You are on page 1of 16

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Pancasila merupakan jati diri bangsa Indonesia yang digali dari dalam diri masyarakat itu sendiri, kemudian diangkat dan dijadikan sebuah pedoman atau pandangan hidup. Pandangan hidup ini kemudian mengatur dan menggerakan seluruh elemen masyarakat. Pancasila memiliki lima sila yang memiliki keterkaitan erat satu sama lain berupa satu kesatuan yang utuh. Di dalam sila-sila tersebut terdapat dasar-dasar salah satunya dasar aksiologi. Berdasarkan pengertian dari dasar aksiologi yaitu menyelidiki tingkah laku moral yang berupa etika yang berwujud ideologi, dapat dikatakan bahwa sila-sila pancasila tersebut sesungguhnya ideologi karena berasal dari pikiran manusia dan cita-cita bangsa. Ideologi Pancasila yang diterapkan di Negara Indonesia apabila dibandingkan dengan ideologi lain yang berkembang di Negara lain memiliki perbedaanperbedaan. Pengertian ideologi Pancasila bukan sekedar kefilsafatan yang bersifat normatif dan cita-cita namun juga bersifat praktis karena menyangkut operasional dan strategi. Hal ini karena ideologi Pancasila merupakan suatu ajaran yang menyeluruh tentang makna dan nilai-nilai hidup dan ditentukan secara kongkrit bagaimana manusia itu harus bertindak di masyarakat. Ideologi Pancasila tidak hanya menuntut setiap warga negara bertindak adil, saling tolong menolong, saling menghormati antar sesama manusia, lebih mengutamakan kepantingan umum daripada kepentingan pribadi atau kepentingan golongan dan sebagainya, melainkan ideologi Pancasila menekankan kepada ketaatan kongkrit dalam melaksanakan suatu tindakan. Selain Pancasila ada banyak ideologi besar di dunia seperti Liberalisme dan Komunisme. Setiap ideologi memiliki ciri khas dan karakteristknya masing-masing sehingga memiliki perbedaan diantara setiap ideologi yang ada. Dalam skup lokal terdapat juga ideologi yang mendasari masyarakatnya, yaitu Ideologi Tri Hita Karana. Tri Hita Karana merupakan gagasan, konsep dasar dan cita-cita masyarakat Bali yang dianut secara turun-temurun untuk menjaga keseimbangan kehidupan di dunia. Ideologi Tri Hita Karana sesungguhnya mempunyai kaitan yang erat dengan Ideologi Pancasila.

1.2 Rumusan Masalah Deskripsi teori :

Mengapa Pancasila dapat dijadikan sebagai Ideologi Nasional Bangsa Indonesia? Bagaimana perwujudan Pancasila dalam pelaksanaan fungsinya sebagai Ideologi Nasional? Bagaimana Ideologi-ideologi besar dunia seperti liberalisme & komunisme? Apa hubungan Ideologi Pancasila dengan Ideologi Tri Hita Karana? Apa penyebab terjadinya bentrok antarwarga di Klungkung? Bagaimanakah solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut?

Deskripsi kasus:

1.3 Tujuan Penulisan Deskripsi teori :


Untuk menegtahui alasan Pancasila dapat dijadikan sebagai Ideologi

Nasional Bangsa Indonesia. Untuk mengetahui perwujudan Pancasila dalam pelaksanaan fungsinya sebagai Ideologi Nasional.
Untuk membandingkan Ideologi-ideologi Besar Dunia seperti

Liberalisme dan Komunisme dengan Pancasila. Untuk mengetahui hubungan Ideologi Pancasila dengan Ideologi Tri Hita Karana Deskripsi kasus: Untuk mengkaji penyebab bentrok di Klungkung. Mencari solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian ideologi Istilah ideologi pertama kali dikemukan oleh Antoine Destutt de Tracy (1754-1836) ketika revolusi Prancis bergejolak. Ideologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri atas kata idea dan logos. Kata Idea dapat diartikan sesuatu yang ada di dalam pikiran berupa suatu gagasan, konsep dasar, dan cita-cita sebagai hasil perumusan suatu pemikiran atau rencana. Sedangkan kata logos berarti ilmu pengetahuan atau teori. Sehingga secara umum, ideologi dapat diartikan sebagai sekumpulan ilmu yang mencakup gagasan, konsep dasar, dan cita-cita yang ada di dalam pikiran sebagai hasil perumusan suatu hasil pemikiran atau rencana yang bersifat menyeluruh dan sistematis. Ideologi memiliki keterkaitan yang erat dengan filsafat, sebab ideologi itu sesungguhnya bersumber pada suatu filsafat. Dalam pelaksanaannya, ideologi memiliki beberapa sifat diantaranya ideologi harus merupakan pemikiran dasar yang bersifat rasional, dari pemikiran dasar tersebut ideologi bisa memancarkan sistem untuk mengatur kehidupan, dan yang terakhir ideologi harus memiliki metode praktis yang mampu diterapkan, dijaga eksistensinya, dan disebarkan. Ciri- ciri ideologi yaitu mempunyai derajat yang tertinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan. Soerjanto Poespowardojo mengemukakan fungsi ideologi sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Struktur kognitif, yakni keseluruhan pengetahuan yang merupakan landasan untuk memahami keadaan alam sekitarnya. Orientasi dasar yang membuka wawasan dan memberikan petunjuk tentang tujuan hidup. Norma-norma yang menjadi pedoman dan pegangan bagi individu. Bekal dan jalan bagi individu untuk menentukan jati dirinya. Sebagai motivator yang mampu menyemangati dan mendorong individu dalam mencapai tujuannya. Pendidikan bagi individu untuk memahami,menghayati, memolakan tingkah lakunya sesuai dengan orientasi dasar dan norma-norma yang berlaku didalamnya.

Ideologi dikelompokan menjadi ideologi terbuka dan ideologi tertutup. Adapun ideologi terbuka yaitu suatu sistem pemikiran yang terbuka dimana pemikiran ini digali dan diambil dari harta kekayaan rohani,moral,dan budaya dari masyarakat itu sendiri dan berasal dari hasil mufakat atau musyawarah.. Sedangkan ideologi tertutup merupakan suatu sistem dari pemikiran tertutup dimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan paksaan dari luar atau dari suatu kelompok tertentu. 2.2 Pengukuhan Pancasila sebagai Ideologi Nasional Bangsa Indonesia Pancasila dikatakan sebagai dasar Negara Republik indonesia, sebab Pancasila merupakan sekumpulan tekad kebersamaan dan cita-cita yang ingin dicapainya yang bersumber pada pandangan hidup. Pancasila sebagai dasar negara pada hakikatnya merupakan suatu nilai-nilai yang bersifat fundamental dan menyeluruh. Berdasarkan kausalitas, nilai-nilai Pancasila dikatakan bersifat objektif dan subjektif artinya nilai-nilai itu universal (menyeluruh) yang meliputi Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan. Nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila tersebut kemudian dijadikan filsafah yang merupakan jati diri bangsa yang diyakini sebagai sumber atas nilai kebenaran, kebaikan, keadilan, dan kebijaksanaan dalam kehidupan masyarakat Sebelum dikukuhkan secara resmi, pengamalan nilai-nilai Pancasila telah direalisasikan sejak zaman prasejarah. Ini artinya nilai-nilai dari Pancasila itu sendiri telah lama mengkristal dan mendarah daging dalam jiwa bangsa Indonesia. Pengukuhan Pancasila sebagai ideologi nasional terlaksana secara resmi dalam sidang BPUPKI yang membahas perumusan Pancasila pada tanggal 29-1 Juni 1945. Kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945, Pancasila disahkan dalam sidang PPKI dan tercantum di dalam pembukaan UUD. Karena Pancasila tercantum dalam UUD 1945 dan bahkan menjiwai seluruh isi peraturan dasar tersebut yang berfungsi sebagai dasar Negara sebagaimana tercantum jelas dalam alinea ke IV pembukaan UUD 1945, maka semua peraturan perundang-undangan di Republik Indonesia yang dikeluarkan oleh Negara dan pemerintah RI harus berjiwa dengan Pancasila. Isi dan tujuan dari peraturan perundang-undangan RI tidak boleh menyimpang dari jiwa Pancasila dan jati diri. Pada hakikatnya bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila dalam Tri Prakara yaitu:

Pertama : Bangsa Indonesia telah memiliki asas-asas adat-istiadat dan kebudayaan sebelum Pancasila itu sendiri disahkan sebagai dasar negara. Kedua : Ketiga : Sebelum Pancasila disahkan secara resmi, Bangsa Indonesia telah memiliki asas-asas Keagamaan. Setelah dirumuskan dan disahkan secara remi, Pancasila kemudian menjadi dasar negara dalam asas kenegaraan. Berdasarkan Tap MPR No. XVIII/MPR/1998 tentang pencabutan ketetapan MPR tentang P4, ditegaskan bahwa Pancasila adalah dasar negara NKRI yang harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 2.3 Perwujudan Pancasila dalam pelaksanaan fungsinya sebagai Ideologi Nasional Pancasila yang berprinsip Bhineka Tunggal Ika berfungsi mempersatukan keanekaragaman yang ada dalam masyarakat sehingga bangsa indonesia tidak mudah terombang-ambing dengan perkembangan zaman seiring berjalannya waktu. Serta berfungsi sebagai filter yang menyaring budaya lain yang masuk ke dalam lingkungan masyarakat Indonesia. Pancasila bersifat reformatif, dinamis, terbuka, aktual, dan antisipatif. Keterbukaan Pancasila dalam menerima setiap perubahan dilaksanakan dengan mengeksplisitkan wawasan secara lebih konkrit serta tidak mengubah nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila itu sendiri sehingga permasalahan-permasalahan aktual yang muncul akibat perubahan zaman dapat dipecahkan dengan kemampuan reformatif yang terkandung dalam nilai Pancasila. Era global menuntut kesigapan segenap komponen bangsa untuk mengambil peranan sehingga dampak negatif yang kemungkinan muncul dapat segera diantisipasi. Menurut Kaelan, nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah sebagai berikut :
1.

Nilai dasar merupakan nilai ynag memiliki arti yang sangat dalam dan dasar nilai-nilai yang bersifat universal karena menyangkut hakikat kenyataan yang sifatnya objektif baik itu hakikat yang terkait dengan Tuhan maupun hakikat yang terkait dengan Manusia. Dalam Pancasila, nilai dasar tersebut tertuang dalam kelima sila Pancasila. Sila pertama Pancasila yang memiliki

kaitan esensi atau hakikat Ketuhan. Sila yang lain memiliki kaitan esensi atau hakikat Kemanusiaan namun tak terlepas dari hubungan manusia dengan tuhan. 2. Nilai instrumental, merupakan suatu pedoman yang dapat diukur dan dapat diarahkan. Nilai instrumental ini merupakan tindak lanjut dari nilai dasar. Nilai instrumental dapat dijadikan sebagai norma moral apabila dikaitkan dengan tingkah laku manusia. Dan menjadi arahan, kebijakan strategi, sasaran serta lembaga pelaksanaan yang bersumber pada nilai dasar bila dikaitkan dengan suatu negara. Dengan demikian nilai instrumental dapat dikatakan sebagai suatu eksplisitas dari nilai dasar. Nilai instrumental mengacu pada peraturan yang ada di dalam Pancasila sebagai dasar hukum yang berlaku di Indonesia.
3.

Nilai praktis, yaitu merupakan realisasi dan perwujudan dari nilai instrumental yang bersifat nyata, dalam kehidupan sehari-hari baik itu dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai praktis ini mengacu pada tindakan atau masyarakat dalam menaati dan melaksanakan peraturan yang berlaku dalam kehidupan bernegara. Suatu ideologi selain memiliki aspek-aspek yang bersifat ideal yang berupa cita-cita, pemikiran-pemikiran serta nilai-nilai yang dianggap baik, juga harus memiliki norma yang jelas karena ideologi harus mampu direalisasikan dalam kehidupan praksis yang merupakan suatu aktualisasi secara kongkret. Oleh karena itu, Pancasila sebagai ideologi terbuka secara struktural memiliki tiga dimensi (Kaela, 2003:121) yaitu:

Dimensi Idealistis, yaitu nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila bersifat sistematis, rasional dan menyeluruh. Dimensi Normatif, yaitu nilai-nilai yang tekandung dalam Pancasila perlu dijabarkan dalam suatu sistem norma. Dimensi Realistis, yaitu suatu ideologi harus mampu mencerminkan realitas yang hidup berkembang di masyarakat. Berdasarkan dimensi yang dimiliki oleh Pancasila sebagai ideologi tebuka,

maka sifat ideologi Pancasila tidak bersifat Utopis yaitu hanya merupakan sistem ide-ide belaka yang jauh dari kehidupan sehari-hari secara nyata (Kaelan, 2002:122). Ideologi Pancasila tidak bersifat tertutup melainkan bersifat nyata dan reformatif yang mampu melakukan perubahan. Maka ideologi Pancasila yang

bersifat terbuka bersifat universal dan tetap, serta penjabarannya dan realisasinya berubah sesuai dengan dinamika aspirasi masyarakat. Hal inilah yang merupakan perwujudan Pancasila dalam pelaksanaan fungsinya sebagai ideologi nasional.
2.3 Ideologi-ideologi Besar Dunia seperti Liberalisme & Komunisme

Banyak Ideologi besar ada di dunia seperti Liberalisme dan Komunisme. Setiap ideologi memiliki ciri khas dan karakteristknya masing-masing sehingga memiliki perbedaan diantara setiap ideologi yang ada. 2.3.1 Ideologi Liberal Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Menurut paham liberalisme manusia sebagai manusia pribadi yang utuh dan lengkap dan terlepas dari manusia lainnya memiliki potensi dan senantiasa berjuang untuk dirinya sendiri. Kebebasan manusia dalam realisasi demokrasi senantiasa mendasarkan atas kebebasan individu di atas segala-galanya. Pemikiran individu-individu atau rasio merupakan hakikat tertinggi dalam negara, sehingga dimungkinkan akan berkedudukan lebih tinggi daripada nilai religius. Hal ini harus dipahami karena demokrasi akan mencakup seluruh sendisendi kehidupan dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, antara lain bidan politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, ilmu pengetahuan bahkan kehidupan agama ataupun religius. Atas dasar inilah perbedaan sifat serta karakter bangsa sering menimbulkan gejolak dalam menerapkan demokrasi yang hanya mendasarkan pada paham liberalisme. 2.3.3 Ideologi Komunis Penganut paham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manifesto politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 berisi teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas. Sehingga menjadikan paham komunis sebagai paham yang paling jelas dan lengkap. Paham ini berkembang sebagai bentuk reaksi atas kaum kapitalis paham liberal yang

melakukan penindasan pada rakyat kecil. Komunis berkeyakinan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membentuk suatu kelompok atau komunitas bukan individualisme sehingga hak individu tidak ada yang ada adalah hak komunal. Masyarakat terdiri atas kelas-kelas yang saling berinteraksi yaitu kelas kapitalis dan kelas proletar (buruh). Umumnya kelas Kapitalis melakukan penindasan atas kelas buruh proletar sehingga membuat penganut paham komunis berkeinginan untuk melenyapkan dan mengubah secara revolusioner infrastruktur masyarakat. Menurut komunis, ideologi hanya untuk seluruh masyarakat sedangkan etika ideologi komunisme mendasarkan kepentingan demi keuntungan kelas masyarakat secara totalitas, sehingga dalam melakukan kepentingannya segala cara dapat dihalalkan. Dalam pemerintahan, Pemerintah negara harus dipegang oleh orang-orang yang meletakkan kepentingan pada kelas proletar. Hak individual dianggap tidak ada dan hak asasi dalam negara hanya berpusat pada hak kolektif, sehingga komunisme tidak menghargai demokrasi dan hak asasi manusia. 2.3.4 Perbandingan Ideologi Pancasila, Liberalisme, dan Komunisme
Ideologi Hal Hubungannya dengan Agama Pancasila Monoteisme percaya dengan adanya tuhan sehingga setiap individu wajib beragama sesuai Hubungannya dengan Tatanan Ekonomi Hubungannya dengan sistem politik dan dengan keyakinannya. Mengutamakan ekonomi koperasi yang sesuai dengan nilainilai Pancasila Sistem politik yang berasaskan Pancasila. Memperkenankan Liberal Bersifat sekuler, agama uruan pribadi. Boleh memeluk agama dan juga boleh tidak memeluk agama. Melaksanakan sistem ekonomi liberal yang bebas. Hak-hak pribadi diakui dan diberi ruang sebebas-bebasnya Sistem politik yang liberal dan demokratis. Terdapat sedikit partai, Melaksanakan ekonomi etatisme yang berpijak pada kepentingan kolektif rakyat secara menyeluruh. Hak-hak pribadi tidak diakui Sistem politik yang sosialis. Terdapat beberapa partai yang berhaluan berbeda, Komunis Atheis, tidak percaya dengan keberadaan Tuhan. Sehingga agama harus dijauhkan dari masyarakat.

pemerintahan

terdapat banyak organisasi partai untuk kepentingan demokrasi. Dipimpin oleh seorang Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan Menyeimbangkan hak (HAM) dan kewajiban individu dan juga menghargai setiap pendapat dalam upaya demokrasi

tapi sangat aspiratif dengan keinginan rakyat. Kepala negara dan kepala pemerintahan dipimpin oleh presiden.

tetapi hanya satu yang muncul. Hal itu karena adanya keberpihakan politik pada salah satu partai saja. Hal ini biasa disebut demokrasi tertutup. Dipimpin oleh presiden seorang presiden. Tidak menghargai HAM. Dogmatisme, berpegang pada keyakinan-keyakinan mereka tanpa berpikir dan hanya ikut-ikutan saja sehingga menjadi otoritatif.

Hubungannya dengan Sosial Budaya

Menjunjung tinggi hak individu dan demokrasi. Namun anti terhadap dogmatisme

2.4 Hubungan Ideologi Pancasila dengan Ideologi Tri Hita Karana 2.4.1 Pengertian Tri Hita Karana Masyarakat Bali dalam kehidupannya dituntun oleh nilai-nilai Kebudayaan bali yang bercorak religius yang selalu berusaha bersikap seimbang terhadap alam sekitarnya. Nilai dan asas-asas itu kemudian dipersepsikan ke dalam ajaran Filsafat Tri Hita Karana. Tri Hita Karana merupakan suatu tata krama bertujuan untuk melestarikan keseimbangan hidup yang bermuara pada kemakmuran dunia. Secara harfiah Tri artinya tiga, Hita berarti baik, senang, gembira, lestari, harmonis dan Karana berarti sebab. Dengan demikian Tri Hita Karana artinya tiga unsur penyebab adanya kemakmuran. Adapun uraian dari Tri Hita Karana itu adalah sebagai berikut: 1. Parhyangan Parhyangan berasal dari kata Hyang yang berarti Tuhan. Parhyangan berarti Ketuhanan atau hal-hal yang menyangkut dalam rangka pemujaan Sang Hyang Widi sebagai Maha Pencipta. Setiap manusia wajib untuk mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta yang dikonkretisasikan dalam membuat tempat suci untuk tempat beribadah bersama. 2. Palemahan

Palemahan berasal dari kata lemah yang artinya tanah juga berarti buana atau alam, dalam arti sempit berarti suatu pemukiman atau tempat tinggal. Palemahan memiliki arti bentuk kesadaran manusia bahwa manusia hidup dan berkembang di alam, bahkan merupakan bagian dari alam itu sendiri. Sehingga kita wajib menjaga alam lingkungan kita agar terjalin keseimbangan manusia dan lingkungan. 3. Pawongan Pawongan berasal dari kata wong yang berarti orang. Pawongan berarti perihal berkaitan dengan orang atau keorangan dalam suatu kehidupan masyarakat. Pawongan merupakan pengejawantahan dari sebuah pengakuan yang tulus dari manusia itu sendiri, bahwa manusia tak dapat hidup menyendiri tanpa bersama-sama dengan manusia lainnya Memiliki arti manusia yang hidup berdampingan dalam perbedaan hendaknya menjaga kerukunan dengan menumbuhkan toleransi dan tenggang rasa dalam melakukan ibadah sesuai dengan kepercayaan yang dianut. Ketiga unsur ini tak dapat dipisahkan dalam tata hidup masyarakat Bali, bahkan senantiasa diterapkan dan dilaksanakan sebagai suatu kebulatan yang padat, erat melekat pada setiap aspek kehidupan secara harmonis, dinamis dan produktif. 2.4.2 Hubungan Ideologi Tri Hita Karana dengan Ideologi Pancasila Tri Hita Karana merupakan gagasan, konsep dasar dan cita-cita masyarakat Bali yang dianut secara turun-temurun untuk menjaga keseimbangan kehidupan di dunia. Ideologi Tri Hita Karana yang ada di dalam masyarakat Bali sesungguhnya mempunyai kaitan yang erat dengan Ideologi Pancasila. Ideologi Pancasila yang diwujudkan dalam Kesatuan sila-sila Pancasila bisa kita relasikan dengan tiga konsep ideologi Tri Hita Karana. Parahyangan yang merupakan konsep ketuhanan dalam Tri Hita Karana berelasi dengan sila pertama Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa. Perwujudannya bisa kita lihat pada masyarakat hindu bali yang sangat religius dan menjunjung tinggi nilainilai ketuhan dalam berbagai manifestasinya di dunia ini. Pawongan yang merupakan konsep tentang keberadaan manusia di dunia ini berelasi dengan sila kedua, ketiga, keempat dan kelima Pancasila.

10

Perwujudannya bisa kita lihat pada adat dan budaya masyarakat Hindu Bali. Seperti budaya paum yang merupakan perwujudan nilai-nilai Sila Kedua, Keempat dan Kelima Pancasila dalam musyawarah untuk mencapai mufakat yang adil sehingga menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat. Selain itu budaya ngayah merupakan cerminan nilai Sila Pertama dan Ketiga Pancasila dalam kegiatan gotong royong, bersatu saling membantu tanpa rasa pamrih dalam melakukan suatu kegiatan seperti yang dilakukan dalam upacara Keagamaan sebagai wujud bakti kepada Tuhan atas anugerah yang diberikanNya. Paum dan ngayah merupakan sebagian dari begitu banyak adat istiadat dan Budaya Bali yang menyangkut keberadaan manusia di dunia ini yang tidak dapat lepas dari lingkungan dan kepercayaannya pada Tuhan. Konsep dunia sebagai tempat hidup manusia dalam Tri Hita Karana disebut Palemahan. Konsep ini berelasi dengan sila kelima Pancasila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kelestarian tempat hidup manusia adalah aset bagi manusia itu sendiri untuk memperoleh kehidupan dan penghidupannya di dunia. Contohnya, dengan merawat alam Bali dengan baik, maka banyak wisatawan yang datang ke Bali. Hal tersebut mendatangkan devisa dan akhirnya memajukan dan mensejahterakan perekonomian Bali. Dalam mengimplementasikan konsep Tri Hita Karana, sangat ditekankan bahwa ketiga unsurnya harus diaplikasikan secara utuh dan terpadu. Unsur parahyangan, pawongan, dan palemahan tidak ada yang menduduki porsi yang istimewa. Dia senantiasa seimbang dalam pemikiran, seimbang dalam ucapan dan seimbang pula dalam segala tindakan. Begitu juga nilai-nilai Pancasila yang merupakan kesatuan utuh dari kelima sila yang ada didalamnya menduduki posisi yang sama dan saling menjiwai dan dijiwai silayang lain.

STUDI KASUS Bentrok Antarwarga karena Tempat Beribadah

11

Bentrok yang terjadi di Desa Budaga, Klungkung pada tanggal 17 September 2011 terjadi karena ada ketidaksepahaman antara dua desa yaitu antara Desa Budaga dan Desa Kemoning. Bentrokan berdarah antarwarga yang saling berdekatan itu dipicu oleh perebutan Pura Dalem, kuburan (Setra), dan Pura Prajapati sebuah tempat suci di dalam area kuburan. Konflik warga antarbanjar ini sebenarnya telah terjadi sejak pertengahan 2010 silam. Namun kisruh ini kembali mecuat karena dipicu pemasangan papan nama desa yang tidak menyertakan nama salah satu desa tersebut. Akibatnya 26 orang dari keduabelah pihak yang bertikai terluka dan satu orang meninggal. Kurangnya pemahaman warga tetang nilai-nilai Pancasila sepertihalnya nilai Tri Hita Karana membuat kisruh ini semakin memanas. Memperebutkan tempat ibadah sangat bertentangan dengan nilai Sila Pertama Pancasila seharusnya sebagai umat yang beriman saling meghormati kebebasan menjalankan ibadah setiap manusia bun saling berebut memaksakan kehendak masing-masing. Hal ini menandakan sikap tenggang rasa dan saling mencintai sesama manusia serta persatuan kesatuan telah memudar. Warga masyarakat cenderung mementingkan kepentingan individu atau kelompoknya sehingga memaksakan kehendak dalam mengambil keputusan tanpa menghargai hak orang lain sehingga kesejahteraan dan keadilan social masyarakat tidak dihiraukan. Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi jika rasa persatuan dan kesatuan erat diantara masyarakat. Masyaraka Bali dikenal sebagai masyarakat yang ramah rukun, bersatu dan mempunyai adat istiadat yang religius. Sebagai umat beragama seharusnya saling menghormati, karena dalam kehidupan beragama kita dituntun untuk saling mengayomi umat dan hidup berdampingan dengan agama yang berbeda, bukan sebaliknya saling merebutkan tempat ibadah. Seharusnya sesama umat beragama warga ikut bergotong royong membangun atau merawat tempat ibadah sehingga nyaman digunakan untuk beribadah bersama. Dalam kasus seperti ini pemerintah sebagai pihak berwenang harus berindak secara tegas dan cepat mencari solusi agar tidak bertambah besar dan meluas. Sehingga kerukunan antarwarga seumat seperti yang termuat dalam sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia dan sila pertama Pancasila Ketuhanan yang Maha Esa tercermin serta menjiwai tingkahlaku dalam bermasyarakat dan beragama. Selain pemerintah, tokoh masyarakat di kedua belah pihak juga harus

12

bertindak bijak dengan mengadakan pertemuan untuk melakukan musyawarah mufakat dalam menghadapi kasus ini. Pemahaman tentang nilai-nilai yang terkadung dalam Pancasila dan Tri Hita Karana perlu digali lagi karena nilai-nilai tersebut adalah jati diri Bangsa Indonesia khususnya warga Bali. Dan yang tidak kalah penting adalah kesadaran diri sendiri, betapa indahnya hidup rukun, saling hormat menghormati dan tolong menolong dalam perbedaan karakteristik. Sehingga nantinya kedua belah pihak yang bentrok dapat saling menghargai dan saling membantu bukan sebaliknya merusak persatuan yang telah terjalin demi kepentingan-kepentingan pribadi.

BAB III PENUTUP

13

3.1 Simpulan Ideologi merupakan suatu gagasan pokok atau gagasan dasar yang sifatnya menyeluruh di segala bidang kehidupan masyarakat. Gagasan tersebut terbentuk dari pemikiran yang logis dan rasional serta mewakili diri setiap individu. Ideologi bangsa merupakan pemikiran dasar ynag dimiliki oleh suatu bangsa. Kemudian ideologi tersebut berkembang menjadi ideologi negara. Ideologi Negara Indonesia adalah Pancasila yang merupakan jati diri bangsa Indonesia yang tumbuh dan berkembang sejak zaman prasejarah. Pengukuhan pancasila sebagai ideologi negara dimaksudkan untuk memperkuat nilai-nilai pancasila dalam diri bangsa sehingga tercipta kerukunan, perdamaian, keselarasaan, dan kesinambungan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Setiap ideologi memiliki ciri khas dan karakteristknya masing-masing sehingga memiliki perbedaan diantara setiap ideologi yang ada. Banyak ideologi besar yang berpengaruh di dunia seperti Ideologi Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan individu adalah nilai politik yang utama. Dan Ideologi Komunis yang berkembang sebagai bentuk reaksi atas kaum kapitalis paham liberal yang melakukan penindasan pada rakyat kecil. Ideologi Pancasila sebagai ideologi yang diambil dari pandangan hidup bangsa berkaitan dengan konsep yang dianut oleh masyarakat Bali yaitu Tri Hita Karana yang merupakan suatu tata krama aturan yang bertujuan untuk melestarikan keseimbangan hidup yang bermuara pada kemakmuran dunia. 3.2 Implikasi Pancasila sebagai ideologi nasional yang tercipta dari cita-cita luhur bangsa Indonesia merupakan suatu pandangan hidup yang dianggap baik oleh bangsa Indonesia. Pengamalan nilai-nilai Pancasila sebagai filsafat hidup akan menciptakan keselarasan, kerukunan, perdamaian, ketertiban, dan kesinambungan di dalam ruang lingkup masyarakat seperti filsafat Tri Hita Karana yang di anut oleh masyarakat Bali. Tri Hita Karana merupakan satu kesatuan seperti halnya Pancasila yang bertujuan agar tercipta hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan sesamanya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

14

Bangsa yang menghargai bangsanya adalah bangsa yang mau mengakui, menjunjung tinggi, serta menghayati jati diri bangsanya yaitu Pancasila. Jati diri tersebut mewakili setiap elemen-elemen masyarakat yang bersatu membentuk suatu kesatuan utuh, sehingga jika ada budaya asing baik itu bersifat pemecah mupun yang bermanfaat masuk ke dalam lingkup bangsa Indonesia, tidak dapat memecahbelah keanekaragamaan bangsa serta mampu menyaring budaya asing tersebut. 3.2 Saran Kebijakan Pancasila merupakan dasar filsafat negara yang mengakui dan mengagungkan keberadaan agama dalam pemerintahan. Hal ini dapat kita lihat pada sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sehingga kita sebagai warga negara Indonesia tidak perlu meragukan konsistensi atas Ideologi Pancasila terhadap agama atau dengan ideologi lain. Tidak tepat mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain yang tidak sesuai dengan karakter bangsa. Ideologi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang bertujuan menciptakan keselarasan, kerukunan, perdamaian, ketertiban, dan kesinambungan di masyarakat direalisasikan dengan kebijakan-kebijakan yang berlandaskan nilainilai yang terkadung dalam Pancasila. Dalam kasus yang terjadi di Klungkung kebijakan yang dapat diterapkan adalah musyawarah mufakat diantara tokoh-tokoh masyarakat di kedua belah pihak dan membangkitkan kembali pemahaman masyarakat atas nilai-nilai Pancasila yang nantinya berimplikasi pada betapa pentingnya hidup bersama dalam perbedaan sehingga nantinya kedua belah pihak yang bentrok dapat saling menghargai dan saling membantu bukan sebaliknya merusak persatuan yang telah terjalin demi kepentingan-kepentingan pribadi.

DAFTAR PUSTAKA M.S, Kaelan. 2003. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.

15

M.S, Kaelan. 2002. Filasafat Pancasila. Yogyakarta: Paradigma. Metra, Wayan, d.k.k. 2003. Orsosdat. Tabanan: Percetakan Kawan Notonagoro.1975. Pancasila Secara Ilmiah Populer. Jakarta: Pantjuran Tujuh. Rindjin, Ketut. 2010. Pendidikan Pancasila. Singaraja: Unit Penerbitan UNDIKSHA Rindjin, Ketut. 2011. Pandangan Hidup Bangsa Indonesia dan Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia, Edisi Revisi. Singaraja: Unit Penerbit Universitas Pendidikan Ganesha. Wibisono, Siswomihardjo Koento. 1996. Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka. Makalah Pada Lokakarya Dosen-Dosen Pancasila Di PTN dan PTS Se Kopertis Wilayah V, Yogyakarta.

16