2004

http://www.kalbe.co.id/cdk

ISSN : 0125-913X

144. THT

2004
http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

144. THT
Daftar isi :
2. Editorial 4. English Summary

Artikel
5. Rinitis Atrofi – Rizalina Arwinati Asnir 8. Papiloma Laring pada Anak – Bambang Supriyatno, Lia Amalia 11. Kista Duktus Tiroglosus – Hafni 13. Rinoskleroma – Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah 16. Kanker Nasofaring - Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir – R. Susworo 20. Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat – Retno Gitawati, Ani Isnawati 24. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja – Novi Arifiani 29. Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja – Ambar W. Roestam 35. Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi – HR Krisnabudhi 41. Vertigo: Aspek Neurologi – Budi Riyanto Wreksoatmodjo 47. Terapi Akupunktur untuk Vertigo – Prasti Pirawati, L. Yvonne Siboe 52. Teh [Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)] sebagai Salah satu Sumber Antioksidan – Sulistyowati Tuminah 55. Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta Tahun 2001 – Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk 57. Produk Baru 58. Kapsul 59. Informatika Kedokteran 60. Kegiatan Ilmiah 62. Abstrak 64. RPPIK

Keterangan Gambar Sampul : Jaras sistim pendengaran manusia
sumber: http://ivertigo.net 13

EDITORIAL
Cermin Dunia Kedokteran kali ini terbit dengan topik bahasan masalah telinga, hidung dan tenggorokan. Beberapa penyakit seperti rinitis atrofi dan papiloma laring dapat anda jumpai; selain masalah pengaruh lingkungan – dalam hal ini kebisingan terhadap fungsi pendengaran khususnya. Tidak ketinggalan pula artikel mengenai kanker nasofaring dan perawatan trakeostomi – yang perlu diperhatikan, baik oleh tenaga medis maupun keluarga pasien. Artikel mengenai vertigo juga ikut melengkapi edisi ini Selamat membaca, komentar dan kritik sejawat sekalian tetap kami nantikan

Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. Drg.kalbe. hendaknya diberi keterangan mengenai nama. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris.457-72.Prof. 021 . Bila pengarang enam orang atau kurang. Hal 174-9. . Kalbe Farma Tbk.co. Letjen.co. PELAKSANA Sriwidodo WS. Erik Tapan . . (021) 4208171. bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah. Hendro Kusnoto. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku. Sodeman WA. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran.id/cdk PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. Nama (para) pengarang ditulis lengkap. Dalam: Sodeman WA Jr. Bila terpisah dalam lembar lain.id http: //www. Siti Wuryan A Prayitno. Tlp.D . Sumarmo Poorwo Soedarmo Staf Ahli Menteri Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta . DR. E-mail : cdk@kalbe. Tabel/skema/ grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi. Jakarta 10510. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 DEWAN REDAKSI PENERBIT Grup PT. Oen L. Drg. Gedung Enseval. 2. Dr.id Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan. 64: 7-10. dengan menyisakan cukup ruangan di kanan kirinya. DR.2004 International Standard Serial Number: 0125 . 4. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. R Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang KETUA PENYUNTING Dr.Djuni Pristiyanto ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran. Pathogenetic properties of invading microorganisms.913X KETUA PENGARAH Prof. Kirby RL. disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/ atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979. . Soebianto PENCETAK PT. satu muka. 1974. SpOrt. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. . Temprint http://www. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia.Medical Rehabilitation.kalbe.O.co. 90 : 95-9). Budi Riyanto W.Prof. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran. disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio. Contoh : 1. Laboratorium Ortodonti MScD. eds. Jakarta Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta TATA USAHA . hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. Sri Oemijati. Cempaka Putih. juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Weinstein L. Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis. Letjen Suprapto Kav. 1984. bila tujuh atau lebih. hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. kedokteran dan farmasi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.10 halaman kuarto disertai/atau dalam bentuk disket program MS Word. Swartz MN. Cermin Dunia Kedokt. Jl. Box 3117 JKT. sebutkan semua. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia.Prof. London: William and Wilkins. Basmajian JV. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. PhD. Baltimore. Dr. Tlp. SKM. Bila tidak ada. Cempaka Putih. MSc REDAKSI KEHORMATAN PEMIMPIN UMUM Dr.id/cdk . Sjahbanar Zahir MSc. Box 3117 JKT. P.O.co.Dodi Sumarna . bila menggunakan bahasa Indonesia. 1st ed. Jakarta 10510 P. diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas.Prof. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia.Dr. 3. lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 . 4. Dr.4208171 E-mail : cdk@kalbe. akan diberitahu secara tertulis.Prof.H. Bagian Periodontologi. Philadelphia: WB Saunders.DR. 1990. Suprapto Kav. Boenjamin Setiawan Ph. Gedung Enseval Jl.

can be due to vestibular system disorder. and retinoic acid are still debatable. Rizalina A Asnir. 144.lys bso. Yvonne Siboe Dept. and tend to be concentrated on the free margins of true vocal folds. Firmansyah Dept. chronic cough. L. Indonesia ACUPUNCTURE FOR VERTIGO Prasti Pirawati.2004. Partial airway obstruction may manifest as stridor or chest retractions. The symptoms may cause anxiety and disturb the patient’s social life. paroxysms of chocking. 144. Cermin Dunia Kedokt. recurrent respiratory infections also may occur. Cermin Dunia Kedokt. This is a report of a 50 yearold female with vertigo. Adam Malik General Hospital. North Sumatra.raa. referred to dizziness or a sense of imbalance. treated with acupuncture and showed good improvement. 13-15 dmr. Indonesia Laryngeal papilloma is a benign tumor frequently found in children. Indonesia RHINOSCLEROMA Delfitri Munir. Jakarta. Cermin Dunia Kedokt. Diagnosis can be confirmed using a flexible fiberoptic laryngoscope to visualize the larynx. Practically all patients with laryngeal papilloma present with hoarseness or a weak voice. ribavirin. Lia Amalia Dept of Child Health. The role of medications such as alphainterferon.2004. 8-10 Rhinoscleroma is an endemic disease. Cipto Mangunkusumo General Hospital.fih Vertigo is a common complaint. It is caused by strains of human papilloma virus (HPV) family. of ENT. Conventional treatment is still not satisfactory.English Summary LARYNGEAL PAPILLOMA IN CHILDREN Bambang Supriyatno. in Indonesia it is found in North Sulawesi. There is still no accurate and successful management method for this problem . North Sumatera and Bali. 47-51 ppi. laa Fate is distinghished but an expensive tutor (Goethe) 4 Cermin Dunia Kedokteran No. Medan. acyclovir.2004: 144. particularly at the anterior commissure. Faculty of Medicine. 2004 . Papillomata have a characteristic wart-like appearance. Jakarta. of Acupuncture Dr. University of Indonesia. The mainstay of treatment is surgical ablation. 144.

14-16 Oleh karena etiologinya belum pasti. sehingga pengobatannya belum ada yang baku. mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering. vitamin A1.1. umur berkisar dari 10-37 tahun. Adam Malik.12.12.11-15 terutama pada usia pubertas. 2004 5 . PENDAHULUAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik.12.20 Tetapi dari segi umur. yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta. Bacillus mucosus.13 Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk1-3.12.1-5. lingkungan yang buruk dan di negara yang sedang berkembang.7.7. Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum Pusat H.7.11 6) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun1-4.1-9 Penyakit ini lebih sering mengenai wanita.11-15 terutama pada usia pubertas.20 Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk1-3.16 Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Kuman lain adalah Stafilokokus. sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk.17 Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun.13 Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas. Diphteroid bacilli. 7.9.11.16.12. Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa.5.10.11-14 dan di negara sedang berkembang.2.18 5) Ketidakseimbangan hormon estrogen1-5.8 Jiang dkk berkisar 13-68 tahun9.5. sosial ekonomi rendah. dilakukan operasi .Artikel TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinitis Atrofi Rizalina Arwinati Asnir Bagian/SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran.7.4.7.1-5.16 Di RS H Adam Malik dari Januari 1999 sampai Desember 2000 ditemukan 6 penderita rinitis atrofi.7.2.5 8) Ketidakseimbangan otonom 4.1-5.5.17 Terutama kuman Klebsiella ozaena.8 dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria. beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala.11 3) Sinusitis kronik1.7 7) Teori mekanik dari Zaufal4. Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia. Kata kunci : rinitis atrofi. 4 wanita dan 2 pria.9. Medan ABSTRAK Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah.7.11.7.14.12.17 Cermin Dunia Kedokteran No. maka pengobatannya belum ada yang baku.14-16 Beberapa teori yang dikemukakan antara lain : 1) Infeksi kronik spesifik 1-4.9 Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria.1-4. Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun.11.11-14 dan di negara sedang berkembang.7.20 KEKERAPAN Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita.11.11-15 SINONIM : Ozaena.2.9.1-5. Kokobasilus. ETIOLOGI Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. 144.7.1-11 Secara klinis.1-5. rinitis krustosa.7.10. Cocobacillus foetidus ozaena 2) Defisiensi Fe1-4. rinitis fetida.

keluhan anosmia belum jelas. 2004 . Sebagian besar kasus merupakan tipe I. ingus kental berwarna hijau. 6 Cermin Dunia Kedokteran No. Campuran : Na bikarbonat 28. rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui4. rinoskleroma dan tbc. krusta banyak.oleh karena itu secara patologi.3. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia. mukosa tampak kemerahan dan berlendir. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau b. rontgen foto sinus paranasal.12. PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi dan menghilangkan gejala. membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen.4.1. c. dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang.3. Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas. membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. yang bertambah jelek dengan terapi estrogen. miasis hidung. atrofi konka. terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran3.11 dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal. Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel. Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat21 : a.5.21 Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat infeksi kronik.16. Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia. rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua:3.2. dilakukan dua kali sehari.10.9) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)4.7 GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN Keluhan biasanya berupa : hidung tersumbat.1. Tingkat I : Atrofi mukosa hidung. dapat ditemukan krusta di nasofaring.15.17 10) Herediter5. Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler.10-12 Pada pemeriksaan ditemui : rongga hidung dipenuhi krusta hijau.4 g Na diborat 28.4. mukosa hidung tipis dan kering. Mantoux test. air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut.2 Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu. rinitis kronik lepra.8. 144. terlihat rongga hidung sangat lapang. Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang timbul). Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi.11 Dapat berupa: perforasi septum. hidung pelana.4 g NaCl 56.1-5. DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan : anamnesis. mukosa makin kering.7 g dicampur 280 ml air hangat Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat. midline granuloma. rinitis kronik sifilis dan rinitis sika. Selain faktor-faktor di atas.4 Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat. lepra.17 11) Supurasi di hidung dan sinus paranasal5. epistaksis dan hidung terasa kering. Larutan garam dapur d.3. faringitis. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif. adanya krusta (kerak) berwarna hijau.10 dan rinitis atrofi sekunder. kadang-kadang kuning atau hitam. b. Campuran : NaCl NH4Cl NaHCO3 aaa 9 Aqua ad 300 c 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat c.9. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa.5. Endarteritis di arteriole akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa.11.9. warna makin pudar.2 Konservatif 1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman. pemeriksaan Fe serum. terdapat anosmia yang jelas.3 2) Obat cuci hidung. sinusitis. krusta sedikit. PATOLOGI DAN PATOGENESIS Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik.19 dan fibrosis dari tunika propria.11 Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang.4.12. pemeriksaan histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis.1. sekret purulen dan berwarna hijau.3.4. gangguan penciuman (anosmi). Dobbie mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A.10.7. pemeriksaan darah rutin. rongga hidung tampak lebar sekali.13 .21 KOMPLIKASI4. sakit kepala.11 Diagnosis Banding Rinitis kronik tbc. untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi.16 12) Golongan darah. Antara lain : a. jika krusta diangkat. akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis.11 Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun.

Hilger PA. 40-1. 4. bahan sintetis seperti Teflon. 4th Bristol:Wright.Gray RF. 1993. Maran AGD. Kepala dan Leher. Kumar S. Weir N. kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat. Jilid 1. 90-2. 114 : 254-9. 18. kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml. Nose and Throat Diseases. Sayed RH. Sydney. 15. 1-4. 91-3. Dalam : XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 112 : 543-6. oestradiol dalam minyak Arachis 10. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. 1403-6. Edisi ke 3. Jakarta : FKUI. 5. Buku Ajar Penyakit THT. 229. setelah krusta diangkat. Disease of the Nose. C. Nose and Throat Diseases. 144.000 U selama 2 minggu 5) Preparat Fe 6) Selain itu bila ada sinusitis. Becker W. Study of Surfactant Level in Cases of Primary Atrophic Rhinitis. Indication. 2) Modified Young's operation Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka. 549-55.5 KESIMPULAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. 2004 7 . Penyakit Telinga . KEPUSTAKAAN 1. 492. Grewal DS. 349-51. Mangunkusumo E. 1985. Disease of the Nose. Hidung . 1996.3% perbaikan pada periode waktu yang sama. 12. Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain : 1) Young's operation Penutupan total rongga hidung dengan flap. Closure of the Nasal Vestibule in Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique. Kader MA. New York : Georg Thieme Verlag. 4/8/26-7. Elhamd KA. Elloy P. Penutupan Koana dengan Flap Faring pada Penderita Ozaena Anak. yang ditandai adanya atrofi progresif mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta. Hiranandani NL. Tenggorok . Ujung Pandang. Montgomery WW. 3rd Baltimore : Williams & Wilkins. 1993. 22. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. Infective Rhinitis and Sinusitis. 5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung. 2nd ed. Sherief SG. diobati sampai tuntas1-5. Textbook of Ear. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. 1996. 14. Alih Bahasa : Wijaya.1.22 PROGNOSIS Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. 19. tulang.Neck Surgery. Soetjipto D. 3) Lautenschlager operation Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid.A Synopsis of Otolaryngology. J Laryngol Otol 1998. 4) Vitamin A 3 x 10. 576-80. diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes. 218-9.3 Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2 tablet sehari selama 2 minggu. 16. 1986.Radiological and Endoscopic Study of the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis. 26-7. 193-411. Oxford : Butterworth .5. Sutomo. Oleh karena etiologinya belum pasti. J Laryngol Otol 1990 . 499. 1997. Jakarta : Bina Rupa Aksara. A Pocket Reference.Atrophic Rhinitis-Pathology. Alih Bahasa : Staf Ahli Bag.Edisi 6. 20. 1992. 221-2. Fundamental of Ear.21 OPERASI Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga hidung yang lapang. Samiadi D. 4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan. THT FKUI. Bertrand B. Pitfalls. Am J Rhinol 1998 . Management of Saddle Nose Deformity in Atrophic Rhinitis.J Laryngol Otol 1992 .3) Obat tetes hidung . 8. cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3 x sehari. mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi. 3. 1994. Jakarta: EGC. 11.11-14 Sinha. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau operatif. Farrington WT. 173-82. 113-4. 1996. 1980. Throat and Ear and Head and Neck. Groves J. 7. 1997. cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita. Dalam : ScottBrown's Otolaryngology. Edisi 13.106: 702-3. Sinha melaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun. New York : Georg Thieme Publishers. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. Ballenger JJ. Samsudin. 21. 13. Dalam : Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. Surgery of the Upper Respiratory System. Mangunkusumo E. 6. Colman BH. Singapore : PG Publishing. Hartley C. Technique. 17. 106 : 652-7. Lobo CJ. Jiang R. Cermin Dunia Kedokteran No. Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93. Dalam : Boies (ed). 381-2. Gamea AM.000 U / ml. 1992. Maqbool M. 23. campuran Triosite dan Fibrin Glue. Wood DG.4. 6th ed. 104 : 404-7. Massegur H. Head and Neck Surgery. 10-5. 2. Hagrass.Hidung. Madras : All India Publisher.Chen C. Sreeramamoorthy B. 14th ed Singapore : ELBS. 1997. Throat and Ear. Pfaltz CR. kemudian dipindahkan ke lubang hidung. 1994. dermofit. diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa. maka pengobatannya belum ada yang baku. J Laryngol Otol 2000. Triosite Implants and Fibrin Glue in the Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results. Ear.23 Mewengkang N melaporkan operasi penutupan koana menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil dengan memuaskan. 1987. A Short Practice of Otolaryngology. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. 264-7.10-14. pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok . Naumann HH. 10. Baser B. Naumann HH. Endoscopic Sinus Surgery and Postoperative Intravenous Aminoglycoside in the Atrophic Rhinitis. Calcutta : The New Book Stall. Mewengkang N.Hsu C. 12 : 325-33. 9. Doyen A.Heinemann. Laryngoscope 1996. 202-5. Etiology and Management. Vol. Ujung Pandang: 1986. Rinitis Atrofi. 218-21. 6th ed New Delhi : Jaypee Brothers.Nose & Throat Diseases and Head . Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi. natrium bikarbonat. Jakarta : FKUI. Ramalingam KK.

Mc Kenzie memperkenalkan nama papiloma laring pada abad ke-19.3 Papiloma merupakan jenis tumor yang berkembang dengan cepat.1 Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. 2004 . Papiloma laring pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the throat) oleh Donalus pada abad ke-17. higiene yang buruk. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas merupakan penyebab potensial papiloma laring. dan pemeriksaan laringoskopi langsung. tetapi lokasi tersering adalah laring. Beberapa keadaan diduga berperan sebagai faktor predisposisi seperti keadaan ekonomi rendah. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. trakea dan paru. Pada laringoskopi langsung dapat terlihat gambaran tumor menyerupai kembang kol.4. Komplikasi yang mungkin timbul adalah sumbatan jalan nafas serta penyebaran ke paru-paru. dan pertumbuhannya eksofilik. 8 Cermin Dunia Kedokteran No. kelainan imunologis. dan terdapatnya kondiloma akuminata pada ibu. Manifestasi klinis awal biasanya berupa suara serak sampai afonia serta suara tangisan yang abnormal. Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Papiloma Laring pada Anak Bambang Supriyatno. anak. rekurensi PENDAHULUAN Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai pada saluran napas anak. Tatalaksananya berupa tindakan bedah dikombinasikan dengan fotodinamik. dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian. Selain itu papiloma laring mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke struktur trakeobronkial. mudah berdarah. pada anak angka rekurensi (kekambuhan) masih cukup tinggi. Kata kunci : papiloma laring. infeksi saluran nafas kronik. Papiloma laring pada anak dapat menyebar ke trakea dan bahkan sampai ke paru-paru. Diagnosis papiloma laring ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti. Lia Amalia Bagian Ilmu Kesehatan Anak. berwarna kemerahan. rapuh. obat-obatan (medikamentosa) kurang berperan. Cipto Mangunkusumo.5 Terdapat dua jenis papiloma laring. hidung. diduga berhubungan dengan infeksi human papiloma virus (HPV) tipe 6 dan 11. Tumor ini dapat menyebar ke rongga mulut. Etiologi pasti papiloma laring tidak diketahui.2. Mc Kenzie membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan menggunakan istilah “papiloma”. Papiloma laring pada anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas. pemeriksaan fisis. Jakarta ABSTRAK Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai di saluran nafas anak. walaupun tidak ganas. Prognosis kurang baik dalam hal rekurensi. 144. salah satu adalah papiloma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung agresif.

2004 9 . semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat papiloma dan menghindari rekurensi.18 Pada kasus papiloma laring yang berulang. berwarna abu-abu atau kemerahan dan mudah berdarah. kemerahan. laringofissure. Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger. Terapi medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat. mengingat papiloma laring dapat menghilang spontan saat pubertas. sesak. Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring. dan podofilin topikal. sianosis ringan.5-18 tahun.8.11-13 HISTOPATOLOGI Gambaran makroskopik papiloma laring berupa lesi eksofitik. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang bermitosis. Biasanya terdapat stridor inspirasi dan pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak gambaran tumor yang menyerupai kembang kol. 6 di antaranya di bawah 12 tahun. dan mudah berdarah. Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan. Terapi fotodinamik Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam tatalaksana papilomatosis laring rekuren. Basheda dkk.INSIDENS Papiloma laring lebih sering dijumpai pada anak. terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan laser CO2.14 Terapi ini menggunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker. mikrolaringoskopi dengan diatermi. kriosurgeri.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti. paralisis pita suara. ETIOLOGI Etiologi papiloma laring tidak diketahui dengan pasti. Obat yang digunakan antara lain antivirus. Pada foto toraks dapat terlihat gambaran kavitas. pemeriksaan fisis. dan terkadang gagal napas. Walaupun penemuan di atas menunjukkan peran infeksi virus pada papiloma laring. melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan lesi endobronkial. tetapi tidak untuk lesi parenkim. Jackson I ditandai dengan sesak. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan laringoskopi langsung dan biopsi. steroid. Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi. hormon (dietilstilbestrol). stridor inspirasi ringan. maka perlu dicurigai suatu papiloma laring. mikrolaringoskopi dan ekstirpasi dengan forseps.18 d. Sering disalah diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis. dan kelainan imunologis.15 PENATALAKSANAAN Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma laring. tanpa sianosis.9 Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula. 144. Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan. 10 Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi lapisan sel epitel skuamosa dengan permukaan keratotik atau parakeratotik. Sedangkan di Bagian THT RSCM ditemukan 14 kasus antara 1993-1997 dengan usia antara 2. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas. tetapi ada faktor lain yang berperan.17 Diagnosis banding Diagnosis sulit terutama pada fase awal. mikrolaringoskopi langsung. carbondioxide laser surgery. dan stridor inspirasi.17. Jika diaktivasi dengan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm). serta pertumbuhannya eksofilik. b. Medikamentosa Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah. rapuh. Bedah Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis laring. dan pasien tampak mulai gelisah. epigastrium. Bila papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan pernapasan berupa batuk. DHE menghasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel yang mengandung substansi tersebut. laringomalasea. 80% pada kelompok usia di bawah 7 tahun. sedangkan Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak tegang. tetapi dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma atau riwayat trakeostomi sebelumnya. retraksi suprasternal. dengan laringoskopi langsung atau tak langsung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis. yang menimbulkan sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru. Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah kambuh. asma bronkial. Cermin Dunia Kedokteran No.10 MANIFESTASI KLINIS Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak sampai afonia dan suara tangisan abnormal pada anak.10 Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk. Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui foto toraks dan CT Scan. nodul pita suara atau kista laring kongenital.6 Agung7 melaporkan 7 kasus antara 1970-1976. mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi. 14-16 Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria Jackson.7.. Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal. Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut : a. infeksi saluran napas kronik. seperti kembang kol.3.18-20 c. tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan. mikrokauter. Imunologis Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya suportif menggunakan interferon. dan sianosis lebih jelas. Diduga ada hubungan antara infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak.

Skripsi. Agung IB. 102:580-3. 11:242-52. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi rekurensi pada papiloma. Papova viruses and recurrent laryngeal papillomata. Rimell EM. 20. Yasin AR. 107:915-47. Shikowitz MJ. Fairman DH. Dere H. 98:1324-9. KEPUSTAKAAN 1. de Boer G. Darrow DH. Current Diagnosis and Treatment. 100:1458-64. Kohlmoos HW. Task force on recurrent respiratory papillomas. 122:942-4. 119:554-7. Pignatari SSN. Mulloly VM. 2004 . 8. 107:327-32 Green GE. Leventhal B. Arch Otolaryngol 1995. PROGNOSIS Prognosis papiloma laring umumnya baik. Steinberg BM. THT FKUI. Bajtai A. Myers EN. Gray SD. Endobronchial and parenchymal juvenile laryngotracheobronchial papillomatosis effect of photodynamic therapy. Laryngoscope 1998. Schneider PS. Steinberg BM. Recurrent respiratory papillomatosis of the larynx. The Manchester experience 1974-1992. 2. 17.669-75. 3. Laryngoscope 1991. diduga akibat tindakan trakeostomi. radiasi diduga menjadi faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas. Harley C. Penelitian pendahuluan pada papiloma laring. Bristol General Hospital. Hidvigi J. 97:678-85. Laryngeal papillomavirus infection during clinical remission. ekstirpasi yang tidak sempurna. Comparison of pulsed and continuous wave light in photodynamic therapy of papillomas: An experimental study. Recurrent respiratory papillomatosis. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1995. 1982. 308:1261-4. Hamilton. 14. 16. 18. Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke paru. Abramson AL. Bashida SG. Laryngol and Otol 1994. 6. Derkay CS. 144. 7. Mounts P. Derkay CS. Pediatric respiratory papillomatosis. Abramson AL. et al. Ossof RH. Arch Otolaryngol 1981. . Human papillomavirus infection in papillomas and nondisease respiratory sites of patients with recurrent respiratory papillomatosis using the polymerase chain reaction. Otolaryngol Clin N Am 2000. Arch Otolaryngol 1995. Losin. 33:1-12. 15. Smith EM. White A. Steinberg BM. Shoemaker DL. 33:187-207. Elo J. 5. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996. 121:1386-91.13 Meskipun jarang. Interferon therapy in juvenile laryngeal papillomatosis. Bauman NM. Ann Otol Rhinol Laryngol 1993. Pou AM. Kashima H. Laryngoscope 1987. Laporan pendahuluan KONAS PERHATI V Semarang. 1977. 115:322-5.249-60. tetapi dapat meluas ke trakea. 101:1162-6. Pengelolaan papiloma laring di Bagian THT FK-UGM. N Engl J Med 1983. Cantell K.16 Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap rekurensi. Pathogenesis and treatment of juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis.KOMPLIKASI Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh spontan ketika pubertas. Ultrasonic treatment of laryngeal papillomata. Otolaryngol Clin N Am 2000. Late recurrences of laryngeal papillomatosis. Haliwell M. Smith RJH. 102:300-10. A preliminary study. 13. 11. 108:226-9. 12. Lundwuist P. Werkheven JA. Soft tissue complication of laser surgery for reccurent papillomatosis. Laryngeal papillomatosis: clinical histopathologic and molecular studies. Prognostic role of viral typing and cofactors. Chest 1991. 9. dan paru. Clinical effect of alpha interferon dose variation on laryngeal papillomas. Erisen L.h. Orlowski JP. h. Sites of predilection in recurrent respiratory papillomatosis. Topp WC. Laryngoscope 1997. 4. 10 Cermin Dunia Kedokteran No. bronkus. Winkler B. Angka rekurensi (berulang) dapat mencapai 40%. Laryngoscope 1992. 10. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1993. Birzgalis AR. 19. Haglund S. Papilloma of the larynx in children. Mehta AC. Fagan JJ.

12 Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus yang banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan. bagian tengah korpus hiod. Kista ini lebih sering terjadi pada anak. sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari dasar lidah sampai ismus tiroid.1.000 pasien anak. 2004 11 .4.1% . Adam Malik.5 Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10 tahun sebesar 31. jika sering terjadi peradangan.5%. kekambuhan PENDAHULUAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid.3.suprasternal : 12.14 walaupun dapat ditemukan di semua usia. dekade ke tiga 13.13.tirohioid : 60. merupakan 40% dari tumor primer di leher. Teori lain mengatakan mengingat duktus tiroglosus terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher.1.4.14 Ada penulis yang menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus.5 : .9. seperti yang dilakukan Sistrunk pada tahun 1920. yaitu dari foramen sekum sampai kelenjar tiroid bagian superior di depan trakea.1-11 Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. Medan ABSTRAK Kista duktus tiroglosus merupakan 70 % dari kasus kista yang ada di leher. yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.5 Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus secara histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista tersebut.6%.10.5 tahun.4-10.11 PATOGENESIS Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya kista duktus tiroglosus : 1) infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel traktus. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di sekitarnya.13 KEKERAPAN Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus terbanyak dari massa non neoplastik di leher. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.1 LOKASI Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis tengah leher. 2) sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sekret sehingga membentuk kista.5.3.9% Sedangkan Ward4 mendapatkan dari 72 pasien dengan kista duktus tiroglosus. 144.10.4%.9% . dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid.10.5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34.9.4.6 Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak. umur sampai 5 tahun terdapat 38%. Kata kunci : Kista duktus tiroglosus. maka epitel duktus juga ikut meradang. rata-rata pada usia 5.4.3 Tidak terdapat perbedaan risiko terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa didapat dari lahir sampai 70 tahun.11 Lokasi yang sering adalah1.intra lingual : 2. sehingga terbentuklah kista.12 Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi Semarang.suprahioid : 24.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kista Duktus Tiroglosus Hafni Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H.12 Predileksi umur terbanyak antara umur 0 – 20 tahun yaitu 52%.1. lokasinya terdapat di: Cermin Dunia Kedokteran No.1% . pada dekade ke dua 20.5. sehingga mengalami degenerasi kistik.5 Kista ini biasanya terletak di garis median leher.11 Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus dari + 86.

THT FKUI. Kejadian fistel ini antara 15-34%.). 2nd ed.. Benign Tumors. Thyroglossal duct remnants. 6th ed. yang harus dipikirkan pada setiap benjolan di garis tengah leher. Surgery of the Upper Respiratory System. Dalam : Comprehensive Management of Head and Neck Tumors. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. Kista brankial Lipoma1. Hereditary Thyroglossal Duct Cyst.Otolaryngology. Duktus beserta otot berpenampang setengah sentimeter diangkat. 1987.5 KESIMPULAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang tetap ada sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. 1989.11 Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan embriologi. Congenital Neck Masses and Cysts. Buku Ajar Penyakit THT. 1313-14. korpus hioid.11 Cara Sistrunk : 1) Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea terpasang. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen sekum serta otot lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat.transhioid : 2 . 3. Jakarta : EGC. Untuk fistula. Massa Jinak Leher. Ujung Pandang. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. 12 Cermin Dunia Kedokteran No. Walsh N. Thawley S. Philadelphia : WB Saunders Co. O’Hanlon DM. 1996. Throat and Ear and Head and Neck. 122: 1094-6.11 Diagnosis Banding 1. thyroglossal cysts and fistulae. 1.1. Colman BH. 108 : 1105-7. Kista dermoid 3. Simko MEJ. 1997. sampai tulang hioid. J. 11. 2nd ed. 8. Urben SL. dibuat irisan memanjang di garis media. Singapore : ELBS. Jakarta : Bina Rupa Aksara. 1990. Suparjadi S. A Handbook for Students and Practitioners. mudah digerakkan. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. 144. 4. Vol. tidak nyeri. Head and Neck Surg. Dalam : Kumpulan Naskah Konas VI Perhati. berbatas tegas. Disease of Nose. 5/16/14. 2. Konsistensi massa teraba kistik. 6. Maran AGD. Otolaryngol. Leichtman LG.6. 760-7. 5. Vol. Laryngol.5. 10. Developmental Anomalies of the Neck. Robertson N et al. Otol. benjolan akan terasa nyeri. Kohut RI et al. Korpus hioid dipotong satu sentimeter. 19. Saleh H. Otol. Philadelphia : Lea & Febiger. 9. 1362-69. 5) Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke foramen sekum. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid. Dalam: Pediatric Otolaryngology.1985. Oxford: Butterworth – Heinemann. 2. Ballenger JJ. eksisi sederhana. 1994.). Foramen sekum dijahit. Dalam Boies. Pincu RL. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang sudah banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan.6. Schlange (1893) melakukan eksisi dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktusduktusnya. Cohen JI. Alih Bahasa : Wijaya C. bulat. 2) Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago tiroid sepanjang empat sentimeter. 1996. 12. yaitu kista beserta duktusnya. 1986. antara lain insisi dan drainase.8 GEJALA KLINIK Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di garis tengah leher. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak. 1987. Stool SE. 13. Montgomery WW. Damijanti T. Benign diseases of the neck. Panje WR (eds. Cara ini dapat menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %. Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan kulit di atasnya berwarna merah. Waddell A. Lingual tiroid 2. Karmody CS. Samsudin. warna sama dengan kulit sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah. 183. Oxford : Butterworth . kadangkadang lebih besar. Tenggorok. 381-2. KEPUSTAKAAN 1. diagnosis dapat ditegakkan menggunakan suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan dilakukan foto Rontgen. Greinwald JH. Kepala dan Leher. Jilid 1.suprahioid : 18 . Fusion of the thyroid interval in a patient with a thyroglossal duct cyst. Benjolan membesar dan tidak menimbulkan rasa tertekan di tempat timbulnya kista. otot lidah yang longgar dijahit. 7. 755.11 4) Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya.dengan cara ini angka kekambuhan menjadi 20%. Philadelphia : JB Lippincott Co. Corry J et al. Aberrant thyroglossal cyst. 2004 . Otot sternohioid ditarik ke lateral untuk melihat kista di bawahnya. Ellis PDM. 114: 128-9. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik. 295-6. 1997. J. Philadelphia : WB Saunders Co. 14. infeksi atau operasi yang tidak adekuat. 88. Dalam : Head and Neck Surgery . 6th ed. 1994. Edisi 6. Penyakit Telinga. Tata Laksana Kiste Duktus Tiroglosus di UPF THT RSDK Semarang Th. irisan berbentuk elips megelilingi lubang fistula. kepala dan leher hiperekstensi. walaupun dapat ditemukan pada semua usia. 120 (5): 757-9. Johnson JT. Scheetz MD (eds. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag.submental : 2 . Vol.Heinemann.7. Branchial cleft anomalies. aspirasi perkutan.suprasternal : 3 Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang lokasinya jauh ke lateral. 1983 . PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan banyak macamnya. dipasang drain dan irisan kulit ditutup kembali.infrahioid : 43 . Ransom ER. 4.11 KOMPLIKASI Fistel duktus tiroglosus dapat timbul spontan atau sekunder akibat trauma. posisi terlentang. II.10 Diameter kista berkisar antara 2-4 cm. 6/30/8-12. 2000.9 Bila terinfeksi. Sobol M. Edisi 13. Bluestone CD. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher.2. 415-21.5. dapat di atas atau di bawah tulang hioid. Bila ada fistula. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan dilaporkan antara 60-100%. fasia yang lebih dalam digenggam dengan klem. Laryngol. Bailey JB. reseksi dan injeksi dengan bahan sklerotik. Hidung. 3) Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia. 14th ed.

1-7 Di Indonesia. 2004 13 . lingkungan hidup yang tidak sehat dan gizi yang jelek. trakea dan bronkus.2 Belinoff melaporkan 94. di Indonesia terutama di Sulawesi Utara. Adam Malik. Medan ABSTRAK Rinoskleroma merupakan penyakit endemik. tetapi sering pada dewasa muda. Rusia. Salvador. Kasus pertama ditemukan oleh Snigders dan Stoll (1918) di Sumatera Utara.2. Uganda.7. 144. namun sampai sekarang belum ada cara tepat yang memberikan hasil memuaskan.2. Mesir.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinoskleroma Delfitri Munir. Sumatera Utara dan Bali. Rumania. Ukraina. Nigeria. Eropa dan Afrika. PENDAHULUAN Rinoskleroma adalah penyakit yang jarang di Amerika Serikat dan Inggris. Amerika. rinoskleroma telah dilaporkan sejak sebelum perang dunia ke dua.8-10 Penyakit ini pertama kali digambarkan oleh Von Hebra (1870). Philipina dan Indonesia.7 HISTOPATOLOGI Penyakit rinoskleroma adalah penyakit radang menahun granulomatosa dari submukosa dengan gambaran histo- Cermin Dunia Kedokteran No.11 Penyakit ini merupakan penyakit endemik di Polandia. India. orofaring.9. mengenai traktus respiratorius bagian atas terutama hidung.5 % terdapat pada golongan pekerja kasar seperti petani. Belum ada cara penanggulangan yang tepat dan memuaskan untuk penyakit ini sampai sekarang.1. Cekoslovakia. radiasi dan pembedahan. Sumatera Utara dan Bali. Sumatera Utara dan Bali.1-16 Penyakit ini juga dihubungkan dengan AIDS dan defisiensi sel T.8 ETIOLOGI Rinoskleroma disebabkan oleh Klebsiela rhinoskleromatis yang merupakan basil Gram negatif.8.11.8 Fisher menyatakan tidak ada perbedaan yang nyata antara laki-laki dan perempuan.2. Mikulitz menemukan sel-sel yang dianggap khas untuk penyakit ini dan Von Frisch menemukan basil jenis Klebsiella yang dianggap sebagai penyebab penyakit ini.8. subglotis.1. Kolumbia.5. Bila tidak diterapi akan meluas ke bibir atas dan hidung bawah sehingga me- nimbulkan deformitas yang luas.2 Dilaporkan banyak terdapat di Sulawesi Utara. Rizalina A Asnir. dan dalam beberapa tahun akan mengisi dan menyumbat hidung. Penyakit ini ditandai dengan penyempitan rongga hidung sampai penyumbatan oleh suatu jaringan granulomatosa yang keras serta dapat meluas ke nasofaring. tapi endemik di beberapa negara di Asia. Penyakit ini sering dijumpai pada sosial ekonomi yang rendah.10 Diagnosis berdasarkan perjalanan klinis dan pemeriksaan patologi spesimen yang memperlihatkan sel-sel Mikulicz yang khas dan bakteri berbentuk batang dalam sitoplasma. meluas secara bertahap menjadi nodul padat yang tidak sensitif.2-4.9 Kebanyakan penderita ditemukan pada dekade dua dan tiga.9.8 Rinoskleroma adalah penyakit menahun granulomatosa yang bersifat progresif.1.13-16 Di Indonesia banyak terdapat di Sulawesi Utara.1. Rinoskleroma disebabkan oleh bacilus gram negatif (Klebsiella rhinoscleromatis).6. Guatemala.7 INSIDEN Rinoskleroma dapat mengenai semua usia.8 Pengobatan meliputi medikamentosa. Firmansyah Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H.9 Infeksi biasanya dimulai dari bagian anterior hidung sebagai plak submukosa yang lembut.8.1.

ditambah dengan pemeriksaan penunjang seperti radiologi.6. Lepra b.Stadium II (Granulomatous. Blastomikosis.Rifampisin 450 mg/ hari . Kemudian terjadi invasi. .5-1 g/ hari .Stadium III (Skleromatous. Sel-sel ini mempunyai inti di tepi dan di dalam vakuola terdapat banyak basil berbentuk batang yang kemudian dikenal sebagai basil dari Von Frisch. Radiasi Terapi radiasi pernah diberikan oleh Massod. Klofazimin1. radiasi dan tindakan bedah.13. kemudian diikuti cairan mukopurulen berbau busuk. Wegener granulomatosis PENATALAKSANAAN Meliputi : medikamentosa. Stadium III adalah stadium yang sudah tenang dengan keluhan dan gejala dari sisa kelainan yang menetap akibat proses sikatrisasi dan kontraksi konsentrik jaringan granulomatosa yang mengeras. pemeriksaan fisik yang meliputi : rinoskopi anterior/posterior. Stadium granulomatosa Gambaran diagnostik ditemukan pada stadium ini berupa sel radang kronik. Siprofloksasin. Dari pemeriksaan. kemerahan. Stenosis.1. Noduler) Ditandai dengan hilangnya gejala rinitis. tertutup mukosa dengan konsistensi padat seperti tulang rawan.Stadium I (Kataralis. Eksudasi) Ditemukan pada usia sekolah. GEJALA KLINIS Gejala tergantung pada area.7.Streptomisin : 0. histopatologi. Lama-lama tuberkel ini bergabung menjadi satu massa noduler yang sangat besar. yang menyebabkan stenosis dan kelainan bentuk.14: . Sifilis. yang menunjukkan gambaran khas adalah stadium granulomatosa2.2. namun sampai sekarang belum ada cara yang tepat dan memuaskan. di samping keluhan hidung tersumbat juga sering terjadi perdarahan dari hidung. Jamur : Histoplasmosis.11 14 Cermin Dunia Kedokteran No. Antibiotik yang dapat digunakan antara lain: .Khloramphenikol. bakteriologi. kemerahan.6. Sarkoidosis 3. serologi (test komplemen fiksasi.1 Di hidung dapat dibedakan menjadi tiga stadium 1. hanya pilek yang tidak mau sembuh dengan pengobatan biasa. 2.1. Pada stadium ini sel-sel Mikulicz sulit ditemukan. tetapi hasilnya belum memuaskan.13-15 Terapi antibiotik diberikan selama 4-6 minggu dan dilanjutkan sampai dua kali hasil pemeriksaan kultur negatif. Stadium sklerotik Fibrosis yang luas. dapat terjadi gangguan penciuman. Infiltratif.8 1. .10 2. jaringan ikat di bawah epitel berbentuk trabekula dan di infiltrasi oleh sel-sel besar dengan vakuola pada sitoplasma. kontraksi jaringan yang akhirnya membentuk jaringan parut dan penyempitan jalan nafas. mudah berdarah. Di samping itu terdapat pula sebukan sel-sel plasma. laring.3. permukaan licin tanpa ulkus. Pada stadium ini biasanya penyakit mudah dikenali. Parasit : Leismaniasis mukokutaneus 2.Tetrasiklin : 1-2 g/ hari . Koksidioidomikosis c. tetapi kurang berharga pada stadium sklerotik. sakit kepala. sumbatan hidung yang berkepanjangan.14.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis.9. konsistensi padat. Medikamentosa Antibiotik sangat berguna jika hasil kultur positif. trakea dan bronkus. Proses yang sama dapat terjadi pada mulut.15 1. Bakteri : Tuberkulosis.11. Terjadi pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa hidung yang tampak sebagai tuberkel di permukaan hidung. Pada stadium II. 3. Toppozada mengemukakan bahwa sel ini berasal dari sel-sel plasma yang banyak terdapat pada penyakit ini. dapat ke arah posterior (nasofaring) maupun ke depan (nares anterior). Sel-sel ini menurut Fischer dan Hoffman penting dalam menegakkan diagnosis penyakit rinoskleroma. sering seperti rinitis biasa.9 Secara histopatologis penyakit ini terdiri dari tiga stadia. histiosit besar bervakuola yang mengandung Klebsiella rhinoskleromatis (Mikulicz sel). Sel-sel besar dengan vakuola dan basil-basil tersebut kemudian dikenal dengan sel-sel dari Mikulicz.710. Lebih lanjut rongga hidung mulai dipenuhi krusta yang menyebabkan hidung tersumbat dan berbau busuk serta mukosa hidung menjadi kemerahan. hiperplasi pseudo epiteliomatosa.patologis yang khas. limfosit dan histiosit.810. faring. kavum nasi dipenuhi oleh jaringan yang mudah berdarah. Sporotrikosis.15 Diagnosis Banding2.2.2.12 1. Stadium kataral/ atropik Metaplasi skuamosa dan infiltrasi subepitel nonspesifik dari sel PMN dengan jaringan granulasi.7. Pada stadium ini penyakit mudah meluas sampai ke traktus respiratorius bagian bawah.9 Steroid dapat diberikan untuk mencegah sikatrik pada stadium granulomatosa. Pada stadium I.8. 144.8 Rolland menggunakan kombinasi Streptomisin dan Tetrasiklin dengan hasil yang memuaskan.8. Proses infeksi granulomatosa a. Atrofi. laringoskopi indirek/direk dan bronkoskopi. Russel body.8-11. Keluhan penderita sesuai dengan stadiumnya. Dimulai dengan cairan hidung encer. perluasan dan lamanya penyakit. 2004 . Gambaran penyakit pada stadium ini tidak khas. Sikatrik) Massa secara perlahan-lahan menjadi avaskuler dan terjadi fibronisasi yang diikuti oleh adhesi struktur jaringan lunak. test aglutinasi) dan imunokimia. berupa hiperplasi dan hipertrofi epitel permukaan.

Sinus paranasal . 6. In Scott-Brown’s Otolaryngology. 9. In XVI World Congress of Otorhinolaringology head and neck surgery.atlases. Sydney: March. Ed III. asfiksia dan kematian. Great Britain: 1997. http//www. USA: WB Saunders Co. 144. Infectious disease of the paranasal sinuses.Telinga bagian tengah (otoskleroma) . p. atelektasis paru. 3. Laring. sehingga pengangkatan dapat dikerjakan dengan mudah secara intranasal. Masna PW. 13. faring dan telinga. 7. kepala dan leher. 4. 1991. Butterworth-Heinemann. EGC. Ed III. 3. Wilson WR. Scleroma.103.1 KEPUSTAKAAN 1. Dalam: Penyakit telinga. sering timbul di daerah subglotik yang mengakibatkan kesukaran bernafas. Cermin Dunia Kedokteran No.com/diseases/rhinoscleroma. Ed X. ed I India: All India Publishers. Beberapa aspek penyakit rinoskleroma di bagian THT FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar.32/micro/v17n04.thedoctorsdoctor. Binarupa Aksara. h 128-34.14. throat and ear and head and neck. Longman Singapore Publ. Montgomery WW. Ed VI. Acute and chronic laryngeal infections. komplikasi dapat juga timbul berupa perdarahan (pada stadium granulomatosa) dan berdegenerasi maligna. Wein N. Nauman HH. Department of pathology. 16.org/departements/endocrine/case/dec00/december2 htm.ce/atl-en/sect-sect-58/html. Ed VI. In: Diseases of the nose. hidung. Oren I et al. h 224556. hidung. January. Surabaya. ed 13. 10. Juli. 1997. Tjekeg M dkk. 3.16 KOMPLIKASI Komplikasi dapat timbul akibat perluasan penyakit ke : 1. ed IV. 1990. USA: WB Saunders Co. tenggorok. Jilid I. nose and throat diseases.Orbita : proptosis. 2089. Ahmad M.162. orofaring 2. 1993.Dilatasi Cara dilatasi dapat dicoba untuk melebarkan kavum nasi dan nasofaring terutama bila belum terjadi sumbatan total. Shapiro J.Saluran lakrimal (dakrioskleroma) . Fried MP. 11. Infections of the nose. Chest. h 457-66. uvula. http//www. Ben-izhak O. No 4. Groves C. Vol III. Balenger JJ.htm. Infective rhinitis and sinusitis. 1983. 61. Jika terjadi sumbatan jalan nafas (seperti pada skleroma laring) harus dilakukan trakeostomi. Benign Tumours and Granulomas in Nose. htm Colman BH. Becker W.9 4. In A Short Practice of Otolaryngology. h 368-70. Pfaltz CR. Vol III. In Otolaryngology. Buku Ajar penyakit THT.afip.muni. Jakarta. 8. June 2000. 1991. 1851-52. Penyakit hidung. 5. 1998. Pranowo S. 1997. Ear. Granuloma kronis pada muka. p. Saluran nafas bawah: sumbatan trakeobronkial. In: Otolaringology. Dalam : Kumpulan Naskah KONAS VI PERHATI. 40. Sreemamoorthy B. p. Wiratno dkk.10. Medan.1. 1994. Laryngotracheobronchial involvement in a patient with nonendemic rhinoscleroma.9. 15. 4.7. Vol 17. Dalam Kumpulan naskah lengkap ilmiah KONAS VII PERHATI. p.13. 14. Throat and Ear.4.Palatum mole. New York: Thieme medical publishers inc.129. PG Publishing. 603-7. h 4/8/34-35 Rhinoscleroma http//www. Chitale A. Ed II. 1980. Dalam Boies (ed). Maran AGD. kebutaan .1. Vol 1. Dr. 12. Pembedahan Tindakan ini dilakukan pada jaringan skleroma yang terbatas di dalam rongga hidung. http//www. Kariadi Semarang. h 210. Organ sekitar hidung : . Diseases of the nasal cavity. Yigla M. Suardana W. p. 1990. Monduzzi. Jakarta. Desasouza S. Hilger PA. p. 1993. Ramalingam KK. Rinoskleroma di RS. 2004 15 . Intrakranial Di samping akibat perluasan penyakit. Vol IV. 206-7. Agustus. 2.

Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya KNF antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih (Caucasians). Cipto Mangunkusumo. Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh dunia. Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang diawetkan (diasap. Bermula dari terjadinya defek atau kesalahan letak susunan DNA dalam sel manusia yang mengakibatkan tidak terkontrolnya mekanisme pertumbuhan sel. Dijumpai 16 Cermin Dunia Kedokteran No. Perubahan genetik ini mengakibatkan proliferasi sel sel kanker secara tidak terkontrol. Berbagai kekacauan struktur ini telah dapat diidentifikasi oleh para pakar. Catatan dari berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa KNF menduduki urutan ke empat setelah kanker leher rahim. kanker payudara dan kanker kulit. Jepang dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai mengidap penyakit ini. Yang disebut KNF adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini. putusnya kromosom (chromosome breaks) dan delesi pada sel sel somatik. . misalnya kelainan pada struktur gen BRCA1 dan BRCA2 selalu diasosiasikan dengan kanker payudara atau indung telur (ovarium). seperti perokok berat. Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar akibat mutasi.7 kasus baru per tahun per 100. Berbagai studi epidemilogik mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kanker Nasofaring Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir R. sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. Di Hongkong tercatat sebanyak 24 pasien KNF per tahun per 100. bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih. bahwa kelompok migran masih mengandung gen yang ‘memudahkan’ untuk terjadinya KNF. dimana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi. apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya KNF pada kelompok migran tersebut. terutama pada kelainan struktur gen yang diturunkan. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian KNF pada para migran dari daratan Tiongkok yang telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan) di San Fransisco Amerika Serikat.000 penduduk1. Sebagian lagi bersifat diturunkan Adakalanya manifestasi kanker ini memerlukan pula pemicu. sedangkan angka rata rata di Cina bagian selatan berkisar antara 20 per 100. atau gen HLA A2B46 pada pasien kanker nasofaring. pajanan pada bahan kimia atau oleh virus. maka KNF paling banyak dijumpai pada ras Mongol.3 Sekalipun termasuk ras Mongoloid. Antara lain disebutkan faktor makanan. 2004 lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan 2-3 orang pria dibandingkan 1 wanita. KANKER NASOFARING (KNF) Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi dan di atas bagian bebas dari langit langit lunak. Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah. faktor eksternal seperti sinar ultraviolet dan sinar radioaktif.000 penduduk. Di dalam ikan yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan. Sel akan tumbuh tidak normal dan berlebihan. 144.000 penduduk per tahun. Jakarta PENDAHULUAN Telah diketahui sejauh ini bahwa proses terjadinya penyakit kanker berlangsung dalam tahapan tahapan yang disebut sebagai mekanisme karsinogenesis. diasin). di samping Mediteranian. seperti konsumsi lemak yang terlalu tinggi. Berbagai faktor telah diketahui atau dicurigai sebagai penyebab terjadinya kekacauan struktur ini. Tetapi seluruh bagian THT (telinga hidung dan tenggorokan) di Indonesia sepakat mendudukan KNF pada peringkat pertama penyakit kanker pada daerah ini. dan beberapa ras di Afrika bagian utara. Susworo Guru Besar dan Spesialis Radiologi (Konsultan) Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. tepatnya pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring.2 Bandingkan dengan negara Eropa atau Amerika Utara yang mempunyai angka kejadian 1 per 100. Sebaliknya. kulit hitam dan Hispanics. tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh. pola hidup.000. yakni 4. bangsa Korea.

5 Peneliti lainnya mencoba menghubungkannya dengan makanan yang diawetkan menggunakan garam lainnya seperti udang asin.000 penduduk).000). Berbeda halnya dengan kanker leher rahim dan kanker payudara yang masing-masing dapat terdeteksi dengan metode pemeriksaan sitopatologik Papanicolaou dan mamografi. Hal ini tampak mencolok pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari negaranya. seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV. CT scan atau MRI nasofaring dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium. Selain mendesak dasar tengkorak KNF juga seringkali menyerang saraf pusat yang keluar dari otak. kadang kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga. pemindaian tulang dengan radioisotop (bone scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastasis di organ-organ tersebut. Keluhan telinga dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran Eustachii yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam ruang telinga tengah dan udara luar. Di beberapa bagian negeri Cina makanan ini mulai digunakan sebagai pengganti air susu ibu pada saat menyapih. predisposisi genetik dan pola makan tertentu. terlebih pada stadium dini. keluhan sensorik yang sering timbul adalah rasa baal di wajah. banyak kasus yang terlambat didiagnosis. Pemberian pengobatan terhadap pembesaran kelenjar yang dianggap tbc tanpa pemeriksaan yang benar tentunya akan sangat merugikan penderita secara moril maupun materiil mengingat pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama.5 per 100. Sedangkan pemeriksaan lain. Pemeriksaan titer antibodi IgA terhadap antigen yang diproduksi oleh virus Epstein Barr ternyata hanya bernilai untuk mengevaluasi respons dan kemungkinan terjadinya kekambuhan. Manakala pasien merasa bahwa kelenjar leher menjadi makin besar. Yang selanjutnya terjadi biasanya pasien ini akan memperoleh pengobatan nyeri kepala dalam jangka panjang dan pemeriksaan berulang ulang terhadap otaknya sampai akhirnya muncul salah satu gejala akibat KNF. Penjalaran tumor ke selaput lendir hidung dapat mencederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya akan terjadi perdarahan dari hidung (mimisan). Adanya metastasis dimanapun akan mengubah stadium penyakit dan mempunyai konskuensi terhadap tujuan pengobatan. sampai saat ini belum ada metode penyaring yang paling efektif untuk deteksi dini KNF. seperti foto paru.Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. KNF tidak pernah dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol tetapi lebih dikaitkan dengan virus Epstein Barr. Pada 1966. Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura. maka dapat dipastikan bahwa penyakitnya telah menjadi kian lanjut. Keterlambatan diagnosis lain yang pernah terjadi adalah karena kegagalan mencari penyebab keluhan sakit kepala yang terus menerus. disusul oleh keturunan Melayu (6. pada hampir semua kasus KNF telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut. pendengaran sedikit menurun serta mendesing. Saraf yang paling sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata. Untuk menegakkan diagnosis. Pembesaran kelenjar leher merupakan pertanda penyebaran KNF ke daerah ini yang tidak jarang didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar. Diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologik jaringan nasofaring. Di samping itu pemberian khemoterapi diharapkan dapat meningkatkan kepekaan jaringan tumor terhadap radiasi serta membunuh sel sel kanker Cermin Dunia Kedokteran No. Lendir dari hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang. Selain gangguan motorik. capsid antigen dan early antigen. Pada keadaan lanjut hidung akan menjadi mampet sebelah atau keduanya.5 per 100. Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami (Chinese herbal medicine= CHB). debu kayu serta asap kayu bakar. Ditemukan kasus KNF dalam jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton (Cantonese-style salted fish). Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. Namun virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit. akibatnya terjadi kelumpuhan bola mata yang mengakibatkan pasien mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan tampak bola mata yang juling. USG hati. Epstein dan Barr pada limfoma Burkitt pada 1960). Kegagalan tersebut terjadi antara lain karena pemeriksaan CT scan / MRI dilakukan hanya pada jaringan otak saja. telur asin. GEJALA KLINIS KNF Karena tidak ada gejala spesifik yang dijumpai pada penderita KNF.5 per 100. Jadi adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan. padahal nyeri kepala yang timbul dapat merupakan akibat desakan tulang dasar tengkorak oleh tumor. Hildesheim dkk memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF. Adanya hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya KNF dipelajari oleh Ho dkk. Pada awalnya pasien mengeluh pilek pilek biasa. selain gambaran keluhan dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan pemeriksaan klinis dengan melihat secara langsung dinding nasofaring dengan alat endoskopi. Penyebab lain yang dicurigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid. 4 Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV). 144. PENGOBATAN Sampai dengan saat ini dasar pengobatan KNF yang masih terbatas pada daerah kepala dan leher adalah terapi radiasi. 2004 17 .000) dan terakhir adalah keturunan Hindustan (0. Kombinasi pengobatan dengan khemoterapi diperlukan apabila kanker sudah tumbuh sedemikian besarnya sehingga menyulitkan tindakan radioterapi. Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain. infeksi EBV dan penggunaan CHB6. Persentase terbesar yang dikenai adalah masyarakat keturunan Tionghoa (18. (yang dinamai sesuai dengan penemunya.

Djakaria M. Azis MF. Pengobatan radiasi. and risk of nasopharyngeal carcinoma. Cancer Res. Pisani P. 1990. Ferlay J. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik. Estimates of the world-wide incidence of 25 major cancers in 1990. dianjurkan untuk tidak meremehkan gejala gejala seperti yang diutarakan di atas. p. (Lihat lampiran/ halaman 19). Nasopharyngeal cancer. Kombinasi ini diberikan pada kasus kasus yang telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal. Parkin DM. 2. Herbal medicine use. Cipto Mangunkusumo General Hospital. Cancer epidemiology and prevention. Raymond L. memberikan informasi kepada pasien mengenai metode pembersihan ruang mulut dan gigi secara benar. 7. N. Yu MC. Nasopharyngeal carcinoma in Dr. Namun radiasi pada kasus lanjutpun dapat memberikan hasil pengobatan paliatif yang cukup baik sehingga diperoleh kualitas hidup pasien yang baik pula. France : IARC Scient. Ho JHC. Cancer Incidence in Five Continents. 603 –18. Yu MC. In: Schottenfeld D and Fraumeni JF (eds). Susworo. Publ. 1981. 144. Int J Cancer. 80: 827–41. 143. Soetjipto D. Radiasi daerah getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai pembesaran kelenjar. Lyon. 4. pada umumnya akan memberikan hasil pengobatan yang memuaskan. Syafril A. mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). Jakarta Indonesia 1988. Perawatan sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi. Young J. PENUTUP Sekalipun KNF tidak selalu memberikan gejala yang spesifik. pasien akan selalu diawasi oleh dokter. NPC in Chinese – Salted fish or inhaled smoke? Prev Med. 1992. dapat menggunakan pesawat kobalt (Co60) atau dengan akselerator linier (Linear Accelerator atau Linac). Parkin DM. yakni dengan memasukkan sumber radiasi ke dalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cedera yang serius pada jaringan sehat di sekitarnya. 1997. 2004 . KEPUSTAKAAN 1. Berkonsultasi ke dokter keluarga atau langsung ke dokter spesialis THT merupakan tindakan yang tepat. YKI. Akibat kelenjar parotis terkena radiasi dosis tinggi terjadilah disfungsi berupa menurunnya alir saliva yang akan diikuti dengan kekeringan pada mukosa mulut (xerostomia). bahkan setelah selesai terapi. 5. terutama pada kasus dini. 52: 3048 –51. Bahkan saat ini Malaysia dan Filipina telah memilikinya. 10: 15-24. ed. No. The flame of glory is the torch of the mind 18 Cermin Dunia Kedokteran No. Penatalaksanaan pembedahan tidak mempunyai peranan pada KNF mengingat lokasi tumor yang melekat erat pada mukosa dasar tengkorak. Fachrudin D. Henderson BE. 6. Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna. Hildesheim A et al. karies gigi akan lebih mudah terjadi. (Eds). 1996. Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. Epstein Barr virus. Metode yang disebut sebagai IMRT (Intensified Modulated Radiation Therapy) telah digunakan di beberapa negara maju. Radiasi ini ditujukan pada kanker primer di daerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas. Whelan SL. p. Henderson BE. 471–86. Himawan S. IARC Press. Yusuf A. Cancer in Asia and Pacfic.yang sudah berada di luar jangkauan radioterapi. 2nd. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri telan. bawah serta klavikula. Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin maka sebelum dan selama pengobatan. Metode brakhiterapi. Vol. In : Tjokronagoro A. Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. York: Oxford University Press. Ferlay J. Bila saliva yang mempunyai fungsi antara lain mempertahankan pH mulut di angka netral dan ikut serta dalam membersihkan sisa sisa makanan ini berkurang. EFEK SAMPING PENGOBATAN Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring mau tidak mau akan mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut dan kelenjar parotis. 3. Ross RK.

2004 19 . Alat Radiasi Eksterna (Linear Accelerator) Gambar 3. Masker yang digunakan oleh setiap pasien kanker kepala-leher yang sedang memperoleh radiasi. Alat bantu ini berguna untuk fiksasi kepala. 144. Pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang ternyata merupakan metastasis dari KNF Gambar 2. Cermin Dunia Kedokteran No.LAMPIRAN : Gambar 1.

catarrhalis PENDAHULUAN Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di banyak negara berkembang. 2004 napasan atas maupun bagian bawah. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Antimikroba Penisilin G adalah 30%.3 %. baik infeksi saluran per20 Cermin Dunia Kedokteran No. Streptococcus β-hemolyticus. Ditemukan 132 kuman yang terdiri dari 12 spesies. Untuk mengetahui sensitivitas kuman isolat usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam.2%.HASIL PENELITIAN Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat Retno Gitawati.8 %. Ani Isnawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Metoda penelitian cross-sectional. terutama infeksi pernapasan akut (ISPA).82%.11%. B. dilakukan penelitian “Pola sensitivitas kuman hasil usap tenggorok penderita tonsilo-faringitis akut terhadap Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat”. Jakarta ABSTRAK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di Indonesia. Branhamella catarrhalis 22. usia 5-15 tahun 29. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 20%. Kata kunci : Tonsilo-faringitis. Streptococcus pneumoniae 3. serta lebih dari 50% penyebabnya . Departemen Kesehatan RI. salah satu mikroba terpilih adalah antimikroba golongan betalaktam. Terapi antimikroba digunakan bila infeksi disebabkan oleh bakteri (kuman). 40% dan 80%. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi ISPA untuk usia 0-4 tahun 47. 87. Pemeriksaan isolat dan sensitivitas kuman terhadap antimikroba dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. Branhamella catarrhalis. Streptococcus βhemolyticus 6.04%.1 %. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin.52%. terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi saluran pernafasan bawah. termasuk Indonesia. 53. 144. Betalaktam.5 % dan dewasa 23. Lima spesies terbanyak adalah: Streptococcus viridans 54. dilakukan terhadap 83 pasien tonsilo-faringitis akut pengunjung dua puskesmas di Jakarta Pusat pada bulan September 1999 sampai bulan Nopember 1999. Streptococcus sp. Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus nonhemolyticus terutama terhadap antimikroba Cephradin berturut–turut adalah 73. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus viridans.5%. yakni sebesar 68.9 %.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3.

yang memiliki angka kesakitan ISPA tertinggi di wilayah tersebut pada triwulan pertama tahun 1999.9%). dan memerlukan terapi antimikroba. yakni sebesar 68.9) 8 (6.05) 2 (1. Branhamella catarrhalis (22.11%).adalah virus(1). Escherichia. Streptococcus pneumoniae (3. Enam jenis kuman terbanyak yang berhasil diisolasi dari spesimen usap tenggorok berturut-turut adalah: Streptococcus viridans (54. batuk. 2004 21 .11) 5 (3. sifat hemolisis agar darah.05%). dan memenuhi kriteria inklusi sebagai penderita tonsilofaringitis akut dengan gejala klinik: demam tinggi sampai 400C. Spesimen usap tenggorok dikumpulkan dalam media transport dan dilakukan uji sensitivitas di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. 1.2%).76) 132 (100) usap Terhadap hasil uji sensitivitas berbagai spesies kuman terhadap antimikroba betalaktam di atas dapat dilakukan penghitungan total resistensi antimikroba (Soebandrio 2000). 8. kadang-kadang disertai folikel bereksudat. fermentasi karbohidrat. dan Haemophillus(2). Jenis (spesies) kuman Streptococcus viridans Branhamella catarrhalis Streptococcus β-haemolyticus Streptococcus pneumoniae Streptococcus non-haemolyticus Klebsiella pneumoniae Acinobacter spp. 9. 4. 11. 6. dan sejauh ini belum banyak diketahui status sensitivitasnya. dan hasilnya menunjukkan profil resistensi (Tabel 2).53) 1 (0. yakni dengan mengukur zona hambatan. 144. terhadap beberapa antimikroba golongan betalaktam.82) 5 (3. Streptococcus non-haemolyticus (3. Sebagian besar kuman Gram positif dan negatif dari isolat usap tenggorok tersebut masih cukup sensitif terhadap antimikroba betalaktam. (R = resistensi) Hasil penghitungan total resistensi berbagai kuman tersebut di atas terhadap antimikroba betalaktam (Tabel 3). Isolat-isolat kuman yang didapat tersebut kemudian diuji sensitivitasnya terhadap antimikroba betalaktam. dan untuk mengatasinya seringkali digunakan antimikroba golongan betalaktam.04%.43 % pada penderita infeksi saluran pernafasan atas. HASIL Sejumlah 132 kuman yang terdiri atas 12 spesies Gram positif dan Gram negatif berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari 83 sampel usap tenggorok penderita tonsilofaringistis. khususnya terhadap kuman penyebab ISPA. Jumlah subyek sebanyak 83 penderita.82%). 2. Semua subyek telah menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed consent. Antimikroba golongan betalaktam. kecuali terhadap Cefradin. viridans sebanyak 54. tetapi berbeda dengan yang ditemukan oleh Sugito(8) sebanyak 25 % dan mirip dengan yang ditemukan Hartono(9) 25. Infeksi sekunder bakterial pada ISPA dapat terjadi akibat komplikasi terutama pada anak dan usia lanjut. Staphylococcus.82%) dan Klebsiella pneumoniae (3. makrolida. Untuk kuman S. hiperemis. tonsil membesar dan merah dengan tanda-tanda detritus. BAHAN DAN CARA Desain uji adalah studi kasus cross sectional. terhadap antimikroba golongan betalaktam. Frekuensi distribusi jenis kuman dari 83 spesimen tenggorok No. berbeda dengan yang dilaporkan Sugito(8) yaitu sebanyak 25 % dan Hartono(9) mendapatkan kuman tersebut 31. dengan sampel usap tenggorok penderita infeksi tonsilofaringitis yang berobat di dua puskesmas di wilayah Jakarta Pusat. Yeast (ragi) Staphylococcus aureus Alkaligenes dispar Pseudomonas aeruginosa Staphylococcus epidermidis Jumlah Jumlah (%) 71 (54. Klebsiella.4 % .53) 2 (1. DISKUSI Hasil usap tenggorok mendapatkan 12 jenis kuman yang mencakup kuman gram negatif dan kuman gram positif. Kuman ini merupakan kuman yang dicurigai sebagai penyebab endokarditis. Streptococcus β-haemolyticus (6.2 %. (Tabel 1). dan kotrimoksazol(4). 3. Tabel 3 menunjukkan total resistensi tertinggi kumankuman usap tenggorok adalah terhadap antimikroba Cefradin.82) 4 (3. Tabel 1. Cermin Dunia Kedokteran No. 12. Kultur dan isolasi kuman dilakukan dengan menggunakan media perbenihan agar darah dan agar coklat pada suhu 370C selama 24 jam.35%. 7. B hemolyticus diperoleh 6. dengan cara atau rumus sebagai berikut: % R total antimikroba “A” = (% kuman “X” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “X”)/100 + (% kuman “Y” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Y”)/100 + (% kuman “Z” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Z”)/100. Beberapa kuman penyebab komplikasi infeksi ISPA yang pernah diisolasi dari usap tenggorok antara lain Streptococcus. Kuman hasil isolasi diuji sensitivitasnya dengan metoda cakram Kirby-Bauer pada media Mueller-Hinton. Untuk maksud tersebut telah dilakukan uji sensitivitas kuman yang diisolasi dari usap tenggorok penderita ISPA. sedangkan terhadap Penisilin-G dan amoksisilin total resistensi kuman relatif rendah. dengan rentang usia antara 5 – 65 tahun.76) 1 (0.53) 2 (1.93% dan 5.46 %. 10. dan uji-uji khusus lainnya.2) 30 (22. Pseudomonas. termasuk jenis antimikroba yang diduga paling banyak diberikan untuk infeksi saluran napas.76) 1 (0. Kuman yang terbanyak ditemukan adalah S. Branhamella. sakit menelan. yakni golongan penisilin dan sefalosporin. Proteus. berturut-turut 9. dan belum pernah mendapatkan antibiotika selama sakit. hampir sama dengan yang ditemukan Suprihati dkk(6) sebanyak 4.71 %. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi koloni. 5.

3.9 6. KESIMPULAN Ditemukan 132 kuman terdiri dari 12 spesies. diikuti oleh Penicillin G dan Ceftriakson.11%. Perkembangan Kepekaan Kuman terhadap Antimikroba Saat Ini. 2. Branhamella catarrhalis 22.82 %. Streptococcus β-hemolyticus 6. aeruginosa S.76 % resistensi antimikroba Cefoti Ceftri Cefota 1. KEPUSTAKAAN 1. P. Josodiwondo S.0 100 0 100 0 100 100 0 Keterangan: PeG= Penisilin-G.52 87.0 %. 4.04 %.8 % sedangkan dari penelitian Trihendrokesowo dkk (1986) sebesar 3.57 5. 60% dan 20%. sering tidak ada korelasi antara konsentrasi ham-bat minimum (MIC) kuman dan kesembuhan.29 1.9 %.05 )(10). Di Indonesia untuk infeksi pernafasan akut (tonsilitis dan faringitis) sebagai standar pengobatan di puskesmas penisilin G masih merupakan pilihan ke empat setelah eritromisin. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Penisilin G adalah 70%. 2 (1): 6-12. catarrhalis S.82 0 0 0 0 0 0 100 50 100 100 0 Sulb 0 0 0 0 0 0 0 100 0 100 0 0 Cefpi 0 3.33 53.0 20.33 0 0 0 0 20. epidermidis PeG 2. Antimikroba Cefradin Penisilin-G Ceftriakson Cefotaksim Amoksisilin Cefotiam Cefpirome Sulbenisilin Cefepime kuman usap tenggorok terhadap % total resistensi 68. tetapi akhir-akhir ini banyak dilaporkan bakteri yang resisten terhadap antimikroba golongan penisilin bahkan juga terhadap golongan sefalosporin. Antimikroba Cefradin merupakan antimikroba golongan sefalosporin generasi I dan banyak digunakan secara oral untuk penderita infeksi saluran pernafasan sehingga mungkin sudah banyak terjadi resistensi. Dwiprahasta I. Golongan penisilin masih cukup ampuh untuk mengatasi bakteri gram positif. 1996.52 2. 6.2 % dan 66. Fachrudin D.53 1.0 0 0 0 0 20 0 0 50 0 100 100 100 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 0 Isolat kuman S. 9. 3.33 3. Cefep = Cefepime.. yakni sebesar 68.05 2. tidak jauh berbeda dengan resistensi kuman S. lima kuman terbanyak adalah : Streptococcus viridans 54. 5.0 80. makrolid 15 %. 8.87 5. aureus terhadap Penisilin G dari hasil penelitian Josodiwondo (1996) sebesar 3. pneumoniae Acinobacter spp.76 0.turut adalah Golongan B Laktam. Ceftri = Ceftriakson.7 %. 12.53 1. Dirjen Binkesmas.0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Amx 2. Tahun 1997 pasar dunia antibiotik mencapai US $ 12 miliar dengan jumlah peresepan 818 juta untuk infeksi saluran pernafasan akut dan sebagian besar antibiotik yang digunakan di rumah sakit berturut . kecuali sefalosporin generasi ke tiga (11. karena mampu 22 Cermin Dunia Kedokteran No. .35 3. pneumoniae S. 1.23 0 3. Yeast (ragi) S.82 3. Berkala Ilmu Kedokteran 1997 . Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala.viridans dan S.82 3. Penulisan resep oleh dokter umum di United Kingdom (UK) tahun 1998(10) untuk infeksi saluran pernafasan adalah antimikroba penisilin spektrum luas sebanyak 53. 2.41 4.33 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefep 0 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefrad 73.11 3.5 40.82%.04%.82 30. non-haemolyticus K. Cefota = Cefotaksim. MKI 1987.viridans yang diperoleh penelitian ini yaitu 2. sefalosporin 7.48%.53 Total resistensi tertinggi kuman isolat tenggorok adalah terhadap Cefradin sebesar 68.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. bahkan sefalosporin sudah berkurang kemampuannya. Cefrad = Cefradin. Untuk mengatasi bakteri gram negatif tampaknya penisilin. 4. Inappropriate use of antibiotics in treatment of acute respiratory infections for the under five children among general practitioners. MKI 4 (2/3): 56-60. Departemen Kesehatan R I.93 6. 46(9): 467-76. penisilin spektrum sedang dan sempit 13. Total resistensi isolat antimikroba betalaktam No. Abdoerachman H.04 9. Trihendrokesowo dkk. 26. Macam Kuman (dari pelbagai bahan pemeriksaan di Yogyakarta) dan Pola Kepekaannya terhadap Beberapa Antibiotik.23 4. Tabel 3.2 22.Tabel 2. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 80%. Profil resistensi isolat kuman usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam % Isolat kuman 54. aureus Alkaligenes spp.Penggunaan yang tidak rasional misalnya pemakaian berlebihan akan mempercepat resistensi. namun berbeda dengan hasil resistensi kuman S. amoksisilin dan ampisilin(2).2 %. 7. selain itu dapat terjadi resistensi silang antar golongan maupun dalam satu golongan.67%. Infeksi Campuran Aerob dan Anaerob di Bidang THT. viridans B. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. 5. Streptococcus pneumoniae 3. Makrolid dan Fluorokuinolon.76 0. 2004 menghasilkan enzim betalaktamase.7 %. 144.05 1.7 % dan 96. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus terjadi terhadap antimikroba Cephradin berturut– turut adalah 46. sedangkan bila terinfeksi bakteri yang resisten dapat menaikkan rata-rata kematian sebesar 17 % (p< 0. . Cefpi = Cefpirome.2%. Cefoti = Cefotiam. Test kepekaan tidak selalu akurat untuk memprediksi kesembuhan. aureus 0 %. MKI 1996.53 0. akan tetapi 9 % penderita meninggal dunia. Amx = Amoksisilin. Sulb = Sulbenislin.5%. . Resistensi kuman S.12). β-haemolyticus S. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 81 % penderita sembuh jika terinfeksi bakteri yang sensitif.

com Web-site : www. Management and Therapy in Critical Care Medicine Seminar Sehari Kedokteran Kesehatan Kerja: Peran K3 dalam Meningkatkan Perlindungan Pekerja dan Produktivitas Kerja The 6th Int. Kariadi Semarang. Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah.id Jakarta Convention Centre Telp.pluit@rad. Antimicrobial Pharmacodynamics in Respiratory Tract Infection: New Approach in Determining Patient Response to Antibiotic Therapy. : 0751-37771.net Hotel Planet Holiday. KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE JULI-SEPTEMBER 2004 Bulan Tanggal 10 Kegiatan Telemedicine Network in Indonesia.respina. : 0274-37430 Website: http://telmed. Telp.1988.6. Jones A. : 021-5684085 ext. Watson A. Fax : 021-3928659 E-mail : endocrin@rad. rs.: 021-79184052 Website: http://www.id Bali International Convention Center Telp.id Hotel Grand Hyatt. Fax : 021-3161467 Hotel Sheraton Mustika. Sirot S. Jakarta Telp.id Hotel Planet Holiday. 14:193-9. Resistance to Betalactams in Enterobacteriaceae.id Hotel Sahid Jaya. Saulnier P.co.3907703. : 021-4532202. Padang Telp.interna.net. Wibisono MY. : 0778-7024522.php Hotel Bumi Minang.com. Fax : (021)-3913982 Website : www.or.ac. Sirot J. How is the Benefit for Family Doctors The First Indonesian Symposium on Interventional Pediatric Cardiology Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kedokteran Anak IDAI PIT XIV POGI : " Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas " Mekanisme Molekuler Patogenesis Virus RNA dan Perannya Dalam Perkembangan Bioteknologi Simposium Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular III & KARIMUN III Konker PGI-PEGI-PPHI PIT IX Ilmu Penyakit Dalam 6-8 11-13 Agustus 13-15 28 Pelatihan Asuhan Nutrisi pada Diabetes 11th International Symposium on Shock and Critical Care : New Insight in Diagnosis. Sugito.kalbe.id Jakarta. Surakarta .net. distribution of phenotypes related to beta lactamase production. Fax : 021-3914830 Website : www. 11. Yogyakarta Telp. Rai IB. Faks. Jakarta Telp. : 0274-37430. Epidemiologi dan Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut. 8. J Internat Med Res 1986. (eds). 1242.net. Batam Telp. Fax : 022-2035042 E-mail : pitpogi14@obgyn-bandung.fkumy. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI. Occurrence and Classsification. Bandung Telp.or. Fax : 021-4786 6543 Email : info@respina. roga@biotech.com Hotel Sahid Jaya. Fax : 0751-37771 Email: pibipd@yahoo. Hartono TE.or.co. 9. Jakarta. In : Rolinson GN. (Respina V) 5 Tahun Pertemuan Ilmiah Berkala Ilmu Penyakit Dalam (PIB V IPD) FK Unand Recent Advances and Challenges in Endoscopic Surgery in Asia Pacific 26-29 Tempat dan Sekretariat Lt. 6-17. Telp.International Symposium on Infection Control Informasi terkini. Bali Telp. Tarigan HMM.idai.id Hotel Horison. 6685070. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI .obgyn-bandung. Bag Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran UNDIP.internafkunand.com. 12. Bandung Telp. Faktor Resiko Streptococcus hemolitikus Beta Grup A pada Penderita Saluran Nafas Atas di RSUP Dr. : 021-330956. Nukman R. Tangerang Telp.or.or. Slombe B. Ringroad Selatan Yogyakarta Telp. Fax : 0274-565639 E-mail: pututby@email. Fax : 022-2511612 E-mail : roga@scientist. 1988. Augmentin Clavulanate Pontetiated Amoxycillin.org website : www. detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www. 1994. Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia. Fax : 0778-421352 E-mail : pitika2@idai. 6685006 Fax : 021-4535833. Beta Lactamase.idki. : 0274-587555. Idajadi A. Meeting on Respiratory Care Ind. Fax : 021-3919653 Email: iisic2@pharma-pro.com 10-11 12-14 Juli 13-15 16 16-18 31-1/8 17-18 25-26 September 30-3/10 2nd Indonesia . Herman MJ. 144. 10. Suprihati.id/calendar>>Complete Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 23 . : 022-2534115. Batam Telp.itb.org KPP Bioteknologi ITB. 5. Amsterdam : Excerpta Medica 1980. Fax : 021-56961530 E-mail: iqbalicu@idola.com Website : www. 7. Laporan penelitian 1998.id Website : www. Pola bakteriologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Orang Dewasa. 6684878 Email : elsabali2004@globalmedicaonline. Antibiotik Beta Laktam.com/index. Surakarta. : 021-3928658. : 021-31934636.pluit-hospital.id Bali. : (021)-3148610. Gedung AR Fachruddin.id Karawaci. : 021-3919653. Med Progr January 2003. : 022-2039086 / 2035042. : 021-4786 4646.

Respon auditorik Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang berguna. alat-alat transportasi berat. Secara umum tekanan suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk menimbulkan efek konduksi tulang ini. 144. namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap sangat mengganggu. maka bising dapat mengganggu komunikasi yang berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. dan lain sebagainya. Misalnya. tenaga kesehatan perlu mengenali pengaruh bising terhadap kesehatan tenaga kerja. 2004 mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar. Hal ini perlu diketahui. gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis. namun suara yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan tinggi. penurunan kemampuan kerja. Telinga luar berfungsi 24 Cermin Dunia Kedokteran No. Jakarta PENDAHULUAN Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau sebagian orang merupakan suara yang disenangi. Untuk itu. sangat luas. Secara definisi. suara yang tidak dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising. bila dihitung kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah. adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga. gangguan sistemik yang timbul akibat kebisingan. Anatomi Telinga Secara anatomi. Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesin-mesin. Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja Novi Arifiani Subdepartemen Kedokteran Okupasi. sehingga getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh telinga manusia sebagai suatu gelombang suara. Jadi segala sesuatu yang menggetarkan tubuh dan tulang-tulang tengkorak dapat menimbulkan konduksi tulang ini. karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber suara yang berasal dari jalur ini. Suara yang nyaman diterima oleh telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan.Bising yang di dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat maupun jauh. Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat besar. dan dalam. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia. melakukan deteksi dini dan pengendalian bising di tempat kerja. serta tatalaksana gangguan pendengaran akibat kebisingan. ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN Sebelumnya akan dibahas secara singkat anatomi dan fisiologi pendengaran. Trauma akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat bising di tempat kerja. cara mendeteksi gangguan pendengaran akibat kebisingan. bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan pendidikan. Di telinga tengah ini. biasanya di atas 120 dB. Konduksi Tulang Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh tulang-tulang tengkorak ke dalam telinga tengah. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi). Pembahasan pada tulisan ini hanya akan dibatasi pada efek kebisingan terhadap kesehatan terutama kemampuan pendengaran. cara yang digunakan untuk . Akibatnya kebisingan makin dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan. tengah.

Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran normal. yaitu trauma akustik. Pada trauma akustik. Lokalisasi Sumber Bunyi Telinga mampu melokalisasi sumber suara/bunyi. Masking Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai intensitas suara adalah masking. 2). 2004 25 . Masking adalah suatu proses di mana ambang pendengaran seseorang meningkat dengan adanya suara lain. Perbedaan minimum yang dapat dibedakan pada frekuensi suara yang sama tergantung pada frekuensi suara tersebut. nilai ambang di atasnya. pendengaran orang tersebut berkurang. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. di udara terbuka. GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran. dan waktu yang didengar untuk masing-masing rangsangan auditorik tersebut. Trauma Akustik Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. Untuk menghindari kelelahan auditorik. yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)). diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik. Namun pada pajanan berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses fisika semata. dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noiseinduced temporary threshold shift) dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noiseinduced permanent threshold shift). dengan kata lain. pengeras suara. Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea. Kemampuan ini penting untuk memilih suara yang ingin didengarkan dengan mengacuhkan suara yang tidak ingin didengarkan. maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. Makin tinggi tekanan udara. karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan banyak variasi. cedera cochlea terjadi akibat rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar sehingga merusak sel-sel rambut. Pemahaman percakapan dan identifikasi suara-suara tertentu. Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz. Pebedaan kecil tekanan suara akan didengar oleh telinga sebagai kuat atau lemahnya suara. 144. maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit Cermin Dunia Kedokteran No. Sensitivitas Pendengaran Kemampuan telinga untuk mengolah informasi akustik sangat tergantung pada kemampuan untuk mengenali perbedaan yang terjadi pada stimulus akustik. Noise-Induced Temporary Threshold Shift Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. Kekuatan suara sangat dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara. 3). Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran yang permanen. Kekuatan suara Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar. Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterima oleh masing-masing telinga. kerusakan tulang-tulang pendengaran. dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga. dsb). Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut. Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok. atau kerusakan langsung organ Corti. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu singkat. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga. atau suatu alunan musik tertentu merupakan suatu proses harmonis di dalam otak manusia yang mengolah informasi auditorik berdasarkan frekuensi. Kemampuan telinga untuk membedakan sumber suara yang berjalan horizontal lebih baik daripada kemampuannya untuk membedakan sumber suara yang vertikal. serta perbedaan saat diterimanya gelombang suara di kedua telinga.mendengar suara tersebut ( melalui earphone. dsb). amplitudo. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan. maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat. Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara yang didengar. Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga dalam. makin kecil perbedaan yang dapat dideteksi oleh telinga manusia. Suatu suara masking dapat didengar bila nilai ambang suara utama melampaui juga nilai ambang untuk suara masking tersebut. Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung sementara namun dapat juga menetap. Dengan menghitung menggunakan pita suara 2 atau 3 band. dan durasi. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran. namun juga proses kimiawi berupa rangsang metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut.

3000. serta faktor-faktor lain seperti usia. meningkatnya tekanan darah. untuk masalah kompensasi maka dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini 26 Cermin Dunia Kedokteran No. status kesehatan. 2004 merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan pekerjaan. bahkan perlu juga dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai adanya faktor psikogenik. EFEK FISIOLOGIS KEBISINGAN Efek fisiologis kebisingan terhadap kesehatan manusia dapat dibedakan dalam efek jangka pendek dan efek jangka panjang. Efek jangka panjang dapat terjadi akibat efek kumulatif dari stimulus yang berulang. jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara. Pada skala frekuensi. untuk program pemeliharaan pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk frekuensi 500.setelah pajanan suara. Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis vertikal). 2000. tingkat pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan terhadap bising di luar pekerjaan. hidung. spektrum suara. Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran yang terjadi. durasi pajanan. dan sebagainya. biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini. Memeriksa pendengaran Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. mustahil untuk mengisolasi kebisingan sebagai satu-satunya faktor risiko. spektrum bising. Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising. sedangkan pemeriksaan Schwabach memendek. kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan. Bila sudah terjadi kerusakan. Weber. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara. Pemeriksaan telinga. disritmia jantung. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan. dan sebagainya. dilakukan pemeriksaan audiometri. Untuk menilai ambang pendengaran. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran. 144. tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga. dan keadaan pendengaran sebelum pajanan. durasi total pajanan. obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen). Namun dapat pula terjadi respon pupil mata berupa miosis. seperti faktor fisika lain berupa panas. serta kerentanan individu terhadap kehilangan pendengaran akibat bising. faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di udara. 1000. Dari data observasi di lingkungan industri. Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne. . Efek jangka pendek berlangsung sampai beberapa menit setelah pajanan terjadi. Untuk itu pemeriksaan gangguan pendengaran pada pekerja perlu dilakukan dengan cara seksama dan hati-hati untuk menghindari kesalahan dalam memberikan kompoensasi. refleks pernapasan berupa takipneu. hari ataupun lebih lama. serta dapat pula permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah menderita gangguan pendengaran permanen. pengukuran impedance. dan 6000 Hz. frekuensi yang diuji. dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes Rinne menunjukkan hasil positif. gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. dan sering timbul tinitus. Secara sederhana. dan respon sistim kardiovaskuler berupa takikardia. serta aktivasi hormon kelenjar adrenal seperti hipertensi. getaran. 4000. sedangkan efek jangka panjang terjadi sampai beberapa jam. tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini. Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan pendengaran adalah speech audiometry. Efek jangka panjang Efek jangka panjang terjadi akibat adanya pengaruh hormonal. Efek ini dapat berupa gangguan homeostasis tubuh karena hilangnya keseimbangan simpatis dan parasimpatis yang secara klinis dapat berupa keluhan psikosomatik akibat gangguan saraf otonom. Pada pemeriksaan fisik. respon gastrointestinal yang dapat berupa gangguan dismotilitas sampai timbulnya keluhan dispepsia. tidak jarang disertai juga dengan adanya faktor kimia dan biologis. Namun perlu diingat. dan pola pajanan temporal. serta dapat terjadi pecahnya organ-organ tubuh selain gendang telinga (yang paling rentan adalah paru-paru). berikut ini respon tubuh terhadap adanya kebisingan (Gambar 1). sulit sekali membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi akibat kebisingan atau karena sebab yang lain. pemeriksaan Weber menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan pendengaran yang lebih baik. untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. Efek jangka pendek Efek jangka pendek yang terjadi dapat berupa refleks otototot berupa kontraksi otot-otot. jenis kelamin. dan sebagainya. dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga. trauma telinga karena agen fisik lainnya. berbicara dengan suara menggumam. bahwa keadaan bising di lingkungan seringkali disertai dengan faktor lainnya. alat transmisi ke telinga. tes rekruitmen. Noise-Induced Permanent Threshold Shift Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan eksperimen pada manusia.

kondisi geografis dan lokasi fisik pekerjaan. Benar telah terjadi kehilangan atau gangguan pendengaran dan 2). tanggal bekerja dan umur saat itu. Pemeriksaan audiometri pra kerja merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan data awal kondisi pendengaran tenaga kerja. Jika pendengaran sudah sedemikian buruknya sehingga komunikasi sangat sulit maka perlu dilakukan psikoterapi lebih intensif agar pekerja dapat menerima keadaannya. riwayat pekerjaan. Riwayat pekerjaan dilakukan dengan menanyakan nama pekerjaan. Pemeriksaan ini bersifat subyektif.Bising Reaksi Stres Umum akibat Kenaikan Adrenalin dan Noradrenalin Kenaikan Tekanan Darah Respon Vegetatif Peningkatan Kebutuhan Oksigen Peningkatan Agregasi Trombosit Kerusakan Dinding Arteri Trombosis Arteriosklerotik Oklusi A. jenis pekerjaan yang dilakukan (beserta tanggal atau waktu bekerja). Bila sudah terjadi gangguan pendengaran yang mengakibatkan gangguan komunikasi maka dapat dipikirkan penggunaan alat bentu dengar. Dalam laporan pemeriksaan fisik harus tercantum identitas yang jelas (termasuk saat pemeriksaan dan dokter yang melakukan pemeriksaan). KOMPENSASI TERHADAP KETULIAN PEKERJA AKIBAT BISING Faktor akustik. gangguan pendengaran yang saat ini terjadi. Penggunaan alat pelindung telinga. Suara yang asing. untuk itu perlu dilakukan oleh teknisi yang terlatih dan dokter harus melakukan supervisi terhadap pemeriksaan tersebut. kondisi medis. Pada penderita yang mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea. Diagnosis banding lainnya disingkirkan dengan melakukan pemeriksaan fisik yang seksama. Jika dipergunakan alat bantu dengar. Ikhtisar Reaksi Tubuh terhadap Bising KEBISINGAN DAN KEMAMPUAN KERJA Gangguan terhadap kemampuan kerja pada umumnya terjadi karena meningkatnya kewaspadaan umum akibat rangsangan terus menerus pada susunan saraf pusat. Hearing conservation program tidak akan dibicarakan secara mendalam pada tulisan ini. pengawasan dan pengendalian administrasi merupakan upaya penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan di lingkungan kerja. 2004 27 Iskemaia Jantung Infark Miokard Stroke Gambar 1. barang atau jasa yang dihasilkan. riwayat keluarga. durasi masing-masing pekerjaan. PENATALAKSANAAN TULI AKIBAT BISING Pencegahan merupakan penatalaksanaan pertama dan utama pada kebisingan di lingkungan pekerja. keluhan utama. namun pada pemeriksaan efisiensi kerja terlihat pengaruh yang cukup bermakna. riwayat penyakit dahulu. suara di atas 95 dB adalah beberapa keadaan kebisingan yang dapat mempengaruhi kemampuan bekerja. tinggi rendah dan irama percakapan. Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk menilai derajat dan tipe gangguan pendengaran yang terjadi. Selain itu. Pelaksanaan program pemeliharaan pendengaran (hearing program conservation) merupakan upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan di tempat kerja. riwayat pelatihan militer. Tanda-tanda gangguan pendengaran harus dikenali secara dini. Cermin Dunia Kedokteran No. interupsi suara berulang. Hal yang perlu diingat dalam menentukan kemungkinan adanya hubungan kausatif antara gangguan pendengaran dan bising di tempat kerja adalah 1). Survei kebisingan di tempat kerja harus memperhatikan teknik sampling agar pemeriksaan tingkat kebisingan dapat memberikan gambaran keadaan yang . Dan gangguan pendengaran tersebut memang berasal dari pajanan bising di tempat kerja yang berlebihan. 144. perlu dilakukan latihan pendengaran agar pekerja dapat menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir. dan permasalahan hukum harus diperhatikan dalam menetapkan hubungan kausal antara pajanan bising dan terjadinya gangguan pendengaran. Namun tetap perlu hati-hati untuk melakukan interpretasi penelitian tentang kemampuan atau performa kerja. Koroner Oklusi Arteri Lainnya terjadi. Namun penelitian efek kebisingan terhadap kemampuan kerja masih perlu dilakukan dengan seksama. mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan ganggguan pendengaran pada pekerja untuk menghindari permasalahan kompensasi yang timbul di kemudian hari. penderita tuli akibat bising ini juga sulit mendengar suaranya sendiri sehingga diperlukan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume. pemeriksaan audiometri berkala juga merupakan upaya deteksi dini pula. Pada awalnya sulit dibedakan dengan gangguan emosional yang timbul akibat bising. terutama pada lingkungan industri.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. St. 4. adakah tanda-tanda abnormalitas 3. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan dan deteksi dini untuk pencegahan karena kerugian yang harus dibayarkan akibat kebisingan ini cukup besar. Bila terjadi akibat pajanan bising berlebihan di tempat kerja. harus dilakukan perhitungan formulasi gangguan pendengaran untuk memberikan kompensasi yang sesuai dengan kondisi pekerja tersebut. Occupational Medicine. Pemeriksaan dengan garpu tala 6. February 6th. Handbook of Noise Control. Pemeriksaan luar terhadap tanda-tanda jejas atau jaringan sikatrik yang menggambarkan adanya malfungsi.htm. Edisi 5. Zenz C. Pada tulisan ini tidak akan dibahas mengenai perhitungan kompensasi. 2004. Occupational Hearing Loss. Pemeriksaan fisik mendalam yang harus dilakukan adalah: 1. 2nd ed. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher.penggunaan alat pelindung diri. Mosby.uk/ environment/noise/health/page05. Uji kemampuan menangkap pembicaraan dan diskriminasi suara 8. Noise and Nuisance Policy : Health Effect Based Noise Assasment Methods : A review and Feasibility Study September 1998. Horvarth EP. Pemeriksaan audiometri nada murni untuk memeriksa hantaran udara dan hantaran tulang 7. New York : 1979. Food and Rural Affair. Tes rekrutmen Sesudah dilakukan pemeriksaan terhadap pekerja dan lingkungan kerja maka dapat ditentukan apakah gangguan pendengaran akibat pekerjaan ataukah sebab yang lain. Pemeriksaan gangguan pendengaran harus dilakukan secara teliti. Setiap pekerja harus dievaluasi secara individual. dan hati-hati untuk menghindari kesalahan prosedur dalam memberikan kompensasi kepada tenaga kerja. 2. Nilland J. http://www. dan Hearing Conservation. Iskandar N. sumber suara atau kebisingan yang ada di pekerjaan (baik yang dahulu maupun saat ini). 144. 2. McGraw-Hill Book Comp. KESIMPULAN Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan pendengaran dan gangguan sistemik yang dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas tenaga kerja. KEPUSTAKAAN 1. 28 Cermin Dunia Kedokteran No. 3. Harris CM (ed). (chief ed).defra. Pemeriksaan otoskop untuk menilai gendang telinga. cermat. Louis : 1994 Soepardi ES. Kompensasi diberikan sesuai dengan ketentuan hukum yang berbeda di masing-masing negara. In : Zenz C. Pemeriksaan refleks kedua mata 4. Jakarta : 2001 Department for Environment. 3rd ed. Dickerson OB. Menilai ada atau tidaknya nistagmus 5. In . 2004 .gov. Noise.

Pada kelompok ini pengemudi yang mengalami gangguan keseimbangan dan pendengaran sebesar 27. misalnya suara gergaji sirkuler. kipas angin. Bising terputus-putus Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise. Selain itu kebisingan juga dapat menimbulkan keluhan non-pendengaran seperti susah tidur. Apa yang disebut kebisingan Frekuensi suara bising biasanya terdiri dari campuran sejumlah gelombang suara dengan berbagai frekuensi atau disebut juga spektrum frekuensi suara. Contoh: dalam kokpit pesawat helikopter. jumlah seluruh gangguan mencapai 72. Pada pengukuran bising didapatkan rerata intensitas bising bajaj 91 dB (64 dB . kebisingan di lapangan terbang dll 4. Frechet mendapatkan data bahwa 55% daerah industri mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB dan menurut survei prevalensi NIHL (Noise Induced Hearing Loss) atau TAB (Tuli Akibat Bising) bervariasi antara 40 – 50%. Contoh kebisingan ini adalah suara lalu lintas. Pencegahan dampak buruk kebisingan memerlukan perhatian dan dukungan semua jajaran di tempat kerja. Menurut WHO (1995).1 – 108. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu saja (misal 5000. Diperkirakan lebih dari 20 juta orang di Amerika terpapar bising 85 dB atau lebih. Bising impulsif Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya. Penerapan program konservasi pendengaran di tempat kerja bermanfaat untuk mencegah gangguan pendengaran akibat paparan bising. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Roestam Subbagian Kedokteran Kerja.28% dari 350 pengemudi bajaj yang diperiksa. prevalensi NIHL 31. 144. melainkan ada periode relatif tenang. Penelitian Zuldidzaan (1995) pada awak pesawat helikopter TNI AU dan AD mendapatkan paparan bising antara 86 – 117 dB dengan prevalensi NIHL 27. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam batas amplitudo kurang lebih 5dB untuk periode 0. Berdasarkan sifatnya bising dapat dibedakan menjadi : 1.55% pada tingkat paparan kebisingan 85 . Jakarta PENDAHULUAN Di negara-negara industri. meriam dll. 2004 29 . suara katup mesin gas. mudah emosi. Penelitian pada pengemudi bajaj (Kertadikara. Gambaran di atas memperlihatkan bahwa paparan di atas 85 dB dapat menimbulkan NIHL atau ketulian. Cermin Dunia Kedokteran No. diperkirakan hampir 14% dari total tenaga kerja negara industri terpapar bising melebihi 90dB di tempat kerjanya. Di Indonesia. dan gangguan konsentrasi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. tembakan.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja Ambar W. 3.16 %. suara dapur pijar. Di Quebec-Canada. Waugh dan Forcier mendapat data bahwa perusahaan kecil sekitar Sydney mempunyai tingkat kebisingan 87 dB.96 dB).43%. Contoh bising impulsif misalnya suara ledakan mercon.105 dB (Sundari. gangguan pendengaran saja 17. yaitu kebisingan tidak berlangsung terus menerus.5 detik berturut-turut. Ini diperkuat dengan penelitian Yenni Basiruddin yang mendapatkan tingkat kebisingan dan getar pada pengemudi bajaj melebihi nilai ambang batas.81% dengan paparan kebisingan 86. 1000 atau 4000 Hz). 1997) mendapatkan bahwa mereka terpapar bising antara 97 – 101 dB dengan 50% NIHL. di pabrik peleburan besi baja prevalensi NIHL 31. 2.2m/dt2. dari jajaran tertinggi sampai tenaga kerja pelaksana. suara katup gas.1997). rerata akselerasi getar 4. bising merupakan masalah utama kesehatan kerja.71%.14% dan gangguan keseimbangan saja 27. Nada kebisingan dengan demikian sangat ditentukan oleh jenis-jenis frekuensi yang ada.2 dB (Lusianawaty). dsb. Di perusahaan plywood di Tangerang. gergaji sirkuler.

Gangguan fisiologis Pada umumnya. gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan 30 Cermin Dunia Kedokteran No. b. terutama yang memilikis pektrum frekuensi lebar dan intensitas yang tinggi. Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising. c. 2004 .bersifat sementara . tetapi terjadi berulang-ulang misalnya pada mesin tempa. gangguan komunikasi dan ketulian. susah tidur. Gangguan ini bisa menyebabkan terganggunya pekerjaan. dan lain-lain. dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap harikemudian menjadi ketulian menetap. ledakan dan Di Indonesia. apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba. d. • Tuli karena Trauma akustik Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba. 2. sedangkan keluhan subjektif lainnya menghilang. stres. Bising yang dianggap lebih sering merusak pendengaran adalah bising yang bersifat kontinu. daya dengar akan hilang secara menetap dan tidak akan pulih kembali. Gangguan keseimbangan Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar bising semula. sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan adalah 85 dB untuk waktu kerja 8 jam perhari. daya dengarnya akan pulih sempurna. seperti gangguan fisiologis. Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten. konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki. tenaga kerja mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja. Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai berikut : a.5 0. namun bila terus menerus bekerja di tempat bising. yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual.patologis . Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising. yang dikaitkan dengan tingkat intensitas kebisingan lingkungan kerja sebagai berikut (Tabel 1). Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. Untuk melindungi pendengaran manusia (pekerja) dari pengaruh buruk kebisingan. tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain. • Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap .waktu pemulihan bervariasi . Ketulian ini disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural.non-patologis .reversible/bisa kembali normal Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat. serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. gangguan psikologis. 144. Batasan waktu dan Pajanan kebisingan Intensitas suara (dB) OSHA Indonesia 90 85 92 95 88 100 91 105 94 110 97 115 100 Jam kerja terpapar 8 6 4 2 1 0. Tabel 1. 4. kelelahan. kurang konsentrasi. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg). Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit berkomunikasi. Ketulian bersifat progresif. cepat marah. Gangguan komunikasi Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas) atau gangguan kejelasan suara.Bising impulsif berulang-ulang Sama seperti bising impulsif. PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN TENAGA KERJA Bising menyebabkan berbagai gangguan pada tenaga kerja. seperti letusan. 5. 3. peningkatan nadi. Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb: • Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift = auditory fatigue = TTS . Efek pada pendengaran Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena dapat menyebabkan ketulian. keselamatan tenaga kerja. Pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising.menetap PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 3-7 hari. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. karena suara impulsif dengan intensitas tinggi. 1. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis. Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising sekurangnya 14 jam. Gangguan psikologis Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman. bising bernada tinggi sangat mengganggu. seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no SE. Organisasi Pekerja Internasional /ILO (International Labour Organization) telah mengeluarkan ketentuan jam kerja yang diperkenankan.25 atau kurang 5. Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang cukup. Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran seperti tidak mendengar detak jam.01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk kebisingan di tempat kerja.

angka turn-over karena lingkungan kerja akan rendah. antara lain: 1. kesejahteraan bukan santunan. Program selengkapnya adalah sebagai berikut : 4. Economic self-sufficiency handicap e. tergantung fungsi psikologis dan aktivitas sosial yang bersangkutan. Evaluasi audiometer Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE) Pendidikan dan Motivasi Evaluasi Program Audit Program Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan pendengaran akibat kerja. Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari pekerja. menunjukkan itikad baik. 1. dan lain-lain). Occupational handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam bekerja dan memilih karir) d. namun merupakan pedoman. 5. Social integration handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan dalam melakukan aktivitas normal harian. PROGRAM PENCEGAHAN/ PROGRAM KONSERVASI PENDENGARAN Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi halhal berikut (NIOSH. Hearing Disability Didefinisikan sebagai kesulitan mendengarkan akibat hearing impairment. 3. 7. Problem mencari arah/asal suara d. Hearing Impairment Didefinisikan sebagai kerusakan fisik telinga baik yang irreversible (NIHL/PTS) maupun yang reversible (TTS) 2. c. ketulian akibat bising tidak terasa (tanpa sakit). hubungan baik dengan karyawan. Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal sebagai berikut : 1. menggunakan mesin/alat yang kurang bising dan mengubah metode proses). Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi Penanggung jawab bekerja sama dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy. Menurut WHO diklasifikasikan sebagai berikut : a. Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. jadwal kerja . mengurangi lost day dan menaikkan kepuasan karyawan. Monitoring paparan bising 2. Tuli ini biasanya bersifat akut. 2004 31 . Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan pendengaran tenaga kerja (IDKI. Integrated dengan program K3 4. Serta bisa mengurangi stres. ruang isolasi. 5. Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising. menutup sumber kebisingan dengan barrier. Inability to cope with occupational requirement (ketidakmampuan/keterbatasan yang mengakibatkan berkurangnya penghasilan) Kebisingan sangat merugikan tenaga kerja. mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada dinding. cepat sembuh secara parsial atau komplit. misalnya : a. dari pimpinan tertinggi sampai pekerja pelaksana. Cermin Dunia Kedokteran No. oleh karena itu pencegahan terhadap gangguan pendengaran ini perlu diprioritaskan. Kontrol engineering dan administrasi 3. Dukungan manajemen 2.lainnya. mengurangi angka kecelakaan. 2. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis. b. SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas 6. 6. Physical independence handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan untuk mandiri) c. Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy tersebut. terutama bila sampai NIHL dan juga merugikan perusahaan karena performance tenaga kerja yang menurun. biaya kesehatan yang membengkak serta kompensasi bila NIHL karena pekerjaan. Dilaksanakan oleh semua jajaran. rotasi kerja. 1996): 1. meningkatkan produktivitas. Berupa policy statement 3. seperti respons terhadap alarm atau pesan lisan f. 3. langit-langit dan lantai. Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program. NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat. tinitus. 6. Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal. 4. Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting. 5. Problem dalam mendengarkan musik c. Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik. Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih baik. 144. Bagi karyawan Mencegah ketulian. Orientation handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam mengikuti pembicaraan) b. mengurangi angka kesakitan. bersifat menetap (irreversible). Program pencegahan ini dikenal dengan istilah Program Konservasi Pendengaran. proaktif bukan reaktif. 1994). Problem komunikasi di tempat kerja b. Handicap Ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang untuk melakukan suatu tugas yang normal dan berguna baginya. Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur : a. AKIBAT KETULIAN TERHADAP AKTIVITAS SEBAGAI TENAGA KERJA Akibat ketulian terhadap aktivitas sebagai tenaga kerja dibedakan atas : 1. Bagi pengusaha Taat hukum. kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya. Utamakan pencegahan bukan pengobatan. Problem membedakan suara Secara ringkas dapat dikatakan efek hearing impairment terhadap disability berbeda pada setiap individu. 2. Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri.

kecepatan putaran atau isolasi. SOP pengukuran harus ada dan jelas.periksa data kalibrasi alat . bila bising > 85 dB 4. Survei ini dilaksanakan jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi. yang sering juga disebut survei bising. ukur tempat dan ruang kerja. sedangkan bila antara 80 – 92 dB perlu pengukuran dan tindakan lebih lanjut (skala b).jika karena penyakit. Setiap tahun. Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut cukup aman untuk bekerja. diharuskan memakai . PENGGUNAAN APD Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga : 1.periksa dokter .periksa tempat kerja . 5..Bila sudah memakai. Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB). Saat pindah tugas keluar dari tempat bising 5. 5. bertujuan untuk : 1. MONITORING PAPARAN BISING Tujuan monitoring paparan bising. catat lamanya terpapar (sekarang digunakan audiometer). Mengikuti peraturan III. memberi pelumas secara teratur. Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai. pengukuran dengan peta. 2.paling lama dalam waktu 2 minggu . 144. Mengatur jadual produksi 2. Exit Policy mengenai audiogram : 1. maka disebut + (positif) Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah : . atau menggunakan APD 2. Pre-employment/preplacement/Baseline 2. 7. 3.dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 dβA) .engineering dan administratif Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan sebaran bising. Prinsip monitoring paparan bising : Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut : 1. adanya keluhan pekerja bahwa telinga berdengung setelah bekerja. berdasarkan lokasi tempat kerja. Buat gambar peta bising (luas < = 93 meter). 6. Annual audiogram Bagi yang TWA > 85 dBA 3. konsulkan ke dokter THT . Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi 32 Cermin Dunia Kedokteran No. Pemeriksaan dilakukan secara terperinci di setiap lokasi. Pengendalian administratif dilakukan dengan cara : 1. Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap : a. EVALUASI AUDIOMETRI Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada : 1. mengencangkan bagian mesin yang longgar. Base line atau data dasar : . tenaga mesin.untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam Ada 2 macam monitoring paparan bising : 1. Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara. Pengukuran di tempat kerja (<85 dB) Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) . Rotasi tenaga kerja 3. b. bila lebih dari 85 dB.periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun Bila STS (+) karena pekerjaannya : . 2. lakukan tahap selanjutnya c. Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang. Penjadualan pengoperasian mesin 4. Evaluasi : . dengan menetapkan lokasi khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Saat pensiun/purna tugas Tipe audiogram : 1. Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri secara periodik.untuk baseline 14 jam bebas bising. Monitoring bising terperinci Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan. Monitoring pendahuluan Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya untuk pendengaran. contohnya : 1. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran 5. 2004 . Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis). bila STS persisten atau membaik IV. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara. 3.Bila perlu. Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan. 4. Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD. alat pelindung telinga tidak akan memberikan II.komunikasikan dengan karyawan tersebut . 4. Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku. Annual monitoring 3. KONTROL . Penempatan ke tempat bising 3. Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap tempat kerja. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti. beri petunjuk ulang .I. 2. konsul THT Lakukan revisi baseline. 2. . menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja. Lamanya paparan (jumlah jam terpapar) Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job classification. Pre-employment 2. Kecocokan.Bila belum menggunakan APD. dan lain-lain. Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai berpegas.setiap tahun dibandingkan dengan base-line .bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz).Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis . ukur maximun dan minimumnya.

custom-molded type c. kemudahan membersihkan dan kenyamanan Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut : TWA/dBA < 85 85 – 89 90 – 94 95 – 99 > 100 Pemakaian APD Tidak wajib/perlu Optional Wajib Wajib Wajib Pemilihan APD Bebas memilih Bebas memilih Bebas memilih Pilihan terbatas Pilihan sangat terbatas APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus membebani pekerja dari segi biaya. Tidak saja untuk melindungi pekerja. perusahaan sangat dianjurkan untuk menerapkan program konservasi. 4. V. 2. PENUTUP Mengingat kebisingan dan tuli akibat bising bisa dicegah dengan program konservasi pendengaran. 2. Hasil pengukuran kebisingan. misalnya pelatihan dan penyuluhan. Kemudahan pemakaian. 144. Earmuff bila di atas 100 dBA 3. perusahaan harus menyediakan APD ini. kesertaan supervisor dalam program. PENDIDIKAN DAN MOTIVASI Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja. 3. 2. Nyaman dipakai. PROGRAM AUDIT 1. identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu dikontrol lebih lanjut. VI. 3. Juga melalui penyuluhan diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat pelindung telinga. biaya. EVALUASI PROGRAM Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi. keuntungan utama perusahaan adalah mendapatkan karyawan yang produktif dan sehat. terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut. premolded type Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector) Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai membran timpani. terus menerus untuk menilai efektivitas program konservasi pendengaran.perlindungan bila tidak dapat menutupi liang telinga rapatrapat. Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya. tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman dipakai. Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya. Helmet/ enclosure Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250 Hz sampai 50 dβ pada frekuensi tinggi Pemilihan alat pelindung telinga : 1. QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal. 2. formable type b. pemeriksaan masing-masing area untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan. 2004 33 . dengan sasaran : 1. Kontrol engineering dan administratif. 5. Penyuluhan khusus. Jenis-jenis alat pelindung telinga : 1. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors) Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40. Tujuan pendidikan adalah untuk menekankan keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya. bandingkan data audiogram dengan baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program. Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka.50 dB frekuensi 100 – 8000 Hz. 3. Audit Eksternal. Earplug bila bising antara 85 – 200 dBA 2. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD tetapi pengendalian secara teknis pada sumber suara. APD yang digunakan. sehingga tenaga kerja termotivasi untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri. dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui cost-effectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran. Cermin Dunia Kedokteran No. VII. Beberapa tipe sumbat telinga : a. dan mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising.

10 Juli 2004 Website : http://telmed.Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : Telemedicine Network in Indonesia di Yogyakarta.net Redaksi CDK 34 Cermin Dunia Kedokteran No.fkumy. 144. 2004 .

tekanan balon pada dinding lateral trakea dapat menyebabkan hipoksi epitel mukosa trakea. perawatan luka operasi di stoma. Mudahmudahan informasi yang didapat dari kepustakaan ini berguna untuk mengelola pasien pasca trakeostomi di rumah. PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIOLOGIS AKIBAT TRAKEOSTOMI Di samping efek pada laring yang menyebabkan penderita tidak dapat berbicara. akan diuraikan cara perawatan mandiri pasca trakeostomi oleh penderita(3). karena itu mengurangi tahanan terhadap aliran udara. Trakeostomi dapat mengganggu gerakan pengangkatan laring pada waktu menelan. Bartlett dkk menyatakan dari hasil penyelidikannya bahwa pada trakea yang normal tidak terdapat bakteri. mengurangi efektifitas refleks batuk. TRAKEOSTOMI Istilah trakeotomi dan trakeostomi dengan maksud membuat hubungan antara leher bagian anterior dengan lumen trakea. Perawatan pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge. Trakeostomi memintas laring dan saluran napas bagian atas. Cermin Dunia Kedokteran No. 144. Bogor.PRAKTIS Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi HR Krisnabudhi ] Rumah Sakit Bina Husada Cibinong. melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dengan kanul trakea masih terpasang. Definisi yang tepat untuk trakeotomi ialah membuat insisi pada trakea. pencegahan infeksi sekunder dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volumelow pressure cuff. Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi trakeostomi(1). Hal ini sangat penting bagi penderita dengan tidal volume yang sangat terbatas. Pada discharge trakea penderita dengan trakeostomi sering ditemukan berbagai koloni bakteri. Trakeostomi meniadakan mekanisme filtrasi saluran napas bagian superior. Trakeostomi mengurangi ruang mati (dead space) anatomik sampai 100 ml. akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea. Untuk itu penderita harus mengetahui cara mengganti dan membersihkan kanul trakea serta tersedianya alat-alat yang diperlukan(2). Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. Keadaan ini menyebabkan penderita enggan menelan dan sering tersedak karena aspirasi ludah ke dalam laring dan trakea. sedang trakeostomi ialah membuat stoma pada trakea. trakeostomi juga meniadakan proses pemanasan dan pelembaban udara inspirasi. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tindakan dan tujuan akhir trakeostomi. petunjuk dokter atau paramedis yang perlu diberikan kepada penderita. humidifikasi buatan. cara membersihkan kanul dalam. dan mengganggu gerakan penutupan glotis hingga sering terjadi aspirasi ludah. pemeriksaan periodik kanul dalam. bakteri dan flora di dalam trakea penderita berasal dari sumber-sumber lain. Discharge trakea berkurang dan menjadi kental. Epitel ini mudah terinfeksi hingga terjadi erosi mukosa trakea. Jawa Barat PENDAHULUAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan lalulintas udara pernapasan. mengganti kanul trakeostomi dan membersihkan discharge yang terjadi. yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca trakeostomi. 2004 35 . sering saling tertukar. yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif(4). Selama di rumah penderita harus dapat memeliharanya agar jalan napas tetap lancar dan tidak terjadi komplikasi akibat kanul trakea. serta pengobatan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi. Berdasarkan permasalahan tersebut. bukan dari saluran napas bagian atas. Selanjutnya dikatakan. tidak ada korelasi antara bakteri dan flora saluran napas bagian atas dengan bakteri dan flora trakea penderita. Bila digunakan kanul trakea yang memakai balon. terutama bila telah terjadi proses patologik yang menyebabkan penyempitan di daerah glotis. Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas.

c). Pada saat pengisap dimasukkan ke dalam trakea. mungkin diperlukan pelembab (bukan vaporizer). b). Nekrosis cincin-cincin tulang rawan trakea. panci bergagang. dilakukan pengisapan discharge tiap 15 menit. 2). Sebelum melakukan pengisapan. PERAWATAN MANDIRI PASCA TRAKEOSTOMI Pasca trakeostomi penderita akan diberi petunjuk oleh dokter atau paramedis perihal perawatan kanul trakeostomi. Petunjuk untuk penderita ini tergantung pada keadaan penderita saat dari rumah sakit. mungkin akan bermasalah. Bila kanul terbuat dari polivinil klorida atau dari silikon. sedang Feldman dan Crawley (1971) memakai kateter pengisap steril dan non traumatik yang penampangnya kurang dari separuh penampang trakea. Membersihkan kanul dalam Alat yang perlu disediakan ialah botol kecil. Efektifitas tetesan ini tergantung pada jumlah tetesan dan kelembaban relatif udara inspirasi. menggunakan lap atau kasa perban. Kanul dalam ini harus sering diangkat dan dibersihkan. Angkat kanul dalam dengan cara pertama-tama putar kait kecil pengunci kanul 36 Cermin Dunia Kedokteran No. Sebelum mengangkat kanul. d). Kesalahan memasang kanul dapat berakibat kanul terletak di dalam mediastinum. paling baik membersihkannya dengan memakai kasa basah di atas kanul. c). kasa perban. dengan demikian residual volume tidak banyak berkurang. 144. Kanul baru dipasang dengan mengarahkan ujungnya ke arah posterior lebih dahulu kemudian ke arah kaudal. Setelah penggantian kanul dilakukan auskultasi paru untuk menyakini bahwa kedua paru sama mengembang. dan cairan penggosok perak. saringan. sebagai berikut: 1). Balon diisi dengan udara secukupnya agar menempel rapat pada dinding trakea. Alat ini harus diganti setiap 3 jam. dilakukan pengisapan perlahan-lahan sambil memutar kanul pengisap. Dengan adanya trakeostomi. karena lumennya akan mengecil oleh timbunan krusta dan discharge. Discharge ini akan keluar bila penderita batuk. kanul dalamnya dikeluarkan terlebih dahulu. Herniasi balon pada ujung kanul akan menyumbat jalan napas. dan hati-hati membersihkan kulit di sekitar kanul. dan jumlah udara yang dimasukkan dicatat. Pastikan tidak ada air memasuki stoma. kanul ini diganti setiap 7 hari atau lebih cepat. Jika udara rumah kering. Pengisapan discharge dilakukan dengan kateter pengisap yang steril dan disposable. Lore (1973) menganjurkan memakai pengisap terkecil yang dapat melakukan pengisapan dengan adekuat. Krusta diangkat dengan kapas aplikator yang dimasukkan ke dalam perhidrol. b). Dengan menambahkan tetesan-tetesan air yang halus pada udara inspirasi. Jika balon terlalu banyak diisi udara akan terjadi hal-hal sebagai berikut: a). begitu pula antara pengisapan harus diberi periode istirahat agar udara paru tidak terlalu banyak terisap. Luka operasi pada stoma bila bersih cukup ditutup dengan kasa steril. Cara membersihkan kanul dalam. mungkin telah terdapat krusta atau mukus di dalam kanul. Secara sederhana humidifikasi dapat dikerjakan dengan menaruh lembaran kasa yang telah dibasahi di depan mulut kanul. teteskan larutan garam fisiologis terlebih dahulu. campuran gas ditiupkan melalui suatu T-piece atau melalui kotak plastik yang dilubangi. Bila diduga akan terjadi kesulitan pada pemasangan kanul kembali. trakea dan daerah faring diisap terlebih dahulu. Dengan melewatkan udara inspirasi melalui reservoir berisi air yang secara teratur dipanaskan dengan termostat. fungsi humidifikasi yang sebelumnya dilakukan oleh saluran napas bagian atas menghilang. pada saat dilakukan pengisapan atau pada saat penggantian kanul. Cara-cara untuk humidifikasi udara inspirasi di antaranya ialah: a). Setelah ujung pengisap sampai di bronkus. uap air mengembun pada lempeng-lempeng metal dari kondensor. Bila penderita bernafas spontan. Akhirnya penderita diajari untuk merawat diri sendiri. Kulit sekitar kanul dipelihara kebersihannya dengan air sabun. Iskemia dan nekrosis mukosa trakea. Alat ini dipasang pada kanul trakea. Kasa tersebut diikatkan pada leher dan harus diganti sesering mungkin. d). Pengeluaran discharge dengan jalan membatukkan pada penderita dengan trakeostomi tidak seefektif pada orang normal. Jika kanul trakea mempunyai kanul dalam. Jika ditemukan krusta dari mukus tebal yang sering terbentuk di dalam kanul. tetapi luka terinfeksi perlu dikultur dan uji kepekaan dan diberikan antibiotika yang sesuai. Condensor humidifier. 2004 . siapkan alat-alat untuk resusitasi. penjepit. sehingga perlu dilakukan pengisapan. setelah itu balon dikempiskan kemudian kanul diangkat dan stoma dibersihkan dengan cepat. Pada waktu ekspirasi. Bila digunakan kanul memakai balon (cuff). jangan diberi tekanan negatif. Beberapa jam pertama pasca bedah.PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI Adanya kanul di dalam trakea yang merupakan benda asing akan merangsang pengeluaran discharge. karena penderita tidak dapat menutup glotis untuk menghimpun tekanan yang tinggi(5). sebaiknya penderita diberi oksigen selama 2-3 menit. Bila didapatkan sekret yang kental. selanjutnya tergantung pada banyaknya discharge dan keadaan penderita. Akan timbul gangguan saat menelan. Petunjuk umum Belajarlah merawat sendiri kanul trakeostomi atas tanggung jawab sendiri. sebaiknya dipilih balon yang bervolume besar dan bertekanan rendah. Jika mengalami kesulitan bernapas atau pernapasan menjadi berbunyi. lakukan setiap hari seperti menyikat gigi atau menyisir rambut. Kekurangan alat ini ialah jika terjadi penimbunan discharge pada alat tersebut fungsinya akan berkurang. Untuk itu menggantikannya perlu dilakukan humidifikasi buatan. Peralatan hendaknya tersedia setiap saat melakukan perawatan kanul. Buatlah larutan sabun di dalam botol. Angkatlah kanul dalam dan bersihkan. Jika tergantung pada seseorang saat melakukan hal itu. laringoskop dan PET (pipa endo trakeal). Alat ini relatif lebih efisien.

menyebabkan kanul trakeostomi dapat dimasukkan dengan mudah. 6). Biarkan kanul dalam dingin untuk beberapa menit sebelum dimasukkan ke dalam kanul luar (Gb. 4). Gambar 2. didihkan kanul dalam selama 5 menit. Isi panci dengan air secukupnya untuk merendam kanul dalam (Gb. Setelah air mendidih. Tidak boleh digunakan penggosok kasar untuk membersihkan kanul dalam. 3). 144.2a). pita trakeostomi dibuka lebih dahulu. dan siap untuk dimasukkan sebelum pengangkatan kanul trakeostomi. Gunakan penjepit untuk membantu menarik kasa melalui kanul. Bersihkan bagian dalam kanul dalam dengan kasa yang salah satu ujungnya diikatkan pada suatu tempat (Gb. Cara mengganti kanul trakeostomi Petunjuk khusus dari dokter dan perawat diperlukan sebelum penderita mengganti kanul trakeostominya. Pita trakeostomi yang digunakan pada kanul dapat satu atau dua untai (Gb. Salep dioleskan sangat tipis pada permukaan luar kanul trakeostomi untuk mempermudah memasukkannya. tuangkan air dari panci.dalam dan kemudian tarik kanul dalam ke luar. cuci dengan baik memakai air dingin yang mengalir. Setelah kanul dalam bersih. 1). Goyangkan kanul dalam untuk mengangkat tetesan air. kanul dalam dan luar dibuat secara spesifik agar cocok satu dengan yang lain. rendam di dalam cairan pembersih perak untuk beberapa menit. Untuk mengangkat kanul trakeostomi. Biasanya. Tempatkan kanul dalam bersih pada saringan dan tempatkan saringan pada panci bergagang (Gb. Angkat saringan dari panci bergagang. krusta dapat diangkat dengan merendamnya. 2). 5). 3). Masukkan kanul dalam ke tempatnya dan putar kait kecil pengunci untuk mengunci pada tempatnya. Gambar 1. Pembersihan kanul dalam Merebus kanul dalam Tahapan untuk merebus kanul dalam ialah : 1). Cermin Dunia Kedokteran No. Cuci kanul dalam dengan air dingin dan kemudian rendam untuk beberapa menit di dalam cairan sabun. Tarik kanul dalam ke belakang. Cara sterilisasi kanul dalam Logam bahan pada kanul perak sangat lunak. Kanul plastik dapat dibersihkan dan dididihkan dengan cara yang sama seperti halnya kanul perak. 7). oleh karena itu tidak boleh dicoba untuk digores. 2b). 4). bahkan kanul dalam tidak akan saling tertukar dengan yang lain. 2). Kanul harus bersih dengan pita trakeostomi telah terpasang. kemudian bersihkan dan cuci. Jika kanul dari perak telah memudar. 5). pelindung atau permukaan lempeng kanul trakeostomi dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk. 8). kemudian ditarik ke arah anterior dan posterior. 2004 37 . ke depan dan seterusnya sekeliling kasa yang diikatkan sampai bagian dalam kanul dalam bersih. oleh karena itu dapat tergores atau bengkok dengan mudah. Adanya lubang pada anterior leher yang secara langsung berhubungan dengan trakea. 3). Minimal sekali sehari didihkan kanul dalam setelah dibersihkan. dan tempatkan kembali saringan dalam panci.

Cara menghisap Banyaknya discharge mukus bervariasi. Cara membuat alas dada untuk dipakai di bawah kanul trakeostomi ialah sebagai berikut : 1). Setelah kanul trakeostomi terpasang di tempatnya dan pita trakeostomi diikat. Tekan balon karet sebelum kateter dimasukkan ke dalam kanul trakeostomi. 4” X 4 “ gauze pad Gambar 3. Bersihkan alat-alat dengan air sabun. atau jika kanul teriritasi. Tempatkan 2 buah pita yang panjangnya 5 inci atau kasa yang 38 Cermin Dunia Kedokteran No. Alas dada dari kasa trakeostomi steril mungkin tersedia dari pusat sterilisasi rumah sakit. 4). Siapkan alat-alat. Gambar 4. 5 dan 6 menunjukkan cara membuat dan menggunakan alas di dada. 2). 3). 4). Gb. Lipat 1 inci pada tepi atas dan bawah. Kateter karet tidak boleh dimasukkan sampai melewati ujung dalam kanul trakeostomi.Cara melakukan : 1). Di samping itu. Cara penggantian kanul trakeostomi Pada saat memasukkan kanul trakeostomi. mukus akan terhisap ke dalam kateter dan semprit. Jika mesin penghisap tidak didapat. Pegang kateter dengan salah satu tangan dan balon karet pada semprit dengan tangan yang lain. tempatkan kasa di atas kanul. hal yang penting ialah bahwa kanul dimasukkan segera setelah kotoran yang melekat pada kanul dibersihkan. Lipat 4 inci kasa pada tiap sisi. 144. Kanul trakeostomi akan meluncur ke dalam dengan tekanan ke arah dalam secara halus. Peralatan tersebut sering dididihkan untuk memelihara kebersihannya (Gb. Potong satu lembar kasa membentuk segi empat dengan ukuran 16 x 17 inci. 2004 . Lepaskan balon karet. kecuali jika ada instruksi khusus untuk melakukannya dari dokter. 3). semprit steril atau kateter yang dapat dibeli di toko obat atau apotik bisa digunakan sebagai penghisap. Mukus ini akan meningkat jumlahnya jika penderita dingin. Penghisapan mungkin diperlukan untuk mengontrol mukus. 5). Mesin penghisap yang mudah dibawa dapat dipinjam dari rumah sakit dengan petunjuk penggunaannya. khususnya bila terdapat drainase sekitar kanul. jika udara dalam rumah kering. penderita melihatnya melalui cermin dan pegang tiap sisi lempeng permukaan kanul dengan ibu jari dan jari telunjuk.4). untuk mengeluarkan udara di dalamnya. Lipat 2 kali untuk mengurangi lebar menjadi 4 inci. Cara penghisapan discharge Cara membuat kain alas di dada Penderita mungkin perlu memakai kain kasa alas di dada di bawah kanul trakeostomi. 2).

Kasa 2x2 inci telah disetik pada tempat dan dimasukkan di bawah pita trakeostomi pada tiap sisi kanul trakeostomi. menghisap discharge. 1978 . 1977 . Kasa 2 x 2 inci kemudian dilipat ke bawah di atas pita trakeostomi. 1). 705-17. 2). Tracheostomy. A Textbook of ear. kasa 4 x 4 inci. Me Kailum JR. RINGKASAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi afiksi jika ada gangguan lalulintas udara pernafasan. KEPUSTAKAAN 1. merebus kanul dalam. Tracheostomy. kasa 4 x 4 inci yang tidak terlipat. Kasa 4 x 4 inci telah dilipat ke atas. 1567-73. 5th ed. Cermin Dunia Kedokteran No. 5th ed. Cara membuat alas trakeostomi Cara lain untuk membuat alas dada trakeostomi lebih mudah tetapi sedikit lebih mahal. Dokter atau paramedis perawatan harus memberikan petunjuk perihal perawatan kanul trakea. Pastikan tali pengikat pada permukaan depan alas dada dengan peniti kecil yang aman (Gb. Kasa 2 x 2 inci dapat dipeniti di bagian dalam (Gb. panjangnya 6 inci. Paparella MM.dipotong tepi lipatan pada bagian tepi atas separuh lipatan kasa dan setik silang bagian atas untuk mengkokohkan pita pada tempatnya. 2. masukkan pita atau tali pengikat pada tepi bagian atas dari bawah pita trakeostomi alas dada tiap sisi kanul trakeostomi. kasa 2 x 2 inci telah dibuat dengan melipat kasa dua kali. Tokyo : Igaku Shoin Ltd. Jika kasa tidak terlipat. Lipat tali pengikat atau pita dari alas dada di atas pita trakeostomi dan lipat kasa ke atas. 6). In : Logan Turner's Diseases of the nose. Adams GL. nose and throat diseases. In :Boies's Fundamentals of Otolaryngology. dan cara membuat kain alas dada untuk trakeostomi. 5). Bireell JF. Selama di rumah penderita harus dapat memelihara kanul trakea. Petunjuk ini tergantung pada keadaan penderita saat pulang dari rumah sakit. 5). Me Dowall GD. Boies LR. Gambar 6. 6). 2004 39 . mengganti kanul. 144. Cara lain membuat alas dada dipakai di bawah kanul trakeostomi Gambar 5. Sebuah kasa 4 x 4 atau dua buah kasa 2 x 2 diperlukan untuk tiap alas dada. 3). cara membersihkan kanul trakea. throat and ear. Dua kasa tidak terlipat 2 x 2 inci dipakaikan..5). Bristol : John Wright and Sons Ltd. 4). Pakaikan kasa trakeostomi alas dada. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dari rumah sakit dengan kanul trakea masih terpasang. Satu tiap tepi dari kasa terbuka 4x 4 inci. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap keberhasilan tujuan akhir trakeostomi. Maran AGD. Perawatan trakeostomi mandiri meliputi petunjuk umum. Me Klay K.

1. Basic sciences. Galood HD. Vol. 1973. Ann Otol 1980. 1971 : 31-61. 2004 . Martin WM. In : Ballantyne. 88 : 589-97. In: Ballantyne J. respiratory apparatus.obgyn-bandung. 688-708. 1973 : 170-96. 19 September 1981. An experimental study. Montgomery WW. Evans JNG. Adverse effects of tracheostomy for sleep apnea. Fundamental international techniques. Zorick FJ. Wright D. Ann Otol 1978 . Otolaryngology. 10. diaphragma and esophagus. Toledo PS. 12. 16. Vol I. Complications and postoperative care after tracheostomy. (ed). Tracheal incision as a contributing factor to tracheal stenosis. 14. An atlas of head and neck surgery. 1979 . Silicone tracheal canula. 1973 . 1973. Crawley BE. (eds). Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : PIT XIV POGI “Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas”. Skripsi di Bagian THT/RSCM. 89 (suppl 73): 1-7. 2nd ed. 9.org Redaksi CDK 40 Cermin Dunia Kedokteran No. Lulenski GC. 4. Ann Otol 1975 . Nose and throat. 91: 355-61. J Laryngol Otol 1974 . Roth T. 5. 2nd ed. 15. 242-8. (eds). The Otolaryngology board. Lee KJ. 13 – 15 Juli 2004 Website : http://www. A preparation guide. Montgomery WW. Basic sciences and related disciplines. 20. Batsakis JC. Davies J. Bandung. Tracheostomy and laryngotomy. 107 : 114-6. Physiology of the larynx and tracheobronchial tree. Tood GB. Grooves. Lulenski GC. 8. 95: 61-8. 7. 3rd ed. 17. Manual for care of Montgomery silicone tracheal Ttube. Otolaryngology. J Laryngol Otol 1981. Conway WA. Laryngoscope 1981. London : Edward Arnold Ltd.. 89 : 521-8. 246 : 34750. Arch Otolaryng 1981 . Comparison of five type of tracheostomy tubes in the intubated trachea. Vol II. London : Butterworths. Inc. vol I. 19. Shumrick DA. Victor LD. New York : Medical Examination Publ. Evans CC. Fujita S. Putney FJ. Natvig K. Laryngo-tracheoplasty. Long custom made plastic tracheostomy tube in severe tracheomalacia. Scott-Brown's diseases of the ear. Long term tracheal dimensions after flap tracheostomy. Lore JM. Philadelphia: WB Saunders. Olving JH. Shapiro RS.3. nose and throat. 62 : 272-6. Arch Otolaryngol. Tracheostomy and artificial ventilation in the treatment of respiratory failure. Philadelphia : WB Saunders Co. Embriology and anatomy of the larynx. Operative Surgery. Paparella MM. 11. 1976 . 1955. Krikotirotomi. 433-75. 6. London : Butterworths. 4th ed. Co. Magilligon DJ. 13. Feldman SA. 84 : 781-6. JAMA 1981. Shumrick (eds). 144. Siregar Z. 18. Steel PM. Ann Otol 1980. 87 : 99-108. In: Paparella. Philadelphia : WB Saunders Co. Basic sciences and related disciplines. Tracheal changes in relation to different tracheostomy technique (An experimental study on rabbits).

tak stabil (giddiness. 144. Indonesia PENDAHULUAN Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek. Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi untuk selanjutnya diolah di susunan saraf pusat (Gb. selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota tubuh. deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Vertigo: Aspek Neurologi Budi Riyanto Wreksoatmodjo Rumah Sakit Marzuki Mahdi. karena berjalan dengan kedua tungkainya. Bogor. unsteadiness) atau rasa pusing (dizziness). umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistim keseimbangan. SISTIM KESEIMBANGAN Manusia. selain itu diperlukan juga informasi gerakan agar dapat terus beradaptasi dengan perubahan sekelilingnya. 2004 41 . sehingga lebih memerlukan informasi posisi tubuh relatif terhadap lingkungan. yang sering digambarkan sebagai rasa berputar. rasa oleng. Vertigo – berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar – merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang. relatif kurang stabil dibandingkan dengan makhluk lain yang berjalan dengan empat kaki. Informasi tersebut diperoleh dari sistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor. Gambar 1.1) . serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah informasinya. Bagan Sistim Keseimbangan Manusia Cermin Dunia Kedokteran No. terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian.

2004 . timbul reaksi dari susunan saraf otonom. 5. atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan. serebelum) atau rasa melayang. teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin (Lucat) yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam mem42 Cermin Dunia Kedokteran No. gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan. menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu. Teori rangsang berlebihan (overstimulation) Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu. Teori neural mismatch Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik. yang berkembang menjadi gejala mual. Normal Motion Sickness Adapted PAR PAR SYM SYM SYM PAR Gambar 3. peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik. Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor). Mabuk Udara 4. nistagmus. vestibulum dan proprioseptik. PAR : Parasympathic Nervous System Teori sinap Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi.2) Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulangulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsurangsur tidak lagi timbul gejala. akibatnya akan timbul vertigo. Skema teori Neural Mismatch Sentral Vertigo Patologik BPPH Perifer Meniere Infeksi Trauma Iskemi Fisiologik Ketinggian. Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata). belajar dan daya ingat. Teori neurohumoral Di antaranya teori histamin (Takeda). sehingga jika pada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan. ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler. berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis. Berbeda dengan teori rangsang berlebihan. sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan (Gb.PATOFISIOLOGI Rasa pusing atau vertigo disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat. mual dan muntah. pada setiap penderita vertigo harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang cermat dan terarah untuk menentukan bentuk vertigo. Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat. melainkan gejala dari penyakit yang letak lesi dan penyebabnya berbeda-beda. Neural Store Sensory input (Rangsangan gerakan) pengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo. Teori konflik sensorik Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus. Skema Klasifikasi Vertigo 6. 3). teori ini lebih menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai penyebab. 3. (Skema) Oleh karena itu. 144. Keseimbangan Sistim Simpatis dan Parasimpatis Keterangan : SYM : Sympathic Nervous System. TATALAKSANA PENDERITA VERTIGO Seperti diuraikan di atas vertigo bukan suatu penyakit tersendiri. Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut : 1. letak lesi dan penyebabnya. 2. muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis.(Gb. berputar (yang berasal dari sensasi kortikal). Comparator Unit Psikogenik Mismatch Signal Sindrom Fobia Gambar 2. Teori otonomik Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebaga usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi.

pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. Uji Romberg (Gb. gagal jantung b. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang karakteristik (Gambar 4)(6. Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi. kepala dan badan berputar ke arah lesi. Uji Romberg PEMERIKSAAN FISIK Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab. Gambar 4. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup. Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. 144. kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. antimalaria dan lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit sistemik seperti anemi. anemi.batang otak. berputar. otologik atau neurologik – vestibuler atau serebeler. Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi jantung. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi. Fungsi vestibuler/serebeler a. atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik. Perlu diketahui juga keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh. paroksimal. dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh. serebelum. Apakah juga ada gangguan pendengaran yang biasanya menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n. 7). kongestif. Cermin Dunia Kedokteran No. vestibularis. progresif atau membaik. mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. Dalam menghadapi kasus vertigo. lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya. rasa naik perahu dan sebagainya. ketegangan. gerak bola mata/nistagmus dan fungsi serebelum. hipotensi. tujuh keliling. Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik. Profil waktu: apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan. 5) : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. bising karotis. hipertensi. Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada: 1. hilang timbul. penyakit jantung. tekanan darah diukur dalam posisi berbaring. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. c. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). salisilat. dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan keseimbangan. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram. kanamisin. selain itu harus dipertimbangkan pula faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut. Juga kemungkinan trauma akustik. Profil waktu serangan Vertigo pada beberapa penyakit Gambar 5. keletihan. hipertensi. Uji Unterberger. 2004 43 . kronik. hipotensi. pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya. apakah akibat kelainan sentral – yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat – korteks serebri. Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin. irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa.duduk dan berdiri. agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai. Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti.ANAMNESIS Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang. penyakit paru juga perlu ditanyakan. hipoglikemi. goyang. Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang. Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab. baik kelainan sistemik.

Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi terlentang) Gambar 7. jika ada gangguan vestibuler unilateral. kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa.9) Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer. Fungsi Vestibuler Uji Dix Hallpike (Gb. Uji Babinsky-Weil (Gb. 7) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan. pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang. Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa Gambar 8. Uji Babinsky Weil Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis(8. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. lakukan uji ini ke kanan dan kiri Gambar 6. a. Uji Unterberger Kepala putar ke samping d. Uji Tunjuk Barany e. 9) Perhatikan adanya nistagmus. Uji Dix-Hallpike 44 Cermin Dunia Kedokteran No. 144. 8) Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit. penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)(Gb. 2004 .1. Gambar 9.

a. dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. pendengaran. Pada tuli konduktif tes Rinne negatif. berupa gerakan mata melirik ke atas. Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik). b. 3.rec Hydroxyzine Ephedrine Cinnarizine Flunarizine Hyoscine Betahistin sc.5 mg 3 dd 25-100 mg 3 dd 25 mg 4 dd 25-50 mg 3 dd 5 mg 2 dd 10-20 mg 3-4 dd 6-12 mg 3 dd 8-16 mg 3 dd im. kemudian duduk tegak kembali. sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga. Stenvers (pada neurinoma akustik). dengan tes-tes Rinne. 144.fungsi sensorik (hipestesi. gangguan cara berjalan). nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit. Weber lateralisasi ke sisi yang tuli. VIII. Magnetic Resonance Imaging (MRI). b. kemudian duduk tegak kembali. Latihan ini dilakukan berulang (lima kali berturut-turut) pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul vertigo lagi. sehingga kepalanya menggantung 45º di bawah garis horisontal. Tabel 3. Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG). Arteriografi. penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat. Avopreg Transderm Scop Holopon Iterax. (Tabel 3). Weber dan Schwabach. Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP). 2. Elektronistagmogram Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit.iv. dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin. 2004 45 . Foto Rontgen tengkorak. Audiometri Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti Loudness Balance Test. Juga fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas). bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue). akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik. kiri dan kanan me Cermin Dunia Kedokteran No. tahan selama 30 detik. Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan. selain kausal (jika ditemukan penyebabnya). parestesi) dan serebeler (tremor. Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus. otot wajah. dan fungsi menelan. hilang dalam waktu kurang dari 1 menit.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga. iv im im - Selain itu dapat dicoba metode Brandt-Daroff sebagai upaya desensitisasi reseptor semisirkularis (Gambar 9). Tes Kalori Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º. c. Fungsi Pendengaran Tes garpu tala Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif. kampus visus.iv. okulomotor. tahan selama 30 detik. bawah. Sentral: tidak ada periode laten. 2. dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif. sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. Gambar 9. Antivert Phenergan. Bestalin Stugeron Sibelium Buscopan Hyscopan Merislon 6 mg Betaserc 8 mg Lama Kerja (jam) 4-6 4-6 4-6 12-24 4-6 72 4-6 4–6 Dosisi Dewasa Tingkat Sedasi + ++ ++ + ++ + + ++ 0 + + 0 0 0 Rute Lain im im. Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. sensorik wajah. SISI. kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus. lalu tutup kedua mata dan berbaring dengan cepat ke salah satu sisi tubuh. Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan tungkai tergantung.Dari posisi duduk di atas tempat tidur. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin. dan Schwabach memendek. ialah untuk memperbaiki ketidak seimbangan vestibuler melalui modulasi transmisi saraf. 4. Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik. Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visual-vestibular.5 mg 1 dd 0. Tone Decay. iv im. sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral.5-25 mg 2-3 dd 25 mg 4 dd 0.Elektromiografi (EMG). Obat-obatan yang digunakan pada terapi simptomatik vertigo (sedatif vestibuler) Nama Dagang Marezine Dramamine Benadryl Bonine.rec Nama Generik Cyclizine Dimenhydrinate Diphenhydramine Meclizine Promethazine Scopolamine 50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 12. TERAPI Tujuan pengobatan vertigo. Pemeriksaan Penunjang 1. Bekesy Audiometry. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan cara yang sama ke sisi lain. Pencitraan: CT Scan. leher.

Dalam: Joesoef AA. Patofisiologi. 2004 . 3. dapat dilakukan labirintektomi atau merusak saraf dengan instilasi aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal). diuretik ringan bersama diet rendah garam. kemudian diikuti dengan gerakan fleksi–ekstensi kepala berulang dengan mata tertutup. tanpa tahun. Perdossi. diuretik loop. Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat meringankan gejala. diberi obat supresan vestibuler dan anti emetik.xiii-xxviii. KEPUSTAKAAN 1.vestibularis. Kelompok Studi Vertigo. Diagnosis dan Terapi. Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti untuk mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya. Penyakit Meniere Dianggap disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik kompartemen endolimfatik di telinga dalam. 5. Terapi berupa penghentian obat bersangkutan dan terapi fisik. Kusumastuti K. Terapi fisik dan manuver Brandt-Daroff dianggap lebih efektif daripada medikamentosa. derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung platina. koordinasi gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler. amikasin dan netilmisin lebih bersifat ototoksik.ngikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat. Neuritis vestibularis Merupakan penyakit yang self limiting. Monograf. RINGKASAN Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam praktek. vasodilator dan antiparkinson dapat menimbulkan keluhan rasa melayang yang dapat dikacaukan dengan vertigo. Beberapa penyebab vertigo yang sering ditemukan antara lain: Benign paroxysmal positional vertigo Dianggap merupakan penyebab tersering vertigo. Mobilisasi dini dianjurkan untuk merangsang mekanisme kompensasi sentral. tetapi 60-80 % akan remisi spontan. diduga disebabkan oleh infeksi virus. hal. Every true genius must be natural or it is none (Schiller) 46 Cermin Dunia Kedokteran No. Patofisiologi Tinitus dan Vertigo. Joesoef AA. Monograf. 7. 4. Aspek Neurologi dari Vertigo. bisa alat dan saraf vestibuler. Sekitar 50% pasien akan sembuh dalam dua bulan. berhenti merokok. Vertigo ditinjau dari segi neurologik. Seri edukasi. 14 Desember 1991. 2002. Duphar. Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer. Dapat dicoba pengggunaan vasodilator. Harahap TP. Vertigo akibat obat Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang disertai tinitus dan hilangnya pendengaran. yang makin lama makin cepat. Kelompok Studi Vertigo Perdossi. antiinflamasi nonsteroid. pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur. metronidaziol dan minosiklin. Terapi kausal tergantung pada penyebab yang (mungkin) ditemukan.Obat-obat itu antara lain aminoglikosid. Syeban ZS. tanpa tahun. Saat ini dikaitkan dengan kondisi otoconia (butir kalsium di dalam kanalis semisirkularis) yang tidak stabil. umumnya disebabkan oleh kelainan /gangguan fungsi alat-alat keseimbangan. 2. penggunaan obat supresan vestibuler tidak dianjurkan karena jusrtru menghambat pemulihan fungsi vestibluer. Makalah lengkap Simposium dan Pelatihan Neurotologi. Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari kafein. asam nalidiksat. tanpa tahun. selain vertigo. Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat. terapi dapat menggunakan obat dan/atau manuver-manuver tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan otoconia ke tempat yang stabil. membatasi asupan garam. Dalam: Simposium Tinitus dan Vertigo. Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler antara lain sulfonamid. 24 Juli 2001 Mengenal Pusing dalam Praktek Umum. demikian juga gentamisin. Streptomisin lebih bersifat vestibulotoksik. 6. Tinjauan umum mengenai vertigo. kadang-kadang dilakukan tindakan operatif berupa dekompresi ruangan endolimfatik dan pemotongan n. terapi profilaktik juga belum memuaskan. Andradi S. selain pengobatan kausal jika penyebabnya dapat ditemukan dan diobati. 144.). Obat penyekat alfa adrenergik. Vertigo. biasanya disertai juga dengan tinitus dan gangguan pendengaran. Sedjawidada R. Di awal sakit. jika disertai gangguan pendengaran disebut labirintitis.1999. Neurootologi klinis:Vertigo.(eds.. Belum ada pengobatan yang terbukti efektif. Perhimpunan Ahli Telinga Hidung dan Tenggorok Indonesia cabang DKI Jakarta. umumnya hilang sendiri (self limiting) dalam 4 sampai 6 minggu. sedangkan kanamisin.

termasuk di sini adalah : . tergolong sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi ruangan. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya. sempoyongan. Vertigo kronis Vertigo yang serangannya mendadak/akut. muntah) dan pusing (2). Epilepsi. 144. otonomik (pucat. PENDAHULUAN Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan (1) Istilah yang sering digunakan oleh awam adalah: puyeng. Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak. unstable). 50 % datang ke dokter dengan keluhan vertigo(2) . berlangsung beberapa menit atau hari. diterapi dengan akupunktur dan menunjukkan hasil memuaskan. L. rasa melayang (1). dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. pusing. Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja. Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere. Sindrom Cogan. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi : 1. DEFINISI Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2). Labirin picu (trigger labyrinth). kemudian menghilang sempurna. tujuh keliling. rasa mengambang.Vertigo posisional paroksismal benigna.PRESENTASI KASUS Terapi Akupunktur untuk Vertigo Prasti Pirawati. Arakhnoiditis pontoserebelaris. vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok (2): 1. . melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus. 2004 47 . Sindrom Lermoyes. Berikut dilaporkan kasus vertigo pada seorang wanita 50 tahun. penderita sama sekali bebas keluhan. mumet. 2. mual. Migren ekuivalen. Yvonne Siboe Departemen Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris. Vertigo kronis Yaitu vertigo yang menetap. peluh dingin. kelainan gigi/ odontogen. Cipto Mangunkusumo. 3. Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi. tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Vertigo perlu dipahami karena merupakan keluhan nomer tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke praktek umum. 3. Di antara serangan. Yang tanpa disertai keluhan telinga. pening. Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance). Gejalanya menyebabkan pasien takut dan cemas. bahkan orang tua usia sekitar 75 tahun.Vertigo posisional paroksismal laten. Vertigo paroksismal 2. terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh (2). keluhannya konstan tanpa Cermin Dunia Kedokteran No. Jakarta ABSTRAK Vertigo merupakan kasus yang sering terjadi. kemudian berangsur-angsur mengurang. tumor fossa cranii posterior. dapat disertai gejala lain. Pengobatan vertigo secara konvensional dengan obat-obatan kadang-kadang kurang berhasil. kepala terasa enteng. KLASIFIKASI Berdasarkan gejala klinisnya.

Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika. intoksikasi obat. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual. meningitis Tb. otitis media purulenta akuta. TERAPI Terdiri dari : 1.Laboratorium . Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. hematobulbi. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler. yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. d. ensefalitis vestibularis. sklerosis multipel. 5. abses. yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan.Hipotensi ortostatik . Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis. dibedakan menjadi : 1. hipoglikemi. Migren. : Hipertensi kronis. hipotensi ortostatik.Pemeriksaan otologik . fobia. Dalam kondisi fisiologis/normal. Lues serebri. Kelainan mata: kelainan proprioseptik. serangan vaskular. Vertigo yang serangannya mendadak/akut. labirintitis kronis. PATOFISIOLOGI Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. siringobulbi. otitis media dengan efusi. rudapaksa dengan perdarahan. labirintitis. arteriosklerosis. sindrom pasca komosio. Pemeriksaan fisik : . Telinga bagian luar : serumen. kolesteatoma. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik. Intoksikasi. benda asing. neurosa cemas. Tumor. dan vestibulospinalis. 2. ensefalitis. 2. Epilepsi. 3. keadaan menstruasi-hamilmenopause.Pemeriksaan neurologik . jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. anemia. 3. Terapi kausal . tumor. III. sklerosis multipleks. trauma. kelainan endokrin.EEG. : infeksi. 2. maka proses pengolahan informasi akan terganggu. 2.Radiologik dan Imaging . di samping itu. Kelainan endokrin: hipotiroid. hipoglikemi. b. kelainan kardiovaskuler. mabuk gerakan. sumbatan arteria serebeli inferior posterior. informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler. akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom. Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri. 2004 4. Nervus VIII. 3. hipoparatiroid. respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus. susunan vestibuloretikularis. sindrom arteria vestibularis anterior. tumor serebelopontin.VIII. sindrom sinus karotis. kelainan psikis. c. 2. e. sklerosis multipleks.ENG . lues. Penyakit SSP : a. Disertai keluhan telinga : Trauma labirin. Trauma kepala/ labirin. hidrops labirin (morbus Meniere ). EMG. trauma. Pemeriksaan tambahan : . Infeksi : meningitis. b. Ada pula yang membagi vertigo menjadi(3) : 1. neuritis n. stenosis dan insufisiensi aorta. visual.Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh . dan proprioseptik. cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis. c. sinkop. 6. Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis. trombosis arteria serebeli posterior inferior. ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya. fibrilasi atrium paroksismal. f. lesi labirin akibat bahan ototoksik. kelainan okuler. 48 Cermin Dunia Kedokteran No. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan. Anamnesis. Kelainan psikiatrik: depresi. vertigo epidemika.Vertigo servikalis. blok jantung. dan EKG. berangsurangsur mereda. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani. akan diproses lebih lanjut.Pemeriksaan mata . ETIOLOGI 1. herpes zoster otikus. tumor medula adrenal. tumor. labirintitis akuta.Psikiatrik 4. Inti Vestibularis: infeksi. Hipoksia – Iskemia otak. Vertigo yang dipengaruhi posisi : . 144. d.(2). Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler. vertigo postural. ensefalitis pontis. hipertensi kardiovaskular.Pemeriksaan fisik umum.Audiometri dan BAEP . perdarahan labirin. Pemeriksaan khusus : . e. unsteadiness. jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar. visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer : a. atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan. trauma. pelagra. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. dibedakan menjadi: 1. perdarahan. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika. DIAGNOSIS 1. reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar.serangan akut. IV dan VI. sindrom hiperventilasi. alergi.

2. 3.

Terapi simtomatik Terapi rehabilitatif

TINJAUAN MENURUT ILMU AKUPUNKTUR Menurut Ilmu Akupunktur, vertigo termasuk golongan Xuan Yun (pusing = dizziness), disebabkan oleh hiperaktivitas Yang Hati, sehingga mengganggu telinga; atau karena akumulasi reak di Jiao–tengah sehingga menyumbat naiknya Qi ke telinga (4). Gejala Klinis(4,5 ) Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lembut atau seperti senar dan halus. Jika disebabkan oleh naiknya Yang Hati dan berkurangnya Yin Ginjal timbul gejala-gejala: puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis, nadi senar dan seperti benang. Etiologi & Patofisiologi ( 6 , 7 , 8 ) 1. Hiperaktifitas Yang Hati Disebabkan oleh stagnasi Qi Hati, sehingga menimbulkan api Hati dan angin Hati berlebihan yang naik mengganggu Qi di dalam kepala, sehingga timbul puyeng (pusing). Hiperaktifitas Yang Hati lama-kelamaan bisa mengakibatkan defisiensi Yin Hati.. 2. Defisiensi Qi dan darah Disebabkan oleh perdarahan kronis atau gangguan pencernaan sehingga Limpa dan Lambung lemah menyebabkan pembentukan Qi dan darah kurang, kulit pucat, pusing dan penglihatan kabur. 3. Defisiensi Cing Ginjal. Akan mengakibatkan gangguan telinga, otak, dan organorgan lain, terutama Hati, Limpa-Lambung, dan Jantung, sehingga timbul gejala vertigo. 4. Stagnasi lembab di Jiao-tengah. Lemahnya Limpa dan Lambung menyebabkan terbentuknya reak dan lembab yang menyumbat di Jiao tengah sehingga Qi terhambat untuk naik/turun, mengakibatkan vertigo. Terapi (4,5,6 ) 1. Jika akibat Hiperaktifitas Yang Hati, prinsip terapinya : Menenangkan Yang Hati, menguatkan Yin Hati, menghilangkan angin dalam, mengurangi kelebihan api Hati, melancarkan Qi Hati. Titik-titiknya : Baihui (GV 20) atau Fengchi (GB 20), Xingjian (LR 2), Qiuxu (GB 40), Taichong (LR 3). 2. Jika karena Defisiensi Qi dan darah, prinsip terapinya : Memelihara Qi dan darah dengan menguatkan Limpa, jika Qi dan darah tidak bisa naik ke kepala, maka Jantung dan Limpa dikuatkan. Titik-titiknya : Hegu (LI 4), Sanyinjiao (SP 6), Shenmen (HT 7). 3. Jika akibat defisiensi Cing Ginjal, prinsip terapinya : Menguatkan Ginjal

Titik-titiknya : Guanyuan ( CV 4 ), Taixi ( KI 3 ), Shenshu ( UB 23 ), Fuliu ( KI 7 ). 4. Jika akibat stagnasi lembab di Jiao-tengah, prinsipnya : Menguatkan Limpa, menyeimbangkan Lambung, menghilangkan lembab dan menghilangkan reak, sehingga melancarkan Qi dalam Limpa-Lambung. Titik-titiknya : Pishu ( UB 20 ), Yinlingquan ( SP 9 ), Fenglong ( ST 40 ). KASUS I. Identitas penderita Nama Umur Jenis kelamin Agama Status perkawinan Pekerjaan Berobat tanggal

: : : : : : :

Ny. YR 50 th perempuan Islam menikah PNS (Fisioterapis) 4 September 2003

II. Anamnesis Keluhan utama : kepala terasa muter sejak 1 bulan Keluhan tambahan : mual . Perjalanan penyakit : - Kira-kira 1 bulan yang lalu pasien merasa leher sebelah kanan sakit; lama-kelamaan menjalar ke lengan kanan. Setelah berobat ke fisioterapi, membaik. - Dua minggu kemudian, pasien tiba-tiba merasa seperti "ada sesuatu" yang naik; kemudian merasa seperti mabuk dan mual. Muntah tidak ada. - Paisen berobat ke IRM; pada Rö tulang leher, ada penyempitan di C 4-5. - Diberi obat antalgin dan obat untuk vertigo; karena tidak ada perubahan, dirujuk ke bagian Saraf, diberi: Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®. - Seminggu kemudian kambuh lebih parah; pasien merasa ada "sesuatu" yang naik sampai ke leher, kepala terasa berat, dan berputar; disertai mual dan muntah. Pasien minta dirujuk ke bagian Akupunktur. - Tiga bulan sebelumnya pasien beberapa kali mengalami gejala-gejala awal serupa (ada "sesuatu" yang naik) tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. - Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetapi tetap sadar, tidak disertai pusing atau gejala lain. - Riwayat penyakit serupa dalam keluarga (-). - Riwayat infeksi telinga (-). III. Status Presens Keadaan Umum: compos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi: 72 X/menit, pernafasan 20 X/menit, afebris. Pemeriksaan fisik dan neurologik dalam batas normal. IV. Pemeriksaan penunjang Ro Cervical (25/8/03): Spondyloarthrosis C 4-5 kanan dan kiri, Intervertebra C 6-7 kanan. Laboratorium (5/9/03): Hb: 12, Leukosit : 5200, diff: -/4//6/28/2, trombosit: 255.000, LED: 20, gula darah N / 2 jam PP: 92 / 103; Kholesterol Total, HDL / LDL: 284 / 49 / 200 mg/dl, Trigliserid: 174 mg/dl, As. Urat: 3 mg/dl Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 49

V. Pemeriksaan Akupunktur 1. Pengamatan ( Wang ) : a. Sen : semangat : baik; ekspresi umum : baik; sinar mata: bersinar; kesadaran : baik. b. Se : warna kulit: tak tampak kelainan; ekspresi wajah : bersinar segar. c. Sing Tay : bentuk tubuh: sedang; jika berjalan pelanpelan, seperti robot karena takut menoleh; posisi tubuh : t.a.k.; kulit tubuh: normal; keringat biasa; mata, telinga, hidung : t.a.k. d. Pemeriksaan Lidah : - otot lidah : merah muda, kebasahan sedang, pergerakan normal. - selaput lidah : putih, tipis, bersih. 2. Pendengaran dan Penciuman (Wen) : a. Pendengaran : suara bicara : biasa, suara nafas: normal; suara batuk, cekutan, bertahak: tak terdengar. b. Penciuman : hawa mulut: tak tercium, bau keringat: tak tercium; bau reak, air seni, tinja: tak diperiksa 3. Anamnesis (Wun) : Keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit sama seperti di atas. Pertanyaan khusus : a. Suka panas / dingin : lebih suka dingin b. Keadaan berkeringat : normal c. Rasa kepala : berputar; tubuh , anggota gerak : tak ada keluhan d. Buang Air Besar: sekali sehari, konsistensi baik Buang Air Kecil : frekuensi 7-10 kali, banyak, jernih e. Kebiasaan makan, minum: nafsu makan baik, kesukaan akan rasa: tak spesifik f. Dada : tak ada keluhan; perut : kadang-kadang mual, perih terutama kalau terlambat makan g. Pendengaran: tak ada keluhan h. Rasa haus: tak ada . i. Penyakit yang pernah diderita: trauma kepala tetapi tetap sadar, Ro kepala t.a.k. j. Keadaan haid : 4 bulan ini mulai tak teratur, lama haid 1 minggu, jumlah darah lebih sedikit dari sebelumnya, dismenorrhea (-), leukorrhea (-). 4. Perabaan (Cie) : a. Perabaan lokal: tidak ada nyeri tekan atau ketegangan otot. b. Suhu tubuh: normal c. Pemeriksaan nadi : kiri kanan dangkal dalam dangkal dalam cun 5 5 5 5 kuan 5 4 5 5 ce 5 5 5 5 5. Pemeriksaan khusus terhadap organ Cang Fu : a. Lambung : jika perut kosong perih, mual. b. Limpa : nafsu makan menurun, perut kembung, bertahak c. Hati : kepala muter, gangguan haid. d. Organ Cang Fu lain : tak ada kelainan. 50 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

VI. Resume Seorang perempuan umur 50 tahun datang dengan keluhan utama kepala terasa berputar disertai mual.. Satu bulan sebelumnya merasa leher sisi kanan sakit, menjalar ke lengan kanan. Setelah fisioterapi, membaik. Dua minggu kemudian pasien merasa seperti mabuk, mual, tidak muntah, didahului oleh rasa seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas. Pasien berobat ke IRM, diberi antalgin dan obat vertigo; pada Rö tulang leher ternyata ada penyempitan di C 4-5. Karena tak ada perubahan, pasien dirujuk ke bagian Saraf, diberi Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®, tetapi tetap belum ada perbaikan. Satu minggu kemudian kambuh lebih parah, dan pasien minta dirujuk ke bag. Akupunktur. Tiga bulan sebelumnya beberapa kali mengalami gejalagejala seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas, tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetap sadar, Ro kepala t.a.k. Pada pemeriksaan akupunktur didapatkan : 1. Wang : - Sen : baik - Se : normal, bersinar - Sing Tay : kalau berjalan pelan-pelan, seperti robot, takut menengok. - Lidah : normal. 2. Wen : tak ada kelainan 3. Wun : lebih suka dingin, rasa kepala berputar, perut kalau terlambat makan sering mual, perih. Haid selama 4 bulan ini mulai tak teratur, darah haid lebih sedikit. 4. Cie: kuan kiri dalam Pada pemeriksaan organ Cang Fu ada kelainan pada organ Lambung, Limpa, Hati. VII. Diagnosis Kerja Kedokteran Umum : Vertigo Akupunktur : Kepala terasa berputar karena Yang se hati palsu akibat Si Hati. VIII. Pengobatan 1. Alat : jarum 2. Titik yang dipakai dan alasan pemakaiannya : a. Fengchi ( GB 20) : untuk mengusir angin b. Hegu ( LI 4 ): membuang angin, penenang c. Taichong ( LR 3 ): menormalkan Hati, penenang. d. Zhongwan ( CV 12 ) : menguatkan lambung, melancarkan Qi lambung e. Fenglong ( ST 40 ): menghilangkan lembab f. Sanyinjiao ( SP 6 ): menguatkan Limpa g. Neiguan (PC 6): mengatasi mual 3. Frekwensi : dua kali seminggu, 1 seri 12 kali. 4. Manipulasi: penguatan, selama 15 menit. IX. Prognosis Dubia ad bonam

XI. Anjuran 1. Berobat akupunktur rutin 2. Pemeriksaan : CT, MRI 3. Konsul THT, Mata. XII. Follow up Tanggal 8/9/03 : Muter (+/-), mual (+/-),pasien masih minum obat dari bag. Saraf Tanggal 11/9/03 : Muter (-), mual (+/-), nyeri kepala sebelah kanan (berdenyut ). pasien sudah tidak minum obat-obatan. Ditambah akupunktur titik Zulinqi ( GB 41 ) kanan. Tanggal 15/9/03 : Muter (-), nyeri kepala (-), obat (-). Tanggal 18/9/03 : Tak ada keluhan, pasien merasa sembuh. DISKUSI Pada pasien ini , gejala-gejala vertigo disebabkan karena defisiensi Yin Hati. Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala berupa haid tak teratur dalam 4 bulan ini, darah haid lebih sedikit, nadi Hati lemah. Defisiensi Yin Hati ini mengakibatkan muncul gejala-gejala Yang Se Hati palsu yaitu kepala berputar (akibat angin Hati). Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan pada Limpa dan Lambung dan terbentuknya lembab/reak sehingga menimbulkan gejala-gejala mual, lambung perih dan perut kembung, sering bertahak. Yin Si Hati ini mungkin disebabkan karena Ginjal yang mulai melemah, mengingat pasien sudah berumur 50 tahun, dan haid tak teratur mungkin merupakan gejala pra-menopause.

Setelah diterapi dua kali dengan prinsip terapi menghilangkan angin, menenangkan pasien, menguatkan Yin Hati, menghilangkan lembab, memperbaiki Limpa dan menyeimbangkan Lambung, serta simtomatis mengurangi mual, pasien merasa ada perbaikan dan pemakaian obat dihentikan. Sampai terapi ke lima pasien sudah merasa sembuh, tak ada keluhan. Karena takut ditusuk dan tak tahan sakit, pasien tidak melanjutkan pengobatan akupunkturnya. Sampai saat laporan dibuat tidak ada keluhan dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.
KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Lumbantobing S M. Vertigo Tujuh Keliling. Balai Penerbit FKUI. Jakarta; 1996. Nurimaba N, Joesoef A A, Andradi S. Vertigo, Patofisiologi, Diagnosis dan Terapi. Cetakan pertama. Kelompok Studi Vertigo, PERDOSSI. Jakarta; 1999. Andradi S. Diagnosa Klinis & Terapi Vertigo. Bagian Neurologi FKUI/RSCM. Jakarta. Yin G, Liu Z . Advance Modern Chinese Acupuncture Therapy. First ed. Beijing: New World Press. 2000. O’Connor J, Bensky D. Acupuncture A Comprehensive Text. Chicago: Eastland Press. 1981. Huaitang S. Acupuncture and Moxibustion Treatment of Vertigo ( 2 ). Internat. J. Clin. Acupunc. 1993 : 4 ( 4 ) : 391 –5. Kiswojo, Kusuma A. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT Gramedia., 1978. Kang L S,. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur.

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 51

kariostatik serta hipokolesterolemik. Beberapa peneliti lain juga menyebutkan bahwa teh dapat bekerja sebagai hipoglikemik dan menghambat aterosklerosis. assamica.49%. Assamica (Mast)] sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan Sulistyowati Tuminah Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. teh dibagi menjadi 3 (tiga) macam(3). tanaman teh Camellia sinensis O.K. 52 Cermin Dunia Kedokteran No.Var. dengan harga obat-obatan yang mahal. Dalam hal ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber 1.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Teh [Camellia sinensis O. Departeman Kesahatan RI. Pada pemanasan dengan suhu 85°C selama 3 menit.2 Di masa sekarang. terutama obesitas kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus.K. assamica dan irrawadiensis. dari makanan yang banyak mengandung serat ke makanan yang banyak mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi. irrawadiensis. murah (terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat) dan dapat dibuat oleh semua orang. anjuran Departemen Kesehatan untuk back to nature (kembali ke obat tradisional) adalah tepat. Jakarta ABSTRAK Teh adalah salah satu bahan minuman alami yang sangat populer di masyarakat. yaitu sinensis.3 Menurut Graham HN (1984). 144. 2004 . Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas. PENDAHULUAN Transisi nutrisi yang terjadi saat ini. adalah warna teh dan seduhannya akan lebih hijau terang. kanker. Kandungan flavonoid dalam teh merupakan antioksidan yang bersifat antikarsinogenik. yaitu : Teh Hijau Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara di dunia. Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam).4 KLASIFIKASI Di zaman dahulu. sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22% negara di dunia. Keuntungan dengan cara pemberian uap panas. var. genus Camellia dibedakan menjadi beberapa spesies teh yaitu sinensis. Teh merupakan bahan minuman yang secara universal dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan masyarakat.3 Selain itu di negara-negara Barat.7 2.5.5. lebih dari setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut(3.1 Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi akibat penyakit jantung koroner dan stroke. Teh hitam Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi. aktivitas enzim polifenol oksidase tinggal 5. dari penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit jantung. Pemanggangan (pan firing) secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300°C. daun teh diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim. Transisi nutrisi juga dihubungkan dengan prevalensi obesitas.6 MACAM-MACAM TEH Berdasarkan penanganan pasca panen. Juga karena bahannya mudah didapat.6): Divisi Sub divisi Kelas Sub Kelas Ordo (bangsa) Familia (suku) Genus (marga) Spesies (jenis) Varietas : : : : : : : : : Spermatophyta (tumbuhan biji) Angiospermae (tumbuhan biji terbuka) Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah) Dialypetalae Guttiferales (Clusiales) Camelliaceae (Theaceae) Camellia Camellia sinensis Assamica3. Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus. Van Steenis CGGJ (1987) dan Tjitrosoepomo G (1989).

Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas hasil akhir. indeks massa tubuh: 24.50 0.11 Selain itu diet fluorin yang Cermin Dunia Kedokteran No. 10.74 0.93. 4. 27. 5 wanita.13 3.83 4.57 3.9.40. melainkan dilakukan oleh enzim polifenol oksidase yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri.79 4. 14.50 0.110 µmol/l). Epikatekin galat mempunyai daya antioksidan sebesar 4.5 g daun teh ke dalam 25 ml air mendidih. Setelah 4 jam berpuasa. 12.74 6.70 5. Komponen Kafein (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Flavonol Theanin Asam glutamat Asam aspartat Arginin Asam amino lain Gula Bhn yg dpt mengendapkan alkohol Kalium (potassium) % Berat kering 7. 120. berarti konsentrasi teh yang umum dikonsumsi mempunyai sifat antioksidan yang kuat secara in vitro4. katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan thearubigin. 20. yaitu varietas tertentu yang memberikan aroma khusus.09 4. 11. epigalo katekin 3. selanjutnya digulung dan dikeringkan.4 Daya antioksidan komponen katekin berbeda-beda.62 35.90 1.enzim. 8.98 5. Rata-rata aktivitas antioksidan larutan yang dihasilkan adalah 8. 17. 7.42 20. 5.01 0. dilakukan pengeringan sampai kadar air teh kering mencapai 4-6%.15 0.69 0. Daya antioksidan komponen katekin tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan vitamin C ataupun β-karoten. Aktivitas antioksidan serum rata-rata pada awal KHASIAT TEH Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung dalam teh. 180 menit pemberian teh adalah rata-rata 434. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada suhu sekitar 22-28°C dengan kelembaban sekitar 90%. Teh oolong Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat dengan bahan baku khusus.84 4. 1. 6. Komposisi teh hitam(3) No.21 3.86 1. kemudian diaduk selama 3 menit. 13. 8.29 2. 1.8 Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C). epikatekin daya antioksidannya sebesar 2.7 3. 144.25 1.85 0. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian teh dengan jumlah besar dalam waktu singkat mempunyai sedikit pengaruh jangka pendek terhadap aktivitas antioksidan serum. 30. 2. 15.03 0.63 Trace Trace Trace 2. 12. Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu. 10. 9.7 Tabel 2. yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses metabolisme.96 percobaan 430 µmol/l. 3. kemudian digiling sehingga sel-sel daun rusak. 25.7 KOMPONEN THE (3) Komponen dari dua macam teh yang paling banyak digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut (tabel 1 dan 2) : Tabel 1. Apabila proses fermentasi telah selesai. Komponen Kafein Theobromin Theofilin (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Glikosida flavonol Bisflavanol Asam Theaflavat Theaflavin Thearubigen Asam gallat Asam klorogenat Gula Pektin Polisakarida Asam oksalat Asam malonat Asam suksinat Asam malat Asam akonitat Asam sitrat Lipid Kalium (potassium) Mineral lain Peptida Theanin Asam amino lain Aroma % Berat kering 7. sebuah kanula intravena dipasang pada masing-masing sukarelawan/wati.01 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Penelitian di Barat dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari 8 macam produk teh hitam yang populer secara komersial dengan memasukkan 0. 9.02 0. usia rata-rata 21. dibandingkan dengan aktivitas antioksidan serum yang berkisar antara 350-550 µmol/l. epigalo katekin galat sebesar 4.09 0.43 1.20 8. 5.50 0. 2. Selanjutnya diteliti pengaruh infus 500 ml teh yang biasa digunakan untuk makan pagi di Inggris (1 g/100 ml) terhadap status antioksidan serum pada 10 sukarelawan yang sehat (5 laki-laki.31 0. 447 dan 439 µmol/l (tidak ada perubahan yang berarti/signifikan). Daun teh dilayukan lebih dahulu.23 4. 24. 22. 13. 3. 4.1 tahun.21 6. kemudian dipanaskan pada suhu 160-240°C selama 3-7 menit untuk inaktivasi enzim. 14. Penelitian ini tidak meneliti kemungkinan pengaruh minum teh kumulatif jangka panjang terhadap status antioksidan. Komposisi teh hijau(3) No. 7.17 1. 16.10 Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama masa kontak yang pendek. biasanya dilakukan selama 2-4 jam.50 dan untuk katekin daya antioksidannya sebesar 2.3.275-12. berbeda dengan hasil penelitian mengenai pengaruh flavonoid anggur merah. 29.99 3.16 4. 23.68 12. 21.75. 11.82. 28. 19. 6.56 0. Pada proses ini. 2004 53 . 18.477 µmol/l (kisaran 4. kemudian diinfuskan teh tanpa susu selama lebih dari 20 menit pada saat makan siang. setelah 60. tetapi tidak terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDLC). 26.0).70 0.

yaitu besi heme (yang terikat pada molekul hemoglobin) dan besi non-heme (yang tidak terikat pada molekul hemoglobin). 173 : 304-312. Wakabayashi K. Jakarta. 21 : 526-31. tetapi berjenis nonheme yang penyerapannya oleh manusia sangat sedikit. Fluorine in Tea and Caries in Rats. 23. cet ke-2.35 g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus 30 dan 60 menit setelah perlakuan. Preventive Medicine. sebaliknya besi heme dari daging merah sangat banyak tersedia dan lebih mudah diserap. FMIPA UI. Prima Kardia Pers. 144 (2) : 175-82. Yanai F. Iron absorption and its implications in the control of iron deficiency anemia. Yang GY.19 Selain itu pada wanita post menopause. Inhibitory Effect of Green Tea in the Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-OTetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. Tea Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of Postmenopausal Women. cet ke-1. 2. Bag. 1997 : 82-3. Cancer Prevention Effects of Drinking Green Tea among a Japanesse Population. 5. Nair MK. Van den Berg H. 13. 12. 24. Thorpe G. 144. termasuk pada wanita post menopause. In Liss AR. Brussel: 1995 . O2•− . et al. dan radikal peroksil. Brants HA. Biokimia FKUI. 16. Eur J Clin Nutr. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L) O. Cancer Rates among Drinkers of Black Tea. Okubo S. Jufri M. melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat menyumbat lumen arteri. Van-den Brandt – PA. Weststrate JA. makanan berserat dan mengandung fitat menghambat penyerapan besi non-heme. Popkin BM. 8. 1996. Hyderabad. 10. terutama yang berkaitan untuk penyakit degeneratif selain kanker.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total. Consumption. 1994. ILSI European Monograph Series. National Institute of Nutrition. 3 Selain itu sifat menguntungkan dari teh adalah kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah terpapar radiasi. Pradnya Paramita. cet ke-1. Japan. hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun embriotoksik. 14. 21. Jakarta. hal ini dapat dijelaskan. cet ke-4. Baraas F. 11. Nakachi K. 20. Blot WJ. Cermin Dunia Kedokt.20. 1997. Goldbohm RA. 18. Ferraro T. 26 (6) : 769-75. 37 (8) : 739-60. Van-Popel-G. tetapi manusia masih bisa mendapatkan besi heme dari daging merah. et al. 4. 1-495. 1996. Kono S.21 Dirghantara (1994) melakukan penelitian mengenai efek sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. 1-477. Shinchi K. Kumpulan makalah : Radikal Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar. J Epidemiol. 11 : 3840. Graham HN. Chow WH. The Methylxanthine Beverages and Foods : Chemistry. Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan penelitian-penelitian lebih jauh mengenai manfaat minuman teh bagi kesehatan. Sellers TA. Nutr Rev. Gershon-Cohen J. Jakarta. Langseth L. bahwa besi yang diabsorbsi manusia terdiri dari dua jenis. Hong CP. Imanishi K. Toda M. 1997. tetapi juga secara substansial memperkecil ukuran tumor. KEPUSTAKAAN 1.3 Mengenai kemungkinan hambatan penyerapan besi oleh teh. Lee MJ. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien talasemia. Environ Health Perspect. Tea flavonoids have little short term impact on serum antioxidant activity.terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi kariostatik pada tikus Wistar.54 g /200 g. Drewnowski A. Shinchi K. 19. Jakarta. McLaughin JK. Hertog MG. Green Tea Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in Northern Kyushu. Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. Tumbuh-tumbuhan diketahui sebagai sumber besi yang baik. Nutrition News. Zheng W. Imai K. FMIPA UI. Yogyakarta. 2004 . blood lipids and fat-soluble antioxidant levels and haemostasis variables. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and Consumption of the Beverage. Van Het Hof KH. Potensi Antioksidan pada Teh. 1999 : 11-2. body weight. 1997 : 105 suppl 4 : 971-76. 7. Astuti M.12 Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit. Crit Rev Food Sci Nutr. 6.13 Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat antikarsinogenik pada hewan dan manusia. 313 : 229. Ternyata sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0. Mou TH. flavonoid dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL. A comparison of effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on food intake. Chen L. 9. Nature 1954. flavonoid sebagai antioksidan berperan dalam mengurangi OH•. Antioksidan dan Penyakit Jantung. and Health Effects. Teh juga telah diuji teratogenik. 1999. Letters in Applied Microbiology. 1-24. kolesterol LDL. Am J Epidemiol. Sutarmaji A. 1984 : 29-74. Prog Clin Biol Rev. Van Steenis CGGJ. konsumsi vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan besi non-heme. Folsom AR. Nakayama M. Preventive Medicine 1992. UGM Press. Jakarta. 1998. J Nat’l Cancer Inst. 17. 128: 49-51. baik teh hitam maupun teh hijau. Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. Substansi seperti tanin (dari teh). McClendon JF. Tuminah S. Hasilnya diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). 22. Jufri M. Suga K. Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam.22 Sutarmaji (1994) meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. Tjitrosoepomo G. Maxwell S. Dirghantara E. 52 : 1162-70. 52 : 389-95. 1989 . Jakarta. 6 (3) : 128-33. 3. Antioxidants. 20 (2) : 1-6. 1997. 15. Selain itu. Kono S. Doyle TJ. Yang CS. 1987 . 2000.24 PENUTUP Dari uraian di atas tampak banyak sekali khasiat teh. Cancer Research 1992. Relation of Green Tea Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. and Disease Prevention. et al. Kushi LH. BMJ (27 July) [Medline] 1996. Inhibition of Influenza Virus Infection by Tea. Prima Kardia Pers. Zhi YW. 54 Cermin Dunia Kedokteran No. Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. Shimamura T. Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort Study. 1994. Ikeda N.05). Polyphenols as Inhibitors of Carcinogenesis. Radikal Bebas dan Antioksidan – Kaitannya dengan Nutrisi dan Penyakit Kronis.23Teh juga mencegah luka skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang diberi diet aterogenik.14-18 Diperkirakan. 88 (2) : 93-100. trigliserida dan berat badan yang bermakna dengan kontrol perlakuan (P < 0. Baraas F. Oxidants. menghambat mutagen yang disebabkan oleh pembentukan nitrosamin dari metilurea. teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan besi non-heme dan menghambat hemokromatosis. 1990. The Nutrition Transition : New Trends in the Global Diet. 1996. 55(2) : 31-43. 2001 : 1-15.

Responden berumur antara 15 tahun sampai 65 tahun terbanyak di bawah 30 tahun (82. Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO. Tujuan khususnya ialah: (a) Mengetahui distribusi penderita tersangka DBD berdasarkan umur dan jenis kelamin (b) Mengetahui hasil uji HI pada penderita tersebut (c) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasil uji HI (d) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasiI uji HI berdasarkan golongan usia (e) Mencari hubungan antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif METODOLOGI Disain penelitian: potong lintang (cross sectional) dengan sampel : penderita tersangka DBD yang dirawat di rumah sakit selama periode Januari . Jakarta PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 dimulai dari Jakarta dan Surabaya. Uji Hemaglutinasi Inhibisi (uji HI) merupakan Gold Standard untuk pemeriksaan serologi pada penderita tersangka DBD (Tatalaksana DBD di Indonesia.414 kematian(1). Sri Susilowati. Penderita diambil darahnya untuk pemeriksaan laboratorium di rumah sakit maupun untuk pemeriksaan uji HI. HASIL DAN DISKUSI Responden yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 369 orang tetapi yang dapat diolah datanya hanya 187 orang (50.89%) dengan rata-rata umur penderita 25 tahun. Sebelum uji HI sampel terlebih dahulu mendapat Kaolin treatment untuk menghilangkan non specific inhibitor. Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta merupakan salah satu daerah endemis DBD di Indonesia dengan jumlah kasus pada tahun 1997 sebanyak 5190 dengan 49kematian.HASIL PENELITIAN Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta tahun 2001 Enny Muchlastriningsih.32%) lainnya tidak dapat diambil sampel darah konvalesennya karena : (a) Penderita tidak mau diambil darahnya lagi dengan alasan sudah banyak diambil darahnya (b) Penderita tidak sempat diambil darahnya oleh petugas karena sudah terlanjur pulang. Tahun 1968 hanya 2 Daerah Tingkat (Dati) Il yang terkena dengan 58 kasus dan 24 kematian tetapi pada tahun 1999 Dati II yang terkena sebanyak 203 dengan 9. tahun 1998 15422 kasus dengan 133 kematian.faktor yang diduga dapat mempengaruhi peningkatan kasus DBD di Indonesia ialah(2): (a) Pertumbuhan penduduk yang tinggi (b) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali (c) Tidak adanya kontrol vektor yang efektif di daerah endemis (d) Meningkatnya arus dan sarana transportasi. 2001) . Faktor. dan mengisi informed consent.pada penelitian ini semua serum responden diperiksa dengan menggunakan uji HI. Kriteria inklusi : penderita berumur minimal 15 tahun. (Tabel 1).871 kasus dan 1. Uji HI dikerjakan menggunakan metode Clarke & Cassals dengan modifikasi mikrotiter(4) dengan menggunakan antigen Dengue-2.68%) karena Uji HI memerlukan sampel darah akut (A) dan konvalesen (K) sedangkan 182 orang (49. dirawat di rumah sakit.April 2001. dan tahun 1999 3751 kasus dengan 42 kematian(3). 2004 55 . Diana Hutauruk Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Departemen Kesehatan RI. 144. demam akut 2-7 hari. Cermin Dunia Kedokteran No. sejak itu penyakit DBD merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus dan jumlah kematian yang terus meningkat serta wilayah penyebarannya yang makin meluas. Tujuan penelitian ini secara umum ialah untuk memberi gambaran penyakit DBD di Jakarta tahun 2000 dari penderita yang dirawat di rumah sakit dan sampel darahnya diperiksa di laboratorium Pusat Pemberantasan Penyakit Balitbangkes.

3% positif dan 48.1:1). dan untuk presumtif ditemukan paling tua pada golongan umur 55 tahun. Techniques for Haemagglutinatuon and Haemagglutination Inhibition with Arthropod-borne Viruses. KESIMPULAN Ternyata tidak semua penderita tersangka DBD dapat diperiksa uji HI karena berbagai kendala.Dit. tetapi adanya penderita dengan infeksi primer dan presumtif juga membenarkan hipotesis virulensi virus. ini mendukung hipotesis infeksi sekunder pada patogenesis DBD yang banyak dianut. Sub. yaitu: tahun 1994: 34. Pimpinan dan Staf RS Pasar Rebo. 2001.44 10. Cassals J. 2000. 2004 . waktu maupun penyimpanannya (d) Cara pengerjaan uji yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.5% . 3.21%.4 100. Med. PPM&PLP Departemen Kesehatan RI.00 Pada tabet 4 terlihat penderita infeksi primer dapat ditemukan pada usia lanjut (golongan umur 65 tahun) meskipun pada usia yang lebih muda lebih banyak terjadi.55 1.16 6.61 100. infeksi sekunder terjadi pada golongan umur paling tua 45 tahun. Tabel 4. KEPUSTAKAAN l. Distribusi Hasil Uji HI pada Penderita Tersangka DBD Hasil Uji HI Positif Negatif Total Jumlah (N) 96 91 187 % 51.0 Pada penelitian ini penderita DBD derajat (grade) I sebanyak 55. tahun 1995: 50. 56 Cermin Dunia Kedokteran No. Muchlastriningsih E et al. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue. Distribusi Penderita tersangka DBD menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Umur (tahun) 1520253035404550556065Jumlah Laki-laki (N) 25 30 18 11 6 4 2 0 0 1 1 98 Perempuan (N) 25 29 9 8 6 3 4 1 1 1 2 89 Total 50 59 27 19 12 7 6 1 1 2 3 187 % 26. tidak didapatkan adanya hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif (p = 0.19%. Pimpinan dan Staf RS Persahabatan. Berita Epidemiologi.53 0. Jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebanding.24%(5). Trop. Distribusi Penderita Tersangka DBD dengan Kriteria Uji HI positif Kriteria Uji HI Positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif Total Jumlah (N) 21 64 11 96 % 21. J. Am. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berkisar antara 30% . Hyg.7 11.7% negatif. hasil uji HI positif sebesar 51. Jakarta.07 1. Distribusi Hasil Uji HI Positif pada Penderita Tersangka DBD berdasarkan Umur. Keadaan tersebut mungkin disebabkan: (a) Kurang cermat mendiagnosis penyakit DBD (b) Tidak mau ambil risiko penderita DBD terlewatkan tanpa pengobatan yang dianjurkan (c) Pengambilan sampel yang kurang tepat baik cara. Profil Kesehatan Indonesia 1999.74 31. Tabel 2. Data Kasus DBD 1999. 7: 561. Desember 1999. tahun 1996: 32. UCAPAN TERIMA KASIH Ditujukan kepada Kapuslitbang Pemberantasan Penyakit Badan Litbangkes.Jen.3 48. tahun 1997: 34.6849). Penderita terutama dengan infeksi sekunder (tabel 3) .7% dan derajat II sebanyak 44.82%. 1958. 144.9 66.Tabel 1. Surveilans Dit. dan tidak ada hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji I-II yang positif.3% dengan kriteria positif sekunder yang terbanyak meskipun ditemukan infeksi primer pada penderita lanjut usia.74 3. 5.42 3. 4. Departernen Kesehatan RI 2000.7 100.50%. tahun 1998: 36.53 1. karena jumlah responden laki-laki lebih banyak kelihatannya jumlah penderita laki-laki lebih besar. 2. dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini.0 Tabel 2 memperlihatkan penderita dan hasil uji HI nya yaitu 51. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penderita Tersangka DBD di Jakarta tahun 1998.21 0. penderita berada pada derajat I dan II. Clarke DH. Direktorat Jenderal PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. ini menunjukkan bahwa penderita DBD memang sudah bergeser ke umur yang lebih tua.3%. Tabel 3. Golongan umur (th) 1520253035404550556065Total Kriteria hasil uji HI positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif 8 18 2 4 17 5 5 12 2 1 8 1 0 3 0 1 2 0 0 4 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 0 21 64 11 Total 28 26 19 10 3 3 4 0 1 0 2 96 Pada penelitian ini perbandingan penderita laki-laki dan perempuan hampir sama yaitu 98 : 89 (1.

Reference: Bei Jing XieHe Hospital. mual. KALBE FARMA Tbk. fatigue. tetapi tidak lebih dari 30 IU/kg/minggu. Jl. edema. terlindung dari cahaya. KONTRA INDIKASI • Hipertensi berat yang tidak terkontrol. KEMASAN Box isi pre-filled syringe 2000 IU/mL.000 IU. DOSIS dan CARA PEMBERIAN Pengobatan anemia pada pasien Gagal Ginjal Kronik: Larutan dapat diberikan secara IV atau SC. sakit kepala.30) Cermin Dunia Kedokteran No. Letjend. seperti: FeSO4. Jakarta 10510 PO Box 3105 JAK. Suprapto. • Hipersensitif terhadap produk yang berasal dari sel mamalia.co. 3000 IU/mL dan 1000 IU/mL. sebaiknya diberikan dosis 50-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian (dosis dikurangi menjadi 2/3 dosis semula). PENYIMPANAN Simpan dalam lemari es. artralgia. 3000 IU dan 10. : (021) 428 73680 Website : http://www. pruritus dan urtikaria. 10. Jangan dibekukan dan dikocok.kalbe. 3000 IU. 144. diare.: (021) 428 73888-89. Dosis untuk pasien non dialisis: 100 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 3 kali pemberian. Fax.000 IU in 1 mL KOMPOSISI Setiap mL larutan berisi: Epoetin alfa (recombinant human erythropoietin) 2000 IU. suhu 2-8°C. muntah ataupun reaksi di tempat injeksi. Jakarta – Indonesia Tlp. Senin – Jumat (07. INTERAKSI Tidak diketahui adanya interaksi klinis yang signifikan. Sebaiknya kadar hematokrit dipantau setiap 2-4 minggu sehingga penyesuaian dosis dapat dilakukan secara berkala untuk mempertahankan kadar Hematokrit yang optimum dan mencegah erithropoiesis yang terlalu cepat. Gedung Enseval.Produk Baru Hemapo® Erythropoietin Syringe 2000 IU.00-15. • Hipersensitif terhadap human albumin. Fase Pemberian: Untuk mempertahankan kadar hematokrit 30%-35%. INDIKASI Pengobatan anemia yang disebabkan gagal ginjal kronik (renal anemia) pada pasien dengan dialisis dan non dialisis. 2004 57 . EFEK SAMPING • Hipertensi • Peningkatan jumlah platelet • Lain-lain yang jarang terjadi yaitu rash. Pada umumnya terapi Erythropoietin adalah terapi jangka panjang.id Hotline service (bebas pulsa): 0-800-123-0-123. dapat dilakukan penyesuaian dosis setelah 4 minggu pengobatan dengan meningkatkan dosis 15-30 IU/ kg/minggu. meskipun dapat dihentikan setiap saat. 1998. Jika peningkatan hematokrit tidak sesuai dengan yang diharapkan (<0. Fase Koreksi: Dosis awal untuk pasien hemodialisis adalah 100-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian.5%/minggu). tetapi efek erythropoietin dapat dipotensiasi oleh agen hematinik. Clinical Trial III Report of rhEPOInjection Marketing Office PT. Dosis untuk pasien gagal ginjal kronis non dialisis sebaiknya dipertimbangkan secara individual.

2004 . Elektrode diletakkan di vertex dan mastoid ipsilateral./hearing/hrexam.apsul Klasifikasi derajat gangguan pendengaran (ASHA. Brainstem auditory evoked potential (BAEP) pada dewasa normal.net. 144. 1990). Sumber: http://ivertigo.html 58 Cermin Dunia Kedokteran No.

2. telekardiologi. Telekomunikasi Masuk dalam bidang ini adalah teleconsultation. medical information science. Pengistilahan ini sama dengan pemberian istilah di bidangbidang lain di luar kesehatan. Medical Informatics atau Informatika Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang terbentuk pada perpotongan ilmu kedokteran/kesehatan dan Teknologi Informatik (Information Technology). Jika dahulu hanya bersifat satu arah (broadcast). 2004 59 . dan informatika terapan. yakni: Shortlife EH dan Van Bemmel JH. dll. dr HM Goh. informatika yang berorientasi pada aplikasi. Dalam praktek sehari-hari Dalam kehidupan sehari-hari penerapan Informatika Kedokteran bisa dilihat seperti: 1. pengambilan keputusan dan analisis keilmuan dari Ilmu Kedokteran. dan beberapa istilah yang spesifik seperti nursing informatics. dll Sistem Informasi Terdapat dua pembagian besar sistem informasi yaitu (1) yang berfokus pada pasien dan (2) yang berfokus pada keperawatan Web dan internet Perkembangan dunia telekomunikasi begitu cepat. Sebaliknya. 144.INFORMATIKA KEDOKTERAN PENGANTAR Medical informatics is located at the intersection of information technology and the different disciplines of medicine and healthcare. penulis melihat ada pendapat dua pakar informatika kedokteran yang cukup diakui banyak orang. maka secara terperinci masih bisa dibagi lagi atas: ilmu komputer yang fundamental. Dua definisi Dari pelbagai penjelasan mengenai Informatika Kedokteran. dan informatics. kemudian berkembang menjadi bersifat interaktif (dua arah). dan beberapa area yang lebih spesifik. (2) Informatika Kedokteran terdiri dari aspek-aspek teori dan praktis dari proses informasi dan komunikasi. Kesemuanya dibutuhkan agar pengambilan keputusan manusia bisa dipercepat. health informatics. Akhir-akhir ini. merawat data. (Dr. teleradiologi. radiologi. sifat website pun sudah mulai berubah. 5. disebutkan bahwa istilah-istilah seperti ’Informatika Kedokteran’ ’Informatika Kesehatan’ maupun ’e-health’ sebenarnya mempunyai arti yang kurang lebih sama. atau artificial intelligence. seperti: tanya jawab. 3. kedokteran nuklir. Jika mengikuti perkembangan bidang informatika. information processing. computational linguistics. computer in medicine. dll. Dalam perbincangan penulis dengan pakar Informatika Kedokteran dari Malaysia. melihat rekam medik dll. dental informatics. berlandaskan pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan pada proses-proses yang terjadi pada pelayanan kedokteran dan kesehatan. Dalam bidang ini dipelajari bagaimana memperoleh dan mengeluarkan data. dll. proses kontrol. artikel kesehatan. dan tele-tele yang lain Medical Imaging Yang masuk dalam area ini seperti: ultrasound. seperti: computer science. Saat ini aplikasi yang berbasis web sudah mulai digemari karena lebih mudah digunakan dari manapun dan kapan saja. aspek keamanan dan legalitas. contohnya: computational physics. dll. Erik Tapan MHA) Cermin Dunia Kedokteran No. seperti: proses pendaftaran pasien. Proses pengolahan data Data adalah tulang punggung proses informatika selanjutnya. aktivitas di website bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk proses bisnis. Secara rinci perkembangan nama / ilmu tersebut bisa dibaca pada ulasan di bawah ini: Berawal pada tahun 1970-an Istilah medical informatics diketahui berasal dari istilah bahasa Perancis informatique médicale. 4. Demikian pula jika kita ingin membagi bidang-bidang dalam informatika kedokteran. Aspek-aspek lain yang berperan Aspek-aspek lain yang tidak bisa dianggap enteng adalah: Interaksi manusia dan komputer. misalnya menginformasikan jam praktek dokter. Sebelum tahun 1970an istilah yang dipergunakan bermacam-macam seperti: medical computer science. Mereka mendefinisikan sebagai berikut: (1) Ilmu Informatika Kedokteran adalah ilmu yang menggunakan alat-alat sistem analitik untuk membangun prosedur-prosedur (algoritma-algoritma) demi kepentingan management. dll. Biaya dan keuntungan sistem informasi.

Jakarta.kalbe. Sabtu 20 Maret 2004 di RSIA Hermina Daan Mogot Jakarta.8 April 2004 Bertempat di Grand Plaza Park Royal Kuala Lumpur. Demikian dikatakan dr. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. Dalam sambutan tertulisnya. Studio mini Jakarta Eye Center. 25 Maret 2004 Demensia atau yang orang awam sering sebut 'pikun' ternyata bukan hanya merupakan masalah yang sederhana. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. hari ini Dato' Dr Abdul Gani Che Din. (tampak dalam foto dr. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. Sp. diadakan APAMI Board Meeting atau acara organisasi dari Asia Pasific Association of Medical Informatics. Pada topik yang diberi tanda Breaking News.id/seminar. RSIA HERMINA Daan Mogot .PD-KGH.PD-KGH. dan infeksi. dokter spesialis anak yang berpraktek di rumah sakit ibu dan anak tersebut. Laporan lengkap dari simposium. batu ginjal. 20 Maret 2004 Sampai dengan tanggal 15 Maret 2004. bisa diakses di http://www. 6 April 2004. dan sebagainya. SpPD-KGH. setelah menyelesaikan acara ilmiah. Erik Tapan.co. dan Portal Kedokteran www. ternyata bukan hanya mengalami penurunan fungsi kognitif saja. Kuala Lumpur. menghisap rokok. J.kalbe. dan bisa langsung diakses pada homepage Kalbe Farma Seminar Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah. Hotel Acasia. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. Demikian terungkap dalam Seminar Awam "Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah Dengue. batu ginjal. APAMI Board Meeting.Pudji Rahardjo. menghisap rokok. melainkan 60 Cermin Dunia Kedokteran No. hal ini jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa penderita demensia. Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". membuka acara eHealth Asia 2004. mentri menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan kesehatan bersama hendaknya dipandu oleh prinsip sistem kesehatan yang mantap di masa depan. Dengan kata lain penyakit ini tidak hanya merugikan diri penderita sendiri tetapi juga orang lain yang berada di sekelilingnya. Sp. RS Mitra International. Siang Klinik : Demensia dan Penatalaksanaannya. Untuk itu kita jangan sampai lengah. 6 .Pudji Rahardjo. Acara tersebut menampilkan pembicara tunggal Sri Kusumo Amdani. 144.000 kali per hari. Hotel Acasia. sehingga dapat dirasakan bahwa hal ini akan menjadi suatu problem yang sangat kompleks di masa yang akan datang. Tele-radiologi Pantai Indah Kapuk.co. eHealth Asia 2004.Hj. narasumber simposium berkenan menyumbangkan suara emasnya) juga mempunyai hambatan dalam membina hubungannya dengan lingkungan sekitarnya. mewakili Mentri Kesehatan Malaysia Tan Sri Datu Dr. Demikian dikatakan dr. Presentasi dimulai dari Medical Record Elektronik RS Pertamina Jaya Jakarta. Mohammad Taha bin Arif. J. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. 6 April 2004 Pada malam hari.043 orang. dan infeksi.Kegiatan Ilmiah Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. Kuala Lumpur. dan sebagainya. yang di klik rata-rata 2. di DKI terdapat penderita DBD yang masih dirawat di RS sejumlah 2. berarti peserta simposium bisa memperoleh berita dalam bentuk cetak (print) bersamaan dengan acara di Stand Kalbe Farma. mempresentasikan perkembangan bidang tersebut di Indonesia.id. Pudji Rahardjo. Tele-education kesehatan via satellite. Wakil dari Indonesia. di samping hasil dari sistem kesehatan yang juga harus terfokus. 2004 .

tak hanya di Indonesia saja namun di seluruh dunia. Dr. lanjut Konsultan Management dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa Republika tersebut.9 %). 24 Mei 2004. Nutrisi enteral lebih unggul dibandingkan parenteral dalam mempertahankan fungsi gastrointestinal.02 % (WKNPG : 5. Prabowo Soemarto dalam Seminar IT dari PB PERMAPKIN (Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan) yang berlangsung selama dua hari di Jakarta. 29 Mei 2004 Terapi biologi sebagai bagian dari kemoterapi telah berkembang pesat dari terapi konvensional yang sebelumnya berbasis kemoterapi.5 %) dan wanita 11. di Jakarta selama 2 hari. membuktikan bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat.5th Jakarta Antimicrobial Update 2004. Sie. 18 Januari 2004 Pada tanggal 18 Januari 2004. Demikian dikatakan dr. Wahidin Sudirohusodo bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) cabang Makassar telah menyelenggarakan simpoisum neurologi untuk masyarakat umum dengan topik ”Pengenalan dini gejala/gangguan saraf”. Arifin Limoa. 23 . Demikian dijelaskan Handi Irawan. Oleh karena itu penyakit DM saat ini telah dimasukan sebagai penyakit kardiovaskular berdasarkan guideline terbaru DM. Amiruddin Aliah.26 Mei 2004.25 Mei 2004 Bertempat di Hotel Gran Melia Jakarta. H. Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar. SpS(K). KE dari Pusat Diabetes dan Lipid FKUI Jakarta pada acara 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) di Bali International Convention Center beberapa waktu lalu. Hotel Mandarin Oriental . Jakarta. dr. SpS(K). mahasiswa baik kedokteran maupun keperawatan. dan berperan sebagai nutrisi pokok atau suplemen dalam memperbaiki status nutrisi pasien yang dirawat di bidang ilmu penyakit dalam atau perawatan intensif National Obesity Symposium III. SpS(K)). karena dapat mencegah atrofi villi usus.PD. Dibandingkan dengan data WKNPG tahun 1998. Slamet Suyono. KHOM dalam sambutannya pada acara Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI beberapa waktu lalu di Jakarta. 25 . Hotel Borobudur Jakarta. Demikian salah satu yang ditekankan Prof. enterosit dan kolonosit. Ed. karena proses bisnis layananan kesehatan termasuk hal yang kompleks. 24 Mei 2004 Tuntutan terhadap dokter / rumah sakit bukan hal yang luar biasa lagi saat ini. 27 . 144. 25 . 8-9 Mei 2004 Nutrisi enteral atau peroral sangat penting untuk saluran cerna. mengingat sangat beragamnya latar belakang profesi yang menjalankannya.16 % (WKNPG : 2. Jakarta. Cermin Dunia Kedokteran No. seharusnya sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan "proses bisnis"nya. sehingga diharapkan terapi akan lebih tepat sasaran dengan efek samping lebih ringan serta kualitas hidup pasien yang meningkat. Bagian/UP Neurologi FK UNHAS/RS Dr. radiasi dan operasi.Jakarta. Sebabnya.26 Mei 2004 Sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum mempergunakan Riset Marketing dalam menjalankan usahanya. SPS(K). Asal peserta sangat beragam dari masyarakat umum sampai masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan.28 April 2004 Komputerisasi dalam "bisnis" layanan kesehatan. Prof. 15-16 Mei 2004 Hasil riset terbaru dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) yang melibatkan lebih dari enam ribu orang. Seminar Ilmiah Kongres ARSSI I. Danial Abadi. Dr. MM dan Prof. Hotel Shangri La Jakarta. Menurut Budi Sampurna. Tujuan dilaksanakannya simposium ini adalah untuk mencegah/menurunkan kecacatan dan kematina akibat penyakit saraf. 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) 2004. kasus tuntutan di rumah sakit umumnya diartikan sebagai tuntutan hukum yang diakibatkan oleh ketidakpuasan pasien. tetap menjaga kelangsungan fungsi usus.(foto diambil saat Session Mari Tanya Ahli. Zubairi Djorban. Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta dari ASEAN ini berlangsung selama 3 hari dan diikuti oleh kurang lebih 40 industri farmasi dari dalam dan luar negeri. Jakarta. 2004 61 . dr. menjadi terapi yang bersifat spesifik. Seminar IT PERMAPKIN. Spesifik yang dimaksud adalah dengan mencegah pertumbuhan dan perkembangan khusus sel kanker. Demikian dikatakan Prof. Jakarta. Simposium Neurologi Untuk Masyarakat Umum. SpPD. termasuk dari Kalbe Group. ASEAN Pharmaceutical Industry Congress. K. dari kiri ke kanan: dr. dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Minggu 23 Mei 2004 diadakan acara pembukaan eksebisi dari ASEAN Pharmaceutical Industry Congres I. Seminar Integrated Hospital Marketing. Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI. dr. Acara yang dilaksanakan di Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar dimulai pukul 09. Bali International Convention Center.00 WITA diikuti oleh sekitar 1100 orang peserta. Oleh karena itu obesitas menjadi masalah epidemik yang global. Hal tersebut dipaparkan dokter ahli hukum tersebut sewaktu menjadi pembicara di sesi ilmiah dalam rangka Kongres Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSSI) yang pertama di Jakarta. Sp. angka kejadian penyakit ini pada pria melonjak hingga mencapai 9. dalam acara seminar Vi tahun 2004 dengan judul "Integrated Hospital Marketing" yang diselenggarakan Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan Indonesia (PERMAPKIN). 6-9 Mei 2004 Dalam waktu 10 tahun ke depan seorang penderita kencing manis atau diabetes mellitus diperkirakan akan menderita penyakit jantung koroner (CHD/Coronary Heart Disease).

1.3. ternyata mereka yang tidur di alas medium (5. 362: 1785-91 PENGUKURAN ULTRASONOGRAFI UNTUK MENILAI RISIKO FRAKTUR Risiko fraktur dicoba dinilai melalui pemeriksaan ultrasonografi terhadap tulang kalkaneus. sistem ventilasi ruang kerja mereka disinari dengan UVGI (ultraviolet germicidal irradiation) selama 4 minggu. temporal dan parietal merupakan korteks asosiasi heteromodal yang berkaitan dengan fungsi perhatian (attention) dan inhibisi tingkah laku (behavioral inhibition).7.24 – 3.24 – 8. Daerah frontal. Peningkatan nyata substansia grisea sebaliknya didapatkan di sebagian besar korteks temporal superior dan parietal inferior bilateral. skala kekerasan kasur berkisar dari 1.0001) tidak tergantung usia.5 – 0. 158 diminta tidur di alas dengan derajat kekerasan 5. 362: 1699-707 brw 0.56) dibandingkan dengan yang tidur di alas keras. 0. nyeri saat berbaring (p=0. Sekelompok peneliti di Montreal. 117 62 Cermin Dunia Kedokteran No.52. 2004 .95 (95%CI: 1.6. selain itu didapatkan ukuran yang lebih kecil di daerah inferior dan korteks prefrontal dorsal bilateral. 362: 1599-604 brw SICK BUILDING SYNDROME Sick building syndrome (sindrom gedung sakit) merupakan masalah yang belum sepenuhnya dipahami. Para peneliti di Spanyol menilai 313 dewasa dengan nyeri pinggang bawah kronis nonspesifik. Lancet 2003.7. 0.bb/hari selama 5 hari.97 – 3. p<0. Lancet 2003.9) di kalangan bukan perokok. selama 48 minggu. Penggunaan UVGI juga menurunkan keluhan respirasi (0. Selama masa itu terjadi 121 fraktur.363:197-202 brw brw ALAS TIDUR KERAS UNTUK NYERI PINGGANG BAWAH Kebanyakan dokter menganjurkan tidur di alas yang keras untuk mengatasi keluhan nyeri pinggang bawah.0 (paling empuk). risiko frakturnya 4.4 g IVIg/kg. 0.5 – METILPRDENISOLON UNTUK SINDROM GUILLAIN BARRE Dutch GBS study group mengadakan penelitian acak butaganda dengan kontrol plasebo untuk menilai manfaat penambahan metilprednisolon terhadap pengobatan imunoglobulin pada sindrom GuillainBarre. Sejumlah 233 pasien mendapat 0.8.5.6. 144. penelitian ini dilakukan atas 14 824 pria dan wanita 42-82 tahun di Norfolk.2 – 0. Pengoperasian UVGI menurunkan konsentrasi mikroba dan endotoksin di permukaan sistim ventilasi sampai 99% (95%CI 67 – 100).9) dan keluhan muskuloskeletal (0. Pemeriksaan kuantitatif ultrasonografi terhadap kalkaneus agaknya dapat meramalkan risiko fraktur baik di kalangan pria maupun wanita.4. sepanjang tahun 1997-2000.86) dan lebih rendah disabilitasnya (2.9 ± 0. menunjukkan bahwa morfologi abnormal ditemukan di korteks frontal. Sayangnya dalam studi ini posisi tidur tidak ikut diperhitungkan.13 – 4. Pengurangan 1 SD dari BUA (20 db/MHz) dihubungkan dengan risiko fraktur relatif 1.99) juga terhadap keluhan respirasi (0.93. Selama periode studi.008) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras.9) dan keluhan mukosal (0.4-0. berat badan. Ternyata penggunaan UVGI dikaitkan dengan penurunan gejala berkait dengan pekerjaan secara umum (OD 0. 0. 95%CI: 1.50 – 2. sex.36. 116 di antaranya juga diberi 500 mg.7 – 0.6) lebih banyak yang berkurang rasa nyerinya.0001) dibandingkan dengan populasi yang di kisaran 30% tertinggi. 95%CI 0. kemudian dimatikan selama 12 minggu. p<0.0 (paling keras) sampai 10. 31 di antaranya fraktur femur.8). baik di tempat tidur (odds ratio 2.6.8) dan bukan perokok (0. mereka yang tidur di alas medium juga lebih sedikit merasa nyeri di siang hari (p=0. 0.064) dan nyeri saat bangkit dari tempat tidur (p=0. Ternyata populasi yang mempunyai distribusi BUA (broadband ultrasound attenuation) kalkaneus di kisaran 10% terendah. Kanada mencoba menyelidikinya pada 771 pekerja kantor. Setelah 90 hari mereka dievaluasi. Penurunan keluhan mukosal terutama di kalangan pekerja atopik (0.44 kali (95%CI: 2.ABSTRAK KELAINAN KORTEKS PADA ADHD Penelitian menggunakan MRI dan teknik komputasi terhadap korteks serebri 27 anak dan remaja penderita ADHD dibandingkan dengan 46 kontrol.059). 0. siklus ini dilakukan sebanyak 3 kali. mereka di amati selama rata-rata 1. sedangkan 155 lainnya tidur di alas dengan derajat kekerasan 2.10.9). juga di korteks temporal anterior bilateral. tinggi badan. Lancet 2003. 0. metilprednisolon/hari iv dalam 48 jam setelah pemberian IVIg pertama. karena ternyata mereka yang tidur di alas medium lebih banyak yang mengambil posisi fetal (56% di awal percobaan.5 – 0.7 tahun. kebiasaan merokok ataupun riwayat fraktur sebelumnya.89.3 – 0.93) maupun saat bangkit (1. Lancet 2004. 65% di akhir percobaan) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras (54% dan 59%).

24. 110 di kelompok studi dan 97 di kelompok plasebo.56-0. 192 menggandakan dosisnya. demikian juga risiko infark miokard non fatal. data diolah dari 207 (53%) peserta. Setelah penyesuaian data terhadap usia dan tingkat penyakit saat masuk.62.4.363:192-6 brw EFEK SAMPING TRIMETOPRIMKOTRIMOKSAZOL Telah dilaporkan satu kasus wanita 63 tahun yang mendapat 20 mg/kg. 36.09). N Engl J Med 2004. sedangkan 198 lainnya tidak (kedua kelompok menggunakan inhaler yang serupa) Setelah 12 bulan. p=0. Lancet 2004.363:271-5 brw Cermin Dunia Kedokteran No. stroke non fatal.40.88.350:88-9 brw ASPIRIN UNTUK POLISITEMIA VERA Aspirin ternyata juga bermanafat untuk mencegah komplikasi trombosis di kalangan pasien polisitemia vera.91. 95%CI 0.011). OR=1.97-2. Latihan secara bermakna menurunkan mortalitas (hazard ratio 0. logrank x2 5.9. stroke non fatal atau kematian akibat kardiovaskuler lebih rendah di kelompok aspirin (RR 0. Saat gejalanya mulai memburuk. p=0.350:114-24 brw Program latihan yang dijalani berupa bersepeda. p=0. Analisis atas data dari 225 pasien menunjukkan bahwa skor disabilitas membaik satu tingkat atau lebih pada 68% (76 dari 112) pasien kelompok metilprednisolon dan pada 56% (63 dari 113) pasien kontrol.93. risiko infark miokard non fatal.003).72.8) Para peneliti berkesimpulan bahwa menggandakan dosis inhalasi tidak mencegah perburukan gajala asma (yang diukur dari kebutuhan prednisolon oral) Lancet 2004. p=0. dibandingkan dengan 265 pasien yang diberi plasebo. N Engl J Med 2004.ABSTRAK sisanya mendapat plasebo. 406 sebagai kontrol. Terapi trimetoprim-sulfametoksazol dihentikan. emboli paru.68. p=0. BMJ 2004. 48 dan 60 bulan kemudian.22 (11%) dari kelompok studi dan 24 (12%) dari kelompok plasebo membutuhkan prednisolon tambahan untuk mengatasi gejala asmanya. Ternyata selama periode followup rata-rata selama 705 ± 729 hari tercatat 88 (22%) kematian di kelompok latihan dan 105 (16%) di kelompok kontrol. Risk ratio penggunaan prednisolon 0.71).65. 95%CI 0. 100 mg/kg. p=0. MENCEGAH EKSASERBASI ASMA Suatu studi dilakukan untuk menilai manfaat penggandaan dosis inhalasi kortikosteroid dalam upaya mencegah peningkatan dosis prednisolon oral. 95%CI: 0.15 – 1. 95%CI 0. Kematian.64.bb sulfametoksazol iv dan 2 g.41.55-1. berupa mioklonus multifokal dan asterixis bilateral. 2004 63 . Para peneliti di Italia memberikan 100 mg aspirin/hari pada 253 pasien polisitemia vera. seftriakson iv dua kali sehari untuk infeksi Nocardia.95 (95%CI 0. 0. aerobik dan kalistenik yang bervariasi di antara percobaan-percobaan tersebut. Efek samping perdarahan tidak berbeda bermakna (RR 1.27-9.18 – 0.92.03). ternyata 46 menggunakan prednisolon tambahan . Pemantauan dilakukan setelah 12. dan pasien menolak punksi lumbal.06). 6.bb trimetoprim.328:189-92 brw EFEK LATIHAN TERHDAP KETAHANAN JANTUNG Kelompok peneliti di Inggris melakukan metaanalisis atas 9 percobaan yang seluruhnya melibatkan 801 pasien – 395 menjalani latihan. p=0. (OR 1. baik keseluruhan ataupun oleh sebab kardiovaskular lain tidak berbeda bermakna.15. keesokan harinya gerakan involunter berkurang dan hilang sama sekali setelah 4 hari.46 – 0. Sejumlah 390 penderita asma pengguna kortikosteroid inhalasi yang berisiko eksaserbasi dipantau gejala asma dan morning peak flownya selama sampai 12 bulan. 95%CI 0. Pemeriksaan MRI hasilnya tidak spesifik.89 (95%CI: 1. Efek samping tidak berbeda bermakna di antara dua kelompok tersebut.07-3. trombosis vena atau kematian akibat kardiovaskuler (RR 0. Kejadian ini sebelumnya pernah dilaporkan pada 1 kasus anak.35. jalan kaki. Di akhir percobaan. 144. Ternyata penambahan metilprednisolon tidak memperbaiki hasil pengobatan sindrom Guiilain/Barre.015) Kematian dan perawatan rumahsakit juga lebih sedikit di kalangan latihan (0. setelah 4 hari pengobatan pasien tersebut mengalami gerakan involunter di kepala dan keempat ekstremitasnya.

9. Yang termasuk penyebab sentral pada vertigo . a) Tumor jinak b) Tidak pernah mematikan c) Berhubungan dengan HIV d) Gejalanya awalnya sesak e) Sering rekuren Rinoskleroma dikaitkan dengan : a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Bakteri yang paling sering menginfeksi trakeostomi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) d) e) 7. 7. Kanker nasofaring terutama didapatkan di kalangan: a) Mongoloid b) Kaukasian c) Negroid d) Hispanik e) India Pemakaian sumbat telinga tidak berguna jika intensitas suara di atas: a) 20 dB b) 40 dB c) 60 dB d) 80 dB e) 100 dB Nyeri timbul jika intensitas suara melebihi . E A 64 Cermin Dunia Kedokteran No. 9. 3. a) 100 dB b) 120 dB c) 140 dB d) 160 dB e) 180 dB 8. 2004 . 144. E A 3. 8. B B 5. E C 4. 4. 5. Klebsiella Pseudomonas Staphylococcus 2. a) Gangguan peredaran darah otak b) Trauma vestibuler c) Penyakit Meniere d) Vertigo posisional benigna e) Neuronitis vestibularis 6. 10. 6. Kuman yang dikaitkan dengan rinitis atrofi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Defisiensi yang dikaitkan dengan rinitis atrofi : a) Defisiensi vitamin B b) Defisiensi vitamin C c) Defisiensi vitamin D d) Defisiensi Zn e) Defisiensi Fe Kista duktus tiroglosus paling sering ditemukan di a) Submental b) Intralingual c) Suprahioid d) Transhioid e) Infrahioid Yang tidak benar mengenai papiloma laring. JAWABAN RPPIK : 1.Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. D D 2. 10.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful