BENCANA MERAPI : “ MENGGAGAS SATU GUNUNG SATU MANAJEMEN”

Oleh “Herman Suryosardjono Anggota Pengarah/Penasehat BPBD Provinsi Jawatengah

Kompleksitas permasalahan gunung Merapi bak “menegakkan benang basah” .Betapa tidak,ketika gunung Merapi sudah mulai reda dari erupsi yang di muntahkannya , permasalahan baru segera muncul yakni turunnya lahar dingin.Pakar kegunung apian memperkirakan bahwa di Merapi masih terdapat 130 juta m3 pasir dan tidak lebih 20 % persen yang sudah turun terbawa arus hujan Dari sekian juta meter kubik pasir yang dihasilkan oleh erupsi tersebut tentunya

memerlukan waktu bertahun tahun untuk menurunkannya agar tidak menjadi ancaman bencana ataup dpat saja dieksploitasi sebagai komoditas dagang yang ada nilai

ekonomisnya. Sungguh,sekarang kita dihadapkan pada suatu permasalahan yang sangat

berat.Pemerintah sebagai penanggung jawab utama dalam penanggulangan bencana seakan kewalahan untuk memulai dari sektor apa permasalahan gunung Merapi dapat diatasi secara cepat dan tepat sasaran. Persoalanya adalah ketika erupsi gunung merapi mulai reda,realisasi untuk merehabilitasi gunung merapi menjadi tertunda beberapa saat akibat adanya ancaman lahar dingin yang dibawa oleh hujan. Penundaan tersebut membawa konskwensi bahwa tindakan penanggulangan bencana akan bertatapan dengan siklus baru Merapi. Aktivitas erupsi merapi yang cenderung dari tahun ke tahun menujukkan semakin pendek daur erupsinya,dari puluhan tahun

menjadi enam tahun dan pada eruspi terakhir menunjukkan perubahan siklus menjadi lebih cepat yakni empat tahun dari kejadian sebelumnya. Sementara itu pada sisi lain, hingga saat ini masih banyak warga terdampak yang hidup di hunian sementara ( huntara ) yang pada masa sebelum erupsi mereka mengandalkan sektor peladangan maupun jasa penambang pasir sebagai sumber ekonominya. Sampai saat ini mereka juga belum mendapatkan akses ekonomi yang lebih layak karena terbatasnya sumber konomi demikian pula masih banyak warga yang mendiami di area Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Erupsi maupun banjir Lahar Dingin. Lokasi tempat tinggal mereka ini adalah wilayah yang diharamkan untuk ditempati karena besarnya ancaman. Semua itu diakibatkan oleh akumulasi rusaknya lingkungan maupun ekosisitem dan sumber sumber ekonomi lain yang sebelumnya dapat diakses masyarakat disekitar gunung Merapi . Upaya pemerintah pun sebenarnya sudah mulai dilakukan di tingkat daerah, dimana pemerintah daerah menjadi penanggung jawab utama di wilayah nya masing masing.Pemerintah pusat juga membentuk Tim Pendukung Tehnis yang didirikan tentang Tim Koordinasi

dengan payung hukum kepres nomor 16 tahun 2011

Rehabilitasi dan Rekonstruksi wilayah pasca bencana erupso gunung merapi di DIY dn Jawa Tengah.Tim ini memang hanya bekerja pada tahap pasca bencana padahal kebutuhan pengelolaaan Meliputi mepliputi Pra ,Saat dan Pasca bencana

Satu Manajemen Disaster Management yang saat ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi Penanggulangan Bencana memang sedang berlangsung di kawasan gunung Merapi. Penanggulangan bencana tersebut dilakukan oleh lembaga pemerintah maupun swasta seperti BPBD,Instansi Pemerintah sektoral maupun LSM. Tanpa bermaksud untuk melawan arus, saat ini pemerintah memang sedang mendorong pentingnya pembentukan BPBD di daerah namun akan lebih ideal jika justru penanganan permasalahan gunung Merapi selama periode tertentu dapat dikelola oleh satu badan atau satu lembaga yang mempunyai

kekuasaan,kekuatan,fungsi yang optimal dalam menangani Merapi. Model satu manajemen mengadopsi pada wacana pengelolalan sungai yang melewati puluhan wilayah administrasi baik kota maupun kabupaten di sejumlah daerah seperti pengelolaan pada Sungai bengawan Solo yang melintasi 2 provinsi dan lebih dari 23 kabupaten atau kota .Model ini sering disebut dengan “satu sungai manajamen”,One river ,one management Ada beberapa alasan mengapa penanganan gunung Merapi akan lebih bermanfaat jika ditngani oleh satu badan yang dibentuk oleh mengelola satu

kompleksitasnya permasalahan di gunung Merapi.

Pertama,Luasnya Area Gunung Merapi.secara administratip gunung Merapi berada di 2 provinsi yakni Jawa Tengah dan DIY,mencakup 4 kabupaten yakni Magelang,Sleman,Klaten dan Boyolali.

. Jika menggunakan Rumus Kawasan Risiko Bencana I sampai dengan III maka wilayah ini dihuni oleh lebih dari 90 ribu warga yang menyebar di barat,selatan,timur san utara Merapi.Sebuah populasi yang sangat besar untuk dapat digerakan dalam konteks penyelamatan .

Kedua,Fokus Internasional.Meskipun Permasalahan gunung Merapi adalah permasalahan domestik atau daerah dimana gunung tersebut berada, namun juga

menjadi perhatian masyarakat dunia dengan berbagai latar belakang sudut pandang nya. Ketika pakar kegunung apian menyatakan bahwa Gunung Merapi adalah gunung paling aktip di dunia. Fenomena ini mempunyai daya tarik internasional dari sejumlah pakar untuk mengamatinya.Tidak itu saja di tempat ini juga merupakan tempat yang paling baik bagi proses pembelajaran dan praktek penanganan bencana disemua tahap baik pra ,saat,maupun pasca bencana oleh masyarakat disemua level. Dari praktek terbaik tersebut diharapkan akan muncul konsep yang selalu

terbaharui dalam penanganan bencana khususnya menyangkut tata kelola bencana kegunung apian yang dapat dimanfaatkan ditempat lain dengan kesamaan fenomena Ketiga,Besarnya Sumber Daya.Ketika tanggap darurat Merapi ditetapkan maka tidak terkira berapa jumlah sumber daya manusia dilibatkan untuk kegiatan penyelamatan dan pengurusan pengungsi baik sumber daya yang ada di Birokrasi pemerintahan ,TNI serta Polisi juga melibatkan komunitas relawan lokal maupun relawan nasional bahkan internasional

Pada tahap lain yakni pasca erupsi juga masih memerlukan sumber daya manusia yang tidak sedikit yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun swasta. Instansi pemerintah pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan lembaga non pemerintah yang tergabung dalam forum pengurangan risiko bencana baik DIY maupun Jateng sekan akan menjadi kunci pelaku pelaku penanggulangan bencana di wilayah tersebut disamping relawan relawan lainnya. Besarnya sumber daya manusia yang terlibat dalam penanganan kebencanaan merapi merupakan kendala dalam pengkoodinasian karena proses penanggulangan bencana di Merapi tidak boleh sepotong sepotong dan harus terkait antara sector satu dengan sector lainya sehingga setiap kesempatan untuk melakukan kegiatan penanggulangan bencana haruslah secara terintegrasi. Ditempat ini pula tentunya akan menyedot sumber daya finansial yang tidak sedikit untuk memulihkan infra struktur,merehabilitasi maupun untuk menghadapi ancaman bencana berikutnya baik yang bersumberkan pada dana publik maupun sektor swasta. Diperkirakan untuk kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi akibat erupsi tahun kemarin dibutuhkan lebih dari 3,5 triliun rupiah yang harus dianggarkan melalui APBN. Keempat .Struktur Birokrasi.Terbentuknya 4 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di DIY dan Jateng,yakni Sleman,Magelang,Klaten dan Boyolali beberapa saat pasca erupsi Merapi patut untuk diapresiasi. Namun tak dapat diangkal bahwa pembentukan BPBD tersebut juga sarat dengan permasalahan internal yang ada di lembaga tersebut seperti terbatasnya sumber daya baik SDM dengan kompetensi optimal dan jumlah yang memadai

maupun terbatasnya anggaran yang bersumberkan pada masing masing APBD.

Selain hal tersebut, pembentukan BPBD bukan semata mata untuk menghadapi ancaman bencana gunung Merapi namun terdapat ancaman ancaman jenis lain baik yang disebabkan oleh alam maupun manusia bahkan mungkin saja tehnologi yang semuanya tergantung pada karakteristik tingkat kerawanan bencananya. Kelima,Dampak Multi Area.Dampak erupsi gunung merapi merupakan dampak yang bersifat multi area.Artinya bahwa dampak yang diakibatkan dari erupsi tersebut tidak mengenal wilayah adminsitratip pemerintahan. Sebagai contoh warga Dusun Setabelan Tlogolel Kec Selo Boyolali pada saat eruspi mengungsi ke Kec Dukun Kabupaten Boyolali demikian halnya warga Desa Cangkringan DIY yang pada saat kejadian mengungsi ke Wilayah Klaten..

Plus Minus Gagasan untuk dibentuknya “ Satu Gunung Satu Manajemen (SGSM)” di gunung Merapi layak untuk dipertimbangkan dari sisi plus dan minusnya walaupun tentunya juga akan menuai pro dan kontra. Jika dilihat dari sisi plusnya konsep SGSM akan mengurangi mata rantai birokrasi dan koordinasi.Proses pengendalian penanggulangan bencana menjadi terpusat dan dikendalikan kedalam satu manajemen. Implikasinya bahwa BPBD yang memangku wilyah masing masing daerah untuk jangka waktu tertentu konsentrasi terhadap Merapi akan berkurang. Koordinasi tetap dijalankan namun menyangkut adminsitrasi kependudukan dan tata kelola pemanfaatan lahan yang bernilai ekonomis.Tupoksi untuk permasalahan ini

dapat dilakukan oleh Pejabat Wilayah Administrasi yang paling kecil seperti Kantor Kecamatan dan kantor Kalurahan / desa. Selain BPBD, instansi sektoral tidak diperlukan lagi namun sumber daya

manusianya dapat dialihkan atau dipinjamkan selama beberapa tahun untuk menempati posisinya pada konsep SGSM Merapi sesuai dengan kebutuhan dan

kecakapanya.Selain itu, administrasi keuangan yang digelontorkan oleh pemerintah pusat akan lebih akuntabel dan tidak terlalu rumit dengan urusan pertanggungjawab jawaban keuangan. Penolakan pun mungkin saja akan terjadi jika Gunung Merapi dapat dikelola kedalam satu manajemen.Bagi pihak pihak tertentu erupsi gunung Merapi adalah berkah tersendiri karena jutaan meter kubik pasir tersebut mempunyai nilai ekonomis yang dapat diekploitasi secara bebas. Selain itu bagi daerah pemangku wilayah tersebut .retribusi penambangan pasir maupun jenis galian c lainya akan menambah PAD jika penarikan retribusi tersebut berjalan secara legal dan normal sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penolakan mungkin juga akan terjadi oleh satuan kerja perangkat daerah

( Satker ) tehnis / sektoral dimana satker satker tersebut tidak mendapat jatah “proyek” dari kegiatan penanggulangan bencana. Tak ayal lagi bahwa permasalahan di gunung Merapi yang lebih kearah permasalahan tehnis, dan tanpa mengkesampingkan adanya persoalan administrasi pada tataran birokrasi serta kependudukan maka logis rasanya kalau wacana

pengelolaan kebencanaan di gunung Merapi menjadi satu manajemen layak untuk di pertimbangkan,tinggal sekarang bagaimana kontribusi otoritas politik untuk dapat

mengambil kebijakan dalam pengelolaan bencana di gunung Merapi yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut sesuai dengan prinsip penanggulangan bencana yakni,cepat dan tepat,prioritas,koordinasi dan keterpaduan,berdaya guna dan berhasil guna,transparansi dan akuntabilitas,kemitraan,pemberdayaan,nondiskriminatip serta non proletisi