HEMOPTISIS

BUKU TUTOR

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU 2005/2006

1

PENYUSUN: dr. Azizman Saad, SpP dr. Zarfiardi Aksa Fauzi, SpP dr. Arlina Gusti, SpP dr. Fridayenti, SpPK dr. Andreas Makmur, SpR dr. Zulkifli Malik, SpPA dr. Harry, PAK dr. M. Yulis Hamidy, M.Kes dr. Elda Nazriati, M.Kes dr. Sri Wahyuni, M.Kes drg. Rita Endriani, M.Kes Fifia Chandra, SKM, M.Kes

MODUL HEMOPTISIS 2

Tujuan Instruksional Umum Mahasiswa mampu menjelaskan, mendiagnosis dan menyusun rencana intervensi terhadap masalah kesehatan yang berhubungan dengan hemoptisis. Tujuan Instruksional Khusus 1. Menjelaskan masalah kedokteran dan kesehatan yang berhubungan dengan hemoptisis berdasarkan pengertian ilmu biomedik, klinik, perilaku dan komunitas terkini  Menjelaskan definisi hemoptisis  Menjelaskan etiologi hempotisis  Menjelaskan patofisiologi hemoptisis  Menjelaskan anatomi dan fisiologi paru 2. Memperoleh dan mencatat riwayat penyakit secara lengkap dan konstektual serta melakukan pemeriksaan secara komperehensif pada berbagai keadaan yang berhubungan dengan hemoptisis  Melakukan anamnesis (autoaloanamnesis) dengan baik  Melakukan pemeriksaan fisik (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi) secara lege artis 3. Memilih dan melakukan secara”lege artis”, serta menafsirkan hasil berbagai prosedur klinik dan laboratorium yang berhubungan

3

dengan hemoptisis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik  Melakukan pemeriksaan darah rutin  Melakukan pemeriksaan BTA sputum (SPS)  Membaca hasil rontgen toraks (PA dan Lateral)  Melakukan kultur BTA sputum dan resistensi BTA 4. Menyusun rencana penatalaksanaan berdasarkan indikasi dan pemahaman ilmiah  Menyusun rencana terapi nonfarmakologis (edukasi, posisi, infus, transfusi dll)  Menyusun rencana terapi farmakologis (OAT, obat anti perdarahan)  Menyusun rencana intervensi lanjutan (advance intervention) 5. Menjelaskan konsep kedokteran keluarga pada saat diagnosis, pengelolaan dan pencegahan masalah individu yang berhubungan dengan hemoptisis  Menjelaskan diagnosis dan rencana terapi kepada keluarga  Menjelaskan faktor risiko (perilaku, gizi, sosial ekonomi)  Menjelaskan manfaat imunisasi BCG  Menjelaskan manfaat mantoux test

4

6. Menerapkan prinsip-prinsip kedokteran berbasis bukti dalam praktek kedokteran 7. Menjelasakan rencana pengelolaan masalah kesehatan individu yang berhubungan dengan hemoptisis melalui keterampilan clinical reasoning untuk menjamin hasil maksimal (aspek medikolegal) Skenario Seorang dokter muda yang sedang bertugas di IGD RSAA menerima seorang pasien perempuan berusia 50 tahun dengan keluhan utama batuk darah sejak 10 hari yang lalu, batuk darah ± 3 sendok makan sehari. Suaminya juga mempunyai riwayat batuk darah 1 tahun yang lalu. Pasien tinggal di pemukiman padat dan kumuh. Pasien ini juga belum pernah mendapat OAT. Pada pemeriksaan fisik didapatkan hasil keadaan umum sedang, tenang, kesadaran komposmentis kooperatif, tekanan darah 130/70 mmHg, nadi 88 kali/menit, frekuensi nafas 20 kali/menit, suhu badan 370C, dan pada auskultasi didapatkan hasil: vesikuler dan ronkhi di lapangan atas paru kanan. Terhadap pasien tersebut langsung dilakukan pemeriksaan CT scan toraks. Selanjutnya pada pemeriksaan penunjang diperoleh hasil sebagai berikut: • Darah rutin: Hb 9,0 gram %, Leukosit 6500/mm3, hitung jenis 0/2/2/35/52/9, LED 100/1 jam • Sputum BTA SPS +/++/-

5

8. 6. 3. 5.• • Rontgen toraks: infiltrat di lapangan atas paru kiri dan perihiler kiri. mahasiswa ditugaskan untuk: 1. Mengidentifikasi data tambahan yang diperlukan pada buku mahasiswa untuk pasien tersebut 2. Membuat kata kunci dari skenario di atas 3. 4. Batuk Darah OAT Penularan TB Faktor resiko Sputum Infiltrat Kavitas Issue etik 6 . 2. 7. Menetapkan learning issues untuk didiskusikan selanjutnya Kata Kunci 1. kavitas ukuran ≥ 2 cm di lapangan atas paru kanan Kultur dan uji resistensi BTA: positif (+) dan sensitif terhadap seluruh OAT Tugas Mahasiswa Setelah membaca skenario dengan cermat.

Learning Issues I. Anatomi Paru 7 .

8 .

Respirasi internal (seluler).II. Selain itu paru juga membantu fungsi nonrespirasi. yaitu: • Pembuangan air dan eliminasi panas • Membantu venus return • Keseimbangan asam basa • Vokalisasi • Penghidu Terdapat dua jenis respirasi. Fisiologi Paru Paru merupakan organ respirasi yang berfungsi menyediakan O2 dan mengeluarkan CO2. menggunakan O2 dan memproduksi CO2 dalam rangka membentuk energi dari nutrien 9 . merupakan proses metabolisme intraseluler. yaitu: 1.

1. Respirasi eksternal. merubah diameter anteroposterior rongga toraks inspirasi: elevasi iga ekspirasi: depresi iga Difusi paru Faktor yang mempengaruhi difusi gas pada membran respirasi: Tebal membran kecepatan a. ekspirasi: relaksasi diafragma 2. Turun-naik diafragma yang merubah diameter superoinferior rongga toraks a. Pertukaran udara atmosfir dan alveoli dengan mekanisme ventilasi b. Depresi-elevasi iga. O2 dan CO2 ditranspor oleh darah dari paru ke jaringan d. b. inspirasi: kontraksi diafragma b. Pertukaran O2 dan CO2 antara jaringan dan darah dengan proses difusi melintasi kapiler sistemik Tahap a & b oleh sistem respirasi. 10 .2. merupakan serangkaian proses yang melibatkan pertukaran O dan CO antara lingkungan luar dan sel tubuh. Pertukaran O2 dan CO2 alveoli dan kapiler pulmonal melalui mekanisme difusi c. Tahap respirasi ekstrenal: 2 2 a. sedangkan tahap c & d oleh sistem sirkulasi Ventilasi paru Gerakan nafas dengan 2 cara: 1.

97% O2 ditranspor dalam bentuk HbO2. 4. Hipoksia 1. 5 ml O2 dilepaskan ke jaringan oleh 100 ml darah. Oksigenasi paru tidak memadai karena keadaan ekstrinsik • kurangnya O2 dalam udara atmosfer • hipoventilasi (gangguan saraf otot) 2. CO2 ditranspor dalam bentuk terlarut dalam darah 7 %. Transpor O2 ke jaringan tidak memadai Anemia Penurunan sirkulasi umum 11 . Pintas jantung dari kanan ke kiri 4. Luas permukaan membran Koefisien difusi gas Perbedaan tekanan pada kedua sisi membran Pada radang jaringan paru dapat terjadi penurunan kapasitas difusi paru karena penebalan membran alveoli dan berkurangnya jumlah jaringan paru yang dapat berfungsi pada proses difusi gas Transportasi gas 1. ion bikarbonat 70%. Rata-rata Hb dalam 100 ml darah dapat berikatan dengan 20 ml O2. 3% terlarut dalam cairan plasma dan sel. dan protein plasma 20 %. 3. Hb. Penyakit paru  Peningkatan tahanan saluran nafas atau penurunan compliance • Rasio ventilasi perfusi abnormal • Berkurangnya difusi membran pernafasan 3.2. Transpor O2 dalam darah. gabungan CO2. 2.

5 ideal. Di dasar paru => VA/Q 0. karena ventilasi sangat kecil dibanding aliran darah sehingga sebagian darah tidak teroksigenasi 12 . karena aliran darah lebih sedikit (ruang rugi fisiologik). tapi pada saat kerja aliran darah ke apeks paru meningkat sehingga ruang rugi fisiologik berkurang 2. VA/Q di atas normal => ventilasi besar tapi aliran darah alveolus rendah 1. VA/Q di bawah normal =>ventilasi tidak cukup 5. cerebral. Abnormalitas rasio ventilasi perfusi pada paru normal 1. Apeks paru pada posisi tegak => VA/Q 2. 2. VA/Q tak terhingga => VA adekuat tapi Q nol 4. Q (aliran darah) Rasio ventilasi perfusi normal (VA dan Q normal) VA/Q nol => VA nol tapi masih ada perfusi (Q) 3. Rendahnya kemampuan jaringan menggunakan O2  Keracunan enzim sel  Penurunan kapasitas metabolik sel Rasio ventilasi perfusi VA (ventilasi alveolus). jantung) Edema jaringan 5.6 ideal.• Penurunan sirkulasi lokal (perifer.

Abses paru 1. TB paru 1. Bronkitis 2. aliran darah tidak adekuat sehingga ruang rugi fisiologik meningkat III.4. Adenoma 3. Mitral stenosis 3. Infeksi 1. Hipertensi pulmonal 13 . Bronkiektasis 1. Neoplasma 2.1.3. Karsinoma paru 2.4.Hemoptisis Sinonim Definisi dari (dari : hemaptoe.5.1. yang berasal saluran pernafasan bagian bawah glottis ke distal) Etiologi 1.1. batuk darah : membatukkan darah. Sebagian bronkiolus tersumbat sehingga alveoli tidak terventilasi 2.2.Abnormalitas VA/Q pada penyakit paru obstruksi kronik pada perokok kronik terjadi abnormalitas VA/Q karena: 1. Lain – lain 3. Pneumonia 1. Trauma 3. Tromboemboli paru  infark paru 3.5. Diatesis hemoragik 3.3.2. Dinding alveolus rusak.2.

Benzidine test (-) Muntah darah 1. Darah berwarna merah kehitaman 6. pH alkali 8. Riwayat penyakit lambung/hati 2. Asfiksia (-)/jarang 7.Batuk darah 1. Darah dimuntahkan dengan rasa mual 3. Darah bercampur dengan makanan 4. Benzidine test (+) • o o o Sirkulasi paru terdiri dari sirkulasi pulmoner dan sirkulasi bronkial. Darah berwarna merah segar 6. Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan 3. Mengandung partikel makanan 5. pH asam 8. Darah berbuih bercampur dahak 4. Sirkulasi bronkial : nutrisi pada paru dan saluran napas tekanan pembuluh darah sistemik cenderung terjadi perdarahan lebih hebat • o o Sirkulasi pulmonar mengatur pertukaran gas tekanan rendah 14 . Asfiksia (+)/mungkin 7. Riwayat penyakit paru/jantung 2. Mengandung makrofag & netrofil 5.

15 . Hemoptisis masif terjadi karena iritasi dari Aneurisme Rasmussen pada dinding kavitas. Komplikasi 1. 135:463-81 Patofisiologi Pada TB paru hemoptisis terjadi karena proses ulserasi mukosa dan dinding pembuluh darah pada lesi. sufokasi.Am Rev Respir Dis 1987. sering fatal karena tersumbatnya trakhea atau saluran nafas sentral/utama.

tapi lebih dari 250 mL/24 jam. atelektasis. karena tersumbatnya saluran nafas sehingga bagian paru yang distal kolaps 4. kemudian mencari sumber dan penyebab perdarahan • Mencegah risiko berulangnya hemoptisis 16 . tapi lebih dari 250 mL/24 jam. karena perdarahan yang banyak Kriteria Hemoptisis Masif (Busroh. dimana terhisapnya darah ke bagian paru yang sehat 3. Hb > 10 g% dalam 48 jam belum berhenti • • • • • Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan sputum Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan radiologi Bronkoskopi Lainnya sesuai indikasi Penatalaksanaan • Prinsip penatalaksanaan hemoptisis: o Menjaga jalan napas dan stabilisasi penderita o Menentukan lokasi perdarahan o Memberikan terapi • Prioritas tindakan awal → penderita lebih stabil. Hb < 10 g% dan masih terus berlangsung • Batuk darah < 600 mL/24 jam. aspirasi. 1978) sebagai berikut: • Batuk darah sedikitnya 600 mL/24 jam • Batuk darah < 600 mL/24 jam.2. anemia.

CT Scan toraks) o Bronkoskopi (FOB maupun bronkoskop kaku) Langkah III : pemberian terapi spesifik Bronkoskopi terapeutik • Bilas bronkus dengan larutan garam fisiologis dingin (iced saline lavage) • Pemberian obat topikal • Tamponade endobronkial 17 . maka posisi penderita Tredelenberg untuk mencegah aspirasi darah ke sisi yang sehat o Bronkoskopi serat optik lentur untuk evaluasi.• Penderita dengan hemoptisis masif harus dimonitor dengan ketat di instalasi perawatan intensif Langkah – langkah: Langkah I : menjaga jalan napas dan stabilisasi penderita o Menenangkan dan mengistirahatkan penderita o Menjaga jalan napas tetap terbuka o Resusitasi cairan dan bila perlu transfusi o Laksan (stool softener) o Obat sedasi ringan o Suplementasi oksigen o Instruksi cara membatukkan darah dengan benar o Penderita dengan keadaan umum berat dan refleks batuk kurang adekuat. Langkah II : lokalisasi sumber dan penyebab perdarahan o Pemeriksaan radiologi (foto toraks. angiografi. melokalisir perdarahan dan tindakan pengisapan (suctioning) 1.

Fotokoagulasi laser (Nd-YAG Laser) • 4. Terapi non-bronkoskopik • Pemberian terapi medikamentosa  Vasopresin intravena  Asam traneksamat (antifibrinolitik)  Kortikosteroid sistemik  pada autoimun  Gonadotropin releasing hormon agonist (GnRH) atau danazol  hemoptisis katamenial  Antituberkulosis.• 2. Materi Diagnostik Pemeriksaan Laboratorium Tuberkulosis 18 . fungsi paru sisa yang minimal. antijamur ataupun antibiotik Radioterapi 3. menolak operasi ataupun memiliki kontraindikasi tindakan operasi Bedah Prognosis o Dengan tatalaksana tepat kebanyakan penderita memiliki prognosis yang baik o Akibat keganasan dan gangguan pembekuan darah memiliki prognosis yang lebih buruk . teknik ini terutama dipilih untuk penderita dengan penyakit bilateral. Embolisasi arteri bronkialis dan pulmoner.

2. cairan olah. dll. Pembentukan pigmen 3. bahan biopsy. Waktu pertumbuhan Kuman Mycobacterium tuberculosis tumbuh setelah 2-3 minggu dengan koloni yang timbul dari permukaan. Pemeriksaan mikroskopis langsung 3. urin. Pemeriksaan kultur kuman 2. Bahan spesimen dapat berupa dahak segar. Kultur • Sputum ditanam pada medium Lowenstein Jensen • Inkubasi selama 6-8 minggu • Ada pertumbuhan dilakukan pemeriksaan resistensi antibiotik Identifikasi Mycobacterium tuberkulosis berdasarkan: 1. cairan sendi. cairan pleura. Tes biokimia • Merah Netral: hasil (+) berarti Mycobacterium tuberculosis 19 . berwarna kuning atau krem. Pemeriksaan serologi Pembiakan kultur kuman Diagnosis yang paling pasti dari penyakit tuberkulosis ialah dengan pembuatan kultur/biakan kuman.Ada beberapa perihal yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis tuberkulosis paru yaitu : 1. cairan lambung.

Penting dilakukan untuk pengobatan yang tepat. PAS. berarti Mycobacterium tuberculosis Suhu pertumbuhan.4. pirazimanida. Tes resistensi dilakukan • secara langsung apabila jumlah kuman di dalam sputum cukup banyak yaitu : ≥ bronkhorst III. Pada umumnya dilakukan secara tidak langsung. Tumbuh pada suhu 35-37 OC Tes resistensi Yaitu tes kepekaan kuman tuberkulosis terhadap obat-obatan antituberkulosis. INH. rifampisin dan kanamisin yang biasa digunakan di klinik. Obat-obat yang dicoba termasuk streptomisin. Tes Niasin: hasil (+) berarti Mycobacterium tuberculosis • Nikotimanida 5000 mikrigram (ug)/ml: Hasil (-) berarti Mycobacterium tuberculosis • Arysulfatasa: hasil (-) berarti Mycobacterium tuberculosis • Reduksi nitrat: hasil bisa (+) atau (-) berarti Mycobacterium tuberculosis • Hidrolisis Tween-80 selama 10 hari: hasil (-) berarti Mycobacterium tuberculosis • Pertumbuhan pada 4 (p)–nitro benzoic acid 500 ug/ml: hasil tumbuh. • 20 . etambutol. berarti Mycobacterium tuberculosis • Pertumbuhan pada thiacetazone: hasil tumbuh.

Pemeriksaan bersifat spesifik dan cukup sensitive. persen populasi kuman telah resisten terhadap obat tertentu. Pemeriksaan sputum secara mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien. Hasil: proporsi resisten rendah obat dapat digunakan untuk terapi. Mycobacterium tuberculosis: • Berbentuk batang • Sifat tahan terhadap penghilangan warna dengan asam dan alkohol karena itu disebut Basil Tahan Asam (BTA) 21 . Hasil sama berarti sensitif • Propotion methode.• secara tidak langsung yaitu kuman diisolasi dahulu sebelum dilakukan tes. 2. mudah dan murah. Hasil > KHM: resisten • Resintance ratio. patokannya kadar hambatan minimum kuman terhadap obat tertentu. Metode tes resistensi • Absolut. Cara yang lazim digunakan kombinasi resistance ratio dan propotion methode dengan hasil: Obat anti TB A : B x H37Rv C % B : apabila > 4 x dianggap resisten C : Apabila > 1% dianggap resisten Pemeriksaan sputum secara mikroskopis langsung 1. perbandingan dengan kuman standar H37Rv.

Pelaksanaan pengumpulan sputum SPS. Pada saat pulang suspek membawa sebuah pot sputum untuk sputum hari kedua P (pagi). 5. Sputum yang baik diperiksa adalah sputum kental dan purulen warna hijau kekuningan. berpenampang 6 cm. • • • 6. Volume 3-5 ml tiap pengambilan. Tujuan pemeriksaan sputum: • Menegakkan diagnosis dan menentukan klafikasi/tipe • Menilai kemajuan pengobatan • Menentukan tingkat penularan Pengumpulan sputum Sputum ditampung dalam pot sputum yang bermulut lebar.3. • Dapat dilihat di mikroskop bila jumlah kuman paling sedikit 5000/ml sputum. S (sewaktu). Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan 3 spesimen sputum Sewaktu Pagi Sewaktu(SPS). sputum dikumpulkan pada saat suspek TB datang pertama kali. sputum dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua segera setelah bangun tidur S (sewaktu). 4. Dikumpulkan dalam 2 hari kunjungan yang berurutan. sputum dikumpulkan di UPK pada hari kedua saat menyerahkan sputum pagi Pewarnaan kuman BTA Ziehl Nielsen Tan Thiam Hok (kinyoun-gabbett) Auramin–phenol fluorochrome Pewarnaan sediaan dengan metode Ziehl Nielsen 22 . tutup berulir tidak mudah pecah dan bocor.

>10 BTA dalam 1 lapangan pandang minimal dibaca 20 lapang pandang Catatan: Bila ditemukan 1 – 3 BTA dalam 100 lapang pandang. Bila ditemukan 4-9 BTA dilaporkan positif. 1-10 dalam 1 lapangan pandang minimal dibaca 50 lapang pandang • Positif 3 (+++). Bila hasilnya tetap 1-3 BTA hasilnya dilaporkan negatif. 1-9 BTA dalam 100 lapangan pandang • Positif 1 (+). Larutan Carbol Fuchsin 0. tidak ada BTA dalam 100 lapangan pandang • Meragukan (ditulis jumlah kuman yang ditemukan). pemeriksaan harus diulang dengan spesimen dahak yang baru.3% Asam alcohol (HCL – alcohol) 3% Methylen Blue 0. 23 .3% Pembacaan hasil • Basil tahan asam berwarna merah • Basil tidak tahan asam berwarna biru • SPS. Menurut Depkes bila 2 dari 3 spesimen tersebut hasilnya BTA (+)  TB • Pembacaan hasil dengan menggunakan skala IUATLD: • Negatif (-).• • • 7. 10 – 99 BTA dalam 100 lapangan pandang • Positif 2 (++). Tes Serologi 8.

Pagi. Tes ini merupakan reaksi aglutinasi fosfatida kaolin pada seri pengenceran serum sehingga dapat ditentukan titernya. Bagan diagnosis Tersangka penderita TB (suspek TB) Periksa Dahak Sewaktu. Sewaktu (SPS) Hasil BTA +-+++ ++- Hasil BTA --- Hasil BTA 24 .Tes serologi yang dapat membantu diagnosis tuberkulosis adalah tes takahashi. Titer lebih dari 128 dianggap positif yang berarti proses tuberkulosis masih aktif.

Tuberkulosis minimal (minimal tuberculosis) yaitu luas sarang-sarang yang kelihatan tidak melebihi daerah yang dibatasi oleh garis median .Periksa rontgen spektrum luas Hasil mendukung perbaikan TB Hasil tidak Tidak ada mendukung TB Beri antibiotik dada Ada perbaikan Ulangi periksa dahak SPS Penderita TB BTA positif Hasil BTA +++ ++ Hasil BTA --- Periksa rontgen dada Hasil mendukung TB TB BTA (-) Rontgen (+) Hasil rontgen negatif Bukan TB Penyakit lain Gambaran Radiologis Tuberkulosis Paru Klarifikasi tuberkulosis sekunder menurut American Tuberculosis Association: 1. Tuberkulosis lanjut sedang (moderately advanced tuberculosis) yaitu luas sarangsarang yang bersifat bercak-bercak tidak 25 . apeks dan iga 2 depan. Tidak ditemukan adanya lubang (kavitasi). 2. Sarang-sarang soliter dapat berada dimana saja tidak harus berada dalam daerah tersebut diatas.

melebihi luas satu paru. bentuk awan-awan atau bercak yang batasnya tidak tegas dengan densitas rendah 2. Sarang kapur (klasifikasi) Pembagian lain yang lebih banyak dipergunakan di Indonesia: 1. bentuk butir butir bulat kecil yang batasnya tegas dan densitasnya sedang 3. Sarang-sarang seperti ini biasanya menunjukkan bahwa proses aktif 26 . Sedangkan bila ada kavitas diameternya tidak melebihi 4 cm. 3. berbentuk garis-garis atau pita tebal berbatas tegas dengan densitas tinggi 4. Sarang-sarang berbentuk awan atau bercakbercak dengan densitas rendah atau sedang dengan batas tidak tegas. Kalau sifat bayangan sarang-sarang tersebut berupa awan-awan yang menjelma daerah konsolidasi yang homogen. Kavitas (lubang) 5. luasnya tidak boleh melebihi luas satu lobus. Sarang eksudatif. Tuberkulosis sangat lanjut (far advanced tuberculosis) yaitu luas daerah yang dihinggapi oleh sarang-sarang lebih daripada klasifikasi kedua diatas atau bila ada kavitas maka diameter keseluruhan semua kavitas melebihi 4 cm. Sarang produktif. Sarang induratif atau fibrotik. Kelainan yang dapat dilihat pada foto rontgen tuberkulosis paru: 1.

Berupa garis-garis berdensitas tinggi/sarang fibrotik atau bintik-bintik kapur (sarang kalsiferus). Sarang seperti garis-garis (fibrotik) atau bintikbintik kapur (kalsifikasi) yang biasanya menunjukkan bahwa proses telah tenang Kelanjutan suatu sarang tuberkulosis: 1.2. Kesan rontgenologis bahwa proses sudah tenang harus didukung oleh hasil pemeriksaan klinik. 2. Sarang-sarang fibrotik yang tebal dan kalsiferus disebut sarang fibrokalsiferus. termasuk sputum yang baik. awan atau kavitas melainkan garis-garis atau bintik-bintik kapur. Secara rontgenologis sarang baru dapat dinilai sembuh (proses tenang) bila setelah jangka waktu sekurang-kurangnya 3 bulan bentuknya sama (stationary). laboratorium. Penyembuhan dengan meninggalkan cacat. Lubang (kavitas) berarti proses aktif kecuali bila lubang sudah sangat kecil yang dinamakan lubang sisa (residual cavity) 3. Sifat bayangan tidak boleh bercak-bercak. Penyembuhan tanpa bekas sering terjadi pada anak-anak (tuberkulosis primer) pada orang dewasa (tuberkulosis skunder) bila diberikan pengobatan yang baik. Gambaran Histopatologik Penyakit Tuberkulosis Paru Yang Dapat Menyebabkan Hemoptisis Makroskopik: Tuberkulosis di paru pada orang dewasa merupakan tuberkulosa sekunder (antara usia 5 – 27 .

Selanjutnya bila 28 . Pada kelainan ini secara mikroskopik ditemukan lesi pada paru yang mengandung bentuk-bentuk tuberkel yaitu kumpulan sel makrofag yang berubah menjadi sel epiteloid yang merupakan sel histiosit. tanpa sisa struktur sama sekali dan sel datia langhans yang dibentuk oleh sel histosit yang bersatu. Disekelilingnya tampak banyak proliferasi sel fibroblas. Akibatnya kuman mudah tumbuh pada tempat itu. berbatas tegas. kenyal. sehingga pertukaran oksigen sangat sedikit dan zat imun tidak dapat mencapai daerah tersebut. Protoplasmanya menjadi jernih karena mengandung zat lipoid sehingga menyerupai sel epitel. Mikroskopik: Pada tuberkulosis paru yang sering menyebabkan hemoptisis adalah bentuk tuberculosis fibrocaseosa chronica. Sel epiteloid tersusun berkelompok dan sentrifugal dengan ditengahnya mengandung jaringan nekrosis perkijuan yang merupakan massa eosinofilikamorf. Salah satu keterangan mengenai hal ini ialah bahwa tekanan hidrostatik pembuluh pulmonal rendah pada bagian apeks. Lesi yang pertama hampir selalu ditemukan pada apeks paru-paru kanan. berwarna putih kelabu atau kekuningan.15 tahun jarang ditemukan penyakit tuberkulosis ini). Pada paru akan ditemukan pula pembentukan rongga-rongga yang disebut kaverne oleh karena proses nekrosis tuberkel ditengahnya yang dapat sampai kedinding bronkiolus. Lesinya merupakan tuberkel berukuran kurang dari 3 cm. terletak 1-2 cm subpleura.

seperti etionamid. tidak ideal sebagai obat tunggal • in vitro bakteriostatik dan bakterisid terhadap kuman TB (KHM: 0. rifampisin. streptomisin. seperti INH. bukan eradikasi kuman TB 29 . PAS. yaitu: 1. kurang efektif dan digunakan karena pertimbangan resistensi atau kontra indikasi. Obat Antituberkulosis Terdiri dari 2 kelompok. pirazinamid 2. Tuberkel dan kaverne itu dapat meluas dan mengenai seluruh lobus paru-paru sehingga jaringan paru rusak dan berubah menjadi seperti sarang lebah (Honey comb) pleuritis dengan perlengketan fibrostik ditemukan pula. efektivitas tinggi dengan toksisitas dapat diterima.4 µ g/ml) • in vivo bersifat supresi. obat primer.nekrosis terus berlanjut dan meluas dan tuberkel membesar maka akan dapat menimbulkan erosi pada dinding bronkiolus yang akan membentuk rongga atau kaverne. V. amikasin. etambutol. Rongga itu sering dilintasi oleh pembuluh darah dan bila pembuluh darah ikut mengalami erosi maka akan menimbulkan HEMOPTISIS. obat sekunder. sikloserin. kanamisin Streptomisin Aktivitas Antituberkulosis • obat TB pertama yang dinilai efektif.

Resistensi • makin lama terapi. memanjang pada gagal ginjal sehingga menimbulkan efek samping • ekskresi melalui filtrasi glomerulus • 50-60% diekskresi utuh dalam 24 jam (sebagian besar dalam 12 jam) Efek Nonterapi • ototoksik (N. hampir semua berada dalam plasma. kesemutan di tangan 30 . sukar berdifusi ke cairan intrasel • dapat mencapai kavitas • 1/3 streptomisin yang berada dalam plasma berikatan dengan protein plasma • waktu paruh 2-3 jam. makin meningkat resistensi • resistensi akibat mutasi? • bila kavitas tidak menutup atau BTA sputum tetap (+) dalam 2-3 bulan berarti kuman telah resisten → terapi tidak efektif • dihindari dengan kombinasi dengan anti TB lain Farmakokinetik • absorpsi dari tempat suntikan. hanya sedikit yang masuk ke eritrosit • terdistribusi ke seluruh cairan ekstrasel. malaise. VIII) akibat dosis besar jangka lama → pemeriksaan audiometri • nefrotoksik • sakit kepala. parestesi di muka dan mulut.

anemia aplastik • tidak dianjurkan pada trimester pertama kehamilan Interaksi • dengan penghambat neuromuskuler terjadi potensiasi penghambatan • dengan obat ototoksik (furosemid dan asam etakrinat) dan obat nefrotoksik Sediaan dan Posologi • bubuk injeksi 1 dan 5 g/vial diberikan dosis 20 mg/kgBB IM maksimum 1 g/hari selama 2-3 minggu.025-0. dilanjutkan dengan 2-3x/minggu Isoniazid Aktivitas Antituberkulosis • in vitro bakteriostatik & bakterisid thd kuman TB (KHM: 0. agranulositosis.• reaksi hipersensitivitas. reaksi anafilaktik.05 µ g/ml) • lebih aktif daripada streptomisin Mekanisme Kerja • mekanisme pasti belum diketahui • diduga menghambat biosintesis asam mikolat (unsur penting dinding sel mikobakterium) Resistensi • terjadi akibat kegagalan obat mencapai kuman atau kuman tidak menyerap obat • menimbulkan strain baru yang resisten 31 .

trombositopenia. arthritis • perubahan neurologis: neuritis perifer. membengkaknya mitokondria. isonikotinil hidrazon dan N-metil INH Efek Nonterapi • reaksi hipersensitivitas: demam. menghilangnya vesikel sinaps. memanjang pada gangguan fungsi hati • mudah berdifusi ke dalam sel dan semua cairan tubuh (termasuk cairan pleura dan asites) • kadar di CSS 20% kadar plasma • 75-95% diekskresi melalui urin dalam waktu 24 jam sebagai metabolit (asetil INH dan asam nikotinat sebagai hasil proses hidrolisis) • sebagian kecil diekskresi sebagai isonikotinil glisin. urtikaria • reaksi hematologik: agranulositosis. makulopapular.Farmakokinetik • absorpsi baik pada pemberian oral dan parenteral • kadar puncak dicapai dalam 1-2 jam setelah pemberian oral • metabolisme melalui asetilasi di hati (asetilator cepat dan lambat) • waktu paruh 1-3 jam. pecahnya akson terminal → atasi dengan pemberian piridoksin (B6) 32 . anemia • vaskulitis. kelainan morbiliform.

2 µ g/ml) • in vivo meningkatkan aktivitas streptomisin dan INH • menghambat pertumbuhan kuman gram positif dan negatif 33 . hilangnya pengendalian diri. sedasi yang berlebihan dan inkoordinasi (bersama fenitoin) • ikterus. kedut otot.• kejang. 300. ataksia. ensefalopati toksik • kelainan mental: euphoria. peningkatan SGOT dan SGPT • mulut kering. parestesia.005-0. abdominal discomfort. neuritis optik (atropi). kerusakan hati (nekrosis multilobular). stupor. retensi urin Status Pengobatan • preventif: tunggal • kuratif: kombinasi Sediaan dan Posologi • tablet 50. methemoglobinemia. tinitus. 100. serta sirup 10 mg/ml • diberikan dosis tunggal per oral setiap hari dengan dosis 5 mg/kgBB maksimum 300 mg/hari. vertigo. penurunan memori. dan 400 mg. tuberculosis (KHM 0. psikosis. anak <4 tahun 10 mg/kgBB/hari • dapat diberikan secara intermitten 2x seminggu dengan dosis 15 mg/kgBB/hari • diberikan bersama piridoksin 10 mg/hari Rifampisin Aktivitas Antituberkulosis • in vitro menghambat pertumbuhan M.

sputum. keringat) • mengalami deasetilasi. sefalotin • gram negatif: rifampisin<tetrasiklin. walaupun bioavailabilitas tinggi eliminasi meningkat pada pemberian berulang • waktu paruh eliminasi 1. kloramfenikol. kanamisin. airmata.5-5 jam dan memanjang pada gangguan fungsi hati.• gram positif: penisilin G>rifampisin> eritromisin. kolistin • mekanisme kerjanya menghambat DNAdependent RNA polymerase dengan menekan mula terbentuknya rantai dalam sintesis RNA Farmakokinetik • absorpsi dihambat oleh makanan dan PAS • kadar puncak dicapai setelah 2-4 jam pemberian oral • 75% terikat pada protein plasma • difusi baik ke berbagai jaringan termasuk otak (warna merah pada urin. tinja. memendek pada pemberian berulang • ekskresi melalui empedu dan mengalami sirkulasi enterohepatik 34 . dalam waktu 6 jam obat dalam empedu berupa deasetil rifampisin yang bersifat aktif • menginduksi metabolisme. linkomisin.

leukopenia. hematuria. mengantuk. ataksia. kontrasepsi oral → efektivitas berkurang • Rifampisin mengganggu metabolisme vitamin D → osteomalasia 35 . hepatitis. kortikosteroid. hemoglobinuria. nekrosis tubular akut. SGPT dan alkali fosfatase • gangguan saluran cerna: abdominal discomfort. sefalgia. insufisiensi renal • gangguan hematologik: trombositopenia. kelainan kulit. nefritis interstisial. flu like syndrome.• 30% diekskresi melalui urin (sebagian besar dalam bentuk utuh) → tidak perlu penyesuaian dosis pada insufisiensi renal • juga diekskresi melalui ASI Efek Nonterapi • ruam kulit. mual. muntah. diare • gangguan neurologis: lelah. urtikaria. muntah. trombositopenia • hepatotoksisitas: ikterus. sindrom hepatorenal. mual. sukar konsentrasi • reaksi hipersensitivitas: demam. peningkatan aktivitas SGOT. anemia • efek teratogenik? Hindari pemberian pada masa hamil (menembus sawar uri) Interaksi Obat • PAS menghambat absorpsi rifampisin • Rifampisin menginduksi metabolisme ADO. sakit pada lidah. pruritus. kolik. hemolisis. eosinofilia.

tablet 450 dan 600 mg.• Disulfiram dan probenesid menghambat ekskresi rifampisin melalui ginjal • Rifampisin meningkatkan hepatotoksisitas INH Sediaan dan Posologi • kapsul 150 dan 300 mg. suspensi 100 mg/5 ml • diberikan 1x sehari 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan dengan dosis: BB<50 kg 450 mg/hari BB>50 kg 600 mg/hari Anak-anak 10-20 mg/kgBB/hari maksimum 600 mg/hari Etambutol Aktivitas Antituberkulosis • hanya efektif untuk kuman TB • bersifat tuberkulostatik → hanya aktif terhadap sel yang sedang tumbuh • menekan pertumbuhan kuman TB yang resisten terhadap INH dan streptomisin • mekanisme kerja menghambat sintesis metabolit sel sehingga metabolisme sel terhambat dan sel mati • dapat timbul resistensi bila digunakan tunggal Farmakokinetik • 75-80% diserap dari saluran cerna 36 .

kaku dan kesemutan di jari. reaksi anafilaksis. pada gangguan faal ginjal perlu penyesuaian dosis Pirazinamid Aktivitas Antituberkulosis 37 . hilangnya kemampuan membedakan warna. penurunan visus.• kadar puncak plasma dicapai setelah 2-4 jam pemberian oral • waktu paruh eliminasi 3-4 jam • kadar dalam eritrosit 1-2 kali kadar dalam plasma → eritrosit sebagai depot • tidak menembus sawar otak. diberikan dosis 15 mg/kgBB sekali sehari. disorientasi. tetapi pada meningitis TB ditemukan dalam CSS • 50% diekskresi melalui urin dalam bentuk utuh. 10% dalam bentuk metabolit (derivat aldehid dan asam karboksilat) dalam waktu 24 jam • ekskresi ginjal melalui filtrasi glomerulus dan sekresi tubuli Efek Nonterapi • ruam kulit. halusinasi. pengecilan lapangan pandang. sakit kepala. leukopenia • neuritis retrobulbar: bilateral. demam. skotoma sentral dan lateral • peningkatan kadar asam urat karena penurunan ekskresi asam urat melalui ginjal Sediaan dan Posologi • tablet 250 dan 500 mg. malaise. bingung. pruritus. nyeri sendi. pusing. gangguan saluran cerna.

• bakterisid yang kuat untuk BTA • dihidrolisis oleh enzim pirazinamidase menjadi asam pirazinoat yang bersifat tuberkulostatik pada media asam • mekanisme kerja? Farmakokinetik • mudah diserap di usus dan terdistribusi ke seluruh tubuh • kadar puncak plasma dicapai dalam waktu 2 jam. demam Sediaan dan Posologi • tablet 250 dan 500 mg dengan dosis 20-35 mg/kgBB sehari 1 sampai beberapa kali sehari maksimum 3 g Regimen Pengobatan 1. mual. disuria. muntah. pengobatan jangka panjang: 18 bulan tanpa rifampisin 2. waktu paruh 10-16 jam • asam pirazinoat dihidroksilasi menjadi asam hidropirazinoat • ekskresi terutama melalui filtrasi glomerulus Efek Nonterapi • gangguan hati: ikterus. malaise. nekrosis hati. anoreksia. peningkatan SGOT dan SGPT • menghambat ekskresi asam urat (pirai) • artralgia. pengobatan jangka pendek: 6-8 bulan dengan rifampisin Paduan terapi: 38 .

Sampai saat ini TB merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting. 2HRZ/4H2R2 5. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa sekitar 1. Selain itu 25% dari seluruh 39 . dan adanya kerusakan jaringan yang luas. dan dalam dekade mendatang tidak kurang dari 300 juta orang akan terinfeksi oleh TB. masa pengobatan kurang lama.9 milyar manusia (sepertiga penduduk dunia). Pemeriksaan BTA sputum dilakukan setiap bulan sampai hasilnya negatif. bila ada kuman yang resisten obat ditambah dengan pirazinamid atau etambutol. terjadi resistensi.1. telah terinfeksi kuman TB. di mana 3 juta diantaranya (7%) terjadi karena TB. 2HRZE/4H3R3 8. Pengobatan diteruskan minimal 6 bulan setelah BTA negatif. 2H3R3Z3/4H3R3 7. 3. makan obat tidak teratur. VI. 9HR 2. dosis tidak cukup. dropout. Setiap detik ada satu orang yang terinfeksi TB di dunia ini. 2HRZ/2H3R3 Kegagalan pengobatan akibat paduan pengobatan tidak memadai. 2HRZ/4HR 4. Pada tahun 1990 tercatat ada lebih dari 45 juta kematian di dunia ini karena berbagai sebab. Epidemiologi Penyakit TB Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. 2HRZ/4H3R3 6. HR/8H2R2.

000 penduduk. Berdasarkan kultur yang dilakukan pada 11 provinsi. Hal ini disebabkan banyaknya penderita yang tidak berhasil disembuhkan. Estimasi incidence rate TB di Indonesia berdasarkan pemeriksaan sputum (BTA positif) adalah 128/100.000 penduduk (WHO.000 penduduk untuk tahun 2003. Namun pemeriksaan ini memiliki kelemahan. Pada 40 . yakni hanya berdasarkan gejala tanpa pemeriksaan laboratorium (Badan Litbangkes. Pada survei yang sama angka kesakitan TB di Indonesia ketika itu sebesar 800/100. sedangkan untuk tahun yang sama estimasi TB semua kasus (prevalensi) adalah 675 per 100. Faktor Risiko Penyakit TB Faktor risiko yaitu semua variabel yang berperan atas timbulnya kejadian penyakit.000 penduduk. Hasil kultur mengindikasikan potensi masalah penyakit TB di masyarakat. Di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (2001) menunjukkan bahwa TB menduduki ranking ketiga sebagai penyebab kematian (9.kematian yang sebenarnya dapat dicegah (preventable death) terjadi akibat TB. sementara pengetahuan mayarakat terhadap TB dan penularannya ternyata sangat rendah. terutama penderita menular (Basil Tahan Asam (BTA) positif.4% dari total kematian) setelah sistem sirkulasi dan sistem pernafasan. 2002). definite case sebesar 186/100. 2005). WHO pada tahun 1993 bahkan telah mencanangkan TB sebagai “Global Emergency” (kedaruratan global) karena pada sebagian besar negara di dunia penyakit TB tidak terkendali.

dipengaruhi oleh asupan makanan dan penyakit. . Banyak variabel kependudukan yang memiliki peran dalam timbulnya atau kejadian penyakit TB.A. Berbagai faktor risiko dapat dikelompokkan ke dalam 3 kelompok faktor risiko yaitu kependudukan. Status Gizi 41 . faktor lingkungan dan faktor risiko perilaku. dengan masyarakat serta dipengaruhi berbagai variabel lainnya. khususnya penyakit infeksi.Faktor ekonomi. Faktor tidak langsung: . Faktorfaktor yang mempengaruhi status gizi: a. yaitu: Menurut Robinson dan Weighley (1984) keadaan kesehatan berhubungan dengan penggunaan makanan oleh tubuh. Variabel pada masyarakt secara umum dikenal sebagai variabel kependudukan. b. Faktor langsung. 1. dasarnya berbagai faktor risiko TB saling berkaitan satu sama lainnya. yang dipandang dari segi gizi sebenarnya mengandung zat gizi yang baik. masih ada kepercayaan untuk memantang makanan tertentu. .Faktor pertanian. kemampuan menghasilkan produksi pangan. Faktor Risiko Kependudukan Kejadian penyakit TB merupakan hasil interaksi antara komponen lingkungan yakni udara yang mengandung basil TB. penghasilan keluarga yang mempengaruhi status gizi.Faktor budaya.

Faktor kebersihan lingkungan. yang selanjutnya menentukan hasil setiap episode infeksi. Malnutrisi akibat respon metabolik dan biokimia dalam tubuh manusia mempunyai kontribusi dalam mekanisme pertahanan tubuh tersebut. Faktor fasilitas pelayanan kesehatan. kebersihan lingkungan yang jelek akan memudahkan menderita penyakit tertentu. Malnutrisi energi protein merupakan gangguan nutrisi yang sering dijumpai pada keadaan sakit berat baik yang ditimbulkan oleh infeksi. fasilitas kesehatan sangat penting untuk menyokong status kesehatan dan gizi. faktor pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan menyerap pengetahuan gizi yang diperoleh. sehingga terjadi suatu komplek interaksi antara mikroorganisme yang menyerang tubuh manusia dengan mekanisme imunitas tubuh. stres metabolik akibat infeksi akan menimbulkan kehilangan berat badan dan 42 .- - - Faktor pendidikan dan pekerjaan. Faktor pekerjaan juga dianggap mempunyai peranan yang penting. Tanpa pemberian nutrisi yang adekuat. Status gizi dan penyakit infeksi (TB Paru) Proses penyakit infeksi merupakan konfigurasi asing dalam tubuh manusia.

yang mana besar kecilnya pengaruh interaksi tersebut tergantung pada (1) pengaruh parasit pada metabolisme host. Masuknya parasit dalam tubuh manusia akan menyebabkan interaksi dengan status gizi.rusaknya sel bagian tubuh organ vital yang penting. Hubungan antara kemiskinan dengan TB 43 . (3) perkembangan respon imunitas dari host dan (4) patofisiologi infeksi. komplemen transferin dan protein lain dengan fungsi opsonik seperti glutamin. Kondisi Sosial Ekonomi WHO (2003) menyebutkan 90% penderita TB di dunia menyerang kelompok dengan sosial ekonomi lemah atau miskin. maka manusia mempunyai berbagai mekanisme pertahanan. bahkan kehilangan 40% berat badan dapat menyebabkan kematian. (2) efek nutrisi host terhadap perkembangan pertumbuhan populasi parasit. Penurunan berat badan 10-20% dari semula akan sangat mengurangi kemampuan daya tahan tubuh dan meningkatkan morbiditas serta mortalitas. termasuk lisozim. Mekanisme pertahanan tubuh ini ditandai oleh komponen pasif dan aktif yang akan bereaksi terhadap infeksi. Untuk mencegah masuknya organisme patogen ke dalam tubuh. 2. Serum secara normal mengandung protein yang menolong sebagai faktor anti mikroba dalam sistem immunitas.

dan akses terhadap pelayanan kesehatan juga menurun kemampuannya. Fakta ini mungkin dikarenakan pada kelompok umur tersebut mempunyai riwayat kontak disuatu tempat dalam waktu yang lama. 4. Umur Klinis terjadinya penularan tidak ada perbedaan karena perbedaan usia. 3. Halini masih memerlukan penyelidikan dan penelitian lebih lanjut. sistem pertahanan tubuh. serta perumahan yang tidak sehat. baik pada tingkat behavioural. maupun tingkat molekuler. namun dapat merupakan penyebab tidak langsung seperti adanya kondisi gizi buruk. rata-rata penderita TB kehilangan 3 sampai 4 bulan waktu kerja dalam setahun. mungkin tidak hanya berhubungan secara langsung. bersifat timbal balik. akan tetapi pengalaman menunjukkan bahwa median umur penderita TB didominasi kelompok usia produktif (15-50 tahun/75%). Mereka juga kehilangan penghasilan setahun secara total mencapai 30% dari pendapatan rumah tangga. TB merupakan penyebab kemiskinan dan karena miskin maka manusia menderita TB. Menurut perhitungan. Jenis Kelamin Dari catatan statistik meski tidak selamanya konsisten. Kondisi sosial ekonomi itu sendiri. mayoritas penderita TB adalah wanita. Faktor Risiko Lingkungan Kepadatan 44 .1. B. tingkat kejiwaan.

jarak antar tempat tidur satu dan lainnya adalah 90 cm. Lantai Rumah Secara hipotesis jenis lantai tanah memiliki peran terhadap proses kejadian TB. 1999. Semakin padat. khususnya penyakit melalui udara. Kepadatan merupakan pre-requisite untuk proses penularan penyakit. dengan demikian viabilitas kuman TB di lingkungan juga sangat dipengaruhi oleh kelembaban tersebut. cenderung menimbulkan kelembaban. Oleh sebab itu. maka perpindahan penyakit. 3. kamar tidur sebaiknya tidak dihuni 2 orang lebih.2. 2003). akan semakin mudah dan cepat. 45 . Untuk itu Departemen Kesehatan telah membuat peraturan tentang rumah sehat. Ventilasi mempengaruhi proses dilusi udara. terbawa keluar dan mati terkena sinar ultra violet. kepadatan dalam rumah maupun kepadatan hunian tempat tinggal merupakan variabel yang berperan dalam kejadian TB. Syarat rumah dianggap sehat adalah 10m2 per orang (Depkes. Depkes 2003). Ventilasi Ventilasi bermanfaat bagi sirkulasi pergantian udara dalam rumah serta mengurangi kelembaban. Menurut persyaratan ventilasi yang baik adalah 10% dari luas lantai (Kepmenkes. Lantai tanah. melalui kelembaban dalam ruangan. dengan rumus jumlah penghuni/luas bangunan. kecuali anak di bawah 2 tahun. dengan kata lain mengencerkan konsentrasi basil TB dan kuman lain.

khususnya cahaya alam berupa cahaya matahari yang berisi antara lain ultra violet. Kebiasaan membuang ludah/dahak sembarangan 4. Kebiasaan tidur penderita TB bersama-sama dengan anggota keluarga 2. 4.C. Kebiasaan merokok Penularan Penyakit TB 46 . Tidak menjemur kasur secara berkala 3. Semua cahaya pada dasarnya dapat mematikan kuman. Faktor Risiko Perilaku Faktor risiko perilaku adlah kebiasaan yang dilakukan sehari-hari yang dapat mempengaruhi terjadinya penularan/penyebaran penyakit. Kebiasaan tidak pernah membuka jendela kamar tidur 6. Pencahayaan Rumah sehat memerlukan cahaya cukup. Kebiasaan tidak pernah membersihkan lantai 7. Yang termasuk factor risiko perilaku dalam terjadinya penularan TB adalah sebagai berikut: 1. Cahaya matahari minimal masuk 60 lux dengan syarat tidak menyilaukan. namun tentu tergantung jenis dan lamanya cahaya tersebut. Kebiasaan tidak pernah membuka jendela rungan 5.

Basil TB dapat menular pada orang-orang yang secara tak sengaja menghirupnya. diameter 0. batuk. Dalam waktu satu tahun. menutup mulut. tempat ibadah. agar keluarga dan orang lain tidak tertular • Jangan meludah di sembarang tempat • Gunakan tempat seperti tempolong atau kaleng yang bertutup. Basil TB tersebut dapat terhirup oleh orang lain yang berada di sekitar penderita.3-0. ruang-ruang di rumah dengan mengurangi konsentrasi partikulat melayang 47 . meludah. ruang di tempat umum (sekolah. 1 orang penderita TB dapat menularkan penyakitnya pada 10 sampai 15 orang disekitarnya. ruang kerja. dll). maka kuman-kuman TB berbentuk batang (panjang 1-4 mikron.6 mikron) yang berada di dalam paru-parunya akan menyebar ke udara sebagai partikulat melayang (suspended particulate matter) dan menimbulkan droplet infection. Pencegahan Penyakit TB • Apabila batuk. dan diisi air sabun atau Lysol. atau bersin.Jika seseorang penderita TB berbicara. untuk menampung dahak • Buang tampungan dahak ke lubang WC atau timbun ke dalam tanah di tempat yang jauh dari keramaian Pencegahan penularan penyakit TB pada masyarakat umumnya adalah: • Menghindari percikan ludah atau percikan dahak melalui ventilasi yang efektif di kendaraan umum.

Pencahayaan yang cukup juga mencegah kelembaban dalam ruang. merokok. kepadatan hunian bersama penderita TB aktif dalam rumah memungkinkan kontak efektif untuk terjadinya infeksi baru pada penghuni rumah Mencegah kepadatan penduduk/permukiman untuk menjamin ventilasi yang efektif. Strategi Pembelajaran 1. dan lain-lain. computer aided learning. Mencegah pencemaran udara yang bersumber dari dalam rumah seperti pemakaian bahan bakar hayati tanpa ventilasi efektif. internet. Tutorial pertama berupa pemahaman tentang skenario dan dilanjutkan dengan curah pendapat antar mahasiswa untuk menetapkan kata kunci dan learning issues. Menghindari adanya lantai tanah dalam rumah. jurnal. karena lantai tanah dapat menambah kelembaban dan memungkinkan perkembangbiakan parasit. dll. 48 . Konsultasi dengan narasumber untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. 2. 3. Belajar mandiri di perpustakaan dengan memanfaatkan buku teks.• • • • • Pencahayaan di dalam rumah. pencahayaan matahari langsung ke dalam rumah/ruang mematikan kuman TB karena terkena sinar ultra violet atau panas sinar matahari. Menghindari kepadatan hunian.

Champe PC. Harvey RA. editors. Alsagaff H. 1997. Balai Penerbit FKUI. Tutorial kedua untuk menyampaikan informasiinformasi yang didapat selama melakukan belajar mandiri sesuai dengan learning issues yang telah ditetapkan. Praktikum di Laboratorium Keterampilan. 2nd Editon. Lippincott’s Illustrated Reviews: Pharmacology. Pengantar Ilmu Penyakit Paru. Inc.4. USA: McGraw-Hill Companies. Gilman AG. 7. 5. Philadelphia: Lippincott-Raven Publishers. Basic & Clinical Pharmacology. 9. New York: Lange Medical Books. 5. 2001: 9-33. editor. 8. Amin M.. Goodman & Gilman’s The Pharmacological Basis of Therapeutics. 3. SOP Pemeriksaan mikrobiologi klinik Penuntun praktikum Buku saku petugas program TB Pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis 49 . Mycek MJ. 4. Fisher BD. Referensi 1. Hardman JG. Katzung BG. Saleh T. Airlangga University Press: 1989 2. 6. Limbird LE. editors. Tenth Edition. Farmakologi dan Terapi. Eighth Edition. 2001: 31-43.

10. Staf pengajar FKUI 50 . Buku ajar Mikrobiologi kedokteran.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful