UJI EFEK PROTEKSI FRAKSI ETIL ASETAT EKSTRAK METANOL RIMPANG TEMU GIRING (Curcuma h eyneana Val.

) TERHADAP PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR YANG DIBERI DIET KOLESTEROL TINGGI
SKRIPSI

Oleh: FAIK FAUZI 06023036

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA 2011

UJI EFEK PROTEKSI FRAKSI ETIL ASETAT EKSTRAK METANOL RIMPANG TEMU GIRING (Curcuma heyneana Val.) TERHADAP PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG DIBERI DIET KOLESTEROL TINGGI

SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai derajat Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Oleh : FAIK FAUZI 06023036

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA 2011 i

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI Berjudul UJI EFEK PROTEKSI FRAKSI ETIL ASETAT EKSTRAK METANOL RIMPANG TEMU GIRING (Curcuma heyneana Val.) TERHADAP PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG DIBERI DIET KOLESTEROL TINGGI Oleh: Faik Fauzi 06023036 Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan pada tanggal 28 September 2011

Mengetahui Dekan Fakutas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan

Dra. Any Guntarti, M.Si., Apt.

Pembimbing I

Pembimbing II

Prof. Dr. Nurfina Aznam, SU.. Apt, Penguji : 1. Prof. Dr. Nurfina Aznam, S.U, Apt 2. Vivi Sofia, M.Si., Apt. 3. Laela Hayu Nurani, M.Si., Apt 4. Moch. Saiful Bachri, M.Si., Ph.D. Apt.

Vivi Sofia, M.Si., Apt.

ii

HALAMAN PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya : Nama NIM Program Studi Fakultas Judul Penelitian : Faik Fauzi : 06023036 : Farmasi : Farmasi : Uji Efek Proteksi Fraksi Etil Asetat Ekstrak Metanol Rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana Val.) Terhadap Peningkatan Kadar Kolesterol Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diberi Diet Kolesterol Tinggi. Menyatakan bahwa penelitian ini adalah hasil karya sendiri dan sepanjang pengetahuan saya tidak berisi materi yang dipublikasikan atau ditulis oleh orang lain kecuali pada bagian-bagian tertentu yang saya ambil sebagai acuan. Apabila terbukti pernyataan ini tidak benar, sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

Yogyakarta, 28 September 2011 Yang menyatakan,

Faik Fauzi faikfauzi@ gmail.com

iii

HALAMAN PERSEMBAHAN

“Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Qs.Al-„Alaq : 1-5)

Syukuri dan Cintai Dirimu Yang Sempurna Dengan Ketidaksempurnaannya

Do all the goods I can, All the best I can, In all times I can, In all places I can, For all the creatures I can. Kupersembahkan untuk : Allah azza wa jalla, Terimakasih atas semua anugerah dan cinta kasih sayang-Mu Nabi Muhammad SAW, Sholawat dan Salam semoga selalu tercurah Kepadamu Umi’ku, Pahlawan hidupku, Atas kekuatan cinta, pengorbanan dan do’a tulus membangkitkan sejuta harapan dan citaku

Almarhum Abah,
Atas segalanya yang pernah engkau berikan kepadaku Beribu doa, maaf dan kata cinta serta hormatku. Maafkan anakmu ini tidak sempat membalas semuanya, Semoga Allah memberikan tempat yang terindah untukmu, Semoga kita kembali bertemu di Surga-Nya kelak.

Kakak-kakakku, Abdul Halim Hafid, Bagus Lintang dan Eva Rizkiana
Yang tak pernah jemu menanggapi manjaku

Adikku, Maya Aulia
Yang kebahagiaannya mengukir senyumku selama ini. Sahabat-Sahabatku, Yang jujur menerimaku apa adanya dan menghiasi hidupku

Guru-guru
yang menunjukkan peta perjalanan menuju cita-cita

Semua insan yang telah berjasa dalam kehidupanku, Dan Almamaterku yang kudambakan,

iv

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Alhamdulillahirobbil’ alamin, Segala puji syukur kepada ALLAH SWT atas anugerah dan cinta kasih sayangMu yang Maha Dasyat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Uji Efek Proteksi Fraksi Etil Asetat Ekstrak Metanol Rimpang Temu Giring (Curcuma Heyneana Val.) Terhadap Peningkatan Kadar Kolesterol Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diberi Diet Kolesterol Tinggi”. Setetes ilmu di hamparan samudera ilmu-Nya. Sholawat serta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW dan kita semua mendapatkan syafaatnya di hari akhir nanti. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana di Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa keberhasilan penulisan skripsi ini atas bantuan, dukungan, dan do’a dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih, kepada : 1. Prof. Dr. Nurfina Aznam, S.U Apt, selaku Pembimbing I yang penuh kesabaran dan keikhlasan telah memberikan bimbingan, arahan, dukungan, dan semangat selama penelitian dan penyusunan skripsi ini 2. Vivi Sofia, M.Si., Apt, selaku Pembimbing II yang penuh kesabaran dan keikhlasan telah memberikan bimbingan, arahan, dukungan, dan semangat selama penelitian dan penyusunan skripsi ini. 3. Laela Hayu Nurani, M.Si., Apt, selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan koreksi yang membangun kepada penulis. 4. Moch. Saiful Bachri, M.Si., Ph.D. Apt, selaku penguji yang telah memberikan pengarahan dan saran untuk penyusunan skripsi ini.

v

5. Dra. Any Guntarti, M.Si., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta 6. Dr. Tedjo Yuwono, Apt. selaku dosen wali yang telah memberikan bimbingan, pengarahan serta semangat selama masa perkuliahan. 7. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. 8. Pimpinan dan staf Laboratorium Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Laboratorium Penelitian. 9. Pimpinan dan staf karyawan Perpustakaan Kampus 3 UAD atas bantuan, kepercayaaan, dan perhatiannya dalam memberikan pelayanan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. 10. Umi’ (Sakinah) dan Almarhum Abah (Muhammad Nagib) yang telah memberikan limpahan kasih sayang yang tiada henti, pengorbanan, doa, bimbingan, nasehat, dukungan dan semangat yang senantiasa mengiringi langkah kehidupanku. 11. Kakak-kakakku (Abdul Halim Hafid, Eva Rizkiana, Bagus Lintang dan adikku (Maya Aulia) terima kasih atas semangat dan motivasi yang telah diberikan. 12. Kawan-kawan seperjuangan skripsi (Edy Budiarto dan Firman Adi K.) dan sekelompok skripsi temu giring (Mahesya Hendra P., Annisa Soraya, Ade Fahrani, M. Fariez, Haryadi, Tofan Pranoto, dan Nurul Akbar) Terima kasih atas kerjasama selama ini hingga skripsi dapat terselesaikan. 13. Sahabat-sahabat pencari ridho Allah, di Al-Amin Yogyakarta yang memberikanku semangat dan nasehat pencerah hati. 14. Sahabat-sahabatku di Yogyakarta, Al Hafidz, Dony Iswandi, Taufik Septianto, Suhatno, Pepen Nur E., Robbi Najini dan Annisa Firdaus. Terima

vi

kasih atas persahabatan yang selama ini terjalin. Motivasi dari kalian is the best!. 15. Teman-teman seperjuangan di Alfa ’06 (Assosiasi Laskar Kelas A Farmasi UAD 2006). Terima kasih atas atas kebersamaan yang selama ini terjalin, Terima kasih telah membantu penulis selama kegiatan perkuliahan dan praktikum. Salam hangat dari penulis. 16. Kawan-kawan di BEMF Farmasi UAD 2008-2010, terutama Divisi Keilmuan dan Pengembangan Farmasi (Anindyajati Novita K., Edwien Daru A., Al Hafidz, Via Hayati dan Septina Prasastia) yang telah memberi sentuhan dan warna dalam hatiku. Tetaplah berjuang kawan... 17. Kawan-kawan di Kost Putra Bali Green. Terima kasih atas persahabatan yang terjalin selama ini. I know you’re all will be great people. 18. Google Inc. Terima kasih atas mesin pencarimu yang menjadi pintu segala sumber ilmu di dunia ini bagiku. 19. Kepada semua insan yang tidak bisa penulis sebut satu persatu atas bantuan yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan studi ini. Semoga segala bantuan serta bimbingan yang telah diberikan pada penulis menjadi amal sholeh serta mendapatkan balasan yang lebih baik dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan maupun dari segi penulisan. Maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan ilmu pengetahuan. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Yogyakarta, 28 September 2011

Penulis vii

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ....................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... HALAMAN PERNYATAAN ........................................................................ HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................... DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... DAFTAR TABEL ........................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... INTISARI ........................................................................................................ ABSTRACT ...................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .................................................................................... B. Identifikasi Masalah ............................................................................ C. Batasan Masalah .................................................................................. D. Rumusan Masalah ............................................................................... E. Tujuan Penelitian ................................................................................. F. Kegunaan Penelitian ............................................................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teoritik ..................................................................................... 1. Obat Tradisional ............................................................................ 2. Tanaman Temu Giring (Curcuma Heyneana, Val.)...................... 3. Teknik Penyarian........................................................................... 4. Lemak ............................................................................................ 5. Kolesterol ...................................................................................... viii 6 6 7 17 21 30 1 3 4 4 4 5 i ii iii iv v viii xi xii xiii xiv xv

6. Hiperlipidemia ............................................................................... 7. Obat Antilipemika ......................................................................... 8. Simvastatin .................................................................................... B. Penelitian yang Relevan ...................................................................... C. Kerangka Berpikir ............................................................................... D. Hipotesis .............................................................................................. BAB III METODE PENELITIAN A. Subjek Penelitian .................................................................................. B. Variabel Penelitian ............................................................................... C. Bahan dan Alat .................................................................................... 1. Bahan ............................................................................................... 2. Alat .................................................................................................. D. Cara Kerja ........................................................................................... 1. Persiapan Sediaan Uji.................................................................... 2. Perlakuan Terhadap Hewan Uji ................................................... 3. Penetapan Kadar Kolesterol .......................................................... E. Analisa Data ......................................................................................... BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Identifikasi Serbuk Rimpang Temu Giring .......................................... B. Pembuatan Fraksi Etil Asetat Ekstrak Metanol Temu Giring .............. C. Pembuatan Pakan Diet Lemak Tinggi .................................................. D. Induksi Hiperkolesterolemia ................................................................ E. Pengambilan Sampel Darah Hewan Uji ............................................... F. Penetapan Kadar Kolesterol Darah ...................................................... G. Analisis Kadar Kolesterol .................................................................... H. Perhitungan Persen Proteksi .................................................................

35 42 49 50 51 52

53 53 53 54 54 55 55 59 61 63

64 65 66 67 71 72 77 80

ix

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan .......................................................................................... B. Saran .................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... LAMPIRAN ................................................................................................... 84 84 86 89

x

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Struktur kimia tanin .................................................................. Struktur kurkumin .................................................................... Struktur kimia steroid ............................................................... Struktur kimia kolesterol .......................................................... Biosintesis kolesterol ................................................................ Struktur simvastatin .................................................................. Diagram alur jalannya penelitian ............................................. Skema preparasi sampel dan penetapan kadar kolesterol......... Grafik berat badan tikus tiap kelompok pada tiap minggu ...... Mekanisme reaksi penetapan kadar kolesterol ......................... Grafik kadar kolestrol tiap kelompok pada periode I dan II .... 12 15 31 32 34 50 61 62 69 74 75

xi

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel I. Tabel II. Tabel III. Tabel IV. Jenis lipoprotein, ukuran, komposisi, dan asalnya ................... Klasifikasi hiperlipoproteinemia primer Frederickson ........... Komposisi bahan pakan hewan uji ........................................... Komposisi bahan reagen kit dari Diagnostic System International (Diasys) ............................................................... Tabel V. Tabel VI. Tabel VII. Komposisi larutan sampel, standard dan reagen ...................... Purata berat badan tikus tiap kelompok pada tiap minggu ...... Purata kadar kolesterol (mg/dl) setiap kelompok perlakuan pada periode I dan II ................................................................ Tabel VIII. Hasil Uji t Tukey selisih kadar kolesterol antar kelompok perlakuan pada periode 1 dan periode 2 ................................... Tabel IX. Purata persen proteksi terhadap kenaikan kadar kolesterol kelompok perlakuan dihitung terhadap kelompok II ............... Tabel X. Hasil uji t Tukey terhadap persen proteksi antar kelompok perlakuan .................................................................................. 82 80 78 75 55 62 68 26 37 54

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Lampiran 2. Surat Keterangan Hasil Determinasi Temu Giring .................. Data Absorbansi Serum Darah, kadar kolesterol serta selisihnya pada periode 1 dan 2 (sebelum dilakukan penolakan data) ........................................................................ Lampiran 3. Data Absorbansi Serum Darah, kadar kolesterol serta selisihnya pada periode 1 dan 2 (setelah dilakukan penolakan data) .......................................................................................... Lampiran 4. Data berat badan tikus tiap kelompok perlakuan tiap hari selama 2 minggu perlakuan ...................................................... Lampiran 5. Lampiran 6. Lampiran 7. Lampiran 8. Lampiran 9. Uji Statistik Selisih Berat Badan Periode 1 dan Periode 2 ....... 95 99 93 91 90

Uji Statistik Selisih Kadar Kolesterol Periode 1 dan Periode 2 103 Perhitungan Persen Proteksi ..................................................... Uji Statistik Terhadap Persen Proteksi ..................................... Gambar-gambar ........................................................................ 108 109 112

xiii

INTISARI Rimpang temu giring (Curcuma heyneana Val.) merupakan salah satu tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional untuk menurunkan kadar kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek proteksi fraksi heksan ekstrak metanol temu giring terhadap kadar kolesterol tikus putih jantan galur Wistar yang diberi diet kolesterol tinggi. Dalam penelitian ini menggunakan 42 ekor tikus jantan galur Wistar berumur 2-3 bulan dengan berat badan 150-200 gram yang terbagi ke dalam 7 kelompok perlakuan dengan 6 ekor tikus pada masing-masing kelompok. Kelompok 1 diberi pakan standar dan kelompok 2 diberi diet kolesterol tinggi serta pakan standar. Kelompok 3 diberi pakan standar, diet kolesterol tinggi dan larutan CMC Na 1%. Kelompok 4 diberi pakan standar, diet kolesterol tinggi dan simvastatin dengan dosis 0,9 mg/Kg BB. Sedangkan kelompok 5, 6 dan 7 diberi pakan standar, diet kolesterol tinggi serta fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring dengan dosis masing-masing 25 mg/Kg BB, 50 mg/Kg BB serta 75 mg/Kg BB. Keadaan hiperkolesterolemia dipicu dengan menggunakan emulsi lemak sapi dengan dosis 10 ml/Kg BB. Untuk menentukan kadar kolesterol darah digunakan metode enzymatic photometric test CHOD-PAP (Cholesterol Oxidase Phenol Antipyrin). Kadar kolesterol darah ditentukan pada periode 1 dan periode 2. Selisih kadar kolesterol darah pada periode 1 dan periode 2 dianalisis dengan menggunakan uji anova satu jalur yang dilanjutkan uji t Tukey dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring dapat memberikan efek proteksi terhadap peningkatan kadar kolesterol darah tikus putih jantan galur wistar yang diberi diet kolesterol tinggi. Fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring dengan dosis 25 mg/kg BB, 50 mg/kg BB dan 75 mg/kg BB dapat memberikan persen proteksi berturut-turut sebesar 25,54 %, 86,23 % dan 185,81 %. Berdasarkan uji statistik masing-masing dosis memberikan persen proteksi yang berbeda bermakna dengan yang lainnya. Kemampuan efek proteksi fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring terhadap kenaikan kadar kolesterol darah diduga karena kandungan kurkumin dan tanin. Kata kunci: temu giring, kolesterol, efek proteksi, tanin, kurkumin

xiv

ABSTRACT Curcuma heyneana rhizome (Curcuma heyneana Val.) is a plant that is often used as a traditional medicine to lower cholesterol levels. This research was carried out to determine protective effects of the ethyl asetate fraction of methanolic extract curcuma heyneana rhizome on serum cholesterol male Wistar rats fed a high cholesterol diet. In this study using 42 male Wistar rats aged 2-3 months weighing 150-200 grams are divided into 7 treatment groups with 6 rats in each group. Group 1 was given a standard diet and group 2 was given a high cholesterol diet and standard diet. Group 3 was given a standard diet, high cholesterol diet and 1% CMC Na. Group 4 was given a standard diet, high cholesterol diet and simvastatin at a dose of 0.9 mg / kg BW. While groups of 5, 6 and 7 were given a standard diet, high cholesterol diet and the ethyl asetate fraction of methanolic extract curcuma heyneana with each dose of 15 mg/kg BW, 30 mg/kg BW and 60 mg/kg BW. Hypercholesterolemic state was triggered by using beef fat emulsion with a dose of 10 ml/kg BB. To determine the blood cholesterol level photometric enzymatic method CHOD-PAP test. Blood cholesterol levels are determined in period 1 and period 2. Difference in blood cholesterol levels in period 1 and period 2 in analsis using anova followed a path that followed Tukey test with confidence level 95%. The result showed that the ethyl asetate fraction of methanolic extract curcuma heyneana rhizome can provide a protective effect against elevated levels of blood cholesterol Wistar strain male rat that induced a high cholesterol diet. The ethyl asetate fraction of methanolic extract curcuma heyneana rhizome peroral everyday along 2 week with dose 15 mg/kg BW, 30 mg/kg BW and 60 mg/kg BW give an row 25,54 %, 86,23 % and 185,81 %. Based on the statistical test of each dose provides percent protection is significantly different from each other. The ability of the protective effect of the ethyl asetate fraction of methanolic extract of the blood cholesterol levels rise because the content of curcumin and tannins that are in curcuma heyneana. Keywords: curcuma heyneana, cholesterol, tannins, curcumin

xv

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Akhir-akhir ini masyarakat dunia, khususnya dunia barat mulai

memusatkan perhatiannya ke alam, yang terkenal dengan semboyannya back to nature, mengikuti Asia termasuk Indonesia yang sejak zaman dahulu memanfaatkan obat-obat dari alam dalam upaya-upaya pelayanan kesehatan di samping obat-obat farmasetik. Kembalinya perhatian dunia barat ke obat-obat alam ini tidak lain adalah karena kembali tumbuhnya kepercayaan masyarakat bahwa obat-obat tradisional dapat memberikan peranannya dalam upaya pemeliharaan, peningkatan dan pemulihan kesehatan serta pengobatan penyakit. Di samping itu diyakini pula bahwa obat-obat tradisional kurang memberikan efek samping jika dibandingkan dengan obat-obat farmasetik (Hargono, 1996). Perubahan gaya hidup dan pola makan masyarakat modern serta rendahnya aktivitas tubuh dan konsumsi serat menyebabkan pembentukan kolesterol yang berlebihan didalam tubuh. Konsentrasi kolesterol tinggi dalam darah atau hiperkolesterolemia merupakan salah satu penyebab penyakit jantung koroner. Menurut Murray (1997), kolesterol adalah produk khas hasil metabolisme hewan seperti kuning telur, daging, hati dan otak. Semua jaringan yang mengandung selsel berinti mampu mensintesis kolesterol. Kolesterol merupakan prekursor semua steroid seperti kortikosteroid, hormon seks, asam empedu dan vitamin D (Dalimartha, 2001). Kolesterol di dalam tubuh diproduksi dalam jumlah yang diperlukan. Hiperkolesterolemia terjadi jika kadar kolesterol melebihi batas 1

2

normal dan dapat berkembang menjadi aterosklerosis pada pembuluh arteri, berupa penyempitan pembuluh darah terutama di jantung, otak, ginjal, dan mata. Pada otak, aterosklerosis menyebabkan stroke, sedangkan pada jantung menyebabkan penyakit jantung koroner. Hiperkolesterolemia dapat terjadi karena bobot badan, usia, kurang olah raga, stress emosional, gangguan metabolisme, kelainan genetik, serta diet tinggi kolesterol dan asam lemak jenuh (Setiati 2009). Selain itu juga dapat terjadi pada wanita yang kekurangan hormon estrogen (Ganong, 1995). Dengan meningkatnya jumlah penderita penyakit yang disebabkan hiperkolesterolemia dari tahun ke tahun maka diperlukan upaya yang serius untuk mengatasinya dan perlu diperhatikan segala potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasinya. Potensi yang kita miliki berupa obat sintetis dan obat tradisional. Dengan mengikuti perkembangan zaman yang lebih menyukai obat tradisional dan semakin tingginya harga obat sintetis sehingga tidak dapat dijangkau oleh kalangan menengah ke bawah, maka kita harus memanfaatkan sumber daya alam sebagai obat tradisional dimana alam Indonesia sangat kaya akan tanaman obat. Salah satu tanaman obat yang dapat dimanfaatkan sebagai obat hiperkolesterolemia adalah temu giring. Temu giring mengandung flavonoid antioksidan dan tanin yang diduga memiliki aktivitas hiperkolesterolemia (Sudarsono dkk, 1996). Dari hasil penelitian yang dilakukan Kuswinarti, 2006, dapat disimpulkan bahwa ekstrak air rimpang temu giring yang diberikan secara oral dengan dosis 2 g/kg. BB selama 14 hari mampu menurunkan kadar kolesterol total secara

3

bermakna dengan P<0,02 pada tikus yang diinduksi peningkatan kolesterolnya secara eksogen dan endogen dengan diet kolesterol dan propil tiourasil. Berdasarkan penelitian diatas maka perlu untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan pelarut yang berbeda sifat kepolarannya dalam hal ini etil asetat yang bersifat semi polar mengingat kandungan kimia di dalam temu giring terdapat senyawa yang bersifat semipolar seperti kurkumin dan tanin yang diduga dapat berkhasiat sebagai antihiperkolesterolemia. Dengan adanya peneltian ini harapannya dapat menambah data ilmiah mengenai rimpang temu giring yang sudah ada dan dapat dijadikan sebagai acuan untuk penelitian yang lebih lanjut.

B. Identifikasi Masalah 1. Apakah fraksi etil asetat ekstrak metanol rimpang temu giring (Curcuma heyneana Val.) mempunyai efek proteksi terhadap kenaikan kadar kolesterol dalam darah pada tikus jantan galur Wistar yang diberi diet kolesterol tinggi? 2. Bagaimana pengaruh fraksi etil asetat ekstrak metanol rimpang temu giring (Curcuma heyneana Val.) dengan pemberian dosis yang berbeda terhadap kenaikan kadar kolesterol dalam darah pada tikus jantan galur Wistar yang diberi diet kolesterol tinggi. 3. Bagaimana efek proteksi fraksi etil asetat ekstrak metanol rimpang temu giring (Curcuma heyneana Val.) dalam darah pada tikus jantan galur Wistar yang diberi diet kolesterol tinggi jika dibandingkan dengan simvastatin.

4

C. Batasan Masalah Penelitian ini hanya dibatasi pada permasalahan apakah fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring (Curcuma heyneana Val.) mempunyai efek proteksi terhadap kenaikan kadar kolestrol darah tikus galur Wistar yang diberi diet kolesterol tinggi serta mengetahui berapa besar efek proteksi yang dihasilkan.

D. Rumusan Masalah 1. Apakah fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring (Curcuma heyneana Val.) mempunyai efek proteksi terhadap kenaikan kadar kolestrol darah darah tikus galur Wistar yang diberi diet kolesterol tinggi? 2. Berapa dosis fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring (Curcuma heyneana Val.) yang mempunyai efek proteksi terhadap kenaikan kadar kolestrol darah darah tikus galur Wistar yang diberi diet kolesterol tinggi? 3. Bagaimana efek proteksi fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring (Curcuma heyneana Val.) jika dibandingkan dengan Simvastatin dalam aktivitas proteksi terhadap kenaikan kadar kolestrol darah terhadap hewan uji yang diberi diet kolesterol tinggi?

E. Tujuan Penelitian 1. Untuk membuktikan aktivitas fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring (Curcuma heyneana Val.) terhadap kenaikan kadar kolestrol darah tikus puith jantan galur Wistar.

5

2.

Untuk mengetahui dosis dosis fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring (Curcuma heyneana Val.) yang dapat memproteksi kenaikan kadar kolestrol darah darah tikus galur Wistar yang diberi diet kolesterol tinggi.

3.

Untuk mengetahui efek proteksi fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring (Curcuma heyneana Val.) jika dibandingkan dengan simvastatin.

F. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian diharapkan dapat mengembangkan dan memajukan sumber daya alam di Indonesia yang terkenal tanaman obat tradisionalnya. Selain itu, melalui penelitian ini juga dapat memberikan informasi dan data ilmiah tentang aktivitas fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring (Curcuma heyneana Val.) dalam mencegah hiperkolesterolemia sehingga dapat dikembangkan menjadi suatu sediaan obat tradisional yang berasal dari bahan alam khususnya temu giring sehingga dapat dihasilkan obat antihiperkolesterolemia yang potensial dan terjangkau oleh masyarakat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teoritik 1. Obat Tradisional Obat bahan alam yang semula banyak dimanfaatkan secara terbatas di negara-negara Asia dan Afrika, sekarang sudah meluas sampai ke negara-negara maju di Benua Eropa dan Amerika. Awalnya obat bahan alam digunakan sebagai tradisi turun temurun dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan berkembangnya teknologi baik produksi maupun informasi, uji praklinik dan klinik dilakukan untuk memperoleh bukti tentang khasiat obat bahan alam. Berdasarkan cara pembuatan, penggunaan dan tingkat pembuktian khasiat, obat bahan alam indonesia dikelompokkan menjadi: a. Obat Tradisional (Jamu) Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan sarian atau galenik atau dari campuran bahan tersebut yang telah secara turun-temurun digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. b. Obat Herbal Terstandar Obat Herbal Terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah distandarisasi.

6

7

c.

Fitofarmaka Fitofarmaka adalah obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan

khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik. Bahan baku dan produk jadinya telah distandardisasi (Handayani, 2008).

2.

Tanaman Temu Giring (Curcuma Heyneana, Val) Temu giring banyak ditemukan tumbuh liar di hutan-hutan kecil atau

peladangan dekat rumah penduduk, terutama di kawasan Jawa Timur. Kini, temu giring sudah banyak diusahakan oleh masyarakat sebagai tanaman apotik hidup, terutama di pulau Jawa. Penduduk Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat sudah mengusahakannya sebagai bahan jamu atau obat tradisional yang relatif menguntungkan (Muhlisah, 1999). a. Klasifikasi Tanaman : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledonae : Zingiberales : Zingiberaceae : Curcuma : Curcuma heyneana Val. (Anonim, 2001).

Divisi Sub Divisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis

8

b. Nama Umum dan Nama Daerah Nama Umum : Temu Giring Nama Daerah : Temu Giring (Jawa) (Anonim, 2001). c. Deskripsi Tanaman : Sernak, semusim, tegak, tinggi ± 1 m. : Akar serabut, kuning kotor. : Semu, terdiri dari pelepah daun, tegak, permukaan licin, membentuk rimpang, hijau muda. Daun : Tunggal, permukaan licin, tepi rata, ujung dan pangkal runcing, panjang 40-50 cm, lebar 15-18 cm, pertulangan menyirip,

Habitus Akar Batang

pelepah 25-35 cm, hijau muda. Bunga : Majemuk, berambut halus, panjang 15-40 cm, kelopak hijau muda, pangkal meruncing, ujung membulat, mahkota kuning muda, hijau muda. (Anonim, 2001). d. Morfologi Habitus herba, semusim, tinggi + 1 m. Batang semu, terdiri dari pelepah daun, tegak, permukaan licin, hijau muda. Daun tunggal, jumlah 3-8, permukaan licin, tepi rata, ujung dan pangkal runcing, panjang 40-50 cm, lebar 15-18 cm, pertulangan menyirip, tangkai daun 25-35 cm, hijau muda. Bunga tersusun majemuk bulir, berambut halus, panjang ibu tangkai bunga 15-40 cm, kelopak hijau muda, pangkal meruncing, yang membulat; mahkota putih atau putih di tepi

9

merah muda. Akar serabut, rimpang keputih-putihan sampai kuning muda, kadang-kadang berwarna kuning di bagian tengah rimpang (Backer dan Van Den Brink, 1968). Rimpang temu giring tumbuh menyebar di sebelah kiri dan kanan batang secara memanjang sehingga terlihat kurus atau membengkok ke bawah. Secara kesuluruhan, rimpang temu giring umumnya tumbuh mengarah ke bawah dengan percabangan berbentuk persegi. Apabila rimpang dibelah, akan terlihat daging rimpang berwarna kuning, berbau khas temu giring. Rimpang bagian samping umumnya memiliki rasa lebih pahit (Muhlisah, 1999). Tanaman ini tumbuh pada daerah hingga ketinggian 750 m di atas permukaan laut. Temu giring dijumpai sebagai tanaman liar di hutan jati atau di halaman rumah, terutama di tempat yang teduh. Perbanyakan dilakukan dengan stek rimpang induk atau rimpang cabang yang bertunas. (Mursito, 2003) e. Efek Farmakologi dan Kegunaan Rimpang temu giring berkhasiat sebagai obat cacing pada anak-anak, di samping itu untuk bahan kosmetika. Untuk obat cacing pada anak-anak dipakai ± 20 gram rimpang segar temu giring, dicuci lalu diparut, ditarnbah 1/2 gelas air matang dan 1/2 gram garam, diaduk kemudian disaring. Hasil saringan didiamkan selama 1 jam, diminum pada waktu pagi sebelum makan. Akar rimpangnya memberikan warna kuning segar serta merupakan bahan utama dari lulur pada perawatan kulit tradisional Jawa dan sering diberikan untuk calon pengantin . Akar rimpang yang pahit diberikan bersama dengan tanaman obat lainnya yang digunakan untuk pengobatan, untuk degenerasi lemak dan juga

10

digunakan sebagai obat rakyat untuk menjaga stamina. Tanaman ini juga digunakan di salon kecantikan modern. Akar rimpangnya dianggap sebagai pendingin dan sabun pembersih, berguna untuk mengatasi penyakit kulit, luka tergores ringan dan luka. Patinya dapat dibuat menjadi bubur (Aliadi dkk, 1996). f. Kandungan Kimia Kandungan kimia rimpang temu giring antara lain minyak atsiri dengan komponen utama 8(17),12-labdadiene-15,16-dial, tanin dan kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, desmetoksi-kurkumin dan bis-desmetoksi-kurkumin (Ditjen POM, 1989), pati, saponin, dan flavonoid (Anonim, 2001). 1) Minyak Atsiri Pada mulanya istilah minyak atsiri adalah istilah yang digunakan untuk minyak yang mudah menguap dan diperoleh dari tanaman dengan penyulingan uap. Definisi ini dimaksudkan untuk membedakan minyak/lemak dengan minyak atsiri yang berbeda tanaman penghasilnya (Guenther, 1987). Minyak atsiri yang bersifat mudah menguap ini terdiri dari campuran zat menguap, dengan komposisi dan titik didih yang berbeda-beda. Setiap substansi yang bisa menguap memiliki titik didih dan tekanan uap tertentu dan hal ini dipengaruhi oleh suhu. Pada umumnya tekanan uap ini sangat mudah untuk persenyawaan yang memiliki titik didih yang sangat tinggi. Selanjutnya intensitas suatu bau (harum yang dihasilkan dengan beberapa pengecualian pada kondisi tertentu) merupakan manifestasi dari sifat mudah menguap yang menghasilkan bau harum tersebut (Guenther, 1987)

11

Minyak atsiri yang mudah menguap terdapat di dalam kelenjar minyak khusus di dalam kantung minyak atau di dalam ruang antar sel dalam jaringan tanaman. Minyak atsiri tersebut harus dibebaskan sebelum disuling yaitu dengan merajang/memotong jaringan tanaman dan membuka kelenjar minyak sebanyak mungkin, sehingga minyak dapat dengan mudah diuapkan (Guenther, 1987). Minyak atsiri yang bagian utamanya terpenoid terdapat pada fraksi atsiri yang tersuling uap. Zat inilah penyebab harum, wangi dan bau yang khas pada banyak tumbuhan (Harborne, 1996). Kegunaan minyak atsiri sebagai bahan antiseptik internal atau eksternal, bahan analgesik, haemolitik, atau sebagai entienzimatik, sedatif dan stimulan untuk sakit perut. Minyak atsiri mempunyai sifat membius, merangsang dan memuakkan. Disamping itu beberapa jenis minyak atsiri dapat digunakan sebagai obat cacing dan sebagai fungisida maupun bakterisida (Guenther, 1987). 2) Tanin Tanin (Gambar 1) merupakan salah satu jenis senyawa yang termasuk ke dalam golongan polifenol. Senyawa tanin ini banyak dijumpai pada tumbuhan. Tanin dahulu digunakan untuk menyamakkan kulit hewan karena sifatnya yang dapat mengikat protein. Selain itu juga tanin dapat mengikat alkaloid dan glatin. Tanin secara umum didefinisikan sebagai senyawa polifenol yang memiliki berat molekul cukup tinggi (lebih dari 1000) dan dapat membentuk kompleks dengan protein. Berdasarkan strukturnya, tanin dibedakan menjadi dua kelas yaitu tanin terkondensasi (condensed tannins) dan tanin terhidrolisiskan (hydrolysable tannins) (Harbone, 1996).

12

Tanin memiliki peranan biologis yang kompleks. Hal ini dikarenakan sifat tanin yang sangat kompleks mulai dari pengendap protein hingga pengkhelat logam. Maka dari itu efek yang disebabkan tanin tidak dapat diprediksi. Tanin juga dapat berfungsi sebagai antioksidan biologis. Oleh karena itu, semua penelitian tentang berbagai jenis senyawa tanin mulai dilirik para peneliti sekarang (Hagerman, 2002).

Gambar 1. Struktur kimia tanin Senyawa tanin terdapat luas di dalam tumbuhan berpembuluh. Senyawa ini merupakan penghambat enzim yang kuat bila terikat dengan protein. Menurut batasannya tanin dapat bereaksi dengan dengan protein membentuk kopolimer mantap yang tidak larut di dalam air. Di dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan sitoplasma tetapi apabila jaringan rusak, misalnya jaringan yang dimakan oleh hewan maka bisa terjadi reaksi penyamakan. Tanin merupakan senyawa bakteriostatik terhadap gram positif dan gram negatif (Pramono, 1989) Secara kimia tanin dibagi menjadi dua yaitu tanin yang terhidrolisis dan tanin yang terkondensasi.

13

a)

Tanin Terhidrolisis (hydrolysable tannins). Tanin ini biasanya berikatan dengan karbohidrat dengan membentuk

jembatan oksigen, maka dari itu tanin ini dapat dihidrolisis dengan menggunakan asam sulfat atau asam klorida. Salah satu contoh jenis tanin ini adalah gallotanin yang merupakan senyawa gabungan dari karbohidrat dengan asam galat. Selain membentuk gallotanin, dua asam galat akan membentuk tanin terhidrolisis yang bisa disebut Ellagitanins. Ellagitanin sederhana disebut juga ester asam hexahydroxydiphenic (HHDP). Senyawa ini dapat terpecah menjadi asam galic jika dilarutkan dalam air. Tanin jenis penyebarannya terbatas pada tumbuhan berkeping dua. Deteksi pendahuluan dalam jaringan lain dengan mengidentifikasi asam galat atau asam elagat dalam fraksi eter atau etil asetat yang dipekatkan dengan sinar UV akan tampak bercak ungu yang menjadi gelap bila diuapi NH3 selain itu juga bisa dengan menggunakan KCKT (Harborne, 1996) b) Tanin terkondensasi (condensed tannins). Tanin jenis ini biasanya tidak dapat dihidrolisis, tetapi dapat terkondensasi menghasilkan asam klorida. Tanin jenis ini kebanyakan terdiri dari polimer flavonoid yang merupakan senyawa fenol dan telah dibahas pada bab yang lain. Nama lain dari tanin ini adalah Proanthocyanidin. Proanthocyanidin merupakan polimer dari flavonoid yang dihubungkan dengan melalui C8 dengan C4. Salah satu contohnya adalah Sorghum procyanidin, senyawa ini merupakan trimer yang tersusun dari epiccatechin dan catechin.

14

Tanin jenis ini terdapat di dalam paku-pakuan dan gimnospermae serta angiospermae terutama pada jenis tumbuhan berkayu. Tanin terkondensasi dapat dideteksi langsung dalam jaringan dengan mencelupkannya ke dalam HCl 2M mendidih selama 30 menit. Bila terdapat warna merah yang dapat diekstraksi dengan amil atau butil alkohol maka ini merupakan bukti adanya tanin. Selain itu tanin jenis ini juga dapat dideteksi dengan kromatografi kertas dua arah memakai fase atas pengembang butanol-asam asetat (14:1:5) diikuti dengan asam asetat 6%. Selain itu dapat pula dideteksi dengan UV dan KCKT (Harborne, 1996). 3) Kurkumin Kurkumin (Gambar 2) adalah senyawa aktif yang ditemukan pada kunir, berupa polifenol dengan rumus kimia C21H20O6. Kurkumin merupakan salah satu produk senyawa metabolit sekunder dari tanaman kunyit dan temulawak. Senyawa ini merupakan golongan karatenoid yaitu pigmen (zat warna) yang larut dalam lemak berwarna kuning sampai merah. Kurkumin termasuk golongan senyawa polifenol dengan struktur kimia 1,7-bis (4’hidroksi-3 metoksifenil)-1,6 heptadien 3,5-dion. Kurkumin dapat memiliki dua tautomer yaitu keton dan enol. Sturktur keton lebih dominan dalam bentuk padat sedangkan struktur enol ditemukan dalam bentuk cairan. Pada struktur kurkumin terdapat ikatan rangkap terkonjugasi dan pasangan elektron bebas sehingga berpotensi sebagai ligan. Kurkumin juga termasuk senyawa β-ketoenolat yang dapat membentuk kompleks khelat cincin enam yang sangat stabil (Herlinawati, 1984) Kurkumin mempunyai sifat sebagai antioksidan (Sudarsono dkk, 1996)

15

Gambar 2. Struktur kimia kurkumin

4) Flavonoid Flavonoid merupakan salah satu metabolit sekunder, kemungkinan keberadaannya dalam daun dipengaruhi oleh adanya proses fotosintesis sehingga daun muda belum terlalu banyak mengandung flavonoid. Senyawa flavonoid adalah senyawa yang mempunyai struktur C6-C3-C6. tiap bagian C6 merupakan cincin benzen yang terdistribusi dan dihubungkan oleh atom C3 yang merupakan rantai alifatik Dalam tumbuhan flavonoid terikat pada gula sebagai glikosida dan aglikon flavonoid yang mungkin terdapat dalam satu tumbuhan dalam bentuk kombinasi glikosida (Harbone, 1987). Aglikon flavonoid (yaitu flavonoid tanpa gula terikat) terdapat dalam berbagai bentuk struktur. Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa C6-C3-C6, artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzena) disambungkan oleh rantai alifatik tiga karbon. Kelas-kelas yang berlainan dalam golongan flavonoid dibedakan berdasarkan cincin heterosiklikoksigen tambahan dan gugus hidroksil yang tersebar menurut pola yang berlainan. Flavonoid merupakan senyawa pereduksi yang baik, menghambat banyak reaksi oksidasi, baik secara enzim maupun non enzim. Flavonoid bertindak

16

sebagai penampung yang baik radikal hidroksi dan superoksida dengan demikian melindungi lipid membran terhadap reaksi yang merusak. Aktivitas

antioksidannya dapat menjelaskan mengapa flavonoid tertentu merupakan komponen aktif tumbuhan yang digunakan secara tradisional untuk mengobati gangguan fungsi hati (Robinson, 1995). Flavonoid merupakan golongan terbesar senyawa fenol alam. Flavonoid merupakan senyawa polar karena mempunyai sejumlah gugus hidroksil yang tak tersulih atau suatu gula, sehingga akan larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, butanol, aseton, dimetilsulfoksida, dimetilformamida, dan air. Adanya gula yang terikat pada flavonoid cenderung menyebabkan flavonoid lebih mudah larut dalam air dan dengan demikian campuran pelarut di atas dengan air merupakan pelarut yang lebih baik untuk glikosida. Sebaliknya, aglikon yang kurang polar seperti isoflavon, flavanon, dan flavon serta flavonol yang termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam pelarut seperti eter dan kloroform. Analisa flavonoid lebih baik dengan memeriksa aglikon yang terdapat dalam ekstrak tumbuhan yang telah dihidrolisis sebelum memperhatikan kerumitan glikosida yang ada dalam ekstrak asal (Harbone, 1987). Kegunaan senyawa flavonoid menunjukan aktivitas biologi yang beragam diantaranya adalah sebagai antivirus, antihistamin, diuretik, antiinflamasi, antimikroba dan antioksidan (Dewick, 2002).

17

3.

Teknik Penyarian Berbagai macam metode penyarian yang digunakan tergantung dari wujud

dan kandungan zat dari bahan yang akan disari dan untuk analisis fitokimia idealnya digunakan jaringan yang masih segar. Cara lain, tumbuhan dapat dikeringkan sebelum ekstraksi. Bahan harus dikeringkan secepatnya, lebih baik dengan aliran udara sampai betul-betul kering untuk mencegah perubahan kimia yang terlalu banyak (Harborne, 1996). Pembuatan sediaan ekstrak dimaksudkan agar zat berkhasiat yang terdapat dalam bentuk yang mempunyai kadar tinggi dan hal ini memudahkan zat berkhasiat diatur dosis atau konsentrasinya. Ekstrak adalah sediaan yang dapat kering, kental, dan cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang sesuai yaitu maserasi, perkolasi dan penyeduhan dengan air mendidih. Sebagai cairan penyari digunakan air, eter, atau campuran etanol, atau campuran etanol air. Penyarian dilakukan diluar pengaruh cahaya matahari langsung (Anief, 2000) Metode Penyarian yang sering digunakan adalah infundasi, maserasi, perkolasi dan alat Soxhlet. a. Infundasi Infundasi adalah proses penyarian simplisia dengan air pada suhu 90º C selama 15 menit. Infundasi umumnya digunakan untuk menyari zat kandungan altif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. Penyarian dengan cara ini menghasilkan sari yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh kuman dan kapang.

18

Oleh sebab itu sari yang diperoleh dengan cara ini tidak boleh disimpan selama 24 jam. Infundasi umumnya dilakukan dengan mencampur simplisia yang telah dihaluskan sesuai dengan derajat kehalusan yang ditetapkan dengan air secukupnya dalam sebuah panci. Kemudian dipanaskan dalam tangas air selama 15 menit, dhitung mulai suhu didalam panci mencapai 90º C, sambil sesekali diaduk. Infus diserkai sewaktu panas melalui kain flanel. Untuk mencukupi kekurangan air, ditambahkan air melalui ampasnya (Anonim, 1986) b. Maserasi Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan karena perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif didalam sel dengan zat aktif yang berada diluar sel, maka larutan yang konsentrasinya pekat di dalam sel akan didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang hingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di dalam dan luar sel. Maserasi dapat dibantu dengan pengadukan yang kontinu (maserasi kinetik). Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak. Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol dan lain-lain. Bila penyari yang digunakan maka untuk mencegah tumbuhnya kapang dapat ditambahkan bahan pengawet yang diberikan pada awal penyarian.

19

Keuntungan penyarian dengan maserasi adalah peralatan yang sederhana, murah dan pengerjaannya. Kerugian cara maserasi ini adalah membutuhkan waktu yang lama dan penyarian kurang sempurna. Maserasi pada umumnya dilakukan dengan cara: 10 bagian simplisia dengan derajat halus dimasukkan ke dalam bejana, kemudian ditambah dengan air 75 bagian cairan penyari, ditutup, dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya, sambil diaduk sesekali secara berulang-ulang. Setelah 5 hari diserkai, ampas diperas. Kemudian ampas ditambah cairan penyari secukupnya diaduk dan diserkai sehingga diperoleh seluruh sari sebanyak 100 bagian. Bejana ditutup, dibiarkan ditempat sejuk, terlindung dari cahaya selama 2 hari kemudian endapan dipisahkan (Anonim, 1986). c. Perkolasi Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Prinsip perkolasi adalah sebagai berikut: serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder yang bagian bawahnya diberi sekat berpori. Cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut. Cairan penyari akan mengalirkan zat aktif dalam sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh (Anonim, 1986). Cara perkolasi lebih baik dibandingkan maserasi karena : 1) Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan lautan yang konsentrasinya lebih rendah sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi

20

2) Ruangan diantara butir-butir serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan penyari. Kecilnya saluran kapiler tersebut menyebabkan kecepatan pelarutan cukup untuk mengurangi lapisan batas sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi. Alat yang digunakan untuk perkolasi disebut perkolator, cairan yang digunakan untuk menyari disebut menstruum atau cairan penyari, larutan zat aktif yang keluar dari perkolator disebut sari atau perkolat, sedang sisa setelah dilakukannya penyarian disebut ampas atau sisa perkolasi (Anonim, 1986). d. Penyarian dengan Alat Soxhlet Sistem penyarian dengan alat soxhlet disebut juga penyarian

berkesinambungan. Cairan penyari diisikan pada labu, serbuk simplisia diisikan ke dalam tabung. Cairan penyari dipanaskan hingga mendidih. Uap penyari akan naik ke atas melalui pipa samping kemudian diembunkan kembali oleh pendingin balik. Embun turun melalui serbuk simplisia sambil melarutkan zat-zat aktifnya dan kembali ke labu. Cairan akan menguap kembali dan berulang seperti proses di atas. Keuntungan penyarian dengan alat soxhlet: 1) Cairan penyari yang diperlukan lebih sedikit dan secara langsung diperoleh hasil yang pekat 2) Serbuk simplisia disari oleh cairan penyari murni, sehingga dapat menyari zat aktif lebih banyak 3) Penyarian dapat diteruskan sesuai keperluan tanpa menambah volume cairan penyari

21

4) Kerugian penyarian dengan alat soxhlet 5) Cairan penyari dipanaskan terus menerus sehingga zat aktif yang tidak tahan pemanasan kuang cocok 6) Cairan penyari dididihkan terus menerus sehingga cairan penyari yang baik harus murni atau campuran azeotrof (Anonim, 1986).

4.

Lemak Lemak merupakan substansi yang tampak seperti lilin dan tidak larut

dalam air. Lemak yang terdapat dalam zat makanan kita umumnya terdiri dari gabungan tiga gugus asam lemak dan gliserol serta dikenal sebagai trigliserida. Lemak dalam bahan makanan dapat dbagi menjadi tiga golongan yaitu lemak jenuh (saturated fat), lemak tidak jenuh tunggal (mono-unsaturated fat) dan lemak tidak jenuh majemuk (poli-unsaturated fat). Penggolongan menjadi tiga jenis tersebut penting artinya dalam hubungannya dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah dimana lemak tidak jenuh tunggal dan lemak tidak jenuh majemuk merupakan lemak yang baik bagi tubuh untuk memproduksi zat-zat essensial lainnya bagi tubuh seperti esterogen, progesteron, testosteron dan sebagainya sedangkan lemak jenuh adalah lemak yang tidak baik untuk dikonsumsi, yang apabila tidak dimetabolisme oleh hati akan menyebabkan lemak terakumulasi dalam jaringan perifer dan menyebabkan penyumbatan pembuluh darah sehingga terjadi penyakit jantung koroner (Soeharto, 2000).

22

a.

Lemak Jenuh Lemak jenuh pada temperatur kamar berbentuk padat. Sumber lemak

jenuh adalah lemak yang berasal dari binatang. Lemak jenis ini juga terdapat dalam usus, keju, mentega, es krim, dan minyak yang berasal dari tumbuhan seperti minyak kelapa, minyak palem, dan lain-lain. Semua makan yang digoreng dengan dengan minyak tersebut berarti bercampur dengan lemak jenuh berkadar tinggi. Kita tidak dapat menghindari sama sekali lemak jenuh dari diet kita, karena banyak makanan yang rendah lemak tetapi mengandung lemak jenuh karena dimasak dengan lemak yang memiliki kadar lemak jenuh tinggi (Soeharto, 2000) b. Lemak Tidak Jenuh Lemak tidak jenuh dibagi menjadi dua yaitu lemak tidak jenuh tunggal dan lemak tidak jenuh majemuk. Lemak tidak jenuh tunggal adalah lemak yang sebagian asam lemaknya mono-unsaturated, seperti olive dan anola. Minyakminyak tersebut berbentuk cair pada temperatur kamar sedangkan di dalam lemak tidak jenuh majemuk yang dominan adalah asam lemak poly-unsaturated. Contohnya minyak bunga matahari, minyak jagung, minyak kedelai, dan lain-lain. Dari sudut kimia, asam lemak jenuh ini tidak memiliki ikatan diantara atom-atom karbon di dalam molekulnya, sedangkan asam lemak tidak jenuh tunggal terdapat satu ikatan rangkap dan asam lemak tidak jenuh majemuk terdapat dua ikatan rangkap atau lebih (Soeharto, 2000). Sebagian besar lipid plasmanya tidak bersirkulasi dalam bentuk bebas. Asam-asam lemak bebas sering disebut FFA (Free Fatty Acids), UFA (Unesterified Fatty Acids), NEFA (Nonesterified Fatty Acids) terikat pada

23

albumin, sementara kolesterol, trigliserida dan fosfolipid ditransport dalam bentuk kompleks lipoprotein. Lipoprotein berfungsi mengangkut lemak dari tempat pembentukannya menuju tempat penggunaannya. Digambarkan bahwa partikel lipopretein pada intinya terdapat ester kolestrol dan trigliserida, dikelilingi oleh fosfolipid, kolestrol non ester, dan apoliprotrein. Zat-zat tersebut beredar dalam darah sebagai lipopretein larut plasma. Tubuh mengatur kadar lipoprotein melalui beberapa cara: 1) Mengurangi pembentukan liprotein dan mengurangi jumlah lipoprotein yang masuk ke dalam darah 2) Meningkatkan atau menurunkan kecepatan pembuangan lipoprotein dari dalam darah. Lipid plasma diangkut dengan dua cara yaitu jalur eksogen dan endogen: 1) Jalur Eksogen Trigleserida dan kolesterol yang berasal dari makanan dalam usus dikemas dalam bentuk partikel besar lipoprotein yang disebut kilomikron. Kilomikron ini akan membawanya ke dalam darah. Kemudian trigliserida dalam kilomikron tadi mengalami penguraian oleh enzim lipoprotein lipase sehingga terbentuk asam lemak bebas dan kilomikron rennant. Asam lemak bebas akan menembus jaringan lemak atau sel otot untuk diubah menjadi trigliserida kembali sebagai cadangan energi. Sedangkan kilomikron rennant akan dimetabolisme dalam hati sehingga menghasilkan kolesterol bebas. Kilomikron rennant adalah kilomikron yang telah dihilangkan sebagian besar tigliseridanya sehingga ukurannya mengecil tetapi jumlah kolesterolnya tetap (Ganiswara, 1995)

24

Sebagian kolestrol yang mencapai organ hati diubah menjadi asam empedu, yang akan dikeluarkan ke dalam usus dan membantu proses penyerapan lemak dari makanan sebagian lagi dari kolesterol dikeluarkan melalui saluran empedu tanpa dimetabolisme menjadi asam empedu kemudian organ hati akan mendistribusikan kolesterol ke jaringan tubuh lainnya melalui jalur endogen. Pada akhirnya, kilomikron yang tersisa (yang lemaknya telah diambil), dibuang dari aliran darah melalui hati (Ganiswara, 1995) Kolesterol juga dapat diproduksi oleh jaringan hati dengan bantuan enzim yang disebut HMG koenzim-A reduktase, Kemudian dikirimkan ke dalam aliran darah. Asupan kolesterol dari darah juga diatur oleh jumlah reseptor LDL yang terdapat pada permukaan sel hati (Ganiswara, 1995). 2) Jalur Endogen Trigliserida dan kolesterol disintesis oleh hati, diangkut secara endogen dalam bentuk Very Low Density Lipoprotein (VLDL) kaya trigliserida dan mengalami hidrolisis dalam sirkulasi oleh lipoprotein lipase yang juga menghidrolisis kilomikron menjadi partikel lipoprotein yang mengandung kolesterol paling banyak (60-70%). LDL mengalami katabolisme melalui reseptor dan jalur non reseptor. Jalur katabolisme reseptor dapat ditekan oleh produksi kolesterol endogen. Penderita hiperkolesterolemia familial heterozigot

mempunyai kira-kira 50% reseptor LDL yang fungsional. Pada pasien ini, katabolisme LDL oleh hati dan jaringan perifer berkurang sehingga kadar kolesterol plasma meningkat. Peningkatan kadar kolesterol sebagian disalurkan ke dalam makrofag yang akan membentuk sel busa (foam cells) yang berperan dalam

25

terjadinya aterosklerosis premature. Bentuk homozigot lebih jarang dan lebih berbahaya sehingga pada usia anak dapat terjadi serangan infark jantung. HDL berasal dari hati dan usus sewaktu terjadi hidrolisis kilomikron di bawah pengaruh enzim lechitin cholesterolacyltransferase (LCAT). Ester kolesterol ini akan mengalami perpindahan dari HDL kepada IDL sehingga dengan demikian terjadi kebalikan arah transport kolesterol dari perifer menuju hati untuk dikatabolisasi. Aktivitas ini mungkin berperan sebagai antiaterogenik (Ganiswara, 1995). Lipid utama dalam lipoprotein adalah kolesterol, trigliserida dan fosfolipid. Trigliserida dan bentuk teresterifikasi dari kolesterol adalah lipid non polar yang tidak larut dalam lingkungan berair dan mengisi pusat dari lipoprotein. Fosfolipid dan sejumlah kecil dari kolesterol bebas yang solubel dalam kedua lingkungan lipid dan air, melingkupi permukaan partikel dimana berfungsi sebagai permukaan antara komponen plasma dan inti lipoprotein. Famili dari protein, apoliprotein, juga berada di permukaan lipoprotein untuk memertahankan struktur lipoprotein yang spesifik dan nenyediakan permukaan antara lipid dan lingkungan berair. Protein-protein ini mempunyai peranan-peranan penting pada regulasi transport lipid dan metabolisme lipoprotein. Pengobatan diarahkan untuk memperbaiki kelainan lipoprotein, bukan hanya menurunkan kadar total kolesterol dan trigliserida plasma saja (Tjay dan Raharja, 2007).

26

Tabel I. Jenis lipoprotein, ukuran, komposisi dan asalnya (Tjay dan Raharja, 2007)
Komposisi Macam Lipoprotein Ukuran (nm) Protein Kolesterol Ester Kolesterol Asal Trigiserida Fosfolipid

Kilomikron Sisa Kilomikron VLDL IDL LDL HDL

751000 30-80 30-80 25-40 20 7,5-10

2 8 10 20 50

2 4 5 7 4

3 16 25 46 16

90 55 40 6 5

3 17 20 21 25

Usus Kapiler Hati & usus VLDL IDL Hati & Usus

Lipoprotein plasma darah digolongkan berdasarkan densitasnya (gram/ml) yang juga merupakan gambaran kandungan lipida dari molekul yang bersangkutan. Semakin besar kandungan lipida molekul ini, semakin rendah densitasnya dan semakin besar kecenderungan molekul untuk bergerak ke atas atau mengapung, jika plasma darah disentrifuge pada kecepatan tinggi (Leichner, 1997) Ada enam keluarga lipoprotein (Tabel I), yang dikelompokkan menurut besar dan kandungan lipidnya (densitas): a) Kilomikron Merupakan lipoprotein terbesar terbentuk di mukosa usus selama absorbsi produk-produk pencernaan lemak. Sekitar satu jam setelah makan makanan yang mengandung banyak lemak. Konsentrasi kilomikron dalam plasma dapat meningkat satu sampai dua persen, dan karena ukuran kilomikron besar, plasma terlihat keruh dan terkadang kuning, tampak seperti susu (lipemia). Kilomikron

27

dibersihkan dari sirkulasi oleh kegiatan lipoprotein lipase, yang terletak dipermukaan endotel pembuluh kapiler. Enzim mengkatalisis pemecahan trigliserida didalam kilomikron tersebut menjadi FFA dan gliserol, yang masuk sel-sel adipose dan direesterifikasi. Kalau tidak, FFA (Free Fatty Acid) tetap berada di dalam sirkulasi terikat pada albumin. Kilomikron yang kehabisan trigliseridanya tetap berada dalam sirkulasi sebagai lipoprotein kaya kolesterol yang disebut sisa kilomikron. Sisa-sisa ini dibawa ke hati, yang mengikat sisa-sisa ini dengan reseptor LDL. Kilomikron dan sisa-sisanya merupakan suatu system transport untuk lipid eksogen yang dimakan. Juga ada system endogen yang terdiri dari VLDL, IDL, LDL, dan HDL yang mengangkut trigliserida dan kolesterol ke seluruh tubuh (Ganong, 1998). Kadar kilomikron meningkat setelah makan, memerlukan 12-16 jam untuk membersihkan semua kilomikron dari serum. Kilomikronemia pasca makan mereda 8-10 jam sesudah makan. Adanya kilomikron dalam plasma sewaktu puasa dianggap abnormal. Kilomikron membentuk lapisan krim di atas plasma yang didinginkan (Ganiswara, 1995). b) VLDL (Very Low Density Lipoprotein) Lipoprotein yang terdiri dari 60% trigliserida (endogen) dan 10-15% kolesterol dan fosfolipid. Jika plasma pasien didinginkan semalam (40C) maka peningkatan kadar VLDL tampak sebagai kekeruhan di bawah lapisan atas. Apabila lapisan atas berupa krim maka kadar kilomikron juga meningkat (Ganiswara, 1995). VLDL terbentuk di hati dan mengangkut trigliserida yang terbentuk dari asam lemak dan karbohidrat di hati ke jaringan ekstrahepatis. Setelah trigliseridanya sebagian dikeluarkan oleh kerja lipoprotein lipase, VLDL

28

ini menjadi IDL (Ganong, 1998). Karena asam lemak bebas dan gliserol dapat disintetis dari karbohidrat, maka makanan kaya karbohidrat akan meningkatkan jumlah VLDL (Ganiswara, 1995). c) IDL (Intermediate Density Lipoprotein) Lipoprotein yang sangat rendah densitasnya, yang sebagian besar trigliseridanya sudah dikeluarkan sehingga konsentrasi kolesterol dan fosfolipid meningkat (Guyton and Hall, 1997). IDL menyerahkan fosfolipid dan kolesterol melalui kerja enzim plasma lechitin cholesterol asyltransferase (LCAT), mengambil ester kolesterol yang terbentuk dari kolesterol di HDL. Beberapa IDL diambil oleh hati, IDL sisanya kemudian melepaskan lebih banyak trigliserida dan protein, kemudian di sinusoid-sinusoid hati menjadi LDL (Ganong, 1998). Bila terdapat dalam jumlah banyak IDL akan terlihat sebagai kekeruhan pada plasma yang didinginkan meskipun ultrasentifugasi perlu dilakukan untuk memastikan adanya IDL (Ganiswara, 1995). d) LDL (Low Density Lipoprotein) Merupakan IDL dimana hampir semua trigliserida telah dikeluarkan, meninggalkan terutama konsentrasi kolesterol yang tinggi dan konsentrasi sedang fosfolipid. LDL menyediakan kolesterol bagi jaringan. Kolesterol adalah merupakan unsur pokok essensial di membran sel dan digunakan oleh sel kelenjar untuk membentuk hormon steroid. Di dalam hati dan kebanyakan jaringan ekstrahepatik, LDL diambil dengan endositosis dengan mediator reseptor. Dalam proses endositosis berperantara reseptor, situasi ini mencetuskan pelepasan reseptor LDL yang berdaur ulang ke membran sel sehingga kolesterol terbentuk

29

dari ester-ester kolesteril oleh lipase asam di dalam lisosom menjadi siap untuk memenuhi kebutuhan sel tersebut. Kolesterol di dalam sel juga menghambat sintesis kolesterol intraseluler dengan menghambat HMG-CoA reduktase, merangsang esterifikasi kelebihan kolesterol yang dilepaskan. Semua reaksi ini menjadi kendali umpan balik bagi banyaknya kolesterol di dalam sel tersebut. LDL juga diambil oleh sistem yang berafinitas lebih rendah di dalam makrofag dan beberapa sel lain. Kalau terlalu terbebani oleh kadar LDL plasma yang tinggi, makrofag menjadi penuh dengan ester kolesterol dan membentuk sel-sel busa yang tampak pada awal lesi aterosklerotikdan memainkan suatu bagian pada pembentukan lesi ini (Ganong, 1998). Kadar LDL serum yang tinggi umumnya dianggap sangat memperbesar kemungkinan aterosklerosis (Speicher and Smith, 1983). LDL adalah komponen normal plasma pada keadaan puasa. Plasma yang mengandung LDL kadar tinggi tetap jernih setelah proses pendinginan karena LDL berukuran relative kecil (Ganiswara, 1995). e) HDL (High Density Lipoprotein) Mengandung konsentrasi protein tinggi, kira-kira 50% protein tetapi konsentrasi kolesterol dan fosfolipid yang lebih kecil (Guyton, 1997). HDL penting untuk membersihkan kolesterol dan trigliserida dan untuk transport serta metabolisme ester kolesterol dalam plasma. HDL secara normal terdapat dalam plasma puasa, tetapi plasma yang didinginkan tetap jernih, walaupun HDL terdapat dalam jumlah besar karena HDL lebih kecil daripada LDL (Ganiswara, 1995). HDL disintesis di dalam hati dan usus (Ganong, 1998). HDL berfungsi mengangkut kelebihan kolesterol dari jaringan perifer ke hati, sehingga

30

penimbunan kolesterol di perifer berkurang. Kadar HDL yang normal atau tinggi penting dalam menurunkan resiko aterosklerosis baik dengan mencegah pengendapan tipe-tipe kolesterol lain maupun dengan menghilangkan kolesterol dari dinding arteri (Speicher and Smith, 1983). Jadi LDL yang terutama terdiri dari kolesterol (70%) sepertiganya dikeluarkan oleh hati dan duapertiga sisanya diserap dan dirombak oleh jaringanjaringan perifer dimana sel-sel perifer tidak mampu merombak kolesterol, maka zat ini harus dikembalikan ke hati dan transportnya dilakukan oleh HDL. Selain itu HDL berdaya, dengan bantuan enzim LCAT, untuk melarutkan kolesterol yang karena sesuatu sebab telah diendapkan LDL pada dinding pembuluh yang menjadi aktif jika terdapat kekurangan kolesterol endogen. Asupan kolesterol dari darah juga diatur oleh jumlah reseptor LDL yang terdapat pada permukaan sel hati.

5.

Kolesterol Kolesterol (bahasa Yunani: chole = empedu, stereos = padat) adalah zat

alamiah dengan sifat-sifat berupa lemak dan steroid. Kolesterol merupakan bahan bangun essensial untuk sintesa zat-zat penting seperti hormon kelamin dan anak ginjal, glikosida-glikosida jantung dan vitamin D. Kolesterol terdapat dalam semua sel hidup, misalnya sebagai bahan isolasi sekitar serat-serat saraf dan disalut-salut sel begitu pula dalam lemak-lemak hewani dan sebagai komponen utama dari batu-batu empedu. Resorpsinya dari usus hanya terjadi bila terdapat cukup asam empedu (asam kolat) untuk mengemulsi jumlah kolesterol yang diresorpsinya berbeda-beda secara individual dan antara lain tergantung dari

31

susunan makanan (adanya serat-serat) dan lamanya perjalanan di usus, batasnya terletak antara 200 mg dan 800 mg sehari. Sebagai pedoman dianjurkan 250-300 sehari (Tjay dan Rahardja, 2007). Proses yang meningkatkan kadar kolesterol adalah 1) Pengambilan lipoprotein yang mengandung kolesterol oleh reseptor LDL. 2) Pengambilan lipoprotein yang mengandung kolesterol oleh lintasan yang tidak diperantai reseptor. 3) Pengambilan kolesterol bebas dari lipoprotein yang kaya akan kolesterol itu oleh membran sel. 4) Sintesis kolesterol. 5) Hidrolis ester kolesterol oleh enzim ester kolesterol hidrolase (Mayes dkk, 1997). Pada manusia kadar kolesterol total dalam plasma 5,2 mmol/l dan kadar ini meningkat bersamaan dengan penambahan umur, sekalipun diantara berbagai individu terdapat variasi yang luas (Mayes dkk, 1997). Kolesterol merupakan senyawa sterol yaitu bentuk alkohol steroid yang mempunyai ikatan rangkap. Senyawa steroid yang memiliki struktur yang sama yaitu terdiri dari sistem gabungan cincin yang disebut siklopentana perhidrofenatrena. Struktur kimia steroid dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Struktur kimia steroid (Lehninger, 1982)

32

Sterol merupakan steroid yang mengalami modifikasi, karena kehadiran 1 rantai hidrokarbon yang mengandung 8 sampai 10 atom karbon pada posisi 17 dan kehadiran hidroksil pada posisi 3 pada cincin. Kolesterol (Gambar 4) mengandung 8 atom karbon, dan mengandung ikatan rangkap pada posisi C5-C6 cincin siklopentana perhidrofentatre.

Gambar 4. Struktur kimia kolesterol (Poedjiadi, 1994) Kolesterol merupakan zat yang berguna untuk menjalankan fungsi tubuh. Kolesterol berasal dari lemak yang menghasilkan 9 kalori. Sementara itu, karbohidrat dari tepung dan gula hanya menghasilkan 4 kalori. Selain berguna untuk proses metabolisme, kolesterol untuk membungkus jaringan saraf, meliputi sel dan sebagai pelarut vitamin. Pada anak-anak, kolesterol dibutuhkan untuk mengembangkan jaringan otak (Wiryowidagdo dan Sitanggang, 2003). Resorpsi kolesterol dari usus hanya terjadi bila ada cukup asam empedu yang berasal dari embedu untuk mengemulsikannya. Tergantung dari susunan makanannya antara lain jumlah kolesterol, lemak hewani dan serat nabati setiap hari dapat diserap sebanyak 200-600mg kolesterol. Di samping itu, tubuh

33

terutama hati membentuk 700-1000 mg kolesterol sehari untuk memenuhi kebutuhannya (Tjay dan Rahardja 2007). Biosintesis kolesterol dibagi menjadi lima tahap yaitu: 1) Asam Mevalonat, yang merupakan senyawa enam karbon disintesis dari asetil-KoA. 2) Isoprenoid dibentuk dari mevalonat melalui pelepasan CO2. 3) Enam unit isoprenoid mengadakan kondensasi untuk membentuk senyawa-antara skualena. 4) Skualena mengalami siklisasi untuk menghasilkan senyawa steroid induk yaitu lanosterol. 5) Kolesterol dibentuk dari lanosterol melewati beberapa tahap selanjutnya termasuk pelepasan tiga gugus metil (Mayes dkk, 1997) Pengaturan sintesis kolesterol dilakukan di dekat awal lintasan yakni pada tahap HMG-KoA reduktase. Dalam hati terdapat mekanisme dimana HMG-KoA dihambat oleh mevalonat. Karena penghambatan langsung enzim tersebut oleh kolesterol tidak dapat diperagakan, kolesterol (atau metabolitnya, misal sterol teroksigenasi) dapat berkerja melalui represi sintesis enzim reduktase yang baru atau dengan memicu sintesis enzim yang menguraikan enzim reduktase yang ada. Sintesis kolesterol juga dihambat oleh LDL-kolesterol reduktase yang ada. Sintesis juga bisa dihambat oleh LDL-kolesterol yang diambil melalui reseptor LDL (reseptor E, apo B-100). Variasi diurnal terdapat sejumlah efek pada aktivitas reduktase yang terjadi lebih cepat daripada yang dapat dijelaskan hanya oleh perubahan pada kecepatam sintesis protein. Pemberian hormon insulin dan hormaon tiroid meningkatkan aktivitas HMG-KoA reduktase, sedangkan hormon glukagon atau glukokortiroid menurunkannya. Enzim tersebut terdapat dalam bentuk aktif maupun inaktif secara reversibel dapat dimodifikasi oleh mekanisme

34

fosforilasi-defosforilasi, dimana sebagian diantaranya mungkin bergantung pada cAMP dan dengan demikian bereaksi segera terhadap hormon glukagon (Mayes dkk, 1997). Mekanisme biosintesis kolesterol dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Biosintesis kolesterol (Mayes, 1997).

35

Biosintesis kolesterol dari asetat diringkas dari Gambar 5, enam asam mevalonat berkondensi untuk membentuk skualen yang kemudian dihidrolis dan diubah ke kolesterol. Panah putus-putus menunjukkan inhibisi umpan balik oleh kolesterol menghambat sintetisnya sendiri dengan menghambat HMG-koA reduktase, enzim yang mengubah β-hidroksi-βmetil glutaril koA ke asam mevalonat sehingga bila dimasukkan kolesterol diet tinggi maka sintesis hati menurun serta sebaliknya (Ganong, 1995).

6.

Hiperlipidemia Hiperlipidemia adalah meningkatnya kadar kolesterol dan atau trigliserida.

Hiperlipidemia didefinisikan sebagai serum kolesterol minimal 200mg/dl atau serum trigliserida minimal 150 mg/dl (Mihardja, 1999). Hiperlipidemia (lebih tepat hiperlipoproteinemia) adalah keadaan dimana kadar lipoprotein meningkat. Dapat dibedakan dua jenis, yakni: a. b. Hiperkolesterolemia dengan peningkatan kadar LDL (dan kolesterol total) Hipertrigliseridemia dimana kadar trigliserida meningkat (Tjay dan Rahardja, 2007) c. Hiperlipidemia, kelebihan lipid dalam plasma ini sinonim dengan hiperlipoproteinemia, istilah yang lebih memberikan gambaran mengenai abnormalitas metabolik yang sesungguhnya karena lipid plasma sebenarnya ada dalam bentuk kompleks lipoprotein. hiperlipoproteinemia ini mungkin primer atau sekunder, akibat diet, penyakit, atau pemberian obat. Bentukbentuk hiperlipoprotein tertentu dihubungkan dengan naiknya kejadian

36

aterosklerosis, proses patologis yang menyebabkan penyakit jantung koroner dan penyakit-penyakit serius lainnya (Montgomery dkk, 1983). Mekanisme terjadinya hiperlipidemia ada bermacam-macam yaitu a) Akibat lemak yang umumnya tinggi kolesterol, lemak jenuh dan kalori berlebihan. b) Pengaruh lingkungan, gaya hidup dan alkohol. c) Karena faktor genetik seperti pada hiperlipidemia primer (Setiati, 2009). Dalam kebanyakan hal hiperlipidemia bersifat familiar dengan faktor keturunan dan jarang sudah terdapat sejak lahir. Gejala-gejala yang timbul sangat khas yaitu xhantomata yaitu bercak-bercak kuning (Yunani xantos) di atas kulit khususnya pada kelopak mata. Juga keluhan-keluhan perut, pankreatis dan aterosklerosis (Tjay dan Rahardja, 2007). Pengobatan hiperproteinemia didasarkan karena adanya hubungan hiperlipidemia dengan aterosklerosis (koroner dan perifer), pankreatis akut (dengan hipergliseridemia) dan tendonitis serta xanthom (kosmetik). Pengobatan hiperkolesterolemia terutama ditujukan pada pasien dengan riwayat aterosklerosis premature dalam keluarga dan dengan adanya faktor resiko lainnya seperti diabetes mellitus, hipertensi dan merokok. Pengobatan ini meliputi penyelusuran jenis kelamin, lipid pasien, lalu pemberian obat sesuai dengan keadaan patofisiologis penyakit (Ganiswara, 1995). Ada berbagai macam klasifikasi dislipidemia (tingginya kadar kolesterol dan trigliserida), diantaranya klasifikasi fenotipik dan klasifikasi patogenik.

37

a. 1)

Klasifikasi Fenotipik Klasifikasi NHLBI Klasifikasi ini biasa disebut dengan klasifikasi Frederickson yang

membagi hiperlipoproteinemia atas dasar fenotip plasma. Klasifikasi ini merupakan alat bantu yang penting karena meliputi berbagai kelainan metabolisme yang berhubungan dengan metabolisme yang berhubungan dengan hiperlipoproteinemia, mengidentifikasi jenis lipoprotein yang meningkat dengan gejala klinik serta bermanfaat dalam menentukan pengobatan tanpa memandang etiologi penyakit. Kekurangannya adalah sistem ini cenderung menggabungkan jenis penyakit yang secara etiologi berbeda kedalam satu kelas penyakit (Ganiswara, 1995). Klasifikasi Frederickson ini dapat dilihat pada Tabel II. Tabel II. Klasifikasi Hiperlipoproteinemia Primer Frederickson (Ganiswara, 1995)
Peningkatan utama dalam pidana Tipe Lipoprotein Kilomikron LDL VLDL, LDL IDL, Kiloremnants VLDL VLDL, Kilomikron Lipid Trigliserid eksogen Kolesterol Trigliserida, kolesterol Kolesterol, Trigliserida Trigliserida, endogen Trigliserida, endogen Resiko aterosklerosis Rendah Sangat Tinggi

Klinis Hati dan limpa nyeri perut Xantoma, Aerus cornea Aerus Xanthelasma senilis,

I IIA IIB III IV V

Sangat Tinggi Sangat Tinggi Tinggi Rendah

Xanthoma, Nyeri perut Xanthoma, Lipomaretinalis Nyeri perut, pankreatis, Hati & limpa

38

2) Klasifikasi EAS (European Atherosclerosis Society) a) Kadar kolesterol darah meningkat (hiperkolesterolemia) bila kadar kolesterol total ≥ 240 mg/dl b) Kadar trigliserida darah meningkat (hipertrigliseridemia) bila ≥ 200 mg/dl c) Kadar kolesterol dan trigliserida darah keduannya meninggi (dislipidemia campuran) (Dalimartha, 2003). b. Klasifikasi Patogenik Klasifikasi ini ada dua macam yaitu dislipidemia primer dan sekunder. 1) Dislipidemia Primer Dislipidemia primer dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu dislipidemia poligenik dan dislipidemia monogenik. Contoh kelainan dislipidemia poligenik diantaranya sebagai berikut: a) Hiperkolesterolemia poligenik (Common Hipercholesterolemia) Lebih dari 90% penderita hiperkolesterolemia disebabkan oleh jenis ini. Kadar kolesterol biasanya meningkat ringan atau sedang, tanpa adanya benjolan atau bercak berwarna kekuning-kuningan pada kulit yang disebabkan oleh penimbunan lemak setempat (xanthoma). Penyebab tingginya kolesterol LDL belum diketahui, tetapi beberapa faktor dianggap berperan seperti adanya gangguan ringan pada fungsi reseptor LDL, berkurangnya katabolisme kolesterol, dan penyerapan kolesterol yang meningkat. b) Hiperkolesterol Familial (FH) Kelainan ini bersifat autosomal dominan, ada yang bentuk homozigot dan ada yang heterozigot. Kolesterol-LDL meningkat akibat berkurangnya ataupun

39

ketidakmampuan reseptor LDL untuk berfungsi dengan baik dan penderitanya pasti mendapat PJK. Pada bentuk homozigot, kadar kolesterol total berkisar 6001000 mg/dl tanpa dapat diobati. Jenis ini jarang ditemukan karena penderitanya sudah mendapat serangan jantung dan mati mendadak pada usia muda akibat aterosklerosis yang luas. Pada FH heterozigot, kadar kolesterol total berkisar 350600 mg/dl karena reseptor LDL masih bekerja sebagian. Kadang terdapat benjolan xanthoma di tendon dan lingkaran arkus senilis di mata. Penderita pada umumnya mendapat infark jantung pada usia sekitar 40-50 tahun. Diagnosis ini perlu dipikirkan bila dijumpai kolesterol total dengan nilai > 260 mg/dl pada usia < 16 tahun atau > 300 mg/dl pada orang dewasa (Dalimartha, 2003). 2) Dislipidemia Sekunder Dislipidemia sekunder terjadi akibat mengidap penyakit tertentu. Dislipidemia sekunder juga bisa terjadi akibat infeksi, stress, dan kurang olah raga. Berbagai macam obat juga dapat meningkatkan kadar lemak darah, misalnya tiazid yang digunakan untuk peluruh kencing, retinoid, glukokortikoid, penyekat beta, progesterone dan androgen. Perempuan yang sudah mati haid (pascamenopouse) bila menggunakan terapi estrogen dapat menurunkan kadar kolesterol total sebesar 15% dan meningkatkan kolesterol HDL 15% tetapi dapat meningkatkan kadar trigliserida. Pada dislipidemia sekunder, resiko terjadi PKV (penyakit kardiovaskuler) mungkin kurang bila dibandingkan dengan dislipidemia primer karena peningkatan kadar lemak lebih pendek. Namun, pada hipertrigliseridemia sekunder yang berat sering menyebabkan panreatitis akut. Dislipidemia sekunder

40

merupakan kelainan yang reversible. Penanggulangan penyakitnya atau menghentikan pemakaian obat-obatan tadi akan memperbaiki dislipidemianya (Dalimartha, 2003). Arteriosklerosis adalah salah satu penyakit yang ditandai dengan penebalan dan hilangnya elastisitas dinding arteri. Dikenal tiga bentuk arteriosklerosis yaitu aterosklerosis, arteriosklerosis monokeberg dan

arteriolosklerosis. Aterosklerosis adalah bentuk arteriosklerosis yang paling umum ditemukan, ditandai dengan adanya aterom pada bagian intima arteri yang berisi kolesterol, zat lipoid dan lipofag. Pembuluh darah yang terkena arteri besar dan sedang yaitu pembuluh seberal, vertebral, koroner, renar, aorta, dan pemnbuluh di tungkai (Ganiswara, 1995). Apabila kadar total kolesterol, LDL, dan trigliserida dalam darah tinggi dalam waktu yang berkepanjangan, maka kelebihan LDL dan trigliserida yang melayang-layang di dalam darah menyusup ke dalam dinding lapisan dalam arteri (faity streak). Peristiwa ini merupakan awal dari terjadinya aterosklerosis. Di lokasi tersebut endapan cairan pekat yang terdiri dari kolesterol, lemak, kapur, dan lain-lain menggelembung, makin lama makin banyak yang disebut cholesterol plaque atau plak. Karena penggelembungan ini, maka dinding atau tutup plak menjadi rentan untuk pecah. Bila hal tersebut terjadi, maka plak menumpahkan isinya ke dalam arteri. Keadaan diatas memicu berkumpulnya platelet yaitu komponen darah yang berfungsi untuk menutup luka. Berkumpulnya platelet dan zat-zat lain di suatu titik arteri dapat mendorong penggumpalan atau clotting dan

41

menyumbat darah. Penyumbatan pada arteri koroner itu disebut coronary thrombosis (Soeharto, 2001). Peristiwa penyumbatan darah arteri koroner secara total atau okulasi (occulation) karena pecahnya plak inilah yang merupakan penyebab paling sering terjadinya serangan jantung atau stroke. Bila penyumbatan terjadi pada arteri ke otak, bisa menyebabkan stroke (Soeharto, 2001). Timbulnya aterosklerosis berawal dari tingginya kolesterol-LDL akibat kurangnya pembentukan reseptor LDL. Hal ini bisa terjadi akbat kelainan genetik seperti hiperkolesterolemia familial atau jenuhnya reseptor LDL sehubungan konsumsi makanan yang terlalu banyak mengandung kolesterol tinggi (Dalimartha, 2003). Komplikasi terpenting dari aterosklerosis adalah penyakit jantung koroner (PJK), gangguan pembuluh darah serebral dan gangguan pembuluh darah perifer. Penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian tersbesar di negara yang telah maju dan makin sering ditemukan di negara kita. Faktor-faktor yang merupakan predisposisi untuk timbulnya penyakit jantung koroner adalah hiperlipidemia, hipertensi, kebiasaan merokok, diabetes mellitus, kurang gerak, keturunan dan stress (Ganiswara, 1995). Aterosklerosis juga dapat menimbulkan penyakit pembuluh darah perifer seperti caudicatio intermittent dan impotensi (Dalimartha, 2003).

42

7.

Obat Antilipemika Obat-obat antilipemika adalah obat-obat yang dapat menurunkan kadar

kolesterol dan atau trigliserida darah yang tinggi. Obat-obat yang kini tersedia adalah sebagai berikut: a. Damar Penukar Ion (Damar pengikat Asam Empedu) Khususnya menurunkan LDL (tipe IIA) dan kolesterol total, dengan ratarata 20% bersama nikotinat sampai 40%, tidak bekerja terhadap HDL, trigliserida dan VLDL dapat dinaikkan. 1) Kolestiramin: Questran Secara kimiawi damar penukar ion ini adalah polistiren dengan gugusan NH4 kuarterner, yang tidak direabsorbsi oleh usus. Berkhasiat menurunkan LDL dan kolesterol total, berdasarkan pengikatan garam empedu dalam usus halus menjadi kompleks yang dikeluarkan melalui tinja. Kadar asam empedu dalam plasma menurun dan hati di stimulasi untuk meningkatkan sintesa asam empedu dari kolesterol. Efeknya adalah turunnya LDL rata-rata 25%. Kegunaannya, pada hiperkolesterolemia tipe IIA, sedang pada tipe IIB biasanya kombinasi dengan klofibrat karena tidak efektif terhadap VLDL. Namun bila dalam waktu 2-3 bulan hasilnya kurang baik, terapi hendaknya dihentikan (Tjay dan Rahardja, 2007). 2) Kolestipol: Colestid Penukar ion ini dengan rumus kopolimer triamin memiliki khasiat dan efek samping yang sama dengan kolestiramin, perbedaaannya adalah tidak berbau dan tanpa rasa. Digunakan pada hiperkolesterolemia dan pada intoksikasi

43

digitoksin. Pada penggunaan terus-menerus, kadar kolesterol dapat meningkat. Kombinasinya dengan nikotinat dapat menurunkan kolesterol sampai 45% (Tjay dan Rahardja, 2007). b. Asam Nikotinat dan Acipimox Terutama menurunkan kadar trigliserida dan VLDL, efeknya terhadap kolesterol total dan LDL lebih ringan. Berhuubng efek sampingnya yang tidak enak (vasodilatasi pembuluh muka, flushing) khususnya dipakai sebagai obat tambahan pada damar dan fibrat. 1) Asam nikotinat: niacin Asam piridin-3-karbonat ini berkhasiat menurunkan LDL dan VLDL, sedangkan HDL dinaikkan. Mekanisme kerjanya diperkirakan adalah

dihambatnya sintesa LDL dan VLDL. Pembebasan asam lemak (lipolysis) dari trigliserida jaringan dihambat pula, sehingga dalam hati tidak tersedia cukup asam lemak bebas untuk sintesa lipida dan lipoprotein. Dalam tubuh, derivat ini diubah menjadi nikotinamid. Penggunaannya pada hiperlipidemia tipe II, III, IV, dan V, juga dikombinasi dengan obat-obat lain (Tjay dan Rahardja, 2007). 2) Acipimox: Olbetam, Nedios Derivat pirazinkarbonat ini adalah analog dari nikotinat dengan khasiat dan efek samping yang sama. Selain itu, berkhasiat menghambat pembebasan asam lemak dari trigliserida, juga menstimulasi lipoprotein lipase di jaringan lemak, yang berakibat percepatan perombakan VLDL dan trigliserida. Acipimox terutama digunakan pada hiperlipidemia tipe IIB dan IV.

44

c.

Fibrat Berkhasiat menurunkan trigliserida dan VLDL dengan kuat, kolesterol

total hanya sedikit. LDL dapat diturunkan pula, HDL dinaikkan sedikit, kecuali gemfibrozil yang menaikkan HDL dengan kuat. Obat-obat ini dapat menurunkan secara efektif kadar trigliserida yang tinggi berdasarkan penghambatan pemasukan kilomikron dari usus ke darah dan aktivasi proteinlipase, juga

digunakan pada HDL campuran. 1) Klofibrat Ester butirat ini berkhasiat menurunkan kadar VLDL dan trigliserida berdasarkan stimulasi aktivitas lipoproteinlipase sehingga perombakkan dan ekskresi trigliserida dan kolesterol dipercepat. Maka, zat ini akan sangat efektif untuk menurunkan kadar trigliserida, tetapi kerjanya terhadap kolesterol (LDL) lebih ringan, karena umumnya penurunan VLDL disertai kenaikan LDL. Digunakan pada trigliserida yang meningkat (Tipe III, ada kalanya tipe IIB dan IV). Resorbsinya dalam usus lambat tetapi lengkap, di dalam hati segera dihidrolisa menjadi metabolit aktif. Ekstresinya berlangsung dengan kemih sebagau glukonida (Tjay dan Rahardja, 2007). a) Simfibrat (Cholesolvin) merupakan senyawa dari dua molekul klofibrat dengan khasiat, sift, dan penggunaan yang sama b) Fenofibrat (Lipanthyl) adalah derivat dengan sifat dan penggunaan yang sama, tetapi khasiatnya lebih kuat c) Bezafibrat (Bezalip/retard) adalah derivat dengan sifat dan penggunaan sama pula (Tjay dan Rahardja, 2002).

45

2) Gemfibrozil Derivat asam fibrat ini terutama berkhasiat menurunkan kadar trigliserida (VLDL) dan kolesterol (LDL), sedangkan kadar HDL dinaikkan. Mekanisme kerjanya diperkirakan berdasarkan penghambatan produksi VLDL dan stimulasi lipase untuk merombak trigliserida. Digunakan terutama pada

hipertrigliseridemia, juga pada hiperlipidemia tipe IIB, III, IV, dan V, ada kalanya bersama obat-obat lain (Tjay dan Rahardja, 2002). d. Statin Statin berkhasiat menurunkan dengan kuat kolesterol total, LDL, trigliserida dan VLDL lebih sedangkan HDL dinaikkan sedikit. Efeknya adalah berupa peningkatan kuosien HDL. Dapat dikombinasi dengan damar. Zat-zat statin bila dikombinasikan dengan fibrat dapat meningkatkan resiko akan suatu gangguan fatal (rhabdomylysis) yang ditandai nyeri otot mendadak, gejala-gejala flu atau urin gelap. Obat-obat terbaru dari golongan statin (penghambat reduktase) adalah lovastatin, simvastatin, paravastatin, flustatin dan artovastatin. Simvastatin dan pravastatin diturunkan dari produk fermentasi jamur, sedangkan zat-zat lainnya adalah derivat sintetis. Di samping blockade sintesa kolesterol, statin juga meningkatan jumlah reseptor LDL. Mekanisme kerjanya berdasarkan

penghambatan enzim HMG-CoA-reduktase yang berperan dalam hati untuk pengubahan HMG-Co-A menjadi asam mevalonat. Melalui langkah lain akhirnya menjadi kolesterol. Penggunaannya pada hiperkolesterolemia primer dan familial

46

untuk mengurangi resiko dan prevensi PJK (Penyakit Jantung Koroner) (Tjay dan Rahardja, 2007). 1) Simvastatin adalah ester naftyl dari asam butirat, dapat menurunkan LDL dan kadar kolesterol total dalam 2-4 minggu, VLDL dan trigliserida juga dapat diturunkan, sedangkan HLD dinaikkan sedikit. Pada umumnya, efek sudah nyata setelah 2 minggu dan maksimal sesudah 1 bulan. Khasiat menurunkan LDLnya sangat kuat, tetapi lebih lemah dari atorvastatin. 2) Pravastatin adalah derivat naftalen dengan khasiat, efek samping, dan penggunaan sama, dan dikatakan urang mengganggu fungsi hati. 3) Fluvastatin adalah derivat indol dengan fluor yang profil kerja dan penggunaannya sama pula. 4) Artovastatin adalah derivat pyrol terbaru dengan khasiat terkuat dari semua statin (Tjay dan Rahardja, 2007). e. Neomisin Antibiotik ini adalah campuran dari Neomisin A, B, dan C, yang dibentuk oleh jamur Steroptomyces fradiae. Zat-zat A dan B adalah stereoisomer, sedangkan C adalah zat perombakan dari A dan B, menurunkan kolesterol dan LDL dengan jalan mengubah micel dalam rongga usus. Mekanisme kerjanya mungkin sama dengan damar, yakni mengikat asam kolat di duodenum hingga absrobsi kolesterol menurun. Ekskresi asam empedu naik 3-5 kali, hingga depot kolesterol menurun. Efeknya terhadap trigliserida, VLDL, dan HDL bervariasi. Digunakan pada hiperlipidemia primer, misalnya tipa

47

IIA. Adakalanya pada hiperkolesterolemia familial dikombinasikan dengan damar bila obat ini efeknya kurang (Tjay dan Rahardja, 2007). f. Lipoprotein densitas tinggi (HDL, High Density Lipoprotein) Saat ini dikenal 3 jenis HDL yaitu HDL1, HDL2, dan HDL3. HDL1 didapatkan pada hewan dan manusia yang mengkonsumsi diet tinggi kolesterol dan pernah dihubungkan dengan induksi aterosklerosis. Komponen HDL kira-kira sama pada laki-laki dan perempuan sampai pubertas, kemudian menurun pada laki-laki sampai 20% lebih rendah dari pada perempuan. Pada individu dengan nilai lipid yang normal, kadar HDL relative menetap sesudah dewasa (kira-kira 45 mg/dl pada pria dan 54 mg/dl pada wanita). HDL penting untuk membersihkan trigliserid dan kolesterol, dan untuk transport serta metabolisme ester kolesterol dalam plasma. HDL biasanya membawa 20%-25% kolesterol darah. Kadar tinggi HDL2 dan HDL3 dihubungkan dengan penurunan insiden penyakit dan kematian karena aterosklerosis. Mekanisme proteksi HDL terhadap penyakit jantung koroner belum diketahui dengan jelas. HDL berfungsi mengangkut kolesterol dari jaringan perifer ke hati, sehingga penimbunan kolesterol di perifer berkurang. Kadar HDL menurun pada kegemukan, perokok, penderita diabetes yang tidak terkontrol dan pada pemakaian kombinasi estrogen-progestin. HDL secara normal terdapat dalam plasma puasa, tetapi plasma yang didinginkan tetap jernih walaupun HDL terdapat dalam jumlah besar karena HDL lebih kecil daripada LDL (Tjay dan Rahardja, 2007).

48

g.

Bawang Putih Bawang putih memiliki khasiat anti aterogen (menurunkan LDL

menghambat agregasi trombosit, dan menurunkan tekanan darah). Kandungan terpentingnya adalah Aliin (S-allyl-L-cysteinsulfoxide) yang oleh enzim ellinase diubah menjadi zat aktif allicin (diallyl-dithio-sulfoxide). Allicin mampu mengaktifkan sekresi insulin dan sintesa glikogen hati sehingga dapat berkhasiat sebagai hipoglikemis (Tjay dan Rahardja, 2007). h. Minyak Ikan Sediaan minyak ikan bermanfaat dalam pengobatan hipertrigliserida berat. Meskipun demikian kadang-kadang minyak ikan dapat memperburuk

hiperkolesterolemia. Minyak ikan dengan kandungan asam lemak-omega-3 (n-3) EPA dan DHA berkhasiat anti litenis, anti trombotis dan anti hipertensif ringan, serta berfungsi pula sebagai zat tambahan pada pengobatan dan prevensi PJP. Dari banyak studi dengan hasil bertentengan dapat di simpulkan bahwa EPA dapat menurunkan kadar trigliserida dengan meningkatkan kadar trigliserida sampai dengan 25%, sedangkan kadar LDL dan HDL di naikkan sampai 3%., sehingga kadar kolesterol total tidak berubah (Tjay dan Raharja, 2007). i. Serat Nabati Serat nabati terdiri dari polisakarida yang tidak dapat dicerna oleh flora usus dan tidak diserap. Yang terpenting adalah selulosa, hemiselulosa, lignin, pektin, dan jenis gom. Banyak terdapat sebagai dinding sel dari jenis gandum, sayuran dan buah-buahan. Berkhasiat antilipemis karena menyerap asam empedu, kemudian dikeluarkan lewat tinja. Tanpa asam empedu dalam plasma menurun

49

dan hati distimulasi untuk meningkatkan sintesa asam empedu dari kolesterol, sehingga kadar kolesterol dalam plasma turun (Tjay dan Rahardja, 2007). j. Vitamin C Vitamin C dilaporkan berdaya antisklerotik karena dapat memobilisasi kolesterol dari arteri dan mengangkutnya ke hati, vitamin C menstimulasi perombakan kolesterol menjadi asam empedu. Pada manusia, dosis dari 500 mg sehari dikatakan efektif untuk menurunkan kolesterol plasma (Tjay dan Rahardja, 2007).

8.

Simvastatin Ester-naftyl dari asam butirat ini dapat menurunkan kadar LDL dan

kolesterol total dalam 2-4 minggu. VLDL dan trigliserida juga dapat diturunkan sedangkan HDL dinaikkan sedikit. Pada umumnya efeknya sudah setelah 2 minggu dan maksimal sesudah 1 bulan. Simvastatin dan pravastatin diturunkan dari produk fermentasi jamur. Dapat menurunkan LDL 30-50%. Resorpsinya dari usus baik, tetapi mengalami FPE (First Pass Effect) besar atau dimetabolisme berlebihan di dalam hati sehingga obat yang sampai ke sirkulasi sistemik hanya sedikit. Di dalam hati simvastatin inaktif segera diubah menjadi suatu metabolit aktif. Ekskresinya berlangsung 69% melalui empedu dan tinja serta 13% lewat kemik. Metabolit utamanya berupa β-asam hidroksi simvastatin. Simvastatin merupakan prodrug paling poten untuk menghambat HMG-CoA reduktase. Data pada hewan menunjukkan bahwa simvastatin diserap melalui usus halus.

50

Simvastatin dan β-asam hidroksi simvastatin diikat protein plasma sebesar 95% pada darah manusia. Struktur kimia dari simvastatin dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Struktur simvastatin (Ganiswara, 1995) Mekanisme kerjanya berdasarkan penghambatan enzim HMG-CoA reduktase, yang berperan essensial dalam hati untuk mengubah HMG-CoA (hidroximetilglutaril-coenzim A) menjadi asam mevalomat. Melalui langkah lain akhirnya terbetuk kolesterol.

B. Penelitian yang Relevan Temu giring (Curcuma heyneana Val.) secara ilmiah telah dibuktikan dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Ekstrak air rimpang temu giring secara oral dengan dosis 2 g/kg. BB selama 14 hari mampu menurunkan kadar kolesterol total secara bermakna dengan P < 0,02. Khasiat temu giring pada dosis dengan cara ini sama dengan soya lesitin yang diberikan dengan dosis yang sama, hanya saja soya lesitin lebih bermakna dengan P < 0,01 (Kuswinarti, 1994). Selain itu juga dari penelitian yang berjudul “Pengaruh Pemberian Perasan Rimpang

51

Temugiring (Curcuma Heyneana Val. Terhadap Kadar Kolesterol Dalam Serum Darah Kelinci” oleh Oktavianus (1994), hasil penelitian menunjukkan bahwa perasan rimpang temu giring dengan dosis 20%, 40%, 60% dapat menghambat peningkatan kadar koleslerol secara signifikan (P < 0,05) dibandingkan dengan kelompok kontrol. Diduga perasan rimpang mampu menghambat peningkatan kadar kolesterol serum darah karena dapat menghambat absorbsi kolesterol yang berasal dari luar (eksogen) atau meningkatkan ekskresi kolesterol melalui feses.

C. Kerangka Berfikir Salah satu cara untuk menurunkan kadar kolesterol darah agar diperoleh kadar yang normal adalah menggunakan antihiperkolesterolemia.

Antihiperkolesterolimia adalah obat yang digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol darah. Antihiperkolesterolimia dapat berasal dari senyawa kimia sintetik, hormon maupun bahan alam. Bahan alam yang dapat digunakan sebagai antihiperkolesterolimia adalah temu giring. Pemanfaatan temu giring sebagai antihiperkolesterolimia didukung oleh adanya pustaka yang menyebutkan bahwa dalam temu giring mengandung tanin dan kurkumin (Ditjen POM, 1989). Berdasarkan sifatnya tanin dan kurkumin dapat tersari dalam pelarut semi polar yaitu etil asetat. Oleh karena ini, peneliti dalam penelitian ini menggunakan pelarut etil asetat. Senyawa tanin yang

terkandung dalam temu giring dapat mengendapkan mukosa protein yang ada di dalam permukaan usus halus sehingga dapat mengurangi penyerapan makanan. Dengan demikian proses pengikatan lipid dan kolesterol dapat dihambat. Selain

52

tanin, kurkumin yang terkandung dalam temu giring juga telah terbukti dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Kurkumin merupakan senyawa antioksidan yang mampu menghambat berbagai reaksi oksidasi, sehingga senyawa ini diharapkan mampu menghambat proses oksidasi pada karbon ke-3 dari farnesil pirofosfat sebelum terjadi siklisasi skualen menjadi lanosterol yang akhirnya terbentuk kolesterol.

D. Hipotesis Hipotesis penelitian ini adalah fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring dapat mencegah kenaikan kadar kolesterol darah pada tikus putih jantan galur Wistar yang diberi diet kolesterol tinggi.

BAB III METODE PENELITIAN
A. Subjek Penelitian Penelitian ini menggunakan tikus putih jantan galur Wistar dengan berat badan 150–200 g berumur kurang 2-3 bulan yang diperoleh dari Laboratorium Farmakologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

B. Variable Penelitian 1. Variabel bebas meliputi dosis pemberian fraksi etil asetat ekstrak metanol rimpang temu giring. 2. 3. Variabel terpengaruh meliputi kadar kolesterol darah setelah perlakuan. Variabel terkendali meliputi pemberian pakan standard dan diet kolesterol tinggi, jenis kelamin, berat badan, usia dan asupan makan tikus serta metode pengukuran kadar kolesterol darah . C. Bahan dan Alat 1. a. Bahan Bahan Uji Bahan yang digunakan didalam penelitian ini adalah rimpang temu giring (Curcuma heyneana Val). b. Senyawa pembanding Senyawa yang digunakan sebagai pembanding (kontrol positif) adalah simvastatin. 53

54

c.

Pakan Hewan Uji Makanan standard adalah pakan BR II. Adapun komposisi makanan standard BR II Comfeed (PT. Jafra Comfeed Indonesia) dapat dilihat pada Tabel III berikut: Tabel III. Komposisi bahan pakan hewan uji BR II. No 1 2 3 4 5 6 7 Air Protein kasar Lemak kasar Serat kasar Abu Kalsium Fosfor Nama maks 12 % min 19 % min 4 % maks 5 % maks 6,5 % 0,9 – 1,1 % 0,7 – 0,9 % + + Komposisi

8aa Coccidiostat 9 Antibiotik

d. Makanan penginduksi kolesterol Makanan penginduksi ini berfungsi untuk meningkatkan kadar kolesterol hewan terdiri dari lemak sapi 5 bagian, kuning telur 10 bagian dan air hingga 100 bagian. e. Bahan untuk pengukuran kadar kolesterol Bahan yang digunakan untuk pengukuran kadar kolesterol yaitu: reagen kit dari Diagnostic System International (Diasys). Adapun komposisi reagen kit ini dapat dilihat pada Tabel IV berikut:

55

Tabel IV. Komposisi bahan reagen kit dari Diagnostic System International (Diasys) No 1 2 3 4 5 6 7 Nama Good’s Buffer pH 6,7 Phenol 4-Aminoantipirine Cholesterol esterase Choesterol oksidase Peroxidase Standard 50 mmol/L 5 mmol/L 0,3 mmol/L ≥ 200 U/L ≥ 50 U/L ≥ 3 KU/L 200 mg/dl (5,2 mmol/L) Komposisi

2.

Alat Digunakan blender, mortir, stamper, timbangan analitik, evaporator, kopor

listrik, penangas air, cawan porselen. Alat lain yang digunakan adalah timbangan hewan (OHAUS), lemari es, sentrifugator STAT S-208R, pipet Pasteur, mikropipet, mikrohematokrit, tabung sentrifuga mikro, pipet nerkala, tabung reaksi, effendorf, spektrofotometer visible Shimadzu.

D. Cara Kerja 1. a. Persiapan Sediaan Uji Identifikasi Serbuk Identifikasi tanaman dilakukan di di Laboratorium Biologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta untuk memastikan identitas tanaman tersebut sehingga menghindari kesalahan dalam pengambilan tanaman dan menjaga kemurnian bahan dari tercampurnya dengan tanaman lain.

56

b. Pembuatan Serbuk Temu Giring Bagian tanaman temu giring yang diambil adalah bagian rimpangnya yang sudah tua, dimana proses metabolisme telah sempurna, sehingga diharapkan kandungan zat aktifnya juga maksimal. Rimpang yang telah dipilih dicuci dengan air bersih yang mengalir untuk menghilangkan kotoran, debu, maupun zat-zat kimia seperti insektisida yang mungkin menempel pada permukaan tanaman. Setelah itu ditiriskan dan dianginanginkan kurang lebih 5 jam uintuk mempermudah proses pengeringan. Pengeringan dilakukan dengan menggunakan lemari pengering pada suhu 50’ C selama 24 jam. Setelah itu rimpang temu giring diserbuk. c. Pembuatan Fraksi Etil Asetat Ekstrak Metanol Temu Giring 2,9 Kg rimpang temu giring yang telah diserbuk selanjutnya ditambah pelarut metanol sebanyak 4500 ml dan didiamkan selama 24 jam sambil sesekali digojok. Setelah itu disaring dengan menggunakan kertas saring, filtrat yang diperoleh disimpan dalan kulkas sebagai filtrat 1. Selanjutnya ampas diberi

perlakuan yang sama seperti filtrat 1 hingga diperoleh filtrat 2 dan filtrat 3. Ketiga filtrat kemudian dicampur dan pelarut diuapkan dengan menggunakan evaporator. Proses ini dilakukan hingga diperoleh sebanyak 1/3 volume awal atau didapatkan volume tetap. Kemudian dipartisi dengan n-Heksana menggunakan corong pisah. Ampas dari hasil partisi tersebut dipartisi lagi dengan etil asetat menggunakan corong pisah, kemudian diuapkan sampai kental kemudian ditimbang dan diperoleh fraksi sebanyak 62,25 gram fraksi etil asetat ekstrak metanol atau sebesar 2,15 %.

57

d. Pembuatan Larutan CMC Na 1% Serbuk CMC Na Ditimbang sebanyak 1 gram lalu dimasukkan gelas beker. Larutkan dengan air panas sedikit demi sedikit sambil digerus.sampai homogen, bila perlu dipanaskan hingga terbentuk gel yang jernih. Kemudian ditambahkan aquadest sampai volume 100 ml e. Penetapan Dosis Temu Giring Dosis temu giring yang secara tradisional digunakan oleh masyarakat adalah berkisar 5-20 g/hari. Berdasarkan dosis tersebut, maka dosis yang akan diberikan pada hewan uji adalah 12,5 g/hari 1) Dosis 12,5 g/hari Dosis untuk tikus (200 g) Dosis fraksi etil asetat : 12,5 g x 0,018 : 0,225 g/hari : x 62,25 g

: 5x10-3 g/200 g BB/hari : 5 mg/200 g BB/hari : 25 mg/Kg BB/hari 2) Dosis 25 g/hari Dosis untuk tikus (200 g) Dosis fraksi etil asetat : 25 g x 0,018 : 0,45 g/hari : x 62,25 g

: 10x10-3 g/200 g BB/hari : 10 mg/200 g BB/hari : 50 mg/kg BB/hari

58

3) Dosis 37,5 g/hari Dosis untuk tikus (200 g) Dosis fraksi etil asetat : 37,5 g x 0,018 : 0,675 g/hari : x 62,25 g

: 15 mg/200 g BB/hari : 75 mg/Kg BB/hari f. Pembuatan Suspensi Fraksi Etil Asetat Ekstrak Metanol Temu Giring Larutan pembawa yang digunakan sebagai sebagai pensuspensi adalah CMC Na 1%. Sediaan ini dibuat dengan mensuspensikan fraksi etil asetat temu giring ke dalam larutan CMC Na. Suspensi fraksi etil asetat temu giring dibuat dengan 3 konsentrasi yaitu didasarkan peringkat dosis yang diberikan yaitu 5 mg/200 g tikus, dan 10 mg/200 g tikus dan 15 mg/200 g tikus. g. Pembuatan Pakan Diet Lemak Tinggi Diet kolesterol tinggi diinduksi dengan pemberian diet lemak tinggi dengan kuning telur dan lemak sapi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mauli pada tahun 2005, komposisi 5 bagian lemak sapi, 10 bagian kuning telur dan air sebagai bahan pembawanya hingga 100 bagian dapat disimpulkan diet kolesterol tinggi ini dapat menginduksi kenaikan kadar kolesterol darah pada hewan uji. Pembuatan emulsi ini dimulai dengan menimbang semua bahan yaitu 10 g kuning telur dan 5 g lemak sapi. Lemak sapi dipanaskan hingga meleleh kemudian ditambahkan dengan kuning telur dan diaduk hingga homogen. Setelah itu, tambahkan air 15 ml dan diaduk cepat hingga diperoleh korpus emulsi dan ditambahkan sisa air hingga 100 ml. Pembuatan pakan diet lemak tinggi ini dilakukan setiap hari selama dua minggu perlakuan diet lemak tinggi karena

59

apabila dibuat sekaligus pakan menjadi tengik dan berjamur sehingga dikhawatirkan tikus tidak akan memakannya (Mauli, 2005). h. Pembuatan Suspensi Simvastatin Timbang 25 mg simvastatin kemudian ditambah dengan larutan CMC Na 0,1 % hingga 250 ml (konsentrasi 0,1 mg/ml) Penentuan jumlah suspensi simvastatin yang akan diberikan Dosis simvastatin untuk manusia Dosis untuk tikus : 10 mg/hari : 10 mg/hari x 0,018 : 0,18 mg/hari ( 200 g BB ) : 0,9 mg/kg BB Volume pemberian obat setiap hari, untuk 200 g tikus :

= 1,8 ml

2. a.

Perlakuan Terhadap Hewan Uji Pengelompokan Tikus yang dijadikan subyek penelitian dikelompokan menjadi 7 kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 6 tikus. Kelompok subyek penelitian: Kelompok 1 : diberi pakan standard Kelompok 2 : diberi pakan standard + diet kolesterol tinggi Kelompok 3 : diberi pakan standard + diet kolesterol tinggi + larutan CMC 0,1%

60

Kelompok 4 : diberi pakan standard + diet kolesterol tinggi + simvastatin 0,9 mg/Kg BB Kelompok 5 : diberi pakan standard + diet kolesterol tinggi + fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring 25 mg/Kg BB Kelompok 6 : diberi pakan standard + diet kolesterol tinggi + fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring 50 mg/Kg BB Kelompok 7 : diberi pakan standard + diet kolesterol tinggi + fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring 75 mg/Kg BB b. Tikus diadaptasikan selama satu minggu ada tempat percobaan sebelum digunakan untuk penelitian dengan diberi cukup makan dan minum aquades ad libitum c. d. Tikus ditimbang dan diambil darahnya dan ditetapkan kadar kolesterolnya. Tikus ditimbang dan diberi perlakuan sesuai dengan kelompoknya selama 2 minggu. e. Setelah 14 hari perlakuan, darah tikus diambil untuk pengkuran kadar kolesterol total. f. Setiap kali akan diambil darahnya, tikus dipuasakan terlebih dahulu 12-18 jam, tetapi tetap diberi minum ad libitum. Pengambilan darah menggunakan mikrohematokrit pada mata bagian sinus orbitalis.

61

Skema jalannya penelitian 42 ekor tikus jantan

Bagi menjadi 7 kelompok

Diadaptasikan selama 7 hari Dipuasakan 12-18 jam Diambil darah ± 3 cc, tetapkan kadar kolesterol total

Beri perlakuan sesuai kelompok selama 14 hari Puasakan 12 -18 jam Ambil darah tetapkan kadar kolesterol

Analisa statistik Gambar 7. Diagram alur jalannya penelitian

3. a.

Penetapan kadar kolesterol Preparasi sampel darah Darah diambil ± 3 cc dari tikus melalui sinus orbitalis dengan menggunakan mikrohematokrit. Selanjutnya disentrifungsi selama 15 menit dengan kecepatan 4000 rpm. Bagian jernih (serum) diambil 10 µl dan digunakan untuk analisis.

b. Penetapan kadar kolesterol Pemeriksaan kadar kolesterol total serrum darah yaitu dengan meggunakan metode Enzimatic Photometric Test CHOD-PAP (Cholesterol Oxidase Phenol Aminoantipyrin). Skema preparasi dapat dilihat pada Gambar

62

12. Dengan menggunakan mikropipet, dimasukkan ke dalam tabung reaksi dengan komposisi seperti yang tersaji pada Tabel V. Tabel V. Komposisi larutan sampel, standard dan reagen Jenis Sampel Standard Aquades Reagen Blanko 10 µl 1000 µl Larutan Standard 10 µl 1000 µl Larutan Sampel 10 µl 1000 µl

Masing – masing diaduk, inkubasi selama 20 menit pada suhu 20 – 25º C dan dibaca serapan dalam 60 menit terhadap blanko dengan panjang gelombang 500 nm. Kolesterol total dapat dihitung dengan rumus:

Keterangan:

Ks sp A sp A st K st

: Kadar kolesterol dalam serum subjek penelitian : Serapan pada sampel : Serapan pada standard : Kadar kolesterol standard

Skema preparasi sampel dan penetapan kadar kolesterol Darah diambil ± 2 ml, sentrifugasi selama 15 menit pada 4000 rpm

Serum dihasilkan diambil 10 µl dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan reagen kit sebanyak 1000 µl

Diinkubasikan selama 20 menit pada suhu 20-25 ºC, Serapan dibaca pada panjang gelombang 500 nm Gambar 8. Skema preparasi sampel dan penetapan kadar kolesterol

63

E. Analisis Data Hasil pengukuran kadar kolesterol total yang diperoleh dihitung kadar kolesterol pada dua periode pengambilan darah yaitu sebelum dan sesudah perlakuan. Kemudian dihitung selisih kadarnya antara periode I dan periode II. Dari data selisih kadar tersebut kemudian dilakukan analisis statistik untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan antar kelompok tiap periode. Uji pendahuluan dengan uji kolmogorov-Smirnov untuk melihat normalitasnya dan uji levene umtuk melihat homogenitas variabelnya. Jika didapat hasil distribusi normal dan homogen, maka dilanjutkan uji parametrik denga uji anova satu jalur. kemudian dilanjutkan dengan uji t rancangan t Tukey’s untuk menunjukan ada tidaknya perbedaan yang signifikan antar pasanganan kelompok. Jika data tidak terdistribusi normal dan atau tidak homogen, maka uji dilakukan dengan uji non parametrik. Pada uji statistik parametrik, dilakukan uji Anova satu jalur untuk mengetahui apakah ada perbedaan kadar kolesterol pada tiap-tiap kelompok dan uji t Tukey untuk mengetahui letak perbedaan tersebut. Sedangkan apabila dilanjutkan dengan uji statistik non parametrik maka digunakan uji Kruskal Wallis untuk mengetahui apakah ada perbedaan kadar kolesterol pada tiap-tiap kelompok dan uji Mann Whitney untuk mengetahui letak perbedaan tersebut.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek proteksi fraksi etil asetat ekstrak metanol rimpang temu giring terhadap peningkatan kadar kolesterol tikus putih jantan galur Wistar yang diberi diet kolesterol tinggi. Hewan uji yang digunakan adalah tikus putih jantan galur Wistar umur 2-3 bulan dimana metabolismenya telah sempurna dengan berat badan 150-200 gram. Tikus merupakan salah satu hewan laboratorium yang pembawaannya tenang dan mudah ditangani serta memiliki kesamaan fisiologi dengan manusia. Pada tikus galur Wistar mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi dan merupakan model yang cocok untuk berbagai macam penelitian. Menurut Murwani, et al (2006), tikus putih jantan galur Wistar dapat dipakai sebagai hewan model untuk penelitian yang berhubungan dengan hiperkolesterolemia. Tikus putih jantan galur Wistar juga memiliki sedikit hormon esterogen sehingga kadar kolesterolnya yang tidak terpengaruh variasi hormon. A. Identifikasi Serbuk Rimpang Temu Giring Dalam penelitian ini, langkah kerja yang pertama dilakukan adalah identifikasi terhadap serbuk simplisia yang akan digunakan yaitu serbuk temu giring. Tujuan dari identifikasi adalah memastikan identitas serbuk tersebut sehingga menghindari kesalahan dalam pengambilan tanaman dan menjaga kemurnian bahan dari tercampurnya dengan tanaman lain atau bahan lain. Identifikasi tersebut dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi Fakultas Farmasi

64

65

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Dari hasil identifikasi dapat disimpulkan bahwa serbuk yang digunakan adalah serbuk rimpang temu giring (Curcuma heyneanae Val.) dari familia Zingiberaceae. Surat keterangan dari hasil identifikasi tersebut dapat dilihat pada Lampiran 1.

B. Pembuatan Fraksi Etil Asetat Ekstrak Metanol Temu Giring Bahan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah Temu Giring. Bagian tanaman temu giring yang diambil adalah bagian rimpangnya yang sudah tua, dimana proses metabolisme telah sempurna, sehingga diharapkan kandungan zat aktifnya juga maksimal. Rimpang yang telah dipilih dicuci dengan air bersih yang mengalir untuk menghilangkan kotoran, debu, maupun zat-zat kimia seperti insektisida yang mungkin menempel pada permukaan tanaman. Setelah itu ditiriskan dan dianginanginkan kurang lebih 5 jam uintuk mempermudah proses pengeringan. Pengeringan dilakukan dengan menggunakan lemari pengering pada suhu 50’ C selama 24 jam. Setelah itu rimpang temu giring diserbuk. Bahan yang telah diserbuk sebanyak 2,9 kg selanjutnya ditambah pelarut metanol sebanyak 4500 ml dan didiamkan selama 24 jam sambil sesekali digojok. Setelah itu disaring dengan menggunakan kertas saring, filtrat yang diperoleh disimpan dalan kulkas sebagai filtrat 1. Selanjutnya ampas diberi perlakuan yang sama seperti filtrat 1 hingga diperoleh filtrat 2 dan 3. Ketiga filtrat kemudian dicampur dan pelarut diuapkan dengan menggunakan evaporator. Proses ini dilakukan hingga diperoleh sebanyak 1/3

66

volume awal atau didapatkan volume tetap. Kemudian dipartisi dengan n-Heksana menggunakan corong pisah. Ampas dari hasil partisi tersebut dipartisi lagi dengan etil asetat menggunakan corong pisah, kemudian diuapkan sampai kental dan ditimbang dan diperoleh fraksi sebanyak 62,25 gram fraksi etil asetat dan ekstrak metanol atau sebesar 2,15 %. Fraksi etil asetat yang diperoleh dari ekstrak metanol yang dipartisi setelah sebelumnya terlebih dahulu dipartisi dengan nheksan sehingga diperoleh zat-zat yang larut dalan etil asetat yaitu zat-zat yang bersifat semipolar.

C. Pembuatan Pakan Diet Lemak Tinggi Lemak yang digunakan adalah lemak sapi, yang merupakan lemak hewani yang mengandung asam lemak jenuh yang dapat digunakan untuk meningkatkan kadar lipid plasma. Pemberian pakan sebagai upaya meningkatkan kolesterol ini adalah dengan pemberian lemak sapi yang dibuat dalam bentuk emulsi yang diberikan peroral dengan injeksi jarum oral selain itu diberikan makanan standar BR II. Pembuatan emulsi ini dimulai dengan menimbang semua bahan yaitu 10 g kuning telur dan 5 g lemak sapi. Lemak sapi dipanaskan hingga meleleh kemudian dimasukkan ke dalam mortir hangat dan tambahkan emulgator kuning telur aduk hingga homogen kemudian tambahkan air 15 ml dan diaduk cepat hingga diperoleh korpus emulsi dan ditambahkan sisa air hingga 100 ml. Mortir dijaga agar tetap hangat untuk menghindari lemak sapi mengeras kembali atau melengket pada mortir. Namun sebaiknya mortir jangan terlalu panas karena dapat

67

mengakibatkan kuning telur sebagai emulgator akan menggumpal sehingga akan mengganggu terbentuknya emulsi yang stabil. Selain sebagai emulgator, kuning telur disini juga bisa meningkatkan kadar kolesterol karena mengandung kadar kolesterol yang tinggi. Sediaan emulsi tidak boleh disimpan dalam waktu yang lama karena adanya air dalam sediaan ini dapat mengakibatkan tumbuhnya kapang atau jamur sehingga bisa membusuk dalam penyimpanan oleh karena itu emulsi selalu dibuat baru setiap harinya. Selain itu emulgator yang digunakan kuning telur tidak tahan lama dalam penyimpanan karena mudah membusuk sehingga dikhawatirkan tikus tidak akan memakannya dan memuntahkannya.

D. Induksi Hiperkolesterolemia Keadaan hiperkolesterolemia pada hewan uji diinduksi dengan diet lemak tinggi berupa emulsi lemak sapi yang diberikan sebelum pemberian pakan standar BR II karena apabila diberikan sesudah pemberian makanan BR II dikhawatirkan tikus akan kekenyangan sehingga ketika pemberian emulsi secara oral dengan injeksi oral, tikus akan memuntahkannya. Emulsi lemak sapi merupakan lipid hewani yang mengandung asam lemak jenuh sehingga dapat menaikkan kadar kolesterol sedangkan pada kuning telur mengandung kolesterol yang tinggi yaitu rata-rata 213 mg (Brown, 2000). Pada percobaan yang telah dilakukan oleh Mauli (2005) dibuktikan bahwa pemberian emulsi lemak sapi tersebut sebanyak 2 ml/200 gram tikus secara terus menerus

68

selama 14 hari sudah dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kadar kolesterol total secara signifikan. Pemberian emulsi lemak sapi tersebut dilakukan setiap hari yang diberikan sebelum pemberian pakan BR II. Pemberian diet kolesterol tinggi pada tikus secara oral dapat menyebabkan turunnya nafsu makan nafsu makan tikus selama periode hiperkolesteolemia. Hal tersebut ditandai dengan berkurangnya asupan pakan pada kelompok dengan perlakuan hiperkolesterol apabila dibandingkan dengan kelompok normal. Keadaan hiperkolesterolemia dalam penelitian ini ditandai oleh kadar kadar kolesterol diatas normal diatas normal. Kadar kolesterol serum normal kurang dari 200 mg/100 ml sementara trigliserida kurang dari 125 mg/100ml (Djamhuri 1995). Selama penelitian, telah terjadi kenaikan berat badan tikus pada masing kelompok sebelum perlakuan (periode 1) maupun sesudah perlakuan

hiperkolesterolemia (periode 2). Pengukuran berat badan dilakukan setiap hari selama perlakuan, hal ini dilakukan untuk mengetahui perubahan berat badan selain itu juga untuk menentukan volume pemberian sediaan selama periode 2. Purata berat badan tikus setiap minggunya dapat dilihat pada Tabel VI. Tabel VI. Purata berat badan tikus tiap kelompok pada tiap minggu Purata Berat Badan (gram) Kelompok Minggu I Minggu II Minggu III 1 176,93 ± 12,90 180,07 ± 13,13 183,34 ± 12,87 2 178,47 ± 15,23 185,30 ± 14,80 194,62 ± 15,23 3 180,8 ± 8,70 189,57 ± 8,27 199,83 ± 8,31 4 181,47 ± 7,15 183,47 ± 7,17 186,15 ± 6,97 5 179,37 ± 9,12 185,83 ± 9,48 192,97 ± 9,63 6 178,68 ± 12,42 183,77 ± 12,68 189,68 ± 11,76 7 177,88 ± 8,23 181,82 ± 7,03 186,52 ± 7,27

69

Purata berat badan tikus tiap kelompok pada tiap minggu dapat dilihat pada Gambar 9.

205 Berat Badam (gram) 200 195 190 185 180 175 Minggu I Minggu II Minggu III

Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V kelompok VI Kelompok VII

Gambar 9. Grafik berat badan tikus tiap kelompok pada tiap minggu. Pada Tabel IV dan Gambar 9 menunjukkan adanya peningkatan berat badan pada tiap kelompok perlakuan setiap minggunya. Kenaikan ini terjadi karena tikus mengalami pertumbuhan dan perkembangan selama percobaan walaupun kecepatan pada masing-masing tikus berbeda.(Ganong, 1995). Peningkatan berat badan tikus ini juga dapat disebabkan oleh pemberian diet kolesterol tinggi serta tempat hidup (kandang) yang sempit sehingga kurang memungkinkan untuk bergerak sehingga energi yang diperoleh dari makanan hanya sedikit dipergunakan dan menimbulkan sisa energi akan disimpan dalam tubuh sehingga menyebabkan kegemukan pada hewan uji, karena terjadi ketidakseimbangan penggunaan energi antara yang diperoleh dengan yang digunakan. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pada masing-masing perlakuan antar kelompok dan apakah pemberian diet kolesterol berpengaruh pada peningkatan berat badan tikus selama penelitian maka dilakukan uji statistik

70

terhadap selisih berat badan pada periode 1 dan 2. Pengujian dimulai dengan melakukan perhitungan selisih berat badan antara periode 1 dan periode 2, kemudian data tersebut digunakan dalam analisis statistik. Dari data selisih berat badan hewan uji pada masing-masing kelompok kemudian dilakukan uji Kolmogorov Smirnov untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak. Dari uji ini diperoleh kesimpulan bahwa data terdistribusi normal karena nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,930 atau lebih besar dari 0,05. Uji Levene selanjutnya dilakukan untuk mengetahui homogenitas data. Dari uji didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,150 sehingga dapat disimpulkan bahwa data homogen karena nilai signiifikansinya lebih besar dari 0,05. Uji analisis terhadap berat badan ini dilanjutkan dengan uji parametrik. Hal ini dikarenakan datanya terdistribusi normal dan mempunyai varian yang homogen. Uji parametrik ini dilakukan dengan menggunakan ANOVA satu jalur. Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan antar kelompok dimana terdapat perbedaan jika nilai signifikansi dari uji ini lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan uji ini diketahui bahwa terdapat adanya perbedaan antar kelompok karena nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,000. Selanjutnya untuk mengetahui letak perbedaan tersebut maka dilakukan uji Tukey. Hasil uji t Tukey terhadap berat badan hewan uji secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 5. Berdasarkan uji t Tukey yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa diet kolesterol tinggi dapat meningkatkan berat badan hewan uji, ini disimpulkan dari nilai signifikansi sebesar 0,000 antara kelompok I dengan kelompok II. Selanjutnya pada kelompok II dan kelompok III, dari hasil analisis diketahui

71

terdapat perbedaan tidak bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa larutan CMC Na tidak mempengaruhi peningkatan berat badan hewan uji. Pada kelompok IV apabila dibandingkan dengan kelompok II diperoleh kesimpulan bahwa kedua kelompok tersebut berbeda bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa simvastatin mempunyai pengaruh dalam kenaikan berat badan dimana pada penelitian ini pemberian simvastatin mampu mencegah kenaikan berat badan hewan uji. Hasil analisis pada kelompok VI dan VII diperoleh perbedaan bermakna dengan kelompok II. Hal ini berarti bahwa fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring pada dosis 50 mg/kg BB dan 75 mg/kg BB dapat mencegah kenaikan berat badan hewan uji. Tetapi pada kelompok V, kelompok pemberian fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring dengan dosis 25 mg/kg BB menunjukkan perbedaan tidak bermakna sehingga dapat disimpulkan pada dosis tersebut temu giring tidak mempunyai pengaruh terhadap berat badan hewan uji.

E. Pengambilan Sampel Darah Hewan Uji Pada penelitian ini dilakukan 2 kali proses pengambilan sampel darah hewan uji. Pengambilan darah yang pertama dilakukan pada hari ke-7 setelah adaptasi atau satu hari sebelum perlakuan, sedangkan pengambilan darah ke-2 dilakukan pada hari ke-14 perlakuan, atau hari ke-21 penelitian. Pengambilan darah tikus dilakukan secara sinus orbitalis dengan menggunakan mikrohematokrit karena dengan menggunakan cara ini proses pengambilannya lebih mudah, memungkinkan untuk mendapatkan darah dalam

72

jumlah yang cukup karena pembuluh arteri banyak terdapat di mata, tidak membutuhkan anestesi selain itu juga proses recovery lebih cepat dan lebih beretika. Sebelumnya Tikus dipuasakan terlebih dahulu selama 12 jam dengan tetap diberi air minum dengan maksud mengurangi pengaruh asupan makanan terhadap kadar kolesterol darah. Volume darah diambil kurang lebih 2 ml.

F. Penetapan Kadar Kolesterol Darah Sampel darah yang telah didapatkan melalui sinus orbitalis selanjutnya disentrifugasi untuk mendapatkan serumnya. Serum digunakan disini dengan pertimbangan lebih mudah untuk mendapatkannya dan tidak membutuhkan koagulan. Sentrifugasi dilakukan dengan kecepatan 4000 rpm selama 15 menit hingga diperoleh dual lapisan yang terpisah, bagian atas yang tidak berwarna (bening) merupakan serum. Serum diambil 10µl dengan mikropipet kemudian serum ditambahkan dengan CHOD-PAP 1000µl dan dilakukan vortex agar campuran tersebut homogen kemudian diiinkubasi pada suhu 20-25º C selama 25 menit. Tujuan dari inkubasi ini adalah agar reaksi berjalan stabil pada saat

pembacaan absorbansi sehingga data absorbansi yang diperoleh stabil dan baik. Pengukuran dilakukan dengan spektofotometri karena memiliki karakteristik pengukuran terhadap kolesterol darah sehingga memiliki akurasi yang baik dan memuaskan (Speicher dan Smith, 1997). Kadar kolesterol serum ditetapkan dengan metode enzimatik kolesterol oksidase melalui penambahan reagen kit kolesterol, CHOD-PAP. Metode ini dipilih karena kolesterol dapat bereaksi dengan reagen CHOD-PAP sehingga

73

terbentuk quinoneimine yang merupakan berwarna merah dapat ditetapkan intensitas warnanya dengan menggunakan spektrofotometer visibel dengan panjang gelombang serapan maksimal 500 nm. Intensitas warna yang terbentuk akan berbanding lurus dengan kadar kolesterol darah pada sampel uji. Metode enzimatik kolesterol oksidase ini merupakan salah satu metode yang dapat dilakukan dengan cepat, tidak membutuhkan banyak tindakan sehingga mempunyai presisi yang cukup baik. Menurut Sidhi (1991) dasar dari metode enzimatik kolesterol oksidase terdiri dari 3 tahap. Tahap pertama adalah proses hidrolisis dari ester kolesterol dengan menggunakan enzim kolesterol esterase sehingga dihasilkan kolesterol dan asam lemak. Pada tahap kedua adalah kolesterol akan mengalami oksidasi oleh oksigen dengan bantuan enzim kolesterol oksidase sebagai katalisator, sehingga akan terbentuk peroksida (H2O2) dan kolestenon. Tahap yang terakhir adalah pengukuran penggunaan oksigen maupun peroksida yang terbentuk direaksikan dengan fenol dan 4-aminoantipirin dengan bantuan katalisator peroksidase sehingga akan terbentuk senyawa Quinoneimine yang dapat diukur intensitas warnanya dengan menggunakan spektrofotometer. Mekanisme reaksinya seperti pada Gambar 10.

74

Gambar 10. Mekanisme reaksi penetapan kadar kolesterol (Sonnenwirth dan Jarret, 1980) Dari data absorbansi yang diperoleh kemudian dilakukan penetapan kadar kolesterol total darah hewan uji pada periode I dan periode II. Hasil Purata kadar kolesterol total secara lengkap tersaji pada Tabel VII.

75

Tabel VII. Purata kadar kolesterol (mg/dl) setiap kelompok perlakuan pada periode I dan periode II Kelompok Periode 1 (mg/dl) Periode 2 (mg/dl) Perubahan (mg/dl) I 66,12 ± 4,93 69,38 ± 4,08 - 3,26 II 105,87 ± 5,38 136,55 ± 10,88 + 30,68 III 101,52 ± 12,08 125,56 ± 12,05 - 24,04 IV 126,57 ± 11,15 90,02 ± 14,04 - 36,55 V 56,74 ± 11,49 79,59 ± 9,17 + 22,85 VI 69,55 ± 14,64 73,77 ± 14,68 + 4,22 VII 95, 11 ± 9,09 68,76 ± 8,07 - 26,35 Keterangan: + : Terjadi kenaikan kadar kolesterol dari periode 1 ke periode 2 : Terjadi penurunan kadar kolesterol dari periode 1 ke periode 2 Perubahan kadar kolestrol pada tiap-tiap kelompok perlakuan dapat dilihat pula pada Gambar 11.
160 140 120 Kadar mg/ml 100 80 60 40 20 0 Periode 1 Periode 2 Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII

Gambar 11. Grafik kadar kolestrol tiap kelompok pada periode I dan II. Berdasarkan Tabel VII dan grafik pada Gambar 11 dapat diketahui secara jelas bahwa perbedaan nilai purata kadar kolesterol yang diperoleh dari masingmasing kelompok percobaan bahwa pemberian diet kolesterol tinggi mampu

76

meningkatkan kadar kolesterol. Hal tersebut dapat dilihat dari kenaikan grafik sebelum pemberian diet kolesterol tinggi (periode 1) dibandingkan dengan setelah pemberian kolesterol tinggi (periode 2) pada kelompok II. Pada kelompok III juga terjadi kenaikan kadar kolesterol yang signifikan dari hal ini dapat disimpulkan bahwa CMC Na tidak memiliki efek terhadap peningkatan kadar kolesterol yang dipicu oleh diet kolesterol tinggi. Dari perubahan kadar kolesterol pada kelompok II dan III tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian diet kolesterol tinggi mampu meningkatkan kadar kolesterol darah dan CMC Na tidak mempunyai efek terhadap kadar kolesterol darah. Asumsi ini ditegakkan berdasarkan kelompok I yang hanya terjadi sedikit kenaikan kadar kolesterol darah yaitu sebesar 3,26 mg/dL. Adapun kenaikan yang terjadi pada kelompok I yang tidak diberi diet kolesterol tinggi disebabkan oleh asupan pakan standar BR II yang mengandung kolesterol. Pada kelompok IV, VI dan VII masing mempunyai efek menghambat peningkatan kadar kolesterol yang disebabkan diet kolesterol tinggi bahkan tejadi penurunan pada periode 2, bahkan pada kelompok VII efek proteksinya hampir sama dengan kelompok IV, hanya pada kelompok V masih tejadi peningkatan walaupun masih lebih rendah dibandingkan dengan kelompok II sedangkan pada kelompok VI, pemberian fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring dengan dosis 50 mg/kg BB tidak terjadi penurunan kadar kolesterol namun nilainya tidak jauh berbeda dibandingkan dengan kelompok kontrol normal yaitu 0,96. Hal ini dapat disimpulkan bahwa dengan dosis tersebut ekstrak ini sudah dapat menghambat kenaikan kadar kolesterol darah sehingga kadar kolesterol menjadi normal dan

77

belum sampai dengan menurunkan kadar kolesterol darah hewan uji. Untuk mengetahui perbedaan kadar kolesterol antar kelompok maka dilakukan uji statistik terhadap selisih kolesterol pada periode 1 dan 2.

G. Analisis Kadar Kolesterol Analisis kadar kolesterol ini digunakan untuk besarnya perbedaan pada masing-masing perlakuan. Analisis ini dimulai dengan melakukan perhitungan selisih data kadar kolesterol pada tiap kelompok antara periode 1 dan 2 dan kemudian data selisih kadar ini diuji dalam analisis statistik. Pengujian diawali dengan uji Kolmogorov Smirnov. Uji ini dilakukan untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak. Nilai signifikansi yang diperoleh di Uji Kolmogorov Smirnov tersebut adalah sebesar 0,410 dari nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi normal karena karena nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05. Uji Levene kemudian dilakukan untuk melihat homogenitas data. Dari uji ini diperoleh kesimpulan bahwa data homogen karena nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,130 atau lebih besar dari 0,05. Uji analisis ini kemudian dilanjutkan dengan uji parametrik karena datanya terdistribusi normal dan variannya homogen dalam hal ini digunakan ANOVA satu jalur. ANOVA satu jalur dipilih karena sampel lebih dari dua, terdistribusi normal, varian sama / homogen, sampel tidak berhubungan satu dengan yang lain dan satu jalur karena faktor yang dibandingkan hanya satu yaitu kadar kolesterol total. Uji ini dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan kadar kolesterol total pada masing-masing perlakuan dimana apabila nilai signifikansi lebih kecil dari

78

0,05 maka terdapat perbedaan demikian juga sebaliknya apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka berbeda tak bermakna. Selanjutnya untuk mengetahui letak perbedaan antar kelompok perlakuan dianalisis dengan menggunakan uji t Tukey. Dari uji ini diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan bermakna antar kelompok dan juga perbedaan yang tidak bermakna antar kelompok. Hasil uji t Tukey secara lengkap tersaji pada Tabel VIII. Tabel VIII. Hasil Uji t Tukey selisih kadar kolesterol antar kelompok perlakuan pada periode 1 dan periode 2 Kelompok I vs II I vs III I vs IV I vs V I vs VI I vs VII II vs III II vs IV II vs V II vs VI II vs VII III vs IV III vs V III vs VI III vs VII IV vs V IV vs VI IV vs VII V vs VI V vs VII VI vs VII Signifikansi 0.000 0.000 0.000 0.000 1.000 0.000 0.471 0.000 0.287 0.000 0.000 0.000 1.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.082 0.000 0.000 0.000 Kesimpulan Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda tidak bermakna Berbeda bermakna Berbeda tidak bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda tidak bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna

Berdasarkan data pada Tabel VIII dapat diketahui bahwa antara kelompok I dan kelompok II menunjukkan signifikansi 0,000 yang berarti terdapat perbedaan bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa diet kolesterol tinggi yang

79

diberikan pada hewan uji dapat meningkatkan kadar kolesterol darah. Sedangkan pada kelompok II dan kelompok III, hasil analisis menyimpulkan terdapat perbedaan tidak bermakna, hal ini menunjukkan bahwa larutan CMC Na yang digunakan sebagai pensuspensi tidak mempunyai efek terhadap kadar kolesterol darah selain itu juga dari hasil analisis tersebut dapat diketahui bahwa apabila terjadi perubahan kadar kolesterol hewan uji pada penelitian ini bukan disebabkan larutan CMC Na melainkan karena zat yang diuji. Pada kelompok IV, VI, dan VII dengan kelompok II dalam tabel hasil uji analisis diperoleh kesimpulan bahwa data berbeda bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa baik simvastatin maupun fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring pada dosis 50 mg/Kg BB dan 75 mg/Kg BB mempunyai efek proteksi untuk mencegah terjadinya peningkatan kolesterol tinggi dalam darah pada hewan uji. Tetapi pada kelompok V, kelompok pemberian fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring dosis 25 mg/Kg BB menunjukkan perbedaan tidak bermakna dengan kelompok II. Hal ini berarti pada dosis 25 mg/Kg BB, fraksi etil asetat ekstrak temu giring belum mampu mencegah terjadinya hiperkolesterolemia. Pada kelompok IV dengan kelompok V, VI dan VII hasil statistik menunjukkan perbedaan bermakna pada kelompok V dan VI, sedangkan perbedaan tidak bermakna terjadi pada kelompok VII. Hal ini dapat diperoleh kesimpulan bahwa fraksi etil asetat ekstrak temu giring pada dosis 25 mg/kg BB dan 50 mg/kg BB memberikan efek proteksi yang berbeda dengan kelompok simvastatin dengan 0,9 mg/kg BB dan pada kelompok fraksi etil asetat ekstrak

80

temu giring pada dosis 25 mg/kg BB memberikan efek proteksi terhadap kenaikan kadar kolesterol yang sama dengan simvastatin. Pada kelompok perlakuan temu giring V, VI dan VII masing-masing terdapat perbedaan yang bermakna sehingga dapat disimpulkan bahwa masingmasing dosis fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring mempunyai kemampuan yang berbeda dalam mencegah kenaikan kadar kolesterol darah hewan uji dimana fraksi etil asetat ekstrak metanol pada dosis 75 mg/Kg BB menyebabkan penurunan kadar kolesterol darah yang paling besar dibanding dengan dosis 25 mg/kg BB dan 50 mg Kg/BB.

H. Perhitungan Persen Proteksi Untuk megetahui tingkat proteksi pada masing-masing kelompok dilakukan perhitungan persen proteksi. Perhitungan ini secara lengkap dapat dilihat di Lampiran 7. Hasil dari perhitungan persen proteksi ini dapat dilihat pada Tabel IX. Tabel IX. Purata persen proteksi terhadap kenaikan kadar kolesterol kelompok perlakuan dihitung terhadap kelompok II No. 1 2 3 4 Kelompok Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII Persen Proteksi (%) 219,13 ± 15,27 25,54 ± 10,02 86,23 ± 2,78 185,81 ± 5,55

Persen proteksi diperoleh dari purata selisih kadar kolesterol kelompok II pada periode 2 dengan selisih kadar kolesterol darah kelompok perlakuan (simvastatin dan temu giring) dibagi purata selisih kadar kolesterol kelompok II

81

pada periode 2 dalam persen. Pada tabel menunjukkan bahwa simvastatin dan fraksi etil asetat temu giring dapat memproteksi peningkatan kadar kolesterol. Simvastatin dapat mencegah peningkatan kadar kolesterol sebesar 219,13 % dari nilai persen proteksi ini dapat disimpulkan bahwa simvastatin selain dapat mencegah juga dapat menurunkan kadar kolesterol darah sedangkan pada fraksi etil asetat ekstrak temu giring dengan dosis 25 mg/Kg BB, 50 mg/Kg BB, 75 mg/Kg BB masing-masing dapat memproteksi kenaikan kadar kolesterol darah berturut-turut sebesar 25,54 %, 86,23 % dan 185,81 %. Dari hasil perhitungan persen proteksi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kelompok fraksi etil asetat ekstrak temu giring memiliki efek proteksi. Selain itu, semakin besar dosis fraksi etil asetat ekstrak temu giring yang diberikan kepada hewan uji maka akan semakin besar pula efek proteksinya, dimana pada penelitian ini, fraksi etil asetat ekstrak temu giring dengan dosis 75 mg/Kg BB mempunyai aktivitas proteksi yang paling besar. Uji statistik terhadap hasil perhitungan persen proteksi selanjutnya dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara kelompok IV, V, VI dan VII. Dari data persen proteksi pada hewan uji masing-masing kelompok dilakukan uji Kolmogrov Smirnov untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak. Dari uji ini dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi nomal hal ini karena nilai signifikansi yang diperoleh lebih besar dari 0,05 yaitu 0,349. Selanjutnya dilakukan Uji Levene untuk mengetahui homogenitas data. Dari uji ini didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,241 sehingga dapat disimpulkan bahwa data homogen karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05.

82

Uji analisis terhadap persen proteksi ini dilanjutkan dengan uji parametrik karena datanya terdistribusi normal dan variannya homogen dalam hal ini digunakan ANOVA satu jalur. Berdasarkan uji Anova satu jalur ini diketahui adanya perbedaan antar kelompok yang dilihat dari besarnya nilai sigfikansi yang lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan uji Anova satu jalur dengan metode t Tukey diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antar kelompok perlakuan. Selanjutnya dilakukan uji t Tukey, dari uji ini dapat diketahui apakah ada perbedaan yang bermakna diantara semua kelompok perlakuan. Hasil uji t Tukey terhadap persen proteksi antar kelompok perlakuan tersaji pada Tabel X. Tabel X. Hasil uji t Tukey terhadap persen proteksi terhadap kenaikan kadar kolesterol antar kelompok perlakuan Kelompok IV vs V IV vs VI IV vs VII V vs VI V vs VII VI vs VII Signifikansi 0.000 0,000 0,002 0,000 0,000 0,000 Kesimpulan Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna Berbeda bermakna

Berdasarkan Tabel X dapat diperoleh kesimpulan bahwa simvastatin dosis 0,9 mg/Kg BB dan fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring dengan dosis 25 mg/Kg BB, 50 mg/Kg BB dan 75 mg/Kg BB mempunyai persen proteksi yang berbeda bermakna. Kemampuan efek proteksi fraksi etil asetat ekstrak metanol terhadap kenaikan kadar kolesterol darah diduga karena kandungan kurkumin dan tanin. Kurkumin dapat menurunkan kadar kolesterol darah melalui tiga cara yaitu menghambat penyerapan kolesterol di usus, peningkatan kapasitas pengikatan

83

LDL Reseptor dan peningkatan aktivitas enzim cholesterol-7 alpha-hydroxylase enzim (Peschel, 2006). Selain itu sebagai antioksidan, kurkumin juga berperan dalam menghambat biosintesis kolesterol. Dalam biosintesis kolesterol terdapat tahap oksidasi pada karbon ketiga dari skualen sebelum terjadi siklisasi skualen menjadi lanosterol yang akhirnya menjadi kolesterol sehingga sintesis kolesterol bisa dihambat. Tanin yang juga terkandung di dalam temu giring mampu menurunkan kadar kolesterol dengan membentuk ikatan komplek dengan protein di usus yang akan melapisi mukosa usus sehingga absorbsi kolesterol yang berasal dari luar (eksogen) dapat dihambat (Oktavianus, 1994). Dengan dihambatnya proses penyerapan kolesterol di dalam saluran pencernaan maka kadar kolesterol yang masuk ke dalam pembuluh darah menjadi berkurang dan kolesterol yang tidak terabsorbsi tadi akan dikeluarkan bersama feses (Astawan, 2010).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis statistik, dapat disimpulkan bahwa: 1. Fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring (Curcuma Heyneanae Val.) dapat memberikan efek proteksi terhadap peningkatan kadar kolesterol darah tikus putih jantan galur wistar yang diberi diet kolesterol tinggi. 2. Fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring (Curcuma Heyneanae Val.) dengan dosis 25 mg/kg BB, 50 mg/kg BB dan 75 mg/kg BB dapat memberikan persen proteksi berturut-turut sebesar 25,54 %, 86,23 % dan 185,81 %. dan berdasarkan uji statistik masing-masing dosis memberikan persen proteksi yang berbeda bermakna dengan yang lainnya. 3. Kemampuan fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring (Curcuma Heyneanae Val.) dengan dosis 25 mg/kg BB, 50 mg/kg BB dan 75 mg/kg BB dalam memproteksi terjadinya peningkatan kadar kolesterol total berbeda bermakna jika dibandingkan dengan simvastatin.

B. Saran Dari penelitian yang telah dilakukan disarankan untuk: 1. Dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kandungan zat aktif dari fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring yang dapat mencegah peningkatan kadar kolesterol darah.

84

85

2.

Dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana mekanisme dari fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring dalam mencegah peningkatan kadar kolesterol darah.

DAFTAR PUSTAKA

Aliadi, A., Sudibya, R. B., Hargono, F., Djoko, Staryadi, Pramono, S., 1996, Tanaman Obat Pilihan, Penerbit Yayasan Sidowayah, Yogyakarta. hal. 62-65 Anief, M., 1990, Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. hal. 170-171 Anonim, 1986, Sediaan Galenik, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta hal. 8-12, 15-16, 21, 26 Anonim, 2001, Inventaris Tanaman Obat Indonesia l Jilid II, Badan penelitian dan Pengembangan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, hal. 105 Astawan, M., 2010, Menilik Nutrisi dan Zat Anti Gizi Leguminosa, Graha Medika, Jakarta Backer, C.A., Backhuizen van den Brink, R.C., 1965, Flora of Java, Volume III, N.V.P. Noordhoff, Gronigen, The Netherlands Dalimartha, Setiawan, 2001, 36 Resep Tumbuhan Obat untuk Menurunkan Kolesterol, Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta, hal 12 Dewick, P.M., 2002, Medical Natural Products A Biosyntetic Approach, Second Edition,, John Wiley dan Sons Inc, New York, USA, hal. 13-15 Ditjen POM., 1989, Materia Medika Indonesia, Jilid V, Jakarta, Departemen Kesehatan RI. Hal. 169 – 171 Ganiswara, S.G.,1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi IV, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, hal. 365-368, 372377, 471-472 Ganong, W.F., 1995, Buku Ajar Fisio Kedokteran Edisi 14, Penerbit ECG, Jakarta, hal. 280 Guenther, E, 1987, Minyak Atsiri I, Diterjemahkan S. Kateren, Jilid I, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, hal. 19-20, 92, 103 Handayani, Lestari dan Suharmiati, Cara Benar Meracik Obat Tradisional, Agromedia Pustaka, Jakarta, hal. 3-6 Hagerman, A.E., Zhao, Y., dan Johnson, S. 1997. Methods for Determination of Condensed and Hydrolysable Tannins. American Chemical Society. Washington D.C.

86

87

Harbone, J.B., 1996, Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganilis Tumbuhan, diterjemahkan Kokasih Padmawinata dan Iwang Sudiro, Edisi Kedua, Penerbit Institut Teknologi Bandung, Bandung, hal 102-108 Hargono, Djoko, 1996, Sekelumit Mengenai Obat Nabati dan Sistim Imunitas, Cermin Dunia Kedokteran Edisi 108. Departemen Kesehatan RI, Jakarta, hal 5 Herlinawati, 1984, Isolasi Zat Warna dari Curcuma Heyneana Rhizoma serta Penentuan Sifat Kimia Fisikanya, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Kuswinarti, 1989, Efek Ekstrak Temu Giring Terhadap Kadar Kolesterol Darah Tikus Jantan, Tesis, Institut Teknologi Bandung, Bandung Lehninger, A. L., 1982, Dasar-Dasar Biokimia (Principle of Biochemistry) Jilid I, Diterjemahkan oleh Widjaya, M. T, Erlangga, Jakarta, hal. 355 Mauli, I., 2005, Pengaruh Perasan Segar Buncis (Phaseolus vulgaris L.) Terhadap Kadar Kolesterol Total Tikus Putih Jantan Galur Wistar yang Diberi Diet Kolesterol Tinggi, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta Mayes, P.A., Murray, Robert K., David A Bender, Kathleen M. Botham, P.J. Kennelly, V.W. Rodwell, dan P.A. Weil, 1997, Biokimia Harper, Edisi 24, diterjemahkan oleh dr. Andry Hartono, Penerbit EGC, Jakarta, hal. 277282 Montgomery, R., Robert, D., Arthur. 1993. Biokimia: Suatu Pendekatan Berorientasi Kasus Jilid 2, Penerbit Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, hal. 719, 724-727 Muhlisah, F. 1999, Temu-temuan dan Empon-empon: Budi Daya dan Manfaatnya, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, hal. 53–54 Mursito, Bambang. 2003. Ramuan Tradisional Untuk Pelangsing Tubuh. Penebar Swadaya. Jakarta, hal. 82-83 Oktavianus, 2004, Pengaruh Pemberian Perasan Rimpang Temugiring (Curcuma heyneana Val. V. Zijp) terhadap kadar kolesterol dalam serum darah kelinci, Skripsi, Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya Peschel, Dieter, 2006, Curcumin Induces Changes in Expression of Genes Involved in Cholesterol Homeostasis, Institute of Nutritional Sciences, Halle, Germany Pramono, S.,1989, Diktat Petunjuk Pemisahan Flavonoid, Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta, hal. 12-14

88

Robinson, T., 1995, Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, Edisi VI, Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata, Institut Teknologi Bandung, Bandung, hal. 191-192 Setiati, Eni, 2009, Bahaya Kolesterol, Penerbit Dokter Books, Yogyakarta, hal. 14-27 Sidhi, P, 1991, Perbandingan Penetapan Kadar Kolesterol Metode CHOD-PAP, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Soeharto, Iman, 2000, Penyakit Jantung Koroner, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Speiccher, C.E., Smith J.W.E., 1997, Handbook of Lipoprotein Testing, AACC Press, Washington, hal. 25-48 Sudarsono, Pudjoarinto, A. Gunawan, D., Wahyuono S., I.A., Drajad, M. Wibowo, S,. Dan Ngatidjan, 1996, Tumbuhan Obat Edisi I, Pusat Penelitian Obat Tradisional Universitas Gajah Mada, Yogykarta, hal. 62 Tjay, T. H., Rahardja, K., 2007, Obat-obat Penting, Khasiat, Penggunaan, dan Efek-efek Sampingnya, Edisi V, Elex Media Kompotindo Kelompok Gramedia, Jakarta, hal. 569-575 Wiryowidagdo, S., Sitanggang, M., 2003. Tanaman Obat untuk Penyakit Jantung Darah Tinggi dan Kolesterol, Agromedia Pustaka, Jakarta, hal. 23-24

LAMPIRAN

90

Lampiran 1. Surat Keterangan Hasil Determinasi Temu Giring

91

Lampiran 2.

Data Absorbansi Serum Darah, kadar kolesterol serta selisihnya pada periode 1 dan 2 (sebelum dilakukan penolakan data)

Kelompok

No. Tikus 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6

I

II

III

IV

Periode I Periode II Absorbansi Kadar Absorbansi Kadar 0.1490 104.05 0.1782 122.90 0.0863 60.27 0.1316 90.76 0.0876 61.17 0.1022 72.48 0.1538 107.40 0.1293 89.17 0.1630 113.83 0.1676 115.59 0.1532 106.98 0.1378 95.03 0.0909 63.48 0.0929 64.07 0.1037 72.42 0.1054 72.69 0.0965 67.39 0.0990 68.28 0.1624 113.41 0.2179 150.28 0.1195 83.45 0.1724 118.90 0.1472 102.79 0.1796 123.86 0.1135 79.26 0.1602 110.48 0.1517 105.94 0.1996 137.66 0.1451 101.33 0.1949 134.41 0.1531 106.91 0.1742 120.14 0.1019 71.16 0.1416 97.66 0.1205 84.15 0.1626 112.14 0.1600 111.73 0.2026 139.72 0.0853 59.57 0.1407 97.03 0.1479 103.28 0.1890 130.34 0.1228 85.75 0.0591 40.76 0.0933 65.15 0.1544 106.48 0.1754 122.49 0.1231 84.90 0.1857 129.68 0.1277 88.07 0.1631 113.90 0.1119 77.17 0.2008 140.22 0.1594 109.93

Selisih -18.85 -30.49 -11.31 18.23 -1.76 11.95 -0.59 -0.27 -0.89 -36.87 -35.45 -21.07 -31.22 -31.72 -33.08 -13.23 -26.5 -27.90 -27.99 -37.46 27.06 44.99 -41.33 37.59 41.61 36.73 30.29

92

V

VI

VII

1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6

0.1646 0.0741 0.0686 0.0645 0.0833 0.1031 0.0370 0.0876 0.0892 0.0906 0.1111 0.1310 0.1212 0.1144 0.1327 0.1384 0.1525 0.1895

114.94 51.75 47.91 45.04 58.17 71.99 25.84 61.17 62.29 63.27 77.58 91.48 84.63 79.89 92.67 96.65 106.49 132.33

0.1639 0.1106 0.1062 0.0998 0.1203 0.1309 0.0853 0.0959 0.0970 0.0961 0.1159 0.1389 0.0875 0.0889 0.0967 0.0990 0.1156 0.1320

113.03 76.28 73.24 68.82 82.97 90.27 58.83 66.14 66.90 66.28 79.93 95.79 60.34 61.31 66.69 68.28 79.72 91.03

1.91 -24.53 -25.33 -23.78 -24.80 -18.28 -32.99 -4.97 -4.61 -3.01 -2.35 -4.31 24.29 18.58 25.89 28.37 26.77 41.30

Keterangan: Kelompok I Kelompok II Kelompok III

: diberi pakan standar : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + larutan CMC 0,1% Kelompok IV : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + simvastatin 0,9 mg/Kg BB Kelompok V : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring 25 mg/Kg BB Kelompok VI : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring 50 mg/Kg BB Kelompok VII : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + fraksi etil

93

Lampiran 3.

Data Absorbansi Serum Darah, kadar kolesterol serta selisihnya pada periode 1 dan 2 (setelah dilakukan penolakan data)

Kelompok

No. Tikus 3 7 8 9 1 3 5 6 1 3 4 6 3 4 5 6 2 4 5 6 2 3 4 6 1 3 4 5

I

II

III

IV

V

VI

VII

Periode I Periode II Absorbansi Kadar Absorbansi Kadar 0.0876 61.17 0.1022 72.48 0.0909 63.48 0.0929 64.07 0.1037 72.42 0.1054 72.69 0.0965 67.39 0.0990 68.28 0.1624 113.41 0.2179 150.28 0.1472 102.79 0.1796 123.86 0.1517 105.94 0.1996 137.66 0.1451 101.33 0.1949 134.41 0.1531 106.91 0.1742 120.14 0.1205 84.15 0.1626 112.14 0.1600 111.73 0.2026 139.72 0.1479 103.28 0.1890 130.34 0.1754 122.49 0.1231 84.90 0.1857 129.68 0.1277 88.07 0.1631 113.90 0.1119 77.17 0.2008 140.22 0.1594 109.93 0.0741 51.75 0.1106 76.28 0.0645 45.04 0.0998 68.82 0.0833 58.17 0.1203 82.97 0.1031 71.99 0.1309 90.27 0.0876 61.17 0.0959 66.14 0.0892 62.29 0.0970 66.90 0.0906 63.27 0.0961 66.28 0.1310 91.48 0.1389 95.79 0.1212 84.63 0.0875 60.34 0.1327 92.67 0.0967 66.69 0.1384 96.65 0.0990 68.28 0.1525 106.49 0.1156 79.72

Selisih -11.31 -0.59 -0.27 -0.89 -36.87 -21.07 -31.72 -33.08 -13.23 -27.90 -27.99 27.06 37.59 41.61 36.73 30.29 -24.53 -23.78 -24.80 -18.28 -4.97 -4.61 -3.01 -4.31 24.29 25.89 28.37 26.77

94

Keterangan: Kelompok I Kelompok II Kelompok III

: diberi pakan standar. : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + larutan CMC 0,1% Kelompok IV : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + simvastatin 0,9 mg/Kg BB Kelompok V : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring 25 mg/Kg BB Kelompok VI : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring 50 mg/Kg BB Kelompok VII : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + fraksi etil

95

Lampiran 4.

Data berat badan tikus tiap kelompok perlakuan tiap hari selama 2 minggu perlakuan
Kelompok 4 182,9 173,8 180,3 181,4 194,3 176,1

Hari

1

2

3

4

No. Tikus 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 164,5 184,1 170,5 175,8 154,8 191,5 173,4 182,5 195,3 164,8 183,9 170,8 176,1 155,0 191,7 173,8 182,9 195,6 165,3 184,4 171,3 176,8 155,5 192,1 174,0 183,2 195,9 166,0 185,1 171,8 177,3 156,0 192,4 174,4 183,7 196,3

2 170,3 153,4 182,3 185,2 181,2 198,4

3 170,3 175,0 176,3 183,4 185,3 194,5

5 184,2 175,5 169,4 172,4 180,2 194,5

6 179,1 190,1 183,6 187,5 176,2 155,6

7 172,5 168,3 182,5 176,2 191,7 176,1

171,9 154,5 183,1 186,5 182,3 199,9

171,6 177,5 177,2 184,4 186,7 196,7

183,4 173,9 180,6 181,7 194,7 176,5

185,7 176,9 170,5 173,6 181,1 195,7

179,9 191,2 184,5 188,3 177,0 155,9

172,9 169,2 182,6 177,1 192,4 177,7

173,1 155,6 184,7 187,8 183,4 201,0

173,2 178,4 177,9 185,7 187,3 198,1

183,6 174,3 180,9 182,1 195,0 176,6

186,8 178,1 171,4 174,7 182,4 196,2

181,1 191,9 185,4 189,2 177,8 156,8

173,8 170,0 183,0 177,6 193,0 178,2

174,5 156,4 185,9 188,7 184,4 202,3

174,5 179,7 178,9 187,3 189,1 200,0

184,0 174,6 181,4 182,3 195,6 177,1

188,1 179,3 172,7 175,5 183,6 197,6

182,3 193,0 186,1 190,4 178,5 157,5

174,2 171,4 183,5 178,2 193,5 178,6

96

5

6

7

8

1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9

166,9 186,2 172,3 178,1 156,7 193,0 174,9 184,3 196,9 167,9 187,3 173,1 178,8 157,4 193,8 175,3 185,1 197,4 168,4 190,1 172,8 178,4 157,7 194,1 175,1 185,7 198,3 169,1 189,6 174,3 179,1 157,2 193,5 175,6 185,9 199,0

176,1 157,8 187,2 190,3 185,7 203,5

176,0 181,2 180,1 189,2 190,4 200,8

184,2 174,9 181,8 182,9 195,7 177,6

189,3 180,4 172,3 177,0 185,0 198,8

183,1 194,3 186,8 191,5 179,9 158,5

175,4 173,9 183,6 178,7 193,9 179,1

178,2 159,1 188,4 191,0 186,8 204,2

177,5 182,6 182,3 191,4 192,5 201,4

184,3 175,2 182,3 182,0 196,4 178,4

190,8 181,5 173,6 177,8 186,7 199,4

184,3 194,9 187,3 192,7 181,3 159,2

176,7 174,1 183,5 179,0 194,6 179,4

179,4 160,6 187,3 191,2 187,9 205,4

180,1 183,8 184,7 192,1 194,2 202,5

184,1 175,2 182,5 183,2 196,5 179,3

192,5 182,1 174,2 178,9 187,1 200,2

185,2 195,4 187,7 193,4 180,5 160,4

178,0 175,2 183,4 179,4 195,1 179,8

180,8 161,7 189,1 191,8 189,1 206,7

182,1 184,3 185,4 193,7 196,1 203,6

184,9 175,7 182,9 183,6 197,0 179,9

192,3 183,2 175,6 179,5 188,4 201,7

186,7 196,1 188,3 194,1 182,4 161,3

178,9 176,2 183,9 179,8 195,7 180,3

97

9

10

11

12

1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9

170,5 188,4 175,2 180,0 157,9 193,3 175,8 186,4 199,3 170,9 189,3 175,7 180,9 158,5 194,3 176,1 186,9 199,7 171,4 190,1 176,4 181,5 158,9 194,8 176,6 187,3 200,3 171,8 190,7 177,0 182,0 159,4 195,1 177,1 187,8 201,0

182,0 162,8 190,4 192,4 190,3 207,6

184,5 185,7 186,2 193,9 197,3 204,9

185,3 176,0 183,1 184,0 197,4 180,5

193,7 184,5 176,8 180,7 189,8 202,9

187,3 197,8 189,4 195,0 182,7 161,9

179,3 177,2 184,5 180,6 196,4 181,1

183,2 164,1 191,7 193,2 191,2 209,0

185,7 186,8 187,9 195,1 198,6 206,3

185,7 176,4 183,8 184,5 197,7 180,9

194,9 185,7 178,0 182,1 190,5 203,7

188,6 198,5 190,2 195,9 183,4 162,7

180,5 178,0 185,0 181,3 197,2 181,9

184,7 165,4 193,0 194,0 192,3 210,1

187,3 188,1 189,0 197,4 200,3 208,6

185,9 176,9 184,3 184,7 198,1 181,3

196,3 186,3 179,9 183,2 192,0 204,6

189,2 199,3 190,9 196,8 183,9 163,5

181,2 178,1 185,6 181,9 197,8 182,4

185,9 166,8 193,9 195,3 193,2 211,3

188,4 189,3 190,3 199,0 203,4 210,1

186,2 177,4 184,6 185,1 198,4 181,8

197,8 187,5 181,0 184,0 192,9 206,0

190,1 198,9 191,5 197,5 184,7 165,0

181,7 179,0 185,9 182,4 198,6 183,1

98

13

14

1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9

172,1 191,4 177,7 182,7 160,4 195,5 177,5 188,3 201,4 172,3 192,5 178,5 183,4 160,1 195,6 177,2 188,8 201,7

187,1 168,0 194,5 196,1 194,7 213,1

190,3 191,2 191,8 202,5 204,6 211,3

186,6 177,8 184,9 185,6 198,7 182,4

198,8 188,5 180,0 184,5 193,9 206,8

190,5 199,6 192,3 198,4 185,8 166,0

182,9 179,5 186,9 183,4 199,6 184,4

188,2 169,2 197,3 203,2 195,4 214,4

192,3 192,9 195,5 205,7 207,1 213,5

186,7 178,1 184,9 185,8 198,9 182,5

200,1 189,2 181,7 185,1 194,3 207,4

191,1 200,1 193,5 198,8 186,7 167,9

183,2 180,3 186,8 183,4 200,7 184,7

Keterangan: Kelompok I Kelompok II Kelompok III

: diberi pakan standar : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + larutan CMC 0,1% Kelompok IV : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + simvastatin 0,9 mg/Kg BB Kelompok V : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring 25 mg/Kg BB Kelompok VI : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring 50 mg/Kg BB Kelompok VII : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + fraksi etil

99

Lampiran 5. Uji Statistik Selisih Berat Badan Periode I dan Peiode II A. Uji Kolmogorov Smirnov
Descriptive Statistics N Kelompok Berat Badan 28 28 Mean 4,00 11,3679 Std. Deviation 2,037 5,49795 Minimum 1 3,80 Maximum 7 22,30

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Berat Badan N Normal Parameters
a,b

28 Mean Std. Deviation 11,3679 5,49795 ,103 ,103 -,084 ,543 ,930

Most Extreme Differences

Absolute Positive Negative

Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

100

B. Uji Levene
Descriptives Berat Badan 95% Confidence Interval N Mean Std. Deviation for Mean Std. Error Lower Bound Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII Total 4 4 4 4 4 4 4 28 6,1250 15,7750 20,6250 5,0000 13,3500 10,8750 7,8250 11,3679 1,73469 1,59661 1,76706 ,93808 ,66081 1,14419 2,75121 5,49795 ,86735 ,79831 ,88353 ,46904 ,33040 ,57209 1,37561 1,03901 3,3647 13,2344 17,8132 3,5073 12,2985 9,0543 3,4472 9,2360 Upper Bound 8,8853 18,3156 23,4368 6,4927 14,4015 12,6957 12,2028 13,4997 3,80 14,20 19,00 4,40 12,70 9,90 4,30 3,80 8,00 17,90 22,30 6,40 14,10 12,30 10,70 22,30 Minimum Maximum

Test of Homogeneity of Variances Berat Badan Levene Statistic 1,791 df1 6 df2 21 Sig. ,150

ANOVA Berat Badan Sum of Squares Between Groups Within Groups Total 759,514 56,628 816,141 df 6 21 27 Mean Square 126,586 2,697 F 46,944 Sig. ,000

101

C.

Uji Parametrik ANOVA Satu Jalur: t Tukey
Multiple Comparisons

Berat Badan Tukey HSD Mean (I) Kelompok Kelompok I (J) Kelompok Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII Kelompok II Kelompok I Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII Kelompok III Kelompok I Kelompok II Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII Kelompok IV Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII Kelompok V Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok VI Kelompok VII Difference (I-J) -9,65000
* *

95% Confidence Interval Std. Error 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 Sig. ,000 ,000 ,955 ,000 ,008 ,762 ,000 ,057 ,000 ,394 ,006 ,000 ,000 ,057 ,000 ,000 ,000 ,000 ,955 ,000 ,000 ,000 ,001 ,234 ,000 ,394 ,000 ,000 ,371 ,002 Lower Bound -13,4247 -18,2747 -2,6497 -10,9997 -8,5247 -5,4747 5,8753 -8,6247 7,0003 -1,3497 1,1253 4,1753 10,7253 1,0753 11,8503 3,5003 5,9753 9,0253 -4,8997 -14,5497 -19,3997 -12,1247 -9,6497 -6,5997 3,4503 -6,1997 -11,0497 4,5753 -1,2997 1,7503 Upper Bound -5,8753 -10,7253 4,8997 -3,4503 -,9753 2,0747 13,4247 -1,0753 14,5497 6,1997 8,6747 11,7247 18,2747 8,6247 19,3997 11,0497 13,5247 16,5747 2,6497 -7,0003 -11,8503 -4,5753 -2,1003 ,9497 10,9997 1,3497 -3,5003 12,1247 6,2497 9,2997

-14,50000

1,12500 -7,22500 -4,75000
* *

-1,70000 9,65000 -4,85000
* * *

10,77500

2,42500 4,90000 7,95000
* * *

14,50000 4,85000

* *

15,62500 7,27500 9,75000

* * *

12,80000

-1,12500 -10,77500 -15,62500 -8,35000 -5,87500
* *

* *

-2,82500 7,22500
*

-2,42500 -7,27500 8,35000
* *

2,47500 5,52500
*

102

Kelompok VI

Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VII

4,75000 -4,90000 -9,75000 5,87500

* * * *

1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115 1,16115

,008 ,006 ,000 ,001 ,371 ,168 ,762 ,000 ,000 ,234 ,002 ,168

,9753 -8,6747 -13,5247 2,1003 -6,2497 -,7247 -2,0747 -11,7247 -16,5747 -,9497 -9,2997 -6,8247

8,5247 -1,1253 -5,9753 9,6497 1,2997 6,8247 5,4747 -4,1753 -9,0253 6,5997 -1,7503 ,7247

-2,47500 3,05000 1,70000 -7,95000
* *

Kelompok VII

Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI

-12,80000

2,82500 -5,52500
*

-3,05000

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.

Homogeneous Subsets: Berat Badan Tukey HSD
a

Subset for alpha = 0.05 Kelompok Kelompok IV Kelompok I Kelompok VII Kelompok VI Kelompok V Kelompok II Kelompok III Sig. N 4 4 4 4 4 4 4 ,234 ,168 ,371 ,394 1 5,0000 6,1250 7,8250 7,8250 10,8750 10,8750 13,3500 13,3500 15,7750 20,6250 1,000 2 3 4 5

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4,000.

103

Lampiran 6. Uji Statistik Selisih Kadar Kolesterol Periode I dan Peiode II A. Uji Kolmogorov Smirnov
Descriptive Statistics N Selisih 28 Mean -3,1689 Std. Deviation 24,79817 Minimum -36,87 Maximum 41,61

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Selisih N Normal Parameters
a,b

28 Mean Std. Deviation -3,1689 24,79817 ,168 ,168 -,152 ,888 ,410

Most Extreme Differences

Absolute Positive Negative

Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

104

B. Uji Levene
Descriptives Selisih 95% Confidence Interval N Mean Std. Deviation for Mean Std. Error Lower Bound Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII Total 4 4 4 4 4 4 4 28 -3,2650 -30,6850 -24,0450 36,5550 -22,8475 -4,2250 26,3300 -3,1689 5,36930 6,77027 7,22215 4,68704 3,07542 ,85376 1,70396 24,79817 2,68465 3,38514 3,61108 2,34352 1,53771 ,42688 ,85198 4,68641 -11,8088 -41,4580 -35,5371 29,0969 -27,7412 -5,5835 23,6186 -12,7847 Upper Bound 5,2788 -19,9120 -12,5529 44,0131 -17,9538 -2,8665 29,0414 6,4468 -11,31 -36,87 -27,99 30,29 -24,80 -4,97 24,29 -36,87 -,27 -21,07 -13,23 41,61 -18,28 -3,01 28,37 41,61 Minimum Maximum

Test of Homogeneity of Variances Selisih Levene Statistic 1,891 df1 6 df2 21 Sig. ,130

ANOVA Selisih Sum of Squares Between Groups Within Groups Total 16117,970 485,653 16603,623 df 6 21 27 Mean Square 2686,328 23,126 F 116,159 Sig. ,000

105

C. Uji Parametrik ANOVA Satu Jalur: t Tukey
Post Hoc Test: Multiple Comparisons Selisih Tukey HSD Mean (I) Kelompok Kelompok I (J) Kelompok Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII Kelompok II Kelompok I Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII Kelompok III Kelompok I Kelompok II Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII Kelompok IV Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII Kelompok V Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok VI Kelompok VII Difference (I-J) 27,42000 20,78000 -39,82000 19,58250
* * * *

95% Confidence Interval Std. Error 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 Sig. ,000 ,000 ,000 ,000 1,000 ,000 ,000 ,471 ,000 ,287 ,000 ,000 ,000 ,471 ,000 1,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,082 ,000 ,287 1,000 ,000 ,000 ,000 Lower Bound 16,3658 9,7258 -50,8742 8,5283 -10,0942 -40,6492 -38,4742 -17,6942 -78,2942 -18,8917 -37,5142 -68,0692 -31,8342 -4,4142 -71,6542 -12,2517 -30,8742 -61,4292 28,7658 56,1858 49,5458 48,3483 29,7258 -,8292 -30,6367 -3,2167 -9,8567 -70,4567 -29,6767 -60,2317 Upper Bound 38,4742 31,8342 -28,7658 30,6367 12,0142 -18,5408 -16,3658 4,4142 -56,1858 3,2167 -15,4058 -45,9608 -9,7258 17,6942 -49,5458 9,8567 -8,7658 -39,3208 50,8742 78,2942 71,6542 70,4567 51,8342 21,2792 -8,5283 18,8917 12,2517 -48,3483 -7,5683 -38,1233

,96000 -29,59500 -27,42000
* *

-6,64000 -67,24000
*

-7,83750 -26,46000 -57,01500 -20,78000
* * *

6,64000 -60,60000
*

-1,19750 -19,82000 -50,37500 39,82000 67,24000 60,60000 59,40250 40,78000
* * * * * * *

10,22500 -19,58250
*

7,83750 1,19750 -59,40250 -18,62250 -49,17750
* * *

106

Kelompok VI

Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VII

-,96000 26,46000 19,82000 -40,78000 18,62250 -30,55500 29,59500 57,01500 50,37500
* * * * * * * *

3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047 3,40047

1,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,082 ,000 ,000

-12,0142 15,4058 8,7658 -51,8342 7,5683 -41,6092 18,5408 45,9608 39,3208 -21,2792 38,1233 19,5008

10,0942 37,5142 30,8742 -29,7258 29,6767 -19,5008 40,6492 68,0692 61,4292 ,8292 60,2317 41,6092

Kelompok VII

Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI

-10,22500 49,17750 30,55500
* *

*. The mean difference is significant at the 0.05 level

Homogeneous Subsets: Selisih Kadar Kolesterol Tukey HSD
a

Subset for alpha = 0.05 Kelompok Kelompok II Kelompok III Kelompok V Kelompok VI Kelompok I Kelompok VII Kelompok IV Sig. N 4 4 4 4 4 4 4 ,287 1,000 1 -30,6850 -24,0450 -22,8475 -4,2250 -3,2650 26,3300 36,5550 ,082 2 3

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4,000.

107

Keterangan: Kelompok I Kelompok II Kelompok III

: diberi pakan standar : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + larutan CMC 0,1% Kelompok IV : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + simvastatin 0,9 mg/Kg BB Kelompok V : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring 25 mg/Kg BB Kelompok VI : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring 50 mg/Kg BB Kelompok VII : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + fraksi etil

108

Lampiran 7. Perhitungan Persen Proteksi Rumus Persen Proteksi: Persen Proteksi = Keterangan: P : Purata selisih kadar kolesterol tikus kelompok II (-30,685 mg /dl) Q : Selisih kadar kolesterol tikus kelompok perlakuan (mg/dl) Tabel Perhitungan Persen Proteksi Nomor Kelompok Tikus IV IV IV IV V V V V VI VI VI VI VII VII VII VII
Keterangan: Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII

Selisih Kadar Kolesterol 30,29 37,59 41,61 36,73 -24,53 -23,78 -24,80 -18,28 -4,97 -4,61 -3,01 -4,31 28,37 24,29 25,89 26,77

Persen Proteksi 198,71 222,50 235,60 219,70 20,06 22,50 19,18 40,43 83,80 84,98 90,19 85,95 195,46 179,16 184,37 187,24

3 4 5 6 2 4 5 6 2 3 4 6 1 3 4 5

: diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + simvastatin 0,9 mg/Kg BB : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring 25 mg/Kg BB : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + fraksi etil asetat ekstrak metanol temu giring 50 mg/Kg BB : diberi pakan standar + diet kolesterol tinggi + fraksi etil ekstrak metanol temu giring 50 mg/Kg BB

109

Lampiran 8. Uji Statistik Terhadap Persen Proteksi A. Uji Kolmogorov Smirnov
Descriptive Statistics N Kelompok Berat Badan 16 16 Mean 5,50 129,1775 Std. Deviation 1,155 80,27019 Minimum 4 19,18 Maximum 7 235,60

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Berat Badan N Normal Parameters
a,b

16 Mean Std. Deviation 129,1775 80,27019 ,233 ,186 -,233 ,933 ,349

Most Extreme Differences

Absolute Positive Negative

Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

110

B. Uji Levene
Descriptives Persen Proteksi 95% Confidence Interval for Mean Std. N Kelompok IV 4 Mean 219,1299 Deviation 15,27470 Std. Error 7,63735 Lower Bound 194,824 4 Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII 4 4 4 25,5418 86,2311 185,8074 10,02256 2,78232 5,55306 5,01128 1,39116 2,77653 9,5937 81,8038 176,971 2 Total 16 129,1775 80,27019 20,06755 86,4046 Upper Bound 243,435 3 41,4899 90,6584 194,643 6 171,950 5 19,18 235,60 19,18 83,80 179,16 40,43 90,19 192,46 Minimum 198,71 Maximum 235,60

Test of Homogeneity of Variances Persen Proteksi Levene Statistic 1,600 df1 3 df2 12 Sig. ,241

ANOVA Persen Proteksi Sum of Squares Between Groups Within Groups Total 95532,520 1117,038 96649,558 df 3 12 15 Mean Square 31844,173 93,087 F 342,092 Sig. ,000

111

C. Uji Parametrik ANOVA Satu Jalur: t Tukey
Multiple Comparisons Persen Proteksi Tukey HSD Mean (I) Kelompok Kelompok IV (J) Kelompok Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII Kelompok V Kelompok IV Kelompok VI Kelompok VII Kelompok VI Kelompok IV Kelompok V Kelompok VII Kelompok VII Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI Difference (I-J) 193,58807 132,89881 33,32247 -193,58807 -60,68926 -160,26560 -132,89881 60,68926 -99,57634 -33,32247 160,26560 99,57634
* * * * * * * * * * * *

95% Confidence Interval Std. Error 6,82226 6,82226 6,82226 6,82226 6,82226 6,82226 6,82226 6,82226 6,82226 6,82226 6,82226 6,82226 Sig. ,000 ,000 ,002 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,002 ,000 ,000 Lower Bound 173,3335 112,6442 13,0678 -213,8427 -80,9439 -180,5202 -153,1534 40,4346 -119,8310 -53,5771 140,0110 79,3217 Upper Bound 213,8427 153,1534 53,5771 -173,3335 -40,4346 -140,0110 -112,6442 80,9439 -79,3217 -13,0678 180,5202 119,8310

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.

Homogeneous Subsets: Persen Proteksi Tukey HSD
a

Subset for alpha = 0.05 Kelompok Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII Kelompok IV Sig. N 4 4 4 4 1,000 1,000 1,000 1 25,5418 86,2311 185,8074 219,1299 1,000 2 3 4

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4,000.

112

Lampiran 9. Gambar-gambar

Gambar Pakan Standar BR II

Gambar Emulsi Lemak Sapi

113

Gambar Fraksi Etil Asetat Ekstrak Temu Giring dosis 25 mg/kg BB, 50 mg/kg BB dan 75 mg/kg BB

Gambar kondisi tikus di dalam kandang individu.

114

Gambar pemberian emulsi minyak sapi

115

Gambar pengambilan darah secara sinus orbitalis.

Gambar alat sentrifugasi

Gambar alat spektrometer

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful