KRITIK TERHADAP METODOLOGI TAFSIR AL-QUR’AN HASSAN HANAFI Oleh: Devi Muharrom Sholahuddin Lc.1 A.

PENDAHULUAN Belakangan ini, diskursus seputar Al-Qur’an ramai diperbincangkan. Teori penafsiran yang telah mapan selama berabad-abad diragukan dan dipermasalahkan oleh sebagian kalangan pemikir muslim kontemporer. 2 Tafsir klasik dianggap sudah tidak relevan lagi dengan zaman dan kebutuhan umat islam saat ini. 3 Maka dibutuhkan sebuah metode penafsiran baru yang sesuai dengan zaman. 4 Teori tersebut adalah hermeneutika.5 Salah satu pemikir muslim kontemporer yang menggunakan metode

hermeneutika dalam teori penafsiran Al-Qur’an adalah Hassan Hanafi. Ia adalah doktor
1

Peserta Program Kaderisasi Ulama ISID Gontor Angkatan Ke-III, Utusan Pondok Pesantren Darussalam Sindang Sari kersamanah Garut Jawa Barat Indonesia. 2 Diantara pemikir muslim kontemporer itu adalah: Hassan Hanafi, Fazlurrahman, Mohamed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zaid, Amina Wadud Muhsin, Asghar Ali Engineer, Farid Esack dll. (Lihat, Adnin Armas MA, Tafsir Al-Qur'an atau "Hermeneutika Al-Qur'an" dalam Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA, Thn. I No. 1/Muharram 1425. Hal. 38) 3 Sebagai contoh, Amin Abdullah, Rektor UIN Yogyakarta menulis kata pengantar untuk sebuah buku Hermeneutika Al-Qur'an, sebagai berikut: ”Metode penafsiran Al-Qur'an selama ini senantiasa hanya memperhatikan hubungan penafsir dan teks Al-Qur'an tanpa pernah mengeksplisitkan kepentingan audiens terhadap teks. Hal ini mungkin dapat dimaklumi sebab para mufassir klasik lebih menganggap tafsir Al-Qur'an sebagai hasil kerja-kerja kesalehan yang dengan demikianharus bersih dari kepentingan mufassirnya. Atau barangkali juga karena trauma mereka pada penafsiran-penafsiran teologis yang pernah melahirkan pertarungan politik yang maha dashat pada masa-masa awal Islam. Terlepas dari alasan-alasan tersebut, tafsir-tafsir klasik Al-Qur'an tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat Islam." (Lihat, Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan, Metodologi Tafsir Al-Qur’an menurut Hassan Hanafi (Jakarta: Teraju, 2002) 4 Para pemikir muslim kontemporer beranggapan, bahwasannya saat ini ada sebuah metodologi penafsiran yang bisa dijadikan alternatif untuk menafsirkan Al-Qur'an agar bisa sesuai dengan realita yang terjadi pada zaman sekarang ini. Sebuah metodologi penafsiran yang telah dilakukan oleh pemikir Barat pada Bible. Metode itu adalah Hermeneutika. 5 Istilah “hermeneutics” berasal dari bahasa Yunani kuno (Greek) “τα έρμενευτικα (dibaca: ta hermeneutika), yaitu bentuk jamak dari perkataan: τα έρμενευτικον (to hermeneutikon)” yang bermakna: ‘perkara-perkara yang berkenaan dengan pemahaman atau penerjemahan suatu pesan. Diambil dari infinitif: έρμενεύειν, Kedua kata ini merupakan derivat dari kata “Hermes” (‘Eρμες). Mulai abad ke-17 istilah ‘hermeneutics’ dipakai untuk menunjuk suatu ilmu, metode dan teknik memahami suatu pesan, karya atau teks. Sejak itu, istilah ‘hermeneutics’ dikontraskan dengan ‘exegesis’ (εξεγησις), sebagaimana ‘ilmu tafsir’ dibedakan dengan ‘tafsir’. Lebih tepatnya, hermeneutika adalah ilmu menafsirkan Bibel.

1

bidang filsafat di Universitas Kairo Republik Arab Mesir yang menyelesaikan studi dan mendapatkan gelar Doktoralnya dari universitas Sorbon Paris. Dalam pemikirannya mengenai konsep hermeneutika Al-Qur’an, Hassan Hanafi dapat disejajarkan dengan tokoh pemikir Islam yang lain seperti Mohammed Arkoun, Abid Al-Jabiry, Nasr Hamid Abu Zaid, Fazlurrahman dan lain-lain. Hanafi menawarkan pendekatan sosial dalam menafsirkan Al-Qur’an (al-manhaj al-ijtimā’ī fī at-tafsīr). dengan metode tafsir Al-Qur’an seperti ini, menurut Hanafi, seorang mufassir yang ingin mendekati makna Al-Qur’an tidak saja mendeduksi makna dari teks, tapi sebaliknya, dapat juga menginduksi makna dari realitas kedalam teks. Seorang mufassir bukan hanya menerima, tapi memberi makna. Ia menerima makna dan meletakannya dalam struktur rasional dan nyata. 6 Teori penafsiran seperti ini bertentangan dengan konsep penafsiran yang telah mapan dan disepakati para ulama terdahulu. Yaitu, realita mendeduksi makna dari teks.7 Lebih lanjut, Hanafi mengembangkan teori hermeneutikanya melalui

pendekatan fenomenologi yang ia adopsi dari teori fenomenologi Edmund Husserl. Menurutnya, ada lima tahapan yang harus dilakukan seorang mufassir dalam melakukan penafsiran Al-Qur’an. Langkah-langkah tersebut adalah: pertama, wahyu diletakan dalam ”tanda kurung” (epoche),8 tidak diafirmasi, tidak pula ditolak. Penafsir tidak perlu lagi mempertanyakan keabsahan dan keaslian Al-Qur’an, apakah ia dari Tuhan atau dari pandangan Muhammad Saw. Penafsiran dimulai dari teks apa adanya tanpa mempertanyakan keasliannya terlebih dahulu. 9 Kedua, Al-Qur’an diterima sebagaimana layaknya teks-teks lain, seperti karya sastra, teks filosofis, dokumen sejarah dan sebagainya. Al-Qur’an tidak memiliki kedudukan istimewa secara metodologis, semua

Hasan Hanafi dalam Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan, Metodologi Tafsir AlQur’an menurut Hassan Hanafi (Jakarta: Teraju, 2002) hal. 146 7 Dr. Fathi Muhammad Gharib, Raudhatul bāhitsīn fī manāhij al-mufassirīn. (Kairo: Al-Azhar University, 2007) Hal. 109-111 8 Kata epoche berasal dari bahas Yunani, yang berarti: “menunda putusan” atau ”mengosongkan diri dari keyakinan tertentu”. 9 Hasan Hanafi dalam Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan, Metodologi Tafsir AlQur’an menurut Hassan Hanafi (Jakarta: Teraju, 2002) hal. 147-148

6

2

ada dua tema besar mengenai teori penafsiran Al-Qur’an yang diusung oleh Hassan Hanafi akan penulis ungkap dalam tulisan ini. Segala sesuatu yang sudah dikatakan oleh orang lain untuk sementara harus dilupakan. Yang ada hanyalah perbedaan pendekatan terhadap teks yang ditentukan oleh perbedaan kepentingan dan motivasi. 23-30 11 Hasan Hanafi. 10 Ketiga.13 Dari pemaparan diatas. 7 (Kairo: Maktabah Madbuli. Setiap penafsiran mengungkapkan sosio-politik penafsir.teks ditafsirkan berdasarkan aturan yang sama. Tidak ada penafsiran tunggal terhadap teks. Yang mana menurut Husserl. terbuka untuk gejala-gejala yang harus “diajak bicara”. 102-111 12 Muhammad Muslih. 117 3 .11 Langkah-langkah penafsiran yang dikemukakan oleh Hanafi merupakan implikasi dari teori reduksi dalam Fenomenologi Husserl. 144-146 13 Herry Hamersma. pemahaman benar atau salah. Penafsirlah yang memberinya isi sesuai ruang dan waktu dalam masa mereka. al-Yamīn wa al-Yasār fī fikri ad-Dīnī Vol. bahkan ambisi manusia. tapi pluralitas penafsiran yang disebabkan oleh perbedaan pemahaman penafsir. Terakhir. Reduksi pertama: menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif. Konflik penafsiran merefleksikan konflik sosio politik dan bukan konflik teoritis. teori tafsir adalah teori yang menghubungkan antara wahyu dan realitas. Kedua. Supaya dapat menangkap hakekat obyek- obyek. 1997) Hal. Pertama. Apabila reduksireduksi ini berhasil. maka dibutuhkan tiga reduksi. makna teks Al-Qur’an tidak saja mendeduksi makna dari teks. Keempat. teks hanyalah alat kepentingan. Humūm al-Fikr al-Wathan: at-Turats wa al-’Ashr wa al-Hadātsah (kairo: Dār Qubā. tapi sebaliknya. ad-Dīn wa at-Tsaurah fi Miṣr1952-1981. Sikap kita harus obyektif. 2008) hal. kedua: menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diselidiki dan diperoleh dari sumber lain. 1989) Hal. gejala sendiri dapat memperlihatkan diri. yang mana menurut Hanafi. menurut Husserl. dapat juga menginduksi makna dari realitas kedalam teks. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern (Jakarta: Gramedia. penggunaan 10 Hasan hanafi. Tidak ada penafsiran palsu atau benar. untuk mencari hakikat yang esensial dari suatu realitas adalah dengan membiarkan fenomena itu berbicara 12 sendiri tanpa dibarengi dengan prasangka (presuppositionlessness). ketiga: menyingkirkan seluruh reduksi pengetahuan. Reduksi-reduksi ini yang menyingkirkan semua hal yang mengganggu. Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Belukar. 1983) Hal.

pemerintahan yang Islami. Kota ini merupakan tempat bertemunya para mahasiswa muslim dari seluruh dunia yang ingin belajar. Kairo. Arab. tanpa ada otoritas dari pemilik pendapat. di dekat Benteng Salahuddin. Romawi. Pemahaman fenomenologi menurut Hanafi bertujuan untuk mencapai makna yang objectif dari sebuah teks. negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam. bangsa yang Islami. Mamluk dan Turki. Mesir pada Maret 1928 dengan pendiri Hassan al-Banna. Ismail Izz dan Zaki al-Maghribi. menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas. selain itu. Tujuan AlIkhwān Al-Muslimūn adalah mewujudkan terbentuknya sosok individu muslim. daerah perkampungan Al-Azhar. Hanafi melanjutkan studi di Departemen Filsafat Universitas kairo. Ahmad al-Khusairi. selesai pada tahun 1956 dengan menyandang gelar sarjana muda. Ia merupakan filusuf hukum Islam dan guru besar pada fakultas Filsafat Universitas Kairo. 14 Hasan Hanafi.fenomenologi dalam penafsiran Al-Qur’an. bersama keenam tokoh lainnya. kota Mesir memang telah dipengaruhi peradaban-peradaban besar sejak masa Fir’aun. bukan hanya sekedar agama yang mengurusi ibadah ritual (shalat. Selama di Tsanawiyah ini. kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam.15 dari kegiatannya inilah pemikiran Hanafi berkembang. terutama di Universitas Al-Azhar. haji. Fuad Ibrahim. bahkan sampai dengan Eropa modern. Hanafi sudah aktif mengikuti diskusi-diskusi al-Ikhwān al-Muslimūn. BIOGRAFI DAN LATAR BELAKANG PEMIKIRAN HANAFI Hassan Hanafi lahir di Kairo pada tanggal 13 Februari 1935. Meskipun lingkungan sosialnya dapat dikatakan tidak terlalu mendukung. Setamat Tsanawiyah. Al-Ikhwān Al-Muslimūn merupakan sebuah organisasi Islam berlandaskan ajaran Islam. Abdurrahman Hasbullah.14 B. Bizantium. Secara historis dan kultural. rumah tangga Islami. AlIkhwān Al-Muslimūn menolak segala bentuk penjajahan dan monarki yang pro-Barat. tradisi keilmuan berkembang di sana sejak lama. Pendidikannya diawali di pendidikan dasar. ia juga mempelajari pemikiran Sayyid Qutb tentang keadilan sosial dan keislaman. 15 4 . Hermeneutika Al-Qur’an? (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press. Ia merupakan salah satu jamaah dari beberapa jamaah yang ada pada umat Islam. tamat tahun 1948. selesai pada tahun 1952. 2009) Hal. yaitu Hafiz Abdul Hamid. zakat. puasa. 17 Al-Ikhwān Al-Muslimūn berdiri di kota Ismailiyah. kemudian Madrasah Tsanawiyah ”Khalil Agha”. dll) saja. yang memandang bahwa Islam adalah dien yang universal dan menyeluruh.

Fenomenologi Edmund Husserl inilah yang mendasari karya-karya akademisnya L’Exegese de La Phenomenologie. pembaharuan dan sejarah filsafat dari Jean Gitton. 18 Selama di Prancis. belajar bidang pembaharuan pada Massignon yang sekaligus bertindak sebagai pembimbing penulisan desertasinya. fenomenologi Husserl sangat kental mewarnai pemikiran Hanafi dalam membaca teks-teks keagamaan. Hasan Hanafi: Hermeneutika Humanistik (Yogyakarta: Jendela. Sampai saat ini. Dia aktif sebagai Sekretaris Umum Persatuan Masyarakat Filsafat Mesir. Belgia. anggota Gerakan Solidaritas Asia-Afrika dan menjadi wakil presiden Persatuan Masyarakat Filsafat Arab. Hanafi mendalami berbagai disiplin ilmu. Pemikiran Islam Kontemporer. al-Yamīn wa al-Yasār fī fikri ad-Dīnī Vol. Ia belajar metode berpikir. 1989) Hal. 17 Karir akademiknya dimulai pada tahun 1967 ketika diangkat sebagai lektor. Maroko dan Jepang. Pada tahun 1984-1985 ia diangkat sebagai guru besar tamu di Universitas Tokyo. Selain itu Hanafi juga aktif memberi kuliah di beberapa negara. L’etat actuel de la Methode Phenomenologie et son application au Phenomene Religiux. 157 18 Ibid. 7 (Kairo: Maktabah Madbuli. Kuwait. dengan tesis berjudul Les Methodes d’Exegeses: Essei sur La Science des Fondament de La Conprehension Ilmu Ushul Fiqh dan desertasi berjudul L’Exegese de La Phenomenologie. L’etat actuel de la Methode Phenomenologie et son application au Phenomene Religiux. seperti Prancis. serta belajar fenomenologi dari Husserl. 158 16 5 . Disamping dunia akademik. belajar analisis kesadaran pada Pauk Ricouer. anggota Ikatan Penulis Asia-Afrika. Les Methodes d’Exegeses: Essei sur La Science des Fondament de La Conprehension Ilmu Hasan Hanafi. 2003) Hal. kemudian profesor filsafat pada tahun 1980 di Jurusan Filsafat Universitas kairo. Hal. dan menjadi penasihat program di Universitas PBB di Jepang pada tahun 1985-1987. dengan mengambil konsentrasi pada kajian pemikiran Barat pra-modern dan modern. ad-Dīn wa at-Tsaurah fi Mishr1952-1981.kemudian melanjutkan studi di Universitas Sorbonne Prancis. 16 Hanafi menyelesaikan program master dan doktornya pada tahun 1966. Amerika Serikat. 331-332 17 Ahmad Khudori Sholeh dalam. kemudian lektor kepala pada tahun 1973. Hanafi juga aktif dalam organisasi ilmiyah dan kemasyarakatan.

penulis tidak menemukan satupun karya tafsir yang dihasilkan oleh Hanafi. rekonstruksi tradisi Islam dengan melakukan interpretasi kritis dan kritik historis yang mencerminkan ”apresiasi terhadap khazanah klasik” (mawqifunā min al-qadīm). 71-75 20 19 6 . Dalam hal ini Hanafi sepakat dengan para ulama terdahulu.20 Dari hasil penelusuran penulis terhadap literatur Hanafi. rekonstruksi ulang terhadap batas-batas kultural Barat melalui pendekatan kritis yang tercermin dalam ”sikap kita terhadap Barat” (mawqifunā minal-gharb). upaya membangun sebuah teori interpretasi Al-Qur’an yang membebaskan yang mencakup dimensi kebudayaan dari agama dalam skala global.Ushul Fiqh. Hanafi merumuskan proyek at-Turāts wa at-Tajdīd berdasarkan tiga agenda yang saling berhubungan. kemudian yang terakhir adalah. Kedua. Hanafi memulai proyeknya ini sekembalinya ke Mesir dengan mulai menggarap at-Turāts wa at-Tajdīd (tradisi dan modernisasi). Pertama. Menurut Hanafi. yang memposisikan Islam sebagai fondasi ideologis bagi kemanusiaan. Hermeneutika Pembebasan. 2002) hal. 19 Persentuhannya dengan berbagai metodologi diatas. dan La Phenomenologie d L’Exegese: essai d’une hermeneutique existentielle a parti du nouvea Testanment. dari sekian banyak kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT. C. Hanafi tidak mempermasalahkan keabsahan dan keaslian teks Al-Qur’an. Agenda ketiga ini mencerminkan ”sikap kita terhadap realitas” (mawqifunā minal-wāqī). AL-QUR’AN DALAM PANDANGAN HANAFI Berbeda dengan pemikir kontemporer yang lain. mendorong Hanafi untuk mempersiapkan sebuah proyek pembaharuan pemikiran Islam yang menyeluruh (almanāhij al-islāmī al-’Amm. metodologi penafsiran serta karakteristik penafsiran yang harus dihasilkan dari proses penafsiran. ofcit 332 Ilham B. hanya Al-Qur’an yang bisa dijamin keasliannya saat ini. Hanafi hanya meletakan premis-premis. Saenong. Metodologi Tafsir Al-Qur’an menurut Hassan Hanafi (Jakarta: Teraju.

tetapi secara bertahap.21 Menurut Hanafi. Hassan Hanafi (Yogyakarta. sehingga bebas dari bahaya perubahan yang telah menimpa Kitab-kitab suci lain. Yāsīn dan lain sebagainya. Qāf. Hermeneutika Al-Qur'an?. 2010) Hal. Sebagai contoh. ada beberapa surat Al-Qur’an yang dimulai dengan huruf-huruf muqaṭṭa’ah seperti Nūn. Dengan demikian Al-Qur'an merupakan wahyu yang tersempurnakan dalam bentuknya yang terakhir. Keduanya bertindak sebagai recorders sepenuhnya. ayat-ayat itu kemudian terakumulasi selama 23 tahun dan menjadi Al-Qur'an seperti yang ada sekarang ini. (Yogyakarta: Pesantren Nawesea. Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad menyampaikan apa adanya wahyu yang mereka terima dari Allah. 3-4 21 7 . Sebagai passive transmitters. penggantian dan penghapusan.Hanafi menyatakan bahwasannya. ia terjaga. ia merupakan fase akhir perkembangan wahyu dalam sejarah sejak Nabi Adam AS. Kedua. Al-Qur'an sebagai kitab suci yang tidak diturunkan sekaligus. terbebas dari campur tangan Nabi Muhammad. hingga Nabi Muhammad SAW. Allah Swt menurunkan Al-Qur’an secara vertikal kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril. Pertama. Dalam hal ini Hanafi mensejajarkan antara membaca teks dengan teori pengetahuan dalam filsafat Yudian Wahyudi dalam pengantar Hermeneutika Al-Qur’an? Dr. Pesantren Nawesea Press. 22 1. yang dapat diambil sebagai syari'at tanpa menunggu perubahan. Keberadaan ayat-ayat semacam ini merupakan bukti internal bahwa Al-Qur’an otentik. Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad bertindak sebagai passive transmitters. Al-Qur'an sebagai "wahyu" memiliki tiga keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kitab-kitab lain selain Al-Qur'an. kemudian terdapat pula ayat yang mengkritik Nabi Muhammad seperti yang terdapat pada awal surat Abbasa. Wahyu yang diturunkan sesuai dengan tuntutan kondisi dan kebutuhan manusia. 2009) Hal. vi-viii 22 Hassan Hanafi. sehingga wahyu Allah bersifat verbatim. adapun yang menjadi objek pemahamannya adalah teks. Konsep teks dan Membaca teks Dalam pandangan Hanafi. membaca teks pada dasarnya sinonim dengan proses memahaminya. Setiap turun sebagai penyelesaian atas situasi. Ketiga. Dalam proses vertikal ini.

Hal 528-529 8 . syarh mencakup hubungan antara proses membaca dan teks dalam relasi subjek-objek. penafsiran dan ta’wīl. Dirāsāt Falsafiyyāt (Kairo: Maktabah Anglo Mishriyyah. sementara signifikansi teks. pembacaan teks bukanlah seni. Pada sisi lain. ta'wil dan syarh belaka terhadap objeknya. Bentuk yang pertama terjadi ketika seseorang membaca teks orang lain yang berasal dari kebudayaan yang sama. Hal 527 25 Ibid. 526 Ibid. baik yang terbentuk dalam rentang waktu yang panjang atau dalam periode yang singkat. Jika penafsiran dengan logika bahasa menemui jalan buntu. Pembacaan teks yang dilakukan dalam dua bentuk ini.24 Lebih lanjut Hanafi menjelaskan. 1988) Hal. Melainkan harus dianggap juga sebagai proses rekonstruksi makna teks menurut persepsi pembaca. Didalamnya tercakup pembacaan.skolastik yang ditandai dengan relasi subjek-objek. jika pembaca adalah subjek. kebutuhan sosial dan spirit zaman semakin menguat. analisis. tapi ilmu praktis yang bersifat kumulatif guna menyingkap struktur dasar suatu teks. maka yang terjadi adalah proses ta'wil.23 Menurut Hanafi. yang menjadi objeknya adalah teks. Tafsir berada pada level kedua dalam proses pembacaan ketika pemahaman dengan persepsi langsung tidak dimungkinkan. 25 23 24 Hassan Hanafi. tidak dapat dianggap sebagai tafsir . Dalam kedudukannya sebagai bangunan pengetahuan yang komprehensip. Sementara syarh mencakup tiga hal sebelumnya yakni: qirā’ah. Instrumen pemahaman dalam tafsir adalah logika bahasa dan orientasi teks (tawjīh an-nash) atau konteks sosial dan spirit zaman. pembacaan suatu teks dapat menjadi kegiatan yang bercorak pribadi dan dapat pula mencerminkan dialektika sosial. kritik dan "rekonstruksi" untuk menyempurnakan struktrur dan penyingkapan aturan-aturan teks. Maka. membaca yang berarti memahami dengan sendirinya juga berarti menafsirkan dan menakwilkannya. sementara yang kedua adalah apabila seseorang melakukan pembacaan teks pada kebudayaan yang berbeda.

mempersempit masakini dan membentang kedalam masa depan. Kritik Terhadap Tafsir Klasik Berangkat dari ketidakpuasan Hanafi terhadap hasil interpretasi dari Tafsir Klasik. teks bukanlah semata-mata pendokumentasian untuk melestarikan dan mencatat. demi membimbing dan mengorientasikannya menuju masa depan. (Yogyakarta: Pesantren Nawesea. Jadi menurut Hanafi. 2010) Hal. sehingga semangat tetap dalam sejarah. kodifikasi dan penempatan hukum. teks bukan hanya semata-mata pendokumentasian untuk melestarikan dan mencatat. Hermeneutika Al-Qur'an?. melainkan mencerminkan otoritas pengorentasian. tetapi mencerminkan otoritas pengorientasian. 26 Dalam pandangan Hanafi.2. Hakikat teks Secara sederhana. Tujuan mengkoodifikasi sejarah adalah untuk mewariskan pengalaman setiap generasi kepada generasi selanjutnya. dari perbedaan menuju kesepakatan. Dalam pengertian ini teks berarti menghilangkan keberagaman dimasa kini dan mendahulukan kesatuan masa depan. koodifikasi dan penetapan hukum. 28 D. Menurut Hanafi. Hal ini terjadi dalam setiap peradabanketika terjadi perpindahan dari zaman lisan ke zaman penulisan. Teks adalah koodifikasi semangat zaman melalui pengalaman pribadi dan kolektif dalam berbagai situasi tertentu. yang akan terbangkit melalui pembacaan sehingga hidup kembali dalam berbagai bentuk. 80-81 Ibid Hal 83 28 Ibid Hal 81-82 9 . teks adalah perubahan kehendak dari oral menuju tulis. Sasaran daripada teks menurut hanafi adalah untuk mendokumentasi situasi dan menkodifikasikannya demi transformasi dari diversitas menuju kesatuan. teks bukanlah dokumen yang lebih dekat kepada timbunan atau catatan kuno. maka Hanafi melakukan kritik terhadaf teori tafsir klasik yang telah dibangun 26 27 Hassan Hanafi. tetapi adalah realitas yang hidup dalam keadaan diam. 27 Lebih lanjut Hanafi menyatakan bahwasannya teks merupakan mayat hidup yang lebih menyerupai nenek moyang.

atau sebelum membangun ilmu-ilmu keislaman apa pun. Qadhāya Mu’āshirah Fī Fikrinā al-Mu’ashir Vol. a. sebab tafsir klasik tidak melampaui fase syarah (komentar). AlQur’an lebih banyak digunakan sebagai sumber justifikasi dalam menguatkan posisi keilmuan lain daripada memahaminya secara sungguh-sungguh. tasawwuf. 31 Dalam pandangan Hanafi. Sebagai akibatnya. fiqih. teks keagamaan berkutat pada dirinya sendiri. 1989) Hal. Al-Qur’an lebih banyak digunakan untuk memapankan disiplin lain. dua krisis kelemahan yang menjadi sasaran kritik Hanafi adalah krisis orientasi dan krisis epistemologis. setelah itu baru digunakan kembali untuk menafsirkan Al-Qur’an. Menurut Hanafi. 175. Akibatnya.29 Hanafi menjelaskan. tafsir Al-Qur’an klasik tidak pernah melakukan perbincangan teoritis semacam ini secara tuntas. 1983) Hal. filsafat dan lain sebagainya. Disisi lain ia mengabaikan kehidupan.30 Hanafi menginginkan teoretisasi penafsiran yang meletakan kembali Al-Qur’an sebagai sumber dan objek pengetahuan secara simultan dihadapan rasionalitas sebelum melakukan kegiatan keilmuan lainnya. Sedangkan bagi Hanafi. tikrār (pengulangan) dan penjelasan tentang apa yang sedikit banyak tidak dibutuhkannya.oleh ulama Tafsir. tafsīl (detailisasi). Al-Qur’an bukan sama sekali buku Ibid Hal. menurut Hanafi. kebutuhan muslim dan isi-isu kontemporer. problem. 5 Hasan hanafi. Krisis Orientasi Upaya memahami wahyu adalah upaya yang melibatkan pembacaan sekaligus pemahaman terhadapnya. ad-Dīn wa at-Tsaurah fi Mishr1952-1981. karena berlandaskan pada makna-maknanya dari jangkauan dalam makna awal ayat. tafsir klasik tidak memiliki teori solid yang memiliki prinsip-prinsip yang teruji dan terseleksi. tafsir klasik tidak otonom. al-Yamīn wa al-Yasār fī fikri ad-Dīnī Vol. ada dua kelemahan dalam tafsir klasik yang dianggap krisis dan sangat berpengaruh besar. 176 30 29 10 . Hal. beban dan kebutuhan manusia. 78 31 Opcit. 2 (Beirut: Dār at-Tanwīr. adalah perbincangan mengenai teori penafsiran (naẓariyyah at-tafsīr) yang mampu mengungkapkan kepentingan masyarakat. Sementara pemahaman terhadap Al-Qur’an. namun terjebak pada orientasi metodologis dari disiplin keilmuan klasik Islam. 7 (Kairo: Maktabah Madbuli. baik usul fiqih.

bercampur baur antara satu tema dengan yang lainnya. metode tafsir ini kehilangan ideologi yang koheren. kitab teologi. Metodologi Tafsir AlQur’an menurut Hassan Hanafi (Jakarta: Teraju. 7-8 11 . 2009) Hal. al-Yamīn wa al-Yasār fī fikri ad-Dīnī Vol. hukum. Hanapi melihat adanya dualisme antara teks keagamaan (ilmu-ilmu AlQur’an dan Hadits) dan dunia nyata (realitas kekinian). Tafsir seperti ini tidak memiliki struktur tema yang rasional dan riil yang bisa menyajikan argumennya dari dalam dan bukan dari luar.32 Menurut Hanafi. menurut Hanafi. menurut Hanafi. hanya akan melahirkan penafsiran yang parsial. 33 Kritik Hanafi lebih dalam ketika melihat hasil tafsir Al-Quran dari para ulama tafsir saat ini. Hermeneutika Pembebasan. 79-101 33 Hasan Hanafi dalam Ilham B. sejarah. atau panduan sosial-politik atau buku tentang metafor. 139-140 34 Hasan Hanafi. Metode penafsiran semacam ini. suatu kegiatan penafsiran yang bertele-tele. 2002) hal. kemudian bentuk dan sistematikanya lebih banyak merupakan tafsir analitik (at-tafsīr attahlīlī) dalam konsep hanapi. ad-Dīn wa at-Tsaurah fi Mishr1952-1981. tafsir ini disebut dengan at-tafsīr at-tūlā. Artinya. teori tafsir klasik lebih bersifat teosentris daripada antroposentris. Hermeneutika Al-Qur’an? (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press. Saenong. 32 Hasan Hanafi. buku pengetahuan. Bahkan hanya akan mengulan-ngulang tema yang diperbincangkan. sifat dan perbuatannya. mistik. sekaligus mempertegas bahwa alam adalah ciptaan dan manusia akan diminta pertanggungjawaban. Metode itu adalah hermeneutika. 7 (Kairo: Maktabah Madbuli. pandangan dunia yang bersifat global dan tercerabut dari kebutuhan jiwa dan kepentingan masyarakat kontemporer. 34 Orientasi tafsir klasik. Tafsir ini juga merupakan tafsir dogmatis teologis. 1989) Hal. Untuk menjembatani dualisme antara teks dan realitas model ini maka diperlukanlah sebuah methode penafsiran baru. Tafsir klasik terjebak dalam corak penafsiran disipliner diatas. Dengan kata lain Hanafi menyatakan. mempunyai tiga kelemahan.panduan bahasa. Pertama. teori ini diarahkan untuk menegaskan wujud Allah dengan membahas esensi. Tafsir yang menguraikan teks-teks Al-Qur’an dari mulai surah al-fātihah sampai surah an-nās di akhir al-Qur’an.

Hal. 35 b. ’am dan khas yang dilakukan untuk menjamin kebenaran makna. 2002) hal. 8-10 Hasan Hanafi dalam Ilham B. yakni linguistik (lughawy) dan sejarah turunnya ayat-ayat al-Qur’an (asbāb annuzūl). selalu terikat dengan kondisi lokal Islam tempat dulu Islam lahir. Metodologi Tafsir AlQur’an menurut Hassan Hanafi (Jakarta: Teraju. menyerukan perbaikan dan perubahan radikal atas kondisi yang bertentangan dengan agama. Sebaliknya. setelah menegaskan wujud Allah. Padahal menurut Hanafi. Hermeneutika Pembebasan. Sebaliknya selalu mengekor dan mengukuhkan setiap perbaikan dan perubahan yang dimulai dari luar teks keagamaan. Metode Linguistik hanya membatasi penentuan makna teks Al-Qur’an berdasarkan pada prinsip linguistik yang spesifik. muhkam dan mutasyabih. metode linguistik ini menghipotesakan bahwa makna teks itu haruslah tidak jelas. keterciptaan alam dan kebertanggungjawaban manusia dan keyakinan lainya. khazanah pemikiran klasik tidak pernah memiliki suatu teori penafsiran yang otoritatif dengan prinsip-prinsip ilmiah yang mengarah pada kepentingan tertentu. Krisis Epistemologi Menurut Hanafi. muqayyad dan mutlak. zahir dan muawwal. Ketiga. Padahal menurut hanafi. Tafsir klasik juga tidak menggunakan nilai spiritual sebagai sarana untuk memenangkan manusia. Saenong. 140-141 36 35 12 . keduanya reduktif terhadap makna. mufassir harus menegakan teori tentang wujudmanusia individu dan sosial dengan menjelaskan berbagai situasi yang berkaitan dengan orang lain dan alam. Lagi pula. Kedua. mujmal dan mubayyan.padahal tafsir yang diinginkan oleh Hanafi adalah. Adapun ciri-cirinya adalah mengulang-ngulang pendapat klasik dalam mempormulasikan berbagai argumen. dianggap Hanafi terlalu membatasi pada aspek tekstualitas AlQur’an. hanya menjelaskan masalah-masalah yang sama sekali bertentangan dengan kepentingan masyarakat. tidak pernah memulai dengan mengkritik. sehingga dibutuhkan keseriusan ekstra untuk memahami maknanya. mayoritas tafsir-tafsir klasik menurut Hanafi. khususnya dari segi sosial dan ekonomi. seperti hakekat dan majaz. Ibid. 36 Penafsiran diatas.

Hanafi menggunakan hermeneutika sebagai alternatif metode interpretasi teks atas kritiknya pada metode tafsir klasik. (Kairo: AlMarkaz Al-‘Arabī. baik atas teks maupun terhadap realitas. makalah bahkan yang lebih spesifik adalah didalam pengantar buku Tradisi dan Modernisasi (at-Turats wa at-Tajdid) Hanafi menyatakan bahwa mega proyek daripada Tradisi dan Modernisasi adalah upaya rekonstruksi peradaban dengan menunjukan pada sumber-sumbernya dalam wahyu. 38 E. Meskipun pendekatan seperti ini dapat mengungkap peristiwa pertama dari teks. METODE HERMENEUTIKA HANAFI Didalam berbagai artikel. Tujuan akhirnya adalah transformasi wahyu kedalam disiplin kemanusiaan yang komprehensif. menurut Hanafi.39 Untuk kepentingan diatas. yang semestinya dirasakan oleh mufassir sebagai bagian dari umat secara keseluruhan. At-Turāts wa at-Tajdīd: Mauqifunā min Al-Turāts Al-Qadīm. 6 Ibid. atau reinterpretasi wahyu itu sendiri. Hanafi juga memperluas cakupan hermeneutika. hanya membatasi sekedar pada kasus-kasus spesipik yang menjadi sebab-sebab turunnya ayat. disamping pendasaran kepada realitas kontemporer dan tradisi klasik. Sebagai akibatnya. sekaligus merupakan pengalaman hidup yang terulang-ulang dalam kehidupan orang lain. 7 39 Hasan Hanafi. 213 38 37 13 . 1980) Hal. namun Hanafi memandang peristiwa pertama ini merupakanpengalaman hidup orang-orangdimana ayat itu diturunkan. 37 Adapun penafsiran klasik yang dilakukan melalui pendekatan sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an. 2009) Hal. Hasan Hanafi. Hanafi merencanakan sebuah hermeneutika yang mencakup berbagai teori interpretasi. Hal. dimana pemahaman ayat dilakukan secara langsung dengan melihat kejadian yang ditunjuk oleh ayat itu sendiri. pemahaman ayat dilakukan dengan cara menunjukannya pada pengalamannya. yang hidup dalam kesadaran mufassir dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Hermeneutika Al-Qur’an? (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press. Asbāb an-nuzūl klasik berubah menjadi situasi kemanusiaan yang hadir.metode ini melupakan pengalaman hidup yang dijelaskan oleh teks.

2002) hal. serupa dengan menulis teks baru. 160-161 41 Hasan Hanafi dalam Ilham B. Hasan Hanafi: Hermeneutika Humanistik (Yogyakarta: Jendela. Bukan hanya mengetahui. Pemikiran Islam Kontemporer. 42 Berhubungan dengan metodologi hermeneutika sosial yang dibangun ini. dan juga transformasi wahyu dari pikiran Tuhan kepada kehidupan manusia. Metodologi Tafsir AlQur’an menurut Hassan Hanafi (Jakarta: Teraju. tapi sebaliknya. kesadaran dan alam. dapat juga menginduksi makna dari realitas kedalam teks. menafsirkan adalah menemukan sesuatu yang baru antara bahasa teks. seorang mufassir yang ingin mendekati makna Al-Qur’an tidak saja mendeduksi makna dari teks. Hanafi menawarkan teori penafsiran yang baru dalam menafsirkan Al-Qur’an yang ia rumuskan melalui pendekatan sosial. 147 40 14 . Menafsirkan menurut Hanafi. Dengan hermeneutika Al-Qur’an seperti ini.dari sekedar ilmu interpretasi atau teori pemahaman. menjadi ilmu yang menjelaskan tentang penerimaan wahyu sejak tingkat perkataan hingga tingkat dunia. Seorang mufassir bukan hanya menerima. Karena tafsir tematis berusaha menemukan identitas sejati antara wahyu. tapi sekaligus menyadari. Hermeneutika adalah ilmu tentang proses wahyu dari huruf sampai kenyataan. Hanafi menyebut teori penafsiran ini dengan ”hermeneutika sosial” (al-manhaj al-ijtimā’ī fī at-tafsīr) atau lebih tepatnya metode tafsir tematik (attafsīr al-maudhū’ī). tapi memberi makna. fokus dari objek. 40 Melihat berbagai kekurangan dan kelemahan didalam tafsir klasik. menurut hanafi. Hermeneutika Pembebasan. 41 Menafsirkan dalam pandangan Hanafi berarti mencari sesuatu. dari logos sampai praksis. Saenong. 146 42 Ibid Hal. Premis-premis itu adalah: Ahmad Khudori Sholeh dalam. 2003) Hal. Bukan sekedar menjelaskan. mengungkap isi terdalam dari teks yang berhubungan dengan kesadaran yang paling dalam. Ia menerima makna dan meletakannya dalam struktur rasional dan nyata. tapi juga memahami. Hanafi meletakan premis-premis dan landasan filosofis dalam mencari makna dari teks AlQur’an.

Sumber: Henri Shalahuddin M.A. Al-Qur'an Dihujat (Jakarta: Al-Qalam. pemahaman benar atau salah. karena teks adalah teks. seperti karya sastra. Yang ada hanyalah perbedaan pendekatan terhadap teks yang ditentukan oleh perbedaan kepentingan dan motivasi. Al-Qur’an diterima sebagaimana layaknya teks-teks lain. menurut Abu Zaid. Pertanyaan tentang asal-usul teks merupakan permasalahan kejadian teks. bahkan sebagian cendikiawan muslim kontemporer seperti Nashr Hamid Abu Zaid dan Muhammad Arkoun. termasuk Al-ur’an.44 apakah ia dari Tuhan atau dari pandangan Muhammad Saw. tidak pula ditolak. Kemudian Al-Qur'an yang absolut dan sakral tersebut menjadi pudar. Menurut Hanafi.Al-Qur’an menurut Hanafi. sedangkan penafsiran berkaitan dengan isi teks tersebut. II (kairo: Dār Qubā. 2002) hal. Konflik interpretasi mencerminkkan pertentangan Kata epoche berasal dari bahas Yunani.46 Ketiga. keabsolutan AL-Qur'an yang sakral sebatas dalam bentuknya yang metafisis atau saat berada di lawh mahfudz yang tidak diketahui hakekatnya dan tidak dapat dibuktikan melainkan hanya sekedar cerita dari Al-Qur'an saja. tidak ada permasalahan apakah ia bersifat Ilahiah atau manusiawi. dokumen sejarah dan sebagainya. Humūm al-Fikr al-Wathan: at-Turats wa al-’Ashr wa al-Hadātsah Vol. elegius atau sekular. Penafsir tidak perlu lagi mempertanyakan keabsahan dan keaslian AlQur’an yang banyak diperdebatkan oleh kalangan orientalis. teks filosofis. Maka kesimpulannya. 1997) Hal. Penafsiran dimulai dari teks apa adanya tanpa mempertanyakan keasliannya terlebih dahulu. Tidak ada penafsiran palsu atau benar. Saenong. 44 Dalam pandangan Nashr hamid Abu Zaid. 45 Kedua.Pertama. Hal ini karena keabsolutan dan kesakralan Al-Qur'an telah hilang saat berada dalam akal pembacaan manusia yang bercampur dengan pewarnaan dan kepentingan masing-masing penafsir. sakral atau profan. dalam tahap interpretasi pertanyaan tentang asal-usul teks tidak lagi relevan. yang berarti: “menunda putusan” atau ”mengosongkan diri dari keyakinan tertentu”. Metodologi Tafsir AlQur’an menurut Hassan Hanafi (Jakarta: Teraju.43 tidak diafirmasi. sebagaimana halnya juga hadits Nabi. relatif dan nisbi saat diwahyukan kepada Nabi dan dipahami oleh ummat Islam. hanyalah merupakan transfigurasi bahasa manusia. 2007) 45 Hasan Hanafi dalam Ilham B. 23-30 43 15 . Hermeneutika Pembebasan. 147-148 46 Hasan hanafi. Al-Qur’an tidak memiliki kedudukan istimewa secara metodologis. semua teks ditafsirkan berdasarkan aturan yang sama. Al-Qur'an yang absolut dan sakral sudah tidak ada lagi di dunia ini. wahyu diletakan dalam ”tanda kurung” (epoche). Baik itu yang sakral atau profan.

Keempat. Setiap penafsiran mengungkapkan sosio-politik penafsir. baik dalam rangka mempertahankan keuasaan atau merubahnya. Menurut Hanafi. Teori sebenarnya hanyalah merupakan kedok epistemologis. Konflik penafsiran merefleksikan konflik sosio-politik dan bukan konflik teoritis. 47 Dari lima premis diatas. vol. Kesamaan antara makna teks yang sedang dijelaskan dengan makna penafsiran terhadap teks hanyalah preposisi formal yang sifatnya hipotesis berdasarkan pada hukum keserupaan.kepentingan. Harus mampu menghasilkan tafsir yang sifatnya spesifik (at-tafsir aljuz'i) yaitu menafsirkan ayat-ayat tertentu Al-Qur'an bukannya menafsirkan seluruh ayat-ayat Al-Qur'an. Terakhir. bahkan ambisi manusia. 1995) Hal. Ideology. (at-tafsir az-zamani). merupakan senjata ideologis yang banyak digunakan oleh kekuatan sosio-politik. teks hanyalah alat kepentingan. Penafsirlah yang memberinya isi sesuai ruang dan waktu dalam masa mereka. Penafsiran menurut Hanafi. Islam In The Modern World: Religion. Ketiga. 417-418 16 . Pertama. dalam interpretasi yang bersifat linguistik bahasa selalu berubah-ubah. and Development. Tafsir semacam ini tidak berurusan 47 Hassan Hanafi. Penafsiran tidak diarahkan kepada pencarian makna universal. Kedua. tapi pluralitas penafsiran yang disebabkan oleh perbedaan pemahaman penafsir. tafsir semacam ini disebut juga tafsir tematik (at-tafsir al-maudhu'i) karena hanya menafsirkan tema-tema tertentu yang dibutuhkan. I (Kairo: Anglo-Egyptian Bookshop. kesenjangan waktu yang lebih dari 14 abad yang menyebabkan teori keserupaan teks dan penafsiran jadi mustahil. maka dari itu Hanafi merumuskan beberapa karakteristik dalam penafsiran Al-Qur'an. Hanafi bertujuan untuk menghindarkan dari penafsiran yang bertele-tele. Tidak ada penafsiran tunggal terhadap teks. melainkan diarahkan untuk menelusuri makna sesuai yang diinginkan Al-Qur'an untuk generasi tertentu. bersifat temporal.

Karena menurut Hanafi. karena ia merupakan tafsir yang sesuai dengan kehidupan dan pengalaman hidup mufassir. Bagi Hanafi. bersifat experimental. baik itu bagian dari golongan atas. al-Yamīn wa al-Yasār fī fikri ad-Dīnī Vol. melainkan dikaitkan dengan realitas kontemporer dimana ia muncul. Mufassir tidak dapat memulai penafsirannya tanpa didahului oleh perhatian dan penelitian yang mendalam atas masalah-masalah kehidupan. 1989) Hal. Yaitu memulai penafsiran dari realitas kaum muslimin. Keenam. posisi sosial mufassir ditentukan secara sosial sekaligus menentukan corak penafsiran yang dilakukannya. kemudian Hanafi merumuskan beberapa aturan metodis untuk mendukung hermeneutika Al-Qur'an yang ia bangun. rasional dan natural. berkarakter realistik (at-tafsir al-waqi'i). 7 (Kairo: Maktabah Madbuli.dengan masa lalu atau masa yang akan datang. Ia Hasan Hanafi. menengah atau bawah. 102-111 48 17 . beroeientasi pada makna tertentu dan bukan merupakan perbincangan teoritik tentang huruf dan kata. sebab ia berada dalam drama negeri tertentu dan dalam krisis dalam masanya. Terakhir. wahyu pada dasarnya memiliki tujuan. Pertama: merumuskan komitmen sosial politik. orientasi dan kepentingan. Kelima. Aturan-aturan ini berfungsi sebagai petunjuk teknis ketika menafsirkan Al-Qur'an. ad-Dīn wa at-Tsaurah fi Mishr1952-1981. Mufassir bukanlah seorang yang netral. perhatian terhadap problem kontemporer. Yaitu kepentingan masyarakat dan hal-hal yang menurut akal bersifat manusiwi. kehidupan dengan segala problematikanyakrisis dank kesengsaraan yang mereka hadapi. Ketujuh. Penafsiran merupakan bagian dari struktur sosial. 48 Setelah meletakan berbagai premis dan karakteristik penafsiran. Keempat.

Menurut Hanafi. Tidak ada mufassir tanpa komitmen tertentu. untuk mengetahui status kuantitatif masalah. kesadaran adalah kepentingan itu sendiri. Keempat. membandingkan yang ideal dengan yang riil.terobsesi pada perubahan sosial. Ketiga. Keduanya adalah kolerasi yang sama dalam keasadaran. setelah proses membangun struktur memberikan tema kualitatif dan analisis fakta sosial memberi status kuantitatif sebagai fenomena sosio-historis. Keenam. bahasa merupakan bentuk pemikiran yang membawa mufassir kedalam makna. sebab hilangnya komitmen berarti tidak memiliki komitmen apa-apa. Kelima. Setelah membangun suatu tema sebagai struktur ideal. Seorang mufassir tidak memulai penafsiran dengan tangan kosong atau tanpa mengetahui apa yang ingin ia ketahui terlebih dahulu. kemudian dibaca dan dipahami berulang-ulang secara seksama dan simultan sehingga orientasi umum dari ayat-ayat tersebut dapat ditemukan. Sementara hikmah yang dikandung asbab an-nuzul merupakan gambaran dari prioritas realitas atas teks. mufassir membandingkan struktur ideal yang dideduksi dari analisis isi teks dan situasi faktual yang diinduksi olek statistik dalam ilmu-ilmu sosial. diagnosa sosial adalah cara lain untuk memahami makna sebagai dinamika teks dalam dunia nyata. mencari sesuatu. Bagi Hanafi. klasifikasi bentuk-bentuk linguistik. Menurut Hanafi. mufassir menggabungkandan menghubungkannya dengan situasi nyata. membangun struktur. seorang mufassir berusaha mensinopsis ayat-ayat yang berkaitan dengan tema-tema tertentu. Kedua. mufassir berusaha membangun suatu strukturberangkat dari suatu makna menuju suatu objek. analisis situasi faktual. Setiap ayat yang berhubungan satu sama lain dalam tema-tema tertentu dikumpulkan. Setelah bentuk-bentuk linguistik memberi orientasi makna. Ketujuh. 18 . Makna dan objek adalah sisi koin yang sama.

Saenong. dari teori ke praktek dan dari pemahaman ke perubahan. seorang mufassir yang ingin mendekati makna Al-Qur’an tidak saja mendeduksi makna dari teks. Surat yang panjang menggambarkan suatu peristiwa yang besar adapun surat pendek menggambarkan sebaliknya. Hermeneutika Pembebasan. Hal ini terkait dengan latar belakang turunnya (asbāb an-nuzūl) ayat atau surat Al-Qur'an. Latar belakang ini menurut Hanafi. TANGGAPAN ATAS TEORI HERMENEUTIKA HANAFI Teori penafsiran yang dibangun Hanafi diatas. Bukan hanya mengetahui. 151-153 50 Hassan Hanafi. 2002) hal. asbāb an-nuzūl dapat berupa kondisi. Seorang mufassir bukan hanya menerima. 64 51 Hasan Hanafi dalam Ilham B. (Nadwah mauqif al-Islam wa al-hadatsah. Al-Wahyu wa al-Waqi': Dirasat fi asbab an-nuzul. Hanafi membangun teori Hermeneutika sosial yang bersifat antroposentris karena berbasis realitas yang terjadi pada manusia dan alam sekitar manusia serta menghilangkan unsur-unsur teosentris (ilāhiah) yang tidak memihak manusia seperti yang telah dipaparkan diatas. 51 Hasan Hanafi dalam Ilham B. Apabila ditemukan adanya kesenjangan antara dunia ideal dengan dunia riil. dapat juga menginduksi makna dari realitas kedalam teks. Bukan sekedar menjelaskan. atau lingkungan yang didalamnya sebuah ayat atau surat diturunkan. tidak ada ayat atau surat yang tanpa didahului latar belakang pewahyuan (asbāb an-nuzūl). Hermeneutika Pembebasan. deskripsi model-model aksi. 49 F. Dar as-saqa) Hal. Ia menerima makna dan meletakannya dalam struktur rasional dan nyata. tapi memberi makna. peristiwa. Saenong. 135-136 sevagaimana dikutip oleh Dr. tapi sekaligus menyadari. menurut Hanafi.Terakhir. Metodologi Tafsir AlQur’an menurut Hassan Hanafi (Jakarta: Teraju. Setiap latar belakang tercermin dalam kuantitas surat. Maqalatani fi at-Ta'wil Ma'alim fi al-manhaj wa rosd li al-inhiraf (kairo: Daar al-Bashair. tapi juga memahami. 2003) Hal. harus dipahami dalam pengertian yang luas. Metodologi Tafsir AlQur’an menurut Hassan Hanafi (Jakarta: Teraju. bercorak hermeneutika sosial yang lebih mengedepankan realitas kontemporer yang terjadi saat Al-Quran itu ditafsirkan. M. 146 49 19 . 2002) hal. maka aksi sosial merupakan langkah berikutnya dari proses interpretasi. 50 Dengan pendapat seperti ini. Mufassir mentransformasikan diri dari teks ke aksi. Salim Abu Ashi. Menurut Hanafi. tapi sebaliknya.

Kedua. al-’adl. 2003) Hal. 68 53 Pokok-pokok yang lima itu adalah: at-tauhīd. Maqalatani fi at-Ta'wil Ma'alim fi al-manhaj wa rosd li al-inhiraf (kairo: Daar al-Bashair. Yang mana.52 Dalam konteks ini hanafi mengikuti teori yang dikembangkan oleh golongan Mu’tazilah yang membangun teori penafsiran Al-Qur’an diatas pokok yang lima (alushūl al-khams). Ayat-ayat yang Allah turunkan langsung tanpa ada kejadian dan sebab-sebab tertentu. 109-111 20 . teks Al-Qur'an ayang diturunkan oleh Allah SWT terbagi kedalam dua bagian. sedangkan menurut as-Suyuti berjumlah 888 ayat. Dari penelitian inilah mereka berdua menyimpulkan bahwa teks Al-Qur'an lebih dahulu ada dari realitas itu sendiri. realita mendeduksi makna dari teks. bukan sebaliknya. Maka Hanafi mengedepankan realitas.53 maka dari itu. dalam konsep teori penafsiran ulama tedahulu adalah. Raudhatul bāhitsīn fī manāhij al-mufassirīn. Pertama . lalu mencari ayat-ayat Al-Qur'an yang sesuai dengan realitas itu. teori penafsiran yang mereka bangun adalah. Menurut Al-Wahidi dari sekitar 6236 ayat Al-Qur'an yang ada latar belakang turunnya berjumlah 472 ayat. 54 52 Dr. dengan dalih untuk lebih membumikan Teks Al-Qur'an supaya lebih humanis (antroposentris). 2007) Hal. Bagian kedua adalah bagian yang terbanyak. Teori penafsiran seperti ini bertentangan dengan konsep penafsiran yang telah disepakati para ulama terdahulu. Dalam pandangan as-Suyuti dan Al-Wahidi. Jadi dalam penafsiran Al-Qur'an Realitas tunduk terhadap Teks Al-Qur'an. menjadikan teks mengikuti apa yang mereka kehendaki sesuai dengan pokok-pokok yang lima diatas. (Kairo: Al-Azhar University. Salim Abu Ashi. Begitupula teori yang dikembangkan Hanafi. Fathi Muhammad Gharib. al-wa’du wa al-wa’īd.Pendapat Hanafi bahwa semua ayat dan surat Al-Qur'an ada asbab an-nuzul nya sangat bertentangan dengan teori asbāb an-nuzūl yang telah dikoodifikasikan dengan mapan oleh ulama-ulama 'ulūm Al-Qur'an terdahulu yang sangat menguasai 'ulūm AlQur'an seperti as-Suyuti dan al-Wahidi. al-manzilah baina al-manzilatain. dan al-amr bi al-ma’rūf wa an-nahy ’an al-munkar 54 Dr. ayat-ayat yang Allah turunkan berkenaan dengan kejadian dan sebab-sebab tertentu. M.

58 Teo Huijbers. (Jogjakarta: Kanisius. ada lima tahapan yang harus dilakukan seorang mufassir dalam melakukan penafsiran Al-Qur’an. Penafsiran dimulai dari teks apa adanya tanpa mempertanyakan keasliannya terlebih dahulu. Lagipula reduksi diperlukan oleh sebab dunia asli yang kita cari artinya sudah tidak ada lagi. suatu fenomen tidak perlu harus diamati dengan indra. 56 Langkah penafsiran Al-Qur'an yang dilakukan oleh Hanafi jelas sekali merupakan implikasi dari teori fenomenologi Husserl yaitu dengan melakukan epoche atau dikenal juga dengan teori reduksi. apakah ia dari Tuhan atau dari pandangan Muhammad Saw.55 tidak diafirmasi. 1982) Hal.Lebih lanjut Hanafi. oleh sebab dalam sikap alamiah orang beranggapan bahwa apa yang kita alami adalah suatu dunia yang berdiri pada diri sendiri. yang berarti: “menunda putusan” atau ”mengosongkan diri dari keyakinan tertentu”. Menurutnya. 56 Hasan Hanafi dalam Ilham B. fenomen adalah apa yang menampakkan diri dalam dirinya. Saenong. 55 21 . Dapat dikatakan bahwa dunia dikonstituir artinya oleh subyek. cetakan ke delapan belas. Yang mana bagi Husserl metode yang benar-benar ilmiah adalah metode yang sanggup membuat fenomena menampakkan diri sesuai dengan realitas yang sesungguhnya tanpa memanipulasinya. lihat Harun Hadiwijoyo. Penafsir tidak perlu lagi mempertanyakan keabsahan dan keaslian Al-Qur’an. 228. Hermeneutika Pembebasan. Menurut para pengikut filsafat fenomenologi. ( Jogjakarta: Pustaka Filsafat Kanisius. 2002) hal. cetakan ke 24. Filsafat Hukum dalam Lintas Sejarah. tidak pula ditolak. wahyu diletakan dalam ”tanda kurung” (epoche). Menurut filusuf pengikut fenomenologi. tanpa melewati indera. Metodologi Tafsir AlQur’an menurut Hassan Hanafi (Jakarta: Teraju. apa yang jelas dihadapan kita. sebab fenomen dapat juga dilihat atau ditilik secara rohani. mengembangkan teori hermeneutikanya melalui pendekatan fenomenologi yang ia adopsi dari teori fenomenologi Edmund Husserl. 140. Dunia selalu sudah diubah artinya karena pengaruh ilmu pengetahuan dan kebudayaan.57 Untuk merealisasikan pandangannya. 147-148 57 Jan Hendrik Rapar. Berangkat dari proses pemikiran yang demikian. (Yogyakarta: Kanisius. Pengantar Filsafat. 1980) Hal. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Juga fenomen tidak perlu suatu peristiwa. 118 – 119. Langkah-langkah tersebut adalah: pertama. 1996) Hal. Arti ilmiah dan kultural yang kita berikan kepada dunia harus lepas. maka lahirlah metode fenomenologis. Padahal bagi orang yang berfikir jelaslah bahwa dunia sebagaimana dimengerti manusia adalah hasil kegiatan subyek. menurut Husserl reduksi pertama-tama di perlukan. 58 Kata epoche berasal dari bahas Yunani. apa yang menampakkan diri seperti apa adanya.

117 62 Sudarsono. Istilah lain yang digunakan oleh Husserl adalah epoche. 340 63 Teo Huijbers.61 Reduksi Fenomenologis merupakan tahap penyaringan terhadap semua pengalaman-pengalaman kita. reduksi ini adalah “pembersihan diri” dari segala subyektivitas yang dapat mengganggu perjalanan mencapai realitas itu.62 Singkatnya ini merupakan reduksi dari pengalaman sehari-hari tentang dunia yang dicampuri pengertian ilmiah dan kultural. Praja. cetakan ke delapan belas. Aliran-Aliran Filsaat dan Etika. Tidak menggunakan teori-teori atau pengertian-pengertian yang ada dalam hal ini diberi kesempatan “berbicara tentang dirinya sendiri”. 60 Agar mencapai hakekat obyek. 1983) Hal. semua segi. diperlukan tiga tahap reduksi yang fungsinya adalah menyingkirkan semua hal pengganggu. (Jakarta: PT. cetakan ke dua. Karena aspek dan profil tidak pernah Juhaya S. aspek dan profil penomena yang hanya kebetulan dikesampingkan.Dalam usaha melihat hakekat intuisi. cetakan ke dua. seorang fenomenologis harus bersifat netral. guna memandang kembali dunia dalam arti aslinya. 64 Juhaya S. 59 Reduksi ini adalah salah satu prinsip yang mendasari sikap fenomenologis. 1993) Hal. 2005) Hal. 64 Sedangkan reduksi eidetis merupakan penyaringan atau penempatan dalam tanda kurung segala hal yang bukan eidos (intisari/hakekat gejala/fenomena). 60 Ibid 61 Harry Hamersma. (Jakarta: Penerbit Kencana. Praja. 1982) Hal. Filsafat Hukum dalam Lintas Sejarah. dengan maksud agar mendapatkan fenomena yang semurni-murninya. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern. reduksi kedua Reduksi Eidetis dan reduksi ketiga Transendental. 2005) Hal. Yang dimaksud dengan reduksi dalam hal ini adalah penundaan segala pengetahuan yang ada tentang objek sebelum pengamatan intusi dilakukan. Rineka Cipta. yang artinya sebagai penempatan sesuatu di antara dua kurung. (Jakarta: Penerbit Kencana. Aliran-Aliran Filsaat dan Etika. Husserl memperkenalkan pendekatan reduksi. Dengan reduksi eidetis. 228 – 229. Untuk mengetahui sesuatu. 180. 63 Atau dengan kata lain. 181 59 22 . inti sari atau realitas fenomena. Reduksi Fenomenologis. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. ( Jogjakarta: Pustaka Filsafat Kanisius. (Jakarta: Gramedia. Reduksi juga dapat diartikan penyaringan atau pengecilan.

yaitu yang ada bagi diriku dalam aktrus-aktrus. bukan kesadaran bukan berarti menyadarkan diri berdasarkan penemuan dengan fenomena tertentu. Setiap objek adalah kompleks mengandung aspek dan profil yang tiada terhingga. 65 Terakhir adalah reduksi transendental. 66 Reduksi ini dengan sendirinya bukan lagi mengenai objek. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. baik dari adat. Kesadaran yang ditemukan adalah kesadaran yang bersifat murni atau transendental. (Jakarta: PT. Husserl akhirnya terjerumus pada idealisme transendental seperti digambarkan diatas. Sebab fenomenologi sendiri mengakui bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak bebas nilai. Hal. atau fenomena bukan mengenai hal-hal yang menampakkan diri pada kesadaran. merupakan sesuatu yang absurd. menurut Husserl adalah menemukan bagaimana objek dikonstitusi sebagaimana fenomena asli dalam kesadaran manusia. 340 67 Ofcit. agar dari obyek itu akhirnya orang sampai kepada apa yang ada pada subyek sendiri. yang menyatakan bahwa tidak ada penelitian yang 65 66 Ibid hal. Akan tetapi. didalam sistem filsafatnya. Tujuan fenomenologi untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai pandangan sebelumnya. Reduksi ini merupakan pengarahan ke subjek dan mengenai hal-hal yang menampakkan diri dalam kesadaran. Dengan demikian yang tinggal sebagai hasil reduksi adalah aktus kesadaran sendiri. Husserl ingin dengan metode ini memberikan landasan yang kuat dan netral bagi filsafat dan ilmu pengetahuan umum. ataupun ilmu pengetahuan. tetapi bermuatan nilai. metode fenomenologi itu diterapkan pada subyeknya sendiri dan kepada perbuatannya. Dengan singkat dapat disebut aku “transendental” 67 Tujuan dari reduksi-reduksi diatas. Rineka Cipta. kepada kesadaran yang murni. 182 Sudarsono. 183 23 . Kesadaran disini bukan pula kesafadan empiris lagi. Dan diceritakan bahwa hal ini bertentangan dengan tujuan semula. agama.mennggambarkan objek secara utuh. dengan lain kata. Dalam reduksi transendental yang harus ditempatkan di antara tanda kurung ialah eksistensi dan segala sesuatu yang tidak ada hubungan timbal balik dengan kesadaran murni. Hal ini dipertegas oleh Derrida. 1993) Hal.

semua teks ditafsirkan berdasarkan aturan yang sama. Al-Qur’an tidak memiliki kedudukan istimewa secara metodologis. penafsir tersebut sebenarnya tidak bekerja dengn “tangan kosong:. teks filosofis. 69 Ketiga. Lihat Agus Sachari. Humūm al-Fikr al-Wathan: at-Turats wa al-’Ashr wa al-Hadātsah (kairo: Dār Qubā. tapi pluralaritas penafsiran yang disebabkan oleh perbedaan pemahaman penafsir. dokumen sejarah dan sebagainya. Keempat. 1997) Hal. 102-111 68 24 . Budaya Visual Indonesia dan Permasalahannya. Sebagai akibatnya. Tidak ada penafsiran tunggal terhadap teks. Yang mana menurut Husserl. tujuan penelitian fenomenologis tidak pernah dapat terwujud. vorsicht (apa yang ia liat) dan vorgriff (apa yang digagas kemudian). seperti karya sastra. Konflik penafsiran merefleksikan konflik sosio politik dan bukan konflik teoritis. Kedua tidak ada pandangan yang bersifat total untuk memahami suatu objek dalam sekejap. untuk mencari hakikat yang esensial dari suatu realitas adalah dengan membiarkan Gadamer menyatakan bahwa walaupun penafsir memiliki jarak terhadap fenomena budaya tertentu.tidak mempertimbangkan implikasi filosofis status pengetahuan. Al-Qur’an diterima sebagaimana layaknya teks-teks lain. pertama tidak ada titik nol yang absolut sebagai awal penafsiran. ketiga tidak ada penafsiran secara total sehinga tidak ada pula situasi yang mutlak membatasi. penafsir tersebut “telah membawa sesuatu” yang oleh Heidegger disebut vorhabe (apa yang ia miliki). 40 69 Hasan hanafi. Kita tidak dapat lagi menegaskan objektivitas atau penelitian bebas nilai. keempat peluang memadukan antara fenomena. bahkan ambisi manusia. Penafsirlah yang memberinya isi sesuai ruang dan waktu dalam masa mereka. al-Yamīn wa al-Yasār fī fikri ad-Dīnī Vol. teks hanyalah alat kepentingan. pemahaman benar atau salah.70 Langkah-langkah penafsiran yang dikemukakan oleh Hanafi merupakan implikasi dari teori reduksi dalam Fenomenologi Husserl. Tidak ada penafsiran palsu atau benar. ad-Dīn wa at-Tsaurah fi Mishr1952-1981. Terakhir. Setiap penafsiran mengungkapkan sosiopolitik penafsir. (Jakarta: Erlangga. Dalam memberi pemaknaan seorang penafsir terikat aspek. 7 (Kairo: Maktabah Madbuli.68 Kedua. Yang ada hanyalah perbedaan pendekatan terhadap teks yang ditentukan oleh perbedaan kepentingan dan motivasi. 1989) Hal. tetapi harus sepenuhnya mengaku sebagai hal yang ditafsirkan secara subjektif dan oleh karenanya status seluruh pengetahuan adalah sementara dan relatif. 2007) Hal. 23-30 70 Hasan Hanafi. karena fenomena yang diamati manusia pada hakekatnya tidak bersifat tertutup.

Hanafi menyusun metodologi penafsiran Al-Qur'an bukan dengan teori 'ulūm AlQur'ān yang selama ini telah mapan dan banyak dipergunakan oleh ulama-ulama Islam dalam menafsirkan Al-Qur'an. Reduksi-reduksi ini yang menyingkirkan semua hal yang mengganggu. Sikap kita harus obyektif. Ayat-ayat Al-Qur'an menginduksi makna dari realitas yang ada dan berkembang saat penafsiran Al-Qur'an. 1983) Hal. Sehingga penafsiran dapat dilakukan oleh semua orang.72 F. Supaya dapat menangkap hakekat obyek-obyek. 117 25 . KESIMPULAN Teori hermeneutika yang dibangun Hanafi sebagaimana penulis paparkan diatas. 144-146 Herry Hamersma.fenomena itu berbicara 71 sendiri tanpa dibarengi dengan prasangka (presuppositionlessness). Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern (Jakarta: Gramedia. Hal ini Hanafi lakukan dengan mengadopsi teori fenomenologi Husserl. Reduksi pertama: menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif. bukanlah hal baru. kedua: menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diselidiki dan diperoleh dari sumber lain. Jauh sebelum Hanafi. Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Belukar. melainkan dengan pendekatan filsafat. ketiga: menyingkirkan seluruh reduksi pengetahuan. Menurut Husserl. 2008) hal. terbuka untuk gejala-gejala yang harus “diajak bicara”. Hanafi juga mencoba untuk menghilangkan otoritas para ulama yang telah berjasa mengkoodifikasikan aturan-aturan bagi seorang mufassir. 71 72 Muhammad Muslih. Segala sesuatu yang sudah dikatakan oleh orang lain untuk sementara harus dilupakan. Sehingga lahirlah Hermeneutika sosial yang lebih mengutamakan realitas daripada wahyu itu sendiri. para orientalis telah memasarkan teori-teori Hermeneutika sebagai metodologi study Al-Qur'an. gejala sendiri dapat memperlihatkan diri. maka dibutuhkan tiga reduksi. Apabila reduksireduksi ini berhasil.

Ideology. 2008) Praja. At-Turāts wa at-Tajdīd: Mauqifunā min Al-Turāts Al-Qadīm. cetakan ke 24. Herry. I (Kairo: Anglo-Egyptian Bookshop. and Development. Tafsir Al-Qur'an atau "Hermeneutika Al-Qur'an" dalam Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA. Muhammad. 1980) Hanafi. Qadhāya Mu’āshirah Fī Fikrinā al-Mu’ashir Vol. Muslih. 7 (Kairo: Maktabah Madbuli. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern (Jakarta: Gramedia. 2 (Beirut: Dār at-Tanwīr. 2003) Armas. Aliran-Aliran Filsaat dan Etika. I No. Hermeneutika Al-Qur’an? (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press. Islam In The Modern World: Religion. (Kairo: AlAzhar University. M. 1995) _________. Humūm al-Fikr al-Wathan: at-Turats wa al-’Ashr wa al-Hadātsah (kairo: Dār Qubā. vol. Thn. Teo. Adnin MA. 2005) Rapar. 228. Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. 1983) Huijbers. (Yogyakarta: Belukar. Raudhatul bāhitsīn fī manāhij al-mufassirīn. (Yogyakarta: Kanisius. (Kairo: AlMarkaz Al-‘Arabī. Filsafat Hukum dalam Lintas Sejarah. Dirasat Falsafiyyah. (Jakarta: Penerbit Kencana. Juhaya S. 2009) _________. Hasan. Jan Hendrik. cetakan ke delapan belas. cetakan kelima. ad-Dīn wa at-Tsaurah fi Mishr1952-1981. Fathi Muhammad. Gharib. (Kairo: Maktabah Anglo Mishriyyah. 1983) Hadiwijoyo. 1996) 26 . cetakan ke dua. al-Yamīn wa al-Yasār fī fikri ad-Dīnī Vol. Salim. Maqalatani fi at-Ta'wil Ma'alim fi al-manhaj wa rosd li al-inhiraf (kairo: Daar al-Bashair. 2007) Hamersma. Pengantar Filsafat. Harun.DAFTAR PUSTAKA Abu Ashi. 1982) Hal. ( Jogjakarta: Pustaka Filsafat Kanisius. 1988) _________. 1/Muharram 1425. 1980) _________. 1997) _________. 1989) _________. (Jogjakarta: Kanisius. Sari Sejarah Filsafat Barat 2.

1993) 27 . Henri. 2007) Sholeh. Agus. Hermeneutika Pembebasan. (Jakarta: PT. Al-Qur'an Dihujat (Jakarta: Al-Qalam. 2003) Sudarsono. Pemikiran Islam Kontemporer. Hasan Hanafi: Hermeneutika Humanistik (Yogyakarta: Jendela. Budaya Visual Indonesia dan Permasalahannya. Metodologi Tafsir Al-Qur’an menurut Hassan Hanafi (Jakarta: Teraju.Sachari. Rineka Cipta. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. 2007) Saenong. 2002) Shalahuddin. (Jakarta: Erlangga. Ahmad Khudori. Ilham B.