You are on page 1of 24

ANALISIS PENERAPAN INTENSIFIKASI USAHATANI PADI SAWAH PASCA KRISIS EKONOMI (KASUS DI KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT) 1)

SUPENA FRIYATNO 2) Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian RI.

ABSTRACT Economic crises have caused some changes in socio-economic term. This situation makes the heavy task for government to develop the staple food. The adoption of technology is very influenced by the buying power of the farmer in the village. The objective of this study is to find out the technology adoption by the farmer after economic crisis. By survey data collection and simple tabulation analysis, the result showed that regionally the using of SP36 was decreased by 16,68 percent and ZA was 7,5 percent. In the farm level, some changes ware; (a) change the perception of the farmer about the using of HYV (high yielding variety) to the using of the variety that economically have high value, (b) No farmer use the ZA fertilizer, (c) 46 50 percent of the farmer use KCL, and (d) 66 90 percent of the farmer use SP36. The dosage of fertilizer application is generally lower then the dosage recommended. The other aspects of technology are land preparation, transplanting and weeding. All of these are still good implemented by farmer, 60 percent of the farmer use tractor and 40 percent use hoe. Almost 100 percent of the farmer grows seed in the nursery before planted in the field, and all of the farmer grow rice in the field by purposed planting (tandur jajar). The profitability of rice enterprise is Rp 4,9Rp 5,2 million per hectare, and R/C ratio more then 2.
Key Words: Analysis, Intensification, Farming, and Rice

1) Kerjasama penelitian antara Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian dengan Badan Ketahanan Pangan, Jakarta, yang dilaksanakan di Jawa dan luar Jawa.

2) Staf Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.

PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Setelah lebih dari dua dekade pemerintah telah mencurahkan perhatian terhadap masalah pangan dengan mengerahkan seluruh sumberdaya, baik sumberdaya alam, kapital, dan kelembagaan, akhirnya tahun 1984 Indonesia di kategorikan sebagai negara berswasembada pangan, utamanya beras. Irawan dkk (2000) mengemukakan bahwa keberhasilan swasembada beras tersebut ditentukan oleh beberapa faktor kunci yaitu (a) meningkatnya produktivitas usahatani melalui perbaikan teknologi usahatani, dan (b) tersedianya anggaran pemerintah yang cukup (berkat boom minyak) untuk membiayai berbagai proyek dan program pengembangan teknologi usahatani serta proses sosialisasi di tingkat petani, (c) pengembangan infrastruktur seperti irigasi, lembaga penyuluhan dan sebagainya. Namun seiring dengan perjalanan dengan waktu, kendala dalam pengembangan produksi padi semakin berat. Menurut Kasryno (1995), Rasahan (1996) dan Tabor, et.al. (1999) , kendala pengembangan produksi padi/beras antara lain: (a) Adanya konversi lahan sawah subur di Jawa dari pertanian ke non pertanian, sebagai akibat dari berkembangnya kawasan industri, perkotaan dan pembangunan prasarana ekonomi, sehingga sektor pertanian terdesak kelahan-lahan marjinal yang produktivitasnya rendah; (b) Persaingan yang semakin ketat dalam pemanfaatan sumber daya air antara sektor pertanian dengan sektor industri dan rumah tangga, disertai dengan menurunnya kualitas air akibat limbah industri dan rumah tangga, yang pada gilirannya produktivitas pertanian pun menjadi menurun; (c) Kualitas tenagakerja di sektor pertanian secara umum lebih rendah dari pada sektor industri dan jasa, sehingga tenagakerja muda cenderung lebih memilih sektor non pertanian. Di samping tersebut di atas, kemandegan produksi padi antara lain karena produktivitas padi secara nasional telah mengalami levelling-off yang disebabkan oleh kemandegan teknologi terutama penemuan bibit padi unggul, penurunan investasi sarana dan prasarana, seperti kredit finansial, penyuluhan pertanian, pemeliharaan dan pembangunan infrastruktur. Akibatnya, memasuki Pelita IV hingga Pelita VI, penerapan tekonologi tidak lagi memberikan lonjakan produksi yang nyata seperti dalam Pelita-Pelita sebelumnya, sekalipun luas areal penen masih dapat diperluas masing-masing 2,1 dan 1,3 persen pada periode yang sama (Anonymous, 2000). Krisis ekonomi yang menimpa rakyat Indonesia telah menyebabkan perubahan

mendasar pada sendi-sendi perekonomian, seperti menurunnya daya beli masyarakat di

pedesaan, meningkatnya harga sarana produksi, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan investasi dan adopsi teknologi di pedesaan, terutama adopsi teknologi usahatani seperti benih, pupuk, dan pestisida. Untuk memantapkan kembali penerapan teknologi usahatani di masa kini, maka perlu ditelaah jenis teknologi usahatani mana yang perlu ditingkatkan, dan yang mana yang masih baik dilaksanakan oleh petani.

Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: (a) Mempelajari perilaku petani dalam pelaksanaan usahatani padi pasca krisis ekonomi; (b) Mengkaji penerapan teknologi usahatani oleh petani pasca krisis, (b) Mengkaji tingkat profitabilitas usahatani padi pasca krisis, di mana harga input dan output telah mengalami perubahan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi para pengambil kebijaksan untuk memperbaik penerapan teknologi usaha tani padi, sehingga program tersebut menjadi lebih selektif dan efisien.

METODOLOGI PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat, pada bulan Januari 2001, yang merupakan bagian dari kegiatan penelitian antara Pusat Penelian Sosial Ekonomi Pertanain dengan Badan Ketahanan Pangan Jakarta, yang dilaksanakan di Jawa dan Luar Jawa.

Metode Pengumpulan Data dan Sampel Teknik pengambilan sampel diawali peninjauan lapang untuk mendapatkan gambaran umum dan informasi yang lebih kongkrit dari kondisi lokasi penelitian. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer yang dikumpulkan dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Di samping itu juga dilakukan wawancara dengan pengurus dan anggota kelompok tani dan aparat pertanian. Kriteria petani sample diambil dari tiga kelompok yaitu kelompok tani maju, kelompok tani biasa dan bukan kelompok. Untuk masing-masing kelompok dipilih secara acak 1015 petani.

Metoda Analsis Pada penelitian ini ditempuh pendekatan analisis deskriptif dan analisis kelembagaan. Pendekatan tersebut diarahkan untuk mengkaji secara kualitatif dan kuantitatif dari penerapan intensifikasi usahatani padi sawah, respon dan motivasi petani dalam berusaha tani serta sistem kelembagaan pelaksana intensifikasi tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaan Umum Intensifikasi Padi Sawah di Kabupaten Subang Perkembangan Areal Sawah. Perkembangan areal sawah di kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat secara rinci disajikan pada Tabel 1. Dari tabel tersebut tampak bahwa Kabupaten Subang merupakan salah satu sentra produksi beras di Jalur Pantai Utara (Pantura) dengan luas sawah sekitar 85 ribu hektar atau 7,7 persen dari luas sawah di Jawa Barat. Jenis irigasi sebagai fasilitas prasarana dalam pengembangan produksi padi, sangat menentukan tingkat pencapaian produksi. Sebagai gambaran porsi luas sawah beririgasi teknis di kabupaten Subang yang merupakan jalur Pantura yang sebagian wilayahnya memperoleh pasokan air dari irigasi Otorita Jatiluhur, maka porsi luas irigasi teknis lebih tinggi yaitu 70,70 persen, sedangkan sisanya sekitar 8,8 10,5 persen merupakan jenis irigasi semi teknis, sederhana dan tadah hujan. Namun karena berbagai perkembangan dan perubahan perekonomian, maka dari waktu-ke waktu sering terjadi konflik penggunaan sumberdaya lahan sawah ini antara untuk penghasil pertanian yaitu padi dan non pertanian (bangunan, jalan, industri dll), sehingga dari data tersebut tampak bahwa luas lahan sawah ada kecenderungan menurun. Selama dalam kurun waktu lima tahu terakhir (sejak 1995), tampak bahwa di kabupaten Subang luas lahan sawah yang semula 87 ribu hektar berkurang pada tahun 1999 menjadi 84,6 ribu hektar. Walaupun diketahui bahwa pemerintah juga telah mengadakan pencetakan dan perbaikan/ rehabilitasi lahan sawah melalui irigasi, namun dengan data tersebut di atas menunjukkan bahwa pengurangan lahan sawah jauh lebih besar dari luas pencetakan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Irawan, dkk (2000) bahwa dalam kurun waktu 18 tahun (19811998) telah terjadi seluas 279.521 hektar atau seluas 149.409 hektar setelah dikoreksi dengan pencetakan sawah. Dengan demikian rata-rata pengurangan sawah per tahun sekitar 8.301 hektar per tahun.

Tabel 1. Perkembangan Luas Lahan Sawah Menurut Jenis Irigasi, di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selama Lima Tahun Terakhir (1995-1999) Sawah (ha) Uraian Teknis S-Teknis Sederhana T-Hujan Kabupaten Subang 1995 61,513 7,342 9,182 9,002 1996 61,651 7,286 9,634 7,897 1997 61,699 7,751 8,573 8,419 1998 61,699 8,211 9,369 8,782 1999 59,363 7,775 8,724 8,821 Rata-rata 61,185 7,673 9,096 8,584 Trend (%/thn) (0.69) 2.33 (1.30) 0.61 % Thp total 70.70 8.87 10.51 9.92

Total 87,039 86,468 86,442 88,061 84,683 86,539 (0.36) 100.00

Sumber : Data Hasil Survey Pertanian (SP- BPS) dan Propinsi Jawa Barat Dalam Angka, 1999

Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Padi. Keragaan luas panen, produksi dan produktivitas padi di Kabupaten Subang selama lima tahun terakhir cenderung menurun dengan angka penurunan masing-masing 1,03; 2,95 dan 1,90 persen. Luas panen padi tahun 1999 di kabupaten Subang adalah 163.709 hektar dengan produksi 958.475 ton, berarti tingkat produktivitas adalah sebesar 58,55 kuintal per hektar (Tabel 2). Diyakini faktor dominan yang menyebabkan penurunan luas panen adalah menurunan luas baku lahan sawah akibat konversi, di samping karena faktor-faktor lain seperti adanya serangan hama/penyakit, ketersediaan air irigasi dll. Sedangkan penurunan produksi, di samping karena memang menurunnya luas panen, juga karena menurunan kualitas intensifikasi, sehingga jumlah produksi per satuan luas menjadi menurun.
Tabel 2. Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Padi Sawah di Kabupaten Subang, Jawa Barat Selama Lima Tahun Terkahir (1995-1999) Luas panen Produksi Produktivitas Keterangan (ha) (ha) (kw/ha) Kabupaten Subang 1995 172,102 1,046,380 60.80 1996 168,478 1,026,037 60.90 1997 161,351 983,708 60.97 1998 168,167 910,584 54.15 1999 163,709 958,475 58.55 Rata-rata 166,761 985,037 59.07 Trend (%/thn) (1.03) (2.95) (1.90) Sumber : Kabupaten Subang Dalam Angka 1999

Untuk kabupaten Subang, tampak bahwa penurunan produksi lebih dominan disebabkan oleh penurunan tingkat produktivitas dari pada oleh penurunan luas baku. Hal ini terlihat di Subang angka rata-rata penurunan produksi sebesar 2,95 persen sementara penurunan luas baku lahan hanya 1,03 persen, berarti penurunan produksi sebesar 1,92 persen adalah oleh faktor lain. Perkembangan Luas Intensifikasi Perkembangan realisasi penyaluran KUT dan luas tanam KUT meningkat dari tahun ke tahun. Di kabupaten Subang rata-rata peningkatan realisasi kredit dan luas tanam KUT lebih dari 70 persen per tahun pada periode lima tahun terakhir. Namun petani di Kabupaten Subang yang sudah akses ke kredit KUT sebenarnya baru sebagian kecil yaitu kurang dari 10 persen, yang berarti 90 persennya adalah menggunakan modal sendiri, kecuali pada tahun 1999 yang menggunakan kredit KUT telah mencapai 50 persen (Tabel 3). Tabel 3. Perkembangan realisasi KUT dan luas areal tanam KUT dan Non KUT Di kabupaten Subang, Jawa Barat Selama lima tahun terakhir (1995-1999) Realisasi KUT (ha) Non KUT (Ha) Uraian Total (ha) KUT (Rp) Ha % Ha % Kabupaten Subang 1995 1996 1997 1998 1999 Rata-rata Trend (%/thn)

965,594,950 6,058,378,906 3,084,035,468 3,493,121,142 109,854,366,000 24,691,099,293 87.16

2,146 13,463 6,853 7,762 91,545 24,354 71.08

1.25 7.99 4.25 4.62 55.92

169,956 155,015 154,498 160,405 72,164 142,407 (13.36)

98.75 92.01 95.75 95.38 44.08

172,102 168,478 161,351 168,167 163,709 166,761 (1.03)

Sumber : Data Hasil Survey Pertanian BPS (SP) dan Kabupaten Subang Dalam Angka 1999 dan laporan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, propinsi Jawa Barat

Begitu pula,

apabila melihat program intensifikasi (inmum, insus dan supra insus)

tampak bahwa dari sebagian besar luas panen (67 persen) sudah melaksanakan intensifikasi. Namun khusus di kabupaten Subang, ada kecenderungan luas intensifikasi menurun rata-rata 8,13 persen per tahun, terutama luas intensifiaksi inmum dan insus (Tabel 4.). Penurunan luas intensifikasi tersebut lebih banyak disebabkan karena perubahan kondisi harga input dan output usahatani padi, terutama merosotnya harga gabah sehingga petani mengurangi penggunaan faktor produksi. 6

Tabel 4. Perkembangan luas tanam sawah intensifikasi dan non intensifikasi di Kabupaten Subang selama lima tahun terkahir, 1995-1999 (ha)
Uraian Kabupaten Subang
1995 1996 1997 1998 1999 Rata-rata Trend (%/thn) % Thdp total inten. % Thdp total sawah 930 937 1,944 302 595 942 (13.86) 0.84 0.56 65,050 9,755 7,634 9,735 18,067 22,048 (42.63) 19.76 13.22 78,278 75,026 75,076 74,598 140,022 88,600 13.89 79.40 53.13 144,258 85,718 84,654 84,635 158,684 111,590 2.49 100.00 66.92 27,844 82,760 76,697 83,532 5,025 55,172 (8.13) 33.08 172,102 168,478 161,351 168,167 163,709 166,761 (1.03) 100.00

Inmum

Insus

Supra Insus

Total Non Intensifikasi Intensifikasi

Total

Sumber : Kabuapten Subang Dalam Angka 1999 dan Laporan Dinas Pertanian, 1999

Perkembangan Penggunaan Pupuk dan Benih


Penyaluran pupuk Urea untuk program intensifikasi di Kabupaten Subang meningkat dari tahun ke tahun, dengan peningkatan rata-rata 18,35 persen per tahun. Sedangkan penggunaan pupuk lainnya seperti TSP/SP36, KCL dan ZA cenderung menurun (Tabel 5). Hal ini disebabkan kenaikan harga gabah tidak sebanding dengan kenaikan harga pupuk, sehingga petani cenderung mengurangi penggunaan pupuk. Tabel 5. Perkembangan penyaluran pupuk di kabupaten Subang, Jawa Barat, selama lima tahun terakhir (1995-1999) (ton) Pupuk (ton) Uraian Total Urea TSP/SP36 KCL ZA Kabupaten Subang 1994 9,010 8,120 160 561 17,851 1995 15,452 4,045 106 222 19,825 1996 20,655 7,155 1,151 1,175 30,136 1997 21,395 5,325 314 363 27,397 1998 22,340 3,615 107 294 26,356 Rata-rata 17,770 5,652 368 523 24,313 Trend (%/thn) 18.35 (13.68) 2.77 (7.51) 10.11 Sumber : Data Hasil Survey Pertanian BPS (SP) dan Kabupaten Subang Dalam Angka 1999 Penggunaan benih berlabel dapat dijelaskan oleh luas penggunaan benih varietas unggul tahan wereng (VUTW). Di Subang selama lima tahun terakhir tampak bahwa luas

sawah yang menanam VUTW meningkat rata-rata 3,22 persen per tahun dan non VUTW 9,33 persen per tahuin (Tabel 6). Namun VUTW yang digunakan oleh petani hanya 3353 persen yang berlabel. Artinya sekitar 40 persen petani menggunakan produksi benih sendiri yang tidak berlabel.

Tabel 6. Perkembangan areal tanam benih unggul (VUTW) di kabupaten Subang, Jawa Barat selama lima tahun terakhir (1995-1999) (ha)
Uraian VUTW Ha % Non VUTW Ha % Total (ha)

Kabupaten Subang 149,069 86.12 24,033 13.88 173,102 1995 71,794 42.61 96,684 57.39 168,478 1996 82,162 50.92 79,189 49.08 161,351 1997 77,624 46.16 90,543 53.84 168,167 1998 163,709 100.00 163,709 1999 108,872 58,090 166,961 Rata-rata 3.22 (9.33) (1.14) Trend (%/thn) Sumber : Data Hasil Survey Pertanian BPS (SP) dan Kabupaten Subang Dalam Angka 1999 dan laporan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, propinsi Jawa Barat

Keragaan Penerapan Intensifikasi Padi Sawah di Tingkat Petani Penggunaan Varietas dan Pergiliran Tanaman
Dari hasil pengkajian di kabupaten Subang, tampak bahwa respon petani dalam penggunaan benih unggul yang dahulu disebut benih varietas unggul tahan wereng (VUTW) yang merupakan bagian dari komponen Panca Usahatani cenderung menurun, terutama penurunan terjadi pada kelompok tani yang relatif lebih maju, yakni pada kelompok tani maju penggunaan benih unggul berlabel hanya 10 persen, kelompok biasa 33,33 persen dan petani bukan kelompok 53,33 persen. Sementara kelompok yang menggunakan varietas lakol terjadi sebaliknya, yaitu pada kelompok maju, biasa dan bukan kelompok masing-masing 50,00; 13,33; dan 6,67 persen (Tabel 7). Varietas unggul yang digunakan umumnya adalah IR64, Membramo, Cisadane, Widas dan Sableng, sedangkan varietas lokal adalah ketan. Dari hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa keputusan petani untuk memilih varietas yang akan ditanam sangat ditentukan oleh prospek pasar yang lebih baik (adanya jaminan harga dan pembeli), seperti pada kelompok maju mereka memilih varietas ketan, karena disamping harganya tinggi (Rp 1.400,-/kg), juga jaminan pasarnya lebih pasti, karena

begitu panen pedagang langsung datang ke lokasi untuk membeli gabah mereka. Berdasarkan informasi bahwa varietas tersebut saat ini menjadi komoditi perdagangan ekspor ke Malaysia. Perubahan respon petani terhadap kualitas benih, telah menyebabkan sumber benih bagi petani juga menjadi beragam. Seperti pada kelompok tani maju karena benih yang ditanam adalah ketan lokal, maka sampai 50 persen benih tersebut bersumber dari benih sendiri dan 30 persen dari tetangga. Masih relatif baik pada kelompok tani biasa dan bukan kelompok, karena sumber benih sebagian ada bersumber dari kredit pemerintah dan kios/KUD masing- masing 26,67 persen pada kelompok tani biasa berasal dari kios/KUD dan 40 persen pada bukan kelompok berasal dari kredit/pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa benih yang dibeli masih merupakan benih berkualitas atau berlabel. Periode pergantian benih baik yang menyangkut kualitas maupun verietas sebagai suatu usaha untuk memutus siklus hama dan penyakit, sehingga resiko kegagalan panen dan kegagalan harga dapat ditekan, pada saat ini relatif sangat rendah. Hal ini diduga terkait juga dengan perubahan respon petani terhadap adopsi teknologi, sebagai dampak dari menurunnya tingkat profitabilitas usahatani padi pada akhir-akhir ini. Sebagian besar petani pada seluruh kelompok tani antara 40-70 persen menyatakan bahwa pergantian kualitas dan varietas benih dilakukan secara tidak teratur. Faktor lain dalam usaha intensifikasi, seperti luas persemaian, perlakuan benih sebelum disemai dan cara pembuatan persemaian pada seluruh petani di semua kelompok dilaksanakan secara baik. Hal ini menunjukkan bahwa petani masih sangat rasional bahwa setiap anjuran teknologi yang nyata-nyata memberikan dampak yang positif, tampaknya masih tetap mereka adopsi. Seperti kegiatan perlakuan benih direndam dan dikecambahkan serta pembuatan pembenihan pada bedengan masih dilakukan oleh seluruh petani pada lokasi contoh.

Tabel 7. Keragaan penggunaan benih dan persemaian menurut status petani Di kabupaten Subang, Jawa Barat 1999/2000 (%)
No
1

Uraian
Jenis Benih a. Unggul berlabel b. Unggul tidak berlabel c. Unggul lokal Warna Label a. Biru b. Merah Muda c. Putih d. Lainnya Sumber Benih a. Kredit/ Bantuan Pemerintah b. Kios/KUD c. Penangkar Lokal d. Tetangga e. Sendiri/hasil panen sebelumnya Varietas yang ditanam a. IR-64 b. Membramo c. Cisadane d. Lainnya (Widas, Sableng) Periode Pergantian Benih Berlabel a. Tiap musim tanam b. Dua musim sekali c. Tiga musim sekali d. Empat musim sekali e. Tidak tentu/teratur Periode Penggantian Varietas a. Tiap musim b. Tiap tahun c. Tiap dua tahun d. Tidak tentu/teratur e. Tidak pernah ganti Luas lahan persemaian perha tanaman Perlakuan merendam benih Jumlah N

Petani Insus Teladan Biasa


10.00 40.00 50.00 10.00 90.00 10.00 10.00 30.00 50.00 100.00 10.00 20.00 70.00 10.00 10.00 40.00 40.00 345.00 100.00 10 33.33 53.33 13.33 26.67 6.67 66.67 26.67 6.67 46.67 20.00 26.67 73.33 6.67 20.00 73.33 6.67 6.67 73.33 13.33 173.00 100.00 15

Petani Non Insus


53.33 40.00 6.67 46.67 6.67 46.67 40.00 13.33 20.00 26.67 40.00 60.00 6.67 46.67 46.67 33.33 20.00 6.67 20.00 20.00 228.00 100.00 15

7 8 10

10

Pengolahan lahan, Penanaman dan Penyiangan


Kegiatan pengolahan lahan yang juga merupakan komponen teknologi dalam panca usatani, secara teknis masih dilaksanakan dengan baik. Hal ini ditunjukkan oleh hampir semua petani pada semua kelompok (lebih dari 80 persen) melakukan pengolahan lahan dengan menggunakan kombinasi traktor dan cangkul , membajak dan menggaru. Komponen teknologi lainnya, seperti cara tanam, dan penyiangan juga relatif masih baik dilakukan oleh petani sesuai dengan anjuran. Hal ini terlihat bahwa hampir semua petani pada semua kelompok melakukan tanam pindah dan tanam jajar. Sedangkan kegiatan penyiangan yang dilakukan oleh para petani adalah dengan menggunakan kombinasi antara penggunaan herbisida dan secara manual. Namun adanya kecenderungan frekuensi penyiangan yang tadinya dua kali menjadi satu kali terutama pada kelompok tani maju, ini disebabkan adanya substitusi penyiangan manual dengan penggunaan herbisida (Tabel 8.).

Tabel 8. Keragaan pengolahan tanah dan penyiangan menurut status petani di Kabupaten Subang, Jawa Barat 1999/2000 (%)
No
1

Uraian
Cara Pengolahan tanah a. Cangkul b. Bajak/Ternak c. Traktor d. Kombinasi cangkul dan bajak e. Kombinasi cangkul dan traktor Frekuensi pengolahan lahan a. Sekali traktor b. Bajak 2 kali dan garu c. Bajak 1 kali dan garu Cara Tanam a. Tanam pindah b. Sebar langsung secara manual Tandur jajar Frekuensi Penyiangan a. Satu kali b. Dua kali c. Lebih dari dua kali Cara Penyiangan a. Dengan herbisida b. Kombinasi herbisida dan manual c. Manual saja Jumlah N

Petani Insus Teladan Biasa


60.00 40.00 40.00 60.00 90.00 10.00 100.00 90.00 10.00 30.00 70.00 10 6.67 26.67 66.67 6.67 73.33 20.00 80.00 20.00 100.00 26.67 66.67 6.67 20.00 66.67 13.33 15

Petani Non Insus


20.00 60.00 6.67 13.33 6.67 53.33 40.00 100.00 100.00 20.00 66.67 13.33 13.33 80.00 6.67 15

4 5

11

Penggunaan Pupuk dan Pengendalian Hama


Agak berbeda dengan komponen teknologi lainnya, karena faktor pupuk dan penggunaan pestisida menyentuh langsung dengan masalah biaya produksi sehingga mengganggu tingkat profitabilitas usahatani, maka tampak yang terjadi di lapangan adanya kecenderungan penurunan respon penggunaan pupuk setelah terjadi kenaikan harga pupuk, terutama yang menyangkut jenis TSP dan KCL. Dari ketiga kelompok petani contoh tampak penggunaan pupuk urea berkisar antara 164196 kg Urea per hektar, 103-144 kg SP36 per hektar, 0-60 kg KCl per hektar dan 2-14 kg ZA per hektar (Tabel 9). Namun dari beberapa diskusi dan keterangan para petani, menurunnya respon penggunaan pupuk tidak saja dikarenakan oleh naiknya harga pupuk, tetapi juga petani merasakan terjadinya penurunan efektivitas respon pupuk terhadap pertanaman dan produksi. Dari informasi ini diduga beberapa hal; (a) kualitas pupuk relatif rendah terutama pupuk alternatif, (b) efektivitas

penyerapan pupuk oleh tanaman rendah, sehingga perlu dipikirkan diadakan pengujian hara tanah oleh pihak berwenang, misalnya ketidak seimbangan unsur-unsur mikro akan menyebabkan tidak efektifnya penyerapan unsur-unsur makro seperti N, P dan K. Jenis pupuk yang digunakan cenderung mengarah kepada jenis pupuk yang harganya lebih rendah (100 persen partisipasi petani penggunakan urea), sedangkan partisipasi petani yang menggunakan pupuk TSP/SP36 hanya 6690 persen, KCL 50 % dan tidak ada yang menggunakan ZA. Dengan meningkatnya harga pupuk setelah dicabutnya subsidi dan dibebaskannya pasar pupuk, maka di lapangan cenderung meningkat tersedianya jenis pupuk alternatif seperti Buta Ijo, dan pupuk lainnya yang sangat bervariasi jenisnya (ada 340 jenis pupuk alternatif). Frekuensi pemberian pupuk, cenderung tidak memenuhi anjuran yang seharusnya diberikan 2 atau 3 kali dengan pemupukan dasar, tetapi para petani terutama pada kelompok maju dan bukan kelompok cenderung hanya melakukan pemupukan satu kali (lebih dari 50 persen) dan yang lainya hanya dua kali. Hal ini di samping jumlah pupuk yang ditaburkan memang berkurang, juga petani berusaha mengurangi upah tenagakerja untuk menaburkan pupuk. Namun hal ini perlu terus dilakukan pengkajian, karena pengurangan frekuensi pemupukan juga terkait dengan direalisasikannya jenis pupuk urea tablet yang masa residunya lebih lama pada masa lalu.

12

Tabel 9. Keragaan pemupukan dan PHP menurut status petani di kabupaten Subang, 1999/2000 (%)
No Uraian
a. Urea b. TSP/SP-36 c. KCL d. ZA Frekuensi Pemupukan a. Satu kali b. Dua kali c. Lebih dari dua kali Dosis pemupukan pada pertanaman a. Urea b. TSP/SP-36 c. KCL d. ZA Frekuensi Pemupukan a. Tiga kali b. Dua kali c. Satu kali Waktu Pemupukan (HST) a. Pertama b. Kedua Intensitas Penggunaan Pestisida a. Rutin dengan jadwal tertentu b. Bila ada gejala serangan c. Bila serangan mencapai ambang tertentu d. Lainnya Frekuensi Pengamatan Hama a. Tiap hari b. Seminggu sekali c. Sewaktu-waktu Penggunaan musuh alami a. Telah dikembangkan pengunaanya b. Sudah dikenalkan, tapi belum dicoba c. Baru diperkenalkan d. Belum tahu Jumlah N

Petani Insus Teladan Biasa


100.00 90.00 50.00 50.00 50.00 100.00 93.33 46.67 46.67 53.33

Petani Non Insus


100.00 66.67 60.00 40.00

1 Jenis pupuk yang digunakan di pertanaman

164.30 144.30 60.00 14.30 50.00 50.00 17.00 37.00 50.00 10.00 40.00 20.00 50.00 30.00 10.00 20.00 30.00 40.00 10

180.33 105.00 20.00 7.00 13.33 66.67 20.00 11.00 20.00 73.33 20.00 6.67 33.33 33.33 33.33 13.33 26.67 6.67 53.33 15

196.67 103.33 2.00 40.00 60.00 16.00 26.00 26.67 46.67 20.00 6.67 46.67 20.00 33.33 20.00 80.00 15

Mengenai penggunaan pestisida dan frekuensi penyemprotan relatif baik dilakukan oleh petani di samping penggunaan pestisida yang relatif lebih hati-hati (2040 persen) petani melakukan pada ambang batas, dan 1073 persen apabila ada gejala serangan. Namun meraka pada umumnya melakukan pengamatan secara seksama (2050 persen) melakukan

13

pengamatan setiap hari sampai satu minggu sekali. Namun yang sementara ini menjadi masalah dan sulit dikendalikan oleh para petani yaitu hama tikus dan penggerek batang putih yang dapat menyebabkan kegagalan total produksi. Pada tahun 1997 serangan hama tikus mencapai 1.094 hektar setara dengan 445,26 ton atau Rp 231,5 juta

Pengairan
Secara teknis pada tingkat petani pangairan sawah di musim hujan tampak tidak menjadi masalah. Hal ini terlihat dari pola pemberian air yang menyatakan 5380 persen petani melakukan secara genangan dan pergiliran air dilakukan lebih dari 50 persen pendapat petani menurut letak sawah (Tabel 10.). Hal ini disamping karena daerah contoh kabupaten Subang merupakan areal irigasi teknis, juga kabupaten ini merupakan bagian wilayah yang irigasinya dipasok dari Perum Otorita Jatiluhur.

Tabel 10.
No 1 2

Keragaan pengairan menurut status petani di kabupaten Subang, Jawa Barat 1999/2000 (%)
Uraian Petani Insus Teladan Biasa 100.00 100.00 90.00 10.00 80.00 20.00 50.00 10.00 40.00 50.00 10.00 20.00 10.00 10 33.33 66.67 66.67 20.00 13.33 73.33 6.67 20.00 20.00 13.33 6.67 13.33 15 Petani Non Insus 100.00 93.33 6.67 53.33 33.33 53.33 26.67 6.67 13.33 53.33 6.67 13.33 15

Pengairan teknis Keberadaan Organisasi Pengelola Air (P3A) a. Aktif/berkembang b. Pasif/tidak berkembang c. Lainnya Pola pemberian air a. Terus menerus b. Intermittend/diatur sesuai kebutuhan c. Sesuai pergiliran jadual air Sistem Penggenangan Air Sawah a. Setinggi genangan b. Macak-macak c. Sesuai ketersediaan air d. Tidak tentu Pergiliran Air di Tingkat Mikro Menurut a. Letak sawah b. Sebagian sawah c. Seluruh sawah d. Antar saluran tersier Jumlah N

14

Namun berdasarkan informasi dari aparat Dinas Pekerjaan Umum bahwa jumlah volume air akhir-akhir ini cenderungan menurun, sehingga jadwal tanam pada musim hujan yang setiap tahun direncanakan menjadi IV golongan, kadang-kadang berubah menjadi VIII X golongan. Sebenarnya dengan bergesernya golongan pembagian air ini memiliki kelebihan dan kekurangan, kelebihannya adalah dalam konteks distribusi produksi kepada waktu menjadi lebih baik, sehingga puncak panen (peak season) tidak terjadi pada waktu yang bersamaan yang pada gilirannya harga pun menjadi lebih baik. Sedangkan kelemahannya adalah rentan terhadap serangan hama dan penyakit, karena siklus kehidupan hama dan penyakit menjadi lebih kondusif.

Pasca Panen dan Penjualan Hasil


Seperti yang tertera pada Tabel 11., tampak bahwa penanganan pasca panen seperti cara perontokan, cara dan alat pengeringan masih dilaksanakan secara konvesional, perontokan 60 100 persen secara manual (digebot), pengeringan 20-60 persen pada lantai bata merah. Sehingga diduga kehilangan produksi yang terjadi relatif masih tinggi. Perlakuan tersebut juga terkait erat dengan sistim penjualan hasil, pada lokasi contoh sebagian besar kelompok tani contoh menjual gabahnya dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP)(93-100 persen). Juga penjualan gabah dilakukan kepada tengkulak (67-100 persen), kecuali pada petani bukan kelompok ada 6,6 persen yang menjual gabah kepada KUD, itupun dalam jumlah yang sangat sedikit. Bahkan sekitar 10 persen dari petani yang diteliti melakukan sistim penjualan hasil dengan cara tebasan, salah satu pertimbangan mereka adalah untuk menghemat biaya panen (bawon) yang bisa mencapai antara 8-12 persen dari total nilai produksi. Pada petani bukan kelompok masih terdapat petani yang menyimpan di gudang gabah khusus (13,3 persen), dan yang menyimpan dalam karung relatif lebih tinggi dibanding dua kelompok lainnya (40 persen). Hal ini di samping karena lokasi kelompok ini lebih jauh dari aksesibilitas jalan (remote), sehingga penawaran gabah para pedagang terhadap petani relatif lebih rendah, karena pedagang harus memperhitungkan biaya angkut, sehingga petani pada kelompok ini lebih senang menyimpan gabah dan hal ini sudah terbiasa sejak lama, juga pola pikir petani untuk selalu ingin menjual gabah lebih sedikit dibanding dengan dua kelompok yang sudah lebih maju.

15

Tabel 11. Keragaan Penanganan Pasca Panen dan Pemasaran Menurut Status Petani di kabupaten Subang, Jawa Barat 1999/2000 (%)
No
1

Uraian
Cara Perontokan a. Tidak dirontok (tebasan) b. Munual/digebot/pukul Cara Pengeringan a. Tidak dikeringkan (jual GKP) b. Dijemur secara manual Alat Penjemuran a. Dijemur di lantai jemur b. Dijemur dengan alas terpal c. Dijemur di jalan tanpa alas d. Lainnya Cara Penyimpanan a. Tidak disimpan (langsung dijual) b. Gudang khusus c. Karung dalam rumah d. Lainnya Bentuk komoditas yang dijual a. Gabah b. Beras Tempat Pemasaran a. Tengkulak b. Pedagang desa/kecamatan c. KUD Jumlah N

Petani Insus Teladan Biasa


100.00 100.00 60.00 10.00 30.00 60.00 20.00 20.00 100.00 100.00 10 6.67 93.33 100.00 20.00 6.67 26.67 46.67 80.00 20.00 100.00 66.67 33.33 15

Petani Non Insus


20.00 60.00 66.67 33.33 40.00 20.00 20.00 20.00 26.67 13.33 40.00 6.67 93.33 86.67 6.67 15

Produksi dan Pendapatan Usahatani


Tingkat pendapatan usahatani relatif berbeda antara kelompok petani contoh. Pada kelompok pentani yang maju penerimaan mencapai Rp 8,4 juta per hektar, sementara pada kelompok biasa dan bukan kelompok masing-masing hanya mencapai Rp 5,2 dan Rp 4,9 juta per hektar. Perbedaan ini lebih banyak disebabkan oleh perbedaan penggunaan varietas yang ditanam, dimana pada kelompok tani maju menanam padi ketan dengan harga yang jauh lebih tinggi dari varietas-varietas pada kelompok tani lainnya. produktivitasnya relatif lebih tinggi (Tabel 12., dan 13.). Dengan total biaya pada kelompok teladan, biasa dan bukan kelompok masing-masing Rp 2,9; Rp 1,9 dan Rp 2,1 juta per hektar, maka tingkat keuntungan dengan tampa memperhitungkan nilai sewa lahan masing-masing adalah Rp 5,5; Rp 3,3 dan Rp 2,8 juta per hektar atau dengan R/C rasio masing-masing 2,86; 2,76 dan 2,30. Namun apabila Disamping tingkat

16

diperhitungkan nilai sewa lahan maka tingkat keuntungan pada masing-masing kelompok petani contoh turun drastis masing-masing menjadi Rp 2,3; Rp 0,5 dan Rp 0,3 juta per hektar (Tabel 12).

Tabel 12. Rata-Rata Keragaan Input-Output Usahatani Padi per Hektar, Musim Hujan 1999/2000
UraIan Kelompok Teladan 8,380,881 193,346 1,563,618 21,415 14,761 96,767 195,689 33,037 95,595 66,073 1,040,281 60,000 496,916 173,134 191,214 81,162 30,553 20,853 466,071 144,089 321,982 158,351 38,247 120,103 2,927,773 5,442,581 2.86 Kelompok Biasa 5,245,346 191,277 1,044,334 17,553 12,367 89,761 191,277 45,479 84,973 43,883 559,041 65,000 385,684 190,138 165,106 29,375 1,064 118,521 21,904 96,616 124,641 30,133 94,508 1,899,655 3,315,890 2.76 Non Kelompok 4,908,503 203,344 989,152 20,412 20,995 141,719 203,344 32,076 103,810 77,566 389,230 35,886 353,596 210,323 130,793 12,481 217,185 49,145 168,040 113,375 36,295 77,080 1,912,539 2,966,850 2.57

I. Nilai Produksi Kotor II. Biaya Produksi : 1. Sewa Traktor 2. Ternak (baik DK maupun LK) 3. Tenagakerja : a. Membuat Persemaian b. Menyemai c. Mengolah lahan e. Menanam f. Memupuk (I,II,III) g. Menyiang (I,II,III) h. Menyemprot (I,II,III) I. Panen & Pasca Panen 4. Benih 5. Pupuk (termasuk untuk persemaian) a. Urea b. TSP/SP-36 c. KCL d. ZA e.Lainya ( ) f. Lainya ( ) 6. Obat-obatan a. Padat b. Cair 7. Biaya Lain (Permusim) a. Iuran air irigasi b. Pajak tanah c. Sewa tanah III. Total Biaya IV. Keuntungan (Rp/ha) V. R/C rasio

17

Pangsa biaya faktor produksi yang terbesar di luar pangsa nilai sewa lahan sawah adalah biaya tenagakerja. Dengan urutan kelompok yang sama masing-masing 18,7; 19,9 dan 20,2 persen. Sementara pangsa biaya pupuk sebenarnya pada semua kelompok kurang dari 10 persen (5,939,91 persen). Pangsa total biaya diluar sewa lahan masing-masing adalah 34,9; 36,2 dan 43,4 persen, sedangkan pangsa nilai sewa itu sendiri masing-masing 37,6; 53,4 dan 50,9 persen (Tabel 12). Dengan demikian pada kondisi situasi ekonomi pertanian seperti sekarang usahatani padi bagi penggarap sudah tidak menggairahkan lagi. Tingkat penerapan teknologi usahatani apabila dibadingkan dengan paket anjuran penerapan teknologi usahatani, tampak bahwa yang paling tinggi justru pada bukan kelompok. Pada kelompok tani teladan justru penerapan paket teknologi 10 persen di bawah paket anjuran dan penggunaan KCL 40 persen lebih rendah, kecuali penggunaan pupuk TSP/SP36 50 persen lebih tinggi dari paket anjuran. Namun perlu penjelasan disini, bahwa lebih tingginya penggunaan pupuk P lebih disebabkan oleh banyaknya penggunaan pupuk alternatif, seperti SP-27, dan buta ijo yang kandungan unsur haranya lebih rendah. Pada kelompok biasa penggunaan pupuk 30 persen lebih rendah dari anjuran, yang terdiridari urea 10 persen dan KCL 70 persen lebih rendah, kecuali pada kasus TSP/SP yang masalahnya sama dengan kelompok sebelumnya (Tabel 13).

Tabel 13.

Selisih Rata-Rata Penggunaan Faktor Produksi Dibanding Anjuran, Musim Hujan 1999/2000
Kelompok Teladan Kelompok Biasa Bukan kelompok Average Anjuran Selisih Average Anjuran Selisih Average Anjuran Selisih 6,319 7,000 0.90 5,439 7,000 0.78 4,817 7,000 0.69

UraIan

I. Produksi Kotor (GKP) II. Faktor Produksi 1. Benih 2. Pupuk a. Urea b. TSP/SP-36 c. KCL d. ZA

24 407 181 151 51 -

25 450 200 100 75 75

0.96 0.90 0.90 1.51 0.67 -

26 328 191 116 21 -

25 450 200 100 75 75

0.63 0.73 0.96 1.16 0.28 -

26 313 200 110 -

25 450 200 100 75 75

0.63 0.70 1.00 1.10 -

18

Motivasi Terhadap Program Intensfikasi


Hampir semua petani (100 persen) menyatakan bahwa urutan pertama sumber pengetahuan petani adalah dari petugas penyuluhan (PPL) dan urutan kedua adalah dari sesama petani (60-93 persen) dan urutan ketiga adalah pengikuti program pemerintah (60-80 persen). Dengan demikian dapat diartikan bahwa betapa masih diperlukannya adanya kehadiran penyuluh bagi peningkatan penyuluhan pertanian di pedesaan. Namun yang perlu dipertanyakan sejauh mana efektivitas penyampaian inovasi dapat diadopsi oleh petani. Dari informasi yang diperoleh dari para penyuluh, bahwa pada saat ini yang bersamaan dengan era reformasi petani lebih memiliki kebebasan untuk memilih dan mengevaluasi materi yang disuluhkan. Tetapi dengan adanya pernyataan bahwa sumber pengetahuan itu berasal dari sesama petani, berati proses meniru setelah memiliki keyaninan dari inovasi yang disuluhkan masih melekat pada diri petani. Oleh karena itu metoda penyuluhan dengan media demfarm tampaknya diperlukan kembali. Motivasi petani untuk mengikuti program intensifikasi tampak lebih dipengaruhi oleh sejauh mana manfaat yang akan dirasakan oleh petani terutama yang menyangkut peningkatan pengetahuan, hasil/produksi dan pendapatan. Pada semua kelompok tani dan bukan kelompok 70-90 persen menyatakan demikian (Tabel 14.).

Peranan Institusi Penunjang


Pada Tabel 15., menginformasikan bahwa lembaga penunjang yang masih dirasakan menunjang bagi petani adalah lebaga finansial kredit yaitu BRI, walaupun hanya menyatakan sebagian petani 13-40 persen sebagai sumber kredit pertanian, dan 20 persen sebagai sumber kredit non pertanian. Sedangkan KUD hanya bisa dirasakan oleh petani dalam kegiatan pengadaan saprotan (6-50 persen), padahal harapan KUD hendaknya mampu membeli produksi dengan harga yang menjamin keuntungan.

19

Tabel 14. Motivasi Petani, Sumber Pengetahuan dan Jenis Program Intensifikasi Menurut Status Petani di Subang, Jawa Barat 1999/2000
No
1

Uraian
Sumber Petai Tahu Teknologi Pertanian a. PPL/Petugas Pertanian b. Mengikuti Program Pemerintah c. Sesama petani d. Orang tua e. Pamong desa Terakhir mengikuti program Insus a. IP-300/Gema Palagung b. Proyek Ketahanan Pangan c. Tidak ikut d. Lainnya Motivasi Petani Mengikuti Program Insus a. Memperoleh pengetahuan lebih baik b. Memperoleh bantuan modal/saprotan c. Meningkatkan hasil d. Diwajibkan oleh aparat e. Tidak tahu Terjadi Peningkatan Aplikasi Teknologi a. Ya b. Tidak Peningkatan Aplikasi Teknologi pada : a. Penggunaan benih b. Penggunaan pupuk c. Penggunaan pestisida d. Pada teknologi budidaya Terjadinya Peningkatan Produksi a. Ya b. Tidak Terjadi Penignkatan Pendapatan a. Ya b. Tidak Jumlah N

Petani Insus Teladan Biasa

Petani Non Insus

100.00 60.00 60.00 60.00 50.00 30.00 10.00 30.00 20.00 90.00 50.00 80.00 30.00 100.00 70.00 80.00 80.00 70.00 100.00 70.00 30.00 10

93.33 80.00 93.33 53.33 26.67 46.67 13.33 6.67 6.67 66.67 73.33 66.67 46.67 6.67 73.33 20.00 86.67 80.00 66.67 80.00 80.00 20.00 73.33 26.67 15

100.00 73.33 86.67 40.00 73.33 13.33 13.33 53.33 20.00 86.67 20.00 86.67 13.33 6.67 80.00 13.33 66.67 80.00 46.67 53.33 86.67 13.33 66.67 32.33 15

Peranan lembaga penyuluhan, tampak perlu lebih dipertimbangkan lagi terutama dalam kepastian lebaga tersebut baik status dan pendanaan untuk menyampaikan metodametoda penyuluhan yang lebih proaktif kepada petani di pedesaan. Hal ini penting karena dari pengumpulan data 50-90 persen petani menyatakan bahwa peranan PPL cukup membantu

20

mereka terutama dalam hal penyuluhan individu, kelompok, pelayanan saprotan dan sumber informasi saprotan serta membantu informasi pemasaran hasil (Tabel 15).

Tabel 15. Peranan Institusi Penunjang Menurut Sstatus Petani di Subang, Jawa Barat 1999/2000
No
1

Uraian
KUD a. Pengadaan saprodi b. Pemasaran c. Fasilitas lantai jemur/huller BRI a. Kredit pertanian b. Kredit non pertanian PPL a. Penyuluhan individu b. Penyuluhan kelompok c. Pelayanan saprodi d. Pemasaran hasil Jumlah N

Petani Insus Teladan Biasa

Petani Non Insus

50.00 -

6.67 -

33.33 -

40.00 20.00

20.00 20.00

13.33 -

80.00 90.00 70.00 30.00 10

73.33 80.00 53.00 20.00 15

86.67 86.67 60.00 15

Partisipasi Petani dalam Intensifikasi


Partisifasi petani dalam setiap program intensifikasi relatif tinggi, hal ini dicirikan dengan adanya kegiatan pertemuan kelompok tani yang menanyakan sebagian besar petani (33,33 53,33 persen) mengadakan pertemuan lebih dari dua kali dan 3060 persen petani turut serta dalam pertemuan tersebut (Tabel 16.). Indikasi lain besarnya partisipasi petani dalam intensifikasi adalah kesadaran petani sendiri (70-100 persen) menyatakan atas kesadaran sendiri untuk mengikuti program insus.

21

Tabel 16. Partisipasi Petani dalam Program Intensifikasi Menurut Sstatus Petani Di Kabupaten Subang, Jawa Barat 1999/2000 Petani Insus Petani No Uraian Teladan Biasa Non Insus 1 Keikutsertaan petani dalam program Insus
Waktu pertama kali ikut a. Kesadaran sendiri b. Terpengaruh tentangga c. Pelayanan saprodi d. Produksi meningkat Cara Mengatasi ketidak sesuaian Paket Kredit a. Membeli sendiri b. Menggunakan sisa musim sebelumnya c. Ngutang dari pedagang saprotan d. Minjam tetangga e. Tidak ada usaha mengatasi Faktor yang mempengaruhi Petani Tidak Menerapkan Teknologi Secara Optimal a. Tingkat pendidikan b. Modal c. Status pemilikan lahan d. Aksebilitas terhdp pasar input e. Harga input yang tinggi Sumber Pendapatan Utama Petani a. Usahatani padi b. Peternakan c. Buruh tani d. Non pertanian Jumlah N 70.00 10.00 20.00 80.00 10.00 10.00 53.33 26.67 6.67 20.00 33.33 26.67 20.00 46.67 33.33 20.00 53.33 26.67 6.67 13.33

30.00 30.00 10.00 10.00 90.00 10.00 10

13.33 33.33 13.33 26.67 6.67 86.67 6.67 6.67 15

80.00 20.00 86.67 6.67 6.67 15

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKSANAAN Kesimpulan


Respon petani terhadap penerapan intensifikasi usahatani pada saat ini sangat tergantung pada seberapa jauh teknoogi tersebut dapat meningkatkan pengetahuan, produksi dan pendapatan petani. Apabila dalam suatu kondisi ada dua pilihan, maka respon petani lebih memilih komponen teknologi yang dapat meningkatkan pendapatan walaupun resiko kegagalan relatif tinggi. Dinamika respon petani terhadap teknologi intensifikasi, relatif stabil pada komponen teknologi yang tidak secara langsung sensitif merubah profitabilitas usahatani padi, seperti cara tanam, pengolahan lahan, pengairan. Tetapi sebaliknya pada komponen teknologi yang sensitif

22

terhadap perubahan profitabilitas dinamika respon petani terhadap adopsi inovasi sangat tinggi, misalnya terhadap benih, pupuk, tenagakerja dll. Dinamika respon petani tersebut terjadi sejalan (inline) dengan tingkat kemajuan kelompok tani. Semakin maju kelompok tani, maka semakin tinggi dinamika respon petani terhadap faktor-faktor teknologi yang sensitif terhadap perubahan profitabilitas usahatani padi. Sifat hati-hati pada petani, dengan pertimbangan rasio biaya korbanan dan pendapatan masih melekat pada diri petani masing-masing, sehingga implikasinya adalah metoda penyuluhan yang hanya mengandalkan teoritis menjadi sangat tidak efektif dan diduga media demfarm dengan memberikan contoh keberhasilan teknologi kepada petani menjadi lebih diperlukan lagi, namun hal ini perlu persiapan materi dan biaya yang cukup dari pemerintah. Pada saat ini petani sudah kebal dan tidak peduli lagi dengan kondisi harga faktorfaktor input seperti pupuk dan pestisida, namun yang sangat di khawatirkan dan ditakuti oleh petani adalah tidak termajinnya pemasaran dan jatuhnya harga produksi sampai pada tingkat harga yang paling tidak menguntungkan. Karena yang terbayang oleh petani adalah hutang pengembalian kredit yang pasti menjadi beban pikiran petani. Harapan petani, pemerintah mampu membantu mengurangi ketidak pastian usahatani padi melalui jaminan pasar dan harga, atau mungkin semacam asuransi khusus untuk pertanaman petani.

Implikasi Kebijaksanaan
Pada era reformasi seperti ini, yang juga ditunjang oleh kebijaksanaan Pemerintah masa lalu seperti Undang-Undang Budi Daya Tanaman, petani memiliki kebebasan untuk memilih komoditi dan komponen teknologi yang menurut petani lebih menguntungkan. Sehingga pengkajian mengenai efektivitas teknologi intensifikasi perlu dilakukan sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi di lapangan baik perubahan fisik lingkungan maupun sosial ekonomi. Karena pada saat ini petani akan memilih teknologi bukan saja yang dapat meningkatkan produksi tetapi juga meningkatkan pendapatan. Bentuk-bentuk penyuluhan dalam rangka introduksi teknologi bagi petani perlu diadakan reorientasi lagi, karena petani pada saat ini memiliki kebebasan untuk menolak dan menuntut manakala teknologi yang diintroduksikan tidak memiliki efektivitas terhadap peningkantan produksi dan pendapatan. Sebagai contoh banyak kasus petani tidak mau membayar pestisida, disebabkan toksisitas pestisida tersebut sangat rendah. Dengan demikian

23

bentuk menyuluhan pada saat ini lebih dituntut memberikan contoh bukan hanya teori dan intruksi. Jaminan pemasaran hasil-hasil pertanian, tampaknya suatu kondisi yang sangat diharapkan oleh petani. Oleh karena itu kebijaksanaan pemerintah yang lebih bijaksana terhadap komoditi pertanian masih tetap diperlukan. Kebijaksanaan tidak saja hanya menjamin harga dan pemasaran, tetapi juga mengkondisikan agar sistem agribisnis pertanian menjadi kondusif, baik sejak jaminan ketersediaan faktor input seperti pupuk, pestisida, benih, pasar output, alat pertanian dll. Untuk menjamin kondisi yang kondusif bagi petani dalam melakukan usahatani, maka pemerintah perlu terus memantau terhadap spekulasi-spekulasi yang dapat mengganggu sistem usahatani padi, baik yang menyangkut ketersediaan sarana produksi (pupuk, benih, pestisida) maupun pasar output dan menegakan supremasi hukun dengan tegas kepada setiap pihak yang mencoba melakukan instabilitas sistem tersebut.

DAFTAR PUSTAKA Anonymous. 2000. Pengkajian Mengenai Penerapan Intensifikasi Usahatani Padi Sawah. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. ____________. 2000. Laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. Kabupaten Subang dan Propinsi Jawa Barat. ____________. 2000. Laporan Sekretiat Harian Pengendali Bimas Kabupaten Subang. Subang. ____________. 1999. Kabupaten Subang Dalam Angka. BPS. ____________. 1999. Propinsi Jawa Barat Dalam Angka. BPS. Irawan, B; Supena F.; Ade S.; Iwan S. A.; Nainy A. K.; Bambang R. dan Budy W. 2000. Laporan Hasil Penelitian. Prumusan Model Kelembagaan Reservasi Lahan Pertanian. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Bogor. Kasryno, F. 1995. Propek Pertanian Indonesia dan Antisipasi Dalam Menghadapi Pasingan Global. Makalah disampaikan pada Pertemuan Teknis di P3GI Pasuruan Tanggal 29-30 Nopember 1995. Rasahan, C.A. 1996. Perspektif Strategi Ketenagakerjaan Pertanian Dalam Rangka Meningkatkan Produktivitas Pertanian. Tabbor, SR., HH. Dillon and M. H. Sawit. 1999. Understanding The Food Crisis: Supply, Demand or Policy Failure ?. Paper Presented at International Seminar on Agricultural Sector During the Turbulance of Economic Crisis: Lesson and Future Derections, Bogor, 17-18 February 1999.

24