You are on page 1of 4

Senin, 16 November 2009

Contoh Kasus Etika BIsnis


PENDAHULUAN

Amerika Serikat yang selama ini dianggap sebagai kiblat dan kampiun ilmu pengetahuan
termasuk displin ilmu akuntansi harus menelan kepahitan. Skandal bisnis yang terjadi seakan
memupus dan mereduksi trust pelaku bisnis dunia tentang pionir praktik Good Corporate
Governance di Amerika Serikat.Selain Enron yang hancur berkeping terdapat beberapa skandal
bisnis yang menimpa perusahaan-perusahaan besar di Amerika SerikaT. Perusahaan yang
melakukan manipulasi adalah Elan (perusahaan Sektor Farmasi), Halliburton (perusahaan
minyak) dan Harken Energy di mana George W. Bush pernah menjadi direksi.Enron merupakan
perusahaan dari penggabungan antara InterNorth (penyalur gas alam melalui pipa) dengan
Houston Natural Gas. Kedua perusahaan ini bergabung pada tahun 1985. Bisnis inti Enron
bergerak dalam industri energi, kemudian melakukan diversiIikasi usaha yang sangat luas
bahkan sampai pada bidang yang tidak ada kaitannya dengan industri energi. DiversiIikasi usaha
tersebut, antara lain meliputi Iuture transaction, trading commodity non energy dan kegiatan
bisnis keuangan.Kasus Enron mulai terungkap pada bulan Desember tahun 2001 dan terus
menggelinding pada tahun 2002 berimplikasi sangat luas terhadap pasar keuangan global yang di
tandai dengan menurunnya harga saham secara drastis berbagai bursa eIek di belahan dunia,
mulai dari Amerika, Eropa, sampai ke Asia. Enron, suatu perusahaan yang menduduki ranking
tujuh dari lima ratus perusahaan terkemuka di Amerika Serikat dan merupakan perusahaan
energi terbesar di AS jatuh bangkrut dengan meninggalkan hutang hampir sebesar US $ 31.2
milyar.Dalam kasus Enron diketahui terjadinya perilaku moral hazard diantaranya manipulasi
laporan keuangan dengan mencatat keuntungan 600 juta Dollar AS padahal perusahaan
mengalami kerugian. Manipulasi keuntungan disebabkan keinginan perusahaan agar saham tetap
diminati investor, kasus memalukan ini konon ikut melibatkan orang dalam gedung putih,
termasuk wakil presiden Amerika Serikat.
Kronologis, Iakta, data dan inIormasi dari berbagai sumber yang berkaitan dengan hancurnya
Enron (debacle), dapat penulis kemukakan sebagai berikut:
Board oI Director (dewan direktur, direktur eksekutiI dan direktur non eksekutiI) membiarkan
kegitan-kegitan bisnis tertentu mengandung unsur konIlik kepentingan dan mengijinkan
terjadinya transaksi-transaksi berdasarkan inIormasi yang hanya bisa di akses oleh Iihak dalam
perusahaan (insider trading), termasuk praktek akuntansi dan bisnis tidak sehat sebelum hal
tersebut terungkap kepada publik.
Enron merupakan salah satu perusahaan besar pertama yang melakukan out sourcing secara
total atas Iungsi internal audit perusahaan.



PEMBAHASAN

Contoh kasus-kasus yang berhubungan dengan etika dalam berbisnis, yaitu : Pada awal tahun
2001 patner KAP Andersen melakukan evaluasi terhadap kemungkinan mempertahankan atau
melepaskan Enron sebagai klien perusahaan, mengingat resiko yang sangat tinggi berkaitan
dengan praktek akuntansi dan bisnis enron. Dari hasil evaluasi di putuskan untuk tetap
mempertahankan Enron sebagai klien KAP Andersen.
dan Salah seorang eksekutiI Enron di laporkan telah memepertanyakan praktek akunting
perusahaan yang dinilai tidak sehat dan mengungkapkan kekhawatiran berkaitan dengan hal
tersebut kepada CEO dan partner KAP Andersen pada pertengahan 2001. CEO Enron
menugaskan penasehat hukum perusahaan untuk melakukan investigasi atas kekhawatiran
tersebut tetapi tidak memperkenankan penasehat hukum untuk mempertanyakan pertimbangan
yang melatarbelakangi akuntansi yang dipersoalkan. Hasil investigasi oleh penasehat hukum
tersebut menyimpulkan bahwa tidak ada hal-hal yang serius yang perlu diperhatikan.
Pada tanggal 16 Oktober 2001, Enron menerbitkan laporan keuangan triwulan ketiga. Dalam
laporan itu disebutkan bahwa laba bersih Enron telah meningkat menjadi $393 juta, naik $100
juta dibandingkan periode sebelumnya. CEO Enron, Kenneth Lay, menyebutkan bahwa Enron
secara berkesinambungan memberikan prospek yang sangat baik. Ia juga tidak menjelaskan
secara rinci tentang pembebanan biaya akuntansi khusus (special accounting charge/expense)
sebesar $1 miliar yang sesungguhnya menyebabkan hasil aktual pada periode tersebut menjadi
rugi $644 juta. Para analis dan reporter kemudian mencari tahu lebih jauh mengenai beban $1
miliar tersebut, dan ternyata berasal dari transaksi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan
yang didirikan oleh CFO Enron.
Pada tanggal 2 Desember 2001 Enron mendaItarkan kebangkrutan perusahaan ke pengadilan dan
memecat 5000 pegawai. Pada saat itu terungkap bahwa terdapat hutang perusahaan yang tidak di
laporkan senilai lebih dari satu milyar dolar. Dengan pengungkapan ini nilai investasi dan laba
yang di tahan (retained earning) berkurang dalam jumlah yang sama. Enron dan KAP Andersen
dituduh telah melakukan kriminal dalam bentuk penghancuran dokumen yang berkaitan dengan
investigasi atas kebangkrutan Enron (penghambatan terhadap proses peradilan ). Dana pensiun
Enron sebagian besar diinvestasikan dalam bentuk saham Enron. Sementara itu harga saham
Enron terus menurun sampai hampir tidak ada nilainya.
KAP Andersen diberhentikan sebagai auditor enron pada pertengahan juni 2002. sementara KAP
Andersen menyatakan bahwa penugasan Audit oleh Enron telah berakhir pada saat Enron
mengajukan proses kebangkrutan pada 2 Desember 2001. CEO Enron, Kenneth Lay
mengundurkan diri pada tanggal 2 Januari 2002 akan tetapi masih dipertahankan posisinya di
dewan direktur perusahaan. Pada tanggal 4 Pebruari Mr. Lay mengundurkan diri dari dewan
direktur perusahaan.
Tanggal 28 Pebruari 2002 KAP Andersen menawarkan ganti rugi 750 Juta US dollar untuk
menyelesaikan berbagai gugatan hukum yang diajukan kepada KAP Andersen.
Pemerintahan Amerika (The US General Services Administration) melarang Enron dan KAP
Andersen untuk melakukan kontrak pekerjaan dengan lembaga pemerintahan di Amerika.
tanggal 14 Maret 2002 departemen kehakiman Amerika memvonis KAP Andersen bersalah atas
tuduhan melakukan penghambatan dalam proses peradilan karena telah menghancurkan
dokumen-dokumen yang sedang di selidiki. KAP Andersen terus menerima konsekwensi negatiI
dari kasus Enron berupa kehilangan klien, pembelotan aIiliasi yang bergabung dengan KAP yang
lain dan pengungkapan yang meningakat mengenai keterlibatan pegawai KAP Andersen dalam
kasus Enron.
tanggal 22 Maret 2002 mantan ketua Federal Reserve, Paul Volkcer, yang direkrut untuk
melakukan revisi terhadap praktek audit dan meningkatkan kembali citra KAP Andersen
mengusulkan agar manajeman KAP Andersen yang ada diberhentikan dan membentuk suatu
komite yang diketuai oleh Paul sendiri untuk menyusun manajemen baru.
tanggal 26 Maret 2002 CEO Andersen Joseph Berandino mengundurkan diri dari jabatannya.
Tanggal 8 April 2002 seorang partner KAP Andersen, David Duncan, yang bertindak sebagai
penanggungjawab audit Enron mengaku bersalah atas tuduhan melakukan hambatan proses
peradilan dan setuju untuk menjadi saksi kunci dipengadilan bagi kasus KAP Andersen dan
Enron .
tanggal 9 April 2002 JeIIrey McMahon mengumumkan pengunduran diri sebagai presiden dan
ChieI Opereting OIIicer Enron yang berlaku eIektiI 1 Juni 2002.
Tanggal 15 Juni 2002 juri Iederal di Houston menyatakan KAP Andersen bersalah telah
melakukan hambatan terhadap proses peradilan.


Pembahasan masalah

Menurut teori Iraud ada 3 komponen utama yang menyebabkan orang melakukan kecurangan,
menipulasi, korupsi dan sebangsanya (prilaku tidak etis), yaitu opportunity; pressure; dan
rationalization, ketiga hal tersebut akan dapat kita hindari melalui meningkatkan moral, akhlak,
etika, perilaku, dan lain sebagainya, karena kita meyakini bahwa tindakan yang bermoral akan
memberikan implikasi terhadap kepercayaan publik (public trust).Studi empirik Weisen Born,
Noris tahun 1997, (dalam Zabihollah : 2002), terhadap 30 perusahaan di Amerika Serikat yang
memiliki indikasi sering melakukan kecurangan, dari hasil penelitian teridentiIikasi Iaktor
penyebab kecurangan tersebut diantaranya dilatarbelakangi oleh sikap tidak etis, tidak jujur,
karakter moral yang rendah, dominasi kepercayaan, dan lemahnya pengendalian. Faktor tersebut
adalah merupakan prilaku tidak etis yang sangat bertentangan dengan good corporate governance
philosoIy yang membahayakan terhadap business going cocern. Begitu pula praktik bisnis Enron
yang menjadikannya bangkrut dan hancur serta berimplikasi negatiI bagi banyak pihak.Pihak
yang dirugikan dari kasus ini tidak hanya investor Enron saja, tetapi terutama karyawan Enron
yang menginvestasikan dana pensiunnya dalam saham perusahaan serta investor di pasar modal
pada umumnya (social impact). Milyaran dolar kekayaan investor terhapus seketika dengan
meluncurnya harga saham berbagai perusahaaan di bursa eIek. Jika dilihat dari Agency Theory,
Andersen sebagai KAP telah menciderai kepercayaan dari pihak stock holder atau principal
untuk memberikan suatu Iairrness inIormation mengenai pertanggungjawaban dari pihak agent
dalam mengemban amanah dari principal. Pihak agent dalam hal ini manajemen Enron telah
bertindak secara rasional untuk kepentingan dirinya (selI interest oriented) dengan melupakan
norma dan etika bisnis yang sehat. Lalu apa yang dituai oleh Enron dan KAP Andersen dari
sebuah ketidak jujuran, kebohongan atau dari praktik bisnis yang tidak etis? adalah hutang dan
sebuah kehancuran yang menyisakan penderitaan bagi banyak pihak disamping proses peradilan
dan tuntutan hukum. Artinya secara kasat mata kasus Enron (baik manajemen Enron maupun
KAP Andersen) telah melakukan mal practice jika dilihat dari etika bisnis dan proIesi akuntan
antara lain :
1. Adanya praktik discrimination oI inIormation/unIair discrimination, melalui suburnya praktik
insider trading, dimana hal ini sangat diketahui oleh Board oI Director Enron, dengan demikian
dalam praktik bisnis di Enron sarat dengan collusion. Kondisi ini diperkuat oleh Bussines Round
Table (BRT), pada tanggal 16 Pebruari 2002 menyatakan bahwa : (a). Tindakan dan perilaku
yang tidak sehat dari manajemen Enron berperan besar dari kebangkrutan perusahaan; (b). Telah
terjadi pelanggaran terhadap norma etika corporate governance dan corporate responsibility oleh
manajemen perusahaan; (c). Perilaku manajemen Enron merupakan pelanggaran besar-besaran
terhadap kepercayaan yang diberikan kepada perusahaan.
2. Adanya Deception InIormation, yang dilakukan pihak manajemen Enron maupun KAP Arthur
Andersen, mereka mengetahui tentang praktek akuntansi dan bisnis yang tidak sehat. Tetapi
demi trust dari investor dan publik kedua belah pihak merekayasa laporan keuangan mulai dari
tahun 1985 sampai dengan Enron menjadi hancur berantakan.Bahkan CEO Enron saat menjelang
kebangkrutannya masih tetap melakukan Deception dengan menyebutkan bahwa Enron secara
berkesinambungan memberikan prospek yang sangat baik. KAP Andersen tidak mau
mengungkapkan apa sebenarnya terjadi dengan Enron, bahkan awal tahun 2001 berdasarkan
hasil evaluasi Enron tetap dipertahankan, hal ini dimungkinkan adanya coercion atau bribery,
karena pihak Gedung Putih termasuk Wakil Presiden Amerika Serikat juga di indikasikan terlibat
dalam kasus Enron ini.
3. Arthur Andersen, merupakan kantor akuntan publik- The big six- yang melakukan Audit
terhadap laporan keuangan Enron Corp. tidak hanya melakukan manipulasi laporan keuangan
Enron, KAP Andersen telah melakuklan tindakan yang tidak etis dengan menghancurkan
dokumen-dokumen penting yang berkaitan dengan kasus Enron. Arthur Andersen memusnahkan
dokumen pada periode sejak kasus Enron mulai mencuat ke permukaan, sampai dengan
munculnya panggilan pengadilan. Walaupun penghancuran dokumen tersebut sesuai kebijakan
internal Andersen, tetapi kasus ini dianggap melanggar hukum dan menyebabkan kredibilitas
Arthur Andersen hancur. Disini Andersen telah ingkar dari sikap proIesionallisme sebagai
akuntan independen dengan melakukan tindakan knowingly and recklessly yaitu menerbitkan
laporan audit yang salah dan meyesatkan (deception oI inIormation).


KESIMPULAN

Pihak manajemen Enron telah melakukan berbagaimacam pelanggaran praktik bisnis yang sehat
melakukan (Deception, discrimination oI inIormation, coercion, bribery) dan keluar dari prinsiI
good corporate governance.Akhirnya Enron harus menuai suatu kehancuran yang tragis dengan
meninggalkan hutang milyaran dolar.
KAP Andersen sebagai pihak yang seharusnya menjungjung tinggi independensi, dan
proIesionalisme telah melakukan pelanggaran kode etik proIesi dan ingkar dari tanggungjawab
terhadap proIesi maupun masyarakat diantaranya melalui Deception, discrimination oI
inIormation, coercion, bribery. Akhirnya KAP Andersen di tutup disamping harus
mempertanggungjawabkan tindakannya secara hukum.