk menjadi tenaga pendidik yang profesional. pendekatan. Bagi Siswa Pemberian penguatan (reinforcement) dapat meningkatkan motivasi belajar dan juga prestasi siswa khususnya mata pelajaran pendidikan agama Islama. Ruang Lingkup Penelitian 1. Bentuk penguatan non verbal (anggukan. Bagi Penulis a. senyuman. D. penghargaan. Penelitian ini dibatasi pada upaya guru dalam memberikan bentukbentuk pemberian penguatan (reinforcement) verbal maupun non verbal yang diberikan guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di kelas VII A SMP Negeri 18 Malang. meliputi: a. Bagi Guru Sebagai bahan pertimbangan bagi guru-guru PAI untuk menerapkan penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam siswa. Bentuk penguatan verbal (kata-kata pujian. c. persetujuan) b.

meliputi: b. maka peneliti akan memberikan penjelasan dan penegasan istilah. Faktor intern (kesiapan siswa mendapat nilai tertinggi. Implikasi pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam siswa pada kelas VII A SMP Negeri 18 Malang. E. Motivasi Ektrinsik: . Penjelasan Istilah Untuk menghindari kesalahpahaman penafsiran judul dalam penelitian ini. Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan dan penghambat pemberian penguatan (Reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam (PAI) siswa di SMP Negeri 18 Malang.Aktif dikelas 2.Ingin mendapat nilai tuntas mencapai KKM PAI 3. Motivasi Intrinsik: .27 2. Faktor ekstern (kondisi lingkungan siswa. kebutuhan siswa dalam menjalankan nilai-nilai agama).Mengerjakan tugas dengan baik . sebagai berikut: .Senang belajar PAI . meliputi: 1. upaya guru dalam pembelajaran). c.

Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respon. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Konsep dan Makna Pambelajaran (untuk membantu memecahkan problematika belajar dan mengaja ). apakah bersifat verbal ataupun nonverbal.10 4. Psikologi Belajar dan Mengajar. hlm. 173 9 Uzer Usman. Lalu menghayati tujuan. Suatu masalah harus disajikan menurut urutanurutannya. Belajar adalah sebagai suatu proses dimana suatu organisma berubah perilakunya sebagi akibat dari pengalaman. 2004). mendahulukan sesuatu yang harus didahulukan dan mengakhirkan sesuatu yang harus diahirkan dan seterusnya. yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa. Sistematika Penelitian Dalam membahas suatu permasalahan harus didasari oleh kerangka berfikir yang jelas dan teratur. hlm. 130-131 . (Bandung: Sinar Baru Algensindo. 80 10 Syaiful Sagala. Pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami agama Islam seluruhnya. 1992) hlm. Motivasi adalah dorongan atau daya penggerak yang dapat membangkitkan atau mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan dalam rangka mencapai tujuan. yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feet back) bagi sipenerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindakan dorongan ataupun koreksi.9 3.8 2. Menjadi Guru Profesional.11 F. yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. 13 11 Abdu Majid & Dian Andatani. 2001). 2007) hlm. ( Bandung: Alfabeta. Karena itu harus ada sistematika 8 Oemar Hamalik.28 1. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Konsep Implementasi Kurikulum 2004) (Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

manfaat penelitian. urgensi pendidikan agama Islam (PAI). dasar-dasar pelaksanaan PAI. halaman abstrak. halaman daftar isi. halaman daftar lampiran. tujuan penelitian. macam-macam motivasi belajar. halaman persembahan. BAB II Kajian Pustaka. halaman pengesaha. teori belajar. kompetensi lulusan sekolah menengah. halaman motto. macammacam pemberian penguatan (reinforcement). macam-macam pemberian penguatan. fungsi motivasi belajar. prinsip-prinsip penggunaan penguatan. rumusan masalah. Berisi tentang latar belakang masalah. halaman persetujuan. halaman daftar tabel. teknik data dan sistematika. kompenen keterampilan memberikan penguatan (reinforcement).29 pembahasan sebagai kerangka yang dijadikan acuan dalam berfikir secara sistematis. tujuan penguatan (reinforcement). bentuk-bentuk motivasi belajar. pengertian penguatan. karakteristik motivasi. Untuk memberikan gambaran mengenai isi penelitian laporan penelitian ini maka sistematika pembahasannya disusun sebagai berikut: BAB I Pendahuluan. Berisi tentang pengertian tujuan PAI. Adapun sistematika pembahasan dalam skripsi ini adalah sebagai berikut: Sebelum membahas bab pertama terlebih dahulu diawali dengan halaman judul. motivasi belajar. . halaman kata pengantar. halaman pengajuan. tujuan pendidikan agama Islam (PAI). faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa. teori motivasi.

tahap-tahap penelitian. prosedur pengumpulan data dan teknik analisis data. dan sumber data. Dalam bab ini. lokasi penelitian.30 BAB III Metode Penelitian Berisi tentang pendekatan penelitian. juga dikemukakan beberapa saran yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan . pengecekan keabsahan data. kehadiran peneliti. BAB V Penutup merupakan bab terakhir yang berisikan tentang kesimpulan dari semua isi atau hasil penelitian ini. BAB IV Hasil Penelitian dan Analisis Pada bab ini penulis memaparkan hasil penelitian dan analisis data berkaitan dengan pemberian penguatan dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang.

31 BAB II KAJIAN TEORI A. apakah bersifat verbal ataupun nonverbal.. Siswa tersebut akan merasa puas dan merasa diterima atas hasil yang dicapai. dan siswa lain diharapkan akan berbuat seperti itu. Menurut Moh. Pembahasan Tentang Penguatan (Reinforcement) 1. penghargaan atau pujian terhadap perbuatan yang baik dari siswa merupakan hal sangat diperlukan sehingga siswa terus berusaha berbuat lebih baik misalnya guru tersenyum atau mengucapkan kata-kata bagus kepada siswa yang dapat mengerjakan pekerjaan rumah yang baik akan besar pengaruhnya terhadap siswa. Pemberian penguatan (reinforcement) ini dilakukan oleh guru dengan tujuan agar siswa dapat lebih giat berpartisipasi dalam interaksi belajar mengajar dan mengajar dan siswa agar mengulangi lagi perbuatan yang baik itu. Pengertian Penguatan (Reinforcement) Menurut Soemanto yang dimaksud dengan pemberian penguatan (reinforcement) adalah suatu respon positif dari guru kepada siswa yang telah melakukan suatu perbuatan yang baik atau berprestasi.12 Dalam proses belajar mengajar. op. Uzer Usman Penguatan (Reinforcement) adalah segala bentuk respon. 95 .cit.hlm. yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feet back) bagi 12 Wasty Soemanto. yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa.

Menjadi Guru Profesional. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengganjar atau membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi untuk interaksi dalam belajar mengajar. Menjadi Guru Profesional (Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan). Penguatan dikatakan juga sebagai respon terhadap tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya tingkah laku tersebut.J Hasibuan dan Moedjiono ada enam tujuan pemberian penguatan yaitu: 1. 4. c) Meningkatkan kegiatan belajar dan membina prilaku laku yang produktif. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Mengembangkan dan mengatur diri sendiri dalam belajar. (Bandung PT Remajakarya.13 2. 80 Mulyasa.32 sipenerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindakan dorongan ataupun koreksi. 78 14 . 2008). b) Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar. 2. Mengontrol atau mengubah sikap yang mengganggu kearah tingkah laku belajar yang produktif.15 13 Uzer Usman. hlm. 2001). hlm. Tujuan Pemberian Penguatan Menurut Mulyasa ada tiga tujuan pemberian penguatan yaitu: a) Meningkatkan perhatian siswa terhadap pembelajaran. Melancarkan atau memudahkan proses belajar. Mengarahkan kepada cara berfikir yang baik atau divergen dan inisiatif sendiri. 5.14 Sedangkan menurut J. 3. Meningkatkan perhatian siswa terhadap pembelajarn.

dukungan. persetujuan dan sebagainya. J. Kompenen Keterampilan Memberikan Penguatan Beberapa kompenen yang perlu dipahami yang dilakukan oleh guru agara ia dapat memberikan penguatan secara bijaksana dan sistematis adalah: a. Macam-macam Penguatan Menurut Uzer usman mengemukakan dua macam pemberian penguatan. acungan jempol wajah cerah dan masih banyak yang lainya. Kedua macam pengutan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. senyuman. b) Penguatan pendekatan. Hasibuan dan Moedjiono. yaitu verbal dan non verbal. antara lain: a) Penguatan gerak isyarat. hlm. 2008). Proses Belajar Mengajar. penghargaan. Penguatan nonverbal Pengutan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara.J. Penguatan Verbal Komentar guru berupa kata-kata pujian. 4. Komentar demikian merupakan balikan yang diberikan guru atas kinerja ataupun prilaku siswa. (Bandung: PT Rosdakarya.33 3. pengakuan dapat digunakan untuk penguatan tingkah laku dan kinerja siswa. Penguatan verbal Penguatan ini biasanya diungkapkan dengan menggunakan kata-kata pujian. 2. c) Penguatan dengan sentuhan. misalnya anggukan. 58 15 .

betul. serta menjabat tangan siswa. Kalimat. berjalan menuju siswa. seringkali digunakan bersamaan dengan penguatan verbal. seperti: pekerjaanmu bagus sekali. disamping siswa. ya. serta latar belakang kebudayaan setempat. anggukan kepala. yakni: 1. bagus sekali. d. Kesan akrab juga dapat timbul dengan cara ini. jenis kelamin. Beberapa prilaku yang dapat dilakukan oleh guru dalam memberikan penguatan ini antara lain: berdiri. seperti: bagus. beberapa prilaku yang dapat dilakukan guru antara lain: menepuk pundak atau bahu siswa. Dalam penggunaan penguatan ini. c. acungan ibu jari. Kata-kata. 2. yang gilirannya dapat meningkatkan motivasi. Penguatan dengan sentuhan Teknik ini penggunaannya perlu menggunakan pertimbangan latar belakang anak. pada saat itu guru menganggukkan kepalanya. Penguatan dengan cara mendekati anak Siswa didekati oleh guru pada saat mengerjakan soal dapat terkesan diperhatikan. caramu memberi penjelasan bagus sekali dan sebagainya. berjalan di sisi siswa dan sebagainya.34 Penguatan verbal dapat dinyatakan dalam dua bentuk. tepat. tepuk tangan dan sebagainya. . b. akibatnya anak tidak merasa dibebani tugas. duduk dekat dengan siswa atau kelompok siswa. umur. Keadaan ini dapat menghangatkan suasana belajar anak. Penguatan berupa mimik muka dan gerakan badan (gestural) Penguatan berupa gerak badan dan mimik muka antara lain: senyuman. dan sebagainya. Verbal “pekerjaanmu baik sekali”.

e. maka guru perlu menyediakan berbagai alternatif pilihan yang sesuai dengan kesukaan masing-masing siswa. Untuk menguatkan gairah belajar. Oleh karena itu tiap-tiap anak memiliki kesukaran masing-masing. Anak SMA yang berprestasi diberikan penghargaan berupa pensil. Bentuk kegiatan belajar yang disenangi anak dapat mempertinggi intensitas belajarnya. benda-benda yang berupa alat tulis dan buku.35 mengelus rambut siswa. 2007). dkk. berbeda dengan anak usia sekolah lanjutan. Penguatan yang berupa simbol atau benda ini dapat berupa piagam penghargaan.16 Siti kusrini. tentunya kurang relevan. Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan Motivasi belajar anak dipengaruhi pula oleh apakah kegiatan belajar yang dilaksanakan tersebut menyenangkan dirinya atau tidak. f. dapat pula berupa komentar tertulis pada buku anak. Dengan demikian alternatif kegiatan belajar yang sesuai dengan kesukaannya tersebut. Untuk anak tingkat dasar. guru dapat memiliki kegiatankegiatan belajar yang disukai anak. Keterampilan Dasar Mengajar (PPl 1) Berorientasi Pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (Fakultas Tarbiyah UIN Malang. hlm. Penguatan berupa simbol atau benda Jenis simbol atau benda yang diberikan diselaraskan dengan usia perkembangan anak. sekaligus kegiatan itu merupakan penguatan bagi anak. 107-111 16 . atau mengangkat tangan siswa yang mengang dalam pertandingan. akibatnya anak tidak ada gairah untuk belajar. sehingga apabila bentuk kegiatan belajar yang harus dilaksanakan tersebut disukai.

Untuk itu maka guru harus memperhatikan prinsip-prinsip dalam pemberian penguatan. “Ya. seumpama. a. namun dapat pula pemberian penguatan (reinforcement) yang diberikan pada siswa enggan belajar. jawabanmu sudah baik. op. bila seorang siswa yang hanya memberi jawaban sebagian benar.” sehingga siswa tersebut mengetahui bahwa jawabannya tidak seluruhnya salah.17 5. Uzer Usman. Penguatan pada pribadi tertentu Penguatan harus jelas ditujukan kepada siswa tertentu. karena penguatan yang diberikan tidak sesuai dengan yang dikehendaki siswa. Ada beberapa cara pengguanaan penguataan yang perlu diperhatikan. Dalam keadaan seperti ini guru sebaiknya menggunakan atau memberikan penguatan tak penuh (partial).36 Jika anak memberikan jawaban yang hanya sebagian saja benar. pemberian penguatan yang berlebihan akan berakibat fatal. guru hendaknya tidak langsung menyalahkan siswa. tetapi masih perlu disempurnakan. 17 Moh. sebaiknya guru menyatakan.. dan ia mendapat dorongan untuk menyempurnakannya. hlm. Prinsip-prinsip Penggunaan Penguatan Walaupun pemberian penguatan (reinforcement) sifatnya sederhana dalam pelaksanaannya.cit. Oleh karena itu pandangan guru harus tegas diarahkan kepada anak yang memperoleh penguatan serta diusahakan menyebutkan nama anak yang mendapatkan penguatan serta memandangnya. Dalam pemberian penguatan (reinforcement) yang penting harus sesuai dengan tindakan yang dilakukan oleh siswa tersebut. 82 .

Prinsip dalam penguatan tidak penuh adalah pengakuan guru atas jawaban yang sebagian jawaban yang salah. Untuk menghindari lunturnya makna penguatan dan kemungkinan terjadi bahan tertawaan anak. guru dapat menggunakan secara bervariasi. .37 b. Penggunaan penguatan yang monoton dapat menjadi bahan tertawaan anak. Teknik ini dapat dilakukan dengan mengatakan “jawabanmu ada benarnya. Dan lebih penting untuk itu adalah menerapkan prinsip-prinsip penggunaannya secara matang. dan lebih sempurna dirinci secara sistematis”. misalnya jika satu tugas telah dilaksanakan dengan baik oleh satu kelas. guru dapat memvariasikan penggunaannya. Variasi Penggunaan Untuk menghindari ketidak bermaknaan. Penguatan kepada kelompok Penguatan dapat juga diberikan kepada sekelompok siswa. c. guru dapat mengizinkan kelas tersebut untuk bermain basket yang memang menjadi kegemaran mereka. Bahkan anak-anak ikut serta memberikan penguatan apabila teman lain menjawab dengan benar. d. Penguatan yang tidak penuh Sering didapat jawaban anak yang diberikan anak atas pertanyaan guru sedikit mengandung kebenaran. Untuk itu penguatan yang digunakan tentu penguatan tidak penuh. Tentang bagaimana teknik mengatakan tergantung kontek dan keadaan jawaban anak.

dan variasi dalam penggunaannya.cit. Menghindari penggunaan respons yang negatif Respon negatif yang diberikan oleh guru terhadap siswa akan mematahkan semangat siswa dalam mengembangkan dirinya. dan gerak badan akan menunjukkan adanya kehangatan dan keantusiasan dalam memberikan penguatan. namun dalam pembahasan ini dua kata yang berbeda tersebut saling berhubungan membentuk satu arti. 81-82 Uzer Usman. hlm. dan menghindari respon negatif. op.18 Sedangkan menurut Moh.hlm. 18 19 Ibid.. Namun selain selain ketiga prinsip tersebut Uzer Usman juga menambahkan empat cara menggunakan penguatan dengan segera. 82 . Untuk lebih jelasnya penulis akan memaparkan pengertian dua kata tersebut. kebermaknaan. Kehangatan dan keantusiasan Sikap dan gerak guru. Tinjauan Tentang Motivasi Belajar 1.. Motivasi belajar terdiri dari dua kata yang mempunyai pengertian sendiri-sendiri yaitu motivasi dan belajar. Kebermaknaan Penguatan hendaknya diberikan sesuai dengan tingkah laku dan penampilan siswa sehingga ia mengerti dan yakin bahwa ia patut diberi penguatan. yaitu kehangatan dan kantusiasan.38 1. mimik. Pengertian Motivasi Belajar. 2. Uzer Usman ada tiga prinsip dalam penggunaan penguatan. termasuk suara. 3.19 B.

Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada . op. 205-206 20 .39 Motivasi berasal dari dari kata motif. 1998). Donald mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afetif dan reaksi untuk mencapai tujuan. hlm. (Jakarta: Rineka Cipta. 2007). tingkah laku yang didorong oleh keadaan tersebut (motivated behavior).. Berawal dari kata motif itu maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. hlm.22 Sardiman. kata motif diartikan sebagai upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. 73 21 Oemar Hamalik.cit. memberikan pengertian tentang motivasi sebagai kondisi atau keadaan yang mengaktifkan atau memberi dorongan kepada makhluk untuk bertingkah laku mencapai tujuan yang ditimbulkan oleh motivasi. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan didalam subyek untuk melakuakan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Psikologi Pendidikan. 173 22 Wasty Soemanto. Secara terminologi. Jadi secara etimologi motivasi adalah dorongan atau daya penggerak yang dapat membangkitkan atau mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan dalam rangka mencapai tujuan. 3) James O.20 Motivasi merupakan segala tenaga yang dapat membangkitkan atau mendorong seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. dan tujuan dari tingkah laku tersebut (goals or end such behavior). Whittaker. banyak para ahli yang memberikan batasan tentang pengertian motivasi antara lain sebagai berikut: 1) Mc. hlm.21 2) Clifford T. Morgan menjelaskan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek-aspek dari motivasi yaitu keadaan yang mendorong (motivating states).

pengeahuan dan sikap-sikap. Witherington memberi batasan belajar adalah perubahan di dalam kepribadian yang menyatukan sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan. Dari pengertian motivasi dan belajar yang dikemukakan di atas. 4) Menurut Syamsudin Makmun (2003: 159) yang dimaksud dengan perubahan dalam konteks belajar itu dapat bersifat fungsional atau struktural. 2) Morgan mengemukakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. (Bandung: PT Rosdakarya. dan behavioral. Beberapa uraian diatas tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku individu baik fisik (jasmani) maupun psikis (rohani) yang relatif menetap. Dalam hal ini Sardiman mengemukakan bahwa dalam kegiatan belajar motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri 23 Ngalim Purwanto.23 3) Lester D. 2002). material. dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi belajar adalah totalitas daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar untuk mencapai tujuan. hlm. sikap. 84 . serta perubahan tersebut terjadi setelah melalui pengalaman dan latihan serta interaksi dengan lingkungan yang telibat proses kognitif.40 Sedangkan pengertian belajar dapat didefinisikan menurut beberapa para ahli sebagai berikut: 1) HC. kepandaian atau suatu pengertian. serta keseluruhan pribadi. Crow mengemukakan belajar adalah upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan. kebiasaan. Psikologi Pendidikan.

dapat diulang-ulang dengan hasil yang sama. Adapun rinciannya sebagai berikut: a. hlm. Hedonisme adalah suatu aliran didalam filsafat yang memandang bahwa tujuan hidup yang utama pada manusia adalah mencari Ngalim Purwanto. sebab motivasi akan memberikan gairah atau semangat seseorang (siswa) dalam belajar sehingga siswa akan memiliki energi yang banyak untuk melakukan kegiatan belajar demi mencapai tujuan. hlm.25 Beberapa uraian diatas dapat dipahami bahwa motivasi belajar memegang peranan penting. Orang kebetulan dapat melakukan sesuatu. teori naluri. Sedangkan sesuatu karena hasil belajar dapat melakukannya secara berulang-ulang dengan hasil yang sama. Bisa membedakan antara perubahan prilaku hasil belajar dengan yang terjadi secara kebetulan. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. kesenangan atau kenikmatan. 73 Muhammad Ali. cit.24 Sehingga perubahan prilaku dalam belajar relatif permanen. Dengan demikian hasil belajar dapat diidentifikasikan dari adanya kemampuan melakukan sesuatu secara permanen.41 siswa yang menimbulkan kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar dapat tercapai. 2. op. yakni terdapat lima teori: teori hedonisme. teori daya pendorong dan teori kebutuhan. teori reaksi yang dipelajari. tentu tidak dapat mengulang perbuatan itu dengan hasil yang sama. Teori Hedonisme Hedone adalah bahasa Yunani yang berarti kesukaan. Teori Motivasi Beberapa teori motivasi yang akan dibicarakan pada bab ini. 2004). (Bandung: Sinar Baru Algensindo. 14-15 25 24 ..

27 26 27 Ngalim Purwanto. manusia cenderung memilih alternatif pemecahan yang dapat mendatangkan kesenangan dari pada yang mengakibatkan kesukaran. maka kebiasaan-kebiasaan apapun tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia yang diperbuatnya sehari-hari dorongan atau gerakan oleh ketiga naluri. hlm. 76 . 3) Dorongan nafsu (naluri) mengembangkan atau mempertahankan jenis.42 kesenangan (hedone) yang bersifat duniawi. Menurut pandangan hedonisme. 2) Dorongan nafsu (naluri) mengembangkan diri.. hlm. Teori Naluri Pada dasarnya manusia memiliki tiga golongan nafsu pokok yaitu: 1) Dorongan nafsu (naluri) mempertahankan diri. kesulitan. Oleh karena itu.. menurut teori ini untuk memotivasi seseorangan harus berdasarkan naluri mana yang akan dituju dan perlu dukembangkan.26 b. Dengan demikian ketika naluri pokok itu. 74 Ibid. Sebagai contoh: lauknya dan dapat memahami pula mengapa ia bereaksi dan bersikap yang mungkin berbeda dengan orang lain dalam menghadapi suatu masalah. Oleh karena itu setiap persoalan yang perlu pemecahan. cit. op. Seringkali kita temukan seseorang bertindak melakukan sesuatu karena didorong oleh lebih dari naluri pokok sekaligus sehingga sukar bagi kita untuk menentukan naluri pokok mana yang lebih dominan mendorong orang tersebut melakukan tindakan yang demikian itu. penderitaan dan sebagainya. manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang mementingkan kehidupan yang penuh kesenangan dan kenikmatan.

Maslow mengemukakan adanya lima tingkat kebutuhan pokok inilah yang kemudian dijadikan . d. menurut teori ini. Teori kebutuhan Teori motivasi yang sering banyak dianut orang-orang adalah teori kebutuhan. ia harus mendasarkannya atas daya pendorong yaitu atas naluri dan reaksi yang dipelajari dari kebudayaan lingkungan yang dimilikinya. apabila seorang pemimpin atau pendidik bermaksud memberikan motivasi kepada seseorang. Sejalan dengan itu pula terdapat adanya beberapa teori kebutuhan yang sangat erat berkaitan dengan kegiatan motivasi. Namun.43 c. baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikis. Berikut ini dibicarakan salah satu dari teori kebutuhan yang dimaksud. menurut teori ini. Teori ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya adalah untuk kebutuhannya. ia berusaha terlebih dahulu apa kebutuhan-kebutuhan orang yang akan memotivasinya. bila seorang pemimpin atau seorang pendidik ingin memotivasi anak buahnya. Daya pendorong adalah semacam naluri. oleh karena itu. cara-cara yang digunakan dalam mengejar kepuasan terhadap daya pendorong tersebut berlain-lainan bagi tiap individu menurut latar belakang kebudayaan masing-masing. tetapi hanya suatu dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum. Teori Daya Pendorong Teori ini merupakan perpanduan antara “teori naluri” dengan “teori reaksi yang dipelajari”. Misalnya suatu daya pendorong pada jenis kelamin yang lain. Oleh karena itu.

kelaparan. rasa setia kawan. perang. kesehatan fisik. yang bersifat primer dan fital yang menyangkut fungsi-fungsi biologis dasar dari organisme manusia seperti kebutuhan akan pangan. 2) Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (safety and security) seperti terjamin rasa keamanannya. terlindung dari bahaya dan ancaman penyakit. perlakuan tidak adil dan sebagainya. sandang dan papan. Adapun kelima tingkat kebutuhan pokok yang dimaksud dapat dilihat pada gambar berikut: Aktualisasi diri (Self Actualization) Kebutuhan Penghargaan (Esteem Needs) Kebutuhan Sosial (social needs Kebutuhan Rasa Aman Dan Rasa Perlindungan (Safety and Security Needs) Kebutuhan Fisiologis (physiological Needs) Keterangan: 1) Kebutuhan fisiologis: kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar. kebutuhan seks dan sebagainya. diperhitungkan sebagai pribadi. 3) Kebutuhan sosial (social needs) yang meliputi antara lain kebutuhan akan dicintai. . kemiskinan. diakui sebagai anggota kelompok.44 pengertian kunci dalam mempelajari motivasi manusia. kerja sama.

28 McClelland mengemukakan bahwa untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N. faktor-faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan tingkat kebutuhan itu antara lain latar belakang pendidikan. tinggi rendahnya kedudukan. termasuk kebutuhan dihargai karena prestasi. pandangan atau falsafah hidup. kratifitas dan ekspresi diri. kemampuan. Tingkat atau hirarki dari Maslow tidak dimaksud sebagai suatu kerangka yang dapat dipakai setiap saat. pengalaman masa lampau.wordpress.com/2008/03/19/teori-motivasi/ . hlm. 5) Kebutuhan akan aktualisasi diri (self acualization). pangkat dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengamati bahwa kebutuhan manusi itu berbeda-beda.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda.. 77-78 http://smpn2ransel.29 Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (High Achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu : 28 29 Ibid. citacita dan harapan masa depan dari tia individu. tetapi lebih merupakan kerangka acuan yang dapat digunakan sewaktu-waktu bila mana diperlukan untuk memperkirakan tingkat kebutuhan mana yang mendorong seseorang yang akan dimotivasi bertindak melakukan sesuatu. kedudukan atau status. pengembangan diri secara maksimum. sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi.45 4) Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs). seperti: kebutuhan mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki.

Siswa akan antusias untuk berprestasi tinggi. Karena itu.46 1) Sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat. yaitu : 1) Kebutuhan akan Prestasi ( Need for Achievment ) Kebutuhan. atan kebutuhan seseorang akan prestasi. 2) Menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya upaya mereka sendiri. Oleh . Seseorang menyadari bahwa hanya dengan mencapai prestasi yang tinggi akan dapat memperoleh pendapatan yang besar. dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah. penggerak yang memotivasi semangat bekerja seseorang. akan prestasi (needfor achievement=n Ach). 2) Kebutuhan akan Afiliasi ( Need for Affiliation ) Kebutuhan akan affliasi (need for Affiliation=n. merupakan daya. Af) menjadi daya penggerak yang akan memotivasi semangat bekerja seseorang. asalkan kemungkinan untuk itu diberi kesempatan. McClelland mengelompokan 3 kebutuhan manusia yang dapat memotivasi gairah bekerja seseorang. dan bukan karena faktor-faktor lain. 3) Menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka. Dengan pendapatan yang besar akhirnya memiliki serta memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. n Ach akan mendorong seseorang untuk mengembangkan kreatifitas dan mengarahkan semua kemampuan serta energi yang dimilikinya demi mencapai prestasi kerja yang maksimal. seperti kemujuran misalnya.

com/guruvalah . N Pow akan merangsang dan memotivasi gairah kerja serta mengarahkan semua kemampuannya demi mencapai kekuasaan atau kedudukan yang terbaik. Ego manusia ingin lebih berkuasa dari manusia lainnya akan menimbulkan persaingan. Merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat kerja. kebutuhan akan perasaan maju dan tidak gagal (sense of achievement).47 karena itu. Af ini merangsang gairah bekerja siswa karena setiap orang menginginkan kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain dilingkungan ia tinggal dan bekerja (sense of belonging). karena setiap manusia merasa dirinya penting (sense of importance). Seseorang karena kebutuhan n Af akan memotivasi dan mengembangkan dirinya serta memanfaatkan semua energinya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.geocities. Hal ini dapat dilihat bahwa individu tidak akan berusaha 30 http://www. n. dan kebutuhan akan perasaan ikut serta (sense of participation). supaya mereka termotivasi untuk bekerja giat.30 Beberapa uraian tentang teori motivasi diatas bila dikaitkan dengan motivasi belajar siswa terhadap pendidikan agama Islam dengan teori kebutuhan Maslow dan McClelland yakni menduduki tingkat ke lima adalah aktualisasi diri. Persaingan ditumbuhkan secara sehat oleh manajer dalam memotivasi bawahannya. kebutuhan akan perasaan dihormati. 3) Kebutuhan akan Kekuasaan ( Need for Power ) Kebutuhan akan kekuasaan ( needfor Power = n Pow).

Kebutuhan aktualisasi diri merupakan kebutuhan individu untuk mewujudkan apa yang ada dalam kemampuan. tidak ada cinta dan rasa memiliki. maka secara otomatis siswa akan belajar pendidikan agama Islam dengan baik. Kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki adalah kebutuhan yang mendorong individu untuk membangun hubungan dengan orang lain baik lingkungan keluarga. Sedangkan kebutuhan akan rasa harga diri disini Maslow menjadi dua yaitu: rasa harga diri dari diri sendiri dan penghargaan dari orang lain.48 memuaskan kebutuhan lain sebelum kebutuhan fisiologisnya terpenuhi. maka kebutuhan fisiologisnya harus terpuaskan terlebih dahulu. 3. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang siswa lapar tidak aman. lingkungan pergaulan atau dalam kelompok. Ciri-ciri Motivasi Belajar Mengenai makna dan teori tentang motivasi. perlu dikemukakan adanya beberapa ciri motivasi. Apabila menginginkan motivasi belajar pendidikan agama islam dapat berjalan dengan baik. Adapun kebutuhan akan rasa aman adalah satu kebutuhan yang akan muncul dominan pada siswa apabila kebutuhan fisiologisnya terpenuhi. maka siswa tidak termotivasi di dalam belajar pendidikan agama Islam di sekolah. seperti halnya siswa yang sedang lapar tidak akan bergerak untuk melakukan belajar pendidikan agama Islam. tidak ada penghargaan atas dirinya. Motivasi yang ada pada diri setiap orang itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut : . Setelah kebutuhan keempat tersebut terpuaskan baru muncul akan kebutuhan aktualisasi diri.

3..49 1. 4. kalau ia sudah yakin dan dipandangnya cukup rasional. berulang-ulang begitu saja sehingga kurang aktif). 5. Ciri-ciri motivasi seperti itu akan sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis. 2. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal. Dalam kegiatan belajar mengajar akan mencapai keberhasilan yang baik. Dapat mempertahankan pendapatnya.5 . Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu. Bahkan lebih lanjut siswa harus juga peka dan responsive terhadap berbagai masalah umum. 8. dan 31 Ibid. Siswa yang harus mempertahankan pendapatnya. (kalau sudah yakni akan sesuatu) 7. berarti seseorang itu memiliki motivasi yang cukup kuat. Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah untuk orang dewasa. 6. Siswa yang belajar dengan baik tidak terjebak pada sesuatu yang rutinitas dan mekanis. hlm. kalau siswa tekun mengerjakan tugas.31 Apabila seseorang memiliki ciri-ciri seperti di atas. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama. tidak pernah berhenti sebelum selesai). Lebih senang bekerja mandiri. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa) tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapainya). ulet dalam memecahkan berbagai masalah dan hambatan secara mandiri.

Hal-hal itu semua harus dipahami benar oleh guru. b. c. kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi ketika belajar. (Bandung : PT.32 Tataran utama yang dijadikan landasan untuk menentukan apakah anak termotivasi dalam belajarnya atau belum. 146 32 . Anak bergairah Belajar. bisa dilihat dari indikator diatas. hlm. agar dalam berinteraksi dengan siswanya dapat memberikan motivasi yang tepat dan optimal. Keinginan. d. 1993. proses dan kelanjutan belajar. Mencari dan memberikan informasi. Ahmad Tafsir. Metodologi Pengajaran pendidikan Islam. Penampilan berbagai usaha belajar dalam menjalani dan menyelesaikan kegiatan belajar sampai berhasil. Bertanya pada orang tua (pengajar) atau teman yang lain. Remaja Rosda Karya). Mengajukan pendapat atau komentar kepada orang tua (pengajar) atau teman yang lain. b. Keinginan dan keberanian serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan persiapan. e. Diskusi atau memecahkan masalah.50 bagaimana memikirkan pemecahannya. Indikator Anak Yang Termotivasi Belajarnya Di antara indikator anak yang termotivasi belajarnya adalah: a. Adapun ciri-ciri anak yang termotivasi dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya adalah : a. c. keberanian menampilkan minat. d. Kemandirian belajar.

c. Ulet menghadapi kesulitan. Dapat menjawab pertanyaan diakhir belajar. i. j. Menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah. l. Bekerja sama dan menjalin hubungan/ komunikasi dengan teman yang lain. e. k. Membuat kesimpulan sendiri tentang pelajaran yang diterimanya. Lebih senang belajar mendiri. Memberikan contoh yang benar. Memanfaatkan sumber belajar yang ada. b. d. n. . Dapat memecahkan masalah dengan tepat. Tekun menghadapi tugas. Mengerjakan tugas yang diberikan orang tua (pengajar). Sardiman memberikan penjelasan ciri-ciri seseorang termotivasi sebagai berikut : a. f. Cepat bosan dengan tugas rutin (kurang kreatif). Dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan orang tua (pengajar) dengan tepat saat belajar berlangsung. Menilai dan memperbaiki nilai pekerjaanya h. m.51 e. yaitu wujud dari respon yang akan membawa dampak positif bagi anak. Ciri-ciri di atas merupakan yang sering terjadi apabila anak telah termotivasi dalam belajarnya. Ada usaha dan motivasi dalam mempelajari bahan materi. g. o. Senang bila diberi tugas.

Ciri-ciri tersebut penting karena dengan motivasi yang kuat anak akan bisa belajar dengan baik. 98 . Tidak mudah melepaskan hal-hal yang sudah diyakini.52 f.33 Berdasarkan uraian diatas jelaslah ciri seorang siswa yang mempunyai motivasi tinggi adalah mereka sangat semangat untuk mencapai tujuannya dan tidak mudah menyerah.cit. Teori Belajar Menurut Syaiful Sagala bahwa banyak sekali teori belajar menurut literatur psikologi. kalau ia sudah yakin dan dipandangnya cukup rasional.. 33 Sardiman op. Dapat mempertahankan pendapatnya. g. teori itu bersumber dari teori atau aliran-aliran psikologi. teori behaviorisme. Sering mencari dan memecahkan soal-soal. Apabila seorang anak memiliki ciri-ciri diatas berarti dia telah memiliki motivasi yang kuat dalam melaksanakan proses belajr mengajar. sebelum mendapatkan apa yang inginkan. h. Bahkan lebih lanjut siswa harus juga peka dan responsive terhadap berbagai masalah umum. 4. Siswa mempertahankan pendapatnya. hlm. lebih mandiri dan tidak terjebak pada sesuatu yang rutinitas dan mekanis. Secara garis besar dikenal ada tiga rumpun besar teori belajar menurut pandangan psikologi yaitu teori disiplin mental. dan bagaimana memikirkan pemecahannya. dan teori cognitive gestalt-filed.

2007) hlm. Teori Behavior Teori behavior ini sangat menekankan pada prilaku atau tingkah laku yang dapat diamati atau diukur. dan setiap hari diberi tes. Teori Disiplin Mental Teori belajar ini dikembangkan tanpa dilandasi eksperimen.53 a. Dalam mengajar siswa membaca. Teori disiplin mental (Plato. Menurut rumpun psikologi teori disiplin mental ini individu memiliki kekuatan. 34 b. Thordike menghasilkan teori belajar “connectionism” karena belajar merupakan pembentukan koneksikoneksi antara stimulus dan respon. Tokoh yanng terkenal dalam mengembangkan teori ini adalah Thordike (1874-1949). (Bandung: Alfabeta. dan siswa-siswa yang belum pandai harus kembali sesudah jamsekolah untuk dilatih lagi. Konsep dan Makna Pembelajaran. Selanjutnya guru melatih siswasiswa mereka. ini berarti dasar orientasinya adalah “filosofis atau spekulatif”. Thordike mengemukakan tiga prinsip atau hukum dalam belajar yaitu: 1) Law of readines. 34 Syaiful Sagala. kemampuan. guru pengikut teori ini melatih.39-40 . Misalnya. dengan eksperimen belajar pada binatang yang juga berlaku bagi manusia yang disebut Thordike dengan “trial and error”. “otot-otot” mental siswa guru mula-mula memberikan daftar kata-kata yang diinginkannya dengan menggunakan kartu-kartu dimana tertulis setiap kata itu. belajar akan berhasil apabila individu memiliki kesiapan untuk melakukan perbuatan tersebut. Aristoteles) menganggap bahwa dalam belajar mental siswa disiplinkan atau dilatih. atau potensi-potensi tertentu.

hlm. atau hadiah. dari pengamatan ia menyesalkan penggunaan metode menghafal disekolah. Artinya belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu prilaku atau respon terhadap sesuatu. Berkat pemberian penghargaan ini. Seorang anak atau siswa yang belajar dengan giat dan dia dapat menjawab semua pertannyaan dalam ulangan atau ujian. Teori ini dilatar belakangi oleh percobaan Ivan Pavlov (1849-1936) dengan keluarnya air liur. 3) Law of effect yaitu belajar bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa prilaku individu dapat dikondisikan.54 2) Law of exercise yaitu belajar akan berhasil apabila banyak latihan dan ulangan. 35 Ibid. 42-43 . Ivan Pavlov menghasilkan teori belajar yang disebut “classical conditioning” atau “stimulus substitution”.. Setelah diulang beberapa kali air liur tetap keluar. Air liur akan keluar bila anjung melihat atau mencium bau makanan. maka guru memberikan penghargaan pada siswa tersebut itu dengan nilai yang tinggi. dan menghendaki murid belajar dengan pengertian bukan menghafal akademik. Teori penguatan atau “reinforcement” merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme.35 c. pujian. maka siswa tersebut akan belajar lebih rajin dan lebih bersemangat. Teori Cognitive Gestalt-Filed Teori belajar Gistalt ini lahir di jerman tahun 1912 dipelopori dan dikembangkan oleh Max Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving.

Itulah sebagai tanda bahwa anak didik tidak mempunyai motivasi untuk belajar.55 Belajar Gistalt menekankan pemahaman atau “insight” dan pengamatan sebagia suatu alternatif.48 .. hlm. Berkat pengalaman seseorang siswa akan mampu mencapai pengamatan yang benar objektif sebelum mencapai pengertian. dan sebagainya yang menimbulkan rasa puas. Ketidak minatan terhadap suatu mata pelajaran menjadi pangkal penyebab anak didik tidak bergeming untuk mencatat apa yang telah disampaikan guru. Setelah ia menemukan insight.47. karena mampu menyelesaikan problem yang dihadapinya. Dengan demikian unsur berpikir atau inteligen ikut berperan sehingga timbul dalam jiwa yang bersangkutan pengertian atau insight. Dalam belajar siswa harus memahami makna hubungan antar satu bagian dengan bagian yang lainnya. Sementara anak didik yang lain berpartisipasi dalam kegiatan. Jadi dalam belajar pemahaman atau pengertian memegang peranan amat penting bagi tuntasnya kegiatan belajar. maka ia akan menyatakan insight itu dengan ekspresi yaitu “aku mengerti sekarang”. Maka seorang pendidik harus 36 Ibid. Fungsi Motivasi Belajar Dalam kegiatan belajar mengajar pasti ditemukan anak didik yang malas berpartisipasi dalam belajar. Manusia dihadapkan pada problem atau “problem solving” mencoba memahaminya dengan melakukan upaya menghubungkan unsur-unsur dalam problem tersebut dengan menemukan makna yang terkandung dalamnya. “aku dapat menyelesaikannya”. 36 5. 45.

122 . dan penyeleksi perbuatan. motivasi senantiasa menentukan intensitas usaha belajar siswa. Karena itulah dorongan atau penggerak maupun penyeleksi merupakan kata kunci dari motivasi dalam setiap perbuatan dalam belajar. (Jakarta PT Rineka Cipta. 37 Saiful Bahri Djamarah. Psikologi Belajar. maka motivasi yang sangatlah penting dalam proses belajarmengajar. Makin tepat motivasi yang diberikan makin tinggi pula keberhasilan proses pembelajaran itu. 2002) hlm. Bila motivasi ekstrinsik diberikan itu dapat membantu anak didik keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar. Sehubungan dengan hal tersebut. Jadi. maka motivasi dapat diperankan dengan baik oleh guru dengan mengandalkan fungsi-fungsi motivasi merupakan langkah akurat untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif bagi anak didik. Ketiganya menyatu dalam sikap terimplikasi dalam perbuatan. maka hasil belajar akan menjadi optimal.37 Apabila motivasi dapat ditimbulkan dalam proses belajar mengajar. penggerak. Baik motivasi intrinsik maupun ektrinsik sama berfungsi sebagai pendorong. Sehingga dengan bantuan ini anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar. Dorongan adalah fenomena psikologis dari dalam yang melahirkan hasrat untuk bergerak dalam menyeleksi perbuatan yang akan dilakukan.56 memberikan suntikan dalam bentuk motivasi ekstrinsik.

hlm. Mendorong manusia untuk berbuat. yaitu fungsi motivasi bagi siswa dan fungsi motivasi bagi guru. yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Artinya dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi. yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Menentukan arah perbuatan. op.cit. yaitu: 1. 2. Dalam hal ini motivasi menjadi penggerak setiap kegiatan yang akan dikerjakan. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik.38 Sedangkan menurut Dimyati dan Mujiono melihat pentingnya fungsi motivasi belajar menjadi dua. maka seseorang yang belajar itu akan dapat menghasilkan prestasi yang baik. Motivasi dapat berfungsi sebagai mendorong usaha dan pencapaian prestasi.. Selain itu juga terdapat fungsi-fungsi motivasi yang lain. 3. Menyeleksi perbuatan. intensitas motivasi seseorang siswa akan sangat menentukan tingkat mencapai prestasi belajarnya. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.57 Menurut Sardiman bahwa motivasi memiliki tiga fungsi. Pentingnya motivasi belajar bagi siswa meliputi: 38 Sardiman. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. dengan kata lain motivasi merupakan penggerak atau motor yang melepaskan energi. 85-86 .

b. e. proses dan hasil akhir. c. fasilitator. instruktur. Sedangkan fungsi motivasi belajar bagi guru adalah sebagai berikut: 1) Membangkitkan. Menyadarkan kedudukan pada awal belajar. motivator. Makin tepat motivasi yang diberikan. 2) Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas yang beraneka ragam. Berbagai fungsi-fungsi motivasi yang telah diuraikan diatas.58 a. Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar. 4) Memberi peluang guru untuk unjuk kerja rekayasa pedagogis. yang dibandingkan dengan teman sebaya. meningkatkan dan memelihara semangat belajar siswa sampai belajar. hasil belajar akan optimal jika adanya motivasi. Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan bekerja secara berkesinambungan. motivator. Membesarkan semangat belajar. teman diskusi. 3) Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu di antara bermacam-macam peran seperti sebagai penasihat. Mengarahkan kegiatan belajar. d. dapat dikatakan bahwa peran motivasi dalam proses kegiatan belajar sangat penting sekali. pemberi hadiah atau pendidikan. Sehingga dengan adanya motivasi seorang siswa akan lebih giat lagi dalam proses . akan semakin berhasil pula proses pembelajaran.

sehingga motivasi itu terbentuk. Macam-macam Motivasi Belajar Megenai macam atau jenis motivasi ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. a. karena dalam diri setiap 39 Dimyati dan Mujiono. (Jakarta PT Asdi Mahastya. 85-86 . Sebab manusia hidup dalam lingkungan sosial dengan sesama manusia yang lain. Motif-motif ini seringkali disebut yang disyaratkan secara biologis. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya. 39 6. Motif bawaan yaitu motif yang dibawah sejak lahir. 2002) hlm. b. Motif-motif yang dipelajari yaitu motif-motif yang timbul karena dipelajari. Motif ini sering kali disebut motif-motif yang disyaratkan secara sosial. Belajar dan Pembelajaran. Dengan demikian motivasi atau motif-motif yang aktif itu sangat bervariasi. jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. dorongan untuk mengajar sesuatu untuk masyarakat. 1. Kemudian motivasi belajar siswa dibedakan lagi menjadi dua golongan yaitu: Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar. Contoh dorongan untuk makan dan minum. Contohnya: dorogan belajar untuk suatu cabang ilmu pengetahuan.59 bembelajarannya dan motivasi juga dapat mendorong usaha dan mencapai pestasi siswa.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar Secara global. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Santrock.60 individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sehingga tidak realistis untuk selalu mengharapkan siswa mempunyai motivasi intrinsik agar antusias melakukan hal-hal yang disukai setiap hari..41 Kedua motivasi yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik sangat perlu digunakan dalam proses belajar mengajar karena dari sekian banyak mata pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa setiap hari disekolah. Dan untuk menumbuhkan motivasi belajar baik intrinsik maupun ektrinsik adalah suatu hal yang tidak mudah. Seperti halnya seseorang suka membaca dan lain-lain. tidaklah selalu menarik. 40 Motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). maka seorang pendidik harus mempunyai kesanggupan untuk menggunakan bermacam-macam cara yang dapat membangkitkan motivasi siswa sehingga dapat belajar dengan baik. 2007) hlm. Misalnya. dan mungkin kompenen-kompenen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik. berubah-ubah. Psikologi Pendidikan. faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam: 40 41 Ibid. 514 . Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh intensif eksternal seperti imbalan atau hukuman. 7. hlm. 89-90 Jhon W. murid mungkin belajar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik. Apalagi keadaan siswa dinamis.

Faktor eksternal (faktor dari luar siswa). 1995). yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materimateri pelajaran. Faktor-faktor diatas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. 3. yakni kondisi lingkungan disekitar siswa.61 1. Sebaliknya. Seorang siswa yang bersikap conserving terhadap ilmu pengetahuan atau termotif ekstrinsik (faktor eksternal) seumpama.42 Selain faktor-faktor tersebut diatas ada beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa seperti yang disebutkan oleh Dimyati dan Sujiono yaitu: 1) Cita-cita atau aspirasi Cita-cita atau aspirasi siswa dalam belajar merupakan tujuan belajar yang diharapkan yaitu memperoleh hasil belajar yang diharapkan yaitu Muhibbin Syah. Faktor pendekatan belajar (approach to learning). Psikologi Pendidikan (Suatu Pendekatan Baru). yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa. biasanya mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. seorang siswa yang berintelegensi tinggi (faktor internal) dan dapat dorongan positif dari orang tuanya (faktor eksternal) mungkin akan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kwalitas hasil pembelajaran. 2. Faktor internal (faktor dari dalam siswa). hlm. 132 42 . (Bandung: PT Rosdakarya.

3) Kondisi siswa Kondisi siswa baik yang meliputi kondisi jasmani maupun rohani mempenngaruhi motivasi belajarnya.62 memperoleh hasil yang memuaskan. . Keinginan siswa untuk memperoleh hasil belajar yang baik harus diikuti dengan kemampuan siswa tersebut mempelajari atau menguasai sesuatu yang dipelajari. siswa yang belajar dalam kondisi yang sehat atau gembira akan mudah memusatkan perhatiannya pada penjelasan pelajar. siswa akan terdorong untuk memperkuat semangat belajar dan menggunakan prilaku belajarnya untuk mencapai cita-cita tersebut. Dengan demikin cita-cita akan memperkuat motivasi belajar intrinsik dan motivasi ektrinsik. Dengan cita-cita. Dengan demikian jelas bahwa kondisi jasmani dan rohani siswa akan berpengaruh pada motivasi belajarnya. Dengan demikian kemampuan siswa akan memperkuat motivasi siswa untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan. Cita-cita siswa akan terwujud apabila di dalam dirinnya terdapat keinginan yang telah menjadi kemauan untuk mewujudkan cita-cita. Begitu juga sebaliknya. 2) Kemampuan siswa Cita-cita atau keinginan seorang siswa perlu dibarengi dengan kemauan atau kecakapan dalam mencapainya. Seorang siswa yang belajar dalam kondisi yang tidak sehat seperti lapar dan sakit akan mempengaruhi perhatiannya dalam belajar.

63 4) Kondisi lingkungan Selain kondisi pribadi siswa. keadaan lingkunan diluar diri siswa yang mendukung serta dinamika guru dalam pembelajaran yang bersifat dinamis dan terus berkembang. Tempat tinggal. . Oleh karena itu. kemauan dan pikiran. lingkungan belajar seperti sekolah. media dan sumber belajar yang digunakan oleh guru. Kondisi lingkungan tersebut berupa keadaan alam. aman dan menyenangkan akan memotivasi siswa untuk lebih semangat dalam belajar. 5) Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran Unsur-unsur dinamis dalam belajar sangat mempengaruhi motivasi siswa untuk belajar. surat kabar atau media elektronik lain serta kegiatan guru dalam proses belajar mengajar yang berupa bahan. Kondisi lingkungan belajar yang sehat. Unsur-unsur tersebut berupa keadaan pribadi siswa yang berupa perasaan. perhatian. kerukunan hidup di masyarakat serta ketertiban pergaulan dipertinggi mutunya sebagai upaya membina motivasi belajar siswa. Siswa akan termotivasi untuk belajar apabila di dalam dirinya terdapat kemauan dan perhatian yang ditunjang oleh lingkungan sosial yang berupa pergaulan dengan teman sebaya ataupun lingkungan budaya yang berupa televisi. kondisi lingkungan di luar diri siswa juga mempengaruhi motivasi belajarnya. pergaulan sebaya atau kehidupan masyarakat.

Oleh sebab itu partisipasi dan teladan guru dalam memilih prilaku-prilaku yang baik sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa sebagai upaya membelajarkan siswa. 7. meskipun dihadang banyak kesulitan. tapi 43 Dimyati dan Mujiono. op. Guru dalam peranannya sebagai pendidik dan penngajar harus mampu menciptakan perubahan tingkah laku yang baik pada diri siswa. Motivasi juga ditunjukkan melalui intensitas unjuk kerja dalam melakukan suatu tugas. motivasi seseorang tercermin melalui ketekunan yang tidak mudah patah untuk mencapai sukses. hlm.43 Dalam proses belajar. Ada beberapa bentuk dan cara dalam menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar mengajar. karena motivasi yang diberikan kurang tepat. Bentuk-bentuk Motivasi Belajar Dalam memberikan motivasi belajar pada siswa guru harus berhatihati.64 6) Upaya guru dalam membelajarkan siswa Belajar merupakan perubahan tingkah laku individu baik jasmani maupun rohani yang terjadi senagai akibat interaksi dengan lingkungannya.. 77-100 . yaitu: 1) Memberi angka Angka merupakan simbol dari nilai yang dicapai siswa dalam kegiatan belajarnya.cit. tapi yang terjadi siswa tidak termotivasi. Meskipun angka atau nilai bukan satu-satunya tujuan. sebab terkadang guru bermaksud memberikan motivasi agar siswanya lebih semangat dan tekun dalam belajar.

Memang unsur persaingan ini banyak dimanfaatkan dalam dunia industri atau pedagangan. Kompetisi baik secara individual maupun kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. tetapi sangat baik juga digunakan untuk meningkatkan motivasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar 4) Ego involvement Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga mau bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri menjadi salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Karena hadiah untuk pekerjaan bagi seseorang bila ia tidak senang dan tidak berbakat terhadap pekerjaan tersebut. 3) Kopetisi atau persaingan Kompetisi dapat dijadikan sebagai sarana motivasi untuk mendorong belajar siswa. tetapi tidaklah selalu demikian. hadiah yang diberikan untuk gambar terbaik. Dengan kata lain yang menjadi motivasi yang sangat kuat bagi siswa. mungkin tidak akan menarik bagi siswa yang tidak senang dan tidak memiliki bakat menggambar. Pada dasarnya seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah simbol kebanggaan dan . 2) Hadiah Hadiah dapat digunakan sebagai alat motivasi. bahkan nilai ujian akhir yang baik. nilai rapot yang baik.65 dalam kenyataannya banyak siswa yang mengejar nilai ulangan yang baik. Sebagai contoh.

5) Memberi ulangan Siswa akan menjadi giat kalau mengetahui akan ada ulangan. 7) Pujian Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. 8) Hukuman Hukuman merupakan reinforcement negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi sarana yang dapat menumbuhkan . Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar serta akan membangkit harga diri. apalagi kalau terjadi kemajuan. Selain itu guru juga harus terbuka dan memberitahukan kepada siswa kalau akan ulangan. Oleh karena itu memberi ulangan juga merupakan sarana motivasi. 6) Mengetahui hasil Dengan mengetahui hasil pekerjaan akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa prestasi belajarnya meningkat maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar dengan harapan hasilnya yang meningkat. karena bisa membosankan dan bersifat rutinitas.66 harga diri. Oleh karena itu supaya pujian ini merupakan motivasi. Demikian juga siswa. Tetapi yang harus diingat disini adalah jangan terlalu sering memberikan ulangan. harga diri merupakan salah satu pertimbangan hingga mereka mau belajar dengan giat. pemberiannya harus tepat.

10) Minat Minat ini bisa muncul karena adanya kebutuhan. hlm. Sebab dengan memahami tujuan yang ingin dicapai maka akan timbul semangat untuk terus belajar demi menggapai tujuan yang dimaksud. Hasrat untuk belajar pada diri siswa berarti memang ada motivasi belajar dalam diri siswa tersebut. karena itu dikatakan bahwa minat merupakan sarana motivasi yang pokok atau utama. 9) Hasrat untuk belajar Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesenjangan yaitu ada unsur kesengajaan. Proses belajar mengajar dapat berjalan lancar kalau disertai dengan minat. 11) Tujuan yang diakui Tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa. op. ada maksud dan keinginan untuk belajar.cit. sehingga sudah jarang tentu hasilnya akan lebih baik. 91-95 . Oleh karena itu dalam memberikan hukuman guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.44 44 Sardiman. juga menjadi sarana motivasi yang sangat penting. menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang telah lalu. Hal ini akan lebih bila dibandingkan dengan segala kegiatan yang tanpa maksud dan keinginan.. memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik.67 motivasi. dan menggunakan berbagai macam bentuk atau metode mengajar. Ada beberapa cara untuk memunculkan minat yaitu membangkitkan adanya suatu kebutuhan.

Tayar Yusuf mengartikan pendidikan agama Islam sebagai usaha sadar generasi tua untuk mengalih pengalaman. hlm. menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan. menghayati. op.cit. memahami. Pengertian Pendidikan Agama Islam Pengertian pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal. memahami. dibarengi dengan tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujudnya kesatuan dan persatuan bangsa. yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. (Kurikulum PAI. 45 Abdul Majid & Dian Andayani.68 C.45 Muhaimin mengatakan bahwa di dalam GBPP PAI di sekolah umum menjelaskan menyiapkan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk siswa dalam meyakini. Tinjauan Tentang Pendidikan Agama Islam 1. 130 . Lalu menghayati tujuan. pengetahuan.. hingga mengimani ajaran agama Islam. pengajaran dan atau latihan dengan memperhatikan tuntutan menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. kecakapan dan keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia bertaqwa kepada Allah SWT. 2002) Menurut Zakiah Darajat pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami agama Islam seluruhnya.

penghayatan. pemahaman. baik yang seagama (sesama muslim) ataupun yang tidak seagama (hubungan . pengajaran atau latihan secara sadar terhadap peserta didiknya untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam. 2. diajari atau dilatih dalam meningkatkan keyakinan. dalam arti ada yang dibimbing. Dalam arti. kualitas atau kesalehan pribadi itu diharapkan mampu memancar ke arah luar dan dalam hubungan keseharian dengan manusia lain (bermasyarakat). yaitu sebagai berikut: Menurut Muhaimin ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran pendidikan Islam. pemahaman. yang disamping untuk membentuk kesalehan atau kualitas pribadi. Pendidik atau Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) yang melakukan kegiatan bimbingan. terkait dengan pengertian diatas: 1. Pendidikan agama Islam sebagai usaha sadar. 4. Peserta didik yang hendak dipersiapkan untuk mencapai tujuan. juga sekaligus untuk membentuk kesalehan sosial. Kegiatan (pembelajaran) pendidikan agama Islam diarahkan untuk meningkatkan keyakinan. dan pengalaman ajaran agama Islam dari peserta didik. penghayatan dan pengalaman terhadap ajaran agama Islam. 3.69 Dalam pengertian ini dapat ditemukan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam. yakni suatu kegiatan bimbingan. pengajaran atau latihan yang harus dilakukan secara berencana dan sadar atau tujuan yang hendak dicapai.

dan mengamalkan ajaran agama Islam melalui kegiatan bimbingan. Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: Cv. 2004).47 Dasar-dasar pendidikan agama Islam tentu tidak terlepas dari dasar agama Islam sendiri. sehingga dasar pendidikan Islam selaras dengan dasar agama Islam. 1998). hlm. mamahami. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan pendidikan agama Islam 46 Muhaimin. Layaknya suatu bangunan kekokohannya sangat tergantung pada pondasi yang menjadi dasarnya. karena melalui pendidikan agama Islam dimaksudkan untuk mengajarkan ajaran-ajaran Islam yang sekaligus untuk membentuk kepribadian muslim. pondasi itu akan menjadi sumber kekuatan dan keteguhan bangunan tersebut. (Paradigma Pendidikan Islam Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah) (Bandung: PT Remaja Rosda Karya. 19 . hlm. pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 2. 75-76 47 Nur Uhbiyati dan Abu Ahmadi. Dasar-Dasar Pelaksanaan PAI Dasar adalah landasan tempat berpijak atau tegaknya sesuatu agar sesuatu tersebut tegak kokoh berdiri. dkk. 46 Dari beberapa pengertian pendidikan agama Islam diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini. Pustaka Setia. serta berbangsa dan bernegara sehingga dapat terwujud persatuan dan kesatuan nasional (ukhwah wathoniyah) dan bahkan hubungan persatuan dan kesatuan antar sesama manusia (ukhwah insaniyah).70 dengan non muslim).

yang berbunyi: 1) Negara berdasarkan atas Tuhan Yang Maha Esa. Dasar Ideal Yaitu dasar yang bersumber dari pandangan hidup bangsa Indonesia yakni pancasila. Dapat ditinjau dari berbagai segi yaitu: 1. atau tegasnya harus beragama. 2004). hlm. Yaitu UUD’45 dalam XI pasal 29 ayat 1 dan 2. dimana sila yang pertama adalah ketuhanan yang maha Esa.48 Dasar pernyataan diatas menunjukkan bahwa pendidikan agama senantiasa menanamkan nilai-nilai ajaran agama kepada anak atau generasi penerus. Hal ini dimaksudkan untuk mewariskan nilai dan norma agama kepada anak didik tersebut sehingga mampu menghayati dan mengamalkan agama dalam kehidupan seharihari.71 pada lembaga formal di Indonesia mempunyai dasar yang kuat. b. 2) Zuhairini dan Abdul Ghofir. Dasar tersebut menurut menurut Zuhairin dkk. Adapun dasar pendidikan dari segi yuridis atau hukum dapat kategori menjadi tiga macam. Dasar Yuridis atau Hukum Yakni dasar-dasar pendidikan agama yang berasal dari peraturan perundang-undang yang secara langsung atau secara tidak langsung dapat menjadi pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama Islam di sekolah secara formal. Dasar Struktural/Konstitusional. yaitu: a. 9 48 . Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Fakultas Tarbiyah UIN Malang dan UM Press. yang salah satunya melalui pendidikan agama.

132 . d) matematika. c) bahasa.cit. e) ilmu pengetahuan alam. 2) pendidikan 49 Abdul Majid & Dian Andayani. Dan di dalamnya juga terkandung maksud bahwa warga negara yang tidak menganut suatu agama (tidak beragama) tidak berhak hidup di negara Indonesia. Dasar Operasional Dengan Undang-undang RI No. c. g) seni dan budaya. Mengingat bahwa ajaran agama itu bersifat normatif disamping ajaran yang bersifat praktis (amalan). op. f) ilmu pengetahuan sosial. hlm. Dan pendidikan agama tersebut harus membawa peningkatan kepada mutu pendidikan anak didik.72 Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu..49 Dari dasar tersebut diatas mengandung pengertian bahwa negara Indonesia memberi kebebasan kepada warganya untuk beragama dan beribadah menurut kepercayaan itu. b) pendidikan kewarganegaraan. h) pendidikan jasmani. dan i) keterampilan/kejuruan dan muatan lokal. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS Bab X pasal 37 ayat 1 dan 2 yang berbunyi seperti berikut: 1) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: a) pendidikan agama. maka ajaran agama tersebut harus ditanamkan kepada anak didik sebagai generasi penerus sekaligus sebagai warga negara yang beragama.

Diantara otonomi yang lebih besar diberikan kepada kepala sekolah/madrasah adalah menyangkut pengembangan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan (sekolah/madrasah). 10 . Visi pokok dari otonomi dalam penyelenggarakan pendidikan bermuara pada upaya pemberdayaan (empowering) terhadap masyarakat setempat untuk menentukan sendiri jenis dan muatan kurikulum. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Sedangkan pemerintah pusat hanya memberi rambu-rambu yang perlu dirujak dalam pengembangan kurikulum. dan c) bahasa. fasilitas dan sarana belajar untuk siswa.73 tinggi wajib memuat: a) pendidikan agama. yaitu: 1) Undang-Undang No. 2) Peraturan pemerintah No. guru dan kepala sekolah. b) pendidikan kewarganegaraan. 4) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk 50 Zuhairini dan Abdul Ghofir. hlm.. telah diberlakukan otonami daerah bidang pendidikan dan kebudayaan.cit. 3) Peraturan Manteri Pendidikan Nasional 22 Tahun 2006 Standar Isi (SI) untuk Satuan Dasar Pendidikan dan Menengah. proses pembelajaran dan sistem penilaian hasil belajar. op.50 Berdasarkan undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

dan 6) panduan dari BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan. Diantara ayat Al-Qur’an yang menunjukkan adanya perintah untuk melaksanakan pendidikan agama adalah sebagai berikut: Muhaimin.cit. dkk. hlm. Op.. Tidaklah berlebihan apabilah Al-Qur’an dan Al-Hadits dijadikan suatu pondasi utama bagi pelaksanaan pendidikan agama Islam. 133 51 .51 2. 2008).74 Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.52 Dasar pertama yakni Al-Qur’an yang merupakan sumber kebenaran yang mutlak dalam ajaran Islam yang sekaligus merupakan landasan pokok bagi pelaksanaan pendidikan agama Islam. Pengembangan KTSP pada sekolah & Madrasah (Jakarta: Garfindo Persada. karena keduanya sebagai landasan atau dasar tersebut terutama landasan yang pertama (Al-Qur’an) yang bersifat universal dan dinamis. 5) Peraturan Menteri Pendidikan Nomer 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan dari kedua Peraturan Menteri Pendidikan Nasioal tersebut. hlm. 1-2 52 Abdul Majid dan Dian Andayani. Dasar Religius Yaitu dasar yang bersumber dari ajaran agama Islam. Menurut ajaran agama Islam pendidikan agama Islam adalah perintah Tuhan dan merupakan perwujudan ibadah kepada-Nya. Sedangkan sumber kedua yakni Al-Hadits berfungsi menjelaskan dan menerangkan ayat-ayat AlQur’an yang masih global dan umum.

Sesungguhnya. 50 . hlm. Surat An-Nahl ayat 125 Οßγø9ω≈y_ρ ( ÏπuΖ|¡ptø:$# ÏπsàÏãöθyϑø9$#uρ Ïπyϑõ3Ïtø:$$Î/ y7În/u‘ È≅‹Î6y™ 4’n<Î) äí÷Š$# u uθèδuρ ( Ï&Î#‹Î6y™ tã ¨≅|Ê yϑÎ/ ÞΟn=ôãr& uθèδ y7−/u‘ ¨βÎ) 4 ß|¡ômr& }‘Ïδ ÉL©9$$Î/ ∩⊇⊄∈∪ tωtGôγßϑø9$$Î/ ÞΟn=ôãr& Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. hlm. Surat Ali-Imran ayat 104 δλιλιλδσιψυϖνηκι Artinya: Hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan menyuruh berbuat baik dan mencegah dari perbuatan yang munkar.75 a. Dasar religius yang berkaitan dengan metode pendidikan. 54 Selain ayat diatas disebutkan pula dalam hadits yang menunjukkan perintah melaksanakan pendidikan agama yang berbunyi: ً َ ‫وَ ْا‬ َ َ ‫َِ ُ ْا‬ 53 54 Zuhairini dan Abdul Ghofir.53 b..cit. Penerbit). 11 Terjemahan (Bandung: Cv. Dasar religius yang berkaitan dengan seorang pendidik. Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. op.

yang berbunyi: Artinya: “Ketahuilah. op. Mereka merasakan bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya Zat Yang Maha Kuasa. Bukhori) Ayat dan juga hadits tersebut memberikan pengertian kepada kita bahwa dalam ajaran agama Islam memang ada perintah untuk mendidik agama. 3. Sesuai dengan firman Allah dalam surat Ar-Ra’ad ayat 28.55 3. Standar Kompetensi Lulusan Sekolah Menengah Dalam mencapai Standar Kompetensi Lulusan dikembangkan standar kompetensi kelompok mata pelajaran. 12 . hati akan menjadi tentram. yaitu: 1) Agama dan akhlak mulia 2) Kewarganegaraan dan kepribadian 55 Zuhairini dan Abdul Ghofir. i. (HR. mengingat-Nya atau menjalankan segala perintahnya.cit. baik pada keluarga maupun kepada orang lain sesuai dengan kemampuannya (walaupun hanya sedikit).76 Artinya: “Sampaikanlah ajaran-Ku kepada orang lain walaupun hanya sedikit”. Dasar dari Segi Sosial Psikologi Semua manusia dalam hidupnya di dunia ini selalu membutuhkan adanya suatu pegangan hidup yang disebut agama.. tempat mereka berlindung dan tempat meminta pertolongan Mereka merasakan ketenangan apabila mereka dekat kepada-Nya. hlm. bahwa hanya dengan mengingat Allah.

Menjalankan pola hidup bersih. Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran Agama Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan Muhaimin. Berpikir secara logis. Berpartisipasi dalam kehidupan sebagai cerminan rasa cinta dan bangga terhadap bangsa dan tanah air. dkk. Tamatan Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. 6.cit. kreatif inovatif. memahami dan menjalankan ajaran agama yang diyakini dalam kehidupan. Kurikulum Yang Disempurnakan (pengembangan standar kompetensi dan kompetensi dasar) (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. Menyenangi dan menghargai seni. 2006). serta berkomunikasi melakukan berbagai media. hlm. memecahkan masalah. 5. olahraga.77 3) Ilmu pengetahuan dan teknologi 4) Estetika 5) Jasmani. 34 57 56 . op.. 3. b. Memahami dan menjalankan hak serta kewajiban untuk berkarya dan memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab. bugar dan sehat. 4. dan kesehatan56 a. Meyakini. 266-268 Mulyasa. hlm.57 Berdasarkan beberapa rumusan Standar Kompetensi Lulusan sekolah menengah di atas bahwa lulusan SMP/MTs diharapkan mampu mencapai Standar Kompetensi Lulusan yang sudah ditetapkn oleh pemerintah. 2. kritis.

c. hlm. sehat.cit. Menghargai perbedaan pendapat dalam menjalankan agama. f. e. dan golongan sosial ekonomi. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan satuan yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. 265-266 . ras. Menerapkan hidup bersih. g.78 menengah. Memahami keberagaman agama. suku. dinyatakan bahwa standar kompetensi kelompok mata pelajaran agama adalah sebagai berikut: 1) Agama dan Akhlak Mulia a.58 Berdasarkan rumusan tersebut di atas bahwa lulusan SMP/MTs kelompok mata pelajaran pendidikan agama Islam siswa diharapkan mampu mencapai KKM dengan menjadi lulusan yang mampu melaksanakan nilai-nilai ajaran agama. Sugeng . b. 4 Tujuan Pendidikan Agama Islam Pendidikan agama Islam disekolah atau madrasah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan 58 Muhaimin.. dan memanfaatkan waktu luang sesuai dengan tuntunan agamanya. bugar. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja. d. op. Menerapkan nilai-nilai kejujuran dan keadilan. budaya. Memanfaatkan lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan secara bertanggung jawab. aman. Sutiah.

79 pemupukan pengetahuan. untuk selanjutnya menuju tahap afeksi. Melalui tahapan afeksi tersebut diharapkan dapat tumbuh motivasi dalam peserta didik dan tergerak untuk mengamalkan serta mentaati ajaran Islam (tahapan psikomotorik) yang telah diinternalisasikan dalam dirinya. pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan. Sutiah. berbangsa dan bernegara. yakni pengetahuan dan pemahaman peserta didik terhadap ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam. dalam arti menghayati dan meyakininya.. hlm. Sugeng Listiyo probowo op. Tahap afeksi ini terkait erat dengan kognisi. 135 Muhaimin. Dengan demikian. dalam arti penghayatan dan keyakinan peserta didik menjadi kokoh jika dilandasi oleh pengetahuan dan pemahamannya terhadap ajaran dan nilai agama Islam. dan untuk mencapai tujuan tersebut harus 59 60 Abdul Majid & Dian Andayani. akan terbentuk manusia muslim yang beriman.cit.59 Rumusan masalah tersebut mengandung pengertian bahwa proses pendidikan agama Islam yang dilalui dan dialami oleh peserta didik disekolah dimulai dari tahap kognisi. hlm. yakni terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai agama ke dalam diri peserta didik. bertaqwa dan berakhlaq mulia. 79 .cit. op. serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Kurikulum PAI: 2002). penghayatan.60 Segala usaha manusia yang dilaksanakan secara sadar mempunyai arah tujuan yang hendak dicapai..

80

mengacu pada dasar yang telah ditetapkan. Sebagaimana dasar diatas yaitu AlQur’an dan Al-hadits. Dari tujuan diatas terdapat beberapa dimensi yang hendak ditingkatkan dan dituju oleh kegiatan pendidikan agama Islam yaitu: 1. Dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam. 2. Dimensi pemahaman atau nalaran (intelektual) serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran agama Islam. 3. Dimensi penghayatan atau pengalaman batin yang dirasakan peserta didik dalam menjalankan ajaran agama Islam. 4. dimensi pengamalannya, dalam arti bagaimana ajaran agama Islam yang telah diimani, dipahami dan dihayati oleh peserta didik itu mampu diamalkan dalam kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, dan berakhlak mulia, serta diaktualisasikan dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.61 Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa pendidikan agama Islam baik makna dan tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak melupakan etika sosial dan moralitas sosial. Karena penanaman nilai ini juga bertujuan untuk menuai keberhasilan hidup (hasanah) di dunia bagi anak didik yang kemudian akan mampu memebuahkan kebaikan (hasanah) di akhirat kelak. Selain itu dengan adanya tujuan pendidikan agama Islam tersebut maka setiap usaha yang akan dilakukan oleh guru akan lebih terarah, dan

61

Zuhairini dan Abdul Ghofir,op.cit,. hlm. 1-2

81

selanjutnya akan memudahkan guru untuk menentukan langkah-langkah yang relevan dengan tujuan pengajaran, sehingga guru bisa menentukan pendekatan-pendekatan serta model pembelajaran yang tepat dan sesuai agar proses pendidikan bisa mencapai sasaran pendidikan. 5. Urgensi PAI Manusia lahir tidak mengetahui apapun, tetapi ia dianugrahi oleh Allah SWT pancaindra, pikiran dan rasa sebagai modal untuk menerima ilmu pengetahuan, memiliki keterampilan dan mendapatkan sikap tertentu melalui proses kematangan dan belajar terlebih dahulu. Mengenai pentingnya belajar menurut A.R Shaleh & Soependi Soeryadinata: ”anak manusia tumbuh dan berkembang, baik pikiran, rasa, kemauan, sikap dan tingkah lakunya. Dengan demikian sangat vital adanya faktor belajar” . Pendidikan agama Islam adalah suatu ikhtiar manusia dengan jalan bimbingan dan pimpinan untuk membantu dan mengarahkan fitrah agama anak didik menuju terbentuknya kepribadian utama sesuai dengan ajaran agama. Dengan melihat antara pendidikan Islam dan ruang lingkupnya itu, pendidikan agama Islam penting sebab secara sadar memimpin dan mendidik anak diarahkan kepada perkembangan jasmani dan rohani sehingga mampu membentuk kepribadian yang utama yang sesuai dengan ajaran agama. Pendidikan agama Islam hendaknya ditanamkan sejak kecil, sebab pendidikan pada masa kanak-kanak merupakan dasar yang menentukan untuk pendidikan selanjutnya. Sebagaimana menurut pendapat Zakiyah Darajat

82

(tt:48) bahwa: ”Pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman dan latihan yang dilaluinya sejak kecil”. Jadi pendidikan agama Islam adalah ikhtiar manusia dengan jalan bimbingan dan pimpinan untuk membantu dan mengarahkan fitrah agama anak didik menuju terbentuknya kepribadian utama sesuai dengan ajaran agama Islam. Lapangan pendidikan agama Islam Menurut hasbi ash-Shidiq dalam bukunya abdul Majid meliputi: a. Tarbiyah Jasmaniyah, yaitu segala rupa pendidikan yang wujudnya menyuburkan dan menyehatkan tubuh serta menegakkan, supaya dapat merintangi kesukaran yang dihadapi oleh pengalamannya. b. Tarbiyah aqliyah, yaitu sebagaimana rupa pendidikan dan pelajaran yang akibatnya mencerdaskan akal, menajamkan otak, semisal ilmu perhitung, c. Tarbiyah Adabiyah, yaitu segala rupa praktek mapun berupa teori yang wujudnya meningkatkan budi dan perangai. Pendidikan budi pekeri atau akhlaq dalam ajaran Islam merupakan salah satu ajaran pokok yang mesti diajarkan agar umatnya memiliki akhlaq yang mulia yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu pendidikan agama Islam sangat penting. Sebab dengan pendidikan Islam, orang tua atau guru berusaha secara sadar memimpin dan mendidik anak didik diarahkan kepada perkembangan jasmani dan rohani sehingga mampu membentuk kepribadian yang utama yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Pendidikan agama Islam hendaknya ditanamkan sejak

137 -140 . sebab pendidikan pada masa kanak-kanak merupakan dasar yang menentukan untuk pendidikan selanjutnya. 20 Tahun 2003..83 kecil. masyarakat dan membantu terwujudnya tujuan pendidikan nasional.cit. maka pendidikan agama Islam harus diberikan dan dilaksanakan di sekolah dengan sebaik-baiknya. op. berilmu. Dan pendidikan agama Islam harus ditanamkan pada masa kanak-kanak karena merupakan dasar yang menentukan untuk pendidikan selanjutnya. yaitu: Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. sehat. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 62 Abdul Majid & Dian Andayani. kratif. hlm. Bagi umat Islam tentunya pendidikan agama yang wajib diikutinya itu adalah pendidikan agama Islam. mandiri. Dalam hal ini pendidikan agama Islam mempunyai tujuan kurikuler yang merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang termaktub dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. cakap. 62 Mengingat betapa pentingnya pendidikan agama Islam dalam mewujudkan harapan setiap orang tua. berakhlak mulia.

Hubungan Pemberian Penguatan (reinforcement) dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Pendidikan Agama Islam Motivasi merupakan salah satu prasyarat yang amat penting dalam belajar. op. 75 . Gedung dibuat. Karena motivasi dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri siswa (motivasi intrinsik) maupun dari luar siswa (motivasi ektrinsik). Hal. Oleh karena itu perlu adanya penguatan (reinforcement) dari guru pendidikan agama Islam. Dan daya penggerak itulah yang dapat menimbulkan kegiatan belajar mengajar itu sendiri sehingga tujuan yang dikehendaki dapat tercapai. disekolah pada dasarnya tidaklah selalu menarik belum lagi banyaknya mata pelajaran yang harus dipelajari terutama pelajaran pendidikan agama Islam sehingga cenderung membuat siswa menjadi bosan.84 D. dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam kegiatan pembelajaran. karena menganggap pelajaran ini tidak termasuk dalam mata pelajaran yang di UANkan.cit.. Selain itu banyak hal yang harus dipelajari oleh siswa setiap hari. fasilitas belajar yang lengkap dengan harapan supaya siswa dapat masuk sekolah dan belajar dengan penuh semangat. Motivasi bagi siswa dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif. Padahal pendidikan agama Islam sangatlah penting sebagai pegangan hidup siswa.63 Akan tetapi mengharap motivasi selalu muncul atau datang dalam diri seseorang merupakan hal yang tidak mungkin. guru disediakan. karena tingkat motivasi seseorang cenderung berubah-ubah. Dan banyak pula siswa yang meremehkan akan mata pelajaran PAI. Ada banyak 63 Sardiman. Tetapi semua itu akan sia-sia. jika siswa tidak ada motivasi untuk belajar.

bahwa hubungan penguatan (reinforcement) dengan motivasi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. terjadi proses take and give antara keduanya. artinya reinfocement merupakan salah satu atau bentuk dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa. Reinforcement adalah bagian dari motivasi. . Beberapa uraian tentang penguatan dan motivasi diatas.85 upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan dan meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam siswa. penguatan (reinforcement) merupakan unsur yang paling penting dalam proses pembelajaran. maka penguatan (reinforcement) adalah unsur yang tidak kalah pentingnya. Jadi hubungan antara reinforcement dengan motivasi belajar dapat dikatakan sebagai hubungan yang membutuhkan dan saling mengisi antara yang satu dengan yang lain. Jika motivasi sebagai ”penggerak” memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan motivasi sendiri dikatakan sebagai hasil dari reinforcement.

Sedangkan menurut Kirk dan Miller (1986:9) mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental tergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasannya dan dalam peristilahannya. karena data yang diperlukan bersifat data yang diambil langsung dari objek penelitian.64 Peneliti menggunakan metode pendekatan kualitatif karena mempunyai tiga alasan yaitu: pertama. Kedua. Ketiga. 2002). 41 64 . Menurut Bogdan dan Taylor (1975:5) sebagaimana yang dikutip oleh Moleong metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. memiliki kepekaan dan daya penyesuaian diri dengan banyak pengaruh yang timbul dari pola-pola nilai yang dihadapi. Metode penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2006). lebih mudah menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan subyek penelitian (responden). 3 65 S. hlm. hlm.65 Lexy. J. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. moleong. lebih muda mengadakan penyesuaian dengan kenyataan yang berdimensi ganda. Margono.86 BAB III METODE PENELITIAN A. Metodologi Penelitian Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta. Desain Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan.

menganalisis. selain itu peneliti sendiri bertindak sebagai instrument penelitian. pengumpulan data. hampir semua ruangannya mendapat sinar matahari pagi. Lokasi ini adalah wilayah yang cukup sejuk karena dihiasi beberapa tanaman dihalaman sekolah. B. Untuk itu. melaksanakan. sehingga boleh dikatakan sekolah ini tempatnya kurang strategis. Dimana peneliti bertugas merencanakan. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah letak dimana penelitian akan dilakukan untuk memperoleh data atau informasi yang diperlukan dan berkaitan dengan permasalahan penelitian. Hal ini dikarenakan agar dapat lebih dalam memahami latar penelitian dan konteks penelitian. Kehadiran peneliti dalam hal ini sangat penting sekali. Adapun lokasi penelitian ini adalah berada di SMP Negeri 18 Jalan Sukarno Hatta A-394 Malang Kecamatan Lowokwaru. serta lokasi ini lumayan jauh dengan jalan raya. lokasi ini terletak dibelakang MI Jendral Suderman terdapat dilingkungan perumahan. peneliti terjun ke lapangan dan terlibat langsung. menafsir data dan pada akhirnya peneliti juga menjadi pelapor hasil penelitiannya. Tujuan menggunakan pendekatan kualitatif pada penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar PAI pada siswa di SMP Negeri 18 Sukarno Hatta Malang.87 Peneliti menggunakan sendiri pengamatan atau wawancara terhadap obyek atau subyek penelitian. Adapun peneliti memilih lokasi ini sebagai lokasi penelitian karena sekolah ini adalah salah satu lembaga yang sudah menggunakan penguatan .

hlm. menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya. Sumber data dalam penelitian ini ada dua yaitu sumber data primer dan sumber data skunder. memilih informan sebagai sumber data. hlm. dokumentasi. tape rocorder dan kamera. analisis data. Metode Penelitian (petunjuk praktis untuk peneliti pemula) (Yogyakarta: Gadja Mada University Press. selain sudah adanya fasilitas yang ada disekolah ini. 2004). C. peristiwa atau gejala baik secara kualitatif ataupun kuantitatif. 2006). D.66 Sedangkan menurut Sukandarrumi sumber data adalah semua informasi yang baik merupakan benda nyata. Sumber Data Suharsimi Arikunto menyatakan yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data-data dapat diperoleh.67 Berdasarkan pengertian tersebut dapat dimengerti bahwa yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian ini adalah tempat dimana peneliti memperoleh informasi sebanyak-banyaknya berupa data-data yang diperlukan dalam penelitian. Prosedur Penelitian (suatu pendekatan praktis) (Jakarta: PT Asdi Mastya. sesuatu yang abstrak. Instrumen Penelitian Dalam penelitian kualitatif ini yang menjadi instrumen adalah peneliti sendiri dengan kata lain dalam penelitian ini peneliti menjadi instrumen utama karena peneliti berfungsi menetapkan fokus penelitian. Adapun instrumen pendukung adalah pedoman wawancara. 66 Suharsimi Arikunto. angket. 129 67 Sukandarrumi. observasi.88 (reinforcement) sebagai salah satu cara untuk meningkatkan motivasi belajar PAI siswa. 44 ..

69 b. Sejarah singkat SMP Negeri 18 Malang Sukarno Hatta. yaitu sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. 56 hlm.89 a. Nasution (1988:69) bahwa data verbal adalah data yang diperoleh peneliti melalui wawancara dengan informan sedangkan data non verbal adalah data yang diperoleh peneliti dari hasil pengamatan/observasi terhadap obyek penelitian. Guru pendidikan Agama Islam (PAI). Sumber data skunder adalah data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti. Metodologi Penelitian Naturalistik-Kualitatif (Bandung: Tarsito. Siswa dan siswi SMP Negeri 18 Malang. 2. Memahami Penelitian Kualitatif. Nasution. 69 70 . atau data yang diperoleh berasal dari hasil dokumentasi yang telah ada. Ibid.70 Adapun data skundernya adalah berasal dari hasil dokumentasi yang meliputi: 1. Visi dan Misi sekolah 68 69 Sugiyono.68. ketiga dan seterusnya. hlm. Peneliti mengambil sampel random dari siswa SMP Negeri 18 Malang adalah sebesar 40 anak. 1988). Identitas Sekolah 3. Yang merupakan sumber data primer dalam penelitian ini meliputi: 1. Jadi data sekunder berasal dari tangan kedua. 2007) hlm 62 S. Sumber data primer. (Bandung: Alfabeta. Dari sumber primer ini diharapkan peneliti dapat mengumpulkan data verbal dan non verbal.. 2. Sebagaimana dikatakan S.

Keadaan sarana dan prasarana.71 Berdasarkan pada uraian diatas maka yang jadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 18 Malang. Metode Statistika (Bandung: Tarsito 2002). E. sebagai subyek-subyek dalam populasi semua subyek dianggap sama. mengingat terbatasnya waktu. peneliti akan mengadakan serangkaian pengamatan secara langsung. Sedangkan Sampel adala sebagian yang diambil dari populasi. Dalam pencarian data ini. 5. 8. Struktur organisasi sekolah 6. 7. kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya. Nama-nama siswa dan siswi SMP Negeri 18 Malang. maka dalam penelitian ini penulis memandang perlu untuk menarik sampel. hlm. 71 Anas Sudjana. Keadaan guru di SMP Negeri 18 Malang. kemudian mencatat.90 4. memilih sera mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. menghitung ataupun pengukuran. tenaga dan besarnya populasi yang ada. Populasi dan Sampel Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin hasil. Keadaam geografis sekolah SMP Negeri 18 Malang. Sehingga dengan demikian penulis memberikan hak yang sama kepada kepada setiap subyek untuk memperoleh kesempatan yang dijadikan sampel. 6 . sampel yang digunakan adalah random sampling dimana penulis mencampur subyek-subyek didalam populasi.

cit. berdasarkan pendapat Suharsimi Arikunto tersebut.72 Berdasarkan respon siswa terhadap pemberian penguatan dalam meningkatkan motivasi belajar pendididikan agama Islam di SMP Negeri 18 Malang. hlm. Tetapi.91 Untuk menentukan sampel pada penelitian ini.cit.. op. Observasi dapat dilakukan sesaat ataupun mungkin dapat diulang. maka peneliti menggunakan metode sebagai berikut: 1. Prosedur Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data yang valid. 134 Sukandarrumi. F. dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih .73 Metode observasi ini digunakan untuk mengetahui kegiatan proses belajar mengajar di kelas dan pemberian penguatan dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang. op. jika jumlah subjeknya besar. 72 73 Suharsimi Arikunto. maka penulis mengambil siswa 40 karena terbatasnya waktu dan banyaknya populasi yang ada di SMP Negeri 18 Malang. Metode Observasi Observasi adalah pengamatan dan pencatatan suatu obyek dengan sistematika fenomena yang diselidiki. jadi hal tersebut sudah mewakili dari seluruh siswa. Penulis berdasarkan pendapat Suharsimi Arikunto bahwa bahwa apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi.. Jumlah siswa 264.69 . hlm.

dimana 2 orang atau lebih berhadapan secara fisik. Peneliti menggunakan tipe wawancara di atas terhadap informan-informan sebagai berikut: a. Metode ini digunakan untuk mendapatkan informasi dari informan dengan jalan tanya jawab sepihak agar memperoleh data yang berkenaan dengan kondisi dan situasi SMP Negeri 18 Malang. Interview Interview dikenal pula dengan istilah wawancara adalah suatu proses Tanya jawab lisan. 74 Ibid.92 2. 88 ..74 Metode interview merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan untuk memperoleh pengetahuan makna-makna subjektif yang dipahami oleh individu. hlm. implikasi dan faktor-fakrtor pendukung dan penghambat pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 18 Malang. bentuk-bentuk penguatan (reinforcement) yang diberikan pada siswa. peneliti menggunakan alat pengumpul data berupa pedoman wawancara yang berisi pertanyaan-pertanyaan untuk informan. Dalam wawancara. Guru pendidikan agama Islam. untuk memperoleh data tentang proses pembelajaran didalam kelas. yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengar dengan telinga sendiri dari suaranya.

prasasti. op.93 b. transkip. faktor pendukung dan penghambat dari pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa. agenda 75 Suharsimi Arikunto. majalah.75 Angket ini diberikan kepada siswa SMP Negeri 18 Malang kelas 7A. Dokumentasi Menurut Suharsimi Arikunto (2002) bahwa Metode dokumentasi adalah metode data mengenai hal-hal yang variabelnya berupa catatan. Dalam metode ini ada beberapa sumber data yang dapat penulis ambil informasinya mengenai obyek penelitian adalah bentuk-bentuk penguatan.. Angket Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya. Dan metode ini di gunakan untuk memperoleh data tentang apa saja bentuk-bentuk penguatan yang biasa diberikan pada siswa.cit. surat kabar. buku. Siswa SMP Negeri 18 Malang. pendukung implikasi dan pemberian penguatan pemberian dan faktor-faktor dalam penghambat penguatan meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang. hlm. 4. untuk memperoleh data tentang bagaimana respon siswa setelah diberikan penguatan (reinforcement) oleh guru pendidikan agama Islam. 151 . atau hal-hal yang diketahui. implikasi pemberian penguatan. 3. lengger. notulen rapat.

maka peneliti menggunakan teknik analisa deskriptif kualitatif. Sarana dan prasarana pendidikan di SMP Negeri 18 Malang tahun 2007/2008. Latar belakang SMP Negeri 18 Malang. Analisis Data Setelah data terkumpul langkah selanjutnya adalah menganalisisnya. hlm. Oleh karena itu.. Adapun tujuan peneliti menggunakan metode ini adalah untuk melengkapi penggunaan metode observasi dan wawancara. Dalam skripsi ini ada data yang bersifat kualitatif dan kuantitatif.76 Metode ini digunakan peneliti melalui bagian tata usaha untuk memperoleh data tentang. Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik. Data Guru dan siswa tahun 2007/2008 d. dalam penelitian kualitatif data yang di peroleh dianalisis dengan langkah-langkah peneliti dalam menganalisis data adalah yang sesuai apa yang dikatakan Sugiyono sebagai berikut: 76 Ibid.94 dan lain sebagainya. interview. 132 . a. dan dokumentasi. Prestasi Akademik Nilai Ujian Sekolah (US) e. c. b. Untuk menganalisis data yang diperoleh melalui observasi. Sruktur organisasi SMP Negeri 18 Malang. G.

77 Sedangkan data kuantitatif dianalisis secara statistik yang menggunakan rumus prosentase yaitu: P = F × 100% N Keterangan: P F 77 = Persentase = Frekuensi jumlah jawaban Sugiyono. Data display (penyajian data) Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Reduksi data Mereduksi data berarti merangkum. dicari tema dan polanya. 3. hlm: 92 . 2007. op. 2. Kesimpulan yang dikemukakan dalam penelitian kualitatif harus didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten sehingga kesimpulan yang dikemukakan merupakan temuan baru yang bersifat kredibel dan dapat menjawab rumusan masalah yang sudah dirumuskan diatas. memilih hal-hal yang pokok.cit. Dalam penelitian ini penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat.. Verifikasi/ penarikan kesimpulan Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan. memfokuskan pada hal-hal yang penting. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.95 1.

Pengajuan judul dan proposal ke jurusan b. Melakukan kegiatan kajian pustaka yang sesuai dengan judul penelitian d. Tahap pelaksanaan Penelitian a. Pengumpulan data Pada tahap ini yang dilakukan peneliti dalam pengumpulan data adalah: 1. 2. Tahap persiapan a. Mengurus surat izin penelitian kepada dekan fakultas Tarbiyah UIN Malang yang ditujukan kepada Kantor DIKNAS kota Malang dan kepala sekolah SMP Negeri 18 Malang. hlm. Dalam penyusunan skripsi ini. Tahap-Tahap Penelitian Yang dimaksud dengan tahap-tahap penelitian adalah langkah-langkah atau cara-cara penulis mengadakan penelitian untuk mencari data. 78 Anas Sudjiono. langkah-langkah yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut: 1.78 H.96 N = Jumlah responden 100% = Bilangan standarisasi. 1989). Konsultasi proposal ke dosen pembimbing c. Pengantar Statistik Pendidikan (Jakarta: Rajawali Press. 41- 42 . Menyusun metodologi penelitian e. Kepala sekolah SMP Negeri 18 Malang (melalui wawancara).

pendidikan agama Islam (PAI) (melalui 3. Mengidentifikasi data Data yang sudah terkumpul dari hasil wawancara dan observasi di identifikasikan agar memudahkan peneliti dalam menganalisa sesuai dengan tujuan yang diinginkan. . 3. Menyusun laporan akhir penelitian dengan selalu berkonsultasi kepada dosen pembimbing c. 5. baik akademik. maupun pembina pendidikan. Menelaah teori-teori yang relevan b. Hasil penelitian ini dilaporkan dalam bentuk skripsi sebagai bahan refrensi bagi kalangan pendidikan. Observasi langsung dan pengambilan data langsung dari lapangan. Guru-guru wawancara). Tahap penyelesaian a. Pengadaan dan penyampaian laporan hasil penelitian kepada pihak yang berwenang dan berkepentingan.97 2. Menyusun kerangka hasil penelitian b. Siswa dan siswi SMP Negeri 18 Malang (melalui wawancara). 4. pendidik. Ujian pertanggung jawaban hasil penelitian di depan dewan penguji d.

98

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Latar Belakang Obyek Penelitian 1. Sejarah Berdirinya SMP Negeri 18 Malang SMP Negeri 18 Malang berdiri tahun 1993 yang beralamat Jl.

Soekarno Hatta A-394 Kecamatan Lowokwaru Malang (Propinsi) Jawa Timur. Dalam perjalannya tentunya SMP Negeri 18 banyak melakukan satu perencanaan pengembangan dan semuanya bermuara pada masalah kualitas, pada tahun 1993 proses pembelajaran sudah menggunakan aplikasi teknologi informatika, Sekolah ini merupakan salah satu sekolah menengah pertama di kota madya Malang yang berstatus negeri, pada tahun 2003 juga SMP Negeri 18 sudah memberlakukan pembelajaran moving kelas penuh, tahun 2004 berdasarkan pada nilai bebas atau berdasarkan akriditasi sekolah kota malang dinyatakan akriditasi A (sangat memuaskan), kemudian tahun 2005 SMP Negeri 18 masuk dalam komunitas Internasional dibawah

bendera ALCOB (apec learning comuniti buildes) sehingga dengan adanya comunitas tersebut maka merupakan suatu wadah untuk mengadakan satu jejaring atau network dengan sekolah-sekolah yang ada diluar negeri, khususnya sekolah-sekolah yang ada di korea selatan, pada tahun 2007 masuk pada sekolah jajaran sekolah standar nasional sehingga ini merupakan satu langkah yang positif. Sehingga yang akan meningkatkan kinerja semua personil yang ada di SMP Negeri 18.

99

Kemudian SMP Negeri 18 Masuk dalam status sebagai sekoalah SMP inklusi artinya dalam kondisi yang seperti ini dengan adanya siswa yang berkembang khusus maka SMP Negeri 18 bisa dikatakan sekolah SMP inklusi, diluar itu tentunya akan menjadi kebanggaan bagi kami semuanya, SMP Negeri 18 selain sebagai sekolah reguler, sekolah inklusi SMP Negeri 18 juga mengelolah sekolah terbuka, dengan adanya ini akan memberikan warna tersendiri pada sekolah SMP Negeri 18.

IDENTITAS SEKOLAH

1. Nama Sekolah 2. No. Statistik Sekolah 3. Tipe Sekolah

: SMP Negeri 18 Malang : 201056104118 : B (A=27 A1=24 A2=21) (B=18 B1=15

B2=12) (C=9 C1=6 C2=3) 4. Alamat Sekolah : Jl. Soekarno Hatta A-394 Malang : (Kecamatan) Lowokwaru : Malang : (Propinsi) Jawa Timur 5. Telepon/HP/Fax 6. Status Sekolah 7. Nilai Akreditasi Sekolah 8. Nama Kepala Sekolah 9. NIP : ( 0341) 472418 / ( 0341) 417518 : Negeri : 86,75 ( amat baik ) : Drs. H.Waris Santosa, M.Pd : 131353532

100

2. VISI DAN MISI a. Visi SMP Negeri 18 Malang Sekolah bertaraf Nasional yang mampu menghasilkan lulusan yang

berkualitas, berlandaskan pada IMTAQ dan IPTEKS serta yang mampu bersaing pada tingkat Nasional dan Internasional. b. Misi SMP Negeri 18 Malang 1. Menciptakan sekolah yang kondusif untuk melaksanakan pembelajaran berbasis kompetensi. 2. Menciptakan organisasi dan manajemen sekolah yang dapat

menumbuhkan semangat berkemajuan dan kompetitif. 3. Meningkatkan kualitas personal sekolah agar memiliki kompetensi sesuai dengan tugas dan fungsinya. 4. Melaksanakan proses pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan dan keterampilan di bidang IPTES (ilmu pengetahuan teknologi dan seni) berbasis kompetensi. 5. Menanamkan pembiasaan yang mampu menumbuh-kembangkan

kesopanan, keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 6. Memberdayakan lingkungan sekolah dalam mewujudkan wawasan wiyata mandala. c. Keadaan guru SMP Negeri 18 malang Untuk mengetahui kebutuhan jumlah siswa yang cukup banyak, maka dibutuhkan tenaga pengajar. Adapun data guru SMP Negeri 18 Malang berdasarkan kualifikasi pendidikan, status dan jenis kelamin yaitu:

D-4 4. ≤ SMA/sederajat Jumlah 14 36 3 53 1 11 2 P 36 L 3 P 1 50 2 GTT/PNS GTT/Guru Bantu Jumlah d. S1 3. D3/Sarmud 5. Keadaan Siswa SMP Negeri 18 Malang Untuk mengetahui keadaan siswa SMP Negeri 18 Malang selama perjalanan. D2 6. maka tabel berikut akan memaparkan data siswa SMP Negeri 18 Malang selama empat tahun terakhir ini: . dan Jenis Kelamin Jumlah dan Status Guru Tingkat No. Pendidikan L 1.101 Tabel 4. D1 7.1 Data Guru SMP Negeri 18 Malang Berdasarkan Kualifikasi Pendidikan. S3/S2 2. Status.

12 7.3 Prestasi Akademik Nilai Ujian Sekolah (US) Rata-rata Nilai US No Mata Pelajaran Tahun 2004/2005 1 AGAMA 2 PPKN 3 IPA 4 IPS 5 MULOK 7.70 7.85 7.102 Tabel 4.35 Tahun 2006/2007 7.57 7.73 7.45 Tahun 2005/2006 7.52 .45 7.61 7.2 Data Siswa SMP Negeri 18 Malang dalam Empat Tahun Terakhir (2007-2008) No Tahun Pelajaran Kelas I Jumlah 1 2 3 4 2006/2007 248 240 265 2003/2004 2004/2005 2005/2006 263 255 273 Kelas II Jumlah 296 261 269 Kelas III Jumlah 303 291 259 862 807 801 753 Jumlah 5 2007/2008 264 241 246 751 Tabel 4.31 6.80 6.75 6.35 7.10 7.

Secara berkala (sebulan sekali) kepala sekolah dan staf dan pembantunya mengadakan pertemuan dalam rangka koordinasi dan evaluasi program. TU dan ruang kepala sekolah berhadapan dengan wakil kepala sekolah. tanggung jawab dan kejujuran. simpanan wajib dan pertokoan. Bila dipandang penting pertemuan dapat diadakan sewaktu-waktu e. dari urusan kewakasek dan Lanjutannya wakasek kekepala sekolah d. . Intern a.103 3. SMP Negeri 18 Malang berada dalam lingkungan yang cukup sejuk karena dihiasi beberapa tanaman di halaman sekolah dan sinar matahari yang cukup hampir semua mendapat sinar matahari pagi. Komunikasi antar guru. karyawaan dan kepala sekolah cukup lancar karena lokasi ruang guru. Jalan konsultasi dari guru keurusan. Kopsis adalah koperasi siswa yang pengurus dan anggotanya terdiri dari siswa dengan didampingi oleh pembina (guru) yang kegiatannya meliputi simpanan pokok. tertib serta dapat bekerja sama f. disiplin. c. Koperasi para guru dan karyawan yang dapat meningkatkan kesejahteraan para anggotanya hendaknya ditata. LETAK GEOGRAFIS 1. Pertimbangan pengangkatan personalia (staf dan bendahara) untuk mengemban amanat adalah berdasarkan kemauan. b. diatur dan dikembangkan g.

SMP Negeri 18 Malang berada pada jalan Soekarno Hatta A-394 Malang Kecamatan Lowokwaru telepon ( 0341) 472418 fax ( 0341) 417518. SMP Negeri 18 Malang ini berada dibelakang MI Jendral Suderman Malang. misalnya. mengadakan shalat Idul Adha bersama dan penyembelihan hewan qurban. PENYAJIAN DATA Berdasarkan hasil penelitian jumlah siswa di SMP Negeri 18 Malang dari jumlah siswa 264 karena terbatasnya waktu dan banyaknya populasi yang ada di SMP Negeri 18 Malang. Menurut pendapat Suharsimi Arikunto penulis menentukan besarnya sampel responden 15% dari 264 siswa. Hubungan dengan masyarakat sekitar cukup bagus. b. Dalam penyajian data penulis sajikan berdasarkan wawancara dengan guru pendidikan agama Islam dan siswa SMP Negeri 18 Malang dan responden angket dari 40 siswa dengan menggunakan rumus: P = F × 100% N Keterangan: P F N = Persentase = Frekuensi jumlah jawaban = Jumlah responden 100% = Bilangan standarisasi. dan sekolah ini berada dilingkungan perumahan. . yakni berjumlah 40 siswa. Ekstern a.104 2. B. c.

.. . HASIL PENELITIAN 1. pujian 20 siswa (50%).5). Setelah penulis teliti secara langsung dan melaksanakan sesuai dengan metode yang digunakan. Senyuman d.4 Penguatan Yang Sering Diberikan Oleh Guru PAI Kepada Siswa No 4 Alternatif Jawaban a. penguatan (reinforcement) yang sering diberikan oleh guru PAI dari 40 responden yang menjawab hadiah 1 siswa (2...5% 100 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa. senyuman 18 siswa (45%).... Berdasarkan angket diatas ini terbukti bahwa guru PAI di SMP Negeri 18 sering memberikan penguatan verbal (pujian) terhadap siswa.. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara ibu Anis selaku guru pendidikan agama Islam mengatakan: . maka hasil penelitian yang penulis peroleh dapat diuraikan sebagai berikut: a.105 C... Bentuk-bentuk pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar PAI pada siswa SMP Negeri 18 Malang.. Tingkat intensitas atau keseringan bentuk penguatan yang paling banyak digunakan guru Tabel 4.. nilai bagus 1 orang (2. Nilai bagus e. Jumlah N 40 F P% 1 2. Hadiah b.5% 20 50% 18 1 40 40 45% 2.. Pujian c.5%) dan untuk lain-lain 0...

c..6 Respon Siswa Ketika Diberi Penguatan Positif No 6 a.07. (23 Mei 2008. Tingkat kesesuaian bentuk–bentuk penguatan yang disukai siswa Tabel 4.. b. Alternatif Jawaban Senang Biasa saja Tidak senang Jumlah N F 40 28 10 2 P% 70% 25% 5% 40 40 100% 79 Wawancara guru PAI Ibu Anis.. Jumlah 40 40 100% N F 40 20 2 18 P% 50% 5% 45% a.106 Yang sering saya berikan pada anak-anak mbak adalah penguatan (reinforcement) berupa kata-kata seperti: Bagus. b.. pinter itu termasuk rewad jangan sampai kita memberikan kata-kata yang dianggap mematikan pada anak.. pujian 2 orang (5%).5 Penguatan Yang Lebih Disukai Siswa No 5 Alternatif Jawaban Hadiah Pujian Senyuman Nilai bagus . c. e. c.. penguatan yang disukai oleh siswa dari 40 responden menjawab hadiah 20 orang (50%)..15 di ruang tamu) . kamu belum pintar... nilai bagus 18 orang (45%) dan lain-lain 0. Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa. jawabanmu salah dan seterusnya”.... d. Tingkat respon siswa terhadap penguatan positif yang diberikan guru Tabel 4... Seperti kata “kamu bodoh. senyuman 0..79 b.

saya mendapatkan nilai tertinggi dalam kelas dan mendapatkan hadiah berupa buku tulis. 09. 13 32. senang 28 siswa (70%). b. pemberian penguatan negatif berupa hukuman terhadap siswa dari 40 responden menjawab. Tingkat respon siswa terhadap penguatan negatif yang diberikan guru Tabel 4. c.30-09. sikap siswa ketika diberi penguatan oleh guru PAI dari 40 responden menjawab. Hal ini terbukti bahwa siswa SMP Negeri 18 lebih senang mendapatkan penguatan (reinforcement) non verbal yaitu berupa hadiah. biasa saja 10 siswa (25%) dan tidak senang 2 siswa (5%). 80 Wawancara Anjar Rizki (siswa) (25 Mei 2008. Hal ini sesuai dengan pernyataan Anjar Rizki dia adalah murid kelas satu. Sehingga saya lebih senang lagi untuk belajar pendidikan agama Islam. ya 20 siswa (50%).7 Pemberian Penguatan Negatif Berupa Hukuman Dapat Meningkatkan Motivasi Belajar No 7 Alternatif Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak Jumlah N F 40 20 7 P% 50% 17.80 d.5%) dan tidak 13 siswa (32. Anjar Rizki mengatakan: Saya perna dulu dalam ulangan harian pendidikan agama Islam yang diajarkan oleh ibu anis.40 di Kelas) .5% a.5% 40 40 100% Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa. saya bangga sekali karena saya mendapatkan penghargaan. dimana dia pernah mendapatkan penguatan (reinforcement) karena mendapatkan nilai tertinggi ketika ulangan pendidikan agama Islam.107 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa. kadang-kadang 7 siswa (17.5%).

2. yaitu mereka malu terhadap hukuman yang dilakukan. Dan respon siswa ketika dapat hukuman.30) (di Ruang Tamu ) .81 Hal ini terbukti bahwa pemberian penguatan negatif berupa hukuman dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. akan tetapi dia tetap mendapat hukuman dan hukuman pun akan bertambah seperti saya laporkan pada guru BP. maka hukumannya pun tetap dilakukakan akan tetapi ini semua sesuai dengan kesepakatan bersama. cubitan coklat. seperti halnya mendapat cubitan anggur. Maka penguatan merupakan hal yang 81 Wawancara guru PAI Ibu Anis (22 Mei 2008. Pemberian penguatan merupakan upaya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar siswa dikelas.3 kali dapat toleransi akan tetapi kalau masih melanggar maka dia harus membawahkan juz Ammah pada sekolah dan juga akan mendapat hukuman yang lainnya. dan hukuman ini berlaku bagi siswa yang melanggar peraturan. dan bisa juga kepada orang tuanya. tapi ada juga yang tetap mengulangi.108 Dengan adanya tabel diatas sudah jelas bahwa pemberian penguatan negatif berupa hukuman dapat meningkatkan motivasi siswa. cubitan strauberi. alat sholat. akan tetapi hukuman ini adalah kesepakatan kita bersama dengan anak-anak.09. 2. karena dengan adanya hukuman siswa merasa takut dan tidak akan mengulanginya kembali. dan bahkan ada yang tidak akan mengulangnya lagi. Karena itu. kalau 1. Implikasi Pemberian Penguatan (Reinforcement) Terhadap Meningkatkan Motivasi Belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang. dan saya menawarkan mau hukuman yang mana. Ibu Anis selaku guru pendidikan agama Islam menjelaskan: Penguatan yang negatif (hukuman) ini mbak saya berikan pada anakanak yang melanggar peraturan. kalau masih melanggar. apabila anak tidak bawah juz Ammah. jika motivasi menjadi prasyarat amat penting untuk mencapai keberhasilan dalam kegiatan belajar mengajar.

sebab tingkat motivasi belajarnya masih rendah. Sehingga pemberian penguatan disini juga sangat penting sekali untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.8 Perasaan Siswa Belajar PAI Setelah Diberi Penguatan No 1 Alternatif Jawaban Senang Kadang-kadang Tidak Senang Jumlah N F 40 22 18 40 40 P% 55% 45% 100% a. siswa senang belajar PAI dari 40 responden menjawab senang 22 siswa (55%). hal ini sesuai dengan penjelasan ibu Anis: Implikasinya nggak mesti. Implikasi Motivasi Internal dalam Meningkatkan Motivasi Kesenangan Belajar Tabel 4.30) (di Ruang Tamu ) . kadang-kadang masih tetap. diberi penguatan seperti itu kan tambah giat. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan pada tabel dibawah ini: a. Akan tetapi ini jarang. b. c. kadang yang namanya anak ada juga yang acuh tak acuh. kadang-kadang 18 siswa (45%) dan tidak senang 0. kalau anak yang memiliki greget. dan kebanyakan memang mereka senang bila diberi penguatan yang seharusnya.109 tidak kalah pentingnya. Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa.82 82 Wawancara guru PAI Ibu Anis (22 Mei 2008. dengan penggunaan penguatan maka motivasi belajar siswa terutama yang masih rendah tersebut masih bisa ditingkatkan. Dari data angket diatas banyak siswa yang memilih senang ketika mendapatkan penguatan dari guru PAI.09.

dari 40 responden menjawab. 19 47. keaktifan siswa didalam kelas setelah diberikan penguatan dari 40 responden menjawab.5% 1 40 40 2. .9 Keaktifan Siswa Didalam Kelas Setelah Diberi Penguatan No 8 Alternatif Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak Jumlah N F 40 20 P% 50% a. c. kadang-kadang 19 siswa (47. Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa.10 Sikap Siswa Setelah Diberi Penguatan Dapat Mengerjakan Tugas Dengan Tepat No 9 Alternatif Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak Jumlah N F P% 40 39 97.5%). b. b. ya 20 siswa (50%). Setelah diberi penguatan siswa dapat mengerjakan tugas dengan tepat. ya 39 siswa (97. c.5%). kadang-kadang 1 siswa (2.5% 100% Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa.5%) dan tidak 0. c. Motivasi ekternal dalam meningkatkan keaktifan belajar Tabel 4.5%) dan tidak 1 siswa (2. Motivasi eksternal dalam memenuhi penyelesaian tugas-tugas Tabel 4.110 b.5% 1 40 40 2.5% 100% a.

5% 10 5 40 40 25% 12.5% 100% Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa.5%). Faktor-Faktor Pendukung Keberhasilan Dan Penghambat Pemberian Penguatan (Reinforcement) Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Siswa di SMP Negeri 18 Malang. Dalam pelaksanaan keberhasilan suatu kegiatan belajar sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor pendukung. . Motivasi eksternal dalam mencapai nilai maksimal Tabel 4. disamping itu juga pasti adanya juga faktor penghambat didalam suatu kegitan pembelajaran. karena siswa merasa dihargai sehingga pemberian penguatan tersebut dapat meningkatkan motivasi belajar. Demikian juga dengan pelaksanaan pemberian penguatan guna meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang. kadang-kadang 10 siswa (25%) dan tidak ingin 5 siswa (12. 3.111 d. c.11 Keinginan Mencapai Nilai Maksimal Setelah Diberi Penguatan No 10 a. b. ya 25 siswa (62. Hal ini menunjukkan bahwa siswa akan berusaha mengerjakan tugas dengan tepat setelah mendapatkan penguatan dari gurunya. dari 40 responden menjawab. Alternatif Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak ingin Jumlah N F P% 40 25 62. keinginan siswa mencapai nilai maksimal setelah diberi penguatan.5%).

5% 19 47.12 Sikap Siswa Terhadap Pelajaran Pendidikan Agama Islam No 2 a.30 (di Ruang Tamu ) . Minat siswa dalam belajar PAI 4.5%). Walau bagaimana pun usaha kita sebagai guru dalam mendidik anak kalau tidak ada kesadaran sepenuhnya saya rasa sangat sulit sekali.09. ya 21 siswa (52. c.5%) dan tidak pernah 0. dari 40 responden menjawab. kadang-kadang 19 siswa (47. 83 Wawancara guru PAI Ibu Anis (22 Mei 2008.112 1) Faktor Pendukung Faktor pendukung merupakan hal yang terpenting dalam rangka mensukseskan pemberian penguatan guna meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang diungkap oleh Ibu Anis sebagai berikut: Faktor pendukung dalam pelaksanaan pemberian penguatan ini adalah adanya faktor intern dari anak itu sendiri yaitu adanya kesadaran sendiri dari anak tersebut.5% 40 40 100% Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa. sikap siswa terhadap pelajaran PAI. b. Alternatif Jawaban Selalu memperhatikan Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah N F P% 40 21 52.83 a.

ingin mempunyai dasar agama yang kuat 16 siswa (40%).... c..13 Menanyakan Masalah PAI Pada Guru No 11 Alternatif Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak pernah N F 40 20 18 2 P% 50% 45% 5% a.. Alternatif Jawaban Ingin menjadi anak yang sholih dan sholihah Ingin mempunyai dasar agama yang kuat Sekedar ingin tahu tentang ajaran agama Ingin berguna bagi Agama. Jumlah 40 40 100% N 40 F 13 16 11 P% 32.. ya 20 siswa (50%). e.......5% 40% 27.. b... ingin berguna bagi Agama. harapan siswa belajar PAI adalah dari 40 responden menjawab. ingin menjadi anak yang sholih dan sholihah 13 siswa (32.. Keinginan siswa mempelajari PAI 4.. 4. c....... kadang-kadang 18 siswa (45%) dan tidak pernah 2 siswa (5%). d. Nusa dan bangsa 11 siswa (27..5%)..5%) dan lain-lain 0.113 b...14 Harapan Siswa Belajar PAI No 17 a. Nusa dan Bangsa .. . Jumlah 40 40 100% Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa.5% Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa. sekedar ingin tahu tentang ajaran agama Islam 0.. dari 40 responden menjawab..... b. bila terdapat masalah dalam pelajaran PAI siswa menanyakan pada guru......

114 Aspirasi atau cita-cita dalam belajar yang menjadi tujuan hidup siswa akan menjadi pendorong bagi belajarnya.. hampir 42. sudah 45%..15 Kelengkapan Fasilitas PAI Yang Dimiliki SMP Negeri 18 Malang No 16 Alternatif Jawaban Sudah Hampir Kurang . dari 40 responden menjawab. Aspirasi atau cita-cita tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat kemampuan siswa itu sendiri.5% 5 40 40 100% 12.5% Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa.. c. Lengkapnya fasilitas PAI yang dimiliki SMP Negeri 18 Malang 4. mengenai kelengkapan fasilitas PAI yang dimiliki SMP Negeri 18 Malang. 17 42.. kurang 12. b. Siswa yang mempunyai tingkat kemampuan yang baik akan mempunyai cita-cita yang lebih realistis jika dibandingkan dengan siswa yang memiliki tingkat kemapuan yang rendah.5% lain-lain 0.. d... d.. Sehingga dalam masalah motivasi yang paling penting adalah motivasi yang timbul dari diri seseorang (motivasi intrinsik)... Jumlah N F 40 18 P% 45% a..5%. ..

115 e. Orang tua yang menanyakan nilai ulangan. Hal ini terbukti bahwa orang tua siswa memperhatikan tugas atau pekerjaan rumah (PR) mata pelajaran PAI dan juga memberikan penguatan . dari 40 responden menjawab. Orang tua yang menanyakan nilai ulangan. Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa. c.5%) dan tidak pernah 5 siswa (12. b.5% 100% Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa. b. 4. kadang-kadang 16 orang (16%) dan tidak pernah 6 siswa (15%). dari 40 responden menjawab.5% 5 40 40 12. kadang-kadang 17 orang (42.17 Orang Tua Memberikan Hadiah/Pujian Jika Nilai PAI Bagus No 13 Alternatif Jawaban Sering Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah N F 40 18 16 6 40 40 P% 45% 40% 15% 100% a. 17 42. sering 18 siswa (45%). c. sering 18 siswa (40%). Perhatian dari orang tua 4.16 Orang Tua Menanyakan Ulangan PAI No 12 Alternatif Jawaban Sering Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah N F 40 18 P% 45% a.5%).

Alternatif Jawaban Senang Biasa saja Tidak senang Jumlah N F P% 40 17 42. siswa mempraktekkan PAI dalam kehidup sehari-hari. kadang 32 siswa (80%). Masih ada siswa yang belum mempraktekkan PAI secara optimal dalam kehidupan sehari-hari 4. b. e. 2) Faktor penghambat Faktor penghambat pemberian penguatan dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang adalah: a. Metode yang digunakan guru PAI kurang bervariasi 4. tidak pernah 2 siswa (5%). Dari Alternatif Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak pernah tabel Jumlah diatas dapat N 40 F 6 32 2 P% 15% 80% 5% yang 40 40 100% diketahui bahwa. dari 40 responden menjawab. ya 6 siswa (15%).5% 40 40 100% .19 Metode Yang Digunakan Guru PAI Dalam Mengajar No 3 a.5% 23 57.18 Mempraktekan PAI Dalam Kehidupan Sehari-Hari No 14 a.116 kepada anaknya sebagai salah satu cara memotivasi anak agar selalu meningkatkan belajar dan juga prestasinya. c. d. b.

117 Bersarkankan tabel diatas dapat diketahui bahwa. dari 40 responden menjawab. c. Padahal kompetisi dapat dijadikan sebagai sarana motivasi untuk mendorong belajar siswa dan juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini menunjukkan bahwa di sekolah SMP Negeri 18 Malang kurang adanya program perlombaan atau kompetisi mata pelajaran PAI.5) dan tidak senang 0. Kurangnya program perlombaan PAI di sekolah. b. dari 40 responden menjawab. biasa saja 23 siswa (57. senang 17 siswa (42. metode yang digunakan guru PAI dalam mengajar. Sehingga diharapkan guru PAI dapat menggunakan metode yang tepat dalam pembelajaran PAI agar mencapai hasil lebih maksimal.5%). program perlombaan PAI disekolah. Dari pernyataan tersebut menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan oleh guru dalam meningkatkan motivasi belajar pendidikan agama Islam melalui penggunaan metode dalam mengajar kurang bervariasi. . c. 4. sering 4 siswa (10%).20 Program Perlombaan PAI Disekolah No 15 Alternatif Jawaban Sering Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah N 40 F 4 20 16 40 40 P% 10% 50% 40% 100% a. kadangkadang 20 siswa (50%) dan tidak pernah 16 siswa (40%). Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa.

pemberian penguatan ini mendapatkan respon yang baik dari siswa hasil persentase jawaban siswa senang bila mendapatkan penguatan dari guru PAI 70%. penghargaan. maka penulis akan memberikan analisa sebagai berikut: 1) Bentuk-bentuk pemberian penguatan (reinforcement) dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang. Analisis Data Setelah dipaparkan hasil penelitian. hal ini terbukti persentase penguatan verbal berupa pujian 50%. Hal ini terbukti hasil persentase siswa dari 40 responden yang menjawab 2.5% Dari pernyataan diatas relevan dengan konsep motivasi berkaitan erat dengan prinsip-prinsip bahwa tingkah laku yang telah diperkuat pada waktu . Bentuk penguatan non verbal berupa hadiah jarang diberikan guru PAI kepada siswa.118 BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. persetujuan dan seterusnya. Bentuk penguatan yang sering diberikan oleh guru dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP negeri 18 Malang adalah bentuk penguatan verbal seperti halnya pujian. terkadang penguatan ini diberikan setelah ujian tengah semester ataupun akhir semester diberikan pada siswa yang mendapatkan pringkat terbaik. begitu juga dengan adanya penguatan negatif dapat meningkatkan motivasi belajar PAI dari 40 responden menjawab. ya 50%.

119

yang lalu barangkali diulang, misalnya siswa yang rajin belajar akan mendapatkan pujian, nilai bagus atau diberi hadiah. Sedangkan tingkah laku yang diperkuat atau dihukum tidak akan diulang, misalnya siswa yang menyontek atau melanggar peraturan akan dihukum.

2) Implikasi Pemberian Penguatan (Reinforcement) Terhadap Meningkatkan Motivasi Belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang. a. Siswa senang belajar PAI setelah diberikan penguatan Pemberian penguatan (reinforcement) diterapkan dengan suatu bukti bahwa dengan adanya penguatan dapat membawa peserta didik kearah yang lebih baik yaitu lebih termotivasi dalam belajarnya, yang dapat menunjang dan membantu peserta didik dalam meningkatkan prestasinya, khususnya pada pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 18 Malang. sesuai hasil persentase pespon siswa mengenai belajar PAI setelah diberikan penguatan senang 55%. b. Menjadikan siswa aktif dikelas Setelah mendapatkan penguatan dari guru, siswa merasa dihargai sehingga ia dapat lebih aktif di kelas siswa menjawab ya, 50%. c. Dapat menyelesaikan tugas dengan tepat 97.5% d. Serta keinginan siswa mendapatkan nilai yang maksimal 62.5% Jadi cukup jelas bahwa implikasi pemberian penguatan dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang yang diberikan oleh guru PAI, sangat direspon baik oleh siswa SMP Negeri 18

120

Malang, sehingga dengan pemberian penguatan tersebut dapat meningkatkan motivasi belajar dan juga prestasi siswa. Dari pernyataan diatas sesuai dengan teori motivasi Maslow mengenai kebutuhan akan aktualisasi diri (self acualization), seperti: kebutuhan mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki, pengembangan diri secara maksimum, kreatifitas dan ekspresi diri. Tingkat atau hirarki dari Maslow tidak dimaksud sebagai suatu kerangka yang dapat dipakai setiap saat, tetapi lebih merupakan kerangka acuan yang dapat digunakan sewaktu-waktu bila mana diperlukan untuk memperkirakan tingkat kebutuhan mana yang mendorong seseorang yang akan dimotivasi bertindak melakukan sesuatu.

3) Faktor-Faktor Pendukung Keberhasilan Dan Penghambat

Pemberian

Penguatan (Reinforcement) Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Siswa di SMP Negeri 18 Malang. Dalam melaksanakan suatu proses pembelajaran pasti ada faktor pendukung dan penghambat, seperti halnya pemberian penguatan dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa di SMP Negeri 18 Malang, memiliki beberapa faktor pendukung dan juga penghambat. Faktor pendukung merupakan kunci sukses SMP Negeri 18 Malang dalam melaksanakan pemberian penguatan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Faktor pendukung tersebut adalah:

121

a. Minat siswa dalam belajar PAI Minat ini bisa muncul karena adanya kebutuhan, karena itu dikatakan bahwa minat merupakan sarana motivasi yang pokok atau utama. Proses belajar mengajar dapat berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Ada beberapa cara untuk memunculkan minat yaitu membangkitkan adanya suatu kebutuhan, menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang telah lalu, memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik, dan menggunakan berbagai macam bentuk atau metode mengajar. Kebutuhan siswa mempelajari PAI karena dengan mempelajari PAI dia nanti akan mempunyai dasar-dasar agama yang kuat, dan bisa menjalankan ajaran agama dengan baik. Dan itu sudah terbukti dengan persentase siswa yang senang belajar pendidikan agama Islam dan selalu memperhatikan 52.5%. b. Keinginan siswa mempelajari PAI Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesenjangan ada maksud dan keinginan untuk belajar. Hal ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan segala kegiatan yang tanpa maksud dan keinginan. Hasrat untuk belajar pada diri siswa berarti memang ada motivasi belajar dalam diri siswa tersebut, sehingga tentu hasilnya akan lebih baik. Hal ini dibuktikan persentase siswa selalu menanyakan bila ada masalah PAI 50%, serta citacita siswa belajar PAI adalah mempunyai dasar agama yang kuat 40%. Aspirasi atau cita-cita dalam belajar yang menjadi tujuan hidup siswa akan menjadi pendorong bagi belajarnya. Aspirasi atau cita-cita tersebut

Faktor penghambat tersebut adalah: a. Sedangkan faktor penghambat merupakan sebuah kendala pemberian penguatan dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa. Perhatian dari orang tua Peran orang tua dalam pendidikan sangat penting sekali selain motivasi intrinsik yang dimiliki anak untuk mempelajari PAI. Sehingga dalam masalah motivasi yang paling penting adalah motivasi yang timbul dari diri seseorang (motivasi intrinsik). karena untuk pelajaran PAI sudah tersedia kelas moving. musholah. Siswa yang mempunyai tingkat kemampuan yang baik akan mempunyai cita-cita yang lebih realistis jika dibandingkan dengan siswa yang memiliki tingkat kemapuan yang rendah. d. c. Masih ada siswa yang belum mempraktekkan pelajaran PAI dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terbukti dari persentase siswa mengatakan sudah lengkap 45%. Fasilitas PAI yang lengkap Fasilitas PAI yang berada di SMP Negeri 18 Malang sudah dikatakan lengkap.122 sangat dipengaruhi oleh tingkat kemampuan siswa itu sendiri. . dan ini terbukti orang tua siswa SMP Negeri 18 Malang sudah memperhatikan pendidikan anaknya melalui menanyakan ulangan PAI 35% dan memberikan penguatan berupa pujian hadiah 45%. peralatan ibadah seperti mukena. sajadah dan Al-Quran.

tanya jawab dan juga pemberian tugas sehingga terkesan membosankan bagi siswa. terutama untuk metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran. kadangkadang 80%. Karena dengan adanya kompetisi tersebut berlomba-lomba prestasinya. Hal ini terbukti hasil prosentase siswa menyatakan mengenai metode yang dipakai oleh guru PAI dalam mengajar. Sebab hal ini dapat mempermudah siswa untuk memahami dan mengerti materi yang disampaikan. guru sering menggunakan metode ceramah. Padahal seorang guru dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif dalam pengajaran.123 Ini terbukti persentase siswa masih banyak yang belum mempraktekkan pelajaran PAI dalam kehidupan sehari-hari. untuk meningkatkan prosentase motivasi siswa belajar siswa dapat dan juga Sesuai hasil menyatakan program perlombaan PAI di sekolah dan siswa menjawab kadang-kadang 50%. c. Kurang adanya program kompetisi PAI disekolah Kompetisi dapat dijadikan sebagai sarana motivasi untuk mendorong belajar siswa. .5%. Metode yang digunakan guru dalam mengajar kurang bervariasi. Dalam proses pembelajaran PAI di SMP Negeri 18 Malang. b. menjawab biasa saja 57.

Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian di lapangan. peneliti dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1) SMP Negeri 18 Malang dalam meningkatkan motivisi belajar pendidikan agama Islam. Sedangkan bentuk penguatan nonverbal yang berbentuk hadiah jarang diberikan. begitu juga dengan adanya penguatan negatif dapat meningkatkan motivasi belajar PAI siswa dari 40 responden menjawab. serta respon siswa mengenai penguatan yang diberikan guru hasil persentase jawaban siswa senang 70%. Hal ini terbukti hasil persentase penguatan nonverbal berupa hadiah yang diberikan kepada siswa 2. ya 50%.5%. Penguatan ini biasanya diberikan setelah diadakan ulangan harian atau ujian akhir semester.124 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. . selain adanya fasilitas yang sudah terpenuhi disekolah ini juga menggunakan penguatan (reinforcement) sebagai salah satu alternatif untuk dapat meningkatkan motivasi belajar PAI siswa. bentuk penguatan (reinforcement) yang sering diberika guru terhadap siswa adalah bentuk penguatan verbal dan hal ini terbukti prosentase penguatan berupa pujian 50%.

Hal ini terbukti dari prosentase siswa mengatakan sudah lengkap 45%. b) menjadikan siswa lebih aktif dikelas 50%. Hal ini dibuktikan prosentase siswa selalu menanyakan bila ada masalah dalam PAI 50%. dalam hal ini perhatian orang tua mengenai pendidikan anaknya melalui menanyakan ulangan PAI 45% dan memberikan penguatan berupa pujian/ hadiah 45%. d) keinginan untuk mendapatkan nilai yang maksimal 62.5%. hasrat untuk belajar pada diri siswa berarti memang ada motivasi belajar dalam diri siswa tersebut. sehingga hasilnya akan lebih baik. siswa yang senang belajar pendidikan agama Islam dan selalu memperhatikan 52. 3) Faktor pendukung pemberian penguatan dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa adalah a) minat siswa dalam belajar PAI. dan cita-citanya ingin mempunyai dasar agama yang kuat 40%. sajadah dan Al-Quran.5%. c) fasilitas mata pelajaran PAI yang lengkap seperti adanya kelas moving. Sedangkan untuk faktor penghambat pemberian penguatan dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa adalah a) masih ada siswa .5%. musholah. c) siswa dapat mengerjakan tugas dengan tepat 97.125 2) Implikasi pemberian penguatan (reinforcement) di SMP Negeri 18 Malang ini adalah siswa lebih termotivasi untuk belajar pendidikan agama Islam. b) keinginan siswa mempelajari PAI. peralatan ibadah seperti mukena. a) Siswa senang belajar PAI setelah diberikan penguatan 55%. d) perhatian orang tua.

. hasil prosentase siswa menyatakan biasa saja 57. dan siswa menjawab kadang-kadang 80%. sehingga siswa lebih semangat belajar khususnya pelajaran PAI. karena masih banyak bentuk-bentuk penguatan (reinforcement) yang belum digunakan dan juga guru PAI lebih meningkatkan lagi mengenai metode pengajaran yang dipakai. maka ada beberapa hal yang perlu diungkapkan sebagai saran dalam rangka meningkatkan motivasi belajar PAI siswa melalui pemberian penguatan (reinforcement): 1. agar metode pengajaran dikelas tidak terkesan monoton. Bagi Sekolah Hendaknya pemberian penguatan (reinforcement) kapada siswa perlu diperhatikan. Saran Dari hasil pembahasan diatas. c) kurang adanya program kompetisi PAI disekolah siswa menjawab kadang-kadang 50%. Bagi Guru PAI Hendaknya guru PAI lebih memvariasi lagi mengenai pemberian penguatan kepada siswa. salah satunya yaitu sering diadakan program kompetisi atau perlombaan PAI disekolah.5%. b) metode yang digunakan guru dalam mengajar kurang bervariasi.126 yang belum mempraktekkan pelajaran PAI dalam kehidupan seharihari. B. 2. karena dengan adanya perlombaan dapat memacu siswa untuk lebih meningkatkan motivasi belajar dan juga prestasi siswa.

Hendaknya perhatian orang tua lebih ditingkatkan lagi kepada anaknya. sehingga pelajaran PAI tidak hanya dijadikan sebagai landasan teori saja akan tetapi perlu adanya realisasi dalam kehidupan sehari-hari.127 3. . Dan mengontol anak agar selalu mempraktekkan pelajaran PAI dalam kehidupan sehari-hari.

128 .

Bandung: PT Remaja Kusrini. Psikologi Belajar dan Mengajar. Moleong. Nur. Psikologi Pendidikan. 2002. Menjadi guru Profesional (Menciptakan pembelajaran kreatif dan menyenangkan). Metode penelitian Kualitatif. Keterampilan Dasar Mengajar (PPl 1) Berorientasi Pada Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Sinar Baru Algensind Djamarah. Sutiah. Ilmu Pendidikan Islam. Muhaimin. Psikologi Belajar. Sutiah. 2002. Belajar dan Pembelajaran. 1996. 2002. dan Ali. Jakarta: PT Rineka Cipta. Listiyo probowo. Jakarta. 2008. Mulyasa. 1992. Jakarta: Bumi Aksara dan Depag. PT RajaGrafindo Persada. Sugeng. Prosedur Penelitian. Saiful Bahri. Jakarta:PT Rineka Cipta. Filsafat Pendidikan. 2008. Ali. Darajat. Dimyati dan Mujiono. Suharsimi.J. .129 DAFTAR PUSTAKA Arikunto. 2004. 2004. (Upaya mengefektifkan Pandidikan Agama Islam) Bandung: Remaja Rosdakarya. Oemar. Zakiah dkk. Jakarta: PT Asdi Mahastya. J. Muhaimin. Muhammad. Rosdakarya. Fakultas Tarbiyah UIN Malang. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. 2002. Malang: Bayumedia Publishing. Sri Esti Wuryani. Djumransyah. Sutiah. Hamalik. 2008 Pengembangan Model pada Sekolah & Madrasah. 2002. Siti. Hasibuan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Paradigma Pendidikan Islam. Djiwandono. Marno. Lexy. 2007. Jakarta: PT Grasindo. Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Rosdakarya. dan Moedjiono. 2004. J.

Metodologi Pengajaran pendidikan Islam. Bandung: PT Rosdakarya. 1998. Jhon W. Sugiyono. Soemanto. 2006. Fakultas Tarbiyah UIN Malang dan UM Press. Ngalim. Metode Statistika Bandung: Tarsito. Moh. Tarsito. Psikologi Pendidikan. 2004. 1998. Santrock. Sardiman. Muhibbin. S. 2007. Anas. Memahami Penelitian Kualitatif. Dasar Metode Teknik. Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta. Abdul & Andayani. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Sukandarrumi. Bandung: PT Rosdakarya. Terjemahan. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Psikologi Pendidikan. Dian. Pendidikan Agama Isalam Berbasis Kopetensi (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004). 2007. Bandung: Rosda Nasution. Ahmad. Usman. 1995. Remaja Rosda Karya. S. Syah. Abu. Metode Penelitian (petunjuk praktis untuk peneliti pemula) Yogyakarta: Gadja Mada University Press. Bandung: Alfabeta. 1988. Pustaka Setia.130 Majid. Nur dan Ahmadi. 2007. 2004. Bandung: Citra Umbara. Bandung: Purwanto. Syaiful. Menjadi Guru Profesional. 1994. 2003 Uhbiyati. Tafsir. Psikologi Pendidikan (Suatu Pendekatan Baru). Margono. Bandung : PT. Zuhairini dan Ghofir.Wasty. 2004. 2007. Jakarata: PT RajaGrafindo Persada. Sagala. 1993. Metodologi Penelitian Naturalistik-Kualitatif. Bandung: Tarsito. 2002. Bandung: CV Penerbit. . Jakarta: Rineka Cipta. Ilmu Pendidikan Islam Bandung: Cv. Abdul. Bandung: Alfabeta. Uzer. 2002. Konsep dan Makna Pebelajaran. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Sudjana. Metodologi Penelitian Pendidikan. Psikologi Pendidikan.

131 http://smpn2ransel.geocities. .com/guruvalah.com/2008/03/19/teori-motivasi/ http://www.wordpress.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->