P. 1
Kebutuhan Terhadap Sistem Ekonomi Baru-2

Kebutuhan Terhadap Sistem Ekonomi Baru-2

4.44

|Views: 2,320|Likes:
Published by rhesayogaswara
Ketidakmampuan dari sistem ekonomi umum untuk menyediakan unsur-unsur
materi dari kebutuhan manusia dan kegagalan dari memperkenalkan perubahan,
menghasilkan adanya kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru. Sistem ekonomi Islam
memiliki potensi respon secara efektif untuk kebutuhan ini. Islam mampu menyediakan
bukan hanya unsur materi tetapi juga unsur spiritual tanpa melupakan perealisasian
kebahagiaan dan kedamaian.
Ketidakmampuan dari sistem ekonomi umum untuk menyediakan unsur-unsur
materi dari kebutuhan manusia dan kegagalan dari memperkenalkan perubahan,
menghasilkan adanya kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru. Sistem ekonomi Islam
memiliki potensi respon secara efektif untuk kebutuhan ini. Islam mampu menyediakan
bukan hanya unsur materi tetapi juga unsur spiritual tanpa melupakan perealisasian
kebahagiaan dan kedamaian.

More info:

Published by: rhesayogaswara on Oct 22, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

Makalah Ekonomi Syariah

Kebutuhan terhadap Sistem Ekonomi Baru

Oleh: Rhesa Yogaswara 207000377

Magister Bisnis dan Keuangan Islam Universitas Paramadina Jakarta 2008

PENDAHULUAN Kebahagian manusia telah menjadi tujuan dari semua kelompok. Dan terdapat perbedaan mengenai faktor-faktor kebahagiaan dan bagaimana mewujudkannya. Meskipun materi bukan satu-satunya faktor, pandangan sekuler di dunia hari ini menganggap pencapaian materi termasuk hal penting. Dapat dirasakan bahwa kebahagiaan dapat diperoleh jika tujuan materi dapat diwujudkan. Termasuk penurunan kemiskinan, pemenuhan kebutuhan dasar setiap individu, tingkat pengangguran rendah, distribusi pendapatan, kekayaan dan pertumbuhan stabil yang merata. Tidak ada negara di dunia ini yang tanpa mempertimbangkan kaya maupun miskin telah dapat mewujudkan tujuan materinya. Kegagalan disebabkan karena tidak seimbangnya makroekonomi dan ketidakstabilannya. Di Negara-negara berkembang sedang mengalami kesulitan hutang luar negeri, yang mana mengancam tidak hanya pengembangan masa depannya tetapi juga kesehatan sistem keuangan internasional. Sebagai tambahan, praktis seluruh negara sedang mengalami polusi lingkungan yang mebahayakan bumi ini. Dan juga terdapat masalah kejahatan, konlifk, dan juga ketegangan. Ketidakmampuan untuk mencapai tujuan materi tidak bisa karena sumber daya lebih sedikit dari yang dibutuhkan. Sumber daya hanya tersedia pada beberapa hal saja. Secara umum kita semua setuju bahwa sumber daya yang ada digunakan secara effisien dan jujur mungkin akan dapat mewujudkan tujuan materi dan meminimalisir ketiakstabilan dan ketidakseimbangan. Tetapi hal ini membawa kita untuk fokus pada masalah yang sulit yang berhubungan dengan keefisienan, kejujuran dan cara untuk mewujudkan ini. Efisiensi dan keadilan dalam alokasi dan pendistribusian sumber daya yang langka telah menjadi pokok utama dalam sebuah ekonomi. Ekonomi sudah bisa dikatakan jika pengefisiensiannya optimum, jika sudah menggunakan potensi yang ada baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya alam. Dan bisa dikatakan keadilannya sudah optimum jika barang dan jasa yang dihasilkan didistribusikan kepada seluruh individu dengan cukup memuaskan. Ketidakmerataan akan pendapatan dan kekayaan

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

2

menggambarkan nilai sosial tanpa pengaruh buruk dari motivasi bekerja, menabung dan berinvestasi. Efisiensi dan keadilan dalam hal ini belum bisa direalisasikan di negaranegara industri yang kaya, baik kapitalis maupun sosialis.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

3

METODOLOGI Ada tiga pertanyaan dasar mengenai ekonomi, yaitu "APA", BAGAIMANA" dan "UNTUK SIAPA". Jawaban untuk pertanyaan ini tidak hanya pada alokasi sumberdaya, tetapi juga distribusi antar individu dalam mengkonsumsi, menabung dan berinvestasi. Sehingga untuk menjawab tiga pertanyaan tersebut, sebuah sistem ekonomi perlu strategi yang terdiri dari tiga unsur yang sangat diperlukan: 1. Filter mekanisme Filter mekanisme harus mengatur tuntutan terhadap sumber daya yang ada tidak hanya keseimbangan antara permintan dan penawaran, tetapi juga alokasi dan distribusi yang diperlukan. 2. Sistem motivasi Sistem ini harus mampu membujuk seluruh individu untuk memberikan performa yang terbaik dan menggunakan sumber daya yang sesuai dengan filter mekanisme yang hanya tidak pada kepentingan pribadi tetapi juga kesejahteraan sosial. 3. Restrukturisasi sosial ekonomi Restrukturisasi sosial ekonomi seharusnya memungkinkan perpindahan cepat sumber daya dari pengguna yang satu ke yang lain sampai tercipta kondisi yang paling efisien dan keadilan pengalokasian dan pendistribusian tercipta dengan baik. Pengembangan dari strategi efektif berdasarkan tiga unsur ini tidak

memungkinkan tanpa penekanan pada pandangan umum dimana menurut Arthur Lovejoy, sifat dasar manusia itu tergambar pada hampir disetiap subyek. Perbedaan ini mengarah kepada perbedaan dalam kesimpulan tentang arti dan tujuan hidup manusia, asal kepemilikan dan tujuan sumber daya, hubungan manusia dengan manusia dengan

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

4

lingkungan sekitar, dan kriteria efisiensi dan keadilan. Kecuali kalau pandangan umum dari sebuah sistem konsisten dengan tujuan.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

5

PEMBAHASAN Saat ini terdapat dua sistem yang tetap ada di dunia ini, yaitu sistem pasar dan juga sosialisme. Kedua sistem tersebut memiliki pandangan umum yang biasa tetapi dengan strategi yang berbeda. Banyak negara yang mengikuti sistem-sistem ini telah gagal pada setiap tingkatnya dalam mewujudkan tujuan materinya. Maka dari itu, sistem yang ada dengan kebutuhuannya masing-masing, menurut Burtt "untuk memikirkan kembali filosofi manusia yang benar", tidak dapat menyediakan sebuah model yang dapat diikuti oleh negara muslim atau negara berkembang lainnya, yang berharap merealisasikan tujuannya dengan sumber daya yang secara relatif lebih sedikit dan membutuhkan waktu satu dekade untuk mencapai negara-negara yang menggunakan sistem ini. 1. Sistem Pasar Sistem pasar digunakan untuk memperbaiki sistem kapitalis yang mana sistem kapitalis adalah sebuah kombinasi dari dasar perwujudan dalam laissez-faire kapitalisme dan welfare-state. Sistem ini bergantung pada mekanisme pasar untuk pengalokasian dan pendistribusian dari sumberdaya, tetapi sistem ini menentukan peran penting kepada sebuah keadaan untuk memperbaiki alokasi yang efisien dan meminimalisasi distribusi yang tidak adil. Akan tetapi sedapat mungkin perbedaan pandangan pada setiap tingkat pada setiap keadaan seharusnya ditangani di pasar. Perbedaan ini telah memiliki kecenderungan menurun di tahun 1080an ketika kekurangan fiskal telah membuat kekecewaan pada peran pemerintah yang besar. Usaha besar dilakukan oleh para intelektual dan para politik untuk meliberalisasi sedekat mungkin dengan model klasik dengan campur tangan pemerintah yang minim. Dalam perspektif zeitgeist yang berlaku, sistem pasar dibedakan penekanannya pada: 1. Kebebasan individu tanpa batas dalam mengejar kepentingan materi pribadi untuk mendapatkan dan mengatur harta kekayaan pribadi.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

6

2. Mempercepat, memperluas kekayaan dan memaksimumkan produksi dalam mencapai kepuasan yang sesuai dengan pilihan individu. 3. Peran utama bagi kekuatan pasar dalam pengalokasian dan pendistribusian sumber daya dengan sedikit peran dari intervensi pemerintah. Materialisme menghasilkan logika rasional untuk mengejar kekayaan dan kesenangan dan memperkuat konsep rasional "economic man" dimana konsumsi adalah tujuan yang paling utama bagi "economic man". Pengejaran kepentingan pribadi bagaimanapun memiliki kekurangan dalam aspek sosial dan agama.Hal ini sudah dilakukan oleh Adam Smith dengan menunjukan bahwa setiap orang mengejar kepentingan pribadi, maka kekuatan pasar akan dikendalikan oleh kompetisi, oleh karena itu akan terbentuk keharmonisan antara kepentingan pribadi dan kepentingan masyarakat. Preferensi dari kepentingan pribadi, pemaksimalkan kepuasan konsumen direfleksikan di pasar melalui permintaan atau keinginan untuk membayar harga pasar. Produsen merespon secara pasif dengan menurunkan biaya sehingga membantu memaksimalkan profit. Interaksi ini menggambarkan harga pasar barang dan jasa. Harga ini tidak berat sebelah. Hal ini juga menentukan pendapatan yang diperoleh setiap faktor produksi dalam kontribusinya sampai menghasilkan output dan pendapatan. Pada titik keseimbangan, kepuasan konsumen maksimal, biaya penawaran minimum, dan faktor pendapatan (termasuk upah dan keuntungan) adalah maksimum. Kesimpulan dalam sistem pasar ini menggambarkan tidak hanya efisien dalam menggunakan sumber daya, tetapi juga distribusi pendapatan yang adil secara rasional dan tidak berat sebelah. Hal tersebut secara otomatis memberikan keharmonisan antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

7

Setiap kompetisi seimbang disebut juga sebagai Pareto optimum. Pada kondisi ini tidak mungkin membuat seseorang lebih baik tanpa membuat orang lain menjadi lebih buruk. Jadi konsep efisiensi dan keadilan yang digambarkan disini tidak ada hubungannya dengan tujuan untuk menghilangkan kemiskinan, pemenuhan kebutuhan dan mengurangi ketidakadilan pendapatan dan kekayaan. Kompetisi sempurna dalam pasar bebas akan mempertahankan kepentingan pribadi dalam batas-batas tertentu, meminimalisasi biaya, harga dan memastikan efisiensi secara maksimal dan kesehatan sistem. Konsekuensinya tidak memerlukan intervensi pemerintah. Kapitalisme membawa kesuksesan di banyak negara. Tingkat pertumbuhan ekonomi meningkat dan terjadi peningkatan kekayaan, tetapi belum pernah terjadi kemakmuran. Hal tersebut menjadi tidak mungkin untuk menghilangkan kemiskinan dan memenuhi kebutuhan individu. Ketidakadilan pendapatan dan kekayaan juga meningkat. Sebagai tambahan, ketidakstabilan ekonomi dan pengangguran telah memperburuk kesengsaraan si miskin. Alasan dibalik kegagalan ini adalah karena konflik antara tujuan dengan pandangan umum dan strateginya. Tujuanannya adalah berdasarkan pada moral, tetapi pandangan umum dan strateginya adalah social. Dinyatakan bahwa keharmonisan antara kepentingan pribadi dan masyarakat terjadi atas beberapa asumsi tentang latar belakang kondisi yang ternyata terbukti tidak tepat: 1. Meskipun tanpa persetujuan bersama mengenai batasan moral pada pilihan konsumen, penguasa konsumen akan membatasi kebutuhannya terhadap sumberdaya yang langka hanya karena kepuasan. Kenyataannya penguasa konsumen akan selalu memintanya selama mampu untuk membayar. Mereka tidak bisa membedakan antara kebutuhan, keinginan, keperluan dan ketidakperluan tanpa kriteria sosial bersama dan tanpa peran pelengkap untuk menggambarkan apa yang masyarakat dapat atau msayarakat tidak dapat hasilkan dalam kerangka sumberdaya dan tujuan pemenuhan kebutuhan

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

8

global. Perlombaan mengkonsumsi berlebihan didukung dan diperburuk dengan adanya pinjaman berbasis bunga. Hal ini tidak hanya menurunkan kepuasan kebutuhan, tetapi juga defisit, krisis moneter, inflasi, ketidakseimbangan dan memperberat hutang luar negeri. 2. Kedaruratan dari keinginan konsumen yang berbeda dapat dibandingkan dengan penggunaan harga karena setiap unit mata uang merepresentasikan suara. Keinginan dua individu untuk membelanjakan sejumlah uang yang sama diasumsikan memiliki kedaruratan yang sama. 3. Distribusi yang merata akan pendapatan dan kekayaan dalam ekonomi diasumsikan sudah ada. Ketiadaan filter mekanisme hanya akan memberikan seseorang sebuah bobot yang sama dalam mempengaruhi proses pengambilan keputusan di pasar. Tetapi pendapatan tidak akan pernah bisa terdistribusi secara merata. 4. Pasar diasumsikan berjalan dibawah kondisi kompetisi sempurna, dimana banyak pembeli, banyak penjual, tidak ada masalah untuk masuk pasar, informasi sempurna tentang kondisi saat ini dan kondisi di masa yang akan datang. Kompetisi mencegah terlalu tingginya harga jual. Kompetisi menjalani seperti tongkat yang menekankan pemesanan dan permainan jujur. Hal itu berjalan seperti sebuah mekanisme sendiri untuk ekonomi dan mengurangi limbah, eksploitasi, kelebihan keuntungan tanpa intervensi pemerintah. Kompetisi pasar sempurna ini tinggal impian tak terwujud, terutama sekali karena tendensi kapitalisme untuk mempromosikan bisnis besar dan konsentrasi kekayaan dan kekuatan. Perusahaan-perusahaan raksasa memegang kebijakan sosial dan pengaruh politik di banyak negara. Mereka mendominasi perokonomian Amerika, apakah terukur secra kapital, produksi, investasi, produk baru, dampak konsumen ataupun ketenagakerjaan. Menurut Norm White, kebijakan

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

9

pemerintah yang menyokong operasi besar menyebabkan petani kelas menengah semakin menurun. Beberapa konglomerat besar memiliki mayoritas lahan dan mengendalikan supply makanan. Korporasi raksasa bukanlah sebuah institusi yang demokratis. Seluruh kebijakan korporasi ini berada ditangan beberapa keluarga yang memegang kendali beberapa saham. Kirakira 150 perusahaan dalam daftar Fortune 500, dipegang oleh individu atau beberapa orang yang masih satu keluarga. Iklim demokrasi sosial tidak terdapat dalam korporasi besar di Eropa. Ketidakadilan meningkat. Kekayaan dan koneksi adalah hal yang penting untuk mendapatkan posisi manajemen di korporasi besar. Konsentrasi kekuatan di tangan elit yang kecil pada sektor utama ekonomi memberikan kekuatan besar untuk membuat produk dasar, harga, keputusan investasi yang mempengaruhi seluruh negara, kenyataannya seluruh dunia. Banyak pengamat percaya bahwa model harga antara perusahaanperusahaan papan atas menunjukkan kurangnya kompetisi. bank secara umum enggan untuk meminjamkan kepada pendatang baru karena tidak hanya ketidakpastian yang dihadapi tetapi juga kepentingan pribadi mereka untuk melindungi mereka terhadap klien besar. Struktur korporasi besar sama seperti kumpulan perusahaan-perusahaan menengah yang lebih mudah dioperasikan. Sistem konvensional bank berbasis bunga telah menyediakan daya dorong dan sumber kehidupan untuk memproses ekspansi secara vertikal dan juga horizontal. Bank lebih menyukai membiayai sedikit perusahaan dengan bisnis besar dari pada membiayai dengan jumlah sangat besar terhadap bisnis kecil. Tendensi ini menjadi lebih memperkuat dengan tingkat bunga yang rendah yang diatur oleh Bank Central. Tingkat bunga yang rendah menekankan pembangunan korporasi besar dan memperburuk masalah pengangguran secara praktis di semua negara industri, masalah ini menjadi sulit sekali untuk dipecahkan.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

10

Meskipun secara teori dalil tersebut benar bahwa kepemilikan produksi ketika dikombinasikan dengan kompetisi sehat, mengkontribusikan efisiensi yang lebih besar dalam menggunakan sumberdaya. Namun dalam prakteknya, sistem pasar telah mengembangkan konglomerat besar, yang secara umum tidak diperlukan. Jadi 3 pilar pokok kapitalisme mengalami kegoncangan. 5. Terdapat asumsi bahwa pemaksimalan keuntungan bagi produsen tidak akan mengesampingkan biaya sosial dan keuntungan di dalam perhitungannya dan juga harga tidak akan hanya merefleksikan kepada biaya produksi dan mengambil keuntungan tetapi kebih kepada total biaya dan keuntungan bagi masyarakat. Hal ini ternyata terbukti salah. Harga dari beberapa barang & jasa cenderung bermain dengan biaya dan pembayaran terhadap pemilik sumberdaya cenderung berada jauh diatas atau dibawah dari nilai kontribusi mereka. Hal ini telah menyebabkan penghabisan yang tidak semestinya dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, kelebihan polusi lingkungan dan ketidakadilan ekonomi. Hal tersebut menjadi tidak realistis untuk diasumsikan, dimana dalam masyarakat yang individualistis, kebanyakan pelaku di pasar aadalah `economic men`, yang memiliki motivasi untuk kepentingan pribadi dengan perspektif sosial yang sempit dan terbatas.

Kondisi ini menimbulkan distorsi yang sangat serius dalam hal alokasi dan distribusi sumberdaya. Meskipun para cendekiawan membawa sedikit perubahan pada sistem, mereka belum berhasil membuat suatu perubahan yang signifikan. Keynes menyatakan bahwa ekonomi pasar bebas tidak dapat diharapkan untuk menjaga ketenagakerjaan secara utuh dan kemakmuran sepanjang waktu. Diperlukan bagi pemerintah untuk menjalani peran penting. Menurutnya, sistem kapitalis gagal hanya pada masalah solusi pengangguran. Kapitalisme hanya memecahkan masalah untuk alokasi dan distribusi.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

11

Hal utama dari dampak ini telah terbentuk di negara kaya ataupun di demokratis sosialis, mengarah kepada ekspansi di berbagai tingkatan dalam peran negara di dalam pasar ekonomi seluruh negara. Hal ini berkontribusi kepada peningkatan secara eksponensial dalam pembelanjaan pemerintah. Kensekuensinya terjadi defisit karena anggaran belanja mengalami pembengkakan. Defisit ini telah dibiayai oleh expansi moneter dan pinjaman. Hal ini menghasilkan tekanan inflasi, ketidakseimbangan pembayaran, tingkat bunga yang lebih besar diikuti dengan tingkat pertumbuhan yang lebih rendah dan ketidakstabilan ekonomi lebih besar. Kesulitan ini telah menjadi pukulan bagi negara kaya. Masalah bagi negara kaya ini adalah bagaimana menghilangkan ketidakseimbangan yang tercipta. Kepercayaan utama ditempatkan kepada mekanisme pasar untuk menghilangkan ketidakseimbangan yang ada. Salah satu alat bagi negara kaya adalah dengan menyediakan keringanan bagi si miskin. Meskipun dengan cara ini tingkat pertumbuhan meningkat tingkat konsumsi si miskin, hal itu tidak membantu memenuhi seluruh kebutuhan dan memperbaiki distribusi pendapatan. Negara-negara sekuler telah menghadapi kesulitan karena tidak dapat mengembangkan strategi efektif untuk merealisasikan tujuan kemanusiaan. Jika kewajiban moral dari keluarga dan masyarakat dalam sebuah negara kaya telah mencoba untuk memberikan sebagian hartanya untuk kemakmuran bersama, baik itu kaya maupun miskin, melalui pembelanjaan oleh sektor publik. Pada awalnya, cara ini menghasilkan perasan bahwa masalah alokasi dan distribusi telah rerpecahkan. Padahal tidak, stateginya tidak cukup. Defisit anggaran belanja yang membengkak dihasilkan dari peningkatan pembelanjaan di sektor publik, tidak hanya untuk membiayai manajemen tetapi juga untuk mempromosikan pertumbuhan yang lebih tinggi, tidak diiringgi oleh pengurangan di sector yang lain pada sumber daya. Kelebihan likuiditas pada akhirnya memperburuk sumber daya dan memberikan pertumbuhan makro ekonomi tidak seimbang dan tidak stabil di mata uang asing, komoditas dan pasar saham.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

12

Masalah kemiskinan dan kerusakan telah berlanjut dan menjadi lebih besar. Kebutuhan tetap tidak terpenuhi. Ketidakadilan pada faktanya meningkat. Prioritas keinginan sosial tidak mendapat ekspresi di pasar dengan ketidakadilan pendapatan dan kekayaan yang sangat mencolok. Si kaya dapat mengalihkan sumber daya yang langka ke kepuasan keinginan mereka yang tidak begitu penting dengn kekuatan belanja yang besar. Kepuasan akan jumlah maksimal dari keinginan menjadi tujuan utama dari sistem ekonomi dan seluruh perlengkapan produksi mendapat kekuatan langsung ataupun tidak langsung untuk tujuan ini. Si miskin mendapat tekanan karena pendapatan mereka yang rendah dan ketidakmampuan mereka untuk membayar harga pasar. Sistem pasar tidak dapat membantu merealisasikan efisiensi, keadilan alokasi dan distribusi sumberdaya. Diperlukan untuk merubah tujuan konsumen, pembiayaan publik, pola investasi, dan semua ekonomi dan institusi keuangan di berbagai cara dimana sumber daya tidak dapat dialihkan. Negara kaya tidak dapat melakukan perubahan ini karena tidak pernah diperkenalkan dalam sudut pandang kapitalisme. Peningkatan pembelanjaan sektor publik tanpa menutupi kerugian disektor lain dapat menciptakan ketidakseimbangan yang telah menjadi masalah yang sangat besar. Dalam perspektif sistem pasar tidak mungkin menghilangkan ketidakseimbangan tanpa menaikkan pajak atau mengurangi pembelanjaan. Semenjak pajak sudah cukup tinggi di semua negara kaya, pertolongan utama sedang dipertimbangkan adalah banyak pengurangan pada peran si kaya di setiap negara. Hal ini adalah konsekuensi alami dari sistem keuangan berbasis bunga. Bisnis berskala besar dan pembinanya, bank, telah menjadi kekuatan di sistem pasar. Kepentingan pribadi di bisnis besar dan pembiayaan yang besar telah menjadi kelebihan kekuatan baik secara ekonomi mupun politik dan itu tidak mungkin untuk mencabut mereka untuk memperkenalkan perubahan yang diperlukan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

13

2. Sosialisme Sementara kapitalisme gagal merealisasikan tujuan ekonomi di negara ekonomi pasar. Sosialisme juga telah gagal merealisasikan efisiensi dan keadilan. Sosialisme mengutuk agama dan nilai-nilainya. Sosialisme tidak dapat mengembangkan strategi efektif untuk merealisasikan tujuan masyarakat tanpa memisahkan golongan dimana setiap orang berkerja berdasarkan kemampuannya dan mendapat penghargaan berdasarkan kebutuhannya. Bagian penting utama dari strategi ini adalah untuk menghilangkan eksploitasi dan usaha untuk mendapatkan kepentingan pribadi mereka. Seperti kapitalisme, sosialisme juga memiliki beberpa asumsi yang salah tetapi tidak terlihat secara jelas: 1. Diasumsikan bahwa sesudah pengenalan sosialisme, manusia yang sama dalam kapasitasnya sebagai konsumen, pekerja, manager, dan pegawai pemerintah, akan selalu dimotivasi untuk melakukan kemampuan terbaiknya untuk kepentingan sosial tanpa memperdulikan kepentingan pribadi mereka. 2. Diasumsikan bahwa mesin negara akan berjalan oleh sekelompok orang yang tidak memiliki alat untuk bekerja. Asumsi ini juga salah. jika kebutuhan dasar manusia tidak dapat dipercayakan dengan memberikan kekuatan untuk mendapat kepentingan pribadi, maka mesin Negara tidak akan bekerja. 3. Diasumsikan bahwa rencana mesin yang utama akan memiliki seluruh informasi tentang kecenderungan konsumen, biaya produksi dan keperluan harga untuk mengambil banyak keputusan. Hal ini tidak realistis. Bahkan informasi tidak ada dan hampir tidak mungkin untuk didapatkan dan dianalisa. Sehingga Hayek memprediksikan bahwa solusi sosialis terhadap masalah alokasi sumberdaya tidak dapat dipraktekan karena informasi menyeluruh mengenai semua data yang relevan tidak akan pernah tersedia. 4. Diasumsikan bahwa subsidi secara umum yang besar berimplikasi pada sistem harga sosialis yang akan menguntungkan si miskin. Hal ini pun terbukti salah.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

14

Subsidi pada umumnya telah menguntungkan si kaya dan beberapa orang yang memiliki hak-hak istimewa sejauh si miskin memiliki keterbatasan dalam belanja. Meskipun hampir semua rencana utama ekonomi adalah untuk memperkaya manusia dan sumberdaya secara fisik telah memiliki potensial untuk memuaskan semua kebutuhan manusia, namun mereka telah menderita secara keberlanjutan dengan adanya kekurangan bahan pangan. kekurangan ini tidak dapat dihilangkan karena senralisasi membuat proses pengambilan keputusan menjadi lambat, tidak praktis dan tidak efisien dibandingkan dengan desentralisasi pengambilan keputusan di sistem pasar. Apa yang telah pasar lakukan dalam sistem pasar yaitu hubungan antara konsumen dan produsen, telah hilang didalam sosialis. Dan juga hilang mekanisme harga yang memberikan keuntungan yang memotivasi pengusaha untuk melakukan yang terbaik. Ketidakefisienan sistem telah mengakibatkan tingkat pertumbuhan yang rendah. Berikut adalah tingkat pertumbuhan ekonomi di Soviet: - 1928-1940 5.8 % p.a - 1940-1950 2.2 % p.a - 1950-1960 5.7 % p.a - 1960-1970 -5.2% p.a - 1970-1975 3.7 % p.a - 1975-1980 2.6 % p.a - 1980-1985 2.0 % p.a Mr.Aganbegyan menyatakan bahwa terlihat tidak terdapat pertumbuhan selama tahun-tahun tersebut. Hal ini menurunkan daya tarik dari sistem ini, terutama sekali karena sejarah pertumbuhan dari negara-nrgara lain seperti Jepang, Jerman Barat, dan Korea Selatan dengan sumber daya yang lebih sedikit ternyata telah sangat mengesankan. Pekerja jauh dari kekuatan pusat lebih jauh dibandingkan dengan sistem kapitalis, dimana dalam sistem kapitalis paling tidak terdapat beberapa pengaruh melalui serikat pekerja dan proses politik demokrasi. Dan juga dalam sistem kapitalis pekerja bebas memilih atasannya, sementara dalam sosialis tidak bisa bebas.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

15

Ketidakadilan sosial dan perbedaan kelas juga berlanjut. Murray Yanowith menyatakan bahwa `Masyarakat Soviet bisa disebut sebagai sistem kelas`. Orang yang bayarannya lebih tinggi dan lebih baik pergi. Jumlah penelitian sosiologi telah mendemonstrasikan bahwa mayoritas pekerja muda yang mempunyai ambisi tinggi kecewa. Sistem pendidikan Soviet mempunyai kecenderungan kuat untuk membangkitkan ekonomi dan ketidakadilan sosial antar generasi. Hubungan yang kritikal adalah keluarga dan posisinya dalam hirarki kelas dan strata. Yanowitch telah mengamati bahwa status pekerjaan di masa yang akan datang berhubungan dengan kelulusan dari tipe sekolah masing-masing, yang lebih rendah adalah bagian pekerja kasar dan yang lebih tinggi adalah proporsi bagi strata yang bukan pekerja kasar. Petani dan buruh tidak hanya kehilangan tanahnya, mereka juga menerima harga yang rendah dari produk yang mereka hasilkan dimana harga ditentukan oleh pemerintah. Jadi sistem ini menghapuskan kepemilikan pribadi dan terjadi ketidakadilan bagi petani. Dari sisi konsumen, kebutuhan mereka tidak terpenuhi. Tujuannya tidak sejalan dengan dasar filosofi dan strategi. Tujuannya untuk kemanusiaan tetapi setiap orang bekerja untuk barang-barang sosial, yang mana kebutuhannya dipenuhi namun terdapat ketidakadilan pendapatan dan kekayaan karena tidak ada pemindahan kepemilikan. Dalam kondisi ini tidak ada kekuatan motivasi untuk memperjuangkan kepentingan pribadi dan melayani kepentingan sosial derta tidak adanya persetujuan filter mekanisme secara sosial untuk mengarahkan pengambilan keputusan. Sosialisme tidak memiliki mekanisme untuk megendalikan kepentingan pribadi manusia. Maka sistem ini telah gagal untuk menyediakan pembangunan dan solusi alternatifnya. Sebagai hasil dari seluruh negatif indikator ini, sosialisme telah menjatuhkan seluruh eropa timur. Hanya Cina yang rezimnya sejauh ini bias mempertahankannya.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

16

Masalahnya adalah tidak ada yang orang yang mengerti tentang perlunya dari tingkatan merestrukturisasi bagi negara sosialis untuk merealisasikan tujuannya. Persoalan tersebut belum dijelaskan oleh Glasnost dan Perestroika. Hal tersebut adalah Tingkatan desentralisasi, kompetisi, pembentukan harga, privatisasi dan kepemilikan dimana ekonomi sosialis berkeinginan untuk memberikan toleransi tanpa merubah identitas secara total. Tidak disadari bahwa sentralisasi pengambilan keputusan dan ketiadaan dari kepemilikan pribadi dan harga yang dijelaskan pasar adalah salah satu faktor penyebab kekurangpuasan akan barang dan jasa di negara sosialis, sementara di negara kapitalis akan pasti bisa merealisasikan kebutuhannya. Negara sosialis memiliki tugas yang tidak mungkin, yaitu dimana berencana untuk merestrukturisasi ekonominya tanpa mekanisme filter dari nilai social. Terlebih, permintaan untuk meningkatkan pengefisiensian tidak berarti kecuali kalau perusahaan bebas untuk memilih kualitas, jumlah, dan sumber daya untuk input mereka dan juga kebebasan untuk melakukan pemecatan dan pengangkatan karyawan dengan berdasar pada performanya. Sistem sosialis tidak dilengkapi untuk mengatasi masalah-masalah ini yang dihasilkan dari sistem pasar. Tanpa adanya penaksiran usaha, resiko akan terlalu besar untuk mereka yang tidak memiliki pengetahuan. Bagaimanapun, jika kepemilikan pribadi disalurkan secara adil kepada orang-orang, maka pertanyaan membingungkan adalah tentang bagaimana hal ini bisa diselesaikan, siapa yang mendapat bagian pada apa dan untuk tingkatan apa? Jika pekerja diberikan bagian pertanian dan perusahaan di tempat mereka bekerja, bagaimana dengan mereka yang tidak bekerja atau bekerja di area yang kurang subur, maka akan menjadi bangkrut. Dengan adanya kelebihan konsentrasi kekuatan dann kelebihan sentralisasi manajemen, maka tugas akan menjadi sangan berat dalam kondisi sosialisme sudag bertambah hancur.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

17

3. Islamisasi sebagai alternatif Berbeda dengan pandangan sekular yang merupakan sistem yang gagal, pandangan Islam adalah sistem yang seimbang dari kebutuhan material dan dimensi spiritual dari kehidupan. Islam pun memanfaatkan sumber daya secara efisien dan adil dalam kebutuhan materi sampai dimensi moral, harus diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk keputusan yang diambil dalam pasar dan badan korporasi dan sampai ekonomi direstrukturisasi sesuai dengan realisasi tujuan dan nilai moral. Sistem ekonomi islam berdasar kepada kepercayaan pada satu Tuhan, yang menciptakan seluruh jagad raya. Manusia bertanggung jawab kepada-Nya untuk hidup mereka di dunia yang kecil dan sementara dibandingkan dengan alam akhirat, tempat tinggal selamanya. Sumberdaya disediakan oleh-Nya adalah amanat dan harus digunakan sesuai dengan aturanNya. Keadilan sosial ekonomi tidak dapat direalisasikan kecuali kalau seluruh sumber daya dapat dimanfaatkan efisien dan adil untuk memenuhi kebutuhan disemua aspek dan membawa kepada keadilan distribusi pendapatan dan kekayaan. Sistem ekonomi Islam memperoleh tujuannya dengan strategin dari pandangan Islam. Islam tidak bergantung terus pada keharmonisan antara tujuan dan pandangan dunia untuk menghasilkan sebuah strategi yang efektif. Islam juga menyiapkan beberapa strategi yang diperlukan membentuk kekuatan dalam rangka memperkenalkan suatu sosial ekonomi dan keperluan restrukturisasi keuangan untuk merealisasikan tujuan. Strategi Islam terdiri dari empat hal yang sangt diperlukan dan satu sama lain saling menguatkan: 1. Mekanisme berbasis moral 2. Sistem motivasi yang kuat untuk mengarahkan setiap individu untuk memberikan yang terbaik dalam kepentingannya sendiri dan juga kepentingan masyarakat 3. Sosial ekonomi dan restrukturisasi keuangan dengan tujuan perealisasian tujuan dengan mempertimbangkan kelangkaan sumber daya.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

18

4. Sikap positif dan peranan berorientasi tujuan yang kuat bagi pemerintah Hal ini sangat penting untuk melihat bagaimana empat elemen dari strategi Islam dapat membawa alokasi dan distribusi ke arah tujuan pengaktualisasian permintaan. Dalam menciptakan keinginan yang tidak terbatas, ada kecenderungan dari distribusi pendapatan dan akses kepada pinjaman, memungkinkan si kaya mentransfer sumber daya yang langka untuk mendpatkan kepuasan pribadi yang tidak perlu. Hal ini tidak hanya mengurangi ketersediaan sumber daya untuk kepuasan kebutuhan tetapi juga melebarkan kerenggangan investasi dan export import, serta menjadikan makroekonomi tidak seimbang. Kebergantungan pada mekanisme harga sebagai alat, dapat membantu memperbaiki keseimbangan permintaan dan penawaran. Desentralisasi mekanisme sistem pasar dengan pengawasan pemerintah membuat posisi buruk. Hal itu membuat sistem menjadi sewenang-sewenang tanpa memperkenalkan perbaikan dalam merealisasikan tujuan. Sentralisasi pengawasan untuk alokasi sember daya ditangan birokrasi, yang tidak efektif dalam mendapat informasi tentang preferensi konsumen dan biaya produsen, membuat proses pengambilan keputusan tidak praktis, lambat dan tidak efisien. Strategi terbaik untuk memajukan keadilan pada alokasi sumber daya tidak merubah proses pengmbilan keputusan secara desentralisasi di pasar. Sistem desentralisasi mendemokratisasikan pengambilan keputusan dengan membolehkan semua individu (konsumen maupun produsen) berpartisipasi. Hal itu juga membuat respon yang efisien dalam mengambil keputusan. Dalam Islam, alokasi sumber daya terdiri dari dua proses penyaringan: 1. Menyaring masalah dari keinginan yang tidak terbatas dengan merubah skala kepentingan individu dengan permintaan secara efisien dan adil. dengan aspek moral, maka tidak diizinkannya kepemilikan materi dan

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

19

kepuasan menjadi akhir bagi diri mereka sendiri. Kepuasan tetap sebagai fungsi dari pemenuhan kebutuhan. 2. Membatasi permintaan terhadap sumber daya kepada batas pemenuhan kebutuhan, itu menjadi memungkinkan untuk meminimalisasi ketidakseimbangan tetapi juga menggunakan sumber daya secara efisien dan efektif. Lalu Siapakah yang dapat dan mampu untuk melakukan mekanisme tersebut? 1. Sangsi keTuhanan yang membuat aturan mutlak dalam berperilaku. Tanpa sangsi keTuhanan, mereka menjadi subyek dari keputusan pribadi seperti yang terjadi di Negara barat setelah sekularisme. 2. Siapa diantara manusia dapat secara pasti tidak berat sebelah dan berkomitmen secara total untuk kesejahteraan semua? Jika manusia mencoba untuk mengembangkan norma mereka sendiri ini, mereka akan cenderung secara alami membingkai norma-norma yang condong menyokong kekuatan dan kepentingan pribadi dan tidak mampu melayani kesejahteraan semua. 3. Manusia tidak punya pengetahuan untuk menduga dampak dari perilaku mereka terhadap kebutuhan dasar manusia. Mereka perlu mengetahui secara mendalam dan menguasai orang lain untuk menyelamatkan orang lain dari kerugian dampak dari perilaku mereka sendiri. 4. Yang Maha Tinggi yang telah menciptakan manusia adalah satusatunya yang mampu mengerti semua kebutuhan dasar, keperluannya, kekuatannya dan kelemahannya dan dalam melayani sebagai petunjuk satu-satunya dan satu-satunya sumber dari seluruh nilai.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

20

Efisiensi dan keadilan tidak dapat direalisasikan dengan mekanisme. Itu juga perlu memotivasi individu untuk berperilaku sesuai dengan aturan. Kepentingan pribadi dapat menuju kepada keserakahan dan sikap tak acuh terhadap kepentingan orang lain. Kepentingan pribadi tidak dapat memotivasi individu di dalam sekularis, dan juga tidak dapat memotivasi masyarakat untuk memenuhi kewajiban sosial mereka dengan teliti kecuali berkontribusi untuk mendapat keuntungan mereka. Kapitalisme tidak mempunyai mekanisme yang efektif untuk memotivasi individu untuk bekerja dalam kepentingan masyarakat kecuali kalau kepentingan masyarakat tersebut mengejar sekelompok kepentingan pribadi. Sosialisme lebih buruk lagi, dengan mencegah individu dari mengejar kepentingan pribadinya sendiri, itu telah mengurangi nilai sistem tersebut dari mekanisme yang memotivasi individu untuk bekerja secara efisien. Kepercayaan Islam menyediakan sebuah perbedaan pandangan secara

menyeluruh terhadap individual dan pemikiran sosial, sikap dan perilaku. Dan juga kepentingan pribadi tidak hanya dibayar di dunia tetapi juga diakhirat. Maka jika Islam rasional dan berkeinginan untuk memenuhi kepentingan pribadi, tidak akan selalu berperilaku untuk jangka pendek, tetapi juga akan mencoba mengejar jangka panjang dengan bekerja untuk mendapat kekayaan melalui pengurangan hal-hal yang tidak berguna dan konsumsi yang tidak diperlukan dan juga menggunakan sebagian kekayaannya untuk membantu sesama (zakat, sadaqah, waqaf, pajak). Sumber daya yang dikeluarkan oleh perekonomian dapat dialihkan ke investasi, penciptaan lapangan pekerjaan dan meningkatkan produksi dan distribusi barang-barang kebutuhan, hingga melayani kepentingan si miskin. Selama Islam menyediakan perspektif yang lebih panjang terhadap perilaku manusia, hal itu tidak mengajak individu untuk mengabaikan kepentingan pribadi mereka di dunia ini. Islam faktanya menganjurkan individu untuk memuaskan semua barangbarang kebutuhannya untuk tetap secara fisik dan mental kesehatannya dan efisien agar

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

21

dapat berperforma dalam tanggungjawabnya kepada Allah, dirinya sendiri dan masyarakat dan tetap dapat mengembangkan seluruh potensinya. Apa yang Islam sudah lakukan untuk membuat keseimbangan adalah dengan menyediakan spiritual dan dimensi jangka panjang kepentingan pribadi. Individu harus menjaga kepentingannya di dunia ini yang kecil dan singkat, dan juga akhirat yang kekal abadi. Islam mengenal, sementara sosialisme menyangkal, kontribusi bahwa pelayanan terhadap kepentingan individu melalui keuntungan dan kepemilikan pribadi dapat membuat individu berinisiatif, menggerakan, efisiensi dan wirausaha. Islam juga mencegah keserakahan dan sikap acuh terhadap keadilan dan kebutuhan orang lain. Kompetisi dan kekuatan pasar tidak diragukan sangat diperlukan untuk kontribusi yang berharga mereka dapat membuat efisien alokasi proses produksi. Sistem mekanisme menjadi tumpul jika pola konsumsi sosial, kebijakan pemerintah (berhubungan dengan pajak, pengeluaran, tabungan dan investasi, mata uang, perdagangan, dan pengembangan) dan intermediasi keuangan tidak diperlengkapi dalam merealisasikan tujuan. Tidak adanya beberapa restruktirisasi tidak hanya akan menyebabkan konsumsi, menurunkan tabungan dan investasi, dan menonjolkan ketidakadilan, tetapi juga memperburuk makroekonomi yang ada dan ketidakseimbangan eksternal, kekurangan pembiayaan, kekurangan ekspansi kredit, dan hutang luar negeri. Diperlukan pengambil perhitungan yang efektif pada: 1. Memperkuat faktor manusia dengan memotivasi dan memungkinkan seseorang untuk berperforma terhadap tugas yang diperlukan. Untuk berperforma tidak hanya dalam kepentingannya sendiri tetapi juga bagi masyarakat.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

22

2. Pengurangan konsentrasi yang ada dari kekayaan dan kepemilikan dalam arti produksi. 3. Membentuk ulang seluruh sosial, ekonomi, dan institusi politik, terutama sekali keuangan publik dan intermediasi keuangan, serta pengajaran keislaman untuk membantu meminimalisasi limbah dan konsumsi yang tidak diperlukan dan mempromosikan investasi untuk memenuhi kebutuhan, eksport, dan mengurangi tingkat pengangguran. Kebijakan yang tidak hanya menguntungkan bagi pebisnis besar, tetapi juga pertanian, pengembangan pedesaan, dan usaha mikro. Implementasi istitusi Islam tentang zakat, sadaqah, waqaf dan warisan juga sangat diperlukan. Untuk mengurangi konsumsi dan meningkatkan tabungan, diperlukan untuk menanamkan kehidupan yang simpel dengan norma keislaman dan mengurangi ketidaksehatan pengaruh dari kultur barat. Untuk mempromosikan investasi, kebijakan pemerintah harus berorientasi pada kebebasan usaha dengan mengandung pada nilai islam. Intermediasi keuangan memiliki peran kritikal, dan sistem keuangan konvensional yang berbasis pada bunga harus dirubah ke sistem pembagian keuntungan dan kerugian, dimana pemberi biaya akan memberikan bobot yng lebih besar kepada pengguna pinjaman yang memiliki kontribusi lebih besar dalam merealisasikan tujuan. Beberapa restrukturisasi yang luas dedesain untuk mengaktualisasikan tujuan dan meminimalkan ketidakseimbangan yang ada, tidak memungkinkan tanpa peran pemerintah dalam perekonomian. Peran negara dalam ekonomi Islam adalah peran positif - kewajiban moral untuk melaksanakan sebuah misi agar dapat memenuhi anugerah yang diberikan secara sempurna dalam suatu mekanisme - untuk menjaga ekonomi pada jalur yang disetujui dan mencegah pengalihan oleh kepentingan pribadi yang memiliki

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

23

kekuatan. Motivasi yang lebih besar dalam menerapkan nilai Islam adalah agar tercipta sosial ekonomi yang efektif dan meningkatkan keseimbangan antara sumberdaya dan permintaan dalam mewujudkan tujuan.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

24

KESIMPULAN Strategi Islam dalam merealisasikan keuntungan dari sistem pasar, tidak dibebani oleh ketidakadilan. Hal ini dilakukan dengan membuat perpaduan yang seimbang dari spiritual dan material. Penerapan dimensi moral kedalam inti dari kesadaran manusia membantu mempromosikan kedamaian pikiran, yang mana sangat diperlukan untuk membuat kebahagiaan. Kepercayaan dasar dari sumber daya yang dipertanggungjawabkan kepada Allah memotivasi individu untuk memberikan bobot yang lebih besar terhadap sosial dalam pengambilan keputusan dan meminimalisasi limbah dan konsumsi berlebihan. Jika sistem harga dengan pengambilan keputusan dilakukan secara desentralisasi, maka alokasi sumber daya dapat lebih efisien dan adil. Penggunaan filter mekanisme membantu tidak hanya mengurangi jumlah permintaan pada sumber daya tetapi juga membuat alokasi yang lebih besar untuk kepuasan kebutuhan dan investasi produktif. Hal ini akan mempercepat pertumbuhan, menekan inflasi, mempromosikan eksport, dan meminimalisasi ketidakseimbangan eksternal dan pengurangan nilai mata uang yang mengganggu negara-negara berkembang. Bagaimanapun, meskipun sistem moral cenderung untuk menjadi tidak efektif jika tidak dibarengi dengan restrukturisasi sosial ekonomi. Tetapi restrukturisasi sosial ekonomi dapat diperkenalkan lebih efektif jika dimensi moral diterapkan kedalam masyarakat dan pemerintah juga memainkan peranan yang efektif dengan memberikan kebijakan rencana strategis untuk menilai sumber daya ekonomi dan menggambarkan tingkatan perubahan yang diperlukan dalam berkonsumsi dan pola berinvestasi pada sektor swasta dan publik.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

25

Ketidakmampuan dari sistem ekonomi umum untuk menyediakan unsur-unsur materi dari kebutuhan manusia dan kegagalan dari memperkenalkan perubahan, menghasilkan adanya kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru. Sistem ekonomi Islam memiliki potensi respon secara efektif untuk kebutuhan ini. Islam mampu menyediakan bukan hanya unsur materi tetapi juga unsur spiritual tanpa melupakan perealisasian kebahagiaan dan kedamaian.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

26

DAFTAR PUSTAKA

For a clear presentation of the position of conventional economists on the subject, see Milton and Rose Friedman, Free to Choose (London: Secker & Warburg, 1980, pp. 9-37; and P. A. Samuelson, Economics (New York: McGraw Hill, 1980), pp. 15-18. Arthur Lovejoy, The Great Chain of Being (New York: Harper & Brothers, 1960), p. 7. For an elaboration of this thesis, see, with respect to capitalism, Edward S. Greenberg, Serving the Few: Corporate Capitalism and the Bias of Government Policy, (New York: John Wiley, 1974); and with respect to the secularist welfare state, Claus Offe, Contradictions of the Welfare State, ed., John Keane (London: Hutchinson, 1984). Edwin A. Burtt, The Metaphysical Foundations of Modern Science (Garden City, N.Y.: Doubleday, 1955), p. 27. Bertrand Russell, A History of Western Philosophy (New York: Simon & Schuster, 1945), p. 775. Adam Smith, ‘Invisible Hand,’ in L. S. Stepelevich, ed., The Capitalist Reader (New York: Arlington House Publishers, 1977), p. 20. See also, Wilhelm Roepke, ‘Ordered Anarchy’, ibid., p.’32. Few economists would now be willing to support this claim about equitable distribution. It is however a logical outcome of the assumed symmetry between public and private interests and was widely held by economists, like J. B. Clark, who believed that factor incomes in the real world closely approximated the marginal product and its value (See G. Stigler, Production and Distribution Theories: The Formative Period, New York: Macmillan, 1941). This view hence provided the rationale for the much-cherished government nonintervention principle. Vance Packard has expounded this phenomenon at the popular level in a series of books. Typical of these is The Hidden Persuaders (Harlow, Essex, U.K.: Longman, 1957), an expose of the wiles of Madison Avenue. See also Charles Lindholm, Politics and Markets, p. 79. A number of expressions are used by economists to describe the phenomenon of creating unwarranted wants. These include the `bandwagon’ effect, the `snob’ effect, and the ‘Veblen’ effect. For representative definitions of these, see Harvey Leibenstein, Beyond Economic Man (Cambridge, Mass: Harvard University Press, 1976), pp. 51-2. Arthur Okun, Equality and Efficiency: The Big Trade-Off (Washington, D.C.: Brookings Institution, 1975), p. 11. R. H. Tawney, The Acquisitive Society (New York: Harcourt Brace, 1948), p. 12 See Andrew Hacker, et al., ‘Corporation, Business,’ The New Encyclopedia Britannica, 15th edition (1973-74), vol. 5, p. 182. See Edward S. Mason, ed., The Corporation in Modern Society (Cambridge, Mass.: Harvard University Press, 1980), for a useful anthology on the subject. Quoted by David Owen, ‘Go Broke, Young Man,’ Financial Times, 31 January 1987, p. I. 14. Greenberg, op. cit., p. 247. Robert Sheehan, ‘Proprietors in the World of Big Business,’ Fortune, 15 June 1967, p. 179.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

27

Hacker, et al., op. cit., p. 187. See also Gabriel Kolko, Wealth and Power in America: An Analysis of Social Class and Income Distribution (New York: Praeger, 1964), p. 67. C. Wright Mills, The Power Elite (New York: Oxford University Press, 1956), p. 116. 18. See Kolko, op. cit., pp. 68 and 127. Edward S. Mason, ‘Corporation’, International Encyclopedia of Social Sciences, vol. 3, p. 401. David Reisman, Galbraith and American Capitalism (London: Macmillan, 1980), pp. 5868. Hacker, et al., op. cit., p. 185. 22. Ibid. Greenberg, op. cit., p. 40. Hacker, et al., op. cit., p. 185. Adolf A. Berle, Jr., The Twentieth Century Capitalist Revolution (New York: Harcourt, 1954), p. 39. Galbraith, The New Industrial State, (New York: American Library, 1972), p. xiv. See Elizabeth Jay and Richard Jay, Critics of Capitalism: Victorian Reactions to Political Economy (Cambridge: Cambridge University Press, 1986), pp.15-16. See Lawrence R. Klein, The Keynesian Revolution (New York: Macmillan, 1954), Chapter 7 (pp. 165-87). I. Adelman and C. T. Morris, Economic Growth and Social Equity in Developing Countries (Stanford, California: Stanford University Press, 1973), p. 189. Bernard Cazes, ‘Welfare State: A Double Bind,’ in OECD, The Welfare State in Crisis (Paris: OECD, 1981), p. 151. Harold Wilensky, The Welfare State and Equality (Berkeley, Los Angeles: University of California Press, 1975), p. 47. Savings have fallen in all industrial countries from an average of 17.5 per cent of national disposable income during 1960-74 to 10.7 per cent during 1980-87. They have fallen more steeply in the U.S. and France, going down over this period from 10.5 and 19.4 per cent to less than half that level - 4.2 per cent and 8.6 per cent. In West Germany and the U.K. they have dropped from 19.6 and 10.9 per cent to 11.0 per cent and 6.3 per cent. Even in Japan, the source of capital for many Western countries, they have declined from 26.4 per cent to 20.4 per cent (Bank for International Settlements, Fifty-Ninth Annual Report for the period 1988/89, Basle, June 1989, table on ‘Saving and Investment: a longer-term comparison,’ p. 32. Paul A. Samuelson, Economics, (New York: McGraw Hill, 1980) p. 591. John K. Galbraith, The Affluent Society (Boston: Houghton Mifflin, 1958); see also, Harry K. Girvetz, ‘Welfare State,’ International Encyclopedia of the Social Sciences, vol. 16, pp. 519-20. Stanley Lebergott, ‘The Shape of the Income Distribution,’ American Economic Review, June 1959, pp. 328-47. See M. U. Chapra, Towards a Just Monetary System (Leicester, U.K.: The Islamic Foundation, 1985), p: 140. E. S. Mishan, Cost Benefit Analysis: An Introduction (New York: Praeger, 1971), p. 205. Galbraith, Economics and the Public Purpose, op. cit., pp. 186-7.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

28

Ibid, p. 297. The term planning system is used by Galbraith in sharp contrast with the classical model of a perfectly competitive market. It refers to a market dominated by a few large oligopolistic corporations, each dominating a significant part of the market and able to exercise control over its prices and products. The consumer plays a relatively passive role by responding to persuasive advertising. (ibid.; pp. 11-50). Ben B. Seligman, Main Currents in Modern Economics (Chicago: Quadrangle Paperback, 1971), vol. 1 (The Revolt against Formalism), p. 107. F. A. von Hayek, Individualism and Economic Order (Chicago, 1948), pp. 77ff. See Gyorgy Szakolczai, ‘Limits to Redistribution: The Hungarian Experience,’ in D. Collard, R. Lecomber and M. Slater, eds., Income Distribution: The Limits to Redistribution (Bristol: John Wright, 1980), pp. 206-35; see also, Maksymiban Pohorille, ‘Collective Consumption in Socialist Countries: A Theoretical Approach,’ in R. C. O. Mathews and G. P. Stafford, The Grants Economy and Collective Consumption (London: Macmillan, 1982), p. 77. For example, in Poland official car prices are about 40 per cent of the market price, so gains from privileged access are huge (Stranded Red Elephants’, The Economist, 30 May 1987, p. 72). L. Sirc, Economic Revolution in Eastern Europe (Harlow, U.K.: Longman, 1969); see also Russell Lewis, The Survival of the Capitalist System: Challenge to the Pluralist Societies of the West (London: Institute for the Study of Conflict, 1977), p. 9. Retail prices of bakery products, sugar and vegetable oil were last changed in 1955. Prices of milk and milk products were last raised in 1962 and have been static ever since. The nominal prices of some basic foodstuffs have been the same for some 20 years. (Patrick Cockburn, reporting from Moscow, ‘Now for the Prices,’ Financial Times, 17 September 1986, p. 16). Soviet rents have not changed since 1928, utility rates for electricity and gas since 1946 (Patrick Cockburn, ‘Doubts over Prices: Soviet Prices Chief Calls for Overhaul,’ Financial Times, 14 July 1987, p. 2, quoted from a pamphlet issued by Mr. Valentin Pavlov, Chairman of the Soviet state committee for prices). Cockburn, op. cit. See Ben Seligman, op. cit., vol. 1, p. 26. For growth rates, see Gur Offer, ‘Soviet Economic Growth: 1928-1985,’ Journal of Economic Literature, December 1987, Table 1, p. 1778. See Abel Aganbegyan, The Challenge: Economics of Perestroika (London: Century Hutchinson, 1988); see also, ‘The Soviet Economy: Survey,’ The Economist, 9 April 1988, p. 3. See Offer, op. cit., p. 1798; and Gregory Grossman, ‘Communism in a Hurry: The Time Factor,’ in Abraham Brunberg, ed., Russia Under Khruschev (New York: Praeger, 1962), pp. 205-18. Offer, op. cit., p. 1781. Norman Furniss and Timothy Tilton, The Case of the Welfare State: From Social Security to Social Equality (Bloomington: Indiana University Press, 1977), p. 42. C. A. R. Crosland, The Future of Socialism (London: Jonathan Cape, 1963 edition reprinted in 1985), p. 37.

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

29

Murray Yanowitch, Social and Economic Inequality in the Soviet Union (London: Martin Robertson, 1977), p. 108. Ibid., Table 4.2, p. 109. 55. Ibid., p. 131. Crosland, op. cit., p. 38. Cited by Russell Lewis, op. cit., p. 27, from Tibor Szamuely’s postscript to Sir Tufton Beamish’s Half Marx (London: Tom Stacey, 1970). Yanowitch, op. cit., p. 69. Abram Bergson, ‘Income Inequality Under Soviet Socialism,’ Journal of Economic Literature, September 1984, p. 1052. Bergson, op. cit., p. 1092. Paul M. Sweezy, ‘Lessons of Soviet Experience,’ Monthly Review, November 1967, pp. 9-21. Ibid. See Alec Nove, The Economics of Feasible Socialism (London: George Allen & Unwin, 1983), p. 68 and back cover. See Mikhail Gorbachev, New Thinking for Our Country and the World (New York: Harper & Row, 1987); see also Abel Aganbegyan, op. cit. ; Anders Aslund, Gorbachev’s Struggle for Economic Reform (London: Pinter, 1989); and A. Hewett, ed., Reforming the Soviet Economy (Washington, D.C.: Brookings Institution, 1988). Ibid. See ‘Alas, Poor Perestroika,’ The Economist, 24 September 1988, p. 30; and ‘Budget Perestroika,’ The Economist, 8 October 1988, p. 75. See Frithjof Schuon, Understanding Islam, tr. D. D. Matheson (London: Allen & Unwin, 1963). For a more detailed discussion of the concept of unity of God in Islam, see M. Nejatullah Siddiqi, ‘Tawhid, the Concept and the Process,’ in K. Ahmad and Z.I. Ansari, Islamic Perspectives: Studies in Honour of Mawlana Sayyid Abul A‘la Mawdudi (Leicester, U.K.: The Islamic Foundation, 1979, pp. 17-33. For a detailed discussion of the concept of property in Islam, see ‘Abd al-Salam al‘Abbadi, Al-Milkiyyah fi al-Shari‘ah al-Islamiyyah (Amman, Jordan: Maktabah al-Aqsa,1975). See Syed Qutb, ‘Islamic Approach to Social Justice,’ in Khurshid Ahmad, Islam – its Meaning and Message (London: Islamic Council of Europe, 1975), pp. 117-30; ‘Majid Khadduri, The Islamic Concept of Justice (Baltimore, Johns Hopkins, 1984); and Munawar Iqbal, ed., Distributive Justice and Need Fulfillment in an Islamic Economy (Leicester, U.K.: The Islamic Foundation, 1988). For an introduction to some relevant aspects of the Islamic economic system, see, Monzer Kahf, The Islamic Economy: Analytical Study of the Functioning of the Islamic Economic System (Plainfield, Indiana: The Muslim Students’ Association of the United States and Canada, 1978); M. A. Mannan, Islamic Economics: Theory and Practice (Cambridge: The Islamic Academy, 1986); M. U. Chapra, Objectives of the Islamic Economic Order (Leicester, U.K.: The Islamic Foundation, 1979); Islamic Economics Research • Bureau, Thoughts on Islamic Economics (Dhaka: Islamic Economics Research Bureau, 1980); M. Akram

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

30

Khan, Issues in Islamic Economics (Lahore: Islamic Publications, 1983); and Abdul Hamid Abu Sulayman, `The Theory of the Economics of Islam,’ in Contemporary Aspects of Economic Thinking in Islam (American Trust Publications, 1976), pp. 9-54. For a discussion of the Islamic consumption norms, see, Anas Zarqa, ‘An Approach to Human Welfare,’ and Monzer Kahf, ‘A Contribution to the Theory of Consumer Behaviour in an Islamic Economy,’ in Khurshid Ahmad, ed., Studies in Islamic Economics (Leicester, U.K.: The Islamic Foundation, 1980), pp. 3-18 and 19-36). J. G. de Beus, Shall We Make the Year 2000?: The Decisive Challenge to Western Civilization (London: Sidgwick & Jackson, 1985), p. 71. Will and Ariel Durant, The Lessons of History (New York: Simon & Schuster, 1968), p. 51.‘Schools Brief,’ The Economist, 13 December 1986, p. 83. Nove, op. cit., p. 7 Joseph Schumpeter, quoted by W. Brus, Journal of Comparative Economics, vol. 4, 1980, p. 53. For a greater discussion of the needed socio-economic restructuring and its policy implications, see Chapter 6 of the author’s forthcoming book, Islam and the Economic Challenge. For issues related to fiscal policy in an Islamic economy, see Ziauddin Ahmed, M. Iqbal and M. Fahim Khan, eds., Fiscal Policy and Resource Allocation in Islam (Islamabad: Institute of Policy Studies, 1983). See Ziauddin Ahmed, M. Iqbal and M. Fahim Khan, eds., Money and Banking in Islam (Islamabad: Institute of Policy Studies, 1983), and M. U. Chapra, Towards a Just Monetary System (Leicester, U.K.: The Islamic Foundation); Mohsin S. Khan and Abbas Mirakhor (eds.), Theoretical Studies in Islamic Banking and Finance (Houston, Texas: The Institute for Research and Islamic Studies, 1987); and M. Ariff (ed.), Monetary and Fiscal Economics of Islam (Jeddah: International Centre for Research in Islamic Economics, King Abdulaziz University, 1982). See the author’s The Islamic Welfare State and its Role in the Economy (Leicester, U.K.: The Islamic Foundation, 1979) for a more detailed discussion of the obligations, strategy and functions of the Islamic state. See M. Anas Zarqa, ‘Islamic Distribution Schemes,’ in M. Iqbal, op. cit., pp. 163-219. Chapra, M. Umer, ‘The Need for a New Economic System’, Journal of the Islamic Economic Association, 1991, pp.9-47

Kebutuhan terhadap sistem ekonomi baru

31

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->