Dialog Islam - Demokrasi Masalah Klasik Yang Sulit Dipertemukan Oleh: RE Nadalsyah Pertemuan berskala internasional yang diselenggarakan

International Centre for Islam and Pluralism (ICIP) bekerja sama dengan The Asia Foundation, berlangsung di Jakarta pada 5-7 Desember lalu. Pertemuan dengan mengusung tema besar 'Islam and Democratization in Southeast Asia: Challenges and Opportunities' yang dihadiri peserta dari Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina dengan tuan rumah Indonesia itu, ternyata kurang mendapat liputan memadai, baik di Indonesia sendiri maupun luar negeri. (Kompas, 13 Desember). Beragam pertanyaan muncul dengan persepsi masing-masing, seperti wacana yang diangkat merupakan pengulangan tema yang berkali-kali dibahas. Atau anggapan, wacana 'Islam dan Demokrasi' itu sudah ditutup atau selesai. Sebab, seringkali pembahasan masalah itu menuai hal yang sensitif sehingga riskan dipublikasikan secara luas. Atau mungkin pula dilihat dari visi jurnalistik, tidak terlalu aktual dijadikan topic issue, khususnya bila dihadapkan masalah mendesak saat ini. Setelah mengamati tulisan Kompas, penulis beranggapan wacana Islam dan Demokrasi sampai saat ini memang menjadi masalah klasik yang sangat sulit dipertemukan. Betapa tidak, kendati berbagai perdebatan dan diskusi telah dilangsungkan, dialog serupa tetap saja berakhir pada status quo. Maksudnya, jikalau masalah itu sudah memasuki persoalan mendasar yang menyangkut akidah, maka wacana itu pun seolah akan berjalan di tempat. Mengapa? Solusi yang tidak akan pernah memberi kepuasan itu berangkat dari 'pilihan' tema itu sendiri. Demokrasi adalah tema yang berasal dari Barat. Karena itu, implementasinya pun berpijak dari sudut pandang atau peradaban Barat. Kita mengetahui, paham demokrasi yang dikenal selama ini adalah pandangan Barat yang sekuler, tidak mempercayai adanya UU Tuhan (Divine Law) yang mengatur bidang sipil, sosial, ekonomi, politik dan sebagainya, baik secara individu maupun kolektif. Bila peradaban Barat itu memiliki karakter yang sekuler kendati semua peradaban memiliki sifat dan karakter demikian, maka ketika terminologi itu dikenakan pada peradaban lain dalam hal ini Islam, akan terjadi ketidaktepatan penilaian. Akibat yang muncul adalah kesalahan persepsi, kecurigaan, atau prasangka terhadap Islam.

namun tidak ada tempat bagi prasangka. jihad dan sebagainya. Tidak ada jalan kompromi antara kamu dengan aku. dalam Islam yang menjadi legislator (pembuat hukum dan UU) atau pembuat syar'i bukan manusia sebagaimana dikenal di Barat. prinsip atau pandangan dasar itu diakui dan dihargai. Secara global. sejak ia menjadi ruh dalam peradabannya yang mencakup semua sisi dan lapangan kehidupan umat. Menghargai Perbedaan Istilah 'sulit dipertemukan' seperti judul tulisan ini. berarti kita tidak akan terjebak pada kekhawatiran untuk membedah dialog 'Islam-Demokrasi' secara blak-blakan. Mengakui perbedaan itu sesungguhnya juga mengandung makna toleransi. Bila mau menghargai perbedaan. Pemungkasnya adalah firman yang berbunyi: "Untukmulah agamamu. Karena itu terminologi seperti tradisionalis. bila diletakkan dalam proporsi dan konteks yang tepat. Akidah sendiri adalah mewakili ideologi serta jalan pikiran ummatnya. prinsip dan akidah yang berbeda. dan untukkulah agamaku. sebab perbedaan di sini menyangkut akidah yang sangat jelas dan cermat. fundamentalis. Sebab. juga menghargai perbedaan. niscaya merupakan langkah positif yang bermakna dalam menghindari friksi yang tidak diinginkan. dogmatis. Memang firman ini juga menyatakan tidak mungkin perbedaan itu bisa dipertemukan. orang tidak lagi mau melihat prinsip hukum dan undang-undang dalam Islam yang menampilkan warna dan karakter berbeda. Karena itu. terminologi syar'i menunjuk pada Allah sebagai pembuat dasar syariah lewat firman Nya. Sebab.Ujung-ujungnya. firman ini menunjuk hakikat keterpisahan yang mustahil bisa dipertemukan. ortodoksi. Tetapi Tuhan. Surah Al-Kaafirun bisa dianggap mewakili pernyataan tersebut dengan beberapa catatan seperti 'Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. tak perlu sampai . pandangan. tentu bukan menjadi halangan untuk tidak saling menghargai perbedan yang ada. melalui wahyu Nya sebagai firman Allah. pola kalimat dalam firman itu menunjukkan kemantapan sifat dan konsistensinya." (QS Al-Kaafirun: 6). Bahkan seandainya sikap saling menghargai itu ditumbuhkembangkan dan diikuti kesediaan untuk mendengarkan pendapat. Tidak ada kesamaran (syubhat) dan keraguan. secara gemblang menyatakan perbedaan akidah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah'. Sebab Islam selain menghargai toleransi. fanatis.

membuat ketersinggungan. tak perlu jalan di tempat. karena demokrasi yang sekuler itu menyamakan derajat semua warga negara di muka UU dengan tidak memandang asal usul etnis. tentu juga bisa dicapai. Islam moderat yang dominan di Indonesia telah menjadi sumber inspirasi. "Secara halus Gus Dur mengkritisi. mantan Presiden RI dan Ketua Umum PB NU itu antara lain menyatakan: Para pemimpin gerakan agama silih berganti memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan penjajahan dan kemudian memperjuangkan demokrasi. penumbuhan masyarakat yang demokratis. serta mencari solusi terbaik sekaligus menjalankan prinsip Islam dan mendukung demokrasi. agama. jenis kelamin dan bahasa ibu. Sedangkan tiap agama lebih cenderung mencari perbedaan. fungsi transformatif yang dibawakan agama bagi kehidupan demokrasi. Dalam tulisannya Agama dan Demokrasi. untuk menghancurkan citra Islam. dan pendorong reformasi demokrasi di Indonesia. . Upaya mencari titik temu dan berbagi pengalaman di antara negara Asia Tenggara. cukup jelas memberikan gambaran bahwa Islam di Indonesia dapat kompatibel dengan demokrasi. bila demokrasi itu begitu jauh dan intens memasuki wilayah yang dianggap sakral menurut agama? Jawabnya tidak lain. dengan uraian di atas sudah terjawab. Untuk itu bisa dikemukakan sejumlah ayat sebagai pijakan atau dijadikan alat bukti. Namun mengapa bisa tidak sinkron. ketika sistem pemerintahan semakin lama menjadi semakin otoriter. Selama ini terma tersebut mendapat cap buruk dan seolah khas Islam seperti dilontarkan pihak tertentu. Dengan demikian. Dengan dialog yang seimbang. Karena sejak lahirnya. Mantan Ketua MPR Amien Rais yang berbicara dalam pertemuan itu. Demikian pula pertanyaan. Meski dia melihat banyak kendala dan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. setiap agama memiliki keunikan dan kekhasannya sendiri. persoalan Islam. mengapa di dalam masyarakat bahkan yang menyebut dirinya sebagai negara Islam. Berbagai kegiatan dikembangkan di kalangan agama untuk merintis di tingkat paling bawah. minimal perbedaan agama dan keyakinan. Dari mulai masalah kebebasan berpendapat dan berserikat hingga masalah pencemaran lingkungan secara masif. gerakan agama langsung terlibat dalam upaya penegakan demokrasi. sistem pemerintahan yang tidak sepenuhnya demokratik yang secara eufemistik disebut 'Demokrasi Pancasila'. tidak menunjukkan wajah demokrasi sebagaimana diinginkan Barat. Pendapat hampir serupa juga dilontarkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Harus diakui hubungan antara Islam dan demokrasi tidak sesederhana yang kita duga. baik sebagai kekuatan moral maupun politik yang dilakukan manusianya yang 90 persen beragama Islam? Harus diberi catatan ialah jalan menuju demokrasi itu. Saya yakin. Dengan demikian akan dapat dicapai sejumlah nilai dasar yang berlaku universal. kecuali mereka yang sengaja menodainya dengan tujuan lain yang terselubung. dilematik dan tidak jelas hitam putihnya. dari situ bisa diperoleh mana hal yang sesuai dengan demokrasi dan agama. kesejajaran kedudukan semua manusia di muka UU. Berangkat dari pendapat tersebut. bencana kelaparan dan obatobatan. dan mana yang tidak. Agama harus merumuskan kembali pandangan dasar mengenai martabat manusia. semangat yang diinginkan penyelenggara pertemuan bahwa ICIP ingin menyebarkan seluas mungkin semangat pluralisme sesuai citra Islam dan menjalankan prinsip Islam sekaligus mendukung demokrasi. bukan mustahil tidak bisa diterapkan. Bukankah pengalaman demokrasi di Indonesia dalam perkembangannya selama ini. atau tentang makna solidaritas antarumat dan pluralisme. karena di dalamnya masih ada hal yang kelabu. tidak mesti harus sama seperti dilakukan Barat. tanpa harus mengorbankan akidah manusianya. Demikian pula bantuan asing yang bersifat kemanusiaan seperti gempa bumi. juga banyak mencatat nilai yang sangat substantial. Dalam tragedi Tsunami Aceh terjadi hubungan antarmanusia yang intens dalam memaknai solidaritas tanpa harus mengorbankan kepentingan dan akidah beragama.harus diawali dari transformasi intern masing-masing. MELACAK JEJAK-JEJAK DEMOKRASI DALAM ISLAM Oleh : Farhan Kurniawan* Islam dan Demokrasi .

Bahkan ketika terjadi kasus-kasus yang tidak mempunyai sandaran keagamaan (wahyu) beliau bersikap demokratis dengan mengadopsi pendapat para sahabatnya. masih menjunjung tinggi status-status sosial klan.) merupakan tokoh yang demokratis dalam berbagai hal. . kebebasan mengkritik penguasa. dan Monarki mendefinisikan pemerintahan demokrasi sebagai “jika kekuasaan dalam pemerintahan itu dibagi-bagi menurut pemilihan atau kesepakatan”. beliau mengambil pernyataan setia orang-orang yang ingin tunduk dalam kekuasaan beliau sebagai tekhnik memperoleh legitimasi kekuasaan. Sikap bebas dan demokratis merupakan ciri kehidupan yang hilang dari tengan-tengah sebagian besar ummat Islam pada saat ini.Kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani “demos” (rakyat) dan “kratos” (kekuasaan). Orang-orang Islam hanya mengenal kebebasan (al hurriyah) yang merupakan pilar utama demokrasi yang diwarisi semenjak jaman Nabi Muhammad (Saw. Buku-buku sejarah mencatat bahwa di luar otoritas keagamaan yang menjadi tugas utamanya. Aristokrasi. dan Ibn Rusyd ketika membahas karyakarya Aristoteles. Istilah demokrasi dalam sejarah Islam tetaplah asing. Sikap demokratis Nabi Muhammad (Saw. termasuk di dalamnya kebebasan memilih pemimpin. hingga memperoleh arahan ketetapan dari Allah. Pernyataan kerelaan itu dinyatakan dalam bentuk "pernyataan setia" atau bai'at. Beberapa contoh yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad (Saw. Oligarki. di tengah-tengah masyarakat padang pasir yang paternalistik. demokrasi adalah sikap hidup yang berpijak pada sikap egaliter (mengakui persamaan derajat) dan kebebasan berpikir. mengelola negara secara bersama-sama (syuro).) dan Sikap Demokratis. baik dalam bermasyarakat maupun bernegara.) ini barangkali merupakan sikap demokratis pertama di Semenanjung Arabia. dan non-egaliter. Dari titik ini para ulama Islam sejak dulu menegaskan bahwa kekuasaan pada asalnya di tangan rakyat. Nabi Muhammad (Saw. namun demokrasi moderen merupakan istilah yang mengacu pada eksperimen orang-orang Barat dalam bernegara sebelum abad XX. Pernyataan setia ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai "Bai'at Aqabah I & II". Sedang dalam ilmu sosiologi. karena itu kekuasaan tidak boleh dipaksakan tanpa ada kerelaan dari hati rakyat.) diminta suku-suku Arab menjadi penguasa sipil (non-agama) di luar status beliau sebagai pemegang otoritas agama. Meski demokrasi merupakan kata kuno. Orang-orang Islam mengenal kata demokrasi sejak jaman transliterasi buku-buku Yunani pada jaman Abbasiyah. karena sistem demokrasi tidak pernah dikenal oleh kaum muslimin sejak awal.).) merupakan seorang demokrat adalah: Ketika Nabi Muhammad (Saw. Selanjutnya kata itu menjadi bahasan pokok para filosof muslim jaman pertengahan seperti Ibnu Sina (Avicenna). kebebasan berpendapat. Ibn Rusyd (Averroes) seorang filosof muslim Andalusia termasyur sekaligus pensyarah bukubuku Aristoletes menerjemahkan demokrasi dengan "politik kolektif" (as siyasah al jama'iyah). Nabi Muhammad (Saw. Aristoteles dalam bukunya "Organon" bab “Retorika” ketika menyandingkan bentuk-bentuk pemerintahan dalam: Demokrasi.

karena kudeta merupakan bentuk pernyataan sepihak sebagai penguasa. Perjalanan Demokrasi dalam Masyarakat Islam Pasca Nabi Muhammad (Saw. Abu Bakar digantikan Umar bin Khattab. Nabi Muhammad (Saw. Setelah Nabi Muhammad (Saw. Abu Bakar terpilih dengan dukungan mayoritas melalui bai'at atas kepemimpinannya. yaitu negara Madinah yang multi agama. yaitu kaum muslimin. Sepeninggal Nabi Muhammad (Saw. Karena Al Quran hanya berlaku bagi orang-orang yang mempercayainya. Beliau tidak menggunakan Al Quran sebagai konstitusi negara Madinah. Umar menunjuk enam orang untuk bermusyawarah menetapkan penggantinya. Nabi Muhammad (Saw. Sewaktu Perang Badar. Posisi ini merupakan sebuah kedudukan prestisius bagi seorang budak kulit hitam dalam belantara kabilah-kabilah Arab yang terhormat. Pergantian kekuasaan setelah Umar berjalan lancar. Takut terjadi kericuhan dan kealotan dalam peralihan kekuasaan selanjutnya. dan kaum Arab pagan yang berdiam di Madinah. Pada peralihan kekuasaan setelah wafatnya beliau ke tangan penggantinya Abu Bakar proses demokrasi dapat berjalan baik meski agak alot. Hal ini terjadi akibat pertentangan dan persaingan kekuasaan yang menghebat. Berdasarkan pengalaman peralihan kekuasaan pada masanya yang alot. Beliau menyusun "Piagam Madinah" berdasarkan kesepakatan dengan orang-orang Yahudi sebagai konstitusi negara Madinah. menegakkan keadilan dan membela orang yang teraniaya. Sedangkan legitimasi kekuasaan harus diperoleh dari rakyat secara sukarela tanpa ada paksaan apapun.) mendirikan negara Madinah ini berdasarkan kontrak sosial (al 'aqd al ijtima'i) antara kaum muslimin dengan kaum Yahudi. Pada masa negara Madinah ini pula beliau mengenalkan konsep "bangsa" (al ummah) sebagai satu kesatuan warga negara Madinah tanpa membedakan asalusul suku. Kristen. maka Abu Bakar menunjuk penggantinya secara langsung sebelum ia wafat untuk memegang tampuk khalifah.) menanggalkan pendapatnya dan mengambil pendapat sahabatnya dalam menyusun strategi perang yang jitu.Berdasarkan prinsip ini maka ajaran Islam menolak kudeta atau merebut kekuasaan secara inkonstitusional. perang pertama kali dalam sejarah Islam antara kaum muslimin dengan orang-orang Arab pagan. beliau mengangkat budak kulit hitam Ethiopia yang bernama Bilal menjadi pengumandang panggilan shalat (azan). dan menghormati kebebasan beragama. meski ada rasa ketidakpuasan di antara orang-orang yang ditunjuk hingga menimbulkan friksi-friksi tajam. Ketika beliau membentuk negara pertama kali dalam Islam. saling menasehati. .). Di balai pertemuan Bani Saadah di Madinah. Piagam Madinah berisi prinsip-prinsip interaksi yang baik antarpemeluk agama. saling membantu menghadapi musuh yang menyerang negara Madinah.) bermigrasi ke Madinah. peralihan kekuasaan menjadi semakin berdarah-darah. dan terpilihlah Utsman bin Affan. Pemilihan penggantinya Ali bin Abi Talib jauh dari tata cara yang sempurna. Setelah Utsman terbunuh akibat ketidakpuasan daerah-daerah.) nilai-nilai demokratis yang beliau ajarkan mulai pudar. Karena setiap kabilah Arab merasa berhak memegang tampuk kepemimpinan.

). Dua kekuatan besar menjadi mainstream yaitu: pendukung Ali dan pendukung khalifah terbunuh Utsman bin Affan yang diwakili oleh Muawiyah bin Abi Sufyan.) mulai terpasung. Hilangnya Sikap Demokratis dari Masyarakat Islam. Munculnya empat golongan ini terjadi pada akhir masa kekuasaan para sahabat dekat Nabi Muhammad (Saw. Dalam sejarah Islam pemerintahan empat sahabat dekat beliau merupakan rujukan kedua. Pandangan politik pendukung Ali selanjutnya terlembaga menjadi sebuah ideologi dan sekte agama. Setelah Ali terbunuh. yaitu Syi'ah. sikap politik ummat Islam terbagi menjadi empat. Muawiyah berusaha memperoleh legitimasi kekuasaan dari rakyat dan mempertahankannya. sebagai bentuk pemerintahan ideal pasca pemerintahan Nabi Muhammad (Saw. Syiria. Pada masa Muawiyah pula terjadi pewarisan kekuasaan Muawiyah telah mengubah sistem pemerintahan Islam dari dikelola bersama-sama dengan sistem syuro/musyawarah) Muawiyah ini dikenal dengan "Dinasti Bani Umaiyah". . kelompok ini menamakan diri Khawarij. Kebebasan dan sikap demokratis mulai hilang dalam Islam seiring dengan berakhirnya kekuasaan khalifah keempat. Kekuasaan ia memindahkan ibukota Islam Pada masa Muawiyah dan keturunannya penindasan kejam terhadap kelompok oposisi dimulai. Ali bin Abi Talib. Al Hasan bukanlah seorang kuat disamping ia selalu menghindar dari konfrontasi politik. lawan politik Ali yang juga keluarga dekat Utsman. pengikutnya membai'at anaknya Al Hasan bin Ali sebagai khalifah. kelompok ini bernama Murji'ah. Muawiyah selalu mengatakan bahwa kekuasaannya merupakan kehendak Tuhan. Kelompok ketiga adalah orang-orang yang anti kelompok pertama dan kedua. Khawarij berusaha melakukan pembunuhan politik terhadap tokoh-tokoh kelompok pertama dan kedua. maka ia menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan. balas dendam politik terhadap para pembantai keluarga Ali tak terelakkan. Ketika Muawiyah berkuasa inilah kebebasan dan sikap demokratis yang diajarkan Nabi Muhammad (Saw. pertama dalam sejarah Islam. khususnya terhadap para pendukung keluarga Ali.Pada masa ini. Dengan menggunakan jargon-jargon agama yang totalistik (al jabariyah) dan ketajaman pedang. karena beranggapan bahwa mereka adalah biang keladi perpecahan ummat. Ketika Dinasti Umaiyah runtuh dan digantikan dengan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad.). demokrasi (pemerintahan yang menjadi monarkhi. Tindakan represif Bani Umaiyah ini belum pernah terjadi dalam sejarah Islam sebelumnya. karena itu tak ada seorang pun yang boleh mengambilnya. dan dari Kufah di Irak ke Damaskus. Dengan alasan demi persatuan ummat Islam. Mereka menghindar sambil menyerahkan permasalahan ini kepada Allah untuk diselesaikan pada Hari Pembalasan. Selanjutnya kelompok keempat adalah orang-orang yang tidak mengambil peran dalam konflik politik ini.

Semenjak jaman Muawiyah ummat Islam tidak pernah menikmati kebebasan dan demokrasi dalam kehidupan nyata. Namun entah mengapa tradisi berkonstitusi pada praktek kenegaraan kaum muslimin selanjutnya hilang. institusi khilafah yang agung dan demokratis hanya berupa nama. Pengekangan kebebasan ini pada satu sisi untuk memperoleh dukungan dan legimitasi dalam rangka memperkuat kekuasaan. Faktor ketiga adalah pengekangan kebebasan yang merupakan pilar utama demokrasi. Hilangnya tradisi konstitusi ini berdampak pada hilangnya demokrasi dan timbulnya pertumpahan darah yang runyam pada setiap kali peralihan kekuasaan.Begitulah seterusnya. Oleh sebab itu kita tidak banyak menjumpai literatur Islam yang membahas tentang politik dan tata negara (fikih as siyasah). dibanding dengan buku-buku yang berbicara tentang ibadat (fikih al ibadah).) tatkala membangun negara Madinah. Pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir bermazhab Syi'ah. setiap penguasa muslim menggunakan agama untuk mengekalkan kekuasaannya dan membuang jauh-jauh kehendak rakyat. Faktor pertama adalah kekejaman para penguasa muslim pada masa lalu. Para khalifah Ottoman merupakan raja-raja yang tidak memperoleh legitimasi kekuasaan dari rakyat. Begitu pula dengan kondisi negara-negara Islam moderen. Setiap penguasa Islam pada masa lalu (hingga saat ini) memilih mazhab atau aliran agama tertentu sebagai aliran resmi negara dengan menyingkirkan aliran-aliran lain. Penguasa Mamalik di Mesir bahkan menggunakan militer untuk memisahkan kekuasaan dengan rakyat. sehingga rakyat tidak dapat berhubungan langsung dengan penguasa. Faktor kedua adalah hilangnya sistem konstitusi sebagai tempat berpijak bagi kehidupan bernegara. Konstitusi negara Madinah bernama "Piagam Madinah" (Watsiqah Al Madinah) hingga kini masih dapat dijumpai dalam literatur Islam. Dalam suasana despotis dan penuh ketakutan semacam ini maka teori-teori politik tidak pernah berkembang baik dalam Islam. Tradisi membangun konstitusi sebenarnya telah diajarkan oleh Nabi Muhammad (Saw. akibat kondisi yang tidak mendukung. Sikap despotis ini telah membentuk sebuah masyarakat yang miskin tata negara. Begitu pula pada jaman Ottoman. akibat kerasnya tekanan penguasa. ilmu tauhid (ilmu kalam). Karena para ilmuwan muslim tidak banyak menulis perihal sistem pemerintahan dan pembagian kekuasaan ideal. Kebebasan dan demokrasi hanya ada dalam teks-teks suci. Dan hampir setiap pergantian kekuasaan selalu disertai pertumpahan darah. Namun di sisi lain. Sebab-Sebab Hilangnya Demokrasi dari Masyarakat Islam. menggunakan militer untuk melindungi kekuasaan dan menyekat kekuasaan dari rakyat. Para penguasa muslim yang despotis berkuasa tanpa legitimasi rakyat dan selalu memerangi kehendak mereka. Penerimaan ataupun penolakan sebuah aliran keagamaan dalam tradisi asli Islam bukanlah dengan menggunakan kekuasaan . Politik Mamalik ini mirip dengan apa yang dilakukan Orde baru di Indonesia. seperti Kerajaan Arab Saudi dan Iran. konsep pembersihan hati (tasawuf). keberpihakan ini merupakan pemberangusan kebebasan yang merupakan dasar demokrasi. Sebagaimana pada beberapa kurun Dinasti Abbasiyah yang bermazhab Mu'tazilah (rasionalis). Ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab hilangnya kebebasan dan demokrasi dari masyarakat Islam.

terbuka artinya siapa saja bisa masuk.5% saja Khalifah yang menjalan syariat Islam. karena Nabi Muhammad (Saw. Kristen. selamat mengkaji Jilid Ke tiga dari Notes Kami Bukan Laskar Pemimpi…salam Ukhuwah dari Bandung Hamzah & Keluarga .) mengajarkan keseimbangan hidup antara urusan dunia dan akhirat. karena demokrasi sifatnya terbuka dan elastis seperti karet. ekstrim dalam berinteraksi dengan keduniaan dan esktrim tidak peduli dengan urusan keduniaan. adalah salah bila menilai demokrasi diciptakan untuk menghancurkan Islam. tetapi kalau Barat saat ini memanfaatkan demokrasi untuk menghancurkan Islam itu adalah benar. tidak aneh bila setiap pakar politik mempunyai definisi akademis tentang demokrasi yang berbeda-beda dan tidak aneh pula setiap politikus dan penguasa mempunyai bentuk tersendiri dalam melaksanakan demokrasi. juga menunjukan sikap dan nilai-nilai demokrasi. DEMOKRASI “PERMATA”ISLAM YANG HILANG Perlu diketahui bahwa cikal bakal demokrasi bermula dari hasil pemikiran Plato dalam bukunya Republik pada tahun 427 – 347 SM atau kira-kira 900 tahun sebelum nabi Muhammad SAW lahir. berhasil menikam Umat Islam dalam konflik berkepanjangan tentang Demokrasi ini. Kedua sikap ini kontraproduktif. Yang kita lupa adalah. Sikap beragama yang menyimpang ini pada akhirnya menimbulkan ekstrimitas. karena sengaja dihilangkan Distorsi Sejarah Islam. kafir. dan sikap ekstrem kedua tidak peduli dunia. (FK). bahkan sejarah Khalifah setelah Ali Bin Abu Thalib menunjukkan hanya 4. dan merupakan Permata yang hilang dalam kehidupan umat Islam saat ini. dan itu terjadi karena nilai-nilai Demokrasi yang dicontohkan Nabi saw. dan retorika dengan dalil-dalil ilmiah yang meyakinkan. semoga notes dari berbagai literature ini.dan politik. elastis artinya siapa saja bisa memberi bentuk dan definisi sesuai kemauannya. Sikap ekstrem pertama menumbuhkan despotisme jika berkuasa. Faktor terakhir adalah sikap beragama yang menyimpang di kalangan kaum muslimin. komunis dan juga Islam. mampu membuka cakrawala kita bahwa demokrasi hakikatnya tak bertentangan dengan Islam. debat. melainkan melalui tradisi keilmuan dalam bentuk dialog. bahwa dalam diri Nabi Muhammad saw. tak ada pada masa mereka.

yaitu negara Madinah yang multi agama. Beberapa contoh yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad (Saw. Ketika beliau membentuk negara pertama kali dalam Islam. Karena Al Quran hanya berlaku bagi orang-orang yang mempercayainya. Bahkan ketika terjadi kasus-kasus yang tidak mempunyai sandaran keagamaan (wahyu) beliau bersikap demokratis dengan mengadopsi pendapat para sahabatnya.) merupakan tokoh yang demokratis dalam berbagai hal.) ini barangkali merupakan sikap demokratis pertama di Semenanjung Arabia.) merupakan seorang demokrat adalah: Ketika Nabi Muhammad (Saw. Berdasarkan prinsip ini maka ajaran Islam menolak kudeta atau merebut kekuasaan secara inkonstitusional. masih menjunjung tinggi status-status sosial klan. beliau mengangkat budak kulit hitam Ethiopia yang bernama Bilal menjadi pengumandang panggilan shalat (azan). Sedangkan legitimasi kekuasaan harus diperoleh dari rakyat secara sukarela tanpa ada paksaan apapun. karena kudeta merupakan bentuk pernyataan sepihak sebagai penguasa. di tengah-tengah masyarakat padang pasir yang paternalistik. Pernyataan kerelaan itu dinyatakan dalam bentuk "pernyataan setia" atau bai'at. Nabi Muhammad (Saw. dan non-egaliter. Beliau menyusun "Piagam Madinah" berdasarkan kesepakatan dengan orang-orang Yahudi sebagai konstitusi negara Madinah. Pernyataan setia ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai "Bai'at Aqabah I & II".) dan Sikap Demokratis. Sikap demokratis Nabi Muhammad (Saw. hingga memperoleh arahan ketetapan dari Allah. karena itu kekuasaan tidak boleh dipaksakan tanpa ada kerelaan dari hati rakyat. Dari titik ini para ulama Islam sejak dulu menegaskan bahwa kekuasaan pada asalnya di tangan rakyat.(Nabi Muhammad (Saw.) Buku-buku sejarah mencatat bahwa di luar otoritas keagamaan yang menjadi tugas utamanya.) diminta suku-suku Arab menjadi penguasa sipil (non-agama) di luar status beliau sebagai pemegang otoritas agama. yaitu kaum muslimin. Posisi ini merupakan sebuah kedudukan prestisius bagi seorang budak kulit hitam dalam belantara kabilah-kabilah Arab yang terhormat. Pada masa negara Madinah ini pula beliau mengenalkan konsep "bangsa" (al ummah) sebagai satu kesatuan warga negara Madinah tanpa membedakan asal- . Setelah Nabi Muhammad (Saw. beliau mengambil pernyataan setia orang-orang yang ingin tunduk dalam kekuasaan beliau sebagai tekhnik memperoleh legitimasi kekuasaan.) bermigrasi ke Madinah. Beliau tidak menggunakan Al Quran sebagai konstitusi negara Madinah.

saling membantu menghadapi musuh yang menyerang negara Madinah. Abu Bakar terpilih dengan dukungan mayoritas melalui bai'at atas kepemimpinannya. Abu Bakar digantikan Umar bin Khattab. Takut terjadi kericuhan dan kealotan dalam peralihan kekuasaan selanjutnya.) mendirikan negara Madinah ini berdasarkan kontrak sosial (al 'aqd al ijtima'i) antara kaum muslimin dengan kaum Yahudi. Hal ini terjadi akibat pertentangan dan persaingan kekuasaan yang menghebat. menegakkan keadilan dan membela orang yang teraniaya.). Kristen. dan kaum Arab pagan yang berdiam di Madinah. saling menasehati. sikap politik ummat Islam terbagi menjadi empat. dan terpilihlah Utsman bin Affan. meski ada rasa ketidakpuasan di antara orang-orang yang ditunjuk hingga menimbulkan friksi-friksi tajam. perang pertama kali dalam sejarah Islam antara kaum muslimin dengan orang-orang Arab pagan.) menanggalkan pendapatnya dan mengambil pendapat sahabatnya dalam menyusun strategi perang yang jitu. Setelah Utsman terbunuh akibat ketidakpuasan daerah-daerah. dan menghormati kebebasan beragama. peralihan kekuasaan menjadi semakin berdarah-darah. Sepeninggal Nabi Muhammad (Saw.usul suku. Dua kekuatan besar menjadi mainstream yaitu: pendukung Ali dan pendukung khalifah terbunuh Utsman bin Affan yang . Pada peralihan kekuasaan setelah wafatnya beliau ke tangan penggantinya Abu Bakar proses demokrasi dapat berjalan baik meski agak alot.) nilai-nilai demokratis yang beliau ajarkan mulai pudar. Perjalanan Demokrasi dalam Masyarakat Islam Pasca Nabi Muhammad (Saw. Sewaktu Perang Badar. Karena setiap kabilah Arab merasa berhak memegang tampuk kepemimpinan. Nabi Muhammad (Saw. Piagam Madinah berisi prinsip-prinsip interaksi yang baik antarpemeluk agama. Pemilihan penggantinya Ali bin Abi Talib jauh dari tata cara yang sempurna. Pada masa ini. maka Abu Bakar menunjuk penggantinya secara langsung sebelum ia wafat untuk memegang tampuk khalifah. Di balai pertemuan Bani Saadah di Madinah. Pergantian kekuasaan setelah Umar berjalan lancar. Umar menunjuk enam orang untuk bermusyawarah menetapkan penggantinya. Berdasarkan pengalaman peralihan kekuasaan pada masanya yang alot. Nabi Muhammad (Saw.

Mereka menghindar sambil menyerahkan permasalahan ini kepada Allah untuk diselesaikan pada Hari Pembalasan. Dengan alasan demi persatuan ummat Islam.) mulai terpasung. Munculnya empat golongan ini terjadi pada akhir masa kekuasaan para sahabat dekat Nabi Muhammad (Saw. kelompok ini bernama Murji'ah. Selanjutnya kelompok keempat adalah orang-orang yang tidak mengambil peran dalam konflik politik ini. kelompok ini menamakan diri Khawarij.diwakili oleh Muawiyah bin Abi Sufyan. Hilangnya Sikap Demokratis dari Masyarakat Islam. Dengan menggunakan jargon-jargon agama yang totalistik (al jabariyah) dan ketajaman pedang. . Setelah Ali terbunuh. Kelompok ketiga adalah orang-orang yang anti kelompok pertama dan kedua. Al Hasan bukanlah seorang kuat disamping ia selalu menghindar dari konfrontasi politik. karena itu tak ada seorang pun yang boleh mengambilnya. Kebebasan dan sikap demokratis mulai hilang dalam Islam seiring dengan berakhirnya kekuasaan khalifah keempat.). Muawiyah berusaha memperoleh legitimasi kekuasaan dari rakyat dan mempertahankannya. maka ia menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan. Dalam sejarah Islam pemerintahan empat sahabat dekat beliau merupakan rujukan kedua.). Muawiyah selalu mengatakan bahwa kekuasaannya merupakan kehendak Tuhan. yaitu Syi'ah. karena beranggapan bahwa mereka adalah biang keladi perpecahan ummat. Ali bin Abi Talib. Khawarij berusaha melakukan pembunuhan politik terhadap tokoh-tokoh kelompok pertama dan kedua. lawan politik Ali yang juga keluarga dekat Utsman. Pandangan politik pendukung Ali selanjutnya terlembaga menjadi sebuah ideologi dan sekte agama. pengikutnya membai'at anaknya Al Hasan bin Ali sebagai khalifah. Ketika Muawiyah berkuasa inilah kebebasan dan sikap demokratis yang diajarkan Nabi Muhammad (Saw. sebagai bentuk pemerintahan ideal pasca pemerintahan Nabi Muhammad (Saw.

Penguasa Mamalik di Mesir bahkan menggunakan militer untuk memisahkan kekuasaan dengan rakyat. menggunakan militer untuk melindungi kekuasaan dan menyekat kekuasaan dari rakyat. Kekuasaan Muawiyah ini dikenal dengan "Dinasti Bani Umaiyah". Ketika Dinasti Umaiyah runtuh dan digantikan dengan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Semenjak jaman Muawiyah ummat Islam tidak pernah menikmati kebebasan dan demokrasi dalam kehidupan nyata. konsep pembersihan hati (tasawuf).Pada masa Muawiyah pula terjadi pewarisan kekuasaan pertama dalam sejarah Islam. sehingga rakyat tidak dapat berhubungan langsung dengan penguasa. Syiria. khususnya terhadap para pendukung keluarga Ali. Para penguasa muslim yang despotis berkuasa tanpa legitimasi rakyat dan selalu memerangi kehendak mereka. akibat kondisi yang tidak mendukung. . Dan hampir setiap pergantian kekuasaan selalu disertai pertumpahan darah. Para khalifah Ottoman merupakan raja-raja yang tidak memperoleh legitimasi kekuasaan dari rakyat. balas dendam politik terhadap para pembantai keluarga Ali tak terelakkan. Kebebasan dan demokrasi hanya ada dalam teks-teks suci. institusi khilafah yang agung dan demokratis hanya berupa nama. ilmu tauhid (ilmu kalam). setiap penguasa muslim menggunakan agama untuk mengekalkan kekuasaannya dan membuang jauh-jauh kehendak rakyat. Politik Mamalik ini mirip dengan apa yang dilakukan Orde baru di Indonesia. Begitulah seterusnya. Tindakan represif Bani Umaiyah ini belum pernah terjadi dalam sejarah Islam sebelumnya. Pada masa Muawiyah dan keturunannya penindasan kejam terhadap kelompok oposisi dimulai. Begitu pula pada jaman Ottoman. Dalam suasana despotis dan penuh ketakutan semacam ini maka teori-teori politik tidak pernah berkembang baik dalam Islam. dibanding dengan buku-buku yang berbicara tentang ibadat (fikih al ibadah). Oleh sebab itu kita tidak banyak menjumpai literatur Islam yang membahas tentang politik dan tata negara (fikih as siyasah). dan ia memindahkan ibukota Islam dari Kufah di Irak ke Damaskus. Muawiyah telah mengubah sistem pemerintahan Islam dari demokrasi (pemerintahan yang dikelola bersama-sama dengan sistem syuro/musyawarah) menjadi monarkhi.

akibat kerasnya tekanan penguasa. Konstitusi negara Madinah bernama "Piagam Madinah" (Watsiqah Al Madinah) hingga kini masih dapat dijumpai dalam literatur Islam. seperti Kerajaan Arab Saudi dan Iran. Karena para ilmuwan muslim tidak banyak menulis perihal sistem pemerintahan dan pembagian kekuasaan ideal. Pengekangan kebebasan ini pada satu sisi untuk memperoleh dukungan dan legimitasi dalam rangka memperkuat kekuasaan. Faktor ketiga adalah pengekangan kebebasan yang merupakan pilar utama demokrasi. Hilangnya tradisi konstitusi ini berdampak pada hilangnya demokrasi dan timbulnya pertumpahan darah yang runyam pada setiap kali peralihan kekuasaan. Pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir bermazhab Syi'ah. Tradisi membangun konstitusi sebenarnya telah diajarkan oleh Nabi Muhammad (Saw. Faktor terakhir adalah sikap beragama yang menyimpang di kalangan kaum muslimin. melainkan melalui tradisi keilmuan dalam bentuk dialog. ekstrim dalam berinteraksi dengan keduniaan dan esktrim tidak peduli dengan urusan keduniaan. Penerimaan ataupun penolakan sebuah aliran keagamaan dalam tradisi asli Islam bukanlah dengan menggunakan kekuasaan dan politik. Setiap penguasa Islam pada masa lalu (hingga saat ini) memilih mazhab atau aliran agama tertentu sebagai aliran resmi negara dengan menyingkirkan aliran-aliran lain. Sikap beragama yang menyimpang ini pada akhirnya menimbulkan ekstrimitas. dan retorika dengan dalil-dalil ilmiah yang meyakinkan. Faktor kedua adalah hilangnya sistem konstitusi sebagai tempat berpijak bagi kehidupan bernegara. Faktor pertama adalah kekejaman para penguasa muslim pada masa lalu. keberpihakan ini merupakan pemberangusan kebebasan yang merupakan dasar demokrasi. . Ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab hilangnya kebebasan dan demokrasi dari masyarakat Islam. Sebagaimana pada beberapa kurun Dinasti Abbasiyah yang bermazhab Mu'tazilah (rasionalis).) tatkala membangun negara Madinah.Sebab-Sebab Hilangnya Demokrasi dari Masyarakat Islam. Namun di sisi lain. debat. Sikap despotis ini telah membentuk sebuah masyarakat yang miskin tata negara. Begitu pula dengan kondisi negara-negara Islam moderen. Namun entah mengapa tradisi berkonstitusi pada praktek kenegaraan kaum muslimin selanjutnya hilang.

membutuhkan waktu panjang yang melampaui umur individu bahkan umur generasi.Sikap ekstrem pertama menumbuhkan despotisme jika berkuasa. dan sikap ekstrem kedua tidak peduli dunia. Dan. hukum. gagasan dan pemikiran brilian serta inovasi yang berkesinambungan. ia juga membutuhkan sumber daya fisik dan dukungan financial yang sangat besar. Yang ingin kita raih adalah ridha Alloh swt. Kemudian umat muslim yang baru itu. Ia juga memerlukan sumber daya manusia dalam semua lapisann masyarakat untuk semua sector kehidupan dengan semua jenis profesi dan keahlian. Tentulah itu merupakan pekerjaan berat ynag sangat melelahkan. menciptakan taman kehidupan yang seimbang dimana setiap orang menemukan keamanan yang diciptakan oleh keadilan dan kenyamanan yang dilahirkan oleh kemakmuran. Maka. dan negara. dan institusi yang seluruhnya jelmaan kehendak-kehendak Alloh swt. Membangun sebuah kehidupan yang islami. atau dengan referensi Islam. keluar dari dirinya sendiri melampaui wilayah kepentingan spesifiknya untuk menebar bunga hidayah dan rahmat kepada seluruh umat manusia. dengan beribadah kepada-Nya. Selain itu. masyarakat. dan bertindak sesuai dengan kehendak Alloh swt. merasa. konsep. Kemudian membawa manusia muslim baru itu ke dalam kehidupan nyata. yang telah menjadi model representative dari kehendak-kehendak Alloh swt. ibadah itu berupa menetapkan dan menyemai seluruh kehendak-kehendak Alloh swt. yang Ia turunkan dalam bentuk syariat (agama) dalam kehidupan kita sebagai individu.) mengajarkan keseimbangan hidup antara urusan dunia dan akhirat (Demokrasi Adalah Strategi Dakwah) Sejak awal kita sudah menetapkan misi dakwah ini. kerja kita dalam dakwah ini adalah membangun sebuah kehidupan berdasarkan disain Alloh swt. dengan begitu. diman . dan lebih dari itu semua. metode dan sistematika perjuangan yang jelas lg mantap. kepemimpinan yang kuat dengan organisasi yang solid. karena Nabi Muhammad (Saw. dengan kesadaran barunya. Proyek besar bertujuan merekonstruksi pemikiran dan kepribadiaan manusia muslim agar berpikir. Membangun kehidupan yang Islami adalah sebuah proyek peradaban raksasa. untuk menata ulang seluruh kehidupan sector masyarakatnya agar hidup dengan budaya. adalah cita-cita dakwah kita. Kedua sikap ini kontraproduktif. sistem. ia membutuhkan energy ruhiyah dan semangat jihad serta elan vital yang dahsyat.

Karenanya. Kalau basis organisasi berorientasi pada kualitas. membangun basis sosial yang luas dan merata sebagai kekuatan pendukung dakwah. struktur budaya . Kalau kader terpesona pada pikiran karena tingkat intelektualitasnya yang tinggi. basis sosial berorientasi kuantitas.” (QS. Al-Baqarah: 143) Mereka yang dipilih untuk dikader dan dibina haruslah orang-orang terbaik yang ada di masyarakat. maka basis sosial bersifat masif dan terbuka. masa menjangkau ke depan dengan tangan-tangannya yang banyak. sebab inilah mesin pencetak pemimpin-pemimpin umat. Inilah yang disebut dengan mihwar sya’bi. maka akan terbentuklah sebuah kekuatan dakwah yang dahsyat. dan kesiapan dasar untuk melakukan pekerjaan besar serta memikul amanah yang berat. masa terpesona pada tokoh karena kadar emosinya yang dominan. supaya kamu menjadi saksi atas manusia. Kalau organisasi dibentuk melalui rekrutmen kader. Mereka memiliki bakat. kebenaran. intelegensi. dan keindahan tumbuh bersemi. Dan taman itulah yang kelak menjadi saksi kemanusiaan dan sejarah. Kedua. masa dibentuk melalui opini publik. Kedua-duanya mempunyai peranan yang sama strategisnya. BEgitulah kita menciptakan sinergi antara pemimpin dan umatnya.setiap orang merasakan kemudahan yang diciptakan oleh ilmu pengetahuan dan harapan serta optimism yang dilahirkan oleh agama. kaderisasi atau tarbiyah menjadi mutlak. “Dan demikianlah Kami jadikan kamu sebagai umat pertengahan. masa dibentuk melalui media masa dan tokoh publik. maka masyarakatlah yang akan melaluinya. dan supaya Rasul itu (Muhammad saw) menjadi saksi atas kamu sekalian. Kalau para pemimpin melihat ke depan dengan pikiranpikirannya yang jauh. Yang ingin kita capai di sini adalah terbentuknya opini publik yang Islami. Kalau basis organisasi bersifat elitis-eksklusif. Kalau pemimpin yang hebat mendapatkan dukungan publik yang luas. Kalau kader pemimpin dibentuk melalui tarbiyah dan pengkaderan. Kalau organisasi meretas jalan. Proyek peradaban ini bertujuan menciptakan taman kehidupan dimana bunga-bunga kebaikan. antara kualitas dan kuantitas.

Karena itu. Ini merupakan pranata yang dibutuhkan untuk menata kehidupan bernegara yang Islami. Kalau basis masa bertujuan membentuk opini publik yang Islami.dan adab-adab sosial yang Islami. baik yang ada di masyarakat maupun yang ada di pemerintahan. ekonomi. maka dalam tahap institusi kita melakukan mobilitas vertikal. sosial. “Masuklah ke dalam Islam supaya kamu selamat!” Atau. maka basis institusi bertujuan memberikan legalitas politik terhadap opini publik itu. Dan. Di sini dakwah memasuki wilayah pekerjaan yang sangat luas dan rumit. Dengan begitu terbentuklah jaringan kader di seluruh institusi stragtegis. Ketiga. dominasi figur dan tokoh Islam dalam masyarakat. dan militer. Kita membutuhkan semua jenis institusi sosial untuk mewadahi semua aktivitas sosial. kita membutuhkan semua jenis institusi ekonomi untuk mewadahi semua aktivitas ekonomi. membangun berbagai institusi untuk mewadahi pekerjaan-pekerjaan dakwah di seluruh sektor kehidupan dan di seluruh segmen masyarakat. Negara adalah sarana bukan tujuan. Selain institusi yang kita bentuk. kita juga perlu mengisi institusi-institusi sosial. eksekutif. Kader-kader dakwah haruslah mampu mengisi struktur yang ada di lembaga tinggi negara: legislative. kita katakana kepada mereka seperti yang pernah diucapkan Nabi Sulaiman kepada Ratu Balqis. katakan pada Heraclius. dan militer yang sudah ada. kita juga membutuhkan semua jenis institusi politik untuk mewadahi semua aktivitas politik. akhirnya dakwah ini harus sampai pada tingkat institusi negara. Kebenaran harus punya negara karena –kata Ibnu Qoyyim– kebatilan pun punya negara. negara merupakan institusi terkuat dan terbesar dalam masyarakat. ekonomi. Keempat. atas kehidupan masyarakat. Kalau dalam tahap pembentukan basis sosial kita menyebar kader-kader dakwah ke dalam masyarakat. Ini yang disebut dengan mihwar muassasi. Kalau dalam tahap pembentukan basis sosial kita melakukan mobilitas horizontal. institusi negara dibutuhkan dakwah untuk merealisasikan secara legal dan kuat seluruh kehendak Allah swt. Inilah yang kita sebut mihwar daulah. Sebab. dan yudikatif. maka dalam tahap institusi kita menyebar kader ke seluruh institusi yang ada. perlu pengelompokan pekerjaan. politik. Kader-kader dakwah juga harus mampu mengisi struktur yang tersedia di lembagalembaga ilmiah. Melalui institusi negara itulah kita berbicara kepada dunia seperti yang pernah Rasulullah saw. .

sebagai salah satu jalan mencapai cita-cita dakwah kita.” (QS. dan sesungguhnya (ia datang) dengan nama Alah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.“Ini (surat) datang dari Sulaiman. . An-Naml: 30) Dan itu semua kita lalui melalui Demokrasi.