28 Januari 2008 5:07 pm

Metode Penelitain Komunikasi Bag 3 Pengertian Analisis Isi Analisis isi (content analysis) adalah penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa. Pelopor analisis isi adalah Harold D. Lasswell, yang memelopori teknik symbol coding, yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian diberi interpretasi. Analisis isi dapat digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi. Baik surat kabar, berita radio, iklan televisi maupun semua bahan-bahan dokumentasi yang lain. Hampir semua disiplin ilmu sosial dapat menggunakan analisis isi sebagai teknik/metode penelitian. Holsti menunjukkan tiga bidang yang banyak mempergunakan analisis isi, yang besarnya hampir 75% dari keseluruhan studi empirik, yaitu penelitian sosioantropologis (27,7 persen), komunikasi umum (25,9%), dan ilmu politik (21,5%). Sejalan dengan kemajuan teknologi, selain secara manual kini telah tersedia komputer untuk mempermudah proses penelitian analisis isi, yang dapat terdiri atas 2 macam, yaitu perhitungan kata-kata, dan “kamus” yang dapat ditandai yang sering disebut General Inquirer Program. Analisis isi tidak dapat diberlakukan pada semua penelitian sosial. Analisis isi dapat dipergunakan jika memiliki syarat berikut. 1. Data yang tersedia sebagian besar terdiri dari bahan-bahan yang terdokumentasi (buku, surat kabar, pita rekaman, naskah/manuscript). 2. Ada keterangan pelengkap atau kerangka teori tertentu yang menerangkan tentang dan sebagai metode pendekatan terhadap data tersebut. 3. Peneliti memiliki kemampuan teknis untuk mengolah bahanbahan/data-data yang dikumpulkannya karena sebagian dokumentasi tersebut bersifat sangat khas/spesifik. Desain Analisis Isi Setidaknya dapat diidentifikasi tiga jenis penelitian komunikasi yang menggunakan analisis isi. Ketiganya dapat dijelaskan dengan teori 5

unsur komunikasi yang dibuat oleh Harold D. Lasswell, yaitu who, says what, to whom, in what channel, with what effect. Ketiga jenis penelitian tersebut dapat memuat satu atau lebih unsur “pertanyaan teoretik” Lasswell tersebut. Pertama, bersifat deskriptif, yaitu deskripsi isi-isi komunikasi. Dalam praktiknya, hal ini mudah dilakukan dengan cara melakukan perbandingan. Perbandingan tersebut dapat meliputi hal-hal berikut ini. 1. Perbandingan pesan (message) dokumen yang sama pada waktu yang berbeda. Dalam hal ini analisis dapat membuat kesimpulan mengenai kecenderungan isi komunikasi. 2. Perbandingan pesan (message) dari sumber yang sama/tunggal dalam situasi-situasi yang berbeda. Dalam hal ini, studi tentang pengaruh situasi terhadap isi komunikasi. 3. Perbandingan pesan (message) dari sumber yang sama terhadap penerima yang berbeda. Dalam hal ini, studi tentang pengaruh ciri-ciri audience terhadap isi dan gaya komunikasi. 4. Analisis antar-message, yaitu perbandingan isi komunikasi pada waktu, situasi atau audience yang berbeda. Dalam hal ini, studi tentang hubungan dua variabel dalam satu atau sekumpulan dokumen (sering disebut kontingensi (contingency). 5. Pengujian hipotesis mengenai perbandingan message dari dua sumber yang berbeda, yaitu perbedaan antarkomunikator. Kedua, penelitian mengenai penyebab message yang berupa pengaruh dua message yang dihasilkan dua sumber (A dan B) terhadap variabel perilaku sehingga menimbulkan nilai, sikap, motif, dan masalah pada sumber B. Ketiga, penelitian mengenai efek message A terhadap penerima B. Pertanyaan yang diajukan adalah apakah efek atau akibat dari proses komunikasi yang telah berlangsung terhadap penerima (with what effect)? Tahapan Proses Penelitian Analisis Isi Terdapat tiga langkah strategis penelitian analisis isi. Pertama, penetapan desain atau model penelitian. Di sini ditetapkan berapa media, analisis perbandingan atau korelasi, objeknya banyak atau sedikit dan sebagainya. Kedua, pencarian data pokok atau data primer, yaitu teks itu sendiri. Sebagai analisis isi maka teks merupakan objek yang pokok bahkan

peneliti dapat memilih hipotesis nol. (4) pendataan suatu sampel dokumen yang telah dipilih dan melakukan pengkodean.terpokok. dilakukan dengan menggunakan lembar pengkodean (coding sheet) yang sudah dipersiapkan. dan (6) interpretasi/ penafsiran data yang diperoleh. Urutan langkah tersebut harus tertib. (3) pembuatan kategori yang dipergunakan dalam analisis. (2) melakukan sampling terhadap sumber-sumber data yang telah dipilih. dan acuan tertentu. Ketiga. METODE ANALISIS ISI Dasar-dasar Rancangan Penelitian Analisis Isi Prosedur dasar pembuatan rancangan penelitian dan pelaksanaan studi analisis isi terdiri atas 6 tahapan langkah. . Permulaan penelitian itu adalah adanya rumusan masalah atau pertanyaan penelitian yang dinyatakan secara jelas. dugaan sementara yang akan dijawab melalui penelitian. tetapi terlihat kait-mengait dengan faktorfaktor lain. kategori tinggi-sedang-rendah. kemudian diinterpretasikan maknanya. yaitu (1) merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesisnya. serta dapat diukur dan untuk dijawab dengan usaha penelitian. dan mengarah. Pembuatan alat ukur atau kategori yang akan digunakan untuk analisis didasarkan pada rumusan masalah atau pertanyaan penelitian. Misalnya. disesuaikan dengan rumusan masalah dan kemampuan peneliti. pencarian pengetahuan kontekstual agar penelitian yang dilakukan tidak berada di ruang hampa. eksplisit. pengumpulan atau coding data. tidak boleh dilompati atau dibalik. Pada perumusan hipotesis. Penarikan sampel dilakukan melalui pertimbangan tertentu. Setelah semua data diproses. Langkah sebelumnya merupakan prasyarat untuk menentukan langkah berikutnya. (5) pembuatan skala dan item berdasarkan kriteria tertentu untuk pengumpulan data. dengan indikatorindikator yang bersifat terukur. hipotesis penelitian atau hipotesis statistik. Kemudian. Pencarian dapat dilakukan dengan menggunakan lembar formulir pengamatan tertentu yang sengaja dibuat untuk keperluan pencarian data tersebut.

3. Pada lajur pertama. yaitu derajat kemampuan pengulangan penempatan data dalam berbagi kategori. metode Q-Sort. Kedua. dan kesahihan (validitas) pengukuran. Apakah kita benar-benar dapat mengukur dengan tepat sesuai dengan alat atau instrumen yang dimiliki. Dalam analisis isi. (Y) berisi 9 point nilai. Penggunaan metode ini adalah untuk mengetahui pernyataan-pernyataan yang paling intens di antara pasangan-pasangan yang mungkin. dan lajur kedua (X) yang menunjukkan persentase pernyataan dalam tiap kategori. Keseluruhan metode ini akan menghasilkan suatu skala relatif antaritem. Reliabilitas kategori. metode skala perbandingan pasangan (pair comparison scaling). validitas dilakukan dengan berbagai cara atau metode sebagai berikut. Dalam hal ini perlu ditetapkan keterandalan (reliabilitas) alat ukur. Untuk menentukan item-item masuk pada kategori tertentu pada skala yang telah tersedia. Skala Q-Sort mempergunakan distribusi skala 9 titik. yaitu berikut ini. 2. dipakai orang-orang yang dianggap sebagai juri penilai.Teknik Pembuatan Skala pada Analisis Isi Telah dijelaskan dua macam teknik penskalaan (scaling) yang bertujuan khusus untuk mengukur intensitas. Pretest. yaitu pemberian kode dari luar dan dari dalam. . Reliabilitas didefinisikan sebagai keterandalan alat ukur yang dipakai dalam suatu penelitian. Intercoder dan intracoder. yang menunjukkan tingkat terendah (1) sampai tingkat tertinggi (9). 1. menyediakan suatu cara penskalaan universe pernyataan-pernyataan mengenai variabel tertentu. Pertama. Dikenal beberapa jenis reliabilitas. yaitu pengujian atau pengukuran perbedaan nilai antara juri-juri pemberi nilai. Reliabilitas dan Validitas Masalah reliabilitas (keterandalan) dan validitas pengukuran (kesahihan) merupakan 2 hal pokok dalam penelitian yang tidak boleh ditinggalkan. Validitas adalah kesahihan pengukuran atau penilaian dalam penelitian. yaitu teknik menentukan skala relatif item-item yang tidak melibatkan distribusi nyata.

Model analisis wacana yang diperkenalkan oleh van Dijk sering kali disebut sebagai “kognisi sosial”. Analisis wacana lebih bersifat kualitatif daripada yang umum dilakukan dalam analisis isi kuantitatif karena analisis wacana lebih menekankan pada pemaknaan teks daripada penjumlahan unit kategori. Predictive validity. Menurut van Dijk. yaitu derajat kesesuaian teori dan konsep yang dipakai dengan alat pengukuran yang dipakai dalam penelitian tersebut. sedangkan analisis wacana justru memfokuskan pada pesan yang bersifat latent (tersembunyi). Beberapa perbedaan mendasar antara analisis wacana dengan analisis isi yang bersifat kuantitatif adalah sebagai berikut. pada analisis wacana lebih difokuskan untuk melihat pada “bagaimana” (how). Analisis isi kuantitatif hanya dapat mempertimbangkan “apa yang dikatakan” (what). yaitu derajat di mana suatu studi menunjukkan indikator yang tepat yang berhubungan dengan variabel. Analisis isi kuantitatif digunakan untuk membedah muatan teks komunikasi yang bersifat manifest (nyata). 3. sedangkan analisis isi kuantitatif memang diarahkan untuk membuat generalisasi. 2. ANALISIS ISI KUALITATIF Analisis Wacana Analisis wacana adalah analisis isi yang lebih bersifat kualitatif dan dapat menjadi salah satu alternatif untuk melengkapi dan menutupi kelemahan dari analisis isi kuantitatif yang selama ini banyak digunakan oleh para peneliti. ada 3 dimensi yang membentuk suatu wacana sehingga analisis yang dilakukan terhadap . Construct validity. yaitu derajat kemampuan pengukuran dengan peristiwa yang akan datang.1. Analisis wacana tidak berpretensi melakukan generalisasi. yaitu suatu pendekatan yang diadopsi dari bidang psikologi sosial. tetapi tidak dapat menyelidiki bagaimana ia dikatakan (how). Pengukuran produktivitas (productivity). pertanyaan lebih ditekankan untuk menjawab “apa” (what) dari pesan atau teks komunikasi. seperti dalam analisis isi. yaitu bagaimana isi teks berita dan juga bagaimana pesan itu disampaikan. Jika pada analisis kuantitatif.

Exemplar mengaitkan bingkai dengan contoh. bahasa tertulis. semiotik tanda-tanda bauan. sistem objek. bahasa alam. komik kartun. Menurut Eco. dan konteks sosial. alfabet tak dikenal. yaitu metafora. bahasa yang diformalkan. Analisis Framing Analisis Framing adalah bagian dari analisis isi yang melakukan penilaian tentang wacana persaingan antarkelompok yang muncul atau tampak di media. Framing device menunjuk pada penyebutan istilah tertentu yang menunjukkan “julukan” pada satu wacana. dan sebagainya Semiotika di bidang komunikasi pun juga tidak terbatas. Menurut Eco. kode-kode musik. Analisis Semiotik (Semiotic Analysis) Pengertian semiotika secara terminologis adalah ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek. seluruh kebudayaan sebagai tanda. yaitu gagasan sentral yang terorganisasi. kode-kode cecapan. dan sastra sampai kepada musik. paralinguistik. dan dapat dianalisis melalui dua turunannya. komunikasi visual. film. kognisi sosial. hubungannya dengan kata lain. perumpamaan atau pengandaian. Roots memperlihatkan analisis sebab-akibat. Appeals to principles merupakan premis atau klaim moral. Di dalamnya terdapat beberapa ‘turunan’.suatu wacana harus meliputi ketiga dimensi tersebut. semiotik sebagai “ilmu tanda” (sign) dan segala yang berhubungan dengannya cara berfungsinya. kinesik dan proksemik. Depiction adalah “musuh yang harus dilawan bersama”. . pengirimannya. Catchphrases merupakan slogan-slogan yang harus dikerjakan. Dikenal konsep bingkai. ada sembilan belas bidang yang bisa dipertimbangkan sebagai bahan kajian untuk semiotik. komunikasi periklanan. sedangkan reasoning device menunjuk pada analisis sebab-akibat. teori atau pengalaman masa silam. seperti pemberitaan di media massa. misalnya saja bisa mengambil objek penelitian. tanda-tanda nonverbal. semiotik medis. dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya. kode rahasia. yaitu semiotik binatang. dan Consequences merupakan kesimpulan logika penalaran. Pada instrumen penalaran. yaitu teks. komunikasi rabaan. peristiwa-peristiwa. yaitu simbol berupa framing device dan reasoning device. dan visual image adalah gambar-gambar yang mendukung bingkai secara keseluruhan.

5. Menurut Azwar (2000) Validitas adalah sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsinya. Pengertian Uji Validitas: Menurut Sugiyono (2006) Uji validitas adalah suatu langkah pengujian yang dilakukan terhadap isi (content) dari suatu instrumen. 2011 6:34 pm Uji Validitas dan Uji Reliabilitas oleh: Lestariningsih Uji Validitas Pengertian Validitas: 1. Menurut Sukadji (2000) Validitas adalah derajat yang menyatakan suatu tes mengukur apa yang seharusnya diukur. Menurut Anastasi (1990) Validitas adalah ketepatan mengukur konstruk. Macam-macam validitas: Menurut Djaali dan Pudji (2008) validitas dibagi menjadi 3 yaitu: bisa relevan/sesuai dengan tujuan diadakannya .JI VALIDITAS DAN RELIABILITAS May 10. menyangkut. Menurut Arikunto (1995) Validitas adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen bersangkutan yang mampu mengukur apa yang akan diukur. Menurut Gronlund dan Linn (1990) Validitas adalah ketepatan interpretasi yang dibuat dari hasil pengukuran atau evaluasi 2. 4. “What the test measure and how well it does” 3. Agar data yang diperoleh pengukuran tersebut. dengan tujuan untuk mengukur ketepatan instrumen yang digunakan dalam suatu penelitian Tujuan uji validitas: Mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya.

Validitas empiris Validitas isi (content validity) Validitas isi suatu tes mempermasalahkan seberapa jauh suatu tes mengukur tingkat penguasaan terhadap isi suatu materi tertentu yang seharusnya dikuasai sesuai dengan tujuan pengajaran. Untuk memperbaiki validitas suatu tes. Jadi situasi tes akan mempunyai validitas isi yang baik jika tes tersebut terdiri dari item-item yang mewakili semua materi yang hendak diukur. Salah satu cara yang biasa digunakan untuk memperbaiki validitas isi suatu tes ialah dengan menggunakan blue-print untuk menentukan kisi-kisi tes. konsep diri. Oleh karena itu. Artinya tes mencerminkan keseluruhan konten atau materi yang diujikan atau yang seharusnya dikuasai secara proporsional. motivasi berprestasi. tugas atau butir dalam suatu tes atau instrumen mampu mewakili secara keseluruhan dan proporsional perilaku sampel yang dikenai tes tersebut. validitas isi suatu tes tidak memiliki besaran tertentu yang dihitung secara statistika. Validitas isi (content validity) 2. maupun yang sifatnya . Dengan kata lain. dan lain-lain. Validitas konstruk biasa digunakan untuk instrumen-instrumen yang dimaksudkan mengukur variabel-variabel konsep. minat. Menurut Gregory (2000) validitas isi menunjukkan sejauhmana pertanyaan. baik yang sifatnya performansi tipikal seperti instrumen untuk mengukur sikap. maka isi suatu tes harus diusahakan agar mencakup semua pokok atau sub-pokok bahasan yang hendak diukur. tetapi dipahami bahwa tes itu sudah valid berdasarkan telaah kisi-kisi tes. Untuk mengetahui apakah tes itu valid atau tidak harus dilakukan melalui penelaahan kisi-kisi tes untuk memastikan bahwa soal-soal tes itu sudah mewakili atau mencerminkan keseluruhan konten atau materi yang seharusnya dikuasai secara proporsional. Selain itu. wiersma dan Jurs dalam Djaali dan Pudji (2008) menyatakan bahwa validitas isi sebenarnya mendasarkan pada analisis logika. jadi tidak merupakan suatu koefisien validitas yang dihitung secara statistika.1. penentuan proporsi tersebut dapat pula didasarkan pendapat (judgement) para ahli dalam bidang yang bersangkutan. gaya kepemimpinan. tes yang mempunyai validitas isi yang baik ialah tes yang benarbenar mengukur penguasaan materi yang seharusnya dikuasai sesuai dengan konten pengajaran yang tercantum dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP). Oleh karena itu. Kriteria untuk menentukan proporsi masing-masing pokok atau sub pokok bahasan yang tercakup dalam suatu tes ialah berdasarkan banyaknya isi (materi) masing-masing pokok atau sub-pokok bahasan seperti tercantum dalam kurikulum atau Garis-Garis Besar Program Pengajaran(GBPP). lokus control. Validitas Konstruk (Construct validity) Menurut Djaali dan Pudji (2008) validitas konstruk adalah validitas yang mempermasalahkan seberapa jauh item-item tes mampu mengukur apa-apa yang benar-benar hendak diukur sesuai dengan konsep khusus atau definisi konseptual yang telah ditetapkan. Validitas Konstruk (Construct validity) 3.

maka proses validasi konstruk sebuah instrumen harus dilakukan melalui penelaahan atau justifikasi pakar atau melalui penilaian sekelompok panel yang terdiri dari orang-orang yang menguasai substansi atau konten dari variabel yang hendak diukur. Contoh Format Penelaahan Butir Soal Bentuk Uraian Mata Pelajaran Kelas/Semester Penelaah :……………………………………………………. kecerdasan emosional dan lain-lain.. sampai kepada penjabaran dan penulisan butir-butir item instrumen. :……………………………………………………. penentuan dimensi dan indikator.. kemudian tuliskan alasan pada ruang catatan atau pada teks soal dan perbaikannya. Aspek yang Ditelaah Ya A12 3 4 B 5 6 7 MateriSoal sesuai dengan indikator (menuntut tes tertulis untuk bentuk uraian)Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan sudah sesuai Materi yang ditanyakan sesuai 1 Tidak Ya 2 Tidak Ya 3 Tidak … . Perumusan konstruk harus dilakukan berdasarkan sintesis dari teori-teori mengenai konsep variabel yang hendak diukur melalui proses analisis dan komparasi yang logik dan cermat. Nomor Soal No. Petunjuk pengisian format penelaahan butir soal bentuk uraian: Analisislah setiap butir soal berdasarkan semua kriteria yang tertera di dalam format! Berilah tanda cek ( ) pada kolom “ya” bila soal yang ditelaah sudah sesuai dengan kriteria Berilah tanda cek ( ) pada kolom “tidak” bila soal yang ditelaah tidak sesuai dengan kriteria.. :……………………………………………………. intelegensi (kecerdasan intelekual). Untuk menentukan validitas konstruk suatu instrumen harus dilakukan proses penelaahan teoritis dari suatu konsep dari variabel yang hendak diukur. Menyimak proses telaah teoritis seperti telah dikemukakan. mulai dari perumusan konstruk.performansi maksimum seperti instrumen untuk mengukur bakat (tes bakat).

atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca Bahasa Rumusan kalimat soal komunikatif Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baku Tidak menggunakan kata/ungkapan yang menimbulkan . grafik. gambar. peta.8 C 9 10 11 12 13 dengan kompetensi (urgensi. Ada pedoman penskorannya Tabel. relevasi. keterpakaian sehari-hari tinggi) Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat kelas Konstruksi Menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntutjawaban uraian Ada petunjuk yang jelas tentang cara pengerjaan soal. kontinyuitas.

:……………………………………………………. . kemudian tuliskan alasan pada ruang catatan atau pada teks soal dan perbaikannya.. :…………………………………………………….. Petunjuk pengisian format penelaahan butir soal bentuk pilihan ganda: Analisislah setiap butir soal berdasarkan semua kriteria yang tertera di dalam format! Berilah tanda cek ( ) pada kolom “ya” bila soal yang ditelaah sudah sesuai dengan kriteria Berilah tanda cek ( ) pada kolom “tidak” bila soal yang ditelaah tidak sesuai dengan kriteria.penafsiran ganda atau salah pengertian Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu Rumusan soal tidak mengandung kata/ungkapan yang dapat menyinggung perasaan siswa Catatan: ………………………………………………………………………………………………………………………………………… … ………………………………………………………………………………………………………………………………………… … ………………………………………………………………………………………………………………………………………… … Contoh Format Penelaahan Butir Soal Bentuk Pilihan Ganda Mata Pelajaran Kelas/Semester Penelaah :……………………………………………………..

keterpakaian sehari-hari tinggi) Pilihan jawaban homogen dan logis Hanya ada satu kunci jawaban Konstruksi Pokok soal dirumuskan dengan singkat. kontinyuitas.Nomor Soal No. relevasi. jelas dan tegas Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban merupakan 1 Tidak Ya 2 Tidak Ya 3 Tidak … . Aspek yang Ditelaah Ya A12 3 4 B 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 C 15 16 17 18 MateriSoal sesuai dengan indikator (menuntut tes tertulis untuk bentuk pilihan ganda)Materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi (urgensi.

atau sejenisnya jelas dan berfungsi Panjang pilihan jawaban relatif sama Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan “semua jawaban di atas salah/benar” dan sejenisnya Pilihan jawaban yang berbentuk angka/waktu . diagram.pernyataan yang diperlukan saja Pokok soal tidak memberi petunjuk kunci jawaban Pokok soal bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda Pilihan jawaban homogeny dan logis ditinjau dari segi materi Gambar. table. grafik.

disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologisnya Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya Bahasa Menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia Menggunakan bahasa yang komunikatif Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama. kecuali merupakan satu kesatuan pengertian Catatan: ………………………………………………………………………………………………………………………………………… … ………………………………………………………………………………………………………………………………………… … .

Jadi keputusan uji validitas dalam hal ini adalah mengenai valid atau tidaknya instrumen sebagai suatu kesatuan. Makin tinggi koefesien korelasi yang didapat. maka instrumen yang dikembangkan dapat valid berdasarkan kriteria eksternal yang dipilih (hasil ukur instrumen baku). Jika koefesien korelasi antara skor hasil ukur instrumen yang dikembangkan dengan skor hasil ukurinstrumen baku lebih besar dari pada r-tabel. sehingga biasa disebut juga validitas butir. baik kriteria internal maupun kriteria eksternal. Pengujian validitas butir instrumen atau soal tes dilakukan dengan menghitung koefesien korelasi antara skor butir instrumen atau soal tes dengan skor total instrumen atau tes.………………………………………………………………………………………………………………………………………… … Validitas empiris Validitas empiris sama dengan validitas kriteria yang berarti bahwa validitas ditentukan berdasarkan kriteria. maka besaran validitas eksternal dari instrumen yang kita kembangkan didapat dengan jalan mengkorelasikan skor hasil ukur instrumen yang dikembangkan dengan skor hasil ukur instrumen baku yang dijadikan kriteria. Kriteria internal adalah tes atau instrumen itu sendiri yang menjadi kriteria. Validitas eksternal diperlihatkan oleh suatu besaran yang merupakan hasil perhitungan statistika. Butir atau soal yang dianggap valid adalah butir instrumen atau soal tes yang skornya mempunyai koefesien korelasi yang signifikan dengan skor total instrumen atau tes. Validitas eksternal Kriteria eksternal dapat berupa hasil ukur instrumen yang sudah baku atau instrumen yang dianggap baku dapat pula berupa hasil ukur lain yang sudah tersedia dan dapat dipercaya sebagai ukuran dari suatu konsep atau varaibel yang hendak diukur. maka validitas instrumen yang dikembangkan juga makin baik. Ukuran lain yang sudah dianggap baku atau dapat dipercaya dapat pula dijadikan sebagai kriteria eksternal. validitas eksternal dapat dibedakan atas dua macam yaitu: . Dengan demikian validitas internal mempermasalahkan validitas butir atau item suatu instrumen dengan menggunakan hasil ukur instrumen tersebut sebagai suatu kesatuan dan sebagai kriteria. sedangkan validitas yang ditentukan berdasarkan kriteria eksternal disebut validitas eksternal. Jika kita menggunakan hasil ukur instrumen yang sudah baku sebagai kriteria eksternal. sedangkan kriteria eksternal adalah hasil ukur instrumen atau tes lain di luar instrumen itu sendiri yang menjadi kriteria. Kriteria yang digunakan untuk menguji validitas eksternal adalah nilai table r (r-tabel). Validitas yang ditentukan berdasarkan kriteria internal disebut validitas internal. Validitas internal Validitas internal merupakan validitas yang diukur dengan besaran yang menggunakan instrumen sebagai suatu kesatuan (keseluruhan butir) sebagai kriteria untuk menentukan validitas item atau butir dari instrumen itu. bukan valid atau tidaknya butir instrumen seperti pada validitas internal. Ditinjau dari kriteria eksternal yang dipilih.

Tujuan dari uji reliabilitas: . 4. 2. Koefesien tinggi berarti reliabilitas tinggi. Pengertian Uji Reliabilitas: Menurut Husaini (2003) Uji reliabilitas adalah proses pengukuran terhadap ketepatan (konsisten) dari suatu instrumen.1. Menurut Anastasia dan Susana (1997) Reliabilitas adalah sesuatu yang merujuk pada konsistensi skor yang dicapai oleh orang yang sama ketika mereka diuji ulang dengan tes yang sama pada kesempatan yang berbeda. konsistensi. biasanya sebagai koefesien. Pengujian ini dimaksudkan untuk menjamin instrumen yang digunakan merupakan sebuah instrumen yang handal. 1. Validitas kongkuren apabila kriteria eksternal yang digunakan adalah ukuran atau penampilan saat ini atau saat yang bersamaan dengan pelaksanaan pengukuran. 1. atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen (equivalent items) yang berbeda. Uji Reliabilitas Pengertian Reliabilitas: 1. Menurut Gronlund dan Linn (1990) Reliabilitas adalah ketepatan hasil yang diperoleh dari suatu pengukuran. Reliabilitas dinyatakan dalam bentuk angka. sehingga bila digunakan berkali-kali dapat menghasilkan data yang sama. 1. 5. stabil dan dependibalitas. Menurut Suryabrata (2004) Reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. 3. 2. 1. 1. Menurut Sugiono (2005) dalam Suharto (2009) Reliabilitas adalah serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur yang memiliki konsistensi bila pengukuran yang dilakukan dengan alat ukur itu dilakukan secara berulang. Menurut Sukadji (2000) Reliabilitas suatu tes adalah seberapa besar derajat tes mengukur secara konsisten sasaran yang diukur. Validitas prediktif apabila kriteria eksternal yang digunakan adalah adalah ukuran atau penampilan masa yang akan datang. atau di bawah kondisi pengujian yang berbeda.

3. Menurut Djaali dan Pudji (2008) reliabilitas dibedakan menjadi dua macam. Bila terhadap bagian obyek ukur yang sama. Ada tiga mekanisme untuk memeriksa reliabilitas tanggapan responden terhadap tes yaitu: 1. 2. yang dikenal dengan nama KR-20 dan KR-21. Contoh Uji Validitas dan Uji Reliabilitas: Contoh perhitungan korelasi butir untuk soal bentuk uraian dengan skor butir kontinum. Uji Validitas Jika skor butir instrumen atau soal tes kontinum (misalnya skala sikap atau soal bentuk uraian dengan skor butir 1-5 atau skor soal 0-10) dan diberi simbol Xi dan skor total instrumen atau tes diberi simbol Xt. maka rumus yang digunakan untuk menghitung koefesien korelasi antara skor butir instrumen atau soal dengan skor total instrumen atau skor total tes adalah sebagai berikut: . Rumus koefisien Alpha atau Alpha Cronbach. 2. Teknik belah dua ialah pengetesan (pengukuran) yang dilakukan dengan dua kelompok item yang setara pada saat yang sama. Rumus Kuder-Richardson. hasil ukur melalui item yang satu kontradiksi atau tidak konsisten dengan hasil ukur melalui item yang lain maka pengukuran dengan tes (alat ukur) sebagai suatu kesatuan itu tidak dapat dipercaya. Reliabilitas konsistensi tanggapan Reliabilitas ini mempersoalkan apakah tanggapan responden atau objek terhadap tes tersebut sudah baik atau konsisten. yang menggunakan analisis varian. 2. Bentuk ekivalen ialah pengetesan (pengukuran) yang dilakukan dengan menggunakan dua tes yang dibuat setara kemudian diberikan kepada responden atau obyek tes dalam waktu yang bersamaan. 4.Menunjukkan konsistensi skor-skor yang diberikan skorer satu dengan skorer lainnya. Reliabilitas konsistensi gabungan item Reliabilitas ini berkaitan dengan kemantapan atau konsistensi antara item-item suatu tes. Rumus reliabilitas Hoyt. Tujuan dari uji reliabilitas ini adalah untuk menunjukkan konsistensi skor-skor yang diberikan skorer satu dengan skorer lainnya. Jika hasil pengukuran kedua menunjukkan ketidakkonsistenan maka hal ini akan menunjukkan bahwa hasil ukur tes atau instrumen tersebut tidak dapat dipercaya atau tidak reliable serta tidak dapat digunakan sebagai ukuran untuk mengungkapkan ciri atau keadaan sesungguhnya dari objek pengukuran. Koefesien reliabilitas menggunakan: konsistensi gabungan item dapat dihitung dengan 1. Teknik test-retest ialah pengetesan dua kali dengan menggunakan suatu tes yang sama pada waktu yang berbeda. 3. yaitu 1.

Keterangan: rit = koefisien korelasi antara skor butir soal dengan skor total. yaitu: koefesien reliabilitas dengan . Uji reliabilitas Dari soal diatas. Dengan demikian maka semua butir tes dianggap valid atau dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar. Karena nilai koefesien korelasi antara skor butir dengan skor total untuk semua butir lebih besar dari 0.631.05 didapat nilai table r=0.631. xi = jumlah kuadrat deviasi skor dari Xi xt = jumlah kuadrat deviasi skor dari Xt Data hasil uji coba adalah sebagai berikut: Nomor Responden 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Penyelesaian: Nomor Butir Pertanyaan 2 5 5 4 4 5 3 3 3 2 2 36 4 4 4 3 5 3 3 2 2 1 31 3 3 3 2 3 3 2 2 2 1 1 22 4 5 4 4 3 4 3 3 3 2 1 32 5 3 3 3 4 5 2 2 2 1 1 26 6 5 4 4 3 5 3 2 2 2 1 31 7 3 3 3 4 4 1 2 2 1 1 24 Jumlah 28 26 24 24 31 17 17 16 11 8 202 Untuk n=10 dengan alpha sebesar 0. maka semua butir mempunyai korelasi signifikan dengan skor total tes. selanjutnya akan dihitung menggunakan rumus koefesien Alpha.

24 8.62 Jadi koefesien reliabilitas tes (dengan 7 butir) pada contoh diatas adalah 0.69 1.24 1.29 0.Keterangan: rii = koefisien reliabilitas tes k = cacah butir = varian skor butir = varian skor total Koefisien reliabilitas dari contoh diatas dapat dihitung dengan cara pertama-tama dihitung varian butir sebagai berikut: Nomor butir 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah Varian Butir 1.44 1.16 1.56 1.97 Contoh Perhitungan Korelasi Butir untuk Soal Bentuk Objektif Uji Validitas Jika skor butir soal diskontinum (misalnya soal bentuk objektif dengan skor butir soal 0 atau 1) maka kita menggunakan koefesien korelasi biserial dan rumus yang digunakan untuk menghitung koefesien korelasi biserial antara skor butir soal dengan skor total tes adalah: Keterangan: rbis(i) = koefesien korelasi beserial antara skor butir soal nomor i dengan skor total X1 Xt st pi qi = rata-rata skor total responden yang menjawab benar butir soal nomor i = rata-rata skor total semua responden = standar deviasi skor total semua responden = proporsi jawaban yang benar untuk butir soal nomor i = proporsi jawaban yang salah untuk butir soal nomor i Contoh hasil uji coba adalah sebagai berikut: .

57 0.63 0.66 0.63 0.63 0.Nomor Butir Pertanyaan Nomor Responden 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Xt = 3.76 0.63 0.63 Status Valid Tidak valid Valid Valid Valid Valid .70 0.75 r-tabel 0.107 Jumlah 2 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 9 3 1 0 1 0 0 1 1 0 0 1 5 4 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 6 5 0 1 0 0 0 1 1 0 1 1 5 6 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 3 7 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 4 5 3 2 1 7 6 0 3 5 36 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 7 Nomor Butir 1 2 3 4 5 6 r-butir 0.63 0.60 St = 2.81 0.

Karena niai koefesien korelasi biserial antara skor butir dengan skor total untuk semua butir lebih besar dari 0. sebagai berikut: Data hasil uji coba adalah sebagai berikut: Nomor Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Xt = 2.631. Dengan demikian maka semua butir tes (5 butir) dianggap valid atau dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar. maka semua butir mempunyai korelasi biserial yang signifikan dengan skor total tes.6 St = 1.8 Nomor Butir Pertanyaan Jumlah 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 7 3 1 0 1 0 0 1 1 0 0 1 5 4 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 6 5 0 1 0 0 0 1 1 0 1 1 5 6 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 3 3 4 2 1 0 5 5 0 2 4 26 Untuk n = 10 dengan alpha sebesar 0.7 0.05 didapat nilai table r = 0.54 0. Oleh karena itu perlu dilakukan perhitungan untuk menghitung koefesien antara skor butir dengan skor total baru (5 butir).631.63 Tidak valid Ternyata dari tujuh butir soal tes ada 5 butir yang valid dan dua butir tidak valid. .

80. 2000. Daftar Pustaka: Anastasia.24 pi 0. A & Susana Urbina.7 pi qi 0.6 0.3 0. Jakarta: PT Grasindo. 1997.5 0.25 0.21 0. Gregory.25 0. Psychological Testing. Boston: Allyn and Bacon .7 0.5 0. Arikunto.3 qi 0. New Jersey: PrenticeHall Inc.5 0. Djaali&Pudji Muljono.Uji Reliabilitas Selanjutnya akan dihitung koefesien reliabilitas dengan menggunakan rumus KR-20. Manajemen Penelitian.16 Jadi koefesien reliabilitas tes (dengan 5 butir) pada contoh diatas adalah 0.5 0. 1995.24 0.4 0.21 1. Suharsimi. 2008.16 St = 3. Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan. Psycological Testing: History. Robert J. Jakarta: Rineka Cipta. Principles and Aplications. sebagai berikut: Keterangan: rii = koefesien reliabilitas tes k = cacah butir piqi = varian skor butir pi qi = proporsi jawaban yang benar untuk butir nomor i = proporsi jawaban yang salah untuk butir nomor i = varian skor total Koefesien reliabitas dari contoh diatas adalah: Pertama-tama dihitung varian butir (piqi) sebagai berikut: Nomor butir 1 3 4 5 6 Jumlah = 1.

EN. Bandung: Penerbit Alfabeta. Measurement and Evaluation in Teaching. Suharto.Gronlund. http://suhartoumm. 2006. Kerlinger. 2000. New York: Macmillan Publishing Company. . Sugiyono. Jakarta: Bumi Aksara. Sixth Edition. Instrumen. dkk. Azas-Azas Penelitian Behavioral (Alih Bahasa Simatupang dan Koesoemanto).com/2009/10/uji-validitas-dalam-beberapapengertian. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Penelitian. 2003. Soetarlinah. Jakarta: UI-Press. 2009. Husaini. Kualitatif dan R&D.. Usman. Pengantar Statistika. Menyusun dan Mengevaluasi Laporan Penelitian. Pendekatan Kuantitatif. Reliabilitas. 1990.blogspot. 1990. Metode Penelitian Pendidikan.html Sukadji. dan Linn. Uji Validitas.