Perencanaan Agregat

123

BAB X PERENCANAAN PRODUKSI

10.1. Pendahuluan Perencaaan produksi adalah pernyataan rencana produksi ke dalam bentuk agregat. Perencanaan produksi ini merupakan alat komunikasi antara manajemen teras ( top management ) dan manufaktur. Di samping itu juga, perencanaan produksi merupakan pegangan untuk merancang jadwal induk produksi. Beberapa fungsi lain perencanan produksi adalah : 1. Menjamin rencana penjualan dan rencana produksi konsisten terhadapa rencana strategis perusahaan 2. Sebagai alat ukur performansi proses perencanaan produksi 3. Menjamin kemampuan produksi konsisten terhadap rencana produksi 4. Memonitor hasil produksi aktual terhadap rencana produksi dan membuat penyesuaian. 5. Mengatur persediaan produk jadi untuk mencapai target produksi dan rencana startegis 6. Mengarahkan penyusunan dan pelaksanaan Jadwal induik Produksi.

10.2. Tujuan Perencanaan Produksi Tujuan perencanan produiksi adalah: 1. Sebagai langkah awal untuk menentukan aktivitas prduksi yaitu sebagao referensi perencanaan lebih rinci dari rencana agregat menjadi item dalam jadwal induk produksi. 2. Sebagai masukan rencana sumber daya sehingga perencanaansumber daya dapat dikembangkan untuk mendukung perencanaan produksi. 3. Meredam ( stabilisasi ) produksi dan tenaga kerja terhadap fluktuasi permintaan.

Jika satuan menit sudah ditetapkan maka faktor konversi harus ditetapkan sebagai alat komunikasi dengan deperatemen lainnya seperti departemen pemasaran dan akuntansi. Pada dasarnya perencanaan produksi adalah upaya menjabarkan hasil peramalan menjadi rencana produksi yang layak dilakukan dalam bentuk jadwal rencana produksi. 10. maka perencanaan produksi dinyatakan dalam kelompok produk atau famili (agregat). Rencana ini digunakan untuk perencanaan sumber daya seperti ekspansi. Satuan unit yang dipakai dalam perencanaan produksi bervariasi dari satu pabrik ke pabrik lain. biasanya 5 tahun.Perencanaan Agregat 124 10.3. Proses peramalan telah memberikan informasi mengenai besarnya permintaan akan produk yang direncanakan. Dengan menggunakan perencanaan agregat maka perencanaan produksi dapat dilakukan dengan menggunakan satuan produk pengganti sehingga keluaran dari perencanaan produksi tidak dinyatakan dalam tiap jenis produk (inidividual produk).Hal ini bergantung dari jenis produk seperti : ton. Perencanaan agregat merupakan salah satu metode dalam perencanaan produksi.1. Langkah selanjutnya adalah membuat rencana produksinya itu sendiri. jam mesin atau jam orang. dibawah ini sebagai berikut : . salah satunya adalah perencanaan agregat yang akan dijelaskan pada buku ini. pembelian mesin. Karakteristik Perencanaan Produksi Agar manajemen teras dapat memfokuskan seluruh tingkat produksi tanpa harus rinci. Banyak metode yang dapat dilakukan untuk maksud tersebut. Pengertian agregat tersebut dapat dijelaskan dengan contoh pada gambar 10. Perencanaan produksi mempunyai waktu perencanaan yang cukup panjang. Dalam hal ini tidak semua permintaan dari hasil peramalan mungkin bisa diproduksi karena kapasitas produksi yang dimiliki tidak mencukupi. Satuan unit di atas harus dikonversikan dalam bentuk satuan rupiah. kubik. Disamping menjaga faktor konversi diperlukan untuk menterjemahkan perencanaan produksi ke jadwal produksi induk produksi. liter.4. Perencanaan Agregat.

yang dapat 10. strategi . Kemudahan untuk melihat dan memahami mekanisme sistem produksi yang terjadi dalam implementasi rencana. dll baja rol baja coil baja sheet agregat product liter / ton cat ton baja Gambar 10. c. jumlah tenaga kerja. Keuntungan ini akan semakin terasa jika pabrik tempat perencanaan dilakukan memproduksi banyak jenis produk. Kemudahan dalam pengolahan data Dengan menggunakan satuan agregat maka pengolahan data tidak dilakukan untuk setiap individual produk. kapasitas atau variabel terkendali lainnya. laju produksi.1. tidak dihasilkan rencana dalam bentuk individual produk melainkan dalam betuk agregat produk. Jika perubahan dilakukan terhadap suatu variabel sehingga terjadi perubahan laju produksi disebut sebagai strategi murni (pure strategy). Strategi Perencanaan Agregat Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk melakukan perencanaan yaitu dengan melakukan manipulasi persediaan. Ketelitian hasil yang didapatkan Dengan hanya mengolah satu jenis data produk maka kemungkinan untuk menerapkan metode yang canggih semakin besar sehingga ketelitian hasil yang didapatkan semakin baik. Penggunaan satuan agregat ini dilakukan mengingat keuntungan – keuntungan diperoleh antara lain : a. dll cat besi hitam.Perencanaan Agregat 125 individual product cat tembok merah. b. Pengertian Perencanaan Agregat Melalui Produk Jadi di dalam perencanaan agregat. dll cat kayu putih. Sebaliknya.4.1.

b.Perencanaan Agregat 126 gabungan (mixed strategy). 2. Penggunaan satuan agregat ini dilakukan mengingat keuntungan – keuntungan yang dapat diperoleh antara lain : a. merupakan gabungan perubahan dua atau lebih strategi murni sehingga diperoleh perencanaan produksi fleksibel. Seandainya datangnya permintaan dari konsumen bersifat rutin dan dapat diketahui dengan pasti baik besarnya maupun waktunya maka perencanaan produksi tidak diperlukan lagi. Jadi dalam perencanaan agregat. yaitu : 1. . Ketelitian hasil yang didapatkan Dengan hanya mengolah satu jenis data produk maka kemungkinan untuk menerapkan metode yang canggih semakin besar sehingga ketelitian hasil yang didapatkan semakin baik. c. misalnya jika permintaan meningkat kecepatan produksi ditingkatkan misalkan dengan mengadakan jam lembur. Kemudahan untuk melihat dan memahami mekanisme sistem produksi yang terjadi dalam implementasi rencana. Kemudahan dalam pengolahan data Dengan menggunakan satuan agregat maka pengolahan data tidak dilakukan untuk setiap individual produk. tidak dihasilkan rencana dalam bentuk individual produk melainkan dalam betuk agregat produk. tetap mempertahankan jumlah tenaga kerja tetapi yang diatur adalah kecepatan produksi.Masalah tersebut mengakibatkan perusahaan harus menemukan cara atau strategi berproduksi agar fluktuasi permintaan tersebut dapat diantisipasi tentu saja dengan cara yang ekonomis sehingga tujuan perusahaan mencari keuntungan dapat tercapai. Keuntungan ini akan semakin terasa jika pabrik tempat perencanaan dilakukan memproduksi banyak jenis produk. Secara garis besar terdapat tiga strategi murni yang dapat dilakukan untuk menghadapi fluktuasi permintaan ini. Melakukan pengaturan setiap saat atas jumlah tenaga kerja yang dipergunakan dalam hal ini merekrut tenaga kerja baru bila permintaan meningkat dan memberhentikan sebagian tenaga kerja bila permintaan menurun. Namun pada kenyataannya pola permintaan ini tidak dapat ditentukan dengan pasti.

Mengendalikan jumlah tenaga kerja. Persediaan dapat dilakukan pada saat kapasitas produksi dibawah permintaan ( demand ). c. 10. Dalam kenyataannya mengandalkan pada strategi tersebut secara murni seringkali menimbulkan ongkos yang masih tidak ekonomis sehingga strategi yang digunakan adalah mengkombinasikan ketiga strategi tersebut. Mengendalikan jumlah persediaan. oleh karena itu kombinasi dari pure strategy ini . Sebagai contoh PT.1.Perencanaan Agregat 127 3. Karena perubahan permintaan merupakan faktor utama dalam masalah perencanaan agregat.1.1. Tindakan lain yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan jam lembur. b. Subkontrak. d. Strategi Perencanaan Agregat Secara Murni (Pure Strategy) Dikatakan pure strategy.TELKOM memberi potongan jasa pulsa telpon pada malam hari. 10.4.2. jika perubahan dilakukan terhadap suatu variabel sehingga terjadi perubahan laju produksi. tetap mempertahankan baik jumlah tenaga kerja maupun kecepatan produksi dan untuk mengatasi fluktuasi permintaan diadakan persediaan (inventory). Masing-masing strategi akan memberikan konsekuensi ongkos. Subkontrak dapat dilakukan untuk menaikkan kapasitas perusahaan pada saat perusahaan sibuk sehingga permintaan dapat dipenuhi. Beberapa strategi murni yaitu: a. maka pihak manajemen dapat melakukan tindakan. Persediaan ini selanjutnya dapat digunakan pada saat permintaan berada diatas kapasitas produksi. potongan harga supermarket pada 10 hari pertama awal bulan.4. Mempengaruhi demand. Strategi Perencanaan Agregat Secara Gabungan (Mixed Strategy) Setiap pure strategy akan melibatkan biaya yang besar dan sering pure strategy menjadi tidak layak. yaitu dengan mempengaruhi pola permintaan itu sendiri. dll. Manajer dapat melakukan perubahan jumlah tenaga kerja dengan menambah atau mengurangi tenaga kerja sesuai dengan laju produksi yang diinginkan.

maka keputusan mingguan dapat diambil untuk menyelesaikan masalah – masalah pengoptimal sumber daya. maka dalam pengendalian keputusan diperlukan diskusi tentang THE VALUE OF DECISION RULES.5. Ongkos – ongkos A.2. 10. perlu ditinjau struktur biaya yang terjadi. Nilai dari Aturan – aturan Pengambilan Keputusan (The Value of Decision Rules).Kenaikan yang tiba – tiba mungkin disebabkan oleh adanya penambahan peralatan yang baru. maka perusahaan baru akan menyadari tantangan yang sedang dihadapinya. Dengan menentukan decision rules. Untuk menentukan perubahan production level merupakan keputusan yang sulit. Setelah penerapan beberapa kebijaksanaan dan mengurangi perubahan terhadap kebijaksanaan ini. Karena masalah yang kompleks ini . dan akan melibatkan uang dan waktu dalam jumlah yang sangat besar. Untuk mengoptimalkan aturan ini . Ongkos ini akan meningkat sesuai dengan bertambahnnya jumlah pekerja.1. manager pengendalian produksi dan manager pengoperasian akan menetapkan aturan mainnya. Ongkos produksi regular time diasumsikan untuk para pekerja fulltime. Ongkos Upah Normal dan Ongkos Lembur (Normal and Overtime Cost) Perbandingan antara ongkos produksi dan tingkat produksi adalah merupakan suatu perbandingan kurva garis lurus (10.2. Bagian pengendalian produksi dan bagian pemasaran harus menghasilkan master schedule yang mencakup beberapa kebijakasanaan perubahan dan prosedur pengoperasian. 10. berikut : . Adapun grafik ongkos ini dapat dilihat pada gambar 10.Perencanaan Agregat 128 menjadi mixed strategy lebih sering digunakan Ketika suatu perusahaan mempertimbangkan kemungkinan dari pencampuran strategi yang bervariasi dengan tidak terbatasnya rasio untuk melakukan strategi yang bervariasi tersebut.).5.

Perencanaan Agregat 129 Ongkos produksi waktu reguler Kecepatan produksi P (unit produk/bulan) Gambar 10. seperti terlihat pada gambar IV. Dengan memasukkan faktor – faktor ini biaya tenaga kerja akan menjadi konstan. Ongkos Tenaga Kerja Bentuk kurva dan ongkos waktu lembur (overtime) dari jumlah tenaga kerja dapat dilihat pada gambar 10.3. dibawah ini : Ongkos produksi waktu reguler Ukuran tenaga kerja W Gambar 10.2. tingginya biaya pelatihan.3.4. . maka produksi akan semakin terjadwal. Dengan peningkatan permintaan.antara lain mempertahankan jumlah tenaga kerja yang perubahanna disebabkan oleh tekanan sosial . Biaya akan meningkat jika perusahaan beroperasi pada kapasitas yang rendah. Biaya ini dijaga agar tetap minimum. Ongkos produksi waktu reguler Tetapi selain itu perusahaan juga harus menentukan berapa faktor biaya .pendapat masyarakat. pada saat fasilitas dioperasikan pada level yang optimum .

C. di halaman sebelah sebagai berikut : Perubahan Ongkos Kecepatan Produksi Gambar 10. Permintaan /Kekurangan Pesanan.6.5. Biaya peningkatan produksi dan penurunan tingkat produksi adalah berbeda. Ongkos Persediaan. Begitu juga dengan pemberhentian tenaga kerja. dibawah ini : .4.5. dapat dilihat gambar 10. Ongkos Perubahan Tingkat Tenaga kerja Dengan bertambahnya jumlah tenaga kerja. pemberhentian dan perekrutan tenaga kerja.Perencanaan Agregat 130 Kapasitas dibawah Ongkos produksi Kapasitas pada waktu reguler atau kapasitas desain Operasi pada waktu lembur Laju Produksi Gambar 10. yang ditentukan dari tiap item. merupakan pendekatan dari jumlah rata – rata safety stock dan ½ dari optimum batch size. Biaya akibat perubahan tingkat produksi bisa disebabkan oleh jumlah tenaga kerja perubahan biaya. ongkos pelatihan. Ongkos waktu lembur dan tunda B. biaya – biaya yang dikeluarkan antara lain : Ongkos rekrut. seperti yang terlihat pada gambar IV. Tingkat persediaan agregat yang optimum. Ongkos Perubahan Kecepatan Produksi. yang menyebabkan turunnya produktivitas selama periode tertentu.

digambarkan pada gambar 10. biaya inventory.+ Inr = r Ii Ongkos persediaan berkisar antara 5% sampai 90% dari harga item tersebut. . maka keadaan ini akan membuka peluang bagi kompetitor dan menyebabkan semua biaya produksi meningkat . Biaya lost sales sangat sulit diperkirakan. Biaya backorder dan lost sales merupakan masalah keuangan yang sama. Total ongkos persediaan adalah merupakan jumlah dari ongkos persediaan semua item.7. pada halaman sebelah sebagai berikut : Ongkos Inventori Optimal Gambar 10. Dari angka peramalan permintaan.Perencanaan Agregat 131 Persediaan rata – rata Ukuran optimal Batch Safety Stock Periode Gambar 10.6. Jika sering terjadi lost sales. Tingkat Inventori Agregat Total ongkos selama periode yaitu : n Ci = I1r + I2r + I3r +. .7. Biaya Inventori dan Shortage .back order.

Ongkos Subkontrak. Dengan pendekatan Optimasi : – – – progamma linier aturan HMMS (Linier Decision Rule) search Decision Rule. Subkontrak bisa juga tidak menguntungkan. 10. Alternatif lain untuk merubah tingkat produksi dan persediaan. Dengan pendekatan Heuristik : – – – metode grafik metode koefisien manajemen metode parametric. 10. Selain itu subkontrak juga sulit dijalankan. sebuah perusahaan bisa memilih subkontrak untuk memenuhi permintaan.1. jumlah tenaga kerja yang digunakan.Perencanaan Agregat 132 D.6. Dasar metode ini sebenarnya adalah “trial and error” dengan melihat gambaran antara permintaan kumulatif dan rata-rata permintaan kumulatifnya. Secara garis besar langkah perencanaan yang dilakukan adalah sebagai berikut : . dll b. Banyak metode yang telah dikembangkan untuk perencanaan agregat ini tetapi pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu: a. Metode – Metode Perencanaan Agregat.6. serta tingkat persediaan yang terjadi. karena akan akan menyebabkan biaya yang lebih besar dan akan membuka peluang kompetitor. dll Tidak semua metode ini akan dijelaskan pada buku ini Namun pada prinsipnya semua metode yang ada akan menghasilkan kecepatan produksi pada periode perencanaan yang dibuat. karena untuk mencari supplier yang on time dan reliable tidak mudah. Perencanaan Agregat dengan Metode Grafis Metode grafis ini adalah metode perencanaan agregat yang sangat sederhana dan mudah dipahami.

Gambarkan histogram permintaan dan tentukan kecepatan produksi (Pt) rata-rata yang diperlukan untuk memenuhi permintaan. 2. Gambarkan grafik permintaan kumulatif terhadap waktu serta grafik permintaan rata-rata kumulatif terhadap waktu. 4. Hitung ongkos yang ditimbulkan oleh setiap strategi dan pilih yang memberikan ongkos terkecil. Identifikasikan periode – periode tempat terjadinya kekurangan barang (back order) dan periode-periode adanya kelebihan barang (inventory). Permintaan akan Produk Secara Agregat Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 Permintaan 220 170 400 600 380 200 130 300 Kumulatif Permintaan 220 39-0 790 1390 1770 1970 2100 2400 Ke ce pa ta n Produksi (unit/pe riode ) 800 600 400 200 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Rata-rata Permintaan Pe riode (qua rte rs) Gambar 10.8. Contoh berikut ini akan memberikan gambaran metode grafis ini. 3. sebagai berikut : Tabel 10. Kecepatan Produksi .Perencanaan Agregat 133 1. Tentukan strategi yang akan digunakan untuk menanggulangi kekurangan dan kelebihan barang tersebut.1. Perusahaan ABC telah meramalkan permintaan akan produknya secara agregat yang dapat diliihat pada Tabel 10.1.

. Tabel 10.000.Perencanaan Agregat 134 2500 Kumulatif Permintaan 2000 1500 1000 500 0 1 2 3 4 Persediaan Permintaan aktual Permintaan rata-rata Backorder 5 6 7 8 Periode Gambar 10. Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 Total Permintaan 220 170 400 600 380 200 130 300 Biaya Penambahan Tenaga kerja 23000 20000 17000 Biaya Pengurangan Tenaga Kerja 500 33000 27000 10500 Biaya total 500 23000 20000 33000 27000 10500 17000 138000 . Alternatif 1 : Mengendalikan jumlah tenaga kerja Alternatif ini melibatkan penambahan dan pengurangan jumlah tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan. Dengan menggunakan strategi murni beberapa alternatif yang dapat dilakukan yaitu : 1.( lihat tabel IV. 2).2.9. Laju produksi akan sama dengan permintaan. Kumulatif Permintaan Histogram dan kumulatif permintaan di atas menggambarkan bagaimana permintaan menyimpang dari rata-rata kebutuhan. Biaya rencana ini yaitu Rp 138.

Alternatif 2: Mengendalikan jumlah persediaan Jika perusahaan tidak ingin melakukan perubahan jumlah tenaga kerja. Biaya rencana total Rp.500.000. Alternatif 3: Subkontrak Perusahaan menginginkan memproduksi sejumlah permintaan minimum dan sisa permintaan dipenuhi dengan subkontrak. Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 Total Permintaan 220 170 400 600 380 200 130 300 Kecepatan Produksi 130 130 130 130 130 130 130 130 Subkontrak 90 40 270 470 250 70 0 170 Biaya Total 7200 3200 21600 37600 20000 5600 0 13600 108300 .-. Tabel 10.108.dihitung pada tabel 10.4. Periode Permintaan 1 2 3 4 5 6 7 8 Total 220 170 400 600 380 200 130 300 Kumulatif Kecepatan Kumulatif Persediaan Permintaan Produksi Produksi 220 390 790 1390 1770 1970 2100 2400 300 300 300 300 300 300 300 300 300 600 900 1200 1500 1800 2100 2400 80 210 110 -190 -270 -170 0 0 Penyesuaian Biaya Persediaan Persediaan (270 unit) 350 17500 480 24000 380 19000 80 4000 0 0 100 5000 270 13500 270 13500 96500 3.3) Tabel 10. fluktuasi permintaan dipenuhi menggunakan dihitung pada tabel 3 dan berdasarkan Rencana ini perhitungan di bawah. kekurangan maksimum sebesar 270 unit terjadi pada periode 5.3. (lihat tabel IV.Perencanaan Agregat 135 2.96.. maka strategi yang dapat dilakukan yaitu memproduksi dengan laju ratarata permintaan dan persediaan.Biaya rencana total Rp.4. Karena adanya ketidakpastian dalam peramalan maka kekurangan ini dipenuhi mulai dari periode pertama.

pada halaman disebelah sebagai berikut : Tabel 10. Produksi Permintaan jam normal 220 170 400 600 380 200 130 300 200 200 200 200 200 200 200 200 Kebutuhan Kebutuhan Biaya tambahan Produksi setealah Biaya Biaya perubahan setelah jam jam persediaan lembur tenaga jam lembur normal + kerja normal lembur 20 50 -30 1500 1000 0 -30 -30 3000 0 0 200 50 150 0 1000 9000 400 50 350 0 1000 26000 180 50 130 0 1000 33000 0 0 0 19500 -70 -70 3500 0 0 100 50 50 1000 1000 0 Total Biaya 2500 3000 10000 27000 34000 19500 3500 2000 101500 Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 Total Berdasarkan hasil perhitungan Tabel 10.5. subkontrak ternyata lebih murah dibandingkan melakukan penambahan pengurangan tenaga kerja. Berdasarkan hasil diatas. Berikut ini akan dibahas suatu kasus menggunakan model transportasi dengan data-data : . 2.6.5.-. biaya rencana total Rp 101500. Laju produksi konstan sebesar 200 unit/3 bulan dan dimungkinkan untuk melakukan lembur sebesar 25 % jika permintaan melebihi laju produksi. penambahan-pengurangan tenaga kerja akan dilakukan. Perencanaan Agregat Metode Tabular ( model transportasi ) Metode transportasi digunakan untuk model program linier. tetapi sangat membentuk sebagai pegangan untuk melakukan operasi harian. beberapa kombinasi strategi murni masih dapat dilakukan. Jika dengan lembur belum terpenuhi. Perhitungan setiap langkah kebijaksanaan diatas dapat dilhat pada tabel 10.Perencanaan Agregat 136 4. Walaupun metode grafik tidak memberi solusi optimum. Jika dilakukan analisa.5. Alternatif 4 : Strategi Hibrid Strategi hibrid dilakukan dengan menggabungkan beberapa strategimurni dengan kebijaksanaan sebagai berikut : 1.2. 10.

6.Tabel perhitungan dapat dilihat pada gambar IV.Perencanaan Agregat 137 Permintaan Periode Permintaan Kapasitas 1 500 2 800 3 1700 Jam Lembur 250 250 250 250 4 900 Subkontrak 500 500 500 500 Periode Jam Normal 1 700 2 800 3 900 4 500 Persediaan awal : 100 unit Persediaan akhir yang diinginkan : 150unit Biaya jam normal : Rp 100/unit Biaya jam lembur : Rp 125/ unit Biaya Subkontrak: Rp 150/unit Biaya Persediaan : Rp 20/unit/periode Penyelesaian masalah menggunakan metode transportasi menghasilkan perencanaan produksi dengan biaya total Rp 445750. dibawah ini : .

6. Tujuan Sumber Bulan Persediaan RT 1 OT SK RT 2 OT SK RT 3 OT SK RT 4 OT SK 1 0 2 20 120 Bulan 3 40 140 4 Kapasitas Kapasitas TersediaTidak 60 Terpakai 160 Kapasitas Tersedia 100 100 400 125 150 145 150 100 300 165 150 120 145 185 150 140 165 150 120 145 150 100 - 250 500 500 500 200 1950 1450 800 125 150 250 150 100 1550 900 125 250 150 1650 500 125 250 150 1250 Permintaan Keterangan : 500 800 1700 300 1050 6000 1. Yang diproduksi adalah : Periode 1 2 3 4 Rencana Produksi 700 1050 1150 1250 Permintaan 500 800 1700 900 Berarti yang diproduksi   Permintaan .Perencanaan Agregat 138 Tabel 10. Total Cost : 400 (100) + 300 (140) + 800 (100) + 250 (145) + 900 (100) + 250 (125) + 500 (100) + 350 (125) 2.

Jika variabel penambahan pengurangan tenaga kerja dilibatkan. Asumsi yang digunakan untuk meggunakan model ini yaitu : 1. Biaya perubahan biaya produksi berfungsi linier. Perencanaan Agregat dengan Metode Programma Linier Metode transportasi melakukan perhitungan dengan variabel yang relatif kecil. Biaya produksi pada jam kerja normal linier dan asumsikan biaya produksi normal. maka model transportasi akan menggunakan biaya denda ( penalty cost ) akibat aktifitas tersebut. 4.biaya produksi lembur dan biaya subkontrak secara berturut memiliki besaran C3>C2>C1 3. Jadwal Produksi induksinya adalah : Kwartal I  700 unit II  1050 unit III  1150 unit IV  1250 unit 10.Perencanaan Agregat 139 Sistem produksi tidak Back Order seghingga kebutuhan pada periode I tidak mungkin dipenuhi oleh periode 2.3.6. Laju permintaan ( demand rate ) Dt diketahui dan diasumsikan deterministik 2. lembur menganggur dan persediaan. Batas atas dan batas bawah mempresentasikan ketersediaan kapasitas produksi dan tempat penyimpanan 5. biaya-biaya tersebut dapat dihitung secara eksplisit. Programma linier memberi solusi strategi hibrid sehingga biaya total minimum. penambahan-pengurangan tenaga kerja. Biaya yang timbul berkaitan dengan adanya persediaan/backlog Dalam model ini diasumsikan bahwa yang menjadi fungsi tujuan adalah minimisasi biaya produksi. Minimisasi : k t 1 k t 1 k t 1 k t 1 k t 1 C  r  Pt  h At  f  Rt  v Ot  c It Dengan kendala : . Dengan menggunakan programma linier.

.k At  Pt  Pt 1 Rt  Pt 1  Pt Dimana : t.2. t=1..k It  I t 1  Pt  Ot  Dt ..Rt = berturut jumlah kenaikan dan penurunan unit produksi c Dt = biaya penyimpanan/unit = ramalan permintaan Kendala kesatu dan kedua merupakan kemampuan produksi maksimum pada jam kerja normal (Pt) dan jam kerja lembur (Ot) tidak melebihi kapasitas (Mt & Yt) .Perencanaan Agregat 140 Pt  Mt Ot  Yt ...2. t=1.. t=1...Kendala keemapt dan kelima menunjukkan hubungan penambahan dan pengurangan tenaga kerja jika laju produksi meningkat atau menurun.2.v .2.f = berturut biaya penambahan dan pengurangan tenaga kerja/ unit At... t= 1.. t= 1.Kendala ketiga menggambarkan hubungan persediaan.2.k ...k .Ot = jumlah unit yang diproduksi berturut untuk jam normal dan lembur h..k = biaya produksi/ unit secara berturut-turut untuk jam normal Pt... Berikut ini contoh perencanaan produksi menggunakan program linier : D1 D2 D3 v h r Y1 Y3 =200 unit = 50 unit =75 unit = Rp75/unit = Rp 30/unit = Rp 10/unit = 30 = 20 M1 M2 M3 c f P0 Y2 I0 = 180 = 120 = 120 = Rp 5/unit = Rp 10/unit = 150 = 20 =0 Formulasi masalah : Minimisasi : C  10( P1  P 2  P3)  30( A1  A2  A3)  10( R1  R 2  R3)  15(O1  O 2  O 3)  5( I 1  I 2  I 3) Kendala: P1  180 P2  120 O1  30 O2  20 P1  01  I1  30 P2  O2  I1  I 2  50 ...

5 = 0 O1 O2 O3 R2 = 30 =0 =0 = 107.5 .5 = 62.5 =0 =0 A1 A2 A3 = 20 =0 =0 C = RP 5137.Perencanaan Agregat 141 P3  120 P1  A1  150  P 2  P3  A3  0 O3  20  P1  P 2  A2  0 P1  R1  150 P3  O3  I 2  I 3  75  P1  P 2  R 2  0  P1  P3  R3  0 Solusi permasalahan diatas sebagai berikut: P1 P2 P3 R1 = 170 = 62.5 I1 I2 I3 R3 = 30 = 12.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful