Menjadikan literatur remaja bacaan berkualitas

Sitta Karina Satyakarma

Fenomena sesaat atau peluang panjang?
The Princess Diaries di Amerika dan Eiffel I’m in Love di Indonesia, keduanya sama-sama masuk kategori literatur remaja: berkisah tentang remaja dan segala problemanya—kebanyakan berbasis percintaan—dan diperuntukkan bagi pembaca remaja pula. Bedanya, yang dari Amerika ditulis oleh orang dewasa yang notabene sudah melewati masa SMU-nya belasan tahun lalu. Tidak seperti kebanyakan literatur remaja di Indonesia, yang lebih dikenal dengan label “teenlit”, dimana penulisnya justru masih menjadi “pelakon” cerita di dunia sebenarnya. Di Indonesia, kemunculan kategori ini diawali dengan pro dan kontra yang berlangsung sampai sekarang. Teenlit dianggap sebagai bacaan picisan, karya fiksi yang dipandang sebelah mata. Jangan mimpi bisa masuk ke dalam kategori sastra. Namun di sisi lain, begitu banyak penulis—remaja dan tidak—yang ingin berkecimpung di sini karena banyaknya rejeki yang bisa didulang. Banyak pihak yang meramalkan teenlit hanya fenomena yang heboh sesaat atau “one-hit wonder”. Dimana setelah itu pustaka Indonesia akan kembali pada bacaan sastrawi “berat” dan fiksi pop ini akan menjadi bacaan kelas dua lagi. Namun, kalau kita meneropong beberapa tahun ke depan, ke era dunia informasi yang kian canggih sehingga mempercepat penyebaran kultur antar-negara, maka yang terjadi justru sebaliknya: era teenlit bukannya punah, malah berkembang lebih pesat dan heterogen—asal kita pandai menyiasatinya.

Tema bisa dikembangkan lagi
Apa yang salah dengan kategori literatur ini di Indonesia sehingga banyak menuai cemooh? Mungkin kalau kita telusuri lagi, tema bisa jadi kajian utama. Kebanyakan dari karya teenlit membahas hanya cinta dan persahabatan tanpa didukung problema berarti dari aspek-aspek kehidupan lain—keluarga, sekolah, kebudayaan, nilai-nilai penting, serta isu-isu krusial dalam suatu masyarakat—sehingga menjadikan bacaan ini monoton. Pada terbitan awal, tema itu mungkin seru. Semua anak muda membacanya karena dipicu penasaran dan rasa “ingin-melakukan-apa-yang-teman-lakukan”. Tapi berikutnya malah akan jadi basi. Padahal begitu banyak tema dan isu yang dapat digali, terutama dari sudut pandang kehidupan remaja Indonesia itu sendiri yang sangat variatif (karena suku dan kultur di Indonesia yang memang beraneka ragam). Lagipula remaja Indonesia, kan, bukan hanya mereka yang tinggal di kota besar saja. Banyak generasi muda kita yang tinggal di pelosok daerah ingin belajar jadi “global”, menjadi bagian dari komunitas dunia yang dinamis dan tidak ketinggalan jaman. Dan teenlit-lah yang menjadi penyuara mereka, ekspresi dari aspirasi mereka yang spontan. Sayangnya spontanitas saja belumlah cukup. Agar dapat membuat teenlit menjadi bacaan yang tidak hanya menarik tapi juga berkualitas, para penulis seharusnya bisa mengembangkan tema yang simpel, yang tadinya hanya seputar romance menjadi roman-misteri, roman-action, atau bahkan roman-fantasi.

Footnote – Majalah Alinea

Belajar dari teenlit Dalam teenlit. jadul (jaman dulu—red) banget. Ada tanggung-jawab moral dan sosial terselip dalam niatan mereka mereka untuk ikut menjadikan manusia Indonesia—terutama generasi mudanya—lebih cerdas. cantik. Teenlit seharusnya bisa berperan sebaliknya. dan sebagainya. Persepsi itu tentunya salah. menjadi media panutan positif bagi remaja dengan menampilkan segala kondisi remaja itu sendiri apa adanya. bukan hanya dari segi uang dan ketenaran semata. si B bisa jadi orang yang berbudi pekerti baik walau ia berasal dari keluarga kaya. atau kasarnya. kaya. dengan kualitas moral dan budi pekerti yang masih tanda tanya.Diversifikasi tersebut mampu membuat pasar jadi tidak cepat jenuh karena pembaca merasa mendapatkan “poin plus” dengan membaca karya teenlit. bukan produk masa kini. tampan. Semua ini seakan-akan memberi gambaran bahwa remaja yang tidak memiliki kualifikasi seperti itu berarti tidak “gaul”. tokoh protagonis seringkali digambarkan sebagai sosok yang hanya memiliki keindahan fisik. Penulis seyogyanya memilah-milah pengalaman serta memperkaya diri dahulu sebelum “membaginya” lewat cerita kepada khalayak luas. yaitu mereka tidak hanya jadi tahu isu pop terkini. *Dimuat di rubrik “Footnote” Majalah Alinea edisi Agustus 2006 Footnote – Majalah Alinea . tapi menjadi lebih berwawasan. Si tokoh A bisa mendapatkan akhir cinta yang bahagia walau ia tidak cantik. tanpa syarat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.