Just duit!

Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menjual kepada umum suatu sebagaimana dimaksud dalam lama 5 (lima) tahun dan/atau juta rupiah). menyerahkan, memamerkan, mengedarkan, atau ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling denda paling banyak Rp 50.000.000,- (lima puluh

Just duit!

Jonanes Lim, Pn.D, CPC

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2001

JUST DUIT! oleh Johanes Lim, Ph.D., CPC

GM: 208 01.325
Disain cover: Pagut Lubis Copyright © 2001, PT Gramedia Pustaka Utama Jl. Palmerah Selatan 24-26, Lt. 6 Jakarta 10270

Diterbitkan pertama kali dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta 2001 Cetakan Pertama: April 2001

Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Dicetak oleh Percetakan PT SUN, Jakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan

Daft ar isi

Kata Pengantar 1. Uang, Sukses & Anda 2. Penyabot Kemakmuran 3. Metode untuk Menjadi Kaya 4. Anda Adalah Seperti Kepercayaan Anda 5. Dampak Kepercayaan 6. Mind Reprogramming 7. Anda, Sukses & Nasib 8. Goal Setting 9. Persistensi vs Kegagalan 10.21 Faktor Penyebab Kegagalan Hidup 11.Dua Cara Membuat Orang Melakukan Apa Saja yang Anda Inginkan 12.Membayar pendemo untuk mencapai Tujuan 13.Mencapai Tujuan Gaya Mafia ANEKA TIPS: #1 Program Akselerasi Pemulihan Bisnis Indonesia #2 Cara Meningkatkan Kesejahteraan & Produktivitas Buruh #3 Sistem Kompensasi Meritokratis #4 Demokrasi Tanpa Kesadaran Hukum = Anarki #5 Cara Praktis Memberantas KKN

vii 1 16 20 28 34 46 53 63 69 73 76 82 85

91 95 100 105 118

#6 Agama: Berkat atau Laknat? #7 Agama dan Duit #8 Penutup: Kiat Menikmati Hidup dalam Segala Situasi Tentang Penulis

133 138 141 147

KATA PENGANTAR

M

elalui buku ini saya ingin menularkan hasrat dan kebiasaan untuk menghargai nilai uang serta tekad untuk mendapatkannya sebanyak mungkin dan secepat mungkin secara etis dan halal. Saya ingin menyampaikan pesan bahwa uang itu sangat bermanfaat dan layak untuk didapat dan dipergunakan. Uang terkait dengan perasaan berharga, kebebasan dan kemampuan untuk hidup berbahagia. Bahkan ada pepatah Cina yang berbunyi, "Yu Chien Se Te Kui Thui Mo" yang artinya "kalau punya uang, setan saja bisa kita perbudak", dan itu adalah kebenaran praktis. Bahkan jika lebih ekstrem bisa saya katakan bahwa secara teologis, Tuhan dikatakan maha kuasa, namun secara praktis uanglah yang 'maha kuasa'!, sebab dengan uang kita tidak perlu bersitegang berdoa, puasa, memohon pertolongan yang tidak kunjung datang, cukup dengan membelanjakan uang untuk berobat jika sakit, membayar biaya atas pembelian produk/jasa, kita akan mendapatkan kesehatan dan kesenangan sebagai kompensasinya, that's it! Tentu saja, ini tidak berarti meremehkan kemahakuasaan Tuhan; maka mahakuasanya uang itu harus diberi tanda kutip, sebab uang hanya bisa membiayai obat, dokter dan rumah sakit, dan bukan memberi kesembuhan itu sendiri. Masih ada variabel lain yang mempengaruhi kesembuhan itu di luar kemampuan untuk membeli apa pun yang bisa disediakan oleh uang. Pendek kata, ia bisa membiayai sekian banyak hal dan sarana yang kita perlukan, tetapi memiliki
vii

segala hal yang kita perlukan memang belum tentu membuat bahagia. Karena itu ada yang bilang, uang memang bukan kebahagiaan, tetapi dialah tiruannya yang terbaik. Ketidakpunyaan uang—bisa disebut miskin—adalah suatu keadaan yang mirip seperti kehidupan dalam penjara, yakni hilangnya atau berkurangnya kebebasan untuk melakukan—apalagi mendapatkan —apa yang kita inginkan, serta hilangnya atau rendahnya self respect maupun rasa hormat dari orang lain. Jangankan ingin bersedekah atau menolong orang lain, untuk memberi makan diri sendiri saja susah. Bahkan seringkali orang miskin hanya bisa meratapi nasib melihat orang yang dikasihinya mati oleh penyakit umum (yang seyogianya bisa disembuhkan) karena tidak mampu berobat atau membeli obat; tragis! Tujuan saya menulis buku ini adalah agar anda dan kita semua menghargai MANFAAT UANG, karena jika anda selidiki dan amati, esensi semua kehidupan modern ini memang .mengacu kepada manfaat uang, sebab tanpa uang anda tidak bisa membeli atau memiliki apa-apa. Bahkan untuk beribadah saja anda membutuhkan uang (membeli kitab suci, mendirikan tempat ibadah, memberi persembahan agar rohaniwan bisa hidup dan melayani umat, untuk biaya menyebarkan agama, dan lain sebagainya). Bahkan krisis dan kekisruhan yang terjadi di negara kita sampai hari ini adalah akibat tidak adanya uang (untuk membayar hutang, untuk membangun lapangan kerja, untuk mendanai kesejahteraan rakyat, dan Iain-lain) sehingga Indonesia menjadi negara miskin yang memerlukan pinjaman dan belas kasihan negara donor lain (yang akhirnya mendikte kita, karena mereka pun mungkin bukan tanpa pamrih menyumbang, melainkan mempunyai kepentingan politis maupun ekonomis yang UUD— ujung-ujungnya duit). Saya tidak menjanjikan bahwa dengan menerapkan konsep pelajaran ini anda pasti memperoleh kekayaan dan kesuksesan yang anda inginkan (karena itu adalah pernyataan takabur), melainkan memperbesar kemungkinan anda untuk memperolehnya, dibandingkan dengan jika anda tidak menerapkan konsep pelajaran ini.
Vlll

Perlu saya sampaikan bahwa saya adalah orang yang skeptis dan pragmatis. Saya tidak percaya kepada hal-hal yang berbau takhayul atau dongeng nenek tua. Saya akan mempertanyakan segala sesuatu, baik yang menyangkut diri saya sendiri, orang lain, keadaan makro, bahkan sampai isu keberadaan setan, Tuhan, dan akhirat, sehingga anda bisa merasa tenang bahwa buku ini saya buat bukan berdasarkan dongengan atau hal yang di luar jangkauan anda untuk mencapainya. Selama empat puluh tahun menjadi manusia, saya tidak pernah berhenti untuk bertanya dan belajar, siang dan malam, dari kecil hingga sekarang, sehingga saya bisa menarik kesimpulan bahwa di luar kelahiran dan kematian, hidup itu merupakan pilihan-pilihan. Kita berhak dan berkewajiban untuk menjadi pribadi bermanfaat seperti yang kita inginkan dan percayai, yang sebaiknya adalah hidup makmur, sejahtera, bahagia dan berguna, baik bagi diri kita sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas. Di luar hasrat itu bisa saya katakan bahwa itu adalah kehidupan abnormal serta tidak manusiawi. Sekalipun ada banyak hal yang tidak bisa kita ubah dengan kekuatan kita sendiri, tak bisa disangkal bahwa juga sangat banyak hal yang bisa kita ubah dan bisa kita dapatkan dengan kekuatan kepercayaan, determinasi, perjuangan, kegigihan dan keuletan diri kita sendiri. Sebagai contoh, sekalipun saya tidak bisa memilih mengapa terlahir sebagai pria beretnis Tionghoa berwarganegara Indonesia, namun jika mau, saya BISA mengubah warna kulit saya dari kuning menjadi coklat dengan menggunakan teknologi sun-bathing treatment. Saya bisa mengubah warna rambut saya dari hitam menjadi kuning melalui hair-bleach coloring. Saya juga bisa memperbesar kelopak mata saya dari sipit menjadi besar melalui cosmetic-surgery. Saya juga bisa untuk. tidak bermukim di Indonesia—atau tidak menjadi WNI—dengan menjadi imigran di negara lain. Bahkan jika mau, saya pun bisa mengubah kelamin saya dari pria menjadi wanita, bukankah demikian? Apalagi jika hanya mengubah tabiat atau sifat negatif, dari rendah diri menjadi percaya diri, dari bodoh menjadi pintar, dari berkebiasaan buruk menjadi positif—semua itu adalah hal yang relatif gampang. Semua hal di atas bisa saya lakukan karena hanya menyangkut hal

IX

internal diri saya sendiri, yang masih dalam otoritas diri saya sendiri untuk mengubahnya atau tidak. Namun, tentu saja ada beberapa hal yang tidak bisa saya kendalikan, yaitu yang berhubungan dengan faktor eksternal, misalnya membuat orang lain mengasihi dan percaya kepada saya, mengubah karakter buruk orang lain, mengeliminir kemiskinan sosial, menghilangkan penyakit manusia, mencegah peperangan, mencegah bencana alam, membuat tetap awet muda sepanjang masa, atau bahkan hidup abadi (menangkal kematian alami). Mengetahui batas kemampuan dan mengetahui hal apa yang bisa diubah maupun tidak, bukan hanya memerlukan kebijaksanaan, melainkan juga pikiran waras. Common sense seperti itulah yang akan anda dapatkan melalui pelajaran ini. No magic, no divine miracle. Hasil pengamatan, pembelajaran, riset, wawancara, dan pengalaman hidup selama 40 tahun menjadi manusia yang mencari jawab atas pertanyaan fundamental, "Bagaimana cara mendapat uang lebih banyak dan lebih cepat untuk menjadikan hidup lebih indah, lebih berbahagia, dan lebih berfaedah?" Itulah yang akan saya sampaikan. Memang anda akan menemukan beberapa pandangan atau filosofi yang mengusik kepercayaan atau pola hidup anda, karena anda anggap terlalu keras, revolusioner, mata duitan, atau apa saja, namun saya tidak perduli. Saya bukan hanya yakin, melainkan tahu, bahwa konsep inilah yang nyata efektif untuk mendapatkan hampir apa saja yang kita inginkan, khususnya uang yang lebih banyak dan lebih cepat, secara halal. Dan banyak kepercayaan atau kebiasaan hidup orang-orang yang menentang konsep pelajaran saya ini adalah kaum marginal, hipokrit, atau utopis. Buku ini akan menjawab hampir seniua pertanyaan, keberatan, kritikan, bahkan hujatan siapa pun secara pragmatis-logis. Jika masih kurang, saya mempersilahkan pendebat untuk menghubungi saya via e-mail. Namun jika anda mau berpikiran reseptif terhadap hal baru —sekalipun tidak sepaham dengan latar belakang kepercayaan atau pengalaman anda—maka pelajaran ini akan sangat berguna bagi peningkatan kondisi finansial anda, baik sebagai individu, maupun sebagai kader masyarakat.

Anda mempunyai hak untuk menjadi kaya.
Menjadi kaya memungkinkan anda mengekspresikan diri anda lebih lagi secara fisik maupun spiritual. Anda bisa memberi lebih kepada diri anda sendiri, sehingga anda dapat tumbuh lebih baik dan lebih kuat untuk mampu memberi kepada orang lain. => Uang tidak bertentangan dengan spiritualitas. Uang adalah sarana yang bisa dipakai untuk menjauhkan diri dari Allah maupun sebaliknya untuk mendekatkan diri dengan Nya. Karena itu, kita bisa memanfaatkan uang kita di jalur yang mendukung religiusitas kita. Kita menjadi semakin berguna bagi sesama kalau kita bisa memanfaatkan uang yang kita miliki untuk itu. Bagaimana kita bisa memanfaatkan uang untuk itu, kalau kita tidak memilikinya? Allah mencintai orang miskin. Benar! Tetapi Tuhan juga mencintai mereka yang memberi makan orang miskin, yakni orang kaya. Semakin kaya anda, maka semakin bisa anda memberi lebih banyak. Anda bisa memberikan harta maupun waktu anda. Orang miskin tidak dapat memberikan harta. Orang miskin tidak bisa memberi makan orang lain maupun memberi tumpangan. Hanya orang kaya yang bisa. Orang kaya bisa memberi kesejahteraan bagi keluarga mereka maupun bagi masyarakat, bahkan kepada dunia. Anda berhak menjadi pemberi dan bukan penerima. Anda berhak untuk menjadi kaya. => Jika anda kaya, anda mempunyai sumber daya untuk memperbaiki diri. Anda bisa membiayai pendidikan formal, mengikuti kursus atau seminar, membeli buku-buku. Jika anda kaya, anda mempunyai sumber daya untuk menjadi ayah atau teman, atau kekasih atau pemimpin yang lebih baik. Sekalipun membuat kesalahan, jika anda kaya, anda mempunyai sumber daya untuk belajar dari kesalahan dan memperbaikinya dengan sumber daya yang ada. Menjadi kaya memberikan kesempatan dan kebebasan bagi anda untuk menjadi lebih baik dalam hampir segala hal. => Menjadi kaya memungkinkan anda menjadi lebih sehat. Orang miskin harus makan apa saja yang ada termasuk junk-food karena

XI

mereka tidak mempunyai cukup uang dan kebebasan waktu, sedangkan orang kaya mempunyai pilihan terhadap apa yang mereka ingin dan perlu makan, dengan merekrut juru masak yang pandai, dengan bahan makanan sehat. Orang kaya juga mempunyai waktu dan fasilitas untuk berolahraga dan merekrut personal trainer atau pemijat kesehatan. Menjadi kaya, memungkinkan anda menjalani kehidupan yang lebih sehat dan lebih stress-free. Menjadi kaya memungkinkan anda menjadi lebih cerdas dan benvawasan luas. Orang kaya menjadi lebih kaya karena mereka terus belajar. Anak-anak mereka mampu menjadi kaya karena mendapat pendidikan yang cukup. Dan pendidikan yang baik memerlukan uang dan waktu. Orang kaya membaca buku, mengikuti seminar, melakukan perjalanan dan menemukan hal baru yang menarik. Dan semua aktivitas yang memberi nutrisi kepada intelek dan wawasan itu memerlukan uang dan waktu, yang tidak bisa diperoleh jika anda tidak punya uang. Itulah sebabnya orang miskin akan cenderung tetap miskin, bahkan sampai ke anak cucu mereka, sedangkan orang kaya akan bertambah kaya, bahkan bisa sampai ke anak cucu mereka. Menjadi kaya memungkinkan anda mengembangkan keluarga yang kuat dan harmonis. Orang kaya mempunyai waktu dan sumber daya untuk diberikan kepada keluarganya. Mereka bisa memberikan biaya untuk pendidikan di sekolah yang terbaik. Mereka dapat membayar guru terbaik untuk mengajar seni. Mereka dapat membelikan produk edukasi berteknologi tinggi. Mereka dapat mengajar anaknya tentang marine biology sambil berenang dengan segerombolan ikan lumba-lumba di Sea World. Mereka dapat berlibur ke mana saja bersama keluarga. Dengan uang, mereka dapat memberikan pengalaman yang menarik dan bermanfaat yang akan membentuk pola pikir positif dan masa depan cemerlang anak-anak mereka. Sedangkan, orang miskin tidak mempunyai sumber daya dan waktu untuk melakukan semua itu, karena mereka harus bekerja keras membanting tulang hanya untuk sekedar survive, sehingga anak-anak mereka hidup terlantar.
xn

=} Menjadi kaya memungkinkan anda member! kontribusi dan dampak positif kepada dunia. Anda mengira orang-orang yang berkaul kemiskinan itu miskin beneran secara fisik? Mungkin ada satu-dua, tetapi sejauh ini mayoritasnya tidak. Mother Teresa bukanlah orang miskin. Organisasinya mempunyai dua buah pesawat jet pribadi dan memiliki dana lebih dari 500 juta dollar. Dan ia menggunakan kekayaan tersebut untuk menolong banyak orang dan membuat dampak positif kepada dunia. Bill Gates juga telah memberikan dana amal milyaran dollar, dan mendirikan yayasan pendidikan sendiri; ia dermawan, dan ia sangat kaya. Anda pun bisa menjadi kaya. Anda mempunyai tanggung jawab sosial untuk menjadi kaya. Seberapa kayakah anda seharusnya? Sekaya mungkin selama anda bisa. Pohon tidak akan bertanya seberapa tinggi ia akan tumbuh, melainkan ia tumbuh saja setinggi mungkin selama ia bisa.

Be rich so you have no limits. Poverty is like a jail, a bondage for your freedom and happiness!
Pada akhir buku ini, saya memberikan beberapa tips untuk memperbaiki keadaan kehidupan masyarakat di negara kita yang tercinta ini, baik untuk keluar dari praktek KKN, maupun strategi untuk pemerataan kesejahteraan dan kemakmuran yang lebih cepat. Akhir kata, buku ini hanya akan tetap menjadi konsep atau ide, jika anda tidak berupaya untuk menerapkannya. Kunci dari setiap perubahan dan perbaikan hidup adalah TINDAKAN dan SEKARANG. Karena itu Saudaraku, para Pembaca, permintaan saya ialah, jika anda sudah mengerti dan percaya akan penjabaran buku ini, DO IT NOW! Jangan menunggu hingga besok apalagi lusa, karena "Tomorrow is nothing, NOW is everything and our BEING!" Jika anda mendapat kendala dan atau hendak berkomunikasi dengan saya, anda bisa mengunjungi website saya di: www.omnisuccess.com. atau www.profitbooster-int.com. atau

Xlll

www.profitboosterindonesia.com, karena di sana ada e-mail saya. Atau hubungilah penerbit Gramedia Pustaka Utama: www.gramedia.com dengan e-mailnya: nonfiksi@gramedia. com

Terima kasih dan salam sukses!

Jakarta, Maret 2001

Johanes Lim, Ph.D, CPC

xiv

Uang, Sukses & Anda

ibuan buku telah ditulis oleh orang-orang yang telah sukses atau oleh penulis yang mempelajari kiat sukses orang-orang hebat tentang bagaimana cara menjadi kaya dan sukses. Setiap tahun, jutaan orang telah membeli dan membaca buku-buku semacam itu, namun mengapa tidak semua menjadi jutawan yang sukses? Beberapa orang di antara kita menjadi jutawan dalam waktu yang relatif singkat, sedangkan lainnya tidak. Apakah perbedaan yang membuat seseorang menjadi sukses dan yang lain tidak? Sesungguhnya perbedaan mereka hanya sedikit. Untuk bisa sukses dan kaya lebih cepat, hanya diperlukan perubahan dan perbaikan pada cara berpikir dan berperilaku tentang bagaimana cara anda mendeteksi dan mengelola kesempatan dalam program aksi memperoleh uang, dan dalam cara anda mengelola uang. Sukses bukanlah pembawaan lahir. Strategi sukses bukanlah kualitas genetika yang dimiliki oleh hanya segelintir orang. Ray Kroc, pendiri McDonald's Corporation tidak dilahirkan dalam keadaan kaya. la memerlukan motivasi, hasrat, disiplin, dedikasi, dan persistensi untuk sukses. Simaklah apa yang ia katakan, "I commit to being the very best at what I do." Untuk sukses, kita harus keluar dari comfort zone dan status quo, serta berhenti mencari alasan untuk tidak bertindak, dan menempatkan diri kita kepada suatu situasi di mana kita tidak ada jalan balik kecuali maju, istilahnya, "Burn the bridge behind you!"

R

Jika anda mempertaruhkan hasrat dan impian anda pada risiko dan mempersiapkan diri anda sedemikian rupa untuk bertanding dan berjuang, anda akan siap untuk menangkap setiap peluang yang melintas. Pertaruhkan hidup anda untuk menjadi pemenang. Ingatlah bahwa orang-orang yang berdalih bahwa kondisi ekonomi atau politik masih buruk untuk berusaha, atau salesman yang mengeluh bahwa bisnis masih lesu untuk mencapai target, adalah orang-orang marginal. Juga orang yang mengeluh bahwa kesehatannya atau usianya, atau jenis kelaminnya tidak memungkinkan untuk berjuang meraih sukses, adalah juga golongan marginal. Anda bertanggung jawab atas hidup dan 'nasib' anda sendiri. Adalah pilihan anda untuk memilih bertindak atau berdiam diri. Ambillah tanggung jawab dan risiko untuk sukses. Coba bayangkan, apakah jadinya jika Michael Jordan memilih untuk bersantai minum kopi dan merokok ketika harus berlatih untuk pertandingannya? Tolaklah keadaan atau perilaku yang demotivatif. Dalam merealisir tujuan anda, selalulah tanyakan pada diri anda, "Can I?", dan lanjutkan dengan, "How can I?" Daripada memper tanyakan "Apakah hal itu mungkin bagi saya?", lebih baik mempertanyakan, "Bagaimana cara saya menjadikannya mungkin?!" Logikanya, apa saja yang bisa anda pikirkan, akan bisa anda capai. Hal itu dimulai dari apa yang anda pikirkan, dan apa yang anda pilih untuk dilakukan! Saya menantang anda sekarang untuk memikirkan hal-hal hebat yang sebelumnya tidak berani anda pikirkan. Saya tan tang anda untuk melakukan apa yang anda inginkan, sehingga setelah hari ini, jika ada orang yang bertanya, "Apa kabar?", maka anda akan secara mantap menjawab, "Excellent!", atau "Perfect!", atau "Marvellous!", atau "Superb!" Pernyataan seperti itu akan mempunyai beberapa dampak positif, bahwa pertama-tama hal itu akan mempengaruhi pikiran sadar maupun bawah sadar anda yang akan memprogram citra diri bahwa anda adalah orang yang excellent, perfect, marvellous, dan superb. Kedua, hal itu akan menunjukkan kepada orang lain, pribadi macam apakah anda itu — bahwa anda adalah orang yang nyaman dan

bangga terhadap diri anda sendiri, bahwa anda adalah orang yang 'on the right track', bahwa anda sedang menjalani kehidupan yang berkemenangan. Ketiga, hal itu akan memikat dan menarik rasa hormat dan kagum orang kepada anda. Ketika orang berpikir bahwa anda adalah orang yang percaya diri dan yakin terhadap pencapaian tujuan hidup anda, serta terkesan mampu menguasai berbagai macam keadaan, orang akan ingin berdekatan dengan pribadi sukses seperti itu. Komitmen kecil akan membimbing ke arah komitmen yang lebih besar. Jika anda nienghadapi rintangan ketika merealisir tujuan hidup anda, dan ada orang yang bertanya tentang bagaimana keadaan anda, jawablah, "Getting better all the time. " Karena pikiran anda selalu bergerak ke arah ide yang paling dominan, maka ia akan menemukan cara untuk membuat keadaan anda sungguh menjadi lebih baik setiap waktu. Tidak perlu tegang atau cemas, hadapilah semua perkara dengan tenang dan senang. Hadapilah semua kesukaran anda sebagai tantangan, puzzle yang mempunyai solusi. Programlah pikiran sadar maupun bawah sadar anda dengan prosperity belief, kepercayaan bahwa anda berhak untuk sukses dan makmur, serta anda pasti meraih kesuksesan dan kemakmuran, sehingga hal itu menjadi prosperity consciousness bagi anda, yang akan menghalau segala macam ketakutan akan gagal maupun kekecewaan atau keputusasaan menghadapi kegagalan. Karena anda tidak bisa secara bersamaan memiliki prosperity belief dan scarcity belief 'secara bersamaan, maka anda harus memilih: Anda mau terus percaya akan kesuksesan, terus bergairah memperjuangkannya, atau anda mau memelihara kecemasan dan ketakutan akan kegagalan dan berhenti berjuang? Sekalipun secara logis semua orang akan memilih untuk mempunyai prosperity consciousness, karena lebih menjanjikan kesenangan, namun hal itu bukanlah terjadi secara kebetulan, melainkan harus anda pilih dan tentukan sendiri. Anda harus menciptakan dan memprogram (atau memprogram ulang) pikiran bawah sadar anda bahwa anda berhak dan berkewajiban untuk menjadi sukses dan makmur;

sebab jika tidak demikian, scarcity consciousness akan menghambat kemampuan anda untuk sukses, ketakutan dan kecemasan anda akan kegagalan akan menutup mata anda untuk melihat kelimpahan dan peluang yang ada di dunia ini. Ide bahwa kita mempunyai potensi yang tidak terbatas untuk menjadi apa saja atau mencapai apa saja sebatas yang bisa kita bayangkan, merupakan hal yang menggairahkan. Ditambah dengan adanya free-will bagi kita untuk bebas memilih bentuk pikiran, kepercayaan, dan tindakan kita. Namun, sayangnya, saya menemukan bahwa banyak orang takut untuk menjadi kaya dan sukses. Sebagian dari dirinya memang ingin kaya, tentunya, namun sebagian lainnya lagi merasa bahwa hal itu adalah salah, atau mereka berpikir bahwa mereka harus membayar terlalu mahal untuk menjadi kaya dan sukses. Beberapa pernyataan yang sering saya dengar adalah: "Saya akan harus bekerja sangat keras untuk menjadi kaya, dan itu bisa mengorbankan keharmonisan rumah tangga saya." "Saya akan harus menipu dan menghalalkan segala macam cara untuk kaya dan sukses yang bertentangan dengan nilai kepercayaan saya." "Uang bukanlah segalanya." "Biar miskin asal bahagia." "Kalau saya mempunyai uang banyak, akan ada orang lain yang berkekurangan." Dan pernyataan lain yang sejenis. Jika anda percaya bahwa menjadi kaya akan menelantarkan keluarga, atau menjadi tamak, atau kehilangan kebahagiaan, atau bekerja terlalu keras, maka bagaimanapun hebatnya anda menginginkan uang, maka akan ada bagian diri anda yang akan menentang dan menggagalkannya. Dengan demikian, anda menjadi musuh bagi diri anda sendiri, yang menyabot peluang untuk menjadi kaya dan sukses secara finansial, karena secara filosofis, fondasi hidup anda rapuh. Anda mengidap penyakit dualisme dengan basic belief system yang kusut!
4

Secara analogis: Jika hendak membangun rumah atau gedung kita memerlukan fondasi yang kokoh, agar bangunan itu laik pakai serta aman terhadap berbagai macam kemungkinan buruk. Demikian juga jika kita hendak membangun suatu lingkungan, apakah area industri ataukah area wisata, diperlukan infrastruktur yang memadai seperti tersedianya sumber daya listrik, air, komunikasi, akomodasi, transportasi, bahan baku, tenaga kerja, sampai sarana pendukung lainnya yang relevan. Jika infrastruktur tidak memadai, pengembangan area tersebut akan terkendala dan berkemungkinan besar untuk Demikian juga dengan proses dan pengembangan kelimpahan finansial. Pertama-tama diperlukan fondasi atau infrastruktur yang benar tentang uang, kekayaan, dan segala dampaknya, yang kita namakan Prosperity Consciousness atau kesadaran akan kemakmuran, yang melibatkan Basic Belief System anda. Dan di bawah ini, saya akan mencoba untuk membangun fondasi atau infrastruktur prosperity consciousness dalam diri anda. Pembentukan prosperity consciousness ini penting sekali, karena jika anda percaya bahwa uang itu buruk atau kurang penting, sampai kapan pun anda tidak akan mau berjuang all-out untuk mendapatkannya secara berlimpah. Namun jika anda percaya bahwa uang itu baik berguna dan layak untuk didapat anda akan dengan senang hati untuk berjuang dalam mendapat dan mengakumulasikannya. Di bawah ini saya telah menulis dua paradoks yang ekstrem tentang uang. Jika anda percaya bahwa uang dan kekayaan adalah nyaris segala-galanya yang dapat membuat kehidupan lebih ceria berbahagia, dan sebaliknya, bahwa kekurangan uang dan kemiskinan adalah sumber dan penyebab penderitaan niaupun ketidakberdayaan, maka anda berada pada jalur kelimpahan hidup yang benar. Namun jika tidak, maka ada yang keliru pada sistem kepercayaan fundamental dan prosperity consciousness anda tentang uang dan manfaatnya, sehingga harus diperbaiki terlebih dahulu, untuk laik kaya.

What Money Can Buy Money can buy appetite as well as foods Money can buy self-esteem as well as nice clothes Money can buy jewelry as well as self-dignity Money can buy bed as well as sound sleep Money can buy medicine as well as health Money can buy house as well as home Money can buy education as well as intelligence Money can buy luxury as well as happiness Money can buy lover as well as love Money can buy friendship as well as enemy Money can buy healthcare as well as lifelong Money can buy almost everything

What Poverty Can't Buy Poverty can't buy appetite nor foods Poverty can't buy self-esteem nor proper clothes Poverty can't buy jewelry nor self-dignity Poverty can't buy bed nor sound sleep Poverty can't buy house nor home Poverty can't buy education nor intelligent Poverty can't buy luxury nor happiness Poverty can't buy lover nor love Poverty can't buy friendship nor enemy Poverty can't buy health nor lifelong Poverty can't buy almost anything (Johanes Lim) Saya harap anda sepakat dengan saya bahwa uang adalah positif, baik, manis, indah, dan bermanfaat; sedangkan kemiskinan atau moneyless adalah negatif, pahit, suram, buruk, dan tidak berguna. Untuk mempermudah, saya akan memberikan uraian tanya jawab tentang beberapa isu mengenai uang yang seringkali dijadikan alasan untuk mentolerir kemiskinan, dan yang sering diajarkan orang secara turun-temurun serta dianggap sebagai kebenaran. Semua ini saya maksudkan agar anda mau dan mampu menata ulang atau mem-

program ulang kepercayaan dan pikiran bawah sadar anda tentang uang, kekayaan, kesuksesan, dan kebahagiaan: 1. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. => Jawaban: Memang benar! Tetapi, sebaliknya juga benar: kemiskinan juga tidak bisa membeli kebahagiaan! Sekarang tinggal pilih: kalau uang dan kemiskinan sama-sama tidak bisa menyediakan kebahagiaan, terserah anda untuk memilih uang atau kemiskinan. Jawaban tambahan: Pertimbangkan apa yang sudah dikatakan di atas, yaitu bahwa uang memang bukan kebahagiaan, tetapi merupakan tiruannya yang terbaik. Dengan uang kita bisa memiliki peace of mind, rasa tenteram karena terjamin, aman, sejahtera serta senang. Hal itu bisa diberikan oleh produk atau jasa yang bisa dibeli dengan uang. Sekali lagi "bisa", tetapi memang tidak otomatis, karena masih ada beberapa hal lagi yang berperan dalam penciptaan rasa tenteram dan aman itu. Jika kita merasa susah hati, dengan uang kita bisa pergi shopping, atau travelling, atau party, sehingga merasa terhibur dan senang. Jika kita merasa tidak aman, maka dengan uang, kita bisa membeli perangkat security systems dan asuransi untuk melindungi aset kita, atau menyewa bodyguard untuk melindungi keselamatan diri. Sebaliknya, tanpa uang, kita nyaris mustahil untuk bisa berbahagia. Coba bayangkan, bagaimana pikiran bisa tentram dan damai jika kita tidak tahu apakah nanti sore bisa makan atau tidak karena tidak mempunyai uang? Bagaimana kita bisa senang jika besok pagi harus hengkang dari rumah kontrakan—tanpa tahu hendak tinggal di mana— karena sudah menunggak biaya sewa selama berbulan-bulan? Bagaimana kita bisa senang menyaksikan anak terbaring sakit tanpa mampu membawanya ke dokter karena tidak punya uang? Kesimpulan saya: Sekalipun anda tetap bisa berbahagia dengan atau tanpa uang, namun secara logis empiris, kita akan lebih mudah berbahagia jika mempunyai cukup uang dibandingkah dengan jika tidak mempunyai uang. Bukankah demikian?
7

2. Orang kaya itu serakah. => Jawaban: Sebagian dari orang kaya memang serakah, tapi demikian juga dengan orang yang setengah kaya, atau juga orang miskin. Keserakahan itu bukan disebabkan karena uang, melainkan merupakan sifat atau tabiat perseorangan yang bisa dilakukan oleh orang di segala golongan. Pendek kata, keserakahan bukan merupakan kualitas yang menempel pada uang itu sendiri, tetapi pada pribadi. Jadi, yang penting di sini adalah kontrol diri, dan bukan penolakan terhadap uang. Bisa saja menjadi kaya raya tanpa jadi serakah; tanpa jadi arogan; tanpa jadi orang yang aji mumpung. Banyak orang kaya yang saya ketahui justru mempunyai perilaku dermawan dan berbelaskasihan terhadap orang lain yang membutuhkan pertolongan, mungkin karena orang kaya itu mempunyai kemampuan dan kesempatan lebih besar untuk berbuat amal dibandingkan dengan orang miskin. 3. Saya akau hams bekerja sangat keras, menelantarkan keluarga, dan membayar harga terlalu mahal untuk menjadi kaya. => Jawaban: Memang ada sebagian orang yang bekerja sangat keras dalam mengejar kesuksesan sehingga menelantarkan keluarganya, dan itu sangat disayangkan dan tidak perlu terjadi. Hal itu menunjukkan bahwa mereka kehilangan keseimbangan dan mengadopsi kepercayaan yang keliru seperti: "Karena saya harus bekerja lebih keras untuk sukses, maka keluarga harus juga rela untuk terlantar". Sekalipun ada orang kaya yang berkorban seperti itu, tidak berarti bahwa semua orang yang ingin menjadi kaya harus menelantarkan keluarganya. Banyak orang kaya yang justru semakin mempunyai cukup waktu dan sumber daya untuk menjaga keharmonisan rumah tangga dan menikmati kebersamaan. Sebaliknya lebih banyak saya jumpai orang yang menelantarkan keluarganya karena kekurangan uang. Suami dan istri harus bekerja membanting tulang hanya sekadar untuk survive. Anak-anak terlantar karena orangtua mereka harus bekerja mencari nafkah. Dan hubungan mesra antara suami istri atau antara orangtua dan anak menjadi terganggu karena setiap hari mereka telah merasa

kelelahan secara fisik dan mental. Bahkan menurut cerita, lebih banyak perceraian disebabkan oleh kesulitan ekonomi dibandingkan dengan kemakmuran finansial. Mari kita renungkan dengan akal sehat, apakah kekurangan uang ataukah kelebihan uang yang lebih sering menyebabkan rumah tangga berantakan? 4. Uang itu tidak rohani. => Jawaban: Ini adalah kutipan yang diambil dari Alkitab, "Cinta akan uang adalah akar segala kejahatan". Jika mencintai uang lebih dari segala apa pun juga, memang keliru. Mencintai uang tanpa mengerti bagaimana cara menggunakannya agar berguna bagi diri sendiri dan orang lain adalah juga keliru. Namun uang adalah bentuk dari energi yang mempunyai potensi luar biasa untuk dipakai sebagai alat kebaikan. Tanpa uang, bagaimana kita bisa membeli dan menikmati kebutuhan hidup? Tanpa uang bagaimana kita bisa menolong orang yang berkesusahan atau yang lapar? Tanpa uang bagaimana kita membiayai aktivitas agama seperti membangun tempat ibadah, mencetak kitab suci, menyampaikan pesan agama, dan sebagainya? Jika uang adalah buruk dan tidak rohani, mengapakah Taurat, Alkitab, dan Al-Qur'an menulis dan memuji tentang raja Salomo (Sulaiman)? Siapakah dia? Orang terkaya pada zamannya! Jadi jelas bahwa uang dan kekayaan bukan merupakan sesuatu yang pada dirinya sendiri buruk, serta tidak ada relevansinya dengan masalah rohani atau tidak. 5. Uang tidak bisa membeli cinta. => Jawaban: Memang benar! Tetapi, begitu juga kemiskinan! Ada sesuatu yang lain yang memicu cinta yang lebih dari sekadar kaya atau miskin. Tetapi pertimbangkan kenyatan ini: dengan uang kita bisa menciptakan suasana dan berbagai kesempatan untuk tumbuhnya cinta. Dengan uang, kita bisa mewujudkan perhatian kita secara lebih kasat mata, misalnya dengan memberi hadiahhadiah, yang akan menciptakan lahan subur demi tumbuhnya cinta. Dengan uang kita bisa menciptakan waktu luang untuk lebih memperhatikan seseorang, yang ujung-ujungnya menjadi lahan

subur untuk tumbuhnya cinta. Sebaliknya, kenyataannya justru banyak sekali kasus orang patah hati karena percintaan yang gagal, atau perceraian dalam perkawinan, disebabkan karena kekurangan uang. Ketiadaan uang akan merupakan kendala atau bondage terhadap kebebasan dan mewujudkan keinginan hati. Coba anda bandingkan, enak mana: Berpacaran dengan hanya 'makan angin dan dirubungi nyamuk, karena hanya bisa duduk-duduk di taman umum, atau berpacaran sambil mengisi perut di restoran mewah sambil menikmati musik hidup yang dibawakan oleh musisi kenamaan? Menurut anda, romantis mana: Pacar yang memberikan hadiah ulang tahun sekuntum bunga mawar yang dipetik dari taman umum, atau seperangkat perhiasan berlian? Jika anda bisa memilih, manakah yang lebih baik: Menikah ala kadarnya dengan pesta kecil menggelar tenda di depan gang MHT di depan rurnah kontrakan anda, tanpa honeymoon, ataukah resepsi pernikahan megah di hotel mewah dengan ribuan undangan, dan segera setelah itu berangkat honeymoon ke Paris yang adalah "The city of love" dan menonton "Lido Show"? Menurut saya, cinta akan bisa tumbuh lebih subur dalam kemakmuran, dan akan layu dan surut dalam kemiskinan. Meskipun awalnya mungkin cinta monyet akan membutakan mata hati ABG (anak baru gede) sehingga mau mencintai orang yang madesu (masa depan suram), sehingga timbul istilah, "Jika cinta sudah melekat, jigong pun terasa coklat!", namun dengan berjalannya waktu, kemiskinan dan penderitaan hidup akan mengikis cintanya, dan mencelikkan matanya bahwa "Cinta saja tidak akan bisa mengenyangkan perut!" Kisah lainnya, sekalipun seseorang awalnya menikah dengan pasangan yang tidak dicintainya, namun dengan berjalannya waktu, perhatian dan kasih sayang serta limpahan kemewahan dari pasangannya akan menumbuhkan cintanya. 6. Uang tidak bisa membeli persahabatan. => Jawaban: Bisa saja benar, jika anda adalah orang yang filantropis, yang sekalipun susah tidak mau menyusahkan orang lain, sehingga sahabat anda tidak khawatir untuk berdekatan dengan anda, karena

10

tidak akan dirugikan. Namun jika karena kesusahan finansial anda menjadikan sahabat anda sebagai 'tong sampah' tempat anda menumpahkan kekesalan dan kesumpekan hati, maka cepat atau lambat sahabat anda akan enggan berdekatan dengan anda. Mengapa? Sebab setiap manusia pasti mempunyai persoalan dan kesusahan hidup sendiri. Jadi seberapa lama sahabat anda mau bertahan menerima beban ekstra kesusahan hati dari anda? Dan kehilangan persahabatan akan dipercepat jika anda mulai sering •meminjam uang tanpa bisa membayar kembali. Sebaliknya, jika anda sukses secara finansial, anda akan mempunyai banyak sahabat, minimal mereka tahu bahwa anda tidak akan menyusahkan mereka, dan kedua, mereka berharap bisa mendapat keuntungan— moril ataupun materiil—dengan menjadi sahabat anda. Dengan kelimpahan finansial, kawan yang telah menjadi lawan pun akan mau berbaikan dengan anda kembali. Istilah "a friend in need is a friend indeed" hanya manis dan benar sebagai pepatah, atau maksimal hanya berlaku untuk sementara, namun jika anda terusmenerus "in need", maka jangankan sahabat, saudara kandung, atau istri atau suami anda pun berkemungkinan hengkang meninggalkan anda! Kalau anda membaca buku saya Manajemen USA (Untung SayaApa), anda akan mengerti bahwa segala macam interrelasi di atas muka bumi ini—baik antar manusia, manusia dengan Tuhan, bahkan antar—makhluk—azasnya adalah manfaat. Jika saling bermanfaat, hubungan itu akan harmonis dan berlangsung lama. Sebaliknya jika tidak, akan berlangsung singkat, atau tidak pernah berlangsung. 7. Uang tidak bisa menghindarkan kita dari maut. => Jawaban: Memang tidak, apalagi kemiskinan. Masalah mengapa kita lahir dan kapan kita mati, itu memang di luar kekuasaan kita sebagai manusia. Namun secara logis empiris, orang yang banyak uang akan lebih panjang umur dibandingkan dengan orang yang tidak punya uang. Untuk transportasi, orang kaya akan bisa naik mobil yang relatif lebih aman. Sekalipun terjadi tabrakan dengan sesama mobil, relatif akan lebih kecil kemungkinannya untuk
11

merenggut nyawa karena menggunakan safety belt dan terlindungi oleh body kendaraan, dibandingkan jika anda naik sepeda dan bertabrakan dengan mobil—hampir bisa dipastikan nyawa anda akan melayang dan berhenti menjadi makhluk hidup. Contoh lain adalah, dengan memiliki cukup uang, anda bisa membeli makanan atau makanan kesehatan (health-food) untuk menjaga diri anda tetap sehat, awet muda, dan panjang uniur. Namun jika tidak punya uang, anda makan hanya sekadarnya untuk kenyang dan agar tetap hidup, dengan menu yang berkemungkinan kurang gizi, sehingga anda rentan terhadap serangan penyakit, dan menjadi nampak lebih tua dari usia biologis anda, dan juga berkemungkinan untuk lebih cepat mati, jika tidak ditangani dengan benar. Jika punya uang, sekalipun anda jatuh sakit, anda bisa segera pergi berobat dan mendapat perawatan yang terbaik dengan bantuan peralatan medis yang canggih—baik di dalam maupun di luar negeri—sehingga anda berkemungkinan besar untuk lebih cepat sembuh dan terhindar dari maut. Sebaliknya, jika anda jatuh sakit dan tidak punya uang, anda harus tetap mencari nafkah untuk membiayai hidup yang akan memperparah penyakit anda. Karena tidak segera diobati, penyakit yang ringan bisa menjadi berat, menjadi kronis, dan bisa merenggut nyawa. Uang tidak bisa membeli sorga. Jawaban: Memang tidak, karena masalah sorga—menurut agama—bukanlah urusan kaya atau miskin, melainkan masalah amal ibadah dan ketakwaan kepada Tuhan. Namun kalau kita hitung secara rasional, kekayaan akan lebih memampukan dan memberikan peluang jauh lebih besar bagi kita untuk berbuat baik, beramal ibadah, dan melayani pekerjaan Tuhan maupun sesama, dibandingkan jika kita tidak punya uang. Orang yang berkekurangan akan merasa rendah diri dan kecut hati untuk menasihati dan menolong orang lain yang berkesusahan, karena dua hal: pertama, takut dilecehkan orang dengan ungkapan, "Jika anda penyembuh, mengapa sakit? Obatilah diri anda sendiri!" Yang kedua adalah kegetiran hati, "Problem saya sendiri saja sudah membuat pusing tujuh keliling, mengapa harus mencari beban
12

tambahan?" Jadi menurut saya, kita akan lebih bisa berbuat baik dan berguna bagi kehidupan orang banyak, jika kita mempunyai uang, dibandingkan jika kita berkekurangan. Dan jika itu dinilai sebagai amal ibadah yang berguna bagi pahala sorga, maka sekalipun kita tidak boleh mengatakan mampu membeli sorga, namun kita bisa 'berinvestasi' untuk bekal kehidupan akhirat yang lebih baik. Mohon dimaklumi, dan janganlah salah paham. Saya bukanlah orang congkak yang sok hebat, atau peleceh sesama manusia yang berkekurangan. Justru sebaliknya, saya sangat mengasihi dan berempati terhadap saudara-saudara saya yang kurang berbahagia, yang hidup dalam kekurangan, sehingga saya menulis buku ini. Saya beluni bisa menolong mereka secara materi, karena jumlah mereka sangat banyak, namun saya berharap bahwa dengan membaca buku ini, kehidupan banyak orang akan bisa diubah menjadi lebih baik, dan pembaca yang telah mendapat manfaat itu akan juga bisa mentransfer pengetahuan dan pengalamannya kepada orang lain lagi, sehingga secara tidak langsung, saya bisa menjangkau sebanyak mungkin orang dari keterbatasan saya. Perlu saya tekankan bahwa yang saya benci dan ingin hajar adalah kemiskinan, dan bukan orang miskin! Saya memang sungguh membenci kemiskinan, karena ia membuat hidup menjadi melelahkan, membosankan, dan mengenaskan hati! Kemiskinan adalah bondage seperti penjara, yang membelenggu kebebasan kita untuk berekspresi dan hidup merdeka. Itulah saudaraku, pesan yang ingin saya sampaikan. Sebab tanpa prosperity consciousness dan kebencian akan kemiskinan, anda akan kurang mau berjuang mati-matian untuk menjadi kaya, karena dihambat oleh reasoning (pencarian alasan atau berdalih atau mengkambinghitamkan sesuatu) yang dilakukan oleh pikiran bawah sadar anda, untuk mentolerir status quo, keadaan marginal, dan bahkan kemiskinan. Jadi, perlu saya tegaskan sekali lagi bahwa untuk menjadi kaya, pertama-tama adalah bahwa anda harus memiliki prosperity conscious-

13

ness, yakni kepercayaan bahwa uang itu baik dan berguna, serta anda berhak dan berkewajiban untuk menjadi kaya, agar anda bisa menjadi orang yang lebih berguna bagi diri anda sendiri, keluarga, dan masyarakat. Sebaliknya, saya perlu menegaskan bahwa tidak ada yang bagus apalagi berguna pada kemiskinan. Bahkan jika boleh, saya ingin menggunakan istilah bahwa "poverty is a sin!" Sungguh sangat gamblang untuk dipahami bahwa kemiskinan itu nyaris mustahil untuk bisa menjadikan hidup kita bahagia; sebaliknya akan menimbulkan perasaan tertekan, rendah diri, ketidakberdayaan, dan mimpi buruk. Dan dengan semua itu kita tidak bisa atau setidak-tidaknya kurang bisa memancarkan keindahan bagi dunia sekitar kita. Atau, kalau keberadaan seperti itu ada hikmahnya, hikmah itu adalah "hikmah negatif"—yaitu merupakan contoh yang tidak perlu ditiru atau diikuti. Kemiskinan mempermudah orang menjadi khilaf dan berbuat kriminal. Kemiskinan juga membuat orang mudah putus asa dan gelap pikiran sehingga terlibat penyalahgunaan dan pengedaran narkoba, menjadi pemabuk, prostitusi, bahkan bunuh diri. Tentu saja tidak bisa dibilang bahwa orang miskin otomatis putus asa, gelap pikiran dan kriminal. Ada banyak contoh yang menunjukkan tingginya kualitas moral mereka. Tetapi, keluarga yang hidup dalam kemiskinan cenderung kusut, sering bertengkar dan menderita, dengan anakanak yang kurang gizi, terlantar tidak mampu membiayai sekolah, atau menjadi anak jalanan untuk mencari nafkahnya sendiri. Karena anak-anak adalah tunas bangsa, bagaimanakah wajah negara kita di masa depan jika sejak kecil banyak sekali dari rakyat Indonesia telah kehilangan kesempatan untuk belajar dan menggunakan bakat serta potensi dirinya secara layak? Mari kita mulai berpikir dan percaya bahwa kemiskinan adalah buruk, jahat dan harus dikikis dan dihapus dari kehidupan pribadi maupun dari kehidupan masyarakat kita (ingat yang dikikis dan dihapus adalah kemiskinan, bukan orang miskin. Kita harus membenci kemiskinan, namun mengasihi orang miskin). Sebaliknya, kemakmuran adalah baik dan berguna, baik bagi diri kita sendiri
14

maupun bagi masyarakat. Karenanya, orang yang tidak rindu terhadap kelimpahan finansial adalah abnormal. Tanpa uang, anda akan hidup abnormal. Anda tidak akan bisa memenuhi kebutuhan fisik, mental dan spiritual secara patut. Anda tidak bisa membiayai sandang, pangan, papan diri dan keluarga anda. Anda tidak bisa membiayai pendidikan diri dan keluarga anda yang sangat berguna untuk meningkatkan kecerdasan, panjang pikir dan produktivitas. Anda tidak bisa menikmati rekreasi, mendengarkan musik, bertamasya dan relaksasi yang berguna bagi mental refreshing, karena kekurangan uang membuat anda pusing tujuh keliling. Bahkan mungkin saja kemiskinan membuat anda malas beribadah, karena anda kecewa terhadap Tuhan yang tidak menjawab doa dan permohonan yang anda panjatkan agar menolong kebutuhan finansial anda. Padahal jika kita hidup makmur, dengan sangat mudah kita bisa mengucapkan syukur kepada Allah dan memuji kebaikan rahmat—Nya, yang semakin menumbuhkan iman dan ketakwaan kita kepada—Nya. Jadi adalah jelas dan tegas seperti siang, bahwa dengan uang kita bisa lebih berbahagia dan lebih berguna. Dengan mempunyai lebih banyak uang, kita akan bisa menolong lebih banyak orang. Jadi, kekayaan dan kemakmuran kita adalah juga agar kita dapat mempermakmur dan menolong lebih banyak orang. Ada jutaan orang yang mati kelaparan. Ada jutaan orang yang hidup tanpa pakaian, tanpa tempat tinggal, dan tanpa pendidikan yang patut. Tidak perlu harus menjadi rohaniwan atau memeluk agama tertentu untuk berbuat baik. Dalam kelompok agama apa pun anda, pergunakan uang anda untuk menolong yang berkesusahan. Ya, uang anda. JUST DUIT! Ya, dengan kelimpahan duit itu anda akan banyak membantu sesama anda. Dan jika anda adalah orang yang saleh, agamis, maka perbuatan baik anda menjadi cerminan dari kasih dan pemeliharaan Allah yang tidak kelihatan.

15

2
Penyabot Kemakmuran

ebanyakan dari kita menyabot kemakmuran kita sendiri. Kita membatasi pertumbuhan finansial kita melalui pola belanja yang keliru yaitu overspend. Kita menggunakan setiap sumber dana untuk mengatrol standar hidup kita, bahkan dengan menggunakan fasilitas kredit untuk keperluan konsumtif. Demi gengsi dan lifestyle agar nampak seolah-olah sebagai orang yang makmur, kita membelanjakan uang sebanyak penghasilan, bahkan lebih, melalui hutang. Jika itu terjadi, anda bisa berharap akan menjadi khawatir dan depresi. Tidak perduli seberapa besar penghasilan anda, uang itu akan segera habis. Anda tidak akan mempunyai cukup uang, apalagi tabungan. Anda akan digeluti rasa khawatir, cemas, takut, dan kekurangan. Perasaan dan pengalaman ini akan menciptakan kekurangan baru. Jika anda secara bijaksana mengelola agar pengeluaran anda minimal 10% lebih kecil dari penghasilan anda, maka anda akan memiliki kualitas kehidupan yang berbeda. Anda akan segera terbebas dari kesulitan finansial, dan akan merasa lebih makmur secara nyata, karena minimal anda secara rutin mempunyai tabungan sebesar 10% dari penghasilan anda. Coba bayangkan, berapakah kira-kira uang tabungan anda sekarang, jika sejak masa muda anda (ketika anda telah mempunyai penghasilan) minimal anda menyisihkan 10% saja sebagai tabungan yang anda investasikan secara bijaksana dan menguntungkan? Anda bisa menjadi sudah cukup makmur, bukan hanya

K

16

secara finansial, melainkan juga secara mental. Prosperity consciousness anda akan berkembang sangat kuat. Namun sayang, itu bukanlah cara yang diperbuat orang secara umum. Kebanyakan orang adalah overspending dan bukan investing. Kebanyakan orang tidak bisa mengelola keinginannya dengan bijaksana, sehingga membelanjakan uangnya secara boros dan ngawur hanya untuk kemegahan semu, hanya agar nampak gagah luarnya, padahal fondasi ekonominya keropos. Menurut saya, menghamburkan uang demi gengsi-gengsian atau berlagak kaya adalah perbuatan yang sia-sia dan agak bodoh. Analoginya, jika anda katak, anda tidak akan bisa menjadi lembu. Untuk menjadi lembu, minimal anda haruslah anak lembu. Maksud saya, anda tidak akan bisa meraih simpati atau kekaguman orang dengan berlagak seolah-olah anda adalah orang kaya, jika anda bukan orang kaya. Bukannya kagum terhadap anda, orang malah akan merasa geli dan mencibir anda. Maaf, dari bau anda saja sudah dapat diketahui apakah anda orang kaya atau bukan. Misalnya anda adalah karyawan dengan gaji sekitar satu jutaan rupiah per bulan. Namun dalam penampilan, anda ingin nampak seperti orang makmur, dengan mengenakan jam tangan bermerek mahal, pakaian branded, dan makan siang di kafe, padahal setiap hari anda harus turun naik bis kota untuk ke kantor. Seperti apakah kirakira pandangan teman-teman sekantor anda tentang anda? Apakah mereka akan kagum dan menganggap anda pribadi yang sukses dan makmur? Jawabannya, jelas tidak. Sekalipun anda membeli dan mengenakan produk asli, mereka akan menyangka itu adalah produk palsu. Dan yang paling memenuhi benak mereka adalah pertanyaan: Anda mau membohongi siapa? Orang idiot mana yang hendak anda pikat? Jika pada pertengahan bulan anda harus kas bon kepada perusahaan, dan/atau anda tidak mampu membayar tagihan biaya listrik atau credit card, maka buyarlah semua kebanggaan semu diri anda — seperti gelembung sabun yang pecah. Jalan keluar untuk mengatasi kesulitan finansial adalah dengan, pertama, cara menghapus penyabot kemakmuran, yaitu scarcity

17

consciousness yang bisa termanifestasi melalui pola hidup boros yang membelanjakan sama atau lebih banyak dari penghasilan. Mulai hari ini, biasakan untuk menyisihkan minimum 10% dari setiap penghasilan anda untuk diinvestasikan dalam portofolio yang menguntungkan, atau minimum ditabung di bank. Hal kedua adalah berusaha mendapatkan penghasilan ekstra melalui side-job dan atau freelance job seperti menjadi agen asuransi, broker properti, broker kendaraan bermotor, atau agen produk multilevel marketing. Semua aktivitas tersebut bisa anda lakukan bersamaan dengan aktivitas utama anda, apakah sebagai pelajar/mahasiswa, karyawan atau pengusaha. Pekerjaan itu cukup terhormat dan bisa cukup banyak menghasilkan uang, plus memperluas networking pergaulan anda yang mungkin saja bisa menjadi kesempatan untuk mendatangkan uang lagi di kemudian hari. Bahkan jika anda memang menerapkan selling skills dengan baik, side-job anda itu bisa saja memberikan penghasilan yang jauh lebih besar daripada penghasilan utama anda! Cobalah hubungi beberapa perusahaan asuransi besar yang mempunyai policy merekrut freelancer. Atau bergabunglah dengan perusahaan broker properti, baik yang non-franchise (tidak menarik fee apa pun untuk menjadi member) atau membeli franchise property broker terkemuka. Saya perlu menyampaikan bahwa kebanyakan orang miskin tidak melakukan hal ini. Mereka memilih untuk santai dan bermalas-malasan daripada mencari extra income. Sedangkan orang yang menjadi kaya adalah yang mau bekerja lebih keras dan lebih banyak, asalkan ia bisa mendapat extra income, bahkan sekalipun harus mengorbankan kesenangannya pribadi untuk sementara waktu. Hal ketiga adalah menginvestasikan kembali kelebihan penghasilan anda agar menghasilkan bunga ataupun penghasilan ekstra lainnya. Demikianlah seterusnya, uang anda beranak uang, atau uang anda berbuah uang. Pada jumlah dan waktu tertentu, akumulasi uang anda dalam penghasilan bergulir maupun dalam tabungan, akan menjadikan anda kaya! Kaya nyata, dan bukan hanya nampak kaya!

18

Keempat, jika mungkin, jadilah wirausahawan. Karyawan bekerja dan mendapatkan gaji (yang sewaktu-waktu, entah karena alasan yang jelas maupun tidak, bisa dipecat oleh atasan atau pemilik perusahaan, tanpa anda bisa menolak untuk pergi), sedangkan pengusaha bekerja dan mempekerjakan karyawan untuk menghasilkan profit, yang nilainya bisa ratusan, ribuan bahkan jutaan kali lebih besar daripada gaji anda. Jika tidak menduduki posisi puncak di perusahaan besar, menurut saya cara yang paling masuk akal untuk kaya adalah dengan cara menjadi pengusaha. Sudan cukup banyak contoh dan fakta yang saya temukan tentang orang-orang biasa yang menjadi kaya dengan menjadi pengusaha, sekalipun mereka tidak mempunyai pendidikan formal yang tinggi dan atau tidak mempunyai modal besar ketika memulai bisnisnya.

19

3
Cara Menjadi Kaya
i

emua kekayaan bermula dari pikiran, yang menjadi sumber sukses finansial bagi beberapa orang terkaya di dunia seperti Bill Gates, Ross Perot, Sam Walton, atau Steven Jobs. Mereka semua menemukan cara untuk mengubah ide, informasi, sistem menjadi manfaat yang bernilai jual tinggi, sehingga mampu membangun kerajaan bisnis mereka. Teorinya, untuk menjadi kaya, anda harus mempunyai kemampuan untuk. memperoleh penghasilan jauh lebih banyak daripada pengeluaran anda. Saya mempunyai pertanyaan sederhana: Bisakah anda memperoleh penghasilan dua kali lebih banyak daripada penghasilan sekarang dengan waktu yang sama? Tiga kali? Sepuluh kali? Apakah mungkin bagi anda untuk mendapatkan penghasilan 1000 kali lebih banyak daripada pendapatan sekarang dengan waktu yang sama? Tentu saja anda bisa, jika anda bisa menemukan cara atau manfaat yang bernilai 1000 kali lebih banyak daripada nilai yang sekarang anda berikah, baik kepada perusahaan anda maupun kepada pelanggan anda. Kunci kekayaan adalah dengan menjadi dan memberikan nilai dan manfaat yang berharga, kepada orang lain, dan menukarkannya dengan uang sebagai kompensasi. Jika anda mempunyai keterampilan lebih, kecerdasan lebih, mempunyai produk/jasa yang lebih inovatif atau lebih berdaya jual tinggi, maka orang lain atau boss anda, atau pelanggan anda, akan membayar anda lebih banyak, dan anda akan menjadi lebih kaya daripada sebelumnya.
20

S

Sebagai ilustrasi: Mengapakah dokter dibayar lebih mahal daripada penjaga pintu hotel? Jawabannya mudah: Dokter memberi nilai tambah lebih banyak. la telah belajar dan bekerja keras untuk menjadi dokter, sehingga ia bisa menolong menyembuhkan penyakit dan membukakan pintu kehidupan. Sedangkan untuk membukakan pintu hotel, siapa pun bisa melakukannya tanpa perlu belajar. Mengapakah pengusaha yang sukses juga menjadi kaya secara finansial dan dihormati orang? Karena mereka memberi nilai atau manfaat tambah kepada konsumen dibandingkan dengan perusahaan sejenis atau pengusaha lainnya. Ada dua hal pokok yang diciptakan oleh pengusaha sukses, yaitu yang pertama adalah kemampuannya untuk memberi manfaat yang dapat meningkatkan kualitas hidup pelanggannya melalui penggunaan produk/jasanya. Hal kedua adalah karena dalam menjalankan usahanya, pengusaha menciptakan lapangan kerja. Karena pekerjaan itu banyak karyawan yang bisa menyekolahkan anak-anaknya bahkan menjadi dokter, pengacara, guru atau profesi lainnya yang bisa memberi manfaat lagi kepada masyarakat yang lebih luas. Belum lagi jika kita tambahkan bahwa keluarga karyawan yang membelanjakan gajinya akan menghidupkan sektor bisnis lainnya yang menciptakan kesejahteraan lain. Ketika Ross Perot ditanya rahasia kesuksesan finansialnya, ia menjawab, "What I can do for this country is creating jobs. I'm pretty good at that, and Lord knows we need them. "Pelajaran ini sederhana: Semakin banyak anda memberikan manfaat kepada orang lain, semakin besar anda akan dihargai dan dibayar. Dan anda tidak harus menjadi pengusaha untuk bisa menambah nilai/manfaat. Tapi setiap hari anda harus selalu mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan untuk bisa memberi manfaat lebih. Itulah sebabnya mengapa self-education menjadi penting. Tanyailah diri anda setiap hari: 4 Bagaimana caranya agar saya bisa menjadi lebih bermanfaat bagi perusahaan saya? * Bagaimana cara saya mencapai produktivitas lebih banyak dengan waktu yang lebih sedikit?

21

4 Adakah cara lain agar saya dapat memangkas biaya dan meningkatkan kualitas? 4 Adakah sistem lain atau aplikasi teknologi lain yang memungkinkan perusahaan saya lebih maju dan lebih untung? 4 Bagaimanakah cara saya lebih memuaskan pelanggan agar mereka membeli lebih banyak dan lebih sering? 4 Dan lain sebagainya. Jika anda bisa memberi lebih banyak manfaat kepada orang lain, anda pun akan menerima jasa dan penghargaan finansial lebih banyak daripada sebelumnya. Sekalipun konsepnya sederhana, saya menyadari bahwa tidak banyak orang yang melakukannya, sehingga tidak mengherankan jika orang kaya itu tergolong sedikit. Satu dan lain hal adalah kepercayaan salah yang dimiliki banyak orang, yaitu ingin mendapat "something for nothing", seperti mental kebanyakan karyawan yang menginginkan gaji dan kariernya selalu naik, tanpa niemperdulikan apakah produktivitas dan kontribusi mereka naik atau tidak. Menjijikkan bukan? Kenaikan gaji apalagi promosi karier, haruslah sebelumnya didahului dengan peningkatan produktivitas dan pemberian manfaat ekstra oleh karyawan, sebab jika tidak demikian, kondisi keuangan perusahaan bisa terganggu, karena melakukan pengeluaran biaya ekstra tanpa disertai dengan peningkatan penghasilan. Sebaliknya, perusahaan pun harus jeli dalam memperlakukan karyawannya, karena mereka adalah aset. Jadi jika ada karyawan yang digaji 50 juta setahun dapat memberikan penghasilan atau manfaat senilai 500 juta, mengapa tidak menghargai karyawan tersebut dengan memberikan bonus dan/atau pendidikan ekstra untuk meningkatkan kompetensi dan motivasinya, agar di lain waktu ia bisa memberikan penghasilan atau nilai manfaat satu milyar misalnya. Jika anda tidak memperhatikan dan menghargai prestasi karyawan, mereka akan meninggalkan anda! Selanjutnya adalah mengakumulasi kekayaan anda. Sebagaimana yang saya tulis di bab "Penyabot Kemakmuran", untuk menjadi kaya
22

tidak cukup dengan hanya terus mencari uang lebih banyak, melainkan dengan cara spend less than you earn and invest the difference. Contoh-contoh kasus sudah cukup banyak tentang kehidupan orang yang berpenghasilan besar-—apakah selebriti, atlet, profesional, ataukah pengusaha—yang segera berakhir melarat, karena gaya hidup foya-foya dengan menghamburkan uang secepat mereka mendapatkannya. Akibatnya, jika penghasilan mereka menurun dan/atau jika mereka mendapat musibah yang memerlukan biaya ekstra, mereka akan jatuh susah, bahkan menyusahkan orang lain! Biasakanlah diri anda untuk menanyai diri sebelum berniat membelanjakan uang anda: * Do I really need this? (Apakah aku benar-benar membutuhkannya?) * What's the minimum I can pay to get it? (Adakah cara termurah untuk mendapatkannya?) Saya serius dalam menekankan bahwa anda harus mau dan mampu menciptakan surplus keuangan dan menginvestasikannya kembali. Sebab jika tidak, sarnpai kapan pun anda tidak akan pernah menjadi kaya. Mungkin anda berpenghasilan besar, bergaya hidup mewah, dihormati orang, namun anda tidak masuk kategori orang kaya, karena anda tidak mempunyai harta atau tabungan atau aset yang aman dan berjangka panjang. Perilaku menghabiskan sebanyak penghasilan—apalagi sampai berhutang—adalah perilaku binatang yang tak pernah memikirkan lumbung persediaan. Langkah selanjutnya adalah memproteksi kekayaan anda. Sangat kasihan melihat orang kaya yang merasa tidak aman dan tidak nyaman memikirkan keselamatan harta mereka, bahkan lebih susah dibandingkan ketika dulu masih miskin. Banyak orang merasa khawatir bahwa dengan memiliki banyak harta, mereka berpotensi untuk kehilangan banyak. Karena itu saran saya ialah: Don't put all your eggs in one basket! Artinya, sebaiknya anda memilah investasi dalam beberapa jenis portofolio, menaruh uang anda di beberapa bank, mengembangkan bisnis anda di beberapa negara, dan menyimpan barang berharga anda di safe deposit box bank dan bukan di

23

rumah, serta mengasuransikan aset anda yang relevan dan cenderung berisiko. Dengan demikian anda tidak akan bisa seketika jatuh miskin atau celaka jika terjadi peristiwa penjarahan dan pengrusakan massal seperti yang terjadi pada tragedi medio Mei 1998 lalu. Terakhir: Jangan lupa untuk menikmati harta anda. Banyak orang kaya berperilaku bodoh. Mereka telah bersusah payah memberi nilai tambah kepada orang lain sehingga mendapat kompensasi penghasilan lebih banyak. Mereka telah menabung dan menginvestasikan uang mereka, sehingga menjadi lebih banyak dan menjadi kaya setelah melewati masa sulit yang cukup panjang. Mereka pun telah memelihara dan melindungi harta mereka dengan baik. Namun sayang, mereka lupa menikmatinya. Mereka tetap merasa berkekurangan, merasa khawatir, merasa hidupnya hampa dan tidak berbahagia. Ada hal vital yang mereka lupakan tentang uang dan manfaatnya. Uang itu bukanlah tujuan, melainkan alat atau media untuk mencapai tujuan. Apa tujuannya? Menjadi lebih berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain! Uang itu hanya menjadi berguna jika dipergunakan secara patut. Jika hanya disimpan atau dipandangi, uang itu tidak ada bedanya dengan benda mati lain seperti guci, atau lemari, atau bahkan kadal mati. Untuk memberi manfaat, uang itu harus dibelanjakan, ditukar nilainya dengan manfaat lain, apakah untuk membiayai pendidikan, membeli makanan, pergi bertamasya, menyumbang panti asuhan, dan lain sebagainya. Jika anda melupakan fungsi dan hakikat keberadaan uang, anda adalah orang yang paling malang, bahkan lebih sial daripada orang miskin, karena anda mempunyai banyak uang namun tetap kikir (perlu diingat bahwa kikir dan hemat itu berbeda. Kikir itu tidak mau mengeluarkan uang sekalipun perlu dan mampu, sedangkan hemat adalah tidak mau mengeluarkan uang jika tidak perlu) dan hidup dalam kekurangan. Karena itu perlu saya ingatkan: Jika anda mati, uang anda akan ditinggal untuk dinikmati oleh orang lain yang tidak berjerih payah untuk mendapatkannya. Apakah anda rela? Saran saya: Nikmatilah nilai tukar dari uang anda setiap waktu secara bijaksana, karena itu adalah hak anda. Tidak perlu menunggu
24

sampai anda menjadi kaya, dan baru mau menikmati manfaat uang, karena hal itu terkesan bodoh dan mendewakan uang. Ingat kata pepatah, "Uang itu hamba yang baik, namun tuan yang jahat!" Maka, jadikanlah dia hamba! Ada empat pertanyaan fundamental yang perlu anda jawab untuk mulai mengakumulasi uang dan menjadi kaya: 1. Bagaimana cara anda menghasilkan uang lebih banyak dari biaya konsumsi? Nilai atau manfaat ekstra apakah yang 'akan anda tawarkan kepada orang atau pihak lain agar mereka mau memberikan uangnya lebih banyak kepada anda sebagai kompensasi atas manfaat yang anda berikan? 2. Apakah yang akan anda lakukan untuk menginvestasikan surplus itu dalam rangka mengoptimalkan pertumbuhan uang anda agar menghasilkan lebih banyak? 3. Apakah yang akan anda lakukan untuk memproteksi uang dan kekayaan anda agar tetap arnan dan tetap bertumbuh kembang lebih banyak lagi? 4. Apakah yang akan anda lakukan senantiasa dengan keberadaan uang anda, baik sekarang ketika anda belum berkelimpahan maupun kelak jika uang anda telah berkelimpahan? Adapun tips jika anda hendak terjun ke dalam dunia bisnis, sebaiknya adalah memasuki bisnis yang secara pribadi anda kompeten untuk mengelolanya, agar anda dapat memulainya tanpa banyak bergantung pada orang lain, dan untuk mencegah agar anda tidak diperdaya oleh karyawan yang menganggap anda bodoh atau tidak menguasai persoalan. Hal kedua yang paling penting untuk kesuksesan bisnis adalah kemampuan bisnis anda untuk memberikan produk/jasa yang diperlukan oleh konsumen untuk meningkatkan kualitas hidupnya, dan yang manfaatnya lebih besar dari nilai uang pembeli dan dari nilai yang dapat diberikan oleh kompetitor. Frase "diperlukan oleh konsumen" itu penting sekali dan perlu digarisbawahi sebagai penekanan, karena keperluan dan keinginan konsumenlah yang menjadi

25

fokus perhatian dan upaya anda untuk memenuhinya, dan bukan keinginan atau selera anda, kecuali anda ingin membeli sendiri produk anda! Karakteristik lain yang dibutuhkan agar menjadi pengusaha sukses adalah: => A sense of thrift, atau semangat hemat. Pengusaha harus disiplin dalam menerapkan prinsip "produce more than you consume" dan "make your money first, then think about spending it" dalam bisnis maupun kehidupan pribadi. Perilaku hemat akan mencegah pemborosan, sehingga bisnis anda dapat dikelola dengan biaya rendah agar bisa menjadi keunggulan kompetitif bagi pasar anda. Mungkin anda pernah mendengar sindiran yang dilontarkan kepada orang kaya, "Orang kaya itu pelit". Walaupun pernyataan itu tidak 100% benar, namun nyaris benar. Lebih tepatnya adalah: Karena perilaku hemat, orang bisa menabung dan berinvestasi sehingga menjadi kaya. Sedangkan orang yang boros, tidak pernah menyisakan penghasilannya, sehingga sampai mati pun tidak akan pernah kaya. => Sebagai pemilik bisnis, anda wajib bekerja dan berpikir lebih keras dibandingkan dengan karyawan, karena anda tidak bisa mengharapkan karyawan akan mempunyai sense of belonging dan kapasitas seperti anda, sebab jika demikian, mereka tidak akan menjadi karyawan, melainkan menjadi bos sendiri. => Anda bersama-sama dengan seluruh karyawan haruslah senantiasa memikirkan cara untuk memperbaiki dan meningkatkan manfaat produk anda dengan menerapkan teknologi tepat guna, dan atau melakukan perubahan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional agar bisnis anda senantiasa berbiaya rendah bermanfaat tinggi. Perilaku continuous innovation and improvement ini sangat diperlukan agar perusahaan anda tetap bisa menciptakan dan mempertahankan pelanggan yang puas secara berkesinambungan, agar terus mampulaba dan mamputumbuh dalam segala situasi menghadapi kompetisi dengan siapa pun dan di mana pun. =» Sekalipun penjualan dan profit anda telah meningkat drastis, kelolalah pertumbuhan dengan hati-hati dan bijaksana. Janganlah
26

tergoda oleh gaya hidup arogan yang ingin cepat besar dan nampak hebat dengan overspending dan overexpansion, apalagi membiayai pertumbuhan melalui hutang. Tetaplah berperilaku hemat. Ingatlah bahwa semangat itulah yang menjadikan anda kaya. Kesombongan dan foya-foya hanya akan segera menghancurkan anda!

27

4
Anaa Aaalan Seperti Kepercayaan Anaa

agaimana cara anda melihat dunia di sekitar anda; apakah bersahabat ataukah kejam? Apakah banyak peluang terbuka bagi anda untuk meraih sukses, ataukah penuh dengan kendala dan ancaman? Apakah hidup ini indah, menyenangkan, menggairahkan, suram, menyedihkan, membosankan? Bagaimanakah cara anda melihat dan menilai hidup dan dunia ini? Semua jawaban dan persepsi anda tentang hidup, kehidupan dan dunia ini, sangat tergantung kepada kepercayaan anda. Kepercayaan adalah hal vital yang sama perlunya seperti hal fisik. Kita tidak dapat hidup tanpa kepercayaan, karena kita memerlukannya sebagai parameter untuk menterjemahkan dan menilai apa yang sedang terjadi dalam kehidupan kita. Seseorang tidak akan menjadi sesuatu atau menginginkan untuk menjadi sesuatu tanpa kepercayaan. Dan apa yang anda inginkan, hal itu dipengaruhi dan dibentuk oleh kepercayaan yang anda miliki. Sekalipun kepercayaan anda berasal dari lingkungan (orangtua, saudara, teman, guru, masyarakat, lingkungan) dan masa lalu yang mendidik dan/atau anda cermati, itu bukanlah harga mati yang permanen, melainkan dapat anda ubah. Anda bukanlah korban takdir atau korban masa lalu, kecuali jika anda percaya demikian. Masa depan anda juga bukanlah merupakan sesuatu yang telah ditetapkan oleh nasib, serta tidak terjadi dengan
28

B

sendirinya. Fakta dan sejarah hidup anda akan menjadi sebagaimana anda mengukir dan menciptakannya—apakah baik dan indah ataukah buruk dan menyedihkan. Hari ini adalah 'janin' bagi 'bayi' yang akan anda lahirkan di masa depan. Anda memegang dan merancang masa depan dengan tangan anda sendiri—yaitu pikiran dan kepercayaan anda. Satu hal penting ialah bahwa anda bisa mengubah kepercayaan anda dengan kepercayaan baru, dan dengan mengubah kepercayaan, anda mengubah segalanya.
Lantas, apakah sebenarnya kepercayaan itu? "Kepercayaan adalah keyakinan atas kebenaran sesuatu, sehingga kita beraksi dan bereaksi sesuai dengan kepercayaan itu, tanpa (perlu) menyadari apakah hal yang kita percayai itu sungguh benar atau tidak."

Seringkali kita membicarakan sesuatu tanpa mempunyai kejelasan tentang apa dan bagaimana sesungguhnya sesuatu itu, dan hanya mengandalkan perasaan atau asumsi kita saja yang kita anggap benar, sekalipun realitas apakah sesuatu itu sungguh benar atau tidak, bukanlah persoalan atau di luar jangkauan penyelidikan lebih lanjut. Jadi, jika anda percaya bahwa anda adalah orang cerdas, apa yang sesungguhnya anda katakan ialah, "Saya merasa yakin bahwa saya adalah orang cerdas." Perasaan keyakinan itu akan membuka sumber daya yang memungkinkan anda melakukan hasil yang nampak cerdas. Jadi, sesungguhnya kita semua mempunyai jawaban di dalam diri kita untuk hampir segala hal, atau minimal mempunyai akses untuk mendapat jawaban melalui orang lain atau faktor eksternal. Tapi seringkali kekurangan kepercayaan, kekurangan kepastian, menyebabkan kita tidak bisa menggunakan kapasitas optimal yang berada dalam diri kita. Apakah anda pernah mendapat pernyataan atau komentar atau referensi orang tentang keadaan anda, misalnya ada beberapa orang yang mengatakan bahwa anda sexy? Kemudian ketika anda bercermin, anda membandingkan diri anda dengan figur orang sexy lainnya dan berkata, "Hey, saya memang nampak seperti mereka!" Semua pengalaman itu tidak berarti apa pun sampai anda me29

ngelolanya sebagai konsep bahwa anda sexy. Segera setelah anda melakukannya, anda merasa pasti tentang ide bahwa anda memang sexy, dan mulai mempercayainya. Selanjutnya anda akan hidup dan berperilaku sebagaimana yang anda percayai sebagai orang sexy. Sekali anda mengerti proses metafora ini, anda bisa melihat bagaimana cara kepercayaan terbentuk, yang tentunya dengan demikian dapat anda ubah melalui proses yang sama. Hal penting yang perlu dicatat ialah bahwa anda bisa mengembangkan kepercayaan apa pun, jika mempunyai cukup referensi pengalaman untuk mernbangunnya. Namun sayangnya, banyak kepercayaan kita yang terbentuk tanpa kita sadari atau tanpa kehendak independen kita sendiri, melainkan melalui referensi pengalaman yang terjadi begitu saja dari lingkungan pergaulan kehidupan kita, sehingga kita tidak mengetahui cara untuk mengelola dan membentuknya secara ideal. Kepercayaan pribadi anda berasal dan berkembang dari keluarga dan lingkungan hidup anda. Mereka meletakkan fondasi dengan filosofi, kepercayaan, perilaku, dan tindakan mereka. Sebagaimana jawaban atas pertanyaan anda, "Who am 7?" datang dari anggota keluarga yang merefleksikan pikiran mereka tentang siapa anda, maka jawaban atas pertanyaan anda "What can I do? juga berasal dari mereka, apakah orangtua, saudara maupun kerabat anda yang berpikir tentang kapabilitas anda. Jika semasa kecil anda sering dimaki oleh keluarga anda atau lingkungan anda, "Goblok, gitu aja enggak bisa!", maka tidak mengherankan jika anda merasa rendah diri dan merasa bodoh sekalipun telah berangkat dewasa. Demikian juga jika anda sering dimaki, "Anak setan, selalu saja kamu membuat onar!", maka anda berkemungkinan untuk tumbuh menjadi orang yang berkepribadian buruk, seperti kesan yang tertanam dan menjadi kepercayaan anda. Identitas dan kepercayaan anda selalu berkait, karena anda mengekspresikan perasaan dalam diri anda melalui perbuatan, dan aksi itu mengungkapkan tentang siapakah anda menurut pikiran anda. Sebagaimana keluarga anda bisa mempengaruhi atau bahkan memaksakan agar anda menjadi seperti yang mereka inginkan, atau me-

30

lakukan tindakan seperti yang mereka harapkan, maka pikiran dan tindakan anda belum tentu mencerminkan apakah yang sesungguhnya anda inginkan, karena belum tentu anda merdeka untuk melakukan hanya yang benar-benar anda inginkan. Secara alamiah kita tumbuh dengan melihat dan mencerna afirmasi yang diberikan oleh anggota keluarga terhadap kemampuan yang memberikan kita kepercayaan. Misalnya ketika kita baru bisa berdiri dan berjalan, ketika baru mulai bersekolah, atau ketika memasuki masa puber dan jatuh cinta untuk pertama kalinya, atau ketika baru pertama kali memasuki dunia kerja, apakah pendapat yang diberikan oleh anggota keluarga anda tentang anda: apakah anda hebat, ataukah anda payah? Apakah anda berprestasi ataukah anda pecundang? Semua itu akan berpengaruh terhadap self-image dan selfesteem serta independensi anda sampai hari ini. Jika orangtua anda sangat bersikeras untuk menjadikan anda seperti pribadi yang mereka inginkan, mungkin saja anda tidak bertumbuh sebagaimana layaknya untuk menjadi diri anda sendiri bersama faktor genetika, bakat bawaan dan sebagainya yang tentu saja berbeda dengan orangtua anda. Jika demikian halnya, bisa saja anda menjalani hidup yang abnormal, karena anda menjadi bukan diri anda^sendiri. Pertanyaan tentang yang manakah dan apakah kepercayaan yang benar itu? Jawabannya adalah, tidak perduli apakah atau yang manakah yang benar, melainkan kepercayaan manakah yang paling dominan dan mempengaruhi hidup anda? Sebab kita akan dapat menemukan orang atau contoh yang bisa mendukung kepercayaan kita, sehingga kita menjadi semakin percaya, apa pun bentuk kepercayaan anda. Itulah yang kita namakan rasionalisasi. Sebagai contoh: Jika anda percaya bahwa Tuhan itu ada, maka anda akan menemukan cara atau pengajaran, atau orang atau apa saja yang 'membuktikan' bahwa Allah ada. Sedangkan jika anda percaya bahwa Allah itu tidak ada,. maka anda pun akan menemukan cara, atau pengajaran, atau orang, atau apa saja yang 'membuktikan' bahwa Allah itu tidak ada.

31

Contoh lain adalah: Bayangkan, anda pernah beragama "A" dan menjadi sangat fanatik untuk membela agama tersebut, bahkan sampai berdebat dan berkelahi dengan teman atau keluarga anda, karena anda sangat percaya bahwa agama itulah yang terbaik dan terbenar dengan segala argumen dan bukti empiris. Nah, jika karena sesuatu hal anda berganti kepercayaan menjadi beragama "B", mungkin karena anda lebih diberkati atau mendapat pertolongan Illahi, apakah yang akan terjadi? Dengan sama fanatiknya seperti dulu anda membela agama "A" yang bahkan kini anda hujat mungkin, anda kini berdebat dan bahkan berkelahi demi agama "B" yang anda percayai paling benar dan paling berguna. Pertanyaannya: Mengapa demikian? Apakah kita ini memang manusia plin-plan, ataukah kita mempercayai hal yang salah? Ataukah memang di dunia ini tidak ada sesuatu yang mutlak benar atau mutlak salah, sehingga apa pun kepercayaan kita akan ada benarnya dan ada salahnya? Saya tidak tahu, karena saya belum menguasai ilmu segala sesuatu yang maha tahu. Menurut pendapat saya, memang di dunia ini tidak ada hal yang mutlak benar dan mutlak salah, atau mutlak baik dan mutlak buruk. Sesuatu menjadi baik atau buruk tergantung kepercayaan kita, dan berlaku bagi diri kita sendiri serta orang yang sepaham dengan kita. Dan kepercayaan itu terbentuk sesuai dengan input atau referensi pengalaman yang kita terima sebagai fakta atau kebenaran. Bagi kepercayaan, adalah tidak penting apakah input, atau data, atau fakta yang kita percayai itu adalah benar atau kenyataan ataukah tidak. Pokoknya kita berpikir, berperilaku dan hidup seperti yang kita percayai, that's it! Itulah sebabnya seringkali kita melihat perilaku atau buah pikiran orang yang bagi kita nampak gila, namun bagi orang lain dianggap sebagai hal yang luarbiasa indah. Karena referensi pengalaman yang membentuk kepercayaan kita bisa saja berasal dari sumber yang faktual dan benar maupun keliru —seperti misalnya ajaran dan teladan orangtua, atau buku, atau filem, dan sebagainya—kita pun bisa mempercayai sesuatu hanya berdasarkan ha-sil imajinasi saja. Sekalipun terdengar aneh, tapi

32

demikianlah faktanya bahwa kita sebagai manusia tidak kebal terhadap persuasi maupun distorsi. Jika anda secara konsisten dan sering memasukkan gambaran sesuatu ke dalam pikiran anda, maka suatu saat anda akan bisa mempercayainya sebagai kebenaran dan mewujudkannya dalam kehidupan faktual. Invasi yang dilakukan ke dalam pikiran bawah sadar kita, seperti misalnya dalam keadaan trance hipnosis, akan bisa menggiring pikiran kita untuk mempercayai sesuatu sebagai kebenaran—sekalipun belum tentu benar—dan kita bertindak sesuai dengan kepercayaan itu. Semua itu bisa terjadi karena pikiran kita tidak bisa memberitahu perbedaan antara sesuatu yang diimajinasikan dan sesuatu yang sungguh dialami. Semakin kuat emosi anda terlibat, dan disertai dengan pengulangan yang berkali-kali, sistem syaraf anda akan mengangapnya sebagai pengalaman nyata, sekalipun itu tidak atau belum terjadi. Para ahli hipnotis bisa mempengaruhi pikiran anda untuk mempercayai sesuatu yang tidak benar—misalnya mengatakan bahwa anda seekor kucing, sehingga anda bisa berperilaku seperti seekor kucing yang mengeong-ngeong jika diperintah. Anda pun bisa mengalami ketakutan, atau kesenangan, bahkan kenikmatan jika sedang menggunakan "virtual reality" technology. Atau ketika anda bermimpi sedang dikejar penjahat, anda bisa berperilaku seperti sedang berlarilari, berkeringat, bahkan menjerit ketakutan. Bagi pria muda yang sedang mimpi berkencan dengan wanita, akan bisa mengalami wet dream. Jadi, manfaat pelajaran ini bagi anda ialah: bahwa kepercayaan itu tidak memerlukan informasi atau pengalaman atau kebenaran untuk bisa dipercayai dan dijadikan perilaku. Jika anda cukup sering merasakannya sebagai kebenaran, cepat atau lambat anda akan mempercayainya sebagai kebenaran. Dengan kata lain, jika anda mempunyai kepercayaan dan perilaku yang buruk atau merugikan, anda bisa mengubahnya dengan cara yang sama serta relatif mudah, yaitu menggantikannya dengan kepercayaan lain yang lebih menguntungkan!
33

5
Dampak Kepercayaan

elajaran di bawah ini bertujuan agar anda mempunyai referensi lebih luas tentang kepercayaan, dengan berbagai perumpamaan dan penjabaran. Sebagai perumpamaan pertama, bisa saya sampaikan bahwa hidup dan kehidupan ini seperti kertas kosong yang bisa diisi dengan apa saja—apakah tulisan bermakna, atau sekadar corat-coret tanpa makna, atau gambar-gambar, atau apa saja. Bahkan jika anda paham, anda pun bisa membuang kertas yang berisi coretan yang buruk, dan menggantikannya dengan kertas dan isi yang lebih bermakna; baik melalui upaya self-reconstruction mengandalkan kekuatan kemauan dan perjuangan anda sendiri, maupun melalui cara "pertobatan rohani". Itulah yang dilakukan oleh mantan bandit yang bertobat dan menjadi rohaniwan, misalnya. Hal itu bukan perkara mustahil atau ajaib, melainkan masalah pengetahuan, kemauan, dan kesempatan belaka. Perumpamaan kedua ialah bahwa hidup dan kehidupan itu adalah seperti bentuk-bentuk—apakah berbentuk segitiga, kubus, oval, bulatan, trapesium, atau apa saja. Isi dan/atau bentuk yang tercermin dari hidup atau kehidupan itu saling mempengaruhi. Sebagai contoh: seseorang memilih dan hidup dalam kehidupan yang berbentuk segitiga misalnya, hal itu dipengaruhi oleh faktor lingkungannya yang memberikan inputs sejak dari lahir sampai matinya bahwa hidup dan kehidupan itu berbentuk segitiga, sehingga disadari ataupun tidak disadari oleh individu tersebut, maka

P

34

bentuk segitiga itu dianggap sebagai satu-satunya bentuk yang benar dan/atau valid dalam kehidupan ini. Sebaliknya, pandangan atau penerimaan masyarakat dalam suatu lingkungan, menerima dan/atau mempercayai bahwa hidup dan kehidupan ini berbentuk segitiga—dan bukan oval atau kubus—karena banyak atau semua individunya percaya bahwa hidup dan kehidupan ini berbentuk segitiga. Kumpulan individu-individu itu dinamakan masyarakat. Dan kumpulan masyarakat itu bisa dinamakan menjadi lingkungan—apakah bernama daerah, kota, atau negara. Dari manakah datangnya keputusan atau pengertian bahwa hidup dan kehidupan masyarakat tertentu itu berbentuk segitiga, misalnya, dan bukan oval atau kubus? Hal itu berasal dari kepercayaan atas ide atau pemikiran tertentu yang didapat dari penyerapan belajar dan/ atau pengalaman, baik yang dialami sendiri maupun yang "diindoktrinasikan" oleh lingkungannya—keluarga dan masyarakat—sampai disimpulkan bahwa hidup dan kehidupan itu, menurut orang tersebut, berbentuk segitiga, dan bukan bentuk oval, trapesium, atau bentuk lainnya. Kalau kita ibaratkan secara praktis, yang dimaksud bentuk-bentuk itu bisa berupa kepercayaan agama, idiologi, budaya, kebiasaan hidup, karakter pribadi maupun masyarakat, sampai ke kualitas hidup individu maupun masyarakat tertentu. Nah, dari sinilah terbentuknya 'warna' masyarakat atau daerah atau negara, yang bisa bersifat pluralistik maupun berazaskan kepercayaan tunggal. Hal itu bisa ditemui dalam negara atheis, atau negara agama, atau negara liberal, juga untuk masyarakat dengan hukum adat tertentu, atau dalam masyarakat yang masih primitif. Nah, jika perbedaan kepercayaan itu tidak disadari sebagai hal yang manusiawi—sehingga bersifat relatif subyektif—suatu saat dan dalam suatu kondisi eksplosif, bisa terjadi pertentangan dan bahkan bentrokan kepercayaan, yang menimbulkan perselisihan, permusuhan, maupun peperangan fisik. Mengapa bisa terjadi pertengkaran? Karena individu atau masyarakat "A" berkeyakinan bahwa hidup atau kehidupan ini adalah

35

"segitiga" misalnya sedangkan individu atau masyarakat "B" berkeyakinan sebagai "kubus". Jika salah satu pihak berupaya untuk meyakinkan kelompok lain bahwa kelompoknyalah yang benar, sedangkan kelompok lain salah, maka akan terjadi perselisihan. Dalam taraf yang minor, hal itu bisa berupa kesalahpahaman; sedangkan dalam taraf major bisa terjadi perkelahian, baik secara individu maupun masyarakat. Contoh hal itu adalah perselisihan sampai peperangan antar—suku, agama, ras, antar—golongan, baik yang terjadi di Indonesia, maupun di belahan dunia lainnya. Dan itu sudah berlangsung sejak jaman dahulu kala. Mengapa orang berselisih bahkan berkelahi sesama manusia hanya karena perbedaan tersebut? Karena masing-masing pihak berusaha untuk mempertahankan kepercayaannya, yang telah menjadi faktor dominan dalam kehidupannya, apakah berupa harga diri ataupun jati diri, baik individu maupun masyarakat. Faktor terselubung lainnya ialah bahwa seseorang atau masyarakat tertentu merasa takut atau panik jika ada orang atau kelompok lain yang bisa atau mau mengubah kepercayaan lamanya—baik secara ilmiah faktual maupun paksaan—karena hal itu akan mengubah total paradigma maupun kebiasaan hidupnya, sehingga ia atau mereka harus memulai lagi dari awal. Apalagi telah menjadi sifat dasar manusia bahwa manusia takut terhadap perubahan, karena membawa serta unsur ketidakpastian. Apalagi jika perubahan kepercayaan itu merugikan dirinya atau kelompoknya, maka bisa dipastikan bahwa ia atau mereka akan melawan atau melakukan aksi kekerasan untuk mempertahankan status-quo. Nah, itulah fundamental dari kepercayaan dan perilaku individu maupun masyarakat yang kita lihat sehari-hari. Dengan kata lain, perbedaan-perbedaan kepercayaan, pola pikir, tradisi budaya, tingkah laku dan kualitas hidup, serta kehidupan suatu individu maupun masyarakat ataupun bangsa, dipengaruhi dan dibentuk oleh faktor kepercayaan yang diterimanya dan menjadi bagian kehidupannya. Adapun kepercayaan itu diciptakan dan dimasyarakatkan oleh seseorang atau sekelompok orang—pemikir, filsuf, tokoh agama, tokoh

36

masyarakat atau kepala suku, politikus, dan Iain-lain—bahkan ada yang bersifat hikayat atau mitos, yang tidak jelas ujung pangkal historisnya. Jadi, jika seseorang atau sekelompok masyarakat dipengaruhi oleh ide atau filosofi tertentu, misalnya dari Animisme/Dinamisme, maka individu atau masyarakat tersebut akan hidup sebagaimana layaknya kepercayaannya, yang dapat kita temui dalam masyarakat tradisional atau suku yang masih primitif. Jika ada orang atau kelompok orang yang berusaha mengubah kepercayaan itu dengan kepercayaan lain —misalnya agama monotheis—maka pada awalnya sudah dapat dipastikan akan terjadi pertentangan bahkan mungkin peperangan yang dilansir oleh kepala suku dan atau pemimpin (dukun) spiritual. Mengapa? Karena masuknya kepercayaan baru itu bisa saja menggoyahkan kepercayaannya pribadi dan/atau meruntuhkan kedudukannya sebagai pemimpin, yang berarti turut hilangnya berbagai fasilitas dan keuntungannya. Namun jika kepercayaan atau filosofi baru itu terus-menerus dipropagandakan dan apalagi jika bisa dipaksakan untuk diterima di suatu masyarakat tertentu, bukan mustahil bahwa suatu hari, individu maupun masyarakat penganut Animisme/Dinamisme tersebut akan berubah menjadi individu atau masyarakat yang Monotheisme. Kelak, pada waktu itu jika ada individu atau kelompok yang hendak mengubah kepercayaan monotheis mereka menjadi Animisme lagi, maka prosesnya akan berlangsung sama seperti sebelumnya: Mereka akan menentang dan akan berkelahi kembali. Demikian seterusnya. Contoh lain adalah masalah ideologi negara Indonesia misalnya, yang berazaskan Pancasila. Dulu ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) berniat untuk mengubahnya dengan Marxisme, Komunisme berhadapan dengan militer dan masyarakat Indonesia yang tidak setuju perubahan itu, sehingga gerakan PKI ditumpas, dan filosofi komunis dilarang di bumi Indonesia. Sebaliknya, bagi Republik Rakyat China (RRC), komunisme adalah azas negara yang paling menguntungkan dan berguna bagi persatuan dan kesejahteraan bangsa, dibandingkan dengan ideologi apa pun juga (karena sejak China menjadi negara komunis, ia bisa

37

menjadi bangsa yang besar bersatu, beda dengan sebelumnya yang terus menerus terjadi perang saudara akibat perbedaan suku, daerah, dan kepercayaan), sehingga sekalipun mendapat tekanan dari PBB yang dikomandoi Amerika agar RRC menjadi negara yang demokratis (ini pun merupakan ideologi juga), ide itu ditolak mentah-mentah. Dan barangsiapa yang terus merongrong pemerintah China akan dihajar. Coba anda bayangkan sejenak, mengapa bisa terjadi hal yang sedemikian paradoksal? Di satu pihak komunisme bagaikan momok, dan di satu pihak bagaikan dewa penyelamat bangsa? Apakah komunisme secara hakiki salah/buruk atau benar/baik? Jawaban saya ialah: relatif. Jika anda atau sesuatu masyarakat percaya bahwa komunisme adalah salah dan buruk, maka ia menjadi salah dan buruk; demikian juga sebaliknya. Hal itu terjadi akibat kepercayaan dan perilaku yang berbeda. Sebagai misal: Anda adalah segi tiga sedangkan Komunisme adalah segi empat, maka sampai kapan pun tidak akan bisa klop. Mungkin kelak jika anda bisa diyakinkan sehingga kepercayaan anda telah menjadi segi empat, dan/ atau komunisme telah berubah menjadi segi tiga, barulah akan terjadi titik temu, atau persamaan persepsi. Contoh yang lain adalah tentang isu demokratisasi. Di manamana, di seluruh dunia, kata demokrasi dipropagandakan dan dipaksakan pelaksanaannya, termasuk di Indonesia. Tokoh-tokoh dunia berkampanye di dalam negeri, maupun di negeri orang lain yang membutuhkan bantuannya serta di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bahwa setiap negara seharusnya menjadi negara yang demokratis dan menghargai Hak Azasi Manusia (HAM) jika mau diterima dalam pergaulan internasional (apalagi jika membutuhkan bantuan dana internasional, hukumnya adalah wajib). Padahal, jika ditelusuri, demokrasi itu tetap merupakan ide atau pemikiran orang dan sekelompok orang yang berlangsung sejak lama. Sejak jaman Socrates, dan yang pada abad pertengahan mulai dipopulerkan oleh para filsuf dari mazhab eksistensialisme dan humanisme. Baru pada tahun 1960-an gerakan yang meliberalkan hak-hak individu itu menjadi budaya masyarakat baru di Amerika dan Eropa dan terus bergulir ke

38

belahan dunia lain, khususnya negara Barat, dan sampai ke negara Timur. Pada hakikatnya, isu demokratisasi adalah pemberontakan melawan tradisi atau kepercayaan lama yaitu agama dan Tuhan, serta pemberontakan masyarakat terhadap pemerintahan yang totaliter. Coba perhatikan, dalam negara yang demokratis, yang ditandai dengan kebebasan individu yang dikemas sebagai human right, kehidupan masyarakatnya menjadi sekuler, dan tidak perduli terhadap agama maupun Tuhan, dengan ekses yang paling menonjol adalah kebebasan seksual (free-sex, homoseksual), dan degradasi moral (tentunya jika dibandingkan dengan negara yang agamis) Jadi, apakah demokrasi adalah ideologi yang benar dan baik atau salah dan buruk? Sekali lagi, jawabannya adalah relatif, tergantung dari sudut pandang dan pengelolaan masing-masing individu atau masyarakat. (Namun untuk hal ini akan saya bahas lebih lanjut di bab selanjutnya) Contoh lain adalah adanya masyarakat atau negara yang berazaskan agama tertentu, apakah Hindu, Buddha, Kristen, Islam, Shinto atau aliran kepercayaan. Jika dinilai dari kacamata orang atau masyarakat yang homogen dan setuju atau sekepercayaan dengan agama yang dianut mayoritas tersebut, maka hal itu bersifat positif, tidak banyak persoalan. Namun jika ada individu atau masyarakat yang berbeda kepercayaan—atau dalam masyarakat yang heterogen—jika masyarakatnya tidak toleran, akan bisa terjadi konflik akibat perbedaan kepercayaan, kebiasaan dan prilaku antara kelompok minoritas dengan mayoritas. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa saja terjadi tindakan yang jahat atau tidak bermoral—dilihat dari sudut pandang manusia normal dan netral, seperti misalnya penindasan terhadap hak individu atau masyarakat minoritas oleh kelompok mayoritas, yang berupa pelecehan, ancaman, penghambatan beraktivitas, pengrusakan sampai pembinasaan fasilitas maupun individu, atau masyarakat yang berbeda kepercayaan tersebut. Teorinya, kelompok massa apa pun, jika menjadi mayoritas, cenderung menindas kelompok lainnya yang minoritas, satu dan lain hal disebabkan karena faktor arogansi, dan keinginan untuk terus ber-

I

kuasa dan mengambil keuntungan dari statusnya tersebut (karena jelas, sebagai mayoritas, mereka akan menjadi penguasa atas politik, ekonomi, sosial, budaya, beserta segala fasilitasnya, yang ujungnya adalah.. .DUIT—kenikmatan). Nah semua contoh di atas adalah hal yang nyata terjadi dalam kehidupan manusia, sejak zaman dahulu sampai sekarang, dan mungkin sampai kapan pun jika tidak dicarikan jalan keluarnya. Saya mencoba untuk menyampaikan alternatif solusinya, yaitu dengan membeberkan muara atau asal atau sumber dari kenyataan hidup itu, yakni: kepercayaan (beliefi, Kepercayaanlah yang membuat kita berperilaku tertentu dan mempunyai kualitas serta gaya hidup tertentu. Dan kita akan menjadi dekat atau berkawan (lebih tepatnya bersetuju) dengan individu atau kelompok lain yang sepaham atau sekepercayaan dengan kita, dengan hasil interrelasi yang lebih harmonis dan meminimalkan konflik. Sebaliknya, kita akan menjadi jauh atau berlawanan (lebih tepatnya tidak bersetuju) dengan individu atau kelompok yang berbeda kepercayaan dengan kita, yang hasil akhirnya adalah tidak adanya interrelasi yang harmonis, atau bahkan tidak memungkinkan adanya relasi apa pun. Karena faktor yang menentukan hidup dan kehidupan manusia dan masyarakat adalah kepercayaan, maka solusinya adalah juga dengan membedah dan memahami tentang kepercayaan, yakni dengan alternatif: 1. Menyeragamkan kepercayaan menjadi hanya satu macam kepercayaan saja, baik dalam bidang agama, sosial budaya, politik, ekonomi, misalnya: hanya ada satu agama "A" dan tidak menerima adanya agama lain, atau hanya menerima satu jenis suku saja, tidak menerima suku lain, dan seterusnya. Caranya adalah dengan mempropagandakan kepercayaan itu secara radikal dan militan dengan agenda waktu tertentu dan tanpa kompromi. Barangsiapa tidak mau menerima azas itu harus memilih alternatif: satu, harus nampak setuju secara penampilan dan berperilaku seperti yang ditentukan, dan jika membangkang, akan diusir keluar secara paksa atau kalau perlu dibinasakan dari lingkungan eksklusif itu.
40

D Dalam era keterbukaan informasi global seperti sekarang ini, agak sulit menerapkan alternatif ini, karena akan ketahuan oleh masyarakat domestik maupun internasional, dan mengakibatkan kecaman atau bahkan serangan dari pihak luar masyarakat itu. Namun demikian, sampai hari ini, masih saja ada orang atau kelompok orang yang disebut ekstremis yang bersikeras ingin menerapkan penyeragaman kepercayaan ini, baik berupa kehidupan adat, agarna dan sektenya, atau isu 'back to the nature seperti kaum nudist. 2. Solusi kedua adalah dengan membedah hakikat dari kepercayaan itu sendiri, baik kepercayaan kita pribadi, maupun kepercayaan orang lain, agar didapat pengertian yang mendalam tentang plusminus masing-masing kepercayaan, dan mengembangkan sikap yang toleran. Minimal, jika kita tidak mau mengubah kepercayaan kita dan menggantinya dengan kepercayaan orang lain, kita pun tidak perlu repot menginginkan agar orang lain menerima kepercayaan kita. Dengan demikian masing-masing pihak tidak saling mengganggu atau mempengaruhi, sehingga tidak menyinggung perasaan orang lain. Idealnya, jika setelah dipikirkan matang-matang dan disertai bukti-bukti historis dan faktual tentang kepercayaan lama dengan kepercayaan baru, maka diambil manfaatnya yang optimal, yakni: yang buruk dari kepercayaan lama dibuang, dan yang baik dari kepercayaan baru diterima, agar dalam implementasinya akan memperbaiki kualitas dan nilai hidup dan kehidupan kita. D Menurut hemat saya, alternatif kedua ini lebih baik dan bermanfaat, sehingga untuk itulah buku ini saya tulis, agar bisa menjadi paradigma baru bagi kita dalam berpikir, berkepercayaan, berperilaku, dan bermasyarakat, termasuk berbangsa dan bernegara Indonesia. Premis saya adalah jelas, bahwa kepercayaan yang ada di dunia ini bersifat relatif dan subjektif, tidak ada yang absolut atau objektif, baik yang menyangkut kepercayaan individu, masyarakat, negara atau dunia. Baik yang berkenaan dengan politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun agama, bahkan sampai perihal akhirat, setan, dan Tuhan sekalipun, tidak terkecuali. Dengan

41

kata lain, apa saja yang telah sedang dan akan dipercayai manusia, semuanya bersifat relatif. Kita tidak lagi perlu berkata benar atau salah secara absolut, melainkan benar atau salah menurut standar tertentu, yang kita percayai, tetapkan dan setujui bersama. Sebagai contoh: Sebelum isu demokrasi dan hak azasi manusia marak, adalah sah-sah saja melakukan diskriminasi dan pelecehan golongan minoritas dan bahkan perbudakan manusia, termasuk negara yang sekarang disebut gembongnya demokrasi yakni Amerika; dulu pun mereka tidak demokratis dan melanggar HAM. Namun sekarang, jika ada pejabat negara yang melanggar HAM, bisa diadili oleh Komisi HAM, baik nasional maupun internasional, seperti kasus mengenai beberapa jendral TNI dengan kasus Timor Timur dan/atau Aceh. Dulu, pada jaman Orde Baru, tindakan represif dengan senjata seperti itu adalah sah-sah saja dan tidak ada yang menggugat, namun di era Reformasi, tindakan seperti itu menjadi salah. Pertanyaan saya: Apakah benar perilaku represif untuk mengamankan kepentingan masyarakat yang lebih besar serta untuk menjaga stabilitas nasional adalah salah? Apakah dengan membebaskan orang bertindak semau-maunya dengan alasan demokrasi atau reformasi, sehingga meresahkan masyarakat dan berpotensi untuk menjadi amuk massa dan penjarahan adalah benar? Nah, jawabannya tentu relatif. Tergantung apa kepercayaan anda terhadap isu itu, dan apa kepentingan anda terhadap isu itu. Banyak orang menentang premis saya di atas dengan mengatakan: "Jika benar dan salah adalah relatif, bagaimana kita menjelaskan kejahatan dan kebaikan? Apakah dengan demikian tidak ada lagi pedoman moral, dan/atau hukum? Kalau demikian buat apa ada agama dan aparat penegak hukum?" Jawaban saya adalah konsisten: Benar dan salah memang relatif, tergantung kepercayaan yang dianut oleh seseorang atau suatu masyarakat tertentu, pada suatu waktu. Jika anda berbeda agama, atau berbeda tingkat pendidikan dan kecerdasan, atau berbeda suku, atau berbeda bahasa, atau berbeda bangsa, atau berbeda jenis kelamin,

42

berbeda taraf hidup, apalagi jika berbeda waktu hidup (misalnya abad primitif dengan abad modern), dan sebagainya, maka input yang anda terima adalah juga berbeda, yang akhirnya akan mempengaruhi output hidup dan kehidupan anda. Sebagai contoh: Apakah free-sex itu benar atau salah? Jika anda orang yang taat beragama atau orang Timur yang masih memegang teguh kepercayaan dan adat istiadat ketimuran, maka anda akan menjawab salah! Namun jika anda orang Barat yang sekuler, atau orang yang tidak saleh, maka anda akan menjawab benar, daripada memperkosa atau melacur, dan mencegah kejenuhan! Pertanyaan contoh kedua: Apakah minum alkohol itu salah atau benar? Jika anda muslim, maka anda akan menjawab salah! Namun jika bukan, maka anda akan menjawab boleh-boleh saja. Apalagi jika ditambah anda orang yang hidup di negara Barat yang dingin, maka jawabannya adalah benar dan perlu! Bagaimana dengan makan daging babi atau makan daging sapi, apakah benar atau salah? Jika anda muslim, maka anda akan menjawab bahwa makan daging babi adalah salah, dan makan daging sapi adalah benar! Namun jika anda adalah orang Hindu, maka anda akan menjawab makan daging babi adalah benar dan makan daging sapi adalah salah! Bisa mulai menangkap maksud saya sekarang? Benar dan salah itu tergantung kepercayaan kita dan tergantung kepada kepercayaan masyarakat tempat kita hidup, apakah yang berupa hukum moral, hukum adat, atau hukum negara. Jadi kalau anda berbeda kepercayaan dengan seseorang, yang pertama tama adalah jangan bersifat menghakimi atau sok benar, apalagi berupaya untuk mengubah orang lain itu agar menjadi seperti kita. Itu arogan dan idiot namanya! Maaf, tapi inilah faktanya: kepercayaan anda adalah benar bagi anda, dan kepercayaan orang lain itu adalah benar untuk orang lain tersebut. Jadi sikap yang semestinya adalah memahami bukan menghakimi. Kepercayaan kita sangat tergantung dari input informasi yang kita terima dari kehidupan dan manusia lainnya, padahal kualitas dan kuantitas informasi yang kita terima relatif masih sedikit, subjektif

43

dan belum tentu benar. Juga jenisnya pun berbeda. Jangankan kepercayaan yang tidak ilmiah, ilmu pengetahuan saja terus berubah dan berkembang tergantung dari siapa yang meriset dan mempopulerkannya. Satu ilmuwan dengan ilmuwan yang lain bisa berbeda pandangan, bahkan ada yang kontradiktif. Yang dianggap kebenaran dalam ilmu pasti pun ternyata hanya "dianggap benar sampai nanti terbukti salah", apalagi soal kepercayaan yang terbentuk dari informasi yang tidak berasal dari ilmu pasti itu. Secara khusus, penekanan saya adalah dalam mengatasi perbedaan kepercayaan dalam hal SARA (suku, agama, ras, antar—golongan) yang masih saja berpotensi menimbulkan konflik dan perkelahian. Untuk isu suku dan ras, sebaiknya kita masing-masing orang atau suku atau ras memahami bahwa perbedaan latar belakang pendidikan, budaya, kepercayaan kita telah mengakibatkan satu suku dengan suku lainnya atau satu ras dengan ras lainnya mempunyai perbedaan. Ya sudah, itu adalah hal yang positif. Janganlah suku "A" berupaya meyakinkan suku "B" agar mengikuti kepercayaannya, atau jangan pula terjadi suku "A" memperlakukan suku "B" dengan hal-hal (perkataan atau perbuatan) yang menurut kepercayaan suku "B" sebagai hal yang salah apalagi menghina, karena hal itu akan memacu konflik. Hal kedua yang penting disimak adalah bahwa kita manusia tidak dapat memilih akan menjadi suku atau ras apa; itu semua sudah takdir, sudah dari sananya. Siapakah yang bisa memilih ketika lahir, "Ah saya ingin menjadi suku Jawa, atau Batak. Atau, saya tidak mau menjadi orang Cina, tapi mau jadi orang Arab saja"—bisakah? Kalaupun bisa, menurut orang-orang dengan kepercayaan tertentu, itu terjadi "di alam sana", sebuah kata mudah untuk tidak menyebut "alam sini". Di "alam sini" tidak bisa begitu, dan tinggal menjalani apa adanya. Karena itu jangan dipersoalkan. Janganlah merasa lebih unggul ataupun lebih hina. Terlebih lagi Janganlah menghina dan atau ikut campur terhadap kepercayaan suku atau ras lain—biarkan saja. Semua orang punya kekhususan sendiri-sendiri, baik kekuatan maupun kelemahannya, jadi jangan dipusingkan. Selama kita tidak usil, atau selama pihak lain tidak merugikan kita, biarkan saja kita

44

hidup berdampingan dalam perbedaan, mengapa harus diseragamkan? Mengapa repot? Sekalipun untuk hal yang bisa kita pilih, yakni isu agama dan antar—golongan, solusinya adalah sama: biarkan masing-masing orang memilih agamanya atau golongannya sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Adalah perbuatan mubazir, bodoh, dan mungkin jahat untuk memaksa orang agar tidak menganut agama atau golongan tertentu dan bergabung dengan agama atau golongan kita. Jika anda lakukan, berarti anda mempunyai niat yang jahat, yakni niat memperbesar agama atau golongan anda sendiri, yang mungkin bertujuan politis atau ekonomis, yakni menjadikan agama atau golongan anda itu sebagai 'kuda tunggang' atau 'sapi perah' anda. Jika anda menolak tuduhan saya ini, apalagi jika anda berkilah bahwa tujuan anda mempengaruhi agama atau golongan lain adalah tanpa pamrih, maka saya katakan: Buktikan ucapan anda itu dengan perbuatan, yakni stop! Pertama, untuk mencegah timbulnya konflik dengan pihak lain. Kedua, golongan anda pun belum tentu benar, serta belum tentu berguna bagi diri anda sendiri, orang lain, masyarakat, bangsa dan negara, serta dunia ini. Khusus untuk isu agama, saya ingin membahasnya lebih dalam, karena hal ini merupakan isu dan faktor yang dominan yang mempengaruhi hidup dan kehidupan individu serta masyarakat luas, dan telah menumpahkan banyak sekali darah sesama manusia bahkan sesama anak bangsa, baik di Indonesia maupun di belahan lain dunia ini, sehingga saya katakan, "Agama tanpa akal budi adalah terror!" Sungguh ironis, dan sangat tragis, bahwa agama yang katanya untuk memperbaiki budi pekerti, dalam prakteknya telah berubah menjadi senjata peperangan dan malaekat pencabut nyawa yang lebih kejam dari bencana alam dan perang politik! Sungguh ironis dan tragis bahwa agama yang konon memanusiawikan manusia, kadang menjadi alasan untuk berperilaku yang sama sekali tidak manusiawi.

45

6
Mind Reprogframmingf

S

emua terobosan kehidupan pribadi dimulai dengan perubahan pikiran dan kepercayaan, yang akan mengubah mental pecundang menjadi mental pemenang, kekalahan menjadi kemenangan, dan kemiskinan menjadi kekayaan. Jadi bagaimana cara anda berubah, atau lebih tepatnya memprogram ulang pikiran anda agar mempunyai kepercayaan yang positif, menguntungkan, dan kondusif terhadap sukses? Cara yang paling efektif adalah mengupayakan agar pikiran anda mengasosiasikan rasa sakit, kekalahan, kegagalan, kemiskinan, dan penderitaan, akibat memikirkan dan melakukan hal-hal yang sekarang anda percayai. Anda harus sangat emosional merasakan rasa sakit itu yang telah anda alami di masa lalu, pada hari ini, maupun di masa mendatang, jika anda tidak mengubahnya. Kemudian anda harus mengasosiasikan kenikmatan dan kebahagiaan yang luar biasa yang akan anda alami ketika mengadopsi pemikiran dan kepercayaan yang baru, yaitu menjadi pribadi yang positif, yang berkemenangan, yang kondusif terhadap kekayaan, kesehatan dan sukses. Inilah metode fundamental yang selalu saya ulang-ulangi mulai dari pembukaan buku ini sampai terakhir, karena ini adalah faktor dominan yang akan memotivasi manusia untuk berubah, yaitu menghindari rasa sakit dan kerugian, serta hasrat mengejar dan memiliki kesenangan dan kenikmatan. Semakin kuat anda terlibat secara emosional dan atau semakin besar suatu ingatan mengguncang

s-*

46

emosi anda, maka semakin mungkin bagi anda untuk memprogram ulang sikap pikiran maupun kepercayaan anda. Jika anda cukup sensitif, anda akan bisa merasakan seberapa besar kebencian dan amarah saya terhadap kemiskinan, dan sebaliknya, seberapa besarnya kecintaan dan simpati saya terhadap kekayaan, sehingga saya bisa menjabarkannya melalui kata-kata dan contoh kasus yang ekstrem. Semua itu bukan saya maksudkan untuk mendiskreditkan—apalagi menghina—siapa pun, atau mengungkapkan kecongkakan hati saya, bukan! Saya melakukan semua itu adalah demi anda, derni kebaikan anda, demi efektivitas pelajaran yang sedang saya sampaikan. Sebab jika saya tidak menyampaikan ide ini secara emosional, mungkin kurang atau tidak akan bisa menyentuh emosi anda (karena apa yang keluar dari mulut hanya sampai ke telinga, dan apa yang keluar dari pikiran, hanya sampai ke pikiran, sedangkan yang keluar dari hati, akan sampai ke hati. Dan manusia adalah makhluk yang dominan dikuasai oleh emosi). Tanpa emosi, tidak akan ada perubahan. Tanpa emosi, buku ini hanya menjadi seperti buku yang lain, yang akan anda simpan di lemari tanpa upaya anda untuk menerapkan pesannya, dan sia-sialah perjuangan saya berjerih lelah menulis buku ini, karena tidak memberi manfaat bagi siapa pun. Hal kedua: Ciptakanlah keraguan. Jika anda sungguh berani jujur kepada diri anda sendiri, tentunya ada kepercayaan yang dulu biasa anda pertahankan dan bela mati-matian, namun yang sekarang bisa membuat anda malu untuk mengakuinya. Apa yang terjadi? Ada seuatu yang menyebabkan anda meragukannya: mungkin pengalaman baru, mungkin dengan bertambahnya pengetahuan dan wawasan anda menemukan hal baru yang membuktikan bahwa kepercayaan anda yang dulu adalah salah? Adalah vital untuk menguji kepercayaan kita beserta segala konsekuensinya, untuk memastikan bahwa kepercayaan itu adalah menguntungkan dan mendukung pencapaian sukses hidup kita, dan bukan sebaliknya. Adalah perlu anda sadari bahwa di balik orang yang sukses, pasti terdapat bentuk kepercayaan yang kondusif terhadap sukses! Maaf, saya tidak bisa percaya bahwa orang yang

47

mempercayai filosofi, "Biar miskin asal bahagia" bisa menjadi orang yang kaya. Juga agak sulit untuk mempercayai bahwa orang yang percaya bahwa "Biar lambat asal selamat" juga bisa mengalami sukses besar, karena kepercayaan mereka akan menghambat kecepat-tepatan mereka untuk bertindak dan merebut peluang. Mungkin mereka hanya bisa menang cepat melawan siput! Janganlah takut untuk menelaah ke dalam diri anda sendiri untuk menemukan bukti empiris tentang apakah manfaat dan kerugian dari kepercayaan dan buah pikiran anda selama ini terhadap beberapa isu penting dalam hidup. Jangan membiarkan kepercayaan salah atau mitos-mitos menghalangi anda untuk bersikap progresif bahkan revolusioner, selama hal itu berguna bagi perkembangan diri anda. Pergunakanlah pikiran dan kepercayaan anda untuk mendukung anda mencapai sukses, dan bukannya malah melawan dan menghalangi prestasi monumental anda! Anda bisa mengubah dan memprogram ulang pikiran dan kepercayaan anda, dari buruk menjadi baik, dari negatif menjadi positif, dengan cara yang relatif mudah, percayalah. Cobalah anda jawab berapa hasil perkalian ini: 6x6? 7x7? 9x9? Goo<$. Bagaimana caranya anda dapat menjawab dengan cepat tepat, bahkan sebelum jari saya menyentuh kalkulator? Hal itu karena anda telah mengukir tabel hitungan perkalian itu dalam pikiran kesadaran anda. Coba kenang kembali pengalaman anda sejak di sekolah dulu, berapa kali dan berapa lama anda disuruh untuk menghafal dan mengulang-ulangi perkalian itu, dengan cara membaca, menulis, dan menyampaikannya di muka kelas? Nah, karena praktek seperti itulah anda tidak akan bisa melupakan tabel perkalian itu sekalipun sudah berpuluh-puluh tahun peristiwa itu berlalu. Metode serupa, seperti yang anda terapkan dengan tabel perkalian, juga dapat anda lakukan untuk mengubah bentuk pemikiran dan kepercayaan anda, agar menghilangkan yang satu, dan mengukir yang lainnya dalam kesadaran pikiran, persis seperti yang anda inginkan. Prosesnya adalah sama, menggunakan metode pengulangan (repetition). Selama beberapa menit dan beberapa kali dalam sehari,
48

konsentrasikanlah perhatian anda kepada satu pernyataan sederhana, yang anda inginkan untuk menjadi kepercayaan anda yang baru, dan mengubah hidup anda. Misalnya, jika anda ingin mempunyai kepercayaan sebagai orang yang cerdas dan percaya diri, maka pernyataan anda ialah, "Saya cerdas, nampak cerdas, dan percaya diri." Sambil mengulang-ulang pernyataan itu, rasakanlah getaran-getaran emosi dan rasa bangga yang menyelimuti anda sebagai orang yang cerdas dan percaya diri. Nikmatilah sensasi itu. Jika anda bisa membayangkan kondisi dan perilaku anda menjadi orang yang cerdas, nampak cerdas dan percaya diri, itu lebih baik. Imajinasi itu akan meresap cepat ke dalam pikiran bawah sadar anda dan menerimanya sebagai kenyataan, dan akhirnya mengubah kepercayaan dan perilaku anda menjadi seperti yang anda inginkan. Kepercayaan anda terhadap kecerdasan, akan menuntun kebiasaan dan perilaku anda untuk lebih rajin belajar, sehingga anda bukan hanya nampak cerdas, melainkan juga sungguh-sungguh cerdas dan berpengetahuan luas. Pengulangan pernyataan untuk mengubah kepercayaan lama dengan yang baru, bisa kita namakan afirmasi (affirmation), yang harus dilakukan sesering dan sebanyak mungkin sampai hasil yang diinginkan tercapai secara permanen. Afirmasi bekerja seperti magic, seperti mantra. Sesuai dengan "law of attraction', apa yang anda pikirkan, akan anda tarik dan dapatkan, entah hal positif atau negatif. Sebagai contoh, jika anda berkata, "Saya akan jatuh sakit", maka anda sungguh akan sakit. Jika anda berpikir, "Saya tidak mau sakit", mungkin anda akan jatuh sakit. Itu karena anda menarik apa yang anda pikirkan. Ketika anda berkata, "Saya tidak mau" atau "Saya butuh", maka anda akan menarik energi yang mengandung "Kebutuhan atau ketidakmauan". Dengan kata lain, anda tidak akan pernah mendapat yang baik. Seharusnya anda berkata, "Saya sehat," atau "Saya sehat kuat lahir dan batin!" Sekalipun ketika anda terbaring sakit akan merasa sedang membohongi diri ketika mengucapkan afirmasi ini, namun teruslah lakukan sampai pikiran anda tidak menolak, dan mulai menerima afirmasi itu sebagai kebenaran. Dan sesuai hukum atraksi, pikiran
49

akan kesehatan dan kekuatan akan menarik kesehatan dan kekuatan, begitulah. Afirmasi seperti mantra, seperti doa, seperti hipnosis, yang akan mempengaruhi pikiran bawah sadar anda dan mempercayai hal seperti yang anda inginkan. Ditambah dengan proses pengambaran atau imajinasi, maka hal itu merupakan metode paling efektif untuk^ melakukan mind reprogramming. "'Dan sambil anda melakukan afirmasi, anda hams berperilaku seolah-olah semua itu benar dan telah menjadi kenyataan. Jika anda sedang menerapkan afirmasi kemakmuran, ketika anda menginginkan sesuatu barang, janganlah merasa atau memikirkan kalimat: "Wah terlalu mahal, saya tidak akan sanggup membelinya," karena hal itu akan memberikan vibrasi scarcity consciousness yang bertabrakan dengan prosperity consciousness yang sedang anda bangun. Sebagai gantinya, pikirkan dan katakanlah, "Sekalipun mahal, saya akan sanggup membeli dan memilikinya." Anda tidak harus mengikuti afirmasi yang saya contohkan untuk mendapatkan hasil seperti yang anda harapkan. Anda bisa merancangnya sendiri dengan mudah sesuai imajinasi anda, dengan beberapa panduan sebagai berikut: 1. Keep them short. Kalimat yang pendek akan memudahkan anda mengingat dan mengulang-ulanginya, sehingga menambah efektivitasnya. 2. Keep them positive. Katakanlah, "Saya relaks dan damai", bukan "Saya tidak stres". Sebab afirmasi negatif seperti itu akan membuat anda berpikir tentang apakah artinya stres bagi anda sebelum sampai kepada pengertian "tidak stres". Dan ketika anda berpikir tentang apa artinya stres, bisa jadi anda justru bertambah stres. Sebagai contoh: Jika ada orang yang berkata kepada anda, "Jangan bayangkan seekor gajah!", apa yang akan terjadi? Ya benar, justru anda membayangkan seekor gajah! Afirmasi bertujuan mengontrol fokus anda hanya kepada hal yang anda inginkan, dan bukan kepada hal yang tidak anda inginkan. Jadi pergunakanlah bahasa yang positif.

50

3. Keep them in the present. Katakanlah, "Sekarang saya bertambah sehat dan kuat," dan bukan "Dalam beberapa minggu saya akan bertambah sehat dan kuat" Ingat, afirmasi tidak selalu merupak-an pernyataan kebenaran. Itu bukanlah tujuan menggunakan teknik afirmasi. Lagipula, sebagaimana yang saya jelaskan di bab sebelumnya, pikiran tidak memerlukan kebenaran untuk menjadi kepercayaan. Tujuan afirmasi adalah menciptakan apa yang anda inginkan dengan mentransformasi pikiran yang tidak kelihatan menjadi realitas fisik, suatu kenyataan fisik yang sebelumnya belum anda miliki. Jika hal itu sudah anda miliki, apakah anda menggunakan afirmasi—untuk apa? Contohnya, ketika anda menggunakan afirmasi dengan mengatakan: "Semakin hari saya semakin kaya dan makmur", bisa saja dalam kenyataan anda sekarang berada dalam keadaan miskin atau banyak hutang. Namun dengan menerapkan teknik afirmasi, pikiran dan kxeativitas anda akan secara otomatis mulai mencari jalan untuk menciptakan kekayaan. Anda akan mulai melihat dan mengambil peluang yang sebelumnya tidak anda perhatikan. Anda mulai membaca buku-buku tentang cara menjadi kaya—hal yang mungkin belum pernah anda lakukan sebelumnya. Anda mulai mengembangkan kepercayaan tentang hal-hal yang bisa anda lakukan. Dengan bertambahnya waktu, afirmasi ini akan mengubah cara anda berpikir dan melihat segala sesuatu, termasuk membimbing anda untuk memasuki lingkungan pergaulan yang kondusif terhadap pencapaian tujuan anda, dan/atau memasukki dunia usaha yang lebih cepat mendatangkan uang. Kepercayaan bahwa anda pasti bisa menjadi kaya, akan mendobrak banyak kendala yang dahulu anda biarkan membelenggu tindakan anda. Perasaan akan kekayaan sesungguhnya menciptakan kekayaan lebih banyak. Itulah sebabnya mengapa "the rich get richer." Beberapa contoh afirmasi untuk berbagai aplikasi antara lain: => Saya sekarang kaya, karena saya layak untuk kaya. => Segala hal yang saya lakukan menghasilkan uang banyak. => Saya adalah money magnit.

51

Saya adalah financial genius. Setiap hari saya bertambah kaya dan makmur. Saya sukses, kaya, dan berbahagia. Saya sehat dan kuat. Saya cerdas dan hebat. Saya tampan/cantik dan menarik. Saya sexy dan sehat. Saya langsing dan sehat. Saya tampil memukau dan percaya diri. Semua orang percaya dan mencintai saya. Saya adalah pribadi kharismatik yang dipercayai semua orang. Semua hal adalah mungkin bagi saya. Dan lain sebagainya

52

Andar Sukses & Nasit

M

enurut kepercayaan banyak orang, nasib itu ada, namun apakah ia benar ada dan apakah nasib itu? Nasib atau takdir, yang dalam bahasa Inggris disebut fate atau destiny, sebenarnya berarti sama, yakni sesuatu keputusan atas jalan (skenario) hidup yang tidak bisa dikuasai oleh diri seorang manusia, melainkan sepertinya terjadi atas rekayasa atau kehendak kuasa lain di luar diri seseorang tersebut, apakah yang diyakni sebagai "Tuhan" atau kekuatan supranatural lain. Beda nasib dengan takdir hanyalah soal penekanan saja, bahwa nasib berkenaan dengan operasional kehidupan manusia sehari-hari, sedangkan takdir berkenaan dengan masalah mati dan hidup. Ada yang mengatakan bahwa takdir sifatnya tidak bisa diubah, atau sudah menjadi keputusan final ilahi, sedangkan nasib masih bisa berubah atau diubah oleh individu manusia sendiri. Menurut saya, nasib itu adalah perpaduan dan sinergi antarfaktor-faktor seperti: harapan, kemauan, kepercayaan, perjuangan, dan kesempatan. Salah satu dan/atau kombinasi ada atau tidak adanya faktor-faktor di atas akan mempengaruhi—bahkan menentukan —kualitas dan nilai kehidupan seseorang. Saya belum bisa memastikan, apakah faktor ada, atau tidak adanya harapan, atau kemauan, atau kepercayaan, atau perjuangan, atau kesempatan, atau kombinasi di antaranya, itu berasal dari individu manusia itu sendiri, lingkungannya, atau terbentuk secara kebetulan, atau dari Tuhan?
53

Saya mengamati dan menyelidiki bahwa faktor dominan (kebanyakan, dan bukan total semuanya) yang menjadikan seseorang sukses dalam hidup memang berawal dari adanya harapan, atau tujuan hidup (cita-cita) yang relatif besar (apakah menjadi lebih kaya, lebih pandai, lebih terhormat, lebih berbahagia, dan Iain-lain) dibandingkan dengan kualitas dan nilai kehidupan sebelumnya. Dari adanya harapan itu, timbul kemauan untuk mewujudkannya. Jika individu tersebut percaya bahwa ia mampu nieraih cita-citanya itu, ia akan berjuang—baik mengumpulkan informasi berupa pengetahuan ataupun sumber dana atau sumber daya lainnya—agar harapannya terwujud. Jika ada kesempatan, harapan tersebut akan lebih cepat dan lebih mudah terwujud. Jika belum ada kesempatan, konsistensi dari perjuangan itu akan dipengaruhi oleh faktor seberapa besar kepercayaan individu tersebut bahwa suatu hari harapannya akan terkabul. Jika kecil, atau bahkan jika tidak ada, bisa saja belum terbukanya kesempatan itu membuat impian/harapan individu tersebut pudar atau hilang, dan ia dikatakan gagal dalam mewujudkan cita-citanya. Jika kepercayaannya tetap besar, dan ia tetap konsisten memperjuangkannya, bisa saja suatu hari kelak—cepat atau lambat— kesempatan akan terbuka (atau bisa saja ia menciptakan kesempatan atau diberikan kesempatan oleh individu lain yang terpesona karena kegigihannya). Alternatif lain, bisa saja bahwa sampai individu tersebut meninggal dunia, harapannya tetap tidak terwujud, karena tidak ada kesempatan, bagaimanapun kerasnya ia telah percaya dan berjuang. Ada sekian banyak pengalaman dan sejarah kehidupan manusia membuktikan bahwa ungkapan, "Apa yang ditabur akan dituai," sesungguhnya secara empiris-praktis tidak benar, atau tidak selalu benar. Petani tentu setuju dengan pernyataan saya ini, karena bisa saja petani telah menabur benih secara benar dan mengurusnya secara benar dengan jerih payah, namun kemudian ia tidak mendapatkan hasil panen seperti yang seharusnya, entah karena tanamannya mati diserang kemarau panjang atau banjir bandang, atau bencana alam

54

lainnya, atau diserang hama, atau bahkan dijarah oleh sekelompok bandit menjelang panen! Alhasil, petani tersebut menabur, berjerih payah, tapi tidak menuai hasil—suatu contoh kasus yang realistis bukan? Kalau saya boleh melenceng sedikit dari konteks, hukum 'taburtuai' itu tidaklah selalu benar. Misalnya adalah tindakan kriminal yang dilakukan oleh beberapa tipe manusia seperti misalnya koruptor, pembunuh, pemerkosa, perampok, pencuri, penipu, penganiaya, penjarah, provokator, dan sebagainya, yang tidak dapat dijangkau hukum karena tidak tertangkap, ataupun sempat diadili namun bisa bebas, atau terhukum ringan, karena menggunakan kuasa uangnya, atau politik, atau kekuatan lain. Bahkan dalam banyak contoh, koruptor dan mafia bisa hidup nyaman, aman, dan makmur serta terhormat, sekalipun mereka telah menabur kejahatan (yang terselubung atau tidak terjangkau hukum). Sebaliknya, orang-orang yang saleh, yang berbudi pekerti, yang selalu berupaya menabur kebaikan dalam hidup, malahan hidup miskin, susah, bahkan sering menjadi korban fitnah atau penipuan dan 'kambing hitam' oleh 'orang kuat' yang jahat. Ironis bukan? Jadi, kalau "menabur belum tentu menuai", apakah lantas lebih baik menjarah saja—"tidak menabur, tapi menuai"? Dengan mengatakan bahwa walau menabur, tapi belum tentu menuai, saya hanya ingin mengatakan bahwa dalam proses antara menabur dan menuai, ada sekian banyak faktor lain yang berperan, ada yang langsung di bawah kontrol kita, ada yang tidak berada di bawah kontrol kita secara perorangan. Logika sebaliknyalah yang perlu anda perhatikan: tanpa menabur (sendiri atau dengan menyuruh orang), tak mungkin anda menuai sesuatu yang secara wajar menjadi hak anda. Secara logis lalu menjadi jelas sekali, kalau mengharapkan sesuatu, mulailah berjuang untuk sesuatu itu. Memang dalam perjuangan itu ada beberapa faktor yang mungkin tidak kita kuasai yang bisa menggagalkan upaya kita; tetapi jelas sekali bahwa tanpa perjuangan, kita tidak bisa mendapatkan sesuatu yang kita harapkan itu secara wajar, manusiawi, dan terhormat.

55

Dalam analog! itu, kalau kita tidak menabur tetapi menuai, namanya merampok. Dan itu tidak wajar, tidak manusiawi, bahkan merendahkan kemanusiaan kita. Kalau kita memperluas perspektif "hukum tuai-tabur" itu ke dalam kehidupan akhirat—ke perkara sorga dan neraka—kita memiliki ajaran bahwa benarlah hukum itu. Artinya: sekalipun dalam kehidupan dunia seseorang yang saleh tidak mendapatkan imbalan * yang baik, mungkin kelak di akhirat ia mendapatkan kenikmatan sorgawi atau pahala atas amal ibadahnya; sebaliknya, orang jahat yang tidak mendapat hukuman di dunia karena kelicikan dan kekuatan kuasanya, mungkin kelak di akhirat akan mendapatkan siksa sengsara api neraka sebagai hukuman atas kejahatannya. Begitulah kita diajar. Karena dalam perjuangan itu ada faktor lain yang menentukan keberhasilan atau kegagalannya, maka ada pepatah yang berbunyi, "Man purposes God disposes, atau manusia berusaha Tuhan menentukan". Memang begitulah kenyataannya, bagaimanapun manusia berusaha dan berjuang, bisa saja jerih payahnya tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Ketidakkonsistenan itulah yang menjadi bahan renungan panjang saya, apakah benar bahwa hukum hidup (seperti misalnya hukum tabur-tuai, sebab-akibat) itu tidak konsisten, artinya tidak ada formula sukses logisnya, sehingga kita tidak bisa memastikan bahwa setelah "a...b...e...d..adalah e..." atau setelah "do...re...mi...fa... adalah sol..."? Jika jawabannya adalah "Hukum hidup itu konsisten", maka apa jawaban terhadap contoh kasus yang realistis seperti yang saya ungkapkan di atas tentang petani, misalnya? Jika jawabannya adalah "Hukum hidup memang tidak konsisten, minimal unpredictable", maka atas jawaban itu harus segera dipertanyakan, "Mengapa demikian? Apa alasannya? Apakah karena hidup tidak ada hukumnya? Apakah karena keterbatasan pengetahuan dan kekuasaan kita, atau karena intervensi 'Faktor X'? Nah, berkenaan dengan faktor kesempatan, saya pun belum bisa mengambil kesimpulan, apakah kesempatan itu netral—artinya, tidak berpihak kepada siapa dan apa pun serta tidak berpribadi—atau apakah yang namanya kesempatan itu adalah predeterministik, ar-

56

tinya berkaitan dengan "Faktor X" atau "Faktor Tuhan" yang bersifat fatalis, yakni adanya skenario takdir yang menentukan sejarah kehidupan dari A sampai Z tanpa bisa diganggu-gugat oleh individu manusia. Mudahnya: Jika 'takdir' seseorang itu harus gagal atau bangkrut dalam usahanya, apa pun juga yang dilakukannya, maka hasil akhirnya adalah kebangkrutan. Perjuangan yang bagaimanapun hebatnya tidak akan mampu membuka atau menciptakan kesempatan, sehingga berakhir hidupnya di kesempitan!? Sebaliknya, sekalipun seseorang tidak berjuang—bahkan mungkin ada yang tidak berpengharapan atau bercita-cita apa pun—jika 'nasib' menentukan dirinya menjadi kaya dan atau terhormat, maka entah bagaimana, segala macam kesempatan yang luar biasa dan tidak pernah sekalipun terlintas di dalam benaknya atau di sejarah keluarganya, bisa saja datang dan melimpahi hidupnya—apakah tiba-tiba mendapat harta karun di halaman belakang rumahnya, memenangkan undian berhadiah, mendapat warisan dari sanak yang jauh, atau menikahi (dinikahi) orang kaya terpandang, atau diangkat anak atau mantu oleh pejabat tertentu, dan lain sebagainya. Nah, sebagaimana faktor kesempatan masih menjadi tanda tanya besar dalam pikiran saya, demikian juga faktor timbulnya pengharapan (atau cita-cita atau keinginan)—apakah hal itu datang dari dalam diri individu dengan sendirinya, ataukah individu itu digiring oleh "Faktor X" sehingga mengetahui dan berinisiatif mempunyai pengharapan hidup tertentu, misalnya melalui pembacaan buku, mendengar pesan itu dari orang lain atau dari media massa, dan sebagainya? Ada kenyataan bahwa sangat banyak orang yang sama sekali belum pernah tahu apakah yang namanya cita-cita hidup. Mereka hidup tapi tidak tahu untuk apa mereka hidup, mau jadi apa di masa depan kehidupan mereka, dan bagaimana mereka bisa mencapai semua itu. Boleh dibilang, mereka sekadar hidup. Mereka bangun tidur, melakukan aktivitas rutin (apakah bekerja atau menganggur), dan malam hari tidur lagi, demikian terus dan seterusnya, dari dulu sampai kelak, tidak ada perubahan perilaku rhaupun kualitas kehidupan yang berarti, sampai mereka meninggal dunia, tamat. Kalau saya amati, kehidupan yang seperti itu hanya sekadar

57

berada (exist)—lahir, makan, kerja rutin, tidur; balita, remaja, dewasa, menikah, melahirkan, membesarkan anak, manula, mati— tidak berbeda dengan kehidupan hewan. Kalau saya ditanya, apakah kehidupan yang adem-ayem dan tak bertujuan seperti itu adalah lebih benar atau lebih baik dibandingkan dengan kehidupan yang berambisi dan penuh perjuangan, saya tidak bisa menjawab. Menurut hemat saya, itu tergantung pada individu masing-masing, karena kedua-duanya tidak bisa dikatakan benar atau salah, baik atau buruk, melainkan lebih tepatnya, cocok atau tidak cocok dengan kepribadian masing-masing individu. Ada individu yang lebih senang dengan kehidupan model floating atau ala kadarnya, karena lebih tenteram dan sedikit gejolak. Ada individu yang gemar tantangan, serta menikmati gejolak romantika kehidupan demi obsesi mencapai tujuan besar tertentu dalam kehidupannya. Adapun mengenai "Faktor Kesempatan", saya cenderung mengatakannya sebagai sesuatu yang lebih dominan dipengaruhi oleh faktor eksternal, yakni yang melibatkan pihak lain, baik itu berupa manusia lain, hukum manusia, hukum alam, sumber daya, dan sebagainya, yang celakanya tidak banyak yang bisa kita kuasai atau kendalikan dengan kekuatan individu manusia sendiri. Kalau saya umpamakan bahwa hidup itu seperti bermain biliar (bola sodok), maka jika pemainnya hanya satu orang, orang itu bisa menghitung dan menganalisis efek pantulan bola atas sodokan bola putih secara matematis, misalnya apakah bola nomor lima belas akan masuk lobang atau tidak jika bola nomor satu di sebelahnya dibentur oleh bola putih; namun jika bola-bola di meja biliar itu dibentur oleh banyak bola putih (seharusnya hanya ada satu bola putih yang disodok secara bergantian, namun dalam analogi ini saya contohkan demikian) oleh banyak pemain yang mempunyai minat dan kemampuan yang berbeda-beda sekaligus, maka pemain andal kelas dunia sekalipun tidak lagi bisa memprediksi bola mana yang akan masuk atau tidak masuk lobang atas sodokannya, karena bisa saja sebelum ia menyodok, bola putihnya telah terbentur bola lain entah dari arah mana dan oleh siapa.

58

Itulah mungkin asumsi yang bisa saya berikan tentang alasan mengapa kita tidak bisa memastikan hasil akhir dari setiap upaya kita agar sesuai persis seperti yang kita rencanakan, yakni karena kita tidak hidup sendirian, dan tidak sedang bermain biliar sendirian. Kesimpulan sementara saya ialah, bahwa kita manusia bisa mengatur kehidupan kita secara relatif independen sampai pada faktorfaktor harapan, kemauan, kepercayaan, perjuangan, karena kebanyakan hanya terkait dengan faktor internal individu, atau dalam hal ini hanya melibatkan faktor "pengetahuan dan kemauan". Kalau individu bisa dan mau, biasanya ia bisa melakukannya; atau yang bisa kita namakan sebagai "kategori satu". Namun untuk faktor kesempatan, yang bisa kita namakan sebagai "kategori dua", kita tidak banyak bisa berperan apalagi memastikan hasilnya, karena terkait dengan faktor eksternal yaitu banyak pihak lain yang tidak kita ketahui siapa, apa, di mana, bilamana, bagaimana, bahkan mengapanya. Karena itu, apa saja yang diajarkan oleh para pakar (filsuf, ilmuwan, positive thinker, public motivator, hipnotisme atau spiritualisme, atau teknik apa saja) untuk 'mengubah nasib' seseorang, itu semua hanya bisa mengubah keadaan pada "kategori satu". Misalnya: Bagaimana berhenti kebiasaan merokok, atau menurunkan berat badan, atau teknik meningkatkan kepercayaan dan citra diri, meningkatkan IQ atau EQ, dan sejenisnya. Itu semua relatif mudah. Asal anda tahu apa persoalannya, bagaimana cara mengatasinya, dan anda percaya kepadanya, serta berani 'membayar harganya yakni berjuang untuk mewujudkannya, anda pasti berhasil! Mengapa? Karena 'faktor satu' tidak melibatkan pihak eksternal, melainkan hanya faktor internal diri anda sendiri. Jika anda berhasil, itu karena anda memang telah melakukan hal yang benar secara benar. Namun jika anda gagal, maka itu karena anda kurang tahu, atau kurang mau, atau melakukannya secara tidak tepat. Kegagalan anda adalah karena kelemahan atau kesalahan diri anda sendiri, tidak ada urusannya dengan pihak mana pun juga, baik manusia lain, alam, setan, atau Tuhan!

59

Nah, untuk "kategori dua" yakni tema yang berkaitan dengan "Sukses dan Kaya" misalnya, semua itu tidak ada formula suksesnya. Yang ada hanyalah pedoman, asumsi, rencana, strategi, program, dengan persyaratan tertentu. Misalnya: Jika semua faktor terpenulii, maka kemungkinan besar teori ini akan berhasil. Secara logis-empiris, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa seseorang akan bisa sukses dan kaya, misalnya, dengan menerapkan "resep ABC" tanpa syarat, karena faktor sukses dan kaya itu terkait dengan "Faktor Kesempatan", yang melibatkan banyak pihak eksternal. Jangan mudah diperdaya oleh teori atau guru mana pun yang mengajarkan bahwa "hanya dengan kemauan atau kekuatan pikiran atau kepercayaan yang kuat akan kesuksesan dan kekayaan, maka anda akan sukses dan kaya!" Itu omong kosong. Mau membohongi siapa? Yang benar adalah "dengan kemauan atau kekuatan pikiran atau kepercayaan yang kuat akan kesuksesan dan kekayaan" anda akan lebih mudah dan lebih cepat mencapai kesuksesan itu dibandingkan jika anda tidak/kurang percaya, namun tidak pasti atau tidak mutlak begitu. Kalau hanya dengan kekuatan spiritual seseorang bisa mendapatkan apa saja yang diinginkannya, maka formula yang sama tentunya bisa diterapkan oleh beberapa orang untuk mendapatkan hasil yang juga sama. Jika semua orang bisa mendapatkan apa saja yang diinginkannya dengan metode itu, apakah anda masih percaya bahwa 'wajah' dunia dan kehidupan ini masih sedemikian jeleknya? Mengapa masih sedemikian banyak orang miskin, sakit, menderita, bodoh, dan mati celaka? Bukankah kalau benar begitu, setiap orang yang mempercayai teori spiritualisme itu telah mencapai sukses, kaya, sehat, bahagia bagi dirinya sendiri, atau keluarganya, atau lingkungannya? Tapi, apa kenyataannya? No way! Sampai buku ini saya tulis, belum ada satu formula sukses yang bisa menjamin seseorang pasti sukses menciptakan atau mengubah "Faktor Kesempatan" atau "kategori dua". Sampai saat ini, yang bisa kita lakukan adalah mencoba, berusaha, atau mem-

60

pengaruhi, agar "Faktor Kesempatan" berpihak kepada kita, atau minimal tidak melawan kita, namun basil akhirnya tetap: "Walahualam". Apakah dengan demikian kita harus give-up dan tidak perlu mempunyai pengharapan akan hidup yang sukses dan berbahagia? Apakah kita tidak lagi perlu berjuang untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, hanya karena kita tidak bisa memastikan hasilnya? Terserah kepribadian anda. Jika anda pemalas, atau pesimis, mungkin anda memilih tidur saja dan menunggu nasib baik. Namun menurut saya, kita tetap perlu bertujuan hidup yang besar dan mulia, tetap perlu berkemauan dan berkepercayaan yang kuat bahwa hal itu bisa terwujud, serta harus terus berjuang mengupayakan realisasinya tanpa mengenal kata menyerah. Biarlah "Faktor Kesempatan" melakukan hukumnya sendiri, karena sesungguhnya meskipun hukum tabur-tuai tidak sepenuhnya benar, namun secara logis-empiris, jika kita tidak menabur jelas sekali bahwa kita tidak akan bisa menuai secara wajar. Memang, tanpa menabur, ada kemungkinan anda bisa menuai, tapi tidak secara wajar—misalnya karena anda mendapat hibah atau menjarah milik orang lain. Sebaliknya, jika kita menabur, berapapun persentasenya, kita mempunyai harapan bahwa suatu hari—cepat atau lambat, dan enah untuk taburan yang keberapa kali—kita akan menuai. Apalagi menurut the law of average atau Probability Theory, semakin banyak dan semakin sering kita menabur, maka akan semakin banyak kemungkinan kita untuk menuai hasil taburan kita. Tentunya dengan catatan bahwa kita telah menggunakan cara atau proses yang benar, sebab jika kita menabur benih di atas permukaan kaca misalnya, ya sampai kiamat pun tidak akan ada benih yang tumbuh, apalagi tertuai! Hal lain yang perlu saya tambahkan adalah bahwa "nasib baik" atau "nasib buruk" itu bisa dipengaruhi oleh intensitas pengetahuan dan wawasan anda beserta unsur kehati-hatian (prudence), dan bukan oleh takhayul. Sebagai contoh, dalam bisnis anda akan lebih bisa menghindari "nasib buruk" yaitu kebangkrutan usaha dan memperlancar datangnya "nasib baik" berupa kesuksesan usaha, jika anda mempunyai kete-

61

rampilan dan wawasan luas dalam membuat business plan sebelum memperkenalkan suatu produk atau unit usaha, dibandingkan jika anda memulai suatu usaha hanya berdasarkan naluri dan perkiraan saja. Dengan adanya perencanaan dan kehati-hatian, anda pun akan lebih mudah mendapat pendanaan dari bank atau investor, karena anda dinilai lebih profesional dan lebih prospektif, dibandingkan orang yang kurang pengetahuan dan kurang hati-hati.

62

8
Goal Setting

If you don't know where you are going, you can't get lost, but you won't arrive either.

engan tidak mempunyai tujuan hidup berarti anda hanya pasif menerima apa saja yang disodorkan oleh kehidupan kepada anda—mungkin hal yang membosankan dan tidak menggairahkan, karena segalanya bersifat rutin. Jika mulus tanpa rintangan, sebagian orang menjalani hidup secara otomatis dan monoton: Mereka lahir, menjadi balita, mulai bersekolah, menjadi remaja, memasuki masa pubertas dengan cinta monyetnya, lulus sekolah, sebagian melanjutkan kuliah dan sebagian mulai bekerja, mulai serius berpacaran, menikah, menjalani kehidupan bekerja atau berbisnis, menjadi orangtua, mengurus dan mendidik anak, membesarkan anak, menikahkan anak, menjadi kakek-nenek, menjadi tua, dan kemudian mati, tamat. Kebanyakan orang yang hidup tanpa tujuan yang terfokus akan berjalan di tempat, dan menghabiskan waktunya secara membosankan, tanpa pencapaian prestasi yang berarti. Mereka hanya menjadi penonton dari kehidupan. Mereka bisa rnelihat kesuksesan orang lain, tapi tidak bisa membayangkan untuk dirinya sendiri. Orang yang sukses sejak semula telah mempunyai tujuan hidup dan program aksi yang terfokus. Mereka mempunyai sense of direction yang spesifik, yang berasal dari hasratnya sendiri dan bukan

D

63

ditentukan oleh orang lain. Mereka tahu pasti apa yang diinginkannya dalam kehidupan profesi maupun pribadi, dan mereka dapat menjelaskan rencana maupun tujuan mereka secara detail, beserta time frame dan program pencapaiannya. Pejamkanlah mata anda dan coba bayangkan apa yang akan terjadi dalam kehidupan anda lima tahun dari sekarang. Bayangkan diri anda sedetail mungkin seperti sedang berada di layar film: Seperti apakah lingkungan tempat anda berada, orang-orang di sekitar anda, pakaian yang anda kenakan, mobil anda, rumah, anda, keluarga anda, status sosial anda, dan sebagainya. Jangan sensor diri anda dari apa pun gambar yang melintas dalam benak anda; proyeksikan saja apa adanya. Anda sekarang sedang berada dalam perjalanan untuk menjadi pribadi yang sukses dan makmur. Beberapa pertanyaan perlu dijawab sebelum menetapkan tujuan, untuk memudahkan anda mendapatkan pengertian yang jernih tentang diri anda sendiri: D Apakah hal yang paling ingin anda lakukan di dunia ini ketika anda kecil dulu? D Situasi apakah yang memberikan anda perasaan paling sakit ketika kecil dulu? D Apakah hal yang paling menggairahkan yang telah anda kerjakan dalam hidup? D Apakah hal yang anda pertimbangkan sebagai prestasi terbaik yang anda hasilkan selama ini? D Peristiwa apakah yang telah terjadi dan paling membahagiakan dalam hidup anda? D Pernahkah terjadi ketika anda mengerjakan sesuatu yang dikatakan oleh setiap orang bahwa anda tidak bisa mengerjakannya? Apakah hal itu? D Bagaimanakah perasaan anda setelah anda berhasil menyelesaikannya? D Dalam hal apakah dalam hidup anda merasa sangat committed? Apakah yang membuat anda sangat tekun dan ulet menghadapi segala macam hambatan?

64

D D D D D D D D D D D D D D D D D D D D

Kekuatan apakah yang dikatakan orang lain ada pada anda? Menurut anda, hal apakah yang menjadi kekuatan anda? Hal apakah yang paling anda nikmati untuk dilakukan? Jika anda mempunyai waktu dan sumber daya yang tidak terbatas, apakah anda akan melakukan hal di atas? Siapakah tiga orang yang paling memberikan dampak positif dalam kehidupan anda? Kualitas karakter apakah yang ada pada mereka yang anda kagumi? Apakah karena karakter mereka itu yang memberi dampak besar kepada anda? Mengapa mereka bisa mengembangkan pengaruhnya kepada anda? Aktivitas apakah yang paling anda hargai dalam kehidupan pribadi anda? Bakat tersembunyi apakah yang anda miliki yang tidak diketahui oleh orang lain? Apakah ada sesuatu yang untuknya anda berani mengorbankan apa pun juga untuk mendapatkannya? Apakah hal itu dan mengapa demikian? Hal apakah yang bisa anda lakukan dengan sangat baik dan dihargai oleh orang lain? Apakah anda puas dengan aktivitas yang anda lakukan dalam physical area?. Prinsip apakah yang harus anda kembangkan agar mendapatkan hasil memuaskan dalam area fisik di atas? Apakah anda puas dengan aktivitas yang anda lakukan dalam hal kebutuhan dan kapasitas mental anda? Prinsip apakah yang harus anda kembangkan agar mendapat hasil memuaskan dalam hal area mental di atas? Apakah anda puas dengan aktivitas yang anda lakukan dalam hal kebutuhan dan kapasitas sosial anda? Prinsip apakah yang harus anda kembangkan agar mendapatkan hasil memuaskan dalam area sosial di atas? Apakah anda puas dengan aktivitas yang anda lakukan dalam hal kebutuhan dan kapasitas spiritual anda?
65

D Prinsip apakah yang harus anda kembangkan agar mendapatkan hasil memuaskan dalam area spiritual di atas? D Hasil apakah yang anda dapatkan dan menyenangkan anda barubaru ini? D Hasil apakah yang anda dapatkan dan tidak menyenangkan anda baru-baru ini? D Apakah filosofi dasar hidup anda? D Apakah prinsip yang menggaris bawahi filosofi anda itu? D Apakah yang sungguh anda ingin jadikan dan lakukan dalam hidup ini? D Apakah prinsip penting yang mendasari keberadaan dan tindakan anda?

Percayalah pada impian dan tujuan anda
"The greatest discovery of my generation is that human beings, by changing the inner attitudes of their minds, can change the outer aspects of their lives," kata William James.

Orang yang sukses percaya pada validitas impian dan tujuan mereka, sekalipun semua itu masih nampak samar bagi mereka. Secara substantif, sukses itu adalah masalah internal. Sebagai individu, kita tidak dilahirkan sama secara fisik dan atribut mental. Karena itu banyak dari kita harus mengawali perjuangan dengan cara mengatasi kendala yang terjadi akibat pembentukan dari lingkungan hidup kita. Namun kita semua mempunyai hak yang sama untuk merasa bergairah dan termotivasi dalam mempercayai bahwa kita patut mendapat yang terbaik dalam kehidupan ini. Kita semua bisa mendapat yang terbaik, tapi kita harus membuat internal commitment terlebih dahulu untuk mempercayainya dan mencapainya.

Lakukan yang terbaik untuk membuatnya berhasil
Orang sukses akan membuat rencana mereka berhasil. Mereka akan mengalokasikan cukup upaya, energi, waktu, dan apa pun juga untuk mencapai tujuan mereka. Sekalipun banyak orang membatasi

66

waktu dalam bekerja, namun kandidat sukses tidak memberikan batas apa pun untuk mencapai sukses, sehingga seringkali mereka mencapai prestasi pada waktu kebanyakan orang sedang beristirahat. Di atas segalanya, kandidat sukses adalah orang yang persisten: tekun dan ulet.

Tetaplah adaptif terhadap perubahan
Orang yang sukses adalah adaptif dan fleksibel. Mereka bersedia dan menghargai perubahan jika diperlukan, karena dalam keadaan yang sedemikian kompetitif dan global, perubahan menjadi suatu hal yang pasti .dan terus-menerus. Orang atau organisasi yang kaku akan tergilas perubahan dan menjadi usang. Sekarang adalah masa self-reliance dan self-exploration. Cermatlah terhadap setiap peluang baru ketika menjalani pencapaian tujuan hidup anda, dan terbukalah terhadap paradigma baru pencapaian prestasi.

Cara membuat kerja keras menjadi menyenangkan
Saya percaya bahwa kesenangan dalam mencapai hasil terjadi sesuai dengan upaya yang diberikan, dan karena menyadari bahwa perjuangan kita telah membuahkan hasil tertentu. Karena sukses bukanlah hal yang konstan, saya percaya bahwa sekali sukses dicapai, harus selalu diperbaharui. Sebab bukanlah dalam mengejar kesenangan kita merasa puas, melainkan kita senang dalam melakukan pengejaran, sehingga sukses menjadi never ending goals yang membuat kita termotivasi dan bergairah secara terus-menerus untuk menjadi dan mencapai yang terbaik dalam hidup, sampai ajal tiba. Inilah beberapa cara untuk membuat kerja keras anda dalam mengejar cita-cita anda menjadi lebih menyenangkan: 1. Pikirkan pekerjaan anda sebagai tantangan dan bukan hal rutin. Jika anda telah bisa melakukan pekerjaan tertentu dengan baik,

67

cobalah menciptakan cara baru untuk menyelesaikan tugas itu secara lebih cepat atau lebih baik 2. Lakukan pendekatan terhadap apa pun yang biasa anda kerjakan seolah-olah sebagai hal yang baru pertama kali anda kerjakan. Ketika menghadapi tugas rutin, tantanglah diri anda untuk menghadapinya dari sudut pandang yang berbeda. Buatlah surat menyurat atau presentasi atau meeting yang berbeda, apalagi jika anda orang sales. Sekalipun anda sudah pernah mendengar manfaat produk anda ratusan kali sehingga anda merasa bosan, namun perlu diingat bahwa calon pembeli di hadapan anda baru pertama kali mendengarnya. Gairahkan diri anda sendiri terlebih dahulu seperti ketika pertama kali anda mendengar manfaat produk anda, agar kegairahan itu menular kepada calon pembeli 3. Pecahkanlah rekor prestasi kerja anda sebelumnya, dengan cara terus menantang diri anda sendiri untuk melakukan pekerjaan dengan cara-cara yang lebih efektif dan lebih efisien agar mencapai hasil yang lebih baik daripada sebelumnya. Dengan demikian, sekalipun anda sedang mengerjakan tugas rutin, tugas itu tidak akan membosankan. Walaupun nampaknya anda sedang bermain dan berlomba dengan diri anda sendiri, namun pihak luar (mungkin atasan atau kolega anda) melihat anda terus maju pesat menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih berguna, hari demi hari. Bukan saja anda merasa senang dalam menjalani tugas seharihari, bisa saja sebagai bonus anda akan menerima pujian dan penghargaan secara moril maupun materil dari atasan anda karena anda selalu memecahkan rekor prestasi anda sendiri. 4. Jadwalkan dan alokasikan waktu setiap hari untuk relaksasi dan olahraga, karena hal itu merupakan sumber kreativitas dan insprirasi. Mental relaxation berguna untuk menenangkan diri anda dan mencegah stres, sedangkan physical exercise berguna untuk melancarkan sirkulasi darah dan meningkatkan stamina. Mendengarkan musik serta motivational tape juga sangat bermanfaat untuk kejernihan pikiran dan semangat hidup.

68

9
Persistensi vs Kegfagfalan

angkal kegagalan yang bercokol dalam diri kita adalah "penolakan untuk menetapkan rencana dan upaya pencapaian tujuan termasuk mengatasi segala rintangannya". Cobalah tanyakan kepada orang yang tidak mempunyai tujuan atau motivasi untuk sukses, dan anda akan menemukan bahwa kehidupan mereka tidak menggairahkan, tidak mempunyai definite goals. Mereka merasa dan bertindak seperti pecundang, tidak perduli apa yang mereka katakan tentang seberapa keras mereka telah hidup atau bekerja. Dengan ini saya sampaikan "Potret Seorang Sukses": => Gagal dalam bisnis dan bangkrut, 1831 => Dikalahkan dalam pemilihan legislatif, 1832 => Gagal dan bangkrut lagi dalam bisnis, 1834 => Tunangan yang dikasihinya meninggal dunia, 1835 => Nervous Breakdown, 1836 => Dikalahkan lagi dalam pemilihan legislatif, 1838 => Dikalahkan lagi dalam pemilihan untuk U.S. Congress, 1843 ==> Dikalahkan lagi dalam pemilihan untuk U.S. Congress, 1848 => Dikalahkan dalam pemilihan untuk U.S. Senate, 1855 => Dikalahkan dalam pemilihan untuk U.S. Vice President, 1856 => Dikalahkan lagi dalam pemilihan untuk U.S. Senate, 1858 => 1860: ABRAHAM LINCOLN -THE ELECTED PRESIDENT

P

OF THE U.S.A.: "YOU CANNOT FAIL... UNLESS YOU QUIT!"
69

Jadi, yang dimaksud dengan kegagalan itu tidak ada, selama anda terus berjuang dan mencari cara yang lebih baik untuk mencapai kemenangan. Lain halnya jika anda berhenti mencoba, maka pada saat itulah anda pantas disebut sebagai orang yang gagal! Mengapa? Karena anda sudah berhenti berusaha, sehingga bisa dikatakan, "You're finished when you stop trying!" Seperti dikatakan President Calvin Coolidge, "Nothing in the world can take the place of persistence. Talent will not; nothing is more common than unsucessful men with talent. Education will not; the world is full of educated derelects. Persistence and determination alone are omnipotent." Tak ada yang bisa menggantikan arti pentingnya kegigihan dan keuletan. Bakat pun tidak, sebab ada sekian banyak orang yang gagal walaupun sebenarnya mereka berbakat. Pendidikan juga tidak bisa menggantikannya, sebab lihat saja, banyak orang yang berpendidikan tinggi yang tak bisa mencapai apa-apa kecuali ijasahnya yang geripis dimakan jamur dan waktu. Kegigihan, keuletan dan tekat yang membara untuk mengejar suatu tujuan itulah yang akan mendobrak kelembaban anda, dan mendobrak rintangan yang ada di luar diri anda, untuk mencapai sesuatu yang anda inginkan. Jadi, jika kekalahan demi kekalahan berusaha menjegal dan menjatuhkan anda, ketika segala macam upaya dan perjuangan anda untuk mencapai sukses nampak semakin kabur dan nampak mustahil, ingatlah akan pernyataan di atas, "Nothing in the world can take the place of persistence!", tak ada yang bisa menggantikan kegigihan dan keuletan anda. Jika anda tidak tabah dan ulet, anda tidak akan bisa mencapai sukses dalam bidang apa pun. Namun jika anda persisten, tanpa merasa terkendala oleh adanya kekurangan baik dalam bidang pendidikan, bakat, latar belakang, pengaruh, uang atau reputasi, maka anda bisa dan akan sukses! Determinasi yang sedemikian kuat akan bisa mengungguli segala macam kekurangan. Persistensi adalah karakteristik yang menarik sukses. Persistensi bisa dideskripsikan sebagai can-do attitude, suatu sikap dasar dalam diri kita yang menyatakan bahwa "aku bisa melakukan hal itu!" Namun banyak orang melakukan pendekatan sebaliknya
70

yakni cant-do attitude, yang merupakan jalan menuju kegagalan. Banyak orang yang belum apa-apa sudah mengatakan "aku tidak bisa . Bisa saja kekalahan akan menguji anda, namun anda tidak perlu berhenti. Jangan indahkan kekalahan, kekecewaan maupun keputusasaan. Teruslah mencoba dengan cara cara yang lebih baik, dan tetaplah konsentrasikan pikiran dan imajinasi anda kepada tujuan hidup anda, yakni sukses yang segera dapat anda raih dan nikmati. Ingatlah, "Setelah malam yang paling gelap, fajar akan segera menyingsing!" Tidak ada istilah setengah jalan, hangat, atau separuh hati bagi persistensi. Ini adalah sikap keberanian, ketegasan, pantang menyerah. Persistensi tidak pernah bimbang, melainkan langsung bertindak menuju sasaran, dan terus berupaya sampai berhasil. Karena secara hurufiah, kata persist bisa berarti "to refuse to give up"—menolak untuk menyerah—serta juga berarti "continue firmly, steadily, insistenly", terus dengan tekad bulat, terus merangsek maju. Jadi setiap kali anda merasa gundah atau kecil hati karena belum bisa melihat hal baik di hadapan anda, nyatakan afirmasi ini, "I refuse to give up. I shall continue firmly, steadily, and persistently until my good appears." Atau, "I am not discouraged: I am persistent, and I go forward. Go! Go! Go!" Juga sering katakan kepada diri anda sendiri, "/ am not on the way out. I am on the way up! Yes, I'll make all my dreams come true, NOW!" Ingatkan diri anda sendiri bahwa sukses bukanlah hanya milik orang yang brilian atau berbakat, melainkan bagi orang yang persisten, yakni orang yang tidak mengenal kata menyerah, yang terus berusaha dengan cara yang lebih baik sekalipun mengalami bermacam rintangan. Seperti kisah "Kelinci dan Kura-kura" adalah contoh yang memenangkan persistensi melawan keunggulan alami. Seperti sang kura-kura, anda tidak akan pernah menjadi orang gagal jika anda tidak pernah menyerah! Janganlah pernah merasa menyesal ataupun iri hati karena anda tidak terlahir dalam keluarga kaya, atau tidak mendapat harta warisan, atau tidak mendapat suami/istri kaya. Hanya ada hal yang
•>•)

71

perlu anda miliki untuk sukses yakni tujuan yang jelas, persistensi dan determinasi keras untuk mencapai tujuan tersebut. Jika kekalahan dan kesalahan terjadi, hadapilah dengan berani dan atasilah sebisa mungkin, kemudian teruslah berjuang melanjutkan perjalanan menuju sukses anda. Janganlah pengalaman negatif itu menghantui pikiran anda. Lupakanlah masa lalu yang buruk setelah anda belajar darinya untuk menjadi lebih baik di kemudian hari. Ingat, masa lalu itu sudah menjadi nothing karena sudah berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Jangan repotkan pikiran anda dengan kenangan pahit apalagi menjadikannya trauma, karena hal itu hanya merupakan sikap dan sifat orang cengeng dan pecundang. Anda kandidat sukses mestinya pantang meratapi masa lalu, karena hal itu merupakan tindakan bodoh yang menghambat daya juang dan pencapaian tujuan sukses anda. Bagi orang yang positif dan persisten, kekalahan pun bermanfaat untuk mengungkapkan dan mengubah kebiasaan buruk/salah, dan membebaskan energi anda untuk memulai kembali dengan kebiasaan dan cara yang lebih baik. Kekalahan mengubah arogansi dan perilaku besar kepala menjadi kerendahan hati serta membangun hubungan interrelasi yang lebih harmonis dengan orang lain. Kekalahan menyebabkan anda harus menginventarisir semua aset dan kewajiban anda, baik fisik maupun spiritual agar bisa bertindak optimis-realistis. Kekalahan juga akan memperkuat will-power atau kekuatan kehendak anda dengan memberi tantangan untuk melakukan upaya yang lebih hebat daripada sebelumnya. Saran saya, "Just learn from the past to make your path better, and then forget it. Gotcha!"

10
21 Faktor Penyebab Kegfagfalan Hidup

ntuk memberi perspektif, di bawah ini saya sampaikan 21 faktor yang biasa menyebabkan kegagalan. Jika semua, atau bahkan satu pun hal itu ada dalam kehidupan anda, lebih baik bila anda sesegera mungkin melenyapkannya: 1. Hidup tanpa mengarah kepada tujuan tertentu yang terfokus dan berharga sehingga tidak tabu hendak mencapai. apa dan bagaimana. 2. Pendidikan (formal maupun informal) yang minim sehingga mengurangi kemampuan berpikir panjang dan sistematis. 3. Kurang disiplin diri sehingga mempunyai kebiasaan yang tidak produktif. 4. Kurang ambisi untuk menjadi lebih baik dan lebih sukses sehingga tidak mempunyai fighting spirit yang memadai untuk menjadi pemenang. 5. Kesehatan yang buruk akibat pikiran negatif dan diet yang buruk. 6. Pengaruh masa kecil yang buruk sehingga menjadi karakter yang juga buruk serta agak sukar diubah. 7. Kurang persistensi sehingga mudah menyerah dan berhenti berusaha sekalipun belum mendapat apa-apa. 8. Negative mental attitude yang beraneka ragam seperti pemalas, pencemooh, dan Iain-lain. 9. Tidak bisa mengontrol emosi sehingga terkesan labil, dan kurang bisa dipercaya.
73

U

10. Hasrat mendapatkan sesuatu tanpa kesediaan untuk mengorbankan sesuatu, sehingga terkesan malas, egois, merugikan orang lain dan tidak enak diajak bergaul. 11. Tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat dan tegas sekalipun semua fakta yang perlu telah tersedia, sehingga banyak kesempatan emas hilang dan bahkan mengubah peluang menjadi kendala. 12. Mempunyai satu atau lebih dari ketakutan dasar secara berlebihan seperti: kemiskinan, kritikan, sakit/penyakit, kehilangan cinta, menjadi tua, kehilangan kemerdekaan, kematian, sehingga prilakunya terkesan tidak realistis, kekanak-kanakan dan aneh. 13. Salah memilih pasangan hidup, sehingga pasangan menjadi penghambat yang mengecilkan hati dan/atau membuyarkan sasaran hidup. 14. Terlalu berhati-hati sehingga terkesan bertele-tele, paranoid, dan berjiwa kerdil. 15. Terlalu tidak berhati-hati atau ceroboh sehingga sering membuat keputusan atau tindakan yang menimbulkan penyesalan di kemudian hari karena keliru dan/atau bodoh. 16. Salah memilih bidang usaha atau pekerjaan sehingga tidak bisa memanfaatkan bakat, pengalaman serta entusiasme secara optimal. 17. Tidak bisa mengelola waktu dan uang sehingga banyak kesempatan emas tidak tergarap dan atau tidak terdanai. 18. Tidak setia dan suka berkhianat, yang mengakibatkan hilangnya kepercayaan orang lain, serta kepercayaan diri sendiri. 19. Kekurangan visi dan imajinasi yang menyebabkan orang tidak bisa membayangkan hendak menuju ke mana dan hendak mencapai apa dalam hidup, sehingga tidak melakukan dan mencapai yang terbaik. 20. Sifat egois dan banyak lagak yang menjadikan kepribadian yang tidak menyenangkan orang lain serta merugikan diri sendiri, sehingga menutup peluang untuk mendapat masukan dan bantuan dari luar untuk perbaikan diri. 21. Tidak bersedia bekerja lebih keras dan/atau memberi lebih banyak dari rata-rata, yang merupakan tabiat yang biasa ditunjukkan
74

oleh orang kerdil atau kaum marginal—yakni orang kebanyakan yang biasa hidup ala kadarnya, karena tidak mau memberi lebih banyak agar bisa mendapat lebih banyak.

75

11
Dua Cara Memmiat Orangf Melakukan Apa Saja yangf Kita In^inkan
• .

S

ekalipun saya tidak menganjurkan untuk menggunakan ekstrem pelajaran ini, namun mengingat pentingnya, perlu saya sampaikan kepada anda. Tugas saya adalah memberitahu anda, agar anda bisa mendapat manfaat atas itu, namun dalam penerapan, anda harus memperhitungkan untung rugi dan baik buruknya, yang semua itu adalah pilihan dan menjadi tanggung jawab anda pribadi. Pergunakanlah akal budi dan hati nurani anda, dan ingat, akibat apa pun adalah bukan tanggung jawab saya. Pisau adalah sarana yang bisa dipakai untuk kebaikan maupun kejahatan. Dengan ini saya menyediakan "pisau", yang penggunaannya merupakan tanggung jawab anda sepenuhnya. Tentu saja saya mengharapkan "pisau" ini akan anda manfaatkan demi kebaikan diri dan sesama anda. Ada sekurang-kurangnya dua hal yang sangat mujarab untuk membuat orang lain melakukan apa saja yang anda inginkan, atau dengan kata lain, agar orang lain memenuhi keinginan anda. Kedua hal itu adalah rewards & punishment, ganjaran & hukuman. Ya, penghargaan dan hukuman. Itulah dua kata dan atau dua istilah yang hampir pasti membuat orang lain memenuhi keinginan anda. Itulah juga perkataan dan istilah yang dipergunakan oleh Tuhan atau dewa-dewi yang diajarkan

76

oleh berbagai agama dan kepercayaan, oleh pemimpin agama dan pemimpin spiritual, oleh para dukun, oleh pemimpin politik, oleh pemimpin masyarakat, oleh orangtua, oleh guru, oleh atasan dan pemimpin perusahaan, oleh mafia, oleh aparat keamanan dan penegak hukum, dan oleh siapa saja yang telah berhasil mempengaruhi orang untuk melakukan dan memenuhi keinginannya, baik secara terencana dan disadari maupun tidak. Dalam arti dan penjabaran yang luas, rewards itu mencakup banyak hal seperti: penghargaan, pengakuan, pujian, rayuan, janji, promosi karier, pekerjaan, pemberian hadiah, kenaikan gaji, berkat, kebaikan, kenyamanan, kenikmatan, keselamatan, keamanan, perlindungan, kesehatan, kesenangan, kedamaian, kebebasan, kebahagiaan, kekayaan, kedudukan, dukungan, pengharapan, persahabatan, keceriaan, keberanian, potensi, pernikahan, keluarga, kehidupan positif, optimisme, kehidupan kekal di sorga, dan Iain-lain yang sejenis. Sedangkan punishment mencakup hal-hal yang sebaliknya dari penjabaran rewards seperti: hukuman, tidak diperdulikan, kritikan, ancaman, kutukan, penurunan karier, pemecatan, pengenaan sanksi, penurunan pangkat, laknat, kejahatan, kegelisahan, ketidaknikmatan, kecelakaan, kerawanan, terror, penyakitan, kesedihan, keruwetan, terpenjara, penderitaan, kemiskinan, kejatuhan, penjegalan, keputusasaan, permusuhan, kesepian, ketakutan, impotensi, perceraian, kesendirian, kematian, negatif, pesimisme, kebinasaan kekal di neraka, dan Iain-lain yang sejenis. Itulah sebagian dari perbendaharaan kata atau istilah yang biasa dipergunakan orang untuk membuat orang lain menuruti kemauannya, baik secara halus maupun kasar. Ingat-ingatlah apa yang anda alami dan pelajari sejak anda lahir, bertumbuh menjadi balita, menjadi anak-anak, menjadi remaja, ketika bersekolah atau kuliah, menjadi dewasa, ketika bekerja atau berwirausaha, ketika berpacaran, ketika menikah, ketika mempunyai anak, ketika menjadi tua, ketika menjelang ajal, dan ... setelah anda mati, apa yang akan terjadi menurut pengajaran agama anda? Apakah yang anda pelajari? Jauhkah dari pengertian rewards & punishment seperti yang saya uraikan di atas? Ya, saya tahu, anda pasti menjawab: No!
77

Sejak bayi, kita telah diajar dan mengalami berbagai variasi dari perkataan dan aplikasi rewards & punishment-, bahkan lagu "Nina bobo" saja mengandung unsur itu: "...nina bobo, oo nina bobo, kalau tidak bobo digigit nyamuk!" Semasa kecil, kita sering mendengar perkataan yang kira-kira berbunyi demikian: "Hayo, kalau anak manis, jangan menangis," atau "Hayo, jangan nakal. Kalau tidak nakal, mendapat permen. Kalau nakal, mendapat jewer," atau "Kalau naik kelas mendapat sepeda". Metode yang dipakai orangtua untuk mendidik dan membesarkan anaknya tidak jauh dari sistern rewards & punishment, yaitu dengan memanjakan dan menghajar dengan rotan. Bagaimanakah cara guru dan institusi pendidikan niengontrol dan mengendalikan para siswanya agar menuruti perintah guru serta tata tertib sekolah? Dengan cara memberikan sistern nilai atau rapor. Warna biru dan warna merah pada rapor adalah indikator, apakah sang murid telah menuruti pengajaran dan perintah sang guru atau tidak. Dengan mengancam akan memberikan warna merah pada rapor murid yang bandel, guru berkemungkinan besar untuk mendapat kepatuhan murid. Bagaimanakah cara negara dan pemerintah mengontrol dan mengendalikan warganya agar menjaga ketertiban dan keamanan serta membayar pajak? Dengan membuat peraturan, undang-undang, hukum, dan sanksi hukum oleh aparatur negara. Polisi direkrut untuk menjaga keamanan, memeriksa tersangka tindak kriminal, menangkap penjahat dan menembaknya jika perlu. Sedangkan jaksa ditugaskan untuk menuntut tersangka tindak perdata atau pidana, dan hakim bertugas untuk menjatuhkan hukuman denda dan/atau penjara. Untuk apakah semua itu? Agar masyarakat tertib dan takut berbuat kriminal. Dalam dunia usaha juga demikian. Kita menemukan janji-janji yang dibuat oleh bagian periklanan untuk merayu, membujuk, dan memberikan angin sorga kepada calon konsumen agar membeli produk atau jasanya jika hendak mendapat untung atau manfaat, seperti misalnya agar menjadi lebih cantik, lebih awet muda, lebih sehat, lebih sukses, lebih kaya, dan sebagainya. Pesan terselubung dari iklan tersebut adalah ancaman halus: jika anda tidak membeli atau

78

menggunakan produk/jasa kami ini, maka minimal anda tidak mendapatkan semua manfaat yang dijanjikan. Dengan kata lain, bukankah itu hal seba-iknya, ialah tetap tidak cantik, tetap nampak tua, dan Iain-lain? Sebagai karyawan, kita pun tidak terlepas dari pujian dan ancaman. Jika produktif dan berprestasi, kita akan mendapat pujian, penghargaan, dan bahkan peningkatan gaji atau promosi karier. Namun jika tidak produktif atau gagal menjalankan tugas, kita akan mendapat kritikan, teguran, sanksi, bahkan pemecatan. Rewards & punishment juga diterapkan dalam kehidupan beragama atau spiritual. Coba kita lihat cara pemimpin agama atau pemimpin spiritual mengajar umatnya, pasti sangat ditegaskan tentang pentingnya berbuat baik, berbuat amal, rajin beribadah atau menjalankan ritual, patuh dan percaya kepada pemimpin rohaninya, memberikan sumbangan atau persembahan kepada Tuhan yang dipercayainya, membela dan rela berkorban untuk eksistensi dan perluasan agama atau kepercayaannya. Barangsiapa yang patuh dan menuruti pelajaran itu akan mendapat rewards seperti perlindungan ilahi, kesehatan, berkat rejeki, keturunan, kedamaian, kebahagiaan, dan kelak kalau sudah mati akan masuk ke kehidupan lain yang lebih baik dan lebih berbahagia. Sebaliknya, barangsiapa yang membangkang apalagi murtad, akan mendapat punishment, seperti ancaman, dikutuki, celaka, melarat, sakit, menderita, dikucilkan dan bahkan dianiaya atau dibunuh oleh pengikut yang lain, lantas jika kelak mati akan diancam hukuman neraka jahanam. Pemimpin spiritual perlu menyampaikan iming-iming janji kebahagiaan dan ancaman penghukuman akhirat agar pengikutnya patuh dan memenuhi keinginan mereka. Sebab jika tanpa janji imbalan atau ancaman hukuman, siapakah yang mau mendengarkan mereka, apalagi berkorban bagi mereka dan organisasi agamanya? Rewards & punishment adalah juga cara yang paling digemari oleh mafioso. Cara mereka mencapai persetujuan orang dan/atau mendapatkan apa saja yang mereka inginkan relatif simple. Pertama, tentu saja memberikan rewards atau hadiah, atau uang suap kepada pejabat pemerintahan dan aparat keamanan yang berwenang untuk mem79

proteksi daerah operasi mafia bersangkutan. Jika mereka menolak untuk bekerja sama, mafia akan meningkatkan jumlah atau nilai rewards dan janji upeti untuk meruntuhkan pertahanan moral para pejabat dan aparatur negara. Jika mereka tetap menolak, mafia akan mengeluarkan jurus kedua, yaitu punishment, yang berupa ancaman, teror, tindak kekerasan, sampai pembunuhan. Mafia akan mengancam para pejabat dan aparatur negara yang menolak bujukan, dengan mengatakan bahwa jika mereka menolak bekerja sama, maka bukan hanya mereka, melainkan juga anggota keluarga mereka akan dianiaya dan/atau dibunuh. Sebaliknya, jika mereka menerima kerja sama, maka bukan saja mereka tidak diancam, melainkan juga mendapatkan imbalan materi yang berlimpah-limpah, asalkan mereka memproteksi dan mendukung operasi mafia tersebut. Siapa pun mereka—apakah panglima perang atau kepala kepolisian, ataukah kepala negara—selama masih bernama manusia, pasti mempunyai rasa takut. Bisa jadi mereka gagah-berani dan berkuasa atau powerful dan terkesan untouchable ketika sedang bertugas dan mengkomandoi suatu kekuatan bersenjata atau institusi kekuasaan; namun ketika mereka sedang tidak bertugas, ketika mereka sedang menjadi oknum pribadi, taruhlah menjadi "Si Orang" sang suami atau sang istri, atau sang ayah atau sang ibu atau sang anak— -pokoknya sebagai individu manusia maka setiap orang mempunyai ketakutan-ketakutan akan kehilangah yang dicintainya, entah itu harta, keluarga, atau reputasi, apalagi nyawa. Sebaliknya, manusia mempunyai pengharapan-pengharapan akan kesehatan, kesenangan, kemewahan, kebahagiaan, panjang usia, dan segala hal yang baik. Sebagai individu mereka tidak kebal rayuan atau limpahan hadiah atau rewards, dan juga tidak kebal ancaman, teror, atau punishment. Seberapa pun hebatnya seseorang atau seberapa pun seseorang berkuasa, ia menyadari bahwa tidak mungkin dirinya terlindungi dan 100% aman selama 24 jam sehari, dan 365 hari setahun. Akan ada satu hari, atau satu jam, atau satu menit, dia akan lengah dan tidak waspada atau tidak terproteksi oleh pengawalnya atau oleh kekuatannya atau oleh hartanya. Dan mungkin saja itu adalah saat
80

naasnya, celah yang diincar dan ditunggu oleh musuh untuk menghancurkannya, who knows? Dengan kata lain, dalam kasus sebaliknya, jika anda menghadapi mafia yang paling bengis dan paling berkuasa sekali pun, anda dapat menerapkan prinsip yang sama: la hanya manusia, yang punya rasa takut, punya kelemahan, dan tidak terproteksi 24 jam sehari dan 365 hari setahun, you can eat him/her, in the right time! Sebagai manusia, kita senang dan mengejar pujian, rayuan, hadiah, dan kebaikan. Secara bersamaan, kita pun merasa takut, dan akan berupaya menghindari ancaman, hukuman, dan kerugian. Jika anda pandai memanfaatkan dan menyiasati kedua sifat dasar manusia itu, bukanlah hal mustahil bahwa anda bisa meminta orang lain untuk menuruti apa pun permintaan anda!

81

12
Membayar Pendemo Untuk Mencapai Tujuan

i era "Indonesia Baru" yang masih labil ini, sangat mudah untuk mencapai tujuan pribadi atau kelompok, baik secara ekonomi maupun politik, dengan cara mengerahkan massa pendemo. Mudah saja: kumpulkan dan bayar orang-orang jalanan atau pengangguran yang banyak dan mudah didapat (bahkan katanya ada perusahaan atau organiser yang menyediakan jasa pendemo Rp. 15-000,- per orang), kemudian bikin spanduk atau coretan-coretan protes atau tuntutan yang diinginkan (tambahi dengan kata-kata bombastis utopis, misalnya: "Demi keadilan bangsa", atau "Demi kesejahteraan kaum buruh anu", atau "Demi HAM", atau "Demi mahasiswa", dan Iain-lain, dan seterusnya). Dan jangan lupa mencantumkan nama aksi demo tersebut, misalnya "Gerakan Penegak Anu". Bahkan jika anda tidak senang dengan pejabat atau penguasa tertentu (atau jika anda tahu akan kalah dalam pemilihan posisi tertentu) kerahkan massa yang dulu anda gunakan untuk tujuan "Mogok Buruh", sekarang anda dandani sedikit dan berganti spanduk, misalnya dengan kata-kata, "Basmi politik uang dan KKN", atau "Si anu harus mundur karena main politik uang", dan Iain-lain. Jika anda hendak menyusupkan pendemo bayaran itu ke aksi mogok buruh, tentunya anda harus memilih yang orang-orangnya mirip buruh. Atau jika anda mau seolah-olah mahasiswa yang berdemo, ya orang-orang anda harus mirip mahasiswa; atau sekurang-kurangnya
82

D

ada orang yang memang benar-benar buruh, atau mahasiswa, yang tampil di barisan depan, padahai mereka hanya orang bayaran. Harap maklum, saya bukan sedang mengajarkan perbuatan jahat, melainkan sedang menyindir orang-orang yang pernah, sedang, atau akan melakukan tindakan demo gadungan dengan cara-cara seperti yang saya tulis ini, agar mereka malu, dan membatalkan niatnya. Lagipula, ini bukanlah ide saya, melainkan analisis saja, dari berbagai aksi demo yang pernah terjadi. Sebab, jika kita dengar dari buruh pabrik misalnya yang sedang mendemo perusahaannya dengan ancaman, "Naikkan gaji 200 persen atau kami mogok kerja" (atau bahkan sampai merusak atau membakar pabriknya) mereka sebenarnya tidak mau mogok destruktif, karena mereka menyadari bahwa jika mereka mogok dan/atau pabriknya sampai tutup—apalagi bangkrut—yang rugi adalah mereka sendiri. Mereka jadi pengangguran, dan keluarga terlantar. Namun mereka terpaksa melakukannya, karena mungkin saja mereka diancam oleh orang-orang tertentu untuk berdemo. Atau mereka hanya sekadar ikut-ikutan saja. Ada berita yang lucu-lucu di era Indonesia baru ini. Demo dan motonya bisa salah, karena tertukar-tukar, karena organisernya pada hari yang sama menerima jobs untuk demo di dua tempat berbeda. Bahkan organisernya didemo oleh pendemo yang ia kerahkan, karena ia belum melunasi uang demo yang dijanjikan, padahai sudah lewat tenggat waktu. Ya, ya, itulah ironi-ironi di zaman "Indonesia Ba» ru . Jadi, menurut saya, seperti cerita di atas, bisa saja aksi-aksi demo yang marak dan terjadi setiap hari itu memang diorganisir oleh orang atau kelompok tertentu, untuk menggoyahkan dan atau menghancurkan (pemerintahan) Indonesia. Coba simak, jika kotakota besar di Indonesia setiap hari diricuhkan dengan aksi demo yang menjurus ke perbuatan anarkis, misalnya melawan aparat keamanan dengan kekerasan, merusak fasilitas umum, dan bahkan merusak atau menjarah milik masyarakat awam, bagaimanakah orang bisa beraktivitas dengan baik, tenang dan produktif? Pengusaha lokal selalu was-was dalam berusaha. Pengusaha dan turis asing gentar untuk datang ke Indonesia. Jika bisnis yang adalah sumber uang tidak berjalan, bagaimana
83

roda pemerintahan bisa berjalan dengan patut? Bagaimana pengangguran dan kemiskinan bisa dihapus? Bagaimana utang negara dan perusahaan swasta bisa dibayar? Jika terus hidup mengandalkan hutang baru dari negara-negara asing (IMF misalnya), bagaimana kita tidak harus mengemis dan takluk kepada kehendak mereka, karena kita tidak mempunyai bargaining power? Jika terus bergolak dan krisis, tidak mungkinkah akan terjadi pergolakan sosial yang dipicu oleh provokator-provokator yang mengatasnamakan rakyat, untuk menggulingkan pemerintahan? Jika itu terjadi, maka program sistematis mereka tercapai! Dan kelak, jika mereka berkuasa, jangan harapkan akan ada model demokrasi. Sebagai ganti demokrasi mungkin akan ada pemerintahan main-kayu. Demi alasan menjaga ketertiban dan keamanan nasional, jangan harap ada orang yang bisa berdemo-ria dan asal bunyi lagi, jika tidak mau masuk penjara atau makan timah panas! Mau itu terjadi? Jika tidak, sadarlah, sebelum terlambat. Jangan mau diperalat oleh orang-orang yang haus kekuasaan, yang tidak sabar menunggu pemilu berikutnya untuk menjadi penguasa. Kalau saya ibaratkan nafsu birahi, mata mereka telah menjadi merah. Kalau ibaratnya nafsu makan, air liur mereka telah mengalir deras. Namun sialnya, kita sulit mencegah orang untuk membayar pendemo dan/atau sulit menghimbau agar rakyat jangan mau dibeli untuk berdemo, karena mereka tidak punya uang, tidak punya pekerjaan, dan butuh biaya hidup untuk makan. Sebenarnya, jika kita bisa menciptakan lapangan kerja yang menampung mereka agar tidak berkeliaran di jalan, tentu persoalan selesai, karena mereka pasti memilih untuk bekerja dan mencari nafkah di sektor bisnis yang mereka ketahui arti pentingnya, yang lebih permanen, dan tidak perlu menggadaikan harga diri maupun hati nurani mereka dengan berdemo dan pura-pura meneriakan tuntutan yang sebenarnya bukan keinginan mereka.

84

13
Mencapai Tujuan Gaya Maria

ecara logis-praktis, jika ada suatu aksi atau tindakan ilegal (kriminal)—seperti misalnya korupsi, perjudian, peredaran narkoba, pelacuran, premanisme, dan sebagainya—yang berlangsung lama tanpa mendapat sanksi hukum yang memadai, wajar saja untuk menduga bahwa aksi tersebut telah menjadi terorganisir, serta melibatkan 'orang dalam', bisa oknum aparat keamanan atau penegak hukum, bisa juga petugas dan pejabat pemerintahan. Keterlibatan oknum internal tersebut bisa dikarenakan adanya upeti (uang sogokan atau uang imbal jasa atau uang jaga yang diberikan secara rutin atau per transaksi), atau terror (ancaman terhadap keamanan diri pribadinya atau anggota keluarganya) agar oknum tersebut membantu kelancaran atau melaksanakan perbuatan kriminal. Secara teoretis, cara kerja mafia mungkin sebagai berikut: Sebelum beroperasi, mafia akan melakukan pendekatan (approach atau lobbying) terhadap pejabat atau petugas yang mempunyai otoritas d suatu daerah atau instansi tertentu, baik melalui jalur bisnis, maupun jalur entertainment, baik melalui undangan makan resmi, atau melalui undangan menghadiri acara hiburan tertentu, baik dilakukan langsung oleh pribadi mafioso bersangkutan atau minta diperkenalkan oleh rekannya yang telah mengenal pejabat tersebut. Tidak dilupakan, setiap pertemuan selalu diawali dan/atau diakhiri dengan pemberian berbagai macam hadiah yang relatif mewah serta menyentuh minat pejabat yang menjadi sasaran.

S

85

Sebagai manusia, sang pejabat yang dilimpahi kenikmatan dan had utli seperti itu tentu jatuh hatinya, merasa menemukan best friend yang bisa mewujudkan banyak impiannya untuk mendapat kemewahan hidup secara mudah. Tahap berikutnya, setelah hubungan sang mafioso dengan sang pejabat sudah lebih akrab, maka jika sang pejabat adalah pria (apalagi sudah berkeluarga), sang mafia akan mengatur agar yang disuguhkan bukan lagi hanya hadiah materi, melainkan juga wanita penghibur. Dengan demikian, sang pejabat bukan hanya terikat terhadap kebiasaan hidup mewah dan nikmat, melainkan juga telah terikat secara moral, yaitu bahwa rahasia hubungan seksualnya telah berada di tangan best friend barunya, yang jika terbongkar, bisa saja rumah tangganya akan pecah berantakan, atau bahkan kariernya hancur (bahkan dalam banyak hal, bisa saja permainan seksualnya telah direkam video yang akan dijadikan alat teror oleh sang mafia jika diperlukan). Nah setelah fondasi hubungan pribadi itu terbangun, barulah sang mafioso bersiap melaksanakan program ilegalnya, dengan cara meminta "persetujuan" sang teman pejabat tersebut untuk menggarap proyek tertentu (apakah yang melibatkan korupsi, penyelundupan, perjudian, prostitusi, peredaran narkoba, peredaran uang palsu, dan sebagainya). Karena sang pejabat sudah terlanjur "terikat", suka atau tidak suka, ia akan membantu merealisir program tersebut. Jika sang pejabat setuju, upeti berupa uang dan kenikmatan lain terus mengalir lancar. Namun jika sang pejabat tidak setuju, bisa saja terror berupa pem-bongkaran rahasia pribadi sang pejabat akan dilansir. Bahkan jika sang pejabat membandel, bisa saja keselamatan karier dan keluarganya diancam akan dihancurkan. Karena itu, secara logis manusiawi, sang pejabat akan dengan terpaksa memilih untuk bekerja sama, agar kehidupannya semakin makmur atau sekurang-kurangnya untuk menyelamatkan keluarganya—sekalipun disadarinya bahwa tindakannya melawan hukum. Nah, praktek selanjutnya adalah pendistribusian "dana kesejahteraan" yang dilakukan oleh kawanan mafia di instansi di mana teman pejabatnya itu berkuasa, dengan cara membagi-bagikan upeti
86

(berupa uang yang dibagikan mingguan atau bulanan, bisa tunai, bisa via transfer bank) kepada berbagai petugas yang relevan terhadap kelancaran^ operasi ilegalnya. Jika sudah terbentuk team-work seperti itu, aktivitas sang mafioso sudah nyaris aman, karena tidak ada yang mengganggu gugat. Andaikan, karena adanya program terpadu dari instansi pemerintah (yang melibatkan instansi teman pejabatnya itu dengan instansi terkait lain) untuk melakukan operasi pembersihan (penggrebekan) terhadap aktivitas illegal tertentu (misalnya perjudian), maka sebelum hal itu terlaksana, operasi itu biasanya sudah dibocorkan terlebih dahulu kepada sang mafioso, agar pada waktu operasi dilancarkan, hasilnya nihil. Alternatif lainnya, jika tempat operasi sasaran telah menjadi rahasia umum, karena sudah berlangsung lama dan nyaris terbuka, maka akan diatur skenario agar operasi tersebut berjalan mulus dengan tertangkapnya beberapa penjudi kelas teri yang notabene adalah nobody, sedangkan gembongnya tersenyum simpul di belakang layar. Tahap selanjutnya, setelah diberitakan media massa hasil kerja yang lumayan mulus itu, adalah proses pembebasan para tersangka bandar judi kelas teri melalui berbagai macam alasan yang malas dipertanyakan oleh publik. Jika ada wartawan yang penasaran untuk mengekspos berita tersebut, maka proses "amplopisasi" (pemberian amplop uang) pun berjalan kembali, agar oknum wartawan yang sedianya melawan perbuatan ilegal itu menjadi pura-pura tidak tahu (tentunya selama amplop terus datang secara berkesinambungan). Jika operasi gabungan semacam itu akan dilangsungkan secara terus-menerus, maka team mafia itu harus melakukan lobbying persis seperti awal cerita, dengan bantuan pejabat yang telah menjadi best friend itu. Tentu saja, semua itu dilaksanakan secara hati-hati, taktis dan diplomatis. Dan sebagaimana layaknya sifat manusia secara umum, sangat sulit tawaran kemewahan dan kenikmatan itu bisa dihindarkan. Mungkin karena sang pejabat berpikir, "Jika saya tidak lakukan, maka pejabat lainlah yang akan melakukannya. Lagipula, jika hanya mengandalkan gaji dan fasilitas halal, sampai pensiun pun saya akan tetap tidak akan pernah kaya, so why not?"
87

Proses selanjutnya adalah ekspansi usaha ilegal. Setelah satu bidang atau daerah proyek ilegal berlangsung secara aman terkendali, mafia akan mengupayakan ekspansi ke daerah lain yang lebih luas dengan bisnis yang sama, atau menambah lini produknya, misalnya dari hanya perjudian menjadi plus prostitusi berbentuk night club, atau plus peredaran narkoba, atau plus penyelundupan senjata, dan Iain-lain, dsb. Dengan demikian proyek illegal para mafia menggurita dan merambah ke mana-mana. Semakin hari, keberadaan dan kekuasaan mereka semakin kuat, yang meliputi bukan hanya pejabat atau penguasa daerah, namun juga sampai ke pusat. Jika ada orang (pejabat) baru yang mencoba menegakkan hukum, ia akan terganjal oleh hampir semua orang di lingkungannya, baik dengan cara membocorkan rencana operasi, atau bahkan membiarkan tersangka target operasi meloloskan diri ketika terjadi penggerebekan, atau bahkan memberikan telepon atau surat sakti kepada petugas penegak hukum agar membebaskan tersangka, sekalipun mafia tersebut sudah berada di tahanan. Bahkan, jika penegak hukum itu tidak bisa atau tidak mau diajak kompromi (menerima upeti), serta tidak takut menghadapi teror, maka mafia akan mempergunakan otoritas teman-teman para pejabat penguasa untuk menggusur (mencopot) penegak hukum yang idealis tersebut dari jabatannya, atau memindahkannya ke daerah terpencil, agar tidak merecoki teamwork mafiapejabat. Ingat, dengan dananya yang melimpah dan koneksi yang luas, para mafioso bisa dengan mudah mencopot atau menaikkan pejabat di banyak posisi di berbagai instansi, baik pusat maupun daerah, dengan cara yang klasik: Beli, sogok, para pembuat keputusan agar memutuskan seperti yang mafia inginkan. Istilahnya adalah money politics. Jumlah pejabat pembuat kebijakan itu tidak banyak. Paling banyak 1.000 orang per institusi dan per pengambilan keputusan. Kalau masing-masing pejabat disuap seratus juta rupiah saja, totalnya baru Rp. 100.000.000.000,-, dan itu adalah uang kecil bagi mafia. Bahkan sekalipun harus menyuap masing-masing satu milyar rupiah, totalnya masih relatif kecil, yakni hanya Rp. 1.000.000.000.000,(satu triliun) saja. Padahal, setelah kandidat pejabat penguasa yang

88

adalah 'bonekanya' mafia tersebut berkuasa, tentunya nilai proyek yang diberikan kepada mafia yang adalah majikannya itu jauh lebih besar. Nah, jika sudah demikian, perbuatan ilegal itu telah menjadi praktik legal, dan sulit diberantas lagi, karena siapakah yang memberantas siapa? Jika ada di antara pembaca yang tidak sependapat dengan teori (asumsi) saya di atas, dan mengatakan bahwa adalah mustahil mental penegak hukum dan/atau pejabat pemerintah sedemikian bobroknya, yang rela menjual rakyatnya- demi uang dan jabatan, maka saya akan mengajak anda untuk melihat fakta sejarah. Fakta terkini, menurut berbagai macam survei yang dilakukan oleh badan independen, adalah bahwa Indonesia mendapat predikat negara terkorup di Asia, dan negara terkorup ketiga di dunia. Padahal, sampai buku ini ditulis, perbuatan tindak pidana korupsi belum terjangkau hukum secara praktis, hanya retorika politik belaka. Kalau mau ditambahkan: kasus penyalahgunaan narkoba sudah merambah bukan hanya di kota-kota besar dan kalangan menengah atas, melainkan juga ke daerah-daerah dan ke berbagai strata masyarakat. Apakah semua itu bisa berlangsung langgeng tanpa keterlibatan oknum pejabat di lingkup kekuasaan yang relevan? Kita tidak tahu jawaban persisnya, tetapi sulit untuk tidak menduga begitu. Sebagai bangsa, Indonesia pernah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun dengan taktik devide et impera yang menggunakan dua metode klasik, yakni uang dan terror. Barangsiapa bisa dibeli dengan uang dan jabatan, orang tersebut akan menjadi antek penjajah. Dan barangsiapa tidak mau disuap, orang tersebut akan difitnah, diadudomba dan dibinasakan. Apakah jika strategi uang dan atau terror itu tidak efektif, kita bisa dijajah sampai selama itu? 127.750 hari?! Perlu diakui bahwa banyak masyarakat kita yang kurang kompak dan mudah ditundukkan oleh uang atau teror. Semoga anda tidak! Karena pada orang-orang seperti anda itulah tergantung kejayaan Indonesia ini, berikut kemakmuran yang merata!
89

Dan maaf, saya tidak sedang mempromosikan cara mafia. Saya mengajukan hal ini agar anda hati-hati terhadap jebakannya. Anda bisa mempelajari taktiknya, dan mengawinkannya dengan moralitas yang tinggi.

90

Tips #1
Program Akselerasi Pemulinan Bisnis Indonesia

agi pemerintah maupun BUMN dan atau pengusaha nasional yang mempunyai dana untuk alokasi sosial, saya mengusulkan agar segera dibuat semacam Entrepreneur Support Center (ESC) tempat di mana para pengusaha maupun colon pengusaha kecil bisa mendapat bimbingan dan nasihat teknik sehubungan dengan dunia usaha, misalnya: Mengelola agrobisnis, teknik dan manajemen produksi produk tertentu, manajemen pemasaran, salesmanship, manajemen keuangan, manajemen akuntansi, manajemen sumber daya manusia, metode membuat business plan, perpajakan, teknik presentasi publik, dan Iain-lain. Semua pelayanan dan pendidikan ESC itu harus gratis, tidak dipungut biaya apa pun, dan bebas 'uang rokok', serta dibawakan secara praktis oleh orang-orang yang kompeten dan berdedikasi tinggi. (konsultan itu bisa orang gajian, bisa voluntir). Jika belum ada dana dari partisipasi masyarakat, ESC harus segera didanai oleh pemerintah dari sumber pajak, karena kelak jika pengusaha itu laba dan membayar pajak, manfaatnya akan kembali kepada pemerintah dan masyarakat luas; lagipula memang salah satu manfaat dan tujuan pajak adalah dikembalikan untuk kepentingan masyarakat, bukan? Hal mendesak lain yang tidak kalah pentingnya, dalam situasi kondisi Indonesia yang masih kusut seperti saat ini—karena lama menderita akibat krisis ekonomi dan politik, sehingga puluhan juta orang menganggur dan hidup di bawah garis kemiskinan—adalah membentuk Survival Support Center (SSC), yakni aktivitas sosial
91

B

yang dilakukan di setiap kelurahan—minimal kecamatan—dengan cara mendirikan balai pengobatan gratis (termasuk obat-obatannya), dan/atau dapur umum untuk makan gratis bagi warganya yang terdata sebagai keluarga tidak mampu. Ketua RT bisa memberikan kupon atau tanda pengenal khusus agar warganya bisa mendapat fasilitas itu. Adapun untuk pendanaannya bisa dibantu oleh pemerintah, sumbangan warga yang lebih mampu, dan khususnya para pengusaha. Sekali lagi, dana dan program ini harus bebas tindak kriminal seperti korupsi atau diskriminasi, misalnya, melalui pemilihan pengurus yang hati-hati serta kontrol administrasi yang ketat, dengan sebelumnya memberitahukan sanksinya bagi yang melanggar, yakni diperrnalukan di depan umum, selain dituntut sesuai hukum. Jika program SSC ini bisa dilaksanakan bersama program ESC, diharapkan pertumbuhan kemampuan ekonomi masyarakat akan berlangsung lebih cepat dan merata. Minimal, manfaatnya yang segera nampak adalah penyelamatan warga yang tidak mampu terhadap bahaya kelaparan, penyakit, dan tindak kriminal (mencuri atau merampok misalnya, yang mungkin saja dilakukannya karena terpaksa, untuk memberi makan atau pengobatan bagi keluarganya). Dengan begitu akan tercipta iklim dan budaya tolong-menolong dan persaudaraan sesama warga, dan sesama anak bangsa. Sekalipun program ini berbiaya relatif besar, namun jika ditanggung secara gotong-royong beramai-ramai, akan menjadi relatif ringan. Percayalah bahwa perbuatan baik dan pengorbanan kita yang seperti ini akan membuahkan hasil kebaikan juga kelak, dan yang pasti, inilah saatnya bagi umat yang mengaku beragama—apalagi bertuhan —untuk membuktikan imannya dengan perbuatan yang tepat manfaat. Jangan hanya berbicara tentang agama dan Tuhan, dan juga jangan hanya mendoakan orang yang perlu pertolongan (karena orang lapar tidak akan menjadi kenyang dengan makan doa, bukan?), namun berikanlah uang dan/atau tenaga/keahlian anda untuk tetangga, sesama, tanpa memandang siapa atau apa SARA nya, sekarang!!

92

Karena, jika tidak ada aksi nyata seperti SSC dan atau ESC ini, banyak anggota masyarakat yang akan hidup dalam penderitaan panjang dan dalam, berupa kemiskinan, kelaparan, dan penyakit, termasuk kematian. Belum lagi mudahnya mereka terhasut untuk berbuat jahat, baik individu maupun sebagai kelompok massa, oleh provokator mafia atau politik, yang pada akhirnya memperburuk situasi kondisi makro Indonesia. Sumber dana yang paling bisa didapat dengan cepat adalah pertarna melalui pajak. Petugas pajak harus membudayakan dan mengkomunikasikan kebiasan membayar pajak bagi masyarakat, agar masyarakat paham arti, tujuan, dan manfaat pajak. Pengusaha wajib memotong pajak penghasilan karyawan atas setiap pembayaran, dan memberikan bukti penyetorannya kepada karyawan. Untuk mencegah persekongkolan dan kolusi antara petugas pajak dan pengusaha, maka petugas pajak harus diseleksi, ditata ulang, dan diberdayakan dengan tegas, serta dimonitor perilaku dan kondisi finansialnya. Jika ada indikasi tindak kolusi atau korupsi, maka akan dilakukan Fraud Audit. Jika terbukti, hartanya akan disita, dan pelakunya dipenjara. Masyarakat yang mencurangi pembayaran pajak dan ketahuan, akan didenda berat dan/atau dipenjara. Dengan demikian, sistem itu akan meminimalkan kebocoran akibat kecurangan dan kolusi, serta memperbesar penerimaan negara. Dan setelah itu, jangan lupa untuk mendistribusikan kembali dana itu kepada masyarakat untuk pemerataan pembangunan dan kesejahteraan yang lebih luas dan lebih cepat! Cara kedua adalah dengan mencegah pemborosan anggaran pemerintah terhadap kebocoran: korupsi dan pemborosan. Harus ada badan yang memonitor dan mengontrol efektivitas penggunaan anggaran negara. Jika ada yang melanggar, akan diaudit. Jika terbukti melakukan tindak pidana akan dipenjara, sedangkan bagi yang bodoh sehingga berperilaku boros, akan dipecat. Cara ketiga adalah dengan melakukan law enforcement dan/atau approaching kepada para koruptor yang sekaJipun secara de jure belum terbuktikan, namun secara de facto memang adalah koruptor, terbukti dari kekayaannya yang jauh lebih besar dibandingkan

93

sumber penghasilannya yang realistis. Pergunakan sistem pembuktian terbalik. Dan aparat negara yang terbukti korupsi, jangan hanya dipecat dari jabatannya (enak sekali mereka, sudah kenyang tinggal beristirahat dan menikmati harta hasil jarahan!), melainkan juga harus ditindak secara pidana: hartanya disita, dan dimasukkan ke penjara. Demikian juga bagi perseorangan atau kelompok swasta yang berkolusi dengan pejabat untuk merugikan keuangan negara, hartanya akan disita untuk negara, dan mereka masuk penjara. Jika kita melakukan hal itu, dalam waktu singkat kita akan mempunyai dana yang besar sekali. Dan kedua, untuk selanjutnya kita juga akan mempunyai sumber dana yang tetap besar, karena risiko kebocoran dan pencurian anggaran negara menjadi berkurang, karena orang takut melakukan tindak kolusi ,atau korupsi, karena ada hukumannya, yakni mendekam di penjara. Biaya ekstra yang harus kita keluarkan adalah untuk membangun penjara-penjara lebih banyak untuk menampung para terpidana!

94

Tips #2
Car a Meningfkatkan Kesejanteraan & Proauktivitas Burun

asihan orang kecil di Indonesia. Banyak buruh atau karyawan bawah yang dengan income-nya. tidak niampu memenuhi kebutuhan hidup minimum. Karena itu, kesejahteraan buruh harus diperjuangkan, namun tidak dengan tujuan serta cara politis apalagi anarkis, misalnya dengan menghasut mereka agar mogok kerja, atau menuntut kenaikan upah yang gila-gilaan (tidak masuk akal, serta tidak realistis, karena terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan kemampuan pengusaha), berdemonstrasi apalagi kalau sampai merusak, atau membakar pabrik atau tempat kerja. Itu namanya bukan membantu meningkatkan kesejahteraan kaum buruh, melainkan memperalat kaum buruh untuk menghancurkan perekonomian dan industri nasional. Sebab jika tempat berusaha dirusak atau dihancurkan atau minimal tidak bisa beroperasi, yang hancur adalah banyak pihak. Pertama, kaum buruh dan keluarganya menganggur dan tidak mendapat penghasilan; yang kedua pengusaha usahanya diboikot atau ditutup sehingga pengusaha bangkrut; dan ketiga pemerintah tidak mendapat penghasilan dari pajak PPh pasal 21 maupun PPh pasal 25, bersamaan juga meningkatnya kerawanan sosial akibat membengkaknya pengangguran dan kriminal yang bisa memacu gejolak politik dan penggusuran pemerintahan; dan keempat adalah masyarakat luas, yakni dengan menurunnya daya beli karena lebih

K

95

banyak orang yang menganggur, belum lagi ditambah meningkatnya kriminalitas karena mereka yang menganggur jangan-jangan menjadi penjahat untuk mencari nafkah. Jadi perlu dibedakan dan dicermati aksi yang sering mengatasnamakan pembela kaum buruh, namun akhirnya justru merugikan kaum buruh. Ingat, mereka itu bisa saja individu atau kelompok terorganisir yang mencoba mengail di air keruh, yakni mencari keuntungan diri sendiri atau kelompoknya untuk mencapai tujuan ekonomis, politis, atau ideologis. Jika kaum buruh berontak, jika kondisi sosial politik goncang, maka lebih mudah bagi mereka untuk menghasut massa yang lebih luas untuk melakukan makar, atau mengkritik dan menghujat pemerintah dengan tuduhan tidak becus, dan meminta agar MPR mengganti pemerintah yang dinilai gagal tersebut. Alternatif lain, bisa saja keberpihakan dan penghasutan kepada kaum buruh itu diperluas kepada kaum mayoritas lainnya yaitu kaum tani, dengan menghembuskan isu kesenjangan sosial, kesengsaraan kaum miskin dan kesewenang-wenangan kaum kaya (pertentangan kelas), sehingga akhirnya rakyat kecil termakan hasutan bahwa ideologi Pancasila adalah salah dan bobrok sehingga perlu diganti dengan ideologi lain yang lebih sosialis dan "membela kaum papa", apakah itu? Komunisme! Nah jika itu terjadi, lebih celaka lagi negara kita. Dan metode komunis untuk memanfaatkan kaum buruh itu teorinya gampang, yakni dengan menyusupkan anggotanya di dunia kerja (menyamar kerja sebagai buruh misalnya) agar bisa sering menghasut dan mengancam kaum buruh untuk berdemonstrasi dan menuntut kenaikan gaji yang tidak masuk akal, agar tuntutan itu tidak mungkin dikabulkan sehingga beralasan untuk terus mogok kerja atau merusak fasilitas kerja! Kita semua harus mewaspadai semua aktivitas apa pun yang mengatasnamakan (padahal sebenarnya hanya memanfaatkan) organisasi apa pun, yang membela kaum buruh dengan cara-cara seperti yang saya sebutkan di atas, karena akibatnya jelas, yakni kebangkrutan dunia usaha, dan berarti kebangkrutan nasional!

96

Cara yang benar dalam memperjuangkan kesejahteraan kaum buruh ialah dengan cara yang strategis, komprehensif, terpadu dan simultan. Ada tiga langkah sekaligus yang harus ditempuh: 1. Menyusun serta mensosialisasikan kepada pihak pengusaha maupun buruh, sistem pengupahan yang meritokratis, yang mencakup azas manfaat yang berkeadilan, yakni bahwa buruh harus dibayar dengan upah tetap (fix wages yang standar, misalnya sekian ribu rupiah per jam atau per hari) yang minimal cukup untuk membayar kebutuhan hidup normal (artinya bisa membeli barang kebutuhan pokoknya), untuk upaya dan hasil kerjanya yang normal atau standar (misalnya per jam atau per hari untuk produktivitas/W^wf X unit) dan sistem insentif atau merit atau bonus yang dibayarkan jika pekerja memberikan produktivitas/ output di atas standard yang diperlukan (misalnya, setiap kelebihan dari X unit bonusnya adalah Y Rupiah). Sebaliknya, jika pekerja hanya mampu memproduksi di bawah produktivitas/0z^«£ standar, akan segera dievaluasi dan dipertanyakan, apakah ketidakmampuan itu bersifat teknis (tidak bisa bekerja karena kurang terampil) atau bersifat psikologis (tidak mau bekerja, karena malas atau idiot). Jika karena ketidakmampuan teknis, maka pihak perusahaan wajib memberikan pelatihan dan bimbingan agar semua pekerjanya mampu melaksanakan tugasnya secara teknis. Dan jika karena hambatan psikologis, pekerja tersebut harus dinasihati dan dimotivasi agar tidak melakukan hal seperti itu karena merugikan perusahaan dan dirinya sendiri, serta diminta untuk menandatangani surat pernyataan bersedia memperbaiki sikap. Jika pekerja tersebut tetap tidak mau kooperatif dan konstruktif setelah dinasihati dan ditegur tiga kali, maka tidak ada pilihan lain, pekerja semacam itu harus segera dipecat, untuk mencegah penyebaran Virus' kepada pekerja lain. Dengan cara ini, pekerja dimotivasi dan dididik untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan profesional karena mengandung pesan: Jika tetap ingin mendapat upah, ia harus bekerja dengan baik dan benar. Jika ingin mendapat upah lebih besar dan lebih cepat agar lebih sejahtera dibandingkan

97

dengan rekan buruh lain, ia harus berproduksi melebihi kinerja rata-rata (dengan kata lain, berapa penghasilan yang diinginkan tergantung juga dari berapa output yang bisa dihasilkan). Dan jika tidak bisa mencapai target kinerja standar seperti yang disepakati, ya harus tahu diri: jika tidak bisa dibina (melalui pelatihan dan motivasi), maka akan "di-bina-sakan"! (PHK). Sebab jika tidak menggunakan sistem merit, tidak akan pernah ada jalan keluar terhadap problematik kaum buruh dengan pengusaha. Jika pengusaha ditekan untuk membayar upah yang lebih tinggi kepada buruh, tanpa disertai peningkatan produktivitas, tentunya hal itu akan melemahkan daya saing produk pengusaha tersebut, di samping memperlemah kondisi keuangan perusahaan yang dibebani biaya ekstra tanpa ada output ekstra. RRC, India, dan Pakistan misalnya, bisa menjual produk yang lebih bagus dengan harga lebih rnurah karena menggunakan keunggulan biaya buruh yang juga murah, sehingga ujung dari upaya menekan pengusaha dengan cara itu bisa membahayakan eksistensi dunia usaha nasional kita. Namun jika kaum buruh kita hanya dieksploitasi saja tenaganya dengan upah murah dengan alasan agar produk kita bisa berdaya saing di kancah bisnis internasional, itu pun sangat tidak adil. Memangnya buruh kita itu budak? Atau kaum jajahan yang boleh diperah seperti lembu? Itu tidak boleh! Sebab masih ada saja pengusaha yang bermental penjajah, rakus, dan kebinatangan, yang bisnisnnya untung besar karena menindas pekerjanya. Mereka hidup mewah sedangkan pekerjanya melarat. 2. Meminta kepada pihak perusahaan agar selalu menyediakan fasilitas dan atau program pelatihan agar setiap pekerja dibekali keterampilan yang memadai untuk menjalankan tugasnya dengan baik dan benar. Bersamaan dengan itu meminta pengusaha agar melaksanakan sistem merit. Yang tidak kalah pentingnya adalah membina hubungan dan komunikasi yang baik dengan para pekerjanya, agar terjalin hubungan yang mesra dan akrab bahwa pengusaha dan pekerja adalah keluarga besar yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Pimpinan perusahaan harus

98

secara berkala bertemu dengan para pekerjanya, baik formal maupun informal. Bahkan jika mungkin adakanlah acara ramah tamah seperti makan siang bersama, atau rekreasi bersama. Sekalipun perusahaan akan mengeluarkan biaya ekstra, namun manfaatnya jauh lebih besar, karena hal itu bukan hanya akan menumbuhkan sense of belonging pekerja terhadap perusahaan, melainkan juga suasana kekeluargaan. Hal itu akan mencegah atau mengurangi gesekan atau konflik yang tidak perlu, baik karena kesalahpahaman internal maupun hasutan pihak luar. Meminta kepada DPR dan pemerintah agar menyusun sistem pengupahan yang meritokratis agar buruh tidak diperah oleh pengusaha yang tidak manusiawi, sekaligus mencegah buruh diperalat oleh individu maupun kelompok atau organisasi tertentu yang mengatasnamakan buruh untuk melakukan aksi mogok atau pengrusakan fasilitas kerja.

99

Tips #3
Sistem Kompensasi Meritokratis

S

ebisanya, untuk memastikan produktivitas karyawan secara berkesinambungan, janganlah mendasarkan pembayaran pada gaji pokok yang besar, melainkan take-home-pay yang besar, artinya, gaji pokok adalah minimal, ditambah dengan tunjangan harian untuk transportasi dan makan, ditambah dengan tunjangan produktivitas, dan ditambah dengan tunjangan prestasi, sehingga jika semua faktor terpenuhi, take-home-pay karyawan bersangkutan akan jauh lebih besar dibandingkan dengan sistem gaji tetap dan atau dari sistem kompensasi industri sejenis lainnya. Tujuan sistem kompensasi di atas ada dua, yakni mencegah kerugian perusahaan akibat rendahnya produktivitas, baik akibat kinerja sehari-hari yang marginal (malas, lamban, sering salah, dan Iain-lain) atau dari praktek absentism (mangkir karena alasan sepele, terlambat datang kantor, pulang sebelum jam kantor, dan sebagainya). Sebab, menurut pengalaman, sifat dan perilaku kebanyakan karyawan (segala level, namun yang terbanyak adalah level bawah), jika mereka telah merasa secure (mempunyai penghasilan minimal yang cukup dan tidak terganggu gugat oleh kinerja) maka cenderung melakukan dua hal: pertama, produktivitasnya sangat minimal, baik karena bekerja kurang serius, atau bekerja kurang dari jam kerja (baik karena lamban, malas, atau mangkir). Dalam pikiran mereka, hidup anggapan bahwa dengan bekerja santai pun penghasilan mereka tidak berkurang, dan sekalipun bekerja lebih keras pun penghasilan tidak bertambah. Kedua, jika perusahaan meminta/menuntut agar
100

produktivitas mereka ditingkatkan, mereka mulai berdalih dan balik menuntut bahwa penghasilan Rp.lOOX seperti yang mereka terima sekarang adalah untuk output 10X, jadi kalau perusahaan meminta output mereka menjadi 13X, sudah sewajarnya jika penghasilan mereka pun di-naikkan menjadi Rp.l20X, misalnya. Itulah praktek yang sering kita lihat di dunia bisnis yang menjengkelkan. Jika pihak perusahaan tetap menuntut produktivitas tanpa memperdulikan permintaan karyawan model di atas (mungkin ditambah dengan ancaman PHK bagi yang menolak), maka akan terjadi friksi, yang jika diprovokasi bisa menimbulkan aksi demo, mogok kerja, bahkan tindakan anarkis. Sebaliknya, jika tuntutan karyawan di atas dipenuhi—penghasilan tetapnya dinaikkan dengan harapan produktivitasnya juga naik— hal semacam itu hanya akan berlangsung sementara. Pada waktu penghasilan mereka naik, mereka bergairah untuk bekerja lebih keras dan berproduksi lebih banyak, namun jika "euphoria" tersebut selesai, dan mereka telah merasa "normal" kembali, maka kenaikkan penghasilan yang telah mereka terima tidak lagi menjadi motivator produktivitas, melainkan hal wajar yang menjadi hak mereka (tanpa mengingat tanggung jawab yang melekat pada hak tersebut); demikianlah seterusnya. Sedangkan dengan menggunakan sistem kompensasi meritokratis, perusahaan bukan hanya merangsang motivasi untuk berprestasi, melainkan juga menyangga tingkat produktivitas ke level yang diharapkan, dengan uang dan sistem penghargaan sebagai motivatornya. Dengan pengeluaran nilai uang yang sama, perusahaan akan mendapatkan produktivitas yang lebih tinggi, dibandingkan dengan sistem fixed income. Dan dengan penambahan pengeluaran variabel, perusahaan akan dengan segera dan pasti, mendapatkan tambahan produktivitas variabel dari pekerjanya. Contoh: Jika contoh sebelumnya pekerja mendapat penghasilan tetap Rp. 1OOX dengan output 1 OX, maka dengan sistem kompensasi meritokratis, metodenya adalah sebagai berikut: Gaji tetap/pokok adalah Rp.60,Tunjangan harian (makan, transportasi) adalah Rp.20,101

Tunjangan produktivitas adalah Rp.20,- (jika mencapai target output 10X) Tunjangan prestasi adalah Rp.5,- atas setiap penambahan IX output, (dengan asumsi bahwa output ideal maksinial per pekerja adalah 16X) Maka jika kita kalkulasi, total biaya yang perusahaan akan dikeluarkan untuk output per pekerja 16X adalah Rp.130,-. Sedangkan jika pekerja tidak meningkatkan output-nya. dari target standar, perusahaan membayar Rp.100,- untuk output 10X. Manfaat utama lainnya ialah bahwa jika pekerja menurunkan produktivitasnya, misalnya dari 16X menjadi 12X, maka secara logis dan otomatis, take-home-pay-nya. juga menurun, dari Rp.130,- menjadi Rp.110,-. Jika pekerja mengeluh, tinggal diingatkan, "Jangan mengeluh kepada perusahaan, tapi beritahu dirimu sendiri, agar tetap perform?' Bahkan jika pekerja mangkir (tidak masuk kerja tanpa alasan apa pun), maka tunjangan harian tidak perlu dibayarkan, karena tunjangan itu dibayarkan berdasarkan bukti kehadiran (mesin absensi plus paraf atasan. Jangan hanya mengandalkan mesin absensi, karena bisa dilakukan oleh rekan kerjanya). Coba bandingkan dengan sistem sebelumnya, yang tetap membayar pekerja Rp.100,- untuk kinerja yang tidak menentu, baik kepada pekerja rajin maupun malas. Atau yang membayar Rp.120,- untuk janji peningkatan produktivitas 13X, yang sulit bisa berlangsung lama atau konsisten, karena tergantung kepada motivasi pekerja. Sebagai tambahan upaya untuk memelihara suasana kerja yang motivational, sebaiknya pimpinan perusahaan rnemberlakukan sistem evaluasi kinerja dan memberikan extra reward bagi pekerja yang memberikan kontribusi ekstra. Misalnya dibuatkan kotak saran, agar bagi pekerja yang mempunyai ide untuk meningkatkan produktivitas (baik kinerja individu maupun kelompok), baik mencegah kesalahan, meningkatkan efisiensi, mengurangi pemborosan (waktu, tenaga, material) atau ide baru lainnya, perusahaan akan memberikan penghargaan, baik berupa piagam penghargaan maupun dengan pemberian
102

uang (bisa mulai Rp 50.000,- sampai sekian juta rupiah, tergantung manfaat ide). Hal di atas dimaksudkan untuk memastikan agar terjadi continuous improvement dan continuous innovation di dalam perusahaan secara pragmatis, yang akan meningkatkan daya saing dan profitabilitas bisnis. Penghargaan itu akan diberikan langsung oleh pimpinan perusahaan setiap kwartal atau setiap semester sekali (namun jangan setahun sekali, karena terlalu lama. Bagaimana mungkin pekerja bisa akrab dan merasa at home jika melihat pimpinannya setahun sekali?). Andaikan perusahaan mempunyai pekerja yang banyak dan terbagi menjadi 3 shift, pimpinan perusahaan itu juga sebaiknya melakukan acara itu di ketiga shift. Jika perusahaan mempunyai keuntungan yang bagus, idealnya acara temu wicara itu juga disertai dengan acara makan bersama (pemberian nasi bungkus). Ingat, sekalipun perusahaan mengeluarkan biaya ekstra, namun manfaat yang akan diterima jauh lebih besar dibandingkan dengan pengorbanannya. Pertama, para pekerja akan merasa senang dan bangga karena diperhatikan dan "dianggap" oleh pimpinan perusahaannya, sehingga bisa menumbuhkan sense of belonging. Kedua, bagi pekerja yang penghasilannya hanya cukup untuk hidup, mendapatkan makan siang gratis mempunyai kesenangan tersendiri, apalagi diberikan oleh pimpinan perusahaannya. Ketiga, jika ada pemberian penghargaan di tengah massa oleh pimpinan perusahaan, itu adalah hal yang sangat membanggakan bagi yang menerimanya, sehingga merangsang pekerja lain agar di lain hari juga bisa memperolehnya juga. Keempat, tatap muka dan komunikasi antar-pimpinan perusahaan dan karyawan semacam itu bisa memperakrab hubungan dan mencegah miscommunication, sehingga menghindari provokator yang bisa menghasut pekerja untuk demo atau mogok kerja. Pertimbangkanlah, hanya dengan menyisihkan waktu 30 menit sampai 60 menit waktu makan, sekali dalam satu kwartal atau sesemester, perusahaan (pimpinan maupun pekerja) akan mendapatkan manfaat yang sedemikian besar. Tetapi, bila anda seorang karyawan, cara termudah dan terbenar untuk menjadi kaya adalah dengan menjadi pengusaha, bukan
103

menjadi karyawan. Bagaimanapun tinggi dan hebatnya posisi karyawan, tetap ia adalah pemakan gaji, yang tentu penghasilannya kalah besar dengan bosnya.

104

Tips #4
Demokrasi Tanpa Kesadaran Hukum = Anarki

arena penegakan demokrasi dan Hak Asasi Manusia (human right) berjalan seiring, sebenarnya, Indonesia masih belum waktunya menerapkan sistem demokrasi dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, karena tiga hal: 1. Pertama, banyak orang yang belum paham tentang makna dan implementasi demokrasi, dan bahkan terkesan salah paham terhadap artinya. Mereka pikir, arti demokrasi adalah bebas melakukan apa saja—baik berbicara maupun beraksi—sekalipun melanggar kebebasan orang lain, baik moril maupun materiil 2. Kedua, Indonesia belum mempunyai perangkat dan penegakan hukum yang memadai untuk melaksanakan demokrasi, termasuk di dalamnya melindungi siapa saja yang haknya dilanggar, dan menghukum siapa saja yang melanggar, tanpa pandang bulu. Biasanya hukum Indonesia masih bersifat pilih kasih dan pilih bulu. Kalau yang melanggar adalah orang atau kelompok kuat, mayoritas, atau berkuasa, maka hukum berdalih untuk tidak menghukumnya; apalagi jika yang dilanggar adalah orang atau kelompok lemah, minoritas, atau yang bisa dijadikan "kambing hitam", maka hukum "tutup mata" seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun; andaikan kasusnya telah menjadi sedemikian mencolok dan men-

K

105

jadi sorotan publik—khususnya masyarakat internasional—maka dicarilah cara agar terkesan ada tindakan hukum, sekalipun prosesnya mengambang sampai kemudian terlupakan. 3. Indonesia adalah negara agamis. Sekalipun bukan negara agama, namun dalam praktek, isu agama sangat kental dalam kehidupan sehari-hari, yang mempengaruhi perilaku politik maupun ekonomi. Sayangnya, filosofi fundamental dari azas demokrasi dan agama sangat bertentangan. Demokrasi mempropagandakan kebebasan berpikir, berpendapat dan independensi individu, tanpa sanksi atau kutukan apa pun terhadap individu yang berani tampil beda, termasuk memilih untuk tidak beragama atau tidak bertuhan, selama tidak mengganggu orang lain. Dengan kata lain, individu berkuasa atas filosofi, atau rakyat berkuasa atas negara. Sedangkan agama lebih menekankan ketaatan dan keterikatan kepada norma kepercayaan yang dianut dan kepada pemimpin spiritualnya, serta terkesan memberangus kemerdekaan individu ke dalam kebijakan dan kepercayaan kolektif, dengan ancaman dan kutukan bagi pengikut yang membangkang, atau menyimpangkan dogma dan doktrin, apalagi murtad. Dengan kata lain, individu dikuasai oleh filosofi, dan pemimpin adalah penguasa umat. Menurut pengamatan saya, demokrasi dan agama seperti air dengan minyak, ti-dak akan bisa menyatu, kecuali dilakukan modifikasi, seperti yang akan saya sarankan di bawah ini. Karena masyarakat kita—termasuk beberapa tokoh masyarakat yang menjadi public figure—belum paham dan belum terbiasa berdemokrasi, itulah sebabnya perilakunya nampak seperti aji mumpungan, seperti misalnya mengutarakan pernyataan yang bersifat menghasut (provokatif) dalam pertemuan massa ataupun wawancara pers, atau melecehkan pemimpin bangsa dengan menjulukinya sebagai badut. Kalau jaman presiden Soeharto dulu, jangankan menghina dan memfitnah presiden di tanah air, berani mengatakan "diktator" saja di luar negeri, orang itu bisa masuk penjara, karena dinilai kurang ajar dan membahayakan! Namun di zaman yang katanya re-

106

formasi atau demokrasi ini, tindakan seperti itu nampaknya halal saja. Harus diingat bahwa pernyataan saya di atas amat situasional, terikat oleh kondisi konkret masyarakat kita. Artinya, pandangan ini akan saya revisi bila kondisi masyarakat kita berubah. Dan menurut saya, sebelum proses demokrasi digulirkan terus, perangkat hukum dan law enforcement harus diberdayakan terlebih dahulu, kemudian masyarakat dididik tentang apa dan bagaimana seharusnya berdemokrasi itu. Apa yang boleh dan patut, serta apa yang tidak boleh dan melanggar hukum. Beritahu juga apa sanksinya jika ada orang yang karena kebebasannya telah melanggar kebebasan orang lain, yakni: dituntut secara hukum, dengan konsekuensi membayar denda atau masuk bui! Saya beri contoh kasus nyata tentang apa yang saya maksud: Pada hari Rabu, 2 Februari 2000 di TV3 New Zealand ditayangkan acara "Airport" yang menggambarkan aktivitas faktual badara Heathrow London. Dalam suatu antrean di check-in counter, ada seorang pria Iran yang karena kesal atau sedang bad-moodberkata, "Shit" kepada pengantre di belakangnya seorang wanita kulit putih. Wanita itu berkata kepada pria Iran itu, "You insulted me!" dan kemudian pergi mencari polisi bandara serta menceritakan kejadian tersebut. Segera setelah itu polisi bandara itu menghampiri pria Iran yang tetap sedang mengantre dan berkata, "Saya mendapat laporan bahwa anda telah menghina wanita ini, boleh lihat paspor anda?" Terlihat di layar televisi bahwa pria itu sangat kesal dan menendang-nendang kopernya sambil mengeluarkan perkataan dengan bahasa yang tidak dimengerti. Polisi itu berkata kepada pria Iran itu, "Jagalah perilaku anda. Jangan sampai saya pun menuntut anda telah menghina saya!" Akhirnya pria Iran dan wanita yang menggugatnya berurusan dengan hukum. Jika kasus itu diteruskan ke pengadilan, pria Iran itu bisa dikenakan denda atau hukuman penjara maksimal dua tahun, hanya karena telah berkata, "Shid" Itulah salah satu contoh implementasi kehidupan dalam negara dan masyarakat yang demokratis.

107

Jadi, jika ada orang atau sekelompok orang yang mengorganisir pertemuan massa, apakah untuk memprotes kebijakan ataupun peristiwa tertentu, itu sah-sah saja, selama esensi aksi itu mempunyai landasan hukum yang benar dan kuat, serta dilaksanakan secara tertib dan tidak mengganggu orang lain. Namun jika orasi ataupun protes tersebut tidak berdasar, hal itu bisa dikategorikan sebagai tindakan memfitnah atau menghasut, sehingga pelakunya dapat dituntut secara hukum. Bahkan jika ternyata aksi demonstrasi massa tersebut menimbulkan ekses negatif, misalnya perkelahian massal, tindak kriminal seperti pembakaran dan atau penjarahan harta milik orang lain, maka bukan hanya pelakunya yang akan diseret ke pengadilan, melainkan juga organisernya akan dituntut pertanggungjawabannya dengan biaya ganti rugi dan atau masuk penjara! Dengan cara ini, setiap orang yang hendak mengerahkan massa untuk menyampaikan aspirasinya akan berpikir tiga kali sebelum bertindak, sebab dia/mereka harus memperhitungkan risikonya, dan tentunya tidak lagi bisa mengkambinghitamkan provokator atau pihak ketiga, dan sebagainya, untuk berdalih dan melepas tanggung jawab. Nah, agar tidak ada seorang pun yang salah kaprah terhadap arti demokrasi, maka ada baiknya jika saya sampaikan esensinya secara mudah. Menurut kamus, demokrasi artinya, "pemerintahan oleh rakyat, di mana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat atau perwakilan yang dipilih dengan sistem bebas. " Kalau menurut Abraham Lincoln, demokrasi adalah pemerintahan "of the people, by the people, and for the people." Demokrasi adalah juga kebebasan yang diinstitusionalisasikan, yang bercirikan, pemerintahan yang konstitusional, hak asasi manusia, dan persamaan di hadapan hukum. Dalam masyarakat yang demokratis, peranan mayoritas harus disertai garansi atas hak asasi individual, serta perlindungan hak minoritas—entah etnis, agama, atau politik. Hak kaum minoritas tidak tergantung pada itikad baik mayoritas, serta tidak bisa dieliminasi oleh voting mayoritas. Hak minoritas diproteksi karena hukum de108

mokratik dan institusi memang melindungi hak-hak semua warga negara. Freedom of speech and expression adalah seperti aliran darah bagi demokrasi. Untuk berdebat dan memilih, untuk berserikat dan memprotes, untuk menjamin keadilan bagi semua, harus dapat mengalir lancar tanpa hambatan apa pun. Jadi penekanannya ialah kebebasan dan hak untuk berkumpul, memprotes dan menuntut perubahan, yang semuanya dilakukan secara damai. Dan pemerintahan demokratis tidak boleh melarang hal itu; maksimum hanya mengatur agar hal itu terjadi secara tertib dan damai, agar tidak mengganggu kepentingan orang lain. Freedom of religion, artinya, tidak ada seorang pun yang boleh diharuskan untuk mengakui agama atau kepercayaan apa pun jika tidak sesuai keinginannya. Dan tidak ada seorang pun yang boleh dihukum dengan cara apa pun oleh sebab pilihannya atas sesuatu agama, atau jika ia memilih untuk tidak beragama. Negara yang demokratis menyadari bahwa hal kepercayaan atau agama adalah masalah pribadi individual. Jadi negara atau siapa pun juga tidak boleh menyuruh seseorang untuk percaya kepada sesuatu agama, atau untuk berdoa, jika hal itu bukan merupakan keinginannya pribadi; termasuk di dalamnya, anak-anak pun tidak boleh dipaksa untuk bersekolah di suatu sekolah agama tertentu. The right to equality before the law, atau equal protection of the law juga merupakan fundamental dalam negara yang adil dan demokratis. Apakah si kaya atau si miskin, etnis mayoritas atau agama minoritas, sekutu politik atau oposan, semuanya mendapat hak proteksi yang sama di hadapan hukum. Tidak ada seorang pun yang superior terhadap hukum. Warga negara yang demokratis tunduk kepada hukum, karena mereka menyadari bahwa bagaimanapun juga secara tidak langsung merekalah yang membuat hukum. Sesungguhnya, jika menilik makna dan praktek demokrasi, yang kita perlukan sebenarnya adalah "Demokrasi Terpimpin", atau "Demokrasi Pancasila", dan bukan demokrasi ala Amerika. Maaf, konsep-konsep itu terkesan sumbang karena praktek yang sebenarnya jauh dari esensi cita-cita, tetapi sebenarnya konsep itu memiliki
109

muatan yang memang bagus dan perlu. Perlu diingat bahwa Indonesia bukanlah Amerika. Dari banyak aspek kita nyaris berbeda total dengan mereka. Indonesia baru merdeka setengah abad lebih sedikit, sedangkan Amerika sudah berdiri lebih dari dua abad. Dulu pun Amerika tidak demokratis, bahkan sangat diskriminatif rasialis. Lagipula, apa bagusnya demokrasi jika akhirnya menjurus kepada kebebasan amoralis? Lihatlah negara-negara Barat yang katanya menjunjung tinggi demokrasi, bagaimana kehidupan masyarakatnya? Dingin, individualistik, free-sex, perpecahan keluarga, drugs, dan "nyaris tidak bertuhan"! Apakah kita mau seperti mereka? Dengan Demokrasi Pancasila artinya, kita bebas untuk menjadi apa saja, dan atau melakukan apa saja, selama di dalam konteks berkepribadian pancasilais. Sebagai contoh, siapa pun bebas untuk mempercayai apa saja, selama di dalam konteks ketuhanan; jadi tidak boleh menjadi atheis, atau amoralis. Di banyak negara Barat yang katanya demokratis, orang boleh percaya Tuhan boleh tidak, bahkan boleh percaya dan menyembah setan. Orang boleh free-sex dengan lawan jenis maupun sesama jenis, dan bahkan perkawinan sesama jenis dilegalkan. Jika anda berpikir bahwa Demokrasi Pancasila adalah seperti yang diterapkan oleh Orde Baru, itu keliru besar. Orba memang mengkampanyekan Demokrasi dan Pancasila, namun hanya sebatas slogan dan penataran, dan sama sekali tidak sampai tindakan praktis, apalagi teladan dari "atas". Sedangkan yang saya maksud dengan Demokrasi Pancasila adalah memang benar-benar negara dan masyarakat yang berlandaskan sistem demokrasi—yakni yang menghargai hak dan kebebasan individu serta supremasi hukum—namun dalam konteks Pancasila. Artinya, demokrasi itu harus mengacu kepada lima sila, yakni: 1. Harus "Berketuhanan yang Maha Esa"; tidak boleh atheis, apalagi penyembah setan; sebab jika Tuhan tidak diindahkan, dari mana lagi moral bisa dipertahankan? Akibatnya akan gamblang, spiritualisme dan hedonisme pasti akan merajalela, dan itu akan merusak budaya kita sebagai orang Indonesia dan orang Timur.
110

Harap diingat, beberapa pemikir dan pencetus demokrasi dan human right itu adalah secular humanist, existentialist, yang tidak percaya agama dan tidak perduli Tuhan. 2. Harus "Berperikemanusiaan yang adil dan beradab"; jadi tidak boleh ada tindakan sewenang-wenang seperti hukum rimba, siapa kuat dia menang. Jika ada yang bersalah, proses hukumlah yang akan memutuskan status dan hukumannya. Perlu kita renungkan dan ambil hikmahnya, bahwa sejak tragedi medio Mei 1998, bangsa kita yang terkenal ramah, sopan dan toleran, telah mendapat cercaan—baik dari dalam negeri maupun luar negeri—sebagai bangsa yang biadab, yang masyarakatnya seolah-olah "berdarah dingin", yang mampu menjarah dan membakar harta orang lain, bahkan sesamanya, sambil tertawa riang, yang mampu menganiaya; bahkan memperkosa massal orang yang tidak relevan bersalah, dengan suka cita (semua kebiadaban itu terdokumentasi dan ditayangkan di media cetak maupun elektronik internasional). Itu bukanlah kemanusiaan yang adil apalagi beradab! 3. Harus "Persatuan Indonesia"; kita perlu mewaspadai siapa pun juga—baik pihak-pihak dari luar negeri maupun tokoh-tokoh masyarakat kita—yang berniat untuk menghancurkan bangsa kita dengan alasan apa pun, termasuk demokrasi atau reformasi atau federalisme. Jangan terjebak dengan isu demokrasi sehingga kita meniru Uni Soviet, dari negara adidaya menjadi negara miskin babak belur terpecah belah. Demokrasi memperbolehkan warga menuntut hak atau memprotes apa saja, selama dalam konteks persatuan Indonesia, sehingga ide untuk meminta opsi merdeka dari negara kesatuan RI harus dilarang. Jika membandel, harus ditindak tegas dan diperlakukan sebagai pemberontak! Dalam hal ini, jangan takut terhadap pihak mana pun, sebab jika ada negara asing—Amerika sekalipun—yang mengecam tindakan represif menentang pemberontak, telah mengintervensi urusan dalam negeri negara lain, dan mereka salah. Apalagi jika yang memprotes adalah oknum DPR/MPR kita sendiri, maka orang yang memprotes itu bisa disebut pengkhianat bangsa, dan bukan warga negara Indo111

nesia yang baik. Jadi demi nama rakyat Indonesia, orang itu harus diberhentikan sebagai wakil rakyat. 4. Harus "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan"; sebagai mana halnya dalam negara demokratis, wakil rakyat dipilih oleh rakyat. Jadi tidak ada yang boleh menjadi wakil rakyat tanpa dipilih oleh rakyat (diangkat misalnya); dan sesuai namanya, wakil rakyat, anggota DPR/MPR harus berperilaku sebagaimana rakyat yang diwakilinya—jadi jangan tunduknya kepada pimpinan partai atau atasan—agar jika masyarakat mempunyai aspirasi ataupun keluhan dapat disampaikan kepada wakilnya di DPR. Sebab jika DPR mandul, akan tinibul "Parlemen Jalanan", yang seharusnya membuat DPR/ MPR malu, karena telah terjadi distorsi antara rakyat dan "wakilnya". Penting diingat bahwa DPR/MPR harus memimpin dengan hikmat kebijaksanaan. Jadi bukan "asbun" (asal bunyi) atau "asal" (asal vokal) atau "asin" (asal interupsi), yang mengindikasikan kurang hikmat. Pada jaman orba wakil rakyatnya terlalu sunyi karena hanya bisa mengangguk-angguk tanda setuju dan mengantuk, namun pada jaman reformasi terlalu nyaring seperti ayam jago, dan mudah tersinggung. Seharusnya sebelum berbunyi, dipikirkan dulu benar tidaknya, relevan tidaknya, dan untung ruginya, serta hikmat bijaksana atau tidaknya. Berhikmat juga berarti tidak usil, tidak diskriminatif, tidak berlagak terhormat, dan tentunya tidak arogan; yang paling penting, sebagai wakil rakyat, janganlah mempunyai kebencian atau sentimen terhadap rakyatnya sendiri, misalnya kelompok minoritas tertentu yang berbeda suku, agama, ras, atau golongan politiknya. Berhikmat juga berarti bisa berbeda dalam persamaan, dan bersama dalam perbedaan, karena, manusia dan kehidupan bermasyarakat itu bukan produk seragam kodian hasil konveksi. 5. Harus "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Adil artinya tidak berat sebelah, seperti neraca adalah seimbang. Jadi pemerintah harus memperhatikan dan membantu bukan hanya orang besar namun juga orang kecil, bukan hanya orang kota, namun juga orang desa, bukan hanya pria namun juga wanita, bukan
112

hanya orang tua namun juga orang muda, bukan hanya sekutu politik namun juga oposan, bukan hanya yang seagama namun juga yang beragama lain, bukan hanya yang sesuku namun juga dari suku lain. Demikian juga sebaliknya, jika ada yang bersalah dan perlu dihukum, tidak ada lagi diskriminasi atau pilih kasih. Kaya atau miskin, kawan atau lawan, jika bersalah harus dihukum, dan jika benar harus dibela. Tidak ada lagi yang bisa membeli keadilan dengan uang atau tekanan kekuasaan. Itulah artinya berkeadilan sosial, dan itulah salah satu praktek demokrasi; dan kita, Indonesia, masih sangat jauuuuuuuhh sekali dari keadilan sosial semacam itu (kecuali jalan Keadilan, memang dekat dengan jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada di Jakarta Kota), karena kita masih "memandang muka penguasa" dan "memandang uang". Saya curiga bahwa peranan Amerika terhadap demokratisasi global sangat kuat. Dengan berbagai macam cara—halus atau kasar, misalnya dengan propaganda, memanfaatkan PBB dan atau dikaitkan dengan dana pinjaman dan/atau hibah—Amerika menginginkan demokrasi menjadi sistem yang dianut oleh negara-negara yang bisa dipengaruhinya. Padahal, jika tidak hati-hati (tergesa-gesa tanpa mempersiapkan infrastrukturnya) mengubah ideologi lama (otoriter atau komunisme misalnya) menjadi demokratis, bisa berbahaya. Rakyat yang sudah lama hidup dalam kekangan dan tekanan bisa meledak liar dan brutal jika dibiarkan bebas tanpa kendali, dan akhirnya bisa menghancurkan negara bersangkutan. Uni Soviet adalah contoh yang paling dramatis. Indonesia juga mempunyai contoh yang tidak kalah seramnya. Coba simak, sejak isu demokrasi (yang diistilahkan reformasi total) digulirkan, negara kita tidak berhenti-hentinya dilanda dengan keresahan sosial dan krisis (ekonomi, sosial, politik) yang berkepanjangan. Demonstrasi, orasi yang semarak dengan kata-kata hujatan dan hasutan hampir setiap hari terjadi. Orang dengan mudahnya membentuk kelompokkelompok atau organisasi-organisasi (informal, politik ataupun LSM) dengan nama yang seram dengan atribut berbau SARA, yang kapan saja bisa "ditunggangi" kelompoknya untuk unjuk rasa atau
113

memprotes siapa saja yang tidak disukainya, atau yang dipesan oleh orang tertentu untuk melakukan demo. Bahkan pertemuan massa merupakan event yang rawan tindak anarki. Jika suatu negara terus-menerus diteror dengan berbagai aksi unjuk rasa dan pernyataan-pernyataan politik yang mengiriskan hati, bagaimana ekonomi bisa cepat pulih? Bagaimana orang mau datang ke Indonesia dan berinvestasi? Bagaimana masyarakat bisa hidup tenang, damai dan beraktivitas? Jika semua orang mengurung diri di rumah—dan dananya diparkir di luar negeri—karena takut isu kerusuhan dan/atau penjarahan, bagaimana bisnis bisa berjalan baik? Jika tidak ada bisnis, ekonomi akan macet, karyawan di-PHK, pengangguran meningkat, tindak kriminal meningkat, rasa aman hilang. Ujungnya adalah kehancuran negara. Para pemimpin negara Cina mahfum betul akan risiko itu, sehingga sekalipun ditekan oleh Amerika agar lebih demokratis dan lebih meningkatkan HAM, Cina bersikeras untuk menjalankan negaranya dengan caranya sendiri. Cina bisa dan berani bertindak seperti itu, karena Cina bangsa yang besar dengan ekonomi dan militer yang kuat. Amerika atau negara mana pun juga akan berpikir tigapuluh kali untuk "mengusik naga tidur". Indonesia pun sebenarnya bisa bertindak tegas dan mandiri terhadap tekanan negara asing, dengan syarat... jangan mengemis utang! Jadilah negara yang berkarakter, kuat, dan punya keunggulan kompetitif global. Dengan modal kekayaan alam dan populasi penduduk keempat terbesar di dunia, kepemimpinan yang benefisial, serta dukungan seluruh rakyat Indonesia, kita bisa menjadi negara hebat!! Di bawah ini saya sampaikan kutipan artikel yang banyak diberitakan media massa pada tanggal 31 Januari 2000:

114

Cina: AS Jangan Coba-Coba Dukung Resolusi And Cina
BEIJING — Cina memperingatkan Amerika Serikat agar negara adidaya ini tidak coba-coba mendukung resolusi bak asasi manusia (ELAM) di Komisi HAM PBB di Jenewa. Menurut wakil Menlu Wang Guangya, dialog bilateral HAM akan merigalami kemunduran serius jika AS mendukung resolusi HAM yang mengecam pelaksanaan HAM di Cina. Resolusi ini rencananya bakal diajukan ke Komisi HAM PBB Maret 2000. "Sebuab dialog mengenai HAM antara Cina dan AS tidak akan mungkin jika tidak ada langkab konkret yang diambil oleb AS untuk menekan efek yang merugikan atas resolusi anti-Cina tersebut," tutur Wang dikutip barian resmi Cina, Cbina Daily. Menurut Wang, rencana AS untuk "mengecam" HAM Cina tidak berdasarkan kebenaran. Pasalnya, kata Wang, "Cina kini berada pada situasi HAM yang terbaik dalani sejarab." "Warga Cina telab memiliki kebidupan bak sosial, ekonomi, dan budaya yang lebib baik," ujarnya. Wang menuding "pasukan anti-Cina" di AS menggunakan HAM sebagai alasan untuk merusak stabilitas politik dan pembangunan Cina. "Konrrontasi tidak akan menyelesaikan masalab apa pun," ujar Wang sambil melanjutkan, "Sebarusnya tak satu pun coba-coba menjadi guru bagi yang lainnya. "Perbedaan antara negara maju dan negara berkembang mengenai HAM sebarusnya tidak menjadi pengbalang bagi perkembangan bubungan mereka, tidak juga menjadi alat untuk mencampuri urusan dalam negeri pibak lain," tegasnya. Wang kemudian meriunjuk pada contob kasus di AS, babwa Kongres AS masib belum meratirikasi Perjanjian Internasional atas Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Kongres AS babkan memerlukan waktu bertabuntabun sebelum meratirikasi Perjanjian Hak Sipil dan Politik. Wang menuding AS menetapkan standar ganda — menggunakan pasukan militer untuk sekte pemujaan Brancb Davidian namun mengkritik aksi Cina terbadap Falun Gong. Pekan lalu, jurubicara AS James Rubin menyatakan HAM Cina memburuk. Washington, katanya, akan mendukung resolusi yang mengkritik Beijing di Komisi HAM PBB. Rubin menyinggung masalab sikap keras Cina terbadap gerakan terlarang Falun Gong dan pembatasan kebebasan berbicara, berbeda pendapat, dan beragama di negeri Tirai Bambu ini. Beberapa tabun terakbir, AS bersikap plin-plan mengenai resolusi HAM ini. Pada 1998, AS sempat menyatakan tidak akan mendukung resolusi serupa karena menilai HAM di Cina mengalami perbaikan. Namun Wasbington mendesak pengajuan resolusi tersebut meski kemudian gagal memperoleb dukungan dari Eropa.

115

Jadi, tidaklah berlebihan jika kita sebaiknya tidak menerapkan demokrasi ala Barat, melainkan demokrasi ala Indonesia, agar kita tetap dapat mempertahankan nilai-nilai ketuhanan dan ketimuran kita, sekaligus dapat menegakkan sisteni demokrasi yang menghargai hak asasi manusia serta supremasi hukum. Sebab, jika isu reformasi atau demokrasi yang menurut saya masih liar itu dibiarkan tanpa kendali, maka masyarakat Indonesia bisa rusak dan hancur. Sebab kebanyakan masyarakat kita masih hidup di bawah garis kemiskinan dan kebodohan, apalagi di zaman krisis, banyak orang di-PHK dan menganggur, padahal biaya hidup semakin melangit. Jangankan orang yang memang berwatak jahat, orang saleh pun bisa lebih mudah khilaf dan berbuat kriminal demi mempertahankan hidup, dan mudah pula dihasut dan ditunggangi oleh oportunis (biasanya adalah orang, atau kakitangan orang, yang ingin tetap berkuasa, atau yang bernafsu ingin segera berkuasa; mereka biasanya adalah public figure atau pemimpin organisasi tertentu, yang bisa memanfaatkan media massa atau massa untuk menyalurkan pendapatnya yang sering kali provokatif) yang menyalahgunakan kata demokrasi dan reformasi untuk mencapai tujuannya. Lihatlah betapa takutnya masyarakat awam kita terhadap kumpulan massa, sebab sewaktu-waktu acara pertemuan massa apa saja (apakah agama, apakah hiburan) bisa berakhir dengan kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan harta milik orang lain yang tidak ada sangkut pautnya. Sialnya, aparat penegak hukum seperti polisi dan tentara juga telah termakan teror kata demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) sehingga tidak berani bertindak tegas terhadap orang konyol yang pernyataan dan perilakunya menjurus provokasi massa untuk memicu instabilitas politik, ekonomi, dan sosial budaya. Jika pemerintah dan/atau aparat keamanan mulai akan bertindak tegas, "provokator" (predikat ini bisa saja adalah orang terhormat yang menjabat posisi penting, atau pengamat yang populer, atau siapa saja yang mempunyai peluang menggunakan media massa untuk menyampaikan pernyataannya) itu mulai mengancam dengan istilah klise, "Mau memberangus demokrasi? Ini jaman reformasi, dan bukan Orba!"
116

Saran saya kepada orang yang bermain-main dengan kata demokrasi, "Jangan munafik, atau jangan tolol. Belajarlah berdemokrasi. Kalau anda hendak dihargai, hargailah juga orang lain. Janganlah kebebasan anda menjarah kebebasan orang lain, itu anarkis dan bukan demokratis!" Bagi pakar atau aparat penegak hukum, bisakah membantu dengan cara memikirkan, cara menyeret 'orang-orang besar dan berkedudukan terhormat' yang pernyataannya sering bernada provokasi dan menghasut masyarakat untuk menjatuhkan pemerintah tanpa alasan sehat dan menimbulkan keresahan, agar bisa kita gugat, tangkap, dan masukkan penjara?! Saya bukan pembela pemerintah, namun saya tidak suka jika pemerintah yang sah ini digoyang terus dengan berbagai macam isu setiap hari, karena masyarakat akan terus resah, investor takut, dunia usaha lesu, dan kita semua bisa semakin susah! Para provokator dan oportunis politik itu memang enak. Mereka mempunyai penghasilan dan kedudukan yang bagus, dan mempunyai cadangan dana. Sekalipun ekonomi Indonesia morat-marit dan situasi sosial politik gonjang-ganjing, mereka akan tetap bisa makan kenyang dan tersenyum. Tapi bagaimana dengan rakyat banyak? Apakah mereka masih kurang miskin sehingga belum perlu diberikan pekerjaan dan penghasilan?! Apakah mereka belum cukup menderita dan tertekan, sehingga masih perlu diteror dengan keresahan dan provokasi setiap hari?! Tidak berhakkah rakyat sebagai pemilik tanah air dan Republik Indonesia ini hidup tenang, damai, aman, tenteram dan sejahtera? Bisakah kita meminta bantuan insan pers agar memboikot para provokator dan demonstran agar tidak menjadi berita, at least untuk sementara waktu? Agar suasana terasa lebih sejuk dan kondusif, at least untuk sementara waktu?

117

Tips #5
Cara Praktis Memberantas KKN

"Uncontrolled power always corrupt, because man is hell for the others" (Johanes Lim)

asus penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan (contohnya: menindas yang lemah, korupsi, kolusi, • nepotisme, dan Iainlain) akan selalu terjadi jika tidak.ada sistem kontrol yang baik dan tegas dari masyarakat dan puncak kekuasaan, sebab tendensi manusia adalah jahat: kepada yang lebih lemah akan menekan, dan kepada yang lebih kuat akan menjilat. Andaikan ada individu atau pribadi yang baik dan idealis kemudian diangkat menjadi pejabat atau penguasa di departemen tertentu, jika pejabat itu tidak sangat luar biasa solid karakternya dan didukung oleh atasannya yang juga mempunyai komitmen luar biasa besar untuk mengentaskan penyalahgunaan wewenang, orang itu akan gagal. Mengapa? Karena, jika hanya satu atau dua orang saja yang bertekad memberantas KKN di suatu instansi, sedangkan bagian terbesar dari orang-orang di dalam instansi tersebut bersifat korup, hal itu akan sia-sia. Sebagai contoh (ini hanya analogi, perumpamaan untuk menjelaskan, dan tidak bermaksud menyudutkan siapa pun): Si "A" adalah walikota yang baru diangkat oleh gubernur "B". Si "A" ini adalah orang baik yang idealis yang ingin menegakkan keadilan, kebenaran dan kesejahteraan warganya. Segera setelah ia menjabat, asistennya (atau para bawahannya) menyodorkan dokumen untuk ditandatangani bersamaan dengan selembar cek bernilai jutaan rupiah. Ketika si "A" mempertanyakan apa maksud semua itu,
118

K

asistennya menjelaskan bahwa itu adalah uang tanda jasa dari pengusaha anu untuk terus menggarap proyek di area tersebut. Ketika si "A" menolak menandatangani dokumen tersebut karena mencurigai adanya praktek yang merugikan rakyat dan negara dari proyek tersebut, asistennya mengingatkan, "Sebaiknya diterima saja pak, seperti yang sudah berlangsung bertahun-tahun, agar senang sama senang, sebab jika tidak, akibatnya bisa runyam!" Namun si "A" bersikeras menolak, bahkan berniat untuk menyelidiki kasus tersebut. Dan apa yang terjadi? Asistennya itu melaporkan prilaku si "A" tersebut kepada si pengusaha anu. Dan si pengusaha anu yang ternyata telah mempunyai hubungan yang erat dengan gubernur yang mengangkat si "A", melaporkan hal tersebut untuk ditindaklanjuti. Selanjutnya, gubernur itu menghubungi si walikota "A" dengan dua permintaan: Pertama, jangan merusak sistem maupun hubungan yang telah berlangsung sejak zaman dahulu kala dengan perilaku 'aneh-aneh', atau pilihan kedua adalah berhenti menjadi walikota! Nah, pilihan ada pada si "A". Jika ia bersikeras menjadi idealis, maka dengan berbagai macam alasan, secara tiba-tiba ia akan 'digusur', dan posisinya akan digantikan oleh orang lain. Bagaimanapun si "A" berupaya mengadukan nasibnya, dan/atau mem-beberkan kasusnya kepada pejabat yang lebih tinggi, misalnya (sekali lagi misalnya) kepada para pejabat tinggi negara, hal itu hanyalah menjadi seperti membuang garam ke laut. Bahkan andaikan si "A" mengadu kepada wartawan dan kasusnya dimuat, baik si "A" maupun media yang memuat berita itu akan celaka, karena bisa digugat oleh banyak orang dengan tuduhan memfitnah, mencemarkan nama baik, dan dituntut ganti rugi milyaran rupiah. Mengapa? Sebab kasus KKN itu sulit dibuktikan secara legal, karena biasanya justru tidak ada bukti yang jelas. Dan jika tanpa bukti, hal itu bisa dianggap sebagai fitnah, bukan? Alternatif kedua untuk menggusur si "A" adalah dengan cara melakukan konspirasi. Diatur sekelompok orang yang terdiri dari bawahan dan atasan si "A" serta orang bayaran lain yang menjadi peran pengusaha, untuk membuat pengaduan atau tuduhan palsu yang mengatakan bahwa si "A" terlibat praktek korupsi atau pemerasan.
119

Sebelumnya telah diatur agar si peran pengusaha mentransfer sejumlah uang ke rekening pribadi si "A" (yang nomornya telah diketahui oleh bawahan "A"), dan kemudian mengadukan hal itu kepada atasan si "A" yang mengatur agar kasus itu terkuak oleh media massa. Setelah itu barulah si "A" dimintai pertanggungjawaban, baik secara organisatoris maupun secara hukum. Sekalipun si "A" bersumpah demi langit atau demi bumi, atau demi apa saja, dirinya akan kalah, karena kasusnya diberatkan oleh "saksi-saksi" yang terdiri dari bawahannya maupun atasannya sendiri, belum lagi bukti transfer di rekening banknya. Jika hal itu kurang kuat, bisa saja konspirasi diperluas sampai melibatkan aparat hukum lainnya, yang dengan senang hati membantu, karena si "A" dianggap sebagai "duri dalam daging!" oleh banyak orang. Dan asal tahu saja, sekalipun motivasi dan tujuan si "A" adalah baik, benar, dan mulia, yakni menegakkan keadilan dan kebenaran, namun melawan kejahatan yang bersifat struktural memang sungguh berat, dan jarang ada orang yang berani mendukung dan membelanya. Pilihan yang paling manusiawi dan yang paling digemari ialah: ikut korup! Seperti kata pepatah, "Saiki jaman edan yen ora melu edan ora keduman'—sekarung ini jaman edan, kalau tidak ikutan edan tak akan dapet bagian. Jika hati nurani si "A" awalnya mengingatkan bahwa perbuatan korup adalah tidak baik, ia akan berkilah bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa. la telah mencoba berbuat benar, namun terkendala oleh banyak orang dan lingkungan, sehingga menurutnya ikut korup adalah alternatif terbaik. Paling hebat, jika si "A" itu memang mempunyai karakter yang cukup baik, ia memilih bersikap 'menutup sebelah mata atas perilaku korup para atasan maupun bawahannya, dan terus mempertahankan jabatannya sampai selesai, karena bukankah untuk mencapai jabatan walikota itu memerlukan perjuangan keras selama bertahuntahun? Itulah mungkin sebabnya kenapa banyak mantan pejabat yang ketika masih aktif tidak banyak suara, namun ketika sudah pensiun (atau diberhentikan) bersuara vokal mencerca atau menasihati pejabat pemerintahan yang korup.
120

Begitulah kira-kira analogi yang bisa saya gambarkan tentang bagaimana susahnya memberantas perilaku korup. Hal itu bisa bertambah buruk dan kusut jika analogi skenario dibuat lebih kejam, misalnya (sekali lagi hanya misalnya) jika cara seseorang mendapat jabatan adalah dengan praktek upeti, atau lelang, atau politik uang misalnya: untuk menjabat posisi "SMP" ('sekolah menengah pertama', saya analogikan dengan istilah dunia pendidikan agar tidak menyinggung siapa pun) harus memberi upeti sekian puluh juta rupiah kepada "SMU"; sedangkan untuk menjadi "SMU" harus memberikan upeti sekian ratus juta rupiah kepada "Bachelor"; sedangkan untuk menjadi "Bachelor" harus memberikan upeti sekian milyar rupiah kepada "Master", dan untuk menjadi "Master" harus memberikan upeti sekian ratus milyar kepada "Doctor". Karena posisi yang didapat telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, maka tidaklah mengherankan jika setelah menjabat akan sesegera dan seserakah mungkin menumpuk kekayaan dengan praktek KKN, karena ibarat bisnis, mereka harus mendapat ROI (return on investment) yang memuaskan. Dan karena praktek upeti yang sedemikian luas dari bawah ke atas dari kiri ke kanan, maka perbuatan korup adalah mustahil diberantas dalam waktu singkat. Menurut hemat saya, andaikan aksi antikorupsi diberlakukan dengan ketat mulai sekarang, diperlukan waktu sampai punahnya tiga generasi (pejabat yang sekarang disebut sebagai kakek, anaknya yang mungkin telah juga menjadi pejabat, dan cucunya yang telah belajar atau mengamati perilaku ayah dan kakeknya) baru perilaku korup bisa dikurangi sampai tingkat minimal. Kalau sampai hilang sama sekali, itu mustahil, kecuali telah tidak menjadi manusia lagi. Sistem dan aksi pemberantasan perilaku korup hanya bisa mencegah dan mengurangi perilaku korup, dan tidak bisa melenyapkannya sama sekali karena sifat itu melekat pada manusia. Saya tidak menyinggung perihal orang swasta yang melakukan penyuapan (kolusi atau memberikan upeti) kepada pejabat di instansi pemerintahan, karena siapa pun tidak akan bisa melakukan tindak penyuapan jika tidak diijinkan atau diterima oleh sang pejabat. Ibaratnya, pedang tidak akan mudah masuk sarung jika tidak mau sama mau, bukan? Bahkan dalam banyak kasus, tindakan penyuapan
121

(bribery) dimaksudkan untuk mempercepat yang lambat, memudahkan yang susah, atau memungkinkan yang tidak mungkin. Misalnya untuk mengurus dokumen atau hal tertentu diberlakukan aturan (regulasi, prosedur) yang berbelit-belit dengan melewati banyak meja (karena instansi tersebut terlalu banyak pegawainya sehingga perlu diatur pembagian tugas agar semua orang kebagian pekerjaan) serta harus menyiapkan dokumen yang tidak perlu atau semi perlu, sehingga dalam prosesnya memakan waktu yang lama dan melelahkan, serta berkemungkinan besar gagal karena persyaratan yang tidak lengkap. Nah, untuk mempersingkat waktu, masyarakat atau pengusaha yang berprinsip time is money memberikan "uang pelicin"-agar proses dipercepat atau dipastikan keberhasilannya. Nah berawal dari sana, untuk selanjutnya membudayakan perilaku "pungli" (pungutan liar) yang "wajib" diberikan oleh masyarakat jika ingin mendapat pelayanan dari pejabat pemerintah. Hal itu mudah terjadi di Indonesia karena sistem remunerasi yang buruk sehingga pegawai negeri tidak dapat hidup layak kalau hanya mengandalkan gaji resmi. Bayangkan, bagaimanakah pelayan publik kita (apakah pegawai negeri atau polisi atau tentara) bisa hidup tenang, tenteram, dan bisa melayani masyarakat jika gaji mereka kecil dan tidak mencukupi untuk memenuhi kehidupan yang layak bagi mereka dan keluarga? Jika mereka berbudi luhur, pilihan mereka adalah "harus ngobyek lagi di luar jam kerja", apakah menjadi tukang ojek, atau berdagang apa saja. Jika mereka manusia kebanyakan, pilihan termudah adalah melakukan perilaku korup. Saran saya: tingkatkan gaji dan tunjangan kesejahteraan mereka secepatnya! Ambillah dananya dari penerimaan pajak. Seleksi ulanglah para pelayan publik itu. Yang tidak bisa atau tidak mau melayani masyarakat secara baik dan benar, pecatlah. Jika jumlah mereka terlalu banyak, pecatlah yang tidak perlu. Dan mereka yang tinggal, bayarlah dengan baik sesuai kapasitas dan kontribusi mereka. Sebab jika tidak demikian, jika pemerintah menggaji pelayan publik secara ala kadarnya sehingga mereka hidup berkekurangan, mereka terpaksa berperilaku korup untuk dapat hidup layak.

122

Untuk mempertahankan kebiasaan korup mereka, petugas gugus depan (front-liner) yang menerima upeti langsung dari masyarakat mengalokasikan persentase upeti kepada atasan-atasannya sehingga semua orang di instansi tersebut kebagian jatah. Dengan demikian aksi korup itu bisa berlangsung dengan aman, tertib, dan langgeng, turun temurun. Praktek seperti di atas, yakni dengan sengaja membuat peraturan yang berbelat-belit agar masyarakat memberi 'pungli' untuk mempermudah dan mempercepat urusan dan mendapat pelayanan yang lumayan baik, jelas merugikan masyarakat. Dan sesungguhnya ini benar-benar ironis dan tragis karena petugas yang notabene digaji oleh masyarakat melalui pembayaran pajak untuk melayani masyarakat malahan melakukan 'semi pemerasan' masyarakat di saat masyarakat memerlukan pelayanan. Dalam banyak kasus, budaya mata duitan itu dimanfaatkan oleh individu maupun mafia untuk praktek yang merugikan negara maupun kesejahteraan bangsa secara luas, misalnya penyelundupan dan peredaran narkoba, senjata api ilegal, pencetakan dan peredaran uang palsu, dan sejenisnya. Karena sudah terbiasa menerima suap, maka bisa saja pejabat yang seharusnya waspada dan memberantas terhadap produk-produk yang membahayakan masyarakat, membiarkannya lolos. Celaka sembilan belas!! Jadi, jika petugas atau pejabat pemerintahan tidak mau menerima suap, dan memperbaiki sistem prosedur kerja di instansinya agar masyarakat terlayani dengan baik dan benar, apalagi jika penyuap diancam tindak pidana jika melakukan suap, siapakah yang mau melakukan suap? Jadi jika ada orang yang menuduh bahwa praktek suap itu adalah itikad dan inisiatif dari masyarakat, itu adalah pernyataan naif (atau idiot? Atau 'maling teriak maling'?), sebab jika masyarakat bisa mendapatkan pelayanan yang baik dan efisien, apakah masyarakat mau mengeluarkan uang untuk menyuap? Kita melihat, secara pragmatis-praktis, uang rupanya lebih berkuasa dan lebih dipuja daripada Tuhan, sehingga untuk mendapatkannya, sangat sering orang menghalalkan segala macam cara, termasuk korupsi. (Jangankan baru orang model anda atau saya, rasul yang ber123

nama Yudas Iskariot saja, yang telah menjadi murid Yesus selama lebih dari tiga tahun, dan menjadi saksi akan perbuatan baik dan mujizat yang dilakukan Yesus, bisa dibeli dengan 30 keping perak untuk mengkhianati Yesus!) Menurut saya, yang penting bukanlah sekadar menentang atau memberantas korupsi, melainkan mengatur sistem yang mempersulit timbulnya praktek korupsi, dan/atau andaikan tetap terjadi aksi korupsi, akan segera dan pasti terbongkar, dan pelakunya akan terhukum tentunya! Karenanya, pemberantasan dan pencegahan korupsi memerlukan multi aspek seperti: 4 Harus dilakukan dari top political will secara konsisten dan keteladanan. Sebab dalam banyak kasus, merajalelanya praktek korupsi di Indonesia bukan hanya karena bawahan meniru perbuatan atasan, melainkan juga bawahan menjalankan korupsi atas "titah" atau restu atasannya. Ibaratnya seperti pemungut cukai zaman dulu: jika atasan menyuruh memungut 40 persen pajak dari masyarakat, maka si pemungut cukai akan mengenakan 45 persen, sehingga yang lima persen masuk kantongnya pribadi. Dalam situasi kini, jika atasan memerlukan upeti 3 milyar rupiah, misalnya, maka anak buah akan mencari 'dana sebesar 4 milyar, agar kecuali atasannya senang mendapat 3 milyar, bawahan pun ikut senang menikmati yang 1 milyar. Jadi, dalam milieu yang sudah solid seperti ini adalah nyaris mustahil memberantas korupsi jika tidak dimulai dari pimpinan puncak, turun sampai ke lapisan paling bawah. Pertama-tama dengan teladan pimpinan, bersamaan dengan pengkomunikasian yang terus menerus tentang antikorupsi dan sanksinya, cari dan hukum siapa saja yang melanggar aturan, sampai hal itu menjadi budaya organisasi/instansi yang baru. * Penyelenggara negara serta pejabat pelayan masyarakat harus diseleksi dan dididik dengan baik, serta diberi sistem remunerasi yang memadai. Sebab jika tidak, akan mudah terjerat tindak korupsi. Saya tidak katakan bahwa jika penghasilan mereka menjadi baik secara otomatis tabiat korup mereka menjadi berkurang atau
124

hilang, melainkan lebih rasional dan meningkatkan kemungkinan pengurangan tindak korupsi. Sebab, jika mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan minimum mereka dengan gaji, adalah logis dan manusiawi jika mereka lebih mudah menjadi koruptor. Badan yang bertugas menanggulangi korupsi harus independen dan mempunyai wewenang yang penuh dalam menangani kasuskasus korupsi, dari penyidikan sampai penuntutan. Termasuk di dalamnya perlindungan hukum agar bebas dari intrik atau teror dari tersangka kasus korupsi, yang bisa saja menggunakan uang, kekuasaan atau relasinya yang mempunyai kekuatan hukum atau senjata, untuk menteror petugas pemberantas korupsi. Sebab jika tidak demikian, sebagai manusia, bisa saja petugas antikorupsi itu ciut nyali dalam menjalankan tugasnya, karena takut ancaman Wang kuat' yang mengancam dirinya atau keluarganya. Sebagai tambahan, petugas antikorupsi ini pun harus diawasi, agar jangan sampai dalam menjalankan tugasnya malahan termakan suap. Sebab bukan mustahil para koruptor yang menjadi target penyidikan menggunakan uangnya untuk 'menutup mulut' orang-orang yang bertugas menyidiknya. Partisipasi masyarakat, lembaga-lembaga antikorupsi, media massa harus berperan aktif mengamati dan mencegah gejala-gejala praktik korupsi. Peraturan perundangan pemberantasan korupsi yang jelas dengan sanksi yang menimbulkan kejeraan serta proses peradilannya yang cepat, dan transparan. Strategi menanggulangi korupsi haruslah secara konsepsional, komprehensif mengingat sumber korupsi yang multidimensional. Apalagi karena korupsi di Indonesia telah berurat-berakar dan merambah ke mana-mana, sehingga diperlukan bukan hanya ilmu hukum, melainkan juga common sense untuk mengungkap koruptor dan kaki-tangannya. Misalnya, jika ada tersangka koruptor kakap yang secara 'de facto" terlibat kasus korupsi dan telah menjadi rahasia umum, namun ketika kasusnya diungkap, lantas banyak orang penting (apakah di pemerintahan ataukah tokoh masyarakat, atau pengamat) yang berbunyi nyaring membela tersangka korupsi tersebut—tentunya dengan berbagai alasan bom125

bastis yang mengatasnamakan rakyat sesungguhnya patut dicurigai bahwa orang itu telah menerima suap (walaupun tentunya sulit dibuktikan karena sang penyuap tidak meminta kwitansi atau mentransfer ke rekening bank, melainkan tunai). Sebab jika tidak demikian, sebenarnya sungguh kasihan dan malang aparat hukum yang telah bersusah payah mengusut dan membongkar tindak korupsi itu, namun yang kemudian kasusnya dipetieskan atau menguap entah ke mana sehingga menimbulkan frustrasi dan apati. Membudayakan gerakan masyarakat antikorupsi yang senantiasa digalakkan sehingga kebiasaan-kebiasaan yang cenderung menumbuhkan praktik kolusi dan korupsi menghilang. Menyederhanakan, atau mengkomputerisasi, atau membuatnya menjadi one-stop-service sistem/prosedur kerja dari petugas instansi yang melayani masyarakat, apakah itu yang menyangkut pembuatan dokumen (KTP, SIM, STNK, paspor, akte-akte, dan Iainlain) apalagi yang berhubungan dengan bea cukai, agar masyarakat tidak dibuat bingung serta repot karena harus melewati banyak "meja" dan prosedur yang berbelat-belit, sehingga menyuburkan 'praktek percaloan dan pungutan liar. Berkenaan dengan hal itu, petugas pelayan masyarakat harus bisa dan mau menyelesaikan tugas dengan target waktu tertentu, misalnya: "Pembuatan paspor prosedurnya adalah demikian, biayanya adalah sekian, dengan maksimum waktu pengerjaan adalah sekian lama." Bagi pengaju yang tidak memenuhi syarat, aplikasinya tidak akan diproses, dan bagi yang memenuhi syarat akan mendapat hasil dalam kurun waktu yang disyaratkan. Jika lebih dari itu, pengaju aplikasi disarankan untuk mengajukan ke bagian keluhan yang akan segera menindaklanjuti dengan solusi. Semua itu dilakukan secara profesional dan cepat, serta gratis. Pelayan masyarakat yang tidak bisa atau tidak mau memenuhi target tugas di atas akan dibina agar mau dan mampu, namun jika setelah dibina tetap tidak bisa memenuhi target kinerja, maka orang bersangkutan harus "dibinasakan"! (di-PHK). Petugas yang kinerjanya bagus akan mendapat penghargaan berupa peningkatan gaji atau promosi karier lebih baik dan lebih cepat dibandingkan dengan orang yang kinerjanya marginal.

126

Saya menyadari bahwa yang sulit dari pelaksanaan semua hal di atas bukanlah kurangnya kemampuan ataupun instrumen pendukung, melainkan kurangnya kemauan dari hampir semua pihak, apalagi orang di instansi terkait. Sekalipun pimpinan puncaknya diganti oleh orang baru yang diberi tugas melakukan pembersihan, hal itu pun masih rawan kegagalan karena dua hal: pertama, 'hero' tersebut akan mendapatkan resistensi dari semua orang yang telah terlanjur keenakan mempraktekkan pungli atau korupsi, sehingga program pembenahan internal berjalan lambat dan sering macet. Kedua, 'hero' tersebut akan menjadi frustrasi dan melempem dalam menjalankan misinya. Apalagi jika terlalu sering mendengar nasihat orang di sekelilingnya, "Untuk apa menjadi pahlawan kesiangan? Jerih payah anda belum tentu berhasil, dan andaikan berhasil apakah untung anda? Lihatlah nasib para aparat negara yang jujur, yang hidup dalam kemiskinan serta mati sengsara tanpa ada seorang pun yang perduli! Mari bergabung, karni akan carikan upeti untuk anda!" Dalam situasi kondisi yang multikorup seperti Indonesia, rasanya diperlukan waktu yang cukup lama serta perjuangan yang keras untuk menghapus korupsi, mungkin dua generasi yang sekarang harus lenyap terlebih dahulu untuk mendapat generasi ketiga yang lebih baik. Dalam rangka usaha penyempurnaan sistem ini, perlu dipraktekkan pembuktian terbalik seperti yang berlaku di Malaysia, Singapura, dan Hong kong. Kita ambil saja contoh di Hong Kong tentang pembuktian terbalik ini yang tertera dalam pasal 10 (Ib) Prevention of Bribery Ordinance 1970, Added 1974 yang berbunyi "menguasai sumber-sumber pendapatan atau harta yang tidak sebanding dengan gajinya pada saat ini atau pendapatan resmi di masa lalu, akan dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran, kecuali kalau ia dapat memberikan suatupenjelasan yangmemuaskan kepada pengadilan mengenai bagaimana ia mampu memperoleh standar hidup yang demikian itu atau bagaimana sumber-sumber pendapatan atau harta itu dapat ia kuasai." Jelas ketentuan ini menganut pembuktian terbalik karena seseorang yang berada dalam posisi demikian dinyatakan bersalah melakukan korupsi, kecuali dia dapat membuktikan sebaliknya, yaitu mem127

buktikan bahwa kekayaan yang dimilikinya diperoleh secara sah. Jadi kalau ia tidak dapat membuktikannya, ia dinyatakan terbukti melakukan korupsi. Berlainan dengan yang berlaku di Indonesia di mana setiap orang meskipun telah melakukan korupsi, dianggap bersih dari perbuatan itu, kecuali Jaksa Penuntut Umum dapat membuktikan bahwa dia melakukan korupsi; padahal hampir dapat dipastikan bahwa kasus korupsi sulit dibuktikan karena siapakah, misalnya, yang menyuap pejabat dengan meminta kwitansi? Bahkan hampir tidak pernah uang korupsi dalam bentuk giro atau cek apalagi transfer ke rekening pejabat, melainkan tunai, apakah rupiah atau dollar. Kemudian dana hasil korupsi itu biasanya diinvestasikan dalam bentuk valuta asing, atau perhiasan, atau deposito atas nama orang lain (keluarga atau saudaranya), dan biasanya di bank luar negeri. Atau dana itu dibelikan produk konsumtif (rumah atau mobil) atau dipergunakan untuk...kawin lagi! Dari gaya hidup glamor para pejabat kita, kita sungguh bertanyatanya, dari mana asal usul kekayaan mereka itu. Tidak mustahil kalau masyarakat mencurigai mereka sebagai koruptor, karena gaya hidup mereka tidak seimbang dengan gaji mereka. Coba kalkulasi sendiri, jika sungguh-sungguh seorang pejabat hidup berdasarkan gaji dan tunjangannya sebagai pejabat negara, jangankan pejabat eselon satu, atau menteri, presiden RI saja tidak mungkin bisa jadi jutawan, apalagi menjadi konglomerat; jadi, jika ada pejabat negara yang menjadi kaya raya, apalagi dalam waktu singkat, ha..ha..ha.. pasti punya 'lampu Aladdin' atau tuyul, kalau tidak boleh dibilang hasil korupsi. Sistem pembuktian terbalik ini sangat efektif karena seseorang takut melakukan korupsi. Sebab sulit baginya memberikan penjelasan yang memuaskan tentang sumber kekayaannya kalau memang kekayaan itu diperolehnya secara tidak sah. Misalnya seorang tertuduh memberi alasan kekayaannya diperoleh melalui hasil undian, maka dia harus membuktikan di mana dilakukan undian itu dan berapa hasil yang diperoleh. Begitupun kalau alasan yang diberikan adalah hibah dari mertuanya, maka mertuanya akan diperiksa apakah betul ada hibah dan dari mana pula mertuanya memperoleh kekayaan yang dihibahkan itu.

128

Andaikan koruptor di Indonesia belum bisa terjangkau hukum dunia, sebenarnya praktek korupsi itu bisa terkena hukum rohani akibat dikutuki orang yang dikorupsi. Itulah sebabnya jika ada oknum yang makan suap biasanya mereka berkata, "Iklas yaa?" Karena terpaksa, korban akan menjawab, "Iklaslah!" Namun tetap, uang itu adalah uang haram, yang disumpahin orang. Di sebuah klinik pengobatan, saya pernah bertemu dengan seorang pasien yang punya penyakit tidak sembuh-sembuh sekalipun telah berobat ke dokter maupun melakukan pengobatan tradisional. Katanya, ia kena guna-guna, namun ketika dibawa ke 'orang pintar' juga tidak bisa diobati. la bercerita bahwa ia dulu adalah petugas di departemen 'basah' yang sering mendapat uang 'pungli', namun ia mengaku sudah 'bertobat.' Karena itu ia heran, mengapa ia bisa mendapat penyakit aneh ini. Menurut saya, penyakit orang itu akibat sumpah serapah orangorang yang dipungli olehnya, dan sekalipun sekarang ia sudah bertobat, namun tetap saja akibat dosanya hams ia jalani, sebab menurut hukum alam maupun rohani, "apa yang ia tabur akan ia tuai." Dalam hal koruptor, jika ia mau terbebas dari akibat perbuatan jahatnya ketika bertobat, sekalipun hukum belum bisa menjangkau dia (karena tidak ada bukti otentik yang bisa menjeratnya) dan sekalipun tidak ada orang yang menggugatnya, seharusnya ia mengembalikan uang haram tersebut kepada masyarakat melalui badan amal misalnya. Sebab, jika yang dimaksud bertobat adalah berhenti korupsi karena sudah kenyang (kaya raya) dan menggunakan uang haram itu untuk usaha halal, hal itu tidak akan membebaskan dirinya dari akibat dosa; bahkan jika ada undang-undang Anti Money Laundering, ia pun bisa dijerat hukum! Pertobatan tidak cukup dengan ucapan sesal dan berhenti dari praktek itu, tetapi sedapat mungkin harus "mengembalikan" apa-apa yang diambil dengan tidak sah. Sebab jika pertobatan cukup dilakukan dengan ucapan dan berhenti dari praktek lama, betapa nikmatnya berbuat dosa: jika sudah kenyang tinggal mengaku bertobat! Ingatlah, siapa pun juga yang menabur angin akan menuai badai, cepat atau lambat, sekarang atau kelak.
129

Sebagai tambahan, untuk memberantas korupsi di Indonesia, yang pertama, harusnya pemerintah segera menerapkan UndangUndang And Pencucian Uang (Anti Money Laundering), agar para koruptor maupun penjahat lainnya (seperti mafia narkoba, perjudian, pelacuran, penghindar pajak, koruptor, dan sebagainya) tidak lagi bisa mencuci uang haram mereka melalui sistem maupun institusi keuangan di negara kita. Bersamaan dengan itu perlu diterapkan sanksi hukum yang berat bagi siapa saja yang melanggar atau membantu penjahat pencuci uang tersebut, sebab jika tidak, bisa saja bankir tidak perduli terhadap sumber uang demi mendapatkan transaksi. Kedua, jika hukum sulit menjangkau koruptor yang 'maha kuat' karena bisa membeli siapa saja dengan uangnya agar dirinya tidak terjangkau hukum, lebih baik menerapkan 'gaya Pakistan' yang menciduk pelaku koruptor 'de facto tanpa melalui jalur hukum, dengan dua pilihan: pertama, kembalikan harta hasil korupsi (sebutkan angka estimasinya) kepada negara, atau kedua, masuk penjara 30 tahun sambil semua dananya disita paksa demi negara. Begitu lebih mudah karena tidak bertele-tele, karena sesungguhnya kita sudah tahu siapa saja koruptor kakap maupun teri yang ada di negara kita, baik yang berasal dari pemerintahan maupun swasta. Tentunya langkah pertama adalah mendata para koruptor besar-kecil secara diam-diam dan cepat serta strictly confidential. Langkah kedua adalah menginformasikan pejabat imigrasi untuk mencekal mereka agar tidak lari ke luar negeri. Langkah ketiga adalah mengumumkan rencana aksi tersebut, berbarengan dengan aksi pencidukan tersangka. Team penciduk terdiri dari pemimpin kepolisian, militer, dan hukum, yang telah diseleksi bebas KKN serta masih mempunyai kekuasaan kuat (belum pensiun). Hal ini diperlukan karena mereka harus menciduk dan menghukum bukan hanya orang sipil, namun bisa saja ada oknum polisi atau tentara berpangkat tinggi yang terlibat, yang tentunya sulit ditangani oleh orang sipil atau polisi atau tentara berpangkat rendah atau pensiunan. Ketiga, segera rancang dan sahkan undang-undang atau perangkat hukum yang memberikan sanksi hukuman mati bagi koruptor (atau penjahat massal lainnya seperti mafia narkoba misalnya) dan berlaku

130

surut, artinya hukum itu bisa menjangkau penjahat yang kasusnya terjadi di masa lalu, karena memang di masa kemarin itulah nyaris semua koruptor bisa bebas merdeka dari jangkauan hukum karena hukum diberangus. Bayangkan, sebagai negara dengan predikat terkorup nomor wahid di Asia, namun tidak ada seorang koruptor pun yang dihukum berat. Aneh kan? Masak iya, di negara yang padat koruptor bisa tidak ada koruptor kakap yang dihukum? Mudah-mudahan dengan penerapan sanksi hukuman mati, para koruptor itu berhenti korupsi, dan 'jentik-jentik atau larva koruptor' berhenti transformasi menjadi nyamuk koruptor. Dan saran saya, begitu undang-undang itu ada, segera tangkap, adili, dan hukum mati beberapa sampel koruptor yang paling kakap dan mencolok sebagai shock therapy. Saya tahu bahwa ide ini akan dikecam oleh banyak orang, antara lain dari orang atau kelompok yang mengatasnamakan "Pembela Hak Azasi Manusia", yang berteriak bahwa tindakan-tindakan di atas 'tidak manusiawi' atau 'melanggar hukum', atau 'tidak Pancasilais' atau 'tidak mencerminkan perilaku orang yang beragama', atau 'tidak demokratis', dan seterusnya. Saya tahu bahwa perkaranya dilematis, tetapi itu memang perlu. Dan tolong pertimbangkan, bahwa secara tidak manusiawi mereka tega melihat rakyat—sesama manusia dan sesama saudara sebangsa setanah air—menderita karena jatah uang untuk pemerataan pembangunan dan kesejahteraan rakyat dikorupsi hanya untuk kenikmatan diri dan kelompok kecilnya sendiri. Karena itu, koruptor kakap layak dibinasakan. Keempat, jika pemerintah takut atau tidak mampu menerapkan semua sistem antikorupsi untuk menyeret koruptor masa lalu, baik karena mereka telah terlanjur terlalu kuat, sehingga melakukan perlawanan melalui aksi teror yang terus-menerus meresahkan masyarakat dan merongrong stabilitas politik-ekonomi-sosial negara, maka sebaiknya diumumkan saja bahwa semua kisah KKN masa lalu ditutup (diputihkan) dan dilupakan per hari ini, dan kita semua bersama-sama mulai membuka lembaran baru yakni Indonesia bersatu, untuk mulai membangun bangsa Indonesia yang kompak dan besar. Biar-

131

kan para koruptor itu juga turut berpartisipasi melalui dunia bisnis misalnya, apakah sebagai pengusaha maupun sekadar konsumen yang membelanjakan uang simpanannya. Strategi ini rasanya jauh lebih baik daripada kita berputar-putar di lingkaran setan dalam polemik pemberantasan KKN yang tidak pernah ada manfaat nyatanya. Dengan program pemutihan (write-off) ini, minimal negara kita membuang beban yang memusingkan kepala, dan idealnya para koruptor itu mulai memasukkan dana simpanannya di luar negeri ke dalam negeri, yang bisa bermanfaat untuk menggulirkan roda ekonomi.

132

Tips #6
Agfama: Berkat atau Laknat

M

engapa kita perlu agama? Karena agama mengajarkan kebaikan dan cara hidup baik, dengan segala bentuk stick and carrotnya yaitu hukuman neraka bagi orang yang jahat dan pahala sorga bagi orang yang saleh. Mengapa manusia perlu diajar agama? Karena walau dikatakan bahwa pada dasarnya manusia itu baik, tetapi dalam perkembangannya manusia sudah kerasukan sifat jahat, sehingga sangat mudah belajar dan berbuat jahat, serta sukar belajar dan berbuat baik. Kalau manusia sudah kerasukan sifat jahat, kata-kata Hobbes "homo homini lupus, (manusia adalah serigala bagi sesamanya)" bisa diungkapkan secara lain: "Devil is your human fellow. (Setan itu adalah sesamamu manusia)." Cobalah terka, apakah yang akan terjadi jika: a Si Dogol yang berprilaku buruk, seperti gemar berjudi, mencuri, melacur, berkelahi, berkata-kata kasar dan kotor, karena ia terlahir dari keluarga dan lingkungan yang juga seburuk dirinya. Nah orang ini dimasukkan (tinggal bersama selama 3 bulan) ke dalam suatu keluarga yang berperilaku baik serta taat beragama (sebut saja keluarga rohaniwan) yang setiap hari rajin membaca kitab suci dan berdoa, serta hidup rukun damai serta harmonis sesama anggota keluarga. Pertanyaan saya: Apakah setelah tiga bulan, si Dogol itu akan menjadi berkepribadian baik atau berkurang tabiat buruknya, atau tidak berubah sama sekali?

133

a Sebaliknya, anak si rohaniwan tadi, katakan namanya si Naif yang terbiasa bertingkah laku baik, sopan, ramah, sabar dan saleh, selama tiga bulan tinggal bersama dengan keluarga si Dogol, yang setiap hari tidak pernah absen dari berjudi dan mabuk-mabukan, pornografi dan sex bebas dilakukan dengan terbuka di rumah maupun lingkungan sekitar. Pertanyaan saya: Apakah setelah tiga bulan, si Naif itu tidak akan tertular kebiasaan buruk itu, minimal ikut mencoba-coba, atau ia tidak terpengaruh sania sekali? Saya tidak tahu jawaban anda, tapi kalau menurut saya, si Dogol berkemungkinan kecil untuk berubah menjadi baik, karena ibarat cat warna hitam seliter diberi cat warna putih lOOcc tidak akan membuatnya menjadi abu-abu, apalagi putih. Paling hebat, si Dogol hanya menahan diri untuk mengurangi perilaku buruknya di dalam rumah, karena mungkin malu hati dengan keluarga rohaniwan itu, namun tidak menjamin bahwa ia tidak akan pergi ke lingkungan buruknya ketika di luar rumah. Namun untuk si Naif, saya sangat yakin bahwa ia akan tertular dengan perilaku buruk keluarga si Dogol, minimal dia akan mencoba menikmati suguhan yang ada di depan matanya dan di lingkungan sekitarnya, karena nampaknya enak dan nikmat. Setelah itu, kebiasaan itu bisa menjadi permanen (ketagihan) atau bisa tidak, tergantung berapa kuat karakter dan iman si Naif itu, tapi sekali lagi, sekurang-kurangnya dia akan terlibat dalam salah satu perilaku buruk di atas, karena ibarat seliter cat berwarna putih, jika dimasukkan lOOcc cat berwarna hitam, pasti akan menjadi berwarna gelap, minimal berwarna abu-abu. Maknanya? Berbuat baik itu susahnya setengah mampus. Apalagi terus bersikap konsisten sampai ajal tiba, itu perlu perjuangan dan pengorbanan serius. Namun untuk berbuat jahat (atau amoral) sangat mudah. Ibaratnya, jerami kering disiram bensin, kemudian disulut api, pasti akan terbakar! Mengapa demikian? Karena satu, sifat dasar manusia itu jahat, atau bertendensi jahat. Kedua, tindakan amoral itu biasanya lebih enak dan nikmat (sekalipun mungkin bersifat sementara), dibandingkan berbuat saleh. Jadi, bisa saja orang berkata, "Free sex, siapa takut?"

134

Jadi, peranan agama itu sangat penting dalam membentuk moral pengikutnya, agar mempunyai etika dan nilai-nilai ketuhanan seperti yang diajarkan agamanya. Namun jika agama tersebut tidak mengajarkan hal kebaikan dan manfaat bagi sesama manusia, dan atau para pemimpin atau pengajar agama tidak mencerminkannya dalam keteladanan hidup, agama yang diejawantahkan seperti itu tidak ada gunanya, dan bahkan bisa menjadi "Hell is your religion. (Neraka itu adalah agamamu)". Bahkan saya berani mengatakan bahwa "Tanpa akal budi, agama adalah teror bagi sesama manusia!" Coba renungkan, sejak zaman baheula sampai hari ini, di berbagai belahan penjuru dunia, fanatisme buta dari pemeluk agama ataupun aliran kepercayaan telah mengakibatkan bencana, permusuhan, pembunuhan, kerusakan, penganiayaan, kerugian materi dan moril yang tidak terbilang banyaknya, jauh lebih banyak daripada korban yang ditimbulkan oleh bencana alam plus perang politis plus kriminal murni. Jika kita mau dan mampu berpikir secara pragmatis: Untuk apakah semua bencana dan tragedi itu terjadi? Untuk apa mereka mencoba menang-menangan dan/atau bermegah diri dan/atau menindas sesamanya manusia hanya demi agama? Apakah agama bisa membuatnya kenyang? Apakah agama bisa membuatnya senang? Apakah agama bisa dikasihi dan mengasihi? Bukankah sesamanya manusia yang bisa menolongnya di kala susah, yang menghiburnya di kala duka dan memberinya makan secara faktual dan bukan hanya harapan utopis?? Ya ampuunn! Mereka yang berperang dan/atau menganiaya sesamanya manusia hanya karena perbedaan agama adalah orang-orang yang tolol dan jahat, sehingga mau diperdaya dan dihasut oleh pemimpinnya yang mau terus berkuasa dan/atau mau tambah berkuasa atas jumlah pengikutnya. Itu namanya bukan agama (a = tidak, gama = kacau), melainkan teror!! Bagi pemimpin agama, harusnya, agama itu jangan hanya mengurusi akhirat, namun juga kehidupan jemaat; karena akhirat itu masa depan, dan akar agama adalah masa lalu, kedua-duanya tidak berfaedah secara langsung bagi jemaat; namun jika kehidupan keseharian jemaat dibina dan ditingkatkan kualitasnya, maka jemaat akan lebih

135

berguna Bagi agama, bagi saudara seiman, dan bagi orang lain, dan bagi dunia. Bagi pengikut agama, seharusnya memilih pemimpin yang mengayomi, yang peduli, dan yang berjuang keras untuk menyejahterakan umat, tanpa pernah menghasut untuk memusuhi kepercayaan lain. Jika pemimpin umat hanya mementingkan perkembangan jumlah (kuantitas) umat tanpa peduli kualitasnya, niaka perlu diwaspadai, jangan-jangan pemimpin tersebut berniat untuk memanfaatkan besarnya massa untuk kepentingannya pribadi. Sebab perlu diketahui, ada saja orang yang menunggangi umat agamanya untuk kepentingan politik, ekonomi, reputasi, atau bahkan sombong-sombongan saja. Ciri ciri pemimpin seperti itu adalah jelas, yakni tidak perduli terhadap kesejahteraan umatnya secara rohani maupun materi, dan kedua, menggunakan isu agama untuk mengerahkan massanya melawan pihak tertentu yang menghalangi ambisinya. Pemimpin model itu akan panik dan ngamuk, jika ada orang yang "mengambil" jemaatnya, misalnya pindah aliran agama lain. Mengapa? Bukan karena pemimpin itu sayang kepada jemaat tersebut, melainkan karena merasa bahwa kekuatannya berkurang, dan mungkin saja 'penghasilannya' berkurang, sebab bukankah jumlah umat adalah aset? (bisa untuk pasukan tempur, dan bisa untuk dimintai sumbangan). Mengapa saya katakan demikian? Sebab, jika jemaatnya diayomi dan disejahterakan, tidak mungkin umat akan pergi ke tempat lain; namun jika jemaat ditelantarkan dan mungkin hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pemimpin, lantas mengapa heran jika umat minggat? Namun pemimpin egois model itu tidak akan menerima jika disuruh introspeksi. Mereka bukannya menyadari kekurangannya, malahan akan mencari "kambing hitam" agar bisa melampiaskan dendam kesumatnya. Kalau orang yang mengaku taat beragama dan cinta setengah mati kepada Tuhannya, namun dalam kehidupan sehari hari tidak menjadi manfaat bagi orang lain—apalagi jika ia menjadi pembenci orang lain—maka menurut saya, tidak ada gunanya dia beragama atau bertuhan. Itu hanya omong kosong belaka.

136

Bayangkan, sesamanya manusia yang kelihatan batang hidungnya saja tidak bisa ia pelihara dan sayangi, bagaimana katanya ia bisa mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan, dan bahkan tidak pernah dilihatnya, sekalipun dalam mimpi. Menurut saya, orang yang bertengkar apalagi berkelahi gara-gara perbedaan agama bukan hanya salah dan jahat, melainkan juga idiot, karena tidak mengetahui beberapa alasan: Q a a a Q Semua agama itu dasarnya adalah kepercayaan. Kepercayaan itu dibentuk oleh "pemikir". Kepercayaan itu beluni tentu benar. Kepercayaan orang lain belum tentu salah. Sebaiknya bersikap dewasa, dan tahu diri, jangan sok tahu, dan sok suci, apalagi sok benar.

Itulah sebabnya semakin hari semakin h&nyak. free-thinker, agnostik, atau bahkan atheis, karena melihat ulah orang yang mengaku beragama namun menyebar kebencian dan teror sehingga membuat orang muak. Kalau tingkah orang yang beragama seperti itu, maka perilaku orang yang tidak beragama justru jauh lebih baik, karena tidak memusuhi orang yang beragama lain.

137

Tips #7
Agf ama & Duit

atu hal penting yang saya ingin tekankan dalam ulasan tentang agama adalah kaitannya dengan uang. Bagi pembaca buku ini, perlu diwaspadai adanya pengajaran munafik yang mengatakan bahwa "uang itu jahat", atau "orang kaya sulit niasuk sorga", atau "orang miskin itu dikasihi Tuhan", karena itu SALAH dan JAHAT! Siapa saja yang mengajarkan hal itu adalah orang yang munafik, atau bodoh, atau frustrasi, atau ketiga-tiganya sekaligus! Yesus memang pernah mengatakan bahwa "orang kaya sulit masuk kerajaan surga", tetapi dari konteksnya jelas bahwa yang dimaksud adalah orang kaya yang mengandalkan diri pada kekayaannya, dan mengesampingkan Tuhan. Jadi masalahnya bukan "orang kaya" itu sendiri, tapi "tidak mengandalkan Tuhan". Jadilah orang kaya yang sekaligus mengandalkan Tuhan, berserah diri kepada Tuhan, mencintai-Nya dan mewujudkan cinta kepada Tuhan itu dengan cinta kepada sesama (tidak hanya sesama manusia, tetapi sesama makhluk, hormat terhadap alam, tidak merusaknya). Uang itu netral, tidak baik dan tidak pula jahat, seperti pisau atau cangkul atau benda lainnya. Pisau bisa dipergunakan untuk memotong buah mangga yang akan kita hidangkan kepada tetangga, atau bisa juga dipakai untuk menusuk perut orang. Cangkul bisa dipakai untuk mengolah tanah atau dipakai memukul kepala orang. Demikian juga dengan uang, bisa dipergunakan untuk membeli keperluan hidup, menolong orang miskin, dan bisa juga dipergunakan untuk membiayai aksi kejahatan. Jadi, yang baik atau jahat itu bukan uang, melainkan orang yang menggunakan uang itu.

S

138

Jika dikatakan bahwa orang kaya sulit masuk sorga, itu merupakan generalisasi yang naif. Urusan masuk sorga atau tidak—menurut agama—bukanlah soal kaya atau miskin, melainkan persoalan amal ibadah, amal sosial. Jika seseorang rajin beramal ibadah, beramal sosial, maka kelak di akhirat akan mendapat pahala, entah ia orang miskin ataupun orang kaya. Bahkan menurut akal sehat, orang kaya akan bisa beramal ibadah dan beramal sosial dengan lebih banyak dan lebih bagus, dibandingkan jika seseorang miskin. Orang kaya mempunyai sumber daya dan sumber dana yang jauh lebih besar untuk memberi, menyumbang, menolong orang lain secara materiil maupun moril. Sebaliknya, orang yang miskin lebih terkendala dalam berbuat amal ibadah dan amal sosial karena tidak punya uang, sehingga ia akan kekurangan fasilitas dan mobilitas dalam menolong orang lain. Karena tak punya uang, kepusingan dan penderitaan yang melilit kehidupan dirinya dan rumah tangganya akan sangat mengurangi kemampuan dan kemauannya untuk beramal ibadah, karena menurut mereka, "Jangankan menolong orang lain, menolong diri saya sendiri saja sudah pusing tujuh keliling!" Adapun pendapat bahwa Tuhan lebih mengasihi orang miskin daripada orang kaya adalah juga pendapat yang diskriminatif dan self-proudness. Kalau menurut kepercayaan agama, Tuhan itu mengasihi semua orang yang saleh, entah ia miskin atau kaya. Bahkan mencintai semua orang, entah ia saleh atau tidak! Dan secara logis, tentunya Tuhan akan lebih mengasihi orang yang lebih berguna dan bisa meningkatkan reputasi-Nya, yakni orang yang lebih mampu dan mau beramal ibadah dan berguna bagi sesamanya manusia—yaitu, siapa lagi kalau bukan orang kaya yang saleh? Hal kedua yang perlu diwaspadai adalah pengajaran yang menekankan bahwa "sebentar lagi hari kiamat!", karena itu merupakan racun yang melemahkan perjuangan hidup. Sebab, apa perlunya lagi kita berjerih lelah membanting tulang untuk mengejar cita-cita dan menjadi kaya, jika sebentar lagi dunia khiamat? Untuk apakah harta dan reputasi yang dikumpulkan dengan susah payah? Akibatnya? Orang menjadi letih lesu dan apatis, kurang semangat "hidup.

139

Kerjanya hanya berharap sebentar lagi hari khiamat dan mereka terbebas dari kesulitan dan menikmati kebahagiaan kekal di akhrat. Padahal, lihatlah, dari dulu sampai sekarang ada orang-orang yang meramalkan akan segera datangnya hari kiamat. Itu pengetahuan Tuhan dan bukan hak kita untuk mengetahuinya; karena itu sekurang-kurangnya dalam agama Kristen dan Islam, meramal-ramal itu dilarang oleh Tuhan. Saya perlu mengingatkan bahwa dengan atau tanpa anda dan kepercayaan anda, the world is going on. Kehidupan berjalan terus, kemajuan dan penemuan baru terus berlangsung, mulai dari manusia menjelajah ruang angkasa sampai teknologi cloning. Orang-orang yang tegar, realistis, dan positif terus berjuang untuk memperbaiki kualitas kehidupan manusia melalui pekerjaan dan penemuan ilmiah serta keberhasilan finansial, sedangkan orang-orang yang teracuni dan mengidap kegilaan hari kiamat terus merenung durja dan hidup dalam tempurung mengharapkan hari segera kiamat. Dan isu tentang hari menjelang khiamat itu sudah berlangsung sejak beribu tahun yang lalu sampai hari ini, tapi dunia masih oke-oke saja. Mengapa anda mau menyia-nyiakan waktu dan kesempatan hanya dengan bermimpi buruk? BANGUN! Padahal, orang yang mengajarkan semua itu juga sangat rajin mengajarkan kepada pengikutnya agar mereka rajin menyumbangkan uang, harta benda, waktu dan tenaganya kepada organisasi. Luar biasa! Organisasi dan para pemimpinnya makmur dan berduit, sedangkan pengikutnya diiming-imingi dengan janji-janji utopis tentang akhirat yang antah berantah!

140

Tips #8
Kiat Menikmati Hidup aalam Segfala Kondisi

etelah membombardir anda dengan konsep bahwa kekayaan itu indah dan kemiskinan itu buruk, serta memotivasi anda agar berjuang mati-matian mengeliminir kemiskinan dan menjadi kaya, maka sekarang saatnya saya melakukan calming down untuk mengendurkan ketegangan pikiran anda dan/atau mengeliminir kefrustrasian anda dalam menghadapi kenyataan hidup yang mungkin nampak terlalu berat atau tidak sesederhana seperti yang saya tulis di atas. Memang, hidup itu bukan hanya terdiri dari hitam atau putih, kaya atau miskin, kalah atau menang, dan hidup atau mati. Ada beberapa macam variasi dan intensitas di antaranya. Saya tidak menjelaskannya di atas, karena saya ingin mendramatisir keadaan sehingga memojokkan anda ke dalam situasi kalah atau menang dan kaya atau miskin. Bukan dengan tujuan untuk menyulitkan anda, melainkan untuk memberikan sedikit shock therapy, agar pesan saya sampai bukan saja ke pikiran sadar anda, namun juga menembus sampai ke pikiran bawah sadar anda, agar menjadi impresi yang berkemungkinan lebih besar untuk memenangkan kepercayaan anda dan dapat melakukan mind reprogramming, untuk menjadikan anda pribadi yang lebih kaya, lebih sukses, dan lebih berbahagia. Nah, setelah anda bisa menerima ide-ide yang mungkin terasa kontroversial bagi anda itu, dan setelah anda menata dan memprogram ulang pikiran dan kepercayaan serta perilaku anda agar kondusif

S

141

untuk meraih sukses, dan setelah anda menyusun tujuan hidup serta program aksi untuk mencapainya, saya akan memberikan kiat atau tips, agar anda dapat menjalani hidup sehari hari dengan lebih nikmat, lebih senang, lebih relaks, lebih berbahagia, dan lebih sukses, apa pun situasi kondisi anda saat sekarang. Sebagaimana saya sampaikan sebelumnya, hidup itu relatif. Kepercayaan dan bahkan pengalaman hidup anda relatif. Definisi dan manfaat kekayaan atau kemiskinan juga relatif. Kesenangan dan kesusahan juga relatif. Bahkan benar dan salah juga relatif. Semua itu tergantung kepada di mana, kapan, dan siapa yang melihat, mengalami, atau menilainya. Asalkan anda telah memiliki prosperity consciousness, anda telah berada di jalur yang benar untuk dapat hidup sukses, kaya, dan bahagia. Nah sambil menjalani kehidupan keseharian anda dalam mencapai cita-cita, maka anda harus bisa menyiasati setiap keadaan dengan benar dan bermanfaat. Dalam hal menganut kepercayaan—entah agama, entah falsafah hidup, entah apa saja—selama anda secara pribadi merasa bahwa hidup anda menjadi lebih baik, lebih nyaman, lebih enak, lebih senang, lebih merdeka, lebih damai, lebih beruntung, lebih berbahagia, dan lebih berguna bagi orang lain, maka anda harus terus menganutnya tanpa perlu memperdulikan pendapat atau kritik orang umum atau mayoritas. Ingat, karena kebenaran itu relatif, dan juga pendapat mayoritas itu belum tentu benar, maka parameter perilaku anda adalah kebergunaan: Selama apa yang anda lakukan adalah menguntungkan diri anda dan keluarga anda, serta tidak merugikan orang lain—dan lebih-lebih kalau juga berguna bagi masyarakat atau dunia—itu adalah hal yang bagus, dan boleh dilakukan. Anda tidak perlu harus disetujui atau diterima—apalagi disukai—oleh 100% orang, itu mustahil. Selalu akan ada yang pro dan atau kontra terhadap anda. Tuhan saja yang katanya maha baik, masih saja ada musuhnya yaitu setan dan antek-anteknya, apalagi kita? Tentu saja, jika perilaku anda hanya menguntungkan diri sendiri namun merugikan orang lain, itu mengindikasikan bahwa ada yang salah dan/atau bahwa anda egois, sehingga harus ditinjau ulang dan diralat, agar anda tidak dimusuhi dan dihajar orang karena kesalahan anda sendiri.
142

Jika sekarang anda masih hidup susah, tidak punya cukup uang dan miskin, misalnya, jangan putus asa dan jangan kecewa. Anda adalah kandidat sukses, dan saat sekarang pun anda masih berhak untuk hidup enak dan menikmati kesenangan, dengan apa yang ada pada diri anda. Jika anda belum bisa membeli kesenangan dengan uang, carilah alternatif untuk menikmati kesenangan yang tidak memerlukan uang atau hanya membutuhkan sedikit uang. Lihat kehidupan orang miskin yang tinggal di kolong jembatan. (Anda pasti dalam keadaan yang lebih baik dari mereka, sebab jika tidak, anda pasti tidak sedang membaca buku ini.) Setelah seharian mencari nafkah secara sangat keras—mungkin dengan menjadi pemulung, mungkin pedagang asongan, mungkin mengamen, mungkin mengemis—mereka dapat bercengkerama dengan sesama temannya. Kadang ada seorang yang bermain gitar atau sekadar menabuh ember plastik. Mereka bisa bernyanyi dan menari dengan gembira. Biasanya setelah lelah bekerja dan sedang menikmati waktu senggang, mereka tinggal memutar radio yang mendendangkan lagu dangdut, dan mereka bisa berjoget ria bersama. Setelah larut malam, mereka masuk ke dalam gubuk kardus dan pergi tidur. Mungkin mereka bermimpi indah, sampai esok pagi terbangun dan kembali menjalani hidup. Satu hari demi satu hari mereka lewati dengan apa adanya. Mereka adalah orang sederhana, tidak banyak maunya, dan bisa mencukupi diri dengan apa yang ada pada mereka. Jika tidak ada nasi, mereka bisa makan ubi atau singkong—yang penting kenyang. Jika tidak ada lauk ikan, mereka bisa makan sepiring penuh nasi hanya dengan tahu atau tempe dan cabai rawit. Apakah yang sedang saya maksudkan, apakah saya menyamakan anda dengan mereka? Ataukah saya sedang menyanggah premis saya sendiri bahwa tidak ada yang baik atau enak dari kemiskinan? Tentu saja tidak! Yang saya coba sampaikan ialah suatu ilustrasi bahwa hidup itu indah, yang dapat dinikmati oleh siapa pun juga dalam segala situasi. Kedua adalah pesan bahwa hidup itu adil, bahwa tersedia sumber daya dan kesempatan yang berlimpah pada alam dan keadaan untuk dinikmati, baik oleh orang kaya maupun miskin.

143

Yang ketiga adalah pengulangan pesan, bahwa hidup itu relatif. Kaya atau miskin, senang atau susah itu adalah relatif, tergantung dari siapa yang menilainya. Bagi seseorang, mempunyai uang satu juta rupiah mungkin sudah dianggapnya kaya, sedangkan Bagi orang yang lain, uang satu juta adalah peanut yang tidak mencukupi untuk membeli selembar gaun pun. Bagi seseorang, mendengarkan radio dengan musik dangdut sambil berjoget bersama teman adalah kesenangan, sedangkan bagi orang lain yang disebut kesenangan ialah bisa berdansa di ballroom hotel niewah bersama teman-teman jetset. Yang keempat adalah pesan inti bahwa baik-buruknya hidup atau senang-susahnya suatu kondisi itu tergantung pada persepsi atau kepercayaan anda. Nah bagi anda harusnya berlaku hukum manfaat, yaitu bahwa anda mau dan mampu menikmati hidup ini setiap hari dan setiap saat dengan senang, relaks, bahagia serta penuh harapan. Sekalipun mata dan imajinasi anda terus membayangkan masa depan yang gilang-gemilang, kaya serta sukses, namun kaki anda harus tetap memijak bumi, dengan bekerja melakukan yang terbaik dengan lebih baik lagi setiap harinya. Bersamaan dengan itu anda tidak lupa untuk menikmati dan memanfaatkan setiap peristiwa, aktivitas, dan sumber daya serta hubungan interrelasi dengan keluarga dan sesama anda secara senang dan tenang, serta apa adanya. Anda tidak mau menjadi orang bodoh yang kegembiraan serta gairah hidupnya terpenjara dengan kenangan masa lalu, sehingga tidak mau atau tidak mampu menikmati hari ini. Mungkin kalimat gombalnya berbunyi, "Kegembiraan saya telah terkubur di masa lalu." Anda pun tidak mau menjadi orang bodoh yang hidup dalam impian masa depan yang utopis, sehingga tidak mau dan tidak mampu menikmati hari ini. Mungkin kalimat neurotisnya berbunyi, "Saya baru akan bergembira jika semua keinginan saya tercapai." Janganlah menunda atau menunggu untuk bertindak dan menikmati hidup apa adanya HARI INI, SEKARANG. Saya ingatkan bahwa hari kemarin itu nothing dan hari esok juga nothing. Hari inilah yang bisa kita sebut hidup dan everything.

144

Tanpa hari ini, anda sudah mati. Jika anda hanya hidup di hari kemarin, maka anda bernama "almarhum atau almarhumah", karena anda hanya tinggal kenangan, masa lalu. Jika anda hanya hidup di hari depan, anda bernama "konsep" atau "fetus, bakal janin", karena anda belum ada dan belum hidup, baru mungkin akan ada. Jadi sesungguh-sungguhnya yang bisa disebut hidup dan ada atau being atau exist itu adalah hari ini, SEKARANG! Karena itu saudaraku, sebelum kita berpisah menjalani kehidupan kita masing-masing menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih berbahagia serta lebih bermanfaat, maka pesan saya ialah: Nikmatilah hari ini sebebas-bebasnya, sesenang-senangnya, sepuas-puasnya, sebatas anda bisa sesuai dengan sumber daya dan kesempatan yang ada, asalkan tidak menghambat pencapaian tujuan hidup anda yang lebih berguna dan lebih sukses di kemudian hari, serta tidak merugikan orang lain. Nikmatilah setiap detik yang anda miliki dengan senang dan nyaman, jangan menundanya sampai besok. Demikian juga jika kegagalan, kekecewaan, kesedihan atau keputusasaan datang menerjang dan berusaha menghancurkan impian serta hidup anda, hadapilah dengan tegar dan berani; atasilah segera; bangkitlah kembali dan berjuanglah kembali. Ingat, tidak ada barang satu pun yang perlu anda takuti dalam hidup ini. Seburuk-buruknya penderitaan atau malapetaka, ujungnya hanya mati, dan kematian bukanlah hal yang perlu di takuti. Bagi orang yang tidak takut hidup, juga tidak akan takut mati, karena hidup itu jauh lebih kompleks daripada mati, nampaknya, Baiklah saudaraku, sudah waktunya kita berpisah. Namun demikian, jika anda mengalami kendala dalam menerapkan konsep yang ada pada buku ini, dan/atau anda hendak berbagi cerita dengan saya, jangan sungkan untuk menghubungi saya via penerbit Gramedia, atau via email. Asalkan anda tidak tergesa-gesa, saya bersedia menjawab email atau surat anda.

Sampai jumpa, dan salam sukses!

145

TENTANG PENULIS

Johanes Lim adalah Doktor Administrasi Bisnis alumnus universitas Pacific Western Los Angeles, dan Certified Professional Consultant dari The Consultants Institute, USA. la adalah President Profit Booster International Limited, perusahaan modal ventura dan management consultant yang berpusat di Auckland, CEO Profit Booster Indonesia, dan Founder Omnisuccess.com —Online Consultation & Trading. Kompetensinya sesuai dengan nama perusahaannya, yakni sebagai "Profit Booster", yang mengajarkan konsep manajemen hasil risetnya yang dinamakan "Beneficial Management" atau "Manajemen Meritokratis", yang sangat efektif untuk meningkatkan kemampulabaan dan kemamputumbuhan organisasi bisnis, dalam segala situasi. Karier profesionalnya di berbagai level dan jenis industri memungkinkannya memberikan konsultasi dan pelatihan bisnis yang spektakuler dan sukses. Klien pelatihan konsultatifnya meliputi individu dengan posisi middle-up management, dan berbagai jenis industri, seperti: Telkom, Indosat, Indofarma, Garuda Indonesia, Aneka Tambang, Dharma Niaga, PTBA, Semen Tonasa, PERURI, WIKA, Lippo, Indofood, Indomarco, Modern Group, Enseval, Dynaplast, Reichenberger Holdings, The Northshore Corp, dan Iain-lain. Selain buku Just Duit ini, dua buku lainnya juga telah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama yaitu Manajemen USA (Untung Soya Apa) dan No Pain No Gain. la juga menulis dan memasarkan dua buah e-book berjudul Money Making Magic dan Your Right To Be Wealthy, Healthy and Success melalui website omnisuccess.com.

147