1 COASTAL ZONE MANAGEMENT: RESOURCES UTILIZATION Oleh: Prof Dr Ir Soemarno M.S., dkk. I. PENDAHULUAN Latar Belakang Wilayah pesisir didefinisikan sebagai daerah pertemuan antara darat dan laut; kearah darat, wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin, sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup wilayah dengan ciri-ciri yang dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat, seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran. Definisi diatas memberikan suatu pengertian bahwa ekosistem pesisir merupakan ekosistem yang dinamis dan mempunyai kekayaan habitat yang beragam dan saling berinteraksi antara habitat tersebut. Selain mempunyai potensi yang besar, wilayah pesisir juga merupakan ekosistem yang paling mudah terkena dampak kegiatan manusia. Umumnya kegiatan pembanguna secara langsung maupun tidak langsung berdampak merugikan terhadap ekosistem pesisir. Dalam sautu wilayah pesisir terdapat satu atau lebih sistem lingkungan (ekosistem) dan sumber daya pesisir. Ekosistem pesisir bersifat alami ataupun buatan. Ekosistem alami yang terdapat di wilayah pesisir antara lain adalah terumbu karang (coral reefs), hutan mangroves, padang lamun, pantai berpasir (sandy beach), formasi pascaprea, formasi baringtonia, estuaria, laguna dan delta. Sedangkan ekosistem buatan antara lain berupa : tambak, sawah pasang surut, kawasan pariwisata, kawasan industri, agroindustri dan kawasan pemukiman. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kawasan pesisir pantai merupakan suatu kawasan yang mempunyai kerawanan dan sekaligus potensi strategis ditinjau dari aspek penataan ruang, yaitu suatu kawasan yang secara geografis spasial penting, namun belum banyak dilakukan upaya penataan permanfaatan ruangnya secara terintegrasi/ terpadu, baik antar kawasan dalam suatu wilayah administratif maupun antar wilayah administratif. Kerawanan yang 2 terdapat pada kawasan pesisir berkaitan dengan fungsi lindung/ekologis, dimana posisi geografisnya merupakan peralihan antara ekosistem daratan dan ekosistem perairan/ lautan, sehingga seringkali dijumpai sumberdaya alam yang spesifik, seperti terumbu karang, hutan bakau, resting area, untuk berbagai satwa dan sebagainya. Potensi strategis yang dimiliki oleh kawasan pesisir berkaitan dengan nilai ekonomis yang terdapat di kawasan ini, baik yang berbasis pemanfaatan sumber daya alam, seperti perikanan budidaya (tambak), kehutanan, pariwisata, dan sebagainya, maupun yang tidak berbasis pada sumber daya alam seperti perhubungan (pelabuhan). Beberapa pemanfaatan yang berhubungan dengan fungsi budidaya ini cenderung bersifat ekspansif sehingga kawasan ini rentan/ rawan terhadap terjadinya perubahan penggunaan lahan, khususnya konflik penggunaan lahan (landuse conflicts) antara fungsi lindung dengan fungsi budi daya Permasalahan Beberapa permasalahan penting yang dapat di ungkapkan dalam penelitianini diantaranya adalah seperti berikut: a) Sumber daya alam dan lingkungan hidup Keadaan geografis perairan pantai dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu wilayah pantai utara dan wilayah pantai selatan. Perairan selat Madura dan pantai utara merupakan daerah selasar benua yang dangkal dan landai,dengan komoditi yang dominan adalah iakan dasar dan ikan permukaan. Perairan pantai selatan merupakan perairan dalam dengan komoditi yang dominan adalah ikan pelagis seperti Lemuru dan Tuna. Perairan pantai utara Jawa Timur masih sangat dipengaruhi oleh “Musim Barat” yang berlangsung sekitar bulan Desember hingga Maret. Selama musim ini gelombang laut sangat besar sehingga aktivitas penangkapan ikan berkurang dan akibatnya produksi ikan rendah. Perairan pantai, khususnya di tempat-tempat pendaratan ikan, telah mengalami pendangkalan dan pencamaran bahan organik yang berasal dari limbah rumah tangga dan limbah industri pengolhan hasil ikan. Situasi perkampungan nelayan pantai umumnya tampak kumuh, rumahrumah penduduk berhempitan satu sama lain. Sumber air bersih relatif terbatas, sehingga memenuhi kebutuhan sehari-hari biasanya penduduk membeli air bersih (air PDAM atau air sumur) dari penjualan air. b) Teknologi Alat Tangkap Dan Penangkapan Sistem perikanan demersal elah berkembang di perairan pantai utara Jawa Timur dengan alat tangkap berupa purse-seine, dogol, gil-nen dan trammel- 3 net. Jenis ikan tangkapan yang dominan adalah iakan layang, llemuru/tembang, udang dan teri. Sistem perikanan samudera telah berkembang di perairan pantai selatan dengan alat tangkap yang dominan berupa purseseine, gillnet permukaan, dan pancing prawe. Jenis ikan tangkapan yang dominan adalah tuna (tongkol), lemuru, cucut. Ditinjau dari kelayakan ekonominya dan dengan mempetimbangkan pendapatan pendeganya, ternyata alat tankap yang layak untuk dikembangkan ialah purse-seine, gillnet, dan payang sangat layak untuk dikembangkan disemua lokasi. Pengenalan tipe alat yang sama dengan desain baru merupakan jalur invasi yang prospektif. Respon nelayan terhadap inovasi teknologi penangkapan umumnya cukup besar, baik terhadap sumber teknololgi pemerintah maupun swasta malaui para pedagang ikan. Dalam proses adopsi tekhnologi diperlukan “efek demonstratif” yang bisa diamati dan dialami lansung oleh nelayan. c) Teknologi Pascatangkap Secara umum teknologi pascatangkap dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (i)tradsional dengan aneka komoditi ikan kering, terasi, ikan asap, ikan pindang, dan (ii) modren dengan komoditi andalannya tepung ikan dan kalengan. Tradisional dilakukukan oleh para pengolah dengan skala kecil hingga menengah, sedangkan tenologi modern dilakukan oleh para pengusah besar. Berkembangnya teknololgi modern di suatu lokasi ternyata sangat ditentukan oleh tesedianya bahan baku. Teknololgi pengawetan ikan dengan menggunakan “proses rantai dingin” dilakukan khusus untuk komoditi ekspor ikan segar. Industri pengolahan ikan dipedesaan pantai umumnya mampu memberikan nilai tambah sekitar 9 – 45% terhadap komoditi ikan basah. Akan tetapi sebagian besar usaha pengolahan ikan oleh nelayan masih belum dilakukan secara baik dan bersifat sambilan. Usaha pengolahan ikan yang mempunyai prospek bagus di wilayah perairan pantai selatan adalah tepung ikan dan minyak ikan, sedanglkan di wilayah perairan pantai utara umumnya adalah ikan kering. d) Sosial Ekonomi Distribusi pendapatan nelayan diwilayah pedesaan pantai umumnya tidak merata diantara kelompok fungsional masyarakat. Pendapatan nelayan pemilik perahu (juragan darat) dengan alat tangkap purse-seine, gillnet, dan payang rata-rata cukup tinggi, jauh berada diatas kriteria garis kemiskinan yang berlaku sekarang. Sementara itu rataan pendapatan nelayan kecil 4 pemilik sampan/jukung dan pendega berada pada batas ambang kemiskinan denagn fluktuasi musiman yang sangat besar. Pada musim paceklik rataan pendapatannya berada dibawah garis kemiskinan sedangkan pada musim panen raya ikan rataan pendapatannya bisa melonjak diatas garis kemiskinan. Dalam rangka untuk meningkatkan pendapatan nelayan secara proposional maka usaha penangkapan secara berkelompok yang melibatkan nelayan kecil dan pendega patut direkayasa. Dalam hubungan ini inovasi kredit disarankan melalui sistem kredit bagi hasil antara nelayan dengan lembaga sumber kredit. Rata-rata tingkat pendidikan formal warga pedesaan pantai masih rendah umumnya hanya berpendidikan sekolah dasar atau yang sederajat. Akses nelayan terhadap fasilitas pendidikan formal diatas tingkat sekolah dasar rata-rata masih sangat terbatas. Dalam hal pendidikan ini ternyata respon nelayan terhadap lembaga Madrasah sangat besar. Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan kemampuan lembaga Madrasah tersebut untuk melakukan transfer teknologi kepada anak didik. Peranan para kyai dan santri di wilayah pedesaan pantai pada umumnya sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat. e) Kendala Perkembangan Wilayah Pesisir Pantai Tiga faktor utama yang menyebabkan lambatnya perkembangan teknologi yang dapat berdampak pada perbaikan kesejahteraan nelayan pendega adalah (i) faktor ekonomi, (ii) faktor sosial budaya,(iii) faktor sosial politik. Beberapa kendala yang termasuk faktor ekonomi adalah (1) sektor perekonomian wilayah yang masih didominasi oleh sektor primer penangkapan ikan, (2) penguasaan skill, modal dan teknologi oleh nelayan sangat terbatas, (3) distribusi pendapatan yang relatif tidak merata,(4) prasarana penunjang perekonomian di pedesaan yang masih terbatas, (5) hampir seluruh komoditi perikanan yang dihasilkan dipasarkan keluar daerah sehingga sebagian besar nilai tambah komoditi dinikmati oleh lembaga perantara yang terlibat dalam pemasaran. Beberapa kendala sosial budaya adalah (1) struktur dan poal perilaku sosial budaya yang masih berorientasi kepada kebutuhan “subsisten”,(2) sarana pelayanan sosial yang masih terbatas, (3) proporsi penduduk usia muda cukup besar dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah,(4) tingkat pengangguran musiman yang cukup besar,(5) kualitas kehidupan rata-rata masih rendah. Beberapa kendala sosial politik adalah (1) partisipasi masyarakat pedesaan pantai di dalam pembangunan belum dapat tersalurkan secara lugas (pendekatan top down masih lebih kuat dibandingkan dengan bottom up), (2) 5 birokrasi pembangunan masih belum mampu menyentuh kepentingan nelayan pendega dan sektor tradisional,(3) keterbatasan akses nelayan pendega untuk berperan serta dalam kegiatan-kegiatan ekonomi yang lebih luas. Berdasarkan kondisi seperti di atas maka diperlukan disaign-disaign khusus untuk mengembangkan pedesaan pantai dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan dasar atau kebutuhan fisik, minimum segenap warga masyarakat dan sekaligus melestarikan sumber daya yang tersedia. Secara ringkas beberapa permasalahan yang dihadapi kawasan pesisir pantai antara lain : (1) Kondisi sumber daya pesisir yang semakin terbatas dan mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. (2) Tekanan pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi. (3) Perkembangan kawasan pesisir saat ini sudah sedemikian pesat namun disisi lain perkembangan tersebut tanpa pedoman pada aspek tata ruang (4) Pendayagunaan sumber daya pesisir dan pantai masih kurang mencerminkan adanya pembagian fungsi kawasan (5) Aktifitas manusia di kawasan pesisir dan pantai telah menimbulkan permasalahan antara lain : a. Intrusi air laut akibat pemanfaatan air bawah tanah di kawasan pesisir yang tidak terkendali, khususnya di wilayah Surabaya dan Gresik, sehingga kurang layak untuk dikonsumsi sebagai sumber air bersih; b. Degradasi kualitas ekossitem mangrove akibat kegiatan budidaya tambak dan kegiatan raklamasi pantai untuk pengembangan kawasan terbangun sebagai perumahan, industri dan pelabuhan; c. Terjadinya abrasi pantai akibat berkurangnya hutang mangrove di sepanjang pantai utara Jawa Timur dan P. Madura, yang dapat mengancam keberadaan desa-desa pantai dan jaringan jalan regional; d. Pendangkalan pantai akiobat tingginya sedimentasi, baik yang terjadi secara alamiah maupun hasil rekayasa masyarakat setempat; e. Kerusakan karang laut (terumbu karang) dan biota laut serta kerusakan karena penambangan dan penangkapan ikan menggunakan bahan peledak; f. Pencemaran pantai dari limbah industri dan limbah kota, dimana tingka pencemaran sungai di Surabaya telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, bahkan beban limbah di perairan pantai Jawa 6 Timur tergolong sangat tinggi. Sungai tersebut berperan sebagai tempat pembuangan limbah industri dan rmah tangga ke wilayah pesisir dimana terdapat sumber daya perairan yang penting bagi perikanan dan akua kultur. Oleh karena itu, upaya penataan kawasan ini perlu dilakukan secara terpadu/terintegrasi dengan kontinuitas fisik kawasan tanpa memandang batas wilayah administratif, serta memerlukan perlakuan khusus terhadap wilayah-wilayah yang memiliki karakteristik tertentu. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menyusun suatu pedoman pengarutan ruang di Kawasan Pesisir Pantai. II. TUJUAN DAN SASARAN PERENCANAAN 2.1 Maksud Kegiatan ini dimaksudkan seabagai salah satu upaya untuk menjaga kelestarian di kawasan pesisir dengan merumuskan dan melakukan strategistrategi berupa langkah-langkah pencegahan, pembatasan dan pengurangan kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam. 2.2. Tujuan Kegiatan dilakukannya kegiatan ini ialah memberikan arahan pengelolaan pemanfaatan ruang daratan dikawasan pesisir pantai, dalam upaya mengurangi dan mencegah terjadinya konflik pemanfaatan ruang (land use Conflicts) di kawasan pesisir ; Memantapkan fungsi lindung kawasan pesisir pantai untuk mengurangi peningkatan dan perluasan dampak lingkungan akibat adanya kegiatan dikawasan pesisir pantai. 2.3. Sasaran Adapun sasarannya adalah tersedianya Pedoman Pengaturan Ruang Kawasan Pesisir Pantai, yang memuat: (1) Macam Bentuk pengelolaan, perlu dikembangkan suatu model pengelolaan lingkungan yang terpadu dengan kawasan pesisir pantai sebagai satuan unit pengelolaan,untuk menghindari pengelolaan yang terpisah-pisah antar instansi yang berkepentingan maupun antar kab/kota. 7 (2) Kriteria teknis pengelolaan yang mencakup ukuran-ukuran yang menyatakan bahwa pemanfaatan ruang suatu kawasan pesisir pantai secara teknis sesuai dengan daya dukungnya dan secara ruang bersama-sama dengan kegiatan di sekitarnya memberikan sinergi optimal terhadap pemanfaatan ruang. (3) Kewenangan pengelolaan, mengingat bahwa dalam usaha pengelolaan kawasan pesisir pantai harus dilakukan secara terintegrasi maka perlu dirumuskan pedoman Pengelolaan kawasan ini. III. LINGKUP ANALISIS Ruang Lingkup Wilayah Dari definisi di atas dapat diartikan bahwa ruang kawasan pesisir merupakan ruang kawasan di antara ruang daratan dengan ruang lautan yang saling berbatasan. Ruang daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan termasuk perairan darat dan sisi darat dari sisi darat dari garis laut terendah. Ruang lautan adalah ruang yang terletak di atas dan dibawah permukaan laut dimulai dari sisi laut pada garis laut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. Sesuai dengan tujuan dan sasaran tersebut maka kegiatan ini dibatasi pada ruang daratan yang berada di kawasan pesisir.Lokasi studi adalah diwilayah Jawa Timur (Pantura); pesisir Selat Madura, pesisir selat Bali dan pesisir Selatan Jawa Timur. Mengingat permasalahan yang timbul akibat penetrasi kegiatan budidaya terhadap kawasan lindung (land use conflict) lebih banyak terjadi di kawasan perumahan dan pengembangan industri maka lingkup studi ini dibatasi pada kawasan permukiman dan kawasan pengembangan industri yang berlokasi di wilayah pesisir pantai. 3.2 Lingkup Kegiatan Pengelolaan kawasan pesisir perlu dilakukan secara terpadu Pengelolaan secara sektoral, seperti perikanan tangkap, tambak, pariwisata, pelabuhan dan industri minyak, seringkali menimbulkan konflik kepentingan antar sektor yang berkepentingan yang melakukan aktivitas pembangunan pada kawasan pesisir yang sama. Untuk itu perlu dilakukan pengelolaan secara terpadu dengan tujuan 8 untuk mengharmoniskan dan mengoptimalkan antara kepentingan untuk melihat lingkungan, keterlibatan masyarakat dan pembangunan ekonomi. Mengingat lingkup pengelolaan kawasan pesisir secara terpadu begitu luas dan melibatkan banyak aspek dan adanya keterbatasan pada penugasan ini maka kegiatan ini dibatasi pada upaya-upaya pengaturan ruang di kawasan pesisir, sehingga tujuan kegiatan ini adalah sebagai upaya untuk mencegah dan mengurangi konflik pemanfaatan ruang dapat tercapai. Untuk itu lingkup kegiatan yang akan dilakukan ini adalah : (1) Melakukan identifikasi permasalahan pemanfaatan ruang yang timbul sebagai akibat dari pemanfaatan ruang yang belum terarah di kawasan pesisir pantai, terutama yang menyangkut pengelolaan kawasan lindung dan budidaya; (2) Mengkaji berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan dalam pemanfaatan ruang yang dikeluarkan, baik oleh, pemerintah pusat, pemerintah propinsi maupun pemerintah kabupaten/kota; (3) Melakukan indentifikasi aspek teknis sektoral yang harus diperhatikan dalam setiap langkah pemanfaatan ruang. (4) Melakukan kajian terhadap aspek kelembagaan yang mencakup instansi pelaksana dan kaitannya dengan instansi lain; (5) Melakukan kajian identifikasi teknologi yang perlu diterapkan dalam upaya pengelolaan kawasan pesisir pantai; (6) Menyusun rancangan Pedoman Pengaturan Ruang Kawasan Pesisir Pantai. 9 IV. KERANGKA KONSEP 4.1 4.1.1 Potensi Wilayah Pedesaan Pantai Potensi Umum Wilayah Pedesaan Pantai Wilayah pedesaan pantai Jawa Timur terletak pada tiga wilayah perairan laut, yaitu : (a) Laut Jawa (TP) Bulu Tuban dan Weru Kompleks Lamongan; (b) Wilayah Selat Madura (Bandaran-Pamekasan dan Lekok Pasuruan) dan Wilayah Samudra Indonesia (Laut Selatan Jawa Timur, Muncar Banyuwangi dan Puger Jember, Sendangbiru Malang) ketiga wilayah laut tersebut pada dasarnya mewakili wilayah penangkapan ikan perairan pantai (Selat Madura), lepas pantai (Laut Jawa) dan laut dalam (Laut Selatan Jawa Timur). Peranan tambak di wilayah pedesaan pantai tidak merata dan hampir keseluruhannya telah dikelola sebagai tambak udang intensif. Desa-desa pantai telah terbuka dari isolasi, sehingga interaksi antar masyarakat di lokasi dengan masyarakat diluarnya telah cukup lancar. Berikut ini akan diuraikan secara lebih terperinci masing-masing desa, yaitu meliputi gambaran umum dan proses perubahan yang terjadi. 4.1.2 Wilayah Pedesaan Pantai Madura – Selatan : Bandaran (i) Karakteristik Penduduk Sebagian besar penduduk Bandaran ( ± 95 %) bekerja sebagai nelayan dan sisanya bekerja di bidang pertanian, pegawai negeri dan jasa. Latar belakang menjadi pendega ini disebabkan oleh ketrampilan yang diajarkan dari orang tuanya. Sebagian besar anggota rumah tangga tidak bekerja. Beberapa isteri pendega membantu bekerja sebagai “bakul” ikan di pasar Bandaran. Secara umum pendidikan formal nelayan adalah SD atau tidak tamat SD. (ii) Lingkup Sosial Posisi pendega di dalam bagi hasil lebih tinggi (60 %) bila dibanding denga tempat lain yang sebesar 50 %. Pembentukan kelompok antar pendega dalam suatu usaha perikanan sangat lemah. Kelompok pendega yang dibentuk saat menerima kredit telah mengalami bubar. Perpecahan kelompok tersebut terutama diakibatkan oleh perselisihan sesama pendega di dalam menentukan pemilikan alat tangkap tersebut. 10 Kredit yang diberikan oleh pemerintah kadangkala masih dipandang sebagai barang bantuan atau pinjaman yang tidak harus dikembalikan. Dalam bayak kasus penunggakan hutang kredit nelayan ada kaitannya dengan masalah ini. (iii) Ketergantungan Ketergantungan nelayan pada pedagang pengumpu ikan basah dan ikan kering cukup besar. Hasil tangkapan nelayan secara umum langsung dibeli oleh pedagang dari desa tetangga (Desa Tanjung) yang berfungsi sebagai pedagang pengumpul. 4.1.3 Wilayah Pedesaan Pantai Pasuruan – Situbondo : Lekok (i) Karakteristik Penduduk Jumlah penduduk Kecamatan Lekok 47.239 orang (12.541 KK), terdiri dari 22.220 pria dan 25.019 wanita. Mata pencaharian di sektor perikanan dapat diuraikan sebagai berikut : Nelayan 917 RTP, petani tambak 136 RTP, penyakap 9 RTP dan pengolah 196 RTP. (ii) Karakteristik Responden Responden nelayan juragan di Lekok adalah payang, payang alet, jaring dan pancing. Jumlah tanggungan keluarga responden antara 3 sampai 5 orang. Sebagaian kecil isteri mereka (<25%) bekerja sebagai pengolah/pedagang, bekerja ditambak dan mendirikan warung. Pekerjaan juragan payang sebelumnya adalah sebagai pendega sedangkan nelayan pyang alet sebelumnya bukan sebagai nelayan. Juragan jaring dan pancing lebih dari 50% adalah bekas pendega sedangkan yang lain adalah bukan nelayan. Sejumlah 95-100% nelayan di Lekok berpendidikan formal SD tamat atau tidak tamat. Sebagian besar nelayan payang telah bekerja sebagai nelayan pada tahun 1970-an. Sedangkan juragan jaring antara tahun 1970 dan 1980. Nelayan payang alit mulai mengoperasi alat tangkapnya setelah tahun 1980-an. (iii) Lingkungan Sosial-Budaya Nelayan, petani tambak dan pengolahan ikan pada umumnya melakukan usahanya berdasarkan warisan yang diterima dari generasi pendahulunya. Didaerah ini terdapat kelompok nelayan dan petani tambak yang anggotanya terdiri dari 15-40 orang. Mereka mengadakan arisan hairan, mingguan dan ada yang bulanan. Setiap hari Jumat diadakan penarikan dana sosial dari para nelayan secara sukarela dengan jumlah berdasarkan kemampuan. Dana sosial ini 11 pada masa paceklik atau muslim laib disumbangkan kepada mereka yang tidak mampu (redistribusi). Sumbangan dapat berupa uang, beras atau pakaian seharga Rp2.500,- per orang. Para nelayan umumnya tidak suka menabung. Apabila hasil tangkapan berjumlah banyak langsung dibelikan barang-barang berharga, seperti TV, radio, sepeda dan sebagainya, jadi jarang sekali penduduk yang menyimpan uang. Modal usaha adalah modal sendiri dan sesuai dengan yang dimiliki atau dipinjam dari kerabatnya. Alasan mereka adalah kemudahan prosedur dan tidak ada bunga atau sangsi yang lain. Perjanjian dibuat secara lisa atas dasar saling mempercayai. 4.1.4. Lingkungan Hidup Pedesaan Pantai Pada umumnya desa pantai menggambarkan suatu desa yang panas dan gersang serta bau yang kurang sedap. Desa pantai umumnya padat penduduk sebagai nelayan, pengolah ikan dan pedagang. Perkampungan umumnya merupakan pemukiman kumuh dan kurang memperhatikan kebersihan lingkungan. Keadaan jalan desa/kampung kebanyakan masih tanah atau batu (belum aspalan), hanya ada sebagian kecil jalan kampung yang terbuat dari semen (beton), biasanya pada desa yang sudah maju atas prakarsa pemerintah desa dengan dana swadaya masyarakat setempat. Keadaan rumah nelayan dan pengolahan ikan umumnya sudah berdinding tembok atau papan, beratap genting dan berlantai semen. Keadaan yang demikian sudah dapat dikatakan layak walaupun belum memenuhi syarat sebagai rumah sehat, karena tidak berventilasi, tidak memiliki jamban dan di sekitar rumah masih ada yang memiliki comberan karena tidak adanya saluran pembuangna yang sempurna. Sebenarnya di bidang kesehatan dan kebersihan lingkungan hampir 90% penduduk telah mendapatkan penyuluhan tentang rumah sehat, gizi masyarakat dan KB. Namun karena rendahnya tingkat pendidikan dan tradisi yang kuat, sekitar 70-80% penduduk lebih suka membuang limbah dan sampah rumah tangga bahkan sampah pasar kelaut atau sungai. Karena kurangnya kebersihan, sehingga penyakit yang sering dialami adalah sakit perut (diare). Untuk mengatasi penyakit tersebut umumnya mereka berobat ke Puskesmas, kepada Mantri Kesehatan, bahkan sudah ada yang memanfaatkan dokter. Hampir semua anak telah mendapatkan imunisasi. (i) Kendala Pengelolaan Lingkungan Desa Pantai Beberapa permasalahan yang terjadi pada lingkungna perairan, antara lain ialah : 12 (a) Pada musim barat masyarakat nelayan kebanyakan tidak melaut dengan alasan takut terhadap ombak yang besar dan menurunnya produksi perairan. Menurut soedarmo, dkk (1984), musim barat yang terjadi pada bulan Desember-Maret menyebabkan (i) mengalirnya arus yang kuat dari barat ke timur; (ii) bagian barat Indonesia curah hujannya tinggi, sehingga kadar garam menjadi rendah, angin sangat kencang dan ombak sangat besar; dan (iii) ikan-ikan yang suka pada kadar garam tinggi akan bermigrasi ke timur atau ke lapisan bawah. Untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan perahu yang lebih baik dengan alat tangkap khusus untuk menangkap ikan-ikan yang mungkin bermigrasi vertikal ke lapisan bawah yang lebih dalam. (b) Menurunnya produksi nener/benur di pantai utara Jawa dan perairan Selat Madura yang dianggap memiliki potensi yang perlu dikembangkan dapat diatasi dengan penanaman kembali pengaturan jalur hijau hutan bakau. Karena hutan bakau mempunyai peranan penting bagi perikanan, yaitu sebagai sumber makanan, tempat perlindungan (shelter), tempat berbiak (spawning ground), nursery ground. Secara fisik dan kimiawi; sebagai penahan gelombang, penahanan instrusi laut, penahanan erosi tanah, pengendali banjir dan pelindung terhadap pencemaran. (c) Kemajuan dan perkembangan teknologi yang pesat seperti di Muncar, telah membuka peluang terjadinya perubahan lingkungan yang berdampak pada kualitas dan produktivitas perairan, misalnya adanya pencemaran dari limbah industri pengolahan ikan dan limbah tampak intensif. Permasalahan Lingkungan Hidup Pedesaan Pantai (a) Keadaan cuaca di pedesaan pesisir pantai pada umumnya panas, berdebu dan berbau yang kurang sedap. Untuk mengatasi hal ini dapat diusahakan dengan mengadakan penghijuan, yaitu penanaman pohon atau tanaman yang bisa hidup di daerah pantai. Tanaman tersebut di tanam di sepanjang jalan desa maupun di halaman rumah penduduk. (b) Pertambahan penduduk yang masih relatif besar berdampak pada banyaknya produksi sampah domestik yang dibuang ke perairan pantai. Dengan adanya pembuangan tinja yang tidak higienik, maka gangguan diare dan muntah-berak pada (ii) 13 (iii) umumnya merupakan masalah yang sering melanda masyarakat desa pantai. Potensi dan Kendala Pengembangan Teknologi Penangkapan Pemanfaatan sumberdaya perairan oleh nelayan telah semakin intensif sejalan dengan penerapan teknologi penangkapan ikan yang lebih modern, baik teknologi armada perikanan (perahu/kapal) maupun alat penangkapan (jaring). Dalam hal ini inovasi teknologi meliputi : (a) Peningkatan mutu teknologi alat tangkap dan armada penangkapan; (b) diversifikasi penggunaan alat tangkap dan; (c) penambahan jumlah unit penangkapan. Perubahan teknologi yang terjadi selama 20 tahun terakhir di perairan laut Jawa Timur berkaitan erat dengan keadaan lingkungan perairan. Perairan laut utara merupakan wilayah selasar benua (continental shelf) yang dangkal dengan potensi sumberdaya perikanan demersial (dasar) dan pelagis (permukaan). Sedangkan perairan pantai selatan merupakan wilayah perairan dalam dengan potensi sumberdaya perikanan pelagis dan terpengaruh oleh perairan laut dalam (samudera). Secara ringkas nelayan Jawa Timur berdasarkan pada jangkauan daerah penangkapannya dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yiatu (a) nelayan yang bekerja di pantai; (b) lepas pantai, dan (c) laut lepas (samudera). Daerah-daerah penangkapan ini pada kenyataaan tidak dapat dipisahkan secara tegas. Pengelompokan ini berkaitan erat dengan kedalaman perairan, yang kemudian mempengaruhi jenis ikan yang diburu pada masing-masing unit kerja, alat tangkap yang dipakai, armada penangkapan dan modal kerja yang diperlukan. Disamping itu, daerah-daerah penangkapan ini, sampai saat ini masih didominasi oleh usaha nelayan skala kecil. Beberapa ciri penting dari usaha kecil ini menurut Sawit dan Sumiono (1986) antara lain: (a) kegiatan kerja lebih padat kerja dengan alat tangkap sederhana; (b) Teknologi penangkapan yang dipakai masih juga sederhana dan; (c) tingkat pendidikan dan ketrampilan juga rendah. Disamping itu, eksploitasi sumberdaya perairan pantai pada umumnya masih terbatas pada perairan yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal mereka. Ciri teknologi penangkapan oleh nelayan kecil ini adalah nelayan tanpa perahu menggunakan perahu dayung, layar dan/atau motor tempel. Perahu motor tempel adalah perahu dengan mesin yang dipasang di luar tubuh perahu (out board). 14 Selain itu juga terdapat pula usaha penangkapan ikan dengan skala menengah, dimana para nelayan yang menggunakan kapal motor dari berbagai ukuran kapal dan kekuatan mesin. Kapal motor adalah kapal/perahu dengan pemasangan mesin di dalam tubuh (in board). Pada umumnya kapal motor ini berpangkalan dikota pelabuhan di sepanjang pantai. Hal ini berbeda dengan umumnya perahu motor tempel yang berpangkalan di pusat-pusat pendaratan ikan (bukan pelabuhan) yang berada di dekat tempat tinggal mereka. Keragaman alat tangkap memungkinkan para nelayan skala kecil untuk berpindah dari satu sistem kerja ke sub sistem kerja lainnya dalam musim yang berbeda sebagai upaya untuk tetap bisa menangkap ikan. Oleh karena itu sub sistem kerja yang ada pada nelayan tidak bisa dianggap sebagai sub sistem yang saling terpisah. Sebagai contoh, di Puger, kabupaten Jember, pada bulan DesemberPebruari seorang nelayan mengoperasikan jaring gondrong (jaring kantong, trammel net), dan di bulan-bulan berikutnya mereka (nelayan) bisa saja mengoperasikan pancing prawe. Keluwesan seorang nelayan untuk pindah sistem penangkapan tergantung pada berbagai hal, diantaranya: (a) Kemampuan nelayan, baik ketrampilan maupun kemungkinan keragaman alat tangkap yang bisa digunakan untuk skala kapal dan mesin yang dimilikinya; (b) kondisi lingkungan, yaitu jenis ikan yang sedang musim dan keadaan perairan dan; (c) ketersediaan tenaga kerja yang mampu melaksanakan operasi penangkapan ikan yang tersedia. Dalam hubungan ini, para nelayan umumnya membagi musim penangkapan menjadi dua, yaitu musim panen dan musim paceklik. Sesuai dengan namanya, musim panen merupakan saat para nelayan memperoleh puncak penghasilan. Sebaiknya musim paceklik merupakan saat para nelayan kurang/tidak berpenghasilan. Musim panen dicirikan oleh munculnya jenis ikan buruan pada daerah penangkapan, biasanya bertepatan dengan musim teduh (laut tidak berombak besar). Adapun bulan paceklik terjadi bila sumberdaya yang menjadi buruan menghilang dari daerah penangkapan atau bila laut berombak besar. Bila paceklik terjadi karena sebab “hilangnya ikan” yang menjadi buruan, para nelayan mencoba mengatasinya dengan mengganti alat tangkap lain, sesuai dengan sumberdaya yang ada atau dengan berpindah daerah penangkapan perairan lain. Bila paceklik terjadi karena musim ombak, para nelayan mengatasinya dengan berpindah daerah 15 penangkapan (migrasi) ke perairan lain yang tenang dan tersedia sumberdaya yang menjadi sasaran penangkapan. Kegiatan melakukan migrasi mencari daerah penangkapan lain jauh dari tempat tinggalnya melakukan penangkapan ikan di laut, atau kemudian menetap di desa nelayan lainnya disebut andon. Kegiatan andon bisa diduga hanya dapat dilakukan oleh nelayan yang memiliki perahi baik (baik berlayar jauh mencari daerah penangkapan lain) dan/atau memiliki alat tangkap yang beragam. Dengan demikian strategi eksploitasi penangkapan ikan yang dilakukan para nelayan skala kecil tergantung pada berbagai hal, diantaranya : (a) potensi sumberdaya, (b) variasi alat tangkap yang dimiliki dan; (c) mutu perahu. Program pemerintah, seperti Bimas, kredit KIK/KMKP atau bentuk kredit yang lain selama 15 tahun terakhir ini, telah memungkinkan banyak nelayan memperbaiki mutu perahu dengan menganekaragaman alat tangkapnya, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kestabilan pendapatnya dalam musim-musim yang berbeda. Hanya saja pada sisi lain juga membawa implikasi bertambahnya intensitas eksploitasi sumberdaya perikanan laut. 4.1.5. Perkembangan Teknologi Penangkapan Ikan Perkembangan teknologi penangkapan ikan di Jawa Timur sudah dimulai sejak lama. Alat tangkap yang sudah lama mereka kenal berupa pancing (rawai), payang (boat seine), jaring insang (gill – net) pijer (bottom gill net) dan payang alet (danish seine). Pada awal dekade 1970-an dikawasan ini mulai dikenal kapal trawi tipe cungking dari bagansiapi-api yang menggunakan kapal motor. Selanjutnya motorisasi perikanan berupa motor tempel berkembang teknologi penangkapan ikan di Jawa Timur, yaitu : a) Pertama, konflik antara nelayan payang dan purse seine di Muncar pada tahun 1974, yang selanjutnya diikuti program kredit purse saine untuk kelompok nelayan di Muncar sebanyak 30 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 12 orang anggota. b) Kedua, konflik terbuka antara nelayan jaring dan nelayan trawi di pantai utara jawa (Laut Utara dan Selat Madura) sepanjang tahun 1975 – 1979. Yang selanjutnya diikuti dan diakhiri dengan Kepres No. 39 tahun 1980 kemudian diikuti dengan program Bimas Perikanan Tahun 1981 dan 1982. Disamping program KIK / KMKP untuk eks ABK trawi. Kedua kejadian tersebut diatas telah berdampak positif terhadap perkembangan teknologi penangkapan ikan di Jawa Timur. Kejadian pertama 16 telah mendorong nelayan Muncar mengalihmkan unit kerja penangkapan dari alat payang ke alat tangkap purse seine, baik melalui kredit maupun tanpa kredit. Sedangkan kejadian kedua telah mendorong hampir seluruh wilayah perikanan di Jawa Timur terkena dampak pengenalan teknologi penangkapan baru, seperti pengenalan kapal penangkapan (kapal purse seine) dan macam-macam gillnet, sehingga motorisasi perikanan berupa motor tempel berkembang sangat pesat dalam dekade 1980-an. Gambaran tentang tahap-tahap perbaikan teknologi penangkapan yang pernah dilakukan nelayan Jawa Timur adalah sebagai berikut : a) Pada dasarnya nelayan Jawa Timur secara keseluruhan sangat responsif terhadap perbaikan teknologi b) Perubahan struktur pemilihan alat tangkap atau pengganti alat tangkap lain dapat terjadi karena kemungkinan : - Program pemerintah : kasus pemilihan purse seine oleh nelayan sendiri; - Kasus perkembangan gardanisasi jaring dogol (danish seine) di Selat Madura; c) Mengingat kondisi perairan yang berbeda antara perairan Laut Utara dan Selatan Jawa Timur, maka perkembangan teknologi yang dimiliki beberapa perbedaan disamping terdapat persamaan. Persamaannya adalah : ukuran kapal, mesin dan alat tangkap meningkat, disamping diterapkannya alat yang lebih efisien, seperti gearbox, atau peningkatan kemampuan alat bantu seperti lampu dan rumpon. Perubahan yang ada mengarah pada penggunaan alat yang makin efisien. Sedangkan perbedaannya meliputi hal-hal yang berkenaan dengan sistem penangkapan : (1) Di Wilayah Selatan mengarah pada perluasan alat tangkap untuk perairan Samudera, seperti gill net dan pancing prawe. Mengingat wilayah Muncar telah dikenakan teknologi sejak tahun 1974/1975, maka kecepatan perubahan nampak sangat tinggi, bahkan semakin memberi arah pada perubahan-perubahan teknologi yang lain. Dengan diperkenakannya listrik untuk alat bantu penangkapan, telah membuka peluang lain untuk memasuki modernisasi penangkapan ikan lebih luas. (2) Di Wilayah Utara (Laut Jawa dan Selat Madura) mengarah pada pengembangan perikanan demersal, khususnya pengembangan gardanisasi payang dogol (danish seine). Proses persaingan antara payang dan purse seine di Selat Madura, terjadi keadaan keduannya bertahan pada lokasi penangkapan yang berdekatan (konsistensi), sedangkan di Laut Jawa posisi payang makin marginal, dan purse seine perkembangan alat tangkap gill net, sedang diperairan utara cenderung berkembang macam-macam ukuran gil net kecil sesuai dengan jenis 17 ikan yang menjadi buruan. Di bagian utara Jawa Timur banyak berkembang jenis gill net baru. d) Ditinjau dari segi waktu, maka dekade 1980-an adalah merupakan tahap perbaikan adopsi teknologi secara internal yang telah menyiapkan nelayan Jawa Timur memasuki tahap pengembangan teknologi modern selanjutnya. 4.1.6. Teknologi Penangkapan dan Peluang Pengembangannya Setelah melewati perkembangan teknologi penangkapan ikan di Jawa Timur selama 20 tahun, maka keadaan teknologi yang ada sekarang telah maju dari gambaran besarnya investasi terlihat besarnya potensi sumber dana milik nelayan. Pada umumnya sumber dana tersebut merupakan modal sendiri, dan hanya sebagian kecil nelayan yang telah memperoleh modal dari Bank. Disamping itu, secara geografis potensi sumberdaya alam yang tersedia di wilayah utara tersedia potensi ikan-ikan demerial belum dimanfaatkan secara maksimal, khususnya pasca larangan penggunaan jaring trawl sejak tahun 1981. Adapun di wilayah perairan selatan tersedia potensi sangat besar ikan-ikan pelagis seperti ikan tuna, tongkol, dan cucut, juga masih dimanfaatkan sangat rendah. Menurut perkiraan Dinas Perikanan Propinsi Jawa Timur pemanfaatan potensi perikanan di wilayah perairan laut selatan di bawah 10% dari potensi lestari. Sementara itu, dari pengalaman selama 20 tahun terakhir. Beberapa kelemahan dan ancaman untuk mendorong dan meningkatkan penerapan teknologi maju selanjutnya antara lain adalah : (a) Tingkat pendidikan dan ketrampilan rendah, rata-rata pendidikan Sekolah Dasar; (b) Kesenjangan ekonomi diantara para nelayan tradisional dengan nelayan maju dilingkungan masyarakat nelayan skala kecil itu sendiri makin besar, baik antar lokasi penelitian, maupun di lingkungan lokasi penelitian itu sendiri. Kesenjangan nampak antara nelayan purse seine dan payang dengan nelayan gill net; (c) kesenjangan ekonomi yang ada juga berdampak terhadap kesenjangan memperoleh informasi teknologi antara jenis alat tangkap maupun antar wilayah masih sangat nampak. Sementara itu peranan penyuluh perikanan masih terasa terlalu rendah, bahkan terkesan lnelayan jauh lebih terampil dari pada para penyuluh yang ada, (d) kelembagaan koperasi (KUD) hampir seluruhnya belum berfungsi. Di semua lokasi penelitian diperoleh informasi bahwa KUD masih lebih dikenal sebagai pemungut retribusi saja, dan kurang mampu mengatasi permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh nelayan. Beberapa peluang yang mungkin bisa dimanfaatkan nelayan selanjutnya antara lain : (a) Keberhasilan penerapan teknologi yang ada sekarang menumbuhkan optimisme para nelayan, khususnya di wilayah perairan selatan, mengingat potensi ikan tuna yang memiliki peluang ekspor, maupun juga adanya 18 peluang ekspor beberapa jenis ikan dasar seperti ikan kerapu, udang barong, udang dan lainnya untuk wilayah perairan utara Jawa Timur, (b) Cukup tersedia pilihan teknologi baru, misalnya penerapan lampu bawah air, sarana komunikasi, maupun proyek-proyek pelabuhan yang sedang dibangun oleh pemerintah; (c) Adanya efek demonstratif dari perbaikan teknologi antar wilayah cukup besar untuk mengurangi adanya wilayah yang belum terjangkau oleh pengenalan teknologi, sehingga perbaikan teknologi yang berhasil disuatu lokasi perikanan akan segera tersebar ke seluruh wilayah. Penyebaran teknologi tersebut lebih dipercepat mengingat daya migrasi dan andon para nelayan antar wilayah cukup besar. Sehubungan dengan adanya faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang ada, maka pengembangna teknologi penangkapan masa depan di Jawa Timur ada beberapa pilihan layak secara teknis, antara lain : (a) Wilayah Selatan : perluasan usaha perikanan dengan menggunakan alat tangkap gill net dan pancing prawe; (b) Wilayah utara perluasan usaha perikanan dengan menggunakan alat tangkap dogol (danish seine) bergardan yang ditujukan untuk memanfaatkan potensi perikanan dasar (demersal) di Laut Jawa dan Selat Madura; (c) Baik untuk wilayah utara maupun selatan Jawa Timur untuk dikaji lebih dalam adanya penggunaan teknologi lampu di bawah air, gear box untuk mesin kapal maupun pengembangan alternatif purse seine khususnya di Puger Perhitungan kelayakan ekonomi disajikan di lampiran. 4.2. Aspek Ekonomi Usaha Penangkapan Ikan 4.2.1 Hari Kerja Usaha Penangkapan Ikan Hari kerja usaha penangkapan ikan di Jawa Timur 17-26 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan hari kerja menurut jenis kapal maupun alat tangkapnya disebabkan keadaan musim (antara musim paceklik dan bukan). Hanya lterjadi pada wilayah Puger, sedangkan pada daerah lain perbedaannya tidak begitu menonjol. Hal ini disebabkan karena pada wilayah Puger dan musim tersebut terjadi angin barat yang menyebabkan gelombang laut cukup besar. Hasil penelitian bahwa hari kerja nelayan tidak penuh 30 hari, dikarenakan memperbaiki alat tangkapnya. Disamping itu pada waktu terang bulan juga nelayan tidak bekerja dikarenakan tidak ada ikan. 4.2.2 Tingkat Pendapatan dan Kelayakan Teknologi Tingkat pendapatan usaha penangkapan ikan ada pada jenis Purse Seine, kemudian payang dan Glinet. Adanya perbedaan pendapatan berdasarkan wilayah penelitian disebabkan karena adanya perbedan teknologi dan fisling 19 gronnd purse seine di Muncar (Banyuwangi) pendapatan tertinggi dibanding lain dengan wilayah lain, dikenalkan etimologis sudah maju dengan fisling groundnya lebih jauh. Ditinjau dari segi pendapatan pendega (ABK) Gilnet yang tertinggi, hal ini dikemukakan karena disamping teknologinya semi maju, juga disebabkan jumlah ABK lebih sedikit. Variasi pendapatan permusim tampaknya terjadi perbedaan. Jenis Gilnnet dan Purseine, tampaknya relatif lebih stabil. Namun hasil penelitian menunjukkan juga ditentukan oleh wilayah (Potensi Sumber Daya Ikan). Dengan demikian apabila nelayan dapat mengoperasi diluar wilayah (andon), pendapatannya cenderung stabil hal ini banyak dilakukan oleh nelayan di Muncar. Ditinjau dari segi kelayakannya ternyata gill net pantas dikembangkan untuk peningkatan golongan nelayan kecil (pendega). Sedangkan di wilayah utara tampaknya pengembangan pada penggunaan “alet” yang lebih beragam. Jenis Dogol yang dikombinasikan antara pancing perawe permukaan tampaknya dapat dilakukan. 4.2.3. Potensi dan Kendala Sumberdaya Manusia dan Sosial Budaya Uraian ini akan menggambarkan kondisi umum nelayan dan pengolah serta penduduk lainnya yang terdapat di keenam daerah penelitian. Keenam daerah tersebut dikategorikan ke dalam tiga satuan wilayah, yaitu (a) wilayah Timur-selatan (Muncar dan Puger), (b) Wilayah utara /Selat Madura (Lekok dan Bandaran) dan (3) Wilayah utara/Laut Jawa (Bulu dan Weru). a) Karakteristik Penduduk Alokasi waktu anggota keluarga pendega membantu kegiatan produktif bervariasi, Sebagian kecil saja yang memanfaatkan waktunya untuk kegiatan produktif, misal pedagang skala kecil, pembuat ikan olahan (tepung ikan) dan warung makan skala kecil. Usaha pembuatan tepung ikan skala rumahtangga dan dijual di pasar muncar. Pendidikan pendega pada umumnya sampai pada tingkat SD atau tidak tamat SD, sedangkan para juragan darat umumnya memiliki pendidikan yang lebih tinggi. Pengetahuan dan ketrampilan nelayan tentang aspek penangkapan ikan rata-rata lebih tinggi dari pada para tugas lapangan dari TPI/KUD dan PPL. b) Karakteristik Responden Nelayan juragan responden di Muncar terdiri dari empat alat tangkap, yaitu purse seine, gill net, pancing dan payang. Rata-rata jumlah keluarga juragan purse seine dan pancing adalah 4 sampai 5 orang, sedangkan untuk nelayan gill net dan payang antara 6 sampai 8 orang. Pekerjaan istri rata-rata adalah berjualan 20 “Mracangan”. Sebagian besar pendidikan mereka adalah SD atau SD tidak tamat. Sebagian besar nelayan Muncar ini bekerja sebagai nelayan pada tahun 1970-an. c) Lingkungan Sosial Latar belakang menjadi pendega bervariasi. Nelayan lokal cenderung memilih pendega karena tidak ada alternatif pekerjaan lain. Disamping itu juga ada yang digunakan untuk meniti profesi ke arah juragan laut dan kemudian menjadi juragan darat. Pendega berasal dari dalam dan luar desa nelayan. Pendega luar desa nelayan ada yang dekat desa nelayan dan biasanya bekerja sebagai buruh tani, dan ada yang asal luar daerah seperti, Madura, Probolinggo, Bondowoso dan Jember. Panutan nelayan di Muncar adalah juragan yang sekaligus “mengerti agama”. Peranan Camat dan Lurah/Kepala Desa dihadapi secara netral. Arahan pejabat ini akan dituruti jika “menguntungkan” dan akan tidak ditanggapi bila “tidak menguntungkan”. Bila kebijaksanaan pejabat tersebut dianggap “merugikan” maka nelayan pendega diorganisir oleh juragan untuk menentangnya. Kasus konflik di Muncar 1974 berakar pada peranan “juragan yang kuat” dan mereka dirugikan oleh pihak tertentu di masyarakat. d) Respon Masyarakat terhadap Kredit dan Program Pemerintah, Serta Teknologi. Ketika peranan KUD dominan dalam pengelolaan kredit kelompok pendega, maka respon mereka sangat positif. Pengembalian kredit lancar dan bahkan nelayan dapat melunasi pinjamannya kepada KUD. Hal ini berlangsung pada tahun 1974-1979. Hal demikian ini tidak diikuti pada pemberian kredit Bimas I dan Bimas II tahun 1981/1982 (gill net dan payang). Alat tangkap tersebut tidak segera menguntungkan nelayan dan pengembaliannya hanya mencapai sekitar 15-25%. Secara umum respon masyarakat nelayan pada program pemerintah “positif”, (termasuk TPI) asal para pembeli (Pengolahan Ikan) ikut melakukan lelang di TPI. Demikian pula nelayan sangat setuju bila diadakan lelang murni, pelabuhan perikanan dan proyek pemerintah lainnya. Penentu respon ini masih selalu dikaitkan dengan keuntungan ekonomi nyata yang diperoleh oleh para pendega. Masyarakat nelayan menilaikan bahwa “kredit pemerintah” merupakan fasilitas yang menjadi hak mereka, sehingga ada kecenderungan tidak melunasi pinjaman, terlebih lagi vila alat tangkap mereka cepat mengalami kerusakan. Hal demikian ini menjadi berbeda, bila mereka mempunyai hutang kepada tetangga atau kepada kerabatnya. Hutang harus dibayar, tatapi kredit tidak harus dibayar, apalagi kredit kelompok, sebab tidak bisa ditentukan penanggung jawab tunggal. Respon terhadap perkembangan teknologi nelayan Muncar sangat positif. Hal ini dapat diamati dari hasrat untuk mencari informasi dan memperbaiki teknologi yang dimiliki yang terus berubah semakin intensif. 21 e) Ketergantungan Nelayan Untuk mempertahankan pendega agar tetap bekerja kepada juragan maka juragan memberikan pinjaman kepada pendega, maksimal Rp. 50.000,- Pendega dapat pindah ke juragan lain dengan cara melunasi pinjamannya. Kedatangan pendega yang andon ke desa nelayan menyebabkan “harga” tenaga kerja menjadi lebih murah. Hal demikian ini digunakan oleh juragan darat dan juragan laut untuk menurunkan bagian hasil tangkap. Penerimaan bagi hasil yang rendah ini tidak menggairahkan pada semangat kerja pendega. V. POTENSI SUMBERDAYA DAN PERATURAN PERUNDANGAN 5.1. Pendahuluan Studi penyusunan pedoman pengaturan ruang kawasan pesisir pantai pada dasarnya tidak terlepas dari kebijakan pemerintah propinsi Jawa Timur, kabupaten, dan kecamatan wilayah studi. Kebijakan tersebut adalah rencana tata ruang, kebijakan sektoral terkait. Berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang bahwa Rencana Tata Ruang berdasarkan hicrarkhi atas Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi, Rencana Tata Ruang Wilayah Kotamadia/Kabupaten (Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan, Rencana Tata Ruang Kawasan Perdesaan dan Rencana Tata Ruang Kawasan Tertentu). Berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah Pasal 4 (1) Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun daerah propinsi, daerah kabupaten dan daerah kota yang berwewenang dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat. (2) Daerah-daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) masing-masing berdiri-sendiri dan tidak mempunyai hubungan hicrarkhi satu sama lain. Sihingga untuk perencanaan tata ruang yang ada di kabupaten bukan merupakan penjabaran dari Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi tetapi merupakan sinkronisasi dari Rencana Tata Ruang yang ada di wilayah propinsi. Penyusunan rencana tata ruang bertujuan untuk menumbuhkan ekonomi wilayah dan memeratakan perkembangan ekonomi, sosial budaya masyarakat di seluruh wilayah, mengintegrasikan wilayah dalam rangka memantapkan ketahanan nasional serta mengoptimalkan pendayagunaan 22 sumberdaya alam secara serasi dengan sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan. Berdasarkan kebijakan dan stategi pembangunan wilayah pesisir dan kelautan, ditetapkan berdasarkan penentuan batas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) kewewenangan Indonesia untuk mengelola wilayah kelautan adalah sejauh 200 mil dari pasang surut terendah. Sedangkan berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 dijelaskan bahwa wewenang pengelolaan wilayah kelautan bagi propinsi adalah 12 mil, dan bagi kabupaten/kota kewenangan pegelolaan wilayah kelautannya adalah 4 mil. Wilayah pesisir pantai merupakan wilayah peralihan antara daratan dan perairan laut. Secara fisiografis didefinisikan sebagai wilayah antara garis pantai hingga ke arah daratan yang masih dipengaruhi pasang surut air laut, dengan lebar yang ditentukan oleh kelandaian (% lereng) pantai dan dasar laut, serta dibentuk oleh endapan lempung hingga pasir yang bersifat lepas, dan kadang materinya berupa kerikil. Wilayah pesisir daat diartikan suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Ditinjau dari garis pantai (coastline), maka suatu wilayah pesisir memiliki dua macam batas (boundaries), yaitu: batas yang sejajar garis pantai (longshore) dan batas yang lurus terhadap garis pantai (crosshore). Ruang kawasan pesisir merupakan ruang wilauah diantara ruang daratan dengan ruang lautan yang saling berbatasan. Ruang daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah ermukaan daratan termasuk perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah. Ruang lautan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut pada garis laut terendah, termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. 5.2. Dasar Penyusunan Studi Pedoman Pengaturan Ruang Kawasan Pesisir Pantai di Jawa Timur adalah : Undang-Undang Dasar 1945 TAP MPR No. IV/MPR/1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara TAP MPR No. XV1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara Undang-Undang No. 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria Undang-Undang No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan Undang-Undang No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan PokokPertambangan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 23 8. Undang-Undang No. 5 Tahun 1967 tentang Landas Kontinen Indonesia 9. Undang-Undang No. 13 Tahun 1980 tentang Jalan 10. Undang-Undang No. 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia 11. Undang-Undang No. 2 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan hidup 12. Undang-Undang No. 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekslusif Indonesia (ZEE) 13. Undang-Undang No. 5 Tahun 1985 tentang Perindustrian 14. Undang-Undang No. 12 Tahun 1985 tentang Perikanan 15. Undang-Undang No. 17 Tahun 1985 tentang Pengeshahan United Nations Convertion on the Law of the Sea (Konversi PBB tentang Hukum Laut) 16. Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya 17. Undang-Undang No. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan 18. Undang-Undang No. 2 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan hidup 19. Undang-Undang No. 4 Tahun 1990 tentang Perumahan dan Pemukiman 20. Undang-Undang No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya 21. Undang-Undang No. 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran 22. Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang 23. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah 24. Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah 25. Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undangundang tahun 1967 Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan 26. Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 1970 tentang Perencanaan Hutan 27. Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air 28. Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1982 tentang Irigasi 29. Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1985 tentang Jalan 30. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan 31. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1991 tentang Rawa 32. Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1991 tentang Sungai 33. Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1996 tentang Peran serta Masyarakat dalam Kegiatan Penataan Ruang 34. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom 24 35. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri 36. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Hutan Lindung 37. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 33 Tahun 1989 tentang Pengelolaan Kawasan Budaya 38. Pemendagri No. 8 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Budaya 39. Pemendagri No. 9 Tahun 1998 tentang Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah 40. Pemendagri No. 2Tahun 1998 tentang Pedoman Penyususnan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Dati II 41. Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun 1988 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau 42. Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Jawa Timur No. 59 Tahun 1990 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Jawa Timur 5.3. Kebijaksanaan Pemukiman Kawasan pemukiman pesisir merupakan suatu lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan, dimana dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut dipengaruhi oleh sifat alam kawasan pesisir. Dampak penting terhadap ekosistem tergantung pada tipe pemukiman pesisir. Pengembangan kawasan pesisir untuk kawasan pemukiman penting memperhatikan keadaan ekosistem sekelilingnya. Sedangkan hal yang penting lagi adalah pada tahap konstruksi, karena pada tahap ini akan dilakukan pembukaan wilayah dan pengubahan ekosistem (konversi). Konsep pengembangan pemukiman di kawasan pesisir yang dapat diterapkan adalah pengembangan desa pantai. Upaya yang harus dilakukan antara lain adalah membina masyrakat desa pantai untuk lebih aktif dan berperan dalam pembangunan desa. Pembinaan desa pantai tersebut akan dilaksanakan secara terpadu. Kebijaksanaan yang akan dilaksanakan dalam Pembinaan Desa Pantai ialah : a. Memperbaiki tingkat kehidupan masyarakat desa pantai yang kondisinya jauh tertinggal dibandingkan dengan desa-desa lainnya 25 b. Memperbaiki tingkat pendapatan masyarakat desa pantai melalui upaya-upaya pemanfaatan sumberdaya laut dengan teknologi siap pakai c. Memperbaiki kualitas pemukiman d. Penyediaan infrastruktur dan fasilitas sosial e. Membina kelembagaan desa pantai f. Penyuluhan konservasi lingkungan desa pantai untuk menunjang kelestarian sumberdaya alam dipesisir dan lautan g. Peningkatan peran serta masyarakat dan swasta h. Rekayasa teknologi tepat guna dan tepat tingkungan untuk daerah desa pantai 5.4. Pedoman Pengaturan Ruang Kawasan Pesisir Pantai Sejalan dengan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam TAP MPR No. XV/1999 pasal 1 dan 2, bahwa penyelenggaraan otonomi daerah dengan memberikan kewenangan yang laus, nyata dan bertanggung jawab kepada pemerintah daerah, termasuk dalam pengelolaan sumberdaya alam. Pasal 5 TAP MPT No.XV/1999, menyatakan bahwa pemerintah daerah berwenang mengelolan sumberdaya nasional dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan. Pedoman pengaturan ruang kawasan pesisir pantai secara terpadu yang dimaksud adalah pengelolaan secara terpadu antar lintas sektoral. Sehingga keutuhan peranan sumberdaya alam dalam tatanan lingkungan menjadi penting untuk dilestarikan. Pedoman pengaturan tersebut merupakan landasan bagi penyusunan perencanaan taktis dan perencanaan operasional. Pengaturan tersebut selanjutnya diterjemahkan menjadi pola pengelolaan raung kawasan pesisir pantai, yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan nasional dan regional. Pedoman pengaturan ruang kawasan pesisir pantai dilakukan secara terpadu antar sektoral harus ada keterpaduan antar lintas sektoralnya. Diharapkan faktor keutuhan peranan sumberdaya alam dalam tatanan lingkungan menjadi penting untuk dilestarikan. Pedoman kebijakan pemanfaatan ruang kawasan pesisir pantai meruapakan kebijakan penetapan kawasan berdasarkan keseuaian pemanfaatan ruangnya. Tujuannya adalah untuk memberikan arahan zonasi kawasan budaya dan kawasan lindung. Kawasan budaya meliputi kawasan pemukiman, pariwisata, pertanian, perikanan. Sedangkan kawasan lindung meliputi kawasan yang memberikan perlindungan 26 kawasan bawahannya, antara lain kawasan hutan lindung, kawasan rawan bencana, kawasan sempadan pantai, sempadan sungai. Kriteria tata cara penetapan kawasan lindung dan kawasan budaya ini telah diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 837/KPTS/UM/1980. 5.5. Gambaran Wilayah Kabupaten Malang Kabupaten Malang ditinjau dari posisi koordinat Bujur dan Lintang berada pada posisi 120 17’ 10,9”-1120 57’ 0,0” BT dan 70 44’ 55,11” – 80 26’ 34,45” LS. Kabupaten Malang merupakan wilayah yang cukup luas, yang terdiri dari wilayah darat, pantai dan laut. Luas wilayah darat Kabupaten Malang ialah 334,787 Ha. Sedangkan wilayah laut adalah 4 mil (berdasarkan UU No. 22 tahun 1999), dengan garis pantai sepanjang 102,625 Km. Kabupaten Malang ditinjau dari kondisi fisik dasar, terdiri dari kondisi topografi (keterangan dan ketinggian), kondisi geologi, kondisi jenis tanah, kedalaman efektif tanah, drainase, erosi, curah hujan dan kondisi klimatologi. a. Kondisi Topologi Kondisi Topologi yang dimaksud adalah kondisi kelerengan dan ketinggian. Kabupaten Malang ditinjau dari kondisi kelerengannya, sebagian besar berada pada kelerengan 2 – 15 %, yaitu 119.030,78 Ha dan sebagian kecil berada pada kelerengan 0 – 2 % yaitu 119.030,78 Ha dan sebagian kecil berada pada kelerengan 0 – 2 % yaitu 52.607,78 Ha. Kondisi ketingginan Kabupaten Malang berada pada ketinggian 0 – 200 m di atas permukaan laut. Ditinjau dari kondisi morfologinya, daerah yang berada pada kondisi landai hingga pegubungan berada pada kecamatan Bululawang, Gondanglegi, Tajinan, Turen, Kepanjen dan Pakisaji, sebagian Kecamatan Singosari, Lawang, Karangploso, Dau, Pakis, Dampit, Sumber Pucung, Kromengan, Pagak, Kalipare, Donomulyo, Bantur, Ngajum, Gedangan. Sedangkan daerah bergelombang berada pada Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Wagir dan Wonosari. 27 Analisis Kesesuaian Pemanfaatan Lahan Penentuan zona-zona penggunaan lahan Menggunakan unit lahan sebagai unit analisa Karakteristik Lahan Yang Dianalisa Keadaan iklim Kondisis tanah SKOR Kemiringan lahan < 75 kawasan budidaya tanaman semusim/ pemukiman 75 – 125 kawasan budidaya tanaman tahunan 125 – 175 tamanan penyangga < 175 Kawasan lindung Gambar 2. Diagram Evaluasi Sumberdaya Lahan 28 b. Kondisi Geologi Kondisi geologi di Kabupaten Malang terdiri dari 5 struktur geologi yaitu hasil gunung api kwarter muda, hasil gunung api kwarter tua, miosen facies gamping, miosen facies sediman dan alivium. Struktur geologi terluas adalah hasil gunung api kwarter muda yaitu 145.152,52 Ha (44,25 %). Sedangkan luas terkecil struktur geologi adalah miosen facies sedimen yaitu 12.834 Ha (3,83 %). c. Kondisi Jenis Tanah Jenis tanag di Kabupaten malang terdiri dari 7 jenis tanah, yaitu : Jenis tanah andosol, latosol, mediteran, litosol, alluvial, regosol, brown forest. Jenis tanah terluas adalah latosol, yaitu 86.260,36 Ha (25,77 %). Sedangkan yang terkecil luasannya adalah jenis tanah brown forest yaitu 6.142,25 Ha (1,83 %). d. Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah di Kabupaten Malang sebagian besar berada pada kedalaman > 90 cm, yaitu 278.925,56 Ha (83,31 %) dan sebagian kecil berada kedalaman efektif tanah < 30 cm, yaitu 2.528 Ha (0,76 %). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.4. 5.5.1. Penggunaan Tanah Penggunaan tanag di Kabupaten Malang didominasi kawasan tegal/kebun seluas 117.160 Ha atau 36 % dari luas keseluruhan. Kawasan terluas kedua berupa hutan seluas 86.186 Ha atau sekitar (26 %) dari luas keseluruhan. Untuk lahan sawah seluas 48385 Ha (15 %). Lahan permukiman 44.859 Ha (14 %). Lahan dengan penggunaan lainnya seluas 12.220 Ha (4 %), padang rumput 41 (Ha) (0,01 %), tambak 188 Ha (0,06 %). 5.5.2. Gambaran Umum Wilayah Pesisir A. Kondisi Fisik Kondisi fisik yang mendukung gambaran umum daratan adalah keadaan topografi, hidrologi, klimatologi, jenis tanah, tekstur tanah, kedalaman efektif tanah, erosi dan bahan galian. Adapun uraian masing - masing kondisi fisik tersebut adalah sebagai berikut : 29 a. Topografi Berdasarkan kondisi topografinya wilayah perencanaan memiliki ketinggian kirang lebih dari 0 – 2000 meter di atas permukaan laut dan keadaan yang bervariasi yaitu kondisi terjal sampai pegunungan. Semakin mendekati daerah pantai umumnya memiliki karakteristik daerah pegunungan kapir dan kemiringannya sangat besar. Tingkat kelerengan wilayah berkisar diantara kelerengan 2 – 15 %, 15 – 40 % dan 40 %. Hal ini bisa diindikasikan bahwa pada wilayah perencanaan kondisi lahannya bergelombang sampai terjal. Untuk kelerengan > 40 % yang sebagian besar meliputi Kecamatan Ampelgading dan Tirtoyudo merupakan daerah yang harus dihutankan karena mempunyai fungsi sebagai perlindungan terhadap tanah dan air dan menjaga ekosistem lingkungan hidup. Tabel 5.5 Kelerengan Wilayah Pesisir Kecamatan 0–2% 2 – 15 % Ampel Gading 1273,5 3942,5 Tirtoyudo 230 2996,33 Sbermanjing Wetan 987 5437,5 Gedangan 347,5 9607,5 Bantur 316,25 11097,75 Donomulyo 96,5 9156 Sumber : Revisi RTRW Kabupaten Malang 15 – 40 % 5336,5 5130,33 10929,75 5090,25 4089 5004,5 > 40 % 10781,5 5839,34 6595,75 1019,75 412 1414 b. Hidrologi Kondisi hidrologi yang dilihat di pantai Kabupaten Malang meliputi kondisi air permukaan dan kondisi air tanah. Kondisi air permukaan yang dimaksud adalah air sungai dan kondisi air tanah adalah sumber/mata air yang berasal dari dalam tanah. Pantai-pantai yang memiliki sumber air permukaan atau aliran sungai adalah pantai Licin, Sipelot, Lenggosono, Tamban, Wonogoro dan Kondang Merak. Kondisi muara sungai pada musim kemarau pada umumnya tertutup pasir, sehingga aliran sungai terhenti di mulut muara dan baru terbuka pada musim penghujan. Muara sungai yang terletak di pantai licin dipenuhi oleh pasir yang berasal dari Gunung Semeru. Pasir inilah yang mengakibatkan pasir di pantai Licin yang semula putih menjadi kehitaman. Selama Gunung Semeru masih aktif diperkirakan sungai dan muaranya akan terus penuh dengan pasir. Adapun sungai-sungai yang melewati wilayah perencanaan yaitu kali Giok yang bermuara di Pantai Licin, Kali Bambang (Kecamatan Sumbermanjing Wetang), kali Duron, Bopakang, Bopak dan Sumber bulus. Kali sumberbulus bermuara di 30 Pantai Wonorogo, Kali Balekambang (Kecamatan Bantur) dan Kali Sumbermanjing (Kecamatan Donomulyo). Sumber air tanah sebagai sumber air tawar diperoleh dari dalam tanah. Cara memperoleh dilakukan dengan cara mengebor dengan kedalaman 40 – 60 meter disamping sumber air dalam tanah, sumber air utama penduduk adalah mata air yang lokasinya tersebar di seluruh wilayah. c. Klimatologi Keadaan cuaca di wilayah perencanaan seperti umumnya cuaca di Kabupaten Malang memiliki iklim tropis dengan suhu 18,25 0C sampai dengan 31,45 0C (suhu rata-rata dari empat stasiun pengamat cuaca antara 23 0C sampai 25 0C). Tekanan udara dibawah 1.012,70. Curah hujan rata-rata per tahun 1.596 mm dan hari hujan 84,85 per tahun. Curah hujan turun antara bulan April – Oktober. Diantara kedua musim tersebut ada musim peralihan antara bulan April – Mei dan Oktober – November. Iklim menentukan setiap macam/tipe vegetasi yang terbentuk pada suatu wilayah, tergantung pada panjang bulan basah dan panjang bulan kering. Pada wilayah dengan curah hujan tinggi terbentuk vegetasi hutan, sedang pada pada suatu wilayah yang mempunyai curah hujan rendah akan terbentuk vegetasi semak belukar ataupun padang rumput. d. Jenis Tanah Berdasarkan jenis tanah ini dapat diketahui sifat-sifat tanah yang bisa menginformasikan tingkat kesuburan, kemudahan erosi, porositas dan sebagainya. Dari jenis tanah ini juga bisa diketahui potensi suatu wilayah untuk pengembangan dalam berbagai sektor. Dalam suatu kawasan yang terdapat budidaya pertanian, pendekatan yang dilakukan pada pengertian tanah adalah lapisan dan teratas dari kerak bumi yang terdiri dari tiga fase yaitu bahan padat, bahan cair dan bahan gas. Apabila ketiga bahan tersebut adalam keadaan optimum merupakan media tumbuh bagi tanaman. Dengan pendekatan pengertian tersebut diatas, tanah dapat diekspresikan sebagai bahan/media tumbuh tanaman yang sangat marginal, sehingga memerlukan pengelolaan teknis dan mekanis dengan sebaik-baiknya. Untuk kawasan pesisir daerah Malang Selatan menurut Tabel Hasil Perhitungan Kemampuan Tanah Kabupaten Malang adalah tergolong jenis Latosol dan Andosol walaupun ada jenis Alluvial akan tetapi jumlahnya relatif lebih sedikit lebih sedikit dibandingkan dengan jenis Latosol dan Andosol. Menurut Budi Santoso (1989), tanah latosol memiliki merah karena meningkatnya konsentrasi Fe dan Al yang keluar dari solum. Sedangkan tanah 31 Andosol memiliki ciri tanah subur, mudah erosi dan sesuai untuk tanaman tahunan. e. Tekstur Tanah Tekstur tanah merupakan sifat tanah untuk mengetahui berbagai sifat lainnya, termasuk kelompok tekstur tanah SEDANG HINGGA KASAR. f. Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah sangat berkaitan dengan kesuburan dan kesesuian jenis yanaman. Karena tingkat kedalaman efektif tanah berpengaruh pada kedalaman akar. Tanah dengan tingkat kedalaman yang besar biasanya banyak ditumbuhi tanaman-tanaman besar dengan perakaran yang dalam. g. Erosi Erosi dapat disebut juga pengikisan atau kelongsoran, sebenarnya merupakan proses penghayutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan air dan angin, baik yang berlangsung secara alamiah ataupun sebagai akibat tindakan/perbuatan manusia. Terjadinya erosi dipengaruhi oleh lima faktor yaitu : a. Iklim b. Tanah c. Bentuk kewilayahan atau topografi d. Tanaman penutup tanah (vegetasi) e. Kegiatan/perlakuan manusia. Pada wilayah perencanaan tingkat erosinya tergolong rendah namun pada Kecamatan Ampelgading, gedangan dan Bantur tingkat erosinya cukup tinggi. Dilihat dari faktor fisik yang meliputi topografi, iklim dan tanah sebenarnya tidak ada masalah. Kemungkinan besar faktor-faktor lain yang menjadi penyebabnya. Kesalahan dalam pengelolaan tanah, pemilihan jenis tanaman yang kurang tepat atau mungkin tidak dilakukan pengelolaan tanagh sama sekali dan tanah sendiri tidak tertutup vegetasi barangkali menjadi penyebabnya. Kondisi-kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena akibat adanya erosi menyebabkan terjadinya sedimentasi. 32 Tabel 5.9. Erosi Tanah Di Wilayah Pesisir Ada Erosi (Ha) 1. Ampel Gading 6698 2. Tirtoyudo 1753 3. Sb. Manjing Wetan 4360 4. Gedangan 7186 5. Bantur 6740 6. Donomulyo 3553 Sumber : Revisi RTRW Kabupaten Malang No Kecamatan Tidak Erosi (Ha) 14636 12443 19590 8879 9175 12118 Jumlah (Ha) 21344 14196 23950 16065 15915 15671 h. Bahan Galian Pada wilayah perencanan mempunyai kekayaan alam berupa sumber mineral yang cukup potensial untuk dikembangkan. Bahan-bahan galian tersebut meliputi : pasir, breksi, lempung, kaolin, batu gamping, tras, fosfat, oker dan batu pasir. B. Pemanfaatan Lahan Daratan Pemanfaatan dan pengelolaan lahan di daeratan secara tidak langsung akan mempengaruhi kondisi di wilayah pesisir. Karena secara empiris, terdapat keterkaitan ekologis (hubungan fungsional) baik antar ekosistem di dalam kawasan pesisir maupun antara kawasan pesisir dengan lahan di atas dan laut lepas . Pemanfaatan lahan di daratan meliputi pemukiman, sawah, tegalan, kebun, perkebunan, hutan, tambak dan lainnya (antara lain makam, jalan dan sebagainya). a. Pemukiman Pemukiman tersebar pada daerah-daerah yang relatif datar dan menyebar pada jalan-jalan yang ada. Lokasi sekitar kawasan pemukiman masih didominasi lahan pertanian, perkebunan, tegalan serta lahan kosong. Aksesibilitas umumnya kurang bagus dan prasarana penunjang terbatas dan hampir tidak ada . Pemukiman lebih terpusat di ibukota Kecamatan dan sekitarnya. b. Sawah Proporsi luas lahan sawah sangat kecil dibandingkan dengan penggunaan tanah untuk jenis pertanian yang lain dan jenis penggunaan tanah pada umumnya. Kondisi tanah yang cenderung kering dan padas serta topografi yang relatif terjal, mengakibatkan pertanian kurang berkembang. Lahan pertanian khusunya untuk 33 tanaman padi terbatas pada lahan yang relatif datar. Geomorfologi yang kurang subur ini menyebabkan pertanian basah seperti tanaman padi dan sistem gilir tidak bisa berkembang dengan baik. Kondisi ini pada sebagian wilayah terutama di bagian barat makin diperparah dengan sistem irigasi yang juga kurang baik. c. Hutan Hutan memiliki wilayah terluas diantara penggunaan tanah yang lain. Mengingat kondisi fisik wilayah terutama topografinya yang cenderung curam, maka hutan ini memiliki fungsi yang sangat vital bagi keseluruhan ekonsistem baik di darat maupun di laut. Fungsi hutan sendiri terbagi menjadi 2 yaitu hutan produksi dan hutan produksi terbatas. Hutan yang terletak pada kawasan budidaya adalah hutan produksi tetap dan kawasan hutan produksi yang terletak pada kawasan non budidaya adalah hutan produksi terbatas. Kawasan hutan yang termasuk dalam hutan produksi terbatas tersebar mulai dari Timur ke Barat yaitu Kecamatan Ampelgading sampai dengan Kecamatan Donomulyo. Sedangkan yang termasuk hutan produksi tetap terdapat di Kecamatan Sumber manjing Wetan dan Kecamatan Bantur. Beberapa kawasan hutan yang lainnya tidak dapat digunakan sebagai hutan produksi sebab lokasi hutan terletak pada kawasan lindung yaitu sebagai hutan lindung yaitu sebagai hutan lindung terbatas. d. Tegalan/Kebun Dibandingkan dengan lahan persawahan, lahan untuk tegalan dan kebun memiliki proporsi yang lebih besar. Akibat terjadinya penjarahan pada lahan perkebunan mengakibatkan lahan tegalan dan kebun ini semakin luas. Jenis-jenis tanaman semusim yaitu jagung, ketela pohon, tales, kacang-kacangan, cabe dan sebagainya. Lahan tegalan banyak diusahakan di bagian barat dari wilayah perencanaan. Sedangkkan pada bagian Timur lebih banyak banyak diusahakan tanaman kebun yaitu kebun kelapa, karet, cengkeh, kopi dan coklat. Namun pada saat ini sebagian besar tanaman cengkeh, kopi dan coklat semakin berkurang jumlahnya. e. Perkebunan Proporsi lahan perkebunan lebih banyak terletak di bagian Timur wilayah perencanaan jenis tanaman yang dikelola adalah cengkeh, kopi dan coklat. Kondisi perkebunan pada saat ini sangat memprihatinkan akibat adanya pengrusakan dan penjarah oleh masyarakat. Posisi lahan perkebunan sebagian besar terletak pada kemiringan yang besar. 34 C. Profil Kawasan Pesisir Pantai di Kabupaten Malang Kawasan pesisir pantai di Kabupaten Malang terdiri dari 6 kecamatan dengan luas wilayah perencanaan darat adalah 107.131 Ha, sedangkan luas wilayah perairannya adalah 4 mil. Perairan laut di Kabupaten Malang berada di sebelah Selatan dan merupakan Samudra Indonesia, yang mempunyai ciri gelombang dan arus yang besar. Gambaran wilayah dapat dilihat pada peta 3.1. Ciri khas laut pantai Selatan merupakan lautan bebas, keadaan gelombang dan arus sangat besar. Arus yang besar di pantai Selatan dikenal dengan nama arus katulistiwa Selatan (Shout eauatorial current) yang sepanjang tahun menuju ke Barat. Tetapi pada musim Barat terdapat jalur sempit yang menyusur pantai Selatan Jawa dengan arus menuju ke Timur, berlawanan dengan arus katulistiwa Selatan. Arus tersebut dikenal dengan arus pantai Jawa (java coastal Current). Pada musim Timur di atas perairan lautan ini berhembus kuat angin Tenggara yang membuat arus katulistiwa Selatan ini makin melebar ke Utara, menggeser sepanjang pantai Selatan Jawa hingga Sumbawa, kemudian memaksanya membelok ke arah Barat Daya. Jadi saat itu arus permukaan di daerah ini menunjukkan pola sirkulasi anti siklonik atau berputar ke kiri. Karena arus ini membawa serta air permukaan ke luar menjahui pantai, maka akan terjadi kekosongan yang berakibat naiknya air dari bawah (upwe//ing). Air naik di sini terjadi kira-kira dari Selatan Jawa hingga ke sebelah Selatan Sumbawa, diawali sekitar bulan Mei dan berakhir sekitar bulan September. Kecepatan air naik ini sekitar 0,0005 Cm/detik. Jenis upwelling di Selatan Jawa yaitu jenis berkala (periodic tipe) yang terjadi pada musim Timur. Kedalaman laut Selatan Jawa sejauh 1.575- 2.625 km mempunyai kedalam hingga mencapai 200 m. Kemudian sejauh 2.625 -4.375 km, mempunyai kedalamam mencapai 3000 m. Kawasan pesisir pantai Kabupaten Malang ditinjau dari kondisi fisik daratnya menunjukkan, bahwa ketinggian wilayah perencanaan berada pada ketinggi 0-2000 meter di atas permukaan laut, sebagian besar wilayahnya berada pada kelerangan 5 -15% (39,42% dari luas wilayah pesisir Kabupaten Malang), kondisi lahannya bervariasi yaitu terjal sampai pegunungan. Semakin mendekati daerah pantai umumnya memiliki karateristik daerah pegunungan kapur dan kemiringannya sebagian besar > 40%. Daerah yang memiliki kelerengan >40% adalah Kecamatan Ampelgading dan Tirtoyudo. Keadaan cuaca di wilayah perencanaan seperti umumnya cuaca di Kabupaten Malang memiliki iklim tropis dengan suhu antara 18,25° C sampai dengan 31,45° C (suhu rata-rata dari empat stasiun pengamat cuaca antara 23° C sampai 25° C). Tekanan udara di bawah 1.012,7. Curah hujan rata-rata per-tahun 1.596 mm dan hari hujan 84,85 pertahun. Curah hujan turun antara bulan April- 35 Oktober. Diantara kedua musim tersebut ada musim peralihan antara bulan AprilMei dan Oktober-November. Kondisi hidrologi di kawasan pesisir Kabupaten Malang meliputi kondisi air permukaan dan kondisi air tanah. Pantai -pantai yang memiliki sumber air permukaan atau aliran sungai dan bermuara sampai lautan adalah Pantai Licin, Sipelot, LenggoksonfJ, Tamban, Wonogoro dan Kondang Merak. Kondisi muara sungai pada musim kemarau pada umumnya tertutup pasir, sehingga aliran sungai terhenti di mulut muara dan baru terbuka pada musim penghujan. Muara sungai yang terletak di Pantai Licin dipenuhi oleh pasir yang berasal dari Gunung Semeru. Pasir inilah yang mengakroatkan pasir di Pantai Licin yang semula putih menjadi kehitaman. Selama Gunung Semeru masih aktif diperkirakan sungai dan muaranya akan terus penuh dengan pasir. Adapun sungai-sungai yang melewati wilayah perencanaan yaitu Kali Giok yang bermuara di Pantai Licin, Kali Bambang (Kecamatan Sumbermanjing Wetan), Kali Duron, Bopakang, Bopak dan Sumberbulus. Kali Sumberbulus bermuara di Pantai Wonogoro, Kali Balekambang (Kecamatan Bantur) dan Kali Sumbermanjing (Kecamatan Donomulyo). Sumber air tanah di wilayah ini diperoleh dengan cara mengebor dengan kedalaman 40- 60 meter. Disamping sumber air dalam tanah, sumber air utama penduduk adalah mata air yang lokasinya tersebar di seluruh wilayah. Jenis tanah yang ada di wilayah perencanaan adalah Latosol, Andosol dan Aluvial Oumlahnya relatif lebih sedikit). Menurut Budi Santoso (1989), tanah latosol memiliki ciri subur, dan mudah erosi karena keeratan antara partikel tanah rendah, berwama merah karena meningkatnya konsentrasi Fe dan AI yang keluar dari solum. Sedangkan tanah Andosol memiliki ciri tanah subur, mudah erosi dan sesuai untuk tanaman tahunan. Tingkat erosinya tergolong rendah namun pada kecamatan Ampelgading, Gedangan dan Bantur tingkat erosinya cukup tinggi. Dilihat dari faktor fisik yang meliputi topografi, iklim dan tanah sebenamya tidak ada masalah. Kemungkinan besar faktor-faktor lain yang menjadi penyebabnya. Kesalahan dalam pengelolaan tanah, pemilihan jenis tanaman yang kurang tepat atau mungkin tidak dilakukan pengelolaan tanah sama sekali dan tanah sendiri tidak tertutup vegetasi barangkali menjadi penyebabnya. Pemanfaatan dan pengelolaan lahan di daratan secara tidak langsung akan mempengaruhi kondisi di wilayah pesisir. Karena secara empiris, terdapat keterkaitan ekologis (hubungan fungsional) baik antar ekosistem di dalam kawasan pesisir maupun antara kawasan pesisir dengan lahan di atas dan laut lepas. Pemanfaatan lahan di daratan meliputi pemukiman, sawah, tegalan, kebun, hutan. dan lainnya (misal : makam, jalan). 36 D. Kebijakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Malang Memperhatikan hasil penelitian terhadap potensi sumberdaya ikan. kondisi dan pentingnya ekosistem terumbu karang, keberadaan dan pengelolaan tambak, kegiatan pasca tangkap atau industri perikanan dan sumberdaya manusia yang ada, maka kebijaksanaan pembangunan perikanan di kawasan pesisir Kabupaten Malang dapat ditempuh sebagai berikut: (1) Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya ikan, khususnya ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, melalui penerapan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan teknologi penangkapan. Mengingat sumberdaya ikan yang ada di wilayah perairan laut Kabupaten Malang baru dimanfaatan sekitar 15,9 % dari potensi lestari sebesar 26.066,198 ton. (2) Mengoptimalkan pemanfaatan lahan tambak yang sudah ada dan diversifikasi komoditi yang dibudidayakan. (3) Meningkatkan kualitas penanganan pasca tangkap, baik berupa industri pengolahan maupun penangana ikan segar. (4) Meningkatkan kua1itas sumberdaya manusia perikanan dan pendapatan nelayan melalui upaya optimalisasi pemanfaatan sumberdaya perikanan dan kegiatan pasca tangkap dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai serta peningkatan nilai tambah hasil perikanan. Memperhatikan hasil penelitian terhadap kondisi dan pentingnya ekosistem terumbu karang, maka kebijaksanaan pembangunan perikanan di kawasan pesisir Malang Selatan dapat ditempuh sebagai berikut: 1. Melakukan pengawasan ekosistem terumbu karang terhadap kegiatan yang dapat mempengaruhinya, seperti penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dan kegiatan 'ain yang dapat mengakibatkan perubahan lingkungan (kekeruhan dan pencemaran). 2. Melakukan pengawasan terhadap pembuangan 'imbah pertanian dan tambak. 3. Melakukan pengawasan pemanfaatan lahan atas termasuk penebangan hutan yang tidak terkendali. E. Program Laut Lestari Program laut lestari dijabarkan dalam beberapa bentuk rencana kegiatan yaitu : pengelolaan keanekaragaman hayati laut, pengelolaan ekosistem hutan mangrove, pengelolaan dan konservasi ekosistem terumbu karang, pencegahan dan penanggula'ngan pencemaran laut, pengembangan desa pantai miskin dan pengembangan wisata bahari. (1) Pengelolaan keanekaragaman hayati laut 37 Salah satu modal yang dimanfaatkan untuk pembangunan nasional Indonesia adalah sumberdaya hayati, yang di tingkat internasional dicuatkan permasalahannya dengan gerakan .biodiversity' (keanekaragaman hayati). Strategi nasional dalam pengelolaan keanekaragaman hayati laut di Indonesia adalah rencana penetapan kawasan konservasi laut, untuk mengurangi kerusakan dan memperbaiki sumberdaya hayati. Tujuan dan sasaran strategi pengelolaan keanekaragaman hayati laut ialah: - Selamatkan (lindungi keanekarangan hayati untuk generasi mendatang). Yaitu dengan menetapkan kawasan konservasi laut dan mengelola kawasan ini dengan pendekatan terpadu yang melibatkan berbagai lembaga untuk bekerja sama mendukung pengelolaan kawasan konservasi, ser1a melibatkan masyarakat setempat dalam proses pengambilan keputusan, meningkatkan penegakan Undang- Undang Lingkungan untuk melindungi spesies laut (dengan cara meningkatkan kepedulian, dukungan dan peran serta masyarakat melalui peningkatan pajak untuk pengelola produk-produk yang menggunakan binatang dan tumbuhan laut. - Pelajari (cari cara-cara untuk memanfaatkan sumberdaya secara berkelanjutan). Yaitu dengan memperkuat koordinasi antar lembagajembaga dan badan pemerintah untuk memperbaiki kapasitas dalam mengelola sumberdaya laut dalam pembangunan berkelanjutan. Menetapkan pusat data dan informasi keanekaragaman hayati taut dan mengelola pusat data ini bersama-sama dengan pemerintah, LSM dan perguruan tinggi. - Manfaatkan Secara Berkelanjutan (yaitu memanfaatkan keanekaragaman hayati untuk menyediakan makanan, obat-obatan dan keperluan lainnya). Yaitu dengan mempublikasikan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang relevan secara aktif , promosikan cara-cara penggunaan tumbuhan dan bjnatang secara berkelanjutan untuk menyediakan gizi, tapangan pekerjaan, peningkatan eksport dan keuntungan- keuntungan lain dari pengelolaan sumberdaya laut. (ii) Pengetolaan Ekosistem Hutan Mangrove Hutan mangrove mempunyai suatu ekosistem peralihan antara darat dan laut yang merupakan mata rantai yang sangat penting dalam memelihara keseimbangan siklus biologi di suatu perairan, tempat berlindungnya dan memijah berbagai jenis udang, ikan dan berbagai biota laut, juga sebagai habitat satwa burung, primata, reptilia, insekta dan lainnya. sehingga secara ekologi dan ekonomis dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. 38 Strategi yang dilakukan untuk melindungi dan melestarikan potensi sumberdaya hutan mangrove dan memanfaatkannya berdasarkan azas pelestarian, yang meliputi : - Save it, mengamankan ekosistem hutan mangrove dengan melindungi genetik, spesies dan ekosistem. - Study it, yaitu mempelajari ekosistem hutan mangrove yang meliputi biologi, komposisi. struktur, distribusi dan kegunaannya. - Use it, yaitu memanfaatkan ekosistem hutan mangrove secara lestari dan seimbang. (iii) Pengelolaan dan Konservasi Ekosistem Kawasan Terumbu Karang Terumbu karang merupakan salah satu sumberdaya alam yang sangat penting, yang mempunyai nilai yang tinggi karena pada kawasan ini terdapat kawasan perikanan yang subur, bahan untuk farmasi, daya tarik bagi pariwisata khususnya (eco marine tourism) yang dapat menambah devisa negara dan secara fisik karang dapat melindungi pantai dari degradasi dan abrasi. Pemanfaatan terumbu karang yang kurang bijaksana dapat berakibat menurunnya kualitas terumbu karang. Kegiatan manusia yang dapat merusak terumbu karang antara lain ialah : sedimentasi yang berasal dari penebangan hutan, penambangan karang, pembangunan fasilitas, limbah industri. pestisida dan buangan minyak, penangkapan ikan dengan muroami, penggunaan bahan peledak, koleksi biota laut untuk hiasan, penangkapan ikan hias dengan kalium cianida (KCN). Agar ekosistem terumbu karang dapat dimanfaatkan secara maksimal dan lestari, maka diperlukan adanya strategi pengelolaan ekosistem terumbu karang yang berwawasan lingkungan, yaitu : - Program pelatihan dan pendidikan baik formal dan non formal, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan pemanfaatan masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya terumbu karang. - Identifikasi luas dan lokasi kawasan terumbu karang potensia' dan bermasalah, baik yang areal konservasi (taman laut, cagar alam laut) maupun areal non konservasi (perikanan, pariwisata). - Pemanfaatan kawasan terumbu karang sebagai obyek wisata, penelitian dan pendidikan secara maksimal tanpa menggangu kelestariannya. - Terkendalinya dampak kegiatan pembangunan di darat dan di laut terhadap ekosistem terumbu karang. - Terkoordinasinya pengelolaan terumbu karang secara nasional. (iv) Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Laut 39 Pencemaran laut di Indonesi antara lain disebabkan oleh : kegiatan-kegiatan di darat dan di laut, termasuk kegiatan-kegiatan kapal asing yang menyinggahi dan melewati perairan Indonesia, dimana kegiatan kapal tanker paling sering mengalami kecelakaan pada waktu melewati perairan Indonesia. Meningkatnya jumlah penduduk dan berbagai kegiatan ekonomi yang berlangsung di darat dan di laut. Sehingga upaya penanggulangan pencemaran laut sangat perlu dilakukan yaitu dengan menyusun .Strategi Perlindungan Lingkungan Laut Akibat Pencemaran. yaitu perlu ditingkatkan pencegahan pencemaran laut melalui pembinaan serta peningkatan pengawasan dan penegakan hukum. (v) Pengembangan Desa Pantai Pengembangan desa pantai di wilayah negara kepulauan Indonesia sangat perlu, karena diperkirakan 60% penduduk hidup dan tinggal di daerah pantai. Pada umumnya masyarakat desa pantai lebih merupakan masyarakat tradisional dengan kondisi sosial dan ekonomi yang sangat rendah, pendidikan formal yang diterima masyarakat desa pantai secara umum jauh lebih rendah dari pendidikan masyarakat non pantai lainnya. Minimnya sarana dan prasarana (pendidikan, kesehatan, perhubungan, komunikasi). Untuk menunjang keberhasilan program pembinaan desa pantai, maka perlu adanya :. - Penentuan lokasi pengembangan yang tepat. - Memperbaiki tingkat kehidupan masyarakat desa pantai yang kondisinya jauh tertinggal dibandingkan dengan desa-desa lainnya. - Memperbaiki tingkat pendapatan masyarakat desa melalui upaya-upaya pemanfaatan sumberdaya laut dengan teknologi siap pakai. - Membina kelembagaan desa pantai. - Penyuluhan konservasi lingkungan desa pantai untuk menunjang kelestarian sumberdaya alam di pesisir dan lautan. - Peningkatan peran serta masyarakat dan swasta. - Rekayasa teknologi tepat guna dan tepat lingkungan untuk daerah desa pantai. (vi) Pengembangan Wisata Bahari Pengembangan wisata bahari di Indonesia merupakan hal baru, yang mulai mendapat perhatian dan sangat menarik banyak peminat. Pengembangan wisata bahari secara ideal diharapkan mampu menciptakan saling keterkaitan dan saling menjaga secara harmonis antara unsur-usur lingkungan fisik, sosial dan ekonomi, budaya masyarakat setempat. Dampak positif pengembangan wisata bahari ialah : dapat meningkatkan devisa negara, perluasan tenaga kerja, mendorong pengembangan usaha baru, mampu meningkatkan 40 (vi) kesadaran masyarakat terutama wisatawan, tentang konservasi sumber daya alam. Dampak negatifnya adalah terjadinya degradasi lingkungan (erosi, vandalisme, dan lainya), kerusakan sumberdaya alam, serta munculnya kesenjangan sosial ekonomi dan perubahan budaya masyarakat setempat. Namun kegiatan pengembangan wisata bahari belum didukung oleh tenaga profesional untuk pengelolaan sumber daya alam dan ekosistemnya, khususnya kawasan pelestarian alam, sehingga dalam pelaksanaanya di lapangan masih belum terarah secara jelas. Sehingga perlu adanya strategi pengembangan wisata bahari berdasarkan pada kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan. Permukiman Pemukiman tersebar pada daerah-daerah yang relatif datar dan menyebar pada jalan- jalan yang ada. Lokasi sekitar kawasan pemukiman masih didominasi lahan pertanian, perkebunan, tegalan serta lahan kosong. Aksesibilitas umumnya kurang bagus dan prasarana penunjang terbatas dan hampir tidak ada. Pemukiman lebih terpusat di Ibukota Kecamatan dan sekitamya. Sedangkan kondisi pemukiman pantai di kawasan pesisir Kabupaten Malang sebagian besar kondisi bangunan dan lingkungannya rendah dan belum mendapatkan infrastruktur yang memadai. Kondisi pemukiman yang cukup memadai berada di desa intinya, karena pada desa tersebut beberapa infrastruktur telah terlayani misalnya : listrik dan kebutuhan air bersih. Desa inti tersebut antara lain ialah : Desa Pujiharjo (Pantai Sipelot), Desa Pulwodadi (Pantai Lenggoksono), Desa Tumpakrejo (Pantai Wonogoro), Desa Tambakrejo (Pantai Sendangbiru). (vi) Sawah Proporsi luas lahan sawah sangat kecil dibandingkan dengan penggunaan tanah untuk jenis pertanian yang lain dan jenis penggunaan tanah pada umumnya. Kondisi tanah yang cenderung kering dan padas serta topografi yang relatif terjal, mengakibatkan pertanian kurang berkembang. Lahan pertanian khususnya untuk tanaman padi terbatas pada lahan yang relatif datar. Geomorfologi yang kurang subur ini menyebabkan pertanian basah seperti tanaman padi dan sistem gilir tidak bisa berkembang dengan baik. Kondisi ini pada sebagian wilayah terutama di bagian Barat makin diperparah dengan sistem irigasi yang juga kurang baik. (vii) Hutan Hutan memiliki wilayah terluas diantara penggunaan tanah yang lain. Mengingat kondisi fisik wilayah terutama topografinya yang cenderung curam, maka hutan ini memiliki fungsi yang sangat vital bagi keseluruhan ekosistem baik di darat maupun di laut. Fungsi hutan sendiri terbagi menjadi 41 2 yaitu hutan produksi dan hutan produksi terbatas. Hutan yang terletak pada kawasan budidaya adalah hutan produksi tetap dan kawasan hutan produksi yang terletak pada kawasan non budidaya adalah hutan produksi terbatas. Kawasan hutan yang termasuk dalam hutan produksi terbatas tersebar mulai dari Timur ke Barat yaitu Kecamatan Ampelgading sampai dengan Kecamatan Donomulyo. Sedangkan yang termasuk hutan produksi tetap terdapat di Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Kecamatan Bantur. Beberapa kawasan hutan yang lainnya tidak dapat digunakan sebagai hutan produksi sebab lokasi hutan terletak pada kawasan lindung yaitu sebagai hutan lindung terbatas. Kondisi hutan di kawasan pesisir kondisinya rusak, akibat penebangan hutan yang tidak terkontrol, sehingga sebagian besar lahan hutan menjadi gundul. Terjadinya penggundulan hutan tersebut hampir sebagian tejadi disepanjang kawasan pesisir Kabupaten Malang. (ix) Tegalan/kebun Dibandingkan dengan lahan persawahan, lahan untuk tegalan dan kebun memiliki proporsi yang lebih besar. Akibat teradinya penjarahan pada lahan perkebunan mengakibatkan lahan tegalan dan kebun ini semakin luas. Jenisjenis tanaman yang diusahakan di atas tanah tegalan adalah jenis-jenis tanaman semusim yaitu jagung, ketela pohon. tales, kacang-kacangan, cabe, dsb. Lahan tegalan banyak diusahakan di bagian Barat dari wilayah perencanaan. Sedangkan pada bagian Timur lebih banyak diusahakan tanaman kebun yaitu kebun kelapa, karet, cengkeh, kopi dan coklat. Pada saat ini sebagian besar tanaman cengkeh. kopi dan coklat semakin menuru. (x) Perkebunan Proporsi lahan perkebunan lebih banyak terletak di bagian Timur wilayah perencanaan. Jenis tanaman yang dikelola adalah cengkeh, kopi dan coklat. Kondisi perkebunan pada saat ini sangat memprihatinkan akibat adanya pengrusakan dan penjarahan oleh masyarakat. Posisi lahan perkebunan sebagian besar lertelak pada kemiringan yang besar. Keadaan dan perkembangan usaha perikanan di pantai Malang Selatan, berhubungan erat dengan kondisi lingkungan dan habitat yang melingkupinya. Kondisi lingkungan yang dimaksud meliputi substrat, kemiringan dan bentuk pantai. Sedang habitat perairan ditunjukkan oleh keberadaan terumbu karangnya. Kualitas terumbu karang sangat menentukan kuantitas sumberdaya ikan yang ada. Habitat terumbu karang ditemukan hampir di sepanjang pantai di kabupaten Malang, terutama di daerah-daerah yang mempunyai aktifitas perikanan tinggi. Kondisi terumbu karang saat ini relatif masih bagus, ditandai masih banyaknya ikan-ikan karang yang tertangkap seperti Lobster, Kakap, Kerapu 42 dan ikan-ikan hias. Namun demikian tanda-tanda akan kerusakan Terumbu Karang telah terjadi, yang disebabkan oleh aktifitas penangkapan Lobster yang tidak ramah lingkungan (menggunakan potas), pengambi!an bunga karang untuk assesoris dan cemaran minyak dari aktifitas transportasi laut yang menggunakan mesin. Kondisi terumbu karang untuk masing-masing kawasan perairan pantai dapat dilihat pada Tabel 6.13. Tabel 5.13. Kondisi Terumbu karang di Kawasan Pesisir Kab. Malang No . 01 . 02 . 03 . 04 . 05 . 06 . 07 . 08 . 09 . 10 . Pantai Lokasi Baik Licin Sipelot Lenggosono Tamban Sendang Biru Tambaksari Bajulmati Wonogoro Kondang Merak Kondang Iwak V V V V V Sedan g V V V Kondisi Rusa k V V Bom V V V V V Permasalahan Potas V V V V V Bunga karang V V V - Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem peralihan antara darat dan laut yang merupakan mata rantai yang sangat penting dalam memelihara keseimbangan siklus biologi di suatu perairan, tempat berlindung dan memijah berbagai jenis udangt ikan dan berbagai biota laut. Sehingga secara ekologis dan ekonomis dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia. Habitat mangrove di daerah pantai selatan relatif sedikit dan tidak ditemukan di setiap pantai. Pantai 43 yang mempunyai habitat mangrove adalah Sipelot dan Tamban yang didominasi oleh jenis-jenis pioner yaitu Avicenia dan Sonneratia dan dibelakang rawa ditemukan nipah. Hal ini dikarenakan substrat berpasir. salinitas tinggi dan gelombang besar. Kondisi dan keberadaan mangrove di masing-masing kawasan pantai, dapat dilihat pada Tabel 5.14. Wilayah pertambakan di Kabupaten Malang terdapat di beberapa pantai, yaitu Pantai Sipelot dan Lenggoksono berada di Kecamatan Tirtoyudo; Pantai Tambakasri dan Tamban berada di Kecamatan Sumbermanjing Wetan; dan Pantai Bajulmati dan Wonogoro berada di Kecamatan Gedangan. Luas areal tambak dan tingkat pengoperasiannya di masing-masing lokasi dapat dilihat pada Tabel 5.15. Tabel 5.14. Luas dan Jenis Hutan Mangrove di Kawasan Pesisir Kabupaten Malang No. 01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. Pantai Licin Sipelot Lenggosono Tamban Sendang Biru Tambaksari Bajulmati Wonogoro Kondang Merak Kondang Iwak Lokasi <1 1-3 V V V Luasan (Ha) > 3 Avece nnia V V V Sonneratia V V Jenis Nipah V V - Tabel 5.15. Luas Areal Tambak dan Tingkat Pengoperasian Pantai Luas (Ha.) <1 Licin Sipelot Lenggoson o V 13 Jumlah Unit > 3 Avecen nia V Pola Usaha Sonnerat ia Tingkat Operasi Nipah V - 44 Tamban Sendang Biru Tambaksar i Bajulmati Wonogoro Kondang Merak Kondang Iwak V V V V V V V - Perkembangan laut sangat penting bagi negara kepulauan, perkapalan dan sistem pelabuhan sangat penting untuk pengembangan sumberdaya alam laut dan pesisir, mendorong pembangunan ekonomi, mengurangi biaya perdagangan dan meningkatkan ekspor. Pelabuhan merupakan penghubung kunci dalam sistem perhubungan menyediakan kontak antara transportasi darat dan laut. Sepanjang pesisir Kabupaten Malang terdapat satu pelabuhan alam yang terletak di Pantai Sendangbiru. Memiliki kedalaman laut rata-rata 20 m. dengan lebar selat antara 600 m sampai dengan 1500 m dan panjang selat: 4 km. Pelabuhan ini berfungsi sebagai tempat pendaratan ikan untuk Pantai Sendangbiru dan sekitarnya. Kapasitas pelabuhan bisa untuk berlabuh kapal ukuran 5-50 GT sebanyak 20 buah. Daerah operasi penangkapan ikan di perairan Malang Selatan tergantung kepada musim atau keberadaan jenis ikan yang mau ditangkap. Pada waktu musim puncak ikan, secara umum fishing ground berada di dekat pantai. pada waktu musim sedang fishing ground berada agak jauh dari pantai dan pada waktu musim paceklik fishing ground jauh dari pantai bahkan sampai ke lepas pantai. Musim ikan di pantai Malang Selatan adalah musim puncak bulan Mei -Oktober Musim sedang pada bulan Maret -April dan bulan Nopember -Desember dan musim paceklik pada bulan januari -Februari. Sedangkan pada musim penghujan (bulan Oktober sampai Maret) jenis-jenis ikan pelagis jarang ditemukan dan bersamaan dengan itu terjadi musim barat dengan gelombang dan angin besar sehingga nelayan tidak turun ke laut. Di lain pihak pada saat itu muncul jenis-jenis ikan karang seperti Lobster, Kakap merah, Kerapu dan lainIain yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Keberadaan berbagai jenis ikan di perairan pantai Malang Selatan tidak selalu bersamaan, ada beberapa jenis ikan yang muncul pada waktu-waktu tertentu, ada beberapa jenis ikan yang muncul pada waktu-waktu yang lain dan ada jenis ikan yang muncul sepanjang tahun. Jumlah nelayan di Kabupaten Malang terkonsentrasi di daerah Pantai Sendang Baru. Sedangkan di pantai-pantai lain hanya sekitas 5 % dari jumlah penduduk di 45 masing- masing desa yang ada. Berdasarkan jumlah armada yang ada di masingmasing pantai. 5.6. Profil Ruang Kawasan Pesisir Pantai Kecamatan Muncar dan Purworejo Kabupaten Banyuwangi Wilayah Kecamatan Muncar dan Kecamatan Purworejo Kabupaten Banyuwangi dilihat dari konstelasi regional Banyuwangi mempunyai beberapa keuntungan strategis, selain sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan wilayah Samudera Indonesia dan Selat Bali serta Propinsi Bali, yang mempunyai kontribusi dan pergerakan yang tinggi, juga sebagai salah satu pintu gerbang menuju ke wilayah tersebut, hal ini membawa konsekwensi pada pola transportasi dan penyediaan sarana transportasi dari dan kearah Kabupaten Banyuwangi dengan jalan darat dan laut. Kondisi wilayah Kecamatan Muncar dan Kecamatan Purworejo Kabupaten Banyuwangi dilihat dari aspek fisik wilayah dapat diindentifikasi atas beberapa kriteria fisik, kriteria fisik tersebut yang akan menentukan ciri-ciri wilayah yang ada berbagai kawasan Kabupaten Banyuwangi. Dalam lingkup yang lebih luas (regional). Kabupaten Banyuwangi terletak diwilayah paling ujung (timur) wilayah propinsi Jawa Timur terletak pada koordinat 70430 60460 Lintang Selatan dan 113051 - 114038 Bujur Timur. a. Topografi Wilayah Kabupaten Banyuwangi rata-rata memiliki keadaan topografi relatif datar. Dataran rendah yang sedikit miring dari arah barat laut ke arah tenggara. Kondisi ini dipengaruhi oleh adanya beberapa gunung yang seolah-olah membatasi wilayah Banyuwangi dengan wilayah sekitarnya. Ketinggian tempat dari permukaan laiut ikut mempengaruhi jenis suatu tanaman yang dapat tumbuh baik, tanaman dataran rendah misalnya tidak akan menghasilkan dengan baik apabila ditanam di dataran tinggi. Kabupaten Banyuwangi terleyak pada ketinggian 0 sampai dengan > 200 meter dpl. Ketinggian tempat tersebut dapat dibedakan atas : (1) Ketinggian 0 - 100 meter dpl meliputi luas wilayah 131.714 Ha (38.10 %) dari luas wilayah kabupaten, ketinggian ini terdapat diseluruh wilayah kecamatan di kabupaten Banyuwangi kecuali kecamatan Singojuruh, Sempu, Songgon, Genteng, Blenmore dan Kalibaru. (2) Ketinggian 100 - 500 meter dpl meliputi luas wilayah 159.056 (46,01 %) dari luas wilayah kabupaten, ketinggian ini terdapat di seluruh wilayah 46 kecamatan di kabupaten Banyuwangi kecamatan Banyuwangi, Muncar dan Purwoharjo. (3) Ketinggian 500 - 1.000 meter dpl meliputi luas wilayah 36.191 (10.47 %) dari luas wilayah kabupaten, ketinggian terdapat di kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Giri, Glagah, Songgon, Genteng, Sempu, Glemore dan Kalibaru. (4) Ketinggian 1.000 - 1.500 meter dpl meliputi luas wilayah 10.226,5 Ha (2,96 %) dari luas wilayah kabupaten, ketinggian terdapat di kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Giri, Glagah, Songgon, Genteng, Sempu, Glemore dan Kalibaru. (5) Ketinggian 1.500 - 2.000 meter dpl meliputi luas wilayah 5.075 Ha (1,48 %) dari luas wilayah kabupaten, ketinggian terdapat di kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Giri, Glagah, Songgon, Genteng, Sempu, Glemore. b. Kemampuan Tanah Kemampuan tanah adalah kualitas unsur-unsur fisik tanah yang berpengaruhnterhadap penggunaan tanah diatasnya, unsur-unsur tersebut meliputi : lereng, kedalaman efektif, tekstur tanah, drainase dan erosi. (1) Lereng Lereng/kemiringan tanah adalah sudut yang dibentuk oleh permukaan tanah dengan bidang horizontal. Yang dinyatakan dalam persen ( % ) dan kemiringan tanah sangat berperan dalam setiap langkah untuk menentukan kemudahan penggunaan tanah. Oleh sebab itu tindakan pada tanah harus selalu memperhatikan kemiringan tanah. - Lereng 0 - 2 % merupakan wilayah yang datar dan meliputi 35,45 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi, daerah tersebut baik untuk usaha pertanian tanaman semusim. Kecamatan yang memiliki lereng 0 - 2 % paling luas adalah kecamatan Bangorejo dan yang tidak memiliki lereng 0 - 2 % adalah Kecamatan Glagah dan Songgon. - Lereng 2 - 15 % merupakan wilayah yang landai sampai yang bergelombang dan meliputi 26,56 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi, daerah tersebut baik untuk usaha pertanian dengan tetap memperhatikan usaha pengawetan tanah dan air. Wilayah kecamatan yang mempunyai lereng 2 - 15 % paling luas adalah Kecamatan Glenmore yaitu kurang lebih 17.034 Ha atau kurang lebih 18,55 % dari luas wilayah yang berlereng 2 - 15 %, sedangkan wilayah yang tidak memiliki lereng 2 - 15 % adalah Kecamatan Muncar dan Cluring. 47 - Lereng 15 - 40 % merupakan wilayah yang bergelombang dan meliputi 15,32 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi, daerah tersebut sebaiknya untuk usaha pertanian dengan jenis tanaman keras atau tahunan, oleh karena disebabkan daerah tersebut sudah terkena erosi, sehingga tercapai usaha pengawetan tanah dan air, poada daerah tersebut umumnya penggunaan tanahnya adalah berupa hutan, perkebunan, tanah rusak, tegal, sawah dan permukiman. Wilayah kecamatan yang memiliki kelerengan 15 - 40 % paling luas adalah Kecamatan Tegaldlimo dan wilayah yang tidak memiliki lereng 15 - 40 % adalah Kecamatan Rogojampi, Srono, Muncar, Cluring, bangorejo dan Gambiran. - Lereng diatas 40 % merupakan wilayah yang bergelombang sampai berbukit, meliputi 22,67 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi, daerah tersebut merupakan areal yang harus dihutankan sehingga dapat berfungsi sebagai perlindungan hidrologi serta menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan hidup, pada umumnya daerah ini penggunaan tanahnya adalah berupa hutan, perkebunan, tanah rusak dan tegal. Wilayah kecamatan yang memiliki kelerengan diatas 40 % paling luas adalah Kecamatan Pesanggaran, sedangkan wilayah kecamatan yang tidak memiliki kelerengan diatas 40 % adalah kecamatan Banyuwangi, Kabat, Rogojampi, Muncar, Cluring, Gambiran dan Genteng. - Ketinggian 2.000 - 2.500 meter dpl meliputi luas wilayah 2.235 Ha (0,65 %) dari luas wilayah kabupaten, ketinggian ini terdapat di kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Giri, Glagah, Songgon, Genteng, Sempu, Glenmore dan Kalibaru. - Ketinggian lebih dari 2.500 meter dpl meliputi luas wilayah 1.153 Ha (0,33 %) dari luas wilayah kabupaten, ketinggian ini terdapat di kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Glagah, Songgon, Glenmore dan Kalibaru. c. Geologi Kondisi geologi di wilayah Kabupaten Banyuwangi menunjukkan bahwa hasil gunung api kwarter muda memiliki angka yang paling tinggi yaitu seluas 131,547 Ha atau 38,05 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. Lapisan batuan ini paling tinggi terdapat di kecamatan Glenmore yaitu seluas 26.260 Ha atau 19,96 % dari luas total hasil gunung api kwarter muda. Sedangkan yang paling rendah adalah lapisan andesit yaitu seluas 20.520 Ha atau 5,94 % dari luas wilayah dan tersebar di Kecamatan Pesanggaran, Glenmore dan Kalibaru. Tabel : 5.17. Luas Wilayah Berdasarkan Struktur Geologi Di Kabupaten Banyuwangi 48 No. 1 2 3 4 5 6 Luas Ha Alluvium 95.762 Hasil Gunung Api Kwarter Muda 131.547 Hasil Gunung Api Kwarter Muda 20.520 Andesit 8.654 Miosen Falses 50.414 Miosen Falses Batu Gamping 38.772 Sumber : Penjelasan Data Pokok Kabupaten Banyuwangi Jenis Tanah % 27,70 38,05 5,95 2,50 14,58 11,23 d. Jenis Tanah Jenis yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi terdiri dari : - Regosol Bahan induknya berupa abu vulkan dan pasir pantai, biasanya terdapat pada topografi bergelombang, berbukit hingga bergunung, pada umumnya ditumbuhi tanaman berupa hutan belukar dan regosol mempunyai kandungan organik relatif rendah sehingga untuk meningkatkan produktivitasnya harus dengan pengorbanan yang cukup besar. - Lithosol Bahan induknya berupa batuan beku dan batuan endapan pejal, terdapat pada topografi yang bervariasi dan ketinggian yang berbeda-beda, solum tanah dangkal, tekstur tanah kasar dan kandungan organik rendah dan kepekaan erosi kasar. - Podsolik Podsolik berkembang pada musim basah dan curah hujan lebih dari 2.500 mm/tahun, podsolik berasal dari bahan tufvulkan asam dan pasir kwarsa pada topografi datar dan ketinggian di bawah 2.000 meter dpl, pada umumnya bertekstur agak kasar, struktur lepas dilapisan atas dan pejal lapisan bawah terdapat di daerah bergelombang sampai berbukit. Luas wilayah berdasarkan jenis tanah di Kabupaten Banyuwangi dapat dilihat pada tabel 5.17. Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah adalah tebal lapisan tanah dari permukaan sampai bahan induk atau sampai suatu lapisan dimana perakaran tanaman tidak dapat atau tidak mungkin menembusnya, oleh sebab itu kedalaman efektif tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan perakaran tanaman. ☻ Kedalaman lebih dari 90 cm sebagian besar Kabupaten Banyuwangi memiliki kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm, yaitu 277,529 Ha atau 49 80,29 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi, sehingga daerah tersebut tidak menjadi hambatan bagi tumbuhan perakaran tanaman. Kecamatan yang memiliki kedalaman efektif tanah diatas 90 cm paling luas adalah Kecamatan Pesanggaran. ☻ Kedalaman antara 60 - 90 cm seluas 23.348 Ha atau 6,75 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi, pada daerah ini pada umumnya tanahnya cukup baik untuk tanaman semusim dan tanaman keras atau tanaman tahunan. Wilayah kecamatan yang memiliki kedalaman efektif tanah diatas 60 - 90 cm paling luas adalah Kecamatan Wongsorejo. ☻ Kedalaman antara 30 - 60 cm seluas 44,376 Ha atau 12,84 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi, pada daerah ini pada umumnya tanahnya cukup baik untuk tanaman semusim berakar dangkal, tetapi kurang baik untuk tanaman berakar dalam. Wilayah kecamatan yang memiliki kedalaman efektif tanah diatas 30 - 60 cm paling luas adalah Kecamatan Tegaldlimo. ☻ Kedalaman kurang dari 30 cm seluas 416 Ha atau 0,12 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi, pada daerah ini tanahnya masih memungkinkan ditanami tanaman semusim dan tanaman dan berakar dangkal. Wilayah kecamatan yang memiliki kedalaman efektif tanah diatas 30 cm paling luas adalah Kecamatan Pesanggaran. e. Tekstur Tanah Tekstur tanah adalah keadaan kasar dan seharusnya bahan padat organik tanaman yang ditentukan berdasarkan perbandingan fraksi-fraksi pasir, lempung, debu dan air, tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap pengolahan tanah dan pertumbuhan tanaman, terutama dalam mentaur kendungan udara dalam rongga tanah dan persediaan serta kecepatan peresapan air di daerah tersebut, teksturtanah ini berperan pula terhadap mudah atau tidaknya lapisan tanah tersebut tererosi. Dari kelas tekstur tanah dapat dibedakan dalam beberapa kelas yaitu : ☻ Tanah bertekstur halus seluas 309.050 Ha atau 89,41 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi, sedangkan kecamatan yang sebagian besar bertekstur halus adalah Kecamatan Pesanggaran sedangkan kecamatan yang paling sedikit bertekstur halus adalah Kecamatan Purwoharjo. ☻ Tanah bertekstur sedang seluas 31,667 Ha atau 9,16 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi, sedangkan kecamatan yang sebagian besar bertekstur sedang adalah Kecamatan Bangorejo sedangkan kecamatan yang paling sedikit bertekstur halus adalah Kecamatan Tegaldlimo. 50 ☻ Tanah bertekstur kasar seluas 4.952 Ha atau 1,43 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi, sedangkan kecamatan yang sebagian besar bertekstur kasar adalah Kecamatan Wongsorejo sedangkan kecamatan yang paling sedikit bertekstur kasar adalah Kecamatan Purwoharjo, Tegaldlimo, Pesanggaran, Glenmore dan sebagian Wongsorejo. f. Drainase Drainase tanah menunjukkan lamanya serta seringnya suatu tanah jenuh terhadap kandungan air atau menunjukkan kecepatan meresapnya air dari permukaan tanah dan pada umumnya daerah ini menunjukkan drainase yang cukup baik sehingga unsur ini dapat diabaikan dalam menentukan kelas kemampuan tanahnya di Kabupaten Banyuwangi, kecuali ada beberapa kecamatan yang selalui tergenang yaitu seluas kurang lebih 1.511 Ha atau 0,43 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi, sedangkan kecamatan yang memiliki daerah tergenang adalah Kecamatan Banyuwangi, Muncar, Purwoharjo dan Tegaldlimo. g. Erosi Erosi adalah peristiwa pengikisan atau berpindahnya tanah lapisan atas yang disebabkan oleh adanya aliran air permukaan, di Kabupaten Banyuwangi wilayah yang terkena erosi seluas 1.984 Ha atau 0,28 % dari luas wilayah kabupaten dan terdapat di kecamatan Genteng, Giri, Kalipura, Glagah, Kalibaru, Pesanggaran, Songgon dan Wongsorejo, sedangkan wilayah lain di Kabupaten Banyuwangi yang dapat digolongkan tidak ada erosi seluas 343.685 Ha atau 99,72 % dari luas wilayah kabupaten. g. Iklim Kabupaten Banyuwangi terletak dibawah equator yang dikelilingi oleh laut Jawa, Selat Bali dan Samudera Indonesia dengan ilim tropis yang terbagi menjadi 2 musim yaitu : (a) Musim penghujan pada bulan Oktober sampai April; (b) Musim kemarau pada bulan April sampai Oktober Diantara kedua musim ini terdapat musim peralihan pancaroba yaitu sekitar bulan April/Mei dan Oktober/Nopember, rata-rata curah hujan sebesar 7,64 mm/bulan dengan bulan kering yaitu bulan April, September dan Oktober. h. Hidrologi Di Kabupaten Banyuwangi terdapat beberapa sungi besar dan sungai kecil, adapun nama-nama sungai dan panjang sungai dapat diperinci sebagai berikut : 51 - Kali Selogiri panjangnya kurang lebih 6,173 Km, melewati Kecamatan Kalipuro Kali Ketapang panjangnya kurang lebih 10,260 Km, melewati Kecamatan Kalipuro Kali Sukowidi panjangnya kurang lebih 15,826 Km, melewati Kecamatan Kalipuro Kali Bendo panjangnya kurang lebih 15,826 Km, melewati Kecamatan Glagah Kali Sobo panjangnya kurang lebih 13,818 Km, melewati Kecamatan Glagah dan Banyuwangi. Kali Pakis panjangnya kurang lebih 7,043 Km, melewati Kecamatan Banyuwangi. Kali Tambong panjangnya kurang lebih 24,347 Km, melewati Kecamatan Glagah dan Kabat. Kali Binau panjangnya kurang lebih 21,279 Km, melewati Kecamatan Rogojampi. Kali Bomo panjangnya kurang lebih 7,417 Km, melewati Kecamatan Rogojampi. Kali Bajulmati panjangnya kurang lebih 20 Km, melewati Kecamatan Wongsorejo. Kali Setail panjangnya kurang lebih 73,35 Km, melewati Kecamatan Gambiran, Purwoharjo dan Muncar. Kali Porolinggo panjangnya kurang lebih 30,7 Km, melewati Kecamatan Genteng. Kali Kalibarumanis panjangnya kurang lebih 18 Km, melewati Kecamatan Kalibaru dan Glenmore. Kali Wagud panjangnya kurang lebih 44,6 Km, melewati Kecamatan Genteng, Cluring dan Muncar. Kali Karangtambak panjangnya kurang lebih 25 Km, melewati Kecamatan Pesanggaran. Kali bango panjangnya kurang lebih 18 Km, melewati Kecamatan Bangorejo dan Pesanggaran. Kali Baru panjangnya kurang lebih 80,7 Km, melewati Kecamatan Kalibaru dan Pesanggaran. Dengan banyaknya sungai tersebut menyatakan bahwa Kabupaten Banyuwangi mempunyai banyak persediaan air, namun demikian tidak semua wilayah ini tersedia air, karena hal ini dipengaruhi oleh banyaknya hari hujan dan besarnya curah hujan. Selain itu keadaan curah hujan sangat berpengaruh terhadap kegiatan usaha khususnya bidang pertanian. Curah hujan di Kabupaten Banyuwangi periode tahun 1994 - 1997, tertinggi pada tahun 1995 yaitu 1.531 mm, dengan rata-rata curah hujan 8,76 mm. Daerah yang memiliki curah hujan rendah terjadi di wilayah bagian utara dibandingkan dengan wilayah bagian selatan. Berdasarkan perbandingan antara bulan kering dengan bulan basah, maka tipe iklim daerah ini adalah beriklim sedang yaitu tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. 5.6.1. Wilayah Peka Bencana Alam Dan Wilayah Kritis Wilayah peka bencana sebagian besar karena adanya wilayah yang mempunyai ketinggian diatas 500 - 1.000 meter dpl. Dengan ketinggian tersebut terdapat daerah-daerah yang rawan terhadap longsoran, selain itu terdapat 52 wilayah yang mempunyai daerah dengan ketinggian 0 - 25 meter dpl, dimana kawasan tersebut rawan terhadap resiko banjir, meskipun sampai dengan saat ini belum terjadi banjir atau genangan yang lama. Kondisi penggunaan tanah yang ada di suatu daerah, dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan kesejahteraan masyarakat disuatu wilayah tersebut, karena pola penggunaan tanah pada hakekatnya merupakan gabungan antara aktivitas manusia sesuai dengan tingkat teknologi jenis usaha, kondisi fisik serta jumlah manusia yang ada di wilayah tersebut. 5.6.2. Perkembangan Fungsi Kawasan A. Pola Perkembangan Kawasan Permukiman Pola perkembangan kawasan permukiman pada mulanya berkembang karena adanya tarikan kegiatan perdagangan dan jasa di sepanjang jaringan jalan arteri primer serta keberadaan kawasan pelabuhan dan industri serta kegiatan disektor perikanan, sejalan dengan semakin terbatasnya lahan disekitar jaringan jalan arteri primer tersebut maka masyarakat cenderung untuk menempati lahanlahan disekitar jaringan jalan utama kota yang mempunyai akses yang baik ke pusat kegiatan perdagangan dan kawasan aktifitas lainnya. Sejalan dengan perkembangan kota, lahan di kawasan perkotaan semakin besar kegunaannya, hal ini sangat berpengaruh terhadap nilai tanah yang ada di kawasan pusat kota. Saat ini pola perkembangan permukiman cenderung untuk menempati lahan dikawasan pinggiran kota yang tidak terlalu jauh dengan daerah pusat kota, yang mana masih banyak lahan pertanian yang telah berubah penggunaan pada lahan permukiman. Secara keseluruhan pola perkembangan perumahan di Kabupaten Banyuwangi masih mengikuti pola perkembangan jaringan jalan khususnya jaringan jalan yang menghubungkan antar Kabupaten serta perkembangannya menyebar ke wilayah luar batas wilayah kota. B. Pola Perkembangan Kawasan Pesisir Pantai Pola perkembangan kawasan pesisir pantai banyak dipengaruhi oleh adanya peningkatan potensi sub sektor perikanan di Kabupaten Banyuwangi yang diarahkan I budidaya perikanan air tawar, tambak, perikanan umum, kolam, waduk dan penangkapan di laut. Searah dengan tujuan pembangunan perikanan dalam rangka meningkatkan produuksi dan produktifitas melalui sapta usaha perikanan untuk 53 memenuhi kebutuhan pangan yang lebih merata dan perbaikan gizi masyarakat, maka dengan diikuti udahan segi perkreditan, sarana produksi dan permodalan harus disukseskan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup danekosistem pantai. Perkembangan kawasarn pesisir pantai di wilayah Kabupaten Banyuwangi terletak awasan sepanjang pantai selat Bali yang merupakan kawasan Tambak yang terletak di wilayah kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Rogojampi, Srono dan Muncar, sedangkan di wilayah kecamatan Muncar juga terdapat industri pengalengan Jenis produksi perikanan terbagi menjadi 3 bagian yaitu sektor perikanan umum, budidaya ikan kolam dan budidaya tambak, berdasarkan perkembangan untuk sektor perairan umum produksi perikanannya mengalami penurunan dari tahun 4 sebesar 145,436 ton menjadi 120,106 ton pada tahun 1998 dan untuk sektor idaya ikan kolam mengalami kenaikan dari tahun 1994 sebesar 96,407 ton jadi 118,787 ton pada tahun 1998 sedangkan untuk sektor budidaya tambak juga ngalami penurunan dari tahun 1994 sebesar 2.835,195 ton menjadi 2.396,395 ton. Produksi, perikanan sektor perairan umum yang terbesar berada di wilayah kecamatan Kalibaru dengan produksi sebesar 41.904 ton dan untuk sektor budidaya ikan kolam yang terbesar berada di wilayah kecamatan Muncar dengan produksi sebesar 79,165 ton sedangkan untuk sektor perikanan budidaya tambak, yang terbesar berada di wilayah kecamatan Muncar dengan produksi sebesar 1.116.735 ton C. Pola Perkembangan Kawasan Hutan I Lindung dan Kritis Pembangunan sektor kehutanan masih merupakan sektor yang sangat penting dalam menunjang perekonomian Jawa Timur khususnya Kabupaten Banyuwangi, ditinjau dari sumberdaya alamnya masih banyak digunakan berbagaj kegiatan pertanian maupun perkebunan, oleh karena itu untuk menjaga hasil produksi aagar tjdak merosot, maka perlu dipertahankan keutuhan kondisi tanah serta menjaga dari meluasnya lahan kritis yang ada saat ini. Luas lahan kritis di kabupaten Banyuwangi adalah seluas 17.200 Ha yang tersebar di beberapa kecamatan antara lain kecamatan Bangorejo (150 Ha), Muncar (19 Ha), Gambiran (9 Ha), G1enmore (225 Ha), Singojuruh (16 Ha), Rogojampi (1.014 Ha), Kabat (620 Ha), Songgon (1.014 Ha), G/agah (636 Ha), Bannyuwangi (63 Ha), Giri dan Kalipuro (2.250 Ha), Wongsorejo (12.1881Ha). walaupun kegiatan RLKT/penghijauan telah dilaksanakan dari tahun ke tahun upaya pencegahan dan penanggulangan terus ditingkatkan dengan berbagai kegiatan rehabilitasi khususnya diluar kawasan hutan. 54 Kawasan hutan yang ada diwilayah Kabupaten Banyuwangi seluas 132.799 Ha yang terdiri dari hutan produksi (72.505 Ha), hutan lindung (38.469,8 Ha) suaka alam (2.569 Ha), taman nasional (68.420 Ha), reboisasi jati (82,6 Ha), reboisasi non jati (361,5 Ha), tanaman tumpang sari jati (82,6 Ha), tanaman tumpang sari non jati (124,8 ha) dan tanaman banjar harian jati (186,7 Ha). 5.7. Profil Wilayah Pesisir Kabupaten Pasuruan Gambaran umum Kabupaten Daerah Pasuruan dimaksudkan untuk mendapatkan deskripsi tentang wilayah regional dari kota yang hendak direncanakan. Untuk itu informasi dan data-data regional yang dikumpulkan dan disusun akan menyangkut seluruh aspek yangterkait, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan wilayah Kota bangil yang direncanakan. Data-data regional yang disusun ini diperoleh melalui sumber informasi sekuner, yaitu dari buku-buku statistik, laporan-laporan ataupun kebijakankebijakan yang tertuang dalam buku Repelita daerah. Data tersebut dapat berupa data kualitatif maupun data kuantitatif. 5.7.1 Kondisi fisik dasar a. Letak geografis Kabupaten Pasuruan terletak pada posisi 112030’ – 113030’ Bujur Timur dan 7030’ – 8030’ Lintang Selatan. Letak wilayah daerah Kabupaten Pasuruan, dilihat dari segi ekonomi sangat strategis, karena terletak pada simpul pergerakan ekonomi yang intensif, yaitu : - Surabaya – Probolinggo/Banyuwangi/Bali - Surabaya – Malang - Malang – Probolinggo/Banyuwangi/Bali Luas wilayah seluruhnya dalah 1.474 Km2 atau 3 % dari luas Wilayah Propinsi Jawa Timur. Secara administrasi wilayah kabupaten Pasuruan berada dalam wilayah Pembantu Gubenur di Malang, dengan batas-batas sebagai berikut : Sebelah Utara : kabupaten Sidoarjo dan Selat Madura. Sebelah Timur : Kabupaten Probolinggo. Sebelah Selatan : Kabupaten Malang ; dan Sebalah Barat : kabupaten Mojokerto. 55 b. Topografi Kabupaten Pasuruan terletak berada pada ketinggian 0 meter - + 1.000 meter diatas permukaan laut. Keadaan ke-tinggian suatu daerah merupakan salah satu faktor yang menentukan jenis kegiatan penduduk. Dataran Kabupaten Pasuruan terbagi menjadi tiga bagian, yaitu : ♦ Bagian selatan terdiri dari pegunungan dan berbukit dengan ketinggian permukaan tanah antara 186 meter sampai 1.161 meter di atas permukaan laut, membentang dari wilayah Kecamatan Tosari dan Puspo ke arah barat yakni Kecamatan Tutur, Purwodadi dan Prigen. ♦ Bagian tengah terdiri dari dataran rendah yang berbukit dengan ketinggian permukaan tanah antara 6 meter sampai 91 meter. Daerah ini umumnya subur (kecuali beberapa daerah yang tanahnya relatif tandus), membentang dari wilayah Kecamatan Grati terus ke barat Gempol. Tanah yang nampak minus adalah di Kecamatan Rembang. ♦ Bagian Utara terdiri dari dataran rendah pantai yang tanahnya kurang subur, dengan ketinggian oermukaan tanah antara 2 meter sampai 8 meter di atas permukaan laut. Daerah ini membentang dari wilayah Kecamatan Nguling di sebelah timur ke barat yakni Lekok, Rejoso, Kraton, dan Bangil. c. Geologi Dari segi fisiografi, menunjukkan bahwa keadaan dataran Kabupaten Pasuruan miring ke utara. Jika dilihat dari struktur geologi, sebagian daratan merupakan hasil gunung berapi. Jenis tanah yang dibentuk tergolong jenis batuan gunung api kwater muda yang realtif subur dan terdapat banyaj bahan tambang. d. Jenis dan kemampuan Tanah Kemampuan tanah adalah identifikasi unsur-unsur tanah yang sngat berpengaruh, terutama untuk menentukan jenis-jenis penggunaan tanah yang ada diatasnya. Unsur-unsur fisik tanah tersebut meliputi lereng, kedalaman efektif tanah, tekstur tanah, drainase dan erosi. e. Lereng Lereng yang ada di Kabupaten Pasuruan sebagian besar adalah rendah, datar dan sedikit bergelombang yaitu 0 % - 2% atau (seluas 45.580 Ha) dan 3 % 15% (seluas 52.970 Ha) sedang sisanya adalah berupa bukit dan pegunungan. 56 Kedalaman efektif Tanah Kedalaman efektif tanah yang paling banyak adalah 60 cm – 90 cm seluas 63.799, 38 Ha atau 43, 28 % dari seluruh wilayah. Hal ini dapat menentukan jenis tanaman yang bisa dibudidayakan di atas tersebut. g. Tekstur Tanah Tekstur tanah halus menduduki prosentase yang paling tinggi yaitu 54,33 % (seluas 80.080,85 Ha) terdapat di semua kecamatan kecuali Kecamatan Puspo dan Kecamatan Prigen. Sedangkan yang bertekstur sedang 44,73 % (65.933,65 Ha) dan sisanya 0,94 % (1.387 Ha) bertekstur kasar. h. Drainase Tanah Diwilayah Kabupaten Pasuruan sangat sedikit daerah yang tergenang air, hanya terdapat di 4 Kecamatan saja yaitu (Bangil,Kraton,Grati,Rejoso) sedangkan daerah lainnya yang kdang-kadang tergenang adalah Kecamatan Bangil. i. Erosi Sebagimana kecamatan yang terkena erosi adalah Kecamatan Purwodadi, Lumbang, Pasrepan, Prigen dan Lekok (seluas 18.801 Ha). Untuk kecamatan yang lainnya tidak erosi, lapisan tanah relatif masih utuh, sehingga baik untuk lahan pertanian. j. Struktur jenis Tanah Sebagian besar jenis tanah yan terdapat di Kabupaten Pasuruan adalah litosol, regosol, alluvial. Andosol, mediteran dan grumosol. Tabel 5.26 Struktur Jenis Tanah di Kabupaten Pasuruan No. 1 2 3 Jenis Tanah Alluvial Andosol Regosol Luas Ha % 23.192,5 15,73 25.414,5 0 35.711 17,04 24,43 Letak/Kawasan Pohjentrek, Kraton, Rejoso, Bangil, Beji dan Gempol Tosari, Puspo, Prigen, Purwodadi, Lumbang, dan Tutur Pasrepan, Kejayan, wonorejo, Sukorejo, Prigen, Pandaan, Gempol dan deji 57 4 5 6 Purwodadi, Purwosari, Gempol, Grati, Nguling dan Lekok Grumosol 5.882 3,99 Kraton dan Rembang Litosol 36.183,5 24,55 Purwodadi, Tutur, Puspo, Lumbang, Pasrepan, Kejayan, Purwosari, Prigen dan Winongan Sumber : Repelita V Kabupaten Pasuruan Mediteran 21.017 14,26 k. Klimatologi dan Hidrologi Kondisi iklim di Kabupaten Pasuruan, terutama curah hujan sangat besar peranannya terhdap berbagai kegiatan usaha, khususnya dibidang pertanian yaitu mengenai jenis dan pola tanaman, yang berarti akan mempenagruhi pola intensitas penggunaan tanah dan tersedianya air pengairan. Kabupaten Pasuruan terletak di daerah equator, yang berilkim tropis dan terbagi menjadi 2 musim yaitu musim hujan antara bulan Oktober – April dan musim kemarau antara bulan April – Oktober. Diantara 2 musim tersebut terdapat musim peralihan sekitar bulan-bulan April/Mei dan Oktober/Nopember. Curah hujan di Kabupaten Pasuruan, rata-rata adalah 181 mm tiap bulan dalam satu tahun. Curah hujan tertinggi selama bulan April (874mm) dan terendah terjadi pada bulan September (1 mm). Kondisi ini akan berpengaruh pada persediaan air untuk irigasi pertanian maupun untuk kebutuhan minum. Di wilayah ini mengalir enam buah sungai besar yang bermuara di selat Madura, yaitu : ♦ Sungai Lawean : bermuara di desa Penunggul Kecamatan Nguling ♦ Sungai Rejoso : bermuara di wilayah Kotamadya Pasuruan ♦ Sungai gombong : bermuara di wilayah Kotamadya Pasuruan ♦ Sungai Welang : bermuara di desa Pulokerto, Kecamatan Kraton ♦ Sungai Masangan : bermuara di desa Raci, Kecamatan Bangil ♦ Sungai kedunglarangan : bermuara di desa Kalianyar, Kecamatan Bangil. Diantara sungai-sungai tersebut yang terpanjang adalah Sungai Kedunglarangan dengan panjang + 15 Km, dengan sumber airnya dari Gunung penanggungan. Semua sungai yang ada, umumnya mengalir ke arah utara dan bermuara di Selat Madura, karena keadaan tanah di Kabupaten Pasuruan sebagian besar miring ke utara. Kondisi seperti ini merupakan potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan bagi usaha pertanian tanaman pangan dan perikanan. Selain itu terdapat 310 sumber air yang berupa telaga/danau, antara lain Ranu grati (seluas + 190,1 ha, volume air sebesar 2.516.000 meter 3 dengan debit air + 250 liter/detik), banyubiru (debit air 337 liter/detik), umbulan (debit 58 +5.325 liter/detik, 115 liter/detik diantaranya digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum Kotamadya Surabaya dan Pasuruan 40 liter/detik) serta Plitahan (debit air + 250 liter/detik). l. Pola Penggunaan Tanah Pola penggunaan tanah di Kabupaten Pasuruan mayoritas berupa lahan pertanian (32,08 %) yang umumnya dijumpai pada wilayah dengan kemiringan 0 – 15 %, pada ketinggian 0 – 500 meter diatas permukaan laut. Hal ini berarti sebagian besar wilayah digunakan untuk penyediaan pangan yang merupakan sektor utama dalam perekonomian masyarakat. Pola penggunaan dominan kedua berupa kawasan hutan (19,93%), sebagai kawasan penyangga dari daerah yang ada di bawahnya terhdap bencana banjir maupum kekurangan air karena fungsi hidrologisnya. Klasifikasi ketiga dari pola penggunaan tanah adalah pemukiman meliputi 8,83 % dari luas wilayah. Setiap tahunnya luas perkampungan cenderung berkembang sejalan dengan berkembangnya jumlah penduduk, pendapatan perkapita penduduk, fasilitas yang tersedia dan kemajuan pembangunan itu sendiri. Semua itu berdampak pada peningkatan kebutuhan tanah atau tempat, yang berpengaruh terhdapap berkurangnya luas lahan pertanian. Tabel 5.27 Luas Penggunaan Tanah di Kabupaten Pasuruan Luas Ha % 1 Perkampungan 13.012,4 8,83 2 Sawah 47.292,1 32,08 3 Tegalan 43.806,4 29,72 4 Perkebunan (Swasta/Rakyat) 3.634,2 2,47 5 Tambak 3.501,3 2,37 6 Danau 190,1 0,13 7 Tanah Rusak/Kritis 1.849,7 1,25 8 Hutan 29.375,6 19,93 9 Lain-lain (jalan,sungai,kuburan) 2.103,7 1,66 Jumlah 147.401,7 100,00 Sumber : Kabupaten Pasuruan Dalam Angka Data Pokok untuk Pembangunan Daerah, Pemerintah Pasuruan No. Jenis Penggunaan Tanah 5.8. Gambaran Umum Wilayah Kota Pasuruan 1. Kedudukan Wialayah Perencanaan 59 Wilayah kota untuk penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota adalah wilayah adminitratif Kota Pasuruan. Kota Pasuruan memiliki wilayah selauas 3678 Ha. Wilayah kota Pasuruan empunyai letak geografis pada koodinat 112- 45’ – 112- 55’ bujur timur dan 7 - 35’ – 7 - 45’ lintang selatan dengan batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut : - Sebelah Utara : Selat Madura - Sebelah Timur : Kecamatan Rejoso Kabuoaten Pasuruan - Sebelah Selatan : Kec. Gondang Wetan Kab. Pasuruan dan Kec. Pohjentrek Kab. Pasuruan - Sebelah Barat : Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. 2. Karakteristik Fisik Dasar a. Jenis tanah Tanah di Kota Pasuruan terdiri dari 2 jenis tanah yaitu : - Jenis tanah Hidromorfik Kelabu merupakan tanah yang terbentuk dari bahan batuan induk campuran endapan baru yang berasal dari sungai dan laut dengan ciri-ciri; bertekstur liat, drainase sangat lambat, adanya lapisan reduksi di seluruh penampang, tanah mengembang atau melekat dalam keadaan basah, mengerut dalam keadaan kering, serta bersifat keras. Tingkat keasaman tanah netral samapi agak basin dengan kadar unsur hara P, K, Ca dan Mg yang cukup tinggi. Karena tingginya kadar Na dan Ca, maka tanah ini relatif tidka sesuai untuk lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan dan kehutanan, kecuali tanaman yang toleran terhadap kadar Na dan Ca tinggi misalnya Bakau, namum demikian masih layak untuk budidaya tambak dan penggaraman. Sebagian besar tersebar di sepanjang wilayah pantai kota Pasuruan. - Jenis tanah Alluvial mempunyai konsistensi berwarna kelabu tua, bertekstur liat berdebu sampai berliat karat, mengembang dan melekat dalam keadaan basah, mengerut dan keras dalam keadaan kering, kedap udara, tata erasi kurang lancar, drainase terhambat. Keasaman tanah netral, pH 6,6 – 7,5, kadar N rendah, P2O5 sedang, dan K2O tinggi sekali. Lahan ini dapat dibudidayakan dengan syarat sistem pembuangan air relatif lancar. b. Ketinggian Wilayah Kota Pasuruan secara keseluruhan mempuna keadaan topografi yang relatif datar, dilihat dari ketinggiannya rata-rata mempunyai angkat ketinggian 2 meter diatas permukaan air laut. 60 c. d. e. f. g. Semakin ke arah Selatan mempunyai ketinggian yang paling besar yaitu pada wilayah kelurahan Kebonagung yang mempunyai angkat ketinggian tanah sebesar 4 meter di atas permukaan laut. Kelerengan Selaras dengan apa yang dijelaskan di atas bahwa wilayah kota Pasuruan mempunyai lahan yang relatif datar dan cenderung landai, demikian juga pada tingkat kelerengannya yang mempunyai rata-rata kemiringan di bawah 3 0. Geologi wilayah Keadaan geologi tanah di wilayah Kota Pasuruan merupakan dataran Alluvium yang terbentuk dari campuran bahan endapan yang berasal dari daerah Stuf Vulkanis Intermedier Pegunungan Tengger di Kawasan sebelah selatan, bukit lipatan dan endapan batuan berkapur raci di bagian barat serta wilayah grati di bagian timur. Hidrologi Keadaan hidrologi di wilayah Kota Pasuruan yang terletak di Selat Madura, pada bagian barat terdapat sungai Welang, sungai Gembong di bagian tentah kota, sedangkan pada bagian timur mengalir sungai Pelung. Ketiga sungai yang melintasi wilayah kota Pasuruan ini bermuara di selat Madura. Kondisi daerah alirah di ketiga sungai tersebut mempunyai kondisi yang sempit sehingga sering terjadi banjir yang besar, hal ini karena masih perlu ditingkatkan nya volume saluran-saluran penatusan dalam kota serta saluran penatusan di kanan dan kiri jaringan jalan yang ada. Sungai lain yang melintasi wilayah kota Pasuruan yaitu kali Sodo, kali Kepel, dan kali Calung di wilayah kecamatan Bugul Kidul. Klimatologi Keadaan iklim di kota Pasuruan termasuk tipe iklim D2 dengan curah hujan rata-rata pertahun 1.337 mm dengan musim kemarau (100 mm/bulan) selama tujuh bulan yang jatuh pada bulan Mei s/d nopember dan meusim penghujan (200 mm/bulan) selama tiga buan pada bulan Januari sampai bulan Maret dengan iklim agak kering meskipun mash dalam skala iklim tropis dengan suhu rata-rata maksimum 31,5o C dan minimum 23o C. Kedalaman efektif tanah Kondisi kedalaman efektif tanah di wilayah kota Pasuruan berada di bawah angka 90 cm sehingga relatif menggangu terhadap perakaran tanaman dan kegiatan pembangunan gedung. Tekstur tanah di wilayah kota Pasuruan merupakan tekstur tanah sedang samapi kasar meliputi hingga 75 % dari selutuh wilayah kota Pasuruan, 61 sisanya merupakan tekstur tanah antara sedang samapi kasar yang sifatnya kurang mampu mengikat air. 3. Pola Penggunaan Lahan Wilayah Kota Pasuruan karena posisinya dilewati oleh tiga koridor regional yang menuju pusat SWP seperti Surabaya, Malang dan Pasuruan, maka kota Pasuruan dalam petumbuhan wilayahnya cenderung untuk mengikuti oila radial konsentris dengan orientasi kegiatan pada sepanjang jaringan koridor jalan tersebut. Pada bagian lain berkembang pola konsentris terutama pada kawasan pusat kota, hal ini didorong oleh ketersefiannya sarana dan prasarana yang terkonsentrasi pada beberapa bagian pusat kota menjadi kawasan dengan tingkat pertumbuhan kegiatan tinggi. Perkembangan pola konsentris ini juga karena adanya pemusatan perkampungan nelayan yang tumbuh dan berkembang pada bagian Utara wilayah kota Pasuruan. 5.9. Profil Wilayah Pesisir Kabupaten Tuban 5.9.1. Profil Kecamatan Bancar 1. Keadaan Umum Kecamatan Bancar terletak di pantai utara Jawa Timur. Kecamatan Bancar termasuk Kabupaten Tuban dan merupakan berada di perbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah.. 2. Fisiografi dan Stratigrafi. Secara umum fisiografi Kecamatan termasuk Lajur Rembang. Morfologi permukaan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan dan batuan penyusunnya. Secara umum batuan penyusun tanah di wilayah ini tersusun atas 1macam batuan, yaitu : Batuan Sedimen. Umur batuan Lajur Rembang adalah Miosen Tengah. Formasi Geologi yang dijumpai adalah: 1). Formasi Tawun (Tmt), batuliat berpasir dengan sisipan batupasir dan batugamping; 2). Formasi Ngrayong (Tmn), perselingan batupasir dan batuliat berpasir dengan sisipan batuliat karbonan dan setempat batugamping 3). Formasi Bulu (Tmb), kalkarenit 62 4). 5). 6). 7). 8). Formasi Wonocolo Tmw), napal dengn sisipan kalkarenit dan batuliat Formasi Ledok (Tml), perselingan kalkarenit, batupasir dan sisipan napal. Formasi Mundu (Tpm), napal Formasi Paciran (Tpp). Batugamping terumbu, setempat batu kapur Formasi Selorejo (Tps), perselingan batugamping berpasir dan batupasir bergamping, 9). Formasi Lidah (Qtl), batuliat, setempat bersisipan batupasir dan batugamping, 10). Anggota Dander, Formasi Lidah (Qtdl), terumbu dan batugamping berlapis 3. Bentuk lahan Berdasarkan Peta Landsystem (RePPProT, 1989), wilayah Kecamatan Bancar terdiri atas 5 landsystem (Tabel 5.28). 5 landsystem tersebut terbagi dalam 2 sistem lahan (Dessaunettes, 1977), yaitu : 1). Sistem dataran, dan 2). Sistem Karst. Kawasan pantai didominasi oleh landsystem BRN, AAR, dan MKS. Landsystem BRN (Dataran bergelombang di atas napal) dijumpai di kawasan pantai bagian tengah, merupakan dataran agak miring dan bergelombang, yang dalam klasifikasi lain termasuk landform angkatan mirng dan kompleks cuesta. Landsystem AAR (Teras berkarang yang bergelombang, muncul terangkat agak miring) merupakan dataran dengan singkapan batuan batugamping koral. Lansystem MKS (Dataran gabungan endapan muara dan endapan sungai) dijumpai pantai wilayah Kecamatan Bancar bagian timur, merupakan dataran endapan gabungan muara dan sungai. Tabel 5.28. Daftar Landform yang terdapat di Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, Jawa Timur Landsystem I. SISTEM DATARAN 1. P1112 MKS II. SISTEM KARST 2. K111 AAR 3. KLG Kalung No Landform Deskripsi Tanah Dataran gabungan endapan muara Tropaquent, dan endapan sungai Fluvaquent, Ustropept Teras berkarang yang bergelombang, muncul terangkat agak miring Punggung bukit karstik yang sangat curam di atas batu gamping Ustorthent, Calciustoll, Ustropept Eutropept, Rendoll 63 4. 5. BRN BRU Bogoran Beru Dataran bergelombang di atas napal Punggung bukit karstik yang sangat curam di atas batu gamping Haplustalf, Ustropept Calciustoll, Ustropept Berdasarkan hasil interpretasi foto udara secara lebih detil pada kawasan pantai Bancar, terlihat bahwa Gelombang di sepanjang pantai tidak terlalu besar (< 100 dari pantai). Meskipun tidak begitu besar, tetapi hantaman ombak yang terus menerus tampaknya mengikis pantai secara perlahan, terliat dari tebing pantai yang cukup curam pada lahan dataran. Batuan gatugamping koral sebagai bahan induk tanah tampaknya cukup mengurangi pengaruh abrasi laut ini, kecuali pada dataran pantai di bagian timur wilayah kecamatan ini. Relief Kecamatan Bancar bervariasi dari datar sampai berbukit kecil, dengan lereng datar sampai 30 %. Wilayah pantai umumnya memiliki relief yang datar (0-3%). 4. Tanah Tanah di Kecamatan Bancar berkembang sesuai dengan bahan induk, topografi dan iklim yang bekerja pada wilayah tersebut. Berdasarkan atas landsystem yang ada, tanah yang dijumpai ada 4 ordo, 8 sob ordo dan 13 great group (Tabel 5.29). Tabel 5.29. Jenis Tanah (Taksonomi) Ordo Entisol Inceptisol Mollisol Alfisol Sub Ordo Aquent Orthent Tropept Rendoll Ustol Ustalf Great Group Fluvaquent Tropaquent Ustorthent Eutropept Ustropept Rendoll Calciustoll Haplustalf a. Entisol. Entisol merupakan tanah-tanah muda, umumnya berupa endapan pantai atau tanah dangkal. Endapan pantai yang masih muda menyebabkan tanah yang ada belum berkembang. Dipihak lain, tanah dangkal karena proses 64 erosi di teras marin menyebabkan tanah tersebut terpaksa harus dimasukkan ke Ordo Entisol, meskipun pembentukan strukturnya sudah cukup baik. b. Inceptisol.. Merupakan tanah-tanah yang sedang berkembang. Dijumpai hampir di seluruh wilayah. Umumnya berasosiasi dengan tanah-tanah yang lain. d. Alfisol. Merupakan tanah yang sudah dewasa, ditandai dengan adanya penumpukan liat pada penampang tanahnya. Meskipun berasosiasi dengan tanah, lain penyebarananya cukup luas hampir di seluruh wilayah, khususnya yang memiliki landform dataran bergelombang.. e. Mollisol Merupakan tanah yang berwarna hitam dengan struktur remah di bagian atas. Umumnya dijumpai dalam asosiasi dengan tanah yang lain, khususnya di tidak atau kurang dikelola secara intensif (lahan hutan atau semak belukar). 6. Penggunaan Lahan Pola penggunaan lahan tidak terlalu banyak variasi. Pola penggunaan lahan yang banyak dijumpai di Kecamatah antara lain adalah: a) sawah, b) tegal, c). pemukiman, dan d). Hutan Jati. Kawasan pantai didominasi oleh lahan tegal dan pemukiman. Tanaman semusim seperti jagung dan ketela diusahaan pada lahan ini, disamping itu tanaman tahunan berupa mangga atau kayu-kayuan. Lahan sawah menempati kawasan di belakangnya dan / atau kawasan sekitar sungai. Kawasan hutan menampati lahan dengan kemiringan curam dan atau berbatu. 7. Bahaya alam. Bahaya alam yang bisa dijumpai di wilayan pantai utara ini tampaknya tidak begitu besar. Ombak laut tidak terlalu besar, meskipun demikian hantaman ombak yang terjadi secara terus menerus menyebabkan terkikisnya sebagian besar taanah di wilayah pantai. Untungnya, batuan keras yang berupa batugamping koral sebagai bahan induk tanah cukup kuat untuk melawan aksi ombak laut. 8. Pemukiman. Untuk membuat kawasan pemukiman, perlu penilaian terhadap beberapa parameter, antara lain : 65 a) Subsidensi b) Bahaya banjir c) Kondisi air tanah d) Potensi mengembang-mengkerut e) Kelas Unified f) Lereng g) Kedalaman hamparan batuan h) Kedalaman padas i) Batu/kerikil dalam penampang tanah j) Bahaya longsor Untuk digunakan sebagai kawasan pemukiman wilayah Kecamatan Bancar tampaknya tidak menjadi masalah, asalkan tidak bertingkat lebih dari 3 karena kedalaman hamparan batuan yang dangkal, dan terlalu dekat dengan pantai karena ncaman abrasi air laut. 5.9.2. Kecamatan Jenu 1. Keadaan Umum Kecamatan Jenu terletak di pantai utara Jawa Timur. Kecamatan Jenu termasuk Kabupaten Tuban 2. Fisiografi dan Stratigrafi. Secara umum fisiografi Kecamatan Jenu termasuk Lajur Rembang. Morfologi permukaan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan dan batuan penyusunnya. Secara umum batuan penyusun tanah di wilayah ini tersusun atas 2 macam batuan, yaitu: Endapan permukaan dan Batuan Sedimen. Endapan permukaan terdiri atas Aluvium dan Endapan Pantai (Qal), kerakal, kerikil, pasir dan lumpur. Menempati wilayah dataran sepanjang pantai timur Batuan sedimen yang menyusun lahan di wilayah kecamatan ini adalah: Formasi Kalibeng (Tpk), batugamping berdolomit dan dolomit, putih sampai kemeraan, organik dengan fragmen alga, koral dan molusca, kerakal berlempung berwarna coklat. 3. Bentuk lahan Berdasarkan Peta Landsystem (RePPProT, 1989), wilayah Kecamatan Jenu terdiri atas 3 landsystem. 3 landsystem tersebut terbagi dalam 3 sistem lahan 66 (Dessaunettes, 1977), yaitu : 1). Sistem Marin, 2). Sistem dataran, dan 3). Sistem Karst (Tabel 5.30). Landsystem UPG (Beting pantai dan cekungan antara beting pantai) dijumpai di pantai bagian timur dengan luasan yang tidak begitu banyak yaitu dengan lebar seikiat 100 m dan panjang 2 km. Landsystem AAR (Teras berkarang yang bergelombang, muncul terangkat agak miring) merupakan dataran dengan singkapan batuan batugamping koral. Landystem ini mendominasi wilayah Kecamatan Jenu. Lansystem MKS (Dataran gabungan endapan muara dan endapan sungai) dijumpai pantai wilayah Kecamatan Jenu bagian timur dan barat, merupakan dataran endapan gabungan muara dan sungai. Tabel 5.30. Daftar Landform yang terdapat di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur No Landform Landsystem Deskripsi Tanah 1 2 M1 I. MARIN UPG Beting pantai dan cekungan Ustipsamment antara beting pantai , Tropaquent Dataran gabungan endapan Tropaquent, muara dan endapan sungai Fluvaquent, Ustropept Teras berkarang yang Ustorthent, bergelombang, muncul Calciustoll, terangkat agak miring Ustropept I. SISTEM DATARAN P1112 MKS II. SISTEM KARST K111 AAR 3 Berdasarkan hasil interpretasi foto udara secara lebih detil pada kawasan pantai Jenu, terlihat bahwa Gelombang di sepanjang pantai tidak terlalu besar (< 100 dari pantai). Meskipun tidak begitu besar, tetapi hantaman ombak yang terus menerus tampaknya mengikis pantai secara perlahan, terlihat dari tebing pantai yang cukup curam pada lahan dataran. Batuan gatugamping koral sebagai bahan induk tanah tampaknya cukup mengurangi pengaruh abrasi laut ini, kecuali pada dataran pantai di bagian timur wilayah kecamatan ini. Jika melihat kejernihan air laut, tampaknya pantai sebelah timur lebih keruh, barangkali karena proses pengendapan bahan yang lebih besar dibanding pantai yang lain. Relief Kecamatan Jenu umumnya berupa dataran, sebagian berupa dataran berombak atau bergelombang. (Gambar 9) 67 Klasifikasi landform belum dilaksanakan secara detil, tetapi melihat hasil interpretasi sementara dari foto udara terlihat bahwa pada dasarnya landform di wilayah ini adalah termasuk angkatan miring , khususnya yang berada dekat dengan pantai. Kompleks Cuesta menempati bagian yang lain, dimana lereng pemiringan cuesta lbih dominan daripada gawir cuestanya. Kompleks hogbak juga ditemukan di wilayah ini meskipun tidak terlalu luas. 4. Tanah Tanah di Kecamatan Jenu berkembang sesuai dengan bahan induk, topografi dan iklim yang bekerja pada wilayah tersebut. Berdasarkan atas landsystem yang ada, tanah yang dijumpai ada 3 ordo, 5 sob ordo dan 6 great group. Tabel 5.31 Jenis Tanah Ordo Entisol Sub Ordo Aquent Orthent Psamment Tropept Ustoll Great Group Fluvaquent, Tropaquent, Ustorthent, Ustipsamment Ustropept Calciustoll Inceptisol Mollisol a. Entisol. Entisol merupakan tanah-tanah muda, umumnya berupa endapan pantai atau tanah dangkal. Endapan pantai yang masih muda menyebabkan tanah yang ada belum berkembang. Endapan baru di wilayah rawa pasang surut memiliki sub ordo aquent (Fluvaquent dan Tripaquent) Endapan pada pesisir pasir termasuk sub-ordo psamment. Dipihak lain, tanah dangkal karena proses erosi di teras marin menyebabkan tanah tersebut terpaksa harus dimasukkan ke Ordo Entisol, meskipun pembentukan strukturnya sudah cukup baik. b. Inceptisol.. Merupakan tanah-tanah yang sedang berkembang. Dijumpai hampir di seluruh wilayah, khususnya di lahan kering. Umumnya berasosiasi dengan tanah-tanah yang lain. e. Mollisol Merupakan tanah yang berwarna hitam dengan struktur remah di bagian atas. Umumnya dijumpai dalam asosiasi dengan tanah yang lain, khususnya di tidak atau kurang dikelola secara intensif (lahan hutan atau semak belukar). 68 6. Penggunaan Lahan Pola penggunaan lahan tidak terlalu banyak variasi. Pola penggunaan lahan yang banyak dijumpai di Kecamatah antara lain adalah: a) sawah, b) tegal, c). pemukiman, dan d). Hutan Jati (Gambar 10). Kawasan pantai didominasi oleh lahan tegal dan pemukiman. Tanaman semusim seperti jagung dan ketela diusahaan pada lahan ini, disamping itu tanaman tahunan berupa mangga atau kayu-kayuan. Lahan sawah menempati kawasan di belakangnya dan / atau kawasan sekitar sungai. Kawasan hutan menampati lahan dengan kemiringan curam dan atau berbatu. 7. Bahaya alam. Bahaya alam yang bisa dijumpai di wilayan pantai utara ini tampaknya tidak begitu besar. Kawasan pantai sebelah timur tampaknya justru terjadi sedimentasi, sehingga pengaruh air laut tidak terlalu besar. Ombak laut tidak terlalu besar, meskipun demikian hantaman ombak yang terjadi secara terus menerus menyebabkan terkikisnya sebagian besar taanah di wilayah pantai. Untungnya, batuan keras yang berupa batugamping koral sebagai bahan induk tanah cukup kuat untuk melawan aksi ombak laut. 8. Pemukiman. Untuk membuat kawasan pemukiman, perlu penilaian terhadap beberapa parameter, antara lain : a) Subsidensi b) Bahaya banjir c) Kondisi air tanah d) Potensi mengembang-mengkerut e) Kelas Unified f) Lereng g) Kedalaman hamparan batuan h) Kedalaman padas i) Batu/kerikil dalam penampang tanah j) Bahaya longsor Untuk digunakan sebagai kawasan pemukiman wilayah Kecamatan Jenu tampaknya tidak menjadi masalah, asalkan tidak bertingkat lebih dari 3 karena kedalaman hamparan batuan yang dangkal, dan terlalu dekat dengan pantai karena ancaman abrasi air laut. 5.9.3. Kecamatan Merakurak 1. Keadaan Umum 69 Kecamatan Merakurak terletak di pantai utara Jawa Timur. Kecamatan Merakurak termasuk wilayah Kabupaten Tuban 2. Fisiografi dan Stratigrafi. Secara umum fisiografi Kecamatan Merakurak termasuk Lajur Rembang. Morfologi permukaan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan dan batuan penyusunnya. Secara umum batuan penyusun tanah di wilayah ini tersusun atas 2 macam batuan, yaitu: Endapan permukaan dan Batuan Sedimen. Endapan permukaan terdiri atas Aluvium dan Endapan Pantai (Qal), kerakal, kerikil, pasir dan lumpur. Menempati wilayah dataran sepanjang pantai timur Batuan sedimen yang menyusun lahan di wilayah kecamatan ini adalah: Formasi Kalibeng (Tpk), batugamping berdolomit dan dolomit, putih sampai kemeraan, organik dengan fragmen alga, koral dan molusca, kerakal berlempung berwarna coklat. 3. Bentuk lahan Berdasarkan Peta Landsystem (RePPProT, 1989), wilayah Kecamatan Merakurak terdiri atas 2 landsystem . 2 landsystem tersebut terbagi dalam 2 sistem lahan (Dessaunettes, 1977), yaitu : 1). Sistem dataran, dan 2). Sistem Karst. Landsystem AAR (Teras berkarang yang bergelombang, muncul terangkat agak miring) merupakan dataran dengan singkapan batuan batugamping koral. Landystem ini mendominasi wilayah Kecamatan Merakurak. Lansystem MKS (Dataran gabungan endapan muara dan endapan sungai) dijumpai di dekat pantai (wilayah Kecamatan Merakurak bagian timur), merupakan dataran endapan gabungan muara dan sungai. Hasil interpretasi foto udara secara lebih detil pada kawasan pantai Merakurak, menunjukkan bahwa kecamatan ini tidak terlalu terpengaruh oleh aktivitas laut (Mungkin batas kecamatan yang telah didapat tidak tepat, perlu dicari yang lebih tepat). Kecamatan ini masih dibatasi oleh Kecamatan Jenu. Wilayah yang paling dekat dengan pantai adalah wilayah kecamatn bagian timur (Desa Sumberrejo dan Bogorejo). Oleh karena itu, pengaruh laut terhadap lingkungan kecamatan ini tidak jelas. Mungkin sebagian masyarakatnya bermatapencaharian di laut (sebagai nelayan). Relief Kecamatan Merakurak umumnya berupa dataran, sebagian berupa dataran berombak atau bergelombang. 70 Tabel 5.32. Daftar Landform yang terdapat di Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur Deskripsi Tanah No 1 Landsyste m I. SISTEM DATARAN P1112 MKS II. SISTEM KARST K111 AAR Landform Dataran gabungan endapan Tropaquent, muara dan endapan sungai Fluvaquent, Ustropept Teras berkarang yang Ustorthent, bergelombang, muncul Calciustoll, terangkat agak miring Ustropept 2 Klasifikasi landform belum dilaksanakan secara detil, tetapi melihat hasil interpretasi sementara dari foto udara terlihat bahwa pada dasarnya landform di wilayah ini adalah termasuk angkatan miring , khususnya yang berada dekat dengan pantai. Kompleks Cuesta menempati bagian yang lain, dimana lereng pemiringan cuesta lebih dominan daripada gawir cuestanya. Kompleks hogbak juga ditemukan di wilayah ini meskipun tidak terlalu luas. Dataran pantai dijumpai di wilayah bagian timur Kecamatan Merakurak. 5. Tanah Tanah di Kecamatan Merakurak berkembang sesuai dengan bahan induk, topografi dan iklim yang bekerja pada wilayah tersebut. Berdasarkan atas landsystem yang ada, tanah yang dijumpai ada 3 ordo, 4 sob ordo dan 5 great group. Tabel 5.33. Jenis Tanah (Taksnomi) Ordo Entisol Inceptisol Mollisol Entisol. Sub Ordo Aquent Orthent Tropept Ustoll Great Group Fluvaquent, Tropaquent, Ustorthent, Ustropept Calciustoll 71 Entisol merupakan tanah-tanah muda, umumnya berupa endapan pantai atau tanah dangkal. Endapan pantai yang masih muda menyebabkan tanah yang ada belum berkembang. Endapan baru di wilayah rawa pasang surut memiliki sub ordo aquent (Fluvaquent dan Tripaquent) Endapan pada pesisir pasir termasuk sub-ordo psamment. Dipihak lain, tanah dangkal karena proses erosi di teras marin menyebabkan tanah tersebut terpaksa harus dimasukkan ke Ordo Entisol, meskipun pembentukan strukturnya sudah cukup baik. Inceptisol.. Merupakan tanah-tanah yang sedang berkembang. Dijumpai hampir di seluruh wilayah, khususnya di lahan kering. Umumnya berasosiasi dengan tanah-tanah yang lain. Mollisol Merupakan tanah yang berwarna hitam dengan struktur remah di bagian atas. Umumnya dijumpai dalam asosiasi dengan tanah yang lain, khususnya di tidak atau kurang dikelola secara intensif (lahan hutan atau semak belukar). 6. Penggunaan Lahan Pola penggunaan lahan tidak terlalu banyak variasi. Pola penggunaan lahan yang banyak dijumpai di Kecamatah antara lain adalah: a) sawah, b) tegal, c). pemukiman, dan d). Hutan Jati (Gambar 12). Lahan sawah tadah hujan menempati kawasan / bagian utara Kecamatan Merakurak yang memiliki relief fatar sampai berombak. Lahan tegalan menempati separuh wilayah kawasan sebelah selatan. Kawasan hutan jati berasosisi dengan lahan tegal menempati lahan dengan kemiringan curam dan atau berbatu di bagian selatan wilayah kecamatan, dan sedikit di sebelah barat. 7. Bahaya alam. Bahaya alam di wilayah ini belum terdeteksi, tampaknya tidak banyak bencana yang diakibatkan oleh kondisi alam. 8. Pemukiman. Untuk membuat kawasan pemukiman, perlu penilaian terhadap beberapa parameter, antara lain : a. Subsidensi b. Bahaya banjir c. Kondisi air tanah 72 d. Potensi mengembang-mengkerut e. Kelas Unified f. Lereng g. Kedalaman hamparan batuan h. Kedalaman padas i. Batu/kerikil dalam penampang tanah j. Bahaya longsor Untuk digunakan sebagai kawasan pemukiman wilayah Kecamatan Merakurak tampaknya tidak menjadi masalah, selain kemungkinan kurangnya air tanah. 5.9.4. Kecamatan Palang 1. Keadaan Umum Kecamatan Palang terletak di pantai utara Jawa Timur. Kecamatan Palang termasuk Kabupaten Tuban dan merupakan berada di perbatasan dengan Kabupaten Lamongan.. 2. Fisiografi dan Stratigrafi. Secara umum fisiografi Kecamatan termasuk Lajur Rembang. Morfologi permukaan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan dan batuan penyusunnya. Secara umum batuan penyusun tanah di wilayah ini tersusun atas 2 macam batuan, yaitu: Endapan permukaan dan Batuan Sedimen. Endapan permukaan terdiri atas Aluvium dan Endapan Pantai (Qal), kerakal, kerikil, pasir dan lumpur. Menempati wilayah dataran sepanjang pantai timur Batuan sedimen yang menyusun lahan di wilayah kecamatan ini adalah: 1). Formasi Kalibeng (Tpk), batugamping berdolomit dan dolomit, putih sampai kemeraan, organik dengan fragmen alga, koral dan molusca, kerakal berlempung berwarna coklat. 2). Formasi Kujung, anggauta tengah (Tomm), Batuliat, sebagian bergamping dengan selingan batulanau berlempung abu-abu mudam lapisan tipis napal abu-abi muda, setempat dijumpai batupasir bergamping berbutir halus. 3). Formasi Kujung, anggauta bawah (Toml), Batuliat, setempat bergamping, abu-abu-abu-abu kehijauan, dengans elingan batugamping, napal dan batupasir. 73 3. Bentuk lahan Berdasarkan Peta Landsystem (RePPProT, 1989), wilayah Kecamatan Palang terdiri atas 5 landsystem (Tabel 5.33). 5 landsystem tersebut terbagi dalam 3 sistem lahan (Dessaunettes, 1977), yaitu : 1). Sistem dataran, dan 2). Sistem Alluvial, dan 3). Sistem Karst. Kawasan pantai didominasi oleh landsystem AAR, dan MKS. Landsystem AAR (Teras berkarang yang bergelombang, muncul terangkat agak miring) merupakan dataran dengan singkapan batuan batugamping koral, dijumpai di wilayah pantai bagian barat. Lansystem MKS (Dataran gabungan endapan muara dan endapan sungai) dijumpai pantai wilayah Kecamatan Palang bagian timur, merupakan dataran endapan gabungan muara dan sungai. Tabel 5.33. Daftar Landform yang terdapat di Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur No Landform Landsyste m Deskripsi Tanah 6. I. SISTEM DATARAN P1112 MKS II. LEMBAH ALLUVIAL A23 NGR III. SISTEM KARST K111 AAR OMB K BRU Dataran gabungan endapan Tropaquent, muara dan endapan sungai Fluvaquent, Ustropept Dataran banjir pada sungai Tropaquept, kecil di antara perbukitan pada Ustifluvent, daerah kering (A23) Ustropept Teras berkarang yang bergelombang, muncul terangkat agak miring Dataran berombak di atas napal dan batugamping pada daerah kering Punggung bukit karstik yang sangat curam di atas batu gamping Ustorthent, Calciustoll, Ustropept Ustropept, Haplustalf Calciustoll, Ustropept 7. 8. 9. 10. 74 Berdasarkan hasil interpretasi foto udara secara lebih detil pada kawasan pantai Palang sebalah timur air laut tampak lebih keruh, menandakan adanya material yang terbawa oleh erosi. Dengan demikian, sedimentasi terjadi di wilayah ini disertai tumbunya hutan bakau di sepanjang pantai ini. Pada sebagian kawasan pantai tampaknya tidak terjadi sedimentasi, air laut tamak lebih jernih dengan gelombang yang tidak begitu besar. Bahaya abrasi air laut meskipun kecil tetap perlu diperhatikan. Batuan gatugamping koral sebagai bahan induk tanah tampaknya cukup mengurangi pengaruh abrasi laut ini, kecuali pada dataran pantai di bagian barat wilayah kecamatan ini. Relief Kecamatan Palang umumnya datar bervariasi dari datar sampai berbukit kecil, dengan lereng datar sampai lemih darei 60 %. Wilayah pantai umumnya memiliki relief yang datar (0-3%). Wilayah perbukitan dijumpai di bagian tengah dan selatan yang berbatuan batu gamping-dolomitik. 4. Tanah Tanah di Kecamatan Palang berkembang sesuai dengan bahan induk, topografi dan iklim yang bekerja pada wilayah tersebut. Berdasarkan atas landsystem yang ada, tanah yang dijumpai ada 4 ordo, 7 sob ordo dan 8 great group (Tabel 5.34). Tabel 5.34. Jenis Tanah (Taksonomi) Ordo Entisol Sub Ordo Aquent Fluvent Orthent Aquept Tropept Ustoll Ustalf Great Group Fluvaquent Tropaquent Ustifluvent Ustorthent Tropaquept Ustropept Calciustoll Haplustalf Inceptisol Mollisol Alfisol a. Entisol. Entisol merupakan tanah-tanah muda, umumnya berupa endapan pantai atau tanah dangkal. Endapan pantai yang masih muda menyebabkan tanah yang ada belum berkembang. Dipihak lain, tanah dangkal karena proses erosi di teras marin menyebabkan tanah tersebut terpaksa harus dimasukkan ke Ordo Entisol, meskipun pembentukan strukturnya sudah cukup baik. 75 b. Inceptisol.. Merupakan tanah-tanah yang sedang berkembang. Dijumpai hampir di seluruh wilayah. Umumnya berasosiasi dengan tanah-tanah yang lain. d. Alfisol. Merupakan tanah yang sudah dewasa, ditandai dengan adanya penumpukan liat pada penampang tanahnya. Berasosiasi dengan tanah, lain penyebarananya tanah ini menduduki sekitar 50 % dari luas kecamatan, khususnya yang memiliki landform bergelombang – berbukit di bagian selatan wilayah kecamatan. e. Mollisol Merupakan tanah yang berwarna hitam dengan struktur remah di bagian atas. Umumnya dijumpai dalam asosiasi dengan tanah yang lain, khususnya di tidak atau kurang dikelola secara intensif pada lahan berbahan induk batugamping (lahan hutan atau semak belukar). 6. Penggunaan Lahan Pola penggunaan lahan tidak terlalu banyak variasi. Pola penggunaan lahan yang banyak dijumpai di Kecamatah antara lain adalah: a) sawah, b) tegal, c). pemukiman, d). tambak ikan e). padang rumput, dan f). Hutan Jati (Gambar 14). Kawasan pantai yang sebelah barat didominasi oleh lahan tegal dan pemukiman. Tanaman semusim seperti jagung dan ketela diusahaan pada lahan ini, disamping itu tanaman tahunan berupa mangga, siwalan atau kayu-kayuan. Kawasan pantai sebelah timur didominasi oleh tambak ikan. Lahan ini merupakan lahan yang terpengaruh oleh pasang surut air laut. Lahan sawah menempati kawasan di belakangnya dan / atau kawasan sekitar sungai. Kawasan hutan menampati lahan dengan kemiringan curam dan atau berbatu. 7. Bahaya alam. Bahaya alam yang bisa dijumpai di wilayan pantai utara ini tampaknya tidak begitu besar. Ombak laut tidak terlalu besar, meskipun demikian hantaman ombak yang terjadi secara terus menerus menyebabkan terkikisnya sebagian besar taanah di wilayah pantai, khususnya di kawasan pantai sebelah barat. Untungnya, batuan keras yang berupa batugamping koral sebagai bahan induk tanah cukup kuat untuk melawan aksi ombak laut. Kawasan pantai di sebelah timur tidak terancam oleh abrasi air laut, tetapi ada ancaman bajir atau genangan air pasang. 76 8. Pemukiman. Untuk membuat kawasan pemukiman, perlu penilaian terhadap beberapa parameter, antara lain : a) Subsidensi b) Bahaya banjir c) Kondisi air tanah d) Potensi mengembang-mengkerut e) Kelas Unified f) Lereng g) Kedalaman hamparan batuan h) Kedalaman padas i) Batu/kerikil dalam penampang tanah j) Bahaya longsor Untuk digunakan sebagai kawasan pemukiman wilayah Kecamatan Palang tampaknya tidak menjadi masalah, asalkan tidak bertingkat lebih dari 3 karena kedalaman hamparan batuan yang dangkal, dan terlalu dekat dengan pantai karena ncaman abrasi air laut. VI. KONSEP PENGATURAN RUANG KAWASAN PESISIR 6.1. Ekosistem Pesisir Pantai: Potensi dan Pengelolaannya Wilayah perairan pantai di Jawa Timur mempunyai peranan yang sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat pantai dan pembangunan ekonomi wilayah secara keseluruhan. Wilayah ini mengandung berbagai sumberdaya dan potensi ekonomi seperti minyak dan gas bumi, mineral, pangan, obyek wisata dan geografis yang mendukung jalur lalulintas angkutan laut. Selain daripada itu wilayah pantai ini secara ekologis sangat kompleks dan rumit serta peka terhadap berbagai macam gangguan alam dan gangguan oleh manusia. 6.2. Nilai-nilai Sosial Ekonomi 77 Sumberdaya hutan. Hutan bakau tersebar di berbagai lokasi pantai nilai ekonomi dan nilai ekologi dari hutan bakau ini telah banyak dirasakan oleh masyarakat sekitarnya dan secara tidak langsung juga oleh perekonomian wilayah. Dalam rangka untuk melestarikan hutan bakau ini harus dilaksanakan berbagai program khusus seperti penghijauan kawasan hutan bakau yang telah rusak. Perikanan tangkap dan aqua-kultur. Hasil tangkapan ikan di perairan pantai berfluktuasi dari tahun ke tahun. Sedangkan produksi perikanan tambak termasuk udang, menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Mineral. Hasil mineral yang penting dari perairan pantai adalah garam yang dihasilkan oleh petani tambak garam. Obyek wisata. Beberapa obyek wisata pantai mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Sebagian potensi wisata pantai dan wisata bahari masih belum dikembangkan. Pemukiman nelayan. Perkampungan di kawasan pantai di huni oleh para nelayan penangkap ikan, petani tambak, dan pendatang. Industri. Sejumlah aktivitas industri dan pembangkit tenaga listrik berlokasi di kawasan pantai. Nilai keunggulan lokasi pantai in iadalah kemudahan akses terhadap angkutan laut dan ketersediaan air dalam jumlah besar. 6.2.1. Nilai Ekosistem Pesisir-Pantai Ekosistem pesisr-pantai (tambak ikan, udang, dan garam, Pesisir. Estuartia, terumbu karang, bakau, hamparan lumpur pantai, pulau-pulau kecil, dan lainnya) menyediakan habitat bagi organisme yang berhubungan dengan laut, baik untuk memenuhi kebutuhan pangan, tempat bersarang dan bereproduksi atau keperluan lainnya. Hutan bakau dan estuaria mempunyai signifikansi ekologis yang spesifik sebagai spawning grounds, nursing, dan feeding grounds bagi berbagai jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi. Terumbu karang mengkonsentrasikan hara untuk mendukung ekosistem tinggi. Terumbu karang mengkonsentrasikan hara untuk mendukung ekosistem produktif dan produksi ikan yang tinggi di perairan sekitarnya. Dune, hutan bakau dan terumbu karang juga menjadi penyangga alamiah terhadap gelombang laut, erosi dan badai. Kondisi ekologis zone pantai juga sangat penting bagi kegiatan wisata. Sektor ekonomi sangat tergantung pada lingkungan alami yang tidak terganggu. 6.2. 2. Beberapa problem dan issue pembangunan pantai 78 Problem utama dalam pembangunan wilayah pantai adalah kerusakan sumberdaya pantai oleh destruksi, over-eksploitasi, dan penggunaan yang tidak ekonomis, serta problematika yang berhubungan dengan aktivitas pembangunan di sepanjang kawasan pantai yang mengakibatkan berbagai dampak buruk terhadap sumberdaya pantai. Sumberdaya pantai seperti hutan bakau, pesisir, terumbu karang, dan perairan pantai, mengalami kemerosotan kualitas atau degradasi dan memerlukan penanganan yang serius. Sebagian hutan bakau dikonversi dan sebagian lainnya mengalami degradasi akibat over-eksploitasi. Statistik menunjukkan bahwa luas hutan bakau ini menunjukkan kecenderungan yang menurun dari tahun ke tahun. Kawasan hutan bakau ini dibuka untuk pemukiman, lokasi industri, budidaya tambak dan lainnya. Aktivitas-aktivitas ini secara tidak langsung juga berdampak pada penurunan produksi perikanan tangkap dan budidaya. Selain itu meningkatnya kebutuhan kayu bakar juga mendorong over-eksploitasi hutan bakau, aktivitas penanaman kembali sangat terbatas. Dalam situasi seperti ini habitat dasar dan fungsi ekologisnya akan hilang dan kehilangan ini seringkali nilainya lebih besar dibandingkan dengan nilai yang dihasilkan oleh aktivitas subsitutenya. Terumbu karang di beberapa lokasi menunjukkan gangguan akibat siltasi dan sedimentasi atau penurunan kualitas air laut akibat aktivitas-aktivitas yang membuang limbah keperairan pantai. Beberapa spesies karang yang eksotik dipanen untuk pasar akuarium. Kunjungan wisata ke ekosistem terumbu karang ini juga dapat berdampak buruk melampaui batas kongestinya. Perkembangan perkampungan nelayan, industri, wisata pantai, pelabuhan dan dermaga di sepanjang pantai secara langsung dan tidak langsung juga mempunyai sumbangan terhadap penurunan kualitas ekosistem pantai. Pencemaran terutama dapat disebabkan oleh pembuangan limbah domestik cair dan padat dari daratan. 6.2. 3. Beberapa Prinsip Penglolaan Pengelolaan dan pengembangna sumberdaya pantai mengandung makna mengembangkan, mengorganisir, dan mengendalikan penggunaan sumberdaya pantai untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. (a) Zone pantai adalah unik dan mempunyai kebutuhan khusus untuk managemen dan perencanaan dan perencanaan. Bentuk-bentuk pengelolaan tradisional berbasis-lahan dan berbasis-laut harus dimodifikasi menjadi bentuk pengelolaan yang efektif bagi daerah transisi laut dan darat. (b) Air merupakan gaya integrator utama dalam sistem sumberdaya pantai. Setiap aspek dari kegiatan pengelolaan pantai berhubungan dengan air sehingga memerlukan ltatanan kelembagaan yang spesifik dan rumit. 79 (c) Penggunaan lahan dan air di zone pantai harus dilakukan secara terpadu. (d) Pembangunan sumberdaya pantai secara berkelanjutan merupakan tujuan utama dari pengelolaan pantai. Sumberdaya renewable harus dikelola untuk menyediakan benefit sosial-ekonomi yang optimum. (e) Manfaat ganda dari sumberdaya pantai yang renewable diperoleh dengan jalan manajemen pantai. (f) Fokus dari pengelolaan pantai adalah pada sumberdaya common-property. 80 Beberapa aktivitas pembangunan yang dapat berdampak buruk terhadap ekosistem pesisir-pantai adalah sebagai berikut : Aktivitas Pembangunan Pertanian/Perika nan Kehutanan Aqua-kutur dan Marikutur Penangkapan Ikan Pengerukan Pelabuhan Pelayaran Pembangkit Listrik Industri Pertambangan Minyak & gas bumi Pemukiman Pembuangan limbah Pemanfaatan air Manajemen garis pantai Penggunaan sumberdaya pantai Rawa Del -ta Estu -aria = = = = Bakau = Tipe Ekosistem Pete Sea- Trb rnak Gra karn an ss g Pesi Sir Pulau Kecil - - - - Keterangan : - : dampak besar; = : dampak sangat besar 6.2. 4. Wilayah Pesisir-Pantai dengan Sistem Perikanan Tangkap Hakekat pembangunan adalah pembangunan manusia seutuhnya dari pembangunan bagi seluruh masyarakat. Oleh karena itu strategi pembangunan selama ini bertumpu kepada Trilogi Pembangunan, yaitu pertumbuhan ekonomi, pemerataan, dan stabilitas nasional. Berbagai sarana fisik penunjang perekonomian telah berhasil dibangun dan diharapkan akan mampu mendorong akselari pencapaian tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik secara menyeluruh. 81 Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan dapat dipahami bahwa permasalahanyang ada diwilayah pedesaan pantai sangat rumit, melibatkan banyak faktor yang saling kait-mengkait satu sama lain. Wilayah pedesaan pantai dipandang sebagai suatu sistem yang secara struktural terdiri atas lima komponen (sub-sistem) yang saling berinteraksi secara dinamis. Perilaku interaksi dari subsistem-subsistem ini bersifat dinamis dan menghasilkan outputoutput tertentu. Output-output inilah yang pada hakekatnya merupakan tujuan dan sasaran dari upaya-upaya pembinaan/pengembangan wilayah pedesaan pantai. Dua macam sasaran akhir dari upaya-upaya pembinaan yang seringkali dikemukakan adalah kesejahteraan masyarakat nelayan dan kelestarian sumberdaya perairan pantai. Sistem Pedesaan Pantai, khususnya di wilayah Jawa mempunyai lima macam komponen utama (subsistem) yaitu : (1) Komponen sumberdaya perairan pantai dan lingkungan hidup pedesaan pantai; (2) Komponen Sumberdaya manusia (nelayan); (3) Komponen sosial budaya dan kelembagaan pedesaan; (4) Komponen perekonomian pedesaan; dan (5) Komponen sarana dan prasarana fisik. Perilaku komponen-komponen tersebut diatas, baik secara sendirian maupun interaksinya dengan komponen lain, hingga batas-batas tertentu dapat dikendalikan/ dikelola oleh “manusia” untuk mendapatkan output yang diinginkan upaya pengelolaan ini dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu (i) material/teknologi, input kebijakan; (ii) dengan merekayasa kelembagaan yang mengatur interaksi antar komponen tersebut sehingga perilakunya dapat lebih baik memanfaatkan input yang ada, dan (iii) kombinasi antara (i) dan (ii). A. Sub-sistem Sumberdaya Perairan Pantai dan Lingkungan Hidup Pedesaan Pantai Dalam sistem wilayah pedesaan pantai, sumber perairan pantai dan lingkungan hidup pedesaan mempunyai peranan ganda, yaitu sebagai produsen input bagi sub-sistem ekonomi, produsen jasa amenitas bagi manusia, dan sebagai tempat pembuangan limbah. Dalam ketiga hal ini potensi dan kemampuan sumberdaya alam ditentukan oleh karakteristik dan kualitas. B. Sub-sistem Ekonomi Wilayah Pedesaan Perkembangan suatu wilayah ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan domistiknya dan/atau dipasarkan keluar daerah dengan keuntungna kompetitif. Sehubungna dengan hal ini maka kegiatan ekonomi dapat dibedakan menjadi kegiatan sektor bisnis yang menghasilkan produk untuk pasar domestik. Di wilayah pedesaan pantai umumnya kegiatan ekonomi di sektor basis sangat dominan, produk-produk dari kegiatan ekonomi di sektor ini berupa komoditi primer dan sekunder dari 82 perikanan tangkap yang dipasarkan ke luar daerah. Dengan demikian pembinaan pada sektor ini diharapkan dapat mengangkat sub-sistem perekonomian secara keseluruhan. Permasalahan yang sering di jumpai adalah rendahnya keunggulan kompetitif produk dipasaran bebas, dan rendahnya nilai tambah yang dapat dinikmati oleh masyarakat pedesaan pantai. Tiga ciri penting dari kegiatan ekonomi sektor basis di pedesaan pantai adalah (i) kegiatan penangkapan memperlakuan yang mahal dan biaya operasi yang banyak, (ii) operasi penangkapan memerlukan tenaga kerja yang banyak dan koperatif, dan (iii) hasil tangkapan harus dipasarkan ke luar daerah dalam bentuk segar dan/atau olahan. Ketiga ciri ini akan menentukan perilaku sektor basis dan pada akhirnya akan berdampak pada bentuk kelembagaan non-format yang berkembang di pedesaan pantai. C. Sub-sistem Kelembagaan Sosial Sebagaimana disinggung sebelumnya, diwilayah pedesaan pantai telah berkembang kelembagaan non-formal yang spesifik sebagai akibat dari kegiatan ekonomi yang ada. Suatu teladan bentuk kelembagaan non-formal ini dapat ditemukan dalam hal penangkapan dengan purse seine atau penangkapan dengan payang. Kelembagaan armada penangkapan ini ditandai oleh eratnya hubungan antara nelayan pendega, juragan laut, juragan darat, pengolah ikan dan pedagang ikan (dari dalam atau luar daerah) kelembagaan operasional penangkapan ini ternyata berdampak pada kelembagaan bagi hasil yang berlaku, dan selanjutnya akan menentukan distribusi pendapatan dalam masyarakat pedesaan pantai. Hingga batas-batas tertentu kelembagaan seperti di atas bersama dengan kelembagaan-kelembagaan lainnya akan menentukan peluang-peluang transformasi struktural di wilayah pedesaan pantai. Besarnya peluang tersebut ditentukan oleh kesiapan kelembagaan yang ada (formal dan nonformal) untuk mengakomodasi gaya-gaya perubahan yang berasal dari dalam dan luar. Selanjutnya tingkat kesiapan tersebut oleh (i) Efektifitas mekanisme kerja kelembagaan untuk menggalang partisipasi segenap masyarakat secara proposional sesuai dengan kepentingannya. D. Sub-Sistem Sarana dan Prasarana Fisik Sub-sistem ini secara langsung berkaitan dengan sub-sistem kelembagaan sosial (format dan non formal) secara fungsional sub-sistem ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu (i) sarana dan prasarana ekonomi, (ii) sarana dan prasarana penunjang aktivitas kehidupan manusia. Sarana dan prasarana produksi menjadi salah satu prasyarat penting dalam menentukan perilaku sub-sistem ekonomi. Pada kenyataan tingkat 83 penguasaan sarana produksi ini akan menentukan posisi dalam kelembagaan bagi hasil dalam penangkapan. E. Sub-Sistem Sumberdaya Manusia Sumberdaya manusia di wilayah pedesaan pantai menjadi subyek/pelaku yang mengendalikan sebagian besari perilaku sistem wilayah, dan sekaligus menjadi obyek/sasaran dari perilaku tersebut. Sebagai subyek manusia lebih berperan sebagai produsen sehingga kualitas ditentukan oleh (i) Peubahpeubah skill manageral dan (ii) peubah-peubah skill ketenaga kerjaan. Sebagai objek manusia lebih berperan sebagai konsumen, yang kualitasnya ditentukan oleh tingkat pemenuhan kebutuhan fisik minum. Hal ini selanjutnya ditentukan oleh (i) produktivitas tenaga kerja, dan (ii) perilaku konsumtifnya. Tampaknya pola perilaku konsumtif di kalangan masyarakat pedesaan pantai menjadi salah satu ciri budaya yang serius dalam rangka pola pembinaan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat pedesaan pantai. 6.2. 5. Arahan Pengelolaan Ekosistem Pesisir-Pantai Usaha peningkatan pendayagunaan sumberdaya laut berperan ganda. Disamping kaya akan sumberdaya hayati wilayah pesisir dan lautan, juga menyimpan mineral dan energi yang mempunyai peranan penting dalam meningkatkan devisa negara. Akan tetap berbagai permasalahan dapat muncul oleh pemanfaatan pesisir pantai dan lautan yang mengabaikan prinsip-prinsip lingkungan. Laut sering diperlakukan sebagai penampung sampah, limbah industri dan limpasan bahan kimia pertanian. Selain itu, meningkatnya permintaan sebagai bahan makanan energi dan bahan baku untuk industri dan laitan membawa tekanan tersendiri. Di wilayah tertentu telah terjadi kelangkaan sumberdaya ikan akibat penangkapan yang berlebih. A. Pengguna Pertanian Daerah pesisir pantai sangat menarik untuk dua tipe aktivitas pertanian. Yaitu lahan kering dan sawah. Padi sawah sangat sesuai karena tahan terhadap genangan air dan mempunyai toleransi moderat terhadap salinitas. Tanaman padi sawah terutama ditanam di kawasan pantai dan estuaria di belakang tambak garam atau tambak udang. Mereka biasanya terdiri atas jenis-jenis yang toleran salinitas. Di daerah ini biasanya pohon ditanam pada guludan dengan saluran yang lebar diantaranya (semacam sistem surjan). (1) Problematik 84 (a) Konversi lahan pesisir pantai untuk penggunaan pertanian tentu akan mengganggu aliran air permukaan yang diperlukan bagi kesehatan sistem sumberdaya disekitarnya. Selanjutnya akan tinggal sedikit peluang keberhasilan dalam megkon versi sedimen pantai menjadi tanah pertanian karena bahaya genangan dan intrusi garam. Problem lain yang berhubungan dengan penggunaan pertanian pada lahan bakau adalah tanah sulfat masam, logam yang terakumulasi dalam sedimen bakau dapat meracun tanaman pertanian, gangguan nama dan penyakit. (b) Pertanian lahan kering, pembuangan atau penyakuran air tawar untuk penggunaan pertanian secara langsung akan mereduksi input air tawar ke perairan pantai dan menimbulkan problem terus menurunnya produksi ikan dan meningkatnya salintas. Peningkatan input air tawar yang berhubungan dengan penyaluran sungai dapat mengubah regim hidrologis pantai, menurunkan salintas dan mengakibatkan degradasi ekosistem yang peka salintas. (c) Problem lain yang berhubungan dengan pertanian lahan kering berhubungan dengan efek pestisida yang memasuki ekosistem pantai. Selain itu erosi pada lahan pertanian juga berdampak pada besarnya muatan sedimen yang memasuki perairan pantai. (2) Arahan Pengelolaan (a) Pengembangan varietas tanaman yang toleran salintas (b) Sarana pengendalian air dan drainase harus memenuhi empat fungsi (a) Pengendalian Banjir, (b) pengendalian intrusi air salin, (c) Kontrol permukaan air, dan (d) kontrol polusi/pencemaran air oleh limbah buangan. (c) Menghindari reklamasi habitat pantai yang penting untuk pertanian lahan kering. (d) Mengembangkan ekosistem pertanian sawah pada habitat yang sesuai. (e) Merancang pertanian lahan kering untuk meminimumkan altersi pola drainase alamiah. (f) Menggunakan pupuk dan pestisida dengan cara yang aman dan akan meminimumkan kehilangan dan transportnya memasuk wilayah pantai kalau mungkin digunakan pestisida non-persisten. (g) Jangan membuka lahan tanah masam dan membiarkan ekosistem hutan bakau. (h) Pembukaan lahan pertanian dibatasi pada lahan di atas rataan muka air laut untuk menghindari problem salinitas dan asiditasi. (i) Mengembangkan sistem pengelolaan irigasi yang harmonis aliran air tawar mampu melestarikan tanaman pertanian dan mencegah rembesan 85 air asin dalam tanah pertanian dan dijaga untuk mencegah intrusi ke dalam groundwater, dan air irigasi. B. Penambangan Pasir Pasir terdiri atas mineral-mineral dan pasir kuarsa. Perbedaan bobot memainkan peranan sangat penting dalam konsentrasi material mineral berat di beberapa lokasi tertentu. Semakin tinggi bobot mineral juga membantu ekstraksinya selama penambangan dan pengolahan deposit pasir. Mineral pasir berasal dari pelapukan batuan yang menghasilkan pasir kuarsa dan mineral asosiasinya. (1) Metode penambangan Penambangan pasir melibatkan tiga tahapan dasar ekskavasi pasir, pemisahan mineral dari kuarsa, dan pembuangan pasir kuarsa. Dua macam teknis dasar yang lazim digunakan dalam operasinya ialah (a) sistem penambangan kering dan (b) sistem pengeruk-hisapan. (2) Problematik - Sedimen yang dilepaskan ke perairan laut dan erosi pesisir (beach) - Kehilangan nilai estetika - Pengerukan pasir di sekitar ekosistem terumbu karang akan berdampak negatif terhadap organisme dan komunitas karang. (3) Arahan pengelolaan (a) Meminimumkan dampak negatif pengerukan terhadap ekosistem zone pantai (b) Larangan terhadap pengerukan di dalam radius 100 m dari terumbu karang (c) Pengakuan pasir karang dari daerah hamparan karang harus dikendalikan dan dibatasi. C. Aktivitas Sumber energi. Operasi minyak dan gas bumi Eksplorasi dan bongkar-muat bahan bakar minyak dan gas bumi dan kapal tentu akan semakin meningkatkan pencemaran minyak di perairan pantai : (1) Problematik 86 Dua tipe tumpahan minyak yang mengancam kelestarian sumberdaya pantai adalah tumpahan akut akibat kecelakaan transportasi, ledakan sumur dan pipa-pipa dasar laut, dan tumpahan kronis yang berkaitan dengan operasioperasi penyulingan dan lainnya. Kerusakan dapat diderita oleh bakau, terumbu karang, pasir pantai, rumput laut, perikanan dan hewan-hewan marine. (2) Arahan (a) Kalau tumpahan minyak dari kapal merupakan sebab utama pencemaran minyak maka harus dilakukan pemantauan dan pengetatan terhadap lalulintas kapal, terutama dalam hal pembuangan limbah minyak. (b) Pemerintah harus mampu memformulasikan dan mengamankan peraturan mengenai operasi pengapalan lepas pantai maupun operasi di pelabuhan. (c) Semua operasi pengapaian harus menghindar pembuangan limbah minyak ke perairan pantai/laut. (d) Semua operasi minyak dan gas dan penempatannya harus tetap memperhatikan integrasi bidang batas darat-laut. (e) Semua aktivitas pemboran dan produksi minyak di laut harus dirancang dan dipantau sedemikian rupa untuk menghindari ledakan dan tumpahan bahan minyak. D. Pembangunan Industri Garam Garam (NaCl) merupakan komponen penting dalam diet manusia dan mempunyai berbagai aplikasi lainnya seperti kegunaannya sebgai preservatif (Pengawet) dan suplemen pakan ternak. Kebanyakan tambak garam dibangun pada tanah-tanah yang drainasenya buruk di kawasan pantai. Lokasi tambak ini biasanya didekat garis pantai sehingga mudah memperoleh air laut yang segar. Operasi produksi tambak garam biasanya pada musim kering. Garam dari air laut biasanya mengandung campuran sedimen, bahan organik dan garam-garam lain yang harus dimurnikan. Garan NaClll murni diekstraks dari air laut dalam tiga tahapan pengendapan, presipitasi dan kristalisasi. Pada tahap pertama sedimen dan partikel besar lainnya disingkirkan melalui setting selama awal evaporasi. Kemudian dalam periode evaporasi yang panjang, komponen lainnya seperti karbonat disingkirkan melalui presiptasi. Kemudian evaporasi selanjutnya akan menghasilkan kristalisasi gara yang kalau dikeringkan akan menjadi garam murni. (1) Problematik 87 Problematik yang serius sehubungan dengan produksi garam adalah konversi (irreversibel habitat pantai, termasuk ekosistem bakau, menjadi sistem tambak garam. Produksi garam paling baik dilakukan pada lingkungan arid dimana ekosistem hutan pantai jarang ditemukan dalam kaitannya dengan pembangunan kawasa tambak garam, jarang dipertimbangkan fungsi-fungsi lalami dan nilai-nilai jasa ekologis. (2) Arahan pengelolaan Tambak garam merupakan penggunaan zone pantai yang signifikan di Jawa Timur. Dengan semakin meningkatnya pengetahuan maka tambak-tambak garam diperbaiki dengan arahan berikut ini : (a) Pembangunan tambak garam yang baru harus dirancang untuk meminimumkan dampak keseluruhan terhadap ekosistem pantai (b) Pengembangan teknologi penggaraman harus diarahkan untuk mendapatkan teknik-teknik produksi yang efisien. Petani tambak juga harus menyadari adanya manfaat ganda dari tambaknya. (c) Kalau tambak garam telah ditinggalkan maka pematang-pematang harus dihancurkan supaya dapat pulih kembali sebagai daerah genangan. E. Pengembangan wisata-bahari Kegiatan wisata sekarang telah menjadi salah satu sektor ekonomi yang penting di Selat Madura, Jawa Timur, sebagian obyek wisata terletak di zone pantai dengan berbagai macam ekosistem yang unik. (1) Problematik (a) Pencemaran air oleh buangan limbah domestik (b) Problem yang diakibatkan loleh adanya bangunan-bangunan sipil gangguan pemandangan alam, kongesti, pencemaran air, pembuangan limbah padat. (c) Problematik pembuangan limbah padat (d) Problematik yang timbul akibat pengambilan karang pantai dan kerusakan terumbu karang (2) Arahan pengelolaan (a) Pembangunan obyek wisata pantai harus merupakan bagian integrall dari sistem pembangunan wilayah, dengan tetap memperhatikan kepentingan kelestarian lingkungan. (b) Daerah pantai yang dicadangkan untuk pembangunan obyek wisata harus dilengkapi dengan tataruang yang memadai dengan mempertimbangkan geografis alamiah dan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitanya 88 (c) Pembukaan lahan (Kalau diperlukan) harus benar-benar terkendali, untuk meminimumkan dampak terhadap ekosistem pantai (d) Pembangunan fasilitas akomodasi harus terkonsentrasi dengan mensisakan sebanyak mungkin lingkungan alam tetap tidak terganggu sekala, ukuran dan tipe infrastruktur harus tepat dan sesuai (e) Sistem pengelolaan limbah perlu mendapatkan prioritas penanganan. 89 5.3. Eksosietm Tambak: Potensi dan Pengelolaannya 5.3.1. Makna Ekonomis Budidaya Air Tawar dan Ekologis Tambak dan Di kawasan pesisir pantai Jawa Timur terdapat beberapa sumberdaya perikanan yang potensinya cukup besar, meliputi perairan umum, tambak sawah tambak, dan kolam + mina padi. Sumberdaya ini dikelola dengan teknologi yang beraneka ragam dan tingkat intensitas yang berbeda-beda pula salah satu cara untuk mengukur tingkat pengelolaan sumberdaya perikanan adalah penggunaan sarana produksi dan tenagakerja. 5.3.2. Kondisi Perinakanan Tambak dan Perairan Umum Perairan umum sebagai salah satu sumberdaya perikanan memiliki andil yang sangat besar dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduk, khususnya kebutuhan protein hewani. Pemanfaatan sumberdaya perinakan ini dapat dilakukan dengan jalan usaha penangkapan dan usaha budidaya perikanan. Intensitas penangkapan di perairan umum menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat demikian juga usaha budidayanya. 5.3.3. Proses-proses degradasi Gangguan lingkungan perairan dapat berupa meluasnya perkembangan gulma air dan sedimentasi/pendangkalan, pencemaran oleh limbah industri, domestik, dan pestisida, serta gangguan-gangguan alami. Dampak negatif dari gangguan-gangguan seperti diatas dapat berupa rendahnya tingkat produksi ikan di perairan umum dan tambak, perubahan struktur komunitas perairan. Penurunan populasi biota perairan, dan hilangnya beberapa spesies endemik serta menurunnya daya dukung lingkungan perairan. Untuk mengembalikan fungsi perairan umum sebagai ekosistem akuatik yang seimbang diperlukan upayaupaya penanggulangan berupa rehabilitasi sumberdaya perikanan, misalnya dengan penebaran benih diperairan umum yang dianggap sudah kritis. 90 5.3.4. Kebijakan Pengelolahan A. Pengelolaan Reservat Salah satu cara pengelolaan sumberdaya perairan umum adalah dengan pembangunan reservat, yaitu kawasan perairan umum yang dilindungi secara terbatas dengan fungsi sebagai penyangga bagi suatu ekosistem akuatik yang sudah kritis atau yang terancam kelestariannya. Pemanfaatan reservat dilakukan secara terkendali untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan dan memulihkan kembali daya dukung perairan umum. Tujuan pengelola reservat adalah agar supaya fungsi utamanya dapat berjalan, yaitu : (1) Meningkatkan fungsi dan peranan perairan umum mulau dan pengelolaan hingga pemanfaatnya (2) Mempertahankan dan melestarikan habitat perairan sebagai tempat berlindung asuhan, memijah, mencari makan bagi ikan dan biota air lainnya (3) Pengawetan keaneka-ragaman plasma nutfah (4) Sumber cadangan benih ikan bagi pengembangan perikanan dan kawasan perairan umum di sekitarnya (5) Sebagai perlindungan bagi ekosistem akuatik yang memiliki nilai, sifat, dan jenis yang khas (spesies endemik) (6) Pelestarian pemanfaatan jenis dan ekosistemnya dengan mengendalikan caracara pemanfaatannya. B. Program Intensifikasi Tambak (INTAM) Dalam kaitannya dengan upaya meningkatkan produksi dan produktivitas usaha budidaya tambak, maka mulai tahun 1984/1985 telah diprogramkan Intensifikasi Tambak (INTAM) sebagai tindak lanjut keputusan Menteri Pertanian No. 05/SK/MENTAN/Bimas/VI/1984 serta disusul peraturanperaturan yang lain sampai dengan tahun anggaran 1993/1993. Usaha budidaya udang dan bandeng merupakan salah satu pendapatan pokok masyarakat desa pantai dan melibatkan petani-petani dalam jumlah besar. Dengan adanya beberapa faktor pembatas pada petani tambak, maka produktivitas udang dan bandeng menjadi rendah. Keterbatasan di atas disebabkan antara lain kurangnya pengetahuan dan ketrampilan serta permodalan untuk mencapai penerapan teknologi budidaya tambak yang dianjurkan. Dengan adanya program INTAM sejak tahun 1984/1985 selain dapat meningkatkan penghasilan petani tambak juga akan memperluas lapangan kerja, meningkatkan 91 konsumsi protein hewani asal ikan dan meningkatkan devisa negara melalui ekspor komoditi non migas yaitu udang. C. Program Pengembangan Usaha Budidaya Udang dan Ikan Kegiatan yang telah Dilaksanakan adalah : (1) Pembangunan panti pembenihan udang di Situbondo (2) Pembangunan tambak percontohan di Sidoarjo dan Pasuruan. D. Program Pengembangan INMINDI Intensifikasi Mina Padi (INMINDI) merupakan suatu kegiatan intensifikasi usaha tani terpadu antara perikanan dan padi di lahan sawah yang berpengairan teknis. Tujuan dari program INMINDI ini adalah: (1) Meningkatkan pemanfaatan potensi Sumberdaya alam dan sumberdaya manusia secara optimal dalam rangka meningkatkan kesempatan berusaha dan terciptanya lapangan kerja di pedesaan (2) Meningkatkan pendapatan petani melalui usaha budidaya campuran sehingga diperoleh hasil ganda dalam satu musim yaitu ikan dan padi (3) Penyediaan ikan sebagai bahan pangan sumber protein hewan. 5.3.5. Aqua Kultur Perairan Pantai Aqua kultur atau manikultur dengan komoditi udang merupakan sektor ekonomi yang penting bagi Jawa Timur, terutama semenjak dilancarkannya program intensifikasi tambak. Sejalan dnegan pekembangan sektor usaha budidaya ini ternyata juga timbul berbagai masalah dan secara potensial dapat mengancam kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan perairan pantai. (1) Problematik (a) Tataruang Tambak Secara langsung merusak wetlands, mendorong berkembangnya potensial tanah sulfat masam, flushing tambak yang buruk atau tidak memadai degradasi lokal organisme juvenillle dan larva untuk benih pembukaan hutan bakau mengakibatkan hilangnya fungsi penyangga dan selama hujan lebat tambak ini terancam oleh bahaya banjir. (b) Manajemen tambak Predasi merupakan problem serius kalau tambak tidak betul-betul dibersihkan pada saat panen, sehingga memungkinkan predator tertinggal 92 dalam kolam. Fenomena ini dapat mengakibatkan gangguan serius pada pertumbuhan benih. (2) Arahan pengelolaan (a) Preferensi harus diberikan kepada usaha marikultur yang dikelola secara intensif profesional dengan menggunakan cages atau pens daripada usaha yang mendorong konversi bakau menjadi sistem tambak lokasi tambak harus sesuai untuk dapat berproduksi secara lestari. (b) Pengembangan aktivitas manikultur harus didasarkan pada perencanaan seksama dengan mempertimbangkan alternatif penggunaan lainnya. (c) Kalau sistem tambak akan ditinggalkan maka pematang-pematang harus dibongkar sehingga area dapat pulih kembali seperti semula. (d) Pengaturan tata letak tambak yang melibatkan persyaratan performansi untuk perlindungan habitat alam di sekitarnya tambak. Pola aliran air permukaan harus tidak boleh terganggu. (e) Di daerah bakau, tambak harus ditempatkan jauh di sebelah atas hutan bakau. Kalau ada area yang disebut salt flats atau salt pan harus dipilih. Pengalaman menunjukkan bahwa produktivitas tambah lebih besar dilokasi seperti ini daripada di daerah konversi hutan bakau. (f) Dalam sistem budidaya tambak, peningkatan populasi benih biasanya layak. Kalau hal ini dibarengi dengan pengaturan kualitas air dan suplai pakan, maka hasil maksimum dapat dicapai. 5.4. 5.4.1. Ekosistem Hutan Bakau: Potensi dan Pengelolaannya Makna Ekonomis dan Ekologis Hutan Bakau Batasanl pengertian hutan bakau (mangrove) adalah hutan yang terutama tumbuh pada tanah aluvial di daerah pantai dan sekitar muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut, dan dicirikan oleh jenis-jenis pohon anggota genera : Avicenia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Exoecaria, Xyloccarpus Aegiceras Scyphyphora dan Nypa. Dengan demikian, ekosistem bakau ialah ekosistem pantai yang komponen tumbuhan ialah hutan, beserta fauna dan habitatnya yang khas. Lokasi ekosistem bakau ini umumnya adalah pantai-pantai dengan teluk dangkal, estuari, delta, bagian terlindung daru tanjung, selat yang terlindung dari ombak serta tempat-tempat lain yang serupa. Tanahnya bervariasi dari lumpur, lempung, gambut dan pasir. 93 Penggunaan ekonomi yang utama :a.l. Hasil kayu; bahan kayu bakar; kontruksi; suplai bahan kertas, karton, kotak, dl; Tekstil; dan Pangan,obat dan bahan minuman. Bakau perupakan ekosistem hutan yang toleran garam di daerah intertidal tropis. Ekosistem ini sangat kompleks dan bersifat fragile, tersusun atas banyak varietas tumbuhan dan aneka satwa air dan darat. Karakteristik struktural bakau ini beragam dengan lokasi dan sangat ditentukan oleh kondisi geografis, tanah dan air, relief topografis dan kondisi iklim. Hutan bakau mempunyai banyak spesies dan famili yang mana biasanya spesies-spesies Rhizopora berasosiasi dengan pohon dan perdu lainnya. Fungsi ekologis dari ekosistem bakau : a.l. (a) Sebagai sumber energi dan bahan pakan yang sangat penting, (b) kehidupan satwa liar; (c) Pelindung garis pantai; (d) Pengendali erosi oleh air laut; (e) Penyaring dan pembersih air limbah, (f) Barier melawan ombak pasang dari badai laut. Faktor pengelolaam (a) Input air tawar mengencerkan air laut, tingkat salintas merupakan determinan utama terhadap tipe dan kelimpahan spesies. (b) Kisaran pasang surut merupakan faktor sangat penting bagi hutan bakau karena salinitas akan terintegrasi dalam zone-zone yang mempengaruhi pertumbuhan bakau. (c) Polusi di kawasan pantai sebagai akibat dari buangan limbah industri, limbah domestik, limbah pertanian/perikanan, sedimentasi dan dispersi minyak akan mempengaruhi bakau dan sumberdaya lkehidupan akuatik (d) Hutan bakau pantai merupakan sumberkayu yang penting untuk kepentingan domestik dan komersial. Hasil dari hutan bakau menjadi sumber utama material bangunan dan bahan bakar bagi masyarakat pantai Ekosistem hutan bakau sangat unik dan sangat potensial. Secara ekonomis, hutan bakau merupakan penghasil berbagai bahan baku industri, kayu bakar, areng, bahan penyamak, mendukung upaya budidaya perikanan, dan lainlain. Secara ekologis hutan bakau mempunyai fungsi penting karena menjadi tempat lindung bagi banyak jenis flora maupun fauna. Hal ini sering membawa pada pertentangan kepentingan dalam pemanfaatannya. Di Indonesia dan Jawa Timur khususnya sesungguhnya pertentangan ini dapat terhindari apabila semua pihak dapat menyadari peran lindung hutan bakau tersebut sesungguhnya juga mencakup perlindungan terhadap kualitas lingkungan yang menjamin kelestarian usaha-usaha produksi seperti hasil hutan, tambak dan perikanan pada umumnya. Secara rinci peran lindung hutan bakau adalah sebagai berikut : a) Bersifat khas dan strategis untuk menyangga kelestarian kehidupan biota darat dan perairan baik laut maupun tawar. 94 b) Sebagai penyangga produktivitas wilayah usaha perairan pantai dan laut. c) Berperan besar untnuk melindungi pantai dan menghambat lepasnya butirbutir tanah ke lautan bebas serta mempercepat pengendapan pantai. Secara teoritis daya regenerasi hutan bakau cukup kuat, sehigga sering dapat dengan lebih mudah dipulihkan apabila mengalami kerusahakan terutama bila dibandingkan dengan kawasan ekologis lainnya sepertu terumbu karang. Namun demikian apabila sampai muncul kerusakan di kawasan hutan bakau yang mungkin sulit dikembalikan adalah hilangnya beberapa jenis flora dan fauna langka dari kawasan hutan yang rusak tersebut. Selain dari itu, sesuai dengan perannya seperti tersebut di atas, kerusakan hutan bakau umumnya berpengaruh luas terhadap ekosistem lainnya yang terkait dengannya. Kerusakan ekosistem bakau selain merusak ekosistem estuari dan delta serta kawasan pantai, pada umumnya juga berpengaruh luas ke kawasan daerah aliran sungai. Sebagai kawasan tropis, Indonesia khususnya Jawa Timur mempunyai keragaman jenis fauna maupun flora hutan bakau yang sangat besar. Bahkan beberapa jenis flora maupun fauna sering dianggap sebagai jenis langka yang sebaran tempat hidupnya hanya terpusat di kawasan Nusantara. Hal ini dapat dimengerti karena sebagai bagian dari sisi peralihan teritorial benua kuno Gonwana, kawasan bakau Indonesia mewariskan jenis flora dan fauna hasil perkembangan evolusi yang khas dan tidak dijumpai di tempat lain di dunia. Atas dasar alasan-alasan tersebut di atas, maka upaya konservsai serta pengolaan yang tepat dan terencana dengan baik untuk kawasan hutan bakau di Jawa Timur merupakan suatu keharusan, dan mempunyai bagian arti penting bagi pemeliharaan kualitas lingkungan hidup manusia Jawa Timur baik untuk skala jangka pendek maupun jangka panjang. 5.4.2 Kondisi Hutan Bakau Serta Proses Degradasi Hutan Bakau Pada dasarnya kondisi ekosistem pantai di Jawa Timur dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan atas ciri-ciri fisik pantainya. Kelompok pertama umumnya berada di kawasan pantai selatan Jawa Timur yang mempunyai pantai terjal, berbatu dengan ombak yang besar menghantam pantai setiap saat. Kelompok kedua umumnya berada di sepanjang pantai utara Jawa Timur yang relatif landai, berlumpur dengan ombak yang relatif landai, berlumpur dengan ombak yang relatif tenang dan arus air lambat. Kondisi fisik seperti inilah yang menjadi alasan mengapa kawasan bakau lebih banyak dipakai di pantai Utara dibandingkan pantai selatan Jawa Timur. Berdasarkan atas nilai indeks sensitivitas lingkungan yang ditetapkan oleh Kantor Menteri Lingkungan Hidup (Anonymous, 1987), dengan kriteria fisik seperti tersebut, pantai utara 95 dapat dianggap lebih sensitif terhadap pengaruh faktor pencemaran dibandingkan pantai selatan. Pada hal justru pantai utara Jawa Timur yang mempunyai perkembangan sosial ekonomi pesat. Dari sini dapat dipahami mengapa banyak kawasan bakau di pantai Utara Jwa Timur yang telah rusak, dan berubah fungsi seiring dengan pesatnya perkembangan sosial-ekonomi. Data tahun 1991 yang berhasil dikumpulkan oleh Marsoedi, et.al, menunjukkan bahwa dari kurang lebih 859 km hutan bakau sepanjang pantai Jawa Timur, 230 Ha dinyatakan rusak berat dan dari 700 ha rusak ringan. Selanjutnya dari hasil survey kasar, dengan pemilihan tempat secara acak di kawasan pantai Utara Jawa Timur tida dijumpai hutan bakau (Sumitro, 1992). Hasil pengamatan visual menunjukkan pohon-pohon bakau pada umumnya hanya terdapat pada galengan atau saluran irigasi atau dalam bentuk gerubul-gerumbul kecil di sekitar pemukiman penuduk. Hasil pengamatannya dikawasan pantai Probolinggo dan sekitarnya menunjukkan bahwa umumnya hutang mengrove merupakan jalur sempit sejajar dengan jalan raya Surabaya – Banyuwangi yang terputus-putus di berbagai tempat oleh karena pemukiman atau peruntukan lainnya. Lebar areal hutang paling panjang adalah 175 m dan umumnya berkisar antara 50 – 60 m. secara umum kawasan hutan bakau tersebut tidak lagi sebagai hutan lindung melainkan telah bergeser ke fungsi produksi. Hal ini tentu tidak bersesuaian lagi dengan status mereka yang merupakan hutang lindung milik perum perhutani. Hal serupa juga di jumpai di kawasan Blambangan – Banyuwangi (Soebiantoro, 1992). Tampaknya kawasan pantai utara Jawa Timur sudah tidak lagi mempunyai kawasan hutan bakau perawan kecuali di kawasan-kawasan konservasi seperti baluran. Usaha penanaman kembali pohon bakau ternyata telah banyak dilakukan di sepanjang pantai utara dan pantai Madura termasuk Madura Kepulauan umumnya penghijauan dilakukan oleh instansi di bawah Departemen Kehutanan, termasuk perhutani dan Badan Konservasi Sumber Daya Alam Daerah (BKSDA). Lokasi Penghijauan meliputi beberapa daerah di Kabupatenkabupaten Banyuwangi, jember, Situbondo, Malang, Blitar, Pacitan, Trenggalek, Sumenep dan Bangkalan. Manun demikian, usaha penanaman kembali sering tidak bertujuan untuk menghutankan kembali kawasan bakau, tetapi sekedar menghijaukan kawasan bakau dan sering dikaitkan dengan kepentingan pertambakan baik yang modern maupun tradisional. Menurut hasil sigi di Jawa Timur, total usaha penghijauan di luar usaha konservasi dan pengamanan hutan bakau tersebut telah dilakukan pada kawasan bakau seluas kurang lebih 1250 ha. Hasil penelitian tersebut juga menampakkan secara jelas sekali berdasarkan pengaruh laju tekanan pemukiman penduduk, pertumbuhan budidaya tambak, perindustrian dan lain-lain kegiatan ekonomi terhadap laju 96 penyusutan kawasan bakau ini disepanjang pantai Utara Jawa Timur dan Madura, Sayangnya data rinci dalam skala yang lebih teliti mengenai laju perluasan wilayah tambak dan penyusutan hutan bakau di Jawa Timur sampai saat ini amat sulit didapatkan meskipun dari hasil kuwesener dan wawancara terhadap instansi terkait seperti, Dinas perikanan, dinas kehitanan dan Pemerintah Daerah (BAPPEDA) setempat, umumnya mereka mengkategorikan masalah penyusutan luasan hutan bakau dan usaha penghijauan kembali kawasan bakau sebagai masalah yang mendesak untuk ditangani. Data hasil investarisasi kasar yang telah dilakukan di beberapa kawasan pantai Jawa Timur, menunjukkan ada dua puluh tujuh jenis tumbuhan bakau umumnya dari genus Rhizopora, Avicenia, Exoecaria dan Acanthus selain itu juga dapat dengan mudah terlihat, dikawasan pantai utara yang landai adanya kemunculan lahan atau daratan baru seiiring dengan laju sedimentasi di daerah Estuari. Suksesi ekosistem bakau di lahan baru ini terlihat sering terganggu oleh aktivitas perambahan untuk tujuan-tujuan pertambakan atau ladang pembuatan garam. Seperti halnya laju penyusutan hutan bakau, data akurat mengenai laju pertambahan daratan baru disertai aktivitas perambahan oleh penduduk tidak pernah ada. 5.4.2. Kebijakan Pembangunan/Pengelolaan Bakau a) b) c) d) e) Konflik penggunaan penambangan tin dan pertambakan udang peluang pemanfaatan yang lestari , produk kayu, tannis, suplay fry bebas tindakan pengelolaan yang diperlukan antara lain : Pengendalian pembukaan tambak udang, penebangan kayu bakau dan lainnya Menjaga topografi dan karakter substrat uhutan bakau dan saluran air tawar Manjaga pola alamiah temmporer dan spatial dari salinitas air permukaan dan ground water Mempertahankan pola alamiah dan siklus aktivitas pasang surut dan run off air tawar Menjaga keseimbangan alamiah antara okresi, erosi dan sedimentasi. Kebijakan atau rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pembangunan/pengelolaan hutan bakau di Jawa Timur seyogyanya mempertimbangkan dua kepentingan pokok yaitu kepentingan sosial-ekonomi dan kepentingan konservasi-ekologis dengan mengacu pada landasan kebijakan nasional tentang arah dan kebijakan umum sumber daya alam yang telah ditetapkan dalam GBHN. Dengan demikian pengelolaan hutan 97 bakau harus diarahkan agar segala pendaya gunaan sosio-ekonominya tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan serta kelestarian fungsi dan kemampuannya sehingga tetap dapat menjamin kemanfaatannya bagi generasi mendatang. Hal ini berarti pula berseuaian dengan deklarasi World Conservation Startegy (WCS) tahun 1979 dan strategi konservasi alam Indonesia, Agenda 21 Global Biodiversity Strategy (GBS) than 1992 dan Strategi Nasional Pengelolaan Keanekaragaman hayati sehingga setiap kebijakan yang ditetapkan harus mempunyai makna : a) Perlindungan terhadap proses ekologis dan sistem penyangga kehidupan dalam ekosistem bakau b) Pelestarian sumberdaya bakau dan keanekaragaman sumber plasma nutfah yang terkandung didalamnya c) Pemanfaatan secara lestari sumber daya bakau dan lingkungannya d) Konsistensi kebijakan dan penanganan keanekaragaman hayati dan masalah ekologis hutan bakau. e) Mencermati aliran perdagangan flora maupun fauna langka di hutan bakau. Landasan hukum tindakan operasioanal yang berkenaan dengan pengelolaan hutan bakau sudah ada, mulai dari Undang-Undang RI No. 4 tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang-Undang RI No. 9 tahun 1985 tentang perikanan, Undang-Undang RI No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber daa Alam Hayati dan Ekosistemnya, Undang-Undang RI No. 5 tahun 1992 tentang penataan ruang. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok kehutanan, UndangUndang RI No. 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan sampai dengan sederetan Peraturan Pemerintah, keputusan Presiden, keputusan Menteri, sampai dengan SK Gubernur Pemerintah daerah Jawa Timur. Permasalahan yang muncul justru pada tingkat operasional pelaksanaan pengelolaan di lapangan. Secara umum hal ini disebabkan oleh lemahnya koordinasi antara instansi serta manajemen pelaksana di setiap instansi yang berwenang. Pelaksanaan kebijakan yang ditetapkan oleh Dinas Perikanan, misalnya sering berbentukan dengan Dinas Pariwisata atau pihak Peruhatani maupun Pemda Tk. II, Mereka umumnya menggarap satu kawasan yang sama dengan program yang erbeda. Contoh konkrt mengenai hal ini terjadi di kawasan Sendang Biru, Malang Selatan. Program pengembangan fasilitas perikanan, Pariwisata dan kependudukann yang tidak memperhatikan adanya bahaya kerusakan hutan lindung di Pulau Sempu dan sekitarnya. Tumpang tindih pemanfaatan kawasan bakau seperti itu banyak terjadi di Jawa Timur, hal ini ternyata masih berlanjut sampai saat ini dan merupakan warna pengelolaan lingkungan hidup di skala nasional. 98 Satu hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum kelemahan manajemen hutan bakau menyangkut banyak hal meliputi sistem sivikultur, sumberdaya manusis, perencanaan pengorganisasian/pelembagaan, pelaksanaan program kerja dan pengawasan. Ciri dari kelemahan manajemen tersebut antara lain adalah data luasan kawasan hutan bakau yang tidak akurat. Di Jawa Timur data luasan hutan bakau tersebut sering bervariasi menyolok antar instansi terkait satu dengan lainnya. Hal ini tentu amat menyulitkan dalam pelaksanaan tata ruang, pemanfaatan maupun rehabilitasinya selain dalam hal manajemen, permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan kawasan bakau di Jawa Timur diduga juga berhubungan dengan terjadinya degradasi hutan bakau akibat pencurian kayu, perambahan yang tidak terkendali serta pemanfaatan yang melebihi daya dukung. Permasalahan terakhir ini lebih terkait dengan kondisi sosial ekonomis dan budaya masyarakat sekitar hutan bakau secara lestari. Dari sini terlihat bahwa pengelolaan hutan bakau secara lestari harus terkait dengan pendidikan kesadaran berkonservasi, peningkatan lapangan kerja dan sarana produksi bagi penduduk di sekitar kawasan bakau dan penduduk Jawa Timur pada umumnya. 5.4.5. Analisis Dan Evaluasi Secara umum kawasan bakau di Jawa Timur menunjukkan penyusutan dari waktu ke waktu. Usaha penghijauan yang dilakukan belum dapat diharapkan untuk memulihkan kawasan bakau menjadi kawasan perlindungan dan keseimbangan lingkungan. Bahkan kawasan hutan bakau yang tersisa dengan status sebagai hutan lindung banyak yang tidak memenuhi ketetapan Keputusan Presiden No. 32 / 1990, karena lebar lajurnya kurang dari 220 m (Fandeli, 1992). Bila ditinjau dari kualitas fisik dan kimiawi lingkungan, sesungguhnya usaha penghijauan masih dapat diharapkan dapat merehabilitasi kawasan bakau menjadi kawasan hutan bakau. Hambatan utama dalam penghijauan ini justru dari bidang sosial ekonomi, kesadaran berkonservasi masyarakat sekitar serta lemahnya manajemen (koordinasi) pengelolaan dari pihak yang berwenang atas kawasan bakau ini. Pengelolaan hutan mengrrove hendaknya dimulai dari kesepakatan mengenai pentingnya kawasan ini bagi semua pihak yang disertai dengan analisis untung rugi (analisis resiko dan manfaat). Sebagai contoh misalnya : kawasankawasan pantai Banyuwangi, Probolinggo, Sidoarjo, Surabaya, Gresik dan Tuban yang mempunyai tingkat pencemaran logam yang cukup tinggi akibat limbah industri, tentunya lebih bermanfaat bagi orang banyak dan lebih beresiko kecil 99 apabila dihutankan dibandingkan untuk pertambakan. Dengan demikian, untuk kawasan-kawasan bakau di sekitar tempat-tempat tersebut, apabila memang telah ditetapkan untuk kawasan industri, maka tidak ada pilihan lain bagi Pemda Jawa Timur untuk secara terus menerus menyadarkan masyarakat tentang bahaya pencemaran logam berat sehingga dapat mendorong masyarakat pemilik/petambak merekalnnya untuk dirubah menjadi hutan produksi. 5.5. Analisis dan Interprestasi Peta Pemetaan kondisi pesisir-pantai dilakukan dengan menggunakan pendekatan fisiografik yang mendasarkan pada proses geomorfik di muka bumi. Pengumpulan data dilaksanakan dengan metode survey yang diawali dengan kerja laboratorium untuk mempersiapkan peta kerja lapangan. Pemetaan ini dilakukan beberapa lokasi contoh di wilayah pesisir pantai propinsi Jawa Timur pada skala 1 : 50.000 oleh karena itu bahan-bahan penunjang (foto udara, peta dan data lainnya) yang digunakan adalah yang meliputi seluruh wilayah contoh ini. a) Peta-Peta Sebagai bahan acuan dalam interpretasi foto udara dan atau pengujian di lapangan digunakan peta besar dan berbagai peta bantu lainnya : • Peta Topogradi Skala 1 : 50.000 terbitan Bakosurtanal • Peta Penggunaan Lahan sekala 1 : 50.000 • Peta Administrasi, sampai tingkat kecamatan Publikasi BPN Foto udara yang diperlukan untuk pemetaan sumberdaya ini adalah foto udara pankromatik hitam putih skala 1 : 50.000. Foto udara nfra merah hitam putih berskala 1 : 50.000 untuk wilayah Jawa Timr sejumlah 168 lembar hasil pemotretan bulan Agustus sampai September 1983 diperoleh di Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakorsutanal) Cibinong – Bogor. 100 F o to U d a ra P a n k ro m a t ik H it a m P u t ih S k a la 1 : 5 0 .0 0 0 P e ta A c u a n : 1 . G e o lo g i 2 . L a n d s y s te m 3. Laut 4 . P a n ta i P a s ir P ro s e s I n t e rp re t a s i F o to U d a ra T e rh a d a p L a n d f o r m P e t a T o p o g ra f i S k a la 1 : 5 0 . 0 0 0 P lo tt in g H a s il In te rp r e t a s i F o t o U d a ra P e n g u ji a n L a p a n g a n In te rp r e t a s i F o t o U d a r a U la n g a n P E T A A K H IR Gambar 1. Diagram Alir interprestasi foto udara untuk mendapatkan peta. 101 b) Penyiapan Peta dasar Peta dasar dibuat berdasarkan format dan isi yang mengacu pada peta topografi skala 1 : 50.000. Unsur-unsur yang disajikan pada peta dasar merupakan unsur terpilih yang erat kaitannya dengan tujuan pemetaan c) Interpretasi foto udara Sebagai bahan acuan sebelum melaksanakan interpretasi foto udara dilakukan identifikasi skala 1 : 50… dan peta-peta lain yang terkait. Selanjutnya dilakukan orientasi lapangan untuk mendapatkan kunci-kunci interpretasi melalui foto udara. Analisis klasifikasi parameter peta mengikuti klasifikasi yang berlaku sesuai dengan ciri ekosistem yang dikaji klasifikasi menggunakan proses geomorfik sebagai dasar pengelompokka, pembagian lebih lanjut menggunakan parameter lainnya. Sehingga delineasi pada foto udara menghasilkan keseragaman dalam prose intrepretasi sebelum mendelineasi batas satuan peta perlu mendeteksi mengidentifikasi, menganalisa dan menklsifikasi prose geometrik, relief, lereng dan torehan sebagai elemen landform. Anotasi tambahan yang terkait dengan landform juga digambarkan pada foto udara, misalnya lereng curam singkapan dan sebagainya. Analisis landuse menggunakan analisis elemen dengan menggunakan rona, tekstur, pola, ukuran, bentuk, tinggi, bayangan, situs dan asosianya. Kuncikunci interpretasi diperoleh melalui orientasi lapangan sebelum dilaksanakan interpretasi. Delineasi dilakukan pada foto udara mengikuti sebaran karakteristik foto bagi masing-masing vegetasi dan atau penggunaan yang ada. Hasil interpretasi foto udara diplot pada peta dasar yang dibuat dari peta topografi skala 1 : 50.000. 102 VII. REKOMENDASI DALAM PENGATURAN KAWASAN PESISIR Dalam rangka pengaturan ruang kawasan pesisir pantai yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut: A. Bahaya alam yang bisa dijumpai di wilayah pesisir pantai adalah: a. Degradasi Habitat wilayah pesisir pantai b. Pencemaran wilayah pesisir pantai c. Ancaman intrusi air laut (masuknya air laut ke areal darat) d. Rawan bencana alam (longsor, gelombang stunami) e. Kerusakan hutan akibat penebangan hutan secara liar f. Belum optimalnya pengelolaan wilayah pesisir pantai g. Belum optimalnya pemanfaatan potensi sumberdaya alam (baik pertanian, perikanan dan pariwisata) h. Minimnya sarana dan prasarana transportasi i. Minimnya infrastruktur j. Rendahnya kualitas sumber daya manusia k. Rendahnya penataan dan penegakan hukum B. Rencana Pengembangan dan Pengelolaan Ruang Kawasan Pesisir Pantai (a) Rencana Penetapan Zona Kawasan Pesisir dan Kelautan Rencana penetapan zona kawasan pesisir dan kelautan adalah: penetapan kawasan budidaya dan non budidaya di wilayah darat dan perairan laut. Arahan penetapan zona kawasan pesisir pantai berdasarkan pada : 1. Kesesuaian pemanfaatan ruang, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 837/KPTS/UM/1980 dan Perda Pemerintah Propinsi Jawa Timur No 11 tahun 1991 tentang Penetapan Kawasan Lindung. 2. Penetapan zona kawasan berdasarkan pada kegiatan manusia yang prospek pengembanganya baik dan mempunyai potensi untuk dikembangkan. Beberapa kegiatan manusia pada kawasan pesisir dan kelautan, antara lain adalah: pariwisata, tambak, daerah penelitian, pelabuhan pendaratari ikan (PPI), pemukiman nelayan. 3. Penetapan berdasarkan pada Undang-undang No.22 Tahun 1999, yang menjelaskan bahwa kewenangan pengelolaan wilayah kelautan bagi Kabupaten adalah 4 mill. Arahan penetapan zona kawasan pesisir dan kelautan Kabupaten adalah perlindungan terhadap habitat terumbu karang dan mangrove. 103 4. Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa di wilayah pesisir telah terjadi perubahan fungsi penggunaan tanah ataupun perusakan terumbu karang karena kesalahan pengelolaan. Adapun secara garis besar arahan pengelolaan wilayah daratan diarahkan pada: (1) Di wilayah darat mengingat kondisi pantai umumnya merupakan pantai berpasir dan wilayah dengan topografi yang terjal, maka pada wilayah pantai yang saat ini merupakan kawasan hutan diarahkan untuk tidak diubah pola penggunaan tanahnya, bahkan harus dipelihara keasriannya. Pada kawasan hutan yang mengalami kerusakan baik karena penebangan ataupun karena kekurangtepatan dalam pengelolaan maka diarahkan untuk dikelola secara teknis dan vegetatif maupun pengelolaannya bersama masyarakat. (2) Beberapa kawasan yang diperuntukkan sebagai tegalan ternyata menurut kesesuaian lahannya adalah untuk kawasan penyangga. Pada kawasan ini maka diperlukan pengelolaan tegalan yang mampu memberikan fungsi perlindungan melalui memperbanyak tanaman keras dan tanaman tahunan. (3) Pada kawasan yang telah bersesuaian peruntukannya, maka diperlukan peningkatan intensitas kegiatan dengan titik berat peningkatan nilai ekonomi komoditas. (4) Pada wilayah pantai yang memiliki terumbu karang, maka diperlukan penyuluhan dan pemberian informasi pada masyarakat tentang manfaat terumbu karang dan upaya pengelolaannya. (5) Khusus untuk wilayah konservasi yang memi'iki aset wisata, maka pengelolaannya harus dilakukan secara terpadu, dimana pariwisata yang dikembangkan hanya sebatas menikmati pemandangan alam dan melakukan penelitian saja. (6) Pelaksanaan agroforestry pada lahan-Iahan yang telah ditetapkan sebagai kawasan penyangga. Pada daerah pesisir yang telah mengalami terjadinya pergeseran fungsj lahan berdasarkan zona fungsional yang telah ditetapkan. Karena semakin berkurang vegetasi yang berfungsi sebagai penahan laju air limpasan. Akan berakibat: Semakin besar air limpasan permukaan, maka semakin kecil air yang merembes ke dalam tanah sebagai air tanah atau air infiltrasi. Besarnya limpasan ini akan mengakibatkan air sebagai sumber kehidupan untuk masa mendatang akan sulit ditemukan karena persediaan air dalam tanah sangat sedikit. (7) Semakin besar air limpasan yang menuju ke pantai akan membawa jutaan ton tanah subur hasil erosi, hal Ini akan mengakibatkan penimbunan lumpur dl daerah hilir sehingga mengancam rusaknya ekosistim di daerah pantai. 104 (8) (9) Pengelolaan wiiayah pantai ini pada dasarnya merupakan pengelolaan antara wilayah daratan dan lautan secara terpadu. Berdasarkan kondisi yang ada di wilayah daratan (atas) telah dilakukan upaya pengelolaan untuk mengarahkan pada pemanfatan nilai ekonomis lahan baik pada kawasan lindung maupun kawasan budidaya, maka di bagian hilir (laut) juga perlu kegiatan serupa sehingga program keberlanjutan pembangunan dapat dilaksanakan secara menerus. Pengelolaan pesisir pesisir pantai ini pada dasarnya merupakan upaya untuk pemanfaatan dalam jangka panjang yang berlanjut. Untuk itu maka sangat diperlukan pemahaman masyarakat terhadap fungsi dan petingnya suatu ekosistem yang memberikan kehidupan sumberdaya peisisir, dengan arahan-arahan yang ditempuh sebagai berikut: (1) Penyadaran hukum terhadap kegiatan masyarakat yang mengakibatkan terjadinya kerusakan berdampak luas. Misalnya penebangan hutan di daerah atas. (2) Penyadaran hukum terhadap kegiatan masyarakat yang berdampak terhadap kelangsungan hidup ekosistem dan mata pencaharian. Misalnya penangkapan ikan dengan menggunakan bahan beracun dan bom (3) Memberikan altematif kegiatan terhadap kegiatan yang bersifat merusak lingkungan.
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful