BAB I

PENGANTAR & PRINSIP
PEMERIKSAAN KEDOKTERAN FORENSIK
Ilmu Kedokteran Forensik = ilmu pengetahuan yang menggunakan multidisiplin ilmu tujuan
untuk membuat terang suatu perkara pidana dan membuktikan ada tidaknya kejahatan atau
pelanggaran dengan memeriksa barang bukti (Physical Evidence) dalam perkara tersebut.

• Cabang spesialistik ilmu kedokteran yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran
untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan.
• Persamaan : Kedokteran Kehakiman; Legal Medicine; Medical Jurisprudence; Forensic
Medicine; Clinical Forensic; Pathology Forensic.
• ≠ Hukum Kedokteran (Medical Law)
Peran Kedokteran Forensik?
Menentukan:
Mengapa: Di Masyarakat kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum menyangkut tubuh
manusia. Sejarah ¬ forum
Bagaimana: Manfaatkan ilmu secara optimal & penuh kejujuran, serta pemeriksaan KF
terhadap korban hidup/mati/bagian tubuh manusia
Untuk: Menemukan kelainan, bilamana timbul, penyebab & sebab cedera, penyebab,
mekanisme, saat & cara kematian, serta identifikasi
• Kedokteran Forensik memiliki sub ilmu yaitu:
- Autopsi Forensik, berbeda dengan autopsi anatomi
- Patologi Anatomi Forensik
- Toksikologi Forensik dan Kimiawi Forensik
Misalnya : berkaitan dengan obat-obatan psikotropika yang bisa diperiksa
dengan sampel urin
- Parasitologi Forensik / Entomologi Forensik
Misalnya : apabila pada autopsi ditemukan larva lalat, ini harus diperiksa oleh
bagian parasitologi forensik supaya bisa membantu menemukan waktu
kematian
- Odontologi Forensik : pemeriksaan gigi
- Antropologi Forensik : pemeriksaan seluruh tubuh dari tulang sampai gigi
- Radiologi Forensik
o Termasuk disini adalah photo-photo, CT-Scan, dan USG.
o Alat Bantu diatas dapat dipakai sebagai alat bukti pada proses hukum.
- Traumatologi Forensik
o Trauma terdiri dari : trauma fisik, trauma kimia, dan balistik (senjata
api), dll
- Psikiatri Forensik
o Pemeriksaan yang dilakukan terhadap pelaku, dimana pelaku
melakukan kejahatan berdasarkan adanya gangguan jiwa dan bagian ini
dilakukan oleh psikiater ataupun psikolog.
- Laboratorium Forensik
o Tidak hanya pemeriksaan kimiawi, PA, toksikologi tapi juga DNA
yang diambil dari jaringan yang tidak cepat membusuk.Misal : rambut,
percikan darah
Roman Forensik Edisi 8 1
Roman Forensik Edisi 8 2
Proses penyidikan perkara pidana
a. menerima laporan/informasi dan atau melihat langsung terjadinya perkara, masuk Berita
Acara Pemeriksaan (BAP)
b. mencari informasi/memeriksa TKP dan para saksi peristiwa serta pemeriksaan para saksi
c. melakukan konsultasi terhadap para ahli untuk pemeriksaan barang bukti korban/terdakwa
atas dasar legalitas hukum
d. penyidikan lebih lanjut atas informasi/keterangan para ahli
e. pemberian label terhadap barang bukti mati dan surat permintaan pemeriksaan/ konsultasi
kepada yang lebih berwenang
f. pengawalan langsung terhadap pengiriman/konsultasi Barang Bukti atau kasus
korban/terdakwa untuk pemeriksaan tertentu
g. pendekatan dan penjelasan kepada keluarga korban atau korban untuk macam
pemeriksaan Kedokteran Forensik dan persetujuannya (Informed Consent)
• Jadi Singkatnya :
- ada surat permintaan penyidik
- ada surat persetujuan keluarga/korban/terdakwa untuk pemeriksaan
- legalitas hukum pengiriman Barang Bukti/korban atau terdakwa untuk
pemeriksaan
Dalam proses pemeriksaan medis
• kesiapan Barang bukti/korban/terdakwa dan penyidik (termasuk keluarga bila perlu)
• penyidik siap melihat langsung pemeriksaan dan mengamankan lingkungan, mencatat
serta membuat dokumentasi fakta pada korban/BB akibat peristiwa
• penyidik siap sebagai konsultan peristiwa dan penghubung keluarga sesuai kebutuhan
pihak medis
• penyidik siap menerima BB yang lain yang terdapat pada korban/BB untuk pemeriksaan
lebih lanjut atau untuk barang bukti di sidang pengadilan
• menyerahkan jenazah korban atau korban hidup kepada keluarga setelah pemeriksaan,
pengobatan dan perawatan dianggap selesai
• menerima hasil pemeriksaan medis, sementara atau definitif
• bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pemeriksaan medis (Perda, SK Direktur RS,
Pasal 136 KUHAP)
Dalam proses sidang pengadilan
• koordinasi penyidik, jaksa, hakim, terdakwa, para saksi/saksi ahli dan penasehat hukum
serta keluarga korban/terdakwa
• pertanggunganjawab masing-masing para saksi, saksi ahli, penyidik serta terdakwa atau
korban hidup yang dapat/siap di sidang
• pengawalan dan pengamanan lingkungan, terdakwa, korban hidup dan para saksi/saksi
ahli
• surat panggilan para saksi/saksi ahli, korban hidup dan terdakwa
• kesiapan alat bukti, barang bukti untuk dipertanggungjawabkan dalam forum
• kesiapan forum sidang pengadilan sesuai hukum yang berlaku
• kesiapan para saksi ahli termasuk dokter untuk mengucapkan sumpah di forum sidang
pengadilan
Roman Forensik Edisi 8 3
Kerahasiaan
• kerahasiaan hukum, medis oleh profesi masing-masing
• tanpa/bebas rahasia dalam forum sidang pengadilan khususnya para saksi/saksi ahli dan
penyidik
• kerahasiaan medis dan hukum tetap terjaga di luar forum pengadilan sebelum dan sesudah
perkara selesai
• ada sanksi terhadap para personalia pemegang rahasia
Prinsip hasil pemeriksaan medis
• obyektif sesuai pengamatan/pemeriksaan pihak medis
• berdasarkan norma atauran/standart pelayanan medis, khususnya standar pelayanan
kedokteran forensik
• landasan utama berdasarkan ilmu kedokteran orientasi ilmu hukum
• dapat dipertanggungjawabkan secara medis berorientasi / tidak berorientasi dengan ilmu
hukum
Informed concent
• prinsipnya merupakan hak korban/keluarga korban untuk dilakukan pemeriksaan
berdasarkan informasi dari pihak penyidik (Pasal 134 KUHAP)
• penyidik perlu koordinasi dengan tim medis dan keluarga korban untuk, menentukan
macam pemeriksaan (PL, autopsi, TKP, penunjang, dll)
• penyidik memiliki Pasal 222 KUHP dalam menentukan pemeriksaan jenazah (PL,
autopsi)
• Jadi Informed Consent :
- dari pihak penyidik untuk tim medis dan penyidik berupa surat permintaan V et R
- dari korban/keluarga korban – antara pihak penyidik, tim medis dan keluarga
korban berupa surat persetujuan keluarga
- dari keluarga korban – untuk :
o pangruti jenazah (agama)
o pengawetan jenazah (penundaan pemakaman dan WNA)
o pengiriman/transportasi jenazah (Ambulance dan pesawat terbang)
Rekam Medis
• Rekam medis tertuang/tertulis dalam status korban, berkaitan dengan segala macam
pemeriksaan medis serta hasilnya
• V et R adalah merupakan laporan data dari RM murni yang sudah dianalisis dari data RM
dan pertanggungjawabnya
• RM bersifat rahasia medis, Rumah Sakit, pribadi dan hukum (HAM, PP 10 tahun 1966
dan Pasal 170 KUHAP).
• Pelepasan rahasia di sidang pengadilan bebas sanksi (Pasal 48, 49, 50, 51 KUHP), bila
diluar sidang sanksinya menurut hukum yang berlaku.
• RM dan IC berdasarkan hukum tertulis dari Permenkes RI.
Roman Forensik Edisi 8 4
Perbedaan : V et R Surat Keterangan Medis
Korban/penderita Merupakan barang bukti
medis
Merupakan pasien
Pembuat Dokter Dokter atau dokter gigi
Awal kontrak/
permintaan
pemeriksaan
Kontrak pemeriksaan
dari pihak berwenang
(polisi, jaksa, hakim)
Kontrak pemeriksaan dari pasien
sendiri
Format laporan Dalam bentuk visum et
repertum
Dalam bentuk surat keterangan
medis (misal surat keterangan
sehat)
Penyerahan laporan Diserahkan kepada pihak
pemohon
Diserahkan hanya kepada pasien
Masa berlaku Sampai berakhirnya
proses peradilan
Ada batas waktu tertentenggang
waktu tertentu)
Informed consent Tidak diperlukan Harus ada
Roman Forensik Edisi 8 5
BAB II
VISUM ET REPERTUM SERTA
CARA, SEBAB, & MEKANISME KEMATIAN
Pengertian
• Menurut bahasa: berasal dari Bahasa Latin yaitu Visum (sesuatu yang dilihat) dan
Repertum (melaporkan).
• Menurut istilah: adalah laporan tertulis yang dibuat oleh dokter berdasarkan sumpah
jabatannya terhadap apa yang dilihat dan diperiksa berdasarkan keilmuannya.
• Menurut Lembaran Negara (Staatsblad) 350 tahun 1937: Suatu laporan medik forensik
oleh dokter atas dasar sumpah jabatan terhadap pemeriksaan barang bukti medis
(hidup/mati) atau barang bukti lain, biologis (rambut, sperma, darah), non-biologis
(peluru, selongsong) atas permintaan tertulis oleh penyidik ditujukan untuk peradilan.
Maksud dan Tujuan Pembuatan Visum et Repertum
Maksud pembuatan VeR adalah sebagai salah satu barang bukti (corpus delicti) yang sah di
pengadilan karena barang buktinya sendiri telah berubah pada saat persidangan berlangsung.
Jadi VeR merupakan barang bukti yang sah karena termasuk surat sah sesuai dengan KUHP
pasal 184.
Ada 5 barang bukti yang sah menurut KUHP pasal 184, yaitu:
1. Keterangan saksi
2. Keterangan ahli
3. Keterangan terdakwa
4. Surat-surat
5. Petunjuk
Ada 3 tujuan pembuatan VeR, yaitu:
1. Memberikan kenyataan (barang bukti) pada hakim
2. Menyimpulkan berdasarkan hubungan sebab akibat
3. Memungkinkan hakim memanggil dokter ahli lainnya untuk membuat kesimpulan VeR
yang lebih baru
Pembagian Visum et Repertum
Ada 3 jenis visum et repertum, yaitu:
1. VeR hidup
VeR hidup dibagi lagi menjadi 3, yaitu:
a. VeR definitif, yaitu VeR yang dibuat seketika, dimana korban tidak memerlukan
perawatan dan pemeriksaan lanjutan sehingga tidak menghalangi pekerjaan korban.
Kualifikasi luka yang ditulis pada bagian kesimpulan yaitu luka derajat I atau luka
golongan C.
b. VeR sementara, yaitu VeR yang dibuat untuk sementara waktu, karena korban
memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan sehingga menghalangi pekerjaan
korban. Kualifikasi luka tidak ditentukan dan tidak ditulis pada kesimpulan.
Ada 5 manfaat dibuatnya VeR sementara, yaitu
• Menentukan apakah ada tindak pidana atau tidak
• Mengarahkan penyelidikan
• Berpengaruh terhadap putusan untuk melakukan penahanan sementara
terhadap terdakwa
• Menentukan tuntutan jaksa
• Medical record
Roman Forensik Edisi 8 6
c. VeR lanjutan, yaitu VeR yang dibuat dimana luka korban telah dinyatakan sembuh
atau pindah rumah sakit atau pindah dokter atau pulang paksa. Bila korban
meninggal, maka dokter membuat VeR jenazah. Dokter menulis kualifikasi luka pada
bagian kesimpulan VeR.
2. VeR jenazah, yaitu VeR yang dibuat terhadap korban yang meninggal. Tujuan pembuatan
VeR ini adalah untuk menentukan sebab, cara, dan mekanisme kematian.
3. Ekspertise, yaitu VeR khusus yang melaporkan keadaan benda atau bagian tubuh korban,
misalnya darah, mani, liur, jaringan tubuh, tulang, rambut, dan lain-lain. Ada sebagian
pihak yang menyatakan bahwa ekspertise bukan merupakan VeR.
Pembagian lain visum et repertum:
1. menurut peristiwa:
a. VeR perlukaan
b. VeR kejahatan seksual
c. VeR psikiatrik
d. VeR jenazah
2. menurut barang bukti:
a. VeR hidup
b. VeR mati
3. menurut sifat :
a. VeR sementara, lanjutan, definitif
b. VeR barang bukti benda, ekshumasi, TKP
Susunan Visum et Repertum
Ada 5 bagian visum et repertum, yaitu:
1. Pembukaan
Ditulis ‘pro justicia’ yang berarti demi keadilan dan ditulis di kiri atas sebagai pengganti
materai.
2. Pendahuluan
Bagian pendahuluan berisi:
• Identitas tempat pembuatan visum berdasarkan surat permohonan mengenai jam,
tanggal, dan tempat
• Pernyataan dokter, identitas dokter
• Identitas peminta visum
• Wilayah
• Identitas korban
• Identitas tempat perkara
3. Pemberitaan
Pemberitaan memuat hasil pemeriksaan, berupa:
• Apa yang dilihat, yang ditemukan sepanjang pengetahuan kedokteran
• Hasil konsultasi dengan teman sejawat lain
• Untuk ahli bedah yang mengoperasi ¬ dimintai keterangan apa yang diperoleh. Jika
diopname ¬ tulis diopname, jika pulang ¬ tulis pulang
• Tidak dibenarkan menulis dengan kata-kata latin
• Tidak dibenarkan menulis dengan angka, harus dengan huruf untuk mencegah
pemalsuan.
• Tidak dibenarkan menulis diagnosis, melainkan hanya menulis ciri-ciri, sifat, dan
keadaan luka.
Roman Forensik Edisi 8 7
4. Kesimpulan
Bagian kesimpulan memuat pendapat pribadi dokter tentang hubungan sebab akibat antara
apa yang dilihat dan ditemukan dokter dengan penyebabnya. Misalnya jenis luka,
kualifikasi luka, atau bila korban mati maka dokter menulis sebab kematiannya.
5. Penutup
Bagian penutup memuat sumpah atau janji, tanda tangan, dan nama terang dokter yang
membuat. Sumpah atau janji dokter dibuat sesuai dengan sumpah jabatan atau pekerjaan
dokter.
Kualifikasi Luka
Ada 3 kualifikasi luka pada korban hidup, yaitu:
1. Luka ringan / luka derajat I/ luka golongan C
Luka derajat I adalah apabila luka tersebut tidak menimbulkan penyakit atau tidak
menghalangi pekerjaan korban. Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP pasal 352 ayat
1.
2. Luka sedang / luka derajat II / luka golongan B
Luka derajat II adalah apabila luka tersebut menyebabkan penyakit atau menghalangi
pekerjaan korban untuk sementara waktu. Hukuman bagi
3. Luka berat / luka derajat III / luka golongan A
Luka derajat III menurut KUHP pasal 90 ada 6, yaitu:
- Luka atau penyakit yang tidak dapat sembuh atau membawa bahaya maut
(NB : semua luka tembus yang mengenai kepala, dada atau perut dianggap membawa
bahaya maut)
- Luka atau penyakit yang menghalangi pekerjaan korban selamanya
- Hilangnya salah satu panca indra korban
- Cacat besar
- Terganggunya akan selama > 4 minggu
- Gugur atau matinya janin dalam kandungan ibu
Prosedur Permintaan, Penerimaan, dan Penyerahan Visum et Repertum
Pihak yang berhak meminta VeR
1. Penyidik, sesuai dengan pasal I ayat 1, yaitu pihak kepolisian yang diangkat negara untuk
menjalankan undang-undang.
2. Di wilayah sendiri, kecuali ada permintaan dari Pemda Tk II.
3. Tidak dibenarkan meminta visum pada perkara yang telah lewat.
4. Pada mayat harus diberi label, sesuai KUHP 133 ayat C.
Syarat pembuat:
• Harus seorang dokter (dokter gigi hanya terbatas pada gigi dan mulut)
• Di wilayah sendiri
• Memiliki SIP
• Kesehatan baik
Ada 8 hal yang harus diperhatikan saat pihak berwenang meminta dokter untuk membuat
VeR korban hidup, yaitu:
1. Harus tertulis, tidak boleh secara lisan.
2. Langsung menyerahkannya kepada dokter, tidak boleh dititip melalui korban atau
keluarganya. Juga tidak boleh melalui jasa pos.
3. Bukan kejadian yang sudah lewat sebab termasuk rahasia jabatan dokter.
4. Ada alasan mengapa korban dibawa kepada dokter.
5. Ada identitas korban.
6. Ada identitas pemintanya.
7. Mencantumkan tanggal permintaan.
Roman Forensik Edisi 8 8
8. Korban diantar oleh polisi atau jaksa.
Ada 8 hal yang harus diperhatikan saat pihak berwenang meminta dokter untuk membuat
VeR jenazah, yaitu:
1. Harus tertulis, tidak boleh secara lisan.
2. Harus sedini mungkin.
3. Tidak bisa permintaannya hanya untuk pemeriksaan luar.
4. Ada keterangan terjadinya kejahatan.
5. Memberikan label dan segel pada salah satu ibu jari kaki.
6. Ada identitas pemintanya.
7. Mencantumkan tanggal permintaan.
8. Korban diantar oleh polisi.
Saat menerima permintaan membuat VeR, dokter harus mencatat tanggal dan jam,
penerimaan surat permintaan, dan mencatat nama petugas yang mengantar korban. Batas
waktu bagi dokter untuk menyerahkan hasil VeR kepada penyidik selama 20 hari. Bila belum
selesai, batas waktunya menjadi 40 hari dan atas persetujuan penuntut umum.
Lampiran visum
• Fotografi forensik
• Identitas, kelainan-kelainan pada gambar tersebut
• Penjelasan ¬ istilah kedokteran
• Hasil pemeriksaan lab forensik (toksikologi, patologi, sitologi, mikrobiologi)
CARA, SEBAB, DAN MEKANISME KEMATIAN
Cara kematian = macam kejadian yang bertanggung jawab terhadap kematian
Cara Kematian :
1. Wajar : karena penyakit
2. Tidak wajar : pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan
Sebab Kematian = penyakit atau cedera/luka yang bertanggung jawab terhadap timbulnya
kematian
Sebab kematian :
1. Penyakit : gangguan SCV, SSP, respirasi, GIT, urogenital
2. Trauma :
a. mekanik : - tajam : iris, tusuk, bacok
- tumpul : memar, lecet, robek, patah
- senjata api (balistik)
- bahan peledak/bom
b. fisik : - suhu : dingin, panas
- listrik/petir
c. kimiawi : - asam
- basa
- intoksikasi
Mekanisme Kematian = gangguan/kelainan fisiologik dan atau biokimia yang bertanggung
jawab terhadap timbulnya kematian
Mekanisme kematian : 1. Mati lemas (asfiksia)
2. Perdarahan
3. Kerusakan organ vital
4. Refleks vagal
5. Emboli, dll
Mekanisme kematian bisa kombinasi beberapa mekanisme
Roman Forensik Edisi 8 9
BAB III
IDENTIFIKASI FORENSIK
Definisi :
• Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun
mati, berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut.
• Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang
ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan proses peradilan.
Tujuan Identifikasi forensik :
1. Kebutuhan etis & kemanusiaan
2. Pemastian kematian seseorang secara resmi & yuridis
3. Pencatatan identitas untuk keperluan administratif & pemakaman
4. Pengurusan klaim di bidang hukum publik dan perdata
5. Pembuktian klaim asuransi, pensiun dll
6. Upaya awal dalam suatu penyelidikan kriminal (bila ada)
Peran Identifikasi :
1. Pada Orang Hidup
o semua kasus medikolegal
o penjahat atau prajurit militer yang melarikan diri
o orang yang didakwa pelaku pembunuhan
o orang yang diakwa pelaku pemerkosaan
o identitas bayi baru lahir yang tertukar, untuk menentukan siapa orang tuanya
o anak hilang
o orang dewasa yang karena sesuatu hal kehilangan uangnya
o tuntutan hak milik
o untuk kepentingan asuransi
o tuntutan hak pensiun
2. Pada jenazah, dilakukan pada keadaan;
o kasus peledakan
o kasus kebakaran
o kecelakaan kereta api atau pesawat terbang
o banjir
o kasus kematian yang dicurigai melanggar hukum
Ada dua metode, yaitu ;
a. Identifikasi Komparatif
- Dalam komunitas terbatas
- Data antemortem & postmoterm tersedia
b. Identifikasi Rekonstruktif
- Komunitas korban tidak terbatas
- Data antemortem tidak tersedia
Cara Identifikasi yang biasa dilakukan :
1. Secara visual ¬ keluarga/rekan memperhatikan korban (terutama wajah). Syarat :
korban dalam keadaan utuh. Kelemahan : sangat dipengaruhi faktor sugesti dan emosi
2. Pengamatan pakaian ¬ catat: model, bahan, ukuran, inisial nama & tulisan pada
pakaian. Sebaiknya : simpan pakaian atau potongan pakaian (20x10 cm), foto pakaian
Roman Forensik Edisi 8 10
3. Pengamatan perhiasan ¬ catat : jenis (anting, kalung, gelang, cincin dll), bahan
(emas,perak, kuningan dll), inisial nama. Sebaiknya : simpan perhiasan dengan baik
4. Dokumen : KTP, SIM, kartu golongan darah, dll
5. Medis ¬ pemeriksaan fisik : tinggi & berat badan, warna tirai mata, adanya luka bekas
operasi, tato
6. Odontologi ¬ bentuk gigi & rahang : khas, sangat penting bila jenazah dalam keadaan
rusak/membusuk, perlu diingat : dental record di Indonesia masih sangat terbatas
7. Sidik jari ¬ tidak ada dua orang yang memiliki sidik jari yang sama mudah dan murah
8. Serologi ¬ memeriksa darah dan cairan tubuh korban
9. DNA ¬ sangat akurat, tapi mahal
10. Ekslusi ¬ biasanya digunakan pada korban kecelakaan masal, menggunakan data/daftar
penumpang
Metode pemeriksaan terbagi menjadi dua macam, yaitu :
1. Identifikasi primer :
• DNA
• Sidik Jari
• Odontologi
Pada jenazah yang rusak/busuk untuk menjamin keakuratan dilakukan 2-3 metode
pemeriksaan dengan hasil (+)
2. Identifikasi sekunder
Cara sederhana : melihat langsung ciri seseorang dengan memperhatikan perhiasan,
pakaian dan kartu identitas yang ditemukan.
Cara Ilmiah : melalui teknik keilmuan tertentu seperti sidik jari, kedokteran, odontologi,
DNA, dll.
Pada jenazah yang telah membusuk ditentukan :
• Ras
• Jenis Kelamin
• Perkiraan umur
• Tinggi badan
Penentuan Jenis Kelamin : wajah, potongan tubuh, bentuk rambut, pakaian, ciri-ciri seks,
buah dada, pemeriksaan mikroskopik dari ovarium dan testis, rangka, dan
histologis/kromosom.
Penentuan jenis kelamin berdasarkan rangka : rangka wanita lebih halus, indeks iscium-pubis
wanita lebih besar 15% dari ukuran laki-laki, luas permukaan prosesus mastoideus wanita
lebih kecil, manubrium sterni wanita separuh panjang corpus sterni, tulang panjang wanita
lebih pendek, lebih ringan, lebih halus, dan impressio-nya lebih sedikit.
Penentuan umur :
- bayi baru lahir : penentuan umur kehamilan, viabilitas, berat badan, panjang badan,
pusat penulangan, tinggi badan (jarak antara kepala samapai ke tumit/crown-heel, jarak
antara kepala ke tulang ekor/crown-rup)
- anak-anak & dewasa < 30 thn : persambungan spheno-occipital terjadi dalam umur
17-25 thn (pada wanita 17-20 thn), unifikasi tulang selangka mulai umur 18-25 thn &
menjadi lengkap usia 31 thn ke atas, corpus vertebrae sblm usia 30 thn menunjukkan alur-
alur yang berjalan radier pada bagian permukaan atas & bawah
- dewasa > 30 thn : sutura sagittalis, coronaria, dan lamboidea mulai menutup pada usia
20-30 thn, sutura parietomastoidea dan sutura squamosa menutup usia lima tahun
kemudian – 60 thn, sutura sphenoparietale menutup usia 70 thn.
Penentuan tinggi badan :
Roman Forensik Edisi 8 11
Melalui pengukuran tulang panjang :
o femur 27% dari tinggi badan
o tibia 22% dari tinggi badan
o humerus 35% dari tinggi badan
o tulang belakang dari tinggi badan
Formula STEVENSON :
o TB = 61,7207 + (2,4378 x panjang Femur) + 2,1756
o TB = 81,5115 + (2,8131 x panjang Humerus) + 2,8903
o TB = 59,2256 + (3,0263 x panjang Tibia) + 1,8916
o TB = 80,0276 + (3,7384 x panjang Radius) + 2,6791
Formula TROTTER dan GLESER :
o TB = 70,37 + 1,22 (panjang Femur + pjg Tibia) + 3,24
Pengukuran dengan osteometric board & tulang harus kering
Melakukan identifikasi jenazah kepada :
• Jenazah tidak dikenal
• Jenazah yang membusuk atau kerangka
• Kasus penculikan anak
• Kasus bayi tertukar
• Keraguan siapa orang tua anak
Identifikasi korban bencana massal :
• Organisasi Interpol
• Secara internasional identifikasi korban massal adalah tanggung jawab polisi
• Interpol Disaster Victim Identification Standing Comittee yang beranggotakan 114 negara
di dunia dan bersidang setahun sekali di Lyon, Prancis.
Yang harus dilakukan :
Fase I :Unit Penanganan di TKP (Tempat Kejadian Peristiwa), Kegiatan:
• Membuat sektor-sektor/zona pada TKP dengan ukuran 5 x 5 m.
• Memberi tanda setiap sektor.
• Memberikan label pandang dan label oranye pada jenazah dan potongan jenazah diikat
pada tubuh/ibu jari kaki korban.
• Memberikan label putih pada barang-barang pemilik tercecer.
• Membuat sketsa dan foto tiap sektor
• Evakuasi dan transportasi jenazah dan barang, dengan :
- Memasukkan jenazah dan potongan jenazah dalam karung plastik dan diberi
label sesuai nomor jenazah.
- Memasukkan barang-barang yang terlepas dari tubuh korban dan diberi label
sesuai nomor jenazah.
- Diangkut ketempat pemeriksaan dan penyimpanan jenazah dan dibuat berita
acara penyerahan kolektif.
Fase II : Unit postmortem :
• Menerima jenazah/potongan jenazah dan barang dari unit TKP.
• Registrasi ulang dan pengelompokan kiriman tersebut berdasarkan jenazah utuh, tidak
utuh potongan jenazah dan barang-barang.
• Membuat foto jenazah.
• Mencatat semua ciri-ciri korban sesuai formulir interpol
• Mengambil sidik jari korban dan golongan darah (Ident/Labfor).
• Mencatat gigi-gigi korban (Odontogram).
Roman Forensik Edisi 8 12
• Membuat Ro. Foto jika perlu.
• Melakukan autopsi.
• Mengambil data-data ke unit pembanding.
Fase III : Unit ante mortem
• Mengumpulkan data-data nama korban dari daftar penumpang serta data semasa hidup
seperti foto dan lain-lain yang dikumpulkan dari instansi tempat korban bekerja,
keluarga/kenalan, dokter-dokter gigi pribadi, polisi (sidik jari).
• Memasukkan data-data yang masuk dalam formulir yang tersedia formulir AM Kuning.
• Mengelompokkan data-data Ante Mortem.berdasarkan :
o Jenis kelamin
o Umur
o Kewarganegaraan
• Mengirimkan data-data yang telah diperoleh ke unit pembanding data
Fase IV
Unit pembanding data (rekonsiliasi)
• Cek dan recek hasil unit pembanding data.
• Mengumpulkan hasil identifikasi korban.
• Membuat surat keterangan kematian untuk korban yang dikenal dan surat-surat lain yang
diperlukan.
• Menerima keluarga korban.
• Publikasi yang benar dan terarah oleh komisi identifikasi sangat membantu masyarakat
mendapat informasi yang terbaru dan akurat.
Fase V
• Dilakukan Evaluasi
o Dilakukan evaluasi yang komprehensif terhadap masing-masing fase
Roman Forensik Edisi 8 13
BAB IV
TEMPAT KEJADIAN PERKARA (TKP)
Definisi :
Suatu tempat penemuan barang bukti atau tempat terjadinya peristiwa tindak pidana atau
kecurigaan suatu tindak pidana, merupakan suatu persaksian.
Penyidik:
1. melakukan pengamatan/observasi TKP
2. membuat sketsa/foto
3. penanganan korban
4. penanganan terhadap pelaku/kerugian lain
5. penanganan terhadap barang bukti
KUHP pasal 20 ¬ minta bantuan dokter, apakah kasus pidana atau tidak
Jika dokter tidak mau ¬ sanksi KUHP pasal 24
Bantuan dokter dapat berupa:
1. persiapan ¬ permintaan tertulis atau tidak, catat tanggal permintaan, siapa peminta, lokasi
dimana, dan alat pemeriksa TKP
2. biaya ¬ ditanggung yang meminta
3. jika korban masih hidup ¬
• identifikasi secara visual: pakaian secara visual terhadap perhiasan, dokumen,
kartu pengenal lainnya
• identifikasi medik ¬ dari ujung rambut sampai kaki termasuk gigi dan identifikasi
sidik jari
4. jika korban mati ¬ buat sketsa foto ¬ situasi ruangan, lihat TKP (porak-poranda atau
tenang):
• identifikasi ¬ lihat bab identifikasi
• lihat tanatologi ¬ suhu rektal, lebam mayat, kaku mayat. (1. kulit pucat, 2.
relaksasi otot, 3. penurunan suhu, 4. perubahan mata, 5. lebam mayat, 6. kaku mayat,
7. pembusukan)
• lihat lukanya ¬ lokasi luka, garis tengah luka, banyak luka, ukuran luka (cm
ditulis sentimeter), sifat luka:
o tepi luka (jika ditautkan berbentuk garis atau tidak)
o sudut luka (tumpul atau tidak)
o jembatan jaringan (terpotong atau tidak)
o ada lecet atau memar di sekitar luka
o tanda: fraktur atau krepitasi tulang
o dasar luka (bersih atau tidak)
o koordinat luka
Kesan: luka akibat benda tajam/tumpul, dll
• darah
o warna merah/tidak
o tetesan, genangan, atau garis
o melihat bentuk/sifat darah ¬ dapat diperkirakan sumber darah
º darah bundar tepi kecil ¬ darah jatuh vertikal jarak = 60 cm
º darah bundar, tepi seperti jarum ¬ darah jath vertikal jarak 60-120
cm
º darah bundar, tepi garis seperti roda ¬ darah jatuh secara vertikal
jarak > 120 cm
Roman Forensik Edisi 8 14
º darah bulat lonjong ¬ darah jatuh arahnya miring
o distribusi darah
º dari dada ke kaki
º bentuk genangan (bunuh diri), morat marit (pembunuhan)
o sumber
º dari arteri (pancaran lebih jauh dan warna lebih terang)
º darah merah berbuih ¬ dari saluran respirasi
º darah coklat hitam ¬ dari saluran cerna
5. identifikasi lanjutan
• ada sperma atau tidak
• pengambilan darah : jika di dinding kering ¬ dikerok, jika pada pakaian ¬
digunting
• darah basah/segar ¬ masukan termos es ¬ kirim ke lab kriminologi
6. identifikasi lanjutan
• rambut
• sperma kering atau tidak secara visual ¬ sinar UV
• air ludah, bekas gigitan ¬ bisa ditentukan golongan darah
7. membuat kesimpulan di TKP
• mati wajar atau tidak
• bunuh diri ¬ genangan darah, TKP tengang tidak morat-marit, ada luka
percobaan, luka mudah dicapai oleh korban, tidak ada luka tangkisan, pakaian masih
baik
• pembunuhan ¬ TKP morat marit, luka multipel, ada luka yang mudah dicapai ada
yang tidak, luka di sembarang tempat, pakaian robek, ada luka tangkisan karena
perlawanan
• kecelakaan
• mati wajar ¬ karena penyakit
Dengan melihat keadaan TKP lakukan :
1. penentuan mati wajar atau tidak
2. menentukan saat kematian
3. menentukan cara kematian/menentukan diagnosis mati
Tugas dokter di TKP ¬ untuk membantu visum dan autopsi apakah sesuai dengan TKP atau
tidak.
Roman Forensik Edisi 8 15
BAB V
TANATOLOGI
Pengertian
o Thanatos : yang berhubungan dengan kematian
o Logos : ilmu
Adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mempelajari kematian dan perubahan yang
terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Atau Ilmu yang
mempelajari tentang mati dan diagnostik mati dan perubahan postmortem dan faktor-faktor
yang mempengaruhi serta kegunaan apa saja.
Fungsi Tanatologi :
o Menegakkan diagnosis mati
o Memperkirakan saat kematian
o Untuk menentukan proses cara kematian
o Untuk mengetahui sebab kematian
Definisi Mati : Berhentinya ketiga sistem yaitu kardiovaskular, respirasi , dan sistem daraf
pusat, yang merupakan satu unit kesatuan dan tidak terkonsumsinya oksigen.
Istilah Mati :
o Mati somatis/mati klinis : 3 sistem (SSP, SCV, Sist.respiratory) mati ¬
ireversibel/menetap, tetapi beberapa organ & jaringan masih bisa berfungsi sementara ¬
memungkinkan untuk transplantasi. Aktivitas otak dinyatakan berhenti bila : EEG
mendatar selama 5 mnt
o Mati seluler/molekuler : kematian organ & jaringan, sesaat setelah kematian somatis
( otak & jar.saraf +5 menit setelah mati klinis, otot +4 jam setelah mati klinis, kornea +6
jam setelah mati klinis). Dapat dikemukakan bahwa susunan saraf pusat mengalami mati
seluler dalam waktu 4 menit; otot masih dapat dirangsang (listrik) sampai kira-kira 2 jam
pasca mati, dan mengalami mati seluler setelah 4 jam; dilatasi pupil masih terjadi pada
pemberian adrenalin 0,1% atau penyuntikan sulfat atropin 1% ke dalam kamera okuli
anterior, pemberian pilokarpin 1% atau fisostigmin 0,5% akan mengakibatkan miosis
hingga 20 jam pasca mati. Kulit masih dapat berkeringat sampai lebih dari 8 jam pasca
mati dengan cara menyuntikkan subkutan pilokarpin 2% atau asetilkolin 20%;
spermatozoa masih bertahan hidup beberapa hari dalam epididimis; kornea masih dapat
ditransplantasikan dan darah masih dapat dipakai untuk transfusi sampai 6 jam pasca mati.
o Mati suri : Dalam stadium somatic death perlu diketahui suatu keadaan yang dikenal
dengan istilah mati suri atau apparent death. Mati suri ini terjadi karena proses vital dalam
tubuh menurun sampai taraf minimum untuk kehidupan, sehingga secara klinis sama
dengan orang mati. Dalam literatur lain mati suri adalah terhentinya ketiga sistem
kehidupan yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan
kedokteran canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi.
Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur (barbiturat), tersengat aliran
listrik, kedinginan, mengalami anestesi yang dalam, mengalami acute heart failure,
mengalami neonatal anoxia, menderita catalepsy dan tenggelam.
o Mati serebral : kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversibel, kecuali batang otak
dan serebelum (SCV dan respirasi masih berfungsi)
o Mati otak/batang otak : kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang irreversibel,
termasuk batang otak dan serebelum
Diagnosis mati : Hilangnya seluruh ataupun pergerakan/aktivitas refleks hilang
Roman Forensik Edisi 8 16
Ada 5 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem respirasi :
1. Tidak ada gerak napas pada inspeksi dan palpasi.
2. Tidak ada bising napas pada auskultasi.
3. Tidak ada gerakan permukaan air dalam gelas yang kita taruh diatas perut korban pada tes
Winslow.
4. Tidak ada uap air pada cermin yang kita letakkan didepan lubang hidung atau mulut
korban.
5. Tidak ada gerakan bulu burung yang kita letakkan didepan lubang hidung atau mulut
korban.
Ada 5 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem saraf :
1. Areflex
2. Relaksasi
3. Pergerakan tidak ada
4. Tonus tidak ada
5. Elektoensefalografi (EEG) mendatar/flat
Ada 6 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem kardiovaskuler :
1. Denyut nadi berhenti pada palpasi.
2. Detak jantung berhenti selama 5-10 menit pada auskultasi.
3. Elektro Kardiografi (EKG) mendatar/flat.
4. Tes magnus : tidak adanya tanda sianotik pada ujung jari tangan setelah jari tangan korban
kita ikat.
5. Tes Icard : daerah sekitar tempat penyuntikan larutan Icard subkutan tidak berwarna
kuning kehijauan.
6. Tidak keluarnya darah dengan pulsasi pada insisi arteri radialis.
Tanda Kematian Tidak pasti :
• Pernafasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit
• Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit
• Kulit pucat
• Tonus otot menghilang dan relaksasi
• Pembuluh darah retina mengalami segmentasi bergerak ke arah tepi retina dan
kemudian menetap
• Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan
Tanda Kematian Pasti :
• Lebam mayat (livor mortis)
• Kaku mayat (rigor mortis)
• Penurunan suhu tubuh (algor mortis)
• Pembusukan (decomposition, putrefaction)
• Adiposera atau lilin mayat
• Mumifikasi
Perubahan post mortem :
• Kulit wajah pucat : krn sirkulasi berhenti, darah mengendap terutama
pembuluh darah besar
• Relaksasi primer : krn tonus otot tidak ada → rahang bawah melorot
• Perubahan pada mata : pandangan mata kosong, refleks (-)
• 10-12 jam → keruh kornea
Roman Forensik Edisi 8 17
• Penurunan suhu badan : karena perpindahan panas ke dingin melalui
konduksi, konveksi dan radiasi serta evaporasi
Saat kematian (dalam jam) dapat dihitung rumus Post Mortem Interval (PMI) oleh
Glaister dan Rentoul :
- Formula untuk suhu dalam derajat Celcius
PMI = 37
o
C - RT
o
C +3
- Formula untuk suhu dalam derajat Fahrenheit
PMI = 98,6
o
F - RT
o
F
1,5
• Perubahan pada kulit :
Lebam mayat (livor mortis, post mortum lividity, post mortum suggilation, post mortum
hypostasis) : terjadi karena pengendapan butir-butir ertirosit karena adanya gaya gravitasi
sesuai dengan tubuh, berwarna biru ungu tetapi masih dalam pembuluh darah. Timbul 20-
30 menit dan setelah 6-8 jam lebam mayat masih bisa ditekan dan masih bisa berpindah
tempat. Suhu tubuh yang tinggi dapat mempercepat timbulnya lebam mayat.
Terbentuknya lebam mayat terjadi karena kegagalan sirkulasi, dan aliran balik vena gagal
mempertahankan darah mengalir melalui saluran pembuluh darah kapiler akibatnya butir
sel darahnya saling tumpuk memenuhi saluran tersebut dan sukar dialirkan di tempat lain
(fenomena kopi tubruk). Gaya gravitasi meyebabkan darah yang terhenti tersebut mengalir
ke area terendah.

Korban meninggal ¬ peredaran darah berhenti ¬ stagnasi ¬ akibat gravitasi ¬ darah
mencari tempat yang terendah ¬ terlihat bintik-bintik merah kebiruan.
Timbul : 30 menit setelah kematian somatis dan intensitas maksimal (menjadi lengkap)
setelah 8-12 jam post mortal. Sebelum waktu ini, lebam mayat masih dapat berpindah-
pindah, jika posisi mayat diubah, misalnya dari terlentang menjadi tengkurap. Namun
setelahnya, lebam mayat sudah tidak dapat hilang (fenomena kopi tubruk).
Tidak hilangnya lebam mayat pada saat itu, dikarenakan telah terjadinya perembesan
darah kedalam jaringan sekitar akibat rusaknya pembuluh darah akibat tertimbunnya sel –
sel darah dalam jumlah yang banyak, adanya proses hemolisa sel-sel darah dan kekakuan
otot-otot dinding pembuluh darah. Dengan demikian penekanan pada daerah lebam yang
dilakukan setelah 8 – 12 jam tidak akan menghilang. Hilangnya lebam pada penekanan
dengan ibu jari dapat memberi indikasi bahwa suatu lebam belum terfiksasi secara
sempurna. Atas dasar keadaan tersebut, maka dari sifat-sifat serta distribusi lebam mayat
dapat diperkirakan apakah pada tubuh korban telah terjadi manipulasi merubah posisi
korban.
Lokalisasi : tempat yang terendah
Kecuali : bagian tubuh yang
- tertekan dasar
- tertekan pakaian
Perbedaan antara lebam mayat & hematom ¬ lihat bab traumatologi
¬ letak lebam mayat tidak berubah, bila posisi mayat tidak diubah.
Warna lebam mayat:
- Normal : Merah kebiruan
- Keracunan CO : Cherry red
Roman Forensik Edisi 8 18
Penurunan suhu = 10x(37-temperatur rektal) =
..... jam
8
- Keracunan CN : Bright red
- Keracunan nitrobenzena : Chocolate brown
- Asfiksia : Dark red
Warna Lebam Mayat
Lebam mayat sering berwarna merah kebiru-biruan, tetapi bervariasi, tergantung
oksigenasi sewaktu korban meninggal. Bila terjadi bendungan, hipoksia, mayat memiliki
warna lebam yang lebih gelap karena adanya hemoglobin tereduksi dalam pembuluh
darah kulit. Lebam mayat merupakan indikator kurang akurat dalam menentukan
mekanisme kematian, dimana tidak ada hubungan antara tingkat kegelapan lebam mayat
dengan kematian yang disebabkan asfiksia. Sering kematian sebab wajar oleh karena
gangguan koroner atau penyakit lain memiliki lebam yang lebih gelap. Terkadang area
lebam mayat berwarna terang dan dilanjutkan dengan area lebam mayat berwarna lebih
gelap. Hal ini akan berubah seiring memanjangnya interval post mortem. Sering kali
warna lebam mayat merah terang atau merah muda. Kematian yang disebabkan
hipotermia atau terpapar udara dingin selama beberapa waktu, seperti tenggelam, dimana
warna lebam mayat dapat menentukan penyebab kematian, tetapi relatif tidak spesifik
oleh karena mayat yang terpapar udara dingin setelah mati (terutama bila mayat yang di
dalam lemari es mayat) dapat terjadi perubahan lebam dari merah padam menjadi merah
muda.
Mekanismenya belum pasti, tetapi sangatlah jelas merupakan hasil dari perubahan
hemoglobin tereduksi menjadi oksihemoglobin. Hal ini dapat dimengerti pada kasus
hipotermia, dimana metabolisme reduksi dari jaringan gagal mengambil oksigen dari
sirkulasi darah.
Diketahui bahwa lebam mayat yang merah padam berubah menjadi merah muda pada
batas horizontal anggota tubuh bagian atas, warna lebam pada anggota tubuh bagian
bawah tetap gelap, sehingga perubahan secara kuantitatif lebam dapat ditentukan, dimana
hemoglobin lebih mudah mengalami reoksigenasi karena eritrosit kurang mengendap
pada bagian lebam.
Perubahan lainnya pada warna lebam lebih berguna. Pada keracunan gas
karbonmonoksida, lebam mayat akan berwarna merah bata atau cherry red, yang
merupakan warna dari karboksi-hemoglobin (COHb). Keracunan sianida akan
memberikan warna lebam merah terang. Oleh karena kadar oksi hemoglobin (HbO)
dalam darah vena tetap tinggi. Pada keracunan zat yang dapat menimbulkan
methemoglobinemia, seperti pada keracunan kalium khlorat, kinine, anilin, asetanilid dan
nitrobensen, lebam akan berwarna coklat-kebiruan (slaty) oleh karena adanya
methemoglobin yang berwarna coklat serta adanya sianosis. Pada kasus tenggelam atau
pada kasus dimana tubuh korban berada pada suhu lingkungan yang rendah, maka lebam
mayat khususnya yang dekat letaknya dengan tempat yang bersuhu rendah, akan
berwarna merah terang. Ini disebabkan karena suhu yang rendah akan mempengaruhi
kurva dissosiasi dari oksi-hemoglobin. Kematian yang disebabkan sepsis dimana
Clostridium perfringens sebagai agen infeksi, bercak berwarna pucat keabuan dapat
terkadang terlihat pada kulit, Walaupun hal ini tidak timbul pada lebam. Pemeriksaan
laboratorium sederhana yaitu test resistensi alkali dapat juga dilakukan, yaitu dengan
menetesi contoh darah yang telah diencerkan dengan NaOH/KOH 10%. Pada CO, warna
tetap beberapa saat oleh karena resistensi, sedangkan pada CN, warna segera menjadi
coklat oleh karena terbentuknya hematina alkali. Pada anemi berat, lebam mayat yang
terjadi sedikit, warna lebih muda dan terjadi biasanya lebih lambat. Pada polisitemia
sebaliknya lebam mayat lebih cepat terjadi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan pembentukan lebam mayat adalah:
viskositas darah, termasuk berbagai penyakit yang mempengaruhinya, kadar Hb, dan
perdarahan (hipovolemia).
• Perubahan pada otot
Roman Forensik Edisi 8 19
Rigor mortis : karena adanya kelenturan otot setelah mati karena adanya metabolisme
tingkat selular masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen→energi→ADP→
ATP. Selama masih ada energi→aktin miosin masih regang.
Jika glikogen otot habis dan energi tidak ada maka ADP tidak bisa jadi ATP → ADP .
Menurut Szent-Gyorgyi di dalam pembentukan rigor mortis peranan ATP sangat penting.
Rigor mortis terjadi akibat hilangnya ATP. ATP digunakan untuk memisahkan ikatan
aktin dan myosin sehingga terjadi relaksasi otot. Namun karena pada saat kematian proses
metabolisme tidak terjadi sehingga tidak ada produksi ATP. Karena kekurangan ATP
sehingga kepala miosin tidak dapat dilepaskan dari filamen aktin, dan sarkomer tidak
dapat berelaksasi. Karena hal ini terjadi pada semua otot tubuh maka terjadilah kekakuan
dan tidak dapat digerakkan.ATP dibutuhkan untuk mengambil kembali kalsium ke dalam
retikulum sarkoplasma dari sarkomer. Untungnya ketika otot berelaksasi, kepala miosin
dikembalikan keposisinya, siap dan menunggu untuk berikatan dengan sisi dari filamen
aktin. Sebab tidak ada ATP yang bisa digunakan, pelepasan ion kalsium tidak dapat
kembali ke retikulum sarkoplasma. Ion kalsium bergerak melingkar di samping sarkomer
dan menemukan cara untuk berikatan dengan sisi filamen tebal dari protein regulator.
Skema Terjadinya Rigor Mortis
Timbul : 1-3 jam postmortem (rata-rata 2 jam), dipertahankan 6-24 jam, dimulai dari otot
kecil : rahang bawah, anggota gerak atas, dada, perut dan anggota bawah kemudian kaku
lengkap. Menurun setelah 24 jam.
Faktor yang mempercepat terjadinya rigor mortis, yaitu :
o Aktivitas fisik pra kematian / pre mortal.
o Suhu tubuh tinggi.
o Konstitusi berupa tubuh kurus.
o Suhu lingkungan tinggi.
o Umur yaitu anak-anak dan orang tua.
o Gizi yang jelek.
Kekakuan yang menyerupai kaku mayat :
1. Cadaveric spasm (instantaneous rigor)
Roman Forensik Edisi 8 20
o akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati
klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal
o kaku mayat timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi
primer, mayat langsung mengalami kekakuan secara terus-menerus sampai terjadi
relaksasi sekunder
o Terlihat pada kasus : bunuh diri dengan pistol atau senjata tajam, mati tenggelam,
mati mendaki gunung, pembunuhan dimana korban menggenggam robekan
pakaian pembunuh.
Tabel. Perbedaan Rigor Mortis dan Cadaveric Spasm
Pembeda Rigor Mortis Cadaveric Spasm
Waktu timbul Dua jam setelah meninggal.
Rigor mortis lengkap setelah 12
jam.
Sesaat sebelum meninggal
(intravital) dan menetap.
Faktor predisposisi
-
Kelelahan, emosi hebat, ketegangan,
dll.
Etiologi Habisnya cadangan glikogen
secara general.
Habisnya cadangan glikogen pada
otot setempat.
Pola terjadinya
kaku otot
Sentripetal, dari otot-otot kecil
kemudian otot besar.
Kaku otot pada satu kelompok otot
tertentu.
Kepentingan
medikolegal
Untuk penentuan saat kematian.
Untuk menunjukkan sikap terakhir
masa hidupnya. Biasanya pada kasus
pembunuhan, bunuh diri, dan
kecelakaan.
Pembeda Rigor Mortis Cadaveric Spasm
Suhu mayat Dingin. Hangat.
Kematian sel. Ada. Tidak ada.
Relaksasi primer Ada Tidak ada
Timbulnya Lambat Cepat
Lamanya Cepat hilang Lambat hilang (dipertahankan)
Koordinasi otot Kurang Baik
Lokasi otot Menyeluruh Setempat (yang aktif)
Rangsangan sel. Tidak ada respon otot. Ada respon otot.
Kaku otot. Dapat dilawan dengan sedikit
tenaga.
Perlu tenaga kuat untuk
melawannya.
2. Heat stiffening :
o kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas
o serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha
dan lutut, membentuk sikap petinju (pugilistic attitude) pada kasus mati terbakar
3. Cold stiffening
o terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan lemak
subkutan dan otot
• Pembusukan :
a. Autolisis
o Tubuh membentuk enzim merusak sel dari
nukleus→sitoplasma→dinding→hancur
c. Mikroorganisme : bakteri patogen dalam sekum
o Setelah mati → daya tahan tubuh turun karena leukosit menurun → kuman mudah
masuk ke pembuluh darah → media baik untuk tumbuh kuman → hancurkan
darah dan bentuk amonia dan H
2
S → pertama kali terlihat didaerah kanan pada
Roman Forensik Edisi 8 21
fossa iliaka kanan tepatnya disekum terlihat warna ungu (livide) yang merupakan
reaksi Hb dan H
2
S → methsulf –Hb.
o Gas pembusukan masuk ke pembuluh darah → pembuluh darah melebar sehingga
perut menggembung → pecahnya kapiler di alveoli → keluar darah lewat hidung.
o Pembusukan dimulai 48 jam postmortem, belatung pada 36 jam kemudian.
Faktor-faktor yang mempengaruhi cepat-lambatnya pembusukan mayat, yaitu :
a. dari luar
1) Mikroorganisme/sterilitas.
2) Suhu optimal yaitu 21-38
0
C (70-100
0
F) mempercepat pembusukan. Berhenti
pada suhu 212
0
F
3) Kelembaban udara yang tinggi mempercepat pembusukan.
4) Sifat medium. Udara : air : tanah = 8 : 2 : 1 (di udara pembusukan paling cepat,
di tanah paling lambat). Hukum Casper.
b. dari dalam
1) Umur. Bayi yang belum makan apa-apa paling lambat terjadi
pembusukan.
2) Konstitusi tubuh. Tubuh gemuk lebih cepat membusuk daripada tubuh
kurus.
3) Keadaan saat mati. Udem, infeksi dan sepsis mempercepat
pembusukan. Dehidrasi memperlambat pembusukan.
4) Seks. Wanita baru melahirkan (uterus post partum) lebih cepat
mengalami pembusukan.
Golongan alat tubuh berdasarkan kecepatan terjadi pembusukan :
a. cepat : otak, lambung, usus, uterus hamil/post partum
b. lambat : jantung, paru, ginjal, diafragma
c. paling lambat : prostate, uterus yang tidak hamil
Perbedaan Bulla Intravital dan Bulla Pembusukan
Bulla Intravital Perbedaan Bulla Pembusukan
Kecoklatan Warna kulit ari Kuning
Tinggi Kadar albumin & klor Bulla Rendah atau tidak ada
Hiperemis Dasar bulla Merah pembusukan
Intraepidermal Jaringan yang terangkat Antara epidermis & dermis
Ada Reaksi jaringan & respon darah Tidak ada
Variasi-variasi pembusukan:
a. Mummifikasi
o Terjadi bila temperatur turun, kelembaban turun → dehidrasi viceral sehingga
kuman-kuman tidak berkembang → tidak terjadi pembusukan → mayat mengecil,
bersatu berwarna coklat kehitaman, struktur anatomi masih lengkap sampai
bertahun-tahun.
o Proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi
pengeringan jaringan
o Syarat terjadinya mummifikasi :
º Suhu relatif tinggi
º Kelembaban udara rendah
º Aliran udara baik
º Waktu yang lama (12-14 minggu)
o Yang terlihat pada mummifikasi adalah penyusutan bentuk tubuh, kulit padat
hitam seperti kertas perkamen
b. Adipocare
o Terjadi karena hidrogenisasi asam lemak tidak jenuh (asam palmitat, asam stearat,
asam oleat) dihidrogenisasi menjadi asam lemak jenuh yang relatif padat .
Roman Forensik Edisi 8 22
o Suhu tinggi → kelembaban tinggi → lemak → asam lemak → pH turun → kuman
tidak bisa berkembang → asam lemak → dehigrogenase → penyabunan → mayat
menjadi kebalikannya mumifikasi.
o Syarat terjadinya adiposera :
º Suhu rendah, kelembaban tinggi
º Lemak cukup
º Aliran udara rendah
º Waktu yang lama
Perkiraan Saat Kematian
• Perubahan pada mata : Kekeruhan menyeluruh pada kornea terjadi kira-kira 10-12 jam
pasca mati
• Perubahan dalam lambung : Pengosongan lambung yang terjadi dalam 3-5 jam setelah
makan terakhir, misalnya sandwich akan dicerna dalam waktu 1 jam sedangkan makan
besar membtuhkan waktu 3 sampai 5 jam untuk dicerna. Kecepatan pengosongan
lambung ini dipengaruhi oleh penyakit-penyakit saluran cerna, konsistensi makanan dan
kandungan lemaknya.
• Perubahan rambut : Panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk
memperkirakan saat kematian, kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0,4 mm/hari
• Pertumbuhan kuku : Pertumbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0,1 mm/hari
• Perubahan dalam cairan serebrospinal : Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg
% menunjukkan kematian belum lewat 10 jam, Kadar nitrogen non protein kurang 80 mg
% menunjukkan kematian belum 24 jam
• Metode Entomologik : Larva Musca domestica mencapai panjang 8 mm pada hari ke-
7, berubah menjadi kepompong pada hari ke-8, menjadi lalat pada hari ke-14. Larva
Sarcophaga cranaria mencapai panjang 20 mm pada hari ke-9, menjadi kepompong pada
hari ke-10 dan menjadi lalat pada hari ke-18. Necrophagus species akan memakan
jaringan tubuh jenazah. Sedangkan predator dan parasit akan memakan serangga
Necrophagus. Omnivorus species akan memakan keduanya baik jaringan tubuh maupun
serangga. Telur lalat biasanya akan mulai ditemukan pada jenazah sesudah 1-2 hari
postmortem. Larva ditemukan pada 6-10 hari postmortem. Sedangkan larva dewasa yang
akan berubah menjadi pupa ditemukan pada 12-18 hari.
• Reaksi supravital : Reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama
seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup. Rangsang listrik dapat
menimbulkan kontraksi otot mayat hingga 90-120 menit pasca mati, mengakibatkan
sekresi kelenjar sampai 60-90 menit pasca mati, trauma masih dapat menimbulkan
perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca mati
Roman Forensik Edisi 8 23
Grafik Perubahan Pada Tubuh Post Mortem
BAB VI
ASFIKSIA
Definisi :
Merupakan suatu keadaan dimana suplai O
2
ke jaringan berkurang
Penyebab :
Penyebab asfiksia terbagi 2 yaitu, penyebab asfiksia wajar dan tidak wajar. Penyebab asfiksia
wajar karena penyakit seperti difteri, tumor laring, asma bronkiale, pneumotoraks,
pneumonia, COPD, reaksi anafilaksis, dan lain-lain. Penyebab asfiksia tidak wajar karena
emboli, listrik, racun (barbiturat), dan adanya halangan udara masuk ke saluran pernapasan
secara paksa.
Pembagian menurut London :
1. Hipoksik-hipoksia (Keadaan dimana oksigen gagal untuk masuk ke dalam sirkulasi darah)
: kadar oksigen yang memang rendah atau gangguan masuk, biasanya karena gangguan
sist.respirasi : hipoksia mekanik : intraluminer (co : tersedak) & ekstraluminer (co :
pencekikan, penjeratan)
2. Anemik-hipoksia (Darah tidak dapat membawa O
2
yang cukup untuk metabolisme ) :
biasanya Hb yang kurang atau volume darah yang kurang
3. Stagnan-hipoksia (Terjadinya kegagalan sirkulasi) : biasanya gangguan pembuluh darah,
jantung, vagal refleks, emboli, dekomp kordis
4. Histotoksik-hipoksia (HH) (Keadaan yang mengakibatkan O
2
tdk bisa digunakan jaringan)
a. HH ekstraseluler : gangguan enzim, contoh keracunan CO
b. HH periseluler : gangguan permeabilitas membran sel, contoh keracunan
eter/kloroform
c. HH substrat : bahan/substrat yang tidak cukup
d. HH metabolit : gangguan metabolisme karena end product tidak dapat
dieliminir, contoh uremia, keracunan CO
2

Hipoksik hipoksia bisa terjadi karena:
Roman Forensik Edisi 8 24
1. strangulation by suspension / hanging / penggantungan
2. manual strangulation / throttling (cekikan)
3. strangulation by ligature / jeratan
4. simulated suicidal hanging / pembunuhan yg dibuat seperti gantung diri
5. Suffocation :
a. smothering / pembekapan
b. chocking / tersedak
c. gagging / mulut disumbat dg kain lalu diikat ke belakang
6. tenggelam/drowning
7. external pressure of the chest / asfiksia traumatik
8. inhalation of suffocation gases
Stadium asfiksia versi I :
× stadium inspirasi dispneu
• sesak napas saat inspirasi
• TD dan nadi meningkat
• Cemas, gelisah, berat kepala, takut, tinitus, vertigo
• Sianosis
× stadium ekspirasi dispneu
• sesak saat ekspirasi ¬ Kadar CO
2
tinggi ¬ kejang
• pada saat relaksasi ¬ relaksasi spingter ani ¬ keluar kotoran
• relaksasi spingter OUI ¬ ada sperma
× stadium apneu
• kesadaran yang menurun ¬ koma
• pupil melebar
• reflek cahaya negatif
• TD hampir tidak terukur
• Nadi tidak teraba
× stadium akhir
Stadium asfiksia versi II :
• dispneu : + 4 menit, nafas berat, cepat & sukar, Nadi&TD meningkat,
tanda-tanda sianosis
• konvulsi : + 2 menit, klonik dulu baru tonik, lalu opistotonik,
kesadaran mulai menghilang, pupil dilatasi, denyut jantung melambat, TD turun
• apneu : + 1 menit, nafas lemah, kesadaran menurun sampai hilang,
relaksasi spinkter
• final : paralisis nafas lengkap, denyut jantung beberapa saat masih ada,
lalu hilang, & meninggal
PENGGANTUNGAN
+ Definisi
Penggantungan (hanging) merupakan suatu strangulasi berupa tekanan pada leher akibat
adanya jeratan yang menjadi erat oleh berat badan korban.
+ Tanda asfiksia
+ Alat penggantung :
- alat penggantung dengan permukaan yang luas (co: sarung) ¬ menyebabkan tekanan
hanya pada permukaan saja, sehingga yang terjepit hanya vena (vena jugularis)
sehingga muka bengkak&kebiruan, kongesti vena, mata menonjol karena bendungan
Roman Forensik Edisi 8 25
- alat penggantung dengan permukaan yang kecil (co: tali jemuran) ¬ menyebab
tekanan besar ke dalam, selain vena, arteri juga terjepit ¬ wajah pucat , mata tidak
menonjol
+ Adanya air liur yang keluar dari mulut
+ Lidah menonjol ¬ jika gantungan di bawah gld tiroid
+ Ada air mani atau feses karena ada relaksasi spingter
+ Ada jejas pada leher tepi meninggi, warna merah kecoklatan, pada palpasi keras
seperti kertas perkamen, arahnya miring ke arah simpul.
+ Ada resapan darah di bawah kulit di bawah otot ¬ pada m. sternokleidomastoideus,
m. supra/infrahyoid, m. hyoglosus.
+ Fraktur os hyoid
+ Edema pada plika vokalis
+ Mati gantung bisa bunuh diri/tidak maka lakukan:
- Periksa TKP
º Ada persiapan gantung diri atau tidak
º Jika 1 meter ¬ tidak mungkin gantung diri
º Bunuh diri ¬ tidak terlalu jauh jaraknya, dan TKP tenang tidak morat
marit
- Simpul dilihat
º Simpul hidup ¬ bunuh diri
º Simpul mati ¬ dibunuh
º Bunuh diri ¬ ikatan membentuk sudut, tidak ada tanda perlawanan,
tidak ada luka lecet atau memar, simpul tali bisa dikeluarkan dari kepala
- Jika tanda tanda diatas tidak ada ¬ kecelakaan
-
PEMBEDA PENGGANTUNGAN PADA
BUNUH DIRI
PENGGANTUNGAN PADA
PEMBUNUHAN
Usia Lebih sering terjadi pada usia
remaja dan dewasa.
Tidak mengenal batas usia, karena
tindakan pembunuhan dilakukan oleh
musuh atau lawan dari korban dan
tidak bergantung pada usia.
Tanda jejas jeratan. Bentuknya miring, berupa
lingkaran terputus (noncontinous)
dan terletak pada bagian atas
leher.
Berupa lingkaran tidak terputus,
mendatar, dan letaknya di bagian
tengah leher, karena usaha pembunuh
(pelaku) untuk membuat simpul tali.
Simpul tali. Biasanya hanya satu simpul yang
letaknya pada bagian samping
leher.
Biasanya lebih dari satu pada bagian
depan leher dan simpul tali tersebut
terikat kuat.
Riwayat korban. Biasanya korban mempunyai
riwayat untuk bunuh diri dengan
cara lain.
Sebelumnya korban tidak
mempunyai riwayat untuk bunuh dir.
Cedera. Luka-luka pada tubuh korban
yang bisa menyebabkan kematian
mendadak tidak ditemukan pada
kasus bunuh diri.
Cedera berupa luka-luka pada tubuh
korban biasanya mengarah pada
pembunuhan.
Tangan. Tidak dalam keadaan terikat,
karena sulit untuk gantung diri
dalam keadaan tangan terikat.
Tangan yang dalam keadaan terikat
mengarahkan dugaan pada kasus
pembunuhan.
PEMBEDA PENGGANTUNGAN PADA
BUNUH DIRI
PENGGANTUNGAN PADA
PEMBUNUHAN
Roman Forensik Edisi 8 26
Kemudahan. Pada kasus bunuh diri, mayat
biasanya ditemukan tergantung
pada tempat yang mudah dicapai
oleh korban atau di sekitarnya
ditemukan alat yang digunakan
untuk mencapai tempat tersebut.
Pada kasus pembunuhan, mayat
ditemukan tergantung pada tempat
yang sulit dicapai oleh korban dan
alat yang digunakan untuk mencapai
tempat tersebut tidak ditemukan.
Tempat kejadian. Jika kejadian berlangsung di
dalam kamar, dimana pintu,
jendela, ditemukan dalam
keadaan tertutup dan terkunci dari
dalam, maka kasusnya pasti
merupakan bunuh diri.
Bila sebaiknya pada ruangan
ditemukan terkunci dari luar, maka
penggantungan adalah kasus
pembunuhan.
Tanda-tanda
perlawanan.
Tidak ditemukan pada kasus
gantung diri.
Tanda-tanda perlawanan hampir
selalu ada kecuali jika korban sedang
tidur, tidak sadar atau masih anak-
anak.
Gambar Kasus penggantungan
Sebab kematian pada gantung diri
1. tekanan jalan napas ¬ asfiksia ¬ O
2
yang masuk paru kurang
2. suplai O
2
ke otak berkurang ¬ penakanan arteri karotis comunis ¬ vena jugularis
tertekan ¬ bendungan vena ¬ gagal jantung
3. vagal reflek ¬ pusat saraf vagus di bagian depan leher, tanda sianosis tidak ada ¬
kemungkinan mati karena reflek vagal
penekanan sinus karotikus di belakang gld tiroid ¬ gangguan blok jantung ¬ kardiak
arrest
4. karena edema laring ¬ karena obstruksi napas ¬ tanda asfiksia nampak
5. spasme laring
Ada 4 penyebab kematian pada penggantungan , yaitu :
1. Asfiksia
2. Iskemia otak akibat gangguan sirkulasi
3. Vagal reflex (shock)
4. Kerusakan medulla oblongata atau medulla spinalis
Rusaknya medulla oblongata atau medulla spinalis pada penggantungan (hanging)
disebabkan patahnya tulang leher. Kita dapat temukan biasanya pada hukuman mati.
Ada 3 cara kematian pada penggantungan (hanging), yaitu :
1. Bunuh diri (paling sering) .
2. Pembunuhan, termasuk hukuman mati .
3. Kecelakaan, misalnya bermain dengan tali lasso, tali parasut pada terjun payung, dan
penggunaan tali untuk mendapat kepuasan seks.
Roman Forensik Edisi 8 27
Ada 4 hal yang bukan petunjuk bagi kita tentang cara kematian pada kasus penggantungan
(hanging), yaitu :
1. Mata melotot.
2. Lidah terjulur.
3. Keluar mani, urin, darah, atau feses.
4. Jenis simpul (simpul hidup atau simpul mati).
Ada 8 hal yang perlu kita lakukan pada pemeriksaan tempat kejadian, yaitu :
1. Memastikan korban apakah masih hidup atau telah mati.
2. Mencari bukti yang menunjukkan cara kematian.
3. Memperhatikan jenis simpul tali gantungan.
4. Mengukur jarak antara ujung kaki korban dengan lantai.
5. Memperhatikan letak korban di tempat kejadian.
6. Cara menurunkan korban.
7. Mengamankan bekas serabut tali.
8. Memperhatikan bahan penggantung.
Ada 3 bukti yang bisa menunjukkan kepada kita tentang cara kematian korban, yaitu :
1. Ada tidaknya alat penumpu korban, misalnya bangku dan sebagainya.
2. Arah serabut tali penggantung.
3. Distribusi lebam mayat.
Serabut tali penggantung yang arahnya menuju korban dapat memberikan petunjuk
bagi kita bahwa korban melakukan bunuh diri. Sebaliknya, arah serabut tali yang menjauhi
korban menjadi bukti bahwa korban dibunuh lebih dahulu sebelum digantung.
Distribusi lebam mayat harus kita perhatikan secara seksama, apakah sesuai dengan
posisi mayat ataukah tidak. Jenis simpul tali gantungan penting kita perhatikan karena dapat
kita jadikan sebagai patokan apakah korban melakukan bunuh diri ataukah korban
pembunuhan. Simpul tali, baik simpul hidup maupun simpul mati, bilamana melewati lingkar
kepala korban dapat menunjukkan korban melakukan bunuh diri. Apabila simpul tali tidak
dapat melewati lingkar kepala korban dapat menandakan korban dibunuh lebih dahulu
sebelum digantung. Simpul hidup harus kita longgarkan secara maksimal untuk
membuktikannya.
Cara kita menurunkan korban dengan memotong tali gantungan diluar simpul tali.
Sebelum memotong, kita membuat 2 ikatan lalu kita potong secara miring diantara keduanya.
Tindakan ini untuk mencegah terurainya serabut tali gantungan. Setelah itu, kita
mengamankan bekas serabut tali gantungan tadi baik serabut tali yang mengikat leher korban
maupun serabut tali yang diikatkan pada tempat gantungan. Hal ini penting kita lakukan untuk
pemeriksaan kasus ini lebih lanjut.
Bahan dan ukuran diameter penggantung penting juga kita perhatikan. Bahan yang
keras dan berdiameter kecil meninggalkan tanda alur jerat yang semakin jelas. Bahan
penggantung yang dapat digunakan pada kasus penggantungan (hanging) antara lain tali,
kawat, selendang, ikat pinggang, sprei yang disambung, dan lain-lain.
Ada beberapa hal yang dapat kita jumpai pada pemeriksaan luar dan dalam autopsi. Ada 5
bagian tubuh korban yang kita perhatikan saat melakukan pemeriksaan luar autopsi, yaitu:
1. Kepala.
2. Leher.
3. Anggota gerak (lengan dan tungkai).
4. Dubur.
Roman Forensik Edisi 8 28
5. Alat kelamin.
Ada 4 bagian kepala korban yang kita perhatikan saat melakukan pemeriksaan luar autopsi,
yaitu :
1. Muka.
2. Mata.
3. Konjungtiva.
4. Lidah.
Muka korban penggantungan (hanging) akan mengalami sianosis dan terlihat pucat
karena vena terjepit. Selain terjepitnya vena, pucat pada muka korban juga disebabkan
terjepitnya arteri.
Mata korban penggantungan (hanging) melotot akibat terjadinya bendungan pada
kepala korban. Hal ini disebabkan oleh terhambatnya vena-vena kepala tetapi arteri kepala
tidak terhambat.
Bintik-bintik perdarahan pada konjungtiva korban penggantungan (hanging) terjadi
akibat pecahnya vena dan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah karena asfiksia.
Lidah korban penggantungan (hanging) bisa terjulur, bisa juga tidak terjulur. Lidah
terjulur apabila letak jeratan gantungan tepat berada pada kartilago tiroidea. Lidah tidak
terjulur apabila letaknya berada diatas kartilago tiroidea.
Gambar tardieu spot
Alur jeratan pada leher korban penggantungan (hanging) berbentuk lingkaran (V shape). Alur
jerat berupa luka lecet atau luka memar dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Alur jeratan pucat.
2. Tepi alur jerat coklat kemerahan.
3. Kulit sekitar alur jerat terdapat bendungan.
Alur jeratan yang simetris / tipikal pada leher korban penggantungan (hanging) menunjukkan
letak simpul jeratan berada dibelakang leher korban. Alur jeratan yang asimetris / atipikal
menunjukkan letak simpul disamping leher.
Deskripsi leher korban penggantungan (hanging) yang penting kita berikan antara lain :
1. Lokasi luka.
2. Jenis luka.
3. Lokasi simpul jeratan (belakang dan samping leher).
4. Jenis simpul jeratan (simpul hidup dan simpul mati).
Roman Forensik Edisi 8 29
Lokasi luka pada leher korban penggantungan (hanging) dapat berada di depan,
samping dan belakang leher. Luka yang berada di depan leher kita ukur dari dagu atau
manubrium sterni korban. Luka yang berada di samping leher kita ukur dari garis batas
rambut korban. Luka yang berada di belakang leher kita ukur dari daun telinga atau bahu
korban.
Jenis luka korban penggantungan (hanging) terdiri atas luka lecet, luka tekan dan luka
memar. Penting juga kita mendeskripsikan mengenai warna, lebar, perabaan dan keadaan
sekitar luka. Anggota gerak korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan adanya
lebam mayat pada ujung bawah lengan dan tungkai.
Penting juga kita ketahui ada tidaknya luka lecet pada anggota gerak tersebut. Dubur
korban penggantungan (hanging) dapat mengeluarkan feses. Alat kelamin korban dapat
mengeluarkan mani, urin, dan darah (sisa haid). Pengeluaran urin pada korban penggantungan
disebabkan kontraksi otot polos pada stadium konvulsi atau puncak asfiksia. Lebam mayat
dapat kita temukan pada genitalia eksterna korban.
Ada 4 bagian tubuh korban penggantungan (hanging) yang kita perhatikan saat melakukan
pemeriksaan dalam autopsi, yaitu :
1. Kepala.
2. Leher.
3. Dada dan perut.
4. Darah.
Kepala korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan tanda-tanda bendungan
pembuluh darah otak, kerusakan medulla spinalis dan medulla oblongata. Kedua kerusakan
tersebut biasanya terjadi pada hukuman gantung (judicial hanging).
Leher korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan adanya perdarahan dalam
otot atau jaringan, fraktur (os hyoid, kartilago tiroidea, kartilago krikoidea, dan trakea), dan
robekan kecil pada intima pembuluh darah leher (vena jugularis).
Dada dan perut korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan adanya
perdarahan (pleura, perikard, peritoneum, dan lain-lain) dan bendungan / kongesti organ.
Darah dalam jantung korban penggantungan (hanging) warnanya lebih gelap dan
konsistensinya lebih cair.
PENJERATAN
Jerat (strangulation by ligature) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban
akibat suatu jeratan dan menjadi erat karena kekuatan lain bukan karena berat badan korban.
• kekuatan jerat pada ujung tali jerat, pada gantung ¬ kekeatan karen berat badan
• jejas penjeratan bersifat horisontal bersilangan di atas dan dibawah
• tanda asfiksia
• kausa mati menyerupai gantung diri
• pemeriksaan lokal menyerupai gantung diri hanya bedanya pada penjeratan, jejeas
bersifat horisontal
Ada 3 penyebab kematian pada jerat , yaitu :
1. Asfiksia
2. Iskemia
Roman Forensik Edisi 8 30
3. Vagal reflex (shock)
Ada 3 cara kematian pada kasus jeratan , yaitu :
1. Pembunuhan (paling sering).
2. Kecelakaan.
3. Bunuh diri.
Pembunuhan pada kasus jeratan (strangulation by ligature) dapat kita jumpai pada kejadian
infanticide dengan menggunakan tali pusat, psikopat yang saling menjerat, dan hukuman mati
(zaman dahulu).
Kecelakaan pada kasus jeratan (strangulation by ligature) dapat kita temukan pada bayi yang
terjerat oleh tali pakaian, orang yang bersenda gurau dan pemabuk. Vagal reflex menjadi
penyebab kematian pada orang yang bersenda gurau.
Bunuh diri pada kasus jeratan (strangulation by ligature) mereka lakukan dengan cara
melilitkan tali secara berulang dimana satu ujung difiksasi dan ujung lainnya ditarik. Antara
jeratan dan leher mereka masukkan tongkat lalu mereka memutar tongkat tersebut.
Pemeriksaan tempat kejadian pada kasus jeratan (strangulation by ligature) kita lakukan
secara rutin sebagaimana pada kasus yang lain. Kita hendaknya memperhatikan jeratan pada
leher korban dan cara melepaskan jeratan dari leher korban.
Ada 5 hal yang penting kita perhatikan pada kasus jeratan (strangulation by ligature), antara
lain :
1. Arah jerat mendatar / horisontal.
2. Lokasi jeratan lebih rendah daripada kasus penggantungan (hanging).
3. Jenis simpul penjerat.
4. Bahan penjerat misalnya tali, kaus kaki, dasi, serbet, serbet, dan lain-lain.
5. Pada kasus pembunuhan biasanya kita tidak menemukan alat yang digunakan untuk
menjerat.
Pemeriksaan autopsi pada kasus jeratan (strangulation by ligature) mirip kasus penggantungan
(hanging) kecuali pada :
1. Distribusi lebam mayat yang berbeda.
2. Alur jeratan mendatar / horisontal.
3. Lokasi jeratan lebih rendah.
PENCEKIKAN (MANUAL STRANGULASI)
Pencekikan (manual strangulasi) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban
yang dilakukan dengan menggunakan tangan atau lengan bawah.
• pakai tangan 1 atau 2
• bersifat pembunuhan
• status lokalis
o luka memer bulat panjang
o luka lecet bentuk bulan sabit ¬ jika pakai tangan kiri ¬ jempoknya di kiri
• diagnosis menyerupai gantung diri
• sebab kematian menyerupai gantung diri
Ada 3 penyebab kematian pada pencekikan , yaitu :
1. Asfiksia
Roman Forensik Edisi 8 31
2. Iskemia
3. Vagal reflex
Ada 2 cara kematian pada kasus pencekikan yaitu :
1. Pembunuhan (hampir selalu).
2. Kecelakaan, biasanya mati karena vagal reflex.
Ada 3 cara melakukan pencekikan (manual strangulasi), yaitu :
1. Menggunakan 1 tangan dan pelaku berdiri di depan korban.
2. Menggunakan 2 tangan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban.
3. Menggunakan 1 lengan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban.
Apabila pelaku berdiri di belakang korban dan menarik korban ke arah pelaku maka ini
disebut mugging.
Ada 3 hal yang penting kita perhatikan pada pemeriksaan luar dari autopsi kasus pencekikan
(manual strangulasi), antara lain :
1. Tanda asfiksia.
2. Tanda kekerasan pada leher (penting).
3. Tanda kekerasan pada tempat lain.
Tanda-tanda asfiksia pada pemeriksaan luar autopsi yang dapat kita temukan antara lain
adanya sianotik, petekie, atau kongesti daerah kepala, leher atau otak. Lebam mayat akan
terlihat gelap.
Ada 2 tanda kekerasan pada leher yang penting kita cari, yaitu :
1. Bekas kuku.
2. Bantalan jari.
Gambar. Pencekikan dengan bekas kuku dan goresan pada sisi leher
Bekas kuku dapat kita kenali dari adanya crescent mark, yaitu luka lecet yang berbentuk
semilunar/bulan sabit. Kadang-kadang kita dapat menemukan sidik jari pelaku. Perhatikan
pula tangan yang digunakan pelaku, apakah tangan kanan (right handed) ataukah tangan kiri
(left handed). Arah pencekikan dan jumlah bekas kuku (susunan bekas kuku) juga tak luput
Roman Forensik Edisi 8 32
dari perhatian kita. Tanda kekerasan pada tempat lain dapat kita temukan di bibir, lidah,
hidung, dan lain-lain. Tanda ini dapat menjadi petunjuk bagi kita bahwa korban melakukan
perlawanan.
Ada 4 hal yang penting kita cari pada pemeriksaan dalam autopsi bagian leher korban pada
kasus pencekikan (manual strangulasi), yaitu :
1. Perdarahan atau resapan darah.
2. Fraktur.
3. Memar atau robekan membran hipotiroidea.
4. Luksasi artikulasio krikotiroidea dan robekan ligamentum pada mugging. Perdarahan atau
resapan darah dapat kita cari pada otot, kelenjar tiroid, kelenjar ludah, dan mukosa &
submukosa pharing atau laring. Fraktur yang paling sering kita temukan pada os hyoid.
Fraktur lain pada kartilago tiroidea, kartilago krikoidea, dan trakea.
PEMBEKAPAN
Pembekapan (smothering) adalah suatu suffocation dimana lubang luar jalan napas yaitu
hidung dan mulut tertutup secara mekanis oleh benda padat atau partikel-partikel kecil.
• penutupan pada mulut dan hidung
• tanda asfiksia jelas
• rekonstruksi tangan yang dipakai ¬ pakai tangan kiri ¬ jempol di kiri pipi korban
Ada 3 penyebab kematian pada pembekapan (smothering), yaitu :
1. Asfiksia
2. Edema paru
3. Hiperaerasi
Edema paru dan hiperaerasi terjadi pada kematian yang lambat dari pembekapan
(smothering).
Ada 3 cara kematian pada kasus pembekapan (smothering), yaitu :
1. Kecelakaan (paling sering)
2. Pembunuhan
3. Bunuh diri
Ada 3 cara kecelakaan pada kematian kasus pembekapan (smothering), yaitu :
1. Tertimbun tanah longsor atau salju.
2. Alkoholisme.
3. Bayi tertutup selimut atau mammae ibu.
Ada 3 cara pembunuhan pada kasus pembekapan (smothering), yaitu:
1. Hidung dan mulut diplester.
2. Bantal ditekan ke wajah.
3. Serbet atau dasi dimasukkan ke dalam mulut.
Ada 3 cara bunuh diri pada kasus pembekapan (smothering), yaitu :
1. Menggunakan plester atau kantong plastik.
2. Bantal yang diikatkan ke kepala.
3. Menggunakan dasi atau serbet.
Ada 3 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan autopsi kasus pembekapan
(smothering), yaitu :
Roman Forensik Edisi 8 33
1. Mencari penyebab kematian.
2. Menemukan tanda-tanda asfiksia.
3. Menemukan edema paru, hiperaerasi dan sianosis pada kematian yang lambat.
Ada 3 hal penting yang kita cari untuk menemukan penyebab kematian pada kasus
pembekapan (smothering), yaitu :
1. Jika kita menemukan bantal, cari apakah ada tanda-tanda kekerasan.
2. Cari ada tidaknya trauma tumpul di sekitar hidung dan mulut.
3. Mencari ada tidaknya kain, handuk, dasi, serbet, atau pasir dalam rongga mulut.
Burking merupakan kombinasi antara pembekapan (smothering) dengan external pressure on
the chest / traumatic asphyxia. Pelaku melakukan burking dengan cara terlebih dahulu
melumpuhkan korban lalu menelentangkan korban dan pelaku duduk diatas dada korban
(traumatic asphyxia). Satu tangan pelaku menutup hidung atau mulut korban (smothering)
sedangkan tangan yang lain menekan rahang ke atas.
TERSEDAK (CHOCKING)
Tersedak (chocking) adalah suatu suffocation dimana ada benda padat yang masuk dan
menyumbat lumen jalan udara.
• oleh karena benda asing
• tanda asfiksia jelas
• awalnya batuk keras ¬ asfiksia ¬ mati
Ada 2 cara kematian pada kasus tersedak (chocking), yaitu :
1. Kecelakaan (paling sering)
2. Pembunuhan (kasus infanticide)
Ada 3 macam kecelakaan yang dapat menimbulkan kematian pada kasus tersedak (chocking),
yaitu :
1. Gangguan refleks batuk pada alkoholisme.
2. Pada bayi atau anak kecil yang gemar memasukkan benda asing ke dalam mulutnya.
3. Tonsilektomi, aspirasi, dan kain kasa yang tertinggal pada anestesi eter.
Ada 4 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan autopsi kasus tersedak (chocking),
yaitu :
1. Mencari bahan penyebab dalam saluran pernapasan. Juga kadang-kadang ada tanda
kekerasan
1. di mulut korban.
2. Menemukan tanda asfiksia.
3. Mencari tanda-tanda edema paru, hiperaerasi dan atelektasis pada kematian lambat.
4. Tersedak dapat terjadi sebagai komplikasi dari bronkopneumonia dan abses.
ASFIKSIA TRAUMATIK
Asfiksia traumatik (external pressure of the chest) adalah terhalangnya udara untuk masuk
dan keluar dari paru-paru akibat terhentinya gerak napas yang disebabkan adanya suatu
tekanan dari luar pada dada korban.
• penekanan rongga dada, rongga perut, diafragma
• penekanan dari luar
• co: desak desakan ¬ O
2
kurang ¬ asfiksia
Ada 2 cara kematian pada kasus tersedak (chocking), yaitu :
1. Kecelakaan (paling sering)
Roman Forensik Edisi 8 34
2. Pembunuhan (misalnya burking)
Ada 3 macam kecelakaan yang dapat menimbulkan kematian pada korban kasus asfiksia
traumatik (external pressure of the chest), yaitu :
1. Terjepit antara lantai dengan elevator, antara 2 kendaraan, atau antara dinding dengan
kendaraan yang mundur.
2. Tertimbun runtuhan benda atau bangunan, pasir, atau batubara.
3. Berdesakan di pintu sempit akibat panik.
Ada 2 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan autopsi korban kasus asfiksia
traumatik (external pressure of the chest), yaitu :
1. Mencari tanda kekerasan di dada.
2. Menemukan tanda asfiksia.
TENGGELAM
Tenggelam (drowning) adalah suatu suffocation dimana jalan napas terhalang oleh air / cairan
sehingga terhisap masuk ke jalan napas sampai alveoli paru-paru.
Ada 2 jenis mati tenggelam (drowning) berdasarkan posisi mayat, yaitu :
1. Submerse drowning
2. Immerse drowning
Submerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi sebagian tubuh mayat masuk ke
dalam air, seperti bagian kepala mayat.
Immerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi seluruh tubuh mayat masuk ke dalam
air.
Ada 2 jenis mati tenggelam berdasarkan penyebabnya, yaitu :
1. Dry drowning
2. Wet drowning
Dry drowning adalah mati tenggelam dengan inhalasi sedikit air sedangkan wet drowning
adalah mati tenggelam dengan inhalasi banyak air.
Ada 2 penyebab kematian pada kasus dry drowning, yaitu :
1. Spasme laring (menimbulkan asfiksia).
2. Vagal reflex / cardiac arrest / kolaps sirkulasi.
Ada 3 penyebab kematian pada kasus wet drowning, yaitu :
1. Asfiksia.
2. Fibrilasi ventrikel pada kasus tenggelam dalam air tawar.
3. Edema paru pada kasus tenggelam dalam air asin (laut).
Ada 4 cara kematian pada kasus tenggelam (drowning), yaitu :
1. Kecelakaan (paling sering).
2. Undeterminated.
3. Pembunuhan.
4. Bunuh diri.
Ada 2 kejadian kecelakaan pada kasus mati tenggelam (drowning) yang dapat kita jumpai,
yaitu :
1. Kapal tenggelam.
2. Serangan asma datang saat korban sedang berenang.
Roman Forensik Edisi 8 35
Penyebab mati tenggelam (drowning) yang termasuk undeterminated yaitu sulit kita ketahui
cara kematian korban karena mayatnya sudah membusuk dalam air.
Ada 2 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian pembunuhan pada kasus mati
tenggelam (drowning), yaitu :
1. Biasanya tangan korban diikat yang tidak mungkin dilakukan oleh korban.
2. Kadang-kadang dapat kita temukan tanda-tanda kekerasan sebelum korban
ditenggelamkan.
Ada 4 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian bunuh diri pada kasus mati
tenggelam (drowning), yaitu :
1. Biasanya korban meninggalkan perlengkapannya.
2. Kita dapat temukan suicide note.
3. Kedua tangan / kaki korban diikat yang mungkin dilakukan sendiri oleh korban.
4. Kadang-kadang tubuh korban diikatkan bahan pemberat.
Pada pemeriksaan luar autopsi, tidak ada patognomonis untuk mati tenggelam. Ada 7 tanda
penting yang
yang memperkuat diagnosis mati tenggelam (drowning), yaitu :
1. Kulit tubuh mayat terasa basah, dingin, pucat dan pakaian basah.
2. Lebam mayat biasanya sianotik kecuali mati tenggelam di air dingin berwarna merah
muda.
3. Kulit telapak tangan / telapak kaki mayat pucat (bleached) dan keriput (washer
woman's hands/feet).
4. Kadang-kadang terdapat cutis anserine / goose skin pada lengan, paha dan bahu
mayat.
5. Terdapat buih putih halus pada hidung atau mulut mayat (scheumfilz froth) yang
bersifat melekat.
6. Bila mayat kita miringkan, cairan akan keluar dari mulut / hidung.
7. Bila terdapat cadaveric spasme maka kotoran air / bahan setempat berada dalam
genggaman tangan mayat.
Ada 5 tanda penting yang yang memperkuat diagnosis mati tenggelam (drowning) pada
pemeriksaan dalam autopsi, yaitu :
1. Paru-paru mayat membesar dan mengalami kongesti.
2. Saluran napas mayat berisi buih. Kadang-kadang berisi lumpur, pasir, atau rumput air.
3. Lambung mayat berisi banyak cairan.
4. Benda asing dalam saluran napas masuk sampai ke alveoli.
5. Organ dalam mayat mengalami kongesti.
Di daerah tropis, tubuh mayat pada kasus mati tenggelam (drowning) mulai membusuk pada
hari ke-2 sedangkan di daerah dingin, membusuk setelah 1 minggu. Pembusukan tersebut
ditandai oleh terkelupasnya kulit ari. Jika pembusukannya merata, tubuh mayat akan
mengapung di permukaan air. Keadaan ini disebut floaten. Floaten biasanya terjadi pada hari
ke-3 sampai hari ke-6.
Perbedaan Tempat
Air laut Air Tawar
Paru paru besar dan berat Paru-paru besar dan ringan
Basah Relatif ringan
Bentuk besar kadang overlapping Bentuk biasa
Ungu biru dan permukaan licin Merah pucat dan emfisematous
Krepitasi tidak ada Krepitasi ada
Roman Forensik Edisi 8 36
Busa sedikit dan banyak cairan Busa banyak
Dikeluarkan dari torak akan mendatad dan
ditekan akan menjadi cekung
Dikeluarkan dari toraks tapi kempes
Mati dalam 5-10 menit, 20 ml/kgBB Mati dalam 5 menit, 40 ml.kgBB
Darah:
1. BJ 1,0595 -1,0600
2. Hipertonik
3. hemokonsentrasi dan edema paru
4. hipokalemia
5. hipernatremia
6. hiperklorida
Darah:
1. BJ 1,055
2. hipotonik
3. hemodilusi/hemolisis
4. hiperkalemia
5. hiponatremia
6. hipoklorida
Resusitasi lebih mudah Resusitasi aktif
Tranfusi dengan plasma Tranfusi dengan PRC
Ada 7 tanda intravitalitas mati tenggelam (drowning), yaitu :
1. Cadaveric spasme.
2. Perdarahan pada liang telinga tengah mayat.
3. Benda air (rumput, lumpur, dan sebagainya) dapat kita temukan dalam saluran
pencernaan dan saluran pernapasan mayat.
4. Ada bercak Paltauf di permukaan paru-paru mayat.
5. Berat jenis darah pada jantung kanan berbeda dengan jantung kiri.
6. Ada diatome pada paru-paru atau sumsum tulang mayat.
7. Tanda asfiksia tidak jelas, mungkin ada Tardieu's spot di pleura mayat. Pada kasus
mati tenggelam (drowning), dapat kita temukan tanda-tanda adanya kekerasan berupa
luka lecet pada belakang kepala, siku, lutut, jari-jari tangan, atau ujung kaki mayat.
Ada 4 macam pemeriksaan khusus pada kasus mati tenggelam (drowning), yaitu :
1. Percobaan getah paru (lonset proef).
2. Pemeriksaan diatome (destruction test).
3. Penentuan berat jenis (BD) plasma.
4. Pemeriksaan kimia darah (gettler test).
Adanya cadaveric spasme dan tes getah paru (lonset proef) positif menunjukkan bahwa
korban masih hidup saat berada dalam air.
Percobaan Getah Paru (Lonsef Proef)
Kegunaan melakukan percobaan paru (lonsef proef) yaitu mencari benda asing (pasir,
lumpur, tumbuhan, telur cacing) dalam getah paru-paru mayat. Syarat melakukannya adalah
paru-paru mayat harus segar / belum membusuk.
Cara melakukan percobaan getah paru (lonsef proef) yaitu permukaan paru-paru
dikerok (2-3 kali) dengan menggunakan pisau bersih lalu dicuci dan iris permukaan paru-
paru. Kemudian teteskan diatas objek gelas. Syarat sediaan harus sedikit mengandung
eritrosit. Evaluasi sediaan yaitu pasir berbentuk kristal, persegi dan lebih besar dari eritrosit.
Lumpur amorph lebih besar daripada pasir, tanaman air dan telur cacing. Ada 3 kemungkinan
dari hasil percobaan getah paru (lonsef proef), yaitu :
1. Hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain.
2. Hasilnya positif dan ada sebab kematian lain.
3. Hasilnya negatif.
Jika hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita interpretasikan
bahwa korban mati karena tenggelam. Jika hasilnya positif dan ada sebab kematian lain maka
ada 2 kemungkinan penyebab kematian korban, yaitu korban mati karena tenggelam atau
korban mati karena sebab lain. Jika hasilnya negatif maka ada 3 kemungkinan penyebab
kematian korban, yaitu :
Roman Forensik Edisi 8 37
1. Korban mati dahulu sebelum tenggelam.
2. Korban tenggelam dalam air jernih.
3. Korban mati karena vagal reflex / spasme larynx.
Jika hasilnya negatif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita simpulkan
bahwa tidak ada hal hal yang menyangkal bahwa korban mati karena tenggelam. Jika hasilnya
negatif dan ada sebab kematian lain maka kemungkinan korban telah mati sebelum korban
dimasukkan ke dalam air.
Pemeriksaan Diatome (Destruction Test)
Kegunaan melakukan pemeriksaan diatome adalah mencari ada tidaknya diatome
dalam paru-paru mayat. Diatome merupakan ganggang bersel satu dengan dinding dari silikat.
Syaratnya paru-paru harus masih dalam keadaan segar, yang diperiksa bagian kanan perifer
paru-paru, dan jenis diatome harus sama dengan diatome di perairan tersebut.
Cara melakukan pemeriksaan diatome yaitu ambil jaringan paru-paru bagian perifer
(100 gr) lalu masukkan ke dalam gelas ukur dan tambahkan H2SO4. Biarkan selama 12 jam
kemudian panaskan sampai hancur membubur & berwarna hitam. Teteskan HNO3 sampai
warna putih lalu sentrifus hingga terdapat endapan hitam. Endapan kemudian diambil
menggunakan pipet lalu teteskan diatas objek gelas. Interpretasi pemeriksaan diatome yaitu
bentuk atau besarnya bervariasi dengan dinding sel bersel 2 dan ada struktur bergaris di
tengah sel.
Positif palsu pada pencari pasir dan pada orang dengan batuk kronis. Untuk hepar atau
lien, tidak akurat karena dapat positif palsu akibat hematogen dari penyerapan abnnormal
gastrointestinal.
Penentuan Berat Jenis (BD) Plasma Penentuan berat jenis (BD) plasma bertujuan
untuk mengetahui adanya hemodilusi pada air tawar atau adanya hemokonsentrasi pada air
laut dengan menggunakan CuSO4. Normal 1,059 (1,0595-1,0600); air tawar 1,055; air laut
1,065. Interpretasinya ditemukan darah pada larutan CuSO4 yang telah diketahui berat
jenisnya.
Pemeriksaan Kimia Darah (Gettler Test)
Pemeriksaan kimia darah (gettler test) bertujuan untuk memeriksa kadar NaCl dan
kalium. Interpretasinya adalah korban yang mati tenggelam dalam air tawar, mengandung Cl
lebih rendah pada jantung kiri daripada jantung kanan. Kadar Na menurun dan kadar K
meningkat dalam plasma. Korban yang mati tenggelam dalam air laut, mengandung Cl lebih
tinggi pada jantung kiri daripada jantung kanan. Kadar Na meningkat dan kadar K sedikit
meningkat dalam plasma.
Pemeriksaan Histopatologi
Pada pemeriksaan histopatologi dapat kita temukan adanya bintik perdarahan di
sekitar bronkioli yang disebut Partoff spot.
Catatan dr. Mursad Abdi, Sp.F
• di air tawar atau air laut
• ada lumpur ¬ masuk air ¬ ke dalam alveoli
• tanda-tanda tenggelam
o asfiksia pada umumnya
o muka bengkak, hitam, mata menonjol
o perdarahan pada telinga ¬ tekanan intra telinga meningkat ¬ pemb. Darah
telinga tengah pecah
o buih halus keluar dari mulut
o lidah menonjol, dan ada bekas gigitan pada lidah
o bulu roma berdiri
o kaku mayat muncul 0,5 jam post mortem
Roman Forensik Edisi 8 38
o cadaferik spasme
o pakaian basah, kuku keriput
o lebam mayat lebih gelap ¬ hemokonsentrasi karena air asin
o jika tenggelam di air tawar ¬ hemodilusi ¬ eritrosit pecah, hiperkalemia ¬
aritmia ¬ kematian
o pembusukan di leher ¬ air masuk ke saluran napas (bengkak)
o ada air mani
• autopsi ke arah leher
o ada benda di saluran napas, buih, buih halus di laring, trakea, bronkus dan sisa-
sisa lumpur
o orang mati di air tawar ¬ NaCl lebih tinggi di ventrikel kiri daripada di
ventrikel kakan
o autopsi ¬ pada gaster ¬ lumpur dari TKP
o pada paru ¬ air masuk
º ada krepitasi (ada air dan udara di alveoli). Paru ditekan tidak kembali
(emfisema aquatum)
º tepi tumpul
º berat paru >> normal
º tes air ¬ sedot dari alveoli ¬ bandingkan dengan air dari tempat
tenggelam
º tes diatom
o sebab kematian
º asfiksia ¬ air dan enda asing masuk ke lumen saluran napas
º refleks vagal
º edema laring
º air ¬ Hemodilusi/hemokonsentrasi ¬ eritrosit pecah ¬ K+ keluar ¬
hiperkalemia ¬ fibrilasi ventrikel
SUFOKASI
Inhalation of suffocating gasses adalah suatu keadaan dimana korban menghisap gas tertentu
dalam jumlah berlebihan sehingga kebutuhan O
2
tidak terpenuhi.
• kekurangan O
2
di suatu tempat/daerah sekitarnya (daerah tambang)
• tanda asfiksia
• tanda intoksikasi CO
2
• tanda trauma seperti kejatuhan batu
Ada 3 cara kematian pada korban kasus inhalation of suffocating gasses, yaitu menghisap gas:
1. CO
2. CO
2
3. H2S
Gas CO banyak pada kebakaran hebat. Gas CO
2
banyak pada sumur tua dan gudang bawah
tanah. Gas H2S pada tempat penyamakan kulit.
Roman Forensik Edisi 8 39
BAB VII
TRAUMATOLOGI
Definisi :
Traumatologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tentang trauma atau
perlukaan, cedera serta hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa), yang
kelainannya terjadi pada tubuh karena adanya diskontinuitas jaringan akibat kekerasan yang
menimbulkan jejas.
Ada tiga hal yang ciri khas/ hasil dari trauma yaitu :
1. Adanya luka
2. Perdarahan dan atau skar
3. Hambatan dalam fungsi organ
Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini dapat disebabkan oleh
trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik , atau
gigitan hewan atau juga gangguan pada ketahanan jaringan tubuh yang disebabkan oleh
kekuatan mekanik eksternal, berupa potongan atau kerusakan jaringan, dapat disebabkan oleh
cedera atau operasi.
Luka di klasifikasikan dapat dibagi berdasarkan :
1. Jenis penetrasi yang terbagi atas luka tusuk,
luka insisi, luka bacok, luka memar, luka robek, luka tembak dan luka gigitan.
2. Tingkat kebersihan dari kontaminasi bakteri
terbagi atas luka bersih, luka bersih yang terkontaminasi, luka terkontaminasi dan luka
kotor.
3. Waktu terjadinya terbagi atas luka akut
(sebelum 8 jam) dan luka kronis
Deskripsi luka :
Roman Forensik Edisi 8 40
1. Lokalisasi (Letak luka terhadap garis ordinat atau aksis pada tubuh. Garis yang melalui
tulang dada dan tulang belakang dipakai sebagai ordinat.)
2. Ukuran, ditentukan :
 Ditentukan panjang luka
 Jumlah luka
 Sifat luka
 Ada atau tidaknya benda asing pada luka
 Luka terjadi saat masih hidup atau korban sudah mati
 Menyebabkan kematian atau tidak
 Cara terjadinya luka : bunuh diri, kecelakaan dan pembunuhan
3. Jenis kekerasan yang menjadi penyebab luka
 Luka akibat kekerasan mekanis:
• Luka akibat kekerasan oleh benda tumpul
• Luka akibat kekerasan oleh benda tajam
• Luka akibat kekerasan oleh tembakan senjata api
 Luka akibat kekerasan fisis:
• Luka akibat kekerasan oleh suhu tinggi atau rendah
• Luka akibat kekerasan auditorik
• Luka akibat kekerasan oleh arus listrik dan petir
• Luka akibat kekerasan radiasi
 Luka akibat kekerasan kimiawi:
• Luka akibat kekerasan oleh asam kuat
• Luka akibat kekerasan oleh basa kuat
• Intoksikasi
Klasifikasi trauma (berdasarkan sifat dan penyebab) :
1. Trauma Mekanik (Kekerasan oleh benda tajam, kekerasan oleh benda tumpul,
tembakan senjata)
2. Trauma Fisik (Suhu, listrik dan petir, akustik, radiasi, tekanan udara)
3. Trauma Kimia (Asam basa atau kuat)
NB : Ada yang memisahkan trauma senjata api tersendiri (balistik) terpisah dari trauma
mekanik
Patofisiologi Trauma
Transmisi energi pada trauma dapat menyebabkan kerusakan tulang, pembuluh darah dan
organ termasuk fraktur, laserasi, kontusi, dan gangguan pada semua sistem organ, sehingga
tubuh melakukan kompensasi akibat ada trauma bila kompensasi tubuh tersebut berlanjut
tanpa dilakukan penanganan akan mengakibatkan kematian seseorang. Mekanisme
kompensasi tersebut adalah :
1. Aktivasi sistem saraf simpatik menyebabkan peningkatan tekanan arteri dan vena,
bronkhodilatasi, takikardia, takipneu, capillary shunting, dan diaforesis.
2. Peningkatan heart rate. Cardiac output sebanding dengan stroke volume dikalikan
heart rate. Jika stroke volume menurun, heart rate meningkat.
3. Peningkatan frekuensi napas. Saat inspirasi, tekanan intrathoracik negatif. Aksi
pompa thorak ini membawa darah ke dada dan pre-loads ventrikel kanan untuk menjaga
cardiac output.
4. Menurunnya urin output. Hormon anti-diuretik dan aldosteron dieksresikan untuk
menjaga cairan vaskular. Penurunan angka filtrasi glomerulus menyebabkan respon ini.
5. Berkurangnya tekanan nadi menunjukkan turunnya cardiac output (sistolik) dan
peningkatan vasokonstriksi (diastolik). Tekanan nadi normal adalah 35-40 mmHg.
Roman Forensik Edisi 8 41
6. Capillary shunting dan pengisian trans kapiler dapat menyebabkan dingin, kulit
pucat dan mulut kering. Capillary refill mungkin melambat.
7. Perubahan status mental dan kesadaran disebabkan oleh perfusi ke otak yang
menurun atau mungkin secara langsung disebabkan oleh trauma kepala.
Trauma Mekanik
Trauma tumpul :
Benda tumpul : benda yang permukaannya tidak mampu utk mengiris
Dua variasi utama dalam trauma tumpul adalah :
- Benda tumpul yang bergerak pada korban yang diam
- Korban yang bergerak pada benda tumpul yang diam
Sifat luka akibat persentuhan dengan permukaan tumpul :
1. Memar (kontusio, hematom)
2. Luka Lecet
- Luka Lecet Tekan
- Luka Lecet Geser
3. Luka Robek
4. Patah tulang
Luka memar ¬ diskontinuitas pembuluh darah & jaringan dibawah kulit tanpa rusaknya
jaringan kulit
Teraba menonjol ¬ pengumpulan darah di jaringan sekitar pembuluh darah rusak
Bentuk luka ¬ Menyerupai benda yang mengenai
Luka Lecet ¬ tjd pd epidermis – gesekan dgn benda yang permukaannya kasar
Luka Lecet Tekan ¬ arah kekerasan tegak lurus pd permukaan tubuh, epidermis yang
tertekan ¬ melesak kedalam
Luka Lecet Geser ¬ arah kekerasan miring/membentuk sudut ¬ epidermis terdorong &
terkumpul pd tmpt akhir gerak benda tersebut
Luka Lecet Regang ¬ diskontinuitas epidermis akibat peregangan yang letaknya sesuai
dengan garis kulit
Luka robek ¬ terjadi pada epidermis/jaringan dibawahnya akibat kekerasan yang
mengenainya melebihi elastisitas kulit/jaringan
Syarat : kekuatan peregangan > elastisitas kulit
Patah tulang
o Bentuk : bergantung pada sifat benda penyebab
o Perubahan berdasarkan waktu
o Dampak patofisiologi : perdarahan, disfungsi, kerusakan jaringan sekitar, emboli
lemak dan sumsum tulang
Fraktur tulang kepala :
Terjadi akibat trauma langsung terhadap skull. Adanya fraktur tidak selalu disertai dgn
adanya cedera otak namun manunjukkan adanya benturan yg cukup kuat dan sebaikknya
dievaluasi untuk tau ada tidaknya cedera tambahan.
Benturan pada kepala dapat terjadi pada 3 jenis keadaan :
1. Kepala diam dibentur oleh benda yang bergerak
Roman Forensik Edisi 8 42
2. Kepala yang bergerak membentur benda yang diam
3. Kepala yang tidak dapat bergerak karena bersandar pada benda yang lain dibentur oleh
benda yang bergerak (kepala tergencet)
Dalam mekanisme cedera kepala dapat terjadi peristiwa coup yang disebabkan oleh hantaman
pada otak bagian dalam pada sisi yang terkena dan contre coup terjadi pada sisi yang
berlawanan dengan arah benturan.
Luas dan tipe fraktur ditentukan oleh beberapa hal, yaitu :
- Besarnya energi yang membentur kepala (Energi kinetik objek)
- Arah Benturan
- Bentuk tiga dimensi objek yang membentur
- Lokasi Anatomis tulang tengkorak tempat benturan terjadi
Tipe Fraktur pada cedera kepala, yaitu :
1. Fraktur simple : Pecahnya tulang kepala yg tidak disertai kerusakan kulit
2. Fraktur Linear : Pecahnya tulang kepala yg menyerupai garis tipis tanpa distorsi tulang
3. Fraktur depresi : Pecahnya tulang kepala dengan penekanan sebagian tulang kedalam
otak.
4. Fraktur compound : Pecahnya tulang disertai dengan rusak atau hilangnya kulit
Tergantung kecepatan dan gaya
- depressed jika permukaan yang mengenai kepala tidak luas
- radial
- hole/stellata jika benda yang mengenai kepala permukaannya kecil dan
berkecepatan/berenergi tinggi, contoh : luka tembak
Jika kepala bergerak ke permukaan rata&diam : patah linear
Fraktur basis c ranii :
Fraktur yg terjadi pada tulang yg membentuk dasar tengkorak.
- gaya langsung ke basis cranii
- gaya ke dagu melalui rami mandibulae
Adanya Rhinorea jika bercampur dgn darah kadang2 sulit dibedakan dengan epistaksis.
Beberapa cara untuk membuktikan adanya rhinorea yaitu :
1. Darah tersebut tidak akan membeku karena bercampur CSS
2. Tanda “Double Ring atau Hallo Sign” yaitu jika setetes cairan diletakkan diatas kertas
tissue/koran maka darah akan terkumpul ditengah dan sekitarnya masih terbentuk
rembesan cairan (CSS) yg membentuk cincin kedua yg mengelilingi lingkaran pertama.
3. Pemeriksaan Beta-2-transferrin yg merupakan marker spesifik untuk CSS.
- Jika terdapat kecurigaan adanya fraktur, jangan memasang NGT krn dapat
melewati lempeng kribriformis yang sudah fraktur dan masuk ke intracranial.
- Jika fraktur melibatkan kanalis optikus, dapat mencederai N. Optikus sehingga
tjd gangguan visus.
Ring fraktur : gaya dari atas ke bawah
Perdarahan intrakranial :
Dapat berbentuk lesi fokal (Perdarahan epidural, perdarahan subdural, kontusio dan
perdarahan intraserebral) maupun lesi difus.
• Epidural hematom : clot terletak diluar duramater, namun di dalam tengkorak
– Arteri meningea media
– Temporal (50%), oksipital (15%)
Roman Forensik Edisi 8 43
– Prognosis baik bila dilakukan penanganan segera karena cedera otak
disekitarnya biasanya terbatas.
• Subdural/subarachnoid bleeding : >> ditemukan pada penderita dengan cedera kepala
berat.
– Terjadi karena robeknya vena bridging, sinus draining, focus laserasi atau
kontusio
– Delayed : subdural
– Spontan : leukemia, tumor, infeksi
– Kerusakan otak biasanya sangat lebih berat dan prognosisnya lebih buruk dari
hematoma epidural
– Mortalitas umumnya 60% namun mungkin diperkecil oleh tindakan operasi yg
sangat segera dan pengelolaan medis agresif.
● Kontusi dan hematom intraserebral : hampir selalu berkaitan dengan hematoma
subdural
– >> di lobus frontal dan temporal
Cedera Difus membentuk kerusakan otak berat progresif yang berkelanjutan, disebabkan oleh
meningkatnya jumlah cedera akselerasi deselerasi otak.
Doktrin MONROE-KELLIE :
V
blood
+ V
brain
+ V
LCS
= konstan
Konsep utama : volume intrakranial selalu konstan (rongga kranium tidak mungkin mekar).
Tekanan Intrakranial (TIK) yang normal tidak berarti tidak ada lesi massa intakranial, karena
TIK umumnya tetap dalam batas normal sampai penderita mencapai titik dekompensasi dan
memasuki fase ekspansional.
TIK normal : 50-200 mmH
2
O (4-15 mmHg)
Kapasitas ruang cranial : otak (1400 g), LCS (75 mL), darah (75 mL)
Perubahan kompensatoris dapat melalui :
- pengalihan LCS ke rongga spinal
- peningkatan aliran vena dari otak
- sedikit tekanan pada jaringan otak
peningkatan TIK sampai 33 mmHg (450 mmH
2
O) akan menurunkan aliran darah otak secara
signifikan
Trauma tajam :
Benda tajam ¬ benda yg permukaannya mampu mengiris sehingga kontinuitas jaringan
hilang
- Luka iris ¬ dalam luka < panjang irisan luka
arah trauma sejajar permukaan kulit
- Luka tusuk ¬ dalam luka > panjang luka
arah trauma tegak lurus permukaan kulit
- Luka bacok ¬ dalam ± = panjang luka
arah trauma ± 45° dari permukaan kulit dan tergantung beratnya
benda yang di pakai.
Ciri-ciri luka karena benda tajam :
+ Tepinya rata
+ Sudut luka tajam
+ Tidak ada jembatan jaringan
+ Sekitar luka bersih tidak ada memar
+ Bila lokasinya pada kepala maka rambutnya terpotong
Roman Forensik Edisi 8 44
Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa :
1. Luka iris atau sayat (panjang > dalam)
2. Luka Tusuk (dalam > panjang > lebar) ada beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk
luka tusuk seperti reaksi korban atau saat pisau keluar sehingga lukanya menjadi tidak
khas adapun pola yang sering ditemukan yaitu :
a. Tusukan masuk, yang kemudian dikeluarkan sebagian, dan kemudian ditusukkan
kembali melalui saluran yang berbeda
b. Tusukan masuk kemudian dikeluarkan dengan mengarahkan ke salah satu sudut,
sehingga luka yang terbentuk lebih lebar dan memberikan luka pada permukaan
kulit seperti ekor.
c. Tusukan masuk kemudian saat masih di dalam ditusukkan ke arah lain, sehingga
saluran luka menjadi lebih luas
d. Tusukan masuk yang kemudian dikeluarkan dengan mengggunakan titik terdalam
sebagai landasan, sehingga saluran luka sempit pada titik terdalam dan terlebar
pada bagian superfisial
e. Tusukan diputar saat masuk, keluar, maupun keduanya. Sudut luka berbentuk ireguler
dan besar.
3. Luka Bacok (panjang = dalam) luka ini tergantung dua faktor yaitu :
a. Jenis senjata biasanya senjata yang digunakan sedikit tajam/ tajam dan relatif
berat seperti kapak atau parang.
b. Tenaga yang digunakan biasanya lebih besar dari luka tusuk atau luka iris.
Perbedaan luka pada trauma tajam dan trauma tumpul
No Pembeda Tajam Tumpul
1. bentuk luka Teratur tidak
2. tepi Rata tidak rata
3. jembatan jar tidak ada ada/tidak
4. folikel rambut terpotong ya/tidak tidak
5. dasar luka garis/titik tidak teratur
6. sekitar luka Bersih Bisa lecet/memar
Perbedaan hematom (luka memar) dan lebam mayat
HEMATOM LEBAM MAYAT
Kejadian intravital Kejadian post mortem
Terdapat pembengkakan Pembengkakan (-)
Darah tidak mengalir
Darah akan mengalir keluar dari pembuluh
darah yang tersayat
Penampang sayatan nampak merah
kehitaman
Jika dialiri air penampang sayatan nampak
bersih
Ciri-ciri luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan, bunuh diri atau
kecelakaan :
Pembunuhan Bunuh Diri Kecelakaan
Lokasi luka Sembarang Terpilih Terpapar
Roman Forensik Edisi 8 45
3 luka
Banyak Banyak > 1
Pakaian Terkena Tidak Terkena
Luka tangkisan (+) (-) (-)
Luka percobaan (-) (+) (-)
Cedera Sekunder Mungkin ada (-) Mungkin ada
LUKA TEMBAK
Ciri-ciri utama luka tembak ialah biasanya luka tembak menghasilkan 2 buah luka:
1. Luka Tembak Masuk:
• luka tembak tempel
• luka tembak jarak dekat
• luka tembak jarak jauh
2. Luka Tembak Keluar (luka tembus)
Luka tembak masuk Luka tembak keluar
Ukurannya kecil (berupa satu
titik/stelata/bintang), karena peluru
menembus kulit seperti bor dengan
kecepatan tinggi
Ukurannya lebih besar dan lebih tidak teratur
dibandingkan luka tembak masuk, karena
kecepatan peluru berkurang hingga
menyebabkan robekan jaringan.
Pinggiran luka melekuk kearah dalam
karena peluru menmebus kulit dari luar
Pinggiran luka melekuk keluar karena peluru
menuju keluar.
Pinggiran luka mengalami abrasi Pinggiran luka tidak mengalami abrasi.
Bisa tampak kelim lemak. Tidak terdapat kelim lemak
Pakaian masuk kedalam luka, dibawa oleh
peluru yang masuk.
Tidak ada
Pada luka bisa tampak hitam, terbakar,
kelim tato atau jelaga.
Tidak ada
Pada tulang tengkorak, pinggiran luka bagus
bentuknya.
Tampak seperti gambaran mirip kerucut
Bisa tampak berwarna merah terang akibat
adanya zat karbon monoksida.
Tidak ada
Disekitar luka tampak kelim ekimosis. Tidak ada
Luka tembak masuk Luka tembak keluar
Perdarahan hanya sedikit. Perdarahan lebih banyak
Pemeriksaan radiologi atau analisis aktivitas
netron mengungkapkan adanya lingkaran
timah atau zat besi di sekitar luka.
Tidak ada
Faktor-faktor yang mempengaruhi cedera akibat senjata api :
• Jenis peluru
• Kecepatan peluru
• Jarak antara senjata api dengan tubuh korban saat penembakan
• Densitas jaringan tubuh dimana peluru masuk
Jarak antara senjata api dengan tubuh korban saat penembakan
1. Jika senjata ditembakkan pada jarak yang sangat dekat atau menempel dengan
kulit :
 Jaringan subkutan 5 sampai 7,5 cm disekitar luka tembak masuk mengalami
laserasi
Roman Forensik Edisi 8 46
 Kulit disekitar luka terbakar atau hitam karena asap. Kelim tato terjadi karena
bubuk mesiu senjata yang tidak terbakar.
 Rambut di sekitar luka hangus.
 Pakaian yang menutupi luka terbakar karena percikan api dari senjata.
 Walaupun jarang bisa ditemukan bercak berwarna abu-abu atau putih di sekitar
luka. Hal ini terjadi jika bubuk mesiu tidak berasap dan tidak terdapat bagian
kehitaman pada kulit.
2. Tembakan jarak dekat
 Jaraknya adalah 30-45 cm dari kulit.
 Ukuran luka lebih kecil dibandingkan peluru
 Warna hitam dan kelim tato lebih luar disekitar luka
 Tidak ada luka bakar atau kulit yang hangus.
3. Tembakan jarak jauh
 Jaraknya adalah di atas 45 cm.
 Ukuran luka jauh lebih kecil dibandingkan peluru.
 Kehitaman atau kelim tato tidak ada
 Bisa tampak kelim lecet. Jika peluru menyebabkan gesekan pada lubang
tempat masuk dan menyebabkan lecet, maka di sebut kelim lecet.
Deskripsi Luka Tembak
1. Lokasi
 jarak dari puncak kepala atau telapak kaki serta ke kanan dan kiri garis
pertengahan tubuh
 lokasi secara umum terhadap bagian tubuh
2. Deskripsi luka luar
 ukuran dan bentuk
 lingkaran abrasi, tebal dan pusatnya
 luka bakar
 lipatan kulit, utuh atau tidak
 tekanan ujung senjata
3. Residu tembakan yang terlihat
 grains powder
 deposit bubuk hitam, termasuk korona
 tattoo
 metal stippling
4. Perubahan
 oleh tenaga medis
 oleh bagian pemakaman
5. Track
 penetrasi organ
 arah
 kerusakan sekunder
 kerusakan organ individu
6. Penyembuhan luka tembakan
 titik penyembuhan
 tipe misil
 tanda identifikasi
 susunan
7. Luka keluar
 lokasi
 karakteristik
Roman Forensik Edisi 8 47
8. Penyembuhan fragmen luka tembak
9. Pengambilan jaringan untuk menguji residu
TRAUMA FISIK
1. Dry Heat (Burn Heat / Luka Bakar)
Dry heat (burn heat / luka bakar) adalah luka bakar yang diakibatkan oleh persentuhan
tubuh dengan api atau benda panas (bukan cairan).
Ada 2 reaksi dari tubuh korban :
1. Reaksi lokal
2. Reaksi umum
Ada 4 reaksi lokal dari tubuh korban :
• Eritem dengan ciri-ciri : epidermis intak, kemerahan, sembuh tanpa
meninggalkan sikatriks.
• Vesikel, bulla & bleps dengan albumin atau NaCl tinggi.
• Necrosis coagulativa dengan ciri-ciri : warna coklat gelap hitam dan
sembuh dengan meninggalkan sikatriks (litteken).
• Karbonisasi (sudah menjadi arang).
Derajat luka bakar :
Luka akibat suhu tinggi (luka bakar)
× Luka bakar derajat 1 (superficial burn)
× Luka bakar derajat 2 (partial thickness burn)
× Luka bakar derajat 3 (full thickness burn)
× Luka bakar derajat 4 (hitam bagai arang, nekrotik)
Ada 3 reaksi umum dari tubuh korban :
1. Heat exhaustion
2. Heat stroke / sun stroke / pingsan panas
3. Heat cramp
Ada 8 gejala heat exhaustion :
1. Badan panas
2. Pusing
3. Pucat
4. Berkeringat
5. Otot lemah
6. Suhu tubuh turun
7. Nadi irreguler
8. Kolaps sirkuler
Ada 3 hal yang dapat kita temukan pada autopsi sebagai tanda adanya reaksi heat exhaustion :
1. Arteriosklerosis arteri coronaria.
2. Darah berwarna gelap di jantung.
3. Organ dalam mengalami kongesti.
Heat stroke / sun stroke / pingsan panas diakibatkan oleh terjadinya paralisis centrum di
medulla. Keadaan ini dapat terjadi pada udara yang panas (1000 Fahrenheit) dan lembab serta
telah berlangsung beberapa hari.
Roman Forensik Edisi 8 48
Ada 6 gejala heat stroke / sun stroke / pingsan panas :
1. Badan panas
2. Pusing
3. Sakit kepala
4. Nadi cepat & penuh
5. Kolaps sirkuler
6. Shock sampai beresiko mati dengan tubuh kemerahan
Ada 6 hal pada autopsi tanda adanya reaksi heat stroke :
1. Darah berwarna merah gelap.
2. Organ mengalami kongesti.
3. Perdarahan otak, epicardium, endocardium atau bundle of his.
4. Degenerasi sel-sel ganglion.
5. Kongesti (edem berat).
6. Perdarahan kecil pada ventrikel III & IV.
Heat cramp dapat terjadi pada individu yang bekerja dalam ruangan yang bersuhu tinggi. Kita
dapat melakukan terapi terhadap reaksi heat cramp dengan menggunakan campuran air &
garam atau larutan PZ IV bila korban mengalami konvulsi.
Ada 5 gejala umum dry heat (burn heat / luka bakar), yaitu :
• Nyeri yang sangat hebat ¬ shock dan kematian.
• Pugillistic attitude / coitus attitude berupa ekstremitas fleksi, kulit
menjadi arang & mengelupas. Ekstremitas fleksi akibat koagulasi protein. Ekstremitas
fleksi tidak sampai menimbulkan rigor mortis.
• Otot merah gelap, kering, berkontraksi dan jari-jari mencengkeram.
• Bukan tanda intravital.
• Fraktur tengkorak ¬ pseudoepidural hematom (bedakan dengan
epidural hematom).
Pseudoepidural Hematom Epidural Hematom
Warna bekuan darah coklat. Warna bekuan darah hitam. Konsistensi rapuh. Konsistensi
kenyal. Bentuk otak mengkerut seluruhnya. Bentuk otak cekung sesuai dengan bekuan darah.
Garis patah tidak menentu. Garis patah melewati sulcus arteria meningea.
Penyebab kematian pada kasus dry heat ada 3 kategori, yaitu :
• Cepat : shock primer (neurogenis) & asfiksia
• Sedang : shock dehidrasi
• Lambat : shock dehidrasi, acute renal failure, infeksi & sepsis, ulcus
curling, autointoksikasi, dan pneumonia hipostatik.
Luas dry heat (burn heat / luka bakar) dapat kita tentukan dengan menggunakan RULE OF
NINE, yaitu :
 9% : permukaan kepala & leher; dada; punggung; perut; pinggang; ekstremitas
atas kanan; ekstremitas atas kiri.
 18% : permukaan ekstremitas bawah kanan; ekstremitas bawah kiri.
 1% : permukaan alat kelamin.
Tingkat II yaitu luas dry heat 30% ¬ membahayakan jiwa.
Kematian karena gas karbon monoksida (CO) :
 Biasanya terjadi pada kebakaran gedung besar.
Roman Forensik Edisi 8 49
 Biasanya dry heat (burn heat / luka bakar) hanya sedikit.
 Ada jelaga pada lubang hidung.
 Saluran napas terdapat jelaga atau lendir; mukosa edema & kemerahan.
 Lebam mayat yang berwarna merah cherry akibat terbentuknya senyawa HbCO
(hemoglobin tereduksi).
 Diagnosis pasti dapat kita tentukan dengan melakukan pemeriksaan saturasi, yaitu
lebih 10%. Gas karbon monoksida (CO) 210 kali lebih kuat dari gas oksidan (O2) dalam
mengikat hemoglobin.
2. Trauma Dingin (Cold Trauma)
Insiden trauma dingin (cold trauma / frost bite / immertion foot) jarang terjadi dan
biasanya terdapat di negara yang bermusim dingin. Lokasinya bisa pada tangan, kaki, hidung,
telinga, dan pipi. Ada 2 cara kematian kasus trauma dingin (cold trauma / frost bite /
immertion foot), yaitu :
1. Kecelakaan
2. Pembunuhan (infanticide)
Ada 2 reaksi dari tubuh korban trauma dingin :
1. Reaksi lokal
2. Reaksi umum
Ada 2 reaksi lokal :
 Kulit korban pucat akibat vasokonstriksi ¬ kemerahan akibat vasodilatasi karena
paralisis vasomotor center.
 Kulit korban lalu berubah menjadi merah kehitaman, membengkak (skin blister), gatal
dan nyeri. Kemudian timbul gangren superfisial yang irreversibel.
Ada 8 reaksi umum :
 Kulit korban pucat dan menggigil. Kita dapat menemukan cutis anserina.
 Kepucatan yang bercampur warna sianosis. Hal ini karena darah "dipaksa" masuk
kembali ke dalam pembuluh darah perifer akibat organ dalam mengalami kongesti.
 Lethargy, koma, dan akhirnya mati bila tubuh korban lama terpapar dingin.
 Pada pemeriksaan autopsi, jantung korban berisi darah berwarna merah cerah.
 Organ dalam mengalami kongesti hebat.
 Tengkorak korban dapat retak pada bagian sutura.
 Lebam mayat berwarna merah cerah yang bercampur bercak berwarna merah gelap.
 Cairan tubuh korban berubah menjadi es jika tubuh korban lama baru kita temukan.
3. Trauma listrik (Electrical Injury)
Ada 2 jenis tenaga yaitu :
 Tenaga listrik alam seperti petir dan kilat.
 Tenaga listrik buatan meliputi arus listrik searah (DC) seperti telepon (30-50 volt) dan
tram listrik (600-1000 volt) dan arus listrik bolak-balik (AC) seperti listrik rumah, pabrik,
dll
Arus listrik bergerak dari tempat yang berpotensial tinggi ke potensial rendah.
Arahnya sama dengan arah gerak muatan-muatan positif (berlawanan arah dengan elektron-
elektron).
Bagian-bagian listrik, antara lain :

1. Arus listrik (I)
a. Arus listrik searah atau direct current (DC)
Roman Forensik Edisi 8 50
mengalir secara terus menerus ke satu arah, dipakai dalam industri elektrolisis,
misalnya pada pemurnian dan pelapisan/penyepuhan logam. Juga digunakan
pada telefon (30-50 volt), dan kereta listrik (600-1500 volt). Sumber misalnya
baterai dan accu.
b. Arus listrik bolak-balik atau alternating current (AC)
mengalir bolak-balik, digunakan di rumah-rumah dan pabrik-pabrik, biasanya
110 volt atau 220 volt, jauh lebih berbahaya daripada arus DC, tubuh manusia
4-6 kali lebih sensitif terhadap arus AC.
2. Frekuensi listrik
Satuan : cycle per second atau hertz, yang paling sering digunakan 50 dan 60 hertz,
yang paling tinggi 1 jt hertz dengan voltage 20.000-40.000 volt tidak begitu berbahaya
dapat digunakan sebagai diatermi. Tubuh sangat tidak peka terhadap frekuensi yang
sangat tinggi atau sangat rendah, contohnya kurang dari 40 hertz atau lebih dari 1.000
hertz.
3. Tegangan (voltage/V)
Satuan : volt. 1 volt = tenaga listrik yang dibutuhkan untuk menghasilkan intensitas
listrik sebesar 1 ampere melalui sebuah konduktor (penghantar) yang memiliki
tahanan sebesar 1 ohm.
 Voltase rendah (110-460 V) misalnya penerangan, pabrik, tram
listrik.
 Voltase tinggi (= 1.000 V) misalnya transpor arus listrik.
 Voltase sangat tinggi (20.000-1.000.000 V) misalnya deep X-rays therapy dan
diatermi. Diatermi : frekuensi 1 juta Hz dan tegangan 20 ribu - 40 ribu volt. Kuat
arus yang sering kita gunakan dibawah 6 ampere. LET GO CURRENT = kuat arus
dari aliran listrik dimana korban masih bisa melepaskan diri darinya.
4. Tahanan/hambatan listrik (resistance/R)
Satuan : ohm. Menurut hukum Ohm, besarnya intensitas listrik (I) sama
dengan besarnya tegangan/voltage (V) dibagi dengan tahanan (R) dari medium.

Panas yang terjadi tergantung dari :

1. banyaknya arus
2. lamanya kontak
3. besarnya hambatan
Hal ini sesuai dengan rumus :

Keterangan : W = panas yang dihasilkan (kalori)
I = kuat arus (ampere)
R = hambatan (ohm)
t = waktu (detik)
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efek Listrik pada Tubuh
1. Jenis / macam aliran listrik
Arus searah (DC) dan arus bolak-balik (AC). Banyak kematian akibat sengatan arus
listrik AC dengan tegangan 220 volt. Suatu arus AC dengan intensitas 70-80 mA ¬
kematian, sedangkan arus DC dengan intensitas 250 mA masih dapat ditolerir tanpa
menimbulkan kerusakan.

2. Tegangan / voltage
Hanya penting untuk sifat-sifat fisik saja, sedangkan pada implikasi biologis kurang
berarti.

Voltage yang paling rendah yang sudah dapat menimbulkan kematian manusia
¬ 50 volt. Makin tinggi voltage akan menghasilkan efek yang lebih berat pada
manusia baik efek lokal maupun general.

+60% kematian akibat listrik arus listrik
dengan tegangan 115 volt. Kematian akibat aliran listrik tegangan rendah terutama
oleh karena terjadinya vibrilasi ventrikel, sementara itu pada tegangan tinggi
disebabkan oleh karena trauma elektrotermis.

Roman Forensik Edisi 8 51
V
I =
---
R
W = I
2
R t
3. Tahanan / resistance
Tahanan tubuh bervariasi pada masing-masing jaringan, ditentukan perbedaan
kandungan air pada jaringan tersebut. Tahanan yang terbesar terdapat pada kulit tubuh,
akan menurun besarnya pada tulang, lemak, urat saraf, otot, darah dan cairan tubuh.
Tahanan kulit rata-rata 500-10.000 ohm.

Di dalam lapisan kulit itu sendiri bervariasi derajat resistensinya, hal ini
bergantung pada ketebalan kulit dan jumlah relatif dari folikel rambut, kelenjar
keringat dan lemak. Kulit yang berkeringat lebih jelek daripada kulit yang kering.
Menurut hitungan Cardieu, bahwa berkeringat dapat menurunkan tahanan sebesar
3000-2500 ohm. Pada kulit yang lembab karena air atau saline, maka tahanannya
turun lebih rendah lagi antara 1200-1500 ohm. Tahanan tubuh terhadap aliran listrik
juga akan menurun pada keadaan demam atau adanya pengaruh obat-obatan yang
mengakibatkan produksi keringat meningkat.

Pertimbangkan tentang ”transitional resistance”, yaitu suatu tahanan yang
menyertai akibat adanya bahan-bahan yang berada di antara konduktor dengan tubuh
atau antara tubuh dengan bumi, misalnya baju, sarung tangan karet, sepatu karet, dan
lain-lain.

4. Kuat arus / intensitas /amperage
Adalah kekuatan arus (intensitas arus) yang dapat mendeposit berat tertentu
perak dari larutan perak nitrat perdetik. Satuannya : ampere. Arus yang di atas 60 mA
dan berlangsung lebih dari 1 detik dapat menimbulkan vibrilasi ventrikel.
Berikut ini disajikan sebuah tabel mengenai efek aliran listrik terhadap tubuh
(Lobl. O, 1959) :
1
mA Efek
1,0 Sensasi, ambang arus
1,5 Rasa yang jelas, persepsi arus
2,0 Tangan mati rasa
3,5 Tangan terasa ringan dan kaku
4,0 Parestesia lengan bawah
5,0 Tangan tremor dan lengan bawah spasme
7,0 Spasme ringan yang luas sampai lengan atas
10,0 Dapat sengaja melepaskan diri dari arus listrik
15,0 Kontraksi otot-otot fleksor mencegah terlepas dari aliran listrik
20,0 Kontraksi otot yang sangat sakit
Dikatakan bahwa kuat arus sebesar 30 mA adalah batas ketahanan seseorang,
pada 40 mA dapat menimbulkan hilangnya kesadaran dan kematian akan terjadi pada
kuat arus 100 mA atau lebih.
KOEPPEN menggolongkan akibat kecelakaan listrik dalam 4 kelompok yaitu :

a. Kelompok I : kuat arus < 25 mA AC (DC antara 25-80 mA) dengan
transitional R yang tinggi¬ efek yang berbahaya (-).
b. Kelompok II : kuat arus 25-80 mA AC (DC 80-300 mA) dg transitional R <
dari kel.I ¬ hilangnya kesadaran, aritmia dan spasme pernafasan.
c. Kelompok III : Kuat arus 80-100 mA AC (DC 300 mA - 3A), transitional R <
dari kel. II. Jk t = 0,1-0,3s , efek biologisnya sama dg kel. II. Jk > 0,3s ¬ vibrilasi
ventrikel irreversibel.
d. Kelompok IV : kuat arus > 3A ¬ cardiac arrest
5. Adanya hubungan dengan bumi / earthing
Sehubungan dengan faktor tahanan, maka orang yang berdiri pada tanah yang
basah tanpa alas kaki, akan lebih berbahaya daripada orang yang berdiri dengan
mengggunakan alas sepatu yang kering, karena pada keadaan pertama tahanannya
rendah.
Roman Forensik Edisi 8 52
6. Lamanya waktu kontak dengan konduktor
Makin lama korban kontak dengan konduktor ¬ makin banyak jumlah arus
yang melalui tubuh ¬ kerusakan tubuh akan bertambah besar & luas. Dengan
tegangan yang rendah ¬ spasme otot-otot ¬ korban malah menggenggam konduktor
¬ arus listrik akan mengalir lebih lama ¬ korban jatuh dalam keadaan syok yang
mematikan Sedangkan pada tegangan tinggi ¬ segera terlempar atau melepaskan
konduktor atau sumber listrik yang tersentuh, karena akibat arus listrik dengan
tegangan tinggi tersebut dapat menyebabkan timbulnya kontraksi otot, termasuk otot
yang tersentuh aliran listrik tersebut.
7. Aliran arus listrik (path of current)
Adalah tempat-tempat pada tubuh yang dilalui oleh arus listrik sejak masuk
sampai meninggalkan tubuh. Letak titik masuk arus listrik (point of entry) & letak titik
keluar bervariasi ¬ efek dari arus listrik tersebut bervariasi dari ringan sampai berat.
Arus listrik masuk dari sebelah kiri bagiah tubuh lebih berbahaya daripada jika masuk
dari sebelah kanan. Bahaya terbesar bisa timbul jika jantung atau otak berada dalam
posisi aliran listrik tersebut.

Bumi dianggap sebagai kutub negatif. Orang yang tanpa
alas kaki lebih berbahaya kalau terkena aliran listrik, sepatu dapat berfungsi sebagai
isolator, t.u sepatu karet
8. Faktor-faktor lain
a. adanya penyakit-penyakit tertentu yang sudah ada pada korban sebelumnya,
seperti penyakit jantung, kondisi mental yang menurun,dsb, yang dapat
memperberat efek listrik pada tubuh manusia sampai timbulnya kematian.

b. Antisipasi terhadap syok.
c. Kelengahan atau kekuranghati-hatian.
d. Luas kontak dengan arus listrik.
e. Kesadaran adanya arus listrik.

f. Kebiasaan dan pekerjaan.

g. Konstitusi tubuh yaitu tubuh kurus dan gemuk.

Cara Kematian
Paling sering : kecelakaan, jarang terjadi karena pembunuhan atau bunuh diri. Oleh
karena itu pemeriksaan Tempat Kejadian Perkara (TKP) sangat penting.
Patofisiologi
Elektron mengalir secara abnormal melalui tubuh menghasilkan cedera dengan atau
kematian melalui depolarisasi otot dan saraf, inisiasi abnormal irama elektrik pada jantung
dan otak, atau menghasilkan luka bakar elektrik internal maupun eksternal melalui panas dan
pembentukan pori di membran sel. Arus yang melalui otak, baik voltase rendah maupun
tinggi mengakibatkan penurunan kesadaran segera karena depolarisasi saraf otak. Arus AC
dapat menghasilkan fibrilasi ventrikel jika jalurnya melalui dada. Aliran listrik yang lama
membuat kerusakan iskemik otak terutama yang diikuti gangguan nafas. Seluruh aliran dapat
mengakibatkan mionekrosis, mioglobinemia, dan mioglobinuria dan berbagai komplikasi.
Selain itu dapat juga mengakibatkan luka bakar.
Sebab Kematian
Kebanyakan oleh energi listrik itu sendiri. Sering trauma listrik disertai trauma
mekanis. Ada kasus karena listrik yang menyebabkan korban jatuh dari ketinggian, dalam hal
ini sukar untuk mencari sebab kematian yang segera.

Sebab kematian karena arus listrik yaitu :

1. Fibrilasi ventrikel
Bergantung pada ukuran badan dan jantung.

DALZIEL (1961) memperkirakan
pada manusia arus yang mengalir sedikitnya 70 mA dalam waktu 5 detik dari lengan ke
Roman Forensik Edisi 8 53
tungkai akan menyebabkan fibrilasi. Yang paling berbahaya adalah jika arus listrik masuk
ke tubuh melalui tangan kiri dan keluar melalui kaki yang berlawanan/kanan. Kalau arus
listrik masuk ke tubuh melalui tangan yang satu dan keluar melalui tangan yang lain maka
60% yang meninggal dunia.

2. Paralisis respiratorik
Akibat spasme dari otot-otot pernafasan, sehingga korban meninggal karena
asfiksia, sehubungan dengan spasme otot-otot karena jantung masih tetap berdenyut
sampai timbul kematian. Terjadi bila arua listrik yang memasuki tubuh korban di atas nilai
ambang yang membahayakan, tetapi masih di batas bawah yang dapat menimbulkan
ventrikel fibrilasi. Menurut KOEPPEN, spasme otot-otot pernafasan terjadi pada arus 25-
80 mA, sedangkan ventrikel fibrilasi terjadi pada arus 80-100 mA.
3. Paralisis pusat nafas
jika arus listrik masuk melalui pusat di batang otak, disebabkan juga oleh trauma
pada pusat-pusat vital di otak yang terjadi koagulasi dan akibat efek hipertermias. Bila
aliran listrik diputus, paralisis pusat pernafasan tetap ada, jantung pun masih berdenyut,
oleh karena itu dengan bantuan pernafasan buatan korban masih dapat ditolong. Hal
tersebut bisa terjadi jika kepala merupakan jalur arus listrik.
Pemeriksaan Korban
1. Pemeriksaan korban di Tempat Kejadian Perkara (TKP)
Korban mungkin ditemukan sedang memegang benda yang membuatnya kena listrik,
kadang-kadang ada busa pada mulut.

Yang perlu dilakukan pertama kali adalah mematikan
arus listrik atau menjauhkan kawat listrik dengan kayu kering. Lalu kemudian korban
diperiksa apakah hidup atau sudah meninggal dunia. Bilamana belum ada lebam mayat, maka
mungkin korban dalam keadaan mati suri dan perlu diberi pertolongan segera yaitu
pernafasan buatan dan pijat jantung dan kalau perlu segera dibawa ke Rumah sakit.
Pernafasan buatan ini jika dilakukan dengan baik dan benar masih merupakan pengobatan
utama untuk korban akibat listrik. Usaha pertolongan ini dilakukan sampai korban
menunjukkan tanda-tanda hidup atau tanda-tanda kematian pasti.

2. Pemeriksaan Jenazah
a. Pemeriksaan Luar
Sangat penting karena justru kelainan yang menyolok adalah kelainan pada
kulit. Dalam pemeriksaan luar yang harus dicari adalah tanda-tanda listrik atau current
mark/electric mark/stroomerk van jellinek/joule burn. Current mark adalah tanda luka
akibat listrik dan merupakan tempat masuknya aliran listrik. Tanda-tanda listrik
tersebut antara lain :

• Terkecil sebesar kepala jarum dengan warna kemerahan
• Tanda lain berupa bula
• Current mark berbentuk oval, kuning atau coklat keputihan atau
coklat kehitaman atau abu-abu kekuningan dikelilingi daerah kemerahan dan
edema sehingga menonjol dari jaringan sekitarnya (daerah halo). Cara mencari t.u
pada telapak tangan atau telapak kaki dan sebelumnya harus dicuci dulu dengan
sabun dan bila perlu disikat. Metalisasi akibat panas yang ditimbulkan sedemikian
besar sehingga ion-ion asam jaringan bereaksi dengan ion-ion logam dari kawat
atau kabel membentuk garam dan menyebar di jaringan. Warna yang terjadi
tergantung bahan logam, misalnya dari besi akan tampak warna hitam kecoklatan,
tembaga warna coklat kemerahan, dan aluminium warna perak. Luka keluar dari
luka listrik (electrical burn) tidak khas dapat berupa luka lecet, luka robek, atau
luka bakar. Sepatu korban dan pakaian dapat terkoyak.
• Tanda yang lebih berat yaitu kulit menjadi hangus arang, rambut
ikut terbakar, tulang dapat meleleh dengan pembentukan butir kapur/kalk parels
terdiri dari kalsium fosfat
Roman Forensik Edisi 8 54
• Endogenous burn/Joule burn terjadi jika kontak dengan tubuh lama
sehingga bagian tengah yang dangkal dan pucat pada electric mark dapat menjadi
hitam dan hangus terbakar
• Eksogenous burn dapat terjadi bila tubuh terkena arus listrik
tegangan tinggi yang sudah mengandung panas, sehingga tubuh akan hangus
terbakar dengan kerusakan yang sangat berat dan tidak jarang disertai dengan
patahnya tulang-tulang
• Panas yang timbul pada suatu waktu demikian besarnya sehingga
kawat listrik menguap dan mengkondensir di jaringan tubuh/electric metalisasi
b. Pemeriksaan Dalam
Pada autopsi biasanya tidak ditemukan kelainan yang khas. Pada otak
didapatkan perdarahan kecil-kecil dan terutama paling banyak adalah pada daerah
ventrikel III dan IV. Organ jantung akan terjadi fibrilasi bila dilalui aliran listrik dan
berhenti pada fase diastole, sehingga terjadi dilatasi jantung kanan. Pada paru
didapatkan edema dan kongesti. Pada korban yang terkena listrik tegangan tinggi,
Custer menemukan pada puncak lobus salah satu paru terbakar, juga ditemukan
pneumothorak, hal ini mungkin sekali disebabkan oleh aliran listrik yang melalui paru
kanan. Organ viscera menunjukkan kongesti yang merata. Petekie atau perdarahan
mukosa gastro intestinal ditemukan pada 1 dari 100 kasus fatal akibat listrik. Pada hati
ditemukan lesi yang tidak khas., sedangkan pada tulang, karena tulang mempunyai
tahanan listrik yang besar, maka jika ada aliran listrik akan terjadi panas sehingga
tulang meleleh dan terbentuklah butiran-butiran kalsium fosfat yang menyerupai
mutiara atau pearl like bodies.
1
Otot korban putus akibat perubahan hialin. Perikard,
pleura, dan konjungtiva korban terdapat bintik-bintik pendarahan. Pada ekstremitas,
pembuluh darah korban mengalami nekrosis dan ruptur lalu terjadi pendarahan
kemudian terbentuklah gangren.
c. Pemeriksaan Tambahan
Yang dilakukan adalah pemeriksaan patologi anatomi pada current mark.
Walaupun pemeriksaan itu tidak spesifik untuk tanda kekerasan oleh listrik tetapi
sangat menolong untuk menegakkan bahwa korban telah mengalami trauma listrik.
Hasil pemeriksaan akan terlihat sebagai berikut :

• Ada bagian sel yang memipih, pada pengecatan dengan metoxyl
lineosin akan bewarna lebih gelap dari normal
• Sel-sel pada stratum korneum menggelembung dan vakum
• Sel dan intinya dari stratum basalis menjadi lonjong dan tersusun
secara palisade
• Ada sel yang mengalami karbonisasi dan ada pula bagian sel-sel yang
rusak dari stratum korneum
• Folikel rambut dan kelenjar keringat memanjang dan memutar ke arah
bagian yang terkena listrik.
Petir (Lightning)
Lightning / eliksem adalah kecelakaan akibat sambaran petir. Petir termasuk arus searah (DC)
dengan tegangan 20 juta volt dan kuat arus 20 ribu ampere.
Ada 3 keadaan yang berpotensi besar terkena petir :
1. Berada di tanah lapang.
2. Berada dibawah pohon yang tinggi.
3. Kehujanan dan memakai perhiasan yang terbuat dari logam.
Ada 3 kelainan akibat sambaran petir :
1. Efek listrik.
2. Efek panas.
Roman Forensik Edisi 8 55
3. Efek ledakan.
Ada 3 efek listrik akibat sambaran petir :
• Current mark / electrik mark / electrik burn. Efek ini termasuk salah
satu tanda utama luka listrik (electrical burn).
• Aborescent markings. Tanda ini berupa gambaran seperti pohon gundul
tanpa daun akibat terjadinya vasodilatasi vena pada kulit korban sebagai reaksi dari
persentuhan antara kulit dengan petir (lightning / eliksem). Tanda ini akan hilang sendiri
setelah beberapa jam.
• Magnetisasi. Logam yang terkena sambaran petir (lightning / eliksem)
akan berubah menjadi magnet. Efek ini juga termasuk salah satu tanda luka listrik
(electrical burn).
Ada 2 efek panas akibat sambaran petir :
• Luka bakar sampai hangus. Rambut, pakaian, sepatu bahkan seluruh
tubuh korban dapat terbakar atau hangus.
• Metalisasi. Logam yang dikenakan korban akan meleleh seperti
perhiasan dan komponen arloji. Arloji korban akan berhenti dimana tanda ini dapat kita
gunakan untuk menentukan saat kematian korban. Efek ini juga termasuk salah satu tanda
luka listrik (electrical burn).
Efek ledakan akibat sambaran petir (lightning / eliksem) terjadi akibat perpindahan volume
udara yang cepat & ekstrim. Setelah kilat menyambar, udara setempat menjadi vakum lalu
terisi oleh udara kembali sehingga menimbulkan suara menggelegar / guntur / ledakan.
Cara kematian korban akibat sambaran petir : kecelakaan.

TRAUMA KIMIAWI
¤ Asam kuat & basa kuat
¤ Asam kuat ¬ mengkoagulasikan protein ¬ luka korosif yang kering, kertas spt kertas
perkamen.
¤ Basa kuat ¬ memembentuk reaksi penyabunan ¬ luka basah, licin ¬ kerusakan
sampai terus kedalam
Bahan kimia yg bersifat korosif dpt dibagi dalam 4 golongan :
¤ Asam organik yg bersifat korosif, ¬ asam oksalat, asam asetat, asam sitrat dan asam
karbol.
¤ Asam anorganik yg bersifat korosif ¬ asam fluoride, asam klorida, asam nitrat dan
asam sulfat.
¤ Kaustik alkali ¬ kalium hidroksida, kalsium hidroksida, natrium hidroksida dan
amoniak.
¤ Garam logam berat ¬ merkuri klorida, zinc klorida dan stibium klorida.
Ciri luka akibat kimiawi :
¤ Asam karbol ¬ luka bakar dimana kulit yang terkena akan berwarna kelabu
keputihan.
¤ Asam oksalat ¬ kulit berwarna kelabu kehitaman.
Roman Forensik Edisi 8 56
¤ Asam sulfat dan asam klorida ¬ kulit mula-mula akan berwarna kelabu kmdn jadi
hitam.
¤ Asam nitrat ¬ kulit berwarna merah kecoklatan yang disertai dengan perdarahan.
¤ Zinc klorida ¬ kulit berwarna keputih-putihan, sedangkan
¤ Merkuri klorida ¬ kulit yg terkena berwarna biru keputihan + perdarahan.
¤ Ciri trauma akibat asam ¬ kering, cokelat kemerahan dan pd perabaan teraba padat
dan keras
¤ Ciri trauma akibat basa ¬ bengkak, edem, warna cokelat kemerahan dan pada rabaan
teraba lunak dan licin.
HUBUNGAN ANTARA “HASIL/CEDERA” DENGAN “PIDANA”
LUKA RINGAN:
Luka ringan adalah :
• LUKA YANG TIDAK MENGAKIBATKAN SAKIT ATAU HALANGAN DALAM
MELAKUKAN PEKERJAAN
• MISALNYA MEMAR ATAU LECET:
– YANG BERDASARKAN LOKASI DAN LUASNYA DIANGGAP TIDAK
MENGAKIBATKAN GANGGUAN FUNGSI
PS 352 KUHP: MAKS 3 BULAN
LUKA SEDANG :
Luka Sedang adalah :
LUKA/CEDERA DIANTARA LUKA BERAT DAN LUKA RINGAN
MISALNYA :
– VULNUS LACERATUM
– VULNUS SCISSUM
– FRACTURE
yang tidak mengancam nyawa namun membutuhkan perawatan lebih lanjut dan menghalangi
pekerjaan untuk sementara waktu
PS 351 (2) KUHP: MAKS 2 TAHUN 8 BULAN
PS 353 (1) KUHP: MAKS 4 TAHUN
LUKA BERAT:
MENURUT PS 90 KUHP Luka berat adalah :
• TAK DAPAT DIHARAPKAN SEMBUH
• MENGANCAM NYAWA
• HALANGAN BEKERJA PERMANEN
• KEHILANGAN SALAH SATU INDERA
• CACAT BERAT
• KELUMPUHAN
• TAK DAPAT BERPIKIR 4 MINGGU ATAU LEBIH
• GUGURNYA KANDUNGAN
PS 351 (3) KUHP: MAKS 5 TAHUN
PS 353 (2) KUHP: MAKS 7 TAHUN
PS 354 (1) KUHP: MAKS 8 TAHUN
PS 355 (1) KUHP: MAKS 12 TAHUN
RINGKASAN
LUKA AKIBAT BENDA TAJAM
Roman Forensik Edisi 8 57
DEFINISI
 Kelainan pada tubuh akibat persentuhan dengan benda tajam sehingga kontinuitas
jaringan hilang
KLASIFIKASI
 Luka iris (incised wound)
 Luka tusuk (stab wound)
 Luka bacok (chop wound)
CIRI LUKA
 Tepi luka rata
 Sudut luka lancip
 Rambut terpotong
 Tidak ditemukan jembatan jaringan
 Tidak ditemukan memar atau lecet disekitarnya
DESKRIPSI LUKA
 Jumlah luka
 Lokasi luka
 Ukuran luka
 Ciri-ciri luka ( tepi luka,sudut luka, adakah jembatan jaringan, memar atau luka lecet,
adakah rambut ikut terpotong, adakah sesuatu yang keluar dari lubang)
 Benda asing
 Intravitalitas luka
 Luka tersebut mematikan atau tidak
LUKA IRIS (INCISED WOUND)
 Luka akibat benda bermata tajam dengan tekanan ringan dan goresan pada permukaan
tubuh
Ex.pisau, pecahan kaca, pisau,silet, pedang, potongan seng
 Bentuk luka:
- Celah : // arah serat elastis/otot
- Menganga : ⊥ arah serat elastis/otot
- Asimetris : miring thdap serat elastis/otot
 Ciri-ciri:
1. tepi dan permukaan luka rata
2. sudut luka lancip
3. ≠ jembatan jaringan
4. rambut terpotong
5. luka memar/lecet (-)
6. tidak mengenai tulang
7. panjang luka > dalam luka
 Sebab kematian pada luka iris:
1. Langsung : perdarahan, emboli udara, aspirasi darah
2. Tidak langsung : infeksi atau sepsis
CIRI LUKA IRIS PADA BUNUH DIRI
 Lokasi luka pada daerah tubuh mematikan atau dapat dijangkau (leher, pergelangan
tangan, lekuk siku, lekuk lutut, lipat paha)
 Luka percobaan
 Tidak ditemukan luka tangkisan di bagian tubuh lain
Roman Forensik Edisi 8 58
 Pakaian disingkirkan pada daerah luka
LUKA IRIS PADA PEMBUNUHAN
 Luka di sembarang tempat
 Luka tangkisan (+)
 Luka percobaan (-)
 Pakaian ikut terkoyak akibat benda tajam
LUKA TUSUK
Bentuk luka :
1. pada parenkim dan tulang : sesuai penampang alat
penyebabnya
2. pada kulit/otot :
- alat pisau
// serat elastis otot : spt celah, ⊥ serat elastis otot :
menganga, miring thd serat elastis otot : asimetris
- alat ganco/lembing
celah bila luka di daerah pertemuan serat elastis/otot
bulat : sesuai penampang alat
- alat penampang segitiga atau segiempat
bintang berkaki tiga atau empat
CIRI-CIRI LUKA TUSUK
 Tepi luka rata
 Sudut luka tajam, pada sisi tumpul alat, sudut luka < tajam
 Pada sisi tajam alat, rambut ikut terpotong
 Memar disekitar luka
 Dalam luka > panjang luka
Sebab Kematian pada Luka Tusuk:
 Langsung : perdarahan, kerusakan alat tubuh yang penting, emboli udara
 Tidak langsung : sepsis / infeksi
Cara kematian pada luka tusuk:
 Pembunuhan
 Bunuh diri
 Kecelakaan
LUKA TUSUK PEMBUNUHAN
 Lokasi di sembarang tempat
 Jumlah luka > 1
 Adanya tanda perlawanan
 Luka tusuk percobaan (-)
LUKA TUSUK BUNUH DIRI
 Lokasi pada alat tubuh yang penting/ dapat dijangkau (dada, perut)
 Jumlah luka yang mematikan > 1
 Luka tusuk percobaan (+) disekitar luka utama, bergerombol
 Luka tangkisan (-)
 Pakaian disingkirkan terlebih dahulu
 Tangan yang memegang senjata kadang mengalami cadaveric spasm
 Lokasi pada alat tubuh yang penting/ dapat dijangkau (dada, perut)
Roman Forensik Edisi 8 59
 Jumlah luka yang mematikan > 1
 Luka tusuk percobaan (+) disekitar luka utama, bergerombol
 Luka tangkisan (-)
 Pakaian disingkirkan terlebih dahulu
 Tangan yang memegang senjata kadang mengalami cadaveric spasm
LUKA TUSUK DI KEPALA
 Hampir selalu karena pembunuhan
 Kematian karena rusaknya perdarahan, rusaknya organ vital
 Bentuk luka membantu identifikasi senjata
LUKA TUSUK DI LEHER
 Korban meninggal karena terpotongnya arteri carotis, vena jugularis, pharyng, trakea
 Terpotong a. carotis : perdarahan banyak, trombus a.cerebralis
 Terpotong v. jugularis : emboli udara menyumbat a. pulmonalis
 Terpotong trachea: aspirasi darah ke paru-paru
LUKA TUSUK DADA
Kerusakan jantung, paru, a.v. besar
LUKA TUSUK ABDOMEN
Kerusakan organ dalam, perdarahan banyak
LUKA TUSUK EKSTREMITAS
Sering luka tangkisan, kematian akibat perdarahan
LUKA BACOK (Chop Wound)
 Luka akibat benda atau alat berat
 Mata tajam atau agak tumpul
 Suatu ayunan
 Tenaga agak besar
 Pedang, celurit, kapak, baling-baling kapal.
Ciri-ciri:
 Besar
 Tepi tergantung mata senjata
 Sudut tergantung mata senjata
 Kerusakan tulang, bagian tubuh terputus
 Memar/lecet di sekitar luka
Cara kematian
 Pembunuhan, kecelakaan
Sebab kematian
 Langsung : perdarahan, kerusakan organ vital, emboli udara
 Tidak langsung : sepsis/ infeksi
LUKA AKIBAT BENDA TUMPUL
Roman Forensik Edisi 8 60
• Luka ¬ hilang/rusaknya sebagian jaringan tubuh
• Kekerasan benda tumpul ¬ kasus paling banyak terjadi.
• Cara kejadian ¬ terutama berupa kecelakaan lalu lintas
• Sebab kematian korban kekerasan benda tumpul ---- kerusakan organ vital,
perdarahan, syok, infeksi.
• Benda tumpul :
- Benda tidak bermata tajam
- Konsistensi keras atau kenyal
- Permukaan dapat halus atau kasar, kadang dijumpai benda dengan bagian
tajam dan tumpul (misalnya clurit)
• Pembagian kekerasan benda tumpul
1. Localized
- Mengenai sebagian kecil dari tubuh, akibat kekerasan benda dengan luas
tertentu yang relatif kecil
- Dijumpai pada :
Serangan manusia (ditinju, dipukul kayu dsb)
Serangan binatang (disepak kuda)
Tubrukan atau jatuh
2. Generalized
- Mengenai sebagian besar atau seluruh tubuh
- Cara kejadian :
Terlempar (kecelakaan lalu lintas, terjadi dari tempat tinggi
Tergilas/tertindih (tertimpa bangunan runtuh)
Terkoyak kecelakaan lalu lintas
• Menurut jaringan atau organ yang terkena dan mengalami kerusakan
Kulit
- Luka lecet (abrasion)
- Luka memar (contusion)
- Luka retak, robek, koyak (laceration)
Kepala
- Mengenai tengkorak
- Jaringan intrakranial
Leher dan tulang belakang
Dada
- Mengenai tulang-tulang
- Mengenai organ dalam
Perut
- Mengenai organ parenkim
- Mengenai organ berongga
Anggota gerak
- Mengenai tulang dan sendi
- Mengenai jaringan lunak
LUKA LECET (ABRASION)
Roman Forensik Edisi 8 61
• Kerusakan yang mengenai lapisan atas dari epidermis akibat kekerasan dengan benda
yang mempunyai permukaan yang kasar, sehingga epidermis menjadi tipis, sebagian
atau seluruh lapisannya hilang
• Ciri luka lecet :
- Sebagian atau seluruh epitel hilang
- Permukaan dapat tertutupi oleh eksudasi yang mengering (krusta)
- Timbul reaksi radang
- Biasanya tidak meninggalkan jaringan parut
• Ante mortem
Warna coklat kemerahan karena eksudasi
Mikroskopis : Terdapat sisa epitelium dan tanda-tanda intravena
• Post mortem
- Tampak mengkilap, warna kekuningan
- Mikroskopis : Epidermis terpisah sempurna dari dermis dan tidak ada tanda
intravena
- Sering terjadi pada daerah penonjolan tulang
LUKA MEMAR (CONTUSION)
• Kerusakan adalah jaringan subkutan sehingga pembuluh darah kapiler rusak dan pecah
¬ darah meresap kejaringan sekitar.
• Bagian yang mudah mengalami memar ¬ mempunyai jaringan lemak dibawahnya
dan berkulit tipis
LUKA ROBEK (LACERATION)
• Seluruh tebal kulit mengalami kerusakan dan jaringan bawah kulit. Epidermis
terkoyak, folikel rambut, kelenjar keringat, dan sebacea mengalami kerusakan.
• Bila sembuh dapat menimbulkan jaringan parut
• Luka robek mudah terjadi pada kulit dengan adanya tulang di bawahnya.
Luka Robek Luka Iris
Memar dan lecet + -
Rambut Utuh Terpotong
Jembatan jaringan + -
Sudut/tepi luka Tumpul Tajam
LUKA RETAK
• Luka pada kulit daerah tubuh yang ada tulang tepat di bawah kulit tersebut (Misal :
kepala dan tulang kering)
• Akibat dari kekerasan benda tumpul yang mempunyai pinggiran (tepi meja, tepi pintu
dll)
Luka Retak Luka Iris
Tepi Luka Tidak Tajam Tajam
Roman Forensik Edisi 8 62
Sudut Luka Tidak Tajam Tajam
Permukaan Luka Tidak Rata Rata
Jembatan Jaringan + -
Rambut Tercabut Terpotong
Memar/ lecet sekitar luka + -
Kekerasan Benda Tumpul Pada Kepala
• Kelainan pada tengkorak berupa patah tulang
- Fraktur basis kranii (patah tulang dasar tengkorak)
o umumnya keluar darah dari hidung, mulut, telinga
o bila patahan mengenai atap bola mata¬Brill hematom
- Fraktur vault kranii (patah tulang atap tengkorak)
• Kelainan pada otak, menimbulkan
Contusio serebri (memar otak)
o Perdarahan kecil di permukaan otak tanpa disertai kerusakan arrachnoid di
atasnya
Lacerasio cerebri (robek otak)
o Kerusakan pada white matter dan gray matter, disertai robeknya arrachnoid.
Ada 2 macam :
Coup
Counter coup
Edema serebri
• Kelainan pada selaput otak
- Epidural haemorrhage (perdarahan di atas selaput tebal otak)
o Robekan pembulut darah diluar duramater (tersering ¬ a. meningea media)
o Darah merembes diantara otak dan tulang ¬ membeku
- Subdural haemorrhage (perdarahan di bawah selaput tebal otak)
- Subarachnoid haemorrhage (perdarahan di bawah selaput laba-laba otak)
o Pecahnya vena serebri posterior
COMOSIO SEREBRI (Gegar otak)
• Gangguan fungsi otak akibat trauma kepala
• Tanpa dapat ditemukan kelainan anatomi di otak
• Gejala klinis :
- Pingsan sebentar (hingga sampai 15 menit)
- Muntah
- Pusing
- Amnesia
- Tidak ada kelainan neurologis
CEDERA KEPALA
PENDAHULUAN
Roman Forensik Edisi 8 63
Cedera kepala atau yang disebut dengan trauma kapitis adalah ruda paksa
tumpul/tajam pada kepala atau wajah yang berakibat disfungsi cerebral sementara.
Merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia
produktif, dan sebagian besar karena kecelakaan lalulintas.
Adapun pembagian trauma kapitis adalah:
1
• Simple head injury
• Commotio cerebri
• Contusion cerebri
• Laceratio cerebri
• Basis cranii fracture
Simple head injury dan Commotio cerebri sekarang digolongkan sebagai cedera kepala
ringan.Sedangkan Contusio cerebri dan Laceratio cerebri digolongkan sebagai cedera
kepala berat.Tingkat keparahan cedera kepala harus segera ditentukan pada saat pasien tiba
di Rumah Sakit.
2
I. MEKANISME DAN PATOLOGI
Cedera kepala dapat terjadi akibat benturan langsung atau tanpa benturan langsung
pada kepala. Kelainan dapat berupa cedera otak fokal atau difus dengan atau tanpa fraktur
tulang tengkorak.Cedera fokal dapat menyebabkan memar otak, hematom epidural,
subdural dan intraserebral. Cedera difus dapat mengakibatkan gangguan fungsi saja, yaitu
gegar otak atau cedera struktural yang difus.
2
Dari tempat benturan, gelombang kejut disebar ke seluruh arah. Gelombang ini
mengubah tekanan jaringan dan bila tekanan cukup besar, akan terjadi kerusakan jaringan
otak di tempat benturan yang disebut “coup” atau ditempat yang berseberangan dengan
benturan (contra coup).
2
Gambar 1.Mekanisme cedera kepala
II. PATOFISIOLOGI
Gangguan metabolisme jaringan otak akan mengakibatkan oedem yang dapat
menyebabkan heniasi jaringan otak melalui foramen magnum, sehingga jaringan otak
Roman Forensik Edisi 8 64
tersebut dapat mengalami iskhemi, nekrosis, atau perdarahan dan kemudian korban dapat
meninggal.Fungsi otak sangat bergantung pada tersedianya oksigen dan glukosa. Cedera
kepala dapat menyebabkan gangguan suplai oksigen dan glukosa, yang terjadi karena
berkurangnya oksigenisasi darah akibat kegagalan fungsi paru atau karena aliran darah ke
otak yang menurun, misalnya akibat syok.
1,2
III. GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis ditentukan berdasarkan derajat cedera dan lokasinya. Derajat cedera
dapat dinilai menurut tingkat kesadarannya melalui sistem GCS, yakni metode EMV
(Eyes, Verbal, Movement).
2
1. Kemampuan membuka kelopak mata (E)
• Secara spontan 4
• Atas perintah 3
• Rangsangan nyeri 2
• Tidak bereaksi 1
2. Kemampuan komunikasi (V)
• Orientasi baik 5
• Jawaban kacau 4
• Kata-kata tidak berarti 3
• Mengerang 2
• Tidak bersuara 1
3. Kemampuan motorik (M)
• Kemampuan menurut perintah 6
• Reaksi setempat 5
• Menghindar 4
• Fleksi abnormal 3
• Ekstensi 2
• Tidak bereaksi 1
IV. PEMBAGIAN CEDERA KEPALA
1. Simple Head Injury
Diagnosa simple head injury dapat ditegakkan berdasarkan:
2-4
• Ada riwayat trauma kapitis
• Tidak pingsan
• Gejala sakit kepala dan pusing
2. Commotio Cerebri
Commotio cerebri (geger otak) adalah keadaan pingsan yang berlangsung tidak
lebih dari 10 menit akibat trauma kepala, yang tidak disertai kerusakan jaringan
otak.Pasien mungkin mengeluh nyeri kepala, vertigo, mungkin muntah dan tampak
pucat.
Vertigo dan muntah mungkin disebabkan lesi pada labirin atau terangsangnya
pusat-pusat dalam batang otak.Pada commotio cerebri mungkin pula terdapat amnesia
retrograde, yaitu hilangnya ingatan sepanjang masa yang terbatas sebelum terjadinya
kecelakaan.Amnesia ini timbul akibat terhapusnya rekaman kejadian di lobus
temporalis. Pemeriksaan tambahan yang selalu dibuat adalah foto tengkorak, EEG,
pemeriksaan memori.
2,4
3. Contusio Cerebri
Pada contusio cerebri (memar otak) terjadi perdarahan-perdarahan di dalam
jaringan otak tanpa adanya robekan jaringanyang kasat mata, meskipun neuron-
neuron mengalami kerusakan atau terputus. Hal penting untuk terjadinya lesi contusi
ialah adanya akselerasi kepala yang seketika itu juga menimbulkan pergeseran otak
serta pengembangan gaya kompresi yang destruktif.Akselerasi yang kuat berarti pula
Roman Forensik Edisi 8 65
hiperekstensi kepala.Oleh karena itu, otak membentang batang otak terlalu kuat,
sehingga menimbulkan blockade reversible terhadap lintasan asendens retikularis
difus. Akibat blokade itu, otak tidak mendapat input aferen dan karena itu, kesadaran
hilang selama blockade reversible berlangsung.
2,5
Gambar 2.Pergeseran otak akibat akselerasi dan deselerasi
Timbulnya lesi contusio di daerah “coup”, “contrecoup”, dan “intermediate
coup” menimbulkan gejala defisit neurologik yang bisa berupa refleks babinsky yang
positif dan kelumpuhan UMN. Setelah kesadaran pulih, penderita biasanya
menunjukkan “organic brain syndrome”.
2,5
Akibat gaya yang dikembangkan oleh mekanisme-mekanisme yang beroperasi
pada trauma kapitis tersebut di atas, autoregulasi pembuluh darah cerebral terganggu,
sehingga terjadi vasoparalitis. Tekanan darah menjadi rendah dan nadi menjadi
lambat, atau menjadi cepat dan lemah. Juga karena pusat vegetatif terlibat, maka rasa
mual, muntah dan gangguan pernafasan bisa timbul.
2
Pemeriksaan penunjang seperti CT-Scan berguna untuk melihat letak lesi dan
adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek.
4. Laceratio Cerebri
Dikatakan laceratio cerebri jika kerusakan tersebut disertai dengan robekan
piamater.Laceratio biasanya berkaitan dengan adanya perdarahan subaraknoid
traumatika, subdural akut dan intercerebral. Laceratio dapat dibedakan atas laceratio
langsung dan tidak langsung.
2
Laceratio langsung disebabkan oleh luka tembus kepala yang disebabkan oleh
benda asing atau penetrasi fragmen fraktur terutama pada fraktur depressed terbuka.
Sedangkan laceratio tidak langsung disebabkan oleh deformitas jaringan yang hebat
akibat kekuatan mekanis.
2
5. Fracture Basis Cranii
Fractur basis cranii bisa mengenai fossa anterior, fossa media dan fossa
posterior. Gejala yang timbul tergantung pada letak atau fossa mana yang terkena.
Fraktur pada fossa anterior menimbulkan gejala:
2,3,5
• Hematom kacamata (brill) tanpa disertai subconjungtival bleeding
• Epistaksis
Roman Forensik Edisi 8 66
• Rhinorrhoe
Fraktur pada fossa media menimbulkan gejala:
• Hematom retroaurikuler, Ottorhoe
• Perdarahan dari telinga
Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan foto roentgen basis kranii.
Komplikasi :
• Gangguan pendengaran
• Parese N.VII perifer
• Meningitis purulenta akibat robeknya duramater.
• Adanya cairan LCS yang bercampur darah. Kebocoran LCS dapat diperiksa
dengan “double ring” atau “halo sign”, yaitu jika setetes cairan darah yang
dicurigai mengandung LCS diletakkan diatas tissue/koran, maka darah akan
terkumpul ditengah dan sekitarnya terbentuk perembesan yang membentuk
cincin kedua.
Adapun pembagian cedera kepala lainnya:
2
• Cedera Kepala Ringan (CKR) → termasuk didalamnya Laseratio dan
Commotio Cerebri
o Skor GCS 13-15
o Tidak ada kehilangan kesadaran, atau jika ada tidak lebih dari 10 menit
o Pasien mengeluh pusing, sakit kepala
o Ada muntah, ada amnesia retrogad dan tidak ditemukan kelainan pada
pemeriksaan neurologist.
• Cedera Kepala Sedang (CKS)
o Skor GCS 9-12
o Ada pingsan lebih dari 10 menit
o Ada sakit kepala, muntah, kejang dan amnesia retrogad
o Pemeriksaan neurologis terdapat lelumpuhan saraf dan anggota gerak.
• Cedera Kepala Berat (CKB)
o Skor GCS <8
o Gejalnya serupa dengan CKS, hanya dalam tingkat yang lebih berat
o Terjadinya penurunan kesadaran secara progesif
o Adanya fraktur tulang tengkorak dan jaringan otak yang terlepas.
V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hal yang dapat dilakukan pada pasien dengan trauma kapitis adalah:
2
1. CT-Scan
Untuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek.
2. Lumbal Pungsi
Untuk menentukan ada tidaknya darah pada LCS harus dilakukan sebelum 6 jam dari
saat terjadinya trauma
3. EEG
Dapat digunakan untuk mencari lesi
4. Roentgen foto kepala
Untuk melihat ada tidaknya fraktur pada tulang tengkorak
VI. DIAGNOSA
Berdasarkan :Ada tidaknya riwayat trauma kapitis
Gejala-gejala klinis : Interval lucid, peningkatan TIK, gejala laterlisasi
Roman Forensik Edisi 8 67
Pemeriksaan penunjang.
VII. KOMPLIKASI
Jangka pendek :
2,5
1. Hematom Epidural
o Letak : antara tulang tengkorak dan duramater
o Etiologi : pecahnya A. Meningea media atau cabang-cabangnya
o Gejala : setelah terjadi kecelakaan, penderita pingsan atau hanya nyeri kepala
sebentar kemudian membaik dengan sendirinya tetapi beberapa jam kemudian
timbul gejala-gejala yang memperberat progresif seperti nyeri kepala, pusing,
kesadaran menurun, nadi melambat, tekanan darah meninggi, pupil pada sisi
perdarahan mula-mula sempit, lalu menjadi lebar, dan akhirnya tidak bereaksi
terhadap refleks cahaya. Ini adalah tanda-tanda bahwa sudah terjadi herniasi
tentorial.
o Akut (minimal 24jam sampai dengan 3x24 jam)
º Interval lucid
º Peningkatan TIK
º Gejala lateralisasi → hemiparese
o Pada pemeriksaan kepala mungkin pada salah satu sisi kepala didapati hematoma
subgaleal.
o Pemeriksaan neurologis menunjukkan pada sisi hematom pupil melebar. Pada sisi
kontralateral dari hematom, dapat dijumpai tanda-tanda kerusakan traktus
piramidalis, misal: hemiparesis, refleks tendon meninggi dan refleks patologik
positif.
o CT-Scan : ada bagian hiperdens yang bikonveks
o LCS : jernih
2. Hematom subdural
o Letak : di bawah duramater
o Etiologi : pecahnya bridging vein, gabungan robekan bridging veins dan laserasi
piamater serta arachnoid dari kortex cerebri
o Gejala subakut : mirip epidural hematom, timbul dalam 3 hari pertama
Kronis : 3 minggu atau berbulan-bulan setelah trauma
o CT-Scan : setelah hari ke 3 diulang 2 minggu kemudian
Ada bagian hipodens yang berbentuk cresent.
Hiperdens yang berbentuk cresent di antara tabula interna dan parenkim otak
(bagian dalam mengikuti kontur otak dan bagian luar sesuai lengkung tulang
tengkorak)
Isodens → terlihat dari midline yang bergeser
3. Perdarahan Intraserebral
Perdarahan dalam cortex cerebri yang berasal dari arteri kortikal, terbanyak pada
lobus temporalis. Perdarahan intraserebral akibat trauma kapitis yang berupa
hematom hanya berupa perdarahan kecil-kecil saja. Jika penderita dengan perdarahan
intraserebral luput dari kematian, perdarahannya akan direorganisasi dengan
pembentukan gliosis dan kavitasi. Keadaan ini bisa menimbulkan manifestasi
neurologik sesuai dengan fungsi bagian otak yang terkena.
4. Oedema serebri
Pada keadaan ini otak membengkak.Penderita lebih lama pingsannya, mungkin
hingga berjam-jam. Gejala-gejalanya berupa commotio cerebri, hanya lebih berat.
Tekanan darah dapat naik, nadi mungkin melambat. Gejala-gejala kerusakan jaringan
otak juga tidak ada. Cairan otak pun normal, hanya tekanannya dapat meninggi.
• TIK meningkat
• Cephalgia memberat
Roman Forensik Edisi 8 68
• Kesadaran menurun
Jangka Panjang :
2,5
1. Gangguan neurologis
Dapat berupa : gangguan visus, strabismus, parese N.VII dan gangguan N. VIII,
disartria, disfagia, kadang ada hemiparese
2. Sindrom pasca trauma
Dapat berupa : palpitasi, hidrosis, konsentrasi berkurang, libido menurun, mudah
tersinggung, sakit kepala, kesulitan belajar, mudah lupa, gangguan tingkah laku,
misalnya: menjadi kekanak-kanakan, penurunan intelegensia, menarik diri, dan
depresi.
Kekerasan Benda Tumpul Pada Leher Dan Tulang Belakang
• Pada leher : perdarahan otot/ # tlg leher
º † :spasme laring, refleks vagal
= emfisema => asfiksia
• Pd tlg.belakang :
Kekerasan langsung :# / luksasi
Tdk langsung : # / dislokasi
• Pd Dada:
1.Mengenai tulang :
o a.tulang iga (transverse/obliq #)
= †: syok hematothoraks, pneumothoraks
o b.sternum: (costae 2-4)=> robekan pericardium/jantung
o c.skapula (jarang)
o d.klavikula :tdk menyebabkan kematian
2.Mengenai organ dalam dada : dpt trjadi lepas dr fiksasi,
crushed/contused,robek,pecah, laserasi krn #costae
o a.pericardium:robekan krn #costae/ sternum
o b.jantung & paru: lepas dr fiksasi, contusi,robek,pecah, laserasi
o c.Diafragma: kiri sring robek, krn kanan trlindung hepar
• Pd Perut
Umumnya trjadi: contusi, laserasi ,ruptur, lepas dr fiksasi
1.Organ parenkim
o a.hepar :kontusi, laserasi
o komplikasi ruptur : syok segera,internal bleeding, infeksi
o b.lien: ruptur bntuk Y,H / L
o keluhan: nyeri perut kiri atas,pucat,haus,nadi cpt,dyspne
o komplikasi: internal bleeding
o c.ginjal: retroperitoneal bleeding, luka rongga dlm:hematuri
o d.pankreas: tjd ruptur vertikal, † krn syok & perdarahan
o e.adrenal: kanan mdh trluka, umumnya luka brsama organ lain
2.Organ berongga
o a.lambung: trauma lokal hipokondria kiri=>kontusi,ruptur dinding lambung.
o b.usus/duodenum: sering luka stinggi L2, bs ruptur jika penuh cairan
o c.kandung seni: jika penuh mudah ruptur
Pelvis
• Trauma=> Becken #
Roman Forensik Edisi 8 69
• Misal: - jatuh dr ketinggian
- tergilas roda=> luksasi sakroiliaka,simpisiolisis, # Rr.os
pubis/sacrum
bisa disertai robekan perineum, scrotum,uretra,vagina & anus
Kekerasan Benda Tumpul Pd Anggota Gerak
1.tulang & sendi
a.kekerasan lsg: dislokasi, #, rusak hebat jaringan skitar
b.tdk langsung: bukan pd tempat kontak (ct.caput femur keluar dr acetabulum saat trgilas
mngenai tgh femur)
c.muscular action (jarang)
2.Mengenai bagian Lunak
o a.timbul luka lecet,memar,robek dlm brbagai derajat
o b.gilasan roda mobil=> avulsi, kekerasan yg hebat =>ekstremitas teramputasi
dan hancur
Komplikasi fatal: syok, perdarahan,infeksi(osteomyelitis), trombose & embolisme
TRAUMA THERMIK
º Trauma thermik
1. Hyperthermis
2. Hypothermis
º Kematian karena luka bakar :
- Biasanya karena kecelakaan
- Sering pada orang tua dan anak-anak
- Dapat terjadi pada kasus pembunuhan dan bunuh diri
º Klasifikasi luka bakar :
1. Luka bakar thermis : Adalah kelainan akibat kontak permukaan luar dan dalam dari
tubuh dengan panas fisik
Penyebabnya :
- Luka bakar oleh panas kering (burns/dry heat), misal : sinar matahari, panas api,
benda padat yang panas
- Luka bakar oleh panas basah (scalds/moist heat)
2. Luka bakar kimia
3. Luka bakar listrik
Hyperthermis
º Korban dengan luka bakar akan mengalami beberapa kemungkinan :
1. Sembuh tanpa bekas : bila luka bakarnya hanya berupa erythema /vesikel yang tanpa
disertai kerusakan jaringan bawah kulit
2. Sembuh dengan bekas (jaringan parut) : bila luka bakar disertai kerusakan seluruh
tebal kulit disertai kerusakan jaringan bawah kulit
3. Berakhir dengan kematian
Perubahan yang terjadi pada korban luka bakar :
Roman Forensik Edisi 8 70
º Panas ¬ permeabilitas kapiler darah ¬ cairan intraseluler keluar ke interstitial.
- 1% luka bakar ¬ cairan tubuh yang keluar ke interstitial 0,5-1%
blood volume
- Bila blood volume hilang 20% ¬ terjadi cardiac failure ¬ shock
- Pengeluaran cairan tubuh terbanyak pada 6-8 jam pertama
- Insensible water loss
- komposisi cairan bulla hampir sama cairan plasma
º Eritrosit ¬ rapuh dan pecah karena panas
º Akut renal failure karena : shock, timbunan Hb, dan pecahnya eritrosit
º Cortison release meningkat
º Dapat terjadi curling ulcers pada lambung, akut dilatasi/paralise usus
º Neurogenic shock karena nyeri hebat
º Asfiksia akibat edem laring akibat terhirup udara sangat panas
º Keracunan akut gas CO atau gas toksik lain ¬ anoksia ¬ mati lemas
Gradasi luka bakar
Ditentukan oleh :
1. Luas daerah yang terbakar
2. Tinggi rendahnya temperatur /panas yang membakar tersebut
3. Lamanya kontak dengan kulit
No. 2 dan 3 menentukan dalamnya luka bakar
Rule of Nine untuk menentukan luasnya luka bakar :
Permukaan kepala dan leher 9%
Permukaan dada 9%
Permukaan punggung 9%
Permukaan perut 9%
Permukaan pinggang 9%
Permukaan ekstremitas atas kanan 9%
Permukaan ekstremitas atas kiri 9%
Permukaan ekstremitas bawah kanan 9%
Permukaan ekstremitas bawah kiri 9%
Permukaan alat kelamin 1%
Tingkatan dalamnya luka bakar menurut Boyler (1814) :
Tingkat I : hanya mengenai epidermis
Tingkat IIA : superfisial, mengenai epidermis dan lapisan atas corium
Tingkat IIB : dalam, mengenai epidermis dan lapisan dalam corium
Tingkat III : mengenai seluruh tebal kulit, subcutan, otot dan tulang
Beberapa cara untuk mengetahui dalamnya luka bakar :
Tingkat luka
bakar
Klinis Tusukan
jarum
I Hiperemia Hiperestesi
Roman Forensik Edisi 8 71
IIA Basah, Bulla (+) Hiperestesi
IIB Basah, Bulla , keputihan Hiperestesi
III Kering, putih, hitam Anestesi
Gradasi luka bakar menurut American College of Surgeon :
º Kritis
a. Anak-anak : - luka bakar Tk II > 15%
- luka bakar Tk III > 10%
b. Dewasa : - luka bakar Tk II > 30%
- luka bakar Tk III > 10%
c. Luka bakar Tk III pada tangan, kaki, wajah, atau yang memberi komplikasi
pada tractus respiratorius atau ada fraktur tulang
º Sedang
a. Anak-anak : - luka bakar Tk II (10-15%)
- luka bakar Tk III (2-10%)
b. Dewasa : - luka bakar Tk II (15-30%)
- luka bakar Tk III (2-10%)
º Ringan
a. Anak-anak : - luka bakar Tk II < 10%
- luka bakar Tk III <2%
b. Dewasa : - luka bakar Tk II < 15%
- luka bakar Tk III <2%
Pemeriksaan Kematian Pada Korban Luka Bakar
º Pemeriksaan TKP
Tujuan :
a. Menentukan korban masih hidup/sudah meninggal
b. Menentukan perkiraan saat kematian
c. Menentukan sebab/akibat dari luka bakar
d. Membantu mengumpulkan barang bukti
e. Menentukan cara kematian
º Menentukan apakah korban masih hidup/sudah meninggal ¬ alat yang digunakan
stetoskop dan senter
º Menentukan perkiraan saat kematian, data yang diperlukan :
1. penurunan suhu tubuh
2. lebam mayat
3. kaku mayat
4. tanda-tanda pembusukan
5. umur larva pada jenazah yang sudah membusuk
Pada luka bakar yang dalam dan total, terdapat kesukaran
memperoleh data pada :
Sikap puguilistik pada luka bakar total
Roman Forensik Edisi 8 72
Lebam mayat sulit ditentukan pada korban yang hangus
terbakar
¬ Perlu diketahui jam ditemukan korban meninggal dan jam terakhir korban terlihat
hidup
º Menentukan sebab/akibat dari luka bakar :
1. Luka bakar oleh cairan (scalds)
- Derajat I : berupa kemerahan (hiperemia)
- Derajat II : berupa gelembung berair (vesikula)
¬ disebabkan : siraman air panas, cipratan minyak panas
2. Luka bakar panas (dry heat)
¬ Dapat disebabkan : tersentuh botol panas, terjilat nyala api, pakaian korban
yang terbakar, kejadian kebakaran besar
º Membantu mengumpulkan barang bukti :
o Barang bukti di sekitar lokasi korban diperlukan untuk mengungkapkan lokasi,
sumber, penyebab luka bakar. Dapat juga dinilai dari posisi korban pada waktu
ditemukan dan bagian yang terkena luka bakar.
o Barang bukti dapat berupa : puntung rokok, kompor yang meledak, tangki bensin
yang mudah terbakar, termos, sumber uap panas.
º Cara kematian pada luka bakar
Perlu diperhatikan beberapa hal :
1. Penyakit-penyakit yang mungkin menyebabkan kecelakaan, misal : epilepsi,
hipertensi
2. Keadaan barang-barang di sekitar korban, misal : pada kasus bunuih diri
barang-barang di sekitar korban tidak berantakan
3. Adanya tanda-tanda kekerasan lain selain luka bakar, misal : luka-luka akibat
benda tajam/tumpul yang mungkin terjadi sebelum terbakar.
SEBAB KEMATIAN PADA LUKA BAKAR
1. Syok (hipovolemik maupun neurogenik
2. Infeksi
3. Akut Renal Failure
4. Edema laring
5. Keracunan akut gas CO atau gas-gas toksik yang lain
IDENTIFIKASI KORBAN
- Dilaksanakan pada pemeriksaan TKP maupun pada waktu pemeriksaan jenazah
- Data korban : tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, umur, warna kulit, warna mata
dan rambut
- Tanda pengenal khusus pada tubuh : jaringan parut, tatto
- Simpan potongan kain yang tidak terbakar
- Catat dan simpan barang pribadi milik korban
Roman Forensik Edisi 8 73
- Kumpulkan sampel rambut yang tidak terbakar
- Buat pemeriksaan gigi dan bila mungkin buat sidik jarinya
- Buat pemeriksaan radiologik
- Tentukan golongan darah
OTOPSI PADA KORBAN YANG MENINGGAL KARENA LUKA BAKAR
THERMIK
º Pemeriksaan Luar
a. Kulit : keadaan luka, luas luka, dalam luka
Tanda-tanda reaksi vital: daerah yang berwarna merah pada perbatasan antara daerah
yang terbakar
b. Heat Stiffening
Ditemukan kekakuan pada otot-ototnya ¬ koagulasi protein-protein otot yang terkena
panas
Tidak terjadi rigor mortis
Fleksi pada sensi siku, lutut, paha ¬ Pugillistic attitute
c. Lebam Mayat : sukar dilihat
OTOPSI PADA KORBAN YANG MENINGGAL KARENA LUKA BAKAR
THERMIK
Pemeriksaan Dalam
Tidak ditemukan kelainan yang spesifik
º Sistem Pernafasan :
- Makroskopis : paru menjadi lebih berat dan mengalami konsolidasi
- Kelainan yang sering : edema laringopharing, tracheobronchiolitis, pneumonia,
kongesti paru, edema paru interstitial, ptechiae pada pleura, adanya pigmen
karbon yang melekat pada mukosa saluran nafas
º Jantung : edema interstitial dan fragmentasi miokardium ¬ tidak khas
º Hati : perlemakan hati, bendungan, nekrosis, hepatomegali ¬ tidak khas
º Limpa dan kelenjar getah bening : edema dan nekrosis dari limfoid germinal centre
dan infiltrasi makrofag
º Ginjal : tidak terpengaruh langsung, perubahan yang terjadi akibat dari
komplikasinya Luka bakar fatal ¬ pembesaran ginjal
º Saluran Pencernaan : Curling’s ulcer yang kadang mengalami perforasi
º Kelenjar endokrin
º Thyroid : Berat & aktifitas kelenjar thyroid meningkat
º Thymus : involusi akibat hiperaktifitas kelenjar adrenal
º Adrenal : kenaikan kadar steroid dalam darah dan urin, penimbunan lemak,
bendungan sinusoid pada korteks dan medulla
º Susunan Saraf Pusat
Edema, kongesti, kenaikan tekanan intrakranial, herniasi dari tonsilla serebellum
melewati foramen magnum serta adanya perdarahan intrakranial
º Sistem muskuloskeletal
o Otot, tendo, tulang ¬ jarang terpengaruh
º Fraktur patologis
HYPOTHERMIS
º Sistemik Hypotermi
º Lokal Hypothermi
Pada hypothermy terjadi:
Roman Forensik Edisi 8 74
- Penurunan denyut nadi
- Respiratory rate & tidal volume menurun
- Paralisis usus
- Erosi dan hemoragik pada lambung
- Pankreatitis
- Diuresis
- Hemokonsentrasi
RESUME
Patologis forensik juga disebut penentu cara kematian. Cara kematian diartikan
sebagai gaya dalam terjadinya sebab kematian. 4 cara kematian yaitu alamiah, kecelakaan,
bunuh diri/suicide dan homicide.
Sebab kematian adalah penyakit atau cedera atau luka yang dimulai serangkaian
kejadian yang bertanggung jawab dalam menyebabkan kematian
Mekanisme kematian adalah gangguan atau kelainan fisiologik dan atau biokimia
yang bertanggung jawab terhadap timbulnya kematian.
Trauma penyebab kematian dikelompokkan jadi trauma mekanik, kimiawi, suhu/fisik,
listrik.. Trauma mekanik dibagi kategori tajam dan tumpul. Trauma tumpul dibagi senjata api
dan bukan senjata api. Trauma senjata api dapat dibagi kecepatan rendah dan kecepatan
tinggi. Trauma bedah dibagi trauma penetrasi atau bukan penetrasi. Trauma penetrasi
mencakup luka tembak dan luka tusuk. Trauma bukan penetrasi primer kecelakaan motor atau
terjatuh.
Trauma mekanik
Cedera kekerasan tajam
Trauma mekanik terjadi saat kekerasan fisik melebihi kekuatan regangan
jaringan/kulit saat kekerasan terjadi. Kekerasan tajam menunjukkan cedera dari benda tajam
seperti pisau, pedang, kapak. Factor penting yang benar adalah objek tumpul menghasilkan
laserasi dan objek tajam menghasilkan luka insisi. Sebagai catatan lagi luka tajam pinggir/tepi
luka yang membedakan dengan cedera yang dihasilkan objek tumpul. Kematian dari trauma
tumpul dan tajam melalui berbagai mekanisme, tapi trauma tajam umumnya menyebabkan
kematian dengan perdarahan luar. Artinya pembuluh darah utama arteri pada jantung harus
mengalami kerusakan yang hebat sehingga dapat menyebabkan kematian akibat trauma tajam.
Trauma tumpul
Trauma tumpul dapat menyebabkan kematian umumnya apabila pada jaringan otak
terdapat kerusakan yang jelas. Namun, trauma tumpul dapat merobek jantung dan pembuluh
aorta, yang menyebabkan perdarahan hebat, atau menghasilkan komplikasi lainnya.
Luka tembak
Senjata api akan menghasilkan jenis luka tumpul yang khusus. Luka akibat senjata api
adalah luka umum yang terdapat pada kasus pembunuhan dan bunuh diri pada negara
Amerika Serikat. Luka tembak bisa digolongkan berdasarkan bahan yang digunakan untuk
melontarkan peluru. Bahan yang umum digunakan adalah bubuk mesiu dan bubuk tanpa asap
(nitroselulosa). Namun, penggunaan bubuk mesiu sangat jarang terlihat, karena itu bahan
tanpa asap yang sering digunakan.
Perbedaan lainnya yang dapat dilihat adalah senjata laras panjang dan laras pendek.
Kebanyakan kasus kematian didapatkan pada senjata laras panjang – rifle atau handgun--.
Senjata antik atau shotgun digolongkan pada jenis senjata laras pendek.
Luka bisa dibedakan atas dasar lingkar tengah dari proyektil atau peluru. Umumnya
kombinasi dari ukuran metrik dan Inggris digunakan untuk membedakan jenis senjata yang
digunakan.
Roman Forensik Edisi 8 75
Lebih penting lagi, berdasarkan luka yang dihasilkan, adalah kecepatan dari proyektil
peluru. Kerusakan luka tembak akan bertambah sebagaimana kecepatan peluru bertambah.
Karena itu, terdapat perbedaan kuantitatif antara proyektil berkecepatan tinggi dengan
proyektil berkecepatan rendah. Titik potong antara kecepatan tinggi dan rendah berkisar 300
meter per detik.
Jenis penggolongan yang lain dari luka senjata api ialah dari kemampuan peluru untuk
memberi luka tembus atau luka tidak tembus. Suatu luka yang tidak tembus akan mempunyai
satu luka masuk dan tidak memiliki luka keluar. Sesuai dengan hal ini adalah peluru harus
ditemukan dari setiap luka tak tembus. Suatu luka tembus akan memiliki luka masuk peluru
dan luka keluar. Sejalan dengan hal ini maka tidak akan ditemukan peluru di dalam tubuh.
Ketika suatu senjata ditembakkan, tenaga yang melontarkan peluru adalah gas yang
dihasilkan dari pembakaran cepat dari bubuk mesiu atau bubuk tanpa asap. Dalam hal ini
disinggung hanya bubuk tanpa asap, karena bubuk mesiu jarang digunakan. Untuk
menyalakan bubuk tanpa asap, adalah penting untuk mempunyai media pencetus awal yang
menyalakan api. Pada semua selongsong peluru kecuali pada senjata dengan kaliber 22 (juga
disebut senjata api rim karena media pencetusnya terdapat pada sekeliling selongsong),
pemantik awal adalah sebuah mangkuk kecil yang terdapat pada bagian dalam belakang
selongsong. Menghantam (atau memanaskan) media ini akan menyalakan api, dan kemudian
akan membakar bubuk tanpa asap. Proses pembakaran yang cepat akan menghasilkan
sejumlah besar karbon monooksida, nitrogen dioksida, karbon dioksida dan gas lainnya.
Seberapa jauh masing-masing komponen akan terlontar adalah dasar untuk
menentukan jarak dari laras senjata dengan korban saat senjata api ditembakkan. Produk gas,
termasuk logam berat, dan sejumlah asap dari gas karbon yang tidak terbakar, akan terlempar
hanya beberapa inchi. Efek dari gas akan menghasilkan apa yang disebut dengan luka kontak
langsung dan tidak kontak. Yang terlihat dari penghitaman kulit. Sebagai tambahan, kulit
akan menunjukkan variasi luka robekan karena gas yang mengenai kulit akan merusak
jaringan kulit. Terakhir, karbon monooksida akan bereaksi dengan hemoglobin dan
myoglobin pada luka yang menghasilkan karboksihemoglobin dan karboksimyoglobin.
Senyawa ini akan berwarna merah terang, dibandingkan dengan warna merah gelap dari
hemoglobin dan myoglobin yang normal.
Sebagaimana jarak antara laras dengan kulit bertambah jauh, efek dari gas akan
berkurang dan hanya bubuk yang tidak terbakar dan peluru yang mampu menembus kulit.
Bubuk yang tidak terbakar yang menembus kulit akan menghasilkan semacam tatto atau klem
pada sekitar luka peluru. Luka jenis ini disebut luka tembak dengan jarak intermediat.
Kebanyakan pistol akan menghasilkan klem ini ketika jarak kulit pada laras sekitar setengah
sentimeter sampai satu meter. Pola luka akan membesar saat jarak bertambah jauh. Pada jarak
satu meter, kecepatan bubuk akan melambat sehingga tidak mampu untuk menembus kulit.
Kecepatan 100 meter per detik merupakan kecepatan umum yang dibutuhkan untuk
menghasilkan penetrasi.
Luka dengan jarak tembak yang jauh sedikit mendapat efek dari gas dan bubuk.
Karena luka tembak dengan jarak yang jauh sangat sedikit menimbulkan efek selain dari efek
akibat peluru, jarak tembak susah ditentukan karena pakaian dan benda lain dan menghalangi
efek dari gas dan bubuk. Luka tembak jauh akan sedikit terdapat asap, jelaga dan klem. Suatu
luka tembak jarak jauh yang umum akan memiliki defek kulit yang melingkar dan tanda
mengelupas di sekitar sisinya. Lingkar tengah dari defek kulit akan menunjukkan lingkar
tengah dari peluru yang digunakan, tapi hal ini tidak selalu nyata karena terdapat perbedaan
kecil antara diameter peluru yang umum digunakan oleh masyarakat sipil. Peluru memiliki
berbagai jenis ukuran dari 0,22 inchi sampai 0,45 inchi. Perbedaan 0,2 inchi tidak mudah
untuk dilihat oleh pengamat.
Faktor utama yang menentukan ukuran luka tembak masuk jarak jauh adalah
elastisitas dari kulit. Kulit orang yang lebih muda lebih elastis dari pada kulit orang yang lebih
tua. Kulit yang elastis kerusakannya akan lebih kecil. Luka oleh caliber 0,38 inchi pada orang
berusia 20 tahun mungkin akan terlihat sama pada luka oleh caliber 0,22 atau 0,25 inchi pada
Roman Forensik Edisi 8 76
orang berusia 50 tahun. Secara jelas, untuk memastikan kaliber senjata dari luka kontak tidak
mungkin, karena jenis luka sedikit hubungannya dengan jenis kaliber dalam merobek kulit.
Luka tembak keluar tipe lukanya berupa luka laserasi. Meskipun dalam ilmu
konvensional menyatakan bahwa luka tembak keluar lebih besar dari luka tembak masuk,
namun ini tidak selalu terjadi, sebagaimana dapat terlihat, luka kontak lebih besar dari pada
luka keluar.
Perkiraan kecepatan sebuah peluru keluar bisa dilihat dari tampilan pada luka tembak
keluar. Luka tembak keluar yang tampak kecil dan berbentuk celah dan memiliki sedikit
laserasi kecil pada daerah sekitar memiliki kecepatan yang lambat dan peluru biasanya akan
ditemukan di dekat badan mayat (atau bahkan di pakaian). Sebaliknya, luka tembak keluar
dengan banyak laserasi pada daerah sekitar memiliki kecepatan yang tinggi ; senjata dengan
kecepatan tinggi biasanya ditemukan pada militer dan pemburu dengan senjata panjang.
Luka tembak keluar akan terlindungi atau terhalau jika korban tembak mengenakan
pakaian ketat konstriktif seperti jaket kulit tebal atau pakaian yang terbuat dari kain tenunan
ketat, atau terdapat bahan seperti dinding kering yang dapat ditembus peluru keluar yang akan
melindungi kulit. Dihalaunya luka tembak keluar akan terlihat seperti luka tembak masuk.
Lihat Gambar 4.10 yang cukup mewakili fenomena ini. Sering, tepi abrasi lebih luas dari pada
yang biasanya terlihat pada luka tembak masuk; hal ini dapat membantu dalam membedakan
dua jenis luka tembak. Penting untuk catatan bahwa luka tembak masuk memilki gambaran
unik jika luka tembak masuk dihalangi atau dihalau. Luka tembak masuk akan dihalau oleh
jaringan lunak dan tulang; itulah sebabnya tepi abrasi muncul di sekitar luka tembak masuk.
Kulit ditekan untuk beberapa waktu sebelum peluru menembus bahan menopang, kemudian
hidung peluru menggarut kulit. Jika kulit tidak terlindungi, maka peluru akan merobek kulit
dan abrasi tidak terjadi. Hal tersebut Ini khas pada kasus luka tembak keluar.
Perlindungan luka tembak keluar dan masuk dengan target pertengahan biasanya tidak
yang hanya dapat dilihat. Penting bentukan segi empat panjang dari luka tembak masuk.
Luka tembak masuk secara umum berbentuk lingkaran ketika peluru ditembakkan dari
senapan, karena peluru memutar dengan cepat pada aksis 90 derajat dari tujuannya, bergerak
melalui udara menuju titik pusat arah dari gerakannya.
Perputaran menyebabkan luka tembak masuk pada peluru menjadi bentuk lingkaran
atau mungkin lonjong jika peluru mengenai kulit pada sudut selain 90 derajat. Jika peluru
memasuki bagian tubuh, seperti yang ditunjukkan pada peluru dapat goyang. Peluru tidak
goyang ketika ditembakkan dari senjata yang dibuat dari barel. Peluru akan goyang jika
melewati medium yang lebih pekat daripada udara. Meskipun demikian, peluru yang
memantul atau melewati orang lain sebelum mengenai orang kedua akan goyang. Jika pada
saat masuknya peluru seperti penembakan langsung, itu akan menghasilkan bentuk peluru
tembak masuk. Peluru tembak keluar memiliki pengertian bahwa hal itu disebabkan oleh
peluru yang melewati seseorang.
Luka pada peluru disebabkan karena pembentukan lubang yang sementara saat peluru
melewati tubuh seseorang, kolapsnya lubang, dan gelombang shock pada pembentukan
kolaps. Ketika sebuah peluru mengenai seseorang, ia akan bergerak lebih cepat daripada
kecepatan saat berada di jaringan, sehingga hal itu akan mendorongnya keluar. Jaringan yang
cedera akan memecahkan poin, namun tidak pecah. Ini hanya pecah pada kecepatan yang
lebih lambat daripada perjalanan peluru. Pada kasus kecepatan tinggi pada senjata api yang
panjang dimana keceptannya 1000 meter per detik, peluru akan melewati tubuh seluruhnya
sebelum terjadi proses kerusakan.
Peningkatan kecepatan proyektil dapat menghasilkan jelaga pada luka masuk dan efek
karbon monooksida pada luka keluarnya. Untungnya, untuk menentukan arah, perubahan ini
terdapat pada bagian dalam dari luka keluar. Ketika jaringan akhirnya terkoyak, jaringan ini
akan tertarik menuju kembali menuju tempat luka di mana peluru masuk dan dibelakangnya
dikarenakan adanya elastisitas jaringan dalam menerima peluru berkecapatan tinggi. Retraksi
ini akan menciptakan cavitas sementara yang besarnya akan setingkat dengan energi kinetik
dari peluru. Cavitas kemudian akan secara bertahap kolaps setelah meregang beberapa kali.
Roman Forensik Edisi 8 77
Adanya saluran dari gelombang dan kolaps cavitas sementara akan merusak jaringan di
tempat di mana peluru masuk dan di jaringan sekelilingnya. Besarnya kerusakan yang ada
tergantung dari organ yang ada, tapi bahkan untuk peluru pistol yang relatif lambat,
diperkirakan, umumnya, tiga kali dari diameter peluru. Untuk peluru dari senjata
berkecepatan tinggi, besarnya kerusakan mungkin dapat sepuluh kali lebih besar dari diameter
peluru.
Kerusakan jantung akan menyebabkan penurunan drastis tekanan darah yang terjadi
seketika, dan menurunkan perfusi ke otak. Namun, otak masih akan berfungsi selama 10
sampai 15 detik setelah kehilangan perfusi. Karena itu, seseorang masih masih dapat
menusukan ujung pisau bayonetnya kepada lawannya di dalam 10 sampai 15 detik setelah
ditembak di dadanya. Sebuah luka tembak pada organ yang kurang vital akan lebih
memberikan banyak waktu. Karena itu, konsep dari “stopping power” tidak selalu tepat.
Setiap janis senjata api mempunyai “stoppong power” jika digunakan untuk menembak
seseorang di kepala. Sebaliknya semua jenis senjata api tidak akan memiliki “stopping power”
jika ditembakkan pada bagian selain kepala.
Trauma tumpul lainnya
Contoh trauma tumpul lainnya yang paling sering terdapat pada masyarakat adalah
tabrakan dengan media transportasi, umumnya dengan kendaraan bermotor. Kematian yang
terjadi dari kejadian tersebut umumnya digolongkan dalam kecelakaan. Jarang kasus tabrakan
masuk dalam jenis pembunuhan ataupun bunuh diri.
Umumnya, dengan mengecualikan luka tembak, trauma tumpul pada pembunuhan
pada orang dewasa memerlukan luka yang bersifat mematikan pada kepala. Luka pada daerah
lain jarang menghasilkan kematian. Pada anak-anak, jejas mematikan umumnya karena
trauma kepala, tapi trauma dada dan abdomen dengan adanya robekan dari organ dalam,
seperti limfa, hati dan jantung juga sering ditemui.
Dua istilah lainnya perlu dipelajari. Pertama adalah kontusio. Suatu kontusio adalah
pengumpulan darah pada jaringan di luar jaringan vaskular darah. Umumnya dikarenakan
trauma tumpul yang merusak jaringan cukup hebat untuk menyebabkan kebocoran darah dari
pembuluh darah yang kecil. Suatu konsep penting bahwa pola dari benda yang digunakan
untuk menghantam bisa didapat pada orang yang dihantam. Pola luka semacam itu penting
untuk menentukan tipe benda yang digunakan sebagai senjata.
Istilah penting kedua lainnya ialah hematom. Hematom adalah tumor darah. Hema
berasal dari kata heme, bahasa Latin untuk darah, dan toma adalah bahasa Latin untuk tumor.
Hemtom adalah kontusio dengan lebih banyak darah. Secara khusus, trauma tumpul pada
kepala sering menimbulkan hematom, dikenal dengan istilah “telur angsa”.
Trauma kimia
Kematian dari trauma ini meliputi kematian yang dihasilkan dari penggunaan obat dan
racun. Obat yang umum ditemukan dalam praktisi forensik jarang membunuh secara
langsung, namun berperan dalam sebagai 5% faktor kontribusi dalam trauma kematian. Obat
itu adalah etil alkohol, yang juga disebut ethanol. Ethanol merupakan bahan aktif dalam bir,
anggur, dan minuman yang diawetkan. Ethanol mungkin obat dengan sejarah penyalahgunaan
obat terlama, dan merupakan jenis obat yang sering disalahgunakan pada zaman sekarang.
Alkohol merupakan bahan yang diharamkan oleh agama Islam dan beberapa kepercayaan
Kristiani, tapi pelarangan tidak cukup kuat untuk menghilangkan alkohol sebagai agen
penyebab pada kebanyakan luka trauma.
Alkohol juga dapat membunuh secara langsung. Obat ini merupakan salah satu
pendepresi sistem saraf pusat; bekerja dengan memperlambat reaksi dan komunikasi dari otak
menuju neuron batang otak. Pada kadar rendah intoksikasi, kurang dari 0,03 gram persen dari
kadar alkohol darah, seimbang dengan 330 mililiter bir dengan kandungan ethanol 5 %,
kebanyakan orang akan menyadari akan adanya peningkatan dari waktu reaksi, mungkin
dikarenakan perlambatan dari neuron inhibisi. Pada kadar konsentrasi alkohol darah lebih dari
Roman Forensik Edisi 8 78
0,03 gram persen, menunjukkan adanya penurunan fungsi otak dan perlambatan waktu reaksi.
Pada kadar 0,25 gram persen, seseorang yang belum pernah terekspos dengan ethanol
sebelumnya akan menuju status koma jika tidak dirangsang. Rangsangan akan memicu
kembalinya sejumlah kesadaran. Pada kadar alkohol darah sekitar 0,30 gram persen, orang
tersebut akan masuk dalam koma yang dalam. Dia tidak akan bisa diintervensi dan akan
bernafas cukup pendek untuk kemudian akan meninggal. Kematian akibat kurangnya oksigen
bisa dihasilkan oleh overdosis alkohol. Kematian semacam ini jarang terjadi, dikarenakan
sesorang yang tidak pernah terekspos alkohol akan mulai muntah saat kadar alkhohol
darahnya sekitar 0,10 gram persen dan absorpsi lebih lanjut akan terhenti. Kematian karena
overdosis alkohol umumnya didapat pada suatu kontes di mana peserta harus meminum
minuman keras sebanyak banyak nya. Dengan jumlah besar alkohol, reflek muntah dapat
ditekan sebelum terinisiasi, memicu pada kematian.
Jumlah yang disebutkan di atas untuk penyalahgunaan dari alkohol. Orang yang
mengkonsumsi alkohol dan kebanyakan obat terlarang lainnya membentuk semacam toleransi
yang menyebabkan efek alkohol dalam obat menghilang dalam kadar tertentu. Sebagai
contoh, seseorang dengan konsentrasi alkohol darah lebih dari 0,30 gram persen sering
terlihat pada pengemudi kendaraan.
Penyalahgunaan obat lain selain alkohol menghasilkan kematian umumnya melewati
mekanisme yang sama. Obat semacam ini contohnya barbiturat, diazepam, dan opiat. Obat ini
menghasilkan peningkatan derajat koma diikuti dengan penghentian nafas dan kematian yang
bertahap. Mariyuana adalah sebuah pengecualian untuk penyalahgunaan obat. Mariyuana
tidak menghasilkan kematian lewat suatu proses overdosis. Kokain merupakan pengecualian
lainnya. Kokain merupakan stimulan sistem saraf pusat. Kematian karena kokain lebih jarang
dibandingkan dengan kematian oleh obat depresan. Pada dosis tinggi, kokain menghasilkan
kejang, peningkatan suhu tubuh yang tajam, dan detak jantung yang tidak terkontrol adalah
kumpulan mekanisme keracunan kokain yang telah dilaporkan dapat memicu kematian.
Walau bukan jenis penyalahgunaan obat, karbon monooksida merupakan senyawa
kimia umum yang menghasilkan kematian. Merupakan suatu senyawa tidak berbau, berwarna,
gas hasil proses pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung
karbon. Kematian karena CO mungkin karena kecelakaan, bunuh diri dan pembunuhan.
Sianida merupakan senyawa yang serupa dengan CO melalui intervensinya dengan
oksigenasi otak, bekerja langsung pada enzim mitokondria pada otak. Sianida terdiri dari
karbon dan nitrogen. Seperti CO, sianida juga dapat dihasilkan oleh proses pembakaran, tapi
efeknya dalam menghasilkan kematian tidak begitu berperan. Sianida umumnya terdapat pada
bentuk garam natrium dan potasium yang digunakan secara luas pada industri pengelatan dan
pemurnian logam. Sianida mempunyai bau yang khas. Baunya seperti kacang almond dan
adapat dideteksi dalam jumlah yang sedikit seperti satu bagian per sejuta atau 0,00001 persen
oleh orang yang telah ahli dalam melacak sianida. Sayangnya, tidak sebanyak 50 persen dari
populasi yang mampu mencium sianida. Patologis forensik mampu mencium sianida atau
memperkerjakan seseorang yang mampu menciumnya. Seorang patologis yang membuka
rongga perut dari korban yang melakukan bunuh diri dengan menelan potasium sianida dapat
terbunuh oleh adanya gas yang dilepaskan.
Trauma suhu
Kontak dengan panas yang berlebihan ataupun dingin dapat menghasilkan kematian.
Hipotermia merupakan suhu\dingin yang berlebihan;hipertermia adalah panas yang
berlebihan. Kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan kematian melalui kerusakan pada
mekanisme normal yang menjaga suhu tubuh sekitar 37 derajat celcius. Dalam kedua jenis
kematian, beberapa tanda-tanda nyata dapat ditemukan pada autopsi untuk memberikan
diagnosis pasti yang menyebabkan kematian. Ketidaadaan permintaan diagnosis pada
penyebab lain kematian pasangan dengan riwayat terpapar pada lingkungan baik hipertemia
maupun pada hipotermia diharapkan.
Roman Forensik Edisi 8 79
Kematian akibat hipotermia umumnya terjadi pada individu yang mabuk alkohol dan
terkena suhu dingin. Suhu udara hanya 5 derajat celcius (41 derajat Fahrenheit) telah
dilaporkan menyebabkan kematian akibat hipotermia. Keracunan alkohol mengurangi respon
terhadap dingin dengan meningkatkan hilangnya panas tubuh karena dilatasi pembuluh darah
di permukaan tubuh.
Kematian akibat hipertermia umumnya terjadi pada orang tua di kota-kota utara dan
pada bayi tertinggal di parkir mobil akibat gelombang panas. Kemampuan untuk
mempertahankan homeostasis menurun pada usia lanjut. Pemanasan dilakukan pada
hipotermia dan kematian sering tidak terlihat di populasi orang usia lanjut, meskipun
kelompok ini adalah rentan. Namun, di negara-negara utara, unit dweling tua sering
kekurangan AC, dan gelombang panas sering dikaitkan dengan sejumlah besar kematian
orang tua. Anak kecil yang yang berada di mobil yang tertutup sangat rentan terhadap
hipertermia. Suhu di dalam sebuah mobil di bawah sinar matahari dapat melebihi 60 derajat
celcius (140 derajat Fahrenheit) dan dapat berakibat fatal pada 10 menit.
Luka bakar termal disebabkan oleh hipertermia lokal. Secara umum, suhu di atas 65
derajat celcius (150 derajat Fahrenheit) akan menghasilkan luka bakar termal pada kontak
langsung dengan obyek selama beberapa menit. Kematian akibat panas terjadi dalam berbagai
situasi, dari paparan cairan panas untuk luka bakar maupun dari hidrokarbon. Kematian akibat
luka bakar biasanya tidak langsung terjadi dan timbul dari komplikasi setelah perawatan
medis. Mekanisme kematian umumnya kegagalan organ multipel.
TRAUMA ELEKRIK
Aliran listrik melalui seseorang dapat menghasilkan kematian oleh sejumlah
mekanisme yang berbeda. Jika rangkaian arus bolak balik (AC) pada tegangan rendah (di
bawah 1000 volt) melintasi jantung, maka akan mengalami fibrilasi ventrikel, bergetar secara
nonpropulsive kemudian tidak dapat diresusitasi dalam beberapa menit. Fibrilasi jantung
karena AC bertindak sebagai alat pacu jantung. AC di Amerika alternatif dari positif ke
negatif 3.600 kali per menit (2500 kali per menit di Eropa). Fibrilasi ventrikel menghasilkan
sekitar 300 quivers per menit,. tegangan rendah mungkin atau tidak menghasilkan listrik
Terbakar, tergantung lamanya paparan dengan sirkuit. Paparan dalam waktu yang lama
diperlukan untuk menghasilkan suatu luka bakar.
ASFIKSIA
Klasifikasi trauma mekanik terbatas pada kematian karena asfiksia tumpang tindih
dengan sebab lain, kematian karena asfiksia disebabkan gangguan oksigenasi di otak. Asfiksia
ini dapat terjadi dari sebab mekanik (strangulasi), sebab kimiawi (racun sianida), sebab listrik
(listrik tegangan rendah)
Tenggelam adalah kematian akibat sesak napas dari perendaman di dalam air atau
cairan lain. Beberapa kematian akibat terendam terjadi bukan akibat asfiksia namun karena
hipotermi. Paparan pada seseorang dengan suhu air di bawah 20 derajat celcius (68 derajat
Fahrenheit) akan mengakibatkan kematian akibat hipotermia setelah paparan berjam-jam.
Paparan terhadap suhu air mendekati 0 derajat Celcius (32 derajat Fahrenheit) akan
menghasilkan kematian dalam hitungan beberapa menit. Korban tenggelam meninggal
sebagai akibat dari asfiksia, suatu gangguan oksigenasi pada otak. Seseorang biasanya
berusaha untuk menjaga kepalanya di atas air sehingga ia dapat terus menghirup udara. Ketika
hal ini menjadi sulit, ia akan berjuang untuk mempertahankan jalan napas, dan hal ini
meningkatkan kebutuhan oksigen. Menghirup air akan meningkatkan kepanikan. Air yang
masuk ke bagian belakang tenggorokan secara refleks akan tertelan. Hai ini akan
mentransmisikan suatu tekanan negatif yang berkaitan dengan terhirupnya air ke telinga
bagian tengah melalui tabung Eustachius yang terbuka saat menelan. Air yang tertelan akan
masuk kedalam perut. Upaya lebih lanjut untuk bernapas menyebabkan air masuk ke saluran
napas atas, memicu batuk dan inhalasi refleks tambahan. Ketika air memasuki saluran udara
kecil, dinding-dinding otot napas akan kejang, sehingga melindungi alveoli atau kantung-
Roman Forensik Edisi 8 80
kantung udara kecil dari apapun yang masuk kecuali udara. kejang yang terjadi setara dengan
serangan akut asma yang parah dengan terperangkapnya udara di paru-paru. Kehilangan
kesadaran umumnya terjadi dalam 1 sampai 2 menit awal perjuangan untuk bernapas,
meskipun mungkin kesadaran dapat terjadi lebih lama jika udara segar dapat diperoleh.
Kehilangan kesadaran dapat diikuti oleh upaya paksa inhalasi dan muntah. Henti jantung
terjadi beberapa menit kemudian. Ketika jantung kembali berdetak, tekanan yang dihasilkan
jantung pada sirkulasi paru akan meningkat pesat dan bagian kanan dari jantung akan
terdilatasi dari peningkatan tekanan jantung dan myungkin akibat dari peningkatan volume
darah akibat terabsorpsinya air dari paru.
Yang dapat ditemukan pada otopsi korban tenggelam sangat tergantung dari apakah
tenggelam tersebut mengikuti kejadian-kejadian yang telah disebutkan diatas. Jika saat masuk
ke air seseorang telah mengalami penurunan kesadaran, banyak tanda dari kepanikan yang
menjadi tidak terlihat karena seseorang yang telah mengalami penurunan kesadaran tidak
bisa menjadi panik.
Kepanikan terjadi akibat pengiriman tekanan negatif dari saluran napas bagian atas ke
telinga tengah. Tekanan negatif bersama-sama dengan perubahan asfiksia lain dalam hasil
faktor pembekuan darah di perdarahan ke dalam sinus mastoideus. Selain itu, air dan bahan
dalam air akan ditemukan di sinus frontal, ethmoidal dan di perut.
Paru-paru akan menjadi hiperinflasi sebagai akibat dari spasme otot yang melindungi
alveoli. Paru-paru pada umumnya akan lebih berat dari biasanya, karena penambahan air yang
teraspirasi dan cairan yang terakumulasi di paru pada seluruh asfiksia.
Organisme uniseluler kecil yang disebut diatom ditemukan di hampir seluruh air
segar dan air garam di dunia. Organisme ini memiliki silika pada dinding selnya sehingga
dengan demikian dapat melawan degradasi oleh asam. Pada tahap akhir dari tenggelam, air
yang teraspirasi dan mengandung diatom adalah disirkulasikan oleh jantung yang masih
berdetak ke semua organ. Diatome tidak selalu ditemukan di sumsum tulang. Jadi,
mengeluarkan sumsum tulang, mencampurnya dengan asam kuat, dan memeriksanya di
bawah mikroskop untuk mencari diatom dapat memastikan kasus tenggelam. Sejak di air
terdapat berbagai jenis diatom pada daerah yang berbeda dan waktu yang berbeda, maka
dapat dimungkinkan untuk menentukan waktu dan tepat pada kasus tenggelam dengan
mengidentifikasi diatom. Teknik ini terutama berguna jika tubuh telah terdekomposisi dan
kaku.
Asfiksia dapat diakibatkan berbagai sebab termasuk strangulasi manual (dengan
tangan) dan strangulasi akibat ikatan. Strangulasi manual menyempitkan saluran nafas dengan
menekan leher. Banyak tulisan mengenai penemuan adanya fraktur dari tulang hyoid pada
strangulasi manual. Sebenarnya, hal ini relatif jarang dan terlihat terutama pada wanita tua
yang menderita osteoporosis yang mengakibatkan fraktur pada tulang hyoid menjadi lebih
mudah. Gambar 4.17 menunjukkan fraktur tulang hyoid. Perhatikan perdarahan sekitar tempat
fraktur. Hal ini sangat penting untuk diketahui, karena patahnya tulang hyoid sangat mudah
terjadi ketika mengeluarkan saat pemeriksaan berlangsung. Jika fraktur terjadi dan tidak ada
perdarahan, berarti faktur terjadi setelah kematian.
Hal lain yang lazim ditemukan pada strangulasi manual adalah fraktur dari kornu pada
kartilago tiroid. Kornu tersebut terletak di laring atau pita suara dan di depan dari tulang
belakang bagian leher. Jika kerongkongan ditekan untuk mencegah mengalirnya air, kornu
akan dipaksa tertekan kearah belakang mengenai tulang belakang. Hal lain yang lazim
ditemui ialah perdarahan pada otot di leher. Otot – otot tersebut bersama – sama disebut otot
yang terikat (strap) dan dapat mengalami memar akibat strangulasi manual.
Strangulasi akibat ikatan baik yang disebabkan oleh penggantungan ataupun
penjeratan, tidak melibatkan fraktur hyoid, fraktur kornu kartilago tiroid ataupun perdarahan
otot – otot pada leher. Secara umum, hal yang sering ditemukan ialah asfiksia dan adanya
bekas jeratan di leher.
Saat seseorang meninggal ada sejumlah perubahan yang terjadi yang dapat digunakan
untuk memperkirakan saat kematian : rigor mortis, livor mortis, dan algor mortis.
Roman Forensik Edisi 8 81
Rigor mortis adalah kekakuan otot yang terjadi setelah kematian seseorang. Hal ini
terjadi reaksi kimiawi saat glikogen normal ditemukan dalam otot digunakan berlebihan
sesaat kematian dan tidak dibentuk kembali. Rigor mortis umumnya dipertahankan sampai
periode 24 jam hingga 36 jam setelah kematian.
Livor mortis adalah perubahan warna tubuh yang terjadi akibat pengendapan sel darah
merah setelah sirkulasi darah berhenti. Ini dapat dilihat beberapa menit setelah kematian,
dimana sel darah merah meningkat mengendap karena infeksi atau penyakit lain. Umumnya
warna kulit seseorang livor mortis adalah livid/kebiruan. Dapat dilihat satu jam atau sesaat
setelah kematian. Pada beberapa individu kulit hitam, mungkin tidak terlihat kebiruan. Jika
seseorang meninggal dan kehilangan darah dalam volume banyak, kebiruan mungkin juga
tidak terlihat. Kebiruan jadi lengkap , maksudnya dengan penekanan tidak hilang yaitu 12 jam
setelah kematian. Kebiruan lambat laun hilang dengan pemisahan setelah 36 jam.
Algor mortis adalah dingin setelah kematian. Dengan menekan dengan ibu jari dekat
tubuh yang telanjang suhu sekitar 18
o
C, ke 20
o
C. 1,5
o
C suhu tubuh akan turun tiap jam untuk
8 jam pertama. Suhu tubuh normal 37
o
C, jadi jika tubuh meninggal 4 jam suhu tubuh akan
jadi 31
o
C.
STUDI KASUS
Kasus 1
Seorang polisi dipanggil oleh seorang pria yang mengatakan bahwa ia menembak
tetangganya. Dia menceritakan pada polisi bahwa tetangganya menyerang dia dengan sebilah
pisau saat ia sedang menggendong anak bayinya. Dia mengatakan bahwa dia merasa diri dan
anaknya terancam, sehingga ia mengambil senjata apinya, dan menembak tetangganya hingga
meninggal. Pegawai toko di seberang jalan tempat kejadian yang mendengar percekcokan
keduanya juga menyatakan hal yang sama dengan cerita si penembak. Kakak laki-laki si
penembak yang datang ke tempat kejadian sesaat setelah percekcokan terjadi juga
menyatakan hal yang sama.
Keluarga korban meminta saya untuk menilik kembali kasus tersebut untuk
menentukan apa yang terjadi. Keluarga korban tidak senang dengan jaksa yang tidak
menuntut si penembak. Saya meninjau foto-foto tempat kejadian, foto autopsy, dan laporan
autopsy, dan setelah itu pergi ke tempat kejadian. Disana, ditemukan lobang peluru, namun
tidak terdapat darah. Gambar 4.19 dan 4.20 menunjukkan lubang peluru di lorong beberapa
bulan setelah penembakan. Gambar 4.21 menunjukkan tubuh korban yang terbaring ketika
polisi datang.
Penembakan dikatakan terjadi di tempat rendah, namun lubang peluru terdapat di
tangga atas. Seperti yang akan didiskusikan di bab berikutnya, bahwa penentuan jarak antara
senjata dan orang yang ditembak dapat dipastikan. Pada korban terdapat dua tembakan senjata
api – yang satu jarak jauh dan yang lain jarak dekat. Dengan demikian, jarak penggunaan
senjata ialah lebih dari 3 kaki untuk tembakan yang pertama dan kemudian ditembakkan lagi
beberapa inci lebih jauh dari tembakan pertama.
Hal lain yang dapat ditentukan ialah arah peluru yang mengenai tubuh dan organ
dalam. Satu tembakan mengenai sisi samping abdomen. Hal tersebut tidak mengenai arteri
utama dan keluar dari tubuh pada sisi yang lain. Peluru mengenai dinding dan merupakan
tembakan jarak jauh. Tembakan jarak dekat mengenai belakang kepala. Pelurunya
menyebabkan pergeseran otak dari depan ke belakang dan sedikit ke atas.
Hal lain yang penting diketahui dari luka tembak ialah lama waktu antara luka dan
pingsannya korban. Luka tembak abdomen yang tidak mengenai pembuluh utama dapat
memberikan efek dalam hitungan jam, hari atau bahkan lebih. Luka tembak di belakang
kepala yang menyebabkan pergeseran otak akan mengakibatkan koma dalam waktu singkat.
Pada kasus ini, bukti fisik menyangkal pengakuan dari si penembak. Tembakan di
abdomen merupakan tembakan pertama. Si penembak dalam posisi berdiri ketika
menembakkan senjatanya yang mengakibatkan lubang di dinding. Tembakan pertama
Roman Forensik Edisi 8 82
ditembakkan dari jarak lebih dari 3 kaki, yangmana dalam hal ini bukan merupakan jarak
yang tergolong cukup dekat untuk dapat menyebabkan ancaman dengan menggunakan pisau
bagi si penembak. Tembakan kedua merupakan efek yang terjadi akibat korban berusaha
untuk melarikan diri melalui tangga sehingga terkena di belakang kepala.
BAB VIII
ABORSI
DEFINISI
Peristilahan aborsi sesungguhnya tidak kita temukan pengutipannya dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP). Dalam KUHP hanya dikenal istilah pengguguran
kandungan. Istilah “aborsi” yang berasal dari kata abortus bahasa latin, artinya “kelahiran
sebelum waktunya”. Sinonim dengan kata itu mengenal istilah “kelahiran yang premature”
atau miskraam (Belanda), keguguran.
Abortus berdasarkan definisi medis adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum
janin dapat hidup diluar kandungan. Anak baru mungkin hidup di luar kandungan kalau
beratnya telah mencapai 1000 gram atau umur kehamilan 28 minggu. Ada yang mengambil
Roman Forensik Edisi 8 83
batas abortus bila berat anak kurang dari 500 gram, setara dengan umur kehamilan 22
minggu. Berdasarkan variasi berbagai batasan yang ada tentang usia / berat lahir janin viable
(yang mampu hidup di luar kandungan), akhirnya ditentukan suatu batasan abortus sebagai
pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau usia kehamilan 20
minggu.(terakhir, WHO/FIGO 1998 = 22 minggu).
Dari aspek kedokteran forensik yang diartikan dengan keguguran kandungan adalah
pengeluaran hasil konsepsi pada setiap stadia perkembangannya sebelum masa kehamilan
yang lengkap tercapai (38-40 minggu). Dari segi medikolegal maka istilah abortus,
keguguran, dan kelahiran prematur mempunyai arti yang sama dan menunjukkan pengeluaran
janin sebelum usia kehamilan yang cukup.
KLASIFIKASI
Secara garis besar abortus dapat di bagi dalam 2 kelompok, yaitu:
1. Abortus dengan penyebab yang wajar (abortus spontanea), yaitu abortus yang terjadi
dengan sendirinya, disebut juga keguguran.
2. Abortus yang sengaja dibuat (abortus provokatus/induksi abortus), yaitu abortus disengaja
atau digugurkan, merupakan 80 % dari semua kasus abortus. Abortus yang disengaja ini
dapat bersifat murni medisinalis, tetapi dapat pula bersifat medisinalis kriminalis
tergantung dari pelaku abortusnya yang dapat dibedakan antara :
1. abortus provokatus medisinalis (terapeutik) atau legal abortion yaitu abortus yang
dilakukan atas indikasi medis, dilakukan oleh tenaga yang terdidik khusus untuk
melakukannya dengan baik dan bukan dilakukan untuk mempertahankan nama baik
atau kehormatan keluarga. Biasanya dengan alat-alat dengan alasan bahwa kehamilan
membahayakan dan dapat membawa maut bagi ibu contohnya ibu dengan penyakit
jantung, hipertensi, kanker leher rahim, dan lain-lain.
2. abortus provokatus kriminalis yaitu abortus yang dilakukan tanpa indikasi medis.
Dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dilakukan oleh tenaga yang umumnya tidak
terdidik khusus, termasuk oleh wanita hamil itu sendiri. Ini disebut juga illegal
abortion.
ABORTUS PROVOKATUS ATAS INDIKASI MEDIS
Umumnya setiap negara ada undang-undang yang melarang abortus buatan, tetapi larangan
ini tidaklah mutlak sifatnya. Di Indonesia berdasarkan undang-undang, melakukan abortus
buatan dianggap suatu kejahatan. Akan tetapi abortus buatan sebagai tindakan pengobatan,
apabila itu satu-satunya jalan untuk menolong jiwa dan kesehatan ibu serta sunguh-sungguh
dapat dipertanggung jawabkan dapat dibenarkan dan biasanya tidak dituntut. Indikasi medis
akan berubah-ubah menurut perkembangan ilmu kedokteran. Di negara Swedia, Swiss, dan
beberapa negara lainnya, membenarkan indikasi yang bersifat sosial medis, humaniter, dan
egenetis, bukan semata-mata untuk menolong ibu, tetapi juga dengan pertimbangan
keselamatan anak, jasmani, dan rohani.
Walaupun beberapa ahli telah banyak berdebat tentang kemungkinan perluasan indikasi
medik, namun sampai saat ini di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah
demi menyelamatkan nyawa ibu. Jadi tidak dibenarkan melakukan abortus atas indikasi :
o Ekonomi
o Etnis : baik akibat perkosaan atau akibat hubungan diluar nikah.
o Sosial : kuatir adanya penyakit turunan, janin cacat.
Roman Forensik Edisi 8 84
Indikasi melakukan abortus terapeutik:
1. Faktor kehamilannya sendiri
o Ectopic pregnancy yang terganggu
o Abortus yang mengancam disertai dengan perdarahan yang terus-menerus, atau jika
janin telah meninggal (missed abortion).
o Mola hydatidosa
o Kelainan plasenta
2. Penyakit diluar kehamilannya :
o Karsinoma cervix uteri
o Karsinoma mammae yang aktif
3. Penyakit sistemik ibu :
o Preeklampsia/Eklampsia
o Penyakit jantung organik disertai dengan kegagalan jantung
o Penyakit ginjal
o Diabetes melitus berat
o Gangguan jiwa, disertai kecenderungan untuk bunuh diri. Pada kasus seperti ini
sebelum melakukan tindakan abortus harus berkonsultasi dengan psikiater.
Dalam melakukan tindakan abortus atas indikasi medik, seorang dokter perlu mengambil
tindakan-tindakan pengamanan dengan mengadakan konsultasi pada seorang ahli kandungan
yang berpengalaman dengan syarat:
(1) Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk
melakukannya (yaitu seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan) sesuai
dengan tanggung jawab profesi.
(2) Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain, agama, hukum, psikologi).
(3) Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga terdekat.
(4) Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga / peralatan yang memadai, yang
ditunjuk pemerintah.
(5) Prosedur tidak dirahasiakan.
(6) Dokumen medik harus lengkap.
ABORTUS PROVOCATUS CRIMINALIS
Aborsi kriminal adalah kerusakan atau pengguguran janin dari rahim ibu oleh orang lain
secara paksa, yaitu, jika tidak ada indikasi terapeutik untuk operasi. Kejahatan ini dinyatakan
sebagai tindak pidana jika aborsi yang dilakukan berakibat fatal. Jika wanita tersebut
meninggal akibat prosedur yang dilakukan oleh aborsionis dan orang lain yang berkaitan
dengan kejahatan tersebut, seperti ahli anestetik atau perawat, akan dituntut dengan pasal
pembunuhan. Bahkan saudara atau teman yang menemaninya ke aborsionis dinyatakan
bersalah sebagai rekan kejahatan, jika dapat dibuktikan bahwa orang tersebut mengetahui
tujuan kunjungannya. Hukum menekankan pada maksud-maksud ilegal di balik tindakan dan
tentang semua hal yang berhubungan dengan kejahatan sebagai prinsip-prinsip kesalahan.
Yang termasuk dalam kategori ini adalah individu yang memberi anjuran dan meresepkan
obat-obatan, atau berusaha menggugurkan kandungan dengan cara lain; jika terjadi kematian
akibat tindakannya, mereka dinyatakan bersalah oleh hukum.
Tidak ada perbedaan hukum untuk pengguran fetus pada awal kehamilan atau pada akhir
masa kehamilan, karena keduanya disebut aborsi. Dalam sebagian besar yuridiksi, fetus pada
awal kehamilan sebelum digugurkan dinyatakan memiliki kehidupan yang sama dengan fetus
Roman Forensik Edisi 8 85
pada akhir masa kehamilan. Aborsi yang dilakukan pada awal masa kehamilan sama
bersalahnya dengan yang dilakukan pada akhir masa kehamilan.
Mengenali Tindakan Abortus Provocatus
Abortus provocatus yang dilakukan menggunakan berbagai cara selalu mengandung resiko
kesehatan baik bagi si ibu atau janin. Seorang dokter perlu mengenali kelainan yang dapat
timbul akibat pelbagai macam cara yang digunakan untuk melakukan pengguguran kriminal
ini agar benar-benar dapat membantu secara maksimal pihak penyidik.
Kekerasan mekanik lokal dapat ditakukan dari luar maupun dari dalam. Kekerasan dari luar
dapat dilakukan sendiri oleh si ibu atau oleh orang lain, seperti melakukan gerakan fisik
berlebihan, jatuh, pemijatan/pengurutan perut bagian bawah, kekerasan langsung pada perut
atau uterus, pengaliran listrik pada serviks dan sebagainya.
Kekerasan dapat pula 'dari dalam' dengan melakukan manipulasi vagina atau uterus.
Manipulasi vagina dan serviks uteri, misalnya dengan penyemprotan air sabun atau air panas
pada portio; aplikasi asam arsonik, kalium permanganat pekat, atau iodium tinctuur;
pemasangan laminaria stift atau kateter ke dalam serviks; atau manipulasi serviks dengan jari
tangan. Manipulasi uterus, dengan melakukan pemecahan selaput amnion atau dengan
penyuntikan ke dalam uterus.
Pemecahan selaput amnion dapat dilakukan dengan memasukkan alat apa saja yang cukup
panjang dan kecil melalui serviks. Penyuntikan atau penyemprotan cairan biasanya dilakukan
dengan menggunakan Higginson type syringe, sedangkan cairannya adalah air sabun,
desinfektan atau air biasa/air panas. Penyemprotan ini dapat mengakibatkan emboli udara.
Obat/zat tertentu, racun umum digunakan dengan harapan agar janin mati tetapi si ibu cukup
kuat untuk bisa selamat.
Pernah dilaporkan penggunaan bahan tumbuhan yang mengandung minyak eter tertentu yang
merangsang saiuran cerna hingga terjadi kolik abdomen, jamu perangsang kontraksi uterus
dan hormon wanita yang merangsang kontraksi uterus melalui hiperemi mukosa uterus.
Hasil yang dicapai sangat bergantung pada jumlah (takaran), sensitivitas individu dan keadaan
kandungannya (usia gestasi).
Bahan-bahan tadi ada yang biasa terdapat dalam jamu peluntur, nenas muda, bubuk beras
dicampur lada hitam, dan lain lain. Ada juga yang agak beracun seperti garam logam berat,
laksans dan lain lain; atau bahan yang beracun, seperti strichnin, prostigmin, pilokarpin,
dikumarol, kina dan lain lain.
Kombinasi kina atau menolisin dengan ekstrak hipofisis (oksitosin) ternyata sangat efektif.
Akhir-akhir ini dikenal juga sitostatika
Teknik-Teknik Aborsi pada klinik aborsi :
1. Dilatasi Dan kuret (D & C)
2. MR (Kuret dengan penyedotan)
3. Peracunan dengan menyuntikan larutan garam pekat
4. Penguguran dengan mengunakan kimia protaglandin
5. Operasi bedah kaisar/histerotomi
6. D&X (Intact dilatation & extraction = partial birth abortion)
CARA-CARA ABORTUS
Roman Forensik Edisi 8 86
Cara-cara yang dipakai untuk melakukan abortus atas indikasi medik adalah:
1. Vaginal
- Ketuban dipecah
- Dilatasi cervix uterus
- Injeksi 10 unit oxytocin intra-uterin
2. Abdominal : Sectio Caesarea
Cara-cara melakukan abortus criminalis :
1. Mengunakan obat-obatan yang diminum
2. Menggunakan kekerasan mekanik (umum dan lokal)
3. Dilatasi dan kuretasi, biasanya hal ini hanya dilakukan oleh dokter atau bidan.
Obat-obatan
Biasanya obat-obatan yang diberikan per-oral tidak menyebabkan abortus kecuali diberikan
dalam jumlah besar sehingga bersifat toksik kepada wanita hamil tersebut.Patut diingat tidak
ada satupun obat/kombinasi obat peroral yang mampu menyebabkan rahim yang sehat
mengeluarkan isinya tanpa membahayakan jiwa wanita yang meminumnya. Karena itulah
seorang “abortir profesional” tidak mau membuang-buang waktu/mengambil resiko
melakukan abortus dengan menggunakan obat-obatan. Klasifikasi obat-obat yang digunakan
adalah :
1. Obat yang bekerja langsung pada uterus
o Echolics (golongan obat yang meningkatkan kontraksi uterus).
o Emmenagagonum (merangsang terjadinya menstruasi. Untuk menyebabkan abortus
harus diberikan dalam dosis yang besar dan berulang).
2. Obat-obat yang menimbulkan kontraksi GIT.
o Yang paling sering digunakan adalah emetik tartar.
o Castrol oil; magnesium sulfate / sodium sulfate
3. Obat yang bersifat racun sistemik
o Racun tumbuhan (buah pepaya yang masih mentah, buah nenas yang masih mentah,
madar juice, Buah Daucus carota).
o Racun logam (yang paling sering digunakan adalah cairan timah yang mengandung
oksida timah dan minyak zaitun).
Kekerasan Mekanik
Tindakan kekerasan yang bersifat umum :
o Penekanan pada abdomen, misalnya pukulan, tendangan
o Menggunakan ikatan yang kencang pada bagian abdomen.
o Latihan olahraga yang keras misalnya bersepeda, meloncat, menunggang kuda,
mendaki gunung, berenang, naik turun tangga.
o Mengangkat barang-barang berat.
o Pemijatan uterus melalui dinding abdomen.
Tindakan kekerasan yang bersifat lokal :
o Merobek selaput amnion, yaitu dengan memasukkan benda tajam seperti kateter,
jarum, dll kedalam rongga uterus.
o Pernggunaan ganggang laminaria yang diamternya berukuran 0,4 - 0,5 cm. Ganggang
ini direndam dalam air dan dimasukkan kedalam ostium uteri. Dengan demikian akan
menyebabkan robeknya selaput amnion dan terjadi abortus.
o Stik abortus, yaitu berupa potongan kayu yang dibungkus dengan kain, kemudian
dicelupkan kedalam madar juice, arsen atau phelavai juice dan dimasukkan kedalam
ostium uteri. Hal ini akan menyebabkan kontraksi uterus dan abortus.
o Menyalurkan listrik tegangan rendah, menyebabkan kontraksi uterus dan
mengeluarkan hasil konsepsi.
Roman Forensik Edisi 8 87
Pemeriksaan Kasus Abortus
Korban hidup
Pada korban hidup perlu diperhatikan tanda kehamilan misalnya perubahan pada payudara,
pigmentasi, hormonal, mikroskopik dan sebagainya. Perlu pula dibukti adanya usaha
penghentian kehamilan, misalnya tanda kekerasan pada genitalia interna/eksterna, daerah
perut bagian bawah.
1. Ibu
1. Tanda-tanda kehamilan
- striae gravidarum
- uterus yang membesar
- hiperpigmentasi aerola mammae
2. Tanda-tanda partus
- ditemukan cairan
- bercak darah pada vagina
- vagina yang longgar
- laserasi dan luka yang terdapat pada vagina
- serviks membuka, bisa terdapat dan bisa juga tidak terdapat robekan.
3. golongan darah
2. Janin
1. umur janin
2. golongan darah janin
Korban mati
Temuan autopsi pada korban yang meninggal tergantung pada cara melakukan abortus serta
interval waktu antara tindakan abortus dan kematian. Abortus yang dilakukan oleh ahli yang
terampil mungkin tidak meninggalkan bekas dan bila telah berlangsung satu hari atau lebih,
maka komplikasi yang timbul atau penyakit yang menyertai mungkin mengaburkan tanda-
tanda abortus kriminal.
Lagi pula selalu terdapat kemungkinan bahwa abortus dilakukan sendiri oleh wanita yang
bersangkutan. Pada pemeriksaan jenazah, TEARE (1964) menganjurkan pembukaan abdomen
sebagai langkah pertama dalam autopsi bila ada kecurigaan akan abortus kriminalis sebagai
penyebab kematian korban.
Pemeriksaan luar dilakukan seperti biasa sedangkan pada pembedahan jenazah, bila
didapatkan cairan dalam rongga perut, atau kecurigaan lain, lakukan pemeriksaan
toksikologik.
Uterus diperiksa apakah ada pembesaran, krepitasi, luka atau perforasi. Lakukan pula Tes
emboli udara pada vena kava inferior dan jantung. Periksa alat-alat genitalia interna apakah
pucat, mengalami kongeti atau adanya memar. Uterus diiris mendatar dengan jarak antar
irisan 1 cm untuk mendeteksi perdarahan yang berasal dari bawah.
Ambil darah dari jantung (segera setelah tes emboli) untuk pemeriksaan toksikologilk. Ambil
urin untuk tes kehamilan / toksikologik dan pemeriksan organ-organ lain dilakukan seperti
biasa.
Pemeriksaan niikroskopik meliputi adanya sel trofoblas yang merupakan tanda kehamilan,
kerusakan jaringan yang merupakan jejas/tanda usaha penghentian kehamilan. Ditemukannya
sel radang PMN menunjukkan tanda intravitalitas.
Pemeriksaan post mortem abortus criminalis bertujuan :
o Mencari bukti dan tanda kehamilan
o Mencari bukti abortus dan kemungkinan adanya tindakan kriminal dengan obat-obatan
atau instrumen.
o Menentukan kaitan antara sebab kematian dengan abortus.
Roman Forensik Edisi 8 88
o Menilai setiap penyakit wajar yang ditemukan.
Pemeriksaan Ibu :
1. Pemotretan sebelum memulai pemeriksaan
Identifikasi umum
o Tinggi badan, berat badan, umur. Pakaian; cari tanda-tanda kontak dengan suatu
cairan, terutama pada pakaian dalam.
o Catat suhu badan, warna dan distribusi lebam jenasah.
o Periksa dengan palpasi uterus untuk kepastian adanya kehamilan.
o Cari tanda-tanda emboli udara, gelembung sabun, cairan pada :
- arteri coronaria
- ventrikel kanan
- arteri pulmonalis
- arteri dan vena di permukaan otak
- vena-vena pelvis
o Vagina dan uterus di-insisi pada dinding anterior untuk menghindari
jejas, kekerasan yang biasanya terjadi pada dinding posterior misalnya perforasi
uterus. Cara pemeriksaan: uterus direndam dalam larutan formalin 10% selama 24
jam, kemudian direndam dalam alkohol 95% selama 24 jam, iris tipis untuk melihat
saluran perforasi. Periksa juga tanda-tanda kekerasan pada cervix uteri (abrasi,
laserasi).
o Ambil sampel semua organ untuk menilai histopatologis.
o Buat swab dinding uterus untuk pemeriksaan mikrobiologi.
o Ambil sampel untuk pemeriksaan toksikologis :
- isi vagina
- isi uterus
- darah dari vena cava inferior dan kedua ventrikel
- urin
- isi lambung
- rambut pubis
Pemeriksaan janin
- Umur janin
- Golongan darah
Pemeriksaan toksikologik dilakukan untuk mengetahui adanya obat/zat yang dapat
mengakibatkan abortus. Perlu pula dilakukan pemeriksaan terhadap hasil usaha penghentian
kehamilan, misalnya yang berupa IUFD (Intra-Uterine Fetal Death) dan pemeriksaan
mikroskopik terhadap sisa-sisa jaringan.
Pertimbangan-pertimbangan saat autopsi
Saat melakukan autopsi untuk kasus aborsi, ahli patologi harus membuat catatan khusus
tentang kondisi rahim dan genitalia, serta deskripsi umum tentang mayat. Panjang, lebar dan
ketebalan uterus, ketebalan dinding uterin, panjang rongga uterin, lingkar sirkumferen internal
dan eksternal, panjang serviks, diameter corpus luteum, dan ukuran sisa-sisa janin, harus
dicatat. Pemeriksaan dilakukan pada tuba ovarium dan payudara. Bagian-bagain janin harus
dicari dalam saluran genital dan rongga peritoneal. Luka-luka instrumental dan tanda-tanda
tenaculum harus diidentifikasi. semua organ dalam rongga abdominal dapat menyebabkan
peritonitis supuratif, seperti appendiks, kandung kemih atau perut, harus diperiksa. Semua
kondisi tubuh yang dapat menyebabkan aborsi spontan, seperti penyakit jantung dan
hydatidiform mole, harus diperiksa. Kondisi-kondisi septik tubuh harus diperiksa dengan
cermat. Vena-vena uterin dan ovarian harus diurutkan dengan cermat sampai ke bagian tubuh
yang lebih besar untuk mengetahui terjadinya phlebitis purulen. Pengguanan terapeutik
Roman Forensik Edisi 8 89
sulfonamid dan obat-obatan antibiotik lainnya dapat menghambat perkembangan bakteri
dalam kultur post-mortem. Pemeriksaan kimiawi harus dilakukan pada otak dan viscera
parenkimatom, jika perlu.
Harus dilakukan pemeriksaan mikroskopis pada mukosa uterin untuk mengetahui apakah
terjadi villi chorionic. Struktur-struktur lainnya, seperti tuba, ovarium, appendiks, ginjal,
limpa, hati, pankreas, jantung, paru-paru, dan organ-organ lainnya yang terlihat abnormal
harus diperiksa/dipotong.
Jika terdapat sisa-sisa janin, dapat dilakukan pemeriksaan X-ray untuk mengetahui pusat-
pusat osifikasi. Hal ini sangat penting untuk menentukan usia kehamilan. Benda-benda asing,
instrumen, juga harus diawetkan sebagai bukti, jika ditemukan dalam tubuh.
Dalam banyak kasus, sisa-sisa janin tidak mudah diidentifikasi. jika seorang wanita
meninggal saat aborsi, janin atau bagian dari janin, akan ditemukan dalam saluran genital.
Kadang-kadang, terjadi perforasi uterus dan janin dipaksakan masuk ke rongga peritoneal, ini
akan ditemukan saat autopsi. Biasanya, tubuh janin telah diangkat, dan daerah plasenta
ditandai oleh penonjolan sirkuler pada batas-batas uterus di sekitar fundus, kondisi ini akan
bertahan selama beberapa hari.
Perforasi dapat terjadi dalam berbagai ukuran dan bentuk, bervariasi mulai dari stellata kasar
dan kecil yang terbuka dan berdiameter kurang lebih 1 cm, banyak potongan stellata yang
berbentuk oval atau ireguler, dan terlihat seperti-kawah yang kadang menonjol pada fundus
uterin. Kadang, ditemukan dua atau beberapa perforasi pada fundus, atau terjadi perlukaaan
fundus dan serviks akibat penggunaan kuret Uterus paling mudah mengalami perforasi adalah
jenis bicornuate, karena operator yang ragu-ragu, menduga bahwa rongga uterus lebih
panjang dan melukai dindingnya pada bagian cornua yang terpisah. Luka pada serviks uteri
terjadi sebanyak kurang dari separuh perlukaan instrumental pada uterus, sebagian
diantaranya berupa ekskavasasi crateriform dalam dinding servikal, sedangkan yang lainnya
mengalami perforasi ke dalam rongga abdominal melalui dinding uterus. Perforasi tersebut
berbentuk stellata dan mengarah ke atas mungkin akibat penggunaan instrumen seperti kayu .
Perforasi pada rongga vaginal jarang terjadi pada aborsi yang dilakukan oleh seorang
operator, namun paling sering terjadi pada aborsi yang dilakukan sendiri. salah satu kasus
yang dihadapi oleh penulis adalah seorang ibu hamil yang melukai rongga vaginanya
menggunakan jarum panjang, yang ditusukkan ke dalam perut dan usus beberapa kali
sehingga terjadi peritonitis septik.
Kasus-kasus aborsi yang mengakibatkan perforasi saluran genital dan organ
abdominal harus dirujuk ke rumah sakit untuk merawat gejala dan agar dokter bedah dapat
melakukan laparotomi. Dalam berbagai kasus, operator dapat memperbaiki luka dengan
melakukan penjahitan, sedangkan dalam kasus lainnya, operator dapat mengangkat rahim,
atau reseksi intestinal. Jika pasien meninggal, dokter bedah harus menyerahkan semua organ,
jaringan atau benda asing yang diperoleh saat operasi untuk diperiksa dan menyimpan catatan
klinis kasus yang akurat.
Ukuran daerah plasenta bervariasi sesuai dengan usia kehamilan dan jumlah hari setelah
aborsi. Setelah melakukan kuretase pada bagian plasenta yang tersisa pada dinding uterin,
berupa penyimpangan villi chorionic dan syncytial giant cell, ini dapat dilihat melalui
pemeriksaan mikroskopis pada daerah plasenta. Karena plasenta merupakan bagian dari janin,
ini merupakan bukti nyata terjadinya kehamilan, yang bertolak belakang dengan sel-sel
decidual yang merupakan jaringan dari ibu dan bukan, merupakan indikasi yang jelas. villi
chorionic dan syncytial giant cell akan menetap selama beberapa hari kemudian menghilang,
satu-satunya kriteria yang tersisa adalah ukuran dan bentuk rahim, kondisi payudara dan
corpus luteum ovarium.
Penemuan janin atau sisa-sisanya biasanya berguna untuk memastikan usia kehamilan
saat aborsi dilakukan. Jadi, kita harus mengetahui perkembangan janin selama masa
kehamilan. Pemeriksaan sinar roentgen pada bagian-bagian janin yang besar akan
menunjukkan pusat-pusat osifikasi dalam berbagai tulang, ini dapat digunakan untuk
menentukan usia bagian-bagian tersebut. Biasanya akan terbentuk produk perkembangan
Roman Forensik Edisi 8 90
pembuahan ovum selama dua minggu pertama masa kehamilan. Mulai dari minggu pertama
sampai ke lima, selama periode tersebut, akan terjadi perkembangan berbagai organ dan
menghasilkan bentuk yang jelas, organisme ini disebut sebagai embrio. Setelah minggu
kelima, disebut sebagai janin.
Dalam suatu kasus aborsi yang telah terjadi selama beberapa hari dan tidak ada sisa-sisa janin
dalam rahim, sulit untuk membuktikan fakta bahwa telah terjadi kehamilan atau usia
kehamilan sebelum aborsi dilakukan. Bagian-bagian janin yang tersisa, membran atau
jaringan plasenta, dan terjadinya infeksi intra-uterine akan menganggu atau menghambat
proses involusi uterus. Nekrosis sisa-sisa janin, membran dan jaringan plasenta akan
mempersulit pemeriksaan mikroskopis.
Dimensi uterus yang diukur saat autopsi merupakan satu-satunya data yang dapat
diandalkan oleh ahli patologis untuk memperkirakan usia kehamilan. Dalam kondisi tidak-
hamil, uterus berbentuk seperti buah pir dan memiliki panjang 3 inci, lebar 2 inci dan
ketebalannya 1 inci. Selama dua bulan pertama masa kehamilan, terjadi pembesaran. Pada
akhir bulan ketiga, panjang rahim akan mencapai 4 sampai 5 inci, panjang serviks mencapai 1
cm dan panjang corpus uteri mencapai 3 sampai 4 inci; pada akhir bulan keenam, uterus akan
membesar, corpus akan membentuk globular dan serviks memendek. Pada akhir bulan
keempat, panjang uterus mencapai 5 sampai 6 inci; pada akhir bulan keenam panjangnya akan
mencapai 6 inci; pada akhir bulan ke tujuh, panjangnya mencapai 8 inci; pada akhir bulan ke
delapan, panjangnya mencapai 9,5 inci; dan pada akhir bulan ke sembilan, panjangnya
mencapai 10,5 sampai 12 inci.
Setelah proses kelahiran, rahim akan berkontraksi dan dindingnya menebal. Setelah
dua hari post-partum, panjangnya akan mencapai 7 inci dan lebar 4 inci; pada akhir minggu
pertama akan berkontraksi sampai panjangnya 5 inci; setelah dua minggu panjangnya
mencapai 4 inci. Setelah dua bulan ukuran uterus akan kembali normal jika involusi telah
sempurna. Dimensi uterus setelah aborsi sulit ditentukan; jika pasien hidup sebentar setelah
ekspulsi janin, ukuran uterus jelas akan berkurang, namun tidak ada standar ukuran
involusinya setelah aborsi dalam berbagai usia kehamilan. Pemeriksa hanya dapat
menentukan dimensi uterus seakurat mungkin dan menarik kesimpulan sendiri sesuai dengan
pengalamannya menghadapi kasus semacam itu. Ukuran pembuluh darah dan limfatik uterus
akan bertambah selama masa kehamilan dan akan tetap meregang selama puerperium sampai
masa involusi lewat. Peningkatan vaskularitas ini akan meningkatkan kerentanan gravid
uterus terhadap perdarahan dan infeksi.
Payudara akan membesar selama masa kehamilan, akibat terjadinya hiperplasia
kelenjar-kelenjar payudara. Pada wanita yang tidak hamil, jaringan kelenjar berupa beberapa
duktus dan sejumlah alveoli dalam suatu stroma fibrosa yang padat, namun seiring dengan
perkembangan kehamilan, cabang-cabang duktus dan jaringan kelenjar akan berproliferasi
dan jumlahnya bertambah. Pada akhir bulan kedua, payudara akan membesar dan memiliki
konsistensi noduler saat dipalpasi. Beberapa bulan setelah sekresi air susu yang disebut
sebagai kolostrum, yang keluar dari payudara saat diberi tekanan ringan. Pada akhir masa
menyusui, sekresinya sangat banyak, jika payudara dipotong, akan keluar banyak cairan susu
dari permukaan yang dipotong. Selama masa kehamilan, puting susu akan terlihat lebih
menonjol, dan aerola di sekitarnya semakin meluas dan pigmentasinya bertambah; Ukuran
kelenjar Montgomery, kelenjar sebaseous dalam aerola akan bertambah selama masa
menyusui dan membentuk nodul subkutan pendek.
Sebagian urin yang diperoleh post-mortem dari kandung kemih harus disimpan dan
dapat digunakan dalam Uji ASCHHEIM-ZONDEK untuk menguji kehamilan, jika diperoleh
dalam waktu satu minggu setelah aborsi. Dalam beberapa kasus aborsi, kematian yang terjadi
disebabkan oleh infeksi piogenik parah dan urin mengandung bakteri yang akan membunuh
binatang-binatang yang digunakan dalam pengujian dan mengurangi kegunaan reaksi.
KETERKAITAN ABORSI DENGAN PIHAK LAIN
Roman Forensik Edisi 8 91
Sebelum kita mengetahui apakah hubungan antara seorang dokter dengan seorang yang
hendak menggugurkan kandungan harus dianggap kontrak terapeutik, yang selanjutnya
menyebabkan pihak lain tertutup kemingkinan untuk mengetahinya termasuk aparat hukum,
maka perlu disikapi oleh kita semua apabila dalam pelayanan dokter tersebut berdimensi
pidana, petugas aparat hukum dimungkinkan untuk menentukan langkah-langkahnya. Atau
dengan kata lain pihak kepolisian boleh melakukan penyidikan dan juga tindakan lain yang
diwenangkan oleh hukum.
Dalam pasal 7 KUHAP telah memberikan kewenangan kepada penyidik untuk:
(1) Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana.
(2) Melakukan tindakan pertama saat ditempat kejadian
(3) Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka
(4) Melakukan penagkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan.
(5) Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat
(6) Mengambil sidik jari dan memotret tersangka
(7) Mengambil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi
(8) Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan
perkara
(9) Mengadakan penghentian penyidikan
(10)Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
Dari dan berdasarkan ketentuan KUHAP, khususnya yang berkaitan dengan penyidikan, maka
dapat disimpulkan bahwa tidak ada larangan bagi pihak penyidik untuk melakukan
penyidikannya pada tempat-tempat yang telah, sedang atau akan terjadinya tindak pidana,
termasuk tempat yang patut diduga didalamnya akan dilakukan tindak pidana. Demikian juga
tempat praktek dokter yang disinyalir di dalamnya ada praktik aborsi yang illegal.
Chrisdiono M. Achadiat dalam artikelnya yang berjudul “Aborsi dalam Perspektif Etika,
Moral dan Hukum”, memberikan catatan sebagai berikut :
(1) Bahwa dalam penjelasan Pasal 10 KODEKI disebutkan antara lain, “Ia (baca; Dokter
Indonesia) harus berusaha mempertahankan hidup mahluk insani. Berarti bahwa
menurut agama dan undang-undang negara maupun menurut Etika kedokteran
seorang dokter tidak dibolehkan :
(a) Menggugurkan kandungan (abortus provocatus)
(b) Mengakhiri hidup seorang penderita, yang menurut ilmu pengetahuan tidak
mungkin akan sembuh (euthanasia).
(2) Bahwa pada bagian lain penjelasan pasal 10 Kodeki tersebut ditegaskan antara lain
bahwa abortus provocatus dapat dibenarkan sebagai tindakan pengobatan, apabila
merupakan satu-satunya jalan untuk menolong jiwa ibu dari bahaya maut (abortus
provocatus thetapeuticus) (dikutip dari buku Kode Etik Kedokteran Indonesia terbitan
1986, halaman 33).
Di negara bagian New York, jika seorang dokter dituntut melakukan aborsi ilegal, ijin praktek
kedoktarannya di negara bagian tersebut akan dicabut secara otomatis.
ABORTUS DITINJAU DARI SEGI MEDIKOLEGAL
Sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia, setiap usaha untuk mengeluarkan hasil
konsepsi sebelum masa kehamilan yang lengkap tercapai adalah suatu tindak pidana, apapun
alasannya. Dalam tahun-tahun terakhir ini beberapa negara dimana legalisasi abortus
provocatus masih bersifat terbatas, seakan-akan timbul suatu revolusi dalam sikap masyarakat
Roman Forensik Edisi 8 92
dan pemerintahannya terhadap tindakan pengguguran kandungan, sehingga terjadi perubahan-
perubahan hukum-hukum abortus yang berlaku, dan muncul hukum-hukum abortus dengan
pembatasan tertentu sampai hadir tanpa pembatasan.
Hukum abortus diberbagai negara dapat digolongkan dalam beberapa kategori sebagai berikut
:
1. Hukum yang tanpa pengecualian melarang abortus, seperti di Belanda dan Indonesia
(sebelum ada UU No. 23 Tahun 1992, tentang kesehatan).
2. Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi medik, seperti di Kanada,
Thailand, dan Swiss.
3. Hukum yang memperbolehkan abortus demi keselamatan kehidupan penderita (ibu),
seperti di Prancis dan Pakistan.
4. Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial-medik, seperti di Islandia,
Inggris, Skandinavia, dan India.
5. Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial, seperti Jepang, Polandia,
dan Serbia. (Menghindari penyakit keturunan, janin cacat)
6. Hukum yang memperbolehkan abortus atas permintaan, seperti di Bulgaria dan
Hungaria.
Meskipun dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak terdapat satupun pasal
yang memperbolehkan seorang dokter melakukan abortus atas indikasi medik, sekalipun
untuk menyelamatkan jiwa si ibu, dalam prakteknya dokter yang melakukannya tidak
dihukum, bila ia dapat mengemukakan alasan yang kuat dan alasan tersebut diterima hakim.
Abortus atas indikasi medik ini kini diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
Terdapat beberapa pasal yang mengatur abortus provokatus :
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
Pasal 229
1. Barangsiapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya
diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu
hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun
atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.
2. Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan
perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan
atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
3. Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalani pencarian maka
dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.
Pasal 341
Seorang ibu yang, karena takut akan ketahuan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan
atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam, karena
membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 342
Seorang ibu yang, untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan
bahwa akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas
nyawa anaknya, diancam, karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana,
dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Pasal 343
Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang, bagi orang lain yang turut
serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana.
Roman Forensik Edisi 8 93
Pasal 346
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh
orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Pasal 347
1. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang
wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas
tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara
paling lama lima belas tahun.
Pasal 348
1. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang
wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun
enam bulan.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara
paling lama tujuh tahun.
Pasal 349
Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal
346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan
dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah
dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan
dilakukan.
Berdasarkan pasal-pasal tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pihak-pihak
yang dapat mewujudkan adanya pengguguran kandungan adalah:
(1) Seseorang yang melakukan pengobatan atau menyuruh supaya berobat terhadap
wanita tersebut, sehingga dapat gugur kandungannya.
(2) Wanita itu sendiri yang melakukan upaya atau menyuruh orang lain, sehingga dapat
gugur kandungannya.
(3) Seseorang yang tanpa izin menyebabkan gugurnya kandungan seseorang.
(4) Seseorang yang dengan izin meyebabkan gugurnya kandungan seseorang wanita.
(5) Seseorang yang dimaksud dalam angka 1, 2, 3, dan 4 termasuk di dalamnya dokter,
bidan, juru obat, serta pihak lain yang berhubungan dengan medis.
Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan :
Pasal 15
Ayat (1) : “Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun,
dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan
norma kesopanan”.
Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin yang
dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu.
Ayat (2)
Butir a : Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil
tindakan medis tertentu, sebab tanpa tindakan medis tertentu itu, ibu hamil dan janinnya
terancam bahaya maut.
Butir b : Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah tenaga yang
memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya, yaitu seorang dokter ahli kebidanan
dan penyakit kandungan.
Roman Forensik Edisi 8 94
Butir c : Hak utama untuk memberikan persetujuan ada pada ibu hamil yang bersangkutan,
kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya, dapat
diminta dari suami atau keluarganya.
Butir d : Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan
peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan telah ditunjuk oleh pemerintah.
Ayat (3) : Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini dijabarkan antara
lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya, tenaga
kesehatan mempunyai keahlian dan kewenagan bentuk persetujuan, sarana kesehatan yang
ditunjuk.
Pasal 80
Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang
tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dalam pasal 15 ayat (1) dan ayat (2), dipidana dengan
penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah).
Hukum dan Aborsi
Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia, aborsi atau pengguguran janin termasuk
kejahatan, yang dikenal dengan istilah “Abortus Provocatus Criminalis”
Yang menerima hukuman adalah:
1. Ibu yang melakukan aborsi
2. Dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan aborsi
3. Orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi
Wewenang dokter dalam menjalankan praktek aborsi adalah :
1. Dalam menjalankan profesinya seorang dokter terkait dengan kode etik profesi, dalam hal
ini Kode Etik Kedokteran Indonesia (Kodeki). Dalam Kodeki tersebut tercakup hal-hal
yang berkaitan dengan kewajiban seorang dokter ketika menjalankan profesi kedokteran:
yakni kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajiban terhadap teman sejawat,
dan kewajiban terhadap diri sendiri. Jadi, Kodeki merupakan pedoman tingkah laku bagi
para dokter Indonesia ketika melaksanakan profesinya atau tegasnya pedoman dalam
melaksanakan kewajiban sebagai dokter Indonesia.
2. Bahwa dalam penjelasan pasal 10 Kodeki antara lain Dokter Indonesia harus berusaha
mempertahankaan hidup makhluk insani. Berarti bahwa baik menurut agama dan undang-
undang negara maupun menurut Etik kedokteran seorang dokter tidak dibolehkan:
a. Menggugurkan kandungan (abortus provocatus);
b. Mengakhiri hidup seorang penderita, yang menurut ilmu pengetahuan tidak
mungkin akan sembuh (euthanasia).
c. Bahwa pada bagian lain penjelasan pasal 10 Kodeki ditegaskan antara lain bahwa
abortus provocatus dapat dibenarkan sebagai tindakan pengobatan, apabila
merupakan satu-satunya jalan untuk menolong jiwa ibu dari bahaya maut (abortus
provocatus therapeuticus).
d. Dikatakan bahwa Kodeki membenarkan aborsi dengan beberapa syarat dan
menyelamatkan jiwa ibu adalah indikasi yang diperkenankan menurut KODEKI.
3. Bahwa, dalam penjelasan pasal 15 ayat (1) UU Kesehatan disebutkan bahwa "Tindakan
medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun dilarang karena
bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan norma
kesopanan. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu dan
atau janin yang dikandungnya, dapat diambil tindakan medis tertentu." Jadi satu-satunya
indikasi yang diperkenankan menurut UU Kesehatan ialah menyelamatkan jiwa si ibu
hamil.
Roman Forensik Edisi 8 95
Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas)
tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).
4. Bahwa, pihak-pihak yang diperbolehkan melakukan aborsi adalah dokter ahli kebidanan
dan penyakit kandungan, sesudah meminta pertimbangan dari tim ahli yang terdiri dari
pelbagai bidang keilmuan. Dengan demikian menurut UU Kesehatan, tidak semua dokter
boleh melakukan tindakan aborsi.
5. Sarana yang dipakai dalam praktek aborsi (tindakan pengguguran kandungan) hanya dapat
dilakukan di sarana kesehatan tertentu, yakni sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan
peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan telah ditunjuk oleh pemerintah
6. Hak utama untuk memberikan persetujuan ada pada ibu hamil yang bersangkutan, kecuali
dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya, dapat diminta
dari suami atau keluarganya.
7. Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini dijabarkan antara lain
mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya, tenaga
kesehatan mempunyai keahlian dan kewenagan bentuk persetujuan, sarana kesehatan yang
ditunjuk.
Roman Forensik Edisi 8 96
BAB IX
INFANTICIDE
Definisi (Menurut pasal 341 KUHP):
pembunuhan bayi yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri, segera atau beberapa saat
setelah dilahirkan, karena takut diketahui bahwa ia telah melahirkan anak
Inggris : Batasan infanticide sampai 12 bulan
Unsur yang terkandung :
pembunuhan, oleh ibu kandung, motivasi psikis dan waktu (baru lahir)
UU tentang pembunuhan anak
 KUHP 341 : pembunuhan anak sendiri tanpa rencana (maks. 7 th)
 KUHP 342 : pembunuhan anak sendiri dengan rencana (maks. 9 th)
 KUHP 343 : orang lain yang melakukannya /turut melakukan (pembunuhan biasa)
 KUHP 305 : membuang (menelantarkan) anak dibawah usia 7 th (maksimum 5 tahun
6 bulan)
 KUHP 306 : bila berakibat luka berat atau mati (maks 7,5-9 th)
 KUHP 308 : ibu membuang anaknya yang baru lahir (seperdua dari KUHP 305 dan
306)
 KUHP 181 : menyembunyikan kelahiran/kematian (9 bulan)
Motif Infanticide :
• Anak yang tidak sah
• Warisan
• Orang tua yang terlalu miskin
• Pada beberapa keluarga, bayi perempuan dianggap kurang berarti
• Wanita tuna susila yang tidak menghendaki kelahiran anak
Tujuan Pemeriksaan untuk membuktikan :
º Pengertian “pembunuhan bayi” mengharuskan untuk membuktikan :
- Lahir hidup
- Kekerasan
- Sebab kematian
º Pengertian “baru lahir” mengharuskan penilaian :
- Cukup bulan atau belum dan usia kehamilan
- Usia pasca lahirnya
- Viabel atau tidak
º Pengertian “takut diketahui” dibuktikan dengan tidak adanya tanda-tanda perawatan
º Pengertian “si ibu membunuh anaknya sendiri” harus dibuktikan bahwa mayat anak
yang diperiksa adalah anak dari tersangka
Pemeriksaan Kedokteran Forensik untuk memperoleh kejelasan dalam hal:
• Apakah bayi tersebut dilahirkan mati atau hidup?
• Berapakah umur bayi tersebut (intra dan ekstrauterin)?
• Apakah bayi tersebut sudah dirawat?
• Apakah sebab kematiannya?
• Apakah pada anak tersebut di dapatkan kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi
kelangsungan hidup bagi si anak?
Roman Forensik Edisi 8 97
Lahir Hidup (live birth)
keluar atau dikeluarkannya hasil konsepsi yang lengkap, yang setelah pemisahan, bernapas
atau menunjukkan tanda kehidupan lain, tanpa mempersoalkan usia gestasi, sudah atau
belumnya tali pusat dipotong dan uri dilahirkan
Lahir mati (still birth)
Jika bayi dilahirkan setelah melewati usia kehamilan 28 minggu dan setelah dilahirkan tidak
pernah menunjukkan adanya tanda kehidupan
Dead born :
bila kematian telah terjadi di dalam rahim (IUFD)
Tanda-tanda lahir hidup:
Anamnesis : adanya tangis bayi
Pemeriksaan :
1. Dada :
º mengembang
º diafragma sudah turun sampai sela iga 4-5
º tepi paru menumpul
º beratnya kira-kira 1/35 berat badan akibat semakin padatnya
vaskularisasi paru
2. Paru
Pemeriksaan makroskopik paru :
 Paru sudah mengisi rongga dada & menutupi sebagian kandung jantung
 Berwarna merah muda tidak merata
 Pleura yang tegang & menunjukkan gambaran mozaik karena alveoli sudah terisi
udara
 Konsistensi sperti spons, teraba derik udara
 Pada pengisian paru dalam air keluarnya gelembung udara dan darah
 Berat paru bertambah hingga dua kali (1/35 kali berat badan) karena berfungsinya
sirkulasi darah jantung paru
 Uji apung paru positif
Pemeriksaan mikroskopik paru :
alveoli paru yang mengembang sempurna dengan atau tanpa emfisema obstruktif
3. Saluran Cerna
O Adanya udara dalam saluran cerna
O Lambung dan usus : terdapat darah, mekonium, & cairan amnion ¬ menunjukkan
bahwa bayi telah melakukan usaha pernafasan & pada saat inspirasi menelan cairan
tersebut
O Adanya cairan susu menunjukkan bayi telah hidup untuk beberapa waktu lamanya
4. Perubahan ginjal dan kandung kemih :
(tidak begitu spesifik & tidak bisa diandalkan)
O Kristal asam urat mungkin terdapat pada pelvis ginjal.
O Pembentukan urin (+/-)
5. Perubahan pada telinga tengah :
(kurang dapat diandalkan)
Pemeriksaan WREDIN diperiksa jaringan konektif gelatin pada telinga tengah yang akan
berubah menjadi berisi udara jika bayi telah melakukan pernafasan
Lahir mati (still born)
 Ditandai :
- janin yang tidak bernafas
Roman Forensik Edisi 8 98
- denyut jantung (-)
- denyut nadi tali pusat (-)
- gerakan otot rangka (-)
 Maserasi ¬ 8-10 hari kematian in utero
 Vesikel atau bula ¬ 3-4 hari kematian in utero
 Dada : belum mengembang, iga datar & diafragma setinggi iga ke 3-4
 Pemeriksaan makroskopik paru :
 paru-paru masih tersembunyi di belakang
 kandung jantung atau telah mengisi rongga dada
 berwarna kelabu ungu merata seperti hati
 konsistensi padat
 derik udara (-)
 pleura yang longgar
 berat paru kira-kira 1/70 kali berat badan
 Uji apung paru : negatif
 Mikroskopik paru : adanya tonjolan yang berbentuk seperti bantal bertambah tinggi
dengan dasar menipis, tampak seperti gada
 Mekonium : berbentuk bulat berwarna jernih sampai hijau tua terlihat dalam brokhioli
& alveoli
 Kolon :
dapat menggelembung berisi mekonium tanda usaha untuk bernafas
Umur bayi intra dan ekstra uterin
Rumus HAASE
- Usia kehamilan 1-5 bulan :
Panjang kepala-tumit (cm) = kuadrat umur gestasi (bulan)
- Usia kehamilan > 5 bulan :
Panjang kepala-tumit (cm) = umur gestasi (bulan) x 5
Pusat Penulangan Pada Umur (bulan)
Klavikula 1,5
Tulang panjang (diafisis) 2
Iskium 3
Pubis 4
Kalkaneus 5-6
Manubrium sterni 6
Talus Akhir 7
Sternum bawah Akhir 8
Distal femur Akhir 9/setelah lahir
Proksimal tibia Akhir 9/setelah lahir
Kuboid Akhir 9/setelah lahir (bayi wanita
lebih cepat)

Viable
Bayi/janin yang dapat hidup di luar kandungan
• umur kehamilan > 28 minggu
• PB (kepala-tumit) > 35 cm
• PB (kepala-tunggging) > 23 cm
• BB > 1000 garam
Roman Forensik Edisi 8 99
• lingkar kepala > 32 cm
• tidak ada cacat bawaan yang fatal
Bayi cukup bulan (matur)
• umur kehamilan > 36 minggu
• PB (kepala-tumit) > 48 cm
• PB (kepala-tungging) 30-33 cm
• BB 2500-3000 gram
• lingkar kepala 33 cm.
• lanugo sedikit : pada dahi, punggung & bahu
• pembentukan tulang rawan telinga sudah sempurna
• diameter tonjolan susu 7 mm atau lebih
• kuku-kuku jari telah melewati ujung jari
• garis telapak kaki > 2/3 bagian depan kaki
• testis sudah turun ke dalam skrotum
• labium minus sudah tertutup labium majus yang telah berkembang sempurna
• kulit berwarna merah muda yang setelah 1-2 minggu berubah menjadi lebih pucat atau
coklat kehitaman
• lemak bawah kulit cukup merata sehingga kulit tidak berkeriput (kulit pada bayi
prematur berkeriput)
Usia Pasca Lahir
Udara dalam saluran cerna
- Di lambung : baru saja lahir, belum tentu lahir hidup
- Di duodenum : > 2 jam
- Di usus halus : 6-12 jam
- Di usus besar : 12-24 jam
Mekonium keluar seluruhnya: > 24 jam
Perubahan tali pusat :
- Kemerahan di pangkalnya : 36 jam
- Kering : 2-3 hari
- Puput/lepas : 6-8 hari, kadang 20 hari
- Sembuh : 15 hari
- a/v umbilikalis menutup : 2 hari
Ductus arteriosus menutup : 3-4 mgg
Ductus venosus menutup : > 4 mgg
Eritrosit berinti hilang : > 24 jam
Tanda-tanda perawatan (Bukan termasuk infanticide)
 Tali pusat yang terpotong rata dan diikat diujungnya, diberi antiseptik dan perban
(bisa hilang sebelum diperiksa)
 Jalan napas bebas
 Vernix caseosa tidak ada lagi
 Berpakaian
 Air susu di dalam saluran cerna
Hubungan ibu dan anak
 Mencocokkan waktu partus ibu dengan waktu lahir anak
 Mencari data antropologi yang khas pada ibu dan anak
 Memeriksa golongan darah ibu dan anak
Roman Forensik Edisi 8 100
 Sidik jari & DNA
Pemeriksaan Mayat Bayi
• Bayi cukup bulan, prematur atau nonviable
• Kulit : sudah dibersihkan atau belum, keadaan verniks kaseosa, warna, berkeriput atau
tidak
• Mulut : adakah benda asing yang menyumbat
• Tali pusat : sudah terputus atau masih melekat pada uri
• Kepala : apakah terdapat kaput suksadenum, molase tulang tengkorak
• Tanda kekerasan
• Mulut : apakah terdapat benda asing & perhatikan palatum mole apakah terdapat
robekan
• Rongga dada
• Tanda asfiksia : berupa TARDIEU’s spots pada permukaan paru, jantung, thymus,
epiglottis
• Tulang belakang : apakah terdapat kelainan kongenital & tanda2 kekerasan
• Periksa pusat penulangan : pada femur, tibia, calcaneus, talus & cuboid
Roman Forensik Edisi 8 101
BAB X
KEJAHATAN SEKSUAL
Pengertian
Kejahatan seksual (sexual offences) adalah salah satu bentuk dari kejahatan tubuh yang
merugikan kesehatan dan nyawa manusia. Ilmu Kedokteran Forensik berguna dalam
pembuktian
Kekerasan seksual merupakan segala kekerasan, baik fisik maupun psikologis, yang
dilakukan dengan cara-cara seksual atau dengan mentargetkan seksualitas. Definisi kekerasan
seksual ini mencakup pemerkosaan, perbudakan seksual, dan bentuk-bentuk lain kekerasan
seksual seperti penyiksaan seksual, penghinaan seksual di depan umum, dan pelecehan
seksual.
Pembagian
Terdapat dua macam bentuk kekerasan seksual, yaitu ringan dan berat.
Macam-macam kekerasan seksual ringan :
 pelecehan seksual
 gurauan porno,
 siulan, ejekan dan julukan
 tulisan/gambar
 ekspresi wajah,
 gerakan tubuh
 perbuatan menyita perhatian seksual tak dikehendaki korban, melecehkan dan atau
menghina korban.
 Melakukan repitisi kekerasan seksual ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis
kekerasan seksual berat.
Macam-macam kekerasan seksual berat:
 Pelecehan, kontak fisik: raba, sentuh organ seksual, cium paksa, rangkul, perbuatan
yang rasa jijik, terteror, terhina
 Pemaksaan hubungan seksual
 Hubungan seksual dengan cara tidak disukai, merendahkan dan atau menyakitkan
 Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain, pelacuran tertentu.
 Hubungan seksual memanfaatkan posisi ketergantungan / lemahnya korban.
 Tindakan seksual + kekerasan fisik, dengan atau tanpa bantuan alat yang
menimbulkan sakit, luka, atau cedera.
Perundang-undangan
Persetubuhan tertera pada Bab XIV KUHP
Tentang Kejahatan Terhadap Kesusilaan

1. Persetubuhan dalam perkawinan
• Pasal 288 KUHP
2. Persetubuhan di luar Perkawinan
• Dengan persetujuan si wanita
- Tanpa ikatan
≈ wanita < 15 tahun : (287 KUHP)
≈ wanita > 15 tahun : (284 KUHP)
- Dengan Ikatan
≈ wanita < 21 tahun
Roman Forensik Edisi 8 102
- Pemberian/janji uang/barang (293 KUHP)
- Asuhan/Pendidikan (294 KUHP)
≈ wanita > 21 tahun
- Bawahan (294 KUHP)
- Dalam pengawasan (294 KUHP)
• Tanpa Persetujuan si wanita
- Dengan Kekerasan (285 KUHP)
- Si wanita pingsan/tidak berdaya (286 KUHP)
3. Perbuatan Cabul (289 KUHP)
Pemeriksaan Medis
1. Anamnesis
Anamnesis umum memuat:
- Identitas : Nama, umur, TTL, status perkawinan,
- Spesifik : Siklus haid, penyakit kelamin, peny. kandungan, peny. lain, pernah
bersetubuh, persetubuhan yang terakhir, kondom ?
Anamnesis khusus memuat waktu kejadian
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik umum memuat :
- Kesan penampilan (wajah, rambut), ekspresi emosional, tanda-tanda bekas kehilangan
kesadaran / obat bius / needle marks.
- Berat badan, tinggi badan, tanda vital, pupil, refleks cahaya, pupil pinpoint, tanda
perkembangan alat kelamin sekunder, kesan nyeri ?
Pemeriksaan fisik khusus memuat:
- Pembuktian persetubuhan :
ada / tidak penetrasi penis ke vagina / anus / oral
ejakulat / air mani pada vagina / anus
- Bukti Penetrasi :
• Robekan hymen, laserasi (mencakup perkiraan waktu)
• Variasi : - korban 3 hari yang lalu / lebih
- hymen elastis
- penetrasi tidak lengkap
• Bukti Ejakulat/air mani (mencakup perkiraan waktu)
• Perlekatan rambut kemaluan
• Ejakulat di liang vagina
3. Pemeriksaan Pakaian
- rapi / tidak,
- robekan? lama/baru, melintang? pada jahitan? kancing putus?
- bercak darah
- air mani
- lumpur / kotoran lain di TKP ?
4. Pemeriksaan Laboratorium
- cairan dan sel mani dalam lendir vagina
- pemeriksaan terhadap kuman N. gonorrhoea sekret ureter
- pemeriksaan kehamilan
- toksikologik darah dan urin
Pembuktian Adanya Kekerasan
- Luka2 lecet bekas kuku, gigitan (bite marks), luka2 memar
- Lokasi : Muka, leher, buah dada, bagian dalam paha dan sekitar alat kelamin
Perkiraan Umur
Umur berkaitan dengan KUHP
- Dasar berat badan, tinggi badan, bentuk tubuh, gigi, ciri-ciri kelamin sekunder
Roman Forensik Edisi 8 103
- Pemeriksaan sinar X : standar waktu penyatuan tulang
Penentuan sudah atau belum waktunya dikawin
Pertimbangan kesiapan biologis : menstruasi,
Wanita sudah ovulasi / belum : vaginal smear
Berdasar umur ? : > 16 th
Pemeriksaan terhadap Pelaku
- Upaya pengenalan persetubuhan,
- Bercak sperma, darah, tanah dan pakaian, robekan.
- Bentuk tubuh : memungkinkan tindakan kekerasan.
- Tanda cedera : perlawanan korban ?
- Rambut terlepas.
- Pemeriksaan menyeluruh alat kelamin : mampu seksual ? cedera ?
- Tanda infeksi gonokokus,
- Sekret
- Smegma
Pemeriksaan Penentuan gol. Darah
- Serologis air mani (antigen ABO) pada orang yg ’sekretor’
- Di cocokkan dengan golongan darah (pelaku / korban)
Homoseksual
- Homoseksual merupakan salah satu bentuk kejahatan seksual
- Didalam Pasal 292 KUHP, terdapat ancaman hukuman bagi seseorang yang cukup umur
yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain yang sama kelaminnya yang belum
cukup umur
Penatalaksanaan Korban Kekerasan Seksual
- Profesi kedokteran : Sesuai standar pemeriksaan korban kekerasan danpembuatan visum
et repertumnya
- Kendala → belum berkembangnya Ilmu Kedokteran Forensik Klinik di Indonesia
- Didirikannya Pusat Krisis terpadu bagi perempuan dan anak-anak
- Menerima dan menatalaksana kekerasan terhadap perempuan, kekerasan fisik maupun
seksual, secara terpadu sehingga diharapkan dapat memperkecil trauma psikologis akibat
viktimisasi lanjutan pada korban.
Roman Forensik Edisi 8 104
BAB XI
KEMATIAN MENDADAK
Yang termasuk kematian mendadak :
1. Kematian terjadi seketika
Contoh ¬ teman bertamu, duduk, kemudian meninggal
2. Kematian tidak terduga
Contoh ¬ seorang pasien nyeri perut dengan diagnosis gastritis akut kemudian diperiksa
dan ternyata meninggal
3. Kematian tidak diketahui penyebabnya
Contoh ¬ orang ditinggal di rumah masih sehat kemudian keesokan harinya meninggal
Cara mengatasi kematian mendadak :
Minta keterangan dari pihak keluarga, teman dekat, atau polisi.
• Tanyakan :
a. Usia
b. Penyakit yang pernah diderita
c. Keterangan mengenai kesehatan terakhir, pernah berobat kemana
d. Tingkah laku yang aneh
• Hal-hal yang perlu diketahui dari orang tentang korban :
a. Apakah sedang bertengkar
b. Apakah sehabis makan
c. Apakah kedatangan tamu
• Keadaan sekitar korban :
a. Morat-marit atau tidak
b. Pintu terkunci
c. Harta benda yang hilang
d. Korban diasuransikan atau tidak
e. Apakah didapatkan tanda-tanda kelainan pada korban
Menyimpulkan kemungkinan kematian mendadak :
1. Mati wajar karena penyakit ¬ didapatkan penyakit pembuluh
darah koroner (sehabis aktivitas fisik, bertengkar).
2. Mati tidak wajar ¬ didapatkan tanda-tanda kekerasan di tubuh.
Penyebab kematian ditinjau secara per-organ :
1. Sistem kardiovaskuler
-Penyakit jantung koroner
-Trombus pada ramus circumflexa a. coronaria sinistra
-Trombus pada ramus ascendens a. coronaria dextra et sinistra
-Infark miokard akut
-Penyakit katup jantung
2. Sistem saraf pusat
-Perdarahan otak ¬ pecahnya aneurisma cerebri
-Trombus a. cerebri media, posterior (cabang Circulus WILLISI)
-Perdarahan subarachnoid, epidural, dan subdural serta intracerebral bleeding
-Pelebaran Circulus WILLISI
-Perdarahan cerebellopontinus
-Tumor, radang, meningitis, ensefalopati, ensefalitis
3. Sistem pernapasan
Roman Forensik Edisi 8 105
-Edem paru
-Pneumonia
-Bronchopneumonia
-Tuberkulosis
-Emfisema pulmonum
-Status asmatikus
4. Sistem gastrointestinal
-Pecahnya varises esofagus
-Ulkus gastrikum kronis
-Perdarahan saluran cerna
-Apendisitis
-Trauma abdomen
-Obstruksi usus ¬ dehidrasi ¬ meninggal
-Invaginasi
-Megacolon congenital / HIRSCHPRUNG’s Disease
-Hernia inkarserata
-Perdarahan
5. Sistem urogenitalia
-Perdarahan
-Gangguan fungsi ginjal
-Sindrom nefrotik
-Glomerulonephritis
Roman Forensik Edisi 8 106
BAB XII
TOKSIKOLOGI FORENSIK
DEFINISI
Toksikologi merupakan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan sumber,
karakteristik dan kandungan racun, gejala dan tanda yang disebabkan racun, dosis fatal,
periode fatal,dan penatalaksanaan kasus keracunan. Periode fatal merupakan selang waktu
antara masuknya racun dalam dosis fatal rata-rata sampai menyebabkan kematian pada rata-
rata orang sehat.

Dalam berbagai kepustakaan, terdapat berbagai pengertian tentang keracunan
(poisoning) dan intoksikasi. Beberapa kepustakaan menyatakan pengertian keracunan dan
intoksikasi berbeda, dimana keracunan dinyatakan sebagai overdosis yang mempunyai efek
sentral sedangkan intoksikasi merupakan overdosis yang bersifat umum baik sentral maupun
perifer. Namun kepustakaan lain menyatakan keracunan dan intoksikasi memiliki pengertian
yang sama.

Berbagai definisi racun telah dipublikasikan berdasarkan sudut pandang yang
berbeda dari berbagai ahli. Semua definisi memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri
dalam interpretasi dan banyak definisi yang tumpang tindih satu dengan lainnya. Paracelcus
(1493-1541) yang lebih dikenal sebagai Theopraxis Bombastus von Honhenheim, orang yang
pertama mendefinisikan racun, menyatakan semua substansi di alam adalah racun hanya dosis
yang membedakan substansi tersebut racun atau bukan (sola dosis facit venenum). Ahli
toksikologi SEINEN (1989) menyatakan racun adalah substansi yang diberikan secara
berlebihan sehingga toksikologi dianggap sebagai pengetahuan tentang sesuatu yang
berlebihan (toxicology is the knowledge of too much).
SANGSTER secara lebih rinci menyatakan tentang sumber substansi yang dianggap
racun. Keracunan dianggap sebagai cidera yang diakibatkan konsentrasi berlebihan dari
substansi eksogenous (dari luar tubuh manusia).

TOKSISITAS RACUN
Dalam pemeriksaan keracunan harus diperhatikan kondisi-kondisi yang
mempengaruhi fatalitas racun pada korban, baik pada anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan. Banyak substansi yang hanya bersifat toksik dalam jumlah yang besar
tetapi ada yang bersifat toksik meskipun jumlahnya kecil. Demikian juga adanya substansi
tertentu secara tersendiri tidak bersifat toksik atau toksisitasnya rendah tetapi dengan adanya
substansi lain, menyebabkan substansi tersebut menjadi toksik.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan korban hidup, antara lain :

1. Toksisitas intrinsik
Ikatan kimia (struktur kimia) suatu zat secara intrinsik membentuk sifat racun zat
tersebut,misalnya unsur sodium.
2. Dosis dan bioavailabilitas
Farmakokinetik untuk substansi yang bersifat sistemik sangat tergantung dosis zat yang
masuk ke dalam tubuh dan kecepatan metabolisme zat terutama di organ detoksifikasi
(hati). Metabolisme zat di dalam hati sebelum beredar ke dalam sirkulasi sistemik (first
pass effect) sangat menentukan toksisitas zat yang masuk ke dalam tubuh secara oral.
3. Konsentrasi
Fatalitas beberapa zat tergantung konsentrasi seperti halnya gas karbonmonoksida (CO),
asam kuat dan basa kuat.
Roman Forensik Edisi 8 107
4. Frekuensi dan waktu paruh
Seringnya kontak, lama kontak (durasi) dan waktu paruh zat yang kontak juga
mempengaruhi toksisitas racun.
5. Cara masuk zat ke dalam tubuh
Cara masuk zat ke dalam tubuh sangat menentukan kecepatan kecepatan absorbsi dan
beredarnya zat secara sistemik. Pemekaian zat per oral relatif lebih lambat dibandingkan
secara injeksi dan inhalasi.
6. Ko-medikasi
Adanya zat lain (ko-medikasi) dapat meningkatkan toksisitas zat dengan toksisitas rendah
atau mengubah zat yang tidak toksik menjadi toksik. Alkohol merupakan ko-medikasi
yang paling sering digunakan, yang dapat meningkatkan efek depresan dari obat-obat
yang menekan sistem saraf pusat.
7. Kondisi pemakai
Kondisi korban harus diperiksa dengan teliti terhadap adanya penyakit-penyakit yang
melibatkan sistem metabolisme dan detoksifikasi, dimana penyakit tersebut dapat
meningkatkan toksisitas suatu zat. Demikian juga halnya faktor umur, jenis kelamin,
status gizi, reaksi alergi, dan idiosinkrasi.
KERACUNAN DALAM BIDANG MEDIS
Pelayanan forensik klinis kasus keracunan pada prinsifnya adalah mengumpulkan
bukti-bukti penggunaan racun dan menginterpretasikannya dalam bentuk sertifikasi yang
dapat dijadikan bukti da dapat diterima di pengadilan. Informasi yang melatarbelakangi
keracunan menjadi salah satu bukti yang perlu digali dan dikumpulkan. Pemeriksaan forensik
dalam kasus keracunan dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu atas dasar dari tujuan
pemeriksaan itu sendiri. Yang pertama bertujuan untuk mencari penyebab kematian, misalnya
kematian karena keracunan morfin, sianida, keracunan karbonmonoksida serta keracunan
insektisida dan lain sebagainya. Yang kedua, dan ini sebenarnya yang terbanyak kasusnya
akan tetapi belum banyak disadari, adalah untuk mengetahui mengapa suatu peristiwa,
misalnya peristiwa pembunuhan, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan pesawat udara dan
perkosaan dapat terjadi. Dengan demikian tujuan yang kedua bermaksud untuk membuat
suatu rekaan rekonstruksi atas peristiwa yang terjadi, sampai sejauh mana obat-obatan atau
racun tersebut berperan sehingga kecelakaan pesawat udara misalnya, dapat terjadi.
BENTUK KERACUNAN BERDASARKAN MOTIF
Salah satu tujuan pelayanan forensik klinik adalah memberikan informasi atau fakta-
fakta yang membuat terang kasus keracunan yang mencurigakan termasuk motif yang
melatarbelakangi kasus tersebut. Dalam kasus tindak pidana harus dibuktikan adanya
perbuatan yang salah (actua rheus) dan situasi batin yang melatarbelakangi tindakan tersebut
(men rhea). Motif keracunan harus ditentukan sebagai unsur men rhea, apakah timbul akibat
kecerobohan (recklessness), kealpaan (negligence) atau kesengajaan (intentional).

Secara umum, motif keracunan dapat dibedakan menjadi dua bentuk (tipe)
berdasarkan korban keracunan, yaitu:

1. Tipe S (spesific target)
Menunjukkan bahwa korban keracunan hanya orang tertentu dan biasanya antara pelaku
dan korban sudah saling kenal. Motivasi yang biasanya melatarbelakangi, antara lain:
uang, membunuh, pembunuhan lawan politik dan balas dendam. Keracunan tipe S
berdasarkan terjadinya dibagi ke dalam dua sub grup yaitu:
a. Sub grup S tipe S/S (spesific/slow) dimana keracunan terjadi secara perlahan
dan direncanakan oleh pelaku.
b. Sub grup Q tipe S/Q (spesific/quick) dimana keracunan terjadi secara
mendadak dan tanpa perencanaan sebelumnya.
Roman Forensik Edisi 8 108
Pemeriksaan terhadap korban keracunan tipe S/S perlu mendapat perhatian lebih sebab
kegagalan pembuktian tanda-tanda keracunan oleh dokter sangat sering membuat kasus
tersebut menjadi kasus tersebut menjadi kasus pembunuhan yang sempurna (the perfect
murder). Pembunuhan yang sempurna adalah kematian korban yang sesungguhnya akibat
tindaan pidana tetapi dokter menyatakan sebagai kematian wajar karena faktor penyakit.
Kasus pembunuhan yang sempurna terjadi bukan karena keahlian si pembunuh, tetapi
akibat kegagalan dokter mengenali tanda-tanda keracunan pada korban.
2. Tipe R (random target)
Terjadi pada korban yang acak. Motivasi bentuk keracunan ini biasanya ego, sadistik, dan
teror. Berdasarkan kejadiannya keracunan tipe R dibagi:
a. Sub grup S tipe R/S (random/slow), terorisme merupakan salah satu benuk
keracunan tipe ini bila racun yang dipakai sebagai alat untuk menjalankan teror.
b. Sub tipe Q tipe R/Q (random/quick).
PEMERIKSAAN FORENSIK KLINIK TERHADAP KORBAN KERACUNAN
Pemeriksaan korban keracunan pada prinsipnya sama secara medis maupun secara
forensik klinis meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan. Perbedaan
yang ada adalah pada hasil akhir pemeriksaan, berupa sertifikasi yang memberi batuan
pembuktian hukum terhadap korban. Sertifkasi yang dimaksud adalah diterbitkannya visum et
repertum peracunan.

Dalam pemeriksaan forensik klinis, anamnesis dapat bersifat autoanamnesis bila
korban kooperatif atau alloanamnesis baik terhadap keluarga koban atau penyidik. Beberapa
hal yang perlu ditekankan dalam anamnesis :

- Jenis racun
- Cara masuk racun (route of administration) : melalui ditelan, terhisap bersama udara
pernafasan, melalui penyuntikan, penyerapan melalui kulit yang sehat atau kulit yang
sakit, melalui anus atau vagina.
- Data tentang kebiasaan dan kepribadian korban
- Keadaan sikiatri korban
- Keadaan kesehatan fisik korban
- Faktor yang menigkatkan efek letal zat yang digunakan seperti penyakit, riwayat
alergi atau idiosinkrasi atau penggunaan zat-zat lain (ko-medikasi)
Dalam pemeriksaan fisik, harus dicatat semua bukti-bukti medis meliputi tanda-tanda
mencurigakan pada tubuh korban seperti bau tertentu yang keluar dari mulut atau saluran
napas, warna muntahan dan cairan atau sekret yang keluar dari mulut atau saluran napas,
adanya tanda suntikan, dan tanda fenomena drainage. Gejala-gejala dan perlukaan tertentu
harus dicatat seperti kejang, pin point pupil atau tanda gagal napas. Demikian juga terhadap
luka-luka lecet sekitar mulut, luka suntikan atau kekerasan lainnya. Bau-bau tertentu harus
dikenali dalam pemeriksaan seperti bau amandel pada keracunan sianida, bau pestisida atau
bau minyak tanah yang dipakai sebagai pelarut.

Pengambilan dan analisis sampel dilakukan dengan mengambil sisa muntahan, sekret
mulut dan hidung, darah serta urin. Bila racun per oral, analisis isi lambung harus dilakukan
secara visual, bau dan secara kimia. Skrening racun diambil dari sampel urin dan darah.

Hasil akhir pemeriksaan forensik klinik adalah diterbitkannya Visum et Repertum
Peracunan yang merupakan salah satu alat bukti sah di pengadilan. Prosedur penerbitan
Visum et Repertum Peracunan sesuai dengan prosedur medikolegal penerbitan visum dimana
harus dibuat berdasarkan Surat Permintaan Visum resmi penyidik (Pasal 133 KUHAP).
Dalam Visum et Repertum peracunan ditentukan kualifikasi luka akibat peracunan, dimana
penentuannya berdasarkan penilaian efek racun terhadap metabolisme dan gangguan fungsi
organ yang diakibatkan oleh racun.

Roman Forensik Edisi 8 109
PEMERIKSAAN FORENSIK KASUS KERACUNAN TERHADAP KOBAN YANG
SUDAH MENINGGAL
Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan keracunan pada
korban yang sudah meninggal antara lain:
1. Pemeriksaan post mortem
a. Pemeriksaan luar
Pada pemeriksaan luar untuk kasus keracunan, kemungkinan didapatkan:
- Racun jenis tertentu mengeluarkan bau aroma yang khas, misalnya asam
hidrosianida, asam karbonat, kloroform, alkohol, dll. Untuk menjaga keutuhan
jenazah tidak boleh menggunakan cairan desinfektan yang mempunyai bau
(aroma).

- Pada permukaan tubuh jenazah mungkin ditemukan bercak-bercak yang
berasal dari muntahan, feses dan kadang-kadang jenis racun itu sendiri.

- Perubahan warna kulit, misalnya menjadi kuning pada keracunan fosfor dan
keracunan akut akibat unsur tembaga sulfat.

- Keadaan pupil mata dan jari tangan yang lemas atau mengepal.

- Pemeriksaan lubang pada tubuh jenazah untuk melihat adanya tanda-tanda
bekas zat korosif atau benda asing.

- Livor mortis yang khas, merah terang, cherry red atau merah coklat (bila
racunnya menyebabkan perubahan warna darah sehingga warna lebam jenazah
mengalami perubahan.

b. Pemeriksaan dalam
Pada umumnya tanda-tanda keracunan tampak pada traktus gastrointestinal, terutama
jika keracunan akibat zat korosif atau iritan. Perubahan yang terjadi adalah:
- Hiperemia
Warna kemerahan pada membran mukosa paling jelas terlihat pada bagian cardiac
lambung dan pada bagian curvatura major. Warnanya adalah merah gelap dan
hiperemia ini bentuknya bisa merata atau bercak, misalnya pada keracunan arsen
hiperemia adalah merah merata.
Perubahan warna juga bisa muncul karena berbagai unsur lainnya seperti sari
buah. Asam nitrat menyebabkan warna kuning pada usus. Hiperemia harus
dibedakan dengan kongesti vena secara menyeluruh yang terjadi pda kematian
akibat asfiksia. Gambaran yang membedakan dengan hiperemia yang disebabkan
oleh penyakit adalah pada hiperemia karena penyakit sifatnya merata dan terdapat
pada seluruh permukaan serta tidak berupa bercak, selain itu gambaran membran
mukosa lebih banyak terkena pada kasus keracunan.
- Perlunakan
Keadaan ini terjadi pada keracunan korosif, lebih sering terlihat pada kardiak
lambung, kurvatura mayor, mulut, tenggorokan dan esofagus. Jika disebabkan
karena penyakit, gambaran ini hanya tampak pada lambung. Juga harus dibedakan
dengan perlunakan post mortem yang terdapat pada bagian yang lebih rendah dan
mengenai seluruh lapisan dinding lambung. Pada bagian yang mengalami
perlunakan tidak ada tanda-tanda inflamasi.
- Ulserasi
Paling sering ditemukan ditemukan pada curvatura major lambung dan harus
dibedakan dengan tukak peptik yang paling sering terdapat di curvatura minor
lambung dan ditandai dengan adanya hiperemia di sekitar tukak tersebut.
- Perforasi
Roman Forensik Edisi 8 110
Sangat jarang terjadi, kecuali pada kasus keracunan asam sulfat. Perforasi juga
bisa terjadi akibat tukak kronis, tetapi bentuk perforasi pada kasus ini biasannya
lonjong atau bulat, pinggirnya melekuk ke arah luar dan lambung menunjukkan
tanda-tanda perlekatan dengan jaringan sekitar.
2. Pemeriksaan kimia/toksikologi pada organ tubuh bagian dalam
Ditemukannya jenis racun pada darah, feses, urin atau dalam organ tubuh merupakan
bukti yang memastikan bahwa telah terjadi keracunan. Racun bisa ditemukan dalam
lambung, usus halus, dan kadang-kadang pada hati, limpa dan ginjal. Organ tubuh dan
bahan yang diperiksa antara lain :
- Urin dan feses
- Darah
- Lambung dan isinya
- Bagian dari usus halus (duodenum dan jejunum)
- Hati
- Setengah bagian dari masing-masing ginjal
- Otak dan medulla spinalis, terutama pada keracunan striknin
- Uterus dan organ-organ yang berkaitan dengan uterus, jika ada kecurigaan abortus
kriminalis
- Paru-paru terutama pada keracunan kloroform
- Tulang, rambut, gigi dan kuku
- Organ tubuh lainnya yang dicurigai mengandung racun.
3. Pengumpulan bukti-bukti dari sekitar tempat kejadian
KUNCI PEMBUKTIAN KASUS KERACUNAN
Dalam pembuktian kasus keracunan sebagai tindak pidana, banyak hal yang harus
dibuktikan dan dalam pembuktiannya banyak melibatkan dokter forensik klinis. Hal yang
dibuktikan antara lain :

1. Bukti hukum (legally proving): bukti hukum yang dapat diterima di pengadilan
(adminissible) sangat tergantung dari keaslian bukti tersebut sehingga penatalaksanaan
terhadap bukti-bukti pada korban sangat diperlukan. Terlebih lagi pada kasus tindak
pidana yang memerlukan standar pembuktian dengan tingkat kepercayaan yang lebih
tinggi yaitu sampai tidak ada keraguan yang beralasan.
2. Pembuktian motif keracunan
3. Kondisi yang memungkinkan dapat diperolehnya racun seperti adanya resep, toko
obat atau toko yang menyediakan substansi yang digunakan.
4. Bukti-bukti pada korban seperti kebiasaan korban, gangguan kepribadian, kondisi
kesehatan, dan penyakit serta kesempatan dilibatkannya racun.
5. Bukti kesengajaan (intentional)
6. Bila korban meninggal harus ditentukan sebab kematian korban adalah racun dengan
menyingkirkan sebab kematian yang lainnya.
7. Bukti peracunan adalah homicide.
Dari 7 bukti pembuktian kasus keracunan tersebut, tampak bantuan dokter sangat
diperlukan dalam beberapa langkah terutama :

• Pengumpulan, pencatatan dan interpretasi bukti keracunan medis dalam upaya
memberikan pembuktian hukum
• Menemukan bukti-bukti pada korban seperti kebiasaan, kondisi fisik dan
keadaan psikiatri korban
• Penentuan sebab kematian bila korban dengan mengeklusi penyebab kematian
lainnya
Roman Forensik Edisi 8 111
MEKANISME KERJA RACUN DALAM TUBUH MANUSIA
1. Racun yang bekerja lokal atau setempat, zat-zat korosif : lisol, asam kuat, basa kuat,
yang bersifat iritan : arsen, HgCl
2
, yang bersifat anestetik : kokain, asam karbol
2. Racun yang bekerja secara sistemik
- narkotika, barbiturat dan alkohol; terutama berpengaruh terhadap susunan saraf pusat
- digitalis dan asam oksalat; terutama berpengaruh terhadap jantung
- karbonmonoksida dan sianida, terutama berpengaruh terhadap sistem enzim
pernafasan dalam sel
- insektisida golongan “chlorinated hydrocarbon” dan golongan fosfor organik
- cantharides dan HgCl
2
, terutama berpengaruh terhadap ginjal.
3. Racun yang bekerja secara lokal dan sistemik
- asam oksalat
- asam karbol
- arsen
- garam Pb
KERACUNAN SIANIDA
Sianida adalah racun yang digunakan baik untuk bunuh diri, kecelakaan atau
pembunuhan. Meskipun diagnosis autopsi tentang keracunan sianida sangat jarang diragukan,
analisis toksikologi mungkin sulit untuk interpretasi akibat destruksi maupun produk sianida
dalam tubuh yang sudah mati dan bahkan pada sampel darah yang disimpan untuk menunggu
diperiksa. Keracunan sianida akut merupakan kasus yang paling sering dilaporkan sendiri,
dalam beberapa kasus biasanya garam natrium maupun kalium ikut masuk ke saluran cerna.
Hal ini bisa tiba-tiba maupun dalam kecelakaan kerja (industri) yang dalam beberapa kasus
garam-garam tersebut ikut dilibatkan, atau mungkin gas-gas yang dibebaskan dari beberapa
proses komersil.
Sianida (CN) merupakan racun yang sangat toksik, cara masuk ke dalam tubuh dapat
secara :
- inhalasi, misalnya gas HCN (gas penerangan, sisa pembakaran seluloid, fumigasi
kapal)
- oral, yaitu garam CN yang dipakai pada peyepuhan emas, pengelasan besi dan baja,
serta fotografi dan amigdalin yang didapat dari singkong, ubi dan biji apel
Setelah diabsorbsi, CN masuk ke dalam sirkulasi sebagai CN bebas dan tidak dapat
berikatan dengan Hb kecuali dalam bentuk methemoglobin akan terbentuk
sianmethemoglobin. CN akan mengaktifkan enzim oksidatif beberapa jaringan secara radikal,
terutama sitokrom oksidase juga merangsang pernapasan bekerja pada ujung sensorik sinus
(kemoreseptor) sehingga pernapasan cepat. Dengan demikian proses oksidasi-reduksi dalam
sel tidak berlangsung dan oksihemoglobin tidak dapat berdisosiasi melepaskan O
2
ke sel
jaringan sehingga timbul anoksia jaringan. Hal ini merupakan keadaan paradoksal karena
korban meninggal akibat hipoksia tetapi darahnya kaya akan O
2
.

Takaran toksik per oral untuk HCN adalah 60-90 mg, sedangkan KCN atau NaCN
adalah 200 mg. Gas CN 200-400 ppm akan menyebabkan kematian dalam 30 menit
sedangkan gas CN 20000 ppm akan menyebabkan meninggal seketika.
Penemuan Autopsi pada Keracunan Sianida
Roman Forensik Edisi 8 112
Tanda dan gejala keracunan akut CN yang ditelan dapat dengan cepat menyebabkan
kegagalan pernafasan dan kematian dapat timbul dalam beberapa menit. Dalam interval yang
pendek antara menelan racun sampai kematian, korban mengeluh merasa terbakar pada
kerongkongan dan lidah, hipersalivasi, mual, muntah, sakit kepala, vertigo, photophobia,
tinitus, pusing, kelelahan dan sesak napas. Dapat pula ditemukan sianosis pada muka, keluar
busa dari mulut, nadi cepat dan lemah, napas cepat dan kadang-kadang tidak teratur, refleks
melambat, udara pernapasan berbau amandel. Menjelang kematian sianosis nyata dan timbul
kedutan otot-otot berlanjut dengan kejang dengan inkontinensia urin dan alvi. Racun yang
diinhalasi menimbulkan palpitasi, kesukaran bernapas, mual muntah sakit kepala, salivasi,
lakrimasi, iritasi mulut dan kerongkongan, pusing, kelemahan ekstremitas, kolaps, kejang,
koma, dan meninggal.

Pemeriksaan luar jenazah dapat tercium bau amandel yang merupakan tanda
patognomonik untuk keracunan CN. Selain itu didapatkan sianosis pada wajah dan bibir, busa
keluar dari mulut, dan lebam jenazah berwarna merah terang. Pemeriksaan selanjutnya
biasanya tidak memberikan gambaran yang khas.
Dari luar, ada banyak variasi dalam penampilanya. Yang klasik, lebam mayat
dikatakan menjadi berwarna merah bata, sesuai dengan kelebihan oksi hemoglobin (karena
jaringan dicegah dari penggunaan oksigen) dan ditemukannya cyanmethemoglobin. Banyak
deskripsi lebam mayat yang mengarah pada kulit yang berwarna merah muda gelap atau
bahkan merah terang, terutama bergantung pada daerahnya, yang mana dapat dibingungkan
dengan karboksi hemoglobin.
Mungkin bau sianida ada pada tubuh dan dapat dikenal, tapi perlu diketahui bahwa
banyak orang tidak bisa mendeteksi bau ini, kemampuan menciumnya berhubungan dengan
genetik (bukan berdasarkan pengalaman). Ini penting diketahui oleh ahli patologi dan
pegawai kamar mayat, bahwa keracunan sianida dapat membawa resiko. Para petugas terkait
menjadi sakit dan untuk sementara mengalami gangguan fungsi setelah mengautopsi mayat
bunuh diri yang telah menelan sejumlah besar kalium sianida. Diasumsikan mungkin akibat
menghirup hidrogen sianida dari isi perut mayat ketika melakukan pemeriksaan organ dalam.
Pada autopsi dapat tercium bau amandel waktu membuka rongga dada, perut dan
otak. Darah, otot dan penempang organ berwarna merah terang. Juga ditemukan tanda-tanda
asfiksia. Pemastian diagnosis keracunan CN dilakukan dengan pemeriksaan toksikologis
terhadap isi lambung dan darah.

Perut dapat berisi darah maupun rembesan darah akibat erosi maupun pendarahan di
dinding perut. Jika sianida berada dalam larutan encer, mungkin ada sedikit kerusakan pada
perut, terpisah dari warna merah muda pada mukosa dan mungkin beberapa pendarahan
berupa petechiae. Mungkin juga sianida tersebut menjadi kristal / bubuk putih yang tidak
dapat larut, dengan bau seperti almond.
Seperti kematian yang biasanya berlangsung cepat, sedikit bagian dari sianida dapat
sudah melewati masuk ke dalam sel cerna. Esofagus dapat mengalami kerusakan, terutama
pada bagian mukosa esofagus yang ketiga yang lebih bawah, yang bisa mengalami perubahan
post mortem dari regurgitasi isi perut melalui relaksasi sphincter jantung setelah mati. Organ
lain tidak menunjukkan perubahan yang spesifik dan diagnosis dibuat berdasarkan ceritanya,
bau dan warna kemerahan pada jaringan dalam tubuh maupun kulit.
Analisis Toksikologi
Darah, isi perut, urin dan muntahan harus diserahkan ke laboratorium, membutuhkan
perhatian khusus bahwa sampel terhindar dari resiko dalam pengemasannya, transportasinya
atau tidak dikemasnya sampel tersebut. Pemerikasaan laboratorium harus dilakukan dan
diperhatikan jika ada kemungkinan terjadinya keracunan sianida.
Jika kematian mungkin disebabkan oleh inhalasi gas hidrogen sianida, paru-parunya
harus dikirim utuh, dibungkus dalam kantong yang terbuat dari nilon (bukan polivinil
klorida).
Roman Forensik Edisi 8 113
Penting untuk membawa sampel ke laboratorium sesegera mungkin (dalam beberapa
hari) untuk menghindari struktur sianida yang tidak seperti aslinya lagi dalam sampel darah
yang telah disimpan. Hal ini biasanya dapat terjadi akibat suhu ruangannya, sehingga jika ada
penundaan, adanya kulkas pendingin menjadi penting. Jika dibandingkan, beberapa sampel
positif sesungguhnya dapat menurun kualitasnya pada penyimpanan. Lebih dari 70% isi
sianida dapat hilang setelah beberapa minggu, akibat reaksi dengan komponen jaringan dan
konversi menjadi thiosianad.
Dikatakan bahwa tidak ada struktur sianida yang tidak seperti aslinya lagi, sianida
yang ditemukan dalam jumlah cukup adalah bukti bahwa sianida masuk dalam tubuh yang
mana hal itu sendiri tidak normal dan dikonfermasi sebagai barang bukti dari terjadinya
keracunan.
KERACUNAN KARBONMONOKSIDA
Karbonmonoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak
merangsang selaput lendir. Sumber CO berasal dari hasil pembakaran tidak sempurna motor
yang menggunakan bahan bakar bensin. CO diserap melalui paru, sebagian besar diikat oleh
Hb, afinitas COHb 208-245 kali afinitas O
2
. Bila korban dipindahkan ke udara bersih, kadar
COHb berkurang 50% dalam waktu 4,5 jam dan setelah 6-8 jam darah tidak mengandung
COHb lagi. Gejala keracunan CO berkaitan dengan kadar COHb dalam darah

Gejala yang ditimbulkan akibat keracunan CO.
Saturasi
COHb
Gejala
10 % Tidak ada
10% - 20% Rasa berat pada kening, sakit kepala ringan
20% - 30% Sakit kepala, berdenyut pada pelipis
30% - 40% Sakit kepala keras, lemah, pusing,penglihatan buram, mual dan muntah,
kolaps
40% - 50% Sama dengan gejala di atas tetapi dengan kemungkinan besar kolaps atau
sinkop. Pernapasan dan nadi cepat, ataksia.
50% - 60% Sinkop, pernapasan dan nadi bertambah cepat, koma dengan kejang
intermitten, pernapasan Cheyne-Stokes
60% - 70% Koma dengan kejang, depresi jantung dan pernapasan, mungkin
meninggal
70% - 80% Nadi lemah, pernapasan lambat, gagal napas dan meninggal.
Autopsi pada keracunan CO dapat memberikan petunjuk penyebab kematian. Salah
satu contoh keracunan CO mati didalam mobil dengan AC yang dibiarkan tetap menyala,
dengan gambaran patologi dari luar atau eksterna langsung tertuju pada CO. Pada autopsi
penampilan yang paling jelas adalah warna pada kulit terutama pada post-mortem hipostasis.
Pada autopsi biasanya relatif mudah untuk menentukan korban yang meninggal pada
keracunan CO dengan melihat warna lebam mayat yang berupa cherry red pada kulit, otot,
darah dan organ-organ interna, akan tetapi pada orang yang anemik atau mempunyai kelainan
darah warna cherry red ini menjadi sulit dikenali. Warna klasik “ Chery-pink” pada CO-Hb
sebagai bukti jika saturasi darah kira-kira >30%. Dibawah ini secara jelas <20%, tidak tampak
adanya warna. Pada konsentrasi ini jarang mengakibatkan kematian. Terkadang sianosis yang
semakin gelap cenderung menutupi warna kulit, tapi batas pasa hipostasis dan warna bagian
dalam dapat terbukti.

Pemeriksaan dalam untuk keracunan yang tidak lama terjadi ditemukan jaringan otot,
viscera dan darah yang berwarna merah terang. Kadang-kadang ditemukan tanda-tanda
asfiksia dan hiperemia viscera. Pada otak besar dapat ditemukan petekie di substansia alba
bila korban bertahan hidup lebih dari 30 menit.

Roman Forensik Edisi 8 114
Pada korban keracunan CO yang sempat mendapat pertolongan dan baru meninggal
beberapa saat (hari) kemudian, maka kadar COHb dalam darah sudah kembali rendah dan
lebam mayat tidak akan berwarna merah terang. Mekanisme kematian pada kasus ini adalah
anoksia jaringan otak, yang pada pemeriksaan jenazah petekie pada substantia alba otak atau
gambaran infark atau ensephalomalacia yang simetris. Pada kondisi demikian, diagnosis
kematian akibat keracunan CO ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan di TKP atau
gambaran klinis saat korban baru dirawat.

Saran lain mengenai indikasi CO adalah ketika jaringan dimasukkan dalam larutan
garam untuk kepentingan histologis, mereka tidak terjadi pewarnaan secara cepat sama seperti
jaringan normal dan tetap merah muda sepanjang periode. Jika keracunan CO dicurigai pada
autopsi, test yang cepat dengan menambah beberapa tetes darah pada 10% cairan NaOH di
kaca gelas yang memberi latar putih. Darah normal akan segera menjadi hijau kecoklatan tapi
jika terdapat monoksida, warnanya akan menjadi merah muda, seperti tidak ada met-Hb yang
terbentuk. Bagaimanapun juga test kasar tidak disarankan sebagai alternative yang digunakan.
KERACUNAN INSEKTISIDA
Insektisida merupakan bahan yang digunakan untuk membunuh serangga. Pestisida
dalam arti yang luas mencakup insektisida, fungisida, rodentisida, dll, yang digunakan untuk
mengendalikan hama. Kasus kematian akibat insektisida seringkali merupakan kematian
akibat bunuh diri menggunakan bahan pembunuhan serangga golongan karbamat yang
digunakan luas dimasyarakat. Selain itu keracunan juga disebabkan oleh faktor
ketidaksengajaan pada proses penyemprotan. Pembunuhan dengan racun jenis ini jarang
terjadi.
Insektisida yang sering digunakan, antara lain :

1. golongan fosfat organik : malation, paration, paraxon, diazinon
2. golongan karbamat : carbaryl, baygon
3. golongan hidrokarbon yang diklorkan : DDT, lindane
Berdasarkan cara kerjanya, golongan organofosfat dan karbamat dikategorikan ke
dalam antikolinesterase. Pada golongan organofosfat inhibisinya bersifat irreversibel,
sedangkan golongan karbamat bersifat reversibel. Inhibisi mengakibatan terjadinya akumulasi
asetilkoloin, rangsangan pada saraf kolinergik diperpanjang. Kematian terjadi karena gagal
napas dan henti jantung. Gejala klinis berupa gangguan penglihatan, sukar bernapas, saluran
pencernaan hiperaktif. Tanda dan gejala lain yang sering terjadi antara lain sakit kepala,
kelemahan otot, hiperhidrosis, lakrimasi, salivasi, miosis, sekresi saluran napas, sianosis,
papil edem, konvulsi, koma, dan hilangnya kontrol terhadap sfingter.

Pada pemeriksaan dalam ditemukan tanda pembendungan pada alat dalam. Di dalam
lambung ditemukan cairan yang terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan cairan lambung dan
lapisan larutan insektisida. Mukosa lambung dan usus bagian atas tampak hiperemis dan
mengalami perdarahan submukosa. Juga dapat tercium bau pelarut insektisida. Limpa, otak
dan paru tampak edem dan kongesti. Kerusakan jaringan hati biasanya merupakan penyebab
kematian pada keracunan kronis.

KERACUNAN DDT
Cara kerja : Merangsang sistem saraf pusat
Keracunan akut: Bisa terjadi secara tidak sengaja atau karena upaya bunuh diri.
Gejala : Mual, muntah, tremor, kejang, inkoordinasi, paralisis, edema paru, koma dan
akhirnya meninggal.
Dosis fatal : 30 gram
Roman Forensik Edisi 8 115
Periode fatal : 24 jam
Penatalaksanaan:
1. bilas lambung
2. suntikan atropine
3. fenobarbital bisa digunakan
4. simtomatik
5. tidak boleh diberikan makanan yang mengandung minyak atau lemak
Keracunan kronis
Biasanya akibat inhalasi atau penyerapan kulit dalam jangka waktu yang lama.
Gejala-gejala:
- tidak nafsu makan
- gelisah
- insomnia
- tremor
- kejang dan koma
Penatalaksanaan:
1. Hindari makanan mengandung minyak dan lemak
2. Fenobarbital dapat digunakan untuk mengendalikan tremor
KERACUNAN ORGANOFOSFAT
Racun ini dapat diserap melalui berbagai jalur.
Cara Kerja
Racun mempengaruhi neuromuscular junction dan sinaps pada ganglion. Efeknya adalah:
a. efek muskarinik, misalnya mual, muntah, kejang otot abdomen, keringat, salvias, dan
spasme bronkus
b. efek nikotinik, misalnya fasikulasi dan fibrilasi otot, takikardi, takipne
c. efek pada sistem saraf pusat, misalnya pusing, tremor, ataksia, koma, dan meninggal
d. air mata merah; yaitu karena berkumpulnya porfirin pada kelenjar lakrimalis.
Gejala-gejala
Bergantung dari cara masuknya racun kedalam tubuh.
Tahap awal: sakit kepala, mual, muntah, dada terasa tertekan, miosis, pandangan kabur dan
mulut berbusa
Tahap lanjut: muntah, 53-150 mg intramuscular atau 100-400 mg melalui oral.
Periode fatal : 1 sampai 3 jam
Penatalaksanaan
1. Diberikan suntikan atropine sulfat 2 mg secara intramuskuler. Suntikan ini bisa
diulangi jika perlu sampai mencapai dosis maksimum yaitu 50 mg. Atropine akan
menghambat efek muskarinik dan efek racun pada susunan saraf pusat.
2. bilas lambung dilakukan dengan larutan kalium permanganate
3. jika dengan atropine tidak ada perbaikan, diberikan reaktivator kolinesterase yang
spesifik seperti diacelyemonoxial (DAM) atau Pyridine 2-aldoxima methiodide
(P2AM)
4. suntikan fenobarbital diberikan untuk mengatasi kejang-kejang
Roman Forensik Edisi 8 116
5. pengobatan simtomatik seperti pemberian oksigen, aspirasi atau trakheostomi
dilakukan jika perlu. Dehidrasi dan syok harus segera diatasi
Autopsi
1. ditemukan tanda-tanda asfiksia
2. mukosa lambung mengalami inflamasi disertai dengan perdarahan petekia
3. paru-paru tampak mengalami edema, inflamasi dan perdarahan
Kepentingan dari segi medikolegal
1. keracunan paling sering terjadi karena upaya bunuh diri
2. keracunan karena ketidaksengajaan adalah pada penyemprotan
3. pembunuhan dengan racun jenis ini jarang terjadi
KERACUNAN ARSEN
As
2
O
3
atau arsen trioksida atau disebut juga acidum arsenicosum merupakan senyawa
yang sering dan penting artinya dalam hubungannya dengan keracunan. As
2
O
3
ini berupa
serbuk putih atau kadang kristal halus dengan sedikit rasa (lemah) bahkan dapat dikatakan
tidak berasa sama sekali dan tidak berbau. Mudah larut dalam asam lambung, dalam bentuk
gas biasanya berbau bawang putih. Senyawa arsenik ini banyak ditemukan dalam bidang
pertanian (rodenticide), industri (sebagai pengotoran dari zat warna, mordant) maupun dalam
bidang pengobatan (sedian-sedian yang mengandung arsenikum baik sebagai senyawa
anorganik maupun organik). Bentuk lain dari arsenikum ini adalah Arsine dan Ethylarsine
dimana berada dalam bentuk gas.
Arsen dalam bentuk metal tidak beracun, yang beracun adalah dalam bentuk garam.
Arsen mengiritasi jaringan, menekan sisem saraf dan menghalangi respirasi. Arsen tidak
berwarna, tadak berbau (As
2
O
3
) dan tidak berasa. Bentuknya seperti bubuk giling, tidak larut
dalam air. Jumlah yang sangat sedikit sudah dapat membunuh seseorang (30-300 mg). Cara
kerja keracunan akut berupa gangguan metabolisme seluler dengan menghambat sistem enzim
sulfhidril, selain itu arsen dianggap merupakan racun kapiler dan menyebabkan dilatasi
kapiler. Timbulnya gejala biasanya dalam waktu 2 jam setelah masuknya racun. Arsen
menyebabkan :
- rasa terbakar pada tenggorokan, retrosternum dan epigastrium; rasa sangat haus
disertai mual, muntah dan diare
- nyeri akut pada abdomen, mungkin karena perforasi lambung
- tenesmus yang disertai tinja berwarna hitam karena banyak mengandung darah dan
banyak mengandung cairan seperti diare pada kolera
- berkurangnya produksi urin, terdapatnya sel darah merah pada urin dan selanjutnya
dapat mengalami gagal ginjal
- gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit mengakibatkan dehidrasi dan kejang
otot. Pasien menjadi gelisah
- tanda syok akan menonjol pada tahap menjelang kematian
- koma, kejang dan meinggal
Ada 4 tipe gejala keracunan:
1. Acute Paralytic
Timbul mendadak setelah korban keracunan dengan dosis besar serta absorbsinya berjalan
sangat cepat. Gejala yang menonjol adalah akibat depresi susunan saraf pusat yang hebat
khususnya pusat-pusat vital dimedulla, antara lain:
- Circulatory collapse dengan tekanan darah turun/rendah
- Denyut nadi cepat dan lemah
Roman Forensik Edisi 8 117
- Pernafasan sukar dan dalam
- Stupor atau semicomatous
- Kadang-kadang kejang dan adakalanya tampak/ tidak tampak gejala iritasi
gastrointestinal
Kematian terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam.
2. Gastrointestinal Type
Merupakan gejala yang paling utama dijumpai dan khas, akibat lesi-lesi pada lambung, usus
maupun organ-organ parenchym segera setelah keracunan, timbul muntah dan diikuti diarrhea
setelah 1-2 jam kemudian.
- Rasa sakit dan cramp pada perut
- Rasa haus yang hebat, sakit tenggorokan
- Mulut terasa kering
- Muntah berkepanjangan, kadang-kadang bercampur darah
- Profuse diarrhea dengan faeces bercampur darah.
Gejala klinis diatas sangat inddividual, dimana satu penderita condong menunjukkan gejala
profuse diarrhea sebagai gejala utama, yang lain lebih condong menunjukkan gejala muntah
atau kombinasi dari gejala-gejala tersebut pada penderita lainnya.
Bila kasus keracunan lebih hebat maka timbul gejala seperti muka kebiruan dan cemas, kulit
pucat dan dingin, cramp pada kaki bagian atas, delirium, albuminuria, retensi urin, serta
dehidrasi akibat hilangnya cairan tubuh.
Kematian terjadi dalam beberapa jam sampai beberapa hari dan apabila penderita dapat
melewati serangan pertama, masih ada kemungkinan untuk bertahan hidup.
3. Subacute Type
Timbul apabila senyawa arsenikum diberikan dalam dosis kecil berulang kali dalam interval
waktu tertentu, atau akibat pemberian dalam dosis besar tetapi tidak segera menimbulkan
kematian dan menimbulkan efek keracunan selama dieksresikan (slow excretion).
Gejalanya:
- Degenerasi toksik pada hepar yang kemudian berkembang menjadi
acute/subacuteyellow atrophy disertai toxic jaundice hebat.
- Perdarahan multiple pada lapisan sub serosa jaringan
- Traktus Gastrointestinal mengalami inflamasi dan kronis serta diarhea berkepanjangan
- Cramp dan dehidrasi
- Ginjal mengalami nephrosis dengan albuminuria dan hematuria
- Skin eruption, bengkak seluruh tubuh, beberapa kasus tampak penderita mengalami
keratosis kulit, berat badan menurun serta keadaan umum korban makin buruk.
Kematian dapat terjadi beberapa hari kemudian.
4. Chronic Type
Type ini dapat berkembang/ terjadi setelah gejala akut mereda. Tampak gejala-gejala:
- Paralyse dan atrofi otot-otot tangan dan kaki sebagai akibat neuritis kronis disertai
dengan degenerasi saraf yang dimulai dari bagian perifer dan berjalan ke arah sentral.
- Anaesthesia
- Rambut dan kuku rontok
- Kadang tampak gastroentritis kronis disertai anoreksia, nausea, dan diare
- Kulit mengalami hiperkeratosis dan hiperpigmentasi
- Mata mengalami hiperkeratosis, kelopak mata bengkak
- Garis melintang pada kuku berwarna putih.
- Hiperkeratosis terutama tampak jelas pada telapak tangan dan telapak kaki
Pada kasus racun arsen dalam bentuk serbuk arsen, pasien akan batuk darah dengan
dahak yang berbusa, gangguan pernapasan dan sianosis. Selanjutnya mungkin mengalami
Roman Forensik Edisi 8 118
edema paru akut. Kematian mendadak akibat syok mungkin terjadi karena arsen dalam dosis
tinggi. Tetapi pada beberapa kasus, arsen dalam jumlah besar akan menyebabkan muntah
sehingga mengeluarkan sebagian besar racun tersebut dan pasiennya selamat. Pada beberapa
kasus, gejala-gejala pada sistem pencernaan sangat minimal, bahkan tidak sama sekali. Pasien
merasa pusing, nyeri prekordium, delirium, kehilangan kesadaran dan meninggal. Paralisis
seluruh anggota badan mungkin terjadi sebelum kematian.

Pada kasus kematian akibat keracunan arsen, pemeriksaan luar didapatkan tanda-
tanda dehidrasi, seperti mata cekung dan penonjolan tulang-tulang wajah. Pada pemeriksaan
dalam, mukosa mulut biasanya normal tetapi bisa tampak tanda-tanda inflamasi. Mukosa
sistem pencernaan mengalami inflamasi, berwarna merah disertai perdarahan submukosa.
Membran mukosa mempunyai rugae dan di antara rugae bisa ditemukan lendir yang kental
dan mengikat partikel racun. Isi lambung berwarna gelap.

Untuk mendiagnosis keracunan akibat arsen dilakukan pemeriksaan toksikologi pada
isi lambung. Pada kasus keracunan kronis, pemeriksaan terhadap rambut, kuku, dan tulang
akan memberikan hasil positif.

KERACUNAN ALKOHOL
Alkohol ada 2 jenis:
• Etil alkohol / Etanol (C
2
H
5
OH)
• Metil alkohol / Metanol (CH
3
OH)
Alkohol bersifat racun bagi otak. Alkohol murni berupa cairan yang bening, mudah menguap
dan mempunyai aroma yang khas.
Alkohol terdapat pada berbagai jenis minuman, misalnya:
• Alkohol absolut : 99,9%
• Rectified spirit (alkohol yang dimurnikan) : 90%
• Methylated spirit (alkohol denaturasi) : 95%
• Rum dan minuman keras lainnya : 50-60%
• Whisky, Gin dan Brandy : 40-45%
• Port, Sherry : 20%
• Anggur (wines) : 10-15%
• Bir : 4-8%
• Berbagai jenis minuman keras daerah : 5-10%
Metabolisme
Absorpsi terutama dari usus halus (80%) dan lambung (20%). Konsentrasi alkohol
dalam darah sudah bias ditemukan dalam waktu 5-10 menit setelah meminum alkohol. Kadar
puncak dalam darah adalah 30 menit setelah meminum alkohol. Dibutuhkan waktu yang lama
agar kadar puncak alkohol dalam darah ini bisa menyebabkan habituasi (ketergantungan) dan
keadaan lainnya seperti gastritis dan anemia.
Proses absorpsi semakin cepat jika terdapat air dalam saluran usus atau lambung
dalam keadaan kosong. Wine (anggur) merupakan jenis minuman yang paling cepat
penyerapannya.
Metabolisme alkohol terutama terjadi di hati (90%) dan mengalami oksidasi. Sisa
yang 10% diekslresikan melalui kulit, paru-paru, kelenjar liur dan ginjal. Alkohol bisa
menjadi sumber energy yang baik, dimana setiap 1 gram dapat menghasilkan 7 kalori.
Roman Forensik Edisi 8 119
Jenis keracunan alkohol
Keracunan alkohol bisa bersifat:
• Akut
• Kronis
KERACUNAN ALKOHOL AKUT
Terdiri atas 3 tahap:
1. Tahap merasa dalam keadaan senang
Pasien sadar dan merasa senang karena penekanan pada pusat-pusat hambatan di otak,
keadaan ini disebut fenomena pelepasan (release phenomenon). Tahap ini bisa
berlangsung lama dan dapat terlihat pada semua kasus. Tanda-tandanya:
• Muka merah
• Pasien sangat banyak bicara
• Pasien kehilangan pengendalian diri
• Gangguan pada pengendalian gerakan-gerakan halus, misalnya meminum air,
memasukkan benang ke dalam jarum. Ada kalanya pasien menjadi:
• Berperilaku kasar
• Bersifat sentimental
• Inkoordinasi
• Pupil sedikit mengalami dilatasi dan bereaksi terhadap cahaya
• Pernafasan berbau alkohol
Perlahan-lahan pasien akan memasuki tahap kebingungan
2. Tahap kebingungan
Keadaan ini adalah akibat penekanan pada pusat-pusat lainnya pada otak sehingga
berkaitan dengan:
Inkoordinasi-ataksia atau gerakan yang lambat
Pasien tidak dapat berjalan lurus
Percakapan tidak jelas, inkoheren dan sengau
Penglihatan kabur
Kemudian pasien akan memasuki fase setengah sadar dan akhirnya menjadi tidak
sadarkan diri. Pada tahap ini pasien masih bisa dibangunkan dengan suara yang kuat atau
cubitan.
3. Tahap koma
Roman Forensik Edisi 8 120
Sebelum memasuki tahap ini pasien masih bisa sembuh dan kembali pada tahap pertama.
Tetapi perlahan-lahan pasien akan memasuki tahap koma.
• Pernafasan lambat dan mendengkur
• Denyut nadi cepat dan halus
• Pasien tidak dapat dibangunkan walaupun dengan guncangan keras
• Suhu tubuh di bawah normal (hipotermia)
• Pupil sedikit mengalami konstriksi
• Kematian terjadi karena;
- Penekanan pada pusat otak yang lebih tinggi
- Anoksia otak akut
- Pneumonia atau edema paru
• Sebelum kematian mungkin mengalami kejang-kejang
Dosis fatal
Dosis bukan hanya tergantung dari jumlah yang diminum, tetapi juga bergantung pada
kebiasaan seseorang dan jenis minumannya. Misalnya alkohol absolut sebanyak 5 oz dapat
berakibat fatal. Untuk anak-anak berusia dibawah 12 tahun, alkohol absolut sebanyak 2 oz
juga sudah dapat berakibat fatal.
Pada buku lain juga mengatakan takaran alkohol untuk menimbulkan keracunan
bervariasi tergantung dari kebiasaan minum dan sensitivitas genetik perorangan. Umumnya
35 gram alkohol menyebabkan penurunan kemampuan untuk menduga jarak dan kecepatan
serta menimbulkan euforia. Alkohol sebanyak 75-80 gr akan menimbulkan keracunan akut
dan 250-500 gram alkohol takaran fatal. Kadar alkohol darah dari konsumsi 35 gram alkohol
dengan menggunakan rumus:
A= C x P x R
A : jumlah alkohol yang diminum
C : kadar alkool darah(mg%)
P : berat badan(kg)
R : konstanta (0,0007)
Bagi orang dewasa, dosis sebanyak 150-200 mL alkohol absolut sudah dianggap bisa
berakibat fatal.
Periode fatal
Jika alkohol diminum dalam jumlah yang banyak oleh seseorang yang tidak mempunyai
kebiasaan minum alkohol bisa menyebabkan kematian dalam beberapa menit. Periode fatal
bisanya antara 12-24 jam, pada beberapa kasus bisa agak panjang yaitu antara 5-6 hari
Penatalaksanaan
Jika pengobatan diberikan pada saat yang tepat sebelum pasien masuk dalam tahap koma,
yaitu ketika refleks tubuh sudah tidak ada dan mata mengalami konstriksi dan tidak bereaksi
terhadap cahaya, maka kemungkinan besar dapat sembuh.
• Untuk mengeluarkan racun bisa diupayakan agar pasien muntah secara mekanis yaitu
dengan menekan orofaring. Zat kimia perangsang muntah hanya digunakan jika keadaan
umum pasien cukup baik.
• Bilas lambung harus dilakukan walaupun pasien dalam keadaan tidak dapat
dikendalikan. Bahan yang dperoleh dari bilasan lambung yang pertama diambil untuk
bilasan kimia, kemudian bilas lambung dilanjutkan sampai hasil bilasan lambung tidak
mengandung bau alkohol.
• Berikan minuman hangat seperti teh atau kopi
Roman Forensik Edisi 8 121
• Penafasan buatan serta oksigen diberikan jika ditemukan adanya tanda-tanda
penekanan pernafasan
• Obat stimulansia sepert coramine, nikethamide diberikan dalam bentuk suntikan
• Upayakan agar suhu tubuh pasien selalu hangat
• Untuk mengatasi asidosis, diberikan soda bikarbonat melalui oral
• Jika pasien gelisah diberikan mephenisine dengan dosis 1-3 gram
• Jika perlu diberikan 1000 cc glukosa 10% serta garam fisiologis secara intravena,
kedalam larutan tersebut ditambahkan insulin 15 unit, vitamin B1 200 mg. niasinamida
200 mg dan vitamin C 1000 mg
• Antibiotik diberikan sebagai tindakan profilaksis terhadap infeksi paru-paru
Pasien diawasi dan diperhatikan tanda-tanda penyembuhan, yaitu;
• Pasien kembali memasuki tahap kebingungan
• Ukuran pupil kembali normal
• Mulai timbul gejala mual dan muntah
Gambaran Post-Mortem
1. Pemeriksaan luar
• Kaku mayat dan pembusukan lebih lambat terjadi. Mayat penderita bisa
bertahan lebih lama.
• Kongesti pada konjungtiva sangat jelas
2. Pemeriksaan dalam
• Bau alkohol bisa tercium dari isi lambung dan organ tubuh lainnya
• Dinding lambung hiperemis, berwarna merah dan isi lambung berwarna coklat
• Organ tubuh lainnya mengalami kongesti
• Edema otak sangat jelas terlihat dari jarak antara gyrus otak yang semakin
sempit
Bagian tubuh yang diperlukan untuk pemeriksaan kimia:
• Darah
• Paru-paru
• Otak
Pada bahan yang diambil tidak boleh ditambahkan zat pengawet dan pemeriksaan dilakukan
sesegera mungkin.
KERACUNAN ALKOHOL KRONIS
Keadaan ini terjadi karena meminum alkohol dalam jangka waktu yang lama. Korban
biasanya adalah penderita psikosis atau neurosis, sehingga alkohol digunakan sebagai pelarian
dari kenyataan hidup.
Roman Forensik Edisi 8 122
Gejala yang dialami:
• Nafsu makan menurun, mual, muntah dan diare
• Tremor pada tangan dan lidah
• Gangguan daya ingat dan kemampuan menilai
• Jika telah berlangsung lama bisa menyebabkan hipoproteinemia yang mengakibatkan
edema anasarka
• Selain mengalami stres psikologis, pasien juga mengalami neuritis perifer dan
demensia yang akan semakin nyata pada tahap akhir
• Pasien kemudian secara tiba-tiba mengalami koma dan pingsan
Penatalaksanaan
• Keadaan ini bisasanya adalah masalah psikiatri karena berbagai masalah yang
melatarbelakangi kebiasaan minum alkohol tersebut
• Kebiasaan minum alkohol harus dikurangi dengan memberikan tablet antabuse (Tetra
erthylthiuram disulphide) dengan dosis 0,25 sampai 0,75 gram per hari. Tablet antabuse
hanya diberikan dengan persetujuan pasien karena keadaan pasien akan sangat memburuk
jika setelah mendapat tablet Antabuse pasien kembali meminum alkohol. Untuk tujuan
yang sama bisa juga diberikan tablet Temposil (Citrated calcium carbimide) dengan dosis
50 mg per hari.
• Makanan dengan gizi yang seimbang
• Pemberian multivitamin untuk mengatasi adanya defisiensi. Pemberian vitamin ini
harus tetap diberikan untuk jangka waktu yang cukup lama
Gambaran Post-Mortem
• Mukosa lambung tampak menunjukkan hiperemi dan hipertrofi
• Hati dan ginjal mengalami kongesti. Pada hati terdapat infiltrasi lemak dan perubahan
sirosis
• Jantung membesar dan menunjukkan adanya infiltrasi lemak
Mabuk Alkohol
Keadaan mabuk adalah jika seseorang meminum alkohol dalam jumlah yang sangat banyak
sehingga orang tersebut tidak dapat menguasai dirinya baik secara fisik dan mental, dengan
demikian dia tidak mampu untuk bertindak dengan baik dan aman pada dirinya sendiri dan
orang lain di sekitarnya.
Kepentingan dari segi medikolegal
1. Alkoholisme adalah keadaan dimana setelah meminum alkohol secara berlebihan
seseorang tidak dapat menjaga kesehatannya, tidak mampu melakukan kegiatan
bermasyarakat atau keduanya. Secara farmakologi dampak yang terjadi adalah akibat
toleransi dan ketergantungan tubuh.
Dampak yang terjadi dari segi medikolegal adalah:
• Kecelakaan lalu-lintas
• Kecelakan industri
Roman Forensik Edisi 8 123
• Gangguan hubungan antar pribadi (masalah perkawinan)
• Cedera
• Pembunuhan
2. Alkohol bisa diperiksa melalui darah dan urin. Hal ini sangat berguna untuk
menerangkan mengenai kasus kematian mendadak, kecelakaan lalu lintas dll. Pada
beberapa kecelakaan industri, sering seseorang tersangka menyatakan bahwa dirinya
dalam keadaan mabuk sebagai upaya pembelaan.
Kadar alkohol dalam darah sangat bervariasi tergantung kepada oksidasi jaringan. Kadar
alkohol dalam urin lebih stabil tetapi hasil pemeriksaan melalui urin ini menjadi kurang
bermakna karena senyawa lainnya seperti aseton, eter, paraldehida juga bisa menunjukkan
hasil pemeriksaan seperti alkohol.
Kadar alkohol dalam darah dan dampaknya adalah sebagai berikut:
• 0,1% Orang akan merasa gembira
• 0,15% Batas keamanan untuk mengemudikan kendaraan
bermotor di jalan raya
• 0,2% Tingkat intoksikasi menengah
• 0,2-0,4% Kesadaran menurun mengakiatkan delirium dan
stupor
• 0,5% Koma
• 0,6% Asfiksia darah
Reaksi alkohol pada setiap orang berbeda-beda dan reaksi alkohol pada orang yang sama juga
berbeda-beda pada setiap waktu bergantung pada faktor lingkungan dan sifat dasar orang
tersebut
Alkohol merupakan penyebab ketergantungan dan keracunan paling sering. Seorang dokter
akan sering menghadapi masalah seperti ini. Dengan demikian harus ada suatu bentuk
pendekatan yang sistematis untuk memeriksa pasien.
Kelainan pada keracunan kronis alkohol:
1. Pada saluran pencernaan : alkohol dalam takaran tinggi dalam waktu lama akan
menimbulkan kelainan pada selaput lendir mulut, kerongkongan dan lambung berupa
gastritis kronis.
2. Pada hati akan terjadi penimbunan lemak dalam sel hati, SGOT dan SGPT, trigliserida
dan asam urat meningkat.
3. Pada jantung dapat terjadi kardiomiopati alkoholik dengan payah jantung kiri dan
kanan dengan distensi pembuluh balik leher, nadi lemah dan edema perifer. Pada jantung
akan terlihat hipertrofi kedua ventrikel, fibrosis endokardial dengan tanda trombi mural
pada otot jantung.
Roman Forensik Edisi 8 124
4. Pada otot akan ditemukan miopati alkoholik dan histologis di jumpai atrofi serat dan
perlemakan jaringan otot.
Sebab dan mekanisme kematian
Mekanisme kematian terutama akibat gagal hati dan ruptur varises esofagus akibat
hipertensi portal. Pada autopsi bisa ditemukan memar pada cortex cerebri, hematom sub-dural
akut dan kronis. Depresi pernafasan terjadi pada kadar alkohol otak lebih besar dari 450 mg%.
pada 500-600 mg% dalam darah, penderita biasanya meninggal dalam 1-4 jam setelah koma
selama 10-16 jam.
Pemeriksaan Kedokteran Forensik
1. Pada orang yang masih hidup dapat diientifikasi dari bau alkohol yang keluar dari
udara pernafasan.
2. Pemeriksaan kadar alkohol darah: baik pemeriksaan udara pernafasan atau urin
atau dari darah vena
3. Kelainan pada orang yang sudah meninggal tidak khas. Mungkin ditemukan gejala
yang sesuai dengan asfiksia. Seluruh organ menunjukkan tanda perbendungan,
darah lebih encer, berwarna merah gelap.
4. Mukosa lambung tanda perbendungan, kemerahan dan tanda inflamasi tapi
kadang-kadang juga tak tampak kelainan.
5. Otak dan darah berbau alkohol.
6. Pada pemeriksan histologis dapat dijumpai edema dan pelebaran pembuluh darah
dan selaput otak, degenerasi bengkak keruh, pada bagian parenkim organ inflamasi
mukosa saluran cerna.
7. Pada jantung, gambaran serat lintang otot jantung menghilang, hialinisasi, edema
dan vakuolisasi serabut otot jantung.
Laboratorium
Untuk korban meninggal dapat diperiksa kadar alkohol dalam otak, hati atau cairan
tubuh seperti cairan serebrospinal. Penentuan kadar alkohol dalam daram lambung saja tanpa
menentukan kadar alkohol dalam darah hanya menunjukkan orang tersebut telah minum
alkohol. Pada mayat, alkohol dapat berdifusi dari lambung ke jaringan sekitarnya termasuk ke
dalam jantung sehingga bisa diambil darah dari pemeriksaan darah vena perifer seperti di
daerah cubiti dan femoralis.
Metode sederhana untuk menentukan kadar alkohol dalam darah disebut teknik
modifikasi mikrodifusi (CONWAY) yaitu
1. Masukkan 2 mL reagen Anti ke dalam ruang tengah. Reagen anti dibuat dengan
melarutkan 7,7 mg kalium dikromat ke dalam 150 mL air + 280 mL asam sulfat dan terus
diaduk. Encerkan dengan 500 mL aquadest.
2. Sebarkan 1 mL darah/urin dalam ruang sebelah luar dan masukkan 1 mL kalium
karbonat dalam ruang yang berlawanan.
3. Tutup sel mikrodifusi dan goyangkan dengan hati-hati. Biarkan terjadi difusi selama 1
jam pada suhu ruang. Angkat tutup dan amati perubahan warna pada reagen
Roman Forensik Edisi 8 125
4. Apabila reagen berwarna kuning kenari menunjukkan hasil negatif. Tetapi apabila
warna kuning kehijauan menunjukkan kadar etanol sekitar 80 mg%, sedangkan warna
kekuningan sekitar 300 mg%.
KERACUNAN NARKOTIKA
Kematian akibat narkotika lebih sering karena kecelakaan. Pada pemeriksaan kasus
kematian akibat narkotika, perlu diperhatikan akan adanya bekas suntikan yang baru dan
lama. Pada para pemakai narkotika dengan suntikan dapat ditemukan pembesaran kelenjar
limfe regional. Kadangkala ditemukan tatto pada tempat yang tidak lazim, misalnya pada lipat
siku, yang dimaksudkan menutupi bekas suntikan.

Kematian akibat narkotika paling sering melalui terjadinya depresi napas. Pada
pemeriksaan jenazah akan ditemukan kelainan pada paru berupa pembendungan hebat dan
edema paru hebat, narcotic lung atau gambaran pneumonia lobaris. Pembendungan
ditemukan pula pada organ-organ tubuh lainnya.

Pemeriksaan toksikologi dilakukan terhadap darah dan urin. Selain itu, pemeriksaan
toksikologi juga dilakukan pada cairan empedu serta tempat masuknya narkotika tersebut
(jaringan sekitar suntikan pada pemakai narkotika suntikan, nasal swab pada mereka yang
melakukan sniffing, isi lambung pada mereka yang menelan narkotika).
PEMERIKSAAN TOKSIKOLOGI PADA KEMATIAN AKIBAT KERACUNAN
Investigasi kematian akibat keracunan dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:
1. Mengumpulkan keterangan riwayat keracunan dan spesimen yang sesuai
Saat ini, terdapat banyak bahan yang beredar di masyarakat yang dapat
menyebabkan kematian jika dicerna, diinjeksi, atau terinhalasi. Ahli toksikologi harus
membatasi sejumlah material yang dianalisis. Sebelum memulai analisis, penting sekali
dilakukan pengumpulan informasi yang mungkin berkaitan dengan fakta keracunan. Ahli
toksikologi harus memperhatikan usia, jenis kelamin, berat badan, riwayat kesehatan, dan
pekerjaan korban, pemberian terapi sebelum meninggal, temuan pada autopsi, obat yang
terdapat pada korban, dan interval waktu antara onset gejala dan kematian.

Pengumpulan spesimen untuk analisis toksikologi biasanya dilakukan saat
dilakukan autopsi. Spesimen dari sejumlah cairan tubuh dan organ penting untuk
mengambarkan afinitas obat dan racun terhadap jaringan tubuh. Spesimen harus
dikumpulkan sebelum jenazah diawetkan, dimana proses ini dapat merusak atau
melarutkan racun dan membuat deteksi menjadi tidak memungkinkan. Contohnya CN
dirusak oleh proses pembalseman.

2. Analisis toksikologi
Sebelum memulai analisis, ahli toksikologi harus mempertimbangkan beberapa
faktor yaitu: jumlah spesimen yang tersedia, sifat dasar temuan racun dan
biotransformasi racun. Pada kasus keracunan dengan racun yang masuk per oral, isi
saluran cerna harus dianalisi pertama kali, ketika sejumlah residu racun yang tak
terabsorbsi masih ditemukan. Selanjutnya urin dapat dianalisis, karena ginjal merupakan
organ ekskresi utama untuk kebanyakan racun dan racun dalam konsentrasi tinggi sering
ditemukan pada urin. Setelah absorbsi pada saluran cerna, obat atau racun pertama-tama
dibawa ke hepar sebelum memasuki sirkulasi sistemik, oleh karena itu, analisis pertama
dari organ dalam dilakukan pada hepar. Jika racun tertentu diduga atau diketahui terlibat
Roman Forensik Edisi 8 126
pada kasus kematian, ahli toksikologi memilih menganalisis pertama-tama jaringan dan
cairan dimana racun terkonsentrasi.

3. Interpretasi terhadap hasil analisis
Setelah mengumpulkan keterangan-keterangan tentang riwayat kasus keracunan,
mengumpulkan laporan hasil analisis berdasarkan toksisitas, distribusi, dan
biotransformasi dan membandingkan hasil analisis dengan kasus serupa yang pernah
dilaporkan pada literatur yang berkualitas atau kasus serupa dari pengalamannya sendiri.

Pemeriksaan toksikologi diperlukan pada kondisi seperti kasus kematian mendadak
yang terjadi pada seseorang maupun sekelompok orang, kematian yang dikaitkan dengan
tindakan abortus, kasus perkosaan atau kejahatan seksual lainnya, kecelakaan transportasi,
khususnya pada pengemudi dan pilot, kasus penganiayaan dan pembunuhan (selektif), kasus
yang memang diketahui atau pasti diduga menelan racun, kematian setelah tindakan medis,
penyuntikan, operasi dan lain sebagainya.

GEJALA YANG MENYERUPAI KERACUNAN (APPARENT INTOXICATION)

a. Koma hipoglikemik
b. Cerebrovasculer accident (CVA)
c. Exhaustion setelah kejang atau setelah pemakaian MDMA
d. Trauma otak dan kematian otak
e. Meningitis
f. Flash black setelah penyalahgunaan obat
g. Gejala withdrawal
h. Idiosinkrasi dan reaksi hipersensitivitas
i. Syok neurogenik
j. Gejala tak terduga dari penyakit tertentu seperti penyakit Lyme atau tumor otak
Roman Forensik Edisi 8 127
BAB XIII
PEMERIKSAAN DALAM FORENSIK (AUTOPSI)
PERSIAPAN SEBELUM DILAKUKAN PEMERIKSAAN DALAM
1. Gunakan apron yang terbuat dari plastik warna putih, bisa juga menggunakan jas lab.
2. Menggunakan sepatu tinggi yang terbuat dari karet.
3. Kedua tangan ditutup dengan sarung tangan rangkap supaya tidak tercemar bahan-
bahan dari mayat.
PEMBEDAHAN MAYAT
+ Mayat yang dibedah diletakkan terlentang dengan bagian bahu ditinggikan (diganjal)
dengan sepotong balok kecil.
+ Pemeriksa berada disebelah kanan jenazah untuk yang menggunakan tangan kanan tetapi
jika menggunakan tangan kiri, pemeriksa berada disebelah kiri jenazah.
+ Insisi kulit dilakukan mengikuti garis pertengahan badan mulai di bawah dagu, diteruskan
kearah umbilicus dan melingkari umbilicus di sisi kiri dan seterusnya kembali mengikuti
garis pertengahan badan sampai di daerah simfisis pubis. Potong agak tegas sehingga
tidak merusak kulit.
+ Buka daerah dalam, pada daerah dada potong sampai ke tulang, lepaskan otot. Insisi pada
dinding perut biasanya dimulai pada daerah epigastrium dengan membuat irisan pendek
yang menembus sampai peritoneum. Dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri
yang dimasukkan ke dalam lubang insisi ini, maka dinding perut dapat ditarik atau
diangkat ke atas untuk menghindari terpotongnya alat-alat dalam.
+ Kulit thorax dan jaringan otot dibawahnya dipegang dengan erat dengan tangan kiri, yaitu
sebaiknya dijepit diantara ibu jari disebelah medial dan jari-jari lain disebelah lateral.
Kemudian jaringan kulit dan otot tersebut ditarik kearah lateral hingga jaringan yang
menegang tersebut dapat dipotong dengan pisau pada tangan kanan; pisau diarahkan ke
bagian lateral dan posisi pisau kurang lebih tegak lurus pada costae dan sewaktu mengiris
otot-otot yang masih melekat pada costae dibersihkan.
+ Pada bagian leher, yang dilepaskan adalah bagian kulitnya saja, sedangkan otot-ototnya
dibiarkan saja.
+ Memeriksa ketinggian diafragma untuk mendeteksi adanya pneumothorax atau
hematothoraxyang ditandai dengan penurunan diafragma.
+ Memeriksa rongga perut apakah terdapat darah, cairan atau pus. Perhatikan juga dinding
perut. Dinding perut yang normal adalah licin, putih, tidak ada fibrin, tidak ada resapan
darah pada otot dan kulit agak tebal.
+ Rongga dada dibuka dengan jalan mengiris rawan-rawan iga pada tempat ± 1 cm medial
dari batas tulang rawan dengan masing-masing iga. Posisi pisau miring dengan ditekan
oleh tangan kiri. Dimulai dari iga kedua terus kea rah caudal. Lepaskan dengan tajam
agar tidak memotong alat-alat didalamnya. Pemeriksa berdiri dibagian kepala jenazah.
Roman Forensik Edisi 8 128
+ Melepaskan daerah clavicula dengan memotong iga kesatu kearah lateral dan medial pada
sendi sternoclavicula.
+ Lakukan pemeriksaan lebar mediastinum dan periksa juga apa yang ada di rongga dada
kiri dengan menarik paru kiri dan jantung untuk mengetahui apakah ada cairan atau
darah.
+ Kantung jantung dibuka dengan melakukan pengguntingan pada dinding depan
mengikuti bentuk huruf Y terbalik dari tengah. Perhatikan apah rongga kandung jantung
terisi cairan atau darah. Periksa pula akan adanya luka baik pada kandung jantung
maupun pada permukaan jantung sendiri.
+ Cairan jantung normal: kuning, jernih, ukuran bervariasi 10-20 mL
+ Selanjutnya pengeluaran alat leher dimulai dengan melakukan pengirisan dasar mulut
menyusuri tepi rahang bawah hingga masuk rongga mulut, gunakan hak agar lebih
mudah. Otot dasar mulut terpotong seluruhnya, sehingga lidah bias dipegang dengan
tangan.
+ Potong tulang leher sehingga laring, faring medial dari arteri karotis.
+ Mengeluarkan organ-organ dada dari tulang leher kemudian ditarik dengan tangan kiri
sehingga semuanya terangkat.
+ Temukan esofagus dan ikat serta dipotong proksimal dari ikatan tadi sehingga alat leher
dan dada bisa dilepaskan.
+ Cari pangkal usus halus yang paling pangkal (retroperitoneal) yaitu duodenum dan dibuat
2 ikatan dan dipotong diantaranya agar isis duodenum tidak keluar. Dengan tangan kiri
memegang pada ujung distal dan mengangkatnya maka mesenterium yang melepaskan
usus halus dengan dinding rongga perut dapat diiris dekat pada usus.Pengirisan dilakukan
dengan pisau diletakkan tegak lurus pada usus dan digerakkan maju mundur seperti
gerakan mengegrgaji. Pengirisan dilakukan sepanjang usus halussampai ileum terminalis.
Pada daerah caecum pengirisan dilakukan terhadap mesocolon dengan memotong
mesocolon pada bagian lateral dan colon ascendens. Pemotongan dilakukan dengan hati-
hati, lapis demi lapis agar tidak teriris ginjal kanan serta duodenum pars retroperitonealis.
+ Pada daerah colon transversum lepaskan perlekatan antara colon dan lambung.
Mesocolon kembali diiris disebelah lateral dari colon descendens dengan memisahkannya
juga dari limpa dan ginjal kiri. Colon sigmoid dapat dilepaskan dari dinding rongga perut
dengan memotong mesocolon di bagian belakangnya.
+ Rectum dipegang dengan tangan kanan, mulai dari bagian distal dan mengurutnya kearah
proksimal agar isi rectum dipindahkan ke colon sigmoid dan rectum dapat diikat dengan
2 ikatan, untuk kemudian diputus diantara 2 ikatan tersebut.
+ Untuk melepaskan alat rongga panggul dan perut, pengirisan dilakukan dengan
memotong diafragma yang dekat/melekat pada dinding dada dari kanan dan kiri, masing-
masing ginjal sampai memotong a. iliaca comunis.
+ Alat rongga panggul dilepaskan dengan melepaskan peritoneum didaerah simfisis,
kandung kencing serta alat-alat lainnya. Buli-buli dilepaskan dengan memasukkan tangan
subperitoneum, alat-alat seperti uretra, rectum, dan pada wanita (vagina) terangkat. Pada
pria, alat panggul setingga prostat dan wanita 1/3 proksimal vagina.
+ Pemeriksaan kepala dimulai dengan membuat irisan pada kulit kepala dimulai dari
prosessus mastoideus, melingkari kepala kearah puncak dan berakhir pada prosessus
mastoideus sisi lain. Kulit kepala kemudian dikupas kearah depan sampai kurang lebih 1-
2 cm di atas batas orbita dan kearah belakang sampai protuberantia occipitalis externa.
Perhatikan permukaan luar tulang tengkorak apakah ada tanda kekerasan baik resapan
darah maupun garis/patah tulang. Membuka rongga tengkorak dengan penggergajian
tulang tengkorak melingkari daerah frontal ± 2 cm di atas margo supraorbitalis, di
temporal ± 2 cm di atas daun telinga. Pemotongan otot temporalis agar jika telah selesai
dimaksudkan dapat dijadikan tempat jahitan menyatukan kembali atap tengkorak dengan
bagian lain tengkorak.
Roman Forensik Edisi 8 129
+ Setelah tengkorak dilepaskan duramater digunting mengikuti garis pemotongan
tengkorak.
+ Otak dikeluarkan dengan memasukkan dua jari tangan kiri digaris pertengahan daerah
frontal. Dengan sedikit menekan bagian frontal akan tampak falk cerebri yang dapat
dipotong sampai dasar tengkorak. Kedua jari tangan kiri dapat sedikit mengangkat bagian
frontal dan memperlihatkan nn.olfactorii, nn.optici yang kemudian dipotong sedekat
mungkin pada dasar tengkorak. Setelah otak dikeluarkan, duramater yang melekat pada
dasar tengkorak harus dilepaskan untuk mengetahui apakah dasar tengkorak utuh.
+ Pada bagian otak harus diperiksa apakah terdapat perdarahan subdural, subarachnoid,
contusio dan laserasi. Perdarahan subdural dengan penyiraman darah akan hilang berbeda
dengan subarachnoid. Iris batang otak, potong secara horizontal. Pada otak besar lihat dan
catat apakah ada perdarahan, infark atau edem cerebri. Jika agak gelap pada daerah
tersebut, lakukan pengirisan, curiga ada contusio.
+ Pemeriksaan alat dalam dimulai dari lidah, esofagus sampai meliputi alat tubuh lainnya.
+ Letakkan bagian depan esofagus dibagian bawah untuk melihat isi selaput lendir
Esofagus dilihat dari trachea apakah ada varises atau striktur.
+ Pembukaan trachea dilakukan dengan melakukan pengguntingan dinding belakang
(bagian jaringan ikat pada cincin trachea) sampai mencapai cabang bronchus kanan dan
kiri. Perhatikan adanya benda asing, busa, darah serta keadaan selaput lendirnya.
+ Periksa tulang thyroid bila baik. Jaringan lunak lapisan otot sampai terlihat apakah ada
perdarahan. Kekerasan pada daerah leher yang sifatnya lunak, sehingga perdarahan hanya
sampai jaringan otot tidak sampai subkutis.
+ Lepaskan jantung dari jaringan sekitarnya seperti paru. Inspeksi paru apakah ada
perdarahan (aspirasi darah), edem, luka, atau sisa-sisa infeksi sebelumnya. Normalnya
berwarna merah kelabu agak ungu dan pada perabaan seperti busa dan ada derik udara.
Paru dibelah untuk melihat penampangnya, apakah ada cairan/darah/busa. Jika busa
banyak maka curiga adanya edem paru. Timbang paru, normalnya 225-300 gram.
+ Periksa jantung dengan melihat adanya perdarahan atau sikatriks. Periksa pembuluh nadi
koroner dibagian depan a. coronaria dinilai dengan cara dipotong sehingga terlihat
penampangnya . pembuluh darah tidak menebal atau kolaps.
+ Buka daerah atrium, potong vena cava superior dan inferior sehingga terbuka. Cara
membuka daerah atrium kanan, tusuk pisau sampai ventrikel kanan lalu potong kearah
lateral sehinga atrium dan ventrikel kanan terbuka. Lihat adanya kelainan, periksa katup
dan ukur panjang katup serambi dan bilik kanan. Lakukan hal yang sama pada sisi
jantung kiri.
+ Periksa penampang sehat ventrikel apakah ada sikatriks, tebal otot ventrikel dan kiri
diukur.
+ Arteri coronaria jantung dipotong sedikit-sedikit apakah ada perkapuran atau penebalan.
+ Pemeriksaan rongga perut. Limpa dilepaskan dari jaringan sekitarnya, periksa
permukaan, warna dan kelainannya. Potong untuk melihat penampangnya, lakukan
pengikisan untuk menilai adanya jaringan ikat.
+ Angkat diafragma dan lepaskan.
+ Posterior diletakkan di atas, rapikan daerah urogenital, cari kelenjar suprarenal kanan dan
kiri kemudian lepaskan. Bentuknya tidak teratur atau trapezium, korteks kuning dan
medulla coklat. Tractus urinarius dipisahkan dari yang lainnya.
+ Aorta dibuka sampai arteri renalis dari atas ke bawah dilihat permukaannya. Ginjal
dibelah, normalnya 1/3 dari tebal ginjal dan periksa calyx-nya.
+ Pankreas dipisahkan dari jaringan sekitarnya lalu nilai penampangnya.
+ Hati : permukaanya licin, rata, tepi tajam, warna merah coklat (normal). Kemudian
dibelah dan lihat penampangnya tampak kelenjar hati yang jelas. Lambung dibuka dan
dilihat penampangnya.
Roman Forensik Edisi 8 130
BAB XIV
ASPEK MEDIKOLEGAL PELAYANAN MEDIS DAN MALPRAKTIK
MEDIS
Dalam bermasyarakat, terdapat interaksi antara satu warga dengan warga lain. Orang
akan menilai suatu perbuatan tertentu apakah perbuatan yang baik atau tidak. Bila kebanyakan
orang sudah memiliki penilaian yang sama maka terjadilah suatu “nilai”. Masyarakat
kemudian menggunakan “nilai” tersebut dalam kehidupan sehari-hari, mengajarkannya
kepada anaknya, dan seterusnya sehingga menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang sudah diterima
secara umum (kadang memiliki sanksi bila dilanggar) akan dianggap sebagai suatu “norma”.
Norma tersebut dapat berupa “perintah”, dapat pula berupa “larangan” dan “anjuran”.
Adapun norma yang berlaku di masyarakat adalah:
1. Norma Agama:
norma yang mengatur hubungan manusia dengan penciptanya dan sesama manusia.
2. Norma Kesusilaan:
mengatur hidup orang pribadi
3. Norma Kesopanan:
mengatur hidup antar manusia
4. Norma Hukum:
mengatur ketertiban hidup masyarakat
Begitu juga dalam profesi kedokteran ada norma-norma yang berlaku yang disebut
sebagai norma profesi. Ada 3 macam norma yang mengikat dokter dalam pelaksanaan profesi
kedokteran yaitu:
1. Norma disiplin (disciplinary norm)
2. Norma etika (ethical norm)
3. Norma hukum (legal norm)
Norma Disiplin (Disciplinary Norm)
Norma disiplin yang dimaksudkan di sini adalah disiplin Ilmu Kedokteran itu sendiri.
Kompetensi dokter diperoleh melalui penguasaan ilmu dan teknologi kedokteran.
Berdasarkan ilmu kedokteran inilah disusun standar profesi medik.
Norma Etika (Ethical Norm)
Norma-norma etika yang mengikat pelaksanaan profesi kedokteran dikenal dengan
sebutan etika kedokteran (medical ethics). Etika kedokteran dirumuskan sendiri oleh kalangan
profesi medik. Wujud dari etika kedokteran adalah Kode Etika (Code of Medical Ethics).
Etika kedokteran mengatur etika jabatan kedokteran dan etika asuhan kedokteran.
Etika jabatan kedokteran mengatur sikap:
a. Dokter terhadap sejawat
b. Dokter terhadap paramedis
c. Dokter terhadap masyarakat
d. Dokter terhadap pemerintah
Etika asuhan kedokteran mengatur etika dokter terhadap penderita yang menjadi
tanggung jawabnya.
Norma Hukum (Legal Norm)
Norma hukum yang mengikat profesi kedokteran dikenal dengan istilah hukum
kedokteran (Medical Law). Karena tenaga medik merupakan salah satu tenaga kesehatan,
selain terikat oleh ketentuan hukum kedokteran, dokter juga terikat oleh ketentuan hukum
kesehatan (Health Law).
Hukum Kedokteran dan Hukum Kesehatan dibuat oleh lembaga negara yang
berwenang (lembaga legislatif). Keduanya terwujud dalam berbagai bentuk peraturan
perundang-undangan, seperti:
Roman Forensik Edisi 8 131
Þ UU No. 23/1992 tentang Kesehatan
Þ UU No. 29/2004 tentang Praktik Kedokteran
Þ PP No. 32/1996 tentang Tenaga Kesehatan
Þ Permenkes No. 585/1989 tentang Informed Consent
Dalam menjalankan profesi kedokteran harus berdasarkan pada Principles-Based
Ethics ¬ Prima Facie yang dikemukakan oleh T.Beauchamp & Childress (1994) & Veatch
(1989). Prima Facie terdiri atas:
a. Beneficence
prinsip ‘berbuat baik’
b. Non-malfeasance
prinsip tidak merugikan
c. Autonomy
prinsip menghormati otonomi untuk melakukan atau memutuskan apa yang dikehendaki
terhadap dirinya sendiri
d. Justice
prinsip keadilan
Dalam profesi kedokteran mengutamakan:
1. Kebebasan Profesi
2. Etika Kedokteran
3. Rahasia Kedokteran
Upaya Kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. Upaya kesehatan ibarat
kereta api dengan banyak gerbong.
Lokomotif ¬ Ilmu & Teknologi
Rel ¬ Moralitas dan etika profesi
Rambu-rambu & petugas ¬ Hukum
Tindakan Medik adalah tindakan profesional dokter terhadap pasien dengan tujuan
memelihara, meningkatkan, memulihkan kesehatan atau menghilangkan/mengurangi
penderitaan.
Hukum adalah keseluruhan asas dan aturan tentang perbuatan manusia yang
ditetapkan atau diakui oleh otoritas tertinggi.
Ada “daerah singgung” antara pelayanan medik dan hukum !!
Roman Forensik Edisi 8 132
Hubungan Dokter-Pasien
Þ Pada awalnya hubungan dokter-pasien bersifat vertikal (hubungan atas-bawah).
Þ Hubungan dokter-pasien pada masa itu dipengaruhi oleh doktrin medical paternalism
(doctor knows his patient’s best interest).
Þ Doktrin medical paternalism adalah perwujudan dari asas beneficence.
Þ Hubungan semacam ini dikatakan juga sebagai hubungan yang bersifat paternalistik,
sebagaimana hubungan antara bapak dengan anak.
Perubahan Paradigma Hubungan Dokter-Pasien
Seiring dengan makin menguatnya kesadaran pasien akan hak-haknya (especially the
right to self-determination), pola hubungan dokter-pasien berubah kearah hubungan bersifat
horisontal (hubungan setara).
Paradigma hubungan dokter-pasien berubah dari medical paternalism menuju
patient’s autonomy.
Hubungan Hukum Antara Dokter & Pasien
Þ Hubungan hukum adalah hubungan menurut kaca mata hukum
Þ Menurut kacamata hukum (Indonesia), hubungan dokter-pasien merupakan sebuah
perikatan.
Þ Perikatan adalah hubungan antara 2 subjek hukum yang melahirkan hak dan
kewajiban pada masing-masing pihak
Hukum Perikatan
Þ Sebagai sebuah perikatan, maka hubungan dokter dan pasien tunduk pada hukum
perikatan.
Þ Hukum perikatan adalah seperangkat aturan hukum yang mengatur tentang perikatan
Þ Aturan-aturan hukum yang mengatur tentang perikatan terdapat dalam Buku ke 3
Kitab Undang-undang Hukum Perdata (BW).
Þ Buku ke 3 BW antara lain menerangkan tentang sumber-sumber perikatan dan syarat
sahnya perjanjian.
Sumber Perikatan
Perikatan bisa terjadi karena 2 macam sebab:
1. Karena Undang-undang
Hubungan hukum antara Bapak dengan Anak merupakan contoh perikatan yang lahir
karena UU. Anak berhak mendapatkan warisan karena memang UU menentukan
demikian.
2. Karena Perjanjian
Hubungan hukum antara penjual dg pembeli merupakan contoh perikatan yang lahir
karena suatu perjanjian.
Syarat Sahnya Perjanjian
Pasal 1320 BW / KUHPer menentukan bahwa suatu perikatan sah apabila keempat
syarat dibawah ini terpenuhi:
1. Adanya kecakapan bertindak
2. Adanya kesepakatan
3. Adanya obyek tertentu
4. Adanya sebab yang halal
Roman Forensik Edisi 8 133
Perikatan Dokter-Pasien
Perikatan dokter-pasien bisa terjadi baik karena undang-undang maupun karena
perjanjian. Ketika dokter memberikan pertolongan kepada pasien gawat darurat yang berada
dalam keadaan tidak sadar, terjadilah sebuah perikatan antara si dokter dan si pasien.
Perikatan ini bersumber pada undang-undang. Tindakan dokter memberikan
pertolongan kepada si pasien dilakukan atas perintah undang-undang bukan karena
permintaan si pasien.
Þ Dalam situasi normal perikatan antara dokter dengan pasien bersumber pada
perjanjian
Þ Kedatangan pasien ke tempat praktik dokter atau ke RS menunjukkan adanya
kehendak si pasien untuk mengadakan perikatan.
Þ Penerimaan oleh pihak dokter/RS menunjukkan adanya kesediaan untuk mengadakan
perikatan
Þ Tindakan medis yang kemudian dilakukan menunjukkan bahwa perikatan benar-benar
telah terjadi.
Jenis Perikatan
Þ Perikatan antara dokter dan pasien bisa berbentuk resultaats verbintenis ataupun
berbentuk inspanning verbintenis
Þ Resultaat verbintenis adalah perikatan yang didasarkan pada hasil kerja (outcome)
tertentu.
Þ Inspanning verbintenis adalah perikatan yang didasarkan pada usaha yang sungguh-
sungguh.
Resultaats Verbintenis
Þ Dalam perikatan semacam ini, dokter dianggap telah memenuhi perikatan apabila hasil
kerja (outcome) yang dijanjikan kepada si pasien telah dipenuhi
Þ Misalnya dalam tindakan pencabutan gigi, dokter dianggap telah memenuhi perikatan
secara sempurna bila gigi yang dimaksudkan telah dicabut secara sempurna.
Inspanning Verbintenis
Þ Dalam perikatan semacam ini, dokter dianggap telah memenuhi perikatan apabila ia
telah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengobati si pasien.
Þ Obyek perikatan adalah berupa ‘usaha sungguh-sungguh untuk kesembuhan pasien’
dan bukan kesembuhan itu sendiri.
Þ Hubungan perikatan semacam ini sering dinamakan pula dengan istilah transaksi
terapetik.
Prestasi
Þ Memenuhi perikatan sama dengan memenuhi kewajiban dalam perikatan
Þ Obyek perikatan dalam ilmu hukum disebut dengan istilah prestasi. Seseorang yang
telah memenuhi kewajibannya dengan sempurna di dalam suatu perikatan dikatakan telah
memberikan prestasi atau telah berprestasi
Þ Prestasi dapat berupa memberikan sesuatu, melakukan sesuatu, atau tidak melakukan
sesuatu.
Wan-Prestasi
Þ Kegagalan dalam memenuhi perikatan atau dalam memenuhi kewajiban disebut
dengan istilah wan-prestasi.
Þ Dalam suatu perikatan yang lahir karena perjanjian, wan-prestasi sama maknanya
dengan ingkar janji.
Roman Forensik Edisi 8 134
Þ Seseorang dikatakan telah melakukan wan-prestasi apabila ia:
º Tidak berprestasi sama sekali
º Berprestasi tetapi tidak sesuai
º Berprestasi tetapi terlambat
Hak-hak pasien
1. Hak pasien atas perawatan
2. Hak untuk menolak cara perawatan tertentu
3. Hak untuk memilih dokter yang merawat
4. Hak atas informasi
5. Hak untuk menolak perawatan tanpa izin
6. Hak atas rasa aman
7. Hak untuk mengakhiri perawatan
8. Meminta pendapat dokter lain
9. Mendapatkan isi rekam medis
Kewajiban pasien
1. Memberikan informasi secara lengkap dan jujur tentang
kesehatannya
2. Mematuhi nasehat & petunjuk dokter
3. Mematuhi ketentuan yang berlaku
4. Memberikan imbalan jasa
Kewajiban dokter
1. Memberikan pelayanan medis sesuai standar profesi dan SOP
2. Merujuk pasien bila tidak mampu
3. Menjaga rahasia pasien
5. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan
6. Menambah & mengikuti perkembangan ilmu kedokteran
Hak dokter
1. Memperoleh perlindungan hukum
2. Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi &
standar prosedur operasional
3. Memperoleh informasi yang lengkap & jujur dari pasien atau
keluarganya
4. Menerima imbalan jasa
ASPEK MEDIKOLEGAL
Dalam pelayanan kesehatan baik di rumah sakit maupun diluar rumah sakit tidak
tertutup kemungkinan timbul konflik. Konflik tersebut dapat terjadi antara tenaga kesehatan
dengan pasien dan antara sesama tenaga kesehatan (baik satu profesi maupun antar profesi).
Untuk mencegah dan mengatasi konflik biasanya digunakan etika dan norma hukum yang
mempunyai tolok ukur masing-masing. Oleh karena itu dalam praktik harus diterapkan dalam
dimensi yang berbeda. Artinya pada saat kita berbicara masalah hukum, tolok ukur norma
hukumlah yang diberlakukan. Pada kenyataannya kita sering terjebak dalam menilai suatu
perilaku dengan membaurkan tolok ukur etika dan hukum.
A. Sejarah Medikolegal
o 2980-2900 SM : Imhotep
o 1700 SM : Hammurabi
o 1400 SM : Hittites
o 44 M : Anthitius, Julius Caesar, Forum
Roman Forensik Edisi 8 135
o 600 M : Ming Yuang Shih Lu
o 1241-1253 M : “ Kematian yang Mencurigakan “:
Record of Washing Away of Wrongs
(Cina)
o 1302 M : Autopsi Medikolegal di Bologna
o 1823 M : Sidik Jari
o 1958 M : Patologi Forensik sebagai Spesialis
o Di Indonesia : Sejak zaman Kolonial; terutama
Jakarta-Surabaya.
- 70 Spesialis Forensik di 15 Kota
- PUSLABFOR di 5 Kota besar Indonesia
B. Prinsip Kerja Medikolegal
o Prinsip Kedokteran
- Sumpah, Etik, Standar Operasional Prosedur
o Kebebasan Profesi
- Obyektif Ilmiah, Impartial, Menyeluruh
- Prosedural
o Berhak Menerima Imbalan
- Berdasarkan Upayanya
- Tidak berdasar hasil akhir
Gambar. Prinsip Kerja Medikolegal
C. Prosedur Medikolegal
Tata cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan dengan
pelayanan untuk kepentingan hokum.

D. Tugas Pokok Medikolegal
Tugas pokok Medikolegal adalah membantu proeses hukum melalui pembuktian
ilmiah kedokteran :
• Dokumentasi Informasi/Prosedur
• Dokumentasi Fakta
• Dokumentasi Temuan
• Analisis dan kesimpulan
• Presentasi (Sertifikasi)
• Masa Penyelidikan / Penyidikan
o Pemeriksaan TKP
Roman Forensik Edisi 8 136
o Analisis
• Masa Penyidikan
o Visum et Repertum
o BAP Saksi Ahli
o Keterangan Ahli
• Di Persidangan
o Sebagai saksi ahli Pemeriksa : - Menjelaskan V et R
o Menjelaskan kaitan temuan VeR dengan barang bukti lain
o Menjelaskan segala sesuatu dri sisi Ilmiah
• Konfidensialitas Dokter
o Hindari : Talk too Soon, Talk too much, Talk to wrong person
E. Lingkup Prosedur Medikolegal
1. Pengadaan Visum et Repertum
2. Pemeriksaan Kedokteran terhadap tersangka
3. Pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan di dalam
persidangan
4. Hubungan V et R dengan Rahasia Kedokteran
5. Tentang Surat Keterangan Medik dan Surat Keterangan Kematian
6. Kompetensi pasien mengahadapi proses pemeriksaan penyidik
F. Aspek Medikolegal pada kegawatdaruratan
Karakteristik Pelayanan Kegawatdaruratan
Dipandang dan segi hukum dan medikolegal, pelayanan gawat darurat berbeda
dengan pelayanan non-gawat darurat karena memiliki karakteristik khusus. Beberapa isu
khusus dalam pelayanan gawat darurat membutuhkan pengaturan hukum yang khusus dan
akan menimbulkan hubungan hukum yang berbeda dengan keadaan bukan gawat darurat.
Beberapa Isu Seputar Pelayanan Gawat Darurat
Pada keadaan gawat darurat medik didapati beberapa masalah utama yaitu:
1. Periode waktu pengamatan/pelayanan relatif singkat
2. Perubahan klinis yang mendadak
3. Mobilitas petugas yang tinggi
Hal-hal di atas menyebabkan tindakan dalam keadaan gawat darurat memiliki risiko
tinggi bagi pasien berupa kecacatan bahkan kematian. Dokter yang bertugas di gawat darurat
menempati urutan kedua setelah dokter ahli onkologi dalam menghadapi kematian. Situasi
emosional dari pihak pasien karena tertimpa risiko dan pekerjaan tenaga kesehatan yang di
bawah tekanan mudah menyulut konflik antara pihak pasien dengan pihak pemberi pelayanan
kesehatan.
Hubungan Dokter Dan Pasien Dalam Keadaan Gawat Darurat
Dokter-pasien dalam keadaan gawat darurat sering merupakan hubungan yang
spesifik. Dalam keadaan biasa (bukan keadan gawat darurat) maka hubungan dokter-pasien
didasarkan atas kesepakatan kedua belah pihak, yaitu pasien dengan bebas dapat menentukan
dokter yang akan dimintai bantuannya (didapati azas voluntarisme). Demikian pula dalam
kunjungan berikutnya, kewajiban yang timbul pada dokter berdasarkan pada hubungan yang
telah terjadi sebelumnya (pre-existing relationship). Dalam keadaan darurat hal di atas dapat
tidak ada dan azas voluntarisme dan kedua belah pihak juga tidak terpenuhi. Untuk itu perlu
diperhatikan azas yang khusus berlaku dalam pelayanan gawat darurat yang tidak didasari
atas azas voluntarisme.
Apabila seseorang bersedia menolong orang lain dalam keadaan darurat, maka ia
harus melakukannya hingga tuntas dalam arti ada pihak lain yang melanjutkan pertolongan itu
Roman Forensik Edisi 8 137
atau korban tidak memerlukan pertolongan lagi. Dalam hal pertolongan tidak dilakukan
dengan tuntas maka pihak penolong dapat digugat karena dianggap mencampuri/
menghalangi kesempatan korban untuk memperoleh pertolongan lain (loss of chance).
Peraturan Perundang-Undangan Yang Berkaitan Dengan Pelayanan Gawat Darurat
Pengaturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pelayanan gawat darurat
adalah UU No 23/1992 tentang Kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan No.585/1989 tentang
Persetujuan Tindakan Medis, dan Peraturan Menteri Kesehatan No.159b/1988 tentang Rumah
Sakit.
Pengaturan Penyelenggaraan Pelayanan Gawat Darurat
Ketentuan tentang pemberian pertolongan dalam keadaan darurat telah tegas diatur
dalam pasal 5l UU No.29/2004 tentang Praktik Kedokteran, di mana seorang dokter wajib
melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan. Selanjutnya, walaupun dalam UU
No.23/1992 tentang Kesehatan tidak disebutkan istilah pelayanan gawat darurat namun secara
tersirat upaya penyelenggaraan pelayanan tersebut sebenamya merupakan hak setiap orang
untuk memperoleh derajat kesehatan yang optimal (pasal 4) Selanjutnya pasal 7 mengatur
bahwa “Pemerintah bertugas menyelenggarakan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau
oleh masyarakat” termasuk fakir miskin, orang terlantar dan kurang mampu. Tentunya upaya
ini menyangkut pula pelayanan gawat darurat, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah
maupun masyarakat (swasta).
Rumah sakit di Indonesia memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan pelayanan
gawat darurat 24 jam sehari sebagai salah satu persyaratan ijin rumah sakit. Dalam pelayanan
gawat darurat tidak diperkenankan untuk meminta uang muka sebagai persyaratan pemberian
pelayanan.
Dalam penanggulangan pasien gawat darurat dikenal pelayanan fase pra- rumah sakit
dan fase rumah sakit. Pengaturan pelayanan gawat darurat untuk fase rumah sakit telah
terdapat dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.159b/1988 tentang Rumah Sakit, di mana
dalam pasal 23 telah disebutkan kewajiban rumah sakit untuk menyelenggarakan pelayanan
gawat darurat selama 24 jam per hari.
Untuk fase pra-rumah sakit belum ada pengaturan yang spesifik. Secara umum
ketentuan yang dapat dipakai sebagai landasan hukum adalah pasal 7 UU No.23/1992 tentang
Kesehatan, yang harus dilanjutkan dengan pengaturan yang spesifik untuk pelayanan gawat
darurat fase pra-rumah sakit Bentuk peraturan tersebut seyogyanya adalah peraturan
pemerintah karena menyangkut berbagai instansi di luar sektor kesehatan.
Masalah Lingkup Kewenangan Personil Dalam Pelayanan Gawat Darurat
Hal yang perlu dikemukakan adalah pengertian tenaga kesehatan yang berkaitan
dengan lingkup kewenangan dalam penanganan keadaan gawat darurat. Pengertian tenaga
kesehatan diatur dalam pasal 1 butir 3 UU No.23/1992 tentang Kesehatan sebagai berikut:
tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang
untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Melihat
ketentuan tersebut nampak bahwa profesi kesehatan memerlukan kompetensi tertentu dan
kewenangan khusus karena tindakan yang dilakukan mengandung risiko yang tidak kecil.
Pengaturan tindakan medis secara umum dalam UU No.23/1992 tentang Kesehatan
dapat dilihat dalam pasal 32 ayat (4) yang menyatakan bahwa “pelaksanaan pengobatan dan
atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan
oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu“. Ketentuan
tersebut dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari tindakan seseorang yang tidak
mempunyai keahlian dan kewenangan untuk melakukan pengobatan/perawatan, sehingga
akibat yang dapat merugikan atau membahayakan terhadap kesehatan pasien dapat dihindari,
khususnya tindakan medis yang mengandung risiko.
Roman Forensik Edisi 8 138
Pengaturan kewenangan tenaga kesehatan dalam melakukan tindakan medik diatur
dalam pasal 50 UU No.23/1992 tentang Kesehatan yang merumuskan bahwa “tenaga
kesehatan bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan sesuai dengan
bidang keahlian dan atau kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan”. Pengaturan di
atas menyangkut pelayanan gawat darurat pada fase di rumah sakit, di mana pada dasarnya
setiap dokter memiliki kewenangan untuk melakukan berbagai tindakan medik termasuk
tindakan spesifik dalam keadaan gawat darurat. Dalam hal pertolongan tersebut dilakukan
oleh tenaga kesehatan maka yang bersangkutan harus menemelakukanrapkan standar profesi
sesuai dengan situasi (gawat darurat) saat itu.
Pelayanan gawat darurat fase pra-rumah sakit umumnya tindakan pertolongan
pertama dilakukan oleh masyarakat awam baik yang tidak terlatih maupun yang teriatih di
bidang medis. Dalam hal itu ketentuan perihal kewenangan untuk melakukan tindakan medis
dalam undang-undang kesehatan seperti di atas tidak akan diterapkan, karena masyarakat
melakukan hal itu dengan sukarela dan dengan itikad yang baik. Selain itu mereka tidak dapat
disebut sebagai tenaga kesehatan karena pekerjaan utamanya bukan di bidang kesehatan.
Jika tindakan fase pra-rumah sakit dilaksanakan oleh tenaga terampil yang telah
mendapat pendidikan khusus di bidang kedokteran gawat darurat dan yang memang tugasnya
di bidang ini, maka tanggungjawab hukumnya tidak berbeda dengan tenaga kesehatan di
rumah sakit. Penentuan ada tidaknya kelalaian dilakukan dengan membandingkan
keterampilan tindakannya dengan tenaga yang serupa.

Masalah Medikolegal Pada Penanganan Pasien Gawat Darurat
Hal-hal yang disoroti hukum dalam pelayanan gawat darurat dapat meliputi
hubungan hukum dalam pelayanan gawat darurat dan pembiayaan Pelayanan gawat darurat.
Karena secara yuridis keadaan gawat darurat cenderung menimbulkan privilege
tertentu bagi tenaga kesehatan maka perlu ditegaskan pengertian gawat darurat. Menurut The
American Hospital Association (AHA) pengertian gawat darurat adalah. An emergency is any
condition that in the opinion of the patient, his family, or whoever assumes the responsibility
of bringing the patient to the hospital-enquires immediate medical attention. This condition
continues until a determination has been made by a health care professional that the patient’s
life or well-being is not threatened.
Adakalanya pasien untuk menempatkan dirinya dalam keadaan gawat darurat
walaupun sebenarnya tidak demikian. Sehubungan dengan hal itu perlu dibedakan antara
false emergency dengan true emergency yang pengertiannya adaiah:
A true emergency is any condition clinically determined to require immediate medical
care. Such conditions range from those requiring extensive immediate care and
admission to the hospital to those that are diagnostic probmelakukanlems and may or
may not require admission after work-up and observation.
Untuk menilai dan menentukan tingkat urgensi masalah kesehatan yang dihadapi
pasien diselengganakanlah triage. Tenaga yang menangani hal tersebut yang paling ideal
adalah dokter, namun jika tenaga terbatas, di beberapa tempat dikerjakan oleh perawat
melalui standing order yang disusun rumah sakit.
Selain itu perlu dibedakan antara penanganan kasus gawat darurat fase pra-rumah
sakit dengan fase di rumah sakit. Pihak yang terkait pada kedua fase tersebut dapat berbeda, di
mana pada fase pra-rumah sakit selain tenaga kesehatan akan terlibat pula orang awam,
sedangkan pada fase rumah sakit umumnya yang terlibat adalah tenaga kesehatan, khususnya
tenaga medis dan perawat. Kewemelakukannangan dan tanggung jawab tenaga kesehatan dan
orang awam tersebut telah dibicarakan diatas. Kecepatan dan ketepatan tindakan pada fase
pra-rumah sakit sangat menentukan survivabilitas pasien.
Hubungan Hukum Dalam Pelayanan Gawat Darurat
Di Amerika dikenal penerapan doktrin Good Samaritan dalam peraturan perundang-
undangan pada hampir seluruh negara bagian. Doktrin tersebut terutama diberlakukan dalam
Roman Forensik Edisi 8 139
fase pra-rumah sakit untuk melindungi pihak yang secara sukarela beritikad baik menolong
seseorang dalam keadaan gawat darurat. Dengan demikian seorang pasien dilarang
menggugat dokter atau tenaga kesehatan lain untuk kecederaan yang dialaminya. Dua syarat
utama doktrin Good Samaritan yang harus dipenuhi adalah:
1. Kesukarelaan pihak penolong. Kesukarelaan dibuktikan dengan tidak ada
harapan atau keinginan pihak penolong untuk memperoleh kompensasi dalam bentuk
apapun. Bila pihak penolong menarik biaya pada akhir pertolongannya, maka doktrin
tersebut tidak berlaku.
2. Itikad baik pihak penolong. Itikad baik tersebut dapat dinilai dan tindakan yang
dilakukan penolong. Hal yang bertentangan dengan itikad baik misalnya melakukan
trakeostomi yang tidak perlu untuk menambah ketemelakukanrampilan penolong.
Dalam hal pertanggungjawaban hukum, bila pihak pasien menggugat tenaga
kesehatan karena diduga terdapat kekeliruan dalam penegakan diagnosis atau pemberian
terapi maka pihak pasien harus membuktikan bahwa hanya kekeliruan itulah yang menjadi
penyebab kerugiannya/cacat (proximate cause). Bila tuduhan kelalaian tersebut
dilamelakukankukan dalam situasi gawat darurat maka perlu dipertimbangkan faktor kondisi
dan situasi saat peristiwa tersebut terjadi. Jadi, tepat atau tidaknya tindakan tenaga kesehatan
perlu dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang berkuamelakukanlifikasi sama, pada pada
situasi dan kondisi yang sama pula.
Setiap tindakan medis harus mendapatkan persetujuan dari pasien (informed
consent). Hal itu telah diatur sebagai hak pasien dalam UU No.23/1992 tentang Kesehatan
pasal 53 ayat 2 dan Peraturan Menteri Kesehatan No.585/1989 tentang Persetujuan Tindakan
Medis. Dalam keadaan gawat darurat di mana harus segera dilakukan tindakan medis pada
pasien yang tidak sadar dan tidak didampingi pasien, tidak perLu persetujuan dari siapapun
(pasal 11 Peraturan Menteri Kesehatan No.585/1989). Dalam hal persetujuan tersbut dapat
diperoleh dalam bentuk tertulis, maka lembar persetujuan tersebut harus disimpan dalam
berkas rekam medis.
Kematian Pada Instalasi Gawat Darurat
Pada prinsipnya, setiap pasien yang meninggal pada saat dibawa ke IGD (Death on
Arrival) harus dilaporkan kepada pihak berwajib. Di negara Anglo-Saxon digunakan sistem
koroner, yaitu setiap kematian mendadak yang tidak terduga (sudden unexpected death),
apapun penyebabnya, harus dilaporkan dan ditangani oleh Coroner atau Medical Examiner.
Pejabat tersebut menentukan tindakan iebih lanjut apakah jenazah harus diautopsi untuk
pemeriksaan lebih lanjut atau tidak. Dalam keadaan tersebut surat keterangan kematian (death
certificate) diterbitkan oleh Coroner atau Medical Examiner. Pihak rumah sakit harus
menjaga keutuhan jenazah dan benda-benda yang berasal dari tubuh jenazah (pakaian dan
benda lainnya) untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Indonesia tidak menganut sistem tersebut, sehingga fungsi semacam coroner
diserahkan pada pejabat kepolisian di wilayah tersebut. Dengan demikian pihak POLRI yang
akan menentukan apakah jenazah akan diautopsi atau tidak. Dokter yang bertugas di IGD
tidak boleh menerbitkan surat keterangan kematian dan menyerahkan permasalahannya
kepada POLRI.
Untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta, sesuai dengan Keputusan Kepala Dinas
Kesehatan DKI Jakarta Nomor 3349/1989 tentang berlakunya Petunjuk Pelaksanaan
Pencatatan dan Pelaporan kematian di Puskesmas, Rumah Sakit, RSB/RB di wilayah DKI
Jakarta yang telah disempurnakan tanggal 9 Agustus 1989 telah ditetapkan bahwa semua
peristiwa kematian rudapaksa dan yang dicurigai rudapaksa dianjurkan kepada keluarga untuk
dilaporkan kepada pihak kepolisian dan selanjutnya jenazah harus dikirim ke RSUPN Dr.
Cipto Mangunkusumo untuk dilakukan visum et repertum.
Kasus yang tidak boleh diberikan surat keterangan kematian adalah:
• meninggal pada saat dibawa ke IGD
• meninggal akibat berbagai kekerasan
Roman Forensik Edisi 8 140
• meninggal akibat keracunan
• meninggal dengan kaitan berbagai peristiwa kecelakaan
Kematian yang boleh dibuatkan surat keterangan
kematiannya adalah yang cara kematiannya alamiah karena penyakit dan tidak ada tanda-
tanda kekerasan.
MALPRAKTIK MEDIS
Istilah malpraktik berasal dari kata mala, artinya tidak baik, dan praktik yang artinya
pelaksanaan pekerjaan. Dalam bidang kesehatan, malpraktik medis merupakan pelaksanaan
pekerjaan dokter secara tidak baik. Jadi, malpraktek adalah praktek kedokteran yang salah
atau tidak sesuai dengan standar profesi atau standar prosedur operasional. Untuk malpraktek
dokter dapat dikenai hukum kriminal dan hukum sipil. Malpraktek kedokteran terdiri dari 4
hal yaitu tanggung jawab kriminal, malpraktik secara etik, tanggung jawab sipil, dan
tanggung jawab public.
Menurut Prof.Dr.dr.Daldiyono, seorang dokter dinilai baik apabila:
1. Dokter meletakkan kepentingan pasien lebih tinggi daripada kepentingan dokter dalam
memperoleh pembayaran.
2. Pasien dapat merasakan apakah dokter bekerja demi diri pasien atau demi uang.
3. Dokter bekerja sesuai dengan kompetensinya kecuali dalam keadaan darurat pertolongan
atau penyelamatan nyawa.
4. Dokter bekerja dengan melaksanakan standar pelayanan medis yang telah ditentukan
oleh Konsil Kedokteran Indonesia.
5. Dokter bekerja dengan melaksanakan standar prosedur operasional yang telah ditentukan
oleh profesinya bila bekerja mandiri atau yang telah ditentukan oleh institusinya,
misalnya puskesmas, rumah sakit, dan sebagainya.
Pengertian malpraktik medis menurut World Medical Association (WMA) (1992)
adalah : “ medical malpractice involves the physician’s failure to conform to the standart of
care for treatment of the patient’s condition, orlack of skill, or negligence in providing care
to the patient, which is the direct cause of an injury to the patient”
4
. Dari definisi di atas
dapat ditarik kesimpulan bahwa malpraktik dapat terjadi karena tindakan yang disengaja
(intentional), seperti pada misconduct tertentu, tindakan kelalaian (negligence), ataupun suatu
kekurang-mahiran/ ketidak-kompetenan yang tidak beralasan.
Menurut W.L. Prosser dalam buku The Law of Torts yang dikutip oleh Dagi, T.F
dalam tulisannya yang berjudul Cause and Culpability di Journal of Medicine and
Philosophy Vol. 1, No. 4, 1976, unsur malapraktik adalah (1) Adanya perjanjian dokter-
pasien; (2) Adanya pengingkaran perjanjian; (3) Adanya hubungan sebab akibat antara
tindakan pengingkaran itu dengan musibah yang terjadi; (4) Tindakan pengingkaran itu
merupakan penyebab utama dari musibah dan; (5) Musibah itu dapat dibuktikan
keberadaannya.
Menurut Hubert W. Smith tindakan malpraktek meliputi 4D, yaitu :
1. Duty to use due care (kewajiban)
Tidak ada kelalaian jika tidak ada kewajiban untuk mengobati. Hal ini berarti harus
ada hubungan hukum antara pasien dan dokter/ rumah sakit. Dengan adanya hubungan
hukum, maka implikasinya adalah bahwa sikap tindak dokter (atau tenaga medis lainnya)
Roman Forensik Edisi 8 141
di rumah sakit tersebut harus sesuai dengan standar pelayanan medisagar pasien jangan
sampai menderita cedera karenanya.
Dalam hubungan perjanjian dokter dengan pasien, dokter haruslah bertindak
berdasarkan adanya indikasi medis, bertindak secara hati-hati dan teliti, bekerja sesuai
standar profesi serta sudah ada informed consent.
Keempat tindakan di atas adalah sesuai dengan Undang-Undang Praktek Kedokteran No.
29 tahun 2004 Bab IV tentang Penyelenggaraan Praktik Kedokteran, yang menyebutkan
pada bagian kesatu pasal 36, 37 dan 38 bahwa seorang dokter harus memiliki surat izin
praktek, dan bagian kedua tentang pelaksanaan praktek yang diatur dalam pasal 39-43.
Sesuai dengan Undang-Undang Praktek Kedokteran Pasal 45 ayat (1) menyebutkan
bahwa setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter
atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan. Sebelum memberikan
persetujuan pasien harus diberi penjelasan yang lengkap akan tindakan yang akan
dilakukan oleh dokter.
Selain itu, ketika dia menjalankan praktik kedokteran wajib untuk membuat rekam
medis, yang sudah diatur dalam undang-undang parktek kedokteran pasal 46. Rekam
medis harus segera dilengkapi setelah pasien selesai menerima pelayanan kesehatan dan
harus dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan petugas yang memberikan pelayanan atau
tindakan.
2. Dereliction (breach of duty/adanya penyimpangan dalam pelaksanaan tugas)
Apabila sudah ada kewajiban, maka dokter (atau tenaga medis lainnya) di rumah
sakit tersebut harus bertindak sesuai standar profesi yang berlaku. Jika terdapat
penyimpangan dari standar tersebut, maka ia dapat dipersalahkan.
3. Damage (injury/kerugian)
Unsur ketiga untuk penuntutan malpraktik medik adalah cedera atau kerugian yang
diakibatkan kepada pasien. Walaupun seorang dokter atau rumah sakit dituduh telah
berlaku lalai, tetapi jika tidak sampai menimbulkan luka/cedera/kerugian (damage,
injury, harm) kepada pasien, maka ia tidak dapat dituntut ganti-kerugian. Istilah injury
tidak saja dalam bentuk fisik, namun kadangkala juga termasuk dalam arti gangguan
mental yang hebat.
4. Direct Causation (Proximate Cause/penyebab langsung )
Untuk berhasilnya suatu gugatan ganti-rugi berdasarkan malpraktik medik, maka
harus ada hubungan kausal yang wajar antara sikap tindak tergugat (dokter) dengan
kerugian (damage) yang diderita oleh pasien sebagai akibatnya. Tindakan dokter itu
harus merupakan penyebab langsung. Hanya atas dasar penyimpangan saja, belumlah
cukup untuk mengajukan tuntutan ganti-kerugian. Kecuali jika sifat penyimpangannya
itu sedemikian tidak wajar sehingga sampai mencederai pasien. Namun apabila pasien
tersebut sudah diperiksa oleh dokter secara adekuat, maka hanya atas dasar suatu
kekeliruan dalam menegakkan diagnosis saja, tidaklah cukup kuat untuk meminta
pertanggungjawaban hukumnya.
Roman Forensik Edisi 8 142
Meskipun demikian, pada kenyataannya tidak semua sengketa medik yang memenuhi
unsur 4-D berakhir dengan proses peradilan. Hal ini terjadi akibat adanya unsur kelima
kelalaian; yaitu willing plaintiff (keinginan menggugat).
Kelalaian medik adalah salah satu bentuk dari malpraktik medis, sekaligus merupakan
bentuk malpraktik medis yang paling sering terjadi. Kelalaian dapat terjadi dalam 3 (tiga)
bentuk, yaitu :
1. Malfeasance; melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat/ layak (unlaw
atau improper). Misalnya melakukan tindakan medis tanpa indikasi yang memadai.
2. Misfeasance; melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi dilaksanakan dengan
tidak tepat (improper performance). Misalnya melakukan tindakan medis yang
menyalahi prosedur.
3. Nonfeasance; tidak melakukan tindakan medis yang merupakan kewajiban baginya.
Tingkat-tingkat kelalaian oleh hukum hanya dibedakan 2 (dua) ukuran tingkat :
1. Yang bersifat ringan, biasa – (culpa levis); yaitu apabila seseorang tidak melakukan apa
yang seorang biasa, wajar, dan berhati-hati akan melakukan, atau justru melakukan apa
yang orang lain yang wajar tidak akan melakukan di dalam situasi yang meliputi keadaan
tersebut.
2. Yang bersifat kasar, berat – (culpa lata); yaitu apabila seseorang dengan sadar dan
dengan sengaja tidak melakukan atau melakukan sesuatu yang sepatutnya tidak
dilakukannya.
Menurut Prof. Leenen suatu tindakan medik harus memenuhi syarat :
1. Harus ada indikasi medik,
2. Dilakukan berdasarkan standar,
3. Dilakukan dengan teliti dan hati-hati,
4. Harus ada informed consent.
Setiap tindakan medis mengandung resiko buruk, sehingga harus dilakukan tindakan
pencegahan ataupun tindakan guna mereduksi resiko tersebut. Resiko yang dapat diterima
adalah sebagai berikut:
1. Resiko yang derajat propabilitas dan keparahannya cukup kecil, dapat diantisipasi,
diperhitungkan atau dapat dikendalikan, misalnya efek samping obat, perdarahan atau
infeksi pada pembedahan, dan lain-lain.
2. Resiko yang derajat propabilitas dan keparahannya besar pada waktu tertentu, yaitu
apabila tindakan medis yang beresiko tersebut harus dilakukan karena merupakan satu-
satunya cara yang harus ditempuh terutama dalam keadaan gawat darurat.
JENIS MALPRAKTIK
Jika diukur menurut berat-ringannya maka malpraktik yang dilakukan oleh profesi
kedokteran dapat dibedakan menjadi malpraktik etika, malpraktik disiplin dan malpraktik
hukum. Untuk mengetahui lebih jelas perbedaan-perbedaan antara malpraktik etika, disiplin
dan hukum dapat dilihat pada tabel berikut :
BIDANG SIFAT TUJUAN SANKSI
Etika
Intern (self
imposed
regulation)
Memelihara harkat
martabat profesi
dan menjaga mutu
Teguran, skorsing,
pemecatan sebagai
anggota
Hukum publik Melindungi
Roman Forensik Edisi 8 143
Disiplin (ada unsur
pemerintah dan
awam)
masyarakat
(termasuk anggota
profesi)
Teguran, skorsing,
pencabutan izin
Hukum
Berlaku umum
(bersifat
memaksa)
Menjaga tata tertib
masyarakat luas
Hukum perdata
= ganti rugi
Hukum Pidana
= sanksi badan dan
atau pencabutan izin
Gambar 1. Proses Investigasi Kasus malpraktek
PENCEGAHAN MALPRAKTIK MEDIS
Praktik kedokteran bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siapa saja,
melainkan hanya boleh dilakukan oleh kelompok profesional kedokteran tertentu yang
berkompetensi dan mendapatkan izin dari institusi yang berwenang dan bekerja sesuai dengan
standar dan profesionalisme yang ditetapkan oleh organisasi profesinya.
Untuk memastikan bahwa para dokter yang berpraktik adalah benar telah memiliki
kompetensi dan kewenangan medis dan yang sesuai dengan standar medis dan etika profesi
Roman Forensik Edisi 8 144
maka perlu adanya UU Praktik Kedokteran. UU Praktik Kedokteran dimaksudkan untuk
mencapai akuntabilitas profesi dan layanan kedokteran.
Prof.Dr.dr Daldiyono mengatakan bahwa seharusnya yang diperlukan adalah dokter
yang bijak. Dalam filsafat kedokteran, dokter bijak diharapkan memiliki criteria:
1. Pendidikan kedokteran berkelanjutan
2. Praktik kedokteran bermutu dan beretika (manusiawi) (good clinical practice)
3. Sistem dan cara pelayanan kesehatan bermutu serta beretika (good clinical
governance).
Apabila seorang dokter telah terbukti dan dinyatakan telah melakukan tindakan
malpraktek maka dia akan dikenai sanksi hukum sesuai dengan UU No. 23 1992 tentang
kesehatan. Dan UU Praktek kedokteran dalam BAB X Ketentuan Pidana Pasal 75 ayat (1)
yang berbunyi “setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik
kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat
(1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah)”. Sehubungan dengan hasil keputusan Mahkama
Konstitusi pasal tersebut telah mengalami revisi, dimana salah satu keputusan dari Mahkama
Konstitusi adalah ketentuan ancaman pidana penjara kurungan badan yang tercantum dalam
pasal 75, 76, 79, huruf a dan c dihapuskan. Namun mengenai sanksi pidana denda tetap
diberlakukan.
Roman Forensik Edisi 8 145
Gambar 2. Tanggung jawab Dokter dalam Upaya Pelayanan Kesehatan
Di negara-negara maju terdapat Dewan Medis (Medical Council) yang bertugas
melakukan pembinaan etika profesi dan menanggulangi pelanggaran-pelanggaran yang
dilakukan terhadap etik kedokteran.
Roman Forensik Edisi 8 146
Di Negara kita IDI telah mempunyai Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK),
baik di tingkat pusat maupun di tingkat cabang. Walaupun demikian, MKEK ini belum lagi
dimanfaatkan dengan baik oleh para dokter maupun masyarakat.
Masih banyak kasus yang keburu diajukan ke pengadilan sebelum ditangani oleh
MKEK. Oleh karena fungsi MKEK ini belum memuaskan, maka pada tahun 1982
Departeman Kesehatan membentuk Panitia Pertimbangan dan Pembinaan Etik Kedokteran
(P3EK) yang terdapat pula di pusat dan di tingkat propinsi.
Tugas P3EK ialah menangani kasus-kasus malpraktek etik yang tidak dapat
ditanggulangi oleh MKEK, dan memberi pertimbangan serta usul-usul kepada pejabat
berwenang.Jadi instansi pertama yang akan menangani kasus-kasus malpraktek etik ialah
MKEK cabang atau wilayah. Masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh MKEK dirujuk ke
P3EK Propinsi dan jika P3EK Propinsi tidak mampu menanganinya maka kasus tersebut
diteruskan ke P3EK Pusat.
Demikian juga kasus-kasus malpraktek etik yang dilaporkan kepada propinsi,
diharapkan dapat diteruskan lebih dahulu ke MKEK Cabang atau Wilayah. Dengan demikian
diharapkan bahwa semua kasus pelanggaran etik dapat diselesaikan secara tuntas.
Tentulah jika sesuatu pelanggaran merupakan malpraktek hukum pidana atau perdata,
maka kasusnya diteruskan kepada pengadilan. Dalam hal ini perlu dicegah bahwa oleh karena
kurangnya pengetahuan pihak penegak hukum tentang ilmu dan teknologi kedokteran
menyebabkan dokter yang ditindak menerima hukuman yang dianggap tidak adil.

BAB XV
AUTOPSI
Pengertian Autopsi
Roman Forensik Edisi 8 147
Autopsi = sendiri dan opsis = melihat. Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh
mayat, meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun bagian dalam, dengan tujuan
menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atas penemuan-
penemuan tersebut, menerangkan penyebabnya serta mencari hubungan sebab akibat antara
kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian.
Berdasarkan tujuannya ada 2 jenis autopsi, autopsi klinik dan autopsi forensik/ autopsi
mediko-legal.
Autopsi klinik diakukan terhadap mayat seseorang yang menderita penyakit, di rawat
di rumah sakit tetapi kemudian meninggal.
Tujuan dilakukannya autopsi klinik adalah:
a. Menentukan sebab kematian yang pasti
b. Menentukan apakah diagnosis klinik yang dibuat selama perawatan sesuai dengan
diagnosis postmortem
c. Mengetahui korelasi proses penyakit yang ditemukan dengan diagnosis klinik dan
gejala-gejala klinik
d. Menentukan efektifitas pengobatan
e. Mempelajari pelajaran lazim suatu proses penyakit
f. Pendidikan para mahasiswa kedokteran dan para dokter
Untuk autopsi klinik mutlak diperlukan izin dari keluarga terdekat mayat yang
bersangkutan.
Untuk mendapatkan hasil maksimal, yang terbaik adalah malakukan autopsi klinik
yang lengkap meliputi pembukaan rongga tengkorak, dada, perut/panggul, serta pemeriksaan
seluruh organ-organ dalam. Jika keluarga menolak dapat dilakukan autopsi klinik parsial,
pada satu atau dua rongga tertentu. Jika keluarga masih menolak, kiranya dapat diusahakan
suatu needle necropsy terhadap organ tubuh tertentu, kemudian dilakukan pemeriksaan
histopatologik.
Autopsi forensik atau autopsi mediko-legal dilakukan terhadap mayat seseorang
berdasarkan peraturan undang-undang dengan tujuan :
a. Membantu dalam hal penentuan identitas mayat
b. Menetukan sebab pasti kematian, memperkirakan cara dan saat kematian
c. Mengumpulkan dan mengenali benda-benda bukti untuk penetuan identitas benda
peyebab serta identitas pelaku kejahatan
d. Membuat laporan tertulis yang obyektif dan berdasarkan fakta dalam bentuk visum et
repertum
e. Melindungi orang yang tidak bersalah dan membantu dalam penentuan identitas serta
penuntutan terhadap orang yang bersalah.
Untuk melakukan autopsi forensik, diperlukan surat permintaan
pemeriksaan/pembuatan visum et repertum dari yang berwenang, yakni pihak penyidik. Izin
keluarga tidak diperlukan. Dalam melakukan autopsi forensik, mutlak diperlukan
pemeriksaan yang lengkap. Autopsi forensik harus dilakukan oleh dokter. Dalam autopsi
klinik dan forensik, kelainan sekecil apapun harus dicatat dan pemeriksaan harus dilakukan
sedini mungkin.
Persiapan Sebelum Autopsi
Sebelum autopsi dimulai, beberapa hal perlu mendapat perhatian :
a. Apakah surat-surat yang berkaitan dengan autopsi yang akan dilakukan telah lengkap.
Roman Forensik Edisi 8 148
b. Apakah mayat yang akan di autopsi benar-benar adalah mayat yang dimaksudkan
dalam surat yang bersangkutan.
c. Kumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya kematian selengkap
mungkin.
d. Periksalah apakah alat-alat yang diperlukan telah tersedia.
Beberapa Hal Pokok Pada Autopsi Forensik
Dalam melakukan autopsi forensik, beberapa hal pokok perlu diketahui :
a. Autopsi harus dilakukan sedini mungkin.
b. Autopsi harus dilakukan lengkap.
c. Autopsi dilakukan sendiri oleh dokter.
d. Pemeriksaan dan pencatatan seteliti mungkin.
Sebab, Cara dan Mekanisme Kematian
Sebab mati adalah penyakit atau cedera/luka yang bertanggung jawab atas terjadinya
kematian.
Cara kematian adalah macam kejadian yang menimbulkan penyebab kematian. Cara
kematian wajar (natural death) bila akibat suatu penyakit semata-mata.
Cara kematian tidak wajar (unnatural death) bila akibat kecelakaan, bunuh diri dan
pembunuhan.
Mekanisme kematian adalah gangguan fisiologik dan atau biokomiawi yang
ditimbulkan oleh penyebab kematian sedemikian rupa sehingga seseorang tidak dapat terus
hidup.
Tehnik Autopsi :
Tehnik Virchow :
Tehnik ini mungkin merupakan tekhnik autopsi tertua. Setelah dilakukan pembukaan
rongga tubuh, organ-organ dikeluarkan satu per satu dan langsung diperiksa. Dengan
demikian kelainan-kelainan yang terdapat pada masing-masing organ dapat segera dilihat,
namun hubungan anatomik antar beberapa organ yang tergolong dalam satu sistem menjadi
hilang. Dengan demikian, tekhnik ini kurang baik bila digunakan pada autopsi forensik,
terutama pada kasus penembakan dengan senjata api dan penusukan dengan senjata tajam,
yang perlu dilakukan penentuan saluran luka, arah serta dalamnya penetrasi yang terjadi.
Tehnik Rokitansky :
Setelah rongga tubuh dibuka, organ dilihat dan diperiksa dengan melakukan beberapa
irisan in situ, baru kemudian seluruh organ-organ tersebut dikeluarkan dalam kumpulan-
kumpulan organ (en bloc). Tekhnik ini jarang dipakai, karena tidak menujukkan keunggulan
yang nyata. Tekhnik ini pun tidak baik digunakan autopsi forensik.
Tehnik Letulle:
Setelah rongga tubuh dibuka, organ leher, dada, diafragma, dan perut dikeluarkan
sekaligus (en masse), Kepala diletakkan diatas meja dengan permukaan posterior menghadap
ke atas. Plexus coeliacus dan kelenjar paraaorta diperiksa. Aorta dibuka sampai arcus aorta
dan Aa. Renales kanan dan kiri dibuka serta diperiksa.
Aorta diputus di atas muara a. renalis. Rektum dipisahkan dari sigmoid. Organ
urogenital dipisahkan dari organ lain. Bagian proksimal jejunum diikat pada dua tempat dan
kemudian diputus antara dua ikatan tersebut dan usus dapat dilepaskan. Esofagus dilepaskan
dari trakea, tetapi hubungannya dengan lambung dipertahankan. Vena cava inferior serta aorta
diputus di atas diafragama dan dengan demikian organ leher dan dada dapat dilepas dari organ
perut.
Dengan pengangkatan organ-organ tubuh secara en masse ini, hubungan antar organ
tetap dipertahankan setelah seluruh organ dikeluarkan dari tubuh. Kerugian tekhnik ini adalah
Roman Forensik Edisi 8 149
sukar dilakukan tanpa pembantu serta agak sukar dalam penanganan karena panjangnya
kumpulan organ-organ yang dikeluarkan sekaligus.
Tehnik Ghon:
Setelah rongga tubuh dibuka, organ leher dan dada, organ pencernaan bersama hati
dan limpa, organ urogenital diangkat keluar sebagai tiga kumpulan organ (bloc).
Peralatan Untuk Autopsi
a. Kamar autopsi
b. Meja autopsi
c. Peralatan autopsi
d. Pemeriksaan untuk pemeriksaan tambahan
e. Peralatan tulis menulis dan fotografi
Pemeriksaan Luar
Sistematika pemeriksaan adalah :
1. Label mayat
2. Tutup mayat
3. Bungkus mayat
4. Pakaian mayat
5. Perhiasan mayat
6. Benda Disamping mayat
Disertakan pula pengiriman benda disamping mayat (misal bungkusan atau tas). Lakukan
pencatatan teliti dan lengkap
7. Tanda Kematian
Pencatatan tanda kematian berguna untuk penentuan saat kematian,. Jangan lupa mencatat
waktu/saat dilakukan pemeriksaan.
a. Lebam mayat
Catatan letak/distribusi lebam mayat, adanya bagian tertentu di daerah lebam mayat
yang justru tidak menunjukkan lebam (karena tertekan pakaian terbaring di atas benda
keras dan lain-lain). Warna dari lebam mayat serta intensitas (hilang dengan
penekanan/sedikit hilang/tidak menghilang sama sekali).
b. Kaku mayat
Catat distribusi kaku mayat serta derajat kekakuan pada beberapa sendi (daerah
dagu/tengkuk, lengan atas, siku, pangkal paha, sendi lutut) dngan menentukan apakah
mudah/sukar dilawan
Apabila ditemukan spasme kadaverik (cadaveric spasm), harus dicatat dengan sebaik-
baiknya, karena spasme kadaverik memberi petunjuk apa yang dilakukan korban saat
terjadi kematian).
c. Suhu tubuh mayat
Roman Forensik Edisi 8 150
Kriteria penurunan suhu tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan, namun
kadang masih membantu dalam perkiraan kematian. Pengukuran suhu dengan
menggunkana termometer rektal. Jangan lupa mencatat suhu ruangan pada saat yang
sama.
d. Pembusukan
Tanda pembusukan yang pertama tampak berupa kulit perut sebelah kanan bawah
yang berwarna kehijau-hijauan, Pada pembusukan lebih lanjut, kulit ari telah
terkelupas, terdapat gambaran pembuluh superfisial yang melebar berwarna biru
hitam, ataupun tubuh yang telah mengalami penggembungan akibat pembusukan
lanjut.
e. Lain-lain
Mencatat perubahan tanatologik lain yang mungkin ditemukan, (misalnya
mummifikasi/adipocare).
8. Identifikasi umum
Catat jenis kelamin, bangsa atau ras, warna kulit, keadaan gizi, tinggi dan berat badan,
keadaan zakar yang disirkumsisi, adanya striae albicantes pada dinding perut.
9. Identifikasi Khusus
Catat segala sesuatu yang dapat digunakan untuk penentuan identitas secara khusus.
a. Rajah/tatto
Tentukan letak, bentuk, warna serta tulisan tatto yang ditemukan. Bila perlu buat
dokumentasi foto.
b. Jaringan parut
Catat seteliti mungkin jaringan parut yang ditemukan, baik yang timbul akibat
penyembuhan luka maupun yang terjadi akibat tindakan bedah.
c. Kapalan (Callus)
Dengan mencatat distrubusi callus, kadangkala dapat diperoleh keterangan berharga
mengenai pekerjaan mayat yang diperiksa semasa hidupnya.
Pada pekerja/buruh pikul, ditemukan kapalan pada daerah bahu, pada pekerja kasar
lainnya ditemukan kapalan pada telapak tangan atau kaki.
d. Kelainan pada kulit
Adanya kutil, angioma, bercak hiper atau hipopigmentasi, eksema, dan kelainan lain
seringkali dapat membantu penentuan identitas.
e. Anomali dan cacat pada tubuh
Kelainan anatomis pada tubuh perlu dicatat dengan seksama dan teliti.
Roman Forensik Edisi 8 151
10. Pemeriksaan Rambut
Dimaksudkan untuk membantu identifikasi. Pemcatata dilakukan terhadap distribusi,
warna, keadaan tumbuh, serta sifat dari rambut tersebut (halus/kasar, lurus/ikal).
11. Pemeriksaa Mata
Periksa kelopak mata terbuka/tertutup, adanya tanda-tanda kekerasan serta kelainan lain
yang ditimbulkan oleh penyakit dan sebagainya. Periksa keadaan selaput lendir kelopak
mata (warna, kekeruhan, pembuluh darah yang melebar, bintik perdarahan, bercak
perdarahan).
Pemeriksaan bola mata (tanda kekerasan, kelainan seperti pysis bulbi, pemakaian mata
palsu dan sebagainya)
Pemeriksaan selaput lendir bola mata (adanya pelebaran pembuluh darah, bintik
perdarahan atau kelainan lain).
Pemeriksaan kornea/selaput bening mata (jernih/tidak, kelainan fisiologis (ptysis bulbi)
atau patologis (leucoma)).
Pemeriksaan iris/tirai mata (warnanya, kelainan yang ditemukan)
Pemeriksaa pupil/teleng mata (ukurannya, besar ukuran pada kanan dan kiri, kelainan).
12. Pemeriksaan daun telinga dan hidung
Pemeriksaan meliputi bentuk daun telinga dan hidung. Mencatat pula kelainan serta tanda
kekerasan. Periksa dari lubang hidung/telinga adanya keluar cairan/darah.
13. Pemeriksaan terhadap mulut dan rongga mulut
Meliputi bibir, lidah, rongga mulut, serta gigi geligi. Adanya kelainan/tanda kekerasan.
Memeriksa dengan teliti keadaan rongga mulut akan adanya benda asing.
Terhadap gigi geligi, dilakukan pencatat jumlah gigi yang terdapat, adanya yang
hilang/patah/tambalan/bungkus logam, adanya gigi palsu, kelainan letak, pewarnaan
(staining) dan sebagainya.
Data gigi geligi merupakan alat yang berguna untuk identifikasi bila terdapat data
pembanding.
14. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan
Pada mayat laki-laki, catat apakah alat kelamin mengalami sirkumsisi.
Catat kelainan bawaan yang mungkin ditemukan, adanya manik-manik yang ditanam di
bawah kulit, keluarnya cairan dari lubang kemaluan, serta kelainan yang disebabkan oleh
penyakit atau sebab lain. Pada dugaan telah terjadi suatu persetubuhan beberapa saat
sebelumnya, dapat diambil preparat tekan menggunakan kaca objek yang ditekankan pada
Roman Forensik Edisi 8 152
daerah glands atau corona glandis yang kemudian dapat dilakukan pemeriksaan terhadap
adanya sel epitel vagina menggunakan teknik laboratorium.
Pada mayat wanita, periksa keadaan selaput dara dan komisura posterior akan
kemungkinan adanya tanda kekerasan. Pada kasus dengan persangkaan telah melakukan
persetubuhan beberapa saat sebelumnya, jangan lupa melakukan pemeriksaan
laboratorium terhadap sekret/cairan linag senggama.
Lubang pelepasan perlu mendapat perhatian. Pada mayat yang sering mendapat perlakuan
sodomi, mungkin ditemukan anus berbentuk corong yang selaput lendirnya sebagian
berubah menjadi lapisan bertanduk dan hilangya rugae.
15. Lain-lain
Perlu diperhatian akan kemungkinan terdapatnya :
a. Tanda perbendungan, ikterus, warna kebiru-biruan pada kuku/ ujung-ujung jari (pada
sianosis) atau adanya edema/sembab.
b. Bekas pengobatan berupa bekas kerokan, tracheotomi, suntikan, pungsi lumbal, dan
lain-lain.
c. Terdapatnya bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh, kepingan, atau serpihan
cat, pecahan kaca, lumuran aspal, dan lain-lain.
16. Pemerikaan terhadap tanda-tanda kekerasan/luka
Pada pemeriksaan tersebut , perlu dilakukan pencatatan yang teliti dan objektif terhadap :
a. Letak luka
Sebutkan regio anatomis luka yang ditemukan, mencatat letaknya yang tepat
menggunakan koordinat terhadap garis/titik anatomis yang terdekat.
b. Jenis luka
Tentukan apakah merupakan luka lecet, luka memar, atau luka terbuka.
c. Bentuk luka
Menyebutkan bentuk luka yang didapatkan. Pada luka yang terbuka sebutkan bentuk
luka setelah luka dirapatkan.
d. Arah luka
Dicatat dari arah luka (melintang, membujur, atau miring)
e. Tepi luka
Perhatikan tepi luka rata, teratur, atau bentuk tidak beraturan.
f. Sudut luka
Roman Forensik Edisi 8 153
Pada luka terbuka, apakah sudut luka merupakan sudut runcing, membulat atau bentuk
lain.
g. Dasar luka
Dasar luka berupa jaringan bawah kulit atau otot, atau bahkan merupakan rongga
badan.
h. Sekitar luka
Lihat terdapat adanya pengotoran, terdapat luka/tanda kekerasan lain sekitar luka.
i. Ukuran luka
Diukur dengan teliti, pada luka terbuka diukur juga setelah luka dirapatkan.
j. Saluran luka
Dilakukan secara in situ. Termukan perjalanan luka, serta panjang luka. Penentuan ini
baru dapat dilakukan pada saat pembedahan mayat.
k. Lain-lain
Pada luka lecet jenis serut, pemeriksaan teliti terhadap pemukaan luka terhadap pola
penumpukan kulit ari yang terserut dapat mengungkapkan arah kekerasan yang
menyebabkan luka tersebut.
17. Pemeriksaan terhadap patah tulang
Tentukan letak patah luka yang ditemukan serta catat sifat/jenis masing-masing patah
tulang yang terdapat.
PEMBEDAHAN MAYAT
Pengeluaran Alat Tubuh
Mayat yang akan dibedah diletakkan terlentang dengan bagian bahu ditinggikan
(diganjal) dengan sepotong balok kecil. Dengan demikian, kepala akan berada dalam keadaan
fleksi maksimal dan daerah leher tampak jelas.
Insisi kulit dilakukan mengikuti garis pertengahan badan mulai dibawah dagu,
diteruskan kearah umbilicus dan melingkari umbilicus disisi kiri dan seterusnya kembali
mengikuti garis pertengahan badan sampai di daerah simpisis pubis.
Pada daerah leher, insisi hanya mencapai kedalaman setebal kulit saja. Pada daerah
dada, insisi kulit sampai kedalaman mencapai permukaan depan tulang dada (sternum)
sedangkan mulai di daearh epigastrium, sampai menembus ke dalam rongga perut.
Insisi berbentuk huruf I diatas merupakan insisi yang paling ideal untuk suatu
pemeriksaan bedah mayat forensic. Pada keadaan tertentu, bila tidak mengganggu
kepentingan pemeriksaan, atas indikasi kosmetik dapat dipertimbangkan insisi kulit berbentuk
huruf Y, yang dimulai pada kedua puncak bahu. Insisi pada daerah dada sebelah kanan dan
Roman Forensik Edisi 8 154
kiri dipertemukan pada garis pertengahan kira-kira setinggi insisura jugularis. Dengan insisi
berbentuk huruf Y, maka pengeluaran alat-alat leher menjadi lebih sukar.
Insisi pada dinding perut biasanya dimulai pada daerah epigastrium dengan membuat
irisan pendek yang menembus sampai peritoneum. Dengan jari telunjuk dan jari tengah
tangan kiri yang dimasukkan kedalam lubang insisi ini, maka dinding perut dapat
ditarik/diangkat keatas. Pisau diselipkan diantara dua jari tersebut dan insisi dapat diteruskan
sampai ke simpisis pubis. Disamping berfungsi sebagai pengangkat dinding perut, kedua jari
tangan kiri tersebut berfungsi juga sebagai pemandu (guide) untuk pisau, serta melindungi
alat-alat dalam rongga perut dari kemungkinan teriris oleh pisau.
Dengan memegang dinding perut bagian atas dan memuntir dinding perut tersebut
kearah luar (dilakukan dengan ibu jari disebelah dalam/sisi peritoneum dan 4 jari lainnya
disebelah luar/sisi kulit), dinding dada dilepaskan dengan memulai irisan pada otot-otot
sepanjang arcus costae. Pelepasan dinding dada dilakukan terus kearah dada bagian atas
sampai daerah tulang selangka dan kesamping sampai garis ketiak depan. Pengirisan pada otot
dilakukan dengan bagian perut pisau dan bidang pisau (blade) yang tegak lurus terhadap otot.
Dengan demikian, dinding dada telah dibebaskan dari otot-otot pectorales, dan kelainan yang
ditemukan dapat dicatat dengan teliti.
Kelainan pada dinding dada dapat merupakan resapan darah, patah tulang maupun
luka terbuka. Kulit daerah leher dilepaskan dari otot leher yang berada dibawahnya.
Perhatikan akan adanya tanda kekerasan maupun kelainan-kelainan lainnya.
Pada dinding perut, diperhatikan keadaan lemak bawah kulit serta otot-otot dinding
perut, cacat tebal msing-masing serta lika-luka bila terdapat.
Rongga perut diperiksa dengan mula-mula memperhatikan keadaan alat-alat perut
secara umum. Bagaimana penyebaran tirai usus (omentum), apakah menutupi seluruh usus-
usus kecil, ataukah mengumpul pada sutu tempat akibat adanya kelainan setempat. Periksalah
keadaan usus-usus, adakah kelainan volvulus, intususepsi, infark, tanda-tanda kekerasan
lainnya. Bila mayat telah mengalami operasi sebelumnya, perhatikan pula bagian/ alat-alat
perut yang mengalami penjahitan, reseksi atau tindakan lainnya. Perhatikan adakah cairan
dalam rongga perut, bila terdapat cairan, catat sifat dari cairan tersebut serous, purulen, darah
atau cairan keruh. Dinding perut sebelah dalam diperhatikan keadaan selaput lendirnya. Pada
selaput lendir yang normal, tampak licin dan halus berwarna kelabu mengkilat. Pada kelainan
peritonitis, akan tampak selaput lendir yang tidak rata, keruh dengan fibrin yang melekat
Tentukan pula letak sekat rongga badan (diafragna), dengan membandingkan tinggi
difragma terhadap iga digaris pertengahan selangka (midelavicular line).
Rongga dada dibuka dengan jalan mengiris rawan-rawan iga pada tempat setengah
sampai satu sentimeter medial dari batas rawan tulang masing-masing iga. Dengan bagian
perut pisau dan bidang pisau (knife blade) yang diletakkan tegak lurus, rawan iga dipotong
mulai dari iga ke 2 terus kearah kaudal. Pemotongan ini dapat dilakukan dengan mudah pada
mayat yang masih muda karena bagian rawan belum mengalami penulangan. Dengan tangan
kanan memegang gagang pisau dan telapak tangan kiri menekan punggung pisau. Pisau
digerakan memotong rawan iga-iga tersebut mulai dari iga kedua sampai daerah arcus costae.
Lakukan hal yang sama pada sisi tubuh yang lain
Dengan memotong insersi otot-otot diafragma yang melekat pada dinding dada bagian
depan sebelah bawah, perlekatan sternum dengan pericardium dapat dilepaskan.
Iga pertama dipotong dengan meneruskan irisan pada iga kedua kearah kraniolateral,
dengan demikian, irisan dihindarkan dari mengenai manubrium sterni yang keras. Setelah
rawan iga pertama terpotong, pisau dapat diteruskan kearah medial menyusuri tepi bawah
Roman Forensik Edisi 8 155
tulang selangka untuk mencapai sendi antara tulang selang dan tulang dada (articulation
sternoclavicularis) dan memotongnya. Bila ini telah dilakukan pada kedua sisi maka bagian
depan dinding dada telah dapat dilepaskan.
Perhatikan pertama-tama letak paru terhadap kandung jantung. Biasanya dengan
mencatat bagian kandung jantung yang tampak antara kedua tepi paru-paru. Kandung jantung
yang tampak 1 jari diantara paru-paru menunjukkan keadaan pengembangan paru yang
berlebihan (pada edema paru atau emfisema paru).
Dengan tangan, paru dapat ditarik kearah medial dan rongga dada dapat diperiksa,
apakah terdapat cairan, darah atau lainnya.
Kandung jantung dibuka dengan melakukan pengguntingan pada dinding depan
mengikuti bentuk huruf Y terbalik. Perhatikan apakah rongga kandung jantung terisi oleh
cairan atau darah. Periksa pula akan adanya luka baik pada kandung jantung maupun pada
permukaan depan jantung sendiri.
Iga-iga dipotong mulai rawan iga ke-2 ke arah latero kaudal . Iga pertama dipotong ke
arah latero cranial untuk menghindari manubrium sterni.
Tentukan berapa jari kandung jantung tampak antara kedua paru. Kandung jantung
dibuka dengan gunting mengikuti huruf Y terbalik.
Pada dugaan thrombosis a. pulmonalis, permukaan depan bilik jantung kanan diiris
memanjang sejajar dengan septum jantung kurang lebih 1 cm lateral dari septum, kemudian
diperpanjang dengan gunting ke arah a.pulmonalis.
Alat-alat leher dikeluarkan bersama-sama dengan alat rongga dada, sedangkan usus
halus mulai dari yeyenum sampai rectum dilepaskan tersendiri, kemudian alat dalam rongga
perut dikeluarkan bersama alat dalam rongga panggul.
Pengeluaran alat leher dimulai dengan melakukan pengirisan insersi otot-otot dasar
mulut pada tulang rahang bawah. Irisan dimulai tepat di bawah dagu, menembus rongga
mulut dari bawah. Insisi diperlebar ke kanan maupun ke kiri. Lidah ditarik ke bawah sehingga
dapat dikeluarkan dari tempat bekas irisan.
Palatum molle diiris sepanjang perlekatannya dengan palatum durum sampai bagian
lateral dari plica pharingea. Dengan meneruskan pemotongan sampai ke permukaan depan
dari tulang belakang dan sedikit menarik alat-alat leher ke arah bawah maka seluruh alat leher
dapat lepas dari perlekatannya.
Lakukan pemotongan pembuluh darah dan saraf di belakang tulang selangka dengan
lebih dulu menggenggam pembuluh darah dan saraf tersebut. Lepaskan perlekatan antara
paru-paru dengan dinding rongga dada. Dengan tangan kanan memegang lidah dan dua jari
tangan kiri yang diletakkan pada sisi kanan dan kiri hilus paru, alat rongga dada ditarik ke
arah kaudal sampai keluar dari rongga paru.
Lepaskan esophagus bagian kaudal dari jaringan ikat sekitarnya dan buat dua ikatan di
atas diafragma.
Esofagus digunting antara kedua ikatan tersebut. Tangan kiri menggenggam bagian
bawah alat rongga dada tepat di atas diafragma dan lakukan pengirisan terhadap genggaman
tersebut. Alat leher dan alat dalam rongga dada dapat dikeluarkan seluruhnya.
Usus-usus dilepaskan dengan melakukan dua ikatan pada awal jejunum.
Pengguntingan dilakukan di antara dua ikatan yang dibuat agar isi duodenum tidak tercecer.
Tangan kiri mengangkat ujung distal dan mengangkatnya, maka mesenterium yang melekat
usus halus dengan dinding rongga perut dapat diiris dekat usus. Pengirisan dilakukan seperti
gerakan menggergaji dan dilakukan sepanjang usus halus sampai daearah ileum terminalis.
Roman Forensik Edisi 8 156
Pada daerah caecum, pengirisan dilakukan terhadap mesokolon, dengan memotong
mesokolon pada bagian lateral dan kolon asendens pada daerah ini.
Pada daerah kolon transversum, lepaskan perlekatan antara kolon dan lambung.
Mesokolon kembali diiris di sebelah lateral dari kolon descendens dengan memisahkannya
juga dari limpa dan ginjal kiri. Kolon sigmoid dapat dilepaskan dari dinding rongga perut
dengan memotong mesocolon di bagian belakangnya.
Rectum dipegang dengan tangan kanan, mulai dari distal diurut ke arah proksimal.
Rectum diikat dengan dua ikatan, kemudian diputus di antara dua ikatan tersebut. Setelah
dilakukan pelepasan usus halus dan usus besar dapat dilakukan pemeriksaan sepanjang usus
tersebut.
Untuk melepaskan alat rongga perut dan panggul dilakukan pengirisan dimulai dengan
memotong diafragma dekat insersinya pada dinding rongga badan. Pengirisan diteruskan ke
arah bawah, sebelah kanan dan kiri, lateral dari masing-masing ginjal sampai memotong
a.iliaca communis.
Alat rongga panggul dilepaskan dengan melepas peritoneum di daerah simfisis (alat
rongga panggul terletak retroperitoneal). Kandung kencing serta alat lain dipegang dengan
tangan kiri sampai ke belakang bersama-sama rectum. Pemotongan melintang dilakukan
setinggi kelenjar prostat pada mayat laki-laki dan setinggi sepertiga proksimal vagina pada
mayat perempuan. Alat rongga panggul kemudian dilepaskan seluruhnya dari perlekatan
dengan sekitarnya dan diangkat bersama-sama dengan alat rongga perut yang telah dilepaskan
terlebih dahulu.
Pemeriksaan pada kepala dimulai dengan membuat irisan pada kulit kepala, dimulai
pada prosesus mastoideus, melingkari kepala ke arah vertex, dan berakhir pada prosesus
mastoideus sisi lain. Pengirisan dibuat sampai pisau mencapai periosteum. Kulit kepala
kemudian dikupas, ke arah depan sampai kurang lebih 1-2 cm di atas batas orbita (margo
supraorbitalis) dan ke arah belakang sampai sejauh protuberantia occipitalis externa.
Perhatikan dan catat kelainan pada permukaan dalam kulit kepala maupun permukaan luar
tulang tengkorak. Kelainan yang biasa ditemukan adalah tanda kekerasan, baik merupakan
resapan darah maupun garis retak/patah tulang. Untuk membuka rongga tengkorak dilakukan
penggergajian tulang tengkorak, melingkar di daerah frontal sejarak kurang lebih 2 cm di atas
margo supraorbitalis, di daerah temporal kurang lebih 2 cm di atas daun telinga. Pada daerah
temporal penggergajian dilakukan setelah otot temporalis dipotong dengan pisau terlebih
dahulu. Pada daerah temporal ini penggergajian dilakukan melingkar ke belakang ±2 cm
sebelah atas protuberantia occipitalis externa , dengan garis penggergajian membentuk sudut
±120
o
dari garis penggergajian terdahulu. Atap tengkorak selanjutnya dilepas dengan
menggunakan pahat berbentuk T (T-chisel) dengan jalan mendongkel pada garis
penggergajian.
Setelah atap tengkorak dilepaskan pertama-tama dilakukan penciuman bau yang
keluar, sebab pada beberapa jenis keracunan dapat tercium bau yang khas. Dilakukan
pengamatan kelainan pada permukaan dalam atap tengkorak maupun pada duramater.
Kelainan dapat berupa luka pada duramater, perdaraahan epidural, dll. Duramater kemudian
digunting mengikuti garis penggergajian, dan daerah subdural diperiksa adanya perdarahan,
pengumpulan nanah, dsb.
Otak dikeluarkan dengan memasukkan dua jari tangan kiri di garis pertengahan daerah
frontal, antara baga otak dan tulang tengkorak. Bagian frontal sedikit ditekan, tampak falk
cerebri yang dapat dipotong atau digunting sampai dasar tengkorak. Kedua jari tangan kiri
kemudian sedikit mengangkat baga frontal dan memperlihatkan nn.olfactorius, nn.opticus,
Roman Forensik Edisi 8 157
yang kemudian dipotong sedekat mungkin pada dasar tengkorak. Pemotongan lebih lanjut
dapat dilakukan pada aa.karotis interna yang memasuki otak serta saraf-saraf otak yang keluar
pada dasar otak. Dengan memiringkan kepala mayat, serta jari-jari tangan kiri sedikit
menarik/mengangkat baga peliris (temporalis) sisi lain, tentorium cerebelli tampak jelas dan
mudah dipotong, dimulai dari foramen magnum ke lateral menyusuri tepi belakang tulang
karang otak (os petrosum). Potong saraf-saraf otak yang keluar pada dasar tengkorak. Perlu
diperhatikan bila tentorium cerebelli tidak dipotong maka otak kecil akan tertinggal dalam
rongga tengkorak.
Kepala dikembalikan ke posisi semula dan batang otak dipotong melintang dengan
memasukkan pisau sejauh-jauhnya dalam rongga magnum.
Dengan tangan kiri menyangga daerah baga occipital, dua jari tangan kanan dapat
ditempatkan di sisi kanan dan kiri batang otak yang terpotong, kemudian menarik bagian
bawah otak dengan gerakan memutar/meluksir hingga keluar dari rongga tengkorak.
Setelah otak dikeluarkan, duramater yang melekat pada dasar tengkorak harus
dilepaskan dari dasarnya, agar dapat diperhatikan adanya kelainan pada dasar tengkorak.
Pemeriksaan Organ/Alat Dalam
Dimulai dari lidah, esophagus, trachea, dst sampai seluruh alat tubuh. Otak biasanya
diperiksa terakhir.
1. Lidah
Diperhatikan permukaan lidah, adakah bekas gigitan, baik baru maupun lama. Bekas
gigitan yang berulang dapat ditemukan pada penderita epilepsi. Bekas gigitan dapat pula
terlihat pada penampang lidah. Pengirisan lidah sebaiknya tidak sampai teriris putus agar
setelah otopsi mayat masih tampak berlidah utuh.
2. Tonsil
Perhatikan permukaan maupun penampang tonsil, adakah selaput, gambaran infeksi,
nanah, dsb. Ditemukan tonsilektomi kadang membantu dalam identifikasi.
3. Kelenjar gondok
Otot-otot leher harus dilepaskan dari perlekatannya di sebelah belakang. Dengan pinset
bergigi pada tangan kiri, ujung bawah otot-otot leher dijepit dan sedikit diangkat, dengan
gunting pada tangan kanan, otot leher dibebaskan dari bagian posterior. Setelah otot leher
di angkat, kelenjar gondok tampak jelas dan dapat dilepaskan dari perlekatannya pada
rawan gondok dan trakea. Perhatikan ukuran dan beratnya. Periksa apakah permukaannya
rata, catat warnanya, adakah perdarahan berbintik atau resapan darah. Lakukan pengirisan
di bagian lateral pada kedua baga kelenjar gondok dan catat perangai penampang kelenjar
ini.
4. Kerongkongan (esophagus)
Dibuka dengan jalan menggunting sepanjang dinding belakang. Perhatikan adanya
benda-benda asing, keadaan selaput lendir, dll (misalnya striktur, varices).
5. Batang tenggorok (Trakhea)
Pemeriksaan dimulai pada mulut atas batang tenggorok, dimulai dari epiglotis. Perhatikan
adakah edema, perdarahan, benda asing, dll. Perhatikan pula pita suara dan kotak suara.
Pembukaan trakea dilakukan dengan melakukan pengguntingan dinding belakang sampai
cabang bronkus kiri dan kanan. Perhatikan adanya benda asing, busa, darah, serta
keadaan selaput lendirnya.
Roman Forensik Edisi 8 158
6. Tulang lidah (os hyoid), rawan gondok (cartilago thyroidea) dan rawan cincin
(cartilago cricoidea)
Tulang lidah kadang ditemukan patah unilateral pada kasus pencekikan. Tulang lidah
terlebih dahulu dilepaskan dari jaringan sekitarnya dengan pinset dan gunting. Perhatikan
adanya patah tulang, resapan darah. Rawan gondok dan rawan cincin seringkali juga
menunjukkan resapan darah pada kasus dengan kekerasan pada daerah leher (pencekikan,
penjeratan, gantung).
7. Arteri carotis interna
Arteri carotis communis dan interna biasanya tertinggal melekat pada permukaan dekat
ruas tulang leher. Perhartikan tanda kekerasan sekitar arteri ini. Buka arteri dengan
menggunting dinding depannya dan perhatikan keadaan intima. Bila kekerasan pada
daerah leher mengenai arteri ini, kadang dapat ditemukan kerusakan pada intima di
samping terdapatnya resapan darah.
8. Kelenjar kacangan (thymus)
Biasanya telah menjadi Thymic fat body pada orang dewasa, namun kadang masih dapat
ditemukan pada status thymicolymphaticus. Kelenjar thymus terletak melekat di sebelah
atas kandung jantung. Pada permukaanya perhatikan adanya perdarahan berbintik serta
kemungkinannya adanya kelainan lain.
9. Paru-paru
Kedua paru masing-masing diperiksa tersendiri. Tentukan permukaan paru. Pada paru
yang mengalami emphysema dapat ditemukan cekungan bekas penekanan iga. Perhatikan
warnanya, serta bintik perdarahan, bercak perdarahan akibat aspirasi darah ke dalam
alveoli (tampak pada permukaan paru sebagai bercak berwarna merah-hitam dengan
batas tegas), resapan darah, luka, bulla, dsb.
Perabaan paru yang normal teraba seperti spons. Pada paru dengan proses peradangan,
perabaan dapat menjadi padat atau keras.
Penampang paru diperiksa setelah melakukan pengirisan paru mulai apex sampai ke
basal, dengan tangan kiri memegang paru pada daerah hilus. Pada penampang paru
ditentukan warnanya serta dicatat kelainan yang mungkin ditemukan.
10. Jantung
Jantung dilepaskan dari pembuluh darah besar yang keluar/masuk ke jantung dengan
jalan memegang apex jantung dan mengangkatnya serta menggunting pembuluh tadi
sejauh mungkin dari jantung.
Perhatikan besarnya jantung, bandingkan dengan kepalan tinju kanan mayat. Perhatikan
adanya resapan darah, luka, atau bintik-bintik perdarahan. Pada otopsi jantung, ikuti
sistematika pemotongan dinding jantung yang dilakukan dengan mengikuti aliran darah
di dalam jantung.
Pertama-tama jantung diletakkan dengan permukaan ventral menghadap ke atas yang
dipertahankan terus sampai otopsi jantung selesai. Vena cava superior dan inferior dibuka
dengan menggunting dinding belakang vena-vena tersebut. Dengan gunting buka pula
aurikel kanan. Perhatikan adanya kelainan pada aurikel kanan maupun atrium kanan.
Dengan pisau panjang, masuki bilik jantung kanan sampai ujung pisau menembus
apeks di sisi kanan septum dengan mata pisau mengarah ke lateral, lakukan irisan
menembus tebal otot dinding sebelah kanan sehingga rongga bilik jantung kanan terlihat.
Ukur lingkaran katup trikuspidal serta memeriksa keadaan katup, apakah terdapat
penebalan, benjolan atau kelainan lain. Tebal dinding bilik kanan diukur dengan terlebih
Roman Forensik Edisi 8 159
dahulu membuat irisan tegak lurus pada dinding belakang bilik kanan, 1 cm di bawah
katup.
Irisan dinding depan bilik kanan menggunakan gunting, mulai dari apeks, menyusuri
septum pada jarak ½ cm, ke arah atas menggunting dinding depan a.pulmonalis dan
memotong katup semilunaris pulmonal. Katup diukur lingkarannya dan keadaan daun
katupnya dinilai.
Pembukaan serambi dan bilik kiri dimulai dengan menggunting dinding belakang
vv.pulmonales, disusul dengan pembukaan aurikel kiri. Dengan pisau panjang, apeks
jantung sebelah kiri dari septum ditusuk, lalu diiris ke lateral sehingga bilik kiri terbuka.
Ukur lingkaran katup mitral serta penilaian terhadap keadaan katup. Tebal otot jantung
sebelah kiri diukur pada irisan tegak yang dibuat 1 cm di bawah katup pada dinding
belakang. Dengan gunting dinding depan bilik kiri dipotong menyusuri septum pada jarak
½ cm, terus ke arah atas, membuka juga dinding depan aorta dan memotong katup
semilunaris aorta. Lingkaran katup diukur dan daun katup dinilai.
Pada daerah katup semilunaris aorta dapat ditemukan dua muara aa.coronaria kiri dan
kanan. Untuk memeriksa keadaan a.coronaria tidak boleh menggunakan sonde karena
dapat mendorong trombus yang mungkin ada.
Pemeriksaan nadi jantung ini dilakukan dengan membuat irisan melintang sepanjang
jalannya pembuluh darah. Arteri coronaria kiri berjalan di sisi depan septum, dan
a,coronaria kanan keluar dari dinding pangkal aorta ke belakang. Pada penempang irisan
diperhatikan tebal dinding arteri, keadaan lumen, serta kemungkinan terdapat trombus.
Septum jantung dibelah untuk melihat kelainan otot, baik kelainan degeneratif maupun
kelainan bawaan.
Nilai pengukuran pada jantung normal orang dewasa adalah sebagai berikut : ukuran
jantung sebesar kepalan tangan kanan mayat, berat sekitar 300 gram, ukuran lingkar
katup serambi bilik kanan sekitar 11 cm, yang kiri sekitar 9,5 cm, lingkaran katup
pulmonal sekitar 7 cm dan aortal sekitar 6,5 cm. Tebal otot bilik kanan 3 sampai 5 mm,
sedangkan yang kiri sekitar 14 mm.
11. Aorta thoracalis
Pengguntingan pada dinding belakang aorta thoracalis dapat memperlihatkan permukaan
dalam aorta. Perhatikan kemungkinan terdapatnya deposit kapur, ateroma atau
pembentukan aneurisma. Kadang-kadang pada aorta dapat ditemukan tanda kekerasan
merupakan resapan darah atau luka. Pada kasus kematian bunuh diri dengan jalan
menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi, bila korban mendarat dengan kedua kaki
terlebih dahulu, seringkali ditemukan robekan melintang pada aorta thoracalis.
12. Aorta abdominalis
Bloc organ perut dan panggul diletakkan di atas meja potong dengan permukaan
belakang menghadap ke atas aorta abdominalis digunting dinding belakangnya mulai dari
tempat pemotongan aa.iliaca communis kanan dan kiri. Perhatikan dinding aorta terhadap
adanya penimbunan perkapuran atau atheroma.
Perhatikan pula muara dari pembuluh nadi yang keluar dari aorta abdominalis ini,
terutama muara aa. renalis kanan dan kiri. Mulai pada muaranya, aa. renalis kanan dan
kiri dibuka sampai memasuki ginjal. Perhatikan apakah terdapat kelainan pada dinding
pembuluh darah yang mungkin merupakan dasar dideritanya hipertensi renal bagi yang
berangkutan.
13. Anak ginjal (glandula suprarenalis)
Roman Forensik Edisi 8 160
Kedua anak ginjal harus dicari terlebih dahulu sebelum dilakukan pemeriksaan lanjut
pada bloc alat rongga perut dan panggul. Hal ini perlu mendapat perhatian, karena bila
telah dilakukan pemeriksaan atau telah dilakukan pemisahan alat rongga perut dan
panggul, anak ginjal sukar ditemukan.
Anak ginjal kanan terletak di bagian mediokranial dari kutub atau ginjal kanan, tertutup
oleh jaringan lemak, berada antara permukaan belakang hati dan permukaan bawah
diafragma. Untuk menemukan anak ginjal sebelah kanan ini, pertama-tama digunting otot
diafragma sebelah kanan.
Pada tempat yang disebutkan di atas, lepaskan dengan pinset dan gunting jaringan lemak
yang terdapat dan akan tampak anak ginjal yang berwarna kuning kecoklat-coklatan,
berbentuk trapezium dan tipis. Anak ginjal kemudian dibebaskan dari jaringan sekitarnya
dan diperiksa terhadap kemungkinan terdapatnya kelainan ukuran, resapan darah dan
sebagainya.
Anak ginjal terletak di bagian medio-kranial kiri kutub atas ginjal kiri, juga tertutup
dalam jaringan lemak, terletak antara ekor kleenjar liur perut (pancreas) dan diafragma.
Dengan cara yang sama seperti pada pengeluaran anak ginjal kanan, anak ginjal kiri yang
berbentuk bulan sabit tipis dapat dilepaskan untuk dilakukan pemeriksaan dengan
seksama.
Pada anak ginjal yang normal, pengguntingan anak ginjal akan memberikan penampang
dengan bagian korteks dan medulla yang tampak jelas.
14. Ginjal, ureter dan kandung kencing
Kedua ginjal masing diliputi oleh jaringan lemak yang dikenal sebagai capsula adipose
renis. Adanya trauma yang mengenai daerah ginjal seringkali menyebabkan resapan
darah pada capsula ini. Dengan melakukan pengirisan di bagian lateral kapsula, ginjal
dapat dibebaskan.
Untuk pemeriksaan lebih lanjut, ginjal digenggam pada tangan kiri dengan pelvis renis
dan ureter terletak antara telunjuk dan jari tengah. Irisan pada ginjal dibuat dari arah
lateral ke medial, diusahakan tepat di bidang tengah sehingga penampang akan melewati
pelvis renis. Pada tepi dapat di“cubit” dan kemudian dapat dikupas secara tumpul. Pada
ginjal yang normal, hal ini dapat dilakukan dengan mudah. Pada ginjal yang mengalami
peradangan, simpai ginjal mungkin akan melekat erat dan sulit dilepaskan. Setelah simpai
ginjal dilepaskan, lakukan terlebih dahulu pemeriksaan terhadap permukaan ginjal.
Adakah kelainan berupa resapan darah, luka-luka ataupun kista-kista retensi.
Pada penampang ginjal, perhatikan gambaran korteks dan medula ginjal. Juga perhatikan
pelvis renis akan kemungkinan terdapatnya batu ginjal, tanda peradangan, nanah dan
sebagainya.
Ureter dibuka dengan meneruskan pembukaan pada pelvis renis, terus mencapai vesika
urinaria. Perhatikan kemungkinan terdapatnya batu, ukuran penampang, isi saluran serta
keadaan mukosa.
Kandung kencing dibuka dengan jalan menggunting dinding depannya mengikuti bentuk
huruf T. perhatikan isi serta selaput lendirnya.
15. Hati dan kandung empedu
Pemeriksaan dilakukan terhadap permukaan hati, yang pada keadaan biasa menunjukkan
permukaan yang rata dan licin, berwarna merah-coklat. Kadangkala pada permukaan hati
dapat ditemukan kelainan berupa jaringan ikat, kista kecil, permukaan yang berbenjol-
benjol, bahkan abses.
Roman Forensik Edisi 8 161
Pada perabaan, hati normal memberikan perabaan yang kenyal. Tepi hati biasanya tajam.
Untuk memeriksa penampang, buatlah 2 atau 3 irisan yang melintang pada punggung hati
sehingga dapat terlihat sekaligus baik bagian kanan maupun kiri hati. Hati yang normal
menunjukkan penampang yang jelas gambaran hatinya. Pada hati yang telah lama
mengalami perbendungan dapat ditemukan gambaran hati pala.
Kandung empedu diperiksa ukurannya serta diraba akan kemungkinan terdapatnya batu
empedu. Untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan pada saluran empedu, dapat
dilakukan pemeriksaan dengan jalan menekan kandung empedu ini sambil
memperhatikan muaranya pada duodenum (papilla Veteri). Bila tampak cairan coklat-
hijau keluar dari muara tersebut ini menandakan saluran empedu tidak tersumbat.
Kandung empedu kemudian dibuka dengan gunting untuk memperlihatkan selaput
lendirnya yang seperti beludru berwarna hijau-kuning.
16. Limpa dan kelenjar getah bening
Limpa dilepaskan dari sekitarnya. Limpa yang norml menunjukkan permukaan yang
berkeriput, berwarna ungu dengan perabaan lunak kenyal. Buatlah irisan penampang
limpa, limpa normal mempunyai gambaran limpa yang jelas, berwarna coklat-merah dan
bila dikikis dengan punggung pisau, akan ikut jaringan penampang limpa.
Jangan lupa mencatat ukuran dan berat limpa.
Catat pula bila ditemukan kelenjar getah bening regional yang membesar.
17. Lambung, usus halus dan usus besar
Lambung dibuka dengan gunting pada curvature mayor.
Perhatikan isi lambung dan simpan dalam botol atau kantong plastik bersih bila isi
lambung ini diperlukan untuk pemriksaan toksikologik atau pemeriksaan laboratorik
lainnya. Selaput lendir lambung diperiksa terhadap kemungkinan adanya erosi, ulserasi,
perdarahan/resapan darah.
Usus diperiksa akan kemungkinan terdapat darah dalam lumen serta kemungkinan
terdapatnya kelainan bersifat ulcerative, polip dan lain-lain.
18. Kelenjar liur perut (pancreas)
Pertama-tama lepaskan lebih dahulu kelenjar liur perut ini dari sekitarnya. Kelenjar liur
perut yang normal mempunyai warna kelabu agak kekuningan, dengan permukaan yang
berbelah-belah dan perabaan yang kenyal. Perhatikan ukuran serta beratnya. Catat bila
ada kelainan.
19. Otak besar, otak kecil dan batang otak
Perhatikan permukaan luar dari otak dan catat kelainan yang ditemukan. Adakah
perdarahan subdural, perdarahan subarachnoid, kontusio jaringan otak atau kedangkalan
bahkan sampai terjadi laserasi.
Pada oedema cerebri, girus otak akan tampak mendatar dan sulkus tampak menyempit.
Perhatikan pula akan kemungkinan terdapatnya tanda penekanan yang menyebabkan
sebagian permukaan otak menjadi datar.
Pada daerah ventral otak, perhatikan keadaan sirkulus Willis. Nilai keadaan pembuluh
drah pada sirkulus, adakah penebalan dinding akibat kelainan ateronia, adakah penipisan
dinding akibat aneurysma, adakah perdarahan. Bila terdapat perdarahan hebat, usahakan
agar dapat ditemukan sumber perdarahan tersebut. Perhatikan pula bentuk serebelum.
Pada keadaan peningkatan tekanan intra cranial akibat edema serebri misalnya, dapat
terjadi hemiasi serebelum kea rah foramen magnum, sehingga bagian bawah serebelum
tampak menonjol.
Roman Forensik Edisi 8 162
Pisahkan otak kecil dari otak besar dengan melakukan pemotongan pada pedunculus
cerebri kanan dan kiri. Otak kecil ini kemudian dipisahkan juga dari batang otak dengan
melakukan pemotongan pada pedunculus cerebelli.
Otak besar diletakkan dengan bagian ventral menghadap pemeriksa. Lakukan
pemotongan otak besar secara koronal/melintang, perhatikan penampang irisan. Tempat
pemotongan haruslah sedemikian rupa agar struktur penting dalam otak besar dapat
diperiksa dengan teliti. Kelainan yang dapat ditemukan pada penampang otak besar
antara lain adalah: Perdarahan pada korteks akibat contusio cerebri, perdarahan berbintik
pada substansi putih akibat emboli, keracunan berbiturat serta keadaan lain yang
menimbulkan hipoksia jaringan otak Infark jaringan otak, baik yang bilateral maupun
yang unilateral, akibat gangguan perdarahan oleh arteri, abses otak, perdarahan intra
cerebral akibat pecahnya a. lenticulostriata dan sebagainya.
Otak kecil diperiksa penampangnya dengan membuat suatu irisan melintang, catatlah
kelainan perdarahan, perlunakan dan sebagainya yang mungkin ditemukan.
Batang otak diisir melintang mulai daerah pons, medulla oblongata sampai kebagian
proksimal medulla spinalis. Perhatikan kemungkinan terdapatnya perdarahan. Adanya
perdarahan di daerah batang otak biasanya mematikan.
20. Alat kelamin dalam (genitalia interna)
Pada mayat laki-laki, testis dapat dikeluarkan dari scrotum melalui rongga perut. Jadi
tidak dibuat irisan baru pada scrotum. Perhatikan ukuran, konsistensi serta kemungkinan
terdapat resapan darah. Perhatikan pula bentuk dan ukuran dari epididinus. Klenjar
prostat diperhatikan ukuran serta konsistensinya.
Pada mayat wanita, perhatikan bentuk serta ukuran kedua indung telur, saluran telur dan
uterus sendiri. Pada uterus diperhatikan kemungkinan terdapatnya perdarahan, resapan
darah ataupun luka akibat tindakan abortus provakatus. Uterus dibuka dengan membuat
irisan berbentuk huruf T pada dinding depan, melalui saluran serviks serta muara kedua
saluran telur pada fundus uteri. Perhatikan keadaan selaput lender uterus, tebal dinding,
isi rongga rahim serta kemungkinan terdapatnya kelainan lain.
21. Timbang dan catatlah berat masing-masing alat/organ
Sebelum mengembalikan organ-organ (yang telah diperiksa secara makroskopik) kembali
ke dalam tubuh mayat pertimbangkan terlebih dahulu kemungkinan diperlukannya
potongan jaringan guna pemeriksaan histopatologik atau diperlukannya organ guna
pemeriksaan toksologik.
Potongan jaringan untuk pemeriksaan histopatologik diambil dengan tebal maksimal 5
mm. potongan yang terlampau tebal akan mengakibatkan cairan fiksasi tidak dapat masuk
ke dalam potongan tersebut sengan sempurna. Usahakan mengambil bagian organ di
daerah perbatasan antara bagian yang normal dan yang mengalami kelainan.
Jumlah potongan yang diambil dari setiap organ agar disesuaikan dengan kebutuhan
masing-masing kasus. Potongan ini kemudian dimasukkan ke dalam botol yang berisi
cairan fiksasi yang dapat merupakan larutan formalin 10% (= larutan formaldehida 4%)
atau alcohol 90-96% dengan jumlah cairan fiksasi sekitar 20-30 kali volume potongan
jaringan yang diambil.
Jumlah organ yang perlu diambil untuk pemeriksaan toksikologi disesuaikan dengan
kasus yang dihadapi serta ketentuab laboratorium pemeriksa. Sedapat mungkin setiap
jenis organ ditaruh dalam botol tersendiri. Bila diperlukan pengawetan, agar digunakan
alcohol 90%. Pada pengiriman bahan untuk pemeriksaan toksologik, contoh bahan
Roman Forensik Edisi 8 163
pengawet agar juga turut dikirimkan disamping keterangan klinik dan hasil sementara
autopsi atas kasus tersebut.
PERAWATAN MAYAT SETELAH AUTOPSI
− Setelah autopsi selesai, semua organ tubuh dimasukkan ke dalam rongga tubuh.
− Lidah dikembalikan ke dalam rongga mulut sedangkan jaringan otak dikembalikan ke
dalam rongga tengkorak.
− Jahitkan kembali tulang dada dan iga yang dilepaskan pada saat membuka ronggadada.
− Jahitlah kulit dengan rapi menggunakan benang yang kuat, mulai dari bawah dagu
sampai ke daerah simfisis.
− Atap tengkorak diletakkan kembali pada tempatnya dan difiksasi dengan menjahit otot
temporalis, baru kemudian kulit kepala dijahit dengan rapi.
− Bersihkan tubuh mayat dari darah sebelum mayat diserahkan kembali pada pihak
keluarga.
AUTOPSI PADA DUGAAN KEMATIAN AKIBAT EMBOLI UDARA
Terbukanya pembuluh darah akibat trauma, kadangkala dapat menyebabkan timbulnya
emboli udara. Dikenal 2 jenis emboli udara berdasarkan letak dari emboli tersebut, emboli
udara vena (= emboli udara paru) dan emboli udara arterial (= emboli udara sistemik).
Untuk membuktikan terdapatnya emboli udara, perlu dilakukan teknik autopsi yang
khusus, menyimpang dari teknik autopsi rutin. Pada dasarnya, pembuktian dilakukan dengan
memperlihatkan adanya udara dalam system vena atau arteri dengan membuka arteri atau
vena tersebut di bawah permukaan air.
Pada pembukaan kulit leher dalam melakukan autopsi rutin, vena daerah ini mudah
terpotong terutama vena jugularis. Bila ini terjadi, maka terdapat kemungkinan masuknya
udara post mortal ke dalam pembuluh darah tersebut. Pada pengangkatan alat leher kemudian,
terjadi manipulasi terhadap leher dan kepala sehingga udara yang masuk tadi berpindah dan
masuk ke dalam jantung. Hal tersebut di atas akan menghasilkan pemeriksaan yang salah
(false positive) dan karenanya harus dihindari, dengan jalan tidak membuka daerah leher
sebelum dilakukan pemeriksaan emboli.
Pemeriksaan emboli udara vena
Dengan mengingat kemungkinan terjadinya hasil false positive seperti yang diuraikan
di atas, maka pembukaan kulit dimulai dari setinggi incisura jugularis ke bawah sepanjang
garis median. Kulit bagian leher dibiarkan utuh untuk sementara dan jangan ganjal bahu
mayat dengan malok. Kulit dan otot dinding dada serta rongga perut dibuka seperti biasa.
Rawan iga dipotong mulai dari iga ke-3 ke arah kaudo-lateral. Insersi otot diafragma dipotong
untuk melepaskan bagian bawah stemum dan iga. Kemudian bagian depan dinding dada ini
dilepaskan dengan terlebih dahulu menggergaji tulang dada (stermum) melintang setinggi iga
ke-3.
Tindakan memotong tulang dada setinggi iga ke-3 ini dilakukan untuk mencegah
terpotongnya pembuluh darah besar yang berjalan di belakng iga ke-2 dan tulang selangka.
Kandung jantung dibuka dengan melakukan pengguntingan memanjang pada tempat
yang letaknya paling tinggi ( di pertengahan kandung jantung) sepanjang 5 sampai 7
sentimeter. Ke dalam kandung jantung kemudian diisikan air sehingga seluruh jantung
Roman Forensik Edisi 8 164
terdapat di bawah permukaan air (terendam). Kadang-kadang jantung cenderung untuk
mengapung. Dalam hal ini tekanlah jantung dengan jari tangan kiri dan jagalah agar jantung
tetap terendam. Dengan pisau organ, tusuklah ventrikel kanan dekat dengan permulaan a.
pulmonalis sampai menembus ke dalam bilik kanan. Dengan melakukan pemutaran bidang
pisau (knife blade) sebanyak 90 derajat, maka lubang tusukan diperlebar. Perhatikan apakah
terdapat gelembung udara yang keluar dari lubang tersebut. Dengan cara yang sama, ventrikel
kiri juga dilubangi dan perhatikan juga apakah terdapat gelembung udara yang keluar.
Pada kasus dengan emboli udara vena, udara kan terkumpul dalam bilik kanan jantung
dan karenanya, pada pemeriksaan akan ditemukan keluarnya gelembung udara dari lubang
yang dibuat pada bilik kanan, sedangkan dari bilik jantung kiri tidak terdapat gelembung
udara yang keluar.
Bila pada pemeriksaan tidak keluar gelembung baik dari bilik kanan maupun kiri,
maka kemungkinan terdapatnyaemboli udara vena dapat disingkirkan.
Bila pada penusukkan bilik kanan dan kiri keduanya memberikan gelembung udara,
maka hal ini dapat disebabkan oleh adanya emboli udara vena disertai defek septurn, atau
diakibatkn oleh terbentuknya gas pembusukan dalam bilik jantung kanan maupun yang kiri.
Dalam hal ini kemungkinan terdapatnya emboli udara vena tidak dapat dipastikan maupun
disingkirkan
Di samping dilakukan pemeriksaan seperti tersebut di atas, beberapa hal dapat
menyokong akan adanya emboli udara vena. Antara lain adalah: distensi jantung sebelah
kanan akibat tekanan udara. Vena cava, bilik kanan a. pulmonalis dan v v. coronariae yang
berisi darah yang berbuih dan berwarna merah terang. Vena cava inferior yang mengalami
distensi, tetapi sangat sedikit atau sama sekali tidak terisi darah.
Pemeriksaan emboli udara arteril
Untuk membuktikan adanya emboli udara arterial, lakukan persiapan pemeriksaan
seperti pada pemeriksaan emboli udara vena. Dengan jantung yang seluruhnya terdapat di
bawah permukaan air, lakukan pemotongan permulaan a. coronaria kiri dengan jalan
mengirisnya pada bagian arterior septum dan perhatikan apakah terdapat gelembung udara
yang keluar. Bila perlu dapat dilakukan pengurutan sepanjang septum dari arah apex jantung
kea rah tempat pengirisan. Dalam menilai hasil pemeriksaan emboli udara arterial ini perlu
diperhitungkan kemungkinan terbentuknya gas pembusukan dalam pembeluh itu sendiri.
AUTOPSI PADA KASUS DENGAN PNEMOTORAKS
Pada kekerasan yang mengenai daerah dada, dapat terjadi patah tulang iga yang
mengakibatkan tertusuknya paru dan selanjutnya menimbulkan pnemotoraks. Dalam hal
demikian, pembuktian dapat dilakukan dengan mudah, yaitu dengan cara membuka rongga
dada di bawah permukaan air untuk melihat keluarnya gelembung udara.
Kulit daerah dada yang telah dilepaskan dan dinding dada dipegang pada tepi
bebasnya sedemikian rupa sehingga membentuk semacam kantong dengan dasar dinding
dada. Ke dalam kantong ini kemudian diisi air. Dengan sebuah skapel, dinding dada diiris di
bawah permukaan air sampai menembus ke rongga dada. Pengumpulan udara dalam rongga
dada pada pnemotoraks akan menyebabkan ke luar gelembung udara dari lubang.
Pemeriksaan pnemotoraks dapat pula dilakukan dengan menggunakan semperit gelas
yang besar (ukuran 25 sentimeter kubik) dan jarum trokar. Semperit diisi setengah penuh, lalu
dengan jarum trokat, sela iga ditusuk. Adanya pengumpulan udara dalam rongga dada akan
menyebabkan keluar gelembung udara ke dalam air dalam semperit.
Roman Forensik Edisi 8 165
AUTOPSI PADA DUGAAN KEMATIAN AKIBAT EMBOLI LEMAK
Kematian akibat emboli lemak dapat terjadi pada kasus trauma tumpul terhadap
jaringan lemak atau patah tulang panjang pada orang dewasa. Butir lemak yang berasal dari
jaringan lemak atau sumsum tulang dapat memasuki aliran darah dan menyebar ke eluruh
tubuh. Pada otak, butir lemak ini dapat menyumbat pembuluh otak yang kecil dan
mengakibatkan kematian.
Diagnosa emboli lemak dapat ditegakkan bila dalam pembuluh darah dapat ditemukan
butir lemak ini ( fat globule). Untuk melihat ini, dilakukan pemeriksaan histopatologik dengan
pewarnaan khusus untuk lemak, misalnya SUDAN III. Butir lemak akan diwarnai menjadi
berwarna merah-jingga. Pada pengerjaan/ processing jaringan untuk pembuatan preparat
histopatologik, hendaknya dihindari proses rutin yang dalam perjalanannya akan melarutkan
butir lemak yang terdapat dalam pembuluh darah tersebut.
AUTOPSI PADA KASUS DENGAN KELAINAN PADA LEHER
Untuk dapat melihat kelainan pada leher dengan lebih baik, perlu diusahakan agar
daerah leher bersih dari kemungkinan terdapatnya ”genangan” darah. Untuk itu dilakukan
usaha agar darah yang terdapat dalam pembuluh darah leher dapat dialirkan ke tempat lain.
Pemotongan kulit dimulai dari incisura jugularis ke arah simfisis pubis. Pembukaan
rongga dada dan perut dilakukan seperti pada autopsi rutin. Pengeluaran alat leher
ditangguhkan untuk sementara.
Lakukanlah pemotongan kulit kepala, penggergajian tengkorak serta pengeluaran otak.
Pindahkan ganjal yang semula terdapat pada daerah tengkuk sedemikian rupa sehingga daerah
leher terletak paling tinggi. Dengan mengeluarkan otak dan alat dada dengan jalan memotong
trachea setinggi incisura jugularis (atau dapat pula hanya jantung saja yang dikeluarkan) maka
darah yang terdapat dalam pembuluh darah leher dapat dialirkan ke arah kepala dan dada, dan
lapangan leher menjadi bersih. Dengan demikian, kelainan berupa resapan darah yang kecil
pun dapat terlihat jelas.
Setelah pemeriksaan daerah leher selesai, maka pengeluaran/pengangkatan alat leher
dapat dilakukan seperti pada autopsi rutin.
AUTOPSI PADA MAYAT BAYI BARU LAHIR
Pada pemeriksaan mayat bayi yang baru dilahirkan, perlu pertama-tama ditentukan
apakah bayi lahir hidup atau lahir mati.
Seorang bayi dinyatakan lahir hidup apabila ada pemeriksaan mayatnya dapat
dibuktikan bahwa bayi telah bernafas.
Bayi yang telah bernafas akan memberikan ciri di bawah ini:
a. rongga dada yang telah mengembang
pada pemeriksaan didapati diafragma yang letaknya rendah, setinggi iga ke 5 atau 6
b. paru telah mengembang
pada bayi yang belum bernafas, kedua paru masih menguncup dan terletak tinggi dalam
rongga dada.
Pada bayi yang telah bernafas, paru tampak mengembang dan telah mengisi sebagian
besar rongga dada. Pada permukaan paru dapat ditemukan gambaran mozaik dan
gambaran marmer.
c. uji apung paru memberikan hasil positif
Roman Forensik Edisi 8 166
- uji apung paru dilakukan untuk membuktikan telah terdapatnya udara dalam alveoli
paru.
- Setelah alat leher diangkat, lakukanlah pengikatan setinggi trachea. Hindari sebanyak
mungkin manipulasi terhadap jaringan paru. Alat rongga dada kemudian dikeluarkan
seluruhnya untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam air. Perhatikan apakah kedua paru
terapung.
- Pemeriksaan kemudian dilanjutkan dengan mengapungkan paru kanan dan kiri secara
tersendiri. Lakukanlah pemisahan lobus paru, apungkan kembali dalam air.
Selanjutnya buatlah 5 potongan kecil (k.l 5 mm x 10 mm x 10 mm) dari masing-
masing lobus dan apungkan kembali.
- Pada paru yang telah mengalami pembusukan, potongan kecil dari paru dapat
mengapung sekalipun paru tersebut belum bernafas.
- Mengapungnya potongan kecil paru yang telah mengalami pembusukan ini
disebabkan oleh pengumpulan gas pembusukan tersebut dapat didesak keluar.
- Potongan kecil paru yang telah bernafas, terapung karena adanya udara dalam alveoli,
yang dengan penekanan antara 2 karton tidak akan terdesak keluar.
- Uji apung paru dinyatakan positif bila setelah dilakukan pemeriksaan pengapungan,
potongan paru yang telah ditekan antara dua karton sebagian besar masih tetap
mengapung.
d. Pemeriksaan mikroskopik memberikan gambaran paru yang telah bernafas
Pada pemeriksaan mikroskopik akan tampak jaringan paru dengan alveoli yang telah
terbuka dengan dinding alveoli yang tipis.
Pada pemeriksaan bayi baru lahir, perlu pula dilakukan pemeriksaan teliti terhadap
kepala, mengingat kepala bayi yang dapat mengalami moulage pada saat kelahiran, mungkin
dapat menimbulkan cedera pada sinus di kepala. Untuk meneliti hal ini, kepala bayi harus
dibuka dengan tehnik khusus yang menghindari terpotongnya sinus tersebut sehingga dapat
dinilai dengan sebaik-sebaiknya.
Kulit kepala dibuka dan dikupas seperti pada mayat dewasa. Tulang tengkorak bayi
baru lahir masih lunak sehingga pembukaan tengkorak dapat dilakukan dengan gunting (tidak
perlu menggunakan gergaji). Untuk menghindari terpotongnya sinus sagitalis superior,
guntinglah os parietale pada jarak 0,5 sampai 1 cm lateral dari garis median, dimulai pada
daerah fontanel besar ke arah belakang sampai bagian posterior tulang ubun-ubun untuk
kemudian membelok ke arah lateral. Di depan, pengguntingan dilanjutkan ke arah tulang dahi
yang pada jarak 1-2 cm dari batas lipatan kulit, membelok ke arah lateral. Dengan demikian,
pada garis median sinus sagitalis tetap utuh. Os parietalis kanan dan kiri kini dapat dibuka ke
arah lateral seperti membuka jendela.
Dengan menarik baga otak besar ke arah lateral, sinus sagitalis superior, falk serebri
dan sinus sagitalis inferior dapat diperiksa akan adanya robekan, resapan darah maupun
perdarahan. Dengan menarik baga occipitalis ke arah kranio lateral, tentorium cerebelli serta
sinus lateralis, sinus occipitalis dapat diperiksa.
Otak bayi kemudian dikeluarkan dengan cara seperti pada mayat dewasa, atau
dikeluarkan terpisah, baga kanan dan kiri.
Jaringan otak bayi baru lahir biasanya lebih lunak dari jaringan otak dewasa. Untuk
dapat melakukan pengirisan dengan baik, kadang perlu dilakukan fiksasi dengan formalin
10%, baik dengan merendam otak tersebut atau melakukan penyuntikan imbibisi.
Untuk menentukan usia dalam kandungan (gestational age) mayat bayi, dapat
dilakukan pemeriksaan terhadap pusat penulangan.
Roman Forensik Edisi 8 167
Pusat penulangan pada distal femur dan proksimal tibia
Buat irisan melintang pada kulit daerah lutut sampai tempurung lutut. Dengan gunting
ligamentum patellae dipotong dan patella disingkirkan. Dengan pisau, lakukan pengirisan
distal femur atau proksimal tibia mulai dari ujung, lapis demi lapis ke arah metaphyse. Pusat
penulangan akan tampak sebagai bercak berwarna merah homogen dengan diameter lebih dari
5 mm di daerah epiphyse tulang.
Pusat penulangan pada tallus dan calcaneus
Untuk mencapai tallus dan calcaneus, telapak kaki bayi dipotong mulai tumit ke arah
depan sampai sela jari ke 3 dan 4. Dengan melebarkan potongan pada kulit, tallus dan
calcaneus dapat dipotong longitudinal untuk memeriksa adanya pusat penulangan.
AUTOPSI PADA KASUS PEMBUNUHAN ANAK
Pembunuhan anak merupakan tindak pidana yang khusus, yaitu pembunuhan yang
dilakukan oleh seorang ibu terhadap anak kandungnya, pada saat dilahirkan atau beberapa
saat setelah itu, karena takut diketahui orang bahwa ia telah melahirkan.
Pada pemeriksaan korban pembunuhan anak, pertama-tama harus dibuktikan bahwa
korban lahir hidup. Untuk ini pemeriksaan ditujukan terhadap telah bernafasnya paru korban.
Pemeriksaan berikutnya dititikberatkan pada penyebab kematian, yang terjadi sebagai
akibat tindakan kekerasan. Pada kasus pembunuhan anak yang ditemukan di Jakarta,
pembunuhan biasanya dilakukan dengan cara pembekapan, penyumbatan, pencekikan atau
pengikatan leher.
Untuk memenuhi syarat waktu dilakukannya pembunuhan, yaitu pada saat dilahirkan
atau tidak berapa lama setelah itu, pemeriksaan ditujukan terhadap sudah atau belum
ditemukannya tanda perawatan pada bayi.
Pada tindak pidana pembunuhan bayi, faktor psikologik ibu yang baru melahirkan
diperhitungkan sebagai faktor yang meringankan, keadaan tersebut menyebabkan si ibu
melakukan pembunuhan tidak dalam keadaan kesadaran yang penuh, dan dalam keadaan
demikian, pada si ibu belum sempat timbul rasa kasih sayang serta keinginan untuk merawat
bayinya. Jadi pada kasus pembunuhan anak, si bayi belum mendapat perawatan.
Pemeriksaan terhadap maturitas, viabilitas bayi diperlukan bila pada pemeriksaan
didapati keraguan akan hal lahir hidup atau lahir mati. Pada bayi-bayi yang lahir immature
atau non viable, kemungkinan lahir hidup tentunya lebih kecil dibandingkan dengan bayi
yang lahir mature dan viable.
AUTOPSI PADA KASUS KEMATIAN AKIBAT KEKERASAN
Pemeriksaan terhadap luka :
a. Penyebab luka
Gambaran luka seringkali dapat memberi petunjuk mengenai bentuk benda yang
mengenai tubuh, misalnya luka yang disebabkan oleh benda tumpul berbentuk bulat
panjang akan meninggalkan negative imprint oleh timbulnya marginal haemorrhage. Luka
lecet tekan memberikan gambaran bentuk benda penyebab luka.
b. Arah kekerasan
Pada luka lecet geser dan luka robek, arah kekerasan dapat ditentukan. Hal ini sangat
membantu dalam melakukan rekonstruksi terjadinya perkara.
c. Cara terjadinya luka
Roman Forensik Edisi 8 168
- luka akibat kecelakaan biasanya terdapat pada bagian tubuh yang terbuka.
Bagian tubuh yang biasanya terlindung jarang mendapat luka pada suatu kecelakaan.
Daerah terlindung ini misalnya daerah ketiak, sisi depan leher, lipat siku, dan lain-lain.
- Luka akibat pembunuhan dapat ditemukan tersebar pada seluruh bagian tubuh.
Pada korban pembunuhan yang sempat mengadakan perlawanan, dapat ditemukan
luka tangkis yang biasanya terdapat pada daerah ekstensor lengan bawah atau telapak
tangan.
- Pada korban bunuh diri, luka biasanya menunjukkan sifat luka percobaan
(tentative wounds) yang mengelompok dan berjalan kurang lebih sejajar.
d. hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati
- harus dapat dibuktikan bahwa terjadinya kematian semata-mata disebabkan
oleh kekerasan yang menyebabkan luka
- harus dapat dibuktikan bahwa luka yang ditemukan adalah benar-benar luka
yang terjadi semasa korban masih hidup (luka intravital)—perhatikan tanda
intravitalitas luka berupa reaksi jaringan terhadap luka
- tanda intravitalitas : ditemukannya resapan darah, proses penyembuhan luka,
sebukan sel radang, pemeriksaan histo-enzimatik, pemeriksaan kadar histamin bebas
dan serotonin jaringan
Kecelakaan lalu lintas
a. luka akibat kekerasan pertama oleh kendaraan (first impact)
- ditimbulkan oleh persentuhan bagian kendaraan dengan tubuh
- perhatikan bentuk/gambaran luka serta letaknya (harus diukur dari tumit)
- luka biasanya berupa luka lecet tekan
b. luka akibat terjatuh
- pada tubuh korban dapat ditemukan luka lain yang terjadi akibat terjatuhnya
korban setelah persentuhan pertama dengan kendaraan
- berupa luka lecet geser atau luka robek
c. luka akibat tertindas (rollover)
luka akibat lindasan ban kendaraan memberikan gambaran yang khas berupa jejas ban.
Kecelakaan terbakar
Pada tubuh yang terbakar intravital, akan ditemukan luka bakar yang menunjukkan
reaksi vital jaringan terhadap panas berupa eritema, vesikel atau bula. Tanda intravitalitas lain
adalah ditemukannya jelaga dalam saluran pernafasan dan pencernaan serta peningkatan
kadar COHb dalam darah.
Tubuh yang terbakar hangus pada daerah kepala sering memberikan pseudo-epidural
hematome. Setelah tulang tengkorak dibuka, pada aderah diluar durameter terdapat massa
yang padat berwarna coklat dan rapuh disertai jaringan otak yang menyusut. Bedakan dengan
epidural hematome, pada pemeriksaan menunjukkan gumpalan yang berwarna merah hitam,
agak kenyal disertai tanda penekanan lokal pada baga otak. Pada epidural hematome, selalu
ditemukan garis patah tulang yang melalui sulcus a.meningea yang berjalan pada tabula
interna tulang tengkorak.
Kecelakaan akibat benda bermuatan listrik
Adanya luka masuk listrik hanya apabila persentuhan tersebut menghasilkan cukup
panas. Luka tampak sebagai bagian tengah berwarna coklat kehitaman, kering dan mencekung
dikelilingi oleh tepi yang meninggi. Sekitar luka terdapat daerah pucat berbentuk halo yang
dikelilingi oleh kulit yang hiperemis.
Roman Forensik Edisi 8 169
Pada kulit yang basah atau bila tempat persentuhan luas, luka masuk listrik tidak dapat
terbentuk.
Pada kasus kecelakaan tersentuh benda bermuatan listrik, bagian tubuh yang sering
terkena adalah bagian yang terbuka terutama pada tangan.
Gambaran luka keluar listrik seringkali tidak khas.
Kecelakaan akibat tembakan senjata api
Pada umumnya, luka tembak masuk hanya terdiri dari satu luka saja. Pada
pemeriksaan penting ditentukan arah masuknya anak peluru yang dapat diketahui dari bentuk
kelim lecet yang terjadi.
Dari morfologi luka tembak masuk, dapat dibedakan luka tembak masuk yang
diakibatkan oleh tembakan senjata api yang dilepaskan dari berbagai jarak.
Luka tembak masuk jarak jauh
- luka terjadi semata-mata oleh kekerasan yang ditimbulkan anak peluru
- pada luka tembak masuk,hanya akan ditemukan lubang luka dan kelim lecet saja.
Luka tembak masuk jarak dekat
- gambaran luka ditimbulkan oleh kekerasan anak peluru dan butir-butir mesiu yang
tidak habis terbakar
- ditemukan lubang luka, kelim lecet, kelim tatto yang merupakan bintik-bintik
berwarna hitam di sekitar lubang luka
Luka tembak masuk jarak sangat dekat
- gambaran luka ditimbulkan oleh kekerasan anak peluru, sisa mesiu yang tidak habis
terbakar, asap serta udara panas yang keluar pada suatu penmbakan
- tampak lubang luka, yang dikelilingi oleh kelim lecet, kelim tatto, kelim jelaga dan
kelim api.
Luka tembak tempel
Luka dihasilkan oleh tembakan senjata api dengan ujung laras yang ditekankan pada
kulit. Pada saat terjadi ledakan, udara yang mengembang akan bersama-sama anak peluru,
butir mesiu yang tidak habis terbakar dan asap masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan
peningkatan tekanan di daerah sub kutis, mengakibatkan jejas laras pada kulit berupa luka
lecet tekan. Saluran luka tampak berdinding hitam oleh butir mesiu yang tidak habis terbakar
dan asap. Bila daerah yang mengalami luka tembak tempel mengandung jaringan padat yang
keras di bawah kulit, misalnya pada daerah dahi, maka peregangan yang dialami kulit dapat
sedemikian besarnya dan menimbulkan luka robek, sehingga luka tembak tempel memberikan
gambaran berbentuk bintang.
Kematian akibat pembunuhan menggunakan kekerasan
- dapat dilakukan dengan benda tumpul, benda tajam, maupun senjata api.
- Pembunuhan dengan kekerasan tumpul, luka dapat terdiri dari luka memar, luka lecet
maupun luka robek. Perhatikan adanya luka tangkis yang terdapat pada daerah ekstensor
lengan bawah
- Pembunuhan dengan kekerasan tajam, perhatikan bentuk luka, tepi luka, sudut luka,
keadaan sekitar luka serta lokasi luka. Cari kemungkinan terdapatnya luka tangkis di
daerah ekstensor lengan bawah serta telapak tangan.
- Luka biasanya terdapat beberapa buah, distribusi tidak teratur
- Pembunuhan dengan senjata api, penembakan dapat dilakukan dari berbagai jarak dan
luka yang ditemukan dapat merupakan luka tembak masuk jarak dekat, sangat dekat atau
jarak jauh dan jarang luka tembak tempel.
Bunuh diri dengan kekerasan
Roman Forensik Edisi 8 170
- Pada seseorang yang bunuh diri dengan jalan menjatuhkan diri dari ketinggian/
menabrakkan diri pada kendaraan akan ditemukan luka akibat kekerasan tumpul
- Pada seseorang yang bunuh diri dengan benda tajam, luka mengelompok pada tempat
tertentu antara lain pergelangan tangan, leher atau daerah prekordial. Luka beberapa buah
yang berjalan kurang lebih sejajar dan dangkal (luka percobaan) dengan sebuah luka yang
mematikan.
- Pada seseorang yang bunuh diri dengan senjata api, luka berupa luka tembak tempel
yang menempati lokasi pelipis, rongga mulut atau dada sebelah kiri
- Pada autopsi kasus dengan luka yang menembus ke dalam tubuh, misalnya tembakan
senjata api atau tusukan senjata tajam, perlu ditentukan arah serta jalannya saluran luka
dalam tubuh mayat.
AUTOPSI KASUS KEMATIAN AKIBAT ASFIKSI MEKANIK
Pada pemeriksaan mayat, akan ditemukan tanda asfiksi berupa lebam mayat yang
gelap dan luas, bendungan bola mata, busa halus pada lubang hidung, mulut dan saluran
nafas, bendunagn pada alat dalam, serta Tardieu spot.
Peristiwa yang menjadi penyebab dan tanda-tandanya :
1. Mati akibat pembekapan
Terdapat tanda kekerasan berupa luka memar atau lecet tekan sekitar hidung & mulut.
Paling sering merupakan pembunuhan.
2. Mati akibat penyumbatan
Ada benda asing pada rongga mulut, atau sisanya jika telah dikeluarkan.
3. Mati akibat pencekikan
ada luka memar atau lecet tekan pada leher, karena kuku pelaku. Tulang lidah kadang
patah unilateral.
4. Mati akibat penjeratan
kadang masih ada jerat/tali pada leher korban, simpulnya tetap dipertahankan. Jerat
biasanya horizontal dan letaknya rendah. Dia juga meninggalkan jejas lecet tekan yang
melingkari leher. Umumnya, simpul mati = pembunuhan, simpul hidup = bunuh diri.
5. Mati tergantung
arah jerat tidak mendatar, tapi membentuk sudut yang membuka ke arah bawah. Selain
itu, letak jerat lebih tinggi. Lebam mayat ada di ujung tangan & kaki. Terdapat resapan
darah bawah kulit pada pembedahan mayat.
6. Mati akibat dada tertekan
disebut juga asfiksi traumatik. Ada luka memar atau lecet pada dada.
AUTOPSI PADA KEMATIAN AKIBAT TENGGELAM
Pada kasus mati tenggelam, harus dibuktikan masuknya air ke dalam paru bagian
distal. Caranya dengan memeriksa kadar elektrolit darah dari jantung kiri dibandingkan
jantung kanan, karena tenggelam akan menimbulkan terjadinya hemodilusi atau
hemokonsentrasi, tergantung pada tekanan osmotik cairan tempat tenggelam. Dapat juga
dilakukan pemeriksaan diatome melalui pemeriksaan getah paru.
Pada mayat dapat ditemukan kedua paru mengembang berisi air, juga lambung dan
benda asing yang tertelan. Selain itu, terdapat gambaran cutis anserina akibat kontraksi
mm.erector pilli. Bila mayat terendam cukup lama, bisa ditemukan kulit telapak tangan dan
kaki yang keriput (washer woman hand). Bila ada cadaveric spasm bisa ditemukan benda atau
tumbuhan air yang tergenggam.
Roman Forensik Edisi 8 171
AUTOPSI PADA KASUS KEMATIAN AKIBAT RACUN
Pada dugaan mati akibat racun, pertama kali harus dicium bau yang keluar dari tubuh
mayat karena hidung pemeriksa dapat beradaptasi jika berlama-lama bersama mayat. Setelah
itu, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium toksikologi untuk pemastian racun penyebab.
Kematian Akibat Keracunan Insektisida
Pada pemeriksaan luar dapat ditemukan luka bakar warna coklat agak cekung di kulit
sekitar mulut, juga ada bendungan serta warna lebam mayat yang biru gelap dan ujung jari
serta kuku yang kebiruan.
Pada bedah mayat ditemukan tanda bendungan alat dalam, dua lapis cairan di lambung
yaitu asam lambung dan larutan insektisida. Untuk toksikologi dapat diambil isi lambung,
darah dan jaringan hati.
Kematian akibat gas CO
Pada pemeriksaan luar ditemukan lebam mayat yang berwarna merah terang.
Pemastian sebab kematian dengan penemuan kadar CO-Hb yang tinggi dalam darah. Pada
bedah mayat terdapat bintik perdarahan pada substansi putih otak atau gambaran infark yang
simetrik. Hal ini disebabkan terjadinya anoksi otak.
Kematian akibat sianida
Pada pemeriksaan mayat sering tercium bau sianida (bau amandel) dan lebam mayat
merah terang. Pemeriksaan selanjutnya tidak memberikan gambaran yang khas. Diagnosis
pasti dengan periksa toksikologi terhadap isi lambung dan darah.
Kematian Akibat Keracunan Barbiturat
Sering terjadi akibat bunuh diri atau kecelakaan karena over dosis. Terjadi depresi
nafas yang menjadikan hipoksia sehingga lebam mayat berwarna gelap. Terdapat juga vesikel
atau bula simetrik pada kulit.
Pada bedah mayat ditemukan bendungan alat dalam, paru yang edem dengan busa
halus dalam saluran nafas, bintik darah pada substansi putih otak. Pemastian dengan
ditemukan barbiturat dalam darah dan urine juga toksikologi isi lambung.
Kematian akibat narkotika
Lebih sering terjadi akibat kecelakaan. Perlu diperhatikan adanya bekas suntikan yang
baru atau lama, pembesaran kelenjar limfe regional. Kadang ada tato di tempat yang tidak
wajar (cth. di lipatan siku, tempat biasa menyuntik).
Mati akibat narkoba sering karena depresi nafas. Pada bedah mayat ditemukan
kelainan paru berupa bendungan dan edema hebat pada paru, narcotic lung atau gambaran
pneumonia lobaris. Toksikologi dilakukan pada darah, urine, cairan empedu serta tempat
masuk suntikan. Dpat juga ditemukan vesikel/ bula seperti pada keracunan CO atau
barbiturat.
Kematian akibat keracunan arsenikum
Ada 2 jenis, yaitu keracunan akut dan kronis. Pada akut, pemeriksaan luar mayat
menunjukkan tanda dehidrasi hebat pada tubuh. Terdapat perdarahan sub mukosa, erosi dan
ulserasi sepanjang saluran cerna. Ada bubuk putih dan arsen trioksida pula pada daerah itu.
Pada kronis, ada kelainan pigmentasi kulit, garis putih pada kuku serta tubuh yang kahektis.
Terdapat kelainan histologik degeneratif pada hati dan ginjal. Toksikologi pada isi lambung,
darah dan urine.
AUTOPSI PADA KASUS KEMATIAN MENDADAK
Mati mendadak adalah kematian yang terjadi dalam waktu relatif singkat pada orang
yang sebelumnya tampak sehat, dan kematian yang tidak/belum jelas sebabnya. Untuk
penyebabnya harus selalu diingat kemungkinan terjadinya keracunan yang memerlukan
pemeriksaan toksikologi.
Penyebab mati mendadak biasanya menyangkut sistem kardiovaskular (SKV),
pernafasan dan susunan saraf pusat (SSP). Pada SKV meliputi infark miokard, penyakit
Roman Forensik Edisi 8 172
jantung iskemik, sumbatan mendadak pembuluh koroner, pecahnya aneurisma aorta atau
miokarditis akibat virus. Pada sistem nafas biasanya berupa kelainan paru akibat perdarahan
kavernae atau peradangan. Sedangkan pada SSP umumnya perdarahan akibat pecahnya
a.lentikulostriata, akibat ruptur aneurisma pada Circulus willisi, kelainan degeneratif atau
malaria serebri. Diagnosis pasti seringkali memerlukan pemeriksaan Histo PA berbagai organ
tubuh.
AUTOPSI PADA KEMATIAN AKIBAT TINDAK ABORTUS
Biasa terjadi pada wanita yang mengalami abortus tersebut. Terjadi perdarahan karena
ruptur uteri akibat kekerasan yang ditimbulkan oleh pengurutan dengan tangan atau alat yang
membuat perforasi uterus. Selain perdarahan, kematian juga dapat akibat emboli udara saat
pembuluh darah atau sinus marginalis terbuka. Pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan
menemukan udara dalam bilik jantung kanan atau vena cava inferior.
Roman Forensik Edisi 8 173

Roman Forensik Edisi 8

2

Proses penyidikan perkara pidana a. menerima laporan/informasi dan atau melihat langsung terjadinya perkara, masuk Berita Acara Pemeriksaan (BAP) b. mencari informasi/memeriksa TKP dan para saksi peristiwa serta pemeriksaan para saksi c. melakukan konsultasi terhadap para ahli untuk pemeriksaan barang bukti korban/terdakwa atas dasar legalitas hukum d. penyidikan lebih lanjut atas informasi/keterangan para ahli e. pemberian label terhadap barang bukti mati dan surat permintaan pemeriksaan/ konsultasi kepada yang lebih berwenang f. pengawalan langsung terhadap pengiriman/konsultasi Barang Bukti atau kasus korban/terdakwa untuk pemeriksaan tertentu g. pendekatan dan penjelasan kepada keluarga korban atau korban untuk macam pemeriksaan Kedokteran Forensik dan persetujuannya (Informed Consent) • Jadi Singkatnya : - ada surat permintaan penyidik - ada surat persetujuan keluarga/korban/terdakwa untuk pemeriksaan - legalitas hukum pengiriman Barang Bukti/korban atau terdakwa untuk pemeriksaan

Dalam proses pemeriksaan medis • kesiapan Barang bukti/korban/terdakwa dan penyidik (termasuk keluarga bila perlu) • penyidik siap melihat langsung pemeriksaan dan mengamankan lingkungan, mencatat serta membuat dokumentasi fakta pada korban/BB akibat peristiwa • penyidik siap sebagai konsultan peristiwa dan penghubung keluarga sesuai kebutuhan pihak medis • penyidik siap menerima BB yang lain yang terdapat pada korban/BB untuk pemeriksaan lebih lanjut atau untuk barang bukti di sidang pengadilan • menyerahkan jenazah korban atau korban hidup kepada keluarga setelah pemeriksaan, pengobatan dan perawatan dianggap selesai • menerima hasil pemeriksaan medis, sementara atau definitif • bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pemeriksaan medis (Perda, SK Direktur RS, Pasal 136 KUHAP) Dalam proses sidang pengadilan • koordinasi penyidik, jaksa, hakim, terdakwa, para saksi/saksi ahli dan penasehat hukum serta keluarga korban/terdakwa • pertanggunganjawab masing-masing para saksi, saksi ahli, penyidik serta terdakwa atau korban hidup yang dapat/siap di sidang • pengawalan dan pengamanan lingkungan, terdakwa, korban hidup dan para saksi/saksi ahli • surat panggilan para saksi/saksi ahli, korban hidup dan terdakwa • kesiapan alat bukti, barang bukti untuk dipertanggungjawabkan dalam forum • kesiapan forum sidang pengadilan sesuai hukum yang berlaku • kesiapan para saksi ahli termasuk dokter untuk mengucapkan sumpah di forum sidang pengadilan

Roman Forensik Edisi 8

3

bila diluar sidang sanksinya menurut hukum yang berlaku.dari pihak penyidik untuk tim medis dan penyidik berupa surat permintaan V et R . dll) • penyidik memiliki Pasal 222 KUHP dalam menentukan pemeriksaan jenazah (PL. khususnya standar pelayanan kedokteran forensik • landasan utama berdasarkan ilmu kedokteran orientasi ilmu hukum • dapat dipertanggungjawabkan secara medis berorientasi / tidak berorientasi dengan ilmu hukum Informed concent • prinsipnya merupakan hak korban/keluarga korban untuk dilakukan pemeriksaan berdasarkan informasi dari pihak penyidik (Pasal 134 KUHAP) • penyidik perlu koordinasi dengan tim medis dan keluarga korban untuk. medis oleh profesi masing-masing • tanpa/bebas rahasia dalam forum sidang pengadilan khususnya para saksi/saksi ahli dan penyidik • kerahasiaan medis dan hukum tetap terjaga di luar forum pengadilan sebelum dan sesudah perkara selesai • ada sanksi terhadap para personalia pemegang rahasia Prinsip hasil pemeriksaan medis • obyektif sesuai pengamatan/pemeriksaan pihak medis • berdasarkan norma atauran/standart pelayanan medis. autopsi. • RM dan IC berdasarkan hukum tertulis dari Permenkes RI. berkaitan dengan segala macam pemeriksaan medis serta hasilnya • V et R adalah merupakan laporan data dari RM murni yang sudah dianalisis dari data RM dan pertanggungjawabnya • RM bersifat rahasia medis. 50. pribadi dan hukum (HAM. TKP.Kerahasiaan • kerahasiaan hukum. 49. autopsi) • Jadi Informed Consent : . penunjang. Roman Forensik Edisi 8 4 .dari korban/keluarga korban – antara pihak penyidik. PP 10 tahun 1966 dan Pasal 170 KUHAP). 51 KUHP). tim medis dan keluarga korban berupa surat persetujuan keluarga . menentukan macam pemeriksaan (PL.dari keluarga korban – untuk : o pangruti jenazah (agama) o pengawetan jenazah (penundaan pemakaman dan WNA) o pengiriman/transportasi jenazah (Ambulance dan pesawat terbang) Rekam Medis • Rekam medis tertuang/tertulis dalam status korban. • Pelepasan rahasia di sidang pengadilan bebas sanksi (Pasal 48. Rumah Sakit.

jaksa.Perbedaan : Korban/penderita Pembuat Awal kontrak/ permintaan pemeriksaan Format laporan V et R Merupakan barang bukti medis Dokter Kontrak pemeriksaan dari pihak berwenang (polisi. hakim) Dalam bentuk visum et repertum Diserahkan kepada pihak pemohon Sampai berakhirnya proses peradilan Tidak diperlukan Surat Keterangan Medis Merupakan pasien Dokter atau dokter gigi Kontrak pemeriksaan dari pasien sendiri Dalam bentuk surat keterangan medis (misal surat keterangan sehat) Diserahkan hanya kepada pasien Ada batas waktu tertentenggang waktu tertentu) Harus ada Penyerahan laporan Masa berlaku Informed consent Roman Forensik Edisi 8 5 .

darah). b. Memberikan kenyataan (barang bukti) pada hakim 2. VeR definitif. • Menurut Lembaran Negara (Staatsblad) 350 tahun 1937: Suatu laporan medik forensik oleh dokter atas dasar sumpah jabatan terhadap pemeriksaan barang bukti medis (hidup/mati) atau barang bukti lain. yaitu: a. Keterangan terdakwa 4. non-biologis (peluru. biologis (rambut. Petunjuk Ada 3 tujuan pembuatan VeR. Surat-surat 5. VeR hidup VeR hidup dibagi lagi menjadi 3. Kualifikasi luka yang ditulis pada bagian kesimpulan yaitu luka derajat I atau luka golongan C. Menyimpulkan berdasarkan hubungan sebab akibat 3. Keterangan saksi 2. Maksud dan Tujuan Pembuatan Visum et Repertum Maksud pembuatan VeR adalah sebagai salah satu barang bukti (corpus delicti) yang sah di pengadilan karena barang buktinya sendiri telah berubah pada saat persidangan berlangsung. Ada 5 manfaat dibuatnya VeR sementara. • Menurut istilah: adalah laporan tertulis yang dibuat oleh dokter berdasarkan sumpah jabatannya terhadap apa yang dilihat dan diperiksa berdasarkan keilmuannya. Memungkinkan hakim memanggil dokter ahli lainnya untuk membuat kesimpulan VeR yang lebih baru Pembagian Visum et Repertum Ada 3 jenis visum et repertum. sperma. Kualifikasi luka tidak ditentukan dan tidak ditulis pada kesimpulan. yaitu • Menentukan apakah ada tindak pidana atau tidak • Mengarahkan penyelidikan • Berpengaruh terhadap putusan untuk melakukan penahanan sementara terhadap terdakwa • Menentukan tuntutan jaksa • Medical record Roman Forensik Edisi 8 6 . yaitu: 1. Keterangan ahli 3. selongsong) atas permintaan tertulis oleh penyidik ditujukan untuk peradilan. yaitu VeR yang dibuat seketika. yaitu VeR yang dibuat untuk sementara waktu. & MEKANISME KEMATIAN Pengertian • Menurut bahasa: berasal dari Bahasa Latin yaitu Visum (sesuatu yang dilihat) dan Repertum (melaporkan). Jadi VeR merupakan barang bukti yang sah karena termasuk surat sah sesuai dengan KUHP pasal 184.BAB II VISUM ET REPERTUM SERTA CARA. VeR sementara. dimana korban tidak memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan sehingga tidak menghalangi pekerjaan korban. yaitu: 1. SEBAB. yaitu: 1. karena korban memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan sehingga menghalangi pekerjaan korban. Ada 5 barang bukti yang sah menurut KUHP pasal 184.

Pendahuluan Bagian pendahuluan berisi: • Identitas tempat pembuatan visum berdasarkan surat permohonan mengenai jam. TKP Susunan Visum et Repertum Ada 5 bagian visum et repertum. yaitu VeR khusus yang melaporkan keadaan benda atau bagian tubuh korban. misalnya darah. yaitu VeR yang dibuat terhadap korban yang meninggal. Ekspertise.c. lanjutan. ekshumasi. tulang. 2. yaitu: 1. Ada sebagian pihak yang menyatakan bahwa ekspertise bukan merupakan VeR. • Tidak dibenarkan menulis diagnosis. VeR mati 3. mani. VeR sementara. tanggal. 2. Pemberitaan Pemberitaan memuat hasil pemeriksaan. rambut. liur. yaitu VeR yang dibuat dimana luka korban telah dinyatakan sembuh atau pindah rumah sakit atau pindah dokter atau pulang paksa. menurut barang bukti: a. VeR lanjutan. berupa: • Apa yang dilihat. definitif b. Tujuan pembuatan VeR ini adalah untuk menentukan sebab. melainkan hanya menulis ciri-ciri. VeR hidup b. dan keadaan luka. Bila korban meninggal. VeR barang bukti benda. Roman Forensik Edisi 8 7 . maka dokter membuat VeR jenazah. 3. harus dengan huruf untuk mencegah pemalsuan. VeR perlukaan b. dan tempat • Pernyataan dokter. cara. jaringan tubuh. menurut peristiwa: a. VeR jenazah. identitas dokter • Identitas peminta visum • Wilayah • Identitas korban • Identitas tempat perkara 3. Pembagian lain visum et repertum: 1. VeR jenazah 2. VeR kejahatan seksual c. Jika diopname  tulis diopname. Dokter menulis kualifikasi luka pada bagian kesimpulan VeR. dan mekanisme kematian. yang ditemukan sepanjang pengetahuan kedokteran • Hasil konsultasi dengan teman sejawat lain • Untuk ahli bedah yang mengoperasi  dimintai keterangan apa yang diperoleh. dan lain-lain. VeR psikiatrik d. menurut sifat : a. Pembukaan Ditulis ‘pro justicia’ yang berarti demi keadilan dan ditulis di kiri atas sebagai pengganti materai. jika pulang  tulis pulang • Tidak dibenarkan menulis dengan kata-kata latin • Tidak dibenarkan menulis dengan angka. sifat.

Luka ringan / luka derajat I/ luka golongan C Luka derajat I adalah apabila luka tersebut tidak menimbulkan penyakit atau tidak menghalangi pekerjaan korban. tidak boleh dititip melalui korban atau keluarganya. Penerimaan. Luka berat / luka derajat III / luka golongan A Luka derajat III menurut KUHP pasal 90 ada 6. 2. Langsung menyerahkannya kepada dokter. Roman Forensik Edisi 8 8 . sesuai dengan pasal I ayat 1. Ada alasan mengapa korban dibawa kepada dokter. sesuai KUHP 133 ayat C. 5. kualifikasi luka. Juga tidak boleh melalui jasa pos. Harus tertulis. 4. yaitu: 1. 6. tanda tangan. 4. kecuali ada permintaan dari Pemda Tk II.4. atau bila korban mati maka dokter menulis sebab kematiannya. yaitu: 1. Kesimpulan Bagian kesimpulan memuat pendapat pribadi dokter tentang hubungan sebab akibat antara apa yang dilihat dan ditemukan dokter dengan penyebabnya. 3. Pada mayat harus diberi label. tidak boleh secara lisan. Tidak dibenarkan meminta visum pada perkara yang telah lewat. dada atau perut dianggap membawa bahaya maut) Luka atau penyakit yang menghalangi pekerjaan korban selamanya Hilangnya salah satu panca indra korban Cacat besar Terganggunya akan selama > 4 minggu Gugur atau matinya janin dalam kandungan ibu Prosedur Permintaan. 5. Ada identitas pemintanya. 7. Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP pasal 352 ayat 1. Mencantumkan tanggal permintaan. Penutup Bagian penutup memuat sumpah atau janji. Di wilayah sendiri. Sumpah atau janji dokter dibuat sesuai dengan sumpah jabatan atau pekerjaan dokter. Bukan kejadian yang sudah lewat sebab termasuk rahasia jabatan dokter. 2. yaitu pihak kepolisian yang diangkat negara untuk menjalankan undang-undang. dan nama terang dokter yang membuat. Penyidik. Syarat pembuat: • Harus seorang dokter (dokter gigi hanya terbatas pada gigi dan mulut) • Di wilayah sendiri • Memiliki SIP • Kesehatan baik Ada 8 hal yang harus diperhatikan saat pihak berwenang meminta dokter untuk membuat VeR korban hidup. Kualifikasi Luka Ada 3 kualifikasi luka pada korban hidup. dan Penyerahan Visum et Repertum Pihak yang berhak meminta VeR 1. 3. yaitu: Luka atau penyakit yang tidak dapat sembuh atau membawa bahaya maut (NB : semua luka tembus yang mengenai kepala. Hukuman bagi 3. Misalnya jenis luka. Ada identitas korban. 2. Luka sedang / luka derajat II / luka golongan B Luka derajat II adalah apabila luka tersebut menyebabkan penyakit atau menghalangi pekerjaan korban untuk sementara waktu.

Trauma : a. Tidak wajar : pembunuhan. Batas waktu bagi dokter untuk menyerahkan hasil VeR kepada penyidik selama 20 hari.bahan peledak/bom b. Saat menerima permintaan membuat VeR. urogenital 2. 5. Korban diantar oleh polisi atau jaksa. Wajar : karena penyakit 2. Ada keterangan terjadinya kejahatan.intoksikasi Mekanisme Kematian = gangguan/kelainan fisiologik dan atau biokimia yang bertanggung jawab terhadap timbulnya kematian Mekanisme kematian : 1. 7. fisik : . robek.8. Memberikan label dan segel pada salah satu ibu jari kaki. bunuh diri. 6. lecet. tusuk.asam . Ada 8 hal yang harus diperhatikan saat pihak berwenang meminta dokter untuk membuat VeR jenazah. batas waktunya menjadi 40 hari dan atas persetujuan penuntut umum. panas . DAN MEKANISME KEMATIAN Cara kematian = macam kejadian yang bertanggung jawab terhadap kematian Cara Kematian : 1. Bila belum selesai. Mati lemas (asfiksia) 2. Ada identitas pemintanya. kecelakaan Sebab Kematian = penyakit atau cedera/luka yang bertanggung jawab terhadap timbulnya kematian Sebab kematian : 1. yaitu: 1. Refleks vagal 5. 2. GIT.tumpul : memar. tidak boleh secara lisan. Perdarahan 3. dokter harus mencatat tanggal dan jam.senjata api (balistik) . 4. bacok . 8. dll Mekanisme kematian bisa kombinasi beberapa mekanisme Roman Forensik Edisi 8 9 . penerimaan surat permintaan. respirasi. Harus tertulis. dan mencatat nama petugas yang mengantar korban. kelainan-kelainan pada gambar tersebut • Penjelasan  istilah kedokteran • Hasil pemeriksaan lab forensik (toksikologi. Korban diantar oleh polisi.suhu : dingin. Lampiran visum • Fotografi forensik • Identitas. mekanik : .listrik/petir c. mikrobiologi) CARA. Emboli. SSP. Penyakit : gangguan SCV. Mencantumkan tanggal permintaan. 3. kimiawi : . Harus sedini mungkin. patah .basa . Tidak bisa permintaannya hanya untuk pemeriksaan luar. sitologi. SEBAB. patologi. Kerusakan organ vital 4.tajam : iris.

ukuran. Identifikasi Rekonstruktif .Data antemortem tidak tersedia Cara Identifikasi yang biasa dilakukan : 1. Kelemahan : sangat dipengaruhi faktor sugesti dan emosi 2. Pemastian kematian seseorang secara resmi & yuridis 3. bahan. Identifikasi Komparatif . Pengurusan klaim di bidang hukum publik dan perdata 5. Tujuan Identifikasi forensik : 1. Pencatatan identitas untuk keperluan administratif & pemakaman 4. yaitu kepentingan proses peradilan. untuk menentukan siapa orang tuanya o anak hilang o orang dewasa yang karena sesuatu hal kehilangan uangnya o tuntutan hak milik o untuk kepentingan asuransi o tuntutan hak pensiun 2. Sebaiknya : simpan pakaian atau potongan pakaian (20x10 cm). pensiun dll 6. yaitu .Data antemortem & postmoterm tersedia b. Pembuktian klaim asuransi. dilakukan pada keadaan.Komunitas korban tidak terbatas . berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. • Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik. Secara visual  keluarga/rekan memperhatikan korban (terutama wajah). Pengamatan pakaian  catat: model.BAB III IDENTIFIKASI FORENSIK Definisi : • Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun mati. o kasus peledakan o kasus kebakaran o kecelakaan kereta api atau pesawat terbang o banjir o kasus kematian yang dicurigai melanggar hukum Ada dua metode. Pada Orang Hidup o semua kasus medikolegal o penjahat atau prajurit militer yang melarikan diri o orang yang didakwa pelaku pembunuhan o orang yang diakwa pelaku pemerkosaan o identitas bayi baru lahir yang tertukar. Kebutuhan etis & kemanusiaan 2. Upaya awal dalam suatu penyelidikan kriminal (bila ada) Peran Identifikasi : 1. Pada jenazah. foto pakaian Roman Forensik Edisi 8 10 . Syarat : korban dalam keadaan utuh.Dalam komunitas terbatas . inisial nama & tulisan pada pakaian. a.

3. unifikasi tulang selangka mulai umur 18-25 thn & menjadi lengkap usia 31 thn ke atas. kedokteran. dll Medis  pemeriksaan fisik : tinggi & berat badan. luas permukaan prosesus mastoideus wanita lebih kecil. perlu diingat : dental record di Indonesia masih sangat terbatas Sidik jari  tidak ada dua orang yang memiliki sidik jari yang sama mudah dan murah Serologi  memeriksa darah dan cairan tubuh korban DNA  sangat akurat. Pengamatan perhiasan  catat : jenis (anting. indeks iscium-pubis wanita lebih besar 15% dari ukuran laki-laki. tulang panjang wanita lebih pendek.dewasa > 30 thn : sutura sagittalis. panjang badan. yaitu : 1. kartu golongan darah. berat badan. tato Odontologi  bentuk gigi & rahang : khas. tapi mahal Ekslusi  biasanya digunakan pada korban kecelakaan masal. Penentuan jenis kelamin berdasarkan rangka : rangka wanita lebih halus. gelang. 10. rangka. lebih halus. pemeriksaan mikroskopik dari ovarium dan testis. dan lamboidea mulai menutup pada usia 20-30 thn. warna tirai mata. bentuk rambut. pusat penulangan. inisial nama. dan impressio-nya lebih sedikit. kuningan dll). Pada jenazah yang telah membusuk ditentukan : • Ras • Jenis Kelamin • Perkiraan umur • Tinggi badan Penentuan Jenis Kelamin : wajah. corpus vertebrae sblm usia 30 thn menunjukkan aluralur yang berjalan radier pada bagian permukaan atas & bawah . kalung. DNA. tinggi badan (jarak antara kepala samapai ke tumit/crown-heel. pakaian dan kartu identitas yang ditemukan.bayi baru lahir : penentuan umur kehamilan. dll. Penentuan umur : . SIM. 6.anak-anak & dewasa < 30 thn : persambungan spheno-occipital terjadi dalam umur 17-25 thn (pada wanita 17-20 thn). lebih ringan. 4. 9. pakaian. sangat penting bila jenazah dalam keadaan rusak/membusuk. sutura sphenoparietale menutup usia 70 thn. bahan (emas. cincin dll).perak. Identifikasi primer : • DNA • Sidik Jari • Odontologi Pada jenazah yang rusak/busuk untuk menjamin keakuratan dilakukan 2-3 metode pemeriksaan dengan hasil (+) 2. dan histologis/kromosom. adanya luka bekas operasi. viabilitas. coronaria. Cara Ilmiah : melalui teknik keilmuan tertentu seperti sidik jari. Penentuan tinggi badan : Roman Forensik Edisi 8 11 . jarak antara kepala ke tulang ekor/crown-rup) . sutura parietomastoidea dan sutura squamosa menutup usia lima tahun kemudian – 60 thn. Identifikasi sekunder Cara sederhana : melihat langsung ciri seseorang dengan memperhatikan perhiasan. Sebaiknya : simpan perhiasan dengan baik Dokumen : KTP. ciri-ciri seks. manubrium sterni wanita separuh panjang corpus sterni. potongan tubuh. buah dada. 7. 8. menggunakan data/daftar penumpang Metode pemeriksaan terbagi menjadi dua macam. odontologi. 5.

5115 + (2. • Memberikan label pandang dan label oranye pada jenazah dan potongan jenazah diikat pada tubuh/ibu jari kaki korban.7207 + (2. • Membuat sketsa dan foto tiap sektor • Evakuasi dan transportasi jenazah dan barang.24 Pengukuran dengan osteometric board & tulang harus kering Melakukan identifikasi jenazah kepada : • Jenazah tidak dikenal • Jenazah yang membusuk atau kerangka • Kasus penculikan anak • Kasus bayi tertukar • Keraguan siapa orang tua anak Identifikasi korban bencana massal : • Organisasi Interpol • Secara internasional identifikasi korban massal adalah tanggung jawab polisi • Interpol Disaster Victim Identification Standing Comittee yang beranggotakan 114 negara di dunia dan bersidang setahun sekali di Lyon.1756 o TB = 81.0263 x panjang Tibia) + 1. Memasukkan barang-barang yang terlepas dari tubuh korban dan diberi label sesuai nomor jenazah.37 + 1. • Membuat foto jenazah.4378 x panjang Femur) + 2.Melalui pengukuran tulang panjang : o femur 27% dari tinggi badan o tibia 22% dari tinggi badan o humerus 35% dari tinggi badan o tulang belakang dari tinggi badan Formula STEVENSON : o TB = 61.8131 x panjang Humerus) + 2.8903 o TB = 59. Diangkut ketempat pemeriksaan dan penyimpanan jenazah dan dibuat berita acara penyerahan kolektif. Prancis. • Mencatat semua ciri-ciri korban sesuai formulir interpol • Mengambil sidik jari korban dan golongan darah (Ident/Labfor). Fase II : Unit postmortem : • Menerima jenazah/potongan jenazah dan barang dari unit TKP.2256 + (3.22 (panjang Femur + pjg Tibia) + 3. Kegiatan: • Membuat sektor-sektor/zona pada TKP dengan ukuran 5 x 5 m.0276 + (3. dengan : Memasukkan jenazah dan potongan jenazah dalam karung plastik dan diberi label sesuai nomor jenazah. • Memberikan label putih pada barang-barang pemilik tercecer.8916 o TB = 80. • Mencatat gigi-gigi korban (Odontogram). Yang harus dilakukan : Fase I :Unit Penanganan di TKP (Tempat Kejadian Peristiwa). tidak utuh potongan jenazah dan barang-barang. • Registrasi ulang dan pengelompokan kiriman tersebut berdasarkan jenazah utuh.6791 Formula TROTTER dan GLESER : o TB = 70. • Memberi tanda setiap sektor.7384 x panjang Radius) + 2. Roman Forensik Edisi 8 12 .

Fase III : Unit ante mortem • Mengumpulkan data-data nama korban dari daftar penumpang serta data semasa hidup seperti foto dan lain-lain yang dikumpulkan dari instansi tempat korban bekerja. Mengambil data-data ke unit pembanding. dokter-dokter gigi pribadi. • Publikasi yang benar dan terarah oleh komisi identifikasi sangat membantu masyarakat mendapat informasi yang terbaru dan akurat.berdasarkan : o Jenis kelamin o Umur o Kewarganegaraan • Mengirimkan data-data yang telah diperoleh ke unit pembanding data Fase IV Unit pembanding data (rekonsiliasi) • Cek dan recek hasil unit pembanding data.• • • Membuat Ro. • Memasukkan data-data yang masuk dalam formulir yang tersedia formulir AM Kuning. Foto jika perlu. keluarga/kenalan. polisi (sidik jari). • Mengumpulkan hasil identifikasi korban. Melakukan autopsi. • Membuat surat keterangan kematian untuk korban yang dikenal dan surat-surat lain yang diperlukan. Fase V • Dilakukan Evaluasi o Dilakukan evaluasi yang komprehensif terhadap masing-masing fase Roman Forensik Edisi 8 13 . • Menerima keluarga korban. • Mengelompokkan data-data Ante Mortem.

garis tengah luka. (1. ukuran luka (cm ditulis sentimeter). tepi garis seperti roda  darah jatuh secara vertikal jarak > 120 cm Roman Forensik Edisi 8 14 . tepi seperti jarum  darah jath vertikal jarak 60-120 cm  darah bundar. sifat luka: o tepi luka (jika ditautkan berbentuk garis atau tidak) o sudut luka (tumpul atau tidak) o jembatan jaringan (terpotong atau tidak) o ada lecet atau memar di sekitar luka o tanda: fraktur atau krepitasi tulang o dasar luka (bersih atau tidak) o koordinat luka Kesan: luka akibat benda tajam/tumpul. kaku mayat. biaya  ditanggung yang meminta 3. kulit pucat. 2. relaksasi otot.BAB IV TEMPAT KEJADIAN PERKARA (TKP) Definisi : Suatu tempat penemuan barang bukti atau tempat terjadinya peristiwa tindak pidana atau kecurigaan suatu tindak pidana. penanganan terhadap pelaku/kerugian lain 5. Penyidik: 1. genangan. persiapan  permintaan tertulis atau tidak. siapa peminta. jika korban masih hidup  • identifikasi secara visual: pakaian secara visual terhadap perhiasan. perubahan mata. apakah kasus pidana atau tidak Jika dokter tidak mau  sanksi KUHP pasal 24 Bantuan dokter dapat berupa: 1. 3. banyak luka. dll • darah o warna merah/tidak o tetesan. kartu pengenal lainnya • identifikasi medik  dari ujung rambut sampai kaki termasuk gigi dan identifikasi sidik jari 4. 4. lebam mayat. dokumen. pembusukan) • lihat lukanya  lokasi luka. catat tanggal permintaan. 7. 6. jika korban mati  buat sketsa foto  situasi ruangan. merupakan suatu persaksian. penanganan korban 4. 5. membuat sketsa/foto 3. lebam mayat. lihat TKP (porak-poranda atau tenang): • identifikasi  lihat bab identifikasi • lihat tanatologi  suhu rektal. kaku mayat. melakukan pengamatan/observasi TKP 2. penurunan suhu. atau garis o melihat bentuk/sifat darah  dapat diperkirakan sumber darah  darah bundar tepi kecil  darah jatuh vertikal jarak = 60 cm  darah bundar. lokasi dimana. dan alat pemeriksa TKP 2. penanganan terhadap barang bukti KUHP pasal 20  minta bantuan dokter.

pakaian robek. jika pada pakaian  digunting • darah basah/segar  masukan termos es  kirim ke lab kriminologi 6. o   o    5. identifikasi lanjutan • rambut • sperma kering atau tidak secara visual  sinar UV • air ludah. morat marit (pembunuhan) sumber dari arteri (pancaran lebih jauh dan warna lebih terang) darah merah berbuih  dari saluran respirasi darah coklat hitam  dari saluran cerna Roman Forensik Edisi 8 15 . menentukan cara kematian/menentukan diagnosis mati Tugas dokter di TKP  untuk membantu visum dan autopsi apakah sesuai dengan TKP atau tidak. ada luka percobaan. tidak ada luka tangkisan. ada luka yang mudah dicapai ada yang tidak. TKP tengang tidak morat-marit. darah bulat lonjong  darah jatuh arahnya miring distribusi darah dari dada ke kaki bentuk genangan (bunuh diri). luka di sembarang tempat. bekas gigitan  bisa ditentukan golongan darah 7. ada luka tangkisan karena perlawanan • kecelakaan • mati wajar  karena penyakit Dengan melihat keadaan TKP lakukan : 1. luka multipel. menentukan saat kematian 3. penentuan mati wajar atau tidak 2. membuat kesimpulan di TKP • mati wajar atau tidak • bunuh diri  genangan darah. identifikasi lanjutan • ada sperma atau tidak • pengambilan darah : jika di dinding kering  dikerok. luka mudah dicapai oleh korban. pakaian masih baik • pembunuhan  TKP morat marit.

kecuali batang otak dan serebelum (SCV dan respirasi masih berfungsi) o Mati otak/batang otak : kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang irreversibel.1% atau penyuntikan sulfat atropin 1% ke dalam kamera okuli anterior. mengalami neonatal anoxia. kedinginan. sehingga secara klinis sama dengan orang mati.respiratory) mati  ireversibel/menetap. Kulit masih dapat berkeringat sampai lebih dari 8 jam pasca mati dengan cara menyuntikkan subkutan pilokarpin 2% atau asetilkolin 20%. tersengat aliran listrik.BAB V TANATOLOGI Pengertian o Thanatos : yang berhubungan dengan kematian o Logos : ilmu Adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mempelajari kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur (barbiturat). Dapat dikemukakan bahwa susunan saraf pusat mengalami mati seluler dalam waktu 4 menit. o Mati suri : Dalam stadium somatic death perlu diketahui suatu keadaan yang dikenal dengan istilah mati suri atau apparent death. Aktivitas otak dinyatakan berhenti bila : EEG mendatar selama 5 mnt o Mati seluler/molekuler : kematian organ & jaringan.5% akan mengakibatkan miosis hingga 20 jam pasca mati. dan mengalami mati seluler setelah 4 jam. kornea masih dapat ditransplantasikan dan darah masih dapat dipakai untuk transfusi sampai 6 jam pasca mati. mengalami anestesi yang dalam. termasuk batang otak dan serebelum Diagnosis mati : Hilangnya seluruh ataupun pergerakan/aktivitas refleks hilang Roman Forensik Edisi 8 16 . Dengan peralatan kedokteran canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Atau Ilmu yang mempelajari tentang mati dan diagnostik mati dan perubahan postmortem dan faktor-faktor yang mempengaruhi serta kegunaan apa saja.saraf +5 menit setelah mati klinis. otot +4 jam setelah mati klinis. Dalam literatur lain mati suri adalah terhentinya ketiga sistem kehidupan yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Mati suri ini terjadi karena proses vital dalam tubuh menurun sampai taraf minimum untuk kehidupan. Sist. sesaat setelah kematian somatis ( otak & jar. Fungsi Tanatologi : o Menegakkan diagnosis mati o Memperkirakan saat kematian o Untuk menentukan proses cara kematian o Untuk mengetahui sebab kematian Definisi Mati : Berhentinya ketiga sistem yaitu kardiovaskular. dilatasi pupil masih terjadi pada pemberian adrenalin 0. Istilah Mati : o Mati somatis/mati klinis : 3 sistem (SSP. pemberian pilokarpin 1% atau fisostigmin 0. yang merupakan satu unit kesatuan dan tidak terkonsumsinya oksigen. dan sistem daraf pusat. spermatozoa masih bertahan hidup beberapa hari dalam epididimis. mengalami acute heart failure. otot masih dapat dirangsang (listrik) sampai kira-kira 2 jam pasca mati. kornea +6 jam setelah mati klinis). respirasi . menderita catalepsy dan tenggelam. SCV. tetapi beberapa organ & jaringan masih bisa berfungsi sementara  memungkinkan untuk transplantasi. o Mati serebral : kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversibel.

Ada 5 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem respirasi : 1. Tidak ada gerak napas pada inspeksi dan palpasi. 2. Tidak ada bising napas pada auskultasi. 3. Tidak ada gerakan permukaan air dalam gelas yang kita taruh diatas perut korban pada tes Winslow. 4. Tidak ada uap air pada cermin yang kita letakkan didepan lubang hidung atau mulut korban. 5. Tidak ada gerakan bulu burung yang kita letakkan didepan lubang hidung atau mulut korban. Ada 5 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem saraf : 1. Areflex 2. Relaksasi 3. Pergerakan tidak ada 4. Tonus tidak ada 5. Elektoensefalografi (EEG) mendatar/flat Ada 6 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem kardiovaskuler : 1. Denyut nadi berhenti pada palpasi. 2. Detak jantung berhenti selama 5-10 menit pada auskultasi. 3. Elektro Kardiografi (EKG) mendatar/flat. 4. Tes magnus : tidak adanya tanda sianotik pada ujung jari tangan setelah jari tangan korban kita ikat. 5. Tes Icard : daerah sekitar tempat penyuntikan larutan Icard subkutan tidak berwarna kuning kehijauan. 6. Tidak keluarnya darah dengan pulsasi pada insisi arteri radialis. Tanda Kematian Tidak pasti : • Pernafasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit • Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit • Kulit pucat • Tonus otot menghilang dan relaksasi • Pembuluh darah retina mengalami segmentasi bergerak ke arah tepi retina dan kemudian menetap • Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan Tanda Kematian Pasti : • Lebam mayat (livor mortis) • Kaku mayat (rigor mortis) • Penurunan suhu tubuh (algor mortis) • Pembusukan (decomposition, putrefaction) • Adiposera atau lilin mayat • Mumifikasi Perubahan post mortem : • Kulit wajah pucat : krn sirkulasi berhenti, darah mengendap terutama pembuluh darah besar • Relaksasi primer : krn tonus otot tidak ada → rahang bawah melorot • Perubahan pada mata : pandangan mata kosong, refleks (-) • 10-12 jam → keruh kornea Roman Forensik Edisi 8

17

• Penurunan suhu badan : karena perpindahan panas ke dingin melalui konduksi, konveksi dan radiasi serta evaporasi Penurunan suhu = 10x(37-temperatur rektal) = ..... jam 8 Saat kematian (dalam jam) dapat dihitung rumus Post Mortem Interval (PMI) oleh Glaister dan Rentoul : Formula untuk suhu dalam derajat Celcius PMI = 37 o C - RT o C +3 Formula untuk suhu dalam derajat Fahrenheit PMI = 98,6 o F - RT o F 1,5 • Perubahan pada kulit : Lebam mayat (livor mortis, post mortum lividity, post mortum suggilation, post mortum hypostasis) : terjadi karena pengendapan butir-butir ertirosit karena adanya gaya gravitasi sesuai dengan tubuh, berwarna biru ungu tetapi masih dalam pembuluh darah. Timbul 2030 menit dan setelah 6-8 jam lebam mayat masih bisa ditekan dan masih bisa berpindah tempat. Suhu tubuh yang tinggi dapat mempercepat timbulnya lebam mayat. Terbentuknya lebam mayat terjadi karena kegagalan sirkulasi, dan aliran balik vena gagal mempertahankan darah mengalir melalui saluran pembuluh darah kapiler akibatnya butir sel darahnya saling tumpuk memenuhi saluran tersebut dan sukar dialirkan di tempat lain (fenomena kopi tubruk). Gaya gravitasi meyebabkan darah yang terhenti tersebut mengalir ke area terendah. Korban meninggal  peredaran darah berhenti  stagnasi  akibat gravitasi  darah mencari tempat yang terendah  terlihat bintik-bintik merah kebiruan. Timbul : 30 menit setelah kematian somatis dan intensitas maksimal (menjadi lengkap) setelah 8-12 jam post mortal. Sebelum waktu ini, lebam mayat masih dapat berpindahpindah, jika posisi mayat diubah, misalnya dari terlentang menjadi tengkurap. Namun setelahnya, lebam mayat sudah tidak dapat hilang (fenomena kopi tubruk). Tidak hilangnya lebam mayat pada saat itu, dikarenakan telah terjadinya perembesan darah kedalam jaringan sekitar akibat rusaknya pembuluh darah akibat tertimbunnya sel – sel darah dalam jumlah yang banyak, adanya proses hemolisa sel-sel darah dan kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah. Dengan demikian penekanan pada daerah lebam yang dilakukan setelah 8 – 12 jam tidak akan menghilang. Hilangnya lebam pada penekanan dengan ibu jari dapat memberi indikasi bahwa suatu lebam belum terfiksasi secara sempurna. Atas dasar keadaan tersebut, maka dari sifat-sifat serta distribusi lebam mayat dapat diperkirakan apakah pada tubuh korban telah terjadi manipulasi merubah posisi korban. Lokalisasi : tempat yang terendah Kecuali : bagian tubuh yang - tertekan dasar - tertekan pakaian Perbedaan antara lebam mayat & hematom  lihat bab traumatologi  letak lebam mayat tidak berubah, bila posisi mayat tidak diubah. Warna lebam mayat: - Normal - Keracunan CO Roman Forensik Edisi 8 : Merah kebiruan : Cherry red

18

- Keracunan CN : Bright red - Keracunan nitrobenzena : Chocolate brown - Asfiksia : Dark red Warna Lebam Mayat Lebam mayat sering berwarna merah kebiru-biruan, tetapi bervariasi, tergantung oksigenasi sewaktu korban meninggal. Bila terjadi bendungan, hipoksia, mayat memiliki warna lebam yang lebih gelap karena adanya hemoglobin tereduksi dalam pembuluh darah kulit. Lebam mayat merupakan indikator kurang akurat dalam menentukan mekanisme kematian, dimana tidak ada hubungan antara tingkat kegelapan lebam mayat dengan kematian yang disebabkan asfiksia. Sering kematian sebab wajar oleh karena gangguan koroner atau penyakit lain memiliki lebam yang lebih gelap. Terkadang area lebam mayat berwarna terang dan dilanjutkan dengan area lebam mayat berwarna lebih gelap. Hal ini akan berubah seiring memanjangnya interval post mortem. Sering kali warna lebam mayat merah terang atau merah muda. Kematian yang disebabkan hipotermia atau terpapar udara dingin selama beberapa waktu, seperti tenggelam, dimana warna lebam mayat dapat menentukan penyebab kematian, tetapi relatif tidak spesifik oleh karena mayat yang terpapar udara dingin setelah mati (terutama bila mayat yang di dalam lemari es mayat) dapat terjadi perubahan lebam dari merah padam menjadi merah muda. Mekanismenya belum pasti, tetapi sangatlah jelas merupakan hasil dari perubahan hemoglobin tereduksi menjadi oksihemoglobin. Hal ini dapat dimengerti pada kasus hipotermia, dimana metabolisme reduksi dari jaringan gagal mengambil oksigen dari sirkulasi darah. Diketahui bahwa lebam mayat yang merah padam berubah menjadi merah muda pada batas horizontal anggota tubuh bagian atas, warna lebam pada anggota tubuh bagian bawah tetap gelap, sehingga perubahan secara kuantitatif lebam dapat ditentukan, dimana hemoglobin lebih mudah mengalami reoksigenasi karena eritrosit kurang mengendap pada bagian lebam. Perubahan lainnya pada warna lebam lebih berguna. Pada keracunan gas karbonmonoksida, lebam mayat akan berwarna merah bata atau cherry red, yang merupakan warna dari karboksi-hemoglobin (COHb). Keracunan sianida akan memberikan warna lebam merah terang. Oleh karena kadar oksi hemoglobin (HbO) dalam darah vena tetap tinggi. Pada keracunan zat yang dapat menimbulkan methemoglobinemia, seperti pada keracunan kalium khlorat, kinine, anilin, asetanilid dan nitrobensen, lebam akan berwarna coklat-kebiruan (slaty) oleh karena adanya methemoglobin yang berwarna coklat serta adanya sianosis. Pada kasus tenggelam atau pada kasus dimana tubuh korban berada pada suhu lingkungan yang rendah, maka lebam mayat khususnya yang dekat letaknya dengan tempat yang bersuhu rendah, akan berwarna merah terang. Ini disebabkan karena suhu yang rendah akan mempengaruhi kurva dissosiasi dari oksi-hemoglobin. Kematian yang disebabkan sepsis dimana Clostridium perfringens sebagai agen infeksi, bercak berwarna pucat keabuan dapat terkadang terlihat pada kulit, Walaupun hal ini tidak timbul pada lebam. Pemeriksaan laboratorium sederhana yaitu test resistensi alkali dapat juga dilakukan, yaitu dengan menetesi contoh darah yang telah diencerkan dengan NaOH/KOH 10%. Pada CO, warna tetap beberapa saat oleh karena resistensi, sedangkan pada CN, warna segera menjadi coklat oleh karena terbentuknya hematina alkali. Pada anemi berat, lebam mayat yang terjadi sedikit, warna lebih muda dan terjadi biasanya lebih lambat. Pada polisitemia sebaliknya lebam mayat lebih cepat terjadi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan pembentukan lebam mayat adalah: viskositas darah, termasuk berbagai penyakit yang mempengaruhinya, kadar Hb, dan perdarahan (hipovolemia). • Perubahan pada otot

Roman Forensik Edisi 8

19

ATP digunakan untuk memisahkan ikatan aktin dan myosin sehingga terjadi relaksasi otot. Faktor yang mempercepat terjadinya rigor mortis. o Umur yaitu anak-anak dan orang tua. Untungnya ketika otot berelaksasi. dipertahankan 6-24 jam. yaitu : o Aktivitas fisik pra kematian / pre mortal. dimulai dari otot kecil : rahang bawah. o Gizi yang jelek. dada. Sebab tidak ada ATP yang bisa digunakan. Menurut Szent-Gyorgyi di dalam pembentukan rigor mortis peranan ATP sangat penting.Rigor mortis : karena adanya kelenturan otot setelah mati karena adanya metabolisme tingkat selular masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen→energi→ADP→ ATP. Jika glikogen otot habis dan energi tidak ada maka ADP tidak bisa jadi ATP → ADP . Ion kalsium bergerak melingkar di samping sarkomer dan menemukan cara untuk berikatan dengan sisi filamen tebal dari protein regulator. o Suhu tubuh tinggi. Selama masih ada energi→aktin miosin masih regang. Skema Terjadinya Rigor Mortis Timbul : 1-3 jam postmortem (rata-rata 2 jam).ATP dibutuhkan untuk mengambil kembali kalsium ke dalam retikulum sarkoplasma dari sarkomer. perut dan anggota bawah kemudian kaku lengkap. Karena hal ini terjadi pada semua otot tubuh maka terjadilah kekakuan dan tidak dapat digerakkan. Karena kekurangan ATP sehingga kepala miosin tidak dapat dilepaskan dari filamen aktin. Rigor mortis terjadi akibat hilangnya ATP. Kekakuan yang menyerupai kaku mayat : 1. anggota gerak atas. Cadaveric spasm (instantaneous rigor) Roman Forensik Edisi 8 20 . Namun karena pada saat kematian proses metabolisme tidak terjadi sehingga tidak ada produksi ATP. dan sarkomer tidak dapat berelaksasi. Menurun setelah 24 jam. kepala miosin dikembalikan keposisinya. siap dan menunggu untuk berikatan dengan sisi dari filamen aktin. pelepasan ion kalsium tidak dapat kembali ke retikulum sarkoplasma. o Konstitusi berupa tubuh kurus. o Suhu lingkungan tinggi.

Cold stiffening o terjadi pembekuan cairan tubuh. membentuk sikap petinju (pugilistic attitude) pada kasus mati terbakar 3. Kelelahan. Rigor mortis lengkap setelah 12 jam. Kaku otot.o akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal o kaku mayat timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer. Untuk menunjukkan sikap terakhir masa hidupnya. Ada Lambat Cepat hilang Kurang Menyeluruh Tidak ada respon otot. siku. Mikroorganisme : bakteri patogen dalam sekum o Setelah mati → daya tahan tubuh turun karena leukosit menurun → kuman mudah masuk ke pembuluh darah → media baik untuk tumbuh kuman → hancurkan darah dan bentuk amonia dan H2S → pertama kali terlihat didaerah kanan pada Roman Forensik Edisi 8 21 . Dapat dilawan dengan sedikit tenaga. pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot • Pembusukan : a. Habisnya cadangan glikogen secara general. Relaksasi primer Timbulnya Lamanya Koordinasi otot Lokasi otot Rangsangan sel. Biasanya pada kasus pembunuhan. Cadaveric Spasm Sesaat sebelum meninggal (intravital) dan menetap. mati tenggelam. bunuh diri. dari otot-otot kecil kemudian otot besar. Habisnya cadangan glikogen pada otot setempat. mati mendaki gunung. Heat stiffening : o kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas o serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher. Rigor Mortis Dingin. 2. Tabel. Kaku otot pada satu kelompok otot tertentu. dll. mayat langsung mengalami kekakuan secara terus-menerus sampai terjadi relaksasi sekunder o Terlihat pada kasus : bunuh diri dengan pistol atau senjata tajam. Cadaveric Spasm Hangat. Perbedaan Rigor Mortis dan Cadaveric Spasm Pembeda Waktu timbul Faktor predisposisi Etiologi Pola terjadinya kaku otot Kepentingan medikolegal Rigor Mortis Dua jam setelah meninggal. termasuk cairan sendi. pembunuhan dimana korban menggenggam robekan pakaian pembunuh. Perlu tenaga kuat untuk melawannya. Sentripetal. Untuk penentuan saat kematian. dan kecelakaan. Tidak ada. paha dan lutut. Autolisis o Tubuh membentuk enzim merusak sel dari nukleus→sitoplasma→dinding→hancur c. emosi hebat. Tidak ada Cepat Lambat hilang (dipertahankan) Baik Setempat (yang aktif) Ada respon otot. Ada. ketegangan. Pembeda Suhu mayat Kematian sel.

2) Konstitusi tubuh. yaitu : a. Udara : air : tanah = 8 : 2 : 1 (di udara pembusukan paling cepat. Golongan alat tubuh berdasarkan kecepatan terjadi pembusukan : a. infeksi dan sepsis mempercepat pembusukan. struktur anatomi masih lengkap sampai bertahun-tahun. Udem. Berhenti pada suhu 2120F 3) Kelembaban udara yang tinggi mempercepat pembusukan. dari luar 1) Mikroorganisme/sterilitas. Dehidrasi memperlambat pembusukan. o Proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan o Syarat terjadinya mummifikasi :  Suhu relatif tinggi  Kelembaban udara rendah  Aliran udara baik  Waktu yang lama (12-14 minggu) o Yang terlihat pada mummifikasi adalah penyusutan bentuk tubuh. diafragma c. Wanita baru melahirkan (uterus post partum) lebih cepat mengalami pembusukan. Mummifikasi o Terjadi bila temperatur turun. Roman Forensik Edisi 8 22 . ginjal. cepat : otak. uterus hamil/post partum b. kelembaban turun → dehidrasi viceral sehingga kuman-kuman tidak berkembang → tidak terjadi pembusukan → mayat mengecil. Tubuh gemuk lebih cepat membusuk daripada tubuh kurus. paru. asam stearat. 4) Seks. Hukum Casper. Faktor-faktor yang mempengaruhi cepat-lambatnya pembusukan mayat. paling lambat : prostate. kulit padat hitam seperti kertas perkamen b. b. dari dalam 1) Umur. asam oleat) dihidrogenisasi menjadi asam lemak jenuh yang relatif padat . belatung pada 36 jam kemudian. di tanah paling lambat). lambung. o Gas pembusukan masuk ke pembuluh darah → pembuluh darah melebar sehingga perut menggembung → pecahnya kapiler di alveoli → keluar darah lewat hidung. 4) Sifat medium.fossa iliaka kanan tepatnya disekum terlihat warna ungu (livide) yang merupakan reaksi Hb dan H2S → methsulf –Hb. usus. Bayi yang belum makan apa-apa paling lambat terjadi pembusukan. Adipocare o Terjadi karena hidrogenisasi asam lemak tidak jenuh (asam palmitat. bersatu berwarna coklat kehitaman. 2) Suhu optimal yaitu 21-380C (70-1000F) mempercepat pembusukan. uterus yang tidak hamil Perbedaan Bulla Intravital dan Bulla Pembusukan Bulla Intravital Perbedaan Bulla Pembusukan Kecoklatan Warna kulit ari Kuning Tinggi Kadar albumin & klor Bulla Rendah atau tidak ada Hiperemis Dasar bulla Merah pembusukan Intraepidermal Jaringan yang terangkat Antara epidermis & dermis Ada Reaksi jaringan & respon darah Tidak ada Variasi-variasi pembusukan: a. lambat : jantung. 3) Keadaan saat mati. o Pembusukan dimulai 48 jam postmortem.

Telur lalat biasanya akan mulai ditemukan pada jenazah sesudah 1-2 hari postmortem. mengakibatkan sekresi kelenjar sampai 60-90 menit pasca mati. Larva ditemukan pada 6-10 hari postmortem. kelembaban tinggi  Lemak cukup  Aliran udara rendah  Waktu yang lama Perkiraan Saat Kematian • Perubahan pada mata : Kekeruhan menyeluruh pada kornea terjadi kira-kira 10-12 jam pasca mati • Perubahan dalam lambung : Pengosongan lambung yang terjadi dalam 3-5 jam setelah makan terakhir. misalnya sandwich akan dicerna dalam waktu 1 jam sedangkan makan besar membtuhkan waktu 3 sampai 5 jam untuk dicerna. Rangsang listrik dapat menimbulkan kontraksi otot mayat hingga 90-120 menit pasca mati.o Suhu tinggi → kelembaban tinggi → lemak → asam lemak → pH turun → kuman tidak bisa berkembang → asam lemak → dehigrogenase → penyabunan → mayat menjadi kebalikannya mumifikasi. Kecepatan pengosongan lambung ini dipengaruhi oleh penyakit-penyakit saluran cerna. trauma masih dapat menimbulkan perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca mati Roman Forensik Edisi 8 23 . • Perubahan rambut : Panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian. Larva Sarcophaga cranaria mencapai panjang 20 mm pada hari ke-9. • Reaksi supravital : Reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup. kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0. menjadi kepompong pada hari ke-10 dan menjadi lalat pada hari ke-18. Necrophagus species akan memakan jaringan tubuh jenazah. menjadi lalat pada hari ke-14.4 mm/hari • Pertumbuhan kuku : Pertumbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0. Kadar nitrogen non protein kurang 80 mg % menunjukkan kematian belum 24 jam • Metode Entomologik : Larva Musca domestica mencapai panjang 8 mm pada hari ke7. Sedangkan predator dan parasit akan memakan serangga Necrophagus. Sedangkan larva dewasa yang akan berubah menjadi pupa ditemukan pada 12-18 hari. o Syarat terjadinya adiposera :  Suhu rendah.1 mm/hari • Perubahan dalam cairan serebrospinal : Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg % menunjukkan kematian belum lewat 10 jam. Omnivorus species akan memakan keduanya baik jaringan tubuh maupun serangga. konsistensi makanan dan kandungan lemaknya. berubah menjadi kepompong pada hari ke-8.

Grafik Perubahan Pada Tubuh Post Mortem BAB VI ASFIKSIA Definisi : Merupakan suatu keadaan dimana suplai O2 ke jaringan berkurang Penyebab : Penyebab asfiksia terbagi 2 yaitu. reaksi anafilaksis. Histotoksik-hipoksia (HH) (Keadaan yang mengakibatkan O2 tdk bisa digunakan jaringan) a. emboli. penjeratan) 2. Stagnan-hipoksia (Terjadinya kegagalan sirkulasi) : biasanya gangguan pembuluh darah. contoh keracunan eter/kloroform c. dekomp kordis 4. listrik. COPD. pneumotoraks. keracunan CO2 Hipoksik hipoksia bisa terjadi karena: Roman Forensik Edisi 8 24 . Hipoksik-hipoksia (Keadaan dimana oksigen gagal untuk masuk ke dalam sirkulasi darah) : kadar oksigen yang memang rendah atau gangguan masuk. HH metabolit : gangguan metabolisme karena end product tidak dapat dieliminir. contoh uremia. Pembagian menurut London : 1. vagal refleks. Penyebab asfiksia tidak wajar karena emboli. HH ekstraseluler : gangguan enzim. penyebab asfiksia wajar dan tidak wajar. tumor laring. racun (barbiturat). Anemik-hipoksia (Darah tidak dapat membawa O2 yang cukup untuk metabolisme ) : biasanya Hb yang kurang atau volume darah yang kurang 3. HH periseluler : gangguan permeabilitas membran sel. dan adanya halangan udara masuk ke saluran pernapasan secara paksa. Penyebab asfiksia wajar karena penyakit seperti difteri.respirasi : hipoksia mekanik : intraluminer (co : tersedak) & ekstraluminer (co : pencekikan. dan lain-lain. HH substrat : bahan/substrat yang tidak cukup d. contoh keracunan CO b. biasanya karena gangguan sist. jantung. pneumonia. asma bronkiale.

external pressure of the chest / asfiksia traumatik 8. tenggelam/drowning 7.  Tanda asfiksia  Alat penggantung : . Nadi&TD meningkat.alat penggantung dengan permukaan yang luas (co: sarung)  menyebabkan tekanan hanya pada permukaan saja. smothering / pembekapan b. TD turun • apneu : + 1 menit. mata menonjol karena bendungan Roman Forensik Edisi 8 25 . denyut jantung beberapa saat masih ada. gagging / mulut disumbat dg kain lalu diikat ke belakang 6. strangulation by suspension / hanging / penggantungan manual strangulation / throttling (cekikan) strangulation by ligature / jeratan simulated suicidal hanging / pembunuhan yg dibuat seperti gantung diri Suffocation : a. inhalation of suffocation gases Stadium asfiksia versi I :  stadium inspirasi dispneu • sesak napas saat inspirasi • TD dan nadi meningkat • Cemas. 4. 2. lalu opistotonik. pupil dilatasi. cepat & sukar. 5. tinitus. chocking / tersedak c. & meninggal PENGGANTUNGAN  Definisi Penggantungan (hanging) merupakan suatu strangulasi berupa tekanan pada leher akibat adanya jeratan yang menjadi erat oleh berat badan korban. kesadaran menurun sampai hilang. nafas lemah. takut. sehingga yang terjepit hanya vena (vena jugularis) sehingga muka bengkak&kebiruan. 3. tanda-tanda sianosis • konvulsi : + 2 menit. lalu hilang. relaksasi spinkter • final : paralisis nafas lengkap. gelisah. denyut jantung melambat. berat kepala. kongesti vena. vertigo • Sianosis  stadium ekspirasi dispneu • sesak saat ekspirasi  Kadar CO2 tinggi  kejang • pada saat relaksasi  relaksasi spingter ani  keluar kotoran • relaksasi spingter OUI  ada sperma  stadium apneu • kesadaran yang menurun  koma • pupil melebar • reflek cahaya negatif • TD hampir tidak terukur • Nadi tidak teraba  stadium akhir Stadium asfiksia versi II : • dispneu : + 4 menit. nafas berat. klonik dulu baru tonik. kesadaran mulai menghilang.1.

 Fraktur os hyoid  Edema pada plika vokalis  Mati gantung bisa bunuh diri/tidak maka lakukan: . m. karena usaha pembunuh leher. tindakan pembunuhan dilakukan oleh musuh atau lawan dari korban dan tidak bergantung pada usia. tidak ada luka lecet atau memar.- alat penggantung dengan permukaan yang kecil (co: tali jemuran)  menyebab tekanan besar ke dalam. PEMBEDA Roman Forensik Edisi 8 26 . Riwayat korban.Jika tanda tanda diatas tidak ada  kecelakaan PEMBEDA Usia PENGGANTUNGAN PADA PENGGANTUNGAN PADA BUNUH DIRI PEMBUNUHAN Lebih sering terjadi pada usia Tidak mengenal batas usia.  Ada resapan darah di bawah kulit di bawah otot  pada m. mata tidak menonjol  Adanya air liur yang keluar dari mulut  Lidah menonjol  jika gantungan di bawah gld tiroid  Ada air mani atau feses karena ada relaksasi spingter  Ada jejas pada leher tepi meninggi. sternokleidomastoideus. dan letaknya di bagian dan terletak pada bagian atas tengah leher. cara lain. Simpul tali. (pelaku) untuk membuat simpul tali. karena remaja dan dewasa.Simpul dilihat  Simpul hidup  bunuh diri  Simpul mati  dibunuh  Bunuh diri  ikatan membentuk sudut.Periksa TKP  Ada persiapan gantung diri atau tidak  Jika 1 meter  tidak mungkin gantung diri  Bunuh diri  tidak terlalu jauh jaraknya. tidak ada tanda perlawanan. PENGGANTUNGAN PADA PENGGANTUNGAN PADA BUNUH DIRI PEMBUNUHAN Tanda jejas jeratan. pembunuhan. terikat kuat. Bentuknya miring. selain vena. kasus bunuh diri. hyoglosus. Cedera. Tangan. Tidak dalam keadaan terikat. supra/infrahyoid. lingkaran terputus (noncontinous) mendatar. Biasanya korban mempunyai Sebelumnya korban tidak riwayat untuk bunuh diri dengan mempunyai riwayat untuk bunuh dir. dan TKP tenang tidak morat marit . Luka-luka pada tubuh korban Cedera berupa luka-luka pada tubuh yang bisa menyebabkan kematian korban biasanya mengarah pada mendadak tidak ditemukan pada pembunuhan. berupa Berupa lingkaran tidak terputus. arahnya miring ke arah simpul. m. warna merah kecoklatan. arteri juga terjepit  wajah pucat . Biasanya hanya satu simpul yang Biasanya lebih dari satu pada bagian letaknya pada bagian samping depan leher dan simpul tali tersebut leher. simpul tali bisa dikeluarkan dari kepala . Tangan yang dalam keadaan terikat karena sulit untuk gantung diri mengarahkan dugaan pada kasus dalam keadaan tangan terikat. pada palpasi keras seperti kertas perkamen.

tekanan jalan napas  asfiksia  O2 yang masuk paru kurang 2. Ada 3 cara kematian pada penggantungan (hanging). Asfiksia 2. spasme laring Ada 4 penyebab kematian pada penggantungan . Bunuh diri (paling sering) . Vagal reflex (shock) 4. 2. dan penggunaan tali untuk mendapat kepuasan seks. Kecelakaan. Kita dapat temukan biasanya pada hukuman mati. Tidak ditemukan pada kasus gantung diri. Pada kasus bunuh diri. termasuk hukuman mati . Tempat kejadian. dimana pintu. Kerusakan medulla oblongata atau medulla spinalis Rusaknya medulla oblongata atau medulla spinalis pada penggantungan (hanging) disebabkan patahnya tulang leher. vagal reflek  pusat saraf vagus di bagian depan leher. yaitu : 1. suplai O2 ke otak berkurang  penakanan arteri karotis comunis  vena jugularis tertekan  bendungan vena  gagal jantung 3. karena edema laring  karena obstruksi napas  tanda asfiksia nampak 5. tidak sadar atau masih anakanak. Iskemia otak akibat gangguan sirkulasi 3. maka kasusnya pasti merupakan bunuh diri.Kemudahan. Tanda-tanda perlawanan. ditemukan dalam keadaan tertutup dan terkunci dari dalam. 3. Bila sebaiknya pada ruangan ditemukan terkunci dari luar. Pada kasus pembunuhan. Pembunuhan. mayat ditemukan tergantung pada tempat yang sulit dicapai oleh korban dan alat yang digunakan untuk mencapai tempat tersebut tidak ditemukan. mayat biasanya ditemukan tergantung pada tempat yang mudah dicapai oleh korban atau di sekitarnya ditemukan alat yang digunakan untuk mencapai tempat tersebut. Jika kejadian berlangsung di dalam kamar. misalnya bermain dengan tali lasso. jendela. tanda sianosis tidak ada  kemungkinan mati karena reflek vagal penekanan sinus karotikus di belakang gld tiroid  gangguan blok jantung  kardiak arrest 4. Tanda-tanda perlawanan hampir selalu ada kecuali jika korban sedang tidur. tali parasut pada terjun payung. Gambar Kasus penggantungan Sebab kematian pada gantung diri 1. Roman Forensik Edisi 8 27 . yaitu : 1. maka penggantungan adalah kasus pembunuhan.

Roman Forensik Edisi 8 28 . Leher. bilamana melewati lingkar kepala korban dapat menunjukkan korban melakukan bunuh diri. yaitu: 1. 4. 4. Cara menurunkan korban. Memastikan korban apakah masih hidup atau telah mati. Mengamankan bekas serabut tali. Bahan yang keras dan berdiameter kecil meninggalkan tanda alur jerat yang semakin jelas. Distribusi lebam mayat harus kita perhatikan secara seksama. 2. kawat. Dubur. yaitu : 1.Ada 4 hal yang bukan petunjuk bagi kita tentang cara kematian pada kasus penggantungan (hanging). Cara kita menurunkan korban dengan memotong tali gantungan diluar simpul tali. kita membuat 2 ikatan lalu kita potong secara miring diantara keduanya. Serabut tali penggantung yang arahnya menuju korban dapat memberikan petunjuk bagi kita bahwa korban melakukan bunuh diri. 4. 6. Bahan dan ukuran diameter penggantung penting juga kita perhatikan. 3. Memperhatikan letak korban di tempat kejadian. 8. urin. Mencari bukti yang menunjukkan cara kematian. Ada 8 hal yang perlu kita lakukan pada pemeriksaan tempat kejadian. Arah serabut tali penggantung. misalnya bangku dan sebagainya. 3. yaitu : 1. 2. Apabila simpul tali tidak dapat melewati lingkar kepala korban dapat menandakan korban dibunuh lebih dahulu sebelum digantung. apakah sesuai dengan posisi mayat ataukah tidak. Jenis simpul tali gantungan penting kita perhatikan karena dapat kita jadikan sebagai patokan apakah korban melakukan bunuh diri ataukah korban pembunuhan. Simpul tali. Hal ini penting kita lakukan untuk pemeriksaan kasus ini lebih lanjut. arah serabut tali yang menjauhi korban menjadi bukti bahwa korban dibunuh lebih dahulu sebelum digantung. atau feses. Mata melotot. 5. Keluar mani. darah. Distribusi lebam mayat. Ada tidaknya alat penumpu korban. sprei yang disambung. Sebaliknya. Memperhatikan bahan penggantung. 7. baik simpul hidup maupun simpul mati. Tindakan ini untuk mencegah terurainya serabut tali gantungan. Anggota gerak (lengan dan tungkai). Bahan penggantung yang dapat digunakan pada kasus penggantungan (hanging) antara lain tali. dan lain-lain. 3. Simpul hidup harus kita longgarkan secara maksimal untuk membuktikannya. Mengukur jarak antara ujung kaki korban dengan lantai. Ada 5 bagian tubuh korban yang kita perhatikan saat melakukan pemeriksaan luar autopsi. Jenis simpul (simpul hidup atau simpul mati). Ada beberapa hal yang dapat kita jumpai pada pemeriksaan luar dan dalam autopsi. Setelah itu. 2. Lidah terjulur. 2. yaitu : 1. Kepala. Memperhatikan jenis simpul tali gantungan. Ada 3 bukti yang bisa menunjukkan kepada kita tentang cara kematian korban. 3. kita mengamankan bekas serabut tali gantungan tadi baik serabut tali yang mengikat leher korban maupun serabut tali yang diikatkan pada tempat gantungan. ikat pinggang. Sebelum memotong. selendang.

bisa juga tidak terjulur. yaitu : 1. 2. Lidah korban penggantungan (hanging) bisa terjulur. Alur jeratan yang simetris / tipikal pada leher korban penggantungan (hanging) menunjukkan letak simpul jeratan berada dibelakang leher korban. Gambar tardieu spot Alur jeratan pada leher korban penggantungan (hanging) berbentuk lingkaran (V shape). Lokasi luka. pucat pada muka korban juga disebabkan terjepitnya arteri. 3. Mata korban penggantungan (hanging) melotot akibat terjadinya bendungan pada kepala korban. Konjungtiva. 3. Muka korban penggantungan (hanging) akan mengalami sianosis dan terlihat pucat karena vena terjepit. Tepi alur jerat coklat kemerahan. 4. Roman Forensik Edisi 8 29 . Alur jerat berupa luka lecet atau luka memar dengan ciri-ciri sebagai berikut : 1. Jenis simpul jeratan (simpul hidup dan simpul mati). Lidah tidak terjulur apabila letaknya berada diatas kartilago tiroidea.5. Lidah. Lidah terjulur apabila letak jeratan gantungan tepat berada pada kartilago tiroidea. Ada 4 bagian kepala korban yang kita perhatikan saat melakukan pemeriksaan luar autopsi. Lokasi simpul jeratan (belakang dan samping leher). Alur jeratan yang asimetris / atipikal menunjukkan letak simpul disamping leher. Bintik-bintik perdarahan pada konjungtiva korban penggantungan (hanging) terjadi akibat pecahnya vena dan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah karena asfiksia. 2. Jenis luka. 3. Mata. Deskripsi leher korban penggantungan (hanging) yang penting kita berikan antara lain : 1. 2. Alat kelamin. Hal ini disebabkan oleh terhambatnya vena-vena kepala tetapi arteri kepala tidak terhambat. Selain terjepitnya vena. Kulit sekitar alur jerat terdapat bendungan. Alur jeratan pucat. Muka. 4.

fraktur (os hyoid. Asfiksia 2. Iskemia Roman Forensik Edisi 8 30 . urin. Dubur korban penggantungan (hanging) dapat mengeluarkan feses. 3. yaitu : 1. Darah. dan trakea). Penting juga kita ketahui ada tidaknya luka lecet pada anggota gerak tersebut. Kepala. peritoneum. PENJERATAN Jerat (strangulation by ligature) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban akibat suatu jeratan dan menjadi erat karena kekuatan lain bukan karena berat badan korban. Kepala korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan tanda-tanda bendungan pembuluh darah otak. Alat kelamin korban dapat mengeluarkan mani. kerusakan medulla spinalis dan medulla oblongata. dan robekan kecil pada intima pembuluh darah leher (vena jugularis). Lebam mayat dapat kita temukan pada genitalia eksterna korban. samping dan belakang leher. Leher korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan adanya perdarahan dalam otot atau jaringan. Penting juga kita mendeskripsikan mengenai warna. Pengeluaran urin pada korban penggantungan disebabkan kontraksi otot polos pada stadium konvulsi atau puncak asfiksia. kartilago tiroidea. Jenis luka korban penggantungan (hanging) terdiri atas luka lecet. Luka yang berada di depan leher kita ukur dari dagu atau manubrium sterni korban. perabaan dan keadaan sekitar luka. yaitu : 1. 2. dan darah (sisa haid). Darah dalam jantung korban penggantungan (hanging) warnanya lebih gelap dan konsistensinya lebih cair. 4. Luka yang berada di samping leher kita ukur dari garis batas rambut korban. lebar.Lokasi luka pada leher korban penggantungan (hanging) dapat berada di depan. Anggota gerak korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan adanya lebam mayat pada ujung bawah lengan dan tungkai. Kedua kerusakan tersebut biasanya terjadi pada hukuman gantung (judicial hanging). pada gantung  kekeatan karen berat badan jejas penjeratan bersifat horisontal bersilangan di atas dan dibawah tanda asfiksia kausa mati menyerupai gantung diri pemeriksaan lokal menyerupai gantung diri hanya bedanya pada penjeratan. dan lain-lain) dan bendungan / kongesti organ. • • • • • kekuatan jerat pada ujung tali jerat. jejeas bersifat horisontal Ada 3 penyebab kematian pada jerat . perikard. Dada dan perut. Dada dan perut korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan adanya perdarahan (pleura. luka tekan dan luka memar. Ada 4 bagian tubuh korban penggantungan (hanging) yang kita perhatikan saat melakukan pemeriksaan dalam autopsi. Luka yang berada di belakang leher kita ukur dari daun telinga atau bahu korban. kartilago krikoidea. Leher.

Bahan penjerat misalnya tali. Pemeriksaan autopsi pada kasus jeratan (strangulation by ligature) mirip kasus penggantungan (hanging) kecuali pada : 1. serbet.3. Vagal reflex (shock) Ada 3 cara kematian pada kasus jeratan . yaitu : 1. • pakai tangan 1 atau 2 • bersifat pembunuhan • status lokalis o luka memer bulat panjang o luka lecet bentuk bulan sabit  jika pakai tangan kiri  jempoknya di kiri • diagnosis menyerupai gantung diri • sebab kematian menyerupai gantung diri Ada 3 penyebab kematian pada pencekikan . Bunuh diri pada kasus jeratan (strangulation by ligature) mereka lakukan dengan cara melilitkan tali secara berulang dimana satu ujung difiksasi dan ujung lainnya ditarik. dan lain-lain. Distribusi lebam mayat yang berbeda. Vagal reflex menjadi penyebab kematian pada orang yang bersenda gurau. 2. 4. orang yang bersenda gurau dan pemabuk. Antara jeratan dan leher mereka masukkan tongkat lalu mereka memutar tongkat tersebut. Lokasi jeratan lebih rendah. 3. Pada kasus pembunuhan biasanya kita tidak menemukan alat yang digunakan untuk menjerat. psikopat yang saling menjerat. Jenis simpul penjerat. Kecelakaan. Pembunuhan (paling sering). hal yang penting kita perhatikan pada kasus jeratan (strangulation by ligature). dan hukuman mati (zaman dahulu). Asfiksia Roman Forensik Edisi 8 31 . Pemeriksaan tempat kejadian pada kasus jeratan (strangulation by ligature) kita lakukan secara rutin sebagaimana pada kasus yang lain. Lokasi jeratan lebih rendah daripada kasus penggantungan (hanging). PENCEKIKAN (MANUAL STRANGULASI) Pencekikan (manual strangulasi) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban yang dilakukan dengan menggunakan tangan atau lengan bawah. Kecelakaan pada kasus jeratan (strangulation by ligature) dapat kita temukan pada bayi yang terjerat oleh tali pakaian. 5. yaitu : 1. kaus kaki. 3. serbet. Pembunuhan pada kasus jeratan (strangulation by ligature) dapat kita jumpai pada kejadian infanticide dengan menggunakan tali pusat. Ada 5 lain : 1. dasi. antara Arah jerat mendatar / horisontal. Bunuh diri. 2. 2. Alur jeratan mendatar / horisontal. 3. Kita hendaknya memperhatikan jeratan pada leher korban dan cara melepaskan jeratan dari leher korban.

2. Iskemia 3. Vagal reflex Ada 2 cara kematian pada kasus pencekikan yaitu : 1. Pembunuhan (hampir selalu). 2. Kecelakaan, biasanya mati karena vagal reflex. Ada 3 cara melakukan pencekikan (manual strangulasi), yaitu : 1. Menggunakan 1 tangan dan pelaku berdiri di depan korban. 2. Menggunakan 2 tangan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban. 3. Menggunakan 1 lengan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban. Apabila pelaku berdiri di belakang korban dan menarik korban ke arah pelaku maka ini disebut mugging. Ada 3 hal yang penting kita perhatikan pada pemeriksaan luar dari autopsi kasus pencekikan (manual strangulasi), antara lain : 1. Tanda asfiksia. 2. Tanda kekerasan pada leher (penting). 3. Tanda kekerasan pada tempat lain. Tanda-tanda asfiksia pada pemeriksaan luar autopsi yang dapat kita temukan antara lain adanya sianotik, petekie, atau kongesti daerah kepala, leher atau otak. Lebam mayat akan terlihat gelap. Ada 2 tanda kekerasan pada leher yang penting kita cari, yaitu : 1. Bekas kuku. 2. Bantalan jari.

Gambar. Pencekikan dengan bekas kuku dan goresan pada sisi leher Bekas kuku dapat kita kenali dari adanya crescent mark, yaitu luka lecet yang berbentuk semilunar/bulan sabit. Kadang-kadang kita dapat menemukan sidik jari pelaku. Perhatikan pula tangan yang digunakan pelaku, apakah tangan kanan (right handed) ataukah tangan kiri (left handed). Arah pencekikan dan jumlah bekas kuku (susunan bekas kuku) juga tak luput Roman Forensik Edisi 8

32

dari perhatian kita. Tanda kekerasan pada tempat lain dapat kita temukan di bibir, lidah, hidung, dan lain-lain. Tanda ini dapat menjadi petunjuk bagi kita bahwa korban melakukan perlawanan. Ada 4 hal yang penting kita cari pada pemeriksaan dalam autopsi bagian leher korban pada kasus pencekikan (manual strangulasi), yaitu : 1. Perdarahan atau resapan darah. 2. Fraktur. 3. Memar atau robekan membran hipotiroidea. 4. Luksasi artikulasio krikotiroidea dan robekan ligamentum pada mugging. Perdarahan atau resapan darah dapat kita cari pada otot, kelenjar tiroid, kelenjar ludah, dan mukosa & submukosa pharing atau laring. Fraktur yang paling sering kita temukan pada os hyoid. Fraktur lain pada kartilago tiroidea, kartilago krikoidea, dan trakea. PEMBEKAPAN Pembekapan (smothering) adalah suatu suffocation dimana lubang luar jalan napas yaitu hidung dan mulut tertutup secara mekanis oleh benda padat atau partikel-partikel kecil. • penutupan pada mulut dan hidung • tanda asfiksia jelas • rekonstruksi tangan yang dipakai  pakai tangan kiri  jempol di kiri pipi korban Ada 3 penyebab kematian pada pembekapan (smothering), yaitu : 1. Asfiksia 2. Edema paru 3. Hiperaerasi Edema paru dan hiperaerasi terjadi pada kematian yang lambat dari pembekapan (smothering). Ada 3 cara kematian pada kasus pembekapan (smothering), yaitu : 1. Kecelakaan (paling sering) 2. Pembunuhan 3. Bunuh diri Ada 3 cara kecelakaan pada kematian kasus pembekapan (smothering), yaitu : 1. Tertimbun tanah longsor atau salju. 2. Alkoholisme. 3. Bayi tertutup selimut atau mammae ibu. Ada 3 cara pembunuhan pada kasus pembekapan (smothering), yaitu: 1. Hidung dan mulut diplester. 2. Bantal ditekan ke wajah. 3. Serbet atau dasi dimasukkan ke dalam mulut. Ada 3 cara bunuh diri pada kasus pembekapan (smothering), yaitu : 1. Menggunakan plester atau kantong plastik. 2. Bantal yang diikatkan ke kepala. 3. Menggunakan dasi atau serbet. Ada 3 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan autopsi kasus pembekapan (smothering), yaitu : Roman Forensik Edisi 8

33

1. Mencari penyebab kematian. 2. Menemukan tanda-tanda asfiksia. 3. Menemukan edema paru, hiperaerasi dan sianosis pada kematian yang lambat. Ada 3 hal penting yang kita cari untuk menemukan penyebab kematian pada kasus pembekapan (smothering), yaitu : 1. Jika kita menemukan bantal, cari apakah ada tanda-tanda kekerasan. 2. Cari ada tidaknya trauma tumpul di sekitar hidung dan mulut. 3. Mencari ada tidaknya kain, handuk, dasi, serbet, atau pasir dalam rongga mulut. Burking merupakan kombinasi antara pembekapan (smothering) dengan external pressure on the chest / traumatic asphyxia. Pelaku melakukan burking dengan cara terlebih dahulu melumpuhkan korban lalu menelentangkan korban dan pelaku duduk diatas dada korban (traumatic asphyxia). Satu tangan pelaku menutup hidung atau mulut korban (smothering) sedangkan tangan yang lain menekan rahang ke atas. TERSEDAK (CHOCKING) Tersedak (chocking) adalah suatu suffocation dimana ada benda padat yang masuk dan menyumbat lumen jalan udara. • oleh karena benda asing • tanda asfiksia jelas • awalnya batuk keras  asfiksia  mati Ada 2 cara kematian pada kasus tersedak (chocking), yaitu : 1. Kecelakaan (paling sering) 2. Pembunuhan (kasus infanticide) Ada 3 macam kecelakaan yang dapat menimbulkan kematian pada kasus tersedak (chocking), yaitu : 1. Gangguan refleks batuk pada alkoholisme. 2. Pada bayi atau anak kecil yang gemar memasukkan benda asing ke dalam mulutnya. 3. Tonsilektomi, aspirasi, dan kain kasa yang tertinggal pada anestesi eter. Ada 4 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan autopsi kasus tersedak (chocking), yaitu : 1. Mencari bahan penyebab dalam saluran pernapasan. Juga kadang-kadang ada tanda kekerasan 1. di mulut korban. 2. Menemukan tanda asfiksia. 3. Mencari tanda-tanda edema paru, hiperaerasi dan atelektasis pada kematian lambat. 4. Tersedak dapat terjadi sebagai komplikasi dari bronkopneumonia dan abses. ASFIKSIA TRAUMATIK Asfiksia traumatik (external pressure of the chest) adalah terhalangnya udara untuk masuk dan keluar dari paru-paru akibat terhentinya gerak napas yang disebabkan adanya suatu tekanan dari luar pada dada korban. • penekanan rongga dada, rongga perut, diafragma • penekanan dari luar • co: desak desakan  O2 kurang  asfiksia Ada 2 cara kematian pada kasus tersedak (chocking), yaitu : 1. Kecelakaan (paling sering) Roman Forensik Edisi 8

34

4. Submerse drowning 2. Ada 4 cara kematian pada kasus tenggelam (drowning). Ada 2 jenis mati tenggelam berdasarkan penyebabnya. atau antara dinding dengan kendaraan yang mundur. yaitu : 1. yaitu : 1. TENGGELAM Tenggelam (drowning) adalah suatu suffocation dimana jalan napas terhalang oleh air / cairan sehingga terhisap masuk ke jalan napas sampai alveoli paru-paru. 3. 2. Mencari tanda kekerasan di dada. Kecelakaan (paling sering). Pembunuhan. Kapal tenggelam. Immerse drowning Submerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi sebagian tubuh mayat masuk ke dalam air. pasir. yaitu : 1. Dry drowning 2. 2. 2. Fibrilasi ventrikel pada kasus tenggelam dalam air tawar. Ada 2 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan autopsi korban kasus asfiksia traumatik (external pressure of the chest). 2. Wet drowning Dry drowning adalah mati tenggelam dengan inhalasi sedikit air sedangkan wet drowning adalah mati tenggelam dengan inhalasi banyak air. Edema paru pada kasus tenggelam dalam air asin (laut). Roman Forensik Edisi 8 35 . seperti bagian kepala mayat. yaitu : 1. Asfiksia. Spasme laring (menimbulkan asfiksia). Bunuh diri. Immerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi seluruh tubuh mayat masuk ke dalam air. Ada 2 penyebab kematian pada kasus dry drowning. yaitu : 1. Menemukan tanda asfiksia.2. Ada 2 kejadian kecelakaan pada kasus mati tenggelam (drowning) yang dapat kita jumpai. antara 2 kendaraan. Terjepit antara lantai dengan elevator. yaitu : 1. 2. Serangan asma datang saat korban sedang berenang. Undeterminated. 3. yaitu : 1. 3. atau batubara. Berdesakan di pintu sempit akibat panik. Vagal reflex / cardiac arrest / kolaps sirkulasi. Ada 2 jenis mati tenggelam (drowning) berdasarkan posisi mayat. Ada 3 penyebab kematian pada kasus wet drowning. 2. Pembunuhan (misalnya burking) Ada 3 macam kecelakaan yang dapat menimbulkan kematian pada korban kasus asfiksia traumatik (external pressure of the chest). Tertimbun runtuhan benda atau bangunan. yaitu : 1.

2. pasir. pucat dan pakaian basah. Pada pemeriksaan luar autopsi. Bila mayat kita miringkan. Kita dapat temukan suicide note. 4. Ada 4 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian bunuh diri pada kasus mati tenggelam (drowning). Keadaan ini disebut floaten. tubuh mayat akan mengapung di permukaan air. yaitu : 1. Paru-paru mayat membesar dan mengalami kongesti.Penyebab mati tenggelam (drowning) yang termasuk undeterminated yaitu sulit kita ketahui cara kematian korban karena mayatnya sudah membusuk dalam air. 5. Kulit tubuh mayat terasa basah. 5. 7. atau rumput air. yaitu : 1. Terdapat buih putih halus pada hidung atau mulut mayat (scheumfilz froth) yang bersifat melekat. 4. 2. paha dan bahu mayat. Kadang-kadang dapat kita temukan tanda-tanda kekerasan sebelum korban ditenggelamkan. Di daerah tropis. Pembusukan tersebut ditandai oleh terkelupasnya kulit ari. 3. Saluran napas mayat berisi buih. Kadang-kadang tubuh korban diikatkan bahan pemberat. Bila terdapat cadaveric spasme maka kotoran air / bahan setempat berada dalam genggaman tangan mayat. Perbedaan Tempat Air laut Paru paru besar dan berat Basah Bentuk besar kadang overlapping Ungu biru dan permukaan licin Krepitasi tidak ada Roman Forensik Edisi 8 Air Tawar Paru-paru besar dan ringan Relatif ringan Bentuk biasa Merah pucat dan emfisematous Krepitasi ada 36 . Floaten biasanya terjadi pada hari ke-3 sampai hari ke-6. Kadang-kadang berisi lumpur. 3. tubuh mayat pada kasus mati tenggelam (drowning) mulai membusuk pada hari ke-2 sedangkan di daerah dingin. cairan akan keluar dari mulut / hidung. Kadang-kadang terdapat cutis anserine / goose skin pada lengan. 2. Lambung mayat berisi banyak cairan. tidak ada patognomonis untuk mati tenggelam. Ada 2 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian pembunuhan pada kasus mati tenggelam (drowning). Benda asing dalam saluran napas masuk sampai ke alveoli. yaitu : 1. Jika pembusukannya merata. yaitu : 1. Ada 7 tanda penting yang yang memperkuat diagnosis mati tenggelam (drowning). Biasanya korban meninggalkan perlengkapannya. Ada 5 tanda penting yang yang memperkuat diagnosis mati tenggelam (drowning) pada pemeriksaan dalam autopsi. Organ dalam mayat mengalami kongesti. 6. membusuk setelah 1 minggu. Kulit telapak tangan / telapak kaki mayat pucat (bleached) dan keriput (washer woman's hands/feet). 2. dingin. 4. Biasanya tangan korban diikat yang tidak mungkin dilakukan oleh korban. 3. Lebam mayat biasanya sianotik kecuali mati tenggelam di air dingin berwarna merah muda. Kedua tangan / kaki korban diikat yang mungkin dilakukan sendiri oleh korban.

tanaman air dan telur cacing. Percobaan Getah Paru (Lonsef Proef) Kegunaan melakukan percobaan paru (lonsef proef) yaitu mencari benda asing (pasir. Ada 3 kemungkinan dari hasil percobaan getah paru (lonsef proef). Syarat melakukannya adalah paru-paru mayat harus segar / belum membusuk. Perdarahan pada liang telinga tengah mayat. Ada diatome pada paru-paru atau sumsum tulang mayat. tumbuhan. Adanya cadaveric spasme dan tes getah paru (lonset proef) positif menunjukkan bahwa korban masih hidup saat berada dalam air. hipernatremia 5. persegi dan lebih besar dari eritrosit. Ada bercak Paltauf di permukaan paru-paru mayat. hipotonik 3. Benda air (rumput. 2. Jika hasilnya positif dan ada sebab kematian lain maka ada 2 kemungkinan penyebab kematian korban. hipoklorida Resusitasi lebih mudah Resusitasi aktif Tranfusi dengan plasma Tranfusi dengan PRC Ada 7 tanda intravitalitas mati tenggelam (drowning). dapat kita temukan tanda-tanda adanya kekerasan berupa luka lecet pada belakang kepala. Cara melakukan percobaan getah paru (lonsef proef) yaitu permukaan paru-paru dikerok (2-3 kali) dengan menggunakan pisau bersih lalu dicuci dan iris permukaan paruparu. Hipertonik 2.0600 1. 3. siku. 5. mungkin ada Tardieu's spot di pleura mayat. Jika hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita interpretasikan bahwa korban mati karena tenggelam. hiponatremia 6. lutut. Tanda asfiksia tidak jelas. Pemeriksaan kimia darah (gettler test). jari-jari tangan. 3. 2. 4. Percobaan getah paru (lonset proef). yaitu : 1. Hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain.0595 -1. atau ujung kaki mayat. 40 ml. 3. 6. yaitu : 1. Cadaveric spasme. yaitu : 1. yaitu : Roman Forensik Edisi 8 37 . yaitu korban mati karena tenggelam atau korban mati karena sebab lain.kgBB Darah: Darah: 1. hiperklorida 6. Evaluasi sediaan yaitu pasir berbentuk kristal.055 2. Ada 4 macam pemeriksaan khusus pada kasus mati tenggelam (drowning). Hasilnya negatif. 7. Pada kasus mati tenggelam (drowning). hemokonsentrasi dan edema paru 3. hemodilusi/hemolisis 4. Syarat sediaan harus sedikit mengandung eritrosit. Jika hasilnya negatif maka ada 3 kemungkinan penyebab kematian korban. Hasilnya positif dan ada sebab kematian lain. 20 ml/kgBB Mati dalam 5 menit. hiperkalemia 5. 4. dan sebagainya) dapat kita temukan dalam saluran pencernaan dan saluran pernapasan mayat. 2.Busa sedikit dan banyak cairan Busa banyak Dikeluarkan dari torak akan mendatad dan Dikeluarkan dari toraks tapi kempes ditekan akan menjadi cekung Mati dalam 5-10 menit. lumpur. Pemeriksaan diatome (destruction test). BJ 1. Berat jenis darah pada jantung kanan berbeda dengan jantung kiri. lumpur. Kemudian teteskan diatas objek gelas. telur cacing) dalam getah paru-paru mayat. Lumpur amorph lebih besar daripada pasir. BJ 1. Penentuan berat jenis (BD) plasma. hipokalemia 4.

Jika hasilnya negatif dan ada sebab kematian lain maka kemungkinan korban telah mati sebelum korban dimasukkan ke dalam air. Pemeriksaan Diatome (Destruction Test) Kegunaan melakukan pemeriksaan diatome adalah mencari ada tidaknya diatome dalam paru-paru mayat. Jika hasilnya negatif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita simpulkan bahwa tidak ada hal hal yang menyangkal bahwa korban mati karena tenggelam. Interpretasinya adalah korban yang mati tenggelam dalam air tawar. mengandung Cl lebih rendah pada jantung kiri daripada jantung kanan. Pemeriksaan Histopatologi Pada pemeriksaan histopatologi dapat kita temukan adanya bintik perdarahan di sekitar bronkioli yang disebut Partoff spot. yang diperiksa bagian kanan perifer paru-paru. 2. Darah telinga tengah pecah o buih halus keluar dari mulut o lidah menonjol. Penentuan Berat Jenis (BD) Plasma Penentuan berat jenis (BD) plasma bertujuan untuk mengetahui adanya hemodilusi pada air tawar atau adanya hemokonsentrasi pada air laut dengan menggunakan CuSO4. dan jenis diatome harus sama dengan diatome di perairan tersebut.059 (1.0595-1. Endapan kemudian diambil menggunakan pipet lalu teteskan diatas objek gelas. Sp. Korban yang mati tenggelam dalam air laut. Positif palsu pada pencari pasir dan pada orang dengan batuk kronis. Diatome merupakan ganggang bersel satu dengan dinding dari silikat.1.5 jam post mortem Roman Forensik Edisi 8 38 . Korban mati karena vagal reflex / spasme larynx.055. Catatan dr. Teteskan HNO3 sampai warna putih lalu sentrifus hingga terdapat endapan hitam. 3.F • di air tawar atau air laut • ada lumpur  masuk air  ke dalam alveoli • tanda-tanda tenggelam o asfiksia pada umumnya o muka bengkak. Cara melakukan pemeriksaan diatome yaitu ambil jaringan paru-paru bagian perifer (100 gr) lalu masukkan ke dalam gelas ukur dan tambahkan H2SO4. air tawar 1. Korban tenggelam dalam air jernih. Interpretasi pemeriksaan diatome yaitu bentuk atau besarnya bervariasi dengan dinding sel bersel 2 dan ada struktur bergaris di tengah sel. Kadar Na meningkat dan kadar K sedikit meningkat dalam plasma. Korban mati dahulu sebelum tenggelam. Biarkan selama 12 jam kemudian panaskan sampai hancur membubur & berwarna hitam. Interpretasinya ditemukan darah pada larutan CuSO4 yang telah diketahui berat jenisnya. hitam. air laut 1. Pemeriksaan Kimia Darah (Gettler Test) Pemeriksaan kimia darah (gettler test) bertujuan untuk memeriksa kadar NaCl dan kalium. tidak akurat karena dapat positif palsu akibat hematogen dari penyerapan abnnormal gastrointestinal.065. Untuk hepar atau lien. Kadar Na menurun dan kadar K meningkat dalam plasma. Syaratnya paru-paru harus masih dalam keadaan segar.0600). dan ada bekas gigitan pada lidah o bulu roma berdiri o kaku mayat muncul 0. mata menonjol o perdarahan pada telinga  tekanan intra telinga meningkat  pemb. Normal 1. mengandung Cl lebih tinggi pada jantung kiri daripada jantung kanan. Mursad Abdi.

CO2 3. CO 2. buih halus di laring. Gas CO2 banyak pada sumur tua dan gudang bawah tanah. H2S Gas CO banyak pada kebakaran hebat. yaitu menghisap gas: 1. Roman Forensik Edisi 8 39 .• cadaferik spasme pakaian basah. Gas H2S pada tempat penyamakan kulit. hiperkalemia  aritmia  kematian o pembusukan di leher  air masuk ke saluran napas (bengkak) o ada air mani autopsi ke arah leher o ada benda di saluran napas. • kekurangan O2 di suatu tempat/daerah sekitarnya (daerah tambang) • tanda asfiksia • tanda intoksikasi CO2 • tanda trauma seperti kejatuhan batu Ada 3 cara kematian pada korban kasus inhalation of suffocating gasses. Paru ditekan tidak kembali (emfisema aquatum)  tepi tumpul  berat paru >> normal  tes air  sedot dari alveoli  bandingkan dengan air dari tempat tenggelam  tes diatom o sebab kematian  asfiksia  air dan enda asing masuk ke lumen saluran napas  refleks vagal  edema laring  air  Hemodilusi/hemokonsentrasi  eritrosit pecah  K+ keluar  hiperkalemia  fibrilasi ventrikel o o o o SUFOKASI Inhalation of suffocating gasses adalah suatu keadaan dimana korban menghisap gas tertentu dalam jumlah berlebihan sehingga kebutuhan O2 tidak terpenuhi. buih. bronkus dan sisasisa lumpur o orang mati di air tawar  NaCl lebih tinggi di ventrikel kiri daripada di ventrikel kakan o autopsi  pada gaster  lumpur dari TKP o pada paru  air masuk  ada krepitasi (ada air dan udara di alveoli). kuku keriput lebam mayat lebih gelap  hemokonsentrasi karena air asin jika tenggelam di air tawar  hemodilusi  eritrosit pecah. trakea.

luka terkontaminasi dan luka kotor. zat kimia. luka bacok. sengatan listrik . Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul.BAB VII TRAUMATOLOGI Definisi : Traumatologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tentang trauma atau perlukaan. luka insisi. dapat disebabkan oleh cedera atau operasi. luka tembak dan luka gigitan. Luka di klasifikasikan dapat dibagi berdasarkan : 1. 3. luka bersih yang terkontaminasi. Waktu terjadinya terbagi atas luka akut (sebelum 8 jam) dan luka kronis Deskripsi luka : Roman Forensik Edisi 8 40 . Perdarahan dan atau skar 3. luka robek. ledakan. Ada tiga hal yang ciri khas/ hasil dari trauma yaitu : 1. luka memar. 2. Jenis penetrasi yang terbagi atas luka tusuk. Hambatan dalam fungsi organ Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. yang kelainannya terjadi pada tubuh karena adanya diskontinuitas jaringan akibat kekerasan yang menimbulkan jejas. Tingkat kebersihan dari kontaminasi bakteri terbagi atas luka bersih. berupa potongan atau kerusakan jaringan. atau gigitan hewan atau juga gangguan pada ketahanan jaringan tubuh yang disebabkan oleh kekuatan mekanik eksternal. perubahan suhu. cedera serta hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa). Adanya luka 2.

Cardiac output sebanding dengan stroke volume dikalikan heart rate. dan gangguan pada semua sistem organ. Saat inspirasi. Garis yang melalui  tulang dada dan tulang belakang dipakai sebagai ordinat. ditentukan :  Ditentukan panjang luka  Jumlah luka  Sifat luka  Ada atau tidaknya benda asing pada luka  Luka terjadi saat masih hidup atau korban sudah mati  Menyebabkan kematian atau tidak  Cara terjadinya luka : bunuh diri. Hormon anti-diuretik dan aldosteron dieksresikan untuk menjaga cairan vaskular. Menurunnya urin output. kecelakaan dan pembunuhan 3. Tekanan nadi normal adalah 35-40 mmHg.1. takikardia. 2. pembuluh darah dan organ termasuk fraktur. Roman Forensik Edisi 8 41 . tekanan intrathoracik negatif. Klasifikasi trauma (berdasarkan sifat dan penyebab) : 1. akustik. Penurunan angka filtrasi glomerulus menyebabkan respon ini. laserasi. Aktivasi sistem saraf simpatik menyebabkan peningkatan tekanan arteri dan vena. Mekanisme kompensasi tersebut adalah : 1. listrik dan petir. Jenis kekerasan yang menjadi penyebab luka  Luka akibat kekerasan mekanis: • Luka akibat kekerasan oleh benda tumpul • Luka akibat kekerasan oleh benda tajam • Luka akibat kekerasan oleh tembakan senjata api Luka akibat kekerasan fisis: • Luka akibat kekerasan oleh suhu tinggi atau rendah • Luka akibat kekerasan auditorik • Luka akibat kekerasan oleh arus listrik dan petir • Luka akibat kekerasan radiasi  Luka akibat kekerasan kimiawi: • Luka akibat kekerasan oleh asam kuat • Luka akibat kekerasan oleh basa kuat • Intoksikasi 2. Trauma Fisik (Suhu. Berkurangnya tekanan nadi menunjukkan turunnya cardiac output (sistolik) dan peningkatan vasokonstriksi (diastolik). Jika stroke volume menurun. kekerasan oleh benda tumpul. Aksi pompa thorak ini membawa darah ke dada dan pre-loads ventrikel kanan untuk menjaga cardiac output. sehingga tubuh melakukan kompensasi akibat ada trauma bila kompensasi tubuh tersebut berlanjut tanpa dilakukan penanganan akan mengakibatkan kematian seseorang. 4. capillary shunting. tembakan senjata) 2. Trauma Kimia (Asam basa atau kuat) NB : Ada yang memisahkan trauma senjata api tersendiri (balistik) terpisah dari trauma mekanik Patofisiologi Trauma Transmisi energi pada trauma dapat menyebabkan kerusakan tulang. Peningkatan heart rate. bronkhodilatasi. dan diaforesis. 3. 5. tekanan udara) 3. radiasi. Trauma Mekanik (Kekerasan oleh benda tajam. Peningkatan frekuensi napas. heart rate meningkat. Lokalisasi (Letak luka terhadap garis ordinat atau aksis pada tubuh. takipneu. kontusi.) Ukuran.

Luka Lecet Geser 3. kerusakan jaringan sekitar. Luka Robek 4. emboli lemak dan sumsum tulang Fraktur tulang kepala : Terjadi akibat trauma langsung terhadap skull. Kepala diam dibentur oleh benda yang bergerak Roman Forensik Edisi 8 42 . 7. hematom) 2. Benturan pada kepala dapat terjadi pada 3 jenis keadaan : 1. Trauma Mekanik Trauma tumpul : Benda tumpul : benda yang permukaannya tidak mampu utk mengiris Dua variasi utama dalam trauma tumpul adalah : .6. kulit pucat dan mulut kering.Benda tumpul yang bergerak pada korban yang diam . Perubahan status mental dan kesadaran disebabkan oleh perfusi ke otak yang menurun atau mungkin secara langsung disebabkan oleh trauma kepala. Patah tulang Luka memar  diskontinuitas pembuluh darah & jaringan dibawah kulit tanpa rusaknya jaringan kulit Teraba menonjol  pengumpulan darah di jaringan sekitar pembuluh darah rusak Bentuk luka  Menyerupai benda yang mengenai Luka Lecet  tjd pd epidermis – gesekan dgn benda yang permukaannya kasar Luka Lecet Tekan  arah kekerasan tegak lurus pd permukaan tubuh. epidermis yang tertekan  melesak kedalam Luka Lecet Geser  arah kekerasan miring/membentuk sudut  epidermis terdorong & terkumpul pd tmpt akhir gerak benda tersebut Luka Lecet Regang  diskontinuitas epidermis akibat peregangan yang letaknya sesuai dengan garis kulit Luka robek  terjadi pada epidermis/jaringan dibawahnya akibat kekerasan yang mengenainya melebihi elastisitas kulit/jaringan Syarat : kekuatan peregangan > elastisitas kulit Patah tulang o Bentuk : bergantung pada sifat benda penyebab o Perubahan berdasarkan waktu o Dampak patofisiologi : perdarahan. Memar (kontusio. Capillary shunting dan pengisian trans kapiler dapat menyebabkan dingin. Adanya fraktur tidak selalu disertai dgn adanya cedera otak namun manunjukkan adanya benturan yg cukup kuat dan sebaikknya dievaluasi untuk tau ada tidaknya cedera tambahan. Luka Lecet . Capillary refill mungkin melambat.Korban yang bergerak pada benda tumpul yang diam Sifat luka akibat persentuhan dengan permukaan tumpul : 1. disfungsi.Luka Lecet Tekan .

radial . Fraktur compound : Pecahnya tulang disertai dengan rusak atau hilangnya kulit Tergantung kecepatan dan gaya . Jika fraktur melibatkan kanalis optikus. yaitu : .gaya langsung ke basis cranii . Kepala yang tidak dapat bergerak karena bersandar pada benda yang lain dibentur oleh benda yang bergerak (kepala tergencet) Dalam mekanisme cedera kepala dapat terjadi peristiwa coup yang disebabkan oleh hantaman pada otak bagian dalam pada sisi yang terkena dan contre coup terjadi pada sisi yang berlawanan dengan arah benturan. Luas dan tipe fraktur ditentukan oleh beberapa hal. . Ring fraktur : gaya dari atas ke bawah Perdarahan intrakranial : Dapat berbentuk lesi fokal (Perdarahan epidural.Arah Benturan . Optikus sehingga tjd gangguan visus. contoh : luka tembak Jika kepala bergerak ke permukaan rata&diam : patah linear Fraktur basis cranii : Fraktur yg terjadi pada tulang yg membentuk dasar tengkorak. Pemeriksaan Beta-2-transferrin yg merupakan marker spesifik untuk CSS.Lokasi Anatomis tulang tengkorak tempat benturan terjadi Tipe Fraktur pada cedera kepala. kontusio dan perdarahan intraserebral) maupun lesi difus. jangan memasang NGT krn dapat melewati lempeng kribriformis yang sudah fraktur dan masuk ke intracranial. Tanda “Double Ring atau Hallo Sign” yaitu jika setetes cairan diletakkan diatas kertas tissue/koran maka darah akan terkumpul ditengah dan sekitarnya masih terbentuk rembesan cairan (CSS) yg membentuk cincin kedua yg mengelilingi lingkaran pertama. dapat mencederai N. Fraktur simple : Pecahnya tulang kepala yg tidak disertai kerusakan kulit 2. yaitu : 1. 3.Bentuk tiga dimensi objek yang membentur .gaya ke dagu melalui rami mandibulae Adanya Rhinorea jika bercampur dgn darah kadang2 sulit dibedakan dengan epistaksis. Kepala yang bergerak membentur benda yang diam 3. perdarahan subdural. Darah tersebut tidak akan membeku karena bercampur CSS 2. namun di dalam tengkorak – Arteri meningea media – Temporal (50%).2. Beberapa cara untuk membuktikan adanya rhinorea yaitu : 1. 4. Fraktur depresi : Pecahnya tulang kepala dengan penekanan sebagian tulang kedalam otak. Jika terdapat kecurigaan adanya fraktur. • Epidural hematom : clot terletak diluar duramater.hole/stellata jika benda yang mengenai kepala permukaannya berkecepatan/berenergi tinggi.depressed jika permukaan yang mengenai kepala tidak luas . oksipital (15%) kecil dan Roman Forensik Edisi 8 43 . Fraktur Linear : Pecahnya tulang kepala yg menyerupai garis tipis tanpa distorsi tulang 3.Besarnya energi yang membentur kepala (Energi kinetik objek) .

pengalihan LCS ke rongga spinal .peningkatan aliran vena dari otak . disebabkan oleh meningkatnya jumlah cedera akselerasi deselerasi otak. sinus draining. karena TIK umumnya tetap dalam batas normal sampai penderita mencapai titik dekompensasi dan memasuki fase ekspansional. LCS (75 mL).Luka tusuk  dalam luka > panjang luka arah trauma tegak lurus permukaan kulit . ● Kontusi dan hematom intraserebral : hampir selalu berkaitan dengan hematoma subdural – >> di lobus frontal dan temporal Cedera Difus membentuk kerusakan otak berat progresif yang berkelanjutan. – Terjadi karena robeknya vena bridging. darah (75 mL) Perubahan kompensatoris dapat melalui : . TIK normal : 50-200 mmH2O (4-15 mmHg) Kapasitas ruang cranial : otak (1400 g). Tekanan Intrakranial (TIK) yang normal tidak berarti tidak ada lesi massa intakranial.– Prognosis baik bila dilakukan penanganan segera karena cedera otak disekitarnya biasanya terbatas. infeksi – Kerusakan otak biasanya sangat lebih berat dan prognosisnya lebih buruk dari hematoma epidural – Mortalitas umumnya 60% namun mungkin diperkecil oleh tindakan operasi yg sangat segera dan pengelolaan medis agresif.sedikit tekanan pada jaringan otak peningkatan TIK sampai 33 mmHg (450 mmH2O) akan menurunkan aliran darah otak secara signifikan Trauma tajam : Benda tajam  benda yg permukaannya mampu mengiris sehingga kontinuitas jaringan hilang . tumor. focus laserasi atau kontusio – Delayed : subdural – Spontan : leukemia. Doktrin MONROE-KELLIE : Vblood + Vbrain + V LCS = konstan Konsep utama : volume intrakranial selalu konstan (rongga kranium tidak mungkin mekar).Luka iris  dalam luka < panjang irisan luka arah trauma sejajar permukaan kulit .Luka bacok  dalam ± = panjang luka arah trauma ± 45° dari permukaan kulit dan tergantung beratnya benda yang di pakai. • Subdural/subarachnoid bleeding : >> ditemukan pada penderita dengan cedera kepala berat. Ciri-ciri luka karena benda tajam :      Tepinya rata Sudut luka tajam Tidak ada jembatan jaringan Sekitar luka bersih tidak ada memar Bila lokasinya pada kepala maka rambutnya terpotong Roman Forensik Edisi 8 44 .

Tusukan masuk kemudian dikeluarkan dengan mengarahkan ke salah satu sudut. sehingga saluran luka sempit pada titik terdalam dan terlebar pada bagian superfisial e. c. 4. Tusukan diputar saat masuk. sehingga luka yang terbentuk lebih lebar dan memberikan luka pada permukaan kulit seperti ekor. Luka Tusuk (dalam > panjang > lebar) ada beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk luka tusuk seperti reaksi korban atau saat pisau keluar sehingga lukanya menjadi tidak khas adapun pola yang sering ditemukan yaitu : a. yang kemudian dikeluarkan sebagian. Jenis senjata biasanya senjata yang digunakan sedikit tajam/ tajam dan relatif berat seperti kapak atau parang. Luka Bacok (panjang = dalam) luka ini tergantung dua faktor yaitu : a. b. dan kemudian ditusukkan kembali melalui saluran yang berbeda b. 5. 2. 6. Perbedaan luka pada trauma tajam dan trauma tumpul No Pembeda Tajam 1. sehingga saluran luka menjadi lebih luas d. bentuk luka tepi jembatan jar folikel rambut terpotong dasar luka sekitar luka Teratur Rata tidak ada ya/tidak garis/titik Bersih Tumpul tidak tidak rata ada/tidak tidak tidak teratur Bisa lecet/memar Perbedaan hematom (luka memar) dan lebam mayat HEMATOM LEBAM MAYAT Kejadian intravital Kejadian post mortem Terdapat pembengkakan Pembengkakan (-) Darah akan mengalir keluar dari pembuluh Darah tidak mengalir darah yang tersayat Penampang sayatan nampak merah Jika dialiri air penampang sayatan nampak kehitaman bersih Ciri-ciri luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan. Sudut luka berbentuk ireguler dan besar. keluar. 3. bunuh diri atau kecelakaan : Pembunuhan Bunuh Diri Kecelakaan Lokasi luka Sembarang Terpilih Terpapar Roman Forensik Edisi 8 45 . Tusukan masuk yang kemudian dikeluarkan dengan mengggunakan titik terdalam sebagai landasan. 3. Tenaga yang digunakan biasanya lebih besar dari luka tusuk atau luka iris. Tusukan masuk kemudian saat masih di dalam ditusukkan ke arah lain. maupun keduanya. Tusukan masuk. Luka iris atau sayat (panjang > dalam) 2.Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa : 1.

Pinggiran luka melekuk keluar karena peluru menuju keluar. Bisa tampak berwarna merah terang akibat adanya zat karbon monoksida. Pemeriksaan radiologi atau analisis aktivitas netron mengungkapkan adanya lingkaran timah atau zat besi di sekitar luka. Disekitar luka tampak kelim ekimosis. Luka tembak keluar Ukurannya lebih besar dan lebih tidak teratur dibandingkan luka tembak masuk. terbakar. Pakaian masuk kedalam luka. Pinggiran luka tidak mengalami abrasi. pinggiran luka bagus bentuknya. Luka Tembak Keluar (luka tembus) Luka tembak masuk Ukurannya kecil (berupa satu titik/stelata/bintang). Pada tulang tengkorak. Jika senjata ditembakkan pada jarak yang sangat dekat atau menempel dengan kulit :  Jaringan subkutan 5 sampai 7. dibawa oleh peluru yang masuk. karena kecepatan peluru berkurang hingga menyebabkan robekan jaringan.3 luka Pakaian Luka tangkisan Luka percobaan Cedera Sekunder Banyak Terkena (+) (-) Mungkin ada Banyak Tidak (-) (+) (-) >1 Terkena (-) (-) Mungkin ada LUKA TEMBAK Ciri-ciri utama luka tembak ialah biasanya luka tembak menghasilkan 2 buah luka: 1. Pada luka bisa tampak hitam. Luka Tembak Masuk: • luka tembak tempel • luka tembak jarak dekat • luka tembak jarak jauh 2. Luka tembak masuk Perdarahan hanya sedikit. Tidak terdapat kelim lemak Tidak ada Tidak ada Tampak seperti gambaran mirip kerucut Tidak ada Tidak ada Luka tembak keluar Perdarahan lebih banyak Tidak ada Faktor-faktor yang mempengaruhi cedera akibat senjata api : • Jenis peluru • Kecepatan peluru • Jarak antara senjata api dengan tubuh korban saat penembakan • Densitas jaringan tubuh dimana peluru masuk Jarak antara senjata api dengan tubuh korban saat penembakan 1. kelim tato atau jelaga.5 cm disekitar luka tembak masuk mengalami laserasi Roman Forensik Edisi 8 46 . karena peluru menembus kulit seperti bor dengan kecepatan tinggi Pinggiran luka melekuk kearah dalam karena peluru menmebus kulit dari luar Pinggiran luka mengalami abrasi Bisa tampak kelim lemak.

Residu tembakan yang terlihat  grains powder  deposit bubuk hitam. Track  penetrasi organ  arah  kerusakan sekunder  kerusakan organ individu 6.  Ukuran luka lebih kecil dibandingkan peluru  Warna hitam dan kelim tato lebih luar disekitar luka  Tidak ada luka bakar atau kulit yang hangus.  Pakaian yang menutupi luka terbakar karena percikan api dari senjata. Tembakan jarak dekat  Jaraknya adalah 30-45 cm dari kulit. Luka keluar  lokasi  karakteristik Roman Forensik Edisi 8 47 . Penyembuhan luka tembakan  titik penyembuhan  tipe misil  tanda identifikasi  susunan 7. Deskripsi luka luar  ukuran dan bentuk  lingkaran abrasi. tebal dan pusatnya  luka bakar  lipatan kulit. 3. Jika peluru menyebabkan gesekan pada lubang tempat masuk dan menyebabkan lecet.  Walaupun jarang bisa ditemukan bercak berwarna abu-abu atau putih di sekitar luka. Kulit disekitar luka terbakar atau hitam karena asap. utuh atau tidak  tekanan ujung senjata 3. Tembakan jarak jauh  Jaraknya adalah di atas 45 cm.  Kehitaman atau kelim tato tidak ada  Bisa tampak kelim lecet. Kelim tato terjadi karena bubuk mesiu senjata yang tidak terbakar. Hal ini terjadi jika bubuk mesiu tidak berasap dan tidak terdapat bagian kehitaman pada kulit.  Ukuran luka jauh lebih kecil dibandingkan peluru. Deskripsi Luka Tembak 1.  Rambut di sekitar luka hangus. 2. maka di sebut kelim lecet. Lokasi  jarak dari puncak kepala atau telapak kaki serta ke kanan dan kiri garis pertengahan tubuh  lokasi secara umum terhadap bagian tubuh 2. termasuk korona  tattoo  metal stippling 4. Perubahan  oleh tenaga medis  oleh bagian pemakaman 5.

Otot lemah 6. Dry Heat (Burn Heat / Luka Bakar) Dry heat (burn heat / luka bakar) adalah luka bakar yang diakibatkan oleh persentuhan tubuh dengan api atau benda panas (bukan cairan). Berkeringat 5. Badan panas 2. • Karbonisasi (sudah menjadi arang). Heat cramp Ada 8 gejala heat exhaustion : 1. bulla & bleps dengan albumin atau NaCl tinggi. Heat stroke / sun stroke / pingsan panas diakibatkan oleh terjadinya paralisis centrum di medulla. • Necrosis coagulativa dengan ciri-ciri : warna coklat gelap hitam dan sembuh dengan meninggalkan sikatriks (litteken). Organ dalam mengalami kongesti.8. Heat exhaustion 2. sembuh tanpa meninggalkan sikatriks. Kolaps sirkuler Ada 3 hal yang dapat kita temukan pada autopsi sebagai tanda adanya reaksi heat exhaustion : 1. Derajat luka bakar : Luka akibat suhu tinggi (luka bakar)  Luka bakar derajat 1 (superficial burn)  Luka bakar derajat 2 (partial thickness burn)  Luka bakar derajat 3 (full thickness burn)  Luka bakar derajat 4 (hitam bagai arang. Suhu tubuh turun 7. Reaksi umum Ada 4 reaksi lokal dari tubuh korban : • Eritem dengan ciri-ciri : epidermis intak. Arteriosklerosis arteri coronaria. nekrotik) Ada 3 reaksi umum dari tubuh korban : 1. Heat stroke / sun stroke / pingsan panas 3. 3. 9. Ada 2 reaksi dari tubuh korban : 1. Nadi irreguler 8. kemerahan. Penyembuhan fragmen luka tembak Pengambilan jaringan untuk menguji residu TRAUMA FISIK 1. Pucat 4. • Vesikel. Roman Forensik Edisi 8 48 . Reaksi lokal 2. Keadaan ini dapat terjadi pada udara yang panas (1000 Fahrenheit) dan lembab serta telah berlangsung beberapa hari. Darah berwarna gelap di jantung. 2. Pusing 3.

3. Luas dry heat (burn heat / luka bakar) dapat kita tentukan dengan menggunakan RULE OF NINE. Penyebab kematian pada kasus dry heat ada 3 kategori. ekstremitas bawah kiri. pinggang. Konsistensi kenyal. Pseudoepidural Hematom Epidural Hematom Warna bekuan darah coklat. Organ mengalami kongesti. Roman Forensik Edisi 8 49 . dada. Bentuk otak cekung sesuai dengan bekuan darah. yaitu : • Nyeri yang sangat hebat  shock dan kematian. perut. • Otot merah gelap. yaitu :  9% : permukaan kepala & leher. 2. • Fraktur tengkorak  pseudoepidural hematom (bedakan dengan epidural hematom). Warna bekuan darah hitam. Garis patah melewati sulcus arteria meningea. Perdarahan otak. 5.  18% : permukaan ekstremitas bawah kanan. Kematian karena gas karbon monoksida (CO) :  Biasanya terjadi pada kebakaran gedung besar. Degenerasi sel-sel ganglion. punggung. Perdarahan kecil pada ventrikel III & IV. 6. Bentuk otak mengkerut seluruhnya. Ekstremitas fleksi tidak sampai menimbulkan rigor mortis. yaitu : • Cepat : shock primer (neurogenis) & asfiksia • Sedang : shock dehidrasi • Lambat : shock dehidrasi. ekstremitas atas kiri. ekstremitas atas kanan. Tingkat II yaitu luas dry heat 30%  membahayakan jiwa. Badan panas 2. autointoksikasi. • Bukan tanda intravital. ulcus curling. Garis patah tidak menentu. Kongesti (edem berat). dan pneumonia hipostatik. kulit menjadi arang & mengelupas. acute renal failure. • Pugillistic attitude / coitus attitude berupa ekstremitas fleksi. Kolaps sirkuler 6. Konsistensi rapuh. Pusing 3. kering. berkontraksi dan jari-jari mencengkeram. Ekstremitas fleksi akibat koagulasi protein.  1% : permukaan alat kelamin.Ada 6 gejala heat stroke / sun stroke / pingsan panas : 1. infeksi & sepsis. Sakit kepala 4. endocardium atau bundle of his. Shock sampai beresiko mati dengan tubuh kemerahan Ada 6 hal pada autopsi tanda adanya reaksi heat stroke : 1. epicardium. Darah berwarna merah gelap. Ada 5 gejala umum dry heat (burn heat / luka bakar). 4. Kita dapat melakukan terapi terhadap reaksi heat cramp dengan menggunakan campuran air & garam atau larutan PZ IV bila korban mengalami konvulsi. Nadi cepat & penuh 5. Heat cramp dapat terjadi pada individu yang bekerja dalam ruangan yang bersuhu tinggi.

 Tenaga listrik buatan meliputi arus listrik searah (DC) seperti telepon (30-50 volt) dan tram listrik (600-1000 volt) dan arus listrik bolak-balik (AC) seperti listrik rumah. Gas karbon monoksida (CO) 210 kali lebih kuat dari gas oksidan (O2) dalam mengikat hemoglobin. Ada 2 cara kematian kasus trauma dingin (cold trauma / frost bite / immertion foot). Arus listrik (I) a.  Pada pemeriksaan autopsi. jantung korban berisi darah berwarna merah cerah. Pembunuhan (infanticide) Ada 2 reaksi dari tubuh korban trauma dingin : 1.  Lethargy.  Cairan tubuh korban berubah menjadi es jika tubuh korban lama baru kita temukan.  Kepucatan yang bercampur warna sianosis.  Organ dalam mengalami kongesti hebat. yaitu lebih 10%. dan pipi. Kecelakaan 2. gatal dan nyeri.  Ada jelaga pada lubang hidung. mukosa edema & kemerahan. Lokasinya bisa pada tangan. antara lain : 1. 3. Bagian-bagian listrik. Kemudian timbul gangren superfisial yang irreversibel. Reaksi lokal 2. membengkak (skin blister). Arus listrik searah atau direct current (DC) Roman Forensik Edisi 8 50 .  Diagnosis pasti dapat kita tentukan dengan melakukan pemeriksaan saturasi. Hal ini karena darah "dipaksa" masuk kembali ke dalam pembuluh darah perifer akibat organ dalam mengalami kongesti. Ada 8 reaksi umum :  Kulit korban pucat dan menggigil.  Saluran napas terdapat jelaga atau lendir. kaki. Arahnya sama dengan arah gerak muatan-muatan positif (berlawanan arah dengan elektronelektron). pabrik.  Lebam mayat yang berwarna merah cherry akibat terbentuknya senyawa HbCO (hemoglobin tereduksi). koma. hidung. dan akhirnya mati bila tubuh korban lama terpapar dingin. Reaksi umum Ada 2 reaksi lokal :  Kulit korban pucat akibat vasokonstriksi  kemerahan akibat vasodilatasi karena paralisis vasomotor center. 2.  Tengkorak korban dapat retak pada bagian sutura. Trauma listrik (Electrical Injury) Ada 2 jenis tenaga yaitu :  Tenaga listrik alam seperti petir dan kilat.  Lebam mayat berwarna merah cerah yang bercampur bercak berwarna merah gelap. dll Arus listrik bergerak dari tempat yang berpotensial tinggi ke potensial rendah.  Kulit korban lalu berubah menjadi merah kehitaman. Kita dapat menemukan cutis anserina. telinga. Trauma Dingin (Cold Trauma) Insiden trauma dingin (cold trauma / frost bite / immertion foot) jarang terjadi dan biasanya terdapat di negara yang bermusim dingin. Biasanya dry heat (burn heat / luka bakar) hanya sedikit. yaitu : 1.

Suatu arus AC dengan intensitas 70-80 mA  kematian. LET GO CURRENT = kuat arus dari aliran listrik dimana korban masih bisa melepaskan diri darinya. Tegangan (voltage/V) Satuan : volt. 4.  Voltase tinggi (= 1.000-1. Voltage yang paling rendah yang sudah dapat menimbulkan kematian manusia  50 volt. Diatermi : frekuensi 1 juta Hz dan tegangan 20 ribu . Tahanan/hambatan listrik (resistance/R) Satuan : ohm. misalnya pada pemurnian dan pelapisan/penyepuhan logam. Kematian akibat aliran listrik tegangan rendah terutama oleh karena terjadinya vibrilasi ventrikel. tubuh manusia 4-6 kali lebih sensitif terhadap arus AC. besarnya intensitas listrik (I) sama dengan besarnya tegangan/voltage (V) dibagi dengan tahanan (R) dari medium. 1 volt = tenaga listrik yang dibutuhkan untuk menghasilkan intensitas listrik sebesar 1 ampere melalui sebuah konduktor (penghantar) yang memiliki tahanan sebesar 1 ohm. Tubuh sangat tidak peka terhadap frekuensi yang sangat tinggi atau sangat rendah. dan kereta listrik (600-1500 volt). Jenis / macam aliran listrik Arus searah (DC) dan arus bolak-balik (AC). yang paling sering digunakan 50 dan 60 hertz. Frekuensi listrik Satuan : cycle per second atau hertz. digunakan di rumah-rumah dan pabrik-pabrik.000-40.  Voltase sangat tinggi (20.000 hertz. pabrik. sedangkan pada implikasi biologis kurang berarti. tram listrik. Juga digunakan pada telefon (30-50 volt). sementara itu pada tegangan tinggi disebabkan oleh karena trauma elektrotermis. 3.000 volt tidak begitu berbahaya dapat digunakan sebagai diatermi. Arus listrik bolak-balik atau alternating current (AC) mengalir bolak-balik.  Voltase rendah (110-460 V) misalnya penerangan. sedangkan arus DC dengan intensitas 250 mA masih dapat ditolerir tanpa menimbulkan kerusakan. Kuat arus yang sering kita gunakan dibawah 6 ampere.mengalir secara terus menerus ke satu arah. b. 2. contohnya kurang dari 40 hertz atau lebih dari 1. jauh lebih berbahaya daripada arus DC. lamanya kontak --3. yang paling tinggi 1 jt hertz dengan voltage 20.000 V) misalnya deep X-rays therapy dan diatermi. banyaknya arus I = 2. Panas yang terjadi tergantung dari : V 1. +60% kematian akibat listrik arus listrik dengan tegangan 115 volt. biasanya 110 volt atau 220 volt.40 ribu volt. Makin tinggi voltage akan menghasilkan efek yang lebih berat pada manusia baik efek lokal maupun general.000 V) misalnya transpor arus listrik. besarnya hambatan R Hal ini sesuai dengan rumus : Keterangan : W = panas yang dihasilkan (kalori) I = kuat arus (ampere) W = I2 R t R = hambatan (ohm) t = waktu (detik) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efek Listrik pada Tubuh 1.000. Menurut hukum Ohm. 2. Sumber misalnya baterai dan accu. dipakai dalam industri elektrolisis. Roman Forensik Edisi 8 51 . Tegangan / voltage Hanya penting untuk sifat-sifat fisik saja. Banyak kematian akibat sengatan arus listrik AC dengan tegangan 220 volt.

1959) : 1 mA Efek 1.0 Tangan mati rasa 3. Kuat arus / intensitas /amperage Adalah kekuatan arus (intensitas arus) yang dapat mendeposit berat tertentu perak dari larutan perak nitrat perdetik. otot.0 Tangan tremor dan lengan bawah spasme 7.0 Kontraksi otot yang sangat sakit Dikatakan bahwa kuat arus sebesar 30 mA adalah batas ketahanan seseorang. Menurut hitungan Cardieu. Jk t = 0. Pada kulit yang lembab karena air atau saline. 4. Roman Forensik Edisi 8 52 . Arus yang di atas 60 mA dan berlangsung lebih dari 1 detik dapat menimbulkan vibrilasi ventrikel. transitional R < dari kel.3. maka orang yang berdiri pada tanah yang basah tanpa alas kaki.3s . sarung tangan karet. ambang arus 1. persepsi arus 2. akan lebih berbahaya daripada orang yang berdiri dengan mengggunakan alas sepatu yang kering. yaitu suatu tahanan yang menyertai akibat adanya bahan-bahan yang berada di antara konduktor dengan tubuh atau antara tubuh dengan bumi. Di dalam lapisan kulit itu sendiri bervariasi derajat resistensinya. Tahanan tubuh terhadap aliran listrik juga akan menurun pada keadaan demam atau adanya pengaruh obat-obatan yang mengakibatkan produksi keringat meningkat. Kelompok IV : kuat arus > 3A  cardiac arrest 5. misalnya baju.0 Spasme ringan yang luas sampai lengan atas 10. Tahanan kulit rata-rata 500-10. ditentukan perbedaan kandungan air pada jaringan tersebut. Satuannya : ampere.0 Parestesia lengan bawah 5. maka tahanannya turun lebih rendah lagi antara 1200-1500 ohm. Tahanan yang terbesar terdapat pada kulit tubuh. sepatu karet.3A). c. II. karena pada keadaan pertama tahanannya rendah. O. aritmia dan spasme pernafasan.0 Dapat sengaja melepaskan diri dari arus listrik 15. dan lain-lain. kelenjar keringat dan lemak. d. Tahanan / resistance Tahanan tubuh bervariasi pada masing-masing jaringan. Pertimbangkan tentang ”transitional resistance”. efek biologisnya sama dg kel.1-0.3s  vibrilasi ventrikel irreversibel. Kelompok II : kuat arus 25-80 mA AC (DC 80-300 mA) dg transitional R < dari kel. Kulit yang berkeringat lebih jelek daripada kulit yang kering. darah dan cairan tubuh. pada 40 mA dapat menimbulkan hilangnya kesadaran dan kematian akan terjadi pada kuat arus 100 mA atau lebih. bahwa berkeringat dapat menurunkan tahanan sebesar 3000-2500 ohm.5 Rasa yang jelas. Adanya hubungan dengan bumi / earthing Sehubungan dengan faktor tahanan. urat saraf. hal ini bergantung pada ketebalan kulit dan jumlah relatif dari folikel rambut.000 ohm.5 Tangan terasa ringan dan kaku 4. Kelompok III : Kuat arus 80-100 mA AC (DC 300 mA . akan menurun besarnya pada tulang. Jk > 0. Kelompok I : kuat arus < 25 mA AC (DC antara 25-80 mA) dengan transitional R yang tinggi efek yang berbahaya (-). KOEPPEN menggolongkan akibat kecelakaan listrik dalam 4 kelompok yaitu : a.0 Sensasi. lemak. II. b. Berikut ini disajikan sebuah tabel mengenai efek aliran listrik terhadap tubuh (Lobl.0 Kontraksi otot-otot fleksor mencegah terlepas dari aliran listrik 20.I  hilangnya kesadaran.

f. 7. Fibrilasi ventrikel Bergantung pada ukuran badan dan jantung. Kelengahan atau kekuranghati-hatian. Bahaya terbesar bisa timbul jika jantung atau otak berada dalam posisi aliran listrik tersebut. Seluruh aliran dapat mengakibatkan mionekrosis. Arus AC dapat menghasilkan fibrilasi ventrikel jika jalurnya melalui dada. g. Cara Kematian Paling sering : kecelakaan. DALZIEL (1961) memperkirakan pada manusia arus yang mengalir sedikitnya 70 mA dalam waktu 5 detik dari lengan ke Roman Forensik Edisi 8 53 . termasuk otot yang tersentuh aliran listrik tersebut. Faktor-faktor lain a. jarang terjadi karena pembunuhan atau bunuh diri. Aliran listrik yang lama membuat kerusakan iskemik otak terutama yang diikuti gangguan nafas. sepatu dapat berfungsi sebagai isolator. Selain itu dapat juga mengakibatkan luka bakar.dsb. Letak titik masuk arus listrik (point of entry) & letak titik keluar bervariasi  efek dari arus listrik tersebut bervariasi dari ringan sampai berat. d. Kebiasaan dan pekerjaan.6. yang dapat memperberat efek listrik pada tubuh manusia sampai timbulnya kematian. Luas kontak dengan arus listrik. Konstitusi tubuh yaitu tubuh kurus dan gemuk. karena akibat arus listrik dengan tegangan tinggi tersebut dapat menyebabkan timbulnya kontraksi otot. Patofisiologi Elektron mengalir secara abnormal melalui tubuh menghasilkan cedera dengan atau kematian melalui depolarisasi otot dan saraf. Sebab Kematian Kebanyakan oleh energi listrik itu sendiri. inisiasi abnormal irama elektrik pada jantung dan otak. t. e. Oleh karena itu pemeriksaan Tempat Kejadian Perkara (TKP) sangat penting. dan mioglobinuria dan berbagai komplikasi. Ada kasus karena listrik yang menyebabkan korban jatuh dari ketinggian. baik voltase rendah maupun tinggi mengakibatkan penurunan kesadaran segera karena depolarisasi saraf otak. mioglobinemia. seperti penyakit jantung. Arus yang melalui otak. Bumi dianggap sebagai kutub negatif. Kesadaran adanya arus listrik.u sepatu karet 8. Lamanya waktu kontak dengan konduktor Makin lama korban kontak dengan konduktor  makin banyak jumlah arus yang melalui tubuh  kerusakan tubuh akan bertambah besar & luas. Orang yang tanpa alas kaki lebih berbahaya kalau terkena aliran listrik. c. kondisi mental yang menurun. Antisipasi terhadap syok. Sering trauma listrik disertai trauma mekanis. Aliran arus listrik (path of current) Adalah tempat-tempat pada tubuh yang dilalui oleh arus listrik sejak masuk sampai meninggalkan tubuh. Sebab kematian karena arus listrik yaitu : 1. adanya penyakit-penyakit tertentu yang sudah ada pada korban sebelumnya. Dengan tegangan yang rendah  spasme otot-otot  korban malah menggenggam konduktor  arus listrik akan mengalir lebih lama  korban jatuh dalam keadaan syok yang mematikan Sedangkan pada tegangan tinggi  segera terlempar atau melepaskan konduktor atau sumber listrik yang tersentuh. b. atau menghasilkan luka bakar elektrik internal maupun eksternal melalui panas dan pembentukan pori di membran sel. Arus listrik masuk dari sebelah kiri bagiah tubuh lebih berbahaya daripada jika masuk dari sebelah kanan. dalam hal ini sukar untuk mencari sebab kematian yang segera.

Paralisis respiratorik Akibat spasme dari otot-otot pernafasan. sehingga korban meninggal karena asfiksia. Pemeriksaan Korban 1.tungkai akan menyebabkan fibrilasi. sedangkan ventrikel fibrilasi terjadi pada arus 80-100 mA. tembaga warna coklat kemerahan. Tanda-tanda listrik tersebut antara lain : • Terkecil sebesar kepala jarum dengan warna kemerahan • Tanda lain berupa bula • Current mark berbentuk oval. tulang dapat meleleh dengan pembentukan butir kapur/kalk parels terdiri dari kalsium fosfat Roman Forensik Edisi 8 54 . Menurut KOEPPEN. Bilamana belum ada lebam mayat. misalnya dari besi akan tampak warna hitam kecoklatan. dan aluminium warna perak. paralisis pusat pernafasan tetap ada. luka robek. atau luka bakar. Pemeriksaan Luar Sangat penting karena justru kelainan yang menyolok adalah kelainan pada kulit. Pemeriksaan Jenazah a. disebabkan juga oleh trauma pada pusat-pusat vital di otak yang terjadi koagulasi dan akibat efek hipertermias. maka mungkin korban dalam keadaan mati suri dan perlu diberi pertolongan segera yaitu pernafasan buatan dan pijat jantung dan kalau perlu segera dibawa ke Rumah sakit. kuning atau coklat keputihan atau coklat kehitaman atau abu-abu kekuningan dikelilingi daerah kemerahan dan edema sehingga menonjol dari jaringan sekitarnya (daerah halo).u pada telapak tangan atau telapak kaki dan sebelumnya harus dicuci dulu dengan sabun dan bila perlu disikat. oleh karena itu dengan bantuan pernafasan buatan korban masih dapat ditolong. jantung pun masih berdenyut. Usaha pertolongan ini dilakukan sampai korban menunjukkan tanda-tanda hidup atau tanda-tanda kematian pasti. sehubungan dengan spasme otot-otot karena jantung masih tetap berdenyut sampai timbul kematian. Current mark adalah tanda luka akibat listrik dan merupakan tempat masuknya aliran listrik. Bila aliran listrik diputus. kadang-kadang ada busa pada mulut. Yang perlu dilakukan pertama kali adalah mematikan arus listrik atau menjauhkan kawat listrik dengan kayu kering. Yang paling berbahaya adalah jika arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan kiri dan keluar melalui kaki yang berlawanan/kanan. spasme otot-otot pernafasan terjadi pada arus 2580 mA. Metalisasi akibat panas yang ditimbulkan sedemikian besar sehingga ion-ion asam jaringan bereaksi dengan ion-ion logam dari kawat atau kabel membentuk garam dan menyebar di jaringan. 2. rambut ikut terbakar. Pernafasan buatan ini jika dilakukan dengan baik dan benar masih merupakan pengobatan utama untuk korban akibat listrik. Paralisis pusat nafas jika arus listrik masuk melalui pusat di batang otak. Warna yang terjadi tergantung bahan logam. Cara mencari t. Luka keluar dari luka listrik (electrical burn) tidak khas dapat berupa luka lecet. Terjadi bila arua listrik yang memasuki tubuh korban di atas nilai ambang yang membahayakan. Hal tersebut bisa terjadi jika kepala merupakan jalur arus listrik. Sepatu korban dan pakaian dapat terkoyak. Kalau arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan yang satu dan keluar melalui tangan yang lain maka 60% yang meninggal dunia. 2. Pemeriksaan korban di Tempat Kejadian Perkara (TKP) Korban mungkin ditemukan sedang memegang benda yang membuatnya kena listrik. Dalam pemeriksaan luar yang harus dicari adalah tanda-tanda listrik atau current mark/electric mark/stroomerk van jellinek/joule burn. 3. • Tanda yang lebih berat yaitu kulit menjadi hangus arang. Lalu kemudian korban diperiksa apakah hidup atau sudah meninggal dunia. tetapi masih di batas bawah yang dapat menimbulkan ventrikel fibrilasi.

Organ viscera menunjukkan kongesti yang merata. sedangkan pada tulang.1 Otot korban putus akibat perubahan hialin. Ada 3 kelainan akibat sambaran petir : 1. 3. Organ jantung akan terjadi fibrilasi bila dilalui aliran listrik dan berhenti pada fase diastole. sehingga tubuh akan hangus terbakar dengan kerusakan yang sangat berat dan tidak jarang disertai dengan patahnya tulang-tulang • Panas yang timbul pada suatu waktu demikian besarnya sehingga kawat listrik menguap dan mengkondensir di jaringan tubuh/electric metalisasi b. Berada dibawah pohon yang tinggi. Custer menemukan pada puncak lobus salah satu paru terbakar. pleura. maka jika ada aliran listrik akan terjadi panas sehingga tulang meleleh dan terbentuklah butiran-butiran kalsium fosfat yang menyerupai mutiara atau pearl like bodies. 2. Roman Forensik Edisi 8 55 . sehingga terjadi dilatasi jantung kanan. dan konjungtiva korban terdapat bintik-bintik pendarahan. juga ditemukan pneumothorak. Ada 3 keadaan yang berpotensi besar terkena petir : 1. Pemeriksaan Dalam Pada autopsi biasanya tidak ditemukan kelainan yang khas. Petir termasuk arus searah (DC) dengan tegangan 20 juta volt dan kuat arus 20 ribu ampere. Efek panas.• Endogenous burn/Joule burn terjadi jika kontak dengan tubuh lama sehingga bagian tengah yang dangkal dan pucat pada electric mark dapat menjadi hitam dan hangus terbakar • Eksogenous burn dapat terjadi bila tubuh terkena arus listrik tegangan tinggi yang sudah mengandung panas. Perikard. Petekie atau perdarahan mukosa gastro intestinal ditemukan pada 1 dari 100 kasus fatal akibat listrik. Efek listrik. Pada otak didapatkan perdarahan kecil-kecil dan terutama paling banyak adalah pada daerah ventrikel III dan IV. karena tulang mempunyai tahanan listrik yang besar.. hal ini mungkin sekali disebabkan oleh aliran listrik yang melalui paru kanan. pada pengecatan dengan metoxyl lineosin akan bewarna lebih gelap dari normal • Sel-sel pada stratum korneum menggelembung dan vakum • Sel dan intinya dari stratum basalis menjadi lonjong dan tersusun secara palisade • Ada sel yang mengalami karbonisasi dan ada pula bagian sel-sel yang rusak dari stratum korneum • Folikel rambut dan kelenjar keringat memanjang dan memutar ke arah bagian yang terkena listrik. Hasil pemeriksaan akan terlihat sebagai berikut : • Ada bagian sel yang memipih. Pada korban yang terkena listrik tegangan tinggi. Pada hati ditemukan lesi yang tidak khas. Berada di tanah lapang. Pemeriksaan Tambahan Yang dilakukan adalah pemeriksaan patologi anatomi pada current mark. c. Pada ekstremitas. pembuluh darah korban mengalami nekrosis dan ruptur lalu terjadi pendarahan kemudian terbentuklah gangren. 2. Petir (Lightning) Lightning / eliksem adalah kecelakaan akibat sambaran petir. Walaupun pemeriksaan itu tidak spesifik untuk tanda kekerasan oleh listrik tetapi sangat menolong untuk menegakkan bahwa korban telah mengalami trauma listrik. Kehujanan dan memakai perhiasan yang terbuat dari logam. Pada paru didapatkan edema dan kongesti.

asam nitrat dan asam sulfat. Logam yang dikenakan korban akan meleleh seperti perhiasan dan komponen arloji.3. asam sitrat dan asam karbol. Ada 2 efek panas akibat sambaran petir : • Luka bakar sampai hangus.  Asam oksalat  kulit berwarna kelabu kehitaman. Efek ledakan. pakaian. Tanda ini akan hilang sendiri setelah beberapa jam.  Kaustik alkali  kalium hidroksida. Setelah kilat menyambar. Arloji korban akan berhenti dimana tanda ini dapat kita gunakan untuk menentukan saat kematian korban. udara setempat menjadi vakum lalu terisi oleh udara kembali sehingga menimbulkan suara menggelegar / guntur / ledakan. asam klorida. Efek ini termasuk salah satu tanda utama luka listrik (electrical burn). Roman Forensik Edisi 8 56 . Ciri luka akibat kimiawi :  Asam karbol  luka bakar dimana kulit yang terkena akan berwarna kelabu keputihan. sepatu bahkan seluruh tubuh korban dapat terbakar atau hangus. TRAUMA KIMIAWI Asam kuat & basa kuat Asam kuat  mengkoagulasikan protein  luka korosif yang kering. Efek ini juga termasuk salah satu tanda luka listrik (electrical burn). Tanda ini berupa gambaran seperti pohon gundul tanpa daun akibat terjadinya vasodilatasi vena pada kulit korban sebagai reaksi dari persentuhan antara kulit dengan petir (lightning / eliksem). Logam yang terkena sambaran petir (lightning / eliksem) akan berubah menjadi magnet. licin  kerusakan sampai terus kedalam   Bahan kimia yg bersifat korosif dpt dibagi dalam 4 golongan :  Asam organik yg bersifat korosif. Cara kematian korban akibat sambaran petir : kecelakaan.  Garam logam berat  merkuri klorida. Ada 3 efek listrik akibat sambaran petir : • Current mark / electrik mark / electrik burn. asam asetat. Rambut. Efek ledakan akibat sambaran petir (lightning / eliksem) terjadi akibat perpindahan volume udara yang cepat & ekstrim. • Magnetisasi. kertas spt kertas perkamen. Efek ini juga termasuk salah satu tanda luka listrik (electrical burn). natrium hidroksida dan amoniak. kalsium hidroksida. • Aborescent markings. • Metalisasi.  Basa kuat  memembentuk reaksi penyabunan  luka basah.  asam oksalat.  Asam anorganik yg bersifat korosif  asam fluoride. zinc klorida dan stibium klorida.

warna cokelat kemerahan dan pada rabaan teraba lunak dan licin. cokelat kemerahan dan pd perabaan teraba padat dan keras  Ciri trauma akibat basa  bengkak. edem. Asam sulfat dan asam klorida  kulit mula-mula akan berwarna kelabu kmdn jadi hitam. HUBUNGAN ANTARA “HASIL/CEDERA” DENGAN “PIDANA” LUKA RINGAN: Luka ringan adalah : • LUKA YANG TIDAK MENGAKIBATKAN SAKIT ATAU HALANGAN DALAM MELAKUKAN PEKERJAAN • MISALNYA MEMAR ATAU LECET: – YANG BERDASARKAN LOKASI DAN LUASNYA DIANGGAP TIDAK MENGAKIBATKAN GANGGUAN FUNGSI PS 352 KUHP: MAKS 3 BULAN LUKA SEDANG : Luka Sedang adalah : LUKA/CEDERA DIANTARA LUKA BERAT DAN LUKA RINGAN MISALNYA : – VULNUS LACERATUM – VULNUS SCISSUM – FRACTURE yang tidak mengancam nyawa namun membutuhkan perawatan lebih lanjut dan menghalangi pekerjaan untuk sementara waktu PS 351 (2) KUHP: MAKS 2 TAHUN 8 BULAN PS 353 (1) KUHP: MAKS 4 TAHUN LUKA BERAT: MENURUT PS 90 KUHP Luka berat adalah : • TAK DAPAT DIHARAPKAN SEMBUH • MENGANCAM NYAWA • HALANGAN BEKERJA PERMANEN • KEHILANGAN SALAH SATU INDERA • CACAT BERAT • KELUMPUHAN • TAK DAPAT BERPIKIR 4 MINGGU ATAU LEBIH • GUGURNYA KANDUNGAN PS 351 (3) KUHP: MAKS 5 TAHUN PS 353 (2) KUHP: MAKS 7 TAHUN PS 354 (1) KUHP: MAKS 8 TAHUN PS 355 (1) KUHP: MAKS 12 TAHUN RINGKASAN LUKA AKIBAT BENDA TAJAM Roman Forensik Edisi 8 57 . sedangkan  Merkuri klorida  kulit yg terkena berwarna biru keputihan + perdarahan.  Zinc klorida  kulit berwarna keputih-putihan.  Asam nitrat  kulit berwarna merah kecoklatan yang disertai dengan perdarahan.  Ciri trauma akibat asam  kering.

Celah : // arah serat elastis/otot . rambut terpotong 5. ≠ jembatan jaringan 4. adakah jembatan jaringan. pisau. adakah rambut ikut terpotong. emboli udara. Tidak langsung : infeksi atau sepsis CIRI LUKA IRIS PADA BUNUH DIRI  Lokasi luka pada daerah tubuh mematikan atau dapat dijangkau (leher. tidak mengenai tulang 7.silet. panjang luka > dalam luka  Sebab kematian pada luka iris: 1. lekuk siku. Langsung : perdarahan. aspirasi darah 2. memar atau luka lecet. potongan seng  Bentuk luka: .DEFINISI  Kelainan pada tubuh akibat persentuhan dengan benda tajam sehingga kontinuitas jaringan hilang KLASIFIKASI  Luka iris (incised wound)  Luka tusuk (stab wound)  Luka bacok (chop wound) CIRI LUKA  Tepi luka rata  Sudut luka lancip  Rambut terpotong  Tidak ditemukan jembatan jaringan  Tidak ditemukan memar atau lecet disekitarnya DESKRIPSI LUKA  Jumlah luka  Lokasi luka  Ukuran luka  Ciri-ciri luka ( tepi luka. luka memar/lecet (-) 6. adakah sesuatu yang keluar dari lubang)  Benda asing  Intravitalitas luka  Luka tersebut mematikan atau tidak LUKA IRIS (INCISED WOUND)  Luka akibat benda bermata tajam dengan tekanan ringan dan goresan pada permukaan tubuh Ex.sudut luka.Asimetris : miring thdap serat elastis/otot  Ciri-ciri: 1. tepi dan permukaan luka rata 2.Menganga : ⊥ arah serat elastis/otot . pergelangan tangan.pisau. pedang. sudut luka lancip 3. lipat paha)  Luka percobaan  Tidak ditemukan luka tangkisan di bagian tubuh lain Roman Forensik Edisi 8 58 . pecahan kaca. lekuk lutut.

sudut luka < tajam  Pada sisi tajam alat. bergerombol  Luka tangkisan (-)  Pakaian disingkirkan terlebih dahulu  Tangan yang memegang senjata kadang mengalami cadaveric spasm  Lokasi pada alat tubuh yang penting/ dapat dijangkau (dada. Pakaian disingkirkan pada daerah luka LUKA IRIS PADA PEMBUNUHAN  Luka di sembarang tempat  Luka tangkisan (+)  Luka percobaan (-)  Pakaian ikut terkoyak akibat benda tajam LUKA TUSUK Bentuk luka : 1.alat penampang segitiga atau segiempat bintang berkaki tiga atau empat CIRI-CIRI LUKA TUSUK  Tepi luka rata  Sudut luka tajam.alat pisau // serat elastis otot : spt celah.alat ganco/lembing celah bila luka di daerah pertemuan serat elastis/otot bulat : sesuai penampang alat . emboli udara  Tidak langsung : sepsis / infeksi Cara kematian pada luka tusuk:  Pembunuhan  Bunuh diri  Kecelakaan LUKA TUSUK PEMBUNUHAN  Lokasi di sembarang tempat  Jumlah luka > 1  Adanya tanda perlawanan  Luka tusuk percobaan (-) LUKA TUSUK BUNUH DIRI  Lokasi pada alat tubuh yang penting/ dapat dijangkau (dada. kerusakan alat tubuh yang penting. miring thd serat elastis otot : asimetris . ⊥ serat elastis otot : menganga. perut) Roman Forensik Edisi 8 59 . rambut ikut terpotong  Memar disekitar luka  Dalam luka > panjang luka Sebab Kematian pada Luka Tusuk:  Langsung : perdarahan. pada parenkim dan tulang : sesuai penampang alat penyebabnya 2. perut)  Jumlah luka yang mematikan > 1  Luka tusuk percobaan (+) disekitar luka utama. pada kulit/otot : . pada sisi tumpul alat.

perdarahan banyak LUKA TUSUK EKSTREMITAS Sering luka tangkisan. kapak. kematian akibat perdarahan LUKA BACOK (Chop Wound)  Luka akibat benda atau alat berat  Mata tajam atau agak tumpul  Suatu ayunan  Tenaga agak besar  Pedang. vena jugularis.     Jumlah luka yang mematikan > 1 Luka tusuk percobaan (+) disekitar luka utama. pharyng. kerusakan organ vital. bergerombol Luka tangkisan (-) Pakaian disingkirkan terlebih dahulu Tangan yang memegang senjata kadang mengalami cadaveric spasm LUKA TUSUK DI KEPALA  Hampir selalu karena pembunuhan  Kematian karena rusaknya perdarahan. jugularis : emboli udara menyumbat a. kecelakaan Sebab kematian  Langsung : perdarahan.cerebralis  Terpotong v. rusaknya organ vital  Bentuk luka membantu identifikasi senjata LUKA TUSUK DI LEHER  Korban meninggal karena terpotongnya arteri carotis. trombus a. emboli udara  Tidak langsung : sepsis/ infeksi LUKA AKIBAT BENDA TUMPUL Roman Forensik Edisi 8 60 . celurit. carotis : perdarahan banyak.v. a. Ciri-ciri:  Besar  Tepi tergantung mata senjata  Sudut tergantung mata senjata  Kerusakan tulang. besar LUKA TUSUK ABDOMEN Kerusakan organ dalam. bagian tubuh terputus  Memar/lecet di sekitar luka Cara kematian  Pembunuhan. pulmonalis  Terpotong trachea: aspirasi darah ke paru-paru LUKA TUSUK DADA Kerusakan jantung. baling-baling kapal. trakea  Terpotong a. paru.

Mengenai tulang dan sendi . Generalized .Mengenai tengkorak . kadang dijumpai benda dengan bagian tajam dan tumpul (misalnya clurit) Pembagian kekerasan benda tumpul 1.Luka retak. koyak (laceration) Kepala . infeksi.Benda tidak bermata tajam . akibat kekerasan benda dengan luas tertentu yang relatif kecil . perdarahan.Jaringan intrakranial Leher dan tulang belakang Dada Perut Mengenai tulang-tulang Mengenai organ dalam Mengenai organ parenkim Mengenai organ berongga • Anggota gerak .• • • • • • Luka  hilang/rusaknya sebagian jaringan tubuh Kekerasan benda tumpul  kasus paling banyak terjadi.kerusakan organ vital.Konsistensi keras atau kenyal . syok. robek.Mengenai jaringan lunak LUKA LECET (ABRASION) Roman Forensik Edisi 8 61 .Mengenai sebagian besar atau seluruh tubuh . Localized . Benda tumpul : . terjadi dari tempat tinggi Tergilas/tertindih (tertimpa bangunan runtuh) Terkoyak kecelakaan lalu lintas Menurut jaringan atau organ yang terkena dan mengalami kerusakan Kulit . Cara kejadian  terutama berupa kecelakaan lalu lintas Sebab kematian korban kekerasan benda tumpul ---.Luka memar (contusion) .Luka lecet (abrasion) .Permukaan dapat halus atau kasar. dipukul kayu dsb) Serangan binatang (disepak kuda) Tubrukan atau jatuh 2.Mengenai sebagian kecil dari tubuh.Dijumpai pada : Serangan manusia (ditinju.Cara kejadian : Terlempar (kecelakaan lalu lintas.

Sebagian atau seluruh epitel hilang .Tampak mengkilap. dan sebacea mengalami kerusakan. sehingga epidermis menjadi tipis.Mikroskopis : Epidermis terpisah sempurna dari dermis dan tidak ada tanda intravena .• • • • Kerusakan yang mengenai lapisan atas dari epidermis akibat kekerasan dengan benda yang mempunyai permukaan yang kasar. Bagian yang mudah mengalami memar  mempunyai jaringan lemak dibawahnya dan berkulit tipis LUKA ROBEK (LACERATION) • • • Seluruh tebal kulit mengalami kerusakan dan jaringan bawah kulit. Luka Robek + Utuh + Tumpul Luka Iris Terpotong Tajam Memar dan lecet Rambut Jembatan jaringan Sudut/tepi luka LUKA RETAK • • Luka pada kulit daerah tubuh yang ada tulang tepat di bawah kulit tersebut (Misal : kepala dan tulang kering) Akibat dari kekerasan benda tumpul yang mempunyai pinggiran (tepi meja. folikel rambut.Timbul reaksi radang .Permukaan dapat tertutupi oleh eksudasi yang mengering (krusta) . Epidermis terkoyak.Biasanya tidak meninggalkan jaringan parut Ante mortem Warna coklat kemerahan karena eksudasi Mikroskopis : Terdapat sisa epitelium dan tanda-tanda intravena Post mortem . warna kekuningan . kelenjar keringat. Bila sembuh dapat menimbulkan jaringan parut Luka robek mudah terjadi pada kulit dengan adanya tulang di bawahnya.Sering terjadi pada daerah penonjolan tulang LUKA MEMAR (CONTUSION) • • Kerusakan adalah jaringan subkutan sehingga pembuluh darah kapiler rusak dan pecah  darah meresap kejaringan sekitar. sebagian atau seluruh lapisannya hilang Ciri luka lecet : . tepi pintu dll) Tepi Luka Roman Forensik Edisi 8 Luka Retak Tidak Tajam Luka Iris Tajam 62 .

Tidak ada kelainan neurologis • CEDERA KEPALA PENDAHULUAN Roman Forensik Edisi 8 63 . telinga o bila patahan mengenai atap bola mataBrill hematom .Muntah .Fraktur vault kranii (patah tulang atap tengkorak) Kelainan pada otak. menimbulkan Contusio serebri (memar otak) o Perdarahan kecil di permukaan otak tanpa disertai kerusakan arrachnoid di atasnya Lacerasio cerebri (robek otak) o Kerusakan pada white matter dan gray matter.Amnesia .Pingsan sebentar (hingga sampai 15 menit) . disertai robeknya arrachnoid.Epidural haemorrhage (perdarahan di atas selaput tebal otak) o Robekan pembulut darah diluar duramater (tersering  a.Pusing .Sudut Luka Permukaan Luka Jembatan Jaringan Rambut Memar/ lecet sekitar luka Tidak Tajam Tidak Rata + Tercabut + Tajam Rata Terpotong - Kekerasan Benda Tumpul Pada Kepala • Kelainan pada tengkorak berupa patah tulang . Ada 2 macam : Coup Counter coup Edema serebri • Kelainan pada selaput otak .Fraktur basis kranii (patah tulang dasar tengkorak) o umumnya keluar darah dari hidung.Subdural haemorrhage (perdarahan di bawah selaput tebal otak) . meningea media) o Darah merembes diantara otak dan tulang  membeku . mulut.Subarachnoid haemorrhage (perdarahan di bawah selaput laba-laba otak) o Pecahnya vena serebri posterior COMOSIO SEREBRI (Gegar otak) • • • Gangguan fungsi otak akibat trauma kepala Tanpa dapat ditemukan kelainan anatomi di otak Gejala klinis : .

Gelombang ini mengubah tekanan jaringan dan bila tekanan cukup besar. subdural dan intraserebral.Tingkat keparahan cedera kepala harus segera ditentukan pada saat pasien tiba di Rumah Sakit. Kelainan dapat berupa cedera otak fokal atau difus dengan atau tanpa fraktur tulang tengkorak. MEKANISME DAN PATOLOGI Cedera kepala dapat terjadi akibat benturan langsung atau tanpa benturan langsung pada kepala. Cedera difus dapat mengakibatkan gangguan fungsi saja. PATOFISIOLOGI Gangguan metabolisme jaringan otak akan mengakibatkan oedem yang dapat menyebabkan heniasi jaringan otak melalui foramen magnum. yaitu gegar otak atau cedera struktural yang difus.Cedera kepala atau yang disebut dengan trauma kapitis adalah ruda paksa tumpul/tajam pada kepala atau wajah yang berakibat disfungsi cerebral sementara.Cedera fokal dapat menyebabkan memar otak. sehingga jaringan otak Roman Forensik Edisi 8 64 . Adapun pembagian trauma kapitis adalah:1 • Simple head injury • Commotio cerebri • Contusion cerebri • Laceratio cerebri • Basis cranii fracture Simple head injury dan Commotio cerebri sekarang digolongkan sebagai cedera kepala ringan.Mekanisme cedera kepala II.2 Gambar 1.Sedangkan Contusio cerebri dan Laceratio cerebri digolongkan sebagai cedera kepala berat. hematom epidural. Merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif. dan sebagian besar karena kecelakaan lalulintas.2 I. gelombang kejut disebar ke seluruh arah.2 Dari tempat benturan. akan terjadi kerusakan jaringan otak di tempat benturan yang disebut “coup” atau ditempat yang berseberangan dengan benturan (contra coup).

Pasien mungkin mengeluh nyeri kepala. pemeriksaan memori.2. Pemeriksaan tambahan yang selalu dibuat adalah foto tengkorak. Simple Head Injury Diagnosa simple head injury dapat ditegakkan berdasarkan:2-4 • Ada riwayat trauma kapitis • Tidak pingsan • Gejala sakit kepala dan pusing 2. Contusio Cerebri Pada contusio cerebri (memar otak) terjadi perdarahan-perdarahan di dalam jaringan otak tanpa adanya robekan jaringanyang kasat mata. nekrosis.tersebut dapat mengalami iskhemi. mungkin muntah dan tampak pucat. yang tidak disertai kerusakan jaringan otak.2 III. GAMBARAN KLINIS Gambaran klinis ditentukan berdasarkan derajat cedera dan lokasinya. misalnya akibat syok. Vertigo dan muntah mungkin disebabkan lesi pada labirin atau terangsangnya pusat-pusat dalam batang otak. Commotio Cerebri Commotio cerebri (geger otak) adalah keadaan pingsan yang berlangsung tidak lebih dari 10 menit akibat trauma kepala. Cedera kepala dapat menyebabkan gangguan suplai oksigen dan glukosa.1. Movement). yang terjadi karena berkurangnya oksigenisasi darah akibat kegagalan fungsi paru atau karena aliran darah ke otak yang menurun. Hal penting untuk terjadinya lesi contusi ialah adanya akselerasi kepala yang seketika itu juga menimbulkan pergeseran otak serta pengembangan gaya kompresi yang destruktif. Kemampuan membuka kelopak mata (E) • Secara spontan 4 • Atas perintah 3 • Rangsangan nyeri 2 • Tidak bereaksi 1 2. EEG.4 3. Derajat cedera dapat dinilai menurut tingkat kesadarannya melalui sistem GCS.Amnesia ini timbul akibat terhapusnya rekaman kejadian di lobus temporalis. atau perdarahan dan kemudian korban dapat meninggal.Pada commotio cerebri mungkin pula terdapat amnesia retrograde. Roman Forensik Edisi 8 65 . meskipun neuronneuron mengalami kerusakan atau terputus.Akselerasi yang kuat berarti pula IV. Verbal. vertigo.Fungsi otak sangat bergantung pada tersedianya oksigen dan glukosa.2 1. yakni metode EMV (Eyes. Kemampuan komunikasi (V) • Orientasi baik 5 • Jawaban kacau 4 • Kata-kata tidak berarti 3 • Mengerang 2 • Tidak bersuara 1 3. Kemampuan motorik (M) • Kemampuan menurut perintah 6 • Reaksi setempat 5 • Menghindar 4 • Fleksi abnormal 3 • Ekstensi 2 • Tidak bereaksi 1 PEMBAGIAN CEDERA KEPALA 1. yaitu hilangnya ingatan sepanjang masa yang terbatas sebelum terjadinya kecelakaan.

sehingga terjadi vasoparalitis. 4.2 Pemeriksaan penunjang seperti CT-Scan berguna untuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek. sehingga menimbulkan blockade reversible terhadap lintasan asendens retikularis difus. maka rasa mual. Juga karena pusat vegetatif terlibat. Fraktur pada fossa anterior menimbulkan gejala:2. Gejala yang timbul tergantung pada letak atau fossa mana yang terkena. otak membentang batang otak terlalu kuat.5 Akibat gaya yang dikembangkan oleh mekanisme-mekanisme yang beroperasi pada trauma kapitis tersebut di atas. Fracture Basis Cranii Fractur basis cranii bisa mengenai fossa anterior.Oleh karena itu.2 Laceratio langsung disebabkan oleh luka tembus kepala yang disebabkan oleh benda asing atau penetrasi fragmen fraktur terutama pada fraktur depressed terbuka. muntah dan gangguan pernafasan bisa timbul.2. Setelah kesadaran pulih.2.2 5. otak tidak mendapat input aferen dan karena itu. Laceratio dapat dibedakan atas laceratio langsung dan tidak langsung. dan “intermediate coup” menimbulkan gejala defisit neurologik yang bisa berupa refleks babinsky yang positif dan kelumpuhan UMN.5 Gambar 2. Laceratio Cerebri Dikatakan laceratio cerebri jika kerusakan tersebut disertai dengan robekan piamater.hiperekstensi kepala.5 • Hematom kacamata (brill) tanpa disertai subconjungtival bleeding • Epistaksis Roman Forensik Edisi 8 66 . Tekanan darah menjadi rendah dan nadi menjadi lambat.3.Pergeseran otak akibat akselerasi dan deselerasi Timbulnya lesi contusio di daerah “coup”. subdural akut dan intercerebral. kesadaran hilang selama blockade reversible berlangsung.Laceratio biasanya berkaitan dengan adanya perdarahan subaraknoid traumatika. “contrecoup”. autoregulasi pembuluh darah cerebral terganggu. atau menjadi cepat dan lemah. Akibat blokade itu. penderita biasanya menunjukkan “organic brain syndrome”. fossa media dan fossa posterior. Sedangkan laceratio tidak langsung disebabkan oleh deformitas jaringan yang hebat akibat kekuatan mekanis.

4. hanya dalam tingkat yang lebih berat o Terjadinya penurunan kesadaran secara progesif o Adanya fraktur tulang tengkorak dan jaringan otak yang terlepas. maka darah akan terkumpul ditengah dan sekitarnya terbentuk perembesan yang membentuk cincin kedua. ada amnesia retrogad dan tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan neurologist. 3. yaitu jika setetes cairan darah yang dicurigai mengandung LCS diletakkan diatas tissue/koran. Lumbal Pungsi Untuk menentukan ada tidaknya darah pada LCS harus dilakukan sebelum 6 jam dari saat terjadinya trauma EEG Dapat digunakan untuk mencari lesi Roentgen foto kepala Untuk melihat ada tidaknya fraktur pada tulang tengkorak VI.VII perifer • Meningitis purulenta akibat robeknya duramater. 2. DIAGNOSA Berdasarkan :Ada tidaknya riwayat trauma kapitis Gejala-gejala klinis : Interval lucid. Komplikasi : • Gangguan pendengaran • Parese N. peningkatan TIK. 1. • Adanya cairan LCS yang bercampur darah. V. atau jika ada tidak lebih dari 10 menit o Pasien mengeluh pusing. muntah. kejang dan amnesia retrogad o Pemeriksaan neurologis terdapat lelumpuhan saraf dan anggota gerak. Adapun pembagian cedera kepala lainnya:2 • Cedera Kepala Ringan (CKR) → termasuk didalamnya Laseratio dan Commotio Cerebri o Skor GCS 13-15 o Tidak ada kehilangan kesadaran.• Rhinorrhoe Fraktur pada fossa media menimbulkan gejala: • Hematom retroaurikuler. • Cedera Kepala Berat (CKB) o Skor GCS <8 o Gejalnya serupa dengan CKS. Ottorhoe • Perdarahan dari telinga Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan foto roentgen basis kranii. gejala laterlisasi Roman Forensik Edisi 8 67 . • Cedera Kepala Sedang (CKS) o Skor GCS 9-12 o Ada pingsan lebih dari 10 menit o Ada sakit kepala. PEMERIKSAAN PENUNJANG Hal yang dapat dilakukan pada pasien dengan trauma kapitis adalah:2 CT-Scan Untuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek. Kebocoran LCS dapat diperiksa dengan “double ring” atau “halo sign”. sakit kepala o Ada muntah.

Hematom subdural o Letak : di bawah duramater o Etiologi : pecahnya bridging vein. KOMPLIKASI Jangka pendek :2. nadi melambat. hanya lebih berat. Oedema serebri Pada keadaan ini otak membengkak. • TIK meningkat • Cephalgia memberat Roman Forensik Edisi 8 68 . Perdarahan intraserebral akibat trauma kapitis yang berupa hematom hanya berupa perdarahan kecil-kecil saja. lalu menjadi lebar.5 1. Gejala-gejalanya berupa commotio cerebri. refleks tendon meninggi dan refleks patologik positif. tekanan darah meninggi. misal: hemiparesis. Hiperdens yang berbentuk cresent di antara tabula interna dan parenkim otak (bagian dalam mengikuti kontur otak dan bagian luar sesuai lengkung tulang tengkorak) Isodens → terlihat dari midline yang bergeser 3. dapat dijumpai tanda-tanda kerusakan traktus piramidalis. Gejala-gejala kerusakan jaringan otak juga tidak ada. kesadaran menurun. Hematom Epidural o Letak : antara tulang tengkorak dan duramater o Etiologi : pecahnya A. gabungan robekan bridging veins dan laserasi piamater serta arachnoid dari kortex cerebri o Gejala subakut : mirip epidural hematom. VII. Jika penderita dengan perdarahan intraserebral luput dari kematian. pupil pada sisi perdarahan mula-mula sempit. Ini adalah tanda-tanda bahwa sudah terjadi herniasi tentorial. hanya tekanannya dapat meninggi. terbanyak pada lobus temporalis. dan akhirnya tidak bereaksi terhadap refleks cahaya. Meningea media atau cabang-cabangnya o Gejala : setelah terjadi kecelakaan. 4. Perdarahan Intraserebral Perdarahan dalam cortex cerebri yang berasal dari arteri kortikal. Pada sisi kontralateral dari hematom.Pemeriksaan penunjang. mungkin hingga berjam-jam. nadi mungkin melambat. Tekanan darah dapat naik. o CT-Scan : ada bagian hiperdens yang bikonveks o LCS : jernih 2. o Pemeriksaan neurologis menunjukkan pada sisi hematom pupil melebar.Penderita lebih lama pingsannya. timbul dalam 3 hari pertama Kronis : 3 minggu atau berbulan-bulan setelah trauma o CT-Scan : setelah hari ke 3 diulang 2 minggu kemudian Ada bagian hipodens yang berbentuk cresent. perdarahannya akan direorganisasi dengan pembentukan gliosis dan kavitasi. Cairan otak pun normal. Keadaan ini bisa menimbulkan manifestasi neurologik sesuai dengan fungsi bagian otak yang terkena. penderita pingsan atau hanya nyeri kepala sebentar kemudian membaik dengan sendirinya tetapi beberapa jam kemudian timbul gejala-gejala yang memperberat progresif seperti nyeri kepala. pusing. o Akut (minimal 24jam sampai dengan 3x24 jam)  Interval lucid  Peningkatan TIK  Gejala lateralisasi → hemiparese o Pada pemeriksaan kepala mungkin pada salah satu sisi kepala didapati hematoma subgaleal.

krn kanan trlindung hepar dr fiksasi.klavikula :tdk menyebabkan kematian 2.haus. pneumothoraks o b.jantung & paru: lepas dr fiksasi.hepar :kontusi.pericardium:robekan krn #costae/ sternum o b. disfagia.5 1.kandung seni: jika penuh mudah ruptur Pelvis Trauma=> Becken # • Roman Forensik Edisi 8 69 .lien: ruptur bntuk Y. disartria. penurunan intelegensia.lambung: trauma lokal hipokondria kiri=>kontusi. o b. lepas dr fiksasi 1. refleks vagal  emfisema => asfiksia Pd tlg.skapula (jarang) o d.Organ parenkim o a. contusi. menarik diri. mudah lupa. mudah tersinggung.pucat. laserasi krn #costae o a.dyspne o komplikasi: internal bleeding o c.VII dan gangguan N.adrenal: kanan mdh trluka. laserasi . umumnya luka brsama organ lain 2.ruptur dinding lambung.Mengenai tulang : o a. parese N. hidrosis.robek. laserasi o c.Mengenai organ dalam dada : dpt trjadi lepas crushed/contused. Sindrom pasca trauma Dapat berupa : palpitasi.• Kesadaran menurun Jangka Panjang :2.ruptur. Gangguan neurologis Dapat berupa : gangguan visus.pecah.nadi cpt. libido menurun. infeksi o b. sakit kepala.usus/duodenum: sering luka stinggi L2. dan depresi. Kekerasan Benda Tumpul Pada Leher Dan Tulang Belakang • • • Pada leher : perdarahan otot/ # tlg leher  † :spasme laring.belakang : Kekerasan langsung :# / luksasi Tdk langsung : # / dislokasi Pd Dada: 1.Organ berongga o a.tulang iga (transverse/obliq #)  †: syok hematothoraks. gangguan tingkah laku. bs ruptur jika penuh cairan o c.pankreas: tjd ruptur vertikal.ginjal: retroperitoneal bleeding.robek. strabismus. misalnya: menjadi kekanak-kanakan. laserasi o komplikasi ruptur : syok segera.Diafragma: kiri sring robek. konsentrasi berkurang. † krn syok & perdarahan o e. luka rongga dlm:hematuri o d.H / L o keluhan: nyeri perut kiri atas. VIII.sternum: (costae 2-4)=> robekan pericardium/jantung o c.pecah. kadang ada hemiparese 2. • Pd Perut Umumnya trjadi: contusi.internal bleeding. kesulitan belajar.

vagina & anus Kekerasan Benda Tumpul Pd Anggota Gerak # Rr. Hyperthermis 2. Berakhir dengan kematian Perubahan yang terjadi pada korban luka bakar : Roman Forensik Edisi 8  70 .infeksi(osteomyelitis).gilasan roda mobil=> avulsi.tdk langsung: bukan pd tempat kontak (ct.Sering pada orang tua dan anak-anak . Luka bakar kimia 3.os 1.simpisiolisis.Dapat terjadi pada kasus pembunuhan dan bunuh diri Klasifikasi luka bakar : 1.Biasanya karena kecelakaan . perdarahan. Luka bakar thermis : Adalah kelainan akibat kontak permukaan luar dan dalam dari tubuh dengan panas fisik Penyebabnya : .kekerasan lsg: dislokasi.• Misal: - jatuh dr ketinggian tergilas roda=> luksasi sakroiliaka.muscular action (jarang) 2.Luka bakar oleh panas basah (scalds/moist heat) 2. Sembuh dengan bekas (jaringan parut) : bila luka bakar disertai kerusakan seluruh tebal kulit disertai kerusakan jaringan bawah kulit 3.timbul luka lecet.uretra. panas api. misal : sinar matahari. pubis/sacrum bisa disertai robekan perineum. rusak hebat jaringan skitar b. kekerasan yg hebat =>ekstremitas teramputasi dan hancur Komplikasi fatal: syok. trombose & embolisme TRAUMA THERMIK  Trauma thermik 1. scrotum. #.robek dlm brbagai derajat o b. benda padat yang panas .Mengenai bagian Lunak o a.caput femur keluar dr acetabulum saat trgilas mngenai tgh femur) c. Luka bakar listrik Hyperthermis  Korban dengan luka bakar akan mengalami beberapa kemungkinan : 1.memar. Hypothermis  Kematian karena luka bakar : .Luka bakar oleh panas kering (burns/dry heat).tulang & sendi a. Sembuh tanpa bekas : bila luka bakarnya hanya berupa erythema /vesikel yang tanpa disertai kerusakan jaringan bawah kulit 2.

Bila blood volume hilang 20%  terjadi cardiac failure  shock . Luas daerah yang terbakar 2.Pengeluaran cairan tubuh terbanyak pada 6-8 jam pertama . dan pecahnya eritrosit Cortison release meningkat Dapat terjadi curling ulcers pada lambung. 2 dan 3 menentukan dalamnya luka bakar Rule of Nine untuk menentukan luasnya luka bakar : Permukaan kepala dan leher 9% Permukaan dada 9% Permukaan punggung 9% Permukaan perut 9% Permukaan pinggang 9% Permukaan ekstremitas atas kanan 9% Permukaan ekstremitas atas kiri 9% Permukaan ekstremitas bawah kanan 9% Permukaan ekstremitas bawah kiri 9% Permukaan alat kelamin 1% Tingkatan dalamnya luka bakar menurut Boyler (1814) : Tingkat I : hanya mengenai epidermis Tingkat IIA : superfisial. akut dilatasi/paralise usus Neurogenic shock karena nyeri hebat Asfiksia akibat edem laring akibat terhirup udara sangat panas Keracunan akut gas CO atau gas toksik lain  anoksia  mati lemas        Gradasi luka bakar Ditentukan oleh : 1. timbunan Hb.komposisi cairan bulla hampir sama cairan plasma Eritrosit  rapuh dan pecah karena panas Akut renal failure karena : shock. 3.1% luka bakar  cairan tubuh yang keluar ke interstitial 0.Insensible water loss . mengenai epidermis dan lapisan atas corium Tingkat IIB : dalam. otot dan tulang Beberapa cara untuk mengetahui dalamnya luka bakar : Tingkat luka Klinis bakar I Hiperemia Roman Forensik Edisi 8 Tusukan jarum Hiperestesi 71 . . mengenai epidermis dan lapisan dalam corium Tingkat III : mengenai seluruh tebal kulit. Tinggi rendahnya temperatur /panas yang membakar tersebut Lamanya kontak dengan kulit No.5-1% blood volume . Panas  permeabilitas kapiler darah  cairan intraseluler keluar ke interstitial. subcutan.

lebam mayat 3.luka bakar Tk II > 30% . Bulla .luka bakar Tk III <2% . Dewasa :  Ringan a. atau yang memberi komplikasi pada tractus respiratorius atau ada fraktur tulang  Sedang a. Membantu mengumpulkan barang bukti e.luka bakar Tk II (10-15%) .luka bakar Tk III <2% .luka bakar Tk II (15-30%) . Dewasa : . Anak-anak : . Menentukan sebab/akibat dari luka bakar d. Luka bakar Tk III pada tangan. kaki.IIA IIB III Basah. tanda-tanda pembusukan 5.luka bakar Tk II < 15% .luka bakar Tk II > 15% . wajah.luka bakar Tk III (2-10%) Pemeriksaan Kematian Pada Korban Luka Bakar  Pemeriksaan TKP Tujuan : a. Bulla (+) Basah. Menentukan perkiraan saat kematian c. hitam Hiperestesi Hiperestesi Anestesi Gradasi luka bakar menurut American College of Surgeon :  Kritis a. umur larva pada jenazah yang sudah membusuk Pada luka bakar yang dalam dan total. Menentukan cara kematian  Menentukan apakah korban masih hidup/sudah meninggal  alat yang digunakan stetoskop dan senter  Menentukan perkiraan saat kematian.luka bakar Tk III (2-10%) . kaku mayat 4.luka bakar Tk III > 10% . Dewasa : . terdapat kesukaran memperoleh data pada : Sikap puguilistik pada luka bakar total Roman Forensik Edisi 8 72 . Menentukan korban masih hidup/sudah meninggal b. penurunan suhu tubuh 2. Anak-anak : b. Anak-anak : b.luka bakar Tk II < 10% b.luka bakar Tk III > 10% c. keputihan Kering. putih. data yang diperlukan : 1.

Derajat I : berupa kemerahan (hiperemia) . umur.Dilaksanakan pada pemeriksaan TKP maupun pada waktu pemeriksaan jenazah Data korban : tinggi badan. berat badan. hipertensi 2. misal : epilepsi. misal : luka-luka akibat benda tajam/tumpul yang mungkin terjadi sebelum terbakar.Lebam mayat sulit ditentukan pada korban yang hangus terbakar  Perlu diketahui jam ditemukan korban meninggal dan jam terakhir korban terlihat hidup  Menentukan sebab/akibat dari luka bakar : 1. misal : pada kasus bunuih diri barang-barang di sekitar korban tidak berantakan 3. Luka bakar panas (dry heat)  Dapat disebabkan : tersentuh botol panas. terjilat nyala api. tangki bensin yang mudah terbakar. tatto Simpan potongan kain yang tidak terbakar Catat dan simpan barang pribadi milik korban Roman Forensik Edisi 8 73 . warna kulit. kompor yang meledak. Adanya tanda-tanda kekerasan lain selain luka bakar. kejadian kebakaran besar  Membantu mengumpulkan barang bukti : o Barang bukti di sekitar lokasi korban diperlukan untuk mengungkapkan lokasi. sumber. Syok (hipovolemik maupun neurogenik 2. SEBAB KEMATIAN PADA LUKA BAKAR 1. jenis kelamin. sumber uap panas. termos. Dapat juga dinilai dari posisi korban pada waktu ditemukan dan bagian yang terkena luka bakar. penyebab luka bakar. Luka bakar oleh cairan (scalds) . Keracunan akut gas CO atau gas-gas toksik yang lain IDENTIFIKASI KORBAN .Derajat II : berupa gelembung berair (vesikula)  disebabkan : siraman air panas.  Cara kematian pada luka bakar Perlu diperhatikan beberapa hal : 1. o Barang bukti dapat berupa : puntung rokok. warna mata dan rambut Tanda pengenal khusus pada tubuh : jaringan parut. pakaian korban yang terbakar. Penyakit-penyakit yang mungkin menyebabkan kecelakaan. Akut Renal Failure 4. cipratan minyak panas 2. Edema laring 5. Keadaan barang-barang di sekitar korban. Infeksi 3.

ptechiae pada pleura. adanya pigmen karbon yang melekat pada mukosa saluran nafas  Jantung : edema interstitial dan fragmentasi miokardium  tidak khas  Hati : perlemakan hati. edema paru interstitial. nekrosis. kenaikan tekanan intrakranial.Makroskopis : paru menjadi lebih berat dan mengalami konsolidasi . bendungan. paha  Pugillistic attitute c. pneumonia. perubahan yang terjadi akibat dari komplikasinya Luka bakar fatal  pembesaran ginjal  Saluran Pencernaan : Curling’s ulcer yang kadang mengalami perforasi  Kelenjar endokrin  Thyroid : Berat & aktifitas kelenjar thyroid meningkat  Thymus : involusi akibat hiperaktifitas kelenjar adrenal  Adrenal : kenaikan kadar steroid dalam darah dan urin. hepatomegali  tidak khas  Limpa dan kelenjar getah bening : edema dan nekrosis dari limfoid germinal centre dan infiltrasi makrofag  Ginjal : tidak terpengaruh langsung. tracheobronchiolitis. kongesti. kongesti paru. bendungan sinusoid pada korteks dan medulla  Susunan Saraf Pusat Edema. penimbunan lemak. herniasi dari tonsilla serebellum melewati foramen magnum serta adanya perdarahan intrakranial  Sistem muskuloskeletal o Otot. Lebam Mayat : sukar dilihat OTOPSI PADA KORBAN YANG MENINGGAL KARENA LUKA BAKAR THERMIK Pemeriksaan Dalam Tidak ditemukan kelainan yang spesifik  Sistem Pernafasan : . tulang  jarang terpengaruh  Fraktur patologis HYPOTHERMIS  Sistemik Hypotermi  Lokal Hypothermi Pada hypothermy terjadi: Roman Forensik Edisi 8 74 .- Kumpulkan sampel rambut yang tidak terbakar Buat pemeriksaan gigi dan bila mungkin buat sidik jarinya Buat pemeriksaan radiologik Tentukan golongan darah OTOPSI PADA KORBAN YANG MENINGGAL KARENA LUKA BAKAR THERMIK  Pemeriksaan Luar a. lutut. Heat Stiffening Ditemukan kekakuan pada otot-ototnya  koagulasi protein-protein otot yang terkena panas Tidak terjadi rigor mortis Fleksi pada sensi siku. Kulit : keadaan luka. dalam luka Tanda-tanda reaksi vital: daerah yang berwarna merah pada perbatasan antara daerah yang terbakar b. tendo.Kelainan yang sering : edema laringopharing. luas luka.

Namun. Luka tembak Senjata api akan menghasilkan jenis luka tumpul yang khusus. kimiawi. Sebab kematian adalah penyakit atau cedera atau luka yang dimulai serangkaian kejadian yang bertanggung jawab dalam menyebabkan kematian Mekanisme kematian adalah gangguan atau kelainan fisiologik dan atau biokimia yang bertanggung jawab terhadap timbulnya kematian. Trauma penyebab kematian dikelompokkan jadi trauma mekanik. listrik.       Penurunan denyut nadi Respiratory rate & tidal volume menurun Paralisis usus Erosi dan hemoragik pada lambung Pankreatitis Diuresis Hemokonsentrasi RESUME Patologis forensik juga disebut penentu cara kematian. kapak. Trauma bukan penetrasi primer kecelakaan motor atau terjatuh. Trauma tumpul dibagi senjata api dan bukan senjata api. Artinya pembuluh darah utama arteri pada jantung harus mengalami kerusakan yang hebat sehingga dapat menyebabkan kematian akibat trauma tajam. Factor penting yang benar adalah objek tumpul menghasilkan laserasi dan objek tajam menghasilkan luka insisi. suhu/fisik. Roman Forensik Edisi 8 75 . trauma tumpul dapat merobek jantung dan pembuluh aorta. Trauma bedah dibagi trauma penetrasi atau bukan penetrasi. yang menyebabkan perdarahan hebat. Kekerasan tajam menunjukkan cedera dari benda tajam seperti pisau. Kematian dari trauma tumpul dan tajam melalui berbagai mekanisme.. Cara kematian diartikan sebagai gaya dalam terjadinya sebab kematian. Senjata antik atau shotgun digolongkan pada jenis senjata laras pendek. atau menghasilkan komplikasi lainnya. Namun. kecelakaan. karena itu bahan tanpa asap yang sering digunakan. Trauma tumpul Trauma tumpul dapat menyebabkan kematian umumnya apabila pada jaringan otak terdapat kerusakan yang jelas. Umumnya kombinasi dari ukuran metrik dan Inggris digunakan untuk membedakan jenis senjata yang digunakan. bunuh diri/suicide dan homicide. Luka tembak bisa digolongkan berdasarkan bahan yang digunakan untuk melontarkan peluru. Luka bisa dibedakan atas dasar lingkar tengah dari proyektil atau peluru. tapi trauma tajam umumnya menyebabkan kematian dengan perdarahan luar. Kebanyakan kasus kematian didapatkan pada senjata laras panjang – rifle atau handgun--. penggunaan bubuk mesiu sangat jarang terlihat. 4 cara kematian yaitu alamiah. Trauma mekanik dibagi kategori tajam dan tumpul. Luka akibat senjata api adalah luka umum yang terdapat pada kasus pembunuhan dan bunuh diri pada negara Amerika Serikat. Trauma mekanik Cedera kekerasan tajam Trauma mekanik terjadi saat kekerasan fisik melebihi kekuatan regangan jaringan/kulit saat kekerasan terjadi. Trauma senjata api dapat dibagi kecepatan rendah dan kecepatan tinggi. Trauma penetrasi mencakup luka tembak dan luka tusuk. Perbedaan lainnya yang dapat dilihat adalah senjata laras panjang dan laras pendek. Sebagai catatan lagi luka tajam pinggir/tepi luka yang membedakan dengan cedera yang dihasilkan objek tumpul. Bahan yang umum digunakan adalah bubuk mesiu dan bubuk tanpa asap (nitroselulosa). pedang.

Luka dengan jarak tembak yang jauh sedikit mendapat efek dari gas dan bubuk. Dalam hal ini disinggung hanya bubuk tanpa asap. dan kemudian akan membakar bubuk tanpa asap. Suatu luka yang tidak tembus akan mempunyai satu luka masuk dan tidak memiliki luka keluar. Sebagaimana jarak antara laras dengan kulit bertambah jauh. dibandingkan dengan warna merah gelap dari hemoglobin dan myoglobin yang normal. akan terlempar hanya beberapa inchi. tenaga yang melontarkan peluru adalah gas yang dihasilkan dari pembakaran cepat dari bubuk mesiu atau bubuk tanpa asap. Luka oleh caliber 0. Sebagai tambahan. adalah penting untuk mempunyai media pencetus awal yang menyalakan api. Karena itu. termasuk logam berat. kecepatan bubuk akan melambat sehingga tidak mampu untuk menembus kulit. Ketika suatu senjata ditembakkan. Kecepatan 100 meter per detik merupakan kecepatan umum yang dibutuhkan untuk menghasilkan penetrasi. Untuk menyalakan bubuk tanpa asap. nitrogen dioksida. efek dari gas akan berkurang dan hanya bubuk yang tidak terbakar dan peluru yang mampu menembus kulit. berdasarkan luka yang dihasilkan. Perbedaan 0. adalah kecepatan dari proyektil peluru. kulit akan menunjukkan variasi luka robekan karena gas yang mengenai kulit akan merusak jaringan kulit. terdapat perbedaan kuantitatif antara proyektil berkecepatan tinggi dengan proyektil berkecepatan rendah. karbon monooksida akan bereaksi dengan hemoglobin dan myoglobin pada luka yang menghasilkan karboksihemoglobin dan karboksimyoglobin. Proses pembakaran yang cepat akan menghasilkan sejumlah besar karbon monooksida. Senyawa ini akan berwarna merah terang. Produk gas. Sesuai dengan hal ini adalah peluru harus ditemukan dari setiap luka tak tembus. jelaga dan klem. Terakhir. Luka jenis ini disebut luka tembak dengan jarak intermediat.Lebih penting lagi.22 inchi sampai 0.25 inchi pada Roman Forensik Edisi 8 76 . Kulit orang yang lebih muda lebih elastis dari pada kulit orang yang lebih tua.45 inchi. Lingkar tengah dari defek kulit akan menunjukkan lingkar tengah dari peluru yang digunakan.2 inchi tidak mudah untuk dilihat oleh pengamat. karena bubuk mesiu jarang digunakan. Pola luka akan membesar saat jarak bertambah jauh.38 inchi pada orang berusia 20 tahun mungkin akan terlihat sama pada luka oleh caliber 0. pemantik awal adalah sebuah mangkuk kecil yang terdapat pada bagian dalam belakang selongsong. dan sejumlah asap dari gas karbon yang tidak terbakar. Efek dari gas akan menghasilkan apa yang disebut dengan luka kontak langsung dan tidak kontak. Kulit yang elastis kerusakannya akan lebih kecil. Suatu luka tembus akan memiliki luka masuk peluru dan luka keluar. Yang terlihat dari penghitaman kulit. Seberapa jauh masing-masing komponen akan terlontar adalah dasar untuk menentukan jarak dari laras senjata dengan korban saat senjata api ditembakkan. Suatu luka tembak jarak jauh yang umum akan memiliki defek kulit yang melingkar dan tanda mengelupas di sekitar sisinya. Faktor utama yang menentukan ukuran luka tembak masuk jarak jauh adalah elastisitas dari kulit. tapi hal ini tidak selalu nyata karena terdapat perbedaan kecil antara diameter peluru yang umum digunakan oleh masyarakat sipil. Menghantam (atau memanaskan) media ini akan menyalakan api. Karena luka tembak dengan jarak yang jauh sangat sedikit menimbulkan efek selain dari efek akibat peluru. Kerusakan luka tembak akan bertambah sebagaimana kecepatan peluru bertambah. Peluru memiliki berbagai jenis ukuran dari 0. Pada semua selongsong peluru kecuali pada senjata dengan kaliber 22 (juga disebut senjata api rim karena media pencetusnya terdapat pada sekeliling selongsong). Luka tembak jauh akan sedikit terdapat asap. karbon dioksida dan gas lainnya. Bubuk yang tidak terbakar yang menembus kulit akan menghasilkan semacam tatto atau klem pada sekitar luka peluru. Titik potong antara kecepatan tinggi dan rendah berkisar 300 meter per detik. Pada jarak satu meter. Sejalan dengan hal ini maka tidak akan ditemukan peluru di dalam tubuh.22 atau 0. Kebanyakan pistol akan menghasilkan klem ini ketika jarak kulit pada laras sekitar setengah sentimeter sampai satu meter. Jenis penggolongan yang lain dari luka senjata api ialah dari kemampuan peluru untuk memberi luka tembus atau luka tidak tembus. jarak tembak susah ditentukan karena pakaian dan benda lain dan menghalangi efek dari gas dan bubuk.

untuk memastikan kaliber senjata dari luka kontak tidak mungkin. karena jenis luka sedikit hubungannya dengan jenis kaliber dalam merobek kulit. Jaringan yang cedera akan memecahkan poin. luka tembak keluar dengan banyak laserasi pada daerah sekitar memiliki kecepatan yang tinggi . karena peluru memutar dengan cepat pada aksis 90 derajat dari tujuannya. Luka tembak keluar akan terlindungi atau terhalau jika korban tembak mengenakan pakaian ketat konstriktif seperti jaket kulit tebal atau pakaian yang terbuat dari kain tenunan ketat. Peluru tembak keluar memiliki pengertian bahwa hal itu disebabkan oleh peluru yang melewati seseorang. itu akan menghasilkan bentuk peluru tembak masuk. hal ini dapat membantu dalam membedakan dua jenis luka tembak. dan gelombang shock pada pembentukan kolaps. Luka tembak masuk akan dihalau oleh jaringan lunak dan tulang. Ketika jaringan akhirnya terkoyak. Untungnya. seperti yang ditunjukkan pada peluru dapat goyang. Lihat Gambar 4. Luka tembak masuk secara umum berbentuk lingkaran ketika peluru ditembakkan dari senapan. Retraksi ini akan menciptakan cavitas sementara yang besarnya akan setingkat dengan energi kinetik dari peluru. namun tidak pecah. kemudian hidung peluru menggarut kulit. senjata dengan kecepatan tinggi biasanya ditemukan pada militer dan pemburu dengan senjata panjang. Penting bentukan segi empat panjang dari luka tembak masuk. Peningkatan kecepatan proyektil dapat menghasilkan jelaga pada luka masuk dan efek karbon monooksida pada luka keluarnya. peluru yang memantul atau melewati orang lain sebelum mengenai orang kedua akan goyang.orang berusia 50 tahun. Dihalaunya luka tembak keluar akan terlihat seperti luka tembak masuk. ia akan bergerak lebih cepat daripada kecepatan saat berada di jaringan. Roman Forensik Edisi 8 77 . tepi abrasi lebih luas dari pada yang biasanya terlihat pada luka tembak masuk. maka peluru akan merobek kulit dan abrasi tidak terjadi. Ini hanya pecah pada kecepatan yang lebih lambat daripada perjalanan peluru. Luka tembak keluar tipe lukanya berupa luka laserasi. Peluru tidak goyang ketika ditembakkan dari senjata yang dibuat dari barel. Sebaliknya. Ketika sebuah peluru mengenai seseorang. peluru akan melewati tubuh seluruhnya sebelum terjadi proses kerusakan.10 yang cukup mewakili fenomena ini. Jika pada saat masuknya peluru seperti penembakan langsung. Perlindungan luka tembak keluar dan masuk dengan target pertengahan biasanya tidak yang hanya dapat dilihat. Pada kasus kecepatan tinggi pada senjata api yang panjang dimana keceptannya 1000 meter per detik. Luka pada peluru disebabkan karena pembentukan lubang yang sementara saat peluru melewati tubuh seseorang. Meskipun demikian. sebagaimana dapat terlihat. Kulit ditekan untuk beberapa waktu sebelum peluru menembus bahan menopang. Jika kulit tidak terlindungi. Perkiraan kecepatan sebuah peluru keluar bisa dilihat dari tampilan pada luka tembak keluar. Penting untuk catatan bahwa luka tembak masuk memilki gambaran unik jika luka tembak masuk dihalangi atau dihalau. jaringan ini akan tertarik menuju kembali menuju tempat luka di mana peluru masuk dan dibelakangnya dikarenakan adanya elastisitas jaringan dalam menerima peluru berkecapatan tinggi. Cavitas kemudian akan secara bertahap kolaps setelah meregang beberapa kali. Luka tembak keluar yang tampak kecil dan berbentuk celah dan memiliki sedikit laserasi kecil pada daerah sekitar memiliki kecepatan yang lambat dan peluru biasanya akan ditemukan di dekat badan mayat (atau bahkan di pakaian). kolapsnya lubang. Hal tersebut Ini khas pada kasus luka tembak keluar. Secara jelas. Perputaran menyebabkan luka tembak masuk pada peluru menjadi bentuk lingkaran atau mungkin lonjong jika peluru mengenai kulit pada sudut selain 90 derajat. luka kontak lebih besar dari pada luka keluar. perubahan ini terdapat pada bagian dalam dari luka keluar. untuk menentukan arah. bergerak melalui udara menuju titik pusat arah dari gerakannya. sehingga hal itu akan mendorongnya keluar. Jika peluru memasuki bagian tubuh. namun ini tidak selalu terjadi. Meskipun dalam ilmu konvensional menyatakan bahwa luka tembak keluar lebih besar dari luka tembak masuk. Sering. Peluru akan goyang jika melewati medium yang lebih pekat daripada udara. itulah sebabnya tepi abrasi muncul di sekitar luka tembak masuk. atau terdapat bahan seperti dinding kering yang dapat ditembus peluru keluar yang akan melindungi kulit.

dan merupakan jenis obat yang sering disalahgunakan pada zaman sekarang. Umumnya. jejas mematikan umumnya karena trauma kepala. trauma tumpul pada pembunuhan pada orang dewasa memerlukan luka yang bersifat mematikan pada kepala. Pada kadar rendah intoksikasi. Obat ini merupakan salah satu pendepresi sistem saraf pusat. diperkirakan. Kerusakan jantung akan menyebabkan penurunan drastis tekanan darah yang terjadi seketika. Karena itu. Obat itu adalah etil alkohol.Adanya saluran dari gelombang dan kolaps cavitas sementara akan merusak jaringan di tempat di mana peluru masuk dan di jaringan sekelilingnya. Suatu konsep penting bahwa pola dari benda yang digunakan untuk menghantam bisa didapat pada orang yang dihantam. namun berperan dalam sebagai 5% faktor kontribusi dalam trauma kematian. umumnya dengan kendaraan bermotor. Ethanol mungkin obat dengan sejarah penyalahgunaan obat terlama. kurang dari 0. Pertama adalah kontusio. Ethanol merupakan bahan aktif dalam bir. mungkin dikarenakan perlambatan dari neuron inhibisi. tiga kali dari diameter peluru. umumnya. Untuk peluru dari senjata berkecepatan tinggi. Secara khusus. Trauma kimia Kematian dari trauma ini meliputi kematian yang dihasilkan dari penggunaan obat dan racun. Hematom adalah tumor darah. bekerja dengan memperlambat reaksi dan komunikasi dari otak menuju neuron batang otak. Pada kadar konsentrasi alkohol darah lebih dari Roman Forensik Edisi 8 78 . kebanyakan orang akan menyadari akan adanya peningkatan dari waktu reaksi. trauma tumpul pada kepala sering menimbulkan hematom. Luka pada daerah lain jarang menghasilkan kematian. Pola luka semacam itu penting untuk menentukan tipe benda yang digunakan sebagai senjata. dikenal dengan istilah “telur angsa”. konsep dari “stopping power” tidak selalu tepat. tapi trauma dada dan abdomen dengan adanya robekan dari organ dalam. Suatu kontusio adalah pengumpulan darah pada jaringan di luar jaringan vaskular darah.03 gram persen dari kadar alkohol darah. besarnya kerusakan mungkin dapat sepuluh kali lebih besar dari diameter peluru. otak masih akan berfungsi selama 10 sampai 15 detik setelah kehilangan perfusi. Setiap janis senjata api mempunyai “stoppong power” jika digunakan untuk menembak seseorang di kepala. Trauma tumpul lainnya Contoh trauma tumpul lainnya yang paling sering terdapat pada masyarakat adalah tabrakan dengan media transportasi. tapi bahkan untuk peluru pistol yang relatif lambat. Jarang kasus tabrakan masuk dalam jenis pembunuhan ataupun bunuh diri. dan toma adalah bahasa Latin untuk tumor. Hema berasal dari kata heme. yang juga disebut ethanol. Sebuah luka tembak pada organ yang kurang vital akan lebih memberikan banyak waktu. anggur. dengan mengecualikan luka tembak. hati dan jantung juga sering ditemui. Kematian yang terjadi dari kejadian tersebut umumnya digolongkan dalam kecelakaan. Besarnya kerusakan yang ada tergantung dari organ yang ada. Istilah penting kedua lainnya ialah hematom. Pada anak-anak. tapi pelarangan tidak cukup kuat untuk menghilangkan alkohol sebagai agen penyebab pada kebanyakan luka trauma. Dua istilah lainnya perlu dipelajari. Karena itu. Sebaliknya semua jenis senjata api tidak akan memiliki “stopping power” jika ditembakkan pada bagian selain kepala. dan minuman yang diawetkan. Umumnya dikarenakan trauma tumpul yang merusak jaringan cukup hebat untuk menyebabkan kebocoran darah dari pembuluh darah yang kecil. seseorang masih masih dapat menusukan ujung pisau bayonetnya kepada lawannya di dalam 10 sampai 15 detik setelah ditembak di dadanya. Hemtom adalah kontusio dengan lebih banyak darah. seimbang dengan 330 mililiter bir dengan kandungan ethanol 5 %. Alkohol juga dapat membunuh secara langsung. Alkohol merupakan bahan yang diharamkan oleh agama Islam dan beberapa kepercayaan Kristiani. Obat yang umum ditemukan dalam praktisi forensik jarang membunuh secara langsung. dan menurunkan perfusi ke otak. Namun. seperti limfa. bahasa Latin untuk darah.

Dengan jumlah besar alkohol. Sebagai contoh. Merupakan suatu senyawa tidak berbau. Seperti CO. Sayangnya. Pada kadar 0. diazepam.0. Patologis forensik mampu mencium sianida atau memperkerjakan seseorang yang mampu menciumnya. Ketidaadaan permintaan diagnosis pada penyebab lain kematian pasangan dengan riwayat terpapar pada lingkungan baik hipertemia maupun pada hipotermia diharapkan. karbon monooksida merupakan senyawa kimia umum yang menghasilkan kematian. Kematian karena kokain lebih jarang dibandingkan dengan kematian oleh obat depresan.10 gram persen dan absorpsi lebih lanjut akan terhenti. beberapa tanda-tanda nyata dapat ditemukan pada autopsi untuk memberikan diagnosis pasti yang menyebabkan kematian. Roman Forensik Edisi 8 79 . dan detak jantung yang tidak terkontrol adalah kumpulan mekanisme keracunan kokain yang telah dilaporkan dapat memicu kematian.hipertermia adalah panas yang berlebihan. seseorang yang belum pernah terekspos dengan ethanol sebelumnya akan menuju status koma jika tidak dirangsang.30 gram persen. Kokain merupakan stimulan sistem saraf pusat. Penyalahgunaan obat lain selain alkohol menghasilkan kematian umumnya melewati mekanisme yang sama. dan opiat. Kematian karena overdosis alkohol umumnya didapat pada suatu kontes di mana peserta harus meminum minuman keras sebanyak banyak nya. Jumlah yang disebutkan di atas untuk penyalahgunaan dari alkohol. Dalam kedua jenis kematian. menunjukkan adanya penurunan fungsi otak dan perlambatan waktu reaksi.03 gram persen. Kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan kematian melalui kerusakan pada mekanisme normal yang menjaga suhu tubuh sekitar 37 derajat celcius. orang tersebut akan masuk dalam koma yang dalam. berwarna. Seorang patologis yang membuka rongga perut dari korban yang melakukan bunuh diri dengan menelan potasium sianida dapat terbunuh oleh adanya gas yang dilepaskan. Orang yang mengkonsumsi alkohol dan kebanyakan obat terlarang lainnya membentuk semacam toleransi yang menyebabkan efek alkohol dalam obat menghilang dalam kadar tertentu. Sianida terdiri dari karbon dan nitrogen. Hipotermia merupakan suhu\dingin yang berlebihan. Walau bukan jenis penyalahgunaan obat.30 gram persen sering terlihat pada pengemudi kendaraan. Mariyuana tidak menghasilkan kematian lewat suatu proses overdosis. Dia tidak akan bisa diintervensi dan akan bernafas cukup pendek untuk kemudian akan meninggal. Baunya seperti kacang almond dan adapat dideteksi dalam jumlah yang sedikit seperti satu bagian per sejuta atau 0. Kematian akibat kurangnya oksigen bisa dihasilkan oleh overdosis alkohol. reflek muntah dapat ditekan sebelum terinisiasi. sianida juga dapat dihasilkan oleh proses pembakaran.00001 persen oleh orang yang telah ahli dalam melacak sianida. peningkatan suhu tubuh yang tajam. Kematian semacam ini jarang terjadi. Sianida merupakan senyawa yang serupa dengan CO melalui intervensinya dengan oksigenasi otak. Mariyuana adalah sebuah pengecualian untuk penyalahgunaan obat. Trauma suhu Kontak dengan panas yang berlebihan ataupun dingin dapat menghasilkan kematian. tidak sebanyak 50 persen dari populasi yang mampu mencium sianida. Pada dosis tinggi. Kematian karena CO mungkin karena kecelakaan. tapi efeknya dalam menghasilkan kematian tidak begitu berperan. Sianida mempunyai bau yang khas. Kokain merupakan pengecualian lainnya. bunuh diri dan pembunuhan. Obat semacam ini contohnya barbiturat. dikarenakan sesorang yang tidak pernah terekspos alkohol akan mulai muntah saat kadar alkhohol darahnya sekitar 0.25 gram persen. seseorang dengan konsentrasi alkohol darah lebih dari 0. gas hasil proses pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung karbon. kokain menghasilkan kejang. bekerja langsung pada enzim mitokondria pada otak. Obat ini menghasilkan peningkatan derajat koma diikuti dengan penghentian nafas dan kematian yang bertahap. Rangsangan akan memicu kembalinya sejumlah kesadaran. Pada kadar alkohol darah sekitar 0. memicu pada kematian. Sianida umumnya terdapat pada bentuk garam natrium dan potasium yang digunakan secara luas pada industri pengelatan dan pemurnian logam.

kematian karena asfiksia disebabkan gangguan oksigenasi di otak. dan hal ini meningkatkan kebutuhan oksigen. AC di Amerika alternatif dari positif ke negatif 3. Keracunan alkohol mengurangi respon terhadap dingin dengan meningkatkan hilangnya panas tubuh karena dilatasi pembuluh darah di permukaan tubuh. Korban tenggelam meninggal sebagai akibat dari asfiksia. Pemanasan dilakukan pada hipotermia dan kematian sering tidak terlihat di populasi orang usia lanjut. Mekanisme kematian umumnya kegagalan organ multipel.Kematian akibat hipotermia umumnya terjadi pada individu yang mabuk alkohol dan terkena suhu dingin. Suhu udara hanya 5 derajat celcius (41 derajat Fahrenheit) telah dilaporkan menyebabkan kematian akibat hipotermia. Paparan terhadap suhu air mendekati 0 derajat Celcius (32 derajat Fahrenheit) akan menghasilkan kematian dalam hitungan beberapa menit. maka akan mengalami fibrilasi ventrikel. memicu batuk dan inhalasi refleks tambahan. suatu gangguan oksigenasi pada otak. Kematian akibat panas terjadi dalam berbagai situasi. Beberapa kematian akibat terendam terjadi bukan akibat asfiksia namun karena hipotermi. Fibrilasi jantung karena AC bertindak sebagai alat pacu jantung.. dan gelombang panas sering dikaitkan dengan sejumlah besar kematian orang tua. Hai ini akan mentransmisikan suatu tekanan negatif yang berkaitan dengan terhirupnya air ke telinga bagian tengah melalui tabung Eustachius yang terbuka saat menelan. ia akan berjuang untuk mempertahankan jalan napas. Paparan pada seseorang dengan suhu air di bawah 20 derajat celcius (68 derajat Fahrenheit) akan mengakibatkan kematian akibat hipotermia setelah paparan berjam-jam. Seseorang biasanya berusaha untuk menjaga kepalanya di atas air sehingga ia dapat terus menghirup udara. Jika rangkaian arus bolak balik (AC) pada tegangan rendah (di bawah 1000 volt) melintasi jantung. ASFIKSIA Klasifikasi trauma mekanik terbatas pada kematian karena asfiksia tumpang tindih dengan sebab lain. Luka bakar termal disebabkan oleh hipertermia lokal.600 kali per menit (2500 kali per menit di Eropa). Upaya lebih lanjut untuk bernapas menyebabkan air masuk ke saluran napas atas. Secara umum. sebab kimiawi (racun sianida). Menghirup air akan meningkatkan kepanikan. Air yang masuk ke bagian belakang tenggorokan secara refleks akan tertelan. Anak kecil yang yang berada di mobil yang tertutup sangat rentan terhadap hipertermia. dinding-dinding otot napas akan kejang. Ketika air memasuki saluran udara kecil. TRAUMA ELEKRIK Aliran listrik melalui seseorang dapat menghasilkan kematian oleh sejumlah mekanisme yang berbeda. bergetar secara nonpropulsive kemudian tidak dapat diresusitasi dalam beberapa menit. Air yang tertelan akan masuk kedalam perut. meskipun kelompok ini adalah rentan. sehingga melindungi alveoli atau kantungRoman Forensik Edisi 8 80 . Suhu di dalam sebuah mobil di bawah sinar matahari dapat melebihi 60 derajat celcius (140 derajat Fahrenheit) dan dapat berakibat fatal pada 10 menit. Kemampuan untuk mempertahankan homeostasis menurun pada usia lanjut. di negara-negara utara. Fibrilasi ventrikel menghasilkan sekitar 300 quivers per menit. sebab listrik (listrik tegangan rendah) Tenggelam adalah kematian akibat sesak napas dari perendaman di dalam air atau cairan lain. Namun. Paparan dalam waktu yang lama diperlukan untuk menghasilkan suatu luka bakar. suhu di atas 65 derajat celcius (150 derajat Fahrenheit) akan menghasilkan luka bakar termal pada kontak langsung dengan obyek selama beberapa menit. Ketika hal ini menjadi sulit. Kematian akibat hipertermia umumnya terjadi pada orang tua di kota-kota utara dan pada bayi tertinggal di parkir mobil akibat gelombang panas. unit dweling tua sering kekurangan AC. dari paparan cairan panas untuk luka bakar maupun dari hidrokarbon. Asfiksia ini dapat terjadi dari sebab mekanik (strangulasi). tergantung lamanya paparan dengan sirkuit. Kematian akibat luka bakar biasanya tidak langsung terjadi dan timbul dari komplikasi setelah perawatan medis. tegangan rendah mungkin atau tidak menghasilkan listrik Terbakar.

karena patahnya tulang hyoid sangat mudah terjadi ketika mengeluarkan saat pemeriksaan berlangsung.kantung udara kecil dari apapun yang masuk kecuali udara. Gambar 4. Jika kerongkongan ditekan untuk mencegah mengalirnya air. Sebenarnya. tekanan yang dihasilkan jantung pada sirkulasi paru akan meningkat pesat dan bagian kanan dari jantung akan terdilatasi dari peningkatan tekanan jantung dan myungkin akibat dari peningkatan volume darah akibat terabsorpsinya air dari paru. Diatome tidak selalu ditemukan di sumsum tulang. Yang dapat ditemukan pada otopsi korban tenggelam sangat tergantung dari apakah tenggelam tersebut mengikuti kejadian-kejadian yang telah disebutkan diatas. Organisme ini memiliki silika pada dinding selnya sehingga dengan demikian dapat melawan degradasi oleh asam. dan algor mortis. Saat seseorang meninggal ada sejumlah perubahan yang terjadi yang dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian : rigor mortis. meskipun mungkin kesadaran dapat terjadi lebih lama jika udara segar dapat diperoleh. Paru-paru akan menjadi hiperinflasi sebagai akibat dari spasme otot yang melindungi alveoli. Hal lain yang lazim ditemui ialah perdarahan pada otot di leher. Ketika jantung kembali berdetak. Kehilangan kesadaran dapat diikuti oleh upaya paksa inhalasi dan muntah. kornu akan dipaksa tertekan kearah belakang mengenai tulang belakang. dan memeriksanya di bawah mikroskop untuk mencari diatom dapat memastikan kasus tenggelam. Tekanan negatif bersama-sama dengan perubahan asfiksia lain dalam hasil faktor pembekuan darah di perdarahan ke dalam sinus mastoideus. tidak melibatkan fraktur hyoid. Jika fraktur terjadi dan tidak ada perdarahan. ethmoidal dan di perut. Strangulasi akibat ikatan baik yang disebabkan oleh penggantungan ataupun penjeratan. Asfiksia dapat diakibatkan berbagai sebab termasuk strangulasi manual (dengan tangan) dan strangulasi akibat ikatan. Hal ini sangat penting untuk diketahui. Paru-paru pada umumnya akan lebih berat dari biasanya. Sejak di air terdapat berbagai jenis diatom pada daerah yang berbeda dan waktu yang berbeda. banyak tanda dari kepanikan yang menjadi tidak terlihat karena seseorang yang telah mengalami penurunan kesadaran tidak bisa menjadi panik. mengeluarkan sumsum tulang. Jika saat masuk ke air seseorang telah mengalami penurunan kesadaran. Pada tahap akhir dari tenggelam. Organisme uniseluler kecil yang disebut diatom ditemukan di hampir seluruh air segar dan air garam di dunia. maka dapat dimungkinkan untuk menentukan waktu dan tepat pada kasus tenggelam dengan mengidentifikasi diatom. Banyak tulisan mengenai penemuan adanya fraktur dari tulang hyoid pada strangulasi manual. mencampurnya dengan asam kuat. Strangulasi manual menyempitkan saluran nafas dengan menekan leher. Henti jantung terjadi beberapa menit kemudian. air dan bahan dalam air akan ditemukan di sinus frontal. Perhatikan perdarahan sekitar tempat fraktur. Kepanikan terjadi akibat pengiriman tekanan negatif dari saluran napas bagian atas ke telinga tengah. livor mortis. Otot – otot tersebut bersama – sama disebut otot yang terikat (strap) dan dapat mengalami memar akibat strangulasi manual. karena penambahan air yang teraspirasi dan cairan yang terakumulasi di paru pada seluruh asfiksia. Hal lain yang lazim ditemukan pada strangulasi manual adalah fraktur dari kornu pada kartilago tiroid. Kehilangan kesadaran umumnya terjadi dalam 1 sampai 2 menit awal perjuangan untuk bernapas. Teknik ini terutama berguna jika tubuh telah terdekomposisi dan kaku. Roman Forensik Edisi 8 81 . Secara umum. hal ini relatif jarang dan terlihat terutama pada wanita tua yang menderita osteoporosis yang mengakibatkan fraktur pada tulang hyoid menjadi lebih mudah. Jadi. hal yang sering ditemukan ialah asfiksia dan adanya bekas jeratan di leher. kejang yang terjadi setara dengan serangan akut asma yang parah dengan terperangkapnya udara di paru-paru. air yang teraspirasi dan mengandung diatom adalah disirkulasikan oleh jantung yang masih berdetak ke semua organ. berarti faktur terjadi setelah kematian. Kornu tersebut terletak di laring atau pita suara dan di depan dari tulang belakang bagian leher.17 menunjukkan fraktur tulang hyoid. Selain itu. fraktur kornu kartilago tiroid ataupun perdarahan otot – otot pada leher.

Dengan menekan dengan ibu jari dekat tubuh yang telanjang suhu sekitar 18 oC. jarak penggunaan senjata ialah lebih dari 3 kaki untuk tembakan yang pertama dan kemudian ditembakkan lagi beberapa inci lebih jauh dari tembakan pertama. Hal lain yang penting diketahui dari luka tembak ialah lama waktu antara luka dan pingsannya korban. jadi jika tubuh meninggal 4 jam suhu tubuh akan jadi 31oC. Jika seseorang meninggal dan kehilangan darah dalam volume banyak. Tembakan jarak dekat mengenai belakang kepala. Pada beberapa individu kulit hitam. Tembakan di abdomen merupakan tembakan pertama. Satu tembakan mengenai sisi samping abdomen. Hal tersebut tidak mengenai arteri utama dan keluar dari tubuh pada sisi yang lain. Kakak laki-laki si penembak yang datang ke tempat kejadian sesaat setelah percekcokan terjadi juga menyatakan hal yang sama. Seperti yang akan didiskusikan di bab berikutnya. Dia menceritakan pada polisi bahwa tetangganya menyerang dia dengan sebilah pisau saat ia sedang menggendong anak bayinya. Dia mengatakan bahwa dia merasa diri dan anaknya terancam. Luka tembak abdomen yang tidak mengenai pembuluh utama dapat memberikan efek dalam hitungan jam. dimana sel darah merah meningkat mengendap karena infeksi atau penyakit lain. Si penembak dalam posisi berdiri ketika menembakkan senjatanya yang mengakibatkan lubang di dinding. mungkin tidak terlihat kebiruan. sehingga ia mengambil senjata apinya. dan laporan autopsy. Keluarga korban meminta saya untuk menilik kembali kasus tersebut untuk menentukan apa yang terjadi. Kebiruan lambat laun hilang dengan pemisahan setelah 36 jam. Luka tembak di belakang kepala yang menyebabkan pergeseran otak akan mengakibatkan koma dalam waktu singkat.19 dan 4. dan menembak tetangganya hingga meninggal. Pada kasus ini. bukti fisik menyangkal pengakuan dari si penembak. Hal ini terjadi reaksi kimiawi saat glikogen normal ditemukan dalam otot digunakan berlebihan sesaat kematian dan tidak dibentuk kembali. Disana. Rigor mortis umumnya dipertahankan sampai periode 24 jam hingga 36 jam setelah kematian.5 oC suhu tubuh akan turun tiap jam untuk 8 jam pertama. foto autopsy. bahwa penentuan jarak antara senjata dan orang yang ditembak dapat dipastikan. Suhu tubuh normal 37oC. Gambar 4. Algor mortis adalah dingin setelah kematian. Kebiruan jadi lengkap . hari atau bahkan lebih. Keluarga korban tidak senang dengan jaksa yang tidak menuntut si penembak. Dengan demikian. Tembakan pertama Roman Forensik Edisi 8 82 . Hal lain yang dapat ditentukan ialah arah peluru yang mengenai tubuh dan organ dalam. Pada korban terdapat dua tembakan senjata api – yang satu jarak jauh dan yang lain jarak dekat. ditemukan lobang peluru.Rigor mortis adalah kekakuan otot yang terjadi setelah kematian seseorang. Dapat dilihat satu jam atau sesaat setelah kematian. Peluru mengenai dinding dan merupakan tembakan jarak jauh.20 menunjukkan lubang peluru di lorong beberapa bulan setelah penembakan. Ini dapat dilihat beberapa menit setelah kematian.21 menunjukkan tubuh korban yang terbaring ketika polisi datang. namun tidak terdapat darah. Umumnya warna kulit seseorang livor mortis adalah livid/kebiruan. Pegawai toko di seberang jalan tempat kejadian yang mendengar percekcokan keduanya juga menyatakan hal yang sama dengan cerita si penembak. STUDI KASUS Kasus 1 Seorang polisi dipanggil oleh seorang pria yang mengatakan bahwa ia menembak tetangganya. Livor mortis adalah perubahan warna tubuh yang terjadi akibat pengendapan sel darah merah setelah sirkulasi darah berhenti. Gambar 4. maksudnya dengan penekanan tidak hilang yaitu 12 jam setelah kematian. dan setelah itu pergi ke tempat kejadian. 1. namun lubang peluru terdapat di tangga atas. kebiruan mungkin juga tidak terlihat. ke 20oC. Pelurunya menyebabkan pergeseran otak dari depan ke belakang dan sedikit ke atas. Penembakan dikatakan terjadi di tempat rendah. Saya meninjau foto-foto tempat kejadian.

ditembakkan dari jarak lebih dari 3 kaki. Tembakan kedua merupakan efek yang terjadi akibat korban berusaha untuk melarikan diri melalui tangga sehingga terkena di belakang kepala. Sinonim dengan kata itu mengenal istilah “kelahiran yang premature” atau miskraam (Belanda). Ada yang mengambil Roman Forensik Edisi 8 83 . yangmana dalam hal ini bukan merupakan jarak yang tergolong cukup dekat untuk dapat menyebabkan ancaman dengan menggunakan pisau bagi si penembak. Dalam KUHP hanya dikenal istilah pengguguran kandungan. artinya “kelahiran sebelum waktunya”. BAB VIII ABORSI DEFINISI Peristilahan aborsi sesungguhnya tidak kita temukan pengutipannya dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP). Istilah “aborsi” yang berasal dari kata abortus bahasa latin. keguguran. Anak baru mungkin hidup di luar kandungan kalau beratnya telah mencapai 1000 gram atau umur kehamilan 28 minggu. Abortus berdasarkan definisi medis adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan.

abortus provokatus medisinalis (terapeutik) atau legal abortion yaitu abortus yang dilakukan atas indikasi medis.batas abortus bila berat anak kurang dari 500 gram. dilakukan oleh tenaga yang terdidik khusus untuk melakukannya dengan baik dan bukan dilakukan untuk mempertahankan nama baik atau kehormatan keluarga. Indikasi medis akan berubah-ubah menurut perkembangan ilmu kedokteran. tetapi dapat pula bersifat medisinalis kriminalis tergantung dari pelaku abortusnya yang dapat dibedakan antara : 1. yaitu abortus disengaja atau digugurkan. akhirnya ditentukan suatu batasan abortus sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau usia kehamilan 20 minggu. abortus provokatus kriminalis yaitu abortus yang dilakukan tanpa indikasi medis. Jadi tidak dibenarkan melakukan abortus atas indikasi : o Ekonomi o Etnis : baik akibat perkosaan atau akibat hubungan diluar nikah. tetapi larangan ini tidaklah mutlak sifatnya. Biasanya dengan alat-alat dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan dan dapat membawa maut bagi ibu contohnya ibu dengan penyakit jantung. dan beberapa negara lainnya. yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya. Roman Forensik Edisi 8 84 . disebut juga keguguran. o Sosial : kuatir adanya penyakit turunan. Berdasarkan variasi berbagai batasan yang ada tentang usia / berat lahir janin viable (yang mampu hidup di luar kandungan). dan rohani. jasmani. Abortus dengan penyebab yang wajar (abortus spontanea). merupakan 80 % dari semua kasus abortus. KLASIFIKASI Secara garis besar abortus dapat di bagi dalam 2 kelompok. tetapi juga dengan pertimbangan keselamatan anak. Ini disebut juga illegal abortion. hipertensi. namun sampai saat ini di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah demi menyelamatkan nyawa ibu. dan lain-lain. Di Indonesia berdasarkan undang-undang. termasuk oleh wanita hamil itu sendiri. bukan semata-mata untuk menolong ibu. Swiss. Abortus yang disengaja ini dapat bersifat murni medisinalis. Dari segi medikolegal maka istilah abortus. 2. ABORTUS PROVOKATUS ATAS INDIKASI MEDIS Umumnya setiap negara ada undang-undang yang melarang abortus buatan. Walaupun beberapa ahli telah banyak berdebat tentang kemungkinan perluasan indikasi medik. WHO/FIGO 1998 = 22 minggu). Dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dilakukan oleh tenaga yang umumnya tidak terdidik khusus.(terakhir. dan kelahiran prematur mempunyai arti yang sama dan menunjukkan pengeluaran janin sebelum usia kehamilan yang cukup. melakukan abortus buatan dianggap suatu kejahatan. Dari aspek kedokteran forensik yang diartikan dengan keguguran kandungan adalah pengeluaran hasil konsepsi pada setiap stadia perkembangannya sebelum masa kehamilan yang lengkap tercapai (38-40 minggu). yaitu: 1. kanker leher rahim. humaniter. membenarkan indikasi yang bersifat sosial medis. apabila itu satu-satunya jalan untuk menolong jiwa dan kesehatan ibu serta sunguh-sungguh dapat dipertanggung jawabkan dapat dibenarkan dan biasanya tidak dituntut. Abortus yang sengaja dibuat (abortus provokatus/induksi abortus). Di negara Swedia. janin cacat. setara dengan umur kehamilan 22 minggu. 2. dan egenetis. keguguran. Akan tetapi abortus buatan sebagai tindakan pengobatan.

agama. jika terjadi kematian akibat tindakannya. jika tidak ada indikasi terapeutik untuk operasi. yaitu. (4) Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga / peralatan yang memadai. Dalam sebagian besar yuridiksi. Bahkan saudara atau teman yang menemaninya ke aborsionis dinyatakan bersalah sebagai rekan kejahatan. o Mola hydatidosa o Kelainan plasenta 2. atau jika janin telah meninggal (missed abortion). ABORTUS PROVOCATUS CRIMINALIS Aborsi kriminal adalah kerusakan atau pengguguran janin dari rahim ibu oleh orang lain secara paksa. atau berusaha menggugurkan kandungan dengan cara lain. fetus pada awal kehamilan sebelum digugurkan dinyatakan memiliki kehidupan yang sama dengan fetus Roman Forensik Edisi 8 85 . akan dituntut dengan pasal pembunuhan. Penyakit diluar kehamilannya : o Karsinoma cervix uteri o Karsinoma mammae yang aktif 3. jika dapat dibuktikan bahwa orang tersebut mengetahui tujuan kunjungannya. Dalam melakukan tindakan abortus atas indikasi medik. mereka dinyatakan bersalah oleh hukum. (5) Prosedur tidak dirahasiakan. disertai kecenderungan untuk bunuh diri. karena keduanya disebut aborsi. Jika wanita tersebut meninggal akibat prosedur yang dilakukan oleh aborsionis dan orang lain yang berkaitan dengan kejahatan tersebut. Hukum menekankan pada maksud-maksud ilegal di balik tindakan dan tentang semua hal yang berhubungan dengan kejahatan sebagai prinsip-prinsip kesalahan. hukum. (2) Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain. Faktor kehamilannya sendiri o Ectopic pregnancy yang terganggu o Abortus yang mengancam disertai dengan perdarahan yang terus-menerus. Penyakit sistemik ibu : o Preeklampsia/Eklampsia o Penyakit jantung organik disertai dengan kegagalan jantung o Penyakit ginjal o Diabetes melitus berat o Gangguan jiwa. seorang dokter perlu mengambil tindakan-tindakan pengamanan dengan mengadakan konsultasi pada seorang ahli kandungan yang berpengalaman dengan syarat: (1) Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya (yaitu seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan) sesuai dengan tanggung jawab profesi. Tidak ada perbedaan hukum untuk pengguran fetus pada awal kehamilan atau pada akhir masa kehamilan. yang ditunjuk pemerintah. psikologi). Pada kasus seperti ini sebelum melakukan tindakan abortus harus berkonsultasi dengan psikiater. (3) Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga terdekat. Yang termasuk dalam kategori ini adalah individu yang memberi anjuran dan meresepkan obat-obatan. (6) Dokumen medik harus lengkap. Kejahatan ini dinyatakan sebagai tindak pidana jika aborsi yang dilakukan berakibat fatal. seperti ahli anestetik atau perawat.Indikasi melakukan abortus terapeutik: 1.

Penguguran dengan mengunakan kimia protaglandin 5. pengaliran listrik pada serviks dan sebagainya. seperti melakukan gerakan fisik berlebihan. sedangkan cairannya adalah air sabun. Kombinasi kina atau menolisin dengan ekstrak hipofisis (oksitosin) ternyata sangat efektif. prostigmin. atau iodium tinctuur. atau manipulasi serviks dengan jari tangan. atau bahan yang beracun. Bahan-bahan tadi ada yang biasa terdapat dalam jamu peluntur. seperti strichnin. sensitivitas individu dan keadaan kandungannya (usia gestasi). Manipulasi vagina dan serviks uteri. kekerasan langsung pada perut atau uterus. pilokarpin. misalnya dengan penyemprotan air sabun atau air panas pada portio. Obat/zat tertentu. racun umum digunakan dengan harapan agar janin mati tetapi si ibu cukup kuat untuk bisa selamat. kalium permanganat pekat. Manipulasi uterus. Ada juga yang agak beracun seperti garam logam berat. desinfektan atau air biasa/air panas. Mengenali Tindakan Abortus Provocatus Abortus provocatus yang dilakukan menggunakan berbagai cara selalu mengandung resiko kesehatan baik bagi si ibu atau janin. nenas muda. jamu perangsang kontraksi uterus dan hormon wanita yang merangsang kontraksi uterus melalui hiperemi mukosa uterus. Seorang dokter perlu mengenali kelainan yang dapat timbul akibat pelbagai macam cara yang digunakan untuk melakukan pengguguran kriminal ini agar benar-benar dapat membantu secara maksimal pihak penyidik. Kekerasan mekanik lokal dapat ditakukan dari luar maupun dari dalam. Pernah dilaporkan penggunaan bahan tumbuhan yang mengandung minyak eter tertentu yang merangsang saiuran cerna hingga terjadi kolik abdomen. kina dan lain lain. Kekerasan dari luar dapat dilakukan sendiri oleh si ibu atau oleh orang lain. Aborsi yang dilakukan pada awal masa kehamilan sama bersalahnya dengan yang dilakukan pada akhir masa kehamilan. D&X (Intact dilatation & extraction = partial birth abortion) CARA-CARA ABORTUS Roman Forensik Edisi 8 86 . dengan melakukan pemecahan selaput amnion atau dengan penyuntikan ke dalam uterus. dikumarol. MR (Kuret dengan penyedotan) 3. Pemecahan selaput amnion dapat dilakukan dengan memasukkan alat apa saja yang cukup panjang dan kecil melalui serviks. Peracunan dengan menyuntikan larutan garam pekat 4. bubuk beras dicampur lada hitam. Hasil yang dicapai sangat bergantung pada jumlah (takaran). Dilatasi Dan kuret (D & C) 2. jatuh. laksans dan lain lain. dan lain lain. aplikasi asam arsonik. Akhir-akhir ini dikenal juga sitostatika Teknik-Teknik Aborsi pada klinik aborsi : 1. Penyuntikan atau penyemprotan cairan biasanya dilakukan dengan menggunakan Higginson type syringe.pada akhir masa kehamilan. Penyemprotan ini dapat mengakibatkan emboli udara. pemijatan/pengurutan perut bagian bawah. Kekerasan dapat pula 'dari dalam' dengan melakukan manipulasi vagina atau uterus. Operasi bedah kaisar/histerotomi 6. pemasangan laminaria stift atau kateter ke dalam serviks.

Obat yang bekerja langsung pada uterus o Echolics (golongan obat yang meningkatkan kontraksi uterus). o Emmenagagonum (merangsang terjadinya menstruasi. Klasifikasi obat-obat yang digunakan adalah : 1.Dilatasi cervix uterus . yaitu berupa potongan kayu yang dibungkus dengan kain.Injeksi 10 unit oxytocin intra-uterin 2. Vaginal .4 . Buah Daucus carota). o Menyalurkan listrik tegangan rendah. Obat yang bersifat racun sistemik o Racun tumbuhan (buah pepaya yang masih mentah. 2. Roman Forensik Edisi 8 87 . madar juice. buah nenas yang masih mentah. Obat-obatan Biasanya obat-obatan yang diberikan per-oral tidak menyebabkan abortus kecuali diberikan dalam jumlah besar sehingga bersifat toksik kepada wanita hamil tersebut. Tindakan kekerasan yang bersifat lokal : o Merobek selaput amnion. o Racun logam (yang paling sering digunakan adalah cairan timah yang mengandung oksida timah dan minyak zaitun). Menggunakan kekerasan mekanik (umum dan lokal) 3. naik turun tangga. o Yang paling sering digunakan adalah emetik tartar. Dengan demikian akan menyebabkan robeknya selaput amnion dan terjadi abortus. o Castrol oil. Obat-obat yang menimbulkan kontraksi GIT. menyebabkan kontraksi uterus dan mengeluarkan hasil konsepsi. Karena itulah seorang “abortir profesional” tidak mau membuang-buang waktu/mengambil resiko melakukan abortus dengan menggunakan obat-obatan. Mengunakan obat-obatan yang diminum 2. yaitu dengan memasukkan benda tajam seperti kateter. jarum. dll kedalam rongga uterus.5 cm. Dilatasi dan kuretasi. o Stik abortus. magnesium sulfate / sodium sulfate 3. o Pemijatan uterus melalui dinding abdomen.Cara-cara yang dipakai untuk melakukan abortus atas indikasi medik adalah: 1. o Latihan olahraga yang keras misalnya bersepeda. berenang. Kekerasan Mekanik Tindakan kekerasan yang bersifat umum : o Penekanan pada abdomen. biasanya hal ini hanya dilakukan oleh dokter atau bidan. meloncat. tendangan o Menggunakan ikatan yang kencang pada bagian abdomen. arsen atau phelavai juice dan dimasukkan kedalam ostium uteri.Patut diingat tidak ada satupun obat/kombinasi obat peroral yang mampu menyebabkan rahim yang sehat mengeluarkan isinya tanpa membahayakan jiwa wanita yang meminumnya. Ganggang ini direndam dalam air dan dimasukkan kedalam ostium uteri. Untuk menyebabkan abortus harus diberikan dalam dosis yang besar dan berulang).0. menunggang kuda. Abdominal : Sectio Caesarea Cara-cara melakukan abortus criminalis : 1. o Mengangkat barang-barang berat.Ketuban dipecah . Hal ini akan menyebabkan kontraksi uterus dan abortus. misalnya pukulan. mendaki gunung. o Pernggunaan ganggang laminaria yang diamternya berukuran 0. kemudian dicelupkan kedalam madar juice.

Pemeriksaan niikroskopik meliputi adanya sel trofoblas yang merupakan tanda kehamilan.bercak darah pada vagina . umur janin 2. misalnya tanda kekerasan pada genitalia interna/eksterna. 1.striae gravidarum . luka atau perforasi. Uterus diperiksa apakah ada pembesaran. Tanda-tanda partus . Periksa alat-alat genitalia interna apakah pucat. Uterus diiris mendatar dengan jarak antar irisan 1 cm untuk mendeteksi perdarahan yang berasal dari bawah. Ibu 1. golongan darah 2.Pemeriksaan Kasus Abortus Korban hidup Pada korban hidup perlu diperhatikan tanda kehamilan misalnya perubahan pada payudara. Janin 1.uterus yang membesar . Ambil urin untuk tes kehamilan / toksikologik dan pemeriksan organ-organ lain dilakukan seperti biasa. atau kecurigaan lain. TEARE (1964) menganjurkan pembukaan abdomen sebagai langkah pertama dalam autopsi bila ada kecurigaan akan abortus kriminalis sebagai penyebab kematian korban. pigmentasi. Perlu pula dibukti adanya usaha penghentian kehamilan. Abortus yang dilakukan oleh ahli yang terampil mungkin tidak meninggalkan bekas dan bila telah berlangsung satu hari atau lebih. o Menentukan kaitan antara sebab kematian dengan abortus. mikroskopik dan sebagainya. daerah perut bagian bawah. Pemeriksaan luar dilakukan seperti biasa sedangkan pada pembedahan jenazah. Ditemukannya sel radang PMN menunjukkan tanda intravitalitas. Pemeriksaan post mortem abortus criminalis bertujuan : o Mencari bukti dan tanda kehamilan o Mencari bukti abortus dan kemungkinan adanya tindakan kriminal dengan obat-obatan atau instrumen. Ambil darah dari jantung (segera setelah tes emboli) untuk pemeriksaan toksikologilk. bisa terdapat dan bisa juga tidak terdapat robekan. mengalami kongeti atau adanya memar. Lagi pula selalu terdapat kemungkinan bahwa abortus dilakukan sendiri oleh wanita yang bersangkutan. Tanda-tanda kehamilan . golongan darah janin Korban mati Temuan autopsi pada korban yang meninggal tergantung pada cara melakukan abortus serta interval waktu antara tindakan abortus dan kematian. Roman Forensik Edisi 8 88 .hiperpigmentasi aerola mammae 2. Pada pemeriksaan jenazah.vagina yang longgar . hormonal. krepitasi. maka komplikasi yang timbul atau penyakit yang menyertai mungkin mengaburkan tandatanda abortus kriminal. kerusakan jaringan yang merupakan jejas/tanda usaha penghentian kehamilan.serviks membuka. Lakukan pula Tes emboli udara pada vena kava inferior dan jantung. lakukan pemeriksaan toksikologik.ditemukan cairan . 3. bila didapatkan cairan dalam rongga perut.laserasi dan luka yang terdapat pada vagina .

arteri dan vena di permukaan otak .urin . lebar dan ketebalan uterus. seperti penyakit jantung dan hydatidiform mole.arteri coronaria . o Ambil sampel semua organ untuk menilai histopatologis. o Cari tanda-tanda emboli udara. panjang serviks.Umur janin . Kondisi-kondisi septik tubuh harus diperiksa dengan cermat. Vena-vena uterin dan ovarian harus diurutkan dengan cermat sampai ke bagian tubuh yang lebih besar untuk mengetahui terjadinya phlebitis purulen. umur. Bagian-bagain janin harus dicari dalam saluran genital dan rongga peritoneal. terutama pada pakaian dalam. berat badan.arteri pulmonalis . o Catat suhu badan.o Menilai setiap penyakit wajar yang ditemukan. semua organ dalam rongga abdominal dapat menyebabkan peritonitis supuratif. iris tipis untuk melihat saluran perforasi. lingkar sirkumferen internal dan eksternal. misalnya yang berupa IUFD (Intra-Uterine Fetal Death) dan pemeriksaan mikroskopik terhadap sisa-sisa jaringan.isi lambung . gelembung sabun. cairan pada : .ventrikel kanan . kemudian direndam dalam alkohol 95% selama 24 jam.darah dari vena cava inferior dan kedua ventrikel . Pengguanan terapeutik Roman Forensik Edisi 8 89 .isi vagina .rambut pubis Pemeriksaan janin . harus diperiksa. kekerasan yang biasanya terjadi pada dinding posterior misalnya perforasi uterus. Cara pemeriksaan: uterus direndam dalam larutan formalin 10% selama 24 jam. harus diperiksa. cari tanda-tanda kontak dengan suatu cairan.isi uterus . harus dicatat. diameter corpus luteum. kandung kemih atau perut. o Ambil sampel untuk pemeriksaan toksikologis : . Semua kondisi tubuh yang dapat menyebabkan aborsi spontan. laserasi). Pakaian. ahli patologi harus membuat catatan khusus tentang kondisi rahim dan genitalia. serta deskripsi umum tentang mayat.Golongan darah Pemeriksaan toksikologik dilakukan untuk mengetahui adanya obat/zat yang dapat mengakibatkan abortus. Perlu pula dilakukan pemeriksaan terhadap hasil usaha penghentian kehamilan. dan ukuran sisa-sisa janin. warna dan distribusi lebam jenasah. o Periksa dengan palpasi uterus untuk kepastian adanya kehamilan. Pemeriksaan dilakukan pada tuba ovarium dan payudara. o Buat swab dinding uterus untuk pemeriksaan mikrobiologi. seperti appendiks. Pemotretan sebelum memulai pemeriksaan Identifikasi umum o Tinggi badan. Pemeriksaan Ibu : 1. Periksa juga tanda-tanda kekerasan pada cervix uteri (abrasi.vena-vena pelvis o Vagina dan uterus di-insisi pada dinding anterior untuk menghindari jejas. ketebalan dinding uterin. Panjang. Luka-luka instrumental dan tanda-tanda tenaculum harus diidentifikasi. panjang rongga uterin. Pertimbangan-pertimbangan saat autopsi Saat melakukan autopsi untuk kasus aborsi.

menduga bahwa rongga uterus lebih panjang dan melukai dindingnya pada bagian cornua yang terpisah. terjadi perforasi uterus dan janin dipaksakan masuk ke rongga peritoneal. Harus dilakukan pemeriksaan mikroskopis pada mukosa uterin untuk mengetahui apakah terjadi villi chorionic. merupakan indikasi yang jelas. dapat dilakukan pemeriksaan X-ray untuk mengetahui pusatpusat osifikasi. atau terjadi perlukaaan fundus dan serviks akibat penggunaan kuret Uterus paling mudah mengalami perforasi adalah jenis bicornuate. janin atau bagian dari janin. Karena plasenta merupakan bagian dari janin. Hal ini sangat penting untuk menentukan usia kehamilan. ini akan ditemukan saat autopsi. Perforasi tersebut berbentuk stellata dan mengarah ke atas mungkin akibat penggunaan instrumen seperti kayu . berupa penyimpangan villi chorionic dan syncytial giant cell. ginjal. villi chorionic dan syncytial giant cell akan menetap selama beberapa hari kemudian menghilang. kondisi ini akan bertahan selama beberapa hari. Luka pada serviks uteri terjadi sebanyak kurang dari separuh perlukaan instrumental pada uterus. karena operator yang ragu-ragu. seperti tuba. ini dapat digunakan untuk menentukan usia bagian-bagian tersebut. limpa. atau reseksi intestinal. Penemuan janin atau sisa-sisanya biasanya berguna untuk memastikan usia kehamilan saat aborsi dilakukan. salah satu kasus yang dihadapi oleh penulis adalah seorang ibu hamil yang melukai rongga vaginanya menggunakan jarum panjang. Struktur-struktur lainnya. instrumen. Benda-benda asing. banyak potongan stellata yang berbentuk oval atau ireguler. tubuh janin telah diangkat. Perforasi pada rongga vaginal jarang terjadi pada aborsi yang dilakukan oleh seorang operator. appendiks. Dalam banyak kasus. sebagian diantaranya berupa ekskavasasi crateriform dalam dinding servikal. sisa-sisa janin tidak mudah diidentifikasi. jantung. Kadang. pankreas. Biasanya akan terbentuk produk perkembangan Roman Forensik Edisi 8 90 . jika ditemukan dalam tubuh. dan terlihat seperti-kawah yang kadang menonjol pada fundus uterin. Kasus-kasus aborsi yang mengakibatkan perforasi saluran genital dan organ abdominal harus dirujuk ke rumah sakit untuk merawat gejala dan agar dokter bedah dapat melakukan laparotomi. dokter bedah harus menyerahkan semua organ.sulfonamid dan obat-obatan antibiotik lainnya dapat menghambat perkembangan bakteri dalam kultur post-mortem. akan ditemukan dalam saluran genital. yang ditusukkan ke dalam perut dan usus beberapa kali sehingga terjadi peritonitis septik. bervariasi mulai dari stellata kasar dan kecil yang terbuka dan berdiameter kurang lebih 1 cm. operator dapat mengangkat rahim. dan organ-organ lainnya yang terlihat abnormal harus diperiksa/dipotong. Kadang-kadang. kondisi payudara dan corpus luteum ovarium. paru-paru. operator dapat memperbaiki luka dengan melakukan penjahitan. kita harus mengetahui perkembangan janin selama masa kehamilan. Jika terdapat sisa-sisa janin. ovarium. jika seorang wanita meninggal saat aborsi. Dalam berbagai kasus. Biasanya. Jika pasien meninggal. hati. ini merupakan bukti nyata terjadinya kehamilan. satu-satunya kriteria yang tersisa adalah ukuran dan bentuk rahim. dan daerah plasenta ditandai oleh penonjolan sirkuler pada batas-batas uterus di sekitar fundus. Perforasi dapat terjadi dalam berbagai ukuran dan bentuk. sedangkan dalam kasus lainnya. Jadi. juga harus diawetkan sebagai bukti. jaringan atau benda asing yang diperoleh saat operasi untuk diperiksa dan menyimpan catatan klinis kasus yang akurat. Pemeriksaan kimiawi harus dilakukan pada otak dan viscera parenkimatom. Ukuran daerah plasenta bervariasi sesuai dengan usia kehamilan dan jumlah hari setelah aborsi. yang bertolak belakang dengan sel-sel decidual yang merupakan jaringan dari ibu dan bukan. Setelah melakukan kuretase pada bagian plasenta yang tersisa pada dinding uterin. namun paling sering terjadi pada aborsi yang dilakukan sendiri. sedangkan yang lainnya mengalami perforasi ke dalam rongga abdominal melalui dinding uterus. Pemeriksaan sinar roentgen pada bagian-bagian janin yang besar akan menunjukkan pusat-pusat osifikasi dalam berbagai tulang. ini dapat dilihat melalui pemeriksaan mikroskopis pada daerah plasenta. jika perlu. ditemukan dua atau beberapa perforasi pada fundus.

Bagian-bagian janin yang tersisa. akibat terjadinya hiperplasia kelenjar-kelenjar payudara. Peningkatan vaskularitas ini akan meningkatkan kerentanan gravid uterus terhadap perdarahan dan infeksi. Dalam suatu kasus aborsi yang telah terjadi selama beberapa hari dan tidak ada sisa-sisa janin dalam rahim. Selama dua bulan pertama masa kehamilan. payudara akan membesar dan memiliki konsistensi noduler saat dipalpasi. sulit untuk membuktikan fakta bahwa telah terjadi kehamilan atau usia kehamilan sebelum aborsi dilakukan. kelenjar sebaseous dalam aerola akan bertambah selama masa menyusui dan membentuk nodul subkutan pendek.5 inci. pada akhir bulan ke tujuh. panjangnya akan mencapai 7 inci dan lebar 4 inci. Beberapa bulan setelah sekresi air susu yang disebut sebagai kolostrum. disebut sebagai janin. Ukuran kelenjar Montgomery. pada akhir bulan keenam. Nekrosis sisa-sisa janin. Setelah minggu kelima. panjang rahim akan mencapai 4 sampai 5 inci. membran atau jaringan plasenta. pada akhir bulan ke delapan. jika pasien hidup sebentar setelah ekspulsi janin. Setelah proses kelahiran. panjangnya mencapai 10. panjangnya mencapai 8 inci. terjadi pembesaran. kematian yang terjadi disebabkan oleh infeksi piogenik parah dan urin mengandung bakteri yang akan membunuh binatang-binatang yang digunakan dalam pengujian dan mengurangi kegunaan reaksi. dan pada akhir bulan ke sembilan. jaringan kelenjar berupa beberapa duktus dan sejumlah alveoli dalam suatu stroma fibrosa yang padat. namun seiring dengan perkembangan kehamilan. Setelah dua bulan ukuran uterus akan kembali normal jika involusi telah sempurna. uterus akan membesar. Dimensi uterus setelah aborsi sulit ditentukan. akan terjadi perkembangan berbagai organ dan menghasilkan bentuk yang jelas. cabang-cabang duktus dan jaringan kelenjar akan berproliferasi dan jumlahnya bertambah. pada akhir minggu pertama akan berkontraksi sampai panjangnya 5 inci. Mulai dari minggu pertama sampai ke lima.pembuahan ovum selama dua minggu pertama masa kehamilan. panjang uterus mencapai 5 sampai 6 inci. namun tidak ada standar ukuran involusinya setelah aborsi dalam berbagai usia kehamilan. dan aerola di sekitarnya semakin meluas dan pigmentasinya bertambah. panjangnya mencapai 9. Pemeriksa hanya dapat menentukan dimensi uterus seakurat mungkin dan menarik kesimpulan sendiri sesuai dengan pengalamannya menghadapi kasus semacam itu. Sebagian urin yang diperoleh post-mortem dari kandung kemih harus disimpan dan dapat digunakan dalam Uji ASCHHEIM-ZONDEK untuk menguji kehamilan. jika payudara dipotong. dan terjadinya infeksi intra-uterine akan menganggu atau menghambat proses involusi uterus. Dimensi uterus yang diukur saat autopsi merupakan satu-satunya data yang dapat diandalkan oleh ahli patologis untuk memperkirakan usia kehamilan. Ukuran pembuluh darah dan limfatik uterus akan bertambah selama masa kehamilan dan akan tetap meregang selama puerperium sampai masa involusi lewat. Dalam kondisi tidakhamil. membran dan jaringan plasenta akan mempersulit pemeriksaan mikroskopis. ukuran uterus jelas akan berkurang. Dalam beberapa kasus aborsi. panjang serviks mencapai 1 cm dan panjang corpus uteri mencapai 3 sampai 4 inci. organisme ini disebut sebagai embrio. Pada akhir masa menyusui. yang keluar dari payudara saat diberi tekanan ringan. puting susu akan terlihat lebih menonjol. uterus berbentuk seperti buah pir dan memiliki panjang 3 inci. pada akhir bulan keenam panjangnya akan mencapai 6 inci. Pada wanita yang tidak hamil. sekresinya sangat banyak. selama periode tersebut. Payudara akan membesar selama masa kehamilan. setelah dua minggu panjangnya mencapai 4 inci. Pada akhir bulan ketiga. corpus akan membentuk globular dan serviks memendek. jika diperoleh dalam waktu satu minggu setelah aborsi. Selama masa kehamilan. KETERKAITAN ABORSI DENGAN PIHAK LAIN Roman Forensik Edisi 8 91 . rahim akan berkontraksi dan dindingnya menebal. lebar 2 inci dan ketebalannya 1 inci. Pada akhir bulan kedua. Pada akhir bulan keempat.5 sampai 12 inci. Setelah dua hari post-partum. akan keluar banyak cairan susu dari permukaan yang dipotong.

yang menurut ilmu pengetahuan tidak mungkin akan sembuh (euthanasia). apabila merupakan satu-satunya jalan untuk menolong jiwa ibu dari bahaya maut (abortus provocatus thetapeuticus) (dikutip dari buku Kode Etik Kedokteran Indonesia terbitan 1986. ABORTUS DITINJAU DARI SEGI MEDIKOLEGAL Sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Dokter Indonesia) harus berusaha mempertahankan hidup mahluk insani. halaman 33). Chrisdiono M. jika seorang dokter dituntut melakukan aborsi ilegal. Dari dan berdasarkan ketentuan KUHAP. termasuk tempat yang patut diduga didalamnya akan dilakukan tindak pidana. sedang atau akan terjadinya tindak pidana. setiap usaha untuk mengeluarkan hasil konsepsi sebelum masa kehamilan yang lengkap tercapai adalah suatu tindak pidana. “Ia (baca. Dalam tahun-tahun terakhir ini beberapa negara dimana legalisasi abortus provocatus masih bersifat terbatas. Atau dengan kata lain pihak kepolisian boleh melakukan penyidikan dan juga tindakan lain yang diwenangkan oleh hukum. yang selanjutnya menyebabkan pihak lain tertutup kemingkinan untuk mengetahinya termasuk aparat hukum. Dalam pasal 7 KUHAP telah memberikan kewenangan kepada penyidik untuk: (1) Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana. Berarti bahwa menurut agama dan undang-undang negara maupun menurut Etika kedokteran seorang dokter tidak dibolehkan : (a) Menggugurkan kandungan (abortus provocatus) (b) Mengakhiri hidup seorang penderita.Sebelum kita mengetahui apakah hubungan antara seorang dokter dengan seorang yang hendak menggugurkan kandungan harus dianggap kontrak terapeutik. petugas aparat hukum dimungkinkan untuk menentukan langkah-langkahnya. Achadiat dalam artikelnya yang berjudul “Aborsi dalam Perspektif Etika. Demikian juga tempat praktek dokter yang disinyalir di dalamnya ada praktik aborsi yang illegal. apapun alasannya. memberikan catatan sebagai berikut : (1) Bahwa dalam penjelasan Pasal 10 KODEKI disebutkan antara lain. (2) Bahwa pada bagian lain penjelasan pasal 10 Kodeki tersebut ditegaskan antara lain bahwa abortus provocatus dapat dibenarkan sebagai tindakan pengobatan. penggeledahan dan penyitaan. ijin praktek kedoktarannya di negara bagian tersebut akan dicabut secara otomatis. khususnya yang berkaitan dengan penyidikan. penahanan. Di negara bagian New York. maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada larangan bagi pihak penyidik untuk melakukan penyidikannya pada tempat-tempat yang telah. (2) Melakukan tindakan pertama saat ditempat kejadian (3) Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka (4) Melakukan penagkapan. Moral dan Hukum”. (5) Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat (6) Mengambil sidik jari dan memotret tersangka (7) Mengambil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi (8) Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara (9) Mengadakan penghentian penyidikan (10)Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. seakan-akan timbul suatu revolusi dalam sikap masyarakat Roman Forensik Edisi 8 92 . maka perlu disikapi oleh kita semua apabila dalam pelayanan dokter tersebut berdimensi pidana.

Terdapat beberapa pasal yang mengatur abortus provokatus : Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 229 1.dan pemerintahannya terhadap tindakan pengguguran kandungan. Jika yang bersalah. Inggris. melakukan kejahatan tersebut. Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial. dan Swiss. sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana. dalam prakteknya dokter yang melakukannya tidak dihukum. diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah. seperti di Belanda dan Indonesia (sebelum ada UU No. Roman Forensik Edisi 8 93 . Jika yang bersalah. Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi medik. pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian. diancam. janin cacat) 6. Pasal 342 Seorang ibu yang. Hukum yang memperbolehkan abortus atas permintaan. tentang kesehatan). atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan. atau jika dia seorang tabib. bila ia dapat mengemukakan alasan yang kuat dan alasan tersebut diterima hakim. pidananya dapat ditambah sepertiga. seperti Jepang. untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa akan melahirkan anak. 4. 2. dan India. 5. Barangsiapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati. Hukum yang memperbolehkan abortus demi keselamatan kehidupan penderita (ibu). seperti di Prancis dan Pakistan. karena takut akan ketahuan melahirkan anak. seperti di Islandia. dalam menjalani pencarian maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu. dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan. Meskipun dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak terdapat satupun pasal yang memperbolehkan seorang dokter melakukan abortus atas indikasi medik. pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya. bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan. Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial-medik. Polandia. Thailand. (Menghindari penyakit keturunan. karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana. dan Serbia. Pasal 343 Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang. diancam. 2. seperti di Bulgaria dan Hungaria. dan muncul hukum-hukum abortus dengan pembatasan tertentu sampai hadir tanpa pembatasan. Pasal 341 Seorang ibu yang. dengan sengaja merampas nyawa anaknya. bagi orang lain yang turut serta melakukan. sekalipun untuk menyelamatkan jiwa si ibu. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. 23 Tahun 1992. bidan atau juru obat. seperti di Kanada. 3. Abortus atas indikasi medik ini kini diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. berbuat demikian untuk mencari keuntungan. dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. karena membunuh anak sendiri. sehingga terjadi perubahanperubahan hukum-hukum abortus yang berlaku. Hukum yang tanpa pengecualian melarang abortus. Skandinavia. Hukum abortus diberbagai negara dapat digolongkan dalam beberapa kategori sebagai berikut : 1. 3.

dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun. serta pihak lain yang berhubungan dengan medis. Pasal 349 Jika seorang dokter. sehingga dapat gugur kandungannya. ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348. maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pihak-pihak yang dapat mewujudkan adanya pengguguran kandungan adalah: (1) Seseorang yang melakukan pengobatan atau menyuruh supaya berobat terhadap wanita tersebut. (3) Seseorang yang tanpa izin menyebabkan gugurnya kandungan seseorang. diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. yaitu seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan. Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan : Pasal 15 Ayat (1) : “Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun. Roman Forensik Edisi 8 94 . Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. Ayat (2) Butir a : Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil tindakan medis tertentu. dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun. dan 4 termasuk di dalamnya dokter. Butir b : Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah tenaga yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya. (5) Seseorang yang dimaksud dalam angka 1. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu. 2. diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. (4) Seseorang yang dengan izin meyebabkan gugurnya kandungan seseorang wanita. Pasal 347 1. (2) Wanita itu sendiri yang melakukan upaya atau menyuruh orang lain. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya. bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal 346. norma agama. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut. sehingga dapat gugur kandungannya. Pasal 348 1. 2. Berdasarkan pasal-pasal tersebut di atas. norma kesusilaan dan norma kesopanan”. dilarang karena bertentangan dengan norma hukum.Pasal 346 Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu. juru obat. bidan. 3. sebab tanpa tindakan medis tertentu itu. 2. ibu hamil dan janinnya terancam bahaya maut.

Dalam menjalankan profesinya seorang dokter terkait dengan kode etik profesi. dapat diminta dari suami atau keluarganya. Hukum dan Aborsi Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia. dapat diambil tindakan medis tertentu. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu dan atau janin yang dikandungnya. kewajiban terhadap pasien. kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya. yang dikenal dengan istilah “Abortus Provocatus Criminalis” Yang menerima hukuman adalah: 1.000. Berarti bahwa baik menurut agama dan undangundang negara maupun menurut Etik kedokteran seorang dokter tidak dibolehkan: a. dalam hal ini Kode Etik Kedokteran Indonesia (Kodeki). Jadi. Kodeki merupakan pedoman tingkah laku bagi para dokter Indonesia ketika melaksanakan profesinya atau tegasnya pedoman dalam melaksanakan kewajiban sebagai dokter Indonesia. norma agama. c. aborsi atau pengguguran janin termasuk kejahatan." Jadi satu-satunya indikasi yang diperkenankan menurut UU Kesehatan ialah menyelamatkan jiwa si ibu hamil. dipidana dengan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 500.Butir c : Hak utama untuk memberikan persetujuan ada pada ibu hamil yang bersangkutan. Pasal 80 Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dalam pasal 15 ayat (1) dan ayat (2). Orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi Wewenang dokter dalam menjalankan praktek aborsi adalah : 1. 2. sarana kesehatan yang ditunjuk. d. Roman Forensik Edisi 8 95 . apabila merupakan satu-satunya jalan untuk menolong jiwa ibu dari bahaya maut (abortus provocatus therapeuticus). Butir d : Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan telah ditunjuk oleh pemerintah. dan kewajiban terhadap diri sendiri. Dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan aborsi 3. Mengakhiri hidup seorang penderita. Bahwa.00 (lima ratus juta rupiah). tenaga kesehatan mempunyai keahlian dan kewenagan bentuk persetujuan. dalam penjelasan pasal 15 ayat (1) UU Kesehatan disebutkan bahwa "Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun dilarang karena bertentangan dengan norma hukum. b. Dikatakan bahwa Kodeki membenarkan aborsi dengan beberapa syarat dan menyelamatkan jiwa ibu adalah indikasi yang diperkenankan menurut KODEKI. norma kesusilaan dan norma kesopanan. Ibu yang melakukan aborsi 2. kewajiban terhadap teman sejawat. Bahwa pada bagian lain penjelasan pasal 10 Kodeki ditegaskan antara lain bahwa abortus provocatus dapat dibenarkan sebagai tindakan pengobatan. 3. Menggugurkan kandungan (abortus provocatus). Bahwa dalam penjelasan pasal 10 Kodeki antara lain Dokter Indonesia harus berusaha mempertahankaan hidup makhluk insani. Ayat (3) : Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini dijabarkan antara lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya. Dalam Kodeki tersebut tercakup hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban seorang dokter ketika menjalankan profesi kedokteran: yakni kewajiban umum.000. yang menurut ilmu pengetahuan tidak mungkin akan sembuh (euthanasia).

000. pihak-pihak yang diperbolehkan melakukan aborsi adalah dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan. sesudah meminta pertimbangan dari tim ahli yang terdiri dari pelbagai bidang keilmuan. 5. Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 500.4. Sarana yang dipakai dalam praktek aborsi (tindakan pengguguran kandungan) hanya dapat dilakukan di sarana kesehatan tertentu. Bahwa. tenaga kesehatan mempunyai keahlian dan kewenagan bentuk persetujuan. Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini dijabarkan antara lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya. 7.000 (lima ratus juta rupiah). tidak semua dokter boleh melakukan tindakan aborsi. dapat diminta dari suami atau keluarganya. Roman Forensik Edisi 8 96 . 6. Dengan demikian menurut UU Kesehatan. kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya. yakni sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan telah ditunjuk oleh pemerintah Hak utama untuk memberikan persetujuan ada pada ibu hamil yang bersangkutan. sarana kesehatan yang ditunjuk.

motivasi psikis dan waktu (baru lahir) UU tentang pembunuhan anak  KUHP 341 : pembunuhan anak sendiri tanpa rencana (maks. 7 th)  KUHP 342 : pembunuhan anak sendiri dengan rencana (maks. 9 th)  KUHP 343 : orang lain yang melakukannya /turut melakukan (pembunuhan biasa)  KUHP 305 : membuang (menelantarkan) anak dibawah usia 7 th (maksimum 5 tahun 6 bulan)  KUHP 306 : bila berakibat luka berat atau mati (maks 7. oleh ibu kandung. segera atau beberapa saat setelah dilahirkan. bayi perempuan dianggap kurang berarti • Wanita tuna susila yang tidak menghendaki kelahiran anak Tujuan Pemeriksaan untuk membuktikan :  Pengertian “pembunuhan bayi” mengharuskan untuk membuktikan :  Lahir hidup  Kekerasan  Sebab kematian Pengertian “baru lahir” mengharuskan penilaian :  Cukup bulan atau belum dan usia kehamilan  Usia pasca lahirnya  Viabel atau tidak Pengertian “takut diketahui” dibuktikan dengan tidak adanya tanda-tanda perawatan Pengertian “si ibu membunuh anaknya sendiri” harus dibuktikan bahwa mayat anak yang diperiksa adalah anak dari tersangka    Pemeriksaan Kedokteran Forensik untuk memperoleh kejelasan dalam hal: • Apakah bayi tersebut dilahirkan mati atau hidup? • Berapakah umur bayi tersebut (intra dan ekstrauterin)? • Apakah bayi tersebut sudah dirawat? • Apakah sebab kematiannya? • Apakah pada anak tersebut di dapatkan kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup bagi si anak? Roman Forensik Edisi 8 97 .5-9 th)  KUHP 308 : ibu membuang anaknya yang baru lahir (seperdua dari KUHP 305 dan 306)  KUHP 181 : menyembunyikan kelahiran/kematian (9 bulan) Motif Infanticide : • Anak yang tidak sah • Warisan • Orang tua yang terlalu miskin • Pada beberapa keluarga.BAB IX INFANTICIDE Definisi (Menurut pasal 341 KUHP): pembunuhan bayi yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. karena takut diketahui bahwa ia telah melahirkan anak Inggris : Batasan infanticide sampai 12 bulan Unsur yang terkandung : pembunuhan.

janin yang tidak bernafas Roman Forensik Edisi 8 98 . sudah atau belumnya tali pusat dipotong dan uri dilahirkan Lahir mati (still birth) Jika bayi dilahirkan setelah melewati usia kehamilan 28 minggu dan setelah dilahirkan tidak pernah menunjukkan adanya tanda kehidupan Dead born : bila kematian telah terjadi di dalam rahim (IUFD) Tanda-tanda lahir hidup: Anamnesis : adanya tangis bayi Pemeriksaan : 1. teraba derik udara  Pada pengisian paru dalam air keluarnya gelembung udara dan darah  Berat paru bertambah hingga dua kali (1/35 kali berat badan) karena berfungsinya sirkulasi darah jantung paru  Uji apung paru positif Pemeriksaan mikroskopik paru : alveoli paru yang mengembang sempurna dengan atau tanpa emfisema obstruktif 3. yang setelah pemisahan. mekonium.Lahir Hidup (live birth) keluar atau dikeluarkannya hasil konsepsi yang lengkap. & cairan amnion  menunjukkan bahwa bayi telah melakukan usaha pernafasan & pada saat inspirasi menelan cairan tersebut  Adanya cairan susu menunjukkan bayi telah hidup untuk beberapa waktu lamanya 4. Dada :  mengembang  diafragma sudah turun sampai sela iga 4-5  tepi paru menumpul  beratnya kira-kira 1/35 berat badan akibat semakin padatnya vaskularisasi paru 2. Paru Pemeriksaan makroskopik paru :  Paru sudah mengisi rongga dada & menutupi sebagian kandung jantung  Berwarna merah muda tidak merata  Pleura yang tegang & menunjukkan gambaran mozaik karena alveoli sudah terisi udara  Konsistensi sperti spons. tanpa mempersoalkan usia gestasi. Saluran Cerna  Adanya udara dalam saluran cerna  Lambung dan usus : terdapat darah. Perubahan pada telinga tengah : (kurang dapat diandalkan) Pemeriksaan WREDIN diperiksa jaringan konektif gelatin pada telinga tengah yang akan berubah menjadi berisi udara jika bayi telah melakukan pernafasan Lahir mati (still born)  Ditandai : .  Pembentukan urin (+/-) 5. Perubahan ginjal dan kandung kemih : (tidak begitu spesifik & tidak bisa diandalkan)  Kristal asam urat mungkin terdapat pada pelvis ginjal. bernapas atau menunjukkan tanda kehidupan lain.

iga datar & diafragma setinggi iga ke 3-4 Pemeriksaan makroskopik paru :  paru-paru masih tersembunyi di belakang  kandung jantung atau telah mengisi rongga dada  berwarna kelabu ungu merata seperti hati  konsistensi padat  derik udara (-)  pleura yang longgar  berat paru kira-kira 1/70 kali berat badan  Uji apung paru : negatif Mikroskopik paru : adanya tonjolan yang berbentuk seperti bantal bertambah tinggi dengan dasar menipis. tampak seperti gada Mekonium : berbentuk bulat berwarna jernih sampai hijau tua terlihat dalam brokhioli & alveoli Kolon : dapat menggelembung berisi mekonium tanda usaha untuk bernafas Umur bayi intra dan ekstra uterin Rumus HAASE  Usia kehamilan 1-5 bulan : Panjang kepala-tumit (cm) = kuadrat umur gestasi (bulan)  Usia kehamilan > 5 bulan : Panjang kepala-tumit (cm) = umur gestasi (bulan) x 5 Pusat Penulangan Pada Umur (bulan) Klavikula 1.5 Tulang panjang (diafisis) 2 Iskium 3 Pubis 4 Kalkaneus 5-6 Manubrium sterni 6 Talus Akhir 7 Sternum bawah Akhir 8 Distal femur Akhir 9/setelah lahir Proksimal tibia Akhir 9/setelah lahir Kuboid Akhir 9/setelah lahir (bayi wanita lebih cepat) Viable Bayi/janin yang dapat hidup di luar kandungan • umur kehamilan > 28 minggu • PB (kepala-tumit) > 35 cm • PB (kepala-tunggging) > 23 cm • BB > 1000 garam Roman Forensik Edisi 8 99 .denyut nadi tali pusat (-) .       .gerakan otot rangka (-) Maserasi  8-10 hari kematian in utero Vesikel atau bula  3-4 hari kematian in utero Dada : belum mengembang.denyut jantung (-) .

• •

lingkar kepala > 32 cm tidak ada cacat bawaan yang fatal

Bayi cukup bulan (matur) • umur kehamilan > 36 minggu • PB (kepala-tumit) > 48 cm • PB (kepala-tungging) 30-33 cm • BB 2500-3000 gram • lingkar kepala 33 cm. • lanugo sedikit : pada dahi, punggung & bahu • pembentukan tulang rawan telinga sudah sempurna • diameter tonjolan susu 7 mm atau lebih • kuku-kuku jari telah melewati ujung jari • garis telapak kaki > 2/3 bagian depan kaki • testis sudah turun ke dalam skrotum • labium minus sudah tertutup labium majus yang telah berkembang sempurna • kulit berwarna merah muda yang setelah 1-2 minggu berubah menjadi lebih pucat atau coklat kehitaman • lemak bawah kulit cukup merata sehingga kulit tidak berkeriput (kulit pada bayi prematur berkeriput) Usia Pasca Lahir Udara dalam saluran cerna  Di lambung : baru saja lahir, belum tentu lahir hidup  Di duodenum : > 2 jam  Di usus halus : 6-12 jam  Di usus besar : 12-24 jam Mekonium keluar seluruhnya: > 24 jam Perubahan tali pusat :  Kemerahan di pangkalnya : 36 jam  Kering : 2-3 hari  Puput/lepas : 6-8 hari, kadang 20 hari  Sembuh : 15 hari  a/v umbilikalis menutup : 2 hari Ductus arteriosus menutup : 3-4 mgg Ductus venosus menutup : > 4 mgg Eritrosit berinti hilang : > 24 jam Tanda-tanda perawatan (Bukan termasuk infanticide)  Tali pusat yang terpotong rata dan diikat diujungnya, diberi antiseptik dan perban (bisa hilang sebelum diperiksa)  Jalan napas bebas  Vernix caseosa tidak ada lagi  Berpakaian  Air susu di dalam saluran cerna Hubungan ibu dan anak  Mencocokkan waktu partus ibu dengan waktu lahir anak  Mencari data antropologi yang khas pada ibu dan anak  Memeriksa golongan darah ibu dan anak Roman Forensik Edisi 8

100

 Sidik jari & DNA Pemeriksaan Mayat Bayi • Bayi cukup bulan, prematur atau nonviable • Kulit : sudah dibersihkan atau belum, keadaan verniks kaseosa, warna, berkeriput atau tidak • Mulut : adakah benda asing yang menyumbat • Tali pusat : sudah terputus atau masih melekat pada uri • Kepala : apakah terdapat kaput suksadenum, molase tulang tengkorak • Tanda kekerasan • Mulut : apakah terdapat benda asing & perhatikan palatum mole apakah terdapat robekan • Rongga dada • Tanda asfiksia : berupa TARDIEU’s spots pada permukaan paru, jantung, thymus, epiglottis • Tulang belakang : apakah terdapat kelainan kongenital & tanda2 kekerasan • Periksa pusat penulangan : pada femur, tibia, calcaneus, talus & cuboid

Roman Forensik Edisi 8

101

BAB X KEJAHATAN SEKSUAL
Pengertian Kejahatan seksual (sexual offences) adalah salah satu bentuk dari kejahatan tubuh yang merugikan kesehatan dan nyawa manusia. Ilmu Kedokteran Forensik berguna dalam pembuktian Kekerasan seksual merupakan segala kekerasan, baik fisik maupun psikologis, yang dilakukan dengan cara-cara seksual atau dengan mentargetkan seksualitas. Definisi kekerasan seksual ini mencakup pemerkosaan, perbudakan seksual, dan bentuk-bentuk lain kekerasan seksual seperti penyiksaan seksual, penghinaan seksual di depan umum, dan pelecehan seksual. Pembagian Terdapat dua macam bentuk kekerasan seksual, yaitu ringan dan berat. Macam-macam kekerasan seksual ringan :  pelecehan seksual  gurauan porno,  siulan, ejekan dan julukan  tulisan/gambar  ekspresi wajah,  gerakan tubuh  perbuatan menyita perhatian seksual tak dikehendaki korban, melecehkan dan atau menghina korban.  Melakukan repitisi kekerasan seksual ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan seksual berat. Macam-macam kekerasan seksual berat:  Pelecehan, kontak fisik: raba, sentuh organ seksual, cium paksa, rangkul, perbuatan yang rasa jijik, terteror, terhina  Pemaksaan hubungan seksual  Hubungan seksual dengan cara tidak disukai, merendahkan dan atau menyakitkan  Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain, pelacuran tertentu.  Hubungan seksual memanfaatkan posisi ketergantungan / lemahnya korban.  Tindakan seksual + kekerasan fisik, dengan atau tanpa bantuan alat yang menimbulkan sakit, luka, atau cedera. Perundang-undangan Persetubuhan tertera pada Bab XIV KUHP Tentang Kejahatan Terhadap Kesusilaan 1. Persetubuhan dalam perkawinan

• Pasal 288 KUHP 2. Persetubuhan di luar Perkawinan •
Dengan persetujuan si wanita - Tanpa ikatan ≈ wanita < 15 tahun : (287 KUHP) ≈ wanita > 15 tahun : (284 KUHP) - Dengan Ikatan ≈ wanita < 21 tahun

Roman Forensik Edisi 8

102

leher. Perbuatan Cabul (289 KUHP) Pemeriksaan Medis 1. umur. .Asuhan/Pendidikan (294 KUHP) ≈ wanita > 21 tahun .cairan dan sel mani dalam lendir vagina . luka2 memar . peny.Spesifik : Siklus haid. status perkawinan. gigitan (bite marks).Pembuktian persetubuhan : ada / tidak penetrasi penis ke vagina / anus / oral ejakulat / air mani pada vagina / anus .Lokasi : Muka.hymen elastis .Bawahan (294 KUHP) . . kondom ? Anamnesis khusus memuat waktu kejadian 2. Pemeriksaan Laboratorium . pernah bersetubuh. gigi.korban 3 hari yang lalu / lebih .Pemberian/janji uang/barang (293 KUHP) . tanda perkembangan alat kelamin sekunder. tanda vital. bagian dalam paha dan sekitar alat kelamin Perkiraan Umur Umur berkaitan dengan KUHP . tinggi badan. gonorrhoea sekret ureter . robekan? lama/baru. Pemeriksaan Pakaian rapi / tidak. lain.Luka2 lecet bekas kuku. peny. tinggi badan. refleks cahaya.Berat badan. bentuk tubuh.pemeriksaan terhadap kuman N. rambut). melintang? pada jahitan? kancing putus? bercak darah air mani lumpur / kotoran lain di TKP ? 4.toksikologik darah dan urin Pembuktian Adanya Kekerasan .pemeriksaan kehamilan . persetubuhan yang terakhir.Identitas : Nama. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik umum memuat : . ciri-ciri kelamin sekunder Roman Forensik Edisi 8 • 103 . ekspresi emosional. kesan nyeri ? Pemeriksaan fisik khusus memuat: . tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran / obat bius / needle marks. kandungan. laserasi (mencakup perkiraan waktu) • Variasi : . pupil.Si wanita pingsan/tidak berdaya (286 KUHP) 3.penetrasi tidak lengkap • Bukti Ejakulat/air mani (mencakup perkiraan waktu) • Perlekatan rambut kemaluan • Ejakulat di liang vagina 3. Anamnesis Anamnesis umum memuat: .Bukti Penetrasi : • Robekan hymen.Dasar berat badan.Dengan Kekerasan (285 KUHP) .. penyakit kelamin.Kesan penampilan (wajah. TTL.Dalam pengawasan (294 KUHP) Tanpa Persetujuan si wanita . buah dada. pupil pinpoint.

.Kendala → belum berkembangnya Ilmu Kedokteran Forensik Klinik di Indonesia . Wanita sudah ovulasi / belum : vaginal smear Berdasar umur ? : > 16 th Pemeriksaan terhadap Pelaku .Bercak sperma. kekerasan fisik maupun seksual. Darah .Didirikannya Pusat Krisis terpadu bagi perempuan dan anak-anak .Pemeriksaan menyeluruh alat kelamin : mampu seksual ? cedera ? .Tanda cedera : perlawanan korban ? .- Pemeriksaan sinar X : standar waktu penyatuan tulang Penentuan sudah atau belum waktunya dikawin Pertimbangan kesiapan biologis : menstruasi.Menerima dan menatalaksana kekerasan terhadap perempuan. robekan.Serologis air mani (antigen ABO) pada orang yg ’sekretor’ .Upaya pengenalan persetubuhan.Smegma Pemeriksaan Penentuan gol. tanah dan pakaian. darah. . terdapat ancaman hukuman bagi seseorang yang cukup umur yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain yang sama kelaminnya yang belum cukup umur Penatalaksanaan Korban Kekerasan Seksual .Homoseksual merupakan salah satu bentuk kejahatan seksual .Bentuk tubuh : memungkinkan tindakan kekerasan.Di cocokkan dengan golongan darah (pelaku / korban) Homoseksual .Didalam Pasal 292 KUHP. Roman Forensik Edisi 8 104 . . secara terpadu sehingga diharapkan dapat memperkecil trauma psikologis akibat viktimisasi lanjutan pada korban. .Sekret .Rambut terlepas.Profesi kedokteran : Sesuai standar pemeriksaan korban kekerasan danpembuatan visum et repertumnya .Tanda infeksi gonokokus. .

Penyakit yang pernah diderita c. pernah berobat kemana d. duduk. meningitis. Mati wajar karena penyakit  didapatkan penyakit pembuluh darah koroner (sehabis aktivitas fisik. ensefalitis 3. Sistem saraf pusat  Perdarahan otak  pecahnya aneurisma cerebri  Trombus a. Mati tidak wajar  didapatkan tanda-tanda kekerasan di tubuh. kemudian meninggal 2. atau polisi. Harta benda yang hilang d. • Tanyakan : a.BAB XI KEMATIAN MENDADAK Yang termasuk kematian mendadak : 1. Kematian terjadi seketika Contoh  teman bertamu. cerebri media. Sistem kardiovaskuler  Penyakit jantung koroner  Trombus pada ramus circumflexa a. Penyebab kematian ditinjau secara per-organ : 1. Tingkah laku yang aneh • Hal-hal yang perlu diketahui dari orang tentang korban : a. Apakah sehabis makan c. dan subdural serta intracerebral bleeding  Pelebaran Circulus WILLISI  Perdarahan cerebellopontinus  Tumor. epidural. posterior (cabang Circulus WILLISI)  Perdarahan subarachnoid. Kematian tidak terduga Contoh  seorang pasien nyeri perut dengan diagnosis gastritis akut kemudian diperiksa dan ternyata meninggal 3. Korban diasuransikan atau tidak e. Morat-marit atau tidak b. Apakah kedatangan tamu • Keadaan sekitar korban : a. teman dekat. Pintu terkunci c. bertengkar). Sistem pernapasan Roman Forensik Edisi 8 105 . radang. Usia b. Apakah didapatkan tanda-tanda kelainan pada korban Menyimpulkan kemungkinan kematian mendadak : 1. coronaria sinistra  Trombus pada ramus ascendens a. coronaria dextra et sinistra  Infark miokard akut  Penyakit katup jantung 2. Kematian tidak diketahui penyebabnya Contoh  orang ditinggal di rumah masih sehat kemudian keesokan harinya meninggal Cara mengatasi kematian mendadak : Minta keterangan dari pihak keluarga. Keterangan mengenai kesehatan terakhir. Apakah sedang bertengkar b. 2. ensefalopati.

Sistem gastrointestinal  Pecahnya varises esofagus  Ulkus gastrikum kronis  Perdarahan saluran cerna  Apendisitis  Trauma abdomen  Obstruksi usus  dehidrasi  meninggal  Invaginasi  Megacolon congenital / HIRSCHPRUNG’s Disease  Hernia inkarserata  Perdarahan 5. Sistem urogenitalia  Perdarahan  Gangguan fungsi ginjal  Sindrom nefrotik  Glomerulonephritis Roman Forensik Edisi 8 106 . Edem paru  Pneumonia  Bronchopneumonia  Tuberkulosis  Emfisema pulmonum  Status asmatikus 4.

dimana keracunan dinyatakan sebagai overdosis yang mempunyai efek sentral sedangkan intoksikasi merupakan overdosis yang bersifat umum baik sentral maupun perifer. Toksisitas intrinsik Ikatan kimia (struktur kimia) suatu zat secara intrinsik membentuk sifat racun zat tersebut. Namun kepustakaan lain menyatakan keracunan dan intoksikasi memiliki pengertian yang sama. Metabolisme zat di dalam hati sebelum beredar ke dalam sirkulasi sistemik (first pass effect) sangat menentukan toksisitas zat yang masuk ke dalam tubuh secara oral. 2. SANGSTER secara lebih rinci menyatakan tentang sumber substansi yang dianggap racun. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan korban hidup. Demikian juga adanya substansi tertentu secara tersendiri tidak bersifat toksik atau toksisitasnya rendah tetapi dengan adanya substansi lain. Keracunan dianggap sebagai cidera yang diakibatkan konsentrasi berlebihan dari substansi eksogenous (dari luar tubuh manusia). Konsentrasi Fatalitas beberapa zat tergantung konsentrasi seperti halnya gas karbonmonoksida (CO). TOKSISITAS RACUN Dalam pemeriksaan keracunan harus diperhatikan kondisi-kondisi yang mempengaruhi fatalitas racun pada korban. Dalam berbagai kepustakaan. menyatakan semua substansi di alam adalah racun hanya dosis yang membedakan substansi tersebut racun atau bukan (sola dosis facit venenum). pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan. menyebabkan substansi tersebut menjadi toksik. 3. baik pada anamnesis. Periode fatal merupakan selang waktu antara masuknya racun dalam dosis fatal rata-rata sampai menyebabkan kematian pada ratarata orang sehat. antara lain : 1. dosis fatal. Roman Forensik Edisi 8 107 . karakteristik dan kandungan racun. Semua definisi memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri dalam interpretasi dan banyak definisi yang tumpang tindih satu dengan lainnya. Dosis dan bioavailabilitas Farmakokinetik untuk substansi yang bersifat sistemik sangat tergantung dosis zat yang masuk ke dalam tubuh dan kecepatan metabolisme zat terutama di organ detoksifikasi (hati).BAB XII TOKSIKOLOGI FORENSIK DEFINISI Toksikologi merupakan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan sumber. terdapat berbagai pengertian tentang keracunan (poisoning) dan intoksikasi. orang yang pertama mendefinisikan racun. Ahli toksikologi SEINEN (1989) menyatakan racun adalah substansi yang diberikan secara berlebihan sehingga toksikologi dianggap sebagai pengetahuan tentang sesuatu yang berlebihan (toxicology is the knowledge of too much). periode fatal. Berbagai definisi racun telah dipublikasikan berdasarkan sudut pandang yang berbeda dari berbagai ahli. Banyak substansi yang hanya bersifat toksik dalam jumlah yang besar tetapi ada yang bersifat toksik meskipun jumlahnya kecil. gejala dan tanda yang disebabkan racun.dan penatalaksanaan kasus keracunan. asam kuat dan basa kuat. Paracelcus (1493-1541) yang lebih dikenal sebagai Theopraxis Bombastus von Honhenheim.misalnya unsur sodium. Beberapa kepustakaan menyatakan pengertian keracunan dan intoksikasi berbeda.

reaksi alergi. Dengan demikian tujuan yang kedua bermaksud untuk membuat suatu rekaan rekonstruksi atas peristiwa yang terjadi. Secara umum. sianida. 7. b. keracunan karbonmonoksida serta keracunan insektisida dan lain sebagainya. Tipe S (spesific target) Menunjukkan bahwa korban keracunan hanya orang tertentu dan biasanya antara pelaku dan korban sudah saling kenal. antara lain: uang. Yang kedua. yang dapat meningkatkan efek depresan dari obat-obat yang menekan sistem saraf pusat. lama kontak (durasi) dan waktu paruh zat yang kontak juga mempengaruhi toksisitas racun. Roman Forensik Edisi 8 108 . jenis kelamin. Sub grup S tipe S/S (spesific/slow) dimana keracunan terjadi secara perlahan dan direncanakan oleh pelaku. Kondisi pemakai Kondisi korban harus diperiksa dengan teliti terhadap adanya penyakit-penyakit yang melibatkan sistem metabolisme dan detoksifikasi. dan ini sebenarnya yang terbanyak kasusnya akan tetapi belum banyak disadari. dan idiosinkrasi. kecelakaan pesawat udara dan perkosaan dapat terjadi. apakah timbul akibat kecerobohan (recklessness). adalah untuk mengetahui mengapa suatu peristiwa. sampai sejauh mana obat-obatan atau racun tersebut berperan sehingga kecelakaan pesawat udara misalnya. yaitu atas dasar dari tujuan pemeriksaan itu sendiri. KERACUNAN DALAM BIDANG MEDIS Pelayanan forensik klinis kasus keracunan pada prinsifnya adalah mengumpulkan bukti-bukti penggunaan racun dan menginterpretasikannya dalam bentuk sertifikasi yang dapat dijadikan bukti da dapat diterima di pengadilan. 5. dapat terjadi. status gizi. yaitu: 1. Frekuensi dan waktu paruh Seringnya kontak. membunuh. Sub grup Q tipe S/Q (spesific/quick) dimana keracunan terjadi secara mendadak dan tanpa perencanaan sebelumnya. Cara masuk zat ke dalam tubuh Cara masuk zat ke dalam tubuh sangat menentukan kecepatan kecepatan absorbsi dan beredarnya zat secara sistemik. BENTUK KERACUNAN BERDASARKAN MOTIF Salah satu tujuan pelayanan forensik klinik adalah memberikan informasi atau faktafakta yang membuat terang kasus keracunan yang mencurigakan termasuk motif yang melatarbelakangi kasus tersebut. Pemeriksaan forensik dalam kasus keracunan dapat dibagi dalam dua kelompok. kecelakaan lalu lintas. 6. Demikian juga halnya faktor umur. dimana penyakit tersebut dapat meningkatkan toksisitas suatu zat.4. Motivasi yang biasanya melatarbelakangi. Pemekaian zat per oral relatif lebih lambat dibandingkan secara injeksi dan inhalasi. misalnya peristiwa pembunuhan. Dalam kasus tindak pidana harus dibuktikan adanya perbuatan yang salah (actua rheus) dan situasi batin yang melatarbelakangi tindakan tersebut (men rhea). kealpaan (negligence) atau kesengajaan (intentional). pembunuhan lawan politik dan balas dendam. Yang pertama bertujuan untuk mencari penyebab kematian. Alkohol merupakan ko-medikasi yang paling sering digunakan. misalnya kematian karena keracunan morfin. Motif keracunan harus ditentukan sebagai unsur men rhea. Ko-medikasi Adanya zat lain (ko-medikasi) dapat meningkatkan toksisitas zat dengan toksisitas rendah atau mengubah zat yang tidak toksik menjadi toksik. motif keracunan dapat dibedakan menjadi dua bentuk (tipe) berdasarkan korban keracunan. Informasi yang melatarbelakangi keracunan menjadi salah satu bukti yang perlu digali dan dikumpulkan. Keracunan tipe S berdasarkan terjadinya dibagi ke dalam dua sub grup yaitu: a.

Kasus pembunuhan yang sempurna terjadi bukan karena keahlian si pembunuh. Bau-bau tertentu harus dikenali dalam pemeriksaan seperti bau amandel pada keracunan sianida. sadistik. Skrening racun diambil dari sampel urin dan darah.Pemeriksaan terhadap korban keracunan tipe S/S perlu mendapat perhatian lebih sebab kegagalan pembuktian tanda-tanda keracunan oleh dokter sangat sering membuat kasus tersebut menjadi kasus tersebut menjadi kasus pembunuhan yang sempurna (the perfect murder). melalui penyuntikan.Jenis racun . berupa sertifikasi yang memberi batuan pembuktian hukum terhadap korban. Gejala-gejala dan perlukaan tertentu harus dicatat seperti kejang. pin point pupil atau tanda gagal napas. Prosedur penerbitan Visum et Repertum Peracunan sesuai dengan prosedur medikolegal penerbitan visum dimana harus dibuat berdasarkan Surat Permintaan Visum resmi penyidik (Pasal 133 KUHAP).Cara masuk racun (route of administration) : melalui ditelan. Tipe R (random target) Terjadi pada korban yang acak. Beberapa hal yang perlu ditekankan dalam anamnesis : . Dalam Visum et Repertum peracunan ditentukan kualifikasi luka akibat peracunan. penyerapan melalui kulit yang sehat atau kulit yang sakit. b. Sub grup S tipe R/S (random/slow). 2. sekret mulut dan hidung. bau pestisida atau bau minyak tanah yang dipakai sebagai pelarut. Bila racun per oral. adanya tanda suntikan. harus dicatat semua bukti-bukti medis meliputi tanda-tanda mencurigakan pada tubuh korban seperti bau tertentu yang keluar dari mulut atau saluran napas. darah serta urin. terorisme merupakan salah satu benuk keracunan tipe ini bila racun yang dipakai sebagai alat untuk menjalankan teror. Dalam pemeriksaan forensik klinis. melalui anus atau vagina. Demikian juga terhadap luka-luka lecet sekitar mulut. tetapi akibat kegagalan dokter mengenali tanda-tanda keracunan pada korban.Data tentang kebiasaan dan kepribadian korban .Faktor yang menigkatkan efek letal zat yang digunakan seperti penyakit. luka suntikan atau kekerasan lainnya. bau dan secara kimia. terhisap bersama udara pernafasan. dan tanda fenomena drainage. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan. analisis isi lambung harus dilakukan secara visual. PEMERIKSAAN FORENSIK KLINIK TERHADAP KORBAN KERACUNAN Pemeriksaan korban keracunan pada prinsipnya sama secara medis maupun secara forensik klinis meliputi anamnesis.Keadaan kesehatan fisik korban . Hasil akhir pemeriksaan forensik klinik adalah diterbitkannya Visum et Repertum Peracunan yang merupakan salah satu alat bukti sah di pengadilan. Pembunuhan yang sempurna adalah kematian korban yang sesungguhnya akibat tindaan pidana tetapi dokter menyatakan sebagai kematian wajar karena faktor penyakit. Sertifkasi yang dimaksud adalah diterbitkannya visum et repertum peracunan. Berdasarkan kejadiannya keracunan tipe R dibagi: a. Sub tipe Q tipe R/Q (random/quick). riwayat alergi atau idiosinkrasi atau penggunaan zat-zat lain (ko-medikasi) Dalam pemeriksaan fisik. dan teror. warna muntahan dan cairan atau sekret yang keluar dari mulut atau saluran napas. Perbedaan yang ada adalah pada hasil akhir pemeriksaan. Pengambilan dan analisis sampel dilakukan dengan mengambil sisa muntahan. dimana penentuannya berdasarkan penilaian efek racun terhadap metabolisme dan gangguan fungsi organ yang diakibatkan oleh racun. Motivasi bentuk keracunan ini biasanya ego. . anamnesis dapat bersifat autoanamnesis bila korban kooperatif atau alloanamnesis baik terhadap keluarga koban atau penyidik.Keadaan sikiatri korban . Roman Forensik Edisi 8 109 .

Pemeriksaan lubang pada tubuh jenazah untuk melihat adanya tanda-tanda bekas zat korosif atau benda asing. misalnya menjadi kuning pada keracunan fosfor dan keracunan akut akibat unsur tembaga sulfat. feses dan kadang-kadang jenis racun itu sendiri. b.Racun jenis tertentu mengeluarkan bau aroma yang khas. Pada bagian yang mengalami perlunakan tidak ada tanda-tanda inflamasi. gambaran ini hanya tampak pada lambung. Untuk menjaga keutuhan jenazah tidak boleh menggunakan cairan desinfektan yang mempunyai bau (aroma). . kemungkinan didapatkan: . mulut. Pemeriksaan luar Pada pemeriksaan luar untuk kasus keracunan.Perforasi Roman Forensik Edisi 8 110 . dll. Pemeriksaan dalam Pada umumnya tanda-tanda keracunan tampak pada traktus gastrointestinal. terutama jika keracunan akibat zat korosif atau iritan. .PEMERIKSAAN FORENSIK KASUS KERACUNAN TERHADAP KOBAN YANG SUDAH MENINGGAL Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan keracunan pada korban yang sudah meninggal antara lain: 1. kurvatura mayor. merah terang.Hiperemia Warna kemerahan pada membran mukosa paling jelas terlihat pada bagian cardiac lambung dan pada bagian curvatura major. tenggorokan dan esofagus. Perubahan warna juga bisa muncul karena berbagai unsur lainnya seperti sari buah. . Perubahan yang terjadi adalah: .Ulserasi Paling sering ditemukan ditemukan pada curvatura major lambung dan harus dibedakan dengan tukak peptik yang paling sering terdapat di curvatura minor lambung dan ditandai dengan adanya hiperemia di sekitar tukak tersebut.Keadaan pupil mata dan jari tangan yang lemas atau mengepal. misalnya pada keracunan arsen hiperemia adalah merah merata.Perlunakan Keadaan ini terjadi pada keracunan korosif. Asam nitrat menyebabkan warna kuning pada usus. cherry red atau merah coklat (bila racunnya menyebabkan perubahan warna darah sehingga warna lebam jenazah mengalami perubahan. . asam karbonat. Hiperemia harus dibedakan dengan kongesti vena secara menyeluruh yang terjadi pda kematian akibat asfiksia.Livor mortis yang khas. Juga harus dibedakan dengan perlunakan post mortem yang terdapat pada bagian yang lebih rendah dan mengenai seluruh lapisan dinding lambung. misalnya asam hidrosianida. . kloroform. . alkohol. Gambaran yang membedakan dengan hiperemia yang disebabkan oleh penyakit adalah pada hiperemia karena penyakit sifatnya merata dan terdapat pada seluruh permukaan serta tidak berupa bercak. Jika disebabkan karena penyakit. .Perubahan warna kulit. selain itu gambaran membran mukosa lebih banyak terkena pada kasus keracunan. Pemeriksaan post mortem a. Warnanya adalah merah gelap dan hiperemia ini bentuknya bisa merata atau bercak. . lebih sering terlihat pada kardiak lambung.Pada permukaan tubuh jenazah mungkin ditemukan bercak-bercak yang berasal dari muntahan.

Sangat jarang terjadi, kecuali pada kasus keracunan asam sulfat. Perforasi juga bisa terjadi akibat tukak kronis, tetapi bentuk perforasi pada kasus ini biasannya lonjong atau bulat, pinggirnya melekuk ke arah luar dan lambung menunjukkan tanda-tanda perlekatan dengan jaringan sekitar. 2. Pemeriksaan kimia/toksikologi pada organ tubuh bagian dalam Ditemukannya jenis racun pada darah, feses, urin atau dalam organ tubuh merupakan bukti yang memastikan bahwa telah terjadi keracunan. Racun bisa ditemukan dalam lambung, usus halus, dan kadang-kadang pada hati, limpa dan ginjal. Organ tubuh dan bahan yang diperiksa antara lain : - Urin dan feses - Darah - Lambung dan isinya - Bagian dari usus halus (duodenum dan jejunum) - Hati - Setengah bagian dari masing-masing ginjal - Otak dan medulla spinalis, terutama pada keracunan striknin - Uterus dan organ-organ yang berkaitan dengan uterus, jika ada kecurigaan abortus kriminalis - Paru-paru terutama pada keracunan kloroform - Tulang, rambut, gigi dan kuku - Organ tubuh lainnya yang dicurigai mengandung racun. 3. Pengumpulan bukti-bukti dari sekitar tempat kejadian KUNCI PEMBUKTIAN KASUS KERACUNAN Dalam pembuktian kasus keracunan sebagai tindak pidana, banyak hal yang harus dibuktikan dan dalam pembuktiannya banyak melibatkan dokter forensik klinis. Hal yang dibuktikan antara lain : 1. Bukti hukum (legally proving): bukti hukum yang dapat diterima di pengadilan (adminissible) sangat tergantung dari keaslian bukti tersebut sehingga penatalaksanaan terhadap bukti-bukti pada korban sangat diperlukan. Terlebih lagi pada kasus tindak pidana yang memerlukan standar pembuktian dengan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi yaitu sampai tidak ada keraguan yang beralasan. 2. Pembuktian motif keracunan 3. Kondisi yang memungkinkan dapat diperolehnya racun seperti adanya resep, toko obat atau toko yang menyediakan substansi yang digunakan. 4. Bukti-bukti pada korban seperti kebiasaan korban, gangguan kepribadian, kondisi kesehatan, dan penyakit serta kesempatan dilibatkannya racun. 5. Bukti kesengajaan (intentional) 6. Bila korban meninggal harus ditentukan sebab kematian korban adalah racun dengan menyingkirkan sebab kematian yang lainnya. 7. Bukti peracunan adalah homicide. Dari 7 bukti pembuktian kasus keracunan tersebut, tampak bantuan dokter sangat diperlukan dalam beberapa langkah terutama : • Pengumpulan, pencatatan dan interpretasi bukti keracunan medis dalam upaya memberikan pembuktian hukum • Menemukan bukti-bukti pada korban seperti kebiasaan, kondisi fisik dan keadaan psikiatri korban • Penentuan sebab kematian bila korban dengan mengeklusi penyebab kematian lainnya Roman Forensik Edisi 8

111

MEKANISME KERJA RACUN DALAM TUBUH MANUSIA 1. Racun yang bekerja lokal atau setempat, zat-zat korosif : lisol, asam kuat, basa kuat, yang bersifat iritan : arsen, HgCl2, yang bersifat anestetik : kokain, asam karbol 2. Racun yang bekerja secara sistemik - narkotika, barbiturat dan alkohol; terutama berpengaruh terhadap susunan saraf pusat - digitalis dan asam oksalat; terutama berpengaruh terhadap jantung - karbonmonoksida dan sianida, terutama berpengaruh terhadap sistem enzim pernafasan dalam sel - insektisida golongan “chlorinated hydrocarbon” dan golongan fosfor organik - cantharides dan HgCl2, terutama berpengaruh terhadap ginjal. 3. Racun yang bekerja secara lokal dan sistemik - asam oksalat - asam karbol - arsen - garam Pb KERACUNAN SIANIDA Sianida adalah racun yang digunakan baik untuk bunuh diri, kecelakaan atau pembunuhan. Meskipun diagnosis autopsi tentang keracunan sianida sangat jarang diragukan, analisis toksikologi mungkin sulit untuk interpretasi akibat destruksi maupun produk sianida dalam tubuh yang sudah mati dan bahkan pada sampel darah yang disimpan untuk menunggu diperiksa. Keracunan sianida akut merupakan kasus yang paling sering dilaporkan sendiri, dalam beberapa kasus biasanya garam natrium maupun kalium ikut masuk ke saluran cerna. Hal ini bisa tiba-tiba maupun dalam kecelakaan kerja (industri) yang dalam beberapa kasus garam-garam tersebut ikut dilibatkan, atau mungkin gas-gas yang dibebaskan dari beberapa proses komersil. Sianida (CN) merupakan racun yang sangat toksik, cara masuk ke dalam tubuh dapat secara : - inhalasi, misalnya gas HCN (gas penerangan, sisa pembakaran seluloid, fumigasi kapal) - oral, yaitu garam CN yang dipakai pada peyepuhan emas, pengelasan besi dan baja, serta fotografi dan amigdalin yang didapat dari singkong, ubi dan biji apel Setelah diabsorbsi, CN masuk ke dalam sirkulasi sebagai CN bebas dan tidak dapat berikatan dengan Hb kecuali dalam bentuk methemoglobin akan terbentuk sianmethemoglobin. CN akan mengaktifkan enzim oksidatif beberapa jaringan secara radikal, terutama sitokrom oksidase juga merangsang pernapasan bekerja pada ujung sensorik sinus (kemoreseptor) sehingga pernapasan cepat. Dengan demikian proses oksidasi-reduksi dalam sel tidak berlangsung dan oksihemoglobin tidak dapat berdisosiasi melepaskan O2 ke sel jaringan sehingga timbul anoksia jaringan. Hal ini merupakan keadaan paradoksal karena korban meninggal akibat hipoksia tetapi darahnya kaya akan O2. Takaran toksik per oral untuk HCN adalah 60-90 mg, sedangkan KCN atau NaCN adalah 200 mg. Gas CN 200-400 ppm akan menyebabkan kematian dalam 30 menit sedangkan gas CN 20000 ppm akan menyebabkan meninggal seketika. Penemuan Autopsi pada Keracunan Sianida

Roman Forensik Edisi 8

112

Tanda dan gejala keracunan akut CN yang ditelan dapat dengan cepat menyebabkan kegagalan pernafasan dan kematian dapat timbul dalam beberapa menit. Dalam interval yang pendek antara menelan racun sampai kematian, korban mengeluh merasa terbakar pada kerongkongan dan lidah, hipersalivasi, mual, muntah, sakit kepala, vertigo, photophobia, tinitus, pusing, kelelahan dan sesak napas. Dapat pula ditemukan sianosis pada muka, keluar busa dari mulut, nadi cepat dan lemah, napas cepat dan kadang-kadang tidak teratur, refleks melambat, udara pernapasan berbau amandel. Menjelang kematian sianosis nyata dan timbul kedutan otot-otot berlanjut dengan kejang dengan inkontinensia urin dan alvi. Racun yang diinhalasi menimbulkan palpitasi, kesukaran bernapas, mual muntah sakit kepala, salivasi, lakrimasi, iritasi mulut dan kerongkongan, pusing, kelemahan ekstremitas, kolaps, kejang, koma, dan meninggal. Pemeriksaan luar jenazah dapat tercium bau amandel yang merupakan tanda patognomonik untuk keracunan CN. Selain itu didapatkan sianosis pada wajah dan bibir, busa keluar dari mulut, dan lebam jenazah berwarna merah terang. Pemeriksaan selanjutnya biasanya tidak memberikan gambaran yang khas. Dari luar, ada banyak variasi dalam penampilanya. Yang klasik, lebam mayat dikatakan menjadi berwarna merah bata, sesuai dengan kelebihan oksi hemoglobin (karena jaringan dicegah dari penggunaan oksigen) dan ditemukannya cyanmethemoglobin. Banyak deskripsi lebam mayat yang mengarah pada kulit yang berwarna merah muda gelap atau bahkan merah terang, terutama bergantung pada daerahnya, yang mana dapat dibingungkan dengan karboksi hemoglobin. Mungkin bau sianida ada pada tubuh dan dapat dikenal, tapi perlu diketahui bahwa banyak orang tidak bisa mendeteksi bau ini, kemampuan menciumnya berhubungan dengan genetik (bukan berdasarkan pengalaman). Ini penting diketahui oleh ahli patologi dan pegawai kamar mayat, bahwa keracunan sianida dapat membawa resiko. Para petugas terkait menjadi sakit dan untuk sementara mengalami gangguan fungsi setelah mengautopsi mayat bunuh diri yang telah menelan sejumlah besar kalium sianida. Diasumsikan mungkin akibat menghirup hidrogen sianida dari isi perut mayat ketika melakukan pemeriksaan organ dalam. Pada autopsi dapat tercium bau amandel waktu membuka rongga dada, perut dan otak. Darah, otot dan penempang organ berwarna merah terang. Juga ditemukan tanda-tanda asfiksia. Pemastian diagnosis keracunan CN dilakukan dengan pemeriksaan toksikologis terhadap isi lambung dan darah. Perut dapat berisi darah maupun rembesan darah akibat erosi maupun pendarahan di dinding perut. Jika sianida berada dalam larutan encer, mungkin ada sedikit kerusakan pada perut, terpisah dari warna merah muda pada mukosa dan mungkin beberapa pendarahan berupa petechiae. Mungkin juga sianida tersebut menjadi kristal / bubuk putih yang tidak dapat larut, dengan bau seperti almond. Seperti kematian yang biasanya berlangsung cepat, sedikit bagian dari sianida dapat sudah melewati masuk ke dalam sel cerna. Esofagus dapat mengalami kerusakan, terutama pada bagian mukosa esofagus yang ketiga yang lebih bawah, yang bisa mengalami perubahan post mortem dari regurgitasi isi perut melalui relaksasi sphincter jantung setelah mati. Organ lain tidak menunjukkan perubahan yang spesifik dan diagnosis dibuat berdasarkan ceritanya, bau dan warna kemerahan pada jaringan dalam tubuh maupun kulit. Analisis Toksikologi Darah, isi perut, urin dan muntahan harus diserahkan ke laboratorium, membutuhkan perhatian khusus bahwa sampel terhindar dari resiko dalam pengemasannya, transportasinya atau tidak dikemasnya sampel tersebut. Pemerikasaan laboratorium harus dilakukan dan diperhatikan jika ada kemungkinan terjadinya keracunan sianida. Jika kematian mungkin disebabkan oleh inhalasi gas hidrogen sianida, paru-parunya harus dikirim utuh, dibungkus dalam kantong yang terbuat dari nilon (bukan polivinil klorida). Roman Forensik Edisi 8

113

dengan gambaran patologi dari luar atau eksterna langsung tertuju pada CO. sakit kepala ringan 20% .5 jam dan setelah 6-8 jam darah tidak mengandung COHb lagi.penglihatan buram. kolaps 40% .60% Sinkop.40% Sakit kepala keras. sebagian besar diikat oleh Hb.30% Sakit kepala. viscera dan darah yang berwarna merah terang. Pada autopsi biasanya relatif mudah untuk menentukan korban yang meninggal pada keracunan CO dengan melihat warna lebam mayat yang berupa cherry red pada kulit. mual dan muntah. KERACUNAN KARBONMONOKSIDA Karbonmonoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna. afinitas COHb 208-245 kali afinitas O2. berdenyut pada pelipis 30% . Lebih dari 70% isi sianida dapat hilang setelah beberapa minggu. 50% . tapi batas pasa hipostasis dan warna bagian dalam dapat terbukti. Pada konsentrasi ini jarang mengakibatkan kematian. akibat reaksi dengan komponen jaringan dan konversi menjadi thiosianad. pusing.Penting untuk membawa sampel ke laboratorium sesegera mungkin (dalam beberapa hari) untuk menghindari struktur sianida yang tidak seperti aslinya lagi dalam sampel darah yang telah disimpan. pernapasan lambat. otot. ataksia. Autopsi pada keracunan CO dapat memberikan petunjuk penyebab kematian. gagal napas dan meninggal. sehingga jika ada penundaan. adanya kulkas pendingin menjadi penting. sianida yang ditemukan dalam jumlah cukup adalah bukti bahwa sianida masuk dalam tubuh yang mana hal itu sendiri tidak normal dan dikonfermasi sebagai barang bukti dari terjadinya keracunan. Dikatakan bahwa tidak ada struktur sianida yang tidak seperti aslinya lagi. kadar COHb berkurang 50% dalam waktu 4. tidak berbau dan tidak merangsang selaput lendir. Terkadang sianosis yang semakin gelap cenderung menutupi warna kulit. Sumber CO berasal dari hasil pembakaran tidak sempurna motor yang menggunakan bahan bakar bensin.20% Rasa berat pada kening. lemah. Gejala keracunan CO berkaitan dengan kadar COHb dalam darah Gejala yang ditimbulkan akibat keracunan CO. Bila korban dipindahkan ke udara bersih. Pernapasan dan nadi cepat. mungkin meninggal 70% . Kadang-kadang ditemukan tanda-tanda asfiksia dan hiperemia viscera. darah dan organ-organ interna.70% Koma dengan kejang. Jika dibandingkan. Salah satu contoh keracunan CO mati didalam mobil dengan AC yang dibiarkan tetap menyala. Pemeriksaan dalam untuk keracunan yang tidak lama terjadi ditemukan jaringan otot. Pada autopsi penampilan yang paling jelas adalah warna pada kulit terutama pada post-mortem hipostasis. beberapa sampel positif sesungguhnya dapat menurun kualitasnya pada penyimpanan.50% Sama dengan gejala di atas tetapi dengan kemungkinan besar kolaps atau sinkop. akan tetapi pada orang yang anemik atau mempunyai kelainan darah warna cherry red ini menjadi sulit dikenali. Saturasi Gejala COHb 10 % Tidak ada 10% . koma dengan kejang intermitten. CO diserap melalui paru. tidak tampak adanya warna.80% Nadi lemah. Roman Forensik Edisi 8 114 . pernapasan Cheyne-Stokes 60% . Warna klasik “ Chery-pink” pada CO-Hb sebagai bukti jika saturasi darah kira-kira >30%. Hal ini biasanya dapat terjadi akibat suhu ruangannya. pernapasan dan nadi bertambah cepat. Pada otak besar dapat ditemukan petekie di substansia alba bila korban bertahan hidup lebih dari 30 menit. depresi jantung dan pernapasan. Dibawah ini secara jelas <20%.

sekresi saluran napas. tremor. papil edem. golongan hidrokarbon yang diklorkan : DDT. yang digunakan untuk mengendalikan hama. hiperhidrosis. Gejala klinis berupa gangguan penglihatan. Tanda dan gejala lain yang sering terjadi antara lain sakit kepala. Pestisida dalam arti yang luas mencakup insektisida. seperti tidak ada met-Hb yang terbentuk. lakrimasi. inkoordinasi. Pada kondisi demikian. lindane Berdasarkan cara kerjanya. salivasi. paralisis. sedangkan golongan karbamat bersifat reversibel. dll. maka kadar COHb dalam darah sudah kembali rendah dan lebam mayat tidak akan berwarna merah terang. Pada golongan organofosfat inhibisinya bersifat irreversibel. Darah normal akan segera menjadi hijau kecoklatan tapi jika terdapat monoksida. golongan karbamat : carbaryl.Pada korban keracunan CO yang sempat mendapat pertolongan dan baru meninggal beberapa saat (hari) kemudian. Gejala : Mual. fungisida. Saran lain mengenai indikasi CO adalah ketika jaringan dimasukkan dalam larutan garam untuk kepentingan histologis. Di dalam lambung ditemukan cairan yang terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan cairan lambung dan lapisan larutan insektisida. sianosis. kelemahan otot. Kasus kematian akibat insektisida seringkali merupakan kematian akibat bunuh diri menggunakan bahan pembunuhan serangga golongan karbamat yang digunakan luas dimasyarakat. otak dan paru tampak edem dan kongesti. Limpa. Inhibisi mengakibatan terjadinya akumulasi asetilkoloin. KERACUNAN INSEKTISIDA Insektisida merupakan bahan yang digunakan untuk membunuh serangga. golongan organofosfat dan karbamat dikategorikan ke dalam antikolinesterase. KERACUNAN DDT Cara kerja : Merangsang sistem saraf pusat Keracunan akut: Bisa terjadi secara tidak sengaja atau karena upaya bunuh diri. Mukosa lambung dan usus bagian atas tampak hiperemis dan mengalami perdarahan submukosa. mereka tidak terjadi pewarnaan secara cepat sama seperti jaringan normal dan tetap merah muda sepanjang periode. test yang cepat dengan menambah beberapa tetes darah pada 10% cairan NaOH di kaca gelas yang memberi latar putih. Dosis fatal : 30 gram Roman Forensik Edisi 8 115 . kejang. miosis. Mekanisme kematian pada kasus ini adalah anoksia jaringan otak. golongan fosfat organik : malation. Juga dapat tercium bau pelarut insektisida. rodentisida. paraxon. muntah. Insektisida yang sering digunakan. sukar bernapas. Kerusakan jaringan hati biasanya merupakan penyebab kematian pada keracunan kronis. Pada pemeriksaan dalam ditemukan tanda pembendungan pada alat dalam. baygon 3. Pembunuhan dengan racun jenis ini jarang terjadi. diagnosis kematian akibat keracunan CO ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan di TKP atau gambaran klinis saat korban baru dirawat. warnanya akan menjadi merah muda. Jika keracunan CO dicurigai pada autopsi. diazinon 2. koma. koma dan akhirnya meninggal. rangsangan pada saraf kolinergik diperpanjang. Kematian terjadi karena gagal napas dan henti jantung. saluran pencernaan hiperaktif. paration. dan hilangnya kontrol terhadap sfingter. antara lain : 1. yang pada pemeriksaan jenazah petekie pada substantia alba otak atau gambaran infark atau ensephalomalacia yang simetris. edema paru. Bagaimanapun juga test kasar tidak disarankan sebagai alternative yang digunakan. konvulsi. Selain itu keracunan juga disebabkan oleh faktor ketidaksengajaan pada proses penyemprotan.

Periode fatal : 1 sampai 3 jam Penatalaksanaan 1. dada terasa tertekan. diberikan reaktivator kolinesterase yang spesifik seperti diacelyemonoxial (DAM) atau Pyridine 2-aldoxima methiodide (P2AM) 4. keringat.kejang dan koma Penatalaksanaan: 1. air mata merah. mual. Fenobarbital dapat digunakan untuk mengendalikan tremor KERACUNAN ORGANOFOSFAT Racun ini dapat diserap melalui berbagai jalur. Suntikan ini bisa diulangi jika perlu sampai mencapai dosis maksimum yaitu 50 mg. Tahap awal: sakit kepala. Cara Kerja Racun mempengaruhi neuromuscular junction dan sinaps pada ganglion. jika dengan atropine tidak ada perbaikan. muntah. efek pada sistem saraf pusat. 2. efek muskarinik. bilas lambung dilakukan dengan larutan kalium permanganate 3. 53-150 mg intramuscular atau 100-400 mg melalui oral. efek nikotinik. tremor. fenobarbital bisa digunakan 4. Gejala-gejala Bergantung dari cara masuknya racun kedalam tubuh. salvias. Efeknya adalah: a. ataksia. takipne c. simtomatik 5. dan meninggal d. takikardi. dan spasme bronkus b.tidak nafsu makan . misalnya fasikulasi dan fibrilasi otot. miosis. Diberikan suntikan atropine sulfat 2 mg secara intramuskuler. misalnya pusing. Atropine akan menghambat efek muskarinik dan efek racun pada susunan saraf pusat. yaitu karena berkumpulnya porfirin pada kelenjar lakrimalis.insomnia . Hindari makanan mengandung minyak dan lemak 2. tidak boleh diberikan makanan yang mengandung minyak atau lemak Keracunan kronis Biasanya akibat inhalasi atau penyerapan kulit dalam jangka waktu yang lama. suntikan fenobarbital diberikan untuk mengatasi kejang-kejang Roman Forensik Edisi 8 116 . suntikan atropine 3. pandangan kabur dan mulut berbusa Tahap lanjut: muntah. bilas lambung 2. kejang otot abdomen.tremor . koma. muntah. misalnya mual.Periode fatal : 24 jam Penatalaksanaan: 1. Gejala-gejala: .gelisah .

rasa terbakar pada tenggorokan. selain itu arsen dianggap merupakan racun kapiler dan menyebabkan dilatasi kapiler. pembunuhan dengan racun jenis ini jarang terjadi KERACUNAN ARSEN As2O3 atau arsen trioksida atau disebut juga acidum arsenicosum merupakan senyawa yang sering dan penting artinya dalam hubungannya dengan keracunan. Dehidrasi dan syok harus segera diatasi Autopsi 1.Circulatory collapse dengan tekanan darah turun/rendah . paru-paru tampak mengalami edema.Denyut nadi cepat dan lemah Roman Forensik Edisi 8 117 . Arsen tidak berwarna. kejang dan meinggal Ada 4 tipe gejala keracunan: 1. mungkin karena perforasi lambung . retrosternum dan epigastrium. menekan sisem saraf dan menghalangi respirasi. Pasien menjadi gelisah .gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit mengakibatkan dehidrasi dan kejang otot. mordant) maupun dalam bidang pengobatan (sedian-sedian yang mengandung arsenikum baik sebagai senyawa anorganik maupun organik). tidak larut dalam air. inflamasi dan perdarahan Kepentingan dari segi medikolegal 1. ditemukan tanda-tanda asfiksia 2. Senyawa arsenik ini banyak ditemukan dalam bidang pertanian (rodenticide). industri (sebagai pengotoran dari zat warna. As2O3 ini berupa serbuk putih atau kadang kristal halus dengan sedikit rasa (lemah) bahkan dapat dikatakan tidak berasa sama sekali dan tidak berbau. Bentuk lain dari arsenikum ini adalah Arsine dan Ethylarsine dimana berada dalam bentuk gas. aspirasi atau trakheostomi dilakukan jika perlu. Arsen mengiritasi jaringan.tenesmus yang disertai tinja berwarna hitam karena banyak mengandung darah dan banyak mengandung cairan seperti diare pada kolera . keracunan paling sering terjadi karena upaya bunuh diri 2. mukosa lambung mengalami inflamasi disertai dengan perdarahan petekia 3. keracunan karena ketidaksengajaan adalah pada penyemprotan 3.nyeri akut pada abdomen. muntah dan diare . tadak berbau (As2O3) dan tidak berasa. Cara kerja keracunan akut berupa gangguan metabolisme seluler dengan menghambat sistem enzim sulfhidril. Acute Paralytic Timbul mendadak setelah korban keracunan dengan dosis besar serta absorbsinya berjalan sangat cepat.berkurangnya produksi urin. rasa sangat haus disertai mual. antara lain: . Timbulnya gejala biasanya dalam waktu 2 jam setelah masuknya racun. Arsen menyebabkan : .koma.5. dalam bentuk gas biasanya berbau bawang putih. pengobatan simtomatik seperti pemberian oksigen. Mudah larut dalam asam lambung. Jumlah yang sangat sedikit sudah dapat membunuh seseorang (30-300 mg).tanda syok akan menonjol pada tahap menjelang kematian . Arsen dalam bentuk metal tidak beracun. terdapatnya sel darah merah pada urin dan selanjutnya dapat mengalami gagal ginjal . Gejala yang menonjol adalah akibat depresi susunan saraf pusat yang hebat khususnya pusat-pusat vital dimedulla. yang beracun adalah dalam bentuk garam. Bentuknya seperti bubuk giling.

Kematian terjadi dalam beberapa jam sampai beberapa hari dan apabila penderita dapat melewati serangan pertama. .Paralyse dan atrofi otot-otot tangan dan kaki sebagai akibat neuritis kronis disertai dengan degenerasi saraf yang dimulai dari bagian perifer dan berjalan ke arah sentral. 4.Rasa sakit dan cramp pada perut . beberapa kasus tampak penderita mengalami keratosis kulit. Bila kasus keracunan lebih hebat maka timbul gejala seperti muka kebiruan dan cemas.Mata mengalami hiperkeratosis. 2. retensi urin. bengkak seluruh tubuh. serta dehidrasi akibat hilangnya cairan tubuh. cramp pada kaki bagian atas. Kematian dapat terjadi beberapa hari kemudian. yang lain lebih condong menunjukkan gejala muntah atau kombinasi dari gejala-gejala tersebut pada penderita lainnya. albuminuria. Gejala klinis diatas sangat inddividual.Ginjal mengalami nephrosis dengan albuminuria dan hematuria . Subacute Type Timbul apabila senyawa arsenikum diberikan dalam dosis kecil berulang kali dalam interval waktu tertentu. . .Profuse diarrhea dengan faeces bercampur darah.Traktus Gastrointestinal mengalami inflamasi dan kronis serta diarhea berkepanjangan . 3.Rasa haus yang hebat.Mulut terasa kering .Pernafasan sukar dan dalam Stupor atau semicomatous Kadang-kadang kejang dan adakalanya tampak/ tidak tampak gejala iritasi gastrointestinal Kematian terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam. usus maupun organ-organ parenchym segera setelah keracunan. timbul muntah dan diikuti diarrhea setelah 1-2 jam kemudian.Perdarahan multiple pada lapisan sub serosa jaringan . Gastrointestinal Type Merupakan gejala yang paling utama dijumpai dan khas. kadang-kadang bercampur darah . gangguan pernapasan dan sianosis.Skin eruption.Muntah berkepanjangan.Anaesthesia . Chronic Type Type ini dapat berkembang/ terjadi setelah gejala akut mereda.Cramp dan dehidrasi . kelopak mata bengkak . delirium. pasien akan batuk darah dengan dahak yang berbusa. Selanjutnya mungkin mengalami Roman Forensik Edisi 8 - 118 . nausea. .Degenerasi toksik pada hepar yang kemudian berkembang menjadi acute/subacuteyellow atrophy disertai toxic jaundice hebat. Tampak gejala-gejala: .Garis melintang pada kuku berwarna putih. dan diare . Gejalanya: . akibat lesi-lesi pada lambung.Rambut dan kuku rontok . atau akibat pemberian dalam dosis besar tetapi tidak segera menimbulkan kematian dan menimbulkan efek keracunan selama dieksresikan (slow excretion). kulit pucat dan dingin.Hiperkeratosis terutama tampak jelas pada telapak tangan dan telapak kaki Pada kasus racun arsen dalam bentuk serbuk arsen. masih ada kemungkinan untuk bertahan hidup. dimana satu penderita condong menunjukkan gejala profuse diarrhea sebagai gejala utama.Kadang tampak gastroentritis kronis disertai anoreksia. berat badan menurun serta keadaan umum korban makin buruk. sakit tenggorokan .Kulit mengalami hiperkeratosis dan hiperpigmentasi .

Pada kasus keracunan kronis. Paralisis seluruh anggota badan mungkin terjadi sebelum kematian. berwarna merah disertai perdarahan submukosa. Gin dan Brandy : 40-45% Port. KERACUNAN ALKOHOL Alkohol ada 2 jenis: • Etil alkohol / Etanol (C2H5OH) • Metil alkohol / Metanol (CH3OH) Alkohol bersifat racun bagi otak. Metabolisme alkohol terutama terjadi di hati (90%) dan mengalami oksidasi. delirium. Wine (anggur) merupakan jenis minuman yang paling cepat penyerapannya. kuku. bahkan tidak sama sekali. paru-paru. Alkohol murni berupa cairan yang bening. Alkohol bisa menjadi sumber energy yang baik. Pada kasus kematian akibat keracunan arsen. Pasien merasa pusing. Sherry : 20% Anggur (wines) : 10-15% Bir : 4-8% Berbagai jenis minuman keras daerah : 5-10% Metabolisme Absorpsi terutama dari usus halus (80%) dan lambung (20%). Pada beberapa kasus. Sisa yang 10% diekslresikan melalui kulit. pemeriksaan terhadap rambut. nyeri prekordium. misalnya: • Alkohol absolut : 99. Konsentrasi alkohol dalam darah sudah bias ditemukan dalam waktu 5-10 menit setelah meminum alkohol. arsen dalam jumlah besar akan menyebabkan muntah sehingga mengeluarkan sebagian besar racun tersebut dan pasiennya selamat. gejala-gejala pada sistem pencernaan sangat minimal. seperti mata cekung dan penonjolan tulang-tulang wajah. kelenjar liur dan ginjal.edema paru akut.9% • • • • • • • • Rectified spirit (alkohol yang dimurnikan) : 90% Methylated spirit (alkohol denaturasi) : 95% Rum dan minuman keras lainnya : 50-60% Whisky. dan tulang akan memberikan hasil positif. Kadar puncak dalam darah adalah 30 menit setelah meminum alkohol. Isi lambung berwarna gelap. Mukosa sistem pencernaan mengalami inflamasi. Roman Forensik Edisi 8 119 . Untuk mendiagnosis keracunan akibat arsen dilakukan pemeriksaan toksikologi pada isi lambung. Tetapi pada beberapa kasus. Kematian mendadak akibat syok mungkin terjadi karena arsen dalam dosis tinggi. Membran mukosa mempunyai rugae dan di antara rugae bisa ditemukan lendir yang kental dan mengikat partikel racun. Pada pemeriksaan dalam. Proses absorpsi semakin cepat jika terdapat air dalam saluran usus atau lambung dalam keadaan kosong. mukosa mulut biasanya normal tetapi bisa tampak tanda-tanda inflamasi. pemeriksaan luar didapatkan tandatanda dehidrasi. dimana setiap 1 gram dapat menghasilkan 7 kalori. kehilangan kesadaran dan meninggal. Alkohol terdapat pada berbagai jenis minuman. mudah menguap dan mempunyai aroma yang khas. Dibutuhkan waktu yang lama agar kadar puncak alkohol dalam darah ini bisa menyebabkan habituasi (ketergantungan) dan keadaan lainnya seperti gastritis dan anemia.

Tahap merasa dalam keadaan senang Pasien sadar dan merasa senang karena penekanan pada pusat-pusat hambatan di otak. memasukkan benang ke dalam jarum.Jenis keracunan alkohol Keracunan alkohol bisa bersifat: • Akut • Kronis KERACUNAN ALKOHOL AKUT Terdiri atas 3 tahap: 1. Pada tahap ini pasien masih bisa dibangunkan dengan suara yang kuat atau cubitan. misalnya meminum air. 3. Tahap koma Roman Forensik Edisi 8 120 . Tanda-tandanya: • • • • • • • • • Muka merah Pasien sangat banyak bicara Pasien kehilangan pengendalian diri Gangguan pada pengendalian gerakan-gerakan halus. Tahap ini bisa berlangsung lama dan dapat terlihat pada semua kasus. inkoheren dan sengau Penglihatan kabur Kemudian pasien akan memasuki fase setengah sadar dan akhirnya menjadi tidak sadarkan diri. Tahap kebingungan Keadaan ini adalah akibat penekanan pada pusat-pusat lainnya pada otak sehingga berkaitan dengan: Inkoordinasi-ataksia atau gerakan yang lambat Pasien tidak dapat berjalan lurus Percakapan tidak jelas. keadaan ini disebut fenomena pelepasan (release phenomenon). Ada kalanya pasien menjadi: Berperilaku kasar Bersifat sentimental Inkoordinasi Pupil sedikit mengalami dilatasi dan bereaksi terhadap cahaya Pernafasan berbau alkohol Perlahan-lahan pasien akan memasuki tahap kebingungan 2.

pada beberapa kasus bisa agak panjang yaitu antara 5-6 hari Penatalaksanaan Jika pengobatan diberikan pada saat yang tepat sebelum pasien masuk dalam tahap koma.Penekanan pada pusat otak yang lebih tinggi . maka kemungkinan besar dapat sembuh. dosis sebanyak 150-200 mL alkohol absolut sudah dianggap bisa berakibat fatal. Periode fatal Jika alkohol diminum dalam jumlah yang banyak oleh seseorang yang tidak mempunyai kebiasaan minum alkohol bisa menyebabkan kematian dalam beberapa menit. Kadar alkohol darah dari konsumsi 35 gram alkohol dengan menggunakan rumus: A= C x P x R A : jumlah alkohol yang diminum C : kadar alkool darah(mg%) P : berat badan(kg) R : konstanta (0. • Bilas lambung harus dilakukan walaupun pasien dalam keadaan tidak dapat dikendalikan. • Untuk mengeluarkan racun bisa diupayakan agar pasien muntah secara mekanis yaitu dengan menekan orofaring.Pneumonia atau edema paru • Sebelum kematian mungkin mengalami kejang-kejang Dosis fatal Dosis bukan hanya tergantung dari jumlah yang diminum. Tetapi perlahan-lahan pasien akan memasuki tahap koma. • Pernafasan lambat dan mendengkur • Denyut nadi cepat dan halus • Pasien tidak dapat dibangunkan walaupun dengan guncangan keras • Suhu tubuh di bawah normal (hipotermia) • Pupil sedikit mengalami konstriksi • Kematian terjadi karena. Pada buku lain juga mengatakan takaran alkohol untuk menimbulkan keracunan bervariasi tergantung dari kebiasaan minum dan sensitivitas genetik perorangan. . Bahan yang dperoleh dari bilasan lambung yang pertama diambil untuk bilasan kimia. Misalnya alkohol absolut sebanyak 5 oz dapat berakibat fatal.Sebelum memasuki tahap ini pasien masih bisa sembuh dan kembali pada tahap pertama.0007) Bagi orang dewasa. Zat kimia perangsang muntah hanya digunakan jika keadaan umum pasien cukup baik. Alkohol sebanyak 75-80 gr akan menimbulkan keracunan akut dan 250-500 gram alkohol takaran fatal. tetapi juga bergantung pada kebiasaan seseorang dan jenis minumannya. • Berikan minuman hangat seperti teh atau kopi Roman Forensik Edisi 8 121 . Umumnya 35 gram alkohol menyebabkan penurunan kemampuan untuk menduga jarak dan kecepatan serta menimbulkan euforia. yaitu ketika refleks tubuh sudah tidak ada dan mata mengalami konstriksi dan tidak bereaksi terhadap cahaya. Untuk anak-anak berusia dibawah 12 tahun. alkohol absolut sebanyak 2 oz juga sudah dapat berakibat fatal.Anoksia otak akut . kemudian bilas lambung dilanjutkan sampai hasil bilasan lambung tidak mengandung bau alkohol. Periode fatal bisanya antara 12-24 jam.

Roman Forensik Edisi 8 122 . nikethamide diberikan dalam bentuk suntikan Upayakan agar suhu tubuh pasien selalu hangat Untuk mengatasi asidosis. • 2. yaitu. Korban biasanya adalah penderita psikosis atau neurosis. Pemeriksaan luar • Kaku mayat dan pembusukan lebih lambat terjadi. kedalam larutan tersebut ditambahkan insulin 15 unit. diberikan soda bikarbonat melalui oral Jika pasien gelisah diberikan mephenisine dengan dosis 1-3 gram • Jika perlu diberikan 1000 cc glukosa 10% serta garam fisiologis secara intravena. niasinamida 200 mg dan vitamin C 1000 mg • Antibiotik diberikan sebagai tindakan profilaksis terhadap infeksi paru-paru Pasien diawasi dan diperhatikan tanda-tanda penyembuhan.• Penafasan buatan serta oksigen diberikan jika ditemukan adanya tanda-tanda penekanan pernafasan • • • • Obat stimulansia sepert coramine. KERACUNAN ALKOHOL KRONIS Keadaan ini terjadi karena meminum alkohol dalam jangka waktu yang lama. Kongesti pada konjungtiva sangat jelas Pemeriksaan dalam • • • Bau alkohol bisa tercium dari isi lambung dan organ tubuh lainnya Dinding lambung hiperemis. berwarna merah dan isi lambung berwarna coklat Organ tubuh lainnya mengalami kongesti • Edema otak sangat jelas terlihat dari jarak antara gyrus otak yang semakin sempit Bagian tubuh yang diperlukan untuk pemeriksaan kimia: • Darah • • Paru-paru Otak Pada bahan yang diambil tidak boleh ditambahkan zat pengawet dan pemeriksaan dilakukan sesegera mungkin. Mayat penderita bisa bertahan lebih lama. vitamin B1 200 mg. sehingga alkohol digunakan sebagai pelarian dari kenyataan hidup. • Pasien kembali memasuki tahap kebingungan • • Ukuran pupil kembali normal Mulai timbul gejala mual dan muntah Gambaran Post-Mortem 1.

• Makanan dengan gizi yang seimbang • Pemberian multivitamin untuk mengatasi adanya defisiensi. Dampak yang terjadi dari segi medikolegal adalah: • Kecelakaan lalu-lintas • Kecelakan industri Roman Forensik Edisi 8 123 .75 gram per hari.25 sampai 0. pasien juga mengalami neuritis perifer dan demensia yang akan semakin nyata pada tahap akhir • Pasien kemudian secara tiba-tiba mengalami koma dan pingsan Penatalaksanaan • Keadaan ini bisasanya adalah masalah psikiatri karena berbagai masalah yang melatarbelakangi kebiasaan minum alkohol tersebut • Kebiasaan minum alkohol harus dikurangi dengan memberikan tablet antabuse (Tetra erthylthiuram disulphide) dengan dosis 0. Secara farmakologi dampak yang terjadi adalah akibat toleransi dan ketergantungan tubuh.Gejala yang dialami: • Nafsu makan menurun. Pemberian vitamin ini harus tetap diberikan untuk jangka waktu yang cukup lama Gambaran Post-Mortem • Mukosa lambung tampak menunjukkan hiperemi dan hipertrofi • Hati dan ginjal mengalami kongesti. Alkoholisme adalah keadaan dimana setelah meminum alkohol secara berlebihan seseorang tidak dapat menjaga kesehatannya. Tablet antabuse hanya diberikan dengan persetujuan pasien karena keadaan pasien akan sangat memburuk jika setelah mendapat tablet Antabuse pasien kembali meminum alkohol. dengan demikian dia tidak mampu untuk bertindak dengan baik dan aman pada dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya. Kepentingan dari segi medikolegal 1. tidak mampu melakukan kegiatan bermasyarakat atau keduanya. mual. muntah dan diare • • Tremor pada tangan dan lidah Gangguan daya ingat dan kemampuan menilai • Jika telah berlangsung lama bisa menyebabkan hipoproteinemia yang mengakibatkan edema anasarka • Selain mengalami stres psikologis. Pada hati terdapat infiltrasi lemak dan perubahan sirosis • Jantung membesar dan menunjukkan adanya infiltrasi lemak Mabuk Alkohol Keadaan mabuk adalah jika seseorang meminum alkohol dalam jumlah yang sangat banyak sehingga orang tersebut tidak dapat menguasai dirinya baik secara fisik dan mental. Untuk tujuan yang sama bisa juga diberikan tablet Temposil (Citrated calcium carbimide) dengan dosis 50 mg per hari.

4% Kesadaran menurun mengakiatkan delirium dan stupor • • 0. Kadar alkohol dalam darah dan dampaknya adalah sebagai berikut: • • 0. fibrosis endokardial dengan tanda trombi mural pada otot jantung. Kadar alkohol dalam darah sangat bervariasi tergantung kepada oksidasi jaringan. SGOT dan SGPT. Alkohol bisa diperiksa melalui darah dan urin. Pada jantung dapat terjadi kardiomiopati alkoholik dengan payah jantung kiri dan kanan dengan distensi pembuluh balik leher. Kelainan pada keracunan kronis alkohol: 1. kerongkongan dan lambung berupa gastritis kronis. 3. paraldehida juga bisa menunjukkan hasil pemeriksaan seperti alkohol. nadi lemah dan edema perifer. Hal ini sangat berguna untuk menerangkan mengenai kasus kematian mendadak.• • • Gangguan hubungan antar pribadi (masalah perkawinan) Cedera Pembunuhan 2.2% Tingkat intoksikasi menengah 0.2-0. Dengan demikian harus ada suatu bentuk pendekatan yang sistematis untuk memeriksa pasien. Pada beberapa kecelakaan industri. Pada hati akan terjadi penimbunan lemak dalam sel hati. Pada jantung akan terlihat hipertrofi kedua ventrikel. Kadar alkohol dalam urin lebih stabil tetapi hasil pemeriksaan melalui urin ini menjadi kurang bermakna karena senyawa lainnya seperti aseton. sering seseorang tersangka menyatakan bahwa dirinya dalam keadaan mabuk sebagai upaya pembelaan. eter. kecelakaan lalu lintas dll. Seorang dokter akan sering menghadapi masalah seperti ini. 2.6% Koma Asfiksia darah Reaksi alkohol pada setiap orang berbeda-beda dan reaksi alkohol pada orang yang sama juga berbeda-beda pada setiap waktu bergantung pada faktor lingkungan dan sifat dasar orang tersebut Alkohol merupakan penyebab ketergantungan dan keracunan paling sering. Pada saluran pencernaan : alkohol dalam takaran tinggi dalam waktu lama akan menimbulkan kelainan pada selaput lendir mulut.15% Orang akan merasa gembira Batas keamanan untuk mengemudikan kendaraan bermotor di jalan raya • • 0. trigliserida dan asam urat meningkat.5% 0.1% 0. Roman Forensik Edisi 8 124 .

Pada orang yang masih hidup dapat diientifikasi dari bau alkohol yang keluar dari udara pernafasan. edema dan vakuolisasi serabut otot jantung. alkohol dapat berdifusi dari lambung ke jaringan sekitarnya termasuk ke dalam jantung sehingga bisa diambil darah dari pemeriksaan darah vena perifer seperti di daerah cubiti dan femoralis. Pada jantung. pada 500-600 mg% dalam darah. berwarna merah gelap. 3. Sebarkan 1 mL darah/urin dalam ruang sebelah luar dan masukkan 1 mL kalium karbonat dalam ruang yang berlawanan. 6. degenerasi bengkak keruh. Pada mayat. Pada otot akan ditemukan miopati alkoholik dan histologis di jumpai atrofi serat dan perlemakan jaringan otot. Sebab dan mekanisme kematian Mekanisme kematian terutama akibat gagal hati dan ruptur varises esofagus akibat hipertensi portal. Angkat tutup dan amati perubahan warna pada reagen Roman Forensik Edisi 8 125 . 2. pada bagian parenkim organ inflamasi mukosa saluran cerna. gambaran serat lintang otot jantung menghilang. 2. kemerahan dan tanda inflamasi tapi kadang-kadang juga tak tampak kelainan. Penentuan kadar alkohol dalam daram lambung saja tanpa menentukan kadar alkohol dalam darah hanya menunjukkan orang tersebut telah minum alkohol. Otak dan darah berbau alkohol. Tutup sel mikrodifusi dan goyangkan dengan hati-hati. darah lebih encer. hematom sub-dural akut dan kronis. penderita biasanya meninggal dalam 1-4 jam setelah koma selama 10-16 jam. Mukosa lambung tanda perbendungan. Pada autopsi bisa ditemukan memar pada cortex cerebri. Masukkan 2 mL reagen Anti ke dalam ruang tengah. Reagen anti dibuat dengan melarutkan 7. Kelainan pada orang yang sudah meninggal tidak khas. 4. Laboratorium Untuk korban meninggal dapat diperiksa kadar alkohol dalam otak. Encerkan dengan 500 mL aquadest.4. Pemeriksaan Kedokteran Forensik 1. Seluruh organ menunjukkan tanda perbendungan. Pemeriksaan kadar alkohol darah: baik pemeriksaan udara pernafasan atau urin atau dari darah vena 3.7 mg kalium dikromat ke dalam 150 mL air + 280 mL asam sulfat dan terus diaduk. hialinisasi. hati atau cairan tubuh seperti cairan serebrospinal. Pada pemeriksan histologis dapat dijumpai edema dan pelebaran pembuluh darah dan selaput otak. 7. Metode sederhana untuk menentukan kadar alkohol dalam darah disebut teknik modifikasi mikrodifusi (CONWAY) yaitu 1. 5. Depresi pernafasan terjadi pada kadar alkohol otak lebih besar dari 450 mg%. Biarkan terjadi difusi selama 1 jam pada suhu ruang. Mungkin ditemukan gejala yang sesuai dengan asfiksia.

Ahli toksikologi harus membatasi sejumlah material yang dianalisis. jenis kelamin. oleh karena itu. berat badan. Pemeriksaan toksikologi dilakukan terhadap darah dan urin. yang dimaksudkan menutupi bekas suntikan. Spesimen harus dikumpulkan sebelum jenazah diawetkan. penting sekali dilakukan pengumpulan informasi yang mungkin berkaitan dengan fakta keracunan. Sebelum memulai analisis. Kadangkala ditemukan tatto pada tempat yang tidak lazim. Apabila reagen berwarna kuning kenari menunjukkan hasil negatif. riwayat kesehatan. Setelah absorbsi pada saluran cerna. sedangkan warna kekuningan sekitar 300 mg%. Contohnya CN dirusak oleh proses pembalseman. Jika racun tertentu diduga atau diketahui terlibat 2. Tetapi apabila warna kuning kehijauan menunjukkan kadar etanol sekitar 80 mg%. misalnya pada lipat siku. pemeriksaan toksikologi juga dilakukan pada cairan empedu serta tempat masuknya narkotika tersebut (jaringan sekitar suntikan pada pemakai narkotika suntikan. obat yang terdapat pada korban. yaitu: Mengumpulkan keterangan riwayat keracunan dan spesimen yang sesuai Saat ini. PEMERIKSAAN TOKSIKOLOGI PADA KEMATIAN AKIBAT KERACUNAN 1. Investigasi kematian akibat keracunan dapat dibagi menjadi tiga tahap. ketika sejumlah residu racun yang tak terabsorbsi masih ditemukan. temuan pada autopsi. isi saluran cerna harus dianalisi pertama kali. dan interval waktu antara onset gejala dan kematian. diinjeksi. isi lambung pada mereka yang menelan narkotika). sifat dasar temuan racun dan biotransformasi racun. pemberian terapi sebelum meninggal. Pada kasus keracunan dengan racun yang masuk per oral. obat atau racun pertama-tama dibawa ke hepar sebelum memasuki sirkulasi sistemik. ahli toksikologi harus mempertimbangkan beberapa faktor yaitu: jumlah spesimen yang tersedia. Ahli toksikologi harus memperhatikan usia. Pengumpulan spesimen untuk analisis toksikologi biasanya dilakukan saat dilakukan autopsi. analisis pertama dari organ dalam dilakukan pada hepar. nasal swab pada mereka yang melakukan sniffing. atau terinhalasi. Kematian akibat narkotika paling sering melalui terjadinya depresi napas. Analisis toksikologi Sebelum memulai analisis. Selanjutnya urin dapat dianalisis. Selain itu. Pembendungan ditemukan pula pada organ-organ tubuh lainnya. Pada pemeriksaan kasus kematian akibat narkotika.4. KERACUNAN NARKOTIKA Kematian akibat narkotika lebih sering karena kecelakaan. Pada pemeriksaan jenazah akan ditemukan kelainan pada paru berupa pembendungan hebat dan edema paru hebat. Roman Forensik Edisi 8 126 . karena ginjal merupakan organ ekskresi utama untuk kebanyakan racun dan racun dalam konsentrasi tinggi sering ditemukan pada urin. Pada para pemakai narkotika dengan suntikan dapat ditemukan pembesaran kelenjar limfe regional. terdapat banyak bahan yang beredar di masyarakat yang dapat menyebabkan kematian jika dicerna. narcotic lung atau gambaran pneumonia lobaris. Spesimen dari sejumlah cairan tubuh dan organ penting untuk mengambarkan afinitas obat dan racun terhadap jaringan tubuh. perlu diperhatikan akan adanya bekas suntikan yang baru dan lama. dimana proses ini dapat merusak atau melarutkan racun dan membuat deteksi menjadi tidak memungkinkan. dan pekerjaan korban.

Gejala withdrawal h. penyuntikan. kecelakaan transportasi. mengumpulkan laporan hasil analisis berdasarkan toksisitas. Gejala tak terduga dari penyakit tertentu seperti penyakit Lyme atau tumor otak Roman Forensik Edisi 8 127 . Cerebrovasculer accident (CVA) c. Flash black setelah penyalahgunaan obat g. Meningitis f. operasi dan lain sebagainya. Trauma otak dan kematian otak e. Koma hipoglikemik b. kematian setelah tindakan medis. Idiosinkrasi dan reaksi hipersensitivitas i. pada kasus kematian. Interpretasi terhadap hasil analisis Setelah mengumpulkan keterangan-keterangan tentang riwayat kasus keracunan. khususnya pada pengemudi dan pilot. Syok neurogenik j. dan biotransformasi dan membandingkan hasil analisis dengan kasus serupa yang pernah dilaporkan pada literatur yang berkualitas atau kasus serupa dari pengalamannya sendiri. kematian yang dikaitkan dengan tindakan abortus. distribusi.3. kasus penganiayaan dan pembunuhan (selektif). ahli toksikologi memilih menganalisis pertama-tama jaringan dan cairan dimana racun terkonsentrasi. kasus yang memang diketahui atau pasti diduga menelan racun. Pemeriksaan toksikologi diperlukan pada kondisi seperti kasus kematian mendadak yang terjadi pada seseorang maupun sekelompok orang. GEJALA YANG MENYERUPAI KERACUNAN (APPARENT INTOXICATION) a. kasus perkosaan atau kejahatan seksual lainnya. Exhaustion setelah kejang atau setelah pemakaian MDMA d.

Kedua tangan ditutup dengan sarung tangan rangkap supaya tidak tercemar bahanbahan dari mayat.  Buka daerah dalam.  Pemeriksa berada disebelah kanan jenazah untuk yang menggunakan tangan kanan tetapi jika menggunakan tangan kiri. Lepaskan dengan tajam agar tidak memotong alat-alat didalamnya. Kemudian jaringan kulit dan otot tersebut ditarik kearah lateral hingga jaringan yang menegang tersebut dapat dipotong dengan pisau pada tangan kanan.  Insisi kulit dilakukan mengikuti garis pertengahan badan mulai di bawah dagu. Insisi pada dinding perut biasanya dimulai pada daerah epigastrium dengan membuat irisan pendek yang menembus sampai peritoneum. yang dilepaskan adalah bagian kulitnya saja. tidak ada resapan darah pada otot dan kulit agak tebal.BAB XIII PEMERIKSAAN DALAM FORENSIK (AUTOPSI) PERSIAPAN SEBELUM DILAKUKAN PEMERIKSAAN DALAM 1. yaitu sebaiknya dijepit diantara ibu jari disebelah medial dan jari-jari lain disebelah lateral.  Kulit thorax dan jaringan otot dibawahnya dipegang dengan erat dengan tangan kiri. Roman Forensik Edisi 8 128 . putih. 2.  Memeriksa ketinggian diafragma untuk mendeteksi adanya pneumothorax atau hematothoraxyang ditandai dengan penurunan diafragma. tidak ada fibrin.  Rongga dada dibuka dengan jalan mengiris rawan-rawan iga pada tempat ± 1 cm medial dari batas tulang rawan dengan masing-masing iga.  Pada bagian leher. lepaskan otot. Dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri yang dimasukkan ke dalam lubang insisi ini. pada daerah dada potong sampai ke tulang. Posisi pisau miring dengan ditekan oleh tangan kiri.  Memeriksa rongga perut apakah terdapat darah. Gunakan apron yang terbuat dari plastik warna putih. Menggunakan sepatu tinggi yang terbuat dari karet. bisa juga menggunakan jas lab. maka dinding perut dapat ditarik atau diangkat ke atas untuk menghindari terpotongnya alat-alat dalam. pemeriksa berada disebelah kiri jenazah. Perhatikan juga dinding perut. pisau diarahkan ke bagian lateral dan posisi pisau kurang lebih tegak lurus pada costae dan sewaktu mengiris otot-otot yang masih melekat pada costae dibersihkan. 3. Dinding perut yang normal adalah licin. Potong agak tegas sehingga tidak merusak kulit. Dimulai dari iga kedua terus kea rah caudal. diteruskan kearah umbilicus dan melingkari umbilicus di sisi kiri dan seterusnya kembali mengikuti garis pertengahan badan sampai di daerah simfisis pubis. sedangkan otot-ototnya dibiarkan saja. PEMBEDAHAN MAYAT  Mayat yang dibedah diletakkan terlentang dengan bagian bahu ditinggikan (diganjal) dengan sepotong balok kecil. cairan atau pus. Pemeriksa berdiri dibagian kepala jenazah.

Periksa pula akan adanya luka baik pada kandung jantung maupun pada permukaan jantung sendiri. Buli-buli dilepaskan dengan memasukkan tangan subperitoneum. Pada daerah caecum pengirisan dilakukan terhadap mesocolon dengan memotong mesocolon pada bagian lateral dan colon ascendens.  Temukan esofagus dan ikat serta dipotong proksimal dari ikatan tadi sehingga alat leher dan dada bisa dilepaskan. sehingga lidah bias dipegang dengan tangan. lapis demi lapis agar tidak teriris ginjal kanan serta duodenum pars retroperitonealis. Otot dasar mulut terpotong seluruhnya. alat panggul setingga prostat dan wanita 1/3 proksimal vagina.  Cairan jantung normal: kuning. kandung kencing serta alat-alat lainnya.  Mengeluarkan organ-organ dada dari tulang leher kemudian ditarik dengan tangan kiri sehingga semuanya terangkat.  Rectum dipegang dengan tangan kanan.  Cari pangkal usus halus yang paling pangkal (retroperitoneal) yaitu duodenum dan dibuat 2 ikatan dan dipotong diantaranya agar isis duodenum tidak keluar. alat-alat seperti uretra. melingkari kepala kearah puncak dan berakhir pada prosessus mastoideus sisi lain. Pengirisan dilakukan sepanjang usus halussampai ileum terminalis.  Pada daerah colon transversum lepaskan perlekatan antara colon dan lambung.Pengirisan dilakukan dengan pisau diletakkan tegak lurus pada usus dan digerakkan maju mundur seperti gerakan mengegrgaji. Melepaskan daerah clavicula dengan memotong iga kesatu kearah lateral dan medial pada sendi sternoclavicula. iliaca comunis. mulai dari bagian distal dan mengurutnya kearah proksimal agar isi rectum dipindahkan ke colon sigmoid dan rectum dapat diikat dengan 2 ikatan.  Alat rongga panggul dilepaskan dengan melepaskan peritoneum didaerah simfisis. Pada pria. Pemotongan otot temporalis agar jika telah selesai dimaksudkan dapat dijadikan tempat jahitan menyatukan kembali atap tengkorak dengan bagian lain tengkorak. untuk kemudian diputus diantara 2 ikatan tersebut. Roman Forensik Edisi 8 129 . Mesocolon kembali diiris disebelah lateral dari colon descendens dengan memisahkannya juga dari limpa dan ginjal kiri. Kulit kepala kemudian dikupas kearah depan sampai kurang lebih 12 cm di atas batas orbita dan kearah belakang sampai protuberantia occipitalis externa. rectum.  Lakukan pemeriksaan lebar mediastinum dan periksa juga apa yang ada di rongga dada kiri dengan menarik paru kiri dan jantung untuk mengetahui apakah ada cairan atau darah. Pemotongan dilakukan dengan hatihati. Membuka rongga tengkorak dengan penggergajian tulang tengkorak melingkari daerah frontal ± 2 cm di atas margo supraorbitalis. pengirisan dilakukan dengan memotong diafragma yang dekat/melekat pada dinding dada dari kanan dan kiri. Perhatikan permukaan luar tulang tengkorak apakah ada tanda kekerasan baik resapan darah maupun garis/patah tulang. ukuran bervariasi 10-20 mL  Selanjutnya pengeluaran alat leher dimulai dengan melakukan pengirisan dasar mulut menyusuri tepi rahang bawah hingga masuk rongga mulut. Dengan tangan kiri memegang pada ujung distal dan mengangkatnya maka mesenterium yang melepaskan usus halus dengan dinding rongga perut dapat diiris dekat pada usus. masingmasing ginjal sampai memotong a.  Potong tulang leher sehingga laring. Colon sigmoid dapat dilepaskan dari dinding rongga perut dengan memotong mesocolon di bagian belakangnya. dan pada wanita (vagina) terangkat. Perhatikan apah rongga kandung jantung terisi cairan atau darah. faring medial dari arteri karotis.  Kantung jantung dibuka dengan melakukan pengguntingan pada dinding depan mengikuti bentuk huruf Y terbalik dari tengah. di temporal ± 2 cm di atas daun telinga.  Pemeriksaan kepala dimulai dengan membuat irisan pada kulit kepala dimulai dari prosessus mastoideus.  Untuk melepaskan alat rongga panggul dan perut. gunakan hak agar lebih mudah. jernih.

tebal otot ventrikel dan kiri diukur.  Pemeriksaan alat dalam dimulai dari lidah. Timbang paru. Potong untuk melihat penampangnya.  Buka daerah atrium. Cara membuka daerah atrium kanan. normalnya 1/3 dari tebal ginjal dan periksa calyx-nya. korteks kuning dan medulla coklat. sehingga perdarahan hanya sampai jaringan otot tidak sampai subkutis. Roman Forensik Edisi 8 130 . Perhatikan adanya benda asing. esofagus sampai meliputi alat tubuh lainnya. darah serta keadaan selaput lendirnya. normalnya 225-300 gram. Jika busa banyak maka curiga adanya edem paru. Bentuknya tidak teratur atau trapezium. apakah ada cairan/darah/busa. Lihat adanya kelainan. Periksa pembuluh nadi koroner dibagian depan a.  Posterior diletakkan di atas. Lambung dibuka dan dilihat penampangnya. Jika agak gelap pada daerah tersebut.optici yang kemudian dipotong sedekat mungkin pada dasar tengkorak.  Angkat diafragma dan lepaskan.  Letakkan bagian depan esofagus dibagian bawah untuk melihat isi selaput lendir Esofagus dilihat dari trachea apakah ada varises atau striktur. Limpa dilepaskan dari jaringan sekitarnya. Ginjal dibelah. busa. contusio dan laserasi. lakukan pengikisan untuk menilai adanya jaringan ikat. subarachnoid. Lakukan hal yang sama pada sisi jantung kiri.  Otak dikeluarkan dengan memasukkan dua jari tangan kiri digaris pertengahan daerah frontal.  Periksa jantung dengan melihat adanya perdarahan atau sikatriks.  Periksa tulang thyroid bila baik. nn. Dengan sedikit menekan bagian frontal akan tampak falk cerebri yang dapat dipotong sampai dasar tengkorak. Jaringan lunak lapisan otot sampai terlihat apakah ada perdarahan.  Pankreas dipisahkan dari jaringan sekitarnya lalu nilai penampangnya. Kemudian dibelah dan lihat penampangnya tampak kelenjar hati yang jelas. lakukan pengirisan. Setelah otak dikeluarkan. warna dan kelainannya. tusuk pisau sampai ventrikel kanan lalu potong kearah lateral sehinga atrium dan ventrikel kanan terbuka.  Hati : permukaanya licin. periksa permukaan. tepi tajam. potong vena cava superior dan inferior sehingga terbuka. potong secara horizontal. coronaria dinilai dengan cara dipotong sehingga terlihat penampangnya . cari kelenjar suprarenal kanan dan kiri kemudian lepaskan.olfactorii. Iris batang otak.  Pada bagian otak harus diperiksa apakah terdapat perdarahan subdural. Tractus urinarius dipisahkan dari yang lainnya.  Lepaskan jantung dari jaringan sekitarnya seperti paru. curiga ada contusio. Kedua jari tangan kiri dapat sedikit mengangkat bagian frontal dan memperlihatkan nn.  Pembukaan trachea dilakukan dengan melakukan pengguntingan dinding belakang (bagian jaringan ikat pada cincin trachea) sampai mencapai cabang bronchus kanan dan kiri. Perdarahan subdural dengan penyiraman darah akan hilang berbeda dengan subarachnoid. duramater yang melekat pada dasar tengkorak harus dilepaskan untuk mengetahui apakah dasar tengkorak utuh. rapikan daerah urogenital.  Arteri coronaria jantung dipotong sedikit-sedikit apakah ada perkapuran atau penebalan. Inspeksi paru apakah ada perdarahan (aspirasi darah). Pada otak besar lihat dan catat apakah ada perdarahan. Kekerasan pada daerah leher yang sifatnya lunak. Paru dibelah untuk melihat penampangnya. Setelah tengkorak dilepaskan duramater digunting mengikuti garis pemotongan tengkorak. infark atau edem cerebri. luka.  Aorta dibuka sampai arteri renalis dari atas ke bawah dilihat permukaannya. warna merah coklat (normal).  Periksa penampang sehat ventrikel apakah ada sikatriks.  Pemeriksaan rongga perut. edem. Normalnya berwarna merah kelabu agak ungu dan pada perabaan seperti busa dan ada derik udara. rata. periksa katup dan ukur panjang katup serambi dan bilik kanan. pembuluh darah tidak menebal atau kolaps. atau sisa-sisa infeksi sebelumnya.

Etika kedokteran mengatur etika jabatan kedokteran dan etika asuhan kedokteran. Norma disiplin (disciplinary norm) 2. Norma Hukum: mengatur ketertiban hidup masyarakat Begitu juga dalam profesi kedokteran ada norma-norma yang berlaku yang disebut sebagai norma profesi. Adapun norma yang berlaku di masyarakat adalah: 1. dokter juga terikat oleh ketentuan hukum kesehatan (Health Law). Ada 3 macam norma yang mengikat dokter dalam pelaksanaan profesi kedokteran yaitu: 1. Norma Hukum (Legal Norm) Norma hukum yang mengikat profesi kedokteran dikenal dengan istilah hukum kedokteran (Medical Law).BAB XIV ASPEK MEDIKOLEGAL PELAYANAN MEDIS DAN MALPRAKTIK MEDIS Dalam bermasyarakat. Hukum Kedokteran dan Hukum Kesehatan dibuat oleh lembaga negara yang berwenang (lembaga legislatif). Masyarakat kemudian menggunakan “nilai” tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi dokter diperoleh melalui penguasaan ilmu dan teknologi kedokteran. Norma etika (ethical norm) 3. Orang akan menilai suatu perbuatan tertentu apakah perbuatan yang baik atau tidak. Dokter terhadap paramedis c. dan seterusnya sehingga menjadi kebiasaan. Norma Agama: norma yang mengatur hubungan manusia dengan penciptanya dan sesama manusia. Norma Kesopanan: mengatur hidup antar manusia 4. Dokter terhadap sejawat b. Norma Etika (Ethical Norm) Norma-norma etika yang mengikat pelaksanaan profesi kedokteran dikenal dengan sebutan etika kedokteran (medical ethics). selain terikat oleh ketentuan hukum kedokteran. Berdasarkan ilmu kedokteran inilah disusun standar profesi medik. Norma Kesusilaan: mengatur hidup orang pribadi 3. Karena tenaga medik merupakan salah satu tenaga kesehatan. Bila kebanyakan orang sudah memiliki penilaian yang sama maka terjadilah suatu “nilai”. Keduanya terwujud dalam berbagai bentuk peraturan perundang-undangan. Wujud dari etika kedokteran adalah Kode Etika (Code of Medical Ethics). mengajarkannya kepada anaknya. Dokter terhadap pemerintah Etika asuhan kedokteran mengatur etika dokter terhadap penderita yang menjadi tanggung jawabnya. Dokter terhadap masyarakat d. 2. terdapat interaksi antara satu warga dengan warga lain. seperti: Roman Forensik Edisi 8 131 . Norma hukum (legal norm) Norma Disiplin(Disciplinary Norm) Norma disiplin yang dimaksudkan di sini adalah disiplin Ilmu Kedokteran itu sendiri. Kebiasaan yang sudah diterima secara umum (kadang memiliki sanksi bila dilanggar) akan dianggap sebagai suatu “norma”. dapat pula berupa “larangan” dan “anjuran”. Etika jabatan kedokteran mengatur sikap: a. Etika kedokteran dirumuskan sendiri oleh kalangan profesi medik. Norma tersebut dapat berupa “perintah”.

memulihkan kesehatan atau menghilangkan/mengurangi penderitaan. Non-malfeasance prinsip tidak merugikan c. Autonomy prinsip menghormati otonomi untuk melakukan atau memutuskan apa yang dikehendaki terhadap dirinya sendiri d. Hukum adalah keseluruhan asas dan aturan tentang perbuatan manusia yang ditetapkan atau diakui oleh otoritas tertinggi. 23/1992 tentang Kesehatan UU No.    UU No. Upaya kesehatan ibarat kereta api dengan banyak gerbong. Dalam profesi kedokteran mengutamakan: Kebebasan Profesi Etika Kedokteran Rahasia Kedokteran Upaya Kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. Justice prinsip keadilan 1. 585/1989 tentang Informed Consent Dalam menjalankan profesi kedokteran harus berdasarkan pada Principles-Based Ethics  Prima Facie yang dikemukakan oleh T. Beneficence prinsip ‘berbuat baik’ b. Prima Facie terdiri atas: a. 2. 29/2004 tentang Praktik Kedokteran PP No. Lokomotif  Ilmu & Teknologi Rel  Moralitas dan etika profesi Rambu-rambu & petugas  Hukum Tindakan Medik adalah tindakan profesional dokter terhadap pasien dengan tujuan memelihara. 3. meningkatkan. Ada “daerah singgung” antara pelayanan medik dan hukum !! Roman Forensik Edisi 8 132 . 32/1996 tentang Tenaga Kesehatan Permenkes No.Beauchamp & Childress (1994) & Veatch (1989).

Anak berhak mendapatkan warisan karena memang UU menentukan demikian. Karena Undang-undang Hubungan hukum antara Bapak dengan Anak merupakan contoh perikatan yang lahir karena UU. pola hubungan dokter-pasien berubah kearah hubungan bersifat horisontal (hubungan setara). Karena Perjanjian Hubungan hukum antara penjual dg pembeli merupakan contoh perikatan yang lahir karena suatu perjanjian.  Hubungan dokter-pasien pada masa itu dipengaruhi oleh doktrin medical paternalism (doctor knows his patient’s best interest).  Doktrin medical paternalism adalah perwujudan dari asas beneficence. maka hubungan dokter dan pasien tunduk pada hukum perikatan.Hubungan Dokter-Pasien  Pada awalnya hubungan dokter-pasien bersifat vertikal (hubungan atas-bawah). sebagaimana hubungan antara bapak dengan anak. 2. Adanya kesepakatan 3. Perubahan Paradigma Hubungan Dokter-Pasien Seiring dengan makin menguatnya kesadaran pasien akan hak-haknya (especially the right to self-determination). Syarat Sahnya Perjanjian Pasal 1320 BW / KUHPer menentukan bahwa suatu perikatan sah apabila keempat syarat dibawah ini terpenuhi: 1. Adanya obyek tertentu 4. Paradigma hubungan dokter-pasien berubah dari medical paternalism menuju patient’s autonomy.  Hukum perikatan adalah seperangkat aturan hukum yang mengatur tentang perikatan  Aturan-aturan hukum yang mengatur tentang perikatan terdapat dalam Buku ke 3 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (BW). Hubungan Hukum Antara Dokter & Pasien  Hubungan hukum adalah hubungan menurut kaca mata hukum  Menurut kacamata hukum (Indonesia).  Buku ke 3 BW antara lain menerangkan tentang sumber-sumber perikatan dan syarat sahnya perjanjian. Sumber Perikatan Perikatan bisa terjadi karena 2 macam sebab: 1.  Hubungan semacam ini dikatakan juga sebagai hubungan yang bersifat paternalistik. Adanya sebab yang halal Roman Forensik Edisi 8 133 . Adanya kecakapan bertindak 2. hubungan dokter-pasien merupakan sebuah perikatan.  Perikatan adalah hubungan antara 2 subjek hukum yang melahirkan hak dan kewajiban pada masing-masing pihak Hukum Perikatan  Sebagai sebuah perikatan.

Prestasi  Memenuhi perikatan sama dengan memenuhi kewajiban dalam perikatan  Obyek perikatan dalam ilmu hukum disebut dengan istilah prestasi. Roman Forensik Edisi 8 134 .Perikatan Dokter-Pasien Perikatan dokter-pasien bisa terjadi baik karena undang-undang maupun karena perjanjian. Resultaats Verbintenis  Dalam perikatan semacam ini. wan-prestasi sama maknanya dengan ingkar janji. Tindakan dokter memberikan pertolongan kepada si pasien dilakukan atas perintah undang-undang bukan karena permintaan si pasien. Seseorang yang telah memenuhi kewajibannya dengan sempurna di dalam suatu perikatan dikatakan telah memberikan prestasi atau telah berprestasi  Prestasi dapat berupa memberikan sesuatu. dokter dianggap telah memenuhi perikatan apabila hasil kerja (outcome) yang dijanjikan kepada si pasien telah dipenuhi  Misalnya dalam tindakan pencabutan gigi. Jenis Perikatan  Perikatan antara dokter dan pasien bisa berbentuk resultaats verbintenis ataupun berbentuk inspanning verbintenis  Resultaat verbintenis adalah perikatan yang didasarkan pada hasil kerja (outcome) tertentu. Wan-Prestasi  Kegagalan dalam memenuhi perikatan atau dalam memenuhi kewajiban disebut dengan istilah wan-prestasi.  Inspanning verbintenis adalah perikatan yang didasarkan pada usaha yang sungguhsungguh. terjadilah sebuah perikatan antara si dokter dan si pasien. dokter dianggap telah memenuhi perikatan secara sempurna bila gigi yang dimaksudkan telah dicabut secara sempurna.  Dalam situasi normal perikatan antara dokter dengan pasien bersumber pada perjanjian  Kedatangan pasien ke tempat praktik dokter atau ke RS menunjukkan adanya kehendak si pasien untuk mengadakan perikatan. Perikatan ini bersumber pada undang-undang. melakukan sesuatu. atau tidak melakukan sesuatu.  Dalam suatu perikatan yang lahir karena perjanjian.  Penerimaan oleh pihak dokter/RS menunjukkan adanya kesediaan untuk mengadakan perikatan  Tindakan medis yang kemudian dilakukan menunjukkan bahwa perikatan benar-benar telah terjadi. dokter dianggap telah memenuhi perikatan apabila ia telah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengobati si pasien. Ketika dokter memberikan pertolongan kepada pasien gawat darurat yang berada dalam keadaan tidak sadar.  Obyek perikatan adalah berupa ‘usaha sungguh-sungguh untuk kesembuhan pasien’ dan bukan kesembuhan itu sendiri. Inspanning Verbintenis  Dalam perikatan semacam ini.  Hubungan perikatan semacam ini sering dinamakan pula dengan istilah transaksi terapetik.

9. Memperoleh informasi yang lengkap & jujur dari pasien atau keluarganya 4. Untuk mencegah dan mengatasi konflik biasanya digunakan etika dan norma hukum yang mempunyai tolok ukur masing-masing. Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi & standar prosedur operasional 3. 7. Pada kenyataannya kita sering terjebak dalam menilai suatu perilaku dengan membaurkan tolok ukur etika dan hukum. 8. Memberikan informasi secara lengkap dan jujur tentang kesehatannya 2. Menambah & mengikuti perkembangan ilmu kedokteran Hak dokter 1. A. 6. Memberikan pelayanan medis sesuai standar profesi dan SOP 2. Mematuhi nasehat & petunjuk dokter 3. Menerima imbalan jasa ASPEK MEDIKOLEGAL Dalam pelayanan kesehatan baik di rumah sakit maupun diluar rumah sakit tidak tertutup kemungkinan timbul konflik. Mematuhi ketentuan yang berlaku 4. Oleh karena itu dalam praktik harus diterapkan dalam dimensi yang berbeda. Konflik tersebut dapat terjadi antara tenaga kesehatan dengan pasien dan antara sesama tenaga kesehatan (baik satu profesi maupun antar profesi). Memperoleh perlindungan hukum 2. Artinya pada saat kita berbicara masalah hukum. Julius Caesar. Merujuk pasien bila tidak mampu 3. Seseorang dikatakan telah melakukan wan-prestasi apabila ia:  Tidak berprestasi sama sekali  Berprestasi tetapi tidak sesuai  Berprestasi tetapi terlambat Hak-hak pasien 1. tolok ukur norma hukumlah yang diberlakukan. Forum 135 . 5. Hak pasien atas perawatan Hak untuk menolak cara perawatan tertentu Hak untuk memilih dokter yang merawat Hak atas informasi Hak untuk menolak perawatan tanpa izin Hak atas rasa aman Hak untuk mengakhiri perawatan Meminta pendapat dokter lain Mendapatkan isi rekam medis Kewajiban pasien 1. 3. Sejarah Medikolegal o 2980-2900 SM o 1700 SM o 1400 SM o 44 M Roman Forensik Edisi 8 : Imhotep : Hammurabi : Hittites : Anthitius. 2. 4. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan 6. Menjaga rahasia pasien 5. Memberikan imbalan jasa Kewajiban dokter 1.

terutama Jakarta-Surabaya. Standar Operasional Prosedur o Kebebasan Profesi . Prinsip Kerja Medikolegal C. Impartial.Obyektif Ilmiah. Tugas Pokok Medikolegal Tugas pokok Medikolegal adalah membantu proeses hukum melalui pembuktian ilmiah kedokteran : • Dokumentasi Informasi/Prosedur • Dokumentasi Fakta • Dokumentasi Temuan • Analisis dan kesimpulan • Presentasi (Sertifikasi) • Masa Penyelidikan / Penyidikan o Pemeriksaan TKP Roman Forensik Edisi 8 136 . Prinsip Kerja Medikolegal o Prinsip Kedokteran . D. Prosedur Medikolegal Tata cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan untuk kepentingan hokum.o 600 M o 1241-1253 M o o o o 1302 M 1823 M 1958 M Di Indonesia : Ming Yuang Shih Lu : “ Kematian yang Mencurigakan “: Record of Washing Away of Wrongs (Cina) : Autopsi Medikolegal di Bologna : Sidik Jari : Patologi Forensik sebagai Spesialis : Sejak zaman Kolonial.Prosedural o Berhak Menerima Imbalan .Berdasarkan Upayanya . Etik.Sumpah. .Tidak berdasar hasil akhir Gambar.PUSLABFOR di 5 Kota besar Indonesia B.70 Spesialis Forensik di 15 Kota . Menyeluruh .

Lingkup Prosedur Medikolegal 1.Menjelaskan V et R o Menjelaskan kaitan temuan VeR dengan barang bukti lain o Menjelaskan segala sesuatu dri sisi Ilmiah Konfidensialitas Dokter o Hindari : Talk too Soon. Talk too much. Dalam keadaan darurat hal di atas dapat tidak ada dan azas voluntarisme dan kedua belah pihak juga tidak terpenuhi. Perubahan klinis yang mendadak 3. Kompetensi pasien mengahadapi proses pemeriksaan penyidik F. Apabila seseorang bersedia menolong orang lain dalam keadaan darurat. Aspek Medikolegal pada kegawatdaruratan Karakteristik Pelayanan Kegawatdaruratan Dipandang dan segi hukum dan medikolegal. Mobilitas petugas yang tinggi Hal-hal di atas menyebabkan tindakan dalam keadaan gawat darurat memiliki risiko tinggi bagi pasien berupa kecacatan bahkan kematian. Dokter yang bertugas di gawat darurat menempati urutan kedua setelah dokter ahli onkologi dalam menghadapi kematian. yaitu pasien dengan bebas dapat menentukan dokter yang akan dimintai bantuannya (didapati azas voluntarisme). Beberapa Isu Seputar Pelayanan Gawat Darurat Pada keadaan gawat darurat medik didapati beberapa masalah utama yaitu: 1. Talk to wrong person E. Hubungan Dokter Dan Pasien Dalam Keadaan Gawat Darurat Dokter-pasien dalam keadaan gawat darurat sering merupakan hubungan yang spesifik. Beberapa isu khusus dalam pelayanan gawat darurat membutuhkan pengaturan hukum yang khusus dan akan menimbulkan hubungan hukum yang berbeda dengan keadaan bukan gawat darurat. Pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan di dalam persidangan 4. Demikian pula dalam kunjungan berikutnya. Untuk itu perlu diperhatikan azas yang khusus berlaku dalam pelayanan gawat darurat yang tidak didasari atas azas voluntarisme. Situasi emosional dari pihak pasien karena tertimpa risiko dan pekerjaan tenaga kesehatan yang di bawah tekanan mudah menyulut konflik antara pihak pasien dengan pihak pemberi pelayanan kesehatan. Dalam keadaan biasa (bukan keadan gawat darurat) maka hubungan dokter-pasien didasarkan atas kesepakatan kedua belah pihak. Periode waktu pengamatan/pelayanan relatif singkat 2. pelayanan gawat darurat berbeda dengan pelayanan non-gawat darurat karena memiliki karakteristik khusus. Tentang Surat Keterangan Medik dan Surat Keterangan Kematian 6. kewajiban yang timbul pada dokter berdasarkan pada hubungan yang telah terjadi sebelumnya (pre-existing relationship). Pengadaan Visum et Repertum 2.• • • o Analisis Masa Penyidikan o Visum et Repertum o BAP Saksi Ahli o Keterangan Ahli Di Persidangan o Sebagai saksi ahli Pemeriksa : . Pemeriksaan Kedokteran terhadap tersangka 3. maka ia harus melakukannya hingga tuntas dalam arti ada pihak lain yang melanjutkan pertolongan itu Roman Forensik Edisi 8 137 . Hubungan V et R dengan Rahasia Kedokteran 5.

Peraturan Menteri Kesehatan No.23/1992 tentang Kesehatan tidak disebutkan istilah pelayanan gawat darurat namun secara tersirat upaya penyelenggaraan pelayanan tersebut sebenamya merupakan hak setiap orang untuk memperoleh derajat kesehatan yang optimal (pasal 4) Selanjutnya pasal 7 mengatur bahwa “Pemerintah bertugas menyelenggarakan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat” termasuk fakir miskin. Pengaturan Penyelenggaraan Pelayanan Gawat Darurat Ketentuan tentang pemberian pertolongan dalam keadaan darurat telah tegas diatur dalam pasal 5l UU No. Pengaturan pelayanan gawat darurat untuk fase rumah sakit telah terdapat dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. Peraturan Perundang-Undangan Yang Berkaitan Dengan Pelayanan Gawat Darurat Pengaturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pelayanan gawat darurat adalah UU No 23/1992 tentang Kesehatan.23/1992 tentang Kesehatan sebagai berikut: tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.rumah sakit dan fase rumah sakit.159b/1988 tentang Rumah Sakit. Rumah sakit di Indonesia memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan pelayanan gawat darurat 24 jam sehari sebagai salah satu persyaratan ijin rumah sakit. Untuk fase pra-rumah sakit belum ada pengaturan yang spesifik. sehingga akibat yang dapat merugikan atau membahayakan terhadap kesehatan pasien dapat dihindari. Ketentuan tersebut dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari tindakan seseorang yang tidak mempunyai keahlian dan kewenangan untuk melakukan pengobatan/perawatan. dan Peraturan Menteri Kesehatan No. Selanjutnya. Pengaturan tindakan medis secara umum dalam UU No. Dalam penanggulangan pasien gawat darurat dikenal pelayanan fase pra. Dalam pelayanan gawat darurat tidak diperkenankan untuk meminta uang muka sebagai persyaratan pemberian pelayanan. di mana seorang dokter wajib melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan. khususnya tindakan medis yang mengandung risiko.159b/1988 tentang Rumah Sakit. yang harus dilanjutkan dengan pengaturan yang spesifik untuk pelayanan gawat darurat fase pra-rumah sakit Bentuk peraturan tersebut seyogyanya adalah peraturan pemerintah karena menyangkut berbagai instansi di luar sektor kesehatan.23/1992 tentang Kesehatan.585/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis. orang terlantar dan kurang mampu. Melihat ketentuan tersebut nampak bahwa profesi kesehatan memerlukan kompetensi tertentu dan kewenangan khusus karena tindakan yang dilakukan mengandung risiko yang tidak kecil. Pengertian tenaga kesehatan diatur dalam pasal 1 butir 3 UU No. di mana dalam pasal 23 telah disebutkan kewajiban rumah sakit untuk menyelenggarakan pelayanan gawat darurat selama 24 jam per hari.atau korban tidak memerlukan pertolongan lagi. baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat (swasta). Dalam hal pertolongan tidak dilakukan dengan tuntas maka pihak penolong dapat digugat karena dianggap mencampuri/ menghalangi kesempatan korban untuk memperoleh pertolongan lain (loss of chance). Secara umum ketentuan yang dapat dipakai sebagai landasan hukum adalah pasal 7 UU No. Tentunya upaya ini menyangkut pula pelayanan gawat darurat.29/2004 tentang Praktik Kedokteran.23/1992 tentang Kesehatan dapat dilihat dalam pasal 32 ayat (4) yang menyatakan bahwa “pelaksanaan pengobatan dan atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu“. Roman Forensik Edisi 8 138 . walaupun dalam UU No. Masalah Lingkup Kewenangan Personil Dalam Pelayanan Gawat Darurat Hal yang perlu dikemukakan adalah pengertian tenaga kesehatan yang berkaitan dengan lingkup kewenangan dalam penanganan keadaan gawat darurat.

Dalam hal pertolongan tersebut dilakukan oleh tenaga kesehatan maka yang bersangkutan harus menemelakukanrapkan standar profesi sesuai dengan situasi (gawat darurat) saat itu. Such conditions range from those requiring extensive immediate care and admission to the hospital to those that are diagnostic probmelakukanlems and may or may not require admission after work-up and observation. Doktrin tersebut terutama diberlakukan dalam Roman Forensik Edisi 8 139 . karena masyarakat melakukan hal itu dengan sukarela dan dengan itikad yang baik. di mana pada dasarnya setiap dokter memiliki kewenangan untuk melakukan berbagai tindakan medik termasuk tindakan spesifik dalam keadaan gawat darurat. Sehubungan dengan hal itu perlu dibedakan antara false emergency dengan true emergency yang pengertiannya adaiah: A true emergency is any condition clinically determined to require immediate medical care. Kewemelakukannangan dan tanggung jawab tenaga kesehatan dan orang awam tersebut telah dibicarakan diatas. or whoever assumes the responsibility of bringing the patient to the hospital-enquires immediate medical attention.Pengaturan kewenangan tenaga kesehatan dalam melakukan tindakan medik diatur dalam pasal 50 UU No. Pihak yang terkait pada kedua fase tersebut dapat berbeda. di mana pada fase pra-rumah sakit selain tenaga kesehatan akan terlibat pula orang awam. namun jika tenaga terbatas. maka tanggungjawab hukumnya tidak berbeda dengan tenaga kesehatan di rumah sakit. Pengaturan di atas menyangkut pelayanan gawat darurat pada fase di rumah sakit. di beberapa tempat dikerjakan oleh perawat melalui standing order yang disusun rumah sakit. Selain itu perlu dibedakan antara penanganan kasus gawat darurat fase pra-rumah sakit dengan fase di rumah sakit. This condition continues until a determination has been made by a health care professional that the patient’s life or well-being is not threatened. Adakalanya pasien untuk menempatkan dirinya dalam keadaan gawat darurat walaupun sebenarnya tidak demikian. An emergency is any condition that in the opinion of the patient. Menurut The American Hospital Association (AHA) pengertian gawat darurat adalah. Kecepatan dan ketepatan tindakan pada fase pra-rumah sakit sangat menentukan survivabilitas pasien. Selain itu mereka tidak dapat disebut sebagai tenaga kesehatan karena pekerjaan utamanya bukan di bidang kesehatan. Hubungan Hukum Dalam Pelayanan Gawat Darurat Di Amerika dikenal penerapan doktrin Good Samaritan dalam peraturan perundangundangan pada hampir seluruh negara bagian.23/1992 tentang Kesehatan yang merumuskan bahwa “tenaga kesehatan bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan atau kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan”. Karena secara yuridis keadaan gawat darurat cenderung menimbulkan privilege tertentu bagi tenaga kesehatan maka perlu ditegaskan pengertian gawat darurat. Masalah Medikolegal Pada Penanganan Pasien Gawat Darurat Hal-hal yang disoroti hukum dalam pelayanan gawat darurat dapat meliputi hubungan hukum dalam pelayanan gawat darurat dan pembiayaan Pelayanan gawat darurat. sedangkan pada fase rumah sakit umumnya yang terlibat adalah tenaga kesehatan. his family. Pelayanan gawat darurat fase pra-rumah sakit umumnya tindakan pertolongan pertama dilakukan oleh masyarakat awam baik yang tidak terlatih maupun yang teriatih di bidang medis. Penentuan ada tidaknya kelalaian dilakukan dengan membandingkan keterampilan tindakannya dengan tenaga yang serupa. khususnya tenaga medis dan perawat. Untuk menilai dan menentukan tingkat urgensi masalah kesehatan yang dihadapi pasien diselengganakanlah triage. Dalam hal itu ketentuan perihal kewenangan untuk melakukan tindakan medis dalam undang-undang kesehatan seperti di atas tidak akan diterapkan. Tenaga yang menangani hal tersebut yang paling ideal adalah dokter. Jika tindakan fase pra-rumah sakit dilaksanakan oleh tenaga terampil yang telah mendapat pendidikan khusus di bidang kedokteran gawat darurat dan yang memang tugasnya di bidang ini.

sesuai dengan Keputusan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Nomor 3349/1989 tentang berlakunya Petunjuk Pelaksanaan Pencatatan dan Pelaporan kematian di Puskesmas. Rumah Sakit. RSB/RB di wilayah DKI Jakarta yang telah disempurnakan tanggal 9 Agustus 1989 telah ditetapkan bahwa semua peristiwa kematian rudapaksa dan yang dicurigai rudapaksa dianjurkan kepada keluarga untuk dilaporkan kepada pihak kepolisian dan selanjutnya jenazah harus dikirim ke RSUPN Dr. Indonesia tidak menganut sistem tersebut. Kesukarelaan pihak penolong. yaitu setiap kematian mendadak yang tidak terduga (sudden unexpected death).585/1989). Dengan demikian pihak POLRI yang akan menentukan apakah jenazah akan diautopsi atau tidak. Dalam hal pertanggungjawaban hukum.585/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis. Dengan demikian seorang pasien dilarang menggugat dokter atau tenaga kesehatan lain untuk kecederaan yang dialaminya. Di negara Anglo-Saxon digunakan sistem koroner.fase pra-rumah sakit untuk melindungi pihak yang secara sukarela beritikad baik menolong seseorang dalam keadaan gawat darurat. harus dilaporkan dan ditangani oleh Coroner atau Medical Examiner. Untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Itikad baik tersebut dapat dinilai dan tindakan yang dilakukan penolong. maka lembar persetujuan tersebut harus disimpan dalam berkas rekam medis. Dalam keadaan gawat darurat di mana harus segera dilakukan tindakan medis pada pasien yang tidak sadar dan tidak didampingi pasien.23/1992 tentang Kesehatan pasal 53 ayat 2 dan Peraturan Menteri Kesehatan No. pada pada situasi dan kondisi yang sama pula. 2. Dalam keadaan tersebut surat keterangan kematian (death certificate) diterbitkan oleh Coroner atau Medical Examiner. maka doktrin tersebut tidak berlaku. Dalam hal persetujuan tersbut dapat diperoleh dalam bentuk tertulis. Kematian Pada Instalasi Gawat Darurat Pada prinsipnya. Kesukarelaan dibuktikan dengan tidak ada harapan atau keinginan pihak penolong untuk memperoleh kompensasi dalam bentuk apapun. apapun penyebabnya. Hal yang bertentangan dengan itikad baik misalnya melakukan trakeostomi yang tidak perlu untuk menambah ketemelakukanrampilan penolong. Pejabat tersebut menentukan tindakan iebih lanjut apakah jenazah harus diautopsi untuk pemeriksaan lebih lanjut atau tidak. Setiap tindakan medis harus mendapatkan persetujuan dari pasien (informed consent). Kasus yang tidak boleh diberikan surat keterangan kematian adalah: • meninggal pada saat dibawa ke IGD • meninggal akibat berbagai kekerasan Roman Forensik Edisi 8 140 . Bila tuduhan kelalaian tersebut dilamelakukankukan dalam situasi gawat darurat maka perlu dipertimbangkan faktor kondisi dan situasi saat peristiwa tersebut terjadi. tidak perLu persetujuan dari siapapun (pasal 11 Peraturan Menteri Kesehatan No. Itikad baik pihak penolong. bila pihak pasien menggugat tenaga kesehatan karena diduga terdapat kekeliruan dalam penegakan diagnosis atau pemberian terapi maka pihak pasien harus membuktikan bahwa hanya kekeliruan itulah yang menjadi penyebab kerugiannya/cacat (proximate cause). tepat atau tidaknya tindakan tenaga kesehatan perlu dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang berkuamelakukanlifikasi sama. Dokter yang bertugas di IGD tidak boleh menerbitkan surat keterangan kematian dan menyerahkan permasalahannya kepada POLRI. Jadi. Bila pihak penolong menarik biaya pada akhir pertolongannya. Dua syarat utama doktrin Good Samaritan yang harus dipenuhi adalah: 1. Hal itu telah diatur sebagai hak pasien dalam UU No. Pihak rumah sakit harus menjaga keutuhan jenazah dan benda-benda yang berasal dari tubuh jenazah (pakaian dan benda lainnya) untuk pemeriksaan lebih lanjut. Cipto Mangunkusumo untuk dilakukan visum et repertum. sehingga fungsi semacam coroner diserahkan pada pejabat kepolisian di wilayah tersebut. setiap pasien yang meninggal pada saat dibawa ke IGD (Death on Arrival) harus dilaporkan kepada pihak berwajib.

artinya tidak baik. Malpraktek kedokteran terdiri dari 4 hal yaitu tanggung jawab kriminal. Dokter bekerja dengan melaksanakan standar pelayanan medis yang telah ditentukan oleh Konsil Kedokteran Indonesia. unsur malapraktik adalah (1) Adanya perjanjian dokterpasien. malpraktek adalah praktek kedokteran yang salah atau tidak sesuai dengan standar profesi atau standar prosedur operasional.• • meninggal akibat keracunan meninggal dengan kaitan berbagai peristiwa kecelakaan Kematian yang boleh dibuatkan surat keterangan kematiannya adalah yang cara kematiannya alamiah karena penyakit dan tidak ada tandatanda kekerasan. Menurut W.dr. dan praktik yang artinya pelaksanaan pekerjaan. dan tanggung jawab public. (3) Adanya hubungan sebab akibat antara tindakan pengingkaran itu dengan musibah yang terjadi. seperti pada misconduct tertentu. Untuk malpraktek dokter dapat dikenai hukum kriminal dan hukum sipil. orlack of skill. 1. misalnya puskesmas. tindakan kelalaian (negligence). Dalam bidang kesehatan. rumah sakit. tanggung jawab sipil. (5) Musibah itu dapat dibuktikan keberadaannya. ataupun suatu kekurang-mahiran/ ketidak-kompetenan yang tidak beralasan. malpraktik medis merupakan pelaksanaan pekerjaan dokter secara tidak baik. Dokter bekerja sesuai dengan kompetensinya kecuali dalam keadaan darurat pertolongan atau penyelamatan nyawa. Smith tindakan malpraktek meliputi 4D. or negligence in providing care to the patient. 1. Prosser dalam buku The Law of Torts yang dikutip oleh Dagi. Menurut Hubert W. malpraktik secara etik.L. T. MALPRAKTIK MEDIS Istilah malpraktik berasal dari kata mala. 4. Duty to use due care (kewajiban) Tidak ada kelalaian jika tidak ada kewajiban untuk mengobati. Pasien dapat merasakan apakah dokter bekerja demi diri pasien atau demi uang. Hal ini berarti harus ada hubungan hukum antara pasien dan dokter/ rumah sakit. 1976. seorang dokter dinilai baik apabila: Dokter meletakkan kepentingan pasien lebih tinggi daripada kepentingan dokter dalam memperoleh pembayaran. Dokter bekerja dengan melaksanakan standar prosedur operasional yang telah ditentukan oleh profesinya bila bekerja mandiri atau yang telah ditentukan oleh institusinya. 4. (4) Tindakan pengingkaran itu merupakan penyebab utama dari musibah dan. No. Menurut Prof. Dengan adanya hubungan hukum. 2. maka implikasinya adalah bahwa sikap tindak dokter (atau tenaga medis lainnya) Roman Forensik Edisi 8 141 . Pengertian malpraktik medis menurut World Medical Association (WMA) (1992) adalah : “ medical malpractice involves the physician’s failure to conform to the standart of care for treatment of the patient’s condition.Daldiyono. Jadi. 5. 3. which is the direct cause of an injury to the patient” 4. yaitu : 1.F dalam tulisannya yang berjudul Cause and Culpability di Journal of Medicine and Philosophy Vol. (2) Adanya pengingkaran perjanjian. dan sebagainya.Dr. Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa malpraktik dapat terjadi karena tindakan yang disengaja (intentional).

29 tahun 2004 Bab IV tentang Penyelenggaraan Praktik Kedokteran. Dalam hubungan perjanjian dokter dengan pasien. tidaklah cukup kuat untuk meminta pertanggungjawaban hukumnya. waktu. Dereliction (breach of duty/adanya penyimpangan dalam pelaksanaan tugas) Apabila sudah ada kewajiban. Walaupun seorang dokter atau rumah sakit dituduh telah berlaku lalai. maka dokter (atau tenaga medis lainnya) di rumah sakit tersebut harus bertindak sesuai standar profesi yang berlaku. Sebelum memberikan persetujuan pasien harus diberi penjelasan yang lengkap akan tindakan yang akan dilakukan oleh dokter. Sesuai dengan Undang-Undang Praktek Kedokteran Pasal 45 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan. namun kadangkala juga termasuk dalam arti gangguan mental yang hebat. 37 dan 38 bahwa seorang dokter harus memiliki surat izin praktek. Jika terdapat penyimpangan dari standar tersebut. dan tanda tangan petugas yang memberikan pelayanan atau tindakan. Namun apabila pasien tersebut sudah diperiksa oleh dokter secara adekuat. dan bagian kedua tentang pelaksanaan praktek yang diatur dalam pasal 39-43. maka ia dapat dipersalahkan.di rumah sakit tersebut harus sesuai dengan standar pelayanan medisagar pasien jangan sampai menderita cedera karenanya. Roman Forensik Edisi 8 142 . harm) kepada pasien. Damage (injury/kerugian) Unsur ketiga untuk penuntutan malpraktik medik adalah cedera atau kerugian yang diakibatkan kepada pasien. yang sudah diatur dalam undang-undang parktek kedokteran pasal 46. 4. belumlah cukup untuk mengajukan tuntutan ganti-kerugian. 3. 2. ketika dia menjalankan praktik kedokteran wajib untuk membuat rekam medis. Rekam medis harus segera dilengkapi setelah pasien selesai menerima pelayanan kesehatan dan harus dibubuhi nama. dokter haruslah bertindak berdasarkan adanya indikasi medis. Keempat tindakan di atas adalah sesuai dengan Undang-Undang Praktek Kedokteran No. Direct Causation (Proximate Cause/penyebab langsung ) Untuk berhasilnya suatu gugatan ganti-rugi berdasarkan malpraktik medik. Tindakan dokter itu harus merupakan penyebab langsung. Istilah injury tidak saja dalam bentuk fisik. Hanya atas dasar penyimpangan saja. tetapi jika tidak sampai menimbulkan luka/cedera/kerugian (damage. bekerja sesuai standar profesi serta sudah ada informed consent. yang menyebutkan pada bagian kesatu pasal 36. maka harus ada hubungan kausal yang wajar antara sikap tindak tergugat (dokter) dengan kerugian (damage) yang diderita oleh pasien sebagai akibatnya. Selain itu. bertindak secara hati-hati dan teliti. Kecuali jika sifat penyimpangannya itu sedemikian tidak wajar sehingga sampai mencederai pasien. maka hanya atas dasar suatu kekeliruan dalam menegakkan diagnosis saja. injury. maka ia tidak dapat dituntut ganti-kerugian.

Yang bersifat kasar. dan berhati-hati akan melakukan. Dilakukan dengan teliti dan hati-hati. wajar. Untuk mengetahui lebih jelas perbedaan-perbedaan antara malpraktik etika. yaitu apabila seseorang tidak melakukan apa yang seorang biasa. 2. 3. pada kenyataannya tidak semua sengketa medik yang memenuhi unsur 4-D berakhir dengan proses peradilan. Harus ada informed consent. Resiko yang derajat propabilitas dan keparahannya besar pada waktu tertentu. yaitu willing plaintiff (keinginan menggugat). diperhitungkan atau dapat dikendalikan. Misalnya melakukan tindakan medis tanpa indikasi yang memadai. pemecatan sebagai anggota Roman Forensik Edisi 8 143 . 2. sekaligus merupakan bentuk malpraktik medis yang paling sering terjadi. atau justru melakukan apa yang orang lain yang wajar tidak akan melakukan di dalam situasi yang meliputi keadaan tersebut. 4. Kelalaian dapat terjadi dalam 3 (tiga) bentuk. Leenen suatu tindakan medik harus memenuhi syarat : Harus ada indikasi medik. Nonfeasance. melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat (improper performance). 1. Menurut Prof. malpraktik disiplin dan malpraktik hukum. skorsing. Misfeasance. Setiap tindakan medis mengandung resiko buruk. misalnya efek samping obat. perdarahan atau infeksi pada pembedahan. berat – (culpa lata). yaitu apabila seseorang dengan sadar dan dengan sengaja tidak melakukan atau melakukan sesuatu yang sepatutnya tidak dilakukannya. sehingga harus dilakukan tindakan pencegahan ataupun tindakan guna mereduksi resiko tersebut. 3. 2. dan lain-lain. Dilakukan berdasarkan standar. yaitu apabila tindakan medis yang beresiko tersebut harus dilakukan karena merupakan satusatunya cara yang harus ditempuh terutama dalam keadaan gawat darurat. disiplin dan hukum dapat dilihat pada tabel berikut : BIDANG Etika SIFAT Intern (self imposed regulation) Hukum publik TUJUAN Memelihara harkat martabat profesi dan menjaga mutu Melindungi SANKSI Teguran. Yang bersifat ringan.Meskipun demikian. JENIS MALPRAKTIK Jika diukur menurut berat-ringannya maka malpraktik yang dilakukan oleh profesi kedokteran dapat dibedakan menjadi malpraktik etika. tidak melakukan tindakan medis yang merupakan kewajiban baginya. dapat diantisipasi. Resiko yang dapat diterima adalah sebagai berikut: 1. Kelalaian medik adalah salah satu bentuk dari malpraktik medis. 2. Resiko yang derajat propabilitas dan keparahannya cukup kecil. Malfeasance. biasa – (culpa levis). yaitu : 1. melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat/ layak (unlaw atau improper). Hal ini terjadi akibat adanya unsur kelima kelalaian. Misalnya melakukan tindakan medis yang menyalahi prosedur. Tingkat-tingkat kelalaian oleh hukum hanya dibedakan 2 (dua) ukuran tingkat : 1.

melainkan hanya boleh dilakukan oleh kelompok profesional kedokteran tertentu yang berkompetensi dan mendapatkan izin dari institusi yang berwenang dan bekerja sesuai dengan standar dan profesionalisme yang ditetapkan oleh organisasi profesinya.Disiplin (ada unsur pemerintah dan awam) Berlaku umum (bersifat memaksa) masyarakat (termasuk anggota profesi) Menjaga tata tertib masyarakat luas Teguran. Untuk memastikan bahwa para dokter yang berpraktik adalah benar telah memiliki kompetensi dan kewenangan medis dan yang sesuai dengan standar medis dan etika profesi Roman Forensik Edisi 8 144 . Proses Investigasi Kasus malpraktek PENCEGAHAN MALPRAKTIK MEDIS Praktik kedokteran bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siapa saja. skorsing. pencabutan izin Hukum perdata = ganti rugi Hukum Pidana = sanksi badan dan atau pencabutan izin Hukum Gambar 1.

23 1992 tentang kesehatan.Dr. Roman Forensik Edisi 8 145 . huruf a dan c dihapuskan. Pendidikan kedokteran berkelanjutan Praktik kedokteran bermutu dan beretika (manusiawi) (good clinical practice) Sistem dan cara pelayanan kesehatan bermutu serta beretika (good governance). dokter bijak diharapkan memiliki criteria: 1. clinical Apabila seorang dokter telah terbukti dan dinyatakan telah melakukan tindakan malpraktek maka dia akan dikenai sanksi hukum sesuai dengan UU No. Prof.dr Daldiyono mengatakan bahwa seharusnya yang diperlukan adalah dokter yang bijak. Namun mengenai sanksi pidana denda tetap diberlakukan. Sehubungan dengan hasil keputusan Mahkama Konstitusi pasal tersebut telah mengalami revisi.000. Dan UU Praktek kedokteran dalam BAB X Ketentuan Pidana Pasal 75 ayat (1) yang berbunyi “setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp100. 3.00 (seratus juta rupiah)”. UU Praktik Kedokteran dimaksudkan untuk mencapai akuntabilitas profesi dan layanan kedokteran. Dalam filsafat kedokteran. 2. 76.000.maka perlu adanya UU Praktik Kedokteran. dimana salah satu keputusan dari Mahkama Konstitusi adalah ketentuan ancaman pidana penjara kurungan badan yang tercantum dalam pasal 75. 79.

Roman Forensik Edisi 8 146 .Gambar 2. Tanggung jawab Dokter dalam Upaya Pelayanan Kesehatan Di negara-negara maju terdapat Dewan Medis (Medical Council) yang bertugas melakukan pembinaan etika profesi dan menanggulangi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan terhadap etik kedokteran.

Walaupun demikian. maka pada tahun 1982 Departeman Kesehatan membentuk Panitia Pertimbangan dan Pembinaan Etik Kedokteran (P3EK) yang terdapat pula di pusat dan di tingkat propinsi. MKEK ini belum lagi dimanfaatkan dengan baik oleh para dokter maupun masyarakat. BAB XV AUTOPSI Pengertian Autopsi Roman Forensik Edisi 8 147 . Demikian juga kasus-kasus malpraktek etik yang dilaporkan kepada propinsi. Dalam hal ini perlu dicegah bahwa oleh karena kurangnya pengetahuan pihak penegak hukum tentang ilmu dan teknologi kedokteran menyebabkan dokter yang ditindak menerima hukuman yang dianggap tidak adil. dan memberi pertimbangan serta usul-usul kepada pejabat berwenang. Dengan demikian diharapkan bahwa semua kasus pelanggaran etik dapat diselesaikan secara tuntas. diharapkan dapat diteruskan lebih dahulu ke MKEK Cabang atau Wilayah.Jadi instansi pertama yang akan menangani kasus-kasus malpraktek etik ialah MKEK cabang atau wilayah.Di Negara kita IDI telah mempunyai Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK). maka kasusnya diteruskan kepada pengadilan. Tentulah jika sesuatu pelanggaran merupakan malpraktek hukum pidana atau perdata. Oleh karena fungsi MKEK ini belum memuaskan. Tugas P3EK ialah menangani kasus-kasus malpraktek etik yang tidak dapat ditanggulangi oleh MKEK. Masih banyak kasus yang keburu diajukan ke pengadilan sebelum ditangani oleh MKEK. baik di tingkat pusat maupun di tingkat cabang. Masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh MKEK dirujuk ke P3EK Propinsi dan jika P3EK Propinsi tidak mampu menanganinya maka kasus tersebut diteruskan ke P3EK Pusat.

Apakah surat-surat yang berkaitan dengan autopsi yang akan dilakukan telah lengkap. Berdasarkan tujuannya ada 2 jenis autopsi. Dalam melakukan autopsi forensik. Menetukan sebab pasti kematian. Melindungi orang yang tidak bersalah dan membantu dalam penentuan identitas serta penuntutan terhadap orang yang bersalah. yang terbaik adalah malakukan autopsi klinik yang lengkap meliputi pembukaan rongga tengkorak. Jika keluarga menolak dapat dilakukan autopsi klinik parsial. kemudian dilakukan pemeriksaan histopatologik. Roman Forensik Edisi 8 148 . Menentukan efektifitas pengobatan e. beberapa hal perlu mendapat perhatian : a. perut/panggul. diperlukan surat permintaan pemeriksaan/pembuatan visum et repertum dari yang berwenang. Izin keluarga tidak diperlukan. memperkirakan cara dan saat kematian c. Mempelajari pelajaran lazim suatu proses penyakit f. pada satu atau dua rongga tertentu. Jika keluarga masih menolak. yakni pihak penyidik. dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera. Persiapan Sebelum Autopsi Sebelum autopsi dimulai. Menentukan apakah diagnosis klinik yang dibuat selama perawatan sesuai dengan diagnosis postmortem c. meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun bagian dalam. melakukan interpretasi atas penemuanpenemuan tersebut. Menentukan sebab kematian yang pasti b. di rawat di rumah sakit tetapi kemudian meninggal. mutlak diperlukan pemeriksaan yang lengkap. Dalam autopsi klinik dan forensik. serta pemeriksaan seluruh organ-organ dalam. Untuk mendapatkan hasil maksimal. autopsi klinik dan autopsi forensik/ autopsi mediko-legal. Membantu dalam hal penentuan identitas mayat b. Membuat laporan tertulis yang obyektif dan berdasarkan fakta dalam bentuk visum et repertum e. dada. menerangkan penyebabnya serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian. Mengumpulkan dan mengenali benda-benda bukti untuk penetuan identitas benda peyebab serta identitas pelaku kejahatan d. kiranya dapat diusahakan suatu needle necropsy terhadap organ tubuh tertentu. Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat. Untuk melakukan autopsi forensik. Autopsi forensik atau autopsi mediko-legal dilakukan terhadap mayat seseorang berdasarkan peraturan undang-undang dengan tujuan : a. Autopsi forensik harus dilakukan oleh dokter. Autopsi klinik diakukan terhadap mayat seseorang yang menderita penyakit. Tujuan dilakukannya autopsi klinik adalah: a. Pendidikan para mahasiswa kedokteran dan para dokter Untuk autopsi klinik mutlak diperlukan izin dari keluarga terdekat mayat yang bersangkutan.Autopsi = sendiri dan opsis = melihat. Mengetahui korelasi proses penyakit yang ditemukan dengan diagnosis klinik dan gejala-gejala klinik d. kelainan sekecil apapun harus dicatat dan pemeriksaan harus dilakukan sedini mungkin.

Plexus coeliacus dan kelenjar paraaorta diperiksa. Tehnik Rokitansky : Setelah rongga tubuh dibuka. terutama pada kasus penembakan dengan senjata api dan penusukan dengan senjata tajam. arah serta dalamnya penetrasi yang terjadi. Esofagus dilepaskan dari trakea. organ leher. dan perut dikeluarkan sekaligus (en masse). Cara dan Mekanisme Kematian Sebab mati adalah penyakit atau cedera/luka yang bertanggung jawab atas terjadinya kematian. Kepala diletakkan diatas meja dengan permukaan posterior menghadap ke atas. d. baru kemudian seluruh organ-organ tersebut dikeluarkan dalam kumpulankumpulan organ (en bloc). Autopsi harus dilakukan lengkap. Aorta diputus di atas muara a. tekhnik ini kurang baik bila digunakan pada autopsi forensik. diafragma. Kerugian tekhnik ini adalah Roman Forensik Edisi 8 149 . tetapi hubungannya dengan lambung dipertahankan. dada. c. Sebab. Autopsi dilakukan sendiri oleh dokter. Vena cava inferior serta aorta diputus di atas diafragama dan dengan demikian organ leher dan dada dapat dilepas dari organ perut. organ dilihat dan diperiksa dengan melakukan beberapa irisan in situ. Tekhnik ini jarang dipakai. d. Tehnik Autopsi : Tehnik Virchow : Tehnik ini mungkin merupakan tekhnik autopsi tertua. Aorta dibuka sampai arcus aorta dan Aa. Cara kematian adalah macam kejadian yang menimbulkan penyebab kematian.b. Beberapa Hal Pokok Pada Autopsi Forensik a. Renales kanan dan kiri dibuka serta diperiksa. organ-organ dikeluarkan satu per satu dan langsung diperiksa. Bagian proksimal jejunum diikat pada dua tempat dan kemudian diputus antara dua ikatan tersebut dan usus dapat dilepaskan. c. Periksalah apakah alat-alat yang diperlukan telah tersedia. Dengan demikian kelainan-kelainan yang terdapat pada masing-masing organ dapat segera dilihat. Kumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya kematian selengkap mungkin. Dalam melakukan autopsi forensik. namun hubungan anatomik antar beberapa organ yang tergolong dalam satu sistem menjadi hilang. b. Pemeriksaan dan pencatatan seteliti mungkin. Apakah mayat yang akan di autopsi benar-benar adalah mayat yang dimaksudkan dalam surat yang bersangkutan. bunuh diri dan pembunuhan. Tehnik Letulle: Setelah rongga tubuh dibuka. Cara kematian wajar (natural death) bila akibat suatu penyakit semata-mata. Organ urogenital dipisahkan dari organ lain. Cara kematian tidak wajar (unnatural death) bila akibat kecelakaan. Tekhnik ini pun tidak baik digunakan autopsi forensik. Mekanisme kematian adalah gangguan fisiologik dan atau biokomiawi yang ditimbulkan oleh penyebab kematian sedemikian rupa sehingga seseorang tidak dapat terus hidup. Dengan demikian. beberapa hal pokok perlu diketahui : Autopsi harus dilakukan sedini mungkin. hubungan antar organ tetap dipertahankan setelah seluruh organ dikeluarkan dari tubuh. Rektum dipisahkan dari sigmoid. Dengan pengangkatan organ-organ tubuh secara en masse ini. Setelah dilakukan pembukaan rongga tubuh. yang perlu dilakukan penentuan saluran luka. karena tidak menujukkan keunggulan yang nyata. renalis.

Peralatan Untuk Autopsi a. Lakukan pencatatan teliti dan lengkap 7. Peralatan autopsi d. c. siku.. Lebam mayat Catatan letak/distribusi lebam mayat. harus dicatat dengan sebaikbaiknya. organ urogenital diangkat keluar sebagai tiga kumpulan organ (bloc). Kaku mayat Catat distribusi kaku mayat serta derajat kekakuan pada beberapa sendi (daerah dagu/tengkuk. Meja autopsi c. organ pencernaan bersama hati dan limpa. pangkal paha. Suhu tubuh mayat Roman Forensik Edisi 8 150 . Bungkus mayat 4. adanya bagian tertentu di daerah lebam mayat yang justru tidak menunjukkan lebam (karena tertekan pakaian terbaring di atas benda keras dan lain-lain). Kamar autopsi b. Jangan lupa mencatat waktu/saat dilakukan pemeriksaan. a. lengan atas. Perhiasan mayat 6. b. sendi lutut) dngan menentukan apakah mudah/sukar dilawan Apabila ditemukan spasme kadaverik (cadaveric spasm).sukar dilakukan tanpa pembantu serta agak sukar dalam penanganan karena panjangnya kumpulan organ-organ yang dikeluarkan sekaligus. Pemeriksaan untuk pemeriksaan tambahan e. Label mayat 2. organ leher dan dada. Warna dari lebam mayat serta intensitas (hilang dengan penekanan/sedikit hilang/tidak menghilang sama sekali). Tehnik Ghon: Setelah rongga tubuh dibuka. Tanda Kematian Pencatatan tanda kematian berguna untuk penentuan saat kematian. Pakaian mayat 5. Tutup mayat 3. Benda Disamping mayat Disertakan pula pengiriman benda disamping mayat (misal bungkusan atau tas). karena spasme kadaverik memberi petunjuk apa yang dilakukan korban saat terjadi kematian). Peralatan tulis menulis dan fotografi Pemeriksaan Luar Sistematika pemeriksaan adalah : 1.

Pengukuran suhu dengan menggunkana termometer rektal. Anomali dan cacat pada tubuh Kelainan anatomis pada tubuh perlu dicatat dengan seksama dan teliti. Identifikasi umum Catat jenis kelamin. Kelainan pada kulit Adanya kutil. ataupun tubuh yang telah mengalami penggembungan akibat pembusukan lanjut. e. tinggi dan berat badan. Jaringan parut Catat seteliti mungkin jaringan parut yang ditemukan. warna serta tulisan tatto yang ditemukan. kulit ari telah terkelupas. 9. d. namun kadang masih membantu dalam perkiraan kematian. ditemukan kapalan pada daerah bahu. c. bangsa atau ras. bercak hiper atau hipopigmentasi. Jangan lupa mencatat suhu ruangan pada saat yang sama. eksema. Rajah/tatto Tentukan letak. adanya striae albicantes pada dinding perut. d. Kapalan (Callus) Dengan mencatat distrubusi callus. b. Pada pekerja/buruh pikul. (misalnya 151 . pada pekerja kasar lainnya ditemukan kapalan pada telapak tangan atau kaki. Roman Forensik Edisi 8 lain yang mungkin ditemukan. terdapat gambaran pembuluh superfisial yang melebar berwarna biru hitam. keadaan gizi. Bila perlu buat dokumentasi foto. a. bentuk. Pada pembusukan lebih lanjut. keadaan zakar yang disirkumsisi. e. 8. dan kelainan lain seringkali dapat membantu penentuan identitas. Lain-lain Mencatat perubahan tanatologik mummifikasi/adipocare). Identifikasi Khusus Catat segala sesuatu yang dapat digunakan untuk penentuan identitas secara khusus. angioma. kadangkala dapat diperoleh keterangan berharga mengenai pekerjaan mayat yang diperiksa semasa hidupnya. Pembusukan Tanda pembusukan yang pertama tampak berupa kulit perut sebelah kanan bawah yang berwarna kehijau-hijauan. baik yang timbul akibat penyembuhan luka maupun yang terjadi akibat tindakan bedah. warna kulit.Kriteria penurunan suhu tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan.

Pemeriksaan terhadap mulut dan rongga mulut Meliputi bibir. keadaan tumbuh. adanya yang hilang/patah/tambalan/bungkus logam. Periksa dari lubang hidung/telinga adanya keluar cairan/darah. kekeruhan. keluarnya cairan dari lubang kemaluan. warna. 11. kelainan letak. pembuluh darah yang melebar. serta sifat dari rambut tersebut (halus/kasar. Memeriksa dengan teliti keadaan rongga mulut akan adanya benda asing. bintik perdarahan atau kelainan lain). catat apakah alat kelamin mengalami sirkumsisi. dapat diambil preparat tekan menggunakan kaca objek yang ditekankan pada Roman Forensik Edisi 8 152 . Pemeriksaa Mata Periksa kelopak mata terbuka/tertutup. bintik perdarahan. Pemeriksaan iris/tirai mata (warnanya. kelainan fisiologis (ptysis bulbi) atau patologis (leucoma)). Pada dugaan telah terjadi suatu persetubuhan beberapa saat sebelumnya. Terhadap gigi geligi. 14. Data gigi geligi merupakan alat yang berguna untuk identifikasi bila terdapat data pembanding. 12. kelainan seperti pysis bulbi. kelainan). Mencatat pula kelainan serta tanda kekerasan. besar ukuran pada kanan dan kiri. Pemeriksaan bola mata (tanda kekerasan. Pemeriksaan daun telinga dan hidung Pemeriksaan meliputi bentuk daun telinga dan hidung. Adanya kelainan/tanda kekerasan. pewarnaan (staining) dan sebagainya. pemakaian mata palsu dan sebagainya) Pemeriksaan selaput lendir bola mata (adanya pelebaran pembuluh darah. rongga mulut.10. adanya tanda-tanda kekerasan serta kelainan lain yang ditimbulkan oleh penyakit dan sebagainya. bercak perdarahan). adanya manik-manik yang ditanam di bawah kulit. Catat kelainan bawaan yang mungkin ditemukan. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan Pada mayat laki-laki. lurus/ikal). lidah. Pemeriksaan kornea/selaput bening mata (jernih/tidak. 13. dilakukan pencatat jumlah gigi yang terdapat. serta gigi geligi. Periksa keadaan selaput lendir kelopak mata (warna. Pemeriksaan Rambut Dimaksudkan untuk membantu identifikasi. kelainan yang ditemukan) Pemeriksaa pupil/teleng mata (ukurannya. adanya gigi palsu. serta kelainan yang disebabkan oleh penyakit atau sebab lain. Pemcatata dilakukan terhadap distribusi.

perlu dilakukan pencatatan yang teliti dan objektif terhadap : a. dan lain-lain. ikterus. atau serpihan cat. periksa keadaan selaput dara dan komisura posterior akan kemungkinan adanya tanda kekerasan. mungkin ditemukan anus berbentuk corong yang selaput lendirnya sebagian berubah menjadi lapisan bertanduk dan hilangya rugae. Lain-lain Perlu diperhatian akan kemungkinan terdapatnya : a. 15. b. jangan lupa melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sekret/cairan linag senggama. 16. f. Terdapatnya bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh. b. Sudut luka Roman Forensik Edisi 8 153 . Letak luka Sebutkan regio anatomis luka yang ditemukan. Tanda perbendungan. kepingan. Pada mayat yang sering mendapat perlakuan sodomi. pungsi lumbal. dan lain-lain. Tepi luka Perhatikan tepi luka rata. Bentuk luka Menyebutkan bentuk luka yang didapatkan. Pada mayat wanita. Arah luka Dicatat dari arah luka (melintang. Lubang pelepasan perlu mendapat perhatian. teratur. mencatat letaknya yang tepat menggunakan koordinat terhadap garis/titik anatomis yang terdekat. pecahan kaca. Pada luka yang terbuka sebutkan bentuk luka setelah luka dirapatkan. suntikan. c. atau miring) e. Bekas pengobatan berupa bekas kerokan. lumuran aspal.daerah glands atau corona glandis yang kemudian dapat dilakukan pemeriksaan terhadap adanya sel epitel vagina menggunakan teknik laboratorium. Pemerikaan terhadap tanda-tanda kekerasan/luka Pada pemeriksaan tersebut . atau bentuk tidak beraturan. membujur. warna kebiru-biruan pada kuku/ ujung-ujung jari (pada sianosis) atau adanya edema/sembab. tracheotomi. luka memar. Jenis luka Tentukan apakah merupakan luka lecet. atau luka terbuka. d. c. Pada kasus dengan persangkaan telah melakukan persetubuhan beberapa saat sebelumnya.

insisi hanya mencapai kedalaman setebal kulit saja. Insisi pada daerah dada sebelah kanan dan Roman Forensik Edisi 8 154 . kepala akan berada dalam keadaan fleksi maksimal dan daerah leher tampak jelas. Penentuan ini baru dapat dilakukan pada saat pembedahan mayat. Insisi berbentuk huruf I diatas merupakan insisi yang paling ideal untuk suatu pemeriksaan bedah mayat forensic. Pada keadaan tertentu. Pemeriksaan terhadap patah tulang Tentukan letak patah luka yang ditemukan serta catat sifat/jenis masing-masing patah tulang yang terdapat. Pada daerah leher. serta panjang luka. Dasar luka Dasar luka berupa jaringan bawah kulit atau otot.Pada luka terbuka. k. bila tidak mengganggu kepentingan pemeriksaan. sampai menembus ke dalam rongga perut. atau bahkan merupakan rongga badan. Sekitar luka Lihat terdapat adanya pengotoran. Saluran luka Dilakukan secara in situ. PEMBEDAHAN MAYAT Pengeluaran Alat Tubuh Mayat yang akan dibedah diletakkan terlentang dengan bagian bahu ditinggikan (diganjal) dengan sepotong balok kecil. j. Ukuran luka Diukur dengan teliti. terdapat luka/tanda kekerasan lain sekitar luka. 17. g. yang dimulai pada kedua puncak bahu. atas indikasi kosmetik dapat dipertimbangkan insisi kulit berbentuk huruf Y. Termukan perjalanan luka. membulat atau bentuk lain. diteruskan kearah umbilicus dan melingkari umbilicus disisi kiri dan seterusnya kembali mengikuti garis pertengahan badan sampai di daerah simpisis pubis. insisi kulit sampai kedalaman mencapai permukaan depan tulang dada (sternum) sedangkan mulai di daearh epigastrium. h. Lain-lain Pada luka lecet jenis serut. Dengan demikian. Insisi kulit dilakukan mengikuti garis pertengahan badan mulai dibawah dagu. pemeriksaan teliti terhadap pemukaan luka terhadap pola penumpukan kulit ari yang terserut dapat mengungkapkan arah kekerasan yang menyebabkan luka tersebut. i. apakah sudut luka merupakan sudut runcing. Pada daerah dada. pada luka terbuka diukur juga setelah luka dirapatkan.

Dengan insisi berbentuk huruf Y. Periksalah keadaan usus-usus. Kelainan pada dinding dada dapat merupakan resapan darah. catat sifat dari cairan tersebut serous. maka dinding perut dapat ditarik/diangkat keatas. perhatikan pula bagian/ alat-alat perut yang mengalami penjahitan. Rongga perut diperiksa dengan mula-mula memperhatikan keadaan alat-alat perut secara umum. Pelepasan dinding dada dilakukan terus kearah dada bagian atas sampai daerah tulang selangka dan kesamping sampai garis ketiak depan. kedua jari tangan kiri tersebut berfungsi juga sebagai pemandu (guide) untuk pisau. adakah kelainan volvulus. Dengan bagian perut pisau dan bidang pisau (knife blade) yang diletakkan tegak lurus. Pengirisan pada otot dilakukan dengan bagian perut pisau dan bidang pisau (blade) yang tegak lurus terhadap otot. apakah menutupi seluruh usususus kecil. Setelah rawan iga pertama terpotong. reseksi atau tindakan lainnya. diperhatikan keadaan lemak bawah kulit serta otot-otot dinding perut. maka pengeluaran alat-alat leher menjadi lebih sukar.kiri dipertemukan pada garis pertengahan kira-kira setinggi insisura jugularis. dan kelainan yang ditemukan dapat dicatat dengan teliti. rawan iga dipotong mulai dari iga ke 2 terus kearah kaudal. bila terdapat cairan. Iga pertama dipotong dengan meneruskan irisan pada iga kedua kearah kraniolateral. Insisi pada dinding perut biasanya dimulai pada daerah epigastrium dengan membuat irisan pendek yang menembus sampai peritoneum. keruh dengan fibrin yang melekat Tentukan pula letak sekat rongga badan (diafragna). darah atau cairan keruh. Pemotongan ini dapat dilakukan dengan mudah pada mayat yang masih muda karena bagian rawan belum mengalami penulangan. pisau dapat diteruskan kearah medial menyusuri tepi bawah Roman Forensik Edisi 8 155 . dinding dada telah dibebaskan dari otot-otot pectorales. Perhatikan akan adanya tanda kekerasan maupun kelainan-kelainan lainnya. Dengan demikian. Dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri yang dimasukkan kedalam lubang insisi ini. Disamping berfungsi sebagai pengangkat dinding perut. patah tulang maupun luka terbuka. Pada dinding perut. Pada selaput lendir yang normal. tampak licin dan halus berwarna kelabu mengkilat. Perhatikan adakah cairan dalam rongga perut. dinding dada dilepaskan dengan memulai irisan pada otot-otot sepanjang arcus costae. perlekatan sternum dengan pericardium dapat dilepaskan. dengan demikian. Pisau diselipkan diantara dua jari tersebut dan insisi dapat diteruskan sampai ke simpisis pubis. Pada kelainan peritonitis. Bila mayat telah mengalami operasi sebelumnya. Rongga dada dibuka dengan jalan mengiris rawan-rawan iga pada tempat setengah sampai satu sentimeter medial dari batas rawan tulang masing-masing iga. Dengan memegang dinding perut bagian atas dan memuntir dinding perut tersebut kearah luar (dilakukan dengan ibu jari disebelah dalam/sisi peritoneum dan 4 jari lainnya disebelah luar/sisi kulit). Lakukan hal yang sama pada sisi tubuh yang lain Dengan memotong insersi otot-otot diafragma yang melekat pada dinding dada bagian depan sebelah bawah. infark. tanda-tanda kekerasan lainnya. dengan membandingkan tinggi difragma terhadap iga digaris pertengahan selangka (midelavicular line). cacat tebal msing-masing serta lika-luka bila terdapat. irisan dihindarkan dari mengenai manubrium sterni yang keras. akan tampak selaput lendir yang tidak rata. serta melindungi alat-alat dalam rongga perut dari kemungkinan teriris oleh pisau. intususepsi. purulen. ataukah mengumpul pada sutu tempat akibat adanya kelainan setempat. Pisau digerakan memotong rawan iga-iga tersebut mulai dari iga kedua sampai daerah arcus costae. Kulit daerah leher dilepaskan dari otot leher yang berada dibawahnya. Dengan tangan kanan memegang gagang pisau dan telapak tangan kiri menekan punggung pisau. Bagaimana penyebaran tirai usus (omentum). Dinding perut sebelah dalam diperhatikan keadaan selaput lendirnya.

Bila ini telah dilakukan pada kedua sisi maka bagian depan dinding dada telah dapat dilepaskan. kemudian alat dalam rongga perut dikeluarkan bersama alat dalam rongga panggul. Palatum molle diiris sepanjang perlekatannya dengan palatum durum sampai bagian lateral dari plica pharingea. maka mesenterium yang melekat usus halus dengan dinding rongga perut dapat diiris dekat usus. Kandung jantung dibuka dengan gunting mengikuti huruf Y terbalik. Perhatikan apakah rongga kandung jantung terisi oleh cairan atau darah. Biasanya dengan mencatat bagian kandung jantung yang tampak antara kedua tepi paru-paru. apakah terdapat cairan.pulmonalis. Irisan dimulai tepat di bawah dagu. paru dapat ditarik kearah medial dan rongga dada dapat diperiksa. Pengirisan dilakukan seperti gerakan menggergaji dan dilakukan sepanjang usus halus sampai daearah ileum terminalis. Pengguntingan dilakukan di antara dua ikatan yang dibuat agar isi duodenum tidak tercecer. Dengan tangan kanan memegang lidah dan dua jari tangan kiri yang diletakkan pada sisi kanan dan kiri hilus paru. Iga-iga dipotong mulai rawan iga ke-2 ke arah latero kaudal . permukaan depan bilik jantung kanan diiris memanjang sejajar dengan septum jantung kurang lebih 1 cm lateral dari septum. Roman Forensik Edisi 8 156 . Pengeluaran alat leher dimulai dengan melakukan pengirisan insersi otot-otot dasar mulut pada tulang rahang bawah. Dengan tangan. menembus rongga mulut dari bawah. Dengan meneruskan pemotongan sampai ke permukaan depan dari tulang belakang dan sedikit menarik alat-alat leher ke arah bawah maka seluruh alat leher dapat lepas dari perlekatannya. Iga pertama dipotong ke arah latero cranial untuk menghindari manubrium sterni. Tangan kiri menggenggam bagian bawah alat rongga dada tepat di atas diafragma dan lakukan pengirisan terhadap genggaman tersebut. Alat leher dan alat dalam rongga dada dapat dikeluarkan seluruhnya. pulmonalis. darah atau lainnya. Kandung jantung dibuka dengan melakukan pengguntingan pada dinding depan mengikuti bentuk huruf Y terbalik. Periksa pula akan adanya luka baik pada kandung jantung maupun pada permukaan depan jantung sendiri.tulang selangka untuk mencapai sendi antara tulang selang dan tulang dada (articulation sternoclavicularis) dan memotongnya. Alat-alat leher dikeluarkan bersama-sama dengan alat rongga dada. Usus-usus dilepaskan dengan melakukan dua ikatan pada awal jejunum. kemudian diperpanjang dengan gunting ke arah a. Perhatikan pertama-tama letak paru terhadap kandung jantung. Pada dugaan thrombosis a. Esofagus digunting antara kedua ikatan tersebut. Kandung jantung yang tampak 1 jari diantara paru-paru menunjukkan keadaan pengembangan paru yang berlebihan (pada edema paru atau emfisema paru). Lakukan pemotongan pembuluh darah dan saraf di belakang tulang selangka dengan lebih dulu menggenggam pembuluh darah dan saraf tersebut. Insisi diperlebar ke kanan maupun ke kiri. Lepaskan perlekatan antara paru-paru dengan dinding rongga dada. alat rongga dada ditarik ke arah kaudal sampai keluar dari rongga paru. Tangan kiri mengangkat ujung distal dan mengangkatnya. Tentukan berapa jari kandung jantung tampak antara kedua paru. Lidah ditarik ke bawah sehingga dapat dikeluarkan dari tempat bekas irisan. sedangkan usus halus mulai dari yeyenum sampai rectum dilepaskan tersendiri. Lepaskan esophagus bagian kaudal dari jaringan ikat sekitarnya dan buat dua ikatan di atas diafragma.

Untuk melepaskan alat rongga perut dan panggul dilakukan pengirisan dimulai dengan memotong diafragma dekat insersinya pada dinding rongga badan.Pada daerah caecum.opticus. di daerah temporal kurang lebih 2 cm di atas daun telinga. baik merupakan resapan darah maupun garis retak/patah tulang. Kolon sigmoid dapat dilepaskan dari dinding rongga perut dengan memotong mesocolon di bagian belakangnya. Duramater kemudian digunting mengikuti garis penggergajian. Pengirisan dibuat sampai pisau mencapai periosteum. dan daerah subdural diperiksa adanya perdarahan. Kelainan yang biasa ditemukan adalah tanda kekerasan. dengan garis penggergajian membentuk sudut ±120o dari garis penggergajian terdahulu. Kandung kencing serta alat lain dipegang dengan tangan kiri sampai ke belakang bersama-sama rectum. sebab pada beberapa jenis keracunan dapat tercium bau yang khas. Setelah dilakukan pelepasan usus halus dan usus besar dapat dilakukan pemeriksaan sepanjang usus tersebut. antara baga otak dan tulang tengkorak. mulai dari distal diurut ke arah proksimal. Pada daerah temporal penggergajian dilakukan setelah otot temporalis dipotong dengan pisau terlebih dahulu. Bagian frontal sedikit ditekan. tampak falk cerebri yang dapat dipotong atau digunting sampai dasar tengkorak. dimulai pada prosesus mastoideus. dsb. nn. Pemotongan melintang dilakukan setinggi kelenjar prostat pada mayat laki-laki dan setinggi sepertiga proksimal vagina pada mayat perempuan. Pemeriksaan pada kepala dimulai dengan membuat irisan pada kulit kepala. Alat rongga panggul kemudian dilepaskan seluruhnya dari perlekatan dengan sekitarnya dan diangkat bersama-sama dengan alat rongga perut yang telah dilepaskan terlebih dahulu. Kedua jari tangan kiri kemudian sedikit mengangkat baga frontal dan memperlihatkan nn. Pengirisan diteruskan ke arah bawah. sebelah kanan dan kiri. melingkar di daerah frontal sejarak kurang lebih 2 cm di atas margo supraorbitalis. Pada daerah temporal ini penggergajian dilakukan melingkar ke belakang ±2 cm sebelah atas protuberantia occipitalis externa . Kulit kepala kemudian dikupas. Perhatikan dan catat kelainan pada permukaan dalam kulit kepala maupun permukaan luar tulang tengkorak. kemudian diputus di antara dua ikatan tersebut. melingkari kepala ke arah vertex. Untuk membuka rongga tengkorak dilakukan penggergajian tulang tengkorak. lepaskan perlekatan antara kolon dan lambung. Pada daerah kolon transversum.iliaca communis. Dilakukan pengamatan kelainan pada permukaan dalam atap tengkorak maupun pada duramater. Atap tengkorak selanjutnya dilepas dengan menggunakan pahat berbentuk T (T-chisel) dengan jalan mendongkel pada garis penggergajian. Mesokolon kembali diiris di sebelah lateral dari kolon descendens dengan memisahkannya juga dari limpa dan ginjal kiri. pengirisan dilakukan terhadap mesokolon. perdaraahan epidural. Kelainan dapat berupa luka pada duramater. dan berakhir pada prosesus mastoideus sisi lain. ke arah depan sampai kurang lebih 1-2 cm di atas batas orbita (margo supraorbitalis) dan ke arah belakang sampai sejauh protuberantia occipitalis externa. lateral dari masing-masing ginjal sampai memotong a. dll. Setelah atap tengkorak dilepaskan pertama-tama dilakukan penciuman bau yang keluar. Rectum diikat dengan dua ikatan. dengan memotong mesokolon pada bagian lateral dan kolon asendens pada daerah ini. pengumpulan nanah. Alat rongga panggul dilepaskan dengan melepas peritoneum di daerah simfisis (alat rongga panggul terletak retroperitoneal). Otak dikeluarkan dengan memasukkan dua jari tangan kiri di garis pertengahan daerah frontal.olfactorius. Roman Forensik Edisi 8 157 . Rectum dipegang dengan tangan kanan.

Perhatikan ukuran dan beratnya. 1. dua jari tangan kanan dapat ditempatkan di sisi kanan dan kiri batang otak yang terpotong. dsb. keadaan selaput lendir. Perhatikan adanya benda asing. Perhatikan pula pita suara dan kotak suara. Setelah otot leher di angkat. 3. adakah bekas gigitan. Potong saraf-saraf otak yang keluar pada dasar tengkorak. Ditemukan tonsilektomi kadang membantu dalam identifikasi. agar dapat diperhatikan adanya kelainan pada dasar tengkorak. duramater yang melekat pada dasar tengkorak harus dilepaskan dari dasarnya. otot leher dibebaskan dari bagian posterior. Dengan pinset bergigi pada tangan kiri. dll (misalnya striktur. catat warnanya. Pengirisan lidah sebaiknya tidak sampai teriris putus agar setelah otopsi mayat masih tampak berlidah utuh. Setelah otak dikeluarkan. Bekas gigitan dapat pula terlihat pada penampang lidah. darah. serta jari-jari tangan kiri sedikit menarik/mengangkat baga peliris (temporalis) sisi lain. adakah selaput. nanah. Pembukaan trakea dilakukan dengan melakukan pengguntingan dinding belakang sampai cabang bronkus kiri dan kanan. Lakukan pengirisan di bagian lateral pada kedua baga kelenjar gondok dan catat perangai penampang kelenjar ini. Otak biasanya diperiksa terakhir. perdarahan. 5. Kerongkongan (esophagus) Dibuka dengan jalan menggunting sepanjang dinding belakang. adakah perdarahan berbintik atau resapan darah. kemudian menarik bagian bawah otak dengan gerakan memutar/meluksir hingga keluar dari rongga tengkorak. gambaran infeksi. dimulai dari foramen magnum ke lateral menyusuri tepi belakang tulang karang otak (os petrosum). Pemotongan lebih lanjut dapat dilakukan pada aa. Dengan tangan kiri menyangga daerah baga occipital. Dengan memiringkan kepala mayat. Perlu diperhatikan bila tentorium cerebelli tidak dipotong maka otak kecil akan tertinggal dalam rongga tengkorak. kelenjar gondok tampak jelas dan dapat dilepaskan dari perlekatannya pada rawan gondok dan trakea. dll. Batang tenggorok (Trakhea) Pemeriksaan dimulai pada mulut atas batang tenggorok. dimulai dari epiglotis. baik baru maupun lama. Periksa apakah permukaannya rata. Roman Forensik Edisi 8 158 . Pemeriksaan Organ/Alat Dalam Dimulai dari lidah. Kepala dikembalikan ke posisi semula dan batang otak dipotong melintang dengan memasukkan pisau sejauh-jauhnya dalam rongga magnum. Perhatikan adakah edema. dengan gunting pada tangan kanan. esophagus. 2. trachea. 4. serta keadaan selaput lendirnya. Tonsil Perhatikan permukaan maupun penampang tonsil. dst sampai seluruh alat tubuh. Kelenjar gondok Otot-otot leher harus dilepaskan dari perlekatannya di sebelah belakang. benda asing.yang kemudian dipotong sedekat mungkin pada dasar tengkorak. tentorium cerebelli tampak jelas dan mudah dipotong. busa.karotis interna yang memasuki otak serta saraf-saraf otak yang keluar pada dasar otak. Perhatikan adanya benda-benda asing. ujung bawah otot-otot leher dijepit dan sedikit diangkat. varices). Lidah Diperhatikan permukaan lidah. Bekas gigitan yang berulang dapat ditemukan pada penderita epilepsi.

Tulang lidah (os hyoid). serta bintik perdarahan. kadang dapat ditemukan kerusakan pada intima di samping terdapatnya resapan darah. Perhartikan tanda kekerasan sekitar arteri ini. Tulang lidah terlebih dahulu dilepaskan dari jaringan sekitarnya dengan pinset dan gunting. Pada penampang paru ditentukan warnanya serta dicatat kelainan yang mungkin ditemukan.6. dengan tangan kiri memegang paru pada daerah hilus. Rawan gondok dan rawan cincin seringkali juga menunjukkan resapan darah pada kasus dengan kekerasan pada daerah leher (pencekikan. dsb. Jantung Jantung dilepaskan dari pembuluh darah besar yang keluar/masuk ke jantung dengan jalan memegang apex jantung dan mengangkatnya serta menggunting pembuluh tadi sejauh mungkin dari jantung. Kelenjar kacangan (thymus) Biasanya telah menjadi Thymic fat body pada orang dewasa. Perhatikan besarnya jantung. resapan darah. resapan darah. Perhatikan adanya kelainan pada aurikel kanan maupun atrium kanan. bulla. Perhatikan adanya patah tulang. lakukan irisan menembus tebal otot dinding sebelah kanan sehingga rongga bilik jantung kanan terlihat. Pertama-tama jantung diletakkan dengan permukaan ventral menghadap ke atas yang dipertahankan terus sampai otopsi jantung selesai. rawan gondok (cartilago thyroidea) dan rawan cincin (cartilago cricoidea) Tulang lidah kadang ditemukan patah unilateral pada kasus pencekikan. Penampang paru diperiksa setelah melakukan pengirisan paru mulai apex sampai ke basal. Paru-paru Kedua paru masing-masing diperiksa tersendiri. 10. Vena cava superior dan inferior dibuka dengan menggunting dinding belakang vena-vena tersebut. Tentukan permukaan paru. masuki bilik jantung kanan sampai ujung pisau menembus apeks di sisi kanan septum dengan mata pisau mengarah ke lateral. namun kadang masih dapat ditemukan pada status thymicolymphaticus. Dengan gunting buka pula aurikel kanan. penjeratan. 9. Kelenjar thymus terletak melekat di sebelah atas kandung jantung. perabaan dapat menjadi padat atau keras. Buka arteri dengan menggunting dinding depannya dan perhatikan keadaan intima. Pada paru yang mengalami emphysema dapat ditemukan cekungan bekas penekanan iga. Perhatikan warnanya. Pada paru dengan proses peradangan. apakah terdapat penebalan. ikuti sistematika pemotongan dinding jantung yang dilakukan dengan mengikuti aliran darah di dalam jantung. atau bintik-bintik perdarahan. Tebal dinding bilik kanan diukur dengan terlebih Roman Forensik Edisi 8 159 . benjolan atau kelainan lain. Pada permukaanya perhatikan adanya perdarahan berbintik serta kemungkinannya adanya kelainan lain. Arteri carotis interna Arteri carotis communis dan interna biasanya tertinggal melekat pada permukaan dekat ruas tulang leher. gantung). luka. luka. Bila kekerasan pada daerah leher mengenai arteri ini. Dengan pisau panjang. Perabaan paru yang normal teraba seperti spons. Perhatikan adanya resapan darah. Pada otopsi jantung. Ukur lingkaran katup trikuspidal serta memeriksa keadaan katup. bandingkan dengan kepalan tinju kanan mayat. 7. bercak perdarahan akibat aspirasi darah ke dalam alveoli (tampak pada permukaan paru sebagai bercak berwarna merah-hitam dengan batas tegas). 8.

Pada penempang irisan diperhatikan tebal dinding arteri. Perhatikan apakah terdapat kelainan pada dinding pembuluh darah yang mungkin merupakan dasar dideritanya hipertensi renal bagi yang berangkutan. Anak ginjal (glandula suprarenalis) Roman Forensik Edisi 8 160 . Kadang-kadang pada aorta dapat ditemukan tanda kekerasan merupakan resapan darah atau luka. Lingkaran katup diukur dan daun katup dinilai. Dengan pisau panjang.coronaria kanan keluar dari dinding pangkal aorta ke belakang. Pada daerah katup semilunaris aorta dapat ditemukan dua muara aa. Dengan gunting dinding depan bilik kiri dipotong menyusuri septum pada jarak ½ cm. keadaan lumen.coronaria kiri dan kanan.dahulu membuat irisan tegak lurus pada dinding belakang bilik kanan. sedangkan yang kiri sekitar 14 mm. menyusuri septum pada jarak ½ cm. renalis kanan dan kiri dibuka sampai memasuki ginjal. ateroma atau pembentukan aneurisma. dan a. lalu diiris ke lateral sehingga bilik kiri terbuka. 11. Ukur lingkaran katup mitral serta penilaian terhadap keadaan katup. mulai dari apeks.coronaria tidak boleh menggunakan sonde karena dapat mendorong trombus yang mungkin ada. 12. berat sekitar 300 gram. membuka juga dinding depan aorta dan memotong katup semilunaris aorta. yang kiri sekitar 9. 13. Irisan dinding depan bilik kanan menggunakan gunting. Mulai pada muaranya. Septum jantung dibelah untuk melihat kelainan otot. Pembukaan serambi dan bilik kiri dimulai dengan menggunting dinding belakang vv.iliaca communis kanan dan kiri. Pada kasus kematian bunuh diri dengan jalan menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi. lingkaran katup pulmonal sekitar 7 cm dan aortal sekitar 6. disusul dengan pembukaan aurikel kiri. renalis kanan dan kiri. Katup diukur lingkarannya dan keadaan daun katupnya dinilai. terutama muara aa. seringkali ditemukan robekan melintang pada aorta thoracalis.5 cm.pulmonalis dan memotong katup semilunaris pulmonal. Tebal otot jantung sebelah kiri diukur pada irisan tegak yang dibuat 1 cm di bawah katup pada dinding belakang. Perhatikan kemungkinan terdapatnya deposit kapur. bila korban mendarat dengan kedua kaki terlebih dahulu. Perhatikan pula muara dari pembuluh nadi yang keluar dari aorta abdominalis ini. Pemeriksaan nadi jantung ini dilakukan dengan membuat irisan melintang sepanjang jalannya pembuluh darah. Untuk memeriksa keadaan a. baik kelainan degeneratif maupun kelainan bawaan. Arteri coronaria kiri berjalan di sisi depan septum. ukuran lingkar katup serambi bilik kanan sekitar 11 cm. ke arah atas menggunting dinding depan a. Perhatikan dinding aorta terhadap adanya penimbunan perkapuran atau atheroma.5 cm. Tebal otot bilik kanan 3 sampai 5 mm. Nilai pengukuran pada jantung normal orang dewasa adalah sebagai berikut : ukuran jantung sebesar kepalan tangan kanan mayat. Aorta abdominalis Bloc organ perut dan panggul diletakkan di atas meja potong dengan permukaan belakang menghadap ke atas aorta abdominalis digunting dinding belakangnya mulai dari tempat pemotongan aa. serta kemungkinan terdapat trombus.pulmonales. apeks jantung sebelah kiri dari septum ditusuk. 1 cm di bawah katup. terus ke arah atas. Aorta thoracalis Pengguntingan pada dinding belakang aorta thoracalis dapat memperlihatkan permukaan dalam aorta. aa.

Ginjal. simpai ginjal mungkin akan melekat erat dan sulit dilepaskan. diusahakan tepat di bidang tengah sehingga penampang akan melewati pelvis renis. Kadangkala pada permukaan hati dapat ditemukan kelainan berupa jaringan ikat. permukaan yang berbenjolbenjol. hal ini dapat dilakukan dengan mudah. Untuk pemeriksaan lebih lanjut. luka-luka ataupun kista-kista retensi. pertama-tama digunting otot diafragma sebelah kanan. ureter dan kandung kencing Kedua ginjal masing diliputi oleh jaringan lemak yang dikenal sebagai capsula adipose renis. Pada anak ginjal yang normal. Ureter dibuka dengan meneruskan pembukaan pada pelvis renis. anak ginjal sukar ditemukan. terus mencapai vesika urinaria. berada antara permukaan belakang hati dan permukaan bawah diafragma. juga tertutup dalam jaringan lemak. ukuran penampang. terletak antara ekor kleenjar liur perut (pancreas) dan diafragma. Anak ginjal terletak di bagian medio-kranial kiri kutub atas ginjal kiri. Irisan pada ginjal dibuat dari arah lateral ke medial. Pada tepi dapat di“cubit” dan kemudian dapat dikupas secara tumpul. lepaskan dengan pinset dan gunting jaringan lemak yang terdapat dan akan tampak anak ginjal yang berwarna kuning kecoklat-coklatan. perhatikan isi serta selaput lendirnya. perhatikan gambaran korteks dan medula ginjal.Kedua anak ginjal harus dicari terlebih dahulu sebelum dilakukan pemeriksaan lanjut pada bloc alat rongga perut dan panggul. Adakah kelainan berupa resapan darah. ginjal digenggam pada tangan kiri dengan pelvis renis dan ureter terletak antara telunjuk dan jari tengah. karena bila telah dilakukan pemeriksaan atau telah dilakukan pemisahan alat rongga perut dan panggul. isi saluran serta keadaan mukosa. tertutup oleh jaringan lemak. berbentuk trapezium dan tipis. Juga perhatikan pelvis renis akan kemungkinan terdapatnya batu ginjal. resapan darah dan sebagainya. Dengan melakukan pengirisan di bagian lateral kapsula. Setelah simpai ginjal dilepaskan. bahkan abses. berwarna merah-coklat. 14. anak ginjal kiri yang berbentuk bulan sabit tipis dapat dilepaskan untuk dilakukan pemeriksaan dengan seksama. lakukan terlebih dahulu pemeriksaan terhadap permukaan ginjal. Hati dan kandung empedu Pemeriksaan dilakukan terhadap permukaan hati. Adanya trauma yang mengenai daerah ginjal seringkali menyebabkan resapan darah pada capsula ini. ginjal dapat dibebaskan. yang pada keadaan biasa menunjukkan permukaan yang rata dan licin. Roman Forensik Edisi 8 161 . Untuk menemukan anak ginjal sebelah kanan ini. nanah dan sebagainya. Pada tempat yang disebutkan di atas. Anak ginjal kanan terletak di bagian mediokranial dari kutub atau ginjal kanan. Hal ini perlu mendapat perhatian. pengguntingan anak ginjal akan memberikan penampang dengan bagian korteks dan medulla yang tampak jelas. Pada ginjal yang mengalami peradangan. Anak ginjal kemudian dibebaskan dari jaringan sekitarnya dan diperiksa terhadap kemungkinan terdapatnya kelainan ukuran. Pada penampang ginjal. Perhatikan kemungkinan terdapatnya batu. 15. Pada ginjal yang normal. tanda peradangan. kista kecil. Dengan cara yang sama seperti pada pengeluaran anak ginjal kanan. Kandung kencing dibuka dengan jalan menggunting dinding depannya mengikuti bentuk huruf T.

usus halus dan usus besar Lambung dibuka dengan gunting pada curvature mayor. perdarahan/resapan darah. Tepi hati biasanya tajam. Kelenjar liur perut (pancreas) Pertama-tama lepaskan lebih dahulu kelenjar liur perut ini dari sekitarnya. Hati yang normal menunjukkan penampang yang jelas gambaran hatinya. Otak besar. Lambung. Usus diperiksa akan kemungkinan terdapat darah dalam lumen serta kemungkinan terdapatnya kelainan bersifat ulcerative. 17. perhatikan keadaan sirkulus Willis. Pada hati yang telah lama mengalami perbendungan dapat ditemukan gambaran hati pala. dapat dilakukan pemeriksaan dengan jalan menekan kandung empedu ini sambil memperhatikan muaranya pada duodenum (papilla Veteri). Perhatikan pula bentuk serebelum. perdarahan subarachnoid. 18. akan ikut jaringan penampang limpa. Pada daerah ventral otak. hati normal memberikan perabaan yang kenyal. adakah penebalan dinding akibat kelainan ateronia. Perhatikan isi lambung dan simpan dalam botol atau kantong plastik bersih bila isi lambung ini diperlukan untuk pemriksaan toksikologik atau pemeriksaan laboratorik lainnya. Kandung empedu kemudian dibuka dengan gunting untuk memperlihatkan selaput lendirnya yang seperti beludru berwarna hijau-kuning. Limpa yang norml menunjukkan permukaan yang berkeriput. Perhatikan ukuran serta beratnya. buatlah 2 atau 3 irisan yang melintang pada punggung hati sehingga dapat terlihat sekaligus baik bagian kanan maupun kiri hati. Selaput lendir lambung diperiksa terhadap kemungkinan adanya erosi. dapat terjadi hemiasi serebelum kea rah foramen magnum. Adakah perdarahan subdural. Perhatikan pula akan kemungkinan terdapatnya tanda penekanan yang menyebabkan sebagian permukaan otak menjadi datar. girus otak akan tampak mendatar dan sulkus tampak menyempit. Kandung empedu diperiksa ukurannya serta diraba akan kemungkinan terdapatnya batu empedu. 19. Catat pula bila ditemukan kelenjar getah bening regional yang membesar. adakah penipisan dinding akibat aneurysma. Pada oedema cerebri. Buatlah irisan penampang limpa. Nilai keadaan pembuluh drah pada sirkulus. Jangan lupa mencatat ukuran dan berat limpa. polip dan lain-lain. ulserasi.Pada perabaan. Untuk memeriksa penampang. Catat bila ada kelainan. berwarna ungu dengan perabaan lunak kenyal. Bila terdapat perdarahan hebat. berwarna coklat-merah dan bila dikikis dengan punggung pisau. Untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan pada saluran empedu. sehingga bagian bawah serebelum tampak menonjol. Pada keadaan peningkatan tekanan intra cranial akibat edema serebri misalnya. Kelenjar liur perut yang normal mempunyai warna kelabu agak kekuningan. Limpa dan kelenjar getah bening Limpa dilepaskan dari sekitarnya. Bila tampak cairan coklathijau keluar dari muara tersebut ini menandakan saluran empedu tidak tersumbat. otak kecil dan batang otak Perhatikan permukaan luar dari otak dan catat kelainan yang ditemukan. Roman Forensik Edisi 8 162 . limpa normal mempunyai gambaran limpa yang jelas. dengan permukaan yang berbelah-belah dan perabaan yang kenyal. kontusio jaringan otak atau kedangkalan bahkan sampai terjadi laserasi. usahakan agar dapat ditemukan sumber perdarahan tersebut. 16. adakah perdarahan.

Tempat pemotongan haruslah sedemikian rupa agar struktur penting dalam otak besar dapat diperiksa dengan teliti. agar digunakan alcohol 90%. perdarahan intra cerebral akibat pecahnya a. Perhatikan keadaan selaput lender uterus. medulla oblongata sampai kebagian proksimal medulla spinalis. testis dapat dikeluarkan dari scrotum melalui rongga perut. Perhatikan ukuran. keracunan berbiturat serta keadaan lain yang menimbulkan hipoksia jaringan otak Infark jaringan otak. Perhatikan pula bentuk dan ukuran dari epididinus. Klenjar prostat diperhatikan ukuran serta konsistensinya. Perhatikan kemungkinan terdapatnya perdarahan. Potongan jaringan untuk pemeriksaan histopatologik diambil dengan tebal maksimal 5 mm. perhatikan penampang irisan. Otak besar diletakkan dengan bagian ventral menghadap pemeriksa. konsistensi serta kemungkinan terdapat resapan darah. baik yang bilateral maupun yang unilateral. Adanya perdarahan di daerah batang otak biasanya mematikan. Jumlah potongan yang diambil dari setiap organ agar disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kasus. Kelainan yang dapat ditemukan pada penampang otak besar antara lain adalah: Perdarahan pada korteks akibat contusio cerebri. Lakukan pemotongan otak besar secara koronal/melintang. saluran telur dan uterus sendiri. Timbang dan catatlah berat masing-masing alat/organ Sebelum mengembalikan organ-organ (yang telah diperiksa secara makroskopik) kembali ke dalam tubuh mayat pertimbangkan terlebih dahulu kemungkinan diperlukannya potongan jaringan guna pemeriksaan histopatologik atau diperlukannya organ guna pemeriksaan toksologik. 21. Jadi tidak dibuat irisan baru pada scrotum. resapan darah ataupun luka akibat tindakan abortus provakatus. melalui saluran serviks serta muara kedua saluran telur pada fundus uteri. perlunakan dan sebagainya yang mungkin ditemukan. isi rongga rahim serta kemungkinan terdapatnya kelainan lain. Pada uterus diperhatikan kemungkinan terdapatnya perdarahan. Sedapat mungkin setiap jenis organ ditaruh dalam botol tersendiri. catatlah kelainan perdarahan. perhatikan bentuk serta ukuran kedua indung telur. potongan yang terlampau tebal akan mengakibatkan cairan fiksasi tidak dapat masuk ke dalam potongan tersebut sengan sempurna. Potongan ini kemudian dimasukkan ke dalam botol yang berisi cairan fiksasi yang dapat merupakan larutan formalin 10% (= larutan formaldehida 4%) atau alcohol 90-96% dengan jumlah cairan fiksasi sekitar 20-30 kali volume potongan jaringan yang diambil. contoh bahan Roman Forensik Edisi 8 163 . Otak kecil diperiksa penampangnya dengan membuat suatu irisan melintang. abses otak.Pisahkan otak kecil dari otak besar dengan melakukan pemotongan pada pedunculus cerebri kanan dan kiri. Bila diperlukan pengawetan. Uterus dibuka dengan membuat irisan berbentuk huruf T pada dinding depan. Jumlah organ yang perlu diambil untuk pemeriksaan toksikologi disesuaikan dengan kasus yang dihadapi serta ketentuab laboratorium pemeriksa. lenticulostriata dan sebagainya. Pada pengiriman bahan untuk pemeriksaan toksologik. perdarahan berbintik pada substansi putih akibat emboli. Usahakan mengambil bagian organ di daerah perbatasan antara bagian yang normal dan yang mengalami kelainan. tebal dinding. 20. Alat kelamin dalam (genitalia interna) Pada mayat laki-laki. akibat gangguan perdarahan oleh arteri. Pada mayat wanita. Batang otak diisir melintang mulai daerah pons. Otak kecil ini kemudian dipisahkan juga dari batang otak dengan melakukan pemotongan pada pedunculus cerebelli.

maka terdapat kemungkinan masuknya udara post mortal ke dalam pembuluh darah tersebut. AUTOPSI PADA DUGAAN KEMATIAN AKIBAT EMBOLI UDARA Terbukanya pembuluh darah akibat trauma. vena daerah ini mudah terpotong terutama vena jugularis. maka pembukaan kulit dimulai dari setinggi incisura jugularis ke bawah sepanjang garis median. Pemeriksaan emboli udara vena Dengan mengingat kemungkinan terjadinya hasil false positive seperti yang diuraikan di atas. PERAWATAN MAYAT SETELAH AUTOPSI − − − − − − Setelah autopsi selesai. Rawan iga dipotong mulai dari iga ke-3 ke arah kaudo-lateral. Dikenal 2 jenis emboli udara berdasarkan letak dari emboli tersebut. Ke dalam kandung jantung kemudian diisikan air sehingga seluruh jantung Roman Forensik Edisi 8 164 . Tindakan memotong tulang dada setinggi iga ke-3 ini dilakukan untuk mencegah terpotongnya pembuluh darah besar yang berjalan di belakng iga ke-2 dan tulang selangka. Bersihkan tubuh mayat dari darah sebelum mayat diserahkan kembali pada pihak keluarga. kadangkala dapat menyebabkan timbulnya emboli udara. Insersi otot diafragma dipotong untuk melepaskan bagian bawah stemum dan iga. pembuktian dilakukan dengan memperlihatkan adanya udara dalam system vena atau arteri dengan membuka arteri atau vena tersebut di bawah permukaan air. Jahitlah kulit dengan rapi menggunakan benang yang kuat.pengawet agar juga turut dikirimkan disamping keterangan klinik dan hasil sementara autopsi atas kasus tersebut. perlu dilakukan teknik autopsi yang khusus. Pada pengangkatan alat leher kemudian. baru kemudian kulit kepala dijahit dengan rapi. semua organ tubuh dimasukkan ke dalam rongga tubuh. Kulit dan otot dinding dada serta rongga perut dibuka seperti biasa. Pada dasarnya. Atap tengkorak diletakkan kembali pada tempatnya dan difiksasi dengan menjahit otot temporalis. mulai dari bawah dagu sampai ke daerah simfisis. Untuk membuktikan terdapatnya emboli udara. Pada pembukaan kulit leher dalam melakukan autopsi rutin. Lidah dikembalikan ke dalam rongga mulut sedangkan jaringan otak dikembalikan ke dalam rongga tengkorak. Kulit bagian leher dibiarkan utuh untuk sementara dan jangan ganjal bahu mayat dengan malok. Kemudian bagian depan dinding dada ini dilepaskan dengan terlebih dahulu menggergaji tulang dada (stermum) melintang setinggi iga ke-3. Bila ini terjadi. Jahitkan kembali tulang dada dan iga yang dilepaskan pada saat membuka ronggadada. Hal tersebut di atas akan menghasilkan pemeriksaan yang salah (false positive) dan karenanya harus dihindari. dengan jalan tidak membuka daerah leher sebelum dilakukan pemeriksaan emboli. menyimpang dari teknik autopsi rutin. terjadi manipulasi terhadap leher dan kepala sehingga udara yang masuk tadi berpindah dan masuk ke dalam jantung. Kandung jantung dibuka dengan melakukan pengguntingan memanjang pada tempat yang letaknya paling tinggi ( di pertengahan kandung jantung) sepanjang 5 sampai 7 sentimeter. emboli udara vena (= emboli udara paru) dan emboli udara arterial (= emboli udara sistemik).

Dengan jantung yang seluruhnya terdapat di bawah permukaan air. Vena cava inferior yang mengalami distensi. maka lubang tusukan diperlebar. pulmonalis dan v v. Bila pada penusukkan bilik kanan dan kiri keduanya memberikan gelembung udara. Pengumpulan udara dalam rongga dada pada pnemotoraks akan menyebabkan ke luar gelembung udara dari lubang. dinding dada diiris di bawah permukaan air sampai menembus ke rongga dada. udara kan terkumpul dalam bilik kanan jantung dan karenanya. Bila pada pemeriksaan tidak keluar gelembung baik dari bilik kanan maupun kiri. pada pemeriksaan akan ditemukan keluarnya gelembung udara dari lubang yang dibuat pada bilik kanan. Vena cava. atau diakibatkn oleh terbentuknya gas pembusukan dalam bilik jantung kanan maupun yang kiri. ventrikel kiri juga dilubangi dan perhatikan juga apakah terdapat gelembung udara yang keluar. Dalam hal demikian. coronaria kiri dengan jalan mengirisnya pada bagian arterior septum dan perhatikan apakah terdapat gelembung udara yang keluar. Dalam hal ini tekanlah jantung dengan jari tangan kiri dan jagalah agar jantung tetap terendam. Kadang-kadang jantung cenderung untuk mengapung. AUTOPSI PADA KASUS DENGAN PNEMOTORAKS Pada kekerasan yang mengenai daerah dada. pulmonalis sampai menembus ke dalam bilik kanan. Pada kasus dengan emboli udara vena. dapat terjadi patah tulang iga yang mengakibatkan tertusuknya paru dan selanjutnya menimbulkan pnemotoraks. sedangkan dari bilik jantung kiri tidak terdapat gelembung udara yang keluar. lalu dengan jarum trokat. sela iga ditusuk. Pemeriksaan pnemotoraks dapat pula dilakukan dengan menggunakan semperit gelas yang besar (ukuran 25 sentimeter kubik) dan jarum trokar. Ke dalam kantong ini kemudian diisi air. coronariae yang berisi darah yang berbuih dan berwarna merah terang. Dengan sebuah skapel. Dengan cara yang sama. Dalam menilai hasil pemeriksaan emboli udara arterial ini perlu diperhitungkan kemungkinan terbentuknya gas pembusukan dalam pembeluh itu sendiri. pembuktian dapat dilakukan dengan mudah. lakukan persiapan pemeriksaan seperti pada pemeriksaan emboli udara vena. lakukan pemotongan permulaan a. Kulit daerah dada yang telah dilepaskan dan dinding dada dipegang pada tepi bebasnya sedemikian rupa sehingga membentuk semacam kantong dengan dasar dinding dada. tusuklah ventrikel kanan dekat dengan permulaan a. yaitu dengan cara membuka rongga dada di bawah permukaan air untuk melihat keluarnya gelembung udara. Dengan melakukan pemutaran bidang pisau (knife blade) sebanyak 90 derajat. Dengan pisau organ. Pemeriksaan emboli udara arteril Untuk membuktikan adanya emboli udara arterial. beberapa hal dapat menyokong akan adanya emboli udara vena. Perhatikan apakah terdapat gelembung udara yang keluar dari lubang tersebut. bilik kanan a. maka hal ini dapat disebabkan oleh adanya emboli udara vena disertai defek septurn. maka kemungkinan terdapatnyaemboli udara vena dapat disingkirkan. Dalam hal ini kemungkinan terdapatnya emboli udara vena tidak dapat dipastikan maupun disingkirkan Di samping dilakukan pemeriksaan seperti tersebut di atas. tetapi sangat sedikit atau sama sekali tidak terisi darah. Adanya pengumpulan udara dalam rongga dada akan menyebabkan keluar gelembung udara ke dalam air dalam semperit. Antara lain adalah: distensi jantung sebelah kanan akibat tekanan udara. Bila perlu dapat dilakukan pengurutan sepanjang septum dari arah apex jantung kea rah tempat pengirisan. Roman Forensik Edisi 8 165 .terdapat di bawah permukaan air (terendam). Semperit diisi setengah penuh.

AUTOPSI PADA DUGAAN KEMATIAN AKIBAT EMBOLI LEMAK Kematian akibat emboli lemak dapat terjadi pada kasus trauma tumpul terhadap jaringan lemak atau patah tulang panjang pada orang dewasa. kedua paru masih menguncup dan terletak tinggi dalam rongga dada. AUTOPSI PADA MAYAT BAYI BARU LAHIR Pada pemeriksaan mayat bayi yang baru dilahirkan. hendaknya dihindari proses rutin yang dalam perjalanannya akan melarutkan butir lemak yang terdapat dalam pembuluh darah tersebut. c. uji apung paru memberikan hasil positif Roman Forensik Edisi 8 166 . paru tampak mengembang dan telah mengisi sebagian besar rongga dada. perlu pertama-tama ditentukan apakah bayi lahir hidup atau lahir mati. maka pengeluaran/pengangkatan alat leher dapat dilakukan seperti pada autopsi rutin. Dengan mengeluarkan otak dan alat dada dengan jalan memotong trachea setinggi incisura jugularis (atau dapat pula hanya jantung saja yang dikeluarkan) maka darah yang terdapat dalam pembuluh darah leher dapat dialirkan ke arah kepala dan dada. perlu diusahakan agar daerah leher bersih dari kemungkinan terdapatnya ”genangan” darah. Pada permukaan paru dapat ditemukan gambaran mozaik dan gambaran marmer. Pengeluaran alat leher ditangguhkan untuk sementara. Bayi yang telah bernafas akan memberikan ciri di bawah ini: a. butir lemak ini dapat menyumbat pembuluh otak yang kecil dan mengakibatkan kematian. Lakukanlah pemotongan kulit kepala. paru telah mengembang pada bayi yang belum bernafas. rongga dada yang telah mengembang pada pemeriksaan didapati diafragma yang letaknya rendah. Pembukaan rongga dada dan perut dilakukan seperti pada autopsi rutin. Pemotongan kulit dimulai dari incisura jugularis ke arah simfisis pubis. Butir lemak akan diwarnai menjadi berwarna merah-jingga. kelainan berupa resapan darah yang kecil pun dapat terlihat jelas. dan lapangan leher menjadi bersih. Pada otak. Diagnosa emboli lemak dapat ditegakkan bila dalam pembuluh darah dapat ditemukan butir lemak ini ( fat globule). Pada pengerjaan/ processing jaringan untuk pembuatan preparat histopatologik. Untuk itu dilakukan usaha agar darah yang terdapat dalam pembuluh darah leher dapat dialirkan ke tempat lain. Untuk melihat ini. penggergajian tengkorak serta pengeluaran otak. Dengan demikian. Seorang bayi dinyatakan lahir hidup apabila ada pemeriksaan mayatnya dapat dibuktikan bahwa bayi telah bernafas. Setelah pemeriksaan daerah leher selesai. Pada bayi yang telah bernafas. misalnya SUDAN III. dilakukan pemeriksaan histopatologik dengan pewarnaan khusus untuk lemak. Butir lemak yang berasal dari jaringan lemak atau sumsum tulang dapat memasuki aliran darah dan menyebar ke eluruh tubuh. AUTOPSI PADA KASUS DENGAN KELAINAN PADA LEHER Untuk dapat melihat kelainan pada leher dengan lebih baik. Pindahkan ganjal yang semula terdapat pada daerah tengkuk sedemikian rupa sehingga daerah leher terletak paling tinggi. setinggi iga ke 5 atau 6 b.

kadang perlu dilakukan fiksasi dengan formalin 10%. potongan paru yang telah ditekan antara dua karton sebagian besar masih tetap mengapung. atau dikeluarkan terpisah. baga kanan dan kiri. yang dengan penekanan antara 2 karton tidak akan terdesak keluar.5 sampai 1 cm lateral dari garis median.Setelah alat leher diangkat. Alat rongga dada kemudian dikeluarkan seluruhnya untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam air. d. Tulang tengkorak bayi baru lahir masih lunak sehingga pembukaan tengkorak dapat dilakukan dengan gunting (tidak perlu menggunakan gergaji). Dengan menarik baga occipitalis ke arah kranio lateral. sinus occipitalis dapat diperiksa. membelok ke arah lateral. perlu pula dilakukan pemeriksaan teliti terhadap kepala. . Jaringan otak bayi baru lahir biasanya lebih lunak dari jaringan otak dewasa. Os parietalis kanan dan kiri kini dapat dibuka ke arah lateral seperti membuka jendela. Pada pemeriksaan bayi baru lahir. Dengan demikian. . baik dengan merendam otak tersebut atau melakukan penyuntikan imbibisi. . Hindari sebanyak mungkin manipulasi terhadap jaringan paru. mengingat kepala bayi yang dapat mengalami moulage pada saat kelahiran. .uji apung paru dilakukan untuk membuktikan telah terdapatnya udara dalam alveoli paru. tentorium cerebelli serta sinus lateralis. Untuk menghindari terpotongnya sinus sagitalis superior. pengguntingan dilanjutkan ke arah tulang dahi yang pada jarak 1-2 cm dari batas lipatan kulit.Pemeriksaan kemudian dilanjutkan dengan mengapungkan paru kanan dan kiri secara tersendiri. Roman Forensik Edisi 8 - 167 . Untuk dapat melakukan pengirisan dengan baik. apungkan kembali dalam air. Di depan. Pemeriksaan mikroskopik memberikan gambaran paru yang telah bernafas Pada pemeriksaan mikroskopik akan tampak jaringan paru dengan alveoli yang telah terbuka dengan dinding alveoli yang tipis. Kulit kepala dibuka dan dikupas seperti pada mayat dewasa.Mengapungnya potongan kecil paru yang telah mengalami pembusukan ini disebabkan oleh pengumpulan gas pembusukan tersebut dapat didesak keluar. Untuk meneliti hal ini. dimulai pada daerah fontanel besar ke arah belakang sampai bagian posterior tulang ubun-ubun untuk kemudian membelok ke arah lateral. . sinus sagitalis superior.Pada paru yang telah mengalami pembusukan. Lakukanlah pemisahan lobus paru. kepala bayi harus dibuka dengan tehnik khusus yang menghindari terpotongnya sinus tersebut sehingga dapat dinilai dengan sebaik-sebaiknya. Untuk menentukan usia dalam kandungan (gestational age) mayat bayi.Uji apung paru dinyatakan positif bila setelah dilakukan pemeriksaan pengapungan. Dengan menarik baga otak besar ke arah lateral. falk serebri dan sinus sagitalis inferior dapat diperiksa akan adanya robekan. mungkin dapat menimbulkan cedera pada sinus di kepala. pada garis median sinus sagitalis tetap utuh. guntinglah os parietale pada jarak 0. lakukanlah pengikatan setinggi trachea. potongan kecil dari paru dapat mengapung sekalipun paru tersebut belum bernafas. Otak bayi kemudian dikeluarkan dengan cara seperti pada mayat dewasa. dapat dilakukan pemeriksaan terhadap pusat penulangan. terapung karena adanya udara dalam alveoli.Potongan kecil paru yang telah bernafas. resapan darah maupun perdarahan. .l 5 mm x 10 mm x 10 mm) dari masingmasing lobus dan apungkan kembali. Perhatikan apakah kedua paru terapung. Selanjutnya buatlah 5 potongan kecil (k.

Arah kekerasan Pada luka lecet geser dan luka robek. Jadi pada kasus pembunuhan anak. dan dalam keadaan demikian. si bayi belum mendapat perawatan. keadaan tersebut menyebabkan si ibu melakukan pembunuhan tidak dalam keadaan kesadaran yang penuh. faktor psikologik ibu yang baru melahirkan diperhitungkan sebagai faktor yang meringankan. Pada bayi-bayi yang lahir immature atau non viable. Hal ini sangat membantu dalam melakukan rekonstruksi terjadinya perkara. tallus dan calcaneus dapat dipotong longitudinal untuk memeriksa adanya pusat penulangan. pada si ibu belum sempat timbul rasa kasih sayang serta keinginan untuk merawat bayinya. Dengan melebarkan potongan pada kulit. arah kekerasan dapat ditentukan. yaitu pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu terhadap anak kandungnya.Pusat penulangan pada distal femur dan proksimal tibia Buat irisan melintang pada kulit daerah lutut sampai tempurung lutut. Cara terjadinya luka Roman Forensik Edisi 8 168 . lakukan pengirisan distal femur atau proksimal tibia mulai dari ujung. Pemeriksaan berikutnya dititikberatkan pada penyebab kematian. yang terjadi sebagai akibat tindakan kekerasan. pembunuhan biasanya dilakukan dengan cara pembekapan. pemeriksaan ditujukan terhadap sudah atau belum ditemukannya tanda perawatan pada bayi. Dengan pisau. lapis demi lapis ke arah metaphyse. AUTOPSI PADA KASUS PEMBUNUHAN ANAK Pembunuhan anak merupakan tindak pidana yang khusus. pertama-tama harus dibuktikan bahwa korban lahir hidup. AUTOPSI PADA KASUS KEMATIAN AKIBAT KEKERASAN Pemeriksaan terhadap luka : a. Dengan gunting ligamentum patellae dipotong dan patella disingkirkan. Pada tindak pidana pembunuhan bayi. Pada kasus pembunuhan anak yang ditemukan di Jakarta. Pemeriksaan terhadap maturitas. Luka lecet tekan memberikan gambaran bentuk benda penyebab luka. Penyebab luka Gambaran luka seringkali dapat memberi petunjuk mengenai bentuk benda yang mengenai tubuh. kemungkinan lahir hidup tentunya lebih kecil dibandingkan dengan bayi yang lahir mature dan viable. pada saat dilahirkan atau beberapa saat setelah itu. misalnya luka yang disebabkan oleh benda tumpul berbentuk bulat panjang akan meninggalkan negative imprint oleh timbulnya marginal haemorrhage. viabilitas bayi diperlukan bila pada pemeriksaan didapati keraguan akan hal lahir hidup atau lahir mati. Pusat penulangan pada tallus dan calcaneus Untuk mencapai tallus dan calcaneus. pencekikan atau pengikatan leher. Pada pemeriksaan korban pembunuhan anak. b. c. penyumbatan. karena takut diketahui orang bahwa ia telah melahirkan. Pusat penulangan akan tampak sebagai bercak berwarna merah homogen dengan diameter lebih dari 5 mm di daerah epiphyse tulang. yaitu pada saat dilahirkan atau tidak berapa lama setelah itu. Untuk memenuhi syarat waktu dilakukannya pembunuhan. telapak kaki bayi dipotong mulai tumit ke arah depan sampai sela jari ke 3 dan 4. Untuk ini pemeriksaan ditujukan terhadap telah bernafasnya paru korban.

Pada korban pembunuhan yang sempat mengadakan perlawanan. Bagian tubuh yang biasanya terlindung jarang mendapat luka pada suatu kecelakaan. Tanda intravitalitas lain adalah ditemukannya jelaga dalam saluran pernafasan dan pencernaan serta peningkatan kadar COHb dalam darah. Pada epidural hematome. Bedakan dengan epidural hematome. sisi depan leher. dapat ditemukan luka tangkis yang biasanya terdapat pada daerah ekstensor lengan bawah atau telapak tangan. sebukan sel radang. pemeriksaan kadar histamin bebas dan serotonin jaringan Kecelakaan lalu lintas a. lipat siku. luka akibat tertindas (rollover) luka akibat lindasan ban kendaraan memberikan gambaran yang khas berupa jejas ban.luka biasanya berupa luka lecet tekan b. Setelah tulang tengkorak dibuka. Kecelakaan akibat benda bermuatan listrik Adanya luka masuk listrik hanya apabila persentuhan tersebut menghasilkan cukup panas.meningea yang berjalan pada tabula interna tulang tengkorak. pada aderah diluar durameter terdapat massa yang padat berwarna coklat dan rapuh disertai jaringan otak yang menyusut. agak kenyal disertai tanda penekanan lokal pada baga otak. akan ditemukan luka bakar yang menunjukkan reaksi vital jaringan terhadap panas berupa eritema. dan lain-lain. Luka akibat pembunuhan dapat ditemukan tersebar pada seluruh bagian tubuh. Kecelakaan terbakar Pada tubuh yang terbakar intravital. selalu ditemukan garis patah tulang yang melalui sulcus a. pemeriksaan histo-enzimatik.ditimbulkan oleh persentuhan bagian kendaraan dengan tubuh .luka akibat kecelakaan biasanya terdapat pada bagian tubuh yang terbuka. vesikel atau bula.perhatikan bentuk/gambaran luka serta letaknya (harus diukur dari tumit) . proses penyembuhan luka. Sekitar luka terdapat daerah pucat berbentuk halo yang dikelilingi oleh kulit yang hiperemis. hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati harus dapat dibuktikan bahwa terjadinya kematian semata-mata disebabkan oleh kekerasan yang menyebabkan luka harus dapat dibuktikan bahwa luka yang ditemukan adalah benar-benar luka yang terjadi semasa korban masih hidup (luka intravital)—perhatikan tanda intravitalitas luka berupa reaksi jaringan terhadap luka tanda intravitalitas : ditemukannya resapan darah. Luka tampak sebagai bagian tengah berwarna coklat kehitaman. Roman Forensik Edisi 8 169 . kering dan mencekung dikelilingi oleh tepi yang meninggi. Tubuh yang terbakar hangus pada daerah kepala sering memberikan pseudo-epidural hematome. Daerah terlindung ini misalnya daerah ketiak. Pada korban bunuh diri. luka biasanya menunjukkan sifat luka percobaan (tentative wounds) yang mengelompok dan berjalan kurang lebih sejajar. d. luka akibat kekerasan pertama oleh kendaraan (first impact) . pada pemeriksaan menunjukkan gumpalan yang berwarna merah hitam. luka akibat terjatuh pada tubuh korban dapat ditemukan luka lain yang terjadi akibat terjatuhnya korban setelah persentuhan pertama dengan kendaraan berupa luka lecet geser atau luka robek c.

Pada saat terjadi ledakan. sudut luka. Luka tembak masuk jarak jauh .Pembunuhan dengan senjata api. kelim lecet. Pada kasus kecelakaan tersentuh benda bermuatan listrik. sehingga luka tembak tempel memberikan gambaran berbentuk bintang. misalnya pada daerah dahi. . . luka dapat terdiri dari luka memar. udara yang mengembang akan bersama-sama anak peluru. Cari kemungkinan terdapatnya luka tangkis di daerah ekstensor lengan bawah serta telapak tangan. kelim jelaga dan kelim api. Kematian akibat pembunuhan menggunakan kekerasan . Kecelakaan akibat tembakan senjata api Pada umumnya. Perhatikan adanya luka tangkis yang terdapat pada daerah ekstensor lengan bawah . luka masuk listrik tidak dapat terbentuk. kelim tatto. sangat dekat atau jarak jauh dan jarang luka tembak tempel. luka tembak masuk hanya terdiri dari satu luka saja. maka peregangan yang dialami kulit dapat sedemikian besarnya dan menimbulkan luka robek.pada luka tembak masuk. Saluran luka tampak berdinding hitam oleh butir mesiu yang tidak habis terbakar dan asap. yang dikelilingi oleh kelim lecet.Pada kulit yang basah atau bila tempat persentuhan luas.Pembunuhan dengan kekerasan tajam. Luka tembak tempel Luka dihasilkan oleh tembakan senjata api dengan ujung laras yang ditekankan pada kulit. asap serta udara panas yang keluar pada suatu penmbakan .Luka biasanya terdapat beberapa buah. distribusi tidak teratur . Luka tembak masuk jarak dekat . luka lecet maupun luka robek. dapat dibedakan luka tembak masuk yang diakibatkan oleh tembakan senjata api yang dilepaskan dari berbagai jarak. mengakibatkan jejas laras pada kulit berupa luka lecet tekan. benda tajam. Bila daerah yang mengalami luka tembak tempel mengandung jaringan padat yang keras di bawah kulit. Pada pemeriksaan penting ditentukan arah masuknya anak peluru yang dapat diketahui dari bentuk kelim lecet yang terjadi. Bunuh diri dengan kekerasan Roman Forensik Edisi 8 170 .ditemukan lubang luka. bagian tubuh yang sering terkena adalah bagian yang terbuka terutama pada tangan.gambaran luka ditimbulkan oleh kekerasan anak peluru dan butir-butir mesiu yang tidak habis terbakar . penembakan dapat dilakukan dari berbagai jarak dan luka yang ditemukan dapat merupakan luka tembak masuk jarak dekat. butir mesiu yang tidak habis terbakar dan asap masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan peningkatan tekanan di daerah sub kutis. Dari morfologi luka tembak masuk. perhatikan bentuk luka.hanya akan ditemukan lubang luka dan kelim lecet saja.tampak lubang luka. sisa mesiu yang tidak habis terbakar.Pembunuhan dengan kekerasan tumpul. tepi luka. kelim tatto yang merupakan bintik-bintik berwarna hitam di sekitar lubang luka Luka tembak masuk jarak sangat dekat . keadaan sekitar luka serta lokasi luka. maupun senjata api.dapat dilakukan dengan benda tumpul.luka terjadi semata-mata oleh kekerasan yang ditimbulkan anak peluru .gambaran luka ditimbulkan oleh kekerasan anak peluru. Gambaran luka keluar listrik seringkali tidak khas.

luka berupa luka tembak tempel yang menempati lokasi pelipis. Roman Forensik Edisi 8 171 . Selain itu.Pada autopsi kasus dengan luka yang menembus ke dalam tubuh. Mati akibat dada tertekan disebut juga asfiksi traumatik. . tergantung pada tekanan osmotik cairan tempat tenggelam. simpul mati = pembunuhan. serta Tardieu spot. Lebam mayat ada di ujung tangan & kaki. 2. Bila ada cadaveric spasm bisa ditemukan benda atau tumbuhan air yang tergenggam. karena tenggelam akan menimbulkan terjadinya hemodilusi atau hemokonsentrasi.Pada seseorang yang bunuh diri dengan jalan menjatuhkan diri dari ketinggian/ menabrakkan diri pada kendaraan akan ditemukan luka akibat kekerasan tumpul . perlu ditentukan arah serta jalannya saluran luka dalam tubuh mayat. 6. busa halus pada lubang hidung. juga lambung dan benda asing yang tertelan. Mati akibat penyumbatan Ada benda asing pada rongga mulut. luka mengelompok pada tempat tertentu antara lain pergelangan tangan.erector pilli. Paling sering merupakan pembunuhan. akan ditemukan tanda asfiksi berupa lebam mayat yang gelap dan luas. Ada luka memar atau lecet pada dada. Dapat juga dilakukan pemeriksaan diatome melalui pemeriksaan getah paru. rongga mulut atau dada sebelah kiri . terdapat gambaran cutis anserina akibat kontraksi mm. simpul hidup = bunuh diri. Jerat biasanya horizontal dan letaknya rendah. bendungan bola mata. Luka beberapa buah yang berjalan kurang lebih sejajar dan dangkal (luka percobaan) dengan sebuah luka yang mematikan. Peristiwa yang menjadi penyebab dan tanda-tandanya : 1. atau sisanya jika telah dikeluarkan. 4. Mati akibat pencekikan ada luka memar atau lecet tekan pada leher. leher atau daerah prekordial. Caranya dengan memeriksa kadar elektrolit darah dari jantung kiri dibandingkan jantung kanan. Mati akibat penjeratan kadang masih ada jerat/tali pada leher korban. mulut dan saluran nafas. Pada mayat dapat ditemukan kedua paru mengembang berisi air. bendunagn pada alat dalam. bisa ditemukan kulit telapak tangan dan kaki yang keriput (washer woman hand). harus dibuktikan masuknya air ke dalam paru bagian distal. letak jerat lebih tinggi. AUTOPSI KASUS KEMATIAN AKIBAT ASFIKSI MEKANIK Pada pemeriksaan mayat. 3. Mati akibat pembekapan Terdapat tanda kekerasan berupa luka memar atau lecet tekan sekitar hidung & mulut. simpulnya tetap dipertahankan. Tulang lidah kadang patah unilateral. Mati tergantung arah jerat tidak mendatar.Pada seseorang yang bunuh diri dengan senjata api. Terdapat resapan darah bawah kulit pada pembedahan mayat. Dia juga meninggalkan jejas lecet tekan yang melingkari leher. misalnya tembakan senjata api atau tusukan senjata tajam. Umumnya. karena kuku pelaku.. Bila mayat terendam cukup lama. Selain itu.Pada seseorang yang bunuh diri dengan benda tajam. 5. tapi membentuk sudut yang membuka ke arah bawah. AUTOPSI PADA KEMATIAN AKIBAT TENGGELAM Pada kasus mati tenggelam.

pembesaran kelenjar limfe regional. Pemastian sebab kematian dengan penemuan kadar CO-Hb yang tinggi dalam darah. pertama kali harus dicium bau yang keluar dari tubuh mayat karena hidung pemeriksa dapat beradaptasi jika berlama-lama bersama mayat. Toksikologi dilakukan pada darah. darah dan jaringan hati. Pada bedah mayat ditemukan bendungan alat dalam. narcotic lung atau gambaran pneumonia lobaris.AUTOPSI PADA KASUS KEMATIAN AKIBAT RACUN Pada dugaan mati akibat racun. urine. yaitu keracunan akut dan kronis. Kematian Akibat Keracunan Insektisida Pada pemeriksaan luar dapat ditemukan luka bakar warna coklat agak cekung di kulit sekitar mulut. Kadang ada tato di tempat yang tidak wajar (cth. di lipatan siku. erosi dan ulserasi sepanjang saluran cerna. Terdapat juga vesikel atau bula simetrik pada kulit. tempat biasa menyuntik). Setelah itu. Kematian Akibat Keracunan Barbiturat Sering terjadi akibat bunuh diri atau kecelakaan karena over dosis. Perlu diperhatikan adanya bekas suntikan yang baru atau lama. Untuk toksikologi dapat diambil isi lambung. dan kematian yang tidak/belum jelas sebabnya. Pada kronis. Kematian akibat sianida Pada pemeriksaan mayat sering tercium bau sianida (bau amandel) dan lebam mayat merah terang. Terdapat perdarahan sub mukosa. Pada akut. Penyebab mati mendadak biasanya menyangkut sistem kardiovaskular (SKV). penyakit Roman Forensik Edisi 8 172 . Terjadi depresi nafas yang menjadikan hipoksia sehingga lebam mayat berwarna gelap. Pada bedah mayat ditemukan tanda bendungan alat dalam. Kematian akibat keracunan arsenikum Ada 2 jenis. Hal ini disebabkan terjadinya anoksi otak. paru yang edem dengan busa halus dalam saluran nafas. Pemastian dengan ditemukan barbiturat dalam darah dan urine juga toksikologi isi lambung. garis putih pada kuku serta tubuh yang kahektis. Dpat juga ditemukan vesikel/ bula seperti pada keracunan CO atau barbiturat. Mati akibat narkoba sering karena depresi nafas. Terdapat kelainan histologik degeneratif pada hati dan ginjal. Pada bedah mayat ditemukan kelainan paru berupa bendungan dan edema hebat pada paru. bintik darah pada substansi putih otak. juga ada bendungan serta warna lebam mayat yang biru gelap dan ujung jari serta kuku yang kebiruan. Toksikologi pada isi lambung. Kematian akibat narkotika Lebih sering terjadi akibat kecelakaan. Untuk penyebabnya harus selalu diingat kemungkinan terjadinya keracunan yang memerlukan pemeriksaan toksikologi. perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium toksikologi untuk pemastian racun penyebab. pernafasan dan susunan saraf pusat (SSP). pemeriksaan luar mayat menunjukkan tanda dehidrasi hebat pada tubuh. Pada SKV meliputi infark miokard. Pada bedah mayat terdapat bintik perdarahan pada substansi putih otak atau gambaran infark yang simetrik. Kematian akibat gas CO Pada pemeriksaan luar ditemukan lebam mayat yang berwarna merah terang. cairan empedu serta tempat masuk suntikan. dua lapis cairan di lambung yaitu asam lambung dan larutan insektisida. ada kelainan pigmentasi kulit. darah dan urine. Pemeriksaan selanjutnya tidak memberikan gambaran yang khas. AUTOPSI PADA KASUS KEMATIAN MENDADAK Mati mendadak adalah kematian yang terjadi dalam waktu relatif singkat pada orang yang sebelumnya tampak sehat. Ada bubuk putih dan arsen trioksida pula pada daerah itu. Diagnosis pasti dengan periksa toksikologi terhadap isi lambung dan darah.

Diagnosis pasti seringkali memerlukan pemeriksaan Histo PA berbagai organ tubuh.lentikulostriata. Selain perdarahan. Roman Forensik Edisi 8 173 .jantung iskemik. Terjadi perdarahan karena ruptur uteri akibat kekerasan yang ditimbulkan oleh pengurutan dengan tangan atau alat yang membuat perforasi uterus. kematian juga dapat akibat emboli udara saat pembuluh darah atau sinus marginalis terbuka. sumbatan mendadak pembuluh koroner. Pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan menemukan udara dalam bilik jantung kanan atau vena cava inferior. Pada sistem nafas biasanya berupa kelainan paru akibat perdarahan kavernae atau peradangan. kelainan degeneratif atau malaria serebri. pecahnya aneurisma aorta atau miokarditis akibat virus. AUTOPSI PADA KEMATIAN AKIBAT TINDAK ABORTUS Biasa terjadi pada wanita yang mengalami abortus tersebut. Sedangkan pada SSP umumnya perdarahan akibat pecahnya a. akibat ruptur aneurisma pada Circulus willisi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful