P. 1
raperda_49

raperda_49

|Views: 199|Likes:
Published by Christin Tin-tin

More info:

Published by: Christin Tin-tin on Nov 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/11/2013

pdf

text

original

Sections

  • Pasal 1
  • Pasal 2
  • Pasal 3
  • Pasal 4
  • Pasal 5
  • Pasal 6
  • Pasal 7
  • Pasal 8
  • Pasal 9
  • Pasal 10
  • Pasal 11
  • Pasal 12
  • Pasal 13
  • Pasal 14
  • Pasal 15
  • Pasal 16
  • Pasal 17
  • Pasal 18
  • Pasal 19
  • Pasal 20
  • Pasal 21
  • Pasal 22
  • Pasal 23
  • Pasal 24
  • Pasal 25
  • Pasal 26
  • Pasal 27
  • Pasal 28
  • Pasal 29
  • Pasal 30
  • Pasal 31
  • Pasal 32
  • Pasal 33
  • Pasal 34
  • Pasal 35
  • Pasal 36
  • Pasal 37
  • Pasal 38
  • Pasal 39
  • Pasal 40
  • Pasal 41
  • Pasal 42
  • Pasal 43
  • Pasal 44
  • Pasal 45
  • Pasal 46
  • Pasal 47
  • Pasal 48
  • Pasal 49
  • Pasal 50
  • Pasal 51
  • Pasal 52
  • Pasal 53
  • Pasal 54
  • Pasal 55
  • Pasal 56
  • Pasal 57
  • Pasal 58
  • Pasal 59
  • Pasal 60
  • Pasal 61
  • Pasal 62
  • Pasal 63
  • Pasal 64
  • Pasal 65
  • Pasal 66
  • Pasal 67
  • Pasal 68
  • Pasal 69
  • Pasal 70
  • Pasal 71
  • Pasal 72
  • Pasal 73
  • Pasal 74
  • Pasal 75
  • Pasal 76
  • Pasal 77
  • Pasal 78
  • Pasal 79
  • Pasal 80
  • Pasal 81
  • Pasal 82
  • Pasal 83
  • Pasal 84
  • Pasal 85
  • Pasal 86
  • Pasal 87
  • Pasal 88
  • Pasal 89
  • Pasal 90
  • Pasal 91
  • Pasal 92
  • Pasal 93
  • Pasal 94
  • Pasal 95
  • Pasal 96
  • Pasal 97
  • Pasal 98
  • Pasal 99
  • Pasal 100
  • Pasal 101
  • Pasal 102
  • Pasal 103
  • Pasal 104
  • Pasal 105
  • Pasal 106
  • Pasal 107
  • Pasal 108
  • Pasal 109
  • Pasal 110
  • Pasal 111
  • Pasal 112
  • Pasal 113
  • Pasal 114
  • Pasal 115
  • Pasal 116
  • Pasal 117
  • Pasal 118
  • Pasal 119
  • Pasal 120
  • Pasal 121
  • Pasal 122
  • Pasal 123
  • Pasal 124
  • Pasal 125
  • Pasal 126
  • Pasal 127
  • Pasal 128
  • Pasal 129
  • Pasal 130
  • Pasal 131
  • Pasal 132

pada

PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN

TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SURABAYA TAHUN 2010-2030 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA,

Menimbang : a.

bahwa untuk mewujudkan pembangunan Kota Surabaya yang berkelanjutan, perlu ditetapkan arahan penataan dan pemanfaatan ruang wilayah secara berdaya guna, berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan;

b. bahwa arahan penataan dan penafaatan ruang wilayah yang berkelanjutan dapat terwujud jika didukung keterpaduan pembangunan antar sektor dan antar pelaku baik antara berbagai satuan kerja perangkat daerah/unit kerja di lingkungan pemerintah daerah dengan masyarakat dan/atau dunia usaha; c. bahwa dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, maka perlu dilakukan penyesuaian terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya sehingga Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 3 Tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya, perlu ditinjau kembali; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya Tahun 2010-2030. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kota Besar Dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur / Jawa Tengah/Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana telah diubah dengan Undang - Undang Nomor 2 Tahun 1965 (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 19 Tambahan Lembaran Negara Nomor 2730); 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 22 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274);

2

3. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 23 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3469); 4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 27 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3470); 5. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 134 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4247); 6. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 53 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389); 7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah kedua kali dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844); Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 132 Tambahan Lembaran Negara Nomor 132); Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 68 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4725);

8.

9.

10. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 84 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4739); 11. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 69 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4851); 12. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 140 Tambahan Lembaran Negara Nomor 5059); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 44 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3445); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 14 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3516); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4593);

3

16. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 165 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4655); 17. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737); 18. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 48 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4833); 19. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor 21 Tambahan Lembaran Negara Nomor 5103); 20. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63/PRT/1993 tentang Garis Sempadan Sungai; 21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 53 Tahun 2007 tentang Pengawasan Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah; 22. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pedoman Perencanaan Kawasan Perkotaan; 23. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2008 tentang Tata Cara Evaluasi Raperda tentang Rencana Tata Ruang Daerah; 24. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11 Tahun 2009 tentang Pedoman Persetujuan Substansi Dalam Penetapan Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota, Beserta Rencana Rincinya; 25. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 17 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota; 26. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 1 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Propinsi Jawa Timur Tahun 2005-2025; 27. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Timur 2005 – 2020; 28. Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 4 Tahun 2004 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil Daerah (Lembaran Daerah Kota Surabaya Tahun 2004 Nomor 2/E); 29. Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 5 Tahun 2005 tentang Pelestarian Bangunan dan/atau Lingkungan Cagar Budaya (Lembaran Daerah Kota Surabaya Tahun 2005 Nomor 2/E).

7. termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah. Daerah adalah Kota Surabaya. tempat manusia dan makhluk lain hidup. 5. Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional. 4. 2. 9. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Surabaya.ruang laut.4 Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA SURABAYA dan WALIKOTA SURABAYA MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SURABAYA TAHUN 2010-2030. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. 11. . Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang. 8. Rencana Tata Ruang Wilayah adalah rencana strategi pelaksanaan dan pemanfaatan ruang wilayah Kota dengan arahan struktur dan pola pemanfaatan ruang yang merupakan penjabaran rencana tata ruang wilayah Provinsi Jawa Timur. Kepala Daerah adalah Walikota Surabaya. 6. 10. 3. dan ruang udara. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang. melakukan kegiatan. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya. dan pengendalian pemanfaatan ruang. dan memelihara kelangsungan hidupnya. pemanfaatan ruang. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat.

yang dinyatakan dalam prosen. 23. Kawasan Perumahan adalah kawasan yang pemanfaatannya untuk perumahan dan berfungsi sebagai tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Kawasan Budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam. beserta segenap unsur terkait padanya yang batasnya ditetapkan sejauh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan Provinsi Jawa Timur. Kawasan Cagar Budaya adalah kawasan yang di dalamnya terdapat benda dan/atau lingkungan cagar budaya yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah. 15. 17. Koefisien Lantai Bangunan adalah perbandingan jumlah luas lantai bangunan yang dihitung dari lantai dasar sampai lantai tertingi dengan luas persil. Ketinggian Bangunan adalah tinggi suatu bangunan dihitung mulai dari muka tanah sampai elemen bangunan tertinggi. Wilayah Laut adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis laut di luar ruang darat. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. 13. 14. Koefisien Dasar Bangunan adalah perbandingan jumlah luas lantai dasar bangunan dengan luas persil. 22. Wilayah Udara adalah ruang diatas wilayah darat dan laut yang batas ketinggiannya sejauh ketebalan lapisan atmosfir dengan batas horizontal yang ditarik secara tegak lurus dari batas wilayah darat dan laut kota. Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. . 24. yang batasnya ditetapkan sampai dengan garis pantai saat pasang tertinggi. ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Wilayah darat adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis darat beserta segenap unsur terkait padanya. sumber daya manusia. 21. yang dinyatakan dengan prosen. pelayanan sosial. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya. Kawasan Utilitas Umum adalah kawasan yang pemanfaatannya untuk bangunan-bangunan yang dibutuhkan dalam sistem pelayanan lingkungan. 20. dan sumber daya buatan.5 12. dan kegiatan ekonomi. 18. 19. 16.

27. Masyarakat adalah seseorang. 26. e. daerah resapan air dan estetika kota. tujuan. b. penetapan kawasan strategis Kota Surabaya. 28. kebijakan dan strategi rencana ruang wilayah Kota Surabaya. Garis Sempadan Bangunan yang selanjutnya disingkat GSB adalah garis batas yang tidak boleh dilampaui oleh denah dan/atau massa bangunan ke arah depan. orang. yang dalam peraturan ini adalah dalam proses perencanaan tata ruang. asas. untuk berminat dan bergerak dalam penyelenggaraan penataan ruang. Ruang Terbuka Hijau adalah suatu lahan atau kawasan yang ditetapkan sebagai ruang terbuka untuk tempat tumbuhnya tanaman/vegetasi yang berfungsi sebagai pengatur iklim mikro. kelompok masyarakat hukum adat. pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kota . yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat.6 25. d. 29. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. baik berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. atau badan hukum. ketentuan Surabaya. termasuk 30. rencana struktur ruang wilayah Kota Surabaya. fungsi. c. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. f. BAB II RUANG LINGKUP DAN ASAS RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SURABAYA Bagian Kesatu Ruang Lingkup Pasal 2 Ruang lingkup Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya mencakup: a. arahan pemanfaatan ruang wilayah Kota Surabaya. Peran serta masyarakat adalah berbagai kegiatan masyarakat. samping dan belakang dari bangunan tersebut yang ditetapkan dalam rencana kota. rencana pola ruang wilayah Kota Surabaya.

. perlindungan kepentingan umum. c. dan i. keterpaduan. penyusunan rencana pembangunan jangka menengah daerah. KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH KOTA SURABAYA Bagian Kesatu Tujuan Pasal 4 Tujuan penataan ruang Kota Surabaya adalah mengembangkan ruang kota metropolitan berbasis perdagangan dan jasa yang berkelanjutan sebagai pusat pelayanan Nasional dan Internasional. Pasal 5 Rencana Tata Ruang Wilayah berfungsi sebagai pedoman untuk : a. dan f. keberlanjutan. kepastian hukum dan keadilan. keterbukaan. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah kota. penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kota yang terdiri dari Rencana Detail Tata Ruang Kota dan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Kota. kebersamaan dan kemitraan. g. keberdayagunaan dan keberhasilgunaan. keselarasan dan keseimbangan. b. e. b. c. f. penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi. e. akuntabilitas. penyusunan rencana pembangunan jangka panjang daerah. d. h. keterkaitan dan keseimbangan antar sektor dan antar wilayah. mewujudkan keterpaduan. keserasian. d. BAB III TUJUAN.7 Bagian Kedua Asas Pasal 3 Rencana Tata Ruang Wilayah disusun berdasarkan asas: a.

dilakukan dengan cara : a. Pasal 8 Kebijakan sistem pusat pelayanan dan fungsi wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a. Kebijakan dan Strategi Pola Ruang wilayah Kota Surabaya. pusat pelayanan kota dan regional. meliputi : a. mengembangkan fasilitas sosial-ekonomi kota yang representatif sebagai pusat pelayanan berskala nasional dan internasional. Kebijakan dan strategi sistem pusat pelayanan dan fungsi wilayah. dilakukan melalui penetapan pusat pelayanan dan sub pusat pelayanan secara berhierarki sebagai pusat pelayanan nasional dan internasional. Pusat Sub Kota dan Pusat Unit Pengembangan (UP) dan pembagian wilayah laut menjadi 4 (empat) unit pengembangan wilayah laut. b. Pasal 9 (1) Strategi untuk mengembangkan Kota Surabaya sehingga berfungsi sebagai pusat pelayanan nasional dan internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. .8 Bagian Kedua Kebijakan Dan Strategi Penataan Ruang Paragraf 1 Umum Pasal 6 Untuk mewujudkan tujuan penataan ruang wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ditetapkan kebijakan dan strategi perencanaan ruang wilayah meliputi : a. Kebijakan dan strategi sistem prasarana wilayah kota. Kebijakan dan Strategi Struktur Ruang wilayah Kota Surabaya. b. Paragraf 2 Kebijakan dan Strategi Struktur Ruang Wilayah Kota Surabaya Pasal 7 Kebijakan dan strategi struktur ruang wilayah Kota Surabaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a dilakukan melalui pengembangan sistem pusat pelayanan yang terpadu dengan sistem prasarana wilayah.

sistem jaringan transportasi. infrastruktur terpadu dan kota dan melayani wilayah c. mengembangkan pusat utama kota Surabaya. sistem jaringan energi.9 b. c. menetapkan 12 (dua belas) Unit Pengembangan (UP) beserta pusatnya dengan spesifikasi fungsi kawasan masing-masing. d. sistem jaringan sumber daya air. dilakukan dengan cara : a. Pasal 10 Kebijakan sistem prasarana wilayah Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b. (2) Strategi untuk mengembangkan Kota Surabaya sehingga berfungsi sebagai pusat pelayanan kota dan regional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. membagi setiap Unit Pengembangan (UP) menjadi beberapa Unit Distrik (UD) sesuai kondisi masing-masing. dengan pengembangan sistem jaringan yang terpadu. c. dilakukan dengan cara : a. . (3) Strategi untuk mengembangkan Kota Surabaya sehingga berfungsi sebagai Pusat Sub Kota dan Pusat Unit Pengembangan (UP) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. mengembangkan 1 (satu) pusat pelayanan regional. menetapkan 3 (tiga) pusat sub kota dalam upaya pemerataan pengembangan wilayah kota. sistem jaringan infrastruktur kota. b. mengembangkan jaringan berkelanjutan dalam skala sekitarnya. dan e. (4) Strategi pengembangan untuk pembagian wilayah laut dilakukan dengan cara menetapkan 4 (empat) unit pengembangan wilayah laut dengan mempertimbangkan karakter dan potensi masingmasing wilayah. mengembangkan sarana dan prasarana transportasi massal modern. b. meliputi : a. b. sistem jaringan telekomunikasi.

10 Pasal 11 (1) pengembangan sistem jaringan transportasi. meningkatkan pelayanan angkutan umum dan barang dalam dan antar kota dengan mengutamakan angkutan umum massal. mengembangkan prasarana penunjang jaringan transportasi udara dengan mengembangkan infrastruktur jalan dan interkoneksi moda transportasi dari terminal/stasiun menuju bandara. mengembangkan angkutan massal perkotaan berbasis jalan yang terintegrasi dengan moda transportasi lainnya. mengembangkan transportasi darat yang dikembangkan secara terpadu dengan : 1. . meningkatkan pelayanan dan memperluas daerah pelayanan untuk memenuhi kebutuhan listrik kota. dimaksud dalam Pasal 10 huruf a meliputi : sebagaimana a. mengembangkan sistem jaringan transportasi darat. mengembangkan sistem jaringan transportasi laut dengan mengoptimalkan fungsi dan peranan pelabuhan Tanjung Perak secara terintegrasi dengan pengembangan Pelabuhan di kawasan Teluk Lamong dan pelabuhan disekitarnya. serta memperluas jaringan angkutan massal berbasis rel. 6. mengembangkan jaringan jalan secara berhierarki dengan mengutamakan peningkatan akses yang setara antara utara-selatan dan timur-barat. d. meningkatkan pelayanan sistem pedestrian yang sejalan dengan pengembangan jaringan jalan dan kawasan fungsional kota. 3. mengembangkan jalur kereta api dengan peningkatan kapasitas. 4. (2) Pengembangan sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf b dilakukan dengan strategi meliputi : a. c. 5. mengembangkan transportasi sungai sebagai pendukung transportasi darat dan sarana wisata. laut dan udara secara terpadu dan interkoneksi sebagai satu kesatuan sistem. 2. 7. b. mendukung peningkatan jalur penyeberangan Ujung-Kamal sebagai penghubung antara Surabaya-Madura disamping pengoperasian Jembatan Suramadu.

mengembangkan prasarana sumber daya air untuk air bersih melalui pengoptimalan pemanfaatan sumber air permukaan dan sumber air tanah. meningkatkan jangkauan pelayanan jaringan telekomunikasi khususnya untuk kawasan yang baru dikembangkan. mengoptimalkan dan membangun jaringan pelayanan hidran umum melalui pengintegrasian antara hidran dengan saluran sekunder perpipaan air bersih. b. meningkatkan jangkauan pelayanan air perluasan cakupan pelayanan air minum. meningkatkan pelayanan jaringan telepon nirkabel melalui penggunaan secara bersama menara telekomunikasi (base transceiver station) antar provider. meningkatkan tampungan/resapan air melalui pengoptimalan fungsi tampungan untuk wisata air. mengembangkan jaringan gas kota yang dilakukan secara terpadu dengan sistem jaringan gas Provinsi Jawa Timur dan Nasional untuk meningkatkan kapasitas dan memperluas jaringan. c. c. mengoptimalisasikan fungsi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dan sarana prasarana kebersihan. mengembangkan sistem pengelolaan sampah dengan pengurangan volume. e. (4) Pengembangan sistem jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf d dilakukan dengan strategi meliputi : a. memperluas penggunaan teknologi informasi yang didukung penyediaan jaringan internet nirkabel pada berbagai kawasan fungsional di Kota Surabaya. minum melalui b. mengelola limbah kota untuk mengurangi tingkat pencemaran lingkungan. konservasi serta pengendalian banjir. (3) Pengembangan sistem jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf c dilakukan dengan strategi meliputi : a. mengembangkan teknologi persampahan yang hemat energi dan ramah lingkungan. f.11 b. . d. meningkatan kuantitas dan kualitas air menjadi layak dan siap minum pada kawasan fasilitas umum dan komersial. penataan lingkungan. g. melalui penyediaan IPAL dan IPAL Komunal. penggunaan kembali dan pendaurulangan sampah. b. (5) Pengembangan sistem infrastruktur kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf e dilakukan dengan strategi melalui : a.

menyediakan jalur pedestrian bagi penyandang cacat. j. kawasan pesisir wilayah laut. b. b. d. i. e. k. kawasan rawan bencana. c. b. dengan penetapan berbagai fungsi lindung kota dan pelestarian yang terpadu meliputi : a. kawasan perlindungan setempat. Pasal 14 (1) Penetapan dan pelestarian kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a dilakukan dengan strategi meliputi : a. menyediakan jalur evakuasi bencana khususnya bencana banjir dan kebakaran di kawasan-kawasan yang rawan bencana. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahan. kawasan suaka alam dan cagar budaya. menetapkan kawasan resapan air berupa hutan kota dan kawasan sekitar waduk/boezem. Kebijakan dan strategi pemantapan kawasan lindung. membangun dan meningkatkan kualitas prasarana dan sarana jalan bagi pejalan kaki pada kawasan fungsional dan pada sepanjang jalan utama kota. membatasi pengembangan kawasan terbangun di kawasan resapan air. Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan budidaya. Pasal 13 Kebijakan pemantapan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf a. mengembangkan sistem drainase secara terpadu dengan memaksimalkan fungsi drainase sebagai saluran pematusan air hujan dan mengurangi genangan. .12 h. Paragraf 3 Kebijakan dan Strategi Pola Ruang Wilayah Kota Surabaya Pasal 12 Kebijakan dan strategi pola ruang wilayah Kota Surabaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b. dan f. kawasan ruang terbuka hijau. meliputi : a.

(4) Penetapan dan pelestarian kawasan ruang terbuka hijau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf d dilakukan dengan strategi melalui : a. intrusi air laut. d. b. memantapkan fungsi kawasan sempadan waduk/boezem dengan perlindungan kawasan sekitarnya untuk kelestarian hidrologis dan pengembangan wisata alam. menetapkan dan mengoptimalkan fungsi Ruang Terbuka Hijau publik sebesar 20% (dua puluh persen) dari luas kawasan terbangun Kota Surabaya yang persebarannya disesuaikan dengan kebutuhan Ruang Terbuka Hijau. memantapkan fungsi kawasan sempadan rel Kereta Api dengan menetapkan jarak sempadan dan pengembangan fungsi lindung untuk kepentingan keamanan Kereta Api. . mengendalikan secara ketat pemanfaatan lahan yang bertentangan dengan fungsi lindung. dan aktifitas yang merusak kelestarian pantai serta sebagai penunjang kegiatan pariwisata. pemeliharaan. memantapkan fungsi kawasan sempadan sungai untuk fungsi lindung dan penunjang kegiatan pariwisata. (3) Penetapan dan pelestarian kawasan suaka alam dan cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf c dilakukan dengan strategi melalui : a. c. e.13 (2) Penetapan dan pelestarian kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b dilakukan dengan strategi melalui: a. memantapkan fungsi kawasan sempadan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) untuk fungsi lindung berupa Ruang Terbuka Hijau dengan pembatasan jarak bebas minimum dan pembatasan pembangunan pada kawasan yang telah terbangun. menetapkan batas kawasan lindung baik di darat maupun laut untuk mempertegas batasan kawasan lindung khususnya di Pantai Timur Surabaya. b. c. memantapkan fungsi lindung untuk kawasan lindung sekaligus sebagai penunjang wisata alam dan pendidikan ekosistem pesisir. d. memantapkan fungsi kawasan sempadan pantai sebagai fungsi lindung untuk mencegah abrasi pantai. memantapkan fungsi perlindungan cagar budaya dengan penetapan. dan pengembangan situs dan lingkungan cagar budaya serta kawasan kampung tradisional.

Kawasan budidaya wilayah laut. (6) Penetapan dan pelestarian kawasan lindung wilayah laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf f dilakukan dengan strategi penetapan fungsi kawasan. Pasal 15 Kebijakan pengembangan kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf b.14 b. mengembangkan dan menata kepadatan perumahan sebagai kepadatan tinggi. kawasan perdagangan dan jasa. e. kawasan perkantoran. f. penciptaan iklim mikro. . (5) Penetapan dan pelestarian kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf e dilakukan dengan strategi membuat klasifikasi tingkat kerentanan kawasan bencana. dengan meningkatkan fungsi setiap kawasan di kota Surabaya meliputi : a. c. kawasan pariwisata. kawasan ruang evakuasi bencana. Pasal 16 (1) Pengembangan kawasan perumahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf a dilakukan dengan strategi melalui : a. meningkatkan kualitas lingkungan kawasan perumahan. h. pereduksi polutan. yang meliputi kawasan rawan banjir dan kawasan rawan kebakaran. sedang dan rendah secara proporsional dalam memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat. kawasan industri. b. d. b. peruntukan dan pengelolaannya. serta pengembangan kawasan siap bangun/lingkungan siap bangun. i. melestarikan ruang terbuka hijau untuk fungsi lindung. melalui pengendalian Koefisien Dasar Bangunan pada kawasan terbangun kota. kawasan perumahan. kawasan ruang terbuka non hijau. c. serta pengendalian pelestarian lingkungan kota. mengatur pemanfaatan ruang terbuka hijau privat sebesar 10% (sepuluh persen). kawasan peruntukan ruang bagi kegiatan sektor informal dan kawasan peruntukan lainnya. g. perluasan penyediaan perumahan vertikal.

mengembangkan buffer zone pada kawasan industri besar dan menengah untuk upaya konservasi lingkungan. mengembangkan obyek wisata tematik yang terintegrasi sebagai satu sistem kepariwisataan baik di dalam kota maupun sekitar wilayah kota. mengembangkan dan merevitalisasi Pasar Tradisional. meningkatkan peran industri kecil dan industri rumah tangga sebagai sentra industri. mengakomodasi penyediaan lahan bagi kegiatan sektor informal pada setiap kawasan perdagangan. b. mengembangkan kawasan industri yang ramah lingkungan. b. mengintegrasikan fungsi pariwisata pada berbagai kawasan fungsional kota lainnya. mengembangkan pusat perdagangan dan jasa pada setiap Unit Pengembangan maupun Unit Distrik secara berhierarki. (5) Pengembangan kawasan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf e dilakukan dengan strategi melalui : a. c. (4) Pengembangan kawasan industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf d dilakukan dengan strategi melalui : a. d. c. mengembangkan pusat perbelanjaan secara terintegrasi dalam skala Unit Pengembangan. . b. mempertahankan fungsi perkantoran yang telah ada. mengembangkan kawasan perumahan terintegrasi dengan kawasan sekitarnya. mengembangkan pemusatan layanan perkantoran pemerintah/pemerintah provinsi/pemerintah daerah secara berhierarki pada kawasan pelayanan publik. d.15 c. e. (3) Pengembangan kawasan perkantoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf c dilakukan dengan strategi melalui : a. menjaga kualitas lingkungan pada kawasan industri. b. koridor dan kawasan. baru yang (2) Pengembangan kawasan perdagangan dan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf b dilakukan dengan strategi melalui : a. c. mengembangkan toko modern dalam tingkat unit lingkungan yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan. mengembangkan perkantoran swasta pada pusat-pusat pelayanan kota.

b. (6) Pengembangan kawasan ruang terbuka non hijau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf f dilakukan dengan strategi melalui : a. mengembangkan estetika dan kenyamanan pada setiap kawasan ruang terbuka non hijau. mengembangkan fungsi kawasan ruang terbuka non hijau sebagai satu kesatuan sistem yang menghubungkan sistem jaringan dalam kawasan maupun antar kawasan budidaya. dan c. memperluas dan meningkatkan jaringan transportasi menuju kawasan dan tempat wisata. menyediakan area khusus untuk pameran produk wisata dan pembangunan serta gelar event wisata. b. b. mengembangkan fasilitas peribadatan untuk tiap Unit Pengembangan dan pemukiman baru. mengembangkan obyek wisata potensial berbasis bahari. mengembangkan kawasan pendidikan tinggi dan mendistribusikan secara merata fasilitas pendidikan yang berhierarki.16 c. (9) Pengembangan kawasan peruntukan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf i dilakukan dengan strategi melalui : a. mengintegrasikan antara ruang untuk kegiatan sektor informal dan sektor formal dalam satu kesatuan sistem. b. menggunakan ruang terbuka hijau dan non hijau yang ada pada setiap lingkungan dan Kecamatan untuk menampung korban bencana. c. mengembangkan fasilitas kesehatan yang berhierarki serta peningkatan pelayanan fasilitas kesehatan yang bertaraf internasional. mendukung penyediaan kebutuhan sarana dan prasarana pendukung bagi kegiatan sektor informal. d. (7) Penyediaan kawasan ruang evakuasi bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf g dilakukan dengan strategi melalui : a. e. menggunakan ruang-ruang dan bangunan lainnya yang dapat berubah menjadi tempat pengungsian sementara. . menyediakan ruang bagi kegiatan sektor informal. (8) Penyediaan kawasan peruntukan ruang bagi kegiatan sektor informal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf h dilakukan dengan strategi melalui : a.

Pusat Unit Pengembangan sebagai pusat persebaran pelayanan dalam lingkup administrasi beberapa Kecamatan. c. d. BAB IV RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KOTA SURABAYA Bagian Kesatu Umum Pasal 17 Rencana struktur ruang wilayah meliputi : a. . sistem prasarana wilayah kota. Bagian Kedua Rencana Sistem Pusat Pelayanan dan Fungsi Kegiatan Wilayah Pasal 18 Rencana sistem pusat pelayanan dan fungsi kegiatan wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf a. Pusat nasional dan internasional sebagai pusat pelayanan skala nasional dan internasional dalam lingkup pengembangan kawasan Asia. penetapan sistem pusat pelayanan. meliputi : a. Pusat Sub Kota sebagai wilayah transisi yang merupakan pusat sub pelayanan kota dalam upaya penyebaran pengembangan wilayah. mengembangkan kawasan pelabuhan yang terintegrasi dengan kawasan sekitarnya. Pasal 19 (1) Pembagian sistem pusat pelayanan sampai dengan sub pusat pelayanan dilakukan secara berhierarki sesuai dengan skala pelayanan masing-masing. rencana sistem pusat pelayanan dan fungsi kegiatan wilayah.17 d. meliputi : a. sekitar e. b. b. Pusat kota dan regional sebagai pengembangan pusat pelayanan regional dalam lingkup pengembangan baik skala kota maupun Gerbangkertasusila. penetapan fungsi kegiatan utama. membatasi perkembangan secara fisik pada kawasan militer dan depo Bahan Bakar Minyak. b.

Unit Pengembangan IV Dharmahusada. meliputi wilayah Wonocolo dan j. meliputi wilayah Kecamatan Sawahan dan Kecamatan Wonokromo. g. meliputi wilayah Kecamatan Benowo. Kecamatan Tandes. Unit Pengembangan X Wiyung. h. Kecamatan Kecamatan Gayungan. Kecamatan Karang Pilang dan Kecamatan Lakarsantri. (5) Unit Pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi : a. Unit Pengembangan II Kertajaya. meliputi wilayah Kecamatan Rungkut. wilayah c. meliputi wilayah Kecamatan Wiyung. . (4) Pusat Sub Pelayanan Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi Pusat Sub Pelayanan Kota bagian Barat di wilayah Kandangan (Benowo). Unit Pengembangan V Tanjung Perak. (3) Pusat pelayanan skala kota dan regional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi Kecamatan Pabean Cantian. Unit Pengembangan III Tambak Wedi. Unit Pengembangan VIII Satelit. meliputi wilayah Kecamatan Simokerto. meliputi wilayah Kecamatan Semampir. Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangon. k. Kecamatan Gunung Anyar dan Kecamatan Tenggilis Mejoyo. Unit Pengembangan VI Tunjungan. Kecamatan Jambangan. meliputi wilayah Kecamatan Bulak dan Kecamatan Kenjeran. d. Unit Pengembangan I Rungkut. Unit Pengembangan IX Ahmad Yani. meliputi wilayah Kecamatan Dukuh Pakis dan Kecamatan Sukomanunggal. Kecamatan Semampir. Kecamatan Simokerto. i. Kecamatan Pabean Cantian dan Kecamatan Krembangan. Unit Pengembangan VII Wonokromo.18 (2) Pusat pelayanan skala nasional dan internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi seluruh wilayah kota Surabaya. Kecamatan Bubutan. meliputi Kecamatan Mulyorejo dan Kecamatan Sukolilo. e. Kecamatan Genteng dan Kecamatan Tegalsari. meliputi wilayah Kecamatan Tambaksari dan Kecamatan Gubeng. b. Kecamatan Krembangan. f. dan Kecamatan Asem Rowo. Kecamatan Genteng dan Kecamatan Tegalsari. Pusat Sub Pelayanan Kota bagian Tengah di Kawasan Segi Delapan Darmo dan Pusat Sub Kota bagian Timur di wilayah Klampis. Kecamatan Bubutan.

di sekitar Tambak Wedi dan Kenjeran. pendidikan. di sekitar Teluk Lamong. pariwisata.dan d. dan d. . perdagangan dan jasa. unit pengembangan wilayah laut II adalah wilayah laut yang berada di sebelah utara. c. unit pengembangan wilayah laut I adalah wilayah laut yang berada di sebelah utara. c. kesehatan dan pariwisata. karakteristik dan potensi yang dimiliki oleh wilayah laut. perdagangan dan jasa. pariwisata. kesehatan. perdagangan dan jasa. meliputi Kecamatan Pakal dan Kecamatan Sambikerep. Pusat Sub Kota bagian barat memiliki fungsi industri. b. di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak. unit pengembangan wilayah laut IV adalah wilayah laut di sebelah timur. (2) Fungsi pusat pelayanan skala kota dan regional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf b meliputi: a. Pasal 20 wilayah (1) Wilayah laut daerah berada di sebelah utara sampai dengan timur daratan Surabaya dengan jarak sejauh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi. b. unit pengembangan wilayah laut III adalah wilayah laut yang berada di sebelah timur laut. (2) Rencana Struktur Wilayah Laut dibagi dalam 4 (empat) unit pengembangan yang pembagiannya didasarkan pada kondisi. Pasal 21 (1) Fungsi pusat pelayanan skala nasional dan internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf a meliputi : a. Unit Pengembangan XII Sambikerep. di sekitar perairan dan pantai timur.19 l. (3) Pembagian unit pengembangan wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi : a. yang diukur dari garis pantai ke arah laut dan pelaksanaannya berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. (3) Fungsi pusat sub pelayanan kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf c meliputi: a. dan b.

Unit Pengembangan II Kertajaya dengan pusat Unit Pengembangan di kawasan Kertajaya Indah– Dharmahusada Indah dengan fungsi utama permukiman. e. Pusat Sub Kota bagian tengah memiliki fungsi perdagangan dan jasa. Pusat Sub Kota bagian timur memiliki fungsi pedagangan dan jasa. dan militer. dan c. perdagangan dan jasa. perdagangan.20 b. d. j. i. perdagangan dan jasa. pendidikan dan kesehatan. Unit Pengembangan VII Wonokromo dengan pusat Unit Pengembangan di kawasan Wonokromo memiliki fungsi utama permukiman. perdagangan dan jasa. pemerintahan. b. Unit Pengembangan X Wiyung dengan pusat Unit Pengembangan di sekitar kawasan Wiyung memiliki fungsi utama permukiman. pendidikan. Unit Pengembangan IX Ahmad Yani dengan pusat Unit Pengembangan di kawasan Jl. industri. lindung terhadap alam dan industri. f. pendidikan. pemerintahan. perdagangan dan jasa. Unit Pengembangan VIII Satelit dengan pusat Unit Pengembangan di kawasan Segi Delapan Satelit memiliki fungsi utama permukiman. Ahmad Yani memiliki fungsi utama permukiman. dan lindung terhadap alam. kawasan industri strategis. industri dan lindung terhadap alam. rekreasi dan lindung terhadap alam. Unit Pengembangan VI Tunjungan dengan pusat Unit Pengembangan di kawasan Tunjungan memiliki fungsi utama permukiman. perkantoran. perdagangan. g. perdagangan dan jasa. dan lindung terhadap bangunan dan lingkungan cagar budaya. (4) Fungsi kegiatan utama di pusat unit pengembangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf d dan area pelayanannya adalah : a. . c. Unit Pengembangan IV Dharmahusada dengan pusat Unit Pengembangan di kawasan Karangmenjangan memiliki fungsi utama permukiman. pendidikan. pendidikan. kawasan militer. dan militer. perdagangan dan jasa. dan perdagangan dan jasa. Unit Pengembangan I Rungkut dengan pusat Unit Pengembangan di kawasan Rungkut Madya memiliki fungsi utama permukiman. h. Unit Pengembangan III Tambak Wedi dengan pusat Unit Pengembangan di kawasan kaki Jembatan Suramadu memiliki fungsi utama permukiman. Unit Pengembangan V Tanjung Perak dengan pusat Unit Pengembangan di kawasan Tanjung Perak memiliki fungsi utama pelabuhan.

. area penangkapan dan budidaya perikanan dan alur pelayaran kapal nelayan. meliputi : a. dan d. unit pengembangan wilayah laut III dengan fungsi utama wisata bahari/laut. pangkalan Militer Angkatan Laut dan industri perkapalan. transportasi laut. permukiman. dan alur pelayaran kapal besar. transportasi udara. unit pengembangan wilayah laut II dengan fungsi utama pelabuhan dan angkutan penyeberangan. b.21 k. unit pengembangan wilayah laut IV dengan fungsi utama kawasan lindung dan rehabilitasi lingkungan laut dan pantai serta sebagai area penangkapan dan budidaya perikanan. Unit Pengembangan XII Sambikerep dengan pusat Unit Pengembangan di kawasan Sambikerep memiliki fungsi utama permukiman. l. transportasi darat. Bagian Keenam Rencana Pengembangan Sistem Prasarana Wilayah Kota Paragraf 1 Sistem Jaringan Transportasi Pasal 23 (1) Pengembangan sistem jaringan transportasi dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan dalam mendukung pengembangan Kota Surabaya. Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangon dengan pusat Unit Pengembangan di kawasan Tambak Oso Wilangon memiliki fungsi utama pelabuhan. Pasal 22 (1) Setiap unit pengembangan wilayah laut memiliki fungsi kegiatan utama yang terintegrasi dengan fungsi kegiatan dan pemanfaatan lahan di wilayah darat. perdagangan dan jasa. unit pengembangan wilayah laut I dengan fungsi utama sebagai pengembangan pelabuhan dan alur pelayaran kapal besar. dan lindung terhadap alam. industri. (2) Fungsi kegiatan pada masing-masing unit pengembangan wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a. c. dengan memperhatikan fungsi lindung dan fungsi budidaya. perdagangan dan jasa dan lindung terhadap alam. c. b.

(6) Rencana pengembangan angkutan dan jalur sirkulasi kendaraan dalam kota melalui pengembangan angkutan massal kota dengan alternatif pengembangan Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rapid Transit (LRT) yang berbasis rel serta angkutan massal berbasis jalan lainnya yang didukung dengan angkutan yang berfungsi sebagai pengumpan (feeder). Terminal di sekitar Made. Terminal tipe C : Terminal Joyoboyo. Terminal Bratang. Terminal Dukuh Kupang. Terminal Manukan. terminal. meliputi : a. Jalan kolektor sekunder. angkutan. dan e. Terminal di sekitar Gununganyar. Jalan arteri sekunder. kereta api. Terminal tipe B : Terminal Benowo. dikembangkan secara berhierarki dan terkoneksi antar moda meliputi jaringan jalan. Jalan bebas hambatan. Jalan kolektor primer. Terminal di sekitar Tambak Wedi. b. Jalan arteri sekunder. Pasal 24 (1) Transportasi darat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf a. Jalan arteri primer. (4) Pengembangan terminal secara berhierarki meliputi : a. Terminal di sekitar Pesapen. b. (2) Pengembangan jaringan jalan. Terminal Tambak Oso Wilangon. c. (5) Rencana pengembangan angkutan dan jalur sirkulasi kendaraan antar kota antar provinsi (AKAP) dan angkutan kota dalam provinsi (AKDP) dilaksanakan dengan berpedoman pada ketentuan yang berlaku.22 (2) Pengembangan sistem jaringan transportasi terpadu dan berkelanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui pendekatan pengembangan pada kawasan budidaya. Terminal di sekitar Mastrip. Terminal Keputih. c. d. Terminal di sekitar Pagesangan dan Terminal di sekitar Kalianak. . Jalan kolektor primer dan Jalan kolektor sekunder sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dinyatakan dalam Lampiran I dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Jalan arteri primer. angkutan sungai dan penyeberangan. (3) Jalan bebas hambatan. Terminal di sekitar Kendung. Terminal tipe A : Terminal Purabaya.

Jalan lingkar barat luar (Outer West Ring Road). Bangil – Sidoarjo – Waru – Wonokromo – Gubeng – Pasar Turi – Kandangan – Benowo – Lamongan. 5. . i. e. mendukung pengembangan pembangunan jaringan double track pada jalur regional meliputi : 1. Sidoarjo – Pasuruan – Jember – 6. Surabaya – Waru – Bandara Juanda. Oso Wilangon sampai dengan Jalan b. Surabaya – Krian – Mojokerto . c.Blitar. (8) Pengembangan sistem jaringan kereta api meliputi : a.Lamongan. Jalan lingkar timur tengah (Middle East Ring Road). c. 4. – Surakarta - 3.Jombang – Kertosono – Kediri . Jalan Benowo sampai dengan Jalan Kertajaya. 2. Sidoarjo – kawasan Wonokromo. Surabaya – Mojokerto – Madiun Yogyakarta – Bandung – Jakarta. mengembangkan Mass Rapid Transit (MRT) pada jalur: 1. g. Jalan Lontar sampai dengan Jalan Wonorejo. Jalan Wiyung sampai dengan Jalan Rungkut. Jalan Ahmad Yani sampai dengan Jalan Perak. h. Jalan lingkar barat tengah (Middle West Ring Road). Jalan Tambak Kenjeran. 2. Surabaya – Sidoarjo – Bangil – Malang – Blitar – Kediri. Mojokerto – Krian – Wonokromo – Gubeng – Pasar Turi – Kandangan – Benowo . Jalan lingkar timur luar (Outer East Ring Road). Surabaya – Banyuwangi. Bandara Juanda – kawasan Wonokromo. f. 2.23 (7) Rencana pengembangan angkutan massal kota dengan alternatif pengembangan Bus Rapid Transit (BRT). mendukung pengembangan kereta komuter yang meliputi : 1. meliputi rute : a. Surabaya – Gresik – Lamongan – Bojonegoro – Semarang – Jakarta. d. b.

dan . Pasar Turi. Wonokromo dan pemberhentian sementara (shelter) angkutan massal berbasis rel pada pusat – pusat pelayanan kota.24 d. dilakukan dengan : a. mengembangkan penyeberangan Ujung–Kamal berfungsi sebagai penunjang pariwisata bahari. b. memanfaatkan stasiun sebagai salah penunjang pusat kegiatan ekonomi kota. (9) Pengembangan angkutan dilakukan dengan : sungai dan satu fasilitas penyeberangan. Semut. b. yang Pasal 25 Pengembangan transportasi laut sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf b. f. UP II Kertajaya. mengembangkan pelabuhan terminal peti kemas dan kargo berskala internasional beserta fasilitas penunjangnya termasuk kawasan strategis ekonomi di kawasan Teluk Lamong. maupun internasional. nasional. mendukung pengembangan transportasi udara dengan memanfaatkan Pelabuhan Udara Internasional Juanda untuk pelayanan angkutan penumpang dan barang baik nasional maupun internasional.kawasan Pelabuhan Tanjung Perak. menetapkan kawasan di sekitar Bandar Udara Juanda sebagai Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan meliputi kawasan yang berada di wilayah UP I Rungkut. melalui : a. a. Pasal 26 Pengembangan transportasi udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf c. UP VI Tunjungan dan UP X Wiyung. mengembangkan angkutan sungai dalam kota sebagai angkutan umum dan angkutan pariwisata yang dilengkapi dengan dermaga pada pusat-pusat pelayanan di sungai Kali Mas dan Kali Wonokromo. mengembangkan Light Rapid Transit (LRT) pada jalur kawasan Wonokromo . mengembangkan stasiun kereta api Gubeng. b. e. UP VII Wonokromo dan sebagian wilayah UP IV Darmahusada. memanfaatkan dan mengembangkan sarana Pelabuhan Tanjung Perak sebagai sarana transportasi laut yang melayani angkutan kapal penumpang dan barang dalam skala regional.

Kawasan pelabuhan meliputi jalur menuju Tanjung Perak dan Teluk Lamong. Kawasan industri Margomulyo. mengatur batas kawasan dan batas-batas ketinggian bangunan dan non bangunan pada kawasan sebagaimana dimaksud pada huruf b. Kenjeran. biogas maupun sumber energi lain.25 c. Simogunung. Kalisari. solar cell. Undaan. Bambe. b. Rumah Sakit Surabaya Barat. (2) Pengembangan sistem jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) antara lain di jalur menuju kawasan Surabaya Barat untuk operasional Stadion Surabaya Barat. Paragraf 2 Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Energi Pasal 27 (1) Pengembangan jaringan gas kota meliputi : a. sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. Ngagel. Sukolilo. b. meliputi kawasan Rungkut. Kapasan. (3) Pengembangan gardu induk Kota Surabaya. (4) Pengembangan sumber energi listrik alternatif di Kota Surabaya dapat berasal dari pengolahan sampah. Tandes. Paragraf 3 Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Telekomunikasi Pasal 28 (1) Sistem jaringan telekomunikasi yang dikembangkan meliputi : a. Kawasan sekitar Surabaya meliputi Jalan Margomulyo-Jalan Gresik. . Rencana Operasional Teluk Lamong. meliputi gardu induk Sawahan. Simpang. meliputi : a. Kupang. kota meliputi permukiman dan d. Kawasan fungsional perdagangan dan jasa. Jalan Mohammad Noer (Kedung Cowek)-Jalan Kali Kedinding dan Jalur Bebas hambatan Surabaya-Gresik. Wonokromo. Tandes 2. Sistem nirkabel. perluasan jaringan pelayanan telepon kabel ke seluruh bagian wilayah kota. (2) Pengembangan jaringan sistem telekomunikasi. Sistem kabel. Rungkut.

pemanfaatan saluran untuk long storage. sistem pengelolaan sampah. Paragraf 4 Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Sumber Daya Air Pasal 29 Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Sumber Daya Air meliputi : a. dan pemasangan biopori untuk penyediaan air dalam tanah sekaligus pengendalian banjir. sistem drainase. peningkatan sistem teknologi telekomunikasi pada kawasan budidaya.26 b. Pasal 31 Sistem penyediaan air minum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf a. perkantoran. pembangunan dan peningkatan tampungan/resapan air melalui pembangunan waduk/boezem. Paragraf 5 Rencana Pengembangan Sistem Infrastruktur Kota Pasal 30 Pengembangan sistem infrastruktur kota meliputi : a. meliputi : . menggunakan sumber air Kali Surabaya dan mata air Umbulan untuk pemenuhan kebutuhan air baku. antara lain pada peruntukan perdagangan dan jasa. sistem pengelolaan limbah. c. f. jalur evakuasi bencana. peningkatan fungsi waduk yang lokasinya tersebar. c. penyediaan dan pemanfaatan sarana dan prasarana jaringan jalan bagi pejalan kaki. c. b. sumur resapan. mengoptimalkan dan membangun jaringan pelayanan hidran umum pada lokasi-lokasi strategis dan permukiman kota. d. memberikan dukungan kemudahan prasarana telekomunikasi di seluruh area terbangun. e. b. d. penggunaan menara telekomunikasi (base transceiver station) secara bersama untuk sistem nirkabel. sistem penyediaan air minum. pelayanan umum.

pengelolaan limbah tinja menggunakan Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) di Unit Pengembangan II Kertajaya dan Unit Pengembangan XII Sambikerep. penyediaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di bagian timur Kota Surabaya. d. c. pengembangan sistem pengkomposan pada Penampungan Sementara (TPS) dan rumah kompos. Unit Pengembangan XII Sambikerep dan pengembangan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal melalui metode Sanitasi Berbasis Kemasyarakatan (SANIMAS). penyediaan transfer depo pada setiap unit timbulan sampah pasar. Unit Pengembangan III Tambak Wedi. penyediaan sistem persampahan. sub pusat pelayanan kota. b. penyediaan air siap minum pada pusat pelayanan kota. penyediaan Tempat Penampungan Sementara (TPS) pada setiap unit lingkungan permukiman pada setiap unit lingkungan permukiman. Pasal 32 Sistem pengelolaan limbah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf b meliputi : a. Unit Pengembangan II Kertajaya. Tempat .27 a. c. pengembangan distribusi jaringan air minum ke seluruh wilayah yang belum terlayani. Unit Pengembangan V Tanjung Perak. b. penampungan sementara limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) berlokasi di Unit Pengembangan XII Sambikerep. Pasal 33 Sistem pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf c dilakukan melalui : a. fasilitas umum dan komersial serta taman kota. pengelolaan sanitasi berupa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) ditetapkan di Unit Pengembangan I Rungkut. b. 2. instalasi pengolah air minum menggunakan IPAM Ngagel dan Karangpilang. meliputi tempat penampungan sampah sementara dan tempat pemrosesan akhir dilakukan dengan: 1. 3. penyediaan air minum Kota Surabaya menggunakan sumber umbulan dan pengolahan Kali Surabaya.

Tambak Keputih. b. Kali Kepiting. Medokan Semampir. kawasan pendidikan. Peneleh. rayon Gubeng. Kali Kebonagung dan Kali Perbatasan. Kali Mir Hilir. d. Kali Wonorejo. Pasal 34 (1) Pengembangan sistem drainase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf d. PDAM Ngagel. Pasal 35 (1) Penyediaan dan pemanfaatan sarana dan prasarana jaringan jalan bagi pejalan kaki sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf e antara lain di kawasan perdagangan dan jasa. meliputi sistem Pegirian. meliputi sistem Kali Mir Hulu. Oloran Utara Kalidami dan Oloran Selatan Kalidami. kawasan pariwisata. meliputi sistem Kali Kedurus dan Karang Pilang. Kalibokor Hulu. Lebak Indah. kawasan kesehatan. rayon Jambangan. d. (3) Sistem drainase pada setiap rayon dibagi menjadi sistem primer. Pompa Air Kenari-Embong Malang. meliputi sistem Pompa Air Darmokali. meliputi sistem Gunungsari dan Dataran Rendah Barat. normalisasi dan perawatan saluran serta pengembangan retensi dan detensi waduk/boezem. Jeblokan Hulu. Ruang Terbuka Hijau kota. Pompa Air Gubeng. Pompa Air Flores. Pompa Air Dinoyo. Daratan Pantai Timur. Pelabuhan Barat.28 c. . Kali Mas. dilakukan melalui pembentukan sistem rayon. Pompa Air Keputran. Kali Sumo. dan e. Kalibokor Hilir. rayon Tandes. sekunder dan tersier. Pelabuhan Timur dan Greges. pengembangan pengelolaan sampah untuk energi alternatif di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo. (5) Pengelolaan sistem drainase untuk mengurangi banjir dan genangan dilakukan melalui pembangunan pintu air dan rumah pompa. Kayon-Grahadi. penggunaan kembali dan pendaur-ulangan sampah. c. Tambak Wedi. Kali Rungkut. Kalidami. Tanah Kali Kedinding. pengelolaan sampah mandiri berbasis masyarakat dengan pengurangan volume timbulan sampah. (4) Sistem drainase sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dinyatakan dalam Lampiran II dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Kenjeran. serta sepanjang jalan arteri dan kolektor pada pusat-pusat pelayanan. Jeblokan Hilir. rayon Wiyung. kawasan perkantoran. (2) Pembagian rayon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yaitu: a. Pompa Air Ciliwung. rayon Genteng.

b. bencana banjir di sekitar Kali Lamong. penambahan fasilitas pelengkap (street furniture) antara lain berupa tempat sampah. bencana banjir di sekitar Teluk Lamong. Jalan Perak Barat dengan tempat penampungan sementara di perkantoran milik Pemerintah/Pemerintah Provinsi/Pemerintah Kota Surabaya. (2) Jalur evakuasi bencana banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai jalur evakuasi apabila terjadi bencana banjir di sekitar Kali Lamong. kesehatan. kesehatan. c. pembangunan jalur pejalan kaki yang dilengkapi dengan fasilitas khusus yang menunjang aksesibilitas orang berkebutuhan khusus. dengan tempat penampungan sementara di perkantoran milik Pemerintah/Pemerintah Provinsi/Pemerintah Kota Surabaya. pohon peneduh/pelindung. dan lampu Penerangan Jalan Umum. Jalan Mastrip dan Jalan Raya Menganti. peribadatan dan olahraga. pembangunan jalur pejalan kaki. dengan tempat penampungan sementara di perkantoran milik Pemerintah/Pemerintah Provinsi/Pemerintah Kota Surabaya. jalur evakuasi melalui Jalan Sumberejo dan Jalan Singapura. Teluk Lamong. ruang terbuka dan tempat peruntukan pelayanan umum meliputi sarana pendidikan. b. (3) Jalur evakuasi bencana banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan sebagai berikut : a. peribadatan dan olahraga.29 (2) Upaya pengelolaan sarana dan prasarana jaringan jalan bagi pejalan kaki meliputi : a. peribadatan dan olahraga. ruang terbuka dan tempat peruntukan pelayanan umum meliputi sarana pendidikan. saluran diversi Gunung Sari dan kawasan pantai timur Surabaya. jalur evakuasi melalui Jalan Raya Benowo. c. kesehatan. jalur evakuasi melalui Jalan Kalianak. bencana banjir di saluran diversi Gunung Sari. ruang terbuka dan tempat peruntukan pelayanan umum meliputi sarana pendidikan. . Pasal 36 (1) Jalur Evakuasi Bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf f adalah jalur evakuasi bencana banjir.

peribadatan dan olahraga yang terdekat dengan lokasi bencana kebakaran. Jalan Keputih. Jalan Semolowaru.30 d. ke bangunan untuk proses BAB V RENCANA POLA RUANG Bagian Kesatu Umum Pasal 37 Rencana pola ruang meliputi rencana kawasan lindung dan rencana kawasan budidaya. b. Ruang Terbuka Hijau kota. jalur evakuasi dapat melalui Jalan Kenjeran. Bagian Kedua Penetapan Kawasan Lindung Pasal 38 Kawasan lindung meliputi : a. Jalan Medokan Ayu. Jalan Arif Rahman Hakim. Jalan Pandugo. kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya. dengan tempat penampungan sementara di perkantoran milik Pemerintah/Pemerintah Provinsi/Pemerintah Kota Surabaya. maka tempat penampungan sementara berada di perkantoran milik Pemerintah/Pemerintah Provinsi/Pemerintah Kota Surabaya. melakukan integrasi jaringan air minum dengan jaringan hidran kebakaran. bencana banjir di kawasan pantai timur Surabaya. b. peribadatan dan olahraga. kawasan perlindungan setempat. kesehatan. . c. menyediakan jalur akses pemadaman kebakaran. ruang terbuka dan tempat peruntukan pelayanan umum meliputi sarana pendidikan. meningkatkan kualitas jalan lingkungan dengan perkerasan agar dapat dilalui oleh kendaraan pemadam kebakaran pada kawasan rawan kebakaran. Jalan Wonorejo. Jalan Raya Wiguna dan Jalan Gunung Anyar Tambak. Jalan Mulyosari. (4) Apabila terjadi bencana kebakaran. c. ruang terbuka dan tempat peruntukan pelayanan umum meliputi sarana pendidikan. (5) Upaya peningkatan evakuasi bencana dengan cara : kebakaran dilakukan a. Jalan Kejawan Putih Tambak. kesehatan.

kawasan lindung wilayah laut. e. f. meliputi : a. kawasan rawan bencana alam. Unit Pengembangan X Wiyung dan Unit Pengembangan XII Sambikerep. kawasan suaka alam dan cagar budaya. pengolahan tanah secara teknis sehingga kawasan memberikan kemampuan peresapan air yang lebih tinggi. Kecamatan Sukolilo dan Kecamatan Mulyorejo.31 d. Pasal 40 (1) Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf b. Unit Pengembangan X Wiyung. sempadan sungai. meliputi : a. Kecamatan Kenjeran dan Kecamatan Bulak. Sempadan pantai di wilayah timur yaitu Kecamatan Gunung Anyar. (2) Kawasan sempadan pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan pada sempadan pantai yang terletak wilayah utara. (2) Upaya pengelolaan kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya. c. Sempadan pantai di wilayah utara yaitu di Kecamatan Benowo dan Kecamatan Asemrowo. terdiri dari kawasan sempadan pantai. kawasan sempadan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/ Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dan kawasan sempadan rel kereta api. b. Unit Pengembangan V Tanjung Perak. mengembangkan ruang terbuka hijau yang terintegrasi dengan kegiatan pariwisata alam di beberapa kawasan waduk/boezem. meliputi hutan kota yang tersebar di Unit Pengembangan I Rungkut. Unit Pengembangan II Kertajaya. Pasal 39 (1) Kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf a. c. ini . Unit Pengembangan XI Tambak Osowilangun. timur laut dan timur Kota Surabaya. kawasan sempadan waduk/boezem. b. Sempadan pantai di wilayah timur laut yaitu Kecamatan Semampir. dan Unit Pengembangan XII Sambikerep serta pemanfaatan waduk/boezem yang tersebar di Unit Pengembangan I Rungkut. Kecamatan Rungkut. mengembangkan hutan kota dengan jenis tanaman tahunan berjarak tanam rapat.

memanfaatkan sempadan pantai di Kecamatan Semampir sebagai kawasan ruang terbuka hijau dan/atau ruang terbuka non hijau yang terintegrasi dengan kawasan militer. mengembangkan kawasan sempadan pantai di Kecamatan Benowo dan Kecamatan Asemrowo berupa kawasan ruang terbuka hijau yang terintegrasi dengan pengembangan kota berorientasi pada perairan. g. melakukan perlindungan kawasan sempadan pantai di wilayah Kecamatan sebagaimana dimaksud dalam huruf b dan huruf c. f. Kecamatan Gayungan. c. Kecamatan Wonocolo. Kecamatan Sukolilo dan Kecamatan Mulyorejo sebagai kawasan lindung di pantai timur berupa hutan mangrove yang terintegrasi dengan ekosistem tambak dan rawa. dengan ketentuan paling sedikit 100 (seratus) meter dari titik pasang tertinggi kearah darat di sepanjang pantai Surabaya. Kecamatan Sukolilo. (4) Kawasan sempadan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sempadan sungai di Kota Surabaya yang meliputi wilayah : a. e. Kecamatan Tegalsari. melakukan reboisasi hutan mangrove di sepanjang pesisir di wilayah Kecamatan sebagaimana dimaksud dalam huruf d dengan lebar paling sedikit 350 (tiga ratus lima puluh) meter. b. melakukan reboisasi hutan mangrove di sepanjang pesisir di wilayah Kecamatan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. Kecamatan Tenggilis Mejoyo dan Kecamatan Gunung Anyar. b. c. Kecamatan Genteng. Kecamatan Wiyung. Sempadan sungai Kalimas yang melintasi Kecamatan Wonokromo. Kecamatan Dukuh Pakis. Kecamatan Rungkut. memanfaatkan sempadan pantai di Kecamatan Kenjeran dan Kecamatan Bulak sebagai kawasan ruang terbuka non hijau yang terintegrasi dengan wisata bahari / laut. Kecamatan Tenggilis Mejoyo dan Kecamatan Rungkut. Kecamatan Bubutan. d. Kecamatan Jambangan. Kecamatan Gayungan dan Kecamatan Karangpilang.32 (3) Upaya pengelolaan kawasan sempadan pantai sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) meliputi : a. Sempadan sungai Kali Wonokromo yang melintasi Kecamatan Wonokromo. Kecamatan Gubeng. Kecamatan Krembangan. Kecamatan Semampir dan Kecamatan Pabean Cantian. Sempadan sungai Kali Perbatasan yang melintasi Kecamatan Karangpilang. Kecamatan Gubeng. d. . memanfaatkan sempadan pantai di Kecamatan Gunung Anyar. dengan lebar paling sedikit 100 (seratus) meter. Sempadan sungai Kali Surabaya yang melintasi Kecamatan Wonokromo.

a. mengembangkan vegetasi sepanjang sempadan sungai untuk kegiatan wisata dan olahraga. Kali Medokan Ayu. memanfaatkan sempadan sungai untuk pendirian bangunan pendukung utilitas kota. (6) Kawasan sempadan waduk/boezem sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi sempadan waduk/boezem yang tersebar di seluruh wilayah Kota Surabaya dengan jarak sempadan paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. membatasi penggunaan lahan secara langsung untuk bangunan yang tidak berhubungan dengan konservasi waduk/boezem. dan pariwisata alam. c. d. (7) Upaya pengelolaan kawasan sempadan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) meliputi : waduk/boezem. dengan mengikuti ketentuan mengenai jarak sempadan sungai sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sempadan sungai Kali Tempurejo. Kali Kebon Agung dan Kali Makmur. (8) Kawasan sempadan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/ Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi sempadan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/ Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) yang tersebar di seluruh wilayah Kota Surabaya dengan jarak sempadan masing-masing 10 (sepuluh) meter diukur dari titik tengah. melindungi kawasan dengan pengembangan Ruang Terbuka Hijau di sepanjang sempadan waduk/boezem dari kegiatan yang menyebabkan alih fungsi lindung dan menyebabkan kerusakan kualitas sumber air. e. melakukan perlindungan kawasan sempadan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a. huruf b. huruf c dan huruf d. b. Kali Dami. Kali Wonorejo. . melakukan perlindungan kawasan sempadan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf e. (5) Upaya pengelolaan kawasan sempadan sungai sebagaimana yang dimaksud pada ayat (4) meliputi : a. perikanan. c.33 e. dengan menetapkan jarak sempadan sungai paling sedikit 3 (tiga) meter dari tepi tanggul terluar. menetapkan kawasan sempadan sungai di luar kawasan permukiman dan yang melalui kawasan permukiman sebagai kawasan ruang terbuka hijau. b. meningkatkan fungsi waduk/boezem sebagai pengendali air hujan. Kali Keputih.

(10) Kawasan sempadan rel Kereta Api sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi sempadan sepanjang rel Kereta Api di seluruh wilayah Kota Surabaya. garis sempadan jalan rel kereta api adalah ditetapkan dari as jalan rel terdekat apabila jalan rel lurus. garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak pada tanah datar diukur dari as jalan kereta api. f. melindungi kawasan sepanjang sempadan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/ Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dari penggunaan kawasan budidaya. b. kecuali pendirian bangunan pendukungnya. b. e. garis sempadan jalan perlintasan sebidang antara jalan rel kereta api dengan jalan raya adalah 30 meter dari as jalan rel kereta api pada titik perpotongan as jalan rel kereta api pada titik perpotongan as jalan rel kereta api dengan as jalan raya dan secara berangsur-angsur menuju pada jarak lebih dari 11 meter dari as jalan rel kereta api pada titik 600 meter dari titik perpotongan as jalan kereta api dengan as jalan raya. garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di dalam galian.34 (9) Upaya pengelolaan kawasan sempadan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) sebagaimana dimaksud pada ayat (8) meliputi : a. d. mengembangkan Ruang Terbuka Hijau berupa jalur hijau dengan tanaman penutup tanah dan perdu yang dapat berupa tanaman produktif di sepanjang sempadan rel Kereta Api. diukur dari puncak galian tanah atau atas serongan. (12) Upaya pengelolaan kawasan sempadan rel sebagaimana dimaksud pada ayat (10) meliputi : Kereta Api. garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di tanah timbunan diukur dari kaki tanggul. c. (11) Pengukuran garis sempadan rel kereta api ditetapkan sebagai berikut : a. garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak pada belokan adalah lebih dari 23 meter diukur dari lengkung dalam sampai as jalan. b. . a. melindungi kawasan sepanjang sempadan rel Kereta Api dari penggunaan kawasan fungsional kota. mengembangkan Ruang Terbuka Hijau berupa jalur hijau dan taman pasif di sepanjang sempadan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).

melindungi dan tidak mengalihfungsikan Ruang Terbuka Hijau. h. meliputi : a. memanfaatkan sempadan rel Kereta Api untuk pendirian bangunan pendukung perkeretaapian. Pasal 41 (1) Ruang terbuka hijau kota meliputi ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka hijau privat. institusi tertentu. pada fungsi – fungsi Ruang Terbuka Hijau tertentu dapat digunakan untuk kegiatan olahraga dan pariwisata. peningkatan fungsi ekologis pada setiap fungsi Ruang Terbuka Hijau. i. sempadan saluran dan sungai. g. c. f. peningkatan luasan dan penggunaan Ruang Terbuka Hijau berupa taman atap bangunan (roof garden). meliputi : a. (3) Pengembangan Ruang Terbuka Hijau dimaksud pada ayat (1) diadakan melalui: Privat sebagaimana a. sempadan pantai. mengatur setiap fungsi Ruang Terbuka Hijau. zona penyangga (buffer zone). b. penyediaan lahan pekarangan/halaman pada rumah/gedung milik masyarakat/swasta. makam. hutan kota. c. (2) Pengembangan ruang terbuka hijau publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diadakan paling sedikit seluas 6.35 c. sempadan jalan. b. . b.610 (enam ribu enam ratus sepuluh) hektar atau 20 % (dua puluh persen) dari luas Kota Surabaya. d. sempadan waduk/boezem. e. peningkatan penyediaan Ruang Terbuka Hijau melalui media pot dan tanaman rambat. lapangan. jalur hijau. Pemerintah/ Pemerintah Provinsi/Pemerintah Kota paling sedikit seluas 10% (sepuluh persen) dari luas Kota Surabaya. d. taman. j. c. (4) Upaya pengelolaan Ruang Terbuka Hijau sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

pemanfaatan untuk kegiatan pariwisata dan ilmu pengetahuan. Kawasan Cagar budaya dan ilmu pengetahuan meliputi bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya tersebar di Unit Pengembangan V Tanjung Perak. penyediaan jalur-jalur evakuasi yang cepat dan aman pada kawasan rawan bencana banjir. (2) Upaya pengelolaan kawasan pantai berhutan mangrove sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan dengan menetapkan kawasan pantai berhutan mangrove dengan fungsi utama sebagai kawasan lindung yang terintegrasi dengan kegiatan ekowisata dan ilmu pengetahuan. c. Teluk Lamong. Unit Pengembangan VI Tunjungan dan Unit Pengembangan VII Wonokromo. sesuai klasifikasi kawasan. mengembangkan sistem pintu air laut pada area lintasan air laut. berada di sekitar Kali Lamong. penetapan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan dilakukan melalui upaya konservasi dan melarang peralihan wujud dan bentuk bangunan dan lingkungan. b. Pantai berhutan mangrove dikembangkan pada Sempadan pantai di wilayah utara. b. mengembangkan sistem peringatan dini di kawasan rawan banjir. (3) Upaya pengelolaan kawasan rawan bencana banjir. saluran diversi Gunung Sari dan kawasan pantai timur Surabaya. (4) Kawasan rawan kebakaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi : . melindungi kawasan kota lama Surabaya. rawan banjir. Pasal 43 (1) Kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf e. timur dan sekitar jembatan Suramadu. (2) Kawasan rawan banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. c. meliputi : a. b. rawan kebakaran.36 Pasal 42 (1) Kawasan suaka alam dan cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf d meliputi: a. b. meliputi : a. (3) Upaya pengelolaan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan melalui: a.

Rencana Kawasan Perumahan. b. Kecamatan Tambaksari dan Kecamatan Sawahan. Kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi pada Kecamatan Tegalsari. Kecamatan Wonokromo dan Kecamatan Sukomanunggal. penataan kepadatan bangunan sesuai fungsi ruang melalui pengaturan Koefisien Dasar Bangunan. b. penyediaan jalur dan ruang evakuasi pada sekitar kawasan rawan bencana kebakaran. Koefisien Lantai Bangunan. Kecamatan Semampir. tidak mengalihfungsikan brandgang. (2) Upaya pengelolaan Kawasan lindung wilayah laut dilakukan dengan memberikan perlindungan pada unit pengembangan wilayah laut terhadap kawasan terbangun kecuali untuk kepentingan penempatan jaringan utilitas dan fasilitas pelabuhan. Kecamatan Bubutan. c. Kecamatan Krembangan. Rencana Kawasan Budidaya Wilayah Darat. Pasal 44 Kawasan lindung wilayah laut merupakan kawasan lindung ekologis. Kecamatan Gubeng.37 a. Bagian Ketiga Rencana Kawasan Budidaya Pasal 46 Kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 meliputi : a. . d. pada kawasan estuari dan kawasan garis surut pantai di sekitar kawasan estuari. unit pengembangan wilayah laut III dan unit pengembangan wilayah laut IV. (5) Upaya pengelolaan kawasan rawan kebakaran meliputi : a. Kawasan dengan tingkat kerawanan sangat tinggi terdapat pada Kecamatan Simokerto. pemenuhan standar keamanan bangunan pada kawasan rawan bencana kebakaran. meliputi : 1. dan mengoptimalkan fungsi Pasal 45 (1) Kawasan lindung wilayah laut memiliki fungsi melindungi wilayah pantai terhadap kemungkinan terjadinya abrasi dan kerusakan ekosistem pesisir di wilayah laut pada unit pengembangan wilayah laut I. Garis Sempadan Bangunan dan Koefisien Dasar Hijau.

Kecamatan Simokerto. Kecamatan Jambangan. Kecamatan Tambaksari. Kecamatan Tegalsari. sedang dan rendah dilakukan secara proporsional pada setiap kawasan baru. 4. sedang dan rendah. Kecamatan Sawahan. dikembangkan berdasarkan kepadatannya meliputi perumahan kepadatan tinggi. . (3) Pengembangan perumahan kepadatan sedang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan pada Kecamatan Bulak. 8. 9. Kecamatan Bubutan. Kecamatan Wonocolo. Rencana Kawasan Penangkapan Ikan. Rencana Kawasan Penempatan Jaringan Utilitas. Kecamatan Dukuhpakis. 2. (5) Upaya pengembangan kawasan perumahan dilakukan melalui : a. Rencana Kawasan Pengembangan Pantai. (2) Pengembangan perumahan kepadatan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan pada Kecamatan Pabean Cantian. Kecamatan Lakarsantri. Kecamatan Gunung Anyar. (4) Pengembangan perumahan kepadatan rendah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan pada: Kecamatan Pakal. meliputi : 1. 3. Rencana kawasan Budidaya Wilayah Laut. Rencana Kawasan Ruang Terbuka Non Hijau. Kecamatan Kenjeran. Kecamatan Tenggilis Mejoyo. Kecamatan Benowo. Kecamatan Tandes. 3. Kecamatan Krembangan. meningkatkan kualitas perumahan yang sudah ada. Kecamatan Sukolilo dan Kecamatan Mulyorejo. 6. Rencana Kawasan Ruang Evakuasi Bencana. Kecamatan Gayungsari. Kecamatan Asemrowo. Kecamatan Genteng. 5. b. Kecamatan Sambikerep. Kecamatan Gubeng. Kecamatan Karangpilang dan Kecamatan Wiyung. Rencana Kawasan Pariwisata. pengembangan perumahan kepadatan tinggi. Rencana Kawasan Perdagangan dan Jasa. Kecamatan Sukomanunggal. b. dan Kecamatan Wonokromo.38 2. Rencana Kawasan Perkantoran. Rencana Kawasan Peruntukan Lainnya. Rencana Kawasan Kegiatan Usaha Sektor Informal. Rencana Kawasan Industri. 7. Pasal 47 (1) Kawasan perumahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf a angka 1. Kecamatan Rungkut.

lingkar dalam barat. tersebar di seluruh wilayah Kota Surabaya dan diarahkan pada pusat-pusat permukiman kota. f. Darmawangsa. (3) Skala pelayanan perdagangan dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). meliputi perbelanjaan tingkat unit lingkungan yang tersebar di seluruh wilayah. Mulyosari. Kertajaya. mengembangkan perumahan vertikal secara intensif yang dilakukan secara terpadu dengan lingkungan sekitarnya pada kawasan perumahan baru.R. . Jl. Jl. pada masing-masing pusat Unit b. Ahmad Yani. Unit Pengembangan dan lingkungan. regional dan kota. (5) Pengembangan pusat perbelanjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). Jl. c. meliputi pasar tradisional. meningkatkan peran masyarakat/pengembang untuk memenuhi kewajiban dalam penyediaan dan/atau penyerahan prasarana. jalan lingkar luar barat. pusat perbelanjaan dan toko modern. penyediaan prasarana dan sarana perumahan.Pucang. (4) Pengembangan pasar tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dikembangkan berdasarkan jenis perdagangan dan jasa serta skala pelayanan. mengembangkan perumahan baru yang dilengkapi dengan penyediaan prasarana. Jl. meliputi : a. Jl. meliputi skala pelayanan nasional dan internasional. Kalianak.39 c. Muhammad. kawasan padat hunian dan pusat – pusat pelayanan kota. Kutisari. Pasal 48 (1) Kawasan perdagangan dan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf a angka 2. sarana dan utilitas umum kepada Pemerintah Daerah. (2) Jenis pelayanan perdagangan dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). H. peremajaan kawasan dan perbaikan kampung. Ngagel . Mayjend Sungkono. (6) Pengembangan toko modern sebagaimana dimaksud pada ayat (2). e. Jl. pengembangan secara koridor pada sepanjang Jl. pengembangan di kawasan Segiempat Emas Tunjungan dan Segidelapan Darmo. pengembangan Pengembangan. sarana dan utilitas umum yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah. meningkatkan kualitas perkampungan secara terpadu secara fisik maupun sosial ekonomi melalui perbaikan lingkungan. d. Jl. Jl.

utilitas umum. mengembangan kawasan mixed use (perdagangan dan jasa. Pahlawan. pedagang informal dan fasilitas sosial pada kawasan perdagangan terpadu diatur dalam peraturan tersendiri. Praban.40 (7) Pengembangan perdagangan dan jasa yang menyatu dengan prasarana transportasi. Kapas Krampung. b. c. perkantoran dan pergudangan) pada kawasan kota tepi pantai (Waterfront City) di Teluk Lamong. Tunjungan dan di wilayah Unit Pengembangan V Tanjung Perak yaitu di kawasan Jalan Perak Barat dan Timur. mengembangkan pusat perbelanjaan yang terpadu dengan pusat jasa. utilitas umum. Pasar Turi. (9) Pengembangan perdagangan dan jasa skala regional dan kota sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) meliputi pusat pengembangan di Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangun. melakukan pengembangan dan revitalisasi Pasar Tradisional.dan f. (11) Pengembangan melalui : kawasan perdagangan dan jasa dilakukan a. Embong Malang. jasa menyatu dengan (8) Pengembangan perdagangan dan jasa skala internasional dan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan secara terintegrasi melalui pengembangan kawasan Segiempat Emas Surabaya yang meliputi : Unit Pengembangan VI Tunjungan yaitu di kawasan Basuki Rahmat. mengembangkan kawasan perdagangan dan jasa secara terpadu dengan penyediaan lahan bagi pedagang informal dan dengan kawasan budidaya. melalui konsep wisata belanja. mengembangkan kawasan perdagangan terpadu dengan pemenuhan kewajiban pengembang/pelaksana dalam penyediaan prasarana lingkungan. e. meliputi : a. Blauran. (12) Pengaturan mengenai penempatan toko modern dan penyediaan prasarana lingkungan. Unit Pengembangan VIII Satelit. antara lain pada peruntukan pelayanan umum dan ruang terbuka hijau dan non hijau. pengembangan perdagangan dan terminal. Ruang Terbuka Hijau. (10) Pengembangan perdagangan dan jasa skala Unit Pengembangan dan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) tersebar pada setiap pusat Unit Pengembangan dan pusat lingkungan perumahan. b. pengembangan perdagangan dan jasa menyatu dengan stasiun Kereta Api. Jalan Jembatan Merah dan Jalan Kembang Jepun. Bubutan. . d. mengembangkan perdagangan dan jasa di sepanjang jalan baru dengan sistem blok. dan Unit Pengembangan II Kertajaya. ruang sektor informal dan fasilitas sosial. Ruang Terbuka Hijau.

meliputi industri rumah tangga. Kawasan perkantoran pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. Indrapura. Pasal 50 (1) Kawasan peruntukan industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf a angka 4. Menganti. Pengembangan industri rumah tangga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berada pada kawasan perumahan yang telah berkembang. kawasan industri dan zona industri.41 Pasal 49 (1) Kawasan perkantoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf a angka 3. fasilitas umum pada satu komplek atau satu bangunan. kawasan perkantoran pemerintah propinsi Jawa Timur meliputi Unit Pengembangan V Tanjung Perak di sekitar Tugu Pahlawan serta di wilayah Unit Pengembangan IX Achmad Yani yaitu di Jl. Rungkut (SIER) di Unit b. pengembangan kawasan multi fungsi antara perkantoran.Gayung Kebonsari. Yos Sudarso dan Jl. pengembangan secara koridor sepanjang jalan utama kota. pengembangan pada pusat pelayanan kota dan sub kota menyatu dengan perdagangan dan fasilitas sosial lain. Surabaya Industrial Estate Pengembangan I Rungkut. b. dikembangkan berdasarkan jenis pengembangan. meliputi Unit Pengembangan X Wiyung di sekitar Jl. .Taman Surya. dan c. (3) Kawasan perkantoran swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. b. serta kecamatan dan kelurahan yang tersebar pada setiap pusat kegiatan dan pelayanan masyarakat di tingkat Kecamatan dan Kelurahan. dikembangkan berdasarkan jenis pelayanan perkantoran pemerintah dan swasta. c. Unit Pengembangan V Tanjung Perak di sekitar Jl. kawasan perkantoran pemerintah Kota Surabaya meliputi : wilayah Unit Pengembangan VI Tunjungan di sekitar Jl. perdagangan dan jasa. kawasan perkantoran pemerintah. Kawasan Margomulyo di Unit Pengembangan XI Tambak Osowilangon. (2) (2) (3) Kawasan industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a.

menyediakan prasarana lingkungan. c. Kawasan Tanjungsadari di Unit Pengembangan VIII Satelit.42 (4) Zona industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. Pasal 51 (1) Kawasan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf a angka 5. Monumen Kapal Selam Balai Pemuda dan Gedung Kebudayaan Cak Durasim di Unit Pengembangan VI Tunjungan. d. Kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. Kawasan Makam Wonokromo. Kawasan Masjid Al Akbar di Unit Pengembangan IX Ahmad Yani. meliputi : a. pariwisata alam dan pariwisata buatan. Kawasan wisata situs Sumur Welut di Unit Pengembangan X Wiyung. b. c. menyediakan kawasan penyangga (buffer zone) industri berupa penyediaan Ruang Terbuka Hijau dengan tanaman tegakan tinggi dan berkanopi lebar. Kawasan Karangpilang di Unit Pengembangan X Wiyung. utilitas umum. . (5) Pengembangan kawasan peruntukan industri meliputi : a. merelokasi secara bertahap lokasi-lokasi industri terpisah (individual) yang tidak berada pada kawasan peruntukan industri dan berpotensi mencemari lingkungan dan menimbulkan gangguan sosial pada kawasan bukan peruntukan industri. dikembangkan berdasarkan jenis pengembangan. e. Kawasan Kalianak di Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangun. d. c. mengintegrasikan pembangunan IPAL untuk kawasan industri besar dan menyediakan IPAL komunal bagi industri rumah tangga. d. (2) Pengembangan kawasan pariwisata dimaksud pada ayat (1). bangunan perumahan untuk pekerja dan fasilitas sosial pada kawasan peruntukan industri. meliputi pariwisata budaya. Kawasan Masjid Ampel dan sekitarnya di Unit Pengembangan V Tanjung Perak. b. Bungkul di budaya sebagaimana VII Unit Pengembangan b. Kawasan Kalirungkut dan kawasan Kedung Baruk di Unit Pengembangan I Rungkut.

Kawasan kota lama Surabaya meliputi Unit Pengembangan V Tanjung Perak di Jalan Kalimas . menjadikan Kota Surabaya sebagai salah satu tujuan wisatawan nusantara dan mancanegara melalui penyelenggaraan event wisata yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana pariwisata skala internasional. Jalan Kembang Jepun. d. Taman rekreasi. meliputi : buatan sebagaimana a. Jalan Karet dan sekitarnya dan Unit Pengembangan VI Tunjungan di sekitar Tugu Pahlawan. Jalan Veteran. event-event wisata. (5) Upaya pengembangan kawasan pariwisata. Kawasan Mulyosari dan Kawasan Kertajaya di Unit Pengembangan II Kertajaya. kawasan Kraton. Praban.43 f. c. Baliwerti. b. Wisata kuliner. melindungi wisata budaya. meliputi taman – taman aktif yang tersebar di seluruh wilayah Kota Surabaya. Wisata belanja. d. Kepatihan. wisata bahari/pantai di Unit Pengembangan III Tambak Wedi yaitu di kawasan Kenjeran dan sekitar Jembatan Suramadu. b. wisata alam pesisir Pantai Timur Surabaya di Unit Pengembangan I Rungkut dan Unit Pengembangan II Kertajaya. meliputi : a. Jalan Kyai Mas Mansur Jalan Panggung. Jalan Rajawali. b. Kawatan. akomodasi wisata dan kemasan wisata sebagai satu kesatuan city tour. Kawasan Raya Gubeng di Unit Pengembangan IV Darmahusada. . (4) Pengembangan kawasan pariwisata dimaksud pada ayat (1). wisata satwa Kawasan Kebun Binatang Surabaya di Unit Pengembangan VII Wonokromo dan taman satwa di Unit Pengembangan II Kertajaya. wisata pertanian (agrowisata) untuk pusat penelitian dan pengembangan pertanian perkotaan dan budidaya pertanian di Unit Pengembangan X Wiyung dan Unit Pengembangan XII Sambikerep. (3) Pengembangan kawasan pariwisata alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. Wisata kota melalui sungai di Kali Mas. antara lain kawasan Segiempat Emas dan Segidelapan Darmo yang terintegrasi dengan fungsi perdagangan dan jasa. Jalan Tunjungan. mengembangkan pariwisata secara terintegrasi antara obyek wisata. meliputi : a. c. Peneleh. antara lain Pasar Blauran dan kawasan Embong Blimbing di Unit Pengembangan VI Tunjungan. Jalan Pemuda dan Jalan Raya Darmo.kawasan Jembatan Merah. heritage dan religi baik obyek maupun kegiatannya sebagai salah satu tujuan utama wisata kota.

(3) Pengelolaan kawasan Ruang Terbuka non Hijau meliputi : a. lapangan olahraga. menyediakan hidran pada setiap lingkungan dan sumur kebakaran atau reservoir air dan sebagainya yang memudahkan instansi pemadam kebakaran untuk menggunakannya. tempat bermain dan rekreasi. Pasal 52 (1) Kawasan ruang terbuka non hijau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf a angka 6. perdagangan dan jasa maupun fasilitas umum lainnya).44 d. b. meliputi pelataran parkir bangunan (bangunan pemerintahan. b. lapangan. Ruang terbuka meliputi taman. mengembangkan kualitas lingkungan obyek wisata yang nyaman. b. penyediaan dan penataan Ruang Terbuka non Hijau. meliputi ruang terbuka atau ruang lainnya yang dapat berfungsi sebagai melting point. mempertahankan proporsi antara ketinggian bangunan dengan jarak antar bangunan yang nyaman untuk digunakan. halaman atau pekarangan fasilitas umum dan sosial di sekitar kawasan rawan bencana kebakaran. meningkatkan kualitas lingkungan dengan menyediakan perabot jalan dan penyediaan tanaman untuk meningkatkan. pembatas dan median jalan serta koridor antar bangunan. e. Pasal 53 (1) Kawasan ruang evakuasi bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf a angka 7. tersedia sarana komunikasi umum yang siap pakai. (2) Kawasan ruang evakuasi bencana untuk bencana kebakaran dan banjir rob. . melestarikan lingkungan alam pantai dan satwa sebagai asset wisata dan pengembangan pertanian di perkotaan melalui berbagai media dalam skala besar sebagai penarik wisata lingkungan kota. (3) Pengelolaan kawasan ruang evakuasi bencana meliputi : a. (2) Kawasan Ruang Terbuka non Hijau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tersebar di seluruh wilayah Kota Surabaya. meliputi : a. c. parkir. Surabaya Sport Centre di Unit Pengembangan Sambikerep sebagai tempat penampungan evakuasi bencana banjir rob.

terminal dan taman-taman kota yang tersebar di seluruh wilayah Kota Surabaya. meliputi : a. d. Unit Pengembangan X Wiyung. rencana pengembangan sarana pendidikan pra sekolah. rencana pengembangan sarana pendidikan dasar. e. b. meliputi sentralisasi dan penataan Pedagang Kaki Lima. Pasal 56 (1) Rencana peruntukan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 huruf a. (2) Pengembangan sentralisasi dan penataan Pedagang Kaki Lima sebagaimana dimaksud pada ayat (1). perdagangan dan jasa. Rencana kawasan militer. terminal dan tamantaman kota yang tersebar di seluruh wilayah Kota Surabaya.45 Pasal 54 (1) Kawasan peruntukan ruang bagi kegiatan usaha sektor informal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf a angka 8. Pasal 55 Kawasan Peruntukan Lainnya sebagaimana Pasal 46 huruf a angka 9. sentralisasi dan penataan Pedagang Kaki Lima pada kawasan budidaya antara lain pada peruntukan perkantoran. meliputi : a. Rencana peruntukan pendidikan. sentralisasi Pedagang Kaki Lima kawasan Rusunawa di Unit Pengembangan I Rungkut. b. (3) Upaya pengelolaan kawasan peruntukan ruang bagi kegiatan usaha sektor informal meliputi : a. Unit Pengembangan V Tanjung Perak. Unit Pengembangan III Tambakwedi. pelayanan umum. Unit Pengembangan IX Ahmad Yani. Rencana kawasan pelabuhan. melakukan penataan kawasan peruntukan sektor informal melalui pembangunan sentra Pedagang Kaki Lima yang memperhatikan nilai estetika lingkungan. b. pelayanan umum. c. c. meliputi : a. Rencana peruntukan kesehatan. mengembangkan sentra Pedagang Kaki Lima dengan konsep wisata kuliner yang terintegrasi dengan kawasan budidaya antara lain pada peruntukan perkantoran. dimaksud dalam . b. Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangun. Rencana peruntukan peribadatan. perdagangan dan jasa. menyediakan sarana prasarana pendukung di kawasan peruntukan sektor informal. Unit Pengembangan VI Tunjungan.

b. c. Unit Pengembangan II Kertajaya. Unit Pengembangan IX Ahmad Yani. meningkatkan pelayanan kesehatan dengan pendistribusian sarana kesehatan secara berhierarki di setiap Unit Pengembangan. dasar dan menengah di tiap Unit Pengembangan. balai pengobatan dan sarana kesehatan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tersebar di seluruh wilayah kota berdasarkan skala pelayanannya dengan memperhatikan fungsi. huruf b dan huruf c tersebar sesuai dengan tingkat dan lingkup pelayanannya. puskesmas pembantu. melalui peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan secara menyeluruh. Unit Pengembangan IV Dharmahusada. (3) Upaya pengembangan sarana kesehatan meliputi : a. (2) Pengembangan sarana pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Pasal 57 (1) Rencana peruntukan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 huruf b. Unit Pengembangan III Tambak Wedi. b. dan Unit Pengembangan X Wiyung. rencana pengembangan sarana balai pengobatan dan sarana kesehatan lainnya. letak. rencana pengembangan sarana puskesmas pembantu. (3) Pengembangan sarana pendidikan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d berada di Unit Pengembangan I Rungkut. meningkatkan ketersediaan jumlah sarana pendidikan di seluruh tingkatan sarana pendidikan. puskesmas. (4) Upaya pengembangan sarana pendidikan. melakukan pemeliharaan sarana prasarana secara rutin di seluruh tingkatan sarana pendidikan. rencana pengembangan sarana rumah sakit. mengembangkan sarana kesehatan bertaraf internasional. rencana pengembangan sarana puskesmas. c. dan d. meliputi : a. rencana pengembangan sarana pendidikan tinggi. . meningkatkan penyebaran prasarana pendidikan pra sekolah. mengembangkan sarana kesehatan yang telah ada dengan peningkatan mutu pelayanan kesehatan baik pelayanan dasar maupun spesialistik. c. dan d.46 c. (2) Pengembangan sarana rumah sakit. meliputi : a. b. rencana pengembangan sarana pendidikan menengah. aksesibilitas dan daya dukung lingkungan.

Unit Pengembangan VIII Satelit dan Unit Pengembangan X Wiyung. b. mengembangkan fasilitas peribadatan pada tiap kawasan budidaya antara lain pada peruntukan kawasan perdagangan dan jasa. rencana pengembangan pelatihan tempur. kawasan perkantoran dan kawasan pelayanan umum sesuai kebutuhan masyarakat. meliputi : a. b. gudang senjata. . b. (2) Upaya pengembangan fasilitas dimaksud pada ayat (1) melalui : peribadatan sebagaimana a. merupakan rencana pengembangan untuk seluruh fasilitas peribadatan di Kota Surabaya. dan latihan tempur terhadap kawasan budidaya.47 Pasal 58 (1) Rencana peruntukan peribadatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 huruf c. rencana pengembangan fasilitas pendidikan militer. Pasal 59 (1) Rencana kawasan militer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 huruf d. rencana pengembangan perlengkapan/industri militer. rencana pengembangan kawasan perumahan militer. (2) Upaya pengembangan fasilitas pendidikan militer sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berada di Unit Pengembangan V Tanjung Perak. d. membatasi kawasan militer untuk kawasan budidaya yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kawasan militer. c. mengembangkan fasilitas peribadatan secara merata pada setiap lingkungan perumahan sesuai kebutuhan masyarakat. (4) Upaya pengembangan perlengkapan/industri militer sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d di Unit Pengembangan V Tanjung Perak. (3) Upaya pengembangan kawasan pelatihan tempur dan perumahan militer sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c berada di Unit Pengembangan VII Wonokromo. membatasi akses kawasan militer dari jalur lalu lintas umum. c. memberikan radius aman bagi kegiatan militer yang berhubungan dengan penyimpanan mesiu. (5) Upaya pengelolaan kawasan militer meliputi : a.

tempat pelelangan ikan dan tempat pengolahan ikan. pengembangan pelabuhan Tanjung Perak dan Teluk Lamong secara terintegrasi dengan pelabuhan sekitarnya. b. b. c. (2) Upaya pengelolaan kawasan penangkapan ikan meliputi : a. menyediakan kelengkapan sarana dan prasarana penangkapan ikan berupa tambatan perahu. c. memasang keramba di kawasan penangkapan ikan dilakukan dengan tidak mengganggu alur pelayaran. mengembangkan pariwisata. unit pengembangan wilayah laut III dan unit pengembangan wilayah laut IV. dan c. rencana pengembangan pelabuhan penyeberangan. Pasal 62 (1) Rencana kawasan penempatan jaringan utilitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf b angka 2 berada di unit pengembangan wilayah laut II dan unit pengembangan wilayah laut III. (3) Upaya pengelolaan kawasan pelabuhan meliputi : a. mengembangkan pelabuhan perikanan di unit pengembangan wilayah laut I. Pasal 61 (1) Rencana kawasan penangkapan ikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf b angka 1 berada di unit pengembangan wilayah laut I. membatasi kegiatan pelabuhan untuk kawasan budidaya yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kepentingan pelabuhan. dan jalur Kereta Api. b. rencana pengembangan pelabuhan militer. meliputi : a.48 Pasal 60 (1) Rencana kawasan pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 huruf e. pelabuhan sebagai fungsi penunjang d. (2) Rencana pengembangan pelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada di Unit Pengembangan V Tanjung Perak dan dikembangkan sebagai satu kesatuan sistem dengan Pelabuhan Teluk Lamong. depo Bahan Bakar Minyak. mengoptimalkan kelengkapan pelabuhan internasional antara lain terminal peti kemas. rencana pengembangan pelabuhan laut. .

b. penetapan kawasan strategis berdasarkan aspek ekonomi. (2) Upaya pengelolaan kawasan pengembangan pantai melalui reklamasi di unit pengembangan wilayah laut I dan unit pengembangan wilayah laut III yang diperuntukkan bagi pengembangan kegiatan daya tarik investasi dan nilai ekonomi yang tinggi. BAB VI PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS KOTA Pasal 64 Rencana penetapan kawasan strategis Kota Surabaya meliputi: a. sosial budaya. Kawasan Pergudangan dan Industri Margomulyo di Kecamatan Asemrowo dan Kecamatan Benowo berada di Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangun. Pasal 65 (1) Kawasan strategis untuk meliputi kepentingan pertumbuhan ekonomi. jaringan pipa gas dan jaringan air. Kawasan Kota Tepi Pantai (Waterfront City) di Kecamatan Asemrowo dan Kecamatan Benowo berada di Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangun.49 (2) Upaya pengelolaan meliputi : kawasan penempatan jaringan utilitas a. . pengembangan dan/atau pembatasan fungsi kawasan strategis sesuai dengan peruntukannya dalam skala kota dan regional. fungsi dan daya dukung lingkungan hidup. a. dan teknologi tinggi. b. Pasal 63 (1) Rencana kawasan pengembangan pantai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf b angka 3 berada di unit pengembangan wilayah laut I dan unit pengembangan wilayah laut III. (3) Kegiatan reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan rencana tata ruang dan Peraturan Perundangan yang berlaku. mendukung penyediaan rambu bagi keamanan jaringan utilitas yang melintasi unit pengembangan wilayah laut II dan unit pengembangan wilayah laut III. mendukung penyediaan untuk jaringan listrik bawah laut. b.

Kecamatan Semampir dan Kecamatan Bubutan berada di Unit Pengembangan V Tanjung Perak dan Unit Pengembangan VI Tunjungan. c. Kawasan Kaki Jembatan Wilayah Suramadu-Pantai Kenjeran di Kecamatan Bulak berada di Unit Pengembangan III Tambak Wedi. secara terpadu sebagai salah satu ikon Surabaya. meliputi : a. (2) Pengembangan dan/atau pembatasan fungsi berdasarkan aspek sosial budaya. b. meliputi : kawasan strategis perumahan a. Kawasan Terpadu Surabaya Barat di Kecamatan Pakal di Unit Pengembangan XII Sambikerep dan Benowo di Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangun. perkantoran. d. b. mengembangkan dan mengendalikan kawasan industri yang ramah lingkungan setidaknya dilengkapi dengan perumahan. dan perdagangan dan jasa. b. d. melestarikan kawasan kota lama yang berfungsi sebagai pariwisata budaya. c. (2) Pengembangan dan/atau pembatasan fungsi kawasan strategis berdasarkan aspek ekonomi. Kawasan Kota Lama Surabaya di Kecamatan Krembangan. Pasal 66 (1) Kawasan strategis untuk kepentingan sosial budaya meliputi : a. . Kawasan Makam Sunan Ampel di Kecamatan Semampir berada di Unit Pengembangan V Tanjung Perak. mengembangkan kawasan olahraga terpadu. e. perdagangan-jasa. pengolahan limbah. mengembangkan kawasan terpadu antara perdagangan-jasa dan perumahan dan pariwisata yang terintegrasi dengan pelabuhan dan kawasan lindung. Kawasan Segiempat Emas Tunjungan dan sekitarnya di Kecamatan Bubutan berada di Unit Pengembangan VI Tunjungan. Kecamatan Pabean Cantian. mengembangkan pusat perdagangan dan jasa dalam skala besar yang berfungsi sebagai wisata belanja. Bangunan dan lingkungan pada kawasan Darmo-Diponegoro serta kawasan kampung lama Tunjungan di Kecamatan Tegalsari berada di Unit Pengembangan VI Tunjungan. melestarikan bangunan yang termasuk sebagai bangunan cagar budaya yang berfungsi sebagai pariwisata budaya yang dilengkapi dengan sentra PKL. perdagangan-jasa dan perumahan sebagai embrio pusat pertumbuhan di Surabaya Barat. mengembangkan pariwisata.50 c. dan e.

pengembangan teknologi pengolahan sampah sebagai penghasil energi pada Tempat Pemrosesan Akhir Benowo di Kecamatan Benowo berada di Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangun. Kecamatan Rungkut. Kecamatan Wonocolo. dan Unit Pengembangan X Wiyung. melestarikan bangunan dan lingkungan cagar budaya yang berfungsi sebagai pariwisata budaya dan membatasi perkembangan kegiatan perdagangan dan jasa yang berpotensi merubah tampilan bangunan dan lingkungan. Kecamatan Sukolilo. Kecamatan Gayungan. Kecamatan Dukuh Pakis dan Kecamatan Wonokromo berada di Unit Pengembangan VII Wonokromo. meliputi : a. kawasan sekitar Kali Surabaya di Kecamatan Karangpilang. Kecamatan Wiyung. Kecamatan Jambangan. Kecamatan Sukolilo dan Kecamatan Mulyorejo. Unit Pengembangan IX Ahmad Yani. b. fungsi berbasis kawasan maritim strategis dengan b. mengembangkan kawasan industri menggunakan teknologi tinggi. Kecamatan Tenggilis Mejoyo dan Kecamatan Rungkut berada di Unit Pengembangan I Rungkut. kawasan Pantai Timur Surabaya dan sekitar Kali Lamong di Kecamatan Gunung Anyar. Unit Pengembangan I Rungkut dan Unit Pengembangan Sambikerep XII dan Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangun. Pasal 68 (1) Kawasan strategis untuk kepentingan penyelamatan lingkungan hidup meliputi : a. kawasan sekitar Kali Wonokromo di Kecamatan Wonokromo. dan c. c. Unit Pengembangan VIII Satelit.51 c. c. Unit Pengembangan IV Dharmahusada. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) . Kawasan Industri Pengembangan Perkapalan di Kecamatan Pabean Cantian berada di Unit Pengembangan V Tanjung Perak. Unit Pengembangan VII Wonokromo dan Unit Pengembangan IX Ahmad Yani. Kecamatan Pakal dan Kecamatan Benowo berada di Unit Pengembangan II Kertajaya. Kecamatan Gubeng. Unit Pengembangan II Kertajaya. Kawasan industri/Industrial Estate di Kecamatan Rungkut berada di Unit Pengembangan I Rungkut. mengembangkan kawasan industri berbasis teknologi informatika dan elektronik. (2) Pengembangan dan/atau pembatasan berdasarkan teknologi tinggi. mengembangkan kawasan sebagai penghasil energi. b. Pasal 67 (1) Kawasan strategis untuk kepentingan teknologi tinggi meliputi : a.

52

d. kawasan sekitar Kalimas di Kecamatan Wonokromo, Kecamatan Tegalsari, Kecamatan Gubeng, Kecamatan Genteng, Kecamatan Bubutan, Kecamatan Krembangan, Kecamatan Semampir dan Kecamatan Pabean Cantian berada di Unit Pengembangan IV Dharmahusada, Unit Pengembangan V Tanjung Perak, Unit Pengembangan VI Tunjungan dan Unit Pengembangan VII Wonokromo; e. kawasan sekitar Kali makmur di Kecamatan Wiyung berada di Unit Pengembangan X Wiyung; f. Kawasan Kebun Binatang Surabaya di Kecamatan Wonokromo berada di Unit Pengembangan VII Wonokromo. (2) Pengembangan dan/atau pembatasan fungsi kawasan strategis berdasarkan aspek fungsi dan daya dukung lingkungan hidup, meliputi: a. mengembangkan dan melestarikan ekosistem pantai dan pesisir kawasan pantai timur dan sekitar kali lamong sebagai kawasan lindung dan melarang adanya kawasan terbangun; b. melindungi kawasan sempadan saluran utama kota yang berfungsi sebagai sistem drainase kota, pariwisata dan transportasi air; dan c. melindungi satwa dan ekosistemnya sebagai salah satu hutan kota.

BAB VII ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH Bagian Kesatu Umum Pasal 69 (1) Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan indikasi program pemanfaatan ruang utama beserta pembiayaannya. (2) Pemanfaatan ruang mengacu pada rencana struktur dan rencana pola ruang, ketersediaan sumber daya dan sumber daya pendanaan serta prioritas pengembangan wilayah. Bagian Kedua Pemanfaatan Ruang Wilayah Paragraf 1 Perumusan Kebijakan Strategis Operasionalisasi Pasal 70 (3) Koordinasi penataan ruang dilaksanakan oleh Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah. (4) Pembentukan Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah.

53

Pasal 71 Penataan ruang dilaksanakan secara terus menerus dan sinergis antara perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.

Paragraf 2 Prioritas dan Tahapan Pembangunan Pasal 72 (1) Prioritas pelaksanaan pembangunan disusun berdasarkan atas kemampuan pembiayaan dan kegiatan yang mempunyai nilai strategis sesuai arahan umum pembangunan daerah. (2) Pelaksanaan pembangunan berdasarkan tata ruang dilaksanakan selama 20 (dua puluh) tahun dan dibagi menjadi 4 (empat) tahap. (3) Tahapan pelaksanaan pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan dalam kurun waktu 5 (lima) tahun setiap tahapnya dengan pentahapan sebagaimana tercantum dalam Lampiran III dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

BAB VIII KETENTUAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG Bagian Kesatu Umum Pasal 73 Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang meliputi : a. ketentuan umum peraturan zonasi; b. ketentuan perizinan; c. ketentuan pemberian insentif dan disinsentif; dan d. arahan sanksi.

Bagian Kedua Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Pasal 74 (1) Ketentuan umum Peraturan Zonasi yang diatur dalam Peraturan Daerah ini menjadi pedoman bagi penyusunan peraturan zonasi. (2) Ketentuan umum Peraturan Zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Struktur Ruang; dan

54

b. Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Pola Ruang. Pasal 75 (1) Ketentuan umum Peraturan Zonasi Struktur Ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (2) huruf a meliputi: a. Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Sistem Pusat Pelayanan; dan b. Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Sistem Prasarana Wilayah. (2) Ketentuan umum Peraturan Zonasi Pola Ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (2) huruf b meliputi: a. Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Lindung; dan b. Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Budidaya.

Paragraf 1 Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Struktur Ruang

Alinea 1 Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Sistem Pusat Pelayanan Pasal 76 (1) Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Sistem Pusat Pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 5 a y a t ( 1 ) h u r u f a , meliputi : a. ketentuan umum peraturan zonasi untuk pusat pelayanan nasional dan internasional; b. ketentuan umum peraturan zonasi untuk pusat pelayanan kota dan regional; c. ketentuan umum peraturan zonasi untuk pusat sub kota dan Unit Pengembangan; d. ketentuan umum peraturan zonasi untuk unit pengembangan wilayah laut. (2) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pusat pelayanan nasional dan internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, berisi ketentuan mengenai : a . pemanfaatan ruang utama untuk kegiatan ekonomi meliputi fasilitas perdagangan dan jasa yang berskala nasional dan internasional; b . penyediaan sistem prasarana wilayah kota berskala nasional dan internasional; c . pembatasan pengembangan kawasan perumahan, industri serta perdagangan dan jasa berskala pelayanan kecil;

. pembatasan kegiatan reklamasi pada unit pengembangan wilayah laut I dan unit pengembangan wilayah laut III yang bertujuan agar tidak melampaui daya dukung lingkungan. pendidikan. berisi ketentuan mengenai : a. pembatasan pengembangan kawasan perumahan dan industri. b. pemanfaatan ruang untuk bangunan vertikal dengan intensitas menengah sampai dengan tinggi disertai penyediaan ruang terbuka hijau sesuai dengan kebutuhan. b. kesehatan dan pariwisata. jaringan telekomunikasi dan jaringan infrastruktur kota yang terpadu. pariwisata dan kawasan lindung. pembatasan pengembangan kawasan perdagangan dan jasa berskala pelayanan kecil. perumahan dan industri. pemanfaatan ruang untuk kegiatan pemerintahan. (4) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pusat sub kota dan unit pengembangan.55 d . d. (5) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk unit pengembangan wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d. industri perkapalan. berisi ketentuan mengenai : a. penyediaan sistem jaringan transportasi. c . perikanan. pemanfaatan ruang untuk bangunan vertikal dengan intensitas rendah sampai dengan menengah disertai penyediaan ruang terbuka hijau sesuai dengan kebutuhan. jaringan energi. pemanfaatan ruang untuk kegiatan budidaya perikanan pada unit pengembangan wilayah laut III dan unit pengembangan wilayah laut IV. militer. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. c. d . b . pemanfaatan ruang untuk kegiatan perdagangan dan jasa. c . kesehatan dan pariwisata. jaringan energi. kegiatan pariwisata pada unit pengembangan wilayah laut I dan unit pengembangan wilayah laut III tidak boleh mengganggu alur pelayaran dan harus memperhatikan daya dukung lingkungan. penyediaan sistem jaringan transportasi. berisi ketentuan mengenai: a . pemanfaatan ruang untuk kegiatan pelayaran. penyediaan sistem jaringan transportasi laut dan jaringan utilitas bawah laut. d . (3) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pusat pelayanan kota dan regional sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf b. pemanfaatan ruang untuk bangunan vertikal dengan intensitas yang tinggi disertai penyediaan ruang terbuka hijau sesuai dengan kebutuhan. perdagangan dan jasa. jaringan telekomunikasi dan jaringan infrastruktur kota yang terpadu.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk prasarana jaringan jalan lokal. ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan transportasi. dan g. ketentuan umum telekomunikasi. d. ketentuan umum peraturan zonasi untuk prasarana jaringan jalan bebas hambatan. ketentuan umum peraturan zonasi untuk prasarana transportasi udara. b. meliputi : a. e. c. b. ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan prasarana sumber daya air. . ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan energi. f. pemanfaatan ruang di sekitar jalan bebas hambatan untuk kawasan sempadan berupa Ruang Terbuka Hijau. (2) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk prasarana jaringan jalan bebas hambatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berisi ketentuan mengenai : a. ketentuan umum peraturan zonasi untuk prasarana jaringan kereta api.56 Alinea 2 Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Sistem Prasarana Wilayah Pasal 77 Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Sistem Prasarana Wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 5 a y a t ( 1 ) h u r u f b . b. Pasal 78 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transportasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 huruf a meliputi : a. peraturan zonasi untuk sistem jaringan d. penyediaan pagar pembatas jalan bebas hambatan dan jalan inspeksi di luar pagar pembatas jalan bebas hambatan. ketentuan umum peraturan zonasi untuk prasarana jaringan jalan arteri. c. ketentuan umum peraturan zonasi untuk prasarana jaringan jalan kolektor. ketentuan umum peraturan zonasi untuk prasarana transportasi laut.

pelarangan alih fungsi sempadan jalan bebas hambatan. penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalan arteri yang memenuhi ketentuan ruang pengawasan jalan. perdagangan dan jasa. . dan peruntukan pelayanan umum dengan pengembangan akses masuk. berbagai d. industri kecil dan peruntukan pelayanan umum dengan pengembangan akses masuk. meliputi kegiatan permukiman. c. c .57 c. e. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan lokal dengan tingkat intensitas rendah hingga menengah. d. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan arteri untuk kegiatan utama perdagangan dan jasa. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan kolektor dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi. pembatasan kegiatan berskala lingkungan serta kegiatan yang berorientasi langsung pada jalan arteri. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan kolektor untuk kegiatan utama yang berskala kota. perdagangan dan jasa. pembatasan kegiatan budidaya di sepanjang sisi jalan bebas hambatan. meliputi kegiatan permukiman. (3) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan jalan arteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berisi ketentuan mengenai : a. b. d. (5) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan jalan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d berisi ketentuan mengenai : a. c . penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalan kolektor yang memenuhi ketentuan ruang pengawasan jalan. (4) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan jalan kolektor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c berisi ketentuan mengenai : a . pembatasan kegiatan skala kota dan regional. penyediaan jalur lambat untuk kegiatan berskala lingkungan. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan arteri dengan tingkat intensitas tinggi disertai penyediaan Ruang Terbuka Hijau sesuai dengan kebutuhan. pembatasan kegiatan berskala lingkungan yang berorientasi langsung pada jalan kolektor. perkantoran dan peruntukan pelayanan umum. b. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan lokal untuk kegiatan utama yang berskala lingkungan. b .

dan b. pemanfaatan ruang di sekitar daerah lingkungan kerja pelabuhan untuk kegiatan yang menunjang fungsi pelabuhan dan daerah lingkungan kepentingan pelabuhan untuk alur pelayaran. pembatasan pemanfaatan kegiatan budidaya perikanan dan reklamasi dengan memperhatikan alur pelayaran dan daya dukung lingkungan.58 d. pembatasan pemanfaatan jumlah perlintasan sebidang antara jaringan jalur kereta api dan jalan. (6) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan jalur kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e berisi ketentuan mengenai : a. . pemanfaatan ruang di luar kawasan sempadan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/ Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) untuk kawasan budidaya dan lindung sesuai peruntukannya. dan b. (8) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transportasi udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g berisi ketentuan mengenai : a. Pasal 79 Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 huruf b. (7) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f berisi ketentuan mengenai : a. dan c. b. penetapan sempadan jalur kereta api dengan memperhatikan dampak lingkungan dan kebutuhan pengembangan jaringan jalan kereta api. b. berisi ketentuan mengenai : a. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalur kereta api untuk ruang pengawasan jalur kereta api berupa ruang terbuka hijau. pembatasan tinggi dan intensitas bangunan pada kawasan keselamatan operasional penerbangan sesuai peraturan perundangan berlaku. penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalan lokal yang memenuhi ketentuan ruang pengawasan jalan. pemanfaatan ruang di kawasan keselamatan operasional penerbangan untuk kegiatan budidaya dan lindung. penyediaan bangunan pendukung untuk penunjang Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/ Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).

pembatasan jarak bangunan pada ruang di luar kawasan sempadan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/ Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). pemanfaatan ruang di luar kawasan sempadan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/ Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dengan tingkat intensitas rendah sampai dengan sedang. Pasal 81 Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 huruf d berisi ketentuan mengenai: a. pemanfaatan ruang di luar kawasan jaringan sempadan sumber daya air dengan intensitas rendah sampai dengan sedang. Pasal 80 Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 huruf c berisi ketentuan mengenai pemanfaatan ruang untuk penempatan menara pemancar telekomunikasi dengan memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan kegiatan pada kawasan disekitarnya. pemanfaatan ruang di luar kawasan jaringan sempadan sumber daya air untuk kawasan lindung dan budidaya sesuai dengan peruntukannya. d. Paragraf 2 Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Pola Ruang Alinea 1 Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Lindung Pasal 82 Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) huruf a meliputi : a. b. Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan perlindungan setempat. penyediaan sistem peresapan air di sekitar kawasan jaringan sempadan sumber daya air. c. d. . b.59 c. Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya. pembatasan kegiatan disekitar kawasan jaringan sempadan sumber daya air dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi lindung kawasan.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung wilayah laut. meliputi : a. pembatasan pendirian bangunan pada kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya hanya untuk : 1. Pasal 84 Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 huruf b. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sempadan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/ Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). c. dan 2. c. d. Pasal 83 Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 huruf a berisi ketentuan mengenai : a.60 c. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sempadan pantai. Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan rawan bencana. . d. penyediaan ruang terbuka hijau dan bangunan pelengkap untuk kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya. Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan suaka alam dan cagar budaya. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sempadan sungai. e. Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Ruang Terbuka Hijau kota. f. b. dan ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sempadan rel kereta api. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sempadan boozem/waduk/pond. bangunan untuk kelengkapan penunjang kawasan pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air. pemanfaatan ruang pada kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya dengan intensitas rendah. d. e. pemanfaatan ruang pada kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya untuk pengembangan hutan kota. bangunan untuk menunjang fungsi taman rekreasi maupun fasilitas pendukungnya. boozem/waduk/pond. b.

(2) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf b berisi ketentuan mengenai: a. penyediaan sistem pembatas sempadan pantai. d. pariwisata dan transportasi sungai. pembatasan kegiatan di luar kawasan sempadan sungai yang berpotensi mencemari sungai. penyediaan prasarana penunjang pengamanan dan pariwisata waduk/boezem. . c. d. pemanfaatan ruang di sekitar kawasan sempadan sungai dengan intensitas rendah. pemanfaatan ruang di sekitar kawasan sempadan sungai dengan intensitas sesuai peruntukan dan berdasarkan ketentuan yang berlaku. pemanfaatan ruang di kawasan sempadan waduk/boezem untuk ruang terbuka hijau dan/atau ruang terbuka non hijau. (3) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan waduk/boezem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf c berisi ketentuan mengenai : a. pemanfaatan ruang di kawasan sempadan sungai untuk ruang terbuka hijau dan/atau ruang terbuka non hijau. pemanfaatan ruang di sekitar kawasan sempadan pantai dengan intensitas rendah sampai dengan sedang. pembatasan kegiatan di luar kawasan sempadan pantai dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi lindung kawasan. c. penyediaan sistem pembatas sempadan dan prasarana penunjang pengamanan sungai. b. c. b. pembatasan kegiatan di luar kawasan sempadan boozem/waduk yang berpotensi mencemari waduk/boezem.61 Pasal 85 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan pantai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf a berisi ketentuan mengenai : a. b. prasarana penunjang kegiatan pariwisata dan konservasi seperti menara pengawas pantai. fasilitas wisata laut dan pos penjaga pantai. pemanfaatan ruang di kawasan sempadan pantai untuk ruang terbuka hijau dan/atau ruang terbuka non hijau dan kawasan hutan mangrove yang terintegrasi dengan peruntukan yang akan dikembangkan.d a n d.

c. pembatasan kegiatan di kawasan sempadan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/ Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) yang dapat membahayakan penggunanya. c. c. . pembatasan kegiatan di kawasan sempadan rel kereta api yang dapat membahayakan penggunanya. pembatasan kegiatan di kawasan ruang terbuka hijau yang berpotensi merusak keberadaan serta kelestarian ruang terbuka hijau. b. pemanfaatan ruang di kawasan sempadan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/ Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) untuk ruang terbuka hijau dan/atau ruang terbuka non hijau. penyediaan prasarana dan sarana sebagai pelengkap ruang terbuka hijau harus sesuai dengan kebutuhan. b. b. pemanfaatan ruang di kawasan sempadan rel kereta api untuk ruang terbuka hijau dan/atau ruang terbuka non hijau. dan d.62 (4) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/ Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf d berisi ketentuan mengenai: a. Pasal 86 Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan ruang terbuka hijau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 huruf c berisi ketentuan mengenai : a. penyediaan prasarana dan sarana penunjang perkeretaapian. pemanfaatan ruang di sekitar kawasan ruang terbuka hijau dengan intensitas sesuai peruntukan dan berdasarkan ketentuan yang berlaku. penyediaan prasarana penunjang instalasi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/ Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). dan d. pemanfaatan ruang pada kawasan ruang terbuka hijau hanya diperuntukan untuk kebutuhan ruang terbuka hijau. (5) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan rel kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf e berisi ketentuan mengenai : a. pemanfaatan ruang di sekitar kawasan sempadan rel kereta api dengan intensitas sesuai peruntukan dan berdasarkan ketentuan yang berlaku.

ketentuan umum peraturan zonasi pantai berhutan mangrove. perubahan bangunan/kawasan dan kegiatan di sekitar kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan yang berpotensi merusak kualitas bangunan dan lingkungan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. d. pembatasan alih fungsi. Pasal 88 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 huruf e. . pemanfaatan ruang di sekitar kawasan pantai berhutan mangrove sesuai peruntukan dengan intensitas rendah. pemanfaatan ruang di sekitar kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan dengan intensitas sesuai peruntukan dan berdasarkan ketentuan yang berlaku. b. meliputi : a. pembatasan kegiatan di kawasan Pantai berhutan mangrove yang berpotensi merusak keberadaan serta kelestarian Pantai berhutan mangrove. pemanfaatan ruang untuk kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan untuk pengembangan konservasi bangunan dan lingkungan serta pariwisata dan ilmu pengetahuan. b. d.63 Pasal 87 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan suaka alam dan cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 huruf c meliputi : a. penyediaan prasarana dan sarana di sekitar kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan untuk menunjang kegiatan pariwisata serta konservasi bangunan dan lingkungan. pelestarian satwa. c. ekowisata serta pengembangan ilmu pengetahuan. pemanfaatan ruang pada kawasan pantai berhutan mangrove untuk pengembangan kawasan lindung hutan mangrove. ekowisata serta pengembangan ilmu pengetahuan. (2) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan pantai berhutan mangrove sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berisi ketentuan mengenai : a. penyediaan prasarana dan sarana untuk kegiatan pengamanan kawasan lindung hutan mangrove pelestarian satwa. b. c. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan rawan bencana banjir. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. (3) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berisi ketentuan mengenai: a.

proteksi kebakaran aktif. (3) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan rawan bencana kebakaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berisi ketentuan mengenai : a. c. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan rawan bencana kebakaran. Pasal 89 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung wilayah laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 huruf f berisi ketentuan mengenai : a. penyediaan prasarana dan sarana penunjang keamanan bahaya kebakaran berupa alat pemadam api ringan. penyediaan prasarana dan sarana penunjang keselamatan terhadap banjir termasuk jalur dan ruang evakuasi bencana banjir. hidran pemadam kebakaran serta jalur dan ruang evakuasi pada sekitar kawasan rawan bencana kebakaran. (2) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan rawan bencana banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berisi ketentuan mengenai : a. pemanfaatan ruang di sekitar kawasan rawan bencana banjir dengan intensitas rendah sesuai peruntukan dan berdasarkan ketentuan yang berlaku. c. pembatasan kegiatan reklamasi dan kegiatan pembangunan pada kawasan estuari dan garis surut pantai yang bertujuan menjaga kelestarian dan tidak melampaui daya dukung lingkungan di wilayah laut. penyediaan prasarana dan sarana perlindungan laut. dan . b. dan d. pembatasan pemanfaatan jalur evakuasi bencana kebakaran untuk kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsinya. b. b. pemanfaatan ruang di kawasan lindung wilayah laut untuk perlindungan terhadap ekosistem estuari dan garis surut pantai. pemanfaatan ruang pada kawasan rawan bencana banjir untuk ruang terbuka hijau dan/atau ruang terbuka non hijau dan bangunan bukan gedung. pemenuhan standar keamanan bangunan gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran di kawasan rawan bencana kebakaran. dan d. pembatasan alih fungsi kawasan dan bangunan yang bukan berfungsi sebagai penunjang keselamatan terhadap bencana banjir.64 b. pemanfaatan ruang di sekitar jalur dan ruang evakuasi bencana kebakaran dengan intensitas sesuai peruntukan dan berdasarkan ketentuan yang berlaku. c.

ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perkantoran. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perumahan. meliputi : 1. meliputi : a. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perumahan dengan kepadatan tinggi. 7. Pasal 91 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan perumahan. Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan budidaya wilayah darat. b. ketentuan umum jaringan utilitas. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan industri. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan kegiatan usaha sektor informal. peraturan zonasi kawasan penempatan 3. Alinea 2 Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Budidaya Pasal 90 Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan budidaya meliputi : a. meliputi : 1. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan ruang terbuka non hijau. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan penangkapan ikan. pemanfaatan ruang di sekitar kawasan lindung wilayah laut dengan intensitas sesuai peruntukan dan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan budidaya wilayah laut.65 d. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan pariwisata. 6. 5. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perumahan dengan kepadatan sedang. 9. 2. 4. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perdagangan dan jasa. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan ruang evakuasi bencana. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf a angka 1. 3. dan . 8. b. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan peruntukan lainnya. 2. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan pengembangan pantai.

66

c. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perumahan dengan kepadatan rendah. (2) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perumahan dengan kepadatan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf a, berisi ketentuan mengenai : a. pemanfaatan ruang pada kawasan perumahan dengan kepadatan tinggi untuk tipe perumahan perkampungan, rumah sederhana sehat (RSH), rumah susun (rusun) dan apartemen; b. penyediaan sarana dan prasarana pelengkap pada kawasan perumahan dengan kepadatan tinggi sesuai dengan tipe masingmasing; c. pembatasan kegiatan perkantoran, perdagangan dan jasa serta industri skala kecil; d. pemanfaatan ruang pada kawasan perumahan dengan kepadatan tinggi dengan intensitas tinggi; e. pelarangan kegiatan industri skala menengah dan besar. (3) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perumahan dengan kepadatan sedang sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf b, berisi ketentuan mengenai: a. pemanfaatan ruang pada kawasan perumahan dengan kepadatan sedang untuk tipe perumahan menengah baik formal maupun informal; b. penyediaan sarana dan prasarana pelengkap pada kawasan perumahan dengan kepadatan sedang yang terkoneksi dengan kawasan sekitarnya dan sesuai dengan tipe masing-masing; c. pembatasan kegiatan perkantoran, perdagangan dan jasa, serta industri skala kecil; d. pemanfaatan ruang pada kawasan perumahan kepadatan sedang dengan intensitas sedang; e. pelarangan kegiatan industri skala menengah dan besar. (4) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perumahan dengan kepadatan rendah sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf c, berisi ketentuan mengenai: a. pemanfaatan ruang pada kawasan perumahan kepadatan rendah untuk tipe perumahan besar; dengan dengan

b. penyediaan sarana dan prasarana pelengkap pada kawasan perumahan dengan kepadatan rendah yang terkoneksi dengan kawasan sekitarnya; c. pembatasan kegiatan perkantoran, perdagangan dan jasa, serta industri skala kecil;

67

d. pemanfaatan ruang pada kawasan perumahan kepadatan rendah dengan intensitas rendah; e. pelarangan kegiatan industri skala menengah dan besar.

dengan

Pasal 92 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perdagangan dan jasa, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf a angka 2, meliputi : a. ketentuan umum peraturan zonasi pasar tradisional; b. ketentuan umum peraturan zonasi pusat perbelanjaan; c. ketentuan umum peraturan zonasi toko modern; dan (2) Ketentuan umum peraturan zonasi pasar tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, berisi ketentuan mengenai : a. pemanfaatan ruang pada pasar tradisional untuk tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda serta penyediaan ruang untuk usaha sektor informal; b. penyediaan sarana dan prasarana pelengkap pada pasar tradisional antara lain tempat parkir, Ruang Terbuka Hijau, jalur pejalan kaki, air bersih, sistem drainase dan pencegahan bahaya kebakaran dan tempat pembuangan sampah; c. pembatasan tradisional; kegiatan yang tidak sinergis dengan pasar

d. pemanfaatan ruang pada kawasan di sekitar pasar tradisional dengan intensitas rendah sampai dengan sedang. (3) Ketentuan umum peraturan zonasi pusat perbelanjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, berisi ketentuan mengenai : a. pemanfaatan ruang pada pusat perbelanjaan untuk kegiatan perdagangan barang yang berskala nasional dan internasional serta penyediaan ruang untuk usaha sektor informal; b. penyediaan sarana dan prasarana pelengkap pada pusat perbelanjaan antara lain tempat parkir, Ruang Terbuka Hijau, jalur pejalan kaki, air bersih, sistem drainase dan pencegahan bahaya kebakaran, prasarana persampahan dan prasarana transportasi massal yang terkoneksi dengan pusat-pusat pelayanan lainnya; c. pembatasan kegiatan perbelanjaan; dan yang tidak sinergis dengan pusat

d. pemanfaatan ruang pada kawasan pusat perbelanjaan dengan intensitas sedang sampai dengan tinggi dan di sekitar kawasan pusat perbelanjaan dengan intensitas sedang.

68

(4) Ketentuan umum peraturan zonasi toko modern sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, berisi ketentuan mengenai : a. pemanfaatan ruang pada toko modern untuk kegiatan perdagangan dengan sistem pelayanan mandiri yang berbentuk minimarket, supermarket, departemen store, hypermarket ataupun grosir yang berbentuk perkulakan serta penyediaan ruang untuk usaha sektor informal ; b. penyediaan sarana dan prasarana pelengkap pada toko modern antara lain tempat parkir dan Ruang Terbuka Hijau; c. pembatasan pendirian toko modern yang berdekatan dengan kegiatan usaha yang sejenis dan pasar tradisional yang telah ada sebelumnya; dan d. pemanfaatan ruang pada kawasan di sekitar toko modern dengan intensitas sesuai peruntukannya.

Pasal 93 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perkantoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf a angka 3, meliputi : a. ketentuan umum pemerintah; peraturan zonasi kawasan perkantoran

b. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perkantoran swasta; (2) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perkantoran pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, berisi ketentuan mengenai : a. pemanfaatan ruang pada kawasan perkantoran pemerintah sesuai skala pelayanan administrasi; b. penyediaan sarana dan prasarana pelengkap pada kawasan perkantoran pemerintah antara lain tempat parkir, ruang terbuka hijau, jalur pejalan kaki, air bersih, sistem drainase dan pencegahan bahaya kebakaran, tempat pembuangan sampah dan prasarana transportasi massal yang terkoneksi dengan pusat-pusat pelayanan lainnya; c. pembatasan kegiatan yang tidak sinergis dengan kawasan perkantoran pemerintah;dan d. pemanfaatan ruang pada kawasan perkantoran pemerintah dengan intensitas rendah sampai dengan sedang.

b. c. pemanfaatan ruang pada kawasan di luar kawasan perkantoran swasta dengan intensitas sesuai peruntukan masing-masing. berisi ketentuan mengenai : a. sistem drainase dan pencegahan bahaya kebakaran. dan d. c. pemanfaatan ruang di sekitar industri rumah tangga dengan intensitas sesuai peruntukan masing-masing.69 (3) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perkantoran swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. c. ketentuan umum peraturan zonasi industri rumah tangga. (2) Ketentuan umum peraturan zonasi industri rumah tangga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. sistem pencegahan bahaya kebakaran. Pasal 94 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf a angka 4. pembatasan kegiatan yang tidak sinergis dengan kawasan perkantoran swasta. ketentuan umum peraturan zonasi zona industri. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan industri. dan d. pemanfaatan ruang pada kawasan perkantoran swasta yang dapat terintegrasi dengan kawasan perdagangan dan jasa. tempat pembuangan sampah dan prasarana transportasi massal yang terkoneksi dengan pusat-pusat pelayanan lainnya. pemanfaatan ruang pada industri rumah tangga terintegrasi dengan kawasan perumahan serta kawasan perdagangan dan jasa. penyediaan sarana dan prasarana pelengkap pada industri rumah tangga antara lain tempat pembuangan sampah. . jalur pejalan kaki. b. meliputi : a. ruang terbuka hijau. b. air bersih. instalasi pengolahan limbah. d. pembatasan kegiatan yang tidak sinergis dengan industri rumah tangga. berisi ketentuan mengenai : a. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan peruntukan industri. penyediaan sarana dan prasarana pelengkap pada kawasan perkantoran swasta antara lain tempat parkir.

pemanfaatan ruang pada kawasan industri sesuai jenis masingmasing industri dengan intensitas rendah sampai dengan sedang dan di luar kawasan industri dengan intensitas sesuai peruntukan. kawasan perumahan serta kawasan perkantoran. pemanfaatan ruang pada kawasan industri sesuai jenis industri yang dikembangkan serta terintegrasi dengan kawasan perdagangan dan jasa. berisi ketentuan mengenai: a. pembatasan kegiatan yang tidak sinergis dengan zona industri. tempat pembuangan sampah. penyediaan sarana dan prasarana pelengkap pada kawasan industri dilengkapi dengan prasarana. tempat parkir. sarana peribadatan. pemanfaatan ruang di sekitar zona industri dengan intensitas sesuai peruntukan masing-masing. dan d. penyediaan sarana dan prasarana pelengkap pada zona industri antara lain tempat parkir. instalasi pengolahan air limbah dan prasarana transportasi massal yang terkoneksi dengan pusat-pusat pelayanan lainnya. instalasi pengolahan limbah.dan d. tempat pembuangan sampah. b. sistem drainase dan pencegahan bahaya kebakaran. ruang terbuka hijau. sarana dan utilitas antara lain sarana perumahan bagi pekerja/buruh. c. penyediaan sarana dan prasarana pelengkap pada kawasan peruntukan industri antara lain tempat parkir. b. jalur pejalan kaki. ruang terbuka hijau. air bersih. pemanfaatan ruang pada kawasan peruntukan industri dapat terintegrasi dengan kawasan perdagangan dan jasa. b. berisi ketentuan mengenai : a. instalasi pengolahan limbah. (5) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan peruntukan industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d. . pemanfaatan ruang pada zona industri dapat terintegrasi dengan kawasan perdagangan dan jasa. kawasan perumahan serta kawasan perkantoran. berisi ketentuan mengenai : a. (4) Ketentuan umum peraturan zonasi zona industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. dan lokasi kawasan industri terkoneksi dengan transportasi massal. sistem drainase dan pencegahan bahaya kebakaran. Ruang Terbuka Hijau. pembatasan kegiatan yang tidak sinergis dengan kawasan industri.70 (3) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. tempat pembuangan sampah. sistem drainase dan pencegahan bahaya kebakaran. c.

ketentuan umum peraturan zonasi kawasan pariwisata budaya. berisi ketentuan mengenai : a. pemanfaatan ruang pada kawasan pariwisata budaya dengan intensitas sesuai peruntukan masing-masing. penyediaan sarana dan prasarana pelengkap pada kawasan pariwisata alam antara lain tempat parkir.71 c. penyediaan sarana dan prasarana pelengkap pada kawasan pariwisata budaya antara lain tempat parkir.dan d. Pasal 95 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf a angka 5. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan pariwisata buatan. prasarana persampahan. Ruang Terbuka Hijau. dan c. pemanfaatan ruang pada kawasan pariwisata alam berupa kawasan ruang terbuka hijau dan/atau ruang terbuka non hijau. pembatasan kegiatan yang kawasan pariwisata alam. dan d. c. (2) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan pariwisata budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. b. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan pariwisata alam. pemanfaatan ruang pada kawasan pariwisata alam dengan intensitas rendah. b. jalur pejalan kaki dan prasarana transportasi massal yang terkoneksi dengan pusat-pusat pelayanan lainnya. pemanfaatan ruang di sekitar kawasan peruntukan industri dengan intensitas sesuai peruntukan masing-masing. . bangunan pengamanan dan keselamatan dan prasarana transportasi massal yang terkoneksi dengan pusat-pusat pelayanan lainnya. meliputi: a. pembatasan kegiatan yang dapat merubah fungsi dan karakter kawasan serta lingkungan kawasan pariwisata budaya. sistem drainase dan pencegahan bahaya kebakaran. c. dan tidak berhubungan dengan d. pemanfaatan ruang pada kawasan pariwisata budaya dapat terintegrasi dengan fungsi kawasan budidaya lainnya. b. (3) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan pariwisata alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berisi ketentuan mengenai : a. pembatasan kegiatan yang tidak sinergis dengan kawasan peruntukan industri.

prasarana persampahan. penyediaan prasarana dan sarana untuk kelengkapan pengungsian sementara dan sarana komunikasi. pembatasan kegiatan di kawasan ruang terbuka non hijau yang tidak sinergis dengan kawasan ruang terbuka non hijau dan fungsi kawasan utamanya. jalur pejalan kaki dan prasarana transportasi massal yang terkoneksi dengan pusat-pusat pelayanan lainnya. Pasal 96 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan ruang terbuka non hijau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf a angka 6. b. pemanfaatan ruang di kawasan ruang terbuka non hijau untuk penunjang kawasan budidaya dan kawasan lindung. . c. b. berisi ketentuan mengenai: a. pemanfaatan ruang pada kawasan pariwisata buatan dapat terintegrasi dengan kawasan perdagangan dan jasa. dan d. pembatasan kegiatan industri dan pergudangan pada kawasan pariwisata buatan. b. penyediaan prasarana dan sarana untuk kelengkapan masingmasing fungsi kawasan budidaya dan kawasan lindung di sekitar kawasan ruang terbuka non hijau. kawasan perumahan. pemanfaatan ruang di kawasan ruang evakuasi bencana sebagai kawasan budidaya dan kawasan lindung yang menunjang untuk ruang evakuasi bencana. c. Pasal 97 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan ruang evakuasi bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf a angka 7 berisi ketentuan mengenai : a. pemanfaatan ruang di luar kawasan ruang terbuka non hijau dengan intensitas sesuai peruntukkan. sistem pencegahan bahaya kebakaran. dan Ruang Terbuka Hijau. kawasan perkantoran. pemanfaatan ruang pada kawasan pariwisata buatan dengan intensitas sesuai peruntukan masing-masing. penyediaan sarana dan prasarana pelengkap pada kawasan pariwisata buatan antara lain tempat parkir.72 (4) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan pariwisata buatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. berisi ketentuan mengenai : a. dan d.

pembatasan kegiatan pada kawasan kegiatan usaha sektor informal yang tidak sesuai dengan peruntukannya. c. pemanfaatan ruang di kawasan kegiatan usaha sektor informal sebagai penunjang kawasan budidaya dan kawasan lindung. pemanfaatan ruang di sekitar kawasan kegiatan usaha sektor informal dengan intensitas sesuai dengan peruntukan masingmasing. . b. pembatasan kegiatan di kawasan ruang evakuasi bencana yang tidak sesuai peruntukan. pemanfaatan ruang di kawasan peruntukan pelayanan umum terintegrasi dengan kawasan budidaya di sekitarnya. penyediaan prasarana dan sarana di sekitar kawasan kegiatan usaha sektor informal disesuaikan dengan kelengkapan yang ada pada kawasan budidaya dan kawasan lindung. penyediaan prasarana dan sarana pada kawasan peruntukan pelayanan umum antara lain tempat parkir. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan pelabuhan. (2) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan peruntukan pelayanan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. prasarana persampahan. berisi ketentuan mengenai : a. jalur pejalan kaki dan prasarana transportasi massal yang terkoneksi dengan pusat-pusat pelayanan lainnya. meliputi : a. berisi ketentuan mengenai: a. Pasal 99 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf a angka 9. c. b. Ruang Terbuka Hijau. dan d. sistem pencegahan bahaya kebakaran. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan peruntukan pelayanan umum terdiri dari pendidikan. b. pemanfaatan ruang pada kawasan ruang evakuasi bencana dengan intensitas sesuai peruntukan masing-masing. Pasal 98 (2) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan kegiatan usaha sektor informal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf a angka 8. dan d. kesehatan dan peribadatan.73 c. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan militer.

pembatasan kegiatan yang tidak sinergis dengan kawasan peruntukan pelayanan umum. b. pembatasan kegiatan di sekitar kawasan pelabuhan yang tidak sinergis dengan fungsi pelabuhan. b. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan pengembangan pantai. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan penangkapan ikan. Pasal 100 (1) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan budidaya wilayah laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf b meliputi : a. penyediaan prasarana dan sarana pengembangan kawasan pelabuhan. dan d. sesuai kebutuhan c. c. berisi ketentuan mengenai : a. pembatasan kegiatan di sekitar kawasan militer yang tidak sinergis dengan fungsi pertahanan. ketentuan umum peraturan zonasi kawasan penempatan jaringan utilitas. pemanfaatan ruang di sekitar kawasan peruntukan pelayanan umum dengan intensitas sesuai peruntukkan masing-masing. pemanfaatan ruang di kawasan militer terintegrasi dengan kawasan budidaya dan kawasan lindung di sekitarnya. sesuai kebutuhan c. berisi ketentuan mengenai : a. pemanfaatan ruang di sekitar kawasan pelabuhan dengan intensitas sesuai dengan peruntukan masing-masing. pemanfaatan ruang di kawasan pelabuhan terintegrasi dengan kawasan budidaya dan kawasan lindung di sekitarnya. dengan (4) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan pelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. (3) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan militer sebagaimana disebut pada ayat (1) huruf b. . b. penyediaan prasarana dan sarana pengembangan kawasan militer. dan d. pemanfaatan ruang di sekitar kawasan militer intensitas sesuai dengan peruntukan masing-masing.74 c. dan d.

perumahan. pembatasan kegiatan pada kawasan penangkapan ikan yang tidak sinergis dengan fungsinya. berisi ketentuan mengenai : a. c. penyediaan prasarana dan sarana antara lain kelengkapan penangkapan ikan berupa tambatan perahu. (3) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan penempatan jaringan utilitas sebagaimana disebut pada ayat (1) huruf b. pemanfaatan ruang pada kawasan penangkapan ikan dengan intensitas rendah. dan peruntukan pelayanan umum pada kawasan pengembangan pantai. c. berisi ketentuan mengenai: a. (4) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan pengembangan pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. tempat pelelangan ikan dan tempat pengolahan ikan. dan d. b. c. pariwisata dan perdagangan dan jasa.75 (2) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan penangkapan ikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. b. pemanfaatan ruang di sekitar kawasan pengembangan pantai dengan intensitas sesuai dengan peruntukan masing-masing. alur pelayaran dan pantai berhutan mangrove. pemanfaatan ruang di kawasan penempatan jaringan utilitas hanya untuk jaringan utilitas bawah laut. pemanfaatan ruang di kawasan pengembangan pantai untuk pelabuhan. pemanfaatan ruang di kawasan penangkapan ikan terintegrasi dengan fungsi pariwisata. pembatasan kegiatan yang berpotensi mengganggu jaringan utilitas bawah laut. berisi ketentuan mengenai : a. penyediaan prasarana dan sarana pengaman jaringan utilitas bawah laut. dan d. penyediaan prasarana dan sarana sesuai kebutuhan pengembangan pada kawasan pengembangan pantai. b. perkantoran. . pembatasan kegiatan industri.

. dan b. batal demi hukum. Izin pemanfaatan ruang yang diberikan kepada orang pribadi atau badan harus melalui prosedur yang benar. Izin Mendirikan Bangunan. Izin pemanfaatan ruang yang dikeluarkan dan/atau diperoleh dengan tidak melalui prosedur yang benar. dibatalkan oleh Kepala Daerah atau Pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. Izin pemanfaatan ruang yang diberikan kepada orang pribadi atau badan harus sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah yang telah ditetapkan. (3) Arahan pengambilan keputusan terkait dengan penerbitan Izin pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut : a. Izin pemanfaatan ruang yang diperoleh melalui prosedur yang benar tetapi kemudian terbukti tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah. (2) Mekanisme pemberian Izin Pemanfaatan Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada peraturan perundangundangan yang mengatur tentang Izin Lokasi dan Izin Mendirikan Bangunan.76 Bagian Ketiga Ketentuan Perizinan Pasal 101 (1) Izin Pemanfaatan Ruang meliputi: a. c. g. Izin Lokasi. Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai lagi akibat adanya perubahan Rencana Tata Ruang Wilayah dapat dibatalkan oleh Kepala Daerah atau Pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah dengan memberikan ganti kerugian sesuai dengan ketentuan yang berlaku. d. e. b. f. Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dibatalkan oleh Kepala Daerah atau Pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. Setiap Pejabat Pemerintah Daerah yang berwenang menerbitkan izin pemanfaatan ruang dilarang menerbitkan izin yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan.

dan c. (2) Pemberian disinsentif dapat berupa : a. Pasal 104 (1) Insentif dan disinsentif diberikan dengan tetap menghormati hak orang sesuai peraturan perundang-undangan. pembangunan dan pengadaan infrastruktur. pemberian persyaratan khusus dalam proses perizinan. BAB VIII PENGAWASAN Pasal 105 (1) Pengawasan penataan ruang diselenggarakan untuk: a. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme pemberian insentif dan disinsentif diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. kemudahan prosedur perizinan. menjamin terlaksananya penegakan hukum bidang penataan ruang. peningkatan nilai pajak/retribusi. c. dan (2) .dan pemberian penghargaan kepada masyarakat dan pihak swasta. menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan penataan ruang. Pemberian insentif dapat berupa : a. pembatasan penyediaan infrastruktur. b. Pasal 103 (1) Ketentuan pemberian disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 huruf c merupakan kebijaksanaan pemanfaatan ruang yang bertujuan untuk mencegah. b. b. membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah.77 Bagian Keempat Ketentuan Pemberian Insentif dan Disinsentif Pasal 102 (1) Ketentuan pemberian insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 huruf c merupakan kebijaksanaan pemanfaatan ruang yang bertujuan untuk memberikan dukungan terhadap kegiatan yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah. d. pemberian keringanan pajak/retribusi.

Pasal 108 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengawasan penataan ruang diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. dan c. (3) Pengawasan penataan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. pemenuhan standar pelayanan minimal bidang penataan ruang. dan pelaporan. pembinaan. (2) Pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kegiatan pengamatan terhadap penyelenggaraan penataan ruang secara langsung. . tidak langsung. Pasal 106 (1) Pengawasan penataan ruang terdiri atas kegiatan pemantauan.78 c. Pasal 107 Apabila dari hasil pemantauan dan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 terbukti terjadi penyimpangan administratif dalam penyelenggaraan penataan ruang. evaluasi. fungsi dan manfaat penyelenggaraan penataan ruang. meningkatkan kualitas penyelenggaraan penataan ruang. (2) Pengawasan penataan ruang dilakukan melalui penilaian terhadap kinerja: a. dan pelaksanaan penataan ruang. (4) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kegiatan penyampaian hasil evaluasi. Kepala Daerah mengambil langkah penyelesaian sesuai dengan kewenangannya. dan/atau melalui laporan masyarakat. (3) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kegiatan penilaian terhadap tingkat pencapaian penyelenggaraan penataan ruang secara terukur dan objektif. b. pengaturan.

mengajukan keberatan kepada Pejabat yang berwenang terhadap pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang di wilayahnya. dan f.79 BAB IX HAK. pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. PERAN MASYARAKAT DAN KELEMBAGAAN Bagian Kesatu Hak Masyarakat Pasal 109 Dalam penataan ruang di daerah. Pasal 111 Dalam menikmati pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 109 huruf b. . memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang timbul akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. mengajukan gugatan ganti kerugian kepada Pemerintah Daerah dan/atau pemegang izin apabila kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang menimbulkan kerugian. d. c. b. KEWAJIBAN. e. setiap orang berhak untuk : a. mengajukan tuntutan pembatalan izin dan penghentian pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang kepada pejabat berwenang. Pasal 110 (1) Masyarakat dapat mengetahui rencana tata ruang dari Peraturan Daerah yang mengatur tentang rencana tata ruang atau melalui pengumuman/penyebarluasan oleh Pemerintah Daerah. mengetahui rencana tata ruang. menikmati pertambahan nilai ruang sebagai akibat dari penataan ruang. (2) Kewajiban untuk menyediakan media pengumuman/penyebarluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan penempelan/pemasangan peta rencana tata ruang yang bersangkutan pada tempat-tempat umum dan media massa serta melalui pembangunan sistem informasi tata ruang.

estetika lingkungan. Bagian Kedua Kewajiban Masyarakat Pasal 113 Dalam penataan ruang di daerah. setiap orang wajib: a. dan aturanaturan penataan ruang yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan seimbang. baku mutu. dan d. selaras.80 Pasal 112 (1) Hak untuk memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang timbul akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 109 huruf c diselenggarakan dengan cara musyawarah antara Pemerintah Daerah dengan pihak yang berkepentingan. mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang. b. menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. c. Pasal 114 (1) Pelaksanaan kewajiban masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 dilaksanakan dengan mematuhi dan menerapkan kriteria. memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum. (2) Kaidah dan aturan pemanfaatan ruang yang dipraktekkan masyarakat secara turun temurun dapat diterapkan sepanjang memperhatikan faktor-faktor daya dukung lingkungan. lokasi dan struktur pemanfaatan ruang serta dapat menjamin pemanfaatan ruang yang serasi. (2) Dalam hal tidak tercapai kesepakatan mengenai penggantian yang layak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). . maka penyelesaiannya dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang berwenang. kaidah.

c. mengoordinasikan dan merumuskan penyusunan rencana tata ruang daerah. oleh (2) Peran masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan antara lain : a. partisipasi dalam pengawasan penataan ruang. Bagian Keempat Kelembagaan Pasal 117 (1) Penataan ruang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah ditunjang oleh sistem kelembagaan Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah. Perencanaan tata ruang meliputi: 1. (2) Pelaksanaan peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasikan oleh Pemerintah Daerah. partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang. d. (2) Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas sebagai berikut : a. b. 2. Pasal 116 (1) Tata cara peran masyarakat dalam pemanfaatan ruang di daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. memaduserasikan rencana pembangunan jangka panjang dan menengah dengan rencana tata ruang daerah serta mempertimbangkan pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan melalui instrumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). partisipasi dalam pemanfaatan ruang.81 Bagian Ketiga Peran Masyarakat Pasal 115 (1) Penyelenggaraan penataan ruang di daerah dilakukan Pemerintah Daerah dengan melibatkan peran masyarakat. . partisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang.

rencana tata ruang pulau/kepulauan. 5. rencana tata ruang kawasan strategis provinsi Jawa Timur. 2. dan 6. 5. mengoordinasikan penanganan dan penyelesaian permasalahan dalam pemanfaatan ruang baik di daerah dan memberikan pengarahan serta saran pemecahannya. mengoptimalkan peran masyarakat dalam pemanfaatan ruang. dan masyarakat. 7. 3. mengoordinasikan kabupaten/kota. 6. melakukan fasilitasi pelaksanaan kerjasama penataan ruang antar kabupaten/kota. rencana tata ruang wilayah provinsi Jawa Timur.dan 8. Pemanfaatan ruang meliputi: 1. mengoordinasikan pelaksanaan konsultasi rancangan peraturan daerah tentang rencana tata ruang kabupaten/kota kepada Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah Provinsi Jawa Timur dan Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional. memberikan daerah. c. memaduserasikan. penetapan peraturan zonasi sistem ruang rekomendasi perizinan pemanfaatan . rencana tata ruang kawasan strategis nasional. mengoordinasikan pelaksanaan evaluasi rencana tata ruang daerah ke provinsi Jawa Timur. mensinergikan penyusunan rencana tata ruang daerah dengan provinsi Jawa Timur dan antar kabupaten/kota yang berbatasan. memberikan informasi dan akses kepada pengguna ruang terkait rencana tata ruang daerah. dan mengharmonisasikan rencana tata ruang daerah dengan rencana tata ruang wilayah nasional. mengintegrasikan. dan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota yang berbatasan. menjaga akuntabilitas publik sebagai bentuk layanan pada jajaran pemerintah. mengoordinasikan proses penetapan rencana tata ruang daerah. 2. mengoptimalkan peran masyarakat dalam perencanaan tata ruang. memberikan rekomendasi guna memecahkan permasalahan dalam pemanfaatan ruang daerah. 4. Pengendalian pemanfaatan ruang meliputi: 1. 4.82 3. b. swasta.

b. penghentian sementara pelayanan umum. e. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan persyaratan izin yang diberikan oleh pejabat yang berwenang. 5.83 3. peringatan tertulis. b. penutupan lokasi. (3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. mengoptimalkan peran pemanfaatan ruang. dan pelaporan penyelenggaraan penataan ruang. d. 4. . evaluasi. melakukan fasilitasi pelaksanaan pemantauan. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. menghalangi akses terhadap kawasan yang dinyatakan oleh peraturan perundang-undangan sebagai milik umum. penghentian sementara kegiatan. masyarakat dalam pengendalian (3) Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah menyelenggarakan pertemuan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan untuk menghasilkan rekomendasi alternatif kebijakan penataan ruang. melakukan identifikasi dalam pelaksanaan insentif dan disinsentif dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang daerah dengan provinsi Jawa Timur dan dengan kabupaten/kota terkait. (2) Pelanggaran di bidang penataan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diberikan oleh pejabat berwenang.dan/atau d. dan 6. pencabutan izin. c. c. melakukan fasilitasi pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang untuk menjaga konsistensi pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang. BAB IX SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 118 (1) Setiap orang yang melakukan pelanggaran di bidang penataan ruang dikenakan sanksi administratif.

memanfaatkan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang di lokasi yang sesuai peruntukannya. . dan/atau izin pemanfaatan ruang yang telah b. dan/atau f. e. pembongkaran bangunan. b. melakukan perubahan sebagian atau keseluruhan fungsi lahan. tidak menyediakan fasilitas sosial atau fasilitas umum sesuai dengan persyaratan dalam izin pemanfaatan ruang. b. melakukan perubahan sebagian atau keseluruhan fungsi bangunan. melanggar batas sempadan yang telah ditentukan. g. denda administratif. memanfaatkan ruang tidak sesuai dengan fungsi ruang yang tercantum dalam izin pemanfaatan ruang. h. Pasal 119 Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 ayat (2) huruf a meliputi: a. dan/atau c. koefisien lantai bangunan yang telah c. pembatalan izin. memanfaatkan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang di lokasi yang tidak sesuai peruntukannya. Pasal 120 Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diberikan oleh pejabat berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 ayat (2) huruf b meliputi: a. pemulihan fungsi ruang. dan/atau i. tidak menindaklanjuti dikeluarkan.84 f. Pasal 121 Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan persyaratan izin yang diberikan oleh pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 ayat (2) huruf c meliputi: a. d. memanfaatkan ruang dengan izin pemanfaatan ruang dilokasi yang tidak sesuai dengan peruntukkannya. melanggar ketentuan koefisien dasar bangunan dan koefisien dasar hijau. melanggar ketentuan ditentukan.

85 Pasal 122 Menghalangi akses terhadap kawasan yang dinyatakan oleh peraturan perundang-undangan sebagai milik umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 ayat (2) huruf d meliputi: a. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana dalam bidang penataan ruang. menutup akses terhadap fasilitas pejalan kaki. sungai. b. menutup akses terhadap jalan umum tanpa izin pejabat yang berwenang. . c. BAB X KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 124 (1) Penyidikan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah ini. c. b. e. Pasal 123 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam Peraturan Kepala Daerah dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. menutup akses terhadap taman dan ruang terbuka hijau. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan yang berkenaan dengan tindak pidana dalam bidang penataan ruang. d. dan/atau f. melakukan pemeriksaan atas dokumen-dokumen yang berkenaan dengan tindak pidana dalam bidang penataan ruang. situ. danau. dan sumber daya alam serta prasarana publik. menutup akses terhadap sumber air. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang sehubungan dengan peristiwa tindak pidana dalam bidang penataan ruang. menutup akses ke pesisir pantai. dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Daerah. (2) Penyidik Pegawai Negeri Sipil Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang: a. menutup akses terhadap lokasi dan jalur evakuasi bencana.

86 e. (3) Penyidik Pegawai Negeri Sipil Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan kepada Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. Penyidik Pegawai Negeri Sipil Daerah melakukan koordinasi dengan Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.2030 dan album peta dengan skala 1 : 25. Pasal 127 Rencana Tata Ruang Wilayah akan digunakan sebagai pedoman pembangunan dan menjadi rujukan bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti dan dokumen lain serta melakukan penyitaan dan penyegelan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana dalam bidang penataan ruang. BAB XII KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 126 (1) Rencana Tata Ruang Wilayah dilengkapi dengan lampiran berupa buku RTRW Kota Surabaya Tahun 2010 .000 (satu dibanding dua puluh lima ribu). dan f. (1) Buku Rencana Tata Ruang Wilayah dan album peta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Penyidik Pegawai Negeri Sipil Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyampaikan hasil penyidikan kepada penuntut umum melalui Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. (4) (5) BAB XI KETENTUAN PIDANA Pasal 125 Setiap orang atau badan yang melakukan tindak pidana di bidang penataan ruang dipidana berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Apabila pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memerlukan tindakan penangkapan dan penahanan. . meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dalam bidang penataan ruang.

BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 131 Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku. (2) Penetapan kawasan strategis kota Surabaya akan ditindaklanjuti dengan penyusunan Rencana Rinci berupa Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis paling lambat 3 (tiga) tahun setelah Peraturan Daerah ini diundangkan.87 Pasal 128 Terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah dapat dilakukan peninjauan kembali 5 (lima) tahun sekali. (2) Semua peraturan di Daerah terkait dengan pemanfaatan ruang yang telah ada dan tidak sesuai dengan Peraturan Daerah ini harus disesuaikan dengan Peraturan Daerah ini. maka Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 3 Tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya (Lembaran Daerah Kota Surabaya Tahun 2007 Nomor 3 Tambahan Lembaran Daerah Kota Surabaya Nomor 3) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 129 (1) Pada saat Peraturan Daerah ini berlaku. Pasal 130 (1) Masing-masing Unit Pengembangan akan ditindaklanjuti dengan penyusunan Rencana Rinci berupa Rencana Detail Tata Ruang paling lambat 3 (tiga) tahun setelah Peraturan Daerah ini diundangkan. . maka semua perencanaan terkait dengan pemanfaatan ruang tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Daerah ini.

memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Surabaya.88 Pasal 132 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya. TRI RISMAHARINI . Ditetapkan di Surabaya pada tanggal WALIKOTA SURABAYA.

UMUM Kota Surabaya memiliki kedudukan yang sangat strategis baik dalam skala regional maupun nasional. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup Jelas Pasal 2 Cukup Jelas Pasal 3 Huruf a Yang dimaksud dengan “keterpaduan” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan mengintegrasikan berbagai kepentingan yang bersifat lintas sektor.PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SURABAYA TAHUN 2010-2030 I. Pemangku kepentingan. Dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang maka Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya perlu dilakukan penyesuaian sehingga Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya perlu disesuaikan dan ditetapkan dalam Peraturan Daerah. pemerintah daerah. dan lintas pemangku kepentingan. antara lain. keselarasan antara kehidupan manusia dengan lingkungannya. I. untuk itu diperlukan suatu upaya pengendalian secara terpadu agar perkembangan dan pembangunan kota dapat lebih terarah dan benar-benar bermanfaat. rencana pemanfaatan lahan. RTRW Kota Surabaya meliputi visi dan misi. Dinamika dan aktivitas kota yang sangat tinggi memacu terjadinya perkembangan kota yang sangat cepat. strategi pengembangan. adalah pemerintah. yang merupakan pedoman dalam penetapan kebijaksanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang. dan keseimbangan” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan mewujudkan keserasian antara struktur ruang dan pola ruang. struktur tata ruang. bahkan saat ini kegiatan perdagangan dan jasa di Surabaya telah mencapai lingkup internasional. dan sebagai pusat pengembangan wilayah bagian timur Indonesia. dan tata cara pengendalian. keseimbangan pertumbuhan dan perkembangan antardaerah serta antara kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. diharapkan dapat terwujud keserasian dan keterpaduan dalam pelaksanaan pembangunan di kota Surabaya untuk masa 20 tahun ke depan. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya disusun dalam rangka pengendalian perkembangan dan pembangunan kota dan untuk mewujudkan Kota Surabaya Metropolitan sebagai kota jasa. Huruf b Yang dimaksud dengan “keserasian. lintas wilayah. sekaligus sebagai arahan pelaksanaan pengembangan dan pembangunan di Kota Surabaya. dan masyarakat. yaitu sebagai sentra pelayanan perdagangan dan jasa di Jawa Timur. Dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota ini. . keselarasan.

Huruf g Yang dimaksud dengan “perlindungan kepentingan umum” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan masyarakat. Huruf h Yang dimaksud dengan “kepastian hukum dan keadilan” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan berlandaskan hukum/ketentuan peraturan perundang-undangan dan bahwa penataan ruang dilaksanakan dengan mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat serta melindungi hak dan kewajiban semua pihak secara adil dengan jaminan kepastian hukum. Huruf e Yang dimaksud dengan “keterbukaan” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan memberikan akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan penataan ruang. maupun hasilnya. Huruf f Yang dimaksud dengan “kebersamaan dan kemitraan” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c . Huruf d Yang dimaksud dengan “keberdayagunaan dan keberhasilgunaan” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan mengoptimalkan manfaat ruang dan sumber daya yang terkandung di dalamnya serta menjamin terwujudnya tata ruang yang berkualitas. pembiayaannya.2 Huruf c Yang dimaksud dengan “keberlanjutan” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan menjamin kelestarian dan kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan dengan memperhatikan kepentingan generasi mendatang. Huruf i Yang dimaksud dengan “akuntabilitas” adalah bahwa penyelenggaraan penataan ruang dapat dipertanggungjawabkan. baik prosesnya.

Sedangkan strategi penataan ruang wilayah kota merupakan penjabaran kebijakan penataan ruang wilayah kota ke dalam langkah-langkah operasional untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan berfungsi sebagai dasar untuk penyusunan rencana struktur ruang. memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama dalam RTRW kota dan sebagai dasar dalam penetapan ketentuan pengandalian pemanfaatan ruang wilayah kota. rencana pola ruang dan penetapan kawasan strategis kota.3 Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Huruf f Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) dan Rencana Tata Ruang Strategis disusun setelah Peraturan Daerah RTRW ini diberlakukan. memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama dalam RTRW kota dan sebagai dasar penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kota Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Cukup jelas Pasal 11 Ayat 1 Cukup jelas Ayat 2 Cukup jelas Ayat 3 Huruf a Cukup jelas . dan sebagai kelengkapan RDTRK dapat disusun rencana peraturan zonasi yang ditetapkan peraturan tersendiri. sebagai dasar untuk merumuskan rencana struktur dan rencana pola ruang wilayah kota. Pasal 6 Kebijakan penataan ruang wilayah kota merupakan arah tindakan yang harus ditetapkan untuk mencapai tujuan penataan ruang wilayah kota dan berfungsi sebagai dasar untuk memformulasikan strategi penataan ruang wilayah kota.

Ayat 2 Kawasan sempadan sungai. hutan kota maupun bozembozem harus dimanfaatkan sebagai kawasan resapan air skala kota. maka juga diperlukan penetapan jalur evakuasi bencana sesuai dengan kemungkinan adanya bencana pada suatu wilayah. dan telaga/bozem merupakan kawasan yang harus diperuntukan bagi ruang terbuka hijau guna pelestarian fungsi hidrologi kota. Untuk itu penetapan kawasan – kawasan peresapan air dalam skala besar. Untuk meningkatkan pelayanan terhadap kawasan budidaya kota sekaligus untuk mewadahi kebutuhan pergerakan masyarakat dalam skala local atau tiap kawasan. Hal ini juga mendukung keberlanjutan kota dalam hal penyediaan air dalam tanah dan mengurangi rasa air payau di wilayah Kota Surabaya. Dengan demikian kawasan ini harus merupakan ruang terbuka yang ditumbuhi oleh tanaman terutama jenis tanaman yang mempunyai fungsi lindung. sehingga wilayah ini merupakan wilayah rawan banjir ataupun mudah terkena intrusi air asin. maupun diantara taman kota. Huruf c Untuk mendukung penggunaan system informasi yang menggunakan internet digunakan hot spot atau area yang dapat menerima signal internet yang umumnya dapat di akses oleh pengguna secara gratis. Provider adalah operator penyedia system jaringan sellular yang menggunakan BTS baik di adakan sendiri maupun di kelola bersama. maka diperlukan prasarana pejalan kaki baik berupa trotoar.4 Huruf b : Jaringan Telepon Selluler adalah jaringan telepon yang menggunakan nirkabel. BTS (Base Transceiver Station) adalah tower sebagai penerima dan pendistribusi signal bagi telepon sellular. terutama berupa taman.Mengingat Indonesia pada umumnya merupakan wilayah rawan bencana. Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Ayat 1 Surabaya merupakan wilayah yang terletak di tepi pantai. Ayat 4 Cukup jelas Ayat 5 : Pengembangan infrastruktur perkotaan di lakukan secara terpadu antara kebutuhan prasarana satu dengan prasarana lainnya sesuai dengan kebutuhan setiap wilayah. pelataran. pantai. .

Mengingat bahwa pengembangan perdagangan ini juga harus dapat diakses oleh masyarakat berpendapatan rendah. sekitar bozem. Penyediaan ruang terbuka hijau ini dapat berupa taman kota. Ayat 5 Cukup jelas Ayat 6 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat 1 Pengembangan perumahan diperuntukan bagi segenap masyarakat baik masyarakat berpendapatan tinggi. Dalam hal khusus. hutan kota. SUTET. maka taman – taman kota. . jalur hijau kota dan bebragai ruang terbuka hijau lainnya pada saat ini dilarang untuk di fungsikan untuk peruntukan lain. jaringan jalan arteri. Penyediaan RTH privat akan dipenuhi dari ketersediaan ruang terbuka hijau didalam kapling bangunan baik untuk perumahan maupun non perumahan setidaknya 10 % dari luas kapling berupa tanah yang di atasnya dapat ditanami tumbuhan. taman kota dan hutan kota sehingga mencapai angka 20%. Ayat 2 Surabaya sebagai kota pusat perdagangan dan jasa yang dikemas mempunyai skala pelayanan nasional dan selanjutnya akan dikembangkan memiliki skala pelayanan internasional. maka disediakan RTH bersama dengan berbagai fungsinya di lokasi kawasan tersebut.5 Ayat 3 Cukup jelas Ayat 4 Sebagaimana di amanatkan dalam UU 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang bahwa pada setiap kawasan perkotaan harus menyediakan ruang terbuka hijau public maupun privat. maupun di atas bangunan. sedang maupun rendah. maka pada setiap kawasan yang dikembangkan diperlukan menyediakan ruang khusus bagi sektor informal yang pengembangannya dilakukan secara sinergis dengan pengembangan sektor formal. rel KA. Mengingat Kota Surabaya sangat kekurangan RTH public. makam. RTH public disediakan minimum 20 % dari luas kota secara keseluruhan. misalnya permukiman sangat padat yang tidak mempunyai ruang privat. tepi pantai. rambat. Dalam hal tambahan penyediaan RTH privat ini maka dilakukan peningkatan jumlah tanaman dalam pot. maka di perlukan pengembangan pada kawasan sepanjang sungai. Penyediaan perumahan ini dilakukan melalui penyediaan baru dengan mengutamakan pengembangan rumah bertingkat atau perumahan vertikal serta penyediaan sarana prasarana perumahan antara lain berupa kasiba lisiba. Sehubungan dengan penyediaan tersebut. Terkait dengan hal ini maka diperlukan pengembangan pusat perdagangan dan jasa dalam skala besar guna mendukung fungsi Surabaya sebagai pusat perdagangan yang dimaksud. kolektor dan local serta pada kawasan permukiman dan kawasan fungsional kota. makam dan jalur hijau.

dan serasi dalam ruang wilayah kota sehingga membentuk satu sistem yang menunjang pertumbuhan dan penyebaran berbagai usaha dan/atau kegiatan dalam ruang wilayah kota. yang persebarannya disesuaikan dengan jenis dan tingkat kebutuhan yang ada. Penyediaan ruang terbuka non hijau ini diperlukan untuk menunjang pengembangan kawasan fungsional kota. dan memenuhi standar kebutuhan Ayat 8 Pengembangan perdagangan ini juga harus dapat diakses oleh masyarakat berpendapatan rendah. maka perlu adanya penyediaan ruang evakuasi bagi korban bencana alam untuk sementara selama mitigasi bencana yang nyaman. Ayat 7 Berkaitan dengan jalur evakuasi bencana. mengingat Kota Surabaya rawan akan bencana banjir rob dan kebakaran. saling memperkuat. sehingga harus dijaga kenyamanan dan nilai estetisnya. sementara di dalam Kota Surabaya diarahkan untuk pengembangan industri berbasis teknologi tinggi yang tidak mencemari lingkungan. Pengembangan pusat pelayanan dilakukan secara selaras. maka pada setiap kawasan yang dikembangkan diperlukan menyediakan ruang khusus bagi sektor informal yang pengembangannya dilakukan secara sinergis dengan pengembangan sektor formal. Ayat 5 Cukup jelas Ayat 6 Dalam pengembangan kawasan terbangun kota harus dijaga keseimbangan antara sistem blok bangunan (solid) dengan ruang terbuka – non hijau (void) yang selaras dan saling berhubungan satu dengan yang lain secara sinergis dan terpadu. Ayat 9 Cukup jelas Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Cukup jelas Pasal 19 Pusat pelayanan disusun secara berhierarki menurut fungsi dan besarannya sehingga pengembangan sistem pelayanan yang meliputi penetapan fungsi kota dan hubungan hierarkisnya berdasarkan penilaian kondisi sekarang dan antisipasi perkembangan di masa yang akan datang sehingga terwujud pelayanan prasarana dan sarana yang efektif dan efisien. .6 Ayat 3 Cukup jelas Ayat 4 Secara bertahap untuk mengembangkan Kota Surabaya sebagai kota perdagangan dan jasa maka industri yang mempunyai polutan diarahkan keluar Kota Surabaya.

dan/atau budaya. dan/atau sebagai pusat simpul transportasi. Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Ayat 1 Rencana sistem jaringan transportasi merupakan sistem yang memperlihatkan keterkaitan kebutuhan dan pelayanan transportasi antar wilayah dan antar kawasan di wilayah perkotaan. Sebagai pusat pelayanan perkembangan kegiatan budi daya. dan/atau sebagai pusat koleksi dan distribusi barang.7 Pengembangan pusat pelayanan diserasikan dengan sistem jaringan transportasi. budaya. sejauh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan propinsi atau sejauh 4 mil. pusat pelayanan perkotaan mempunyai fungsi: a. baik dalam wilayahnya maupun wilayah sekitarnya. laut. yaitu sebagai pusat pelayanan kegiatan keuangan/bank. ekonomi. yaitu sebagai pusat pemerintahan. dan pelestarian lingkungan hidup secara harmonis. b. yaitu sebagai pusat jasa pelayanan pemerintah. dan memperhatikan peruntukan ruang kawasan budi daya di wilayah sekitarnya. pusat pelayanan pendidikan. serta keterkaitannya dengan jaringan transportasi nasional. dan udara yang menghubungkan antarpulau serta kawasan perkotaan dengan kawasan produksi. dan c. yaitu sebagai pusat produksi dan pengolahan barang. Rencana struktur wilayah darat adalah rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan darat termasuk permukaan perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah. serta jaringan prasarana dan sarana pelayanan penduduk yang sesuai dengan kebutuhan dan menunjang fungsi pusat perkotaan. Pengembangan sistem jaringan transportasi dimaksudkan untuk menciptakan keterkaitan antarpusat perkotaan serta mewujudkan keselarasan dan keterpaduan antara pusat perkotaan dengan sektor kegiatan ekonomi masyarakat. sehingga terbentuk kesatuan untuk menunjang kegiatan sosial dan ekonomi. pemerintahan. jasa perekonomian. Pasal 24 Ayat 1 Cukup jelas . jasa sosial. kesenian. Dalam pusat pelayanan dikembangkan kawasan untuk peningkatan kegiatan ekonomi. sosial. Pasal 20 Rencana struktur wilayah laut adalah rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang yang terletak di atas dan bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut garis laut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. Pengembangan sistem jaringan transportasi dilakukan secara terintegrasi mencakup transportasi darat. kesehatan. sistem jaringan prasarana dan sarana. baik yang ada sekarang maupun yang direncanakan sehingga pengembangannya dapat meningkatkan kualitas pemanfaatan ruang yang ada.

8 Ayat 2 a. atau antara pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan local e. Jalan bebas hambatan adalah jalan umum untuk lalu lintas menerus dengan pengendalian jalan masuk secara penuh dan tanpa adanya persimpangan sebidang serta dilengkapi dengan pagar ruang milik jalan. c. Jalan arteri sekunder adalah jalan yang menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu. b. Ayat 3 Cukup jelas Ayat 4 Cukup jelas Ayat 5 Cukup jelas Ayat 6 Cukup jelas Ayat 7 Cukup jelas Ayat 8 Cukup jelas Ayat 9 Cukup jelas Pasal 25 Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas . kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kesatu. d. antarpusat kegiatan wilayah. Jalan arteri primer adalah jalan yang menghubungkan secara berdaya guna antarpusat kegiatan nasional atau antara pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan wilayah. atau kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua. Jalan Kolektor Primer adalah jalan yang menghubungkan secara berdaya guna antara pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan lokal. Jalan Kolektor Sekunder adalah jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder kedua atau kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga.

memiliki jangkauan luas dan merata. Jaringan transmisi tenaga listrik yang menyalurkan tenaga listrik untuk kepentingan umum disebut juga dengan jaringan transmisi nasional yang dapat merupakan jaringan transmisi tegangan tinggi. ekstra tinggi. dan/atau ultra tinggi. atau dari kilang pengolahan atau penyimpanan ke konsumen sehingga fasilitas produksi. Ayat 3 Cukup jelas Ayat 4 Cukup jelas Pasal 28 Ayat 1 Pengembangan sistem jaringan telematika yang terdiri atas sistem kabel. system selular dan system teknologi telekomunikasi dan informatika dimaksudkan untuk menciptakan sebuah sistem telekomunikasi nasional yang andal. Ayat 2 SUTET merupakan jaringan transmisi tenaga listrik. Ayat 2 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas Pasal 33 Cukup jelas Pasal 34 Cukup jelas . Sistem jaringan telematika tersebut mencakup pula sistem jaringan telekomunikasi yang menggunakan spektrum frekuensi radio sebagai sarana transmisi. dan tempat penyimpanan minyak dan gas bumi termasuk juga dalam sistem jaringan energi. dan terjangkau. kilang pengolahan.9 Pasal 27 Ayat 1 Jaringan pipa minyak dan gas bumi yang terdiri atas pipa transmisi dan distribusi minyak dan gas bumi dikembangkan untuk menyalurkan minyak dan gas bumi dari fasilitas produksi ke kilang pengolahan dan/atau penyimpanan.

khususnya untuk menunjang wisata belanja maupun pergerakan – pergerakan pada jarak pendek yang dapat dilakukan dengan berjalan kaki. Penetapan suatu kawasan berfungsi lindung wajib memperhatikan penguasaan. dan pemanfaatan tanah (P4T) yang ada sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Ayat 1 Cukup jelas Ayat 2 Garis Sempadan Pantai diukur dari titik pasang tertinggi ke arah darat dan/atau patok yang dipasang dan ditetapkan oleh Kepala Daerah dan berfungsi sebagai kawasan perlindungan setempat di sekitar pantai. Besaran sempadan sungai suatu kawasan ditentukan berdasarkan persyaratan teknis sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan selanjutnya akan dijabarkan dalam rencana rinci RDTRK dan RTRK.10 Pasal 35 Salah satu pendukung kegiatan kota adalah tersedianya sarana prasarana kota diantaranya adalah jaringan secara khusus untuk pejalan kaki baik orang normal maupun bagi orang berkebutuhan khusus. pemilikan. Penyediaan prasarana jaringan bagi pejalan kaki mutlak diperlukan untuk mendorong Kota Surabaya sebagai tujuan utama kegiatan perdagangan dan jasa. Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Cukup jelas Pasal 38 Kawasan lindung dapat diterapkan untuk mengatasi dan mengantisipasi ancaman kerusakan lingkungan saat ini dan pada masa yang akan datang akibat kurangnya kemampuan perlindungan wilayah yang ada. Ayat 5 Cukup jelas . penggunaan. Ayat 3 Cukup jelas Ayat 4 Garis Sempadan Sungai diukur dari tepi sungai dan/atau patok yang dipasang dan ditetapkan oleh Kepala Daerah dan berfungsi sebagai kawasan perlindungan setempat di sekitar sungai. Prasarana ini harus dilakukan secara terpisah secara fisik dengan jalur kendaraan dan pada bagian – bagian tertentu diperlukan jembatan penyeberangan untuk menghindari perlintasan sebidang bagi pengguna kendaraan dan pejalan kaki. Besaran sempadan pantai suatu kawasan ditentukan berdasarkan persyaratan teknis sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan selanjutnya akan dijabarkan dalam rencana rinci RDTRK dan RTRK.

Peruntukan kawasan budi daya dimaksudkan untuk memudahkan pengelolaan kegiatan termasuk dalam penyediaan prasarana dan sarana penunjang. Peruntukan kawasan budidaya disesuaikan dengan kebijakan pembangunan yang ada. dan sebagainya. Besaran sempadan waduk/boozem suatu kawasan ditentukan berdasarkan persyaratan teknis sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan selanjutnya akan dijabarkan dalam rencana rinci. Sebagai contoh. penanganan dampak lingkungan. pada kawasan peruntukan industri dapat dikembangkan perumahan untuk para pekerja di kawasan peruntukan industri. . Dengan demikian.11 Ayat 6 Garis Sempadan waduk/boozem diukur dari titik pasang tertinggi ke arah darat dan/atau patok yang dipasang dan ditetapkan oleh Kepala Daerah dan berfungsi sebagai kawasan perlindungan setempat di sekitar waduk/boozem. masih dimungkinkan keberadaan kegiatan budi daya lainnya di dalam kawasan tersebut. penerapan mekanisme insentif. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa penyediaan prasarana dan sarana penunjang kegiatan akan lebih efisien apabila kegiatan yang ditunjangnya memiliki besaran yang memungkinkan tercapainya skala ekonomi dalam penyediaan prasarana dan sarana. Ayat 7 Cukup jelas Ayat 8 Cukup jelas Ayat 9 Cukup jelas Ayat 10 Cukup jelas Ayat 11 Cukup jelas Ayat 12 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Cukup jelas Pasal 43 Cukup jelas Pasal 44 Cukup jelas Pasal 45 Cukup jelas Pasal 46 Kawasan budi daya menggambarkan kegiatan dominan yang berkembang di dalam kawasan tersebut.

12 Pasal 47 Pembangunan perumahan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia berupa rumah tempat tinggal yang layak huni dan/atau untuk pemukiman kembali bagi masyarakat yang lahannya terkena pelaksanaan pembangunan prasarana dan sarana kota. Pasal 52 Cukup jelas Pasal 53 Cukup jelas Pasal 54 Cukup jelas Pasal 55 Cukup jelas Pasal 56 Cukup jelas Pasal 57 Cukup jelas Pasal 58 Cukup jelas Pasal 59 Cukup jelas Pasal 60 Cukup jelas Pasal 61 Cukup jelas . Lokasi pemukiman kembali (resettlement) diarahkan pada kawasan yang memiliki fungsi perumahan dan dapat memanfaatkan lahan milik Pemerintah Daerah Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Tujuan utama pengembangan pariwisata Kota Surabaya adalah untuk mendukung Kota Surabaya sebagai pusat pelayanan nasional dan internasional melalui konsep city tourism.

Sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan pertumbuhan ekonomi. kegiatan lain di bidang yang sejenis dan kegiatan di bidang lainnya. kawasan konservasi warisan budaya. dan/atau c. d. Kawasan strategis kota merupakan bagian wilayah kota yang penataan ruangnya diprioritaskan. serta kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas.13 Pasal 62 Cukup jelas Pasal 63 Cukup jelas Pasal 64 Kawasan strategis merupakan kawasan yang di dalamnya berlangsung kegiatan yang mempunyai pengaruh besar terhadap: a. serta kawasan yang menjadi lokasi instalasi tenaga nuklir. peningkatan kesejahteraan masyarakat. b. Yang termasuk kawasan strategis dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi. pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi. serta fungsi dan daya dukung lingkungan hidup dalam wilayah kota yang dinilai mempunyai pengaruh sangat penting terhadap wilayah kota bersangkutan. tata ruang di wilayah sekitarnya. Yang termasuk kawasan strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup. c. Pasal 65 Cukup jelas Pasal 66 Cukup jelas Pasal 67 Cukup jelas . antara lain. adalah kawasan metropolitan. Yang termasuk kawasan strategis dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi. kawasan pengembangan ekonomi terpadu. antara lain. antara lain. dan/atau mengkoordinasikan keterpaduan pembangunan nilai strategis kawasan yang bersangkutan dalam mendukung penataan ruang wilayah kota. social dan budaya. kawasan ekonomi khusus. adalah kawasan strategis dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi. budaya dan/atau lingkungan. Kawasan strategis kota berfungsi : a. adalah kawasan adat tertentu. Mengembangkan. melindungi. adalah kawasan pertambangan minyak dan gas bumi termasuk pertambangan minyak dan gas bumi lepas pantai. termasuk warisan budaya yang diakui sebagai warisan dunia. sosial. karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kota di bidang ekonomi. sosial. budaya. Jenis kawasan strategis. Sebagai pertimbangan dalam penyusunan indikasi program utama RTRW kota. b. antara lain. antara lain. serta fungsi dan daya dukung lingkungan hidup. Sebagai dasar penyusunan rencana rinci tata ruang wilayah kota. adalah kawasan pelindungan dan pelestarian lingkungan hidup. melestarikan. Yang termasuk kawasan strategis dari sudut kepentingan sosial dan budaya.

yang terdiri atas: a. boleh. Pasal 74 Peraturan zonasi merupakan ketentuan yang mengatur pemanfaatan ruang dan unsur-unsur pengendalian yang disusun untuk setiap zona peruntukan sesuai dengan rencana rinci tata ruang. b. arahan mengenai ketentuan jenis kegiatan pemanfaatan ruang yang diperbolehkan dengan persyaratan tertentu pada suatu kawasan. Ayat 2 Cukup jelas Pasal 70 Cukup jelas Pasal 71 Cukup jelas Pasal 72 Yang dimaksud dengan kegiatan mempunyai nilai strategis adalah kegiatan yang mempunyai efek mengganda misalnya pembangunan jalan guna meningkatkan aksesbilitas antar pusat kegiatan. produktif. baik yang dilaksanakan sebelumnya. maupun sesudahnya. bersamaan dengan. pembangunan pemancar alat komunikasi. juga terdapat kegiatan lain.14 Pasal 68 Cukup jelas Pasal 69 Ayat 1 Indikasi program utama menggambarkan kegiatan yang harus dilaksanakan untuk mewujudkan rencana struktur ruang dan pola ruang wilayah nasional. penyediaan sarana dan prasarana. Ketentuan lain yang dibutuhkan. . Pasal 73 Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan agar pemanfaatan ruang dilakukan sesuai dengan rencana tata ruang. Peraturan zonasi berisi ketentuan yang harus. arahan mengenai tingkat intensitas kegiatan pemanfaatan ruang pada suatu kawasan. adalah ketentuan pemanfaatan ruang yang terkait dengan keselamatan penerbangan. Selain itu. dan/atau d. dan tidak boleh dilaksanakan pada zona pemanfaatan ruang yang dapat terdiri atas ketentuan tentang amplop ruang (koefisien dasar ruang hijau. dan pembangunan jaringan listrik tegangan tinggi. arahan mengenai ketentuan jenis kegiatan pemanfaatan ruang yang diperbolehkan pada suatu kawasan. yang tidak disebutkan dalam Peraturan Pemerintah ini. koefisien dasar bangunan. koefisien lantai bangunan. antara lain. dan berkelanjutan. arahan mengenai ketentuan jenis kegiatan pemanfaatan ruang yang tidak diperbolehkan pada suatu kawasan. serta ketentuan lain yang dibutuhkan untuk mewujudkan ruang yang aman. c. Indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional bertujuan untuk menjamin fungsi sistem nasional yang berada di wilayah kota. nyaman. dan garis sempadan bangunan).

15 Pasal 75 Cukup jelas Pasal 76 Cukup jelas Pasal 77 Cukup jelas Pasal 78 Cukup jelas Pasal 79 Cukup jelas Pasal 80 Cukup jelas Pasal 81 Cukup jelas Pasal 82 Cukup jelas Pasal 83 Cukup jelas Pasal 84 Cukup jelas Pasal 85 Cukup jelas Pasal 86 Cukup jelas Pasal 87 Cukup jelas Pasal 88 Cukup jelas Pasal 89 Cukup jelas Pasal 90 Cukup jelas Pasal 91 Cukup jelas Pasal 92 Cukup jelas .

pembinaan. dan pelaksanaan penataan ruang dimaksudkan untuk menjamin terlaksananya peraturan perundang-undangan.16 Pasal 93 Cukup jelas Pasal 94 Cukup jelas Pasal 95 Cukup jelas Pasal 96 Cukup jelas Pasal 97 Cukup jelas Pasal 98 Cukup jelas Pasal 99 Cukup jelas Pasal 100 Cukup jelas Pasal 101 Yang dimaksud dengan perizinan adalah perizinan yang terkait dengan izin pemanfaatan ruang yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan harus dimiliki sebelum pelaksanaan pemanfaatan ruang. terselenggaranya upaya pemberdayaan seluruh pemangku kepentingan. sedangkan penerapan insentif dan disinsentif secara bersamaan diberikan untuk perizinan skala besar/kawasan karena dalam skala besar/kawasan dimungkinkan adanya pemanfaatan ruang yang dikendalikan dan didorong pengembangannya secara bersamaan Pasal 104 Cukup jelas Pasal 105 Pengawasan terhadap kinerja pengaturan. dan terjaminnya pelaksanaan penataan ruang. Kegiatan pengawasan termasuk pula pengawasan melekat dalam unsur-unsur struktural pada setiap tingkatan wilayah Pasal 106 Tindakan pemantauan. menilai tingkat pencapaian rencana secara objektif. evaluasi. dan memberikan informasi hasil evaluasi secara terbuka . dan pelaporan terhadap penyelenggaraan penataan ruang merupakan kegiatan mengamati dengan cermat. Pasal 102 dan Pasal 103 Penerapan insentif atau disinsentif secara terpisah dilakukan untuk perizinan skala kecil/individual sesuai dengan peraturan zonasi.

sosial. adalah dari pemasangan peta rencana tata ruang wilayah yang bersangkutan pada tempat umum. Pengumuman atau penyebarluasan tersebut dapat diketahui masyarakat. dan kualitas lingkungan yang dapat berupa dampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat. antara lain. . budaya. kantor kelurahan. dan kualitas lingkungan Huruf c Yang dimaksud dengan penggantian yang layak adalah bahwa nilai atau besarnya penggantian tidak menurunkan tingkat kesejahteraan orang yang diberi penggantian sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 110 Cukup jelas Pasal 111 Cukup jelas Pasal 112 Cukup jelas Pasal 113 Huruf a Menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan dimaksudkan sebagai kewajiban setiap orang untuk memiliki izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang berwenang sebelum pelaksanaan pemanfaatan ruang. dan/atau penyebarluasan oleh pemerintah. Huruf b Pertambahan nilai ruang dapat dilihat dari sudut pandang ekonomi. budaya. pengumuman. sosial.17 Pasal 107 Cukup jelas Pasal 108 Cukup jelas Pasal 109 Huruf a Masyarakat dapat mengetahui rencana tata ruang melalui Lembaran Negara atau Lembaran Daerah. dan/atau kantor yang secara fungsional menangani rencana tata ruang tersebut.

Kewajiban memberikan akses dilakukan apabila memenuhi syarat berikut: a.18 Huruf b Memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dimaksudkan sebagai kewajiban setiap orang untuk melaksanakan pemanfaatan ruang sesuai dengan fungsi ruang yang tercantum dalam izin pemanfaatan ruang. baik orang perseorangan maupun korporasi. Yang termasuk dalam kawasan yang dinyatakan sebagai milik umum. antara lain. dan/atau b. untuk kepentingan masyarakat umum. Huruf c Mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang dimaksudkan sebagai kewajiban setiap orang untuk memenuhi ketentuan amplop ruang dan kualitas ruang. tidak ada akses lain menuju kawasan dimaksud. adalah sumber air dan pesisir pantai Pasal 114 Cukup jelas Pasal 115 Peran masyarakat sebagai pelaksana pemanfaatan ruang. Huruf d Pemberian akses dimaksudkan untuk menjamin agar masyarakat dapat mencapai kawasan yang dinyatakan dalam peraturan perundangundangan sebagai milik umum. antara lain mencakup kegiatan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan rencana tata ruang Pasal 116 Cukup jelas Pasal 117 Cukup jelas Pasal 118 Cukup jelas Pasal 119 Cukup jelas Pasal 120 Cukup jelas Pasal 121 Cukup jelas Pasal 122 Cukup jelas Pasal 123 Cukup jelas Pasal 124 Cukup jelas .

19 Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Cukup jelas Pasal 127 Cukup jelas Pasal 128 Cukup jelas Pasal 129 Cukup jelas Pasal 130 Cukup jelas Pasal 131 Cukup jelas Pasal 132 Cukup jelas ================================================================== .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->