I.

Latar Belakang
Dewasa ini di tingkat global telah terjadi perubahan nilai dan konsep pada konsumen terhadap
produk-produk pertanian yang mereka konsumsikan. Hal ini mengakibatkan terjadinya
perubahan perilaku dan sikap mereka dalam membeli suatu produk agrisbisnis. Meningkatnya
kesadaran konsumen akan kaitan kesehatan dan kebugaran dengan konsumsi makanan, telah
meningkatkan tuntutan konsumen akan nutrisi produk-produk yang sehat, aman dan menunjang
kebugaran. Keamanan pangan menjadi kunci yang menentukan kualitas produk pangan.
Deininger (2006) menyatakan kelemahan dalam penanganan sistem keamanan pangan dapat
menyebabkan biaya yang tinggi bagi masyarakat dan berakibat bagi ekonomi global. World
Health Organi:ation (WHO) memperkirakan kurang lebih 2,2 juta orang di dunia meninggal
akibat penyakit diare yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan organisme patogen yang
disebarkan oleh air yang telah terkontaminasi. Di India diperkirakan 20 persen kematian dari
balita disebabkan oleh penyakit diare. Saat wabah SARS menyebar di Asia Timur tahun 2003
ternyata menyebabkan hilangnya pertumbuhan ekonomi sebesar 2 persen dari wilayah tersebut
pada seperempat tahun pertama, walaupun hanya 800 orang yang akhirnya meninggal akibat
penyakit tersebut.
Sedangkan Lowy Institut Ior International Policy (2006) memperkirakan mewabahnya penyakit
avian invluen:a menyebabkan meningkatnya biaya ekonomi bagi 1,4 juta penduduk dunia yang
mendekati 0,8 persen GDP dunia atau sekitar US$ 330 miliar. Sedangkan di lain pihak timbulnya
peningkatan reaksi di berbagai negara untuk melindungi negaranya dari ancaman kemanan
pangan dapat menyebabkan konsekuensi negatiI bagi negara pengekspor pangan. Diperkirakan
akibat dari pemberlakuan penyelarasan nilai standar aIlatoksin bagi 15 negara Eropa oleh Uni
Eropa dari bahan makanan impor 9 negara AIrika telah menyebabkan berkurangnya ekspor
negara AIrika sebanyak 64 persen atau senilai US$ 670 juta.
Meningkatnya kesadaran konsumen akan produk pertanian yang aman bagi kesehatan dan
kebugaran, aman bagi keselamatan dan kesehatan kerja, aman bagi kualitas dan kelestarian
lingkungan hidup mendorong dikembangkannya berbagai persyaratan teknis bahwa produk harus
dihasilkan dengan teknologi yang akrab lingkungan. Penilaian terhadap aspek keselamatan kerja,
kesehatan konsumen dan kualitas Lingkungan dilakukan pada keseluruhan proses agribisnis dari
hulu sampai hilir (pemasaran). Konsumen hijau mendesak WTO agar perubahan sikap perilaku
dan permintaan akan kualitas produk-produk pertanian diintegrasikan dalam kebijakan
perdagangan internasional produk-produk pertanian. Permintaan dan desakan konsumen
kemudian ditampung dan diperhatikan oleh organisasi perdagangan dunia (WTO). Hal tersebut
di ataslah yang juga turut mendorong berbagai negara di belahan dunia untuk menerapkan GAP
(Good Agricultural Practices
Rendahnya mutu sumberdaya manusia, termasuk disektor pertanian khususnya petani juga sebagian besar
petugas pertanian, aparat teknis pertanian dan penyuluh pertanian masih jauh dari apa yang diharapkan,
padahal SDM petani atau pelaku agribisnis juga aparat penyuluh pertanian merupakan dua pilar pokok
dalam pembangunan pertanian terutama pengembangan sistem dan usaha agribisnis. SDM pertanian
yang berkualitas adalah prasyarat mutlak keberhasilan pembangunan pertanian.
Dalam upaya mengatasi permasalahan rendahnya kualitas SDM pertanian baik petani dan keluarga
maupun petugas teknis penyuluh pertanian yaitu dengan cara meningkatkan kompetensi kerja petugas
teknis atau penyuluh pertanian melalui penyelenggaraan pelatihan. Pelatihan diselenggarakan secara
berjenjang mulai dari tingkat Propinsi, Kabupaten/Kota dan ditingkat BPP/lapangan, diharapkan dengan
ditingkatkannya kompetensi kerja petugas maka akan meningkatkan pula kualitas pelayanan terhadap
petani dan keluarganya.
Selain itu kebutuhan pertanian di dunia terus meningkat, seperti yang dikutip voa news, permintaan
produk pertanian di dunia terus meningkat seiring dengan naiknya permintaan global, selain itu cuaca
kekeringan yang melanda eropa mengancam produksi pertanian, pada saat menghadapi harga pangan
yang tinggi dan masalah lainnya dinegara lain menyebabkan kurangnya pasokan produk pertanian dunia.
Ini merupakan momentum kita sebagai negara agraris untuk memenuhi kekurangan produk pertanian
dunia, dengan menerapkan sistem Praktek Pertanian yang Baik (Good Agriculture Practices) sesuai
dengan peraturan mentri pertanian Nomor. 48 Tahun 2009, dengan adanya program peningkatan mutu
produk pertanian di indonesia dapat mendukung pemenuhan permintaan produk pertania di kancah dunia.
Oleh karena itu dengan adanya pelatihan Praktek Pertanian yang baik (Good Agriculture Practices), dapat
meningkatkan kualitas produksi produk pertanian sektor pangan dan holtikuntura. Ini dapat menjawab
tangtangan global, selain itu juga persaingan produk pertanian indonesia dapat meningkat di kancah
dunia, seiring telah berlakunya pasar bebas di Indonesia pada tahun 2010 silam.
II. Tujuan
Adapun dengan adanya pelatihan Praktek Pertanian yang baik (Good Agriculture Practices) ini adalah
sebagai berikut :
a. Membangun ketahanan pangan, yang terkait dengan aspek pasokan produk, aspek
pendapatan dan keterjangkauan, dan aspek kemandirian.
b. Sumber perolehan devisa, terutama yang terkait dengan keunggulan komparatiI dan
keunggulan kompetitiI di pasar internasional.
c. Penciptaan lapangan usaha dan pertumbuhan baru, terutama yang terkait dengan peluang
pengembangan kegiatan usaha baru dan pemanIaatan pasar domestik.
d. Pengembangan produk-produk baru yang terkait dengan berbagai isu global dan
kecenderungan pasar global.
e. Memperbaiki kualitas Produk pertanian Indonesia agar layak untuk pasar ekspor
I. Memenuhi Permintaan Produk Pertanian dunia, untuk terciptanya produk pertanian yang
berkualitas dan berdaya saing

III. Nama Program
Sebagai solusi pemecahan masalah kualitas produksi pertanian di Kabupaten Bandung, kami
membuat suatu program dengan mengadakan pelatihan Praktek Pertanian yang baik (GAP) yang
disesuaikan dengan Pertaturan Menteri Pertanian Nomor 48 Tahun 2009, dan disesuaikan dengan
komoditas pertanian ataupun holtikuntura di indonesia, oleh sebab itu kami namakan program
tersebut adalah 'Pelatihan GAP (Good Agriculture Practices), bagi Pelaku Tani di
Kabupaten Bandung¨.

IV. Tempat Pelaksanaan Program
Adanya pelaksanaan program 'Pelatihan Praktek Pertanian yang Baik (Good Agriculture
Procedur bagi Pelaku Tani Bandung¨ ini akan dilaksanakan di Kantor LSM P2M kabupaten
Bandung, yang beralamat di Rest Area Kampoeng Nagreg, Jl. Nagreg Cicalengka Nomor 13,
Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat.
V. Pelaksana Program
Untuk mensukseskan kegiatan tersebut, pelaksana program pelatihan ini adalah Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) Pemuda Peduli Masyarakat, yang berdomisili di Kp. Ciaro Desa
Ciaro Rt. 04 Rw. 02 Desa Ciaro Kecamatan Nagreg Kabupten Bandung, dan pihak pihak terkait
untuk membantu pelaksanaan kegiatan ini.
VI. #encana Anggaran Biaya.
Untuk mensukesekan kegiatan tersebut biaya yang dibutuhkan untuk mensukeseskan kegiatan
pelatihan tersebut adalah sebagai berikut :
No keg|atan Vo|ume Satuan narga(rup|ah) 1ota| (kup|ah)
1 klL ÞelaLlhan 10 1 kelompok [10 Crang 40Ŧ000 4Ŧ000Ŧ000
2 Þerbanyakan MaLerl Makalah 100 ÞakeL 20Ŧ000 2Ŧ000Ŧ000
3 konsumsl ÞelaLlhan 100 Crang 30Ŧ000 3Ŧ000Ŧ000
4 Ponor 1ralner 3 Crang 1Ŧ300Ŧ000 4Ŧ300Ŧ000
3 Ponor Þendamplng 3 Crang 300Ŧ000 2Ŧ300Ŧ000
6 1ransporL ÞeserLa 100 orang 30Ŧ000 3Ŧ000Ŧ000
7 uekorasl dan uokumenLasl 1 ÞakeL 300Ŧ000 300Ŧ000
8 Sewa 1empaL 3 unlL 1Ŧ000Ŧ000 3000Ŧ000
9 Sewa kursl 300 unlL 7Ŧ000 2Ŧ100Ŧ000
10 Sewa Sound SysLem 3 unlL 300Ŧ000 1Ŧ300Ŧ000
11 A1k 3 pakeL 330Ŧ000 1Ŧ030Ŧ000

!umlah 1oLal Anggaran (8uplah) 29Ŧ130Ŧ000
Total kebutuhan dana yang dibutuhkan 'Dua Puluh Sembilan 1uta Seratus Lima Puluh Ribu
Rupiah¨





VII. Penutup
Dengan adanya Pelatihan GAP ( Good Agriculture Practices) bagi pelaku tani di Kabupaten
Bandung, bisa menjadi solusi eIektiI untuk peningkataan kualitas pertanian di Bandung, dengan
adanya peningkatan produk pertanian berkualitas, dapat meningkatkan daya saing produk
domestik di pasar dunia, selain itu dapat meningkatkan Sumber Daya Manusia khususnya pelaku
tani di Bandung, dan dapat meningkatkan kesejahteraan pelaku tani di Bandung.
Akhirnya hanya kepada Allah SWT kami memohon pertolongan, dengan terus berharap
pelatihan ini dapat terealisasi sesuai dengan apa yang diharapkan. Atas perhatian dan
kerjasamanya saya ucapkan terima kasih.
Bandung, 20 Oktober 2011

Panitia Pelaksana
Pelatihan Praktek Pertanian yang baik (Good Agriculture Produces) untuk pelaku Tani di
Kabupaten Bandung



eden Iman L ŦI
keLua



V|ka W||dayant|
SekerLarls









Rencana Anggaran Biaya.
Untuk mensukesekan kegiatan tersebut biaya yang dibutuhkan untuk mensukeseskan kegiatan
pelatihan tersebut adalah sebagai berikut :
No keg|atan Vo|ume Satuan narga(rup|ah) 1ota| (kup|ah)
1 klL ÞelaLlhan 10 1 kelompok [10 Crang 40Ŧ000 4Ŧ000Ŧ000
2 Þerbanyakan MaLerl Makalah 100 ÞakeL 20Ŧ000 2Ŧ000Ŧ000
3 konsumsl ÞelaLlhan 100 Crang 30Ŧ000 3Ŧ000Ŧ000
4 Ponor 1ralner 3 Crang 1Ŧ300Ŧ000 4Ŧ300Ŧ000
3 Ponor Þendamplng 3 Crang 300Ŧ000 2Ŧ300Ŧ000
6 1ransporL ÞeserLa 100 orang 30Ŧ000 3Ŧ000Ŧ000
7 uekorasl dan uokumenLasl 1 ÞakeL 300Ŧ000 300Ŧ000
8 Sewa 1empaL 3 unlL 1Ŧ000Ŧ000 3000Ŧ000
9 Sewa kursl 300 unlL 7Ŧ000 2Ŧ100Ŧ000
10 Sewa Sound SysLem 3 unlL 300Ŧ000 1Ŧ300Ŧ000
11 A1k 3 pakeL 330Ŧ000 1Ŧ030Ŧ000

!umlah 1oLal Anggaran (8uplah) 29Ŧ130Ŧ000
Total kebutuhan dana yang dibutuhkan 'Dua Puluh Sembilan 1uta Seratus Lima Puluh Ribu
Rupiah¨













PROPO8AL
PELATIHAN OAP
(COOD ACRIC0L70R£ PRAC7IC£S
BAGI PELAKU TANI DI KABUPATEN
BANDUNG





LLM8ACA SWAuA?A MAS?A8AkA1
ÞLMuuA ÞLuuLl MAS?A8AkA1
kpŦ Claro 8LŦ 04 8wŦ 02 uesa Claro kecamaLan nagreg 8andungţ 1elpŦ
087821982339

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful