I.

PENDAHULUAN

A. Judul Percobaan B. Tujuan Percobaan

: Produk Minuman : - Membandingkan minuman berkarbonasi dan tidak berkarbonasi - Mengetahui kualitas produk dari uji pemanis buatan - Melakukan uji organoleptik - Melakukan uji total asam titrasi dan persen gula

II. DASAR TEORI
Minuman ringan (soft drink) adalah minuman yang tidak mengandung alkohol, merupakan minuman olahan dalam bentuk bubuk atau cair yang mengandung bahan makanan dan/ atau bahan tambahan lainnya baik alami maupun sintetik yang dikemas dalam kemasan siap untuk dikonsumsi. Minuman ringan terdiri dari dua jenis, yaitu: minuman ringan dengan karbonasi (carbonated soft drink) dan minuman ringan tanpa karbonasi. Minuman ringan dengan karbonasi adalah minuman yang dibuat dengan mengabsorpsikan karbondioksida ke dalam air minum. Minuman ringan tanpa karbonasi adalah minuman selain minuman ringan dengan karbonasi (Anonim a, 2009). Menurut Anonim a (2009), berikut ini disampaikan penjelasan mengenai halhal yang berkaitan dengan minuman ringan: 1. Air berkarbonasi merupakan kandungan terbesar di dalam carbonated soft drink. Air yang digunakan harus mempunyai kualitas tinggi, yaitu: jernih, tidak berbau, tidak berwarna, bebas dari organisme yang hidup dalam air, alkalinitasnya <50 ppm, total padatan terlarut <500 ppm, dan kandungan logam besi dan mangan <0.1 ppm. Sederet proses diperlukan untuk mendapatkan kualitas air yang diinginkan, antara lain: klorinasi, penambahan kapur, koagulasi, sedimentasi, filtrasi pasir, penyaringan dengan karbon aktif, dan demineralisasi dengan ion exchanger. Carbondioxida yang digunakan juga harus semurni mungkin dan tidak berbau. Air berkarbonasi dibuat dengan cara melewatkan es kering (dry ice) ke dalam air es. 2. Bahan pemanis yang digunakan dalam minuman ringan terbagi dalam dua kategori: a. Natural (nutritive), antara lain gula pasir, gula cair, gula invert cair, sirup jagung,dengan kadar fruktosa tinggi, dan dekstrosa. b. Sintetik (non nutritive), satu-satunya yang direkomendaasikan oleh FDA (Food & Drugs Administration Standard, Amerika Serikat) adalah sakarin. 3. Pemberi asam (acidulants) ditambahkan dalam minuman dengan tujuan untuk memberikan rasa asam, memodifikasi manisnya gula, berlaku sebagai pengawet, dan dapat mempercepat inversi gula dalam sirup/minuman. Acidulant yang digunakan dalam minuman harus dari jenis asam yang dapat dimakan (edible/

food grade) antara lain asam sitrat, asam phosphate, asam malat, asam tartarat, asam fumarat, asam adipat, dan lain- lain. Bila karbondioksida diinjeksi ke dalam air dengan tekanan tinggi, karbondioksida akan membentuk asam karbonat. Itulah sebabnya minuman berkarbonasi disebut juga minuman berkarbonasi (carbonated beverages). Asam karbonat tersebutlah yang bertanggung jawab terhadap timbulnya sentuhan khas soda di mulut (mouthfeel) dan perasaan yang mengigit (bite) pada saat minuman berkarbonasi.diminum. Selain itu, CO2 juga berpengaruh terhadap timbulnya efek extra sparkle, yang membedakan minuman ringan berkarbonasi dengan nonkarbonasi. Extra sparkle adalah efek penampakan berkelap- kelip pada minuman. Secara praktis CO2 adalah satu- satunya gas yang paling cocok untuk memproduksi penampakan sparkle dalam minuman ringan berkarbonasi (Alvin, 2008). Menurut Muhlis (2010), terdapat 10 efek berbahaya minuman bersoda (minuman berkarbonasi) bagi tubuh : 1. Menaikkan berat badan  Minum satu kaleng soda tiap hari dalam sebulan akan menaikkan berat badan sebanyak setengah kilogram. 2. Tidak ada nilai gizi dalam soda  Saat kehausan atau setelah berpuasa, tubuh membutuhkan cairan yang bernutrisi. Sedangkan soda tak memiliki nilai gizi di dalamnya. Minuman ini hanya akan menjadi 'limbah' dalam tubuh. 3. Meningkatkan risiko diabetes  Tingginya kadar gula dalam soda mampu meningkatkan risiko Anda terkena diabetes. 4. Soda dapat menyebabkan osteoporosis  Bila meminum soda dengan kandungan kalsium rendah, Anda bisa terkena keropos tulang atau osteoporosis. 5. Soda bisa merusak gigi  Kandungan senyawa soda mampu mengikis dan merusak lapisan enamel gigi. Sehingga gigi jadi mudah berlubang dan rusak. 6. Soda berefek terhadap kerusakan ginjal  Orang yang gemar minum soda berisiko lebih besar terkena batu ginjal serta kerusakan pada ginjal. 7. Memicu penyakit maag  Soda menjadikan peminumnya berpeluang lebih besar terkena dan memperparah penyakit maag. 8. Soda menimbulkan dehidrasi  Kadar kafein dan gula dalam soda dapat menyebabkan tubuh dehidrasi.

9. Soda mengacaukan sistem pencernaan  Asam dalam soda tidak bereaksi dengan baik dalam sistem pencernaan. 10. Diet soda berbahaya  Soda diet mengandung pemanis buatan aspartam yang dikaitkan dengan beberapa gangguan seperti fenilketonuria. Zat pemanis sintetik merupakan zat yang dapat menimbulkan rasa manis atau dapat mempertajam penerimaan rasa terhadap rasa manis tersebut, sedangkan kalori yang dihasilkan jauh lebih rendah dari gula. Umumnya zat pemanis sintetik mempunyai struktur kimia yang berbeda dari struktur polihidrat gula asam. Zat pemanis sintetik yang kini banyak digunakan dalam makanan dan minuman adalah garam Ca- atau Na-sakarin. Penggunaan sakarin tergantung dari intensitas kemanisan yang dikehendaki. Pada konsentrasi tinggi, sakarin akan menimbulkan rasa pahitgetir (nimbrah). Kemanisan sakarin lebih besar dari kemanisan larutan sukrosa 10%. Beberapa monosakarida dan oligosakarida mempunyai rasa manis sehingga sering kali digunakan sebagai pemanis, yang sering digunakan adalah sukrosa (kristal), glukosa (dalam sirup jagung), dan dektrosa (kristal D-glukosa) (Winarno, 2002) Menurut Anonim b (2010), rumus Na- Sakarin :

Sifat dari Na- Sakarin yaitu agak sukar larut dalam air, dalam kloroform dan dalam eter; larut dalam air mendidih; sukar larut dalam etanol, mudah larut dalam larutan amonia encer, dalam larutan alkali hidroksida dan dalam alkali karbonat dengan pembentukan karbondioksida. Suatu senyawa untuk dapat digunakan sebagai pemanis, kecuali berasa manis, harus memenuhi beberapa kriteria tertentu, seperti : larut dan stabil dalam kisaran pH yang luas stabil pada kisaran suhu yang luas mempunyai rasa manis dan tidak mempunyai side atau after- taste murah (tidak melebihi harga gula).

Senyawa yang mempunyai rasa manis strukturnya sangat beragam. Meskipun demikian, senyawa- senyawa tersebut mempunyai feature yang mirip, yaitu memiliki

sistem donor/ akseptor proton (sistem AHs/Bs) yang cocok dengan sistem reseptor (AHrBr) pada indera perasa manusia (Saifudin, 2008). Karamelisasi merupakan proses pembentukan pigmen karamel dapat dianggap reaksi pencoklatan non-enzimatik tanpa senyawa nitrogen. Jika gula dipanaskan dengan air atau larutan pekat gula dipanaskan sederet reaksi terjadi yang pada akhirnya membentuk karamel. Karamel hanya larut dalam air dan meleleh pada suhu 1540C. Pemanasan lebih lanjut menyebabkan pembentukan pigmen sangat gelap yang hampir tak larut dalam susunan molekul rata-rata C125H188O80. Karamelisasi meliputi 4 tahap, yaitu : 1. 2. 3. 4. Pembentukan iso – sakarosan Pembentukan karamelan ( 4 H2O + 2 C 12H11O11 → C24H36O12) ( 3 C12H22O11 – 8 H20 → C36H50025 ) Karamelin: pigmen gelap dan tidak larut dalam air Humin. (Winarno, 1997). Titrasi digunakan untuk menentukan jumlah suatu asam dalam suatu larutan tertentu. Dalam prosedur ini sejumlah volume tertentu dari asam dititrasi oleh larutan basa, biasanya natrium hidroksida (NaOH) yang mempunyai konsentrasi yang diketahui dengan tepat. NaOH ditambahkan pelan-pelan sampai asam tepat dinetralisasi. Titrasi dapat juga dikatakan sebagai salah satu analisis kuantitatif, yang hasilnya merupakan perubahan warna dan perubahan suhu (Lehninger, 1990). Ekstraksi pelarut adalah proses dengan mana suatu zat terlarut yang dilarutkan dalam suatu pelarut ditarik ke dalam suatu pelarut lain, yang tidak dapat dicampur dengan pelarut pertama (Keenan dkk, 1986). Adapun prinsip dasar ekstraksi adalah “like dissolves like” yang berarti bahwa senyawa polar akan mudah larut dalam pelarut polar, dan sebaliknya. Sebagai contoh pada pemisahan kelebihan asam lemak yang terdapat dalam sabun yang merupakan percobaan yang dilakukan. Dalam hal ini digunakan air sebagai pelarut dan eter sebagai pengekstrak, sebab asam lemak (non polar) sangat mudah larut dalam eter (non polar) dan tidak mudah larut dalam air. Sedangkan sabun (polar) sangat mudah larut dalam air (polar) daripada dalam eter (Mulyono, 2005).

III.
A. ALAT 1. Erlenmeyer 2. Pipet tetes 3. Corong pemisah 4. Gelas beker 5. Eksikator 6. Timbangan digital 7. Pipet ukur 8. Pro pipet 9. Gelas ukur 10. Buret dan statif besi 11. Gelas plastik 12. pH meter 13. Kompor C. CARA KERJA 1. Uji Total Asam Titrasi

METODE
B. BAHAN 1. Aquadest 2. NaOH 0,1 N 3. Indikator PP 4. HCl 0,1 N 5. Eter 6. Kloroform 7. Sprite 8. Buavita Apple Juice 9. Buavita Lychee Juice 10. Teh Botol Sosro rasa Jasmine Tea

Sampel (Sprite, Buavita Apple Juice, dan Teh Botol Sosro rasa Jasmine Tea) diambil masing- masing 10 ml dan dimasukkan dalam erlenmeyer yang berbeda Setiap erlenmeyer ditambahkan aquadest sebanyak 15 ml dan indikator PP sebanyak 3 tetes Sampel yang ada di erlenmeyer kemudian dititrasi dengan NaOH 0,1 N hingga terjadi perubahan warna pink Volume titrasi dicatat dan % TAT dihitung dengan rumus :

2. Uji Pemanis Sintetik Buavita Apple Juice dijadikan sampel, dengan diambil sebanyak 100 ml dan dimasukkan ke gelas ukur, kemudian ditambahkan HCl 0,1 N sebanyak 10 ml Sampel yang berada pada gelas ukur dipindahkan ke dalam corong pemisah kemudian diekstraksi dengan 25 ml kloroform (digojog 7x dan dikeluarkan gasnya perlahan- lahan) Ekstraksi dilanjutkan dengan menggunakan 80 ml eter dengan 3x pencampuran (25, 25, 30 ml), lalu digojog 7x dan dikeluarkan gasnya Gelas beker yang masih kosong ditimbang. Larutan yang berada di corong pemisah dipisahkan, diambil ekstraknya, dan dimasukkan ke gelas beker Ekstrak yang berada pada gelas beker dipanaskan dengan waterbath (kompor) selama 10 menit hingga ekstrak terbentuk karamel Ekstrak yang sudah menjadi karamel tersebut didinginkan ke dalam eksikator, setelah dingin akan ditimbang % kadar gula dihitung dengan menggunakan rumus :

3.

Uji Organoleptik Kemasan Sampel (Sprite, Buavita Apple Juice, dan Teh Botol Sosro rasa Jasmine Tea) diperiksa Kode produksi, tanggal kadaluarsa, nama produk, dan produsen dicatat Warba, rasa, aroma, dan pH diamati dan dicatat

III.
A. HASIL Merek Sprite Nama Perusahaan PT. Cola Bottling Buavita Apple Juice Indonesia PT. Ultrajaya Milk Industry, The Botol Sosro rasa Jasmine Tea Tbk. PT. Sosro

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kode Produksi

Tanggal

%

% Kadar Gula warna Putih

Organoleptik aroma Jeruk & rasa

Kadaluarsa TAT Mei 3,4 %

pH

Coca- SB 4805 : 20 35 2011

Manis 3,6 asam

transparan lemon lime apel

17 : 5431

26 September 2011

3%

10,714 %

kuning

asam

4,0

Sinar M1008BD 24 Desember 2011

0,5 %

-

coklat

melati

Manis 6,8 pahit

B. PEMBAHASAN

Minuman berkarbonasi adalah minuman yang dibuat dengan melarutkan gas karbondioksida (CO2) ke dalam air baik secara fermentasi maupun diinjeksikan. Sedangkan minuman non- karbonasi adalah minuman yang tidak ditambahkan karbondioksida (CO2) ke dalamnya dan bahan dasarnya biasanya berasal dari buahbuahan, seperti jus buah, teh botol, dan sebagainya. Praktikum kali ini digunakan beberapa produk minuman yang berbeda gunanya untuk membedakan minuman yang berkarbonasi dan yang non- karbonasi. Produk minuman berkarbonasi yang digunakan adalah Sprite Jeruk Lemon & Lime dan yang tidak berkarbonasi adalah Teh Botol Sosro rasa Jasmine Tea dan Buavita Apple Juice.

A

B

C Gambar produk minuman. A: Buavita Apple Juice; B: Sprite rasa Jeruk Lemon & Lime; C: Teh Botol Sosro rasa Jasmine Tea Percobaan pada produk minuman dilakukan beberapa uji untuk mengetahui kualitas produk minuman itu berdasar pada uji pemanis sintetik, uji total asam titrasi, dan uji organoleptik. Pada uji pemanis sintetik digunakan Buavita Apple Juice sebagai sampel, selain itu juga ada produk minuman lainnya yang berasal dari kelompok lain yaitu Sprite zero dan Teh Kotak. Pada uji total asam titrasi digunakan ketiga sampel : Sprite, Buavita Apple Juice, dan Teh Botol Sosro rasa Jasmine Tea. Berikut merupakan penjelasan dari setiap uji yang dilakukan: 1. Uji total asam titrasi

Uji total asam adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui kadar asam yang terdapat dalam produk minuman tersebut. Pada uji ini, sampel (Sprite, Buavita Apple Juice, dan Teh Botol Sosro rasa Jasmine Tea) dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N hingga terjadi perubahan warna menjadi pink. Fungsi larutan NaOH adalah sebagai penitran basa. Penentuan total asam dilakukan dengan titrasi asam basa dengan indikator PP. Indikator PP yang digunakan sebagai indikator/ penanda titik akhir titrasi yang ditunjukkan dengan terbentuknya warna pink. Titrasi ini disebut juga titrasi alkalimetri, karena NaOH merupakan suatu basa kuat. Jika basa kuat direaksikan dengan asam pada larutan sampel secara sempurna akan membentuk air dan garam. Penambahan aquadest pada sampel yaitu sebagai pengencer. Percobaan uji total asam titrasi terhadap Sprite rasa Jruk Lemon & Lime didapat hasil 3,4 % dengan volume NaOH 3,4 ml; Buavita Apple Juice didapatkan hasil 3% dengan volume NaOH 3 ml; Teh Botol Sosro rasa Jasmine Tea didapat hasil 0,5% dengan volume NaOH 0,5 ml. Jika ketiga sampel produk minuman tersebut dilihat dari kadar keasamannya, maka Sprite memiliki kadar paling asam (3,4%) dibandingkan dengan Buavita Apple Juice (3%) dan Teh Botol Sosro rasa Jasmine Tea (0,5%). Hasil pengukuran pH pada ketiga sampel produk minuman menunjukkan kadar keasaman yang sama dengan hasil perhitungan % TAT (Total Asam Titrasi). Menurut hasil pengukuran pH, Sprite rasa Jeruk Lemon & Lime memiliki kadar keasaman yang lebih tinggi yaitu 3,66. Jika dibandingkan dengan kedua sampel produk minuman lainnya, Sprite rasa Jeruk Lemon & Lime berada pada tingkat pertama dalam kadar keasamannya, sedangkan kedua adalah Buavita Apple Juice dengan pH 4,02, dan terakhir Teh Botol Sosro rasa Jasmine Tea dengan nilai pH 6,88 hampir mendekati pH normal. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa semakin rendah nilai pH maka semakin tinggi tingkat keasamannya. 2. Uji pemanis sintetik Zat pemanis merupakan bahan tambahan pangan yang umum. Zat pemanis sintetik merupakan zat yang dapat menimbulkan rasa manis atau dapat mempertajam penerimaan rasa terhadap rasa manis tersebut, sedangkan kalori yang dihasilkan jauh lebih rendah dari gula. Zat pemanis sintetik yang kini banyak digunakan dalam makanan dan minuman adalah garam Ca- atau Na sakarin. Penambahan pemanis sintetik pada minuman karbonasi dan non- karbonasi berbeda- beda. Hal ini

disebabkan karena ada tidaknya sifat pereduksi dari suatu molekul gula yang ditentukan oleh ada tidaknya gugus karboksil (OH) bebas yang reaktif. Uji pemanis sintetik bertujuan untuk mengetahui kualitas produk minuman tersebut berdasarkan kadar gula yang dikandungnya. Semakin tinggi nilai kadar gulanya, maka semakin banyak pemanis sintetik yang ditambahkan pada produk minuman tersebut dan menyebabkan produk minuman tersebut kurang baik bagi kesehatan. Pada uji ini juga dilakukan ekstraksi berulang sebanyak 3x dengan jumlah pelarut yang sedikit. Hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan hasil yang baik/ valid, karena ekstraksi yang berulang dengan jumlah pelarut yang sedikit lebih baik hasilnya dibandingkan ekstraksi sekali dengan jumlah pelarut yang banyak. Uji menggunakan 3 sampel yang diambil dari setiap kelompok praktikan. Sampel yang digunakan adalah Sprite Zero, Teh Kotak, dan Buavita Apple Juice. Sampel yang digunakan pada uji pemanis sintetik, masing- masing ditambahkan ke dalamnya larutan HCl, yang berfungsi untuk mengilangkan gas CO2 pada minuman tersebut. Setelah penambahan HCl, sampel tersebut diekstraksi dengan larutan kloroform dan Eter. Larutan kloroform dan Eter berfungsi untuk melarutkan senyawa yang bersifat non- polar, seperti lemak yang terdapat pada minuman sehingga yang terekstrak adalah minuman murni. Campuran larutan antara larutan sampel dan kloroform serta larutan sampel dengan eter yang ada di dalam corong pemisah dilakukan proses ekstraksi dengan cara digojog. Penggojokan pada proses ekstraksi dengan larutan kloroform didapati kloroform berada dibawah larutan sampel dan ekstraksi dengan larutan eter didapati eter berada diatas larutan sampel. Hal ini terjadi karena berat jenis kloroform lebih tinggi dibanding sampel dan eter sehingga berada dibawah, sebaliknya eter memiliki berat jenis yang lebih rendah dibandingkan dengan sampel dan kloroform sehingga berada diatas. Setelah ekstraksi dilakukan, maka sampel tersebut dipanaskan di kompor hingga terbentuk karamel. Proses karamelisasi bertujuan untuk menguapkan zat- zat pengotor seperti air dan lainnya agar diperoleh karbohidrat murni. Setelah diuapkan, karbohidrat akan berubah menjadi karamel, setelah itu sampel ditaruh ke dalam eksikator sebelum ditimbang. Hal ini bertujuan agar kadar air yang terdapat pada sampel benar- benar hilang karena silika gel pada eksikator mampu menyerap air yang ada disekitarnya.

Hasil % kadar gula pada setiap sampel adalah : Sprite Zero 0,282%; Teh Kotak 5,464%; dan Buavita Apple Juice 10,714%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kadar gula tertinggi ada pada Buavita Apple Juice, kemudian dilanjutkan dengan Teh Kotak dan yang terakhir Sprite Zero. Selain itu, telah diketahui dari kemasan produk, kadar gula (gram) untuk Buavita Apple Juice adalah 31 gram, Teh Kotak 17 gram, dan Sprite Zero 0 gram.

A

B

C Gambar produk minuman. A: Buavita Apple Juice; B: Sprite Zero; C: Teh Kotak 3. Uji Organoleptik Uji organoleptik bertujuan untuk mengetahui kualitas produk minuman tersebut dari segi kemasannya (yang meliputi nama produk, kode produksi, tanggal kadaluarsa, dan produsennya) serta dari segi warna, rasa, aroma, dan pH. Hasil dari uji organoleptik diperoleh hasil Sprite rasa Jeruk Lemon & Lime dengan kode produksi SB4805:35, diproduksi oleh PT. Coca- Cola Bottling Indonesia, memiliki tanggal kadaluarsa 20 Mei 2011, beraroma jeruk lemon & lime, rasanya manis- asam, warnanya putih transparan, dan pH 3,66. Hasil untuk Buavita Apple Juice dengan kode produksi 17:5431, diproduksi oleh PT. Ultrajaya Milk Industry, Tbk., tanggal kadaluarsa 26 September 2011, beraroma apel, rasanya asam, dengan warna kuning, dan pH 4,02. Sampel Teh Botol Sosro rasa Jasmine Tea dengan kode produksi H1008BD yang diproduksi oleh PT. Sinar Sosro, memiliki tanggal kadaluarsa 24 Desember 2011, beraroma melati, rasanya manis- pahit, warnanya coklat, dan pH 6,88.

IV.

KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang dilakukan, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Produk minuman berkarbonasi yang digunakan adalah Sprite rasa Jeruk Lemon & Lime, sedangkan produk minuman non- karbonasi adalah Buavita Apple Juice dan Teh Botol Sosro rasa Jasmine Tea. 2. Hasil dari % TAT (Total Asam Titrasi) ketiga produk minuman :  3,4 ml   Buavita Apple Juice adalah 3% dengan volume NaOH 3 ml Teh Botol Sosro rasa Jasmine Tea adalah 0,5% dengan volume NaOH Sprite rasa Jeruk Lemon & Lime adalah 3,4 % dengan volume NaOH

0,5 ml. 3. Hasil perhitungan % TAT pada setiap sampel produk minuman berbanding lurus dengan hasil kadar pH, sehingga semakin rendah nilai pH  semakin tinggi tingkat keasaman. 4. Sprite rasa Jeruk Lemon & Lime merupakan minuman yang memiliki kadar keasaman paling tinggi dari ketiga sampel produk minuman yaitu 3,66, urutan kedua Buavita Apple Juice dengan pH 4,02, dan ketiga Teh Botol Sosro rasa Jasmine Tea dengan pH 6,88. 5. Kadar gula dalam (%). Kadar gula pada Buavita Apple Juice 10,714% (31 gram) paling tinggi; Teh Kotak 5,46% (17 gram); dan Sprite Zero 0% (0 gram). 6. Dari uji organoleptik tersebut didapati hasil : a. Sprite rasa Jeruk Lemon & Lime dengan kode produksi SB4805:35, diproduksi oleh PT. Coca- Cola Bottling Indonesia, memiliki tanggal kadaluarsa 20 Mei 2011, beraroma jeruk lemon & lime, rasanya manis- asam, warnanya putih transparan, dan pH 3,66 b. Buavita Apple Juice dengan kode produksi 17:5431, diproduksi oleh PT. Ultrajaya Milk Industry, Tbk., tanggal kadaluarsa 26 September 2011, beraroma apel, rasanya asam, dengan warna kuning, dan pH 4,02 c. Teh Botol Sosro rasa Jasmine Tea dengan kode produksi H1008BD yang diproduksi oleh PT. Sinar Sosro, memiliki tanggal kadaluarsa 24 Desember 2011, beraroma melati, rasanya manis- pahit, warnanya coklat, dan pH 6,88

V. DAFTAR PUSTAKA

Anonim a. 2009. Pengertian Minuman http://www.beacukai.go.id/library/data/Softdrink.htm. 2 Maret 2011.

Ringan.

Anonim b. 2010. Sifat Pemanis. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19247/3/Chapter%20II.pdf. 2 Maret 2011.

Alvin, 2008. Mengenal Lebih Lanjut Minuman Berkarbonasi. http://3lvin.wordpress.com/2008/03/22/mengenal-lebih-lanjut-minumanberkarbonasi/. 2 Maret 2011.

Keenan, C. W., Kleinfelter, D. C., and Wood, J. H. 1986. Kimia Untuk Universitas. Edisi keenam. Erlangga. Jakarta.

Lehninger. 1990. Dasar-Dasar Biokimia. Erlangga. Jakarta.

Muhlis, 2010. 10 Efek Buruk Minuman Bersoda. http://muhlisdotcom.blogspot.com/2010/08/10-efek-buruk-minuman-bersoda.html. 2 Maret 2011.

Mulyono. 2005. Membuat Reagen Kimia. Bumi Aksara. Bandung.

Saifudin, U. 2008. Pemanis http://food4healthy.wordpress.com/tag/pemanis/. 2 Maret 2011.

Sintetis.

Winarno, F. G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

LAMPIRAN

Perhitungan total asam titrasi (%)

1. Sprite

2. Buavita Apple Juice

3. Teh Botol Sosro Jasmine Tea

Perhitungan kadar gula (%)

1. Teh Kotak

2. Sprite Zero

3. Buavita Apple Juice

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful