Kuliah Umum ekonomi-syariah.Com Copyright © 2008 ekonomi-syariah.

Com

Transaksi Jual Beli Dalam Islam
Septiana Ambarwati
Septiana_a@yahoo.com

Lisensi Dokumen: Copyright © 2008 ekonomi-syariah.com Seluruh dokumen di ekonomi-syariah.com dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan secara bebas untuk tujuan bukan komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut penulis dan pernyataan copyright yang disertakan dalam setiap dokumen. Tidak diperbolehkan melakukan penulisan ulang, kecuali mendapatkan ijin terlebih dahulu dari ekonomi-syariah.com.

DEFINISI JUAL BELI Pengertian jual beli secara etimologis adalah menukar harta dengan harta1. Sedangkan secara terminologis berarti transaksi penukaran selain dengan fasilitas dan kenikmatan. Sengaja diberi pengecualian ”fasilitas” dan ”kenikmatan”, agar tidak termasuk di dalamnya penyewaan dan menikah (Al-Mushlih, 2004, hlm. 90). Menurut ulama Hanafiyah, jual-beli adalah pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus (yang dibolehkan). Sedangkan menurut Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Majmu’, didefinisikan sebagai pertukaran harta dengan harta, untuk saling menjadikan milik. DALIL HUKUM JUAL BELI 1. Al-Qur’an Dalil hukum jual beli di dalam Al-Qur’an, diantaranya terdapat pada ayat-ayat berikut ini:

‫وأﺣﻞ اﷲ اﻟﺒﻴﻊ وﺣﺮم اﻟﺮ َﺎ‬ ‫ََ َ ﱠ ُ ْ َ ْ َ َ َ ﱠ َ ﱢﺑ‬
“Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS Al-Baqarah:275)

1

Jual beli adalah dua kata yang berlawanan artinya, namun masing-masing sering digunakan untuk arti kata yang lain secara bergantian. Oleh sebab itu, masing-masing dalam akad transaksi disebut sebagai pembeli dan penjual. Rosulullah SAW bersabda,”Dua orang yang berjual-beli memiliki hak untuk menentukan pilihan, sebelum mereka berpindah dari lokasi jual beli.” Akan tetapi bila disebutkan secara umum, yang terbetik dalam hak adalah kata penjual diperuntukkan kepada orang yang mengeluarkan barang dagangan. Sementara pembeli adalah orang yang mengeluarkan pembayaran. Penjual adalah orang yang mengeluarkan barang miliknya. Sementara pembeli adalah orang yang menjadikan barang itu miliknya dengan kompensasi pembayaran.

Klasifikasi Jual Beli dari Sisi Obyek Dagangan 2 Al-Mushlih. Beliau menjawab. Maksud mabrur dalam hadits di atas adalah jual beli yang terhindar dari tipumenipu dan merugikan orang lain. tanpa bantuan orang lain.‫وأﺷﻬ ُوا إ َا ﺗ َﺎﻳﻌﺘﻢ‬ ْ ُ ْ َ ‫ََ ْ ِﺪ ِذ َﺒ‬ ”Dan persaksikanlah apabila kamu berjual-beli” (QS Al-Baqarah:282) ‫إﻻ أن ﺗ ُﻮن ﺗ َﺎرة ﻋﻦ ﺗ َاض ﱢﻨﻜﻢ‬ ْ ُ ‫ِ ﱠ َ ْ َﻜ َ ِﺠ َ ً َ َﺮ ٍ ﻣ‬ ”Kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan suka sama suka” (QS An-Nisa’:29) ‫ﻳﺮ ُﻮن ﺗ َﺎرة ﱠﻦ ﺗ ُﻮر‬ َ ‫َ ْﺟ َ ِﺠ َ ً ﻟ َﺒ‬ ”Mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi” (QS Al-Fathir:29) 2.” (HR. 90-91 . Hakim menyahihkannya dari Rifa’ah Ibn Rafi’). KLASIFIKASI JUAL BELI2 Jual beli diklasifikasikan dalam banyak pembagian dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Ijma’ Dalil kebolehan jual beli menurut Ijma’ ulama adalah: Ulama telah sepakat bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak akan mempu mencukupi kebutuhan dirinya. • ”Jual beli harus dipastikan saling ridla. harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai. Bajjar. 2004. Namun demikian.”Seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual-beli yang mabrur” (HR. bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkannya itu. disyariatkannya jual beli terdapat pada hadits-hadits berikut: • Rasulullah SAW ditanya tentang mata pencaharian yang paling baik. Baihaqi dan Ibnu Majah) 3. As-Sunah Di dalam As-sunah. hlm. Diantara klasifikasi tersebut adalah: 1.

yaitu menukar uang dengan barang. RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI Dalam menetapkan rukun jual beli. c. Yakni jual beli dimana penjual tidak mmeberitahukan besarnya modal dari barang yang dijualnya. Jual beli muzayadah (lelang). tanpa keuntungan dan kerugian. Jual beli amanah. Jual beli tauliyah. lalu si penjual akan menjual dengan harga tertinggi dari para pembeli tersebut. Kebalikan dari jual beli lelang ini adalah jual beli munaqadhah (obral). di antara ulama terjadi perbedaan pendapat. Jual beli dengan penyerahan barang tertunda. baik dengan ucapan maupun perbuatan. c. . kemudian si pembeli akan membeli dengan harga termurah yang mereka tawarkan. Klasifikasi Jual Beli dari Sisi Cara Standarisasi Harga a. 2. lalu para penjual berlomba menawarkan dagangannya. Jual beli umum. Yakni jual beli dengan menjual barang dalam harga modal. Yakni jual beli dengan modal dan keuntungan yang diketahui. Jual beli wadhi’ah. jenis jual beli tersebut terbagi lagi menjadi tiga jenis: Jual beli murabahah. 3.a. Jual beli dengan penyerahan barang dan pembayaran sama-sama tertunda. Yakni jual beli dengan harga di bawah modal dan jumlah kerugian yang diketahui. Jual beli muqayadhah atau barter. Jual beli dengan penyerahan barang dan pembayaran secara langsung. lalu para pembeli saling menawar dengan menambah jumlah pembayaran dari pembeli sebelumnya. yaitu menukar barang dengan barang. Yakni jual beli dengan cara penjual menawarkan barang dagangannya. Jual beli bargainal (tawar-menawar). Jual beli dengan pembayaran tertunda. d. b. Dengan dasar jual beli ini. rukun jual beli adalah ijab dan qabul yang menunjukkan pertukaran barang secara ridla. Jual beli ash-sharf atau money changer. Menurut Ulama Hanafiyah. b. Yakni si pembeli menawarkan diri untuk membeli barang dengan kriteria tertentu. yaitu penukaran uang dengan uang. c. Klasifikasi Jual Beli dari Sisi Cara Pembayaran a. b. Yakni jual beli dimana penjual memberitahukan harga modal dari barang jualannya.

mustari (pembeli) c. yakni dalam kondisi yang sudah akil baligh serta berkemampuan memilih. dibayar dimuka. burung yang masih terbang di udara dan sejenisnya. tidak ada yang dikecualikan selain ikan dan belalang. Obyek jual beli tersebut harus suci. Syarat jual beli yang berkaitan dengan obyek jual belinya: a. Dari jenis darah juga tidak ada yang dikecualikan selain hati dan limpa. Tidak sah transaksi yang dilakukan anak kecil yang belum nalar. dan merupakan milik penuh salah satu pihak. Tidak sah memperjualbelikan barang najis atau barang haram seperti darah. Di antara bangkai. Yakni sejenis jual beli dengan menjual barang yang digambarkan kriterianya secara jelas dalam kepemilikan. bangkai dan daging babi. shighat (ijab dan qabul) d.Adapun rukun jual beli menurut jumhur ulama yaitu: a. yakni dibayar terlebih dahulu tetapi barang diserahterimakan belakangan. madhamin atau menjual ikan yang masih dalam air. karena ada dalil yang mengindikasikan demikian. . Juga tidak sah menjual barang yang belum menjadi hak milik. Syarat jual beli yang berkaitan dengan pihak-pihak pelaku: Pihak-pihak pelaku harus memiliki kompetensi dalam melakukan aktivitas itu. bisa diserahterimakan. bai’ (penjual) b. melainkan dalam jual beli as-salm. Tidak sah juga menjual barang yang tidak ada atau yang berada di luar kemampuan penjual untuk menyerahkannya seperti menjual malaqih. ma’qud ’alaih (benda atau barang) Al-Mushlih menguraikan tentang syarat jual beli yang berkaitan dengan pihak-pihak pelaku serta syarat yang berkaitan dengan obyek jual belinya. karena ada dalil yang menunjukkan larangan terhadap itu. Karena benda-benda tersebut menurut syariat tidak dapat digunakan. Tidak ada pengecualian. Karena ada dalil yang menjelaskan disyariatkannya jual beli ini. Sedangkan madhamin adalah anak yang masih dalam tulang dada hewan betina. Malaqih adalah anak yang masih dalam tulang sulbi pejantan. bermanfaat. orang gila atau orang yang dipaksa.

Fiqh ’ala Madzahib al-arba’ah. yang benar adalah tergantung dari izin pemilik barang. yakni menjadikan atau membatalkannya jika khiyar tersebut berupa khiyar syarat. Tidak memberikan batasan waktu.4 Pendapat ketiga ialah penyampaian akad dengan perbuatan atau disebut juga dengan aqad bi al-mu’athah yaitu: mengambil atau memberikan dengan tanpa perkataan (ijab qabul). atau hendaklah memilih di antara dua barang jika khiyar ta’yin”. Mengetahui obyek yang diperjualbelikan dan juga pembayarannya. hlm. Ini disebut dengan ”jual beli pelunasan (bai’ wafa’)”. t. 155 Al-Qurthubi. karena hal itu dilarang.5 KHIYAR DALAM JUAL BELI Akad yang sempurna harus terhindar dari khiyar.Adapun jual beli fudhuliy yakni orang yang bukan pemilik barang juga bukan orang yang diberi kuasa.. Ada perbedaan pendapat tentang jual beli jenis ini.:128 5 Al-Jaziri. agar tidak terkena faktor ”ketidaktahuan” yang bisa termasuk ”menjual kucing dalam karung”. kemudian ia mengambilnya dari penjual dan memberikan uangnya sebagai pembayaran. 156 .cit. Dalam masalah sighat (ijab dan qabul). diantaranya berikut ini: Menurut ulama Syafi’iyah. menjual barang milik orang lain. para ulama fiqh berbeda pendapat. padahal tidak ada pemberian surat kuasa dari pemilik barang. hlm. 3 4 Al-Jaziri.t. sebagaimana seseorang membeli sesuatu yang telah diketahui harganya. Pengertian khiyar menurut ulama fiqh adalah: ”Suatu keadaan yang menyebabkan akid memiliki hak untuk memutuskan akadnya. Tidak sah menjual barang untuk jangka waktu tertentu yang diketahui atau tidak diketahui. yang memungkinkan aqid (orang yang berakad) membatalkannya. c. Namun. maka jual beli itu dibatalkan. b. Seperti orang yang menjual rumahnya kepada orang lain dengan syarat apabila sudah dibayar.3 Imam Malik berpendapat bahwa jual beli itu telah sah dan dapat dilakukan secara dipahami saja. tidak sah akad jual beli kecuali dengan sighat (ijab Qabul) yang diucapkan. ’aib atau ru’yah.op.

Baihaqi). Rasulullah saw bersabda: penjual dan pembeli boleh khiyar selama belum berpisah (HR Bukhari dan Muslim). bahwa seseorang membeli budak. maka khiyar majelis tidak berlaku lagi. BADAN PERANTARA (SAMSARAH)7 6 Suhendi. didapatinya pada diri budak itu kecacatan. artinya dalam jual beli ini disyaratkan kesempurnaan benda-benda yang dibeli. Khiyar dibagi menjadi: 1. lalu diadukannya kepada Rasulullah saw.Dalam jual beli. yaitu penjualan yang di dalamnya disyaratkan sesuatu baik oleh penjual maupun pembeli. 3. Rasulullah bersabda: Kamu boleh khiyar pada setiap benda yang telah dibeli selama tiga hari tiga malam (HR. Jadi. dengan catatan ia belum melihatnya ketika berlangsung akad. yaitu hak pilih pembeli untuk membatalkan atau melangsungkan akad ketika ia melihat barang yang akan dujual. Khiyar ’Aib. 83 . Malikiyah. Khiyar Syarat. Sedangkan Imam Syafi’i membantah keberadaan khiyar ru’yah ini. Khiyar Majelis. Selama keduanya masih ada dalam satu tempat (majelis). karena menurutnya jual beli terhadap barang yang ghaib sejak semula sudah tidak shah. hlm.. Hanabilah dan Zhahiriyah dalam kasus jual beli benda yang ghaib atau belum pernah diperiksa oleh pembeli. kemudian budak tersebut disuruh berdiri di dekatnya. Seperti yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Aisyah ra. Khiyar Ta’yin. akad jual-beli tersebut telah terjadi ketika barang tersebut belum dilihat oleh pembeli. Fiqh Muamalah.6 2. apakah akan meneruskan jual beli atau akan membatalkannya. maka budak itu dikembalikan kepada sang penjual. Konsep khiyar ini dikemukakan oleh Fuqaha Hanafiyah. 4. yaitu hak pilih yang dimiliki oleh pembeli untuk menentukan sejumlah benda sejenis dan sama harganya. menurut agama Islam dibolehkan memilih. Khiyar Ru’yah. Keabsahan khiyar ini menurut Hanafiyah harus memenuhi 3 syarat yaitu: • • • Maksimal berlaku pada tiga pilihan obyek Barang yang dibeli setara dan seharga Tenggang waktu khiyar ini tidak lebih dari 3 hari 5. artinya antara penjual dan pembeli boleh memilih akan melanjutkan jual beli atau membatalkannya. Bila keduanya telah berpisah dari tempat akad tersebut. khiyar majelis boleh dilakukan dalam berbagai jual beli.

lalu si penjual akan menjual dengan harga tertinggi dari para pembeli tersebut. Pelelangan boleh dilakukan berdasarkan ijma’/konsensus kaum muslimin. serta cangkir untuk meminum air. yaitu seseorang yang menjualkan barang orang lain atas dasar bahwa orang itu akan diberi upah oleh yang punya barang sesuai dengan usahanya. komisioner dan lain-lain. perdagangan secara simsar diperbolehkan asal dalam pelaksanaannya tidak terjadi penipuan dari satu pihak atas pihak yang lain. LELANG (MUZAYADAH) Jual beli muzayadah (lelang) adalah jual beli dengan cara penjual menawarkan barang dagangannya.. dalam perkara simsar ia berkata tidak apa-apa.” Beliau berkata. tergantung persyaratan-persyaratan atau ketentuan-ketentuan menurut hukum dagang yang berlaku. Orang yang menjadi simsar dinamakan pula komisioner. 85-86 . Beliau bertanya kepadanya.”Ada.Badan perantara dalam jual beli disebut juga simsar atau samsarah. lebih dari penjualan itu adalah untuk engkau” (Riwayat Bukhari).”Kalau begitu bawalah kedua barang itu kepadaku.” Lelaki itu datang membawanya. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bolehnya jual beli muzayadah (lelang) adalah: • Hadits Anas bin Malik ra. Dua potong kain. Dari larangan terhadap penawaran barang yang masih dalam penawaran orang lain. kalau seseorang berkata juallah kain ini dengan harga sekian. hlm. yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Anshar yang datang menemui Nabi saw dan ia meminta sesuatu kepada beliau. Rosulullah saw 7 Suhendi.”Apakah di rumahmu tidak ada sesuatu?” Lelaki itu menjawab. baik atas namanya sendiri maupun atas nama perusahaan yang memiliki barang tersebut. Dalam agama. dan b) kelebihan barang setelah dijual menurut harga yang telah ditentukan oleh pemilik barang tersebut. makelar atau agen. yang satu dikenakan dan yang lain untuk alas duduk. namun mereka bertugas sebagai badan perantara dalam menjualkan barang-barang dagangan. dikecualikan pada jenis jual beli pelelangan ini. ”Kelebihan” yang dinyatakan dalam keterangan di atas adalah : a) harga yang lebih dari harga yang telah ditetapkan penjual barang itu. lalu para pembeli saling menawar dengan menambah jumlah pembayaran dari pembeli sebelumnya. Dalam satu riwayat dijelaskan: ”Dari Ibnu Abbas ra. 2005. Walaupun namanya simsar.

lalu juallah. lalu dijuallah kedua benda itu kepada laki-laki tadi (HR Tirmidzi).bertanya. • Dalam hadits yang lain juga terdapat keterangan tentang kebolehan penjualan dengan cara lelang ini.”Aku mau membelinya dengan harga dua dirham. Rasulullah saw menjual sebuah pelana dan sebuah mangkok air dengan berkata siapa yang mau membeli pelana dan mangkok ini? Seorang laki-laki menyahut.” Lelaki itu pun pergi dan kembali lagi dengan membawa sebilah kapak. Yakni dengan cara menjual barang dengan pembayaran tertunda. Beliau mengambil uang dua dirham itu dan memberikannya kepada lelaki Anshar tersebut. Lalu Nabi berkata lagi.”Gunakanlah yang satu dirham untuk membeli makanan dan berikan kepada keluargamu. Seperti hadits dari Anas ra. Tiba-tiba salah seorang sahabat beliau yang lain berkata. 8 Al-Mushlih. Jual beli ini disebut ‘inah karena si pemilik barang bukan menginginkan menjual barang. Atau karena si penjual kembali memiliki ‘ain (benda) yang dia jual. JUAL BELI KHUSUS BAI’ AL-’INAH8 ’Inah secara bahasa artinya adalah pinjaman.”Saya mau membelinya dengan satu dirham. aku bersedia membelinya seharga satu dirham.” Maka beliau memberikan kedua barang itu kepadanya. lalu membelinya kembali secara kontan dengan harga lebih murah. Atau menjual barang dengan pembayaran tertunda. hlm. lalu bawa kapak itu ke hadapanku.. Dikatakan misalnya: si fulan melakukan ‘ain.”Siapa yang mau membeli barang ini?” Salah seorang sahabat beliau menjawab.”Ada yang mau membelinya dengan harga yang lebih mahal?” Beliau menawarkannya hingga dua atau tiga kali. siapa yang berani menambahi? Maka diberi dua dirham oleh seorang laki-laki kepada beliau. yakni membeli sesuatu dengan tertunda atau berhutang.” Beliau bertanya lagi. Beliau berkata. Jangan perlihatkan dirimu selama lima belas hari!” Lelaki itu pun pergi mencari kayu bakar dan menjualnya. 125-130 . tetapi yang diinginkannya adalah ‘ain (uang). bai’ al-‘inah diartikan dengan jual beli manipulatif untuk digunakan alasan peminjaman uang yang dibayar lebih dari jumlahnya. dia berkata.”Pergi lalu carilah kayu bakar. Menurut terminologi ilmu fiqh. lalu beliau berkata. 2004. Lalu gunakan yang satu dirham lagi untuk membeli kapak. Nabi menggunakan kapak itu untuk membelah kayu dengan tangan beliau sendiri. lalu membelinya lagi dengan harga lebih murah dari harga penjualan.

Namun dalam sanadnya terdapat Atha al-Khurasani ia perawi yang lemah. dari istrinya Aliyyah bahwa ia pernah menemui Aisyah ra.”Bagaimana kalau yang kuambil hanya modalku saja?” Aisyah menjawab. Demikian dinyatakan oleh Abu Ahmad dan al-Hakim. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi V:325. Di sini ada dua pendapat: Pendapat pertama: haram. kecuali kalau ia bertaubat!” wanita itu berkata.”Sungguh tidak bagus cara engkau berjualan dan cara engkau membeli. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). bahwa ia telah membatalkan pahala jihad dan hajinya bersama Rosulullah. Di antara dalil-dalil mereka dalam menetapkan keharamannya yaitu: • Riwayat Atha dari Ibnu Umar ra. dan Hanabilah. Malikiyah. Namun para ulama berbeda pendapat bila tidak terjadi kesepakatan sebelumnya. • Dalil lain tentang larangan bai’ al-‘inah yaitu apa yang diriwayatkan oleh Imam adDuruquthni dan al-Baihaqi dari Abu Ishaq. ia menjadikan riwayat ini dari Atha bin Abi Rabbah.”Allah berfirman: Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya. Lihat Sunah al-Baihaqi V:316 dan juga Nashbur Raayah IV:16 dan juga asy-Syarhul Kabir terhadap al-Muqni’ IV:54. maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). Katakan kepada Zaid. bersama dengan Ummu Walad Zaid bin Arqam serta seorang wanita lain. Ummu Walad Zaid berkata.. mengikuti ekor-ekor sapi dan meninggalkan jihad fi sabilillah. yang juga tidak diketahui identitasnya. pasti Allah akan menurunkan bencana kepada mereka. Indikasi hadits di atas terhadap pelarangan bai’ al-‘inah sangat jelas. Syakir) Ibnu Iyyasy ini juga lemah. Diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Iyyasy. Karena berjual beli dengan sistem ‘inah merupakan salah satu sebab turunnya bencana. Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan Hanafiyah. Ia meriwayatkan dari Ishaq bin Usaid al-Khurasani. dari al-A’masy. 9 Diriwayatkan oleh Abu Daud 3456.”Aku pernah menjual budak kepada Zaid seharga delapan ratus dirham dengan pembayaran tertunda.” Aisyah berkata. Dan aku membelinya kembali seharga enam ratus dirham kontan.Para ulama bersepakat bahwa hukum bai’ al-‘inah ini diharamkan bila terjadi melalui kesepakatan dan persetujuan bersama dalam perjanjian pertama untuk memasukkan perjanjian kedua ke dalamnya. sudah mulai melakukan jual beli ‘inah. dan bencana itu tidak akan dihilangkan sebelum mereka kembali kepada agama mereka” (HR Ahmad dalam Musnadnya)9. Indikasi hadits terhadap haramnya jual beli ini amat jelas. Dikeluarkan oleh Ahmad (4875 cet. bahwa ia menceritakan “Aku pernah mendengar Rosulullah saw bersabda: Kalau manusia sudah menjadi kikir gara-gara uang (dinar dan dirham). .” (Al-Baqarah:275).

Ibnu Abbas menjawab.” Apabila seorang sahabat Nabi mengatakan.” Mereka menanyakan persoalan itu kepada Syuraih.”Diharamkan oleh Allah dan RasulNya. namun mediatornya adalah sehelai sutera. dan akan kubayar kontan tiga puluh dirham. Persoalan itu ditanyakan kepada Ibnu Umar.10 Pendapat kedua. lalu ia berkata.” demikian juga jika dia mengatakan . yang salah satu perawinya juga terdapat Ibnu Umar.”Itu artinya menjual dirham dengan dirham secara berbunga. dan beliau menganggap hal itu tidak menjadi masalah. atau bahkan lebih murah lagi..” maka hukumnya seperti hadits marfu’. Dalil yang digunakan sebagai dasar yaitu: • Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanadnya bahwa ada seorang lelaki yang pernah menjual pelana kuda namun tidak mengambil langsung bayarannya. Pemilik pelana baru yang membeli pelana itu darinya. boleh. Kedua hadits yang membolehkan bai’ al-‘inah dari Ibnu Umar dan Syuraih tersebut bertentangan dengan keempat hadits sebelumnya yang melarang jual beli ‘inah. 10 Tahdzib as-Sunan 5/101 .”Bisa jadi kalau ia menjualnya kepada orang lain.”Berikan kembali kepadaku untamu itu.• Dalam riwayat yang lain juga diuraikan tentang keharaman jenis jual beli ini. Itu termasuk perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya. Ini adalah pendapat asy-Syafi’i. Ibnu Umar berkata.diperintahkan oleh Allah dan RasulNya.”..”Sesungguhnya Allah tidak mungkin dikelabuhi. Abu Yusuf dan azh-Zhahiriyah. namun beliau menganngap jual beli itu sah-sah saja. Kemudia ia membelinya kembali seharga lima puluh dirham saja secara kontan. berencana menjualnya kembali. Orang yang menjual pelana tadi mau membelinya dengan harga yang lebih murah.” • Dalam riwayat lain dari Anas bin Malik ketika ditanya tentang jual beli ‘inah—yakni dengan sutera sebagai mediatornya—beliau menjawab. yakni yang berasal dari Nabi saw langsung..” • Diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi bahwa ada seorang lelaki yang menjual unta kepada orang lain dengan pembayaran tertunda). Seperti yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. bahwa ia pernah ditanya tentang seorang lelaki yang menjual sehelai sutera kepada orang lain seharga seratus dirham. ia juga akan menjualnya dengan harga itu.

Manfaat bagi penjual karena bisa mendapatkan uang yang dia inginkan tanpa harus dengan terpaksa menjual barangnya yang bisa jadi dia niatkan secara sungguhsungguh agar tidak keluar dari kepemilikannya. Hal ini karena untuk menutup jalan menuju riba dan memutus jalan bagi orang-orang yang suka membuat penyamaran terhadap bentuk usaha yang haram. karena barang dagangan di sini menjadi semacam amanah di tangan pembeli yang akan dikembalikan kepada penjual ketika si penjual mengembalikan uang pembayaran dari si pembeli yang telah diberikan kepadanya. agar tujuan mereka tidak tercapai. Barang itu juga tidak bisa dipakai untuk syuf’ah. Dimana terjadi perjanjian kapan penjual mengembalikan uang si pembeli. dan biaya Al-Mushlih.Kesimpulan dari pemaparan di atas adalah bahwa praktek jual beli ‘inah dilarang. yakni mengembalikan barangnya jika si pembeli mengembalikan uang bayarannya. Dalam bai’ wafa’ ini terkandung berbagai macam improvisasi hukum jual beli dan hukum pegadaian. lalu orang yang berhutang mentaatinya. Oleh sebab itu. disebut jual beli itha’ah (ketaatan). 130-132 Jual beli ini disebut juga dengan jual beli amanah. mereka mencari jalan keluar yang mereka anggap dapat merealisasikan kemaslahatan kedua belah pihak. 2004. Disebut juga jual beli wafa’ (pelunasan) karena ada semacam perjanjian dari pembeli untuk melunasi hak si penjual. misalnya si pembeli boleh memanfaatkan barang dagangannya dengan penggunaan dan pemanfaatan yang benar. Di dalam jual beli itu terkandung hukum-hukum jual beli. karena biasanya orang yang memberi hutang memerintahkan orang yang berhutang misalnya untuk menjual rumahnya dengan cara jual beli tersebut.12 Bentuk jual beli ini terjadi pertama kali di Bukhara dan Balkh pada awal abad ke lima hijriyah. Yang menjadi pemicunya adalah karena kebanyakan orang yang berharta tidak mau meminjamkan uangnya secara baik. 12 11 . namun jauh dari lingkaran perbuatan riba yang terang-terangan. hlm. Manfaat dari pembeli adalah dapat mengembangkan hartanya. dan si pembeli juga akan mengembalikan uang si penjual. Jual beli itu juga mengandung hukum-hukum pegadaian. Di negeri Syam. BAI’ WAFA’11 Jual beli wafa’ adalah jual beli dengan persyaratan saling mengembalikan hak pihak lain. di sisi lain orang banyak membutuhkan harta. sementara mereka merasa berat melakukan riba. seperti tidak adanya hak pembeli untuk mengkonsumsi barang dagangan atau memindahkan kepemilikannya kepada orang lain. Ia bisa menggunakannya untuk diri sendiri dan memanfaatkannya untuk disewakan tanpa izin si penjual.

Karena 13 Majmu’ al-Fatawa oleh Ibnu Taimiyah XXI: 334 . barang juga dikembalikan. Ibnu Taimiyah menyatakan. jual beli rusak dan pegadaian. karena tujuan yang sebenarnya adalah riba. Namun tetap dianggap sebagai jual beli yang disyariatkan karena dibutuhkan. sementara fasilitas penggunaan barang yang digunakan dalam perjanjian dan sejenisnya adalah keuntungannya. Kebutuhan kadang bisa menempati kedudukan (sama hukumnya dengan) kondisi darurat. Namun sesungguhnya. adalah jual beli batil menurut kesepakatan para imam. Namun sebutan sebagai jual beli pelunasan atau jual beli amanah tidak lepas dari jual beli seperti itu karena yang dilihat adalah hakikat dan tujuan sesungguhnya dari jual beli tersebut.perawatannya menjadi tanggungan si penjual. Di dalamnya. Di antara ulama juga ada yang menganggapnya sebagai jual beli yang rusak.”Sejenis jual beli yang mereka perlihatkan yang disebut jual beli amanah yang dalam jual beli itu mereka bersepakat bahwa apabila telah dikembalikan pembayaran si penjual. Jual beli ini dapat mendatangkan manfaat bagi pembeli dan penjual serta sangat dibutuhkan oleh masyarakat. harga kontan berbeda dengan harga secara cicilan. Ada juga di antara ulama yang memandangnya sebagai jual beli model baru yang menggabungkan antara jual beli sah. sehinggga hukum-hukum pegadaian berlaku di dalamnya. karena adanya syarat saling mengembalikan. yakni dengan cara memberikan uang untuk dibayar secara tertunda. bukan bentuk aplikatif dan tampilan lahiriyahnya saja. jual beli semacam ini tidak dinenarkan. baik dengan persyaratan yang disebutkan dalam waktu akad atau melalui kesepakatan sebelum akad. serta pembeli juga harus menjaga komitmen untuk mengembalikan barang itu bila si penjual telah mengembalikan uang pembayarannya. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum jual beli wafa’ ini: Ada di antara ulama yang menganggapnya sebagai jual beli yang sah karena dibutuhkan.”13 BAI’ TAQSITH Bai’ taqsith adalah jual beli secara cicilan dalam jangka waktu tertentu. Di anatara mereka ada yang menganggapnya sebagai pegadaian yang sah. Itu pendapat yang tepat dari para ulama.

yaitu Imam mazhab yang empat serta jamaah ulama salaf. Zainal Abidin bin Ali bin Al-Husein dan Jashshas dari Hanafiyah mengharamkan bai’ taqsith. sehingga mendapatkan keuntungan di atas keuntungan normal.”Tidak (H. Al-Auza’iy. Perbedaan harga cicilan dari harga kontan. bukan termasuk riba. atau (jika harga yang lebih tinggi).konsumen atau pembeli bisa mendapatkan barang yang dibutuhkannya. Thawus bin kaisan. Rasulullah saw telah melarang praktek penimbunan ini.R. karena menambah harga sebagai konsekuensi dari penambahan masa adalah termasuk riba nasi’ah. hadits tersebut adalah dha’if. Abu Daud dari Abu Hurairah). ‘Atha’ . diantaranya adalah Abdullah bin Abbas. Itu merupakan keuntungan dalam jual beli barang sebagai kompensasi tertahannya hak penjual dalam jangka waktu tertentu. karena banyak orang tidak mampu menyerahkan harga secara menyeluruh. Dalil mereka adalah Hadits Nabi. Qatadah. sehingga ia mendapatkan keuntungan besar di atas keuntungan normal atau dia menjual hanya sedikit barang untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi. “Siapa yang menjual dua jual beli dalam satu jual beli. AnNakha’iy. Tetapi dengan cicilan. maka menjadi riba” (HR. Namun. Ats-Tsaury. Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda. Praktek bai’ taqsith dibolehkan menurut pendapat Jumhur ulama. Dalam sebuah hadits dari Ma’mar bin Abdullah bin Fadhlah. Said bin Musayyab. Aplikasi bai’ taqsith dapat mendatangkan kemudahan (taysir) bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Hakam bin ‘Utaibah dan Hammad bin Abi Sulaiman. TALAQQI RUKBAN . meskipun ia tidak memiliki uang yang cukup untuk memilikinya secara kontan (bayaran penuh). ia bisa memanfaatkan dan memiliki barang yang dibutuhkan IHTIKAR Definisi ihtikar yaitu melakukan penimbunan barang dengan tujuan spekulasi. Az-Zuhry. katanya.Tarmizi) melakukan ihtikar kecuali orang yang bersalah (berdosa)”. maka haknya adalah harga yang terendah. maka tidak bisa dijadikan hujjah.

Ahmad bin Abdurrazzaq. Rasulullah memerintahkan supply barang-barang hendaknya dibawa langsung ke pasar hingga para penyuplai barang dan para konsumen bisa mengambil manfaat dari adanya harga yang sesuai dan alami. Abdurrahman. T. no hadits 1521 .Talaqqi rukban adalah mencegat barang sebelum masuk pasar sehingga membeli di bawah harga pasar. Cetakan pertama. Edisi 1. Darul Haq. 2004 Muslim. Al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah. Abdullah dan Shalah ash-Shawi. Riyadh. Rasulullah SAW melarang praktek semacam ini dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kenaikan harga. Bogor. 111 Shahih Muslim. Darus Salam. Imam. Shahih Muslim: Bab Buyu’. hlm. seorang penduduk kota tidak diperbolehkan menemui penjual di desa. sehingga harga semakin melambung tinggi. Jakarta. 2004. serta janganlah orang kota menjual kepada orang desa (Muttafaq ’alaih). 1998 Suhendi. Fiqh Muamalah.th. jangan pula sebagian di antara kalian menjual atas jualan orang lain. 2004 Al-Jaziri. Fatwa-Fatwa Jual Beli.15 Praktek perdagangan seperti ini dapat menimbulkan tekananbagi penjual di desa dan juga pembeli di kota. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada. Dikatakan kepada Ibnu Abbas: “apa yang dimaksud dengan larangan itu?” Ia menjawab:”Tidak menjadi makelar mereka”(HR. dan jangan kalian melakukan najasy. Hendi. “Janganlah kalian menemui para kafilah di jalan (untuk membeli barang-barang mereka dengan niat membiarkan mereka tidak tahu harga yang berlaku di pasar). 2005 14 15 Ad-Duwaisy. Pustaka Imam asy-Syafi’i.14 Dari Abu Hurairah bahwa Rosulullah saw pernah bersabda: Janganlah kalian melakukan talaqqi rukban.Muslim). Praktek ini telah dilarang oleh Rasulullah SAW. Praktek ini adalah sebuah perbuatan seseorang dimana dia mencegat orang-orang yang membawa barang dari desa dan membeli barang itu sebelum tiba di pasar. Fikih Ekonomi Keuangan Islam. Beirut: Sar al-Qalam Al-Mushlih. MARAJI’: Ad-Duwaisy.

Husain dan Siddiq Muh Al-Amin adh-Dhahir.Syafi’i. Transaksi dan Etika Bisnis Islam. 2005 . Fiqh Muamalah. Pustaka Setia. Visi Insani Publising. Jakarta. 1999 Syahatah. Bandung. Cetakan I. Rahmat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful