P. 1
Makalah morfologi dan anatomi pada tumbuhan angiospermae

Makalah morfologi dan anatomi pada tumbuhan angiospermae

|Views: 1,075|Likes:
Published by Muhammad Ansar

More info:

Published by: Muhammad Ansar on Nov 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2015

pdf

text

original

STRUKTUR MORFOLOGI DAN ANATOMI PADA TUMBUHAN

MAKALAH
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS AKHIR
MATAKULIAH BIOLOGI DASAR






















Disusun Oleh: Kelompok 12
Anggota : Muhammad Ansar
H11111012
Ardiansyah M. Kadadia
H11111276
Nurul Taqwin







JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011



BAB I
PENDAHULUAN

Tumbuhan merupakan organisme yang sangat penting di belahan bumi ini. Tanpa
adanya tumbuhan, dapat dipastikan seluruh kehidupan yang ada di muka bumi ini akan
musnah. Hal ini dikarenakan begitu banyaknya mahkluk hidup yang menggantungkan
hidupnya pada tumbuhan, termasuk manusia. Manusia membutuhkan tumbuhan sebagai
tempat mendapatkan oksigen. Kemampuan tumbuhan untuk membuat oksigen telah mengikat
manusia untuk menjadi bergantung padanya. Disisi lain, tumbuhan juga bermanIaat sebagai
sumber makanan. Jumlah protein dan vitamin yang banyak pada tumbuhan telah membuat
seluruh makhluk hidup heterotroI lain mencapai titik keseimbangan akan kebutuhan gizinya.
Keberadaan tumbuhan memanglah sangat diperlukan. Bahkan menurut sejarah,
organisme yang pertama kali muncul di dunia ini adalah kelompok alga. Alga berperan
sebagai organisme penghasil oksigen. Dan semenjak saat itulah, tumbuhan-tumbuhan lain
terus berkembang menjadi tumbuhan yang lebih kompleks dan juga disertai dengan
kemunculan organism yang lain.
Kemampuan tumbuhan terus bertahan hingga saat ini tidaklah lepas dari kemampuan
untuk beradaptasi dan struktur tubuh yang terus berevolusi. Kemapuan untuk beradaptasi
membuat tumbuhan dapat hidup pada lingkungan yang ekstrim. Sedangkan kemampuan
tumbuhan untuk terus berevolusi terhadap lingkungan sekitarnya menyebabkan terjadinya
keragaman antara tumbuhan satu dengan tumbuhan yang lain. Keragaman tersebut dapat kita
lihat dari struktur tubuh tumbuhan, baik secara morIologi ataupun secara anatomi.
Salah satu keragaman yang paling mencolok adalah keragaman diantara tumbuhan
dikotil dan tumbuhan monokotil pada tumbuhan jenis angiospermae(tumbuhan biji tertutup).
Perbedaan ini tidak hanya berlaku untuk batangnya, namun nyaris ke seluruh anggota
tubuhnya memiliki perbedaan, baik dari susunan, bentuk, Iungsi maupun keberadaannya.



BAB II
PEMBAHASAN

Sekitar 275.000 spesies yang telah diketahui sejauh ini. Sejauh ini angiospermae
merupakan kelompok tumbuhan yang paling beraneka ragam dan paling tersebar luas. Para
ahli taksonomi membagi angiospermae menjadi 2 kelas: monokotil, dinamai demikian karena
kotiledonnya (keeping atau daun biji) hanya ada satu, dan dikotil yang memiliki 2 kotiledon.
Monokotil dan dikotil diketahui juga memiliki beberapa perbedaan structural yang lain.
Berikut beberapa penjelasan tentang perbedaan struktur morIologi dan anatomi, baik
dari tumbuhan monokotil dan tumbuhan dikotil.
A. Sistem Akar
Tumbuhan dikotil memiliki sistem akar tunggang (taproot) sedangkan
tumbuhan monokotil memiliki sistem akar serabut. Akar tunggang pada tanaman
dikotil terjadi karena akar lembaga yang terus tumbuh, sedangkan pada tanaman
monokotil akar lembaga berhenti tumbuh.







Gambar1. Akar serabut
Gambar 2. Akar tunggang

Akar tunggang adalah penambat yang kuat, karena sistem akarnya yang
terus menerobos kedalam tanah, sehingga cocok untuk berada pada ligkungan
yang kering. Sedangkan akar serabut adalah penyerap air yang baik, karena berada
pada permukaan tanah (tidak menerobos masuk dalam tanah). Sistem akar serabut
yang berbentuk seperti anyaman benangpun sangat cocok digunakan sebagai
tanaman penahan erosi.
Pada akar, biasanya terdapat rambut akar. Rambut akar sendiri adalah
perluasan sel-sel epidermal individu pada permukaan akar, berbeda dengan
cabang yang merupakan organ multiseluler.
Adapun cara untuk mengetahui sistem anatomi akar dapat dilakukan
dengan melakukan potongan melintang pada akar tersebut dan akan terlihat
bagian-bagian dari luar ke dalam. Bagian itu berturut-turut diantaranya:
a. Epidermis, sebagai lapisan terluar
b. Korteks, yang terdiri dari jaringan parenkim
c. Endodermis, sebagai lapisan pemisah antara korteks dengan silinder
pusat
d. Silinder Pusat/Stele, sebagai bagian terdalam dari akar.

Sedangkan Iungsi dari akar sendiri diantaranya:
a. Sebagai penambat tanaman
b. Sebagai tempat penyerapan air dan mineral
c. Sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan.

B. Sistem Batang
Batang merupakan suatu sistem berselang-seling yang terdiri dari buku
(node), titik dimana daut melekat, dan ruas (internode), bagian batang diantara
buku-buku. Batang pada tumbuhan dikotilpun kembali memiliki perbedaan
dengan batang pada tumbuhan monokotil. Perbedaan tersebut diantaranya






Gambar 3. Batang dikotil gambar 4. Batang monokotil

Pada tumbuhan dikotil:
a. Berkas pengangkut tersusun rapi, membentuk lingkaran
b. Adanya cambium
c. Batas antara korteks dan stele yang jelas
Pada tumbuhan monokotil:
a. Berkas Pengangkut tersusun menyebar dan tidak rapi
b. Tidak memiliki kambium
c. batas antara korteks dan stele umumnya tidak jelas

Kambium pada tanaman dikotil ada dua macam, yakni cambium
intravasikuler dan cambium intervasikuler. Tumbuhan dikotil memiliki
kayu yang keras dan hidupnya menahun, tetapi hanya terjadi pada saat air
dan zat hara tersedia cukup, sedang pada musim kering tidak terjadi
pertumbuhan sehingga pertumbuhan pada batangnya terlihat seperti
berlapis-lapis. Setiap lapis menunjukkan aktivitas pertumbuhan selama satu
tahun, lapis-lapis lingkaran tersebut dinamakan Lingkaran Tahun.
Batang yang termodiIikasi dengan Iungsi yang beraneka ragam telah
dievolusikan pada banyak tumbuhan. Batang yang termodiIikasi ini,
termasuk stolon, rhizome, umbi, dan umbi lapis, seringkali dikira sebagai
akar.







Gambar 5. Umbi lapis Gambar 6. Rhizoma
Sedangkan Iungsi dari batang sendiri diantaranya:
a. Penopang tumbuhan
b. Penyalur asupan makanan.
c. Penyimpanan makanan, seperti pada tanaman sagu.

C. Sistem Daun
Daun adalah organ Iotosintesis utama pada sebagian besar tumbuhan, meskipun
batang yang berwarna hijau juga melakukan Iotosintesis. Bentuk daun sangat
bervariasi, namun pada umumnya terdiri dari suatu helai daun yang pipih dan tangkai
daun yang disebut petiole, yang menyambungkan daun dengan buku batang.
Daun tumbuhan monokotil dan dikotil memiliki beberapa perbedaan dalam
susunan tulang daun utamanya. Perbedaan itu dapat dijabarkan sebagai berikut:






Gambar 7. Daun tanaman dikotil Gambar 8. Daun tanaman monokotil


Pada tanaman dikotil:
1. Susunan tulang daun menjari
Pada tanaman monokotil:
1. Susunan tulang daun utama parallel (sejajar) yang menjalar sepanjang helai
daun.

Anatomi daun sendiri dapat dibagi menjadi tiga bagian:
1. Epidermis
Epidermis merupakan lapisan terluar daun, ada epidermis atas dan epidermis
bawah, untuk mencegah penguapan yang terlalu besar, lapisan epidermis dilapisi
oleh lapisan kutikula.
2. Parenkim/MesoIil
Parenkim daun terdiri dari 2 lapisan sel, yakni palisade (jaringan pagar) dan
spons (jaringan bunga karang), keduanya mengandung kloroplast. Hanya saja,
kloroplast yang dikandung pada bagian palisade lebih banyak. Sehingga proses
Iotosintesis lebih banyak dilakukan pada jaringan palisade
3. Jaringan Pembuluh
Jaringan pembuluh daun merupakan lanjutan dari jaringan batang, terdapat di
dalam tulang daun dan urat-urat daun.
Sedangkan Iungsi daun, dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Tempat terjadinya Iotosintesis
2. Tempat pertukaran gas
3. Tempat menyimpan cadangan makanan
D. Sel-Sel Kolenkima, Parenkima, dan Sklerenkima
Baik sel kolenkima, sel Parenkima dan sel sklerenkima memiliki berbagai
perbedaan. Perbedaan tersebut diantaranya:
1) Sel Parenkima:
iri-ciri:
1. Dinding sel primer lentur
2. Memiliki vakuola yang besar
:ngsi:
1. Sintesis
2. Menyimpan berbagai produk organik
isal:
Proses Iotosintesis pada daun, menyimpan pati pada akar, jaringan daging
buah.

2) Sel Kolenkima
iri-ciri:
1. Dinding primer lebih tebal
2. Mudah dilihat pada tumbuhan muda
:ngsi:
Menyokong bagian tumbuhan muda
isal:
Silinder kolenkima yang ditemukan pada bagian bawah permukaan batang
muda

) Sel Sklerenkima
iri-ciri:
1. Dinding sel diperkuat lignin
2. Lebih kaku dari kolenkima
3. Sel dewasa tidak memanjang
:ngsi:
Penyokong tubuh tumbuhan
isal:
Penguatan tubuh tumbuhan dengan penebalan lignin. Namun, banyak
ditemukan pada tumbuhan tua yang sudah tidak mengalami lagi
pertumbuhan

E. Jaringan Pengangkut
a. Xylem
Pengangkut air pada xylem berupa sel-sel panjang yang terdiri dari dua jenis:
trakeid dan unsure pembuluh. Kedua sel jenis itu mati pada kematangan
Iungsional, akan tetapi mereka menghasilkan dinding sekunder sebelum protoplas
mati.












Gambar 9. Pembuluh Xylem
Trakeid dan unsure pembuluh yang terbentuk pada bagian tumbuhan yang
tidak lagi memanjang umumnya memiliki dinding sekunder yang hanya diselingi
oleh ceruk, yaitu bagian yang lebih tipis dimana hanya terdapat dinding primer.
trakeid dan unsure pembuluh sendiri memiliki beberapa perbedaan,
diantaranya:
pada trakeid:
1. Sel panjang, tipis dengan ujung runcing
2. sebagai penyokong dan pengangkutan air
pada unsure pembuluh:
1. Sel lebar, pendek dan kurang runcing
2. saling menyambung pada ujung-ujungnya membentuk pembuluh xilem
atau
trakea
3. Sebagai pengangkut air dan penguat
b. Floem
Floem atau pembuluh tapis merupakan suatu jaringan yang terdapat pada
bagian batang tanaman, tepat berbatasan dengan cambium pada tanaman
dikotil. Sedangkan pada tanaman monokotil, letak dari pembuluh ini tidak
tentu (acak). Namun, pembuluh ini tidak hanya ditemukan pada bagian batang
tanaman, tetapi juga pada bagian ranting, daun dan juga pada bagian akar.
BerIungsi untuk mengangkut beberapa ion mineral dan hasil dari Iotosintesis
ke seluruh bagian tubuh tumbuhan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->