P. 1
BAB II Lpleng

BAB II Lpleng

|Views: 1,809|Likes:
Published by Merlie Anna

More info:

Published by: Merlie Anna on Dec 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/15/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB II
  • TINJAUAN PUSTAKA
  • II.1 Teori Umum
  • II.1.1 Uraian Spons
  • II.1.2 Penyiapan Sampel
  • 1. Pengumpulan bahan/panen
  • 2. Pencucian dan Sortasi Basah
  • 3. Perajangan
  • 4. Pengeringan
  • a. Pengeringan alamiah
  • b. Pengeringan buatan
  • 5. Pengawetan simplisia
  • 6. Pewadahan dan penyimpanan simplisia
  • 7. Pemeriksaan mutu
  • II.1.3 Ekstraksi
  • A. Maserasi
  • B. Perkolasi
  • C. Soxhletasi
  • D. Refluks
  • E. Destilasi Uap Air
  • F. Infus
  • G. Dekokta
  • II.1.3 Partisi
  • a. Bentuk campurannya
  • 1. Ekstraksi Kontinyu (Continues Extraction). Pada ekstraksi
  • II.1.4 Kromatografi Lapis Tipis
  • II.1.5 Kromatografi Cair Vakum
  • A. Suction Colomn
  • B. Rapid-Sigel
  • C. Press Colomn
  • Gambar kromatografi kolom vakum
  • II.1.6 Kromatografi Kolom
  • II.1.7 Fraksinasi
  • II.1.8 Identifikasi Senyawa
  • Gambar 1. Kerangka dasar karbon steroid di mana R1, R2 dan R3
  • Gambar 2. Isopren dan unit isopren
  • Tabel 1. Golongan Utama Terpenoid
  • Gambar 3. Beberapa contoh monoterpenoid
  • Gambar 4. Struktur farnesol
  • Gambar 5. Isomer farnesil pirofosfat
  • Gambar 6. Struktur Fitol
  • Gambar 7. Struktur Skualena
  • II.1.9 Kromatografi Lapis Tipis Preparatif
  • II.1.9 Kromatografi Dua Dimensi
  • Gambar mekanisme KLT 2 dimensi
  • II.1.10 Kromatografi Multieluen
  • Tabel data elutropic pelarut. (42)
  • II.1.11 Pemurnian
  • Gambar Diagram titik didih- komposisi larutan ideal campuran
  • II.2 Uraian Sampel
  • II.2.1 Klasifikasi
  • II.2.2 Kandungan Senyawa
  • II.2.3 Morfologi
  • II.2.4 Kegunaan
  • II.2.5 Data Ekologi
  • II.3 Uraian Bahan
  • DAFTAR PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1

Teori Umum

II.1.1 Uraian Spons Spons adalah biota multiseluler primitif yang bersifat filter feeder, menghisap air dan bahan-bahan lain di sekelilingnya melalui pori-pori (ostia) kemudian dialirkan ke seluruh bagian tubuhnya melalui saluran (channel) dan dikeluarkan melalui pori-pori yang terbuka (ostula). Spons termasuk hewan laut dalam filum porifera yang berarti memiliki pori-pori dan saluran. Melalui pori-pori dan saluran-saluran inilah air diserap oleh sel khusus yang dinamakan sel leher, yang dalam banyak hal menyerupai cambuk. Jenis sel ini dinamakan koanosit (choanocyte; Yunani=choane: cerobong, kytos=berongga). Diduga hewan ini berasal dari jaman paleozoik sekitar 1,6 milyar tahun yang lalu. (1)

Gambar Anatomi spons

Spons hidup secara heterotrof. Makanannya adalah bakteri dan plankton. Makanan yang masuk ke tubuhnya dalam bentuk cairan sehingga porifera disebut juga sebagai pemakan cairan. Ukuran dan bentuk spons bervariasi. Ukurannya mulai dari mikroskopis hingga mencapai 2 meter. Sedangkan bentuknya merambat, bercabang, tegak seperti cerobong atau pipa. (2) Warna spons bervariasi, dari warna gelap hingga cerah. Warna pada Spons disebabkan oleh pigmen karotenoid. Spesies spons tertentu memiliki pigmen yang berwarna gelap setelah kontak dengan udara. Sedangkan spons lainnya mampu menghasilkan pigmen yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit manusia. Sepintas nampaknya spons memperlihatkan gejala seperti benda mati yang diam tanpa aktivitas. Tetapi jika diamati secara seksama, di dalam tubuhnya terjadi aktivitas yang luar biasa di mana air mengalir melalui pori di dalam tubuhnya. Spons mampu memompa air secara aktif sampai 10 kali volume tubuhnya setiap jam, sehingga membuatnya seperti vakum pembersih laut yang sangat efisien. Spons menyaring air laut untuk memperoleh makanan. Air laut tersebut dapat mengandung nutrisi berupa mikroorganisme (diatomae, bakteri, protozoa), bahan-bahan organik yang merupakan lapukan atau sisa-sisa tubuh organisme yang telah mati, serta senyawa kimia toksik yang dihasilkan oleh tumbuhan atau hewan lain. Senyawa kimia toksik ini kemudian dimodifikasi oleh spons di dalam tubuhnya.(3)

Secara garis besar, spons dikelompokkan menjadi 4 kelas yaitu Demospongiae, Calcarea, Hexactinellida dan Sclerospongiae. 1. Demospongiae Umumnya hidup di laut, tetapi ada pula yang hidup di air tawar. Kelas ini mendominasi lebih dari 90 % spesies Spons. Kerangka tubuhnya ada yang terbuat dari silika, Sponsin, dan campuran keduanya. Tingginya ada yang mencapai 1 meter dan memiliki warna yang cemerlang. Contohnya Cliona, Spongilla, dan Haliclona. 2. Calcarea atau Calcispongiae Hidup di daerah pantai yang dangkal. Bentuk tubuhnya sederhana dengan kerangka yang terbuat dari CaCO3. Tingginya kurang dari 10 cm dan umumnya hidup di air laut. Contohnya Leucosolenia, Clathrina, Grantia, Scypha, dan Sycon. 3. Hexactinellida atau Hyalospongiae Umumnya dikenal sebagai Spons kaca yang hidup di laut dalam. Kerangka tubuhnya terbuat dari silika dan spikulanya berduri enam (hexaxon). Tingginya rata-rata 10-30 cm. Contohnya Euplectella dan Hyalonema. 4. Sclerospongiae Jumlah spesiesnya sangat terbatas. Umumnya ditemukan dalam gua dan terowongan karang laut. Bentuknya mirip dengan Demospongiae. (3)

(4) Spons pada umumnya berwarna putih atau abu-abu. Berdasarkan komposisi kimia dan morfologinya filum Porifera terbagi atas tiga kelas. merah. yaitu. dan Hexactinellida. Sebagian besar spesies spons memiliki struktur tubuh leuconoid. Beberapa spons memiliki warna yang berbeda walaupun termasuk dalam jenis yang sama. Spons memiliki 3 pembagian dasar struktur tubuh. Warna spons tersebut sebagian dipengaruhi oleh fotosintesis mikrosimbionnya. Namun saat ini telah diketahui kelas ke-4 dari filum ini. subkingdom Metazoa. spons diklasifikasikan ke dalam kingdom Animalia atau hewan. Demospongiae. yaitu: Sclerospongia terdiri atas 16 spesies yang memiliki struktur leuconoid dan hanya terdapat di bagian gua-gua dan celah-celah terumbu karang yang gelap. yaitu asconoid. dan filum Porifera.Menurut Pechenik (2005). dan ada pula yang berwarna kuning. jingga. Spons yang hidup di lingkungan yang gelap akan berbeda warnanya dengan spons sejenis . syconoid dan leuconoid. Beberapa spons juga memiliki warna dalam tubuh yang berbeda dengan pigmentasi luar tubuhnya. Mikrosimbion spons pada umumnya adalah cyanophyta (sianobakteria dan eukariot alga seperti dinoflagellata atau zooxanthellae). Spons yang berwarna hijau biasanya disebabkan oleh adanya alga simbiotik yang disebut sebagai zoochlorellae yang terdapat didalamnya (Romimohtarto & Juwana 1999). atau hijau. Calcarea. Spons dimasukkan ke dalam filum Porifera dikarenakan seluruh tubuhnya yang berpori dimana dalam bahasa Latin “Porifera” berarti memiliki pori.

dihubungkan dengan kamar-kamar yang mengandung cambuk kecil yang berbentuk bundar.yang hidup pada lingkungan yang cerah (2). Pori-pori dan sistem kanal tersebut berfungsi untuk menyaring air setiap 5 detik. (4) Kelas Demospongiae adalah kelompok spons yang paling dominan di antara Porifera masa kini. serta jumlah jenis maupun organismenya sangat banyak. Sel choanocyte berperan dalam pergerakan air dalam tubuh spons dan untuk menyediakan makanan. sejajar dengan spongocoel. dengan satu ujungnya terhubung ke mesohyl. Umumnya berbentuk masif dan berwarna cerah dengan sistem saluran yang rumit. Kanal tersebut adalah choanocytes yang merupakan lapisan sel yang terdapat pada bagian dalam mesohyl. Choanocyte berbentuk bulat. Pada bagian atas tubuhnya terdapat kanal yang berfungsi sebagai tempat keluarnya air yang disebut osculum dengan jumlah yang lebih sedikit daripada ostia. Spons termasuk hewan filter feeder yang menyaring air yang memasuki tubuhnya melalui pori-pori kecil yang disebut sebagai ostia sebagai tempat masuknya air laut untuk bersirkulasi melalui sejumlah kanal dimana partikel-partikel plankton dan organik akan dimakan dan disaring keluar kembali. Sel ini memiliki struktur yang menyerupai protozoa choanoflagelata. Spikulanya ada yang terdiri dari silikat dan ada beberapa spikulanya hanya terdiri dari serat spongin. Partikel-partikel plankton dan organik tersebut di pompa masuk menuju ruang makan yang lebih besar yang disebut sebagai spongocoel. Jenis ini tersebar luas di alam. serat kolagen atau tanpa .

Beberapa senyawa ini memiliki aktivitas farmakologi karena interaksi mereka dengan reseptor dan enzim yang spesifik. dan Verongida. Sebagian besar spons laut yang bersifat sessile mengandung sistem imun yang primitif dan menghasilkan senyawa kimia yang bersifat toksik sebagai bentuk pertahanan dirinya. Kenyataan inilah yang dijadikan acuan bahwa spesies-spesies tersebut memiliki semacam mekanisme pertahanan diri (Castro & Huber 2007). untuk Pengambilan biasanya memaksimalkan kemungkinan ditemukannya substansi bioaktif atau . spesies-spesies ini jarang dimakan oleh beberapa jenis ikan dan kepiting.2 Penyiapan Sampel Bioprospeksi didefinisikan sebagai pengambilan biota laut yang akan digunakan untuk proses penemuan. Kajian bioprospeksi merupakan bagian dari penelitian penemuan dan pengembangan obat dari bahan alami laut dan bioprospeksi merupakan tahap awal dalam proses penemuan tersebut. Dendroceratida. penyediaan bahan obat secara komersial. (4) Walaupun terlihat tidak memiliki pertahanan.(4) II. (4) Bioprospeksi melibatkan pengambilan ribuan biota laut telah dikoleksi dari habitatnya untuk memenuhi harapan dapat menemukan substansi bioaktif awal baru dan mengembangkannya bersifat luas dan menjadi spekulatif obat. pengembangan dan jika memungkinkan.1.spikula yaitu terdapat dalam famili Dictyoceratida.

bahan hewani. (6) Pengertian simplisia menurut Farmakope Indonesia Edisi III adalah bahan alam yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga. Hal ini disebabkan karena biota-biota tersebut relatif lebih mudah dikoleksi hanya dengan menggunakan tangan pada saat penyelaman dari habitat dengan keanekaragaman yang tinggi. (4) Sampel seringkali harus dikumpulkan dari suatu tempat yang jauh dari laboratorium analisis sehingga sampel tidak biasa langsung dianalisis karenanya sampel harus disimpan lebih dahulu. seperti Porifera (spons). berupa bahan yang telah dikeringkan. dan Urochordata (ascidian).metabolit sekunder. karang batu. Baik wadah yang digunakan untuk menyimpan sampel atau kondisi penyimpanan sehingga tidak ada perubahan-perubahan yang signifikan yang akan berpengaruh pada validasi data analisis. sebagian besar sumber substansi bioaktif adalah metabolit sekunder yang berasal dari avertebrata laut yang bertubuh lunak dan menempel pada substrat (sessile). (7) . anemon laut). kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan. (5) Simplisia adalah bahan alamiah (bahan tumbuhan. karang lunak. Cnidaria (ubur ubur. atau bahan mineral) yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain. (4) Hingga saat ini. dangkal dan perairan yang hangat seperti terumbu karang.

cendawan dan atau menunjukkan tandatanda pengotoran lain d) Tidak boleh mengandung bahan lain yang beracun atau berbahaya e) Kadar abu yang tidak larut dalam asam maksimal 2%. bagian tanaman dan eksudat tanaman. Tanaman budidaya 2. fragmen hewan dan kotoran hewan b) Tidak boleh menyimpang dari bau dan warna c) Tidak boleh mengandung lendir. Eksudat tanaman ialah isi yang spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang dikeluarkan dari selnya. 3. simplisia dibagi atas : 1. Berdasarkan asal bahan bakunya. Tanaman liar . Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh.Syarat suatu simplisia yaitu : a) Harus bebas serangga. dengan cara tertentu atau zat yang dipisahkan dari tanamannya dengan cara tertentu yang masih belum berupa zat kimia murni. (7) Simplisia terbagi 3 golongan yaitu : 1. 2. Simplisia mineral adalah simplisia yang berupa bahan pelican (mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni. (7). bagian hewan atau zatzat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.

Cara cara pembuatan simplisia adalah sebagai berikut : 1. rimpang (rhizome). akar (radix). Farmakope Indonesia. Oleh karena itu waktu. kayu (lignum). cortex). rimpang. Pengumpulan bahan/panen a. cara panen dan penanganan tanaman yang tepat dan benar merupakan faktor penentu kualitas dan kuantitas. batang (caulix). Teknik pengumpulan Panen merupakan salah satu rangkaian tahapan dalam proses budidaya tanaman obat. kulit dan batang. dan ekstra Farmakope Indonesia. buah (fructus). Tanaman yang dipanen buahnya memiliki waktu dan cara panen yang berbeda dengan tanaman yang dipanen berupa biji. biji (semen). daun. bunga (flos). maka dilakukan pemeriksaan mutu simplisia yang bertujuan agar diperpoleh simplisia yang memenuhi persyaratan umum yang ditetapkan oleh Depkes RI dalam buku resmi seperti materi medika Indonesia. daun (folium). (6) Agar simplisia yang kita butuhkan bermutu baik. cara pemanenan dan penanganan bahan setelah panen merupakan periode kritis yang sangat menentukan kualitas dan kuantitas hasil tanaman. Begitu juga tanaman yang mengalami . Setiap jenis tanaman memiliki waktu dan cara panen yang berbeda.Bagian tanaman yang dapat dijadikan simplisia antara lain : Kulit batang (klika. dan bulbus. Waktu. (7) Pembuatan simplisia merupakan proses memperoleh simplisia dari alam yang baik dan memenuhi syaratsyarat mutu yang dikehendaki.

umur tanaman. misalnya jangan menggunakan alat yang terbuat dari logam untuk simplisia yang mengandung senyawa fenol dan glikosa. maka daun yang tua jangan dipetik dan jangan merusak bagian tanaman lainnya. bakteri dan virus karena dapat menyebabkan berkurangnya kandungan zat aktif dan terganggunya proses metabolisme serta terbentuknya produk metabolit yang tidak diharapkan. harus disesuaikan dengan kandungan kimianya agar tidak merusak zat aktif yang dikandungnya. tidak berpenyakit atau terjangkit jamur. (8) Pengumpulan atau panen dapat dilakukan dengan tangan atau menggunakan alat (mesin). Kalau menggunakan alat. agar diperoleh tanaman/bagian tanaman yang dikehendaki. sehingga diperlukan satu waktu pengumpulan yang tepat yaitu pada saat kandungan zat aktifnya mencapai jumlah maksimal tanaman yang diambil harus sehat. misalnya dikehendaki daun yang muda. (8) Pada umumnya waktu pengumpulan sebagai berikut : . (7) b. bagian tanaman yang diambil dan lingkungan tempat tumbuhnya. Waktu pengumpulan atau panen Kadar kandungan zat aktif suatu simplisia ditentukan oleh waktu panen.stres lingkungan akan memiliki waktu panen yang berbeda meskipun jenis tanamannya sama. Apabila pengambilan dilakukan secara langsung (pemetikan) maka harus memperhatikan keterampilan si pemetik.

5) Akar. untuk klika yang mengandung minyak atsiri atau senyawa fenol gunakan alat pengelupas yang bukan terbuat dari logam. sebaliknya dengan cara cara pengambilan simplisia/bagian tanaman adalah berselangseling dan sebelum jaringan kambiumnya. umbi (tuber) dan umbi lapis (bulbus). (8) c. b) Batang (caulis) Batang diambil dari cabang utama sampai leher akar.1) Daun dikumpulkan sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah menjadi masak 2) Bunga dikumpulkan sebelum atau segera setelah mekar. dikelupas dengan ukuran panjang dan lebar tertentu. kecuali buah mengkudu dipetik sebelum buah masak. dikumpulkan sewaktu proses pertumbuhannya berhenti. rimpang (rhizome). c) Kayu (Lignum) Kayu diambil dari batang atau cabang. dipotongpotong dengan panjang dan diameter tertentu. 3) Buah dipetik dalam keadaan tua. 4) Biji dikumpulkan dari buah yang masak sempurna. kelupas kuliltnya dan potongpotong kecil. Bagian Tanaman Adapun sebagai berikut : a) Klika batang/klika/korteks Klika diambil dari batang utama dan cabang. .

j) Bulbus Tanaman dicabut. dapat dipetik langsung dengan tangan. g) Rimpang (Rhizoma) Tanaman dicabut. rimpang diambil dan dibersihkan dari akar. h) Buah (Fructus) Dapat berupa buah yang masak. dapat berupa kuncup atau bunga mekar atau mahkota bunga atau daun bunga. dipotong melintang dengan ketebalan tertentu. dipotongpotong dengan ukuran tertentu. biji dikumpulkan dan dicuci. dipetik dengan tangan i) Biji (Semen) Buah yang dikupas kulit buahnya menggunakan tangan atau alat. matang atau buah muda.(2) . e) Bunga (Flos) Tergantung yang dimaksud.d) Daun (Folium) Daun tua atau muda (daun kelima dari pucuk) dipetik satu persatu secara manual. f) Akar (Radix) Bagian yang digunakan adalah bagian yang berada di bawah permukaan tanah. Pengambilan sebaiknya pada musim kering dan bagian atas tanaman mengering (layu). bulbus dipisahkan dari daun dan akar dengan memotongnya.

alat untuk panen dapat menggunakan garpu atau cangkul. kantong. Penempatan dalam wadah (keranjang. Bahan juga harus dijaga dari gangguan hama (hama gudang. tikus dan binatang peliharaan). Selanjutnya dalam waktu pengangkutan diusahakan supaya bahan tidak terkena panas yang berlebihan. Penempatan dalam wadah (keranjang.Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. kantong. karung dan lainlain) tidak boleh terlalu penuh sehingga bahan tidak menumpuk dan tidak rusak. karung dan lainlain) tidak boleh terlalu penuh sehingga bahan tidak menumpuk dan tidak rusak. Bahan yang rusak atau busuk harus segera dibuang atau dipisahkan. alat untuk panen dapat menggunakan garpu atau cangkul. Selanjutnya dalam waktu pengangkutan diusahakan supaya bahan tidak terkena panas yang berlebihan. Seperti rimpang. tikus dan binatang peliharaan). Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. . Bahan juga harus dijaga dari gangguan hama (hama gudang. Seperti rimpang. karena dapat menyebabkan terjadinya proses fermentasi/ busuk. Alat yang digunakan dipilih dengan tepat untuk mengurangi terbawanya bahan atau tanah yang tidak diperlukan. karena dapat menyebabkan terjadinya proses fermentasi/ busuk. Bahan yang rusak atau busuk harus segera dibuang atau dipisahkan. Alat yang digunakan dipilih dengan tepat untuk mengurangi terbawanya bahan atau tanah yang tidak diperlukan.

bulbus). Proses perendaman dilakukan beberapa kali pada wadah dan air yang berbeda. pada .Pasca panen merupakan kelanjutan dari proses panen terhadap tanaman budidaya atau hasil dari penambangan alam yang fungsinya antara lain untuk membuat bahan hasil panen tidak mudah rusak dan memiliki kualitas yang baik serta mudah disimpan untuk diproses selanjutnya. (7) a. untuk membersihkan simplisia dari sisasisa tanah yang melekat. bunga. rimpang. Untuk memulai proses pasca panen perlu diperhatikan cara dan tenggang waktu pengumpulan bahan tanaman yang ideal setelah dilakukan proses panen tanaman tersebut. Pencucian terutama dilakukan bagi simplisia utamanya bagian tanaman yang berada di bawah tanah (akar. (8) 2. efek terapinya tinggi sehingga memiliki nilai jual yang tinggi. Perendaman bertingkat Perendaman biasanya dilakukan pada bahan yang tidak banyak mengandung kotoran seperti daun. Pencucian dan Sortasi Basah Pencucian dan sortasi basah dimaksudkan untuk membersihkan simplisia dari bendabenda asing dari luar (tanah. buah dll. Tujuan dari pasca panen ini untuk menghasilkan simplisia tanaman obat yang bermutu. dan memisahkan bagian tanaman yang tidak dikehendaki. juga bagi pelaksananya perlu memperhatikan perlengkapan seperti masker dan sarung tangan. Selama proses pasca panen sangat penting diperhatikan kebersihan dari alatalat dan bahan yang digunakan. batu dan sebagainya).

Untuk lebih menyakinkan kebersihan bahan. Penyikatan dilakukan terhadap bahan secara perlahan dan teratur agar tidak merusak bahannya. umbi dan lainlain. kotoran yang melekat kuat pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan. b. akar. namun sangat Metode ini akan menghemat melarutkan zatzat yang mudah terkandung dalam bahan. Pencucian ini memakai alat bantu sikat yang digunakan bentuknya bisa bermacammacam. dalam hal ini perlu diperhatikan kebersihan dari sikat yang digunakan. Pembilasan dilakukan pada bahan yang sudah disikat. Proses penyemprotan dilakukan dengan menggunakan air yang bertekanan tinggi. penggunaan air.rendaman pertama air cuciannya mengandung kotoran paling banyak. Proses ini biasanya menggunakan air yang cukup banyak. Penyemprotan Penyemprotan biasanya dilakukan pada bahan yang kotorannya banyak melekat pada bahan seperti rimpang. Saat perendaman kotorankotoran yang melekat kuat pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan. . c. Metode pencucian ini dapat menghasilkan bahan yang lebih bersih dibandingkan dengan metode pencucian lainnya. Penyikatan (manual maupun otomatis) Pencucian dengan menyikat dapat dilakukan terhadap jenis bahan yang keras/tidak lunak dan kotorannya melekat sangat kuat. namun dapat mengurangi resiko hilang/larutnya kandungan dalam bahan.

Untuk tujuan mendapatkan minyak atsiri yang tinggi bentuk irisan sebaiknya adalah membujur (split) dan jika ingin bahan lebih cepat kering bentuk irisan sebaiknya me-lintang (slice). Semakin tipis perajangan maka semakin cepat proses pengeringan kecuali tanaman yang mengandung minyak menguap perajangan tidak boleh terlalu tipis karena menyebabkan berkurangnya atau hilangnya zat aktif.namun meningkatkan resiko kerusakan bahan. Perajangan Perajangan dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan dan pewadahan setelah dicuci dan dibersihkan dari kotoran atau benda asing. kunyit dan kencur 3 . (8) 4. (7) Ketebalan perajangan untuk rimpang temulawak adalah sebesar 7 8 mm. kemudian dipotongpotong kecil. sehingga merangsang tumbuhnya bakteri atau mikroorganisme. materi/sampel dijemur dulu 1 hari. (8) 3.5 mm. Pengeringan Tujuan pengeringan pada tanaman atau bagian tanaman adalah sebagai berikut : . Perajangan bahan dapat dilakukan secara manual dengan pisau yang tajam dan terbuat dari steinlees ataupun dengan mesin pemotong/ perajang. Bentuk irisan split atau slice tergantung tujuan pemakaian. jahe. Sebaliknya bila perajangan terlalu tebal pengeringannya lama dan mudah berjamur.

menggunakan alat yang dapat diatur suhu. biji dan sebagainya) dan mengandung zat aktif yang relative stabil oleh panas) 2) Dianginanginkan dan tidak terkena sinar matahari secara langsung. kulit biji. Pengeringan alamiah Tergantung dari kandungan zat aktif simplisia. terutama pada bagian tanaman yang keras (kayu. kadar air yang dainjurkan adalah kurang dari 10 %. Agar reaksi enzimatik tidak dapat berlangsung. Pengeringan buatan Cara pengeringan dengan . kelembaban. Cara pengeringan dapat dilakukan secara alamiah dan secara buatan. b) Mengurangi kadar air. sehingga mencegah terjadinya pembusukan oleh jamur atau bakteri karena terhentinya proses enzimatik dalam jaringan tumbuhan yang selnya telah mati. tidak rusak dan dapat digunakan dalam jangka yang relatif lama. yaitu : 1) Sinar matahari langsung. yaitu : a. c) Mudah dalam penyimpanan dan mudah dihaluskan bila ingin dibuat serbuk. daun dan lainlain) dan zat aktif yang dikandungnya tidak stabil oleh panas (minyak atsiri). (7) . umumnya untuk simplisia bertekstur lunak (bunga. pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara.a) Untuk mendapatkan simplisia yang awet. b. tekanan atau sirkulasi udaranya.

sebelum dikeringkan terlebih dulu irisan rimpang direndam dalam larutan asam sitrat 3% selama 3 jam. dimana suhunya hampir sama dengan suhu ruang. penjemuran juga dapat dilakukan dengan menggunakan blower pada suhu 40 500C.18% dan kurkumin 1. Untuk irisan rimpang jahe dapat dikeringkan menggunakan alat pengering energi surya. Pengeringan pada suhu terlalu tinggi dapat merusak komponen aktif. Kelemahan dari alat tersebut waktu pengeringan selama 3 .89%.8 53. Dari hasil analisis diperoleh kadar minyak atsirinya 13. Pelain kedua jenis pengering tersebut juga terdapat alat pengering fresh dryer. Selesai perenaman irisan dicuci kembali sampai bersih. blower dan fresh dryer pada suhu 30 500C. Tujuan dari perendaman adalah untuk mencegah terjadinya degradasi kurkuminoid pada simplisia pada saat penjemuran juga mencegah penguapan minyak atsiri yang berlebihan. dibandingkan dengan sinar matahari membutuhkan waktu lebih dari 1 minggu. tempat tertutup dan lebih higienis. ditiriskan kemudian dijemur dipanas matahari. oven. Untuk irisan temulawak yang dikeringkan dengan sinar matahari langsung. sehingga mutunya dapat menurun.3% menghasilkan kadar minyak atsiri lebih tinggi dibandingkan dengan pengeringan matahari langsung maupun oven. Di samping menggunakan sinar matahari langsung. dimana suhu pengering dalam ruang pengering berkisar antara 36 45 0C dengan tingkat kelembaban 32. Kelebihan dari alat ini adalah waktu penjemuran lebih singkat yaitu sekitar 8 jam.Pengeringan hasil rajangan dari temutemuan dapat dilakukan dengan menggunakan sinar matahari.

Ruangan penyimpanan simplisia harus diperhatikan suhu. Wadah terbuat dari plastic tebal atau gelas yang berwarna gelap dan tertutup kedap memberikan suatu jaminan yang memadai terhadap isinya. (8) 5. sedangkan cara pengawetan untuk hewanhewan laut terutama yang mudah berubah bentuknya setelah mati seperti bintang laut (Asteroida). jenis hewan berongga (Coelenterata) dan hewan berduri (Echinodermata) terdiri dari zat kapur maka binatang ini diawetkan dengan alcohol 70 % agar zat kapurnya tidak larut. pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan sinar matahari di dalam tampah yang ditutup dengan kain hitam. menggunakan alat pengering fresh dryer atau cukup dikeringanginkan saja. Pewadahan dan penyimpanan simplisia Sortasi kering dilakukan sebelum pewadahan simplisia bertujuan memisahkan sisasisa benda asing atau bagian tanaman yang tidak dikehendaki yang tidak tersortir pada saat sortasi basah. (7) . (7) 6. kelembaban udara dan sirkulasi udara ruangannya. Simplisia yang diperoleh diberi wadah yang baik dan disimpan pada tempat yang dapat menjamin terpeliharanya mutu dari simplisia.hari. Untuk daun atau herba. Pengawetan simplisia Cara pengawetan untuk tanaman atau bagian tanaman sebelum dikeringkan direndam dahulu dalam alcohol 70 % atau dialiri uap panas. bulu babi (Echinoidea). wadah dari logam tidak dianjurkan agar tidak berpengaruh terhadap simplisia.

Masuknya sinar matahari lang-sung menyinari simplisia harus dicegah.Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai tempat penyimpanan simplisia adalah : Gudang harus terpisah dari tem-pat penyimpanan bahan lainnya ataupun penyimpanan alat dan dipelihara dengan baik. Masuknya hewan. Kelembaban udara yang tinggi dapat memacu pertumbuhan mikroorganisme se-hingga menurunkan mutu bahan baik dalam bentuk segar maupun kering. Suhu gudang tidak melebihi 300C. Kelembabab udara sebaiknya di-usahakan serendah mungkin (650 C) untuk mencegah terjadinya penyerapan air. Pemeriksaan mutu Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan atau pembelian dari pengumpul atau pedagang simplisia. Ekstra Farmakope Indonesia ataupum Materia Medika Indonesia Edisi terakhir. Simplisia yang diterima harus berupa simplisia murni dan memenuhi persyaratan umum untuk simplisia seperti yang disebutkan dalam Buku Farmakope Indonesia.(9) . baik serangga maupun tikus yang sering memakan simplisia yang disimpan harus dicegah. (8) 7. Ventilasi udara cukup baik dan bebas dari kebocoran atau kemungkinan masuk air hujan.

serta proses pascapanen dan preparasi akhir. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh.Simplisia dibedakan menjadi simplisia nabati. Bahwa simplisia sebagai bahan kefarmasian seharusnya mempunyai tiga parameter mutu umum suatu bahan (material). serta aturan penstabilan (wadah. iklim. Usaha untuk menjaga variabel tersebut dianggap sebagai usaha untuk menjaga mutu simplisia. tempat tumbuh. yaitu kebenaran jenis (identifikasi). Walaupun ada juga yang berpendapat bahwa variabel tersebut tidak berakibat besar pada mutu ekstrak nantinya. simplisia hewani dan simplisia pelikan (mineral). kondisi (umum dan cara) panen. Simplisia sebagai produk hasil pertanian atau pengumpulan tumbuhan liar (wild crop) tentu saja kandungan kimianya tidak dapat dijamin selalu baik (konstan) karena disadari adanya variabel bibit. Variabel tersebut juga dapat dikompensasi dengan penambahan/pengurangan bahan setelah sedikit prosedur Analisis kimia dan sentuhan inovasi teknologi farmasi lanjutan sehingga tidak berdampak banyak pada khasiat produksi. dapat dipertimbangkan tiga konsep untuk menyusun parameter standar mutu yaitu sebagai berikut : 1. bagian tumbuhan atau eksudat tumbuhan. kemurnian (bebas dari kontaminasi kimia dan biologis). Dalam hal simplisia sebagai bahan baku (awal) dan produk siap dikonsumsi langsung. . penyimpanan dan transportasi).

Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya.3 Ekstraksi Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisisa nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai. 3. yaitu Quality Safety Efficacy (mutu.2.1.(11) Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. (10) II. kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. manfaat). (13) . yaitu informasi komposisi (jenis dan kadar) senyawa kandungan. Bahwa simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi manusia sebagai obat tetap diupayakan memiliki tiga paradigma seperti produk kefarmasian lainnya. (12) Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. Bahwa simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia yang bertanggung jawab terhadap respons biologis untuk mempunyai spesifikasi kimia. aman.

aseton. hexan. protein dan lain-lain. . zat aktif akan larut dalam pelarut organik tersebut sehingga terjadi perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dan pelarut organik di luar sel. (12) Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah : a) Tipe persiapan sampel b) Waktu ekstraksi c) Kuantitas pelarut d) Suhu pelarut e) Tipe pelarut. mengandung zat aktif yang dapat larut dan zat yang tidak larut seperti serat. (13) Proses terekstraksinya zat aktif dalam sel tanaman adalah : pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam sel dan diluar sel. Simplisia yang disari. etanol. faktor yang mempengaruhi kecepatan penyarian adalah kecepatan difusi zat yang larut melalui lapisan-lapisan batas antara cairan penyari dengan bahan yang mengandung zat tersebut. karbohidrat. benzen dan etil asetat. (13) Penyarian adalah kegiatan penarikan zat yang dapat larut dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. kloroform. (14) Selain itu.Pelarut organik yang paling sering digunakan dalam mengekstraksi zat aktif dari sel tanaman adalah metanol.

Diperbolehkan oleh peraturan Untuk penyarian ini.Pemilihan cairan penyari harus mempertimbangkan banyak faktor. Murah dan mudah diperoleh 2. Selektif yaitu hanya menarik zat berkhasiat yang dikehendaki 6. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah ( proses difusi ). Tidak mempengaruhi zat berkhasiat 7. (15) .(12) A. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Cairan penyari yang baik harus memenuhi kriteria berikut ini : 1. Bereaksi netral 4. cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Selama proses maserasi dilakukan pengadukan dan penggantian cairan penyari setiap hari. Farmakope Indonesi menetapkan bahwa sebagai cairan penyari adalah air. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan. Tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar 5. etanol-air atau eter. Maserasi Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya. etanol. Stabil secara fisika dan kimia 3. Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel.

Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses ekstraksi adalah lama ekstraksi.Keterangan: A = Bejana untuk maserasi berisi bahan yang sedang dimaserasi B = Tutup C = Pengaduk yang digerakkan secara mekanik Ekstraksi dilakukan dengan melakukan perendaman atau maserasi sampel biota laut di dalam larutan kimia seperti alkohol untuk memperoleh ekstrak kasar. tidak . Metode ekstraksi yang digunakan pada penelitian ini adalah metode fase organik karena dalam prosesnya digunakan pelarut organik yaitu berupa alkohol teknis (96%) atau etanol. Ekstraksi didefinisikan sebagai suatu metode pemisahan atau pengambilan secara selektif zat terlarut dari campuran yang didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur.(16) Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. dan jenis pelarut yang digunakan (Triyulianti 2009). suhu. yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya.

. disaring kedalam dalam bejana penampung. kemudian ampasnya diperas dan ditambah cairan penyari lagi secukupnya dan diaduk kemudian disaring lagi hingga diperoleh sari 100 bagian. Kekentalan pelarut berkurang. yang dapat mengakibatkan berkurangnya lapisan-lapisan batas.mengandung benzoin. Hanya untuk simplisia yang zat aktifnya tahan pemanasan. endapan yang terbentuk dipisahkan dan filtratnya dipekatkan. yaitu pada suhu 40-500C. Sari yang diperoleh ditutup dan disimpan pada tempat yang terlindung dari cahaya selama 2 hari. Dengan pemanasan akan diperoleh keuntungan antara lain : (12) a. adalah maserasi dengan pemanasanlemah. Kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna. kemudian ditambahkan 75 bagian cairan penyari ditutup dan dibiarkan selama 5 hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya sambil berulang-ulang diaduk. tiraks dan lilin. (12) Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. (12) Maserasi umumnya dilakukan dengan cara : memasukkan simplisia yang sudah diserbukkan dengan derajat halus tertentu sebanyak 10 bagian ke dalam bejana maserasi yang dilengkapi pengaduk mekanik. (12) Maserasi dapat dimodofikasi misalnya: Digesti. Setelah 5 hari.

Pada maserasi melingkar penyarian tidak dapat dilaksanakan secara sempurna. Daya melarutkan cairan penyari akan meningkat. (12) Maserasi melingkar bertingkat. maserasi dapat dipersingkat 6-24 jam. Seluruh serbuk simplisia dimaserasi dengan cairan penyari pertama. c. Umumnya kelarutan zat aktif akan meningkat bila suhu dinaikkan. Aliran cairan penyari mengurangi lapisan batas. hampir sama dengan maserasi melingkar. penyari selalu mengalir kembali secara berkesinambungan melalui serbuk simplisia dan melarutkan zat aktifnya. Dengan cara ini. karena pemindahan massa akan . Maserasi dengan mesin pengaduk. hingga kenaikan suhu akan berpengaruh pada kecepatan difusi. sehingga akan memperkecil kepekatan setempat. sehingga pemanasan tersebut mempunyai pengaruh yang sama dengan pengadukan. (12) Remaserasi. (12) Maserasi melingkar. Waktu yang diperlukan lebih pendek.b. bejana penampungnya lebih dari 1. c. Hanya saja. Keuntungan cara ini : (12) a. dimana cairan penyari dibagi 2. atau disesuaikan. sesudah diendaptuangkan. Cairan penyari akan didistribusikan secara seragam. b. Koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu absolut dan berbanding terbalik dengan kekentalan. yaitu dengan mesin yang terus berputar. ampas disari lagi dengan cairan penyari ke-2.

daya larut. cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui simplisia tersebut. lalu dipekatkan. (12) . Masalah ini dapat diatas dengan maserasi melingkar bertingkat. dan berat cairan di atas dikurangi gaya kapiler yang menahan gerakan ke bawah. daya kapiler dan daya gesekan (friksi). Gerakan ke bawah disebabkan oleh karena gravitasi. osmosa. Perkolat yang diperoleh dikumpulkan. kekentalan. kemudian simplisia dipindahkan ke dalam bejana silinder yang bagian bawahnya diberi sekat berpori. Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain : gaya berat. tegangan permukaan. difusi. (12) B. (15) Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Perkolasi Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia dimaserasi selama 3 jam.berhenti bila keseimbangan telah terjadi. adesi. cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampai keadan jenuh. kohesi.

5 bagian sampai 5 bagian cairan penyari. lalu dimasukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya selama 3 jam. sedang sisa setelah dilakukannnya penyarian disebut ampas atau sisa perkolasi. Lalu perkolator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam. dituangi dengan cairan penyari secukupnya sambil cairan mulai menetes dan di atas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari. (12) Kecuali dinyatakan lain. (12) Cara perkolator lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi karena: (12) . larutan zat aktif yang keluar dari perkolator disebut sari /perkolat. Massa dipindahkan sedikit demi sedikit ke dalam percolator sambil tiapkali ditekan hati-hati.Keterangan: A = Perkolator B= Botol Cairan-penyari C = Keran D = Tutup karet E = Gabus F = Sarangan G = Botol Alat yang digunakan untuk perkolasi disebut perkolator. perkolasi dilakukan sebagai berikut : 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dibasahi dengan 2. cairan yang digunakan untuk menyari disebut cairan penyari atau menstrum.

(12) C. Soxhletasi Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia ditempatkan dalam klonsong yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa. maka cara perkolasi diganti dengan cara reperkolasi. cairan penyari dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan dikondensasikan oleh kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang jatuh ke dalam klonsong menyari zat aktif di dalam simplisia dan jika cairan penyari telah mencapai permukaan . Karena kecilnya saluran kapiler tersebut. Untuk menghindari kehilangan minyak atsiri pada pembuatan sari. maka kecepatan pelarut cukup untuk mengurangi lapisan batas. Ruangan diantara butir-butir serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan penyari. (12) Keuntungan dari perkolasi adalah aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang konsentrasinya lebih rendah. b. Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan larutan yang konsentasinya lebih rendah. sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi. sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi. perkolat yang dihasilkan tidak dalam kadar yang maksimal. Dalam proses perkolasi biasa. sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi. Kerugiannya adalah waktu kontak pelarut dengan simplisia sangat singkat.a.

Pelarut yang telah berkondensasi tersebut akan jatuh pada bagian dalam alat Soxhlet yang bersimplisia dibungkus kertas saring dan menyisiknya hingga mencapai bagian atas tabung sifon. (15) Ekstraksi sinambung dilakukan dengan menggunakan alat Soxhlet. Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di sifon tidak berwarna. (12) . Proses ini berlangsung terus menerus sampai diperloleh hasil ekstraksi yang dikehendaki. Seharusnya seluruh bagian larut tersebut akan tertarik dan ditampung pada labu tempat pelarut awal. melewati pipa samping alat Soxhlet dan mengalami pendinginan saat melewati kondensor. Keuntungan ekstraksi sinambung adalah pelarut yang digunakan lebih sedikit dan pelarut murni sehingga dapat menyaring senyawa dalam simplisia lebih banyak dalam waktu lebih singkat dibandingkan dengan maserasi atau perkolasi. atau sirkulasi telah mencapai 20-25 kali. Pelarut penyari yang ditempatkan di dalam labu akan menguap ketika dipanaskan.sifon. tidak tampak noda jika di KLT. Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan. seluruh cairan akan turun kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi. Kerugian cara ini adalah tidak dapat digunakan untuk senyawa senyawa termolabil.

Selanjutnya labu alas bulat diisi dengan cairan penyari yang sesuai kemudian ditempatkan di atas water bath atau heating mantel dan diklem dengan kuat kemudian klonsong yang telah diisi sampel dipasang pada labu alas bulat yang dikuatkan dengan klem dan cairan penyari ditambahkan untuk membasahkan sample yang ada dalam klonsong (diusahakan tidak tejadi sirkulasi).Keterangan a = Pendingin b = mantel c = Pipa samping d = sifon e = labu alas bulat Keuntungannya : cairan penyari yang diperlukan lebih sedikit dan lebih pekat. Metode soxhlet bila dilihat secara keseluruhan termasuk cara panas namun proses ekstraksinya secara dingin. (12) . (13) Sampel atau bahan yang akan diekstraksi terlebih dahulu diserbukkan dan ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam klonsong yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa (tinggi sampel dalam klonsong tidak boleh lebih dari pipa sifon). sehingga zat aktif yang tidak tahan pemanasan kurang cocok. Penyarian dapat diteruskan sesuai dengan keperluan. Kerugiannya : larutan dipanaskan terus-menerus. tanpa menambah volume cairan penyari. sehingga metode soxhlet digolongkan dalam cara dingin.

Refluks Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara sampel dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-sama dengan cairan penyari lalu dipanaskan. Destilasi Uap Air Penyarian minyak menguap dengan cara simplisia dan air ditempatkan dalam labu berbeda. akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas bulat. campuran zat dididihkan sehingga menguap. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan. Dalam penyulingan. demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyarian sempurna.D. dan akan memisah antara air dan minyak atsiri. lalu akan melewati pipa alonga. penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. (15) Destilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. uap air akan masuk ke dalam labu sampel sambil mengekstraksi minyak menguap yang terdapat dalam simplisia. Air dipanaskan dan akan menguap. uap air dan minyak menguap yang telah terekstraksi menuju kondensor dan akan terkondensasi. campuran air dan minyak menguap akan masuk ke dalam corong pisah. dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk . uap-uap cairan penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang akan turun kembali menuju labu alas bulat.(15) E.

dan hal ini merupakan syarat utama supaya pemisahan dengan distilasi dapat dilakukan.cairan. Jadi ada perbedaan komposisi antara fase cair dan fase uap. maka pemisahan dengan jalan destilasi tidak dapat dilakukan. masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya. (12) Kalau komposisi fase uap sama dengan komposisi fase cair. Metode ini merupakan termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton. (12) Keterangan : 1: Heat source 2: Still pot 3: Still head 4: Thermometer 5: Condenser 6: Cooling water in 7: Cooling water out Alat Destilasi 8: Distillate/receiving flask 9: Vacuum/gas inlet 10: Still receiver . Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu.

Ini adalah gambaran destilasi yang sangat sederhana ditemukan. .11: Heat control 12: Stirrer speed control 13: Stirrer/heat plate 14: Heating (Oil/sand) bath 15:Stirrer bar/anti-bumping granules 16: Cooling bath. Untuk mencegah hal tersebut maka dilakukan dengan destilasi uap. Namun konsep dasar destilasi tersebut seperti gambar di atas. Tujuan destilasi umumnya antara lain : (12) a. Untuk mengetahui titik didih suatu zat Destilasi uap dapat dipertimbangkan untuk menyari serbuk simplisia yang mengandung komponen yang mempunyai tititk didih tinggi pada tekanan udara normal. Pada pemanasan biasa terjadi kemungkinan kerusakan zat aktifnya. b. Untuk memisahkan dan sekaligus menurunkan suatu zat (zat padat maupun zat cair) dari suatu campuran yang mempunyai titik didih berbeda.

(12) Uap jenuh akan membasahi permukaan bahan. maka tekanan kesetimbangan uap zat kandungan akan diturunkan menjadi sama dengantekanan bagian di adlam suatu system. sehingga produk akan terdestilasi dan terbawa oleh uap air yang mengalir. tetapi suatu proses perpindahan massa kesuatu media yang bergerak. Terdiri dari : .Dengan adanya uap air yang masuk. dan zat aktif akan pindah ke rongga uap air yang aktif dan selanjutnya akan pindah ke rongga uap yang bergerak melalui antar fase. Proses ini disebut hidrofusi. Di bawah ini contoh alat dan fungsi bagian-bagiannya : (12) Alat Destilasi (12) 1. melunakkan jaringan dan menembus ke dalam melalui dinding sel. Labu destilasi. berfungsi sebagai wadah atau tempat suatu campuran zat cair yang akan di destilasi. Destilasi uap bukan semata-mata suatu proses penguapan pada titik didihnya.

a. Pipa dalam = pipa destilasi. .tujuannya adalah agar bagian dari dalam pipa lebih lama mengalami kontak dengan air sehingga pendinginan lebih sempurna dan hasil yang dihasilkan lebih sempurna. Pendingin yang digunakan biasanya adalah air yang dialirkan dari dasar pipa. 2. memiliki 2 celah. b.a. biasanya digunkan untuk mengukur suhu uap zat cair yang didestilasi selama proses destilasi berlangsung. Labu erlenmeyer khusus untuk destilasi atau refluks. 5. yang berfungsi untuk sebagai wadah sampel. berfungsi sebagai penyalur uap atau gas yang akan masuk ke alat pendingin (kondensor). Thermometer. biasanya selalu berasa atau keset. Labu didih. 3. yaitu celah masuk dan celah keluar. Ditempatkan pada labu destilasi atau steel head dengan ujung atas reservoir HE sejajar dengan pipa penyalur uap ke kondensor. untuk aliran uap hasil reaksi dan untuk aliran air keran. 4. dan seringnya thermometer yang digunakan harus. Contohnya untuk memisahkan alkohol dan air. b. 6. dan biasanya labu destilasinya sudah dilengkapi dengan leher yang berfungsi sebagai steel head. Labu dasar bulat. berfungsi sebagai tempat mengalirnya uap air yang telah didinginkan oleh pendingin pada bagian luarnya. Berskala suhu tinggi yang diatas titik didih zat cair yang akan didestilasi. Steel Head. Kondensor.

Enfleurage. 2. Pengurangan tekanan. Pemerasan. atau pengempaan dilakukan untuk mendapatkan berbagai minyak jeruk dengan menggunakan alat pemeras. Cara glikosidayang glikosidase. Minyak Menguap merupakan subtansi yang menyebabkan/ menimbulkan bau dari bemacam-macam tanaman. 5. Penyulingan dengan uap air. mineral. dan memperoleh Minyak Menguap antara lain : (12) 1. dilakukan pemecahan dengan ikatan glikosidisterhadap yang disebut mikroorganisme.7. Sifat-sifat Umumnya tidak berwarna dan tidak bercampur dengan air. Sumber-sumber simplisia terutama dari tumbuh-tumbuhan. enzim tertentu 3. Adaptor (Recervoir Adaptor). merupakan metode yang sangat penting dari dalam menganalisis suatu bahan yang bertujuan untuk merubah sampel menjadi bahan yang dapat diukur. berfungsi untuk menyalurkan hasil destilasi yang sudah terkondisi untuk disalurkan ke penampung yang telah tersedia. 6. Bahan pelarut yang digunakan adalah . dengan memanaskan atau menguapkan zat cair lalu uap tersebut didinginkan kembali supaya jadi cair dengan bantuan kondensor. merupakan ekstraksi menggunakanpelaut cara kuno yang sampe sekarang digunakan. Hidrolisa enzimatik. beberapa minyak menguap dapat disuling dengan pengurangan tekanan atmosfer. 4. Dekstruksi (Penyulingan biasa).

Kegunaan minyak menguap antara lain sebagai korigensia odoris.minyak murni. dan antiseptik. Hal ini sesuai dengan teori bahwa peningkatan suhu berlangsung paling sedikit 15 menit hingga 30 menit. Keton 5. Untuk klasifikasi minyak menguap antara lain : (12) 1. sampai lemak benar-benar telah jenuh dengan minyak bunga. Aldehid 4. Fenol 6. Lembaran kaca yang telah dioles lemak disusun dalam rak secara teratur. setelah dua atau tiga hari. Jika dilakukan selama 30 menit maka metode ekstraksinya disebut dekok. karminatifum. Ester Fenolik : Ester dan Fenol 7. dilakukan berulang. Infus Merupakan metode ekstraksi panas yang dilakukan dengan merendam sampel tanaman dalam pelarut dengan suhu 90ºC selama 15 menit. bunga-bunga yang layu dibuang diganti dengan segar. Hidrokarbon : Terpen-terpen/Siskuiterpen 2. Ester-ester : Ester-ester dan Alkohol F. Alkohol : Ester dan alkohol 3. Kemudian ditempeli dengan bunga-bunga. Biasanya alat yang digunakan . Lemak murni biasanya dengan bahan-bahan lain dioleskan pada permukaan kaca tipis. Oksida-oksida : Peroksida 8. makanan.

3 Partisi Ekstraksi juga dapat digolongkan berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi dan proses pelaksanaannya. yaitu : a. Sedangkan kerugiannya adalah tidak stabil dan mudah tercemar oleh kapang dan kuman. Hampir mirip dengan infundasi. Bentuk campurannya 1. Kelebihannya adalah pengerjaannya yang cepat.disebut panci infus.1. (12) Keterangan: A = Panci berisi bahan dan air B = Tangas air G. hanya saja waktunya yang berbeda yaitu 30-40 menit. Ekstraksi jenis ini banyak dilakukan di dalam usaha mengisolasi zat berkhasiat yang . Ekstraksi Padat-cair. (12) II. Jika tidak dinyatakan lain prosedur kerja infus dengan merendam sampel dalam pelarut yang bersuhu 90ºC selama 15 menit setelah itu didinginkan dan disaring. Dekokta Dekokta adalah penyarian yang umumnya digunakan untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dan bahan-bahan nabati. zat yang diekstraksi terdapat di dalam campuran yang berbentuk padatan.

ekstraksi dibedakan menjadi ekstraksi berkesinambungan (kontinya) dan ekstraksi bertahap. antibiotika dan lipida pada biji-bijian 2. zat yang diekstraksi terdapat di dalam campuran yang berbentuk cair.(17) Ekstraksi cair padat adalah pemisahkan satu atau lebih senyawa dengan menggunakan satu pelarut dimana senyawa tersebut akan terdistribusi menurut tingkat kepolarannya menggunakan magnetik stirrer atau sentrifus. pelarut yang sama digunakan secara berulang-ulang sampai proses ekstraksi selesai. pelarut yang digunakan hanya satu . Tersedia berbagai alat dari jenis ekstraksi ini seperti alat soxhlet atau Craig Countercurent. Proses pelaksanaannya Menurut proses pelaksanaannya. Pada ekstraksi bertahap.(13) Ekstraksi cair padat pada prinsipnya sama dengan ekstraksi caircair. Ekstraksi Bertahap (Batch). Alat yang biasanya digunakan adalah berupa corong pisah. atau logam-logam tertentu dalam larutan air. sampai proses ekstraksi selesai. Ekstraksi cair-cair. b.terkandung di dalam bahan alam seperti steroid. Pada ekstraksi cair-padat. Ekstraksi cair-cair sering juga disebut ekstraksi pelarut banyak dilakukan untuk memisahkan zat seperti iod. dan yang tidak larut akan membentuk endapan. setiap kali ekstraksi selalu digunakan pelarut yang baru. Pada ekstraksi kontinyu. 1. Ekstraksi Kontinyu (Continues Extraction). hormon. 2.

dimana senyawa tersebut akan terdistribusi diantara dua fase sesuai dengan derajat kelarutannya sehingga masing-masing jenuh dengan perbandingan konsentrasi tertentu dan terjadi pemisahan.macam. KD = . (17) Ekstraksi cair-cair (corong pisah) merupakan pemisahan komponen kimia di antara 2 fase pelarut yang tidak saling bercampur di mana sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagian larut pada fase kedua. lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan fase cair.(13) Ekstraksi cair-cair merupakan cara pemisahan satu atau lebih senyawa dengan menggunakan dua pelarut yang tidak bercampur. (17) Penyarian merupakan proses pemisahan dimana suatu zat terbagi dalam dua pelarut yang tidak bercampur. lalu kedua fase yang mengandung zat terdispersi dikocok. Dengan demikian kompoen kimia akan terdistribusi kesatu macam pelarut saja. dan komponen kimia akan terpisah ke dalam kedua fase tersebut sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi yang tetap. Metode ekstraksi ini sering kali disebut proses partis dari ”crude extract” atau ekstrak kasar sehingga diperoleh sekumpulan senyawa kimia dengan tingkat polaritas yang berbeda-beda. Sehingga akan diperoleh ekstrak yang larut dan tidak larut.

4 Kromatografi Lapis Tipis Kromatografi merupakan suatu proses pemisahan yang mana analit-analit dalam sampel terdistribusi antara 2 fase. Dalam kromatografi cair dan juga kromatografi lapis tipi. Fase diam dapat berupa bahan padat atau porus dalm bentuk molekul kecil. atau dalam bentuk cairan yang dilapiskan pada pendukung padat atau dilapiskan pada dinding kolom. fase gerak yang digunakan selalu cair. dan grafe = warna). Ia telah memisahkan klorofil dan pigmen-pigmen lain dari ekstrak tanaman dengan cara ini. C1 dan C2 adalah kadar senyawa terlarut dalam pelarut 1 dan pelarut 2. Nama kromatografi diambil dari bahasa Yunani (chromato = penulisan. yaitu fase diam dan fase gerak.1. seorang ahli botani rusia. (17) II. namun istilah kromatografi sebenarnya sudah tidak tepat lagi. Berdasarkan pada mekanisme pemisahannya. karena dengan kromatografi juga dapat dipisahkan senyawa-senyawa yang tidak berwarna termasuk gas. (18) Istilah kromatografi mula-mula ditemukan oleh Michael Tswett (1908). (17) Kromatografi dapat dibedakan atas berbagai macam tergantung pada pengelompokannya. Kromatografi berarti penulisan dengan warna.KD adalah koefisien distribusi atau koefisien partisi yang merupakan tetapan keseimbangan yang merupakan kelarutan relati dari suatu senyawa terlarut dalam 2 pelarut yang tidak bercampur. . fase gerak dapat berupa gas atau cairan. saat ini telah dikenal berbagai macam kromatografi.

Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmailoff dan Scharaiber pada tahun 1938. yang keduanya sering disebut dengan kromatografi planar. Pada kromatografi lapis tipis. (e) kromatografi eksklusi ukuran. fase diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca. (b) kromatografi partisi. atau penguapan diantara . dan (f) kromatografi afinitas. Semua pemisahan pada kromatografi tergantung pada gerakan relatif dari masing-masing komponen diantara ke dua fase tersebut. kelarutan. (19) Dalam teknik kromatografi. (d) kromatografi penukar ion. kromatografi dapat dibagi atas : (a) kromatografi kertas. (b) kromatografi lapis tipis. Perbedaan gerakan (mobilitas) antara komponen yang satu dengan lainnya disebabkan oleh perbedaan dalam adsorpsi.kromatografi dibedakan menjadi : (a) kromatografi adsorbsi. partisi. Senyawa atau komponen yang tertahan (terhambat) lebih lemah oleh fase diam akan bergerak lebih cepat daripada komponen yang tertahan lebih kuat. (c) kromatografi cair kierja tinggi (KCKT). pelat aluminium. (c) kromatografi pasangan ion. (19) Kromatografi lapis tipis (KLT) bersama-sama dengan kromatografi kertas (KKr) dengan berbagai macam variasinya pada umumnya dirujuk sebagai kromatografi planar. Berdasarkan pada alat yang digunakan. dan (d) kromatografi gas (KG). sampel yang merupakan campuran dari berbagi macam komponen ditempatkan dalam situasi dinamis dalam sistem yang terdiri dari fase diam dan fase bergerak. atau pelat plastik.

Oleh karena itu. pada penjerap proses kromatografi dapat diikuti dengan mudah dan dapat dihentikan kapan saja. maka akan terjadi pemisahan secara sempurna. dalam hal memilih fase gerak. Secara umum. Semua komponen dalam sampel dapat dideteksi. KLT mempunyai beberapa keuntungan : KLT memberikan fleksibilitas yang lebih besar. pengembangan dapat dilakukan bertingkat. Demikian juga peralatan yang digunakan. Berbagai macam 2 teknik untuk optimasi pemisahan seperti dan KLT pengembangan pembaceman dimensi. (18) Kromatografi lapis tipis dalam pelaksanaannya lebih mudah dan lebih murah dibandingkan dengan kromatografi kolom. Dalam kromatografi lapis tipis.kedua fase. peralatan yang digunakan lebih sederhana dan dapat dikatakan bahwa hampir semua laboratorium dapat melaksanakan setiap saat secara cepat. Dibandingkan dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dan kromatografi gas (KG). dalam kromatografi. dapat dikatakan bahwa kromatografi adalah suatu proses migrasi diferensial dinamis dalam sistem dalam mana komponenkomponen cuplikan ditahan secara selektif oleh fase diam. Jika perbedaan-perbedaan ini cukup besar. pemilihan terhadap fase bergerak maupun fase diam perlu dilakukan sedemikian rupa sehingga semua komponen bisa bergerak dengan kecepatan yang berbada-beda agar dapat terjadi proses pemisahan.(18) .

artinya meskipun jumlah cuplikan sedikit masih dapat dideteksi - Daya resolusinya tinggi. Pelat dengan panjang 200 mm dan kelebaran yang memungkinkan sejumlah larutan yang diperiksa dan larutan pembanding ditotolkan pada titik awal. Peralatan terdiri dari : Suatu peralatan untuk membuat lapis tipis. yang dilapiskan pada pelat yang sudah dibersihkan dengan hati- . menurun (descending). dengan bantuan alat ini bahan sorpsi (sorben) dapat dibuat rata pada pelat dan dapat dilapiskan d engan ketebalan yang diingini. sehingga pemisahan lebih sempurna. fluoresensi. Dari sorben dibuat suspensi kental. (17) Peralatan yang dibutuhkan pada kromatografi lapis tipis dan penyiapan pelat lapis tipis diberikan secara singkat dan jelas dalam Ph.- Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk tujuan analisis Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna. atau dengan radiasi menggunakan sinar ultra violet - Dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending). Ukuran bejana harus disesuaikan dengan pelatnya. Bejana (bejana kromatografi) dari bahan tembus cahaya dengan tutup rapat. atau dengan cara elusi 2 dimensi - Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak. (19) - Waktu pemisahan lebih cepat Sensitif.Eur I.

hati menggunakan alat untuk membuat lapisan dengan ketebalan 0,25 sampai 0,30 mm, jika dalam monografi tidak dikatakan lain. Pelat yang sudah dilapisi mula-mula dikeringkan di udara, kemudian dikeringkan 1 jam dalam lemari pengering pada 100° sampai 105° C, jika tidak dikatakan lain. Jika pelat tidak segera digunakan, maka disimpan dalam eksikator di atas silika gel. Sebelum pengunaan pelat ini diaktivasi dengan pengeringan kembali selama 1 jam pada 100° sampai 105° C. pada kedua sisi panjang pelat segaris sorben dihilangkan. Bejana kromatografi dilapisi kertas saring dan sejumlah besar fase mobil dituangkan untuk penjenuhan kertas dan pada dasar bejana diisi dengan pelarut pengembang setinggi 1,5 cm. tutup ditutupkan rapat lagi dan jika tidak dikatakan lain didiamkan selama 1 jam pada suhu kamar (penjenuhan bejana). (20) Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap berukuran kecil dengan diameter partikel antara 10-30 m. Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase diam dan semakin sempit kisaran ukuran fase diam, maka semakin baik kinerja KLT dalam hal efisiensinya dan resolusinya. (19) Adsorben yang paling banyak digunakan dalam kromatografi lapis tipis adalah silika gel dan aluminium oksida. Silika gel umumnya mengandung zat tambahan kalsium sulfat untuk mempertinggi daya lekatnya. Zat ini digunakan sebagai adsorben universal untuk kromatografi senyawa netral, asam dan basa. Aluminium oksida mempunyai

kemampuan koordinasi dan oleh karena itu sesuai untuk pemisahan

senyawa yang mengandung gugus fungsi berbeda. Aluminium oksida mengandung ion alkali dan dengan demikian bereaksi basa dalam suspensi air. Disamping kedua adsorben yang sangat aktif ini dalam hal tertentu dapat digunakan kieselgur yang kurang aktif sebagai lapis sorpsi. (20) Fase gerak pada KLT dapat dipilih dari pustaka, tetapi lebih sering dengan mencoba-coba karena waktu yang diperlukan hanya sebentar. Sistem yang palaing sederhana ialah campuran 2 pelarut organik karena daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal. Berikut adalah beberapa petunjuk dalam memilih dan mengoptimasi fase gerak : 1) Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena KLT merupakan teknik yang sensitif 2) Daya elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa sehingga harga Rf terletak antara 0,2-0,8 untuk memaksimalkan pemisahan 3) Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti silika gel, polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi solut yang berarti juga menentukan nilai Rf. Penambahan pelarut yang bersifat sedikit polar seperti dietil eter ke dalam pelarut non polar seperti metal benzen akan meningkatkan harga Rf secara signifikan. Solut-solut ionik dan solut-solut polar lebih baik digunakan campuran pelarut sebagai fase geraknya, seperti campuran air dan metanol dengan perbandingan tertentu. Penambahan sedikit asam

etanoat atau amonia masing-masing akan meningkatkan solut-solut yang bersifat basa dan asam. (19) Bila sampel telah ditotolkan, maka tahap selanjutnya adalah mengembangkan sampel tersebut dalam suatu bejana kromatografi yang sebelumnnya telah dijenuhi dengan uap fase gerak. Tepi bagian bawah lempeng lapis tipis yang telah ditotoli sampel dicelupkan ke dalam fase gerak kurang lebih 0,5-1 cm. Tinggi fase gerak dalam bejana harus dibawah lempeng yang telah berisi totolan sampel. Bejana kromatografi harus tertutup rapat dan sedapat mungkin volume fase gerak sedikit mungkin (akan tetapi harus mampu mengelusi lempeng sampai ketinggian lempeng yang telah ditentukan). Untuk melakukan penjenuhan fase gerak, biasanya bejana dilapisi dengan kertas saring, jika fase gerak telah mencapai ujung atas kertas saring, maka dapat dikatakan bahwa fase gerak telah jenuh. Selama proses elusi, bejana kromatografi harus ditutup rapat, misalkan dengan lembar aluminium dan sebagainya. Bercak pemisahan pada KLT umumnya merupakan bercak yang tidak berwarna. Untuk penentuannya dapat dilakukan secara kimia, fisika maupun biologi. Cara kimia yang biasa digunakan adalah dengan mereaksikan bercak dengan suatu pereaksi memlalui cara penyemprotan sehingga bercak menjadi jelas. Cara fisika yang dapat digunakan untuk menampakkan bercak adalah dengan pencacahan radioaktif dan

fluoresensi sinar ultraviolet. Fluoresensi, membuat bercak akan terlihat

jelas. Menyemprot lempeng KLT dengan reagen kromogenik yang akan bereaksi secar kimia dengan seluruh solut yang mengandung gugus fungsional tertentu sehingga bercak menjadi berwarna. c. Mengamati lempeng di bawah lampu ultra violet yang dipasang panjang gelombang emisi 254 atau 366 untuk menampakkan solut sebagai bercak yang gelap atau bercak yang berfluotesensi terang pada dasar yang berfluoresensi seragam. sedang latar belakangnya akan kelihatn berfluoresensi. Berikut adalah cara-cara kimiawi untuk mendeteksi bercak : a. Memaparkan lempeng dengan uap iodium dalam chamber tertutup Melakukan scanning pada permukaan lempeng dengan . Kadangkadang lempeng dipanaskan terlebih dahulu untuk mempercepat reaksi pembentukan warna dan intensitas warna bercak b. Lempeng yang diperdagangkan dapat dibeli dalam bentuk lempeng yang sudah diberi dengan senyawa fluoresen yang tidak larut yang dimasukkan ke dalam fase diam untuk memberikan dasar fluoresensi atau dapat pula dengan menyemprot lempeng dengan reagen fluoresensi setelah dilakukan pengembangan. Jika senyawa tidak dapat berfluoresensi maka bahan penyerapnya akan diberi indikator yang berfluoresensi. dengan demikian bercak akan kelihatan hitam. Menyemprot lempeng dengan asam sulfat pekat atau asam nitrat pekat lalu dipanaskan untuk mengoksidasi solut-solut organik yang akan Nampak sebagai bercak hitam sampai kecoklat-coklatan d.

Solut-solut yang mampu menyerap sinar akan dicatat sebagai puncak (peak) dalam pencatat (recorder). Faktor Retardasi Solut (Rf) didefinisikan sebagai : Rf = Nilai maksimum Rf adalah 1 dan ini dicapai ketika solut mempunyai perbandingan distribusi (D) dan faktor retensi (k) sama dengan 0 yang berarti solut bermigrasi dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan fase gerak. suatu instrumen yang dapat mengukur intensitas radiasi yang direfleksikan dari permukaan lempeng ketika disinari dengan lampu UV atau lampu sinar tampak. 17. Solut pada kedua kromatografi ini dicirikan dengan faktor retardasi atau jarak migrasi solut terhadap jarak ujung fase geraknya.densitometer. Tentukan senyawa yang tidak diketahui. Y. dan 20. (17) Penyelesai soal diatas adalah sebagai berikut: .1 . (20) Pemisahan kromatografi planar (kromatografi lapis tipis dan kromatografi kertas) pada umumnya dihentikan sebelum semua fase gerak melewati seluruh permukaan fase diam. Tinggi permukaan untuk senyawa standar X. Sedangkan untuk pelarutnya 23 cm. (18) Contoh soal perhitungan nilai Rf.3. Pemisahan suatu senyawa yang tidak diketahui dengan KLT diperoleh nilai Rf 9.5 cm. dan Z masing-masing adalah 12. Nilai minimum Rf adalah 0 dan ini teramati jika solut tertahan pada posisi titik awal dipermukaan fase diam (tidak bergerak sama sekali dari titk awal penotolan).75.

Ketidakrataan akan menyebabkan aliran pelarut menjadi tidak rata 4) Pelarut dan derajat kemurniannya 5) Derajat kemurnian dari uap dalam mana bejana pengembangan yang digunakan 6) Jumlah cuplikan yang digunakan 7) Panjang trayek migrasi .3.52 Rf Y = = 0.75 jarak yang ditempuh senyawa X. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai Rf dari KLT. senyawa yang memiliki nilai Rf 0.Diketahui : nilai Rf suatu senyawa yang tidak diketahui adalah 0. 20. yaitu : 1) Struktur kimia dari senyawa yang akan dipisahkan 2) Sifat dari penjerap dan derajat aktivitasnya 3) Tebal dan kerataan lapisan penjerap.75 Rf Z = = 0.5 cm. dan Z adalah : 12.75 adalah senyawa Y. 17. Ditanya Jawab Rf = : senyawa apa yang memiliki Rf 0. Y.1 . Jarak tempuh fase gerak adalah 23 cm.75 ? : Rf X = = 0.89 Jadi.

sementara itu proses sebaliknya (pemindahan solut dari fase diam dan fase gerak) disebut dengan desorpsi. dan penarikan yang diinduksi oleh dipol. Gugus silanol bersifat sedikit asam dan polar karenanya gugus ini mampu membentuk ikatan hydrogen dengan solut-solut yang agak polar sampai sangat polar. Solut akan terdistribusi diantara dua fase yang bersesuaian dengan perbandingan distribusinya (D) untuk menjaga keadaan kesetimbangan ini. (19) Adsopsi merupakan penyerapan pada permukaannya saja dan jangan sekali-kali dikacaukan dengan proses absorbsi yang berarti penyerapan keseluruhan. Silika gel merupakan jenis adsorben (fase diam) yang penggunaannya paling luas. Adsorpsi pada permukaan melibatkan interaksiinteraksi elektrostatik seperti ikatan hydrogen. Permukaan silika gel terdiri atas gugus atau gugus Si-O-Si dan gugus silanol (Si-OH).8) Adanya zat asing atau pencemar 9) Kelembaban udara 10) Suhu. penarikan dipol-dipol. Solut akan bersaing dengan fase gerak untuk berikatan dengan sisi-sisi polar pada permukaan adsorben. Kedua proses ini (sorpsi dan desorpsi) terjadi secara terus-menerus selama pemisahan kromatografi karenanya sistem kromatografi berada dalam keadaan kesetimbangan dinamis. (6) Sorpsi merupakan proses pemindahan solut dari fase gerak ke fase diam. .

juga memberikan penjelasan eksak dan singkat : . (18) Mengenai pelaksanaan kromatografi lapis tipis Ph.Eur I. Solut-solut non polar tidak mempunyai afinitas atau mempunyai sedikit afinitas terhadap adsorben polar. (19) Pemisahan pada kromatografi lapis tipis yang optimal akan diperoleh hanya jika menotolkan sampel dengan ukuran bercak sekecil dan sesempit mungkin. Partisi merupakan proses sorpsi yang analog dengan ekstraksi pelarut. solut akan terdistribusi diantara fase gerak dan fase diam sesuai dengan kelarutan relatif diantara keduanya. Semakin polar solut makan semakin tertgahan kuat ke dalam adsorben silika gel ini. meskipun demikian reprodusibilitasnya sulit dicapai kecuali jika suhu dan kelembapan benar-benar dijaga secara hati-hati. Solut-solut polar.Adanya air dari atmosfer yang diserap oleh permukaan silika gel mampu mendeaktifkan permukaan silika gel karena ai akan menutup sisi aktif silika gel. Dalam partisi yang sebenarnya. sementara solut-solut yang terpolarisasi mempunyai afinitas yang kecil terhadap adsorben polar disebabkan adanya interaksi dipole atau interaksi-interaksi yang diinduksi oleh dipole. Hal seperti ini dapat diatasi dengan memanaskan pada suhu 105° C. terutama yang mampu membentuk ikatan hydrogen akan terikat kuat pada adsorben karenanya butuh fase gerak yang cukup polar untuk mengelusinya.

kromatografi fungsional.1. maka noda paling sedikit harus terpisah 1. masih ada cara pengembangn lainnya. Kolom kromatografi dikemas kering dalam keadaan vakum agar diperoleh kerapatan . pelat diletakkan vertical dalam bejana kromatogafi dan titik awal harus tetap berada di sebelah atas permukaan fase mobil. dan teknik gradien. jika larutan uji digunakan untuk lebih dari satu kromatogram. Disamping itu. antara lain teknik ganda. dalam hal ini jauga mungkin dilakukan kroamtografi dua dimensi.5 cm dari bawah dan minimum 2 cm dari sisi pelat sedemikian rupa hingga terjadi noda teratur yang maksimum berdiameter 6 mm. (20) II. Setelah penguapan pelarut larutan uji. fase gerak digerakkan dengan kondisi vakum sehingga prosesnya berlangsung cepat. Seperti pada kromatograf kertas. Jika fase mobil sudah melewati trayek yang diberikan dalam monografi.Larutan uji ditotolkan 2. cara pengembangan kroamtaografi lapis tipis adalha menaik.5 Kromatografi Cair Vakum Kromatografi cair-vakum merupakan kromatografi kolom yang dikemas kering biasanya dengan penyerap mutu kromatografi lapis tipis 10-4 µg pada kondisi vakum.5 cm satu dari yang lain dan terletak parallel terhadap bagian bawah pelat. Selain itu berlaku teknik penotolan dan konsentrasi larutan yang diperikasa seperti pada kromatografi kertas. pelat dikeluarkan dari bejana dan dikeringkan di udara. Bejana ditutup dan disimpan pada suhu 20 sampai 25° C.

Permukaan lapisan adsorben ditutup dengan kertas saring. Corong G-3 diisi adsorben sampai setinggi 2. (21) Salah satu cara pemisahan adalah kromatografi cair vakum. Setelah diperoleh kemasan yang maksimum. pengisap yang dihubungkan dengan pompa vakum serta wadah penampung fraksi.5cm. Walaupun KCV memerlukan jumlah sampel yang lebih banyak dari pada kromatografi lapis tipis (KLT). kemudian diketuk-ketuk dengan batang pengaduk bersalut dilarutkan dalam pelarut organik yang cocok. sumbat karet. Alat yang digunakan terdiri dari corong G-3. Campuran ini digenis sampai homogen. Dalam hal ini diameter corong dipilih . dikeringkan dan dimasukkan ke dalam corong G-3 kemudian diratakan. sumbat karet. kemudian ke dalam larutan ekstrak tersebut ditambahkan adsorben dengan bobot sama dengan bobot ekstrak. Elusi diawali dengan pelarut non polar dilarutkan dengan kombinasi pelarut dengan polaritas meningkat. KCV tetap ekonomis dalam sisi biaya. kemudian vakum dihentikan dan pelarut yang kepolarannya rendah dituangkan ke dalam permukaan penjerap lalu divakum lagi. pengisap yang dihubungkan dengan pompa vakum serta wadah penampung fraksi.maksimum. Alat yang digunakan terdiri dari corong G-3. kromatografi cair vakum adalah kromatografi kolom yang dipercepat dan bekerja pada kondisi vakum. kolom dihisap sampai kering dan kolom sekarang siap dipakai. Jumlah pelarut yang digunakan setiap kali elusi adalah sebagai berikut: untuk bobot ekstrak sampai lima gram diperlukan 25 ml pelarut. untuk 1030 g ekstrak diperlukan 50 ml pelarut.

yang berakibat pada kemampuan yang dihasilkan oleh kromatografi cair vakum akan sama dengan kromatografi gravitasi namun diperlukan waktu yang lebih singkat. Cara asli yang diperkenalkan oleh Coll menggunakan corong Buchner kaca masir atau kolom pendek. Pada dasarnya metode ini adalah kromatografi lapis tipis preparatif yang berbentuk kolom. Kromatografi cair vakum terdiri dari suatu corong Buchner yang memiliki kaca masir. Corong Buchner ini diiisi dengan fase diam yang tingkat kehalusannya seperti yang umumnya dipakai dalam kromatografi lapis tipis (70-230 mesh).sedemikian rupa sehingga lapisan ekstrak dipermukaan kolom setipis mungkin dan rata. Masing-masing pelarut dituangkan ke permukaan kolom kemudian dihisapkan pompa vakum. Metode KCV digunakan karena lebih efektif dan efisien dalam pemisahan dibandingkan kromatografi kolom gravitasi. Kromatografi cair vakum pada awalnya digunakan untuk separasi senyawaan steroid dan produk-produk natural dari laut. . Masing-masing ekstrak ditampung dalam wadah terpisah sehingga menghasilkan sejumlah fraksi. (22) Kromatografi cair vakum dapat digunakan untuk fraksinasi dan memurnikan fraksi. Aliran fase gerak dalam metode ini diaktifkan dengan bantuan kondisi vakum. Corong Buchner yang berisi fase diam ini digunakan dalam kondisi vakum/bertekanan. Kromatografi cair vakum (KCV) pertama kali diperkenalkan oleh para ilmuwan dari Australia untuk mengatasi lamanya waktu yang dibutuhkan untuk separasi menggunakan kolom kromatografi klasik.

Rapid-Sigel Isolasi komponen kimia dalam jumlah yang sedikit berdasarkan absorpsi dan partisi. Udara yang ditekan mengandung O2 dan uap air yang dapat menyebabkan peruraian produk dari ekstrak dan berubah saat pemisahan kromatografi. dimana kolom diisi dengan fase diam divakumkan dengan suatu pompa vakum agar eluen dapat turun mengelusi komponen kimia yang selanjutnya keluar sebagai fraksi-fraksi. (24) B. dimana kolom diisi dengan fase diam divakumkan dengan suatu pompa vakum agar eluen dapat turun mengelusi komponen kimia yang selanjutnya keluar sebagai fraksi-fraksi. (24) Kromatografi Kolom Isap terbagi atas beberapa yaitu: A. (23) Isolasi komponen kimia dalam jumlah yang banyak. (25) . dimana kolom diisi dengan fase diam divakumkan dengan suatu pompa vakum agar eluen dapat turun mengelusi komponen kimia yang selanjutnya keluar sebagai fraksi-fraksi. berdasarkan absorpsi dan partisi.sedangkan Targett menggunakan kolom yang lebih panjang untuk meningkatkan daya pisah. Suction Colomn Isolasi komponen kimia dalam jumlah yang banyak. berdasarkan absorpsi dan partisi. Press Colomn Kromatografi kolom sederhana di mana fase gerak bergerak dengan cepat karena penggunaan tekanan positif dari tabung nitrogren. (25) C.

Gambar kromatografi kolom vakum Kromatografi Vakum Cair mempunyai keuntungan yang utama dibandingkan dengan kolom konvensional yaitu : .Konsumsi fase gerak KCV hanya 80% atau lebih kecil dibanding dengan kolom konvensional karena pada kolom mikrobor kecepatan alir fase gerak lebih lambat (10-100µl/menit) Adanya aliran fase gerak lebih lambat membuat kolom mikrobor .

Kromatografi kolom digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa dalam jumlah yang banyak berdasarkan adsorpsi dan partisi. (5) Sifat. usaha yang terpenting adalah tata kerja tingkat keaktifan Brockmann (sifat penjerap tergantung pada pH dan tingkat keaktifannya). Penjerap dapat diubah dan diperlakukan sedemikian untuk mengubah sifat dan kapasitasnya. (5) Ukuran penjerap untuk kolom biasanya lebih besar daripada untuk . derajat.. dan ukuran partikelnya sangat penting dalam pengembangan sistem kromatografi. atau tingkat keaktifan penjerap.lebih ideal jika digabung dengan spectrometer massa Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan karena solute lebih pekat karenanya jenis kolom ini sangat bermanfaat jika jumlah sampel terbatas missal sampel klinis Kerugian KCV (Kromatogravi Vakum Cair) : Membutuhkan waktu yang cukup lama Sampel yang dapat digunakan terbatas. (23) II. Kolom kromatografi atau tabung untuk pengaliran karena karena gaya tarik bumi (gravitasi) atau sistem bertekanan rendah biasanya terbuat dari kaca yang dilengkapi dengan keran jenis tertentu pada bagian bawahnya untuk mengatur aliran pelarut.1.6 Kromatografi Kolom Kromatografi kolom merupakan metode kromatografi klasik yang masih banyak digunakan.

selulosa.KLT. poliamida. kemudian dimasukkan ke dalam tabung pemisah. diketok-ketok atau dijatuhkan lemah pada pelat kayu. Tergantung dari masalah bahan pemisahan dapat digunakan tabung filter dengan gelas berpori yang pada ujung bawah menyempit (tabung Allihn) atau tabung gelas. Tabung bola jarang digunkan. harus dilakukan secara hati-hati. Yang umum dilakukan adalah. Kolom yang dijalankan dengan gaya tarik bumi. apakah menggunakan udara atau pompa. Aluminium oksida atau silika gel dapat diisikan kering ke dalam tabung pemisah. selanjutnya juga arang . kolom yang dijalankan dengan tekanan. Harga 20 berlaku sebagai batas bawah. adsorben dibuat seperti bubur dengan pelarut elusi. Pengisisan tabung pemisah dengan adsorben. terutama jika zat ini menggelembung dengan pelarut pengembang. yang pada ujung bawah menyempit dan dilengkapi dengan kran. biasanya mengandung partikel 40-63m atau lebih halus. harus rata. Perbandingan panjang tabung terhadap diameter pada umumnya adalah 40:1. tabung setelah diisi divibrasi. Tabung pemisah yang diisi dengan bahan sorpsi disebut kolom pemisah. Kemasan kolom biasanya 63-250m. Adsorben lainnya harus diisikan sebagai suspensi. untuk kolom yang dijalankan dengan gaya tarik bumi. yang juga disebut kemasan kolom. aluminium oksida. Sebagai bahan sorpsi digunakan bahan yang sama dengan kromatografi lapis titpi yaitu silika gel. Agar pengisian rata.(26) Untuk kromatografi kolom dari larutan dibutuhkan tabung pemisah tertentu yang diisi dengan bahan sorpsi dan juga pelarut pengembang yang berbeda.

Cara basah yaitu silika gel terlebih dahulu disuspensikan dengan cairan pengelusi yang akan digunakan kemudian dimasukkan ke . (27) Kromatografi kolom digunakan untuk memisahkan senyawasenyawa dalam jumlah yang banyak berdasarkan adsorpsi dan partisi. Cara pembuatannya ada dua macam : Cara kering yaitu silika gel dimasukkan ke dalam kolom yang telah diberi kapas kemudian ditambahkan cairan pengelusi. kieselgur. Al2O3. Tergantung dari cara pengembangan dapat dibedakan kromatografi elusi.aktif dan gula tepung. (20) Kolom kromatografi berkerja berdasarkan skala yang lebih besar menggunakan material terpadatkan pada sebuah kolom gelas vertikal. Kemasan adsorben yang sering digunakan adalah silika gel G-60. dan Diaion. . kromatografi garis depan dan kromatografi pendesakan.

Kemudian laju dapat ditingkatkan sampai 2 mL atau lebih setiap menitnya. Untuk partikel yang lebih kecil dari 200 mesh diperlukan semacam pemompaan atau sistem bertekanan. atau sampai batas sistem tekanan. Eluen dialirkan hingga silika gel mapat. Pemisahan lambat b. Penjerapan linarut yang tidak bolak-balik .dalam kolom Cara basah yaitu silika gel terlebih dahulu disuspensikan dengan cairan pengelusi yang akan digunakan kemudian dimasukkan ke dalam kolom melalui dinding kolom secara kontinyu sedikit demi sedikit hingga masuk semua. setelah silika gel mapat eluen dibiarkan mengalir sampai batas adsorben kemudian kran ditutup dan sampel dimasukkan yang terlebih dahulu dilarutkan dalam eluen sampai diperoleh kelarutan yang spesifik. Kemudian sampel dipipet dan dimasukkan ke dalam kolom melalui dinding kolom sedikit demi sedikit hingga masuk semua. umumnya laju aliran sekitar 10-20 mL/cm2 penampang kolom/jam. sambil kran kolom dibuka. dan kran dibuka dan diatur tetesannya. serta cairan pengelusi ditambahkan. (28) Keterbatasan kromatografi kolom-terbuka klasik ialah sebagai berikut : a. Tetesan yang keluar ditampung sebagai fraksi-fraksi (25) Untuk kolom gaya tarik bumi yang memakai penjerap berukuran 60230 mesh (63-250 µm).

Bila pelarut dibiarkan mengalir ke kolom. Metode kromatografi kolom cair vakum merupakan modifikasi dari kromatografi cair kolom konvensional . Kombinasi antara kromatografi kolom kering dan kromatografi cair vakum memiliki kelebihan dimana laju pengelusian lebih tinggi dan memperpendek waktu kontak linarut dengan penjerap. Tidak dapat dipakai jika partikel terlalu kecil. Cuplikan yang difraksi dimasukkan ke dalam kolom dan dialiri fase gerak akan membentuk jalur-jalur serapan dari senyawa.c.7 Fraksinasi Fraksinasi adalah suatu teknik untuk memisahkan komponen organik dan ionik (larut dalam air) dalam suatu senyawa campuran menjadi dua fraksi berbeda. (30) Salah satu metode fraksinasi yang digunakan adalah menggunakan kromatografi kolom.1. (5) Kromatografi kolom yang digunakan dalam fraksinasi ada dua. Kolom diisi dengan penyerap padat sebagai fase diam dan dialiri dengan pelarut sebagai fase gerak. Pemisahan campuran tergantung pada tingkat kepolaran dan dari fase gerak dan senyawa yang terkandung dalam campuran tersebut. kolom konvensional dan vakum. ia akan mengangkut senyawa-senyawa yang merupakan komponen-komponen dari campuran. (29) II. Fraksinasi merupakan kegiatan awal pemurnian dalam tahapan isolasi dan melibatkan uji identifikasi untuk menentukan apakah ekstrak memiliki aktivitas atau tidak.

8 Identifikasi Senyawa Uji identifikasi dilakukan untuk mengetahui senyawa yang terkandung dalam sampel. Menurut Harper et al. Secara umum pada spons ditemukan kelompok senyawa pada . mencegah infeksi bakteri. Dapat digunakan untuk fraksinasi. di mana penggabungannya didasarkan pada nilai Rf yang sama dan penampakan warna yang ditunjukan itu sama. kompetisi dengan hewan sesil lain dan untuk berkomunikasi dan melidungi diri dari infeksi. mengatakan bahwa Metabolit sekunder merupakan salah satu cara organisme untuk mempertahankan eksistensinya dan sebagai tindakan responsif terhadap lingkungan. sebagai alat kompetisi. (26) Prinsip dari fraksinasi adalah penggabungan senyawa berdasarkan bercak noda pada lempeng dengan pengamatan pada UV 254 nm dan 366. Lebih dari 10 % spons memiliki aktifitas sitotoksik yang dapat yang berpotensial untuk bahan obat-obatan. Tujuan dilakukan penggabungan adalah untuk memisahkan dan memperoleh senyawa dalam jumlah yang maksimal. Spons dapat memproduksi racun dan senyawa lain yang digunakan untuk mengusir predator.. (31) II.(gravitasi) dengan menambahkan vakum (penarik udara) pada bawah kolom. Metabolit sekunder ini digunakan untuk mencegah dan mempertahankan diri dari serangan predator.1. membantu proses reproduksi dan mencegah sengatan sinar ultra violet.

yakni pengubahan asam asetat melalui asam mevalonat dan skualen (suatu triterpen) menjadi lanosterol atau sikoartenol. . Gambar kerangka dasar karbon steroid sebagai berikut: (33) Gambar 1. senyawa-senyawa golongan terpenoid. steroid terdapat dalam jaringan hewan dan tumbuhan. sedangkan yang terdapat dalam jaringan tumbuhan berasal dari triterpen sikloartenol. (32) a. Steroid Steroid didefinisikan sebagai kelompok senyawa organik bahan alam yang merupakan salah satu metabolit sekunder. senyawa steroid dan asam lemak. Senyawa ini berasal dari senyawa triterpen.fraksi non polar seperti senyawa terpenoid. Kemudian lanosterol atau sikloartenol mengalami beberapa tahap perubahan menjadi steroid. Pada tumbuhan. R2 dan R3 adalah substituen Di alam. (34) b. Steroid yang terdapat dalam jaringan hewan berasal dari triterpen lanosterol. Terpenoid Terpenoid merupakan suatu golongan hidrokarbon yang banyak dihasilkan oleh tumbuhan dan terutama terkandung pada getah dan vakuola selnya. Tahap-tahap awal dari biosintesis steroid adalah sama bagi semua steroid alam. Kerangka dasar karbon steroid di mana R1.

Secara umum biosintesa dari terpenoid dengan terjadinya tiga reaksi dasar yaitu: (36) 1. sester.merupakan metabolit sekunder. Sebagian besar terpenoid mempunyai kerangka karbon yang dibangun oleh dua atau lebih unit C-5 yang disebut unit isopren. juga karoten dan retinol. Pembentukan isopren aktif berasal dari asam asetat melalui asam mevalonat 2. suatu triterpen. terutama serangga dan beberapa hewan laut. Isopren dan unit isopren Klasifikasi terpenoid ditentukan dari unit isopren atau unit C-5 penyusun senyawa tersebut. Unit C-5 ini dinamakan demikian karena kerangka karbonnya sama seperti senyawa isopren: (35) Ekor Kepala Ekor Isopren Unit Isopren Gambar 2. Penggabungan kepala dan ekor dua unit isopren akan membentuk mono-seskui-. senyawa-senyawa steroid adalah turunan skualena. terpenoid merupakan kerangka penyusun sejumlah senyawa penting bagi makhluk hidup. Sebagai contoh. Terpenoid dihasilkan pula oleh sejumlah hewan. di-. .dan poli-terpenoid. terpenoid umumnya larut dalam lemak dan terdapat di dalam sitoplasma sel tumbuhan. Secara kimia. Di samping sebagai metabolit sekunder.

atau delapan (C40) satuan. sangat penting baik pada pertumbuhan dan metabolisme maupun pada ekologi hewan dan tumbuhan (35). Kemudian senyawa itu dipilah-pilah menjadi beberapa golongan berdasarkan jumlah satuan yang terdapat dalam senyawa tersebut. mulai dari komponen minyak atsiri. diterpena yang lebih sukar menguap (C20). Golongan Utama Terpenoid Jumlah satuan isoprena 1 2 3 4 6 8 Jumlah karbon C5 C10 C15 C20 C30 C40 Isoprene monoterpenoid seskuiterpenoid diterpenoid triterpenoid tetraterpenoid Golongan . tiga (C15). sampai ke senyawa yang tidak menguap. Tabel 1. Setiap golongan terpenoid itu seperti yang terdapat pada Tabel 1. Terpenoid terdiri atas beberapa macam senyawa. serta pigmen karotenoid (C40).3. empat (C20). enam (C30). yaitu triterpena dan sterol (C30). Penggabungan ekor dan ekor dari unit C-15 menghasilkan triterpenoid dan steroid. yaitu monoterpena dan seskuiterpena yang mudah menguap (C10 dan C15). dua (C10). atau C-20 Semua terpenoid berasal dari molekul isoprena CH2 = C (CH3) – CH = CH2 dan kerangka karbonnya dibangun oleh penyambungan dua atau lebih satuan isoprena.

binatang laut. atau bisiklik (misalnya α .pinena). bergantung pada apakah struktur kimianya (gambar 3) asiklik (misalnya geraniol). Lebih dari 1000 jenis senyawa monoterpenoid telah diisolasi dari tumbuhan tingkat tinggi. aldehida. atau keton (misalnya. Monoterpenoid dapat dipilah menjadi tiga golongan. karvon). Dalam setiap golongan. (35) Asiklik Monosiklik Geraniol Limonena . monoterpenoid dapat berupa hidrokarbon tak jenuh (misalnya limonena) atau dapat mempunyai gugus fungsi dan berupa alkohol (misalnya mentol). monosiklik (misalnya limonena). serangga dan binatang jenis vertebrata dan struktur senyawanya telah diketahui. Monoterpenoid Monoterpenoid merupakan senyawa "essence" dan memiliki bau yang spesifik yang dibangun oleh 2 unit isopren atau dengan jumlah atom karbon 10.N Cn poliisoprena 1. menton.

Disamping itu monoterpenoid yang sudah dikenal banyak dimanfaatkan sebagai bahan pemberi aroma makan dan parfum dan ini merupakan senyawa komersial yang banyak diperdagangkan. Anggota seskuiterpenoid asiklik yang . Beberapa contoh monoterpenoid Struktur dari senyawa mono terpenoid yang telah dikenal merupakan perbedaan dari 38 jenis kerangka yang berbeda. sedangkan prinsip dasar penyusunannya tetap sebagai penggabungan kepala dan ekor dari 2 unit isopren. struktur monoterpenoid dapat berupa rantai terbuka dan tertutup atau siklik senyawa monoterpenoid banyak dimanfaatkan sebagai antiseptik. Seskuiterpenoid Seskuiterpenoid merupakan senyawa terpenoid (C15) yang dibangun oleh 3 unit isopren yang terdiri dari kerangka asiklik dan bisiklik dengan kerangka dasar naftalen. ekspektoran. (35) 2. spasmolotik dan sedatif.Bisiklik Alkohol α –pinena Mentol Menton Karvon Gambar 3.

Trans. antibiotik dan toksin serta regulator pertumbuhan tanaman dan pemanis. antimikroba. alkohol yang tersebar luas (33) : Gambar 4. hormon. (5) .farnesil pirofosfat Gambar 5. Senyawa-senyawa seskuiterpen diturunkan dari cis farnesil pirofosfat dan trans farnesil pirofosfat melalui reaksi siklisasi dan reaksi sekunder lainnya dan kedua senyawa antara ini merupakan kunci dalam biosintesis terpenoid. . diantaranya adalah sebagai antifeedant. Struktur farnesol Senyawa seskuiterpenoid ini mempunyai bioaktivitas yang cukup besar.terpenting ialah farnesol.farnesil pirofosfat Cis. Isomer farnesil pirofosfat Kedua isomer farnesil pirofosfat ini dihasilkan in vivo melalui mekanisme isomerisasi.

Struktur Fitol Senyawa ini mempunyai bioaktivitas yang cukup luas yaitu sebagai hormon pertumbuhan tanaman. yaitu skualena.3. . 4. Triterpenoid Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan (unit) isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik. trisiklik dan tetrasiklik dan tatanama yang digunakan lebih banyak adalah nama trivial (36). podolakton inhibitor pertumbuhan tanaman. bisiklik. Diterpenoid Senyawa diterpenoid merupakan senyawa yang beraneka ragam yang mempunyai kerangka karbon C20 yang berasal dari 4 unit isopren. senyawa pemanis. Barangkali. Senyawa diterpenoid dapat berbentuk asiklik. antifeedant serangga. satu-satunya diterpenoid yang tersebar di semesta ialah senyawa induk asiklik dari deret senyawa tersebut. anti fouling dan anti karsinogen. yaitu fitol. inhibitor tumor. (35) Gambar 6.

biasanya dalam gabungan. Prazat alkaloid yang paling umum adalah asam amino.alakoloid biasanya tanpa warna. kebanyakan berbentuk Kristal tetapi hanya sedikit yang berupa cairan ( misalnya nikotina pada suhu kamar ). Secara kimia. berbentuk kristal. sebagai bagian dari system siklik. Pada umumnya alkaloid menccakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen. Senyawa ini berupa senyawa tak berwarna. c. Struktur Skualena Lebih dari 4000 jenis triterpenoid telah diisolasi dengan lebih dari 40 jenis kerangka dasar yang sudah dikenal dan pada prinsipnya merupakan proses siklisasi dari skualen. seringkali bersifat optis aktif. Alkaloid seringkali beracun bagi manusia dan banyak yang mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol yang digunakan secara luas dalam bidang pengobatan. sering kali bertitik leleh tinggi dan aktif optik (35). alkaloid merupakan suatu golongan heterogen. Alkaloid Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar. Ia berkisar dari senyawa . meskipun sebenarnya biosintesis kebanyakan alkaloid lebih rumit.Gambar 7.

biosintesis kebanyakan alkoloid lebih rumit. Solanum tuberosum) sebaiknya ditinjaudari segi biosintesis sebagai terpenoid termodifikasi.uji sederhana tetapi yang sama sekali tidak satu sempurna. alkoloid merupakan suatu golongan heterogen. Alkoloid sering kali beracun bagi manusia dan banyak yang mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol jadi digunakan secara luas dalam bidang pengobatan. kebanyakan berbentuk kristal tetapi hanya sedikit yang berupa cairan (misalnya nikotina) pada suhu kamar . (35) Misalnya. Tidak ada satu pun istilah alkoloid yang memuaskan tetapi pada umumnya alkoloid mencakup senyawa bersifat basa mengandung satu atau lebih atom nitrogen.sederhana seperti koniina. (16) Alkoloid. sering kali bersifat optis aktif. merupaan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar. Banyak alkoloid bersifat terpenoid dan beberapa (misalnya solanina alkoloid – steroid kentang. Yang lainnya terutama berupa senyawa aromatik ( misalnya kolkhisina. Secara kimia. alkoloid kinina adalah zat yang dikenal paling pahit dan pada konsentrasimolar 1x 103 membeikan rasa pahit yang berarti. untuk alkoloid dalam daun atau buah segar adalah rasa pahitnya di lidah. alkoloid tropolon umbi crocus musim gugur) yang mengandung . biasanya dalam gabungan sebagai bagian dari sistem siklik.prazat alkoloid yang paling umum adalah asam amino. meski pun sebenarnya. Alkoloid biasanya tanwarna. sekitar 5500 telah di ketahui. yaitu alkaloid utama Conium maculatum sampai pentasiklik seperti estrikhnina yaitu racun kulit strychnos.

(2) 6 g Kalium iodide dalam 10 ml air. 10 ml larutan platina klorida 5% dicampur dengan 240 ml Kalium iodide 2% . Caffein dan beberapa alkaloid tidak menimbulkan reaksi pengendapan. Untuk pereaksi Dragendrof dibuat dua larutan persediaan : (1) 0. reagen Hager (saturasi dengan asam pikrat). Ketelitian harus dimulai dari ekstraksi alkaloid yang diuji karena bahan akan membentuk endapan dengan protein. Untuk menyemprot kertas dengan pereaksi iodoplatinat. dengan larutan asam tanat. (35) Sebagian besar alkaloid alami yang bersifat sedikit asam memberikan endapan dengan reaksi yang terjadi dengan reagent Mayer (Larutan Kalium mercuri Iodida). reagen Wagner (larutan Iodida dalam Kalium Iodida).6 g bismut subnitrat dalam 2 ml HCl pekat dan 10 ml air . Kream (Mayer). sebagian dari protein akan membuat tidak larut dari bahan yang telah diekstrak oleh proses evaporasi atau mungkin disebabkan filtrat yang terbongkar.gugus basa sebagai gugus rantai samping. Larutan persediaan ini dicampur dengan 7 ml HCl pekat dan 15 ml air. Endapan ini berbentuk amorf atau terdiri dari kristal dari berbagai warna. larutan harus bebas dari protein dan siap untuk dilakukan uji alkaloid.coklat kemerah – merahan (Wagner dan Dragendroff).Kuning (Hager). Jika ekstrak asli telah dikonsentrasi ke konsentrasi rendah akan membentuk ekstrak alkaloid yang berbentuk basa dengan pertolongan suatu pelarut organik kemudian dimasukan dalam larutan asam encer (misalnya : Tartarat). atau dengan reagent Dragendrof (larutan Kalium Bismuth Iodida).

3) Pseudoalkaloid Pseudoalkaloid tidak diturunkan dari prekursor asam amino.dan diencerkan dengan air sampai 500 ml. tidak diperoleh definisi tunggal tentang alkaloid. campurkan 10 ml platina klorida 5%. lazim mengandung Nitrogen dalam cincin heterosiklik . 2) Protoalkaloid Protoalkaloid merupakan amin yang relatif sederhana dimana nitrogen dan asam amino tidak terdapat dalam cincin heterosiklik. menurut Hegnauer. biasanya terdapat “aturan” tersebut adalah kolkhisin dan asam aristolokhat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki cincin heterosiklik dan alkaloid quartener. ephedin dan N. senyawa tersebut menunjukkan aktivitas phisiologi yang luas. Contoh. yang bersifat agak asam daripada bersifat basa. Protoalkaloid diperoleh berdasarkan biosintesis dari asam amino yang bersifat basa. Pengertian ”amin biologis” sering digunakan untuk kelompok ini. dan 240 ml Kalium iodide 2%. (16) Pada bagian yang memaparkan sejarah alkaloid. Sistem klasifikasi yang diterima. adalah meskalin. jelas kiranya bahwa alkaloid sebagai kelompok senyawa. 5 ml HCl pekat. diturunkan dari asam amino .N-dimetiltriptamin. untuk menyemprot pelat. . alkaloid dikelompokkan sebagai: 1) Alkaloid Sesungguhnya Alkaloid sesungguhnya adalah racun. hampir tanpa terkecuali bersifat basa.

Tanin Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh. dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Lignin terutama terdapat pada tumbuhan berkayu karena sampai 30% bahan organic pepohonan terdiri atas zat ini. yang mampu mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuanya menyambung silang protein. Di dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim . yaitu alkaloid steroidal (contoh: konessin dan purin (kaffein). lignin menghasilkan tiga aldehida fenol sederhana yang ada kaitannya dengan asam fenolat tumbuhan umum. Fenol Senyawa asam fenolat ada hubungannya dengan lignin terikat sebagai ester atau terdapat pada daun di dalam fraksi yang tidak larut dalam etanol. tanin adalah senyawa yang berasal dari tumbuhan. yaitu sebagai glikosida sederhana. Bila dioksidasi dengan nitrobenzene.(35) e.Senyawa biasanya bersifat basa. Deteksi asam fenolat dan lignindalam jaringan tumbuhan Lignin ialah polimer fenol yang terdapat dalam dinding sel tumbuhan.(16) d. tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk kepolumer mantap yang tidak larut dalam air. Menurut batasanya. Dalam industri. menyebabkan kekakuan dan kekokohan batang tumbuhan. Ada dua seri alkaloid yang penting dalam khas ini. yang bersama selulosa. atau miungkin terdapat dalam fraksi yang larut dalam etanol.

jarang sekali dijumpai hanya flavonoid tunggal dalam jaringan tumbuhan.sitoplasma. Tanin –terkondensasi hampir terdapat semesta di dalam paku-pakuan dan gimnosperae. serta tersebar luas dalam angiospermae.(35) f. tanin yang terhidrolisiskan penyebaranya terbatas pada tumbuhan berkeping dua. Sebaliknya. terutama pada jenis tumbuhan berkayu. Flavonoid Flavonoid terdapat dalam tumbuhan sebagai campuran. sebagian besar tubuhan yang banyak bertanin dihindari oleh hewan pemakan tumbuhan karena rasanya yang sepat. misalnya bila hewan memakanya. tetapi bila jaringan rusak. sering terdapat campuran yang terdiri atas flavonoid yang berbeda kelas. Penggolongan jenis flavonoid dalam jaringan tumbuhan mula – mula didasarkan pada telaah sifat kelarutan dan reaksi warna. Kuinon Kuinon adalah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar . Kemudian diikuti dengan pemeriksaan ekstrak tumbuhan yang telah dihidrolisis secara kromatografi. Kita menganggap salah satu fungsi utama tanin dalam tumbuhan ialah sebagai penolak hewan pemakan tumbuhan. Disamping itu. Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan hewan. (35) e. maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Pada kenyataanya. Secara kimia terdapat dua jenis utama tanin yang tersebar tidak merata dalam dunia tumbuhan.

ditempatkan pada penyangga berupa pelat gelas. (29) Kromatografi lapis tipis adalah metode pemisahan fitokimia. (37) II. Tiga kelompok pertama biasanya terhidroklisasi dan bersifat senyawa fenol serta mungkin terdapat in vivo dalam bentuk gabungan dengan gula sebagai glikosida atau dalam bentuk kuinol. reaksi warna sederhana masih tetap berguna. Untuk tujuan identifikasi. atau lapisan . Untuk memastikan adanya adanya suatu pigmen termasuk kuinon atau bukan.1. yang terdiri atas dua gugus karbonil yang berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbon – karbon. kemudian warna kembali lagi bila terjadi oksidasi oleh udara. kuinon dapat dipilah menjadi empat kelompok : benzokuinon. Lapisan yang memisahkan terdiri atas bahan berbutir-butir (fase diam). logam. antrakuinon.seperti kromofor pada benzokuinon. Reaksi yang khas ialah reduksi bolak balik yang mengubah kuinon menjadi senyawa tanwarna. dan kuinon isoprenoid. maka komponen bergerak dengan kecepatan yang berbeda sehingga hal inilah yang menyebabkan pemisahan. naftokuinon. oleh karena daya serap adsorben terhadap komponen kimia tidak sama.9 Kromatografi Lapis Tipis Preparatif Kromatografi Lapis Tipis Preparatif merupakan proses isolasi yang terjadi berdasarkan perbedaan daya serap dan daya partisi serta kelarutan dari komponen-komponen kimia yang akan bergerak mengikuti kepolaran eluen.

25 mm). Kelebihan metode ini jika dibandingkan dengan kromatografi kertas adalah dapat digunakan pereaksi asam sulfat pekat yang bersifat korosif. berupa larutan.10-0. kelemahannya adalah harga Rf yang tidak tetap. Metode ini kepekaannya cukup tinggi dengan jumlah cuplikan beberapa mikrogram. kompleks organik dan anorganik serta ion anorganik dalam waktu singkat menggunakan alat yang tidak terlalu mahal. (39) Salah satu metode pemisahan yang memerlukan biaya paling murah dan memakai peralatan sedarhana ialah KLT preparatif.yang cocok. pita-pita sampel yang sudah dipisah dapat diperoleh kembali dengan cara mengerok penyerap dari plat KLT preparatif yang telah dikembangkan. KLT preparatif dilakukan dengan menggunakan lapisan tebal (sampai 1 mm) sebagai pengganti lapisan penyerap yang tipis (0. Pemisahan terjadi selama perambatan kapiler (pengembangan) dan selanjutnya senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan (38) Keuntungan kromatografi lapis tipis adalah dapat memisahkan senyawa yang sangat berbeda seperti senyawa organik alam dan senyawa organik sintesis. sebagian besar pemakaian hanya dalam jumlah miligram. Walaupun KLT preparatif dapat memisahkan dalam jumlah gram. Campuran yang akan dipisah. Demikian kuatnya lapisan penyerap melekat pada kaca penyokong sehingga memungkinkan . ditotolkan berupa bercak atau pita (awal). kemudian pelat dimasukkan di dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak).

KLTP merupakan metode isolasi dari suatu simplisia untuk mendapatkan senyawa tunggal. Sampel ditotolkan berupa pita yang harus ditotolkan sesempit mungkin karena pemisahan tergantung pada lebar . (31) Teknik kromatografi lapis tipis dikembangkan tahun 1983 oleh Ismailoff dan Schraiber. karena jika pelarut kurang atsiri terjadi pelebaran pita. (40) Fase diam yang paling sering dugunakan biasanya dengan ketebalan 0. Kecepatan pemisahan tinggi dan mudah untuk memperoleh kembali senyawa-senyawa yang terpisahkan.pengembangan plat berulang-ulang dengan pengembang yang sama atau pengembang yang berbeda. Absorbent dilapiskan pada lempeng kaca yang bertindak sebagai penunjang fase diam. Metode ini sederhana.5-2 mm dan ukuran plat kromatogram biasanya 20x20 cm. fase diam yang paling umum dipakai ialah silika gel dan dipakai untuk pemisahan berbagai campuran senyawa lipofil maupun senyawa hidrofil. Pelarut yang baik ialah pelarut yang mudah menguap (atsiri). Sampel dilarutkan dalam sedikit pelarut sebelum ditotolkan pada plat KLT preparatif. Fase akan bergerak akan merayap sepanjang fase diam dan terbentuklah kromatogram. (35) Absorbsi dan partisi berdasarkan pada jumlah dan cara penotolan yang berkesinambungan dengan hasil akhir membentuk pita. cepat dalam pemisahan sensitif. dengan terlebih dulu mngeringkan plat sebelum pengembangan berikutnya. Konsentrasi sampel harus sekitar 5-10%. Ini dikenal juga sebagai kromatografi kolom terbuka.

(29) Lapisan preparatif normalnya adalah lapisan KLT yang lebih tebal dari 0. penotolan dapat dilakukan dengan pipa kapiler akan tetapi lebih baik jika menggunakan penotol otomatis. Dilakukan pencuplikan dengan cara melarutkan cuplikan dengan sedikit pelarut sebelum ditotolkan pada pelat KLTP. Keefisienan dapat ditingkatkan dengan cara pengembangan pemisahan Harus berulang. . (31) Penjerap yang paling umum digunakan adalah silika gel dan dipakai untuk pemisahan campuran senyawa lipofil maupun hidrofil. Bejana dijaga tetap jenuh dengan pelarut pengembang dengan bantuan sehelai kertas saring yang tecelup ke dalam larutan pengembang. Seperti aturan umumnya dimana ketebalan maksimumnya adalah 2 mm meskipun beberapa pengerjaan melibatkan penggunaan lempeng yang tebalnya mencapai 10 mm. pelarut yang dipakai pada KLT analitik dapat dipakai pada KLT preparatif.pita. Karena ukuran partikel penyerap kira-kira sama. Pemilihan pelarut ditentukan berdasarkan pemeriksaan pendahuluan memakai KLT analitik.5 mm. Pengembangan plat KLT preparatif biasanya dilakukan dalam bejana kaca yang dapat menampung beberapa plat. diperhatikan bahwa semakin lama senyawa berkontak dengan penyerap maka semakin besar kemungkinan penguraian. (5) Lempeng yang sudah ditotolkan dikembangkan pada chamber yang jenuh dengan cairan pengembang yang cocok secara tegak lurus. Cuplikan yang ditotol harus sesempit mungkin karena pemisahan bergantung pada lebar pita.

(35) Fase gerak biner ialah (dalam berbagai perbandingan) sangat sering dipakai dalam pemisahan secara KLTP : n.heksana-aseton. menutup pelat dengan sepotong kaca menyemprot salah satu sisi dengan pereaksi semprot. ada beberapa pilihan yaitu. beberapa indikator menimbulkan masalah yaitu bereaksi dengan asam kadangkadang bahkan dengan asam asetat. dengan mengeringkan plat sebelum pengembangan berikutnya. senyawa asam dan senyawa basa.(5) Deteksi senyawa pada pelat KLT biasanya dilakukan dengan penyemprotan dan karena permukaan pelat lebih sempit (20x20cm) maka penyemprotannya merupakan prosedur yang nisbi sederhana.sehingga komponen kimia akan terpisah membentuk pita yang berupa garis horizontal yang tampak di bawah sinar UV. Satu .heksana-etil asetat. kloroform-metanol. Akan tetapi. berturut-turut. (5) Kebanyakan penjerap KLTP mengandung indikator flourosensi ynag membantu mendeteksi kedudukan pita yang terpisah sepanjang senyawa yang dipisahkan menyerap sinar UV. menyemprot dengan air (misalnya saponin). n. dan dengan menambahkan senyawa pembanding. Untuk senyawa yang tidak menyerap sinar UV. Penambahan sedikit asam asetat atau dietilamina berguna untuk memisahkan. menggunakan chamber iodin. (5) Demikian kuatnya lapisan penjerap melekat pada kaca sehingga memungkinkan penggunaan pelat berulang-ulang dengan pengembang yang sama atau beberapa pengembang yang berbeda.

1. .(19) Kromatografi planar adalah satu-satunya teknik kromatografi dimana kromatografi dua dimensi dapat dilakukan. Hasilnya adalah suatu kromatogram seperti cetakan jari. serta memantau kromatografi kolom. Sayangnya kebanyakan pemisahan dua dimensi dahulunya telah melibatkan pemisahan kurang lebih 20 jenis asam amino pada selulosa atau silika gel. Ini merupakan alat pemisahan yang baik dan cukup sering dilirik sebagai suatu prosedur untuk dilakukan. memantau berjalannya suatu reaksi. (35) II.keuntungan bila dibandingkan kromatografi kertas ialah pelat kaca dapat disemprot dengan asam sulfat pekat. mengidentifikasi noda dengan membandingkannya dengan standar sangat memakan waktu dan harus dilakukan terpisah pada kondisi eluen yang sama . yaitu pereaksi pendeteksi untuk senyawa umum. menentukan efektivitas pemurnian. melakukan screening sampel untuk obat. Bagaimanapun juga.9 Kromatografi Dua Dimensi Penggunaan umum KLT adalah untuk menentukan banyaknya komponen dalam campuran. suatu metode telah dikembangkan. dimana prosedurnya memakan waktu seharian untuk dilakukan dan hanya satu sampel per lempeng yang bisa di analisa dalam satu waktu. menentukan kondisi yang sesuai untuk kromatografi kolom. identifikasi senyawa. Dulunya asam amino telah dipisahkan dengan cara ini selama berabad-abad.

Selain itu. system 2 fase gerak yang sangat berbeda dapat digunakan secara berurutan pada suatu campuran sehingga memungkinkan untuk melakukan pemisahan analit yang mempunyai tingkat polaritas yang berbeda.Dalam hal untuk mendapatkan resolusi yang baik. jadi memungkinkan pemisahan campuran yang mengandung komponen yang kepolarannya sangat berbeda. dua sistem pelarut yang sangat berbeda dapat dipakai secara berurutan pada campuran tertentu. karenanya nilai Rf juga hampir sama sebagaimana dalam asam-asam amino. (31) Gambar mekanisme KLT 2 dimensi KLT 2 dimensi atau KLT 2 arah ini bertujuan untuk meningkatkan resolusi sampel ketika komponen-komponen solute mempunyai karakteristik kimia yang hampir sama. (41) . penting untuk memilih dua campuran pelarut yang berbeda. (19) Kromatografi Lapis Tipis dua arah merupakan cara yang memungkinkan pemakaian lapisan penjerap yang paling luas untuk memisahkan campuran yang mengandung banyak komponen. meskipun dengan kekuatan pelarut yang sama ini cukup sulit tetapi penting. Selain itu.

(5) . Melalui pengembangan ganda dengan fase mobil sama atau berbeda ini dalam hal ekstrim akan dicapai hasil pemisahan yang lebih baik. 2 sistem fase gerak yang sangat berbeda dapat digunakan secara berurutan pada campuran tertentu sehingga memungkinkan untik melakukan pemisahan analit yang mempunyai tingkat polaritas yang hampir sama. dan untuk ini dapat digunakan pelarut pengembang yang sama atau berbeda. setelah pengembangan dan pengeringan pelat kromatografi dilakukan pengembangan kedua. Selanjutnya. sebagaimana dalam sampel asam-asam amino. KLT dua dimensi dilakukan dengan melakukan penotolan sampel di salah satu sudut lapisan lempeng tipis dan mengembangkannya sebagaimana biasa dengan eluen pertama. Suksesnyapemisahan tergantung pada kemampuan untuk memodifikasi selektifitas eluen kedua dibandingkan dengan selektifitas eluen. Selain itu. (18) Pada teknik ganda.KLT 2 arah atau 2 dimensi ini bertujuan untuk meningkatkan resolusi sampel ketika komponen-komponen solute mempunyai karakteristik kimia yang hampir sama. Lempeng kromatografi selanjutnya dipindahkan dari chamber pengembang dan eluen dibiarkan menguap dari lempeng. lempeng dimasukkan dalam chamber yang menggunakan eluen kedua sehingga pengembangan dapat terjadi pada aeah kedua sehingga pengembangn dapat terjadi pada arah kedua yang tegak lurus dengan arah pengembangn yang pertama. Seteleh itu dilakukan proses pengembangan selanjutnya dan seterusnya.

(19) Pengembangan kontinyu dilakukan dengan cara mengalirkan fase gerak secara terus menerus pada lempeng KLT melalui suatu wadah (biasanya alas tangki) melalui suatu lapisan dan dibuang dengan cara tertentu pada ujung lapisan. Tujuan utama sistem ini adalah untuk mengubah polaritas fase gerak. eluen diuapkan dari lempeng tempat diposisikan sepanjang tepi dari pelat kromatografi. Pelat ini kemudian diputar melalui 90° dan perkembangan selanjutnya dilakukan dengan eluen kedua dari tepi dengan bintik-bintik yang dipisahkan pada eluen pertama menuju tepi berlawanan. (26) Dalam kromatografi dua dimensi. campuran yang dapat didistribusikan pada seluruh permukaan pelat jika kedua eluen . pengembangan sampel adalah dengan melihat pada sudut pelat kromatografi dan dikembangkan dengan eluen pertama (dalam arah pertama). lalu dikromatografi lagi. dikeringkan dan diputar 90°. sehingga bercak yang terpisah pada pengembangan pertama terletak dibagian bawah sepanjang lempeng. dan diletakkan dalam bejana kromatografi yang berisi fase gerak kedua. Setelah perkembangan ini. Meskipun demikian untuk memperoleh komposisi fase gerak yang reprodusibel sangatlah sulit. Lempeng diangkat. Pengembangan gradient dilakukan dengan menggunakan komposisi fase gerak yang berbeda-beda.Sampel ditotolkan pada lempeng lalu dikembangkan dengan satu sistem fase gerak sehingga campuran terpisah menurut jalur yang sejajar dengan salah satu sisi.

(42) Kromatografi dua dimensi. Dalam pengaturan biasa. metode ini didasarkan pada pengembangan beberapa eluen yang analog dengan yang sebelumnya. . dan pengembangan kedua dilakukan dalam arah tegak lurus dengan yang pertama . tetapi dengan perbedaan bahwa lapisan kuadrat digunakan. Metode ini cocok terutama untuk pemisahan campuran kompleks dari senyawa.(atau sistem kromatografi) menunjukkan perubahan dramatis dalam selektivitas. Sifat interaksi dapat diubah dengan mengubah komposisi fase diam. sampel diterapkan dekat salah satu sudut. Misalnya seseorang dapat menggunakan fase gerak asam pada yang pertama dan untuk fase gerak kedua dapat menggunakan pelarut yang akseptor elektron dan donor elektron atau bahkan dapat memilih untuk menggunakan mekanisme pemisahan yang berbeda dalam dua arah (misalnya partisi dan adsorpsi) . berbagai jenis sistem pelarut yang digunakan dalam masing-masing dari dua arah.

Dalam hal ini. Pelat ini kemudian dibiarkan kering. yaitu suatu teknik yang dikembangkan oleh Martin. resolusi lebih baik dapat diperoleh dengan pengembangan dua dimensi. atau reaksi fotokimia antara dua perkembangan. Kemudian dikembangkan dengan pelarut kedua pada sudut kanan ke tepi pertama dari pelat dalam pelarut. nilai-nilai Rf terlalu dekat bersama-sama untuk memberikan pemisahan yang baik menggunakan salah satu teknik pengembangan dimensi linier. Zat yang tidak mengalami perubahan kimia selama kromatografi akan terletak pada diagonal dari kromatogram. khususnya dalam kasus kelompok besar senyawa kimia yang mirip struktur dan bersifat seperti asam amino. yang mempekerjakan sistem eluan kedua yang dijalankan pada sudut ketat untuk yang pertama. biologi. kromatogram dikembangkan dengan sistem pelarut yang sama dalam kedua dimensi. Sampel dapat dilihat dengan cara yang normal dan dikembangkan dengan tepi akhir dalam kontak dengan sistem pelarut pertama.Kasus khusus dari dua dimensi kromatografi adalah teknik diagonal. (43) Kadang-kadang. (44) Keuntungan dari KLT 2 dimensi adalah: . Dimana komponen murni dari campuran tidak tersedia atau tidak diketahui maka diperoleh kromatogram dapat berfungsi sebagai sidik jari atau peta dalam mengidentifikasi dan karakterisasi sampel. Dalam teknik ini. Metode ini terutama digunakan untuk karakterisasi lebih lanjut dari tempat di kromatogram dengan melakukan uji kimia tertentu.

yang nilai Rfnya juga hampir sama. dalam hal memilih fase gerak. (26) . sensitifitas. reprosudibilitas dan selektifitas. 4. dalam sekali pengerjaan hanya diperoleh satu senyawa atau analit pada lempeng yang dapat dianaisis campuran pelarut mempengaruhi hasil resolusi. kecepatan.(46) Kerugian dari KLT dua dimensi yaitu pengerjaannya lama. karena digunakan kertas yang luas dan di elusi lebih lanjut dengan membaliknya 90o. Memberikan fleksibilitas yang lebih besar. Karena digunakan 2 sistem fase gerak yang sangat berbeda dapat digunakan secara berurutan pada suatu campuran tertentu sehingga memungkinkan untuk melakukan pemisahan analit yang mempunyai tingkat polaritas yang berbeda. Semua komponen dalam sampel dapat dideteksi. 3. Proses kromatografi dapat diikuti dengan mudah dan daat dihentikan kapan saja. Pengembangan kontinyu dan pengembangan gradient. 5. 2. Akan meningkatkan resolusi sampel ketika komponen-komponen solut mempunyai karakteristik kimia yang hampir sama. maka hasil profil bisa lebih di optimasi pemisahannya.1. Karena menggunakan teknik elusi lebih lanjut. (26) Adanya variasi prosedur pengembangan KLT dilakukan untuk meningkatkan resolusi. Beberapa pengembangan ini meliputi KLT 2 dimensi.

10 Kromatografi Multieluen KLT dua dimensi dan multieluen memiliki prinsip yang sama yaitu adsorbi dan partisi tetapi yang membedakannya ada KLT 2 dimensi didasarkan pada proses elusi yang bertujuan untuk memperpanjang jarak lintasan noda untuk memperoleh senyawa tunggal edangkan pada multieluen jumlah totolannya yang berbeda yaitu berupa cuplikan yang berkesinambungan dan menghasilkan hasil elusi berupa pita. (19) Pada multi eluen. pengembangan ini dilakukan dengan menggunakan komposisi fase gerak yang berbeda-beda. Meskipun demikian untuk memperoleh komposisi fase gerak yang reprodusibel sangatlah sulit sehingga teknik kromatografi ini kurang begitu popular. Tujuan utama sistem ini adalah untuk mengubah polaritas fase gerak. Lempeng yang berisi analit dapat dimasukkan ke dalam bejana kromatografi yang beisi fase gerak tertentu lalu komponen fase gerak selanjutnya ditambahkan seditik demi sedikit ke dalam bejana dan daduk sampai homogen. dimana perkembangan pertama berjalan jarak pendek dari satu detik. kromatogram berulang kali dikembangkan di arah yang sama dan dengan demikian resolusi lengkap dari dua atau lebih zat dengan nilai Rf yang sangat serupa dapat diperoleh. Modifikasi yang sering digunakan dari teknik ini adalah prosedur yang bertahap. seseorang dapat menggunakan baik sistem pelarut yang sama atau sistem pelarut yang berbeda. (31) Pada multi eluen.1.II. Sebagai fase gerak. Pengembangan pertama dengan .

Zat kurang polar kemudian dipisahkan dalam pengembangan kedua dengan fase gerak kurang polar. (43) Alternatif prosedur elusi selanjutnya dapat diubah: misalnya. (44) KLT 2 dimensi biasanya dikombinasikan dengan pengembangan multieluen agar memperoleh beberapa rute yang menjanjikan yang harus mengarah pada perbaikan nyata dalam kromatografi planar dalam waktu dekat. Tergantung pada sifat campuran baik seri meningkatkan atau menurunkan kekuatan pelarut dapat digunakan. sedangkan zat yang kurang polar bermigrasi dengan pelarut lainnya. Pendekatan terakhir ini disebut pembangunan bertahap. (41) Kromatografi multi eluen diperlukan sebelum fraksi aktif dapat terkonsentrasi ke keadaan kemurnian. sistem pelarut yang berbeda dapat dimanfaatkan dan pelarut diizinkan untuk bermigrasi ke diperluas secara berbeda.fase gerak lebih polar memisahkan zat-zat yang lebih polar. Kedua prosedur pengembangan melengkapi teknik gradien dan menawarkan keuntungan sebagai berikut: Meningkatkan efisiensi karena memusatkan atau rekonsentrasi dari tempat analit pada masing-masing berjalan Deteksi ditingkatkan karena zona terpisah lebih kecil Pemisahan jangkauan yang lebih luas pada polaritas analit. Penggunaan sekuensial dari serangkaian eluen dari perbedaan kekuatan elutropik dapat digunakan untuk pemisahan campuran polaritas. Teknik lain seperti kromatografi .

kromatografi cair kinerja tinggi. Elektroporesis dan kristalisasi mungkin diperlukan pada tahap akhir isolasi senyawa murni. (47) . Polaritas fase gerak dipengaruhi oleh adanya tetapan dielektrik dari pelarut.lapis tipis preparatif. (46) Tabel data elutropic pelarut. (42) Adanya proses partisi dikarenakan polaritas fase gerak. Dalam hal ini. kekuatan tarik menarik muatan yang belawanan akan sangat diperkecil bila medianya mempunyai tetapan dielektrik besar. Tetapan dielektrik adalah suatu tetapan yang menunjukkan kemampuan molekul mempolarisasikan dirinya atau kemampuan mengatur muatan listrik yang tedapat dalam molekulnya sendiri sedemikian rupa sehingga dapat mengarah pada menetralkan muatan-muatan listrik yang terdapat di sekitarnya.

Bila sampel cairan terlalu kental. (48) . (48) a. adalah metoda pemurnian cairan dan larutan yang paling mendasar. Alat khusus untuk mempercepat filtrasi dengan memvakumkan penampung filtrat juga digunakan. filtrasi dengan penghisapan digunakan. Filtrasi Filtrasi. Dengan mengatur ukuran mesh. ukuran partikel yang disingkirkan dapat dipilih.11 Pemurnian Tidak ada cara unik untuk memisahkan campuran menjadi komponennya. Dalam kasus ini tekanan harus diberikan pada permukaan cairan atau larutan (filtrasi dengan tekanan).1. yakni proses penyingkiran padatan dari cairan.II. Filtrasi tidak hanya digunakan dalam skala kecil di laboratorium tetapi juga di skala besar di unit pemurnian air. Filtrasi dengan penghisapan tidak cocok bila cairannya adalah pelarut organik mudah menguap. Misalnya. Satu-satunya cara adalah menggunakan perbedaan sifat kimia dan fisika masing-masing komponen. Fraksi cairan melewati kertas saring dan padatan yang tinggal di atas kertas saring. Kertas saring dan saringan digunakan untuk menyingkirkan padatan dari cairan atau larutan. sampel yang akan disaring dituangkan ke corong yang di dasarnya ditaruh kertas saring. Biasanya filtrasi alami yang digunakan. Titik kritisnya dapat menggunakan perbedaan sifat yang sangat kecil.

Lapisan-lapisan penyaring dalam unit pengolah air terdiri atas lapisan-lapisan material. Adsorpsi Tidak mudah menyingkirkan partikel yang sangat sedikit dengan filtrasi sebab partikel semacam ini akan cenderung menyumbat penyaringnya. Bantuan penyaring apapun akan bisa digunakan bila saringannya berpori. hidrofob atau solvofob dan memiliki kisi yang kaku. (48) c. rekristalisasi memiliki sejarah yang panjang seperti distilasi. Rekristalisasi Sebagai metoda pemurnian padatan. Walaupun beberapa metoda yang lebih rumit telah dikenalkan. Celit. Karbon teraktivasi memiliki luas permukaan yang besar dan dapat mengadsorbsi banyak senyawa organik dan sering digunakan untuk menyingkirkan zat yang berbau (dalam banyak kasus senyawa organik) dari udara atau air. keramik diatom dan tanah liat teraktivasi sering digunakan. Lapisan penyaring yang mirip untuk penggunaan domestik sekarang dapat diperoleh secara komersial. Silika gel dapat mengadsorbsi air dan digunakan meluas sebagai desikan. Dalam kasus semacam ini direkomendasikan penggunaan penyaring yang secara selektif mengadsorbsi sejumlah kecil pengotor. rekristalisasi adalah metoda yang paling penting untuk pemurnian sebab kemudahannya (tidak perlu alat khusus) dan karena keefektifannya. Ke depannya rekristalisasi akan tetap metoda standar untuk memurnikan padatan.b. .

Namun. Kit a harus hati-hati bila kita menggunakan pelarut polar. 3. Untuk mencegah reaksi kimia antara pelarut dan zat terlarut.Metoda ini sederhana. Dalam kasus semacam ini penambahan kristal bibit. Misalnya. Kristal tidak harus mengendap dari larutan jenuh dengan pendinginan karena mungkin terbentuk super jenuh. dalam praktek. Walaupun rekristalisasi adalah metoda yang sangat sederhana. mungkin akan efektif. Jadi pemurnian NaCl dengan rekristalisasi tidak dapat dilakukan. Diharapkan bahwa pengotor tidak akan mengkristal karena konsentrasinya dalam larutan tidak terlalu tinggi untuk mencapai jenuh. Kelarutan material yang akan dimurnikan harus memiliki ketergantungan yang besar pada suhu. menggaruk dinding mungkin akan berguna. kristal akan mengendap karena kelarutan padatan biasanya menurun bila suhu diturunkan. Saran untuk membantu rekristalisasi: 1. bukan berarti mudah dilakukan. penggunaan pelarut non-polar lebih disarankan. Bahkan bila . 2. Saran-saran yang bermanfaat diberikan di bawah ini. pelarut non polar cenderung merupakan pelarut yang buruk untuk senyawa polar. Ketika larutan panas pelahan didinginkan. Bila tidak ada kristal bibit. material padayan ini terlarut dalam pelarut yang cocok pada suhu tinggi (pada atau dekat titik didih pelarutnya) untuk mendapatkan larutan jenuh atau dekat jenuh. kebergantungan pada suhu NaCl hampir dapat diabaikan.

(49) Pelarut yang digunakan dalam proses kristalisasi dan rekristalisasi sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut: (49) 1. senyawa tersebut telah larut sempurna di dalam pelarut. Pemanasan hanya dilakukan apabila senyawa tersebut belum atau tidak larut sempurna pada keadaan suhu kamar. Setelah senyawa tersebut dilarutkan kedalam pelarut yang sesuai kemudian dipanaskan (direfluks) sampai semua senyawanya larut sempurna. Memiliki gradient temperatur yang besar dalam sifat kelarutannya. 3. pelarut dengan titik didih rendah umumnya lebih diinginkan. maka tidak perlu lagi dilakukan pemanasan. Bersifat inert (tidak bereaksi) terhadap senyawa yang akan dikristalkan atau direkristalisasi. 2. Titik didih pelarut harus dibawah titik lebur senyawa yang akan dikristalkan. 4. (48) Untuk merekristalisasi suatu senyawa kita harus memilih pelarut yang cocok dengan senyawa tersebut.tidak reaksi antara pelarut dan zat terlarut. Namun. Apabila pada temperatur kamar. pemilihan pelarut biasanya bukan masalah sederhana. Umumnya. Jadi. 4. Titik didih pelarut yang rendah sangat menguntungkan saat pengeringan. . pembentukan kompleks antara pelarut-zat terlarut. sekali lagi pelarut dengan titik didih lebih rendah biasanya non polar.

Distilasi Distilasi adalah seni memisahkan dan pemurnian dengan menggunakan perbedaan titik didih. Gin dan whisky.(48) Pemisahan campuran cairan menjadi komponen dicapai dengan distilasi fraksional. (5) d. Jika larutan panas tersebut dibiarkan mendingin produk yang murni memisah dari campuran.Dalam teknik ini. Prinsip distilasi fraksional dapat dijelaskan dengan menggunakan diagram titik didih-komposisi. . Distilasi memiliki sejarah yang panjang dan asal distilasi dapat ditemukan di zaman kuno untuk mendapatkan ekstrak tumbuhan yang diperkirakan dapat merupakan sumber kehidupan. produk yang kotor mula-mula dilarutkan dalam sejumlah kecil pelarut panas (umumnya digunakan solven dimana produk tersebut kurang larut dibandingkan kotorannya). dengan konsentrasi alkohol yang tinggi. Bila cairan dengan komposisi l2 dipanaskan. didapatkan dengan teknik yang disempurnakan ini. Akhirnya Kristal-kristal dari produk disaring dari larutannya yang sudah dingin dan dikeringkan. kurva atas menggambarkan komposisi uap pada berbagai titik didih yang dinyatakan di ordinat. meninggalkan kotoran dalam larutannya. cairan akan mendidih pada b1. Jumlah produk murni dapat diperoleh dengan cara ini tergantung dari kadar kotoran-kotoran dari kelarutannya. Teknik distilasi ditingkatkan ketika kondenser (pendingin) diperkenalkan. Dalam gambar ini. kurva bawahnya menyatakan komposisi cairan.

dan embunnya mengalir ke bawah kolom ke bagian yang lebih panas. Produksi . Bila perbedaan titik didih A dan B kecil. komposisi uap betrubah dari v1 ke v2 dan akhirnya ke v3 untuk mendapatkan konsentrasi komponen A yang lebih mudah menguap dengan konsentrasi yang tinggi. Jadi. Uap ini akan mengembun bila didinginkan pada bagian lebih atas di kolom distilasi (Gambar 12. distilasi fraksional harus diulang-ulang untuk mendapatkan pemisahan yang lebih baik. (48) Gambar Diagram titik didih.2).komposisi larutan ideal campuran campuran A dan B. Uap ini akan mengembun menghasilkan cairan dengan komposisi l3. dengan mengulang-ulang proses penguapan-pengembunan.Komposisi uap yang ada dalam kesetimbangan dengan cairan pada suhu b1 adalah v1. Bagian ini akan mendidih lagi pada suhu b2 menghasilkan uap dengan komposisi v2.

dan senyawa organik dapat diambil ulang dari lapisan organik dengan menyingkirkan pelarutnya. Ekstraksi Ekstraksi adalah teknik yang sering digunakan bila senyawa organik (sebagian besar hidrofob) dilarutkan atau didispersikan dalam air. seharusnya tidak hidrofob) ditambahkan pada fasa larutan dalam airnya. . yang memiliki titik didih rendah (sehingga mudah disingkirkan) dan dapat melarutkan berbagai senyawa organik. Lapisan organik dan air akan dapat dipisahkan dengan corong pisah. Pelarut yang tepat (cukup untuk melarutkan senyawa organik. campuran kemudian diaduk dengan baik sehingga senyawa organik diekstraksi dengan baik. e.minyak bumi tidak lain adalah distilasi fraksional yang berlangsung dalam skala sangat besar. Pelarut yang paling sering digunakan adalah dietil eter C2H5OC2H5.

banyak senyawa organik. nyatanya. lebih baik Anda menggunakan sebagian-sebagian pelarut untuk beberapa kali ekstraksi. pemisahannya akan lengkap. dan alkali yang digunakan mengekstrak fenol diasamkan untuk mendapatkan kembali fenolnya. Toluen dapat dipisahkan dengan menguapkan pelarutnya. Dengan cara ini senyawa akan terekstraksi dengan lebih baik. (48) .Ekstraksi bermanfaat untuk memisahkan campuran senyawa dengan berbagai sifat kimia yang berbeda. Asam yang digunakan untuk mengekstrak anilin ditambahi basa untuk mendaptkan kembali anilinnya. Kemudian akhirnya menggabungkan bagian-bagian pelarut tadi. yang semuanya larut dalam dietil eter. Anggap anda diizinkan untuk menggunakan sejumlah tertentu pelarut. Contoh yang baik adalah campuran fenol C6H5OH. khususnya asam dan basa organik dalam derajat tertentu larut juga dalam air. Namun. Untuk memperkecil kehilangan yang disebabkan gejala pelarutan ini. Kemudian fenol diekstraksi dengan basa encer. Daripada anda menggunakan keseluruhan pelarut itu untuk satu kali ekstraksi. Pertama anilin diekstraksi dengan asam encer. anilin C6H5NH2 dan toluen C6H5CH3. disarankan untuk dilakukan ekstraksi berulang. Hal ini merupakan masalah dalam ekstraksi. Bila senyawa organik tidak larut sama sekali dalam air.

II.2 Kandungan Senyawa Secara umum pada spons ditemukan kelompok senyawa pada fraksi non polar seperti senyawa terpenoid.3 Morfologi Jenis spons ini mempunyai rangka yang menyebar dengan 3 ukuran kategori seperti berbentuk kecil. Spons ini seperti kerang yang besar dengan permukaan alasnya seperti akar yang memiliki tonjolan. berdinding tebal. (32) II. senyawa steroid dan asam lemak. atau tidak mikrosklera. (50) .2.2. reproduksinya aseksual dan teksturnya halus dan licin.2 Uraian Sampel II.1 Klasifikasi Domain Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Eukariota : Animalia : Porifera : Demospongiae : Hadromerida : Tethyidae : Aaptos : Aaptos sp. (50) II.2.

. 2007).4 Kegunaan Menurut Souza et al (2007). banyak tumbuh di daerah perairan karang dangkal dan laguna. (50) II.3 Uraian Bahan 1. tidak berbau.5 Data Ekologi Aaptos sp. (1987) menemukan 2 senyawa baru golongan alkaloid dari spons Aaptos aaptos yang berasal dari perairan Okinawa yaitu dimetilaaptamin dan dimetil(oksi) aaptamin yang memiliki aktivitas sitotoksik dan antimikrobial.2.2. senyawa 4-metilaaptamin yang diisolasi dari spons Aaptos aaptos dapat menghambat infeksi Herpes Simplex Virus-1 (HSV-1). (50) II. Laporan lain menyebutkan bahwa isoaaptamin dari Aaptos memiliki aktivitas untuk mencegah infeksi Staphylococcus aureus dengan menghambat enzim sortase A (SrtA) (Jang et al.02 : Cairan jernih . Air Suling (11) Nama Resmi : Aqua Destillata Nama Lain RM/BM Pemerian : Air Suling : H2O/ 18. tidak berwarna .II. Nakamura et al. tidak mempunyai rasa Penyimpanan: Dalam wadah tertutup baik Penggunaan : untuk mencuci sampel .

2. Metanol (11) Nama Resmi : Metanol Pemerian Kelarutan : Cairan tidak berwarna, jernih, bau khas : Dapat bercampur dengan airm membentuk cairan jernih tidak berwarna Penggunaan : sebagai cairan penyari pada ekstraksi dengan metode maserasi dan juga sebagai eluen

3. Heksan (11) Nama Resmi : Heksana Pemerian : Berupa cairan tidak berwarna, stabil, sangat mudah terbakar Penggunaan : sebagai cairan penyari pada saat partisi metode ekstraksi padat-cair dan juga sebagai eluen

4. Etil Asetat (11) Nama Resmi : Etil Asetat Pemerian : Cairan, tidak berwarna, mudah menguap, sangat mudah terbakar Kelarutan : Larut dalam 15 bagian air, dapat bercampur dengan etanol (95%) P dan dengan eter P Penggunaan : sebagai eluen

5. Butanol (11) Nama Resmi : Butanol Pemerian Kelarutan : Cairan jernih ; tidak berwarna : Larut dalam 11 bagian air pada suhu 15,5

Penggunaan: sebagai pelarut

6. Asam Sulfat (11) Nama Resmi : Acidum Sulfuricum Nama Lain RM/BM Pemerian : Asam Sulfat : H2SO4 / 98,07 : Cairan kental seperti minyak, korosif, tidak berwarna, jika ditambahkan ke dalam air menimbulkan panas Penyimpanan: Dalam wadah tertutup rapat Penggunaan : pereaksi dalam penampakan noda dan bahan reagen liebermann buchard

7. Etanol (11) Nama Resmi Nama Lain Pemerian : Alkohol, etanol : Air suling, aquadest : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, dalam chloroform P, dan dalam etet P.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, ditempat sejuk, jauh dari nyala api.

Kegunaan

: untuk sortasi basah

8. Bismut Subnitrat (11) Nama Resmi Nama Lain Pemerian : Bismut subnitras : Bismut Subnitrat : Serbuk hablur renik, putih, tidak berbau, tidak berasa, berat. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan pelarut organik, larut sempurna dalam asam klorida P dan asam nitrat P. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya Kegunaan : bahan reagen dragendorf

9. KI (11) Nama Resmi Nama Lain RM Pemerian : Kalium Iodidum : Kalium Iodida : KI/166,00 : Hablur heksahedral, transparan tidak berwarna, opak dan putih, atau serbuk butiran putih, higroskopik.

berat mengkilap. Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup rapat : bahan reagen wagner.91 : keping atau putih. sangat mudah larut dalam gliserol P. Iodin (11) Nama Resmi Nama Lain RM/ BM Pemerian : Iodum : Iodin : I/126.Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air. seperti logam. lebih mudah larut dalam air mendidih. Asam Asetat anhidrat (11) Nama Resmi Nama Lain : Acidum Asetat : Asam Asetat . larut dalam etanol (95%)P. meyer 10. bau khas. Dalam 13 bagian etanol (95%)P dan lebih kurang 80 bagian gliserol P dan dalam lebih kurang 4 bagian karbondisulfida P. dan larut dalam kloroform P. hitam kelabu. meyer 11. Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup baik : bahan reagen dragendorf. Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 3500 bagian air.

RM Pemerian : CH3COOH : Cairan jernih. tidak berwarna. bau menusuk. Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup rapat : bahan reagen liebermann buchard . dengan etanol 95%P dan dengan gliserol P. tajam Kelarutan : dapat bercampur dengan air. rasa asam.

Sponges. Hutchinson and Company. 8. Bogor : IPB Live Journal Alam. Diakses tanggal 14 November 2011 Anonim. Sponguide: guide to spons collection and identification.com. 2010. 9.. Queensland Museum.litbang. 7. P. 4. dkk. Spons:biota laut penghasil senyawa bioaktif yang potensial. 2011..Wikanta. I. J. 2010.go. Anonim. 2002. Laboratorium Bioteknologi Kelautan. Dirjen POM. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.com. Munifa. Abdul. Edisi Keempat. Teknologi Penyiapan Simplisia Terstandar Tanaman Obat.A. 5. Anonim. Jakarta : Depkes RI 12. Jakarta: Departemen 13. 2010.penyiapan sampel/jufriprabu.. Metode Pemisahan.ekstraksi. Anonim.1985. Sediaan Kesehatan Republik Indonesia Galenik. 3. 1978. dan Nursid. London Hooper. 2011.. T. 6.N. South Brisbane. 1995. Diakses tanggal 9 Mei 2011 . 10.DAFTAR PUSTAKA 1.id. Diakses dari http://balittro. 1986. Makassar: Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin Rahim. Gemini. Sudjadi.2000. Simplisia. dkk.deptan. 1986. 2011. Bergquist. Jakarta : Depkes RI 11. Pusat Riset Pengolahan Produk dan SosialEkonomi Kelautan dan Perikanan.R. Ditjen POM. M. Farmakope Indonesia. Penuntun Pratikum Senyawa Bioaktif. Yogyakarta : UGM Press 14. Jurnal Ilmiah Institut Pertanian Bogor. Cara Pembuatan Simplisia. Penuntun Praktikum Fitokimia. Tim Penyusun. Diakses dari www. Diakses dari www. 2008. Makassar : Universitas Hasanuddin. Jakarta : Depkes RI 2. Diakses tanggal 10 Mei 2011 Anonim. Prinsip Ekstraksi.

Kisman. A. 27. Kimia Fisika untuk Paramedis. Conners. Makalah. Kimia Farmasi Analisis. Anonim. dkk. 23. Kromatografi. G. Pustaka Pelajar. 2007.K.Rahmah. Sastro . Teyler. 25.ddk . M. 2009. Cet. Roth.E.1988. Diakses dari www. Kromatografi.Pharmacognosy. Makassar : FFUH.al. 1986. 1998. Kromatografi Kolom. Ekstraksi. Bobbit.15. Analisis Farmasi. Dasar Kromatografi Cair. Arthur E. Hostettmann. K. 2009. Yogyakarta : Graha Ilmu.187 – 188. Yogyakarta : Penerbit Andi 18. Abdul Rahman.wiropharmacy kuliah/ekstraksi. Roy J. Analisis Farmasi. Bandung : Penerbit ITB. Hostettmann. Rohman. Skripsi : Aktivitas Antiplasmodium Fraksi Non Polar Ekstrak Etanol Rimpang Temu Mangga. Bandung: Penerbit ITB 22. Pharmaceutical Analysis Solvent Extraction. Gandjar. James M. Cara . 1991. 2009.chem-istry. Yogyakarta. Gritter.A. Gadjah Mada University Press 21. Kromatografi Preparatif.et.1994. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press 26. 1991. Diakses dari http://www. 2. Hermann J. S.. Surakarta : Universitas Muhammadiah Fakultas Farmasi 24. Estien.9th Edition. Dikutip dari Kromatografi Makalah journal. Kromatografi Cepat Sebagai Cara Fraksinasi Ekstrak Tanaman. 2008. 17. 20. Kromatografi Untuk Analisis Obat. Anonim. Renalitha Devri.org. Yogyakarta. Marston. Ibnu Gholib. Yazid. Adriana. Diakses tanggal 14 November 2011 28. Abdul.com. 2008. Soediro. 19. Phiadelphia : Lea &Febiger. Edward. Johnson.V.. Pengantar 29. Acta Pharmaceutica Indonesia. 1995. 2005. Bandung : Penerbit ITB. Meronda. I. Diakses tanggal 10 Mei 2011 16.

Harbone. A.30. 2009. Schwarling. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Terbuka.. ed. Potensi Obat dari Laut Nusantara.. New York : L Elsevier Ltd .M. 42. E. Skripsi Uji Aktivits Penangkap Radikal Isolat A&B Fraksi IV Ekstrak Etanol Daun Dewandu dengan Metode DPPH. Skripsi : Uji Aktivitas Penangkap Radikal Isolat A & B Fraksi IV Ekstrak Etanol Daun Dewandru dengan Metode DPPH. Universitas Sumatera Utara. J. Gritten. Ke-6. Mondello.J. Jakarta: UI Press. 34. Thin Layer Chromatography : A Modern Practical Approach. Anton Timur. Soediso. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopik. dkk. Saud. Jakarta. Radmawinata dan I. 2009. Italy : John Wiley&Sons Ltd.. S. penerbit ITB.M. 36. Medan. Stahl. R. Wilson. 33. Surakarta : FF UNISMUH 31. 1991. Kandungan Organik Padmawinata. 37.b: Kosasih Padmawinata dan Iwang Sudiro.. terjemahan K. 1985. K. and A. Saad. Semarang. Soediso. 5-9. 2008. Robinson. Metode Fitokimia: Penuntun cara modern menganalisis tumbuhan. 35. United Kingdom :Royal Society of Chemistry 32. 39. Makalah: Peran Ilmu Kelautan dalam Pembangunan Indonesia. 1991. 2002.. 1985. et al. Luigi. Lenny. M.B. Bobbit. Kimia Organik Bahan Alam. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. 40. Surakarta : FF Universitas Muhammadiah Surakarta 38. Senyawa Terpenoida dan Steroida. J. Multidimensional Chromatography. Handbook of Methods and Instrumentation in Separation Science. Konsep Dasar Kimia Analitik. 2006. a. Bandung.E. Arifin. Bandung. Muh. terbitan kedua. R. 1987. Bandung. Tumbuhan Tinggi. penerbit ITB. Smith. ITB. 2010. ITB Bandung. Khopar. Pengantar Kromatografi . S.. Mulz. Ian D. 41. 3-18. terjemahan K. T. Radmawinata dan I. 2009..

F. 2011. Isolasi Alkaloid dari Tepung Gadung dengan Teknik Ekstraksi Berbantu Gelombang Mikro. Diakses dari http://chemistry35. Heftmann.org/materi_kimia/kimia_dasar/pemurnian-material/metodapemisahan-standar/.J. Isolation and Structure Elucidation of Secondary Metabolites from Marine Spons and a Marine-derived Fungus.43.html.html. Bioactive Marine Natural Products. Journal of Chromatography Library Volume 22A. Diakses pada tanggal 30 November 2011 : 46. Chromatographic Methods. Semarang : Undip 48. Susilo Tri. 2005. Atmojo.com/2011/08/proses_rekristalisasi. Kromatografi Lapis Tipis. Bhakuni and Rawat. Proses Rekristalisasi. Diakses pada tanggal 5 Desember 2011 49. P. Hartati. A and Smith. 1999.com/2010/06/klt-kromatografi-lapis-tipis-tlcthin. Düsseldorf. New York : L Elsevier Ltd 44. Diakses dari http://lansida. Diakses tanggal 4 Desember 2011 50. Netherlands : Kluwer Academic Publishers 45. 2009. 2010. Diakses dari http://www. Proksch. 1983. Pemurnian. E. Indah. New Delhi : Anamaya Publisher 47. 2005. Anonim. .chemis-try. Braithwaite. Takeuchi Yoshito..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->