BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

INFEKSI NOSOKOMIAL

2.1

Definisi Infeksi Nosokomial Infeksi nosokomial adalah suatu infeksi yang diperoleh atau dialami oleh pasien selama dia dirawat di rumah sakit dan menunjukkan gejala infeksi baru setelah 72 jam pasien berada di rumah sakit serta infeksi itu tidak ditemukan atau diderita pada saat pasien masuk ke rumah sakit (Olmsted RN, 1996, Ducel, G, 2002).

2.2

Epidemiologi Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit-penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama. Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak10,0% (Ducel, G, 2002) . Walaupun ilmu pengetahuan dan penelitian tentang mikrobiologi meningkat pesat pada 3 dekade terakhir dan sedikit demi sedikit resiko infeksi dapat dicegah, tetapi semakin meningkatnya pasien-pasien dengan penyakit immunocompromised, bakteri yang resisten antibiotik, super infeksi virus dan jamur, dan prosedur invasif, masih menyebabkan infeksi nosokomial menimbulkan kematian sebanyak 88.000 kasus setiap tahunnya walaupun ( Light RW, 2001). Laporan-laporan rumah sakit di Indonesia yang menunjukkan infeksi nosokomial berupa infeksi luka operasi adalah di R.S. Hasan Sadikin Bandung 9,9% (1991, Warko), di R.S. Pirngadi Medan 13,92% (1987), R.S. Dr. Karyadi Semarang 7,3% (1984), R.S.Dr. Soetomo Surabaya 5,32% (1988) dan RSCM 5,4% (1989). Infeksi luka operasi ini

Universitas Sumatera Utara

.2. Tabel 2.3 Etiologi 2.semuanya untuk kasus-kasus bersih dan bersih tercemar yang dioperasi (Depkes RI Jakarta. Kontak antara pasien dan berbagai macam mikroorganisme ini tidak selalu menimbulkan gejala klinis karena banyaknya faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial. tingkat virulensi. yaitu penyakit yang penyebarannya melalui makanan dan udara dan benda atau bahan-bahan yang tidak steril. Mikroorganisma Penyebab Infeksi Nosokomial Universitas Sumatera Utara . 2002). jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. G. dan banyaknya materi infeksius (Ducel. Penyakit yang didapat dari rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang normal (Ducel. 1995) Persentase(%) >40 11 10 9 Bakteri Enterobacteriaceae S. aureus Enterococcus P. Semua mikroorganisme termasuk bakteri. 2. 2002) . 1995). Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan karena faktor eksternal.1.1 Agen Infeksi Pasien akan terpapar berbagai macam mikroorganisme selama ia dirawat di rumah sakit. aeruginosa Tabel 2. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection). Bakteri Penyebab Infeksi Nosokomial (Tortora et al. Kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada karakteristik mikroorganisme. G.3. resistensi terhadap zat-zat antibiotika. virus.

lahir mempunyai antibodi dari ibu. Pada usia lanjut. aeruginosa.. intubasi dan tindakan pembedahan juga meningkatkan resiko infeksi (Babb. coli. Banyaknya prosedur pemeriksaan penunjang dan terapi seperti biopsi. Usia muda dan usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi tubuh terhadap infeksi kondisi ini lebih diperberat bila penderita menderita penyakit kronis seperti tumor. JR. penyakit yang diderita. sistem imun juga Universitas Sumatera Utara . & K.2 Respon dan toleransi tubuh pasien Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat toleransi dan respon tubuh pasien dalam hal ini adalah umur. leukemia. bayi mempunyai pertahanan yang lemah terhadap infeksi. SLE dan AIDS. JR. orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid serta intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi (Babb. obesitas dan malnutrisi. gagal ginjal. 2001) Mikroorganisme S. Liffe. Liffe. anemia. Staphylococci koagulase negatif. pneumonia C.Haemophilus) lain (Acinetobacter. Enterococci E. 1995). status imunitas penderita. karena fungsi dan organ tubuh mengalami penurunan. Albicans) Bakteri Gram negatif Citrobacter. sedangkan sistem imunnya masih imatur. Menurut Purwandari 2006. difficile Fungi (kebanyakan C. aureus. endoskopi. Enterobacter spp. Keadaan-keadaan ini akan meningkatkan toleransi tubuh terhadap infeksi dari kuman yang semula bersifat opportunistik. Obat-obatan yang bersifat immunosupresif dapat menurunkan pertahanan tubuh terhadap infeksi. Persentase(%) 34 32 17 10 7 2. AJ.. diabetes mellitus.3. 1995). kateterisasi. P.(Tortora et al. AJ. Dewasa muda sistem imun telah memberikan pertahanan pada bakteri yang menginvasi.

iv. Makanan yang tidak steril. Tanda-tanda infeksi tersebut baru timbul sekurang-kurangnya 3 × 24 jam sejak mulai dirawat. 1995. Cairan yang diberikan secara intravena dan jarum suntik.5.5. AJ. iii. 2006). 1992). 2. 2. Pada waktu penderita mulai dirawat di rumah sakit tidak didapatkan tanda-tanda klinik dari infeksi tersebut. G. Penularan infeksi ini dapat tertular melalui tangan.1 Infeksi secara langsung atau secara tidak langsung Infeksi boleh terjadi karena kontak secara langsung atau tidak langsung. yang disebabkan oleh golongan staphylococcus aureus. Peningkatan infeksi nosokomial juga sesuai dengan umur dimana pada usia >65 tahun kejadian infeksi tiga kali lebih sering daripada usia muda (Purwandari. keberhasilan ini menyebabkan penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan antibiotika.4 Penilaian yang digunakan untuk Infeksi Nosokomial Infeksi nosokomial disebut juga dengan “Hospital Acquired Infection” apabila memenuhi batasan atau kriteria sebagai berikut: i. Liffe. 2002). 2. Ducel. Pada waktu penderita mulai dirawat tidak dalam masa inkubasi dari infeksi tersebut. Universitas Sumatera Utara . kebanyakan penyakit yang serius dan fatal ketika itu dapat diterapi dan disembuhkan. Bagaimanapun. ii.2 Resistensi Antibiotika Seiring dengan penemuan dan penggunaan antibiotika penicillin antara tahun 1950-1970. tidak dimasak dan diambil menggunakan tangan yang menyebabkan terjadinya cross infection (Babb. JR.mengalami perubahan.5 Faktor Resiko Terjadinya Infeksi Nosokomial pada Pasien 2. kulit dan baju. peralatan serta instrumen kedokteran boleh menyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi tersebut bukan merupakan sisa (residual) dari infeksi sebelumnya (Hasbullah T.

pengobatan atau umur iii) Mikroorganisme yang baru (mutasi) iv) Meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotika (Ducel.3 Faktor alat Suatu penelitian klinis menujukkan infeksi nosokomial terutama disebabkan oleh infeksi dari kateter urin. G. banyak mikroorganisme yang kini menjadi lebih resisten. Penggunaan peralatan non steril juga boleh menyebabkan infeksi nosokomial (Ducel. Infeksi nosokomial sangat mempengaruhi angka morbiditas dan mortalitas di rumah sakit. Infeksi sendiri (Self infection. Auto infection) yaitu disebabkan oleh kuman dari penderita itu sendiri yang berpindah tempat dari satu jaringan ke jaringan yang lain. Penggunaan antibiotika yang terus-menerus ini meningkatkan multiplikasi serta penyebaran strain yang resisten. dosis antibiotika yang tidak optimal. G.Maka. infeksi jarum infus. G. infeksi dari luka operasi dan septikemia.6 Cara Penularan Infeksi Nosokomial Cara penularan infeksi nosokomial bisa berupa infeksi silang (Cross infection) yaitu disebabkan oleh kuman yang didapat dari orang atau penderita lain di rumah sakit secara langsung atau tidak langsung. 2. infeksi kulit. infeksi saluran nafas. 2002). 2002). Peningkatan resistensi bakteri dapat meningkatkan angka mortalitas terutama pada pasien yang immunocompromised (Ducel. terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat serta kesalahan diagnosa (Ducel. Infeksi lingkungan (Environmental infection) yaitu Universitas Sumatera Utara . G.5. 2002) 2.dan menjadi sangat penting karena: i) Meningkatnya jumlah penderita yang dirawat ii) Seringnya imunitas tubuh melemah karena sakit. 2002). Penyebab utamanya adalah penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol.

hal ini sulit dilakukan dengan benar. ii) iii) Mengontrol resiko penularan dari lingkungan. nutrisi yang cukup. Selain itu. tindakan septik dan aseptik. Misalnya lingkungan yang lembab dan lain-lain (Depkes RI. tentang model cara penularan.7 Pencegahan terjadinya Infeksi Nosokomial Pencegahan dari infeksi nosokomial ini diperlukan suatu rencana yang terintegrasi. Seterusnya.Hughes dkk. v) Pengawasan infeksi. dan vaksinasi. identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya. iv) Membatasi resiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur invasif. 1995). 1995). kontak tidak langsung ketika objek tidak bersemangat/kondisi lemah dalam lingkungan menjadi kontaminasi dan tidak didesinfeksi atau sterilkan. Terdapat pelbagai pencegahan yang perlu dilakukan untuk mencegah infeksi nosokomial. sebagai contoh perawatan luka paska operasi. Tetapi pada kenyataannya. Antaranya adalah dikontaminasi tangan dimana transmisi penyakit melalui tangan dapat diminimalisasi dengan menjaga hiegene dari tangan. 2. karena banyaknya alasan seperti kurangnya Universitas Sumatera Utara . penularan cara droplet infection dimana kuman dapat mencapai ke udara (air borne) dan penularan melalui vektor yaitu penularan melalui hewan/serangga yang membawa kuman (Depkes RI.disebabkan oleh kuman yang berasal dari benda atau bahan yang tidak bernyawa yang berada di lingkungan rumah sakit. yang dikutip oleh Misnadiarli 1994. sterilisasi dan disinfektan. Melindungi pasien dengan penggunaan antibiotika yang adekuat. Menurut Jemes H. ada 4 cara penularan infeksi nosokomial yaitu kontak langsung antara pasien dan personil yang merawat atau menjaga pasien. monitoring dan program yang termasuk : i) Membatasi transmisi organisme dari atau antara pasien dengan cara mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan.

sebaiknya digunakan terutama ketika menyentuh darah. terutama pada unit perawatan pasien diare untuk mencegah terjadinya infeksi antar pasien. tirai. Usahakan pemakaian penyaring udara. Masker digunakan sebagai pelindung terhadap penyakit yang ditularkan melalui udara. tempat tidur. jendela. dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali. 2002). Untuk mencegah penyebaran infeksi melalui jarum suntik maka diperlukan. Pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah sakit sangat bersih dan benar-benar bersih dari debu. cairan tubuh. minyak dan kotoran. cairan tubuh. Penggunaan sarung tangan sangat dianjurkan apabila melakukan tindakan atau pemeriksaan pada pasien dengan yang dirawat di rumah sakit (Louisiana. Sarung tangan. Administrasi rumah sakit harus ada waktu yang teratur untuk membersihkan dinding. Permukaan toilet harus selalu bersih dan diberi disinfektan (Wenzel. 2002). pintu. lantai. kamar mandi.peralatan. sedikitnya pengetahuan mengenai pentingnya hal ini. urin dan feses (Louisiana. terutama bagi penderita dengan status imun yang rendah atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara. baju khusus juga harus dipakai untuk melindungi kulit dan pakaian selama kita melakukan suatu tindakan untuk mencegah percikan darah. Kamar dengan pengaturan udara yang baik boleh menurunkan resiko terjadinya penularan tuberkulosis. Universitas Sumatera Utara . Sarung tangan harus selalu diganti untuk setiap pasiennya. feses maupun urine. tabung atau keduanya yang dipakai secara berulang-ulang. Toilet rumah sakit juga harus dijaga. dan waktu mencuci tangan yang lama. penggunaan jarum yang steril dan penggunaan alat suntik yang disposabel. rumah sakit harus membangun suatu fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan pemprosesan serta filternya untuk mencegah terjadinya pertumbuhan bakteri. Simonsen et al (1999) menyimpulkan bahwa lebih dari 50% suntikan yang dilakukan di negara berkembang tidak aman contohnya adalah jarum. alergi produk pencuci tangan. 2002). Selain itu.

Pada waktu operasi semua petugas harus mematuhi peraturan kamar operasi yaitu bekerja sesuai SOP (standard operating procedure) yaitu dengan perhatikan waktu/lama operasi. Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis normal akibat proses patologis yang berasal dari internal maupun eksternal dan mengenai organ tertentu (Perry Potter. Yang perlu diperhatikan dalam pencegahan infeksi nosokomial luka operasi adalah harus melakukan pemeriksaan terhadap pasien operasi sebelum pasien masuk/dirawat di rumah sakit yaitu dengan memperbaikan keadaan pasien. 1999). 2. Liffe. pasien operasi dilakukan dengan benar sesuai dengan prosedur. Sebelum operasi. seperti incisi bedah. desinfeksi daerah operasi dan lain-lain. JR. Luka adalah keadaan dimana terdapat diskontinuitas dari kulit (Light RW. AJ. Seterusnya. 2005). infus dan lain-lain (Farida Betty. Ruang isolasi ini harus selalu tertutup dengan ventilasi udara yang menuju keluar (Babb.8 Definisi Luka Operasi Luka operasi merupakan terapi yang direncanakan. 2. contohnya tuberkulosis. needle introduction dan lain-lain lagi serta dikendalikan dengan asepsis bedah. pasca operasi harus diperhatikan perawatan alat-alat bantu yang terpasang sesudah operasi seperti kateter. Penularan yang melibatkan virus. 2001).9 Konsep Dasar Infeksi Luka Operasi (ILO) Universitas Sumatera Utara . misalnya pasien harus puasa. yang mengakibatkan kontaminasi berat.Penyebaran dari infeksi nosokomial juga dapat dicegah dengan membuat suatu pemisahan pasien. dan SARS. misalnya gizi. 1995). seperti HIV serta pasien yang mempunyai resistensi rendah seperti leukimia juga perlu diisolasi agar terhindar dari infeksi. Ruang isolasi sangat diperlukan terutama untuk penyakit yang penularannya melalui udara.

Menurut Djojosugito.5 ° C pada axiler. Contoh prosedur adalah seperti operasi hernia.0 Klasifikasi Luka Operasi The National Research Counsil telah mengusulkan klasifikasi luka operasi berdasarkan atas kontaminasinya dan peningkatan resiko operasi. keluar cairan serous (exudat) dari luka operasi. 2008). Klasifikasi Gambaran Infektif Risiko (%) Bersih (Kelas I) Luka yang tidak menembus rongga-rongga di dalam tubuh termasuk traktus gastrointestinalis. 2005). 2008). al. Tidak ada pelanggaran terhadap teknik aseptik dan tidak ada proses peradangan di tempat lain. Menurut Dealay 2005. respiratorius dan traktus urogenitalis. et al (1989) dalam Iwan 2008 luka operasi dinyatakan infeksi bila didapat pus pada luka operasi. sekitar luka operasi oedema dan kemerahan (Iwan.3 Klasifikasi luka operasi (Al Ibrahim et. infeksi yang terjadi pada luka operasi bersih biasanya akan digunakan sebagai dasar untuk memonitor faktor lain yang dapat menyebabkan infeksi (Dealay. 1990).bila temperatur > 37. Infeksi luka operasi (ILO) dianggap nosokomial bila infeksi terjadi dalam 30 hari setelah operasi atau 1 tahun bila dilakukan implantasi alat atau benda asing (Iwan. 3. Staphylococcus Aureus adalah 1-5 penyebab terbanyak pada luka bersih. Tempat pembedahan steril dan kontaminasi bersumber dari luar. Tabel 2. Bersihterkontaminasi Luka yang menembus traktus digestive dan traktus respiratorius tetapi tidak terjadi Universitas Sumatera Utara .

Luka traumatik yang lama yaitu lebih dari 4 jam digolongkan dalam luka kotor. >40 Universitas Sumatera Utara .15 Terkontaminasi (Kelas III) Luka operasi ada inflamasi akut tanpa 15 .(Kelas II) pencemaran yang berarti.40 terdapatnya pus. Luka traumatik (<4jam) dan luka operasi yang disertai pelanggaran besar terhadap teknik aseptik digolongkan dalam luka terkontaminasi. Contoh prosedur operasi adalah kolesistektomi dan appendektomi. 5 . Kotor terinfeksi Luka operasi yang tercemari oleh pus atau (Kelas IV) terdapat perforasi fiscus. Pelanggaran kecil terhadap teknik aseptik juga diklasifikasikan sebagai luka bersih terkontaminasi. Pada luka jenis ini terjadi infeksi dari bakteri endogen.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.