You are on page 1of 25

KONTRIBUSI PEMIKIRAN IBNU KHALDUN DALAM EKONOMI MODERN1

Izzuddin Edi Siswanto & Handi Risza Idris
(Dosen STEI SEBI)

A. Pendahuluan

(Dosen Magister Bisnis dan Keuangan Islam Universitas Paramadina)

Abdur-Rahman Ibnu Muhammad Ibnu Khaldun (1332-1406 M), atau biasa disebut Ibnu Khaldun adalah raksasa intelektual muslim terkemuka di dunia. Pemikirannya, terutama dalam bidang ilmu peradaban (the science of civilization/al'umran), menginspirasi pemikir Timur dan Barat. Beliau adalah sosok sejarawan agung dan pemikir ulung yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai bapak sosiologi. Sebelumnya ada kecenderungan untuk menganggap sosiologi sebagai fenomena Barat. Tetapi kemudian diakui, bahwa sebenarnya para sarjana telah sejak lama melakukan studi sosiologi, diantaranya adalah Ibnu Khaldun dari kawasan Afrika Utara.2 Konsep dan analisis Ibnu Khaldun banyak dijumpai dalam Muqaddimah, yang sesungguhnya merupakan volume pertama dari tujuh volume karya besarnya, Kitab al-‘Ibar, atau judul lengkapnya Tarjuman al-'Ibar wa Diwan al-Mubtada' wal Khabar fi Ayyam al-'Arab wal Barbar wa man 'Asharahum min Dzawis-Sulthan al-Akbar (Buku Pelajaran-pelajaran dan Rekaman Sebab dan Akibat dalam Sejarah Orangorang Arab, Persia, Barbar dan Kekuatan Kontemporer Mereka).3 Ibnu Khaldun telah melakukan analisis fenomena sosial kemasyarakatan lebih dari tiga Abad mendahului para pemikir sosiologi Barat modern. Bahkan, dalam perkembangan ekonomi Islam kontemporer, Ibnu Khaldun juga dianggap sebagai bapak ilmu ekonomi, karena banyak teori dan pemikiran ekonominya yang jauh mendahului Adam Smith, David Ricardo, Thomas R. Malthus, dan J. M. Keynes. Dalam kajian sejarah ekonomi dibagi menjadi dua: pertama, sejarah pemikiran ekonomi yang merefleksikan evolusi pemikiran tentang ekonomi; dan kedua, sejarah perekonomian yang menggambarkan bagaimana kondisi perekonomian (dalam ruang dan periode tertentu). Yang pertama bisa membahas biografi ekonom dan juga produk pemikirannya, sedangkan yang kedua merupakan sejarah yang memotret perekonomian dengan kacamata ruang dan waktu tertentu, sehingga bersifat universal untuk seluruh peradaban. Dengan memilih pendekatan yang pertama, kontribusi pemikiran ekonomi Ibnu Khaldun dan pengaruhnya dalam pemikiran ekonomi modern akan dianalisis dalam makalah ini.

1

Lihat Ritzer, George & Douglas J. Goodman (2005), Modern Sosiological Theory, 6th Edition, Jakarta: Prenada Media (edisi terjemah), hal. 8. 3 Lihar Chapra, M. Umer (2001), The Future of Islamic Economic; An Islamic Prespective, Jakarta: SEBI (edisi terjemah), hal. 150 dan 173.

2

Makalah Disampaikan dalam Symposium Internasional, IAEI-Universitas Airlangga, Surabaya 1-3 Agustus

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

B. Rumusan Masalah Bagaimana kontribusi pemikiran ekonomi Ibnu Khaldun dalam Ekonomi Modern? C. Sejarah Kehidupan Ibnu Khaldun Ibnu Khaldun lahir di Tunisia, Afrika Utara, 27 Mei 1332 (Faghirzadeh, 1982). Lahir dari keluarga terpelajar, Ibnu Khaldun dimasukan ke sekolah al-Qur’an kemudian mempelajari matematika dan sejarah. Semasa hidupnya ia membantu berbagai sultan di Tunisia, Maroko, Spanyol dan Aljazair sebagai duta besar, bendaharawan dan anggota dewan penasihat Sultan. Ia pun pernah dipenjarakan selama 2 (dua) tahun di Maroko karena keyakinannya bahwa penguasa negara bukanlah pemimpin yang mendapatkan kekuasaan dari Allah SWT. Ibnu Khaldun lahir dan hidup dimasa kekhalifahan Islam mulai senja. Mulai dari Kekhalifahan Abbasiyah yang tumbang setelah perusakan, pembakaran, dan penghancuran Baghdad dan beberapa daerah sekitarnya oleh tentara Mongol tahun 656/1258, sekitar tiga perempat abad sebelum lahirnya Ibnu Khaldun (732/1332). Kemudian terjadinya Perang Salib (488-690/1095-1291), invasi Mongol (656-758/1258-1355), dan peristiwa Kematian Hitam (Black Death, wabah penyakit pes yang menyapu Eropa dan Asia, 740-an/1340-an) yang kemudian menyebabkan proses melemahnya kekuasaan sebagian besar wilayah-wilayah umat Islam. Ibnu Khaldun juga menyaksikan Dinasti Mamluk Ciscassiyah (784-922/1382-1517), dimana ia menghabiskan hampir sepertiga hidupnya, adalah dinasti yang penuh dengan korupsi dan tidak efisien dalam memerintah dengan berbagai kebijakan yang akhirnya mempercepat proses kemunduran dinasti itu.4 Setelah kurang lebih dua dekade aktif di bidang politik, Ibnu Khaldun kembali ke Afrika Utara. Sehingga, kemudian lahirlah besarnya Kitab al-‘Ibar tersebut. Karya yang dihasilkan dari proses melakukan studi dan menulis secara intensif selama 5 (lima) tahun tersebut meningkatkan kemasyhurannya dan menyebabkan ia diangkat menjadi guru di pusat studi Islam Universitas Al-Azhar di Kairo. Dalam mengajarkan tentang masyarakat dan sosiologi, Ibnu khaldun menekankan pentingnya menghubungkan pemikiran sosiologi dengan observasi sejarah. Menjelang kematiannya tahun 1400, Ibnu Khaldun telah menghasilkan sekumpulan karya yang mengandung berbagai pemikiran yang mirip dengan sosiologi zaman sekarang. Ia melakukan studi ilmiah tentang masyarakat, riset empiris, dan meneliti sebab-sebab fenomena sosial. Ia memusatkan perhatian pada berbagai lembaga sosial (misalnya lembaga politik dan ekonomi) dan hubungan antara lembaga sosial tersebut. Ia juga tertarik untuk untuk melakukan studi perbandingan antara masyarakat primitif dan modern. Ibnu Khaldun tidak berpengaruh secara dramatis terhadap sosiologi klasik, tetapi setelah sarjana pada umumnya dan sarjana Muslim khususnya meneliti ulang karyanya, ia mulai diakui sebagai sejarawan yang mempunyai signifikansi historis.5 Sejumlah intelektual, seperti Gibbon (w. 1208/1794), Spengler (1947), Schweitzer (1949), Sorokin (1951), Toynbee (1957), North (1973), Kennedy (1987), dan intelektual-intelektual yang lain di era modern banyak membahas masalah kemajuan dan keruntuhan peradaban. Meskipun analisa-analisa mereka itu memberikan informasi yang bermanfaat, tetapi agaknya model analisa Ibnu Khaldun
4 5

Chapra (2001). Ibid., hal. 181 Ritzer (2005), Op., Cit., hal. 8.

1

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

tentang sosial-ekonomi dan dinamika politik sebagaimana dijabarkan dalam bukunya, Muqaddimah, adalah buku yang paling sesuai dalam menganalisa kemajuan dan kemunduran umat Islam. Sebab buku ini memang dipersiapkan secara khusus bagi peradaban Islam, yang telah mengalami kemunduran pada masa hidupnya. Bahkan pemikirannya juga memberikan andil yang sangat besar dalam perkembangan keilmuan baik di wilayah Eropa maupun di Dunia Islam. Tak mengherankan kemudian, kalau kalangan akademisi dunia banyak mengadakan hajatan penting untuk menggali kembali kazanah pemikiran beliau. Dalam rangka memperingati 600 tahun wafatnya ilmuwan besar ini pada bulan November 2006 setidaknya telah digelar tiga konferensi internasional, yaitu: pertama di Madrid, Spanyol atas kerja sama Islamic Research and Training Institute IDB dengan Universidad Nacional de Educacion a Distance (UNED) dan Pusat Kebudayaan Islam setempat; kedua, di kampus Johann Wolfgang Goethe-Universitaet Frankfurt, Jerman; dan ketiga di ISTAC Kuala Lumpur, Malaysia dengan tema: Ibn Khaldun's Legacy and Its Contemporary Significance. 6 Konferensi ini mengundang para akademisi dari berbagai belahan dunia untuk memaparkan penelitiannya yang khusus berkaitan dengan pemikiran Ibnu Khaldun dalam berbagai disiplin ilmu. D. Manfaat Penelitian Pemikiran Ekonomi John Maynard Keynes, seorang ekonom kondang Abad 20, telah memberikan gambaran yang jelas betapa besarnya pengaruh pemikiran ahli ekonomi terhadap peradaban manusia. Keynes, 70 tahun-an yang lalu menyatakan bahwa; “Gagasan-gagasan ahli ekonomi dan ahli filsafat, entah itu salah atau benar, ternyata lebih kuat ketimbang apa yang kita pahami secara umum. Memang, dunia ini diatur oleh segelintir orang lain. Manusia-manusia praktis, yang percaya bahwa diri mereka sendiri bebas dari setiap pengaruh intelektual, biasanya adalah budak dari ahli-ahli ekonomi yang telah meninggal”.7 Dalam konteks perkembangan ilmu, semua ilmu sosial adalah ‘a dynamic science’, bukan ilmu yang sudah jadi dan kemudian terbakukan dan tidak bisa diungkit-ungkit lagi untuk dipersoalkan. Ilmu sosial adalah ilmu yang senantiasa dalam ‘proses’, konsep baru muncul untuk mengantikan konsep lama, teori baru mengantikan teori lama, asumsi-asumsi baru menolak asumsi-asumsi lama dan seterusnya. Ilmu sosial yang didalamnya berisikan konsep filosofis, sosiologis, historis, metodologis serta bahasa harus senantiasa ‘digugat’ dan ‘diperdebatkan’ agar ia tetap menjadi ‘a dynamic science’. Begitu juga ilmu ekonomi sebagai bagian dari ilmu sosial harus dikaji secara kritis. Seperti dikatakan oleh H.L. Bhatia: “Economic science is also a result of the same process and includes doctrines and generalizations which deal with economic phenomena of our life.” Sedangkan “Economic Thought would be taken to cover the set of theories,

6 Lihat Arif, Syamsudin, Refleksi 600 Tahun Wafatnya Ibnu Khaldun; Pangkal Kejatuhan dan Kejayaan Bangsa, Selasa, Republika, 14/11/ 2006 dan Hidyatullah, November 2006. 7 John Maynard Keynes, The General Theory of Employment, Interest and Money. Dikutip Steven Pressman, Fifty Major Economists. Edisi terj. Lima Puluh Pemikir Ekonomi Dunia, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2000, hal. VII.

2

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

doctrines, laws and generalizations, and analyses applied to the study and solution of economic phenomena and problems.”8 Ketika ilmu ekonomi dan pemikiran ekonomi tidak dikaji secara kritis melalui pembongkaran asumsi-asumsi yang ada didalamnya; baik konsep filosofis, sosiologis, metodologis dan historisnya maka ia akan menjadi doktrin-doktrin konsep serta doktrin-doktrin teori yang akan kehilangan relevansi dengan konteks realitas yang ada. Salah satu hal yang penting untuk melakukan hal itu adalah dengan melakukan bedah historis pemikiran ekonomi, untuk menemukan ‘originalitas’ pembentukan sebuah konsep ataupun teori. Menurut Lewis H. Haney, kajian pemikiran ekonomi “may be defined as a critical account of the development of economic ideas, searching into their origins, interrelations, and manifestasion.”9 Sehingga melalui kajian sejarah pemikiran ekonomi yang mulai dilupakan ini akan terbentuk perspektif yang utuh dan tidak terulang kesalahan-kesalahan masa lalu untuk ‘penentuan kebijakan’, baik bagi akademisi maupun pemegang kuasa. Konsep sejarah yang harus digunakan bukan hanya sejarah ‘barat’ dengan bertitik tolak pada masa ‘enlightenment’ Eropa tetapi dengan perspektif sejarah sebagai kesatuan sejarah dunia (world history) yang utuh. Dari periode Babilonia, Mesir, Yunani, Romawi, Islam, Barat dan ‘era baru’ ini.10 Kajian historis pemikiran ekonomi akan melahirkan gambaran yang jelas bagaimana proses lahirnya sebuah konsep maupun pemikiran ekonomi. Adapun manfaat mempelajari sejarah pemikiran ekonomi adalah: “The study of economic thought lends a perspective to the subject and enables the student to have a wider view of what he is studying. ... Secondly, a knowledge of economic thought enables a student to realize that economics is a dynamic science.... . Thirdly, a study of a history of economic aspect are only a part of the totality of our life. Economics is only one of the social sciences.” 11 Dengan demikian ini kita berharap ilmu ekonomi yang merupakan ilmu sosial tetap menjadi “a dynamic science” yang bisa bermanfaat bagi manusia, bukan membuat kemudharatan dan ketidakadilan. E. Ibnu Khaldun diantara Pemikir Muslim Dalam kajian sejarah pemikiran ekonomi dunia terjadi ‘penghilangan’ faktafakta sejarah, dimana andil pemikir-pemikir muslim tertutupi. Joseph Schumpeter (1954) dalam bukunya “History of Economic Analysis” menyatakan adanya great gap dalam sejarah pemikiran ekonomi selama 500 tahun, rentang antara Aristoteles (367322 SM) sampai dengan St. Thomas Aquinas (1225-1274 M). Masa ini bersamaan dengan akhir masa keemasan Graceo Roma di abad ke-8 Masehi, sangat sedikit sekali ditemukan pemikiran dan teori ekonomi yg signifikan dihasilkan, bahkan masa ini berjalan hingga abad ke-13. Selama kurang lebih lima abad tersebut, tidak begitu banyak teori dan karya ekonomi yg dihasilkan oleh para pemikir di dunia barat. Bila diteliti lebih dalam, ternyata pada saat tersebut adalah masa kegelapan dunia barat
8 H L Bhatia, History of Economic Thought, Vikas Publishing House PVT LTD, Fourth Revised Edition, New Delhi, 1978, p.1. 9 Lewis H. Haney, History of Economic Thought, 4th ed,. Macmillan, 1949, p.4. Dikutip H L Bhatia, Op.Cit. p.3. 10 Saya menyebut era baru, karena pergulatan pemikiran sekarang mengarah pada partikularitas sesuai peradabanperadaban besar yang mulai bangkit (Islam, Cina, Jepang dll), dan kedepan belum jelas siapa yang dominan. 11 H L Bhatia, Op., Cit. p.9-11.

3

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

(dark age) terhadap dunia keilmuan dan sains. Pada saat itu pengaruh gereja sangatlah kental terasa, dimana mereka membatasi para ahli dan ilmuwan untuk menghasilkan karya ilmiah, termasuk karya di bidang ekonomi.12 Di sisi lain, ternyata abad kegelapan yang dialami oleh dunia barat justru berbanding terbalik dengan perkembangan keilmuan pada dunia Islam. Pada masa tersebut adalah masa keemasan umat Islam, dimana banyak para ilmuwan muslim berhasil memberikan karya-karya ilmiah yang signifikan, salah satunya dalam perkembangan dunia ilmu ekonomi. Banyak ilmuwan muslim yang menulis, meneliti, dan menghasilkan teori-teori ekonomi yang hasilnya hingga sekarang masih relevan untuk dipelajari dan diterapkan. Beberapa ilmuwan muslim yang berhasil menghasilkan karya fenomenal pada teori ekonomi diantaranya adalah Ibnu Taimiyyah, Ibnu Rushd, Ibnu Khaldun, Al Ghazali, dan masih banyak lagi. Pada masa kejayaan Islam terjadi ini, para Mahasiswa eropa berbondong-bondong belajar ke negeri muslim. Mereka menjadi inspirator dan pelopor pencerahan eropa setelah mencuri ide-ide dari negeri muslim, St. Thomas Aquinas misalnya pemikiran ekonominya banyak bertentangan dengan dogma gereja sehingga para sejarawan menduga dia telah mengambil ide-ide itu dari ekonom muslim. Adapun proses ‘pengambilan ide’ terjadi dalam berbagai bentuk. Pada abad ke-11 dan ke-12, sejumlah pemikir Barat seperti Constantine The African, Adelard of Bath melakukan perjalanan ke Timur Tengah Mereka belajar bahasa Arab dan melakukan studi serta membawa ilmu-ilmu baru ke Eropa. Leonardo Fibonacci atau Leonardo of Pisa belajar di Bougie, Aljazair pada abad ke 12, ia juga belajar matematika dan aritmatika al Khawarizmi (780-850 M) dan sekembalinya dari sana menulis buku Liber Abaci pada tahun 1202. Raymond Lily (1223-1315 M) telah melakukan perjalanan kenegara-negara Arab yang mendirikan lima universitas yang mengajarkan bahasa Arab sehingga banyak yang menerjemahkan karya-karya pemikir muslim. Diantara penerjemah itu antara lain; Constantine The African, Adelard of Bath, Michael Scot, Herman The German, Dominic Gundislavi, John of Sevile, Plato of Tivoli, William of Luna, Robert Chester, Gerrard of Cremona, Theodorus of Antioch, Alfred Sareshel, Berenger of Valancia, dan Mathew of Aquasparta. Selain itu ada penerjemah-penerjemah yahudi diantaranya Jacob of Anatolio, Jacob ben Macher, Ibn Tibbon, Kaloynmus ben Kalonymus, Moses ben Solomon of Solon, Shem Tob ben Isaac of Tortosa, Solomon ibn Ayyub, Todros Todrosi, Zerahiah Gracian, Faraj bin Salim, dan Yaqub ben Abbon Marie. Adapun pandangan ekonomi dari pemikir muslim yang diterjemahkan adalah karya al Kindi, al Farabi, Ibnu Sina, al Ghazali, Ibnu Rusyd, al Khawarizmi, Ibnu Haitham, Ibnu Hazm, Jabir Ibnu Hayan, Ibnu Bajja, dan ar Razi.13 Beberapa pemikiran ekonom muslim yang dicuri tanpa pernah disebut sumber kutipannya;14 Teori Pareto Optimum yang diambil dari Nahjul Balaqhah Imam Ali, Beberapa Bab Ihya Ulumuddin Al-Ghazali disalin oleh Bar Hebraeus (pendeta Syriac Jacobite Church), Gresham Law dan Oresme Treatise dari kitab Ibnu Taimiyah, Bab dalam Buku Al-Ghazali (Tahafut Al Falasifa, Maqasid Falasifa, Al Munqid, Misykat al Anwar dan Ihya) banyak disalin Raymond Martini Pendeta Gereja Spanyol Ordo Domincian, banyak bab dari al-Farabi yang disalin St. Thomas Aquinas dan karya Abu Ubaid Al-Amwal diduga merupakan pemberi inspirasi bagi The Wealth of Nations-nya Adam Smith
Lihat Karim, Adiwarman A., 2003. Ekonomi Mikro Islami. Jakarta: IIIT, hal. 15. Karim, Adiwarman A., 2002. Ekonomi Mikro Islami. Jakarta: IIIT, hal. 5. 14 Ibid., hal. 5.
13 12

4

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

Sejarah telah membuktikan bahwa para pemikir muslim banyak yang menjadi penemu, peletak dasar dan pengembang berbagai bidang ilmu. Dari filsafat, matematika, astronomi, ilmu optik, biologi, kedokteran, sejarah, sosiologi, psikologi, pedagogi, sastra dan juga ekonomi. Para pemikir muslim tidak melakukan pengkotakkotakan ilmu seperti yang dilakukan para pemikir saat ini yang lebih memfokuskan satu disiplin. Sehingga mereka adalah pemikir interdisipliner yang menguasai berbagai bidang ilmu. Para pemikir yang memberikan kontribusi dalam kazanah pemikiran ekonomi dapat dikategorikan dalam empat fase;15 1. Fase awal terdapat Zaid bin Ali (w. 738), Abu Hanifa (w. 767), al Auza’i (w. 774), Malik (w.796), Abu Yusuf (w. 798), Muhammad bin Hassan Al Shabani (w.804), Yahya ibn Adam Al Qarashi (w.818), Syafi’i (w. 820), Abu ‘Ubaid al Qasim bin Salam (w.838), Ahmad bin Hanbal (w.855), Harits Bin Asad Al Muhasibi (w.859), Junaid Baghdadi (w. 910), Qudamah bin Ja’far (w.948), Al Masudi (w. 957), Abu Ja’far Al Dawudi (w. 1012), Ibnu Miskawih (w. 1030), al Mawardi (w. 1058). 2. Fase kedua, Ibnu Hazm (w. 1064), al-Sarakhsi (w. 1090), al Tusi (w. 1093), alGhazali (w. 1111), al-Dimasyqi (w. 1175), Ibnu Rusyd (w. 1198), Ibnu Taimiyah (w. 1328), Ibnu al Ukhuwah (w. 1329), Ibnu al Qoyyim (w. 1350), asy-Syatibi (w. 1388), Ibnu Khaldun (w. 1404). 3. Fase ketiga terdapat al-Maqrizi (w. 1442), al-Dawwani (w.1511), Shah Waliullah (w. 1762), Muhammad Iqbal (w. 1938). 4. Fase keempat dengan tiga madzhab ekonomi Islam antara lain; Muhammad Baqir as-Sadr, Abas Mirakhor, Baqir al-Hasani, Kadim as-Sadr, Iraj Toutounchian, Hedayati, Khursid Ahmad, Anas Zarqa, Monzer Khaf, Umar Chapra, Mabid Ali Mohamad Al-Jarhi, MA. Manan, Muhammad Nejatullah Siddiqi, Masudul Coudory, Timur Kuran, Jomo, Muhammad Arief, dll. Dalam kategorisasi ini terlihat bahwa Ibnu Khaldun berada pada akhir masa fase kedua, yang ditandai oleh masa kemunduran peradaban Islam. Ibnu Khaldun telah menyusun hubungan sebab akibat antara pemerintah yang buruk dan harga gandum yang tinggi dengan menjelaskan bahwa dimasa akhir dinasti, ketika administrasi publik menjadi buruk dan tidak efisien, dan munculnya perpajakan yang memaksa dan menindas, petani-petani tidak memiliki insentif dan tidak adanya keuntungan dari bercocok tanam. Produksi dan persediaan gandum gagal berpacu kenaikan jumlah penduduk seiring dengan kemakmuran yang dicapai. Kelangkaan persediaan menyebabkan kekurangan pasokan dimasa paceklik sehingga menyebabkan naiknya harga.16 Analisis Ibnu Khaldun kemudian juga digunakan oleh al-Maqrizi (pemikir fase ketiga), seorang muhtasib (pengawas pasar) yang telah mengetahui benar kondisi15 Penetapan fase mengikuti kategori yang dibuat Nejatullah Shidiqqi yang terdapat dalam buku Sadeq, Abul Hasan M. and Ghazali, Aidit (1992). Selanjutnya untuk melengkapi nama-nama pemikir muslim yang telah turut andil mengembangkan pemikiran ekonomi dilengkapi dari literatur: Ahmad, Khursid (ed.), 1980. Studies in Islamic Economics. UK: The Islamic Foundation.; Abul Hasan M. and Ghazali, Aidit (Eds.), 1992. Reading in Islamic Economics Thought. Malaysia: Longman.; Chapra M. Umar, 2000. The Future of Economics; An Islamic perspective. UK: The Islamic Foundation.; Perwaatamadja, Karnaen A., 2000. Kajian Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Yogyakarta: UGM.; Karim, Adiwarman A. (ed.). 2001. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: IIIT.; Karim, Adiwarman A., 2002. Ekonomi Mikro Islami. Jakarta: IIIT. 16 Muqaddimah, hal. 301-2 dalam Chapra, Ibid., hal 171.

5

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

kondisi ekonomi selama hidupnya, untuk mengkritik penguasa Circassia atau Burji Mamluks (784-922/1382-1317) dalam karyanya Ighatsah al Ummah bi Kasf alGhummah (Membantu Masyarakat dengan Mengungkapkan Penyebab-penyebab dari Penderitaan Tersebut) dan menjelaskan sebab-sebab krisis-krisis ekonomi di Mesir selama periode 806-8/1403-6. Ia mengidentifikasikan bahwa administrasi politik menjadi sangat lemah dan buruk selama periode Circassia. Pegawai pemerintahan ditunjuk atas dasar pemberian suap daripada kemampuan. Untuk menutupi uang suap, petugas melakukan perpajakan yang bersifat menindas. Dorongan untuk bekerja dan memproduksi menjadi bertolak belakang dan hasil produksi menurun. Krisis diperburuk oleh penurunan nilai mata uang, karena pengeluaran mata uang tembaga yang berlebihan atau fiat money untuk menutupi defisit anggaran negara. Faktorfaktor ini ditambah lagi dengan masa paceklik mendorong kepada tingginya derajat inflasi, penderitaan rakyat kecil dan kemiskinan negara. Oleh karenanya, al-Maqrizi mengeluarkan ketentuan-ketentuan sosial-ekonomi untuk mengatasi “krisis sistem” dengan sejumlah variabel seperti korupsi, peraturan pemerintah yang buruk, dan administrasi yang lemah. Semua ini bersama-sama memainkan peranan dalam memperburuk situasi paceklik, yang di lain pihak sebenarnya dapat ditangani tanpa mengakibatkan kerugian bagi penduduk.17 F. Penelitian Pemikiran Ibnu Khaldun Dalam perkembangan ekonomi Islam kontemporer, Ibnu Khaldun juga dianggap sebagai bapak ilmu ekonomi, karena banyak teori dan pemikiran ekonominya yang jauh mendahului Adam Smith, Ricardo, Malthus, dan Keynes. Beliau telah melakukan analisis fenomena ekonomi lebih dari tiga Abad mendahului para pemikir Barat modern tersebut. Konsep dan analisisnya banyak dijumpai dalam Muqaddimah, yang sesungguhnya merupakan volume pertama dari tujuh volume karya raksasa beliau Kitab al-‘Ibar, atau judul lengkapnya Tarjuman al-'Ibar wa Diwan al-Mubtada' wal Khabar fi Ayyam al-'Arab wal Barbar wa man 'Asharahum min Dzawis-Sulthan al-Akbar. Menurut penelitan Jean David C. Boulakia yang dipublikasikan dalam jurnal prestisius Chicago University, The Journal of Political Economy (Vol. 79, No. 5, 1971) dengan judul “Ibn Khaldun: A Fourteenth-Century Economist”, nama beliau harus diperhitungkan diantara Tokoh Perintis Ilmu Ekonomi. Bahkan Boulakia mengatakan, “sangat bisa dipertanggung jawabkan jika kita menyebut Ibnu Khaldun sebagai salah seorang bapak ilmu ekonomi”. Hal ini dikarenakan beliau banyak menemukan prinsip-prinsip fundamental ekonomi jauh sebelum kelahiran “resmi”nya. Seperti: Theory of a division of labor, sebelum Adam Smith; Principle of labor value, sebelum David Ricardo; Theory of population, sebelum Thomas R. Malthus; Role of the state on the economy, sebelum J. M. Keynes; serta berbagai fenomena dan mekanisme ekonomi seperti teori harga, teori uang, pajak, perdagangan internasional; dll. Selain itu, beliau mempergunakan konsep-konsep tersebut untuk membangun sebuah sistem dinamik yang koheren, dimana mekanisme ekonomi secara pasti berpengaruh pada aktivitas ekonomi pada fluktuasi jangka panjang. Sebelum Ibnu Khaldun, kajian-kajian ekonomi di dunia Barat masih bersifat normatif, adakalanya dikaji dari perspektif hukum, moral dan ada pula dari perspektif filsafat. Karya-karya tentang ekonomi oleh para ilmuwan Barat, seperti ilmuwan
17

Chapra, Ibid., hal 171.

6

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

Yunani dan zaman Scholastik bercorak tidak ilmiah karena pemikir zaman pertengahan tersebut memasukkan kajian ekonomi dalam kajian moral dan hukum. Berbeda dengan para penulis sebelumnya, Ibnu Khaldun dalam analisisnya berusaha objektif. Pendekatan yang dipakainya tidak normatif, akan tetapi empiris-positivistik. Uraiannya berpijak pada das Sein dan bukan das Sollen, pada apa yang sesungguhnya terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi. Mengkaji problem ekonomi masyarakat dan negara secara empiris, menjelaskan fenomena ekonomi secara aktual. M. Hilmi Murad (1962) juga membuktikan secara ilmiah bahwa Ibnu Khaldun sebagai pengagas pertama ilmu ekonomi secara empiris, melalui karya ilmiah berjudul “Abul Iqtishad: Ibnu Khaldun (Ibnu Khaldun: Bapak Ekonomi)”. Karya tersebut disampaikan pada simposium tentang Ibnu Khaldun di Mesir tahun 1978. Dr. Nejatullah Shiddiqi (1976) juga memiliki kesimpulan yang sama bahwa Ibnu Khaldun secara tepat dapat disebut sebagai ahli ekonomi Islam terbesar. Menurutnya, Ibnu Khaldun telah membahas aneka ragam masalah ekonomi yang luas.18 Selain itu, juga telah banyak ilmuwan terkemuka kontemporer yang meneliti dan membahas pemikiran ekonomi Ibnu Khaldun. Berdasarkan penelitian Agustianto (2005), pembahas tersebut diantaranya:19 Dr. Ezzat Al-Alfi menulis disertai berjudul “Production, Distribution and Exchange in Khaldun's Writing” (University of Minnesota, 1968); Dr. M. Ali Nash’at menulis disertasi berjudul, “al-Fikr al-Iqtisadi fi Muqaddimat Ibn Khaldun (Economic Thought in the Prolegomena of Ibn Khaldun)” (Cairo University,1944); Franz Rosenthal dengan “Ibn Khaldun the Muqaddimah, An Introduction to History” (1958); J.J. Spengler menulis “Economic Thought of Islam: Ibn Khaldun” (1964); Syed Ahmad Ali dengan “Economics of Ibn Khaldun-A Selection” (1970); dan M. Abdul Qadir dengan “Ibn Khaldun ke Ma’ashi Khayalat (Economic Views of Ibn Khaldun)” (1942) dan “Ibn Khaldun ke Ma’ashirati, Siyasi, Ma’ashi Khalayat (Social, Political and Economic Ideas of Ibn Khaldun)” (1943). Selain itu juga kajian Sayyid Mubariz al-Din Rif’at dengan judul “Ma’ashiyat par Ibn Khaldun ke Khalayat (Ibn Khaldun’s Views on Economics)” (1937); Joseph De Somogyi dengan karya, “Economic Theory in the Classical Arabic Literature”; Ibrahim al-Tahawi dengan “al-Iqtisad al-Islami Madhhaban wa Nizaman wa Dirasah Muqaranh (Islamic Economics-a School of Thought and a System, a Comparative Study)” (1974); T.B. Irving dengan “ Ibn Khaldun on Agriculture”, (1955); dan M. Abdus Sattar dengan bukunya “Ibn Khaldun’s Contibution to Economic Thought” dalam Contemporary Aspects of Economic and Social Thingking in Islam (Canada,1973). Bukti-bukti ini menunjukkan kebesaran dan kepeloporan Ibnu Khaldun sebagai intelektual terkemuka yang telah merumuskan pemikiranpemikiran genial tentang ekonomi. G. Kontribusi Pemikiran Ibnu Khaldun dalam Ekonomi Modern Menurut Chapra (2001), beragamnya kontribusi pemikiran Ibnu Khaldun mengalami penyempurnaan di dalam bukunya Muqaddimah. Sebagai ahli ilmu sosial, Ibnu Khaldun sangat menyadari bahwa mengembalikan kejayaan itu tidak dapat dilaksanakan tanpa mengambil hikmah pelajaran (‘Ibar) dari sejarah yang telah terjadi. Hikmah tersebut dapat digunakan untuk menentukan faktor-faktor yang menyebabkan sebuah peradaban dapat berkembang dari permulaan yang sederhana
Agustianto (2005), “Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun dan Signifikansinya dalam Konteks Kekinian”, paper tidak diterbitkan. 19 Agustianto (2005), Ibid.
18

7

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

dan mengalami kemunduran setelahnya. Muqaddimah adalah hasil dari realisasi pemikiran Ibnu Khaldun dan secara ilmiah, Muqaddimah berusaha untuk menyajikan prinsip-prinsip yang menyebabkan kejayaan atau keruntuhan sebuah dinasti, negara (dawlah) atau peradaban (‘umran). Prinsip-prinsip ini mencerminkan sunnatullah. 20 Karena fokus kajian Ibnu Khaldun adalah manusia, ia memahami kejayaan dan keruntuhan sebuah dinasti atau peradaban sebagai faktor yang terkait erat dengan kesejahteraan atau kesengsaraan rakyat. Di dalam analisis Ibnu Khaldun, kejayaan dan keruntuhan bukan hanya tergantung pada variabel-variabel ekonomi, tetapi juga tergantung pada faktor-faktor lain yang menentukan kualitas perorangan, masyarakat, pemerintahan dan negara. Karena itu Muqaddimah mencoba untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tersebut yang telah disebut sebelumnya, dengan menganalisa secara rinci peranan yang berkaitan antara faktor-faktor agama, psikologi, politik, ekonomi, sosial, demografi dan sejarah dalam kejayaan atau keruntuhan suatu pemerintahan ataupun peradaban. Ibnu Khaldun khaldun mempunyai pandangan yang jelas bagaimana faktor-faktor dinamika sosial, moral, ekonomi dan politik yang berbeda namun saling berhubungan satu sama lain berperan bagi kemajuan maupun kemunduran sebuah lingkungan masyarakat. Menurut Chapra, Muqaddimah banyak berisi pembahasan panjang lebar tentang prinsip-prinsip ekonomi. Tidak diragukan lagi bahwa Muqaddimah merupakan bagian penting kontribusi pemikiran Ibnu Khaldun tentang pemikiran-pemikiran ekonomi. Lebih dari itu Ibnu Khaldun juga mendapat pengakuan atas perumusan dan pemahamannya yang lebih jelas dan mendalam dari pendahulu dan teman sejawatnya di Dunia Islam. Pengetahuan Ibnu Khaldun tentang prinsip-prinsip ekonomi sangat dalam dan jauh ke depan sehingga sejumlah teori yang ia gagas hampir enam abad yang lalu tanpa diragukan lagi dianggap sebagai pelopor bagi formulasi teori yang lebih modern dan canggih. Bahkan banyak pemikirannya yang masih relevan dan juga diadopsi oleh pemikir ekonomi modern.21 Menurut Boulakia, Ibnu Khaldun telah menyumbangkan “teori produksi, teori nilai, teori pemasaran, dan teori siklus yang dipadu menjadi teori ekonomi umum yang koheren disusun dalam kerangka sejarahnya.”22 Beberapa pemikiran akan dijelaskan dalam bagian berikutnya. 1. Teori penawaran (supply), permintaan (demand) dan harga (prices). Ibnu Khaldun mengakui adanya pengaruh permintaan dan penawaran terhadap penentuan harga.23 Hal ini sangat penting untuk diketahui karena peranan permintaan dan penawaran terhadap penentuan harga tidak begitu baik difahami di Dunia Barat sampai akhir abad ke-19 dan ke-20. Para ekonom Inggris pra-klasik seperti Wiliam Petty (1623-87), Richard Cantillon (1680-1734), James Steuart (1712-80), dan bahkan
Chapra, 2001. Ibid., hal. 150-151 Ibid. Boulakia, 1971, hal. 1106. sebagaiman dikutip Chapra, 2001. Ibid. 23 Sebelum Ibnu Khaldun, cendekiawan lain menunjukkan fungsi atau peranan permintaan dan penawaran dalam penentuan harga-harga. Contohnya, Ibnu Taymiyah menulis : “Kenaikan atau penurunan harga mungkin juga tidak dikarenakan oleh ketidakadilan atau kecurangan yang dilakukan oleh beberapa orang. Bisa saja disebabkan oleh kekurangan output atau impor dari komoditi dibutuhkan atau terdesak. Jika permintaan sebuah komoditi meningkat dan penawaran dari apa yang diminta menurun, maka harga naik. Sebaliknya, jika permintaan berkurang dan penawaran naik maka harga turun.” (Ibnu Taymiyah, Majmu’al Fatawa, 1961-3, Vol. 8, hal. 523). Bahkan sebelum Ibnu Taimiyyah, al-Jahiz (w. 255/869) menulis hampir lima abad lebih awal: “apapun yang tersedia di pasar menjadi murah karena persediaannya yang banyak, dan sulitnya jika persediaan sedikit padahal kebutuhan akan barang tersebut besar,” (al-Tabassur, 1983, hal. 13), dan bahwa “penawaran apapun yang meningkat, menjadi murah kecuali kecerdasan yang menjadi sangat berharga ketika hal itu meningkat.” (ibid., hal. 13). Lihat Chapra, 2001. Ibid., hal. 177.
21 22 20

8

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

pendiri aliran klasik yaitu Adam Smith (1723-90), secara umum hanya menekankan pada peranan biaya produksi, khususnya peranan pekerja buruh terhadap penentuan harga. Istilah-istilah permintaan dan penawaran dalam literatur Bahasa Inggris pertama kali digunakan sekitar tahun 1767. Selanjutnya, peranan atau fungsi dari permintaan dan penawaran dalam penentuan harga di pasar baru dikenal pada dekade kedua di abad ke-19. 24 Ibnu Khaldun telah menyampaikan secara implisit berkaitan dengan konsep penawaran dan konsep permintaan serta faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran dalam Muqaddimah. Ibnu Khaldun telah melakukan analisis dan membahas tentang terbentuknya harga di Kota. Dalam analisisnya, ia membagi fenomena harga berdasarkan jenis barang menjadi dua, yaitu: (1) barang kebutuhan pokok dan (2) barang pelengkap. Menurutnya, bila suatu kota berkembang dan selanjutnya populasinya bertambah banyak (menjadi kota besar), maka pengadaan barang-barang kebutuhan pokok akan mendapatkan prioritas. 25 “Ketahuilah, semua pasar menyediakan kebutuhan manusia. Di antara kebutuhan itu, ada yang sifatnya harus, yaitu bahan makanan. Ada yang merupakan kebutuhan pelengkap, seperti pakaian, perabot, kendaraan, seluruh gedung dan bangunan. Bila kota luas dan banyak penduduknya, harga kebutuhan pokok murah; da harga kebutuhan pelengkap mahal. Sebaliknya akan terjadi bila orang-orang yang tinggal di kota sedikit dan peradabannya lemah. Sebabnya, karena segala macam biji-bijian merupakan sebagian dari bahan makanan kebutuhan pokok. Karenanya, permintaan akan bahan ini sangat besar. Tak seorangpun melalaikan bahan makanannya sendiri atau bahan makanan keluarganya, baik bulanan atau tahunan. Sehingga usaha untuk mendapatkannya dilakukan oleh seluruh penduduk kota, atau sebagian besar dari pada mereka, baik didalam kota itu sendiri maupun didaerah sekitarnya. Ini tidak dapat dipungkiri. Masing-masing orang, yang berusaha untuk mendapatkan makanan untuk dirinya memiliki surplus besar melebihi kebutuhan diri dan keluarganya. Surplus ini dapat mencukupi kebutuhan sebagian besar penduduk kota itu. Tidak dapat diragukan, pendukuk kota itu memiliki makanan lebih dari kebutuhan mereka. Akibatnya harga makanan seringkali murah”.26 Selain itu Ibnu Khaldun juga memberikan analisis tentang fenomena harga di Kota-kota Kecil dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit, tetapi memunculkan fenomena tingkat harga yang seringkali tinggi. “Di kota-kota kecil dan sedikit penduduknya, bahan makanan sedikit, karena mereka memiliki surplus kerja yang kecil, dan karena melihat kecilnya kota, orang-orang khawatir kehabisan makanan. Karenanya, mereka mempertahankan dan menyimpan makanan yang telah mereka miliki. Persediaan itu sangat berharga bagi mereka, dan orang yang mau membelinya haruslah membayar dengan harga yang tinggi.”27 Menurut Karim (2003), kondisi ini dapat dijelaskan dengan grafis sebagai berikut:28 supply bahan pokok penduduk kota besar (Qs2) jauh lebih besar dan pada
24 Merujuk tulisan Thweatt, W. O., 1983. “Origins of the Terminology, Supply and Deman”, Scottish Journal of Political Economy, hal. 287-294. dan Groenwegen, P. D., 1973. “A Note on Origin of the Phrase, Supply and Demand”, Economic Journal, hal. 505-509. Sebagaiman dikutip Chapra, Ibid. 25 Ibnu Khaldun, 2000. Muqaddimah. Edisi Indonesia. Jakarta: Pustaka Firdaus, hal. 421-423. 26 Ibnu Khaldun, 2000. Muqaddimah. Ibid., hal. 421. 27 Ibnu Khaldun, 2000. Muqaddimah. Ibid., hal. 422. 28 Lihat Karim, Adiwarman A., 2003. Ekonomi Mikro Islami. Edisi Kedua. Jakarta: IIIT, hal. 230-231.

9

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

supply bahan pokok penduduk kota kecil (Qs1). Dimana menurut Ibnu Khaldun, penduduk kota besar memiliki supply bahan pokok yang melebihi kebutuhannya sehingga harga bahan pokok di kota besar relatif lebih murah (P2). Sementara itu, supply bahan pokok dikota kecil relatif kecil, karena itu orang-orang khawatir kehabisan makanan sehingga harganya relatif lebih mahal (P1). Gambar 1. Harga Kebutuhan Pokok di Kota Besar dan Kota Kecil

Disisi lain, permintaan terhadap barang-barang pelengkap akan meningkat seiring berkembangnya peradaban kota dan berubahnya gaya hidup masyarakatnya. Ibnu khaldun menjelaskan: “Barang pelengkap lainnya, seperti bumbu, buah-buahan, dan lain sebagianya, tidak merupakan bahan yang bersifat umum. Untuk memperolehnya tidak perlu mengerhakan semua penduduk kota atau sebagian besar dari padanya. Kemudian, bila suatu tempat telah makmur, padat penduduknya, dan penuh dengan kemewahan, disitu akan timbul kebutuhan yang besar akan barangbarang di luar barang kebutuhan sehari-hari. Tiap orang berusaha membeli barang mewah itu menurut kesanggupannya. Dengan demikian, persediaan tidak mencukupi kebutuhan; jumlah pembeli meningkat sekalipun persediaan barang itu sedikit, sedang orang kaya berani membayar tinggi, sebab kebutuhan mereka makin besar. Dan ini sebagaimana anda lihat, akan menyebabkan naiknya harga.29 Ibnu Khaldun juga menjelaskan bahwa barang-barang hasil industri, dan tenaga buruh, juga mahal di tempat yang makmur, di karenakan tiga hal:30 Pertama, karena besarnya kebutuhan yang ditimbulkan oleh meratanya hidup mewah dalam tempat yang demikian, dan padatnya penduduk. Kedua, gampangnya orang mencari penghidupan, dan banyaknya bahan makanan di kota-kota menyebabkan tukang-tukang (buruh) kurang mau menerima bayaran rendah bagi pekerjaan dan pelayanaannya. Ketiga, karena banyaknya orang kaya yang kebutuhannyaakan tenaga buruh dan tugang juga besar, yang berakibat dengan timbulnya persaingan dalam mendapatkan jasa pelayanan, dan pekerja, dan berani membayar mereka lebih dari nilai pekerjaannya. Ini menguatkan kedudukan para tukang, pekerja dan orang yang mempunyai keahlian, dan membawa peningkatan nilai pekerjaan mereka. Untuk itu, pembelanjaan orang kota makin meningkat.
29 30

Ibnu Khaldun, 2000. Muqaddimah., op., cit., hal. 421-422. Ibnu Khaldun, 2000. Muqaddimah. Ibid., hal. 422.

10

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

Menurut Karim (2003), fenomena ini dapat disimpulkan sebagai terjadinya proses peningkatan disposable income dari penduduk kota-kota. Naiknya disposable income dapat meningkatkan marginal propensity to consume (proporsi pendapatan untuk konsumsi) terhadap barang-barang mewah dari penduduk kota tersebut. Hal ini kemudian menciptakan permintaan baru atau peningkatan permintaan terhadap barang-brang mewah. Akibatnya harga barang mewah akan meningkat pula. Secara grafis, hal tersebut mengakibatkan terjadinya pergesaran kurva permintaan terhadap barang mewah dari D1 menjadi D2, sebagai tanda terjadinya kenaikan harga. 31 Gambar 2. Kurva Kenaikan Harga Barang Mewah

Ibnu Khaldun juga telah menjelaskan mekanisme permintaan dan penawaran dalam menentukan harga keseimbangan. Secara lebih rinci, ia menjabarkan pengaruh persaingan di antara konsumen untuk mendapatkan barang pada sisi permintaan. Berikutnya, ia menjelaskan pula pengaruh biaya produksi karena pajak dan pungutanpungutan lain di kota tersebut pada sisi penawaran. “Bea cukai biasa, dan bea cukai lainnya dipungut atas bahan makanan di pasarpasar dan di pintu-pintu kota demi raja, dan para pengumpul pajak menari keuntungan dari transaksi bisnis untuk kepentingan mereka sendiri. Karenanya, harga di kota lebih tinggi dari pada di padang pasir.”32 Fenomena ini menjelaskan bahwa harga-harga di padang pasir atau di desa-desa lebih murah, disebabkan karena tidak mengandung pajak (tidak kena pajak), sementara harga-harga barang di kota memiliki kandungan pajak dan berbagai pungutan yang lain, sehingga lebih mahal. Menurut Karim (2003), ditinjau dari segi biaya produksi, pengenaan pajak tersebut akan meningkatkan harga jual, sehingga akhirnya akan mengakibatkan kenaikan harga. Dalam grafis, perbedaan harga tersebut dapat dilihat antara P1 (harga di padang pasir/desa) dengan P2 (harga di kota) karena pengaruh pajak. Biaya produksi di apdang pasir/desa lebih rendah dibandingkan di kota. Hal ini berarti bahwa, Average Variable Cost (Biaya Variabel Rata-rata) di padang pasir (AVC1) lebih rendah dibandingkan dengan Average Variable Cost di kota (AVC2). Dengan demikian, Marginal Cost di padang pasir/desa (MC1) lebih rendah dibandingkan dengan Marginal Cost di kota (MC2). Sebagaimana lazim diketahui, bagian kurva Marginal Cost yang terletak diatas kurva Average Variable Cost merupakan Kurva Penawaran. Oleh karena itu dengan menarik kurva permintaan D, akan didapatkan dua titik equilibrium (keseimbangan), yaitu: titik A (mencerminkan harga di padang
31 32

Karim, 2003, op., cit., hal. 232. Ibnu Khaldun, 2000. Muqaddimah. op., cit., hal. 422.

11

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

pasir/desa, P1 dan kuantitas barang di pdang pasir/desa, Q1); dan titik B (harga di kota, P2 dan kuantitas barang di kota, Q2). Titik A merupakan perpotongan antara kurva penawaran 1 (S1) dengan kurva permintaan (D). Sedangkan titik B merupakan perpotongan antara kurva penawaran 2 (S2) dengan kurva permintaan (D). Dengan demikian terlihat jelas, bahwa harga di titik B (di kota) lebih tinggi dari pada harga di titik A (di padang pasir/desa). Gambar 3. Pengaruh Pajak Terhadap Pembentukan Harga di Kota dan Desa

Pada bagian lain, Ibnu Khaldun juga menjelaskan faktor yang berpengaruh terhadap naik turunnya penawaran terhadap harga. Ia mengatakan: “Ketika barang-barang yang tersedia sedikit, harga-harga akan naik. Namun bila jarak antar kota dekat dan aman untuk melakukan perjalanan, akan banyak barang yang diimpor sehingga ketersediaan barang akan melimpah dan harga akan turun.”33 Melalui analisa tersebut, Ibnu Khaldun telah mengidentifikasikan kekuatan permintaan dan penawaran sebagai penentu keseimbangan harga. Dengan demikian, Ibnu Khaldun telah mendefiniskan bahwa harga adalah hasil dari hukum permintaan (demand) dan penawaran (supply). Jika suatu barang langka dan banyak diminta, maka harganya tinggi. Jika suatu barang berlimpah, harganya rendah. Permintaan suatu barang adalah berdasarkan kegunaan (utility) barang tersebut, dan tidak selalu karena kebutuhan. Pandangan ini sangat mirip dengan hukum permintaan dan penawaran dalam ekonomi modern. Ibnu Khaldun menekankan bahwa kenaikan penawaran atau penurunan permintaan menyebabkan kenaikan harga, demikian pula sebaliknya. Ia percaya bahwa akibat dari rendahnya harga yang terjadi sangat drastis akan merugikan pengrajin dan pedagang dan mendorong mereka keluar dari pasar, sedangkan akibat dari tingginya harga yang naik secara drastis sangat menyusahkan konsumen. Harga ‘damai’ dalam kasus seperti ini tentunya diharapkan oleh kedua belah pihak, karena ia tidak saja memungkinkan para pedagang mendapatkan tingkat pengembalain yang ditolerir oleh pasar dan juga mampu menciptakan kegairahan pasar dengan meningkatan penjualan untuk memperoleh tingkat keuntungan dan kemakmuran
33 Ibnu Khaldun, The Muqaddimah. English edition transl. Franz Rosental, p. 338. sebagaimana dikutip Karim (2003), op., cit., hal. 234.

12

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

tertentu. Sayangnya, harga yang rendah dibutuhkan karena memberikan kelapangan bagi kaum miskin yang menjadi mayoritas dalam sebuah populasi. Jika menggunakan istilah modern, dapat dikatakan bahwa Ibnu Khaldun menemukan tingkat harga yang stabil dengan biaya hidup yang relatif rendah menjadi pilihan, dengan sudut pandang pertumbuhan dan keadilan dalam perbandingan masa inflasi dan deflasi. Inflasi merusak keadilan, sedangkan deflasi mengurangi insentif dan efisiensi. Harga rendah untuk kebutuhan pokok seharusnya tidak dicapai melalui penetapan harga baku oleh negara karena hal ini merusak insentif bagi produksi.34 Faktor yang menetapkan penawaran menurut Ibnu Khaldun adalah:35 permintaan, tingkat keuntungan relatif, tingkat usaha manusia, besarnya tenaga buruh termasuk ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, ketenangan dan keamanandan kemampuan teknik dan perkembangan masyarakat secara keseluruhan. Semua ini merupakan elemen-elemen penting dari teori produksinya. Jika harga turun dan menyebabkan kebangkrutan, modal menjadi hilang, insentif untuk penawaran menurun, dan mendorong munculnya resesi. Pedagang dan pengrajin pun menderita. Faktor-faktor yang menentukan permintaan adalah pendapatan, jumlah penduduk, kebiasaan dan adat istiadat masyarakat, serta pembangunan dan kemakmuran masyarakat secara umum. Sementara Ibnu Khaldun terus bergerak jauh dari para ekonom konvensional, kemungkinan ia tidak memikirkan grafik penawaran dan permintaan, elastisitas penawaran dan permintaan, dan yang utama adalah keseimbangan harga yang memainkan peranan dalam diskusi ekonomi modern.36 Ibnu Khaldun juga merinci bahwa harga suatu barang terdiri dari tiga unsur, yaitu: gaji untuk produsen, laba untuk pedagang, dan pajak untuk pemerintah. Perbedaan harga barang bahan makanan yang dihasilkan dari tanah subur dan tanah tidak subur, disebabkan oleh perbedaan dalam biaya produksi. Laba menurutnya adalah insentif dari keberanian mengambil resiko.37 Berkaitan dengan laba ini, Ibnu Khaldun mengatakan bahwa keuntungan yang wajar akan mendorong tumbuhnya perdagangan. Sedangkan keuntungan yang sangat rendah akan membuat lesu perdagangan karena pedagang kehilangan motivasi. Berkaitan dengan hal ini Ibnu Khaldun menjelaskan: “Bila harga suatu barang tetap rendah, baik barang itu bukan pangan, sandang dan lainnya, dan tidak ada imbangan kenaikan dalam penjualan (atau bila pasar menunjukan tidak adanya perbaikan), maka kerugian akan terjadi dari perkembangan pasar yang mengakibatkan hal-hal ini, keuntungannya berhenti bila situasi ini terus menerus demikian. Bisnis macam ini menjadi anjlok, pedagang-pedagang tidak akan berusaha untuk bekerja dalam bidang ini, dan modalnya menjadi susut.”38 Sebaliknya bila pedagang mengambil keuntungan yang sangat tinggi, hal ini akan melesukan perdagangan karena permintaan konsumen akan lemah.39

Chapra, 2001. Ibid., hal. 165-166. Chapra, 2001. Ibid., hal. 165-166. 36 Chapra, 2001. Ibid., hal. 165-166. 37 Merujuk penjelasan Jean David C. Boulakia, 1971. “Ibn Khaldun: A Fourteenth-Century Economist”. The Journal of Political Economy, Vol. 79, No. 5, pp. 1105-1118 sebagaimana dikutip Yusuf Wibisono, 2006. “Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam”. Bahan Kuliah Program Magister Bisnis dan Keuangan Islam, Univeristas Paramadina, 13 November 2006. 38 Ibnu Khaldun, 2000. Muqaddimah. op., cit., hal. 473. 39 Karim, 2003. op., cit., hal 235.
35

34

13

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

2. Teori pembagian tenaga kerja (division of labor) dan teori nilai tenaga kerja (labor theory of value). Menurut Ibnu Khaldun setiap barang memerlukan sejumlah kegiatan dan setiap kegiatan memerlukan sejumlah peralatan dan keahlian. Selain itu, organisasi sosial dari tenaga kerja ini harus dilakukan melalui spesialisasi dari pekerja. Hanya melalui spesialisasi dan pengulangan operasi-operasi sederhana-lah maka pekerja akan menjadi trampil dan dapat memproduksi barang dan jasa yang bermutu baik dengan kecepatan tinggi. Melalui spesialisasi dan kerjasam sosial, upaya manusia menjadi berlipat ganda.40 Sebelum masa Ibnu Khaldun, Imam Al Ghazali (1058-1111 M) juga telah menyampaikan tentang tahapan dan keterkaitan produksi yang beragam mensyaratkan adanya pembagian kerja, koordinasi, dan kerjasama, dengan mempergunakan contoh produk roti yang siap dimakan dengan bantuan mungkin lebih dari seribu pekerja. Al Ghazali menekankan kebutuhan terhadap pembagian tenaga kerja dengan mempergunakan contoh pabrik jarum, yang kemudian sepertinya menginspirasi Adam Smith (1723-1790 M) yang mempergunakan contoh pabrik peniti.41 Ibnu Khaldun mengesampingkan kemungkinan atau keinginan pemuasan diri, dan menekankan pembagian kerja dan spesialisasi dengan menyatakan bahwa “Menjadi jelas dan pasti bahwa seorang individu tidak akan dapat memenuhi seluruh kebutuhan ekonominya sendirian. Mereka semua harus bekerja sama untuk tujuan ini. Apa yang dapat dipenuhi melalui kerja sama yang saling menguntungkan jauh lebih besar dibandingkan apa yang dapat dicapai oleh individu-individu itu sendirian”.42 Dari sisi ini, mungkin saja ia seorang pencetus teori comparative advantage.43 Beberapa ahli ekonom barat, seperti Joseph J. Spengler, dan Charles Issawi, menemukan tulisan Ibnu Khaldun ketika melacak teori nilai (theory of value) Adam Smith dan David Ricardo untuk menemukan penjelasan yang layak atas paradoks nilai (paradox of value). Menurut Adam Smith dan selanjutnya dikembangkan lebih lanjut oleh David Ricardo, pertukaran nilai dari object (the exchange value of objects) adalah sepadan dengan waktu tenaga kerja yang digunakan dalam produksinya. Atas dasar konsep ini, Karl Marx menyimpulkan bahwa “gaji tenaga kerja harus sepadan dengan produksi dari tenaga kerja”. Karl Marx juga memperkenalkan istilah revolusionernya “nilai surplus (surplus value)” yang dianggap sebagai bentuk penghargaan yang tidak dapat dibenarkan yang diberikan kepada kapitalis, yang mengekspolitasi usaha dari kelas pekerja, atau kaum proletariat. Hanya Dapat diakui secara ilmiah bahwa Ibnu Khaldun, adalah pemikir yang pertama memperkenalkan

Boulakia, 1971. Ibid.; Karim, 2006. Ibid. Lihat Karim, Adiwarman, A., 2006. Sejarah pemikiran Ekonomi, Edisi ketiga, Jakarta: Rajawali Press. hal. 331. juga lihat Yusuf Wibisono, 2006. op., cit. 42 Muqaddimah, hal. 360. sebagaimana di kutip Chapra, 2001. Ibid., hal. 165-166. 43 Jauh sebelum Ibnu Khaldun, sejumlah cendekiawan menekankan kebutuhan akan pembagian kerja. Sebagai contoh, al-Sarakshi berkata: “petani membutuhkan kerja dari penenun untuk pakaian, dan penenun membutuhkan kerja dari petani untuk makanan dan kapas yang dibutuhkan sebagai bahan dasar pakaian..., dan oleh karenanya semua orang saling membutuhkan satu sama lain....” (Al-Sarakhasi, al-Mabsut, Vol. 30. hal. 264). Al-Dimasyqi, yang menulis satu abad kemudian lebih jauh dengan mengatakan : “tak satupun individu mampu, karena singkatnya masa hidupnya, mengelola sendiri semua industri. Jika ia mampu, ia tidak mungkin mampu untuk menguasai keterampilan dari semua industri tersebut dari awal hingga akhir. Semua industri saling memiliki ketergantungan. Pembangunan membutuhkan tukang kayu dan tukang kayu membutuhkan pandai besi dan pandai besi membutuhkan logam dan industri ini membutuhkan lahan. Rakyat, oleh karenanya, sangat perlu untuk saling bekerjasama membantu satu dengan yang lain untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.” (Al-Isharah ila Mahasin al-Tijarah, 1977, hal. 20-1). Sebagaimana dikutip Chapra, 2001. Ibid, hal. 177.
41

40

14

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

teori nilai tenaga kerja tanpa perluasan seperti Karl Marx.44 Berkaitan dengan hal ini Ahmad Alrefai dan Michael Burn (1994) memberikan catatan bahwa : Ibn Khaldun did not present a social division between capital and labor in production. In his time capital (aside from merchant capital) generally did not belong to a distinct class; most producers were craftsmen and contributed both labor and capital themselves. It was not until the Industrial Revolution that a distinct capitalist class arose.45 Menurut Abdul Qadir46, dalam pemikiran Ibnu Khaldun, tenaga kerja menempati posisi yang sentral. Bahkan secara tegas Abdul Sattar47 mengatakan teori tentang nilai tenaga kerja yang dikembangkan oleh ekonom-ekonom berikutnya berasal dari Ibn Khaldun. Ibnu al Sabil48 menganggap Ibnu Khaldun sebagai perintis (pelopor) yang jauh mendahului Karl Marx, Proudhon, dan Engels berkaitan dengan kajian tentang kemiskinan dan sebab-sebabnya. Ibnu Khaldun, memberi catatan terperinci dalam teori nilai tenaga kerjanya, menjelaskannya untuk pertama kali dalam sejarah. Adalah perlu dicatat bahwa Ibnu Khaldun tidak pernah menyebutnya sebagai sebuah “teori”, tetapi dengan mahirnya memperkenalkannya dalam analisa tenaga kerja dan usaha (labor and efforts). Kontribusi Ibnu Khaldun kemudian diambil oleh David Hume dalam Political Discourses-nya, yang di terbitkan tahun 1752: “Everything in the world is purchased by labour (segalanya di dunia ini dibeli oleh tenaga kerja)”. 49 Kutipan tersebut bahkan digunakan oleh Adam Smith sebagai catatan kaki, sebagai berikut: “What is bought with money or with goods is purchased by labour, as much as what we acquire by the toil of our body. That money or those goods indeed save us this toil. They contain the value of a certain quantity of labour which we exchange for what is supposed at the time to contain the value of an equal quantity. The value of any commodity, therefore, to the person who possesses it, and who means not to use or consume it himself, but to exchange it for other commodities, is equal to the quantity of labour which it enables him to purchase or command. Labour, therefore, is the real measure of the exchangeable value of all commodities.”50 Jika penjelasan Adam Smith dalam karya utamanya yang diterbitkan tahun 1776, dianalsia secara hati-hati, maka dapat ditemukan benihnya di dalam Muqadimah-nya Ibnu Khaldun. Menurut Ibn Khaldun, tenaga kerja merupakan sumber nilai. Hal ini penting untuk semua akumulasi keuntungan (earnings) dan
Oweiss, Ibrahim, M. “Ibn Khaldun, Father of Economics”, http://islamic-world.net/ economics/ Ibn_ Khaldun_Father_of_Economics.htm, diakses 15 November 2006. 45 Lihat Alrefai, Ahmed, and Brun, Michael, 1994. “Ibn Khaldun: Dynastic Change and Its Economic Consequences”, Arab Studies Quarterly. Belmont: Spring.Vol.16, Iss. 2; pg. 73 46 Pandangan ini merujuk tulisan Abdul al-Qadir, Muhammad, 1942. “Ibn Khaldun ke Ma’ashi Khayalat (Economic Views of Ibn Khaldun)”, Ma’arif (Azamgarh) 50(6), hal: 433-441. dan juga “Ibn Khaldun ke Ma’ashirati, Siyasi, Ma’ashi Khalayat (Social, Political and Economic Ideas of Ibn Khaldun)”, Hyderabad (Dn.), A’zam Steam Press, 1943. sebagaimana dikutip Agustiantio, 2005. op., cit., hal. 5. 47 Pandangan ini merujuk tulisan Abdus Sattar, Muhammad, 1973. “Ibn Khaldun’s Contibution to Economic Thought” dalam “Contemporary Aspects of Economic and Social Thingking in Islam”, Canada: Gary. Indiana, M.S.S. pp., 157-168. sebagaimana dikutip Agustiantio, 2005. op., cit., hal. 5. 48 Ibn al-Sabil, Waitlif Khalik, 1970. ”Islami Ishtirakiyat fil Islam (Some Aspects of Islamic Communism)”, FikrO-Nazar (Karachi), Vol. 7(7), pp: 513-526. sebagaimana dikutip Agustiantio, 2005. op., cit., hal. 5. 49 Oweiss, Ibrahim, M, 2006. op., cit. 50 Lihat Oweiss, Ibrahim, M, 2006. Ibid.
44

15

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

modal (capital). Hal tersebut menurut Ibnu Khaldun akan terlihat nyata dalam kasus usaha kerajinan. Pentingnya produksi dan kontrbusi nilai dari tenaga kerja mendapatkan penekanan lebih lanjut oleh Ibnu Khaldun dengan membedakan dua istilah dari keuntungan (profit): ribh dan kasb. Kasb adalah nilai yang dihasilkan dari tenaga kerja. Ribh adalah nilai yang dihasilkan dari perdagangan. 51 Ibn Khaldun membagi semua keuntungan (all earnings) ke dalam dua kategori, ribh (gross earning) dan kasb (earning a living). Ribh didapat ketika seorang manusia bekerja untuk dirinya dan menjual object-nya ke orang yang lain; di sini nilai harus meliputi biaya bahan baku (raw material) dan sumber daya alam (natural resources). Kasb didapat ketika seorang manusia bekerja untuk dirinya. Ribh bisa berarti suatu laba (profit) atau suatu keuntungan kotor (gross earning), tergantung pada konteksnya. Dalam usaha kerajinan, ribh berarti keuntungan kotor (gross earning) karena biaya bahan baku dan sumber daya alam tercakup dalam harga penjualan suatu obyek.52 Apakah ribh atau kasb, semua keuntungan adalah nilai yang direalisir dari tenaga kerja manusia. Meskipun nilai objek meliputi biaya input dari bahan baku dan sumber daya lain, menurut Ibnu Khaldun, melalui tenaga kerja dan usahanya nilai barang meningkat dan kekayaan meluas. Dengan lebih sedikit usaha manusia, kondisi sebaliknya akan terjadi. Ibnu Khaldun memberikan penekanan atas peran “usaha ekstra (extra effort)”, yang kemudian dikenal dengan “produktivitas marjinal (marginal productivity)”, dalam kemakmuran suatu masyarakat. Teori usaha tenaga kerjanya memberi suatu landasan untuk menganalisis sejarah yang mendalam tentang kemajuan kota besar, dan nilai tenaga kerja menjadi poin utama peradaban. Dalam gagasan Ibnu Khaldun, tenaga kerja bisa di interpretasikan sebagai kondisi perlu (necessary) dan cukup (sufficient) untuk menghasilkan keuntungan dan laba, sedangkan sumber daya alam hanya perlu (necessary). Tenaga kerja dan usahanya mendorong terjadinya produksi, dimana pada gilirannya digunakan untuk pertukaran melalui barter atau melalui penggunaan uang, yaitu emas dan perak. Proses ini kemudian menciptakan pendapatan dan laba.53 Keuntungan yang tinggi dalam usaha kerajinan menarik orang lain ke usaha tersebut, suatu fenomena dinamis yang selanjutnya mendorong kearah peningkatan tersedianya supply dan sebagai konsekuensinya laba akan turun. Ibnu Khaldun telah memberikan prinsip penjelasan orisinal dan analisis mendalam tentang penyesuaian jangka panjang atas pekerjaan dan antara satu pekerjaan dan yang lain. Bagaimanapun, pandangan ini diserang oleh John Maynard Keynes dalam pernyataannya yang terkenal, bahwa dalam jangka panjang pada akhirnya kita semua mati. Meskipun demikian, analisis Ibnu Khaldun tidak hanya membuktikan kebenaran sejarah tetapi juga telah mendasari inti pemikiran ahli ekonomi klasik. Jauh sebelum David Ricardo menerbitkan kontribusi pentingnya dalam bidang ekonomi tahun 1817, The Principles of Political Economy and Taxation, Ibn Khaldun telah memberi penjelasan yang orisinal sebagai rasionalisasi dibalik perbedaan dalam pendapatan tenaga kerja. Tenaga kerja diatribusikan dengan perbedaan dalam keahlian, ukuran pasar, lokasi, pemilik atau jabatan, dan tingkat pengaturan pembelian produk akhir.

51 Alrefai, Ahmed, and Brun, Michael, 1994. “Ibn Khaldun: Dynastic Change and Its Economic Consequences”, Arab Studies Quarterly. Belmont: Spring.Vol.16, Iss. 2; pg. 73 52 Lihat Oweiss, Ibrahim, M, 2006. op., cit.. 53 Lihat Oweiss, Ibrahim, M, 2006. Ibid.

16

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

Sebagai tipe tertentu tenaga kerja menjadi lebih berharga, jika permintaan untuk tenaga kerja melebihi supply tersedia, maka pendapatannya harus naik.54 Ibn Khaldun dengan ringkas tetapi jelas mengamati, menerangkan, dan menganalisa bagaimana pendapatan di suatu tempat bisa berbeda dari yang lain, bahkan untuk profesi yang sama. Pendapatan hakim, pengrajin, dan bahkan pengemis, sebagai contoh, secara langsung dihubungkan dengan masing-masing tingkat standar hidup dan kemakmuran kota, yang mana hal tersebut dicapai melalui buah usaha tenaga kerja dan kristalisasi masyarakat yang produktif. Adam Smith menerangkan perbedaan pendapatan tenaga kerja dengan membandingkan mereka yang di Inggris dan di Bengal, alasannya ternyata seperti rasionalisasi yang diberikan Ibnu Khaldun empat abad lebih awal ketika membandingkan pendapatan di Fez dan Tlemcen. 55 Dengan demikian Ibnu Khaldun, yang pertama memperkenalkan kontribusi tenaga kerja sebagai alat untuk membangun kemakmuran suatu bangsa (wealth of a nation), bukan Adam Smith. Ibnu Khaldun dengan jelas, menyatakan melalui usaha tenaga kerja, peningkatan produktivitas, dan pertukaran produk di pasar yang luas menjadi alasan utama di balik kekayaan dan kemakmuran negara. Dan sebaliknya, suatu penurunan dalam produktivitas bisa mendorong kearah keterpurukan ekonomi dan pendapatan penduduknya. Menurut Ibnu Khaldun, suatu peradaban yang besar menghasilkan laba (pendapatan) besar oleh karena besarnya jumlah tenaga ekrja yang tersedia menjadi penyebab laba.56 Ibnu Khaldun, jauh sebelum Adam Smith, telah mendorong kebebasan ekonomi dan kebebasan memilih. Menurutnya kinerja yang ditekankan, dan yang paling merugikan masyarakat, adalah memaksa subyek untuk melaksanakan pekerjaan secara terpaksa dengan tidak adil. Karena tenaga kerja adalah suatu komoditas, maka kebanyakan laki-laki tidak punya sumber pendapatan selain dari tenaga kerja mereka. Jika, mereka dipaksa bekerja selain dari keahlian mereka, maka mereka akan kehilangan hasil dari nilai kerja dan sebagian besar, atau bahkan keseluruhan pendapatan mereka akan terampas. Untuk memaksimalkan kedua pendapatan dan tingkat kepuasan, seorang manusia harus dibebaskan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai talenta dan ketrampilannya. Melalui talenta alami dan ketrampilan yang diperoleh, manusia dapat dengan bebas menghasilkan obyek dengan kualitas tinggi, lebih sering, dan lebih banyak unit dibanding jumlah tenaga kerja per jam.57 3. Teori keuangan publik (public finance) dan perpajakan (taxes). Ibnu Khaldun secara jelas menekankan pentingnya peranan perusahaan swasta dan negara dalam pembangunan ekonomi, baginya negara juga faktor penting dalam produksi. Melalui pembelanjaannya, negara mampu meningkatkan produksi dan melalui pajaknya mampu melemahkan produksi. Karena pemerintah membangun pasar terbesar untuk barang dan jasa yang merupakan sumber utama bagi semua pembangunan, penurunan dalam belanja negara tidak hanya menyebabkan kegiatan usaha menjadi sepi dan menurunnya keuntungan, tetapi juga mengakibatkan penurunan dalam penerimaan pajak. Semakin besar belanja pemerintah, kemungkinan semakin baik bagi perekonomian. Belanja tinggi memungkinkan pemerintah untuk melakukan hal-hal yang dibutuhkan bagi penduduk dan menjamin stabilitas hukum,

Lihat Oweiss, Ibrahim, M, 2006. Ibid. Lihat Oweiss, Ibrahim, M, 2006. Ibid. 56 Ibnu Khaldun, Muqaddimah, 2000. Ibid., hal. 417-421. 57 Lihat Oweiss, Ibrahim, M, 2006. Ibid.
55

54

17

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

peraturan dan politik. Tanpa stabilitas peraturan dan politik, produsen tidak mempunyai insentif untuk memproduksi.58 Jauh sebelum Adam Smith (w. 1790), yang terkenal dengan hukum pajaknya (kesamaan, kepastian, kemudahan pembayaran, dan ekonomis dalam pengumpulannya), Ibnu Khaldun menekankan prinsip-prinsipnya tentang perpajakan dalam Muqaddimah dengan tegas. Ia mengutip sebuah surat ditulis oleh Thahir ibnu al-Husayn, seorang Jenderal dari khalifah al-Ma’mun yang memberikan nasehat kepada anaknya yaitu Abdullah ibnu Thahir, seorang Gubernur di ar-Raqqah (Syria) : “distribusi pajak diantara rakyat membuat rakyat sederajat, tidak mengecualikan seseorang karena kekuasaan atau kekayaannya dan bahkan petugas, pegawai tinggi atau anda sendiri. Dan jangan memungut pajak lebih dari kapasitas seseorang”. Dalam hal ini ia menekankan prinsip kesamarataan dan kenetralan, dan di kesempatan lain ia juga menekankan prinsip-prinsip kemudahan dan produktivitas. 59 Menurut Ibnu Khaldun insentif bekerja dipengaruhi oleh pajak. Pajak yang tinggi akan menurunkan produksi dan populasi. Pajak yang tinggi menyebabkan disinsentif bagi masyarakat untuk berproduksi dikarenakan bertambahnya struktur biaya yang akan dibebankan ke konsumen. Selain itu pajak yang tinggi akan menyebabkan berkurangnya populasi penduduk karena mendorong terjadinya emigrasi ke wilayah atau negara lain. Sehingga pada akhirnya akan menurunkan pendapatan pajak akibat menurunnya basis pajak (baik objek maupun subjek pajak). Ibnu Khaldun juga menganjurkan kebijakan manajemen permintaan di masa resesi berupa penurunan pajak dan pengeluaran belanja pemerintah yang lebih tinggi (fiscal expansion). Dengan demikian, pendapatan pajak akan meningkat karena kemajuan dunia usaha yang didorong oleh pajak yang ringan. Dalam ekonomi kontemporer konsep ini menginspirasi lahirnya kurva Laffer (Laffer curve) dan ekonomi sisi penawaran (supply-side economics). Profesor Arthur Laffer, advisor kebijakan ekonomi presiden Ronald Reagen tahun 1981-1989, yang menemukan teori Laffer curve, berterus terang bahwa ia mengambil konsep dari Ibnu Khaldun dalam mengajukan obat resesi ekonomi, yaitu mengecilkan pajak dan meningkatkan pengeluaran pemerintah.60 Ia juga menyimpulkan bahwa “faktor terpenting untuk prospek usaha adalah meringankan seringan mungkin beban pajak bagi pengusaha untuk menggairahkan kegiatan bisnis dengan menjamin keuntungan lebih besar (setelah pajak)”. Disini ia menjelaskan dengan menyatakan bahwa “ketika pajak dan bea cukai ringan, rakyat akan memiliki dorongan untuk lebih aktif berusaha. Bisnis bagaimanapun juga akan mengalami kemajuan, membawa kepuasan yang lebih besar bagi rakyat karena pajak yang rendah dan penerimaan pajak juga meningkat, secara total dari jumlah keseluruhan penghitungan pajak.”.61 Ia juga mengatakan bahwa berlalunya waktu, kebutuhan-kebutuhan negara meningkat dan nilai pajak naik untuk meningkatkan hasil. Jika kenaikan ini berlangsung perlahan-lahan rakyat akan menjadi terbiasa, namun pada akhirnya ada akibat yang kurang baik terhadap insentif. Aktifitas usaha mengalami kelesuan dan
Chapra (2001), Ibid., hal. 167. Surat ini merupakan perkembangan penting dari surat Abu Yusuf kepada Khalifah Harun al Rasyid (1352 H, hal. 3-17). Surat ini lebih mudah dipahami dan mencakup sebagian besar permasalahan. Lihat Chapra (2001). Ibid., hal. 167. 60 Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Laffer_curve, di akses 26 Desember 2006. 61 Chapra, 2001. Ibid., hal. 167-171.
59 58

18

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

penurunan, demikian juga hasil dari perpajakannya. Perekonomian yang makmur diawal sebuah pemerintahan, bagaimanapun juga menghasilkan penerimaan pajak yang lebih tinggi dengan tarif pajak yang lebih rendah, sementara perekonomian yang mengalami depresi diakhir pemerintahan, menghasilkan penerimaan pajak yang lebih rendah dengan tarif pajak yang lebih tinggi. 62 Ibnu Khaldun menulis bahwa pajak harus dikenakan secara proporsional sesuai dengan kemampuan pembayar pajak. Dalam konteks perpajakan modern, berarti progressive tax seperti pajak penghasilan harus digalakkan melalui perbaikan data base dan administrasi perpajakan; sedangkan pajak tak langsung seperti PPN yang mengikis daya beli seluruh rakyat harus segera dihapuskan. Penghapusan PPN akan menurunkan harga barang secara spontan, sehingga permintaan akan meningkat. Naiknya permintaan, sepanjang didukung iklim investasi yang kondusif, akan mengundang investor untuk menanamkan modalnya dan menciptakan penawaran. Berinteraksinya permintaan dengan penawaran akan menciptakan keuntungan pada perusahaan, yang selanjutnya akan dipungut pajaknya oleh administrasi perpajakan yang rapi dan jujur, sehingga penerimaan negara pun meningkat.63 Ibnu Khaldun juga menganalisa efek pengeluaran belanja pemerintah dalam perekonomian yang dipelajari oleh Keynes. Ia mengatakan : “penurunan dalam penghasilan pajak disebabkan juga oleh penurunan belanja pemerintah. Alasannya adalah bahwa negara menghadirkan pasar terbesar bagi dunia dan sebagai sumber peradaban. Jika pemerintah menimbun penerimaan pajak atau jika mereka tidak bisa membelanjakan penerimaan pajak sebagaimana mestinya, jumlah yang tersedia pada bangsawan dan pengikut-pengikutnya akan menurun, demikian juga jumlah yang sampai kepada pegawai-pegawai dan pembantu-pembantunya (efek multiplier). Total belanja mereka oleh karenanya akan menurun. Karena mereka menyusun bagian penting bagi penduduk dan belanja mereka menyusun bagian dasar dari pasar, usaha akan sepi dan keuntungan-keuntungan pengusaha akan menurun, berakibat pula pada penurunan penghasilan pajak ... kemakmuran cenderung bersirkulasi antara rakyat dan pemerintah, dari pemerintah ke rakyat dan dari rakyat ke pemerintah. Oleh karenanya jika pemerintah menjauhkannya dari belanja negara, rakyat akan menjadi jauh darinya”.64 4 Teori uang (money), pertumbuhan (growth), dan pembangunan (development), perdagangan internasional (foreign trade) dan kesejahteraan bangsa (wealth of nations). Menurut Ibnu Khaldun uang bukan bentuk sebenarnya dari kesejahteraan tetapi hanya alat dimana kesejahteraan akan diraih. Berkaitan tentang fungsi uang, menurutnya uang memiliki dua fungsi, yaitu sebagai ukuran pertukaran (standart of excange) dan sebagai penyimpan nilai (store of value).65 Bagi beliau, dua logam yaitu emas dan perak, adalah ukuran nilai semua akumulasi modal. Karena logam-logam ini diterima secara alamiah sebagai uang dimana nilanya tidak dipengaruhi oleh fluktuasi subjektif. Oleh karena itu beliau mendukung penggunaan emas dan perak sebagai standar moneter. Ibnu Khaldun juga memperkenalkan teori pertumbuhan berbasis akumulasi modal melalui usaha pekerja. Juga mengemukakan tentang relasi positif pengaruh
Chapra, 2001. Ibid., hal. 167-171. Bey Sapta, 2003, “Belajar Keadilan pada Ibn Khaldun dan Abu Yusuf”, Tazkia Online, 15 Juni. 64 Chapra, 2001. Ibid., hal. 167-171. 65 Dalam Abdul Sattar (1950), sebagiaman dikutip Agustianto (2005). Op., Cit.
63 62

19

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

struktur ekonomi terhadap pembangunan dan tentang pentingnya modal intelektual (intelectual capital) di dalam proses pertumbuhan. Beliau juga menguraikan tahapan pembangunan ekonomi, dari nomaden ke pertanian, ke perekonomian yang lebih maju dimana kota kecil tumbuh menjadi kota besar.66 Dalam analisis yang dikembangkan Dr. Chapra (2001), pembangunan menurut Ibnu Khaldun dipengaruhi oleh peranan negara dan keberhasilan pembangunan tersebut ditentukan oleh wujudnya keadilan. Artinya jika pembangunan itu tidak adil, maka pembangunan itu pada hakikatnya gagal dan ini menjurus pada kemunduran masyarakat dan negara. Beliau juga menekankan bahwa, pembangunan yang dijalankan harus sesuai dengan syari’ah. Pembangunan yang tidak berdasarkan syari’ah, adalah pembangunan yang matarelialistis-kapitalistik dan salah. Menurutnya pembangunan juga harus ditopang oleh kemauan umat yang dilengkapi dengan tiga kapital utama, yaitu; human capital, inteligent capital dan organization capital.67 Ibnu Khaldun mengemukakan bahwa barang akan menjadi lebih berharga dengan diperdagangkan lintas negara karena kepuasan masyarakat, laba pedagang, dan kesejahteraan negara semuanya akan meningkat (gains from trade). Beliau juga menekankan peranan pembagian kerja internasional yang lebih didasarkan pada keterampilan penduduk dari masing-masing negara. Menurutnya pembagian kerja internasional tidak didasarkan pada sumber-sumber kekayaan alamnya.68 Teori Ibnu Khaldun mengandung embrio dari teori perdagangan internasional, disertai suatu analisa tentang syarat pertukaran antara negara kaya dengan negaranegara miskin dan tentang kecendrungan alamiyah untuk impor dan ekspor. Selain itu beliau juga memaparkan proses perkembangan kumulatif yang disebabkan oleh infrastruktur intelektual suatu negara. Dimana semakin berkembang suatu negara, semakin banyak modal dan organisasi infrastruktur intelektualnya. Karena orangorang yang terampil ditarik oleh infrastruktur ini dan datang untuk hidup dalam negeri ini.69 Hal inilah yang kemudian menjelaskan suatu proses kumulatif yang menjadikan negeri-negeri kaya semakin kaya dan negeri miskin bertambah miskin. Menurut Ibnu Khaldun kesejahtraan atau kekayaan sebuah bangsa dipengaruhi oleh adanya pembangunan yang adil. Perwujudannya juga dipengaruhi oleh peranan negara dan masyarakat, serta tingkat pemahaman dan pelaksanaan nilai-nilai syari’ah dalam sebuah bangsa. Ibnu Khaldun menegaskan bahwa kekayaan suatu negara tidak ditentukan oleh banyaknya uang dinegara tersebut. Menurutnya, kekayaan negara ditentukan oleh dua hal: (1) Tingkat produksi domestik; dan (2) Neraca pembayaran yang positif dari negara tersebut.70 Pertama, tingkat produksi domestik. Dapat saja suatu negara mencetak uang sebanyak-banyaknya, tetapi bila hal ini tidak merefleksikan pesatnya pertumbuhan sektor produksi (baik barang maupun jasa), maka uang yang melimpah itu tidak ada nilainya. Sektor produksilah yang menjadi motor pembangunan, menyerap tnaga kerja, meningkatkan pendapatan perkerja, dan menimbulkan permintaan atas faktor produksi lainnya. Misalnya, orang memiliki pilihan untuk memproduksi dua jenis barang, yaitu beras dan jagung dengan sumber daya yang dimilikinya. Sumbu X menggambarkan
Boulakia, 1971. Op., Cit., dalam Karim, 2006. Op., Cit. Chapra, 2001. Op., Cit. 68 Boulakia, 1971. Op., Cit., dalam Karim, 2006. Op., Cit. 69 Ibid. 70 Karim, Adiwarman A., 2003. Ekonomi Mikro Islami. Edisi Kedua. Jakarta: IIIT, hal. 189-192.
67 66

20

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

kemampuan memproduksi beras sedangkan sumbu Y untuk jagung. Kurva possible production frontier (PPF) menggambarkan tingkat produksi maksimal yang mungkin dicapai dengan sumber daya yang dimiliki. Semakin besar PPF berarti seakin tinggi tingkat produksinya, sehingga semakin tinggi tingkat kekayaan negara tersebut. Gambar 4. Kurva Possible Production Frontier (PPF)

Kedua, neraca pembayaran yang positif. Ibnu Khaldun juga mengeaskan bahwa neraca pembayaran yang positif akan meningkatkan kekayaan negara tersebut. Hal ini disebabkan neraca pembayaran yang positif menggambarkan dua hal: a) Tingkat produksi negara tersebut untuk suatu jenis komoditi lebih tinggi daripada tingkat permintaan dometik negara tersebut, atau supply lebih besar dibanding demand, sehingga memungkinkan negara tersebut melakukan ekspor. b) Tingkat efisiensi produksi negara tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain. Dengan tingkat efisiensi yang lebih tinggi maka komoditi suatu negara mampu masuk ke negara lain dengan harga yang lebih kompetitif. Dalam level makro bahasan tersebut adalah kemampuan produksi suatu negara sedangkan dalam level mikro bahasannya adalah kemampuan produksi suatu produsen. Secara grafis, pendapat Ibnu Khaldun ini dapat digambarkan dengan tingkat utilitas yang berada diluar PPF. Ini berarti negara yang melakukan perdagangan internasional akan menikmati tingkat kesejateraan yang lebih baik dibandingkan tidak melakukan perdagangangan. Dalam ilmu ekonomi , konsep ini dikenal sebagai gains from trade. Tanpa adanya perdagangan, maka tingkat kesejahteraan tertinggi dicapai kurva utilitas bersinggungan dengan PPF, yaitu pada titik autarky (titik memenuhi kebutuhan sendiri). Sedangkan dengan adanya perdagangan akan mendorong kurva utilitas ke tingkat yang lebih tinggi yang tidak mungkin dicapai oleh PPF. Pada titik autarky, relative price antara beras dan jagung digambarkan oleh garis harga (price line) Pau. Ketika produsen tersebut mempunyai tingkat efisiensi yang relatif lebih tinggi dalam memproduksi beras lebih tinggi dari produsen lain, maka ia akan mengalokasikan lebih banyak sumberdaya untuk memproduksi beras, sehingga jumlah beras yang diproduksi naik mejadi Qb2, dan jumlah jagung yang diproduksinya turun menjadi Qj2. Kelebihan beras tersebut diperdangkan dengan harga yang berlaku yaitu Pp. Dengan price line yang baru tersebut, produsen dapat menaikkan utilitasnya.

21

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

Gambar 5. Kurva Neraca Pembayaran yang Positif

H. Penutup Dengan kontribusi pemikiran ekonomi yang demikian besar dan memberi inspirasi para ekonom di Timur dan Barat, sangat tepat kalau Ibnu Khaldun disebut sebagai Guru Besar Para Ekonom. Dan yang jauh lebih penting, pemikiran ekonominya masih relevan dan memberi prespektif baru dalam memotret persoalan ekonomi bangsa Indonesia. Wallahu a'lam bi al-shawab.

22

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

Daftar Pustaka Abul Hasan, M. and Ghazali, Aidit (Eds.), 1992. Reading in Islamic Economics Thought. Malaysia: Longman. Agustianto, 2005. “Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun dan Signifikansinya dalam Konteks Kekinian”, paper tidak diterbitkan. Ahmad, Khursid (ed.), 1980. Studies in Islamic Economics. UK: The Islamic Foundation.. Ahmed, Akbar S , 2005. “Ibn Khaldun and Anthropology: The Failure of Methodology in the Post 9/11 World”, Contemporary Sociology. Washington: Nov. 2005. Vol. 34, Iss.6; pg. 591-596. Ahmed, Akbar S. 2002. “Ibn Khaldun's understanding of civilizations and the dilemmas of Islam and the west today”, The Middle East Journal. Washington: Winter 2002.Vol.56, Iss. 1; pg. 20-46. Alrefai, Ahmed, and Brun, Michael, 1994. “Ibn Khaldun: Dynastic Change and Its Economic Consequences”, Arab Studies Quarterly. Belmont: Spring.Vol. 16, Iss. 2; pg. 73 Anonim, 2006. “Ibn_Khaldun’s Analysis of Economic Issue”, http://islamicworld.net/ economics/Ibn_Khaldun’s Analysis of Economic Issue.htm, diakses 15 November 2006. Arif, Syamsudin, 2006. “Refleksi 600 Tahun Wafatnya Ibnu Khaldun; Pangkal Kejatuhan dan Kejayaan Bangsa”, Republika, 14/11/ 2006 dan Hidyatullah, November 2006. Bhatia, H., L., 1978. History of Economic Thought, Vikas Publishing House PVT LTD, Fourth Revised Edition, New Delhi. Boulakia, Jean David C., 1971. “Ibn Khaldun: A Fourteenth-Century Economist”. The Journal of Political Economy, Vol. 79, No. 5, pp. 1105-1118 (edisi terjemah). Chapra, M. Umer (2001), The Future of Islamic Economic; An Islamic Prespective, Jakarta: SEBI (edisi terjemah). Dhaouadi, Mahmoud, 2005. “The Ibar: Lessons of Ibn Khaldun's Umran Mind”, Contemporary Sociology. Washington: Nov 2005.Vol.34, Iss. 6; pg. 585-592. Ibnu Khaldun, 2000. Muqaddimah. Edisi Indonesia. Jakarta: Pustaka Firdaus. Irwin, Robert, 1997. “Toynbee and Ibn Khaldun”, Middle Eastern Studies. London: July 1997.Vol.33, Iss. 3; pg. 461-480. Karim, Adiwarman A. (ed.). 2001. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: IIIT. Karim, Adiwarman A., 2002. Ekonomi Mikro Islami. Jakarta: IIIT. Karim, Adiwarman A., 2003. Ekonomi Mikro Islami. Jakarta: IIIT. Karim, Adiwarman, A., 2006. Sejarah pemikiran Ekonomi, Edisi ketiga, Jakarta: Rajawali Press.

23

Kontribusi Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

Oweiss, Ibrahim, M., 2006. “Ibn Khaldun, Father of Economics”, http://islamicworld.net/ economics/ Ibn_ Khaldun_Father_of_Economics.htm, diakses 15 November 2006. Perwaatamadja, Karnaen A., 2000. Kajian Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Yogyakarta: UGM.. Pressman, Steven, 2000. Fifty Major Economists. Edisi terj., PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, , hal. VII. Ritzer, George & Douglas J. Goodman, 2005. Modern Sosiological Theory, 6th Edition, Jakarta: Prenada Media (edisi terjemah). Rosen, Lawrence, 2005. “Theorizing from Within: Ibn Khaldun and His Political Culture”, Contemporary Sociology. Washington: Nov 2005.Vol.34, Iss. 6; pg. 596-600.

24