You are on page 1of 157

1

“Engkau sudah gila, Elleinder?” tanya Arwain tak percaya. “Tidak,” sahut Elleinder tenang namun tegas. Arwain tidak mengerti apa yang mempengaruhi pikiran Elleinder sehingga pria itu tiba-tiba memutuskan untuk menikah dengan Putri dari Kerajaan Aqnetta yang kecil tetapi subur dan makmur. Tidak dapat disalahkan kalau pria yang baru saja diangkat menjadi Raja – menggantikan ayahnya yang meninggal karena sakit – itu berambisi untuk memasukkan kerajaan tetangga itu ke dalam wilayah kerajaannya yang luas, Skyvarrna. Sebagai teman akrab sejak kecil, Arwain tahu Elleinder sejak dulu mempunyai keinginan itu. Seperti banyak negara lain, kerajaan kecil itu sangat menarik perhatian. Wilayahnya memang kecil tetapi kesuburan tanahnya dan kekayaan alamnya sangat besar. Konon sejak Kerajaan Aqnetta berdiri banyak yang berusaha menguasainya tetapi tidak ada yang pernah berhasil. Dan sampai sekarang hal itu tidak pernah terjadi. Kekuatan militer Aqnetta tidak dapat diabaikan. Kekuatan militernya yang tangguh itulah yang membuatnya tetap damai dalam kebebasannya. Siapapun yang ingin menyerang Kerajaan Aqnetta selalu berpikir berulang kali. Apalagi terdengar adanya kabar bahwa Kerajaan Aqnetta mempunyai sekelompok pasukan rahasia yang tiada tandingnya. Memang satu-satunya jalan yang termudah untuk memasukkan Aqnetta ke dalam Skyvarrna adalah dengan menikahi Putri Kerajaan Aqnetta. Tetapi Arwain tetap tidak setuju dan tidak mengerti mengapa Elleinder punya pikiran seperti itu. Semua Pangeran maupun Raja tahu itu satu-satunya jalan yang termudah apalagi Putri Kerajaan Aqnetta saat ini hanya ada seorang dan kemungkinan besar ialah pewaris tahta kerajaan kelak bila Raja Leland meninggal. Tetapi tidak satupun yang mengambil jalan itu karena mereka tidak tahu banyak tentang Putri Kerajaan Aqnetta ini. Bahkan penduduk Aqnetta sendiri tidak banyak mengetahui Putri mereka.
1

“Engkau mengerti apa yang kaurencanakan ini, bukan?” tanya Arwain untuk meyakinkan dirinya sendiri. “Berapa kalikah aku harus mengatakannya padamu, Arwain?” Elleinder balas bertanya, “Aku sudah memikirkannya masak-masak. Bahkan sebelum aku mengatakannya padamu, aku telah menetapkan bahwa aku tidak akan membatalkannya. Aku akan meneruskan rencanaku tak peduli kalau ada yang tidak setuju.” “Engkau harus tahu, Elleinder, Putri satu ini tidak banyak kita ketahui,” Arwain memperingatkan, “Hampir tidak ada yang mengetahui tentangnya. Bahkan penduduk Kerajaan Aqnetta sendiri tidak banyak mengetahuinya.” “Aku tahu,” sahut Elleinder, “Ia tidak pernah meninggalkan Istana Vezuza dan tidak pernah menampakkan dirinya pada siapapun.” “Engkau juga harus tahu kabar tentangnya,” Arwain terus memperingatkan sahabatnya demi berusaha membatalkan rencana yang dianggapnya rencana paling konyol yang pernah diketahuinya. “Di kalangan penduduk Aqnetta beredar kabar bahwa Putri Kerajaan Aqnetta tidak secantik Putri-Putri yang lain. Bahkan mereka mempunyai keyakinan Putri mereka jelek dan gemuk sehingga membuat Raja Leland malu dan melarangnya meninggalkan Istana Vezuza.” Elleinder terus mendengarkan ceramah Arwain sambil menganggukangguk bosan. “Mungkin ini terdengar aneh bagimu tetapi ini benar. Karena malunya, Raja Leland tidak pernah mengucapkan nama putrinya kepada siapapun sehingga tidak seorangpun di luar mereka yang tinggal bersama Putri yang tahu namanya.” Arwain jengkel melihat sikap Elleinder yang seakan mengacuhkannya. “Engkau mendengarkanku, Elleinder?” “Aku mendengar semuanya, Arwain dan engkau harus tahu aku sudah tahu semua yang kaukatakan itu.” “Lalu mengapa engkau mempunyai rencana konyol seperti itu?” “Rencana konyol?” tanya Elleinder keheranan, “Kaukatakan rencana hebat ini rencana konyol?” “Apalagi kalau bukan rencana konyol?” tanya Arwain geram, “Tidak ada seorang Pangeran pun yang mempunyai pikiran sepertimu. Tidak seorangpun yang mengambil resiko untuk menikah dengan Putri yang tidak jelas itu.” “Pikiran mereka lain denganku,” kata Elleinder santai.
2

“Dengar baik-baik, Elleinder,” Arwain menggebrak meja di depannya – tanda ia mulai tidak sabar melihat sikap Elleinder yang tidak peduli pada apapun yang dikatakannya, “Kita tidak tahu seperti apa rupa Putri satu ini. Kita juga tidak tahu seperti apakah wataknya. Bagus kalau ia mempunyai sifat yang baik walau wajahnya tidak seperti yang kauharapkan. Tetapi kalau wataknya buruk, maka yang celaka adalah engkau kemudian Kerajaan Skyvarrna. Aku tidak ingin engkau mengambil resiko itu.” “Engkau juga harus mendengarkanku baik-baik, Arwain,” Elleinder turut menggebrak meja Ruang Kerjanya dan menatap tajam wajah Arwain, “Aku tidak peduli pada protes siapa pun tentang rencanaku ini. Aku tidak akan membatalkan rencanaku ini.” “Tidak akan,” ulang Elleinder dengan tegas. Arwain duduk kembali di kursinya dengan putus asa. Dengan nada putus asa pula ia berkata, “Baiklah, Elleinder. Percuma menghalangimu.” Elleinder pun kembali duduk. Dengan senyum penuh kemenangan ia menatap wajah putus asa Arwain. “Aku tahu sejak dulu engkau memang tertarik pada Kerajaan Aqnetta,” kata Arwain seperti orang yang kalah perang, “Mungkin ini satu-satunya jalan yang teraman untuk mewujudkan impianmu menguasai kerajaan itu.” Arwain menatap lekat-lekat wajah Elleinder sebelum dengan penuh kesedihan berkata, “Aman bagi orang lain tetapi tidak bagimu.” “Engkau tahu sendiri kekuatan Aqnetta tidak dapat diabaikan. Kerajaan Aqnetta terlalu kuat untuk diserang oleh kita walau aku yakin kekuatan kita sebanding dengan mereka.” “Kabarnya Aqnetta mempunyai pasukan rahasia yang sangat kuat.” Elleinder mengangguk. “Itulah yang membuatku tidak yakin kita akan menang. Aku tidak tahu apa yang membuat mereka sangat kuat tetapi tidak ada yang berani mencoba mengusik pasukan itu bahkan penduduk Kerajaan Aqnetta sendiri.” “Seorang temanku pernah berkunjung ke Istana Vezuza ketika ia ada urusan dagang dengan kerajaan itu. Katanya ia merasa sangat tidak nyaman ketika berada di sana. Ia merasa ribuan mata selalu mengawasinya dengan ketat. Aku menduga perasaan itu karena keberadaan pasukan rahasia itu di Istana Vezuza.” “Mungkin juga.”
3

“Harus kauketahui selama berada di Istana Vezuza, ia sama sekali tidak bertemu sang Putri juga tidak mendengar tentangnya dari orang-orang Istana,” Arwain kembali mengingatkan kemisteriusan Putri Kerajaan Aqnetta. “Aku tahu,” kata Elleinder, “Perkins juga pernah ke sana ketika ayahku masih hidup. Dan ia juga tidak bertemu dengan Putri juga tidak mendengar tentangnya.” “Putri ini sangat misterius, Elleinder, jangan mengambil resiko apapun. Aku tidak ingin melihatmu berdampingan dengan wanita yang tidak pantas denganmu,” kata Arwain, “Aku tidak dapat membayangkan bila sang Putri memang seperti yang dikabarkan itu.” Elleinder hanya tertawa mendengarnya. “Mengapa engkau khawatir seperti itu, Arwain? Engkau seperti ibu-ibu yang mencemaskan anaknya yang akan menikah.” Arwain geram karenanya. “Jangan cemas, aku telah memikirkan semuanya. Tidak ada satupun yang terlewatkan termasuk kemungkinan kalau Putri itu jelek, gemuk, atau apapun yang buruk-buruk yang kita semua perkirakan. Bahkan kemungkinan kalau ia ternyata lebih tua dariku.” Arwain mengawasi Elleinder yang tampak percaya diri dengan rencananya itu. Arwain tidak dapat membayangkan bila temannya itu harus berdampingan dengan seorang Putri yang gemuk. Sebagai sahabatnya, Arwain lebih senang kalau Elleinder menikah dengan seorang gadis yang cantik dan ramping. Gadis seperti itulah yang cocok untuk Elleinder yang tampan dan gagah, bukan Putri pilihannya. Tetapi apa yang dapat dilakukan Arwain? Ia telah berusaha membuat Elleinder membatalkan rencananya tetapi ia tidak berhasil. “Sekarang bantu aku menyusun surat lamaran yang indah dan pasti membuat sang Putri menerimanya.” “Tanpa kata-kata yang indah pun, ia pasti akan menerimanya,” kata Arwain setengah mengejek, “Ia pasti merasa sangat beruntung dapat menikah dengan pria sepertimu.” “Cepat bantu aku!” Elleinder pura-pura marah, “Surat ini harus sudah siap dalam waktu lima menit.” “Lima menit?” tanya Arwain tak percaya, “Engkau gila, Elleinder?”

4

“Tidak,” sahut Elleinder, “Aku sudah memanggil Perkins sebelum engkau datang tadi. Dan kuperkirakan ia telah siap berangkat ke Aqnetta dalam waktu lima menit lagi.” “Engkau benar-benar Raja paling gila yang pernah kuketahui,” kata Arwain, “Juga paling tidak masuk akal.” “Sudah cukupkah ejekan itu?” tanya Elleinder acuh, “Aku rasa justru itu yang membuatmu terus berteman denganku.” “Engkau benar,” sahut Arwain, “Sejak dulu engkau memang seperti itu. Sekali mempunyai keinginan, selalu berusaha mewujudkannya tanpa peduli apa kata sahabatmu ini.” Elleinder tersenyum puas sambil menyodorkan pena kepada Arwain. “Ini benar-benar gila,” kata Arwain, “Engkau yang akan menikah tapi aku juga harus ikut repot.” “Kau tahu sendiri aku tidak pandai merayu wanita,” Elleinder berkata jujur, “Engkau lebih pandai dari aku.” “Engkau memang pandai memanfaatkan orang lain,” gerutu Arwain, “Sekarang katakan apa yang harus kutulis. Bahwa engkau jatuh cinta pada sang Putri atau bahwa engkau ingin mempersatukan dua kerajaan melalui ikatan perkawinan.” “Karena tujuan pernikahan ini murni karena politik, katakan saja untuk mempersatukan dua kerajaan,” sahut Elleinder tegas, “Aku yakin ia pasti menerimanya.” “Aku tidak tahu harus mengucapkan apa atas semua kekonyolanmu ini,” gerutu Arwain. “Terus saja menulis,” perintah Elleinder. Suara ketukan yang tiba-tiba terdengar menghentikan gurauan kedua sahabat itu. “Masuk!” sahut Elleinder. Perkins muncul lengkap dalam pakaian kementeriannya. “Selamat siang, Paduka. Selamat siang, Sir Arwain,” sapa Perkins. “Selamat siang,” sahut mereka. “Saya melaporkan bahwa saya telah siap menuju Kerajaan Aqnetta.” “Tetapi surat lamarannya belum siap,” keluh Arwain. “Surat lamaran?” tanya Perkins tak mengerti. Pandangan menyelidik Arwain menatap tajam wajah tak bersalah Elleinder.
5

“Sudah lanjutkan tugasmu,” kata Elleinder pada Arwain kemudian pada Perkins ia berkata, “Duduklah dulu.” “Baik, Paduka.” Perkins mengambil tempat tepat di samping Arwain. “Kalau boleh saya tahu, Paduka. Untuk apakah surat lamaran itu?” “Raja kita punya rencana konyol yang tak masuk akal,” jawab Arwain, “Ia bermaksud menikahi Putri Kerajaan Aqnetta.” Perkins terkejut karenanya. Sebelum pria setengah baya itu sempat mengatakan apapun, Elleinder mendahuluinya, “Jangan berkomentar apapun. Tidak ada gunanya. Rencana ini tetap berjalan walau kalian tidak setuju.” “Ia benar,” Arwain setuju, “Aku telah berusaha membujuknya tetapi ia tetap tidak berubah pendirian.” “Anda tahu resikonya bila menikah dengan gadis yang tak banyak kita ketahui, bukan? Resikonya bukan hanya akan menimpa diri Anda tetapi juga Kerajaan Skyvarrna.” “Aku tahu.” Elleinder sudah bosan diceramahi hal yang sama sepanjang siang hari ini. Untuk mengalihkan perhatian Perkins, ia bertanya, “Sudah selesai, Arwain?” “Sebentar lagi,” kata Arwain. Perkins terus memperhatikan Arwain yang sibuk menyelesaikan tugasnya sementara itu Elleinder yang melihat surat lamaran itu hampir selesai, segera mempersiapkan penanya. “Selesai,” kata Arwain pada akhirnya, “Ditambah tanda tanganmu, maka surat ini akan resmi darimu.” Elleinder menerima surat itu dan membacanya sebelum membubuhkan tanda tangannya kemudian memasukkan surat itu ke dalam sampul surat yang telah disiapkannya. “Berikan surat ini pada Raja Leland dan sampaikan maafku padanya karena tidak dapat datang sendiri.” Perkins bangkit dan menerima surat itu. “Baik, Paduka.” “Setelah tugasmu selesai, segera kembali ke sini.” “Baik, Paduka,” sahut Perkins. Segera setelah berpamitan pada Elleinder dan Arwain, Perkins
6

meninggalkan Kamar Kerja.

Sepanjang perjalanan ke kereta kudanya, Perkins terus memandangi surat di tangannya sambil terus berpikir. Tetapi ia tetap tidak mengerti mengapa Elleinder tiba-tiba melamar Putri Kerajaan Aqnetta yang sangat misterius bagi semua orang. “Kita berangkat,” kata Perkins pada kusir kudanya sebelum naik kereta. “Baik.” -------0------Raja Leland duduk di Ruang Rekreasi sambil bersantai membaca koran dan menikmati hangatnya kopi hitam. Itulah kebiasaannya di pagi hari. Seharian mengurus banyak urusan kerajaan membuatnya lelah dan hanya di pagi hari seperti inilah ia bisa beristirahat. Tengah ia menikmati istirahatnya, seseorang mengetuk pintu. “Masuk!” kata Raja Leland jengkel. “Lapor, Paduka,” kata prajurit itu, “Menteri Luar Negeri Kerajaan Skyvarrna ingin bertemu Anda. Katanya ini urusan yang sangat penting yang menyangkut dua kerajaan.” “Sepenting apakah urusannya?” gumam Raja Leland jengkel. “Maafkan saya, Paduka,” kata prajurit itu, “Saya telah mengatakan padanya bahwa Anda tidak senang diganggu pada pagi hari tetapi ia mengatakan Raja Elleinder memberinya tugas yang sangat penting dan ia harus bergegas kembali ke Kerajaan Skyvarrna.” “Baiklah,” kata Raja Leland, “Katakan padanya untuk menungguku di Ruang Tahta. Aku akan menemuinya di sana.” “Baik, Paduka.” Prajurit itu pergi untuk melakukan tugas yang diperintahkan padanya. Tak lama kemudian pintu diketuk lagi. “Ada apa lagi?” kata Raja Leland geram. Calf terkejut melihatnya. “Ada apa, Paman?” “Kukira engkau adalah prajurit itu lagi.” “Ada apa Menteri Luar Negeri Kerajaan Skyvarrna datang sepagi ini?” “Aku tidak tahu. Katanya sangat penting.” Calf ingin tahu apa yang dibawa Menteri itu dari kerajaannya yang luas. “Boleh aku ikut?” tanyanya hati-hati.
7

“Justru aku mengharapkan engkau ikut,” kata Raja Leland, “Engkaulah calon penggantiku.” Calf senang mendengarnya. Ribuan kali ia mendengarnya, ia tidak akan bosan. Memang sejak dulu itulah yang diharapkannya, menggantikan pamannya. Berdua mereka menemui Menteri Luar Negeri Kerajaan Skyvarrna di Ruang Tahta. “Selamat pagi, Paduka,” sapa Perkins ketika melihat mereka, “Maafkan saya yang telah menganggu Anda sepagi ini.” “Selamat pagi,” kata Raja Leland sambil tersenyum ramah, “Urusan penting apakah yang membuatmu datang sepagi ini?” “Saya diperintahkan oleh Paduka Raja Elleinder untuk menyampaikan surat pada Anda. Sebelumnya ia minta maaf karena tidak dapat datang sendiri.” “Katakan padanya aku mengerti. Memang sulit memerintah kerajaan yang seluas itu.” Perkins merogoh sakunya dan mengeluarkan surat itu. “Ini surat dari Paduka Raja Elleinder,” katanya sambil menyerahkan surat itu. Calf menerima surat itu kemudian memberikannya pada Raja Leland. Raja Leland membuka surat itu dan membacanya. Calf yang ikut membaca terkejut melihat isi surat itu yang berbunyi: Kepada Yang Terhormat Paduka Raja Leland, Hubungan antara Kerajaan Aqnetta dan Kerajaan Skyvarrna telah terjalin dengan baik sejak lama. Persahabatan yang telah berlangsung selama lebih dari tiga abad ini telah mempererat hubungan kedua kerajaan. Sebagai kerajaan yang bertetangga, saya merasa tidak ada salahnya kalau kita semakin mempererat hubungan itu. Saya telah banyak mendengar tentang Putri Anda. Banyak yang mengatakan ia sangat cantik sehingga Anda tidak rela ia dilihat oleh orang lain. Sayapun kemudian merasa tidak pantas untuk mendampinginya. Tetapi demi mempererat hubungan dua kerajaan yang bertetangga ini, saya memberanikan diri untuk melamarnya.
8

Dengan pernikahan ini, Kerajaan Aqnetta yang makmur dan Kerajaan Skyvarrna yang luas dapat lebih saling mendukung. Pada akhirnya kedua kerajaan ini akan mempunyai hubungan yang sangat erat yang kelak akan sangat bermanfaat bagi generasi mendatang. Melalui pernikahan antara saya sebagai Raja Kerajaan Skyvarrna dan Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta, dapat dikatakan Kerajaan Skyvarrna hubungan menjadi wilayah dari kerajaan Kerajaan antara dua negara juga dapat Aqnetta demikian pula sebaliknya. Hal ini selain dapat memperluas kerjasama menghilangkan perbedaan yang selama ini ada di kedua kerajaan. Pada akhirnya, pernikahan ini akan menguntungkan kedua belah kerajaan. Hormat saya, Elleinder Calf mengawasi raut tak percaya Raja Leland dengan cemas. “Hal ini tidak pernah kubayangkan sebelumnya,” kata Raja Leland tak percaya. “Katakan pada Raja Elleinder aku setuju dengan pendapatnya.” “Paman?” bisik Calf cemas, “Raja Elleinder hanya ingin menguasai kerajaan kita.” “Mengapa engkau cemas, Calf?” Raja Leland balas bertanya dengan berbisik, “Kedua kerajaan akan menjadi satu dengan pernikahan ini. Sejak dulu aku ingin menguasai kerajaan yang luas seperti Kerajaan Skyvarrna dan dengan pernikahan ini impianku terwujud.” “Tetapi kerajaan kita menjadi milik mereka.” “Tidakkah engkau mengerti, Calf? Pernikahan dua Putra Mahkota dari dua kerajaan akan mempersatukan dua kerajaan. Seperti yang dikatakan Raja Elleinder dalam suratnya, Kerajaan Skyvarrna menjadi wilayah Kerajaan Aqnetta dan Kerajaan Aqnetta menjadi wilayah Kerajaan Skyvarrna.” “Berarti aku bukan lagi pengganti Paman?” tanya Calf tak percaya. “Maafkan aku, Calf. Aku tidak ingin mengecewakanmu tetapi inilah yang akan terjadi dengan pernikahan ini,” kata Raja Leland, “Demi kemajuan Kerajaan Aqnetta, engkau harus merelakan hal ini.” Calf kecewa bercampur geram karenanya. Tanpa mengatakan apapun, ia meninggalkan Ruang Tahta.
9

Perkins kebingungan melihat pemuda itu berlalu begitu saja dengan marah. “Abaikan dia,” kata Raja Leland, “Sekarang kita akan membicarakan isi surat Raja Elleinder.” “Katakan padanya aku sepenuhnya setuju padanya. Aku menerima lamarannya,” kata Raja Leland dengan gembira, “Atau aku harus menulis surat untuknya.” “Menurut saya, lebih baik kalau Baginda membalas surat Paduka Raja Elleinder sehingga tidak akan ada keraguan ketika saya menyampaikan balasan Anda.” “Tentu. Tentu saja,” kata Raja Leland, “Tunggulah sebentar.” Raja Leland memerintahkan kepada prajurit untuk mengambilkan kertas dan pena dari Ruang Gambar yang dekat dengan Ruang Tahta. Sambil menunggu prajurit itu kembali, Raja Leland mengajak Perkins bercakap-cakap. “Raja Elleinder memang seorang raja yang cakap walau ia masih muda. Aku tidak pernah menyangka ia mempunyai pikiran yang sangat jauh tentang hubungan dua kerajaan ini.” “Anda benar, Paduka,” sahut Perkins, “Ketika Raja Fahrein meninggal, Kerajaan Skyvarrna menjadi kacau tetapi Raja Elleinder dapat segera menguasai keadaan.” “Aku tidak pernah memikirkan bahwa dengan menikahkan putriku dengannya, kedua kerajaan ini akan mempunyai hubungan kerabat bahkan kedua kerajaan tetangga ini dapat menjadi satu kerajaan. Sungguh merupakan suatu keberuntungan bagi kerajaan kecil ini untuk dapat menjadi satu dengan Kerajaan Skyvarrna yang luas.” Akhirnya Perkins mulai dapat memahami mengapa Elleinder melamar Putri Kerajaan Aqnetta. Tetapi ia tetap tidak mengerti mengapa demi menguasai Kerajaan Aqnetta, ia rela mengorbankan dirinya sendiri untuk menikah dengan Putri yang konon sangat tidak cocok menjadi seorang Putri sejati. “Juga merupakan keberuntungan bagi Kerajaan Skyvarrna untuk dapat bergabung dengan Kerajaan Aqnetta yang makmur dan kaya hasil alam,” kata Perkins merendah. Raja Leland tertawa karenanya. “Kerajaan Skyvarrna beruntung memiliki seorang menteri sepertimu.”
10

Lagi-lagi Perkins merendahkan diri. “Kerajaan Aqnetta juga beruntung memiliki seorang Raja yang sebijaksana Anda, Paduka.” Raja Leland senang melihat sikap Perkins yang penuh rasa hormat dan kesopanan. Prajurit yang ditugaskan Raja Leland untuk mengambil kertas beserta pena itu akhirnya tiba. Dengan setengah membungkuk hormat, ia menyerahkan benda-benda itu pada Raja Leland. Segera setelah menerimanya, Raja Leland menulis surat jawabannya. Tidak sampai sepuluh menit ia telah selesai menuliskan semua kegembiraan dan persetujuannya atas lamaran Elleinder. “Berikan ini pada Raja Elleinder,” katanya sambil menyerahkan surat itu pada Perkins. “Baik, Paduka,” jawab Perkins. “Apakah engkau mau sarapan pagi di sini bersamaku?” Raja Leland tibatiba mengundang Perkins sebagai wujud kegembiraannya. “Saya akan senang sekali tetapi maafkan saya, Baginda. Paduka Raja Elleinder memerintahkan saya untuk segera kembali setelah menerima jawaban Anda atas suratnya.” “Ya… ya tentu saja,” kata Raja Leland berulang-ulang. “Bila demikian halnya, aku tidak dapat memaksamu lagi. Sampaikan juga salam dan hormatku pada Raja Elleinder.” “Baik, Baginda,” kata Perkins sambil membungkuk hormat, “Semua perkataan Anda akan saya sampaikan pada Paduka Raja Elleinder.” Tak lama kemudian Perkins meninggalkan Istana Vezuza dengan berbagai perasaan. Lamaran telah diterima. Untuk hubungan kedua kerajaan sudah jelas tetapi tidak untuk masa depan Raja dari Kerajaan Skyvarrna. Perkins tidak dapat membayangkan seperti apakah rupa Putri Kerajaan Aqnetta. Dan kalau apa yang dikatakan banyak orang tentangnya itu benar, Perkins tidak dapat membayangkan bagaimana kebahagiaan Elleinder yang harus berdampingan dengan Putri itu. Perkins telah menjadi Menteri Luar Negeri Kerajaan Skyvarrna sejak Elleinder masih kecil. Dan hubungan mereka sudah akrab seperti ayah dan anak. Perkins tahu seperti dirinya, Raja Fahrein mengharapkan Elleinder menikah dengan seorang gadis yang cantik jelita bukan dengan putri yang tak
11

banyak diketahui orang. Bahkan dikatakan gemuk, buruk dan entah apa lagi. Yang pasti kesan yang dikatakan banyak orang tentang Putri Kerajaan Aqnetta adalah bahwa Putri itu tidak pantas menjadi seorang Putri sejati yang anggun, cantik dan penuh pesona. Karena itu Raja Leland malu dan melarang sang Putri meninggalkan Istana Vezuza. Kalau memang ini yang diinginkan Elleinder, Perkins tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia baru mengetahui rencana ini setelah semuanya terlambat. Ketika utusan Elleinder datang ke rumahnya untuk menyampaikan perintah Elleinder, Perkins tanpa curiga segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke Kerajaan Aqnetta. Dan di Istana Qringvassein, ia tidak punya banyak kesempatan untuk mengetahui apa yang tengah direncanakan Elleinder hingga memerintahkannya untuk segera berangkat ke Kerajaan Aqnetta. Semua telah siap ketika ia tiba dan yang dapat dilakukannya hanya melakukan tugas itu walau hatinya bingung dan tidak setuju dengan rencana ini. Arwain benar, ini rencana konyol tetapi juga rencana yang sangat berani. Menempuh resiko yang sangat besar hanya untuk menguasai Kerajaan Aqnetta yang kecil tetapi sangat menarik perhatian kerajaan manapun. Pangeran-pangeran dari kerajaan lain pasti juga tahu dengan menikah sang Putri, mereka dapat menguasai Kerajaan Aqnetta. Tetapi sebesar apapun ambisi mereka, tidak ada yang berani mengambil resiko itu. Hanya Elleinder saja yang berani mengambil resiko itu. Perkins memandangi halaman Istana Vezuza yang sangat luas. Istana Vezuza sangat megah dan indah. Walaupun Kerajaan Skyvarrna lebih luas dari Kerajaan Aqnetta, tetapi Perkins mengakui Istana Vezuza lebih indah daripada Istana Qringvassein. Di dalam istana yang indah bagai istana negeri dongeng itu, tinggal seorang Putri yang penuh misteri bagi siapapun kecuali orang Istana Vezuza sendiri. Perkins menghela napas dengan pasrah. Seperti apapun rupa sang Putri, ia berharap Putri itu dapat membahagiakan Elleinder. Perkins juga berharap Elleinder tidak menyesal dengan jalan yang ditempuhnya ini bila ia tahu rupa sang Putri. Perkins menyapu seluruh Istana Vezuza beserta halamannya itu dengan pandangannya sebelum akhirnya ia memasuki kereta.

12

Seperti Qringvassein kepergiannya.

yang hanya

diharapkan dalam

Elleinder, tak

Perkins dari

sudah dua

tiba

di

Istana setelah

waktu

lebih

minggu

Begitu mencapai Skyvarrna, Perkins segera menuju Istana Qringvassein untuk menyerahkan surat jawaban Raja Leland kepada Raja Elleinder. Elleinder tampak begitu percaya diri ketika menerima surat itu. “Engkau secepat yang kuharapkan, Perkins.” “Terima kasih, Paduka.” Dengan penuh percaya diri, Elleinder membuka surat itu. Arwain juga ingin tahu jawaban Raja Leland tetapi ia tahu batas-batas keakraban mereka sebagai sahabat. Walaupun mereka adalah sahabat akrab sejak kecil, Arwain tahu ia harus menjaga sikapnya kepada orang nomor satu di Skyvarrna. “Aku sudah menduganya,” kata Elleinder puas, “Mungkin engkau mau melihatnya, Arwain.” Arwain tentu saja mau. Ia segera menerima surat itu dan membacanya cukup keras sehingga Perkins juga dapat mendengarnya. Kepada Yang Terhormat Raja Elleinder, Saya merasa sangat beruntung atas lamaran Anda kepada putri saya. Saya menyadari apa yang Anda katakan dalam surat Anda benar. Persahabatan antara kerajaan kita telah terjalin cukup lama dan tidak ada salahnya bila kita mempererat hubungan ini dalam suatu ikatan pernikahan. Saya dan putri saya merasa sangat beruntung dengan lamaran Anda ini. Saya akan merasa sangat beruntung dapat mempunyai menantu yang hebat seperti Anda. Hormat saya,

Raja Leland “Tentu saja ia merasa sangat beruntung mempunyai menantu yang sangat tampan sepertimu untuk putrinya yang jelek,” Arwain memberi komentar setelah selesai membaca surat itu.

13

Elleinder diam saja mendengarnya. Ia senang rencananya berjalan mulus seperti harapannya. Dan ia tidak mau wajah memikirkan penuh yang lain selain keberhasilannya ini. Arwain menatap lekat-lekat kemenangan Elleinder. “Rencanamu berhasil,” katanya, “Aku hanya dapat mengucapkan selamat menjadi pengantin yang bahagia.” Elleinder hanya tersenyum mendengarnya. “Paduka,” kata Perkins tiba-tiba, “Apakah Anda yakin dengan rencana Anda ini? Rencana ini terlalu besar resikonya.” Entah untuk yang keberapa kalinya, Elleinder berkata, “Aku telah memikirkan semuanya.” Untuk meyakinkan Perkins kalau ia tidak bisa mencegahnya, Elleinder menambahkan, “Kalaupun engkau ingin menghentikanku, semuanya sudah terlambat. Engkau tidak ingin kerajaan kita berperang dengan Kerajaan Aqnetta, bukan?” “Tentu saja bukan itu maksud saya. Tapi…” “Sudahlah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Dengan penuh keyakinan, Elleinder berkata, “Setelah menjadi istriku, ia harus menurut padaku. Aku adalah suaminya dan ia tidak akan bisa melawanku.” “Kuharap engkau bisa mengendalikannya,” Arwain berkata acuh, “Kurasa ia akan terpesona padamu hingga ia akan selalu menuruti semua katakatamu.” Elleinder mengacuhkan sahabatnya dan berpaling pada Perkins. “Apakah Raja Leland mengatakan sesuatu tentang rencana pernikahan putrinya?” “Tidak, Paduka,” jawab Perkins. “Baiklah,” kata Elleinder tiba-tiba, “Sudah kuputuskan.” “Memutuskan apa, Paduka?” “Aku akan ke Kerajaan Aqnetta, Perkins. Aku akan menemui Raja Leland untuk membicarakan pernikahan ini dan mengaturnya.” “Anda bisa menyuruh saya melakukannya untuk Anda, Paduka,” kata Perkins, “Lagipula banyak yang harus Anda kerjakan di sini.” “Tidak, tersinggung.” “Aku rasa engkau ingin ke sana karena ingin bertemu calon istrimu,” kata Arwain mengejek.
14

Perkins.

Aku

merasa

lebih

baik

kalau

aku

sendiri

yang

membicarakannya dengan Raja Leland. Aku tidak ingin membuat Raja Leland

“Aku

memang

berharap

seperti

itu.

Setidaknya

aku

sudah

tahu

bagaimana rupa gadis yang akan menjadi istriku sebelum aku menikahinya.” Arwain terus menganggu Elleinder. “Kalau ia buruk rupa, engkau akan tetap menikahinya?” “Sudah rencanaku,” berulang kata kali kukatakan jengkel, aku tidak aku akan tidak membatalkan yakin dapat Elleinder “Lagipula

menemuinya. Raja Leland tentu akan menyembunyikannya entah di mana.” “Saya juga tidak pernah bertemu dengannya ketika dulu saya ke Istana Vezuza,” kata Perkins, “Tampaknya putri ini benar-benar disembunyikan oleh Raja Leland dari semua orang.” “Baiklah, sekarang semua telah diputuskan. Perkins, engkau boleh kembali ke rumahmu untuk beristirahat. Arwain, engkaupun boleh kembali kalau engkau ingin.” “Aku ingin ikut denganmu. Aku ingin melihat calon istrimu.” “Tidak,” kata Elleinder tegas, “Aku yang akan pergi sendiri.” “Paduka,” kata Perkins, “Saya akan lebih tenang kalau Sir Arwain juga ikut Anda.” “Tidak,” sekali lagi Elleinder berkata tegas, “Ini perintah dan tidak ada yang boleh membantahnya.” “Kalau aku ikut, aku dapat mencari tahu tentang sang Putri sementara engkau sibuk berunding dengan Raja Leland,” Arwain tidak berhenti membujuk Elleinder, “Aku juga ingin bertemu dengan calon istri sahabat baikku yang juga rajaku.” “Saya pikir apa yang dikatakan Sir Arwain benar, Paduka. Seperti yang Anda katakan, lebih baik Anda mengetahui seperti apa rupa sang Putri sebelum Anda menikah dengannya. Sehingga Anda bisa tahu apa yang harus dilakukan sebelum memboyongnya ke sini.” “Membawa Arwain sebenarnya adalah bencana. Tetapi kalau kalian memaksa Arwain ikut, aku tidak akan mencegah,” kata Elleinder, “Aku juga tidak akan bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu padamu ketika engkau berusaha menyelidiki sang Putri.” “Aku telah melarangmu,” Elleinder memperingatkan. “Jangan khawatir,” Arwain tersenyum senang. “Sebelum engkau kembali, Perkins, tolong panggilkan salah seorang prajurit.” “Baik, Paduka.”
15

Perkins segera berlalu dari ruangan itu. “Keputusan yang sangat bijaksana untuk membawaku pergi besertamu, Elleinder,” kata Arwain puas. “Seperti yang kukatakan membawamu sepertinya bukan ide yang baik. Tetapi kupikir daripada aku harus sibuk menceritakan apa yang terjadi selama aku berada di Istana Vezuza, lebih baik engkau melihatnya sendiri.” Arwain tersenyum penuh kemenangan. “Sebaiknya engkau lekas bersiap-siap. Kalau tidak malam ini, kemungkinan aku akan berangkat besok pagi.” “Baik, Paduka,” kata Arwain. Kemudian pria itupun segera berlalu. Sesaat setelah kepergian Arwain, pintu diketuk seseorang. “Masuk!” “Paduka memanggil saya?” tanya prajurit itu. “Aku ingin engkau memanggil Brasch untukku. Dan aku ingin sesegera mungkin, ini masalah yang sangat mendesak.” “Baik, Paduka,” sahut prajurit itu sebelum meninggalkan Kamar Kerja. Elleinder menyandarkan punggungnya ke kursinya yang tinggi dengan puas. Ia sangat puas dengan keberhasilannya ini hingga ia yakin ia tidak akan dapat tidur malam ini. Sejak kecil ia berambisi menguasai Kerajaan Aqnetta ke dalam kekuasaan Kerajaan Skyvarrna. “Kerajaan kecil yang hijau permai namun tak terjangkau,” gumam Elleinder sambil membayangkan keindahan tempat itu. Hanya sekali Elleinder berkunjung ke Kerajaan Aqnetta, itupun ketika ia masih berusia sepuluh tahun. Tetapi sejak itu dan terus selama tujuh belas tahun terakhir ini, ia tidak pernah melupakan tempat itu. Ia seperti terbius oleh pesona alamnya yang indah. Pegunungan Alpina Dinaria yang memanjang di perbatasan barat dengan Gereja Chreighton-nya yang lebat dan masih liar. Kota-kotanya yang damai dan penuh pesona. Istana Vezuza-nya yang indah seperti istana negeri dongeng. Kerajaan Aqnetta. Sebuah kerajaan kecil yang indah dan kaya namun tak berani disentuh kerajaan manapun. Elleinder puas bahkan sangat puas dengan keberhasilan rencananya ini. Ia merasa telah menang dari kerajaan manapun. Mereka tidak berani mengambil resiko untuk menghadapi Kerajaan Aqnetta. Elleinder pun juga tidak mau mengorbankan pasukannya ke dalam cengkeraman kekuatan Kerajaan Aqnetta yang terkenal sangat kuat. Kekuatan
16

Kerajaan Aqnetta terlalu kuat untuk diusik kerajaan manapun bahkan bila mereka bersatupun, belum tentu mereka dapat menang dari pasukan Kerajaan Aqnetta terutama pasukan rahasianya. Tetapi Elleinder lebih berani mengambil resiko untuk menikahi Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta. Walau ia tidak pernah tahu seperti apakah rupa sang Putri, ia berani mengambil resiko itu. Tidak peduli sang Putri jelek, tua, gemuk atau apapun, Elleinder tetap akan menjalankan rencananya ini. Setelah menjadi istrinya sang Putri harus tunduk padanya dan ia tidak akan dapat bertindak sekehendak dirinya sendiri.

17

2

Seperti keinginan Elleinder, dalam waktu empat hari ia telah tiba di Istana Vezuza. Elleinder berdiri memandang Istana yang tinggi itu. Seumur hidupnya ia akan selalu mengagumi Istana itu walau ia juga mempunyai Istana yang besar dan indah. Istana Vezuza yang berdinding putih dengan tamannya yang selalu berseri sepanjang tahun. Berbagai macam bunga tampak bermekaran di seluruh halaman Istana walau saat ini adalah pertengahan musim gugur. Tanaman perdu diatur rapi mengelilingi pohon-pohon tinggi yang berbagai macam. Bunga-bunga kecil tampak di antara rerumputan dan semaksemak. Angin berhembus menimbulkan suara gemerisik dedaunan. Dedaunan terus bergemerisik menyambut kedatangan setiap tamu. Bunga-bunga terus berseri dengan warnanya yang indah memberi senyuman ramah pada tiap tamu. Prajurit berbaju putih kebiru-biruan berbaris rapi di depan pintu masuk. Di pintu gerbang, berbaris prajurit yang dengan teliti memeriksa setiap tamu yang datang. “Benar-benar Istana yang indah,” kata Arwain. Elleinder mengangguk. “Selamat datang,” sambut seorang prajurit. “Kami datang untuk menemui Raja Leland,” kata Elleinder. “Ijinkanlah saya mengetahui siapa Anda dan ada keperluan apa Anda mencari Paduka Raja?” tanyanya pula. “Saya adalah Raja Kerajaan Skyvarrna. Kami datang untuk membicarakan perjanjian yang penting yang telah kami sepakati bersama.” “Silakan masuk, Paduka,” prajurit itu sedikit membungkuk. Tangan kirinya melintang ke pundak kanannya dan tangan kanannya menunjuk ke dalam Hall. Prajurit itu kemudian mengantar mereka ke Ruang Duduk. “Silakan menanti di sini, Paduka. Saya akan memberitahukan kedatangan Anda pada Paduka Raja Leland.”
18

“Terima kasih,” kata Elleinder. Arwain tiba-tiba bertanya, “Apakah setiap tamu selalu disambut oleh prajurit yang kaku seperti itu?” “Sepertinya seperti itu,” jawab Elleinder. “Benar-benar ketat penjagaan di sini,” bisik Arwain. Tak lama kemudian pintu terbuka dan Raja Leland datang sambil tersenyum ramah. “Selamat datang. Anggaplah ini sebagai rumah kalian.” “Terima kasih, Paduka,” kata Elleinder. “Senang dapat bertemu dengan Anda, Raja Elleinder,” kata Raja Leland. “Saya juga senang dapat berjumpa dengan Anda.” Raja Leland melihat seorang pria yang berdiri di samping Elleinder. “Ijinkanlah saya memperkenalkan teman saya, Arwain kepada Anda, Paduka.” “Saya merasa terhormat dapat berjumpa dengan Anda, Paduka,” kata Arwain sopan. “Saya juga senang dapat berkenalan dengan Anda, Tuan Arwain.” “Ia ikut bersama saya karena ia mendengar tentang keindahan kerajaan ini. ia tertarik untuk melihatnya sendiri. Di sini ia juga bertindak sebagai seorang pengawal saya.” Raja Leland mengangguk-angguk melihat Arwain kemudian ia kembali pada Elleinder dan berkata, “Saya merasa tersanjung mendapatkan lamaran Anda itu. Ijinkanlah saya mewakili putri saya mengucapkan terima kasih atas lamaran Anda.” “Saya juga senang dapat mempersunting putri Anda yang cantik.” Raja Leland tersenyum dan berkata, “Saya tidak pernah menduga akan mendapatkan lamaran Anda. Harus saya akui Andalah orang pertama yang melamar putri saya.” “Saya merasa tersanjung mendengarnya, Paduka,” kata Elleinder. “Tidak perlu merasa seperti itu. Mungkin putri saya ditakdirkan untuk menjadi istri Anda.” Raja Leland tertawa senang lalu melanjutkan, “Karena kita akan menjadi ayah dan menantu, sebaiknya panggilan sopan itu mulai kita hilangkan dari sekarang. Aku takkan senang mendengar menantuku memanggilku Paduka terus menerus. Kurasa mulai sekarang engkau harus membiasakan diri memanggil aku ayah.” “Tentu, tetapi saya akan mulai melakukannya setelah saya menikah dengan putri Anda.”
19

“Ya, tentu saja,” Raja Leland setuju. “Kapankah kalian akan menikah?” “Itulah yang ingin saya bicarakan dengan Anda juga dengan putri Anda.” “Putri saya akan selalu siap kapan saja,” Raja Leland cepat-cepat menyahut, “Anda tidak perlu mengkhawatirkan itu.” “Kedatangan saya kemari juga ingin bertemu dengan putri Anda.” “Maafkan saya,” kata Raja Leland, “Putri saya sedang tidak enak badan. Ia tidak dapat menemui Anda dalam beberapa hari ini. Anda tidak perlu khawatir. Ia akan cukup sehat untuk menghadiri pesta pernikahannya.” “Saya berharap demikian. Saya tidak ingin putri Anda sakit ketika upacara itu berlangsung.” “Saya meyakinkan Anda ia akan cukup sehat untuk menikah dengan Anda,” kata Raja Leland kemudian ia mengalihkan pembicaraan dengan berkata, “Menginaplah di sini untuk beberapa hari hingga kita selesai membicarakan pernikahan ini.” “Saya juga berencana tinggal beberapa hari di Kerajaan Aqnetta untuk membicarakan masalah ini.” Raja Leland tersenyum senang. “Makan siang akan siap sebentar lagi. Saya berharap Anda mau turut makan bersama kami. Anda juga, Tuan Arwain.” “Terima kasih atas undangan Anda,” kata Elleinder dan Arwain hampir bersamaan. Elleinder memberi tanda dengan matanya kepada Arwain ketika Raja Leland membawanya meninggalkan ruang itu. Arwain tersenyum. Sekarang bukan waktunya ia memulai sandiwaranya sebagai seorang pengawal. Tidak tertutup kemungkinan saat makan siang nanti, mereka akan makan bersama sang Putri. Sayangnya, harapan tinggallah harapan. Di meja makan yang besar itu tidak tampak seorang gadis pun. Yang ada hanya Raja Leland, Elleinder dan Arwain serta beberapa prajurit pengawal. Pelayan-pelayan berbaju biru cerah dengan celemek putihnya mulai bermunculan dengan nampan perak di tangan mereka. Mereka terus bergerak melayani ketiga orang itu. “Hidangannya sangat lezat, Paduka,” puji Arwain, “Belum pernah saya merasa dijamu semewah ini.” “Anda merendah. “Hidangan yang Anda sajikan ini sangat lezat,” timpal Elleinder.
20

hanya

melebih-lebihkan,

Tuan

Arwain,”

kata

Raja

Leland

“Terima kasih, saya senang Anda menyukainya,” kata Raja Leland. Raja Leland melihat sinar matahari yang menyinari ruangan itu. “Hari sudah siang,” katanya, “Saya kira Anda lelah setelah perjalanan jauh Anda. Silakan Anda beristirahat. Besok kita baru membicarakan rencana pernikahan ini.” “Anda benar, Raja Leland,” kata Elleinder, “Sebaiknya kita mulai membicarakannya esok hari.” “Luke!” panggil Raja Leland, “Antarkan Raja Elleinder dan temannya ke kamarnya.” “Baik, Paduka,” kata Luke kemudian pada Elleinder ia berkata, “Saya akan mengantar Anda berdua.” “Kami permisi dulu, Paduka,” kata Arwain. Kemudian mereka meninggalkan Ruang Makan. Ketika merasa cukup jauh dari Ruang Makan, Arwain berbisik, “Sang Putri tidak ada.” Elleinder mengangguk. “Sepertinya ia benar-benar disembunyikan bahkan dari calon suaminya sendiri,” bisik Arwain lagi. “Kurasa kata-katamu tempo hari benar,” bisik Elleinder, “Sementara aku berunding, engkau mencari sang Putri.” Arwain tersenyum puas. Keduanya berdiam diri dan terus mengikuti Luke. Luke membuka pintu sebuah ruangan. “Ini kamar untuk Anda, Paduka,” kemudian Luke melihat Arwain, “Di sampingnya adalah kamar untuk Tuan.” “Terima kasih,” kata Elleinder. Pria itu membungkuk dan meninggalkan mereka. Elleinder memasuki kamarnya. Dibandingkan luas kamarnya di Kerajaan Skyvarrna, kamar ini sama besarnya. “Benar-benar kamar yang indah,” kata Arwain. Sebuah tempat tidur antik dengan tirai-tirai putihnya yang tipis terletak di dekat jendela. Antara jendela dan tempat tidur hanya berbatasan sebuah meja kecil. Sebuah meja lain terletak di depan perapian besar di hadapan tempat tidur. Di atas meja terdapat sebuah vas bunga dengan bunga-bunga keringnya yang ditata rapi dan indah. Lantainya berselimutkan permadani hijau yang cerah. Dinding kamar putih bersih tanpa noda sedikit pun. Di sudut langit-langit kamar terdapat
21

ukiran-ukiran malaikat yang indah. Langit-langit putih yang tinggi itu menaungi kamar yang rapi itu. Tirai-tirai jendela menari-nari tertiup angin yang sejuk. Di luar jendela tampak sehamparan permadani alam yang hijau berseri. “Inilah kamar Istana negeri dongeng,” kata Elleinder lalu ia melangkah masuk. “Aku ingin tahu kamarku seperti apa.” Arwain berlari ke kamarnya dan tak lama kemudian ia kembali ke kamar Elleinder dengan wajah sedih. “Ada apa?” tanya Elleinder ingin tahu. “Kupikir kamarku akan lebih indah dari kamarmu tetapi…” “Kamarmu lebih jelek,” sambung Elleinder. “Tidak,” kata Arwain sedih, “Kamarku sama dengan kamarmu.” “Mengapa engkau sedih seperti anak kecil?” tanya Elleinder, “Tidak ada gunanya menangisi kamar Istana ini. Kita sudah beruntung mendapat kehormatan untuk menginap di Istana negeri dongeng ini.” Arwain menunduk sedih. “Aku lelah sekali. Aku ingin beristirahat kemudian aku akan mencari tahu seperti apa rupa sang Putri.” Tiba-tiba Arwain menjadi bersemangat lagi. “Istirahatlah,” katanya lalu menghilang dari kamar Elleinder. Elleinder tersenyum. Ia yakin Arwain akan mencari sang Putri saat ini juga. Elleinder menjatuhkan diri di kasur bulu angsa yang lembut. Sekarang laporannya. Arwain menuju lantai terdasar dari Istana Vezuza dan berjalan santai seperti layaknya penghuni Istana lainnya. Orang-orang yang berlalu lalang di Hall tidak mempedulikan kedatangannya. Mereka tampak sibuk sendiri dengan pembicaraan mereka. Tidak adanya orang yang memperhatikan, membuat Arwain merasa senang dan bebas. Ia dapat mencari sang Putri tanpa khawatir seorang prajurit akan menangkapnya karena mencurigainya. Mengingat sang Putri tidak pernah meninggalkan Istana, sang Putri pasti telah terbiasa berada di dalam Istana. Karena sang Putri tidak pernah menampakkan diri, ia pasti tidak berada di Hall yang ramai seperti ini. Berada di dalam Istana terus juga tidak mungkin. Bagaimana pun senangnya sang Putri tinggal di dalam Istana, ia pasti ingin melihat dunia luar.
22

ia

dapat

beristirahat

dan

menanti

Arwain

memberikan

Siang hari seperti ini, jarang ada orang di halaman. Halaman Istana sangat luas dan sang Putri tidak akan menemukan kesulitan untuk mencari tempat persembunyian yang sejuk dan menyenangkan. Arwain terus melangkah ke taman dan berharap melihat seorang gadis buruk rupa seperti yang dikatakan orang-orang itu. Berjalan di bawah teriknya matahari bukanlah hal yang menyenangkan. Tumbuhan di halaman sangat banyak dan lebat tetapi tidak dapat menandingi keangkuhan sang surya. Belum ada setengah halaman yang dilalui Arwain tetapi seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat. Arwain tidak kuat lagi untuk berjalan di teriknya matahari. Ia kembali ke Istana. Sang Putri tidak pernah meninggalkan Istana tentu ia juga tidak pernah merasakan teriknya matahari. Jadi, kemungkinan satu-satunya adalah sang Putri sekarang berada di dalam Istana. Di suatu tempat yang jarang didekati orang. Tidak mungkin di lantai pertama karena tempat itu sangat ramai oleh orang yang berlalu-lalang. Lantai dua juga tidak mungkin karena di sanalah kamarnya juga kamar Elleinder berada. Lantai tiga masih mungkin apalagi lantai tertinggi Istana Vezuza. Dengan penuh percaya diri Arwain melangkah ke lantai tiga. Seperti dugaannya di tempat itu jarang ada orang. Yang tampak olehnya hanya pelayan-pelayan yang bertugas membersihkan tempat itu. Setelah lama mencari akhirnya Arwain menemukan sebuah tempat yang tidak tampak dihuni. Tidak seorang pun yang tampak di sana walaupun tempat itu sangat bersih. Lorong-lorongnya yang terang tampak kosong. Arwain tersenyum puas dengan temuannya itu. Walau tidak tampak seorang pun di tempat ini, ia yakin sang Putri berada di sini di lantai empat ini. Arwain mulai berjalan lambat-lambat dan berhenti di tiap pintu untuk mendengar bila ada kehidupan di dalamnya. Bila tak ada orang, Arwain membuka pintu yang tak terkunci itu dengan harapan sama yaitu melihat sang Putri. Tetapi besar. harapan Arwain tidak pernah terwujud. Dengan sedih ia melanjutkan pencariannya dan semakin lama semangat ingin tahunya semakin

23

Tiba-tiba Arwain merasa hawa dingin di sekitarnya. Rasanya seperti ada beratus-ratus orang yang tengah mengawasinya dengan mata tajam mereka dan siap menghunuskan pedang ke perutnya. Arwain melihat ke sekeliling lorong mulai dari atas hingga bawah tetapi ia tidak melihat seorang pun. “Mungkin hanya perasaanku saja,” kata Arwain pada dirinya sendiri tetapi pikiran Arwain mengatakan pasukan rahasia Kerajaan Aqnetta sedang mengawasinya. Arwain memarahi dirinya sendiri. Sejak tadi hingga saat ini ia sama sekali tidak ingat tempat ia berada saat ini adalah markas dari pasukan rahasia Kerajaan Aqnetta yang sangat terkenal. Tentu sejak tadi mereka telah mengawasinya. Celaka sudah dirinya! Sekarang seluruh pasukan Kerajaan Aqnetta akan mencurigainya. Arwain mengutuki dirinya sendiri dan kembali ke kamarnya. Walau ia telah meninggalkan lantai empat, perasaan diawasi itu masih tetap ada. Arwain merasa seluruh tubuhnya bergetar ketakutan membayangkan sekelompok pasukan rahasia sedang mencurigainya. Dengan terpaksa Arwain harus membatalkan pencariannya untuk hari ini. Ia harus beristirahat agar pasukan rahasia itu tidak curiga lagi padanya. Kalau ia berhasil, maka pasukan itu akan menganggap perbuatannya sepanjang siang ini hanya karena ia ingin melihat seluruh isi Istana Vezuza bukan memata-matai kegiatan di Istana Vezuza. Hari ini Arwain membatalkan pencariannya tetapi bukan berarti ia akan membatalkannya untuk seterusnya. Pagi ini setelah makan bersama Raja Leland, Elleinder diajak Raja Leland ke ruangannya untuk membicarakan pernikahannya. Kesempatan ini dimanfaatkan Arwain dengan baik untuk mulai mencari sang Putri. Pencariannya hari ini berbeda dengan pencarian kemarin. Hari ini ia mencari perhatian para wanita di Hall. Seperti yang dilakukannya kali ini, Arwain mendekati sekelompok wanita yang sedang berbincang-bincang. “Selamat pagi,” sapanya, “Maaf saya menganggu pembicaraan Anda. Kalau Anda tidak keberatan, saya ingin bertanya pukul berapa sekarang.” “Saat ini sekitar pukul setengah sepuluh.” “Sudah siang rupanya,” Arwain berpura-pura mengeluh, “Saya tak menyangka waktu terasa lebih cepat berlalu di negeri ini.”
24

“Anda tidak berasal dari sini?” tanya seorang wanita tertarik. “Saya berasal dari Kerajaan Skyvarrna.” “Anda berasal dari negeri yang luas itu rupanya. Ada keperluan apa Anda datang kemari?” tanya yang lain. Arwain puas mendapat perhatian dari para wanita itu. “Saya ke sini menemani teman saya menyelesaikan masalahnya di sini.” “Tampaknya masalah yang teman Anda hadapi itu bukan masalah mudah.” “Anda benar. Saya yang hanya sebagai penonton ikut pusing karenanya.” “Saya berharap dapat membantu Anda.” “Anda sudah membantu saya bila Anda mengijinkan saya memperkenalkan diri pada wanita-wanita yang cantik seperti Anda semua.” “Anda pandai memuji, Tuan.” “Saya berkata yang sejujurnya. Saya belum pernah melihat wanita yang secantik Anda semua. Saya yakin sang Putri kalah cantik dari Anda semua.” “Putri kami yang Anda maksud?” tanya seorang wanita. “Ya, kata orang ia cantik tetapi saya yakin ia kalah cantik dengan Anda semua.” Wanita-wanita itu tertawa geli. “Siapakah yang mengatakan hal itu pada Anda, Tuan?” “Putri kami sangat memalukan Paduka hingga Paduka melarangnya meninggalkan Istana Vezuza. Sejak lahir ia sudah buruk rupa karena itu Paduka tidak mengijinkannya keluar.” “Benarkah itu?” tanya Arwain pura-pura tak percaya, “Apa yang saya dengar sangat berlainan dengan yang Anda katakan.” “Kami mengatakan yang sebenarnya, Tuan. Semua orang di kerajaan ini juga tahu sang Putri sangatlah buruk hingga untuk menyebut namanya saja, Paduka malu. Kami dengar sang Putri sudah tua. Raja tampaknya sudah menyerah untuk mencarikan suami bagi putrinya itu.” “Siapa yang mau menikah dengan wanita yang sudah buruk, gemuk juga tua walaupun ia seorang Putri Raja?” “Orang yang menikah dengannya pasti orang gila.” “Saya setuju dengan Anda,” sahut Arwain tak mau kalah, “Hanya orang gila yang mau menikah dengan gadis seperti itu.” “Ia bukan seorang gadis muda lagi, Tuan,” kata seorang wanita mengingatkan, “Ia gadis tua.”
25

“Karena tua dan buruknya dia, Paduka sampai tak mengijinkannya meninggalkan kamarnya.” “Benarkah itu?” Arwain pura-pura tak percaya, “Tidak mungkin Paduka Raja Leland menyembunyikan putrinya sampai tidak mengijinkanya meninggalkan kamarnya.” “Itu benar, Tuan. Ayah saya telah bekerja di Istana ini selama berpuluhpuluh tahun tetapi belum pernah ia melihat sang Putri. Ia hanya tahu mengenai kelahirannya setelah itu ia tidak tahu apa-apa lagi tentangnya.” “Jadi apa yang saya dengar selama ini sangat salah,” gumam Arwain. “Benar, Tuan. Semuanya itu sangat salah.” “Kalau Anda tidak mempercayai kami, Anda bisa menanyakannya pada para pelayan di Istana ini.” “Anda jangan heran bila mereka mengatakan tidak pernah bertemu sang Putri.” “Saya akan mencoba saran Anda,” kata Arwain, “Terima kasih atas pembicaraan yang menyenangkan ini.” “Bila Anda sangat ingin tahu mengenai sang Putri, Anda bisa mencari Nissha. Kata ayah saya, wanita itulah yang merawat sang Putri sejak ia lahir.” “Terima kasih atas saran Anda. Saya akan mencarinya.” Arwain tersenyum puas ketika meninggalkan sekelompok orang itu. Elleinder akan sangat terkejut bila mengetahui apa yang dikatakan para wanita itu padanya. Mungkin ia akan membatalkan pernikahan konyolnya ini. Bila itu terjadi, Arwain sebagai temannya akan sangat senang. Arwain tidak perlu menemui pelayan yang disebut wanita itu. Ia yakin wanita itu akan mengatakan hal yang sama padanya. Ketika melihat Elleinder kembali ke kamarnya, Arwain segera menuju kamar pria itu. “Dari wajahmu, aku melihat engkau telah menemukan sesuatu yang sangat menyenangkan hatimu.” “Kau benar,” sahut Arwain, “Apa yang kutemukan ini pasti dapat mengubah semua rencanamu.” Elleinder hanya memandang tak percaya. “Aku yakin, Elleinder. Sangat yakin,” kata Arwain tegas. Elleinder tetap memandang tak percaya.

26

“Putrimu itu benar-benar seperti yang dikatakan orang-orang. Wanitawanita yang kutemui tadi mengatakan seperti apa rupa sang Putri tepat seperti yang kita ketahui. Mereka berulang kali menekankan sang Putri sudah tua.” “Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membatalkan pernikahan ini.” “Ia lebih tua darimu, Elleinder. Ia sangat tidak pantas untukmu.” “Engkau terlambat, Arwain. Aku dan Raja Leland telah mencapai kata sepakat untuk menikah secepat mungkin. Kami juga telah membicarakan di mana dan kapan kami akan menikah. Malam ini puaskan rasa kagummu pada Istana Vezuza sebab besok siang kita akan kembali ke Kerajaan Skyvarrna untuk melaksanakan apa yang telah kusepakati dengan Raja Leland.” Arwain hanya dapat terpana mendengar kata-kata tegas itu. Elleinder menepuk pundak Arwain. “Bersenang-senanglah malam ini. Hanya malam ini satu-satunya kesempatan yang tersisa.” Arwain tidak mengerti mengapa Elleinder secepat ini memutuskan pernikahannya. Elleinder dengan cepat memutuskan akan menikah di mana dan kapan. Masalah ini bukan masalah kecil tetapi kedua raja itu telah menyelesaikannya dalam sekali bicara. Tampaknya kedua raja merasa diuntungkan dengan pernikahan ini sehingga dengan cepatnya memutuskan akan segera menikahkan sang Putri dengan Elleinder. Arwain yakin Raja Leland merasa sangat lega karena pada akhirnya ada pria yang mau menikah dengan putrinya yang buruk rupa. Karena segalanya telah diputuskan berarti masa depan Elleinder juga Kerajaan Skyvarrna sudah jelas. Mereka akan mempunyai ratu yang buruk rupa dan sangat memalukan sepanjang sejarah Kerajaan Skyvarrna. “Tidak,” kata Arwain dalam hatinya. Arwain tidak mau mempunyai ratu yang memalukan seperti itu. Satu-satunya jalan untuk membuka mata Elleinder adalah mempertemukannya dengan pengasuh sang Putri. Arwain segera keluar mencari wanita itu. “Di mana Nissha?” tanya Arwain kepada pelayan yang ditemuinya di lorong. “Itu Nissha.” Pria itu menunjuk seorang wanita yang baru saja meninggalkan Ruang Perpustakaan. Arwain segera menghampiri wanita tua itu. “Mrs. Nissha,” panggilnya. Nissha berhenti. “Apakah saya mengenal Anda?” tanyanya heran.

27

“Saya Arwain, teman baik Raja Elleinder dari Kerajaan Skyvarrna. Saya tahu Anda adalah pengasuh sang Putri. Saya ingin bertanya pada Anda mungkinkah teman saya bertemu sang Putri.” “Maaf, Putri sangat sibuk,” kata Nissha ketus. Arwain tidak mengerti mengapa wanita itu bersikap ketus padanya. “Teman saya sangat ingin bertemu sang Putri sebelum menikah dengannya.” “Untuk melihat apakah Putri seperti yang orang-orang katakan?” tanya Nissha tajam. Arwain terdiam. “Paduka Raja Elleinder telah melamar Putri tanpa melihat seperti apa rupanya. Ia juga tidak peduli seperti apa sang Putri. Sekarang ia ingin bertemu Putri. Apakah ia ingin lebih mengolok Putri?” tanya Nissha ketus, “Apakah ia ingin semakin mempermalukan Putri dengan membatalkan pernikahannya setelah bertemu dengannya dan semakin memperbesar mulut orang-orang itu? Maaf, saya tidak dapat membantu Anda.” Nissha pergi dengan angkuhnya. Arwain terpana melihat wanita itu. Wanita itu tampaknya sangat mencintai sang Putri hingga tidak mau ada orang yang menjelek-jelekkannya. Itu berarti sang Putri memang seperti apa yang dikatakan orang-orang itu. Arwain yakin pada apa yang didengarnya tetapi Elleinder tentu tidak mau mempercayai apa yang baru saja terjadi ini. Dengan lesu Arwain kembali ke kamarnya. Tampaknya tidak ada jalan lagi untuk menyelamatkan Elleinder dari pernikahan konyol ini.

28

3

Hari pernikahan yang direncanakan akhirnya tiba. Dalam pertemuan antara Elleinder dengan Raja Leland, diputuskan untuk segera melangsungkan pernikahan. Dan untuk menunjukkan pernikahan ini untuk mempererat persahabatan dua kerajaan, pernikahan dilangsungkan di gereja yang paling dekat dengan perbatasan antara dua kerajaan. Pernikahan yang baru diumumkan setelah semuanya siap ini mengejutkan banyak kerajaan. Banyak yang menilai tindakan Elleinder sangat berani. Tidak ada seorang Pangeran pun yang mau menikah dengan Putri yang buruk rupa itu walau untuk menguasai Kerajaan Aqnetta. Yang pertama kali terkejut dengan rencana pernikahan ini tentu saja penduduk Kerajaan Skyvarrna. Tetapi mereka sudah terlalu terlambat untuk menghentikan Raja mereka. Semua hal yang menyangkut pernikahan hampir selesai ketika mereka tahu. Para pejabat istana pun baru tahu setelah Raja Leland menerima lamaran Elleinder. Yang diharapkan penduduk Kerajaan Skyvarrna hanya Raja mereka tahu tindakannya ini dan ia tidak menyesal menikah dengan Putri yang dikatakan sangat buruk rupa hingga Raja Leland sangat malu karenanya. Dalam pernikahan ini diundang banyak keluarga kerajaan dari kerajaan lain. Dan semua sudah hadir sebelum waktunya. “Lihatlah Gereja Chreighton sudah penuh,” kata Arwain yang hari itu menjadi pendamping pengantin pria, “Kurasa mereka lebih ingin melihat rupa sang Putri daripada pernikahanmu sendiri.” “Mengapa mereka belum datang?” kata Elleinder cemas, “Raja Leland berjanji akan datang tepat waktu.” “Engkau tidak sabar rupanya. Tidak mengetahui rupa calon istri saja sudah tidak sabar seperti ini belum lagi kalau tahu.” “Aku tidak mengerti mengapa Raja Leland sangat menyembunyikan putrinya. Bahkan ketika aku menanyakannya, ia mengelak mengatakan segala sesuatu tentang putrinya.”
29

“Kurasa ia benar-benar malu akan putrinya,” Arwain memberi pendapat. “Selama kita di Istana Vezuza, aku juga tidak dapat menyelidiki lebih jauh. Istana itu sangat ketat penjagaannya. Sampai sekarang aku masih ingat bagaimana aku merasa seluruh bulu kudukku berdiri ketika menginjak halaman istana.” Elleinder pun masih ingat suasana ketika berada di Istana Vezuza. Rasanya puluhan mata selalu mengawasi gerak-geriknya walau ruangan itu kosong. Penjagaan di Istana Vezuza memang sangat ketat bahkan lebih ketat dari penjagaan di Istana Qringvassein. Tidak heran kalau tidak ada yang berani mengusik kedamaian Istana Vezuza. “Tampaknya calon istrimu sudah tiba,” kata Arwain ketika melihat keributan di luar pintu Gereja Chreighton. Tak lama setelah Arwain mengucapkannya, Elleinder melihat seorang gadis yang berkerudung putih panjang memasuki pintu gereja dengan perlahan. Raja Leland dengan bangga menggandeng gadis itu ke arahnya. Sesekali ia mengangguk kepada orang-orang yang mengucapkan selamat padanya. “Seperti apa yang rupa gadis itu. Aku sama sekali tidak tahu apakah ia cantik atau jelek. Apakah ia gemuk atau tidak.” “Apa boleh buat,” kata Elleinder, “Dari rambut sampai kakinya tertutup kerudung putihnya yang panjang. Dan sepertinya kerudungnya sangat tebal sehingga sukar melihat wajahnya.” “Tampaknya Raja Leland benar-benar tidak mau putrinya terlihat siapapun sebelum engkau menikahinya.” “Tampaknya memang seperti itu.” Tiba-tiba Uskup berdehem cukup keras. Kedua pria itu segera menyadari kesalahan mereka. Mereka diam seribu bahasa dan terus menantikan gadis yang semakin dekat itu. “Gadismu datang,” bisik Arwain ketika gadis itu telah tiba di depan altar. “Saat ini adalah saat terakhir kita berhubungan sebagai dua Raja,” kata Raja Leland sebelum menyerahkan putrinya kepada Elleinder, “Aku ingin engkau menjaga putriku baik-baik.” “Tentu, Raja Leland,” jawab Elleinder. Raja Leland tersenyum. “Terimalah putriku. Aku berharap dia tidak mengecewakanmu dan engkau mau membahagiakannya,” katanya sambil mengulurkan tangan putrinya pada Elleinder.
30

Elleinder tertegun melihat tangan itu. Tangan yang terbungkus sarung tangan putih itu kecil dan jari-jari lentiknya terulur anggun. Perlahan tapi pasti Elleinder meraih tangan itu. Kembali ia tertegun ketika merasakan dinginnya tangan itu di tangannya. Tangan mungil itu terasa sangat tenang. Sama sekali tidak ada getaran khawatir atau sejenisnya. Juga tidak ada getaran gembira. Elleinder heran. Setahunya setiap gadis pasti akan gugup menghadapi pernikahannya tapi tangan gadis yang akan menjadi istrinya ini sama sekali tidak menampakkan kegugupannya. Tangan itu sangat tenang dan lembut. Segera setelah keduanya berlutut di depan altar, Uskup memulai upacara suci itu. Dalam keheningan yang sakral itu, Elleinder sama sekali tidak merasakan kecemasan sang Putri dan itu membuatnya semakin ingin tahu seperti apakah rupa sang Putri. Dalam upacara itu pula ia baru mengetahui nama sang Putri. “Illyvare,” gumam Elleinder dalam hatinya sesaat setelah mengucapkan janjinya. Keingintahuan Elleinder semakin besar ketika sang Putri mengucapkan janjinya dengan perlahan namun tetap tenang. Suara lembut itu mengusik keingintahuan Elleinder. Elleinder tahu ia harus bersabar hingga upacara selesai. Ketika Uskup akhirnya berkata “Dengan ini kalian resmi menjadi suami istri”, Elleinder sudah tidak sabar untuk menyingkap kerudung yang menutupi seluruh wajah istrinya. Dengan menahan perasaan ingin tahunya yang besar, Elleinder membuka kerudung itu perlahan-lahan. Ketika akhirnya kerudung itu benarbenar tersingkap, Elleinder tertegun. Entah untuk keberapa kalinya dalam upacara pernikahannya ini ia dibuat tertegun oleh istrinya yang tak pernah dilihatnya sebelumnya juga tidak pernah dilihat orang lain. Tetapi kali ini Elleinder bukan hanya tertegun tetapi juga terpesona oleh wajah cantik yang menatapnya dengan tenang. Wajah cantik itu tampak tenang setenang sinar bola matanya yang kecoklatan. Dengan rambut hitamnya yang indah yang disanggul rapi, gadis itu tampak anggun. Kulit putihnya bersemu rona merah muda yang membuatnya sangat manis. Sungguh merupakan suatu kejutan melihat istrinya ternyata jauh berbeda dari apa yang diperkirakan semua orang. Putri Illyvare sangat cantik
31

dan mungil seperti seorang peri. Kecantikkan timur yang lembut yang dimilikinya membuatnya tampak sangat anggun dan lembut. Uskup tampaknya juga tertegun melihat Putri kerajaannya itu. Ia tidak segera menghentikan Elleinder yang terus menatap lekat-lekat wajah Illyvare. Dibiarkannya mata terpesona Elleinder terus beradu dengan mata tenang Illyvare. Untung Elleinder cepat menyadari ia berada di tengah upacara pernikahan. Dengan perlahan seolah takut mengusik ketenangan gadis cantik itu, Elleinder mencium istrinya. Rupanya sang Putri masih merasa belum cukup membuat Elleinder tertegun dalam upacara pernikahannya ini. Sekali lagi Elleinder tertegun oleh dinginnya bibir sang istri. Bibir yang lembut itu dingin dan tenang. Rasanya semua yang ada pada gadis itu dingin dan tenang tetapi juga lembut. Setelahnya Uskup melanjutkan upacara dengan upacara peneguhan cincin pernikahan. Ketika akan memasukkan cincin pernikahan itu ke jari istrinya, Elleinder baru sadar cincin itu terlalu besar untuk istrinya. Seperti semua orang, ia percaya sang Putri gemuk dan ia menyiapkan cincin yang cukup besar. Tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya kalau sang Putri ternyata seorang gadis yang sangat cantik seperti seorang peri. Dengan perasaan bersalah, ia memasukkan cincin itu ke jari manis Illyvare yang tetap tenang dalam kediamannya. Setelah semua rangkaian upacara pernikahan selesai, keduanya masih tidak dapat meninggalkan gereja. Mereka masih harus menanti upacara penobatan mereka sebagai Raja dan Ratu Kerajaan Aqnetta. Dan untuk Illyvare, ia harus mengikuti upacara penobatan dirinya menjadi Ratu Kerajaan Skyvarrna. Mereka berdua terus berlutut di depan altar – membelakangi semua tamu yang ingin tahu seperti apakah rupa sang Putri. Dalam ketenangan penantian itu, Illyvare kembali teringat saat-saat ia mengetahui pernikahannya ini. “Putri! Putri Illyvare!” Illyvare memalingkan sekitarnya.
32

yang

berada

di

antara

kebun

bunganya tidak

yang ingin

tinggi, rambut

kepalanya

dengan

perlahan

seolah

panjangnya merusak kuntum-kuntum bunga warna-warni yang bermekaran di

Nissha yang terburu-buru lupa pada tujuannya semula karenanya. Nissha tidak pernah tidak mengagumi kecantikan Putri yang diasuhnya sejak kecil, ketika gadis itu berada di antara bunga-bunga di kebun bunganya. “Ada apa, Nissha?” Illyvare membuyarkan senyuman yang menghiasi wajah Nissha. Pertanyaan yang diucapkan dengan lembut itu membuat Nissha kembali teringat pada tujuannya semula. “Gawat, Tuan Puteri. Gawat sekali.” Illyvare hanya menatap pengasuhnya itu. “Baru saja Menteri Luar Negeri Kerajaan Skyvarrna meninggalkan Istana Vezuza.” Illyvare kembali melanjutkan kesibukannya merawat bunga-bunga di sekelilingnya dengan penuh perhatian. “Tuan Puteri!” panggil Nissha merajuk. “Aku mendengarkanmu,” sahut Illyvare sambil terus memilih bungabunga yang cukup tua untuk dipotongnya. “Dengarkanlah saya, Tuan Puteri. Masalah ini benar-benar gawat,” kata Nissha setengah memohon, “Ini menyangkut masa depan Anda.” Pandangan Illyvare menerawang jauh ke langit biru yang tak berujung sebelum ia kembali menatap Nissha. “Menteri Luar Negeri itu datang untuk menyampaikan lamaran Raja Elleinder pada Anda. Dan ayah Anda menerimanya.” Illyvare menatap Nissha dengan tenang. Nissha keheranan melihat Illyvare tetap tenang walau ia tahu ia harus menikah dengan seorang pria yang belum pernah ditemuinya. “Tuan Puteri?” “Tadi Calf menemuiku dan mengatakan semua hasil pembicaraan Menteri Perkins dengan mereka.” “Mengapa Anda tenang-tenang saja seperti itu, Tuan Puteri?” Nissha mengungkapkan keheranannya, “Masalah ini bukan masalah sepele. Ini menyangkut masa depan Anda.” Illyvare sambil menghela napasnya dengan pasrah. Kembali mata gadis itu menerawang jauh di langit biru yang tak berujung. “Langit sedemikian luasnya dan kita tidak tahu dan tidak dapat menentukan di mana ujungnya.” Nissha tidak mengerti apa yang dikatakan Illyvare. Dan ia tidak bertanya lebih jauh lagi. “Saya rasa Raja Elleinder mengajukan lamaran bukan karena ia mencintai Anda,” gumam Nissha.
33

Mendengar perkataan itu, Illyvare menggelengkan kepalanya. Dan tanpa berkata lebih banyak lagi, ia melanjutkan kesibukannya. “Ia pasti melamar Anda karena ia ingin menguasai Kerajaan Aqnetta. Anda sering berkata banyak yang ingin menguasai kerajaan ini sejak dulu. Pasti Raja Elleinder termasuk di antara mereka. Kalau tidak, ia tidak mungkin melamar Anda yang kata orang-orang, jelek dan gemuk dan entah apa lagi.” Sambil terus membantu Illyvare, Nissha terus berkata, “Saya tidak mengerti mengapa mereka mempunyai pikiran yang buruk-buruk tentang Anda.” “Aku tidak pernah menampakkan diriku pada siapapun selain pada kalian yang tinggal di Istana ini, Nissha,” Illyvare memberi penjelasan. “Tetapi tidak seharusnya mereka punya pikiran seperti itu walau Anda tidak pernah meninggalkan Istana.” Illyvare tahu percuma berusaha memberi penjelasan lebih banyak kepada Nissha. Dibiarkannya Nissha terus menggumam. “Putri! Putri Illyvare!” Kembali seseorang memanggil gadis itu. Kembali pula Illyvare memalingkan kepalanya dengan perlahan. “Paduka Raja Leland memanggil Anda,” kata prajurit itu, “Paduka ingin Anda menemuinya di Ruang Kerja.” Illyvare tahu kalau ayahnya memanggilnya ke Ruang Kerja, berarti apa yang akan dikatakannya ini sangat penting dan menyangkut Kerajaan Aqnetta. Illyvare tahu apa yang akan dibicarakan ayahnya padanya. “Paduka pasti memanggil Anda karena masalah itu,” Nissha memberi pendapat. Illyvare mengabaikan Nissha. Dengan tenang dan tanpa kecemasan ia berkata, “Bawalah keranjang ini ke kamarku.” Nissha keheranan melihat Illyvare yang tampak tenang walau tahu apa yang akan dibicarakan ayahnya. Gadis itu memang selalu tenang tetapi tidak pernah disangkanya bahwa ia sedemikian tenangnya hingga tetap tenang walau ada masalah besar yang menyangkut masa depan dan kebahagiaannya sendiri. Nissha terus memandangi punggung Illyvare yang semakin jauh dan akhirnya menghilang di balik pepohonan yang tinggi di halaman Istana Vezuza yang memagari Istana Vezuza. Illyvare tahu apa yang sedang dipikirkan pelayan sekaligus pengasuhnya itu tetapi ia tetap diam saja. Tanpa mengkhawatirkan apa pun, Illyvare terus
34

menuju Ruang Kerja. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan ayahnya padanya dan ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya. “Masalah apakah yang ingin Ayahanda bicarakan hingga memanggil saya sepagi ini?” tanya Illyvare dengan sopan. “Duduklah kegembiraannya. Illyvare menuruti perintah ayahnya. “Beberapa saat yang lalu Menteri Luar Negeri Kerajaan Skyvarrna datang untuk menyampaikan surat dari Raja Elleinder. Dalam suratnya, Raja Elleinder ingin melamarmu demi semakin mempererat hubungan kedua kerajaan. Aku telah menerimanya dan aku ingin engkau juga menerimanya dengan ikhlas.” “Saya mengerti, Ayahanda,” kata Illyvare, “Demi kesejahteraan penduduk Kerajaan Aqnetta, saya akan menikah dengan Raja Elleinder dengan segenap perasaan saya. Dan demi dua kerajaan saya akan melakukan tugas saya dengan baik.” “Bagus,” kata Raja Leland puas, “Engkau harus tahu pernikahan kalian ini akan membuat kemungkinan dua kerajaan ini menjadi satu dengan kalian sebagai engkau raja dapat dan ratunya. Aku baru saja memutuskan kita akan segera semakin tampuk menyerahkan tahtaku kepadamu setelah pernikahanmu. Dengan demikian dengan mudah membuat rakyat menjadi sejahtera.” “Saya lebih mengharapkan Ayahanda yang memegang pemerintahan Kerajaan Aqnetta sampai saya benar-benar siap,” kata Illyvare merendah, “Tetapi bila Ayahanda memaksa, saya hanya dapat melakukannya dengan sebaik-baiknya. Saya berharap kelak Ayahanda mau membantu saya yang belum berpengalaman ini.” Raja Leland tertawa senang karenanya. “Bagus. Bagus sekali,” katanya berulang-ulang, “Memang itu yang harus kaulakukan. Engkau sudah beruntung bisa dilamar oleh Raja dari kerajaan luas seperti Kerajaan Skyvarrna.” Illyvare terdiam mendengar kata ‘beruntung’ yang diucapkan dengan penuh kemenangan itu. Ia tahu yang lebih beruntung dengan pernikahan ini adalah ayahnya dan Kerajaan Aqnetta bukan dirinya. Illyvare tahu ia hanya sebagai suatu pion dalam penyatuan dua kerajaan sahabat ini, pion yang sangat penting.
35

dulu,”

kata

Raja

Leland

tak

dapat

menahan

luapan

“Karena pernikahanmu ini aku telah mengecewakan Calf. Aku tidak akan memaafkanmu kalau engkau tidak melakukan tugas ini dengan baik.” “Saya mengerti besarnya tanggung jawab yang berada di tangan saya ini. Saya tidak akan mengecewakan Ayahanda juga rakyat Kerajaan Aqnetta,” Illyvare berjanji. Raja Leland kembali tertawa senang dan penuh kemenangan. “Illyvare! Illyvare!” Illyvare terkejut mendengar panggilan yang semakin lama semakin keras itu. Dengan segera ia menguasai perasaannya kemudian dengan tenang memalingkan kepala pada pria yang kini menjadi suaminya. “Aku minta maaf.” Illyvare hanya menatap bingung sebagai jawabannya. “Cincin yang kusiapkan terlalu besar untukmu.” “Lupakan saja,” sahut Illyvare kemudian ia kembali menatap lurus ke depan. Elleinder terus memperhatikan Illyvare yang memandang lurus ke depan. Pandangan yang lurus dan jauh ke depan. Pandangan yang tenang. Illyvare tahu Elleinder sedang menatapnya namun ia tidak mempedulikannya. Sejak tahu ia akan menjadi Ratu dari dua kerajaan, Illyvare terus berdoa memohon bantuan-Nya agar dapat melakukan tugas beratnya dengan baik. Elleinder terus memperhatikan gadis itu menutup matanya setelah sekian lama menatap lurus ke salib Yesus di belakang altar. Tidak dapat dimengerti oleh Elleinder mengapa Raja Leland menyembunyikan putrinya yang sedemikian cantik bahkan malu karenanya. Gadis ini terlalu cantik untuk disembunyikan dari siapapun. Tidak ada suatupun pada diri Illyvare yang dapat menimbulkan perasaan malu. Elleinder menatap lekat-lekat bulu mata hitamnya yang lentik. Mulutnya yang menekuk lembut di bawah hidungnya yang mungil. Semua yang ada pada gadis ini tampak begitu indah untuk terus dipandang. Elleinder yakin ia takkan menemukan gadis yang jauh lebih mempesona dari Putri satu ini. Seorang wanita tua mendekati Illyvare. Elleinder melihat Illyvare merendahkan kepalanya seolah tahu apa yang akan dilakukannya. Kemudian gadis itu membiarkan wanita itu bersama pelayan-pelayannya yang lain melepas mahkota pengantinnya beserta
36

kerudungnya yang panjang.

“Semoga Anda berbahagia bersamanya, Tuan Puteri,” bisik Nissha sesaat sebelum meninggalkan gadis yang terus berlutut di depan altar itu. “Terima kasih, Nissha,” bisik Illyvare pula. Dan ia kembali tenggelam dalam doanya. Sesaat setelah itu, Raja Leland dengan pakaian kerajaannya yang lengkap dengan jubah merahnya yang panjang dan berjahitkan benang emas keperak-perakan, memasuki Gereja Chreighton dan terus menuju altar. Tampak seorang prajurit yang berpakaian seragam lengkap membawa sebuah mahkota yang bertahtakan emas dan berbagai macam batu indah di belakangnya. Beberapa prajurit lain yang juga berpakaian lengkap mengawal mereka dengan ketat. Elleinder melihat Illyvare masih terus memejamkan matanya walau tamu-tamu menjadi ramai karena terpesona pada mahkota Kerajaan Aqnetta yang indah. Elleinder tidak tahu apakah yang sedang dilakukan gadis itu. Ia hanya menduga gadis itu ingin menikmati saat-saat terakhir sebelum ia menjadi Ratu dan ia membiarkannya. Sesaat sebelum Raja Leland berdiri di depan mereka, Illyvare membuka matanya perlahan-lahan. Ia tahu saatnya sudah tiba dan ia telah siap menjadi Ratu dari dua kerajaan. Uskup muncul kembali di altar. Setelah itu Raja Leland baru melepas mahkota di kepalanya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala Elleinder. “Hari ini dalam pernikahan kalian, aku menyerahkan tahta Kerajaan Aqnetta kepada kalian,” Raja Leland memulai upacara penyerahan tahta, “Aku ingin kalian memerintah Kerajaan Aqnetta dengan jujur, adil dan bijaksana. Dan demi kemakmuran dan kebahagian seluruh rakyat Kerajaan Aqnetta, aku ingin kalian bersumpah dengan hati yang tulus.” Kemudian pada Elleinder, Raja Leland berkata, “Elleinder, hari ini aku mengangkatmu menjadi Raja dari Kerajaan Aqnetta menggantikan aku, Raja Leland. Engkau adalah Raja dari Kerajaan Skyvarrna dan aku ingin engkau tidak membedakan kedua kerajaan.” Kemudian Uskup mendekati Elleinder dan meletakkan tangan Elleinder di atas Kitab Suci. “Sebelum engkau menjadi Raja, aku ingin mendengar sumpahmu. katanya.
37

Sekarang

ucapkanlah

sumpahmu

dalam

kekudusan

Allah,”

“Saya, Elleinder, bersumpah tidak akan membedakan Kerajaan Aqnetta dari Kerajaan Skyvarrna dan akan melakukan segala sesuatu yang terbaik bagi kebahagiaan Kerajaan Aqnetta.” “Dengan demikian, sejak saat ini engkaukah Raja dari Kerajaan Aqnetta,” kata Raja Leland sesaat sebelum memasangkan mahkota itu di kepala Elleinder. Upacara penobatan masih belum selesai dan tidak seorang tamupun yang berani menganggu dengan tepuk tangan. “Illyvare, pada hari ini pula aku mengangkatmu menjadi Ratu Kerajaan Aqnetta, menggantikan ibumu, Ratu Saundra. Sebagai istri dari Elleinder, engkau harus membantunya melakukan segala tugasnya demi kesejahteraan Kerajaan Aqnetta.” Sekali lagi setelah Raja Leland berbicara, Uskup mengambil alih. Ia meletakkan tangan Illyvare di atas Kitab Suci dan berkata, “Sebelum menjadi Ratu Kerajaan Aqnetta, aku ingin mendengar sumpahmu. Sekarang ucapkanlah sumpahmu yang tulus dalam kekudusan Allah.” “Saya, Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta, Illyvare,” kata Illyvare tegas namun tetap tenang dan perlahan-lahan, “Bersumpah atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus akan membantu suami saya dalam memerintah Kerajaan Aqnetta. Demi kemakmuran Kerajaan Aqnetta dan kebahagiaan rakyatnya, saya bersumpah akan melakukan setiap tugas saya dengan sebaik-baiknya.” Raja Leland kembali menggantikan tugas Uskup. Ia mengambil mahkota lain dari prajurit tadi. Kemudian ia berkata, “Dengan ini aku mengangkatmu menjadi Ratu Kerajaan Aqnetta yang harus membantu setiap tugas suamimu.” Dan iapun memasangkannya di kepala Illyvare. Kemudian Raja Leland mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Raja Leland mengangkat tongkat emas yang tak kalah indahnya dengan mahkota Kerajaan Aqnetta di antara kedua Raja dan Ratu baru itu. “Ini adalah tongkat kekuasaan Kerajaan Aqnetta. Sekarang aku ingin kalian berpegang pada tongkat ini dan sekali lagi bersumpah akan memerintah bersama demi Kerajaan Aqnetta.” Elleinder segera melakukan apa yang diperintahkan Raja Leland diikuti Illyvare. Bersamaan keduanya berkata, “Kami bersumpah akan bersama-sama memerintah Kerajaan Aqnetta dan saling membantu demi kemakmuran Kerajaan Aqnetta.”
38

“Dengan ini resmilah kalian menjadi Raja dan Ratu Kerajaan Aqnetta. Atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus,” Uskup mengakhiri upacara penobatan, “Semoga kalian memerintah dalam nama kebenaran dan keadilan.” Akhirnya selesailah rangkaian upacara suci di Gereja Chreighton. Kembali Uskup menyalami mereka. Kali ini bukan selamat atas pernikahan mereka tetapi selamat atas pengangkatan mereka menjadi penguasa Kerajaan Aqnetta yang baru. Raja Leland juga tidak ketinggalan memberi selamat. Ketika menyalami Illyvare, ia berkata, “Jangan kecewakan aku.” Illyvare hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Suasana ramai memenuhi Gereja Chreighton setelahnya. Tamu-tamu sudah tidak sabar ingin melihat dari dekat wajah sang Putri dan memberi ucapan selamat kepada mereka. Prajurit yang tadi mengawal masuknya Raja Leland beserta mahkota kerajaan, segera membuka jalan bagi keluarga kerajaan itu. Dalam perundingan antara Elleinder dan Raja Leland, disepakati setelah menikah di Gereja Chreighton, Illyvare akan segera dibawa ke Istana Qringvassein. Alasan yang diberikan Raja Leland saat itu adalah putrinya pasti lelah setelah menjalani dua upacara dalam waktu yang berturut-turut dan ia tidak ingin putrinya jatuh sakit karenanya. Saat itu Elleinder hanya mengangguk sambil tersenyum dalam hati. Ia tahu Raja Leland tidak ingin orang lain tahu rupa putrinya yang buruk. Tetapi itu adalah saat itu. Saat ini sudah lain dari saat itu. Saat ini Elleinder menganggap apa yang dikatakan Raja Leland benar. Ia sendiri merasa sangat lelah setelah menjadi dua upacara yang cukup melelahkan dalam waktu satu hari. Belum lagi perjalanan panjang ke Istana Qringvassein yang harus ditempuh. Apapun alasan Raja Leland menyembunyikan istrinya dari orang banyak, Elleinder tidak tahu. Tetapi Raja Leland benar-benar menyembunyikannya dari siapapun. Mungkin karena keingintahuan para tamu yang besar, prajurit yang memagari mereka kewalahan. Di saat-saat genting sebelum mereka terdorong oleh para tamu itulah datang pasukan lain dalam jumlah besar yang segera membantu mereka. Entah dari mana mereka datang tetapi mereka tampak tiba-tiba muncul dari segala penjuru dan segera membuat pagar betis yang sangat kuat
39

sehingga Elleinder dan Illyvare dapat terus berjalan di lorong depan altar yang memisahkan kedua baris bangku umat itu. “Mungkin merekalah pasukan rahasia Kerajaan Aqnetta,” pikir Elleinder saat melihat kesigapan pasukan yang baru datang itu. Illyvare melihat Elleinder terus memperhatikan pasukan yang membukakan jalan bagi mereka. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu dan berkata, “Mereka pasukan Pengawal Istana.” Elleinder terkejut mendengarnya. “Pasukan Pengawal Istana?” Illyvare hanya mengangguk untuk meyakinkan Elleinder. “Tak heran kalau tidak ada yang berani mencoba kekuatan militer Kerajaan Aqnetta,” pikir Elleinder tanpa berhenti memperhatikan pasukan itu. Semua tampak tangguh dan kuat. Tidak seorangpun yang tampak lemah. Pandangan tajam mereka menyiratkan kekuatan yang tersembunyi. Benarbenar sekelompok pasukan yang tangguh. Pasukan Pengawal Istananya saja sangat tangguh seperti ini apalagi Angkatan Bersenjatanya yang lebih penting tugasnya yang bukan hanya melindungi keluarga Raja tetapi juga seluruh Kerajaan Aqnetta. Tanpa kesulitan mereka berhasil mencapai kereta yang telah dipersiapkan di depan pintu. Elleinder segera membantu Illyvare naik sebelum ia sendiri naik. Pasukan Pengawal Istana Qringvassein segera mengambil alih tugas Pasukan Pengawal Istana Vezuza. Mereka mengiringi kepergian kereta yang membawa Raja dan Ratu. “Untung kita berhasil lolos dengan mudah,” kata Elleinder setelah mereka agak jauh dari Gereja Chreighton. Illyvare tidak menanggapinya. Elleinder melihat gadis itu memandang lurus ke luar jendela. Ia menduga gadis itu masih enggan meninggalkan kerajaannya. “Suatu hari nanti kita pasti akan kembali lagi ke sini,” Elleinder mencoba menghibur Illyvare. Illyvare memalingkan kepalanya dan mengangguk. “Engkau tidak lelah?” tanya Elleinder – mencoba membuka percakapan. “Tidak,” jawab Illyvare singkat. “Lebih baik engkau tidur. Perjalanan ini sangat panjang. Ayahmu tidak ingin engkau sakit,” Elleinder membujuk Illyvare. “Jangan khawatir, aku tidak
40

akan mengganggumu. Aku sendiri sangat lelah dan yang kuinginkan saat ini hanya tidur.” “Lakukanlah,” kata Illyvare tanpa meninggalkan ketenangannya. “Tidurlah,” Elleinder kembali mencoba membujuk Illyvare, “Aku tidak akan menyentuhmu. Aku janji.” Elleinder pikir bila ia memberi contoh pada Illyvare, gadis itu akan mengikutinya. Maka ia menyandarkan punggung dan memejamkan matanya. Kesunyian yang ada di antara mereka membuat Elleinder menduga Illyvare telah mengikuti tindakannya. Diam-diam ia membuka mata dan terkejut melihat Illyvare masih tetap memandang ke luar jendela. “Mungkin ia masih malu,” pikir Elleinder, “Tapi tak lama lagi ia akan lelah dan akhirnya tidur.” Elleinder kembali memejamkan mata. Illyvare memandang tempat-tempat yang dilaluinya tanpa mengedipkan mata. Sungguh aneh ia sekarang Ratu dari kerajaannya sendiri, Kerajaan Aqnetta tetapi baru kali ini ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Daerah-daerah hijau itulah yang kini harus diperintahnya. Pendudukpenduduk yang ramah itulah yang kini menjadi rakyatnya. Ia sebagai Ratu harus bertindak bijaksana demi kemakmuran mereka. Diam-diam Elleinder memincingkan matanya. Lagi-lagi ia terkejut melihat Illyvare tidak bergerak sejak tadi. Ia tidak bisa melihat wajah gadis yang duduk membelakanginya itu tetapi ia bisa merasakan gadis itu terpesona oleh hal-hal baru yang dilihatnya. Elleinder tidak heran. Seumur hidup dikurung dalam Istana Vezuza yang luas tanpa mengenal dunia luar, pasti tak tahu apa yang ada di luar istana. Istana Vezuza memang indah dan luas tetapi lebih luas lagi daerah di luar Istana Vezuza. Elleinder tidak lagi berpura-pura tidur. Ia juga tidak mencoba membujuk Illyvare lagi. Elleinder mengerti Illyvare terlalu terpesona untuk merasa lelah.

41

4

“Kita telah tiba, Paduka!” “Akhirnya kita tiba juga. Aku sudah tidak sabar ingin beristirahat dan makan sesuatu. Tak kusangka upacara pernikahan dan penobatan ditambah perjalanan selama tiga jam membuatku menjadi lapar.” Illyvare diam seribu bahasa. Sejak tadi ia hanya melihat keluar jendela dan mengingat lingkungan yang baru pertama kali dilihatnya. Elleinder turun dari kereta kemudian membantu Illyvare. “Kami telah menantikan kedatangan Anda, Paduka,” sambut seorang pelayan. Kemudian ia membawa mereka memasuki Istana Camperbelt. Di dalam telah berdiri seluruh pelayan yang ada di Istana Camperbelt. Mereka berbaris rapi membentuk dua barisan. Satu di kanan dan satu di kiri. Mereka membungkuk hormat ketika melihat Elleinder dan Illyvare. Pelayan itu berkata lagi, “Ijinkanlah saya atas nama seluruh pelayan mengucapkan selamat atas pernikahan Anda.” “Terima kasih, Matt.” Illyvare hanya mengangguk perlahan tapi sikapnya telah menunjukkan rasa terima kasihnya yang tulus. “Kami yakin Paduka merasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Kami telah menyiapkan kamar untuk Paduka.” “Kurasa saat ini aku hanya ingin makan.” “Kami akan segera menyiapkan makan siang untuk Paduka.” “Sementara itu suruh pelayan membantu Illyvare mengganti gaun pengantinnya,” perintahnya. Kemudian pada Illyvare, Elleinder berkata lembut, “Kurasa sebaiknya engkau bersalin. Gaun pengantin itu pasti telah menganggu gerakmu.” Dengan gerakan tangannya, pelayan itu memanggil beberapa pelayan wanita. Tanpa banyak berbicara, Illyvare mengikuti para pelayan yang mengantarkannya ke kamar yang telah dipersiapkan untuknya. Ketika Illyvare sudah jauh, Elleinder kembali berkata, “Steele sudah datang?”
42

“Sudah, Paduka,” jawab Matt. “Anda mencari saya, Paduka?” Komandan Angkatan Laut Kerajaan Skyvarrna itu muncul dari belakang barisan para pelayan. “Pantas aku tak melihatmu,” gumam Elleinder. “Bagaimana, Steele? Semua sudah siap?” “Sudah, Paduka,” lapor Steele, “Sesuai perintah Anda. Kami sudah siap berangkat sore ini.” “Bagus,” kata Elleinder puas. “Lanjutkan tugasmu. Kurasa tak sampai sore, kami akan segera berangkat.” “Baik, Paduka.” Elleinder meninggalkan para pelayan itu. Seperti ketika Illyvare berjalan di antara mereka, para pelayan itu membungkuk hormat. Elleinder menuju kamarnya. Ia ingin beristirahat selama beberapa saat sebelum makan siang. Ia tidak merasa terlalu lelah tetapi kejutan yang dibuat istrinya membuatnya lelah. Hingga kini Elleinder tak mengerti mengapa gadis secantik itu disembunyikan Raja Leland dari masyarakat. Raja Leland juga diam saja ketika semua orang mengatakan putrinya gemuk dan jelek. Mengapa Raja Leland melakukan itu semua tidak dapat dijawab Elleinder. Hanya Raja Leland yang tahu mengapa ia melakukan itu mungkin Illyvare juga tahu. Tapi tak mungkin ia menanyakan hal itu pada Illyvare sendiri. Illyvare pasti sudah tahu apa kata orang tentang dirinya dan ia pasti dapat menduga bagaimana penolakan rakyat Kerajaan Skyvarrna ketika rajanya ingin menikahi dirinya yang tak jelas seperti apa. “Illyvare,” gumam Elleinder. Matanya menatap langit-langit kamar tapi yang muncul bukan lukisan indah di sepanjang langit-langit bukan juga patungpatung kecil di langit-langit. Elleinder melihat wajah Illyvare. Gadis yang cantik dan tampak lembut. Seorang gadis yang sangat lembut seperti wanita Timur. Daripada menjadi wanita Barat, Illyvare lebih cocok menjadi wanita Timur. Matanya yang hitam mengandung misteri Timur. Rambut hitamnya membingkai wajahnya yang cantik. Illyvare sangat elok. Tak pernah dalam hidupnya Elleinder melihat seorang gadis yang secantik Illyvare. Elleinder terus memandang bayangan wajah Illyvare yang tampak di langit-langit kamar.

43

Suara dentang lonceng tanda makan siang telah siap, mengejutkannya. Elleinder ingat ia sedang menanti makan siang yang disiapkan pelayan. Cepatcepat Elleinder mengganti pakaiannya. Tak lama setelah Elleinder merapikan dirinya, Matt mengetuk pintu. “Makan siang sudah siap, Paduka,” lapornya. Elleinder berjalan lambat ke Kamar Makan. Ketika melewati kamar Illyvare, ia melihat pintu itu masih tertutup rapat. Elleinder berpikir Illyvare masih sibuk berdandan dan ia semakin memperlambat langkahnya. Penjaga membukakan pintu Ruang Makan untuk Elleinder. Elleinder melangkah masuk dan tertegun. Seorang gadis duduk di bingkai jendela dan memandang jauh ke depan. Tubuhnya yang terbungkus gaun hijau cerah tampak elok. Perlahan gadis itu memalingkan kepala. Tanpa berbicara apa-apa, ia bangkit dan mendekati meja makan. Elleinder cepat-cepat menarik kursi untuk Illyvare. “Terima kasih,” kata Illyvare singkat. Elleinder duduk di kepala meja samping gadis itu. “Maafkan aku. Aku pasti telah membuatmu lama menunggu.” “Saya baru tiba.” Pelayan yang telah bersiap-siap di ruangan itu segera melayani mereka. Bergantian mereka masuk sambil membawa baki perak berisi makanan yang lezat-lezat. Mereka makan tanpa banyak bicara. Sampai pelayan membawa makanan penutup, Illyvare diam seribu bahasa. Setelah pelayan membawa masuk makanan penutup, Elleinder berkata, “Mari kita ke Ruang Duduk. Ada yang ingin kukatakan padamu.” Illyvare tetap tidak berkata-kata saat mengikuti Elleinder. Elleinder membuka pintu dan mempersilahkan Illyvare masuk. Setelah itu ia menutup pintu rapat-rapat. “Ada yang perlu kauketahui.” Illyvare diam memandang pria yang duduk di depannya. “Ini mengenai perjalanan kita ke Kerajaan Skyvarrna,” kata Elleinder, “Engkau pasti menduga kita akan melewati jalan darat. Tapi aku telah merencanakan kita akan melewati jalan laut. Saat ini laut sedang cerahcerahnya kupikir engkau pasti senang kalau kita lewat sana. Aku tahu engkau
44

ingin melihat dunia luar yang selama ini tak pernah kaulihat. Aku juga ingin engkau melihatnya.” “Kita akan berangkat hari ini juga. Kurencanakan kita berangkat nanti sore, tetapi aku merasa kita bisa berangkat lebih pagi dari yang kurencanakan semula. Sekarang engkau beristirahatlah dulu. Nanti bila hampir tiba saatnya untuk berangkat, aku akan menyuruh pelayan memanggilmu.” Illyvare beranjak bangkit. Elleinder juga bangkit. Ia memegang lengan Illyvare sebelum gadis itu pergi. “Aku berharap engkau tidur yang nyenyak. Perjalanan dari Kerajaan Aqnetta ke Istana Camperbelt pasti telah melelahkanmu. Dari rumah musim panasku ini, kita akan ke pelabuhan. Perjalanannya kurang lebih setengah lama perjalanan tadi.” Illyvare hanya melihat Elleinder dengan tenang. Elleinder termenung melihat Illyvare berlalu dari hadapannya dengan anggunnya tanpa menoleh lagi. Illyvare tahu ia tidak merasa lelah. Ia tidak akan dapat tidur seperti keinginan Elleinder. Illyvare terus melewati tempat tidur dan berdiri di serambi. Seperti kebiasaannya, ia memandang langit di kejauhan dan berpikir. Elleinder mengerti apa yang dirasakannya. Itu yang membuatnya heran. Ia tidak pernah mengatakan apa yang diinginkannya tapi pria itu tahu ia ingin melihat seluruh wajah dunia yang tidak pernah dilihatnya. Elleinder telah menunjukkan padanya rumah-rumah penduduk yang berjajar di tepi jalan. Hijaunya hutan rimbunnya pepohonan di dekatnya. Sekarang Elleinder akan menunjukkan padanya indahnya laut di saat menjelang musim gugur. Illyvare termenung. -----0----Elleinder mengetuk perlahan kamar Illyvare. Semula Elleinder ingin menyuruh pelayan membangunkan Illyvare, tetapi setelah dipikir-pikirkannya, ia merasa lebih baik ia sendiri yang membangunkan Illyvare. Sekarang, di sinilah ia – menanti jawaban Illyvare. Tidak ada jawaban dari dalam.
45

Elleinder mengira Illyvare masih tidur. Elleinder ragu membangunkan Illyvare. Ia yakin gadis itu kelelahan setelah perjalanan jauh pertamanya. Tapi saat ini kereta telah siap mengantar mereka. Perlahan-lahan Elleinder membuka pintu itu. Perlahan-lahan pula ia menutup pintu. Elleinder masih ragu membangunkan Illyvare. Elleinder melihat ke depan dan terkejut. Illyvare duduk di pagar serambi. Seperti tadi, matanya memandang jauh ke depan. “Illyvare.” Gadis itu masih tenggelam dalam dunianya. “Illyvare!” Elleinder meninggikan suaranya. Illyvare memalingkan kepalanya. Saat itulah Elleinder menyadari Illyvare tidak tampak telah tidur. Gadis itu masih tetap segar seperti ketika dua jam lalu ia duduk bersamanya di Ruang Duduk. “Engkau tidak tidur?” tanya Elleinder heran, “Mengapa engkau tidak beristirahat?” “Saya tidak mengantuk.” Elleinder memincingkan matanya dengan heran. “Engkau yakin engkau tidak lelah?” Illyvare mengangguk. “Kurasa sebaiknya aku mengundur keberangkatan kita. Aku tidak ingin engkau terlalu lelah akhirnya jatuh sakit.” Illyvare melihat ke bawah pada kereta yang telah siap di depan Istana Camperbelt. Elleinder ikut melihat Pengawal Kerajaan yang tengah menanti mereka kemudian berpaling pada Illyvare. “Mereka pasti mengerti keputusanku ini. Seperti aku, mereka juga tidak ingin engkau sakit.” “Raja yang baik tidak pernah mengecewakan rakyatnya,” kata Illyvare sambil berlalu dari sisi Elleinder. Elleinder segera mengikuti Illyvare. “Ratu yang baik tidak pernah membuat rakyatnya cemas,” balas Elleinder. Illyvare tidak membantah juga tidak mengatakan apa-apa. Ia mengambil topinya di atas tempat tidur dan membuka pintu. “Baiklah,” kata Elleinder menyerah, “Aku mengerti engkau ingin segera melihat laut.”
46

Lagi-lagi

Elleinder

membuat

Illyvare

heran.

Ia

tidak

mengatakan

keinginannya tapi Elleinder tahu ia ingin segera melihat laut biru yang membentang luas yang bertemu dengan langit biru. Dengan sigap, Elleinder mengangkat Illyvare ke dalam kereta dan menutup pintu setelah memberikan perintahnya pada prajurit yang mengawal mereka. “Kali ini,” kata Elleinder tegas ketika kereta mulai berjalan, “Aku ingin engkau tidur.” Illyvare tetap memandang keluar jendela. Melihat matahari yang tengah memancarkan sinarnya yang menyilaukan. Seperti tadi, Elleinder membujuk Illyvare. “Tidurlah. Aku tidak akan menyentuhmu.” Illyvare tetap membandel. Elleinder mengerti Illyvare ingin melihat tempat-tempat yang mereka lalui. Tapi ia juga mengerti Illyvare lelah. Walaupun gadis itu tak mengakuinya, Elleinder tahu. “Aku tidak akan menyentuhmu,” Elleinder meyakinkan Illyvare, “Aku juga akan tidur. Sejak tadi aku tidak beristirahat sedikitpun.” “Lakukanlah,” kata Illyvare tanpa berpaling. Tak sampai setengah jam kemudian, Illyvare merasa matanya lelah. Sejak siang tadi ia memaksakan matanya melihat hal-hal yang baru. Ia senang melihatnya dan tidak ingin melewatkan tiap tempat, tapi tubuhnya menolak. Tubuhnya yang tidak pernah dibawa pergi jauh merintih lelah dan membuat matanya lelah juga. Illyvare tidak dapat menahan rasa lelahnya dan akhirnya ia memilih menyandarkan punggung sebentar. Illyvare melihat Elleinder tidur dengan tangan terlipat di belakang kepalanya. Sesaat Illyvare ragu-ragu. Kemudian Illyvare duduk menjauh di pojok kereta dan beristirahat. Ia akan mengistirahatkan matanya sebelum memperhatikan pemandangan yang baru baginya itu. Entah berapa lama ia memejamkan mata, Illyvare sudah tidak tahu lagi tetapi ia dapat merasakan sesuatu menyentuhnya. Illyvare tidak tahu apakah itu ia merasa ia tidak mempunyai cukup tenaga untuk membuka matanya. Sesaat kemudan Illyvare merasa hangat. Seluruh tubuhnya terasa diselimuti oleh perasaan hangat dan aman. Angin yang beberapa saat lalu masih terasa menerpa tubuhnya tidak terasa lagi. Kehangatan itu membuatnya
47

merasa nyaman. Tanpa sadar, Illyvare semakin merapatkan diri ke asal perasaan hangat itu dan kembali terlelap. Tiba-tiba Illyvare merasakan angin dingin yang keras menerpa tubuhnya. Ia menggigil tapi kehangatan itu segera menyelimuti tubuhnya. Illyvare semakin membenamkan tubuhnya dalam kehangatan itu. Belum lama ia merasakan kehangatan itu ketika Illyvare merasa tubuhnya seperti dibuai. Gerakan-gerakan yang lembut membuatnya merasa seperti bayi yang sedang dibuai dalam gendongan. Tiba-tiba Illyvare merasa dingin. Tetapi kali ini tidak ada kehangatan yang menyelimuti tubuhnya. Illyvare mengerjapkan mata berulang-ulang ketika melihat dinding putih di depannya. Illyvare kembali teringat pada perasaan hangat yang terus menyelimutinya. Pada sepasang tangan kekar yang memeluknya dengan lembut. Tangan yang memeluknya erat-erat sehingga ia bisa tidur dengan nyenyak sepanjang perjalanan. Illyvare melihat sekeliling ruangan. Dalam kegelapan, ia hampir tidak dapat melihat apapun. Ruangan itu gelap hanya seberkas cahaya dari lubang jendela yang menyinari tempat itu. Didekatinya jendela bulat itu dan ia tertegun. Laut yang biru tampak hitam sehitam langit malam. Sinar-sinar bintang membuat laut tampak berkilau-kilau keemasan. Ombak-ombak kecil berlarian di permukaan laut. Di kejauhan tak tampak apapun selain warna hitam dan cahaya yang kemilauan. Langit juga tidak tampak. Laut dan langit bersatu dalam kegelapan malam. Keindahan laut di malam hari membuat Illyvare terpesona. Elleinder tertegun. Entah untuk keberapa kalinya Illyvare membuat dirinya terpesona. Beberapa saat lalu saat ia membaringkan Illyvare, ia melihat gadis itu tertidur sangat nyenyak. Demikian pula ketika ia berada dalam pelukannya. Illyvare yang telah tertidur di dalam kereta itu sama sekali tidak bergerak ketika ia meraih gadis itu dalam pelukannya dan membiarkan kepalanya terkulai lemah di dadanya selama perjalanan. “Engkau sudah bangun?” Illyvare berpaling. “Kukira engkau masih tidur. Tidurmu sangat nyenyak seolah engkau tidak akan bangun sebelum pagi.” Illyvare diam saja.
48

Elleinder tersenyum. “Sebaiknya aku memanggil Linty.” Illyvare menatap Elleinder lekat-lekat. “Kupikir ia akan sangat membantumu dalam perjalanan ini. Ia juga dapat menjadi temanmu,” kata Elleinder sambil tersenyum. Elleinder meletakkan lilin di meja tengah ruangan dan meninggalkan Illyvare. Sesaat kemudian seorang wanita muncul dengan tersenyum. “Selamat malam, Paduka. Nama saya Linty. Saya di sini bertugas melayani Anda. Kalau ada yang harus saya lakukan, jangan ragu untuk mengatakannya juga jangan ragu untuk memarahi saya bila saya berbuat salah,” wanita itu memperkenalkan dirinya dengan sopan. “Paduka Raja meminta saya membantu Anda membersihkan diri,” kata Linty pula. Illyvare tidak mengatakan apa-apa ketika wanita itu membantunya melepaskan gaunnya. Illyvare merasa segar kembali setelah mandi. Rasa lelah dan rasa kantuknya hilang bersama air mandinya. Ia merasakan kedinginan yang menyegarkan. Setelah menyikat rambut hitamnya, Linty mengundurkan diri. Illyvare mengawasi wanita itu hingga ia menghilang di balik pintu. Kemudian Illyvare duduk dan menatap keluar jendela. “Apa yang engkau pikirkan?” Illyvare melihat Elleinder mendekatinya. “Maukah engkau ikut denganku melihat laut musim gugur?” Elleinder tak menanti jawaban Illyvare. Dengan lembut ia menarik berdiri Illyvare dan menggandengnya keluar kamar. Angin dingin laut membuat Illyvare menggigil kedinginan. Tapi itu hanya sesaat, Elleinder memeluknya dan membawanya ke geladak kapal. “Indah bukan?” tanya Elleinder. Illyvare mengangguk. “Engkau masih kedinginan?” Pertanyaan itu hanya dijawab Illyvare dengan gelengan kepalanya. “Seharian ini,” kata Elleinder, “Aku hampir tidak mendengar suaramu. Apakah engkau marah padaku?” “Tidak,” jawab Illyvare singkat. “Baiklah, aku mengerti. Engkau mungkin marah padaku tetapi engkau tidak mau mengatakannya,” Elleinder mengalah.
49

Illyvare memperhatikan laut yang tampak hitam sehitam langit malam. Laut dan langit tampak seakan-akan bersatu dalam kegelapan. Sinar bintang di langit memantul di laut yang berombak dan membuat laut bersinar kemilauan. Angin laut yang dingin terus bertiup mengembangkan layar kapal. Kapal yang berjalan perlahan dibuai oleh ombak kecil. Illyvare senang merasakan buaian laut itu. Ia merasa seperti anak kecil yang dibuai oleh ibunya. Elleinder melihat gadis di sampingnya itu dengan heran. Perasaannya mengatakan gadis itu merasa senang tapi wajahnya tetap tenang. Elleinder ragu apakah gadis itu menyukai perjalanan laut ini. Diakuinya ia sama sekali tidak mengenal sifat istrinya yang ternyata berbeda jauh dari apa yang dibayangkannya juga dibayangkan semua orang. Elleinder kembali memandang laut. Perjalanan laut masih akan berlangsung seminggu lagi. Itu berarti masih seminggu koran. Elleinder yakin seperti dirinya, semua rakyatnya akan terkejut melihat rupa Putri Kerajaan Aqnetta. “Permisi, Paduka,” kata Linty ragu-ragu. “Ada apa, Linty?” tanya Elleinder. “Makan malam sudah disiapkan di kamar Paduka Ratu, seperti perintah Anda,” Linty melaporkan. “Terima kasih. Kami akan segera ke sana.” Kemudian pada Illyvare, Elleinder berkata lembut, “Mari, Illyvare.” Illyvare tidak berkata apa-apa ketika Elleinder menuntunnya kembali ke kamarnya. Meja di tengah kamar Illyvare telah diatur dengan rapi. Sepasang lilin putih dinyalakan di tengah meja yang juga dihiasi oleh mawar merah itu. Suasana di dalam kamar itu telah diubah sedemikian rupa menjadi romantis. Elleinder menarik kursi untuk Illyvare. Seperti tadi siang, Illyvare hanya diam saja. Elleinder terus memandang Illyvare yang berdiam diri sepanjang makan malam itu. Pelayan berlalu lalang membawakan makanan dan melayani mereka. Suasana di kamar Illyvare selama makan malam itu sunyi. Tidak seorangpun di antara mereka yang berbicara.
50

lagi

rakyat

Kerajaan

Skyvarrna

akan

tahu

rupa

Putri

yang

dinikahinya. Tetapi sebelum itu, pasti sudah ada berita tentang Putri Illyvare di

Illyvare, si gadis tenang, sepanjang hari memang selalu berdiam diri. Tetapi Elleinder sengaja berdiam diri. Ia tidak tahu apakah ia bisa membuat Illyvare berbicara. Sepanjang hari ini ini telah bertanya banyak dan mencoba membuat Illyvare berbicara tetapi Illyvare lebih banyak berdiam diri. Pelayan membawa pergi piring mereka. Elleinder diam memandang wajah Illyvare. “Ada masalah penting yang harus kukatakan padamu.” Illyvare diam mendengarkan. “Ini masalah pernikahan kita. Engkau harus tahu pernikahan ini adalah pernikahan politik belaka. Hubungan baik antara Kerajaan Aqnetta dan Kerajaan Skyvarrna telah terjalin selama berabad-abad. Aku berpikir alangkah baiknya bila hubungan ini dipererat. Karena itu aku melamarmu. Ayahmu telah mengerti keinginanku ini dan ia juga menganggap ini adalah ide baik. Dengan pernikahan ini aku juga ayahmu mengharapkan rakyat dari kedua kerajaan ini semakin akrab.” “Dan karena kita belum saling mengenal, aku ingin kita berhubungan sebagai teman. Engkau mengerti apa yang kukatakan ini bukan?” Sejak awal Illyvare juga mengerti ini adalah pernikahan politik biasa. “Aku senang engkau kemudian berkata, “Malam beristirahat.” Setelah Elleinder menghilang di balik pintu, Illyvare menuju jendela dan mengawasi langit. “Sejak dulu langit dan bumi tidak pernah bersatu. Kini langit dan bumi terlihat bersatu tetapi dalam kegelapan yang pekat,” kata Illyvare termenung. Illyvare menuju geladak. Dipandanginya langit tanpa sedikitpun berkedip. Rambut hitamnya yang basah dibiarkannya dipermainkan angin laut. Sampai rambut itu kering, Illyvare masih berdiri memandang laut. Gaun lengan panjang Illyvare membuat gadis itu tidak terlalu merasa kedinginan. Illyvare senang memandang laut dan langit yang bersatu itu seperti ia senang melihat hal-hal yang baru baginya. Elleinder telah menunjukkan banyak hal pada Illyvare. Entah apa yang akan ia tunjukkan pada Illyvare esok hari. mengerti.” Elleinder terdiam beberapa saat semakin larut. Kupikir sebaiknya engkau

51

5

“Illyvare!” Illyvare memalingkan perhatiannya dari laut biru. “Seharian aku melihatmu berdiri di sini. Engkau senang melihat laut?” “Ya,” jawab Illyvare singkat – seperti biasanya. Laut yang biru telah mempesona Illyvare. Di malam hari Illyvare dapat melihat laut seakan-akan bersatu dengan langit. Dan di pagi hari ia dapat melihat laut biru yang membentuk garis lurus dengan langit biru. “Laut memang indah. Aku senang melihatnya terlebih saat matahari terbit atau matahari terbenam. Engkau telah melihat matahari terbit pagi tadi?” “Ya.” Illyvare telah banyak mendengar tentang keindahan laut saat matahari terbit juga matahari terbenam. Pagi ini ia bangun pagi-pagi dan berdiri di geladak untuk melihat matahari terbit. Gadis itu telah membuktikan sendiri apa yang dikatakan banyak orang. Matahari yang terbit di laut memang tampak indah bahkan lebih indah dari apa yang dikatakan orang-orang. Sesaat sebelum matahari muncul, langit tampak kemerahan dengan sinar-sinar orange ikut mewarnai langit. Warna merah yang cerah itu mengusir langit malam yang gelap. Beberapa saat kemudian matahari yang tampak besar seolah-olah muncul dari dalam laut. Matahari terus muncul perlahanlahan sampai akhirnya ia menunjukkan seluruh wajahnya yang besar dan merah menyala. Saat itu Illyvare mengerti mengapa Nissha mengatakan sinar matahari pagi membawa harapan baru dalam hidup setiap orang. Malam yang dingin dan gelap terusir oleh sinar matahari yang terang dan menghangatkan. Sinar itu mencerahkan hati siapa saja dan memunculkan harapan baru di dalam hati yang melihatnya. Matahari siang memang tidak bersahabat terutama di musim panas, tetapi matahari pagi muncul dengan harapan-harapan baru.
52

Harapan-harapan baru yang dibawa matahari itulah yang berabad-abad lalu membangkitkan semangat para pelaut. Dimulai dari bangsa Mesir kira-kira tahun 2000 SM yaitu oleh orang yang bernama Hennu. Menurut kepercayaan bangsa Mesir pada jaman itu, dunia ini dataran bulat yang dikelilingi air. Mereka menyangka bahwa Sungai Nil berasal dari kumpulan air itu di selatan dan mengalir lewat sebuah gua di dalam gunung. Mula-mula Hennu membawa rombongannya menyeberangi gurun pasir ke ujung utara Laut Merah. Di sini mereka membangun kapal-kapal, lalu berlayar ke Punt melalui Laut Merah. Penduduk Punt ramah tamah. Hennu membuat kapal-kapalnya dengan barang-barang berharga, lalu kembali ke Mesir dengan selamat. Setibanya di tanah airnya kisah pelayarannya yang luar biasa dipahat pada sebuah batu. Kapal Hennu mempunyai dasar yang datar serta haluan dan buritan yang menonjol. Ia terbuat dari potongan-potongan kayu kecil yang disatukan dan diperkuat dengan tali dan kulit mentah. Tiangnya hanya satu berbentuk huruf V terbalik, sedang layarnya juga hanya satu. Kapal itu dikemudikan dengan dayung-dayung kasar yang dilekatkan pada sisinya. Bila angin tidak cukup baik untuk menggunakan layar, pengayuh-pengayuh yang berdiri mendayung kapal itu. Itulah kapal pertama yang dibuat manusia. Selain itu kira-kira tahun 3000 sampai tahun 1400 SM di Kreta muncul penjelajah-penjelajah besar. Bangsa menjelajah seluruh dunia Laut Tengah. Bangsa Minoan menggunakan kapal-kapal kecil menyerupai ember yang mempunyai satu layar. Serupa bangsa Mesir, mereka juga hanya dapat menggunakan layarnya bila angin berhembus dari buritan. Orang Minoan dapat melakukan hal-hal yang luar biasa dengan kapalnya yang kecil ini, yang hanya sedikit lebih besar daripada perahu dayung. Mereka tidak menggunakan jangkar dan di kapalnya itu mereka tidak mempunyai tempat untuk memasak dan tidak ada bilik untuk berbaring. Mereka harus berlabuh untuk makan, tidur dan mengumpulkan persediaan makanan dan minuman. Satu keuntungan bagi bangsa ini adalah Laut Tengah tidak banyak pasang surutnya. Kecuali selama beberapa musim, anginnya tidak berhembus
53

Minoan

yang

menempati

Kreta

ini

menyukai laut. Mereka adalah pelaut-pelaut yang selama berabad-abad

dengan

kencang.

Juga

banyak

pulau

tempat

mendarat.

Semua

ini

memungkinkan mereka untuk menjelajah Laut Tengah. Kira-kira tahun 1400 SM penyerbu-penyerbu biadab menaklukan Kreta. Perdagangan Laut Tengah yang sangat menguntungkan jatuh ke tangan bangsa Phunisia. Pada tahun 800 SM bentuk kapal Phunisia tidak lagi menyerupai ember, tetapi panjang dan ramping dengan lunas yang baik. Kapal-kapal itu juga menggunakan jangkar yang terbuat dari karung-karung kulir yang diisi dengan batu. Perkembangan lunas dan penemuan jangkar ini merupakan kemajuan besar dan pelayaran selanjutnya. Tahun 600 SM kapal-kapal Phunisia sudah berani melewati Selat Gibraltar memasuki Lautan Atlantik. Mereka menyusur pantai barat Eropa, menyeberang ke Pulau-pulau Scilly, bahkan mendarat di Inggris. Bangsa Kartago adalah penjelajah-penjelajah besar berikutnya. Kira-kira 500 tahun SM, suatu ekspedisi yang dipimpin oleh seorang nahkoda masyhur, Hanno, menemukai suatu pulau yang didiami oleh “orang-orang hitam kecil berbulu”. Hanno dan anak buahnya berhasil menangkap beberapa di antara “perempuan”, tetapi yang “laki-laki” berhasil lari. Yang disebut orang-orang itu tentu saja sama sekali bukan manusia, tetapi monyet. Selain mereka, masih banyak bangsa-bangsa lain yang menjelajahi dunia melalui laut. Pelaut terkenal di permulaan abad Masehi, Viking, gerombolan bajak laut dari Skandinavia melancarkan serentetan serangan yang menghancurkan terhadap Inggris, Perancis, Jerman, Irlandia, Itali dan Spanyol antara tahun 700 dan 1100-an. Mereka juga menjelajah dan menetap di Tanah Hijau dan Eslandia. Selama berabad-abad manusia mencoba menjelajahi dunia termasuk bangsa Eropa. Niat untuk menjelajah negeri Timur dimulai dari tulisan Marco Polo. Orang tua Marco Polo, Nicolo Polo yang seorang pedagang Venesia, ingin mengetahui apakah ia dapat langsung membeli barang-barang dari Cinda dan India, dan tidak melalui pedagang-pedagang Arab sebagaimana dilakukan kebanyakan saudagar saat itu. Dengan tekad bulat, ia dan saudaranya, Maffeo Polo berangkat dari suatu peabuhan di Laut Hitam pada tahun 1255. Di salah satu jalan kabilah besar dari Cina ke India, mereka bergabung dengan utusan-utusan Kublai Khan, kaisar yang memerintah Cina dan sebagian besar dari Asia.
54

Kublai Khan menyambut mereka dengan senang hati. Nicolo dan Maffeo tinggal selama 10 tahun di Cina. Tahun 1269 mereka kembali ke Venezia. Karena Kublai Khan ingin mereka kembali lagi ke Cina, mereka berangkat lagi dengan membawa Marco Polo, putera Nicolo Polo. Tahun 1271 Marco yang saat itu berumur 17 tahun berlayar dari Venezia ke Akko, pelabuhan besar di Palestina. Di Cina, Marco Polo banyak menulis catatan-catatan terperinci yang kemudian dibukukan dalam bukunya yang berjudul “Gambaran Dunia”. Buku inilah yang kemudian mempengaruhi banyak penjelajah untuk mengarungi samudera dan menemukan daerah-daerah baru di Timur yang kaya akan hasil alam dan emas. Tiba-tiba kapal berguncang keras. Elleinder cepat-cepat menarik Illyvare ke dalam pelukannya. Ia melihat sekeliling dengan cemas. Beberapa prajurit berlari lalu-lalang dengan panik. Sementara itu kapal terus bergerak dengan keras. Ayunan kapal yang tenang membuat Illyvare merasa terbuai tetapi ayunan yang keras ini membuat Illyvare merasa mual. Baru kali ini ia bepergian dengan kapal dan ia belum pernah mengalami guncangan sekeras ini. Sepanjang hari kemarin kapal terus berlayar dengan tenang. Illyvare merasa apa yang telah dimakannya pagi tadi mulai naik ke atas tenggorokannya. Illyvare mual dan kepalanya terasa pening. Illyvare bersyukur Elleinder memeluknya kalau tidak, Illyvare yakin ia akan jatuh pingsan. Kakinya terasa lemas sekali sementara itu matanya terasa berkunang-kunang. “Kurasa sesuatu telah terjadi,” kata Elleinder, “Sebaiknya aku membawamu kembali ke kamarmu.” Elleinder membopong Illyvare dan membawa Illyvare ke kamarnya sambil menyesuaikan diri dengan gerakan kapal yang tidak teratur. Illyvare, merasa ia terlalu lemah untuk melakukan sesuatu, menyandarkan kepalanya di pundak Elleinder. Elleinder melihat langit dengan cemas. Ia khawatir akan terjadi badai. Itulah hal yang paling tidak diharapkannya akan terjadi selama perjalanan ini. Saat ini Elleinder tidak dapat menanyakan apa yang telah terjadi. Illyvare berada di gendongannya dan ia tidak mau gadis itu menjadi khawatir kalau tahu sesuatu yang buruk telah terjadi. Illyvare melingkarkan tangannya di sekeliling leher Elleinder. Gadis itu menyembunyikan kepalanya di dada Elleinder dan mencoba mengatasi rasa
55

mual di perut dan lehernya. Matanya terus berkunang-kunang dan apa yang dilihatnya hanya membuat dirinya semakin pusing. Illyvare memejamkan mata. Elleinder merasakan tubuh Illyvare bergetar di pelukannya. Ia mengerti gadis itu ketakutan oleh hal yang baru pertama kali dialaminya ini. Elleinder semakin berhati-hati membawa Illyvare ke kamarnya. Linty yang sejak tadi menanti Illyvare, terkejut melihat Elleinder datang dengan Illyvare di gendongannya. “Cepat siapkan tempat tidur,” perintah Elleinder. Linty cepat-cepat membenahi letak bantal dan menarik selimut yang menutupi seluruh permukaan tempat tidur. Dengan hati-hati Elleinder meletakkan Illyvare di tempat tidur. Merasakan kelembutan tempat tidur, perlahan-lahan Illyvare membuka matanya. Elleinder terkejut melihat wajah pucat Illyvare. Tiba-tiba saja ia menyadari ia tak memperhitungkan kemungkinan Illyvare mabuk laut. “Maafkan aku,” kata Elleinder sambil menyelimuti Illyvare, “Aku sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan engkau mabuk laut.” “Ti… tidak apa… apa…,” kata Illyvare sambil mencegah tubuhnya memuntahkan kembali apa yang telah dimakannya pagi tadi. “Linty,” kata Elleinder, “Carikan obat untuk Illyvare.” “Baik, Paduka.” “Aku pun harus pergi, Illyvare,” kata Elleinder lembut. “Aku ingin mengetahui apa yang telah terjadi.” Illyvare menarik lengan baju Elleinder. Elleinder melihat tangan putih yang memegang erat-erat lengan bajunya itu. Elleinder meletakkan tangannya di atas tangan itu dan berkata lembut, “Jangan khawatir, Illyvare. Di sini engkau aman. Sebentar lagi Linty juga akan kembali. Ia akan menemanimu sampai aku datang.” Elleinder melepaskan pegangan itu dengan lembut. “Tunggulah Linty di sini.” Gadis itu mengangguk dan memejamkan matanya. Elleinder meninggalkan kamar Illyvare dan segera menemui Steele di ruang kemudi. “Apa yang terjadi? Apakah akan ada badai?” “Tidak, Paduka,” jawab Steele, “Guncangan tadi akibat kapal kita hampir menabrak karang. Kami telah berhasil menjauhi karang-karang itu tetapi
56

sebagian dari lambung kapal tertabrak akibatnya air masuk dan kapal menjadi tidak seimbang.” “Perintahkan beberapa orang untuk memperbaiki kerusakan kapal dan membuang air yang masuk.” “Paduka tidak perlu khawatir. Saya telah melakukannya.” “Untuk menghindari kerusakan yang lebih parah, kita harus mendarat di daratan terdekat. Di sana kita akan memeriksa kerusakan dengan lebih teliti. Jangan sampai ada kerusakan yang terlewatkan.” “Saya mengerti, Paduka.” Elleinder melihat laut yang tenang. “Aku berharap tidak terjadi badai selama perjalanan ini hingga kita sampai di Leiffberg.” “Saya juga berharap cuaca akan tetap tenang seperti ini hingga kita sampai di Leiffberg.” Elleinder mengawasi laut yang tenang. Steele mulai memeriksa kedudukan mereka dan membuka peta untuk mencari daratan terdekat untuk mendarat. Sementara itu di geladak, beberapa kelasi berlalu lalang kepanikan. “Paduka! Paduka!” “Ada apa, Linty?” “Gawat, Paduka,” kata Linty terengah-engah, “Paduka Ratu…” “Ada apa dengannya?” potong Elleinder panik. “Paduka Ratu tidak mau makan obat dan ia tampak sangat pucat. Saya sudah membujuknya tetapi ia tidak mau.” “Aku mengerti.” Elleinder menuju kamar Illyvare. Elleinder melihat wajah Illyvare tampak putih pucat. Gadis itu tampak sangat kesakitan. Elleinder duduk di samping Illyvare. Dengan satu tangannya, ia mengangkat tubuh Illyvare dan tangannya yang lain meraih obat di meja samping tempat tidur. Illyvare membuka matanya perlahan-lahan. “Mengapa engkau tidak mau minum obat? Engkau harus minum obat ini agar engkau merasa lebih baik.” “S…” Elleinder tidak melewatkan kesempatan baik ketika Illyvare membuka mulutnya. Cepat-cepat ia meraih gelas dan menyodorkannya di bibir Illyvare.
57

“Obat ini akan membuatmu mengantuk tetapi setelah engkau bangun nanti, engkau akan merasa lebih baik.” Illyvare meneguk sedikit air yang disodorkan di mulutnya. Illyvare takut air itu akan membuat perutnya semakin mual dan akhirnya ia memuntahkan semua yang ada di perutnya. Elleinder menyeka keringat dingin di kepala Illyvare yang tersandar di dadanya itu. “Keadaanmu sangat mengkhawatirkan aku, Illyvare. Aku akan menyuruh Steele mendarat di kota terdekat. Dari sana kita akan ke Istana Qringvassein dengan kereta kuda. Kita akan berjalan pelan-pelan agar engkau dapat pulih sebelum kita mencapai Skellefreinth.” Tangan Illyvare bergetar ketika ia berusaha meraih tangan Elleinder. Elleinder melihatnya dan ia cepat-cepat meraih tangan Illyvare. “Ti… ti… ti…dak… p… pe… per… lu…” “Perlu!” bantah Elleinder, “Kalau aku memaksa engkau pergi dengan keadaan seperti ini, engkau akan jatuh sakit. Itu adalah hal yang tidak kuinginkan. Rakyat kita pasti juga tidak ingin Ratunya sakit.” “Baiklah,” Elleinder cepat-cepat mengalah ketika melihat Illyvare hendak berkata, “Kita akan membicarakannya setelah engkau merasa lebih baik. Sekarang engkau beristirahat saja.” Illyvare mulai merasa mengantuk. Elleinder terus memeluk Illyvare sampai gadis itu tertidur. Elleinder membaringkan tubuh Illyvare dan menyelimutinya. Seperti dulu, ia senang melihat wajah cantik itu tidur dengan tenang. Tetapi kali Elleinder tidak ingin meninggalkan Illyvare. Elleinder ingin menjaga Illyvare. Elleinder meletakkan kursi di samping tempat tidur Illyvare. Melalui pintu yang menghubungkan kamarnya dan kamar Illyvare, ia kembali ke kamarnya untuk mengambil koran tetapi ia tidak membacanya. Elleinder mengawasi wajah Illyvare dengan penuh rasa ingin tahu. Sampai saat ini ia jarang mendengar suara Illyvare. Illyvare pendiam, sangat pendiam hingga kelihatannya ia marah pada Elleinder dan tidak mau berbicara dengannya. Sampai saat ini pula Elleinder tidak tahu mengapa gadis secantik Illyvare dikurung Raja Leland di Istana Vezuza. Gadis itu baik tidur maupun tidak tidur selalu tenang bahkan ketika ia sakit pun matanya tetap terlihat tenang. Mata hitam yang selalu tenang itu
58

indah dipandang. Hitam bagai gua yang tak berujung dan penuh misteri. Misteri kecantikan yang selalu memabukkan tiap orang untuk terus memandangnya. Diam-diam Elleinder mengakui ia senang melihat wajah cantik itu baik sedang tidur maupun tidak. Untuk saat ini lebih aman bila ia menatap lekatlekat wajah cantik itu saat gadis itu tidur. Kalau saat gadis itu bangun, Elleinder tidak tahu apa yang akan dilakukan Illyvare. Terdorong perasaannya, Elleinder membungkuk mencium bibir yang terkatup rapat itu. “Paduka.” Panggilan ragu-ragu itu membuat Elleinder terpaksa berpaling dari Illyvare. “Saya minta maaf telah mengganggu Anda,” Linty berkata hati-hati. “Aku yakin ada sesuatu yang hendak kaukatakan, Linty. Mengapa engkau tidak mengatakannya sekarang?” “Ini mengenai Paduka Ratu. Selama ini Paduka Ratu hampir tidak pernah berbicara dengan saya. Saya khawatir Paduka Ratu tidak mengerti apa yang saya katakan.” “Kupikir ia mendiamkanmu bukan karena Illyvare tidak mengerti, tetapi karena ia memang pendiam. Engkau tidak perlu khawatir, Linty. Aku melihat Illyvare menyukaimu hanya saja dia terlalu pendiam.” Linty lega Elleinder mengerti apa yang dikhawatirkannya. “Raja Elleinder memang orang yang pengertian,” pujinya dalam hati. “Hari ini engkau bebas tugas, Linty. Aku yang akan menjaga Illyvare untuk hari ini. Engkau dapat bersenang-senang.” “Terima kasih, Paduka,” kata Linty. Linty membungkuk hormat sebelum meninggalkan kamar itu. Elleinder kembali pada peri mungilnya yang cantik. -----0----Illyvare kesulitan membiasakan matanya dalam cahaya yang memenuhi kamarnya. Sinar yang menyilaukan itu membuat Illyvare melindungi matanya. “Engkau sudah bangun?” Illyvare mengerjapkan mata berulang kali sebelum ia benar-benar terbiasa dengan sinar itu.
59

Elleinder duduk di sisi Illyvare. Perlahan-lahan ia mengangkat badan Illyvare. Sementara tangannya yang lain menyangga punggung Illyvare, Elleinder menumpuk bantal di pinggiran ranjang. Elleinder masih bersikap hatihati ketika ia menyandarkan punggung Illyvare di tumpukan bantal itu. “Bagaimana perasaanmu sekarang?” “Saya baik-baik saja,” jawab Illyvare singkat. Elleinder tidak percaya. mendengarnya.” “Kita…,” Illyvare tidak merasakan buaian laut yang lembut, “Kita telah mendarat?” Elleinder tersenyum lembut. “Benar, kita sekarang sudah mendarat.” “Kita akan tetap melanjutkan perjalanan laut ini tetapi kita harus memeriksa lambung kapal. Guncangan siang tadi disebabkan kapal kita menabrak karang. Tabrakan itu menyebabkan lambung kapal koyak dan air masuk. Kerusakan itu telah dibenahi tetapi aku tetap memerintahkan kita mendarat di daratan terdekat. Aku ingin kerusakan diperiksa dengan lebih teliti sebelum melanjutkan perjalanan. Aku juga ingin pendaratan ini memulihkan keadaanmu.” Illyvare diam saja. Ia sadar apa yang diinginkan Elleinder benar. Setelah guncangan yang membuat ia mual tadi, Illyvare merasa ia perlu meninggalkan buaian laut yang dapat memabukkan itu. Tubuhnya harus sehat kembali agar dapat meneruskan perjalanan sampai akhir. Illyvare melihat jendela tempat sinar itu masuk. Ia ingin tahu apakah ini sudah saatnya matahari terbenam. “Belum terlalu terlambat untuk melihat matahari terbenam.” Illyvare mengalihkan perhatiannya. “Aku akan memanggil Linty untuk membantumu mempersiapkan diri.” Illyvare melihat tubuhnya dan memerah. Gaunnya telah ditanggalkan dari tubuhnya. Yang melekat padanya adalah gaun tidurnya. Ini sudah kedua kalinya Elleinder melihatnya berbaring di ranjang dengan mengenakan gaun tidur sutra yang lembut. Pertama kemarin sore lalu sore ini. Pintu diketuk seseorang lalu Linty muncul. Seperti biasa Linty tersenyum ramah sambil menyapanya, “Selamat sore, Paduka Ratu. Apakah Anda sudah merasa lebih baik?” Illyvare mengangguk. Gadis itu meninggalkan tempat tidurnya.
60

Ia meraba

kening Illyvare.

“Aku senang

Linty

dengan

cekatan

mengambil

gaunnya

dan

membantunya

mempersiapkan diri. Illyvare hanya dapat terpana ketika melihat di buritan kapal terdapat meja yang telah dihiasi dengan taplak putih dan pot bunga besar. Elleinder tersenyum ramah ketika mendekatinya. Pria itu mencium tangannya. “Kita akan makan siang di sini. Engkau senang?” Illyvare melirik matahari yang hampir terbenam. Elleinder tertawa geli. “Baik. Aku ralat makan sore sebagai ganti makan siang kita yang terlewatkan.” “Aku berkata ingin mengenalmu karena itu aku juga ingin makan bersamamu.” Elleinder membimbing Illyvare ke meja makan. Seperti yang sering dilakukannya, Elleinder menarik kursi untuk Illyvare sebelum ia duduk di hadapan gadis itu. Pelayan mulai melayani mereka. Matahari yang terus mendekati wajah bumi menyinari mereka. Sinarnya yang merah terasa hangat. Angin laut yang bertiup sepoi-sepoi meramaikan suasana. Ombak laut membuai perahu. Suasana makan siang seperti ini tidak pernah dibayangkan Illyvare. Sangat romantis. Berdua menyantap makan siang sementara matahari menyinari mereka, angin memabukkan mereka dan laut membuai mereka. Elleinder berdiri di samping Illyvare yang tengah memandang matahari yang mulai memasuki peraduannya. Langit membara terang. Matahari tampak sangat besar dan sinarnya yang jatuh di permukaan laut membuat laut tampak merah. Di sekeliling matahari tampak pelangi yang mempesona. Tidak seorangpun dari mereka yang berbicara. Juga para pelayan yang tengah merapikan meja makan. Elleinder mengira Illyvare akan terpesona melihat keindahan alam itu. Ia terkejut ketika melihat Illyvare dan mendapati gadis itu tetap tenang. Ketika matahari sudah benar-benar memasuki peraduannya dan meninggalkan sinarnya yang membara pun, Illyvare masih tetap tampak diam membisu. “Bagaimana berbicara. “Seperti tiara laut,” jawab Illyvare singkat.
61

menurutmu?”

Elleinder

sengaja

memancing

Illyvare

Untuk sesaat Elleinder kebingungan mendengar jawaban itu. Ia melihat laut di kejauhan dan mengerti apa yang dikatakan Illyvare. Sinar merah matahari di permukaan laut tampak seperti permata yang tiada taranya. Benar-benar permata laut yang indah. Illyvare melihat sekeliling kapal yang sepi. “Malam ini mereka berkemah di daratan. Besok mereka akan kembali memeriksa kapal. Ketika kita mendarat tadi, hari sudah sore dan pemeriksaan belum selesai. Menurut perhitunganku, besok siang kita sudah akan berlayar kembali.” Illyvare melangkah ke geladak kapal. Dari situ ia melihat prajurit-prajurit yang mengawal mereka telah mendirikan tenda. Sekarang mereka tengah bercakap-cakap sambil mengelilingi api unggun. “Apa yang akan kaulakukan?” Elleinder kaget ketika Illyvare menuju tangga tali kapal. Elleinder cepat-cepat menarik Illyvare. “Saya merasa kita tidak adil. Mereka tidur di tanah sementara kita tetap di kapal.” “Mereka yang ingin berkemah, Illyvare,” kata Elleinder lembut, “Aku tidak melarang kalau mereka ingin tidur di kapal. Kurasa mereka sudah merindukan daratan.” Illyvare memandang pantai di kejauhan. Elleinder berkata tegas, “Engkau masih belum sehat benar. Jangan sampai engkau tidur dengan angin dingin sepanjang malam terus menerpamu. Malam ini engkau harus tidur di kamarmu yang hangat!” Belum habis kekagetan Illyvare mendengar nada-nada tegas dan memerintah itu ketika tubuhnya tiba-tiba terangkat. “Angin malam laut musim gugur sangat kejam. Ia akan membuatmu sakit. Kalau itu terjadi, aku akan membatalkan perjalanan ini walau engkau tidak suka.” Illyvare hanya berpegangan pada pundak Elleinder yang lebar dan membiarkan pria itu membawanya ke kamarnya. Linty telah menyalakan lilin-lilin. Wanita itu tersenyum ramah ketika melihat mereka. “Selamat malam.” “Selamat malam, Linty.” “Bila Anda mengijinkan, Paduka, saya ingin berkumpul dengan yang lain.” “Lakukan apa yang kaumau, Linty,” kata Illyvare.
62

Linty terpana mendengarnya. Kemudian ia tersenyum senang dan membungkuk badan dalam-dalam sebelum meninggalkan mereka berdua. Elleinder menurunkan Illyvare dengan hati-hati. “Aku tahu engkau bisa bahasa kami.” Illyvare diam saja. “Linty khawatir engkau tidak dapat mengerti Bahasa Latin Kuno. Sekarang ia tidak perlu khawatir lagi. Engkau dapat berbicara bahasa itu dengan fasih. Dan, sepertinya aku tidak harus berbicara dalam bahasamu.” Pelajaran bahasa Latin Kuno adalah satu di antara pelajaran-pelajaran lain yang diterima Illyvare. Raja Leland berulang kali menegaskan Illyvare harus bisa menggunakan bahasa yang menjadi induk hampir semua bahasa di Eropa ini. “Hari ini masih panjang. Bagaimana kalau kita bermain kartu atau catur sambil berbicara tentang sesuatu yang menarik?” “Saya tidak mempunyai apa pun untuk diceritakan.” “Sebaliknya, Illyvare, aku berpendapat engkau mempunyai banyak hal menarik yang dapat kauceritakan.” Illyvare diam saja. “Aku akan mengambilnya di kamarku.” Tak lama kemudian Elleinder kembali bersama kotak catur dan sebuah buku tebal. Elleinder menunjukkan buku itu pada Illyvare. “Aku menemukan buku ini ketika mencari catur ini. Kulihat engkau sangat menyukai laut. Aku yakin engkau akan menyukainya.” Illyvare melihat judul buku itu itu. “Gambaran Dunia” begitu judulnya. “Buku ini ditulis oleh Marco Polo,” Elleinder menjelaskan, “Ia banyak bercerita tentang Negara-negara Timur. Tentang kerajaan yang semuanya berlapis emas, negeri-negeri yang subur. Semuanya ada.” “Bukan oleh Marco Polo,” Illyvare membenarkan, “Tetapi oleh seorang pengarang populer yang bernama Rusticello dari Pisa.” “Tak kuduga engkau banyak tahu tentang buku ini,” Elleinder terkejut. Illyvare tidak menanggapi. Elleinder melihat pembicaraan tentang buku ini dapat membuat Illyvare berbicara panjang lebar. Pria itu tidak membuang kesempatan ini. “Mengapa bukan Marco Polo sendiri yang menulisnya?” “Waktu itu Marco Polo ditangkap dan dipenjara oleh tentara Genoa. Sewaktu di dalam penjara itulah Marco Polo memutuskan untuk membukukan
63

kisah perlawatannya. Dengan bantuan catatan-catatannya, ia mendiktekan pengalaman-pengalamannya kepada Rusticello yang waktu itu juga terpenjara bersamanya. Rusticello menterjemahkan cerita itu ke dalam bahasa Perancis Kuno, bahasa sastra Itali di abad 13. Buku itu selesai tahun 1298.” Elleinder senang pada akhirnya ia berhasil membuat Illyvare berbicara panjang. Tapi ia harus puas sekali membuat Illyvare berbicara banyak. Selanjutnya Elleinderlah yang banyak bicara. Illyvare lebih banyak membenarkan atau mendengarkan. Mereka berbicara sampai larut malam hingga membuat Illyvare khawatir ia tidak dapat bangun sepagi yang ia harapkan. Tetapi pagi ini ia sudah membuka matanya ketika hari masih gelap. Illyvare masih ingat benar apa yang mereka bicarakan sepanjang malam hingga lewat tengah malam. Mereka berbicara tentang Marco Polo yang merupakan penjelajah pertama yang menempuh seluruh Asia dari barat ke timur dan kembali lagi. Elleinder menjelaskan apa saja yang ada dalam buku “Gambaran Dunia.” Bagaimana Marco Polo menyebutkan semua kerajaan yang dilaluinya dan melukiskan negeri-negeri dan rakyatnya. Elleinder juga menjelaskan bahwa di dalam buku itu dijelaskan bahwa Marco Polo adalah orang yang pertama yang mendaki dataran Pamir yang tinggi di Asia Tengah dan menceritakan tentang gurun-gurun Parsi yang penuh bahaya. Ia adalah orang Eropa pertama yang melukiskan kehidupan rakyat Cina. Marco Polo juga menggambarkan kehidupan di Tibet, Burma, Siam, Srilangka dan India. Semua negeri ini sudah dikunjunginya. Tetapi ia juga menceritakan tentang negeri-negeri berbatasan yang diketahuinya keadaannya dari orang lain. Ia bicara mengenai Jepang dengan angkatan lautnya yang kuat dan diceritakannya tentang kereta luncur yang ditarik anjing, tentang rusa-rusa dan beruang-beruang kutub di Siberia dan daerah-daerah Kutub Utara yang beku. Dalam bukunya yang diberi judul “Gambaran Dunia” Marco Polo menceritakan tentang kerajaan Kublai Khan yang makmur dan maju, tentang kekayaan kerajaan itu, perdagangan, jalan-jalan dan terusan-terusannya yang panjang. Ia juga menceritakan tentang sistem pos Khan yang terdiri dari jaringan stasiun-stasiun kurir di seluruh kerajaannya. Penunggang-penunggang kuda
64

menyampaikan berita-berita secara beranting dari stasiun yang satu ke stasiun yang lain. Semua itu diceritakan Elleinder kepadanya kemarin malam. Sepanjang malam Illyvare mendengar bagaimana Elleinder menjelaskan isi buku itu padanya. Illyvare sudah membaca buku itu tetapi ia tetap tertarik mendengar penjelasan Elleinder. Mereka keasyikan membahas buku itu hingga tidak sadar hari telah berganti dan saat mereka sadar, waktu menunjukkan hampir pukul setengah dua. “Sudah hampir pukul setengah dua?” kata Elleinder tak percaya ketika melihat jam. “Tak kuduga kita terlalu larut membicarakan buku ini hingga dini hari.” Illyvare juga tidak menyadari waktu terus berjalan sementara ia asyik mendengar Elleinder berbicara. “Kurasa kita harus tidur sekarang juga kalau tidak ingin kita bangun lebih siang,” kata Elleinder sambil menutup buku, “Aku khawatir kita akan bangun terlambat.” Elleinder meletakkan buku itu di meja lalu mendekati Illyvare. “Tidurlah yang nyenyak,” Elleinder mencium dahi Illyvare, “Selamat malam.” Setelah Elleinder menghilang di balik pintu, Illyvare berganti gaun tidur lalu naik ke tempat tidur. Seperti Elleinder, ia juga khawatir akan kesiangan. Tetapi saat ini ia sudah membuka mata. Sayup-sayup Illyvare mendengar keramaian di kejauhan. Illyvare tahu suara ramai itulah yang membangunkannya sepagi ini. Illyvare tertarik untuk mengetahui apa yang menyebabkan suara itu. Illyvare membuka lemari bajunya dan mencari mantel yang tebal. Kemudian ia menuju geladak yang menghadap pantai. Di pantai prajurit-prajurit sudah terbangun. Terlihat beberapa api unggun sudah padam dan meninggalkan asap membumbung tinggi. Beberapa masih menyala terang. Sejumlah prajurit menuju ke bagian pantai yang menjorok ke laut dan melemparkan sesuatu ke dalam laut. Yang lain ada yang masih berada dalam tenda tetapi ada juga yang menghidupkan api unggun kembali. “Sepertinya mereka yang membuat kita terbangun.” Illyvare membalikkan badan.
65

“Entah apa yang membuat mereka ribut seperti ini,” Elleinder mendekati Illyvare, “Sangat ribut sampai suara mereka terdengar di sini.” Illyvare melihat keramaian di pantai. “Aku rasa mereka sedang memancing. Aku ingin sesekali sarapan dengan ikan bakar. Engkau mau ikut?” Tanpa perlu bertanya pun Elleinder tahu Illyvare mau. “Kita harus berganti baju dulu,” Elleinder mengajak Illyvare kembali ke kamar mereka masing-masing. Ketika sampai di depan pintu kamar Illyvare, Elleinder berkata, “Aku akan menunggumu di sini.” Illyvare segera masuk dan cepat-cepat merapikan diri. Gadis itu ingin segera turun melihat keramaian di pantai. Illyvare membiarkan rambut panjangnya terurai kemudian ia mengambil mantel coklatnya. Ketika Illyvare keluar, Elleinder juga baru keluar dari kamarnya. “Dengan gaun biru cerah itu, engkau tampak seperti peri yang baru muncul dari laut,” puji Elleinder. Illyvare diam termenung. Elleinder mengambil mantel tanpa lengan di tangan Illyvare kemudian mengenakannya pada Illyvare. “Lebih baik engkau memakai mantelmu. Di bawah sana lebih dingin dari di sini.” Elleinder membawa Illyvare ke geladak. Illyvare melihat laut di sekeliling kapal mereka. “Kita akan ke pantai dengan perahu kecil,” Elleinder menjelaskan. Illyvare melihat di bawah telah ada sebuah perahu kecil. “Aku akan turun dulu untuk menjagamu,” kata Elleinder kemudian pria itu menuruni tangga tali di samping kapal. Setelah menuruni beberapa tangga, Elleinder berkata pada Illyvare, “Turunlah, aku menjagamu.” Illyvare mengikuti apa yang disuruh Elleinder. Elleinder benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Pria itu menjaga Illyvare dalam setiap langkahnya. Ketika Elleinder sampai di perahu, ia segera mengangkat tubuh Illyvare dari tangga. Illyvare memegang erat-erat lengan Elleinder sampai ia terbiasa oleh ombak yang menghantam perahu kecil itu. Elleinder membantu Illyvare duduk di perahu kemudian ia duduk dan mulai mendayung.
66

Ketika mereka mulai meninggalkan kapal besar itu, Illyvare melihat beberapa perahu mengikuti mereka. Illyvare tahu prajurit yang ada di dalam perahu itu adalah pasukan pengawal Raja dan Ratu. Semakin mereka menjauhi kapal besar itu, Illyvare semakin tahu sebesar apa kapal itu. Kapal itu sangat besar dan kokoh. Tiang-tiang layarnya berdiri tegak menjulang ke angkasa seolah-olah memamerkan kekuatan mereka. Kapal yang berdiri di lautan itu tampak terayun-ayun oleh ombak besar. Kapal dengan laut biru yang membentang luas itu tampak seperti lukisan di dini hari. Semakin mereka menjauhi kapal, semakin luas laut yang tampak oleh mata. Laut yang terhampar di depannya, tampak hitam dan memantulkan sinar kemilau bintang-bintang yang mulai memudar. Elleinder melihat gadis yang duduk di hadapannya itu memandang jauh. Pria itu terus mendayung kapal ke pantai. Orang-orang yang berada di pantai tidak menyadari kedatangan Elleinder dan Illyvare. Mereka terlalu sibuk dengan keramaian mereka sendiri. Elleinder melompat ke pantai ketika mereka tiba. Elleinder mencegah Illyvare yang hendak melompat juga. Elleinder menarik perahu kecil itu ke pantai yang tidak tergenang air lalu mengangkat Illyvare keluar dari perahu. Perahu-perahu lain yang mengikuti mereka juga mulai mendekati pantai. Tetapi baik Elleinder maupun Illyvare tidak menanti mereka. Mereka berdua berjalan ke tenda-tenda di depan mereka. Semua orang di sana tidak menyadari Raja dan Ratu mereka telah berada di dekat mereka hingga salah seorang yang kebetulan melihat ke arah laut, melihat mereka berjalan mendekat dengan sejumlah pasukan di belakang mereka. “Paduka Raja dan Paduka Ratu datang!” teriaknya.

67

6

Orang-orang itu terkejut. Beberapa dari mereka sibuk merapikan tempat itu dan beberapa sibuk menyambut. “Selamat pagi, Paduka,” kata Steele kebingungan, “Maaf tempat ini kotor.” “Selamat pagi,” balas Elleinder, “Apakah kalian dapat tidur nyenyak?” “Ya, Paduka.” “Apa yang sedang terjadi hingga keributan kalian terdengar sampai ke kapal induk?” “Maafkan kami, Paduka,” Steele merasa bersalah, “Beberapa dari kami tiba-tiba memutuskan untuk makan pagi dengan ikan bakar. Tetapi dari tadi kami belum mendapat seekor pun. Itulah yang membuat kami ribut. Kami sungguh menyesal telah menganggu istirahat Anda, Paduka.” “Tidak apa-apa, Steele,” kata Elleinder, “Kami ke sini bukan untuk marah tetapi untuk ikut makan pagi dengan ikan bersama kalian.” Elleinder melihat sekeliling. Beberapa orang tampak menanti umpannya dimakan ikan dan beberapa yang menyadari kedatangan mereka, sibuk merapikan peralatan untuk segera menyambut. “Sudah lama aku tidak memancing,” kata Elleinder tiba-tiba, “Masih ada alat yang tersisa?” “Ada, Paduka,” kata Steele. Kemudian Steele memanggil seseorang yang berada di dekat mereka. Elleinder melihat Illyvare. “Engkau mau di sini atau ikut bersamaku?” Sebelum Illyvare menjawab, Elleinder berkata, “Aku tahu engkau pasti ingin ikut bersamaku.” Illyvare tak menanggapi. Tak lama kemudian seseorang mendekati Steele sambil menyerahkan sebuah alat pancing. “Ini alatnya, Paduka,” Steele menyerahkan dengan hormat. “Terima kasih, Steele.” Illyvare mengikuti Elleinder ke tempat prajurit yang lain memancing.
68

Prajurit-prajurit itu segera berdiri dan membersihkan bebatuan itu. “Silakan duduk, Paduka,” kata mereka hampir bersamaan. “Tidak perlu bersikap seperti itu. Kali ini aku hanya seorang pemancing biasa seperti kalian,” kata Elleinder, “Mari kita memancing.” Elleinder duduk diikuti prajurit lainnya yang telah memancing di sana sejak tadi. “Berapa banyak ikan yang kalian dapatkan?” tanya Elleinder sambil menanti umpannya dimakan ikan. “Kami hanya mendapat sedikit, Paduka.” “Sepertinya ikan-ikan di tempat ini tahu akan dipancing sehingga kabur semua,” gurau yang lain. “Kalian kurang bersabar. Memancing membutuhkan kesabaran.” Mereka mengeluh panjang. Elleinder tertawa. “Kalian tidak bersabar seperti itu bagaimana bisa mendapat ikan?” Illyvare melihat pancing Elleinder bergerak-gerak, ia memegang lengan pria itu. Elleinder menoleh. Ia melihat Illyvare memandang laut kemudian mengikuti pandangan gadis itu. “Rupanya pancingnya. Elleinder melepas ikan yang menggelepar-gelepar itu. Illyvare mengambil ember di sampingnya. “Anda beruntung, Paduka. Anda telah mendapatkan seekor sedangkan kami yang sejak tadi di sini belum mendapatkan apapun.” “Kalian harus bersabar.” Elleinder melemparkan kailnya. Pagi ini Elleinder beruntung. Lebih beruntung daripada prajuritprajuritnya yang lain. Ketika orang banyak itu menanti ikan mengambil umpannya, Elleinder telah mendapatkan beberapa ekor. “Mengapa ikan-ikan itu tidak mau berbelok sebentar?” keluh seorang di antara mereka. “Karena ia takut padamu,” jawab yang lain. Elleinder belum sempat ikut menanggapi ketika Illyvare menyentuh lengannya lagi untuk memberitahukan pancingnya bergerak-gerak. “Aku dapat lagi,” kata Elleinder senang, “Rupanya kali ini aku memang sedang beruntung.”
69

aku

telah

mendapat

seekor,”

kata

Elleinder

menarik

Illyvare menyodorkan embernya yang hampir penuh oleh ikan. Seorang prajurit meletakkan pancingnya dan mendekati Illyvare. “Ijinkan saya untuk memberikannya pada tukang masak, Paduka Ratu.” Illyvare memberikan embernya. Prajurit yang lain mengumpulkan ikan tangkapan mereka di ember yang lain. “Bawa juga ini,” katanya. Prajurit itu membawa kedua ember itu ke kumpulan tenda di pantai. “Paduka Ratu, silakan menggunakan ember,” seseorang berkata pada Illyvare sambil menyerahkan embernya. Illyvare memandang pria itu tanpa berkata apa-apa. “Saya ingin membantu yang lain memanggang ikan,” prajurit itu berkata canggung karena ditatap Illyvare. “Illyvare,” Elleinder memanggil, “Aku telah mendapatkan lagi.” Illyvare menyodorkan ember itu. “Kami permisi dulu, Paduka.” “Kalian mau pergi?” tanya Elleinder tak percaya, “Kalian belum mendapatkan banyak.” “Kami bosan, Paduka. Sejak tadi kami menunggu tetapi tidak ada ikan yang mau menghampiri umpan kami.” “Memancing itu membutuhkan kesabaran,” kata Elleinder. “Cara yang baik untuk melatih kesabaran,” tambah Illyvare. Elleinder melihat Illyvare dengan heran. Ia baru sadar gadis itu sejak tadi tidak bersuara sedikitpun. “Mengapa engkau diam saja?” tanya Elleinder ingin tahu. “Mencegah ikan lari ketakutan,” jawab Illyvare singkat. Elleinder tersenyum geli, “Kurasa ikan-ikan itu tidak akan lari ketakutan mendengar suaramu yang merdu itu. Mereka akan mendekat.” Illyvare tidak menanggapi. Tak seorangpun di antara mereka yang sadar prajurit-prajurit yang memancing di sekitar mereka, telah pergi. Kini tanah terjal itu tinggal mereka berdua. Mereka juga tidak sadar di pantai sana, beberapa orang membicarakan mereka. “Paduka Raja memang beruntung. Ia mendapatkan banyak ikan daripada kita.” “Kurasa Paduka Ratu yang membuatnya beruntung.”
70

“Apa yang kalian bicarakan?” “Raja dan Ratu kita, Komandan.” Steele melihat ke tempat Elleinder dan Illyvare berada. Elleinder duduk menanti umpannya dimakan ikan sedangkan Illyvare berlutut di samping Pria itu pria itu. Elleinder dengan tidak tampak memperhatikan hanya diam pancingnya. ikan. “Ada apa dengan mereka?” “Paduka Raja beruntung, ia mendapatkan banyak ikan.” “Kurasa ia mendapat ikan banyak karena ikan-ikan itu ingin mendekati Ratu,” Brasch menyahut, “Ratu sangat cantik dan tidak akan ada orang yang menyangkalnya.” “Aku yakin ia adalah seorang peri yang dapat memanggil para ikan.” “Ia membuatku gugup ketika ia menatapku.” “Bukan saatnya kita membicarakan mereka,” Steele memotong, “Banyak yang harus kita lakukan. Kita masih harus memeriksa kapal.” “Dan aku menjaga keamanan,” tambah Brasch. Baik Elleinder maupun Illyvare memang terlalu sibuk untuk memperhatikan orang lain. Elleinder sibuk membuat Illyvare berbicara sedangkan Illyvare sibuk mendengarkan sambil mengawasi pancing Elleinder. “Hari ini aku benar-benar beruntung,” kata Elleinder sambil meletakkan seekor ikan lagi di ember. “Engkau mau mencobanya, Illyvare? Aku yakin engkau bisa.” Illyvare menggeleng. “Apakah ini sudah cukup?” Elleinder melihat ember ikannya. Elleinder melihat sekeliling dan sadar tidak ada orang lain selain mereka. “Rupanya mereka memang tidak sabar,” gumamnya. “Paduka! Paduka Ratu!” Illyvare berpaling pada Linty yang berlari mendekat. “Maafkan saya, Paduka. Saya tidak melayani Anda dengan baik.” “Engkau ingat perintahku kemarin?” Linty mengingat-ingat kapan Illyvare memberinya perintah. Sejauh ingatannya, Illyvare belum pernah memberinya perintah. Illyvare jarang berbicara dengannya. Linty teringat kata-kata Illyvare kemarin malam.
71

berbicara

Illyvare.

Illyvare

mendengarkan dan memberitahu Elleinder bila pria itu telah mendapatkan

Linty tersenyum sambil berkata, “Saya senang melayani Anda, Paduka Ratu.” “Linty, apakah ikan di sana sudah cukup?” “Saya rasa sudah, Paduka Raja. Tidak semua dari kami yang akan makan ikan,” jawab Linty. “Berarti ini sudah cukup. Mari, Illyvare,” Elleinder mengulurkan tangan membantu Illyvare berdiri namun ia menariknya kembali. “Sebaiknya aku tidak membuatmu yang wangi menjadi bau ikan,” kata Elleinder jujur. Illyvare tidak menanggapi dan berdiri. Linty membantu Illyvare membersihkan debu dari gaunnya. “Kurasa sudah ada ikan yang matang,” kata Elleinder. Linty yang merasa menganggu Raja dan Ratunya berkata, “Akan saya siapkan untuk Anda berdua, Paduka.” Sebelum seorang pun di antara mereka berkata, Linty telah berlari menjauh. “Dia memang pelayan yang cekatan. Aku sengaja menyuruhnya menemani sekaligus melayanimu dalam perjalanan ini. Kuharap engkau menyukainya.” “Aku menyukainya,” sahut Illyvare singkat. Elleinder menatap lekat wajah Illyvare. Beberapa orang mendekati mereka. “Ijinkan saya untuk membantu Anda, Paduka.” Elleinder menyerahkan pancing dan embernya yang penuh berisi ikan pada mereka. Setelah mengantar Illyvare ke tengah kumpulan tenda itu, Elleinder berkata, “Aku akan pergi sebentar. Aku ingin mencuci tanganku.” Elleinder mencari tong yang berisi air bersih. Ketika ia mencuci tangannya, Brasch datang mendekat. “Ada apa, Brasch?” “Paduka Ratu telah mempesona semua orang, Paduka. Apakah Anda tidak khawatir meninggalkan Paduka Ratu?” Elleinder melihat Illyvare dan terkejut. Beberapa pria mengelilingi Illyvare. Sembilan pria itu kemudian membawa Illyvare ke sebuah batang pohon besar yang terbaring di dekat hutan. Pria-pria itu tampak berbicara dengan Illyvare kemudian mereka meninggalkan Illyvare ke dalam hutan.
72

Elleinder tersenyum. “Mereka menjaga Illyvare, mengapa aku harus khawatir? Yang aku khawatirkan hanya apakah kapal kita akan selesai diperbaiki siang ini.” “Steele mengatakan bila tidak ada hambatan maka kita dapat berlayar lagi siang ini,” Brasch melaporkan. Elleinder melihat kapal yang terombang-ambing di laut lepas itu. “Kuharap tidak ada badai.” “Saya juga berharap demikian, Paduka.” Elleinder berpaling pada Illyvare yang duduk diam memandang kesibukan di depannya. Beberapa pria mengajaknya berbicara. Elleinder tidak heran ketika mereka kesulitan melihat sikap diam Illyvare. Tidak heran pula bila di sekeliling Illyvare yang ada hanya lelaki. Karena Illyvare tidak seperti dugaannya, banyak perhitungan Elleinder yang salah. Elleinder tidak membawa pelayan wanita lain selain Linty. Semula Elleinder berniat membuat Putri Kerajaan Aqnetta itu tahu ia tidak bisa berbuat sewenang-wenang pada rakyatnya. Elleinder tidak mau banyak pelayan wanita membuat wanita itu besar kepala. Tetapi ia telah melakukan kesalahan dengan tindakannya itu. Sekarang di sekeliling Illyvare yang ada hanya pria selain Linty yang selalu melayaninya. Elleinder melihat prajurit-prajurit yang tadi masuk hutan kembali dengan buah-buahan di tangan mereka. Mereka memberikan buah itu pada Illyvare. Illyvare tersenyum manis. Elleinder tercengang. “Aku harus kembali, Brasch,” kata Elleinder, “Awasi terus keadaan sekitar tempat ini.” “Baik, Paduka,” kata Brasch sambil tersenyum penuh arti. Elleinder bergegas mendekati Illyvare. Gadis itu mengangkat kepala melihat kedatangannya. “Mereka memberimu banyak buah-buahan,” kata Elleinder. Illyvare memandangi buah-buahan di pangkuannya. “Kami permisi dulu, Paduka.” Prajurit-prajurit itu meninggalkan mereka berdua. Elleinder duduk di samping Illyvare. “Bagaimana perasaanmu?” kata Elleinder tajam. Illyvare mengangkat bahunya.
73

“Mengapa? Bukankah engkau seharusnya senang mendapat banyak buah?” Illyvare menatap Elleinder lekat-lekat. Ia tidak mengerti mengapa pria itu tiba-tiba menjadi sinis kepadanya. Ia tidak tahu apakah ia telah berbuat kesalahan. “Engkau mau?” Illyvare memberikan sebuah pada Elleinder. Elleinder menerimanya tapi tidak mengatakan apa pun. Illyvare diam memandangi buah-buahan itu kemudian memandang hutan di belakang mereka. “Sarapan telah siap,” Linty datang dengan nampannya. Linty meletakkan nampan itu di antara Elleinder dan Illyvare. “Biarkan saya menyimpan buahbuahan ini, Paduka.” Illyvare membantu Linty memindahkan buah itu ke celemek Linty. Illyvare mengawasi kepergian wanita itu. Beberapa prajurit ingin mengambil buah itu dari Linty, tapi mereka tidak melakukannya setelah Linty memarahi mereka. Illyvare melihat Elleinder yang sedang memakan seekor ikan. Illyvare tidak merasa lapar, tetapi ia merasa tidak pantas mengecewakan Linty yang telah bersusah payah membakarkan ikan untuknya. Illyvare memilih seekor ikan yang kecil. Tak seorangpun di antara mereka yang bersuara. Baik Elleinder maupun Illyvare diam memandang prajurit lain yang juga makan ikan bakar. Illyvare melihat laut. Pandangannya menerawang jauh dan pikirannya melayang-layang tanpa arah. “Illyvare!” Seperti waktu upacara pernikahan mereka, Elleinder melihat Illyvare tenggelam dalam dunianya sendiri. Kali ini Elleinder tidak memanggil Illyvare berulang-ulang, ia memegang lengan Illyvare. Illyvare berpaling. “Hari semakin siang. Aku melihat Steele telah kembali. Tak lama lagi ia akan datang melaporkan kapal telah selesai diperbaiki.” Elleinder mengulurkan tangan membantu Illyvare berdiri. Mereka berjalan mendekati tepi pantai. “Perbaikan kapal telah selesai?” “Benar, Paduka. Kerusakan kapal tidak separah yang kita duga. Lambung kapal hanya terkoyak sedikit. Sebagian besar telah kami perbaiki kemarin. Hari ini kami hanya memperkuat perbaikan itu. Saat ini juga kita bisa berlayar.” “Kalian beristirahat dulu setelah itu kita baru berangkat.”
74

“Baik, Paduka.” Steele memimpin anak buahnya ke pantai. “Kita bisa berperahu sebelum kapal berangkat kalau engkau mau,” kata Elleinder mengulurkan tangannya. Illyvare menyambut uluran tangan itu. Dengan tangkas, Elleinder menarik Illyvare mendekat dan mengangkat tubuh gadis itu. Elleinder mendudukkan Illyvare di perahu kecil itu dan mulai mendorong perahu. Elleinder sudah mulai mendayung perahu kecilnya ketika para pengawalnya sadar di mana Raja dan Ratunya berada. Mereka bergegas naik perahu dan bersiaga di tepi pantai. Illyvare menatap kaki langit tanpa suara. “Engkau marah padaku, Illyvare?” Illyvare diam saja. “Aku tidak pernah ingin membuatmu marah. Aku ingin membuatmu senang. Kalau engkau marah padaku, katakan saja tetapi jangan berdiam diri seperti ini.” “Saya tidak bisa marah,” Illyvare mengakui. Elleinder menatap heran. “Jangan bercanda, Illyvare. Tiap orang pasti bisa marah termasuk aku juga engkau.” Illyvare hanya memandang langit dengan pandangannya yang menerawang jauh. Elleinder memegang dagu Illyvare dan memalingkan wajah gadis itu. “Kalau aku membuatmu marah, maafkan aku,” katanya lembut. Illyvare tetap memandang langit. “Apakah yang merisaukanmu, Illyvare? Aku sering melihatmu memandang jauh. Apa ada yang kaupikirkan?” “Tidak ada,” kata Illyvare tenang. “Engkau merindukan kerajaanmu?” tanya Elleinder. Illyvare menggeleng. Tiba-tiba ombak yang cukup besar menerjang perahu mereka. Illyvare memegang erat-erat lengan Elleinder. Wajahnya memucat – teringat pengalaman yang lalu. Elleinder memeluk Illyvare dan berkata, “Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Ombak di sekitar tempat ini memang tidak teratur. Ada yang besar dan ada yang kecil.”
75

Setelah perahu seimbang, Elleinder melepaskan Illyvare. “Sebaiknya kita menanti mereka di kapal.” Elleinder mendayung perahu mendekati kapal. “Naiklah dulu. Aku di bawahmu,” Elleinder mengangkat tubuh Illyvare ke tangga tali di samping kapal. Illyvare berpegangan erat pada tangga itu. Belum lama ia berpegangan pada tali ketika angin tiba-tiba bertiup keras. Illyvare terkejut. Ia merasa tubuhnya didorong angin keras itu. “Tidak apa-apa,” tubuh tegap Elleinder menghadang angin itu. Elleinder yang tinggi tegap itu hanya butuh berada setingkat di bawah Illyvare untuk bisa melindunginya. Dengan kata-katanya yang lembut, Elleinder berkata, “Jangan takut. Teruslah melangkah, aku akan terus berada di sisimu.” Illyvare hanya menatap wajah tampan yang lembut itu. Elleinder tersenyum – mendorong semangat Illyvare. Sesuatu dalam senyum itu meyakinkan Illyvare bahwa ia tidak akan apaapa. Elleinder pasti akan menangkapnya bila angin meniupnya. Elleinder pasti akan memeganginya bila ia terjatuh. Maka Illyvare pun melanjutkan langkahlangkahnya. Seperti tadi, Elleinder menjaganya dalam tiap langkahnya. Ketika mereka hampir sampai di ujung tangga, Elleinder berkata, “Aku akan naik dulu. Berpeganglah yang erat.” Illyvare menepi memberi jalan pada Elleinder. Elleinder berhati-hati ketika ia melewati gadis itu. Ketika ia telah sampai di dek kapal, ia mengulurkan tangan membantu Illyvare. “Naiklah seperti tadi, Illyvare,” Elleinder memberitahu, “Jangan takut, aku memegang tanganmu.” Illyvare baru menaiki dua tangga tali ketika Elleinder mengangkat tubuhnya. Elleinder tidak menurunkan Illyvare di dek kapal melainkan membawanya ke kamarnya. “Engkau bisa tenang sekarang,” kata Elleinder setelah menurunkan gadis itu. “Engkau merasa pusing lagi?” Illyvare menggeleng. Terdengar suara ramai mendekati kapal. “Mereka telah berkemas. Sekarang mereka pasti telah mendekati kapal.” Elleinder menuju dek diikuti Illyvare. “Kami siap berangkat, Paduka,” Steele melaporkan.
76

Dek kapal yang sepi itu kembali ramai. Orang-orang berhilir mudik mempersiapkan keberangkatan mereka. Beberapa orang menarik perahuperahu kecil. Ada pula yang menarik jangkar. “Angkat jangkar!” Steele memberi perintah. Illyvare yang tidak melihat saat pertama kali mereka akan berlayar, memperhatikan kesibukan itu. Ketika melihat jangkar telah dinaikkan ke dek, Steele kembali berseru, “Tarik layar!” Prajurit yang telah bersiap-siap, segera menarik layar. Angin yang bertiup membentangkan layar dan menjalankan kapal. Steele mengawasi orang yang mengemudikan kapal. Prajurit-prajurit meninggalkan tempat mereka dan mulai berjaga-jaga. Kesibukan di kapal telah dimulai sejalan dengan lajunya kapal. Mereka berlayar dengan tenang. Tidak ada gangguan lagi dalam pelayaran ini. angin berhembus seperti biasa dan terus mendorong kapal. Ombak terus membuai kapal. Perjalanan menuju Leiffberg telah dilanjutkan setiap orang ingin perjalanan itu tanpa gangguan lagi. Juga tidak ada badai yang ditakutkan. Illyvare tahu perjalanan menuju Leiffberg masih panjang. Masa depannya juga masih panjang. Ia tidak tahu seperti apakah tempat ia akan tinggal itu. Sama seperti ia tidak tahu bagaimanakah kehidupannya akan berlangsung. Yang diketahuinya saat ini adalah ia telah menjadi milik Kerajaan Skyvarrna dan Kerajaan Aqnetta. Ia adalah Ratu dari kedua kerajaan itu. Tetapi sebagai Ratu, Illyvare tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Seperti langit, ia tak dapat melihat ujung masa depannya. Langit membentang di hadapannya. Laut yang biru membentang di kakinya. Tetapi semua itu tak memberikan jawaban apapun. Illyvare bagaikan kapal itu. Terombang-ambing di antara laut dan kaki langit. Berlayar menurut arah tujuan sang nahkoda kapal. Tetapi itu bukan masalah bagi Illyvare. Ia telah terperangkap dalam Istana Vezuza seumur hidupnya. Ia telah hidup menurut aturan-aturan ayahnya. Di Kerajaan Skyvarrna pun ia tahu ia harus mengikuti semua peraturan kerajaan itu. Illyvare tahu keputusan Elleinder untuk menikah dengannya ditentang oleh rakyat Kerajaan Skyvarrna. Kecil kemungkinan rakyat Kerajaan Skyvarrna akan mencintai dirinya sebagaimana mereka mencintai Elleinder. Tetapi Illyvare telah bersumpah di hadapan Uskup, di hadapan ayahnya, di hadapan
77

rakyatnya dan di hadapan Allah bahwa ia akan mendampingi Elleinder apa pun yang terjadi. Tidak banyak yang Elleinder ketahui tentang dirinya tetapi Illyvare tahu banyak tentang pria itu. Calf membantunya mencari informasi tentang suaminya itu. Illyvare tahu ketika Elleinder datang ke Istana Vezuza bersama rombongannya. Ia ada di Istana, ia ada di dekat pria itu tetapi ia tidak pernah menemui pria itu. Illyvare tahu Elleinder berusaha menemukannya, tetapi pria itu tidak pernah dapat menemukannya. Illyvare tahu banyak kerajaan yang memuji keberanian Elleinder ketika mereka tahu pria itu melamar dirinya. Resiko besar yang tidak pernah diambil siapapun, telah diambil Elleinder. Illyvare mengagumi pria itu. Tak diragukan lagi bila rakyat Kerajaan Skyvarrna sangat mencintai Raja Muda itu. Raja Fahrein meninggal dengan meninggalkan banyak masalah. Selama ia jatuh sakit, pemerintahannya terhambat. Menteri-menteri disibukkan oleh kondisi Raja. Keadaan raja yang kritis itu membuat para menteri terbagi dua. Sebagian sibuk menjemput Pangeran Elleinder yang masih bersekolah di Paris. Sebagian sibuk melayani perintah Raja. Di saat-saat terakhir sebelum kematiannya, Raja Fahrein menjadi sangat pemarah. Ia akan membanting apa saja bila perintahnya tidak dituruti. Perintahnya bukan lagi menyangkut kerajaan tetapi pesta. Bahkan sehari sebelum kematiannya, Raja Fahrein meminta diadakan pesta meriah untuk kesembuhannya. Saat itu Raja Fahrein tampil dengan segar bugar. Semua orang menyangka Raja memang telah sembuh. Tidak seorangpun menyangka itu adalah pesta terakhir Raja Fahrein. Keesokan paginya Raja Fahrein ditemukan dalam keadaan tak bernafas di tempat tidurnya. Kerajaan Skyvarrna berduka. Namun Elleinder tidak membiarkan dirinya terlarut terlalu lama dalam kedukaan itu. Ia segera membenahi segala pekerjaan yang terbengkalai sejak ayahnya sakit. Setelah semuanya selesai, ide itulah yang muncul. Keinginan untuk memiliki Kerajaan Aqnetta melalui pernikahan telah terwujud. Sekarang mereka berada dalam perjalanan ke Leiffberg dan kemudian menuju Istana Qringvassein.

78

Setiap perjalanan pasti ada akhirnya demikian pula perjalanan Illyvare ini. Setelah melewati hari-hari yang tenang di atas laut, mereka akhirnya melihat kota pelabuhan Leiffberg. “Daratan! Daratan!” teriak prajurit di menara pengintai. “Kita sudah tiba di Leiffberg,” sahut yang lain senang. Kesibukan kembali memenuhi seluruh kapal itu. Prajurit-prajurit mulai bersiap-siap di posisinya. Mereka menanti perintah Steele sebagai kapten kapal. Illyvare berdiri di dek kapal dan melihat daratan yang semakin mendekat itu. Tampak olehnya daratan itu yang semakin mendekati mereka bukan kapal yang mendekati daratan itu. “Itu adalah Leiffberg,” Elleinder memberitahu, “Dari situ kita akan naik kereta menuju Istana Qringvassein.” Illyvare diam memandangi daratan yang semakin mendekat itu. “Laut pun akhirnya ada batasnya,” gumamnya lirih. “Kita harus bersiap-siap untuk pendaratan ini.” Elleinder mengajak Illyvare kembali ke kamar mereka masing-masing. Linty segera menyambut kedatangan Illyvare. “Kita hampir merapat di pelabuhan, Paduka. Anda harus segera mempercantik diri,” kata wanita itu ketika merapikan kembali rambut Illyvare. Illyvare mengenakan mantel panjangnya yang tebal kemudian kembali ke dek. Elleinder sudah ada di sana menanti kedatangannya. Tak sampai setengah jam kemudian mereka telah melihat perahu-perahu lain di dekat daratan itu. Ketika mereka semakin mendekati pelabuhan itu, Steele berseru, “Turunkan layar!” Prajurit yang telah bersiap-siap segera menarik layar. Beramai-ramai mereka menarik tali dan menutup layar yang terkembang itu. Illyvare terus memandangi pelabuhan itu. “Kita tiba lebih lambat dari yang semula dijadwalkan. Kukira orang-orang yang ingin menyambut kita telah pulang semua.” Illyvare diam saja. Akhirnya mereka merapat di pelabuhan dan Steele kembali berseru, “Tambatkan kapal!” Beberapa orang melompat keluar dan melakukan perintah itu. Orangorang mulai memasang tangga kayu di dek.
79

Pelabuhan masih ramai seperti biasanya walau hari sudah menjelang sore. Sebuah kereta emas terlihat di tepi pelabuhan. Kereta terbuka itu menanti dengan anggun di bawah kapal. “Itu kereta kuda yang akan membawa kita ke Istana Qringvassein,” Elleinder memberitahu, “Menurut jadwal semula, kita akan tiba pagi hari tetapi kita baru tiba saat ini. Aku ingin menunjukkan padamu kerajaanku dalam perjalanan ke Istana Qringvassein. Sekarang aku menyesal menyuruh kereta itu yang menjemput kita. Hari sudah malam dan udara semakin dingin, kita tidak dapat berjalan cepat bila tidak ingin engkau sakit.” Illyvare melihat orang banyak yang berdiri di belakang sebaris prajurit yang memagari mereka. Elleinder juga melihat orang banyak itu dan berkata, “Aku tidak tahu mereka akan menyambut kita. Aku sama sekali tidak memberitahu siapa pun kapan kita datang. Kurasa mereka mengetahuinya dari kereta yang menanti kita.” “Kapal telah merapat, Paduka,” Steele melaporkan. Illyvare mengenakan topi mantelnya untuk mencegah angin mempermainkan rambut panjangnya. “Kita jangan membuat mereka menanti lebih lama lagi, Illyvare.” Illyvare memasukkan tangannya di siku Elleinder dan berjalan di samping pria itu. Terdengar suara ramai ketika mereka berjalan ke kereta. Ketika seorang prajurit membuka pintu kereta dan Elleinder mengangkat Illyvare ke dalam kereta itu, suara ramai itu masih tidak berhenti. Elleinder terkejut melihat Illyvare tetap tenang. Sikap gadis itu menunjukkan ia tidak terpengaruh oleh keramaian itu. Seharusnya seorang gadis yang selama ini dikurung di Istananya yang besar, akan bingung dan gugup ketika mendapat sambutan semeriah ini dari rakyat. Tetapi raut wajah Illyvare tetap tenang. Matanya memandang ke depan. Kereta berjalan perlahan menuju Istana Qringvassein. Orang-orang yang telah menanti mereka sejak tadi itu tidak tampak lelah. Mereka berseru-seru memanggil mereka dan melambai-lambaikan tangannya. Illyvare memberikan senyum kepada mereka dan membalas lambaian tangan mereka. Elleinder juga tidak mau berdiam diri saja menghadapi sambutan rakyatnya yang meriah itu.
80

Seperti yang dikatakan Elleinder, kereta berjalan lambat. Illyvare tidak menyadari kereta berjalan lebih lambat dari yang diperhitungkan Elleinder. Kusir kuda tidak berani menjalankan kereta lebih kencang. Ia khawatir rakyat yang ingin menyambut kedatangan Raja dan Ratu, kecewa bila tidak dapat melihat rupa Raja dan Ratu. Prajurit berkuda yang mengawal mereka baik di depan maupun di belakang kereta yang ditumpangi Elleinder dan Illyvare juga berjalan lambat. Elleinder menyadari hal ini tetapi ia tidak mempedulikannya. Dengan kecepatan seperti ini, Elleinder tidak khawatir Illyvare kedinginan. Melalui ujung matanya, Elleinder melihat Illyvare yang terus membalas lambaian tangan rakyat. Gadis itu telah menutupi seluruh tubuhnya dengan mantelnya yang tebal. Cukup tebal untuk menghadapi angin yang bertiup lembut ini tetapi tidak cukup untuk menghadapi angin yang lebih kencang. Illyvare merasa sedang diperhatikan. Namun ia tidak mempedulikannya. Ia terus membalas lambaian tangan rakyat. Elleinder juga terus melambaikan tangannya pada rakyat. Hingga mereka meninggalkan Leiffberg, kereta tetap berjalan lambat. Ketika mereka telah meninggalkan kota Leiffberg, orang-orang yang berdiri di tepi jalan tidak kunjung berkurang. Baru ketika mereka memasuki kawasan yang jauh dari rumah penduduk, orang-orang mulai berkurang. “Engkau kedinginan?” Illyvare menggeleng. Elleinder terdiam beberapa saat. Ia melihat langit yang semakin gelap kemudian melihat Illyvare dengan cemas. “Berhenti!” Elleinder memerintah kusir. Brasch yang mengawal di belakang mereka segera mendekat. “Ada apa, Paduka?” “Pergilah lebih dulu dan cari penginapan. Malam ini kita beristirahat dulu. Besok baru kita lanjutkan.” “Saya khawatir kita akan mengecewakan rakyat, Paduka. Saya baru saja mengirim orang untuk melihat keadaan di kota yang akan kita lalui dan ia mengatakan banyak orang yang berdiri di tepi jalan menanti Anda.” “Kita tidak bisa mengecewakan mereka,” kata Illyvare perlahan. “Baiklah. Kita akan meneruskan perjalanan walau mungkin kita akan tiba tengah malam.”
81

“Menurut perhitungan saya, Paduka, dengan kecepatan seperti ini kita akan mencapai Skellefreinth dalam empat jam. Ketika kita meninggalkan Leiffberg, waktu menunjukkan pukul lima sore. Jadi, kita akan tiba sekitar pukul sembilan malam.” “Kita lanjutkan perjalanan.” “Baik, Paduka.” Kemudian Brasch memerintahkan kusir menjalankan kuda. “Kalau kita tidak berada di keramaian, cepatkan kereta,” Elleinder memberitahu kusir kuda. “Baik, Paduka.” Kusir kuda itu melakukan perintah Elleinder. Elleinder melihat Illyvare yang duduk menepi. Jarak di antara mereka sangat lebar hingga cukup untuk satu orang lagi. Illyvare merapat di pinggir kereta seolah-olah ia takut berdekatan dengan Elleinder. “Illyvare,” panggilnya. Gadis yang sedang memandang ke depan itu menoleh. “Aku menyesal kita tidak dapat menginap di kota terdekat malam ini.” “Tidak apa-apa.” “Mendekatlah kemari,” Elleinder mengulurkan tangannya, “Aku tidak ingin engkau kedinginan.” “Saya tidak kedinginan.” “Engkau yakin?” Sebelum Illyvare menjawab Elleinder telah berkata, “Kalau engkau duduk menjauh seperti itu, engkau akan kedinginan. Kemarilah, aku tidak akan menyakitimu.” “Saya paham akan hal itu.” “Maka, kemarilah,” Elleinder berkata lembut, “Aku hanya tidak ingin engkau kedinginan.” Illyvare menyambut uluran tangan itu dengan ragu-ragu. Ia bukannya ingin menjauhi Elleinder tetapi ia tidak terbiasa duduk berdua dengan pria di kereta. Elleinder menarik Illyvare menyeberangi jarak di antara mereka. “Kalau kita duduk seperti ini, engkau tidak akan terlalu kedinginan. Illyvare diam memandangi tangannya. Elleinder memegang kata-katanya. Ia menyandarkan punggung dan melipat tangan di belakang kepalanya.

82

Perjalanan ini masih jauh. Illyvare tahu itu. Ia belum melihat pucuk-pucuk menara Istana Qringvassein. Yang dilihatnya masih hijaunya dedaunan dan rimbunnya pohon. Setelah beberapa saat, Illyvare mulai melihat rumah-rumah penduduk dan orang-orang yang berdiri di belakang barisan prajurit. “Mereka menyambut kita.” Illyvare hanya mengangguk. Illyvare seorang putri kerajaan, tetapi ia tidak pernah tahu sambutan rakyat terhadap keluarga kerajaan bisa lebih meriah dari yang dibayangkannya. Matahari mulai kembali ke istananya tetapi rakyat masih berdiri di tepi jalan dan dengan bersemangat menyambut kedatangan Raja dan Ratu mereka. Semangat rakyat yang besar itu menunjukkan cinta mereka pada Raja dan Ratu. Illyvare terharu melihatnya. Ketika untuk pertama kalinya ia meninggalkan Istana Vezuza, sepanjang jalan rakyat berteriak-teriak memanggilnya. Sepanjang jalan menuju Gereja Chreighton, rakyat mengelu-ngelukan namanya. “Putri! Putri!” demikian teriak mereka. “Putri lihatlah kemari!” Mereka berharap dapat melihat wajah Illyvare, tetapi jendela kereta tertutup rapat. Illyvare ingin sekali melihat wajah-wajah rakyat yang menyambutnya tetapi Raja Leland yang duduk di sampingnya tidak ingin ia melakukannya. Illyvare hanya dapat mendengar panggilan rakyat itu dan merasa bersalah. Rakyat telah menantinya sepanjang jalan dan berharap dapat berjumpa dengannya yang untuk pertama kalinya meninggalkan Istana Vezuza. Tetapi ia bersikap sangat angkuh dan sedikitpun tidak mau mengintip keluar. Di jalan masuk menuju Gereja Chreighton, Illyvare melihat banyak orang berdiri dengan penuh semangat. Melalui kerudungnya, Illyvare dapat melihat harapan di wajah orang banyak itu. Seperti orang-orang di tepi jalan yang dilaluinya, mereka juga berharap dapat melihat wajahnya. Sayang, saat itu Illyvare dalam perjalanan menuju altar. Dari ujung rambut hingga kakinya tertutup oleh kerudung pengantinnya yang sangat panjang dan tebal. Gaun pengantin itu dipesan khusus untuk Illyvare. Perancang gaun itu membuatnya sedemikian rupa hingga ia tampak seperti pengantin misteri.
83

Seluruh tubuhnya tertutup oleh kerudung pengantinnya yang tebal. Dan gaun pengantinnya dibuat berleher tinggi dan berlengan panjang. Dua lapisan kain yang menutupi tubuh itu dapat membuat Illyvare kepanasan. Untung udara pagi musim gugur di Kerajaan Aqnetta sangat dingin dan membuat Illyvare yang bersembunyi di balik gaun pengantinnya tidak kepanasan. Melalui kerudungnya, Illyvare dapat melihat pandangan kagum orangorang pada gaun pengantinnya yang bersulamkan benang perak. Juga pada kristal-kristal kaca bening yang membentuk bunga-bunga mawar di ujung gaunnya. Saat memasuki Gereja Chreighton, Illyvare tahu masa depannya bukan berada di tangannya lagi. Di depan sana menanti pria yang akan menjadi suaminya. Pria yang bersama-sama dengan dirinya akan memerintah Kerajaan Aqnetta. Saat itu pula Illyvare menyadari ia bukan lagi seorang Putri tetapi seorang Ratu yang memiliki tanggung jawab besar. Illyvare menyadari kedudukannya ini sejak ia tahu Menteri Luar Negeri Kerajaan Skyvarrna datang untuk menyampaikan surat lamaran Raja Elleinder. Sekarang Illyvare telah berada di sisi Elleinder dan dalam perjalanan ke Istana Qringvassein. Mereka melewati lautan manusia bagaikan melewati sebuah ujian untuk dapat mencapai Istana Qringvassein. Ribuan, puluhan orang telah mereka lewati. Hari semakin malam tetapi orang-orang tetap bersemangat menyambut mereka. Hingga mereka tiba di Skellefreinth, masih banyak orang yang menyambut kedatangan mereka. Ketika puncak-puncak menara Istana Qringvassein terlihat, lautan itu tak berkurang. Illyvare tidak lagi memperhatikan orang-orang di kanan kirinya. Ia memandang jauh ke depan ke Istana Qringvassein yang berdiri dengan kokoh. Istana itu berbeda jauh dengan Istana Vezuza tetapi tidak berbeda jauh dengan Istana Camperbelt. Di depan bangunan Istana terdapat sebuah air mancur besar dikelilingi rerumputan yang menguning. Sebuah jalan besar terbagi dua memutari air mancur itu dan bergabung kembali ke depan pintu masuk Istana. Istana ini tidak memiliki serambi depan seperti Istana Vezuza. Juga tidak ada taman bunga Illyvare.
84

Illyvare sedih menyadari ia tidak berada di Istananya lagi. Ia merindukan Istana negeri dongengnya yang putih dengan menara-menaranya yang menjulang tinggi dan atapnya yang bercat biru. Juga pada kebun bunganya yang terletak di belakang Istana Vezuza. Kereta melalui air mancur itu dan berhenti di depan pintu masuk Istana. Seorang pelayan segera membuka pintu kereta dengan membungkuk hormat. Elleinder turun kemudian membantu Illyvare. Ketika ia menurunkan Illyvare, seseorang mendekat dan berseru marah, “Apa saja yang kaulakukan? Mengapa lama sekali? Katamu akan datang sebelum makan siang, tetapi ini sudah melewati makan malam.” “Maafkan atas gangguan ini, Illyvare,” bisik Elleinder kemudian menoleh pada Arwain. “Kapal kami mendapat kecelakaan, Arwain.” Arwain melihat gadis mungil yang berdiri di samping Elleinder. Di Gereja Chreighton, ia tidak dapat melihat dengan jelas rupa Putri Illyvare selain mengetahui ia bertubuh ramping dan tidak gemuk. Dan ia mempunyai rambut hitam yang indah. Arwain menatap lekat-lekat wajah cantik yang tenang itu. Bola mata yang dikeliling bulu mata yang lentik itu menatapnya dengan tenang. Tubuhnya Bibirnya yang menutup oleh rapat membentuk coklat tebal sebuah tetapi senyuman. tidak dapat tertutup rapat mantel

menyembunyikan kemolekannya. Rambut hitamnya berjuntai keluar dari topi mantelnya. Mantelnya menari-nari diterbangkan angin malam dan membuat ia nampak seolah-olah akan terbang jauh. “Illyvare, engkau telah bertemu dengannya di upacara pernikahan kita. Ia adalah teman baikku, Arwain,” Elleinder memperkenalnya. “Senang berkenalan dengan Anda.” Arwain tiba-tiba saja menjadi gugup karena suara tenang namun merdu itu. Ia meraih tangan Illyvare dan menciumnya sebelum berkata, “Sungguh merupakan suatu kebanggaan bagi saya dapat bertemu dengan Anda, Paduka Ratu.” “Dapatkah saya juga menjadi teman baik Anda?” “Tentu, Paduka Ratu. Anda adalah istri teman baik saya berarti Anda teman baik saya pula.” Illyvare tersenyum.
85

“Bisakah saya meminjam suami Anda sebentar, Paduka Ratu?” Sebelum Illyvare menjawab, Arwain mendekati Elleinder dan menariknya menjauh. “Ada apa, Arwain?” tanya Elleinder heran. “Aku sudah mengatakan padamu, aku terlambat karena kapal mendapat kecelakaan kecil.” Arwain melirik Illyvare yang berdiri dengan tenang di samping kereta. “Ia benar-benar Putri Kerajaan Aqnetta?” Elleinder belum menjawab, Arwain telah berkata, “Gadis itu cantik sekali. Aku sampai dibuat gugup olehnya. Mengapa ia disembunyikan sampai mendapat banyak tuduhan jelek?” “Aku tidak tahu, Arwain. Aku tidak punya ide tentang itu,” kata Elleinder kesal, “Kalau sudah tidak ada yang ingin kaukatakan lagi, aku permisi.” Elleinder beranjak pergi. “Elleinder!” Elleinder berbalik dan berkata, “Aku lelah dan lapar, Arwain. Engkau sudah makan malam atau belum? Kalau belum, ikutlah bersama kami.” Arwain hanya dapat menahan kekesalannya melihat Elleinder terus berjalan mendekati Illyvare kemudian membawa gadis itu masuk. “Percuma memisahkan mereka, Arwain,” tegur Brasch, “Selama perjalanan Paduka Raja terus berada di samping Ratu. Raja seolah-olah khawatir Ratu akan direbut orang lain.” Arwain mendesah panjang. “Raja benar. Kalau saya mempunyai istri secantik itu, saya juga pasti akan selalu berada di sisinya. Saya takkan rela ia direbut orang lain.” “Ini aneh, bukan?” celetuk Perkins, “Dulu kita khawatir Putri Illyvare takkan sepadan dengan Paduka, tetapi ternyata Putri Illyvare sangat cocok bersanding dengan Paduka. Aku yakin Paduka bahagia didampingi seorang gadis secantik itu.” “Ratu cantik dan ramping seperti seorang peri mungil, bukan seperti yang dikatakan orang banyak,” kata Arwain. “Aku heran mengapa ia disembunyikan sampai muncul banyak dugaan yang sangat salah?” tanya Perkins heran. “Jangan tanya aku karena aku tidak tahu. Elleinder sendiri juga tidak tahu.” Tidak seorangpun di antara mereka yang tahu. Mereka hanya dapat menebak-nebak tetapi tidak akan pernah tahu jawaban yang sebenarnya.
86

7

“Selamat pagi, Paduka.” Illyvare meninggalkan jendela kamarnya. “Saya membawa jadwal kegiatan Anda untuk hari ini. Pagi ini Anda dan Paduka Raja akan berkeliling Skellefreinth dan memberi pidato di tempattempat penting.” Linty memberikan jadwal itu pada Illyvare. Illyvare tidak membacanya. Ia hanya melihatnya. Gadis itu tahu kegiatan sehari-harinya akan penuh seperti ini. “Sarapan telah siap, Paduka. Anda ingin makan di sini atau di Ruang Makan?” “Ruang Makan,” Illyvare menjawab singkat. “Baiklah, Paduka,” Linty mengangguk mengerti, “Silakan duduk di sini, Paduka. Saya akan merapikan rambut Anda.” Illyvare duduk di meja rias sementara Linty menata rambutnya. Setelah selesai menggelung rambut Illyvare, Linty berkata, “Sudah selesai, Paduka.” “Terima kasih.” “Sudah menjadi tugas saya melayani Anda, Paduka,” kata Linty, “Saya akan mengantar Anda ke Ruang Makan.” Illyvare mengikuti Linty menuju Ruang Makan. Semalam ketika Elleinder mengantarnya ke kamar yang sudah dipersiapkan untuknya, Illyvare tidak sempat menghafalkan bagian-bagian Istana yang telah dilaluinya. Illyvare terlalu lelah untuk memperhatikan sekelilingnya. Bahkan ketika makan pun, Illyvare sama sekali tidak bernafsu. Ia merasa sangat lelah. Penjaga pintu membungkuk hormat melihat kedatangannya dan membukakan pintu. “Silakan, Paduka,” Linty mempersilahkan. Illyvare terus melangkah masuk sedangkan Linty tetap di tempatnya. “Selamat pagi, Illyvare,” Elleinder mencium tangannya. “Engkau dapat tidur nyenyak?” Illyvare mengangguk.
87

“Aku senang mendengarnya. Hari ini kita akan melakukan banyak kegiatan di luar Istana dan itu akan sangat melelahkanmu.” Elleinder menarikkan kursi untuk Illyvare. “Engkau telah menerima jadwal kegiatanmu?” Lagi-lagi Illyvare hanya mengangguk. Pelayan mulai membawa masuk baki-baki perak. Mereka meletakkan baki itu di depan mereka. Seperti biasa, Illyvare berdiam diri. Elleinder juga tidak banyak berbicara. Ia telah tahu sifat pendiam Illyvare. Sepanjang makan pagi itu Elleinder menjelaskan tempat-tempat yang akan mereka datangi dan apa saja yang akan mereka lakukan. Seusai makan pagi, Illyvare kembali ke kamarnya untuk mengambil topi. Kemudian ia menuju pintu depan tempat Elleinder telah menantinya. Sebuah kereta emas yang lain telah siap mengantar mereka ke Skellefreinth dan ke semua tempat yang akan mereka datangi hari ini. Seperti kemarin, sepanjang jalan dipenuhi orang yang ingin bertemu Ratu mereka, Illyvare. Tetapi sayang hari ini mereka tidak menaiki kereta terbuka tetapi kereta yang tertutup. Sesekali Illyvare mengintip keluar. Jendela kereta membuat wajahnya tak tampak dari luar. “Engkau sudah siap?” Illyvare mengangguk. Ia telah siap melakukan segala kegiatannya sebagai seorang Ratu sejak ia melangkah menuju altar. Ia telah siap menghadapi semuanya. “Hari ini akan terasa sangat berat,” Elleinder mengingatkan, “Tetapi besok sudah tidak lagi. Hanya hari ini kita akan berkeliling Skellefreinth untuk memberikan pidato dan melakukan berbagai macam hal.” Illyvare mendengarkan dengan tekun. Ia tidak pernah meninggalkan Istana Vezuza untuk menemui rakyatnya tetapi dari kesibukan ayahnya, Illyvare tahu beratnya menjadi seorang Raja apalagi Raja dari dua kerajaan. Kereta berhenti di depan sebuah bangunan yang besar. Pada bangunan itu tertulis huruf-huruf besar, “Gedung Pertemuan”. “Penduduk Skellefreinth selalu mengadakan rapat-rapat besar dan penting mereka di sini. Kadang tempat ini juga digunakan untuk pementasan drama dan konser besar.”
88

Illyvare tidak menanggapi penjelasan Elleinder itu. Gadis itu melihat orang-orang yang membungkuk hormat pada mereka. Di antara mereka ada yang datang mendekat. “Selamat datang, Paduka,” sambutnya, “Silakan masuk, Paduka.” Kemudian pria itu mengantar mereka ke sebuah ruangan yang telah dipenuhi orang. Orang-orang itu membungkuk hormat melihat kedatangan mereka. Pria itu terus mengantar Elleinder dan Illyvare ke tempat yang telah disediakan untuk mereka. Setelah Elleinder dan Illyvare duduk, acara dimulai. Sambutan-sambutan diucapkan pertama-tama dari penanggung jawab acara ini hingga ke ketua pengurus gedung ini. Elleinder terkejut melihat Illyvare tidak mengantuk mendengar pidato yang panjang lebar ini. Ia menduga seorang gadis yang selama ini hidup tenang di dalam Istananya yang megah tak biasa mendengar pidato yang diucapkan dengan monoton selama dua jam ini. Tetapi Illyvare tidak tampak bosan maupun mengantuk. Ia tetap duduk dengan tenang mendengarkan setiap ucapan penanggung jawab acara ini. Walau Illyvare tidak pernah muncul di hadapan umum, bukan berarti ia tidak terbiasa mendengar pidato sepanjang ini. Ia terlalu sering mendengar pidato yang lebih panjang dari ini. Setiap kali memberi pengarahan atau nasehat pada putrinya, Raja Leland selalu berbicara panjang lebar. Bila ia sedang bersemangat, nasehatnasehatnya bisa terucapkan terus-menerus selama lebih dari tiga jam. Elleinder tidak tahu itu. Illyvare sudah tahu panjangnya sebuah acara penting seperti ini. Sebenarnya acara ini hanya jamuan makan siang biasa. Namun karena ada sepasang orang terpenting dari dua kerajaan, maka sebuah jamuan bisa sepanjang ini. Karena seorang pria dan seorang gadis, jamuan makan siang ini telah dimulai ketika hari masih menunjukkan pukul setengah sepuluh. Illyvare melihat beberapa orang telah bosan mendengarkan pidato yang panjang lebar dari penanggung jawab acara ini. Tetapi bukan berarti kebosanan mereka telah berakhir, masih ada pidato dari ketua pengurus gedung ini sebelum tiba pidato terakhir yaitu dari Elleinder. Beberapa orang tampak berusaha menutupi kantuk mereka dengan berbisik-bisik. Duduk di podium atas samping orang banyak itu membuat Illyvare dapat melihat semua yang hadir dengan jelas.
89

Ketika akhirnya tiba giliran Elleinder untuk memberikan pidatonya, beberapa orang telah terkantuk-kantuk. Elleinder berjalan ke podium diiringi tepuk tangan. Illyvare terus memandang tenang ke podium. “Saya tidak akan berkata banyak. Saya hanya mengharapkan dukungan dari Anda semua dalam pemerintahan saya bersama istri saya, Putri dari Kerajaan Aqnetta, Putri Illyvare.” Elleinder mengulurkan tangannya ke arah Illyvare yang duduk dengan tenang di tempatnya. Melihat semua orang memalingkan kepada ke arahnya, Illyvare berdiri dan memberikan senyuman tipis sambil sedikit menganggukan kepala. “Setelah hari ini, saya berharap Anda semua mau bersama-sama saya semakin mengeratkan hubungan dengan Kerajaan Aqnetta dalam segala hal. Tentu saja saya tetap akan berusaha sebaik-baiknya demi kemakmuran kerajaan ini. Akhir kata saya sangat mengharapkan dukungan Anda semua dalam usaha saya mempererat hubungan Kerajaan Skyvarrna dengan Kerajaan Aqnetta.” Semua orang kembali bertepuk tangan. Illyvare menyembunyikan kekagumannya pada pidato Elleinder yang singkat namun penuh semangat itu, di balik sikap tenangnya. Elleinder kembali ke sisi Illyvare. Pria yang tadi menyambut kedatangan mereka, berdiri di podium depan dan berkata, “Terima kasih kami ucapkan pada Yang Mulia Paduka Raja Elleinder atas kesediaan Anda memberikan pidato pada siang hari ini. Saya mewakili semua yang hadir di sini mengucapkan selamat kepada Anda. Semoga Anda berdua hidup bahagia untuk selamanya.” Semua kembali bertepuk tangan sambil melihat Elleinder dan Illyvare yang telah berdiri di podium atas itu. “Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, makanan telah siap. Silakan menuju ruang yang telah disediakan,” pria itu melanjutkan. Elleinder melihat jam sakunya. “Sudah kuduga pidato sambutan ini akan sampai pukul dua belas lebih.” Elleinder membantu Illyvare berdiri. Prajurit memberi jalan pada mereka dan terus mengawal ketika mereka melewati kerumunan orang banyak.
90

Pria yang tadi disebut sebagai ketua pengurus gedung ini, mendekati mereka. “Ijinkan saya mengantar Anda ke ruang makan, Paduka.” “Silakan,” jawab Elleinder. Pria itu mengantarkan mereka hingga ke meja makan panjang di sebuah ruangan. Ia menunjukkan tempat duduk Elleinder di ujung meja dan menarikkan kursi untuk Illyvare di samping kanan Elleinder. “Terima kasih,” kata Illyvare lirih tak terdengar di keramaian itu. Beberapa orang yang belum duduk segera menempati tempat yang telah diatur untuk mereka. Di depan Illyvare duduk seorang wanita dan di kirinya seorang pria setengah baya. Namun Illyvare tidak tampak memperhatikan keberadaan mereka juga keberadaan Elleinder. Ketika dalam perjamuan itu orang-orang di sekitarnya berbicara, Illyvare hanya diam mendengarkan dengan tekun. Elleinder yang sudah kenal betul sifat Illyvare hanya tersenyum melihat gadis itu tetap diam dalam ketenangannya. Tetapi orang lain yang belum mengenal baik Illyvare, khawatir. “Apakah ia bisu?” bisik beberapa di antara mereka. “Mungkin ia tidak mengerti bahasa Latin,” bisik yang lain. Illyvare yang diam dalam ketenangannya itu dapat mendengar setiap bisikan itu tetapi ia tidak mempedulikannya. Selama ini ia telah membiarkan orang-orang mempunyai anggapan yang aneh-aneh tentang dirinya. Sekarang ia juga tidak memikirkan kata-kata mereka itu. “Saya dengar Kerajaan Aqnetta mempunyai banyak tempat yang indah. Apakah itu benar, Paduka Ratu?” Orang yang duduk di samping Illyvare mencoba mengajak Illyvare bicara dengan bahasa Kerajaan Aqnetta. Illyvare hanya mengangguk. Dan membuat tiap orang yang hadir semakin merasa dugaan mereka benar. “Raja Leland pasti menyembunyikannya karena ia bisu,” beberapa dari mereka berbisik penuh keyakinan. Samar-samar Illyvare dapat mendengar bisikan itu tetapi ia bersikap seolah-olah ia tidak mendengarnya. Tiba-tiba Illyvare merasa seseorang sedang memandang tajam ke arahnya. Tanpa sadar ia telah memalingkan kepala ke arah perasaan itu berasal.

91

Wanita berambut merah itu cepat-cepat membuang muka ketika Illyvare melihatnya. Ia bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa dan mengajak pria di sampingnya berbicara. “Ada apa, Illyvare? Apakah ada yang membuatmu merasa tidak nyaman?” tanya Elleinder cemas melihat sikap Illyvare. Melihat Illyvare menggeleng, Elleinder bertanya lagi, “Engkau yakin?” Illyvare mengangguk. “Baiklah,” Elleinder mengalah, “Kalau ada sesuatu yang tidak beres, beritahu aku.” Illyvare mengangguk lagi. Tanpa disadarinya, Illyvare membuat setiap orang di sana semakin yakin ia tidak dapat berbicara. Elleinder telah mengajaknya berbicara dengan bahasa Kerajaan Aqnetta tetapi sedikitpun ia tidak mengeluarkan suara. Ia hanya menggerakkan kepalanya sebagai jawabannya. Kalaupun Illyvare menyadari, hal itu tidak akan mengusiknya. Illyvare terlalu tenang untuk diganggu. Setelah peristiwa kecil tadi, Illyvare kembali dengan tenang menghadapi makanan dan tidak banyak berbicara. Akhirnya makan siang terpanjang yang pernah dialami Illyvare dalam hidupnya itu selesai. Belum pernah Illyvare merasa suatu makan siang bisa selama itu karena tamu yang makan bersama mereka lebih dari tiga puluh orang dan juga karena pembicaraan selama hidangan disajikan itu. Seperti biasa, Elleinder mengulurkan tangan membantu Illyvare bangkit dari kursinya dan mengapit tangan Illyvare dengan sikunya. Orang-orang itu mengantar kepergian Elleinder dan Illyvare hingga di depan kereta. “Sekali lagi saya mewakili kami semua mengucapkan terima kasih atas kedatangan Anda dalam jamuan makan siang ini,” pria yang tadi disebut sebagai penanggung jawab acara berkata. “Aku juga berterima kasih atas jamuan yang mewah ini,” balas Elleinder. Seorang pasukan pengawal membuka pintu kereta. “Terima kasih atas jamuan yang menyenangkan ini,” kata Illyvare dalam bahasa Latin Kuno. Kata-kata yang diucapkan perlahan tetapi cukup keras untuk didengar oleh semua yang berdiri di dekat kereta kuda itu membuat semua orang terpana.
92

Orang-orang itu masih terpana di tempatnya ketika kereta melaju meninggalkan tempat itu. Di dalam kereta, Elleinder tertawa geli. “Engkau pintar, Illyvare,” pujinya, “Aku tak menyangka engkau pandai membuat orang-orang terkejut hingga melupakan segala-galanya.” Illyvare memandang Elleinder dengan keheranan. “Aku tidak tuli, Illyvare. Aku juga mendengar bisik-bisik mereka itu. Sebelum engkau berbicara tadi, aku bermaksud mengajakmu berbicara sehingga semua orang tahu engkau tidak bisu juga mengerti bahasa kami.” “Caramu itu akan membuat setiap orang tutup mulut,” puji Elleinder, “Engkau akan membuat orang-orang yang suka bergunjing itu menutup mulutnya rapat-rapat selama berhari-hari.” Illyvare tidak menanggapi. Kembali Elleinder melihat Illyvare memandang jauh ke depan. Sering ia melihat Illyvare seperti ini. Pernah suatu kali ketika Illyvare memandang jauh, Elleinder bertanya, “Apakah yang sedang kaupikirkan? Apakah engkau memikirkan seseorang?” Illyvare menggeleng tanpa berkata apa-apa. Bukan hanya sekali Elleinder menanyakannya, tetapi jawaban Illyvare tetap sama. Akhirnya Elleinder hanya dapat membuat kesimpulan Illyvare suka memandang jauh. “Sekarang kita akan menuju pemakaman keluarga kerajaan di belakang Katedral Agung Machiavell. Aku ingin engkau mengenal leluhur-leluhurku. Ini sudah menjadi kebiasaan dalam kerajaan kami bahwa setiap menantu keluarga raja harus dibawa mengunjungi leluhur-leluhur kerajaan setelah menikah. Seharusnya kemarin sore kita ke sini tetapi karena kita baru tiba malam hari, maka kunjungan ini ditunda sampai saat ini.” Illyvare terus melihat keluar jendela hingga mereka tiba di Katedral Agung Machiavell. Seorang prajurit membukakan pintu kereta. Ia membungkuk hormat ketika Illyvare melewatinya. Beberapa biarawati menanti mereka di depan bangunan gereja yang besar itu. Seorang pendeta tua menghampiri mereka. “Selamat datang, Paduka. Kami senang Anda mau berkunjung ke tempat ini,” sambutnya.
93

“Ia adalah Pater di Katedral Agung Machiavell ini, Pastur Marcellus,” Elleinder memperkenalkan, “Pastur Marcellus, ini adalah Putri dari Kerajaan Aqnetta yang kini menjadi istriku, Putri Illyvare.” “Merupakan suatu kerhormatan bagi saya untuk dapat berkenalan dengan Anda, Paduka Ratu,” kata Pastur Marcellus, “Ijinkan saya mewakili semua yang ada di sini mengucapkan selamat datang di Kerajaan Skyvarrna. Semoga Anda senang tinggal di sini.” “Terima kasih, Pastur Marcellus. Aku senang dapat mengenal kalian semua dan kerajaan yang luas ini,” Illyvare berkata tenang. Pastur Marcellus berkata, “Ijinkan saya mewakili semua yang tinggal di Gereja ini mengucapkan selamat atas pernikahan Anda berdua, Paduka. Semoga Anda hidup bahagia selamanya.” “Terima kasih, Pastur Marcellus,” kata Elleinder. “Engkau tentu telah mengetahui maksud kedatangan kami ke sini.” “Tentu, Paduka,” sahut Pastur Marcellus, “Silakan masuk. Saya akan mengantar Anda ke pemakaman keluarga kerajaan.” Pastur Marcellus berjalan di samping Elleinder dan menunjukkan jalan ke belakang Katedral Agung Machiavell. Di tempat yang luas itu terdapat makam yang megah. Itulah makammakam raja-raja dan ratu Kerajaan Skyvarrna terdahulu. Di sini pula terdapat makam orang tua Elleinder. Illyvare melihat di antara makam-makam itu ada sebuah yang sangat megah dan diberi pagar batu di sekelilingnya. Beberapa prajurit muncul membawakan keranjang bunga. Sementara Pastur Marcellus membawa Elleinder dan Illyvare berkeliling, mereka dengan setia mengikuti di belakang. Di tiap makam, mereka berhenti untuk menaburkan bunga. Mereka berjalan menurut urutan raja-raja itu dimulai dari raja pertama Kerajaan Skyvarrna hingga orang tua Elleinder. Ketika sampai di makam termegah itu, Elleinder berkata, “Beliau adalah raja terbesar kami. Beliaulah yang membuat kerajaan ini menjadi seluas ini.” Illyvare menatap lekat-lekat nisan itu. Bahkan ketika mereka meninggalkan makam itu, Illyvare masih melihatnya. “Ada apa, Illyvare?” tanya Elleinder penuh perhatian, “Apakah ada sesuatu pada makam itu?” Kemudian Elleinder bergurau, “Apakah engkau melihat Raja Geroge VIII?”
94

“Kurasa.” Mereka meneruskan berkeliling makam hingga ke makam yang terakhir. Setelah menabur bunga di makam orang tua Elleinder, mereka kembali ke Katedral Agung Machiavell untuk berdoa bagi leluhur keluarga Kerajaan Skyvarrna. Pastur Marcellus terus mendampingi Elleinder dan Illyvare hingga mereka kembali ke kereta kuda. Usai mengucapkan selamat tinggal, mereka naik ke kereta dan melaju kembali ke Istana Qringvassein. “Ada yang mau kaukatakan?” “Tidak,” kata Illyvare tenang. “Aku tahu engkau mengetahui sesuatu tentang Raja Geroge VIII dan engkau ingin mengatakannya. Tetapi kalau engkau tidak mau mengatakannya, aku mengerti. Mungkin suatu hari nanti engkau akan mengatakannya. Aku percaya itu.” Illyvare menunduk mendengar pengertian Elleinder. Ia senang Elleinder dapat mengerti dirinya. Sungguh suatu keajaiban bagi Illyvare bahwa ada orang yang mengerti dirinya walau ia tidak mengatakan apa-apa. “Engkau akan mengatakannya suatu hari nanti, bukan?” Illyvare ragu-ragu. Ia khawatir apa yang diketahuinya berakibat tidak baik bagi hubungan kedua kerajaan ini. “Sekarang kita kembali ke Istana Qringvassein,” Elleinder mengalihkan pembicaraan, “Aku yakin engkau lelah. Aku mengerti engkau tidak terbiasa dengan kesibukan seperti ini, karena itu kuputuskan untuk tidak terlalu memperpadat jadwal kegiatan sehari-harimu. Engkau akan lebih banyak berada di Istana Qringvassein sampai engkau terbiasa dengan kesibukan ini.” Illyvare melihat Elleinder. Elleinder tersenyum. “Tentu saja aku akan menemanimu.” Tak lama kemudian mereka tiba di Istana Qringvassein. “Beristirahatlah,” kata Elleinder, “Setelah ini kita tidak mempunyai kegiatan lagi.” Illyvare menuju kamarnya. Dengan tenang ia melintasi Hall yang dipenuhi orang banyak. Ia mendengar orang-orang itu berbisik-bisik ketika ia berjalan, tetapi ia tidak memperhatikannya dan terus melangkah. Malam itu seusai makan malam, Illyvare memadangi langit malam melalui jendela kamarnya.
95

Di bawah sana prajurit yang bertugas menjaga Istana telah berkeliling. Pintu gerbang Istana telah ditutup rapat. Skellefreinth telah memancarkan cahaya malamnya. Kota-kota lain juga telah menunjukkan sinar malamnya. Pandangan Illyvare menerang jauh menembus langit malam. Tidak ada yang dipikirkan gadis itu. Ia duduk dan memandang langit malam yang dipenuhi awan. Hanya itu. Melalui jendela kamarnya, Illyvare dapat melihat Ruang Kerja di lantai dua menyala terang. Ia dapat melihat bayangan Elleinder yang sedang duduk menghadap meja kerjanya. Sekilas Illyvare melihat sekelebat bayangan hitam di pepohonan depan. Illyvare tidak mengkhawatirkan siapa mereka. Ia tahu mereka siapa. Tiba-tiba saja Illyvare sadar sebagai Raja Kerajaan Aqnetta, Elleinder harus mengetahui tentang Reischauer. Ia yakin pria itu pernah mendengar tentang Reischauer tetapi tidak mengetahui apa yang harus diketahuinya. Illyvare memutuskan untuk memberitahu Elleinder secepatnya. Illyvare mengambil mantel untuk menutupi gaun tidurnya dan melangkah menuju Ruang Kerja. Di sepanjang koridor Istana lilin-lilin bersinar terang. Angin yang masuk melalui celah-celah jendela mempermainkan api lilin. Pelayan-pelayan tidak tampak di sepanjang koridor. Hari telah menunjukkan pukul setengah dua belas dan sudah waktunya bagi mereka untuk beristirahat. Illyvare mengetuk perlahan pintu Ruang Kerja dan membukanya perlahan-lahan. “Illyvare!” Elleinder terkejut melihat gadis itu berdiri di ambang pintu, “Apa yang kaulakukan malam-malam buta seperti ini?” Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Elleinder. Dengan tenang, ia mendekati meja kerja Elleinder. Elleinder berdiri dan mendekati Illyvare. Elleinder membawa Illyvare ke kursi depan meja kerjanya. “Duduklah,” katanya. Elleinder duduk di meja di depan Illyvare dan bertanya “Apakah ada yang membuatmu terjaga?” “Tidak,” kata Illyvare tenang, “Ada yang ingin saya katakan pada Anda.” “Aku siap mendengarkannya.” “Saya yakin Anda pernah mendengar nama Reischauer.”
96

“Saya akan memberitahu Anda apa yang harus Anda ketahui sebagai Raja Kerajaan Aqnetta,” Illyvare tetap berkata tenang, “Tugas utama Reischauer adalah melindungi Kerajaan Aqnetta dari serangan musuh. Bila pasukan Kerajaan Aqnetta tidak dapat menghalau musuh, mereka baru ditugaskan. Reischauer langsung berada di bawah pimpinan Raja Kerajaan Aqnetta.” “Raja Kerajaan Aqnetta yang keturunan asli rakyat Kerajaan Aqnetta,” Illyvare menegaskan. “Selain melindungi Kerajaan Aqnetta, Reischauer “Jadi, sekarang mereka ada di sini?” “Ya,” jawab Illyvare singkat. Elleinder kagum. Ia sama sekali tidak merasakan keberadaan orang lain di sekitarnya selain Illyvare, tetapi Reischauer ada di sini. Di suatu tempat di sekitar ini. “Ini artinya mereka telah ada di sekitarmu sejak kita meninggalkan Gereja Chreighton. Dan mereka juga ada dalam kapal kita.” Illyvare tidak menjawab. Ia tahu Elleinder telah mengetahui jawabannya. Kekaguman Elleinder pada pasukan rahasia Kerajaan Aqnetta semakin bertambah. Tanpa membuat awak kapal curiga, mereka telah menjadi penumpang gelap. Tidak seorang pun selain Illyvare yang tahu dalam kapal mereka ada sekelompok pasukan lain. Mereka terus mengawal Illyvare sejak gadis itu meninggalkan Istana Vezuza tetapi tidak seorang pun yang tahu. Pasukan pengawal Kerajaan Skyvarrna bukan pasukan sembarang. Mereka telah terlatih untuk memperhatikan setiap gerakan di sekeliling mereka tetapi tidak ada yang mampu merasakan keberadaan Reischauer. Tak heran bila pasukan rahasia ini ditakuti banyak orang. “Reischauer memiliki keahlian tinggi untuk menyamar, menyusup dan membunuh. Mereka berani mengorbankan diri demi Kerajaan Aqnetta dan mereka tidak akan segan-segan membunuh setiap orang yang mengancam keselamatan Kerajaan Aqnetta.” “Mereka juga tidak akan segan membunuh setiap orang yang mengancam keselamatanmu,” tambah Elleinder. “Tugas mereka menyelidik, membunuh dan melindungi. Mereka dapat membunuh tanpa tanda-tanda yang jelas dan cara mereka membunuh tidak ada ampun.”
97

juga

bertugas melindungi keluarga kerajaan bila mereka keluar wilayah kerajaan.”

Elleinder memperhatikan sekelilingnya dan berharap dapat melihat seorang di antara mereka. “Mereka lebih tepat disebut pembunuh bayaran kelas tinggi. Walaupun Anda memasang mata lebar-lebar, Anda tidak akan dapat melihatnya,” Illyvare memberitahu dengan tenang. “Mereka di sini di bawah perintahmu?” “Ya,” jawab Illyvare singkat, “Sebagai Raja Kerajaan Aqnetta, saya meminta Anda untuk benar-benar memperhatikan keamanan Kerajaan Aqnetta. Sedikit saja usikan dari negara lain, Reischauer akan segera beraksi dan apa yang dapat ditimbulkan oleh mereka, Anda dapat membayangkan sendiri.” “Pembunuhan yang tidak kenal ampun dan pembantaian berdarah.” Illyvare diam termenung. “Terima kasih, Illyvare. Engkau sudah memperingatiku.” Elleinder menatap lekat-lekat wajah Illyvare. Gadis itu tidak tampak terganggu dengan tatapannya. Apa yang dikatakan Perkins padanya tadi benar. Illyvare sangat cantik seperti seorang peri dan ia beruntung dapat menikahinya. Bila mengingat kekhawatiran semua orang saat ia memutuskan akan menikahi Putri Kerajaan Aqnetta, Elleinder tersenyum geli. Putri Kerajaan Aqnetta yang dikatakan jelek, buruk bahkan sudah tua itu ternyata seorang peri mungil yang cantik dan manis. Orang-orang yang dulu khawatir sekarang iri pada Elleinder. Kerajaankerajaan yang dulu tidak berani menempuh cara yang diambil Elleinder, cemburu. Mereka semua kini memuji-muji Elleinder dan mengatakan ia adalah pria yang beruntung. Elleinder juga merasa ia beruntung. Ia seperti telah berjudi dan mendapatkan apa yang jauh lebih baik dari dugaannya. Ketika mengirimkan lamarannya, ia tidak menyangka akan mendapatkan seorang peri. Tidak sedikitpun terbesit dalam pikirannya Putri Kerajaan Aqnetta yang misterius itu adalah seorang peri. Tetapi saat menatap lekat-lekat wajah Illyvare seperti ini, Elleinder merasa ada yang salah. Ada yang kurang pada diri Illyvare. Ia telah mengenal sifat pendiam Illyvare tetapi… Sesuatu… Ya, sesuatu tidak ada pada Illyvare.
98

Semua orang mengatakan ia adalah gadis yang sempurna. Peri cantik yang sempurna. Illyvare cantik, elok, cerdas, dan penurut. Illyvare adalah gadis impian tiap orang baik pria maupun wanita. Tetapi sesuatu tidak ada padanya. Semakin lama melihat Illyvare, Elleinder semakin merasakannya. Ia telah merasakannya sejak dulu tetapi ia baru benar-benar menyadarinya tadi saat mengawasi Illyvare yang melintasi Hall yang dipenuhi orang. Illyvare berjalan anggun dan dengan tenang melalui orang-orang. Illyvare tersenyum pada tiap orang yang menyapanya dan membalas singkat sapaan mereka. Tetapi di raut wajahnya yang selalu tenang itu, Elleinder menemukan sesuatu yang kurang. Jam berdentang dua belas kali. Elleinder berdiri dan mendekati Illyvare. “Sekarang sudah malam. Sudah waktunya bagimu untuk beristirahat.” Illyvare melihat meja kerja. “Aku juga akan beristirahat.” Elleinder mematikan lilin Ruang Kerjanya sebelum menutup pintu. Elleinder mengambil sebuah lilin yang tertancap di tempat lilin di tembok. Koridor yang semula terang itu menjadi remang-remang. Elleinder mengantar Illyvare hingga ke kamarnya. “Tidurlah yang nyenyak. Besok kita masih harus ke Skellefreinth untuk mengunjungi panti asuhan terbesar di Kerajaan Skyvarrna.” Elleinder membukakan pintu kamar dan berkata, “Selamat malam.” “Selamat malam,” balas Illyvare dan ia melangkah masuk.

99

8

“Sialan kau, Elleinder!” Arwain melihat Illyvare yang sedang berada di antara bunga-bunga di taman. Gadis itu tampak seperti peri pagi dengan gaun putihnya yang sederhana. Illyvare menyentuh pucuk-pucuk dedaunan di sekitarnya dengan penuh kasih sayang. “Kalau tahu Putri Kerajaan Aqnetta secantik peri, aku pasti akan melamarnya sebelum engkau. Kalau tahu ia sangat cantik, aku pasti akan semakin keras melarangmu melamarnya.” “Aku tidak menyuruhmu tidak mengambil resiko,” Elleinder berkata tenang. “Ya, engkau tidak menyuruhku. Juga tidak ada yang menyuruhmu mengambil resiko menikahi Putri Kerajaan Aqnetta yang kata orang jelek, gemuk, dan sebagainya,” Arwain berkata tanpa sedikitpun melepaskan pandangan dari Illyvare. “Engkau mengambil resiko dan engkau mendapatkan berkat,” Arwain terus menggerutu, “Kau sangat beruntung. Kau tahu itu?” “Ya, aku juga merasa seperti memenangkan hadiah yang sangat besar dalam perjudianku.” “Memang seharusnya engkau merasa seperti itu. Putri Illyvare cantik dan mungil seperti peri. Siapapun yang tidak mempercayai adanya peri, pasti percaya ia adalah seorang peri. Tetapi sayang, ia telah menjadi milikmu.” “Ia cantik dan cerdas, tetapi aku merasa ada sesuatu yang salah padanya. Sesuatu yang kurang.” “Kurang?” Arwain baru beralih dari Illyvare, “Gadis sesempurna itu masih kaubilang kurang? Aku heran padamu, Elleinder. Gadis itu adalah gadis impian tiap orang. Cantik, manis, mungil, seorang Putri dari kerajaan yang makmur. Ia memiliki segala yang diinginkan tiap gadis dan itu masih kaubilang kurang? Kalau engkau tidak mau dengannya, Elleinder, berikan saja ia padaku dan aku akan merasa sangat beruntung.” “Ia memang sempurna, tetapi aku merasa ada yang kurang padanya. Aku tidak tahu apa itu tetapi aku merasakannya.”
100

“Aku tidak mengerti engkau, Elleinder,” Arwain kembali memperhatikan Illyvare, “Dulu engkau berani mengambil resiko menikah dengan gadis yang buruk rupa. Sekarang setelah mendapatkan seorang peri, engkau masih merasa tidak puas. Kalau engkau lebih menyukai gadis buruk rupa, berikan ia padaku.” Elleinder tidak mendengarkan perkataan sahabatnya itu. Ia melihat Arwain masih saja memandang ke bawah ke Illyvare di taman melalui jendela. Sejak muncul di Ruang Duduk di tingkat tiga ini, Arwain terus memandang ke bawah dan tidak menoleh saat berbicara dengannya. “Sebaiknya engkau tidak terus menerus memperhatikannya, Arwain,” Elleinder memperingati, “Illyvare mempunyai perasaan yang tajam. Kemarin dalam jamuan makan siang di Gedung Pertemuan, Illyvare tahu Joanne memperhatikannya walau Joanne duduk jauh darinya.” Arwain sini.” “Engkau masih beruntung ia hanya melihatmu. Kalau ia memanggil Reischauer, aku tidak yakin apakah engkau masih selamat.” “Reischauer ada di sini?” tanya Arwain tak percaya. “Ya, kemarin Illyvare memberitahuku. Ia mengatakan Reischauer telah mengikutinya sejak ia meninggalkan Kerajaan Aqnetta.” “Dan engkau tidak mengetahuinya,” tebak Arwain. “Seperti yang semua orang katakan, Reischauer memang hebat. Ia menjadi penumpang gelap di kapal dan tidak ada seorang prajuritpun yang tahu. Kau tahu prajurit yang waktu itu kubawa adalah prajurit terbaik Kerajaan Skyvarrna. Kalau prajurit terbaik saja tidak bisa merasakan keberadaan Reischauer apalagi orang biasa.” “Engkau yang mempunyai perasaan tajam juga tidak dapat merasakan keberadaannya. Mereka benar-benar hebat membuat aku ingin mencoba kehebatan mereka.” “Sebaiknya engkau tidak melakukannya, Arwain. Kata Illyvare, mereka seperti pembunuh bayaran kelas tinggi yang diperintah untuk melindunginya dari setiap ancaman.” “Aku mengerti,” kata Arwain. Tetapi Elleinder melihat mata pria itu mengatakan lain. Ia tahu pria itu mempunyai rencana.
101

tiba-tiba

merapat

di

dinding.

“Mengapa

engkau

baru

memberitahuku sekarang, Elleinder?” gerutunya. “Ia baru saja melihat ke arah

“Terserah engkau, Arwain. Bila terjadi sesuatu padamu, jangan katakan aku tidak memperingatimu.” “Bicara tentang Joanne,” Arwain mengalihkan pembicaraan, “Kemarin aku melihat ia mencegat Ratu Illyvare di koridor. Engkau pasti tertawa geli kalau mengetahui apa yang diperbuat perimu itu padanya.” “Apa yang telah terjadi di antara mereka?” “Tidak terjadi apa-apa. Kemarin Joanne mencegat Ratu Illyvare dan mengolok-oloknya.” Elleinder terkejut. “Jangan khawatir, ia mengucapkannya dalam bahasa Prancis.” “Untunglah. Kalau tidak, aku tidak tahu apakah ia masih selamat hari ini.” “Semula aku juga berpikir demikian tetapi siapa yang menyangka kalau yang terjadi berlawanan dengan yang kita pikirkan.” “Apa yang telah terjadi, Arwain?” tanya Elleinder cemas. “Akan kuceritakan apa yang kudengar,” kata Arwain, “Kemarin Joanne berkata panjang lebar tetapi aku masih ingat sedikit-sedikit. Aku tidak ingat jelas tetapi pada intinya ia berkata, ‘Engkau wanita yang tidak pantas. Gadis bisu sepertimu sama sekali tidak pantas untuk menjadi Ratu Kerajaan Skyvarrna. Pantas Raja Leland mengurungmu dalam Istana Vezuza. Kalau bukan karena ingin menguasai kerajaanmu, Raja Elleinder tidak akan menikahimu. Baginya engkau adalah alat untuk menguasai Kerajaan Aqnetta. Tidak lebih dari itu! Engkau harus mengerti itu. Kalau bukan karena menguasai Kerajaan Aqnetta, Raja Elleinder pasti akan menikah denganku. Aku telah mengenalnya jauh sebelum engkau mengenalnya dan aku lebih pantas menjadi Ratu Kerajaan Skyvarrna daripada engkau. Engkau mengerti?’” “Ia mengatakan itu?” Elleinder tak percaya. “Ya, itulah yang dikatakannya pada Joanne. Tetapi jangan berpikir lega dulu. Ketika aku mendengarnya, aku merasa marah. Aku berpikir bagaimana mungkin Joanne bisa menghina seorang Ratu seperti itu. Saat itu aku bersyukur Joanne mengatakannya dalam Bahasa Prancis. Aku tidak dapat membayangkan apa yang terjadi kalau ia mengatakannya dalam Latin Kuno atau Inggris.” “Rasa syukurku itu hanya sampai di situ. Sebab kemudian Putri Illyvare menjawab pertanyaan Joanne itu dalam Bahasa Prancisnya. Aku terkejut sekali mendengar ia dengan Bahasa Prancisnya yang fasih berkata, ‘Saya mendengar dan mengerti semuanya, Mademoiselle.’”
102

Elleinder terkejut. “Aku tak menyangka.” “Aku pun juga tak menyangka apalagi Joanne. Wanita itu sampai pucat pasi mendengar jawaban itu. Aku yakin ia akan segera meninggalkan Kerajaan Skyvarrna.” “Ya, itu cukup menjelaskan isi surat ini,” Elleinder mengangkat sebuah surat. “Aku ingin melihatnya.” Arwain mengambil surat itu dan membacanya. Maafkan saya, Paduka, saya tidak sempat pamit pada Anda. Saya harus kembali ke Paris. Ada urusan mendadak yang harus saya selesaikan. Saya senang dapat tinggal di Istana Qringvassein. Joanne. Arwain membelalak menatap Elleinder. “Tadi pagi pelayan memberikannya padaku. Katanya kemarin malam saat meninggalkan Istana Qringvassein, Joanne menitipkan surat itu padanya.” “Ia memang harus pergi secepatnya. Ia telah menghina seorang Ratu di hadapan Ratu itu sendiri dan itu akan berakibat buruk baginya kalau ia tetap tinggal di sini.” “Apalagi Ratu itu dilindungi oleh pasukan rahasia yang tidak akan segansegan membunuh siapa saja yang berani mengusik Ratunya,” timpal Elleinder. “Aku lega akhirnya wanita itu kembali ke Paris dan aku yakin ia tidak akan kembali.” “Jangan melihatku dengan pandangan menuduh seperti itu, Arwain. Aku tidak mengajaknya ke sini. Ia sendiri yang ikut dan ia sendiri yang meminta diijinkan tinggal di sini. Aku tidak bisa menolaknya sebab selama aku di Paris, ia banyak membantuku ketika aku mengalami kesulitan.” “Karena wanita itu aku mengalami kesulitan. Ia selalu menempel padaku dan selalu menanyakan padaku mengapa engkau tidak mencintainya. Karena dia, semua wanita menjauhiku. Ia bukan wanita yang ramah untuk diajak bersaing, Elleinder.” “Sekarang ia sudah pergi, Arwain. Bukan saatnya lagi engkau menasehatiku. Sekarang aku telah menikah.” “Sekarang aku juga baru mengerti mengapa engkau tidak jatuh cinta pada wanita cantik itu. Sejak awal engkau memang berniat menikahi Putri Kerajaan Aqnetta.” “Maukah engkau memanggilkan Illyvare untukku?”
103

“Engkau bisa menyuruh pelayan.” “Katamu engkau ingin mengenal Illyvare dan berbicara dengannya? Kalau engkau tidak mau, aku akan menyuruh pelayan.” “Tidak perlu,” Arwain tiba-tiba menjauhi jendela, “Akan kupanggilkan dia untukmu. Aku juga ingin mencoba kehebatan Reischauer.” “Jangan lakukan itu, Arwain!” cegah Elleinder. Arwain melesat pergi tanpa mendengarkan larangan Elleinder. Dengan hati riang ia menuju taman. Sekarang ia mempunyai alasan untuk berbicara dengan Illyvare dan kalau ia beruntung, ia dapat membuat Reischauer muncul. “Paduka Ratu!” Illyvare menoleh perlahan. Seperti biasa, Arwain terpesona melihat kecantikkan Illyvare. “Ada apa, Arwain?” kata Illyvare membuyarkan lamunan Arwain. “Saya ingin berbicara dengan Anda,” kata Arwain sambil mendekati Illyvare. Illyvare merasakan Arwain memiliki rencana tertentu terhadapnya, tetapi ia tetap bertanya tenang, “Apa yang ingin Anda bicarakan?” “Anda sangat cantik, Paduka. Mengapa Anda sendirian di sini?” Arwain terus mendekat, “Anda bagaikan bunga yang tiada taranya di taman bunga ini. Kecantikkan Anda mengalahkan kecantikkan semua bunga di sini. Anda membuat saya terpesona, Paduka.” Arwain terus mendekat dan ketika ia telah dekat dengan Illyvare, ia mengulurkan tangannya meraih dagu Illyvare. Illyvare berpegangan pada pohon dibelakangnya. Dengan tenang ia berkata, “Sebaiknya Anda menjaga sikap, Tuan Arwain.” “Bagaimana saya bisa menjaga sikap, Paduka?” tanya Arwain, “Anda telah mempesona saya dan membuat saya melupakan segalanya.” “Anda harus mengingat siapa saya, Tuan Arwain,” Illyvare mengingatkan. “Saya tahu. Anda adalah Ratu Kerajaan Skyvarrna dan istri sahabat saya. Tetapi, saya tidak dapat menghilangkan perasaan terpesona ini. Anda sangat cantik, Paduka dan membuat saya tidak dapat menahan diri.” Arwain semakin mendekatkan wajahnya. Ketika Arwain hampir mencium bibir Illyvare, tiba-tiba seseorang berdiri di belakang Arwain dan melingkari leher Arwain dengan pedangnya yang lentur tetapi tajam. “Sebaiknya Anda menjauhi Paduka Ratu sekarang juga,” suara itu memperingatkan tajam, “Atau saya tidak akan segan-segan membunuh Anda.”
104

Tiba-tiba Arwain merasakan bahaya di sekitarnya. Elleinder telah memperingatinya untuk tidak mengusik Illyvare dan sekarang ia merasakan akibatnya. Ia merasakan perasaan yang sama dengan ketika ia berada di Istana Vezuza. Ribuan mata serasa menatap tajam dirinya. Dan bahaya berada di dekatnya. Arwain melepaskan Illyvare dan menjauhinya tetapi pedang tajam itu terus melingkari lehernya. Bahkan orang di belakangnya itu menariknya mendekat dan menempelkan ujung pedangnya yang tajam di lehernya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arwain merasa ketakutan. Darah dingin terasa mengalir mulai dari kepalanya hingga seluruh tubuhnya. Keringat dingin bercucuran di dahinya. Tiba-tiba Illyvare mengatakan sesuatu pada orang itu. Arwain tidak mengerti dengan bahasa apa Illyvare memberi perintah pada orang itu. Tetapi seketika itu juga orang itu kemudian melompat ke rimbunnya dedaunan pohon. Arwain merasa lega ketika pedang itu pergi dari lehernya. “Maafkan saya, Paduka Ratu. Saya tidak benar-benar berniat menggoda Anda,” kata Arwain setengah lega dan setengah ketakutan. “Tidak apa-apa, Arwain. Saya mengerti,” kata Illyvare lembut untuk menenangkan pria itu. “Tadi Anda mengatakan ada yang ingin Anda bicarakan.” “Elleinder memanggil Anda.” Illyvare menengadahkan kepala ke jendela Ruang Duduk. Di balik jendela yang tertutup itu, Elleinder tersenyum padanya. “Terima kasih, Arwain.” Illyvare meninggalkan taman bunga. Illyvare mengetuk pintu Ruang Duduk dan membukanya perlahan-lahan. “Maafkan Arwain. Illyvare. Ia tidak bersungguh-sungguh menggodamu. Aku telah memperingatinya untuk tidak mencoba kekuatan Reischauer tetapi rupanya ia tidak mendengarku.” “Saya mengerti.” Elleinder berkata, “Ia adalah salah satu dari mereka bukan?” Elleinder terus melihat taman sejak Arwain pergi. Elleinder merasa khawatir ketika Arwain terus mendekati Illyvare hingga Illyvare mundur perlahan-lahan. Ketika Arwain memegang dagu Illyvare, Elleinder sangat cemas.
105

Saat itulah Elleinder melihat sebuah bayangan hitam yang bergerak sangat cepat sebelum seseorang menghunuskan pedang di leher Arwain. Orang itu berbaju serba hitam. Mulai dari rambut hingga kakinya tertutup kain hitam. Elleinder kagum melihat kecepatan orang itu. Setelah Illyvare mengatakan sesuatu, ia melesat pergi secepat kedatangannya. “Ada yang ingin Anda katakan pada saya?” “Aku mempunyai kejutan untukmu, Illyvare. Aku yakin engkau pasti senang.” Elleinder membunyikan bel dan tak lama kemudian Linty datang dengan seorang wanita tua yang amat dikenal Illyvare. “Paduka Ratu,” Nissha berseru dan berlari memeluk Illyvare. Illyvare terus menatap Elleinder. Elleinder tersenyum. “Ketika kita mendarat di pantai itu, aku menyuruh beberapa prajurit menjemput Nissha. Aku tahu engkau akan merasa senang bila di sisimu ada seseorang yang telah kaukenal.” “Saya sangat senang dapat berjumpa Anda lagi, Paduka Ratu,” kata Nissha terharu, “Saya sangat merindukan Anda. Bunga-bunga Anda juga merindukan Anda. Semua tampak lesu setelah Anda pergi.” “Tumbuhan memiliki perasaan,” Illyvare menjelaskan singkat. Nissha melihat Illyvare lekat-lekat. “Anda tidak berubah sedikitpun, Paduka Ratu. Anda tetap seperti dulu.” Illyvare tidak menanggapi. Elleinder semakin merasa ada sesuatu yang kurang pada Illyvare. Di saat ia melihat Nissha tersenyum senang, ia melihat Illyvare tetap tenang. Wajah cantiknya tetap menunjukkan ketenangannya. “Kita masih mempunyai banyak waktu sebelum kita ke Skellefreinth,” Elleinder memberitahu. Karena Elleinder mengatakannya dengan bahasa Inggris, Nissha dapat mengerti. “Mari, Paduka Ratu,” ajaknya. Di pintu, Nissha tiba-tiba berbalik. “Terima kasih, Paduka. Saya senang Anda mempertemukan saya dengan Putri kembali.” “Aku senang dapat melakukannya untuk kalian, Nissha.” Nissha kembali mencurahkan perhatiannya sepenuhnya pada Illyvare. Linty mendampingi mereka kembali ke kamar Illyvare. Nissha berulang kali mengatakan kerinduannya pada Illyvare dan katakata penduduk Kerajaan Aqnetta tentangnya. Nissha mengatakan semua orang terkejut karena Putri Kerajaan Aqnetta yang dikatakan buruk rupa itu ternyata
106

sangat cantik. Nissha tampak sangat puas ketika ia menceritakan kekagetan orang-orang itu. Ia juga mengatakan kekagetannya ketika seorang prajurit Kerajaan Skyvarrna datang ke Istana Vezuza dan mengatakan Elleinder menyuruh mereka menjemputnya. Tanpa banyak bertanya, Raja Leland mengijinkannya pergi. Prajurit itu memacu kereta kuda yang ditarik empat ekor kuda, cepatcepat sehingga ia tiba dalam waktu singkat. Pagi ini ia baru tiba dan langsung disambut Linty yang segera mengantarnya ke kamarnya. Tak lupa Nissha mengatakan kesedihan bunga-bunga Illyvare karena kepergian gadis yang selalu merawat mereka. Tetapi Nissha tidak lupa membawa bunga-bunga yang telah mekar. Karena Nissha merendamnya dengan air segar selama perjalanan ke Istana Qringvassein, bunga-bunga itu masih segar. Nissha tidak lupa pada kebiasaan Illyvare untuk memanfaatkan udara musim gugur untuk mengeringkan bunga-bunga. Nissha menunjuk tiga keranjang penuh bunga di tengah kamar Illyvare. Ketika masuk tadi, Illyvare dapat mencium wanginya bunga-bunga dari tamannya dan ia telah melihat ketiga keranjang yang diletakkan di tengah kamarnya itu. Usai bercerita panjang lebar, Nissha menghela nafasnya dalam-dalam dan berkata, “Saya tidak pernah menyangka Paduka Raja Elleinder akan mengijinkan saya mendampingi Anda walau sekarang Anda tinggal di Istana Qringvassein.” “Paduka Raja memang orang yang pengertian,” Linty mencoba berbicara dengan bahasa Inggris. “Sebaiknya engkau belajar bahasa kami, Linty. Aku tidak ingin engkau merasa tersisih ketika kami berbicara.” “Mungkin sebaiknya saya juga belajar bahasa Latin Kuno. Saya tidak mau seperti orang bodoh yang hanya bisa kebingungan mendengar sekeliling saya berbicara.” “Sebaiknya kalian saling belajar mengajar.” Nissha tersenyum. “Anda tidak berubah, Paduka Ratu. Selalu berkata tenang, singkat, padat, dan jelas tetapi bertujuan besar.” Karena bahasa yang digunakan di Kerajaan Skyvarrna agak mirip dengan bahasa Kerajaan Aqnetta, Linty dapat mengerti sedikit apa yang dikatakan Illyvare dan Nissha. Ia sependapat dengan Nissha. Illyvare tidak mengatakan ia
107

ingin Linty dan Nissha berteman baik tetapi kata-kata singkatnya itu menunjukkan maksudnya. Illyvare melihat matahari semakin tinggi. Ia menuju tiang penggantung mantel dan mengambil topinya. “Anda mau ke mana?” tanya Linty dan Nissha bersamaan dalam bahasa yang berbeda. “Panti Carmell,” jawab Illyvare singkat. “Anda mau ke Panti Carmell dengan gaun itu?” Linty terkejut, “Jangan, Paduka. Paduka Raja pasti tidak senang melihat Anda pergi dengan gaun itu.” “Aku bukan pergi ke pesta,” kata Illyvare singkat. “Tetapi, Paduka…” “Maaf,” Nissha memotong, “Apa yang kalian bicarakan?” Sejak diberi tugas oleh Elleinder untuk melayani Illyvare, Linty telah belajar Bahasa Inggris namun ia masih terbata-bata dalam mengucapkannya. “Paduka Ratu akan pergi ke Panti Asuhan dengan gaun itu,” Linty mencoba menjelaskan. Nissha melihat Illyvare dari atas hingga bawah. Dengan rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai dan gaun putihnya yang sederhana, Illyvare tidak tampak seperti seorang Ratu. Ia lebih tampak seperti gadis biasa. “Ke Panti Asuhan dengan gaun itu?” kata Nissha sambil berpikir. Illyvare tidak menanti hasil pemikiran Nissha. Ia melambaikan topinya pada kedua orang itu dan melangkah pergi. “Paduka! Paduka Ratu!” Linty mengejar Illyvare. “Saya mohon, Paduka. Dengarkanlah saya. Jangan pergi dengan gaun itu. Gaun itu tidak pantas.” “Gaun ini pantas,” kata Illyvare tenang. “Paduka!” Illyvare terus menuju ke kereta kuda yang telah menanti. Linty juga terus mengikuti gadis itu dan terus memohon. “Maafkan saya, Paduka Raja,” kata Linty, “Ratu tidak mau mengganti gaun. Ia memaksa pergi dengan gaun ini.” “Gaun ini cocok untuk pergi ke Panti Asuhan,” kata Illyvare tenang. Elleinder melihat Illyvare kemudian berkata, “Illyvare benar, Linty. Kami akan pergi ke Panti Asuhan bukan ke pesta. Lebih baik mengenakan pakaian yang sederhana bila akan berkunjung ke Panti Asuhan. Tidak baik membuat orang lain menjadi iri.” Linty terpana mendengar Rajanya setuju dengan Ratu.
108

“Sebaiknya aku mengenakan sesuatu yang lebih sederhana.” Elleinder kembali masuk ke dalam Istana. “Mungkin Paduka Raja benar,” gumam Linty setelah terdiam beberapa saat. Sekali lagi Linty dibuat kagum oleh Illyvare. Gadis itu tidak mengatakan apa yang dipikirkannya tetapi langsung melakukannya. “Sebaiknya saya kembali ke kamar Anda dan memulai pelajaran bahasa saya dengan Nissha,” Linty berpamitan. Linty membungkuk hormat kemudian masuk kembali ke dalam bangunan megah itu. Tak lama kemudian Elleinder muncul kembali dan kali ini ia mengenakan kemeja santai yang terbuat dari bahan biasa. Pakaiannya seperti pakaian orang-orang lainnya tidak seperti pakaian seorang bangsawan. “Mari kita berangkat.” Perjalanan ke Panti Carmell tidak lama. Dengan kereta yang ditarik empat ekor kuda yang cepat, dalam waktu singkat mereka tiba di Panti Carmell. Kali ini yang menyambut kedatangan mereka bukan hanya orang dewasa. Banyak anak yang berdiri di depan panti menanti mereka. “Selamat datang, Paduka,” sambut seorang wanita, “Saya, Veri, Kepala Panti Carmell siap melayani Anda.” Seorang anak tiba-tiba berseru, “Peri! Perinya datang!” Mereka melihat anak-anak yang mulai ribut itu. “Jangan berisik, anak-anak. Kalian belum memberi salam pada Paduka,” seorang wanita memperingati. Tetapi anak-anak itu tidak dapat diam. Mereka semakin ramai dan berulang kali mengatakan, “Benar. Perinya datang! Perinya datang!” “Maafkan anak-anak itu, Paduka. Mereka terlalu senang dapat berjumpa dengan Paduka Ratu.” “Peri yang mereka katakan itu?” tanya Elleinder tertarik. Elleinder melihat Illyvare yang tetap dengan tenang memandangi anak-anak Panti Carmell itu. “Benar, Paduka, mereka menyebut Paduka Ratu. Maafkan mereka, Paduka. Mereka tidak mengerti siapa yang mereka sebut peri itu.” “Aku mengerti mereka, Veri. Semua orang juga mengatakan padaku Illyvare lebih mirip seorang peri daripada seorang Putri.”

109

Veri melihat Illyvare. “Kami mengajak mereka menyambut Anda kemarin dan ketika mereka melihat Paduka Ratu memasuki Gedung Pertemuan, mereka mengatakan Paduka Ratu adalah peri.” Beberapa anak memberontak dari pengasuh mereka. Mereka tidak menghiraukan larangan pengasuh-pengasuh mereka dan berlari mendekati Illyvare. “Anda benar-benar seorang peri?” “Mana sayap Anda?” tanya yang lain. Illyvare melihat wajah-wajah polos itu dan tersenyum. “Aku bukan peri dan tidak mempunyai sayap,” katanya lembut. Seorang anak perempuan menarik tangan Illyvare. “Ikutlah main bersama, peri.” Veri membungkuk dan berkata pada anak-anak itu. “Kalian jangan mengangguk Paduka Ratu. Pergilah bermain.” Anak-anak membandel. Mereka memegang erat-erat tangan Illyvare dan berkata, “Kami mau bermain dengan peri.” Veri tampak kewalahan menghadapi anak-anak itu. “Maafkan anak-anak ini, Paduka Ratu,” kata Veri bersalah, “Mereka anak-anak yang nakal. Saya akan membujuk mereka untuk pergi bermain.” “Mereka di sini untuk menyambut kedatangan kami.” Veri menatap Illyvare lekat-lekat. Anak-anak itu tidak mau menanti ijin dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Beramai-ramai mereka menarik Illyvare dan membuat gadis itu tidak dapat berbuat lain selain mengikuti mereka. Melihat wajah bersalah Veri, Elleinder berkata, “Tidak apa-apa, Veri. Anak-anak itu menunjukkan rasa sayang mereka pada Illyvare. Illyvare juga tampak senang dapat menemani mereka.” Veri melihat Illyvare yang seakan-akan menjadi mainan anak-anak itu dengan pandangan bersalah. “Bagaimana perkembangan tempat ini, Veri?” Veri memalingkan kepala. “Seperti tahun-tahun sebelumnya, Paduka. Anak-anak di tempat ini tidak berkurang jumlahnya tetapi semakin bertambah. Beberapa di antara mereka sudah ada yang diambil keluarga lain tetapi masih ada anak-anak yang ditinggalkan di depan Panti. Kami kesulitan menemukan orang tua kandung mereka.” Elleinder mendengarkan sambil melihat Illyvare.
110

Illyvare mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya dan memberikannya pada anak perempuan yang tadi memegang tangannya. Anak itu melupakan bonekanya dan mengambil bunga kering itu. Dengan bangga anak itu menunjukkan pemberian Illyvare pada teman-temannya. Entah karena terlalu senangnya anak itu atau karena kecerobohannya, bunga itu tiba-tiba jatuh dan seorang anak tidak sengaja menginjaknya. Illyvare cepat-cepat mendekati anak itu sebelum ia menangis. Illyvare mengeluarkan menerimanya. Beberapa prajurit menurunkan peti-peti berisi mainan yang dibawa dari Istana Qringvassein dan membawa sebuah peti ke samping Illyvare. Bagaikan seorang peri yang baik hati, Illyvare mulai memberikan mainan itu pada tiap anak. Anak-anak tentu saja senang mendapat hadiah dari peri mereka. Mereka berebutan menerima pemberian Illyvare tetapi Illyvare dengan tenang terus membagikan. Dua orang anak terlihat berebut kereta kayu. Mereka sama-sama tidak mau mengalah. Illyvare ingin melerai mereka tetapi sebuah tangan kecil memegang tangannya. Illyvare berlutut di depan anak itu. Anak itu mengulurkan tangannya. Illyvare menyambut uluran tangan itu dengan menggendongnya. Anak yang tadi berebut mainan melihatnya dan mereka meninggalkan mainan itu. Mereka berlari menuju Illyvare. “Aku!” “Tidak! Aku dulu!” Terdengar mereka masih memperebutkan sesuatu. Ketika sampai di samping Illyvare, mereka sama-sama mengulurkan tangan meminta gendong. Kedua anak itu saling melihat dengan marah kemudian berkejar-kejaran di sekeliling Illyvare dan membuat gadis itu kewalahan. Kedua anak itu tidak sadar teman mereka yang lain mengambil mainan yang tadi mereka perebutkan. Anak itu berjingkat-jingkat seperti seorang maling kecil dan tersenyum nakal ketika melihat mainan yang tergeletak itu. Ketika ia kembali ke tempatnya semua, anak-anak itu baru menyadarinya. Serentak mereka meninggalkan Illyvare dan berlari mengejar pencuri mainan mereka. bunga yang lain dari sakunya dan anak itu gembira

111

Illyvare tertawa geli melihat mereka. Bukan salah anak itu kalau ia mengambil mainan yang menjadi perebutan itu. Mereka meninggalkan benda itu tergeletak begitu saja di tanah dan sibuk memperebutkan Illyvare. Elleinder terpana melihat tawa Illyvare itu. Tiba-tiba saja ia menyadari apa yang tidak ada pada Illyvare. Gadis itu memang sempurna tetapi ia bagaikan mengenakan sebuah topeng. Topeng cantik dengan bibirnya yang selalu tersenyum. Benar, sebuah topeng cantik yang selalu tersenyum. Di saat diam, bibir Illyvare menekuk halus membentuk sebuah senyum tipis. Tetapi tidak pernah ada ekspresi di sana. Sinar matanya selalu tenang. Senyum di bibirnya terasa hambar. Wajahnya tidak pernah terlihat bahagia. Gadis itu terlalu tenang dan dingin. Benar-benar seperti sebuah topeng yang dingin dan hanya menunjukkan wajah yang sama. Ketika melihat Nissha datang, Illyvare juga tidak tampak bahagia. Ia dengan tenang menatap wajah wanita tua itu dan tidak membalas pelukannya. Elleinder yakin pasti ada penyebabnya di balik semua sikap dingin Illyvare ini. Elleinder semakin yakin Illyvare memang marah padanya bahkan mungkin tidak senang menjadi istrinya! Elleinder mulai menduga sebelum menikah dengannya, Illyvare telah jatuh cinta pada seseorang. Dan karena harus menikah dengannya, ia melepaskan kebahagiaannya itu di Kerajaan Aqnetta dan sekarang yang tertinggal padanya hanya seorang peri cantik dengan topengnya yang selalu tersenyum. Tidak ada alasan yang lebih tepat dari itu! Raja Leland mengurung peri cantik itu di Istana Vezuza juga pasti karena ia mempunyai rencana lain terhadap masa depan gadis itu. Raja Leland mungkin ingin menikahkan Illyvare dengan pria pilihannya dan ia tidak mau ada orang lain yang mengetahui kecantikkan Illyvare. Raja Leland tidak mau banyak pria melamar Illyvare karena kecantikkannya yang tiada tara ini. Raja Leland menginginkan seorang pria yang benar-benar mencintai Illyvare dan tetap mau berada di sisinya walaupun ia buruk rupa. Pasti karena itu Raja Leland membiarkan khayalan orang-orang melambung tinggi dan berlawanan dengan kenyataan. Raja Leland terus membiarkan hal itu hingga ada seorang pria yang benar-benar mau
112

mendampingi Illyvare seumur hidupnya baik ia buruk rupa maupun ia cantik.

Dan ketika Elleinder melamarnya, Raja Leland merasa senang dan menerimanya dengan terbuka. Tetapi Raja Leland tidak tahu saat itu Illyvare sudah jatuh cinta pada pria lain. Raja Leland tentu memaksa Illyvare menikah dengannya demi hubungan dua kerajaan ini. Tiba-tiba saja Elleinder merasa bersalah pada Illyvare. Tetapi tidak ada yang dapat dilakukannya. Mereka telah menikah. Pernikahan mereka sakral dan tak terpisahkan. Dalam upacara pernikahan mereka, mereka telah berjanji untuk terus bersama sampai maut memisahkan. Illyvare menunjukkan ketidakbahagiaannya dengan berdiam diri sepanjang hari dan tidak menunjukkan ekspresi di wajahnya selain wajah tenangnya. Illyvare mendiamkan Elleinder dan tidak mau berbicara banyak kepadanya. Elleinder melihat ketiga anak yang berkejaran itu berlari ke arah Illyvare. “Permisi,” katanya kemudian mendekati Illyvare. Sebelum anak yang dikejar itu menabrak Illyvare, Elleinder menggendong anak itu. “Cukup,” katanya, “Jangan berebut lagi. Masih ada banyak mainan untuk kalian.” Elleinder menurunkan anak itu dan menunjuk dua buah peti lain di samping kereta. Melihat teman-temannya berlari ke kereta, anak perempuan di gendongan Illyvare meminta turun. Illyvare menurunkan anak itu. Elleinder melihat wajah Illyvare yang kembali tenang seperti tertutup topeng itu. Elleinder ingin melepas topeng itu dan sebelum ia melakukannya ia ingin sebuah kepastian. Ia tahu apa yang harus dilakukannya dalam waktu dekat ini.

113

9

Elleinder melihat Illyvare yang berdiri di ambang pintu. “Maafkan aku, Illyvare. Aku ingin menemanimu tetapi ada sesuatu yang harus kuselesaikan secepatnya. Aku terpaksa membatalkan semua jadwalku bersamamu pagi ini karenanya.” “Saya mengerti. Linty telah memberitahu saya.” Elleinder mendekati Illyvare. “Setelah urusan ini selesai, aku akan menemanimu lagi. Hari ini engkau terpaksa pergi sendirian ke Kemmiyarf. Beberapa prajurit akan mengawalmu dan Pasukan Pengawal akan menjagamu.” “Saya mengerti.” Elleinder tidak tega membiarkan Illyvare berkeliling Skellefreinth sendirian tetapi ia terpaksa melakukannya. Ia menginginkan sebuah kejelasan dan tanpa sepengetahuan Illyvare. Dalam rencana, hari ini ia dan Illyvare akan pergi ke kawasan tempat tinggal orang-orang miskin di tepi Istana Qringvassein. Tetapi karena rencananya, ia terpaksa membiarkan Illyvare pergi sendiri. “Elleinder!” Pintu tiba-tiba terbuka. Arwain terkejut melihat Illyvare. “Selamat pagi, Sir Arwain,” salam Illyvare. “Selamat pagi, Paduka Ratu,” balas Arwain gugup. “Kukira sekarang mereka sedang menantimu,” kata Elleinder. Illyvare mengangguk. Elleinder membukakan pintu untuk Illyvare dan berkata perlahan setengah berbisik, “Maafkan aku, Illyvare. Aku sungguh-sungguh menyesal tidak dapat menemanimu.” Illyvare tersenyum pengertian dan meninggalkan tempat itu. “Mengapa engkau tidak menemaninya?” tanya Arwain heran. “Mengapa engkau datang tergesa-gesa, Arwain? Ada sesuatu yang ingin kaukatakan?” “Ya,” kata Arwain tegas, “Aku ingin memprotesmu karena tidak
114

mengatakan Reischauer bisa membunuhku karena aku menggoda istrimu.”

“Aku telah memperingatimu,” kata Elleinder tenang dan kembali ke meja kerjanya. Arwain menuju jendela dan melongok keluar melihat kepergian Illyvare. “Ia mempunyai pengawal yang luar biasa. Baru kali ini aku merasa setakut itu. Aku takkan pernah menginjakkan kaki di sini lagi bila mengingat mereka ada di sekitarku. Mereka membuat seluruh tubuhku merinding ketakutan.” “Jadi itu sebabnya kemarin sore aku tak melihatmu.” “Bayangkan, Elleinder!” Tiba-tiba Arwain berbalik dan menatap tajam Elleinder. “Yang menodongku itu wanita dan ia membuat aku takut setengah mati. Kalau Putri Illyvare tidak mengatakan sesuatu padanya, aku pasti sudah terkencing-kencing.” “Wanita?” tanya Elleinder tak percaya, “Bukannya laki-laki?” “Aku tidak terlalu tuli untuk membedakan suara wanita dan suara pria, Elleinder,” kata Arwain kesal, “Wanita itu berkata sangat tajam dan penuh bahaya. Ia benar-benar membuatku sangat ketakutan.” “Aku telah memperingatimu,” Elleinder mengingatkan dengan tenang. “Sebenarnya Putri Illyvare bisa berapa bahasa?” “Aku tidak tahu.” “Kalau kuhitung-hitung, ia bisa menggunakan empat bahasa. Inggris, Latin Kuno, Prancis, dan bahasa aneh itu. Aku yakin ia masih menguasai bahasa lain. Apakah perimu itu bisa menggunakan semua bahasa di dunia ini?” “Mengapa engkau tidak menanyakannya langsung padanya?” “Berbicara dengannya sekarang membuatku merinding. Aku tidak dapat membayangkan kalau seorang wanita membuatku sangat ketakutan dan mengalungkan pedangnya di leherku.” “Mereka tidak akan melakukannya bila engkau tidak mengganggu Illyvare.” “Engkau percaya, Elleinder, ia menggunakan bahasa yang aneh ketika memerintah wanita itu. Bahasa yang sangat aneh. Belum pernah aku mendengarnya.” “Kurasa itu semacam suatu bahasa khusus untuk memberi perintah Reischauer. Kadang-kadang kekuatan pasukan rahasia dapat membahayakan bila diatur oleh orang yang salah.” “Aku berharap tidak bertemu mereka lain kali.”
115

“Sebaiknya memang tidak. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padamu,” kata Elleinder tenang, “Sekarang bisakah engkau meninggalkanku?” “Engkau mengusirku?” “Tidak. Aku memerintahkanmu. Ada sesuatu yang sangat penting yang harus aku lakukan.” “Baiklah,” Arwain mengalah, “Sampai jumpa lagi, Elleinder. Nanti aku akan kembali.” Elleinder melipat tangannya di meja. Ia menanti kedatangan seseorang. Orang yang dinanti-nantikan Elleinder itu akhirnya datang. “Saya datang setelah mengantar kepergian Paduka Ratu, seperti perintah Anda, Paduka,” Nissha melapor. “Duduklah, Nissha. Ada yang ingin kutanyakan padamu.” “Apakah yang ingin Anda tanyakan, Paduka?” “Apakah seseorang?” Nissha terkejut. “Dari mana Anda mendapat pikiran itu, Paduka?” “Dari sikapnya, Nissha. Selama ini Illyvare sangat pendiam dan tenang. Ia sangat dingin seperti mengenakan topeng di wajahnya. Aku tidak pernah melihatnya benar-benar bahagia. Ia selalu tersenyum tetapi itu adalah topengnya. Topeng yang selalu tersenyum.” “Paduka Ratu tidak pernah meninggalkan Istana bagaimana ia bisa jatuh cinta pada orang lain, Paduka? Bagaimana mungkin ada orang lain yang jatuh cinta pada seorang Putri yang dikatakan orang-orang buruk rupa? Satu-satunya pria dalam hidup Putri adalah ayahnya dan saudara sepupunya, Tuan Calf.” “Tetapi sikapnya mengatakan lain, Nissha. Ia jarang berbicara denganku. Ia tampak seperti marah padaku karena aku membuatnya tidak bahagia.” “Kalaupun ada yang membuat Paduka Ratu tidak bahagia, itu adalah Raja Leland,” kata Nissha mendesah. “Bukankah selama ini Raja Leland menyembunyikan Illyvare di Istana Vezuza karena ia ingin mencari pria yang benar-benar mencintai Illyvare baik ia cantik maupun buruk?” “Anda salah, Paduka. Semua yang Anda katakan itu semuanya salah. Salah besar,” Nissha menekankan. sebelum menikah denganku, Illyvare jatuh cinta pada

116

“Putri tidak dingin seperti yang Anda katakan. Putri Illyvare adalah gadis yang pendiam dan tenang. Ia tidak marah pada Anda karena sejak lahir ia sudah jarang berbicara. Ia juga tidak pernah bisa marah, Paduka.” “Tidak mungkin ada orang yang tidak bisa marah?” “Kalau orang itu adalah Putri Illyvare, saya percaya.” Elleinder tertarik mendengarnya. “Sejak Ratu Kakyu, di dalam keluarga Kerajaan Aqnetta selalu ada seorang yang tenang. Ratu Kakyu adalah gadis yang tenang. Orang-orang mengatakan ia adalah gadis yang dingin-dingin tenang tetapi Raja Reinald mengatakan ia orang yang tenang-tenang dingin. Diceritakan turun temurun bahwa Ratu Kakyu adalah ratu Kerajaan Aqnetta yang paling tenang dalam segala hal tetapi tangkas.” “Ratu Kakyu?” Elleinder tertarik mendengarnya. “Saya tidak tahu banyak tentang Ratu Kakyu. Yang saya ketahui hanya keluarga Kerajaan Aqnetta mendapatkan warisan sifat tenang itu dari Ratu Kakyu. Kalau Anda ingin mengetahuinya lebih banyak, lebih baik Anda bertanya pada Putri.” “Kuharap ia mau menceritakannya,” kata Elleinder, “Ia gadis yang sulit dibuat berbicara banyak, Nissha.” “Ya, saya juga selalu kewalahan membuat Putri mau berbicara. Tak jarang dalam satu hari Putri sama sekali tidak berbicara. Putri Illyvare memang gadis yang sangat pendiam. Dalam sejarah keluarga Kerajaan Aqnetta, Putri Illyvare adalah gadis yang paling tenang.” “Walaupun ia tahu di luar Istana, orang-orang menjelekkan dirinya, ia tetap tenang-tenang saja. Bahkan ketika tahu ia harus menikah dengan Anda, ia tetap tidak tampak terganggu. Putri Illyvare sangat tenang. Ketika ia bahagia, sedih maupun marah yang tampak di wajahnya hanyalah sikap tenangnya. Namun di balik itu semua, saya tahu ia adalah gadis yang lembut hati. Ia dapat merasakan apa yang orang lain rasakan, apa yang tidak dirasakan orang lain.” “Ia pasti Putri kebanggaan Raja Leland.” “Saya juga berharap seperti itu,” kata Nissha sedih. “Raja Leland tidak bangga padanya?” tanya Elleinder tak percaya, “Rakyat Kerajaan Skyvarrna sangat bangga mempunyai Ratu secantik peri tetapi Raja Leland tidak?”
117

“Seperti itulah, Paduka. Saya sangat bangga dapat mengasuh Putri Illyvare. Seperti yang rakyat Kerajaan Skyvarrna katakan, Putri Illyvare memang cantik dan mungil seperti peri. Tetapi Raja Leland berkata lain. Raja Leland sama sekali tidak menyayangi Putri. Ia malu pada Putri.” Elleinder semakin tertarik mendengar cerita Nissha. Ia ingin tahu mengapa Raja Leland malu pada Illyvare yang sangat cantik dan sempurna seperti seorang peri itu. “Raja Leland lebih bangga pada kakak Putri, Putri Rebecca.” “Illyvare mempunyai kakak perempuan? Mengapa aku tak pernah mendengar tentangnya?” “Ia meninggal ketika masih berumur delapan tahun, Paduka,” kata Nissha, “Saat itu Putri Rebecca dan Ratu Saundra dalam perjalanan ke Hutan Naullie dan karena hujan lebat, kereta yang mereka tumpangi tergelincir ke jurang. Tak seorangpun di antara mereka yang selamat. Saat itu Putri Illyvare tidak ikut bersama mereka.” “Raja Leland sangat mengharapkan mempunyai seorang putra yang kelak dapat menggantikannya dan ketika Putri Rebecca lahir, ia sangat kecewa. Tetapi kekecewaannya itu terobati oleh kecantikkan Putri Rebecca. Putri Rebecca cantik tetapi Putri Illyvare lebih cantik lagi.” Nissha mulai menjelaskan perbedaan Putri Illyvare dan Putri Rebecca. “Ia dan Putri Illyvare sangat bertolak belakang. Ia gadis yang periang dan kecantikkannya menyolok. Sedangkan Putri Illyvare sangat pendiam dan tenang, ia memiliki kecantikan yang lembut dan penuh misteri. Pada Putri Illyvare seakan-akan tampak ada sesuatu yang tak tersentuh manusia.” “Putri Illyvare selalu tampak tenang dan ia seperti berada dalam suatu dunia lain. Di dalam dunianya itulah terdapat sesuatu. Sesuatu… sesuatu yang sangat… Entahlah saya sulit menjelaskannya. Tetapi sesuatu itu tampak seperti sebuah misteri yang sangat mempesona dan mampu membuat siapa saja terus memandang Putri Illyvare,” Nissha tampak kesulitan, “Sejak lahir ia sudah seperti seorang peri. Tetapi tidak bagi Paduka Raja Leland.” “Ketika putri keduanya lahir, Raja Leland sangat kecewa dan kekecewaannya itu tak terobati oleh kecantikkan Putri Illyvare. Ia tetap menganggap Putri Rebecca sangat cantik dan Putri Illyvare tidak cantik. Setelah kematian Ratu Saundra dan Putri Rebecca, kekecewaan Raja Leland semakin besar. Ia semakin melarang Putri Illyvare meninggalkan Istana.”
118

Dengan sedih Nissha melanjutkan, “Sejak lahir Putri Illyvare selalu disuruhnya belajar giat. Raja Leland sering berkata Putri Illyvare tidak cantik dan hanya kecerdasannya saja yang dapat membuat seorang pria jatuh cinta pada Putri. Karena itu sejak lahir Putri Illyvare lebih banyak berada di Istana." “Saya kasihan pada Putri Illyvare. Setiap hari ia hanya belajar, belajar, dan belajar. Tetapi ia sama sekali tidak mengeluh. Dibandingkan Putri Rebecca, Putri Illyvare memang lebih rajin. Putri Rebecca selalu memberontak bila disuruh belajar sedangkan Putri Illyvare selalu melakukannya dengan tekun.” “Apa yang dilakukan Raja Leland pada Putri Illyvare memang kejam. Ia melarang Putri Illyvare menampakkan dirinya di depan umum. Orang-orang di Istana Vezuza juga dilarangnya mengatakan pada orang lain seperti apa rupa Putri Illyvare. Setiap ada tamu yang menginap, Putri dilarang meninggalkan kamarnya. Bahkan Raja Leland tega menyuruh Putri membaca semua buku di perpustakaan dan menghafalkannya.” Elleinder terperanjat. “Dan Illyvare melakukannya dengan sangat baik,” tebaknya. Nissha mengangguk sedih. “Sepanjang hari Putri Illyvare berada di Ruang Baca dan membaca semua buku-buku itu. Saya pernah berpikir mengapa Putri tahan membaca semua buku tebal itu. Bahkan banyak di antara buku-buku itu yang menggunakan bahasa asing sehingga Putri Illyvare harus mempelajari bahasa itu terlebih dulu.” “Raja Leland sangat malu pada putrinya dan melarang Illyvare meninggalkan Istana Vezuza. Ia juga menyuruh Illyvare belajar setiap hari agar ada seorang pria yang tertarik padanya. Bukan karena kecantikkannya tetapi karena kecerdasannya,” Elleinder mengulang semua cerita Nissha. “Aku tidak percaya bagaimana mungkin ia mengatakan Illyvare tidak cantik? Semua orang yang melihat Illyvare langsung jatuh cinta padanya, bagaimana mungkin ia mengatakannya?” “Anda akan mengerti bila Anda tahu rupa Putri Rebecca, Paduka.” “Kalau Putri Rebecca lebih cantik dari Illyvare, tentu akan banyak pria yang mengejarnya. Tentu saja bila ia masih hidup.” “Saya kira tidak, Paduka. Pasti lebih banyak pria yang jatuh cinta pada Putri Illyvare. Putri Rebecca bukan seorang gadis yang lembut, Paduka. Ia cantik tetapi ia juga mudah marah. Sedangkan Putri Illyvare memiliki kecantikan yang tidak akan pernah Anda temukan di dunia ini dan ia sangat pendiam juga tenang. Andaikan Raja Leland memperbolehkan Putri
119

meninggalkan Istana Vezuza, saya yakin sejak dulu Putri Illyvare telah menikah.” “Sekarang aku sudah mengerti semuanya. Terima kasih, Nissha.” “Saya senang dapat melakukannya, Paduka. Yang saya inginkan hanya dapat membuat Putri Illyvare bahagia.” “Aku akan membuatnya bahagia, Nissha.” “Apakah Anda mencintai Putri Illyvare?” Elleinder terkejut oleh pertanyaan yang tak terduga itu. “Saya melihat Putri mencintai Anda. Hanya kepada Anda saja Putri mau lebih sering berbicara.” “Bagaimana engkau dapat menyimpulkan hal itu hanya karena Illyvare lebih sering berbicara denganku?” “Anda akan mengerti kalau Anda melihat bagaimana diamnya Putri Illyvare ketika ia tinggal di Istana Vezuza. Anda tidak perlu heran bila berharihari tidak mendengar suara Putri.” “Kalau melihat sikap Illyvare, aku dapat mempercayainya walaupun itu rasanya sulit. Tetapi bagaimanapun juga, aku tetap akan membuatnya bahagia.” “Anda tidak akan mengurungnya seperti Raja Leland, bukan?” “Untuk apa aku mengurungnya? Aku sangat bangga mempunyai istri seperti peri. Aku ingin menunjukkan pada semua orang seperti apakah istriku itu.” “Saya lega mendengarnya. Saya yakin Putri Illyvare akan senang dapat melihat dunia yang tidak pernah dilihatnya selama tujuh belas tahun hidupnya.” “Illyvare masih berumur tujuh belas?” tanya Elleinder tak percaya, “Orang-orang mengatakan ia lebih tua dari itu.” “Raja Leland telah mengurung Putri sejak ia lahir, Paduka. Dan orangorang itu menduga Putri Rebecca adalah Putri Illyvare. Rakyat Kerajaan Aqnetta saja tidak tahu kalau mereka mempunyai dua orang Putri bagaimana mungkin orang lain tahu? Putri Rebecca berbeda enam tahun dengan Putri Illyvare. Itu sebabnya Anda mendengar usia Putri Illyvare lebih tua dari yang sebenarnya.” Sedikitpun Elleinder tidak pernah berpikir Illyvare lebih muda sepuluh tahun darinya. “Kalau tidak ada yang ingin Anda tanyakan lagi, Paduka, saya ingin menemui Linty. Ia berjanji akan mengajari saya bahasa Latin Kuno.”
120

“Silakan, Nissha. Aku telah mendapatkan lebih banyak dari yang ingin aku ketahui. Terima kasih, Nissha.” “Saya senang dapat melakukannya, Paduka.” hormat dan meninggalkan Ruang Kerja. Elleinder menuju jendela dan memandang keluar. Tetapi yang terlihat olehnya adalah Illyvare yang sedang memandang jauh. Nissha benar. Illyvare selalu terlihat tenang dan selalu memandang jauh. Di wajahnya yang tenang dan pandangannya yang jauh itu ia tampak seperti memiliki sebuah dunia sendiri. “Tidak,” bantah Elleinder kepada dirinya sendiri. Illyvare tidak membentuk dunia itu. Gadis itu tidak memiliki dunia lain tetapi ia telah menjadi bagian dari alam ini di mana pun ia berada dan itulah yang membuatnya tampak tak tersentuh dan tampak begitu mistik. Terbayang jelas di ingatan Elleinder ketika ia mendapati Illyvare duduk di jendela Istana Camperbelt memandang jauh ke depan. Gaun hijaunya yang cerah membuatnya tampak seperti peri alam. Wajahnya tenang menunjukkan kedamaian hatinya, pandangan matanya menerawang jauh seperti merindukan saat-saat berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Saat itu Illyvare tampak menjadi bagian dari alam. Sekarang ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia akan membuat Illyvare bahagia. Ia akan melepas topeng dingin itu dari wajah cantik Illyvare dan menunjukkan pada dunia wajah seorang peri yang selalu berbahagia. -----0----Bermil-mil dari Istana Qringvassein, Illyvare mengalami kesibukan yang luar biasa. Orang banyak berusaha mendekatinya dan membuat para pengawal Illyvare kewalahan. Illyvare tahu mereka ingin berbicara dengannya. Mencurahkan keluh kesah yang tampak di wajah mereka. Mereka mengharapkan uluran tangan Illyvare sebagai seorang Ratu. Di lubuk hatinya yang terdalam, Illyvare merasa sedih. Di balik kemegahan kota Skellefreinth ternyata ada tempat yang memerlukan perhatian. Masih ada orang yang memerlukan bantuan di balik kemewahan gaya hidup Skellefreinth.
121

Nissha membungkuk

Setiap hal di dunia ini selalu memiliki kawan yang bertolak belakang. Ada yang kaya ada pula yang miskin. Ada yang benar ada pula yang salah. Ada putih ada hitam. Semua memiliki lawan. Para prajurit membuat jalan untuk Illyvare. Beberapa pengawal mendampingi Illyvare masuk ke sebuah rumah sakit yang kurang terawat. Dinding-dindingnya tidak seputih rumah sakit lainnya. Peralatan di dalamnya memerlukan banyak perbaikan. Di dalam ketenangannya, Illyvare dapat merasakan kesedihan, keharuan juga rasa senang mereka melihat kedatangannya. Prajurit-prajurit yang mengangkat kotak-kotak besar berisi bantuan mengawal Illyvare hingga ke kantor Kepala Rumah Sakit itu. Mereka meletakkan dua kotak itu di lantai kemudian meninggalkan kantor itu. “Saya merasa terhormat Anda mau datang ke tempat sekotor ini, Paduka Ratu.” “Selama masih ada yang tinggal, suatu tempat tidak dapat dikatakan kotor. Tempat ini hanya memerlukan perhatian lebih dan biaya besar untuk memperbaikinya.” Pria tua itu kagum mendengar kata-kata Illyvare yang singkat tetapi penuh dengan hiburan dan perhatian. “Perbaikan apa yang diperlukan?” “Banyak sekali, Paduka Ratu, tetapi yang paling utama saat ini adalah obat-obatan dan tempat yang bersih,” jawab Dokter Lotham, “Tanpa obatobatan dan sarana yang bersih, para pasien akan sulit sembuh, Paduka.” Illyvare melihat sekeliling kantor kecil itu. Di atas meja yang usang berserakan kertas-kertas. Dinding-dindingnya tampak seperti hampir roboh. “Aku ingin melihat para pasien,” kata Illyvare tiba-tiba. “Sebaiknya tidak, Paduka,” Dokter Lotham cepat-cepat melarang, “Di sini sedang terjadi wabah penyakit menular. Saya akan merasa sangat bersalah bila Anda tertular.” Sebelum Dokter Lotham melarangnya lagi, Illyvare berbalik meninggalkan kantor kecil itu dan menuju sebuah ruangan yang penuh berisi orang yang sedang kesakitan. Dokter Lotham terkejut melihat tindakan Illyvare itu. Gadis itu tidak berusaha bersikeras dengan keinginannya tetapi langsung melakukannya.
122

Banyak orang yang tergeletak di ruangan itu. Tidak ada tempat tidur yang baik di sana. Mereka tergeletak di lantai dan tidak terawat. Tubuh mereka yang kurus hanya dilindungi oleh sehelai selimut tipis yang kotor. Muka-muka pucat itu terkejut melihat kedatangan peri Kerajaan Skyvarrna. Illyvare melihat sinar bahagia dan terharu di wajah-wajah yang kesakitan itu. Dengan susah payah mereka berusaha mendekati Illyvare. Gadis itu tidak mendekat juga tidak menjauh. Ia berdiri dengan anggunnya di tengah-tengah ruangan itu seolah-olah ingin orang-orang itu dengan semangat dan kekuatan mereka sendiri datang padanya. Dengan susah payah akhirnya beberapa orang berhasil mendekati Illyvare. Para prajurit berusaha menyingkirkan orang-orang itu dari sekitar Illyvare. Illyvare berlutut dan mendekati seorang di antara mereka. “Paduka!” cegah para pengawal Illyvare dan Dokter Lotham bersamaan. Terlambat bagi mereka untuk mencegah Illyvare menyentuh seorang pasien. Illyvare menyentuh tangan seorang wanita dan berkata, “Tempat ini juga memerlukan perawat.” Para prajurit tidak tahu bagaimana mencegah Illyvare semakin mendekati mereka. Dokter Lotham juga tidak tahu bagaimana melarang Illyvare. Pria tua itu hanya dapat berkata, “Benar, Paduka.” “Paduka,” seseorang di antara mereka memanggil, “Saya kedinginan, Paduka.” Illyvare melihat seorang pria muda yang tengah kesakitan itu. Perlahanlahan Illyvare bangkit. Ia melihat keinginan di wajah orang-orang itu. Mereka tidak ingin ia pergi, mereka ingin ia menemani mereka dan menghibur mereka. “Kalian semua, tolong ambilkan selimut yang kita bawa tadi,” Illyvare memberi perintah dengan kelembutan yang tersembunyi di balik wajah tenangnya. “Baik, Paduka.” Semua prajurit itu kembali ke kantor Dokter Lotham. Illyvare kembali berlutut. Ketika ia mengulurkan tangannya pada orangorang itu tiba-tiba tangannya dicengkeram kuat. Illyvare terkejut. Tangan itu bukan tangan orang yang sakit tetapi tangan orang yang sehat. Pria itu menariknya mendekat dengan kasar. Semua orang di ruangan itu menjerit ketakutan melihat hal itu. Pria itu menghunuskan pisau tajamnya di leher Illyvare.
123

“Lepaskan dia!” seru Dokter Lotham, “Jangan kausentuh Paduka!” Teriakan itu memanggil kembali para prajurit yang tadi disuruh Illyvare. Melihat seorang pria menawan Ratu, mereka bersiap-siap menyerang. Tangan mereka telah siap menarik pedang mereka dari sarungnya. Dengan berjalan mundur, ia berkata, “Jangan mendekat! Bila ada yang bergerak, aku akan membunuhnya. Aku tidak bercanda. Aku akan membunuhnya bila kalian bergerak!” Tidak seorangpun yang berani mengambil resiko. Seorang prajurit bergerak meninggalkan tempat itu. Sayang pria ia melihatnya. Pria itu berseru, “Jangan meninggalkan tempat ini! Tidak seorang pun yang boleh meninggalkan tempat ini!” Prajurit itu kembali ke tempatnya. “Buang senjata kalian!” perintahnya, “Cepat buang senjata kalian! Kalian tidak ingin Ratu kalian mati, bukan?” Semua prajurit meletakkan pedang mereka di lantai kemudian mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi. “Sekarang kami sudah tak bersenjata,” kata Rugoff, “Katakan apa maumu.” Illyvare melihat Kepala Prajurit Pengawal pribadinya itu berusaha mengulur waktu. “Aku akan memberitahu kalian bila kami telah meninggalkan tempat ini dengan selamat.” Beberapa pria muncul di antara orang sakit itu dan mendekat teman mereka. Bersama-sama mereka bergerak mundur hingga mencapai jendela. Di luar jendela telah menanti teman mereka yang lain. Pria yang menyandera Illyvare, mengangkat tubuh Illyvare dan memberikannya pada temannya. Kemudian ia dan kawan-kawannya yang lain melompat pergi. Rugoff segera berlari menuju jendela tetapi terlambat. Kawanan pria itu telah melajukan kuda mereka cepat-cepat meninggalkan debu tebal yang berterbangan di jendela. “Kejar mereka!” perintahnya. Prajurit di dalam ruangan itu segera berlari keluar tetapi saat mereka telah berada di luar, tidak terlihat seorang pun di antara kawanan penjahat itu. Bayangan mereka pun tidak ada. Yang ada hanya jejak debu tebal yang berterbangan.
124

“Kita terlambat,” kata Rugoff geram, “Mereka akan mendapatkan balasannya bila aku berhasil menangkap mereka.” “Maafkan saya,” Dokter Lotham merasa bersalah, “Saya tidak tahu kalau di antara para pasien ada penjahat-penjahat itu.” “Bukan salahmu, Dokter Lotham. Kita tidak tahu mereka berada di antara para pasien itu. Siapa pun mereka, mereka telah mengetahui Ratu akan datang ke tempat ini. Mereka benar-benar cerdik. Aku yakin merekalah yang tadi meminta selimut dan mereka menanti hingga kita semua meninggalkan Ratu sendirian.” “Apakah kalian yang di luar melihat siapa mereka?” tanya Rugoff tibatiba. “Tidak, Komandan. Mungkinkah mereka sekelompok pemberontak?” “Mungkin saja.” “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Beberapa prajurit bertanya cemas. “Berharap mereka tidak mencelakakan Ratu dan kembali ke Istana Qringvassein. Kita harus melaporkan hal ini pada Paduka Raja,” kata Rugoff tegas.

125

10

Rugoff berjalan dengan terburu-buru dan cemas menuju Ruang Kerja. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Elleinder bila ia mendengar hal ini. Tetapi ia telah siap menghadapi segala hal termasuk kemarahan Elleinder. Kekhawatirannya pada keselamatan Illyvare telah membuatnya lupa pada semua tata cara menemui seorang Raja. Tanpa mengetuk pintu, Rugoff langsung membuka pintu dan berlutut di depan meja kerja Elleinder. “Engkau sudah datang,” sambut Elleinder, “Bagaimana perjalanan kalian ke Kemmiyarf?” “Maafkan hamba, Paduka. Hamba tidak dapat menjalankan tugas dengan baik.” “Kalian telah ke Kemmiyarf, bukan?” “Hamba telah mengawal Paduka Ratu hingga beliau tiba di Kemmiyarf, tetapi hamba gagal membawanya kembali.” Elleinder curiga melihat kekhawatiran di wajah Rugoff. “Katakan padaku, Rugoff. Apa yang telah terjadi?” “Sekelompok penjahat membawa Ratu pergi, Paduka,” Rugoff menjawab hati-hati. Elleinder terhenyak kaget. “Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Kalian terus berada di sisi Illyvare, bukan?” “Maafkan kami, Paduka, kami telah lengah.” “Mengapa kalian meninggalkan Illyvare? Bukankah tugas kalian menjaga dan melindunginya?” “Saat itu Ratu menyuruh kami semua mengambilkan selimut.” “Dan kalian semua pergi tanpa seorang pun mengawal Illyvare?” selidik Elleinder. “Maafkan kami, Paduka. Kami mengakui kami salah. Kami telah lengah sehingga Ratu diculik oleh penjahat-penjahat itu,” Rugoff cepat-cepat berkata, “Saat itu Ratu berada di antara orang-orang yang sakit. Mereka semua lemah. Mereka takkan dapat mencelakakan Paduka Ratu, bahkan mereka harus
126

bersusah payah untuk mendekati Ratu. Kami tidak menduga para penjahat itu bersembunyi di antara mereka.” “Ceritakan apa yang terjadi. Aku ingin mendengar ceritamu,” kata Elleinder menahan kemarahan. Rugoff menceritakan mulai dari saat mereka memasuki kawasan Kemmiyarf dan orang-orang mulai mendekati Illyvare. Rugoff juga menjelaskan saat mereka meninggalkan Illyvare, mereka merasa hal itu aman. Tidak seorang pun di antara orang sakit itu yang dapat berdiri apalagi mencelakakan Illyvare. Elleinder mendengarkan cerita Rugoff dengan penuh perhatian. “Itulah yang terjadi, Paduka,” Rugoff mengakhiri ceritanya. Tiba-tiba Elleinder teringat Illyvare pernah mengatakan di sekitarnya selalu ada Reischauer yang siap membunuh siapa saja yang mengancam keselamatannya. Tetapi di dalam cerita Rugoff tadi, tidak disebutkan kemunculan orang lain yang tiba-tiba menyelamatkan Illyvare. Kalau mereka muncul, tentu saat ini Illyvare sudah berada di sini. “Saat itu tidak muncul siapapun?” tanya Elleinder antara curiga dan ingin tahu. “Tidak, Paduka. Di sana hanya ada kami, Dokter Lotham, para pasien dan para penjahat itu.” Elleinder ingat pasukan rahasia tidak boleh muncul begitu saja. Mereka bekerja secara rahasia. Mengingat hal itu, Elleinder mulai merasa lega. “Tidak apa-apa, Rugoff,” katanya lega, “Mungkin sebentar lagi Illyvare akan tiba di sini.” “Maksud Anda?” tanya Rugoff dan Arwain bersamaan. “Illyvare pernah mengatakan padaku, Reischauer selalu berada di sekitarnya. Kurasa saat ini mereka berusaha menyelamatkannya.” “Ya, aku baru ingat itu,” kata Arwain bersemangat. “Anda tidak perlu khawatir, Komandan Rugoff. Saya meyakinkan Anda pada kekuatan pasukan rahasia Kerajaan Aqnetta itu.” “Saya rasa tidak, Paduka.” Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita. Dan sesaat kemudian muncul seseorang yang berbaju serba hitam di depan Elleinder. Mereka terkejut melihat kedatangan wanita itu. “Siapa kau?” Rugoff menghunuskan pedangnya.
127

“Letakkan senjatamu, Rugoff,” kata Elleinder, “Ia adalah seorang dari Reischauer.” Rugoff memasukkan kembali pedangnya namun matanya terus memandang curiga. Wanita itu merasakannya tetapi ia tidak mempedulikannya. Ia tahu pria itu tidak akan dapat mengalahkannya. “Nama saya Morgan. Saya adalah Ketua dari Reischauer yang bertugas melindungi Putri.” Elleinder melihat seluruh tubuh wanita itu tertutup oleh pakaian hitam hanya matanya yang tidak terlindungi oleh kain hitam itu. Elleinder tidak pernah menyangka penampilan Reischauer seperti seorang pencuri. “Dapatkah Anda menjelaskan maksud Anda itu, Nona? Bukankah kalian berada di sini untuk melindungi Illyvare.” “Benar,” jawab Morgan tegas, “Kami di sini untuk melindungi Putri dari setiap ancaman.” Wanita itu memandang tajam Arwain. “Tetapi karena kejadian kemarin, hari ini kami lebih memusatkan perhatian kami pada keamanan Istana Qringvassein.” Arwain merasakan tatapan tajam wanita itu. Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan. Elleinder juga merasakan tatapan tajam yang penuh curiga itu. “Dia tidak berbahaya. Ia adalah temanku dan apa yang dilakukannya pada Illyvare kemarin bukanlah hal yang serius. Ia hanya ingin menggoda Illyvare.” “Kami tahu,” sahut Morgan, “Putri telah mengatakannya pada kami kemarin malam.” Arwain lega mendengarnya. “Tetapi,” kata wanita itu tajam. Arwain kembali merinding ketakutan. “Kami tidak ingin mengambil resiko apa pun. Hari ini kami menyelidiki semua yang ada di Istana Qringvassein. Kami melihat banyak prajurit yang mengawal Putri dan kami tidak khawatir. Tetapi kami tidak menduga prajurit pengawal itu sedemikian lemahnya hingga Putri diculik.” “Ada katamu?” Rugoff merasa terhina, “Itu bukan kesalahan kami. Kami sama sekali tidak tahu penjahat-penjahat itu berada di antara orang-orang sakit itu.” “Kalian tidak curiga pada seorang pria muda yang tegap yang meminta selimut baru padahal di sana banyak selimut?”
128

Rugoff semakin geram. Ia tidak pernah dihina seperti ini apalagi oleh seorang wanita. “Saya ke sini bukan untuk bertengkar dengan Anda, Komandan.” Morgan kembali berkata pada Elleinder, “Seperti yang saya katakan tadi, kami tidak mau mengambil resiko apapun. Karena itu saya hanya mengirim dua orang untuk mengawal Putri.” Morgan melirik tajam Rugoff dan berkata, “Sebenarnya, mereka sudah dapat membunuh semua penjahat itu.” Elleinder yakin seorang Reischauer dapat membunuh lebiih dari sepuluh orang dalam satu waktu. “Tetapi kami tidak dapat melawan perintah,” Morgan menambahkan. “Kemarin malam Putri telah meminta kami semua untuk tidak bertindak gegabah. Putri mengingatkan kerajaan ini bukan Kerajaan Aqnetta. Putri meminta kami lebih banyak menyelidiki dan mengamati. Bila ada sesuatu yang mencurigakan, Putri melarang kami bertindak. Putri ingin kami melaporkan hal itu pada Putri sendiri atau pada Anda.” “Baru saja saya mendapat laporan dari seorang di antara mereka bahwa mereka mengetahui tempat persembunyian para penjahat itu. Para penjahat itu bukan pemberontak seperti dugaan Anda. Mereka hanya penjahat biasa yang ingin memanfaatkan rasa cinta rakyat dua kerajaan kepada Putri. Dalam waktu dekat ini mereka akan mengirimkan berapa banyak mereka meminta tebusan bagi keselamatan Putri. Suatu tebusan yang dapat membuat mereka hidup mewah selama tujuh turunan.” Morgan mereka.” Elleinder menangkapnya dan membukanya. Sebuah tempat tergambar jelas di kertas itu. Sebuah peta rumah lengkap dengan bagian-bagiannya dan tempat-tempat yang aman untuk bersembunyi juga keterangan di mana Illyvare disekap dan di mana saja penjahat itu berjaga-jaga. Elleinder mengagumi kemampuan dan kecepatan Reischauer. Dengan kecepatan dan keterampilan seperti ini, tak heran bila semua orang tidak berani mengusik ketentraman Kerajaan Aqnetta apalagi Reischauer. “Bila Anda ingin mereka masih hidup, sebaiknya Anda bergegas. Saya tidak bertanggung jawab bila seorang dari kami yang masih berjaga di sana, membunuh mereka semua.”
129

mengeluarkan

secarik

kertas

dari

balik

bajunya

dan

melemparkannya ke arah Elleinder. “Ini adalah peta tempat persembunyian

“Aku mengerti, Morgan. Illyvare telah mengatakannya padaku.” “Kami akan pergi ke sana sekarang juga. Bila dalam waktu dekat kami tidak melihat kalian, kami akan bertindak.” “Satu hal yang perlu Anda ketahui, Paduka,” Morgan mengingatkan, “Anda tidak dapat memerintah kami. Yang dapat memberikan perintah pada kami adalah Paduka Raja Leland dan di kerajaan ini hanya Putri Illyvare saja yang dapat melakukannya.” “Hanya orang-orang yang dapat berbicara dengan bahasa asing itu, bukan?” “Sebaiknya Anda bergegas, Paduka,” kata Morgan kemudian ia melompat keluar jendela. Elleinder bergegas menuju jendela. Baik Arwain maupun Rugoff rupanya juga tidak mau ketinggalan melihat apa yang dilakukan wanita itu setelah melompat dari jendela lantai dua. Terlihat bayangan hitam menuju pohon terdekat. Bayangan itu terus melompat ke pohon terdekat dengan cepat. Sesaat kemudian, muncul bayangan-bayangan hitam lain yang mengikuti bayangan hitam itu tadi. Mereka muncul dari segala arah seolah-olah dari segala penjuru dunia ini. Elleinder kagum melihat kecepatan mereka. Belum lama ia melihat bayangan hitam terakhir, ia melihat bayangan hitam terdekat telah jauh melampaui pintu gerbang Istana Qringvassein. Jarak gedung dan pintu gerbang Istana Qringvassein hampir dua kilometer, tetapi pemimpin mereka telah mencapainya dalam waktu satu kedipan mata. “Kita juga tidak boleh ketinggalan,” kata Elleinder, “Rugoff, segera temui Brasch dan perintahkan dia untuk segera menyiapkan pasukan dalam waktu singkat. Setengah jam lagi mereka harus sudah siap berangkat.” “Baik, Paduka.” Rugoff berlari melakukan tugas itu. “Kau gila, Elleinder,” kata Arwain, “Tidak mungkin menyiapkan pasukan dalam waktu setengah jam.” “Kita tidak ingin terjadi pembantaian yang mengerikan, bukan?” kata Elleinder sambil meninggalkan Ruang Kerjanya. “Mau ke mana engkau?” “Mempersiapkan diri,” jawab Elleinder. Elleinder bergegas ke kamarnya dan berganti pakaian seragam militer. Rugoff yang berlari-lari melakukan perintah Elleinder, berhasil
130

melaksanakan tugasnya dengan baik.

Kepala Pengawal Istana terkejut mendapat tugas itu. Dengan segera ia melakukannya dan seperti yang diinginkan Elleinder, sebelum setengah jam di depan Istana Qringvassein telah berbaris lebih dari dua puluh prajurit. Elleinder berdiri di depan para prajurit itu. Brasch datang mendekat. “Pasukan telah siap diberangkatkan, Paduka,” lapornya. “Kita berangkat sekarang!” “Baik, Paduka.” Jenderal Brasch kembali ke pasukannya dan memerintahkan pasukan bersiap-siap berangkat. Elleinder segera menaiki kudanya dan memimpin pasukan meninggalkan Istana Qringvassein. Elleinder melajukan kudanya dengan kencang ke hutan belakang Kemmiyarf. Dalam peta yang diberikan Morgan itu, disebutkan tempat persembunyian mereka terletak di dalam hutan itu. Tidak jauh dari Kemmiyarf. Ketika mulai mendekati hutan itu, Elleinder memperlambat laju kudanya. Dan memasuki hutan dengan hati-hati. Elleinder berhenti ketika melihat semak-semak tinggi yang seperti membentuk sebuah pagar. Ia mendekati semak-semak itu dan melihat apa yang ada di baliknya. Seperti yang digambarkan dalam peta, tempat persembunyian para pejahat itu terlindungi oleh semak-semak yang tinggi. Dengan tangannya, Elleinder memerintahkan para prajurit turun dari kudanya. “Sembunyikan kuda,” bisik Jenderal Brasch memberikan perintah. Sebagian dari para prajurit itu berlindung di balik semak-semak dan sebagian membawa kuda mereka berlindung di semak-semak yang lebih tinggi. Melihat tidak ada seorang pun di luar rumah kecil itu, Elleinder bergerak mendekat. Dengan hati-hati ia mendekati sebuah jendela dan mengintip ke dalam. Elleinder melihat Illyvare duduk meringkuk di salah satu sudut rumah. Elleinder lega melihat gadis itu masih selamat. “Bagaimana, Paduka?” bisik Brasch. “Illyvare masih selamat,” jawab Elleinder berbisik pula.
131

Elleinder kembali mengintip ke dalam. Ia terkejut ketika seorang pria yang berjanggut tebal mendekati Illyvare. Elleinder mendengar pria itu berkata, “Ayolah, Manis. Mengapa engkau meringkuk di situ?” Pria itu mengulurkan tangan memegang dagu Illyvare. Illyvare memejamkan mata erat-erat. Ia takut melihat pria itu. Ia takut disentuh pria itu. Ia takut membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Illyvare ingin melihat Elleinder. Ia ingin pria itu segera datang menolongnya. Ia ingin berlindung dalam pelukan pria itu. Elleinder semakin geram ketika melihat pria itu mendekatkan wajahnya pada wajah Illyvare dan membuat gadis itu semakin ketakutan. Ia sudah hampir menyerbu masuk bila Brasch tidak segera memegang tangannya. “Jangan gegabah, Paduka,” kata Brasch, “Kalau Anda gegabah, mereka mungkin akan membunuh Ratu.” Elleinder tidak ingin Illyvare meninggal. Ia kembali melihat ke dalam. Pria itu semakin mendekati Illyvare. Ia ingin mencium Illyvare. Illyvare tidak mau disentuh lebih lama lagi. Ia memejamkan mata eraterat dan menendang kaki pria itu. Pria itu meringis kesakitan karena tulang keringnya ditendang kuat-kuat oleh Illyvare. Di luar sana Elleinder terkejut juga tersenyum geli melihat keberanian tindakan Illyvare. “Kurang ajar, kau!” Elleinder melihat pria itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ia terkejut ketika melihat benda itu adalah sebilah pisau. Elleinder segera berdiri dan bersiap mendobrak pintu. Pria itu menghujamkan pisau kecil itu ke tubuh Illyvare, tetapi sebelum ia melakukannya seseorang telah mengalungkan pedang di lehernya. Bersamaan dengan itu muncul orang-orang berbaju hitam yang segera menyergap kelima penjahat yang lain. Elleinder belum sempat mendobrak pintu ketika semua itu terjadi. Keempat orang berbaju hitam itu muncul dengan sangat cepat dan tepat waktu. Kesebelas penjahat itu berusaha melawan keempat orang itu. Morgan yang mengalungkan pedang di leher pria yang hendak membunuh Illyvare berkata, “Sebaiknya kalian menyerah sekarang juga. Kawan-kawan kalian yang di luar telah kami lumpuhkan.”
132

Rupanya

para

penjahat

itu

tidak

mau

mendengarkan.

Mereka

mengeluarkan pedang mereka dan menyerang keempat pasukan rahasia itu. Pada saat yang bersamaan, di luar sana Elleinder memberi perintah, “Kita masuk sekarang!” Reischauer tidak mau bermain-main dengan kesebelas pejahat itu. Morgan segera memukul keras-keras kepala pria itu dengan pedangnya hingga pria itu pingsan. Ketiga anggota Reischauer yang lain segera melemparkan senjata rahasia mereka pada kelima pria itu. Dalam waktu singkat kesebelas orang itu roboh. Seorang pingsan dan yang lain tersungkur dengan luka parah di lengan mereka. Elleinder dan pasukannya berhasil mendobrak masuk. Melihat hal itu Morgan kembali melompat ke langit-langit rumah dan menghilang diikuti yang lain. Brasch memerintahkan para prajurit meringkus penjahat-penjahat itu. Elleinder segera mendekati Illyvare. “Illyvare,” panggilnya cemas. Illyvare tidak mempercayai pendengarannya. Ia takut membuka matanya dan mendapatkan bahwa ia tidak sungguh-sungguh mendengar suara Elleinder di dekatnya. Elleinder berlutut di depan Illyvare dan mengulurkan tangan memegang pundak gadis itu. “Illyvare,” panggilnya sekali lagi. Illyvare masih meringkuk ketakutan. Gadis itu menarik kedua kakinya semakin mendekati tubuhnya yang menggigil. “Sekarang sudah aman, Illyvare. Mereka telah berhasil diringkus.” Brasch dan prajuritnya telah membawa pergi para penjahat itu. “Semua telah kami ikat, Jenderal. Apa yang harus kami lakukan sekarang?” Brasch melihat Elleinder berusaha menenangkan Illyvare. Ia berkata, “Kita tinggalkan mereka. Kita tunggu mereka di depan.” Sekelompok orang banyak itu menjauhi rumah kecil itu tetapi baik Elleinder maupun Illyvare tidak menyadarinya. Elleinder berkata lembut, “Mereka telah kami tangani, Illyvare. Sekarang tidak akan ada lagi yang dapat membuatmu takut. Aku ada di sini.” Perlahan-lahan Illyvare membuka matanya. Yang pertama kali dilihatnya adalah pakaian putih dengan benang emasnya kemudian ia memberanikan diri melihat wajah orang itu.
133

Tangis Illyvare meledak melihat wajah Elleinder. Seluruh kecemasannya serta merta hilang. Yang dirasakannya saat ini hanya kegembiraan luar biasa yang membuat hatinya serasa ingin meledak. Gadis itu menjatuhkan diri di pelukan Elleinder. “Elleinder,” panggilnya. Dan di dalam hati ia terus menerus memanggil nama pria itu. Elleinder memeluk Illyvare erat-erat. “A… aku… takut…. Me… mereka…” “Mereka telah ditangkap, Illyvare. Sekarang engkau tidak perlu takut lagi. Aku ada di sini dan aku akan menjagamu.” Illyvare merasa sangat aman. Tidak ada lagi yang dapat membuatnya takut ketika ia berada di pelukan Elleinder. Illyvare senang dapat merasakan hangatnya pelukan Elleinder. “Jangan takut lagi. Aku sudah ada di sini,” kata Elleinder menenangkan Illyvare. Elleinder menciumi rambut Illyvare. “Ia… ia tadi ingin menciumku… Aku… takut sekali.” “Ia telah pergi, Illyvare. Ia tidak akan dapat menciummu.” “Aku… aku takut sekali… Aku tidak mau diciumnya…” Dengan lembut Elleinder menjauhkan kepala Illyvare dari dadanya dan dengan kelembutan yang sama ia mencium bibir Illyvare. Illyvare terkejut dan terpana melihat wajah Elleinder. Sebuah kesadaran merasuki hatinya yang terdalam. Elleinder tersenyum dan berkata, “Tidak akan ada yang boleh menciummu selain aku. Hanya aku yang dapat menciummu.” Kesenangan mendengar kata yang tegas itu membuat Illyvare benarbenar yakin ia tidak salah. Ia benar-benar mencintai Elleinder. Air mata kembali meleleh di wajah Illyvare. Elleinder kembali memeluk Illyvare erat-erat. Getaran tubuh Illyvare yang hebat menyadarkan Elleinder pada ketakutan gadis itu yang amat dalam. “Engkau tidak perlu takut lagi, Illyvare,” Elleinder tak henti-hentinya membisikkan kata-kata lembut yang menenangkan, “Aku di sini. Aku akan menjagaimu. Tak akan ada yang bisa menjauhkanmu dariku. Engkau aman sekarang. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Tangis Illyvare semakin deras. Ia menumpahkan semua ketakutannya ketika pria itu mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di depannya. Ia sangat ketakutan ketika pria itu menggendongnya ke dalam rumah dan
134

meletakkannya di lantai. Illyvare takut pria-pria yang berwajah menyeramkan itu menyentuhnya. Elleinder terus mencium rambut Illyvare dan membelainya sementara gadis itu menangis di dadanya. Elleinder yakin ini pertama kalinya gadis itu menangis dan ia ingin gadis itu menumpahkan semua rasa takutnya. Ketika tangis Illyvare mulai mereda, Elleinder berkata lembut, “Engkau lebih tenang sekarang?” Illyvare merasa pipinya memanas. “Kalau engkau sudah benar-benar tenang, aku akan membawamu kembali ke Istana.” Tangis Illyvare telah mereda. Elleinder tersenyum penuh kelembutan ketika mengulurkan tangan menyeka sisa-sisa air mata Illyvare. Elleinder mencium sekilas mata Illyvare yang masih basah – membuat rona merah muda mewarnai pipi Illyvare yang masih pucat ketakutan. Kemudian ia melepaskan baju luarnya dan mengenakannya pada Illyvare. “Pakailah ini. Di luar dingin.” Illyvare terus melihat Elleinder. “Engkau sudah siap kembali ke Istana Qringvassein?” tanya Elleinder sambil mengangkat tubuh Illyvare. Illyvare melingkarkan tangan di leher Elleinder dan menyembunyikan wajahnya di pundak pria itu. Elleinder membopong Illyvare meninggalkan tempat itu. “Kita kembali sekarang,” katanya pada Brasch yang menanti perintahnya. “Baik, Paduka.” Seorang prajurit membawa kuda Elleinder mendekat. Elleinder meletakkan Illyvare di depan pelana kudanya kemudian duduk di belakang gadis itu. Merasakan kehangatan Elleinder di punggungnya, Illyvare segera memeluk Elleinder. Elleinder menyentuh tangan Illyvare yang melingkari pinggangnya kemudian melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. Illyvare menyembunyikan wajahnya di dada Elleinder dan memejamkan mata. Ia tidak ingin melihat wajah-wajah ingin tahu semua orang. Ia tidak ingin melihat apapun. Gadis itu hanya ingin merasakan kehangatan yang
135

menyelimutinya. Kehangatan yang memberikan perasaan aman.

Perjalanan pulang ini lebih lambat daripada keberangkatannya. Para prajurit yang mengawal mereka mengikuti Elleinder dengan lambat pula. Tidak seorangpun yang keberatan berjalan lambat. Mereka semua lega Illyvare selamat. Hanya itu yang ada di perasaan mereka semua. Tidak seorangpun dapat membayangkan apa yang terjadi bila Illyvare terbunuh. Hal yang paling mungkin terjadi adalah rakyat Kerajaan Aqnetta akan marah. Dan itu tidak menutup kemungkinan terjadi perang. Bila itu terjadi, Kerajaan Skyvarrna akan mengalami kesulitan terbesar untuk dapat menang. Tetapi bukan itu yang dicemaskan Elleinder. Elleinder hanya memikirkan Illyvare. Hanya gadis itu saja yang terpikirkan olehnya ketika Rugoff memberikan laporannya. Ia begitu ketakutan kehilangan perinya. Tetapi semua itu telah berlalu. Sekarang gadis itu telah berada dalam pelukannya. Illyvare merasakan pelukan Elleinder semakin erat. Gadis itu semakin menenggelamkan diri dalam perlindungan Elleinder. Hari telah sore ketika mereka tiba di Istana Qringvassein. Elleinder turun dari kudanya kemudian menurunkan Illyvare. Seorang berbaju hitam tiba-tiba muncul di depan Illyvare. Sebelum ia sempat berkata apa-apa, Illyvare telah memeluknya. Morgan memeluk Illyvare dan berkata, “Maafkan kami, Putri. Kami tidak dapat melakukan tugas dengan baik.” Elleinder memanggil seorang prajurit untuk mengembalikan kudanya ke kandang kuda. “Saya akan membawa mereka ke tempat saya dan memeriksa mereka,” kata Brasch. “Lakukanlah,” Elleinder memberi ijin. Brasch membawa para penjahat itu ke bangunan di samping Istana tempat para prajurit berkumpul. “Kami merasa sangat bersalah, Putri,” kata Morgan. “Engkau telah melakukan tugasmu dengan baik, Morgan,” Elleinder memegang pundak Illyvare. Illyvare melepaskan Morgan dan berbalik memeluk Elleinder. “Sekarang lebih baik engkau pergi ke kamar Illyvare dan katakan pada Nissha kami sudah datang.” Morgan melihat Illyvare.
136

Illyvare

mengatakan

sesuatu

pada

Morgan.

Kemudian

wanita

itu

meloncat ke pohon dan terus melompat ke jendela kamar Illyvare. Para prajurit yang ada di sekitar tempat itu terpana melihat kecepatan dan kelincahan Morgan yang dengan melompat-lompat dari jendela ke pohon, telah mencapai jendela kamar Illyvare dalam waktu singkat. “Kuantar kau ke kamarmu,” Elleinder mengangkat Illyvare. Illyvare tidak berkata apa-apa. Gadis itu hanya memeluk leher Elleinder. Elleinder terus membopong Illyvare hingga tiba di kamar gadis itu. Di kamar, Nissha dan Linty telah menanti dengan cemas. Kedua daun pintu kamar terbuka lebar dan Linty menanti di ambang pintu sambil terus berharap melihat kedatangan Illyvare. Ketika Elleinder muncul di lorong, Linty sangat senang. “Mereka datang, Nissha!” serunya. Elleinder melewati Linty juga Nissha dan terus menuju tempat tidur. Elleinder membaringkan Illyvare dengan hati-hati. “Gantilah baju Illyvare. Sepertinya ia kedinginan dan kelelahan.” “Baik, Paduka.” “Aku akan pergi melihat keadaan.” Elleinder meninggalkan kamar Illyvare dan menuju ke markas pasukan pengawal Istana di samping bangunan Istana. “Bagaimana, Brasch?” tanya Elleinder. “Kami masih menanyai mereka, Paduka,” Brasch melaporkan, “Kami baru selesai mengobati luka mereka. Seperti yang orang-orang katakan, Reischauer memang menakutkan, Paduka. Hanya seorang yang tidak luka. Ia adalah orang yang tadi berusaha mendekati Ratu. Yang lain terluka parah. Untung luka mereka terletak pada lengan, kalau tidak mereka tidak akan selamat.” Brasch Elleinder. Elleinder mengamati pisau-pisau kecil yang berlumuran darah itu. “Itu adalah pisau yang kami ambil dari lengan mereka. Pisau itu menancap cukup dalam di lengan mereka. Reischauer memang kuat. Mereka hanya melemparkan pisau itu tetapi pisau itu menancap sangat dalam seperti ditusukkan kuat-kuat.” “Kau akan lebih mengagumi mereka bila tahu yang tadi melakukannya adalah para wanita, Brasch.” Brasch terkejut. “Maksud Anda, Paduka?”
137

mengambil

sebuah

bungkusan

dan

memberikannya

pada

“Aku tidak yakin mereka semua adalah wanita tetapi pemimpin Reischauer yang mengawal Illyvare seorang wanita. Mungkin semua Reischauer yang berada di sini adalah wanita.” “Baru kali ini saya mendengar ada prajurit wanita apalagi pasukan rahasia.” “Aku juga baru mendengarnya, Brasch. Sepertinya Kerajaan Aqnetta adalah satu-satunya kerajaan yang memiliki pasukan wanita,” kata Elleinder. “Teruskan pemeriksaanmu, Brasch. Aku menanti laporannya.” “Baik, Paduka.” Elleinder meninggalkan tempat itu. Ia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti baju. Kemudian ia ke Ruang Kerja membereskan meja kerjanya. Elleinder membereskan meja kerja. Berkas-berkas penting disimpannya dalam laci dan menguncinya. Elleinder menutup Ruang Kerja kemudian menuju kamar Illyvare. Nissha baru saja menutup pintu ketika Elleinder muncul. “Bagaimana keadaan Illyvare?” “Paduka Ratu baik-baik saja. Tetapi ia tidak mau makan walau hanya sedikit. Saya baru saja menyuruhnya beristirahat tetapi saya rasa Paduka Ratu tidak mau. Ia terus meringkuk ketakutan.” “Bawa kembali makanan untuk Illyvare. Aku akan membujuknya.” “Baik, Paduka,” kata Nissha senang, “Saya juga akan membawakan makanan untuk Anda. Saya yakin Anda belum makan.” Elleinder memasuki kamar Illyvare. Ia melihat tubuh mungil meringkuk ketakutan di sudut tempat tidurnya dan bersandar di dinding. Elleinder mengerti apa yang dirasakan Illyvare. Selama ini hidup gadis itu selalu tenteram dan damai. Tidak ada bahaya yang dapat mengancamnya apalagi menyentuhnya. Sekarang tiba-tiba saja ia ditawan sekelompok penjahat. Hal itu mengguncangkan ketenangan hatinya. Gadis yang selalu tenang itu seperti kehilangan topeng dinginnya dan menunjukkan wajahnya yang penuh ketakutan. Elleinder mendekati Illyvare.

138

11

Merasakan kehadiran Elleinder di sampingnya, Illyvare mengulurkan tangannya yang gemetaran. Elleinder duduk di tempat tidur dan memeluk Illyvare. “Mengapa engkau meringkuk di pojok?” Sebagai jawabannya, Illyvare mempererat pelukannya. “Kata Nissha engkau tidak mau makan. Aku juga belum makan malam. Bagaimana kalau kita makan bersama?” Illyvare tidak menanggapi. “Sekarang Nissha mengambilkan makanan untuk kita. Tak lama lagi ia akan datang,” Elleinder melanjutkan. Illyvare masih tidak mengatakan apa-apa. Gadis itu bersandar di dada Elleinder dan dengan tenang merasakan tangan-tangan kekar yang memeluknya. Terdengar ketukan di pintu. “Kurasa Nissha yang datang.” Nissha muncul dengan wajah berseri-seri. Ia membawa nampan yang penuh berisi makanan. Linty muncul dari belakang wanita tua itu. Di tangannya terdapat nampan yang lain. Kedua wanita itu mengatur makanan di meja tengah kamar Illyvare. “Makan malam telah siap, Paduka,” kata Nissha. Dengan gerakan tangannya, Elleinder meminta mereka meninggalkan kamar. Elleinder mengangkat Illyvare dan mendudukkan gadis itu di kursi. Lalu ia duduk di samping gadis itu. “Nissha membawa banyak makanan untuk kita, Illyvare. Engkau mau makan apa?” Illyvare melihat makanan di meja itu tanpa nafsu. Semua yang dibawakan Nissha adalah makanan kesukaannya tetapi saat ini ia sedang tidak ingin makan. Rasa takut menyerap semua keberaniannya. Di pikirannya masih terbayang bagaimana wajah-wajah menakutkan itu menatapnya. Bagaimana pandangan mereka yang membuat Illyvare bergidik.
139

Illyvare masih dapat merasakan keinginan untuk memberontak dari tangan yang memeluk tubuhnya itu. Illyvare masih teringat ketika seorang di antara mereka memeluk tubuhnya sementara ia mengendalikan kuda. Illyvare mengulurkan tangannya yang gemetaran semakin hebat. Elleinder cepat-cepat menangkap tangan itu dan berdiri di samping Illyvare. “A…aku… takut…” “Tidak ada yang perlu ditakutkan, Illyvare.” Elleinder merasakan tangan Illyvare mencengkeram lengannya kuat-kuat. “Baiklah, Illyvare. Kalau engkau tidak mau makan, aku tidak akan memaksamu.” Elleinder yakin baik Nissha maupun Linty masih berjaga-jaga di depan pintu. “Nissha,” panggilnya. “Ada apa, Paduka?” tanya Nissha. “Maaf membuatmu kecewa, Nissha. Kami tidak jadi makan.” “Saya mengerti, Paduka,” kata Nissha tetapi wajahnya menunjukkan kekecewaannya. Ia dan Linty kembali membawa pergi nampan itu. Elleinder membopong Illyvare kembali ke tempat tidur. “Tidurlah, Illyvare. Aku akan memanggil Nissha.” Illyvare mencengkeram lengan baju Elleinder kuat-kuat. Seperti waktu mereka berada di kapal, Elleinder melihat Illyvare tidak mau ia pergi. Tetapi kali ini Illyvare tidak mau melepaskan baju Elleinder. Ia memegang tangan Elleinder erat-erat. Elleinder kembali duduk di samping Illyvare dan memeluk gadis itu. “Tidak ada yang perlu engkau takutkan, Illyvare. Sekarang engkau sudah aman. Tidurlah dan lupakan semua yang terjadi hari ini.” “Aku… takut…” “Jangan takut, Illyvare,” kata Elleinder lembut, “Para prajurit berjaga-jaga di luar sana. Mereka tidak akan mengijinkan seorang pun memasuki Istana.” Illyvare masih tidak mau melepaskan Elleinder. “Reischauer juga menjagamu, bukan? Mereka selalu siap melindungimu dari setiap ancaman.” “Aku… takut sendirian.” “Engkau tidak sendirian, Illyvare. Reischauer ada di sekitarmu. Kalau engkau masih takut, aku akan menyuruh Linty atau Nissha menemanimu.” Illyvare menggeleng. “Aku…aku ingin… engkau menemaniku.”
140

“Baiklah, aku akan menemanimu sampai engkau tertidur.” Elleinder hendak membaringkan Illyvare di tempat tidur tetapi gadis itu tidak mau melepaskannya. “Aku… aku… ingin engkau… menemaniku sampai… pagi,” kata Illyvare malu-malu. Elleinder tersenyum. Ketakutan telah merobohkan semua ketenangan Illyvare. “Baiklah, Illyvare. Sekarang berbaringlah. Aku akan menjagamu di sini.” Illyvare tidak mau melepaskan Elleinder. “Kalau engkau tidak mau melepaskanku, aku tidak akan dapat mengambil kursi untuk tempat aku duduk sampai pagi.” Illyvare masih terus melingkarkan tangannya di pinggang Elleinder dan menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. “Baiklah,” kata Elleinder mengalah. Elleinder membaringkan Illyvare ke sisi dalam tempat tidur kemudian berbaring di samping gadis itu. Illyvare terbelalak menatap Elleinder. “Tidak apa-apa, Illyvare. Ranjang ini cukup besar untuk kita berdua. Di samping itu aku suamimu bukan orang lain. Aku tidak melakukan kesalahan bila tidur bersama istriku,” kata Elleinder tenang, “Engkau tidak mau melepaskanku dan hanya ini cara agar aku dan engkau dapat tidur nyenyak. Engkau membutuhkan banyak istirahat setelah kejadian hari ini.” Illyvare mulai melepaskan pelukannya tetapi Elleinder semakin mempererat pelukannya. “Aku tidak akan melepaskanmu, Illyvare. Aku hanya akan memelukmu sepanjang malam sampai pagi,” kata Elleinder meyakinkan Illyvare. Jantung Illyvare berdebar kencang. “Katakan padaku seperti apa rupa kakakmu, Illyvare?” Elleinder berusaha mengalihkan perhatian Illyvare dari ketakutannya. “Dari mana engkau mengetahuinya?” Elleinder senang mengetahui ia berhasil. Perasaan tajam Illyvare telah kembali dan membuat gadis itu curiga. “Nissha yang mengatakannya padaku. Ia menceritakan banyak hal padaku,” jawab Elleinder jujur. “Ia sangat cantik seperti Mademoiselle. Rambutnya selalu menyala merah dan mata hijaunya selalu bersinar penuh semangat. Ia selalu terlihat bersinar terang,” kata Illyvare mengenang kakaknya.
141

“Di manapun ia berada, ia selalu menjadi pusat perhatian,” tambah Elleinder. Illyvare mengangguk membenarkan. “Bagiku engkau lebih cantik dan mempesona, Illyvare. Kakakmu mungkin selalu bersinar terang tetapi engkau bersinar lembut. Kakakmu menjadi perhatian semua orang tetapi semua orang merasakan kelembutan sinarmu.” “Engkau belum melihatnya.” “Aku bersikeras, Reischauer.” Illyvare terdiam. “Maukah engkau menceritakannya sekarang? Aku sangat ingin tahu. Aku berpikir Kerajaan Aqnetta adalah satu-satunya kerajaan yang memiliki pasukan wanita, apakah itu benar?” Illyvare mengangguk. “Menarik sekali. Bagaimana itu bisa terjadi? Aku belum pernah melihat seorang prajurit wanita.” “Itu semua terjadi beratus-ratus tahun lalu.” “Apa yang terjadi waktu itu?” Elleinder berusaha membuat Illyvare berkata lebih banyak lagi. Illyvare menengadah menatap Elleinder lekat-lekat dan tanpa melepaskan pandangannya, ia berkata, “Pemberontakan, kemuncullan Perwira Muda wanita pertama dan pernikahan.” “Siapakah wanita muda yang pertama kali menjadi seorang Perwira itu?” “Ratu Kakyu.” Mendengar nama itu, Elleinder menjadi semakin ingin tahu siapakah Ratu yang mempunyai nama aneh itu. Seperti tahu apa yang dipikirkannya, Elleinder mendengar Illyvare berkata, “Ia adalah Ratu yang mendirikan pasukan rahasia kami, Reischauer. Ia juga adalah prajurit terbaik pada masanya. Ia adalah orang yang mengetahui markas pemberontak itu dan ia pula yang menangkap mereka.” “Ia pasti seorang wanita yang mampu membuat siapa saja terpesona.” “Ia sangat cantik, seperti Rebecca,” Illyvare setuju. “Aku menjadi semakin tertarik mengetahui latar belakang berdirinya Reischauer.”
142

tetap

berkeyakinan belum

engkau

yang

paling

cantik,”

Elleinder

“Engkau

menceritakan

padaku

sejarah

keberadaan

Elleinder melihat pandangan mata serius Illyvare yang untuk pertama kali dilihatnya. Sesaat ia menduga Illyvare tidak mau mengatakannya. Ia sedikit terkejut ketika gadis itu mengatakan sesuatu yang lain dengan yang ada di pikirannya. “Kuharap engkau mau menerima kenyataannya.” Elleinder tidak mengerti apa yang dikatakan Illyvare tetapi ia mendengarkan dengan baik cerita Illyvare. “Pasukan ini didirikan tiga ratus tahun lalu oleh Perwira wanita pertama kami, Kakyu. Beliau kemudian menikah dengan Pangeran Reinald dan menjadi Ratu Kerajaan Aqnetta. Ratu Kakyu adalah wanita yang cerdas. Ia mendirikan Reischauer tetapi tidak semua ilmunya diturunkan pada pasukan itu. Seorang Putra Mahkota sejak lahir dididik untuk menjadi pewaris Kerajaan Aqnetta sekaligus pemimpin Reischauer.” “Ratu Kakyu khawatir pasukan Reischauer suatu hari nanti dipengaruhi orang dan memberontak karena itu ia hanya menurunkan ilmu tertinggi dalam ninja, Kobadera pada Putra Mahkota. Karena di Jepang, seorang pemimpin haruslah laki-laki, maka pemimpin Reischauer adalah laki-laki. Untuk mencegah perebutan kekuasaan, maka putra pertama yang lahir adalah Putra Mahkota Kerajaan Aqnetta sekaligus calon pemimpin tertinggi Reischauer.” “Bila tidak ada pemberontak itu, maka tidak akan pernah ada Reischauer dan tidak seorang pun yang tahu bahwa Perwira Muda yang saat itu menjadi pusat perhatian tiap orang adalah seorang gadis. Dan semua ini ada hubungannya dengan Raja Kerajaan Skyvarrna yang hidup tiga ratus tahun lalu, pada saat munculnya pemberontakan di Kerajaan Aqnetta, Raja Geroge VIII.” Illyvare melanjutkan. “Dari hasil penyelidikan terhadap para pemberontak itu diketahui mereka mendapat pasokan senjata dari Kerajaan Skyvarrna. Diketahui pula Raja Geroge VIII bermaksud memanfaatkan keberadaan pemberontak itu untuk menguasai Kerajaan Aqnetta. Namun sayang setelah membantu mengembangkan markas Kirshcaverish selama dua tahun lebih dan dengan biaya yang tidak sedikit, pemberontakan itu berhasil digagalkan.” Elleinder dapat mengerti apa yang berada di pikiran leluhurnya itu hingga melakukan hal selicik ini.
143

mendengar

desahan

terkejut

Elleinder

tetapi

ia

tetap

Ketangguhan Kerajaan Aqnetta bukan lagi rahasia sejak kerajaan itu didirikan tetapi itu tidak berarti melemahkan keinginan Raja Geroge VIII untuk menguasai Kerajaan Aqnetta yang sejak beratus-ratus tahun lalu menjadi incaran kerajaan-kerajaan besar. Raja Geroge VIII mengira dengan menghasut pemberontak itu dan memberi bantuan senjata pada mereka, ia akan dengan mudah menguasai Kerajaan Aqnetta. Di saat Kirshcaverish melakukan pemberontakan mereka, Raja Geroge VIII bermaksud mengirimkan bala bantuan untuk Kirshcaverish. Tetapi bukan berarti ia akan membantu begitu saja. Setelah berhasil menggulingkan Raja, ia akan memukul balik Kirshcaverish dan menguasai Kerajaan Aqnetta. Sayang, rencana besar yang hampir berhasil itu gagal karena adanya seorang Perwira Muda Kerajaan Aqnetta yang cantik. Kakyu, demikian nama Perwira itu. Seperti arti namanya, ia adalah bola api. Bola api yang membakar habis seluruh markas Kirshcaverish di Hutan Naullie. Sendirian ia menyusup ke hutan itu dan ia pula yang memanahkan panah api ke markas Kirshcaverish. Putri bola api itu menyelamatkan Kerajaan Aqnetta dari pemberontakan. Ia kemudian menikah dengan Reinald. Peristiwa ini sebenarnya sudah merupakan alasan yang cukup untuk menyerang Kerajaan Skyvarrna. Tetapi Ratu Kakyu tidak mau melakukannya. Raja Reinald juga sependapat dengan istrinya. Peperangan dengan Kerajaan Skyvarrna hanya akan membuat rakyat menderita. Bahkan Raja Reinald bersikap seolah-olah Raja Geroge VIII tidak pernah membantu Kirshcaverish melakukan pemberontakan. Ia menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Skyvarrna. Dan melarang setiap orang menyebarkan hal ini pada siapapun. Sejak itu tidak seorangpun di luar Istana yang tahu ada siapa dibalik Kirshcaverish. Hal ini telah menjadi rahasia Raja Reinald dan Ratu Kakyu hingga kini. Bahkan Raja Leland tidak tahu bahwa di masa lalu Kerajaan Skyvarrna pernah mencoba menguasai Kerajaan Aqnetta. Illyvare juga takkan pernah mengetahuinya bila ia tidak secara tidak sengaja menemukan laporan penyelidikan Kirshcaverish yang dibuat oleh Ratu Kakyu di Perpustakaan Istana. Dari situ Illyvare mengetahui bahwa ketika keberadaan Kirshcaverish diketahui, tidak seorangpun di luar Istana yang mengetahuinya. Ratu Kakyu
144

yang saat itu masih seorang Perwira Muda melarang menyarankan untuk tidak memberitahu rakyat. Ia khawatir hal itu akan membuat setiap orang panik. Rakyat Kerajaan Aqnetta baru mengetahui adanya sekelompok pemberontak di Hutan Naullie ketika pemimpin pemberontak itu ditangkap. Saat itu pula mereka juga baru tahu bahwa Perwira Muda yang selama ini menjadi pujaan setiap wanita di Kerajaan Aqnetta adalah seorang gadis. Perwira Kakyu yang saat itu baru delapan belas tahun telah menjadi seorang Kepala Pengawal Istana. Ketangguhannya telah diakui Raja sejak ia masih lima belas tahun. Ketangguhannya itu diperolehnya dari seorang Jepang yang tinggal di rumahnya sejak ia lahir, Kenichi. Kenichi adalah seorang ninja. Ia menurunkan ilmunya itu pada Ratu Kakyu sejak ia masih kecil. Setelah menikah, Ratu Kakyu mulai berpikir pentingnya pasukan rahasia bagi Kerajaan Aqnetta. Ia pun membentuk Reischauer. Kepada merekalah Ratu Kakyu menurunkan ilmunya. Elleinder termangu-mangu mendengar cerita Illyvare itu. Cara Illyvare mengatakan campur tangan leluhurnya dalam pemberotakan itu menunjukkan hal itu tidak berarti apa-apa. Gadis itu mengucapkannya dengan tenang dan perlahan. Dalam suaranya yang merdu tidak terdapat nada marah atau pun dendam. Tetapi Elleinder tetap merasa bersalah atas kelicikan leluhurnya dan ia berterima kasih pada kebijaksanaan Raja Reinald yang memutuskan untuk tidak menyerang Kerajaan Skyvarrna. Andaikan itu terjadi, Elleinder yakin Kerajaan Skyvarrna tidak akan selamat. Dan saat ini tidak akan ada Kerajaan Skyvarrna. “Ijinkanlah aku atas nama leluhurku meminta maaf atas semua tindakannya yang licik itu.” Illyvare memandang Elleinder. “Semua telah dimaafkan tiga ratus tahun lalu,” kata gadis itu singkat tetapi cukup menghibur Elleinder. Andaikan Raja Leland mengetahuinya juga, Elleinder dapat memastikan ia tidak akan menerima lamarannya pada putrinya. Elleinder sangat bersyukur Illyvare tidak mengatakan apa-apa pada ayahnya. “Biarkan apa yang mereka rahasiakan ini terus menjadi rahasia,” kata Illyvare ketika mengetahui apa yang dipikirkan Elleinder. Tiba-tiba Elleinder tertawa geli. “Kurasa Nissha benar. Engkau selalu dapat mengetahui apa yang orang lain rasakan. Tetapi ada yang terasa ganjil
145

bagiku. Kalau seorang Putra Mahkota Kerajaan Aqnetta selalu laki-laki, mengapa…” Elleinder tiba-tiba ragu-ragu melanjutkan. “Aku menjadi Ratu Kerajaan Aqnetta?” sambung Illyvare. Kembali Elleinder melihat pandangan jauh Illyvare. “Langit tidak berbatas, kita tidak akan pernah tahu di mana batasnya,” kata Illyvare. “Apakah engkau bermaksud mengatakan engkau tidak tahu kalau engkau ternyata menjadi Ratu Kerajaan Aqnetta?” “Kalau Calf menjadi seorang Raja, itu tidak mungkin. Seorang Raja Kerajaan Aqnetta adalah pemimpin Reischauer. Dan untuk menjadi pemimpin Reischauer, ia harus dididik sejak lahir. Calf tidak mendapatkan itu. Tidak pernah terjadi seorang Raja tidak memiliki anak laki-laki. Sejak dulu aku adalah Putri Mahkota dan hingga aku mempunyai anak laki-laki, ayahanda akan tetap menjadi pemimpin Reischauer. Hanya itu cara yang aman.” Sejak kematian kakaknya, Illyvare sudah tahu kelak ia akan menjadi Ratu Kerajaan Aqnetta. Tetapi ayahnya lebih suka mengakui Calf sebagai calon penggantinya. Raja Leland juga Calf mempunyai niat menikahkan Calf dengan Illyvare sehingga kedudukan Calf sebagai Raja akan menjadi kuat di hadapan rakyat. Tidak seorangpun tahu rencana mereka selain Illyvare. Tetapi Illyvare tidak pernah mengatakannya pada siapa pun. Ia juga tidak berniat memberitahukan rencana ayahnya itu pada Elleinder. Bila Elleinder tidak melamarnya, sekarang atau mungkin tak lama lagi ia menjadi istri Calf. Tetapi sekarang ia telah menjadi istri Elleinder. “Aku merasa tidak adil, Illyvare,” kata Elleinder bersalah, “Aku telah mengetahui masa kecilmu tetapi engkau tidak mengetahui apa pun tentang diriku. Aku ingin menceritakannya padamu tetapi kupikir engkau pasti telah mengetahuinya.” Illyvare hanya mengangkat bahunya. “Aku tidak menghafalkan semua buku perpustakaan seperti yang kaulakukan. Aku yakin engkau telah mengetahui semua hal di dunia ini dan semua bahasa engkau ketahui. Engkau memiliki apa yang orang lain inginkan. Engkau peri cantik yang serba tahu.” Illyvare menyembunyikan wajah di dada Elleinder dan bergumam lirih, “Aku tidak memiliki kebebasan.”
146

Illyvare Elleinder

terkejut

ketika

Elleinder Illyvare

tiba-tiba dan

melepaskannya. “Aku tidak tidak

Tanpa akan mau

disadarinya, tangannya telah mencengkeram lengan Elleinder kuat-kuat. tersenyum Aku pada berkata, meninggalkanmu. hanya ingin menyelimutimu. Engkau

kedinginan, bukan?” Illyvare melepaskan lengan Elleinder. Tangannya berganti mencengkeram baju Elleinder. Illyvare masih takut ditinggalkan sendiri. Gadis itu diam saja ketika Elleinder menarik selimut ke atas tubuh mereka berdua. Ketika Elleinder kembali berbaring di sampingnya, Illyvare melepaskan baju pria itu dan kembali memegang tangannya. Tangan Elleinder melepaskan pegangan Illyvare dan memeluk gadis itu. “Tidurlah,” bisiknya lembut, “Hari ini engkau mengalami banyak kejutan dan sekarang saatnya untuk tidur dan melupakannya. Aku akan menjagamu sepanjang malam. Aku akan terus memelukmu seperti ini agar engkau tahu aku selalu ada di sisimu.” Di dalam pelukannya, Elleinder merasakan kepala Illyvare bersandar lemah di dadanya dan perlahan-lahan gadis itu memasuki alam mimpinya. Ketika ia yakin gadis itu telah tertidur, Elleinder juga berharap dapat tertidur. Tetapi sang dewa mimpi tidak mengijinkannya. Elleinder sama sekali tidak merasa mengantuk. Berbagai macam kejadian hari ini terlintas kembali di benaknya. Perlahan-lahan Elleinder meletakkan kepala Illyvare di bantal dan menyandarkan punggung di tepi ranjang yang tinggi di belakangnya. Tangannya terus memeluk Illyvare dan merasakan nafas lembut Illyvare yang teratur. Hari ini Elleinder telah melihat wajah di balik topeng Illyvare. Hari ini Illyvare telah menunjukkan jiwa manusianya yang lain. Di waktu lalu ia melihat Illyvare yang sedang tertawa bahagia. Hari ini wajah yang penuh ketakutan. Di balik topeng tenangnya yang dingin, Illyvare menyimpan semua perasaannya. Apakah perasaan itu akan cepat hilang seperti ketika mereka berada di Panti Carmell? Saat meninggalkan Panti Carmell, Illyvare kembali menjadi gadis yang tenang dan pendiam. Elleinder tidak ingin besok pagi Illyvare kembali menjadi peri bertopeng. Tetapi bagaimana cara membuat Illyvare melepaskan topeng itu untuk selama-lamanya, Elleinder tidak tahu.
147

Tiba-tiba Illyvare bergerak semakin merapatkan dirinya. Gadis itu seolaholah ketakutan dan berusaha mencari keamanan dalam pelukan Elleinder. “Engkau memang selalu serba tahu,” gumam Elleinder geli, “Saat tidurpun engkau tahu aku tidak berbaring di sisimu.” Elleinder mencium dahi Illyvare dan kembali berbaring di samping gadis itu. Elleinder tersenyum ketika dalam tidurnya, Illyvare memeluknya. Sekali lagi Elleinder mencium dahi Illyvare lalu mencoba melupakan semua kerisauan pikirannya dan membiarkan dewa mimpi membuainya. Pagi harinya ketika Elleinder terbangun, Elleinder melihat Illyvare tidak ada. Elleinder meloncat duduk karena kagetnya. “Di mana Illyvare?” tanyanya panik. Elleinder mencoba menenangkan diri dan memikirkan tempat yang paling mungkin didatangi Illyvare sepagi ini. Teringat oleh Elleinder kebiasaan Illyvare bila ia mempunyai waktu luang. Gadis itu selalu berada di taman bunga Istana. Setiap ada waktu senggang, Illyvare menyibukkan diri untuk merawat bunga-bunga itu. Elleinder bergegas turun mencari Illyvare. -----0----Illyvare terbangun. Ia tidak tahu apa yang membuatnya terbangun. Illyvare merasakan sebuah tangan melingkari pinggangnya. Teringat kembali olehnya peristiwa tadi malam yang membuat Elleinder tidur bersamanya. Pipi Illyvare memerah malu. Ditatapnya Elleinder yang terus tidur tanpa merasa terganggu oleh bangunnya Illyvare. Semalaman ia terus memeluk Illyvare dan sama sekali tidak melakukan yang lain selain itu. Illyvare percaya pria itu melakukan kata-katanya. Tiba-tiba tercium oleh Illyvare bau wangi bunga. Illyvare merasa bungabunga di bawah sana memanggilnya. Perlahan-lahan ia melepaskan diri dari pelukan Elleinder dan meninggalkan tempat tidur. Ketika melihat bayangan dirinya di cermin, wajah Illyvare kembali memerah. Ketika semalam tidur di samping Elleinder, ia sama sekali tidak sadar ia mengenakan gaun tidur sutra lembut yang menempel di tubuhnya dan menunjukkan bentuk tubuhnya yang sempurna.
148

Ketika tercium kembali wangi bunga di taman, Illyvare merasa bungabunga itu tidak sabar menantinya. Ia bergegas meraih mantel panjangnya dan menuju taman. Illyvare terpesona melihat taman bunga itu. Ia tidak tahu apa yang membuat taman bunga itu tampak lebih indah dari biasanya. Hatinya yang sedang diselimuti kebahagiaan cinta ataukah karena bunga-bunga itu sedang tersenyum padanya. Illyvare merasa kedua hal itulah sebabnya. Bunga-bunga di sekitarnya memberikan senyuman mereka yang paling indah dan ikut merasakan kebahagiaan Illyvare. Mereka menunjukkan warna-warni mereka yang cemerlang walau saat ini musim dingin semakin dekat. Tengah Illyvare sibuk merasakan sapaan bebungaan itu, ia merasa seseorang berada di dekatnya dan memandangnya. Illyvare membalikkan badan dan melihat Elleinder sedang tersenyum padanya sambil merentangkan kedua tangannya. Seolah-olah terpanggil, Illyvare berlari menjatuhkan diri di pelukan Elleinder. “Aku senang dapat menemukanmu. Kupikir engkau hilang lagi. Kalau engkau benar-benar hilang, aku takkan tahu harus berbuat apa. Aku senang dapat memelukmu lagi, cintaku.” Elleinder merasakan tubuh Illyvare tiba-tiba menegang. Elleinder merasa tidak ada lagi yang perlu dirahasiakan. “Aku mencintaimu, Illyvare,” Elleinder memberikan pengakuannya dengan lembut, “Kukira aku telah merasakannya ketika aku melihatmu di upacara pernikahan kita. Aku baru yakin ketika di kapal engkau tiba-tiba sakit. Saat itu aku ingin segera mencapai daratan. Aku tidak memikirkan kerusakan kapal. Yang kuinginkan hanya engkau segera sembuh. Dan ketika aku menjagaimu siang itu, aku semakin yakin pada perasaanku.” Illyvare terus menatap Elleinder tanpa mengatakan apa-apa. “Engkau tidak perlu terganggu dengan cintaku, Illyvare. Aku tidak ingin engkau merasa terganggu, aku hanya ingin membuatmu merasakan besarnya cintaku padamu. Dan kelak aku berharap, aku berhasil membuatmu mencintaiku seperti aku mencintaimu.” Elleinder melihat air mata mulai menuruni pipi Illyvare yang halus. “Mengapa engkau menangis, sayang?” tanyanya lembut sambil menghapus air mata itu dari wajah Illyvare.
149

Illyvare mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu mengapa akhir-akhir ini aku jadi mudah menangis. Aku terlihat cengeng.” “Tidak,” bisik Elleinder lembut, “Engkau gadis yang paling tenang yang pernah kutemui.” “Juga membosankan,” sahut Illyvare. “Membosankan semakin menarik. kalau engkau seperti terus diam dan tenang,” dari alam Elleinder ini dan menyetujui, “Tetapi dengan sikap tenang dan diammu itu, engkau menjadi Engkau menjadi bagian membuatmu tampak penuh misteri dan mistik. Engkau seperti peri mungil yang selalu bersinar di hatiku, Illyvare.” Illyvare tersenyum bahagia dan memeluk Elleinder. Elleinder terkejut ketika mendapatkan pelukan tiba-tiba yang tak diduganya itu. “Engkau tidak perlu membuatku jatuh cinta, Elleinder. Tidak perlu karena aku telah mencintaimu. Aku sangat mencintaimu hingga aku merasa tidak sanggup menahannya lebih lama lagi.” Elleinder tersenyum bahagia kemudian mencium Illyvare dengan penuh perasaan cinta. Untuk pertama kalinya bibir Illyvare melembut dan menerima ciuman itu. Seluruh topeng dingin Illyvare seolah-olah terlepas dan membuat gadis itu menunjukkan semua cintanya lewat hatinya dan ciuman-ciumannya. Tiba-tiba Elleinder menjauhkan bibirnya dari bibir Illyvare yang terbuka dan seperti mengundang itu. “Pagi ini udara sangat dingin. Tidak baik untukmu kalau aku membuatmu terus berada di sini. Sebaiknya engkau kembali ke kamarmu dan berganti baju. Setelah sarapan, aku akan mengajakmu pergi berjalan-jalan. Hanya kita berdua tanpa orang lain.” Illyvare memandang Elleinder dengan cemas. “Aku membatalkan semua kegiatan kita untuk hari ini. Mereka pasti mengerti kalau aku ingin menghabiskan hari ini hanya dengan istriku yang tercinta.” Elleinder kembali mencium Illyvare dan berkata, “Kali ini aku akan mengantarmu ke kamarmu dan memastikan engkau tidak pergi meninggalkanku lagi.” “Aku tidak bermaksud pergi,” Illyvare membela diri tetapi Elleinder tidak mendengarkannya. Pria itu mengangkat tubuh Illyvare dan mengantarkannya sampai di kamar.
150

Seperti yang dikatakan Elleinder, seusai sarapan seekor kuda telah menanti di depan pintu masuk. Nissha membawakan mereka sekeranjang besar makanan. Ketika memberikannya pada Illyvare, wanita tua itu berkata, “Kalian belum pernah berpiknik bersama. Sekarang saat yang tepat. Angin musim gugur yang sejuk. Daun-daun yang berguguran. Sinar matahari yang hangat. Semua itu akan membuat suasana jadi romantis.” Nissha tersenyum bahagia kemudian melepaskan Illyvare ke dalam pelukan Elleinder yang segera membimbing gadis itu ke kuda yang telah menanti mereka. Illyvare kebingungan melihat kuda itu. “Kita akan berkuda,” Elleinder memberikan penjelasan singkat kemudian menaikkan Illyvare ke punggung kuda. “Suatu hari nanti aku akan mengajarimu menunggang kuda,” kata Elleinder ketika mereka mulai meninggalkan Istana Qringvassein. “Tidak perlu,” kata Illyvare tenang, “Aku lebih suka seperti ini.” Illyvare menyandarkan badan di tubuh Elleinder. “Aku merasa dibohongi, Illyvare,” kata Elleinder. Elleinder melihat senyum tipis di wajah Illyvare yang tenang itu dan melanjutkan, “Tetapi tidak apa-apa karena aku juga suka berjalan-jalan seperti ini.” Elleinder mempererat pelukan sebelah tangannya di pinggang Illyvare. Pagi ini ia telah menyadari satu hal. Nissha benar, Illyvare tidak dingin dan tidak mengenakan topeng apa pun. Illyvare adalah gadis yang tenang namun memiliki hati yang sangat lembut. Di balik sikap tenang dan pendiamnya, ia menyimpan semua perasaannya. Hanya pada saat tertentu saja ia menunjukkannya. Seperti pada saat yang penting saja, Illyvare baru berbicara panjang lebar. Tetapi Elleinder tidak merasa kecewa. Seperti yang dikatakannya, itulah yang membuat Illyvare seperti berada di dalam dunia perinya yang penuh keajaiban dan misteri. Itulah yang membuat perinya semakin berbeda dari peri yang lain. Elleinder mencintai perinya itu melebihi apa pun di dunia ini. Seperti yang dikatakan Arwain, ia telah berjudi dan ia mendapatkan lebih dari harapannya. Elleinder mendapatkan hati perinya yang cantik dan mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah terbayang dalam hidupnya. Elleinder mempererat pelukannya dan terus melangkah menapaki jalan kehidupan mereka yang baru.
151

Langit sedemikian luasnya dan kita tidak tahu dan tidak dapat menentukan di mana ujungnya. Masa depan tak terbatas dan kita tidak tahu di mana kita akan melangkah di mana kita akan berhenti. Tetapi masa depan itu ada dan kita harus terus menjalaninya dengan segala cinta dan harapan.

152

Epilog

“Aku merasa engkau sedang berbohong padaku, Illyvare,” gerutu Elleinder ketika istrinya memaksanya duduk diam di Ruang Rekreasi Istana Vezuza. Illyvare tersenyum dan berkata tenang, “Tidak ada yang kusembunyikan padamu.” “Aku juga belum mendapat penjelasan mengapa engkau tiba-tiba pulang tanpa memberitahu lebih dulu?” Raja Leland mengingatkan. “Saya ingin menunjukkan bakti saya pada Anda, Ayahanda.” “Dengan pulang tiba-tiba dan memaksa kami duduk diam sementara engkau berputar-putar ke sana kemari seperti kicir angin?” gerutu Raja Leland. Illyvare diam saja. Elleinder tersenyum. Seperti itulah perinya. Selalu diam bila merasa tidak perlu mengatakan apa pun. Gadis itu sibuk membantu para pelayan menata makanan di meja ruangan itu. Elleinder terus memperhatikan punggung istinya itu. “Sebenarnya apa yang sedang direncanakannya?” tanya Raja Leland tiba-tiba. “Saya tidak tahu. Ia juga tidak mengatakannya pada saya.” “Makan malam sudah siap,” kata Illyvare melaporkan. Illyvare mendekati Elleinder dan menariknya berdiri lalu beralih pada ayahnya. “Apa yang membuatmu berubah sejauh ini?” tanya Raja Leland heran. “Tidak ada,” jawab Illyvare tenang. Namun di matanya Elleinder melihat gadis itu menyembunyikan sesuatu. Illyvare tahu yang dipikirkan Elleinder dan berkata, “Mari makan malam telah menanti kita.” Illyvare memeluk lengan Elleinder di tangan kanannya dan memeluk lengan ayahnya di tangan kirinya. “Apa yang membuatmu berubah?” tanya Elleinder keheranan. “Tidak ada,” jawab Illyvare tenang, “Aku hanya senang dapat pulang di malam Natal dan makan malam bersama keluargaku.”
153

Raja Leland tiba-tiba berhenti dan berkata tegas, “Sebelum engkau mengatakan apa yang kaurencanakan dari kami, aku tidak mau makan.” Elleinder melihat Raja Leland menatapnya dan berharap ia melakukan hal yang sama. “Aku juga tidak mau makan bersamamu kalau engkau tidak mengatakan apa yang sedang kaurencanakan.” “Aku tidak merencanakan apa-apa,” kata Illyvare tenang, “Ayo kita makan.” “Aku tidak mau, sayang. Engkau harus mengatakan dulu apa yang kausembunyikan dari kami,” kata Elleinder bersikeras. “Tidak seorangpun yang mau makan bila engkau tetap menyembunyikannya,” tambah Raja Leland tegas. “Aku tidak merencanakan apa pun,” kata Illyvare merajuk, “Sungguh.” “Katakan padaku, sayang, apa yang kausembunyikan dari kami,” bujuk Elleinder lembut, “Atau tidak ada makan malam bersama di malam Natal ini.” Illyvare menatap kedua pria yang disayanginya itu bergantian. “Kalian jahat,” katanya semakin merajuk. “Ayolah katakan,” bujuk Elleinder. Untuk kesekian kalinya Illyvare mendengar perkataan, “Kalau engkau tidak mengatakannya, kami tidak mau makan.” Illyvare memandang kesal ayahnya lalu Elleinder dan berkata, “Baiklah. Aku memang menyembunyikan sesuatu tetapi aku ingin memberikannya tengah malam nanti. Aku ingin memberi kalian hadiah Natal yang paling indah dalam hidup kalian.” “Katakan saja sekarang,” desak Raja Leland, “Aku tidak akan mau membuka mata sampai tengah malam. Setelah menyantap semua makanan enak yang kausediakan itu, aku tidak yakin dapat membuka mata.” “Semua makanan itu membangkitkan selera makanku. Aku tidak tahu apakah aku bisa tetap terjaga sampai tengah malam bila aku sudah kekenyangan,” timpal Elleinder. “Kalian jahat,” kata Illyvare kekanak-kanakan, “Aku benci kalian kalau kalian melakukan itu.” “Karena itu beritahu kami sekarang,” bujuk Elleinder. “Baiklah,” kata Illyvare menyerah. Tetapi gadis itu tidak mau memberitahu begitu saja, ia memberikan teka-teki, “Aku sekarang tidak sendirian lagi. Ke mana-mana aku selalu ditemani olehnya. Ke manapun.” “Apa yang hendak kaukatakan itu?” tanya Raja Leland keheranan.
154

Illyvare melihat Elleinder tetapi pria itu tidak menunjukkan ia juga tahu apa yang dimaksudkan Illyvare. “Apakah engkau ingin mengatakan aku selalu menemanimu?” tanya Elleinder. “Bukan,” rujuk Illyvare kesal, “Sekarang aku berbadan dua!” “Apa!?” kedua pria itu bertanya tak percaya. Mereka saling berpandangan dan saling bertanya, “Apakah itu benar?” “Saya tidak tahu. Ia tidak memberitahu saya,” kata Elleinder lalu ia menatap Raja Leland. “Aku juga tidak tahu. Ia juga tidak memberitahuku,” kata Raja Leland. Kedua pria itu kembali menatap Illyvare. Illyvare kesal melihat tatapan tidak percaya itu. “Benar, aku hamil,” katanya kesal. Tiba-tiba Elleinder memeluk Illyvare dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Aku senang sekali mendengarnya, Illyvare.” “Kapan engkau mengetahuinya?” tanya Raja Leland yang masih tidak percaya. “Awal bulan ini,” jawab Illyvare. “Mengapa engkau tidak memberitahuku?” tanya Elleinder. “Aku sudah mengatakannya. Aku ingin memberi kalian hadiah Natal yang paling indah dalam hidup kalian,” kata Illyvare manja. “Pantas saja sikapmu akhir-akhir ini menjadi lebih manja,” gumam Elleinder. Raja Leland mendengar gumaman itu dan menyahut, “Pasti engkau mengandung anak laki-laki, Illyvare.” Elleinder menurunkan Illyvare dan bertanya, “Maksud Anda?” “Konon ketika Ratu Kakyu mengandung putra pertamanya, ia menjadi lebih manja dan lebih mudah tersinggung, seperti Illyvare saat ini. Sejak itu setiap Putri Kerajaan Aqnetta yang sedang mengandung anak laki-laki selalu menjadi lebih manja dan lebih mudah tersinggung terlebih ketika dalam bulanbulan pertama kandungannya,” Illyvare memberi penjelasan. “Pasti anak dalam kandunganmu itu laki-laki,” kata Raja Leland senang, “Aku akan punya cucu laki-laki.” Raja Leland menarik Illyvare ke meja dan memberikan banyak makanan ke piring gadis itu. Tidak ada ruginya Illyvare memberikan hadiah Natalnya saat ini karena kedua pria itu sangat senang sehingga mereka tetap terjaga hingga pagi.
155

Mereka yang semula mengatakan tidak mau membuka mata sampai tengah malam, membuat Illyvare merasa lelah dan mengantuk tetapi mereka tidak mengijinkan Illyvare tertidur. Elleinder berusaha membuat gadis itu terjaga dengan menyuruhnya mengenalkan leluhur-leluhurnya. Illyvare membawa Elleinder ke Galeri Keluarga di mana di tempat itu terdapat lukisan seluruh keluarga Kerajaan Aqnetta dan harta pusaka mereka. Ketika mereka tiba di depan lukisan Ratu Kakyu, Illyvare berkata, “Inilah Ratu Kakyu. Di cantik sekali. Aku selalu mengaguminya.” “Tetapi ia tidak secantik engkau,” kata Elleinder. Lalu Illyvare membawa Elleinder ke lukisan kakaknya. “Ini kakakku. Ia mirip sekali dengan Ratu Kakyu.” Seorang gadis dalam lukisan itu memandang penuh semangat ke sekitarnya. Wajahnya menunjukkan semangatnya yang tinggi. Rambut merahnya bersinar terang. Gadis cantik itu tampak bersinar. “Engkau benar. Ia lebih terlihat bersinar daripada siapa pun. Aku tidak heran engkau mengatakan ia lebih cantik darimu. Tetapi aku tetap merasa engkau yang paling cantik,” kata Elleinder. “Yang membuatku heran dan tidak percaya sampai saat ini adalah bahwa engkau hamil.” “Aku benar-benar hamil,” rujuk Illyvare kesal. “Tetapi engkau masih sangat muda.” “Engkau tidak senang aku hamil,” Illyvare menunjukkan rasa tidak senangnya. “Aku senang, sangat senang, tetapi…” Illyvare menutup mulut Elleinder dan berbisik, “Tidak ada tetapi. Sekarang engkau tahu engkau akan punya anak.” Elleinder sangat senang ketika sembilan bulan kemudian Illyvare melahirkan putranya yang gemuk. Setelah menanti cukup lama dalam kecemasan di depan kamar, akhirnya ia mendengar tangis bayi. Tak lama kemudian Nissha muncul dengan bayi yang sehat. Elleinder ingin menggendong putranya tetapi ia sudah keduluan kakek si bayi. Elleinder mengalah dan ia masuk untuk melihat keadaan Illyvare. Kebahagiaan yang dirasakan Elleinder saat melihat Illyvare yang duduk bersandar di ranjang dengan keringat bercucuran tak terkatakan. Ia duduk di samping istrinya dan berkata, “Engkau ibu tercantik yang pernah kulihat.” “Dan engkau akan menjadi seorang ayah yang paling bahagia.”
156

“Tetapi saat ini aku tidak bahagia. Anakku direbut kakeknya.” Illyvare tersenyum geli melihat ayahnya mengangkat tinggi-tinggi bayi laki-laki yang baru lahir itu. “Engkau akan menjadi penerusku,” kata Raja Leland senang, “Aku akan mendidikmu menjadi pemimpin Reischauer yang paling hebat.” “Kurasa kita harus siap menyerahkan dia ke dalam asuhan ayahku,” kata Illyvare. “Aku pikir juga demikian.” Tiba-tiba bayi itu menangis. Nissha cepat-cepat mengambilnya dari Raja Leland. “Mungkin ia ingin bertemu ayahnya,” katanya ketika mengambil bayi itu. Illyvare menerima bayinya dari Nissha. “Ia bayi yang cantik.” Illyvare melihat tubuh mungil itu. Elleinder tertawa geli. “Baiklah, ia bayi yang tampan.” “Aku kalah dengan kalian. Si kecil lebih senang bersama kalian.” “Jangan berkata seperti itu. Kelak ia akan menyayangi Anda pula, Ayahanda,” hibur Illyvare. “Ia akan mencintai kedua kerajaan ini.” “Ia akan menjadi cucu kesayanganku.” “Kesayangan kita semua sampai anak berikutnya lahir,” sahut Illyvare sambil tersenyum. Mereka setuju dan senang mendengarnya. Elleinder melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Illyvare dan dengan mesra ia menatap wajah bayi mungilnya yang sedang tidur dengan nyenyak di pelukan ibunya. “Aku akan menantikan kehadiran bayi yang lain,” bisiknya.

157