Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A.

Pembimbing Teologi Sistimatika
1
DAFTAR ISI


Daftar Isi 1
01 Pendahuluan 2
02 Bibliologi 6
03 Inspirasi ( Pengilhaman ) Alkitab 12
04 Inerransi ( Ketidak-keliruan ) Alkitab 17
05 Otensitas & Kredibilitas Alkitab 19
06 Kanonitas Alkitab 23
07 Apocrypha 32
08 Terjemahan-terjemahan Alkitab 36
09 Beberapa Data Berkaitan Dengan Alkitab 42
10 Kesaksian Gulungan Laut Mati 43
11 Bagaimana Alkitab Sampai Kepada Pembacanya 46
12 Keunikan Alkitab Dibandingkan Kitab Suci Yang Lain 47
13 Isue-isue Kontemporer Tentang Status Alkitab 53
14 Manfaat Alkitab Dalam Kehidupan Manusia 66
Daftar Pustaka 68





Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
2
PEMBIMBING TEOLOGI SISTIMATIKA


1. Pendahuluan

Untuk jangka waktu yang cukup lama, Teologi telah diakui sebagai ratu dari segala
ilmu pengetahuan dan Teologi Sistimatika sebagai mahkotanya.

a. Definisi Teologi Sistimatika

Istilah “teologi” diturunkan dari kata Yunani “theos”, yang berarti “Allah”, dan
“logos”, yang berarti “uraian”, “perkataan”, atau “pengajaran”. Dengan
demikian, teologi dapat diartikan “pengajaran tentang penyataan Allah dan
karya-karya-Nya”. Sedangkan kata “sistimatika” berasal dari kata kerja Yunani
“sunistano”, yang berarti “berdiri bersama” atau “mengorganisir”, karena itu,
Teologi Sistimatika menekankan sistimatisasi/pengaturan teologi.

Chafer menyediakan sebuah definisi yang tepat tentang teologi sistimatika.
“Teologi Sistimatika dapat ditegaskan sebagai pengumpulan, penyusunan
secara ilmiah, membandingkan, memperlihatkan, dan mempertahankan
semua fakta dari mana pun dan setiap sumber berkenaan dengan Allah dan
pekerjaan-Nya”. 1

Dengan demikian, Teologi Sistimatika merupakan sajian teratur dari hasil
penelitian teologi.

b. Perlunya Teologi Sistimatika

1. Sebagai Sebuah Penjelasan Tentang Kekristenan

Teologi sistematika diperlukan sebagai penjelasan yang dapat dipelajari dan
diteliti seperti halnya suatu penyusunan sistematis doktrin-doktrin yang
mendasar dan diperlukan bagi Kekristenan. Sebagai hasil teologi sistematika,
orang-orang bisa mempunyai suatu pemahaman yang jelas tentang
kepercayaan-kepercayaan pokok Iman Kristen.

2. Sebagai Suatu Apologi Bagi Kekristenan

Teologi sistematika memungkinkan orang-orang Kristen untuk
mempertahankan kepercayaan mereka secara rasional melawan terhadap para
musuh iman. Pada awalnya orang-orang beriman pada jaman gereja mula-
mula menggunakan kepercayaan sistimatis mereka untuk menghadapi para
lawan mereka yang tidak percaya. Lebih penting lagi sekarang dengan

1. Enns, Paul, The Moody Handbook of Theology, (Chicago, Ill.: Moody Press) 1996.
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
3
kemunculan humanisme, komunisme, penyembahan berhala, dan agama-
agama timur. Ajaran-ajaran iman Kristen yang disusun secara teratur harus
diteliti, dilukiskan, dan diperkenalkan sebagai sebuah pertahanan dari
Kekristenan yang historis.

3. Sebagai Sarana Kedewasaan Bagi Orang-orang Kristen

Teologi sistematika adalah suatu pernyataan Kebenaran Kristen; kebenaran
yang sama ini adalah penting bagi kedewasaan orang-orang percaya ( 2
Timotius 3:16-17 ). Tulisan-tulisan Paulus membuatnya jelas bahwa doktrin
( teologi ) adalah dasar bagi Kedewasaan Kristen. Itu sebabnya Paulus secara
normal membangun suatu dasar berkenaan dengan doktrin di dalam surat-
suratnya ( misalnya Efesus 1-3 ) sebelum ia mendesak orang-orang percaya
untuk hidup dengan benar ( misalnya Efesus 4-6 ). Juga banyak orang-orang
Kristen sudah dengan setia menghadiri ibadah-ibadah di gereja selama
puluhan tahun namun demikian hanya mempunyai sedikit pemahaman
tentang ajaran-ajaran iman Kristen yang utama. Padahal, suatu pengetahuan
tentang ajaran yang benar adalah penting di dalam Kedewasaan Kristen; lebih
dari itu, ajaran itu melindungi orang-orang percaya dari kesalahan ( bd 1
Yohanes 4:1, 6; Yudas 4 ).

c. Sumber-sumber Teologi Sistimatika

1. Sumber-sumber Primer

Alkitab merupakan sumber teologi yang utama di dalam pewahyuan Allah
dan persekutuan manusia dengan-Nya. Bila Allah telah mengungkapkan
diri-Nya ( dan Ia telah melakukannya ), dan bila penyataan diri itu dengan
teliti disandikan di dalam 66 kitab dari Alkitab ( dan itulah yang terjadi ),
maka Alkitab adalah sumber utama dari pengetahuan manusia tentang Allah.

Alam juga sumber utama tentang pengetahuan akan Allah ( Mazmur 19 ).
Alam, di dalam penyataan harmonisnya, adalah suatu saksi yang tetap
mengenai atribut , kuasa yang kekal, dan sifat ilahi ( Roma 1:20 ).

2. Sumber-sumber Sekunder

Pengakuan doktrinal, seperti pengakuan iman Nicea, pengakuan iman
Westminster, dan banyak lagi yang lain, adalah penting di dalam
pemahaman bagaimana orang-orang Kristen lain selama berabad-abad telah
memahami konsep-konsep teologis yang dapat dimengerti.

Tradisi, kendati ada kemungkinan kekeliruannya, adalah penting di dalam
pemahaman penegasan tentang Iman Kristen. Apa yang individu, gereja, dan
denominasi telah ajarkan adalah suatu pertimbangan yang perlu di dalam
merumuskan pernyataan-pernyataan teologis.
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
4

Akal budi ( pertimbangan yang sehat ), ketika dipandu oleh Roh Kudus,
adalah juga suatu sumber teologi. Akal budi, bagaimana pun, harus tunduk
kepada Allah, lebih daripada berusaha untuk mendefinisikannya

d. Rumpun Teologi

Adapun bidang kajian teologi yang sangat luas itu, pada umumnya terbagi
menjadi empat rumpun, yakni :

No Nama Rumpun Keterangan
1. Biblika Langsung berurusan dengan penelaahan naskah
Alkitabiah dan pokok-pokok bahasan yang berkaitan
dengannya, yang meliputi penelitian bahasa-bahasa,
arkeologi, pengantar, hermeneutika, dan teologi
Alkitabiah.
2. Historika Merunut sejarah umat Allah dalam Alkitab dan gereja
sejak jaman Kristus. Di dalamnya ditelaah sejarah
Alkitab, sejarah gereja, sejarah ajaran, dan sejarah credo.
3. Sistimatika Mempergunakan bahan-bahan yang disajikan oleh
rumpun Biblika dan Historika, lalu menatanya menurut
suatu tatanan yang logis sesuai dengan para tokoh besar
dalam penelitian teologis.
4. Praktika Membahas penerapan teologi terhadap pembaharuan,
pengudusan, pembinaan, pendidikan, dan pelayanan
manusia. Rumpun ini berusaha menerapkan pokok-
pokok yang disumbangkan oleh ketiga rumpun teologi
lainnya kepada kehidupan praktis.




Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
5
Sedangkan pengelompokan mata kuliah-mata kuliah di Sekolah Tinggi Teologi
adalah sebagaimana tertera dalam tabel di bawah ini :


No BIBLIKA SISTIMATIKA HISTORIKA PRAKTIKA
1
Pengetahuan &
Pembimbing Perjanjian
Lama
Pembimbing
Teologi Sistimatika
Sejarah Gereja
Umum
PAK
2
Pengetahuan &
Pembimbing Perjanjian
Baru
Dogmatika Sejarah Gereja
Asia
PWG
3
Bahasa Ibrani Etika Kristen Sejarah Gereja
Indonesia
Kateketika
4
Bahasa Yunani Oikumeneka Liturgika
5 Hermeneutika
Missiologi Homiletika
6
Eksegese Perjanjian Lama Agama Suku Musik Gereja
7
Eksegese Perjanjian Baru Hindu & Budha Pastoralia
8
Teologi Perjanjian Lama Islamologi Manajemen
Gereja
9
Teologi Perjanjian Baru


Dengan memperhatikan tabel tersebut di atas, maka Pembimbing Teologi
Sistimatika termasuk dalam rumpun Sistimatika, dan merupakan pengantar
untuk masuk ke dalam Teologi Sistimatika ( Dogmatika ). Teologi Sistimatika
( Dogmatika ) membahas tentang :


No Thema Pokok Bahasan
1. Teologi Proper Pembahasan tentang konsep Allah dalam berbagai
agama/kepercayaan/ideologi, argumentasi tentang
keberadaan Tuhan, atribut Allah, Ketritunggalan
Allah, nama-nama Allah, dan cara Allah
mengkomunikasikan diri-Nya dengan ciptaan-Nya
2. Anthropologi Pembahasan tentang asal-usul manusia, makna
ungkapan manusia diciptakan menurut Gambar Rupa
Allah, dan keuniversalan masalah kemanusiaan
3. Hamartologi Pembahasan berkisar pada dosa, istilah & definisi
dosa, sumber dosa, akibat-akibat dosa, dan dimensi
sosial dari dosa
4 Kristologi Pembahasan mengenai pribadi Kristus, pekerjaan-
Nya dari inkarnasi, kematian, kebangkitan, dan
kenaikan-Nya ke Surga, peranan Kristus selaku Nabi,
Imam, Raja, dan Penebus Dosa. Pada bagian ini juga
dibahas tentang nama-nama julukan Kristus

Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
6
5 Soteriologi Pembahasan seputar keselamatan, teori-teori utama
tentang penebusan, proses penyelamatan dilihat dari
sudut pandang Tuhan dan dari pihak manusia, hal
keselamatan bayi yang meninggal, perihal orang-
orang mati yang belum sempat mendengar Injil, dan
predestinasi vs takdir
6 Angelologi Pembahasan tentang Malaikat, Setan ( Malaikat yang
jatuh ), dan roh-roh jahat
7 Pneumatologi Pembahasan tentang Pribadi Roh Kudus, sifat-sifat
dan karya-karya-Nya, termasuk berbagai macam
karunia-karunia rohani
8 Eklesiologi Pembahasan mengenai definisi gereja, gambaran
tentang gereja mula-mula, atribut-atribut gereja, dan
tanda-tanda khusus gereja. Pada bagian ini dibahas
pula hal sistim pemerintahan gereja, kepemimpinan
gereja, dan sakramen
9 Eskatologi Pembahasan mengenai akhir jaman, termasuk di
dalamnya dikupas kehidupan setelah kematian
sebelum hari kiamat, tanda-tanda akhir jaman, perihal
kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, masa
Milenium, kebangkitan orang mati; penghakiman,
Surga, dan Neraka

Sedangkan Pembimbing Teologi Sistimatika secara khusus membahas tentang
status Alkitab ( Bibliologi ).

2. Bibliologi

Alkitab adalah Sumber Teologi yang paling menentukan. Gereja yang benar
sepanjang sejarahnya senantiasa memandang Alkitab selaku wujud penyataan ilahi
dan bahwa pencatatan penyataan yang terdapat di dalamnya itu asli, dapat
dipercaya, berkenaan dengan kanon, diilhami secara adikodrati. Bibliologi meneliti
Alkitab untuk melihat kebenaran dari kepercayaan tersebut.

Istilah “Bibliologi” secara etimologis merupakan gabungan dari dua kata Yunani,
yaitu : “Biblos” ( yang menunjuk pada tanaman Papirus yang tumbuh di rawa-rawa
atau tepi sungai, khususnya di sepanjang sungai Nil ) diterjemahkan : “kitab”,
“buku” atau “gulungan” dan “Logos” diterjemahkan “uraian”, “perkataan”, atau
“pengajaran”. Dengan demikian, Bibliologi adalah pengajaran tentang Alkitab.

Sedangkan istilah “Alkitab” diambil dari sebuah kata Arab, “Al-kitab”, artinya
“wahyu yang tertulis”.Istilah ini dalam bahasa Inggris disebut “Bible”, berasal dari
kata “Biblia”, artinya “kitab-kitab”, yang bagi orang-orang Kristen mula-mula,
berbahasa Latin, dipakai untuk menyebut Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Sebutan lainnya dalam bahasa Inggris adalah “Scripture”, berasal dari kata Yunani
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
7
“Grafe”, artinya “Tulisan” ( 2 Timotius 3:16 ). Tulisan-tulisan dalam Perjanjian
Lama dikelompokkan dalam kitab Taurat, Nabi-nabi, dan Mazmur ( 2 Raja-raja
14:6, 2 Tawarikh 23:18, Ezra 3:2, Nehemia 10:34 ). Dalam Perjanjian Baru, kata
kerja Yunani “Grafo” digunakan sekitar 50 kali, yang secara khusus menunjuk
kepada Alkitab.

Istilah Yunani lainnya yang dipakai pada “Kitab Suci” adalah “hiera grammata”,
yang secara harfiah berarti “huruf-huruf suci”. Dalam Perjanjian Baru, istilah ini
hanya sekali digunakan dan khusus untuk menyebutkan “Kitab Suci”. Tulisan-
tulisan itu bukan tulisan biasa melainkan “diilhamkan Allah” ( 2 Timotius 3:16 ).

2.1. Pengertian Bahwa Alkitab Adalah Firman Allah

Umat Kristen tidak akan meragukan lagi bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Lebih
jauh, pengakuan semacam ini sudah lama dikumandangkan oleh para Reformator yang
menyatakan “Sacra Scriptura Verbum Dei”, yang artinya “Kitab Suci adalah Firman
Allah”. Bahkan, kemudian pengakuan ini bersifat oikumenis setelah konferensi di New
Delhi ( 1961 ) dari Dewan Gereja-gereja Se-Dunia menjadikan pengakuan ini sebagai
asasnya.

Apa alasan umat Kristen menyatakan bahwa Alkitab adalah Firman Allah ? Sebab
seluruh isi Alkitab, dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu, diinspirasikan oleh Roh
Allah dan memberitakan tentang Yesus Kristus. Namun, serentak itu pula semua gereja
di seluruh dunia mengakui bahwa Alkitab itu ditulis oleh manusia, bukan langsung
diturunkan dari langit. Apa yang ditulis di dalamnya bukan didiktekan oleh Allah
kepada para penulisnya. Alkitab adalah kumpulan dari 66 kitab, yang ditulis oleh 40
orang penulis, yang hidup pada masing-masing jamannya, yang masing-masing
menggunakan bahasa jamannya; yang cara penulisannya dipengaruhi oleh bentuk-
bentuk sastra dari jamannya - bangsanya - dan lingkungannya.

Pengakuan “Kitab Suci Adalah Firman Allah” sekali-kali tidak bermaksud untuk
menyangkal segi insani Alkitab. Umat Kristen mengakui dengan sepenuhnya bahwa
Alkitab itu sebuah kitab manusia. Serentak itu pula umat Kristen mengakui
sebagaimana Alkitab itu sendiri menyatakannya, bahwa para penulis Alkitab itu adalah
mereka yang dipakai dan didorong dari dalam oleh Roh Kudus, sehingga apa yang
dituliskan oleh mereka adalah pemberitaan yang berotoritas dan tetap berotoritas
tentang keselamatan bagi segala bangsa dalam segala abad ( bandingkan dengan Kisah
Para Rasul 1:16, 2 Petrus 1:21, 2 Timotius 3:16 ). Dengan demikian, dapatlah
disimpulkan di sini bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang dituliskan dengan
bahasa manusia yang digerakkan oleh Roh Kudus !!!

Kedua segi Alkitab ini ( segi insani & segi ilahi ) terpaut erat satu sama lain dalam
setiap halaman Alkitab. Setiap orang yang mempelajari Alkitab harus tetap
memperhitungkan kedua segi ini !


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
8
2.2. Bukti-bukti Bahwa Alkitab Adalah Firman Allah

Pengakuan iman Kristen bahwa Alkitab adalah Firman Allah didasarkan :

2.2.1. Dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita mendengar suara Allah
yang berbicara kepada manusia. Hal ini dapat terlihat dari penyataan-penyataan
Tuhan dalam Alkitab.

1. Allah berfirman Kejadian 1:3,6,9,11,14,20,24,26,28,29, 46:2,
Yosua 1:1, Yesaya 1:2
2. Kata Tuhan Yesaya 45:19
3. Sabda Tuhan Mazmur 68:12
4. Suara Tuhan Bilangan 14:12, Ulangan 8:20
5. Nasehat Tuhan Mazmur 16:7, 73:24, Epesus 6:4
6. Tuhan menegur Ibrani 8:8, Wahyu 3:19
7. Tuhan memerintahkan Kejadian 6:22, Keluaran 39:32, Ulangan 4:2,
Yosua 1:9.

2.2.2. Tampak dari pernyataan-pernyataan sebagai berikut :

[1] Pentateuch adalah Firman Allah, sebagaimana diakui pada :
a. Jaman para Hakim, Yosua 1:8, 8:31, 23:3.
b. Jaman para Raja :

1. Raja Daud Mazmur 19:8
2. Raja Yosia 2 Raja-raja 22:8 - 23:3
3. Nabi Yesaya Yesaya 34:16
4. Nabi Yeremia Yeremia 31:33

c. Sesudah Pembuangan, Ezra 7:10, Nehemia 8:10.
d. Jaman Tuhan Yesus & Para Rasul, Matius 5:17-19, 11:13, Lukas 24:44,
Roma 7:14.

[2] Kitab-kitab Para Nabi & Mazmur adalah Firman Allah berdasarkan
pengakuan :

1. Daniel Daniel 9:2 - Kitab Yeremia
2. Tuhan Yesus & Para Rasul Matius 5:17, Lukas 24:44

[3] Injil & Pengajaran Para Rasul adalah Firman Allah sebagaimana diterima
oleh Gereja mula-mula, misalnya oleh Ireneus & Athanasius.

2.2.3. Pernyataan-pernyataan di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dapat
dipegang dan nubuat-nubuat yang ada di dalamnya pasti terjadi. Misalnya :


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
9
[1] Dalam diri Tuhan Yesus :

a. Kelahiran * Dari benih Hawa, Kejadian 3:15
* Diperjelas oleh Yesaya, Yesaya 7:14
* Digenapi dalam diri Maria, Lukas 1:26-38
b. Tempat Lahir * Nabi Mikha menyatakan di Betlehem, Mikha 5:1
* Digenapi dalam Matius 2:5.
c. Kematian * Di antara para penjahat, Yesaya 53:9
* Digenapi dalam Lukas 23:32
d. Cara Kematian * Tak ada tulang yang dipatahkan, Keluaran 12:46
* Digenapi dalam Yohanes 19:36

[2] Nubuat tentang keruntuhan Yerusalem dan kehancuran bait Allah serta
kebangkitan Israel, Lukas 21:20-33. Nubuat itu telah digenapi :

a> Pada tahun 70 M., Yerusalem dikepung oleh jendral Titus dan
dihancurkan pula bait Allah, serta negara Israel lenyap.

b> Pada tanggal 14 Mei 1948 negara Israel kembali muncul sebagai negara
merdeka.

2.2.4. Adanya Harmonisasi ( Persesuaian ) Di Dalam Alkitab

[1] Meskipun Alkitab terdiri atas 66 kitab, yang ditulis oleh 40 orang penulis,
yang tentunya berbeda tempat dan latar belakang, di dalam periode waktu
lebih dari 1.500 tahun, namun isi beritanya menjurus kepada pokok yang
sama, yaitu rencana keselamatan manusia melalui Kristus.

[2] Perjanjian Baru mengandung kutipan 600 bagian dari Perjanjian Lama.

[3] Semuanya ini membuktikan bahwa para penulis Alkitab dipimpin ( diilhami )
oleh Roh yang sama; ibarat seorang Arsitek yang merencanakan serta
melaksanakan sebuah bangunan ( perumahan ). Bandingkan dengan karya
Allah di dalam membangun bait Allah, yang ditulis dalam 1 Raja-raja 6:7 ---
membangun gedung tanpa adanya suara ribut, menunjukkan bahwa bahan-
bahan bangunannya telah dipersiapkan secara tepat oleh para tukang yang
ahli namun tentu saja dipimpin oleh seorang Arsitek yang hebat.

2.2.5. Alkitab berada di atas Ilmu Pengetahuan

[1] Pembagian Waktu : sebelum manusia mengetahui bahwa di bumi ini terdapat
perbedaan waktu, Tuhan Yesus sudah mengatakan bahwa tatkala Ia datang
kedua kali kelak, di satu tempat bisa malam, sementara di tempat lain bisa
pagi atau siang ( Lukas 17:34-36 ).


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
10
[2] Bahwa Bumi itu bulat sudah dinyatakan oleh nabi Yesaya pada tahun 800 sM
( Yesaya 40:22 ), sebelum Columbus menyatakannya pada abad XV.

[3] Bumi ini melayang di kehampaan telah dinyatakan oleh Ayub dan baru
diteguhkan kebenarannya kurang lebih pada tahun 1960 setelah pesawat dari
bumi mengelilingi ruang angkasa.

[4] Prof. Taten menghadapi tantangan dari para ahli NASA bahwa dunia ini
kehilangan waktu 24 jam ( Kesaksian Mutakhir : “The Sun Did Stand
Still” ). Hal ini dibuktikannya dengan :

* Yosua 10:13 - Perputaran waktu mundur 23 jam, 40 menit.
* 2 Raja-raja 20:10 - Perputaran waktu mundur 20 menit.

2.2.6. Alkitab menjadi Sumber Idea Ilmu Pengetahuan

[1] Arkeologi : Alkitab merupakan kunci pembuka sukses ilmu Arkeologi.
[2] Musik : para musisi ternama seperti Bethoven, Mozard, Handel mendapat
inspirasi dari Alkitab.
[3] Politik : Mahatma Gandhi mencetuskan idea politik Ahimsa dilandasi oleh
Khotbah di atas Bukit ( Matius 5:39 ).
[4] Intelejen : Dunia Intelejen tertolong dengan adanya pengertian adanya
perbedaan-perbedaan antara ciptaan Tuhan ( 1 Korintus 15:38-
44 ).
[5] Kedokteran : Tranfusi darah diilhami oleh Kejadian 9:4-7.

2.2.7. Perlindungan & Pemeliharaan Tuhan terhadap naskah Alkitab

Banyak buku-buku yang dikarang oleh manusia, namun sedikit sekali yang
bertahan hingga sekarang ini. Misalnya :

[1] Luzirus membuat 142 buku yang berisi tentang sejarah Roma. Ditulis antara
tahun 59 sM sampai 17 M. Sampai saat ini tinggal 35 buku yang masih bisa
dikenali dan ada 20 buku yang memuat buku III dan IV.

[2] Bagi sejarah Indonesia, surat “Supersemar” adalah data historis Orba yang
amat penting, namun hanya dalam kurun waktu 1/4 abad sudah tidak dapat
ditemukan lagi.

Akan tetapi, Alkitab sampai saat ini masih memiliki kurang lebih 500 naskah
Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani, baik lengkap maupun sebagian-sebagian
Yang sudah ditemukan dan masih terus diketemukan.


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
11
2.2.8. Alkitab Tidak Dapat Dimusnahkan

[1] Kaisar Diocletianus ( Romawi ) mengeluarkan undang-undang untuk
memusnahkan Alkitab ( 303 M ), bahkan ia telah membuat medali yang
bertuliskan, “Agama Kristen telah musnah & penyembahan para dewa
telah dipulihkan”. Akan tetapi seperti kata Alkitab, “Tuhan tertawa dari
Surga melihat perlawanan manusia”, demikianlah yang terjadi karena
bukannya Alkitab dan Kekristenan yang lenyap, malahan yang terjadi adalah
Romawi menjadi negara Kristen di bawah Constantinus, hanya beberapa
tahun kemudian.

[2] Voltaire meramalkan kemusnahan Alkitab, dengan berkata, “Seratus tahun
lagi Kitab Suci tak lagi dikenal di Perancis”. Yang terjadi adalah sekarang
ini bekas rumahnya telah menjadi tempat percetakan Alkitab !

[3] Lenin & Stalin berkata, “Dalam kurun waktu 80 tahun, Rusia tak akan
mengenal Tuhan dan Alkitab”. Yang terjadi adalah sebelum 80 tahun, masih
70 tahun komunis sudah tumbang dan kini statistik mengatakan bahwa
banyak orang Rusia yang mencari Tuhan.

2.3. Banyak Para Musuh Alkitab Yang Membakar & Berusaha Memusnahkan
Alkitab, Akhirnya Bertobat.

Misalnya : Sadhu Sundar Sing, Yusuf Rony, Moh. Filemon.

2.4. Di Dunia Ini Tidak Ada Satu Buku Yang Dimusuhi & Dikasihi Melebihi
Alkitab

Emery H. Bancroft dalam bukunya, “Christian Theology”, menyatakan, “Bukan
saja Alkitab lebih dimuliakan dan dicintai daripada buku lain mana pun juga,
tetapi Alkitab juga merupakan kitab yang paling banyak menjadi sasaran
penganiayaan dan perlawanan”.

Banyaknya musuh dan yang mencintai Alkitab tidak tertandingi oleh kitab apa pun
juga di bumi ini.

2.5. Alkitab Adalah Buku Terlaris Di Dunia

Alkitab adalah buku yang paling banyak diterjemahkan, dicetak, dan yang paling
laris dibandingkan dengan buku-buku yang lain. Alkitab telah dicetak
1.330.231.815 buah dan tiap tahun sekitar 30 juta copy dijual & dibagikan.


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
12
3. Inspirasi ( Pengilhaman ) Alkitab

Ajaran Inspirasi ( pengilhaman ) bukanlah sesuatu yang dipaksakan oleh para teolog
terhadap Alkitab, melainkan merupakan pengajaran Alkitab sendiri; suatu
kesimpulan yang didapat dari data-data yang ada di dalamnya.

3.1. Dari 2 Timotius 3:16

Dalam 2 Timotius 3:16 disebutkan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah
memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk
memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

:a ca ,ça|µ ò.e :|.uc·e, sat . |. ìt¡e, :çe , eteacsaìt a|, :çe ,
.ì.,¡e|, :çe, .:a|eçò.ct|, :çe, :ate.ta| ·µ| .| etsatecu|µ,
( pasa grafe theopneustos kai ofelimos pros didaskalian, pros elegmon, pros
epanorthosin, pros paideian ten en dikaiosune, ... )

Kata yang diterjemahkan dengan “diilhamkan” adalah Theopneustos, yang secara
harfiah berarti : “dihembuskan nafas Allah”. Teolog Reformed, Benjamin B.
Warfield mengatakan bahwa kata ini hanyalah berbentuk pasif.
2
Artinya kitab-
kitab itu dalam keadaan pasif diberikan otoritas dari Allah yang secara aktif
menghembuskan atau menghasilkan karya kitab suci itu. Dengan nafas & kuasa
Ilahi, Roh Kudus menggerakkan para penulis Alkitab dengan begitu teliti sehingga
hasilnya dengan tepat mencerminkan tujuan Allah sendiri. Bentuk pasif
menunjukkan bahwa Alkitab adalah hasil dari nafas Allah.

Ada pun tujuan dari pengilhaman adalah untuk mengajar, menegur, menyatakan
kesalahan, memperbaiki kelakuan dan melatih orang dalam kebenaran, agar
orang percaya siap, cakap atau mampu dan diperlengkapi dengan sempurna dalam
setiap segi kehidupannya. Pendek kata, Alkitab datang dari Allah untuk
menunjukkan kepada kita bagaimana kita harus hidup.

3.2. Dari 2 Petrus 1:21

eu ,a ç ò.ìµ ¡a·t a |òç. :eu µ|. ,òµ :çe|µ·.t a :e·. , a ììa u :e
:|.u ¡a·e, a ,t eu |.çe ¡.|et . ìa ìµca| a :e ò.eu a |òç.:et.
( ou gar thelemati anthropou enekhthe profhteia pote, alla hupo pneumatos hagiou
feromenoi elalesan apo theou anthropoi )


2
Lihat Karl Bath, Church Dogmatics. Trans. G.T. Thompson (New York: Scribener's Sons, 1936), hal.
504. Bandingkan dengan pernyataan John Albert Bengel bahwa: "Scripture was divinely inspired not
merely while it was being written God breathing throught the writters, but also while it was being read.
God breathing trought the Scripture". William Childs Robinson, "The Inspiration of Holy
Scripture", Christianity Today 13, No. 1 (Oct 11, 1968), hal. 7.

Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
13
Ayat ini memberitahukan dengan jelas bagaimana Allah memakai penulis insani
untuk menghasilkan Alkitab. Roh Kudus mendorong ( "feromenoi" ) atau
mengangkat mereka. Kata "feromenoi" ini harus dibedakan dengan pimpinan
Roh Kudus ( a ,e|·at , "agontai" ), sebagaimana disebutkan dalam Roma 8:4,
yang diberikan kepada setiap orang beriman. Didorong oleh Roh Kudus,
"feromenoi" di sini menunjuk kepada suatu tindakan Roh Kudus secara khusus.

Pemakaian kata kerja yang sama dalam Kisah Para Rasul 27:15 ( . |.çe ¡.òa ,
"eferometha" ) menerangi pemikiran kita mengenai apa yang dimaksudkan
dengan “mendorong, mengangkat, menggerakkan” para penulis. Sama seperti
kapal yang dihanyutkan, dibawa atau diseret angin, Allah memimpin dan
menggerakkan para penulis untuk menghasilkan kitab-kitab dalam Alkitab.
Meskipun angin itu suatu kekuatan besar yang menggerakkan/menghanyutkan
kapal, para awak kapal itu tidak tidur dan tidak pasif. Demikianlah Roh Kudus
adalah Pribadi yang memimpin, yang mengarahkan para penulis, namun mereka
juga memainkan peranan sendiri secara aktif dalam menuliskan Alkitab.

Namun ayat ini juga memiliki nilai penting lainnya. Ayat ini menyatakan bahwa
kemauan para penulis tidak mengarahkan penulisan Alkitab ( eu ,a ç
ò.쵡a·t a|òç.:eu – ou gar thelemati anthropou ). Dengan demikian,
nubuat tidak dihasilkan oleh kehendak manusia. Penyataan ini mengandung
penjelasan penting mengenai ketidak-keliruan Alkitab. Kemauan manusia,
termasuk kemauan untuk berbuat salah, tidak menghasilkan Alkitab, melainkan
Roh Kudus yang tidak pernah keliru itulah yang menghasilkan Alkitab. Memang
para penulis itu aktif dalam penulisan, namun apa yang mereka tuliskan dipimpin
bukan oleh kemampuannya yang mungkin salah, melainkan oleh Roh Kudus yang
adalah benar dan tidak bisa salah.

Pendek kata, 2 Petrus 1:21 menyatakan bahwa Allah memakai manusia dan
memberikan kepada kita sebuah Alkitab yang seluruhnya benar.

3.3. Dari 1 Korintus 2:13

a sat ìaìeu¡.| eus .| eteas·et, a|òç.:t|µ, ce|ta, ìe,et,
a ìì` . | eteas·et , :|.u ¡a·e,, :|.u¡a·tset , :|.u¡a·tsa
cu,sçt |e|·.,.
( ha kai laloumen ouk en didaktois anthropines sofias logois all’ en didaktois
pneumatos, pneumatikois pneumatika sugkrinontes )

Di sini Paulus menyatakan bahwa wahyu Allah datang kepada kita dalam kata-
kata. Ini menjawab persoalan bahwa pengilhaman hanya berhubungan dengan
pikiran Allah yang ingin kita mengetahuinya, namun tidak menyangkut kata-kata
bagaimana pikiran itu dinyatakan. Pandangan demikian tidak mengharuskan untuk
mempercayai ketidak-keliruan teks, karena bisa saja seseorang mempunyai
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
14
pikiran-pikiran yang benar dari Allah yang dibungkus dalam kata-kata manusia
yang tidak luput dari kesalahan. Namun Paulus menegaskan bahwa pesan dari
Allah datang melalui kata-kata dalam teks. Dengan demikian, ayat ini mengajarkan
bahwa kata-kata yang dipakai dalam Alkitab adalah diilhami.

3.4. Dari Macam-macam Data Lainnya

[1] Bahan Yang Langsung Dari Allah
Dua Loh Batu yang bertuliskan Dasa Titah adalah langsung dari Allah
( Ulangan 9:10 ).

[2] Bahan Hasil Penyelidikan
Meskipun beberapa bagian Alkitab dituliskan secara langsung ( seperti surat
Paulus ), beberapa bagian adalah hasil penyelidikan sebelum dituliskan. Injil
Lukas adalah sebuah contoh ( Lukas 1:1-4 ). Lukas bukanlah seorang saksi
mata dari kisah-kisah kehidupan Yesus. Allah bisa saja memberikan wahyu
langsung mengenai kisah-kisah itu atau Allah menggerakkan Lukas untuk
mendapatkannya melalui penyelidikan. Dalam pendahuluannya, Lukas
memberitahukan bahwa :

<a> Ia berkonsultasi terlebih dahulu dengan para saksi mata dari kehidupan &
pelayanan Yesus.
<b> Ia memakai kisah tertulis yang ada mengenai pelayanan Yesus.
<c> Ia menyelidiki dengan teliti & memilihnya dari bahan-bahan itu.
<d> Ia menyusun dengan teratur & membukukannya.
<e> Roh Kudus menggerakkan & memimpinnya dalam penulisan itu sehingga
semua tulisannya teliti & benar.

[3] Bahan Nubuat
Sekitar seperempat dari isi Alkitab adalah nubuat ketika dituliskan. Nubuat
sejati hanya datang dari Allah yang mahatahu. Tidak seorang penulis pun
dapat mengarang nubuat yang 100 % benar.

[4] Bahan Sejarah
Begitu banyak bagian Alkitab mencatat sejarah dengan begitu teliti. Sebagian
besar dari sejarah Alkitab ditulis oleh mereka yang mengalaminya sendiri
kisah-kisah itu. Misalnya, Lukas adalah teman seperjalanan Paulus dalam
banyak kisahnya, Kisah Para Rasul 16:10-13, 20:5 - 21:18, 27:1 - 28:6, atau
Yosua yang mengalami & kemudian menuliskan tentang penaklukan Kanaan
dalam kitab Yosua. Kisah Penciptaan tentu saja haruslah diwahyukan Allah
kepada Musa karena tidak seorang manusia pun menjadi saksi mata dan juga
Musa menuliskannya lama setelah peristiwa itu terjadi.




Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
15
[5] Bahan Lainnya
Alkitab mencatat pula hal-hal yang tidak benar, seperti dusta Iblis dalam
Kejadian 3:4-5, namun Alkitab mencatatnya dengan teliti. Alkitab juga
memuat beberapa kutipan dari tulisan orang-orang yang belum diselamatkan
( Titus 1:12 ). Ada juga beberapa pasal yang jelas bersifat pribadi & emosional
( Roma 9:1-3 ). Namun bahan-bahan yang beraneka ragam itu dicatat dengan
teliti.

Dengan demikian, dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa bahan tulisan yang
beraneka ragam ini menunjukkan bahwa Allah kadangkala mewahyukan secara
adikodrati dan langsung; ada kalanya Ia mengijinkan para penulis untuk menyusun
pesan-Nya dengan memakai kebebasan untuk berekspresi. Namun Allah
menghembuskan semua hasil akhir tulisan itu, dengan memimpin para penulis itu
dengan berbagai cara untuk menyampaikan pesan-Nya dengan kata-kata dalam Alkitab.

3.5. Definisi Pengilhaman

Berdasarkan data-data Alkitab mengenai pengilhaman tersebut di atas, maka
dapatlah disusun definisi pengilhaman sebagai berikut :

Pengilhaman adalah Allah mengawasi sedemikian rupa sehingga para penulis Alkitab itu
menyusun dan mencatat tanpa kekeliruan pesan-Nya kepada manusia.

Mengacu pada definisi tersebut di atas, maka ada beberapa kata kunci berkaitan
dengan pengilhaman, yaitu :

[1] Kata “mengawasi” memberikan peluang adanya warna warni hubungan antara
Allah dengan para penulis dan bahan yang beragam. Pengawasan-Nya
kadangkala langsung dan ada kalanya tidak langsung, namun selalu meliputi
penjagaan agar para penulis menulisnya dengan teliti dan benar.

[2] Kata “menyusun” menunjukkan bahwa para penulis bukanlah penulis steno
yang pasif, yang sekedar mencatat apa yang Allah diktekan, melainkan justru
sebagai penulis yang aktif menyusun.

[3] “Tanpa kekeliruan” menyatakan penegasan Alkitab sendiri selaku kebenaran
( bandingkan dengan Yohanes 17:17 ).

Akhirnya, kita tidak seharusnya menutup mata terhadap penegasan Alkitab
terhadap dirinya sendiri dalam hal pengilhaman. Tiada kitab lainnya yang
sebanding : Allah meniupkannya, manusia menuliskannya, dan kita
memilikinya.



Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
16
3.6. Bukti-bukti Pengilhaman

Yesus telah menerima inspirasi penuh seluruh Perjanjian Lama ketika Ia
mengucapkan deklarasi-Nya yang luas, “Kitab Suci tidak dapat dibatalkan”
( Matius 5:18, Yohanes 10:35 ). Pandangan ini kita sebut pengilhaman plenary
( menyeluruh ) dan verbal ( sampai kepada kata-kata ). Roma 3:2 adalah sesuai
dengan pandangan ini ketika menyebutkan Perjanjian Lama adalah “Firman
Allah”. Demikian juga Ibrani 3:7-11 ketika mengutip Mazmur 95:7-11 tidak
mengemukakan penulis manusia, namun memperkenalkan kutipan itu dengan kata
pendahuluan, “seperti yang dikatakan Roh Kudus”.

Bagaimana dengan Perjanjian Baru ? Yesus pergi dari satu desa ke desa lainnya
untuk mengajar. Sudah pasti Ia mengulangi banyak hal ketika Ia berjalan dari
suatu tempat ke tempat lainnya. Akibatnya, Ia meninggalkan suatu kumpulan
pengajaran, serta berjanji kepada para murid-Nya, “Roh Kudus ... akan
mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” ( Yohanes
14:26 ). Kumpulan pengajaran ini diteruskan oleh para rasul kepada Gereja ( Kisah
Para Rasul 2:42 ). Roh Kudus memimpin para penulis kitab-kitab Injil untuk
memilih dari kumpulan pengajaran tersebut materi yang akan bermanfaat bagi
orang-orang yang kepadanya kitab Injil itu ditulis. Sebagai contoh, Lukas
mengatakan kepada kita bahwa ia “menyelidiki segala peristiwa ini dengan
seksama” ( Lukas 1:3 ), kita dapat yakin bahwa ia melakukan hal ini karena
digerakkan oleh Roh Kudus. Jadi, pada jaman para rasul, proses penyataan ini
sedang berlangsung. Kristus merupakan penggenapan nubuat-nubuat Perjanjian
Lama. Generasi-generasi yang akan datang memerlukan catatan tentang kelahiran-
Nya dari seorang perawan, ajaran-ajaran-Nya, kematian & kebangkitan-Nya ( yang
ditulis dalam kitab-kitab Injil ); kisah tentang pendirian Gereja dengan pola-pola
normatif untuk seluruh jaman Gereja ( terdapat dalam Kisah Para Rasul ); sebuah
penjelasan tentang arti dari kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, dengan
bantuan praktis bagi gereja-gereja ( tercatat dalam Surat-surat Kiriman ) dan
sekilas pandang tentang akhir jaman ( tercatat dalam kitab Wahyu ).

Para rasul mengakui ketepatan suatu Perjanjian Baru. Hal ini dibuktikan oleh ayat-
ayat, seperti 2 Petrus 3:15-16. Perhatikan ungkapan “tulisan-tulisan yang lain”.
Di sini terdapat kesaksian yang jelas kepada kepercayaan Petrus pada dasawarsa
ke-7 abad pertama bahwa Paulus sedang menulis materi yang setingkat dengan
kitab suci Perjanjian Lama. Paulus juga menyatakan di beberapa tempat bahwa ia
mempunyai Firman dari Tuhan, yaitu perkataan Yesus, untuk menyokong apa yang
ia tulis ( Lihat 1 Korintus 11:23, 1 Tesalonika 4:1-2,15 ). Namun sekali pun ia
tidak selalu mengatakan hal ini, itu bukan berarti bahwa apa yang ditulisnya tidak
diilhamkan Roh Kudus ( bandingkan dengan 1 Korintus 7:12 ).

Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
17
Alkitab mengajar kita bahwa Roh Kudus bekerja sedemikian rupa pada para nabi
dan rasul sehingga kata-kata dalam naskah pun penuh dengan kuasa.
Apabila kata-kata itu tidak diilhamkan, maka orang-orang dengan leluasa dapat
mengubahnya agar sesuai dengan gagasan mereka. Oleh karena itu, pengilhaman
sangat perlu untuk melindungi kebenaran. Yesus menunjukkan pentingnya tiap
kata dengan mengatakan, “Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota
atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, ..... ”
( Matius 5:18 ).

4. Inerransi ( Ketidak-keliruan ) Alkitab

Menurut Feinberg istilah “inerrancy” adalah kata yang relatif baru dalam bahasa
Inggris. Ia mengatakan bahwa istilah ini seolah-olah merupakan transliterasi dari
kata Latin “inerratia,” bentuk partisip dari kata kerja “inerro,” tapi sebenarnya
bukan.
3
Feinberg menyelidiki istilah ini dari kamus yang baginya cukup memadai,
Oxford English-Dictionary. Di dalamnya disebutkan bahwa Boethius, yang hidup
pada akhir abad keenam dan permulaan abad ketujuh, telah menggunakan istilah
Latin ‘inerratum’ dalam pengertian “ketidak-adaan salah.” Disebutkan juga Thomas
Hardwell Horne telah menggunakan kata benda ‘inerrancy’ pada bukunya yang
berjudul Introduction to the Critical Study and Knowledge of the Holy Scriptures.
Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1818.
4


Dalam kamus Oxford, istilah ‘inerrancy’ diberi definisi sebagai berikut: “kualitas
atau kondisi dari keberadaan yang tanpa salah atau tidak salah; bebas dari
kesalahan.” Sedangkan ‘inerrant’ berarti “tidak berbuat kesalahan.” Sebaliknya
istilah ‘errant’ didefinisikan sebagai “tindakan atau keadaan yang salah”; “keadaan
salah dalam pandangan”; “suatu yang dilakukan secara tidak tepat karena
ketidaktahuan atau karena tidak hati-hati; suatu kesalahan”.
5


Beberapa teolog Injili, tidak setuju dengan penggunaan istilah ‘inerrancy.’ Misalnya
Lasor tidak setuju karena istilah ini meniadakan konsep negatif. Ridderbos dan
Piepkorn mengatakan bahwa istilah ini tidak Alkitabiah. Pinnock mengatakan
bahwa istilah ini hanya dihubungkan dengan naskah asli dan tidak menegaskan
kewibawaan teks Alkitab yang kita gunakan.
6
Istilah-istilah yang mereka usulkan
mengenai diskusi ini ialah ‘inspirasi’, ‘ketiadaan cacat’, ‘tak dapat keliru’, dan ‘tak
terdapat penipuan’. Tapi Feinberg menganggap bahwa istilah ‘inerrancy’ yang lebih
tepat, sesuai dengan gambaran data Alkitab. Sebab sisi positif dari istilah ini
mengatakan bahwa Alkitab benar seluruhnya. Data Alkitab dapat dilihat dalam
Mazmur 119, “Taurat-Mu benar” ( ayat 142 ): “Segala perintah-Mu adalah benar”

3
Paul D. Feinberg, “The Meaning of Innerancy” Innerancy, ed. Norman L. Geisler (Grand Rapids,
Michigan: Zondervan, 1980), h. 291.
4
Ibid., h. 291-292.
5
Ibid.
6
Ridderbos dan Piepkorn, sebagaimana dikutip oleh Feinberg dalam “The Meaning of Innerancy”
Innerancy, h. 292-293.

Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
18
( ayat 151 ); “Firman-Mu adalah kebenaran” ( ayat 160 ). Juga dalam Amsal 30:5,
“Firman Allah adalah kebenaran.” Dengan dasar ini pula Feinberg memberi definisi
sebagai berikut :

Ketaksalahan berarti bahwa bila semua fakta Alkitab dalam tulisan aslinya
diketahui dan ditafsirkan dengan semestinya, segala sesuatu akan terbukti benar
seluruhnya dan dikokohkan, apakah menyangkut doktrin atau moralitas atau
sosial, fisik atau ilmu pengetahun.
7


Bagi Lindsell, istilah ‘infallible’ ( tak dapat keliru ) dan ‘inerrant’ ( tak dapat salah )
adalah dua kata bersinonim, yang dapat dipertukarkan. Ia menggunakan kedua kata
itu secara bergantian untuk membicarakan pokok mengenai Alkitab, dalam hal
dapat dipercaya, berwibawa, dan sebagainya.
8


Kalau pun ada beberapa orang membuat perbedaan antara Inerrant dan Infallible,
maka perbedaan itu terletak pada nuansa pengertian di antara kedua istilah tersebut.
Inerrant menekankan sifat Alkitab yang selalu mengatakan yang sebenarnya,
sedangkan Infallible menekankan sifat layak dipercaya dari Alkitab.
Sifat bebas dari kesalahan dan sifat tidak mungkin bersalah ini berlaku untuk
seluruh isi Alkitab dan termasuk wahyunya serta fakta-faktanya yang bebas dari
kesalahan. Alkitab adalah kebenaran ( 2 Samuel 7:28, Mazmur 119:43, 160,
Yohanes 17:17,19, Kolose 1:5 ).

Dengan demikian, Inerransi dapat disimpulkan sebagai kualitas bebas dari
kesalahan yang dimiliki Alkitab. Doktrin inerransi mengajarkan bahwa Alkitab
bebas dari kesalahan. Firman Allah tidak dapat salah dan tidak menyatakan sesuatu
yang bertentangan dengan fakta.

Doktrin inerransi tidak mengajarkan bahwa masing-masing terjemahan Alkitab itu
sempurna dalam terjemahannya. Doktrin ini juga tidak mengajarkan bahwa tidak
ada kesalahan yang kadang-kadang dilakukan penyalin, yang dapat ditemukan di
dalam teks yang telah dilindungi demi kita. Pada saat kita berbicara tentang
inerransi/infallibilitas Alkitab berarti kita membicarakan tentang manuskrip yang
asli.

Terjemahan-terjemahan yang berbeda digunakan, sehingga orang-orang di seluruh
dunia dapat membaca Alkitab dalam bahasa mereka sendiri. Kritik teks setuju
bahwa, dalam terjemahan yang baik, tidak sampai satu dalam seribu kata yang
dipertanyakan selama teks asli diperhatikan. Oleh karena itu, ketika seseorang
membaca Alkitab dengan terjemahan yang baik, ia dapat membaca dengan
keyakinan bahwa terjemahan tersebut menyampaikan Firman Allah dengan derajat
akurasi yang tertinggi.



7
Ibid., h. 294.
8
Harold Lindsell, The Battle for the Bible (Grand Rapids: Zondervan, 1976.), h.27.
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
19
Pada saat kita mempelajari doktrin inerransi kita juga harus menyadari bahwa
karakter Allah sendiri dipertaruhkan. Allah mengklaim sebagai Penulis Alkitab dan
Ia menegaskan bahwa Firman-Nya adalah kebenaran ( Yohanes 17:17, Mazmur
119:160 ). Serangan terhadap doktrin inerransi Alkitab merupakan serangan
terhadap karakter Allah. Menyangkal inerransi berarti menjuluki Allah Pendusta,
namun Allah tidak dapat berdusta ( Titus 1:2 ). Rasul Paulus menyimpulkan hal ini
ketika ia menyatakan, “Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong”
( Roma 3:4 ).

Seluruh Alkitab memperlihatkan bahwa Ia dapat dipercaya serta dapat diandalkan,
dan bahwa sifat-Nya menjamin wibawa, sifat bebas dari kesalahan dan sifat tidak
mungkin bersalah dari Firman-Nya.

5. Otensitas & Kredibilitas Alkitab

Bila kita telah menerima kenyataan bahwa Alkitab adalah wujud penyataan ilahi,
maka dengan segera kita akan tertarik untuk mengetahui sifat dokumen-dokumen
yang berisi penyataan tersebut.

5.1. Otensitas Alkitab

Kitab-kitab di dalam Alkitab, yang seluruhnya berjumlah 66 kitab itu, datang
kepada kita dalam bentuk salinan-salinan yang beribu-ribu banyaknya. Naskah-
naskah asli yang ditulis dengan tulisan tangan ( autographa ) telah tercecer, namun
kita memiliki salinan-salinan dari naskah asli tersebut. Di antara salinan-salinan itu
terdapat salinan-salinan yang sudah sangat tua.

Salinan-salinan ini memperlihatkan perbedaan-perbedaan kecil yang disebut
variant-variant. Dalam ilmu pengetahuan teologi terdapat suatu bidang tersendiri
yang disebut teks-kritik, yang tugasnya adalah meneliti naskah-naskah ini serta
memeriksa naskah-naskah mana yang paling dapat dipercaya. Jadi teks-kritik ini
bertujuan membuat rekonstruksi yang setepat mungkin dari teks asli naskah-naskah
itu. Tentu saja ilmu pengetahuan ini tidak dapat menghasilkan ketepatan 100 %.
Namun satu hal tidak dapat disangkal, yakni ilmu pengetahuan tersebut telah
berhasil memastikan bahwa tidak ada perbedaan dalam amanat yang sebenarnya
dari berbagai kitab dalam Alkitab itu. Esensi dari amanat itu dalam setiap kitab
ternyata telah diteruskan secara cermat benar dari abad ke abad. Meskipun
terdapat perbedaan-perbedaan variant ( kecil & tidak berarti ) dalam teks naskah-
naskah itu, namun isi dan maksudnya yang sebenarnya senantiasa menonjol dengan
amat jelas dalam semua naskah itu.

Dengan kata lain, “benang merah” tentang karya keselamatan dari Allah tetap
konsisten diberitakan dari setiap kitab dalam Alkitab tersebut !



Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
20
5.2. Kredibilitas Alkitab

Yang dimaksudkan dengan kredibilitas di sini adalah meliputi baik kebenaran apa
yang dicatat, maupun kemurnian naskah. Berikut secara singkat akan dibahas hal
kredibilitas Alkitab.

5.2.1. Kredibilitas Perjanjian Lama

Kredibilitas kitab-kitab Perjanjian Lama ditetapkan oleh kedua kenyataan besar :

[1] Berdasarkan Pengakuan Kristus Terhadap Perjanjian Lama

Kristus menerima Perjanjian Lama selaku naskah yang secara benar mencatat
peristiwa-peristiwa dan ajaran-ajaran yang tercantum di dalamnya ( Matius
5:17-18, Lukas 24:27,44-45, Yohanes 10:34-36 ). Dengan tegas Yesus
menerima berbagai ajaran Perjanjian Lama adalah benar, misalnya :
penciptaan alam semesta oleh Allah ( Markus 13:19 ), penciptaan manusia
secara langsung ( Matius 19:4-5 ), pembinasaan dunia dengan air bah pada
jaman Nuh ( Lukas 17:26-27 ), penghancuran Sodom & Gomora serta
pelepasan keluarga Lot ( Lukas 17:28-30 ), Musa selaku penulis Pentateuch
( Lukas 24:27 ), pemberian Manna di padang gurun ( Yohanes 6:32 ), adanya
Kemah Suci ( Lukas 6:3-4 ), pengalaman Yunus di dalam perut ikan ( Matius
12:39-40 ). Bila Yesus adalah Allah yang dinyatakan dalam keadaan manusia,
maka pastilah Ia mengetahui semua fakta dalam sejarah Perjanjian Lama.
Dengan demikian, kesaksian-Nya harus diterima selaku kebenaran.

[2] Berdasarkan Sejarah & Arkeologi

Sejarah memberikan banyak bukti bahwa gambaran Alkitab tentang
kehidupan di Mesir, Asyur, Babilonia, Media-Persia, dan lain-lain itu sesuai
dengan kenyataan. Beberapa raja dari berbagai bangsa ini disebutkan dalam
Alkitab, dan tidak seorang pun yang ditampilkan secara tidak sesuai dengan
fakta sejarah yang diketahui tentang raja tersebut.

Arkeologi juga menyajikan banyak bukti yang menguatkan catatan Alkitab.
Lembaran tanah liat yang ditemukan di Babilonia berisi kisah air bah yang
mengandung banyak sekali kemiripan dengan kisah Alkitab. Lembaran-
lembaran Nuzi menjelaskan tindakan Sara & Rahel memberikan hamba
perempuan mereka kepada suami masing-masing. Tulisan & abjad Mesir
kuno menunjukkan bahwa orang sudah dapat menulis lebih dari seribu tahun
sebelum masa hidup Abraham. Arkeologi juga menguatkan bahwa umat
Israel tinggal di Mesir, bahwa mereka diperbudak di sana, dan bahwa
akhirnya mereka meninggalkan Mesir. Lembaran-lembaran Tel-el-Amarna
membuktikan bahwa kitab Hakim-hakim dapat dipercayai.


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
21
Sangat penting untuk diperhatikan bahwa tidak ada penemuan Arkeologi yang
pernah membuktikan kesalahan dari suatu keterangan Alkitab. Kenyataannya,
lebih dari 25.000 lokasi telah ditemukan dan dokumen-dokumen yang
memperkuat ketepatan dan dapat dipercayainya catatan Alkitab tentang
peristiwa-peristiwa, kelompok-kelompok masyarakat, kronologis peristiwa,
dan sebagainya. Penelitian Arkeologi terus berlanjut sekarang, dan banyak
Arkeolog sebenarnya menggunakan teks dari Alkitab untuk menolong mereka
menemukan suatu tempat sejarah !

5.2.2. Kredibilitas Perjanjian Baru

Kredibilitas kitab-kitab Perjanjian Baru dapat ditetapkan oleh empat (4) fakta
yang besar, yakni :

[1] Para Penulis Kitab-kitab Perjanjian Baru Adalah Mereka Yang
Mengetahui Betul Apa Yang Ditulisnya

Mereka berkualifikasi untuk memberikan kesaksian serta mengajarkan
kebenaran Ilahi. Matius, Yohanes, dan Petrus merupakan murid-murid
Yesus dan saksi mata atas setiap perbuatan & ajaran-Nya ( 2 Petrus 1:18,
1 Yohanes 1:1-3 ). Markus, menurut catatan Papias, adalah pengikut
Petrus dan ia telah menulis secara teliti apa yang diingatnya dari ajaran
Petrus. Lukas merupakan rekan seperjalanan Paulus dan menurut catatan
Ireneus, ia mencatat dalam sebuah kitab Injil yang diberitakan oleh
Paulus. Paulus jelas sekali telah dipanggil dan ditugaskan oleh Kristus dan
ia sendiri mengakui bahwa ia menerima Injil dari Kristus sendiri ( Galatia
1:11-17 ). Yakobus & Yudas adalah saudara sekandung Yesus, dan
amanat mereka sampai kepada kita dengan berlatar-belakangkan
kenyataan ini. Mereka semua telah diurapi Roh Kudus sehingga dengan
demikian mereka menulis bukan sekedar berdasarkan ingatan mereka
sendiri, melainkan sebagai orang-orang yang diberi kemampuan khusus
oleh Roh Kudus untuk tugas itu.

[2] Para Penulis Kitab-kitab Perjanjian Baru Adalah Orang-orang Jujur

Nada moral dalam tulisan mereka, sikap yang jelas menjunjung tinggi
kebenaran, serta sifat teliti dan terinci dari kisah-kisah yang mereka tulis
menunjukkan bahwa mereka bukanlah para penipu, melainkan orang-
orang yang jujur. Kejujuran mereka juga tampak dari kenyataan bahwa
kesaksian mereka sebenarnya membahayakan status moral, harta
kekayaan, dan bahkan nyawa mereka sendiri.

[3] Tulisan-tulisan Mereka Saling Melengkapi

Injil-injil Sinoptis tidak memberikan kesaksian yang saling berlawanan
namun justru saling melengkapi. Injil Yohanes melengkapi kesaksian
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
22
Injil-injil Sinoptis. Kisah Para Rasul menyediakan latar belakang historis
untuk 13 Surat Kiriman Rasul Paulus. Surat Ibrani, Surat-surat Umum
lainnya, maupun kitab Wahyu dapat dimasukkan dalam periode abad
pertama Masehi. Dari segi doktrin, kitab-kitab Perjanjian Baru ini juga
saling melengkapi. Keilahian Kristus disebut dalam Injil-injil Sinoptis dan
Injil Yohanes. Paulus dan Yakobus tidak saling bertentangan, namun
mereka berdua menyajikan masalah iman dan perbuatan baik dari sudut
pandang yang berbeda.

Keduapuluh tujuh kitab Perjanjian Baru menyajikan suatu gambaran yang
sangat harmonis tentang diri dan karya Yesus Kristus. Kenyataan ini ikut
mendukung kredibilitas kitab-kitab tersebut.

[4] Isi Kitab-kitab Perjanjian Baru Sesuai Dengan Sejarah & Pengalaman

Dalam Perjanjian Baru terdapat banyak sekali catatan tentang sejarah
pada jaman itu, misalnya sensus penduduk yang diselenggarakan ketika
Kirenius menjadi gubernur di Siria ( Lukas 2:2 ), perbuatan Herodes
Agung ( Matius 2:16-18 ), tindakan Herodes Antipas ( Matius 14:1-12 ),
tindakan Herodes Agripa II ( Kisah Para Rasul 25:13 - 26:32 ), dan
sampai sejauh ini tidak seorang pun sanggup menunjukkan bahwa apa
yang dinyatakan oleh Alkitab bertolak belakang dengan kenyataan sejarah
yang diperoleh dari naskah-naskah lain yang dapat dipercaya.

Mengenai pengalaman, bila kita mempercayai adanya Allah yang
berkepribadian, mahakuasa, dan penuh kasih, maka mujizat menjadi
sangat tidak mustahil. Kalaupun mujizat-mujizat sekarang ini tidak
muncul sesering dahulu, karena memang tidak diperlukan sebagaimana
diperlukan pada masa itu. Mujizat-mujizat tersebut dimaksudkan untuk
memperkuat penyataan Allah ketika disampaikan untuk pertama kalinya.
Namun karena sekarang Kekristenan sudah diterima, maka mujizat-
mujizat itu tidak lagi muncul sebanyak dahulu.

Dengan demikian, tidak ada sesuatu pun dalam sejarah atau pengalaman
yang bertolak belakang dengan apa yang terdapat dalam Perjanjian Baru.


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
23
6. Kanonitas Alkitab

Kekristenan bukanlah agama kitab. Seseorang menjadi Kristen karena Roh Kudus
menanamkan iman di dalam hatinya. Oleh karena itu, orang Kristen tidak
menyembah Alkitab, tetapi menyembah Juru Selamat mereka yang hidup, yang ada
di Surga. Dialah yang kedatangan-Nya mereka nantikan.

Kekristenan seringkali digolongkan ke dalam agama-agama kitab. Akibatnya,
keunikan Kekristenan kian memudar. Orang Kristen memang mempunyai Alkitab,
namun mereka percaya kepada satu Pribadi. Yang amat mencolok, Pengakuan Iman
Rasuli yang terdiri atas 12 pokok itu mampu menguraikan apa yang dipercaya orang
Kristen tanpa menyebutkan Alkitab.

Hal ini tidak berarti bahwa Kekristenan tidak mempunyai Kitab Suci. Gereja Tuhan
di sepanjang masa mempunyai Rajanya di Surga, Roh Kudus di hatinya, dan
Alkitab di tangannya. Dengan demikian, yang pertama-tama dilihat dari luar adalah
Alkitab sehingga dapat dimengerti bahwa bila dilihat dari permukaan, Kekristenan
disebut agama kitab.

6.1. Arti Istilah “Kanon”

Istilah “Kanon” berasal dari bahasa Yunani Klasik, yang berarti sebatang tongkat
( rod ), penggaris ( ruler ), atau kayu pengukur ( measuring rod ). Kata Ibrani
yang dekat dengan istilah Yunani Klasik ini adalah “Kaneh” yang berarti kayu
pengukur, atau tombak pengukur ( Yehezkiel 40:3, 42:16 ).

Dari konsep arti itu kemudian berkembang menjadi dasar pengertian secara
metafor, yakni standar atau Norma. Pada jaman Gerika ( Pre-Christian ), kata
“Kanon” ini sudah dipakai dengan arti metafor, misalnya untuk melukiskan
standar di dalam hal etika, seni, dan literatur.

Pada jaman Kekristenan mula-mula, istilah “Kanon” ini dipakai untuk peraturan
iman, tulisan yang memenuhi standar atau Alkitab yang berotoritas. Paulus pun
telah memakai kata ini di dalam surat kirimannya ( 2 Korintus 10:13-16, Galatia
6:16 ).

Diperkirakan kata “Kanon” yang pertama kali dipakai dalam hubungan dengan
Alkitab adalah pada tahun 350 Masehi oleh Athanasius, di mana artinya dari sudut
positif berarti “Standar” dan dari sudut negatif - Kanonisasi - berarti : pengenalan
atau penerimaan gereja terhadap Alkitab adalah Firman Allah.

Dengan demikian dapat disimpulkan, arti “Kanon” adalah kitab-kitab yang telah
diselidiki, dan dinyatakan memenuhi syarat ( diterima & mencapai Standar yang
seharusnya ), serta diakui telah diilhamkan oleh Allah sendiri.


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
24
6.2. Persyaratan-persyaratan Kanonisasi Alkitab

[1] Bukan Berdasarkan Tuanya ( Antiknya )
Banyak kitab kuno yang tidak termasuk kanon, misalnya :
a. Kitab Peperangan Tuhan, Bilangan 21:14.
b. Kitab Orang Jujur, Yosua 10:13.

Sebaliknya ada kitab-kitab yang termasuk baru ( pada jamannya ) namun telah
termasuk kanon, Ulangan 31:24-26, Daniel 9:2, 2 Petrus 3:15-16.

[2] Bukan Disebabkan Kitab Itu Bersesuaian Dengan Taurat.
Misalnya : - Tulisan Elia, 2 Tawarikh 21:12
- Tulisan Ido, 2 Tawarikh 12:15
- Surat Kepada Orang Laodekia, Kolose 4:16
- Surat Kepada Orang Korintus, 1 Korintus 5:9.

[3] Bukan Disebabkan Kitab itu Ditulis Dalam Bahasa Ibrani
Banyak kitab yang ditulis dalam bahasa Ibrani, misalnya Apocrypha
Perjanjian Lama, namun ditolak, sedangkan bagian kitab yang ditulis dalam
bahasa Aram, misalnya Daniel 2:4b-7, Ezra 4:8 - 6:18, 7:12-26 diterima.

[4] Bukan Disebabkan Bernilai Religius
Misalnya : Lukas 1:1, Yohanes 21:25 - kesaksian ada literatur agama.

Jadi termasuk atau tidaknya sebuah kitab ke dalam Kanon sama sekali bukan
ditentukan oleh manusia, melainkan oleh Allah sendiri. Hal ini bergantung pada
otoritas kitab tersebut dan otoritas itu ada sebab adanya ilham Allah. Dan ilham
Allah itu dikenali oleh men of God !

6.3. Prinsip-prinsip Kanonikal Alkitab

[1] Otoritas : Apakah kitab itu diilhamkan oleh Allah ( 2 Timotius 3:16 ) ?
[2] Prophetic : Apakah kitab itu ditulis oleh men of God ( Ibrani 1:1 ) ?
[3] Original : Apakah kitab itu mengisahkan hal yang benar tentang Allah,
manusia, dan sebagainya ( 2 Petrus 2:1 ) ?
[4] Dinamis : Apakah kitab itu mempunyai kuasa Allah yang dapat mengubahkan
hidup manusia ( Ibrani 4:12, 2 Timotius 3:16 ) ?
[5] Diterima : Apakah kitab itu diterima secara luas oleh umat Allah ( Gereja ) ?


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
25
6.4. Kanon Perjanjian Lama

6.4.1. Sejarah Kanon Perjanjian Lama

Alkitab sendiri memiliki catatan yang jelas tentang sejarah pembentukan Kanon,
sebagaimana dapat diketahui melalui fakta-fakta sebagai berikut :

[01] Loh Batu yang berisi 10 Hukum ( Dasa Titah ) ditaruh dalam tabut
Perjanjian, Keluaran 40:20. Loh Batu itu masih berada dalam Tabut
Perjanjian ketika Salomo membawa Tabut itu ke dalam Bait Allah yang baru
saja didirikan ( 1 Raja-raja 8:9 ).

[02] Kitab Taurat yang ditulis oleh Musa diletakkan di samping Tabut Tuhan
sebagai saksi atas kesalahan Israel ( Ulangan 31:24-36, bandingkan dengan
Keluaran 24:7 ). Hal ini menunjukkan bahwa kitab-kitab itu berotoritas dan
menjadi inti/pusat dari umat Israel atau Firman Allah menjadi Patokan atau
Kanon atas kehidupan umat-Nya.

[03] Yosua menulis sebuah kitab yang melanjutkan kitab Taurat ( Yosua 24:26 ).

[04] Samuel menulis sebuah kitab lalu diletakkan di hadapan Tuhan ( 1 Samuel
10:25 ). Ini berarti di dalam atau di samping Tabut Perjanjian dan kitab-kitab
yang lain.

[05] Allah menggerakkan orang lain untuk melanjutkan mencatat, misalnya :
* Kisah Daud oleh Natan & Gad, 1 Tawarikh 29:29.
* Kisah Salomo oleh Natan, Ahia, dan Ido, 2 Tawarikh 9:29.
* Kisah Manasye oleh para nabi & Yesaya, 2 Tawarikh 33:19.
* Kitab Tawarikh selesai ditulis pada jaman Ezra, sebab di dalamnya
mencatat dekrit yang dikeluarkan oleh raja Koresy yang mengijinkan
orang Israel untuk kembali, 2 Tawarikh 36:22. Dan Ezra menulisnya
berdasarkan catatan yang telah ada, yang ditulis oleh para imam dan nabi.

[06] Banyak Mazmur yang ditulis oleh Daud ( 73 pasal ) dan kitab-kitab para
nabi yang memakai nama para nabi itu.

[07] Di dalam Yeremia 36:1-32 dikisahkan bagaimana Yeremia setelah bernubuat
selama 23 tahun , baru Allah memerintahkannya untuk menuliskan berita
tersebut. Setelah menuliskannya, maka gulungan kitab itu dibawa dan
dibacakan di hadapan raja Yoyakhim. Namun raja ini membakar gulungan
kitab tersebut. Kemudian Allah menggerakkan Yeremia untuk menuliskan
lagi dan memberikan Yeremia banyak berita lagi ( Yeremia 36:32 ).

Ada kemungkinan bahwa apa yang ditulis oleh Yeremia melalui juru
tulisnya, Barukh, untuk kedua kalinya, inilah apa yang kita miliki sekarang
( Yeremia 1 - 36 ). Kita tidak mengetahui kapan kitab ini diterima selaku
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
26
penyataan Allah, namun di Yeremia 36:25 ada orang-orang yang memohon
kepada raja agar raja tidak membakar gulungan kitab tersebut. Hal ini
menunjukkan bahwa mereka percaya bahwa gulungan kitab tersebut adalah
Firman Allah.

[08] Ketika orang-orang Israel ditawan ke Babel, mereka membawa serta kitab
Taurat. Hal ini dapat diketahui sebab Ezra menyelidiki Taurat di Babel dan
membawa Taurat itu kembali bersamanya ke Yerusalem ( Ezra 7:6,14,
Nehemia 8:1-2 ). Bisa jadi yang dimaksudkan dengan kitab Taurat adalah
seluruh Perjanjian Lama yang telah ditulis pada waktu itu, sebab istilah ini
kemudian dipakai untuk menyebut seluruh Perjanjian Lama.

[09] Seluruh Perjanjian Lama diperkirakan telah lengkap pada jaman Ezra. Kitab
Para Nabi yang terakhir yang mencatat tahun di dalamnya adalah Hagai &
Zakharia ( Zakharia 1:1, 7:1, dan Hagai 1:1 ). Kitab Maleakhi tidak
diketahui tahunnya, namun mungkin sekali ditulis pada masa itu juga. Tentu
saja kitab Ezra, Nehemia, dan Ester juga ditulis pada waktu itu. Inilah kitab-
kitab yang paling akhir ditulis. Banyak orang berpendapat bahwa Ezra yang
mengumpulkan semua kitab-kitab ini dan menyatukannya menjadi Kanon
Perjanjian Lama yang lengkap ( sekitar tahun 400 sM ).

[10] Pada sekitar tahun 200 sM, Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa
Yunani, yang disebut Septuaginta ( LXX ). Terjemahan ini dilakukan oleh
70 orang Ahli Tarurat Yahudi di kota Alexandria, Mesir dalam waktu 70
hari. Pada waktu itu banyak orang Yahudi yang tinggal di Mesir. Mereka
tidak mengerti bahasa Ibrani sedangkan bahasa Yunani adalah bahasa
umum. Fakta bahwa pada waktu itu Perjanjian Lama telah diterjemahkan,
berarti Kanon Perjanjian Lama telah lengkap dan semua kitab tersebut telah
diakui otoritasnya.

6.4.2. Isi Kanon Perjanjian Lama

[1] Catatan paling awal mengenai Isi Kanon Perjanjian Lama ditulis oleh Melito,
uskup dari Sardis pada sekitar tahun 170 Masehi. Melito mengatakan bahwa
ia mendapatkan daftar tersebut setelah mengadakan penyelidikan yang
seksama tatkala sedang mengadakan perjalanan di Siria. Daftar tersebut
dicantumkan oleh Eusebius dalam bukunya, Ecclesiastical History, Volume
IV sebagai berikut :

Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
27
1. Lima Kitab Musa Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan,
Ulangan.
2. Kitab-kitab Lain Yosua bin Nun, Hakim-hakim & Rut,
Empat Kitab Kerajaan & 2 Tawarikh,
Mazmur Daud, Amsal, Pengkhotbah,
Kidung Agung, Ayub.
3. Kitab-kitab Para
Nabi
Yesaya, Yeremia, 12 Kitab Nabi, Daniel,
Yehezkiel, Ezra.

Rupanya Melito menggabungkan kitab Ratapan dengan Yeremia dan kitab
Nehemia dengan Kitab Ezra. Daftarnya mengenai semua kitab Perjanjian
Lama, kecuali kitab Ester.

[2] Pada tahun yang kira-kira sama dengan Daftar Kanon Perjanjian Lama Melito,
didapati suatu daftar kitab Perjanjian Lama dalam sebuah manuskrip di
perpustakaan seorang Greek Patriakh di Yerusalem. Daftar ini baru muncul
sekitar abad IV Masehi melalui tulisan Epiphanius, uskup Selamis di
Cyprus. Dalam daftar tersebut terdapat seluruh kitab Perjanjian Lama.

[3] Origenes ( 185 - 254 Masehi ) mencatat daftar Perjanjian Lama sebanyak 22
kitab, dengan pembagian sebagai berikut :

1 - 5 Kitab Musa
6 Yosua
7 Hakim-hakim & Rut
8 - 9 4 Kitab Kerajaan
10 1 & 2 Tawarikh
11 Ezra & Nehemia
12 Mazmur
13 Amsal
14 Pengkhotbah
15 Kidung Agung
16 Yesaya
17 Yeremia, Ratapan, dan Surat Yeremia
18 Daniel
19 Yehezkiel
20 Ayub
21 Ester
22 12 Kitab Nabi Kecil

[4] Athanasius, uskup dari Alexandria, yang mendiskusikan kanon Alkitab pada
tahun 367 Masehi dalam Easter Letter menyebut jumlah kitab Perjanjian
Lama sebanyak 22 kitab. Ke-22 kitab tersebut sama dengan kitab-kitab
Perjanjian Lama kita, kecuali kitab Ester. Dan kitab Yeremia selain ada
tambahan kitab Ratapan, juga Surat Yeremia.

Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
28
[5] Jerome ( 347 - 420 Masehi ) menulis dalam kata pengantarnya di Tafsiran
Kitab Daniel, “... kitab Daniel tidak dikelompokkan dalam kumpulan kitab
Nabi-nabi, melainkan dalam Hagiographa ( The Sacred Writtings ). Orang
Yahudi membagi Perjanjian Lama dalam tiga bagian yakni : Kitab Taurat,
Nabi-nabi, dan Hagiographa yang terdiri atas : 5, 8, dan 11 kitab”.

Jerome menyebut 24 kitab, sebab kitab Rut dilepaskan dari kitab Hakim-
hakim, dan kitab Ratapan dari kitab Yeremia.

[6] Terakhir, yang terpenting, kanon Ibrani ( Perjanjian Lama ) ini diterima
selaku otoritas tertinggi oleh Tuhan Yesus dan para rasul-Nya. Tuhan Yesus
menerima Perjanjian Lama sebab Ia mengenali kitab-kitab tersebut memiliki
divine quality !

Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani berisi kitab-kitab yang sama dengan
kitab yang kita miliki, hanya pembagian dan susunan kitabnya berbeda.
Ketika Perjanjian Lama Bahasa Ibrani diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani
( Septuaginta ), kitab-kitabnya disusun kembali dan dibagi sebagaimana
Alkitab Perjanjian Lama kita.

Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani terdiri atas 24 kitab, yang dibagi
menjadi tiga (3) kelompok, yaitu :

1. TORAH
( Pentateuch )
Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan,
Ulangan ( 5 Kitab )
2. NEBHIIM
( Nabi-nabi )
Yosua, Hakim-hakim, 1 & 2 Samuel, 1 & 2
Raja-raja ( 4 kitab - Nabi-nabi Terdahulu )
Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Ke-12 Kitab
Nabi Kecil ( 4 kitab Nabi-nabi Terkemudian )
3. KETUBHIM
( Tulisan-tulisan )
Mazmur, Amsal, Ayub ( 3 kitab Syair )
Kidung Agung, Rut, Ratapan, Pengkhotbah,
Ester ( 5 kitab - Megiloth )
Daniel, Ezra & Nehemia, 1 & 2 Tawarikh
( 3 kitab Sejarah )

Pada jaman Perjanjian Baru, Perjanjian Lama dibagi dalam 22 kitab yang
merupakan jumlah abjad dalam bahasa Ibrani, yakni dengan mempersatukan
kitab Rut dengan Hakim-hakim, dan kitab Ratapan dengan kitab Yeremia.
Biasanya seluruh Perjanjian Lama mereka sebut Kitab Nabi-nabi, kecuali kitab
Musa ( Matius 5:17, Lukas 22:44 ).

Pembagian Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani ini didasarkan atas status
penulisnya ( Official Order ), sedangkan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani
( Septuaginta ) dibagi menurut isi kitab ( Topical Order ).


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
29
Adapun pembagian Perjanjian Lama Septuaginta adalah sebagai berikut :

1. Taurat ( Hukum ) 5 Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan.
2. Sejarah 12 Kitab Yosua, Hakim-hakim, Rut, 1 Samuel, 2 Samuel, 1
Raja-raja, 2 Raja-raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh,
Ezra, Nehemia, Ester.
3. Syair 5 Kitab Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung
Agung.
4. Nubuat
a. Nabi Besar
b. Nabi Kecil
17 Kitab

Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel, Daniel ( 5
kitab )
Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum,
Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi ( 12
kitab ).

Pembagian menurut Septuaginta ini kemudian diikuti oleh Jerome untuk Vulgata
( Alkitab berbahasa Latin ), yang berlangsung terus selama 1.000 tahun, sampai
terjemahan Alkitab bahasa Inggris pertama, Wycliffe, bahkan sampai sekarang ini

6.5. Kanon Perjanjian Baru

[1] Setelah kenaikan Yesus ke Surga, sekitar 20 tahun berlalu di mana pada tahun-
tahun itu Injil diberitakan melalui para rasul dan tidak sebuah kitab pun pada
waktu itu ditulis. Tampaknya selama saksi mata tentang keselamatan yang telah
dilaksanakan oleh Yesus itu masih hidup, belum dirasakan perlunya membuat
catatan yang resmi.

[2] Yakobus diperkirakan menulis surat kirimannya pada tahun 46 AD. Bila ini
benar, maka Surat Yakobus adalah yang paling awal ditulis.

[3] Paulus menulis 1 & 2 Tesalonika pada perjalanan pekabaran Injilnya yang
kedua ( tahun 52 AD ).

[4] Berangsur-angsur surat-surat kiriman yang lain, Kisah Para Rasul, dan Wahyu
ditulis.

[5] Pada saat surat-surat ini menjadi terkenal, maka berangsur-angsur dibuat
salinan-salinan untuk berbagai gereja. Banyak dari surat kiriman, juga Injil
Lukas dan Kisah Para Rasul ditulis untuk seseorang. Ada pula yang untuk
gereja atau umum. Namun yang lain meminta salinan-salinannya maka dibuat
salinan-salinan untuk mereka dan tidak dapat diragukan lagi bahwa salinan-
salinan tersebut dibacakan di dalam pertemuan-pertemuan mereka ( Kolose
4:16, 1 Tesalonika 5:27, Wahyu 1:3 ).

[6] Pada waktu yang bersamaan dan sesudahnya ada orang-orang yang menulis
kitab-kitab tentang Yesus dan surat-surat ke gereja-gereja, yang tidak termasuk
dalam Kanon ( lihat Lukas 1:1 ). Beberapa kitab yang lain ditulis pada abad II
dan III, yang dikenal dengan Apocrypha Perjanjian Baru.
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
30
[7] Lambat laun gereja-gereja mulai jelas mengenai kitab-kitab mana yang
diinspirasikan oleh Roh Kudus. Secara keseluruhan gereja-gereja mengakui ke-
27 kitab Perjanjian Baru, sebagaimana yang kita miliki saat ini.

[8] Pada abad II, Kanon Perjanjian Baru telah lengkap. Hal ini dapat kita ketahui
dari :

<a> The Old Syriac - Terjemahan Perjanjian Baru pada abad II dalam bahasa
Siria. Semua kitab Perjanjian Baru, kecuali 2 Petrus, 2 & 3 Yohanes,
Yudas, dan Wahyu.

<b> The Old Latin - Sebuah terjemahan sebelum tahun 200 AD. Terkenal
sebagai Alkitab dari gereja Barat. Semua kitab Perjanjian Baru ada kecuali
Ibrani, Yakobus, 1 &2 Petrus.

<c> The Muratorian Canon ( 170 AD ) : sama isinya dengan The Old Latin.

<d> Codex Barococcio ( 206 AD ) : semua Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru ada kecuali Ester & Wahyu.

<e> Policarpus pernah mengutip dari Matius, Yohanes, 10 Surat Paulus, 1
Petrus, 1 & 2 Yohanes ( 150 AD ).

<f> Justinus Martyr ( 140 AD ) : semua Perjanjian Baru, kecuali Filipi & 1
Timotius.

<g> Irenaeus ( 170 AD ), murid Policarpus : semua Perjanjian Baru, kecuali
Filemon, Yakobus, 2 Petrus, dan 3 Yohanes.

<h> Origenes pada tahun 230 AD menulis Daftar Kitab-kitab Perjanjian Baru
sebagai berikut : 4 Injil, Kisah Para Rasul, 13 Surat Paulus, 1 Petrus, 1
Yohanes, dan Wahyu.

Semua kitab-kitab ini diakui oleh semua orang Kristen. Hanya Surat Ibrani
2 Petrus, 2 & 3 Yohanes, Yakobus, dan Yudas masih diragukan oleh
sebagian orang.

<i> Eusebius pada awal abad IV menyebut semua kitab Perjanjian Baru diakui
oleh orang-orang Kristen kecuali Yakobus, Yudas, 2 Petrus, 2 & 3 Yohanes
masih diragukan oleh sebagian orang.

<j> Dalam Festal Letter yang ditulis oleh Athanasius, bishop Alexandria,
pada tahun 367 AD, ia mencantumkan Daftar 27 Kitab Perjanjian Baru.
Tak lama setelah ini Jerome & Augustinus juga mencatat Kanon
Perjanjian Baru sebanyak 27 kitab.

Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
31
[9] Akhirnya setelah diadakan beberapa kali Konsili Gereja, yakni :

a. Konsili Hippo pada tahun 393 AD,
b. Konsili Cartago pada tahun 397 AD,
c. Konsili Cartago pada tahun 419 AD,

diumumkan Daftar 27 Kitab yang diterima sebagai Kanon Perjanjian Baru.
Pada waktu yang bersamaan, mereka juga mengakui ke-39 kitab Perjanjian
Lama.

Dengan demikian, susunan kanon Alkitab Kristen secara lengkapnya
adalah sebagai berikut :


Perjanjian Lama Perjanjian Baru

Pentateuch - 5 kitab
Kejadian, Keluaran, Imamat,
Bilangan, Ulangan

Sejarah - 12 kitab
Yosua, Hakim-hakim, Rut, 1 Samuel,
2 Samuel, 1 Raja-raja, 2 Raja-raja, 1
Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra,
Nehemia, Ester.
Puisi - 5 kitab
Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah,
Kidung Agung

Nubuat - 17 kitab
Nabi Besar - Yesaya, Yeremia,
Ratapan, Yehezkiel, Daniel
Nabi Kecil - Hosea, Yoel, Amos,
Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk,
Zefanya, Hagai, Zakaria, Maleakhi

Sejarah - 5 kitab
Matius, Markus, Lukas, Yohanes,
Kisah Para Rasul
Surat-surat Paulus - 13 kitab
Roman, 1 Korintus, 2 Korintus,
Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1
Tesalonika, 2 Tesalonika. 1 Timotius, 2
Timotius, Titus, Filemon
Surat-surat Non-Paulus - 9 kitab
Ibrani, Yakobus, 1 Petrus, 2 Petrus, 1
Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas,
Wahyu

Catatan : ada yang berpendapat bahwa
Ibrani ditulis oleh Paulus


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
32
7. Apocrypha

[1] Pengertian Apocrypha

Apocrypha berasal dari kata Yunani, berarti “tersembunyi”, “tertutup”.
Dengan demikian yang dimaksudkan dengan kitab-kitab Apocrypha adalah
kitab-kitab yang ditulis di tempat-tempat yang disebutkan Alkitab ( Bible
Lands ) pada waktu yang bersamaan, atau tidak lama kemudian dengan waktu
Alkitab ditulis, namun tidak dianggap sah, baik oleh perhimpunan orang
Yahudi, maupun oleh jemaat yang mula-mula.

Jemaat yang mula-mula menerima kanon dari orang-orang Yahudi di Palestina,
bukan kanon dari orang-orang Yahudi di Alexandria. Gereja Katholik Roma
mengakui sah Apocrypha itu dalam perhimpunan Trent pada tahun 1546 ( dan
menyebutnya sebagai kitab-kitab deuterokanonikal ).
.
Jemaat Protestan, sama seperti Jemaat Mula-mula, tetap menolak kitab-kitab
Apocrypa itu dan tidak menganggapnya sebagai bagian dari Alkitab ( dan
menyebutnya sebagai kitab-kitab pseudepigrapha ).
.
Tuhan Yesus Kristus sendiri tidak pernah mengakui Apocrypha. Dalam
Perjanjian Baru, tidak ada kutipan-kutipan yang diambil dari kitab-kitab
Apocrypha itu. Apocrypha tidak diterima dalam kanonisasi Perjanjian Baru.

[2] Apocrypha Perjanjian Lama

Kitab-kitab ini ditulis antara tahun 300 sM - 100 AD. Kebanyakan dalam
bahasa Yunani, namun ada juga sebagian dalam bahasa Ibrani atau Aram.
Para penulisnya kebanyakan tidak diketahui, namun diperkirakan orang-orang
Yahudi yang tinggal di Mesir.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru terjemahan baru ( TB ),
ada tambahan kitab-kitab Apocrypha Perjanjian Lama yang disebut
Deuterokanonika yang diselenggarakan oleh Lembaga Biblika Indonesia.





Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
33
Apocrypha Perjanjian Lama dapat dibagi ke dalam lima ( 5 ) jenis :

1. Didactic Kebijaksanaan Salomo ( 30 sM )
Yesus bin Sirakh ( 180 sM )
2. Religious Romance Tobit ( berupa fragmen, ditulis tahun 200 sM )
Yudit ( berupa fiksi, ditulis tahun 150 sM )
3. Historical 1 Esdras ( 150 - 100 sM )
Makabe Pertama ( 110 sM )
Makabe Kedua ( 110 - 70 sM )
4. Prophetic Barukh ( 150 - 50 sM )
Surat Nabi Yeremia ( 300 - 100 sM )
2 Esdras ( 100 AD )
5. Legendary Tambahan-tambahan Pada Kitab Ester ( 140 -
130 sM ), Doa Azarya & Lagu Pujian Ketiga
Pemuda Dalam Perapian ( abad II - I sM ),
Kisah Susana & Daniel ( Abad II atau I sM ),
Daniel dengan Dewa Bel & Naga Babel
( 100 sM ), Doa Manaseh ( abad II atau I sM )

[3] Alasan-alasan Kita Menolak Apocrypha Perjanjian Lama

a> Kitab-kitab ini tidak terdapat dalam Perjanjian Lama Ibrani.

b> Para penulis Perjanjian Baru tidak ada yang pernah mengutipnya sedangkan
kitab-kitab Perjanjian Lama yang termasuk dalam kanon terus-menerus
dikutip.

c> Tuhan Yesus sering mengutip Perjanjian Lama, namun tidak pernah
mengutip Apocrypha.

d> Terjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani dibuat sekitar 2 abad
sM. Namun manuskrip Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani yang
memasukkan apocrypha ke dalamnya adalah salinan dari abad IV AD dan
tidak ada bukti bahwa Septuaginta yang berasal dari abad I AD
mengandung apocrypha.

e> Konsili-konsili Gereja dari abad I - IV tidak ada yang memberi dukungan
terhadap Apocrypha.

f> Para bapa Gereja seperti Athanasius, Cyril dari Yerusalem, Origenes dan
Jerome menentang Apocrypha.

g> Gereja Siria pada abad IV AD menerima Alkitab dengan Apocrypha. Tetapi
Alkitab dalam bahasa Siria ( Peshitta ) abad II AD tidak berisi Apocrypha.



Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
34
h> Gereja Yunani tidak konsisten dalam penerimaannya terhadap Apocrypha.
Dalam sidang Sinode di Konstantinopel ( 1638 ), Jeffa ( 1642 ) dan
Yerusalem ( 1672 ), Apocrypha diterima. Namun pada tahun 1839, dalam
Larger Catechism mereka, Apocrypha ditolak, dengan dasar : Tidak
tercantum dalam Alkitab Ibrani.

i> Dalam konsili Trent ( 1546 ) barulah Gereja Katholik Roma secara resmi
menerima Apocrypha, padahal Apocrypha tersebut sudah ada sejak 15 abad
sebelumnya.

j> Penerimaan Gereja Katholik Roma terhadap Apocrypha adalah karena ada 2
ajaran Gereja Katholik Roma pada waktu itu yang didukung oleh Apocrypha
yakni :
* Doa untuk orang mati ( 2 Makabe 12:44-45 - bertentangan dengan Ibrani
9:27, Lukas 16:25-26, 2 Samuel 12:19-23 ).
* Keselamatan melalui perbuatan ( Tobit 12:9 - bertentangan dengan
Kejadian 15:6, Roma 4:5, Galatia 3:11 ).

k> Para sarjana Katholik Roma pada jaman Reformasi masih memisahkan
kitab-kitab Apocrypha dengan kitab-kitab Kanon ( tidak membuat tafsiran
dari kitab-kitab Apocrypha tersebut ).

l> Dalam penemuan Qumran didapati banyak literatur agama, termasuk
beberapa kitab Apocrypha Perjanjian Lama. Namun sejauh ini tidak pernah
diberitakan bahwa di antara penemuan tersebut terdapat tafsiran dari kitab-
kitab Apocrypha.

m> Kisah-kisah dari beberapa kitab Apocrypha bersifat khayal dan extra-
biblical.

n> Ajaran moral kitab Apocrypha lebih rendah daripada Alkitab ( lihat Yudit
9:10,13 ).

o> Adanya kesalahan-kesalahan di bidang sejarah, kronologi dan peta bumi.
Misalnya : Yudit 1:1,7,11, 2:1,4, 4:3-4,6-8, Tobit 1:3-5, 14:11.

p> Tidak ada klaim, “Inilah Firman Tuhan” dalam kitab-kitab Apocrypha.

q> Kesaksian Yosephus, “Para nabi menulis dari jaman Musa sampai
Arthasasta. Sejak itu tidak ada tulisan-tulisan yang berotoritas seperti
jaman sebelumnya, yang ditulis oleh para nabi”.

r> Kesaksian Talmud, “Setelah nabi Hagai, Zakharia, dan Maleakhi, Roh
Kudus meninggalkan Israel”.

s> Penyataan Alkitab : Zakharia 1:5-6, Maleakhi 4:5.
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
35
[4] Apocrypha Perjanjian Baru

Apocrypha Perjanjian Baru berjumlah 15 kitab, yang dimasukkan dalam
Perjanjian Lama versi Septuaginta dan Vulgata. Namun tidak ada daftar yang
pasti mengenainya. Kitab-kitab ini tidak pernah secara sah disatukan.

Pada umumnya kitab-kitab Apocrypha Perjanjian Baru dapat digolongkan pada
kitab-kitab Fiksi Religius.

1. Surat Kiriman Pseudo-Barnabas ( 70-79 AD )
2. Surat Kiriman kepada Orang-orang Korintus ( 96 AD )
3. Homili Kuno, juga disebut Surat Kedua Klemen ( 120-140 AD )
4. Gembala Hermas ( 115-140 AD )
5. Didakhe, Pengajaran Dua Belas Rasul ( 100-120 AD )
6. Wahyu Petrus ( 150 AD )
7. Kisah Paulus dan Thekla ( 170 AD )
8. Surat kepada Jemaat Laodikea ( abad ke-4 ? )
9. Injil menurut Orang Ibrani ( 65-100 AD )
10. Surat Polikarpus kepada Orang-orang Filipi ( 108 AD )
11. Tujuh Surat Kiriman Ignatius ( 100 AD )
12. Dan masih banyak lagi lainnya.

[5] Alasan-alasan Kita Menolak Apocrypha Perjanjian Baru :

a> Kitab-kitab Apocrypha Perjanjian Baru ini hanya dikenal secara lokal &
temporer.

b> Status tertinggi bagi kitab-kitab ini hanya Semi-kanon.

c> Tidak ada Konsili Gereja yang menggolongkannya dengan Kanon Perjanjian
Baru.

d> Sebagian orang menerimanya sebab menghubungkan kitab-kitab tersebut
dengan kitab-kitab Kanon ( bandingkan dengan Kolose 4:16 ).


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
36
8. Terjemahan-terjemahan Alkitab

Tujuan Allah ketika memanggil Abraham dan memilih Israel sebagai hamba-Nya
adalah untuk memberkati semua bangsa di bumi ( Kejadian 12:3, 22:18, Yesaya
44:1 ). Oleh karena itu pentinglah bahwa Alkitab diterjemahkan dalam berbagai
bahasa dari bangsa-bangsa lain. Semua bangsa membutuhkan Alkitab karena
Alkitab merupakan pedang Roh ( Epesus 6:17 ); Alkitab adalah sarana satu-
satunya untuk meraih kemenangan rohani. Alkitab juga adalah palu Allah, alat
untuk menghancurkan perlawanan dan membangun bait Allah ( Yeremia 23:29 ).
Alkitab adalah lampu untuk menerangi jalan kehidupan ( Mazmur 119:105 ).
Bahkan ketika orang telah dibutakan oleh dosa, dan tampaknya Alkitab merupakan
kebodohan bagi mereka, “kebodohan” seperti itu masih memberikan isi yang
bijaksana dan berkuasa pada pemberitaan Injil yang dipakai oleh Roh Kudus untuk
menyelamatkan orang-orang yang percaya ( 1 Korintus 1:18-21 ). Alkitab juga
diperlukan bagi kelanjutan pertumbuhan orang-orang percaya. Oleh karena itu,
secepatnya gereja mulai memasuki negara-negara yang penduduknya tidak dapat
berbicara bahasa Yunani dan Ibrani dari Alkitab, orang-orang Kristen
menginginkan Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa mereka sendiri.

Kisah tentang versi-versi ( terjemahan ) Alkitab benar-benar menggetarkan hati.
Sebenarnya kisah itu dimulai sebelum jaman Yesus. Perlu diketahui bahwa bahasa
Ibrani berkembang, baik kata-kata, gramatika, maupun kegunaannya, namun ada
kalanya menjadi bahasa ‘mati’ ( tidak digunakan dalam percakapan ) dan
kemudian digunakan sebagai bahasa ‘hidup’ ( percakapan ). Ketika Perjanjian
Lama dalam bahasa Ibrani sudah tidak dimengerti umat Allah, Ezra
menerjemahkannya ke dalam bahasa Aram ( Targum, Nehemia 8:2-9 ). Kemudian
pada masa Perjanjian Baru, ketika Alexander The Great menaklukkan Timur
Tengah, bahasa Yunani menjadi bahasa perdagangan dan pendidikan di Timur
Tengah. Kota Alexandria di Mesir menjadi pusat bahasa, ilmu pengetahuan, dan
kebudayaan Yunani. Orang-orang Yahudi yang tinggal di Alexandria
menginginkan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani. Imam Besar Eliezer
merestui dan mengirimkan penerjemah untuk menerjemahkan naskah Perjanjian
Lama Ibrani ke dalam bahasa Yunani ( Septuaginta - LXX ). Versi ini seringkali
digunakan oleh orang-orang Kristen yang mula-mula untuk memberitakan Injil
selama generasi pertama setelah Pentakosta. Ketika hari Pentakosta, Roh Kudus
sendiri menerjemahkan Firman Tuhan ke banyak bahasa ( Kisah Para Rasul
2:4 ). dan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani dan bukan Ibrani. Firman
Tuhan adalah hidup dan tidak dibatasi bahasa manusia.

Pada waktu bersamaan, Roh Kudus memimpin para penulis Perjanjian Baru untuk
menulis kitab-kitab mereka, bukan dalam bahasa Ibrani atau pun bahasa Yunani
Klasik yang digunakan beberapa ratus tahun sebelumnya oleh para filsuf Yunani
terkenal, melainkan dalam bahasa Yunani sehari-hari ( Yunani Koine ) yang
digunakan oleh rakyat jelata di jalan-jalan dan di pasar.


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
37
Allah selalu ingin agar Firman-Nya disampaikan dalam bahasa yang digunakan
oleh orang yang mendengarkannya. Musa menulis Hukum Taurat, bukan dalam
tulisan Hieroglif yang digunakan oleh para sarjana Mesir, melainkan dalam bahasa
Ibrani sehari-hari yang digunakan dalam kemah-kemah Israel, Yesus berkhotbah
dan mengajar dengan bahasa yang sederhana sehingga orang-orang biasa
mendengar Dia dengan penuh minat ( Markus 12:37 ). Ketika Injil disebar-luaskan,
orang-orang dengan sendirinya mulai menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa
mereka sendiri. Empat (4) abad setelah Kristus, ketika baik bahasa Yunani
maupun bahasa Latin kuno tidak dipakai lagi di wilayah kekaisaran Roma Bagian
Timur, Hieronimus membuat terjemahan baru ke dalam bahasa Latin yang
“kasar” atau “umum” yang dipakai pada masanya. Versi ini menjadi terkenal
sebagai Vulgata.

Sayangnya, Alkitab Vulgata ini dijadikan versi resmi di Eropa Barat & Inggris.
Berbagai usaha selanjutnya untuk menterjemahkan Alkitab dicegah, bahkan ketika
rakyat jelata sama sekali tidak berbicara dalam bahasa Latin. Ketika pada tahun
1380 Wycliffe menterjemahkan Alkitab Vulgata ke dalam bahasa Inggris,
banyak orang bertobat kepada Kristus. Namun setelah kematiannya pada tahun
1384, terjadi penganiayaan terhadap para pengikutnya karena mereka menolak
sebagian doktrin gereja Katholik Roma. Pada tahun 1415 Konsili Gereja Katholik
Roma tidak mengakui ajarannya. Kemudian pada tahun 1428, uskup Richard
Fleming menyuruh menggali tulang-tulang John Wycliffe, membakarnya, dan
abunya dibuang ke dalam sungai. Sebagian besar salinan Alkitabnya yang ditulis
dengan tangan juga dibakar.

Akan tetapi, Allah sedang berkarya. Penemuan mesin cetak sangat penting. Antara
tahun 1462 dan 1522 sekurang-kurangnya 17 versi dan edisi Alkitab terbit
dalam bahasa Jerman. Versi-versi ini membantu menyiapkan jalan untuk
Reformasi di bawah pimpinan Martin Luther, yang membawa pemahaman
Alkitabiah tentang keselamatan oleh kasih karunia melalui iman. Martin Luther
sendiri kemudian meneliti versi Ibrani dan Yunani untuk mengadakan terjemahan
baru yang lebih baik dalam bahasa Jerman. Sebagai akibat pengaruh Luther,
William Tyndale mencetak Perjanjian Baru yang pertama ke dalam bahasa
Inggris pada tahun 1525. Banyak salinan dibakar, namun percetakan terus
menghasilkan Alkitab secara berlimpah. Karena mereka tidak mungkin membakar
semua Alkitab itu, mereka menangkap Tyndale dan membakarnya pada tiang
pancang. Meskipun demikian, terjemahan-terjemahan lain segera terbit. Setelah
Raja Henry VIII memutuskan hubungan dengan gereja Katholik Roma, suatu
terjemahan yang terkenal seperti Alkitab Bishop menjadi versi yang sah di
Gereja Inggris.

Namun, Alkitab tersebut tidak populer, dan sebagian besar orang lebih menyukai
Alkitab Jenewa, suatu versi yang diterjemahkan para pengungsi Inggris yang
melarikan diri dari penganiayaan Katholik ke Swiss. Versi inilah yang dibawa ke
Amerika oleh kaum Pilgrim & kaum Puritan pada tahun 1620 dan 1630.

Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
38
Banyak pemimpin Inggris mengakui perlunya terjemahan yang lebih baik, karena
itu Raja James I menunjuk beberapa kelompok sarjana untuk merevisi Alkitab
Bishop. Ini merupakan saat yang tepat : Bahasa Inggris, di bawah pengaruh
Shakespeare dan tokoh-tokoh besar lainnya di bidang kesusasteraan, telah
mencapai puncak baru. Semua bahasa Inggris baku dimasukkan ke dalam versi ini,
yang akhirnya diselesaikan pada tahun 1611 dan disahkan oleh Raja James
untuk dibaca di gereja-gereja Inggris; terjemahan ini pada akhirnya terkenal
sebagai Versi King James ( KJV ).

Sebagai sebuah terjemahan yang baru, KJV pada awalnya tidak diterima oleh
banyak orang. Para rohaniwan menolaknya. Seorang yang bernama Hugh
Broughton bahkan mengatakan bahwa “terjemahannya begitu buruk sehingga
akan menyedihkan hatinya sepanjang hidupnya. Ia menegaskan bahwa ia lebih
baik diikat di antara kuda-kuda liar dan tercabik ketimbang membiarkan versi
tersebut beredar di antara orang banyak”. Selama 50 tahun banyak orang terus
menolaknya, tetapi lama kelamaan terjemahan tersebut mulai disukai karena
merupakan terjemahan yang unggul. Akhirnya versi ini mendapat tempat di hati
banyak orang.

Sayangnya, semua bahasa terus-menerus mengalami perubahan. Kita tidak lagi
berbicara bahasa Inggris Shakespeare dengan pronomena “thee” dan “thou”. Oleh
karena itu para misionaris menginginkan agar Alkitab terbit dalam bahasa yang
benar-benar dipakai oleh orang banyak. Orang-orang percaya di segala tempat
merasa diberkati ketika mereka membaca versi yang mudah dimengerti dalam
bahasa mereka sendiri. Dunia, termasuk bagian dunia yang berbahasa Inggris,
adalah sebuah ladang misi sekarang ini. Kenyataan inilah yang mengakibatkan
terbitnya banyak versi baru dalam bahasa Inggris Modern.

Beberapa versi modern, seperti New Berkeley Version, menggunakan gaya
bahasa Inggris tinggi sehingga tampaknya ditujukan kepada para profesor
perguruan tinggi. Sebaliknya, New Century Version diarahkan kepada pembaca
kelas 3 Sekolah Dasar. Yang lainnya, seperti The Good News Bible, The Living
Bible, terjemahan Phillips, dan The New English Bible, merupakan parafrase,
yang lebih banyak menafsirkan daripada semata-mata menterjemahkan.
The Revised Standard Version ( RSV ) agak baik dalam Perjanjian Baru, namun
Perjanjian Lama versi ini terlalu subyektif dalam cara mengubah vokal-vokal
bahasa Ibrani dan pembagian kata-kata Ibrani, jadi kurang bermanfaat sebagai
Alkitab untuk penelitian. The New Revised Standard Version merupakan
perbaikan dari RSV yang lebih awal. The New American Standard Bible tetap
mengikuti bahasa-bahasa yang semula, namun kadangkala terjemahannya terlalu
harfiah dan tidak terlalu menarik. Di antaranya terdapat New International
Version ( NIV ), yang merupakan terjemahan yang bagus dan sangat mudah
dimengerti.



Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
39
Sementara itu, proses penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Indonesia dapat kita
lihat pada Timeline Penerjemahan Alkitab
9
di bawah ini :

Kurun Waktu 1600-1699
1612 A.C. Ruyl selesai menerjemahkan Injil Matius dalam bahasa Melayu.
1629 Injil Matius terjemahan Ruyl dicetak oleh J.J. Pelenstein di Enkhizen,
Belanda.
1638 Buku Markus terjemahan Ruyl diterbitkan bersama buku Matiusnya.
1638 Brouwerius cetak Kitab Injil Markus.
1651 Keempat Injil dan Kisah Para Rasul karya Ruyl diterbitkan.
1652 Buku Mazmur terjemahan Jan van Hasel dan Justus Heurnius diterbitkan.
1662 Terjemahan kitab Kejadian oleh Brouwerius diterbitkan.
1668 Perjanjian Baru terjemahan Brouwerius terbit.
1691 Leydekker ditugaskan menterjemahkan Alkitab.

Kurun Waktu 1700-1799
1706 Terjemahan Leydekker selesai.
1731 Perjanjian Baru terjemahan Leydekker diterbitkan.
1733 Alkitab secara keseluruhan terjemahan Leydekker selesai dicetak.
1735 Buku Mazmur gubahan Werndly terbit.
1758 Alkitab Leydekker edisi huruf Arab dicetak di Batavia.

Kurun Waktu 1800-1899
1814 Lembaga Alkitab didirikan di Batavia.
1815 William Robinson menerbitkan Buku Matius dalam bahasa Melayu Rendah.
1817 Revisi Perjanjian Baru terjemahan Leydekker selesai dan dicetak di
Serampore, India oleh Robert Hutchings dan J. McGinnis.
1821 Revisi Perjanjian Lama terjemahan Leydekker selesai dan dicetak di
Serampore, India oleh Robert Hutchings dan J. McGinnis.
1821 Thomsen selesai dalam membuat revisi Matius.
1832 Dengan bantuan Robert Burns, Thomsen selesaikan revisi 4 Injil dan Kisah
rasul-rasul.
1835 Johannes Emde, dkk menerbitkan Perjanjian Baru dalam bahasa Melayu
Rendah dialek Surabaya.
1835 Roskott membuka SPG di Batumerah, Ambon.
1843-1856 W.H. Medhurst turut mengerjakan terjemahan Alkitab ke dalam bahasa
Tionghoa.
1850 Kitab Injil Matius terjemahan C.T. Hermann dari Minahasa terbit.
1852 Perjanjian Baru lengkap oleh Keasberry dicetak di Singapura dengan aksara
Latin.
1856 Kitab Injil Markus diterbitkan oleh J.G. Bierhaus.
1856 Perjanjian Baru lengkap oleh Keasberry dicetak dengan aksara Arab (Jawi).
1861 Klinkert selesai menerjemahkan buku 4 Injil dan dicetak.
1863 Perjanjian Baru lengkap selesai diterjemahkan Klinkert dan dicetak di
Semarang.

9
Sumber : —Situs Sejarah Alkitab Indonesia: (Online) "http://www.sabda.org/sejarah/"

Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
40
1868 Buku Matius terjemahan Klinkert selesai.
1870- 1899 Klinkert menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu (PB 1870, PL
1879, revisi 1899).
1877 Perjanjian Baru terjemahan Roskott diterbitkan.
1879 Alkitab terjemahan Klinkert terbit.
1897 Shellabear bersama Uskup Hose dan W.H. Gomes menyelesaikan buku
Matius dan dicetak.
1899 Shellabear mendapat tugas menjadi penerjemah utama Perjanjian Baru dalam
bahasa Melayu.

Kurun Waktu 1900-1999
1904 Shellabear menyelesaikan terjemahan Perjanjian Baru.
1907 Shellabear setuju mengusahakan terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa
Melayu Baba.
1909 Shellabear menyelesaikan pembuatan terjemahan baru untuk merevisi
Perjanjian Lama Klinkert.
1910 Perjanjian Baru Shellabear dicetak.
1912 Terjemahan baru Shellabear diterbitkan dalam huruf Arab (Jawi).
1913 Terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Melayu Baba diterbitkan.
1927-1928 Terjemahan baru Shellabear dicetak dalam edisi huruf Latin.
1929 W.A. Bode ditugaskan untuk menggubah terjemahan baru Alkitab.
1935 Terjemahan Perjanjian Baru Bode selesai.
1938 Perjanjian Baru Bode diterbitkan.
1947 Salinan naskah Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua,
Hakim-hakim, Rut, Mazmur diterbitkan oleh Ny. Bode.
1952 Proyek penerjemahan Terjemahan Baru bahasa Indonesia dimulai oleh
Lembaga Alkitab Belanda (NBG).
1952-1959 Dr. J.L. Swellengrebel menjadi ketua panitia penerjemahan Terjemahan
Baru bahasa Indonesia.
1953 J. Wismar Saragih menerjemahkan Perjanjian Baru dan sebagian Perjanjian
Lama.
1953 P.S.Naipospos ikut serta dalam persiapan Terjemahan Baru Alkitab.
1954 Lembaga Alkitab Indonesia didirikan. Universitas Nommensen berdiri.
1958 Perjanjian Baru Bode digabungkan dengan Perjanjian Lama Klinkert dicetak
dan dikenal sebagai Alkitab Terjemahan Lama ( TL )
1959 Proyek penerjemahan Terjemahan Baru bahasa Indonesia diserahkan kepada
Lembaga Alkitab Indonesia ( LAI ).
1959 Edisi percobaan karya panitia penerjemahan Alkitab Terjemahan Baru mulai
diterbitkan secara bertahap.
1962 Dr. J.L. Abineno melanjutkan Swellengrebel menjadi ketua panitia
penerjemahan Alkitab Terjemahan Baru bahasa Indonesia.
1964 Edisi PB terjemahan Pastor J. Bouma diterbitkan oleh Penerbit Arnoldus Ende
Flores.
1968 PB Ende direvisi.
1968 Proyek penerjemahan PL Ende oleh P.C. Groenen dihentikan.
1971 Perjanjian Baru Lembaga Alkitab Indonesia diterbitkan.
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
41
1974 Alkitab dalam Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia terbit.
1974 Lembaga Alkitab Singapura, Malaysia, dan Brunei menerbitkan PB dalam
Bahasa Malaysia sehari-hari.
1976 Terjemahan Perjanjian Baru bahasa Malaysia sehari-hari direvisi dan
diterbitkan.
1976 Penerbit Kalam Hidup mengeluarkan PB "Firman Allah Yang Hidup".
1977 Perjanjian Baru Bahasa Indonesia Sehari-Hari ( BIS ) diterbitkan dengan judul
Kabar Baik Untuk Masa Kini.
1978 Perjanjian Baru Bahasa Indonesia Sehari-Hari ( BIS ) edisi kedua diterbitkan.
1981 Perjanjian Lama terjemahan bahasa Malaysia sehari-hari selesai.
1985 Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Sehari-Hari ( BIS ) diterbitkan bersama
edisi ketiga Perjanjian Baru Bahasa Indonesia Sehari-Hari ( BIS ) menjadi
Alkitab Kabar Baik Untuk Masa Kini.
1986 Perjanjian Baru kisah tentang Yesus Kristus Kabar Baik Untuk Anak-anak
diterbitkan LAI.
1987 Alkitab secara lengkap dalam terjemahan bahasa Malaysia sehari-hari
diterbitkan.
1989 Alkitab Firman Allah Yang Hidup diterbitkan.
1996 Pertubuhan Bible Malaysia menerbitkan revisi lengkap Alkitab terjemahan
bahasa Malaysia sehari-hari.
1997 Perjanjian Baru Terjemahan Baru Revisi selesai dan diterbitkan oleh Lembaga
Alkitab Indonesia.

Kurun Waktu 2000-2099
2000 LAI menerbitkan Kitab Suci Injil dalam bahasa Indonesia.
2002 Kitab Suci Komunitas Kristiani edisi Pastoral Katolik dicetak oleh OBOR.

Sejarah dari versi-versi Alkitab dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia.

Bahasa Jawa (1854)
Bahasa Dayak Ngaju (1858)
Bahasa Siau/Sangihe (1883)
Bahasa Sunda (1891)
Bahasa Batak Toba (1894)
Bahasa Bugis-Makasar (1900)
Bahasa Nias (1911)
Bahasa Sangir (1942)
Bahasa Mori (1948)
Bahasa Kambera (1961)
Bahasa Wewewa (1970)
Bahasa Batak Karo (1987)
Bahasa Batak Angkola (1991)
Bahasa Madura (1994)
Bahasa Mentawai (1996)
Bahasa Pamona (2000)
Versi apa pun yang kita pilih, pentinglah untuk mencari arti penuh dari bahasa-
bahasa yang semula dipakai ( Ibrani, Aram, dan Yunani ) dengan menggunakan
konkordansi, buku tafsiran, Kamus Alkitab, dan membandingkannya dengan versi-
versi yang lain.
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
42
9. Beberapa Data Berkaitan Dengan Alkitab

• Alkitab telah diterjemahkan sebagian atau keseluruhan pada tahun 1964 ke
dalam lebih dari 1.200 bahasa & dialek yang berbeda.
Encyclopaedia Britannica mengatakan bahwa “pada tahun 1966 seluruh Alkitab
telah ada dalam 240 bahasa dan dialek . . . salah satu kitab atau lebih yang
menjadi bagian Alkitab itu diterbitkan dalam 739 bahasa lain, sehingga jumlah
penerbitannya ada dalam 1.280 bahasa.”

Ada 3.000 penerjemah Alkitab yang menerjemahkan Kitab Suci pada kurun
waktu 1950-1960.
• Alkitab dibagi ke dalam pasal-pasal oleh Stephen Langton sekitar tahun 1228.
• Perjanjian Lama dibagi ke dalam ayat-ayat oleh R. Nathan pada tahun 1448 dan
Perjanjian Baru oleh Robert Stephanus pada tahun 1551.
• Ada 66 kitab di dalam Alkitab, 39 di Perjanjian Lama dan 27 di Perjanjian Baru
( Catatan : 3 x 9 = 27 ).
• Perjanjian Lama terdiri atas 929 pasal dan 23.214 ayat. Perjanjian Baru terdiri
atas 260 pasal dan 7.959 ayat. Untuk membaca seluruh Perjanjian Lama
dibutuhkan waktu sekitar 38 jam, sedangkan untuk Perjanjian Baru
membutuhkan waktu 11 jam.
• Di Perjanjian Lama, kitab terpanjang adalah Mazmur, dan terpendek adalah
Obaja.
• Di Perjanjian Baru, kitab terpanjang adalah Kisah Para Rasul, dan terpendek
adalah 3 Yohanes.
• Kata "Allah" dipakai sebanyak 4.379 kali, dan kata "Tuhan" dipakai sebanyak
7.738 kali.
• Yesaya dikutip 419 kali di 23 kitab Perjanjian Baru, Mazmur 414 kali di 23
kitab Perjanjian Baru, dan Kejadian 260 kali di 21 kitab Perjanjian Baru.


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
43
10. Kesaksian Gulungan Laut Mati

Pertanyaan besar itu pertama-tama diajukan oleh Sir Frederic Kenyon, “Apakah
teks Ibrani, yang kita beri nama Massoretis dan yang telah kita tunjukkan bahwa
teks ini berasal dari sebuah teks yang direkonstruksi sekitar tahun 100 M. itu,
dengan setia mewakili Teks Ibrani asli yang ditulis oleh para penulis kitab-kitab
Perjanjian Lama ?”

Gulungan Laut Mati memberikan kepada kita jawaban langsung dan positif.

Masalah yang ada sebelum penemuan Gulungan Laut Mati itu adalah, “Sampai di
manakah tingkat ketepatan naskah-naskah yang kita miliki saat ini jika
dibandingkan dengan teks asli yang ada pada abad pertama itu ?” Karena teks itu
telah disalin berulang kali, masih dapatkah kita percayai ?

Apakah Gulungan Laut Mati itu ?

Gulungan kitab itu terdiri dari sekitar 40.000 serpihan dengan tulisan di atas
masing-masing. Berdasarkan serpihan-serpihan ini telah dihasilkan rekonstruksi
lebih dari 500 kitab.

Ditemukan banyak buku dan serpihan di luar Alkitab yang memberikan titik-titik
terang tentang masyarakat Qumran yang demikian religius. Tulisan seperti
“Dokumen-dokumen Zadok,” sebuah “Peraturan Masyarakat Qumran” dan “Buku
Penuntun Ketertiban” menolong kita untuk memahami tujuan kehidupan sehari-hari
masyarakat Qumran. Dalam pelbagai gua ditemukan sejumlah tafsiran Kitab Suci
yang sangat bermanfaat.

Bagaimana Gulungan Laut Mati itu ditemukan ?

Ralph Earle memberikan jawaban sangat jelas dan padat terhadap pertanyaan
tentang bagaimana Gulungan Kitab itu ditemukan :

“Kisah tentang penemuan ini adalah salah satu di antara kisah-kisah yang paling
menarik tentang jaman modern. Pada bulan Februari atau Maret 1947 seorang
anak Badui yang pekerjaannya sebagai gembala bernama Muhammad sedang
mencari seekor kambingnya yang hilang. Kakinya menyentuh batu yang
kemudian terjatuh ke dalam lubang pada bukit karang yang ada di pantai barat
Laut Mati, yang terletak sekitar delapan mil di selatan Yerikho. Ia terkejut
karena sebagai akibatnya ia mendengar suara guci pecah. Sesudah
memeriksanya, ia menemukan pemandangan yang menakjubkan. Pada lantai
sebuah gua ada beberapa guci besar berisi gulungan kitab dari kulit, yang
dibungkus kain lenan. Karena guci-guci itu ditutup dengan sangat hati-hati,
maka gulungan-gulungan kitab itu terpelihara dalam keadaan yang sangat baik
selama hampir 1.900 tahun ( Terbukti bahwa gulungan-gulungan kitab itu
diletakkan di sana pada tahun 68 M. ).
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
44
“Lima buah Gulungan Kitab yang ditemukan di dalam Gua Laut Mati I, sesuai
dengan nama yang diberikan saat ini, dibeli oleh bisop agung Biara Ortodoks
Syria di Yerusalem. Sementara itu, tiga gulungan kitab lainnya dibeli oleh
Profesor Sukenik dari Universitas Ibrani di kota yang sama.

“Ketika gulungan kitab itu ditemukan pertama kali, tidak ada berita yang
disiarkan tentang benda-benda itu. Pada bulan November 1947, dua hari sesudah
Profesor Sukenik membeli tiga gulungan kitab itu serta dua guci dari gua itu, ia
menulis dalam buku hariannya : ‘Mungkin saja ini adalah salah satu dari
penemuan terbesar yang telah terjadi di Palestina, suatu penemuan yang tidak
pernah terlalu kita harapkan.’ Namun, kata-kata yang berarti ini belum
disebarluaskan kala itu.

“Untungnya, pada bulan Februari 1948, bishop agung yang tidak mampu
membaca tulisan Ibrani itu, menelphone Sekolah Amerika untuk Penelitian
Oriental di Yerusalem dan memberitahukan tentang gulungan kitab itu. Dalam
rencana Allah yang baik, pimpinan sementara sekolah yang bertugas saat itu
adalah cendekiawan muda yang bernama John Trever, yang juga adalah seorang
fotografer amatir yang handal. Dengan usaha yang tidak mengenal lelah dan
penuh penyerahan, ia memotret setiap kolom dalam gulungan besar kitab
Yesaya, yang berukuran panjang 24 kaki dan tinggi 10 inci itu. Ia memproses
sendiri lempengan negatifnya dan mengirimkan beberapa lembar di antara foto-
foto yang dihasilkannya itu kepada Dr. W. F. Albright dari Universitas John
Hopkins, yang dikenal luas sebagai pimpinan para arkeolog dalam bidang
penelitian tentang peninggalan sejarah berdasarkan Alkitab. Ia menulis surat
balasan yang juga dikirimnya dengan pos udara sebagai berikut: ‘Saya
sampaikan ucapan selamat dari dalam lubuk hati saya atas penemuan naskah
sebagai penemuan terbesar jaman modern ini ! . . . Suatu penemuan yang
sungguh-sungguh menakjubkan ! Dan dengan rasa gembira kita nyatakan bahwa
tidak akan ada lagi sedikit pun keragu-raguan di dunia ini tentang keaslian
naskah itu.’ Ia memberikan pandangannya bahwa naskah itu berasal dari sekitar
tahun 100 sM.”

Trever mengutip lebih lanjut pandangan-pandangan Albright: “Tidak ada lagi
keragu-raguan di dalam pikiranku bahwa tulisan naskah-naskah itu lebih kuno
dibandingkan papirus Nash . . . saya harus lebih menyukai tahun sekitar 100
sM”

Nilai Gulungan-gulungan Kitab itu

Naskah-naskah Ibrani lengkap tertua yang kita miliki berasal dari tahun 900 M. dan
sesudahnya. Bagaimana kita dapat memiliki kepastian bahwa penyalurannya
dilakukan dengan tepat sejak zaman Kristus pada tahun 32 M. itu ? Berkat arkeologi
dan Gulungan Laut Mati, kita sekarang benar-benar mengetahuinya. Salah satu
naskah yang ditemukan adalah sebuah naskah lengkap teks kitab Yesaya dalam
bahasa Ibrani. Oleh para ahli paleografi ditetapkan bahwa naskah tersebut berasal
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
45
dari sekitar tahun 125 sM. Naskah ini berumur lebih tua 1.000 tahun lebih
dibandingkan naskah lain yang manapun yang kita miliki sebelumnya.

Dampak penemuan ini berupa konfirmasi pada ketepatan gulungan kitab Yesaya
(125 sM.) pada saat dibandingkan dengan teks Massoretis kitab Yesaya (916 M.)
dari masa 1.000 tahun kemudian. Ini menunjukkan ketepatan luar biasa yang
dipertahankan para penyalin Kitab Suci selama lebih dari kurun waktu seribu tahun.

“Dari 166 kata dalam Yesaya 53, hanya ada tujuh belas huruf yang
dipertanyakan. Sepuluh huruf di antaranya berhubungan hanya dengan masalah
ejaan, yang tidak mempengaruhi arti teks itu. Empat huruf lagi adalah perubahan
sedikit gaya penulisan, seperti kata depan. Sisanya yang tiga lagi membentuk
kata ‘terang,’ yang ditambahkan pada ayat 11, dan tidak banyak mempengaruhi
arti ayat itu. Selanjutnya, kata ini didukung oleh Septuaginta dan naskah IQ Is.
Jadi, dalam sebuah bab yang terdiri dari 166 kata, hanya ada sebuah kata (
terdiri dari tiga huruf ) yang dipertanyakan sesudah mengalami penyalinan
selama seribu tahun – dan kata ini tidak memberikan perubahan berarti pada arti
ayat yang memuatnya.”

F. F. Bruce mengatakan, “Sebuah gulungan kitab Yesaya yang tidak lengkap, yang
ditemukan bersama-sama dengan naskah lain dalam gua Qumran pertama, dan
dengan mudah dikenal sebagai ‘Yesaya B,’ bahkan memiliki persesuaian yang
lebih dekat lagi dengan teks Massoretis.”

Gleason Archer menyatakan bahwa naskah-naskah Yesaya dari masyarakat
Qumran itu “dibuktikan memiliki persamaan dengan teks Alkitab Ibrani baku kita
kata per kata mencapai lebih dari 95 persen. Perbedaan yang 5 persen terutama
terdiri dari kekeliruan yang nampak dengan jelas dalam menggoreskan alat tulis
dan perbedaan dalam ejaan.”

Millar Burrows, yang dikutip oleh Geisler dan Nix, menyimpulkan: “Adalah suatu
keajaiban bahwa teks yang melalui masa sekitar seribu tahun itu mengalami
perubahan demikian kecil. Seperti yang telah saya katakan dalam artikel pertama
saya tentang gulungan kitab itu, ‘Di sini terletak nilai terpentingnya, yang
mendukung kesetiaan tradisi Massoretis.’ ”


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
46
11. Bagaimana Alkitab Sampai Kepada Pembacanya






Gagasan
Dalam
Pikiran
Allah

Pikiran
Penulis
Insani
Naskah Asli
Alkitab
Kumpulan
66 Kitab
( Alkitab )
Alkitab
Ibrani dan
Yunani
Terjemahan
Bahasa
Indonesia
Modern
Gagasan
Dalam
Pikiran
Pembaca
Perubahan
dalam
Kehidupan
Pembaca


Orang Lain
Pewahyuan
K
a
n
o
n
i
s
a
s
i

Pengilhaman
Kritik Teks Terjemahan
I
l
u
m
i
n
a
s
i

d
a
n

P
e
n
a
f
s
i
r
a
n

Aplikasi
Komunikasi
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
47
12. KEUNIKAN ALKITAB DIBANDINGKAN KITAB SUCI YANG LAIN

Setelah penyelidikan selama bertahun-tahun, Josh McDowell dalam bukunya yang
berjudul “Apologetika, Bukti yang meneguhkan kebenaran Alkitab, Vol 1“ dalam
pembahasan Unit I tentang “ALKITAB – Aku Mempercayainya“
10

menyimpulkan Alkitab dengan satu kata “UNIK !“ Josh McDowell mengutip
Webster menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata “unique” atau unik
dalam bahasa Indonesia sebagai berikut : “1. one and only; single; sole.
2. Different from all Others; having no like or equal. “ ( 1. Satu-satunya;
tunggal; hanya satu. 2. berbeda dari yang lain, tidak ada yang seperti dia
padanannya ).

Selanjutnya Josh McDowell menjelaskan Alkitab itu unik dan berbeda dengan
kitab-kitab suci yang lainnya sebagai berikut :

A. UNIK DALAM KESINAMBUNGANNYA

1. Ditulis selama kurun waktu lebih dari 1500 tahun.
2. Ditulis selama lebih dari 40 generasi.
3. Ditulis lebih dari 40 orang dari segala lapisan masyarakat yang berbeda
dalam pendidikan dan latar belakang, di mana selain nabi adalah mereka
yang bisa disebut sebagai : raja, petani, ahli filsafat, nelayan, pujangga,
negarawan, cendekiawan, dan lain-lain. Contohnya :

a. Musa seorang pemimpin politik, sebagai pangeran Mesir, Musa pasti
mendapatkan pendidikan terbaik dari “Universitas” di Mesir.
b. Petrus seorang nelayan
c. Amos seorang gembala
d. Yosua seorang panglima perang
e. Nehemia, seorang pembawa minuman raja
f. Daniel, seorang perdana menteri
g. Lukas, seorang dokter
h. Daud dan Salomo yang adalah Raja
i. Matius, seorang penagih pajak
j. Paulus, seorang Rabbi.

4. Ditulis di berbagai tempat yang berbeda :
a. Musa di padang gurun.
b. Yeremia di rumah tahanan
c. Daniel, di istana dan di lereng-lereng gunung
d. Paulus di balik sel penjara
e. Lukas di dalam perjalanan

10
Dirangkum dari Josh McDowell, Apologetika, Bukti Yang Meneguhkan Kebenaran
Alkitab, Vol. 1 ( Malang : Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2002 ).

Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
48
f. Yohanes di pulau Patmos.
g. Dan banyak yang menulis di tengah – tengah berkecamuknya perang.

5. Ditulis pada masa yang berbeda : Daud pada masa perang dan pelarian
dari kejaran raja Saul, Salomo pada masa perdamaian dan kejayaan.

6. Ditulis dalam suasana hati yang berbeda : ada yang ditulis dalam suasana
sukacita, ada yang ditulis dalam penderitaan yang paling dalam dan
keputusasaan.

7. Ditulis di tiga benua : Asia, Eropa, Afrika.

8. Ditulis dalam tiga bahasa yang berbeda :
a. Ibrani yang adalah bahasa Perjanjian Lama, yang di 2 Raja-Raja
disebut bahasa Yehuda dan dalam Yesaya 19:18 disebut bahasa
Kanaan.
b. Aram yang adalah bahasa umum di Timur Dekat sampai jaman
Aleksander Agung ( abad 6 Sebelum Masehi – Abad ke 4 Sebelum
Masehi ).
c. Yunani yang merupakan bahasa Perjanjian Baru dan merupakan
bahasa Internasional ketika Tuhan Yesus hidup di muka bumi.

9. Temanya meliputi berbagai masalah yang kontroversial. Masalah
kontroversial adalah masalah yang dapat memancing perbedaan pendapat
bila dilontarkan atau dibicarakan, tetapi walaupun kontroversial, para
penulis Alkitab menguraikan secara harmonis dan berkesimambungan
dengan satu tujuan utama : “Penebusan Manusia oleh Allah ( YHWH
Elohim / Allah dalam Alkitab ). Geisler dan Nix menyatakan demikian : “
Taman Firdaus yang Hilang” dalam kitab Kejadian menjadi “Taman Firdaus
yang ditemukan Kembali, dalam kitab Wahyu, Sementara F.F. Bruce
berpendapat bahwa : “Setiap bagian tubuh manusia hanya dapat dijelaskan
dengan benar dalam hubungannya dengan tubuh secara keseluruhan. Dan
setiap bagian Alkitab hanya dapat dijelaskan dengan baik dalam kaitannya
dengan Alkitab secara keseluruhan. “

B. UNIK DALAM SIRKULASINYA
Berdasarkan informasi dari Encyclopedia Britannica, Encyclopedia Americana,
One Thousand Wonderful Things About the Bible (Pickering), All
about Bible (Colet), dan sebagainya, Alkitab telah didistribusikan lebih dari 1,5
milyar eksemplar di seluruh dunia ( pada tahun 1979 ). Informasi yang lebih up
to date dapat dilihat dari Wikipedia, free encyclopedia di dunia maya, yang
berjudul “The best selling Books in the world”, per November 2008, jumlah
Alkitab yang telah terjual di seluruh dunia lebih dari 2,5 milyar eksemplar
( Jumlah tersebut baik versi Alkitab penuh, salah satu bagian, entah Perjanjian
Lama atau Perjanjian Baru, atau salah satu kitab dari Alkitab, misalnya hanya
kitab Matius atau Lukas ) dan menduduki peringkat No. 1 sepanjang masa,
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
49
sementara perbandingannya dengan Alquran berada di urutan No. 6
dengan jumlah penjualan sejumlah 200 juta eksemplar !

The Cambridge History of The Bible : “Tidak ada buku lain yang dapat
menyaingi Alkitab dalam kemantapan sirkulasinya“. Hy Pickering
mengatakan ( sekitar tahun 1950-an ) untuk memenuhi permintaan yang
mengalir atas kebutuhan Alkitab, British & Foreign Bible Society harus
menerbitkan “Satu Eksemplar per 3 detik siang maupun malam; 22
eksemplar setiap menit, 1.369 eksemplar setiap jam dan 32.876 eksemplar
setiap hari siang dan malam sepanjang tahun !

C. UNIK DALAM PENERJEMAHANNYA
Alkitab adalah salah satu buku di antara buku-buku utama yang pertama
kali diterjemahkan, yaitu Septuaginta ( terjemahan Perjanjian Lama dari
bahasa Ibrani ke Bahasa Yunani ) pada tahun 250 Sebelum Masehi ! Alkitab
telah diterjemahkan dan diterjemahkan ulang dan ditafsirkan lebih banyak dari
buku mana pun.

Dalam Encylopedia Britannica dikatakan bahwa, “ Sampai tahun 1969
Alkitab secara keseluruhan telah tersaji … dalam 240 bahasa dan dialek,
satu atau keseluruhan telah diterbitkan dalam 739 bahasa lain, di mana
secara keseluruhan telah diterbitkan dalam 1280 bahasa. Berdasarkan
informasi Wikipedia, November 2008, dalam keterangan “Bible Translation By
Language”, Alkitab secara keseluruhan telah diterjemahkan ke dalam 438
bahasa,

Salah satu bagian Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru telah diterjemahkan ke
dalam 1.168 bahasa, dan salah satu dari Kitab telah diterjemahkan ke dalam
2.458 bahasa. Inilah uniknya Alkitab, adakah kitab-kitab suci lain yang sudah
diterjemahkan menandingi Alkitab ?

D. UNIK DALAM KEMAMPUANNYA BERTAHAN

1. Bertahan Melawan Waktu
Meskipun ditulis di atas bahan-bahan yang mudah rusak, harus disalin dan
disalin ulang selama ratusan tahun sebelum tehnik pencetakan ditemukan,
gaya, ketepatan dan keberadaannya tetap dipertahankan, Alkitab
dibandingkan dengan karya sastra kuno lainnya, didukung oleh lebih
banyak bukti naskah daripada 10 karya sastra digabungkan menjadi satu.

Bernard Ramm berbicara tentang ketepatan dan jumlah naskah-
Naskah Alkitabiah : “Orang-orang Yahudi melindunginya dengan cara
yang lebih baik dari pada perlindungan terhadap naskah mana pun.
Dengan massora ( parva, magna, finalis ) mereka mengawasi setiap huruf,
suku kata, kata, dan paragraf. Ada kelas-kelas khusus di dalam
masyarakat mereka yang semata-mata bertugas melindungi dan menyalin
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
50
dokumen-dokumen ini dengan ketelitian yang nyaris sempurna – Ahli kitab,
ahli Taurat dan ahli naskah (masoret). Siapakah yang pernah menghitung
jumlah huruf dan suku kata dan kata dalam karya Plato atau Aristoteles ?
Cicero atau Seneca ?“

2. Bertahan Terhadap Penindasan
Alkitab telah bertahan terhadap penindasan keji dari musuh-musuhnya
Lebih dari buku mana pun. Sudah banyak yang berusaha membakarnya,
Mencekalnya dan “membasminya sejak jaman Kekaisaran Roma sampai
hari ini di banyak negara yang menentang Kekristenan“.

Sydney Collett dalam All About the Bible mengatakan, “Voltaire, seorang
kafir dari Perancis yang meninggal dunia dalam tahun 1778, mengatakan
bahwa dalam 100 tahun dalam jamannya, agama Kristen akan musnah
dari muka bumi dan hanya menjadi bagian dari sejarah. Tetapi apakah
yang terjadi ? Voltaire telah menjadi sejarah, sedang permintaan Alkitab
terus meningkat di seluruh dunia seiring meningkatnya jumlah orang-orang
Kristen di seluruh dunia“.

Mengenai bualan Voltaire tentang kepunahan Alkitab dan Kekristenan
Dalam seratus tahun, Geisler dan Nix menunjukkan bahwa, “Hanya 50
Tahun setelah kematiannya Lembaga Alkitab Genewa telah memakai
Percetakan dan rumahnya untuk memproduksi bertumpuk-tumpuk Alkitab.
“SUNGGUH SUATU IRONI SEJARAH !”

3. Bertahan Terhadap Pelbagai Kritik, Serangan dan Tuduhan
H.L. Hastings, sebagaimana dikutip oleh John W. Lea, telah
Menggambarkan bagaimana Alkitab bertahan menghadapi serangan dan
Ketidakpercayaan orang-orang skeptis dan mereka yang menolak pesan-
pesan dalam Alkitab : Selama delapan belas abad orang-orang kafir
menolak Kristus dan telah berusaha menolak dan menumbangkan buku ini,
ternyata Alkitab masih bertahan sampai hari ini seteguh batu karang.

Peredarannya makin meningkat dan Alkitab lebih dicintai dan dihormati hari
Ini daripada sebelumnya. Orang-orang kafir, dengan segala serangannya,
adalah seperti seorang lelaki yang berusaha menghancurkan piramida
Mesir dengan palu kecil.

Bernard Ramm menambahkan : “Sudah ribuan kali lonceng kematian
Alkitab dibunyikan, arak-arakan penguburannya diadakan, batu nisannya
diukir, dan pidato pengantar janazah dibacakan. Tetapi entah kenapa
jenasahnya tidak pernah muncul”.

“Tidak pernah ada buku lain yang telah dirajam, dikoyak-koyak, diperiksa,
diinterogasi serta dihina dan dinista sehebat Alkitab. Adakah buku filsafat
atau kitab suci agama lain, atau buku-buku modern lain yang telah
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
51
menerima serangan masal sebanyak Alkitab ? Dengan kebencian
dan skeptisisme sebesar itu ? Dengan ketelitian dan kecermatan seperti itu
pada setiap bab, kalimat dan prinsipnya ?

“Alkitab masih dicintai oleh jutaan orang, dibaca oleh jutaan orang, dan
dipelajari oleh jutaan orang. “

E. UNIK DALAM AJARANNYA

1. Nubuat
Wilbur Smith yang mempunyai koleksi perpustakaan pribadi sebanyak
25.000 buku berpendapat bahwa :

“Apa pun pendapat orang tentang otoritas dan amanat yang disajikan di
dalam buku yang kita sebut Alkitab, ada suatu kesepakatan di seluruh
dunia bahwa dalam banyak hal ini merupakan buku paling istimewa yang
pernah dihasilkan oleh bangsa manusia selama lima ribu tahun“.

“Alkitab satu-satunya buku yang pernah ditulis oleh seseorang, atau
sekelompok orang, yang di dalamnya, terdapat sejumlah besar nubuat
tentang bangsa-bangsa tertentu, tentang Israel, tentang semua orang di
bumi, tentang kota-kota tertentu dan tentang kedatangan Dia yang akan
menjadi Mesias. Dunia purba mengenal berbagai cara untuk melihat ke
masa depan, yang disebut ilmu ramal, tetapi kita tidak pernah
mendapatkan satu pun ramalan yang spesifik tentang suatu peristiwa
sejarah besar yang akan terjadi di masa yang jauh ke depan, atau nubuat
tentang seorang Juruselamat yang akan muncul dari umat manusia…”

“Penganut nabi dari agama tertentu tidak dapat menunjukkan adanya
nubuatan khusus tentang kedatangan nabinya yang diucapkan ratusan
tahun sebelum kelahirannya. Begitu pun tidak ada pendiri aliran
kepercayaan yang dapat menunjukkan dengan tepat suatu naskah kuno
yang meramalkan kemunculan mereka”.

2. Sejarah
Dari I Samuel sampai II Tawarikh kita menemukan sejarah Israel, meliputi
lebih kurang lima abad. The Cambridge Ancient History (Vol. 1, hlm. 222),
mengatakan : “Bangsa Israel, telah menunjukkan kejeniusannya dalam
menyusun sejarah, dan Perjanjian Lama merupakan sejarah tertulis paling
tua yang masih ada“.

“Daftar Bangsa-Bangsa” dalam kitab Kejadian pasal 10, ternyata
merupakan catatan sejarah yang sangat akurat. Menurut Albright : “Daftar
itu sama sekali tidak ada padanannya dalam kesusasteraan kuno dunia,
tidak dapat disamakan sedikitpun dengan kesusasteraan Yunani…’Daftar
Bangsa-Bangsa’ tetap merupakan dokumen yang paling menakjubkan
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
52
ketepatannya…yang menunjukkan pengertian “modern” tentang situasi
etnik dan lingustik dunia modern, meskipun kelihatannya rumit, para ahli
tidak habis-habisnya mengagumi pengetahuan penulisnya tentang
masalah itu. “

3. Kepribadian
Lewis S. Chafer, pendiri dan mantan presiden Seminari Teologi Dallas,
menyatakan demikian ; “Alkitab bukanlah sebuah buku yang akan ditulis
seorang kalau dia bisa, atau yang akan ditulisnya kalau dia mau“.

Alkitab mengupas semua dosa para tokohnya secara amat jujur. Baca
saja biografi-biografi jaman sekarang, dan lihatlah bagaimana mereka
berusaha menutupi, mengabaikan atau menghilangkan sisi-sisi gelap dari
orang yang mereka tulis, Tetapi Alkitab tidak seperti itu. Ia mengatakan
sesuatu apa adanya :

a. Dosa bangsa Israel dikecam – Ulangan 9:24.
b. Dosa-dosa para leluhur – Kejadian 12:11-13; 49:5-7
c. Para Penginjil mengakui kesalahan mereka dan kesalahan para rasul
– Matius 8:1026; 26:31-56; Markus 6:52; 8:18; Lukas 8:24, 25; 9:40-45,
Yohanes 10;6; 16:32
d. Kekacauan di dalam gereja-gereja – I Korintus 1:11; 15:12; II Korintus
2:4; dan lain-lain.
e. Mungkin banyak orang akan mengatakan, “Mengapa mereka harus
menulis tentang Daud dan Batsyeba ? “Ya, memang begitulah cara
Alkitab menceritakan sesuatu.

F. UNIK DLM PENGARUHNYA TERHADAP KESUSTERAAN
DI SEKITARNYA

Cleland B. McAfee menulis dalam The Greatest English Classic :
“Bila semua Alkitab dalam suatu kota dimusnahkan, kitab itu dapat disusun
kembali dari bagian-bagian pentingnya yang dikutip oleh buku-buku di atas
rak-rak perpustakaan umum kota. Banyak karya tulis, dari hampir semua
penulis kesusasteraan besar, yang menunjukkan khusus bagaimana Alkitab
telah mempengaruhi mereka“.

Sejarawan Philip Schaff (The Person of Christ, American Tract Society, 1913)
dengan jelas menggambarkan keunikan Alkitab sekaligus keunikan sang
Juru Selamat sendiri : “Yesus dari Nazareth ini, tanpa uang maupun senjata,
telah menaklukkan lebih banyak orang daripada Aleksander, Caesar dan
Napoleon; tanpa pendidikan dan ilmu pengetahuan Dia telah menguakkan
pengertian tentang manusia dan Allah lebih daripada seluruh ahli filsafat dan
kaum cerdik pandai; tanpa kata-kata yang muluk-muluk Dia berbicara tentang
kehidupan sebagaimana yang belum pernah dikatakan sebelumnya atau
sesudahnya, dan yang memberikan pengaruh yang jauh melebihi seorang
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
53
ahli pidato atau penyair; tanpa menuliskan sepatah kata pun, Dia
menggerakkan lebih banyak pena, dan mengilhami lebih banyak tema
khotbah, ceramah, diskusi, buku pendidikan, karya seni, dan lagu pujian
daripada seluruh orang besar baik dari jaman purba maupun modern“.

Jelaslah sudah bagi Josh McDowell ( dan kita semua orang-orang Kristen ) semua hal
yang sudah dijabarkan di atas membuktikan bahwa Alkitab adalah unik; “berbeda dari
yang lainnya; tidak ada kembaran atau padanannya“, walaupun banyak yang
mengatakan bahwa Alkitab itu bukan Firman Tuhan, isinya sudah dipalsukan, banyak
kesalahan dan ketidak akuratan, dan sebagainya.

Seorang Professor mengatakan : “Kalau engkau adalah orang cerdas, dan rendah
hati, engkau pasti akan membaca buku yang menarik ini lebih banyak perhatian dari
pada buku mana pun, kalau engkau mencari kebenaran, dan bukan mencari-cari
kesalahan untuk menguatkan berbagai tuduhan dan serangan yang tidak pernah
terbukti kebenarannya“.

13. Isue-isue Kontemporer Tentang Status Alkitab

Sejak mula-mula hingga abad XVI, gereja secara resmi menerima dan mengakui
status Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, selaku ineransi, otentik,
kanonik, kredibel, berotoritas, revelasi dan inspirasi Allah.
Namun seiring dengan tumbuhnya berbagai denominasi gereja, kebebasan dalam
interpretasi, dan pergeseran paradigma ilmu pengetahuan maupun teologi pada
abad-abad selanjutnya, maka penerimaan dan pengakuan status Alkitab tersebut
menjadi bervariasi.

Sebagian besar orang Kristen, khususnya para teolog evangelikal, tetap konsisten
pada pandangan konservatif sebagaimana yang diakui selama kurang lebih 16 abad
sebelumnya. Hanya sebagian kecil, khususnya para teolog liberal, yang sesuai
dengan nama liberalnya, telah membebaskan diri dari paradigma teologi tradisional
konservatif dan menapak kepada paradigma teologi modern yang secara radikal dan
gencar menggugat status Alkitab tersebut.

12.1. Inerransi Alkitab

Gugatan terhadap inerransi Alkitab diajukan oleh para teolog akhir abad XIX
hingga sekarang ini. Terutama sejak dilancarkannya Kritik Historis, yang jelas
sangat merendahkan status Alkitab selaku Firman Allah. Pada akhir abad ke 19
Kritik Historis, yang dikenal juga dengan Kritik Tinggi Liberal, mencapai
puncaknya. Misalnya dengan Kritik Sastra terhadap kelima kitab Musa (Pentateukh)
yang dikumandangkan oleh Julius Welhausan dalam bukunya berjudul Die
Composition des Hexateuchs (1876) dan Prolegomena zur Geschichte Israels
(1878).
11
Secara khusus yang menjadi perdebatan hingga kini adalah, apakah

11
Ronald Youngblood, “Introduction,” The Higher Criticism of the Pentateuch By William Henry
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
54
Alkitab berstatus “mungkin salah” atau “tidak mungkin salah”.

Pandangan yang menganggap Alkitab bisa salah dan bahkan bukan Firman Allah,
telah meluas di beberapa Sekolah Tinggi Teologi yang cukup terkenal di Indonesia.
Sekalipun pandangan ini belum menjemaat, namun dapat dibayangkan masa depan
Gereja di Indonesia, bila sebagian besar dari pimpinan gereja-gereja besar dan yang
cukup berpengaruh di Indonesia telah menganut dan mulai mengajarkannya kepada
jemaat. Para pimpinan dan anggota-anggota jemaat yang kurang memahami
perkembangan teologi dewasa ini, tanpa sadar telah terkelabui dengan pandangan
ini. Mereka turut mengakui bahwa Alkitab berisi firman Allah, sebab sepintas lalu
pernyataan ini nampaknya benar. Mereka tidak tahu bahwa pernyataan ini
dikemukakan oleh mereka yang menyangkal bahwa Alkitab adalah Firman Allah.

Dengan perkataan ‘berisi’, mereka mengakui bahwa sebagian di antaranya bukanlah
firman Allah. Menurut Lindsell, pandangan seperti itu berarti menyangkal doktrin-
doktrin utama mengenai iman Kristen, misalnya kelahiran Kristus dari anak dara,
keilahian Kristus, mujizat-mujizat, penebusan pengganti dan kebangkitan tubuh.
12


Di Indonesia sudah beredar buku-buku, yang dalam pembahasannya sangat
merendahkan nilai Alkitab selaku firman Allah. Buku-buku tersebut di antaranya
adalah Alkitab di Dunia Modern, terjemahan dari buku The Bible in the Modern
World, karangan James Barr dan Di Sini Kutemukan, karangan Wismoadi
Wahono. Barr, dalam tulisannya, menyangkal relevansi Alkitab dengan dunia
modern, dan menganggap Alkitab sudah kadaluarsa. Buku ini mendapat kritikan
keras ketika mula-mula dipakai dalam seminar teologi Perjanjian Lama di STT Duta
Wacana Yogyakarta. Namun akhirnya mendapat sambutan yang hangat dari para
mahasiswa. Cairns menjelaskan bagaimana penerimaan para mahasiswa pada waktu
itu, sebagai berikut :

Tanggapan mahasiswa terhadap buku ini adalah menarik : Waktu baru mulai
berkenalan dengan isinya ada yang mencapnya ‘radikal’, atau merupakan “serangan
terhadap kekudusan Alkitab”, atau “kurang relevan dalam konteks situasi teologi di
Indonesia”. Akan tetapi di dalam proses pembahasannya, timbullah dua kesan :
yang pertama ialah bahwa gereja-gereja kita justru terancam bahaya, kalau kita
( terutama Pendeta dan teolog ) tidak ikut menggumuli masalah-masalah yang
memikat perhatian James Barr dalam buku ini, dan kesan kedua ialah bahwa cara
pemecahan masalah status Alkitab yang digariskan James Barr, justru dapat
membuka kemungkinan bagi kita mencapai keyakinan dan keberanian yang lebih
kokoh, dalam menggunakan Alkitab sebagai landasan kebaktian, pemberitaan, dan
pelayanan Kristen.
13



Green (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1978), h. v.
12
Harold Lindsell, A Handbook of Christian Truth (Westwood, N.J.: Fleming H. Revell Company,
n.d.), h. 22-23.
13
I.J. Cairns, “Kata Pengantar” Alkitab di Dunia Modern, oleh James Barr (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1983), h. 5.
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
55
Buku ini sudah mengalami cetak ulang oleh BPK Gunung Mulia. Cetakan pertama
pada tahun 1979 dan kedua tahun 1983 dan terus dicetak ulang. Ini menunjukkan
adanya sambutan baik dari umat Kristen di Indonesia, khususnya para mahasiswa
Perguruan Tinggi Teologi dan para teolog yang mengutamakan rasio dan
menganggap sepi campur tangan Roh Kudus secara istimewa kepada para penulis
kitab dalam Alkitab.

Kaum Injili menganggap pokok ini penting untuk diperhatikan secara khusus, karena
itu pada bulan Oktober 1979 di Chicago berkumpullah kira-kira 300 sarjana Injili
untuk membicarakannya bersama-sama. Konferensi ini disebut “The International
Conference on Biblical Inerrancy” (ICBI), yang berhasil merumuskan 19 pasal
“Chicago Statement.” Makalah-makalah dibahas, dikumpulkan dan diterbitkan pada
tahun 1980, dengan judul Inerrancy. Pada tanggal 23-31 Agustus 1982, kurang lebih
85 teolog Injili dari 17 negara di Asia, mengadakan pertemuan di Seoul, Korea,
untuk mendiskusikan bagaimana menerapkan Alkitab dalam konteks yang berbeda
di Asia. Pada pertemuan ini, pandangan “kemungkinan salah” dan “ketaksalahan”
Alkitab turut dibahas.

Sekalipun kaum Fundamentalis dan kaum Injili begitu kokoh mempertahankan
pandangan tradisionalnya mengenai Alkitab, yang tak dapat salah dan tak mungkin
keliru, terdapat juga di antaranya yang sudah meninggalkan pandangan ini. Sedikit
demi sedikit baik organisasi maupun secara individu, yang mulanya mengakui
ketaksalahan Alkitab, beralih kepada pandangan yang menganggap bahwa Alkitab
memiliki kesalahan-kesalahan dan bahkan mereka turut mempropagandakannya.
14

Misalnya G.G. Berkouwer dan para pengikutnya telah mengubah posisi Princeton
dari pengakuan yang kokoh mengenai ketaksalahan Alkitab, sebagaimana yang
dipertahankan B.B. Warfield sebelumnya, kepada penyangkalan terhadapnya.

Nampaknya yang menjadi harapan dewasa ini adalah kesediaan dari para teolog
rasionalis, naturalis, modernis, liberalis atau ekumenis untuk memberi tempat pada
aspek adikodrati ketika memahami Alkitab dengan suatu metode pendekatan
tertentu. Di pihak lain, para teolog konservatif, tradisional, fundamentalis atau
evangelikalis perlu secara bertanggungjawab dalam pengungkapan kebenaran
Alkitab tanpa mengabaikan pertimbangan rasio, sebab Alkitab meliputi kodrati dan
adikodrati.

Paham Errancy Alkitab tidak dapat diterima karena bukti internal ( Mazmur
119:142,151,160, Amsal 30:5 ) dan eksternal ( penemuan-penemuan termodern
dalam ilmu pengetahuan menunjukkan kesesuaian & pengukuhan catatan-catatan
Alkitab tentang sains ) bahwa Alkitab itu ineransi.

Selama bertahun-tahun para pengeritik yang tidak percaya telah membuat daftar
yang penting tentang apa yang mereka sebut ketidaksesuaian dalam Alkitab, dan
beberapa di antara mereka telah menyatakan bahwa Alkitab mengandung kesalahan

14
Harold Lindsell, The Battle for the Bible (Grand Rapids: Zondervan, 1976.), h. 19.
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
56
yang tidak bisa dipungkiri lagi. Pada tahun 1874 J.W. Haley mengadakan sebuah
telaah yang teliti, yang masih berguna untuk dibaca ( John W. Haley, Alleged
Discrepancies of The Bible , Grand Rapids : Baker Bokk House, 1988 ). Ia
mengklasifikasikan ketidaksesuaian yang dinyatakan ini dan menemukan bahwa itu
timbul dari beberapa penyebab :

[1] Mereka gagal membaca dengan tepat apa yang sebenarnya dikatakan Alkitab.

[2] Interpretasi-interpretasi yang salah tentang Alkitab, khususnya mereka yang lalai
memperhitungkan adat istiadat dan cara berbicara pada jaman kuno.

[3] Pikiran-pikiran yang keliru mengenai Alkitab secara keseluruhan dan gagal
untuk mengakui bahwa ada kalanya Alkitab mencatat perkataan Iblis dan orang
jahat. Tetapi Alkitab memberikan laporan yang benar tentang apa yang mereka
katakan, sekalipun mereka itu salah.

[4] Lalai menyadari bahwa beberapa kisah merupakan penyingkatan dari apa yang
telah dikatakan atau dilakukan.

[5] Kesulitan-kesulitan kronologis karena kenyataan bahwa orang Babel, orang
Yunani, dan orang Romawi telah menggunakan sistem yang berbeda untuk
mengukur waktu atau menetapkan tanggal. Bahkan Israel dan Yehuda
kadangkala mempunyai metode yang berbeda dalam menghitung pemerintahan
raja-raja ( lihat Edwin R. Thiele, The Mysterious Numbers of The Hebrew
Kings, Grand Rapids : Zondervan Publishing House, 1983 ).

[6] Ketidaksesuaian yang nyata dalam bilangan-bilangan karena kenyataan bahwa
beberapa bagian Kitab Suci menggunakan bilangan bulat, sedangkan yang
lainnya memberikan bilangan yang lebih tepat, bergantung pada tujuan penulis.

[7] Di beberapa tempat kesalahan-kesalahan para penyalin telah masuk ke dalam
naskah-naskah purbakala tertentu. Sebuah perbandingan antara naskah-naskah
telah mengoreksi sebagian besar kesalahan-kesalahan ini ( nyatanya, sebagian
besar sarjana setuju tentang bacaan asli dari kebanyakan kasus ini. Lagipula,
kasus-kasus di mana kita tidak dapat yakin sama sekali tidak mempengaruhi
pengajaran-pengajaran Alkitab.

[8] Akhirnya, beberapa hal yang dinamakan ketidaksesuaian hanyalah merupakan
sebuah kata Ibrani atau Yunani yang memiliki lebih dari satu arti, seperti
beberapa kata dalam bahasa Inggris.

Satu lepas satu, apa yang dinyatakan sebagai kesalahan dan ketidaksesuaian telah
terbukti palsu. Berulang-ulang penemuan-penemuan baru oleh para arkeolog dan
para sarjana serta ilmuwan lainnya telah memperlihatkan bahwa yang dinamakan
kesalahan itu adalah kesalahan para kritikus oleh sebab ketidakpercayaan dan
pengetahuan mereka yang tidak cukup. Misalnya, DR. Stanley Horton mendengar
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
57
tentang Guru Besar Harvard berkata bahwa lampu bercabang tujuh tidak ada pada
jaman Musa, oleh karena itu Alkitab keliru ketika mengatakan bahwa lampu itu
telah dibuat dan diletakkan dalam Tabernakel ( Keluaran 37:17-24 ). Akan tetapi,
pada suatu ekspedisi arkeologis di Dotan pada tahun 1962 dengan DR. Yoseph Free
dari Wheaton College, DR. Horton memperhatikan para pekerja menggali sebuah
lampu bercabang tujuh yang berasal dari tahun 1.400 sM tepat dari jaman Musa
( Stanley M. Horton, Why The Bible Is Reliable, Pentecostal Evangel, 14 January
1973, halaman 8-11 ).

12.2. Otensitas Alkitab

Isue-isue Kontemporer juga menggugat otensirtas Alkitab. Banyak catatan sejarah
Alkitab yang fakta historisnya ditolak karena tidak otentik. Hipotesa dalam kritik
sumber menggeser Musa sebagai penulis Pentateuch, dan menempatkan waktu
penulisan Perjanjian Lama dimulai sesudah umat Israel kembali dari pembuangan di
Babel. Karena itu tulisan-tulisan bentuk sejarah dalam Kejadian 1:1-11 dianggap
mitos pinjaman dari Mesopotamia. Adam dianggap bukan sosok pribadi sejarah,
dan karena itu fakta historis terjadinya dosa dalam Kejadian 3 harus ditolak
( Brunner, 1889-1966 ). Dosa memang riil namun cerita tentang kejatuhan manusia
dalam dosa dan tentang penciptaan adalah mitos ( Niebuhr ).

Abraham, Ishak dan Yakub tidak ada hubungan darah ( Wahono ). Lukas melapisi
pandangannya sendiri mengenai perkembangan orang Kristen mula-mula dalam
Injilnya ( Bauer, 1792-1860 ). Perkataan-perkataan langsung ( Ipsissima verba )
dari Tuhan Yesus dan para rasul, baik dalam kitab Injil maupun dalam Kisah Para
Rasul tidak otentik, karena semuanya telah diubah oleh penyunting ( Barr ). Berita
tentang Yesus dalam Injil Sinoptis sebagian besar tidak otentik. Hampir semua
diciptakan oleh gereja mula-mula ( Bultmann, 1884-1976 ).

Kesaksian dari Alkitab sendiri bahwa kitab-kitab Taurat adalah tulisan Musa
( Keluaran 17:14, 24:4, 34:27, Bilangan 33:2, Ulangan 31:9,22, Roma 10:5 ), bukan
tulisan para penyunting setelah bangsa Israel kembali dari pembuangan,
sebagaimana yang diajukan oleh para penganjur kritik sumber.

Adam adalah manusia riil yang pernah hidup dalam sejarah, betul-betul sebagai asal
dari manusia turun-temurun, dan karena itu tercatat dalam silsilah Yesus ( Lukas
3:38 ). Tulisan-tulisan Perjanjian Baru, khususnya perkataan-perkataan langsung
( Ipsissima verba ) dari Tuhan Yesus dan para rasul dalam kitab-kitab Injil maupun
Kisah Para Rasul adalah otentik. James Barr sendiri tidak dapat menunjukkan
bagian mana yang tidak otentik dan bagian mana tulisan-tulisan atau perkataan-
perkataan yang otentik.





Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
58
12.3. Kanonisasi Alkitab

Gugatan terhadap kanonisasi Alkitab dilancarkan melalui penambahan kitab-kitab
Apocrypha pada permulaan sejarah, publikasi kurang lebih 100 teks pseudepigrapha
yang dikaitkan dengan Perjanjian Lama, dan Injil Barnabas, Injil Thomas, bahkan
III Korintus yang dikaitkan dengan Perjanjian Baru belakangan ini.

Ke-66 kitab Alkitab diakui selaku kanonik. Perjanjian Lama adalah kanonik, karena
Allah mengakui kitab Taurat Musa ketika Ia memperingatkan Yosua agar
merenungkannya siang dan malam dan “bertindak hati-hati sesuai dengan yang
tertulis di dalamnya” ( Yosua 1:8 ). Penulis kitab 1 Raja-raja mengakui bahwa kitab
Yosua adalah kanonik ( 1 Raja-raja 16:34, bandingkan dengan Yosua 6:26 ). Ada
indikasi bahwa tidak ada lagi kesaksian nubuat setelah Maleakhi hingga kedatangan
Yohanes Pembaptis, karena pada bagian akhir periode Perjanjian Lama ini, Allah
berfirman, “... Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari
Tuhan yang besar dan dahsyat itu” ( Maleakhi 4:5, bandingkan dengan Matius
17:11-13 ). Penyataan Yesus dalam Lukas 11:51, bahwa mulai dari darah Habel
( Kejadian 4:8 ) sampai kepada darah Zakharia ( 2 Tawarikh 24:20-22 ), yang telah
dibunuh akan dituntut, memberi indikasi bahwa Tuhan Yesus mengakui kanonisasi
ke-39 kitab Perjanjian Lama. Urutan ke-39 kitab Perjanjian Lama Ibrani dimulai
dari kitab Kejadian dan berakhir pada kitab 2 Tawarikh.

Pengakuan Tuhan Yesus juga nyata dalam perkataan-Nya bahwa Ia datang untuk
menggenapi “Hukum Taurat dan kitab Para Nabi” ( Matius 5:17 ), suatu sebutan
yang umum pada masa itu untuk menunjukkan ke-39 kitab Perjanjian Lama. Bukti-
bukti di luar Alkitab, seperti pada penemuan naskah Laut Mati dan tulisan-tulisan
bapa-bapa gereja mula-mula, memberi dukungan kuat terhadap sifat kanonik
Perjanjian Lama, kurang lebih 175 dari 500 naskah tersebut adalah kitab-kitab
kanonik, kecuali kitab Ester. Sisanya yang bukan kanonik memberi dukungan,
karena bersifat tafsir atau komentar tentang kitab-kitab kanonik. Bapa-bapa gereja,
kecuali Agustinus yang mengikutsertakan kitab-kitab apocrypha, mengakui
kanonisasi Perjanjian Lama, bahkan Gereja Katholik baru pada konsili Trente tahun
1546, menerima secara resmi apocrypha tersebut. Bukti-bukti tersebut di atas
menunjukkan bahwa kanonisasi kitab-kitab Perjanjian Lama bukan baru diputuskan
oleh rabi-rabi dalam pertemuan di Jamnia tahun 90 M, namun sejak tulisan-tulisan
itu diilhamkan Allah.

Teks Perjanjian Lama telah mengalami terobosan yang dramatis dalam abad ini.
Dengan penemuan Naskah-naskah Laut Mati pada tahun 1947, telah ditemukan
manuskrip dari seluruh atau sebagian dari tiap kitab Perjanjian Lama kecuali kitab
Ester. Naskah-naskah tersebut berasal dari tahun 250 sM, yang membawa kita balik
ke 1.000 tahun lebih awal daripada naskah-naskah terbaik yang sebelumnya tersedia
dalam teks Ibrani. Sebenarnya, kontribusi terpenting dari Naskah-naskah Laut Mati
adalah keterangan yang diberikan mengenai teks kitab-kitab Perjanjian Lama.
Kesimpulannya adalah bahwa kita diberikan kepastian yang kokoh mengenai
ketepatan Alkitab. Naskah-naskah tersebut memungkinkan diadakan perbandingan
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
59
sejumlah besar teks-teks yang memberitahu kepada kita bahwa Perjanjian Lama
benar-benar tidak berubah selama 2.000 tahun terakhir.

Sifat Kanonik ke-27 kitab Perjanjian Baru teruji melalui test of authority, test of
uniqueness, dan test of acceptance by the churches. Para penulis kitab-kitab
Perjanjian Baru adalah para saksi mata atau murid mereka, karena itu otoritas
tulisan mereka tidak dapat diragukan. Masing-masing kitab mempunyai keunikan
internal. Kitab-kitab tersebut beredar di jemaat-jemaat mula-mula ( Kolose 4:16 )
dan tidak satu pun yang diragukan oleh jemaat. Para penulis kitab-kitab Perjanjian
Baru mengakui tulisan mereka adalah Firman Allah ( 2 Petrus 3:15-16, 1 Timotius
5:18 ). Bukti-bukti lain adalah bapa-bapa gereja, dalam tulisan mereka antara tahun
70 - 170 M, mengutip dari ke-27 kitab Perjanjian Baru.
Dalam beberapa versi kanonisasi Perjanjian Baru sejak tahun 140 - 397 M, hanya
kitab 2 Petrus yang tidak diikutsertakan. Pada konsili di Carthage tahun 397 M,
Gereja secara resmi mengakui ke-27 kitab tersebut sebagai kitab-kitab kanonik.

Sungguh luar biasa bahwa ada lebih dari 5.300 salinan ( manuskrip ) kuno
Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani yang asli ditulis dengan tangan. Beberapa
naskah berasal dari abad III dan abad IV. Satu fragmen Injil Yohanes berasal dari
kira-kira tahun 125, dalam waktu 30 tahun ketika fragmen itu ditulis. Ini berbeda
dengan naskah-naskah kuno lainnya. Manuskrip yang paling kuno yang kita miliki
dari Virgilius ditulis kira-kira berusia 350 tahun setelah kematiannya. Sedangkan
naskah paling kuno dari Horatius adalah 900 tahun setelah kematiannya. Sebagian
besar naskah Plato berasal dari 1.300 tahun setelah kematiannya. Sir Frederick
Kenyon, seorang sarjana Alkitab yang terkemuka, berbicara tentang berbagai
penemuan modern dalam arkeologi yang berhubungan dengan Alkitab, berkata,
“Mereka telah menetapkan, dengan amat banyak bukti yang tidak dimiliki karya
kepustakaan kuno lainnya, keaslian dan integritas yang nyata dari teks Alkitab
seperti yang kita miliki sekarang ini” ( Sir Frederick Kenyon, Our Bible And The
Ancient Manuscripts, ed. rev. V, London : Eyre & Spottiswoods, 1958, 318-319 ).

Isue-isue Kontemporer memberi sifat kanonik tulisan-tulisan lain, seperti Injil
Thomas, Injil Barnabas, dan III Korintus. Injil Thomas tidak terdapat di dalam
Alkitab, khususnya di antara ke-27 kitab Perjanjian Baru, karena itu jelas tidak
termasuk kanonik. Injil Thomas, menurut terjemahan Stephen Patterson dan Marvin
Meyer serta sumber terbatas yang ada, nampaknya mengungkapkan kisah kanak-
kanak Yesus, kemampuannya mengadakan mujizat dan pengajaran-pengajaran-Nya
yang mengagumkan. Namun tulisan tentang karya penebusan-Nya atau pernyataan-
Nya bahwa Dia datang ke dunia untuk menebus dosa manusia tidak ditemukan.
Pada umumnya pengajaran Tuhan Yesus dalam Injil Thomas memiliki kesamaan
dengan pengjaran Tuhan Yesus dalam keempat Injil dari Perjanjian Baru. Oleh
karena itu, ada kesan bahwa Injil Thomas tersebut merupakan rekayasa teologis,
yang diupayakan untuk menunjukkan kesejajarannya dengan keempat Injil, namun
sekaligus juga menunjukkan “dosa-dosa-Nya” pada masa kanak-kanak. Misalnya,
karena Ia marah dan membunuh anak lain hanya karena anak itu menepuk
punggung-Nya dari belakang.
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
60
Sifat kanonik Injil Thomas tidak dapat diterima meskipun dapat teruji oleh test of
authority, seandainya betul ditulis oleh Thomas Didimus, murid Tuhan Yesus,
sebagaimana dikemukakan oleh permulaan Injil Thomas ( bandingkan dengan
Yohanes 1:16, 20:24 ). Injil Thomas tidak lolos melalui test of uniqueness dan
test of acceptance by the churches, karena selama kurang lebih 300 tahun dalam
proses pengenalan kitab-kitab kanonik Perjanjian Baru hingga konsili Carthage,
Injil Thomas tidak pernah disebut. Kemungkinan besar ketika itu Injil Thomas,
seperti juga Injil Barnabas, belum ditulis, sehingga tidak mungkin Thomas Didimus
yang menulisnya. Berbagai versi kanonitas, baik dalam kanon Marcion ( tahun
140 ), kanon Muratorion ( tahun 170 ), versi Syria Kuno ( abad II ), versi Latin
Kuno ( tahun 200 ), kanon Agustinus ( tahun 400 ) maupun Konsili Trente ( 1546 ),
Injil Thomas tidak pernah disebut. Jadi terbukti bahwa Injil Thomas yang mulai
dipublikasikan belakangan bukan kitab kanonik.

Sementara itu, kitab yang dikenal sebagai “Injil Barnabas” sama sekali tidak
berkaitan dengan Kekristenan, sebab kitab itu adalah suatu kesaksian palsu dan
merupakan suatu upaya untuk menyatakan hal-hal yang sangat keliru tentang
Injil Kristus. Tak terbilang banyaknya bukti yang memperlihatkan bahwa penulis
Injil Barnabas ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan para rasul Kristus atau
murid-murid-Nya yang menuliskan kitab mereka di bawah ilham Roh Kudus.
Berikut ini beberapa bukti-bukti tersebut :

Bukti pertama adalah ketidaktahuan penulisnya tentang geografi Palestina
dan negara tempat terjadinya kisah-kisah yang bersifat religius ini. Misalnya,
Dia berkata, “Yesus pergi ke laut Galilea, dan naik ke dalam sebuah perahu berlayar
ke kotanya Nazareth, dalam pada itu terjadi suatu topan di laut, sampai akhirnya
perahu itu hampir tenggelam” ( 20 alenia 1 ). Sudah lama diketahui dengan baik
bahwa Nazareth terletak di atas bukit di Galilea dan bukan sebuah kota di pesisir
pantai, seperti dikatakan penulis.

Bukti kedua adalah ketidakpahaman penulis tentang sejarah kehidupan Yesus
Kristus. Dalam pasal 142 alenia kedua bagian tengah dituliskan bahwa Mesiah
tidak akan datang dari keturunan Daud tetapi dari keturunan Ismail dan bahwa
Perjanjian itu diberikan kepada Ismail dan bukan kepada Ishaq ( 124:14 ). Ini
merupakan kesalahan yang besar karena setiap orang yang membaca silsilah Kristus
dalam Kitab Injil yang benar akan melihat bahwa silsilah itu, menurut daging, Dia
berasal dari keturunan Daud, dari suku Yehuda.

Bukti ketiga, pengarangnya memasukkan kisah-kisah yang sama sekali tidak
berakar pada Kekristenan. Misalnya, pada pasal 35 alenia 9,10,12 berkata, “Lalu
firman Allah kepada pengikut Satan, “Bertobatlah kamu dan bersyahadatlah kepada
aku karena Akulah Pencipta kalian”. Mereka menjawab, “Kami telah berpaling dari
melaksanakan sujud kepada Engkau, karena Engkau tidak adil, hanya Satan adalah
adil dan tidak berdosa dan dia adalah Tuhan kami. “Kemudian Satan, pergi sambil
meludah pada tanah bumi itu dan Malaikat Jibril mengangkatkan ludah itu beserta
sedikit tanah, sehingga sekarang manusia mempunyai pusar pada perutnya”..
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
61
“Yesus membalas, :Sesungguhnya aku berkata kepadamu, aku kasihan kepada
Satan, ketika aku tahu kejatuhannya; dan aku kasihan kepada manusia yang
digodanya kepada dosa. Karena itu aku telah berdoa dan puasa kepada Allah kita
yang berbicara kepadaku dengan perantaraan Malaikat-Nya Jibril, “Apakah
keinginan engkau Yesus, dan apakah permohonan engkau ? Aku menjawab, Allah,
Engkau mengetahui tentang dosa yang disebabkan Satan dan lewat godaan-
godaannya banyak yang binasa, dia adalah ciptaan-Mu; karena itu Aku mohon
ampunilah mereka Tuhan”. Allah menjawab, “Yesus perhatikanlah, Aku mau
mengampuni dia, hanya kalau dia berkata, “Allah Tuhanku, aku telah berdosa,
berilah ampunan kepadaku, dan Aku akan mengampuni dia dan mengembalikannya
kepada kedudukannya semula. Kata Yesus, “Ketika aku mendengar ini, Aku sangat
gembira dan percaya bahwa aku telah membuat perdamaian ini. Karena itu aku
memanggil Satan, dan dia bertanya : “Apa yang harus aku perbuat untukmu, O
Yesus ?” Aku menjawab, :Engkau akan melakukannya untuk dirimu sendiri, O
Satan, karena aku tidak senang terhadap perbuatanmu, tetapi untuk kebaikanmu
telah aku panggil engkau”. Satan membalas, :Jika kamu tidak berkeinginan kepada
bantuanku, aku juga tidak menginginkan bantuanmu; karena aku lebih mulia
daripada kamu. Kamu tidak layak untuk melayani aku, kamu adalah debu
sedangkan aku adalah roh” ( 51 alenia 2-7 ).

Tidak ada orang yang berpikiran sehat dapat percaya bahwa kisah tahayul ini
berasal dari Injil yang diilhami Allah. Pertama, karena Allah tidak berkenan
kepada Setan yang jatuh dan dibuang dari hadirat-Nya. Hal ini juga tidak sejalan
dengan kesucian Allah yang ilahi itu untuk membicarakan perdamaian dengan
Setan. Kedua, sejak mulanya Kristus, telah masuk dalam peperangan dengan sikap
tidak pernah mengalah kepada Setan ( 1 Yohanes 3:8 ). Ketiga, dalam
peperangannya dengan Kristus, Setan tidak berani berkata bahwa dia lebih hebat
dari Kristus. Sebaliknya, di tengah-tengah orang banyak di Kapernaum ketika ia
diperintahkan keluar dari seseorang, dengan suara keras ia berseru, “Hai
Engkau,Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami ? Engkau datang hendak
membinasakan kami ? Aku tahu siapa Engkau; Yang Kudus dari Allah” ( Lukas
4:34 ).

Bukti Keempat, para sarjana yang meneliti dengan cermat tentang kitab ini
secara bulat berpendapat bahwa kitab ini tidak pernah ada sebelum abad XV.
Kitab Injil Barnabas ini muncul hampir 1.500 tahun sesudah kematian Barnabas.
Suatu penelitian sejarah menunjukkan bahwa naskah asli dari Injil Palsu ini muncul
untuk pertama kali pada tahun 1709 dalam barang antik milik Craemer, seorang
penasehat raja Prusia. Naskah ini diambil daripadanya dan disimpan di
Perpustakaan Wina pada tahun 1738. Semua sarjana yang menelitinya mencatat
bahwa sampul buku ini terbuat dalam gaya Timur dan mempunyai catatan pinggir
dalam bahasa Arab. Dari pengujian kertas dan tinta yang digunakan, nampak bahwa
kitab itu ditulis pada abad XV atau XVI.



Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
62
Bukti Kelima, beberapa sarjana berpendapat bahwa penulis Injil Barnabas ini
adalah biarawan dari Ukraina, bernama Marino, sesudah beralih memeluk
agama Islam berganti nama menjadi Musatafa Al-Arandi.
Setiap orang yang membaca kitab ini dapat menyadari bahwa penulisnya memiliki
suatu pengetahuan Al-Qur’an yang luas dan hampir seluruh isinya merupakan
terjemahan secara harafiah dari ayat-ayat Al-Qur’an ( bandingkan dengan Injil
Barnabas 44 alenia 6, 97 alenia 1,9,10 ).

12.4. Penyataan Khusus Allah

Isue-isue kontemporer mengemukakan bahwa Alkitab bukan penyataan Allah,
bukan riwayat tindakan-tindakan Allah dalam sejarah, melainkan hanya merupakan
riwayat pengalaman agamawi manusia ( Schleirmacher, 1768-1834 ).
Alkitab bukan penyataan Allah, karena penyataan Allah adalah Yesus Kristus, dan
Alkitab hanyalah saksi dari penyataan itu.

Yesus Kristus adalah “Firman Allah yang dinyatakan”, Alkitab adalah “Firman
Allah yang ditulis”, dan khotbah, teologi dalam sakramen adalah “Firman Allah
yang diberitakan” ( Karl Barth, 1886-1968 ).

Keyakinan tradisional konservatif mengakui bahwa Alkitab adalah penyataan
khusus ( special revelation ) Allah, yang olehnya Allah transenden telah
menyatakan diri-Nya kepada manusia. Penyataan-Nya itu bersifat Kristosentris,
karena memberi penekanan utama pada pribadi dan karya penebusan Yesus Kristus
( Roma 16:25-26, 1 Yohanes 5:9-12, Wahyu 1:1 ). Dalam hubungan dengan
terjadinya Alkitab, penyataan merupakan pengalihan pikiran Allah kepada pikiran
para penulis insani.

12.5. Inspirasi Alkitab

Inspirasi berkaitan dengan kepenulisan naskah-naskah asli ( original
manuscripts ) Alkitab. Isue-isue Kontemporer menolak pandangan bahwa Alkitab
adalah inspirasi Allah. Pembentukan Alkitab dianggap sebagai proses manusiawi
semata, tidak ada intervensi Allah secara khusus ( James Barr, 1924 ).

Beberapa Teori Tentang Pengilhaman Yang Menyimpang :

[1] Pengilhaman Mekanis
Pandangan ini menganggap para penulis Alkitab hanya berfungsi sebagai
mekanik ( mesin ) belaka..Allah berbicara melalui manusia sampai kepribadian
individualnya ditekan. Segala inisiatif & keaktifan pokok ada pada Allah.
Dengan demikian :

<a> Alkitab diilhamkan secara harafiah, kata demi kata didiktekan.
<b> Pandangan yang demikian terdapat juga di dalam agama Hindu, yang
mengajarkan bahwa mantera-mantera di dalam kitab Weda dan juga isi
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
63
kitab-kitab Brahmana & Upanisad diterima sebagai dibisikkan oleh dewa
tertinggi dengan perantaraan para Resi, para Brahmana, dan para Guru.
<c> Pengilhaman yang mekanis ini juga diajarkan oleh para ulama Islam. Bagi
mereka Firman itu secara kekal tertulis di dalam lawh al mahfuz. Oleh
Malaikat Jibril, Firman itu pada waktunya diturunkan kepada nabi
Muhammad S.A.W. Sang nabi mengucapkan Firman itu, yang dicatat oleh
yang mendengarnya, dan akhirnya dikumpulkan di dalam Al-Qur’an. Oleh
karenanya bunyi Al-Qur’an sama dengan Firman yang tertulis di dalam
lawh al mahfuz tadi.

Pandangan ini adalah tidak sesuai dengan Alkitab. Kepribadian dan kosakata
khusus dari berbagai penulis jelas dapat dibedakan; dari 40 penulis Alkitab, jelas
kelihatan berbagai pekerjaan mereka - gembala,.negarawan, imam, penjala ikan,
yang berpendidikan tinggi dan yang secara relatif tidak berpendidikan. Para
penulis tidak didalangi, seperti robot, sementara mereka dalam keadaan trance;
Allah tidak memilih mereka secara serampangan dan menyuruh mereka menulis.
Sebagai contoh, Allah memisahkan Yeremia untuk menjadi seorang nabi dan
mulai menyiapkan dia ketika ia masih berada di dalam rahim ibunya ( Yeremia
1:5 ). Allah membawa semua penulis Alkitab melalui berbagai pengalaman,
menyiapkan mereka sedemikian rupa sehingga Ia dapat memakai mereka untuk
menyatakan kebenaran dalam cara yang diinginkan-Nya. Dengan demikian,
integritas para penulis sebagai kepribadian individual benar-benar terpelihara
melalui tindakan khusus dari inspirasi & bimbingan Roh Kudus. Pada waktu
yang sama, hasil tulisan mereka adalah jelas Firman Allah. Roh Kudus
“membisikkan pemikiran yang orisinal ke dalam pikiran para penulis ( Amos
3:8 ). Kemudian Roh Kudus menuntun mereka memilih kata-kata yang tepat
untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran itu ( Keluaran 4:12,15 ); dan
akhirnya, Ia menerangi pikiran orang yang membaca kata-kata itu sedemikian
rupa sehingga pembaca dapat memahami kebenaran yang sama yang semula ada
dalam pikiran penulis ( 1 Korintus 2:12, Epesus 1:17-18 ).

[2] Pengilhaman Dinamis

Pandangan ini menganggap hati para penulis diperbaharui oleh Allah ( sehingga
pengilhaman identik dengan kelahiran kembali ) dan bahwa Alkitab tidak
dimaksudkan untuk menyampaikan “kebenaran yang bersifat proposisi”
15

tentang Allah sendiri. Allah tidak dapat dikenal. Alkitab tidak menyatakan apa-
apa tentang Allah, melainkan hanya menyingkapkan kebenaran tentang
bagaimana kita harus hidup. Pandangan ini merupakan inti banyak sistem
modernisme atau teologi liberal, yang menolak hal-hal adikodrati. Pandangan
ini memungkinkan adanya gagasan bahwa Alkitab pada dasarnya adalah cerita
dongeng. Akan tetapi, sejauh ia berbicara tentang cara hidup yang benar,
Alkitab sangat berarti bagi banyak orang. Menurut pandangan ini, etika

15
Maksud dari Kebeanran yang bersifat proposisi adalah informasi yang nyata, obyektif, dan masuk
akal.
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
64
menggantikan doktrin. Ia memberi peluang kepada relativisme, karena sebagian
besar standar-standar obyektif tentang kebenaran telah ditiadakan. Jadi, orang
menginterpretasi sendiri apa yang mereka anggap layak untuk diterima dan apa
yang ingin mereka tolak sebagai dongeng ( bandingkan Hakim-hakim 17:6 ).
Lihat juga Bilangan 24:17 dan Yohanes 11:50.

[3] Pengilhaman Alamiah

Pandangan ini menganggap para penulis Alkitab adalah para jenius yang tidak
memerlukan bantuan adikodrati dalam menuliskan Alkitab. Dengan demikian :

a. Para penulis itu sendiri menghasilkan apa yang mereka tulis. Allah tidak
meniupkan kata-kata.
b. Pengilhaman semacam ini dapat berlaku terhadap buku-buku lain di luar
Alkitab.
c. Tidak mempercayai ketidakbersalahan Alkitab.

[4] Pengilhaman Negatif ( Pasif )

Pandangan ini mengajarkan bahwa para penulis Alkitab dijaga oleh Roh Kudus
agar jangan sampai tersesat. Dengan demikian yang diilhami adalah para
penulisnya. Mereka dibantu oleh Roh Kudus, sehingga apa yang diucapkan atau
ditulis sesuai dengan kehendak Allah.

Pandangan ini pernah dianut oleh Gereja Katholik Roma dan tidaks esuai
dengan gagasan yang tercantum di dalam Alkitab ( 2 Timotius 3:16 ).

[5] Pengilhaman Sebagian

Pandangan ini mengajarkan bahwa memang sebagian Alkitab diilhami, namun
ada bagian-bagian yang tidak diilhami. Biasanya bagian-bagian yang diilhami
adalah yang memberikan informasi yang tidak mungkin dapat diketahui dengan
cara lain. Misalnya kisah Kejadian atau nubuat, sedangkan bagian sejarah yang
dapat diperoleh dari dokumen jaman itu tentunya tidak perlu pengilhaman.
Pernyataan pandangan ini mengajarkan bahwa Alkitab diilhami dalam
tujuannya. Ini berarti kita dapat mempercayai Alkitab bila menjelaskan
mengenai keselamatan, namun kita dapat menemukan kesalahan dalam bagian-
bagian lainnya.

[6] Pengilhaman Barthian

Karl Barth ( 1886 - 1968 ), meskipun seorang teolog yang paling berpengaruh
dalam sejarah terakhir, menganut pandangan pengilhaman yang menyimpang
dan berbahaya, yang masih dipropagandakan oleh banyak orang.


Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
65
Pada umumnya golongan Barthian bersekutu dengan aliran kritik Alkitab yang
liberal. Namun mereka sering berkhotbah seperti golongan Injili. Hal ini
menjadikan golongan Barthian lebih berbahaya daripada golongan liberal sejati.
Golongan Barthian mengatakan bahwa teks Alkitab adalah hasil kerja manusia
yang penuh kekeliruan, namun dapat menjadi Firman Allah ketika menguasai
hati kita. Dengan demikian, Alkitab menjadi Firman Allah ketika Firman Allah,
Kristus, berbicara kepada kita melalui halaman-halaman Alkitab.
Pengilhaman, seperti pewahyuan, menekankan perjumpaan eksistensial
yang subyektif !

Menurut Barthian, kewibawaan Alkitab terletak di dalam perjumpaan iman
dengan Kristus dari Alkitab. Alkitab, karena menunjuk kepada Kristus,
mempunyai wibawa sebagai alat saja, bukannya wibawa yang melekat.

Kaum Evangelikal mengakui intervensi Allah dalam kepenulisan Alkitab. Alkitab
diinspirasikan oleh Allah secara keseluruhan, :a ca ,ça|µ ò.e :|.uc·e,
“pasa grafe theopneustos” ( 2 Timotius 3:16 ), bukan dihasilkan oleh kehendak
manusia, “tetapi oleh dorongan Roh Kudus” ( a ììa u :e :|.u ¡a·e, a ,t eu
|.çe¡.|et , “alla hupo pneumatos hagiou feromenoi”, 2 Petrus 1:21 ), dan
inspirasi verbal karena “satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan” ( t.·a
. | µ ¡t a s.çat a eu ¡µ :aç. ìòµ a :e ·eu |e ¡eu, Matius 5:18 ).
Dalam pengilhaman, Allah mengawasi sedemikian rupa sehingga para penulis
Alkitab itu menyusun dan mencatat tanpa kesalahan pesan-Nya kepada manusia
dalam bentuk kata-kata pada naskah asli ( Ryrie ).

Kesimpulan

Isue-isue Kontemporer berkaitan dengan Bibliologi muncul karena orientasi
subyektif dan bukan obyektif dalam pertimbangan. Penyataan Allah dipandang
identik dengan apa yang diperoleh hanya dari pengalaman atau pengertian penafsir
terhadap pengalaman orang lain. Kritik Sumber juga tidak dapat menyodorkan suatu
kebenaran pasti, kecuali sebagai hipotesa yang melahirkan hipotesa baru secara
berantai terus-menerus.

Oleh karena itu, keyakinan tradisional konservatif tentang status Alkitab yang
ineransi, otentik, berotoritas, penyataan dan ilham Allah, tetap merupakan pegangan
yang benar.

13. Manfaat Alkitab Dalam Kehidupan Manusia

Tuhan Yesus dalam menggambarkan pentingnya Alkitab, Firman yang kekal itu,
berkata, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang
keluar dari mulut Allah” ( Matius 4:4 ). Tuhan Yesus mengutip ayat itu dari
Ulangan 8:3 untuk menghadapi pencobaan yang dilancarkan Setan di padang gurun
pada permulaan pelayanan-Nya. Saat yang dramatik dan sangat penting ini akan tetap
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
66
bertahan sebagai suatu pelajaran bagi kita dalam menggunakan Firman Allah selaku
senjata yang ampuh dalam melawan pencobaan, dosa, dan Setan.

Pada saat Tuhan Yesus mengucapkan kata-kata itu, sebenarnya Dia sedang membuat
sebuah gambaran bagi kita. Tuhan Yesus menghubungkan pemikiran tentang roti dan
Firman Allah, serta rasa lapar terhadap keduanya. Ini adalah konsep yang dapat
ditangkap dalam sekejap, khususnya bila seseorang telah berpuasa selama 40 hari
seperti Dia. Di kemudian hari dalam pelayanan-Nya, Tuhan Yesus yang adalah
Firman Allah yang hidup, menyatakan bahwa Dia adalah Roti Hidup yang turun dari
Surga, dan mereka yang memakannya akan hidup ( lihat Yohanes 6 ), Tuhan Yesus
menggunakan semacam bahasa gambaran yang disebut “perumpamaan” untuk
menolong orang-orang yang mendengarkannya lebih mudah mengerti - atau melihat -
dengan lebih jelas apa yang sedang Ia katakan.

Dengan cara yang sama, Roh Kudus menggunakan bahasa gambaran di seluruh
Alkitab dalam menggambarkan Firman yang diinspirasikan oleh Allah. Kadangkala
kebenaran rohani dilukiskan lebih jelas dengan menggunakan lambang. Lambang-
lambang ini memberi sebuah gambaran di dalam pikiran manusia, sehingga
kebenaran-kebenaran tertentu dapat lebih dimengerti.

Ada beberapa lambang yang Allah pakai untuk menggambarkan perkataan-
perkataan-Nya. Lambang-lambang ini menolong kita untuk mengerti lebih dalam
tentang sifat dari Firman Allah itu sendiri dan memahami bagaimana Roh Kudus
menggunakan Firman Allah dalam kehidupan dan situasi orang percaya yang
hidupnya diserahkan kepada-Nya.

Adapun Lambang-lambang Firman Allah Itu Adalah :


No Lambang Nats Makna
01 API Yeremia 23:29 a. Sebagai Pemurni, Mazmur
119:9,11.
b. Sebagai Pembakar, Yeremia
20:9, 1 Samuel 30
c. Sebagai Pemberi Kekuatan,
2 Tawarikh 34 & 35
02 PALU Yeremia 23:29 a. Untuk Menghancurkan,
1 Yohanes 3:8
b. Untuk Membangun, Matius
16:18, 1 Korintus 3:10-13
03 MADU Mazmur 19:10, Wahyu
10:10
Berita Yang Manis, Mazmur 119:103,
Yehezkiel 3:1-3.
04 PELITA Mazmur 119:105, 130
Yohanes 1:5
a. Alat penerang dalam
kegelapan;
b. Memberikan arah ( Iluminasi )
05 PAKU Pengkhotbah 12:11 a. Menguatkan;
b. Tempat bergantung.
Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
67
06 ROTI Matius 4:4 Sebagai makanan yang segar,
dibutuhkan setiap hari.
07 MUTIARA Matius 7:6 a. Indah walaupun dibentuk dalam
kegelapan;
b. Memberikan warna pelangi bila
terkena cahaya.
08 AIR Epesus 5:26 a. Memberikan kehidupan;
b. Menyegarkan;
c. Membersihkan ( Yohanes 15:3 )
09 PEDANG Ibrani 4:12 a. Memisahkan yang daging dari
roh,
b. Bersenjata & siap tempur,
Epesus 6:17, Matius 4:1-11.
10 JANGKAR Ibrani 6:18 Dapat menahan orang percaya dalam
angin topan pencobaan.
11 CERMIN Yakobus 1:23 a. Memberitahu siapa kita
sebenarnya ( pengungkap hati
manusia ),
b. Menjadi serupa dengan
Kristus, 2 Korintus 3:18
12 BENIH 1 Petrus 1:23, Lukas 8:11 a. Memproduksi kehidupan baru;
b. Mempunyai potensi kekekalan
13 SUSU 1 Petrus 2:2 a. Murni & tak tercemar untuk
memberi makanan bagi jiwa,
b. Menumbuhkan yang masih
bayi rohani.
14 BINTANG 2 Petrus 1:19 Membimbing orang percaya kepada
Kristus..







Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
68


Daftar Pustaka

Alex Abraham Tanusaputra, Salvation - Keselamatan ( Surabaya : Bethany
School Of Ministry ), t.th.

Arnold Tindas, Bibliologi dan Isue-isue Kontemporer ( AKTUAL - Buletin
Persekutuan Antar Sekolah Theologia Injili Indonesia ).

Bath, Karl, Church Dogmatics. Trans. G.T. Thompson ( New York: Scribener's Sons ),
1936.

Brill, J. Wesley, Dasar Yang Teguh ( Bandung : Kalam Hidup ), t.th,

Bruggen. Jakob Van; Siapa Yang Membuat Alkitab ? ( Surabaya : Momentum
Christian Literature ), Agustus 2002 ( Cetakan Pertama ).

Cairns, I.J., “Kata Pengantar” Alkitab di Dunia Modern, oleh James Barr ( Jakarta:
BPK Gunung Mulia ), 1983.

Crampton, W. Gary; Verbum Dei ( Alkitab : Firman Allah ), ( Surabaya : Momentum
Christian Literature ), Februari 2004 ( Cetakan Ketiga ).

Enns, Paul, The Moody Handbook of Theology, ( Chicago, Ill.: Moody Press ), 1996.

Feinberg, Paul D. , “The Meaning of Innerancy” Innerancy, ed. Norman L. Geisler
( Grand Rapids, Michigan: Zondervan ), 1980

Harun Hadiwijono, Iman Kristen ( Jakarta : BPK Gunung Mulia ), 1995.

Hidup Dalam Kristus, Mengapa Alkitab ? , Volume 16, no. 3 ( Solo : Yayasan
Pusat Hidup Baru ), 2000.

---------------------------, Sebuah Survey Dari Alkitab , Volume 16, no. 4 ( Solo :
Yayasan Pusat Hidup Baru ), 2000.

Jadeed, Iskander, “Injil” Barnabas - Suatu Kesaksian Palsu ( Jakarta : Jl.
AlRachmat )

Lindsell, Harold, A Handbook of Christian Truth ( Westwood, N.J.: Fleming H.
Revell Company ), t.th.

---------------------, The Battle for the Bible ( Grand Rapids: Zondervan ), 1976.

Stefanus Suheru A.S., S.Th., M.A. Pembimbing Teologi Sistimatika
69

McDowell, Josh, Apologetika, Bukti Yang Meneguhkan Kebenaran Alkitab, Vol. 1
( Malang : Yayasan Penerbit Gandum Mas ), 2002.

Menzies, William W. & Stanley M. Horton, Doktrin Alkitab ( Malang : Gandum
Mas ), 1998.

Peter Wongso, Tafsiran Kitab Yehezkiel - Kanon Perjanjian Lama ( Malang :
SAAT ), 1998.

Robinson, William Childs, "The Inspiration of Holy Scripture", Christianity Today
13, No. 1 ( October 11, 1968 ).

Ryrie, Charles C., Teologi Dasar - Buku 1 ( Yogyakarta : Andi Offset ), 1991.

Thiessen, Henry C., Teologi Sistimatika ( Malang : Gandum Mas ), 1993.

Verkuyl, J., Fragmenta Apologetika ( Jakarta : BPK Gunung Mulia ), 1966.

Youngblood, Ronald, “Introduction,” The Higher Criticism of the Pentateuch By
William Henry Green ( Grand Rapids, Michigan: Baker Book House ), 1978.

http://www.sabda.org/sejarah

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful