Artikel: SISTEM PEMBELAJARAN KBK TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PARA PESERTA DIDIK PADA BIDANG STUDI FISIKA

Judul: SISTEM PEMBELAJARAN KBK TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PARA PESERTA DIDIK PADA BIDANG STUDI FISIKA Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan. Nama & E-mail (Penulis): betha nurina sari Tanggal: 9/10/2004 BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. SISTEM PEMBELAJARAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI Sekolah dan Dinas Pendidikan Kabupaten dilibatkan secara langsung dalam penyusunan silabus kurikulum berbasis komperensi yang mulai diterapkan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dalam tahun ajaran baru tahun ini. Menurut Kepala Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Dr.Siskandar , penerapan kurikulum berbasis kompentensi itu sesuai dengan tuntutan perkembangan kondisi negara dan sistem administrasi pemerintahan. Dr.Siskandar menjelaskan bahwa materi pada kurikulum berbasis kompetensi (KBK) tidak jauh berbeda dengan kurikulum 1994 yang dpakai sekolah - sekolah pada waktu lalu.Yang membedakan antara kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dengan kurikulum sebelumnya adalah adanya partisipasi masyarakat dan pemerintah daerah di dalam menjabarkan materi kurikulum yang bersifat nasional melalui silabus. Di dalam kurikulum ini , silabus adalah isi kompetensi dan elaborasi (uraian dan rincian) materi pelajaran , pembelajran dan penilaian serta pengalokasian waktu yang disusun sesuai dengan semester dan kelas masing - masing.Silabus juga sebagai bentuk operasional kompetensi dan materi pelajaran pokok sebagai pedoman bagi guru dalam merencanakan dan melaksanakan serta mengelola kegiatan pembelajaran. Untuk menjamin bahwa kompentensi dasar yang telah ditentukan dapat dicapai maka perlu prinsip ketuntasan belajar ( mastery learning) dalam pembelajaran dan penilaian. Sebenarnya KBK itu sendiri adalah kurikulum ideal yang tidak saja akan berhasil meningkatkan kualitas pendidikan di negara kita , tetapi juga menuntut para praktisi pendidikan khususnya para guru untuk mempersiapkan seluruh potensi dirinya.Tujuan diterapkannya kurikulum berbasis kompetensi ini adalah untuk menghasilkan terjadinya demokratisasi pendidikan.Diharapkan hasil keluaran KBK dapat menciptakan lulusan yang menghargai keberagaman (misalnya dalam perbedaan pendapat , agama , ras maupun budaya). Pengkonstuksian dan penyususnan pengetahuan berlangsung dan dilakukan dari , oleh dan untuk para peserta didik.Dengan demikian , dalam penyusunan rencana pembelajaran , seorang guru harus mampu menyusunnya sehingga kelas dapat berlangsung dalam Susana fun (menyenangkan) , demokratis dan terbuka.

Pendekatan pembelajaran yang dapat dilakukan adalah pendekatan kontruktivisme , sains , teknologi dan pendekatan inquri secara utuh.Keutuhan suatu materi pelajaran tentu parameternya harus komprehensif.Misalnya guru harus cerdas , tepat seta efektif dalam menafsikan dan mengimplementasikan KBK yang menjamin tercapainya kompetensi-kompetensi tamatan. Dengan ketiga pola pendekatan tersebut di atas , para peserta didik diberikan kesempatan untuk menemukan suatu konsep dengan menggunakan kompetensi yang dimiliki.Ketercapaian penggalian dan penemuan kompetensi , dilakukan oleh peserta didik itu sendiri sehingga mereka mampu menghayati dan mengamalkan untuk bertaqwa kepada Tuhan Yyang Maha Esa , rasa ingin tahu , toleransi , berfikir terbuka , percaya diri ,kasih saying , peduli sesama , kebersamaan , kekeluargaan dan persahabatan. B. MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK Kemampuan motivasi adalah kemampuan untuk memberikan semangat kepada diri sendiri guna melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat.Dalam hal ini terkandung adanya unsure harapan dan optimisme yang tinggi , sehingga memiliki kekuatan semangat untuk melakuakan suatu aktivitas tertentu , misalnya dalam hal belajar.Itulah yang disebut dengan motivasi belajar. Jadi motivasi belajar para peserta didik pada bidang studi fisika adalah kemempuan atau kekuatan semangat untuk melakukan proses belajar dalam bidang studi fisika.Dengan motivasi belajar yang tinggi ,diharapkan para peserta didik akan meraih prestasi belajar fisika yang memuaskan. C. SISTEM PEMBELAJARAN FISIKA Fisika merupakan bagian adri Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) , yaitu sutau Ilmu yang mempelajari gejala dan peristiwa atau fenomena alam serta berusaha untuk mengungkap segala rahasia dan hokum smesta.Objek Fisika meliputi mempelajari karakter , gejala dan peristiwa yang terjadi atau terkandung dalam benda - benda mati atau benda yang tidak melakukan pengembangan diri. Telah diketahui bersama bahwa di aklangan siswa SMU / MA telah berkembang kesan yang kuat bahawa pelajaran Fisika merupakan pelajaran yang sulit untuk dipahami dan kurang menarik.Salah satu penyebabnya adalah kurangnya minat dan motivasi untuk mempelajari Fisika dengan senang hati , merasa terpaksa atau suatu kewajiban.Hal tersebut merupakan akibat kurangnya pemahaman tentang hakikat , kemanfaatan , keindahan dan lapangan kerja dari Fisika. Belajar Fisika akan menyenangkan kalau memahami keindahannya tau manfaatnya.Jika siswa sudah mulai tertarik baik oleh keindahannya , manfaatnya atupun dari lapangan kerjanya ,mereka akan bisa lebih mudah dalam menguasai Fisika.Maka , motivasi belajar sudah menjadi modal pertama untuk menghadapi halangan atau kesulitan apapun yang akan menghadang ketika sedang belajar Fisika. Tidak sedikit siswa yang merasa stress ketika akan mengikuti pelajaran Fisika.Hasil hasil evaluasi belajar pun menunjukkan bahwa nilai rata - rata kelas di raport untuk pelajaran Fisika seringkali merupakan nilai yang terendah disbanding dengan pelajaran pelajaran lain.Tanpa disadari ,para pendidik atau guruturut memberikan kontribusi terhadap factor yang menyebabkan kesan siswa tersebut di atas.Kesalahan - kesalahan yang cenderung dilakukan para guru , khususnya guru Fisika adalah sebagai berikut :

1. Seringkali , Fisika disajikan hanya sebagai kumpulan rumus belaka yang harus dihafal mati oleh siswa , hingga akhirnya ketika evaluasi belajar , kumpulan tersebut campur aduk dan menjadi kusut di benak siswa. 2. Dalam menyampaikan materi kurang memperhatikan proporsi materi dan sistematika penyampaian , serta kurang menekankan pada konsep dasar , sehingga terasa sulit untuk siswa. 3. Kurangnya variasi dalam pengajaran serta jarangnya digunakan alat Bantu yang dapat memperjelas gambaran siswa tentang materi yang dipelajari. 4. Kecendrungan untuk mempersulit , bukannya mempermudah.Ini sering dilakukan agar siswa tidak memandang remeh pelajaran Fisika serta pengajar atau guru Fisika. Metode pembelajaran tersebut banyak diterapkan di SMU atau MA pada kurikulum sebelum KBK diterapkan.Tetapi metode pembelajran tersebut tak lagi diterapkan pada kurikulum berbasis kompetensi.Malah sebaliknya , siswa diharapkan dapat belajar Fisika dengan mudah , tanpa ada paksaan serta tak lagi merasa suatu kewajiban.Malah belajar Fisika dapat menjadi suatu kegemaran yang menyenangkan dan menarik. Metode pembelajaran Fisika di SMU atau MA pada kurikulum berbasis Kompentensi seharusnya adalah sebagai berikut : 1) Pengantar yang baik Dalam memulai suatu pokok bahasan atau bab yang baru , siswa butuh suatu "pengantar" yang baik , agar mereka merasa nyaman dalam menerima transfer ilmu.Pengantar yang dimaksud mencakup gambaran singkat tentang apa yang dipelajari. 2) Start Easy Saat masuk ke suatu pokok bahasan , sebaiknya diawali dengan pen- jelasan yang sederhana , mudah dicerna , disertai dengan contoh - contoh soal serta soal - soal latihan yang mudah pula.Hal ini penting untuk memberikan kesan "mudah" pada siswa dan menumbuhkan kepercayaan dirinya. 3) Sesuap demi sesuap Proses pembelajaran hendaknya dilakukan secara bertahap , baik dari segi penyampaian materi maupun dari tingkat kesulitan soal.Hindari penyampaian materi yang banyak sekaligus dalam satu pertemuan , ataupun langsung menguji siswa dengan soal - soal yang sulit sebelum mereka mencoba hal - hal yang mudah terlebih dahulu. 4) Gamblang Penjelasan suatu konsep Fisika haruslah gambling , jagan biarkan siswa menangkap suatu konsepsecara samar - samar karena ini akan menjadi beban bagi siswa di masa selanjutnya. Celakanya , inilah yang justru banyak terjadi.Misalnya , pada saat siswa SMU yang abru masuk kita minta untuk menyebutkan bunyi hokum Archimedes , nyaris tidak ada yang mampu menyebutkannya dengan benar. 5) Menyederhanakan dan membatsi

Selain itu . 7) Analogi membangun imajinasi Analogi juga merupakan cara yang efektif dalam membangun imajinasi dan daya nalar siswa .Penggunaan rumus ini justru menampuhkan kemampuan siswa dalam menggunakan konsep dan rumus dasar . Hal tersebut diatasi dengan mengadakan " game " dimana siswa diberi pertanyaanpertanyaan yang berkaitan dengan materi yang sudah diajarkan . dan dalam mempelajari tentu tak dapat lepas dari eksperimen .Salah satu hal yang sering dikeluhkan siswa daalah bahwa materi yang diajarkan terasa rumit dan terlalu banyak. 11) Soal-soal standar untuk melatih skill Dalam menghadapi evaluasi belajar . 9) Alat Bantu dan eksperimen untuk memperkuat pemahaman Fisika merupakan ilmu alam .Untuk memecahakan persoalaan itu yaitu dengan menyedehanakan dan membatasi bahan materi yang dibahas. Keterampilan ini dapat ditingkatkan dengan banyak latihan mengerjakan soal-soal fisika . seringkali para guru mengajarkan rumus cepat kepada siswa untuk mengatasi kesulitan dalam memecahkan suatu persoalan . Prestasi belajar dinyatakan dengan skkor hasil tes atau angak yang diberikan guru berdasarkan pengamatannya belaka atau keduanya yaitu hasil tes serta pengamatan guru pada waktu peserta didik melakukan diskusi kelompok. siswa dapat meyakini suatu hal yang sepintas tidak sesuai dengan logika mereka . Berdasarkan batasan pengertian prestasi belajar tersebut . D. maupun oleh peserta didik sebagai pelajar bertujuan untuk mencapai prestasi yang setinggi .Yang terjadi adalah seringkali guru merasa belum puas bila belum mengajarkan materi . dapat disimpulkan bahwa .materi pengayakan yang sebenarnya tidak tercantum dalam GBPP.Hal ini sangat ironis mengingat beban dari kurikulum sendiri tidak menuntut demikian.tingginya. Kadang hanya lewat eksperimen . 8) Konsep dan rumus dasar sebagai kunci iggris Pada saat pembelajaran Fisika . media elektronik juga baik untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran 10) " Game " untuk membangun suasana Proses pembelajaran tidak dapat dipaksakan bila kondisi siswa sudah jenuh . PRESTASI BELAJAR FISIKA Prestasi belajar merupakan suatu gambaran dari penguasaan kemampuan para peserta didik sebagaimana telah ditetapkan untuk suatu pelajaran tertentu. 6) Ilustrasi yang membantu pemahaman Dalam pengajran Fisika penggunaan Ilustrasi merupakan alat yang efektif dalam menanamkan pemahaman pada siswa.Setiap usaha yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran baik oleh guru sebagai pengajar . selain diperlukan pemahaman konsep juga dibutuhkan keterampilan menjawab soal .

html (27 oktober 2011.prestasi belajar Fisika adalah hasil yang telah dicapai siswa melalui suatu kegiatan belajar Fisika.Kegiatan belajar dapat dilakukan secara individu maupun dan secara kelompok. Belajar berarti penguatan ikatan. diukur dan dinilai secara konkret. sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar. http://re-searchengines. under Belajar dan Pembelajaran Fisika Teori Behavioristik Belajar adalah perubahan perilaku yang dapat diamati. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak.06. yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan. atau tes. asosiasi. 21:22) Belajar dan Pembelajaran Fisika Pengertian belajar. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak. mengajar dan pembelajaran menurut teori Behavioristik dan Konstruktivisme by gilanggumilar on Dec. . . sifat dan kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon). berupa reaksi terhadap stimulans. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada keterampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. 2010. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat. (isi komentar anda tentang artikel yang dibuat oleh pelajar smu) Saya betha nurina sari setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). kuis. Pembelajaran adalah suatu proses belajar mengajar yang menekankan pada penambahan pengetahuan. sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik.com/art05-57.

djarumbeasiswaplus.org/gilanggumilar/category/study/belajar-dan-pembelajaran-fisika/ (27 oktober 2011. sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa. pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena. 21:25) Pembelajaran Generatif (MPG) 1. Sumber: http://repository.ac. pembelajaran generatif merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pada pengintegrasian secara aktif pengetahuan baru dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki mahasiswa sebelumnya. tidak berubah. membuat makna.wordpress. berbagi gagasan dengan temannya. Menurut Osborno dan Wittrock dalam Katu (1995.b:1). maka pengetahuan baru itu akan disimpan dalam memori jangka panjang. Teori Konstruktivisme Belajar merupakan proses aktif siswa dalam mengkonstruksi arti. Semua pengetahuan yang didapat oleh siswa dibentuk oleh siswa itu sendiri. mengadakan justifikasi. pengalaman fisik dan lain-lain. tetap. 2. mempertanyakan kejelasan. pasti.id:8000/143/1/Tri_Wahyu_Studi_PerbandinganEditedver2.com/2008/05/31/konstruktivisme-6-keunggulan-penggunaanpandangan-konstruktivisme-dalam-pembelajaran/ http://blog. Pengetahuan baru itu akan diuji dengan cara menggunakannya dalam menjawab persoalan atau gejala yang terkait. bersifat kritis. Pengertian Pembelajaran Generatif Pembelajaran Generatif (PG) merupakan terjemahan dari Generative Learning (GL). dialog. dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya. Landasan Teoritik dan Empirik Pembelajaran Generatif . Pembelajaran adalah proses belajar mengajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri.pdf http://pembelajaranguru. pengetahuan dalam konteks behavioristik adalah obyektif.gunadarma. wacana. maka akan sangat kecil semungkinan adanya transfer pengetahuan dari seseorang kepada yang lainnya. Jadi dengan kata lain mengajar adalah belajar juga. dan telah terstruktur dengan rapi.mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Mengajar adalah berpartisipasi bersama siswa dalam membentuk pengetahuan. Jika pengetahuan baru itu berhasil menjawab permasalahan yang dihadapi.

a: 1-2). Menganut asumsi sentral bahwa belajar itu ditemukan. e. Dalam proses pemecahan masalah tersebut. Lebih menekankan pada pengajaran top-down daripada bottom-up. h. Dukungan itu sifatnya lebih terstruktur pada tahap awal. Seseorang belajar jika dia bekerja dalam zona perkembangan terdekat. 1986). maka kemungkinan sekali mereka adalah pelajar yang efektif dan memiliki motivasi abadi dalam belajar. b. diantaranya adalah : a. 1992). dan kemudian secara bertahap mengalihkan tanggung jawab belajar tersebut kepada mahasiswa untuk bekerja atas arahan dari mereka sendiri. Penekanan pada prinsip Scaffolding. 1992). Top-down berarti mahasiswa langsung mulai dari masalah-masalah kompleks. menulis (Bereiter dan Scardamalia. diantaranya adalah : dalam bidang matematika (Carpenter dan Fennema. bidang sains (Neale. Menekankan bahwa perubahan kognitif hanya bisa terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memahami inforamasiinformasi baru. mahasiswa mempelajari keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan untuk memecahkan masalah kompleks tadi dengan bantuan guru/dosen atau teman sebaya yang lebih mampu. tetapi dapat menyelesaikannya jika dibantu sedikit dari teman sebaya atau orang dewasa. tetapi mereka harus melakukan operasi mental atau kerja otak atas informasi tersebut untuk membuat informasi itu masuk ke dalam pemahaman mereka. d. Seseorang belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona tersebut. Penelitian Knapp (1995) menemukan suatu hubungan positif pendekatan-pendekatan . Butir-butir penting dari pandangan belajar menurut teori konstruktivis ini menurut Nur (2000:2-15) dan Katu (1995. Meskipun jika kita menyampaikan informasi kepada mahasiswa. membaca (Duffi dan Rochler. yaitu pemberian dukungan tahap demi tahap untuk belajar dan pemecahan masalah. Seseorang bekerja pada zona perkembangan terdekatnya jika mereka terlibat dalam tugas yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri. Menganggap bahwa jika seseorang memiliki strategi belajar yang efektif dan motivasi. f. mahasiswa sebaiknya lansung saja diberikan tugas kompleks. 1997: )yang menunjukkan pengaruh positif pendekatan-pendekatan konstruktivis yang melandasi pembelajaran generatif terhadap variabel-variabel hasil belajar tradisional. g. Smith. yaitu seorang mahasiswa yang dapat memiliki kemampuan pengaturan diri sendiri dalam belajar. serta tekun menerapkan strategi itu sampai suatu tugas terselesaikan demi kepuasan mereka sendiri. c. 1987). sulit. Jadi. dan realistik kemudian dibantu menyelesaikan tugas kompleks tersebut dengan menerapkan scaffolding. yaitu daerah perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangannya saat ini. utuh. dan autentik untuk dipecahkan. Sejumlah penelitian (Slavin. Menganut visi mahasiswa ideal. dan Johnson.Pembelajaran generatif memiliki landasan teoritik yang berakar pada teori-teori belajar konstruktivis mengenai belajar dan pembelajaran.

Diharapkan mahasiswa mulai mereorganisasi kerangka berpikir mereka dengan melakukan perubahan struktur dan hubungan antar konsep-konsep. Diharapkan mereka akan merasakan bahwa pandangan baru dari dosen tersebut mudah dimengerti. diharapkan mereka dapat menemukan jawaban atas gejala yang mereka amati. Sebaiknya pertanyaan yang diajukan dosen adalah pertanyaan terbuka.konstruktivis dengan hasil belajar. c. dosen menuliskan topik dan melibatkan mahasiswa dalam diskusi yang bertujuan untuk menggali pemahaman mereka tentang topik yang akan dibahas. akan merasa terganggu dan mengalami konflik kognitif dalam pikirannya. 3. masuk akal. Yang perlu dilakukan adalah membuat mereka berani mengemukakan pendapatnya tanpa takut disalahkan. Dosen diharapkan untuk mencatat dan mengelompokkan dugaan dan penjelasan yang muncul di papan tulis. membuat pemahaman mereka menjadi eksplisit. Secara sadar dosen mempertentangkan pendapat-pendapat yang berbeda itu. terdiri atas 5 tahap dengan penjelasan sebagai berikut : a. Dengan menggunakan cara dialog yang timbal balik dan saling melengkapi. Mereka diminta mengemukakan alasan untuk mendukung dugaan mereka. Tahap-3 : Reorganisasi Kerangka Kerja Konsep mengusulkan alternatif tafsiran menurut fisikawan dan menunjukkan bahwa pandangan yang dia usulkan dapat menjelaskan secara koheren gejala yang mereka amati. Mereka juga diajak untuk menanggapi pendapat teman satu kelas mereka yang berbeda dari pendapat sendiri. Mereka diminta mengomentari pendapat teman sekelas dan membandingkannya dengan pendapat sendiri. dosen mengajak mereka untuk mengemukakan fenomena atau gejala-gejala yang diperkirakan muncul dari suatu peristiwa yang akan didemonstrasikan kemudian. Setelah itu dosen melaksanakan demonstrasi dan meminta mahasiswa untuk mengamati dengan seksama gejala yang muncul. Dalam hal ini dosen menyiapkan perangkat demonstrasi. Tahapan Pembelajaran Generatif Pada tahap ini dosen membantu mahasiswa dengan Langkah-langkah atau tahapan pembelajaran generatif menurut Katu (1995. Mahasiswa diberikan beberapa persoalan sejenis dan menyarankan mereka menjawabnya dengan pandangan alternatif yang diusulkan dosen. Setelah itu barulah dosen menayakan apakah gejala yang mereka amati itu sesuai atau tidak dengan pikiran mereka. dosen diharapkan tidak akan menilai mana pendapat yang “salah” dan mana yang “benar”. b. atau grafik yang dapat membantu mahasiswa menemukan alternatif jawaban atas gejala yang diamati. b:5-6). Dosen perlu memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencerna apa yang mereka amati. Untuk membuat suasana menjadi kondusif. Tujuan dari tahap pengingatan ini adalah untuk menarik perhatian mahasiswa terhadap pokok yang sedang dibahas. Tahap-1 : Pengingatan Pada tahap awal ini. tampilan gambar. Proses reorganisasi ini tentu membutuhkan waktu. dan berhasil dalam menjawab berbagai persoalan. Tahap-2 : Tantangan dan Konfrontasi Setelah dosen mengetahui pandangan sebagian mahasiswanya. . dan sadar akan variasi pendapat di antara mereka sendiri. Mereka diajak untuk mengungkapkan pemahaman dan pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan topik tersebut.

Setelah dosen mengetahui intuisi yang dimiliki mahasiswa. diantaranya adalah sebagai berikut : a. http://anwarholil. 22:00) generatif learning dengan penilaian unjuk kerja 314 .menuru Sutrisno (1995:3). c.blogspot. dosen memberikan berbagai persoalan dengan konteks yang berbeda untuk diselesaikan oleh mahasiswa dengan kerangka konsep yang telah mengalami rekonstruksi. analogi. dosen mengajak mahasiswanya dalam menilai kembali kerangka kerja konsep yang telah mereka dapatkan. Dengan melihat peristiwa yang berbeda dari dugaan mereka maka di dalam pikiran mereka timbul perasaan kacau (dissonance) yang secara psikologis membangkitkan perasaan tidak tenteram sehingga dapat memotivasi mereka untuk mengurangi perasaan kacau itu dengan mencari alternatif penjelasan.com/2008/04/pembelajaran-generatif-mpg. dosen mempersiapkan demonstrasi yang menghasilkan peristiwa yang dapat berbeda dari intuisi mahasiswa. Tahap-5 : Menilai Kembali Dalam suatu diskusi. b. Beberapa Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran Generatif Dalam melaksanakan pembeljaran generatif. Pelatihan ini dimaksudkan juga untuk lebih menguatkan hubungan antar konsep di dalam kerangka berpikir yang baru mengalami reprganisasi. 4. pelatihan menggunakan tampilan jamak (multiple representation) untuk mengaktifkan mahasiswa dalam proses belajar. atau simulasi. Variasi kegiatan ini dapat membantu mahasiswa memperoleh penjelasan yang cukup memuaskan. Menyajikan demonstrasi untuk menantang intuisi mahasiswa. Maksudnya adalah memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan/keterampilan baru mereka pada situasi dan kondisi yang baru.d. Untuk lebih memperkuat pemahaman mereka maka dosen dapat memberikan soal-soal terbuka (open-ended questions). Keberhasilan mereka menerapkan pengetahuan dalam situasi baru akan membuat para mahasiswa makin yakin akan keunggulan kerangka kerja konseptual mereka yang sudah direorganisasi. Mengakomodasi keinginan mahasiswa dalam mencari alternatif penjelasan dengan menyajikan berbagai kemungkinan kegiatan mahasiswa antara lain berupa eksperimen/percobaan. soal-soal kaya konteks (context-rich problems) dan pertanyaan terbalik (reverse questions) yang dapat dikerjakan secara kelompok. dosen perlu memperhatikan beberapa hal. kegiatan kelompok menggunakan diagram. c.html (29 oktober 2011. Tahap-4 : Aplikasi Konsep Pada tahap ini.

Pada KTSP.Guru adalah sutradara dan siswa sebagai pemain. Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu metode pembelajaran. guru dituntut untuk menciptakan suasana pembelajaran yang mengutamakan keaktifan dan keterlibatan siswa itu sendiri agar siswa bisa meningkatkan pemahaman konsep. semestinya dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah karena sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal yang dapat membantu siswa dalam belajar dan mampu melahirkan generasi muda yang berbakat harus dioptimalkan sistem pembelajarannya. Guru merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan proses pembelajaran (Sanjaya. 2006:52). guru bisa menerapkan suatu strategi pembelajaran yang bisa meningkatkan beberapa aspek tersebut. Dalam implementasinya.1 Latar Belakang Kurikulum yang berlaku mulai tahun 2006 (KTSP). jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa . semoga bermanfaat BAB I PENDAHULUAN 1. penalaran dan komunikasi. serta meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. 14 Mei 2011 strategi pembelajaran generatif learning dengan penilaian unjuk kerja bagi anda yang butuh skripsi.Sabtu. saya akan berikan cuma-cuma alias gratis.

VII E. Peneliti memperoleh informasi dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dengan guru matematika kelas VII SMP Islam 1 Batu pada waktu pelaksanaan PPL bahwa nilai matematika siswa kelas VII masih terbilang rendah. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh beberapa guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. dalam kelas VII yang tebagi dalam tujuh kelas tersebut. Namun. guru seharusnya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai bagaimana cara “membelajarkan siswa”. metode/strategi pembelajaran yang digunakan oleh sebagian besar guru adalah metode konvensional atau ceramah. VII C. yaitu kelas VII A. Itu semua bisa di lihat dari hasil ulangan pada semester pertama yang rata-ratanya masih di bawah standar SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimum) sekolah. Dengan belajar aktif. dimana kelas VII D cenderung terlihat lebih ramai dalam proses kegiatan belajar mengajar. pelaksanaan pembelajaran di sekolah dengan KTSP masih kurang memperhatikan tercapainya kompetensi siswa. akan terlatih dan terbentuk kompetensi siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif. Padahal. Demikian pula di SMP Islam 1 Batu. VII G. hal ini karena paradigma lama masih melekat dan kebiasaan yang susah dirubah. sehingga siswa pasif dan hanya sebagai penonton. kelas tersebut tidak ada perbedaan dalam perlakuan pemberian metode pembelajaran. ada perbedaan yang signifikan antara masing-masing kelas. melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. VII F. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. yaitu guru masih dominan dengan menggunakan metode ceramah saja. sehingga siswa . Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. VII D. VII B. yaitu 65. afektif. yaitu sama-sama menggunakan metode konvensional atau ceramah.dalam mengembangkan kompetensinya sehingga siswa diharapkan akan memiliki kecakapan “life skill”. dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. Namun pada kenyataannya.

Strategi Generatif Learning diharapkan dapat mewujudkan pencapaian tujuan pembelajaran siswa kelas VII D SMP Islam 1 Batu yang ada. Pembelajaran Generatif adalah pembelajaran yang menekankan pada pengintegrasian secara aktif antara materi atau pengetahuan baru yang diperoleh dengan skemata (Baharuddin dan Wahyuni. Sekarang ini telah berkembang cukup banyak metode dan strategi pembelajaran yang bisa membangkitkan dan meningkatkan pemahaman siswa. pemfokusan. 2009:180) pada tahap akhir (tahap penerapan konsep) guru bisa meminta siswa untuk mengerjakan tugas PR dengan beberapa latihan soal-soal atau bisa dengan tugas proyek yang dilaksanakan di luar jam pertemuan. Melalui Generatif Learning. dan tahap penerapan (Wena. penyampaian materi yang telah disampaikan guru masih kurang dipahami oleh siswa. 2009:177). Dari perubahan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran. Dimana pada setiap tahap siswa dituntut untuk aktif dan saling bekerjasama dengan teman kelompoknya untuk menyusun materi yang akan dipelajari. diharapkan perilaku siswa yang pada mulanya bersifat pasif menjadi aktif. Strategi pembelajaran Generatif terdiri dari beberapa tahap. serta bekerjasama dengan siswa lainnya. 2009:128).kurang memperhatikan penjelasan dari guru. baik aktif dalam bertanya. dengan assessment unjuk kerja (performance assessment). yaitu tahap explrorasi. Akibatnya. sehingga setelah materi selesai disusun secara tertulis oleh siswa. Generatif Learning diperkenalkan pertama kali oleh Osborne dan Cosgrov (Wena. maka siswa mempresentasikan materi secara bergantian sesuai dengan urutan masing-masing kelompok. Maka selanjutnya menurut Sutarman dan Swasono (dalam Wena. 2009:177). menyampaikan pendapat. tantangan. salah satunya adalah dengan strategi pembelajaran Generatif (Generatif Learning). khususnya pada pokok bahasan belah ketupat dan layanglayang .

portofolio. 3) dapat memberikan motivasi yang lebih besar dari pada membandingkan pekerjaan dari orang lain. 2) dapat memberikan pengaruh positif dalam belajar. 6) dapat menjadi alat komunikasi yang jelas tentang kemajuan belajar siswa kepada siswa itu sendiri. Penilaian unjuk kerja memiliki kelebihan dapat mengungkapkan potensi siswa dalam memecahkan masalah. 4) siswa dilatih keterampilan. penalaran. 5) memberikan kesempatan kepada siswa bekerja sesuai dengan perbedaan individu.Dalam menerapkan strategi Generatif Learning ini.wordpress. dan komunikasi dalam bentuk lisan maupun tulisan (Iryanti. proyek/penugasan. 2004:6) . Penilaian adalah penafsiran hasil pengukuran dan penentuan pencapaian hasil belajar (Iryanti. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penilaian unjuk kerja dikarenakan sesuai dengan tahap akhir (tahap penerapan konsep) dimana guru bisa memberikan tugas dengan PR dengan latihan-latihan soal untuk mengetahui pemahaman siswa atau dengan tugas proyek yang dilaksanakan siswa diluar pertemuan jam pelajaran. Assessment terdiri dari beberapa jenis penilaian. orang tua dan pihak terkait.com) kelebihan penilaian (assessment) ini adalah: 1) kemampuan belajar siswa dapat terlihat dengan jelas. diantaranya adalah yang berupa tes dan non tes. 2008:III-1) penilaian unjuk kerja adalah berbagai macam tugas dan situasi dimana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan pengaplikasian pengetahuan yang mendalam. Penilaian (assessment) juga digunakan untuk mengetahui kekuatan yang ada dalam proses pembelajaran. Menurut Trespeces (dalam Setiadi. dan penilaian sikap. Menurut Grafura (dalam Http://lubisgrafura. sehingga dapat dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan. serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks. Penilaian non tes terdiri dari unjuk kerja. 2004:3). diperlukan suatu teknik penilaian yang dapat mengukur dan menilai tingkat keberhasilan dalam proses pembelajaran.

siswanya cenderung terlihat lebih ramai dalam proses kegiatan belajar mengajar dan kurang memperhatikan penjelasan dari guru. khususnya pada pokok bahasan belah ketupat dan. Berdasarkan uraian di atas. seperti tampak pada RPP yang dibuat oleh guru matematika dan dari cara guru mengajar di kelas.layang-layang.Dari kelebihan-kelebihan tersebut maka strategi Generatif Learning dengan penilaian unjuk kerja diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran. 1. penyampaian . 1. Maka penelitian ini difokuskan pada penerapan strategi Generatif Learning dengan penilaian unjuk kerja untuk meningkatkan pemahaman pada pokok bahasan belah ketupat dan layang-layang. Khususnya yang terjadi di kelas VII D. sehingga siswa pasif dan hanya sebagai penonton.3 Identifikasi Masalah Metode/strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru mata pelajaran matematika kelas VII di SMP Islam Batu sebagian besar proses pembelajarannya masih menggunakan metode konvensional atau ceramah.2 Fokus Penelitian Judul penelitian ini adalah ”Penerapan Strategi Generatif Learning dengan Penilaian Unjuk Kerja untuk Meningkatkan Pemahaman pada Materi Belah Ketupat dan Layang-Layang Siswa Kelas VII D SMP Islam 1 Batu Tahun Pelajaran 2009/2010”. maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul ”Penerapan Strategi Generatif Learning dengan Penilaian Unjuk Kerja untuk Meningkatkan Pemahaman pada Materi Belah ketupat dan Layang-Layang Siswa Kelas VII D SMP Islam 1 Batu Tahun Pelajaran 2009/2010”. Akibatnya.

maka tujuan dalam penelitian ini adalah: “untuk mendeskripsikan penerapan strategi Generatif Learning dengan penilaian unjuk kerja dapat meningkatkan pemahaman materi belah ketupat dan layang-layang siswa kelas VII D SMP Islam 1 Batu tahun pelajaran 2009/2010” 1.  Meningkatkan kualitas sekolah melalui peningkatan prestasi belajar siswa dan kerja personalisme guru Bagi Guru. Bagi Sekolah  Meningkatkan prestasi sekolah. hal ini bisa dilihat dari nilai ratarata ulangan dan harian siswa kelas VII D lebih rendah dibandingkan kelas VII lainnya. Bagi Guru . 1. khususnya bidang studi matematika.4 Rumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang di atas. 2.materi yang telah disampaikan guru masih kurang dipahami oleh siswa. maka peneliti mengambil rumusan masalah bagaimana penerapan strategi Generatif Learning dengan penilaian unjuk kerja untuk meningkatkan pemahaman siswa kelas VII D SMP Islam 1 Batu tahun pelajaran 2009/2010 pada materi belah ketupat dan layanglayang? 1.6 Manfaat Penelitian 1.5 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas.

yaitu: 1. khususnya dalam pembelajaran matematika. 1. 3. maka peneliti memberikan ruang lingkup penelitian. 1. Bagi Peneliti Sebagai gambaran dalam menerapkan suatu metode pembelajaran yang lebih efektif sehingga dapat dijadikan acuan dalam mengabdi di dunia pendidikan.8 Definisi Operasional . Tempat dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMP Islam 1 Batu dengan subjek penelitian terbatas pada siswa kelas VII D. 4.7 Ruang Lingkup Penelitian Agar permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini tidak terlalu meluas serta dapat mengarahkan jalannya penelitian. Bagi Siswa Siswa lebih termotivasi. karena pembelajaran bersifat lebih menarik dan bermakna. 2. sehingga pemahaman siswa bisa meningkat.Sebagai bahan pertimbangan dalam memilih atau memadukan berbagai strategi pembelajaran yang tepat di kelas. Materi Pokok Materi pokok yang diambil pada penelitian ini adalah pada pokok bahasan belah ketupat dan layanglayang.

Pembelajaran Generatif adalah pembelajaran yang menekankan pada pengintegrasian secara aktif antara materi atau pengetahuan baru yang diperoleh dengan skemata (Baharuddin dan Wahyuni. Michael Presley (dalam Trianto. yaitu: a. dari tingkat kelas sebelumnya atau diperoleh dari beberapa referensi.Agar tidak terjadi kesalahan penafsiran dalam penelitian ini. Tahap Explorasi (Pendahuluan) Tahap explorasi adalah tahap dimana siswa pada tahap explorasi. Strategi Pembelajaran adalah cara dan seni untuk menggunakan semua sumber belajar dalam upaya membelajarkan siswa (Wena. atau konsepsi awal yang diperoleh dari materi sebelumnya. guru bertugas untuk membimbing siswa untuk melakukan explorasi terhadap pengetahuan. maka perlu dijelaskan beberapa hal sebagai berikut: 1. ide. 2009:2). 2009:128). 2. Tahap Pemfokusan . cara. Generatif Learning terdiri dari empat tahap. 2005:1198). pengalaman sehari-hari. 2007:85) menyatakan strategi belajar adalah operator-operator kognitif yang terdiri atas proses-proses yang secara langsung terlibat dalam menyelesaikan suatu tugas (belajar). b. 3. Menurut Wena (2008:177). perbuatan meningkatkan (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Peningkatan adalah proses. Peningkatan dalam hal ini adalah peningkatan pemahaman konsep dengan penerapan strategi Generatif Learning disertai penilain unjuk kerja pada kelas VII D SMP Islam 1 Batu khususnya pada pokok bahasan belah ketupat dan layang-layang.

Tahap Penerapan Pada tahap ini siswa diajak untuk dapat memecahkan masalah dengan menggunakan konsep barunya atau konsep benar dalam situasi baru yang berkaitan dengan hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari. 2009:135). Penilaian unjuk kerja adalah berbagai macam tugas dan situasi dimana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan pengaplikasian pengetahuan yang mendalam.Pada tahap pemfokusan siswa melakukan pengujian hipotesis dari pengetahuan sebelumnya melalui kegiatan laboratorium atau dalam model pembelajaran yang lain dalam bentuk tertulis. yaitu tukar pendapat atau diskusi. 2008:III-1). Jadi misalkan siswa melakukan uji coba sendiri dengan bimbingan dari guru dan dilaporkan secara tertulis untuk dipresentasikan pada tahap tantangan. 4. 2009:180) pemberian tugas rumah (PR) dengan latihan soal-soal atau tugas proyek yang dikerjakan siswa di luar jam pertemuan merupakan bentuk penerapan yang baik untuk dilakukan. Penilaian/assessment adalah prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang prestasi atas kinerja siswa yang hasilnya akan digunakan untuk evaluasi (Suprijono. Menurut Sutarman dan Swasono (dalam Wena. c. serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks Trespeces (dalam Setiadi. Tahap Tantangan Pada tahap ini. . siswa melanjutkan hasil kerja masing-masing kelompok ke dalam suatu forum ilmiah. d. 5.

mempunyai sepasang sudut berhadapan yang sama besar. kecerdasan dan ketelitian siswa dapat terasah dengan baik. dibagi dua sama besar oleh diagonal-diagonalnya. dan kedua diagonalnya berpotongan tegak lurus. .1 Hakekat Matematika Hudojo (2005:35) menyatakan bahwa matematika adalah suatu alat untuk mengembangkan cara berpikir. dan salah satu diagonal layang-layang membagi dua sama panjang diagonal lain yang tegak lurus dengan diagonal itu. Pemahaman adalah kemampuan untuk menangkap makna dari bahan yang dipelajari (Bloom dalam Abidin. BAB II KAJIAN PUSTAKA 2. mempunyai salah satu diagonal yang merupakan sumbu simetri. terdiri dari sudut berhadapan yang sama besar. Mampu menjelaskan pengertian & sifat-sifat belah ketupat dan layang-layang b. Jadi dengan matematika. Mampu menunjukkan bahwa layang-layang memiliki dua pasang sisi yang sama panjang. Mampu menghitung keliling dan luas belah ketupat dan layang-layang. mempunyai dua diagonal yang merupakan sumbu simetri.6. Mampu menghubungkan sudut-sudut dalam belah ketupat dan layang-layang. d. e. Mampu menunjukkan bahwa belah ketupat terdiri mempunyai sisi yang sama panjang. 2004:57). Indikator yang digunakan untuk meningkatkan pemahaman pada pokok bahasan belah ketupat dan layang-layang pada siswa kelas VII D SMP Islam 1 Batu adalah: a. c.

hal ini karena karena belajar merupakan suatu pengalaman yang diperoleh berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya (Uno.1 Pengertian Belajar Belajar merupakan kegiatan psiko-fisik-sosio menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya (Suprijono. 2005:36) menyatakan bahwa sasaran atau obyek penelaahan matematika adalah fakta. 2009:3). ke aksioma atau postulat dan akhirnya ke dalil. berpikir matematis. berfungsi untuk memotivasi siswa agar lebih aktif.2. . Sudirman (2005:iii) juga menyatakan bahwa tugas matematika yang diberikan kepada siswa baik yang dikerjakan sendiri maupun berkelompok. kreatif. 2.2 Belajar dan Pembelajaran Matematika 2. 2004:58).Menurut Ruseffendi (dalam Abidin. operasi dan prinsip. matematika merupakan ilmu tentang struktur yang terorganisasikan mulai dari unsur yang tidak didefinisikan ke unsur yang didefinisikan. Begle (dalam Hudojo. dan mampu mengkomunikasikan pemikiran matematikanya dalam kehidupan sehari. konsep.hari. 2007:22). Peneliti dapat menyimpulkan dari beberapa pendapat dan definisi yang dikemukakan oleh para matematikawan di atas bahwa pada hakekatnya matematika adalah ilmu pengetahuan yang merupakan ilmu yang belum didefinisikan ke unsur yang didefinisikan serta tidak hanya berhubungan dengan bilangan-bilangan serta operasi-operasinya melainkan juga berhubungan dengan simbol-simbol. dimana semua unsur di dalam matematika itu sendiri sangat berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan siswa. Obyek penelaahan tersebut menggunakan simbol-simbol.

keterampilan. Berdasarkan uraian di atas maka pengertian belajar adalah aktivitas yang merupakan bagian dari hidup manusia yang berupa kegiatan psiko-fisik-sosio yang menyebabkan perubahan dalam tingkah laku yang berupa kompetensi. 2009:11) dan belajar akan berlangsung sepanjang hidup manusia. keterampilan. 2009:19) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya. Belajar merupakan bagian dari hidup manusia. sikap yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman yang bertujuan untuk meningkatkan SDM suatu bangsa. bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku (Mustangin. pendengaran. dimana istilah belajar pada dunia pendidikan adalah program yang terstruktur agar tujuan pendidikan dapat terlaksana dan pada akhirnya akan meningkatkan SDM bangsa. Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi. b) Faktor Psikologis . struktur tubuh dan sebagainya. tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja. Yang termasuk faktor fisiologis adalah penglihatan.2. Dalam dunia pendidikan. dan sikap (Baharuddin dan Wahyuni. yaitu: 1) Faktor Internal a)Faktor fisiologis Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. 2002:1).2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Menurut (Baharuddin dan Wahyuni.Seseorang dikatakan belajar. Perubahan tingkah laku yang dimaksud adalah karena pengalaman dan latihan. belajar merupakan rutinitas siswa. 2.

Faktor-faktor psikologis terdiri atas:  Kecerdasan/intelegensi siswa 2) Faktor Eksogen/Ekstern a) Faktor lingkungan sosial yang terdiri atas:  Lingkungan sosial sekolah  Lingkungan sosial masyarakat  Lingkungan sosial keluarga b) Lingkungan non sosial yang terdiri atas:  Lingkungan alamiah  Faktor instrumental  Faktor materi pelajaran 2.2. 2009:9) mendefinisikan istilah pembelajaran sebagai ” a set of events embedded in purposeful activities that facilitate learning”. Menurut Gagne (dalam Pribadi. Pandangan ini semakin menekankan bahwa dalam kegiatan pembelajaran .Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Artinya pembelajaran adalah serangkaian aktivitas yang sengaja diciptakan dengan maksud untuk memudahkan terjadinya proses belajar.3 Pengertian pembelajaran Keterpaduan antara konsep belajar dan konsep mengajar melahirkan konsep baru yang disebut “proses pembelajaran”.

dan memfasilitasi siswa agar siswa terdorong untuk belajar. pengajaran berpusat pada guru sedangkan pembelajaran berpusat pada siswa. Sedangkan dalam pembelajaran. Dalam pengajaran guru mendominasi kegiatan belajar dan siswa hanya sebagai pendengar. Penggunaan pembelajaran tidak saja merupakan konsep pendidikan modern dan diterima secara luas oleh masyarakat tetapi juga dikuatkan dalam perundang-undangan. Oleh karena itu. yaitu dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. guru dituntut untuk melakukan kegiatan pembelajaran yang tidak hanya terdiri dari unsur pengajaran. 2009:9) istilah pembelajaran digunakan untuk menggantikan istilah pengajaran yang lebih bersifat sebagai aktivitas yang berfokus pada guru. Ditinjau dari segi kegiatan. Hal ini menegaskan bahwa kegiatan belajar berpusat pada siswa. guru tidak hanya mampu menyampaikan materi tetapi ia juga harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendorong aktifitas belajar siswa. Guru dituntut tidak hanya memberikan materi terkait dengan kegiatan belajar mengajar tetapi juga dituntut untuk menstimulasi. para guru hendaknya memahami secara tepat makna pembelajaran serta unsur-unsur yang terkait di dalamnya. Dari segi bahasa. Sehingga belajar merupakan proses organik dan konstruktif. 2009:2) pembelajaran berarti upaya membelajarkan siswa. Konsep belajar bergerak dari kutub pengajaran menuju pembelajaran. 2009:11). Kegiatan belajar bersifat mekanis dan hanya memasukkan materi sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu menurut Miarso (dalam Pribadi. Karena pembelajaran dianggap lebih tepat dan efektif dalam meningkatkan SDM masyarakat nusantara.guru memainkan peran penting dalam menumbuhkan gairah belajar dengan penciptaan proses belajar mengajar yang menyenangkan. mendorong. Perbedaan antara pengajaran dan pembelajaran dapat ditinjau dari beberapa segi. Menurut Degeng (dalam Wena. . pengajaran merupakan terjemahan dari teaching sedangkan pembelajaran merupakan terjemahan dari learning (Suprijono.

4 Pengertian Pembelajaran Matematika Pembelajaran matematika menurut Muhsetyo (2006:3) adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga peserta didik memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari. Dapat menunjukkan makna matematika dalam kehidupan manusia. sehingga belajar merupakan proses organik dan konstruktif dan telah dikuatkan dalam perundang-undangan. pembelajaran dapat diartikan sebagai keterpaduan antara konsep belajar dan mengajar yang berupa serangkaian aktivitas yang sengaja diciptakan dengan maksud untuk memudahkan terjadinya proses belajar dalam pembelajaran sehingga guru dituntut tidak hanya mampu menyampaikan materi tetapi ia juga harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendorong aktifitas belajar siswa.Berdasarkan beberapa pendapat diatas. 2. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika merupakan suatu proses untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru mengenai matematika melalui serangkaian kegiatan yang terencana dan terstruktur sehingga peserta didik memperoleh kegiatan belajar . Menghormati pendapat siswa. Menurut Marpaung (2005:8) tujuan pembelajaran matematika bukan mematikakan manusia tetapi membuat matematika membahagiakan manusia. sedikitnya tidak menegangkan. Menghargai perbedaan individual.2. maka pembelajaran haruslah sedapat mungkin seperti berikut: Menyenangkan. di lain pihak matematika tidak mudah dipahami tetapi penting dalam kehidupan manusia.

Pertama adalah translasi yaitu kemampuan menterjemahkan atau mengubah ide-ide dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain secara ekuivalen. kemampuan ekstrapolasi yaitu kemampuan memperluas kecenderungan atau terdensi diluar data yang diketahui. Ketiga. Pemahaman yang baru tersebut didapat karena adanya pengalaman. 2. (dalam Abidin.1 Pengertian Pemahaman Matematika Menurut Bloom (dalam Abidin.3 Pemahaman Matematika 2. dan usaha dari siswa itu sendiri. . Kedua. Perubahan tingkah laku yang dapat diamati itu merupakan peningkatan pemahaman konsep siswa.matematika dengan lancar dan menyenangkan serta dapat diamati dengan adanya perubahan pada tingkah laku.3. Kemampuan yang dituntut dalam pemahaman antara lain. 2. latihan. Untuk memahami materi dalam pembelajaran matematika diperlukan penguasaan pengetahuan konseptual dan pengetahuan prosedural. 2004:63) mendukung perlunya pengetahuan konseptual dan pengetahuan prosedural ini dengan menyatakan bahwa pengetahuan konseptual dan pengetahuan prosedural merupakan aspek yang penting dalam pemhaman matematika.2 Pemahaman Konsep (Pengetahuan Konseptual) Budiningsih (2005:56) menyatakan pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahamanpemahaman baru. 2004:57) pemahaman adalah kemampuan untuk menangkap makna dari bahan yang dipelajari. interpelasi yaitu kemampuan mengidentifikasi atau memahami ide-ide utama yang tercakup dalam suatu komunikasi permasalahan. sehingga hasil belajar siswa juga bisa meningkat. maupun pengertian tentang hubungan-hubungan antara ide-ide tersebut.3.

3 Pemahaman Prosedur (Pengetahuan Prosedural) Menurut Abidin (2004:61) pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan tentang urutan kaidah-kaidah. 2004:62) mengatakan bahwa pengetahuan prosedural lebih cenderung pada penguasaan komputasional dan pengetahuan tentang langkah-langkah untuk mengidentifikasi objek matematika. Menurut Hiebert dan Wearne (dalam Abidin. aturan-aturan. 2. 2004:61) pengetahuan konseptual dalam matematika merupakan pengetahuan dasar yang menghubungkan antara potongan-potongan informasi yang berupa fakta. Lebih lanjut (Abidin. konsep atau prinsip. konsep atau prinsip yang mewakili kejadian-kejadian atau hubungan-hubungan yang mempunyai atribut-atribut yang sama. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemahaman konseptual adalah pengetahuan dasar yang menghubungkan antara potongan-potongan informasi yang berupa fakta. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemahaman prosedur adalah pengetahuan tentang urutan kaidah-kaidah. salah satu ciri pengetahuan prosedural adalah adanya urutan langkah yang akan ditempuh. prosedur-prosedur yang digunakan untuk menyelesaikan . kegiatan-kegiatan. prosedur-prosedur yang digunakan untuk menyelesaikan soal-soal matematika. Tidak semua siswa memahami konsep langsung melalui definisi. atau hubungan-hubungan. Prosedur ini dilakukan secara bertahap dari pernyataan yang ada pada soal menuju pada tahap selanjutnya. Konsep merupakan dasar bagi proses untuk memecahkan masalah. 2007:73) menyatakan bahwa konsep adalah abstraksi yang mewakili satu kelas objek-objek.Rosser (dalam Sagala. Langkah tersebut mencakup bagaimana mengidentifikasi masalah dan menyelesaikan masalah. kejadian-kejadian. algoritma dan definisi. skill (ketrampilan). Konsep dalam matematika biasanya dijelaskan melalui definisi atau contoh. skill (ketrampilan).3.

5) Mampu menghitung keliling dan luas belah ketupat dan layang-layang 2.layang. mempunyai sepasang sudut berhadapan yang sama besar. 3) Mampu menunjukkan bahwa setiap layang-layang memiliki masing-masing dua pasang sisi yang sama panjang. . Adapun indikator pemahaman yang digunakan dalam pokok bahasan bangun datar belah ketupat dan layang-layang adalah: 1) Mampu menjelaskan pengertian. dan dibagi dua sama besar oleh diagonal-diagonalnya. maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Dalam penelitian ini. dan sifat-sifat belah ketupat dan layang-layang. 4) Mampu menggunakan hubungan sudut-sudut dalam belah ketupat dan layang.4 Assessment (Penilaian) Assessment adalah prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang prestasi atas kinerja siswa yang hasilnya akan digunakan untuk evaluasi (Suprijono.soal-soal matematika. Karena penilaian (assessment) menekankan pada proses pembelajaran. dan kedua diagonalnya berpotongan tegak lurus. 2009:135). dan salah satu diagonal layang-layang membagi dua sama panjang diagonal lain yang tegak lurus dengan diagonal itu. mempunyai dua diagonal yang merupakan sumbu simetri. 2) Mampu menunjukkan bahwa belah ketupat terdiri mempunyai sisi yang sama panjang. mempunyai salah satu diagonal yang merupakan sumbu simetri. pemahaman yang digunakan sebagai dasar untuk memahami materi bangun datar belah ketupat dan layang-layang adalah pemahaman konseptual dan pemahaman prosedural. terdiri dari sudut berfadapan yang sama besar.

dan pada tahap penerapan guru bisa memberikan tugas PR dengan latihan soal-soal dengan menilai dari cara siswa mengerjakan soal-soal itu secara individu. sehingga dapat dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan. unjuk kerja. portofolio. yaitu hasil penilian harus dianalisis oleh guru sebagai bahan umpan balik bagi siswa dan guru itu sendiri. dimana pada tahap tantangan guru bisa menilai dari presentasi siswa yang dilakukan secara berkelompok. (PUSPENDIK & BPP & DEPDIKNAS. Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai pemahaman siswa diantaranya adalah dengan tes. . Dalam hal ini peneliti menggunakan penilaian unjuk kerja dikarenakan sesuai pada tahap–tahap pembelajaran dalam pembelajaran Generatif (Generatif Learning). penilaian kelas juga dapat digunakan untuk melihat seberapa jauh proses belajar-mengajar telah berhasil 4) Fungsi Umpan Balik. 2008:I-4) menjelaskan bahwa fungsi penilaian (assessment) adalah: 1) Fungsi Motivasi. yaitu penilaian yang dilakukan oleh guru di kelas harus mendorong motivasi siswa untuk belajar. dan penilaian sikap. yaitu penilaian kelas harur diarahkan untuk mementau ketuntasan belajar siswa. 2007:20) assessment sangat berperan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran karena melibatkan siswa dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki dalam kehidupan nyata. karena di samping untuk mementau kemajuan belajar siswa. Menurut Karim (dalam Hadi. proyek/ kegiatan. 3) Fungsi Sebagai Indikator Efektifitas Pengajaran.Penilaian (assessment) juga digunakan untuk mengetahui kekuatan yang ada dalam proses pembelajaran. 2) Fungsi Belajar Tuntas.

2) Dapat memberikan pengaruh positif dalam belajar.wordpress. tingkah laku. pengetahuan. penampilan siswa pada tahap tantangan dan kemampuan menyelesaikan soal uraian pada tahap penerapan dalam Generatif Learning dengan rubrik analitik. 2004:4). kualitas materi. semakin terpercaya hasil penilaian kemampuan siswa Menurut Trespeces (dalam Setiadi. 4) Siswa dilatih keterampilan. 2004:III-1) penilaian unjuk kerja adalah berbagai macam tugas dan situasi dimana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan penerapan/pengaplikasian pengetahuan yang mendalam. 6) Dapat menjadi alat komunikasi yang jelas tentang kemajuan belajar siswa kepada siswa itu sendiri. atau interaksi siswa. 5) Memberikan kesempatan kepada siswa bekerja sesuai dengan perbedaan individu. serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks. Dalam hal ini.5. 3) Dapat memberikan motivasi yang lebih besar. 2. Karena banyak waktu yang diperlukan untuk menerapkan penilaian unjuk kerja. orang tua dan pihak lain yang terkait. Semakin sering guru mengamati unjuk kerja siswa.Menurut Grafura (dalam Http://lubisgrafura.com) kelebihan assessment adalah: 1) Kemampuan belajar siswa dapat terlihat dengan jelas . maka dilanjutkan pada penilaian holistik untuk menilai secara . peneliti menilai kemampuan presentasi. Cara penilaian ini lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya.1 Pengertian Penilaian unjuk kerja adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan penilai terhadap aktivitas siswa sebagaimana yang terjadi (Siswono. maka peneliti disarankan merancang penilaiannya dengan seksama. Untuk melaksanakan penilaian unjuk kerja harus disediakan instrumen penilaian. setelah dilakukan penilaian analitik yang terdiri dari sub-sub kriteria.5 Penilaian Unjuk Kerja 2. Penilaian dilakukan terhadap kinerja.

yaitu: 1) Instrumen (tugas) Instrumen penilaian dapat berupa tugas atau masalah yang diajukan kepada siswa. menggunakan peralatan laboratorium. Penilaian dengan cara ini lebih tepat digunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam mengerjakan soal latihan. dan dari aktivitas atau pertanyaan yang akan menghasilkan tanggapan siswa. jadi tanggapan dapat berbentuk presentasi lisan dari masing-masing kelompok siswa yang dilaksanakan pada tahap tantangan. kemampuan siswa dalam pemecahan masalah suatu kelompok. penalaran. 3) Penafsiran tanggapan yang diberikan siswa . dan jawaban tertulis yang menjelaskan suatu permasalahan pada tahap penerapan dari Generatif Learning.5. latihan soal-soal.2 Komponen Penilaian Unjuk Kerja Menurut Iryanti (2004:6) semua bentuk penilaian mempunyai lima komponen utama. misalnya penilaian dari diskusi kelas. presentasi. partisipasi siswa dalam diskusi kelompok kecil. (2004:6). 2.keseluruhan kemampuan siswa secara umum dari presentasi siswa dan dari PR atau latihan soal uraian yang dikerjakan siswa diluar jam pertemuan. dan mengoperasikan suatu alat. 2) Tanggapan terhadap tugas Peneliti disini menggunakan pembelajaran Generatif. dan komunikasi dalam bentuk lisan maupun tulisan (Iryanti. Penilaian unjuk kerja memiliki kelebihan dapat mengungkapkan potensi siswa dalam memecahkan masalah.

peneliti harus menyusun kriteria apa saja yang diperlukan agar hasil kerja siswa bisa dinilai dengan maksimal. 2.3 Langkah-langkah dalam Merencanakan Penilaian Unjuk Kerja Menurut Setiadi (2008:III-5) langkah-langkah yang perlu diperhatikan untuk membuat penilaian kinerja adalah: 1) Identifikasi semua langkah-langkah penting yang diperlukan atau yang mempengaruhi hasil akhir (output) yang terbaik. atau berupa angka. Jadi kriteria yang dipilih bisa dengan mengambil kriteria yang bisa mewakili dari indikator pemahaman. 4) Pemberian skor atau skala penafsiran tanggapan siswa Hasil penskoran ini dapat menjadi umpan balik bagi siswa untuk melihat sejauh mana kompetensi yang sudah dicapai. Jadi. 2) Tuliskan perilaku kemampuan-kemampuan spesifik yang penting dan diperlukan untuk menyelesaikan tugas dan menghasilkan hasil akhir (output yang terbaik). .Penafsiran ini dilakukan oleh guru atau oleh siswa sendiri dengan menggunakan penilaian diri sendiri (self assessment) penafsiran ini dapat berupa membandingkan tanggapan siswa dengan kompetensi yang diharapkan. Laporan ini diperoleh dari rubrik holistik maupun analitik. sehingga semua kriteria tersebut dapat diobservasi selama siswa menjalankan tugas. “B”. 5) Pencatatan dan pelaporan hasil yang diperoleh Laporan ini dapat berbentuk tulisan “bagus” atau “cukup” atau berupa nilai “A”.5. 3) Usahakan untuk membuat kriteria-kriteria kemampuan-kemampuan yang akan diukur tidak terlalu banyak. Jadi. dalam menyusun rubrik holistik maupun analitik. kriteria penilaian disesuaikan dengan indikator dari materi yang telah dipelajari siswa berdasarkan pembelajaran Generatif Learning.

5) Urutkan kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang dapat diamati. penampilan siswa di kelas yang dilaksanakan siswa secara berkelompok pada tahap tantangan Rubrik analitik dalam hal ini juga dilaksanakan untuk menilai kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal uraian/PR yang dilaksanakan siswa secara individu di luar jam pertemuan pada tahap penerapan dalam Generatif Learning. Misalnya ukuran rubrik analitik yang kecil untuk menilai kemampuan presentasi.4 Membuat Instrumen Penilaian Unjuk Kerja Menurut Iryanti (2004:9). pengetahuan. Sedangkan ukuran rubrik penilaian holistik yang lebih besar untuk menilai secara keseluruhan kemampuan siswa secara umum dari presentasi dan PR/latihan soal.5 Kriteria Instrumen Unjuk Kerja Menurut Iryanti (2004:10) instrumen unjuk kerja yang baik adalah: 1) Autentik dan Menarik . 2.4) Definisikan dengan jelas kriteria kemampuan-kemampuan yang akan diukur. 2. kualitas materi.5.5. hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat penilaian unjuk kerja adalah: 1) Ukuran Instrumen Ukuran instrumen bisa kecil ataupun besar disesuaikan dengan kebutuhan dalam menilai kemampuan siswa.

dan penilaian individual dilaksanakan pada tahap penerapan. dimana siswa mengerjakan soal-soal latihan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa dengan Generatif Learning. 2) Memungkinkan Penilaian Individual Banyak instrumen unjuk kerja yang dimaksudkan untuk dikerjakan siswa Secara berkelompok. terutama yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. tidak ambigu. Oleh karena itu. desain penilaian unjuk kerja sebaiknya bukan hanya ditujukan untuk kelompok tetapi juga individu. maka petunjuk yang diberikan pada siswa harus tepat. lengkap. Misalkan jika peneliti ingin menilai kemampuan menghitung luas bangun datar belah ketupat dan layang-layang. sehingga informasi dan hasil yang diperoleh dalam menilai kinerja siswa bisa maksimal. dan tidak membingungkan. Namun perlu diingat bahwa penilaian ini sebenarnya lebih dititikberatkan untuk penilaian individu.5.6 Isu dalam Mendesain dan Menggunakan Penilaian Unjuk Kerja . 2. Disini siswa mencari informasi mengenai materi belah ketupat dan layang-layang yang didiskusikan berdasarkan referensi yang ada dan pengalaman sehari-hari mereka yang ditulis pada tahap explorasi. Penilaian kelompok dilakukan pada saat siswa melaksanakan presentasi yang dilaksanakan pada saat tahap tantangan dalam Generatif Learning. 3) Memuat Petunjuk yang Jelas Instrumen unjuk kerja yang baik harus memuat petunjuk yang jelas.Hal yang penting bagi suatu instrumen unjuk kerja adalah menarik dan melibatkan siswa dalam suasana akrab dan menyenangkan bersama dengan dengan siswa lain dalam menyelesaikan tugas.

Rubrik holistik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan kesan keseluruhan atau kombinasi semua kriteria. 3 (memuaskan dengan sedikit kekurangan). soal yang hendak dinilai adalah berbentuk soal uraian agar bisa diketahui kevalidan isi soal tersebut. Jadi semua aspek dalam penerapan konsep secara individual bisa dinilai dalam rubrik ini. 2.6 Pembelajaran dengan Strategi Generatif Learning . Dengan menggunakan rubrik ini. Jadi. Rubrik analitik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan beberapa kriteria yang ditentukan. dan 1 (tidak memuaskan). Menurut Iryanti (2004:13). dapat dianalisa kelemahan dan kelebihan siswa dalam mempresentasikan tugas. 2008:III-7). Dalam unjuk kerja. ada rubrik analitik dan rubrik holistik. Untuk rubrik holistik format penilaiannya bisa mengunakan angka 4 (memuaskan). 2004:13). serta kemampuan siswa dalam mengerjakan soal uraian yang berkaitan dengan pemahaman siswa mengenai materi belah ketupat dan layang-layang dengan menggunakan Generatif Learning.5. 2 (memuaskan dengan banyak kekurangan. Dalam penilaian unjuk kerja. penilaian menggunakan penskoran dari skala nilai yang mempunyai beberapa kriteria untuk mengukur pemahaman siswa secara obyektif. 2.7 Rubrik Analitik dan Holistik dalam Unjuk Kerja Rubrik adalah pedoman penskoran (Iryanti.Karakteristik dan compleksitas dari unjuk kerja (performance assessment) biasanya menimbulkan masalah dalam pengumpulan data untuk membuktikan validitas (validity evidence) tidak seperti dalam pengembangan tes pilihan ganda (Setiadi.

Pendapat atau ide sebaiknya disajikan secara tertulis. guru bertugas untuk membimbing siswa untuk melakukan explorasi/penelusuran terhadap pengetahuan. siswa didorong untuk mengamati gejala atau fakta.2. Pembelajaran Generatif pertama kali diperkenalkan oleh Osborne dan Cosgrove (Wena.6. yaitu: A. 2009:128). bimbingan. Pendapat/ide/hipotesis siswa yang berhasil teridentifikasi. mungkin ada yang benar dan yang salah.1 Pengertian Generatif Learning Pembelajaran Generatif adalah pembelajaran yang menekankan pada pengintegrasian secara aktif antara materi atau pengetahuan baru yang diperoleh dengan skemata (Baharuddin dan Wahyuni. guru membagi siswa dalam enam kelompok dan memberikan materi presentasi kepada masing-masing kelompok dan memberikan stimulus berupa aktivitas/tugas-tugas seperti melalui demonstrasi/penelusuran terhadap materi yang sedang dipelajari. yaitu belah ketupat dan layanglayang. guru berperan memberikan dorongan. ide. Pada proses pembelajaran ini. Apabila konsepsi siswa ini salah. Explorasi Tahap explorasi disebut juga tahap pendahuluan. memotivasi dan memberi arahan agar siswa mau dan dapat mengemukakan pendapat/ide/hipotesis. 2009:177) Menurut Wena (2009:177) pembelajaran Generatif terdiri dari empat tahap. Pada tahap ini guru bisa mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan materi untuk menggali konsepsi siswa. Hal ini bertujuan agar siswa dapat menunjukkan data dan fakta yang terkait dengan materi tersebut. Melalui aktivitas demonstransi/penelusuran. maka dikatakan terjadi salah konsep . atau konsepsi awal yang diperoleh dari pengalaman sehari-harinya. Pada tahap explorasi. dari tingkat kelas sebelumnya atau diperoleh dari beberapa referensi. Untuk mendorong siswa agar mampu melakukan explorasi.

tugas pembelajaran yang disusun oleh guru tidak seratus persen merupakan petunjuk atau langkah kerja.(misconception). seperti kemampuan . 2009:178) pengujian hipotesis siswa akan dilakukan pada kegiatan experimen (tahap pemfokusan) oleh siswa sendiri. guru pada saat itu sebaiknya tidak memberikan makna. Kegiatan pengujian hipotesis terhadap tugas pembelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa dilakukan secara berkelompok yang telah ditetapkan pada tahap explorasi. dengan demikian siswa dapat melakukan proses sains (Wena. Proses sains yang bisa dilakukan siswa dalam hal ini misalnya adalah mencari sumbu simetri dengan media bangun datar belah ketupat dan layang-layang yang disediakan oleh guru. Namun demikian. B. menyalahkan atau membenarkan terhadap konsepsi siswa. sehingga siswa dapat berlatih untuk meningkatkan sikap seperti seorang ilmuwan. tetapi tugas-tugas hendaknya memberikan peluang yang luas bagi siswa untuk menyelesaikan tugas tersebut dengan caranya sendiri atau dengan cara yang diinginkannya. Menurut Sutarman dan Swasono (dalam Wena. memberi bimbingan dan arahan. siswa melakukan pengujian hipotesis dari pengetahuan sebelumnya melalui kegiatan laboratorium atau dalam model pembelajaran lain. Guru hendaknya memberikan tugas yang dapat menstimulasi siswa dalam menguji hipotesis dengan caranya sendiri. 2009:179). Pemfokusan Pada tahap pemfokusan. Penyelesaian tugas secara berkelompok memberikan dampak positif besar bagi siswa dalam meningkatkan kemampuannya. Sehingga peserta didik memiliki keinginan yang kuat dalam menguji pendapatnya tentang suatu konsep atau materi yang diberikan. Pada tahap ini guru bertugas sebagai fasilitator yang menyangkut kebutuhan sumber. Untuk itu.

kemampuan bersikap positif terhadap perbedaan pendapat. sehingga mereka memperoleh hasil kerja berdasarkan kemampuan mereka sendiri dan hasil inilah yang nanti akan didiskusikan antar kelompok pada tahap selanjutnya. dan kemampuan dalam bertanya kepada rekan atau teman. dan kemampuan kelompok. Perbedaan diharapkan berujung pada tukar pendapat atau diskusi terhadap tugas yang diberikan. Diskusi kelompok yang berjalan dengan baik ditentukan oleh beberapa hal. Jadi tahap pemfokusan merupakan tahap dimana siswa bekerja sama dalam internal kelompok masing-masing untuk menyelesaikan suatu tugas.dalam mengutarakan pendapat. guru hendaknya memberikan arahan dan bimbingan positif mengenai materi jika ada kesalahan konsep. dan periode kedua tanya jawab atau diskusi antar kelompok. kemampuan bekerja sama dalam suatu tim. yaitu tantangan. Tantangan Pada tahap ini. Periode pertama setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil kerja mereka yang disampaikan oleh ketua kelompok atau juru bicara yang disepakati masing-masing kelompok. karena pada akhir diskusi diharapkan siswa bisa memperoleh kesimpulan dan pemantapan konsep yang benar. tentunya akan terjadi proses kognitif yang berupa . kemampuan menganalisa kebenaran. materi. kesalahan konsep bisa diminimalisir oleh siswa itu sendiri karena setelah terjadi diskusi dengan sesama anggota kelompok yang dilanjutkan dengan bertukar pikiran dalam forum diskusi dengan kelompok yang lainnya. yaitu tukar pendapat atau diskusi. C. Pada tahap ini. yaitu guru. siswa melanjutkan hasil kerja masing-masing kelompok ke dalam suatu forum ilmiah. Guru hendaknya dapat menciptakan suasana yang hangat dan menyenangkan dan mengarahkan terjadinya perbedaan pandangan antara kelompok yang satu dengan lainnya.

Dalam hal ini. Sedangkan Pemahaman siswa mengenai materi belah ketupat dan layang-layang dengan strategi Generatif Learning akan dinilai dengan rubrik analitik dan holistik. 2009:183). Langkah-langkah Generatif Learning secara spesifik yaitu: Tabel 2. Berdasarkan keempat tahapan diatas. D. 2009:180) pemberian tugas rumah (PR) atau dengan tugas proyek yang dikerjakan siswa di luar jam pertemuan merupakan bentuk penerapan yang baik untuk dilakukan. peneliti memelih tugas yang berupa latihan soal uraian agar bisa dinilai secara analitik sekaligus holistik pemahaman siswa pada materi belah ketupat dan layang-layang.1. Menurut Sutarman dan Swasono (dalam Wena. pada tahap keempat ini hasil diskusi yang merupakan konsep baru dapat diterapkan dalam kehidupan yang lebih nyata. sikap.asimilasi dan akomodasi yang sesuai dengan konsep yang benar dan cocok dengan data empiris. Tahapan Generatif Learning secara spesifik . Jadi dengan menghubungkan konsep pengetahuan sebelumnya dengan konsep baru yang ditugaskannya. dan keterampilan dalam membangun atau mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri (Wena. Hasil diskusi yang dilaksanakan pada tahap ketiga merupakan suatu konsep atau pembelajaran baru bagi para siswa. Untuk itu. Kemampuan presentasi siswa akan dinilai dengan format penilaian unjuk kerja dengan menggunakan rubrik analitik. diharapkan siswa akhirnya mampu menemukan atau membangun pengetahuan yang baru menjadi semakin matang. Penerapan Pada tahap ini siswa diajak untuk dapat memecahkan masalah dengan menggunakan konsep barunya atau konsep benar dalam situasi baru yang berkaitan dengan hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari dengan latihan soal uraian. siswa diharapkan dapat memiliki dan meningkatkan pengetahuan. Kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas/soal pada tahap ini akan dinilai dengan rubrik analitik.

i. Siswa mencari bahan materi yang diperoleh dari beberapa referensi mengenai materi belah ketupat atau layang-layang Siswa melakukan explorasi/ penelusuran. Siswa bergabung dengan anggota kelompoknya Siswa mendengarkan pertanyaan guru. Siswa bisa meminta bantuan guru jika ada kesulitan dalam mendapatkan sumber seperti beberapa referensi dan contoh bangun datar belah ketupat dan layanglayang agar siswa bisa membuktikan besar sudut dan sumbu simetri kedua bangun ini untuk dipresentasikan. Membimbing siswa dalam menyusun hipotesis dan melakukan explorasi mengenai materi yang dikerjakan secara tertulis. g. serta cara menghitung keliling dan c. Memberikan tugas pada siswa untuk mencari referensi mengenai materi belahd. menyenangkan dan mengarahkan terjadinya perbedaan pandangan antara j. Memberikan stimulus berupa pertanyaan b. luas belah ketupat dan layang-layang c. Setiap kelompok memberikan contoh soal yang sesuai dengan materi presentasi Setiap kelompok mempersilahkan kelompok lain untuk bertanya . Membimbing siswa dalam proses dalam f. sehingga siswa memperoleh suatu hipotesis mengenai materi yang dilaporkan secara tertulis. misalnya memberikan contoh bangun datar belah ketupat dan layang-layang dan juga kebutuhan sumber seperti beberapa referensi mengenai materi yang akan disusun siswa. Tahap Tantangan h. Tahap Pemfokusan e. f. Siswa melakukan pengujian dengan sesama anggota kelompoknya menggunakan contoh bangun datar belah ketupat dan layang-layang Siswa berdiskusi/bertukar pikiran secara aktif dengan sesama anggota kelompoknya. sifatsifat. Kegiatan Siswa b. Guru mempersilahkan masing-masing h.Tahapan Kegiatan Guru Generatif Learning Tahap Explorasi a. Membagi siswa menjadi 6 kelompok secara heterogen a. Menciptakan suasana yang hangat dan i. kelompok yang satu dengan lainnya Masing-masing kelompok mempresengtasikan tugasnya sesuai dengan urutan tiap-tiap kelompok. awal pada siswa mengenai definisi. kelompok untuk presentasi sesuai dengan urutan tiaa-tiap kelompok. Guru bertugas sebagai fasilitator yang e. Membimbing siswa dalam berdiskusi dengan anggota kelompoknya secara efektif. g. menguji hipotesisnya dengan beberapa referensi dan contoh bangun datar belah ketupat dan layang-layang. ketupat atau layang-layang disertai dengan contoh soalnya d. menyangkut kebutuhan sumber.

Pembelajaran Generatif cocok untuk meningkatkan keterampilan proses. Siswa memperbaiki penjelasan yang salah kerja menggunakan rubrik analitik n.2 Kelebihan dan Kekurangan Strategi Pembelajaran Generatif A. Medengarkan penjelasan guru siswa dan kesimpulan akhir Tahap Penerapan n.j. menjawab pertanyaan dari guru. serta berani tampil untuk mempresentasikan hipotesisnya. 3. Kelebihan Strategi Generatif Learning Menurut Sutarman (2004:100) kelebihan pembelajaran Generatif adalah: 1. Memberikan evaluasi terhadap kinerja o. diantaranya dengan bertukar pikiran dengan siswa yang lainnya. Memperhatikan proses diskusi k. Akhir diskusi. 4. Meningkatkan aktivitas belajar siswa. Memberikan arahan dan bimbingan positif mengenai materi jika ada kesalahan l. Menilai kemampuan presentasi siswa dalam kelompok dengan penilaian unjuk m. k. latihan soal ini akan dinilai secara analitik. 5. kemudian akan digabungkan dengan rubrik analitk presentasi dalam rubrik holistik Mengerjakan soal latihan yang berupa uraian dan langkah kerja di luar jam pertemuan 2. Konsep yang dipelajari siswa akan masuk ke memori jangka panjang. dan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. Memberikan latihan soal-soal yang p. Pembelajaran Generatif memberikan peluang kepada siswa untuk belajar secara kooperatif 2. konsep Anggota kelompok menjawab pertanyaan dari kelompok lain Siswa saling bertukar pikiran dengan kelompok lain agar diperoleh suatu pemantapan konsep yang benar.6. dikerjakan secara individu di luar jam pertemuan (PR) dengan langkah kerja. l. Merangsang rasa ingin tahu siswa. . setiap kelompok memberikan presentasi kesimpulan m.

Membutuhkan waktu yang relatif lama. Kekurangan Strategi Generatif Learning 1.7 Hasil Penelitian yang Relevan 1) Lusiana (2009) telah melakukan penelitian dengan judul tesis ”Penerapan model pembelajaran Generatif (MPG) untuk pelajaran matematika di kelas X SMA Negeri 8 Palembang”. sehingga siswa bisa memahami materi dengan benar. . maka guru harus membimbing siswa dalam mengexplorasi pengetahuan dan mengevaluasi hipotesis siswa pada tahap tantangan setelah siswa melakukan presentasi. Agar tidak terjadi salah konsep. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi Generatif Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar dan keterampilan proses siswa pada pokok bahasan bangun energi listrik dan kemagnetan. 3) Sari (2009) telah melakukan penelitian dengan judul ”Penerapan model pembelajaran Investigasi Matematika dengan teknik Penilaian Kinerja (Performance Assessment) untuk meningkatkan hasil belajar pada pokok bahasan segitiga siswa kelas VII MTs Surya Buana Malang tahun pelajaran 2008/2009”. 2009:178). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa bahwa strategi Generatif Learning dapat meningkatkan aktivitas siswa. ketuntasan belajar serta sikap siswa pada mata pelajaran matematika. 2) Sutarman (2004) telah melakukan penelitian dengan judul ”Implementasi pembelajaran Generatif berbasis Konstruktivisme sebagai upaya meningkatkan aktivitas belajar dan keterampilan proses fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 17 tahun pelajaran 2003/2004”. 2. 2.B. meskipun usaha menggali pengetahuan sebagian besar adalah dari siswa itu sendiri. Dikawatirkan akan terjadi misconception atau salah konsep (Wena.

.(1) BC = CD. ABC sama dan sebangun dengan ketupat. Kedua diagonal setiap belah ketupat merupakan sumbu simetri Pada gambar belah ketupat di atas ABD kongruen dengan CBD.(2) CD = AD………. Maka AC merupakan sumbu simetri belah ..... B..Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Investigasi Matematika dengan teknik Penilaian Kinerja (Performance Assessment) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan segitiga 2. Pengertian Belah Ketupat Belah ketupat adalah bangun yang dibentuk dari gabungan segitiga sama kaki dan bayangannya setelah dicerminkan terhadap alasnya.(3) Jadi... maka BD merupakan sumbu simetri belah ketupat. AB = BC = CD = AD ABC sama dan sebangun dengan ADC.....8 Deskripsi Materi Bangun Datar Belah Ketupat dan Layang-Layang 2. maka: 2. Semua sisi belah ketupat adadah sama panjang Pada gambar di atas. AB = BC.....1 Belah Ketupat A. ADC. Sifat-Sifat Belah Ketupat 1.8..........

Kedua diagonal belah ketupat saling membagi dua sama pan jang dan saling berpotongan tegak lurus OA OB OC. A B C. Keliling dan Luas Belah Ketupat Keliling diperoleh dari jumlah sisi-sisi luarnya. sehingga OA = OC OD. A = C dan B = D 4. keliling belah ketupat Luas Belah Ketupat: . sehingga OB = OD AOB = AOD = x 180° = 90° C. Pada gambar di atas. sehingga B = D Jadi. Sudut-sudut yang berhadapan sama besar dan dibagi dua sama besar oleh diagonal-diagonalnya.3. sehingga A = C D. Jadi.

Jadi: ABD sama kaki.2. layang-layang ABCD dibentuk dari segitiga sama kaki ABD dan segitiga sama kaki BCD. Sifat-Sifat Layang-Layang 1) Layang-layang mempunyai sepasang sisi yang sama panjang Pada gambar di atas. maka AB = AD BCD sama kaki.8.2 Layang-Layang A. B. maka BC = CD 2) Layang-layang memiliki sepasang sudut berhadapan yang sama besar . Pengertian Layang-Layang Layang-layang adalah gabungan dua segitiga sama kaki yang panjang alasnya sama dan berimpit.

ABD adalah samakaki dengan AB = AD. Karena AOD = DOC saling berpelurus. ABC = ADC 3) Salah satu diagonal dari layang-layang adalah merupakan sumbu simetri Pada gambar di atas. maka AO merupakan sumbu simetri.ABD sama kaki. maka ABD = ADB BCD sama kaki. maka CBD = CDB ABD + CDB = ADB + CDB Jadi. maka OC merupakan sumbu simetri. maka AC adalah garis lurus yang merupakan sumbu simetri layang-layang ABCD 4) Salah satu diagonal layang-layang membagi dua sama panjang diagonal lain dan tegak lurus dengan diagonal itu . BCD adalah samakaki dengan BC = CD.

Luas layang-layang ABCD = luas ABC + luas ADC = x AC x OB + x AC x OD . layang-layang ABCD dibalik menurut sumbu simetri AC.Pada gambar di atas. Jadi AOB = AOD = x 180° = 90° 5) Keliling dan Luas Layang-Layang Keliling layang-layang ABCD pada Gambar di atas sebagai berikut: Keliling (K) = AB + BC + CD + DA = x + x + y + y = 2x + 2y = 2(x + y) Layang-layang ABCD pada gambar di samping dibentuk dari dua segitiga sama kaki ABC dan ADC. maka OB OB = OD OD.

Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses dari pada produk 4. Menurut Sugiyono (2008:9) karakteristik penelitian kualitatif adalah sebagai berikut: 1. Penelitian kualitatif lebih menekankan makna (data dibalik yang diamati) Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Reseach). Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif 3. yaitu apabila peneliti terlibat langsung didalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian yang berupa laporan (Aqib. karena tindakan kepada subyek penelitian sangat diutamakan untuk pengungkapan makna dan proses pembelajarannya sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman melalui strategi pembelajaran Generatif (Generatif Learning). Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif 5. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru ke kelas atau di sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses pada praktek pembelajaran (Arikunto.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Dilakukan pada kondisi yang ilmiah 2. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas partisipan. . 2006:20).BAB III METODE PENELITIAN 3. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di lapangan secara alami. 2006:96).

Siklus dapat diakhiri apabila tujuan penelitian sudah tercapai. Pada tahap ini peneliti akan dibantu oleh guru mata pelajaran dan teman sejawat untuk mencatat semua hal yang diperlukan dalam penelitian berupa pengumpulan data-data. membuat format catatan lapangan.Tahap-tahap yang ditempuh dalam penelitian tindakan kelas adalah : (1) Perencanaan (Plan) Pada tahap ini peneliti merencanakan serangkaian kegiatan yang akan diterapkan di kelas pada saat penelitian berlangsung. Pada tahap ini perencanaan yang sudah dibuat peneliti akan dilaksanakan. (2) Tindakan (Act) Langkah selanjutnya bagi peneliti adalah tindakan. Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah membuat format observasi. Pada tahap refleksi ini. Apabila pada siklus pertama tujuan penelitian belum tercapai. . Empat tahap tersebut di atas disebut siklus pertama. (3) Pengamatan (Observe) Tahap pengamatan (observe) dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. membuat lembar angket. peneliti menganalisis dan menyimpulkan data-data yang diperoleh selama proses penelitian. maka pada siklus berikutnya perencanaan direvisi dengan berpedoman hasil observasi dan diskusi dengan guru dan teman sejawat. (4) Refleksi (Reflect) Refleksi adalah kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. dan lain sebagainya.

pelaksana.3 Lokasi Penelitian Penelitian ini berlokasi di SMP Islam1 Batu. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan lokasinya yang terjangkau. 3.4 Data dan Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII D SMP Islam 1 Batu tahun pelajaran 2009/2010 yang berjumlah 37 siswa dan data dalam penelitian ini ada dua jenis.2 Kehadiran Peneliti Dalam rancangan pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini. 2) Data kualitatif. 3. Peneliti sekaligus merupakan perencana. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII D SMP Islam 1 Batu Tahun Pelajaran 2009/2010 yang berjumlah 37 siswa dengan pertimbangan hasil belajar siswa yang heterogen. sehingga mudah untuk mengadakan kegiatan observasi. pengumpul data.3. catatan lapangan. yaitu: 1) Data kuantitatif yang diperoleh dari dokumen hasil belajar siswa yang terangkum dalam format penilaian unjuk kerja siswa dan nilai tes setiap akhir siklus. 3. diperlukan adanya kehadiran observer. diperoleh dari hasil observasi guru dan siswa. dan hasil wawancara. penafsir data. diperlukan teknik-teknik pengumpulan data sebagai berikut: 1) Tes . analisis.5 Prosedur Pengumpulan Data Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini. Maka untuk mengurangi tingkat kerumitan peneliti. kehadiran peneliti sebagai pemberi tindakan. dan pada akhirnya peneliti juga menjadi pelapor hasil penelitian.

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2006:150). 2) Unjuk kerja Penilaian unjuk kerja adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan penilai terhadap aktivitas siswa sebagaimana yang terjadi (Siswono, 2004:4). Penilaian dilakukan terhadap kinerja, tingkah laku, atau interaksi siswa. Cara penilaian ini lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Semakin sering guru mengamati unjuk kerja siswa, semakin terpercaya hasil penilaian kemampuan siswa. 3) Wawancara Wawancara yaitu suatu dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto, 2006:155). Wawancara dalam penelitian ini dilakukan untuk memperdalam makna pemahaman konsep terhadap materi bangun datar belah ketupat dan layang-layang dengan menggunakan strategi Generatif Learning dengan penilaian unjuk kerja 4) Observasi Observasi atau disebut juga dengan pengamatan adalah memperhatikan terhadap suatu obyek dengan menggunakan alat indra (Arikunto, 2006:156). Observasi dalam penelitian ini dilakukan untuk memperoleh data secara obyektif mengenai hal-hal yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. 5) Catatan lapangan

Menurut Bogdan dan Biklen (dalam Moleong, 2006:209) catatan lapangan adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif. 3.6 Instrumen Penelitian Menurut Arikunto (2006:136) instrumen penelitian adalah alat/perangkat yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Instrumen-instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Pedoman penilaian unjuk kerja Rubrik adalah pedoman penskoran (Iryanti, 2004:13). Penilaian unjuk kerja bisa menggunakan rubrik penilaian analitik dan holistik. Rubrik analitik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan beberapa kriteria yang ditentukan. Dalam hal ini peneliti menggunaka rubrik analitik untuk menilai kemampuan presentasi, kualitas materi, pengetahuan dan penampilan siswa di kelas yang dilaksanakan siswa secara berkelompok yang dilaksanakan pada tahap tantangan dalam Generatif Learning. Rubrik penilaian holistik untuk menilai secara keseluruhan kemampuan siswa secara umum dari tugas atau latihan soal yang dilaksanakan pada tahap penerapan dalam Generatif Learning dan ditambah dengan nilai keseluruhan yang diperoleh dari unjuk kerja siswa sebelumnya. 2) Lembar observasi Dalam penelitian ini dilakukan observasi atau pengamatan secermat-cermatnya. Lembar observasi yang digunakan adalah lembar observasi terstruktur yang mengungkapkan aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

3) Pedoman wawancara wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2006:186). 4) Format Catatan Lapangan Catatan lapangan digunakan untuk melengkapi data selama proses penelitian yang bersifat penting dan tidak tercantum pada lembar observasi. 3.7 Teknik Analisis Data Adapun data yang dianalisis adalah data yang diperoleh dalam penelitian yang berupa hasil kinerja siswa yang diperoleh dari presentasi dan PR, rancangan pembelajaran, tes, observasi, dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif dan analisis data kuantitatif . 3.7.1 Analisis Data Kualitatif Analisis data kualitatif yaitu menggunakan model alir yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2008:246-252) yang meliputi: 1) Data Reduction (Reduksi Data) Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya yang terkait dengan strategi pembelajaran Generatif. 2) Data Display (Penyajian Data) Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Dalam

hubungan antarkategori. 2005:17-18) Analisis Data Kuantitatif 7. bagan.penelitian kualitatif penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat. selanjutnya data kualitatif dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dengan persentase yaitu: Persentase Skor Rata-rata (SR) = X 100% Sebagai pedoman dalam menarik kesimpulan dari hasil analisis data.1 Taraf Keberhasilan Tindakan Persentase Keberhasilan 90% ≤ SR ≤ 100% 80% ≤ SR < 90% 70% ≤ SR < 80% 60% ≤ SR < 70% 0% ≤ SR < 60% Taraf Keberhasilan Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Sangat Kurang (Sumber: Riduwan dan Akdon. 3) Conclusion Drawing/Verivication (Kesimpulan/Verifikasi) Penarikan kesimpulan dan verifikasi ini merupakan pemberian makna dan interpretasi terhadap data yang telah direduksi dan dipaparkan sesuai dengan informasi yang diperlukan.2 . Dalam analisis data. ditetapkan kriteria sebagai berikut: Tabel 3. flowchart dan sejenisnya.

Dalam hal ini peneliti menggunakan analisis deskriptif dengan mencari presentase dan nilai rata-ratanya.2 Format Penilaian Unjuk Kerja Komponen Presentasi PR Bobot 10 10 Jumlah Skor Maksimal 5 5 Skor Akhir 50 50 100 2) Hasil tes akhir siklus Dalam penelitian ini tes digunakan untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep siswa tentang materi bangun datar belah ketupat dan layang-layang yang disyaratkan nilai tes siswa harus mencapai ≥ 61. Sehingga diperoleh skor akhir dari hasil unjuk kerja siswa dengan penjelasan sebagai berikut: Tabel Tabel 3. Data yang merupakan data kuantitatif adalah: 1) Hasil Unjuk Kerja Siswa Skor yang diperoleh siswa dari penilaian unjuk kerja dengan rubrik analitik dan holistik akan diolah sesuai dengan pedoman penilaian unjuk kerja yang telah disusun oleh peneliti. Menurut Mulyasa (2003:101-102) pembelajaran dari segi proses dan hasil dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.Sedangkan data kuantitatif dianalisis secara deskriptif. . Ketentuan ini disesuaikan dengan SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimum) yang berlaku di sekolah.

3 Kriteria keberhasilan Teknik Pengumpulan Data Kriteria Keberhasilan Instrumen Analisis Data . Menurut Sudjana (2008:109).8 Krtiteria Keberhasilan Tabel 3. kemudian akan dihitung berapa % jumlah siswa yang tuntas dalam pembelajaran yaitu siswa yang mendapat nilai  61. perumusan nilai rata-rata adalah sebagai berikut: = dengan: = Nilai rata-rata siswa X = Jumlah seluruh skor N = Jumlah subyek Nilai ketercapaian hasil belajar mempunyai rentang antara 0-100. Cara menghitung prosentase ketuntasan belajar adalah sebagai berikut:  siswa yang mendapat nilai  61 prosentase tuntas belajar =  siswa keseluruhan X 100% 3.Data kuantitatif yang berupa hasil penilaian unjuk kerja siswa dan hasil tes akhir siklus akan dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif yaitu dengan mencari nilai rata-rata tes akhir siklus siswa dan mencari presentasenya.

Rata-rata nilai tes siswa  65 Lembar penilaian unjuk kerja dan lembar soal akhir siklus Lembar penilaian unjuk kerja dan lembar soal akhir siklus Lembar Observasi siswa Tes Analisis data kuantitatif kemudian membandingkan dengan taraf keberhasilan 75% siswa mendapat nilai  61 Siswa aktif dalam proses pembelajaran (keberhasilan tindakan ≥ 75%) Tes Observasi Langsung Analisis data kualitatif kemudian membanding kan dengan taraf keberhasilan 3. Kriteria yang digunakan dalam pengecekan ini adalah kriteria derajat kepercayaan (credebility) (Moleong. Ketekunan Pengamatan Ketekunan pengamatan berarti mencari secara konsisten interpretasi dengan berbagai cara dalam kaitannya dengan proses analisis yang konstan. Pada penelitian ini derajat kepercayaan dilakukan dengan 3 teknik yang disarankan Moleong (2005:327). Triangulasi . Ketiga teknik tersebut adalah: 1. 2. 2005:324).9 Pemeriksaan Kabsahan Data Untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan yang berdasarkan kriteria tertentu.

dan format catatan lapangan. yang dilakukan oleh peneliti adalah: (a) menyusun perangkat pembelajaran. Hasil tes ini sekaligus dijadikan sebagai nilai awal (skor dasar) yang diperlukan dalam pengelolaan nilai peningkatan. Adapun tahapan-tahapan tersebut antara lain: 1) Tahap Pra Tindakan Sebelum peneliti mengadakan proses pembelajaran. .Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. 3.10 Tahapan Penelitian Dalam penelitian tindakan. 2) Tahap Pelaksanaan Tindakan Adapun kegiatan-kegiatan dan fase ini melalui tahapan sebagai berikut: anaan Pada tahap ini. tahapan penelitian disesuaikan dengan kerangka kerja dari strategi pembelajaran Generatif dan siklus penelitian tindakan. terlebih dahulu mengambil nilai dokumentasi nilai tes pada materi sebelumnya. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh data mengenai pemahaman konsep awal siswa. lembar observasi. 3. Pengecekan Sejawat Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat. (b) menyusun instrumen penelitian berupa soal tes.

tempat penelitian yaitu SMP Islam 1 Batu. d) Refleksi Pada tahap refleksi ini dilakukan kegiatan menganalisis. dan menyimpulkan berdasarkan hasil tes dan pengamatan. 3) Tahap Analisis Data Analisis data dilakukan dengan menggunakan kriteria-kriteria yang telah tercantum dalam sub bab analisis data. jika belum maka akan dilakukan tindakan lagi pada siklus berikutnya. Kemudian dari refleksi ini baru dapat dilihat secara keseluruhan apakah telah berhasil atau belum. proses pelaksanaan tindakan . dimana peneliti dibantu oleh dua observer yang bertugas mengamati dan mencatat semua hal yang diperlukan pada saat pelaksanaan tindakan berlangsung. Setelah data dianalisis maka tahap terakhir dilaporkan dalam bentuk tertulis.b) Pelaksanaan tindakan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilakukan dikelas VII D SMP 1 Islam Batu dengan mengacu pada pembelajaran Generatif dan rencana pembelajaran yang telah dibuat. mensintesis. Tahap ini merupakan tahap pengumpulan data. c) Pengamatan (Observasi) Pengamatan akan dilakukan bersamaan dengan kegiatan pelaksanaan tindakan. Kriteria keberhasilan tindakan ditetapkan berdasarkan standar ketuntasan minimum yang ditetapkan oleh sekolah. menjelaskan.

Pembelajaran di Indonesia selama ini banyak pengajar yang menggunakan metode pembelajaran konvensional dalam proses mengajar. 22:46) Bandingkan Pembelajaran konvensional dengan Pembelajaran Hypnoteaching BAB I PENDAHULAUN I.html (29 oktober 2011.com/2011/05/strategi-pembelajaran-generatif. Salah satu faktor yang penting adalah metode pembelajaran yang digunakan oleh para pengajar. Latar Belakang Dunia pendidikan kita sekarang membutuhkan perhatian khusus agar tetap sesuai dengan tujuan pendidikan.blogspot.= x AC x (OB + OD) = x AC x BD Secara umum dapat dituliskan sebagai berikut. Yaitu metode pembelajaran dengan cara ceramah dimana . Keliling (K) dan luas (L) layang-layang dengan panjang sisi pendek y dan panjang sisi panjang x serta diagonalnya masing-masing d1 dan d2 adalah K = 2(x + y) L= x d1 x d2 Diposkan oleh imam di 06:48 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook http://skripsigratis-imam. Seorang pengajar dituntut untuk menguasai metode-metode pembelajaran yang ada untuk dapat membawa peserta didikanya menghasilakn output yang maksimal.

cenderung pada belajar hafalan yang mentolerir respon-respon yang bersifat konvergen. serta pembagian tugas dan latihan. Walaupun pembelajaran ini banyak di kritik tapi metode inilah yang paling banyak di gunakan oleh pengajar dalam proses pembelajaran. Rumusan Masalah Dari latar belakang tersebut maka rumusan masalah yang muncul adalah: 1. menekankan informasi konsep. Yaitu metode pembelajaran yang penyampaian materinya menggunakan bahasa-bahasa bawah sadar. Mengetahui Apa kelebihan dan kekurangan dari metode pembelajaran konvesional dan hypnoteaching. Penyelenggaraan pendidikan hanya dipandang sebagai suatu aktivitas pemberian informasi yang harus “ditelan” oleh siswa. Manfaat Penulisan Manfaat yang diperoleh dari penulisan ini adalah: 1. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Jawa Tengah hampir 80% guru masih menggunakan pendekatan pembelajaran konvensional.peran guru di sini aktif dan peserta didik cenderung pasif. Pembelajaran konvensional mempunyai beberapa pengertian menurut para ahli. Sehingga kita dapat menentukan metode mana yang tepat digunakan dalam proses pembelajaran. yang mampu memunculkan ketertarikan tersendiri pada setiap peserta didik. diantaranya: Djamarah (1996) metode pembelajaran konvensional adalah metode pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan metode ceramah. karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar dan pembelajaran. yang wajib diingat dan dihafal Depdiknas. Dalam pembelajaran sejarah metode konvensional ditandai dengan ceramah yang diiringi dengan penjelasan. 2. Beberpa pakar mengatakan metode tersebut tidak layak dipakai lagi. II. sekarang sudah ada metode yang di anggap lebih bagus. Dengan ini kita bandingkan kedua metode pembelajaran tersebut. serta penilaian masih bersifat tradisional dengan paper dan pencil test yang hanya menuntut pada satu jawaban benar. Belajar hafalan mengacu pada penghafalan fakta-fakta. Metode yang dimaksud yaitu metode pembelajaran hypnoteaching. Metode Pembelajaran Konvesional Salah satu model pembelajaran yang masih berlaku dan sangat banyak digunakan oleh guru adalah model pembelajaran konvensional. Apakah yang dimaksud dengan metode pembelajaran konvesional dan metode pembelajaran hypnoteaching? 2. Apa kelebihan dan kekurangan dari metode pembelajaran konvesional dan hypnoteaching? III. . latihan soal dalam teks. Freire (1999) memberikan istilah terhadap pengajaran seperti itu sebagai suatu penyelenggaraan pendidikan ber-“gaya bank” (banking concept of education). BAB II PEMBAHASAN I. Dalam pembelajran konvensional. hubungan-hubungan. Mengetahuai apa yang dimaksud dengan metode pembelajaran konvesional dan metode pembelajaran hypnoteaching.

3. Kurang menekankan pada pemberian keterampilan proses (hands-on activities). Berbagi informasi yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. d.prinsip. h. 6. f. Siswa dalah penerima informasi secara pasif. 8. g. Belajar secara individual. Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik. i. Dijelaskannya bahwa pengajaran tradisional yang berpusat pada guru adalah perilaku pengajaran yang paling umum yang diterapkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Mengajari siswa yang cara belajar terbaiknya dengan mendengarkan. Institute of Computer Technology (2006:10) menyebutnya dengan istilah “Pengajaran tradisional”. e. Mudah digunakan dalam proses belajar mengajar. dimana siswa menerima pengetahuan dari guru dan pengetahuan diasumsikan sebagai badan dari informasi dan keterampilan yang dimiliki keluaran sesuai dengan standar. Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas. Perilaku dibangun atas kebiasaan. c. Menyampaikan informasi dengan cepat. . e. Pembelajran sangan abstrak dan teoritis. Pengajaran model ini dipandang efektif atau mempunyai keunggulan. Pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa cara belajar siswa itu sama dan tidak bersifat pribadi. 11. Kebenaran bersifat absolute dan pengetahuan bersifat final. Daya serapnya rendah dan cepat hilang karena bersifat mwnghafal. Sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik dengan apa yang dipelajari. terutama: a. Para siswa tidak mengetahui apa tujuan mereka belajar pada hari itu. Tidak ada kelompok-kelompok kooperatif 10. Pendekatan tersebut cenderung tidak memerlukan pemikiran yang kritis. Namun demikian pendekatan pembelajaran tersebut mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut: a. 9. d. c. Di sini terlihat bahwa proses pembelajaran yang lebih banyak didominasi gurunya sebagai “pentransfer” ilmu. Guru adalah penetu jalannya proses pembelajaran. sementara siswa lebih pasif sebagai “penerima” ilmu. 7. 2. Keterampilan sosial sering tidak secara langsung diajarkan.. 5. b. Membangkitkan minat akan informasi. dan konsep. 4. Pemantauan melalui onservasi dan intervensi sering tidak dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung. b. Tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan mendengarkan. Interaksi di antara siswa kurang. Secara umum ciri-ciri pembelajaran konvensional adalah: 1. Pemantauan melalui onservasi dan intervensi sering tidak dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung.

 Dengan melakukan hal-hal tersebut. Langkah-langkah tersebut adalah : 1.12. Lakukan gerakan-gerakan dan mimik wajah yang sesuai dengan tema bahasan kita. Langkah kedua ini adalah langkah yang sangat penting. gerak tubuh. serta komitmen untuk concern dan survive pada bidang yang di tekuni.Sehingga orang-orang dalam golongan itu akan merasa nyaman berada di dalamnya. Abaikan suara-suara dan perasaan-perasaan yang menghambat untuk maju. bahasa. atau siswa. Mari. Prinsip dasar disini adalah “manusia cenderung. serta gelombang otak dengan orang lain. Niat yang besar akan memunculkan motivasi yang tinggi. Berikut ini adalah langkah-langkah dasar yang wajib dilakukan agar dapat menguasai jurus menjadi guru yang menguasai hypnoteaching. Disamping juga melakukan aktivitas dan merasakan hal-hal yang dialami siswa-siswa kita pada masa sekarang. Kesuksesan seseorang tergantung pada niat seseorang untuk bersusah payah dan bekerja cerdas untuk mencapai kesuksesan tersebut. Kalau perlu gunakan bahasa gaul yang sedang trend di kalangan siswa-siswa. hanya diperlukan langkah-langkah sederhana. Metode Pembelajaran Hypnoteaching Menyajikan materi pelajaran dengan sebuah teknik yang diistilahkan dengan “hypnoteaching”. bahasa hingga gossip terbaru yang sedang trend di kalangan siswa. Yaitu menyajikan materi pelajaran dengan menggunakan bahasa-bahasa bawah sadar. atau lebih suka berkumpul / berinteraksi dengan sejenisnya / memiliki banyak kesamaan”. Bukan pada saat kita masih sekolah dulu. 2. Selalu update pengetahuan kita tentang tema. Siswa akan memperhatikan dan enggan untuk berpaling. setiap orang pasti akan merasa nyaman dan senang untuk berkumpul dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengannya. Dengan kenyamanan yang bersumber dari kesamaan gelombang otak ini. Pacing berarti menyamakan posisi. Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar II. Pacing. Sangkutkan tema pelajaran yang kita bawakan dengan tema-tema yang sedang trend di kalangan siswa-siswa kita. Gunakan bahasa yang sesuai dengan bahasa yang sering digunakan oleh siswa-siswa kita. maka setiap pesan yang disampaikan dari orang satu pada orang-orang yang lain akan dapat diterima dan dipahami dengan sangat baik. maka tanpa sadar gelombang pikiran kita telah sama dengan . Sehingga perhatian siswa akan tersedot secara penuh pada materi. Untuk melakukan hypnoteaching. Secara alami dan naluriah. Termasuk hypnoteaching. Cara-cara melakukan pacing pada siswa: Bayangkan kita adalah seusia siswa-siswa kita. lakukan sesuatu yang kita yakin akan dapat mengembangkan kualitas diri kita. Niat dan motivasi dalam diri.

Berikan pujian. maka pikiran bawah sadar siswa akan menangkap materi pelajaran kita adalah hal yang mudah. dan siswa akan dapat meraih prestasi belajar yang gemilang. Tips 5: Yakini Bahwa Manusia Belajar dengan Cara yang Berbeda Satu Sama lain Dengan demikian. ilustrasi yang beragam dan sesuai dengan konteks serta dapat menyesuaikan dengan latar belakang audiens. Leading. atau berbincang di sela-sela istirahat atau sebelum memulai materi sangat penting untuk mencairkan suasana. Implikasinya adalah . akan ikut menjadi mudah. Pada saat itulah hampir setiap apapun yang kita ucapkan atau tugaskan pada siswa . akan membangkitkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Yang terjadi pada pikiran bawah sadar manusia. Modeling. Sesulit apapun materinya. Memikirkan strategi pembelajaran aktif seperti ini bukan perkara mudah. Jika kita menguasai secara komprehensif. Akibatnya adalah siswa-siswa kita merasa nyaman untuk bertemu dengan kita. 6. Gunakan kata positif. Tips untuk Hypnoteaching Tips 1: Kuasai Materi Secara Komprehensif Penguasaan materi sanngat esensial untuk dapat melaksanakan tugas mengajar dengan baik dan menarik. maka sesulit apapun soal ujian yang diujikan. Pujian merupakan reward peningkatan harga diri seseorang. yaitu tidak menerima kata negative. 4. 3. Leading berarti memimpin atau mengarahkan setelah proses pacing kita lakukan. Penggunaan kata positif ini sesuai dengan cara kerja pikiran bawah sadar yang tidak mau menerima kata negative. Hal ini sangat perlu dan menjadi salah satu kunci hypnoteaching. 5. jangan perlakukan semua peserta dengan cara yang sama. Modeling adalah proses memberi tauladan melalui ucapan dan perilaku yang konsisten. maka siswa akan merasa nyaman dengan kita. tapi secara kreatif mutlak kita lakukan Tips 3: Upayakan untuk Melakukan Interaksi Informal dengan siswa Kadang-kadang guyon. Tips 4: Beri Kesempatan Peserta Kewenangan dan Tanggung Jawab atas Belajarnya Siswa akan termotivasi jika mereka diberi kewenangan untuk menentukan sendiri cara belajarnya. tentu akan mampu memberikan contoh. seseorang akan terdorong untuk melakukan yang lebih dari sebelumnya. Tips 2: Libatkan Peserta Secara Aktif Menyiapkan pembelajaran agar siswa terlibat aktif. Maka berikanlah pujian dengan tulus pada siswa. Dengan pujian. Sehingga kita selalu menjadi figure yang dipercaya. Setelah siswa menjadi nyaman dengan kita. Maka perlu pula kepercayaan (trust) siswa pada kita dimantapkan dengan perilaku kita yang konsisten dengan ucapan dan ajaran kita.para siswa. Pujian merupakan salah satu cara untuk membentuk konsep diri seseorang. maka siswa akan melakukannya dengan suka rela dan bahagia. Dan tidak hanya itu. Langkah berikutnya adalah langkah pendukung dalam melakukan pacing dan leading. Setelah melakukan pacing. analogi.

Kelebihan dari pembelajaran hypnoteaching: a. Siswa dapat dengan mudah menguasai materi. Harus yakin bahwa tugas yang kita berikan memang bisa dilakukan dan mereka merasa puas dengan hasil yang telah dilakukannya. karena siswa tidak menghafal k. menyebabkan kurangnya waktu dari guru untuk memberi perhatian satu per satu peserta didiknya. accelerate learning. Perhatian siswa akan tersedot penuh terhadap materi Kekurangan dari pembelajaran hypnoteaching: 1. Siswa dapat berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya c. Proses pemberian ketrampilan banyak diberikan disini d. Pembelajaran bersifat aktif g. Proses belajar mengajar yang lebih dinamis dan ada interaksi yang baik antara guru dan siswa b. Siswa dibiarkan berimajinasi dan berfikir kreatif i. Tips 9: Berikan Umpan Balik Segera dan bersifat Deskriptif Hal ini akan membantu mereka manyadari sudah sejauh mana perkembangan pemehaman atau penguasaan mereka terhadap pengetahuan. “Alam bawah sadar lebih besar dominasinya terhadap cara kerja otak. Banyaknya siswa yang ada disebuah kelas. Tips 8: Upayakan Materi yang Disampaikan Kontekstual Kita harus pandai pandai mengaitkan materi yang diajarkan dengan pengetahuan awal siswa. power teaaching. keterampilan atau sikap tertentu. Tips 7: Beri Kesempatan kepada Peserta untuk Melakukan sesuatu Secara Kolaboratif atau Kooperatif Hal tersebut akan meningkatykan motivasi dan kemenarikan pembelajaran karena ada sedikit kompetisi. Neuro-LinguisticProgramming (NLP) dan hypnosis. Proses pembelajarannya lebih beragam e. Tips 6: Yakinkan Peserta Bahwa Mereka Mampu . Daya serapnya lebih cepat dan lebih bertahan lama. Perlu pembelajaran agar guru bisa melakukan Hypnoteaching 4. Siswa akan melakukan pembelajaran dengan senang hati j. argumen secara bebas tanpa harus saling menjatuhkan satu sama lain. Kurangnya sarana dan prasarana yang ada disekolah . Pemantauan terhadap peserta didik lebih intensif h. karna termotivasi lebih untuk belajar f. Hypnoteaching merupakan gabungan dari lima metode belajar mengajar seperti quantum learning. Tips 10: Tingkatkan Jam Terbang Tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman. 3.laksanakan tips 2 dan 4 di atas. Metode ini belum banyak digunakan oleh para pengajara di Indonesia 2. Tidak semua pengajar menguasai metode ini. apalagi kalau mereka diberi kesempatan untuk saling berbagi ide. pengalaman. 5.

Dimana penyampaian materi menggunakan bahasa-bahasa bawah sadar.com http://mediasugesti.dir/doc.com Nama :Tri Astuti Nim :1102409033 Semester :2 MK :Teori Belajar D IP OS KA N O LEH IYAS TEKNOD IK D I 2: 15 AM 2 KOMENTAR: http://iyasphunkalfreth.ac. Metode yang banyak digunkan sampai saat ini adalah metode konvensional.html diakases tanggal 12 nov 2011 . Agar siswa atau peserta didik nyaman dengan kondisi pembelajaran dan menghasilkan output yang maksimal.mediasugesti.pdf http://xpresiriau.kompasiana. Sehingga akan mengetahui sebaiknya menggunakan metode-metode apa dalam proses pembelajaran.com www. karena dapat membuat siswa lebih termotivasi dan senang dengan pelajaran.html http://www. Metode yang dalam penyampaian materinya dengan cara ceramah.blogspot.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASHacea/7c4d72ac.com/2008/11/hypnoteaching-2. sedangkan peserta didik bersifat pasif karna hanya duduk dan mendengarkan penjelasan guru.BAB III PENUTUP Simpulan Pengajar saat ini dituntut untuk dapat menguasai berbagai model-model pembelajaran. Dengan metode ini membuat siswa atau peserta didik lebih tertarik pada pelajaran dan mengembangkan kreatifitasnya Metode hypnoteaching bagus di terapakan dalam pendidikan.unnes.blogspot. Semoga dengan ini dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.blogspot. Siswa dapat mengingat pelajaran dan berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya. Kondisi ini membuat guru lebih bersifat aktif.com/2010/06/perbandingan-metode-pembelajaran. Metode yang dianggap lebih baik dari metode konvensional adalah metode pembelajaran hypnoteaching. Daftar Pustaka http://digilib.

Pemantauan melalui onservasi dan intervensi sering tidak dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung. f. Perilaku dibangun atas kebiasaan. Berbagi informasi yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. 12. dimana siswa menerima pengetahuan dari guru dan pengetahuan diasumsikan sebagai badan dari informasi dan keterampilan yang dimiliki keluaran sesuai dengan standar. terutama: a. e. b. Keterampilan sosial sering tidak secara langsung diajarkan. g. Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar II. d. Siswa dalah penerima informasi secara pasif. Kebenaran bersifat absolute dan pengetahuan bersifat final. 6. Menyampaikan informasi dengan cepat. b. Tidak ada kelompok-kelompok kooperatif 10.. 4. e. d.perilaku pengajaran yang paling umum yang diterapkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Guru adalah penetu jalannya proses pembelajaran. Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas. Mengajari siswa yang cara belajar terbaiknya dengan mendengarkan. 5. Pengajaran model ini dipandang efektif atau mempunyai keunggulan. 2. Belajar secara individual. Membangkitkan minat akan informasi. 3. 8. Pendekatan tersebut cenderung tidak memerlukan pemikiran yang kritis. Kurang menekankan pada pemberian keterampilan proses (hands-on activities). Mudah digunakan dalam proses belajar mengajar. i. Tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan mendengarkan. Namun demikian pendekatan pembelajaran tersebut mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut: a. Sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik dengan apa yang dipelajari. Pembelajran sangan abstrak dan teoritis. Daya serapnya rendah dan cepat hilang karena bersifat mwnghafal. Metode Pembelajaran Hypnoteaching Menyajikan materi pelajaran dengan sebuah teknik yang diistilahkan dengan “hypnoteaching”. c. Sehingga perhatian siswa akan tersedot secara penuh pada materi. Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik. 11. Pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa cara belajar siswa itu sama dan tidak bersifat pribadi. Pemantauan melalui onservasi dan intervensi sering tidak dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung. Para siswa tidak mengetahui apa tujuan mereka belajar pada hari itu. 9. Siswa akan memperhatikan dan enggan untuk berpaling. Interaksi di antara siswa kurang. Secara umum ciri-ciri pembelajaran konvensional adalah: 1. h. c. Yaitu menyajikan materi pelajaran dengan menggunakan bahasa-bahasa bawah sadar. . 7.

Secara alami dan naluriah. Berikut ini adalah langkah-langkah dasar yang wajib dilakukan agar dapat menguasai jurus menjadi guru yang menguasai hypnoteaching. Setelah melakukan pacing. serta gelombang otak dengan orang lain. Pacing berarti menyamakan posisi.Untuk melakukan hypnoteaching. hanya diperlukan langkah-langkah sederhana. maka tanpa sadar gelombang pikiran kita telah sama dengan para siswa. Bukan pada saat kita masih sekolah dulu. bahasa. Abaikan suara-suara dan perasaan-perasaan yang menghambat untuk maju. 2. maka pikiran bawah sadar siswa akan menangkap materi pelajaran kita adalah hal yang mudah. Sangkutkan tema pelajaran yang kita bawakan dengan tema-tema yang sedang trend di kalangan siswa-siswa kita. Kalau perlu gunakan bahasa gaul yang sedang trend di kalangan siswa-siswa. gerak tubuh. 3. Langkah kedua ini adalah langkah yang sangat penting. maka siswa akan merasa nyaman dengan kita. Leading. setiap orang pasti akan merasa nyaman dan senang untuk berkumpul dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengannya. atau siswa. Pada saat itulah hampir setiap apapun yang kita ucapkan atau tugaskan pada siswa . bahasa hingga gossip terbaru yang sedang trend di kalangan siswa. Disamping juga melakukan aktivitas dan merasakan hal-hal yang dialami siswa-siswa kita pada masa sekarang. Gunakan bahasa yang sesuai dengan bahasa yang sering digunakan oleh siswa-siswa kita. Kesuksesan seseorang tergantung pada niat seseorang untuk bersusah payah dan bekerja cerdas untuk mencapai kesuksesan tersebut. lakukan sesuatu yang kita yakin akan dapat mengembangkan kualitas diri kita. serta komitmen untuk concern dan survive pada bidang yang di tekuni. Dengan melakukan hal-hal tersebut. Dengan kenyamanan yang bersumber dari kesamaan gelombang otak ini. Akibatnya adalah siswa-siswa kita merasa nyaman untuk bertemu dengan kita. Pacing. Selalu update pengetahuan kita tentang tema. akan ikut menjadi mudah. Langkah-langkah tersebut adalah : 1. maka sesulit apapun soal ujian yang diujikan. Cara-cara melakukan pacing pada siswa: Bayangkan kita adalah seusia siswa-siswa kita.Sehingga orang-orang dalam golongan itu akan merasa nyaman berada di dalamnya. dan siswa akan dapat meraih prestasi belajar yang gemilang. Lakukan gerakan-gerakan dan mimik wajah yang sesuai dengan tema bahasan kita. . Termasuk hypnoteaching. Gunakan kata positif. 4. Niat yang besar akan memunculkan motivasi yang tinggi. Niat dan motivasi dalam diri. maka siswa akan melakukannya dengan suka rela dan bahagia. Mari. Leading berarti memimpin atau mengarahkan setelah proses pacing kita lakukan. maka setiap pesan yang disampaikan dari orang satu pada orang-orang yang lain akan dapat diterima dan dipahami dengan sangat baik. Sesulit apapun materinya. atau lebih suka berkumpul / berinteraksi dengan sejenisnya / memiliki banyak kesamaan”. Prinsip dasar disini adalah “manusia cenderung.

atau berbincang di sela-sela istirahat atau sebelum memulai materi sangat penting untuk mencairkan suasana. jangan perlakukan semua peserta dengan cara yang sama.Langkah berikutnya adalah langkah pendukung dalam melakukan pacing dan leading. Berikan pujian. Sehingga kita selalu menjadi figure yang dipercaya. Modeling adalah proses memberi tauladan melalui ucapan dan perilaku yang konsisten. Tips untuk Hypnoteaching Tips 1: Kuasai Materi Secara Komprehensif Penguasaan materi sanngat esensial untuk dapat melaksanakan tugas mengajar dengan baik dan menarik. tentu akan mampu memberikan contoh. 5. akan membangkitkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. yaitu tidak menerima kata negative. seseorang akan terdorong untuk melakukan yang lebih dari sebelumnya. Dengan pujian. ilustrasi yang beragam dan sesuai dengan konteks serta dapat menyesuaikan dengan latar belakang audiens. argumen secara bebas tanpa harus saling menjatuhkan satu sama lain. 6. Yang terjadi pada pikiran bawah sadar manusia. tapi secara kreatif mutlak kita lakukan Tips 3: Upayakan untuk Melakukan Interaksi Informal dengan siswa Kadang-kadang guyon. apalagi kalau mereka diberi kesempatan untuk saling berbagi ide. Jika kita menguasai secara komprehensif. analogi. Pujian merupakan salah satu cara untuk membentuk konsep diri seseorang. Tips 6: Yakinkan Peserta Bahwa Mereka Mampu . Memikirkan strategi pembelajaran aktif seperti ini bukan perkara mudah. Setelah siswa menjadi nyaman dengan kita. Tips 4: Beri Kesempatan Peserta Kewenangan dan Tanggung Jawab atas Belajarnya Siswa akan termotivasi jika mereka diberi kewenangan untuk menentukan sendiri cara belajarnya. pengalaman. Tips 2: Libatkan Peserta Secara Aktif Menyiapkan pembelajaran agar siswa terlibat aktif. Tips 7: Beri Kesempatan kepada Peserta untuk Melakukan sesuatu Secara Kolaboratif atau Kooperatif Hal tersebut akan meningkatykan motivasi dan kemenarikan pembelajaran karena ada sedikit kompetisi. Harus yakin bahwa tugas yang kita berikan memang bisa dilakukan dan mereka merasa puas dengan hasil yang telah dilakukannya. Penggunaan kata positif ini sesuai dengan cara kerja pikiran bawah sadar yang tidak mau menerima kata negative. Modeling. Maka berikanlah pujian dengan tulus pada siswa. . Pujian merupakan reward peningkatan harga diri seseorang. Dan tidak hanya itu. Tips 8: Upayakan Materi yang Disampaikan Kontekstual Kita harus pandai pandai mengaitkan materi yang diajarkan dengan pengetahuan awal siswa. Hal ini sangat perlu dan menjadi salah satu kunci hypnoteaching. Maka perlu pula kepercayaan (trust) siswa pada kita dimantapkan dengan perilaku kita yang konsisten dengan ucapan dan ajaran kita. Tips 5: Yakini Bahwa Manusia Belajar dengan Cara yang Berbeda Satu Sama lain Dengan demikian. Implikasinya adalah laksanakan tips 2 dan 4 di atas.

Perlu pembelajaran agar guru bisa melakukan Hypnoteaching 4.Tips 9: Berikan Umpan Balik Segera dan bersifat Deskriptif Hal ini akan membantu mereka manyadari sudah sejauh mana perkembangan pemehaman atau penguasaan mereka terhadap pengetahuan. Pembelajaran bersifat aktif g. Neuro-LinguisticProgramming (NLP) dan hypnosis. Hypnoteaching merupakan gabungan dari lima metode belajar mengajar seperti quantum learning. sedangkan peserta didik bersifat pasif karna hanya duduk dan mendengarkan penjelasan guru. Dimana penyampaian materi menggunakan bahasa-bahasa bawah sadar. Kondisi ini membuat guru lebih bersifat aktif. Banyaknya siswa yang ada disebuah kelas. Siswa dapat dengan mudah menguasai materi. 3. Dengan metode ini membuat siswa atau peserta didik lebih tertarik pada pelajaran dan mengembangkan . Kelebihan dari pembelajaran hypnoteaching: a. 5. karena siswa tidak menghafal k. Kurangnya sarana dan prasarana yang ada disekolah BAB III PENUTUP Simpulan Pengajar saat ini dituntut untuk dapat menguasai berbagai model-model pembelajaran. Proses pembelajarannya lebih beragam e. Perhatian siswa akan tersedot penuh terhadap materi Kekurangan dari pembelajaran hypnoteaching: 1. Daya serapnya lebih cepat dan lebih bertahan lama. Agar siswa atau peserta didik nyaman dengan kondisi pembelajaran dan menghasilkan output yang maksimal. Pemantauan terhadap peserta didik lebih intensif h. Tips 10: Tingkatkan Jam Terbang Tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman. keterampilan atau sikap tertentu. menyebabkan kurangnya waktu dari guru untuk memberi perhatian satu per satu peserta didiknya. Siswa dapat berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya c. Tidak semua pengajar menguasai metode ini. accelerate learning. “Alam bawah sadar lebih besar dominasinya terhadap cara kerja otak. power teaaching. Siswa akan melakukan pembelajaran dengan senang hati j. karna termotivasi lebih untuk belajar f. Siswa dibiarkan berimajinasi dan berfikir kreatif i. Metode ini belum banyak digunakan oleh para pengajara di Indonesia 2. Proses belajar mengajar yang lebih dinamis dan ada interaksi yang baik antara guru dan siswa b. Metode yang banyak digunkan sampai saat ini adalah metode konvensional. Sehingga akan mengetahui sebaiknya menggunakan metode-metode apa dalam proses pembelajaran. Proses pemberian ketrampilan banyak diberikan disini d. Metode yang dianggap lebih baik dari metode konvensional adalah metode pembelajaran hypnoteaching. Metode yang dalam penyampaian materinya dengan cara ceramah.

id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASHacea/7c4d72ac.com/2010/06/perbandingan-metode-pembelajaran.kompasiana.com www.mediasugesti.com http://mediasugesti.unnes.dir/doc.com Nama :Tri Astuti Nim :1102409033 Semester :2 MK :Teori Belajar D I PO S KA N O LEH IY AS TEK N O D IK D I 2:15 A M 2 KOMENTAR: http://iyasphunkalfreth. Siswa dapat mengingat pelajaran dan berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya.blogspot.kreatifitasnya Metode hypnoteaching bagus di terapakan dalam pendidikan.blogspot.html diakases tanggal 12 nov 2011 .blogspot. karena dapat membuat siswa lebih termotivasi dan senang dengan pelajaran. Semoga dengan ini dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.com/2008/11/hypnoteaching-2.pdf http://xpresiriau.html http://www. Daftar Pustaka http://digilib.ac.