REFERAT Peran Leptin Terhadap Obesitas

Pembimbing: dr. Ekky. M. Rahardjo, MS. Sp. GK

Disusun Oleh:
Willyani Setiawan ( 406091008 ) Yosia Christian ( 406091047 ) Kevin Pratama ( 406100088 )

Kesuma Larasati ( 406100116 ) Rita Taolin ( 406100126 )

KEPANITERAAN ILMU GIZI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA PERIODE 7 November – 19 November 2011

Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 1

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ………………………………………………………………………. Daftar isi ……………………………………………………………………………… BAB 1 BAB 2 Pendahuluan ………………………………………………................. Hubungan antara leptin dan obesitas ………………………………… I.Obesitas ………………………………………..…………………… II. Leptin …………………………………………………………….. BAB 3 Kesimpulan ……………………………………………………………

i ii 1 5 5 8 15 16

Daftar Pustaka …………………………………………………………………………

BAB I
Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 2

PENDAHULUAN

Obesitas adalah suatu akumulasi lemak dalam jaringan adipose yang abnormal atau berlebihan, sehingga mencapai suatu taraf yang menimbulkan gangguan kesehatan. Meningkatnya jumlah individu dengan obesitas pada dekade terakhir telah menimbulkan masalah kesehatan yang serius. Di Amerika Serikat lebih kurang 300.000 orang meninggal setiap tahunnya terkait dengan peningkatan berat badan dan obesitas.1 Prevalensi obesitas pada populasi orang dewasa Amerika Serikat telah meningkat tajam dalam tiga dekade terakhir, berkontribusi terhadap peningkatan kejadian diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Beberapa studi epidemiologi menunjukkan bahwa 65-75% dari risiko hipertensi adalah disebabkan kelebihan berat badan.2 Saat ini diperkirakan jumlah orang di seluruh dunia dengan IMT ≥ 30 kg/m2 melebihi 250 juta orang, yaitu sekitar 7% dari polulasi orang dewasa di dunia. Prevalensi obesitas berhubungan dengan urbanisasi dan mudahnya mendapat makanan serta banyaknya jumlah makanan yang tersedia. Urbanisasi dan perubahan status ekonomi yang terjadi di negara-negara yang sedang berkembang berdampak pada peningkatan prevalensi obesitas pada populasi di negara-negara ini, termasuk di Indonesia.3 Obesitas merupakan penyakit kronik yang bersifat monogenik dan poligenik, dan dapat menyebabkan beberapa keadaan disfungsi serta gangguan patologis. Obesitas dipengaruhi beberapa faktor, yaitu asupan makanan, mekanisme neuroendokrin, genetik, faktor sosial dan gaya hidup. Studi – studi epidemiologis memperlihatkan korelasi bermakna antara Body Mass Index (BMI) dengan paling kejadian sering kardiovaskular.1 BMI merupakan indikator yang

Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 3

digunakan dan praktis untuk mengukur tingkat populasi berat badan lebih dan obese pada orang dewasa.3 Obesitas dapat disebabkan oleh banyak hal, antara lain: lingkungan, ekonomi, kebiasaan dan makan, kurangnya kegiatan pada fisik, faktor genetik. Biasanya obesitas perempuan

berhubungan dengan obesitas pada masa kecil, sedangkan obesitas pada laki-laki terjadi setelah umur 30 tahun.3 Pada beberapa penelitian dikatakan bahwa leptin mempunyai peran terhadap obesitas. Pada beberapa orang yang obesitas akan didapatkan kadar leptin yang meningkat. Hal ini disebabkan karena pada obesitas terjadi resistensi terhadap leptin, sehingga kadar leptin dalam darah akan meningkat.4 Leptin adalah suatu protein yang berasal dari 167 asam amino, merupakan hormon yang di produksi oleh jaringan adiposa putih dan coklat. Leptin bekerja pada susunan saraf pusat (SSP) untuk menurunkan berat badan, dengan cara menurunkan asupan makanan dan meningkatkan metabolisme dengan meningkatkan thermogenesis dan peningkatan pemakaian energy expenditure.2 aktivitas saraf Leptin simpatis. menyebabkan peningkatan signifikan

Observasi – observasi terkini menunjukan bahwa leptin mungkin dapat membantu menjelaskan hubungan antara massa lemak dengan penyakit – penyakit kardiovaskular.1,5 Pada hewan coba baik secara in vitro maupun in vivo, menunjukkan bahwa leptin diangkut ke otak berikatan dengan reseptornya di hipotalamus yang kemudian menyebabkan terjadi penekanan dari peptida orexigenik (normalnya meningkatkan asupan makanan) dan peningkatan pada peptide anoreksigenik (menurunkan
Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 4

asupan

makanan).4

Leptin

terbukti

meningkatkan

lipolisis

pada

jaringan adiposa putih. Efek ini dapat terjadi baik sentral melalui aktivitas simpatik, maupun secara perifer pada jaringan adiposa dengan mengawali oksidasi asam lemak di dalam adiposit.1 Pada hewan coba yang obesitas, hiperleptinemia berhubungan dengan dua proses yang terjadi secara bersamaan, yaitu berkurangnya proses lipogenesis dan bertambahnya lipolisis. Hasil akhir kedua proses tersebut adalah peningkatan asam lemak bebas dan kemudian peningkatan konsentrasi trigliserida.1 Jika leptin diberikan kepada hewan coba ini, maka nafsu makannya menurun, metabolisme atau pembakaran meningkat dan mengalami penurunan berat badan yang bermakna. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah leptin akan memberikan efek yang sama pada manusia?
5

Jika obesitas pada manusia berhubungan dengan kadar leptin maka secara teori obesitas dapat diobati dengan leptin. Nyatanya obesitas pada manusia melibatkan mekanisme yang sangat kompleks, dan bukan berhubungan dengan rendahnya kadar leptin saja. Penelitian terbaru memperlihatkan hasil yang memberikan harapan baru, yaitu dengan pemberian leptin dosis tinggi dapat menurunkan berat badan individu yang obesitas.5 Pada pria dan wanita Asia India memiliki kadar Leptin yang lebih tinggi dan Adiponektin yang lebih rendah daripada pria dan wanita Kaukasian. Leptin dan adiponektin dipengaruhi oleh status lemak tubuh dan hubungannya dengan resiko CVD.5 Terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa leptin melalui mekanisme baik langsung maupun tidak langsung memegang peranan penting dalam regulasi kardiovaskular dan ginjal. Epidemiologi menunjukkan bahwa 65-70% dari resiko hipertensi disebabkan oleh kelebihan berat badan. Leptin
Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 5

dianggap merupakan hormon yang penting dengan kerja pleiotropik significant pada berbagai system organ. Hormon leptin memiliki beberapa tindakan yang penting tidak hanya untuk metabolisme energi, tetapi juga dalam pengaturan kardiovaskuler dan fisiologi serta patofisiologi ginjal.

Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 6

BAB II HUBUNGAN ANTARA LEPTIN DAN OBESITAS

I.

OBESITAS

Obesitas merupakan asupan makanan dan

hasil

dari

ketidakseimbangan

antara

Energy Expenditure. Keadaan ini memuncak akibat dari akumulasi lemak yang terlalu banyak pada jaringan adiposa, hati, otot, pancreas dan organ lain yang berhubungan dengan metabolisme. Obesitas menaikkan resiko diabetes, penyakit jantung koroner, perlemakan hati, dan lain-lain.4 penyebab Obesitas merupakan salah satu

kematian di seluruh dunia. Obesitas pertama kali diketahui sebagai salah satu gangguan medis oleh bangsa Yunani. Hippocrates menulis bahwa kegemukan bukan hanya merupakan suatu penyakit tetapi merupakan petanda dari penyakit lain. Para ahli bedah India (abad ke-6 SM) menyatakan bahwa obesitas berhubungan dengan penyakit jantung dan diabetes. Himpunan Study
10

Di Indonesia penelitian yang dilakukan oleh Indonesia
11

Obesitas

(HISOBI)

tahun

2004

mendapatkan angka prevalensi obesitas (IMT = ≥ 30 kg/m2) 9,16% pada pria dan 11,02% pada wanita.

Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 7

Adapun beberapa penyabab dari obesitas antara lain :12
-

Yang paling sering disebabkan oleh ketidakseimbangan

asupan makanan dengan energy expenditure Tidak cukup tidur Kelainan endokrin Mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menyebabkan

kenaikan berat badan (seperti obat antipsikotik) Berkurangnya frekuensi merokok (karena merokok bisa

menekan nafsu makan) Kehamilan pada usia tua (bisa menyebabkan obesitas pada

anak-anak) Kelainan genetik Gaya hidup

Klasifikasi Obesitas10 Klasifikasi obesitas dapat ditentukan dari BMI (Body Mass Index), yaitu suatu pengukuran yang membandingkan berat badan dengan tinggi badan. Rumus: BMI = b/t2 Dimana b adalah berat badan dalam satuan kilogram dan t adalah tinggi badan dalam meter. Angka yang biasanya digunakan untuk menentukan klasifikasi obesitas yaitu dari WHO tahun 1997.
Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 8

BMI < 18,5 18,5-24,9 25,0-29,9 30,0-34,9 35,0-39,9 ≥40,0

Klasifikasi Underweight Normal Overweight Obese I Obese II Obese III

Mortalitas hubungannya

yang dengan

berkaitan sindrom

dengan

obesitas

sangat

erat

metabolik.

Sindrom

metabolik

merupakan satu kelompok kelainan metabolik yang meliputi obesitas, resistensi insulin, gangguan toleransi glukosa, abnormalitas trigliserid dan homeostatus, disfungsi endotel dan hipertensi yang merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya aterosklerosis dengan manifestasi penyakit jantung koroner dan atau stroke.3 Manajemen Pengendalian Berat Badan pada Pasien Overweight dan Obesitas Penurunan berat badan mempunyai efek yang menguntungkan terhadap komorbid obesitas, bahkan penurunan berat badan sebesar 5-10% dari berat awal dapat mengakibatkan perbaikan kesehatan secara signifikan. Terdapat bukti kuat bahwa penurunan berat badan pada individu obesitas dan overweight mengurangi factor risiko diabetes dan penyakit kardiovaskuler. Bukti kuat lainnya juga menunjukan bahwa penurunan berat badan dapat menurunkan

tekanan darah pada penderita overweight normotensi dan hipertensi, mengurangi serum trigliserida dan meningkatkan kolesterol-HDL, dan secara umum mengakibatkan beberapa pengurangan pada kolesterol serum total dan kolesterol-LDL. Penurunan berat badan juga dapat mengurangi konsentrasi glukosa darah pada individu overweight dan
Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 9

obesitas tanpa diabetes, dan juga mengurangi konsentrasi glukosa darah serta HbA1C pada beberapa pasien dengan Diabetes Melitus tipe 2. Tidak ada terapi tunggal yang efektif untuk orang dengan kelebihan berat badan dan obesitas. Terapi penurunan berat badan yang sukses meliputi 4 faktor, yaitu: diet rendah kalori, aktivitas fisik, perubahan perilaku dan obat-obatan atau bedah.3 Penurunan berat badan harus SMART: Specific,Measurable, Achievable, Realistic, and Time Limited. Tujuan awal dari terapi penurunan berat badan adalah untuk mengurangi berat badan sebesar sekitar 10% dari berat badan awal. Batas waktu yang masuk akal untuk penurunan berat badan sebesar 10% adalah 6 bulan setelah terapi. Untuk pasien overweight dengan rentang BMI sebesar 27-35 kg/m2 , penurunan kalori sebesar 300-500 kkal/hari akan menyebabkan penurunan berat badan sebesar ½-1 kg per minggu dan penurunan 10% dalam 6 bulan. Setelah 6 bulan kecepatan penurunan berat badan lazimnya akan melambat dan berat badan menetap karena seiring dengan berat badan yang berkurang terjadi penurunan energy expenditure. Oleh karena itu setelah terapi penurunan berat badan selama 6 bulan, program penurunan berat badan harus terus dilakukan. Jika dibutuhkan penurunan berat badan lebih banyak, dapat dilakukan penyesuaian lebih lanjut terhadap anjuran diet dan aktivitas fisik.3

II.

LEPTIN Pembatasan kalori merupakan strategi yang paling masuk akal

untuk mengurangi berat badan, namun hal ini tidak dapat dilakukan dalam jangka panjang dikarenakan peningkatan rasa lapar dan reduksi
Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 10

metabolisme, yang membuat energi disimpan dan terjadi peningkatan berat badan kembali. Peningkatan aktivitas di otak antara lain pada cerebral cortex, area limbik, dan hipothalamus terjadi pada orang yang sedang diet dengan menggunakan stimulus makanan secara visual. Untuk mengatur hypothalamic neuronal circuits, signal metabolisme seperti leptin akan meneruskan persepsi makanan melalui efek yang tidak dimengerti dalam proses visual dan informasi sensoris lainnya.

Courtesy: Regulation of Energy Intake, Robert V. Consdine
Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 11

Leptin berasal dari bahasa Yunani yang berarti thin atau kurus. Leptin merupakan hormon dengan berat molekul 18 kDa, yang disekresi pada jaringan adipose. Leptin ini adalah peptida yang mengandung 146 asam amino yang diproduksi oleh gen LEP (yang banyak diproduksi oleh jaringan adipose, namun juga ditemukan dalam jaringan lain seperti jaringan otot dan plasenta). Leptin secara signifikan lebih banyak pada wanita dibandingkan dengan pria dengan jumlah lemak yang sama. Hormon reproduksi tampaknya memberikan kontribusi yang kuat pada perbedaan kadar leptin antara wanita dan pria.6

Sekresi dari leptin ini dipengaruhi oleh beberapa macam, antara lain :6 Increasing Positive energy balance Plentiful food intake High fat or carbohydrate intake Insulin, Glucocorticoid Puberty Luteal phase menstrual cycle Fertile Women Pregnancy Foetus Placenta Bone formation Reduced bone formation Decreasing Negative energy balance Starvation / fasting Cold environment

of

Follicullar

phase

of

menstrual cycle Post-menopausal women Falling to normal 24h post delivery

Reseptor mempengaruhi

reseptor

leptin

terletak

pada

jaringan

yang

nafsu

makan

(hipothalamus,

pusat

pengaturan

Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 12

keseimbangan pencernaan.
6

energi),

penyimpanan

energi,

metabolisme

dan

Leptin ini setelah dipelajari, bekerja dengan cara mengirimkan signal ke otak (hipothalamus) untuk menghambat asupan makanan dengan mengaktifasi enzym phosphatidylinositol-3-hydroxykinase dan menurunkan berat badan.4 Proses kerja Leptin dalam menghambat asupan makanan adalah sebagai berikut:
7

Intake dari makanan akan memicu pelepasan Leptin dari jaringan adipose.
6

Lemak yang berasal dari makanan yang masuk ke dalam

tubuh akan diabsorpsi oleh saluran pencernaan, sehingga kadar lemak dalam serum akan meningkat. Sehingga peningkatan dari kadar Leptin ini terjadi seiring dengan meningkatnya kadar lemak serum (karena makanan).6

Kemudian Leptin ini juga akan menimbulkan dampak: Lemak serum akan tersimpan di jaringan adipose (lemak) sehingga triasilgliserol akan tersimpan di jaringan lemak.
6

Leptin akan mengirim signal ke otak (hipothalamus) tentang cadangan energi di jaringan adiposa yang meningkat.
8

Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 13

Hipothalamus kenyang

akan

mengirim

signal

rasa

Nafsu makan orang akan turun karena merasa kenyang Makanan yang dikonsumsi sedikit sehingga berat badan menurun4

Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 14

Courtesy: Regulation of Energy Intake, Robert V. Consdine Studi terakhir, Rosenbaurn et al. menemukan suatu konsep bahwa leptin merupakan critical sign untuk suatu perubahan metabolic yang diinduksi dengan pembatasan kalori pada manusia. Hipotesis terkini mengatakan bahwa penurunan kadar leptin pada masa pengurangan berat badan akan mengurangi energy expenditure dan merangsang kenaikan berat badan kembali.7 Percobaan pada tikus menunjukkan bahwa leptin di transport ke dalam otak, berikatan dengan reseptornya di dalam hypothalamus, dan mengaktifkan JAK-STAT8, mengarah ke penekanan kadar “orexigenic peptides” (mis. Neuropeptide Y dan agouti-related protein,
Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 15

dimana pada keadaan normal meningkatkan asupan makanan), dan meningkatkan kadar “anorexigenic peptides” (mis. Proopiomelanocortin dan corticotrophin-releasing hormon, dimana pada keadaan normal mengurangi asupan makanan).4 Pada percobaan tikus yang obesitas (ob gene), ketiadaan leptin pada tikus yang obesitas berhubungan dengan hiperfagia dan severe obesitas.8 Dari penelitian ini didapatkan kesimpulan kadar leptin yang menurun berhubungan dengan peningkatan nafsu makan pada tikus. Namun, hasil penelitian ini menimbulkan suatu pertanyaan bagi leptin sebagai anti obesitas hormon, karena pada obesitas ditemukan kadar leptin yang tinggi. Ditambah lagi pada percobaan tikus dan manusia yang obesitas dengan diet tinggi lemak didapatkan tidak berespon pada leptin.4 Kadar leptin yang terdapat pada kelompok yang diterapi dengan leptin menunjukkan hasil kenaikan kadar leptin yang tidak terlalu signifikan. Dengan pengecualian studi ini hanya dilakukan dalam waktu 12 minggu. Maka dari itu, dapat diambil kesimpulan bahwa dosis dari leptin yang dipakai tidak memberikan pengaruh yang besar dalam merangsang penurunan berat badan. Defisiensi Leptin dapat mengakibatkan penambahan berat badan kembali dengan menstimulasi nafsu makan dan mengurangi energy output. Kemampuan leptin untuk memutarbalikkan kerja dari otak menunjukkan bahwa leptin atau obat yang menstimulasi leptin dapat memfasilitasi pengurangan berat badan. Salah satu obat sebagai pengganti leptin yang berefek sebagai obat penurun berat badan, sibutramine, menurunkan asupan makanan dan menstimulasi oksidasi asam lemak.4
Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 16

Hal lain yang perlu untuk dilakukan penelitian lebih lanjut adalah apakah orang yang obesitas mendapat yang keuntungan dari dengan kadar leptin yang rendah pemberian kadar terapi leptin. yang Penelitian rendah.

terhadap banyak orang menunjukkan sekitar 10% dari orang individu obesitas mempunyai plasma leptin Menggambarkan keadaan dari struktur, reaksi kimia dan aktifitas “listrik” pada otak manusia dapat mengarahkan ke strategi terapeutik yang menitikberatkan pada pusat stimulus lapar / nafsu makan.4

BAB III KESIMPULAN

Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 17

Obesitas

merupakan

hasil

dari

ketidakseimbangan

antara

asupan makanan dan Energy Expenditure. Urbanisasi dan perubahan status ekonomi yang terjadi di negara-negara yang sedang berkembang berdampak pada peningkatan prevalensi obesitas pada populasi di negara-negara ini, termasuk di Indonesia.3 Pada beberapa penelitian dikatakan bahwa leptin mempunyai peran terhadap obesitas. Pada beberapa orang yang obesitas akan didapatkan kadar leptin yang meningkat. Hal ini disebabkan karena pada obesitas terjadi resistensi terhadap leptin, sehingga kadar leptin dalam darah akan meningkat.4 Leptin merupakan hormon dengan berat molekul 18 kDa, yang disekresi pada jaringan adipose. Leptin ini adalah peptida yang mengandung 146 asam amino yang diproduksi oleh gen LEP (yang banyak diproduksi oleh jaringan adipose, namun juga ditemukan dalam jaringan lain seperti jaringan otot dan plasenta). Leptin secara signifikan lebih banyak pada wanita dibandingkan dengan pria dengan jumlah lemak yang sama. Hormon reproduksi tampaknya memberikan kontribusi yang kuat pada perbedaan kadar leptin antara wanita dan pria.6 Defisiensi Leptin dapat mengakibatkan penambahan berat badan kembali dengan menstimulasi nafsu makan dan mengurangi energy output. Kemampuan leptin untuk memutarbalikkan kerja dari otak menunjukkan bahwa leptin atau obat yang menstimulasi leptin dapat memfasilitasi pengurangan berat badan. Salah satu obat sebagai pengganti leptin yang berefek sebagai obat penurun berat badan, sibutramine, menurunkan asupan makanan dan menstimulasi oksidasi asam lemak.4

Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 18

DAFTAR PUSTAKA
1. Librantoro, Anna UR, Hananto A. Korelasi Antara Kadar Leptin Dengan

Endotelin-1 Pada Individu Hipertensi Dengan Obesitas. Jurnal Kardiologi Indonesia. 2007; 28:246-255. Available at: http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/karidn/article/view/757. Accesed: November, 2011.
2. Shilpa K, Kan L, Ali S, et. al. Obesity Hypertension: The Regulatory Role of

Leptin. 2011.

International

Journal

of

Hypertension.

2011.

Available

at:

http://www.hindawi.com/journals/ijht/2011/270624/. Accesed: November,
3. Sugondo, Sidartawan. Obesitas. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,

Jilid III. Ed. V. Interna Publishing. Jakarta. 2006. Hal. 1973-83.
4. Ahima, Rexford S. Revisiting leptin’s role in obesity and weight loss. The

Journal

Clinical

Investigation. 2008;118(7):2380–2383.

Available

at:

file:///F:/gizi%20refrat/JCI%20-%20Revisiting%20leptin%E2%80%99s %20role%20in%20obesity%20and%20weight%20loss.htm. November, 2011.
5. Jessica S, Maha A, Allan S, Katherine C. Leptin and adiponectin in relation

Accesed:

to body fat percentage, waist to hip ratio and the apoB/apoA1 ratio in Asian Indian and Caucasian men and women. Nutrition & Metabolism. 2006, 3:18. November, 2011
6. Eastwood, Martin. Principles of Human Nutrition, 2nd ed. Blackwell

Available

at: Accesed:

http://www.nutritionandmetabolism.com/content/3/1/18.

Publishing. 2003
7. Ganong, William F. Ganong’s Review of Medical Physiology. 22nd ed.

McGraw Hill. 2005.

Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 19

8. Considine,

Robert V. Regulation of Energy Intake. Chapter 3. In: 2002. Available from: Accesed:

Endotext.org. November, 2011.

http://www.endotext.org/obesity/obesity3/obesityframe3.htm.
9. Shils ME, Shike M, Ross AC, et. al.

Modern Nutrition in Health and http://en.wikipedia.org/wiki/Obesity. 100 Kg. Available at:

Disease, 10th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2006.
10. Anonim.

Obesity.

Available Mampu

at:

Accesed: November 2011
11. Merdikoputro,

djoko.

menurunkan

http://www.suaramerdeka.com/harian/0602/27/ragam01.htm. November 2011

Accesed:

12. Keith SW, Redden DT, Katzmarzy PT, et. al. Putative contributors to the

secular

increase

in

obesity: of

exploring Obesity.

the

roads

less

traveled. at: Accesed:

International November 2011

Journal

2006.

Available

http://www.nature.com/ijo/journal/v30/n11/full/0803326a.html.

Kepaniteraan Ilmu Gizi periode 7 – 22 November 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Page 20

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful