khazanah

REPUBLIKA

21

Senin, 2 November 2009

IBNU AHMAD AL-KHARAQI
Ilmuwan Gemilang dari Merv
PHOTO.NET MUSLIM HERITAGE,COM

● Instrumen Astronomi

MERV
Kota Ilmu

M

erv tak hanya mengenalkan AlKharaqi kepada dunia. Namun, ada sejumlah ilmuwan Muslim lainnya yang tumbuh di wilayah tersebut. Di antaranya adalah Ahmad bin ‘Abdullah alMarwazi. Ia dikenal juga dengan sebutan Habash al-Hasib. Meski tumbuh di Merv, Al-Hasib banyak menghabiskan waktunya untuk belajar di Baghdad, Irak. Ia merupakan seorang astronom yang bekerja pada Khalifah Al-Ma’mun dan AlMuttasim. Ia melakukan pengamatan terhadap benda-benda angkasa. Al-Hasib kemudian menyelesaikan tiga tabel astronomi, yang paling terkenal adalah tabel Mumtahin. Tabel ini diperkirakan merupakan karya kolektif para astronom masa AlMa’mun.Ia juga termasuk orang pertama yang menentukan waktu berdasarkan ketinggian matahari. Salah satu putra Al-Hasib, yang bernama Djafar juga menjadi seorang astronom terkemuka pada masa itu. Ilmuwan lain yang berasal dari Merv adalah Al-Saghani. Dia ahli dalam bidang matematika dan astronomi. Al-Saghani pernah bekerja di observatorium Buyid yang berada di Baghdad. Dalam bidang matematika, dia banyak menindaklanjuti pekerjaan Banu Musa, membahas soal pembagian tiga sudut yang sering dikaji orang Yunani kuno. Selain menguasai astronomi, Al-Saghani juga ahli di bidang mekanika dan konstruksi. Merv juga melahirkan ilmuwan lainnya, yaitu Abd alRahman Al-Khazini. Seperti Al-Kharaqi, ia pun menguasai sejumlah bidang, yaitu astronomi, fisika, biologi, kimia, matematika, dan filsafat. Al-Khazini memiliki sejumlah karya, yang paling penting adalah Tabel Sinjaric. Tabel Sinjaric ini merupakan sebuah contoh awal dari sebuah jam astronomi. Dia juga menghitung tabel untuk pengamatan benda-benda luar angkasa yang dilihat dari Merv. Karyanya, tabel Sinjaric, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani oleh seorang ahli astronomi dari Yunani, Gregory Choniades, pada abad ke-13 yang sedang belajar di Kekaisaran Bizantium. Ia juga dikenal dalam bidang fisika. Salah satu karyanya di bidang ini adalah sebuah buku yang dalam terjemahan bahasa Inggris berjudul The Book of the Balance of Wisdom. Buku ini selesai ia tulis pada 1121. Ini merupakan buku penting dalam perkembangan fisika di peradaban Islam. Buku ini berisi studi tentang keseimbangan hidrostatik, konstruksi, dan penggunaannya. AlKhazini juga membahas teori-teori tentang statika dan hidrostatika yang dikembangkan oleh para pendahulu sebelumnya, para ilmuwan sezamannya, juga yang dia kembangkan sendiri. Selain itu, Al-Khazini juga menggambarkan berbagai macam instrumen yang ditemukan para pendahulunya, termasuk araeometer yang ditemukan oleh seorang ahli matematika dari Yunani, Pappus. Ia merintis penerapan metode ilmiah eksperimental di bidang statika dan dinamika. ■ dya

● Sisa Kejayaan Merv

AL-KHARAQI, SELAIN DIKENAL PRODUKTIF BERKARYA, IA JUGA MEMILIKI KEMAUAN BELAJAR YANG TINGGI.

Dyah Ratna Meta Novia

B

eragam ilmu pengetahuan, dikuasai Ibnu Ahmad AlKharaqi. Ia layaknya ilmuwan Muslim lain di zaman pertengahan. Al-Kharaqi yang juga sering dipanggil Al-Marwazi, memiliki kemampuan di bidang astronomi, matematika, dan geografi. Sejak kecil, Al-Kharaqi sudah tertarik dan antusias terhadap ilmu

pengetahuan. Inilah yang kemudian membuatnya menjadi seorang ilmuwan yang terkenal dengan kepandaiannya. Bahkan, ia dianggap sebagai ilmuwan paling cemerlang di zamannya. Tak heran, jika kemudian banyak ilmuwan lain yang bertandang kepadanya atau merujuk pada karya-karya yang ditulisnya. Beberapa karyanya yang sangat terkenal adalah Muntaha al-Idrak fi Taqsim al-Aflak, berisi pemahamannya mengenai pembagian bidang.

MUSLIM HERITAGE,COM

● Karya Astronom Muslim

Karya kedua, Kitab al-Tabsira fi ‘Ilm al-Hay’a, membahas beberapa masalah astronomi yang diungkapkan oleh astronom Muslim lainnya, Ibnu Al-Haytham. Seperti diketahui, Ibnu Al-Haytham merupakan ilmuwan di bidang falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ibnu Haytham, berasal dari Basra, Irak. Ia lahir pada 965 Masehi. Al-Kharaqi, dikenal pula sebagai pengagum Ibnu AlHaytham. Ia mengagumi ilmuwan dari Basrah itu karena sangat cerdas dan pemikiran-pemikirannya yang sangat terkenal. Tak heran, jika kemudian AlKharaqi banyak pula mempelajari karya-karya Ibnu Al-Haytham. Tujuannya, untuk meningkatkan pengetahuannya tentang astronomi, kemudian membandingkan hasil pemikirannya sendiri dengan pemikiran ilmuwan yang ia kagumi itu. Selain itu, Al-Kharaqi juga mengembangkan pemikirannya sendiri dalam bidang yang ia kuasai. Terbukti, ia menuliskan hasil pemikirannya dalam sejumlah buku. Sedangkan, buku ketiga yang merupakan karyanya adalah al-Risalah al-Shamila. Buku tersebut merupakan risalah yang sangat komprehensif dan lengkap mengenai ilmu aritmatika. Sedangkan buku keempat karya Al-Kharaqi adalah Al-Risala al- Maghribiya. Menurut situs Muslimheritage, salah satu karya Al-Kharaqi yang paling terkenal dan paling penting adalah Muntaha al-Idrak fi Taqsim al-Aflak. Dalam karyanya itu, ia menguraikan sejumlah masalah. Pembahasan itu dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama, membahas mengenai bagaimana susunan lapisan planet dan bagaimana gerakan mereka. Selain itu, ia juga membahas soal bentuk bumi. Dalam pembahasan tentang Bumi, Al-Kharaqi membaginya menjadi beberapa bagian, yaitu bagian bumi yang dihuni umat manusia, binatang, maupun tumbuhan. Dan, bagian bumi yang tak dihuni. Ia mengatakan, perbedaan bagian yang bisa dihuni makhluk hidup dan tidak akibat posisi geografis. Tak hanya itu, Al-Kharaqi juga menuliskan tentang kronologi atau era yang biasa disebut dengan tawarikh, konjungsi, atau qiaranat. Pada bagian ini, ia juga memberikan penjelasan mengenai Planet Saturnus, Jupiter, dan periode revolusi planet. Pada intinya, Al-Kharaqi mengembangkan teori yang menyatakan bahwa planet-planet tak ditopang oleh lingkaran imajiner. Namun, planet itu ditopang oleh lapisan-lapisan besar yang padat. Ia menegaskan kembali teori yang disampaikan Al-Khazini, juga ilmuwan dari Merv, Tukmenistan. Sebenarnya, Al-Kharaqi memiliki beberapa karya lainnya. Namun, karya-karya tersebut tak bisa ditemukan hingga sekarang. Karya itu hilang tanpa bekas. Sejumlah kalangan mengungkapkan karya itu rusak atau termakan usia. Ada kemungkinan pula bahwa karya-karya itu dihancurkan oleh pasukan Jengis Khan saat menyerbu Merv. Saat penyerbuan itu, pasukan Jengis Khan membakar dan menghancurkan banyak perpustakaan di Merv, yang saat itu dikenal sebagai pusat perabadan Islam. Saat itu, Merv memang dikenal sebagai salah satu wilayah yang makmur. Bahkan, banyak ilmuwan yang lahir di sana. Tak hanya itu, banyak pula ilmuwan dari wilayah lain yang berkunjung ke Merv untuk menimba ilmu dan melakukan beragam interaksi intelektual. Tak heran, jika Al-Kharaqi bisa menimba ilmu dari ilmuwan lain dan kemudian mengembangkan pemikirannya sendiri. Selain itu, ia juga dimanjakan oleh banyaknya perpustakaan yang ada di Merv. Paling tidak ada 10 perpustakaan di Merv di masa hidupnya. Setelah banyak belajar dan aktif menyumbangkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya bagi kemajuan umat manusia, AlKharaqi akhirnya berpulang. Ia mengembuskan napas terakhir di kota kelahirannya, Merv, sekitar 1138 Masehi. ■

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful