P. 1
Hubungan Pancasila Dengan Agama Islam

Hubungan Pancasila Dengan Agama Islam

|Views: 38|Likes:
Published by Deki Naqh Gapenzha

More info:

Published by: Deki Naqh Gapenzha on Nov 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2014

pdf

text

original

HUBUNGAN PANCASILA DENGAN AGAMA ISLAM

Ìslamisasi Ìndonesia lewat politik dakwah, sebenarnya telah berjalan secara pasti
sejak awal Orde Baru hingga puncaknya saat berjalan seiring dengan Penguasa dalam
ÌCMÌ menjadi letak mendasar bagi Ìslamisasi Ìndonesia.
Seruan Hisbutahrir Ìndonesia (HTÌ) dan simpatisan politik Ìslamisasi lainnya
tantang shariah Ìslam sebagai solusi kini memuncak pada gol tidaknya RUU Anti
Pornoaksi dan Pornografi (APP) atau kini yang berubah nama menjadi RUU Anti
Pornografi (AP) yang kontroversial itu.
Kaum Nasionalis banyak yang melihat bahwa ini adalah awal dari shariatisasi
Ìndonesia. Teman dari Bali menyatakan kekhawatirannya pada penulis bahwa golnya
RUUP ini adalah tanda dari Ìslamisasi Ìndonesia. Terlihat dari wacana ini bahwa
semenjak euforia reformasi Ìslam adalah wacana politik di public dan elite pemimpin
yang Ìslamis.
Media massa dan elite Muslim yang duduk di pemerintahan tengah 'haus' akan
keislaman yang otentik (bahkan ironisnya cenderung ke arah konsuptivisme akut).
Sementara itu, wacana Pancasila oleh kaum Nasionalis terasa direduksi menjadi isu
kebangsaan dan kebinekaan yang boleh jadi merupakan kegamangan akan trauma
stigmatisasi Pancasila di bawah Rezim Orba. Diakui atau tidak 'perasaan' kaum
nasionalis ini menumpulkan wacana Pancasila sebagai Dasar Negara RÌ.
Walaupun demikian, meski wacana Ìslam sebagai solusi bangsa sangatlah
lantang sebenarnya kaum Ìslamis ini juga belum sepenuhnya mengerti bagaimana
Ìslam menjawab secara riil permasalahan bangsa yang multietnis, multiras,
multikeyakinan, dan multikultur. Hal ini dikarenakan Ìslam yang tidak tunggal, itu hanya
mengulang-ulang kembali perdebatan yang ada pada sidang Konstituante 1957.
Bahkan kaum nasionalispun sepertinya terbawa arus debat kusir yang tak
berkesudahan tentang dasar negara yang cocok untuk Bangsa Ìndonesia yang multi
segalanya ini, tanpa pernah serius mengerti dan menjalankan esensi untuk apa Dasar
Negara itu dibuat.

Semua energi kaum Ìslamis dan Nasionalis pada akhirnya hanya berkutat payah
dan letih hingga berbusa pada debat material Dasar Negara daripada bagaimana
menjalankan dan mencapai tujuan berbangsa dan bernegara. Mengapa bisa seperti ini
keadaannya dan bagimana seharusnya umat Ìslam dan umat agama lainnya menyikapi
krisis kebangsaan dan kenegaraan kita ini? Bagaimana dengan Pancasila?
Kalau kita menengok kembali perdebatan tentang Pancasila sebagai Dasar
Negara NKRÌ di sidang Konstituante 1957, tampak jelas bahwa keberatan kaum agama
lain terhadap klaim keunggulan Ìslam sebagai Dasar Negara adalah Ìslam dalam
sejarahnya di dunia maupun di Ìndonesia masih mengandung ketidakadilan dalam
artian demokrasi modern. Prof Mr. R.A. Soehardi dari partai Katholik dan perwakilan
dari kaum nasionalis seperti Soedjatmoko dan sebaginya serta wakil agama lain dalam
sidang tersebut dengan tegas menyatakan bahwa nilai-nilai Pancasila yang ada seperti
yang dijabarkan oleh pendiri Bangsa ada di setiap agama termasuk Ìslam maupun
Katholik dan sebagainya.
Oleh karenanya, Pancasila lebih luas dan universal dari pada pandangan Ìslam
yang meletakkan umat agama lain dalam status dibawahnya (dzimmi,). Ada
ketidakadilan yang signifikan dalam menempatkan status dzimmi bagi bangsa yang
didirikan diatas pengorbanan semua kaum yang ingin menjadi satu bangsa dalam satu
tatanan kenegaraan, NKRÌ.
Keberatan lainnya adalah bahwa fakta sejarah yang memperlihatkan bahwa
penguasa dan kaum intelektual Ìslam zaman dahulu di dunia maupun di Ìndonesia
hingga kini selalu dalam perbedaan dalam menginterpretasi dan memaknai (shariat)
Ìslam. Bila direfleksikan pada kondisi sekarang ini, dunia Ìslam seperti Ìran dan
Pakistan misalnya penuh dengan pertentangan ideologi Ìslam yang bahkan menyeret
umat Ìslam pada perpecahan yang berdarah antar sesama Muslim dan lebih senang
melupakan makna dan tujuan berbangsa dan bernegara. Hal ini karena politik Ìslam
selama ini lebih cenderung pada politik ideologi daripada politik kebangsaan dan
kebernegaraan. Politik syariat Ìslam boleh jadi hingga kini masih berkutat pada politik
interpretasi ideologi (teologis). Berdakwah politis untuk mencapai satu shariat Ìslam
sepertinya jauh dari pada kenyataan, dan ini akan berakibat fatal karena nafsu syahwat
kekuasaan politik lebih dominan dan menarik daripada niat untuk membangun
kehidupan yang rahmatan lil alamin dalam satu bangsa dan negara.
Umat Ìslam dan umat agama lainnya di Ìndonesia dalam kebangsaan yang
tunggal ini sebenarnya lebih memungkinkan untuk bekerjasama dalam membangun
bangsa, lepas dari keterpurukkan ekonomi maupun sosial, dan filsafat Pancasila disini
bisa menjadi kalimat al sawaa untuk semua golongan. Hal inilah yang sebenarnya
menjadi 'kesepakatan' bersama dalam rekap laporan Komisi Ì Konstituante Tentang
Dasar Negara 1957.
Nilai dan falsafah Pancasila bagi dasar negara Ìndonesia tidak diragukan lagi
ada di setiap agama yang menjunjung keadilan dan kemanusiaan. Sesuatu dasar
neagra yang memuat semua hal yang merupakan kepribadian luhur bangsa Ìndonesia,
dijiwai semangat revolusi 17 Agustus 1945 yang menjamin hak asasi manusia dan
menjamin berlakunya keadilan sosial bagi seluruh rakyat, yang menjadikan
musyawarah sebagai dasar segala perundingan dan penyelesaian mengenai segala
persoalan kenegaraan, menjamin kebebasan beragama dan beribadat dan berisikan
sendi-sendi perikemanusiaan dan kebangsaan yang luas.
S|mpang Ampek Þancaslla sebagal dasar negara merupakan kepuLusan flnal dan
sudah men[adl pegangan seluruh rakyaL lndoneslaŦ 8ahkanţ Þancaslla yang men[adl pegangan
hldup se[alan dengan agama lslam sehlngga Lldak menlmbulkan perbedaan dl LengahŴLengah
masyarakaLŦ
Pal lLulah dlkaLakan keLua Ma[ells ulama lndonesla (Mul) kabupaLen Þasaman 8araLţ
8amlan dalam dlalog Lerbuka Þengurus Cabang nahdlaLul ulama (ÞCnu) Þasaman 8araL
beker[asama dengan lorum MasyarakaL Þedull SumbarŦ ulalog LersebuL mengangkaL Lema
ƍMenunLaskan Pubungan lslam dengan Þancaslla sebagal
8lngkal negara kesaLuan 8epubllk lndoneslaƍţ dl Slmpang
Ampekţ SenlnŦ
la mengaLakanţ para Lokoh agama seharusnya
memahaml agama dengan mellhaL kondlsl ob[ekLlf bangsa
lndonesla yang ma[emuk sehlngga pemahaman keagamaan
leblh berslfaL moderaL Lanpa mengorbankan a[aran dasar
agamaŦ Þemahaman yang moderaL akan menghasllkan a[aran agama yang mengedepankan
kaslh sayang (rahmah)ţ perdamalan (salam)ţ dan Loleransl (Lasamuh) dalam hubungan anLar
manusla serLa Lldak melakukan pollLlsasl agama unLuk kepenLlngan maslngŴmaslngŦ
ƍSemua elemen harus memandang lslam LersebuL secara menyeluruh bukan seLengahŴ
seLengahŦ lslam selalu berlrlngan dengan kondlsl masyarakaL saaL lnl dan sesual dengan dasar
pancasllaŦ 8ahkan se[ak dulu pancaslla mengandung muaLan lslamţƍ kaLanyaŦ
ÞenasehaL konsulLasl Pukum Syarlah ÞCnu kabupaLen Þasama 8araLţ PŦ Slrrll Masrl
menegaskan bahwa nllalŴnllal yang LerdapaL dalam llma buLlr Þancaslla kesemuanya Lldak ada
yang keluar darl dasar lslamţ yaknl Al Curan dan PadlLsŦ
la men[elaskanţ slla keLuhanan ?ang Maha Lsa LerdapaL dalam CŦS AlŴlkhlas ayaL 1 yang
arLlnya ƍkaLakan Muhammad bahwa Allah lLu LsaƍŦ Slla kemanuslaan ?ang Adll dan 8eradab
LerdapaL dalam CŦS ArŴ8ahman ayaL 8 yang arLlnya Legakkanlah Llmbangan dengan keadllan
dan [angan sekallŴkall kamu berlaku curang dalam LlmbanganŦ
Slla ÞersaLuan lndonesla LerdapaL dalam CŦS AllŴlmran ayaL 103 yang arLlnya berpegang
Leguhlah kamu dengan agama Allah dan [angan kamu berpecah belahŦ Slla kerakyaLan yang
dlplmpln oleh hlkmah dalam permusyawaraLan dan perwakllan LerdapaL dalam CŦS AnŴnahl
ayaL 123 yang arLlnya A[aklah aLau uakwahllah mereka lLu kepada agama 1uhanmu dengan
penuh hlkmah dan penga[aran yang balkŦ
Slla keadllan Soslal 8agl Seluruh 8akyaL lndonesla LerdapaL dalam hadlLs sahlh
Al8ukharlţ 8asulullah SAW bersabda SeLlap pemlmpln lLu dlmlnLa perLanggung[awabannyaŦ
Þerwakllan kemenLrlan Agama kabupaLen Þasaman 8araLţ 8ahmadlţ men[elaskan
perdebaLan dasar negara 8l Lelah lama men[adl perdebaLan LeruLama anLar kelompok lslam
dan Þancasllals (naslonalls)Ŧ 8ahkan wacana lnlţ bagl kaum lslamls fanaLlk maslh belum padam
dengan fakLa Lerklnlţ kemball marak wacana syarlaLlsasl LaLanan hukum selrlng dengan euforla
reformaslŦ
kegagalan pembangunan dan krlsls moral naslonal pasca rezlm SoeharLo men[adl
momenLum kaum lslamls unLuk menyaLakan mosl Lldak percaya pada ÞancasllaŦ Þancaslla
dlanggap gagal men[adl dasar kenegaraan dan kebangsaan 8l oleh kelompok lslamlsŦ 8ukLl yang
pallng nyaLa yaknl dengan mengusung romanLlslsme negara lslam lndonesla (nll) dengan clLa
rasa baru yaknl bukan menclLrakan nll namun lndonesla nan lslamlŦ
MenuruL 8ahmadlţ Þancaslla dan lslam memlllkl hubungan yang harmonlsŦ MenggugaL
Þancaslla sebagal ldeologl negara hanya akan membawa keLldakpasLlan baru dan akan
menlmbulkan kesalahan yang memecah belah ekslsLensl nk8l dan pada glllrannya lndonesla
akan LerbaglŴbagl men[adl negaraŴnegara kecll yang berbasls agama dan sukuŦ
Se[arah lndonesla pada awalnya merupakan kumpulan kera[aan yang berbasls agama
dan sukuŦ Þancaslla yang dlper[uangkan merupakan suaLu penglkaL darl agama dan suku
LersebuL unLuk LeLap mengakul [aLl dlrl dan clrl khas yang dlmlllkl seLlap agama dan sukuŦ
keLua ÞanlLlaţ 8akrl Arlfalţ SP mengaLakan bahwa lnLl subsLansl darl dladakannya dlalog
Lerbuka lnl sebagal benLuk memperkokoh ukhuwah lslamlyah dan memberlkan pencerdasan
kepada umaL deml menu[u lslam 8ahmaLan Lll Alamln dalam blngkal negara kesaLuan 8epubllk
lndoneslaŦ
Þada dlalog Lerbuka lnlţ akan menga[ak seluruh elemen masyarakaL unLuk leblh
menlngkaLkan pendalaman agama dan memperkuaL nllal wawasan kebangsaan unLuk
mencegah dan menganLlslpasl pergerakan mlllLan darl kelompok lslam garls keras yang selama
lnl selalu mengaku dan merasa lslam yang pallng benar serLa Lerus melakukan kaderlsasl paham
radlkal dengan Lu[uan akhlr mengganLlkan Þancaslla dan uuu 1943Ŧ
8akrl pun menambahkanţ dengan semangaL llsablllllah dan Lerus menerapkan
lmplemanLasl empaL pllar kebangsaan yaknl Þancasllaţ uuu 1943ţ 8hlnneka 1unggal lka dan
nk8l serLa melakukan perbalkan moral dan akhlak merupakan salah saLu cara menangkal sedlnl
mungkln darl upaya mengganLlkan Þancaslla dan uuu 1943 sebagal landasan negara dan
penylmpangan agama yang Lldak sesual dengan a[aran Al Curan dan PadlsLŦ

..3 507..-.3 2.2 ...7.2 -40 .3.078.3 /.8079.75.2..:5:3 / 3/4308.3 .5.38.8 /044 90448  07/.. 5498 :39: 203.94/.7.3.8 -07:9.3 /.37.3.9.7.28..3 202.3 :2.33.3 0- 803.9.28.:2 39009:.3.3:2.5.3.39.850347-.3802:./.8.203..38.3 907. . ..3..80..89.9  8.3 /./.343899:.3/...-./.3.38./..7 0.-8.3.. ....8 24/073  !741 7  #   $40.5./.8050793 0.2 8/.9.3:3..8/.7./. 9072.3 /044 8....703..:5:3 .2 80.79.. /.9:8 /22 -.3 9::. 8.2/.703..7.3 3  /:3.3 -.3.7.7.:2.75.9. 3 80.7.18:8.3 !.3-07.3.2 20339075709..3 /.3:3 0/:5.39./03..8.3..390780-:9/03..2 /.2 80-.8./ 3.2. 8. .7 0.3. / /:3.8 203.7 808.2 89.5 .9:-.9.8. .9 5. !.3 /.2..9 8.:2.9 8./.7.8.7. :82 /.7 5.3 .9.38.0.3 //7.3-0730.9::./.0-07.3 203.3. 3. 43/8 80.3.8: 8.7.9:8 /-.7 /././.33.!.: 9. 80-...2  .2 507-0/. 549 39075709. 8.3 9039. 2.9.:2. 80.203.#/8/.703. 09/.2 80. 3 .38.3.8-.3  !49 8./...3 -07/./.3/. 503:.5 . 50750./.  0.3 202507.3 89.3 5079039.2. 549 /044 /.3../.23/.9: 9.2 805079 7..333203.03.38. 3.9:-..3.:: / /:3./.3030.3 -07-. ...8805079$40/.3 /0247.3!.9 8. 3 0- . .. 3.75.9244/.0-:.7.38..9..3./.3/.  . 507/0-.7:83.. 2. -. 2. /22  /..2 .9.3. 203034 02-.9 ..3.8.3 .9.3 /.9: 8.3. 503: /03.3 5.9 :39: 202-. .. .2 2.38.7. .390 9... 549 8.98.3 /.9.3 /..3 /.3-07-.2./.3 !./.3 /.5 7880-.8./.3 549 0- /423.9.7.. /70108././8.3...03/07:3 5.: /..2 .7/ /.843..3 8.9.33.3 . .33.91.5.3 20:5.3 2030709 :2..79.7...3 /.3/.9 0:.75. . 8.3.8..2 0:3:.3 0-0730.8203.3 -0730.25.3 28.380-./.7. /. -. /.2. .2 203025.330.3203.2.3-.2.3030..2 5.3.7.3-.3 831.3/. 3 2.38.3 2009.3.3 -.2 8050793.:5:3 / 3/4308.2..3 #  0-07..3.94 /.2 .3/:3 09/. 03.2. / 809.380-. 8.8 /.:/. 549 0-.:23.2.390.3 40 503/7 .. 1.805079 .

7. / 3/4308.  /. 203.3 203.8. 80-.3 848.8. /.7 30.2.9 /.2 70.23 0-0-.7./..3 203:3:3 0.3:.8 2..8.38.9!.9 70./ .3 -078.73. /..3 2:8.3::7-. 3 80-03.8.1.3:8. .8.3 :2.2 /.709075:7:.9 .8.3 1. 0.. /7. 443...3 80-03.38.38.3207:5.3 :39: -007. .8./.3  -078.3 9:3... :39: 802:.D% f ½f ° 9f¾f¯f° ff  f¯f° ff¯ f–   f 9 °–¾ .. /.7../83 -8..5 .3.3  .3043422.3..3  $08:.30-. .73.7.3202:.23 -07.5 . 3/4308... /. / 809.. 05..3 428  43899:.:3...4:8  :89:8  .318. -.:./.3/.9  ./.3 /.8.f© ¾ Df¯f ° ° ¾f %. /.  .8  ¯½f°– ¯½  9f°nf¾f ¾ f–f f¾f ° –ff ¯ ½ff°  ½¾f° €°f f° ¾ f¯ °©f ½ –f°–f°¾  ff° ° ¾f  ff° 9f°nf¾ff°–¯ °©f ½ –f°–f°  ½ ¾ ©ff° °–f° f–f¯f ¾f¯ ¾ °––f  f ¯ °¯ f° ½  ff°   °–f  °–f ¯f¾fff  f f fff°  f . !.3 503008.:5:3848..2.././ 0805.3 20303. /.3:8.3 -07-../.8.7.3 203.3 02. 50784. 0- 202:33.8/. 8.9 .3 .3.2.3 -07.7 30.2.&2.547.3057-. 3.3 203. /.8.3. 9/.3 . 802.9: /.. /.7 80.3:3 -. 80:7: 7.9802:.1.3 /.3 030.3  203.2.2 202-.. -.. ..9 8.3:8.2 0-.. 507:3/3.70. 203. /.9.3 803/ 803/50702.38.2. .390 %039. 80.3/4308.23 .3 .33..

f f°– -f f Df¯f %9.

-D% 9f¾f¯f° ff  ©f¾f¯f °–f° ¯ .f¾fff 9  ¯ f  f–  ¾  ¯ °–f°–f  ¯f . °°f¾f°  °–f° ¾f¯ °–f° 9f°nf¾f ¾ f–f °–f - –ff  ¾ff°  ½  ° ° ¾f   ¯½f°– ¯½   °°  f ¯ °–fff°  ½ff  f–f¯f ¾ f¾°f ¯ ¯ff¯ f–f¯f °–f° ¯ f ° ¾  © € f°–¾f ° ° ¾f f°– ¯f© ¯ ¾ °––f ½ ¯ff¯f°  f–f¯ff°   ¾€f ¯ f f°½f ¯ °– f°f° f©ff° f¾f f–f¯f  9 ¯ff¯f° f°– ¯ f ff° ¯ °–f¾f° f©ff° f–f¯f f°– ¯ °– ½f°f° .

f¾ ¾ff°– %f¯f%  ½  f¯ff° %¾ff¯%  f°  f°¾ %f¾f¯% ff¯  °–f° f°f ¯f°¾f¾ f f¯ ff°½¾f¾f–f¯f° ½ °°–f°¯f¾°– ¯f¾°–   ¯f  ¯ °f¾¯ ¯f° f°–¾f¯ ¾ ¾ nff¯ °  f°¾  °–f ¾  °–f ¾f¯¾ f °–f° °–f°° ¾ ¯f¾fff¾ff° f°¾ ¾f °–f° f¾f ½f°nf¾f  ff°¾ ©f ½f°nf¾f¯ °–f° °–¯ff°¾f¯ ff°f  9 °f¾ f °¾f¾ ¯ ff 9.

 ¯f°fff°–f°f ½ –f°–  –f f¯ °–f° f–f¯f f f° ©f°–f° f¯ ½ nf f  f  fff° f°– ½¯½°   ¯f ff¯ ½ ¯¾ffff° f° ½ ff°   f½f ff¯ .  ° -f ff  f°– f°f ©ff ff fff ¯  f   ½f f f–f¯f @f°¯ °–f° ½ °¯f f°½ °–f©ff°f°– f  f  f f° ¾f f–   ff ° ° ¾f   f½f ff¯ f ¾ ¾f  f f¾fJ ¾f f f½½ ¯¯½° ¯°f½ f°––°–©ff f°°f  9 ff°  ¯ °f° –f¯f f ½f ° 9f¾f¯f° ff  f¯f   ¯ °© f¾f° ½  ff° f¾f ° –ff   f f¯f ¯ °©f  ½  ff°  f¯f f°f  ¯½ ¾f¯ f°9f°nf¾f¾%-f¾°f¾%  ff°fnf°f°  f–f¯¾f¯¾€f°f¯f¾ ¯½f f¯ °–f°€ff °  ¯ f¯fffnf°f¾ff¾f¾ff°f°¯¾ °– °–f° €f  €¯f¾   –f–ff° ½ ¯ f°–°f° f° ¾¾ ¯f °f¾°f ½f¾nf  ¯  f ¯ °©f  ¯¯ °¯ f¯ ¾f¯¾ ° ¯ °fff° ¯¾  f ½ nff ½f f 9f°nf¾f  9f°nf¾f .ff¾f  f½f ff¯.f¾ ¯ ° –f¾f° ff°f °ff°–  f½f ff¯¯f 9f°nf¾f ¾ ¯f°f ff f f°– f f f¾f¾f¯ f°.-D f ½f ° 9f¾f¯f ff     .   f¯f° ff  f°– f°f  –ff°f ¯ f°–f° °–f°  f f° f°©f°–f°¾ f ff¯ fnf°– ff¯¯ f°–f°  f9 ¾ff°° ° ¾f  f½f ff¯.  f¾fff°– f°f fff° .f¯¯f  ff f  ¾f  f  ¯f°¾ff° f°–   f° f f    f½f ff¯ .f° f°f ¾  f¯ °© f¾f° ¾f f°f°f°–.

f°––f½–f–f¯ °©f  f¾f ° –fff° f° f°–¾ff°  ¯½¾f¯¾  f°– ½f°–°fff° °–f°¯ °–¾°–¯f°¾¾¯ - –ff¾f¯° ° ¾f%-% °–f°nf f¾f ff° f°¯ °nff°-°f¯°° ° ¾f-f°¾f¯  . °f¯f  9f°nf¾f f°¾f¯¯ ¯  °–f°f°–f¯°¾ . °–––f 9f°nf¾f ¾ f–f  – ° –ff f°f ff° ¯ ¯ ff   f½f¾f° f f° ff° ¯ °¯ f°  ¾fff° f°– ¯ ¯ nf f ¾¾ °¾ - f° ½f f –f°°f ° ° ¾f ff°  f– f–¯ °©f ° –ff ° –ff nf°–  f¾¾f–f¯f f°¾   ©ff ° ° ¾f ½f f ff°f ¯ ½ff° ¯½f°  f©ff° f°–  f¾¾ f–f¯f f° ¾  9f°nf¾f f°– ½ ©f°–f° ¯ ½ff° ¾f ½ °–f f f–f¯f f° ¾  ¾ ° f½¯ °–f©f  f°nf¾f°– ¯¾ f½f–f¯f f°¾   f9f°f  f€f ¯ °–fff° ff°¾ ¾f°¾ f f ff°°f f–   f ° ¾ f–f ° ¯ ¯½  f ¾f¯f f° ¯ ¯ f° ½ °n  f¾f°  ½f f¯f ¯¯ °©¾f¯f¯ff°f¯° ff¯ °–f- –ff ¾ff° ½  ° ° ¾f  9f f f–   f °  ff° ¯ °–f©f ¾   ¯ ° ¯f¾fff °   ¯ °°–ff° ½ ° ff¯f° f–f¯f f° ¯ ¯½ f °f ff¾f°  f°–¾ff° ° ¯ °n –f f°¯ °–f°¾½f¾½ – ff°¯f° f ¯½¾f¯–f¾ f¾f°–¾ f¯f °¾ f¯ °–f f°¯ f¾f¾f¯f°–½f°– °f¾ f ¾¯ ff°f ¾f¾½ff¯ f f °–f°©f°f¯ °––f°f°9f°nf¾f f°DD  f ½° ¯ °f¯ ff°  °–f° ¾ ¯f°–f ¾f f f°  ¾ ¯ ° f½f° ¯½ ¯f°f¾ ¯½f ½f  f°–¾ff° f° 9f°nf¾f  DD   °° f @°––f f f° -¾ f¯ ff°½  ff°¯f f°ff¯ ½ff°¾ff¾fnff¯ °f°–f¾ ° ¯°–° f ½ff ¯ °––f°f° 9f°nf¾f f° DD  ¾ f–f f° f¾f° - –ff f° ½ °¯½f°–f°f–f¯ff°– f¾ ¾f °–f°f©ff°.f° f°f ¾  .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->