Analisis Deskriptif Komponen IPM Kabupaten Waropen Tahun 2009

by
Muhammad Fajar (Peltu Kasie Stat.Sosial BPS Waropen Alumnus STIS Angkatan 46 Fajarakatsuki86@yahoo.com

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Akan tetapi berbagai kajian ilmiah membuktikan bahwa pembangunan yang menekankan pada pemerataan lebih berdampak positif. Nilai positif ini setidaknya dapat dilihat dari dua aspek yaitu: Pertama, bahwa orientasi pembangunan yang menekankan pada pemerataan akan mengangkat kesejahteraan penduduk secara lebih luas. Dengan begitu, lebih banyak penduduk yang dapat menikmati hasil pembangunan. Kedua, secara timbal balik, karena semakin banyaknya penduduk yang kesejahteraannya meningkat, pada gilirannya akan lebih banyak lagi sumberdaya manusia yang dapat berpartisipasi BPS Kabupaten Waropen Page 2

D

ikotomi

orientasi

pembangunan

antara

pertumbuhan dan pemerataan, sebagaimana diketahui, sudah berlangsung sejak lama.

dalam pembangunan. Dengan demikian keberlanjutan pembangunan menjadi lebih pasti. Sebaliknya orientasi pembangunan yang menekankan pada pertumbuhan akan lebih menghasilkan kesenjangan dalam masyarakat. Desain pembangunan manusia (human development) yang sesungguhnya adalah menempatkan manusia sebagai tujuan akhir dari pembangunan, dan bukan sebagai alat bagi pembangunan, melainkan sebagai titik sentral pembangunan. Hal ini berbeda dengan konsep pembangunan yang memberikan perhatian utama pada pertumbuhan ekonomi (growth economics), pembangunan manusia memperkenalkan konsep yang lebih luas dan lebih komprehensif yang mencakup semua pilihan yang dimiliki oleh manusia di semua golongan masyarakat pada semua tahapan pembangunan. Pembangunan manusia juga merupakan perwujudan tujuan jangka panjang dari suatu masyarakat, dan meletakkan pembangunan di sekeliling manusia, bukan manusia di sekeliling pembangunan. Manusia adalah modal kekayaan bangsa yang sesungguhnya dan tujuan utama dari pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi rakyat BPS Kabupaten Waropen Page 3

untuk menikmati umur panjang, sehat dan menjalankan kehidupan yang produktif. Hal ini tampaknya merupakan suatu realitas yang sederhana, namun seringkali terlupakan oleh kesibukan jangka pendek yang berorientasi pada halhal yang bersifat materi. Paradigma pembangunan manusia mengandung 4 (empat) komponen utama : a. Produktivitas. untuk Manusia harus berkemampuan dan meningkatkan produktivitasnya

berpartisipasi penuh dalam mencari penghasilan dan lapangan kerja. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi merupakan bagian dari pembangunan manusia. b. Pemerataan. Setiap orang harus memiliki kesempatan yang sama. Semua hambatan terhadap peluang ekonomi dan politik harus dihapuskan. Sehingga semua orang dapat berpartisipasi dan mendapat keuntungan dari peluang yang sama. c. Keberlanjutan. Akses terhadap peluang/kesempatan harus tersedia bukan hanya untuk generasi sekarang tetapi juga untuk generasi BPS Kabupaten Waropen Page 4

yang akan datang. Semua sumber daya harus dapat diperbaharui. d. Pemberdayaan. berpartisipasi Semua penuh orang dalam diharapkan pengambilan

keputusan dalam proses aktifitasnya. Penyertaan konsep pembangunan manusia dalam kebijakan-kebijakan pembangunan sama sekali tidak berarti meninggalkan berbagai strategi pembangunan terdahulu, antara lain mempercepat kemiskinan dan pertumbuhan mencegah ekonomi, perusakan mengurangi

lingkungan. Namun, perbedaannya adalah bahwa dari sudut pandang pembangunan manusia, semua tujuan tersebut di atas diletakan dalam kerangka untuk memperluas pilihanpilihan bagi manusia. Agar diterjemahkan konsep ke pembangunan dalam manusia dapat perumusan kebijakan,

pembangunan manusia harus dapat diukur dan dipantau dengan mudah. Human Development Report (HDR) global telah mengembangkan dan menyempurnakan pengukuran statistik dari pembangunan manusia yaitu berupa Indeks BPS Kabupaten Waropen Page 5

Pembangunan Manusia (IPM). Sebagai tolak ukur sumber daya manusia, secara konseptual IPM adalah perhitungan dalam formula tertentu yang memadukan tiga komponen utama, yaitu: 1. 2. Standar hidup yang diwakili oleh indikator konsumsi riil per kapita adjusted. Kondisi kesehatan penduduk yang diwakili oleh indikator usia harapan hidup (life expectancy). 3. Kondisi pendidikan. Indikator wakilnya pada awalnya hanya tingkat melek huruf, namun kemudian ke sejumlah indikator lainnya. Oleh karena itu, untuk memperoleh deskripsi tentang pembangunan manusia di Kabupaten Waropen, maka disusunlah publikasi “Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Waropen tahun 2009/2010”, yang diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dalam penentuan kebijakan pembangunan di Kabupaten Waropen.

BPS Kabupaten Waropen

Page 6

1.2. TUJUAN DAN SASARAN

sebagai dampak dari pembangunan yang telah dilaksanakan di Kabupaten Waropen. kebijakan yang Selanjutnya diharapkan dapat dengan pemberdayaan menjadi masukan dalam perencanaan dan pengambilan berkaitan sumberdaya manusia di Kabupaten Waropen, termasuk penentuan sektor-sektor prioritas dalam pembangunan manusia. Sasaran yang ingin dicapai dalam kegiatan ini meliputi : a. Teridentifikasinya kondisi beberapa variabel sektoral dalam pembangunan manusia, meliputi sektor-sektor: kesehatan, pendidikan dan ekonomi di Kabupaten Waropen. b. Memberikan gambaran permasalahan yang ada di bidang pembangunan manusia di Kabupaten Waropen. BPS Kabupaten Waropen Page 7

T

ujuan dari penulisan publikasi ini adalah menyajikan data dan informasi tentang kondisi penduduk dan permasalahannya,

c. Diperolehnya gambaran tentang perkembangan ukuran Waropen. d. Terumuskannya implikasi masalah dan kebijakan untuk menangani bagian berbagai dari masalah yang dan merupakan perencanaan pembangunan manusia (IPM) dan indikator-indikator sosial lainnya di Kabupaten

penanganan pembangunan manusia. 1.3. RUANG LINGKUP 1.3.1. Lingkup Materi Ruang lingkup materi penulisan ini meliputi :  Identifikasi lamanya  kondisi variabel kunci dalam (longevity), pengetahuan pengukuran besaran IPM yang meliputi ; hidup (knowledge) dan standar hidup (decent living). Identifikasi permasalahan mendasar pada sektor-sektor kunci yang terkait dengan IPM, meliputi indikator kesehatan, pendidikan dan ekonomi. BPS Kabupaten Waropen Page 8

  

Pengukuran besaran angka IPM Kabupaten Waropen. Analisis Situasi Pembangunan Manusia di Kabupaten Waropen. Rumusan kebijakan dalam rangka pembangunan manusia berdasarkan besaran angka IPM yang diperoleh dan hasil analisis situasi pembangunan manusia di Kabupaten Waropen.

1.3.2. Lingkup Wilayah Lokasi penelitian mencakup wilayah di Kabupaten Waropen. 1.4. ISTILAH-ISTILAH YANG DIGUNAKAN (TERMINOLOGI)  Indeks Pembangunan Manusia (IPM), indeks komposit yang disusun dari tiga indikator: lama hidup, pendidikan dan standar hidup. BPS Kabupaten Waropen Page 9

 Indeks Harapan Hidup, salah satu dari komponen IPM. Nilai ini berkisar antara 0 – 100.  Indeks Pendidikan, Indeks ini didasarkan pada kombinasi antara angka melek huruf penduduk dewasa dan rata-rata lama sekolah.  Indeks Daya Beli/Standar Hidup, didasarkan pada paritas daya beli (PPP) yang disesuaikan dengan rumus atkinson.  Angka Harapan Hidup (eo), perkiraan lama hidup ratarata penduduk dengan asumsi tidak ada pola mortalitas menurut umur.  Angka Melek Huruf, proporsi penduduk usia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis dalam huruf latin atau lainnya.  Angka Partisipasi Sekolah, proporsi dari keseluruhan penduduk dari berbagai kelompok usia tertentu (7-12, 13-15, dan 16-18) yang masih duduk di bangku sekolah)  Rata-rata Lama Sekolah (RLS), menggambarkan lamanya penddidikan yang ditempuh, dapat disetarakan dengan jenjang pendidikan. BPS Kabupaten Waropen Page 10

 Angka Partisipasi Murni (APM), adalah indikator yang digunakan untuk mengetahui besarnya penduduk usia sekolah (PUS) yang bersekolah tepat waktu.  Partisipasi Angkatan Kerja, menggambarkan persentase penduduk yang membutuhkan pekerjaan (aktif secara ekonomis) atau memberi gambaran seberapa besar keterlibatan penduduk dalam ekonomi produktif.  Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), adalah indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat pengangguran terbuka di kalangan angkatan kerja  Setengah Menganggur, menggambarkan tidak bekerja penuh yang dapat dilihat dari jam kerja, produktifitas dan pendapatan.  Kontribusi Sektor perekonomian dalam Penyerapan Tenaga Kerja, adalah suatu indikator yang digunakan untuk mengetahui andil setiap sektor dalam menyerap tenaga kerja.  Persentase Penolong Persalinan, adalah suatu indikator yang digunakan untuk menggambarkan tingkat pemanfaatan pelayanan kesehatan tertutama berkaitan dengan pelayanan kesehatan reproduksi. BPS Kabupaten Waropen Page 11

 Rata-rata

Lama

Sakit,

adalah

indikator

yang

menggambarkan tingkat intensitas penyakit yang diderita penduduk. Indikator ini juga menggambarkan besarnya kerugian materiil yang dialami penduduk karena penyakit yang diderita. Semakin besar nilai indikator ini, semakin besar kerugian yang dialami.  Angka Sakit, adalah indikator yang memberi gambaran prevalensi kesakitan (keluhan kesehatan) oleh masyarakat dan juga digunakan untuk melihat tingkat kesehatan penduduk suatu daerah.

BPS Kabupaten Waropen

Page 12

BAB II DATA DAN METODOLOGI

informasi yang mendasarinya. Oleh karena itu, perencana pembangunan harus memberikan perhatian yang memadai dan cermat terhadap masalah pengumpulan dan penyajian informasi demikian untuk perlu keperluan diingat perencanaan. Walaupun dan bahwa pengumpulan

P

erencanaan pada dasarnya merupakan suatu proses pengambilan keputusan, kualitas keputusan sangat tergantung kepada

pengolahan data bukan merupakan tujuan akhir melainkan semata-mata sebagai sarana untuk menghasilkan keputusan yang tepat dan terbaik. Indikator adalah variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status dan memungkinkan dilakukannya pengukuran terhadap

perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. BPS Kabupaten Waropen Page 13

Suatu indikator tidak selalu menjelaskan keadaan secara keseluruhan tetapi kerap kali hanya memberi petunjuk tentang keadaan keseluruhan tersebut sebagai suatu proxy. Syarat dalam pembuatan indikator harus SMART, yaitu: a. Simple (Sederhana) Indikator yang ditetapkan sedapat mungkin sederhana dalam pengumpulan data maupun dalam rumus penghitungan untuk mendapatkannya. b. Measurable (Dapat Diukur) Indikator yang ditetapkan harus mempresentasikan informasinya dan jelas ukurannya. Dengan demikian dapat digunakan untuk perbandingan antar satu tempat dengan tempat lain atau antar satu waktu dengan waktu lain. Kejelasan pengukuran juga akan menunjukkan bagaimana cara mendapatkan datanya. c. Attributable (Bermanfaat) Indikator yang ditetapkan harus bermanfaat untuk kepentingan pengambilan keputusan. Ini berarti bahwa indikator itu harus merupakan perwujudan dari BPS Kabupaten Waropen Page 14

informasi yang memang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan. d. Reliable (Dapat Dipercaya) Indikator yang ditetapkan harus dapat didukung oleh pengumpulan data yang baik, benar, teruji, dan teliti. e. Timely (Tepat Waktu) Indikator yang ditetapkan harus dapat didukung oleh pengumpulan dan pengolahan data serta pengemasan informasi yang waktunya sesuai dengan saat pengambilan keputusan dilakukan. Selain indikator dikenal pula apa yang disebut dengan indeks atau indikator komposit, yaitu suatu istilah yang digunakan untuk indikator yang lebih rumit. Indeks atau indikator komposit memiliki ukuran-ukuran yang multidimensional yang merupakan gabungan sejumlah indikator. Indeks ini biasanya dikembangkan melalui penelitian khusus karena penggunannya secara praktis sangat terbatas.

BPS Kabupaten Waropen

Page 15

2.1. BASIS DATA PEMBANGUNAN MANUSIA 2.1.1. Sumber Data Perencanaan pembangunan manusia perlu menyadari bahwa yang berguna bagi perencanaan dan pembuatan kebijakan hanyalah data atau informasi yang memberikan gambaran keadaan sebenarnya (represent reality). Oleh karena itu, perlu dipahami secara memadai jenis pengumpulan data serta kualitas data yang dikumpulkan. Perencana pembangunan manusia juga harus dapat memanfaatkan secara optimal data yang relevan baik yang dikumpulkan melalui sensus dan survei maupun yang diperoleh dari instansi-instansi terkait terutama yang terkait dengan kesehatan, pendidikan, angkatan kerja, keluarga berencana dan fertilitas, perumahan dan sanitasi, dan pengeluaran rumah tangga. Informasi yang diperlukan untuk perencanaan pembangunan manusia dapat bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Perencana harus menyadari bahwa kedua jenis informasi tersebut saling melengkapi dan menunjang

BPS Kabupaten Waropen

Page 16

sehingga keduanya diperlukan untuk analisis, monitoring dan evaluasi yang tepat. 2.1.2. Data Indeks Pembangunan Manusia IPM merupakan suatu indeks komposit yang mencakup tiga bidang pembangunan manusia yang dianggap sangat mendasar yaitu usia hidup (longevity), pengetahuan (knowledge), dan standar hidup layak (decent living). Sehingga untuk penyusunan IPM diperlukan data derajat kesehatan, pendidikan, dan daya beli masyarakat (gambar 2.1).

Dalam

penyusunan

publikasi

“Indikator

Pembangunan Manusia di Kabupaten Waropen Tahun 2009/2010” digunakan tiga jenis data diatas diperoleh dari BPS Kabupaten Waropen Page 17

kegiatan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan setiap tahun oleh BPS. Survei tersebut merupakan kegiatan pengumpulan data yang mencakup berbagai aspek sosial dan ekonomi yang cukup kompleks. Susenas mengumpulkan berbagai informasi seperti pengeluaran lingkungan. 2.2. PENDEKATAN IPM SEBAGAI PENUNJANG kependudukan, kesehatan, fertilitas, tangga, dan perumahan serta rumah

PEMBANGUNAN MANUSIA Salah satu alat ukur yang dianggap dapat

merefleksikan status pembangunan manusia adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI). UNDP sejak tahun 1990 menggunakan IPM untuk mengukur laporan tahunan perkembangan pembangunan manusia.

BPS Kabupaten Waropen

Page 18

2.2.1. Pendekatan

Pemanfaatan

IPM

dalam

Pembangunan Manusia Model menggambarkan yang tertera pada hubungan gambar 2.2

mekanisme

antara input-

proses-output (IPO), dalam hal ini adalah kebijakan daerah berupa penetapan komposisi alokasi anggaran daerah per sektor/program dalam RAPBD. Sedangkan output dalam model ini diwujudkan dalam tiga parameter IPM. Dalam model ini, IPM sebagai indeks komposit, bukanlah berperan sebagai alat perencanaan (planning tools) tetapi merupakan “outcome” atau hasil dari suatu proses perencanaan. Sekalipun IPM bukanlah sebagai alat perencanaan, namun dapat dimanfaatkan untuk menjadi arahan bagaimana anggaran pembangunan daerah seyogyanya dialokasikan agar mampu meningkatkan hasil pembangunan manusia yang tercermin dengan semakin tingginya IPM. Untuk menghubungkan antara faktor input (RAPBD) di satu sisi dan faktor output (tiga parameter IPM), dalam BPS Kabupaten Waropen Page 19

proses perencanaannya untuk model ini memerlukan sebuah alat dalam bentuk worksheet (lembar kerja) yang dengan mudah digunakan melalui pemanfaatan komputer dan perangkat lunaknya dalam bentuk program aplikasi. Gambar 2.2 Model Penggunaan Alat Penghubung Input dan Output

Implementasi model diatas dalam perencanaan pembangunan manusia, dapat diaplikasikan melalui tiga alternatif metode, yaitu : 1. Top down approach Pendekatan ini (lihat gambar 2.3), bertitik tolak dari target peningkatan IPM yang ditetapkan masingmasing daerah. Berangkat dari target tersebut BPS Kabupaten Waropen Page 20

kemudian disusunlah rancangan alokasi sektorsektor APBD dengan menggunakan alat/instrument perencanaan dalam bentuk ”worksheet” yang mudah digunakan dengan bantuan komputer. Dengan menggunakan worksheet ini rencana komposisi

alokasi setiap sektor pembangunan dalam proses penyusunannya dapat diubah-ubah hingga angka IPM yang ditargetkan secara perhitungan dapat dicapai. Gambar 2.3 Pendekatan dari “Atas ke Bawah” (Top down approach)

BPS Kabupaten Waropen

Page 21

2. Bottom up approach Pendekatan ini (gambar 2.4) berbanding terbalik dengan pendekatan yang pertama. Pemanfaatan IPM dalam perencanaan pembangunan daerah dengan pendekatan dari bawah (bottom up), berangkat dari target IPM yang ingin dicapai, tetapi dimulai dengan menetapkan dilakukan, komposisi kemudian baru rencana dihitung anggaran berapa persektor/program sebagaimana yang selama ini pengaruhnya terhadap kenaikan IPM. Gambar 2.4 Pendekatan dari “Bawah ke Atas” (Bottom-up approach)

BPS Kabupaten Waropen

Page 22

3. Hybrid approach Pendekatan ini (gambar 2.5) merupakan kombinasi dari pendekatan pertama dan kedua, dimana dalam aplikasinya dapat dilihat dari dua sisi yaitu sisi IPM yang ditargetkan dan sisi komposisi anggaran per sektor daerah yang dialokasikan. Keseimbangan antara dua sisi tersebut merupakan perencanaan yang realistis. Gambar 2.5 Pendekatan Kombinasi Top-down & Bottom-Up (Hybrid approach)

BPS Kabupaten Waropen

Page 23

Dalam

proses

pengembangan

IPM

dalam

perencanaan pembangunan daerah, masih terbuka adanya berbagai masukan penyempurnaan. Upaya pemantapan model ini akan diteruskan melalui tahapan-tahapan rencana pengembangan, yang di pusat dilaksanakan Ditjen Bangda bekerjasama dengan BPS dan UNDP, sedangkan di daerah dikoordinasikan oleh Bappeda. 2.2.2. Konsep Penghitungan IPM Salah satu alat ukur yang dianggap dapat merefleksikan status pembangunan manusia adalah Human Development Index (HDI) atau IPM. IPM merupakan suatu indeks komposit yang mencakup tiga bidang pembangunan manusia yang dianggap sangat mendasar yaitu usia hidup (longevity), pengetahuan (knowledge), dan standar hidup layak (decent living). 1. Usia Hidup Pembangunan manusia harus lebih mengupayakan agar penduduk dapat mencapai “usia hidup” yang panjang dan sehat. Sebenarnya BPS Kabupaten Waropen Page 24

banyak indikator yang dapat digunakan untuk mengukur usia hidup tetapi dengan mempertimbangkan ketersediaan data secara global UNDP memilih indikator angka harapan hidup waktu lahir (life expectacy at birth) yang biasa dinotasikan dengan eo. Angka kematian bayi (IMR) tidak digunakan untuk keperluan itu karena indikator itu dinilai tidak peka bagi negara-negara industri yang telah maju. Seperti halnya IMR, eo sebenarnya merefleksikan keseluruhan tingkat pembangunan dan bukan hanya bidang kesehatan. Di Indonesia, eo dihitung dengan metode tidak langsung. Metode ini menggunakan dua macam data dasar yaitu ratarata anak yang dilahirkan hidup dan rata-rata anak yang masih hidup. Prosedur penghitungan eo yang diperoleh dengan metode tidak langsung merujuk pada keadaan 3-4 tahun dari tahun survei.

BPS Kabupaten Waropen

Page 25

2. Pengetahuan Selain usia hidup, pengetahun juga diakui secara luas sebagai unsur mendasar dari pembangunan manusia. Dengan pertimbangan ketersediaan data, pengetahuan diukur dengan dua indikator yaitu angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Sebagai catatan UNDP dalam publikasi tahunan HDR sejak tahun 1995 mengganti ratarata lama sekolah dengan partisipasi sekolah dasar, menengah dan tinggi sekalipun diakui bahwa indikator yang kedua kurang sesuai sebagai indikator dampak. Penggantian dilakukan semata-mata karena sulitnya memperoleh data rata-rata lama sekolah secara global, suatu kesulitan yang bagi keperluan internal Indonesia dapat diatasi dengan tersedianya data Susenas Kor atau data Instansional . Indikator angka melek huruf dapat diolah dari variabel kemampuan membaca dan menulis. Pengolahannya dapat dilakukan dengan Page 26 menjumlahkan kasus berkode 1 (dapat membaca BPS Kabupaten Waropen

dan menulis) dan berkode 2 (dapat membaca dan menulis kasus Seperti halnya angka melek huruf, rata-rata lama sekolah dihitung dengan pengolahan tabulasi data. Penghitungan dilakukan dengan menggunakan dua variabel secara simultan, yaitu : tingkat/kelas yang sedang/pernah dijalani, dan jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Dari penghitungan dengan menggunakan pola hubungan antar variabel-variabel tersebut akan diperoleh data lama sekolah masing-masing individu yang kemudian digunakan sub program MEANS dalam paket SPSS untuk menghitung rata-rata lama sekolah agregat. 3. Standar Hidup Layak Selain usia hidup, dan pengetahuan unsur dasar pembangunan manusia yang diakui secara luas adalah standar hidup layak. Banyak indikator alternatif yang dapat digunakan untuk mengukur BPS Kabupaten Waropen Page 27 huruf lainnya). dengan Kemudian seluruh membandingkannya jumlah

unsur memilih

ini. PDB

Dengan per

mempertimbangkan riil yang telah

ketersediaan data secara internasional UNDP, kapita disesuaikan (adjusted real GDP per capita) sebagai indikator hidup layak. Berbeda dengan indikator untuk kedua unsur IPM lainnya, indikator standar hidup layak diakui sebagai indikator input, bukan indikator dampak, sehingga sebenarnya kurang sesuai sebagai unsur IPM. Walaupun demikian UNDP tetap mempertahankannya karena indikator lain yang sesuai tidak tersedia secara global. Selain itu, dipertahankannya indikator input juga merupakan argumen bahwa selain usia hidup dan pengetahuan masih banyak variabel input yang pantas diperhitungkan dalam perhitungan IPM. Dilemanya, memasukkan banyak variabel atau indikator akan menyebabkan indikator komposit menjadi tidak sederhana. Dengan alasan itu maka GDP riil perkapita yang telah disesuaikan dianggap mewakili indikator input IPM lainnya. BPS Kabupaten Waropen Page 28

Untuk keperluan perhitungan IPM

data dasar

PDRB perkapita tidak dapat digunakan untuk mengukur standar hidup layak karena bukan ukuran yang peka untuk mengukur daya beli penduduk (yang merupakan fokus IPM). Sebagai penggantinya digunakan konsumsi perkapita riil yang telah disesuaikan untuk keperluan yang sama. Untuk menghitung konsumsi perkapita riil yang disesuaikan pertama dihitung terlebih dahulu daya beli untuk tiap unit barang atau Purchasing Power Parity (PPP/unit). Perhitungan PPP/unit dilakukan sesuai rumus:

Dimana E(i,j) P(9,j) : Pengeluaran untuk komoditi j di kabupaten/kota ke-i : Harga komoditi j Page 29

BPS Kabupaten Waropen

Q(i,j)

: Total komoditi j (unit) yang dikonsumsi di kota/ kabupaten ke-i Kemudian nilai PPP/unit disesuaikan

dengan Rumus Atkinson yang digunakan untuk penyesuaian rata-rata konsumsi riil, secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut:

Dimana : D = Konsumsi perkapita riil yang telah disesuaikan dengan PPP/unit Z = Threshold atau tingkat pendapatan tertentu yang digunakan sebagai batas kecukupan (biasanyamenggunakan garis kemiskinan)

BPS Kabupaten Waropen

Page 30

2.2.3. Tahapan Perhitungan IPM Beberapa tahapan dalam penghitungan IPM dapat dijelaskan sebagai berikut :  Tahap pertama penghitungan IPM adalah menghitung indeks masing-masing komponen IPM (Indeks Harapan Hidup = X1, Pengetahuan = X2 dan Standar Hidup Layak = X3)

Dimana : Xi : Indikator komponen pembangunan manusia ke-i, i= 1,2,3 Xmin : Nilai minimum Xi Xmaks : Nilai Maksimum Xi

BPS Kabupaten Waropen

Page 31

Tabel 2.1 Nilai Maksimum dan Nilai Minimum Indikator Komponen IPM
INDIKATOR Angka Harapan Hidup Angka Melek Huruf Rata-rata Lama Sekolah Komsumsi per kapita NILAI NILAI MAKSIMUM MINIMUM 85 100 15 732,72 CATATAN

25 Standar global (UNDP) 0 Standar global (UNDP) 0 sSandar global (UNDP) 300000 UNDP menggunakan GDP (1996) per Yang disesuaikan 360.000 kapita riil yang (1999) disesuaikan Sumber: Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dalam Perencanaan Pembangunan Manusia (BPS, Bappenas, UNDP)

Tahapan

kedua

perhitungan

IPM

adalah masing-

menghitung rata-rata sederhana dari masing indeks Xi dengan rumus:

BPS Kabupaten Waropen

Page 32

dimana : X1 X2 X3  = Indeks Angka Harapan Hidup = 2/3(Indeks Melek Huruf) + 1/3(Indeks Rata-rata Lama Sekolah) =Indeks Konsumsi perkapita yang disesuaikan

Tahap ketiga adalah menghitung Reduksi Shortfall, yang digunakan untuk mengukur kecepatan perkembangan nilai IPM dalam suatu kurun waktu tertentu.

Dimana: = IPM pada tahun t1 = IPM pada tahun t0 = IPM Referensi atau ideal = Reduksi Shortfall per tahun = BPS Kabupaten Waropen Page 33

2.2.4. Kategori Peringkat Pembangunan Manusia Konsep Pembangunan Manusia yang dikembangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menetapkan peringkat kinerja pembangunan manusia pada skala 0.00 - 100.00 dengan kategori sebagai berikut :     Tinggi Menengah Atas 79.99 Menengah Bawah 65.99 Rendah : IPM kurang dari 50.00 : IPM antara 50.00 – : IPM lebih dari 80.00 : IPM antara 66.00 –

2.3 Keterbatasan IPM Seperti indeks komposit lainnya, IPM memiliki beberapa keterbatasan. Hal tersebut perlu dipahami untuk menghindari kesalahan pada penggunaan indeks tersebut. Lebih lanjut, dengan memahami keterbatasan tersebut, diharapkan menjadi bahan masukan untuk pengembangan ketersediaan dan reliabilitas data, serta untuk melakukan BPS Kabupaten Waropen Page 34

monitoring  IPM hanya

perkembangan bukan merupakan tiga

pembangunan suatu dari

manusia. yang

Keterbatasan tersebut meliputi: ukuran komprehensif mengenai pembangunan manusia. IPM mencakup aspek pembangunan manusia, tidak termasuk aspek penghargaan diri, kebebasan politik, dan masalah lingkungan.  IPM tidak dapat menilai perkembangan pembangunan manusia dalam jangka pendek, karena dua komponennya, yaitu angka melek huruf dan angka harapan hidup, tidak responsif terhadap perubahan kebijakan dalam jangka pendek.  IPM memeasukkan variasi pembangunan manusia dalam suatu wilayah. Ini berarti bahwa IPM yang sama dari dua wilayah berbeda tidak mengindikasikan bahwa kedua wilayah tersebut memiliki pembangunan manusia yang identik. Dengan lain kata, mungkin terdapat perbedaan bagaimana pembangunan manusia didistribusikan antar sub wilayah atau antar kelompok sosial. BPS Kabupaten Waropen Page 35

Dalam perjalanannya, IPM terus diteliti dan mengalami penyempurnaan. Oleh karena itu, indeks tersebut diterima secara luas sebagai indikator yang baik dalam melihat tingkat pembangunan manusia. Beberapa alasan mengapa IPM merupakan indikator yang cukup baik sebagai ukuran pembangunan manusia adalah;  IPM menterjemahkan secara sederhana konsep yang cukup kompleks kedalam tiga dimensi dasar yang terukur.  IPM membantu dalam pergeseran paradigma pembangunan dari pembangunan yang hanya terfokus pada ekonomi menjadi berfokus pada manusia.  IPM berfokus pada kapabilitas yang relevan, baik untuk negara maju dan sedang berkembang, sehingga menjadikan indeks tersebut sebagai alat yang universal.  IPM menstimulasi diskusi mengenai pembangunan manusia.  IPM memberikan motivasi bagi pemerintah untuk berkompetisi secara sehat dengan negara/wilayah lain melalui keterbandingan angka IPM. BPS Kabupaten Waropen Page 36

BAB III INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI WAROPEN

3.1 SITUASI INDIKATOR UTAMA IPM KABUPATEN WAROPEN 3.1.1 Angka Harapan Hidup (e0) Salah satu komponen dalam penyusunan angka IPM adalah Angka Harapan Hidup. Semakin tinggi Angka Harapan Hidup (AHH), memberikan indikasi semakin tinggi kualitas fisik penduduk suatu daerah. AHH Kabupaten Waropen tahun 2009 sebesar 65.19 tahun, artinya secara rata-rata penduduk Kabupaten Waropen akan bertahan hidup sampai dengan usia sekitar 65 tahun. Fenomena ini mengindikasikan bahwa kemampuan penduduk Kabupaten Waropen untuk hidup lebih lama dan hidup sehat termasuk katagori sedang, dimana standar harapan hidup paling tinggi adalah 85 BPS Kabupaten Waropen Page 37

tahun. Untuk itu sarana, prasarana serta pelayanan kesehatan di Kabupaten Waropen diharapkan lebih ditingkatkan sehingga kualitas penduduknya semakin baik. Walaupun AHH terjadi peningkatan dibanding tahun sebelumnya (64.86 tahun), namun AHH Kabupaten Waropen masih lebih rendah dibanding AHH keseluruhan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua yang mencapai 68.35 tahun. Hal ini berarti pemerintah Kabupaten Waropen harus terus mengupayakan agar penduduk dapat mencapai usia hidup yang panjang dan sehat dengan mengoptimalisasikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat dan mendirikan rumah sakit daerah yang belum tersedia.

BPS Kabupaten Waropen

Page 38

Gambar 3.1. Pencapaian Aktual Angka Harapan Hidup Kabupaten Waropen dan Provinsi Papua, Tahun 2009

Waropen

65.19

19.81

Papua

68.35

16.65

Ideal

85

Sumber: BPS Waropen

3.1.2 Angka Melek Huruf Kemampuan membaca dan menulis dipandang sebagai kemampuan dasar minimal yang harus dimiliki oleh setiap individu, agar paling tidak memiliki peluang untuk terlibat dan berpartisipasi dalam pembangunan. Angka Melek Huruf (AMH) menunjukkan persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis. Pada tahun 2009, penduduk usia 15 tahun ke atas di Kabupaten Waropen yang dapat membaca dan menulis hanya sebesar 76.88 persen dimana tidak terlalu jauh BPS Kabupaten Waropen Page 39

signifikan dibanding tahun sebelumnya, yaitu 76.50 persen. Dengan kata lain, masih banyak penduduk di Kabupaten Waropen yang masih buta huruf (23.12 %) dan belum AMH Kabupaten menikmati pendidikan dengan baik.

Waropen pun lebih tinggi bila dibanding dengan AMH Provinsi Papua yang mencapai 75.58 persen. Pencapaian AMH di Kabupaten Waropen telah cukup baik. sehingga pemerintah Kabupaten Waropen harus memberikan prioritas dan pemantauan secara terus menerus akan program pemberantasan buta huruf hingga AMH penduduk Kabupaten Waropen diatas AMH Provinsi atau bahkan bebas buta huruf.

BPS Kabupaten Waropen

Page 40

Gambar 3.2. Pencapaian Aktual Angka Melek Huruf Kabupaten Waropen dan Provinsi Papua, Tahun 2008

Waropen

76.88

23.12

Papua

75.58

24.42

Ideal

100

Sumber: BPS Papua

3.1.3 Rata-rata Lama Sekolah Rata-rata suatu daerah. Angka Rata-rata Lama Sekolah di Kabupaten Waropen tahun 2009 sebesar 6.29 tahun. Dengan kata lain rata-rata penduduk di Kabupaten Waropen baru lama sekolah digunakan untuk mengidentifikasi jenjang kelulusan pendidikan penduduk

BPS Kabupaten Waropen

Page 41

mengenyam pendidikan hingga tamat SD atau belum bisa menikmati program wajib belajar (WAJAR) 9 tahun. Besarnya angka rata-rata lama sekolah selama kurun waktu 3 tahun ke belakang (2007 – 2009) dapat dikatakan stabil, dari 6.27 pada tahun 2007 dan 2008 kemudian pada tahun 2009 hanya sebsar 6.29 tahun. Jika kondisi ini tidak segera disikapi oleh pemerintah daerah, terutama dinas terkait maka program wajib belajar selama 9 tahun dapat tercapai dalam kurun waktu yang cukup lama. Rata-rata lama sekolah di Kabupaten Waropen lebih rendah daripada ratarata lama sekolah Provinsi Papua yang sebesar 6.57.

BPS Kabupaten Waropen

Page 42

Gambar 3.3. Pencapaian Aktual Rata-Rata Lama Sekolah Kabupaten Waropen dan Provinsi Papua, Tahun 2009

Waropen

6.29

8.71

Papua

6.57

8.43

Ideal

15

3.1.4 Pengeluaran Riil Per Kapita Yang disesuaikan Rata-rata pengeluaran konsumsi riil merupakan komponen dalam penyusunan Indeks Standar Hidup. Selanjutnya dilakukan penyesuaian (adjustment) dengan rumus Atkinson. Dari hasil penghitungan, diperoleh gambaran rata-rata pengeluaran riil penduduk Kabupaten Waropen tahun 2009, yaitu sekitar Rp. 603.760,- per tahun. Angka ini lebih tinggi dibanding keadaan tahun 2008, yaitu Rp. 602.400,-

BPS Kabupaten Waropen

Page 43

Gambar 3.4. Pencapaian Aktual Pengeluaran Riil Per Kapita di Kabupaten Waropen dan Provinsi Papua, Tahun 2009 (000 Rp.)

Pengeluaran Riil Ideal

737.72

Papua

603.88

133.84

Waropen

603.76

133.96

Pengeluaran Riil Terburuk

360

Dibanding dengan capaian pengeluaran riil per kapita yang ideal sebesar Rp 737.720,- dan dibandingkan pengeluaran riil per kapita terburuk sebesar Rp. 360.000,bisa dikatakan kemampuan penduduk Kabupaten Waropen untuk memenuhi penghidupan yang layak masih jauh dari target seharusnya. Hal ini mengindikasikan pembangunan manusia di Kabupaten Waropen kedepannya perlu lebih memfokuskan terutama peningkatan pembangunan

BPS Kabupaten Waropen

Page 44

ekonomi baik dari segi laju pertumbuhannya maupun pemerataan hasilnya . 3.2 IPM KABUPATEN WAROPEN IPM merupakan gambaran komprehensif mengenai tingkat pencapaian pembangunan manusia di suatu daerah, sebagai dampak dari kegiatan pembangunan yang dilakukan di daerah tersebut. Perkembangan angka IPM, memberikan indikasi peningkatan atau penurunan kinerja pembangunan manusia pada suatu daerah. Dari agregat ketiga indikator tunggal penyusun IPM Kabupaten Waropen yang telah dibahas sebelumnya diperoleh angka IPM Kabupaten Waropen pada tahun 2009 sebesar 62.85. Pencapaian angka IPM tersebut tidak berbeda signifikan bila dibandingkan dengan keadaan tahun 2008 yaitu sebesar 62.46, hal ini berarti bahwa dapat dikatakan sedikit terjadi peningkatan kinerja pembangunan manusia di Kabupaten Waropen. Bila dilihat perkembangan angka IPM selama kurun waktu 2007 – 2009, pergerakan IPM Waropen tahun 2007 BPS Kabupaten Waropen Page 45

sampai dengan tahun 2009 berjalan melambat. Hal tersebut seirama dengan IPM Provinsi Papua, capaian IPM Kabupaten Waropen dari tahun 2007 sampai 2009 masih dibawah angka IPM provinsi (lihat Gambar 3.5).
Gambar 3.5 Perkembangan IPM Kabupaten Waropen dan Provinsi Papua Tahun 2007 - 2009 65 64 IPM 63 62 61 60 2007 Papua 2008 Waropen 2009

Dengan capaian IPM 62.85 pada tahun 2008, maka kinerja pembangunan manusia di Kabupaten Waropen menurut Konsep Pembangunan Manusia yang dikembangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih masuk dalam kategori kinerja pembangunan manusia Menengah Bawah, yaitu capaian IPM antara 50,0 – 65,9. BPS Kabupaten Waropen Page 46

Gambar 3.6 Angka IPM Dirinci Menurut Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua Tahun 2008

28 25 Kode Kabupaten/Provinsi 22 19

KOTA JAYAPURA

NDUGA WAROPEN

16
13 10 7 4 1 0.00 20.00 40.00 60.00
PAPUA

80.00

Capaian IPM

Untuk Provinsi Papua capaian IPM pada tahun 2009 sebesar 64.53. Apabila dirinci menurut Kabupaten/Kota yang berada di wilayah Papua, pencapaian IPM Kabupaten Waropen berada diperingkat ke-12, dimana peringkat terendah terjadi pada Kabupaten Nduga, dengan pencapaian BPS Kabupaten Waropen Page 47

sebesar 47.74. Sedangkan capaian IPM tertinggi diraih oleh Kota Jayapura yaitu sebesar 75.16. 3.3 REDUKSI SHORTFALL Reduksi shortfall digunakan untuk mengukur

kecepatan perkembangan IPM dalam suatu kurun waktu. Reduksi shortfall per tahun (annual reduction in shortfall) menunjukkan perbandingan antara pencapaian yang telah ditempuh dengan capaian yang masih harus ditempuh untuk mencapai titik ideal (IPM=100). Selama periode 2007-2009, reduksi shortfall menunjukkan angka positif 1.52. Artinya IPM tahun 2009 mengalami peningkatan dibandingkan IPM tahun 2007. Tetapi jika dibandingkan dengan 2008, laju IPM hanya 1.04, artinya capaian IPM tahun 2009 tidak jauh signifikan dibanding tahun 2008.

BPS Kabupaten Waropen

Page 48

Tabel 3.1. Perkembangan IPM dan Komponennya di Kabupaten Waropen Tahun 2007-2008 Reduksi Shortfall (2007-2009) Reduksi Shortfall (2008-2009)

Komponen IPM Angka Harapan Hidup (Thn) Angka Melek Huruf ( % ) Rata-rata Lama Sekolah (Thn) Pengeluaran Riil yang Yang Disesuaikan (000 Rp) IPM

2007

2008

2009

64.59 64.86 65.19 76.50 76.50 76.88 6.27 6.27 6.29 1.52 1.04

598.00 602.42 603.76 61.97 62.46 62.85

BPS Kabupaten Waropen

Page 49

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful