H.E.

SEMEDI

SEBUAH IJTIHAD

1984

Dicetak oleh Percetakan Sabdodadi, Jakarta.

Kata Pendahuluan
BISMILLAAHIRRAAMAANIRRAHIM Seorang ulama besar Islam, Sayyid Jamaluddin Al-Afghani, yang lahir di Afghanistan tahun 1839 dan meninggal di Turki tahun 1897 Masehi, pernah menulis: Sebenarnya Al-Quran ini masih perawan! Para ahli tafsir belum lagi meresapi serta menyelami lubuknya yang unik serta maha dalam. Mereka hanya baru “menjamah dan menyentuh-nyentuh” tubuh bagian luar dari Al-Quran. Selain itu, dalam Al-Quran banyak ayat yang mewajibkan umat manusia merenungkan isi Al-Quran, seperti misalnya ayat Q. 38:29 (= Surat 38 ayat 29), yang berbunyi:

Ini sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran. Juga para pemimpin agama negara kita sejak dahulu sampai sekarang sering menyerukan agar umat Islam suka mempelajari isi Al-Quran untuk menggali ajaran-ajaran dan rahasia-rahasia yang masih terpendam dalamnya. (Bahkan dalam Surat Kabar BERITA BUANA tertanggal 11 Agustus 1983 diberitakan bahwa Bapak Menteri Agama RI pada Dies Natalis IAIN Syarief Hidayatullah, Jakarta, tanggal 9 Agustus 1983 menyerukan agar para sarjana Islam selalu berbuat ijtihad, berpikir untuk menemukan gagasan-gagasan dan pandangan baru tentang perincian dan cara pelaksanaan ajaran-ajaran dasar serta prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al-Quran.) Sehubungan dengan hal-hal di atas, saya, seorang Muslim, telah berusaha mempelajari pelbagai buku terjemahan Al-Quran sambil berijtihad, dan, di luar dugaan, menemukan suatu ajaran mendasar yang menurut penafsiran dan penalaran saya bertentangan dengan pandangan umum umat Islam sekarang. Adapun penemuan yang saya maksud adalah paham reinkarnasi dalam arti bahwa setelah bangkit di alam gaib tak lama setelah meninggal dan hidup di sana selama suatu masa waktu (hidup akhirat), manusia akan dilahirkan atau diciptakan kembali ke dunia - sebagai bayi manusia, melalui rahim seorang ibu tanpa harus menunggu dahulu tibanya apa yang dinamakan akhir dunia, akhir zaman, atau “hari kiamat”. (“Reinkarnasi” berarti “ulangan inkarnasi”, dan “inkarnasi” berasal dari kata Latin incarnatio, dan berarti “penjelmaan” atau “hal menjadi manusia”. Kata kerjanya adalah incarnare atau incarno, yang terdiri dari unsur kata in (“dalam”) dan caro atau carnis (“daging”), dan berarti “menjadi daging”, “menjelma”, atau, dengan terjemahan bebas, “dilahirkan”.) Kata “daging” di atas terdapat pula sehubungan dengan penciptaan atau kelahiran manusia dalam Kitab Injil, Yohanes 3:6, yang berbunyi: Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah Roh. dan dalam Al-Quran ayat Q. 23:14:

Kemudian Kami jadikan tetes (mani) itu suatu bekuan; kemudian Kami jadikan bekuan itu gumpalan; kemudian Kami jadikan gumpalan itu tulang-belulang; kemudian Kami bungkus tulang-belulang itu dengan daging; dan kemudian Kami keluarkan dia sebagai ciptaan lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Terbaik. (Catatan: Reinkarnasi harus dibedakan dari metempsychosis atau transmigration, suatu kepercayaan dalam agama Hindu yang mengatakan bahwa ruh manusia yang telah meninggal dapat bereinkarnasi dalam tubuh binatang.) Pernyataan saya bahwa Al-Quran pun mengajarkan paham reinkarnasi pasti merupakan suatu hal yang baru bagi kebanyakan orang, baik mereka orang Muslim, orang Kristen, orang Budha, ataupun Hindu, sebab belum pernah ada seorang Muslim Indonesia yang berhasil mempermasalahkan hal reinkarnasi secara meluas dan terbuka, meskipun usaha ke arah itu pernah ada. Konon, dalam tahun 1973, pernah diterbitkan sebuah terjemahan Al-Quran dengan nama “Quraan Agung” yang disusun oleh Bapak S. Suryohudoyo dari kota Yogyakarta. Di dalamnya diterangkan berdasarkan Surat Al-Baqarah ayat 28 bahwa reinkarnasi itu ajaran Islam juga. Sayang sekali, buku itu tidak dapat beredar terus. Karena itu, jika sekarang muncul lagi seorang Muslim - penulis adalah seorang Muslim Indonesia sejak lahir, dan pernah naik haji - yang mengumumkan secara tegas bahwa Al-Quran benar-benar mengandung ajaran reinkarnasi dalam arti yang saya singgung di atas, maka kelancangan itu mudah dianggap sebagai suatu khurafat atau tindakan bid’ah yang tiada taranya. Atas kelancangan yang terpaksa itu saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada anda sekalian, khususnya kepada para alim ulama. Penemuan di atas telah saya sampaikan kepada Pemerintah Indonesia c.q. Bapak Presiden dan Bapak Menteri Agama dalam tahun 1974 (dan juga kepada kedua Menteri Agama berikutnya dalam tahun 1982 dan 1983) dan kepada pelbagai badan keagamaan Islam dalam negeri maupun luar negeri, seperti misalnya MUI (Majelis Ulama Indonesia) di Jakarta dan Bandung, Pusat Dewan Mesjid Asia dan Pasifik di Jakarta, Al Azhar University di Mesir, Rabithah Alam Islamy di Mekkah dan Jakarta, pelbagai IAIN di Indonesia, dan berpuluh-puluh badan dan tokoh Islam lainnya, dengan permohonan kesediaan beliau-beliau untuk memeriksa atau memeriksakan kebenaran penemuan itu. Sekarang saya menganggap perlu untuk menyampaikannya kepada khalayak ramai dalam bentuk buku, dengan harapan mudah-mudahan para pembaca berkenan ikut menelitinya. Keputusan untuk menerbitkan buku ini saya ambil setelah saya mempertimbangkan pelbagai faktor secara mendalam, karena penemuan reinkarnasi ini benar-benar memberatkan hati saya. Meskipun saya merasa amat bersyukur kepada Allah s.w.t. yang telah mengizinkan saya menemukan ajaran itu dalam Al-Quran, dalam menghadapi khalayak ramai saya tidak merasa bangga. Bahkan sebaliknya, saya merasa sedih, merasa bersalah, dan merasa cemas, karena dalam hal ini saya harus berlainan pendapat dengan para alim ulama yang saya segani, sedangkan saya hanyalah orang biasa. Tapi apa daya, Al-Quranlah yang seakan-akan mendorong saya mengumumkan penemuan itu, dengan segala risikonya. Saya telah berusaha keras meneliti ayat-ayat Al-Quran yang bersangkutan secara ilmiah ilmiah dalam arti berpegang teguh pada kejujuran intelektual, memperhatikan arti kata normal dari kata-kata setiap ayat yang saya teliti, tidak berplagiat, dan tidak pula membelok-belokkan arti kata, dengan iman kepada ayat-ayat Al-Quran sebagai dasar.

Seandainya ternyata saya mengada-ada, mereka-reka, membelok-belokkan arti kata dan makna ayat-ayat Al-Quran, tidak apalah anda menolak keterangan-keterangan dan pendapatpendapat yang bersangkutan itu. Tetapi, seandainya sebaliknya yang ternyata, yaitu seandainya saya tidak mengada-ada, tidak membelok-belokkan arti kata dan makna ayat-ayat Al-Quran yang saya bahas - sekalipun bertentangan dengan pendapat tradisional - maka saya harap agar keteranganketerangan dan pendapat-pendapat itu anda terima secara sportif dan ikhlas, setidak-tidaknya anda anggap sebagai hal yang mungkin benar. Ada baiknya bilamana sehubungan dengan itu saya meminjam kata-kata seorang Muslim besar, yaitu Imam Maliki, yang berkata: Saya hanyalah manusia. Saya dapat bersalah, tetapi saya dapat juga benar. Telitilah uraianuraian saya. Jika ternyata sesuai dengan Al-Quran dan perkataan Nabi, terimalah. Jika tidak, tolaklah. Saya amat sadar bahwa tulisan kontroversial ini akan mengundang pelbagai tantangan di kalangan umat Islam yang telah berabad-abad dibiasakan berpikir bahwa reinkarnasi itu bukan ajaran Islam, melainkan semata-mata Hindu dan Budha. Karena itu, mungkin sekali saya akan menghadapi banyak kesulitan dan tantangan hebat dari pelbagai pihak yang tidak setuju dengan gagasan saya ini dan menuding saya berusaha memasukkan ajaran asing ke dalam agama Islam. Tetapi kemungkinan itu merupakan suatu risiko yang harus saya hadapi dengan ikhlas dan pasrah, karena pengutaraan apa yang akan saya sajikan padu halaman-halaman berikut ini saya anggap sebagai suatu ibadah atau pengabdian diri kepada Allah s.w.t., suatu pengamalan pengetahuan, dan suatu usaha menegakkan kembali apa yang menurut keyakinan saya merupakan suatu Kebenaran Universal yang terkandung dalam Al-Quran. Terjemahan ayat-ayat Al-Quran dalam bahasa Indonesia yang terdapat dalam buku ini sebagian besar saya susun sendiri berdasarkan pelbagai terjemahan Al-Quran, baik yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Inggris dan Belanda. Kepada para penyusun terjemahanterjemahan itu saya merasa amat berhutang budi, karena tanpa karya-karya mereka tidak mungkin saya berhasil menyusun tulisan ini. Saya harap semoga penerbitan buku ini, meskipun kontroversial, akhirnya dapat memberikan sumbangan kepada kita sekalian dalam memupuk saling-pengertian dan kerukunan agama di antara suku-suku bangsa di dalam negeri - yang berarti pula penghayatan yang lebih mendalam mengenai Pancasila sebagai dasar negara - dan di antara bangsa-bangsa dengan agama-agamanya yang beraneka ragam di seluruh dunia. Amiin, ya Robbal ‘alamin. Jakarta, April 1984 Rajab 1404 H

H.E. Semedi Catatan: Seperti lazim dilakukan dalam buku-buku agama Islam lainnya, dalam buku ini pun ayat-ayat Al-Quran kadang-kadang tidak dikutip dalam keseluruhannya, oleh karena kalimat atau anak kalimat yang tidak dikutip itu saya anggap tidak dibutuhkan dalam hubungan pokok yang sedang dibahas, atau demi efisiensi, agar para pembaca dapat lebih baik memusatkan perhatiannya kepada apa yang mereka baca; jadi bukan untuk menyembunyikan/membelokkan suatu makna atau mengelabui pembaca. Tetapi, dalam hal demikian, saya akan selalu memberi tanda “...”, agar para pembaca dapat mengeceknya lebih lanjut dalam Al-Quran.

DAFTAR ISI Bab Kata Pendahuluan I. Dilemma Seorang Muslim II. Penafsiran Al-Quran III. Ayat-ayat mengenai Reinkarnasi IV. Tentang Kata “Ajal” V. Ayat-ayat Lain yang Mengandung Ajaran Reinkarnasi VI. Penghisaban VII. Tentang Kata “Kiamat” VIII. Tentang “Alam Barzakh” IX. Serba-serbi A. Mungkinkah Komunikasi dengan Orang-orang yang Telah Meninggal ? B. Perubahan Identitas C. Perihal Kata Arab “Nafs” D. Tentang Kematian dan Alam Akhirat E. Kelahiran Kita bukan atas Kehendak Kita? F. Kesucian Anak yang Baru Lahir X. Sanggahan-sanggahan terhadap Reinkarnasi Sanggahan Pertama : Jika Benar ada Reinkarnasi, Mengapa kita tidak Ingat akan Masa Hidup Yang Lampau ? Sanggahan Kedua : Jika Tiap Orang merupakan Reinkarnasi dari Dirinya Sendiri, Mengapa Jumlah Penduduk Dunia Terus Bertambah ? Sanggahan Ketiga : Menurut buku Hidup Setelah Mati, Reinkarnasi tidak Ada Sanggahan Keempat : Reinkarnasi tidak Disebut-sebut dalam Al-Quran Sanggahan Kelima : Tiada Hadits yang Mengajarkan Reinkarnasi Sanggahan Keenam : Sanggahan tak Langsung : Penulis bukan Ulama XI. Sanggahan-sanggahan Pihak Resmi terhadap Reinkarnasi XII. Suatu Keraguan XIII. Falsafah Barat tentang Takdir XIV. Cintailah Sesama Manusia XV. Tuhan Yang Maha Pengampun XVI. Doktrin Reinkarnasi dalam Agama Kristen dan Yahudi XVII.Bukti-bukti Penunjang Bacaan Biodata

I Dilemma Seorang Muslim
Al-Baqarah ayat 42:

Dan janganlah kamu campur adukkan yang benar dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang benar itu, sedang kamu mengetahuinya.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa di negeri kita ini Al-Quran dalam bentuk aslinya (dalam bahasa Arab) merupakan salah satu kitab yang paling banyak dimiliki, yang paling sangat dimuliakan, yang paling sering dihafal, akan tetapi yang bacaannya paling sedikit dipahami. Gejala terakhir ini bukan disebabkan oleh karena kurangnya minat di kalangan Islam untuk mempelajari agamanya, melainkan oleh karena sukar sekali untuk memahami bahasa Arab setidak-tidaknya bagi kita, orang awam Indonesia yang belum pernah mempelajari bahasa Arab, seperti penulis misalnya. Memang benar terjemahan-terjemahan Al-Quran sangat menolong kita dalam usaha memahami isinya, akan tetapi oleh karena kalimat-kalimatnya umumnya sangat musykil dan sering kali sulit dipahami, maka kebanyakan orang Muslim - saya tidak berbicara tentang para ulama Muslimin dan para alumni Perguruan Tinggi Islam yang pandai berbahasa Arab - lebih suka mempelajari agama dari tangan kedua, misalnya dari guru-guru agama atau buku-buku pelajaran agama, daripada mempelajarinya sendiri dari terjemahan Al-Quran secara langsung. Kebanyakan orang mempergunakan terjemahan Al-Quran hanya sebagai referensi saja, untuk mencari ayat-ayat tertentu yang ingin mereka teliti lebih lanjut. Ketika masih muda, saya, selaku seorang Muslim, amat berhasrat untuk mempelajari agama Islam langsung dari sumbernya, yaitu Al-Quran. Untuk maksud itu, saya pergunakan terjemahan Al-Quran yang berbahasa Indonesia. Sayang sekali, saya selalu gagal dalam melaksanakan iktikad baik saya itu. Tiap kali saya mulai dengan usaha itu, setiap kali itu pula saya terpaksa menghentikannya karena terbentur kepada kesulitan-kesulitan yang saya temui bila saya mencoba memahami isinya. Menurut hemat saya ketika itu, bahasa Indonesia yang dipergunakan untuk menerjemahkan Al-Quran sangat kaku karena terpengaruhi oleh gaya bahasa Arab. Hal itu tidaklah mengherankan karena menurut para ahli bahasa pun, Al-Quran asli tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun tanpa “kehilangan simfoninya, yang dapat membuat orang menangis dan bergembira”. Ketika meningkat dewasa, saya mulai lagi dengan usaha mempelajari Al-Quran. Kali ini saya mencobanya dengan mempergunakan sebuah terjemahan Indonesia yang dibubuhi anotasi atau catatan. Tetapi, dengan perasaan sedih, kali ini pun harus saya akui bahwa saya tidak mampu meneruskan usaha baik itu. Kemudian saya pergunakan buku terjemahan lain. Kali ini pun saya gagal. Akhirnya terpaksalah saya tinggalkan usaha mulia itu. Usaha mempelajari agama Islam secara langsung dari sumbernya, terjemahan Al-Quran, saya mulai lagi dalam tahun 1957 ketika saya membeli buku terjemahan Al-Quran berbahasa Inggris, The Glorious Koran, susunan Mohammed Marmaduke Pickthall, seorang Muslim berkebangsaan Inggris, yang dalam prakatanya menyatakan bahwa terjemahannya dibuatnya seharfiah dan seteliti mungkin.

Anehnya, meskipun praktis tidak beranotasi, buku itu sangat menarik bagi saya, sebab baru kali itulah saya dapat menangkap makna ayat-ayat Al-Quran secara agak memuaskan, jauh lebih memuaskan daripada bila membaca terjemahan yang berbahasa Indonesia. Pernyataan ini mungkin agak sombong kedengarannya, tetapi demikianlah adanya; saya hanya ingin menceriterakan keadaan sebenarnya. Saya tahu bahwa terjemahan Al-Quran dalam bahasa Inggris pun tidak mungkin dapat dianggap seluruhnya tepat, tetapi bagaimana pun juga, dengan tata bahasanya yang konsisten dan teratur, buku yang baru saya beli itu sangat membantu saya dalam memahami isi Al-Quran. Sejak saat itu, buku terjemahan termaksud menjadi teman saya yang setia dalam setiap saat senggang. Makin banyak saya pelajari, makin menariklah buku itu. Baru ketika itulah saya mempelajari Al-Quran secara sungguh-sungguh. Tiap kali saya membacanya, saya selalu merasakannya sebagai sumber inspirasi baru. Tidak ada bosan-bosannya. Pada suatu hari, ketika meneliti sebuah ayat mengenai hidup dan mati, saya agak tertegun, sebab ketika itu saya merasa menemukan sesuatu yang saya anggap sebagai reinkarnasi, meskipun hal itu tidak dinyatakan dengan jelas. Saya baca ayat itu beberapa kali, sekarang lebih teliti dan lebih kritis. Ayat yang bersangkutan tetap memberikan konotasi (pengertian) yang sama. Menurut pengertian saya, kata-kata yang saya baca ketika itu jelas dan terang menunjukkan ajaran reinkarnasi. Terheran-heran, saya ambil Al-Quran terjemahan Indonesia, lalu membaca ayat yang sama. Baik ayat yang berbahasa Inggris maupun yang berbahasa Indonesia sekarang ternyata memberikan pengertian yang sama, yaitu menunjukkan reinkarnasi. Tiada keraguan dalam hal itu. Tetapi ..., protes saya dalam hati, bagaimana mungkin Al-Quran berisikan ajaran reinkarnasi, sedangkan para ulama Muslimin dan guru-guru agama saya selalu mengatakan bahwa reinkarnasi bukan ajaran Islam? Secara jujur dan taat, saya selalu percaya kepada apa yang mereka ajarkan kepada saya: bahwa reinkarnasi bukan ajaran Islam. Tetapi, apa yang saya baca sekarang? Apa saya tidak salah lihat? tanya saya dalam hati, berkali-kali, penuh keheranan. Dalam buku-buku pelajaran mengenai agama Islam, belum pernah saya temukan ajaran yang mengatakan bahwa dalam Islam terdapat ajaran mengenai reinkarnasi. Justru sebaliknya yang sering terjadi. Para ulama Islam selalu mengajarkan bahwa reinkarnasi dalam arti kelahiran kembali secara fisik ke dunia bukanlah ajaran Islam, melainkan ajaran Hindu dan Budha. Memang sering mereka menyinggung soal kelahiran kembali, tetapi selalu dalam arti “kelahiran kembali di akhirat untuk tinggal di sana selama-lamanya,” atau dalam arti “kebangkitan kembali secara mental atau rohani”. Karena saya sendiri hanyalah seorang awam dalam bidang agama, yang belajar agama hanya dari ceramah-ceramah agama dan buku-buku pelajaran agama, saya dengan sendirinya percaya begitu saja kepada apa yang mereka katakan. Para alim ulama tentu tidak akan membuat kesalahan yang fundamental demikian, pikir saya, karena itu pasti sayalah yang salah tafsir. Dan sebagaimana layaknya bagi seorang Muslim yang berusaha taat, saya ketika itu pun berhasil meyakinkan diri bahwa karena kebodohan saya salah tafsir. Memang benar saya sering menganggap diri sendiri sangat kritis itu pun hanya dalam hati saja, tanpa menyatakan kritikan itu dengan kata-kata atau sikap - dan memang benar saya tidak selalu setuju dengan apa yang dikhotbahkan dalam mesjid-mesjid dan diceramahkan dalam pengajian-pengajian; tetapi untuk mengakui reinkarnasi? Wah, tunggu dulu, itu tidak! Itu di luar batas! Itu akan terlalu bertentangan dengan akidah dan kaidah Islam! Pasti saya akan dicap sebagai seorang bid'ah, sebagai seorang munafik, sebagai seorang zindik, bahkan mungkin sebagai seorang murtad, bila diketahui orang bahwa saya, seorang Muslim, percaya akan reinkarnasi. Tetapi, tersebar di seluruh Al-Quran, saya dapati lagi banyak ayat yang menurut hemat. saya menunjukkan reinkarnasi, dengan kata-kata yang jelas maupun yang samar-samar. Tiap kali saya menjumpai ayat demikian, selalu timbul pikiran dalam hati saya, “Wah, reinkarnasi lagi!” Tetapi tiap kali saya selalu berhasil meyakinkan diri bahwa saya salah tafsir.

Pertentangan batin demikian berlangsung berulang-ulang selama beberapa tahun. Di satu pihak, saya ingin berkeyakinan lebih dalam mengenai agama Islam, ingin memperoleh pengertian lebih baik mengenai eksistensi hidup; di pihak lain, saya terus-menerus diganggu oleh perasaan bersalah karena mulai tumbuhnya kepercayaan dalam diri saya akan suatu doktrin yang konon bertentangan dengan akidah dan kaidah Islam, dan dengan demikian saya merasa kurang patuh kepada pimpinan para ulama yang saya hormati. Menurut pengertian saya, terdapat banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang secara positif memperkuat dugaan saya mengenai adanya reinkarnasi dalam Islam, sehingga saya tidak dapat bersikap acuh tak acuh lagi. Cerita-cerita pendek dalam majalah-majalah yang bertemakan reinkarnasi dan pengetahuan saya bahwa agama Budha dan agama Hindu mengajarkan doktrin itu membuat saya bertanya-tanya, apakah mungkin reinkarnasi itu merupakan suatu ajaran universal yang direstui Tuhan? Bukankah Al-Quran sendiri menyatakan bahwa ia mengukuhkan apa yang telah disampaikan oleh Tuhan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w.? Terdorong oleh pemikiran demikian dan oleh mulai tumbuhnya keinginan untuk ikut mempertahankan Kebenaran-kebenaran Tuhan, saya lebih sungguh-sungguh lagi mempelajari Al-Quran. Semua ayat yang saya anggap berkenaan dengan ajaran reinkarnasi saya kumpulkan, saya analisa, dan saya renungkan. Selama berbuat demikian, kepercayaan saya akan keotentikan doktrin itu makin bertambah, dan dengan bertambahnya kepercayaan itu, bertambahlah pula kebimbangan saya. Saya merasa bahwa kepatuhan saya kepada akidah Islam yang sudah umum diterima oleh seluruh umat Islam berkurang, yaitu akidah yang menyatakan bahwa dalam Islam tidak ada ajaran reinkarnasi dalam arti kelahiran kembali secara fisik ke dunia. Apapun yang saya usahakan untuk menekan bertambahnya kepercayaan baru itu dan mencari kelemahan-kelemahan di dalamnya, saya selalu kembali kepada kesimpulan bahwa doktrin reinkarnasi benar-benar merupakan ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Quran. Suatu ajaran yang bukan saja merupakan ajaran agama Budha atau agama Hindu, melainkan ajaran semua agama di seluruh dunia: suatu ajaran yang universal. Ketika itu, timbul perasaan bahwa tidak mengindahkannya berarti menutup mata terhadap suatu ajaran Ilahi yang pokok. Dan berbuat demikian amat bertentangan dengan hati nurani saya. Kepercayaan saya akan benarnya penafsiran para fakih dan ulama Islam tentang ayat-ayat yang bersangkutan mengalami erosi, dan kepercayaan saya akan Al-Quran sebagai pengukuhan ajaran agama-agama terdahulu makin bertambah. Lalu timbullah suatu pikiran yang agak bersifat memberontak. Tidakkah mungkin bahwa para ulama dan para fakih kitalah yang menyalah-tafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang bersangkutan? Betapa pun cerdas mereka, dan betapa pun luasnya pengetahuan mereka mengenai agama Islam, mereka hanyalah manusia biasa belaka, manusia yang tidak maha tahu dan tidak sempurna. Mereka bukanlah nabi. Nabi Muhammad s.a.w. sendiri dengan jelas dan gamblang menyampaikan kepada para pengikutnya wahyu-wahyu Tuhan yang berbunyi, “Allah menghidupkan kamu; kemudian Ia akan mematikanmu, kemudian menghidupkanmu kembali”. “Setelah kamu dikembalikan ke dalam tanah, Ia akan menghidupkanmu lagi, suatu penciptaan baru”; dan banyak ajaran lain lagi yang senada, yang semuanya, jika ditafsirkan secara normal, tanpa dibelok-belokkan artinya, mau tak mau menunjukkan penciptaan atau kelahiran kembali manusia ke dunia. Saya protes dalam hati, mengapa kita harus menafsirkan kalimat-kalimat itu dengan makna yang menyimpang dari biasa? Bukankah kalimat-kalimat itu secara gamblang menunjukkan adanya kelahiran kembali atau apa yang dinamakan orang sekarang reinkarnasi? Salahkah jika saya lebih percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang menyampaikan ajaran-ajaran tadi, daripada kepada guru-guru agama dan para ulama lainnya yang mengajarkan bahwa kita hidup di dunia ini hanya satu kali saja? ... Tidak, pikir saya, saya tidak salah. Saya tidak menentang salah satu pasal dari Arkanul Iman, jika saya juga percaya akan reinkarnasi. Tidak ada ayat dalam Al-Quran sebuah pun yang menyatakan bahwa kita harus percaya kepada hanya keenam pasal Arkanul Iman itu, atau kepada

ajaran para ulama yang menyatakan bahwa manusia hidup di dunia hanya sekali saja. Tidak pula percaya kepada reinkarnasi itu berarti bahwa saya secara otomatis pindah ke agama lain. Saya tetap orang Muslim. Saya hanya ingin mempergunakan akal pikiran saya sendiri tanpa bertaklid; ingin taat kepada hati nurani saya; ingin menerima apa yang tersurat dan tersirat dalam Al-Quran tanpa mencoba-coba menyesuaikan maknanya dengan konsepsi-konsepsi tradisional. Saya hanya mengakui apa yang disampaikan Tuhan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad s.a.w. dan para nabi lainnya, tanpa membelok-belokkan artinya atau memanipulasikan kata-kata. Nabi Muhammad s.a.w, sendiri pernah bersabda: Mintalah fatwa kepada hatimu, meskipun orang lain telah memberimu fatwa, meskipun orang lain telah memberimu fatwa, meskipun orang lain telah memberimu fatwa. Bukankah perkataan berulang-ulang itu merupakan anjuran sangat dari Nabi kita agar kita mempergunakan akal pikiran sendiri bila menemukan fatwa atau ijtihad yang kebenarannya kita sangsikan? Demikianlah protes mental saya. Keyakinan yang tadinya goyah pulih. Mungkin saya benar, pikir saya. Nabi Muhammad s.a.w. tidak melarang kita mempergunakan akal pikiran sendiri, sekalipun di bidang agama, bila ada alasan untuk meragukan kebenaran suatu ajaran. Beliau menjamin hak perbedaan pendapat dalam soal-soal agama. Meskipun sudah bulat hati demikian, sering saya bertanya-tanya kepada diri sendiri apakah saya tidak berlebih-lebihan dalam keyakinan saya ini. Para ulama sering mengkhotbahkan bahwa syaitan mempunyai pelbagai cara untuk mengelabui atau mengorbankan mangsa-mangsanya. Bunyi ayat Q. 35:8:

Apakah orang yang perbuatan jahatnya dibuat nampak baik - sehingga ia mengiranya baik (bukan korban syaitan)? ... Itukah yang sedang kualami sekarang? Yaitu syaitan sedang mengelabuiku? tanya saya dalam batin. Ingatan kepada syaitan demikian membuat saya lebih banyak mohon ampun dan perlindungan Tuhan dalam shalat saya. Keragu-raguan dan perjuangan batin yang saya gambarkan tadi berubah lagi menjadi keyakinan ketika dalam bulan September 1973 saya membaca sebuah buku yang berjudul A World Beyond, tulisan seorang wartawati Amerika, Mrs. Ruth Montgomery, yang menceritakan bahwa melalui séance (pertemuan untuk mencoba berhubungan dengan ruh orang yang telah meninggal) secara tulisan otomatis paranormal ia dihubungi oleh seorang temannya, Arthur Ford, yang baru saja meninggal dunia. Ketika masih hidup, temannya itu seorang rohaniawan Kristen yang, karena ternyata memiliki bakat atau kemampuan paranormal, kemudian menjadi seorang medium dan psychometrics (orang yang secara paranormal dapat mengetahui di mana seseorang berada, hanya dengan memegang benda milik orang tersebut belakangan itu). Melalui tangan Nyonya Montgomery, bekas-pendeta itu menulis dengan mesin tik bahwa setibanya di alam ruh, ia memperoleh banyak pengalaman dan pengetahuan mengenai keadaan lingkungannya yang baru itu, dan ia ingin sekali menyampaikan pengalaman dan pengetahuannya itu kepada orang-orang yang masih hidup, agar mereka pun dapat menarik manfaat daripadanya. Antara lain, ia menegaskan bahwa reinkarnasi itu merupakan hukum universal yang berlaku untuk setiap orang, terlepas daripada apakah kita percaya atau tidak. Seperti kita maklum, doktrin reinkarnasi itu sebenarnya tidak diakui oleh Gereja Kristen. Tetapi bekas-pendeta ini percaya!

Meskipun demikian, sewaktu-waktu timbul saat di mana saya merasa diri dihadapkan kepada suatu dilemma. Rasa tak mampu dan rasa kurang percaya kepada diri sendiri di satu pihak, dan keinginan ikut serta dalam pembangunan spiritual di pihak lain, membuat saya ragu-ragu dan cemas. Di samping itu, saya merasa takut disangka sok tahu dan mau mengungguli para ahli agama. Saya yakin penemuan saya itu benar, dapat dipertanggungjawabkan, bukan hal yang diilhami syaitan, dan sama sekali tidak bertentangan dengan isi Al-Quran; tetapi saya tidak yakin saya akan dapat meyakinkan orang lain akan kebenaran pendapat saya itu. Beberapa hari sebelum saya mulai menulis buku ini, ketika berada di lapangan tenis, dengan ragu-ragu saya secara iseng bertanya kepada seseorang yang agak lebih tua daripada saya dan saya tahu amat rajin mengikuti pengajian-pengajian, “Mas, bagaimana pendapat Mas ... mengenai reinkarnasi?” Agaknya hari itu hatinya tidak dalam keadaan tenang, karena dengan singkat ia menyahut, “Kalau you orang Muslim, you tidak akan bertanya tentang itu. Reinkarnasi? Nonsens!” Seorang lagi yang pada kesempatan lain saya tanyai, juga seorang yang amat saleh, menjawab, “Tidak, Islam tidak mengakui adanya reinkarnasi.” Lalu ia memberikan uraian singkat tentang proses hidup dan mati yang saya sendiri telah hafal sejak kecil, yaitu: lahir - mendewasa menua - mati - dikumpulkan di padang mahsyar - dan akhirnya neraka atau surga yang kekal dan abadi. Orang-orang lain yang juga saya tanyai mengenai hal yang sama menasihati saya supaya soalsoal agama saya serahkan saja kepada para ulama, yang dengan sendirinya tentu lebih ahli daripada kita orang awam. Seandainya saya tidak mempelajari Al-Quran selama belasan tahun belakangan itu meskipun secara independen (tanpa guru) dan tidak sistematis - penemuan reinkarnasi itu tidak akan begitu memusingkan saya; dengan mudah saya akan dapat menyimpannya dalam hati sanubari untuk kepentingan dan pengetahuan pribadi. Tetapi dengan telah meningkatnya umur, saya berkeyakinan bahwa yang penting dalam hidup ini bukanlah ilmu pengetahuan belaka, melainkan apa yang kita amalkan dengan ilmu pengetahuan itu; bahwa ilmu tidak akan bermanfaat jika tidak diamalkan untuk kepentingan orang lain. Bahkan, pikiran saya ketika itu, saya akan amat menyesal seandainya saya meninggal tanpa menyampaikan penemuan yang amat penting itu kepada saudarasaudara seagama terlebih dahulu. Menurut Imam Al-Ghazali, seorang agamawan Muslim terkenal yang hidup dalam abad kesebelas tahun Masehi, Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut: Barangsiapa berilmu, tetapi tidak mempergunakan ilmunya, akan mendapat siksaan yang hebat pada Hari Kiamat. Sebuah hadits lain berbunyi: Barangsiapa menyembunyikan ilmunya, akan dikekang dengan api neraka oleh Tuhan. Kutipan-kutipan di atas memperkuat pendirian saya dalam problema yang sedang saya resahi, meskipun pada saat-saat tertentu selama membuat naskah ini saya bertanya-tanya dalam hati, “Apa? Saya memintari para ulama? Memintari Bapak ..., Bapak ..., Bapak ..., Bapak ... ?” Dan terbayanglah beberapa wajah di depan mata saya; wajah para ulama terkenal di ibukota yang sering muncul di televisi, ulama-ulama yang selalu saya kagumi karena pengetahuannya yang amat luas mengenai Islam, bapak-bapak yang jauh lebih tinggi derajatnya daripada saya dalam soal ilmu dan kesalehan, dalam soal kefasihan lidah dan kepandaian meyakinkan - sifat-sifat berharga yang sama sekali tidak saya miliki. Saya bukanlah seorang pemberani; kemungkinan bahwa penyebaran gagasan saya ini dapat mengakibatkan saya berkonfrontasi dengan orang-orang atau badan-badan yang menghukum segala sesuatu yang tidak sesuai dengan pendapat mereka sebagai bid'ah membuat jantung saya berdebardebar tak menentu. Saya merasa bukan apa-apa bila dibandingkan dengan para alim ulama. Mengoreksi pendapat mereka adalah menggelikan, melampaui batas kesopanan.

Meskipun bimbang demikian, saya merasa bahwa saya tidak dapat melepaskan diri dari rasa “tanggung jawab” saya tanpa menyesal untuk selama-lamanya, seandainya saya tidak berusaha mengumumkan penemuan saya ini. Kedua hadits di atas amat jelas artinya. Saya anggap ajaran reinkarnasi yang saya temukan (kembali) itu sebagai Kebenaran universal yang amat pokok, suatu Kebenaran yang patut diketahui oleh semua orang yang berpikir; suatu Kebenaran yang dapat dipakai sebagai pedoman hidup; suatu Kebenaran yang dapat merombak cara berpikir umat beragama secara revolusioner. Suatu soal yang merisaukan hati saya pula ialah apakah persoalan reinkarnasi ini tidak akan menjadi bahan pertikaian di antara saudara-saudara sesama Islam? Tidak semua Muslimin akan menyambut gagasan ini dengan baik, betapa pun jujurnya iktikad saya. Banyak di antara mereka yang akan gusar karena saya, seorang non-ulama, berani-berani campur tangan dalam suatu bidang yang bukan merupakan bidang saya. Sekali lagi, benar-benar saya merasa dihadapkan kepada suatu dilemma. Di satu pihak, saya merasa berkewajiban mempertahankan Kebenaran ini, demi Kebesaran Tuhan; di pihak lain, saya amat sadar bahwa mungkin saya disalahpahami, dan usaha saya untuk mempertahankan Kebenaran itu dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan. Mana yang akan saya pilih? Mengurungkan niat saya, lalu tetap jadi warganegara yang hidup tenang dan puas dengan diri sendiri, dan dengan demikian tidak memberi kesempatan kepada sesama manusia mengambil manfaat dari hasil jerih payah saya? Ataukah meneruskan usaha saya, tetapi dengan kemungkinan mempersulit diri sendiri dan menimbulkan perpecahan di dunia Islam? Saya tidak mengambil keputusan apa pun mengenai itu. Saya bekerja terus, menulis naskah ini, dengan susah payah - saya sama sekali bukan seorang yang berjiwa penulis atau berpengalaman menulis - dengan perasaan seolah-olah hidup tersendiri, tanpa seorang pun yang dapat saya mintai nasihat atau memberi saya nasihat. Saya tahu, tiada seorang pun yang akan bersedia mendengarkan gagasan seorang awam seperti saya ini; tetapi saya merasa, saya harus berbuat sesuatu untuk mengumumkan “penemuan baru” itu. Selama menyusun naskah, saya sadari saya sedang melakukan sesuatu yang boleh dikatakan mustahil; saya melawan arus; saya menentang pendapat berjuta-juta orang seagama. Di pihak lain, saya merasa bahwa dalam usaha saya, saya telah mencapai titik di mana tidak mungkin saya mundur. Saya merasa bahwa mengurungkan niat saya akan berarti saya meninggalkan tugas saya, sebagai manusia, terhadap Allah Maha Pencipta. Meskipun saya bukan seorang fanatik agama, saya ingin tetap taat kepada apa yang saya anggap sebagai tugas saya dalam masa hidup kali ini, dan kepada keyakinan bahwa saya sedang mengabdi kepada Tuhan. Pada suatu malam, ketika menghadiri suatu pengajian, Bapak Penceramah menyinggung soal reinkarnasi. Ia menamakannya suatu nonsens atau omong kosong yang menyesatkan, dan menyerukan agar kita membuangnya jauh-jauh. Beliau juga menyerukan agar para hadirin jangan mempermasalahkan takdir - untuk itu saya telah mempunyai konsepsi tersendiri yang lain daripada yang biasa dikhotbahkan orang - oleh karena, katanya, takdir itu di luar jangkauan akal pikiran manusia. Ketika itu, lebih-lebih saya sadari bahwa saya pasti akan mendapat tantangan hebat, terutama dari golongan agama. Lagi-lagi, semangat saya yang semula sudah tinggi itu mendadak menurun. Setelah itu, sulit sekali bagi saya untuk memulihkan kepercayaan pada diri sendiri. Dengan susah payah saya berusaha meyakinkan diri bahwa jika saya ingin mengabdi kepada Tuhan s.w.t. secara jujur, segala sesuatu harus saya kerjakan tanpa pamrih dan tanpa rasa takut. Secara otomatis, saya teringat kepada para sarjana dan para perintis dahulu yang dicemoohkan, dicaci maki, dan dikejar-kejar karena pendapat-pendapat dan keyakinan-keyakinannya yang berbeda dengan apa yang ketika itu dianut oleh yang berkuasa. Saya teringat kepada para mujaddid Islam dahulu yang telah berani mengemukakan tafsiran-tafsiran dan konsepsi-konsepsi yang ketika itu dianggap bid'ah oleh rekan-rekannya yang berkuasa. Saya teringat kepada Mansur Al-Halajj, yang dalam tahun 922

Masehi dibunuh oleh sesama Muslimin karena pernyataannya yang berbunyi “Ana al-Haqq”. Saya teringat kepada beberapa biarawan dan uskup Nasrani yang dikufurkan, dikucilkan, dianiaya, atau dibuang karena mengemukakan pendapat-pendapat yang berbeda dengan apa yang dianut Gereja. “Apa yang akan terjadi denganku?” tanya saya dalam batin. “Bijaksanakah aku jika aku menyebarluaskan keyakinanku dalam soal reinkarnasi ini?” Saya tak tahu. Saya hanya dapat berkata, “Hasbiyallaahu. (Cukup Allah bagiku.) KepadaNyalah aku beriman. Firman-firman-Nya yang kuimani. Dialah Maha Penilai. Aku bukan apa-apa di dunia ini. Aku hanyalah setitik noda debu di Alam Semesta. Pancasila adalah dasar negaraku.” Dengan penuh kepercayaan kepada isi ayat Q. 22:40 yang berbunyi:

... Sesungguhnya Tuhan menolong siapa yang menolong-Nya ... saya susun buku ini.

II Penafsiran Al-Quran
Seorang ulama Muslim terkenal di Indonesia, yang tidak akan saya sebutkan namanya, dalam salah satu artikelnya di surat kabar, pernah menulis, antara lain sebagai berikut:
“... Dalam pada itu semua kalangan yang berpegang teguh kepada Al-Quran dan As-Sunnah senantiasa waspada dan sangat berhati-hati di dalam memahami isi kandungan baik Al-Quran maupun As-Sunnah. Mereka sangat menghindari sejauh mungkin berbuat salah dalam mengartikan isi, makna, dan jiwa daripada Al-Quran.” Beberapa sinyalemen harus diperhatikan, di antaranya: 1. Dalam Al-Quran berpuluh-puluh dijumpai kata “iftiro” yang arti maknanya: membuat kebohongan besar. Yang dimaksud dengannya ialah, orang-orang yang melakukan kesalahan dalam mengartikan makna Al-Quran baik karena kebodohan mereka, sok merasa pintar, mengarang-ngarang menurut sesuka hati mereka, apa lagi sengaja memutar-balik arti yang sebenarnya. Mereka itu dikategorikan sebagai pembuat iftiro yang mendapat ancaman yang sangat berat. 2. Sabda Nabi Besar Muhammad s.a.w. “Jangan kamu tangisi tentang nasib Agama Islam jika masih diurus oleh ahlinya; tetapi menangislah kamu tentang nasib Agama Islam jika Islam diurus oleh orang yang bukan ahlinya (Riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim).” 3. Sabda Nabi Besar Muhammad s.a.w.: “Sesungguhnya di hari-hari zaman akhir akan muncul para pembohong (yang memalsu ajaran-ajaran Islam dari arti yang sebenamya)”. Hadits ini diberitahukan oleh seorang ahli Hadits terkenal ialah K.H. Hasyim Asy'ari dalam kitabnya “Ihyaa-u 'Amalil Fudlala”. 4. Sinyalemen Sayyidina 'Umar Ibnul Khath-thab Radliyallahu 'Anhu, yang artinya: “Orang-orang munafik berusaha merobohkan Islam dengan jalan menggunakan ayat-ayat Al-Quran” (untuk membuat interpretasi semaunya). Sumber pengambilan sama dengan sinyalemen no. 3 di atas. Mengingat hal-hal di atas ini, maka sepakatlah para ahli, bahwa memahami arti dan kandungan Al-Quran harus menempuh metode keilmuan tersendiri. Metode tersebut merupakan mata rantai dalam satu sanad (recline) yang berujung pada interpretasi yang pernah diberikan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Dalam hubungan ini, Siti 'Aisyah Radliyallahu 'Anha berkata: Nabi Muhammad s.a.w, bersabda: “Barang siapa mengada-ada kata-kataku padahal tidak pernah aku katakan, hal itu harus ditolak” (hadits shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).”

Selanjutnya beliau menulis:
“Al-Qur-an tidak mungkin difahami oleh orang awam. Orang awam tidak mungkin bisa menyentuh arti makna Al-Qur-an menurut yang sebenarnya. Beberapa faktor dari rahasia Al-Quran tidak bisa dijamin oleh pemikiran awam, misalnya mengenai bagian-bagian daripada Al-Qur-an yang bersifat khusus, umum, mutlak (absolute), muqayyad (limited), mujmal (compendium), mubayyan (to be clear or evident), nasikh (one who abolishes), mansukh (abolished) dan lain-lain.” Sebagaimana Al-Quran, As-Sunnah juga tidak mungkin bisa difahami oleh orang awam mengingat beberapa faktor jaminan mutlak dalam kandungan maknanya. Misalnya: karena faktor sanad (recline), rowi (relator-narrator), mutawattir (following in succession), ahad (rowi tunggal), muttashil (uninterrupted), dlaif, hasan, maudlu' (palsu), dan lain-lain ... Adalah menjadi suatu ethik dalam Dunia Islam, bahwa seseorang tidak boleh dihalang-halangi dalam kemerdekaan memilih madzhab mana pun yang disukainya. Dunia Islam juga sepakat, bahwa siapa pun boleh melakukan berijtihad setingkat dengan pekerjaan Mujtahidin asal memenuhi syarat-syaratnya sebagaimana yang dimiliki oleh para Mujtahidin angkatan pertama (menggali norma hukum langsung dari Al-Quran dan As-Sunnah tanpa menuruti jejak orang sebelumnya dan tanpa melakukan plagiat)...

Demikianlah kira-kira apa yang konon harus kita perhatikan selaku kaum Muslimin jika kita berusaha mempelajari dan menafsirkan sendiri ayat-ayat Al-Quran.

Apa yang telah diperinci dalam sub 1) di atas memang sering disinggung dalam Al-Quran, dan oleh karena itu saya sangat sependapat dengan Bapak Penulis, yang menyatakan: Kita tidak boleh beriftiro, yaitu membuat kebohongan besar, salah mengartikan makna Al-Quran, sok merasa pintar, mengarang-ngarang sesuka hati, dan memutarbalikkan arti yang sebenarnya. Juga apa yang diuraikan dalam sub 2), 3), dan 4) dengan ikhlas saya garis bawahi dan akan saya patuhi. Akan tetapi, apa yang ditegaskan oleh Bapak Penulis selain itu, yaitu yang menyatakan bahwa orang-orang awam sama sekali tidak mungkin dapat menafsirkan Al-Quran dan As-Sunnah secara benar dan yang seolah-olah menyarankan agar orang-orang awam jangan mencoba-coba menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dan As-Sunnah (tetapi harus menerima saja apa yang telah diolah oleh para ahli), terus terang saja tidak dapat saya setujui. Bukan saja saya anggap pandangan demikian bertentangan dengan apa yang sering diserukan oleh para pemimpin agama dan pembesar negara - yaitu agar kita ikut serta dalam usaha menggali ajaran-ajaran agama yang masih terpendam dalam Al-Quran - tetapi larangan demikian dapat pula mengecilkan hati para pencinta Al-Quran yang ingin berpikir intelektual dan yang secara spontan ingin mencoba mematuhi seruan para pemimpin progresif tadi. Selain itu, larangan demikian akan sangat mengurangi, bahkan menentang, arti seruan Tuhan yang termuat dalam ayat Q. 38:29, yang mengatakan: Ini sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran. Dan janganlah kita lupa akan seruan Nabi Muhammad s.a.w. Yang telah saya kutip di muka dan berbunyi: Mintalah fatwa kepada hatimu, meskipun orang lain telah memberimu fatwa, meskipun orang lain telah memberimu fatwa, meskipun orang lain telah memberimu fatwa. Seruan-seruan di atas bukan ditujukan kepada para ahli atau alim ulama agama saja, melainkan juga kepada orang-orang awam. Nabi kita tidak menghendaki kadaverdiscipline (kata Belanda yang secara harfiah berarti “disiplin bangkai”) dari umatnya. Beliau tidak menginginkan kita bertaklid saja, menelan apa saja yang disuguhkan kepada kita. Beliau menginginkan agar kita, jika perlu, mendayagunakan akal pikiran sendiri, jika kita merasa bahwa ajaran-ajaran yang disajikan kepada kita tidak benar. Ya meskipun ajaran-ajaran atau fatwa-fatwa itu berasal dari para ahli. Ada sebuah pameo yang berbunyi, “Di mana iman ikut berbicara, di situlah logika dan pengetahuan bungkam.” Tetapi itu tidak benar, bukan? Dalam agama Islam, iman, logika, dan pengetahuan bekerja sama demi kemajuan agama. Ayat Q. 38:29 yang saya kutip di atas merupakan bukti kuat mengenai hal itu. Para ahli bahasa sependapat bahwa bahasa Arab yang dipergunakan dalam Al-Quran sangat berlainan dengan bahasa modern mana pun. Hal itu mengakibatkan sangat sulitnya bagi siapa pun untuk menerjemahkan Al-Quran secara memuaskan. Meskipun demikian, dapat kita lihat bahwa Al-Quran itu memuat bukan saja ayat-ayat yang jelas dan terang, melainkan juga ayat-ayat yang artinya tidak segera kita pahami karena terselubung maknanya. Ayat Q. 3:7 berkata: Ialah yang menurunkan kepadamu Kitab yang dalamnya terdapat ayat-ayat muhkamaat (jelas dan terang) - itulah pokok-pokok Kitab - dan yang mutasyabihaat (bersifat kiasan)... Ayat Q. 39:27:

Telah kami adakan untuk manusia dalam Al-Quran ini pelbagai perumpamaan (kiasan), agar mereka dapat merenungkannya. Berhubung dengan itu, amat saya sadari bahwa dalam menentukan mana yang dimaksudkan sebagai ayat muhkamaat dan mana yang mutasyabihaat, kita harus benar-benar dapat membedakan yang satu dari yang lain. Karena jika kita menganggap perumpamaan-perumpamaan sebagai hal yang muhkamaat, pasti banyak ayat yang akan nampak naif atau tak masuk akal, bahkan menggelikan. Sebaliknya, kita harus sangat berhati-hati jangan sampai kita menganggap ayat-ayat muhkamaat sebagai ayat mutasyabihaat, karena dengan demikian kita tidak akan dapat menarik manfaat dari ajaran-ajarannya. Selain itu, dalam mempelajari Al-Quran - sebagaimana juga dalam hal penyelidikanpenyelidikan ilmiah lainnya - akal dan logika yang sehat, kejujuran dalam penafsiran, kewaspadaan dan keberanian berpikir, merupakan syarat-syarat yang diperlukan, untuk menjaga agar kita jangan, seperti dikatakan oleh Imam Al-Ghazali, “tersumbat dengan hafalan-hafalan belaka dan tenggelam ke dalam taklid.” Seorang mufassir atau profesional dalam bidang agama belum tentu selalu benar dalam penafsirannya mengenai ayat-ayat Al-Quran; seorang awam atau bukan-profesional belum tentu selalu salah dalam penafsiran Al-Quran. Yang berikhtilaf belum tentu orang yang khilaf. Untuk dapat menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan benar, diperlukan bukan saja pengetahuan yang luas dan kecermatan, melainkan juga intuisi. Dengan cara berpikir yang primitif atau yang didasari praduga dan keyakinan yang “tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan”, agaknya sulit bagi siapapun untuk menganalisa secara obyektif ayat-ayat Al-Quran yang sering tersusun samar-samar dan penuh teka-teki itu. Dalam Al-Quran banyak sekali ayat yang menyerukan agar kita merenungkan isi dan makna Al-Quran, seolah-olah dengan demikian ia ingin mengatakan bahwa kita jangan hanya mengandalkan iman atau hanya membaca-bacanya saja, melainkan juga harus membarenginya dengan akal pikiran, agar kita memperoleh keyakinan yang lebih rasional, mantap, tangguh, dan mendalam. Tetapi yang terpenting bagi saya dalam penafsiran Al-Quran ialah kejujuran intelektual, yaitu kejujuran dalam-arti tidak beriftiro, tidak mengada-ada, tidak memutarbalikkan arti kata ayatayatnya. Percuma saja akal pikiran dan pengetahuan tinggi, keahlian bahasa, takwa, dan iman, bilamana dalam penafsiran Al-Quran norma-norma kejujuran yang saya maksud tadi kita langgar. Berhubung dengan itu, dalam menyusun buku ini saya bersikap amat bebas. Di mana perlu, saya melepaskan diri dari keterangan-keterangan konvensional dan tradisional yang berasal baik dari para ulama sekarang maupun dari para ulama yang dahulu. Saya terpaksa berbuat demikian karena sering saya merasa bahwa beberapa hal yang diajarkan sekarang - bukan oleh Al-Quran, melainkan oleh para penganutnya - sukar diterima oleh akal orang dewasa yang berpikir. Saya pribadi ingin berpikir secara pragmatis dan dewasa, meskipun dengan demikian saya nampak tidak begitu taat kepada akidah dan kaidah agama yang berlaku. Sudah barang tentu, dalam mempelajari Al-Quran saya teliti juga komentar-komentar dan tafsiran-tafsiran yang dapat saya temukan dalam pelbagai buku tafsir Al-Quran; tetapi saya tidak menganggapnya definitif benar. Saya lebih banyak berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan akal pikiran sendiri, dan baru kemudian memperbandingkannya dengan tafsiran-tafsiran para mufassir. Saya yakin anda pun beranggapan bahwa akidah agama tidak boleh dogmatis, tetapi sedapat mungkin harus dapat diuji rasionalitasnya dengan akal sehat. Agama kita bukanlah sesuatu yang harus dibentengi dengan fatwa, ijma, dan iman terhadap usaha-usaha baik orang lain yang ingin memperoleh gambaran yang lebih rasional mengenai apa yang diajarkan kepadanya. Seperti lelah saya katakan di muka, iman, logika, dan pengetahuan harus bekerja sama untuk kemajuan agama. Tetapi sayang sekali, seperti anda pun dapat melihat sendiri, umumnya di bidang agama orang lebih banyak dididik dan dilatih untuk menerima saja daripada untuk mempergunakan daya pikir mereka sendiri. Bahkan yang mempunyai pendirian lain sering dianggap menyeleweng dari agama.

Berlawanan dengan sikap taklid atau hanya menerima saja, baik Nabi kita Muhammad s.a.w. maupun Al-Quran senantiasa menyerukan agar kita merenungkan, menelaah, dan meneliti ayat-ayat Al-Quran, berpikir secara kreatif, dan berani menyelidiki sendiri fatwa-fatwa dan ijtihad-ijtihad yang diragukan kebenaran dan rasionalitasnya. Demikian pentingnya keberanian untuk menggali kebenaran-kebenaran baru itu, sehingga Tuhan s.w.t. menjanjikan pahala kepada orang-orang yang berhasil dalam usaha itu, sebagaimana dapat anda lihat dari ayat Q. 39:33-35: 33. Dan barangsiapa membawa Kebenaran dan percaya kepadanya, mereka itulah yang takwa. 34. Mereka akan memperoleh apa yang mereka kehendaki dari sisi Allah. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik; 35. Bahwasanya Allah akan menutupi (mengampuni) perbuatan-perbuatan mereka yang paling buruk dan memberi mereka ganjaran sesuai dengan perbuatan yang terbaik mereka lakukan. Bahwasanya dalam agama sekalipun kita harus mendayagunakan ilmu atau akal pikiran, dapat pula kita simpulkan dari hadits berikut: Perbedaan derajat kemuliaan seseorang yang beramal ibadah berdasarkan ilmu dengan seseorang yang hanya sekedar beribadah saja (tanpa ilmu) sama dengan perbedaan derajat kemuliaanku (kata Nabi) dengan derajat seseorang yang paling hina dari antara kamu! Saya berpendapat bahwa untuk menarik kesimpulan atau mendalami makna suatu ayat Al-Quran tidaklah cukup bagi kita dengan hanya menyelidiki ayat yang bersangkutan saja, tetapi harus kita selidiki pula ayat-ayat lain yang kita anggap relevan (berkaitan) dengan ayat termaksud; itu pun, tentu saja, jika ada. Ayat-ayat lain itu biasanya dapat ditemukan di pelbagai surah, dalam Al-Quran. Saya anggap tidak ilmiah jika kita hanya mempergunakan ayat-ayat tertentu saja - hanya oleh karena ayat-ayat itu menunjang konsepsi kita - dan menutup mata terhadap ayat-ayat lainnya yang mungkin bertentangan dengan konsepsi itu. Untuk menarik kesimpulan, kita harus memperhatikan Al-Quran secara totalitas, sebagai suatu keseluruhan. Karena itu, seorang peneliti agama hendaknya berusaha mengumpulkan ayat-ayat yang relevan sebanyak mungkin untuk dipakainya sebagai bahan penelitian selanjutnya. Seorang peneliti Al-Quran seharusnya bersikap seperti seorang detektif: mengumpulkan data-data sebanyak mungkin, mengadakan deduksi dan induksi dari data-data itu, menghubungkan yang satu dengan yang lain, dan akhirnya menarik kesimpulan. Meskipun demikian, ia harus tetap terbuka hatinya terhadap kemungkinan-kemungkinan ia berbuat kesalahan. Dengan demikian, seperti telah saya katakan di muka, dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran terdapat unsur matematika yang memerlukan penerapan akal pikiran secara konsekuen. Seperti juga halnya dengan Kitab-kitab Suci lainnya, Al-Quran bukanlah sebuah kitab yang mudah dapat dipahami oleh setiap orang. Tetapi itu bukan berarti bahwa Kitab Suci hanya boleh diteliti oleh suatu golongan atau elite para ahli. Siapa pun yang berkemampuan berpikir diharapkan mempelajarinya untuk menggali rahasia-rahasia yang masih terpendam di dalamnya. Hal demikian berulang-ulang diserukan dalam Al-Quran dan oleh hampir semua pemimpin Muslimin progresif di seluruh dunia. Karena itu, para pembaca yang budiman, pendapat-pendapat baru yang akan saya uraikan dalam buku ini - meskipun dalam beberapa hal memang bertentangan dengan apa yang biasa dikhotbahkan oleh para ulama - dapat dianggap sebagai jawaban terhadap seruan para pemimpin progresif itu, seruan agar kita ikut berusaha menggali kebenaran-kebenaran yang belum terungkap oleh orang lain, sebagai sumbangan seorang Muslim Indonesia kepada sesama manusia. Dalam hubungan ini, seorang ulama Muslimin besar, Muhammad Qutb namanya, menulis dalam bukunya, ISLAM the misunderstood Religion (halaman 287), yang diterbitkan oleh Darul Dayan Bookshop, Kuwait, sebagai berikut.

They (Muslim specialists in Islamic jurisprudence) are not entitled to any authority or class prestiges over people. They are just the jurisprudents and counsels of the state ... for Islam is not the monopoly of any individual or class. Only those persons are considered as an authority on questions of religion who in the light of their deep understanding of it apply it to practical life regardless of their own professions. Artinya: Mereka (para ahli Muslimin dalam ilmu hukum Islam) tidak berhak menyatakan dirinya lebih tinggi otoritas dan derajatnya daripada orang-orang lain. Mereka hanyalah ahli hukum dan penasihat negara ... sebab Islam bukanlah monopoli seseorang atau suatu golongan orang mana pun. Orangorang yang dianggap mempunyai otoritas dalam bidang agama hanyalah mereka yang, terlepas daripada profesinya masing-masing, mempergunakan pengertiannya yang mendalam mengenai agama dalam kehidupannya masing-masing.

Kembali kepada cara penafsiran Al-Quran. Tidaklah benar bila kita mendasarkan kesimpulan kita hanya kepada suatu ayat Al-Quran tertentu. Kebenaran-kebenaran sering bergantung satu kepada yang lain, sebab seringkali kita harus menemukan dahulu Kebenaran yang lain sebelum kita dapat menerima suatu ayat sebagai Kebenaran secara aman. Jika tidak, ayat yang dimaksud itu seolah-olah bertentangan dengan akal sehat. Ambillah sebagai misal ayat-ayat berikut. Ayat Q. 13:26: Allah meluaskan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya)... Ayat Q, 35:8. ... Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya, dan memimpin siapa yang dikehendaki-Nya … Jika seorang kritikus menafsirkan ayat-ayat di atas secara harfiah dan langsung, tanpa mengetahui latar belakang atau Kebenaran lain yang menyebabkan diturunkannya ayat-ayat itu, pastilah ia akan memperoleh kesan seolah-olah Tuhan pilih kasih terhadap makhluk-Nya, memberikan nikmat dan kecerdasan kepada orang-orang tertentu, kemiskinan dan kebodohan kepada orang-orang lain; atau seolah-olah ajaran-ajaran Islam itu irrasional. Sebab bagaimana mungkin Tuhan dapat berbuat begitu sewenang-wenang dan pilih kasih, membodohkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mencerdaskan siapa yang dikehendaki-Nya? Bukankah Tuhan itu Maha Adil, Maha Penyayang dan Rahman Rahim? Tetapi bila kita ketahui bahwa di belakang ayat-ayat tadi itu ada suatu Kebenaran lain, suatu motif yang menggarisbawahinya, maka kita akan memperoleh gambaran lain, suatu gambaran yang rasional dan dapat kita terima dengan tulus dan ikhlas. Hal itu akan saya perbincangkan kemudian dengan lebih terperinci dalam buku ini. Untuk sementara, saya berharap agar para pembaca yang budiman percaya bahwa dalam segala hal di mana Tuhan bertindak, berkehendak, atau menentukan sesuatu, ia senantiasa didorong oleh hukum-hukum universal yang telah diciptakan-Nya Sendiri; bukan oleh karena Tuhan berkehendak begitu saja, tanpa suatu alasan, atau oleh karena Tuhan Amat Berkuasa dan dapat berbuat sekehendak hati. Hal itu perlu saya tegaskan sekarang, agar para pembaca yang bukan Islam atau para Muslimin yang sekuler jangan berpikir bahwa Al-Quran mengajarkan hal-hal tentang Tuhan sebagai Tuhan yang sewenang-wenang, tidak keruan dan pilih kasih, dan bahwa doktrin Islam yang dinamakan takdir itu mengakibatkan semacam fatalisme yang pasif. Saya temukan bahwa dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran soal-soal kecil yang terdapat di dalamnya harus kita perhatikan secara cermat, sebab sering kali soal-soal kecil itulah - keteranganketerangan atau kata-kata yang seolah-olah tidak berarti - yang dapat memberikan kunci atau jawaban untuk suatu penafsiran yang benar. Al-Quran sering menempatkan kita dalam suatu pilihan antara pernyataan-pernyataan atau keterangan-keterangan yang seolah-olah bertentangan satu sama lain. Dalam hal demikian, selalu

ada pernyataan atau keterangan lain yang biasanya kurang kita perhatikan, tetapi yang sebenarnya dapat memberikan kunci atau petunjuk untuk memecahkan soal itu; yang mengisyaratkan kepada kita penafsiran mana yang harus kita pilih di antara dalil-dalil yang seolah-olah bertentangan itu. (Contoh untuk itu akan saya berikan dalam Bab XV buku ini, yang mempersoalkan kemahapengampunan Allah s.w.t.). Meskipun dalam buku ini saya sering menganjurkan pendayagunaan akal pikiran, harus saya tekankan di sini bahwa akal pikiran hanyalah salah suatu sarana yang dikaruniakan Tuhan kepada kita untuk meneliti dan menemukan kembali ajaran-ajaran yang sejak dahulu kala disampaikan oleh-Nya kepada manusia dengan pelbagai cara. Tanpa penggunaan akal pikiran atau tanpa keberanian mempergunakannya secara bebas, tidaklah mungkin kita dapat membedakan secara efektif yang benar dari yang salah; tidak dapat kita membeda-bedakan yang logis dari yang tak logis, yang rasional dari yang irrasional, kebenaran dari kebatilan, kiasan dari ajaran terang, ajaran muhkamaat dari ajaran mutasyabihaat. Tanpa keberanian mendayagunakannya, kita tidak dapat menekuni Al-Quran dan menggali hal-hal baru dari dalamnya. Akal pikiran manusia - meskipun memang terbatas kemampuannya - biasanya memungkinkan orang memperoleh pengertian yang lebih baik daripada bila ia menerima begitu saja apa yang disajikan orang lain sebagai kebenaran. Dengan mengajukan hal-hal tersebut di atas, bukanlah maksud saya menepuk dada seolaholah saya telah berhasil memperoleh pengertian tentang seluruh Al-Quran. Sebaliknyalah yang benar. Masih banyak, amat banyak, ayat Al-Quran yang belum saya pahami maknanya. Saya hanyalah seorang awam di bidang agama yang cinta kepada agamanya. Dengan menulis semuanya di atas itu, saya hanya ingin memujikan suatu sikap yang kritis dan ilmiah (scientific enquiry) dalam mempelajari Al-Quran, dan membuktikan kepada para pembaca bahwa sikap yang saya pujikan itu benar. Sikap itu telah memungkinkan saya menemukan beberapa hal yang sebelum ini belum pernah ditemukan - atau mungkin belum berani dikemukakan - oleh orang lain. Penemuanpenemuan itu ingin saya sajikan kepada khalayak ramai untuk diuji kebenarannya, dengan keyakinan bahwa Allah s.w.t. adalah Maha Pemurah dan Maha Pengampun terhadap makhlukmakhluk-Nya yang ingin berbakti kepada-Nya, apa pun hasil niat baiknya itu. Hendaknya dimaklumi bahwa saya tidak meng-claim penemuan-penemuan itu mutlak benar dan tidak dapat ditarik kembali, karena saya sadar bahwa pengertian manusia itu selalu berubahubah - dan mudah-mudahan berubah ke arah yang lebih baik. Tiada suatu teori atau hukum yang merupakan kebenaran mutlak. Ilmu agama sekalipun tidak luput dari kemungkinan berubah, meskipun Pokok-pokok Kebenarannya sendiri, menurut hemat saya, tetap kekal abadi. Kebenaran mutlak hanya ada pada Allah s.w.t. Meskipun demikian, hendaknya kita jangan menutup mata terhadap kenyataan bahwa setiap penemuan baru mungkin mendekatkan kita kepada Kebenaran itu. Saya berpendapat, hendaknya kita selalu bersedia merubah atau menyesuaikan konsepsi kita bilamana konsepsi kita yang lama tidak dapat kita pertahankan lagi. Amanat Tuhan dari masa ke masa selalu sama, walaupun bentuk dan manifestasinya dapat berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan dan keadaan darurat tiap-tiap zaman. Di samping itu, ada pula proses erosi kepercayaan dan perubahan (yang disebabkan oleh sifat manusia yang menurut ayat Q. 18:54 “suka membantah”) atau proses pelupaan dalam evolusi; tetapi semuanya itu bukan berarti bahwa asas-asas abadi (eternal principles), ajaran-ajaran pokok, dapat berubah. Asas-asas abadi akan tetapi abadi, meskipun kadang-kadang timbul dan tenggelam dalam lautan kesadaran manusia. Untuk sementara, pendapat-pendapat dan gagasan-gagasan yang saya ajukan dalam tulisan ini merupakan pendapat dan gagasan yang saya anggap terbaik.

III Ayat-ayat Mengenai Reinkarnasi
Sebelum saya mulai memberikan bukti tentang adanya ajaran reinkarnasi dalam Al-Quran, ada baiknya bila saya sampaikan kepada para pembaca yang budiman anggapan umum yang kini dianut oleh umat Islam mengenai hidup sesudah mati. Kebetulan saya membaca sebuah buku yang berjudul Hidup Sesudah Mati karangan Bapak H. Bey Arifin, terbitan PT. Kinta, Jakarta. Untuk menghindari penyampaian salah mengenai apa yang dituliskan dalam buku itu, saya anggap lebih aman bila saya mengutip saja bab yang bersangkutan dalam keseluruhannya, dengan kata-kata yang dipergunakan oleh penulisnya. Saya tidak tahu bagaimana pendapat anda mengenai tulisan itu, tetapi menurut beliau apa yang dikemukakannya mengenai hidup sesudah mati itu sesuai dengan ajaran Islam Ahli Sunnah Wal Jama'ah.
39. HIDUP SESUDAH MATI Setelah membaca semua keterangan yang berhubungan dengan roh manusia seperti di atas ini, yakinlah hendaknya seyakin-yakinnya bahwa memang ada hidup sesudah mati, hidup kekal dan abadi buat selama-lamanya. Itulah hidup yang sebenar-benarnya hidup, hidup yang tak berakhir dengan mati lagi. Bukan hidup bayangan, hidup berpura-pura hidup, hidup main-main, yang penuh dengan tipu dan kepalsuan. Hidup sesudah mati menurut agama Islam terbagi di dalam beberapa masa atau periode: I. Periode menunggu, yaitu masa sesudah meninggal dunia sampai terjadinya kiamat besar, yaitu kematian total yang serentak bagi seluruh makhluk hidup, baik manusia, binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan, malaikat, jin dan iblis. Periode menunggu ini dinamai ALAM BARZAKH atau ALAM KUBUR. II. Periode Peralihan, yaitu dimulai dengan terjadinya kiamat besar atau kematian total, yang boleh dikatakan pergantian dunia dengan akhirat, berakhirnya dunia ini, dan mulai kehidupan Akhirat. Diterangkan dalam banyak ayat-ayat Al-Quran dan Hadits-hadits, bahwa bumi bergoncang sehebathebatnya, gunung-gunung berloncatan seperti belalang yang dikejar, manusia berlemparan seperti kapas yang berterbangan. Matahari, bulan, bintang-bintang berkacau-balau dan pecah belah berguguran. Semua makhluk hidup mati serentak. Kejadian ini dinamai KIAMAT BESAR. Sunyi sepi 40 tahun lamanya, tak ada bunyi, tak ada suara, tak ada yang bergerak, angin tak berembus, laut tak beriak. III. Periode Kebangkitan, di mana semua manusia, malaikat, jin dan iblis yang sudah mati itu dihidupkan kembali. Kebangkitan total. Berapa banyaknya seluruh manusia sejak dari Nabi Adam sampai kiamat besar itu, Allah saja yang mengetahuinya. Semua hidup kembali dan berdiri di tempat masing-masing lengkap dengan tubuh dan anggota badannya. Jadi bukan hanya kehidupan roh tetapi kehidupan roh dan jasad seperti sebelum math Periode ini dinamai KEBANGKITAN TOTAL, MAHSYAR, atau HARI KEGEMPARAN BESAR. Kira-kira 40 tahun pula lamanya semua makhluk hidup yang sudah dibangkitkan itu menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Masa menunggu yang amat panik, letih, lesu, lapar, dahaga, kecuali bagi beberapa golongan manusia yang istimewa, karena mendapat perlindungan dari Allah dengan lindungan-Nya. IV. Periode Perhisaban, di mana setiap manusia dan jin tanpa kecuali seorang pun akan dihisab, akan diperhitungkan semua perbuatan, perkataan, gerak-geriknya semasa hidup di dunia ini, akan diminta pertanggung-jawabnya, dari masalah yang sekecil-kecilnya sampai kepada yang sebesar-besarnya. Perhisaban atau Pengadilan Akhirat ini hampir sama caranya dengan pengadilan-pengadilan di dunia di zaman modern sekarang ini, di mana Allah s.w.t. sendiri bertindak sebagai Hakim, sendiri Ia, tanpa Hakim Anggota atau Pengganti. Seluruh manusia dan jin menjadi terdakwa. Sedang seluruh Malaikat menjadi Jaksa Penuntut. Sedang Nabi-nabi dan Rasul-rasul sebagai Pembela. Perhisaban itu dimulai dengan soal jawab, lalu membaca buku catatan harian, lalu melihat foto-foto, mendengarkan rekaman lalu timbangan raksasa yang menimbang kebajikan dan kejahatan dari yang sekecil-kecilnya sampai kepada yang sebesar-besarnya.

Tak luput dari pertanggung-jawaban ini para Nabi dan Rasul, malah merekalah yang paling berat pertanggung-jawabannya. Dan yang paling berat pula ialah orang-orang yang semasa hidupnya memegang kekuasaan seperti Kepala-Kepala Negara, Menteri-Menteri, Pemimpin-Pemimpin Besar sampai kepada Pemimpin-Pemimpin Terkecil. Bahkan setiap manusia apa saja kedudukannya dianggap oleh Allah sebagai Pemimpin yang harus bertanggung jawab: Suami bertanggung jawab, isteri bertanggung jawab dan begitulah seterusnya. Inilah yang dinamai YAUMID DIN (HARI PERHISABAN). V. Periode Pembalasan, dimana setiap orang setelah dihisab atau diadili, akan mendapat pembalasan dari apa saja yang mereka pernah lakukan dalam hidupnya di dunia. Perbuatan yang baik akan dibalas Allah dengan kebaikan. Perbuatan jelek akan dibalas Allah dengan kejahatan Allah yang setimpal. Allah tidak akan aniaya sedikitpun. Allah Maha Adil. Sebagai konsekuensi dari keadilan itu diadakan pembalasan yang setimpal. Ada orang yang masuk SURGA dan ada pula yang masuk NERAKA. Yang masuk Surga senang, bahagia dengan kesenangan dan kebahagiaan yang sesempurna-sempurnanya buat selamalamanya. Sedang yang masuk Neraka akan sengsara dan menderita terus menerus dengan penderitaan yang sesungguh-sungguhnya pula. Demikianlah kesimpulan dari kehidupan sesudah mati yang akan ditempuh oleh setiap manusia tanpa kecualinya.

Selain kutipan di atas, ada baiknya bilamana saya kutip juga tulisan Bapak Haji Siradjuddin Abbas almarhum dalam bukunya, I’itiqad Ahlussunnah Waljama'ah. Dan juga untuk menghindarkan penyampaian salah tulisan orang lain, saya akan mengutip tulisannya kata demi kata sebagaimana tercetak dalam buku itu. Di halaman 82 beliau menulis:
9. Setiap orang Islam wajib mempercayai hari akhirat. Permulaan hari akhirat itu bagi setiap manusia adalah sesudah mati, yaitu begini: a. Setiap orang akan mati apabila jangka waktu usianya habis. b. Setelah mati lalu dikubur. Dalam kubur ditanyai: siapa Tuhan, siapa Nabi, siapa Imam dan Lain-lain pertanyaan oleh Malaikat Munkar dan Nakir. c. Orang yang jahat akan disiksa di kubur. d. Kemudian pada suatu waktu akan terjadi kiamat besar, dunia akan hancur lebur dan semua makhluk yang ada di dunia akan mati e. Kemudian pada suatu waktu pula akan dibunyikan terompet sehingga seluruh orang yang mati bangun kembali, berkumpul di Padang Mahsyar. f. Akan diadakan hisab, ya’ni perhitungan dosa dan pahala. g. Di Padang Mahsyar itu akan ada syafa’at (bantuan) dari Nabi Muhammad s.a.w. dengan seizin Tuhan. h. Akan ada timbangan untuk menimbang dosa dan pahala. i. Akan ada titian Shirathalmustaqim, yang dibentangkan di atas neraka yang akan dilalui oleh sekalian manusia. j. Akan ada telaga Kautsar, kepunyaan Nabi Muhammad s.a.w. di dalam Surga, di mana orang-orang beriman akan dapat minum. k. Yang lulus ujian terus langsung selamat meniti dan masuk Surga Jannatun Na'im, tetapi yang kafir akan jatuh di neraka. l. Orang yang baik langsung masuk surga dan kekal selama-lamanya. m. Orang kafir langsung masuk neraka dan kekal selama-lamanya. n. Orang mu'min yang berdosa dan mati sebelum taubat, akan masuk ke dalam neraka buat sementara dan sehabis hukuman akan dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam surga buat selama-lamanya. o. Orang mu’min yang baik-baik akan diberi ni'mat apa saja yang ia sukai, dan akan diberi lagi ni'mat tambahan yang paling besar dan paling lezat, yaitu melihat Allah Subhanahu wata'ala. Demikian secara ringkas tentang hari akhirat.

Mengutip tulisan-tulisan di atas bukanlah berarti bahwa saya sependapat dengan apa yang diuraikan di dalamnya atau para penulisnya. Maksud saya dengan pengutipan itu ialah agar para pembaca maklum bahwa bukan oleh karena saya tidak tahu akan adanya ajaran Islam demikian bila saya menafsirkan ayat-ayat Al-Quran secara bertentangan dengan para ulama Islam, melainkan oleh karena dalam beberapa hal memang saya mempunyai cara penafsiran tersendiri, suatu cara

penafsiran yang menurut hemat saya lebih sesuai dengan apa yang dimaksud oleh ayat-ayat Al-Quran yang bersangkutan. Sebagaimana telah diakui oleh kebanyakan orang, setelah mati, orang, atau lebih baik bila saya katakan ruhnya, akan dibangkitkan di alam gaib. Ia akan tinggal dan hidup di sana dengan badan halusnya, yang saya namakan badan astral, yang sifatnya tidak kita ketahui dengan pasti. Dunia yang tidak kelihatan oleh panca indera kita itu adalah apa yang untuk singkatnya, saya sebut “alam gaib”, “alam akhirat”, atau “akhirat” saja, (Karena alasan tertentu, yang akan saya jelaskan kelak, saya tidak menggunakan kata-kata “alam barzakh” atau “alam kubur”.) Kebangkitan ini - menurut hemat saya, dalam arti kebangkitan ruh yang telah melepaskan badan fisiknya tak lama setelah meninggal - disebut-sebut, antara lain, dalam ayat-ayat Al-Quran berikut: Ayat Q. 11:7:

Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan nanti setelah mati ... Ayat Q. 6:36:

Adapun mengenai orang-orang mati, Allah akan membangkitkan mereka; kemudian kepadaNya mereka akan dikembalikan. Ayat Q. 22:7:

Dan sesungguhnya saat itu akan tiba - tiada keraguan dalam hal itu - dan oleh karena Tuhan akan membangkitkan mereka di dalam kubur. Ayat Q. 64:7:

Orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Memang, demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan; kemudian akan diberitahukan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” Sehubungan dengan ayat-ayat itu, saya yakin anda setuju bila saya katakan bahwa tiada perbedaan pendapat di antara kita mengenai hal kebangkitan itu: Kita sama-sama percaya bahwa setelah mati kita (ruh-ruh kita) akan bangkit, lalu hidup di alam gaib atau akhirat. Tetapi apa yang mungkin menimbulkan perbedaan paham antara kita ialah, pertama, apakah kebangkitan orang mati itu terjadi segera sesudah saat kematian ataukah jauh di kemudian hari, yaitu bila akhir zaman atau apa yang biasa dinamakan “Hari Kiamat” tiba; dan kedua, apakah mungkin bahwa selain hidup di alam gaib itu ada pula reinkarnasi atau kelahiran kembali secara fisik ke dunia.

Oleh karena jawaban terhadap pertanyaan pertama sangat bergantung kepada jawaban terhadap pertanyaan terakhir, saya akan berusaha dahulu memberi jawaban terhadap pertanyaan terakhir. Setelah belasan tahun saya mempelajari Al-Quran dengan seksama, saya berkesimpulan bahwa dalam Kitab Suci kita itu banyak sekali ayat yang menunjukkan adanya reinkarnasi, dalam arti bahwa setelah hidup di akhirat selama masa tertentu - yang lamanya bagi setiap orang berbedabeda - ruh orang-orang yang telah meninggal akan diciptakan atau dilahirkan kembali secara fisik ke dunia, dalam bentuk manusia pula. Terlaksananya kelahiran atau penciptaan kembali itu tidak perlu menunggu sampai tibanya akhir zaman, tetapi sekarang pun dapat dan telah berlangsung. Mungkin sekali oleh karena ajaran itu amat penting, maka Tuhan berulang-ulang menyinggung hal itu dalam Al-Quran dengan pelbagai cara dan pelbagai perkataan, dengan katakata yang jelas ataupun yang samar-samar, seolah-olah dengan demikian Ia mengharapkan umat manusia mengenali atau menemukan kembali ajaran universal itu dan mempergunakannya sebagai dasar untuk memahami misteri hidup lebih lanjut. (Saya tadi memakai istilah “kembali”, oleh karena pada mulanya, ajaran itu merupakan ajaran Kristen juga, tetapi kemudian, kira-kira setengah abad sebelum datangnya agama Islam, tidak diakui oleh Gereja). Tetapi bagaimana kenyataannya? Empat belas abad telah berlalu, namun ajaran reinkarnasi masih tetap tidak dianggap sebagai ajaran Islam oleh dunia Islam (kecuali oleh sejumlah umat kecil orang Muslimin). Dengan banyaknya ayat dalam Al-Quran yang menunjukkan adanya reinkarnasi (tetapi setiap kali disalahtafsirkan oleh kebanyakan orang) dan dengan jelasnya - setidak-tidaknya bagi saya kata-kata dalam Al-Quran mengenai ajaran itu, maka saya berkeyakinan bahwa paham reinkarnasi itu benar-benar harus dianggap sebagai salah satu ajaran pokok agama Islam. Pembuktian I Ayat Q. 32:10 berbunyi:

Dan mereka berkata: “Bila kami telah hilang dalam tanah, bagaimana kami dapat diciptakan kembali?” Tidak, mereka mengingkari pertemuan dengan Tuhan mereka. Ayat Q. 17:98:

Demikianlah ganjaran bagi mereka karena mereka mengingkari tanda-tanda Kami dan berkata: “Bila kami telah menjadi tulang belulang dan debu bertebaran, apakah kami sungguh akan dibangkitkan kembali sebagai ciptaan baru?” Ayat Q. 27:67:

Orang-orang yang ingkar (tak percaya) berkata: “Bila kami telah menjadi debu seperti nenek moyang kami, apakah kami akan dihidupkan kembali?”

Ayat Q. 34:7:

Dan orang-orang yang ingkar (tak percaya) berkata: “Maukah kami tunjukkan kepadamu seorang lelaki yang mengabarkan kepadamu bila badanmu telah cerai berai sama sekali kamu akan diciptakan kembali (dalam ciptaan baru)?” Ayat Q. 13:5:

Jika kamu heran, maka yang (lebih) mengherankan ialah ucapan mereka: “Bila kami telah menjadi debu, apakah kami sesungguhnya akan menjadi ciptaan baru?” Begitulah orangorang yang mengingkari Tuhannya; orang-orang demikian dibelenggu lehernya; orang-orang demikian adalah (calon) penghuni neraka; mereka akan tinggal di dalamnya. Pertanyaan yang tertera dalam ayat-ayat di atas jelas diajukan oleh orang-orang yang ingkar, yang tidak percaya atau beriman, kepada (ajaran) Tuhan (kasarnya, yang kafir). Hal itu berarti bahwa kita, orang-orang mukmin, harus percaya bahwa bilamana kita telah lama mati - pengertian “lama” itu dinyatakan dengan perkataan “apabila kami telah menjadi tanah”, “bilamana badanmu telah cerai-berai sama sekali”, “bila kami telah menjadi tulang-belulang dan debu bertebaran”, dan sebagainya - kita akan diciptakan kembali. Perkataan-perkataan seperti misalnya “dihidupkan kembali”, “diciptakan kembali”, “menjadi ciptaan baru”, dan “diciptakan kembali dalam ciptaan baru”, semuanya menunjukkan suatu ulangan penciptaan, dalam hal ini, ulangan penciptaan atau kelahiran manusia. Dan bagaimana cara manusia diciptakan oleh Tuhan? Karena kita orang mukmin - dalam hal ini saya berbicara kepada saudara-saudara seagama Muslim - marilah kita mohon penjelasan kepada Al-Quran, sumber Islam yang terutama. Ayat Q. 77:20-22:

20. Bukankah Kami ciptakan kamu dari cairan hina. 21. Yang Kami tempatkan dalam wadah yang aman. 22. Selama waktu yang ditentukan?

Ayat Q. 23:12-14:

12. Dan sesungguhnya Kami ciptakan manusia dari saripati tanah basah, 13. Kemudian Kami menempatkannya sebagai setetes (mani) dalam wadah yang aman (yaitu rahim), 14. Kemudian kami jadikan tetes (mani) itu suatu bekuan; kemudian Kami jadikan bekuan itu gumpalan; kemudian Kami jadikan gumpalan itu tulang-belulang; kemudian Kami bungkus tulang-belulang itu dengan daging, dan kemudian Kami keluarkan dia sebagai ciptaan lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Terbaik. Ayat Q. 22:5:

Hai manusia! Jika kamu ragu-ragu tentang kebangkitan, (ketahuilah) bahwa Kami ciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari suatu gumpalan daging yang berbentuk dan tidak berbentuk, agar Kami dapat menjelaskan, kepadamu. Dan Kami tempatkan yang Kami kehendaki di dalam rahim untuk suatu masa tertentu, dan kemudian Kami keluarkan kamu sebagai anak, dan kamu menjadi dewasa . . . Untuk menyingkat waktu, saya tidak akan mengutip ayat-ayat Al-Quran lainnya yang senada. Cukuplah kiranya bila saya katakan di sini bahwa penciptaan manusia itu - saya tidak berbicara tentang penciptaan manusia pertama - selalu dimulai dalam rahim seorang ibu, dan kemudian disusul oleh kelahirannya sebagai bayi. Logika, kejujuran intelektual, dan akal sehat menuntut bahwa bila sekarang penciptaan manusia selalu dilakukan melalui rahim ibu, maka ulangan penciptaannya pun harus pula terjadi melalui rahim seorang ibu. Sebab bila seseorang berkata, “lima tahun yang lalu, perusahaan itu menerbitkan buku Pak Adam. Tahun ini ia akan menerbitkannya kembali”, maka pasti tiada seorang pun yang berakal sehat akan menafsirkan bahwa dengan ucapannya itu perusahaan tersebut akan menerbitkan majalah atau buku lain, atau akan minta Pak Adam membuat naskah lain untuk diterbitkan lagi. Sudahlah pasti bahwa yang dimaksudkan perusahaan itu penerbitan buku yang disebut-sebut sebelumnya, yaitu buku Pak Adam. Demikian pula, bila Tuhan s.w.t. berfirman, “Kuciptakan kamu melalui rahim seorang ibu. Setelah kamu menjadi debu (yang berarti: setelah lama kamu mati), kamu akan Kuciptakan lagi”, maka setiap orang yang jujur dan obyektif akan menafsirkan bahwa ulangan penciptaan itu akan terjadi melalui rahim seorang ibu pula, yaitu melalui suatu proses kelahiran. Tidaklah mungkin ia

akan berpikir bahwa ulangan penciptaan itu, akan terjadi di suatu tempat lain, atau melalui sarana atau proses lain. Dengan perkataan yang lebih jelas: Bila, menurut Al-Quran, proses penciptaan manusia mulai dalam rahim seorang ibu dan disusul dengan kelahirannya ke dunia sebagai bayi, maka, proses pengulangannya pun tentu berlangsung dengan cara yang sama, yaitu: melalui rahim seorang ibu dan kemudian disusul dengan kelahiran di dunia. Bukan di alam gaib, dan bukan pula dengan cara yang lain. (Itulah yang saya maksud dengan “kejujuran intelektual”.) Pembuktian II Ayat Al-Quran lain yang menurut hemat saya sangat meyakinkan mengenai reinkarnasi adalah ayat Q. 2:28. Tetapi sebelum kita membahasnya, saya anggap perlu menyinggung suatu ucapan yang sering kita jumpai dalam Al-Quran, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Yang saya maksud ialah ucapan “kembali kepada Tuhan”. Apa makna ucapan itu? Mudah-mudahan para pembaca yang budiman setuju bila saya katakan bahwa ucapan di atas hendaknya jangan diartikan secara harfiah, sebab, seperti pasti anda pun maklum, tiada seorang pun di dunia yang sekarang. cukup murni dan mulia untuk segera atau langsung bersatu dengan Tuhan s.w.t. setelah ia mati. Karena itu, saya lebih condong menarik kesimpulan bahwa ucapan “kembali kepada Tuhan” itu hendaknya diartikan sebagai “meninggal”, “kembali ke alam gaib”, sebab bukankah kita sering mempergunakan ucapan “pulang ke Rahmatullah” untuk kata “meninggal”? Dengan perkataan lain, “kembali kepada Tuhan” itu berarti “mati”, yaitu mati dalam arti ruh yang bersangkutan (dalam badan astralnya) kembali ke alam gaib, sedangkan badan fisiknya kembali ke bumi untuk kemudian hancur menjadi debu atau tanah. (Catatan: Ini bukan berarti bahwa saya meniadakan alternatif (pilihan) lain, sebab saya pun percaya bahwa akhirnya kita tokh akan kembali dan bersatu dengan Tuhan, yaitu setelah melalui siklus hidup dan mati yang berulang-ulang dan ruh kita cukup murni untuk itu). Dengan keputusan yang sudah terdahulu ini - yaitu asumsi bahwa “kembali kepada Tuhan” berarti “kembali ke alam gaib” atau “meninggal” - marilah kita teliti apa yang tersimpul dalam ayat Q. 2:28, yang berbunyi sebagai berikut :

Bagaimana kamu tidak beriman kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Ia menghidupkan kamu, kemudian Ia mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi), kemudian kepada-Nya kamu akan kembali. Ajaran apa yang tersimpul dalam ayat itu? Makna apa yang disampaikan Tuhan kepada kita dengan ayat itu? Untuk menjawab pertanyaan itu, sangatlah perlu bagi kita untuk menganalisa masing-masing anak kalimat ayat tadi dan mencari masing-masing maksudnya dengan benar. Adapun analisa yang saya buat, adalah sebagai berikut: (a) “Padahal kamu tadinya mati” menunjukkan hal mati (b) “lalu Ia menghidupkan kamu” menunjukkan hal lahir/hidup (c) “kemudian Ia mematikan kamu” menunjukkan hal mati (d) “kemudian Ia menghidupkan kamu (lagi)” menunjukkan hal lahir/hidup (e) “kemudian kepada-Nyalah kamu akan kembali” menunjukkan hal mati

Bagi para pembaca yang berpandangan terbuka dan terus terang, yang secara jujur dan wajar menafsirkan ucapan-ucapan tadi sebagaimana adanya (tanpa menyimpangkan arti kata biasa), pola reinkarnasi atau pola siklus hidup dan mati dalam ayat di atas sangatlah jelas: mati - hidup - mati hidup - mati. Orang-orang yang tidak percaya kepada reinkarnasi berpendapat bahwa ucapan “tadinya kamu mati” harus diartikan lain. Ada yang mengatakan bahwa ucapan itu menunjukkan masa ketika orang masih dalam rahim si ibu; Ada yang mengatakan bahwa ucapan itu harus diartikan “segumpal darah”; dan ada lagi yang mengatakan bahwa artinya “ketika kamu belum ada”. Semuanya itu, saya tahu, adalah ajaran yang sekarang secara umum diajarkan oleh para guru agama kita. Tetapi benarkah, atau jujurkah tafsiran itu? Menurut hemat saya tidak. Setelah saya meneliti sendiri ayat-ayat Al-Quran secara mendalam, harus saya katakan bahwa tafsiran-tafsiran yang diberikan oleh para pengingkar reinkarnasi mengenai ayat Q. 2:28 itu tidak dapat saya terima. Bagi saya - saya kira, juga bagi para pemikir lainnya yang berpikir secara wajar dan tidak berbelit-belit - mati berarti mati, yaitu keadaan setelah seseorang menghabiskan masa hidup fisiknya, keadaan sesudah mati, atau perpindahan dari dunia fisik ke dunia gaib atau akhirat. Sama sekali bukanlah “mati” itu berarti “segumpal daging”, “masa dalam rahim”, bukan pula “ketika kamu belum ada”, seperti acapkali ditafsirkan orang. Memang benar, sebagaimana dikatakan orang, kata-kata ayat Al-Quran kadang-kadang dapat diartikan berbeda-beda; tetapi saya kira anda setuju bila saya katakan bahwa setiap penafsiran ayat Al-Quran hendaknya dilakukan sedekat mungkin kepada makna ayat yang akan ditafsirkan, dan jangan dilakukan sekehendak hati. Dalam Al-Quran ada ayat yang mengisyaratkan bahwa bagi kita manusia hanya ada satu macam kematian, yaitu kematian di dunia, bila ruh kita meninggalkan badan fisik kita. Ayat itu, Q. 44:56, berbunyi:

Di sana (akhirat) mereka tidak akan merasakan kematian, kecuali kematian pertama (di dunia)... Karena itu, amatlah baik bila kita berpegang pada dalil tersebut, dan saya rasa amatlah tepat bilamana kita tafsirkan kata “mati” dalam anak kalimat “padahal kamu tadinya mati” dari ayat Q. 2:28 tadi sebagai “ruh kamu dahulu telah meninggalkan badan fisik kamu (dan kemudian hidup di alam akhirat)”, bukan sebagai “segumpal daging”, “masa dalam rahim”, “ketiadaan”, atau sebagainya. Kebanyakan orang mudah terlupa bahwa Al-Quran sebenarnya merupakan sumber informasi yang terbaik dan terpercaya dalam soal-soal spiritual dan keagamaan. Ayat Q. 3:27 misalnya, mengajarkan, antara lain:

… Kau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Kau keluarkan yang mati dari yang hidup… Ayat itu dengan jelas mengajarkan kepada kita bahwa: Orang-orang hidup berasal dari orang-orang mati, dan orang-orang mati berasal dari orang-orang hidup. Memang bagi para pembaca yang belum kenal akan paham reinkarnasi amatlah janggal mendengar dalil bahwa orang hidup berasal dari orang mati. Tetapi itulah yang dinyatakan oleh ayat di atas: Tuhan mengeluarkan orang-orang hidup dari orang-orang mati. Saya rasa tidak ada keraguan dalam penafsiran secara demikian, meskipun anda mungkin meragukan kebenaran dalil itu. Tetapi sebagaimana kita beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, demikian pulalah hendaknya

kita percaya kepada apa yang diwahyukan oleh-Nya kepada Nabi Muhammad saw. Janganlah kita berkata bahwa tidak mungkin orang hidup berasal dari orang mati. Bagi Tuhan hal itu perkara mudah. Mari kita baca ayat Q. 46:33:

Tidakkah mereka lihat bahwa Allah, yang menciptakan langit dan bumi, dan tidak lelah menciptakan semua itu, berkuasa menghidupkan (kembali) orang yang mati? Ya, sungguh, Ia berkuasa berbuat segala sesuatu. Dengan mengenakan dalil yang tercantum dalam ayat Q. 3:27 kepada ayat Q. 2:28, kita dengan aman dapat menarik kesimpulan bahwa dahulu, sebelum mati, anda pernah hidup; dan sebelum masa hidup itu, anda pernah mati; dan sebelum anda mati ketika itu, anda pernah hidup pula; dan seterusnya, kembali kepada kehidupan anda secara fisik yang pertama. Demikian pula, setelah “kamu kembali kepada Tuhan” kelak - yang artinya sama dengan “setelah anda mati kelak” - anda akan dilahirkan lagi, mendewasa, menua, dan kemudian mati lagi; kemudian anda akan dilahirkan lagi, mendewasa, menua, dan kemudian mati lagi; dan seterusnya, ad infinitum, sampai saat anda tidak perlu dilahirkan kembali karena telah mencapai kesempurnaan. Saya tahu benar bahwa ayat Q. 2:28 oleh para guru agama kita biasa dipakai sebagai dasar untuk membenarkan pengertian mereka mengenai hidup dan mati yang konon sebagai berikut: (a) Kematian (ditafsirkan sebagai “ketiadaan”, sebagai “segumpal darah”, atau sebagai “berada dalam rahim”; dan mungkin ada tafsiran lain lagi?) (b) Kehidupan (ditafsirkan sebagai hidup kita sekarang. Hal itu seratus persen saya setujui). (c) Kematian (ditafsirkan sebagai apa yang akan datang setelah hidup kita sekarang. Juga hal yang seratus persen saya setujui). (d) Kehidupan (ditafsirkan sebagai kehidupan di “alam barzakh” atau “akhirat sementara”. Itu menurut hemat saya merupakan suatu pengada-adaan. Janganlah kita tambah-tambahi anak kalimat yang bersangkutan.) (e) Akhirnya: Kehidupan abadi (dianggap sebagai kehidupan sesudah “akhir zaman”, kehidupan abadi di surga atau di neraka setelah “Pengadilan Besar” atau “Hari Kiamat”.) Bagi saya, tafsiran-tafsiran (a), (d), dan (e) di atas itu merupakan hal yang tidak dapat dibenarkan, karena merupakan suatu usaha manipulasi kata-kata dengan maksud menutupi otentisitas siklus hidup dan mati; hanya untuk membenarkan konsepsi yang sekarang berlaku di dunia Islam, yaitu konsepsi bahwa hidup kita di dunia ini hanya satu kali saja. Menurut hemat saya, kita seharusnya berpedoman kepada cara penafsiran yang telah digariskan dalam ayat Q. 21:104, yang menyatakan:

... Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan semula, begitulah pula Kami akan mengulanginya . . . Jadi, bila anda sebelumnya mengartikan perkataan “lalu Ia menghidupkan kamu” dalam ayat Q.2:28 tadi sebagai “lalu Ia melahirkan kamu ke dunia melalui rahim seorang ibu”, maka anak kalimat “kemudian (Ia) menghidupkan kamu (lagi)” harus pula anda artikan sebagai “kemudian (Ia) melahirkan kamu lagi ke dunia melalui rahim seorang ibu”. Simpel, bukan?

Jika kita mempergunakan akal pikiran kita secara konsekuen dan dinamis dalam penafsiran ayat Q. 2:28, maka mau tak mau kita akan sampai kepada konsepsi sebagai berikut: ... (suatu rangkaian siklus hidup dan mati terdahulu) (a) Kematian (perpindahan ruh dari alam fisik ke alam gaib) (b) Kelahiran/kehidupan fisik (c) Kematian (perpindahan ruh dari alam fisik ke alam gaib) (d) Kelahiran/kehidupan fisik (e) Kematian (perpindahan ruh dari alam fisik ke alam gaib, disusul dengan rangkaian siklus hidup dan mati di atas). Mereka yang menuntut bahwa kata “menghidupkan” dalam bagian terakhir ayat Q. 2:28 (anak kalimat “kemudian menghidupkan kamu lagi”) harus diartikan sebagai kehidupan di “alam barzakh”, agaknya terpengaruh oleh kalimat “kemudian kepada-Nya kamu akan kembali”. Sehubungan dengan pendapat itu, saya ingin menyatakan di sini, bahwa saya pun berpendapat bahwa setelah mati dan bangkit di alam gaib kita akan hidup di sana. Hal itu telah saya uraikan dengan panjang lebar di muka. Tetapi, agaknya bukan itulah yang dimaksud dengan ayat itu. Dari penelitian Al-Quran yang saya lakukan, saya berkesimpulan bahwa “kelahiran kembali ke alam fisik” senantiasa dinyatakan dalam Al-Quran dengan perkataan “menghidupkan kembali”, “menghidupkan untuk kedua kalinya”, “menciptakan kembali”, dan sebagainya; sedangkan kebangkitan (kembali) di alam gaib, umumnya dengan kata “membangkitkan”. Seandainya Ilmu Tafsir tokh mengajarkan bahwa kata-kata yang saya kutip di atas harus ditafsirkan sebagai menghidupkan atau membangkitkan kembali di alam gaib, atau sebagai menghidupkan kembali secara rohaniah setelah kematian rohaniah, maka hal itu tidak perlu mengikat kita, karena ajaran demikian adalah buatan atau hasil pemikiran manusia biasa, bukan suatu hal yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad s.a.w., bukan kalam Ilahi. Untuk membuktikan bahwa harus diadakan pembedaan antara ucapan “menghidupkan (kembali)” dan ucapan “membangkitkan (kembali)”, saya akan mengutip sebuah ayat Al-Quran, yaitu ayat Q. 22:6-7, yang berbunyi:

6. Demikianlah adanya, karena Allah, Ia-lah Yang Hak, karena Ia-lah Yang menghidupkan orang mati, dan Ia-lah Yang berkuasa atas segala sesuatu. 7. Dan sesungguhnya saat itu akan tiba - tiada keraguan dalam hal itu - dan oleh karena Allah akan membangkitkan mereka di dalam kubur. Menurut pengertian saya, kutipan di atas menunjukkan dua perkara. Ayat Q. 22:6 menunjuk kepada perkara “menghidupkan orang mati”, atau apa yang saya tafsirkan sebagai “melahirkan kembali ruh orang yang telah meninggal ke dunia melalui kandungan seorang ibu”; sedangkan ayat berikutnya, ayat Q. 22:7, menunjuk kepada kebangkitan ruh orang mati di alam gaib atau akhirat, setelah ia menanggalkan badan kasarnya. Kedua pengertian itu sama sekali tidak boleh dipertukarkan. Setelah orang meninggal, ruh dalam badan halusnya (badan astralnya) akan dibangkitkan di alam gaib. Saat itulah yang dinamakan kiamat atau kebangkitan, sebab kata Arab qiyaamatu berarti “kebangkitan”. (Hal ini akan dibicarakan lebih lanjut dalam Bab VII). Kemudian ia mendapati diri dalam keadaan atau alam yang kita namakan “neraka” atau “surga”, (tanpa harus menunggu

datangnya akhir zaman atau akhir dunia, sebab menurut ayat Q. 6:62 dan Q. 6:165, Tuhan cepat dalam perhitungan-Nya) sedangkan badan fisiknya akan membusuk di dalam tanah dan akhirnya menjadi tanah kembali. Kemudian, menurut apa yang telah saya teliti dalam Al-Quran, setelah hidup di alam gaib atau akhirat selama beberapa waktu - yang lamanya tidak sama untuk setiap orang - ia akan dilahirkan kembali ke dunia dalam badan fisik yang baru. Tubuh fisik yang dengan itu ruh dilahirkan kembali bukanlah tubuh yang dihuninya dahulu, melainkan tubuh yang baru. Ruhnya sama. Sebelum dapat bereinkarnasi, ruh-ruh yang semula berada di “neraka” harus dipindahkan dahulu ke alam gaib yang lebih tinggi, yaitu apa yang biasa kita namakan “surga” atau alam-rohanihalus. Apa alasan yang memberanikan saya mengatakan demikian? Izinkanlah saya menerangkan lebih dahulu bahwa menurut pengertian saya apa yang disebut “neraka” (alam astral atau alam-rohani-kasar bagian rendah) hendaknya jangan kita artikan sebagai tempat hukuman atau penyiksaan semata-mata, melainkan juga sebagai alam kesadaran di mana ruh orang-orang yang telah meninggal mengalami penderitaan mental dan rohani sebagai penebusan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya di dunia fisik; sebagai tempat atau alam untuk menyesali diri, memperbaiki diri, bermawas diri, dan untuk membersihkan diri dari pikiranpikiran dan kebiasaan-kebiasaan buruknya. Setelah di situ menyadari, menyesali, dan cukup menebus dosa-dosa dan kesalahankesalahannya dengan penderitaan mental dan rohani, dan bertaubat, ruh-ruh (dalam badan-rohani halusnya) akan dipindahkan ke alam surga, yang tingkatnya berbeda-beda, seperti secara alegoris dinyatakan dalam ayat Q. 2:29: Ialah yang menciptakan bagimu segala sesuatu yang ada di bumi. Kemudian Ia mengarahkan (perhatian-Nya) ke langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Tahu akan segala sesuatu. Di alam surga, ruh-ruh melanjutkan usahanya menambah pengetahuan dengan bimbingan para ruh yang lebih tinggi derajatnya, dan mungkin para malaikat. Akhirnya, setelah cukup mempersiapkan diri, mereka akan dilahirkan kembali ke dunia, sebagai ciptaan manusia baru, untuk sekali lagi menerima ujian hidup dan menerima pembalasan, buruk ataupun baik, sebagai kompensasi atas perbuatan-perbuatannya dalam masa atau masa-masa hidup yang lalu, seperti dinyatakan dalam ayat Q. 10:4:

KepadaNyalah kamu kembali semuanya. Janji Allah yang benar. Ialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya, supaya Ia dapat memberi pahala kepada mereka yang beriman dan melakukan kebaikan secara adil; sedangkan bagi mereka yang tidak percaya, (disediakan) minuman air mendidih dan siksaan pedih yang menyakitkan karena mereka tidak percaya. Bahwasanya ruh-ruh, setelah menyadari dosa-dosanya dan bertaubat, dapat pindah dari alam neraka ke alam surga, diisyaratkan oleh Tuhan dalam firman-Nya ayat Q. 3:185:

Setiap jiwa akan merasakan kematian. Dan pada hari kebangkitan akan dibayarkan kepada kamu ganjaranmu. Barangsiapa dipindahkan dari api (neraka) dan dimasukkan ke dalam surga, sesungguhnya ia beroleh kemenangan. Dan kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Ayat Q. 3:88-89:

88. Mereka menetap di dalamnya (dalam neraka). Tidak akan diringankan baginya siksaan, dan tidak pula mereka ditangguhkan (siksaannya). 89. Kecuali mereka yang KEMUDIAN bertaubat dan berbuat baik. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dari ayat-ayat di atas dapatlah kita lihat sendiri bahwa dalam neraka sekalipun, ruh-ruh setelah menyadari dan menebus dosa-dosanya secara mental dan rohaniah, dapat bertaubat dan berbuat baik. Saya tahu bahwa pernyataan saya ini sangat bertentangan dengan pendapat kebanyakan ulama Islam (yang mengatakan bahwa setelah mati orang-orang berdosa tidak berkesempatan lagi untuk bartaubat dan beramal). Tetapi itulah apa yang dinyatakan dalam Al-Quran ayat Q.3:88-89 tadi: Orang-orang berdosa dalam neraka yang kemudian bertaubat dan berbuat baik, dapat diringankan siksaannya. Saya mohon dengan hormat agar para pembaca jangan menuduh saya “memberi angin” kepada orang-orang untuk berbuat dosa. Bukan itu yang saya maksud. Maksud saya hanyalah menafsirkan ayat-ayat Al-Quran secara jujur dan lugas dan mencegah timbulnya ajaran tentang Tuhan yang tak kenal ampun (unforgiving God). Tuhan yang Maha Adil dan Maha Pemurah tidak akan membiarkan makhluk-makhluk-Nya terus-menerus tinggal di neraka (meskipun kita sering mendengarkan khotbah tentang “neraka jahanam yang kekal dan abadi”). Tuhan Maha Pengampun, Maha Pendengar, Maha Pemurah. Ruh semua orang, terlepas dari agama apa yang pernah mereka anut ketika hidup di alam fisik, menurut pendapat saya, akhirnya akan diberi kesempatan meninggalkan neraka, yaitu setelah mereka menyadari kesalahan-kesalahannya dan bertaubat. Agaknya untuk maksud itulah Allah s.w.t. telah menciptakan apa yang kita namakan neraka, suatu alam atau tingkat kesadaran di mana ruh-ruh menerima hukuman mental dan rohani atas kesalahan-kesalahan masa lalu, bermawas diri, dan akhirnya bertaubat. Suatu bukti yang nyata untuk kemahaadilan, kasih sayang, dan kemahapemurahan Allah s.w.t. Ia akan selalu memberi kesempatan kepada makhluk-Nya untuk bertaubat dan berbuat baik. Pernyataan saya di atas itu mungkin tidak menyenangkan hati mereka yang suka berkhotbah tentang api neraka jahanam yang kekal dan abadi untuk dosa-dosa syirk, kufur dan kemunafikan agama; tetapi saya benar-benar tidak dapat menerima ajaran orang yang menyatakan bahwa Tuhan tidak bersedia mengampuni dosa-dosa tadi setelah yang bersangkutan bertaubat.

Dengan kesediaan dan keterbukaan hati untuk menerima Kebenaran, kita dapat percaya bahwa dalam segala macam dosa, Tuhan selalu akan memperlihatkan kemahapengampunan-Nya, sebagaimana difirmankan-Nya dalam ayat Q. 39:53, “... Janganlah kamu berputus asa atas rahmat Allah, yang akan mengampuni segala dosa.” Berapa lama ruh-ruh harus tinggal di alam neraka sebelum mereka dapat pindah ke alam surga, hanya Tuhanlah yang tahu. Mungkin sebentar, mungkin lama, semuanya bergantung kepada besar kecilnya dosa atau kesalahan yang mereka perbuat, dan kepada tinggi rendahnya perkembangan spiritual mereka. Dalam Al-Quran sering dipakai kata abadan dan khuldu (khalidiin, khaliduun) yang biasa diterjemahkan oleh para mufassir dengan “kekal” atau “untuk selama-lamanya.” Saya pribadi menganggap kata-kata itu sebagai kiasan untuk menunjukkan waktu yang dirasakan lama. Di alam akhirat, di mana tidak dikenal ruang dan waktu sebagaimana kita kenal di dunia, distorsi atau penyimpangan rasa mengenai waktu jauh lebih besar daripada waktu yang kita kenal di dunia. Di sana, satu hari bagi seseorang yang sedang menderita siksaan mental dan rohani dapat dirasakan sebagai seribu tahun (ayat Q. 22:47). Karena itulah, maka dipakailah ucapan dramatis “kekal” atau “selama-lamanya” untuk menunjukkan waktu yang dirasakan amat lama dan seakan-akan tiada ujung akhirnya itu. Pembuktian III Dalam Pembuktian II telah saya singgung ayat Q. 3:27 sebagai penguat ayat Q. 2:28. Sekarang saya akan membahasnya sebagai bukti tersendiri tentang adanya reinkarnasi. Ayat itu seluruhnya berbunyi sebagai berikut:

Kaumasukkan malam ke dalam siang dan Kaumasukkan siang ke dalam malam. Kaukeluarkan yang hidup dari yang mati dan Kaukeluarkan yang mati dari yang hidup. Kauberi rezeki kepada siapa yang Kaukehendaki tanpa batas. Saya tahu betul bahwa hampir seluruh umat Islam di dunia secara tradisional menafsirkan kalimat “Kaukeluarkan yang mati dari yang hidup dan Kaukeluarkan yang hidup dari yang mati” di atas tidak seperti saya. Menurut hemat saya, kalimat itu menyatakan bahwa yang mati berasal dari yang hidup dan yang hidup berasal dari yang mati dan dengan demikian menyatakan adanya siklus hidup dan mati yang berulang-ulang. Dan memang banyak dan beragam sekali penafsiran yang diberikan oleh para mufassir, baik yang sekarang maupun yang dahulu, mengenai kalimat itu, masing-masing berbeda satu sama lain, sebagaimana dapat anda lihat di bawah ini: 1. Menurut Al-Quran dan Terjemahnya susunan Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Quran yang direstui oleh Menko Urusan Agama/Menteri Agama Republik Indonesia: a) “Mengeluarkan anak ayam dari telur, dan telur dari ayam.” b) “Pergiliran kekuasaan di antara bangsa-bangsa dan timbul tenggelamnya sesuatu umat adalah menurut hukum Allah.” 2. Menurut Tafsir Al-Quran ‘lKarim, susunan Bapak Mahmud Yunus: “Anak burung keluar dari telur ibunya, dan telur keluar daripada perut burung.” 3. Menurut Al-Quran Terjemah Indonesia, karya Angkatan Darat: “Anak burung keluar dari telur induknya, telur keluar.”

4. Menurut Tafsir Al-Quran, susunan Profesor T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy: a) “Mengeluarkan orang alim dari orang jahil, dan mengeluarkan orang jahil dari orang alim.” b) “Mengeluarkan orang mukmin dari orang kafir, dan mengeluarkan orang kafir dari orang mukmin.” c) “Mengeluarkan batang kurma dari biji anak kurma, dan mengeluarkan anak biji kurma dari batang kurma.” d) “Mengeluarkan burung dari telur, dan mengeluarkan telur dari burung.” 5. Menurut Almarhum Dr. Abdul Aziz Pasha dalam kitabnya Al Islam wathibbul hadits (dikutip dari Tafsir Al-Quran Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy): “Menyuburkan yang hidup dengan makan benda-benda yang mati, dan mengeluarkan susu, daging, dan tumbuh-tumbuhan dari yang hidup.” 6. Menurut Diinu’l Islam, karangan Maulana Muhammad Ali M.A., LL.D: “Yang dimaksud dengan yang mati ialah rohaninya, sedangkan yang dimaksud dengan yang hidup ialah rohaninya pula.” 7. Menurut The Holy Qur-an, susunan Abdullah Yusuf Ali: a) “Kematian (dan kehidupan) secara fisik, secara intelektual, secara emosional, dan spiritual, baik mengenai perseorangan maupun kehidupan golongan atau nasional.” b) “Musim-dingin kematian (winter of death), musim-semi kehidupan kembali (spring of revivification), musim-panas pertumbuhan (summer of growth.), musim-gugur kerusakan (autumn of decay), dan kembali ke ‘winter of death’” 8. Menurut seorang ahli fisika yang menjadi ulama Islam: “Lingkaran proses pembentukan manusia: Mayat dikubur, membusuk, dan lama-kelamaan menjadi tanah. Unsur-unsur kimianya diisap oleh tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan dimakan oleh ternak. Daging ternak dan tumbuh-tumbuhan dimakan manusia. Unsur-unsur kimianya dipakai untuk pertumbuhan janin dalam rahim ibu. Bayi dilahirkan, dan dibesarkan dengan susu ibu, yang di dalamnya terdapat unsur-unsur kimia; ditambah pula dengan sayursayuran, daging, dari lain-lain, yang kesemuanya mengandung unsur-unsur kimia dan berguna bagi pertumbuhan. Si bayi menjadi besar, mendewasa, menua, dan akhirnya meninggal dunia. Mayatnya dikubur, membusuk, kembali menjadi tanah, dan seterusnya. Proses seperti semula berulang kembali.” Tak usah kiranya saya kutip tafsiran-tafsiran yang lain. Para pembaca pun tentu dapat menambahnya sendiri berdasarkan apa yang pernah mereka terima dari guru-guru agama mereka. Oleh karena semua tafsiran tadi itu merupakan fakta atau fenomena yang memang terjadi, saya tidak akan menentangnya. Tetapi, apakah tafsiran-tafsiran itukah yang dimaksud dengan ayat Q. 3:27 itu? Hendaknya kita ingat bahwa kita tidak boleh membelok-belokkan makna ayat-ayat Al-Quran atau mengada-adakan tafsiran yang bukan-bukan, oleh karena hal demikian merupakan perbuatan yang dilarang dalam ayat Q. 16:105, yang berbunyi:

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.

Ayat itu agaknya mengacu kepada perbuatan orang yang, oleh karena tidak percaya kepada ajaran yang tertulis dalam ayat-ayat Al-Quran tertentu, lalu membelok-belokkan artinya, dengan maksud untuk menyesuaikannya dengan konsepsi pribadinya atau mengaburkan ajarannya. Karena itu, menurut hemat saya, kalimat “Kaukeluarkan yang mati dari yang hidup dan Kaukeluarkan yang hidup dari yang mati” hendaknya kita artinya secara lugas dan normal, tanpa mengada-adakan tafsiran yang bukan-bukan. Ayat termaksud adalah ayat yang dalam ayat Q. 3:7 disebut ayat muhkamaat, yaitu ayat yang jelas dan terang maksudnya. Saya mohon para pembaca yang budiman agar merenungkan hal di atas, demi kemurnian ajaran-ajaran Al-Quran. Kembali ke ayat Q. 3:27 tadi, dari kalimat “Kaumasukkan malam ke dalam siang dan Kaumasukkan siang ke dalam malam”, kita dengan mudah dapat menarik kesimpulan bahwa kalimat itu menunjukkan proses pergantian siang dan malam yang terus-menerus, yaitu siklus siang dan malam; bukan saja satu kali, melainkan terus-menerus, selama bumi berputar mengelilingi matahari, selama bumi berputar pada porosnya. Bila dibuatkan diagram, gambarnya akan berupa sebagai di bawah ini:

Dan seolah-olah Allah s.w.t. menghendaki agar kita menarik suatu analogi dari kalimat itu, Ia langsung memperikutkan kalimat “Dan Kaukeluarkan yang hidup dari yang mati dan Kaukeluarkan yang mati dari yang hidup.” Pembaca yang kritis dan berpikir jujur dapat mengambil kesimpulan bahwa kalimat ini pun menunjukkan suatu siklus, kali ini, siklus hidup dan mati; karena, menurut ayat itu, sebelum kita hidup sekarang, kita mati. (Kita dikeluarkan dari orang-orang mati, katanya, dan seperti telah saya katakan, orang-orang mati adalah ruh-ruh yang sekarang tinggal dan hidup di alam akhirat. Jadi, kita ini, sebenarnya, adalah orang-orang yang dahulu tinggal di alam akhirat). Dan sebelum kita mati itu, kita hidup; sebelum hidup, kita mati; sebelum mati, kita hidup; dan seterusnya, kembali ke hidup pertama kita masing-masing. Dengan perkataan lain, ayat tadi mengisyaratkan bahwa sebelum kita hidup sekarang, kita telah mengalami rangkaian siklus hidup dan mati terdahulu. Demikian pula, setelah kita menyelesaikan hidup kita sekarang ini, kita pasti akan mati; dan menurut ayat Q. 3:27 tadi, kita akan hidup lagi (sudah barang tentu, setelah tinggal dan hidup di akhirat, dan melalui proses kelahiran); kemudian kita mati lagi, hidup lagi, mati lagi, hidup lagi dan seterusnya, sampai saat Tuhan memutuskan rangkaian siklus hidup dan mati dan ruh kita terus tinggal di akhirat, untuk akhirnya benar-benar kembali kepada Al-Khalik. Gambar siklus tadi adalah sebagai berikut:

Seperti terlihat di atas, soalnya sebenarnya amat sederhana, jelas dan terang. Kalimat “Kaukeluarkan yang hidup dari yang mati dan Kaukeluarkan yang mati dari yang hidup” jelas menunjukkan siklus hidup dan mati yang berulang-ulang. Karena itu, bila ada orang yang mengatakan bahwa hidup kita ini mulai dengan kelahiran dan berakhir dengan “Hari Pembalasan”, maka ia sebenarnya menentang apa yang diajarkan Allah s.w.t. kepada Nabi Muhammad s.w.t.: Tuhan Sendiri jelas-jelas mengajarkan adanya hukum siklus hidup dan mati yang berulang-ulang bagi manusia, yang tersimpul dalamnya reinkarnasi. Sebagian orang mungkin tetap bersikeras mengatakan bahwa hidup termaksud dalam ayat Q. 3:27 tadi adalah hidup di akhirat. Seandainya itu benar, maka berdasarkan ayat yang sama saya tetap merasa berwenang mengatakan bahwa adanya suatu siklus tetap berlaku, tetapi kali ini, siklus mati dan hidup-di-akhirat. Hal ini berarti pula bahwa ada siklus mati dan hidup-di-akhirat yang berulang-ulang. Dari kenyataan itu, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa di samping setiap kematian dan setiap hidup-di-akhirat pasti ada kelahiran dan hidup-di-dunia, karena keempat fenomena itu merupakan rangkaian yang tak terpisahkan: Tidak ada hidup-di-akhirat jika tidak ada kematian sebelumnya; tidak ada kematian, jika tidak ada hidup-di-dunia sebelumnya: tidak ada hidup-di-dunia jika tidak ada kelahiran; tidak ada kelahiran, jika tidak ada hidup-di-akhirat sebelumnya. Hal terakhir saya dasarkan kepada anak kalimat “Kaukeluarkan yang hidup dari yang mati”; dan yang mati itu adalah ruh-ruh yang sekarang hidup di akhirat. Gambar proses di atas itu adalah sebagai berikut:

Di antara para pembaca mungkin masih ada yang tetap enggan menyetujui uraian saya di atas itu dan mengatakan tidak ada alasan sama sekali untuk mengambil kesimpulan bahwa siklus itu menunjuk kepada manusia; mereka lebih suka berpendapat bahwa ayat tersebut hanya berlaku untuk benda-benda hidup lainnya, yaitu untuk menunjukkan adanya hukum evolusi alam (suatu mode pengertian yang kini amat populer di kalangan cendekiawan). Sudah barang tentu, para pembaca yang budiman, saya pun percaya akan berlakunya hukum evolusi alam itu, karena evolusi adalah suatu fenomena atau hukum alam yang universal. Akan tetapi bagi saya, dalam hal khusus ini, perkara evolusi bukanlah soal yang terutama dimaksud, meskipun saya akui bahwa dalam setiap eksistensi hidup selalu terdapat unsur evolusi. Saya lebih condong berpendapat bahwa ayat Q. 3:27 itu benar-benar merujuk kepada siklus siang dan malam dan siklus hidup dan mati. Tetapi seandainya para peragu ingin tetap pada pendiriannya, bahwa siklus hidup atau evolusi termaksud hanya mengenai benda-benda hidup pada umumnya, saya ingin bertanya, “Bukankah manusia pun benda hidup?” Untuk meyakinkan lagi para peragu akan kebenaran argumentasi atau penalaran saya di atas, saya ingin membawa-bawa nama dua orang filosuf Yunani kuno, yaitu Sokrates dan Plato, yang, seperti diketahui oleh para cendekiawan, merupakan pendukung falsafah reinkarnasi dan siklus hidup dan mati. Dalam bukunya, Phaedo (The Dialogues of Plato), The Pocket library, halaman 89), Plato mengutip gurunya, Sokrates, sebagai mengajarkan: Just as the dead come from the living, so the living come from the dead.

Terjemahannya: Sebagaimana orang-orang mati berasal dari orang-orang hidup, begitu pulalah orang-orang hidup berasal dari orang-orang mati. Para pembaca yang obyektif tentu dapat menerima bahwa dalil di atas menunjukkan suatu siklus hidup dan mati, yang di dalamnya terkandung hukum reinkarnasi. Pertanyaan saya: Jika para cendekiawan kita percaya bahwa berdasarkan ucapan tadi Sokrates dan Plato mengajarkan paham siklus hidup dan mati dan reinkarnasi, mengapa kita tidak akan percaya bahwa Al-Quran c.q. Nabi Muhammad s.w.t. pun sebenarnya mengajarkan hal yang pada hakekatnya sama? Karena ayat Q. 3:27 itu mengatakan: ... Dan Kaukeluarkan yang hidup dari yang mati dan Kaukeluarkan yang mati dari yang hidup. .. Pembuktian IV Ayat Q. 36:68 berbunyi sebagai berikut:

Dan barangsiapa Kami lanjutkan umurnya, Kami balikkan kejadiannya. Apakah kamu tidak punya pikiran? Saya tahu bahwa kebanyakan orang menafsirkan ayat di atas sebagai ayat yang menunjukkan kepikunan orang-orang lanjut usia. Hal itu memang dapat dikatakan masuk akal, sebab orang-orang lanjut usia biasa amat pelupa dan daya pikir dan kekuatan badannya sangat berkurang. Akan tetapi, saya berpikir lebih lanjut dan bertanya kepada diri sendiri, “Apakah memang itu yang dimaksud Tuhan dengan ayat tersebut?” Jika memang kepikunan atau pelemahan badan yang dimaksud-Nya, mengapa kalimat itu diembel-embel-Nya dengan kecaman berbentuk pertanyaan, “Apakah kamu tidak punya pikiran?” Kepelupaan dan pelemahan jasmani pada orang-orang lanjut usia demikianlah wajarnya, - semua orang tahu, semua orang percaya akal hal itu - sehingga sebetulnya tidak perlu ditandaskan secara khusus dengan kecaman, “Apakah kamu tidak punyai pikiran?”. Karena itu, pikir saya, pasti ada alasan atau maksud lain di belakang peringatan yang nampak sepintas lalu itu. Adapun tafsiran yang akhirnya saya simpulkan adalah sebagai berikut: Bilamana seseorang meninggal (dalam hal ayat Q. 36:68, karena lanjut usia), maka, setelah dikuburkan, ia akan dibangkitkan di alam akhirat, dan setelah tinggal beberapa lama di sana, ia akan dijelmakan kembali sebagai bayi atau dilahirkan kembali ke dunia, atau, dengan istilah yang dipakai di dalam ayat itu, 'Kami balikkan kejadiannya': Sebab, bukankah kebayian itu kebalikan dari usia lanjut? Atau, bukankah kelahiran itu kebalikan dari kematian? Pembuktian V Mungkin pembuktian IV di atas tidak begitu memuaskan bagi para pembaca, yang karena beberapa hal tidak mau menerimanya baik. Karena itu saya akan minta bantuan kepada ayat-ayat Al-Quran lainnya yang hampir senada, yaitu ayat Q. 16:70 dan ayat Q. 22:5, yang antara lain memuat kalimat yang berbunyi:

... Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada tingkat hidup yang paling rendah, sehingga ia tidak mengetahui apa-apa setelah tadinya berpengetahuan … Saya tahu benar bahwa bagian ayat yang tercetak miring di atas itu biasa ditafsirkan sebagai “dimasukkan ke dalam neraka”, “dijadikan kafir”, atau “dijadikan pikun” Tetapi apakah tafsiran-tafsiran itu cocok dengan ucapan berikutnya yang berbunyi, “sehingga ia tidak mengetahui apa-apa setelah tadinya berpengetahuan”? Saya rasa tidak, kecuali barangkali tafsiran yang menunjukkan kepikunan karena usia lanjut. Tetapi dalam hal itu pun, sebetulnya tafsiran itu tidak seluruhnya benar, sebab orang lanjut usia, bagaimana pun pikunnya, umumnya masih mengetahui apa-apa. Ia masih bisa membedakan mana yang benar mana yang salah, mana yang enak mana yang tidak, mana yang boleh mana yang tidak; sedangkan dalam ayat tadi jelas disebutkan “tidak mengetahui apa-apa”. Karena itu, saya berkesimpulan bahwa yang “dikembalikan kepada tingkat hidup yang paling rendah” itu adalah bayi yang baru dilahirkan. Sebab bukankah seorang bayi yang baru dilahirkan itu merupakan makhluk yang paling rendah tingkat hidupnya? Ia sama sekali tidak mengetahui apaapa, sedangkan sebelumnya, di alam akhirat dan dalam masa hidup sebelumnya, ia banyak berpengetahuan. Pembuktian VI Sebagai pembuktian lain tentang adanya ajaran reinkarnasi dalam Al-Quran, saya akan mengutip ayat Q. 2:55-56, yang berbunyi:

55. Dan ketika kamu berkata: “Hai, Musa! Kami tidak mau percaya kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan nyata,” lalu halilintar menyambarmu sedang kamu menatap. 56. Kemudian Kami hidupkan kamu setelah kematianmu agar kamu dapat bersyukur. Dengan berpikir secara rasional dan jujur, kita dapat mengerti bahwa ayat-ayat itu ditujukan kepada kaum yang pernah hidup semasa Nabi Musa a.s. dan kemudian, setelah mereka mati, dihidupkan lagi ke dunia (melalui kelahiran tentunya). (Bacalah perkataan mereka: “Hai, Musa! Kami tidak mau percaya kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan nyata” dan firman Tuhan “Kemudian Kami hidupkan kamu setelah kematianmu”.) Dan saya rasa para pembaca pun sependapat dengan saya bahwa ayat-ayat itu ditujukan kepada umat manusia yang ketika itu hidup, bukan kepada orang-orang yang mati. Dari ayat 56 itu saja, sebenarnya dapat kita simpulkan bahwa kelahiran kembali ke dunia secara fisik itu ada. Meskipun demikian, saya maklum bahwa di antara para pembaca mungkin ada yang tidak dapat mengikuti jalan pikiran saya di atas. Karena itu, saya akan mencoba meyakinkan anda dengan ayat-ayat yang sama tetapi dengan cara pengutaraan yang lain:

Jelas bahwa umat manusia yang dimaksud dalam ayat Q. 2:55 di atas itu merupakan orangorang yang fasik, karena mereka ingkar kepada apa yang diajarkan oleh Nabi Musa as. Maka, sebagai hukuman Ilahi, mereka disambar “halilintar” sehingga mati semua. Dan oleh karena mereka itu dalam hidupnya di dunia merupakan orang fasik, maka dapat kita duga bahwa setelah mati dan bangkit di alam gaib mereka dimasukkan ke dalam neraka, bukan? Tetapi dapatkah mereka di sana bersyukur, sebagaimana dinyatakan dengan anak kalimat “agar kamu bersyukur” dalam ayat Q. 2:56 tadi? Pasti tidak, bukan? Mana boleh mereka bersyukur jika setelah bangkit di akhirat mereka mendapatkan dirinya dalam neraka! Karena itu, dapat kita pastikan bahwa menafsirkan perkataan “Kemudian Kami hidupkan kamu setelah kematianmu” dalam ayat Q. 2:56 di atas sebagai “dihidupkan kembali di akhirat” itu tidaklah tepat dan logis. Yang tepat dan logis ialah bila kita tafsirkan kalimat itu sebagai “Kemudian Kami melahirkan kamu kembali ke dunia”; sebab dengan demikian mereka diberi kesempatan lagi untuk diuji dan berbuat baik. Hanya dengan dilahirkan kembali ke dunialah, mereka dapat bersyukur. Mungkin masih ada pembaca yang tidak setuju dengan uraian saya di atas dan mengajukan, “Memang betul orang-orang fasik yang menentang Nabi Musa a.s. itu semuanya mati disambar halilintar, tetapi yang kemudian dihidupkan atau dilahirkan ke dunia itu bukanlah orang-orang yang dahulu pernah hidup dan mati disambar halilintar, melainkan orang-orang lain dari umat manusia yang sama “. Untuk menetralisir sanggahan demikian, saya ingin minta bantuan lagi kepada Al-Quran dan mengutip ayat Q. 10:4 yang berbunyi sebagai berikut:

... Ialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya, supaya Ia dapat memberi pahala kepada mereka yang beriman dan melakukan kebaikan secara adil; sedangkan untuk orang-orang yang ingkar disediakan minuman yang mendidih dan azab yang pedih karena mereka ingkar. Ayat di atas jelas mengatakan bahwa agar Tuhan dapat memberi pahala kepada orang-orang saleh dan memberi hukuman kepada orang-orang yang ingkar, maka Ia mengulangi penciptaan mereka itu. Dengan perkataan lain, bilamana Tuhan menciptakan seseorang, maka orang yang sama itu akan diciptakan-Nya kembali ke dunia supaya ia mendapat balasan yang setimpal atas amalan saleh dan amalan buruk yang diperbuatnya selama masa hidup sebelumnya - di samping ganjaran atau hukuman yang diterimanya di akhirat. Seandainya yang diulangi penciptaannya itu orang lain, maka ayat itu menjadi irrasional, tidak logis, sebab mengapa ia harus menerima balasan atas perbuatan yang dilakukan oleh orang lain? Dari penalaran di atas, anda dapat meyakinkan diri bahwa ruh yang samalah yang dilahirkan atau diciptakan kembali ke dunia itu.

Pembuktian VII Bahwasanya kita dahulu sudah pernah diciptakan - “diciptakan”, berdasarkan ayat Q. 22:5, Q. 23:12-14, Q. 32:6-9, dan Q. 77:20-22, berarti “dilahirkan ke dunia melalui rahim seorang ibu” dapat pula kita lihat dari ayat Q. 19:66-67, yang berbunyi:

66. Dan manusia berkata: “Betulkah bahwa, apabila aku telah mati aku akan dihidupkan kembali?” 67. Tidakkah manusia itu ingat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu ketika ia tidak ada sama sekali? Ayat Q. 19:67 di atas menyatakan bahwa dahulu, sebelum kita dilahirkan atau sebelum kita ada, kita telah pernah diciptakan oleh Tuhan, tentunya melalui rahim para ibu. Dengan perkataan lain; Hidup kita sekarang ini bukanlah untuk pertama kali. Ada banyak lagi ayat dalam Al-Quran yang menunjukkan ajaran reinkarnasi, seolah-olah dengan mengulangi-ulangi ajaran itu, Allah s.w.t. ingin menyuruh umat-Nya menyadarinya. Tetapi untuk sementara waktu, saya rasa cukuplah dengan sekian saja.

IV Tentang Kata “Ajal”
Meskipun saya telah berusaha sebaik-baiknya untuk meyakinkan para pembaca yang budiman akan keotentikan paham reinkarnasi, saya sadar bahwa tentu masih banyak di antara mereka yang lebih suka berpegang kepada ajaran yang tradisional: Reinkarnasi bukan ajaran Islam. Mereka dapat mengatakan, reinkarnasi bertentangan dengan ajaran Islam lainnya yang menyatakan bahwa hidup di akhirat itu untuk selama-lamanya. Karena itu, pertanyaan yang paling crucial (yang paling penting dan menentukan) ialah, “Adakah ayat dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa hidup di akhirat itu tidak untuk selama-lamanya?” Orang-orang yang menentang reinkarnasi tentu saja menjawab, “Tidak ada!” Tetapi saya katakan, “Ada.” Untuk membuktikan kebenaran pernyataan saya itu, saya akan menyajikan ayat Q. 6:2, yang berbunyi sebagai berikut: Huwal ladzii khalaqakum min thiinin tsumma qadhaa 'ajalan, wa 'ajalum musammaa 'indahuu tsumma 'antum tamtaruun. Ayat itu diterjemahkan dalam Al-Quran dan Terjemahnya, susunan Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Quran yang direstui Departemen Agama Republik Indonesia, sebagai berikut: Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukan ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit), yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu). Dalam Al-Quranu’l Karim - Bacaan Mulia, H.B. Yassin: Ialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian menentukan ajal(mu) - Dan ajal ditentukan pada-Nya - Namun kemudian kamu ragu. Dalam Al-Qur'aan Terjemah Indonesia, karya Angkatan Darat R.I.: Ialah yang menciptakan dirimu dari tanah, kemudian Ia menentukan satu ajal, dan satu ajal lagi ada di sisiNya. Akan tetapi kamu tetap ragu. Dalam Tafsir Al-Quran, karya Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy: Dialah Tuhan yang telah menjadikan kamu daripada tanah, kemudian menentukan ajal, sedang tempo (batas) ajal itu sudah tertentu di sisinya, tidak diketahui oleh selain-Nya, kemudian kamu meraguinya pula. Dalam Tafsir Al-Quranu’l Karim, susunan Mahmud Yunus: Dia yang menjadikan kamu daripada tanah, kemudian ditetapkanNya ajalmu, dan ajal yang ditentukanNya pada sisiNya, kemudian itu kamu orang-orang kafir menaruh syak wasangka jua kepadaNya. Dalam Terjemah Al-Quran Secara Lafzhiyah, terbitan Yayasan Pembina Masyarakat Islam “ALHIKMAH” Jakarta: Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menentukan waktu (kematianmu), dan (ada lagi) waktu yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada di sisi-Nya, kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang kebangkitan itu). Dalam Terjemah & Tafsir AL-QUR AN, susunan Bachtiar Surin: Dialah yang menciptakan kamu dari unsur tanah, kemudian Dia tentukan batas waktu kematian kamu. Di samping itu ada pula batas waktu lainnya yang akan ditetapkan kemudian oleh-Nya. Namun begitu kamu masih saja meragukannya.

Dengan catatan: Ada dua macam batas waktu yang ditetapkan Tuhan: a. Batas waktu dalam hidup bagi setiap diri manusia. b. Batas waktu untuk kebangkitan hidup kembali dari semua manusia, ialah pada Hari Kiamat (batas waktu umur dunia). Para pembaca dapat melihat dari kutipan-kutipan di atas bahwa kata Arab ajalu itu selalu diterjemahkan dengan kata “ajal” dalam arti “kematian”, kecuali dalam dua terjemahan terakhir. Tetapi sayang sekali, dalam terjemahan-terjemahan itu pun konotasinya, menurut hemat saya, tidak seluruhnya benar. (Hari Kiamat, pada waktu ayat-ayat Al-Quran diturunkan empat belas abad yang lalu, bukan berarti batas waktu umur dunia, melainkan saat kebangkitan ruh di akhirat tak lama setelah mati). Adapun menurut hemat saya, ayat Q. 6:2 itu secara obyektif harus diterjemahkan sebagai berikut: Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah. Kemudian Dia menetapkan bagimu suatu masa (waktu). Dan suatu masa (lagi) ditentukan di sisi-Nya. Kemudian masih kamu ragukan! Dan bilamana saya menerjemahkan dan mengkonotasinya: Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah (= dari elemen-elemen kimiawi yang terdapat dalam tanah). Kemudian Dia menetapkan bagimu suatu masa (untuk hidup di dunia, yaitu masa hidup yang akan berakhir dengan kematian). Dan suatu masa (yang lain) ditentukan(-Nya) di sisi-Nya (= di alam akhirat, yaitu masa akhirat yang akan berakhir dengan dilahirkannya kamu kembali ke dunia). Kemudian (Namun) masih kamu ragukan (bahwa tinggal hidup di akhirat itu hanya selama masa yang terbatas atau tertentu). Jadi yang diragukan oleh para peragu itu bukanlah kebangkitan, melainkan adanya masa tertentu di alam akhirat bagi manusia yang telah meninggal. Dapat anda lihat bahwa ada perbedaan makna amat besar antara terjemahan saya dan terjemahan-terjemahan yang saya kutip tadi mengenai ayat Q. 6:2. Saya terjemahkan kata Arab ajalan dan ajalun dengan “masa”, sedangkan para penerjemah dan mufassir Indonesia tadi dengan “kematian” atau “ajal” dalam arti kematian. Dari penelitian kata Arab termaksud dalam Al-Quran, saya memperoleh kesimpulan bahwa arti kata ajalu pada masa Nabi Muhammad s.a.w. masih hidup, ialah “masa” atau “jangka waktu”, bukan “kematian”. Dan saya rasa amatlah logis bila sekarang pun, dalam menelaah Al-Quran, kita harus menafsirkan kata Arab ajalu itu dengan arti kata yang berlaku pada masa Nabi Muhammad s.a.w, hidup, bukan dengan arti sekarang. Sebenarnya saya merasa diri melampaui batas karena berani-berani melancangi para ahli bahasa dan jutaan orang Muslimin di Indonesia yang berpendapat bahwa kata ajal yang berasal dari kata Arab itu berarti “kematian”. Dan atas kelancangan itu, saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada anda sekalian. Tetapi demi Kebenaran, saya mohon pula sudi apalah kiranya anda mengizinkan saya menjelaskan apa yang telah mendorong saya mengemukakan pendapat yang amat bertentangan dengan pendapat umum itu. Pertama-tama, pengambilan kata “masa” atau “jangka waktu” sebagai terjemahan kata Arab ajalu atau kata-kata imbuhannya saya dasarkan pada Kamus Al-Quran terbitan Ghalia dan pada terjemahan ayat Q. 6:2 dalam bahasa Inggris oleh Mohammad Marmaduke Pickthall dalam bukunya The Glorious Koran dan oleh A. Yusuf Ali dalam bukunya, The Holy Qur'an. Untuk jelasnya, saya sajikan terjemahan mereka secara lengkap. Terjemahan Mohammad Marmaduke Pickthall: He it is Who hath created you from clay and hath decreed a term for you. A term is fixed with Him. Yet ye still doubt.

Terjemahan A. Yusuf Ali: He it is Who created You from clay, and then Decreed a stated term (For you). And there is In His Presence another Determined term; yet Ye doubt within yourselves! Ingin saya tambahkan pula terjemahan Soedewo dalam bukunya, De Heilige Qoeran, yang berbahasa Belanda: Hij is het, Die u uit Klei heeft geschapen, daarna Heeft Hij een termijn bepaald; en er is een termijn bij Hem genoemd; toch twist (twijfelt) gij. Sebagaimana dapat kita lihat di atas, ketiga penerjemah itu menerjemahkan kata-kata Arab ajalan dan ajalun (kata imbuhan dari ajalu) dengan kata term atau termijn, yang semuanya, dalam bahasa Indonesia, berarti “masa” atau “jangka waktu”. Tidak ada di antara mereka yang menerjemahkannya dengan death atau dood (kematian atau maut). Seandainya saya harus mengandalkan tafsiran saya kepada terjemahan-terjemahan yang dibuat oleh para mufassir dan penerjemah Indonesia yang menerjemahkan ajalan dan ajalun dengan “kematian” atau kata pinjaman “ajal”, maka saya akan terpaksa menarik kesimpulan, misalnya, bahwa setelah mati kita akan tetap di alam “barzakh”(?), dan bila kematian kedua(?) tiba pada “akhir zaman”, baru kita akan dibangkitkan, dihisab, dan dimasukkan ke “neraka” atau “surga”, untuk kemudian tinggal di sana selama-lamanya. Selain itu, terpaksa pula saya tafsirkan bahwa kebangkitanlah yang diragukan oleh para pengingkar itu. Tetapi oleh karena saya mendasarkan penafsiran saya kepada terjemahan yang berbahasa Inggris dan Belanda tadi - yang bagi saya nampak lebih obyektif dan sesuai dengan kata aslinya kesimpulan saya adalah sebagai berikut: Setelah menghabiskan masa waktu di dunia yang ditetapkan oleh Tuhan bagi kita, tak lama setelah meninggal, kita akan bangkit untuk kemudian dihisab dan hidup di alam akhirat, juga selama suatu masa waktu tertentu, sebagaimana dimaksudkan dalam ayat Q. 6:2 itu. Dan setelah masa waktu tertentu di “sisi Tuhan” itu selesai, kita akan dilahirkan kembali. Menurut hemat saya, kesimpulan demikian sangat sesuai dengan ayat-ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Tuhan mengeluarkan orang-orang hidup dari orang-orang mati (ayat Q. 3:27) atau bahwa kita akan dihidupkan kembali bila kita telah menjadi debu seperti nenek moyang kita (Q. 27:67) dan ayat-ayat lainnya yang telah saya bahas terdahulu. Dan saya berharap anda ketahui pula bahwa yang menyebabkan Tuhan mengecam manusia dengan kata-kata “Namun masih kamu ragukan!” itu ialah ketidakpercayaan sebagian umat manusia kepada adanya masa waktu di alam akhirat (“di sisi Allah”), bukan ketidakpercayaan kepada kebangkitan. Semua orang Muslimin percaya bahwa di alam akhirat kita akan dibangkitkan dan kemudian hidup di sana; tetapi tidak semua orang percaya bahwa hidup di akhirat itu (umumnya) terbatas pada suatu masa waktu tertentu. Dengan memberikan kecaman “Namun masih kamu ragukan!” itu, Tuhan seolah-olah ingin menyerukan agar manusia percaya bahwa hidup di akhirat dengan pelbagai alamnya itu bukanlah untuk selama-lamanya, melainkan untuk suatu waktu tertentu - dalam bahasa Arabnya, ‘ajalum musamman - yang lamanya bergantung kepada kebutuhan dan perkembangan jiwa masing-masing.

Untuk memperkuat pernyataan bahwa kata Arab ajalu itu sama sekali bukan berarti “kematian”, saya akan mengutip ayat Q. 2:231, yang berbunyi sebagai berikut:

Wa 'idzaa thallaqtumunnisaa'a faba laghna ajalahunna fa 'amsikuu hunna bima'ruufin aw sarrihuuhunna bima'ruuf… Artinya: Bila kamu menceraikan perempuan-perempuan dan mereka telah memenuhi masa waktunya, ambillah mereka kembali dengan baik, atau lepaskanlah mereka dengan baik …. Kata imbuhan Arab ajalahunna di atas menunjuk kepada suatu masa, dalam hal khusus ini, kepada masa waktu yang telah ditetapkan oleh agama Islam bagi seorang janda untuk menunggu sebelum ia diperbolehkan kawin lagi, yaitu masa 'iddah. Seperti dapat anda maklumi, ayat suci tadi akan hilang rasionalitasnya bilamana kita terjemahkan ajalahunna dengan “kematiannya”, sebagaimana dapat anda lihat dari terjemahan di bawah ini: Bila kamu menceraikan perempuan-perempuan dan mereka telah memenuhi kematiannya, ambillah mereka kembali dengan baik, atau lepaskanlah mereka dengan baik Terjemahan di atas amat irrasional, bukan? Sebab bagaimana mungkin seorang menikahi kembali bekas isterinya yang telah meninggal! Contoh lain ayat Q. 2:282: Yaa 'ayyuhal-ladziina 'aamanuu 'idzaa tadaa yantum bi-dainin ilaa 'ajalim musamman faktubuuhu … Artinya: Hai, orang yang beriman. Jika kamu berjual beli atas dasar utang piutang untuk waktu yang ditentukan, tuliskanlah … Juga di sini kata Arab ajalu jelas menunjuk kepada suatu masa waktu yang telah ditetapkan bagi seseorang, kali ini, untuk membayar utangnya. Kata Arab itu sama sekali bukan berarti “kematian”. Contoh lain lagi, ayat Q. 22:5:

Hai, manusia! Jika kamu ragu-ragu tentang kebangkitan, (ketahuilah) bahwa Kami ciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari suatu gumpalan daging yang berbentuk dan tidak berbentuk, agar Kami dapat menjelaskan kepadamu. Dan Kami tempatkan yang Kami kehendaki di dalam rahim untuk suatu masa tertentu, dan kemudian Kami keluarkan kamu sebagai anak, dan kamu menjadi dewasa …

Seperti dapat anda lihat di atas, seandainya kita ganti perkataan “masa tertentu” - dalam bahasa Arabnya, 'ajalim musamman - dengan “kematian tertentu”, maka kalimat itu pun akan kehilangan rasionalitasnya. Sebab mana mungkin janin yang telah mati dalam rahim dapat dikeluarkan sebagai anak hidup dan kemudian menjadi dewasa! Untuk lengkapnya, mari kita ambil lagi. terjemahan ayat Q. 6:2 yang dibuat oleh para penyusun Al-Quran dan Terjemahnya susunan Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Quran yang direstui Departemen Agama Republik Indonesia: Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukanNya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu). Jika kita menganggap terjemahan di atas benar dan kita menelaahnya secara jujur dan konsisten, maka kita terpaksa harus percaya bahwa setelah hidup fisik kita berakhir, ada dua kali atau dua macam kematian: kematian pertama, ketika kita meninggalkan dunia fana ini; dan kedua, bila kita dibangkitkan pada akhir zaman(?). Tetapi benarkah kesimpulan itu? Menurut hemat saya, terjemahan di atas bertentangan dengan ajaran Al-Quran yang menyatakan bahwa hanya ada satu macam kematian, yaitu kematian yang pertama saya sebut tadi. Saya mohon anda baca lagi ayat Q. 44:56 di bawah ini: Di sana (akhirat, surga) mereka tidak akan merasakan kematian, kecuali kematian pertama (di dunia). Dan Ia akan memelihara mereka dari azab neraka. Jelas bahwa terjemahan ayat Q. 6:2 seperti di atas itu salah, bukan? Tetapi cobalah terjemahkan kata Arab ajalan dan ajalun itu dengan “masa waktu”, maka akan timbul rasionalitasnya dan akan anda sadari bahwa benarlah ajaran yang menyatakan hidup di akhirat atau “di sisi Allah” Itu tidak untuk selama-lamanya, dan akan anda akui kebenaran ajaran universal reinkarnasi. Saya dapat mengutip banyak ayat lagi untuk menunjukkan kepada anda bahwa kata Arab ajalu yang menghasilkan kata pinjaman ajal itu sama sekali bukan berarti “kematian”. Akan tetapi, agar jangan berkepanjangan, saya akan menyebutkan saja nomor-nomor surah dan ayatnya, yaitu Q. 4:77, Q. 5:32, Q. 6.128, Q. 7:34, Q. 7:185, Q. 10:11, Q. 10:49, Q. 11: 104, Q. 15:5, Q. 20:129, Q. 63:10, untuk anda teliti sendiri dalam Al-Quran bila ada waktu terluang. Seorang kenalan baru yang beriktikad baik tetapi tidak setuju dengan gagasan reinkarnasi menulis kepada saya sebagai berikut: “Saya tidak apriori menolak pengertian “ajal” yang anda tafsirkan. Tetapi saya yakin anda juga akan menerima satu pengertian di dalam bahasa bahwa ada kalanya satu kata bermakna banyak. Jadi bisa saja “ajal” berarti “mati” asal didukung oleh dalil-dalil lainnya. Dalam hal yang anda tunjukkan, saya (sekali lagi) tidak otomatis menolak. Tetapi bagaimana anda artikan “ajal” dalam ayat berikut? (Idza ja-a ajaluhum fa la yasta-khiruna saatan wala yastaqdimun?). Apakah di situ juga berarti “waktu”. Lalu apa arti tak dapat dimundurkan atau dimajukan barang sesaat? Jelas bukan waktu.” Sudah barang tentu, saya pun tahu bahwa suatu kata dapat mempunyai beberapa makna. Makna mana yang harus dipilih bergantung kepada maksud si pengucap, bukan kepada si penerima atau pendengar. Tetapi apakah kata Arab ajalu mempunyai pelbagai makna? Dalam Kamus Al-Qur'an terbitan Ghalia saya hanya menemukan satu makna, yaitu “waktu” atau “masa”. Ajalu bukan mautu (kematian). Memang kata Arab ajalu itu dapat dipergunakan sehubungan dengan pelbagai hal, seperti misalnya masa ‘iddah (Q. 2:231), masa janji utang piutang (Q. 2:282), waktu tibanya azab (Q. 29:53), waktu pemberian sedekah (Q. b3:10), dan sebagainya. Tetapi itu bukan berarti kita boleh mengidentikkan/menerjemahkan kata ajalu itu dengan ‘iddah,” dengan “janji” atau “utang piutang”, dengan azab, dengan “sedekah”, bukan?

Demikian pula, dalam ayat Q. 6:2. Oleh karena dalam kalimat “tsumma qadhaa 'ajalan” yang dimaksudkan dengan 'ajalan itu masa berada di dunia (yang berakhir dengan kematian), kita tidak boleh mengidentikkan/menerjemahkan kata Arab ajalun dengan “kematian”. Juga kita tidak boleh menerjemahkan ajalun dalam 'Wa 'ajalum musamman indahuu” dengan “kematian”, karena kalimat itu, menurut hemat saya, harus ditafsirkan sebagai “Dan suatu masa (yang lain) ditentukan (untuk berada) di sisi-Nya ( di alam akhirat).” Sayang sekali terjemahan yang salahlah yang sekarang beredar, sebagaimana dapat anda lihat di pelbagai terjemahan Al-Quran. Akibatnya, hampir semua orang Muslimin mengingkari adanya masa hidup terbatas di akhirat! Bahwasanya sekarang kata pinjaman ajal itu selalu diidentikkan dengan “kematian”, adalah akibat selalu dipakainya terjemahan salah itu secara umum, baik oleh para awam maupun para ahli agama. Kembali kepada pertanyaan Saudara Penyanggah, apakah “ajal” dalam kalimat Arab yang dikemukakannya juga berarti “waktu”, saya jawab dengan positif, “Ya”. Bahwasanya dalam hal di atas kata ajalu atau waktu itu dapat diasosiasikan dengan kematian, memang benar, sebagaimana kata itu pun dapat diasosiasikan dengan waktu ‘iddah, dengan masa janji utang-piutang, dengan waktu tibanya azab, dengan waktu pemberian sedekah, dan sebagainya. Tetapi - ini saya ulangi sebagai penegasan - itu bukan berarti bahwa ajalu itu lalu berarti “kematian”, ‘iddah, “janji” atau “utang-piutang”, “azab”, atau “sedekah”, atau boleh diartikan sebagai demikian? Saya rasa itu bukan cara berpikir yang ilmiah. Ajalu tetap berarti “waktu” atau “masa”. Ayat yang dikemukakan Saudara Penyanggah di atas adalah sebagian dari ayat Q. 7:34, yang lengkapnya berbunyi: Walikulli ummatin 'ajalun fa’idzaa jaa’a 'ajaluhum laa yasta’khiruuna saa'ataw walaa yastaqdimuun. yang saya terjemahkan sebagai berikut: Dan bagi setiap umat ada suatu masa. Maka bilamana tiba masanya, tidak bisa mereka mengundurkannya (memperlambatnya) sesaat pun, dan tidak bisa pula mereka memajukannya (mempercepatnya) (sesaat pun). “Masa” dalam ayat itu saya tafsirkan sebagai masa-waktu bagi setiap umat untuk bereksistensi, masa-waktu yang terbatas dan karena itu pasti akan berakhir. Untuk memperkuat kebenaran terjemahan di atas, saya akan mengutip terjemahan Abdullah Yusuf Ali dalam The Holy Qur-an, yang berbunyi sebagai berikut: To Every People is a term Appointed: when their term Is reached, not an hour Can they cause delay, Nor (an hour) can they Advance (it in anticipation). Dan mengenai kata term (“masa” atau “waktu”) di atas, beliau membuat footnote (catatan di bawah halaman) sebagai berikut: ... There is only a limited time for an individual or for a group of people ('ummat). If they do not make good during that time of probation, the chance is lost, and it cannot come again. We cannot retard or advance the march of time by a single hour or minute. (“Hour” in the text expresses an indefinite but short period of time.)

Terjemahannya: ... Setiap individu atau umat mempunyai suatu masa yang terbatas. Jika mereka tidak mempergunakan masa percobaan itu dengan baik, maka kesempatan itu akan hilang dan tidak dapat datang lagi. Kita tidak dapat memperlambat atau mempercepat gerak waktu barang sejam atau semenit pun. (“Jam” dalam teks di atas menyatakan suatu jangka waktu yang tidak tentu tapi singkat.) Jadi dalam ayat Q. 7:34 itu pun, Abdullah Yusuf Ali, seorang ahli bahasa Arab yang tak diragukan lagi otoritas dan integritasnya, menerjemahkan ajaluhum tidak dengan “kematian”, melainkan dengan “masa” atau “waktu” karena memang ajalu bukan berarti “maut” atau “kematian”. Meskipun beliau nampaknya tidak percaya kepada reinkarnasi - ini dapat saya simpulkan dari pelbagai footnote dalam The Holy Qur-an - beliau cukup jujur dan ilmiah untuk tidak membelokkan arti kata ajalun menjadi “kematian” Menurut hemat saya, penggeseran arti kata ajalu dari “waktu” atau “masa” menjadi “kematian” atau “ajal” (dalam arti kematian) merupakan suatu kesalahan yang amat fatal, karena mengakibatkan hilangnya ajaran Ilahi yang mendasar, yaitu ajaran yang menerangkan hal adanya waktu yang terbatas di alam akhirat bagi manusia umumnya. Kesalahan itu memungkinkan orangorang yang tidak percaya menyanggah reinkarnasi dengan pertanyaan. “Bagaimana mungkin orang yang telah mati dapat dihidupkan kembali ke dunia sekarang, sedangkan menurut para alim ulama hidup di alam akhirat itu untuk selama-lamanya?” Suatu pertanyaan yang amat logis, tetapi oleh karena didasarkan pada suatu premise salah, menimbulkan konsepsi yang salah pula. Berhubungan dengan hal di atas, saya menghimbau agar para pembaca, baik yang awam agama maupun yang ahli agama, berkenan mempertimbangkan gagasan saya ini.

V Ayat-ayat Lain yang Mengandung Ajaran Reinkarnasi
Dapatlah kiranya saya berharap bahwa pelbagai uraian dan argumentasi yang saya berikan dalam bab-bab terdahulu telah dapat meyakinkan sebagian besar para pembaca bahwa ajaran reinkarnasi dan siklus hidup dan mati itu benar-benar merupakan ajaran pokok dari agama Islam. Untuk membuktikan lebih lanjut bahwa ajaran itu banyak disinggung dalam Al-Quran - tetapi ayatayatnya selalu disalahtafsirkan orang - dan juga oleh karena mungkin masih banyak di antara para pembaca yang belum begitu yakin akan kebenaran uraian-uraian saya di muka, maka dalam bab ini saya ingin pula membahas ayat-ayat lain yang bagi saya pribadi merupakan ayat yang mengandung ajaran reinkarnasi. Baiklah saya mulai dengan: (1) Ayat Q. 80:17-22

17. Celakalah manusia, alangkah ingkarnya 18. Dari apa Ia menciptakannya? 19. Dari setetes mani Ia menciptakannya dan membentuknya. 20. Lalu Ia memudahkan jalannya. 21. Kemudian mematikannya dan menguburnya. 22. Kemudian, bila dikehendaki-Nya. Ia menghidupkannya kembali (Dari terjemahan The Glorious Koran, “Then, when He will, He bringeth him again to life.) Saya kira, tiada seorang pun di antara para pembaca yang berkeberatan jika saya menafsirkan kata “menciptakan” dalam kutipan di atas sebagai “menghidupkan”, “menjadikan”, atau, oleh karena sekarang kita sedang membicarakan manusia, sebagai “melahirkan”. Karena itu, saya menafsirkan kalimat “Ia menghidupkannya kembali” dalam ayat Q. 80:22 di atas juga sebagai “Ia melahirkannya kembali”. Tetapi kebanyakan orang selalu menafsirkannya sebagai “menghidupkannya kembali di akhirat”, yang, seperti dapat diakui oleh para pembaca yang obyektif, merupakan suatu pembelokan arti kata “menghidupkan” atau penambah-nambahan yang tidak pada tempatnya. Kata-kata “di akhirat” tidaklah terdapat dalam teks aslinya (bahasa Arab). Sayang sekali, Tuan Abdullah Yusuf Ali, dalam bukunya, THE HOLY QUR'AN, menerjemahkan ayat Q. 80:22 di atas dengan “Then, when it is His will, He will raise him up again”, yang, bila diterjemahkan secara harfiah, berarti, “Kemudian, bila dikehendaki-Nya, Ia akan membangkitkannya kembali”. Terjemahan demikian didapati pula dalam terjemahan-terjemahan Al-Quran berbahasa Indonesia. Terjemahan mana yang benar? Saya tidak tahu karena saya bukan ahli bahasa Arab. Saya hanya akan berpuas diri dengan pengetahuan bahwa ajaran yang terkandung dalam kedua macam terjemahan itu semuanya benar dan merupakan fakta: Setelah meninggal, ruh orang mati akan dibangkitkan dan hidup di alam akhirat, dan kemudian, pada waktu yang dikehendaki Tuhan, dilahirkan kembali ke dunia.

(2) Ayat Q. 30:19

Ia mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan Ia mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan Ia menghidupkan kembali bumi setelah kematiannya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan. Ayat itu sangat identik dengan ayat Q. 3:27 yang telah saya percakapkan dalam bab III. Agaknya Allah s.w.t. tidak jemu-jemu mengulangi ajaran-ajaran-Nya kepada umat manusia, kadang-kadang dengan perkataan yang sama, kadang-kadang dengan perkataan yang lain, dengan maksud menyadarkan para peragu akan kekeliruan-kekeliruan yang telah mereka perbuat sepanjang zaman. Amatlah jelas bahwa kalimat “Ia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan Ia mengeluarkan yang mati dari yang hidup” itu menunjukkan adanya siklus hidup dan mati yang berulang-ulang. Soalnya menjadi lain bilamana kita memakai penafsiran yang tidak normal dan mengada-adakan arti yang menyimpang dari biasa dengan maksud menyesuaikannya dengan konsepsi tradisional. Tetapi bukankah perbuatan demikian itu merupakan suatu iftiro (pengadaadaan) yang sebenarnya dilarang oleh agama? (3) Ayat Q. 22:66

Dialah Yang menghidupkanmu; kemudian Ia akan mematikanmu, lalu menghidupkanmu (lagi). Sesungguhnya manusia tidak tahu berterima kasih. (4) Ayat Q. 30:40

Allah-lah Yang menciptakanmu, lalu memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu lagi. Menurut pengertian saya, makna kedua ayat di atas amatlah jelas: Ayat-ayat itu mengisyaratkan kepada kita bahwa setelah kita mati dan hidup di akhirat, kita akan dilahirkan kembali, tentunya di dunia, dan bukan di akhirat sebagaimana sering ditafsirkan orang. Kita hendaknya jujur dan konsekuen dalam penafsiran. Bila kita, sebelumnya, menafsirkan kata “menghidupkan” atau “menciptakan” sebagai “melahirkan ke dunia”, maka ucapan “menghidupkan lagi” atau “menciptakan lagi” harus kita tafsirkan juga sebagai “melahirkan ke dunia lagi”. Janganlah kita memakai ukuran yang berbeda untuk menilai sesuatu yang sama. Ucapan “menghidupkan lagi” bukanlah ucapan yang samar-samar melainkan ucapan yang jelas dan sederhana, ucapan simplistis yang berarti “melahirkan lagi”. Jika kita menafsirkan “menghidupkan lagi” sebagai “menghidupkan lagi di akhirat” atau, misalnya, sebagai “melahirkan kembali secara mental atau rohani”, maka perbuatan demikian, menurut hemat saya, merupakan pembelokan arti yang sebenarnya amat terang dan simpel, suatu pengada-adaan yang dimaksudkan untuk menyesuaikan artinya dengan konsepsi pribadi.

Dalam hubungan itu, ada baiknya bila saya mohon perhatian anda terhadap apa yang terkandung dalam ayat Q. 3:7, untuk menjaga agar kita tidak termasuk golongan yang dimaksudkan dalamnya. Bunyinya: Ialah yang menurunkan kepadamu Kitab yang dalamnya terdapat ayat-ayat muhkamaat (jelas dan terang) - itulah pokok-pokok Kitab - dan yang mutasyabihaat (bersifat kiasan). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihaat untuk menimbulkan percekcokan dengan mencari-cari takwilnya ... (5) Ayat Q. 17:97-99

97. Barangsiapa dipimpin Allah, ia dipimpin benar. Barangsiapa disesatkan-Nya, bagi mereka tidak kaudapatkan teman-teman pelindung selain Dia. Dan Kami kumpulkan mereka pada hari kebangkitan di atas mukanya, buta, bisu, dan tuli. Kediamannya neraka; tiap kali apinya padam, Kami besarkan nyalanya. 98. Demikianlah ganjaran bagi mereka, karena mereka mengingkari tanda-tanda Kami dan berkata, “Bila kami telah menjadi tulang-belulang dan debu bertebaran, apakah kami sungguh akan dibangkitkan kembali sebagai ciptaan baru?” 99. Tidakkah mereka lihat bahwa Allah Yang menciptakan langit dan bumi berkuasa menciptakan yang sama dengan mereka dan Ia telah menetapkan suatu masa waktu (di alam akhirat) bagi mereka yang tidak diragukan lagi? Tetapi orang-orang durjana enggan menerima kecuali dengan ingkar. Sebagaimana telah saya katakan di muka, ayat Q. 17:98 saja sebenarnya telah cukup bagi kita untuk meyakinkan diri bahwa setelah lama meninggal dan tinggal hidup di alam akhirat, kita akan dilahirkan kembali ke dunia. Tetapi umat Islam sekarang kebanyakan mempelajari Al-Quran dengan premise bahwa reinkarnasi bukan ajaran Islam; sehingga mereka tidak menerima ayat itu sebagaimana mestinya. Agaknya untuk menyadarkan mereka dari kekeliruannya, maka Tuhan berfirman dalam ayat berikutnya, ayat Q. 17:99, “Tidakkah mereka lihat bahwa Allah Yang menciptakan langit dan bumi berkuasa menciptakan yang sama dengan mereka (artinya: mereka sendiri), dan Ia telah menetapkan suatu masa waktu (di alam akhirat) bagi mereka yang tidak diragukan lagi?” Seperti halnya dengan ayat Q. 6:2 yang telah saya bahas dalam bab IV, ayat Q. 17: 99 itu pun mengisyaratkan adanya suatu masa waktu yang terbatas di alam akhirat, dalam bahasa Arab: ajalu.

Tuhan, yang telah menciptakan manusia dan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, tentu berkuasa menciptakan atau menghidupkan kembali manusia melalui kelahiran, meskipun tubuh-tubuh mereka yang lama telah menjadi “tulang-belulang dan debu bertebaran”, yaitu setelah suatu masa waktu tertentu di alam akhirat. “yang tidak diragukan lagi,” tambah-Nya. Ucapan itu berarti bahwa kita harus percaya kepada 1) penciptaan yang sama (ulangan penciptaan) bagi manusia, dan 2) adanya masa waktu yang terbatas di akhirat bagi manusia. Bahwasanya dengan masa waktu itu dimaksudkan masa tinggal di akhirat, dapat disimpulkan secara logis dari kalimat berikutnya yang berbunyi, “Tetapi orang-orang durjana enggan menerima kecuali dengan ingkar.” Jika memang benar bahwa hidup-di-dunialah yang dimaksudkan dengan “masa waktu” dalam ucapan “telah menetapkan suatu masa waktu bagi mereka” di atas itu, maka tidak seorang pun yang akan mengingkarinya, sebab setiap orang, meskipun ia orang ateis atau kafir, pasti percaya bahwa hidup di dunia itu terbatas waktunya. Karena itu, dapat kita tarik kesimpulan bahwa yang diingkari oleh kebanyakan manusia itu ialah ajaran bahwa hidup di akhirat itu tidak untuk selama-lamanya, dan bahwa mereka akan diciptakan atau dilahirkan kembali ke dunia, setelah tinggal dan hidup di akhirat selama suatu masa waktu (6) Ayat Q. 39:6

Ia menciptakan kamu dari seorang diri (satu jenis), lalu daripadanya Ia membuatkan pasangannya; dan Ia menurunkan untuk kamu dari ternak delapan macam. Ia menciptakan kamu dalam rahim ibu-ibumu, ciptaan demi ciptaan, dalam tiga kegelapan. Itulah Allah, Tuhan kamu; kepunyaan-Nyalah semua kedaulatan, tiada Tuhan selain Dia. Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan? Dari kalimat “Ia menciptakan kamu dalam rahim ibu-ibumu, ciptaan demi ciptaan”; dapatlah kita menarik kesimpulan bahwa kita masing-masing tunduk kepada hukum penciptaan atau kelahiran yang berulang-ulang, tiap kali dari ibu yang berlainan. Kalimat tadi sangat memperkuat apa yang dikatakan dalam ayat Q. 10:5, “Ialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya … “ Sangat kebetulan, dalam ayat dikutip di atas terdapat beberapa kalimat setara lainnya yang memerlukan penjelasan lebih lanjut. Para pembaca, misalnya akan bertanya, apakah arti “Ia menurunkan untuk kamu dari ternak delapan macam”? Sudah barang tentu, kita dapat menafsirkan kalimat itu secara harfiah, lalu menyebutkan satu per satu delapan macam binatang ternak yang kita kenal. Tetapi saya rasa bukan itulah yang dimaksud dengan ayat ini, sebab pendapat kita mengenai apa yang kita anggap sebagai ternak sangat berbeda-beda di negeri-negeri yang kebiasaan dan keadaan berbeda-beda pula itu. Karena itu, saya lebih condong menafsirkannya sebagai suatu kiasan yang artinya harus kita cari sendiri. Secara sangat kebetulan, ketika saya membuka-buka sebuah ensiklopedi, mata saya tertuju kepada sebuah artikel yang menyatakan bahwa dalam agama Iran purba, Zoroastrianisme (yang hidup subur di sekitar tahun 800 sebelum Masehi), ternak biasa dianggap sebagai kiasan atau lambang untuk kebajikan. Karena saya teringat bahwa Al-Quran merupakan Kitab yang memperkuat atau menegaskan ajaran agama-agama terdahulu, dan juga banyak memuat kiasan, saya berpikir mungkin Al-Quran pun memakai kiasan itu untuk menunjukkan pedoman atau aturan hidup baik.

Dan apakah kedelapan macam pedoman hidup baik yang dimaksudkan ayat tadi itu? Sayang sekali saya tidak mempunyai literatur mengenai agama Zoroastrianisme, dan karena itu tidak tahu aturan-aturan hidup apa yang dimaksud agama itu. Tetapi secara kebetulan pula, saya dipinjami sebuah buku berbahasa Inggris yang menyatakan bahwa orang-orang Budha menghormati apa yang dinamakan The Eightfold Path, suatu kumpulan aturan etika yang dengan itu manusia dapat memperoleh keselamatan dan keseimbangan jiwa. The Eightfold Path itu - saya terjemahkan dengan “Delapan Jalur Hidup” terdiri dari: 1) Right Doctrine (Doktrin yang benar) 2) Right Purpose (Maksud yang benar) 3) Right Discourse (Percakapan yang benar) 4) Right Behaviour (Kelakuan yang benar) 5) Right Purity (Kemurnian yang benar) 6) Right Thought (Pikiran yang benar) 7) Right Lowliness (Kerendahan hati yang benar) 8) Right Rapture (Kegairahan yang benar) Delapan Jalur Hidup Budha itu dapat dianggap sama maksudnya dengan The Hindu Path of Raja Yoga, suatu cara ibadah Hindu yang juga mempunyai delapan macam pedoman, yaitu: 1) Practice of the moral virtue (Latihan kebajikan moral) 2) Regular habits of purity, contentment, study, austerity, and self-surrender to God (Membiasakan diri untuk berpikir murni, seimbang, belajar, berhemat dan berserah diri kepada Tuhan) 3) Posture (Sikap) 4) Control of the vital energy by breathing exercises (Menguasai enersi vital dengan latihan pernafasan) 5) Withdrawal of the mind from sense objects (Melepaskan diri dari pikiran akan obyekobyek pancaindera) 6) Concentration (Pemusatan pikiran) 7) Meditation (Bersemedi) 8) Absorption in the consciousness of God (Menyatukan diri ke dalam kesadaran Tuhan) (Kepada saudara-saudara yang beragama Budha dan Hindu saya mohon maaf seandainya terjemahan-terjemahan di atas kurang tepat). (Catatan kemudian: The Eightfold Path Budha yang saya kutip di muka ternyata, menurut seorang bhiksu dari biara Sangha Agung Indonesia, harus diterjemahkan dengan “Delapan Jalan Utama”, jalan yang dilalui untuk “mencapai pelenyapan penderitaan dalam nirwana”, yaitu: keyakinan, pikiran, perkataan, perbuatan, penghidupan, daya upaya, perhatian, dan samadhi) Demikianlah, dengan kalimat “dan Ia menurunkan untuk kamu dari ternak delapan macam”, Al-Quran agaknya membenarkan efektivitas delapan macam pedoman hidup atau cara ibadah yang diperinci di atas, yaitu syarat-syarat yang diperlukan untuk perkembangan jiwa yang efektif atau penyatuan diri dengan Tuhan. Kemungkinan lain - yang saya anggap tidak begitu kuat - ialah bahwa dengan “dari ternak delapan macam” itu dimaksudkan “delapan komposisi Prakriti” dalam agama Hindu (yang konon merupakan kekuatan kreatif Brahma, zat dasar yang merupakan unsur-unsur alam semesta), yaitu: 1) tanah, 2) air, 3) api, 4) udara, 5) ether, 6) akal pikiran, 7) kecerdasan, dan 8) ego. Sekianlah penafsiran saya mengenai perkataan “dari ternak delapan macam”. Dan apa yang dimaksud dengan perkataan “dalam tiga kegelapan” dalam ayat tadi? Kebanyakan orang menafsirkannya sebagai kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput jabang bayi dalam rahim seorang ibu. Tetapi saya berpendapat lain.

Saya lebih condong percaya kepada apa yang telah ditemukan oleh para waskita yang menyatakan bahwa pada kelahiran kembali atau reinkarnasi - yang merupakan kebalikan dari kematian - ruh secara bertahap-tahap mengenakan ketiga macam badan yang menurut para waskita itu terdiri dari 1) badan mental atau badan-rohani-halus, 2) badan astral atau badan-rohani-kasar, 3) badan fisik/jasmani. Ruh atau jiwa adalah kekal dan abadi, tidak akan lenyap. Di situlah gerak hati untuk berpikir, berperasaan, dan bergerak diciptakan. Ia tidak mempunyai sifat-sifat kelamin. Badan mental ialah badan gaib yang dengannya kita berpikir dan menerjemahkan kejadiankejadian atau fenomena dunia-luar ke dalam pikiran. Badan astral ialah badan gaib yang dengannya kita merasa atau menerjemahkan fenomena dunia-luar ke dalam bentuk nafsu dan emosi. Badan fisik ialah badan yang dengannya kita dapat bergerak dan menerjemahkan kejadiankejadian ke dalam bentuk fisik, seperti misalnya panas, atau dingin, ringan atau berat, bergerak atau diam, dan perasaan-perasaan pancaindera lainnya. Jadi bila dikatakan “manusia diciptakan dalam tiga kegelapan”, maka itu berarti bahwa pada penciptaan manusia, ruh, dalam garis besarnya, dimasukkan berturut-turut ke dalam tiga macam badan, yaitu badan mental, badan astral dan badan fisik. Ketiga macam badan itu saling meliputi atau saling menembus. Karena itu ayat yang bersangkutan menyebutnya secara kiasan “dalam tiga kegelapan”. Dengan demikian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pada hakekatnya jiwa atau ruhlah yang setiap kali bereinkarnasi itu. Adapun penjelasan mengenai ucapan “Ia menciptakan kamu dari 'seorang diri', lalu daripadanya Ia membuat pasangannya”, akan saya coba berikan dalam Bab IX butir C. (7) Ayat 71:17-18

17. Dan Allah menumbuhkan kamu sebagai pertumbuhan dari tanah. 18. Dan kemudian Ia mengembalikan kamu kepadanya (ke dalam tanah), dan Ia mengeluarkan kamu (lagi darinya). Dari ayat di atas dapat kita lihat bahwa setelah dikembalikan ke dalam tanah, yang berarti setelah kita mati dan dikubur (dan setelah tinggal dan hidup di alam akhirat untuk masa yang lamanya berbeda-beda untuk setiap individu), kita akan dikeluarkan atau dilahirkan kembali secara fisik. Untuk meyakinkan para peragu bahwa badan fisiklah yang dikeluarkan lagi itu, dan bukan ruhnya saja, saya akan mengutip lagi ayat Q. 20:55, yang berbunyi:

Darinya (dari tanah) Kami ciptakan kamu; kepadanya (ke dalam tanah) Kami kembalikan kamu; dan darinya (dari tanah) Kami keluarkan kamu untuk kedua kalinya. Ayat itu menunjukkan bahwa dipandang dari sudut jasmaniah, dari tanahlah kita akan dikeluarkan atau diciptakan kembali setelah kita mati. Dengan perkataan yang lebih pragmatis, bersama dengan badan fisik yang terbuat dari unsur-unsur kimiawi tanahlah ruh kita akan dikeluarkan kembali ke dunia; dan sudah barang tentu, melalui proses kelahiran.

(8) Ayat Q. 10:31

Katakanlah: Siapa yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan; dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup; dan siapakah yang mengatur segala urusan? Mereka akan berkata: Allah. Maka katakanlah: (kalau begitu) mengapa kamu tidak mau bertakwa? Kalimat tercetak miring di atas mengisyaratkan suatu ajaran dalam bentuk pertanyaan untuk menekankan pentingnya ajaran termaksud, yaitu ajaran bahwa yang hidup berasal dari yang mati dan yang mati berasal dari yang hidup. Pernyataan itu merupakan suatu perulangan isi ayat Q. 3:27 dan Q. 30:19 yang telah kita bahas di muka. Dengan bukti yang berulang-ulang itu, adakah alasan bagi kita untuk tetap mengatakan bahwa dalam Al-Quran tidak terdapat ajaran tentang reinkarnasi dan siklus hidup dan mati? Saya rasa tidak. Bagi saya, seorang awam yang ingin mempelajari Al-Quran secara jujur, sukarlah untuk berpikir bahwa kata-kata “yang mati” dalam kalimat tadi berarti “ketiadaan” atau “udara hampa” sebagaimana sebagian orang ingin menafsirkannya. Saya mengerti, banyak orang akan mengatakan bahwa hal demikian bisa saja karena mereka memakai perkataan Arab Kun fayakuun sebagai dasar pikiran untuk penafsiran ayat-ayat Al-Quran. Dengan menyesal harus saya katakan bahwa mengenai ucapan berbahasa Arab itu pun agaknya ada kesalahpahaman atau kekeliruan. Ucapan Kun fayakuun, menurut hemat saya, tidak dapat ditafsirkan sebagai ditujukan kepada sesuatu yang tidak ada, melainkan kepada sesuatu yang telah ada di sisi Tuhan, meskipun sesuatu itu belum menjadi kenyataan atau masih dalam bentuk gaib. Saya mohon anda jangan menyangka bahwa pernyataan saya itu adalah hasil fantasi atau pemikiran otak saya yang terlalu aktif, sebab saya mendasarkannya kepada Al-Quran semata-mata, untuk persisnya, kepada ayat Q. 15:21, yang berbunyi:

Dan tiada sesuatu yang tidak ada khazanahnya pada Kami. Dan Kami menurunkannya dengan ukuran yang tertentu. Saya mohon agar para pembaca yang budiman membaca sekali lagi ayat di atas dan mencernakan secara sungguh-sungguh dan seksama kalimat: “Tiada sesuatu yang tidak ada khazanahnya pada Kami”. Dalil Ilahi itu mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu yang kita lihat dan yang tidak kita lihat dengan pancaindera kita itu sebenarnya telah ada di sisi Tuhan, meskipun ia belum dimanifestasikan-Nya. Jadi ruh-ruh kita pun telah ada di alam gaib itu sebelum penghamilan atau kelahiran kita terwujud. Untuk memperkuat pernyataan saya di atas, saya ingin mengutip beberapa ayat Al-Quran lainnya yang memuat perkataan “Kun fayakuun”:

Ayat Q. 2:117: Allah Pencipta langit dan bumi. Dan bila Ia berkehendak sesuatu, maka Ia hanya berkata kepadanya, “Kun fayakuun” (“Jadilah”, dan jadilah ia). Ayat Q. 16:40: Dan perkataan Kami kepada sesuatu bila Kami menghendakinya, hanyalah Kami berkata, “Jadilah”; dan jadilah ia. Ayat Q. 40:68. Ialah yang menghidupkan dan mematikan. Bila Ia menetapkan sesuatu, Ia hanya berkata kepadanya, “Jadilah”; dan jadilah ia. Jika anda, para pembaca, membaca ayat-ayat itu secara saksama, maka anda akan mengerti bahwa partikel “nya” dalam kata “kepadanya” di atas mempunyai arti yang amat penting, sebab partikel itu menunjuk kepada sesuatu yang telah ada tetapi masih dalam bentuk gaib dan karena itu tidak nyata bagi pancaindera kita. Dalam ayat-ayat tadi, Tuhan tidak bersabda kepada sesuatu yang tidak ada, melainkan kepada sesuatu, dalam hal ini, kepada sesuatu yang masih dalam bentuk gaib atau belum nyata bagi dunia fisik. Ayat yang mengandung ucapan “Tuhan mengeluarkan yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup” melambangkan hukum universal yang harus kita imani tanpa berusaha menyimpangkan atau membelok-belokkan maknanya. (9) Ayat Q. 53:32

Orang-orang yang berbuat baik ialah orang yang menjauhi dosa besar dan keji-keji, kecuali sedikit dosa kecil. Sesungguhnya Allah luas ampunan-Nya. Dia mengetahui betul (keadaan) kamu ketika Ia menciptakan kamu dari tanah, dan ketika kamu masih dalam perut ibu-ibumu. Karena itu, janganlah kamu menganggap dirimu suci! Dia mengetahui siapa yang takwa. Tafsiran saya mengenai ayat di atas ialah bahwa sejak kita dilahirkan ke dunia untuk pertama kali, kita telah berkali-kali dilahirkan oleh pelbagai ibu. Seperti kita sama-sama maklum, Al-Quran diturunkan demi kebaikan dan sebagai peringatan kepada seluruh umat manusia, tak perduli apakah manusia itu kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, orang beriman atau kafir. Dari kalimat “Karena itu, janganlah kamu menganggap dirimu suci”, kita dapat menarik kesimpulan bahwa seorang bayi pun pada hakekatnya tidak seluruhnya suci, dalam arti tanpa dosa. Kita semua, termasuk bayi dan anak kecil, mempunyai utang karma yang harus kita bayar kembali dalam hidup kita. Kita dapat pula menarik kesimpulan bahwa karma itu merupakan hasil perbuatan-perbuatan kita dalam salah satu masa hidup terdahulu. Ucapan “Karena itu“, yang serta merta menyusul kalimat “Ia mengetahui betul (keadaan) kamu ketika Ia menciptakan kamu dari tanah dan ketika kamu masih dalam perut ibu-ibumu”, mempunyai makna yang amat penting. Ucapan itu tidak akan dipakai seandainya kita tidak pernah mengalami masa atau masa-masa hidup sebelumnya.

(10) Ayat Q. 10:4

Kepada-Nyalah kamu kembali semuanya. Janji Allah yang benar. Ialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya, supaya Ia dapat memberi pahala kepada mereka yang beriman dan melakukan kebaikan secara adil; sedangkan bagi mereka yang tidak percaya, (disediakan) minuman air mendidih dan siksaan pedih yang menyakitkan karena mereka tidak percaya. Ayat di atas mengatakan bahwa agar dapat memberi balasan yang baik kepada orang-orang yang beramal saleh, dan hukuman kepada orang-orang yang ingkar, maka Tuhan mengulangi penciptaan mereka. Ayat itu mengatakan bahwa bila Tuhan telah menghidupkan seseorang, maka orang yang sama itu akan dihidupkan-Nya kembali ke dunia, supaya ia mendapat balasan atas amal saleh atau buruknya - di samping ganjaran atau hukuman yang setimpal di akhirat sebagai selingan di antara hidup fisik di dunia. Seandainya yang diulangi penciptaannya itu orang lain, maka ayat itu menjadi mustahil, sebab mengapa ia harus dibalas atas sesuatu yang diperbuat oleh orang lain? Ayat itu mendorong saya menafsirkan kalimat “sedangkan bagi mereka yang tidak percaya, (disediakan) minuman air mendidih dan siksaan pedih yang menyakitkan karena mereka tidak percaya” sebagai kiasan untuk hukuman bukan saja di akhirat, melainkan juga pada reinkarnasi berikutnya di dunia. Saya mengerti bahwa untuk kebanyakan orang yang biasa mengasosiasikan neraka sebagai tempat api dan azab pedih, kedinginan yang melumpuhkan, dan siksaan-siksaan sejenis yang mengerikan, penafsiran saya ini memang agak terlalu radikal, dan mungkin sekali mereka tidak dapat menerimanya sebagai kiasan untuk hukuman di dunia. Tetapi itulah kesimpulan yang saya peroleh dari pengamatan saya mengenai ayat-ayat Al-Quran. Ayat Q. 39:27 berbunyi: Dan sesungguhnya telah Kami adakah dalam Quran ini permisalan-permisalan, supaya mereka dapat peringatan Untuk membuktikan bahwa hukuman pembalasan itu bukan saja di akhirat, melainkan juga, bahkan mungkin terutama, di dunia, saya akan mengutip ayat berikut, ayat Q. 3:56, yang bunyinya: Adapun orang-orang yang tidak percaya, Aku akan menyiksa mereka dengan siksaan yang berat di dunia DAN di akhirat; dan mereka tidak akan mempunyai penolong. Akan tetapi, mereka yang tidak percaya kepada pernyataan saya di atas mungkin membantah dan mengatakan jalan pikiran saya salah, karena perkataan “di dunia” ditempatkan sebelum perkataan “di akhirat”, sehingga mereka condong percaya bahwa hukuman balasan di dunia yang dimaksud ayat di atas itu harus berlangsung dalam hidup sekarang. Nampaknya memang begitu, tetapi hendaknya para pembaca maklum akan kenyataan seharihari di sekeliling kita: Banyak orang tidak percaya kepada ayat-ayat Al-Quran, atau berbuat hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh setiap agama. Meskipun demikian, banyak di antara mereka yang nampak tetap hidup dalam keadaan aman dan sentausa. Bahkan sampai saat mereka meninggalkan dunia fana ini pun, “siksaan yang berat di dunia” itu tidak nampak. Padahal hal itu jelas dinyatakan dalam ayat tersebut tadi.

Hendaknya kita maklum pula bahwa anggapan konvensional kita, terutama bila diterapkan kepada Al-Quran, tidak selalu berlaku. Sebagaimana anda pun tahu. kisah-kisah di dalam Al-Quran tidaklah selalu berurutan menurut fakta sebenarnya, seperti halnya dengan laporan atau uraian fakta biasa. Bahkan boleh saya katakan bahwa urutannya sering tidak teratur. Mungkin banyak orang yang tidak percaya akan apa yang saya katakan tadi. Karena itu, saya kemukakan hal berikut. Kita mengetahui bahwa ayat-ayat pertama yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad s.a.w. adalah lima ayat pertama Surah Al-Alaq (Q. 96:1-5), ketika beliau bersemedi di Gua Hira. Pertanyaan saya ialah sebagai berikut: Mengapa kelima ayat pertama itu tidak ditempatkan terdepan dalam Al-Quran, melainkan dalam Surah ke-96? Dari kenyataan itu saja kita dapat percaya bahwa ayat-ayat itu tidak dimuat dalam Al-Quran berdasarkan urutan kronologis. Karena mungkin argumentasi saya di atas itu belum cukup kuat, saya akan memberikan bukti yang lain. Ayat Q. 4:163 berbunyi sebagai berikut:

Sesungguhnya Kami wahyui kamu (Muhammad) sebagaimana telah Kami wahyui Nuh dan para nabi sesudahnya, sebagaimana Kami wahyui Ibrahim dan Ismail, Ishak dan Yakub dan anak cucu (mereka). dan Isa dan Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman; dan kepada Daud Kami sampaikan Zabur. Seandainya nabi-nabi di atas disebut dengan urutan kronologis yang benar, maka kita harus menerima bahwa Nabi Isa as. hidup lebih dahulu daripada Nabi Ayub, Nabi Yunus, Nabi Harun, Nabi Sulaiman, dan Nabi Daud. Tetapi itu tentu tidak benar, bukan? Sebab dari sejarah kita tahu bahwa Nabi Isa as. hidup lebih kemudian daripada nabi-nabi tersebut tadi. Karena itu, Saya sekarang boleh menganggap anda setuju dengan ucapan saya bahwa menyebutkan perkataan “di dunia” sebelum perkataan “di akhirat” dalam ayat Q. 3:56 di atas bukan berarti bahwa hukuman di dunia termaksud harus dilaksanakan sebelum hidup di akhirat, tetapi boleh juga sesudahnya, yaitu bilamana kita dilahirkan kembali ke dunia. Dalam Al-Quran ada banyak lagi ayat yang menunjukkan reinkarnasi selain ayat-ayat yang telah saya bahas di muka. Tetapi agar jangan berkepanjangan, saya tidak akan membahasnya satu per satu. Cukuplah kiranya bilamana saya hanya mengutipnya saja. Saya percaya bahwa sekarang, setelah tahu akan adanya ajaran reinkarnasi dalam Al-Quran, anda akan dapat menganalisanya sendiri. Ayat-ayat berikut ini saya sajikan. Ayat Q. 2:243:

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang dahulu yang keluar dari kampung halamannya, beribu-ribu (jumlahnya), karena takut mati? Maka Tuhan berfirman kepada mereka: “Matilah kamu,” kemudian Ia menghidupkan mereka kembali. Sesungguhnya Tuhan penuh karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan orang tidak bersyukur.

Ayat Q. 16:97:

Barang siapa berbuat baik, laki-laki atau perempuan, dan ia beriman, maka pasti akan Kami hidupkan (= lahirkan kembali) dengan KEHIDUPAN yang baik. Dan Kami akan memberinya pahala (sebagai pembalasan) sesuai dengan apa yang sebaiknya mereka lakukan. Ayat Q. 26:102-103:

102. Sekiranya kami mendapat giliran lagi (ke dunia), niscaya kami termasuk golongan yang beriman. 103. Sesungguhnya dalam hati demikian terdapat tanda-tanda; tetapi kebanyakan mereka tidak percaya. Ayat Q. 36:12:

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati. Kami catat apa yang telah mereka kerjakan, dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami simpan dalam Kitab Induk yang nyata. Ayat Q. 36:79:

Katakanlah: Ia, yang menciptakan mereka pertama kali, akan menghidupkan mereka lagi. Ia mengetahui segala penciptaan. Ayat Q. 53:44-47

44. Dan Ialah yang mematikan dan menghidupkan, 45. Dan Ialah yang menciptakan pasangan-pasangan, laki-laki dan perempuan. 46. Dari setetes (mani) ketika dipancarkan. 47. Dan Ialah yang menetapkan penciptaan kedua kali.

Ayat Q. 75:37-40:

37. Bukankah ia (dahulu) setetes cairan yang dipancarkan, 38. Kemudian menjadi bekuan, kemudian (Tuhan) membentuknya dengan bentuk yang selaras, 39. Dan membuatnya suatu pasangan laki-laki dan perempuan. 40. Bukankah Ia (yang dapat berbuat demikian berkuasa menghidupkan (lagi) orang yang mati? Para pembaca yang budiman, demikianlah, antara lain, cara-cara yang dipakai Allah s.w.t. untuk menyampaikan ajaran-ajaran-Nya kepada umat Manusia. Saya kemukakan semuanya itu kepada anda, dengan harapan anda sekarang percaya bahwa doktrin reinkarnasi itu sebenarnya terkandung dalam Al-Qur’an.

VI Penghisaban
Kepada kita, kaum muslimin, sering diajarkan bahwa kelak pada akhir zaman atau akhir dunia - ada juga yang mengajarkan: tak lama setelah dikuburkan - semua orang mati akan dibangkitkan dalam kuburnya dan ditanyai seorang demi seorang oleh dua orang malaikat bernama Nakir dan Munkar, yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti misalnya “Siapa namamu?, “Siapa Tuhanmu?”, “Apa agamamu?” dan pertanyaan-pertanyaan lain semacam itu. Untuk jelasnya, saya persilakan anda membaca lagi kutipan-kutipan dua orang penulis mengenai itu pada permulaan Bab III buku ini. Terus terang saja, sejak saya masih duduk di sekolah MULO (SMP sekarang) kira-kira setengah abad yang lalu, saya tidak suka dan agak tak percaya kepada ajaran demikian. (Tentunya dalam hati saja, tanpa menyatakan ketidaksukaan atau ketidakpercayaan itu dengan kata-kata atau perbuatan). Ketidaksukaan akan gagasan itu mungkin disebabkan oleh suatu masa ketika saya berumur tujuh atau delapan tahun. Ketika itu, terpengaruh oleh ajaran guru agama di kampung saya, saya sering bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang akan terjadi atau apa yang akan saya rasakan seandainya ketika itu saya mendadak mati dan saya dapati diri dalam sebuah kubur gelap, dengan tembok tanah di sekeliling saya, tanpa udara untuk saya hirup. Saya bayangkan betapa megap dan betapa menakutkan keadaan di dalam tempat yang sempit dan gelap itu, dengan dua orang malaikat yang konon amat menyeramkan menanyaiku. Kiranya tak perlu saya jelaskan bahwa pengalaman khayalan demikian meninggalkan kesan yang mendalam kepada saya pada tahun-tahun berikutnya. Untunglah, ketika saya bertambah umur dan menjadi agak cerdas dan kritis, saya berhasil menghilangkan rasa takut yang tidak pada tempatnya itu. Sejak itu, saya selalu berpendapat bahwa ajaran mengenai keadaan sesudah mati demikian merupakan hal yang merosotkan keagungan dan kemuliaan Tuhan, karena cenderung memberikan kesan seolah-olah Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa itu - hanya untuk mengetahui hidup makhluk-Nya - harus bergantung kepada laporan makhluk lain, yaitu malaikat. Agaknya tidak terpikirkan oleh para pengajar yang bersangkutan bahwa ujaran naif dan irrasional itu dapat menjauhkan orang-orang yang berpikiran kritis dari agama, atau membuat orang-orang bukan-Muslim tersenyum atau membelalakkan matanya pura-pura terheran. Lagi pula, seandainya benar orang-orang yang telah mati harus menunggu di alam barzakh sampai tibanya “permulaan akhirat” pada akhir zaman, berapa banyak ruh sekarang sedang menunggu-nunggu penghisaban yang konon akan diadakan kelak pada akhir zaman itu? Ajaran demikian akan umat bertentangan dengan akal pikiran saya sebagai orang awam dan dengan ajaran Al-Quran yang, sekarang saya temukan, berulang-ulang menyatukan bahwa Tuhan “amat cepat sebagai Penghisab”. Kontradiksi itu akan bertambah besar lagi jika siksaan-siksaan nerakalah yang ditonjoltonjolkan, sedangkan menurut hemat saya cinta kasih, kebaikan, kemurahan hati Tuhanlah yang harus ditonjolkan dan ditanamkan ke dalam hati sanubari umat manusia. Sedikit sekali kebanyakan orang menyadari bahwa jika dalam soal agama kita berusaha mengatur orang dengan ancaman dan hukuman, mereka akan lari; sedangkan jika kita mengaturnya dengan cinta dan kasih sayang, mereka akan berusaha memelihara harga diri dan datang kepada kita dengan suka rela. Hal itu sebenarnya telah disinggung oleh Allah s.w.t. dalam ayat Q. 3:159 yang berbunyi sebagai berikut: Adalah karena rahmat Allahlah, maka kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Oleh karena itu, maafkanlah, dan mohonkanlah ampunan bagi mereka....

Maka tidaklah mengherankan jika ajaran-ajaran naif yang saya singgung pada permulaan bab ini dan karena ajaran-ajaran lain yang tidak bijaksana dan masuk akal, banyak orang menjadi acuh tak acuh (apatis) terhadap agama, untuk tidak dikatakan menjauhinya, dan sebagai gantinya mencari saluran lain untuk memenuhi kebutuhan rohani mereka. Tidaklah dapat dibantah bahwa banyak orang, terutama di kalangan remaja dan intelektual, menginginkan penggunaan logika dan akal dalam mempelajari agama, dan bukan hanya iman dan takwa. Saya mengerti bahwa ajaran mengenai dua orang malaikat yang menanyai setiap orang mati di dalam kubur itu didapat dari buku-buku pelajaran yang ditulis oleh, guru-guru agama, atau barangkali dari hadits-hadits, yang umumnya disesuaikan dengan tingkat kecerdasan dan sifat orang Arab yang dihadapi Nabi Muhammad s.a.w. ketika itu, dan karena itu seringkali sangat simplistis dan tidak sesuai dengan cara berpikir orang zaman sekarang. Menurut para ahli Islam, di antara hadits-hadits yang beredar sekarang, ada hadits yang “kuat” ada yang “lemah”, dan ada pula yang palsu. Bagi saya, selaku orang awam di bidang agama, sumber ajaran Islam yang terpercaya dan terbaik adalah Al-Quran, asal saja penafsirannya dilakukan dengan benar. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Siapa namamu?”, “Apa agamamu”, dan sebagainya yang konon diajukan kepada orang-orang mati di dalam kubur bukanlah kutipan dari Al-Quran, dan karena itu saya sangsikan keotentikannya. Mungkin sekali ajaran-ajaran naif itu diperoleh dari kata “ditanyai” dalam ayat-ayat berikut: Ayat Q. 37:22-24: 22. Kumpulkanlah mereka yang berbuat zalim bersama isteri-isteri mereka dan apa-apa yang biasa mereka sembah. 23. Selain Allah, dan tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka; 24. Dan tahanlah mereka, karena mereka harus ditanyai. Bila benar karena itu, saya ingin mengingatkan para pembaca yang budiman bahwa menurut ayat Q. 3:7 Al-Quran itu memuat ayat-ayat yang muhkamaat (jelas dan terang) dan ayat-ayat yang mutasyabihaat (bersifat kiasan). Kata “ditanyai” di atas misalnya, hendaknya jangan kita tafsirkan secara harfiah, tetapi secara kiasan, yaitu bahwa orang yang telah meninggal dunia harus mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan yang dilakukannya selama masa hidupnya yang lampau. Dan pertanggungjawaban itu tentu tidak dilakukan dengan cara yang begitu simpel dan naif, dengan interogasi oleh dua orang malaikat, melainkan secara otomatis, sesuai dengan kemaha­ besaran Tuhan. Selain itu, hendaknya diingat pula bahwa penghisaban orang mati itu bukan terjadi kelak pada akhir zaman, sebagaimana sering dikhotbahkan, melainkan tak lama setelah kematian, ketika ruh si orang mati dalam badan astralnya bangkit di alam gaib. Sebab Allah s.w.t. cepat dalam perhitungan. Seandainya penghisaban itu baru berlangsung kelak pada akhir zaman, maka sekarang ruh orang-orang yang telah meninggal dunia itu sedang tidur atau setengah tidur di alam gaib dan belum diapa-apakan. Bahwasanya Tuhan benar-benar cepat dalam perhitungan, sering dinyatakan dalam Al-Quran, seperti misalnya dalam ayat Q. 6:62:

Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah, Tuhan mereka yang sebenarnya. Sesungguhnya segala hukum kepunyaan-Nya. Dan Dia-lah Pembuat perhitungan yang paling cepat.

Dan ayat Q. 6:165:

Dan Ialah yang menjadikan kamu khalifah di bumi dan meninggikan sebagian kamu atas bagian lain beberapa derajat, agar Ia dapat menguji kamu dengan apa yang diberikan-Nya kepada kamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat dalam penuntutan-Nya dan sesungguh-nya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kelahiran-kelahiran (kembali) manusia yang sekarang berlangsung setiap detik sebagai manifestasi hukum reinkarnasi merupakan bukti yang nyata bahwa penghisaban amalan-amalan orang mati tidak perlu ditangguhkan sampai pada suatu waktu di kemudian hari yang amat jauh (akhir zaman). Meskipun telah saya uraikan hal di atas, saya tidak ingin menyangkal adanya ayat-ayat dalam Al-Quran yang dapat membuat kita berkesimpulan bahwa orang mati tidak akan dihisab amalanamalan sebelum datang akhir zaman. Bacalah misalnya ayat Q. 69:13-19: 13. Dan apabila sangkakala berbunyi sekali tiupan 14. Dan bumi beserta gunung-gunung diangkat dan dihancurkan dengan sekali benturan, 15. Maka pada hari itu terjadilah Peristiwa. 16. Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. 17. Dan para malaikat akan berada di penjuru-penjurunya, 18. Pada hari itu kamu akan disingkapkan; tiada rahasia kamu sebuah pun akan disembunyikan. 19. Adapun orang yang diberi catatannya ke dalam tangan kanannya, Ia akan berkata: “Ambillah, bacalah bukuku!” Q. Ayat 99:1-6: l. 2. 3. 4. 5. 6. Bilamana bumi digoncangkan dengan gempa buminya: Dan bumi mengeluarkan beban-bebannya Dan manusia berkata: Mengapa bumi ini? Pada hari itu bumi akan menceriterakan kisahnya, Karena Tuhanmu mengilhaminya. Pada hari itu umat manusia akan keluar bergolong-golongan untuk diperlihatkan perbuatan-perbuatannya.

Jika kita membaca ayat-ayat di atas dengan teliti dan menafsirkannya secara harfiah, maka kita mudah berpikir bahwa orang-orang mati harus menunggu sampai datangnya kehancuran dunia pada akhir zaman sebelum mereka bangkit dan dihisab amalan-amalannya. Tetapi menurut hemat saya, ayat-ayat itu merupakan suatu dramatisasi peristiwa besar - sebagaimana setiap kematian merupakan suatu peristiwa besar bagi yang bersangkutan - atau, sebagai altematif, menunjuk kepada kasus-kasus di mana kebangkitan terjadi bersamaan dengan suatu malapetaka dunia. Sebab pada malapetaka demikian, orang banyak akan terbunuh bersamaan waktunya, masing-masing dihisab secara otomatis, dan bangkit di tingkat alam akhirat yang sesuai dengan tingkat kemajuan rohani atau kesalehannya masing-masing. Penghisaban pada saat kebangkitan atau kiamat itu bukan saja cepat, tetapi juga amat adil dan cermat. Tidak seorang pun akan dirugikan, kata ayat Q. 21:47:

Dan Kami akan memasang timbangan yang ada untuk hari kiamat (kebangkitan), sehingga tidak ada orang yang akan rugi sedikitpun. Biarpun (amalan) itu hanya seberat biji sawi, Kami akan memperlihatkannya. Dan Kami cukup sebagai Penghisab. Ayat Q. 34.3: ... Tidak ada sesuatu seberat zarrah pun, atau kurang atau lebih daripada itu, di langit atau di bumi, yang lepas dari (pengamatan)Nya. Semuanya itu tercatat dengan jelas. Ayat Q. 82:10-12: 10. Sesungguhnya bagi kamu ada pelindung-pelindung, 11. Bermurah hati dan mencatat, 12. Yang mengetahui (segala sesuatu) yang kamu perbuat. Dari ayat-ayat di atas itu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sama sekali tidak perlu ada pertanyaan-pertanyaan seperti yang saya gambarkan pada awal bab ini. Gagasan tentang adanya pertanyaan-pertanyaan demikian hanya akan mengurangi kemahabesaran Allah s.w.t. dan keagungan Al-Quran. Jika manusia, sebagai makhluk Tuhan, dewasa ini sudah mampu menciptakan alat-alat komputer yang amat menakjubkan, yang dengan itu kita dapat memperoleh jawaban dalam beberapa saat saja untuk suatu persoalan yang biasanya memerlukan waktu yang lama, mengapa Tuhan Yang Maha Kuasa, hanya untuk menilai seseorang, masih harus memakai metode pemeriksaan yang begitu primitif dan banyak memakan waktu? Karena itu, marilah kita pergunakan cara berpikir yang dewasa., “Agama adalah rasio”, bunyi sebuah hadits. Bukan hanya iman, atau dogma. Hendaknya kita jangan lupa bahwa dalam Al-Quran banyak perumpamaan dan kiasan. Jika perumpamaan atau kiasan itu, karena kebodohan, kita anggap sebagai ajaran terang, maka penyebarluasannya akan memberikan akibat negatif bagi perkembangan agama yang pada hakekatnya amat mulia itu. Mari kita baca apa yang saya temukan dalam Everyman’s Encyclopaedia Vol, 7, hal. 189 mengenai ilmu akhirat yang konon menurut Islam: “In the grave the dead man is visited by two angels who ask him what was his religion; if he can reply 'Islam' he is left in peace, otherwise he is tortured by them and by the walls of the grave pressing upon him. “ Terjemahannya : “Di dalam kubur orang yang mati didatangi dua orang malaikat yang bertanya kepadanya apa dahulu agama yang dianutnya; jika ia dapat menjawab 'Islam', maka ia dibiarkan tanpa gangguan; tetapi jika tidak, ia disiksa oleh mereka dan dihimpit oleh dinding-dinding kubur.” Kutipan di atas cukup untuk membuat orang-orang non-Muslim memandang agama Islam sebagai agama yang naif dan irrasional. Benar-benar anti propaganda yang efektif! Saya tidak mempersalahkan penerbit atau penyusun ensiklopedi yang bersangkutan sehubungan dengan pemuatannya itu karena ajaran semacam itu sekarang pun masih sering terdapat dalam buku-buku pelajaran dan buku-buku bacaan Indonesia untuk orang dewasa, Al Quran sendiri tidak memuat ajaran demikian. Tuhan Maha Mengetahui, Ia tidak memerlukan siapa pun untuk mengetahui segala sesuatu. Saya perlu para peragu membaca ayat-ayat Al-Quran berikut: Ayat Q. 58:7:

Tidakkah kamu lihat bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan segala sesuatu yang ada di bumi? Bila ada perundingan rahasia antara tiga orang, maka Ia merupakan yang keempat; bila ada lima orang, maka ia (merupakan) yang keenam. Dan bila ada kurang atau lebih dari itu, maka ia selalu bersama mereka, di mana pun mereka berada. Dan kemudian, pada hari kiamat, ia akan memberi tahu mereka apa yang telah mereka lakukan. Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu. (Harap para pembaca maklum bahwa perkataan “hari kiamat” di atas bukan berarti “akhir zaman” atau “akhir dunia”, melainkan saat kebangkitan ruh orang mati di alam gaib tidak lama setelah kematian. Hal ini akan saya jelaskan lebih lanjut dalam bab berikut ini.) Ayat Q. 62:8:

Katakanlah. Maut yang kamu hindari pasti akan menyusulmu dan kemudian kamu akan dikembalikan kepada yang mengetahui segala yang gaib dan yang nyata, dan Ia akan memberitahukan kepadamu apa yang biasa kamu lakukan. Ayat Q. 45:29:

Catatan Kami ini berbicara tentang kamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya Kami mencatat segala sesuatu yang telah kamu lakukan. Ayat Q. 21:47:

... Dan Kami cukup sebagai Penghisab. Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan bahwa tidak ada pertanyaan-pertanyaan sebagaimana disinggung pada permulaan bab ini. Bahkan, seperti anda lihat sendiri, ruh orang-orang matilah yang diberi tahu oleh Tuhan tentang apa yang telah mereka lakukan ketika masih hidup di dunia. Allah s.w.t. tahu tanpa bertanya-tanya. Khotbah mengenai dua orang malaikat yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan sehagaimana digambarkan di muka hanyalah bikin-bikinan yang akan menurunkan derajat agama Islam kita.

Bukan saja apa yang diperbuat manusia yang “dicatat” oleh Tuhan itu, melainkan juga apa yang terlintas dalam pikiran-pikirannya. Pikiran adalah perbuatan. Mengenai itu, ayat Q. 43:80 berbunyi sebagai berikut: Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia-rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya utusan-utusan Kami yang ada padanya mencatatnya. Sering diajarkan kepada kita bahwa setiap orang hidup dijaga oleh dua orang malaikat, “yang seorang di sebelah kanan, dan yang seorang lagi di sebelah kiri”, yang selalu menyaksikan dan mencatai segala perbuatan baik dan buruknya. Menurut hemat saya, hal itu harus diartikan sebagai kiasan, dan “utusan-utusan” yang dimaksud itu adalah ruh atau jiwa kita sendiri, yaitu bahagian Ruh Tuhan yang dahulu “ditiupkan” Tuhan ke dalam kita dan sekarang ada dalam diri kita, sebagaimana disinggung dalam ayat Q. 32:9: Kemudian Ia membentuknya dan meniupkan ke dalamnya sebahagian dari Ruh-Nya, dan Ia jadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur. Ayat Q. 57:4: ... Dan Ia ada di mana pun kamu berada. Allah melihat segala sesuatu yang kamu kerjakan. Dan ayat Q. 50:16: Sesungguhnya Kami ciptakan manusia dan Kami tahu apa yang dibisikkan ruhnya kepadanya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri. Ruh kitalah, yaitu bagian Ruh Tuhan dalam tubuh kita masing-masing, yang bekerja sebagai “utusan” dan “melihat” dan “mencatat” segala perbuatan dan bisikan hati kita. Tuhan Maha Kuasa ada di mana pun kita berada. Tuhan Yang Maha Esa meliputi dan menembusi segala sesuatu, baik yang gaib maupun yang nyata, termasuk diri kita masing-masing. Jika kita berpikir lebih mendalam tentang hal tadi, kita dapat sampai kepada kesimpulan bahwa, dengan rahmat Allah s.w.t., hati nurani IIahi kitalah yang menilai perbuatan-perbuatan masa lalu kita bila kita telah meninggal, dan karena itu, mengadili diri kita. Dengan perkataan lain yang lebih lancang, diri kita sendirilah, ruh Ilahi dalam diri kita atau cahaya Ilahi yang menerangi batin kita, yang akan menjadi penghisab, juri, dan hakim kita pada waktu kelak kita meninggal. Dengan pemyataan di atas itu bukanlah maksud saya menyejajarkan manusia dengan Allah s.w.t. dan mengurangi peranan-Nya dalam hidup kita. Sebaliknyalah yang benar: Saya ingin supaya anda mengakui Kemahabesaran, Kemahakuasaan, Kemahabijaksanaan, dan Kemahaefirsienan Tuhan dalam segala hal yang diperbuat-Nya. Saya tidak mengada-ada dan membelok-belokkan Firman-Nya dengan maksud membenar-benarkan pandangan saya. Saya hanya mengikuti secara patuh apa yang diwahyukan Allah s.w.t. kepada Nabi Muhammad s.a.w. melalui Jibril untuk disebarluaskan kepada umat manusia. Ayat-ayat Ilahi di bawah ini dapat dianggap sebagai menunjang pandangan saya di atas: Ayat Q. 17:13-14:

13. Dan nasib setiap orang telah Kami ikatkan pada lehernya sendiri, dan pada hari kiamat, Kami akan mengeluarkan baginya sebuah kitab yang didapatinya terbuka. 14. (Dan akan dikatakan kepadanya:) Bacalah kitabmu. Cukuplah dirimu sebagai penghisab terhadapmu pada hari ini.

dan ayat Q. 75:13-14:

13. Pada hari itu diberitahukan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya sebelumnya dan apa yang dilalaikannya. 14. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri. Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan bahwa jiwa, ruh, atau hari nurani kita cukup untuk menjadi penghisab amalah-amalan baik dan buruk kita pada hari penghisaban itu, yaitu tak lama setelah kita meninggal, tanpa seorang pun diperlukan untuk menanyai atau bertindak sebagai saksi (kecuali barangkali malaikat-malaikat atau ruh orang rang yang telah meninggal lebih dahulu yang ingin membantu kita pada saat-saat pertama yang membingungkan setelah kita bangkit di alam gaib). Tuhan Sendirilah, atau lebih tepat, bagian-bagian Ruh Tuhan yang ada dalam diri kitalah yang menjadi saksi, pencatat dan pengawas atas segala perbuatan kita itu. Jiwa atau ruh kita adalah bagian Ruh Tuhan yang dahulu “ditiupkan-Nya” ke dalam tubuh kita, ketika atau tak lama sebelum kita dilahirkan ke dunia. Ruh atau jiwa itu akan selalu bersama tubuh fisik kita selama kita hidup, dan di mana pun kita berada. Mereka itu, ruh-ruh atau jiwa jiwa manusia, menurut ayat-ayat tadi, adalah penghisab dan saksi kita sendiri. Mudah-mudahan tidak ada orang yang berani mencoba-coba membelokkan arti ayat-ayat tadi, karena usaha demikian dapat dianggap sebagai perbuatan iftiro. Hendaknya kita percaya akan hal itu tanpa reserve, tanpa mencari-cari hadits, ijma, fatwa, atau ijtihad untuk menyangkal atau membelok-belokkan artinya. Memang benar Allah s.w.t. adalah Penguasa Hari Pengadilan/Pembalasan sebagaimana secara alegoris dinyatakan dalam ayat Q. 1:3, tetapi itu bukan berarti bahwa Ia harus duduk di sebuah Arasy di langit untuk menjatuhkan vonnis-Nya kepada para makhluk-Nya pada akhir zaman. Vonnis atau penghisaban datang dari diri kita sendiri tidak lama setelah kita terlepas dari kungkungan fisik. Tabir penghalang menghilang, dan kita akan dapat melihat dengan jelas di mana dahulu kita berbuat salah dan di mana berbuat benar.”...Sekarang telah Kami singkapkan selubungmu, maka tajamlah penglihatanmu pada hari ini,“ demikianlah, antara lain, bunyi ayat Q. 50:22. Tuhan kuasa untuk membiarkan hukum-hukum yang diciptakan-Nya berjalan sendiri dan tidak memungkinkan manusia berbohong terhadap dirinya sendiri setelah ia meninggal dan kembali ke alam akhirat. Di situ hati nurani kita menjadi hakim dan juri terhadap diri kita. “Cukuplah dirimu sabagai penghisab terhadapmu,“ kata ayat Q. 17:14 tadi. Bagi kita manusia yang sekarang masih hidup di dunia, di mana kemunafikan dan kejahatan lainnya dapat berlangsung tanpa dituntut atau dihukum - setidak-tidaknya, demikianlah nampaknya - apa yang saya tuliskan tadi mungkin merupakan hal yang mustahil di mata anda, tetapi percayalah, bagi Tuhan Yang Maha Kuasa, penghisaban atau pengadilan secara di atas amatlah mudah. Ia Maha Kuasa. Maha Bijaksana, Maha Efisien. Bahwasanya di dunia fisik untuk setiap perbuatan jahat tidak selalu segera ada pembalasannya, merupakan suatu ketentuan llahi. yang dinyatakan dalam ayat Q. 14:42:

Janganlah dikira bahwa Allah tidak tahu akan apa yang diperbuat oleh orang-orang jahat. Ia hanya memberi mereka waktu (penangguhan) sampai hari mata mereka terbelalak ketakutan. Karena itu, janganlah heran bila sekarang anda melihat banyak orang zalim bebas berkeliaran, seolah-olah berada di luar jangkauan hukum. Tetapi Tuhan tidak tidur!

VII Tentang Kata “Kiamat”
Seperti halnya dengan kata “ajal” yang berasal dari bahasa Arab ajalu dan sekarang oleh umat Islam Indonesia diartikan sebagai “maut” atau “kematian” tetapi sebenarnya berarti “masa”, dalam perbendaharaan bahasa kita ada pula kata Indonesia lain yang berasal dari bahasa Arab dan sekarang diberi pengertian yang menyimpang dari arti aslinya (sehingga mengacaukan sebagian besar penafsiran Al-Quran). Yang saya maksudkan ialah perkataan “hari kiamat”. Seperti telah saya singgung pada awal buku ini, saya bukanlah seorang ulama, baik fungsional maupun profesional, dan bukan pula ahli bahasa. Tetapi dari ajaran-ajaran Al-Quran yang saya tekuni secara mandiri (tidak terpengaruhi atau terikat oleh orang lain), telah saya temukan bahwa penafsiran perkataan “hari kiamat” sebagai “kehancuran dunia pada akhir zaman” tidaklah tepat. Sebab dipandang dari sudut semantik atau etimologi, kata Arab qiyaamatu (sinonimnya: ba'tsu, nusyuuru), yang menghasilkan kata Indonesia “kiamat”, sebenarnya berarti “kebangkitan (kembali)”. Ini dapat saya buktikan dari kamus Arab, dari The Holy Qur-an, susunan Abdullah Yusuf Ali, dan The Glorious Koran, susunan Mohammed Marmaduke Pickthall, yang menerjemahkan qiyaamatu dengan resurrection. Dan resurrection berarti “kebangkitan kembali”. Dalam konteks buku ini, “kebangkitan” atau “kebangkitan kembali” berarti “kebangkitan ruh orang mati di alam gaib”, yaitu peristiwa yang sekarang pun, tiap hari, tiap saat, sudah menjadi kenyataan. Qiyaamatu bukanlah peristiwa yang baru akan datang kelak pada akhir zaman. Surah 75, Al-Qiyaamah, yang akan saya kutip selengkapnya di bawah ini, saya anggap sebagai ayat-ayat yang mendukung pendapat saya. Surah 75. AL-QIYAAMAH (KEBANGKITAN KEMBALI) Bismillaahir rahmaanir rahiim. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Aku bersumpah demi hari kebangkitan Dan aku bersumpah demi jiwa yang mencela diri. Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang-belulangnya? Sungguh, sungguh Kami berkuasa memulihkan ujung-ujung jarinya secara sempurna. Tetapi manusia hendak mengingkari apa yang akan datang. Ia bertanya: Bila hari kebangkitan datang? Tetapi bilamana penglihatan (mulai) kabur Dan bulan hilang cahayanya Dan matahari dan bulan bertaut, Pada hari itu manusia akan berkata: Ke mana melarikan diri? Tidak! Tiada tempat berlindung. Kepada Tuhanmulah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu manusia diberi tahu tentang apa yang dikirimkannya dahulu dan apa yang dilalaikannya. Ya, manusia menjadi saksi terhadap dirinya sendiri. Meskipun ia mengemukakan dalih-dalihnya. Janganlah gerakkan lidahmu untuk mempercepatnya. Sesungguhnya Kamilah yang akan mengumpulkannya dan membacakannya.

18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40.

Dan bilamana Kami membacakannya, ikutilah bacaannya. Dan sesungguhnya Kamilah yang akan menjelaskannya. Tapi tidak, tidak! Kamu menyukai (hidup) yang fana ini. Dan mengabaikan (hidup) akhirat. Hari itu wajah-wajah akan berseri-seri. Memandang kepada Tuhannya. Dan pada hari itu wajah-wajah lain (nampak) suram. Karena tahu bencana akan menimpa mereka. Tapi tidak! Bila nyawa telah sampai di kerongkongan, Dan orang-orang berkata: Mana tukang jampi (yang akan menyelamatkannya?) Dan ia tahu perpisahan telah tiba, Dan kaki yang satu bertaut dengan kaki yang lain (suatu kiasan untuk penderitaan sakaratulmaut) Kepada Tuhanmulah hari itu (ia) akan digiring. Sebab (dahulu) ia tidak percaya, dan tidak pula bersembahyang. Tetapi ia mendustakan dan mencemoohkan. Kemudian ia pergi ke kaumnya penuh kesombongan. Celakalah kau, celakalah! Sekali lagi, celakalah kau, dan celakalah. Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja tanpa dimintai pertanggungjawabannya? Bukankah ia (dahulu) setetes air mani yang dipancarkan? Kemudian menjadi suatu gumpalan; kemudian (Allah) membentuknya dan menyempurnakannya. Dan membuatnya suatu pasangan laki-laki dan perempuan. Bukankah Ia (yang berbuat demikian) kuasa menghidupkan (kembali) orang-orang mati?

Surah di atas melukiskan secara dramatis dan allegoris saat-saat perpindahan ruh orang yang akan mati dari alam fisik ke alam gaib; melukiskan penderitaan atau perasaan orang yang menghadapi sakaratulmaut sebelum ia dibangkitkan kembali di alam gaib; melukiskan kepanikan batin (bagi sebagian orang) yang disebabkan oleh rasa takut menghadapi kematian. Ayat-ayat di atas sama sekali tidak melukiskan hal yang berhubungan dengan suatu bencana alam pada akhir zaman. Seandainya benar hari kiamat itu sinonim dengan saat tibanya malapetaka dunia pada akhir zaman, maka tidaklah logis bila dalam keadaan yang mengerikan itu masih ada orang-orang yang berseri-seri seperti dinyatakan dalam ayat Q. 75:22-23 di atas, sedangkan orangorang lain meratap ketakutan dan menderita. Tidak, para pembaca yang budiman, orang-orang baik itu akan terlalu sibuk memikirkan keselamatan sanak saudaranya. Karena itu, hari kiamat bukanlah hari bencana dunia pada akhir zaman, melainkan saat dibangkitkannya ruh orang mati di alam akhirat tak lama sesudah kematian, sebagai permulaan kehidupan akhirat yang sering disinggung baik dalam khotbah-khotbah maupun dalam Al-Quran. Karena itu pula, kiamat atau kebangkitan dalam arti yang asli dan murni - sepanjang saya dapat menelitinya dalam Al-Quran - sebenarnya terjadi setiap saat, ya, sekarang juga, bagi orang yang bersangkutan, bukan kelak pada akhir dunia. Bahwasanya kata kiamat itu sekarang berarti “akhir dunia”, akhir zaman”, atau “kehancuran dunia pada akhir zaman”, itu merupakan suatu gejala perubahan arti kata yang biasa terjadi dalam sejarah bahasa mana pun, sebagaimana juga halnya dengan kata Arab ajalu yang sebenarnya berarti “masa” tetapi kemudian menjadi sinonim dengan “kematian”.

Bahwasanya hari kebangkitan itu bukan peristiwa yang baru akan tiba pada akhir dunia atau akhir zaman, melainkan tak lama setelah kematian, dapat saya buktikan dengan mempergunakan ayat Q. 23:99-100, yang berbunyi sebagai berikut:

99. Hingga bila kematian datang kepada seseorang dari mereka, ia berkata: “Hai Tuhanku! Kembalikanlah aku (ke dunia)”, 100. “Agar aku dapat beramal saleh dalam hal-hal yang telah kulalaikan“. Sekali-kali tidak! Itu hanya perkataan yang diucapkannya saja. Di belakang mereka ada suatu dinding/batas sampai hari mereka dibangkitkan. Kita perhatikan khusus kalimat “Di belakang mereka ada suatu dinding/ batas sampai hari mereka dibangkitkan”. Kalimat itu mengisyaratkan kepada kita bahwa si orang mati itu telah bangkit dan tidak dapat kembali ke dunia oleh karena di belakangnya ada penghalang yang menghalanginya kembali, atau, dengan perkataan lain, ia tidak dapat kembali ke dunia karena ia telah melewati “dinding” penghalang antara alam fisik dan alam akhirat. Bahwasanya si orang mati itu telah bangkit kembali di alam akhirat, dapat kita simpulkan dengan mudah dari permintaannya, “Ya Tuhanku! Kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat beramal saleh dalam hal-hal yang telah kulalaikan” Sebab, seandainya ia belum bangkit di alam akhirat itu, niscaya ia tidak dapat mengajukan permintaan di atas itu, bukan? Jadi, berdasarkan logika yang diterapkan secara jujur dan konsekuen, kita dapat meyakinkan diri bahwa setiap kebangkitan ruh orang yang telah mati itu berlangsung tak lama selelah kematian, bukan kelak pada akhir dunia atau akhir zaman. Bagi orang-orang Islam yang selama ini sudah biasa berpikir bahwa hari kiamat atau hari kebangkitan/penghisaban itu baru akan berlangsung kelak pada akhir dunia atau akhir zaman, pernyataan saya di atas itu mungkin sulit diterima - apalagi, jika diingat bahwa penulis bukan seorang ulama - tetapi itulah kesimpulan yang mau tak mau harus diterima oleh akal sehat yang jujur. Saya persilakan anda merenungkannya kembali baik-baik, seandainya anda masih ragu-ragu. Hanya oleh karena kata “kiamat” atau qiyaamah diartikan sebagai “akhir dunia” dan hanya oleh karena kata Arab ajalu dalam ayat Q. 6:2, yang antara lain menyatakan “wa ‘ajalum musamman ‘indahuu“ (“dan ada [lagi] masa tertentu di sisi-Nya”) diartikan sebagai “kematian”, maka umat Islam akhirnya menarik kesimpulan bahwa hidup di akhirat itu benar-benar untuk selama-lamanya dan bahwa dalam Islam tidak terdapat ajaran tentang reinkarnasi atau siklus hidup dan mati. Sebagai akibat logis dari kesimpulan keliru itu, dan untuk mempertahankan kesimpulan itu, maka semua ayat lain yang sebenarnya begitu jelas menunjukkan reinkarnasi dan siklus hidup dan mati, secara menyolok dibelok-belokkan pula artinya. Sebaliknya, oleh karena kepada kita selalu diajarkan bahwa dalam agama Islam tidak terdapat ajaran mengenai reinkarnasi atau siklus hidup dan mati bagi manusia, maka kata Arab qiyaamatu, yang sebenarnya berarti “kebangkilan”, diasosiasikanIah dengan kehancuran dunia pada akhir zaman; dan kata Arab ajalu, yang dalam berpuluh-puluh ayat dipakai dengan pengertian “masa”, khusus dalam hal ayat Q. 6.2 dan juga dalam ayat Q. 7:34, dibelokkanlah artinya menjadi “kematian”, padahal “kematian” dalam bahasa Arabnya jelas adalah mautu.

Di antara para pembaca, tentu ada yang belum yakin bahwa hari kiamat atau hari kebangkitan itu bukan berarti “akhir zaman”. Karena itu, izinkanlah saya menulis tentang itu lebih lanjut. Kebanyakan orang, termasuk orang-orang sebelum Islam, biasa beranggapan bahwa hari kebangkitan itu sinonim dengan akhir zaman: Sudah barang tentu Allah s.w.t. mengetahui hal itu. Mungkin oleh karena itulah Allah s.w.t. menurunkan ayat Q. 30:55-56:

55. Dan pada hari saatnya (kebangkitan) tiba, orang-orang berdosa bersumpah bahwa mereka telah berdiam hanya sesaat saja. Dengan demikian, terkecohlah mereka. 56. Tetapi orang-orang yang diberi ilmu dan iman berkata: Sebenarnya kamu berdiam, dengan keputusan Allah, hingga hari kebangkitan. Inilah hari kebangkitan. Demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran). Perhatikanlah kalimat “Inilah hari kebangkitan“ di atas. Menurut tafsiran saya, ayat Q. 30:55 di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa pada saat arwah orang mati bangkit di alam akhirat setelah mengalami tidur-kematian, mereka menyangka bahwa mereka telah tertidur hanya sebentar saja, padahal sebenarnya mereka tak sadarkan lebih lama daripada itu, mungkin beberapa jam mungkin beberapa hari. Bahwa sangkaan mereka itu salah, dapat disimpulkan dari perkataan “Dengan demikian, terkecohlah mereka.” Dalam ayat 56 di atas, Tuhan seolah-olah berfirman kepada ruh orang mati yang baru bangkit di akhirat, “Nah, inilah sebenarnya apa yang disebut 'hari kiamat' atau 'hari kebangkitan' itu. Tetapi dahulu, ketika masih hidup di dunia, kamu selalu mengira hari kiamat atau hari kebangkitan itu baru akan berlangsung kelak pada akhir zaman! Itu tak benar!” Agar para pembaca jangan menyangka saya hanya mengada-ada saja dengan maksud menyesuaikan penafsiran ayat dengan pendapat pribadi, saya akan memberikan contoh lain dari Al-Quran. Bacalah ayat Q. 35:9:

Allahlah yang mengirimkan angin, lalu (angin itu) menggerakkan awan, dan Kami halau angin itu ke arah tanah mati, dan dengan itu Kami hidupkan bumi (tanah) setelah kematiannya. Demikianlah kebangkitan. Dapat anda lihat di atas bahwa dalam kebangkitan itu tidak ada disebut-sebut suatu bencana alam atau kematian manusia secara besar-besaran, pengadilan orang-orang mati sekaligus, gempa bumi yang menggemparkan, gunung-gunung api yang meletus, sebagaimana orang biasa berpikir bila mengartikan “hari kiamat”. Sebaliknya, ayat di atas melukiskan suatu proses atau peristiwa yang tenang dan damai, seolah-olah mengisyaratkan kepada kita apa sebenarnya arti kata “kiamat” atau “kebangkitan” itu: Tanah mati (karena kehabisan mineral dan elemen-elemen kimiawi yang diperlukan untuk pertumbuhan tanam-tanaman dan benda-benda hidup lainnya); kemudian hujan turun; airnya

merembes ke dalam tanah; proses-proses kimiawi terjadi; mineral-mineral terbentuk kembali; tanah dan tumbuh-tumbuhan hidup kembali. Demikianlah kebangkitan, kata Al-Quran, meskipun sama sekali tiada bencana alam atau pun malapetaka lainnya yang mendahului atau membarengi peristiwa kebangkitan itu. Demikianlah pula, seorang insan mati. Badannya dikuburkan; ruhnya secara otomatis “dihisab” dan bangkit di tingkat alam akhirat yang sesuai dengan tingkat perkembangan rohaniahnya, Sekali lagi: Demikianlah kebangkitan. Tidak perlu ada bencana alam, tidak perlu ada kematian bersama berjuta juta orang, tidak perlu ada gempa bumi, tidak perlu ada punung api meletus, dan semacamnya yang membarengi peristiwa kebangkitan itu. Sebaliknya, hanyalah peristiwa atau proses yang tenang dan damai, suatu peristiwa wajar seperti peristiwa-peristiwa wajar lainnya. Untuk memperkuat uraian di atas, saya akan mengutip ayat Al-Quran lainnya, yaitu ayat Q. 19:93-95:

93. Setiap (makhluk) yang ada di langit dan di bumi pasti datang kepada Yang Maha Pemurah sebagai hamba. 94. Sungguh Ia mengetahui mereka dan menghitung (amalan-amalan) mereka dengan hitungan (yang benar). 95. Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada hari kiamat seorang diri Sekali lagi, itulah hari kiamat atau hari kebangkitan. Setiap orang yang meninggal akan “datang seorang diri kepada-Nya” untuk menyerahkan diri. Ayat-ayat di atas sama sekali tidak melukiskan penghisaban massal olah Tuhan yang duduk di sebuah singgasana pada suatu hari kelak di akhir zaman, tetapi menunjukkan suatu peristiwa biasa yang berlangsung setiap hari. Penghisaban dan kebangkitan berlangsung tak lama setelah kematian, secara individual - sekali lagi, “seorang diri”, kata Al-Quran - secara otomatis, berkat kemahabesaran dan kemahaefisienan Allah s.w.t. Kebangkitan bukanlah berarti “akhir dunia” atau “bencana dunia pada akhir zaman”. Bencana pada akhir zaman adalah soal lain yang memang disebut-sebut dalam Al-Quran dan Kitab Injil, tetapi tidak akan saya singgung di sini, karena di luar ruang lingkup tulisan ini. Berdasarkan hal-hal di atas, saya merasa dibenarkan berkesimpulan bahwa perkataan yaumil qiyaamah atau “hari kiamat” yang sering dipakai dalam Al-Quran harus ditafsirkan sebagai saat ruh dalam badan astralnya bangkit di alam astral (akhirat bagian rendah) setelah ia meninggalkan alam fisik. Dan seandainya ada disebut-sebut penghisaban massal dalam Al-Quran, maka, menurut hemat saya, hal itu hendaknya ditafsirkan sebagai suatu peristiwa insidental di mana banyak orang mati terbunuh sekaligus, seperti biasa terjadi dalam suatu bencana alam. Tetapi seandainya pula hal itu bukan menunjukkan suatu bencana alam, maka tokh masih ratusan atau ribuan orang meninggal setiap hari sebagai akibat dari kecelakaan, penyakit, atau ketuaan di seluruh dunia. Di antara para pembaca mungkin ada yang tetap berpendapat bahwa kata “saat” dalam ayat Q. 30:55 tadi harus ditafsirkan sebagai “akhir dunia”, bukan sebagai saat kebangkitan setelah tidurkematian sebagaimana telah saya jelaskan. Sudah barang tentu kata “saat” itu dapat diartikan berlain-lainan, bergantung kepada situasi dan kebutuhan. Tetapi seandainya benar kata “saat” tadi berarti akhir dunia, maka akan timbul suatu keganjilan; sebab menurut logika, sebelum orang mati hidup kembali di alam gaib, ia, atau badan rohaniahnya, tentu harus bangkit lebih dahulu, bukan? Bahwasanya kebangkitan itu tidak harus

menunggu dahulu tibanya akhir zaman, tetapi sekarang pun telah berlangsung, dapat kita simpulkan dari kenyataan bahwa sekarang pun orang-orang mati sedang atau telah aktif hidup di alam akhirat atau, menurut istilah Al-Quran “di sisi Allah”. Kata ayat Q. 2:154: Dan janganlah kamu mengatakan mengenai orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka) mati. Tidak! mereka itu hidup, cuma kamu tidak menyadarinya. Dan ayat Q. 3:169: Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Tidak! mereka itu hidup. Di sisi Tuhan mereka, mereka mendapat rezeki. Dari uraian sederhana di atas, anda pun dapat melihat bahwa kebangkitan atau kiamat bagi orang-orang yang telah meninggal itu tidak harus ditangguhkan sampai tibanya akhir dunia yang entah kapan akan tiba. Orang-orang mati itu sekarang tidak sedang berbaring tidur di “alam barzakh” menunggu tibanya “hari kiamat” dalam arti akhir zaman, sebagaimana sering diajarkan oleh beberapa kalangan guru agama, melainkan sudah bangkit dan hidup di alam akhirat. Bagi kita, manusia yang sedang hidup di alam fisik, orang-orang mati itu adalah orang-orang yang sekarang tinggal dan hidup di alam akhirat. Umat Kristen di Indonesia juga mempergunakan kata Indonesia “kiamat” dengan arti kata yang sama dengan arti yang digunakan-oleh kaum Muslimin, yaitu dalam arti bencana dunia pada akhir zaman, atau apa yang disebut “Hari Kiamat Besar”. Gereja Kristen konon mengajarkan bahwa “kebangkitan orang-orang mati akan terjadi pada waktu Yesus kembali ke dunia, yang akan terlaksana sesudah 'hari kiamat' pada akhir zaman, dengan maksud mendirikan Kerajaan Allah yang kekal dan abadi”. Everyman's Encyclopaedia, fourth edition, volume 7, halaman 382, di bawah judul Judgment, The Final, misalnya, menulis: According to Rom. Catholic theology every soul individually, at the instant of death, is committed by God to its final destiny, in what is called a private judgment. The term F.J., however, is more commonly applied to the general judgment, a public vindication of God's justice which is to take place at the end of the world. At that moment the dead will rise again with bodies transformed like Christ's at His Resurrection, a transformation which will affect the living also. Then all alike will behold the everlasting fate of each and every one. Terjemahannya: Menurut agama Katolik Roma, setiap ruh secara individual, pada saat kematiannya, ditentukan nasibnya yang terakhir oleh Tuhan dalam apa yang dinamakan pengadilan perseorangan. Tetapi istilah The Final Judgment atau Pengadilan Terakhir, lebih biasa diterapkan kepada pengadilan umum, suatu usaha umum untuk mempertahankan (memelihara) keadilan Tuhan yang akan terjadi pada akhir dunia. Pada saat itu, orang-orang mati akan bangkit lagi dengan tubuh yang telah berubah seperti tubuh Kristus pada waktu Kebangkitan-Nya, suatu transformasi yang juga akan berlaku bagi orang-orang hidup. Ketika itu, semuanya akan melihat nasib abadi masing-masing. Selain itu, seperti juga halnya dengan kaum Muslimin, Gereja Kristen berpendapat bahwa hukuman dalam neraka itu bersifat kekal dan abadi. (Tetapi seorang Kristen terkenal dan berpengaruh - namanya Oregon dan lahir di Alexandria, Afrika Utara, dan hidup antara tahun 186 dan 254 Masehi - menyangkal pendapat demikian dan, antara lain, mempertahankan bahwa semua orang, bahkan setan sekalipun, akhirnya akan diselamatkan oleh Tuhan. Karena keyakinannya yang gigih itu, ia dihukum sebagai seorang murtad, dipenjarakan; dan disiksa oleh Gereja yang berkuasa ketika itu. Ia akhirnya meninggal dunia karena penderitaannya.)

Menurut sejarah, sebelum Nabi Muhammad s.a.w. muncul di jazirah Arab, para misionaris Nasrani telah berada di sana selama 600 tahun untuk menyebarluaskan agamanya, tetapi tidak begitu berhasil. Hadirnya mereka di sana agaknya menjadi salah satu sebab mengapa orang-orang Muslimin dahulu - setelah wafat Nabi Muhammad s.a.w. - menafsirkan ayat-ayat Al-Quran mengenai kebangkitan orang-orang mati persis seperti orang-orang Kristen, yaitu bahwa kebangkitan dan penghisaban orang-orang mati baru akan berlangsung pada akhir dunia atau “hari kiamat” pada akhir zaman. Pada dewasa ini pun (sebagian?) umat Islam beranggapan bahwa setelah “Pengadilan Besar”(?) pada akhir zaman, ruh orang-orang yang telah meninggal dan sekarang konon tinggal di “alam barzakh” untuk sementara, akan dimasukkan ke alam akhirat (neraka atau surga) untuk kemudian tinggal di sana selama-lamanya; sedangkan menurut hemat saya - yang saya dasarkan kepada hasil penelitian saya mengenai ayat-ayat Al-Quran yang bersangkutan - tidaklah demikian halnya. Saya berpendapat, bukanlah sifat Tuhan s.w.t. untuk membiarkan makhluk-makhluk-Nya merana di neraka untuk selama-lamanya. Tuhan Yang Maha Pengampun pasti akan mengampuni mereka, meskipun memang tidak segera. Lagi pula, jika kita berani memakai akal pikiran dan rasa keadilan kita sendiri, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa tidaklah mungkin seseorang yang bersalah hanya selama beberapa tahun atau beberapa puluh tahun saja harus dibalas dengan siksaan yang kekal dan abadi. Tuhan tidak irrasional. Tuhan Maha Adil, Maha Pengampun, Murah Hati terhadap makhluk-makhlukNya yang bertaubat. Allah s.w.t. adalah Al-Ghafuurur Rahiim. Saya persilakan anda membaca lagi ayatayat berikut: Ayat Q. 39:53:

Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri sendiri! Janganlah kamu berputus asa atas rahmat Allah Yang akan mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ayat Q. 3:88-89:

88. Mereka menetap di dalamnya (dalam neraka). Tidak akan diringankan baginya siksaan, dan tidak pula mereka ditangguhkan (siksaannya). 89. Kecuali mereka yang kemudian bertaubat dan berbuat baik. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ayat Q. 3:185.

Setiap jiwa akan merasakan kematian. Dan pada hari kebangkitan akan dibayarkan kepadamu ganjaranmu. Barangsiapa dipindahkan dari api (neraka) dan dimasukkan ke dalam surga, sesungguhnya ia beroleh kemenangan. Dan kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Ketiga ayat di atas itu jelas menunjukkan bahwa Allah s.w.t. akhirnya akan mengampuni orang-orang berdosa, apa pun kesalahannya, apa pun kepercayaannya, apa pun agamanya. Yang merupakan bukti nyata bagi saya, ialah pengampunan itu diberikan-Nya kepada kita berupa kesempatan dilahirkan kembali di dunia sebagai tempat ujian hidup yang baru dan tempat menerima pembalasan atas perbuatan kita, baik ataupun buruk, pada masa atau masa-masa hidup yang lalu. Selama orang masih beranggapan bahwa kiamat atau hari kebangkitan itu sama artinya dengan kehancuran dunia pada akhir zaman, maka pastilah ia akan menemukan ajaran-ajaran yang seolah-olah bertentangan satu sama lain pastilah ia akan tetap kacau dalam pengertian mengenai hidup dan mati. Sayang sekali, konsep keliru itu telah berlangsung demikian lamanya, sehingga sulitlah bagi siapa pun untuk meluruskannya kembali. Namun meskipun demikian, menurut hemat saya, penyalahtafsiran atau salah kaprah itu terlalu fundamental untuk dibiarkan begitu saja tanpa adanya usaha meluruskannya kembali. Selama kita membiarkan salah kaprah itu berjalan terus seperti sekarang, yaitu membiarkan orang mengira hari kiamat atau hari kebangkitan adalah identik dengan akhir dunia, maka besarlah kemungkinan orang berulang-ulang kembali membuat kesalahan yang sama dalam penafsiran baik Al-Quran maupun Kitab Injil. Saya menghimbau para alim ulama memikirkan hal itu. Usaha ke arah itu telah saya rintis dengan penyajian tulisan ini. Usaha selanjutnya saya serahkan kepada para pencinta Kebenaran lainnya yang lebih berwibawa daripada saya.

VIII Tentang “Alam Barzakh”
Dalam bab ini saya akan menyinggung soal “alam barzakh” yang sering disebut-sebut oleh para ulama sebagai suatu alam tempat orang-orang mati menunggu sebelum mereka dibangkitkan pada hari kebangkitan atau hari kiamat pada akhir zaman (yang sesudah itu konon akan dimulai hidup akhirat yang kekal dan abadi). Sebagian ulama Islam mengajarkan kepada kita bahwa semua orang mati dari dahulu sampai pada saat ini berada di “alam barzakh” dalam keadaan tidak sadar; sebagian lain mengajarkan bahwa orang-orang mati itu sekarang berada di alam “barzakh” dalam keadaan sedang menerima ganjaran atau siksaan sementara. Meskipun saya tahu akan ajaran-ajaran demikian, saya merasa terpaksa menyatakan tidak sependapat mengenai itu. Sebagaimana telah saya uraikan di muka, kebangkitan itu - dalam bahasa Arabnya, qiyaamatu, ba'tsu, atau nusyuuru - berlangsung tak lama setelah ruh orang mati meninggalkan badan kasarnya, untuk kemudian bangkit dan hidup di alam gaib atau akhirat, bukan pada akhir zaman. Karena itu, menurut hemat saya, apa yang dinamakan “alam barzakh” itu tidak ada. Saya amat sadar bahwa pernyataan saya itu dapat dianggap sebagai suatu pembangkangan seorang awam terhadap para alim ulama. Tetapi bukan itulah yang saya maksudkan. Maksud saya ialah untuk ikut serta dalam usaha pemurnian ajaran Al-Quran. Saya bermaksud meneliti beberapa ayat Al-Quran secara jujur dan ilmiah, tanpa menjiplak konsepsi orang lain atau berplagiat, tetapi mengikuti jalan akal pikiran sendiri, dengan iman sebagai dasar. Saya mohon maaf sebesarbesarnya kepada para pembaca yang budiman bilamana sikap saya ini nampak amat lancang. Apa sebenarnya yang mendorong saya mengatakan bahwa alam barzakh itu tidak ada? Pertama-tama, kata majemuk “alam barzakh” itu, sepanjang saya dapat menelitinya, tidak terdapat dalam Al-Quran. Yang saya dapati dalam Al-Quran, hanyalah kata barzakh yang tidak dimajemukkan dengan kata “alam”. Kedua, kata Arab barzakh itu, menurut kamus Arab dan para ahli bahasa, berarti “batas”, “perbatasan”, “dinding”, atau “sekatan”, bukan kubur, sebagaimana biasa diidentikkan oleh umum. Untuk membuktikan bahwa kata barzakh itu bukan berarti “kubur” atau “alam kubur” marilah kita ambil ayat Q. 55:19-20:

19. Ia melepaskan kedua lautan yang saling bertemu. 20. Antara keduanya ada dinding (batas). Masing-masing tidak berliwatan. (Bainahumaa barzakhul laa yabghiyaan. ) Ayat Q. 25:53:

Dan Ialah yang telah melepaskan kedua lautan; yang satu sedap dan manis, dan yang lain asin dan pahit. Dan Ia menempatkan suatu batas/dinding dan penghalang di antara keduanya.

(Waja ala bainahumaa barzakhaw wahijram mahjuuraa. ) Dari kedua ayat di atas anda dapat melihat bahwa kata Arab barzakh itu berarti batas, dinding, atau perbatasan. Dan di alam pikiran kita, batas, perbatasan, atau dinding, merupakan sesuatu yang sempit atau tipis, tidak melebar meluas, dan karena itu sama sekali tidak cocok untuk dipakai sebagai kiasan yang menggambarkan suatu alam yang luas, “alam barzakh”, atau masa waktu luas yang terbentang antara saat meninggal dan “akhir zaman”. Mari kita teruskan uraian ini dan menganalisa ayat lain, yang memuat kata barzakh, yaitu ayat Q. 23:99-100 (yang biasanya dipakai oleh para ulama untuk menentang adanya paham reinkarnasi):

99. Hingga bila kematian datang kepada seseorang dari mereka, ia berkata: “Hai Tuhanku! Kembalikan aku (ke dunia)! 100. Agar aku dapat beramal saleh dalam hal-hal yang telah kulalaikan”, Sekali-kali tidak! Itu. hanya perkataan yang diucapkannya saja. Di belakang mereka ada suatu dinding/batas sampai hari mereka dibangkitkan. (Wamiw waraa 'ifrim barzakhum ilaa yaumi yub’atsuun.) Batas atau dinding apa yang dimaksudkan oleh ayat 23:100 itu? Jika dalam ayat Q. 25:53 dan Q. 55:20 tadi dengan kata Arab barzakh dimaksudkan perbatasan antara dua lautan, yaitu lautan air tawar dan lautan air asin, maka dalam ayat Q. 23:100 di atas saya secara konsisten menafsirkan kata barzakh sebagai perbatasan pula, tetapi kali ini, sebagai perbatasan antara alam akhirat dan alam fisik, batas pemisah antara hidup di dunia dan hidup di akhirat, suatu batas/dinding yang menghalangi orang-orang yang telah meninggal dan bangkit di alam akhirat untuk kembali ke alam fisik. (Orang-orang yang secara klinis telah dinyatakan mati tetapi beberapa saat kemudian hidup kembali agaknya adalah orang-orang yang arwahnya pada peristiwa itu belum melewati barzakh.) Ayat Q. 23:99-100 di atas saya tafsirkan sebagai berikut: Ketika meninggal dan kemudian bangkit di alam akhirat, dan minta kepada Tuhan untuk diberi kesempatan kembali ke dunia fisik agar dapat beramal saleh dan mengerjakan hal-hal yang dahulu mereka lalaikan, mereka ketika itu tidak bisa kembali ke alam fisik, karena di belakang mereka ada batas/dinding yang menghalangi mereka kembali; karena mereka telah melewati barzakh. Di samping itu, mereka harus menghabiskan dahulu masa waktu yang ditentukan Tuhan untuk hidup di akhirat, sebagaimana mereka harus menyelesaikan masa waktu yang ditentukan Tuhan bagi mereka untuk hidup di dunia (menurut Al-Quran ayat 6:2). Bilamana masa hidup di akhirat itu telah habis, barulah mereka diperbolehkan kembali ke dunia; melalui kelahiran tentunya. Tetapi kebanyakan orang, termasuk para alim ulama, sudah demikian terpengaruh oleh gagasan “alam barzakh”, sehingga mereka tidak mampu lagi menangkap ayat Q. 23:100 tadi secara tepat, dan berpendapat bahwa ajaran tentang adanya “alam barzakh” itu berasal dari Al-Quran, dan karena itu, meskipun dalam batinnya mungkin ada yang ragu-ragu, merasa wajib beriman kepadanya. Bahkan, dalam usaha mempertahankan gagasan “alam barzakh” (yang tidak ada) itu, sebagian orang bertindak lebih jauh lagi. Meskipun mereka tahu betul bahwa kata Arab waraa’a berarti “di belakang” atau “setelah”, mereka tak segan-segan menerjemahkan perkataan min waraa’ihim khusus dalam ayat Q. 23:100 ini - dengan “di hadapan mereka“. Sebagai contoh, saya akan

mengambil Al-Quran dan Terjemahnya dari Departemen Agama RI yang menerjemahkan kalimat Wamiw waraa’ihim barzakhum ilaa yaumi yub atsuun sebagai berikut: Dan di hadapan mereka ada suatu dinding sampai hari mereka dibangkitkan. Secara logis, dari terjemahan salah demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa setelah mati kita akan berada di “alam barzakh” untuk menunggu tibanya hari “kebangkitan” di akhir zaman. Suatu konsepsi yang sekarang dianggap oleh sebagian besar umat Islam di seluruh dunia sebagai ajaran yang berasal dari Al-Quran, tetapi menurut hemat saya merupakan suatu konsepsi keliru yang diakibatkan oleh penjungkirbalikan arti kata Arab waraa'a. Dan dalam hal terjemahannya dilakukan secara benar, mereka agaknya tidak mampu lagi menafsirkannya secara tepat, karena telah terlalu terpengaruh oleh konsepsi tradisional, yaitu: bahwa setelah mati, ruh orang-orang mati akan berada di “alam barzakh” untuk menunggu tibanya kebangkitan atau kiamat pada akhir zaman. Untuk membuktikan bahwa kata Arab waraa'a betul-betul berarti “di belakang” dan bukan “di hadapan” atau “di depan”, saya akan mengajukan hal berikut: Seandainya kata Arab waraa’a itu benar berarti “di hadapan”, maka seharusnya semua kata waraa'a yang termuat dalam pelbagai ayat Al-Quran lainnya secara konsisten diterjemahkan dalam arti itu pula, bukan? Tetapi bagaimana kenyataannya? Marilah kita lihat terjemahan-terjemahan berikut yang saya temukan dalam Al-Quran dan Terjemahnya dari Departemen Agama itu: Dalam ayat Q. 85:20, miw waraa’ihim diterjemahkan dengan “dari belakang”, ayat Q. 84:10, waraa'a zhahrih, dengan “dari belakangnya”, ayat Q. 57:13, ji’uu waraa'akum, dengan “kembalilah kamu ke belakang”, ayat Q. 19: 5, miw waraa’i, dengan “sepeninggalku”, ayat Q. 11:71, wamiw waraa’i ishaaqa, dengan “sesudah Ishak”, ayat Q. 2:101, waraa’a zhuhuurihim, dengan “ke belakang (punggung)nya” Dari terjemahan-terjemahan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa arti asli/murni kata Arab waraa’a itu adalah “di belakang” atau “setelah”. Selain itu, dapat saya tambahkan di sini bahwa beberapa kitab terjemahan Al-Quran lain, seperti misalnya: Tafsir Al-Quran ’lKarim, susunan Mahmud Yunus, Al Qur'aan terjemahan Indonesia, susunan Angkatan Darat RI, Terjemah & Tafsir AL-QUR'AN, susunan Bachtiar Surin, Al-Furqan, susunan A. Hassan, semuanya menerjemahkan perkataan miw waraa'ihim dalam ayat Q. 23:100 seperti yang saya lakukan, yaitu dengan “di belakang mereka”. Juga The Glorious Koran dari Mohammed Marmaduke Pickthall menerjemahkannya dengan “behind them“; yang berarti “di belakang mereka”. Kembali kepada istilah “alam barzakh”, seandainya kita mempertahankan konsepsi tentang adanya alam demikian dan tentang berlangsungnya kebangkitan pada akhir zaman, maka akan timbul kebingungan di alam pikiran orang-orang yang berpikir, sebab mereka bisa bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin orang-orang mati itu bisa berkata, “Ya Tuhanku! Kembalikanlah aku ke dunia, agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku lalaikan'” seandainya mereka itu belum bangkit! Dan orang-orang yang agak tahu akan isi Al-Quran bisa bertanya, “Lho! Bagaimana mungkin orang-orang mati itu sekarang belum bangkit, sedangkan menurut ayat Q. 2:154 dan ayat Q. 3:169

mereka itu, sekarang pun, telah dan sedang hidup di “sisi Tuhan”! 'Kan untuk hidup di akhirat itu mereka harus bangkit dahulu, bukan?” Dan orang-orang yang percaya akan spiritisme akan merasa heran, dan bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin orang-orang yang, telah mati itu dapat berhubungan dengan orang-orang hidup, seandainya mereka itu belum bangkit dan hidup di alam gaib?” Dan orang-orang yang percaya akan reinkarnasi akan bertanya, “Wah, mana mungkin kebangkitan orang-orang mati itu akan baru berlangsung pada akhir zaman kelak, sedangkan sekarang pun mereka telah dapat bereinkarnasi? “ Dan orang-orang Islam yang kurang keimanannya mungkin berkata, “Bagaimana sih Islam ini, ajaran-ajarannya bertentangan satu sama lain?” Ya, semuanya itu dapat terjadi, hanya oleh karena konsepsi yang salah. Dan konsepsi yang salah itu adalah gara-gara, antara lain, pemutarbalikan arti kata waraa’a. Tidakkah waktunya sekarang untuk meluruskan kembali hal yang bengkok itu? Demi kemurnian ajaran Islam.

IX Serba-serbi
A. Mungkinkah komunikasi dengan orang-orang yang telah meninggal? Sebagaimana pernah saya singgung dalam bab pertama tulisan ini, sebuah buku yang berjudul A World Beyond, yang ditulis oleh seorang wartawati Amerika, Mrs. Ruth Montgomery, dan antara lain, memuat pesan-pesan dari alam astral berupa pengalaman-pengalaman seseorang yang telah meninggal; dalam beberapa hal telah membantu saya dalam memahami isi Al-Quran. Saya sadar bahwa dengan menyinggung hal di atas, yaitu spiritisme atau kepercayaan bahwa orang mati dapat berhubungan dengan orang hidup atau sebaliknya, mungkin sekali saya dianggap bertentangan lagi dengan saudara-saudara seagama saya, sebab banyak kaum Muslimin berpendapat bahwa cara berhubungan demikian (séance) merupakan suatu perbuatan yang tidak senonoh, suatu perbuatan yang “diharamkan” oleh agama Islam. Banyak orang secara blak-blakan menyatakan tidak percaya kepada kemungkinan adanya hubungan demikian, dan jika mereka tokh melihat suatu séance berlangsung, maka mereka anggap bahwa pihak yang berbicara di “seberang sana” itu bukanlah ruh manusia, melainkan syaitan atau jin. Bertentangan dengan anggapan demikian, saya pribadi, seorang Muslim, percaya bahwa apa yang disebut hubungan dengan ruh orang yang telah mati itu merupakan suatu kenyataan yang kemungkinannya disinggung dalam Al-Quran, yaitu ayat Q. 6:111:

Sekalipun Kami turunkan malaikat-malaikat kepada mereka, dan orang-orang mati berbicara dengan mereka, dan Kami himpunkan segala sesuatu berbaris di hadapan mereka, mereka tidak akan percaya, kecuali jika Allah menghendaki. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Mungkin ada orang yang ketika membaca ayat itu berkata. “Ah, itu 'kan 'seandainya' saja, bukannya fakta. Jadi tidak mungkin orang hidup dapat berhubungan dengan orang mati.” Tetapi, menurut hemat saya, suatu pengandaian meliputi kemungkinan, bukan kemustahilan. Lagi pula, tidaklah bijak jika kita menolak begitu saja hal yang belum kita kenal, hanya oleh karena halnya belum kita ketahui atau belum kita alami sendiri. Bukan ilmu pengetahuan teknologi saja yang sekarang telah mendapat kemajuan pesat, melainkan juga ilmu pengetahuan di bidang metafisika dan parapsikologi, asal saja kita berusaha memperluas pandangan atau perhatian kita ke luar lingkungan profesi kita, dan dengan hati terbuka suka membaca apa yang telah berhasil dicapai atau ditemukan oleh orang-orang di luar lingkungan (agama) kita. Masih banyak hal di dunia ini yang belum kita ketahui. Sayang sekali, banyak orang di kalangan kaum Muslimin golongan agama yang tidak menganggap perlu untuk memperluas bacaannya di luar literatur Islam, sehingga mereka tidak dapat menarik manfaat dari pengetahuan yang mungkin telah dicapai oleh orang-orang yang berlainan agama atau aliran dengan risetrisetnya. Hal-hal yang tidak mereka pahami atau tidak sesuai dengan pendapatnya sering mereka anggap sebagai takhayul atau bid'ah yang menyesatkan; padahal mungkin saja hal-hal yang dianggap takhayul atau bid'ah itu merupakan hal benar. Kita akan bersikap amat bodoh bila kita menutup mata terhadap kemajuan-kemajuan yang telah diperoleh orang-orang lain dalam riset-risetnya, hanya oleh karena “hal itu tidak terdapat

dalam ajaran agama kita”. Berbicara secara logis, seandainya kita berprinsip bahwa kebenaran hanya dapat kita uji dengan memakai pengalaman dan pengetahuan kita sendiri, maka kita seharusnya menolak setiap pernyataan ilmu pengetahuan atau filsafat yang berada di luar jangkauan pengetahuan atau akal pikiran kita pribadi. Tetapi..., para pembaca yang budiman, dengan demikian, gengsi, pamor atau bobot kita sebagai orang intelektual atau alim ulama akan amat merosot! Di dunia Islam, terutama di antara para ahli agamanya, setahu saya, spiritisme, parapsikologi dan/atau metafisika sebagai pengetahuan amat diabaikan. Bahkan sebagian umat Muslimin menganggap ketidakpercayaan akan spiritisme sebagai tanda ketauhidan yang murni dan terpuji. Adapun mereka yang dalam hatinya percaya hal itu - oleh karena banyak bukti yang sukar dapat disangkal - bersikap hati-hati dan tidak berani mengemukakan pendapatnya, khawatir kalaukalau mereka dianggap oleh rekan-rekan seagamanya sebagai orang yang kurang bertauhid dan menyeleweng dari Islam. Salah satu sebab mengapa orang enggan percaya akan spiritisme mungkin adalah sebagai berikut. Oleh karena ingkar akan paham reinkarnasi, maka ia ingkar pula bahwa orang-orang mati dapat bangkit di alam gaib tak lama setelah mereka mati. Ia hanya percaya bahwa orang-orang mati itu baru dibangkitkan dan dihisab pada “akhir zaman” atau, dengan istilah sekarang (tetapi menurut hemat saya, keliru), “hari kiamat”. Sebagaimana telah saya uraikan terdahulu, hari kiamat adalah saat seseorang bangkit di alam akhirat tak lama setelah meninggal, bukan akhir zaman. Oleh karena ia mengira bahwa orang mati baru dibangkitkan pada akhir zaman, maka ia mengira pula bahwa semua orang mati sekarang masih dalam keadaan tidur atau tak sadar atau setengah sadar di alam gaib (“di alam barzakh”, katanya), menunggu kebangkitan pada “akhir zaman” itu. Oleh karena ia mengira bahwa semua orang mati sekarang masih dalam keadaan tak sadar atau setengah sadar, maka dengan sendirinya ia mengira pula bahwa orang mati itu tidak mungkin dapat berbicara dengan orang hidup. Dan oleh karena ia mengira orang mati tidak mungkin berbicara dengan orang hidup, maka ia mengira pula bahwa makhluk yang melalui, séance, tulisan otomatis, atau cara paranormal lainnya, dapat berhubungan dengan manusia hidup itu adalah jin atau syaitan! Padahal ayat Q. 6:111 yang saya kutip tadi menunjukkan kemungkinan adanya komunikasi antara orang mati dengan orang hidup. Dari contoh di atas, dapat kita yakini bahwa suatu premise atau dasar pikiran yang salah pasti akan mengakibatkan suatu rangkaian pikiran atau kesimpulan yang salah pula. Dan jika yang bersangkutan tokh tetap berusaha mempertahankan keyakinannya yang salah itu, maka dengan sendirinya ia akan terpaksa mengada-adakan tafsiran yang menyimpang dari arti normal atau membelok-belokkan makna, dan karena itu, akhirnya terjerat oleh salah ulah atau inkonsistensiinkonsistensi yang diciptakannya sendiri. Bahwasanya orang-orang mati sekarang pun telah hidup kembali di alam akhirat dinyatakan Allah s.w.t. dalam ayat Q. 2:154, yang telah saya kutip. Dan janganlah kamu mengatakan mengenai orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka) mati. Tidak! mereka itu hidup, cuma kamu tidak menyadarinya. Kebenaran itu diulangi dalam ayat Q. 3:169, yang berbunyi: Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Tidak! mereka itu hidup. Di sisi Tuhan mereka, mereka mendapat rezeki. Ayat-ayat itu dengan jelas mengatakan bahwa orang-orang yang telah meninggal sekarang pun telah hidup kembali di alam astral (alam permulaan dari alam akhirat atau alam-rohani-kasar);

bukan masih berbaring dalam keadaan tak sadar, “menunggu tibanya hari kebangkitan atau hari penghisaban atau 'hari kiamat' di akhir zaman”. Dan anda dapat pula menarik kesimpulan bahwa orang-orang yang telah meninggal itu tidak mungkin dikatakan hidup seandainya sebelumnya mereka tidak dibangkitkan dahulu. Jadi, disimpulkan lagi secara logis, sekarang pun, kebangkitan atau kiamat itu, bagi semua orang mati, telah berlangsung. Bahwasanya orang-orang mati itu sekarang pun sudah bangkit dan hidup di alam akhirat diperkuat oleh beberapa hadits, yang di antaranya berbunyi sebagai berikut. Dari Anas r.d.a.: Beliau berkata. Pada suatu malam kaum Muslimin mendengar Rasulullah berseru dekat telaga Badar: “Hai, Abu Jahil bin Hisyam, hai, Syaibah bin Rabi'ah, hai, Umaiyah bin Khalaf! Adakah kamu menerima ganjaran siksa yang telah dijanjikan Tuhan kepadamu sekalian? Saya sudah menerima apa yang dijanjikan Tuhan kepada saya.” Sahabat-sahabat ketika itu bertanya kepada Nabi: “Kenapakah Tuhan memanggil orang-orang yang sudah menjadi bangkai?” Maka Nabi menjawab: “Mereka mendengar apa yang aku ucapkan, melebihi dari pendengaran kamu; tetapi mereka tak kuasa menjawabnya.” (H. Riwayat Nisai - Sunan Nisai juz' 4, pagina 110). Sekaligus hadits di atas merupakan suatu bukti yang kuat bahwa sebenarnya orang hidup dapat berhubungan dengan orang yang telah mati; sebaliknya tidak, kecuali dalam séance atau trance (keadaan tak sadarkan diri). Seandainya orang-orang mati itu belum bangkit dan hidup di alam akhirat, maka tidak mungkin mereka mendengar apa yang- dikatakan kepada mereka, dan tidak mungkin pula Nabi kita berseru seperti digambarkan dalam hadits di atas. B. Perubahan identitas Bilamana kita dilahirkan kembali, maka muka, bentuk badan, warna kulit, sifat rambut, warna mata, dan jenis kelamin dapat berubah. Allah s.w.t. menyinggung kemungkinan itu dalam ayat Q. 56:60-61, yang berbunyi sebagai berikut:

60. Kami menentukan kematian di antara kamu, dan Kami berkuasa 61. Merubah rupa kamu dan menciptakan (lagi) kamu dalam (bentuk atau rupa) yang tidak kamu ketahui. Oleh orang-orang yang tidak sadar akan adanya ajaran reinkarnasi dalam Islam, ayat Q. 56:61 tadi biasa ditafsirkan bahwa penciptaan yang dimaksudkan dalam ayat itu adalah “penciptaan” kembali di akhirat; sedangkan saya menafsirkannya sebagai penciptaan kembali di dunia fisik, dengan rupa dan sifat yang lain dengan yang sekarang, sebab kata “menciptakan” secara konsekuen saya tafsirkan sebagai penciptaan kembali di dunia fisik, bukan di akhirat. Saya persilakan anda membaca lagi ayat-ayat Q. 22:5, Q 23:12-14, Q. 32:6-9, Q. 77:20-23, yang semuanya menyatakan bahwa penciptaan manusia itu selalu berlangsung melalui rahim seorang ibu (kecuali penciptaan manusia pertama, tentunya). Untuk memperkuat pernyataan saya di atas, saya ingin mengutip ayat Q. 82:6-8:

6. Hai, manusia! Apa yang mengingkarkan kamu terhadap Tuhanmu, Maha Pemurah, 7. Yang menciptakan kamu, lalu membentuk dan menyempurnakan kamu? 8. Dalam bentuk yang dikehendaki-Nya Ia membuat kamu Ayat tersebut di atas menyatakan secara tak langsung bahwa ketika kita dilahirkan kembali, tubuh kita akan dibentuk menurut bentuk yang dikehendaki-Nya. Hal itu juga mengandung kemungkinan diubahnya identitas, termasuk jenis kelamin kita. Sehubungan dengan itu, akan saya kutip ayat Q. 42:49:

Kepunyaan Allahlah kedaulatan langit dan bumi. Ia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Ia memberikan (kelamin) perempuan kepada yang dikehendaki-Nya, dan memberikan (kelamin) lelaki kepada yang dikehendaki-Nya Kebanyakan orang - untuk tidak dikatakan semua - secara tradisional menafsirkan hal di atas sebagai “Tuhan memberikan anak perempuan atau anak lelaki kepada yang dikehendaki-Nya”, sedangkan saya menafsirkan Tuhan menetapkan jenis kelamin perempuan atau lelaki bagi setiap orang yang dilahirkan (kembali). Dengan perkataan lain, bukan anaklah yang dimaksudkan dengan kata-kata “lelaki” dan “perempuan” dalam ayat itu, melainkan jenis kelaminnya. Saya sadar bahwa tafsiran saya itu sukar dicerna oleh orang-orang yang sudah berabad-abad dibiasakan berpikir bahwa anaklah yang dimaksud oleh ayat di atas itu. Jika anda dapat berbahasa Arab, anda dapat melihat bahwa dalam ayat itu tidak terdapat kata yang berarti “anak”. Jika tokh terdapat dalam terjemahan Indonesianya, maka hal itu merupakan imbuhan atau pengada-adaan saja yang dibuat oleh mufassir yang bersangkutan. Mungkin anda memberi komentar bahwa ayat tadi tidak ada hubungannya dengan reinkarnasi. Memang demikian nampaknya. Tetapi bila kita pertimbangkan bahwa setiap penciptaan manusia sekarang sebetulnya merupakan suatu ulangan inkarnasi atau kelahiran dari orang yang telah meninggal - ini saya dasarkan pada ayat Q. 3:27, Q. 10:34, dan Q. 30:19, yang semuanya jelas menyatakan bahwa yang hidup berasal dari yang mati - maka kita dengan aman dapat menerima bahwa ayat tadi memang bersangkut paut dengan reinkarnasi. Agaknya para wadam diberi tempat juga dalam Al-Quran, sebagaimana dapat anda lihat dari ayat Q. 42:50 berikut: Atau ia mencampurkan (to mingle, menurut terjemahan Mohammed Marmaduke Pickthall) mereka, laki-laki dan perempuan, dan Ia jadikan mandul siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Ia Maha Mengetahui, Maha Kuasa. Orang biasa menafsirkan ayat di atas sebagai penganugerahan anak laki-laki dan anak perempuan kepada kita; suatu kenyataan yang tidak akan saya bantah, karena tafsiran demikian sama-sama dapat kita terima. Akan tetapi dalam hal khusus ini, saya lebih condong menafsirkan ayat tadi sebagai merujuk kepada orang-orang yang memiliki ciri-ciri kedua kelamin. Hal itu saya dasarkan kepada pertimbangan berikut. Dalam setiap laki-laki terdapat unsur kewanitaan; dan sebaliknya, dalam setiap perempuan terdapat unsur kepriaan. Hal itu tidak mengherankan, karena setiap ruh atau jiwa, pada salah satu

masa hidupnya yang lampau (sebelum hidup sekarang), pernah mengalami kehidupan sebagai lakilaki dan/atau perempuan. Jika pada seorang laki-laki unsur atau silat kewanitaannya dominan (berlebih-lebihan), maka keinginan kewanita-wanitaannya dominan pula. Sebaliknya, jika pada seorang perempuan sifat kepriaannya berlebih-lebihan, maka kehendak hati yang kepria-priaanlah yang dominan. Ketidaknormalan itu dapat berproporsi (berukuran) sedemikian rupa, sehingga mengakibatkan perubahan-perubahan fisik dan mental pada diri orang yang bersangkutan. Dalam keadaan yang paling buruk, orang-orang demikian dapat menjadi apa yang kita namakan banci. Perubahan kelamin, dengan atau tanpa bantuan medis, merupakan gejala dari ketidaknormalan ituSaya tidak akan berani memberikan postulasi di atas, seandainya dalam ayat Q. 42:50 tadi perkataan “laki-laki dan perempuan” itu didahului oleh kata “anak” atau kata lain yang searti. Setiap orang menerima jenis kelaminnya melalui kelahiran. Karena itu, seorang ruh kali ini dapat dilahirkan sebagai laki-laki, pada kesempatan kelahiran lain sebagai perempuan. setiap kali menurut kebutuhan perkembangan rohaninya masing-masing, dengan istilah dan gaya bahasa Al-Quran: “sebagaimana dikehendaki-Nya”. Hal itu diperkuat dengan adanya ayat Q. 42:49 yang telah saya kutip di muka dan berbunyi: Kepunyaan Allahlah kedaulatan langit dan bumi. Ia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Ia memberikan (jenis kelamin) perempuan kepada yang dikehendaki-Nya, dan memberikan (jenis kelamin) lelaki kepada yang dikehendaki-Nya. dan juga dengan adanya ayat Q. 3:195, yang berbunyi sebagai berikut:

... Tidak Kusia-siakan amal siapa pun yang beramal, laki-laki atau perempuan. Kamu berasal satu daripada yang lain ... Ayat terakhir bukan saja menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sama derajatnya, melainkan juga mengisyaratkan bahwa manusia dapat berganti kelamin bilamana dilahirkan kembali. Saya tahu bahwa salah satu penafsiran tradisional mengenai ayat itu ialah bahwa baik lakilaki maupun perempuan berasal dari (sepasang) laki-laki dan perempuan. Penafsiran demikian tidak saya tolak, oleh karena hal itu pun memang merupakan fakta. Tetapi dalam hal khusus ini, saya lebih condong percaya bahwa yang dimaksudkan itu ialah: Seorang laki-laki sekarang mungkin dalam hidupnya terdahulu seorang perempuan; dan sebaliknya, seorang perempuan sekarang mungkin dalam, salah satu hidupnya terdahulu seorang laki-laki. Mereka berasal satu daripada yang lain. Dari hal di atas, saya menarik kesimpulan bahwa di alam akhirat, setelah menyesuaikan diri dengan, keadaan alam di sana, setiap ruh atau jiwa orang yang telah meninggal berangsur-angsur akan membebaskan diri dari hawa nafsu dan keinginan-keinginan keduniawiannya, dan akhirnya, di alam mental atau surga, dari identitas kelamin yang dimilikinya ketika hidup di dunia. Pada gilirannya, dari hal di atas saya menarik kesimpulan pula bahwa sebelum diciptakan kembali ke dunia, ruh atau jiwa itu (badan-rohani-halus) tidak berkelamin. Ruh atau jiwa itu hanya satu jenis, bukan laki-laki, bukan pula perempuan: jenis yang netral. Bukan saja kelamin, tetapi juga kesukuan, kebangsaan, agama pun dapat berubah bila manusia dilahirkan kembali. Pendapat itu saya dasarkan pada ayat Q 6:133. yang berbunyi sebagai berikut:

Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi Maha Pemurah. Jika Ia menghendaki, Ia dapat memusnahkan kamu dan mengganti kamu dengan siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana Ia telah menjadikan kamu dari keturunan kaum lain. Ayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa pada suatu masa yang lampau kita masingmasing telah pernah dilahirkan/diciptakan di tengah-tengah kaum lain, yaitu kaum yang kebangsaannya, warna kulitnya, atau agamanya mungkin berlainan dengan apa yang kita miliki sekarang. Mustahil dan menggelikan? Tidak, saudara-saudara pembaca yang budiman, asal saja kita percaya bahwa pada hakekatnya manusia itu berulang-ulang dilahirkan. Bacalah sekali lagi ayat Q. 6:133 tadi dengan tenang, dengan saksama, dan dengan hati terbuka. Maka akan anda lihat bahwa saya sama sekali tidak mengada-ada bila saya katakan bahwa pada masa hidup yang lampau kita mungkin pernah dilahirkan di kalangan umat manusia yang lain daripada yang sekarang. Dan untuk mengingatkan kembali bahwa anda dahulu telah pernah dilahirkan atau diciptakan ke dunia, bacalah pula ayat Q. 19:66-67 di bawah ini:

66. Dan manusia berkata: “Betulkah bahwa, apabila aku telah mati, aku akan dihidupkan kembali?” 67. Tidakkah manusia itu ingat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu ketika ia tidak ada sama sekali? Berhubung dengan itu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa pada masa hidup yang akan datang pun mungkin kita tidak akan dilahirkan kembali dalam keluarga yang garis silsilahnya sama dengan yang sekarang; mungkin kita akan dilahirkan kembali di tengah-tengah keluarga yang dalam masa hidup sekarang tidak ada hubungan kekeluargaan sama sekali dengan kita. Bahkan mungkin kita akan dilahirkan sebagai bangsa lain, di negara lain. C. Perihal kata Arab “Nafs” Sehubungan dengan kesimpulan bahwa di alam akhirat ruh akhirnya tidak berkelamin tertentu, tetapi hanya satu jenis saja - bukan laki-laki, bukan pula perempuan - maka selain dengan kata “diri” atau “jiwa” (sebagaimana biasa digunakan dalam pelbagai terjemahan Al-Quran berbahasa Indonesia) kata Arab nafs yang sering terdapat dalam Al-Quran dapat pula diterjemahkan dengan “ruh atau jiwa yang jenisnya hanya ada satu” atau, secara singkat, dengan “jenis” saja. (Dalam terjemahan Al-Quran berbahasa Belanda, De Heilige Quraan, halaman 140 dijelaskan bahwa kata Arab nafs dapat berarti essence of soort, yang Indonesianya, “intisari atau jenis”.) Sehubungan dengan hal di atas, saya akan mengutip ayat Q. 4:1: Yaa 'ayyuhan naasuttaquu rabbakumul ladzii khalaqakum min nafsiw waahidatiw wa khalaqa minhaa zaujahaa wa batstsamin humaa rijaalan katsiiraw wa nisaa’an ... Artinya: Hai manusia! Bertakwalah kamu kepada Tuhanmu Yang menciptakan kamu dari satu jenis (jenis jiwa atau ruh yang netral) dan darinya (dari jenis jiwa yang netral pula) menciptakan pasangannya, dan dari keduanya (pasangan laki-laki dan perempuan itu) memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang amat banyak …

dan ayat Q. 39:6: Khalaqakum min nafsiw waahidatin tsumma ja’ala minhaa zaujahaa ... Artinya: Ia menciptakan kamu dari satu jenis (jenis jiwa atau ruh yang netral), lalu darinya (dari jenis jiwa yang netral pula) Ia menciptakan pasangannya. . . Dari hal di atas, dapat kita simpulkan pula bahwa sebenarnya Allah s.w.t. telah menetapkan untuk kita masing-masing pasangan atau “ruh kembar”. Konon, bila kedua ruh-kembar itu pada masa hidup yang bersamaan sama jenis kelaminnya maka akan terjalin suatu ikatan batin dan kasih sayang yang mesra satu sama lain. Dan bilamana mereka kebetulan hidup bersamaan waktunya di dunia sebagai laki-laki dan perempuan dan berhasil saling menikahi, maka perkawinan demikian merupakan hubungan suami isteri yang paling ideal. Dalam hal itu, berkatalah ayat Q. 30:21:

Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah: Ia menciptakan bagi kamu pasangan dari jenis kamu, agar kamu merasa tenteram dengannya, dan Ia menjadikan di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. Dalam kebanyakan hal, orang-orang tidak berhasil menikah dengan ruh-kembar (yang biasa kita namakan “jodoh”?) mereka. Karena itu, dalam kehidupan nyata sering terjadi ketidakrukunan antara suami dan isteri, bahkan sedemikian rupa sehingga pernikahan mereka berakhir dengan perceraian, atau seakan-akan mereka hidup dalam neraka, penuh penderitaan dan penuh percekcokan. Saya akui bahwa hal yang saya uraikan di atas itu agak bersifat spekulatif, dan karena itu, saya tidak menganggapnya mutlak benar. Saya hanya ingin mengemukakan suatu pendapat saja sebagai usaha anggota “kaum yang berpikir”. D. Tentang kematian dan alam akhirat Dalam pesan-pesan dari alam astral yang diterima secara paranormal (menurut sebuah buku yang pernah saya baca), dikatakan bahwa pada umumnya kematian seseorang itu merupakan suatu perpindahan yang terjadi bila ruh tertidur dan kemudian terbangun di alam ruh dengan badan astralnya. Digambarkan, antara lain, bahwa kematian itu dapat pula merupakan “suatu peluncuran jiwa atau ruh dari suatu tubuh yang sakit dan lelah ke alam gaib, tanpa kesulitan apa-apa, dan tanpa sakit, dan tanpa kehilangan kesadaran”. Di antara ruh-ruh itu konon ada pula yang memerlukan masa tidur kematian, suatu masa ketidaksadaran atau keadaan setengah sadar, sebelum mereka terbangun atau bangkit di alam gaib (astral). Adanya tidur-kematian itu dinyatakan dalam ayat Q 36:51-52, yang berbunyi sebagai berikut:

51. Dan ditiuplah sangkakala, maka lihatlah mereka bergegas dari makam menuju Tuhannya, 52. Sambil berkata: Wahai, celakalah kami! Siapa yang telah membangunkan kami dari tempat-tidur kami? Inilah yang dijanjikan oleh Tuhan Yang Rahman, dan benarlah kata para rasul.

Adapun intensitas penderitaan mental dan rohani yang dialami orang-orang berdoa di alam gaib (dalam apa yang biasa dinamakan “neraka”) bergantung kepada besar kecilnya dosa dan kesalahan yang mereka perbuat ketika hidup di dunia. Hal itu secara alegoris diisyaratkan oleh Tuhan dalam ayat Q. 78:24-26, yang berbunyi sebagai berikut: 24. Mereka tidak merasakan kesejukan dalamnya ataupun minuman 25. Selain air mendidih dan rasa dingin yang melumpuhkan, 26. Sebagai pembalasan yang setimpal (dengan perbuatan-perbuatan jahatnya), dan ayat Q. 15.44: (Neraka) itu mempunyai tujuh buah pintu. Tiap-tiap pintu (ditetapkan) untuk golongan tertentu dari mereka. Setelah bertaubat dan memperoleh kemajuan rohani, ruh-ruh yang tadinya mengalami siksaan dan penderitaan mental dan rohani dalam alam neraka itu (alam astral bagian. bawah) berpindah ke alam astral yang lebih tinggi, dan kemudian ke alam yang biasa kita sebut surga (alam-rohanihalus). Kemungkinan itu diisyaratkan dalam ayat Q. 3:88-89, yang berbunyi:

88. Mereka menetap di dalamnya (dalam neraka). Tidak akan diringankan baginya siksaan, dan tidak pula mereka ditangguhkan (siksaannya). 89. Kecuali mereka yang KEMUDIAN bertaubat dan berbuat baik. Sesungguhnya- Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Di alam-alam yang lebih tinggi itu mereka konon mendapat bimbingan lebih lanjut dari para ruh yang telah lebih maju kerohaniannya, untuk belajar dan melakukan hal-hal yang bermanfaat (seperti misalnya membantu orang-orang yang baru meninggal) dan mempersiapkan diri untuk dapat dilahirkan kembali ke dunia fisik, tempat mereka akan diuji lagi. Kemudian, bilamana telah tiba saatnya, mereka “dihidupkan kembali”, “dikeluarkan kembali” - itu semuanya terjemahan istilah-istilah Al-Quran - atau, dengan istilah sehari-hari, dilahirkan kembali ke dunia; melalui proses kelahiran, tentunya. Sekianlah mengenai jiwa atau ruh yang masih memerlukan pengalaman hidup kembali di dunia karena harus menebus dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya dalam masa atau masamasa hidup fisiknya yang lalu. Dan bagaimana mengenai ruh-ruh yang karena kesalehannya tidak masuk ke alam neraka dahulu, tetapi langsung masuk surga setelah mereka menanggalkan tubuh fisik mereka? Untuk itu, marilah kita baca ayat Q. 11:108:

Adapun orang-orang yang bahagia, mereka itu dalam surga, tinggal di dalamnya selama terbentang langit dan bumi - kecuali jika Tuhanmu menghendaki lain - sebagai karunia yang tiada terputus-putus. Kita dapat menarik kesimpulan dari ayat di atas bahwa ada dua kemungkinan bagi mereka di tempat yang kita namakan surga itu. Yang pertama, jika kemajuan rohaninya telah mengizinkan,

mereka akan terus tinggal di sana “selama terbentang langit dan bumi”, untuk kemudian, setelah melalui pelbagai alam lainnya - “Kamu pasti akan mengadakan perjalanan tahap demi tahap,” kata ayat Q. 84:19 - kembali kepada Tuhan s.w.t. untuk memperoleh karunia yang tiada putus-putusnya. Kemungkinan yang kedua - dan inilah yang agaknya paling sering terjadi bagi manusia sekarang - berdasarkan anak kalimat “kecuali jika Tuhanmu menghendaki lain”, ruh-ruh itu dapat dikeluarkan dari alam surga. Dan ke manakah mereka pergi? Pasti tidak ke neraka, sebab mereka itu menurut ayat tadi “orang-orang yang bahagia”. Seandainya mereka dipindahkan ke neraka, mereka sama sekali bukan orang yang bahagia, melainkan orang yang amat celaka, bukan? Juga mereka tidak akan begitu saja menghilang ke alam ketiadaan tanpa bekas, sebab sebagaimana diimani oleh orang-orang bijak, ruh itu bersifat kekal dan abadi, tidak dapat dimusnahkan. Karena itu, satusatunya jawaban yang dapat diterima ialah bahwa mereka itu akan dilahirkan kembali ke dunia fisik, suatu kesimpulan yang saya rasa cocok sekali dengan dalil Tuhan yang berulang-ulang difirmankan-Nya: “Ia mengeluarkan yang hidup dari yang mati”. Mungkin ada orang yang bertanya, “Untuk apa? 'Kan mereka telah menjadi ahli surga?” Pertanyaan itu saya jawab: “Karena mereka - sekalipun suci dan saleh mungkin masih mempunyai utang atau tagihan karma yang masih harus dirampungkan di dunia.” Sehubungan dengan itu, ayat Q. 10:4 berkata: ... Ialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya, supaya Ia dapat memberi pahala kepada mereka yang beriman dan melakukan kebaikan secara adil... Jadi, menurut ayat di atas, mereka yang beriman dan suka beramal baik pun, akan diciptakan kembali ke dunia untuk mendapat pahala. Saya akui bahwa kalimat “Ia memulai penciptaan, kemudian mengulanginya” dapat pula menunjuk kepada penciptaan atau evolusi pada umumnya. Tetapi, meskipun demikian, dalam hal khusus ini, saya lebih condong untuk berpikir bahwa penciptaan manusialah yang dimaksud. Hal ini dapat saya buktikan dengan adanya anak kalimat “agar Ia dapat memberi pahala kepada mereka yang beriman dan melakukan kebaikan secara adil” yang langsung mengikuti kalimat itu. Mengenai benda-benda atau makhluk-makhluk selain manusia tidak biasa kita katakan bahwa mereka “beriman dan melakukan kebaikan”, bukan? Jadi pasti yang dimaksud itu manusia. Jadi, jika para pembaca yang budiman cukup konsekuen menafsirkan penciptaan itu sebagai penjadian di alam fisik, maka dapatlah kita katakan sebagai berikut: “Tuhan menciptakan (melahirkan) kamu ke dunia. Kemudian, setelah kamu mati, Ia akan menciptakan kamu kembali (melahirkan kamu lagi ke dunia, melalui rahim ibu), agar Ia dapat membalasmu secara adil, sesuai dengan perbuatan-perbuatan baik atau buruk yang kamu lakukan dalam masa hidupmu yang lalu.” Dan pahala atau balasan termaksud dalam ayat tadi bukanlah hanya yang diberikan di akhirat saja, sebagaimana sering dikhotbahkan, melainkan juga di dunia. Untuk memperkuat pernyataan ini, baiklah saya kutip lagi ayat Q. 79:25. yang berbunyi: Kemudian Allah menghukumnya di akhirat DAN di dunia. E. Kelahiran kita bukan atas kehendak kita? Sebagaimana telah diterangkan sebelum ini, hidup kita sekarang di bumi ini merupakan hidup yang kesekian kalinya, dengan maksud agar kita dapat imbalan atas apa yang telah kita lakukan dalam masa hidup atau masa-masa hidup terdahulu - di samping ganjaran atau hukuman yang telah kita terima di akhirat - dan agar kita dapat diuji lagi apakah kita dapat melaksanakan apa yang telah kita niatkan dan kita pelajari dalam akhirat yang lalu, sebagai persiapan untuk hidup kita yang akan datang di akhirat dan dunia fisik berikutnya. Telah saya singgung juga bahwa akhirat atau alam gaib itu bukanlah merupakan tempat untuk menerima hukuman atau pahala atas perbuatan-perbuatan kita dalam hidup di dunia saja

- sebagaimana senantiasa dikhotbahkan - melainkan juga tempat atau keadaan di mana kita, sebagai ruh, dapat bermawas diri dan menilai secara jujur kesalahan-kesalahan, dosa-dosa, dan kekurangankekurangan kita selama hidup di dunia yang terdahulu. Sebab hanya jika telah lepas dari badan fisiklah, ruh kita dapat menilai dan menganalisa perbuatan-perbuatan kita sendiri pada masa lampau secara tepat. Hal itu disinggung dalam ayat Q. 50:22, yang berbunyi: (Kepada orang-orang berdosa dikatakan): Kau telah alpa akan hal ini. Sekarang telah Kami singkapkan selubungmu, maka tajamlah penglihatanmu hari ini. Perkataan “tajamlah penglihatanmu hari ini”, menurut hemat saya, menunjukkan bahwa di akhirat atau alam gaib ruh yang meninggal dapat melihat dan mengingat kembali secara terang dan jujur segala sesuatu yang diperbuat dan dialaminya dalam masa hidup yang baru dilaluinya. Ia dapat mengingat kembali soal sekecil-kecilnya, mempergunakan hati nuraninya secara adil, meneliti dirinya secara jujur, dan tahu di mana dahulu ia berbuat salah dan di mana berbuat benar (meskipun kemampuan berbuat demikian itu mungkin memakan waktu). Dengan istilah Al-Quran: ia dihisab oleh Tuhan. Ia dibuat-Nya tak berdaya untuk berbohong kepada dirinya sendiri. Ia seakan-akan merupakan sebuah kitab terbuka dan sekaligus merupakan hakim dan juri terhadap dirinya sendiri. Secara alegoris dikatakan dalam Al-Quran bahwa kaki, tangan, mata, telinga, lidah kita akan berbicara dan menjadi saksi tentang perbuatan-perbuatan buruk dalam hidup kita yang silam. Berdasarkan mawas diri dan penilaian hidupnya yang lalu, ruh orang yang meninggal berkeinginan menebus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya, agar dengan demikian ia memperoleh kemajuan rohani. Sebab di akhirat ia disadarkan bahwa hanya dengan berbuat demikianlah ia dapat mendekatkan diri kepada Tuhan. Di sana ia juga disadarkan bahwa cara yang tercepat untuk memperoleh kemajuan rohani hanyalah melalui kelahiran kembali di dunia, di mana tersedia banyak tantangan, cobaan, dan godaan sebagai bahan ujian. Beberapa ayat yang menunjukkan adanya keinginan ruh agar dilahirkan kembali ke dunia, ialah ayat Q. 32:12: Seandainya kau dapat melihat ketika orang-orang berdosa menundukkan kepalanya dalamdalam di hadapan Tuhan mereka, (dan berkata): Tuhan kami! sekarang kami telah melihat dan mendengar; karena itu, kirimkanlah kami kembali (ke dunia); kami akan berbuat baik; sekarang kami yakin. Ayat Q. 23:99 100: 99. Hingga bila kematian datang kepada seorang dari mereka, ia berkata: Ya, Tuhanku! Kembalikanlah aku (ke dunia) 100. Agar aku dapat berbuat baik dalam hal-hal yang telah kulalaikan.... Ayat Q. 23-107: Tuhan kami! Keluarkanlah kami dan sini. ... Ayat Q. 39:58: (Agar tidak ada orang) yang berkata bila ia melihat siksaan: Oh, sekiranya aku mempunyai kesempatan lagi, agar aku dapat masuk golongan yang berbuat baik! Memang benar beberapa ayat yang saya kutip di atas dijawab secara negatif. tetapi itu disebabkan oleh karena setiap orang, selain mempunyai masa untuk hidup di dunia, mempunyai pula masa waktu untuk hidup di akhirat ”wa ‘ajalum musamman ‘indahuu”, kata Al-Quran ayat Q 6:2, yang berarti: “Dan suatu masa (yang lain) ditentukan(-Nya) di sisi-Nya”). Selama masa waktu yang ditentukan oleh Tuhan itu belum lewat, yang bersangkutan tidak dapat dikembalikan (dilahirkan kembali) ke dunia. Seperti dapat anda lihat dari ayat-ayat di atas, tidaklah benar bila dikatakan bahwa kita dilahirkan bukan karena kehendak kita sendiri. Ayat-ayat tadi dengan terang merujuk kepada adanya keinginan kita dilahirkan kembali! Kebanyakan orang tidak sadar, atau tidak mau percaya,

bahwa ucapan-ucapan dalam ayat-ayat di atas bukan saja merupakan penyesalan atau pernyataan taubat, melainkan juga merupakan keinginan yang sungguh-sungguh dari ruh-ruh yang bertaubat agar dikirimkan kembali ke dunia untuk diuji lagi dalam kelakuan dan cara hidupnya. Hanya oleh karena tidak percaya akin reinkarnasi, atau barangkali oleh karena terpengaruhi oleh ajaran tentang siksaan yang “kekal dan abadi” secara harfiah, tidak sedikit orang yang berani berfalsafah, “Kita ini ada di dunia bukan atas permintaan kita”. Mereka menolak dan menutup mata terhadap adanya kemungkinan Tuhan akan meluluskan permohonan-permohonan yang sangat dari ruh-ruh yang bertaubat. Berkatalah ayat Q. 26:100-103: 100. Sekarang kami tidak mempunyai pemberi syafaat. 101. Juga tidak ada teman yang akrab. 102. Sekiranya kami dapat kembali sekali lagi ke dunia, niscaya kami akan termasuk golongan yang beriman. 103. Sesungguhnya dalam hal demikian terdapat suatu tanda, tetapi kebanyakan mereka tidak percaya Memang, kebanyakan orang tidak percaya bahwa setelah hidup di akhirat kita akan diberi kesempatan lagi hidup di dunia fisik dan diuji dalam perbuatan kita. Dikatakan oleh ruh-ruh yang telah meninggal, melalui komunikasi paranormal, bahwa kemajuan rohani di alam gaib agak lamban, karena di sana tidak ada tantangan, tidak ada godaan, dan tidak ada saingan untuk menguji mereka. Di sana, bagi ruh-ruh baik, segala sesuatu dapat diperoleh dengan mudah, dan hukum alamnya adalah sedemikian rupa, sehingga jika seseorang membuat kesalahan ia seketika itu juga merasakan akibatnya dan karena itu menghentikan perbuatannya. Hukum alam dalam keadaan rohani konon amat otomatis, tanpa adanya pilihan berbuat sebagaimana yang kita punyai di dunia. Selain itu, dikatakan pula bahwa setelah ruh “kembali ke Tuhan” - yang saya artikan sebagai “kembali ke alam akhirat”, dari mana ruh berasal - dan setelah memperoleh kemajuan rohani, ia akan benar-benar merasakan adanya Tuhan, sebab pada hakekatnya kita ini adalah kepunyaan Dia, dan Ia kepunyaan kita. “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji ‘uun,“ kata Al-Quran. Kita ini merupakan bagian atau ruh-ruh kecil daripada Ruh Tuhan Yang Maha Esa, partikel-partikel Ruh Tuhan yang “ditiupkan” oleh-Nya ketika kita diciptakan ke dunia, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat Q. 32:9, yang berbunyi: Kemudian Ia membentuknya dan meniupkan ke dalamnya sebagian daripada. Ruh-Nya ... Ruh-ruh yang perkembangan rohaninya masih rendah konon umumnya lebih cepat dilahirkan kembali ke dunia daripada mereka yang sudah tinggi kemajuan spiritualnya. Ruh-ruh yang dalam masa hidup lalunya sombong, suka bertengkar, dan suka menghina, dengan ”suka rela” dapat menetapkan bagi dirinya suatu kehidupan dunia di tengah-tengah keluarga miskin, agar dengan demikian mereka dapat belajar bersikap rendah hati. Mereka yang kejam terhadap sesama manusia dapat mempersiapkan diri untuk dilahirkan kembali sebagai manusia lemah, agar dengan demikian mereka dapat menebus dosa-dosanya dan mengalami sendiri bagaimana rasanya bila hidup dalam keadaan yang tidak menyenangkan baginya. Mereka yang selalu mementingkan diri, bersikap loba tamak, manja, dan sering menyusahkan orang lain, dapat memutuskan bagi dirinya untuk dilahirkan kembali dalam keluarga di mana ketawakalan dan kesabaran banyak diuji. Dalam Al-Quran, hal-hal itu digambarkan seolah-olah Tuhanlah yang menentukannya, sebagaimana dapat anda lihat dalam ayat Q. 6:65 berikut ini: Katakanlah: Ia berkuasa mengirimkan hukuman kepadamu dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau memecah belah kamu dalam sengketa golongan dan membuat kamu merasakan tirani yang satu terhadap yang lain. Lihatlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat Kami supaya mereka jadi mengerti.

Ayat-ayat yang berbunyi: “Tuhanku, kami telah melihat dan mendengar; karena itu, kirimkanlah kami kembali; kami akan berbuat baik; sekarang kami yakin,” “Tunhanku, kirimkan aku kembali, agar aku dapat berbuat baik dalam hal-hal yang telah kulalaikan, “ “Sekiranya kami dapat kembali (ke dunia), niscaya kami akan masuk golongan yang beriman,“ yang telah saya kutip di muka, semuanya secara gamblang menggambarkan keinginan ruh-ruh yang bertaubat agar dilahirkan kembali ke dunia dan merupakan janji mereka akan berbuat baik. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa hidup mereka sekarang ini sebenarnya adalah kehidupan yang mereka pilih sendiri sebelum mereka dilahirkan, untuk menebus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat pada masa atau masa-masa hidup yang lalu dan menguji diri. Keterangan yang mungkin pertama kali anda dengar dari seorang Muslim ini nampaknya memang spekulatif dan tidak logis, sebab bagaimana mungkin kita memilih untuk diri sendiri lingkungan hidup yang penuh derita dan cobaan! Tetapi, para pembaca yang budiman, bila kita insyafi bahwa dalam diri kita masing-masing ada sesuatu yang bersifat Ilahi, yang dahulu “ditiupkan” oleh Tuhan daripada Ruh-Nya (ayat Q. 32:9), maka hukuman diri atau penetapan diri - yang dapat kita namakan takdir - merupakan hal yang amat mungkin dan wajar. Ketika hidup di dunia, bagian Ruh Tuhan atau sifat ketuhanan itu “tersisihkan” oleh penjelmaannya ke dalam bentuk fisik. Tetapi setelah kembali ke alam gaib, ia, ruh itu, memperoleh kembali sifat ketuhanannya dan karena itu dapat bertindak sebagai hakim dan juri atas dirinya sendiri. Hal, itu, memungkinkan si ruh melihat kesalahan-kesalahannya yang lampau dan melakukan pemeriksaan atas dirinya sendiri secara jujur dan tuntas. Dalam perkataan Al-Quran, ayat Q. 39:48:

Dan kejahatan-kejahatan yang telah mereka perbuat menampakkan diri di hadapannya, dan mereka akan diliputi oleh (bayangan) apa yang dahulu mereka perolok-olokkan. Dalam masa pemeriksaan atau mawas diri itu, ruh seakan-akan dapat melihat sendiri seluruh perbuatannya yang lalu, kekurangan-kekurangannya, kelemahan-kelemahannya, dan sebagainya. Ia disadarkan bahwa ia akan harus kembali ke wujud fisik untuk menebus kesalahan-kesalahannya yang lampau itu. Dalam bahasa Al-Quran: Allah memulai penciptaan, dan mengulanginya, agar kita secara adil dapat menerima balasan dari perbuatan-perbuatan kita yang lampau, baik yang buruk maupun yang baik. Agama dan pengetahuan tentang reinkarnasi dan karma - asal saja benar-benar diimani, dipahami, dan dihayati - akan sangat berguna bagi kita dalam menghadapi segala kesulitan dan cobaan hidup, dan untuk tetap bersikap mantap dan optimistis. Tentu saja, banyak orang yang, karena merasa jenuh dan puas dengan segala pengetahuannya mengenai agamanya, mengatakan secara tegas bahwa mereka tidak memerlukan pengetahuan tentang reinkarnasi dan karma sebagai salah satu syarat untuk hidup mantap dan optimistis. Memang benar, juga tanpa mengimani hukum reinkarnasi dan karma kita dapat memperoleh kebahagiaan dan kemantapan hidup; tetapi, tidakkah lebih baik kalau kita beriman kepada hal yang notabene merupakan hukum alam ajaran Al-Quran itu?

F. Kesucian anak yang baru lahir Orang sering mengkhotbahkan bahwa anak yang baru lahir itu suci bersih bagaikan kertas putih yang belum ditulisi apa-apa. Pendapat itu didasarkan pada ayat Q. 95.4-6, yang berbunyi:

4. Telah kami ciptakan manusia dalam bentuk (dan sifat) sebaik-baiknya. 5. Kemudian Kami turunkan dia ke derajat yang serendah-rendahnya, 6. Kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh; bagi mereka (tersedia) pahala yang tiada putus-putusnya. Ketika untuk pertama kali diciptakan oleh Allah s.w.t. - yaitu ketika untuk pertama kali dimanifestasikan sebagai manusia - manusia memang benar-benar mempunyai sifat yang sebaikbaiknya, sempurna, murni, suci, amat sadar akan sifat ketuhanannya. Ketika itu, masing-masing sama suci dan murninya dengan manusia lainnya yang bersamaan diciptakan dengannya untuk pertama kali, karena mereka baru saja melepaskan diri dari Ruh Tuhan dan karena itu masih asli sifat ketuhanannya. Karena sifat ketuhanannya itu maka manusia dijadikan Tuhan khalifah di bumi (ayat Q. 7:74). Kitab Injil mengatakan, dalam gambaran Tuhanlah manusia diciptakan oleh Tuhan. Bahwasanya yang dimaksud ayat Q. 95:4 di atas itu benar-benar ciptaan manusia pertama, dapat kita simpulkan secara logis dari ayat Q. 32:7-8, yang berbunyi sebagai berikut:

7. (Allah) Yang telah membuat segala sesuatu yang diciptakanNya sebaik-baik ciptaan. Ia memulai penciptaan manusia dari tanah. 8. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari cairan yang hina. Dari ayat Q. 32:7 di atas dapat anda lihat dan simpulkan bahwa penciptaan pertama manusia ialah dari tanah (mineral dan elemen-elemen kimiawi yang terdapat dalam tanah; entah bagaimana caranya); dan penciptaan pertama itu merupakan sebaik-baik ciptaan. Sedangkan penciptaan keturunannya, menurut ayat berikutnya, terjadi dari air mani (“air hina”, menurut ayat itu); dan untuk itu tidak disebutkan “sebaik-baik ciptaan”. Setelah beberapa waktu umat manusia pertama bertambah jumlahnya, di bawah pengaruh keadaan yang berbeda-beda dan keinginan hawa nafsu, maka lambat-laut mereka kehilangan sifat ketuhanan yang pada mulanya sebenarnya merupakan sifat aslinya. Sifat dan akhlak manusia, terpengaruh oleh badan fisiknya, kemudian tidak menjadi asli lagi. Sifat-sifat ketuhanan yang seharusnya dimiliki para khalifah Tuhan, lama-kelamaan mengalami erosi. Manusia mempunyai keinginan sendiri-sendiri, kesukaan dan kebencian sendiri-sendiri. Mereka bertengkar, berebutan seks, berebutan tanah, berebutan kedudukan, dan sebagainya. Mereka terjatuh tunduk kepada hukum sebab dan akibat, hukum karma. Dan ketika meninggal, mereka mempunyai neraca hidup negatif, yang satu lebih daripada yang lain, sesuai dengan perbuatannya masing-masing. Karena itu, ketika kemudian mereka dilahirkan kembali, mereka tidak lagi dalam keadaan “sebaik-baik ciptaan”. Mereka memulai hidup baru dengan utang-utang karma yang harus mereka bayar kembali, di samping potensial-potensial kebaikan yang harus mereka kembangkan, dalam hidup yang baru itu.

Besar kecilnya utang karma tergantung kepada perbuatan baik dan buruk yang mereka lakukan selama masa atau masa-masa hidup mereka yang lalu. Setelah bereinkarnasi beberapa kali, watak dan sifat manusia lebih banyak lagi berbeda-beda. Yang satu baik, yang lain jahat. Yang satu lebih baik, yang lain lebih jahat. Ada yang hidup menurut apa yang dibisikkan naluri ketuhanannya; ada yang mengingkarinya, memperturutkan hawa nafsu, menyembah berhala, dan hanya percaya kepada apa yang dapat mereka rasakan dan lihat dengan pancaindera fisik mereka. Singkatnya, jika manusia-manusia pertama diciptakan dalam bentuk dan dengan sifat yang sebaik-baiknya, dan bersedia menerima cahaya dan bimbingan Tuhan, maka generasi-generasi berikutnya berangsur-angsur menjauhkan diri dari jalan yang benar, dan memilih cara hidup yang berbeda-beda. Karena nafsu keduniaan dan kedurhakaan, mereka kehilangan sifat-sifat ketuhanannya, mempersekutukan Tuhan dengan pelbagai berhala, dan memperturutkan hati ke dalam penghamburan hawa nafsu yang paling menjijikkan, sehingga sebagian mereka akhirnya memiliki sifat (dan mungkin juga bentuk) kebinatang-binatangan. Mungkin itulah yang dimaksudkan dengan kalimat “Kemudian Kami turunkan dia ke derajat yang serendah-rendahnya” dalam ayat Q. 95:5. Kemudian Tuhan memilih di antara umat manusia beberapa orang sebagai nabi atau rasul untuk mengadakan perbaikan dan memperingatkan manusia akan kewajibannya untuk hanya menyembah Tuhan dan menuruti dasar-dasar etika moralitas yang diberikan-Nya. Ada yang menurut, ada yang membangkang. Secara berturut-turut- nabi-nabi lain diutus Tuhan ke dunia untuk memperbaharui atau mengulangi peringatan-peringatan dan bimbingan-Nya di tempat-tempat dan pada waktu-waktu yang dianggap perlu. Di antara umat manusia, ada yang hidup dengan penuh takwa kepada Tuhan dan berhasil melepaskan diri dari siklus hidup dan mati di dunia dan meneruskan perjalanannya di alam akhirat, dalam dimensi-dimensi kesadaran yang lebih tinggi, untuk akhirnya bersatu kembali dengan-Nya; yang lain berada di alam akhirat menunggu kesempatan dilahirkan kembali ke dunia; yang lain lagi adalah seperti kita, hidup di dunia untuk diuji kesekian kalinya. Dari apa yang saya utarakan di atas, kita dapat mengerti bahwa kalimat “Telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk (dan sifat) sebaik-baiknya” itu sebenarnya merujuk kepada umat manusia yang diciptakan untuk pertama kali. Mereka benar-benar murni, sempurna, dan bersih dari dosa, karena baru sekali keluar dari Kekuatan Universal yang kita namakan Tuhan. Tetapi dunia fisik, sebagai tempat ujian dan cobaan, berangsur-angsur mengubahnya. Anak-anak yang lahir sekarang berada di dunia untuk kesekian kalinya, pernah membuat kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa pada masa-masa hidup yang lampau, menimbun utang karma yang harus mereka bayar kembali, di samping akan menerima pahala-pahala sebagai imbalan atas perbuatan-perbuatan baiknya. Pandangan saya ini, yang amat berbeda dengan apa yang secara tradisional diajarkan oleh para alim ulama mungkin tidak menyenangkan kebanyakan orang tua dan kakek-nenek. Suatu hal yang amat saya maklumi. karena kita semua mencintai anak-anak dan cucu-cucu kita dan selalu ingat kepada mereka sebagai makhluk Tuhan yang suci bersih dan tanpa dosa. Meskipun demikian, saya percaya bahwa ungkapan pendapat saya yang polos itu tidak akan mengurangi rasa cinta kasih terhadap anak-anak dan cucu-cucu kita. Saya hanya ingin menyatakan hasil penelitian saya secara jujur dan terus terang - saya sendiri adalah seorang kakek yang mempunyai cucu-cucu yang manis demi obyektivitas dan kebenaran, agar kita dapat memperoleh pengertian yang lebih mendalam perihal rahasia hidup. Anggapan bahwa ayat Q. 32:7 tadi menyatakan anak-anak yang baru dilahirkan adalah sebaik-baik ciptaan, suci bersih, murni, sempurna, hanyalah akan bertentangan dengan kenyataan. Betapa pilunya hati seorang ayah atau seorang ibu yang mendengarkan pernyataan demikian, sedangkan anaknya, misalnya, dilahirkan dengan tubuh cacat atau kemudian ternyata lemah pikiran atau abnormal mentalnya. Dapatkah ia tetap berpikir bahwa anak-anak dilahirkan dalam bentuk dan dengan sifat yang sebaik-baiknya? Marilah kita memberanikan diri melihat kenyataan secara pragmatis dan realistis.

Cinta kasih kita terhadap anak dan cucu janganlah dijadikan penghalang untuk melihat kenyataan atau menerima kebenaran. Setiap anak lahir dengan membawa potensial-potensial karma. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Setiap anak dilahirkan atas fitrah.” Dan fitrah itu berarti pembawaan, bukan “keadaan suci atau tanpa dosa”, sebagaimana pernah saya baca dalam sebuah buku dakwah dan secara latah dikutip oleh para da'i lainnya. Cacat tubuh yang dapat menyertai kelahiran beberapa anak, atau adanya sel-sel darah abnormal dalam tubuh si ibu yang menyebabkan cacat si anak, tidak mungkin hanya merupakan kehendak Tuhan tanpa sebab atau ujian belaka. Tuhan tidak mungkin begitu kejam. mengambil keputusan yang sewenang-wenang. Cacat itu pasti merupakan sesuatu sebagai pembayaran suatu utang karma atas perbuatan ruh yang bersangkutan pada salah satu masa hidup yang lalu. Keterangan logis dan masuk akal yang lain sukar dicari. Sukar bagi orang yang berpikir - meskipun beriman dan bertauhid - untuk membayangkan Tuhan Yang Maha Adil sebagai Tuhan yang sewenang-wenang dan pilih kasih. Sekalipun Ia Maha Kuasa. Menurut hemat saya, adalah kewajiban para ahli dakwah untuk menjelaskan hal di atas kepada khalayak ramai. Apa yang kita namakan takdir bukanlah hanya kehendak Tuhan, atau ujian yang dibebankan-Nya kepada kita, tetapi suatu hal yang ditetapkan Tuhan berdasarkan perbuatanperbuatan kita pada masa-masa hidup kita yang lampau dan berdasarkan hukum-hukum alam yang telah diciptakan-Nya bagi kita. Adapun para orang tua anak-anak cacat, sudah barang tentu mereka tidak boleh menganggap keadaan yang menjadi beban mereka sebagai hukuman yang dijatuhkan Tuhan kepada mereka tanpa sebab, tetapi secara filosofis menerimanya sebagai kesempatan untuk memperlihatkan kasih sayang kepada sesama manusia yang kurang beruntung. Dalam hal ini, orang-orang yang kurang beruntung itu adalah anak mereka sendiri. Dengan menerima keadaan yang kurang menyenangkan itu dengan penuh pengertian, kesabaran, tawakal, dan besar hati, para orang tua itu akan sadar bahwa baik mereka maupun anak mereka itu sebenarnya sedang membayar kembali utang-utang karma mereka masing-masing. Oleh karena itu, dan agaknya untuk maksud itulah, Tuhan berfirman dalam ayat Q. 53:32, antara lain:

... Karena itu, janganlah kamu menganggap dirimu suci… Secara implisit, firman itu menyatakan bahwa kita masing-masing mempunyai utang karma yang harus kita bayar kembali, tidak peduli apakah kita anak-anak atau orang dewasa, orang cacat atau orang sempurna bentuknya, orang kaya atau orang miskin, raja atau gelandangan. Kita semua adalah orang yang telah pernah berdosa dalam masa-masa hidup yang lampau dan sekarang sedang diberi kesempatan menebus kesalahan-kesalahan yang kita perbuat pada masa-masa itu. Ketawakalan kita diuji. Terserah kepada kita bagaimana kita menghadapi ujian-ujian itu, karena kita diberi kebebasan berkehendak. Mereka yang “memilih” tubuh tak sempurna boleh kita anggap sebagai ruh pemberani. Agaknya di alam akhirat yang lalu mereka diberi kesadaran bahwa makin besar rintangan-rintangan yang harus mereka hadapi dan mereka tanggulangi dalam hidup fisik, makin pesatlah kemajuan spiritual yang dapat mereka peroleh. Tetapi dalam percakapan sehari-hari, agar lebih sesuai dengan gaya bahasa Al-Quran, kita biasa memakai istilah “kehendak Tuhan” untuk pilihan itu. Suatu hal yang memang tidak begitu salah, sebab bukankah dalam setiap orang terdapat bagian Ruh Tuhan yang dimaksudkan dalam ayat Q. 32:9, yaitu yang menyatakan bahwa pada penciptaan manusia Tuhan “meniupkan” sebagian Ruh-Nya ke dalam diri kita? Dan oleh karena Tuhan adalah Penentu Segala Sesuatu, bukankah bagian Ruh Tuhan yang ada dalam diri kita itu berkuasa pula menjadi penentu-bersama mengenai diri kita?

Pernyataan di atas pasti akan mengundang pihak yang tidak setuju dengan gagasan saya menuduh bahwa saya membahayakan akidah Islam. Sadar akan hal itu, saya anggap perlu memberikan penjelasan sebagai berikut: Jika Allah s.w.t. Sendiri dalam ayat Q. 50:16 berfirman bahwa Ia lebih dekat kepada kita dari pada urat leher kita sendiri, di manakah Tuhan itu berada menurut anda? Bukan dalam tubuh kita, melainkan di langit ketujuh, sebagaimana biasa dikhotbahkan? Itu akan berarti pengingkaran terhadap ayat Q. 50:16 tadi, sebab ayat itu dengan jelas menyatakan bahwa Tuhan lebih dekat kepada kita daripada urat leher kita sendiri! Karena itu, tidaklah lebih wajar bila kita percaya bahwa tubuh kitalah tempat bersemayam bagian Ruh Tuhan yang dahulu ditiupkan-Nya itu? Dan oleh karena dalam setiap manusia ada sebagian dari Ruh Tuhan, tidakkah wajar pula bila kita percaya bahwa bagian Ruh Tuhan dalam diri kita itu dapat ikut menentukan nasib kita sendiri; bahwa manusia dapat ikut menentukan nasibnya sendiri?

X Sanggahan-sanggahan Terhadap Reinkarnasi
Seorang ulama Islam besar yang bernama Imam Al-Ghazali dan hidup di Baghdad antara tahun 1059 dan 1111 Masehi menulis dalam bukunya, Ihya lllumuddin, antara lain, sebagai berikut: Nabi Adam a.s. diciptakan oleh Tuhan dari tanah, dan keturunannya dari tanah bercampur air yang dipancarkan dari antara pinggang ke dalam rahim ibu-ibu. Dari situlah orang-orang keluar hidup; kemudian mereka akan dikubur, dikumpulkan di Padang Mahsyar dan akhirnya dikirimkan ke surga atau neraka. Itulah permulaan mereka, dan itulah akhir mereka. Seperti dapat anda lihat di atas, ia pun, seorang ulama dan mujtahid besar, secara tak langsung menolak adanya kemungkinan kelahiran kembali manusia secara fisik ke dunia. Ia berpendapat bahwa hidup kita ini mulai dengan kelahiran dan berakhir dengan neraka atau surga; sedangkan menurut hemat saya, setiap orang merupakan ruh yang hidup kekal dan abadi dalam bentuk dan tingkat yang berganti-ganti, dan tunduk kepada rangkaian siklus hidup dan mati, sebagaimana difirmankan Tuhan dalam ayat-ayat Q. 3:27, Q. 6:96, Q. 10:31, dan Q. 30:19. Ayat-ayat itu semuanya menyatakan bahwa Tuhan “mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup”, atau, dengan perkataan lain, “Yang hidup berasal dari yang mati dan yang mati berasal dari yang hidup”. (Seperti anda lihat, Nabi Muhammad s.a.w. menempatkan wahyu itu dalam paling sedikit empat surah yang berbeda-beda, dengan susunan kata yang hampir sama, seolah-olah beliau ingin bersabda: “Wahai, umatku, bacalah dan cernakanlah ayat-ayat itu baik-baik. Resapkanlah artinya. Tuhan bersungguh-sungguh dengan firman-firman-Nya itu!”) Beberapa orang berpendidikan tinggi yang saya dekati dan saya tanyai mengenai reinkarnasi menolak gagasan itu dengan alasan, “Islam tidak mengakui reinkarnasi”, “Islam tidak mengajarkan reinkarnasi”, “Dalam Al-Quran tidak ada ajaran mengenai reinkarnasi”, “Itu bid’ah”, dan sebagainya. Ada pula yang mengawali penolakannya dengan perkataan, “Menurut Islam, …”, “Menurut Eschatology (ilmu akhirat) Islam, …” dan perkataan-perkataan lain yang senada, seolah-olah ingin menyatakan secara tak langsung bahwa saya tidak berpikir secara Islam. Tetapi seperti dapat anda lihat sendiri dalam tulisan ini, kutipan-kutipan yang saya sajikan, dan akan saya sajikan, dalam buku ini, semuanya saya dasarkan pada Al-Quran, sumber utama dari ajaran-ajaran agama Islam. Kalimat-kalimat berikut, misalnya, “Dari tanah Kami ciptakan kamu; dan darinya Kami keluarkan kamu untuk kedua kalinya”; “Kamilah yang menghidupkan kembali yang mati”; “Ialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya, supaya Kami dapat memberi pahala kepada orang yang beriman dan melakukan kebaikan secara adil”; semuanya benar-benar terjemahan ayat-ayat Al-Quran yang otentik dan asli, yang, jika ditafsirkan secara ikhlas, mau tak mau akan memberikan pengertian kelahiran kembali. Sebab, baik kata “mengeluarkan” maupun kata “menciptakan” secara normal dapat diganti dengan kata “melahirkan”. Sayang sekali, telah berabad-abad diinjeksikan ke dalam alam pikiran kaum Muslimin di seluruh dunia bahwa perkataan-perkataan “menghidupkan kembali”, “mengeluarkan untuk kedua kalinya”, atau “menciptakan kembali” itu harus ditafsirkan sebagai penciptaan kembali di akhirat, suatu penafsiran yang menurut hemat saya tidak taat asas (konsekuen). Saya tidak ingin bersikap sepihak dalam “tesis” mengenai reinkarnasi ini. Karena itu, saya akan pula memuatkan dalam buku ini alasan-alasan apa yang menyebabkan para ulama Islam menolak paham reinkarnasi. Di bawah ini saya akan menyajikan beberapa sanggahan yang dapat saya kumpulkan.

Sanggahan pertama Salah satu sanggahan yang biasa dikemukakan oleh orang-orang yang tidak percaya akan reinkarnasi adalah sebagai berikut: “Jika benar ada reinkarnasi, mengapa kita tidak ingat lagi kepada hal-hal yang terjadi dalam masa hidup kita yang lalu atau pada waktu hidup di akhirat yang terakhir?” Jawab saya, “Itu adalah ketentuan Tuhan Yang Maha Bijaksana, dan untuk itu ada alasanalasannya.” Untuk membuktikan hal itu, marilah kita bersama-sama meneliti ayat Q. 16:70:

Dan Allah menciptakan kamu, lalu mematikan kamu, dan di antara kamu ada yang dikembalikan ke tingkat yang paling rendah, sehingga ia tidak mengetahui apa-apa setelah tadinya berpengetahuan. Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu, Maha Kuasa. Ayat Q. 22:5:

Hai, manusia! Jika kamu ragu-ragu tentang kebangkitan, (ketahuilah) bahwa Kami ciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari suatu gumpalan daging yang berbentuk dan tidak berbentuk, agar Kami dapat menjelaskan kepadamu. Dan Kami tempatkan yang Kami kehendaki di dalam rahim untuk suatu masa tertentu, dan kemudian Kami keluarkan kamu sebagai anak, dan kamu menjadi dewasa. Dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan di antara kamu ada yang dikembalikan ke tingkat hidup yang paling rendah, sehingga ia tidak mengetahui apa-apa setelah tadinya berpengetahuan.. . . Ayat-ayat di atas biasa dikutip oleh para ulama dengan pengertian bahwa ucapan “dikembalikan ke tingkat hidup yang paling rendah” berarti “dimasukkan ke dalam neraka”, “dijadikan kafir”, atau “dijadikan pikun”. Tetapi, apakah tafsiran-tafsiran itu cocok dengan ucapan berikutnya, yang berbunyi, “sehingga ia tidak mengetahui apa-apa setelah tadinya berpengetahuan”? Saya rasa tidak, kecuali barangkali tafsiran yang merujuk kepada umur lanjut atau kepikunan. Tetapi dalam hal itu pun, tafsiran itu tidak seluruhnya benar, sebab orang yang amat pikun pun biasanya masih mengetahui apa-apa. Baik orang yang “dimasukkan ke dalam neraka” atau yang “dijadikan kafir” masih tetap tahu akan apa yang tadinya diketahuinya: jadi, pastilah bukan mereka yang dimaksudkan ayat yang bersangkutan itu. Karena itu, menurut hemat saya, adalah paling tepat jika ucapan “dikembalikan ke tingkat hidup yang paling rendah, sehingga ia tidak mengetahui apa-apa setelah tadinya berpengetahuan” itu diartikan sebagai “dilahirkan kembali sebagai seorang bayi”. Sebab, bukankah seorang bayi yang baru dilahirkan merupakan makhluk yang paling rendah tingkat hidupnya? Karena ia sama

sekali tidak mengetahui apa-apa; sedangkan sebelum dilahirkan, baik ketika di akhirat maupun di masa hidup fisik sebelumnya, ia banyak berpengetahuan. Untuk meyakinkan para peragu bahwa anak kalimat “sehingga setelah mempunyai pengetahuan ia tidak mengetahui apa-apa” itu benar-benar berpautan dengan peristiwa kelahiran bayi, saya ingin mengutip ayat Q. 16:78, yang berbunyi sebagai berikut:

Dan Allah mengeluarkan (= melahirkan) kamu dari rahim ibu-ibumu sedang kamu tidak tahu apa-apa, dan memberimu pendengaran dan penglihatan dan hati, supaya kamu bersyukur. Yang ditulis dengan cetak miring di atas jelas mengisyaratkan kepada kita bahwa ketika dilahirkan dari rahim ibu, kita tidak mengetahui apa-apa, dan bahwa Tuhan kemudian secara berangsur-angsur memberikan kemampuan mendengar, kemampuan melihat, dan kemampuan merasakan kepada kita. Sama sekali tidak ada tanda atau petunjuk bahwa “tidak tahu apa-apa” itu ada sangkut pautnya dengan “masuk ke neraka” atau kekufuran. Yang jelas ialah bahwa keadaan tidak tahu apa-apa itu ada hubungannya dengan peristiwa kelahiran. Karena itu, saya percaya, sekarang para pembaca yang budiman bersedia mengakui bahwa perkataan “sehingga ia tidak mengetahui apa-apa setelah tadinya berpengetahuan” dalam ayat Q. 16:70 dan ayat Q. 22:5 tadi merujuk kepada setiap anak yang baru dilahirkan, bukan kepada orang tua yang telah pikun atau kepada seorang kafir dalam neraka. Anak kalimat “sehingga ia tidak mengetahui apa-apa setelah tadinya berpengetahuan” dalam Q. 16:70 tadi mengisyaratkan secara tak langsung bahwa sebelum kelahiran - yaitu masa hidup fisik dan akhirat sebelumnya - kita benarbenar berpengetahuan. Bahwasanya manusia tidak dapat mengingat kembali segala sesuatu yang terjadi dalam masamasa hidupnya di dunia dan di akhirat yang lalu, sungguh merupakan suatu hikmat yang besar. Berdasarkan hukum alam yang diciptakan Tuhan, kita sengaja dibuat-Nya lupa akan masa lampau itu, karena tidak ada manusia seorang pun yang akan dapat menanggung beban pengalaman yang begitu bertumpuk-tumpuk selama masa-masa hidup sebelumnya. Sanggahan kedua Sanggahan lain yang dikemukakan kepada saya terhadap reinkarnasi adalah sebagai berikut: Menurut ilmu hitung, jika setiap orang yang hidup sekarang merupakan reinkarnasi dari dirinya sendiri, maka tentu jumlah manusia di muka bumi ini akan tetap sama, atau kira-kira sama, sepanjang masa. Tetapi, mengapa jumlah penduduk manusia di dunia pada dewasa ini senantiasa meningkat dari masa ke masa? Jawaban saya terhadap sanggahan demikian adalah sebagai berikut. Dalam Al-Quran ada sebuah ayat, yaitu ayat Q. 28:58, yang berbunyi:

Dan betapa banyak masyarakat yang tak bersyukur kepada penghidupannya telah Kami binasakan! Maka lihatlah itu tempat kediaman mereka yang sesudah mereka (hingga sekarang) hanya sedikit saja didiami (manusia). . . .

Ayat itu, bila kita resapi baik-baik, mengisyaratkan kepada kita bahwa dahulu kala (pada zaman Nabi Nuh a.s. sebelum terjadi Banjir Besar dan dalam kurun-kurun waktu sebelum zaman itu?) bumi kita ini pernah dihuni oleh umat manusia yang jumlahnya jauh lebih besar daripada jumlah penduduk bumi sekarang dan yang akan datang. Sebab meskipun pada tahun 1981 penduduk dunia berjumlah kurang-lebih 4.350 juta orang, masih banyak pula negara dan benua yang kepadatan penduduknya jauh lebih kurang dari pada Pulau Jawa misalnya, yang menurut sensus penduduk tahun 1980, mencatat kepadatan penduduk 690 orang per km persegi. (Nusa Tenggara 96 orang; Sumatra 59 orang; Irian Jaya 5 orang). Dan marilah kita ambil negara-negara dan benua-benua lain yang amat luas tetapi jarang penduduknya. (Jumlah-jumlah penduduk di bawah ini saya ambil dari The Hammond World Atlas, terbitan Majalah TIME, copyright 1980): Arab Saudi Afrika Kanada Alaska Amerika Selatan Amerika Serikat Australia luas (km2) 2.382.800 30.256.380 9.976.162 1.518.776 17.806.250 9.362.850 7.686.343 penduduk (orang) 7.200.000 345.000.000 23.388.100 382.000 186.000.000 217.739.000 12.630.000 rata-rata/km2 3,1 11,4 2,4 0,21 10,5 23,4 1,66

Mungkinkah di antara negara-negara dan benua-benua yang saya sebut dan tidak saya sebut tadi ada yang dimaksudkan oleh ayat Q. 28:58 tadi? Yaitu yang dahulu penduduknya padat sekali tetapi sekarang “hanya sedikit saja didiami manusia?” (Arab Saudi misalnya). Dari angka-angka yang saya kutip di atas, dapatlah kita sadari bahwa sebenarnya bumi kita ini dalam keseluruhannya masih dapat memuat jauh lebih banyak penduduk lagi. Jika negara dan benua di atas dengan tanah yang subur kita tingkatkan penduduknya lima kali, misalnya, maka hal itu tidak apa-apa, apalagi jika kita ambil kepadatan Pulau Jawa sebagai standard (690 orang per km2). Menurut perkiraan ahli demografi dunia, bumi kita sekarang pun dapat memberi tempat kediaman kepada lebih dari 16.000 juta manusia, asal saja dibarengi dengan penambahan produksi pangan yang seimbang. Pasti di antara para pembaca yang budiman ada yang belum percaya akan benarnya pernyataan saya di atas itu, yaitu pernyataan bahwa bumi kita dahulu pernah dihuni oleh manusia yang jumlahnya jauh lebih besar daripada sekarang. Mungkin karena berpikir, mustahil orang-orang dahulu - yang dalam bayangan mereka tentu hidup secara primitif - dapat menyediakan pangan yang cukup untuk penduduk yang begitu besar jumlahnya; sekarang pun, dengan penduduk yang jauh lebih kecil jumlahnya, dan dengan teknologi yang kita anggap telah amat maju, masih terjadi kelaparan di mana-mana. Karena itu, izinkanlah saya membahas hal itu lebih lanjut, dengan Al-Quran sebagai sumber informasi. Menurut penafsiran saya mengenai beberapa ayat Al-Quran, dahulu kala sebagian umat manusia yang menghuni bumi kita ini memiliki peradaban dan ilmu yang jauh lebih tinggi daripada umat manusia sekarang. Ini mungkin amat fantastis kedengarannya bagi anda, tetapi saya persilakan anda membaca dengan teliti ayat Q. 6:6 di bawah ini :

Apakah tidak mereka perhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, (padahal generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukannya di muka bumi dengan keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu…

dan ayat Q. 19:74:

Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka lebih baik perlengkapannya dan lebih baik dipandang mata (= lebih megah). dan ayat Q. 40:82-83:

82. Apakah mereka tidak bepergian di muka bumi dan memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? Mereka (orang-orang sebelum mereka itu) lebih banyak daripada mereka, dan lebih hebat kekuatannya, dan (lebih hebat) bekasbekas peninggalannya di muka bumi. Tetapi apa yang biasa mereka usahakan tidak dapat menolong mereka. 83. Maka ketika datang rasul-rasul kepada mereka membawa bukti-bukti, mereka bersombong dengan pengetahuan yang mereka miliki. Maka mereka ditimpa azab karena apa yang biasa mereka perolok-olokkan itu. Perkataan-perkataan yang tercetak dengan huruf tebal di atas menunjukkan betapa tinggi pengetahuan dan betapa hebat kekuatan umat manusia tertentu itu dahulu kala, pada suatu kurun waktu atau kurun-kurun waktu yang tidak tercatat oleh sejarah (unrecorded history) karena dokumen-dokumen yang bersangkutan telah musnah sama sekali oleh suatu bencana alam yang menyeluruh. Seorang filosuf Yunani yang bernama Plato bercerita dalam buku-bukunya Timaeus dan Critias tentang suatu daratan atau benua kuno yang amat luas dan konon terletak di apa yang sekarang dinamakan Samudera Atlantis. Benua itu bernama Atlantis, dan penduduknya digambarkan oleh Plato sebagai umat manusia yang memiliki peradaban dan teknologi yang amat tinggi. Oleh karena kesombongannya dan kedurhakaannya terhadap Tuhan, mereka akhirnya konon ditimpa bencana alam yang amat dahsyat dan tenggelam bersama benuanya di kedalaman samudera. Selain itu, menurut Edgar Cayce, seorang Amerika yang memiliki kesadaran kosmis dan meninggal dalam tahun 1945 - buku tentang dia banyak sekali ditulis orang - Atlantis adalah salah satu daratan tertua di mana manusia-manusia pertama diciptakan oleh Tuhan. Diterangkan olehnya (dalam keadaan tak sadar karena hipnosa-diri) bahwa manusia Atlantis itu mempunyai peradaban dan pengetahuan teknologi yang menakjubkan. Penemuan-penemuan seperti misalnya televisi, sinar laser, pesawat udara, kapal berkekuatan sinar matahari, kapal selam, sinar-mati, energi atom, bom nuklir, dan ilmu-ilmu lainnya konon telah dimiliki oleh orang-orang Atlantis itu. Karena kesombongan dan kedurhakaannya, mereka menyalahgunakan pengetahuanpengetahuan yang luar biasa tingginya itu dan menimbulkan bencana-bencana alam. Karena keteledoran mereka, benua yang mereka diami pecah menjadi beberapa pulau besar. Sebagian dari pecahan benua itu tenggelam ke dalam laut; jutaan manusia mati karenanya.

Para penduduk yang tersisa tidak sadar akan kedurhakaan dirinya. Akhirnya, kira-kira sepuluh ribu tahun sebelum kelahiran Nabi Isa a.s., karena suatu sebab, terjadi lagi suatu bencana sebagai hukuman Ilahi, dan pulau-pulau yang tersisa pun ditelan laut. (Pada zaman Nabi Nuh a.s.?) Mungkin para pembaca tersenyum dan merasa heran mengapa saya, yang dalam buku ini senantiasa menganjurkan pemakaian akal sehat, mendadak dapat begitu naif dan percaya akan dongengan-dongengan mengenai teknologi tinggi yang dimiliki oleh orang-orang yang hidup belasan dan puluhan ribu tahun yang silam itu. Sekedar untuk menetralisir anggapan demikian, saya akan mengutip ayat-ayat Al-Quran berikut: Ayat Q. 41:13: Jika mereka berpaling, katakanlah: Aku telah memperingatkan kamu tentang petir seperti petir (yang telah menimpa kaum) ‘Aad dan Tsamud. Ayat Q. 51:41-44: 41. Dan juga pada ‘Aad (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah), ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. 42. Angin itu tidak membiarkan sesuatu yang dilandanya, melainkan menjadikannya seperti serbuk. 43. Dan pada (kaum) Tsamud ada (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika dikatakan kepada mereka: “Bersenang-senanglah beberapa waktu”. 44. Tetapi mereka durhaka terhadap perintah Tuhannya, karena itu mereka disambar petir sedang mereka memandangnya. Dari ayat-ayat di atas, saya menarik kesimpulan bahwa apa yang dimaksudkan dengan katakata “petir” itu mungkin bom nuklir atau bom yang lebih hebat daripada itu, sebab jika benar yang dimaksudkan itu hanya petir biasa, mustahillah suatu kaum, yang mungkin berjuta-juta orang jumlahnya, dapat dimusnahkan seluruhnya sekaligus. Seandainya Tuhan dalam menyampaikan wahyu-wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad s.a.w. mempergunakan kata-kata yang sekarang kita pakai, seperti misalnya “bom atom”, “bom nuklir”, “bom hidrogen”, dan sejenis itu, maka pasti para sahabat dan pengikut Nabi ketika itu akan bengong dan tidak mengerti apa-apa. Sebaliknya, kita, dalam abad ke-20 Masehi ini, hendaknya jangan begitu bodoh naif dan menafsirkan kata “petir” secara harfiah, karena petir, betapa pun dahsyatnya, tidak mungkin dapat membinasakan suatu umat yang mungkin terdiri dari jutaan manusia itu sekaligus. Demikian pula, ucapan “angin yang membinasakan, yang tidak membiarkan sesuatu yang dilandanya melainkan menjadikannya seperti serbuk.” mempunyai arti yang luar biasa. Sekencangkencang angin topan, tidak mungkin ia dapat menghancurkan segala sesuatu, gedung-gedung, benda-benda lainnya sehingga menjadi seperti serbuk. Karena itu, sesuai dengan logika sehat, yang dimaksudkan dengan angin dahsyat yang membinasakan itu pasti ledakan-ledakan bom yang saya sebut tadi. Kembali kepada pertanyaan mengapa jumlah penduduk bumi sekarang jauh lebih besar daripada jumlah penduduk pada masa misalnya dua ribu tahun yang lalu, sedangkan setiap orang konon adalah reinkarnasi dari orang yang dahulu hidup, sekarang saya jawab: Oleh karena penduduk yang sekarang bereinkarnasi itu bukan saja mereka yang hidup pada waktu dua ribu tahun yang lalu, melainkan juga orang-orang yang hidup pada masa Nabi Nuh a.s. dan dalam kurun-kurun waktu sebelum itu, yaitu ketika penduduk dunia lebih besar jumlahnya daripada jumlah penduduk dunia sekarang. Umat manusia yang sekarang hidup di dunia ini hanyalah sebagian dari umat manusia yang hidup berpuluh-puluh ribu tahun yang lalu di bumi. Sekianlah jawaban saya terhadap sanggahan kedua.

Sanggahan ketiga Dalam buku Hidup Setelah Mati, karangan Bapak H. Bey Arifin, yang pernah saya sebutsebut dalam Bab III buku ini, terdapat suatu sanggahan keras terhadap reinkarnasi. Mungkin anda pernah membacanya dan anda menerimanya sebagai kebenaran mutlak. Oleh karena itu, saya menganggap perlu untuk membahasnya, sekedar agar anda maklum alasan-alasan apa yang menyebabkan saya tidak sependapat dengan penulisnya. Dan untuk menghindarkan penyampaian yang salah, saya kali ini pun akan mengutip tulisannya secara verbatim (kata demi kata):
Mengenai Reinkarnasi, yaitu perpindahan roh dari satu jasad ke jasad lain seperti yang diyakinkan oleh Phythagoras, Socrates, Plato, Thales, yang dianut oleh agama Hindu, Brahma, Budha, Kong Hu Tju dan yang diyakinkan pula oleh aliran Theosofi dan ahli-ahli Spiritism, tidaklah terdapat dalam ajaran agama Islam, malah bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Islam. Firman Allah dalam surah As-Sajdah 11 dan 12: “Katakanlah (hai Muhammad): Kamu akan diwafatkan oleh Malaikat-malaikat Maut yang ditugaskan untuk itu, kemudian itu kamu akan kembali kepada Tuhan kamu”. Jadi sesudah wafat, roh itu langsung kembali kepada Tuhan, tidak dipindahkan ke lain tubuh untuk hidup kembali di alam dunia ini. Ayat 12: “Dan alangkah hebatnya sekiranya engkau menyaksikan nanti orang yang durhaka itu menundukkan kepala mereka di hadapan Tuhan mereka sambil berkata (mengeluh): Ya Tuhan, kami sudah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia, niscaya kami akan mengerjakan amal kebaikan, sesungguhnya kami sekarang sudah yakin”. Setiap orang-orang jahat dan durhaka yang sudah mati, lalu melihat azab siksa yang disediakan bagi mereka, baru mereka yakin akan adanya kehidupan sesudah mati, dan ketika itu mereka bermohon kepada Tuhan agar kembali ke dunia untuk melakukan kebajikan-kebajikan. Hal itu kata Allah, tidaklah mungkin, sebab bila mereka dikembalikan ke dunia, pasti mereka akan berbuat jahat dan durhaka kembali. Sebab itu kepercayaan reinkarnasi itu adalah suatu yang tak mungkin sama sekali. Kalau begitu, tentu saja berarti memberi kesempatan bagi manusia untuk berulang-ulang berbuat kejahatan di dunia itu. Contohnya lihatlah penjahat-penjahat dan pencuri-pencuri kaliber besar yang sudah berulang-ulang dihukum, setelah keluar dari hukuman mereka kembali berbuat jahat yang lebih hebat lagi. Allah cukup pengalaman dalam soal ini. Pendapat tentang reinkarnasi berbahaya dan tak mungkin. Dalam surah Az-Zumar 58 dan 59 Allah tegaskan: “Jangan sampai ada yang mengeluh ketika melihat siksa dengan berkata: Alangkah baiknya sekiranya aku kembali hidup di dunia, maka aku pasti akan berbuat baik saja”. (Mendengar keluhan itu Tuhan berkata:) “Tidak mungkin engkau akan dikembalikan hidup ke dunia, sebab selama hidup di dunia sudah sampai kepadamu ayat-ayatKu, lalu engkau mendustakannya, engkau menyombong dan engkau tetap menolaknya”. Jadi tidaklah mungkin hidup akan berulang 2 kali di dunia ini. Apalagi sampai 3, 4, 5 kali atau lebih. Tidak akan ada gunanya sekalipun sampai 1000 kali, namun orang-orang jahat akan tetap jahat, orang-orang kafir akan tetap kafir, orang-orang munafik akan tetap munafik. Bahkan mungkin akan semakin jahat, semakin kafir, semakin munafik, semakin sombong. Kepercayaan tentang reinkarnasi adalah kepercayaan yang merusak. Firman Allah surah An-Naml ayat 66: “Bahkan sudah rusak pengetahuan mereka tentang akhirat, bahkan mereka dalam keragu-raguan mengenai akhirat itu, bahkan mereka buta sama sekali tentang akhirat itu”. Ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang yang mempercayai reinkarnasi, kepercayaan yang rusak, atau buta sama sekali tentang kehidupan akhirat yang sebenarnya.

Sekianlah apa yang dikemukakan Bapak Penulis sebagai sanggahan terhadap paham reinkarnasi. Di bawah ini akan saya sajikan komentar saya mengenai tulisan itu. I. Perihal kalimat “Reinkarnasi . . . tidaklah terdapat dalam ajaran agama Islam, malah bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Islam”.

Hal itu memang benar jika dimaksudkan dengan “Islam” itu para penganutnya. Memang benar mereka belum pernah mengajarkan paham reinkarnasi atau diajari oleh para alim ulama mereka tentang paham itu. Tetapi sebagaimana telah anda lihat sendiri dari uraian saya dalam Bab III dan V, Al-Quran, selaku sumber utama ajaran-ajaran agama Islam, penuh dengan ayat yang menunjukkan gagasan reinkarnasi, yang dinyatakan baik secara jelas dan terang maupun secara samar-samar, terselubung, atau tak langsung (asal saja kita tidak membelok-belokkan artinya). Adapun yang menyebabkan orang-orang tidak mampu memahami makna yang sebenarnya dari ayat-ayat Al-Quran yang bersangkutan, mungkin - ketidaksempurnaan atau keterbatasan akal pikiran manusia, konservatisme, tradisionalisme, kecenderungan ingin “eksklusif” atau ingin lain daripada yang lain (karena paham yang bersangkutan telah menjadi ajaran pokok agama-agama lain), atau kepatuhan yang tidak pada tempatnya (taklid), sehingga mereka tidak berani menyimpang dari apa yang telah diajarkan secara turun-temurun. II. Perihal kalimat “Jadi sesudah wafat, roh itu langsung kembali kepada Tuhan, tidak dipindahkan ke lain tubuh untuk hidup kembali di alam dunia”.

Perkataan “kembali kepada Tuhan” memang banyak sekali terdapat dalam Al-Quran, tetapi saya rasa anda setuju bila saya katakan bahwa setelah mati itu kita tidak langsung datang kepada Tuhan dan bersatu dengan-Nya. Janganlah kita menganggap diri sedemikian sucinya sehingga kita akan langsung dapat bersatu dengan-Nya setelah kita mati. Perkataan “kembali kepada Tuhan”, janganlah kita tafsirkan secara harfiah, sebab, untuk dapat bersatu dengan Tuhan, kita pertama-tama harus benar-benar suci sempurna, bebas dari segala utang karma dan kotoran jiwa. Kalimat “Karena itu, janganlah kamu menganggap dirimu suci” dalam ayat Q. 53:32 merupakan bukti kuat dari ketidaksempurnaan diri kita itu. Seperti telah diterangkan dalam Bab II, ciri khas Al-Quran ialah bahwa kalimat-kalimatnya umumnya sangat padat dan sering kali terpisah-pisah: bagian-bagian kisah atau ajarannya acapkali diloncati, seolah-olah tidak lengkap dan tidak berhubungan satu sama lain. Marilah kita ambil sebagai contoh ayat Q. 32:11:

Katakanlah: Malaikat maut yang mengurusmu akan mematikanmu; kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan. Banyak peristiwa harus terjadi di antara saat kematian seseorang dan saat kembalinya kepada Tuhan (jika diambil arti harfiahnya, yaitu “bersatu dengan-Nya”). Ringkasnya, peristiwa-peristiwa itu adalah sebagai berikut: Tubuh fisik dikebumikan; ruh dalam badan astralnya bangkit dan hidup di alam astral; kemudian, bila telah mencapai kemajuan rohani, ia memasuki alam yang lebih halus atau apa yang dinamakan alam surga, dan bila tidak mempunyai utang karma lagi atau tidak perlu dilahirkan kembali ke dunia, ia melanjutkan perjalanannya melalui pelbagai tingkat kesadaran yang lebih tinggi, dan akhirnya bersatu dengan Khaliknya dalam kebahagiaan yang kekal dan abadi. Tetapi, bila kemajuan spiritualnya belum cukup untuk perjalanan demikian dan ia masih mempunyai utang karma, maka ia dilahirkan kembali ke dunia. Proses demikian berulang-ulang,

hingga pada suatu saat ia mencapai suatu tingkat kesempurnaan rohaniah di mana ia tak perlu dilahirkan kembali, tetapi, setelah melalui pelbagai tahap atau alam kehidupan lain, benar-benar kembali kepada Tuhan dan bersatu dengan-Nya. Sebaliknya, jika dalam hidup fisiknya orang itu berbuat banyak kesalahan, maka ruhnya setelah mati, akan mendapatkan dirinya dalam “neraka”, dan setelah mengalami penderitaan mental dan batin karena kesalahan-kesalahannya itu, dan bertaubat, ia akan pindah ke alam kesadaran yang lebih baik di alam astral, dan kemudian, ke alam-alam lain yang lebih halus atau tinggi, untuk akhirnya dilahirkan kembali ke dunia fisik. Kemudian ia mati lagi, badan fisiknya dikuburkan, badan astralnya bangkit dan hidup di alam astral, kemudian di alam mental atau surga, dilahirkan kembali ke dunia, mendewasa, mati lagi, dan seterusnya, mengikuti siklus hidup dan mati yang berulang-ulang, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat Q. 3:27, Q. 10:32, dan Q. 30:19; sampai pada suatu saat ia tidak perlu dilahirkan kembali secara fisik, tetapi melalui pelbagai tingkat perkembangan spiritual, melanjutkan perjalanan kembalinya kepada Al-Khalik dan akhirnya bersatu dengan-Nya. Dengan demikian, gagasan hidup-sekali-saja sebenarnya hanya merupakan hasil pemikiran manusia, dan sama sekali bertentangan dengan ajaran yang diberikan Allah s.w.t. melalui Nabi Muhammad s.a.w. dan Al-Quran. Dan marilah kita berpikir lebih lanjut secara pragmatis. Seperti telah saya persoalkan di muka, apakah mungkin ruh manusia yang belum mencapai kesucian sempurna langsung kembali kepada Tuhan dan bersatu dengan-Nya? Berapa ratus kali telah kita ucapkan perkataan “kepada Tuhan kita akan kembali” secara rutin tanpa menyadari apa artinya yang sebenarnya dan apa implikasinya! Tak pernah terpikirkan oleh kita bahwa sebelum dapat kembali dan bersatu dengan Tuhan (dalam arti harfiah) kita harus mencapai kesempurnaan rohani dahulu! Karena itu, amatlah bijak jika kita menafsirkan perkataan “kembali kepada Tuhan” sebagai kiasan yang berarti “kembali ke alam gaib” (di mana Tuhan pun berada, karena Ia hadir di manamana, meliputi segala sesuatu). Karena menurut teori reinkarnasi, ruh kita benar-benar datang dari alam gaib, dan ke alam gaiblah kita akan kembali setelah kita mati (meskipun tingkat alamnya masing-masing mungkin berlainan), sedangkan badan fisik kita ditinggalkan di alam fisik untuk akhirnya hancur menjadi tanah kembali. Ruhlah yang bereinkarnasi atau menjelma kembali dalam badan fisik. Ruhlah yang bersifat kekal dan abadi itu. III. Perihal pendapat bahwa orang-orang jahat akan tetap menjadi orang jahat. Penulis risalah yang bersangkutan berpendapat bahwa semua permohonan ruh yang telah meninggal agar dikembalikan ke dunia pasti akan ditolak Tuhan. Agaknya beliau mendasarkan pendapatnya kepada asumsi bahwa orang-orang jahat tidak mungkin memperbaiki dirinya. Saya pribadi tidak begitu pesimistis untuk mengakui pendapat demikian. Manusia jahat tidaklah sejahat yang dinyatakan di atas. Selalu mungkin baginya - jika perlu, setelah dihukum berulang-ulang untuk menaubati perbuatan-perbuatan jahatnya, mohon diampuni dan dikembalikan ke dunia (melalui proses kelahiran tentunya), dan berjanji bahwa kali ini ia akan hidup baik. Keinginan kembali ke dunia tercermin antara lain dari ayat Q. 32:12, yang berbunyi, “Karena itu, kirimkanlah kami kembali! Kami akan berbuat baik. Sekarang kami yakin.” Tuhan Yang Maha Kuasa pasti tidak akan membiarkan makhluk-Nya yang telah insaf dan bertaubat untuk tinggal selama-lamanya dalam neraka. Ia terlalu bermurah hati untuk berbuat kejam demikian. Keyakinan ini saya dasarkan kepada ayat Q. 39:53, yang berbunyi.

Hai, hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri sendiri! Janganlah kamu berputus asa atas rahmat Allah, Yang akan mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan juga ayat Q. 3:88-89.

88. Mereka menetap di dalamnya (dalam neraka). Tidak akan diringankan baginya siksaan, dan tidak pula mereka ditangguhkan (siksaannya). 89. Kecuali mereka yang KEMUDIAN bertaubat dan berbuat baik. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dari ayat Q. 3:89 di atas - terutama perhatikanlah kata “kemudian” - kita dapat menarik kesimpulan bahwa di neraka sekalipun ruh seseorang yang jahat dapat bertaubat dan berbuat baik, dan karena itu akhirnya diampuni Allah s.w.t. Karena Tuhan Maha Pendengar, Penuh Kasih Sayang, dan Maha Adil. Allah s.w.t. tidak akan menutup mata dan telinga terhadap jeritan hati ruhruh yang telah bertaubat dan menginsafi kesalahannya, sekalipun mereka berada di dalam neraka. Untuk itulah agaknya apa yang kita namakan neraka diciptakan oleh Tuhan, yaitu alam tempat penyembuhan ruh-ruh yang sakit rohaninya. Berfirmanlah Allah s.w.t. dalam ayat Q. 2: 186: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (maka jawablah bahwa) Aku amat dekat. Aku membalas permohonan orang yang meminta apabila ia meminta kepada-Ku. Maka hendaklah mereka mendengarkan panggilan-Ku, agar mereka selalu dipimpin dalam kebenaran. Ketentuan ayat di atas bukan saja berlaku terhadap orang-orang yang masih hidup, melainkan juga terhadap ruh-ruh yang telah meninggalkan badan fisiknya. Bahkan mungkin sekali bagi ruhruh di alam gaib, permohonan ampunan demikian jauh lebih efektif daripada bagi kita yang masih hidup di dunia, karena mereka dalam keadaan rohaniah, tidak dirintangi oleh pembatasanpembatasan fisik. Mereka seolah-olah langsung berada di bawah pengawasan-Nya. Allah s.w.t. pasti akan mengampuni dan menolong mereka. Ia tidak akan mengingkari janji-Nya dalam ayat Q. 39:53 tadi, yaitu yang menyatakan bahwa Ia akan mengampuni segala dosa. Ia tidak akan jemujemu memberi kesempatan kepada para makhluk-Nya untuk memperbaiki diri di bumi sebagai tempat ujian - jika perlu, beratus-ratus kali - sehingga akhirnya mereka dapat mencapai tingkat kemajuan spiritual yang memungkinkan mereka tidak perlu dilahirkan kembali ke dunia, tetapi terus-menerus hidup “di sisi-Nya”. Sebab, betapa pun jahatnya seseorang, jauh di lubuk hatinya, tersisa sebahagian Ruh Tuhan, percikan-api Ilahi, yang menerangi batin manusia - meskipun kadang-kadang percikan-api itu memang kecil nampaknya. Bahagian Ruh Tuhan itu sadar akan eksistensinya; dan intuisinya membuat manusia sadar akan apa yang baik dan apa yang buruk. Hanya oleh karena pengaruh-pengaruh yang datang dari luarlah - akumulasi karma-karma buruknya dan/atau kotoran-kotoran yang menodai kesadaran aslinya - maka kesadaran Ilahi demikian, tidak begitu nampak pada beberapa orang yang masih berdarah daging. Dan apabila sekarang, di dunia, orang demikian tidak sadar akan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, maka di alam gaib atau di akhirat kelak. ia pasti akan menyadari kekeliruannya. Sebab, seperti telah saya katakan tadi, bagaimana pun, dalam hati sanubari kita - termasuk sanubari para ateis - ada sebahagian Ruh Tuhan yang cepat atau lambat akan bekerja kembali sepenuhnya, yaitu di alam akhirat, di mana “selubung kita akan disingkapkan dan penglihatan kita akan menjadi tajam” (Q. 50:22). Adanya sebagian Ruh Tuhan dalam setiap manusia itu disebut-sebut dalam ayat Q. 32:8-9:

8. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sedikit cairan hina (mani); 9. Kemudian Ia membentuknya dan meniupkan ke dalamnya sebahagian dari Ruh-Nya, dan Ia jadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur. Jiwa atau bagian Ruh Tuhan itulah yang kelak akan bertaubat dan diberi ampunan oleh Tuhan berupa kesempatan dilahirkan kembali secara fisik ke dunia untuk menempuh ujian hidup yang lain. IV. Perihal penolakan Tuhan terhadap permohonan ruh-ruh untuk kembali ke dunia.

Adapun kalimat “Kamu tidak mungkin dikembalikan ke dunia” yang konon terdapat dalam ayat Q. 39:59 menurut terjemahan Bapak Penulis risalah, saya merasa berkewajiban untuk menyatakan bahwa terjemahan demikian tidak benar. Terpaksa saya nyatakan hal itu secara blakblakan, demi kemurnian Al-Quran yang kita cintai. Terjemahan demikian hanya merupakan, pengada-adaan saja. Dalam teks aslinya (yang berbahasa Arab), sama sekali tidak terdapat kalimat atau perkataan yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berbunyi “Kamu tidak mungkin dikembalikan ke dunia.” Itu hanyalah suatu konotasi atau tafsiran pribadi yang sebenarnya tidak boleh dimasukkan ke dalam suatu terjemahan tanpa tanda kurung. Menurut hemat saya, ayat Q. 39:58-59 itu harus ditafsirkan sebagai berikut. (Ketika dirasakan akan mengalami siksaan di alam akhirat, ruh yang berdosa itu mohon kepada Tuhan agar ia diberi kesempatan lagi untuk kembali ke dunia untuk menebus dosadosanya yang lampau. Tetapi Tuhan seakan-akan berfirman:) Tidak (Tidak sekarang. Kau harus menghabiskan dahulu masa di akhirat yang telah Kutentukan bagimu. [Kalimat wa ‘ajalum musamman ‘indahuu dalam ayat Q. 6:21. Untuk sementara kau harus menderita dahulu karena dosa-dosamu]. Ketika kamu masih hidup (di dunia), telah Aku peringatkan kamu; tetapi kamu mengingkari peringatan-Ku. Kamu mencemoohkan dan mengingkarinya. (Setelah kamu insaf dan bertaubat dan menyelesaikan hukuman, baru akan Kukabulkan permintaanmu). Jadi, menurut hemat saya, ayat Q. 39:59 tadi bukan merupakan penolakan yang final terhadap permohonan seorang ruh agar dikembalikan ke dunia, melainkan suatu penolakan sementara. Yang berarti, bahwa setiap ruh orang yang meninggal harus terlebih dahulu menghabiskan masa di akhirat yang telah ditentukan Tuhan untuk menyadari kesalahan-kesalahannya, bertaubat, merenungkan perbuatan-perbuatannya pada masa yang lalu, dan berbuat baik. Setelah itu, barulah ia akan diberi kesempatan lahir kembali ke dunia untuk menebus utang-utang karmanya. Kita hendaknya selalu berpikir bahwa Tuhan itu Maha Pemurah, Maha Pengampun. Ia mendengarkan jeritan ruh-ruh yang bertaubat, dan tidak akan bosan-bosan memberi kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki diri melalui ujian-ujian dan cobaan-cobaan di dunia. Anggapan bahwa orang jahat dan orang kafir akan tinggal di neraka jahanam untuk selama-lamanya bertentangan dengan ucapan-ucapan mengenai kemahapengampunan Allah s.w.t. Dan juga tidak sesuai dengan firman-Nya sendiri dalam ayat Q. 39:53 yang berbunyi: Janganlah kamu berputus asa atas Rahmat Allah, yang akan mengampuni SEGALA DOSA. Sanggahan keempat Amatlah ironis bahwa sanggahan terhadap reinkarnasi yang paling sering diajukan oleh para penyanggah ialah sebagai berikut: “Jika benar ajaran reinkarnasi itu terkandung dalam Islam, mengapa hal itu tidak pernah disebut-sebut dalam Al-Quran?” Menjawab pertanyaan itu, ingin saya nyatakan di sini bahwa ajaran atau gagasan reinkarnasi sebenarnya terdapat dalam Al-Quran, asal saja kita membaca ayat-ayat yang bersangkutan dengan pengertian kritis dan cukup berani untuk melepaskan diri dari kungkungan pengaruh tradisi dan taklid, dan, sebagai gantinya, mendayagunakan akal pikiran sendiri secara jujur dan ikhlas.

Menolak sesuatu hanya oleh karena istilah yang bersangkutan - dalam hal ini istilah Arab yang bermakna “reinkarnasi” - tidak terdapat dalam Al-Quran, atau oleh karena para ulama kita belum pernah mengajarkan hal demikian, menurut hemat saya, tidaklah tepat. Apakah kita harus menolak sebagai kenyataan adanya misalnya “listrik”, “positif”, “negatif”, “energi nuklir” , “radio”, “televisi”, “kapal terbang”, “galaksi”, “hipnotisme”, “fusi dan fissi atom”, “psikiatri”, “metafisika”, dan lain-lain, hanya oleh karena kita tidak menemukan istilah-istilah itu secara jelas dalam Al-Quran? Saya rasa tidak. Istilah “reinkarnasi” -.dalam bahasa Arab konon tanaasukh ( ) atau audah tajassudi

( ) memang tidak terdapat dalam Al-Quran. Tetapi itu disebabkan oleh karena Kitab Suci kita itu jarang menyebutkan sesuatu dengan namanya secara langsung dan lebih banyak memakai metode yang deskriptif, di samping singkatnya, dan padatnya gaya penuturannya. Al-Quran - sebagaimana juga halnya dengan Kitab-Kitab Suci lainnya, bahwa kitab-kitab kuno seperti misalnya, surat ramalan Joyoboyo, bahkan juga hadits-hadits - acap kali mengajarkan segala sesuatu dalam kata-kata yang terselubung. Selain itu, dalam sejarah, manusia agaknya selalu mempergunakan perbendaharaan kata yang berlaku pada zamannya. Untuk menjelaskan dan memperkuat pernyataan saya ini, marilah kita mengambil sebagai contoh ayat Q. 4:23: Dilarang bagimu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu perempuan, saudara-saudara perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan daripada saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan daripada saudara-saudaramu yang perempuan.. . . dan ayat Q. 20:94: Katanya (Harun kepada Musa): Hai, putera ibuku! Janganlah kau pegang janggutku maupun kepalaku! Mengapa Al-Quran memakai perkataan “saudara-saudara bapakmu yang perempuan”, “saudara-saudara ibumu yang perempuan”, “anak-anak perempuan daripada saudara-saudaramu yang laki-laki”, “anak-anak perempuan daripada saudara-saudaramu yang perempuan”, dan “putera ibuku”, padahal Tuhan sebenarnya dapat menggunakan kata-kata yang lebih sederhana, seperti misalnya kata “bibi-bibi”, “kemanakan-kemanakan perempuan”, dan “kakak” atau “adik” sebagai penggantinya? Jawab saya: Karena demikianlah gaya bahasa Al-Quran. Kita harus menerima sebagaimana adanya. Itulah salah satu cara Tuhan menyebarluaskan ajaran-ajaran-Nya dalam Kitab-Kitab Suci. Marilah kita ambil contoh lain, ayat Q. 54:9-14: 9. Sebelum mereka, kaum Nuh mendustakan (nabinya), ya, mereka mendustakan hamba Kami, dan berkata: “Orang gila”. Dan ia pun diusir. 10. Maka ia pun berseru kepada Tuhannya, sambil berkata. “Aku dikalahkan, tolonglah aku!” 11. Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air mencurah. 12. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air, sehingga air itu bertemu untuk maksud yang telah ditentukan lebih dahulu. 13. Dan Kami mengangkutnya di atas benda yang terbuat dari papan-papan dan paku-paku, 14. Yang berjalan dalam pemandangan Kami, sebagai pahala bagi orang yang ditentang itu. Kita dapat mengerti bahwa dengan kalimat “Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air mencurah” Allah s.w.t. maksudkan “Kami curahkan hujan amat besar”. Kita dapat pula mengerti bahwa dengan “Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air” Ia maksudkan “Dan Kami menaikkan permukaan air laut”; dan dengan “benda yang terbuat dari papan-papan dan paku-paku”, Ia maksudkan perahu atau bahtera.

Mengapa Tuhan mempergunakan ucapan-ucapan aneh dan simplistis demikian, sedangkan sebenarnya Ia dapat mempergunakan istilah-istilah yang lebih jelas dan sederhana? Jawab saya sekali lagi: “Karena itulah gaya bahasa Al-Quran.” Sudah barang tentu saya dapat keliru, tetapi saya cenderung mengira bahwa Tuhan sengaja membuat ayat-ayat-Nya secara berlebih-lebihan sederhana dan bersifat teka-teki itu, karena Ia ingin menguji akal pikiran kita. Dengan berbuat demikian, Tuhan ingin agar manusia, selaku khalifahNya di bumi, jangan berpikir secara statis, tetapi melatih dan mendayagunakan akal pikiran secara kreatif dinamis dalam mentakwilkan ayat-ayatNya. Dari penjelasan di atas, anda dapat mengerti mengapa Al-Quran tidak menggunakan istilahistilah seperti misalnya “reinkarnasi” atau “kelahiran-kembali” atau “tumimbal lahir”, tetapi, sebagai penggantinya, mempergunakan kata-kata Arab yang bermakna “dikeluarkan lagi”, “dikeluarkan untuk kedua kalinya”, “dihidupkan lagi”, “diciptakan kembali”, dan ucapan-ucapan lain yang senada. Meskipun, demikian, sebagaimana dapat diakui oleh hati nurani yang murni, perkataan itu semuanya menunjuk kepada suatu makna gagasan yang sama, yaitu kelahiran kembali atau apa yang disebut orang zaman sekarang “reinkarnasi”. Sanggahan kelima Sanggahan itu berbunyi: Tidak ada hadits yang mengajarkan adanya reinkarnasi. Terus terang saja, para pembaca yang budiman, pengetahuan saya mengenai hadits-hadits tidak begitu mendalam. Bagi saya pribadi, untuk memperoleh keyakinan tentang adanya ajaran reinkarnasi dalam Islam, Al-Quran saja sudahlah cukup. Ayat-ayatnya mengenai itu bagi saya demikian jelasnya dan demikian saling memperkuatnya, sehingga kemudian hadits-hadits, dalam usaha saya meyakini ajaran reinkarnasi, tidak begitu mendalam lagi saya pelajari. Ayat-ayat Al-Quran saya anggap lebih tinggi derajatnya dari pada hadits mana pun. Menurut hemat saya, seandainya ada suatu hadits yang isinya bertentangan dengan ayat Al-Quran, seharusnya kita menolaknya sebagai hadits lemah atau palsu, bukan menganggapnya sebagai penjelasan atau pembetulan. Bahwasanya para ulama sekarang belum pernah menemukan hadits yang membenarkan paham reinkarnasi, bagi saya tidaklah mengherankan. Sebab sekalipun dalam Al-Quran, seperti anda lihat sendiri dari uraian-uraian saya sebelum ini, terdapat berpuluh-puluh ayat mengenai itu, banyak orang yang fasih berbahasa Arab tidak berhasil menyadarinya sendiri. Dan bahwasanya dalam hadits sekarang belum pernah ditemukan ajaran reinkarnasi, bukanlah suatu bukti bahwa Nabi Muhammad s.a.w. tidak pernah menyinggungnya. Sebab, tahukah para pembaca yang budiman, bahwa pada mulanya, yaitu dua ratus tahun lebih sesudah Nabi Muhammad wafat, konon telah dikumpulkan lebih dari 600.000 “calon” hadits, dan setelah disaring, tinggal 20.000; dan setelah disaring lagi dan dibukukan, tinggal hanya beberapa ribu buah saja? Di antara hadits-hadits yang dibukukan itu, ada yang disebut hadits kuat, dan ada pula yang disebut hadits lemah; ada yang disebut hadits mauquf (hadits yang riwayatnya sampai kepada para sahabat saja) dan hadits mutawattir (hadits yang yakin); dan ada pula hadits yang disebut hadits qudsi (hadits firman Ilahi). Siapa yang menjamin bahwa di antara hadits-hadits yang dibuang ke dalam karung sampah sebagai hadits bohong itu tidak ada hadits yang sebenarnya kuat atau mutawattir? Dan tidakkah mungkin bahwa satu hadits yang dianggap sahih atau mutawattir oleh segolongan fakih dianggap oleh golongan fakih lain sebagai hadits lemah atau palsu? Dan siapa yang menjamin bahwa di antara hadits-hadits yang diapkir sebagai hadits palsu atau bohong itu tidak ada yang sebenarnya sahih dan memuat ajaran reinkarnasi?

Pemilihan hadits mana yang kuat, dan hadits mana yang lemah banyak bergantung kepada selera para pemilihnya! Rowi dan sanad tidaklah merupakan jaminan bahwa calon-calon hadits yang diajukan sebagai sabda atau perbuatan Nabi Muhammad s.a.w. itu sama dengan perkataan yang benar-benar diucapkan oleh beliau atau sesuai dengan perbuatan beliau. Ada lagi suatu hal yang menurut saya, selaku seorang Muslim yang ingin patuh kepada ajaran agamanya, amatlah penting. Dalam Muqaddimah Al-Quran dan Terjemahnya yang diterbitkan oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an dan direstui oleh Departemen Agama Republik Indonesia, halaman 114 dalam buku terjemahan format kecil atau halaman 127 dalam buku terjemahan format besar, disebutkan bahwa berkali-kali Nabi Muhammad s.a.w. memperingatkan para sahabatnya agar jangan mencatat ucapan-ucapannya selain apa yang diwahyukan Allah s.a.w. kepadanya. Hadits itu berbunyi sebagai berikut: Bersabda Rasulullah s.a.w.: “Janganlah kamu tuliskan ucapan-ucapanku! Siapa yang menuliskan ucapanku selain Al-Quran, hendaklah menghapuskannya; dan kamu boleh meriwayatkan perkataan-perkataan ini. Siapa yang dengan sengaja berdusta terhadapku, maka tempatnya adalah neraka. “ Isi hadits itu amat jelas. Begitu keras larangan Nabi Muhammad s.a.w. itu, sehingga beliau mengancam para pelanggarnya dengan hukuman neraka. Tetapi apa yang diperbuat oleh para ulama Tabiin setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat? Dengan dalih melestarikan ajaran-ajaran Nabi (Sunnah Rasul), mereka minta orang-orang yang merasa memiliki catatan mengenai ucapan-ucapan Nabi Muhammad s.a.w. agar menyampaikannya kepada panitia pengumpul hadits. Hasilnya di luar dugaan. Seperti telah saya katakan tadi, konon lebih dari 600.000 buah calon hadits masuk. Maksud para pemrakarsa dan anggota panitia pengumpul hadits itu memang amat baik dan mulia, yaitu untuk melestarikan ajaran dan catatan mengenai ucapan dan perbuatan Nabi s.a.w. Tetapi apakah mereka tidak sadar bahwa dengan demikian, mereka, pada hakekatnya, menentang perintah Nabi Muhammad s.a.w. Apa pun dalih mereka! Perintah Nabi amat jelas dan tegas. Dalam hubungan itu, ada baiknya bilamana saya kutip juga ayat Q. 59: 7, yang bunyi:

... Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah, dan apa yang dilarang atasmu, tinggalkanlah! ... dan ayat Q. 4:59:

… Taatilah Allah dan taatilah Rasul … agar para pembaca yang budiman lebih maklum akan kenyataan sebenarnya; agar kita menyadari kesalahan-kesalahan kita dan berani mengakuinya. Agaknya Nabi Muhammad s.a.w., dengan mengeluarkan larangan yang berulang-ulang itu, tidak menginginkan bahwa di samping ayat-ayat Ilahi yang diwahyukan kepadanya oleh Allah s.w.t. melalui Jibril, ada lagi kumpulan ucapannya yang tidak resmi. Mungkin sekali beliau khawatir bahwa, jika ucapan-ucapan pribadinya (ucapan-ucapan di luar wahyu Ilahi) dibukukan, akan timbal hal-hal yang tidak diinginkan, seperti misalnya:

(1) Kesimpulan ajaran tambahan tak resmi itu akan merupakan beban yang terlalu berat bagi para penganutnya. Lagi pula, semua ajaran yang diperlukan sebenarnya sudah tercakup dalam Al-Quran. (2) Akan terjadi perselisihan di kalangan umat Islam dalam penilaian ucapan-ucapan mana yang harus dianggap sahih atau kuat dan mana yang tidak. (3) Akan timbal golongan-golongan yang masing-masing berpegang kepada ucapan-ucapan beliau yang bertentangan rata lama lain (karena diberikan dalam situasi yang berlainan) atau yang mereka jadikan bahan pertentangan. (4) Di antara perkataan-perkataan yang bukan kalam Ilahi itu ada yang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya diucapkan beliau, karena salah dengar, salah tangkap, atau dibelokkan artinya (sengaja atau tak sengaja). (5) Akan menyelusup ajaran-ajaran yang sengaja dipalsukan oleh golongan yang tidak menyukai Islam. (6) Dan hal-hal lain yang dapat merusak citra agama Islam. Semua kekhawatiran Nabi Muhammad s.a.w. itu menjadi kenyataan. Bermacam-macam madzhab, firqah, dan sub-firqah bermunculan, sebagian besar sebagai akibat dari dilanggarnya larangan Nabi Muhammad s.a.w. (Ingat akan pertentangan antara Syi’ah dan Sunni?); sebagai akibat dari banyaknya ajaran Nabi Muhammad s.a.w. Yang tak resmi, yang dianggap sahih oleh sebagian fakih tetapi dianggap lemah oleh sebagian fakih lainnya. Di beberapa tempat, agama Islam menjadi diliputi oleh kabut ketakhayulan, ketaklidan, bid’ah-bid’ah, anti-rasionalisme, dan lain-lain. Hadits-hadits lebih “laku” daripada ayat-ayat Al-Quran: Hal itu menyebabkan orang laps bahwa pokok ajaran Islam itu sebenarnya ayat-ayat Al-Quran, dan bukan ucapan-ucapan Nabi yang tidak resmi dan sementara itu mungkin telah berubah isi dan maksudnya, karena disesuaikan dengan kepentingan atau konsepsi golongan masing-masing. Sekarang pun masih ada golongan-golongan yang menamakan diri fundamentalis Islam yang konon berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnah Nabi, tetapi dalam banyak hal keagamaan mempertahankan pendiriannya masing-masing, sesuai dengan hadits-hadits yang mereka anggap sahih, tetapi dianggap tidak sahih oleh pihak lainnya. Jika dalam ayat Q. 15:9 Allah s.w.t. menjamin kemurnian ayat-ayat Al-Quran sepanjang masa, tidaklah demikian halnya dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad s.a.w. yang di luar Al-Quran. Bahkan, seperti telah saya katakan di muka, Nabi Muhammad sendiri melarangnya dituliskan! Agaknya oleh karena para fakih kita terlalu banyak berpegang kepada hadits-hadits - yang belum tentu sahihnya, meskipun oleh yang berkepentingan dengan sungguh-sungguh dinyatakan kuat dan sahih - maka Tuhan Yang Maha Tahu berfirman dalam ayat Q. 25:30 sebagai ramalan:

Ya, Tuhanku! Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang tidak diacuhkan dan dalam ayat Q. 18:54:

Telah Kami jelaskan kepada manusia dalam Quran ini segala permisalan, tetapi manusia dalam banyak hal suka membantah.

Jika Nabi Muhammad s.a.w. melarang demikian kerasnya pencatatan ucapan-ucapannya yang di luar Al-Quran - yang sekarang telah terlanjur beredar sebagai hadits-hadits atau apa yang dinamakan Sunnah Nabi - lalu apa sebenarnya yang harus dianggap sebagai Sunnah Rasul? mungkin anda bertanya. Selaku orang awam yang cinta akan Islam - meskipun tidak fanatik - saya sempat pula merenungkannya, dan akhirnya berkesimpulan, bahwa apa yang sekarang kita namakan Sunnah Rasul itu sebenarnya ayat-ayat Al-Quran sendiri. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Selama Nabi Muhammad s.a.w. hidup, orang dapat bertanya kepada beliau mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan ajaran-ajaran agama, dan beliau memberikan penjelasan seperlunya, sesuai dengan tingkat kecerdasan umat atau orang yang dihadapinya ketika itu. Akan tetapi, setelah beliau wafat, ayat-ayat Al-Quranlah yang harus dianggap sebagai tempat bertanya. Sebab ucapan-ucapan beliau lainnya yang tidak resmi, dengan tegas telah beliau larang dibukukan. “Janganlah kamu tuliskan ucapan-ucapanku! Siapa yang menuliskan ucapanku selain Al-Quran, hendaklah menghapusnya! . . .” sabda beliau. Dengan larangan keras itu, beliau menginginkan agar kita sadari bahwa Al-Quranlah yang harus kita patuhi dan yang dimaksudkan dengan “Allah dan Rasul” dalam ayat Q. 4:59 berikut ini:

Hai, orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan mereka yang berkuasa di antara kamu. Kemudian, bila kamu berselisih tentang sesuatu, hendaklah kamu mengembalikannya kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akhirnya. Demi kemurnian agama, dan untuk mencegah terjadinya penyelewengan-penyelewengan agama, Nabi Muhammad s.a.w. yang amat bijaksana itu dengan tegas menetapkan bahwa hanya ayat-ayat Al-Quranlah yang harus dianggap sebagai tempat bertanya mengenai agama Islam. Setahu saya, dalam Al-Quran tidak ada ayat sebuah pun yang menyatakan bahwa kita harus beriman atau berpedoman kepada hadits dalam pengertian yang sekarang kita berikan kepada istilah itu; dalam Al-Quran, kata Arab hadiitsu semuanya digunakan dalam arti berita atau perkabaran, bukan sebagai ucapan atau perbuatan Nabi Muhammad s.a.w. Saudara-saudara pembaca yang budiman, untuk kesekian kalinya telah saya “kejutkan” anda, kali ini dengan suatu “bid’ah” atau kelancangan yang saya lancarkan tadi. Meskipun demikian, saya ingin menghimbau agar anda sudi merenungkannya tanpa emosi dan jangan menuding saya menyelewengkan akidah dan kaidah Islam, sebab kesimpulan atau uraian di atas itu benar-benar saya dasarkan pada Al-Quran. “Taatilah Allah dan taatilah Rasul .... Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akhirnya,“ bunyi ayat Q. 4:59 tadi. Dan sekali lagi, “Janganlah tuliskan ucapanucapanku! Siapa yang menuliskan selain Al-Quran, hendaklah menghapuskannya!” sabda Nabi Muhammad s.a.w., jelas, tegas. Jika Nabi Muhammad s.a.w. dengan tegas melarang penulisan segala ucapannya di luar Al-Quran - kecuali ucapan mengenai larangan itu sendiri, sebagaimana ternyata dari ucapannya, “kamu boleh meriwayatkan perkataan-perkataan ini” - lalu apa sebenarnya yang dimaksudkannya sebagai sumber agama Islam kalau bukan Al-Quran sendiri, sebagaimana saya katakan di muka? Beberapa hadits yang sekarang beredar memang penting dalam membantu kita menafsirkan Al-Quran. Tetapi hadits yang dapat kita terima hendaknya hanya hadits yang tidak bertentangan dengan ayat-ayat Al-Quran muhkamaat, yang jelas artinya. Demikian pula hendaknya dengan apa

yang dinamakan Ilmu Tafsir. Hadits (meskipun konon sahih) dan tafsiran Ilmu Tafsir yang bertentangan dengan apa yang terkandung dalam Al-Quran, bukanlah penjelasan - seperti kadangkadang dikemukakan oleh para ahli agama - melainkan suatu pengingkaran halus, suatu usaha pembelokan makna ayat Al-Quran terselubung, suatu pengatasnamaan Islam yang tidak sah. Hadits bukanlah untuk mengubah atau membelokkan makna ayat Al-Quran, melainkan untuk memperkuatnya. Kita sekarang dihadapkan kepada suatu fait accompli (kenyataan yang mau tak mau harus kita terima) dan harus menerima kitab-kitab hadits sebagai kenyataan yang sulit ditarik kembali. Karena itu, selaku orang yang tidak suka mutlak-mutlakan, saya merasa berkewajiban untuk memberi jawaban atas pertanyaan para peragu mengenai ada tidaknya hadits yang menunjukkan paham reinkarnasi sebagai ajaran universal. Adalah wajar bila kita menduga bahwa para ulama Tabiin yang dahulu menugasi diri mengumpulkan hadits-hadits itu bertolak pada pikiran bahwa manusia hidup di dunia ini hanya satu kali saja. (Mungkin terpengaruh oleh orang-orang Nasrani yang ketika itu banyak terdapat di jazirah Arab? Seperti kita maklum, dalam tahun 553 Masehi - jadi kira-kira setengah abad sebelum munculnya agama Islam - Muktamar Gereja Kristen di Konstantinopel menetapkan bahwa ayat-ayat yang mengenai reinkarnasi harus dikeluarkan dari Kitab Injil.) Karena itu, adalah wajar pula bila para ulama itu menggolongkan calon-calon hadits yang membenarkan adanya reinkarnasi atau siklus hidup dan mati ke dalam kumpulan hadits palsu, dan menyingkirkannya sebagai hadits demikian, sehingga akhirnya kita tidak dapat menemukan lagi hadits sebuah pun yang secara jelas menyatakan doktrin itu. Tetapi meskipun demikian, secara kebetulan saya menemukan selembar buletin da’wah yang memuat hadits yang saya rasa dapat saya pergunakan sebagai sarana untuk memperkuat kebenaran reinkarnasi. Hadits yang saya maksud itu berbunyi sebagai berikut:

Do’a yang diajarkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.: “Ya Tuhan! Bangunkanlah bagiku agamaku yang menjadi pegangan segala urusanku; bangunkanlah duniaku yang menjadi tempat (pencaharianku) penghidupanku; bangunkanlah akhiratku yang menjadi tempat pulang bagiku; jadikanlah hidupku menjadi tambahan kekuatanku untuk segala amal kebaikan; dan jadikanlah kematianku untuk beristirahat dari segala kejahatan “. (Riwayat Muslim dari Abi Hurairah) Kiranya tidak dapat dibantah bahwa bagi kita, kaum Muslimin, doa di atas itu amat indah, amat mengesankan, dan menimbulkan rasa sejuk, damai, dan tawakkal dalam hati sanubari. Demikian pula bagi saya, yang dalam banyak hal berikhtilaf (berlainan paham) dengan para pencinta agama yang berpikir secara tradisional dan konvensional. Tetapi, di samping merasakan keindahan doa itu, ketika pertama kali saya membacanya, timbul pertanyaan dalam hati saya: “Apa yang dimaksudkan dengan ‘dan jadikanlah kematianku untuk beristirahat dari segala kejahatan’ itu? Mengapa Nabi dalam kalimat itu menggunakan kata ‘beristirahat’, dan bukan kata ‘berhenti’?” Sebagai orang yang percaya kepada reinkarnasi, pertanyaan itu dapat saya jawab seketika itu juga, yaitu: bahwa kematian itu, pada hakekatnya, hanyalah selingan di antara dua kehidupan fisik, sebagaimana kehidupan fisik adalah selingan di antara dua kematian atau kehidupan akhirat. Muhammad s.a.w., selaku nabi besar, mengetahui betul apa arti kematian itu, dan apa arti

kehidupan. Hidup di dunia adalah penjelmaan ruh dalam bentuk fisik. Selama manusia berbentuk fisik, diliputi darah dan daging, ia akan selalu diganggu, didorong, atau terpengaruhi oleh keinginan, nafsu, dan kebutuhan badan fisiknya, yang mungkin menjuruskannya ke arah yang bertentangan dengan moral dan kode etik. “Roh memang penurut, tetapi daging lemah”, dinyatakan dalam Kitab Injil, Matius 26-41. “The road to hell is paved with good intentions”, bunyi pepatah Inggris, yang artinya, “Jalan ke neraka bertabur dengan maksud-maksud baik”. Seorang pendeta Yesuit Indonesia yang amat jenaka pernah menulis, atau mengutip, “In every virgin is a whore screaming to come out; in every Saint Joseph is a Casanova screaming to come out”; yang, bila diterjemahkan secara harfiah - maaf - berarti, “Dalam diri setiap perawan ada seorang perempuan nakal yang berteriak ingin keluar; dalam diri setiap Santo Yusuf ada seorang Casanova yang berteriak ingin keluar”. (Giovanni Jacopo Casanova, 1725 - 1798, adalah seorang Itali yang kesohor karena petualangan-petualangan cintanya.) Al-Quran sendiri, dalam ayat Q. 19:70-71, menyatakan:

70. Dan Kami tahu benar orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalamnya (dalam neraka). 71. Dan tiada seorang pun di antara kamu yang tidak mendekatinya (mendekati neraka). Yang demikian itu adalah ketetapan Tuhanmu. Semuanya itu menunjukkan bahwa selama kita hidup, selama kita berbadan fisik, berdarah daging, kita akan selalu digoda oleh hawa nafsu dan keinginan untuk berbuat hal-hal yang kadangkadang berlawanan dengan kode etik, tidak peduli apakah kita pria atau wanita, lemah atau kuat badan, awam atau ahli agama, murid atau ustadz, orang biasa atau pastur, kiyai atau pemabok, imam atau ma’mum, tua atau muda. Kita semua cenderung berbuat salah. Hanya orang-orang yang kuat imannyalah yang dapat menolak godaan-godaan hidup secara mantap. Karena itulah, maka Nabi Muhammad s.a.w., dalam menyusun doa-doanya, selalu memilih kata-kata yang tepat dan sesuai dengan hukum alam. Maka dipakainya dalam doa yang saya kutip tadi kata “beristirahat” - yang berarti “berhenti untuk sementara” - karena beliau amat maklum bahwa, setelah mati dan kemudian hidup di alam akhirat, manusia pasti akan mengalami hidup fisik lagi, di mana secara pasti pula ia akan dihadapkan kepada pelbagai cobaan dan godaan yang mungkin sukar dilawannya. Dengan uraian di atas, dapat anda lihat bahwa hadits yang saya kutip tadi secara langsung “membuktikan” bahwa setelah hidup, kita akan mengalami kematian, dan setelah kematian atau “beristirahat dari segala kejahatan” itu, kita akan dilahirkan kembali ke dunia, di mana akan terulang lagi kemungkinan-kemungkinan kita berbuat dosa. Sanggahan keenam Sanggahan berikut ini sebenarnya bukan merupakan suatu sanggahan langsung, melainkan suatu nasihat sehubungan dengan kebukan-ulamaan atau keawaman saya di bidang agama. Dinasihatkan kepada saya agar dalam persoalan reinkarnasi ini saya ikuti saja pendapat para alim ulama, yang dalam hal-hal keagamaan dengan sendirinya lebih ahli daripada saya, seorang awam yang tidak pernah menikmati pendidikan tinggi keagamaan secara formal, dan tidak berbahasa Arab pula. Anjuran demikian agaknya, antara lain, didasarkan pada sebuah hadits, yang berbunyi:

Fa idzaa waqa’a al-ikhtillafu fa ‘alaika bis sawaadil a dhomi ma’al haqqi wa ahlihi, yang artinya, Maka sekiranya engkau berselisih pendapat, ikutilah golongan mayoritas yang berpijak kepada kebenaran dan terdiri dari ahlinya. Saya percaya hadits itu hadits sahih, karena seruan yang terkandung dalamnya sesuai dengan akal sehat, (meskipun ada ayat dalam Al-Quran, yaitu ayat Q. 6:116, yang berbunyi, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta”.) Dan saya pun pasti akan mengikuti pendapat golongan mayoritas itu, seandainya kedua syarat yang tertera dalam hadits itu saya yakini telah terpenuhi seluruhnya, yaitu (1) berpijak kepada kebenaran, dan (2) terdiri dari ahlinya. Bahwasanya para alim ulama (termasuk yang tak percaya akan adanya ayat-ayat mengenai reinkarnasi dan siklus hidup dan mati dalam Al-Quran) adalah ahli agama, sama sekali tidak saya ragukan. Tetapi, bahwa dalam menyangkal gagasan saya itu mereka berpijak kepada kebenaran maaf sebesar-besarnya atas kelancangan saya ini - itu soal lain. Sebab, menurut hemat saya, ada beberapa istilah Al-Quran yang mereka tafsirkan secara menyimpang dari artinya yang murni, bahkan secara tidak konsisten pula, seperti misalnya: (1) Kata “mati” dalam ayat Q. 2:28, yang berbunyi: Bagaimana kamu tidak beriman kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Ia menghidupkan kamu; kemudian Ia mematikan kamu; kemudian menghidupkan kamu (lagi); kemudian kepada-Nya kamu akan kembali, umumnya mereka artikan sebagai “tidak atau belum ada”, sebagai “segumpal darah”, atau sebagai “ketika dalam rahim”, padahal, secara normal, mati adalah keadaan setelah hidup, dan orang-orang mati adalah orang-orang yang sekarang berada atau hidup di alam baka atau akhirat. (2) Kata Arab ajalu dalam ayat Q. 6:2, yang sebenarnya berarti “masa” atau “waktu”, mereka terjemahkan dengan kata Indonesia “ajal” atau “kematian”, sehingga dengan tak sadar mereka menghapus ajaran Ilahi yang menyatakan bahwa selain masa waktu terbatas untuk tinggal di dunia, ada pula masa waktu terbatas untuk tinggal di “sisi Allah” atau akhirat. (3) Kata Arab qiyaamatu mereka artikan sebagai “akhir zaman”, “kebangkitan pada akhir zaman”, atau “kehancuran dunia kelak pada akhir zaman”, padahal artinya yang murni adalah “kebangkitan”, yaitu “kebangkitan ruh orang mati di akhirat (tak lama setelah kematian)”. (4) Kata-kata “diciptakan”, “dihidupkan”, dan “dikeluarkan” dalam pelbagai ayat Al-Quran semula mereka artikan sebagai “dilahirkan ke dunia”; tetapi, kemudian, setelah kata-kata itu ditambah dengan kata “lagi” atau “kembali”, mereka terjemahkan dengan, dan mereka tafsirkan sebagai, “dihidupkan kembali di akhirat”; padahal seharusnya secara jujur dan konsisten mereka terjemahkan dengan, dan mereka tafsirkan sebagai, “dilahirkan kembali ke dunia”. Bagi saya, amatlah sulit untuk menerima penyimpangan-penyimpangan demikian. Kejujuran, menurut hemat saya, dan saya yakin menurut hemat anda pun, harus kita junjung tinggi dan kita pegang teguh, bukan saja dalam soal-soal keuangan dan dalam pergaulan sehari-hari, melainkan juga dalam penafsiran ayat-ayat Al-Quran. Sebagus-bagus ayat Al-Quran, bilamana kata-katanya - karena kebodohan atau kesengajaan diartikan secara menyimpang dari pengertian biasa, maka ajaran yang terkandung dalamnya akan berubah pula maknanya; dan ajaran yang berubah maknanya itu bukan lagi merupakan ajaran Illahi, melainkan ajaran manusia yang keliru.

Dan bilamana ajaran keliru hasil reka-rekaan manusia itu diulangi terus-menerus, dipertahankan berabad-abad lamanya, seolah-olah ajaran itu ajaran yang berasal dari Al-Quran, maka tidaklah mengherankan jika akhirnya ajaran keliru itu dianggap sebagai Kebenaran atau akidah agama yang tidak boleh diganggu gugat. Dan sebaliknya, ajaran asli, yang sebenarnya terkandung dalam Al-Quran, akhirnya berubah pula menjadi suatu bid’ah yang menyesatkan di mata umat Islam. Dan saya khawatir, amat khawatir, bahwa itulah yang telah berlangsung di dunia Islam: Ajaran reinkarnasi, yang menurut hemat saya jelas terkandung dalam berpuluh-puluh ayat Al-Quran, sekarang diaksiomakan sebagai suatu Bid’ah yang harus dibuang jauh-jauh. Karena itulah, maka saya, seorang Muslim yang daif, memberanikan diri untuk mempertaruhkan dengan tulisan ini segala sesuatu yang ada pada diri saya, demi ditegakkannya kembali ajaran Ilahi yang di kalangan umat Islam nyaris musnah itu, yaitu ajaran reinkarnasi.

XI Sanggahan-sanggahan Pihak Resmi Terhadap Reinkarnasi
Sanggahan terhadap reinkarnasi yang saya terima dari Pihak Resmi c.q. Departemen Agama, antara lain, adalah berupa ayat Q. 23:99-100, yang dituliskannya sebagai: HATTA IDZA JA A AHADUHUMUL’LMAUTU QALA RABBI’ RJI’UN. LA’ALLI A’MALU SHALIHAN FIMA TARAKTU KALLA INNAHA KALIMATUN HUWA QAILUHA WAMIN WARAIHIM BARZAKHUN ILA YAUMI YUB’ATSUN, dan diterjemahkan olehnya sebagai berikut: Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu, hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia. Agar aku berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan“. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (Sanggahan dengan ayat di atas adalah hampir sama dengan sanggahan yang tercantum dalam buku Hidup Setelah Mati karangan Bapak Bey Arifin. Bedanya ialah Bapak Bey Arifin mengambil ayat Q. 32:12 sebagai alat penyanggah, sedangkan Pihak Resmi, ayat Q. 23:99-100. Sebenarnya ayat Q. 23:99-100 ini telah saya bahas dalam Bab VIII, tetapi karena pentingnya, tak ada salahnya jika saya bahas sekali lagi.) Sepintas lalu, ayat Q. 23:99-100 itu memang tegas-tegas menolak gagasan reinkarnasi. Tetapi, seperti telah beberapa kali saya katakan - dan yang sebenarnya juga adalah pendapat Pihak Resmi dan para alim ulama lainnya - dalam menarik suatu kesimpulan ajaran Islam, kita harus meneliti Al-Quran secara keseluruhan, bukan mendasarkan kepada hanya satu atau dua ayat yang kita sukai saja. Karena itu, bagi saya pribadi, jawaban negatif dalam ayat Q. 23:99-100 di atas bukanlah merupakan penolakan yang final, melainkan yang sementara. Jawaban “Sekali-kali tidak” terhadap permohonan di atas agaknya diberikan Tuhan, oleh karena orang-orang kafir termaksud baru saja mengalami kematian dan masih harus menjalani hukuman akhirat sebagai pembalasan atas perbuatan-perbuatannya pada masa hidupnya yang baru lampau. Selain itu, mereka masih harus menempuh masa waktu di akhirat yang ditentukan bagi setiap orang yang telah meninggal. Hal terakhir itu dinyatakan dalam ayat Q. 6:2 dengan anak kalimat wa ‘ajalum musamman indahuu, yang berarti, “Dan suatu masa waktu ditentukan di sisi-Nya”. Karena itu, anda pun pasti dapat mengerti, bahwa permohonan orang-orang yang baru meninggal itu tidak segera dikabulkan oleh Tuhan, sebab, menurut ayat Q. 6:2 itu, di akhirat pun ada masa kehidupan tertentu yang harus ditempuh oleh setiap orang yang telah meninggal (Kecuali jika ia telah mencapai tingkat kesempurnaan, di mana ia tidak perlu lagi dilahirkan kembali ke dunia). Dan kembalinya atau diciptakannya kembali manusia ke dunia itu dengan sendirinya akan berlangsung melalui proses kelahiran, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat-ayat Q. 77:20-22, Q. 23:12-14, Q. 22:5, dan Q. 32:7-9, yang telah saya uraikan dalam Bab III buku ini. Jadi, sekali lagi, penolakan yang berbunyi “Sekali-kali tidak” dalam ayat Q. 23:100 tadi bukanlah penolakan yang final, melainkan penolakan yang sementara. Sekarang saya mohon perhatian anda kepada kalimat wamin waraa’ihim barzakhum ilaa yauma yub’atsuun yang terdapat dalam ayat Q. 23:100 di atas.

Pihak Resmi menerjemahkan perkataan min waraa’ihim dengan “di hadapan mereka”. Menurut hemat saya, yang saya dasarkan kepada kamus dan kepada pelbagai terjemahan Al-Quran, seperti: Tafsir Al-Quran ‘lKarim, susunan Mahmud Yunus, Al Qur’an Terjemah Indonesia, susunan Angkatan Darat R.I., Terjemah & Tafsir AL-QUR AN, susunan Bachtiar Surin, The Glorious Koran, susunan Moh. Marmaduke Pickthall, Al-Furqan, susunan A. Hassan, arti kata murni dari kata Arab waraa’a adalah “belakang”, sehingga kalimat di atas seharusnya diterjemahkan dengan: Dan di belakang mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. Seandainya benar min waraa ihim itu harus diterjemahkan dengan “di hadapan mereka”, maka akan timbul sesuatu yang mustahil menurut akal pikiran sehat, karena (harap anda baca perkataan berikut ini baik-baik:) mana mungkin orang yang baru meninggal itu dapat mengucapkan “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan”, seandainya ia belum bangkit?! (Saya tafsirkan barzakh dalam ayat Q. 23:100 sebagai kiasan untuk batas pemisah antara alam fisik dan alam akhirat, dan karena itu sebagai tanda saat ruh orang mati mulai dibangkitkan di alam akhirat). Jadi, menurut logika, ketika mengucapkan permohonan di atas, orang yang bersangkutan pasti telah bangkit dan telah melewati barzakh; dengan perkataan lain, “dinding” atau barzakh itu ada di belakang orang yang bersangkutan, bukan di hadapannya. Hal itu dinyatakan oleh Tuhan dalam ayat Q. 23: 100 dengan min waraa ihim, yang murninya berarti “di belakang mereka”. Saya rasa, dalam meneliti ayat-ayat Al-Quran, kita harus menyesuaikan konsepsi kita dengan apa yang tertulis dalam ayat-ayat itu, bukan sebaliknya. Dikemukakan kepada saya oleh Pihak Resmi, bahwa terjemahan/penafsiran kata waraa’a sebagai “di hadapan” itu didasarkan pada tafsir “Al Maroghy” dari Mesir dan pada tafsir “Abi Hayyan”, Granada, Andalusia. Menurut hemat saya, meskipun buatan luar negeri, tafsir adalah hasil pemikiran manusia, bukan Wahyu Ilahi, dan karena itu, tidak luput dari kekeliruan. Kita jangan begitu saja menelannya sebagai benar. Jika benar min waraa ihim itu berarti “di hadapan mereka”, maka kita terpaksa mengakui bahwa orang mati yang bersangkutan belum melampaui barzakh atau “dinding” dan belum dibangkitkan. Tetapi pengakuan demikian bertentangan dengan logika, sebab, sekali lagi, bagaimana mungkin ia dapat mengucapkan permohonan seperti yang dinyatakan dalam ayat Q. 23:99-100, seandainya ia belum dibangkitkan? Selaku seorang Muslim yang berusaha berpikir secara ilmiah dan konsisten, saya tidak dapat menerima gagasan bahwa “tidak ada halangannya min waraa’a diterjemahkan dengan ‘di belakang’ atau ‘di depan’ “sebagaimana dikemukakan oleh Pihak Resmi. Akibatnya akan terlalu fatal bagi akidah agama Islam - dan memang ternyata amat fatal. Hanya gara-gara waraa’ihim dalam ayat Q. 23:100 ditafsirkan sebagai “di hadapan mereka”, maka terciptalah ajaran tentang adanya “alam barzakh”, suatu alam yang sebenarnya sama sekali tidak disebut-sebut dalam Al-Quran. Mungkin ada orang yang melontarkan pertanyaan, “Tetapi bagaimana halnya dengan para ulama yang menerjemahkan perkataan waraa‘ihim dalam ayat Q. 23:100 secara benar, tetapi masih tetap percaya akan, bahkan mengajarkan, adanya alam barzakh?” Ya, para pembaca yang budiman, itu agaknya diakibatkan karena mereka terlalu patuh kepada penafsiran tradisional dan tidak mau pusing-pusing mempermasalahkannya; bukan oleh karena tak mampu berpikir secara rasional. Maklumlah, seperti pernah saya katakan dahulu, di bidang agama kita lebih banyak dilatih untuk menerima saja daripada untuk berpikir sendiri. Kenyataan itu berlaku di seluruh umat agama apa pun.

Bahwasanya Pihak Resmi pun tahu kata Arab waraa’a itu berarti “belakang”, dapat kita ketahui dari terjemahan-terjemahannya dalam Al-Quran dan Terjemahnya dari Departemen Agama sendiri sebagai berikut. Dalam ayat Q. 85:20, Dalam ayat Q. 84:10, Dalam ayat Q. 70:31, Dalam ayat Q. 57:13, Dalam ayat Q. 19:5, Dalam ayat Q. 11:71, Dalam ayat Q. 2:91, Dalam ayat Q. 2:101, min waraa’ihim diterjemahkan dengan “dari belakang”, waraa’a zhahrih, dengan “dari belakangnya”, waraa’a dzaalika, dengan “di balik itu”, ji’uu waraa’akum, dengan “Kembalilah kamu ke belakang”, min waraa’i, dengan “sepeninggalku”, wamin waraa’i ishaaqa, dengan “sesudah Ishak”, waraa’ahuu, dengan “sesudahnya”, waraa’a zhuhuurihim, dengan “ke belakang (punggung)nya”.

Dari terjemahan-terjemahan di atas, saya menarik kesimpulan bahwa arti asli/murni dari kata Arab waraa’a itu adalah “belakang” atau “sesudah”, bukan “di depan” atau “di hadapan”. Tetapi, khusus dalam hal ayat Q. 23:100 itu, agaknya Pihak Resmi sengaja menerjemahkan waraa’a dengan “di hadapan”, agar makna ayat yang bersangkutan sesuai dengan konsepsi yang dianutnya, yaitu bahwa setelah kematian, orang akan berada di “alam barzakh”, suatu alam yang, seperti telah saya uraikan dalam Bab VIII, sebenarnya tidak ada, dan Hari Kebangkitan belum tiba. Selain sanggahan terhadap reinkarnasi berdasarkan ayat Q. 23:99-100, Pihak Resmi mengemukakan pula bahwa ayat-ayat berikut ini, yaitu: 1. Surat Al Furqan ayat 15 dan 69, 2. Surat Yunus ayat 26, 27 dan 52, 3. Surat As Sajadah ayat 14; 4. Surat Muhammad ayat 15; 5. Surat An Nisa’ ayat 13, I4, 57, 93, 122, dan 169; 6. Surat Fushshilat ayat 28 7. Surat At Taubah ayat 17 dan 63; 8. Surat Al Hasyr ayat 17; 9. Surat Al Baqarah ayat 25, 39, 81, 82, 163, 217, 257 dan 275, 10. Surat Ali Imran ayat 15, 77, 107, 116, 136 dan 198; 11. Surat Al Maidah ayat 80; 12. Surat Al A’raf ayat 36 dan 45; 13. Surat Hud ayat 23; 14. Surat Ar Rad ayat 5; 15. Surat Al An Biya’ ayat 99 dan 102; 16. Surat Al Mu minun ayat 11 dan 103; 17. Surat Az Zuhruf ayat 71 dan 74; 18. Surat Al Mujadalah ayat 17, dan masih banyak lagi, semuanya menunjukkan bahwa reinkarnasi tidak mungkin. Agaknya beliau menyatakan demikian, oleh karena ayat-ayat di atas semua menunjukkan siksaan neraka jahanam dan ganjaran surga yang kekal dan abadi atau untuk selama-lamanya, sehingga dapat dikatakan: Mana mungkin orang-orang yang telah mati dapat kembali ke dunia jika mereka itu akan tetap tinggal di akhirat untuk selama-lamanya? Seandainya kita hanya berpegang kepada ayat-ayat itu saja, memang kita dapat berkesimpulan bahwa hidup kita di akhirat setelah kematian itu adalah kekal dan abadi, sehingga reinkarnasi tidaklah mungkin. Tetapi, sebagaimana telah sama-sama kita maklumi, dalam menarik kesimpulan mengenai suatu ajaran Ilahi, kita harus meneliti Al-Quran secara keseluruhan, bukan mendasarkan kepada sebagian ayat yang kita sukai saja.

Berdasarkan alasan-alasan yang akan saya uraikan kemudian di sini, kita harus menganggap kata-kata “kekal”, “abadi”, atau “untuk selama-lamanya” itu - dalam bahasa Arab, abadan dan khuldu, yang sering ditasrif menjadi khalidiin dan khaliduun - sebagai metafora atau kiasan untuk “masa yang amat lama”, masa yang tidak untuk selama-lamanya. Ayat Q. 3:7 mengisyaratkan, bahwa Al-Quran itu memuat ajaran-ajaran yang muhkamaat (jelas, terang) dan yang mutasyabihaat (bersifat kiasan atau metafora). Dan dalam ayat-ayat yang dikemukakan oleh Pihak Resmi di atas, saya anggap kata-kata “kekal abadi”, dan “untuk selama-lamanya” sebagai kiasan untuk menunjukkan masa yang (dirasakan) amat lama; jadi, tidak ditafsirkan secara harfiah. Mengapa saya ambil perkataan itu sebagai kiasan? Karena, seandainya saya menganggapnya secara harfiah, yaitu sebagai untuk selama-lamanya, maka akan timbul kesan seolah-olah ajaran-ajaran Al-Quran itu banyak saling bertentangan. Misalnya: 1. “Tinggal/hidup di akhirat untuk selama-lamanya” itu akan bertentangan dengan dalil yang terkandung dalam ayat Q. 6:2 dan Q. 17:99, yang antara lain mengajarkan bahwa bagi manusia di “sisi Allah” atau akhirat pun ada masa tertentu, masa yang terbatas, masa yang tidak kekal dan abadi; dan juga bertentangan dengan dalil Dahi yang berbunyi “Likulli ajalin kitaabun” (Q. 13:38), yang berarti: Untuk tiap sesuatu ada masa yang ditetapkan. 2. “Siksaan yang untuk selama-lamanya bertentangan dengan beratus-ratus ayat yang menyatakan sifat-sifat Tuhan, seperti Maha Pengampun, Maha Penyayang, Maha Pengasih, dan sebagainya. 3. Siksaan untuk selama-lamanya karena dosa yang dilakukan oleh manusia selama hanya beberapa waktu, bertentangan dengan rasa keadilan setiap orang yang berpikir, dan bertentangan pula dengan sifat Tuhan yang Maha Adil. 4. Kekekalan tinggal/hidup di akhirat setelah kematian bertentangan dengan dalil-dalil Ilahi (AlQuran) yang mengajarkan bahwa, setelah lama mati, manusia akan “diciptakan” kembali (ayatayat Q. 13:5, Q. 17:49-51, Q. 17:98, Q. 27:67, dan Q. 32:10), dan juga bertentangan dengan dalil-dalil Al-Quran yang mengajarkan adanya siklus hidup dan mati (ayat-ayat Q. 3:27, Q. 6:95, Q. 10:32, dan Q. 30:19) asalkan kita menafsirkan ayat-ayatnya secara jujur, tanpa membelok-belokkan maknanya. Hanya dengan menafsirkan kata-kata “kekal”, “abadi”, dan “untuk selama-lamanya” secara kiasanlah hal-hal yang saling bertentangan di atas dapat kita hilangkan; hanya dengan menafsirkan kata-kata “kekal”, “abadi”, dan “untuk selama-lamanya” secara kiasanlah kita dapat memperoleh gambaran sepenuhnya-mengenai Tuhan sebagai Tuhan yang Maha Adil, Maha Pengampun. Bukan sebagai Tuhan yang tak kenal ampun. Ajaran-ajaran mengenai siksaan kekal dan abadi, yang sering dikhotbahkan, dikasetkan, dituliskan dalam buku-buku pelajaran agama oleh para ustadz, menggambarkan Tuhan sebagai seorang ayah yang kejam, yang membiarkan anak-anaknya tersesat, kemudian menyaksikan hukuman dan penyiksaan mereka yang tiada habis-habisnya. Saya rasa, bukan gambaran Tuhan demikianlah yang kita kehendaki sebagai umat Islam, bukan? Reinkarnasi, yang diisyaratkan dalam berpuluh-puluh ayat Al-Quran secara nyata dan secara samar-samar, adalah salah satu bukti yang kuat bahwa hidup di akhirat itu, bagi kita manusia biasa, tidak untuk selama-lamanya. Dengan demikian, sekaligus ia merupakan bukti yang kuat pula bahwa Tuhan betul-betul Maha Pengasih dan Maha Pengampun, karena dengan dilahirkannya kembali ke dunia itu, manusia berkesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya dalam masa (masa) hidupnya yang lalu. “Agar aku berbuat amal saleh terhadap apa yang aku tinggalkan,“ bunyi ayat Q. 23:100 yang kita kutip tadi.

XII Suatu Keraguan
Para pembaca yang budiman, dengan penuh keyakinan saya telah berusaha membuktikan kepada anda bahwa reinkarnasi adalah ajaran universal Islam yang otentik. Meskipun demikian, saya tidak dapat menyangkal adanya ayat-ayat Al-Quran yang agaknya secara tidak langsung - saya belum pernah menemukan ayat sebuah pun yang secara langsung dan jelas menyatakan bahwa manusia hidup hanya satu kali saja di dunia - dapat mematahkan doktrin tersebut. Dan memanglah, dalam kenyataan hidup sehari-hari, keragu-raguan selalu timbul, yang satu menyusul yang lain; tetapi, sebagaimana pernah seorang bijak berkata, sejuta keraguan tidak dapat membatalkan satu Kebenaran. Dalam hubungan ini, saya akan menceritakan suatu hal yang pernah saya alami sendiri dalam usaha saya meyakini kebenaran tentang reinkarnasi. Pada suatu hari - lama setelah saya yakini doktrin reinkarnasi sebagai suatu ajaran yang benar-benar diwahyukan Allah s.w.t. kepada Nabi Muhammad s.a.w. - saya mendapati dua buah ayat yang, bila digabungkan, seakan-akan menyanggah kemungkinan adanya reinkarnasi. Ayat-ayat Al-Quran yang saya maksudkan ialah ayat Q. 16:26-27, yang berbunyi:

26. Orang-orang sebelum mereka telah merencanakan tipu daya. Maka Allah meruntuhkan bangunan mereka dari dasarnya, dan atapnya pun jatuh kepada mereka dari atasnya, dan datanglah malapetaka kepada mereka dari arah yang tidak mereka ketahui. (Catatan: Dalam terjemahan berbahasa Inggris, kata-kata kerja dalam ayat itu berbentuk katakerja masa lampau, past tense, sedangkan ayat berikutnya, ayat 27, mencerminkan hal yang akan datang.)

27. Kemudian, pada hari kiamat, Ia akan menghinakan mereka dan bertanya: Mana. sekutusekutu-Ku yang membuat kamu menentang (bimbingan-Ku)? Maka orang-orang yang berilmu akan berkata: Penghinaan dan azab ditimpakan hari ini kepada mereka yang tidak percaya. Suatu penafsiran jujur dari kedua ayat di atas memaksa saya menarik kesimpulan bahwa kebangkitan dan penghisaban atau hukuman akhirat bagi orang-orang yang telah meninggal baru akan terjadi pada “hari kiamat” di akhir zaman, sebagaimana biasa kita dengar dalam khotbahkhotbah keagamaan; bahwa “hari kiamat” itu benar-benar sinonim dengan “akhir zaman”; dan bahwa, sebagai akibat wajar dari ketentuan itu, doktrin reinkarnasi dengan sendirinya menjadi batal, sebab secara logis kita dapat menyanggah reinkarnasi dengan pertanyaan „Bagaimana mungkin seseorang sekarang dapat dilahirkan kembali sedangkan hari penghisaban, hari kebangkitan “hari kiamat”, atau akhir zaman itu belum tiba?”

Tidak ayal lagi, kedua ayat di atas tadi dengan sendirinya mematahkan gagasan bahwa penghisaban dan kebangkitan ruh orang yang meninggal di alam astral terjadi tak lama setelah kematian, dan dengan demikian, sekaligus mematahkan doktrin reinkarnasi! Saya amat kecewa. Di satu pihak, menurut penelitian saya, Al-Quran mengajarkan kepada kita bahwa reinkarnasi itu ada, dan bahwa penghisaban ruh orang yang meninggal itu terjadi tak lama setelah saat kematian (sekali lagi, ini menurut apa yang saya temukan dalam Al-Quran). Di pihak lain, sebagaimana dapat anda simpulkan dari kedua ayat tadi, Al-Quran seolah-olah mengisyaratkan bahwa penghisaban dan kebangkitan ruh baru akan terjadi pada akhir zaman, sehingga menurut logika, tidak mungkin ada reinkarnasi sekarang. Mana yang benar? Saya merasa amat terpukul oleh penemuan saya sendiri itu, dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa Allah s.w.t. menurunkan ajaran-ajaran yang bertentangan dan membingungkan itu. Telah belasan tahun saya dengan tekun mengumpulkan dan meneliti ayat-ayat yang menunjukkan reinkarnasi untuk membuktikan kepada saudara-saudara seagama saya bahwa Islam pun sebenarnya menganggapnya sebagai ajaran universal. Tetapi sekarang dengan tak terduga saya dihadapkan kepada hal yang membingungkan ini! Tidaklah mengherankan bila seluruh umat Islam sejak berabad-abad menganggap hari kiamat itu sinonim dengan akhir zaman, dan karena itu, menolak gagasan reinkarnasi! Pada saat-saat itu, saya benar-benar merasa “down”, turun semangat. Bingung. Saya merasa, jika penemuan baru mengenai ayat Q. 16:26-27 di atas tidak saya ceritakan dalam buku ini, maka itu akan berarti saya menyembunyikan sesuatu berharga yang dapat dipakai oleh para lawanpendapat saya sebagai bahan untuk menentang gagasan saya; sedangkan saya ingin bersikap jujur, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang-orang yang berlainan pendapat dengan saya, sekalipun sikap demikian dapat merugikan diri sendiri. Saya berpikir, bagaimana saya harus memecahkan kerancuan atau ketidakcocokan ini? Saya begitu yakin bahwa ajaran-ajaran Ilahi - jika memang benar ajaran-ajaran itu diwahyukan Tuhan tidak mungkin bertentangan satu sama lain. Karena itu, pasti ada keterangannya. Tetapi keterangan bagaimana? Setelah berhari-hari memeras otak tanpa hasil, saya bermaksud menyerah dan membuang saja usaha saya mencari keterangan yang memuaskan mengenai penemuan yang membingungkan ini, ketika teringatlah oleh saya, bahwa mungkin sekali ayat Q. 61:27 tadi tidak berhubungan langsung dengan ayat sebelumnya, dan bahwa ayat 61:26 hanya merupakan suatu interpolasi (sisipan, tambahan) belaka. Teringatlah pula oleh saya pada saat itu bahwa kaligrafi Arab tiga belas abad lalu amat sederhana, karena tidak mempunyai tanda-tanda baca lengkap seperti yang kita miliki sekarang. Ketika mewahyukan ayat-ayat-Nya kepada Nabi Muhammad s.a.w., Tuhan tidak menyebutkan di mana harus dicantumkan koma, di mana titik, di mana tanda-tanya, di mana titik-koma, di mana titik-dua, di mana tanda-alangan. Para penyair dan penulis Arab ketika itu, meskipun memang amat pandai dalam menyusun syair-syair, tidak menyadari betapa pentingnya pemakaian tanda-tanda baca itu. (Demikian pula halnya dengan para penyusun Kitab Injil dahulu kala. Lihat saja The Holy Bible yang diterjemahkan dari bahasa aslinya, versi King James [Authorized]. Banyak tanda-baca yang umumnya kita pakai sekarang tidak terdapat di dalamnya.) Ketika teringat akan hal itu, segera saya ambil Al-Quran yang terutama saya pakai ketika itu, yaitu The Glorious Koran, dan dengan hati yang berdebar-debar saya buka halaman yang memuat ayat-ayat tadi. Dengan perasaan lega dan syukur kepada Allah s.w.t., saya temukan bahwa dugaan saya yang impulsif itu benar. Saya temukan bahwa ayat Q. 16:27, yang kata-kata kerjanya ditulis dalam bentuk kata-kerja masa-kini (present tense), tidak langsung berkaitan dengan ayat Q. 16:26, melainkan harus dianggap sebagai lanjutan dari ayat-ayat sebelum ayat Q. 16:26 itu. Saya lihat bahwa ayat Q. 16:26 itu hanya merupakan suatu interpolasi, suatu sisipan keterangan, dan karena itu seyogianya dituliskan di antara dua tanda-alangan “--“

Marilah kita kutip ayat-ayat termasuk dalam keseluruhannya. Ayat Q. 16:22-27: 22. Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. Tetapi mereka yang tidak beriman kepada akhirat, hatinya ingkar, karena mereka penuh kesombongan. 23. Allah pasti mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan. Sesungguhnya Ia tidak suka kepada orang yang sombong. 24. Dan apabila ditanyakan kepada mereka: Apa yang telah diturunkan Tuhanmu? mereka menjawab: Hanya dongengan orang dahulu. 25. Biarlah mereka memikul keseluruhan bebannya pada hari kiamat, dengan sebagian beban orang yang mereka sesatkan tanpa pengetahuan. Alangkah buruk beban yang mereka pikul. 26. Orang-orang sebelum mereka (dahulu) merencanakan tipu daya. Maka Allah meruntuhkan bangunan mereka dari dasarnya, dan atap pun menimpa mereka dari atasnya, dan datanglah siksaan kepada mereka dari arah yang tidak mereka ketahui 27. Kemudian, pada hari kiamat, Ia akan menghinakan mereka dan bertanya: Mana sekutusekutu-Ku yang membuat kamu menentang (bimbingan-Ku)? Maka orang-orang berilmu akan berkata: Penghinaan dan azab ditimpakan hari ini kepada orang yang tidak percaya. Seperti dapat anda lihat di atas, dengan pemakaian tanda-alangan “--“ ayat Q. 16:26 hanyalah merupakan suatu interpolasi, suatu sisipan keterangan antara ayat sebelumnya dan ayat sesudahnya, untuk menggambarkan suatu contoh hukuman yang pernah dijatuhkan Tuhan kepada suatu umat yang dahulu ingkar kepada-Nya; bukan ayat yang harus langsung dihubungkan dengan ayat sesudahnya. Seandainya dengan ayat Q. 16:27 itu benar dimaksudkan bahwa orang mati baru akan dibangkitkan dan dihisab pada akhir zaman, maka ayat itu sama sekali bertentangan dengan apa yang dengan berpuluh-puluh ayat lainnya ditekankan oleh Al-Quran, yaitu ayat-ayat tentang hukum reinkarnasi yang sekarang telah dan sedang berlaku. Sungguh bukanlah sifat Allah s.w.t. untuk menurunkan ajaran-ajaran yang bertentangan satu sama lain. “Tidak ada kebengkokan dalam Al-Quran yang berbahasa Arab,” kata ayat Q. 39:28. Para pembaca yang terhormat, bolehkah saya memberikan contoh lain untuk membuktikan bahwa suatu keseluruhan ayat dapat merupakan interpolasi saja dan tidak ada hubungan langsung dengan ayat berikutnya? Saya anggap perlu menawarkan bukti lain itu oleh karena mungkin di antara para peragu ada yang berpikir bahwa saya mengada-ada saja, atau memaksakan suatu tafsiran agar saya dianggap benar. Marilah kita baca ayat Q. 20:54-55, yang berbunyi: 54. Makanlah kamu dan gembalakanlah ternakmu. Sesungguhnya dalam semuanya itu ada tanda-tanda bagi orang yang berpikir. 55. Darinya Kami ciptakan kamu; kepadanya Kami kembalikan kamu, dan darinya Kami keluarkan kamu untuk kedua kalinya. Para pembaca yang dalam hal ini mendasarkan interpretasinya hanya pada ilmu bahasa dapat saja secara membabi buta menafsirkan kata “darinya” dalam ayat Q. 20:55 di atas sebagai singkatan perkataan “dari ternakmu” yang tertulis dalam ayat sebelumnya. Tetapi saya yakin para pembaca yang budiman akan protes keras terhadap kesimpulan yang kegila-gilaan itu, betapapun benarnya penafsiran itu bila dipandang dari sudut ilmu bahasa. Sebab tiada seorang pun ingin dianggap sebagai calon atau keturunan dari misalnya, sapi, kerbau, atau babi. Karena itu, pasti anda akan berpikir keras, dan akhimya berkesimpulan bahwa kata “darinya” itu harus dianggap sebagai rujukan kepada kata “bumi (tanah)” yang disebut dalam suatu ayat lain sebelumnya, yaitu ayat Q. 20:53, yang berbunyi: (Allah) yang menjadikan bumi (tanah) bagaikan hamparan dan memungkinkan kamu berjalan di atasnya dan menurunkan air dari langit. Dan dengan itu telah. Kami tumbuhkan bermacam-macam tumbuh-tumbuhan.

Dengan demikian, para pembaca yang budiman, mudah-mudahan saya telah berhasil meyakinkan anda bahwa doktrin reinkarnasi itu terkandung dalam Al-Quran. Semua uraian di atas itu saya sampaikan kepada anda bukan sebagai hasil imajinasi saya yang berlebih-lebihan, melainkan sebagai hasil penelitian Al-Quran yang saya usahakan secara ilmiah dan serasional mungkin, suatu penelitian ayat-ayat Al-Quran yang saya lakukan dengan penuh keimanan dan kejujuran intelektual, tanpa mengada-ada atau membelok-belokkan arti kata.

XIII Falsafah Baru tentang Takdir
Kepada kita kaum Muslimin sering diajarkan bahwa kita tidak dapat menghindarkan diri dari Kehendak dan Hukum Allah s.w.t. Ajaran itu diberikan dengan maksud agar kita mempunyai kekuatan moral dalam menghadapi pasang surutnya hidup, dan menghibur kita dengan keimanan bahwa segala kesulitan, kekecewaan, kesengsaraan, dan kecelakaan yang kita alami dalam hidup adalah Kehendak Tuhan semata-mata. Keimanan itu, yang biasa kita namakan takdir dan konon merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam, dapat ditarik kesimpulannya, antara lain dari ayat-ayat berikut. Ayat Q. 9:51:

Katakanlah: Tiada sesuatu yang menimpa kami, kecuali apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Ia Pelindung kami. Dan kepada Allah hendaknya yang beriman menyerahkan diri. Ayat Q. 57:22

Setiap musibah yang menimpa di bumi atau dalam dirimu tercatat dalam sebuah Kitab sebelum Kami menjadikannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Akan tetapi, orang-orang yang berpikir kritis mengenai hal itu merasakan sesuatu yang tak masuk akal dalamnya. Mereka bertanya-tanya dalam batin, bagaimana mungkin Allah s.w.t. yang konon Maha Adil dan Maha Penyayang itu, dapat berbuat sewenang-wenang tanpa ada penjelasan mengapa Tuhan bertindak demikian. Selain itu, mereka tidak mengerti mengapa ada perbedaan nasib yang menyolok dalam kehidupan manusia sehari-hari, dan bertanya-tanya: Apakah itu pun Kehendak Tuhan? Takdir? Untuk menjelaskan lebih lanjut apa yang saya maksudkan, izinkanlah saya memberikan beberapa contoh: Dua orang, yang satu bernama misalnya Ahmad, dan yang lain, Bahrum, dilahirkan dari dua orang ibu pada hari yang sama, dan pada detik-detik yang hampir bersamaan pula. Keluarga Ahmad miskin, hidup dalam serba kekurangan; keluarga Bahrum kaya, hidup dalam keadaan berlimpahlimpah dan bahagia. Karena miskinnya, Ahmad hanya bisa menamatkan sekolah menengah atas saja. Bahrum, karena kekayaan orang tuanya, dapat meneruskan pelajarannya di sebuah universitas dan berhasil mendapat gelar kesarjanaan. Ahmad, berkat ketekunannya, dan sambil bekerja di siang hari untuk membantu orang tuanya, mengikuti kuliah malam, dan akhirnya berhasil pula menggondol ijazah kesarjanaan. Jadi, dipandang dari sudut pendidikan, kedua insan itu sama nilainya. Ahmad dan Bahrum kedua-duanya amat saleh dan suka bekerja keras. Ahmad sering menjumpai kesulitan dan kekecewaan hidup dan kemunduran dalam usahanya mempertahankan hidup serba jujur. Tapi Bahrum senantiasa berhasil dalam usahanya. Pada umur enam puluh tahun, keduanya, Ahmad dan Bahrum, karena suatu sebab, meninggal dunia. Karena mereka itu selalu hidup dengan penuh kesalehan terhadap agama dan sesama manusia, wajarlah bila kita berkeyakinan bahwa kedua manusia itu sekarang berada dalam surga.

Sekarang timbul pertanyaan: Mengapa Ahmad dalam hidupnya harus menerima begitu banyak kesulitan, sedangkan Bahrum tidak? Keduanya amat baik ahlaknya, amat saleh, selalu suka menolong sesama manusia; keduanya selalu jujur dalam usaha-usahanya, dan tidak pernah menyakiti atau merugikan orang Lain. Tetapi mengapa ada perlakuan yang berbeda-beda oleh Tuhan terhadap dua orang manusia yang sama baik akhlaknya dan sama cerdasnya itu? Jika anda menjawab, “Ahmad dicobai Tuhan akan keimanannya,” maka timbul pertanyaan lagi, “Mengapa hanya Ahmad yang dicobai-Nya? Mengapa Bahrum tidak diuji juga keimanannya, agar ia pun dapat mengalami segala kesulitan yang dialami Ahmad?” Dan jika anda menjawab, “Itu takdir. Itu kehendak Tuhan,” maka timbul pertanyaan lain, “Mengapa Ahmad ditakdirkan mengalami kesusahan hidup begitu banyak, sedangkan Bahrum tidak? Bukankah Tuhan Maha Adil dan Maha Pemurah? Apa alasan-Nya untuk mencobai Ahmad demikian? Kedua-duanya orang saleh!” Di sini menjawabnya agak susah. Harus ada jawaban atau penjelasan yang memuaskan untuk perbedaan perlakuan ini. Tetapi jawaban atau penjelasan bagaimana? Dan karena keterangan yang memuaskan tidak dapat diberikan, kebanyakan orang akhirnya harus berpuas diri dengan keterangan sebagai berikut: Kita harus beriman saja kepada takdir. Segala hal, baik atau pun buruk, datang dari Tuhan, sebagai ujian. Kehendak Tuhan menguasai kehidupan kita. Tuhan Maha Kuasa. Dan semacamnya. Memang, banyak orang merasa puas dengan penjelasan demikian. Tetapi bagi orang yang (ingin) berpikir rasional, jawaban seperti di atas tidak cukup. Ia tetap berpikir ada sesuatu yang kurang masuk akal dalam keterangan itu. Tetapi si orang awam umumnya tidak berani mendesak pemberi keterangan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut karena takut dianggap kurang beriman; dan si pemberi keterangan, karena tidak ada yang membantahnya lebih lanjut, menganggap dirinya telah berhasil dalam dakwahnya ... Saya akan memberikan contoh lain, sekarang contoh yang agak ekstrim. Seorang anak dilahirkan. Setelah sebulan, karena sakit, ia meninggal. Timbullah pertanyaan: “Mengapa bayi itu begitu singkat umurnya? Mengapa bayi-bayi lain bisa hidup terus dan kemudian menikmati hidup beserta kesenangan-kesenanganya?” Jika orang menjawab, “Itu kehendak Tuhan,” pasti kebanyakan orang tidak merasa puas, setidak-tidaknya bagi orang yang berpikir secara pragmatis. Jika semua sebab segala kejadian yang tidak menyenangkan dilimpahkan kepada “kehendak Tuhan”, maka umat Islam akan dianggap sebagai umat yang tidak berpikir dinamis oleh orang-orang bukan-Muslim. Pak guru agama tidak berani menjawab bahwa kemalangan berupa umur pendek itu merupakan suatu ujian bagi si anak, karena mudah dimengerti bahwa tidaklah masuk akal jika seorang bayi diberi cobaan oleh Tuhan. Karena itu, mereka sering memberikan jawaban bahwa kematian seorang anak dalam usia yang amat muda merupakan suatu ujian bagi orang tuanya, untuk mengetahui bagaimana reaksi mereka dalam menghadapi musibah itu: Apakah mereka tawakal karenanya atau tidak? Dalam jawaban demikian memang terdapat sesuatu yang rasional. Tetapi bagi saya, tidak seluruhnya. Sebab, dapat saya kemukakan bahwa dalam hal ini, pokok problemnya bukan si orang tua, melainkan si anak: Mengapa si anak itu harus meninggal dalam usia yang begitu muda? Mengapa si anak itu harus begitu cepat meninggalkan orang tuanya yang tercinta, dan yang mencintainya? Mengapa si anak itu tidak diberi kesempatan hidup panjang seperti bayi-bayi lainnya? Agak mustahil jika kemalangannya disebabkan oleh karena dosa orang tuanya semata-mata, sebab doktrin tanggung jawab pribadi merupakan ajaran pokok dalam agama Islam. Di mata Allah s.w.t., seseorang tidak bertanggung jawab atas dosa orang lain, betapa pun besarnya cinta di antara

kedua belah pihak. Allah s.w.t. telah menyinggung hal itu dalam pelbagai surah Al-Quran, seperti misalnya dalam ayat Q. 6:164, yang berbunyi:

... Setiap jiwa hanya memperoleh apa yang diperbuatnya sendiri. Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain ... Memang benar, dalam kehidupan sehari-hari seseorang dapat membayar kembali utang orang lain atau dipenjarakan karena ulah orang lain. Tetapi dalam menghadapi Tuhan Yang Maha Mengetahui, hal demikian, berdasarkan ayat Ilahi tadi, tidaklah mungkin. Setiap jiwa harus bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Itu dalil Ilahi. Manusia tidak dapat melarikan diri dari tanggung jawab akibat perbuatannya. Tidak pula ia dapat mengharapkan orang lain akan memikul dosa atas namanya. Tuhan tidak dapat ditipu. Jika tokh dalam kehidupan sehari-hari ada seseorang yang mengalami penderitaan atau hukuman sedangkan ia sama sekali tidak bersalah dalam hal yang dituntutkan kepadanya, hal itu hanyalah merupakan suatu macam pembayaran kembali utang karma yang timbul pada masa atau masa-masa hidup yang lalu. Mungkin pula ada orang yang ingin mengemukakan jawaban klasik sebagai berikut: Allah s.w.t. tahu apa yang baik dan apa yang buruk bagi si anak yang meninggal begitu muda itu. Ada kemungkinan bahwa jika si anak itu tetap hidup, ia akan menderita lebih banyak lagi daripada jika ia meninggal sekarang. Atau mungkin pula ia akan menimbulkan bencana bagi orang lain, seperti yang dicontohkan dalam kisah (yang sama klasiknya) tentang Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir a.s. Adapun kisah nabi itu konon sebagai berikut: Ketika kedua orang nabi itu berjumpa dengan seorang anak muda, maka tanpa alasan nyata apa pun, Nabi Khidir membunuhnya. Ketika ditanya oleh Nabi Musa mengapa ia berbuat demikian, ia tidak menjawab, karena sebelumnya telah mereka sepakati bahwa tidak akan diajukan pertanyaan apa-apa. Baru ketika mereka akan berpisah, Nabi Khidir mengungkapkan kepada Nabi Musa bahwa ia telah menerima wahyu dari Tuhan yang menyatakan bahwa anak muda itu mempunyai orang tua yang amat saleh dan bertaqwa, dan bahwa anak muda itu berdurhaka kepada mereka. Karena itu, Nabi Khidir membunuhnya, agar orang tua pemuda itu dapat memperoleh anak lain yang saleh sebagai penggantinya. Bagi sebagian orang, usaha-usaha merasionalisasi doktrin takdir secara demikian mungkin dapat diterima. Akan tetapi, bagi orang lain yang berpikiran kritis dan pragmatis, keterangan demikian masih tetap menimbulkan keraguan karena kurangnya dasar logika. Mungkin kita meyakini kisah itu benar, tetapi kita tidak dapat meyakini bahwa tindakan Nabi Khidir itu benar. Suatu contoh lagi yang ekstrim ingin saya kemukakan kepada para pembaca. Seorang anak dilahirkan cacat berat. Meskipun demikian ia tumbuh menjadi dewasa. Tetapi oleh karena pertumbuhannya tidak normal, hidupnya menjadi kegagalan besar. Ia merupakan beban berat baik bagi orang tuanya dan keluarga lainnya maupun bagi dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan dalam kasus terdahulu dapat dikemukakan lagi: Mengapa anak itu ditakdirkan menjadi manusia yang demikian? Mengapa pertumbuhannya tidak seperti pada anakanak normal lainnya? Bukankah para guru agama kita selalu mengkhotbahkan bahwa semua anak dilahirkan suci, tanpa dosa, murni, bersih? Jika Allah s.w.t. benar-benar Maha Pemurah dan Maha Pengasih, mengapa anak yang konon suci dan bersih dan tidak berdosa ini harus menderita demikian? Memang sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan demikian. Setidak-tidaknya untuk memberi jawaban yang rasional memuaskan dan dapat dipertanggungjawabkan. Akhirnya, sebagai jalan terakhir, sebagian orang yang beriktikad baik biasanya berusaha meyakinkan para peragu dengan

menerangkan bahwa penderitaan yang dialami si anak itu kelak akan diimbangi dengan kebahagiaan di surga. Tetapi keterangan demikian tidak dapat memuaskan para pemikir rasional. Bagi saya pun, alasan demikian tidak meyakinkan, sebab bagaimana mereka tahu bahwa si anak itu akan masuk surga? Apalagi kita bisa bertanya: Apa yang akan terjadi bila si anak itu, setelah dewasa, berbuat durhaka kepada orang tuanya dan terhadap Tuhan karena kebodohannya? Dapatkah ia langsung masuk surga? Saya rasa tidak. Kalau begitu, apa sebetulnya yang menjadi sebab semuanya itu? Akhirnya, karena menemui jalan buntu, kebanyakan orang berkata, “Yah, itu kehendak Tuhan. Itu takdir. Percayalah, itu di luar rasio,” seolah-olah dengan jawaban itu semuanya telah terjawab. Mereka menganggap sikap demikian sebagai suatu warisan yang telah kita terima secara turun-temurun dan sebagai bukti keimanan saleh terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi, para pembaca yang budiman, anda tentu dapat mengerti bahwa bila kita begitu mudah melimpahkan segala sesuatu yang tidak menyenangkan kepada Tuhan dengan mengatakan, “Itu kehendak Tuhan,” “Itu ujian dari Tuhan”; “Itu rahasia Tuhan”, dan perkataan senafas lainnya, maka saya khawatir bahwa agama Islam yang kita agung-agungkan sebagai agama yang amat rasional itu akan sangat merosot karenanya, dan usaha-usaha kita untuk memperkembangkan Islam akan menjadi kegagalan. Dan memang, terus terang saja, bila ditanya mengenai ajaran takdir, kebanyakan orang sering memberikan jawaban yang bersifat mengelak, dan lebih banyak mencoba menggunakan kewibawaan atau kharismanya daripada memberikan jawaban yang rasional memuaskan. Untuk menjaga agar jangan timbul kesalahpahaman, saya di sini ingin bergegas mengatakan bahwa meskipun saya tadi menulis hal-hal yang tidak begitu menyenangkan, saya tidak bermaksud menolak takdir sebagai ajaran Ilahi yang sah, atau menolak berlakunya kehendak Tuhan. Saya hanya ingin menyatakan bahwa soal takdir harus kita terangkan sejelas jelasnya dan secara tuntas, sehingga memuaskan para peragu, dan agar kita jangan memberikan keterangan-keterangan yang bukan-bukan. Dengan bersikap di atas, saya hanya ingin menyatakan bahwa, sementara para ulama Islam sejak dahulu kala dengan sekuat tenaga pikiran berusaha menemukan keterangan yang memuaskan tentang ketidaksamarataan nasib kehidupan, atau, lebih tepat lagi, untuk merasionalisasi ajaran takdir - menurut hemat saya, belum berhasil sampai sekarang - saya merasa telah berhasil menemukan keterangan yang nampak seirama dengan logika dan rasa keadilan; saya merasa dapat menyajikan versi takdir yang lebih memuaskan daripada versi yang sering dikemukakan sebelum ini. Saya persilakan anda memeriksa sendiri di bawah ini apakah perasaan atau khayalan saya itu beralasan atau tidak. Dengan mengambil reinkarnasi sebagai dasar pikiran, semua pertanyaan dalam kasus-kasus terdahulu dapat dijawab secara singkat dan dengan cara yang memuaskan, tanpa pokrol-pokrolan: Orang-orang yang tersebut dalam contoh-contoh tadi masing-masing mempunyai utang karma sebagai hasil perbuatan mereka pada masa atau masa-masa hidup mereka yang terdahulu. Penderitaan dan kesengsaraan yang sekarang mereka alami itu harus dianggap sebagai pembayaran kembali atau penyelesaian sebagian utang karma mereka, sebagai penebusan dosa-dosa yang mereka perbuat dalam masa atau masa-masa hidup yang silam. Bagi saya, pernyataan bahwa semua penderitaan dan cobaan dan musibah yang menimpa diri kita adalah kehendak Tuhan atau ujian semata-mata, merupakan suatu usaha rasionalisasi yang irrasional. Mana mungkin Tuhan Yang Maha Adil dapat bertindak begitu sewenang-wenang, memberikan penderitaan kepada makhlukNya tanpa suatu sebab.

Dalam Al-Quran, hukum sebab dan akibat atau apa yang kita namakan hukum karma itu secara implisit terkandung dalam banyak ayat, antara lain dalam ayat Q. 4:123, yang berbunyi:

Bukanlah keinginan-keinginan kamu dan bukanlah pula keinginan-keinginan orang-orang Al-Kitab, siapa saja yang berbuat dosa akan mendapat balasan untuk itu. Dan ia tidak mendapat pelindung ataupun penolong selain Allah. dan ayat Q. 42:30:

Musibah apa pun yang menimpa kamu, itu hasil perbuatan tangan-tanganmu.. . . Dengan doktrin reinkarnasi dan karma - kepercayaan bahwa setiap jiwa akan dilahirkan kembali ke dalam tubuh fisik yang baru untuk menerima pembalasan daripada perbuatan-perbuatan yang dilakukannya path masa atau masa-masa hidup terdahulu dan berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahannya - kita dapat memberikan jawaban yang rasional memuaskan terhadap pertanyaan-pertanyaan mengenai hidup manusia. Dalam hal seorang anak yang buta sejak lahir misalnya, kita dapat bertanya, “Siapa yang berdosa, orang ini ataukah orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Setahu saya, agama Islam tidak mengenal apa yang dinamakan “dosa asli” (dalam arti bahwa kita menanggung dosa yang konon dilakukan oleh Nabi Adam dan Hawa) atau penanggungan dosa seseorang oleh orang lain. “Musibah apa pun yang menimpa kamu, itu hasil perbuatan tangan-tanganmu,“ kata ayat Q. 42:30 tadi. Dan ayat Q. 53:38 berbunyi:

Bahwasanya tiada pemikul beban akan memikul beban orang lain. Karena si anak yang kita bicarakan tadi dilahirkan buta, bagaimana mungkin dosanya sendiri menyebabkan kebutaan itu kalau ia tidak melakukan dosanya itu dalam suatu masa hidup yang terdahulu? Jika dahulu keimanan kita kepada takdir boleh dikatakan bersifat dogmatis (dogma = pokok ajaran yang harus diterima sebagai benar dan baik, tidak boleh dibantah atau diragu-ragukan lagi), dan dapat dianggap bertentangan dengan akal sehat dan rasa keadilan oleh orang-orang yang berpikiran kritis, maka sekarang takdir dapat diseiramakan dengan akal sehat; sekarang kita tidak dianggap lagi sebagai orang fatalistis atau dianggap sebagai korban fatalisme yang pasif , sebab ada alasan yang rasional di belakang doktrin itu. Marilah kita ambil lagi, misalnya, kasus anak yang hanya hidup sebulan tadi. Jika kita tak percaya bahwa ia pernah mengalami masa hidup lain sebelumnya, di mana ia telah menghasilkan suatu karma yang negatif, maka akan sulitlah bagi kita untuk mengerti mengapa seorang bayi yang konon suci dan tidak bersalah itu tidak mendapat hak hidup normal seperti bayi-bayi lainnya. Mau tak mau, orang-orang yang kurang keimanannya akan memperoleh anggapan kurang baik mengenai Tuhan - apalagi kalau soalnya mengenai anaknya sendiri yang tercinta - dan berpikir bahwa Tuhan agak sewenang-wenang dalam keputusan-keputusan-Nya, memberi umur panjang kepada beberapa orang, dan umur pendek kepada orang lainnya. Tetapi dengan mengimani reinkarnasi dan karma, kita dapat menerima dengan ikhlas postulasi (=sesuatu yang diterima sebagai benar tanpa bukti) bahwa anak yang bersangkutan mempunyai utang karma dan bahwa ia sekarang telah membayar kembali utang karmanya itu.

Tanpa kepercayaan demikian, kita mudah tergoda untuk berpikir tentang Tuhan sebagai Penguasa yang tindakan-Nya sewenang-wenang dan tak adil. Tetapi, para pembaca yang budiman, di balik ulasan yang tidak begitu menyenangkan tadi, ada pula hal yang dapat menenteramkan perasaan kita. Menurut sumber keterangan yang diperoleh -secara paranormal dari alam sana, suatu kematian dalam usia pendek tidak selalu berarti pembalasan atas dosa yang diperbuat dahulu. Sebab mungkin saja kematian demikian disebabkan oleh karena cinta si anak yang amat besar kepada orang tuanya (yang dirasakannya secara dibawah-sadar): Guna memberi mereka kesempatan membayar kembali utang karma mereka, ia secara tak sadar tetapi suka rela menarik diri dari kehidupan fisiknya. Penderitaan batin orang tuanya - asal saja mereka menerimanya dengan tawakal dan rasa berserah diri kepada Yang Maha Kuasa - dapat merupakan langkah maju yang amat besar ke arah kemajuan rohani atau pembayaran kembali utang-utang karma mereka. Di pihak lain, dengan berbuat begitu mulia, jiwa si anak itu pun memperoleh kemajuan rohani yang amat besar pula. Sekaligus perbuatan mulia si anak itu, dengan pengorbanannya, merupakan pembayaran kembali sebagian utang-utang karmanya. Dan saya yakin ia langsung masuk surga. Perkataan “Jika dikehendaki Tuhan” dan perkataan-perkataan senada lainnya yang sering kita jumpai dalam Al-Quran harus dianggap bukan saja sebagai suatu tindakan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, melainkan juga sebagai tindakan yang didasarkan pada hukum-hukum yang ditetapkan Allah s.w.t. sendiri, yaitu hukum sebab dan akibat, hukum yang berlaku di seluruh jagat, dan yang pengaruhnya paling menyolok dapat dilihat pada manusia. Apa yang disemai manusia, itulah yang akan dipungutnya. Karena itu, keadaan kita sekarang ini pada hakekatnya adalah hasil perbuatan-perbuatan kita sendiri pada masa lampau, baik masa lampau dalam hidup sekarang maupun dalam masa atau masa-masa hidup kita terdahulu. Allah s.w.t. tidak akan menakdirkan seseorang hidup dengan penuh kebahagiaan jika tidak ada alasan untuk itu. Tuhan tidak akan menimpakan suatu bencana kepada seseorang jika tidak ada sebab untuk itu, meskipun dalam masa hidupnya sekarang ia hidup dengan penuh kesalehan dan pengabdian. Bunyi ayat Q. 45:22:

Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran, dan agar setiap jiwa dapat balasan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka tidak akan dirugikan. Ayat Q. 53:39

Dan bahwasanya manusia hanya akan mendapatkan apa yang diusahakannya Seorang anak tidak akan dilahirkan dalam keluarga yang amat miskin, atau dilahirkan dengan tubuh cacat, jika tidak ada hal yang menyebabkan ia dilahirkan dalam keadaan demikian. Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa takdir itu ditentukan oleh Allah s.w.t. berdasarkan hukum universalNya, yaitu hukum sebab dan akibat, hukum kompensasi, hukum karma, sesuai dengan perbuatan orang yang bersangkutan pada masa atau masa-masa hidupnya yang silam. Apa yang diperbuat atau dikehendaki Tuhan didasarkan pada hukum-hukum yang telah diciptakan-Nya Sendiri. Jika kita perhatikan hal ini, maka kita akan lebih mudah memahami ayatayat Al-Quran; dan banyak ajaran yang semula nampaknya tak rasional akan menjadi rasional. Marilah kita mengambil sebagai contoh misalnya ayat Q. 13:26:

Allah meluaskan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya) Ayat Q. 35:8: ... Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memimpin siapa yang dikehendaki-Nya ... Dahulu, ketika membaca ayat-ayat itu untuk pertama kali, mungkin anda pernah bertanyatanya mengapa Tuhan - yang notabene Maha Penyayang, Maha Pengasih, dan Maha Adil - dapat begitu sewenang-wenang menyesatkan makhluk-Nya. Tetapi sekarang, karena anda telah membaca keterangan-keterangan saya mengenai doktrin reinkarnasi dan karma, anda dapat diharapkan mengerti bahwa di balik kalimat-kalimat yang nampak tidak logis itu tersimpul suatu kebijaksanaan Ilahi yang amat dalam. Sekarang, bila membaca kalimat-kalimat yang memuat perkataan “Jika dikehendaki Tuhan”, “Yang dikehendaki Tuhan”, “Ditetapkan Tuhan”, dan perkataan-perkataan lain yang senada, anda diharapkan mengerti bahwa kehendak atau ketetapan-Nya itu didasarkan pada kebijaksanaan-Nya, sesuai dengan perbuatan orang yang bersangkutan pada masa atau masa-masa hidupnya yang terdahulu, sesuai dengan hukum sebab dan akibat; sama sekali bukan hanya karena kehendak Tuhan atau ujian semata-mata. Ganjaran atau hukuman adalah hasil dari menuruti atau melawan hukum-hukum Ilahi, hukum alam, hukum pembalasan, hukum sebab dan akibat. Pada pihak Allah s.w.t. tidak ada pilih kasih, tidak ada kesewenangan-wenangan ataupun kebencian. Saya persilakan anda membaca ayat-ayat di bawah ini. Ayat Q. 4:79: ... Dan kesusahan apa saja yang menimpa kamu adalah dari (kesalahan) kamu sendiri. . . . Ayat Q. 42:30: Musibah apa pun yang menimpa kamu, itu hasil perbuatan tangan-tanganmu. Dan Ia memaafkan kebanyakan daripadanya. dan ayat Q. 10:44: Sesungguhnya Allah tidak menganiaya manusia sedikit pun, tetapi manusia menganiaya diri sendiri. Ayat-ayat di atas jelas mengatakan bahwa segala musibah yang menimpa kita atau yang sedang kita alami adalah hasil atau akibat perbuatan kita sendiri. Meskipun demikian, banyak orang yang tidak mau mengakui hal itu, apalagi bilamana halnya mengenai diri mereka sendiri dan mereka merasa selalu hidup dalam kesalehan, belum pernah berdosa, belum pernah menyakiti sesama manusia, belum pernah berzinah, belum pernah mengambil isteri/suami orang lain. Hal itu memang dapat saya pahami, karena mereka tidak tahu, atau tidak mau tahu, bahwa sebelum hidup sekarang ini mereka sebenarnya pernah hidup di dunia (dan mungkin pernah berbuat salah), sebagaimana dinyatakan Allah s.w.t. dalam ayat Q. 19:67: Tidakkah manusia itu ingat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu ketika ia tidak ada sama sekali? Ayat itu menunjukkan bahwa dahulu, sebelum kita berwujud di dunia sekarang ini, kita telah pernah diciptakan oleh Allah s.w.t. Dan kata “menciptakan” . dalam ayat itu berarti “mewujudkan atau melahirkan ke dunia,” tentunya melalui proses kelahiran. Mengajarkan bahwa musibah apa pun yang menimpa manusia adalah kehendak Tuhan atau takdir belaka sebagai ujian hidup, tanpa memberikan penjelasan yang masuk akal, memang menunjukkan sikap yang saleh, tetapi menurut hemat saya tidak cerdas ataupun rasional. Bukan saja ajaran demikian sukar diterima oleh orang yang berpikir pragmatis, tetapi hal itu merupakan usaha seolah-olah kita melimpahkan segala sesuatu yang tidak menyenangkan kepada Allah s.w.t.

Di bawah ini saya ikutkan beberapa ayat lagi yang menunjukkan “Kehendak Tuhan”. Ayat Q. 9:51: Katakanlah: Tiada sesuatu yang menimpa kami kecuali apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. ... Ayat Q. 3:26: Katakanlah: Ya Allah, Yang mempunyai kedaulatan! Kauberikan kedaulatan kepada yang Kaukehendaki, dan Kaucabut kedaulatan dari yang Kaukehendaki. Kaumuliakan orang yang Kaukehendaki, dan Kauhinakan orang yang Kaukehendaki dalam tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ayat-ayat di atas sama sekali tidak bermaksud menunjukkan kesewenang-wenangan atau sikap pilih kasih Allah s.w.t., tetapi memperingatkan kita akan kesempurnaan hukum universal sebab dan akibat, suatu hukum alam ciptaan Tuhan, yang terutama menguasai seluruh umat manusia. Manusia sendirilah yang menyebabkan Tuhan menetapkan nasib atau pola hidupnya sekarang dan di hari kemudian. Dengan perkataan lain yang lebih lancang lagi, manusia sendirilah yang membuat nasibnya sendiri; terserah kepada manusia sendirilah apakah masa hidup fisik berikutnya akan mulai dengan tingkat yang mulia ataukah dengan tingkat yang hina, atau apakah hidupnya di masa yang akan datang akan penuh kebahagiaan atau tidak. Dengan memperhatikan dan menghayati semuanya itu, kita dapat menyadari dengan ikhlas bahwa kita tidak perlu gusar hati atau, putus asa bilamana sesuatu dalam hidup kita sekarang tidak berjalan sebagaimana yang kita kehendaki. Sebab semua ketidaksenangan, kekecewaan, kemalangan, dan kesengsaraan yang kita alami sekarang sebenarnya adalah hasil perbuatan kita sendiri pada masa lalu dan masa atau masa-masa hidup kita yang lampau, bukan apa yang Tuhan kehendaki tanpa sebab. Manusia tidak dapat berbuat apa-apa selain berusaha sebaik mungkin dan berdoa; keputusan mutlak mengenai usaha dan doa itu ada pada Tuhan sebagai Faktor Penentu Yang Tertinggi, Pencipta Hukum Sebab dan Akibat. Dari pengalaman, kita ketahui bahwa betapa pun kerasnya kita bekerja untuk mencapai sesuatu - bahkan dengan penuh kejujuran dan banyak doa - sering usaha itu ternyata tidak berhasil. Tetapi, seperti berulang-ulang diserukan Allah s.w.t. dalam Al-Quran, kita tidak boleh putus asa akan kemurahan hati-Nya. Kemalangan dan kesedihan sebagai hasil perbuatan-perbuatan dalam hidup kita pada masa silam yang diolah oleh hukum sebab dan akibat ciptaan Tuhan melekat pada hidup setiap insan. Sewaktu-waktu mereka akan timbul. Tuhan memberikan kepada kita kesempatan, meskipun tidak semua kesempatan sama nilainya, oleh karena kita masing-masing mempunyai masa silam yang berbeda-beda, dan, sebagai akibatnya, karma yang berbeda-beda pula. Milioner-milioner, presiden-presiden, raja-raja, ratu-ratu, pangeran-pangeran, dan puteriputeri raja sekalipun - yang nampaknya hidup bahagia dan tidak berkekurangan apa-apa - dan semua orang lainnya tidak luput dari cobaan dan keprihatinan. Bila kita mempunyai keyakinan teguh akan hukum reinkarnasi dan karma, maka kita akan memiliki benteng teguh pula untuk menghadapi segala macam cobaan dan kita tidak akan mudah berputus asa, berkat pengertian yang lebih mendalam mengenai makna hidup. Kata ayat Q. 57:22-23: 22. Setiap musibah yang menimpa di bumi dan dalam dirimu tercatat dalam sebuah Kitab sebelum Kami menjadikannya. Sesungguhnya hal demikian itu mudah saja bagi Allah. 23. Agar kamu jangan berduka cita atas apa yang terlepas daripadamu, dan jangan pula kamu (terlalu ) gembira atas apa yang dianugerahkan (kepadamu). Allah tidak cinta kepada semua orang yang sombong dan menepuk dada.

Ayat Q. 53:39-41: 39. Dan bahwasanya manusia hanya akan mendapatkan apa yang diusahakannya. 40. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan. 41. Kemudian ia akan diberi balasan untuk itu dengan pembayaran sepenuhnya. Ayat Q. 45:22: Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran, dan agar setiap jiwa dapat balasan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka tidak akan dirugikan. Hukum sebab dan akibat meliputi masa sekarang, masa lalu, dan masa yang akan datang. Perbuatan dan usaha kita yang lalu, bila sekarang belum berhasil atau dibalas, masih dapat kita harapkan hasil atau balasannya dalam hidup ini juga atau pada masa hidup fisik yang berikutnya (selain di akhirat). Allah s.w.t. pasti tidak akan mengingkari janji-Nya. Hukum sebab dan akibat atau hukum karma, yang menentukan bahwa setiap amal baik akan dibalas dengan kebaikan dan amal buruk akan mengundang balasan yang setimpal, amatlah sempurna, tidak akan meleset. Usaha-usaha baik kita dalam hidup ini yang hingga sekarang belum berbalas, mungkin akan berhasil pada sisa hidup sekarang juga, atau, jika tidak, pasti pada masa hidup fisik berikutnya. Dan hendaknya kita ingat pula bahwa mungkin saja usaha kita itu telah berhasil, tetapi dengan cara yang tidak kita ketahui. Sebab, mungkin saja balasan baik atas usaha itu telah dipergunakan untuk mengurangi hutang-hutang karma kita. “Amalan baik meniadakan amalan buruk”; kata ayat Q. 11:114. Hanya dengan menerima falsafah reinkarnasi dan karmalah, kita dapat percaya kepada takdir tanpa perasaan bahwa masih ada sesuatu yang belum terjelaskan. Sekarang kita dapat mempersamakan takdir dengan fitrah atau kadar (ukuran) yang ditetapkan Tuhan berdasarkan perbuatan-perbuatan orang yang bersangkutan pada masa-masa hidup yang lalu. Selain itu, doktrin reinkarnasi dan karma sangat membantu kita dalam memahami ajaranajaran lain yang terkandung dalam agama Islam. Orang-orang yang sekarang hidup dalam serba kekurangan - meskipun mereka bekerja keras dan penuh kejujuran - dapat menilai hidup mereka sendiri dengan penuh pengertian. Setidaktidaknya, mereka dapat berharap memperoleh kehidupan yang lebih layak pada suatu masa yang akan datang, yaitu dalam masa hidup fisik berikutnya - selain hidup akhirat yang menyenangkan asal saja ia sekarang berusaha ke arah itu dengan cara hidup yang diridhoi Allah s.w.t. Allah s.w.t. telah mempersiapkan untuk kita masing-masing suatu tugas hidup dan ujian untuk menguji keberanian, keimanan, dan ketawakalan kita - sebagaimana dinyatakanNya dalam ayat Q. 6:165, yang berbunyi: Dialah yang menjadikan kamu penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (lainnya) beberapa derajat untuk menguji kamu dalam apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya. Dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Suatu aspek yang amat penting bagi kita ialah bahwa dengan keimanan kita kepada reinkarnasi dan karma, dan dengan cara hidup yang terarah sekarang, kita sedikit banyak dapat menentukan keadaan atau nasib kita di kemudian hari. Jika kita percaya, menerima, dan menghayati falsafah bahwa untuk apa yang kita perbuat kepada orang lain kita akan mendapat balasan yang setimpal, maka dengan sendirinya kita akan berusaha hidup sebaik dan sesaleh mungkin. Sebab siapa yang ingin menipu, menciderai, atau membunuh orang lain jika ia yakin bahwa dengan berbuat demikian ia akan dibalas dengan aniaya-yang sama dalam masa hidup fisik berikutnya? Saya kutip lagi ayat Q. 42:30: Musibah apa pun yang menimpa kamu, itu hasil perbuatan tangan-tanganmu…

agar kita dapat menerima segala “cobaan” dengan tawakal dan ikhlas. Akan saya kutip pula ayat Q. 2:178: Hai orang-orang yang beriman! Ditetapkan bagi kamu pembalasan dalam perkara pembunuhan; orang merdeka, dengan orang merdeka, dan hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. ... Dan ayat Q. 5:45: Dan telah Kami tetapkan bagi mereka dalamnya (Taurat): jiwa (dibalas) dengan jiwa, dan mata dengan mata, dan hidung dengan hidung, dan telinga dengan telinga, dan gigi dengan gigi, dan untuk luka (pun-) ada pembalasannya.. . . Ayat-ayat di atas bukan berarti bahwa kita sendirilah yang harus memberi balasan untuk setiap perbuatan yang dinyatakan dalamnya, tetapi bahwa Allah s.w.t. telah menetapkan atau menciptakan suatu hukum alam yang menjamin bahwa setiap perbuatan jahat akan ada pembalasannya yang setimpal di hari kemudian. Dan secara pragmatis saya tarik kesimpulan bahwa pembalasan yang digambarkan di atas itu akan dilaksanakan dalam keadaan fisik pula; jika tidak pada masa hidup sekarang, ya pada masa hidup berikutnya. Dahulu, sebelum saya menemukan ajaran reinkarnasi dalam Al-Quran, saya mengira bahwa hukum qishash (pembalasan) itu berlaku dalam hubungan satu masa hidup saja. Tetapi saya lihat bahwa tidaklah demikian kenyataannya: Kejahatan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan lainlain yang tidak terpuji, sering lewat begitu saja tanpa ada orang lain yang (berani) menghalanghalangi atau menuntutnya, sehingga sanksi atau hukuman terhadap yang memperbuatnya seolaholah sama sekali tidak ada. Tetapi sekarang, setelah saya menemukan hukum reinkarnasi dan karma sebagai ajaran Islam, ayat-ayat tadi memberikan pengertian yang amat berlainan kepada saya. Sekarang ayat-ayat itu seolah-olah memberitahukan kepada saya bahwa untuk setiap kejahatan yang kita perbuat pasti ada pembalasannya yang setimpal di hari kemudian, bila tidak dalam masa hidup sekarang ya dalam masa hidup berikutnya. Sebagaimana telah saya katakan tadi, pembalasan atau hukuman itu, jika tidak terlaksanakan dalam hidup sekarang, bukan saja dilaksanakan di akhirat berupa siksaan mental dan rohani, melainkan juga di dunia, di mana semua perbuatan kita yang lalu, baik atau jahat, akan dibayar kembali secara adil. Dalam perkataan ayat Q. 10:4: ... Ialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya, supaya Ia dapat memberi pahala kepada mereka yang beriman dan melakukan kebaikan secara adil; sedangkan untuk orang-orang yang ingkar disediakan minuman yang mendidih dan azab yang pedih karena mereka ingkar. Ayat itu mengajarkan pula bahwa kita akan dilahirkan atau diciptakan kembali agar supaya Tuhan dapat memberi pahala atau hukuman secara adil kepada kita sehubungan dengan apa yang kita lakukan dalam hidup sekarang. Kesimpulan itu agaknya diperkuat oleh ayat Q. 16:97, yang berbunyi sebagai berikut:

Barangsiapa berbuat baik, laki-laki atau perempuan, dan ia beriman, maka pasti Kami hidupkan (= lahirkan kembali) dengan KEHIDUPAN yang baik. Dan Kami akan memberinya pahala (sebagai pembalasan) sesuai dengan apa yang sebaiknya mereka lakukan

Selain merampungkan karma sebagai akibat perbuatan-perbuatan dalam kehidupan kita yang sudah-sudah, kita juga menghimpun karma baru bagi diri kita karena pilihan-pilihan dan keputusankeputusan yang kita ambil. Kadang-kadang reaksinya amat segera; tetapi, lebih sering lagi, reaksi itu ditangguhkan sampai hidup fisik berikutnya. Karena itu, seperti saya katakan tadi, banyak penjahat, koruptor, pencopet, perampok, penjambret, penipu, pemerkosa, pembajak, pembunuh, pencuri, dan pembuat onar lainnya sekarang nampak seolah-olah bebas dari tuntutan atau pembalasan. Agaknya orang-orang demikianlah yang dimaksudkan Tuhan dalam ayat Q. 14:42: Janganlah dikira bahwa Allah tidak tahu akan apa yang diperbuat oleh orang-orang jahat. Ia hanya memberi mereka waktu (penangguhan) sampai air mata mereka terbelalak ketakutan. Jika kita kelak ingin menikmati kehidupan bahagia, baik di akhirat maupun di masa hidup fisik berikutnya, maka tiada pilihan lain bagi kita sekarang selain berusaha keras untuk beramal saleh sebanyak mungkin. Perbuatan itu bukan saja merupakan pembayaran kembali utang-utang karma yang lampau, melainkan juga simpanan atau persiapan karma kita di hari kemudian, sebagaimana ternyata dari ayat Q. 2:245: Siapakah yang akan meminjami Allah pinjaman yang baik agar Ia dapat banyak melipatgandakannya? Allah menyempitkan dan meluaskan (rezeki), dan kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan. Bacalah pula ayat Q. 29:7: Dan mereka yang beriman dan beramal baik, akan Kami hapuskan dosa-dosanya dan akan Kami beri mereka pahala menurut apa yang sebaiknya pernah mereka lakukan. Dapat anda lihat di atas bahwa amalan-amalan baik bukan saja merupakan tabungan untuk hari kemudian anda di akhirat dan pada masa hidup berikutnya, melainkan juga pembayaran kembali utang-utang karma anda sekarang. Karena itu, setiap usaha baik yang kita lakukan tidak akan sia-sia. Juga usaha-usaha yang berhasil dalam melawan godaan-godaan besar pun dapat merupakan credit point atau pahala bagi kita. Cobalah anda baca saja ayat Q. 4:31, yang berbunyi: Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar yang terlarang bagimu, akan Kami bebaskan kamu dari perbuatan-perbuatan burukmu, dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia. Kemalangan dan kesulitan yang menimpa kita - asalkan kita menerimanya secara tabah dan tawakal - merupakan pula sarana untuk membayar kembali utang-utang karma kita, dan karena itu mempercepat kemajuan spiritual kita. Penderitaan dan kekecewaan datang dan pergi sebagai datang dan perginya pasang-surut laut. Penderitaan manusia yang nampak seolah-olah tidak pada tempatnya atau tanpa sebab, yang sering kita lihat di sekeliling kita atau kita alami sendiri, pada hakekatnya adalah suatu proses perampungan atau pembayaran kembali sebagian utang-utang karma kita, bukan oleh karena “Tuhan menghendaki demikian” atau “ujian” belaka tanpa sebab. Hendaknya kita selalu ingat bahwa Al-Quran itu amat kompak isinya, amat padat. Ayatayatnya bukan saja untuk dibaca atau dibacakan dan dikhotbahkan kepada orang lain dengan kata itu-itu juga, melainkan, di mana perlu, diberi penjelasan atau makna yang sesuai dengan akal sehat. Sebagai akhir kata dalam bab ini, saya akan menyinggung suatu konsepsi yang beredar di sebagian golongan kaum Muslinin yang menurut hemat saya amat irrasional: Mereka beranggapan bahwa Allah s.w.t. telah menakdirkan orang menjadi baik atau jahat, dan dengan demikian, menakdirkan orang akan masuk surga atau neraka. Tentu saja hal itu tidak mungkin benar, karena bertentangan dengan akal sehat dan rasa keadilan. Seandainya ajaran itu benar, lalu apa gunanya ujian-ujian hidup yang dikenakan kepada umat manusia menurut ayat Q. 6:165 yang telah saya kutip terdahulu? Saya tidak akan berpanjang lebar mengenai itu. Saya hanya akan mengutip suatu

ayat Al-Quran yang dapat dianggap sebagai sanggahan terhadap gagasan yang tak masuk akal itu, yaitu ayat Q. 3:142, yang berbunyi: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, sedangkan Tuhan belum tahu siapasiapa di antara kamu yang sungguh-sungguh berjihad dan siapa yang sabar berjuang? Ayat, itu dapat juga dianggap sebagai peringatan kepada orang-orang yang chauvinismenya (sifat patriotik yang berlebih-lebihan) meluap-luap dan berpikir bahwa hanya agama merekalah yang merupakan satu-satunya jalan menuju ke surga bagi umat manusia.

XIV Cintailah Sesama Manusia
Dalam Kitab Injil ada ucapan terkenal, yaitu “Cintailah tetanggamu seperti dirimu sendiri”. Sepanjang saya pribadi dapat menyimpulkan dari Al-Quran, ucapan itu juga merupakan salah satu ajaran yang terpenting dalam agama Islam; bahkan demikian pentingnya sehingga Allah s.w.t. seolah-olah menyatakan cinta atau berbakti kepada sesama manusia itu sama pentingnya dan sama nilainya dengan cinta kepada Allah s.w.t. sendiri. Pernyataan saya di atas mungkin sekali akan dianggap oleh sebagian orang sebagai suatu penodaan terhadap akidah dan kaidah Islam, karena kita telah terbiasa diajari bahwa cinta kepada Tuhanlah yang harus ditempatkan di atas segala-galanya. Dan mungkin pula saya dianggap musyrik karena ucapan saya itu. Tetapi, para pembaca yang budiman, saya mohon kesempatan untuk menguraikan lebih lanjut pernyataan saya tadi dan mengemukakan alasan-alasan yang mendorong kepada pernyataan itu. Hendaknya diperhatikan bahwa setiap pernyataan yang terkandung dalam buku ini saya dasarkan kepada ayat-ayat yang saya temukan dalam Al-Quran. Jika tokh ada uraian atau pendapat saya yang tidak sesuai dengan pendapat tradisional, maka hal itu disebabkan oleh selera interpretasi yang berlainan. Ayat-ayat Q. 32:8-9 yang telah saya kutip dalam buku ini, berbunyi sebagai berikut: 8. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sedikit cairan hina. 9. Kemudian Ia membentuknya dan meniupkan ke dalamnya sebahagian dari Ruh-Nya, dan Ia jadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur. Dalam ayat Q. 32:9 di atas, kita dapat mengerti bahwa dalam garis besarnya manusia itu terdiri dari tubuh fisik dan ruh yang berasal dari Ruh Tuhan. (Semoga tidak ada orang mukmin yang memanipulasikan kata-kata ayat di atas sedemikian rupa sehingga akhirnya ia menetapkan bahwa dalam diri manusia tidak terdapat bahagian Ruh Tuhan atau sesuatu yang bersifat ketuhanan). Di samping itu, harap para pembaca maklum bahwa dengan penegasan di atas saya sama sekali tidak bermaksud mengatakan manusia itu Tuhan. Itu perlu saya tandaskan agar jangan ada orang menuding saya musyrik. Sebagai penjelasan: Jika kita masukkan gula sedikit ke dalam suatu adonan kue apam, maka kue itu tidak kita namakan gula, melainkan kue apam. Jika sebagian Ruh Tuhan “ditiupkan” oleh Tuhan ke dalam calon tubuh manusia - sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran ayat Q. 32:9 tadi - maka tubuh itu tidak kita namakan Tuhan atau Ruh Tuhan, melainkan manusia, makhluk Tuhan. Tidaklah manusia itu lalu berhak mengatakan, “Tuhan adalah aku,” “Ruh Tuhan adalah aku,” aku “Aku adalah Tuhan.” Tetapi, bahwasanya dalam tubuh manusia itu ada terdapat sebagian Ruh Tuhan atau sesuatu yang bersifat ketuhanan, memang dapat kita simpulkan dari ayat tersebut. Jadi, janganlah kita mengingkari karunia Tuhan itu dan menghukum orang-orang yang berani mengatakan demikian sebagai musyrik, karena Tuhan Sendirilah yang menyatakan demikian. Bila kita berani berpikir secara dinamis, maka kita sampai pada kesimpulan bahwa manusia itu pada hakekatnya adalah makhluk Tuhan yang bersifat rohaniah, atau makhluk yang ada di dalamnya sebagian Ruh Tuhan. Dan ruh itulah yang berkali-kali akan bereinkarnasi di dunia ini, dalam bentuk fisik yang setiap kali berlainan. Dengan berkonsepsi logis demikian, kita dapat menarik kesimpulan bahwa memberi sedekah kepada seorang yang miskin misalnya, berarti memberi sedekah kepada bahagian Ruh Tuhan yang

ada pada diri orang miskin itu atau berbaik kepada Tuhan. Melukai hati seseorang berarti pula berdosa terhadap Tuhan, sebab dalam diri orang itu bersemayam sebagian Ruh Tuhan. Menolak permintaan bantuan seseorang yang sungguh-sungguh dalam kesusahan, sedangkan kita sebenarnya dapat memenuhinya, berarti bahwa kita tidak berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberi kita rezeki, nikmat hidup, kesenangan, dan pelbagai kemudahan lainnya. Sehubungan dengan itu, jika dalam Al-Quran kita berulang-ulang diserukan agar mencintai atau berbakti kepada Allah s.w.t., maka secara silogistis, kita dapat pula menafsirkannya sebagai seruan agar kita mencintai dan berbakti kepada sesama manusia, karena dalam setiap manusia terdapat bahagian Ruh Tuhan yang menurut ayat Q. 32:9 tadi ditiupkan ke dalam tubuhnya sebelum ia dilahirkan. Karena itu pula, maka dengan aman dapat saya katakan bahwa berbakti kepada sesama manusia adalah senilai dengan cinta dan beribadah kepada Allah s.w.t. Untuk memperkuat tafsiran itu, ingin saya kutip ayat Q. 2:177, yang berbunyi sebagai berikut:

Bukanlah kebaktian (bila) menghadapkan wajahmu ke timur dan ke barat, tetapi yang berbakti itu ialah yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan - karena cinta kepada-Nya (dalam bahasa Arab: ‘alaa hubbihii) memberikan harta kepada para kerabat, anak-anak yatim piatu, orang-orang miskin, orangorang musafir, dan orang-orang yang minta, yang memerdekakan hamba sahaya, dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan orang yang menepati janjinya apabila berjanji, dan orang-orang yang bersabar dalam kesengsaraan dan kesulitan dan ketika mengalami peperangan. Mereka itulah orang yang benar, dan mereka itulah yang bertakwa. Ayat Q. 76:8-9:

8. Dan mereka memberi makanan - karena cinta kepada-Nya - kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan 9. (dan berkata): Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan ataupun terima kasih daripadamu. Ayat-ayat di atas - terutama perkataan “karena cinta kepada-Nya” - mengisyaratkan kepada kita bahwa jika benar-benar kita mencintai Allah s.w.t., maka kita hendaknya mencintai sesama manusia; bahwa sebagai ungkapan cinta kepada Allah s.w.t., kita harus berbakti kepada sesama manusia; bahwa cinta kepada Allah s.w.t. harus kita wujudkan dengan mencintai sesama manusia; bahwa di mata Allah mencintai atau berbaik terhadap sesama manusia adalah cara ibadat yang terbenar yang paling bertakwa, yang paling afdol.

Catatan: Dalam Terjemah Al-Quran susunan Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Quran yang direstui oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia, perkataan ‘alaa hubbihii dalam ayat Q. 2:177 dan ayat Q. 76:8 masing-masing diterjemahkan dengan “yang dicintainya” dan “yang disukainya”, sehingga untuk kalimat wa’aatal maala ‘alaa hubbihii diperoleh terjemahan Indonesia “dan memberikan harta yang dicintainya”, dan untuk kalimat waytuth imuunath tha’amaa ‘alaa hubbihii “dan mereka memberi makanan yang disukainya”, sedangkan saya menerjemahkannya masing-masing dengan “dan - karena cinta kepada-Nya - memberikan harta ...” dan “dan mereka memberi makanan - karena cinta kepada-Nya -...” Suatu perbedaan yang amat besar, bukan? Terjemahan saya menunjukkan cinta manusia kepada Allah s.w.t.; terjemahan para penyusun Terjemah Al-Quran menunjukkan cinta manusia kepada harta dan makanan. Mana yang benar, terserah kepada para ahli bahasa Arab. Kebanyakan orang senantiasa mengajarkan kepada kita bahwa ajaran terpenting agama Islam ialah berbakti kepada Allah s.w.t. dalam arti makin banyak kita berdoa makin besar pahala-Nya bagi kita. Memang benar ayat Q. 51:56 berbunyi: Aku ciptakan jin dan manusia hanya agar mereka beribadah kepadaku. Tetapi, apa makna “beribadah kepada Tuhan” itu? Bagi saya, sebagaimana telah saya uraikan di atas, itu bukan berarti beribadah dalam arti harfiah saja - yaitu percaya kepada Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa, dan naik haji - melainkan juga, bahkan lebih-lebih, mencintai dan berbakti kepada sesama manusia. Ayat-ayat Q. 2:177 dan Q. 76:9 tadi menurut hemat saya merupakan bukti kuat akan kebenaran itu. Ayat-ayat itu menyerukan agar, sebagai bukti atau ungkapan cinta kita kepada Allah s.w.t., kita berbakti kepada, dan menolong, sesama manusia. Allah sendiri tidak membutuhkan apa pun dari kita. Kata “beribadah” atau “menyembah” amat luas artinya. Jika kita terlalu condong kepada arti harfiahnya, kita akan memperoleh kesan keliru mengenai agama. Sebab dengan berkonsepsi demikian, manusia akan cenderung mengurangi usahanya untuk bekerja keras yang amat diperlukan guna memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan membangun negara. Menurut ajaran-ajaran Al-Quran, sepanjang saya dapat mendalaminya, Tuhan menyerukan terutama agar manusia berbakti kepada sesama manusia dan bekerja keras. Ada hadits Nabi Muhammad s.a.w. yang berbunyi: Orang yang paling, aku kasihi dan paling dekat kedudukannya dengan aku di hari kiamat, ialah orang yang paling baik perilakunya terhadap sesama manusia, sehingga ia dapat memberi simpati kepada, dan menerima simpati dari, orang lain. Maknanya amat jelas. Tiada orang yang lebih terpuji di mata Nabi Muhammad s.a.w. daripada orang yang berbaikan dengan, dan berbakti kepada sesama manusia. Berfirmanlah Allah s.w.t. dalam ayat Q. 4:95: Tidaklah sama orang yang duduk-duduk saja - kecuali bila ada uzur - dengan orang yang berusaha keras di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berusaha keras dengan harta jiwanya satu derajat di atas orang-orang yang duduk-duduk (berdoa) saja: Kepada mereka masing-masing Allah menjanjikan kebaikan, tetapi Ia memberi kelebihan kepada orang-orang yang berusaha di atas orang-orang yang duduk-duduk (berdoa) saja. Ayat di atas bukan saja berarti bahwa Allah s.w.t. menilai lebih tinggi orang-orang yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya (dan negara) dan mempergunakan harta bendanya untuk kesejahteraan sesama manusia daripada orang yang hanya duduk-duduk berdoa sepanjang hari sebagai pernyataan cintanya kepada Allah s.w.t., melainkan juga menghibur mereka yang tidak begitu berhasil dalam hidupnya dan harus bekerja keras untuk mempertahankan hidupnya dan hidup keluarganya. Bekerja keras untuk kesejahteraan manusia adalah ibadah yang amat utama.

Karena itu, di samping beribadah kepada Allah s.w.t. secara tradisional, cara yang terbaik untuk beroleh pahala Tuhan ialah bekerja keras, mencintai dan berbakti kepada sesama manusia dengan mempergunakan harta bendanya untuk kesejahteraan mereka; dan dosa yang paling nyata ialah bila kita menyakiti orang lain, secara fisik atau mental. Hal itu masing-masing dinyatakan dalam ayat-ayat berikut. Ayat Q. 30:38-39:

38. Maka berikanlah hak kepada para kerabat, dan kepada para fakir miskin, dan orang dalam perjalanan. Itu lebih baik bagi mereka yang mencari wajah Allah. Dan orang-orang yang demikianlah yang berhasil. 39. Dan yang kamu berikan untuk diperbungakan sehingga mendapat tambahan dari orang (lain), itu tidak akan bertambah pada Allah; tetapi yang kamu berikan berupa derma karena mengingat keridhaan Allah, itulah yang akan mendapat pahala yang berlipat ganda. Ayat Q. 42:42:

Sesungguhnya dosa itu hanyalah terhadap orang-orang yang berbuat zalim kepada (sesama) manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Untuk mereka (disediakan) azab yang pedih. Ada banyak lagi ayat yang menyerukan agar kita benar-benar berbakti kepada sesama manusia dan berkorban untuknya, sebagai ungkapan dan pelaksanaan cinta kita kepada Allah s.w.t., seperti dapat anda lihat dari ayat-ayat di bawah ini. Ayat Q. 42.23: Katakanlah: Aku tidak minta upah dari kamu untuk itu selain kasih sayang kekeluargaan.... Ayat Q. 2:110: Dan dirikanlah shalat, dan bayarlah zakat. Dan kebaikan apa pun yang kamu usahakan bagi dirimu, kamu akan mendapatinya (kelak) di sisi Allah. Sesungguhnya Allah melihat segala sesuatu yang kamu lakukan. Ayat Q. 2.195: Keluarkanlah hartamu di jalan Allah, dan janganlah kamu hancurkan dirimu oleh tangantanganmu sendiri, dan berbuatlah baik. Sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang berbuat baik. Sebagaimana telah saya jelaskan di atas, perkataan “di jalan Allah” dapat diartikan sebagai “untuk kepentingan manusia”, sebab membantu dan berbakti kepada sesama manusia sama nilainya dengan membantu dan berbakti kepada Allah s.w.t., dan mencintai mereka sama nilainya dengan mencintai Allah s.w.t. Untuk membuktikan bahwa perkataan “di jalan Allah” atau fii sabiilillaahi itu boleh, untuk tidak dikatakan harus, diartikan sebagai “untuk kepentingan umat manusia”, akan saya kutip ayat Q. 2:262, yang berbunyi:

Mereka yang menggunakan kekayaannya di jalan Allah dan kemudian tidak mencela dan menyakiti setelah memberi itu, akan diberi pahala oleh Tuhannya. Tiada ketakutan bagi mereka dan tiada mereka bersedih. Seperti telah saya katakan tadi, perkataan “di jalan Allah” atau fii sabiilillaahi itu hendaknya kita artikan sebagai “untuk kepentingan manusia”, sebab sebagaimana dapat kita simpulkan dari ayat di atas, kita hanya bisa mencela atau menyakiti sesama manusia; kita tidak bisa mencela atau menyakiti Tuhan; Tuhan tidak dapat disakiti oleh perbuatan kita. Lagi pula, Tuhan tidak memerlukan apa-apa dari manusia atau mengharapkan agar manusia memberikan sebagian harta kekayaannya kepada-Nya. Yang diinginkan-Nya ialah pemberian kita kepada sesama manusia. Buat apa Tuhan harus menerima hadiah berupa benda atau apa pun, sedangkan Dia Sendiri adalah sumber segala sesuatu? Berfirmanlah Tuhan dalam ayat Q. 51:57-58: 57. Aku tidak minta rezeki apa pun dari mereka, juga Aku tidak minta supaya mereka memberi Aku makan. 58. Sesungguhnya Allahlah yang memberi rezeki, yang mempunyai kekuatan yang dahsyat. Allah s.w.t. membagi-bagikan kekayaan-Nya kepada manusia sebagai titipan. Agar hal itu senantiasa diingat oleh manusia, maka berfirmanlah Tuhan dalam ayat Q. 57:7: Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan belanjakanlah sebagian dari apa yang Aku percayakan kepada kamu. Dan orang-orang di antara kamu yang beriman dan membelanjakan (harta itu) akan beroleh pahala besar. Ayat Q. 3:133-134: 133. Berlomba-lombalah (untuk) mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi mereka yang takwa; 134. Orang-orang yang mendermakan (hartanya) dalam waktu senang dan dalam kesempitan, yang suka menahan amarah dan memaafkan orang. Allah cinta pada orang yang berbuat baik. Ayat Q. 2:267: Hai orang yang beriman: Sumbangkanlah sebagian yang baik-baik dari apa yang kamu peroleh dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah berniat menyumbangkan yang buruk-buruk daripadanya, sedangkan kamu sendiri tidak akan mau menerimanya kecuali dengan rasa jijik. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya, Maha Terpuji. Ayat Q. 57:18: Sesungguhnya orang-orang yang memberikan sedekah, baik laki-laki maupun perempuan, dan meminjamkan pinjaman yang baik kepada Allah, niscaya akan dilipatgandakan (peminjamannya) dan bagi mereka pahala yang besar. Perkataan “meminjamkan pinjaman yang baik” dalam ayat Q. 57:18 di atas saya tafsirkan sebagai “berbuat baik tanpa mengharapkan pembalasan apa pun dari kebaikannya”. Memberi sedekah atau berbuat baik kepada sesama manusia bukan berarti kita harus mempunyai harta benda untuk diberikan kepada orang lain. Ayat Q. 2:286 berbunyi: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya....

Memberi sedekah agaknya harus diartikan secara luas, dan tidak berarti pemberian uang atau harta benda saja. Bunyi ayat Q. 65:7: Hendaklah orang yang berlebih-lebihan (hartanya) membelanjakan sebahagian kelebihannya itu, dan orang yang hartanya terbatas memberikan sumbangan dari apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. Suatu perbuatan baik yang datang dari hati yang tulus dan ikhlas sama nilainya dengan memberikan sedekah. Memberikan tempat duduk kepada seorang orang tua, menolong seorang invalid atau penderita cacad melintasi jalan, memungut sebuah paku di jalan agar jangan orang lain menginjaknya, membuang kulit pisang yang ada di kaki lima ke tempat sampah untuk menghindarkan seseorang tergelincir karenanya, menengok dan menghibur orang sakit, semua kebaikan kecil itu merupakan perbuatan terpuji yang akan mempercepat kemajuan rohani kita. Kita semua mempunyai kesempatan yang sama untuk berbuat baik, meskipun kita bukan orang berada. Ayat-ayat yang dikutip tadi mengajarkan kepada kita bahwa mencintai dan berbakti kepada sesama manusia itu sebenarnya merupakan ajaran Ilahi yang terpenting bagi umat manusia; sebab hanya dengan berbaik demikianlah - yang pada hakekatnya berarti beribadah kepada Allah s.w.t. – kita akan memperoleh hari kemudian yang baik, bukan saja di akhirat, melainkan juga dalam masa hidup fisik berikutnya, yaitu bila kita dilahirkan kembali. Islam adalah agama kemanusiaan, selain agama perbuatan. Allah s.w.t. juga mengajarkan bahwa dalam berbakti kepada sesama manusia kita tidak boleh menghitung-hitung pahala atau keuntungan. Sebab jika kita sekarang mendapatkan pahala atau pembalasan atas kebaikan itu, mungkin sekali kita tidak akan menerimanya lagi di hari kemudian atas kebaikan itu. Berbuatlah kebaikan, dan lupakanlah. Ajaran demikian agaknya tersimpul dalam ayat-ayat berikut: Q. 42:20: Barangsiapa inginkan pungutan di akhirat, akan Kami tambahkan pungutan itu. Dan barangsiapa inginkan pungutan di dunia, akan Kami berikan kepadanya sebagian daripadanya, dan kelak ia, tidak akan mendapat bahagian di akhirat. Ayat Q. 2:271. Jika kamu umumkan pemberian sedekahmu, itu baik; tetapi jika kamu sembunyikan dan berikan kepada orang miskin, maka itu lebih baik bagimu, dan Allah akan menghapuskan sebagian kesalahan-kesalahanmu dari kamu. Allah tahu benar apa yang kamu lakukan. Ayat Q. 35.29-30. 29. Sesungguhnya orang-orang yang membaca Al-Kitab dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari apa yang Kami anugerahkan kepada mereka, dengan diamdiam atau terang-terangan, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi 30. Karena Allah akan membayarkan kepada mereka hadiah dan menambahkan kepada mereka karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penerima Syukur. Dari ayat-ayat di atas, dapat kita lihat bahwa cara yang terbaik untuk memberi sedekah atau hadiah adalah memberikannya kepada seseorang yang tidak mampu membalas kebaikan kita; bukannya kepada seseorang yang kita harapkan pembalasan atau jasa imbalan daripadanya. Allah s.w.t. akan melipatgandakan kebaikan anda jika kebaikan itu anda berikan dengan rendah hati dan tulus hati, tanpa mengharapkan suatu pujian atau pembalasan. Apa pun yang anda sedekahkan, itu akan dibayarkan kembali kepada anda secara berlipat ganda. Jika anda ingin mencintai, anda harus mencintai lebih dahulu. Jika anda ingin diberi, anda harus memberi dahulu. Itulah yang pada hakekatnya senantiasa diajarkan Tuhan kepada kita. Cintailah sesama manusia dan dengan demikian anda secara implisit mencintai Tuhan, Maha Pemurah, Maha Penyayang.

XV Tuhan Yang Maha Pengampun
Amatlah disayangkan bahwa di antara guru agama banyak yang mengajarkan bahwa setelah mati orang-orang berdosa akan tinggal di neraka untuk selama-lamanya. Sedikit sekali mereka sadari bahwa dengan memberikan ajaran demikian mereka sebenarnya menggambarkan Allah s.w.t. sebagai Tuhan yang, tidak kenal ampun, dan mengabaikan beratus-ratus ayat Al-Quran yang mengagungkan Tuhan sebagai Tuhan yang Maha Pemurah dan Maha Pengampun. Sedikit sekali mereka sadari bahwa ajaran yang mereka berikan secara demikian itu sebenarnya bertentangan dengan apa yang difirmankan oleh Tuhan Sendiri dalam ayat Q. 39:53, yang berbunyi:

Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri sendiri! Janganlah kamu berputus asa atas rahmat Allah, yang akan mengampuni SEGALA dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Mereka yang mengajarkan hukum neraka yang kekal dan abadi itu agaknya lupa bahwa dalam Al-Quran ada ayat-ayat yang mengajarkan bahwa dalam apa yang dinamakan neraka pun ruh manusia dapat bertaubat dan kemudian berbuat baik, dan karena itu - tentunya setelah mengalami penderitaan mental dan batin sebagai hukuman - dapat dipindahkan dari keadaan yang tidak menyenangkan itu ke keadaan yang lebih baik, yaitu apa yang kita namakan surga. Kemungkinan itu dapat disimpulkan dari ayat Q. 3:185, yang berbunyi:

Setiap jiwa akan merasakan kematian. Dan pada hari kebangkitan akan dibayarkan kepada kamu ganjaranmu. Barangsiapa dipindahkan dari api (neraka) dan dimasukkan ke dalam surga, sesungguhnya ia beroleh kemenangan. Dan kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Ayat Q. 6:128:

(Tuhan) berkata: Api tempat kediamanmu. Di dalamnya kamu tinggal selama-lamanya, kecuali jika Allah menghendaki (lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Dan ayat Q. 11:106-107:

106. Adapun orang-orang yang nista (pada hari itu), mereka akan ada dalam neraka; di sana mereka hanya mengerang dan meratap. 107. Mereka tinggal di sana selama terbentang langit dan bumi, kecuali jika Tuhan menghendaki (lain). Sesungguhnya Tuhanmu melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya. Seperti anda lihat, ayat-ayat di atas tidak mengesampingkan kemungkinan orang-orang berdosa dipindahkan dari neraka ke surga. Sebagian ulama mengakui bahwa orang-orang berdosa akhirnya memang akan dipindahkan dari neraka ke tempat yang lebih baik, tetapi itu hanya berlaku bagi orang-orang yang telah melakukan dosa-dosa kecil saja. Adapun orang-orang yang berdosa karena syirk (mempersekutukan Allah), murtad, dan tentunya juga apa yang dinamakan kafir atau orang-orang yang tak beriman, mereka, katanya, sama sekali tidak akan diampuni oleh Allah s.w.t. Dengan perkataan lain, mereka akan tetap tinggal di neraka untuk selama-lamanya, kekal dan abadi. Menurut hemat saya, ajaran demikian amat menyesatkan dan mengurangi keagungan dan rasionalitas agama Islam. Hendaknya para pembaca maklum bahwa di sini saya tidak bermaksud memperbincangkan atau ikut-ikut menilai dosa atau hukumannya sendiri, sebab menurut hemat saya, hanya Tuhanlah yang berwenang menentukan apakah suatu perbuatan, sikap, kepercayaan, atau pengingkaran merupakan dosa atau tidak. Tidak seorang-pun, baik ia kiyai ataupun ulama besar, berhak mengatakan seseorang akan masuk neraka. Apa yang saya permasalahkan di sini ialah kemahapengampunan Allah s.w.t., yang menurut hemat saya sering disalahtafsirkan dan dikurangi nilai efektivitasnya oleh beberapa kalangan beragama. Kalangan itu berpendapat bahwa dalam hal dosa-dosa yang saya sebut tadi, yaitu syirk, murtad, atau kufur, sama sekali tiada pengampunan Allah s.w.t., bahkan mengkhotbahkan bahwa untuk dosa-dosa itu hukumannya di neraka jahanam yang kekal dan abadi. Sedangkan menurut hemat saya, yang saya dasarkan pada ayat-ayat Al-Quran secara totalitas, Allah s.w.t. itu demikian. Maha Pemurahnya, demikian Maha Penyayangnya, dan demikian Maha Pengasihnya, sehingga dalam hal dosa-dosa yang saya sebut tadi pun Ia akhimya akan memberikan pengampunan-Nya. Pada suatu hari, ketika bertukar pikiran tentang kemahapengampunan Tuhan dengan seseorang, saya disodori ayat Q. 9:80, yang berbunyi:

Mohonkan ampun bagi mereka atau tidak mohonkan ampun bagi mereka (itu adalah sama saja). Meskipun kamu mintakan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan mengampuni mereka. Itu karena mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak membimbing orang-orang fasik. Anda lihat, ayat itu mengatakan dengan jelas, “meskipun kamu mintakan ampun bagi mereka tujuh puluh kali Allah tidak akan mengampuni mereka“, yaitu bilamana dosanya disebabkan karena tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika itu, saya merasa amat terpukul oleh ayat itu, sebab selama itu saya selalu percaya bahwa bagi Tuhan tidak ada dosa yang akhirnya tidak akan Ia ampuni. Saya selalu berpikir bahwa adalah wajar jika ayat yang menyatakan Allah akan mengampuni segala dosa (ayat Q. 39:53) harus diletakkan di atas segala ayat lainnya yang memuat ancaman siksaan yang kekal dan abadi. Saya selalu berpikir bahwa dosa apa pun - setelah yang bersangkutan bertaubat di dalam apa-yang dinamakan neraka - akhirnya akan diampuni Allah s.w.t. Tetapi, agaknya tidak demikianlah halnya, menurut ayat Q. 9:80 tadi itu. Ayat itu seakan-akan mengatakan bahwa Tuhan tidak akan mengampuni orang-orang yang mengingkari Tuhan dan Rasul-Nya. Jadi, bagaimana menerangkan ketidakcocokan itu? Di satu pihak, ayat itu menyatakan Tuhan tidak akan mengampuni orang-orang yang berdosa khusus itu. Di pihak lain, ayat Q. 39:53

menyatakan Allah akan mengampuni segala dosa dan menyerukan kepada kita agar jangan berputus asa atas rahmat-Nya! Bagaimana dapat saya damaikan ayat-ayat yang nampak bertentangan itu? Ada baiknya bila saya ingatkan kembali para pembaca yang budiman di sini bahwa saya tidak pernah menikmati pendidikan keagamaan secara formal. Bahkan saya boleh dikualifikasikan sebagai orang awam. Cita-cita saya di bidang agama hanyalah berusaha menjadi seorang Muslim biasa yang baik, bukan untuk menjadi mubaligh atau ahli dakwah. Karena itu, tidaklah mengherankan jika ketika dihadapkan kepada persoalan di atas saya sama sekali tidak siap memberikan jawaban atau tangkisan. Jika saya suka berpokrol-pokrolan atau berdebat kusir, tentu bisa saja saya ketika itu menjawab, “Baiklah, meskipun kita mohonkan ampunan tujuh puluh kali, Tuhan tidak akan mengampuni mereka. Tetapi, bagaimana kalau lebih dari tujuh puluh kali?” Tetapi oleh karena saya bukan seorang pokrol bambu, maka saya simpan tangkisan itu dalam batin. Sebelum saya lanjutkan tulisan ini, dan untuk menghindarkan salah paham, saya ingin menerangkan di sini sejelas-jelasnya bahwa saya tidak bermaksud mempertahankan atau membela orang-orang yang melanggar perintah Tuhan atau membolehkan syirk, murtad, atau kufur bila di sini saya minta agar dosa-dosa tertentu tadi jangan anda anggap sebagai dosa yang tak termaafkan. Saya hanya berusaha menghilangkan konsepsi yang sekarang beredar di beberapa kalangan tertentu yang berpikir bahwa kemahapengampunan Tuhan itu hanya terbatas kepada atau berlaku bagi para penganut agama tertentu saja. Izinkahlah saya melanjutkan tulisan saya. Esok harinya, setelah menyelesaikan shalat subuh, saya teringat akan sebuah firman Tuhan yang berbunyi, “Aku membalas permohonan orang yang mendoa apabila ia minta tolong kepada-Ku” (Q. 2:186); saya berdoa agar saya diberi petunjuk dalam menghadapi hal yang membingungkan itu. Saya tidak memikirkannya lagi ketika beberapa jam kemudian saya membaca lagi ayat yang membuat saya penasaran itu. Pada saat itu, teringatlah oleh saya bahwa “minta ampun bagi seseorang” itu sebenarnya perbuatan perantaraan atau syafaat, dan saya pernah membaca dalam Al-Quran bahwa syafaat, menurut banyak ayat, tidak diterima oleh Allah s.w.t. (kecuali bila Ia mengizinkan, tentunya). Hal itu dapat kita baca dalam ayat Q. 39:44: Katakanlah: Semua syafaat adalah milik Allah. Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan. Ayat Q. 2:123. Dan takutlah kamu akan suatu hari manakala tiada seorang pun kuasa menebus (dosa) orang lain, biarpun sedikit saja. Tidak pula diterima daripadanya tebusan, dan tidak pula berguna baginya syafaat; tidak pula mereka akan ditolong. Ayat Q. 6:5 1: Dan berilah peringatan kepada mereka yang takut (karena tahu) bahwa mereka akan dikumpulkan menghadap Tuhannya. Bagi mereka tiada pelindung atau pemberi syafaat selain Allah. Semoga mereka bertakwa. Sehubungan dengan ayat-ayat tersebut di atas, saya berpikir, betapa pun kerasnya usaha anda menolong orang berdosa dengan memohonkan ampunan baginya - yah, meskipun tujuh puluh kali maka usaha itu, menurut ayat-ayat tadi, pasti akan sia-sia belaka. Tetapi - nah, di sini letaknya kunci persoalan - jika orang-orang berdosa itu sendiri yang menyadari dosanya, lalu bertaubat mohon syafaat kepada Tuhan, dan berbuat baik, maka soalnya menjadi lain; maka niscaya Tuhan s.w.t. pun akan mendengarkan permohonannya, dan akhirnya mengampuni mereka. Saya rasa, betapa pun keras hatinya seseorang, bilamana ia harus mengalami siksaan mental dan batin dalam apa yang dinamakan neraka, pasti ia akan menyadari kesalahan-kesalahannya, dan akhirnya ia akan bertaubat juga. Setidak-tidaknya, itulah anggapan saya, sebagai orang awam, mengenai sesama manusia. Sehubungan dengan itu, saya persilahkan anda membaca ayat Q. 5:39, yang berbunyi:

Tetapi barangsiapa bertaubat setelah ia berbuat dosa dan memperbaiki (diri), maka sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Ayat Q. 16:119:

Kemudian - bagi mereka yang berbuat jahat karena kebodohannya dan kemudian bertaubat dan memperbaiki diri - sesungguhnya (bagi mereka) Tuhanmu, sesudah itu, Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Bahwasanya taubat itu juga dapat diterima oleh Allah s.w.t. di alam akhirat, yaitu setelah kematian, dapatlah anda lihat dari ayat Q. 3:88-89 yang telah saya kutip di muka dan sekarang saya ulangi:

88. Mereka menetap di dalamnya (di neraka). Tidak akan diringankan baginya siksaan dan tidak pula akan ditangguhkan (siksaannya). 89. Kecuali mereka yang KEMUDIAN bertaubat dan berbuat baik. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dari uraian di atas, kita dapat menarik kesimpulan secara aman bahwa pada hakekatnya tidak ada pertentangan antara ayat Q. 9:80 dan ayat Q. 39.53 itu. Ayat Q. 9:80 menyatakan bahwa siapa pun tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong orang berdosa, kecuali bila si pembuat dosa sendiri, atas kesadaran sendiri atau berkat doa orang lain, menyadari dosanya dan bertaubat. Saya amat sadar bahwa, meskipun saya telah memberikan uraian di atas, masih banyak orang yang secara gigih ingin menyatakan bahwa dalam hal syirk dan kufur Tuhan tidak akan memberi ampun, karena terdapat banyak ayat lain yang secara tegas memperkuat pendiriannya. Mengenai tauhid tidak dikenal kompromi! kata mereka, tegas. Saya sendiri, para pembaca yang budiman, memang sering membaca ayat-ayat demikian, tetapi setiap kali saya membacanya, saya selalu berpikir bahwa Tuhan agaknya ingin menguji kita dalam hal keimanan akan kemahapengampunan-Nya: Apakah iman kita akan hal itu mutlak atau bersyarat? Dalam hal saya pribadi, saya lebih condong percaya secara mutlak, tanpa syarat: bahwa Tuhan s.w.t. akhirnya akan mengampuni segala dosa; tak peduli apa pun yang dikatakan orang lain. Kemahapengampunan Tuhan itu tertulis seterang-terangnya dalam ayat Q. 39:35 yang saya kutip di muka. Tidak ayal lagi. Jika tokh ada ayat-ayat lain yang seolah-olah menyatakan sebaliknya, saya selalu berpikir bahwa hal itu disebabkan karena akal pikiran manusia yang terbatas dan tidak sempurna itu tidak mampu menelaah arti semua ayat Al-Quran. Bagi saya, bahasa keras yang dipergunakan Al-Quran untuk menegaskan keesaan Tuhan hanyalah suatu bukti betapa pentingnya bagi kita untuk mempunyai konsepsi yang benar mengenai Tuhan Yang Maha Esa. Bukannya mengurangi kemahapengampunan-Nya atau membuat kemahapengampunan itu bersyarat.

Saya mengerti bahwa uraian saya di atas sama sekali tidak ilmiah, karena hanya didasarkan pada sentimentalitas atau perasaan saja. Karena itu, saya merasa berkewajiban untuk memperkuat uraian itu dengan dalil-dalil otentik atau fakta-fakta yang dapat kita terima bersama. Dan kewajiban itu akan saya penuhi dengan keterangan di bawah ini. Ayat Q. 4:48 berbunyi: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni syirk terhadap-Nya. Ia mengampuni (segala dosa) selain itu bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, ia telah berbuat dosa yang amat besar. Ayat Q. 9:68: Allah menjanjikan neraka sebagai tempat tinggal kepada orang-orang munafik, baik laki-laki maupun perempuan, dan orang-orang yang ingkar. Cukuplah (neraka itu) bagi mereka. Allah melaknati mereka, dan bagi mereka siksaan yang kekal. Ayat Q. 2:161-162: 161. Sesungguhnya orang-orang yang ingkar dan mati dalam keadaan keingkarannya, mereka itu mendapat laknat dari Allah, para malaikat dan manusia sekalian. 162. Mereka kekal dalamnya. Siksaan tidak diringankan baginya, dan tidak pula mereka diberi peluang. Ayat Q. 2:167: Dan mereka yang mengikuti berkata: Sekiranya kami boleh kembali (ke dunia), kami akan melepaskan diri dari mereka, sebagaimana mereka telah melepaskan diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya sebagai sesalan bagi mereka; dan mereka tidak akan keluar dari api (neraka). Ayat Q. 3:90: Sesungguhnya orang-orang yang ingkar setelah beriman, kemudian keingkarannya, tidak akan diterima taubatnya. Dan mereka itu orang yang sesat. Ayat Q. 4:18: Dan tidaklah taubat itu diterima dari orang-orang yang berbuat jahat hingga apabila maut datang kepada salah seorang daripadanya, ia berkata,: Sesungguhnya saya bertaubat sekarang. Tidak pula (diterima taubat) dari mereka yang mati dalam keadaan kafir. Bagi mereka itu Kami sediakan siksaan yang pedih menyakitkan. Ayat Q. 4:137: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kemudian ingkar, lalu beriman lagi, kemudian ingkar lagi, dan kemudian bertambah dalam keingkarannya, maka Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka, tidak pula Ia akan memberi mereka petunjuk jalan yang benar. Anda lihat, ayat-ayat di atas semuanya memperkuat anggapan orang bahwa Tuhan s.w.t. tidak akan mengampuni orang-orang yang berdosa karena syirk, kemunafikan, dan kufur. Semuanya itu menunjukkan siksaan neraka yang kekal untuk dosa-dosa tersebut. Tetapi di pihak lain, ayat Q. 39: 53 mengatakan dengan jelas pula bahwa Tuhan akan mengampuni segala dosa. Mana yang benar? Harus ada keterangan yang dapat diterima untuk ketidakcocokan itu; juga karena saya yakin bahwa dalam Kitab Suci mana pun tidak mungkin ada kesalahan - seandainya Kitab Suci itu benarbenar Kitab yang diwahyukan Tuhan dan tidak diubah-ubah oleh tangan manusia: Dalam bab kedua buku ini pernah saya singgung bahwa selain harus memperhatikan Al-Quran secara keseluruhan dalam menarik suatu kesimpulan, kita harus pula mengindahkan soalsoal kecil yang mungkin terselip dalamnya yang sepintas lalu nampak seolah-olah tidak berarti apaapa - karena mungkin soal-soal kecil itulah yang dapat memberikan kunci untuk penafsiran yang bertambah

tepat dan benar. Bahwasanya hal itu beralasan, terbukti dari persoalan yang saya hadapi. Sebab, beberapa hari sebelum saya menulis kalimat-kalimat ini, perhatian saya tertarik oleh sebuah ayat Al-Quran yang implikasinya - mungkin karena rutin - sebelumnya tidak saya sadari tetapi ketika itu mendadak memberikan pengertian yang khusus. Ketika itu, terpikirlah oleh saya bahwa mungkin ayat itu dapat dipakai untuk memperkuat pendapat saya dalam persoalan yang amat peka itu. Ayat yang saya maksudkan ialah ayat Q. 4:170. Untuk lengkapnya, akan saya kutip pula dua buah ayat yang mendahuluinya. Marilah kita baca ayat-ayat itu:

168. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka, tidak pula Ia akan memberi petunjuk jalan kepada mereka. 169. Kecuali jalan ke neraka, di mana mereka akan tinggal selama-lamanya. Dan hal itu mudah bagi Allah. 170. Hai manusia! Rasul telah datang kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu. Karena itu, berimanlah; (itu) lebih baik bagimu. NAMUN, MESKIPUN kamu tak percaya (kafir), sesungguhnya TOKH kepunyaan Allahlah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dalam bahwa Inggris, terjemahan ayat Q. 4:170 itu adalah sebagai berikut: O Mankind! The messenger hath come unto you with truth from your Lord. Therefore believe; (it is) better for you. But if you disbelieve, still, lo! unto Allah belongeth whatsoever is in the heavens and the earth. Allah is ever Knower, Wise. Bagi saya, ayat Q. 4:170 di atas, khususnya perkataan “namun, meskipun . . ., tokh” (dalam bahasa Inggrisnya, “but if ... still,”) dalam kalimat yang seolah-olah tidak penting tetapi antiklimaktis itu, nampaknya memberikan suatu isyarat atau petunjuk tak langsung bahwa dalam hal dosa seperti syirk, murtad dan kufur sekalipun, Tuhanlah Yang berwenang mempertimbangkannya; bahwa dalam hal dosa demikian sekalipun, Tuhan dapat memberikan ampunan, karena Dialah Yang mempunyai hak prerogatif, karena Dialah Yang mempunyai hak menentukan. Dan Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang itu, saya yakin, dengan senang hati akan mempergunakan hak-Nya. Ia tidak akan pilih kasih terhadap suatu kaum atau suatu agama. Ia tidak akan menghukum secara kekal dan abadi makhluk-Nya yang berdosa, apa pun dosanya. Memang benar Tuhan s.w.t. tidak menyatakan maksud-Nya secara jelas dan langsung agaknya agar supaya manusia jangan meremehkan soal keimanan atau ketuhanan itu - tetapi jika kita teliti ayat itu lebih mendalam, maka dalam kalimat yang antiklimaktis itu tersiratlah pengakuan Tuhan bahwa dalam hal syirk, murtad atau kufur sekalipun Ia tetap Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dan karena itu, akan mempergunakan hak prerogatifNya dan kemudian memberi ampun. Dan hal itu amat sesuai dengan apa yang dinyatakan-Nya dalam ayat Q. 39:53, yang menyatakan bahwa Ia akan mengampuni segala dosa; sebab Ia tidak menginginkan makhluk-Nya akan menganggap firman-Nya dalam ayat Q. 39:53 itu sebagai omong kosong belaka.

Untuk memperkuat uraian saya di atas, saya ingin mengutip ayat lain dari Al-Quran yang meriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim a.s. pun percaya akan kemahapengampunan Allah s.w.t., yaitu ayat Q. 14:35-36:

35. Dan ketika Ibrahim berkata: Tuhanku! Jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak-cucuku dari menyembah berhala-berhala 36. Ya Tuhanku! Sesungguhnya mereka (berhala-berhala itu) telah menyesatkan kebanyakan manusia. Tetapi barangsiapa mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa mengingkariku (dalam hal itu pun, aku percaya) Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Terjemahan Inggrisnya: And whoso disobeyeth me - still, Thou art Forgiving, Merciful.) Kalimat terakhir yang samar-samar tetapi penuh arti itu menunjukkan bahwa hak prerogatif untuk menghukum pelanggaran adalah pada Tuhan; dan oleh karena Tuhan itu Maha Pengampun, saya yakin, pasti Ia akan mempergunakan hak prerogatif-Nya itu, dan akhirnya mengampuni dosadosa para pengingkar, asal saja mereka menyadarinya dan bertaubat. Meskipun dosa-dosa itu berupa penyembahan berhala atau syirk. Anda menghendaki bukti yang lebih kongkrit? Akan saya berikan. Saya persilakan anda membaca ayat Q. 4:153:

Para ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan sebuah Kitab dari langit kepada mereka. Mereka sebelumnya telah meminta kepada Musa hal yang lebih besar daripada itu; sebab mereka berkata: “Perlihatkanlah dengan nyata Tuhan kepada kami.” Maka mereka disambar petir karena kezalimannya. Kemudian mereka memilih anak sapi (sebagai sembahan) setelah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata. Dan (meskipun demikian) Kami memaafkan mereka itu! Dan Kami berikan Musa kekuasaan yang nyata. Seperti dapat anda lihat di atas, kaum musyrik, penyembah-penyembah anak sapi sebagai berhala sekalipun, akhirnya diampuni Tuhan. Apalagi dosa-dosa lainnya yang tidak seberat itu! Karena itu, saudara-saudara yang budiman, tidakkah lebih baik bagi kita untuk lebih percaya kepada ayat-ayat Ilahi yang menyatakan kemahapengampunan Tuhan daripada kepada khotbahkhotbah mengenai siksaan jahanam yang konon kekal dan abadi? Pembuat dosa yang terbesar sekalipun, asal saja ia bertaubat - meskipun taubat itu datang di alam akhirat setelah ia mati - akhirnya pasti diampuni Allah s.w.t., dan kemudian, setelah mempersiapkan diri secukupnya, diberi kesempatan lagi untuk mengalami hidup fisik sebagai ujian hidup baru. Sebab Tuhan itu Maha Pengampun, Maha Penyayang dan Maha Kuasa.

Dan, sekali lagi, saudara-saudara pembaca yang budiman, jika kita berani mempergunakan rasa keadilan kita secara jujur, maka kita pun akan dapat mengerti sendiri bahwa hukuman di neraka yang konon kekal dan abadi itu sama sekali tidak seimbang atau sebanding dengan besarnya dosa yang diperbuat manusia di dunia, yang lamanya umumnya hanya beberapa puluh tahun saja atau kurang daripada itu. Seperti telah saya uraikan terdahulu, kata Arab abadan dan khuldu, yang sering terdapat dalam Al-Quran dan diterjemahkan oleh para ulama sebagai “kekal dan abadi” atau “selamalamanya” sebenarnya adalah kiasan untuk pengertian “lama sekali”. Dan perkataan “lama sekali” itu pun belum tentu lama menurut ukuran waktu yang di dunia fisik. Sebab, seperti dikatakan dalam ayat Q. 22:47, “sehari di sisi Tuhan” dapat dirasakan sebagai seribu tahun di dunia oleh ruh yang bersangkutan. Dengan tulus hati saya berharap agar perenungan tenang dan jujur mengenai ayat-ayat yang saya kutip tadi dapat menyadarkan para pembaca bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa akhirnya akan mengampuni segala macam dosa - tak peduli agama atau kepercayaan apa yang dianut manusia dalam hidupnya di dunia. Semua agama samawi berasal dari Satu Sumber, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Tuhan tidak mungkin menghukum seseorang hanya karena ia dilahirkan dalam agama yang telah ditetapkan-Nya. Ayat Q. 22:34 dan 67 berbunyi sebagai berikut:

34. Dan bagi setiap umat telah Kami tetapkan upacara agama, agar mereka dapat menyebut nama Allah atas binatang ternak yang diberikan-Nya kepada mereka sebagai makanan; dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, berserah dirilah kepada-Nya. Dan berikanlah kabar gembira kepada mereka yang rendah hati. 67. Bagi setiap manusia telah Kami tetapkan syariat tertentu yang harus mereka lakukan. Karena itu, janganlah sekali-sekali mereka membantah kamu dalam urusan itu, tetapi serukanlah (mereka) kepada Tuhanmu. Sesungguhnya kamu ada pada jalan yang lurus. Tuhan s.w.t. telah menjadikan umat manusia pelbagai bangsa, dengan pelbagai agama, dan membuat mereka tunduk kepada keadaan dan kebiasaan tempat mereka berada. Karena itu, tidaklah masuk akal bilamana mereka itu berdosa dan harus mengalami siksaan neraka (apalagi bila untuk selama-lamanya) hanya oleh karena mereka mengikuti atau mempraktekkan ajaran-ajaran agama yang telah “ditakdirkan-Nya” kepada mereka. Reinkarnasi adalah suatu bukti atau tanda kemahapengampunan Allah s.w.t. Reinkarnasi memberikan kepada kita kesempatan untuk kemajuan atau perkembangan rohani yang cepat dalam menempuh jalan evolusi jiwa kita. Setiap ruh atau jiwa akan berkali-kali kembali ke dalam keadaan fisik, agar. dengan pilihan-pilihan dan kebebasan kehendaknya ia dapat menyelesaikan karmanya, menebus atau membayar kembali kesalahan-kesalahan, kekeliruan-kekeliruan, kekurangankekurangan, dosa-dosa yang sebelum itu menghalanginya bersatu kembali dengan Tuhan.

Berkali-kali kembali ke, dan hidup di alam akhirat, dan berkali-kali dilahirkan dan hidup kembali di dunia, adalah kesempatan yang diberikan Allah s.w.t. dengan penuh kasih sayang, untuk memungkinkan manusia mengoreksi diri, memperbaiki kesalahan-kesalahannya di dunia, dan membersihkan diri dari kotoran-kotoran jiwanya; sehingga akhirnya, setelah mencapai kesempurnaan rohani, ia tidak perlu dilahirkan kembali ke dunia, tetapi meneruskan perjalanannya, dari satu alam ke alam kesadaran lain, melalui dimensi-dimensi kesadaran yang lebih tinggi, kembali kepada Al-Khalik, yang pada permulaan sekali ia merupakan bahagian-Nya. Kalimat Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kepunyaan Allahlah kita, dan kepada Allahlah kita akan kembali) merujuk kepada ruh atau jiwa, sedangkan pepatah Injil, “Dari debu kamu berasal, dan kepada debu kamu akan kembali” merujuk kepada jasad atau badan fisiknya. Kedua-keduanya benar. Setiap kali seseorang diizinkan lahir kembali ke dunia fisik dapat dianggap sebagai bukti kemahapengampunan Allah s.w.t., sebab dengan dilahirkannya kembali itu, ia diberi kesempatan lagi untuk diuji, memperbaiki diri, dan berusaha merampungkan karmanya. Pernyataan bahwa neraka adalah tempat siksaan kekal dan abadi bagi orang-orang musyrik, kafir, dan munafik, atau pernyataan bahwa surga itu disediakan bagi orang-orang pemeluk agama tertentu saja, saya anggap sebagai suatu hal yang mengurangi kemahaadilan dan kasih sayang Allah s.w.t. Saya rasa, selama kita mempunyai anggapan keliru demikian, tidak mungkin kita beriman secara ikhlas kepada apa yang terkandung dalam ayat Q. 2:62, Yang berbunyi sebagai berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin- siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh - mereka akan memperoleh pahala dari Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran bagi mereka, dan tidak pula mereka akan berduka cita. Jika kita tidak berkeyakinan bahwa Tuhan akhirnya akan mengampuni segala dosa, semua agama, semua kepercayaan, dan semua manusia, maka kita akan selalu diganggu oleh pikiran bahwa terdapat hal-hal yang tidak konsisten dalam Al-Quran. Mari kita membaca misalnya ayat Q. 3:85, yang berbunyi:

Dan barangsiapa mencari selain Islam (“berserah diri”) sebagai agama, maka (agama itu) tidak akan diterima daripadanya. Dan di akhirat ia termasuk golongan yang merugi. Bila membaca ayat itu, banyak orang pasti akan langsung berpikir bahwa agama lain di luar Islam tidak akan diterima oleh Allah s.w.t. Tetapi pendapat itu nampaknya amat bertentangan dengan apa yang dinyatakan dalam ayat Q. 2:62 tadi. Ayat ini jelas menyatakan bahwa “orangorang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin - siapa saja yang beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh - tidak perlu khawatir atau berduka cita.” Tetapi ayat Q. 3:85 seakan-akan menyatakan hanya Islamlah yang dapat diterima oleh Allah s.w.t. Mana yang benar? Saudara-saudara pembaca yang budiman, kita telah dianugrahi Allah s.w.t. akal pikiran yang dengannya kita diharapkan, bilamana perlu, dapat membuktikan bahwa pada hakekatnya Al-Quran kita tidak mengandung ajaran-ajaran Ilahi yang bertentangan satu sama lain.

Menurut penelitian yang saya dasarkan pada Al-Quran secara keseluruhan, ayat yang saya kutip tadi tidak berarti bahwa semua agama di luar agama Islam - Islam dalam arti Islam dengan Nabi Muhammad sebagai nabinya - tidak akan diterima oleh Tuhan, sebab para nabi agama Yahudi, agama Kristen, dan agama-agama lainnya pun adalah pembawa agama ‘Penyerahan diri kepada Tuhan’; yang dalam bahasa Arabnya disebut “Islam “. Jadi, kata “Islam” itu sebenarnya mempunyai dua fungsi; yang pertama, sebagai nama agama tertentu, yaitu agama Islam dengan Muhammad s.a.w. sebagai nabinya, dan yang kedua, sebagai Islam dalam arti yang luas, yaitu agama “Penyerahan diri kepada Allah s.w.t.”. Semua agama yang mengajarkan penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa pada hakekatnya, menurut Al-Quran, adalah “Islam”. Untuk membuktikan kebenaran pernyataan itu, saya akan mengutip ayat Q. 5:44, yang berbunyi:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat yang terdapat dalamnya petunjuk dan cahaya, yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri (kepada Allah) (nabiyyuunal ladziina aslamu ), orang alim dan para pendeta mereka.... Dari ayat di atas, dapat kita lihat bahwa nabi-nabi yang dahulu mempergunakan Kitab Taurat sebagai pegangan untuk memutuskan perkara-perkara, sebenarnya juga merupakan nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah, sebagaimana halnya dengan kaum Muslimin yang menyatakan berserah diri kepada Allah. Ayat lain sebagai bukti bahwa sebelum Nabi Muhammad s.a.w. pun telah dipergunakan istilah muslimin atau “orang-orang yang berserah diri” adalah ayat Q. 22:78, yang berbunyi:

Berjuanglah untuk Allah dengan perjuangan yang benar. Ia telah memilih kamu dan tidak membebani kamu dengan kesukaran dalam agama, menurut ajaran bapakmu Ibrahim. Dialah yang menamakan kamu Muslim (mereka yang berserah diri) dari dahulu dan dalam (ayat) ini. ... Agaknya dalam arti luas itulah kata “Islam” dalam ayat Q. 3:85 tadi harus kita artikan. Dengan perkataan lain, semua agama adalah sah di mata Tuhan, sebab mereka mengajarkan para penganutnya menyembah dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, meskipun cara-cara beribadah mereka dan nama-nama yang mereka berikan kepada Tuhan Yang Maha Esa berbedabeda. Hal itu dinyatakan dalam ayat Q. 22:67, yang berbunyi:

Bagi setiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang harus mereka lakukan. Karena itu, janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan itu, tetapi serukanlah (mereka) kepada Tuhanmu. Sesungguhnya kamu ada pada jalan yang lurus.

(Mudah-mudahan uraian di muka ini dapat mempertebal keyakinan umat beragama Indonesia akan tepatnya Pancasila sebagai Dasar Negara) Hendaknya diingat pula bahwa bagi Allah s.w.t. kelakuan atau perbuatanlah yang terpenting dalam menilai manusia. Ini tersimpul dalam ayat Q. 49:13, yang berbunyi:

Hai manusia! Sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan. Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang paling takwa (memelihara diri dari kejahatan). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Ayat Q. 42:42:

Sesungguhnya dosa itu hanyalah terhadap orang-orang, yang berbuat zalim kepada (sesama) manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak Untuk mereka (disediakan) azab yang pedih. Ayat Q. 49:13 tadi ditujukan kepada seluruh umat manusia. Seorang bukan Muslim yang taat kepada peraturan, penuh kasih sayang terhadap sesama manusia. dan memegang teguh peraturan sopan santun adalah lebih baik daripada seorang Muslim yang secara “taat” mendirikan sembahyang lima waktu, menunaikan ibadah haji, berpuasa, dan berzakat, tetapi dalam kehidupan sehari-harinya berbuat munafik, korup, tak jujur, iri hati, benci terhadap sesama manusia, menjelek jelekkan atau memperolok-olok orang, firqah, madzhab, atau agama lain. Di akhirat, konon, seseorang yang berdosa tetapi kemudian segera bertaubat akan lebih baik keadaannya daripada seorang fanatik agama yang merasa dirinya paling benar, karena seorang fanatik yang berkonsepsi keliru amat sulit diluruskan kepada kebenaran. Dengan perkataan Al-Quran, ayat Q. 17:72: Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, akan buta pula di akhirat, dan lebih tersesat jalan. Tetapi, meskipun demikian, akhirnya ia tokh akan disadarkan pula akan kekeliruannya, dan karena itu akan diampuni Tuhan, karena Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Karena Tuhan Maha Pengampun. Dengan menonjol-nonjolkan kemahapengampunan mutlak Tuhan seperti di atas, bukanlah maksud saya untuk menyatakan bahwa orang-orang berdosa akan dibebaskan begitu saja dari pembalasan atau hukuman; bukan pula saya bermaksud meremehkan perlunya adanya hukuman; saya hanya ingin menyatakan pendapat bahwa di akhirat pun, setelah menyadari kesalahan dan dosa pada masa-masa lalu, orang-orang yang berdosa tetapi kemudian bertaubat akhirnya akan diampuni oleh Tuhan Maha Pengampun - tidak peduli apa pun dosanya, dan apa pun agamanya - dan bahwa sesudah itu mereka akan diberi kesempatan lagi untuk memulai ujian baru di dunia. Menurut hemat saya, kesimpulan atau penafsiran lain dari itu hanya akan berlawanan dengan ajaran-ajaran hebat dan mulia mengenai kemahaadilan dan rahmat Tuhan, dan menjadikan kata-kata seperti- misalnya “Rahman Rahim” “Maha Pemurah”, “Maha Penyayang”, dan kata-kata lain yang muluk-muluk, hiasan bibir belaka.

Bagi mereka yang, meskipun telah membaca uraian-uraian di atas, masih sangsi Allah s.w.t. akan mengampuni segala dosa, saya akan mengutip beberapa hadits yang saya dapati dalam buku Diinu’l Islam karangan Maulana Muhammad ‘Ali M.A., LL.B. seorang ulama Islam terkenal yang inteligensi dan integritasnya tidak kita sangsikan lagi. Hadits-hadits termaksud berbunyi sebagai berikut: Sesungguhnya akan tiba waktunya tatkala dalam neraka tak terdapat seseorang pun. Sekalipun orang-orang yang masuk neraka tak terhitung banyaknya bagaikan pasir di lautan pasir, namun akan tiba waktunya tatkala mereka dikeluarkan dari sana. Jadi, menurut hadits-hadits itu, apa yang dinamakan neraka itu adalah tempat tinggal sementara waktu bagi orang-orang berdosa, baik mereka itu Muslim ataupun bukan-Muslim. Hal itu memperkuat pendapat sebagian orang bahwa neraka itu bukan tempat siksaan (saja), melainkan (juga) tempat atau alam penyembuhan penyakit mental dan rohani yang dibawa orang-orang berdosa yang baru meninggal, sehingga setelah sembuh mereka mampu menempuh perjalanan menuju ke alam kehidupan yang lebih tinggi. Seorang penjahat yang dipenjarakan, setelah menjalani hukumannya, akan diberi kesempatan lagi oleh Pemerintah untuk hidup bebas dan baik dalam masyarakat. Apakah Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun akan begitu kejam tidak mengampuni makhlukNya yang bertaubat, dan membiarkan mereka berdiam di neraka untuk selama-lamanya? Saya yakin tidak.

XVI Doktrin Reinkarnasi Dalam Agama Kristen dan Yahudi
Sudah menjadi pendapat umum pula bahwa dalam agama Kristen dan agama Yahudi tidak terdapat ajaran reinkarnasi. Tetapi setelah saya menemukan sendiri ajaran itu dalam Al-Quran, timbullah pertanyaan dalam hati saya, “Apakah betul Kitab Suci agama-agama itu, yaitu Kitab Taurat, Talmud, Injil, Perjanjian Lama, dan Perjanjian Baru tidak menyinggung soal itu?” Saya selalu menganggap agama Islam, agama Kristen, dan agama Yahudi sebagai agama-agama yang bersaudara satu sama lain, karena agama-agama itu semuanya bersumber pada Satu Tuhan yang sama dan oleh para ulama disebut agama samawi, diturunkan di jazirah yang saling berdekatan, dan kisah-kisahnya menunjukkan persamaan yang amat menyolok. Bahwasanya ketiga agama itu tergolong dari satu “silsilah keturunan” yang sama, dapat saya simpulkan dari misalnya ayat-ayat berikut. Ayat Q. 5:44, mengenai Kitab Taurat:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat yang terdapat dalamnya petunjuk dan cahaya, yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri (kepada Allah) (nabiyyuunal ladziina aslamu), orang-orang alim dan para pendeta mereka.... Ayat Q. 5:46, mengenai Kitab Injil:

Dan Kami ikutkan Isa, putera Maryam, dalam jejak mereka, membenarkan apa yang (diturunkan) sebelumnya (yaitu Taurat), dan Kami anugerahkan kepadanya Injil, yang mengandung petunjuk dan cahaya, membenarkan Taurat yang datang sebelumnya - suatu petunjuk dan peringatan bagi mereka yang bertakwa. Ayat Q. 5:48, mengenai Al-Quran:

Dan kepadamu telah Kami turunkan Kitab (Al-Quran) (membawa) kebenaran, yang membenarkan Kitab apa pun yang datang sebelumnya, (sebagai) batu ujian terhadap (KitabKitab) itu....

Saya berpikir: Kepada Nabi Muhammad s.a.w., pembawa agama Islam, Tuhan telah begitu bermurah hati mewahyukan banyak ayat mengenai ajaran reinkarnasi, seperti telah saya buktikan dalam tulisan ini. Karena itu, tidakkah mungkin ajaran-ajaran yang serupa telah diberikan-Nya pula kepada Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. tetapi dalam abad-abad selanjutnya dihilangkan oleh para pengikutnya yang kemudian? (Seperti juga halnya dengan kaum Muslimin yang akhirnya mengijinkan reinkarnasi sebagai ajaran bukan - Islam). Demikianlah pikiran saya. Untuk memeriksa apakah pikiran saya itu benar atau tidak, marilah kita periksa beberapa ajaran yang sekarang berlaku di kalangan umat Yahudi. The Creed of Maimonides (Syahadat Maimonides) merupakan salah satu kumpulan dogma atau kepercayaan Yahudi ortodoks yang disusun oleh filosuf Maimonides - nama lengkapnya: Moses Ben Maimon, yang berarti “Cahaya Israel”. Ia meninggal di Mesir dalam tahun 1204 Masehi. Salah satu dogma termaksud, bagi saya, merupakan suatu petunjuk tentang adanya ajaran reinkarnasi dalam agama Yahudi dahulu, meskipun mungkin sekali penyusunnya sendiri tidak menyadarinya. Agar para pembaca di Indonesia mengetahui pula bagaimana dalam garis besarnya ajaran-ajaran pokok agama Yahudi, saya akan mengutipnya secara lengkap. THE CREED OF MAIMONIDES 1. Aku beriman dengan penuh keyakinan bahwa Sang Pencipta, terpuji nama-Nya, adalah Pengarang dan Pembimbing segala sesuatu yang telah diciptakan, dan bahwa hanya Dialah yang telah menciptakan, yang (sekarang) menciptakan, dan akan menciptakan segala sesuatu. 2. Aku beriman dengan penuh keyakinan bahwa Sang Pencipta, terpuji nama-Nya, adalah suatu Kesatuan, dan tiada kesatuan lain yang menyerupai kesatuan-Nya, dan bahwa hanya Dialah yang merupakan Tuhan kita. Dialah yang dahulu, sekarang, dan kemudian menjadi Tuhan kita. 3. Aku beriman dengan penuh keyakinan bahwa Sang Pencipta, terpuji nama-Nya, bukanlah suatu badan, dan bahwa Dia bebas daripada semua sifat zat, dan bahwa Dia tidak mempunyai bentuk apa pun. 4. Aku beriman dengan penuh keyakinan bahwa Sang Pencipta, termulia nama-Nya, adalah yang pertama dan yang terakhir. 5. Aku beriman dengan penuh keyakinan bahwa Sang Pencipta, termulia nama-Nya, dan hanya kepada Dialah kita dibenarkan menyembah, dan bahwa tidak dibenarkan kita menyembah kepada siapa pun selain kepada Dia. 6. Aku beriman dengan penuh keyakinan bahwa semua nabi adalah benar. 7. Aku beriman dengan penuh keyakinan bahwa ramalan Musa, guru kita, salam baginya, adalah benar, dan bahwa ia adalah kepala para nabi, baik nabi-nabi yang mendahuluinya maupun yang datang kemudian. 8. Aku beriman dengan penuh keyakinan bahwa seluruh Taurat, yang sekarang menjadi milik kita, adalah sama dengan apa yang dahulu diberikan kepada Musa, guru kita, salam baginya. 9. Aku beriman dengan penuh keyakinan bahwa Taurat tidak akan diubah, dan bahwa sama sekali tidak akan ada Hukum lain lagi dari Sang Pencipta, termulia nama-Nya. 10. Aku beriman dengan penuh keyakinan bahwa Sang Pencipta, termulia nama-Nya, mengetahui setiap perbuatan anak-anak manusia, dan semua pikiran mereka sebagaimana dikatakan. Dialah yang membentuk hati mereka semua, yang memperhatikan semua perbuatan mereka. 11. Aku beriman dengan penuh keyakinan bahwa Sang Pencipta, termulia nama-Nya, memberi pahala mereka yang menaati perintah-perintah-Nya, dan menghukum mereka yang melanggarNya. 12. Aku beriman dengan penuh keyakinan kepada akan datangnya Almasih; dan, meskipun ia berlambat-lambat, aku akan menunggu kedatangannya.

13. Aku beriman dengan penuh keyakinan bahwa akan ada penghidupan kembali orang-orang mati pada waktu yang dikehendaki Sang Pencipta, termulia nama-Nya, dan Maha Agunglah namaNya untuk selama-lamanya. Penyelamatan-Mulah yang kuharapkan, ya Tuhan! Saya tidak bermaksud membahas semua ajaran pokok Yahudi itu; saya hanya akan membatasi diri kepada dalil nomor 13, yang berbunyi, “Akan ada penghidupan kembali orang-orang mati pada waktu yang dikehendaki Sang Pencipta.“ Para pembaca budiman yang telah dapat menerima uraian saya terdahulu dalam buku ini, sekarang dapat memberikan arti yang lain kepada perkataan “penghidupan kembali orang-orang mati”, karena kalimat itu - di samping dapat diartikan sebagai hidup kembali di akhirat - dapat pula diartikan sebagai “pemberian hidup atau kelahiran kembali kepada orang-orang yang telah meninggal”. Dan “pada setiap waktu yang dikehendaki Tuhan”, sebab perkataan “pada waktu yang dikehendaki Sang Pencipta” tidaklah harus diartikan “pada akhir zaman”. Dipandang secara obyektif dari sudut bahasa, dalil agama Yahudi nomor 13 itu bukan menunjukkan kebangkitan kembali orang mati di alam akhirat pada suatu saat kelak pada akhir zaman, melainkan penghidupan kembali - dalam bahasa Inggrisnya, revival - pada setiap waktu yang dikehendaki Tuhan, tentunya melalui proses kelahiran. Dalil nomor 13 Syahadat Maimonides itu pada hakekatnya seratus persen sama artinya dengan apa yang terkandung dalam Al-Quran, ayat Q. 80:22, yang berbunyi:

Kemudian, bilamana dikehendaki-Nya, Ia menghidupkannya kembali. Sehubungan dengan hal di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa agama Yahudi pun, seperti halnya dengan Islam, dalam ajaran-ajaran aslinya, mengajarkan reinkarnasi. Para pemeluknyalah yang kemudian membelok-belokkan maknanya. (Menurut para eksponen reinkarnasi barat, pada zaman Nabi Isa a.s. ada sekte keagamaan Yahudi, the Essenes, yang percaya kepada reinkarnasi.) Ketika seorang pemimpin agama Yahudi yang bernama Nikodemus bertanya kepada Nabi Isa tenting kemungkinan kelahiran kembali manusia ke dunia, Nabi Isa menjawab, “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?” (Yohanes 3:10). Dari nada jawaban Nabi Isa itu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kaum Yahudi ketika itu menganut falsafah reinkarnasi dan pertanyaan yang diajukan Nikodemus itu agaknya hanya dimaksudkan sebagai pengecekan belaka. Sekianlah mengenai agama Yahudi. Sayang sekali, saya tidak mempunyai literatur tenting agama itu, sehingga saya tidak dapat memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai hal di atas. Marilah kita sekarang beralih kepada pembicaraan tenting reinkarnasi dalam agama Kristen. Tetapi sebelum itu, sekedar untuk menghindarkan kesalahpahaman yang mungkin timbul, saya merasa perlu untuk memberikan penjelasan sebagai berikut. Bilamana dalam buku ini saya mengutip ayat-ayat dari Kitab Injil dan menafsirkannya tidak sesuai dengan tafsiran-tafsiran menurut para ulama Kristen - sebagaimana saya tafsirkan pelbagai ayat Al-Quran tidak sesuai dengan tafsiran-tafsiran menurut para ulama Islam - maka hal itu saya lakukan bukan dengan maksud negatif dan destruktif, melainkan dengan tujuan yang positif dan membangun: Saya ingin membuktikan bahwa semua agama yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa pada hakekatnya memberikan ajaran-ajaran pokok yang sama Saya ingin membuktikan bahwa salah satu ajaran pokok itu adalah doktrin reinkarnasi, suatu doktrin universal yang pada saat ini sayang sekali belum disadari oleh kaum Muslimin dan kaum Nasrani, meskipun ayat-ayat mengenai itu menurut hemat saya banyak terdapat baik dalam Al-Quran maupun dalam Kitab Injil.

Mari kita mulai. Everyman’s Encyclopaedia, edisi keempat, Jilid 10, halaman 506, menyatakan, “Reincarnation is irreconcilable with Christian theology, and has no place in the Bible, Old Testament or New Testament,” yang artinya, “Reinkarnasi tidak sesuai dengan teologi Kristen, dan tidak dimuat dalam Injil, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.” Tetapi, apa yang saya temukan dalam Injil, Perjanjian Baru, sendiri? Bacalah Yohanes 3:7: Janganlah engkau. heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Kalimat di atas dengan jelas mengatakan bahwa kita akan dilahirkan kembali - tentunya ke dunia -, dan perkataan “dilahirkan kembali” berarti “bereinkarnasi”, bukan? Seandainya yang dimaksud itu kehidupan di alam gaib, tentu tidak akan dipakai perkataan “dilahirkan kembali”, melainkan misalnya “dibangkitkan (kembali) di alam gaib atau akhirat”. Kata-kata Yohanes 3:7 tadi amat jelas dan simpel, mudah dimengerti - asal saja kita cukup jujur dan cukup ikhlas untuk mempergunakan cara penafsiran normal. Tetapi, agaknya, apa yang telah terjadi di dunia Islam, sebelumnya telah terjadi pula di dunia Kristen, yaitu terjadinya suatu perubahan makna dalam semua ayat yang pada hakekatnya menunjukkan reinkarnasi, semata-mata dengan maksud menyesuaikan artinya dengan konsepsi yang dimiliki atau diingini oleh para penguasa pada ketika itu. Dikatakan oleh mereka, misalnya, bahwa kalimat “kelahiran kembali” itu harus diartikan sebagai kiasan (figuurlijk) untuk pengertian “kelahiran kembali secara rohaniah” atau “spiritual re-awakening”: Para pengikutnya yang kemudian, karena percaya penuh kepada guru-guru mereka, tidak berani berpendapat lain, dan mengiyakan begitu saja apa yang diajarkan kepada mereka, sehingga akhirnya mereka tidak menyadari lagi apa yang sebenarnya diajarkan oleh para nabi mereka. Sebagian umat Kristen, karena tidak ingin menutup mata terhadap ajaran Perjanjian Baru yang amat jelas itu, tetapi tokh masih ragu-ragu untuk percaya kepada ajaran yang dilarang oleh guru-gurunya, mengambil jalan tengah: Percaya kepada kelahiran kembali, tetapi dalam arti bahwa kelahiran kembali itu baru akan terjadi kelak pada akhir zaman, yaitu “pada waktu Tuhan Yesus kembali ke dunia untuk mengadili yang hidup dan yang mati.” Ayat-ayat yang mendahului Yohanes 3:7 itu pun, yakni Yohanes 3:4-6, juga jelas menunjukkan adanya ajaran reinkarnasi dalam agama Kristen. Bunyinya: 4. Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimana mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan kembali?” 5. Jawab Yesus: “Sesungguhnya, sesungguhnya, Aku berkata kepadamu (terjemahan harfiah dari The Holy Bible, King James [Authorized] Version, St. John 3:5, yang berbunyi: “Yesus answered, Verily, verily, I say unto thee ... ), jika seorang tidak dilahirkan dari air dan roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. 6. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan yang dilahirkan dari Roh, adalah Roh. Bacalah ayat-ayat selanjutnya: 9. Nikodemus menjawab, katanya: “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” 10. Jawab Yesus: “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?” 11. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat; tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Jika kita teliti ayat-ayat di atas dengan seksama, dengan hati terbuka, dan kita jujur terhadap diri sendiri, maka tidak ada pilihan lain bagi kita selain harus percaya bahwa Yesus pun sebenarnya mengajarkan reinkarnasi sebagai ajaran universal. Bukankah kalimat “Janganlah engkau heran,

karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali” itu merupakan jawaban atas pertanyaan Nikodemus dalam ayat 4 dan karena itu merujuk kepada reinkarnasi atau kelahiran kembali? Penafsiran lain hanyalah akan merupakan penyimpangan atau pembelokan arti, untuk tidak dikatakan pengingkaran ayat Ilahi. Adapun hal yang mengenai perkataan, “Kerajaan Allah” dalam Yohanes 3:5 tadi, menurut hemat saya, itu dapat diartikan sebagai kiasan untuk dunia atau alam semesta. Sebab bukankah segala sesuatu yang dapat kita lihat (dan tidak dapat kita lihat) itu kepunyaan Tuhan? Tuhan menciptakan segala sesuatu. Segala sesuatu yang kita lihat adalah manifestasi Tuhan. “Ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah,” kata Al-Quran, ayat Q. 2:115. Jadi, berbicara secara realistis, Kerajaan Allah bukanlah suatu kerajaan yang akan datang pada akhir zaman, sebagaimana sering dikhotbahkan oleh para ulama Kristen, melainkan alam tempat kita hidup sekarang. Tuhan meliputi semua langit dan bumi, yang nyata dan yang gaib. Kerajaan Allah sama sekali bukanlah dunia yang akan datang, melainkan alam semesta yang telah berwujud sejak semula, sekarang sedang berwujud, dan tetap akan berwujud selama Tuhan kehendaki. Secara mikrokosmis, dapat pula kita anggap Kerajaan Allah sebagai kiasan untuk badan manusia, atau sebagai “kerajaan” yang terdiri dari unsur-unsur daging, air, dan roh seperti yang dimaksud dalam Yohanes 3:5-6 tadi. Bahkan sebenarnya saya lebih condong menafsirkan Kerajaan Allah itu sebagai badan manusia itu, daripada sebagai alam semesta, karena ayat-ayat Injil tadi agaknya dibenarkan oleh kombinasi ayat-ayat Al-Quran 23:14, Q. 25:54, dan Q. 32:9, sebagaimana dapat anda lihat di bawah ini: Ayat Q. 23:14: Kemudian Kami jadikan tetes (mani) itu suatu bekuan; kemudian Kami jadikan bekuan itu gumpalan; kemudian Kami jadikan gumpalan itu tulang-belulang; kemudian Kami bungkus tulang-belulang itu dengan daging; dan kemudian Kami keluarkan dia sebagai ciptaan lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Terbaik. Ayat Q. 25:54: Dan Dialah Yang menciptakan manusia dari air.... Ayat Q. 32:9: Kemudian Ia membentuknya dan meniupkan ke dalamnya sebahagian dari Ruh-Nya, dan Ia jadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur. Dengan demikian, tempat yang dimaksudkan Yesus dengan perkataan “Kerajaan Allah” dalam ayat Yohanes”3:5 tadi adalah tubuh manusia, yang terdiri dari sebagian Ruh Tuhan, daging, tulang-belulang, dan air. Kenyataan itu agaknya diperkuat oleh ayat Lukas 17:21, yang berbunyi: ... Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di dalam kamu. (Perkataan “di dalam” dalam ayat di atas saya peroleh dari terjemahan -The Holy Bible, King James [Authorized Version], yang mempergunakan kata within, sedangkan Alkitab dari Lembaga Alkitab Indonesia mempergunakan perkataan “di antara”.) Kalimat “Kerajaan Allah ada di dalam kamu” amat mudah dipahami: Secara alegoris, itu berarti bahwa setiap badan manusia adalah Kerajaan Allah yang dimaksudkan dalam Yohanes 3:5 dan Lukas 17:21 tadi. Anda lihat betapa cocok satu lama lain dalil Islam dan dalil Kristen itu pada hakekatnya: Al-Quran mengajarkan bahwa badan manusia itu adalah tempat bersemayam sebahagian Ruh Tuhan yang telah ditiupkan ke dalamnya; Kitab Injil mengajarkan bahwa Kerajaan Allah ada di dalam diri kita; dengan perkataan lain, secara alegoris, tubuh manusia itu adalah “Kerajaan Allah”. Jadi, kedua Kitab Suci itu, Al-Quran dan Kitab Injil, pada hakekatnya sama-sama mengajarkan bahwa dalam badan manusia itu terdapat sesuatu yang bersifat Ilahi.

Orang-orang Kristen pertama menerima doktrin reinkarnasi sebagai hal yang wajar. Hal itu ternyata dari dialog-dialog yang terdapat dalam misalnya Markus 8:27:28: 27. Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Kata orang, siapakah Aku ini?” 28. Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi” Dan Matius 17:10-13: 10. Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” 11. Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu.” 12. Dan Aku berkata kepadamu: “Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan melakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka. 13. Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. Seandainya mereka tidak percaya akan reinkarnasi, maka pasti mereka tidak akan menyinggung Elia yang telah lama mati itu sebagai rujukan kepada orang yang ketika itu masih hidup atau baru mati. Bahwasanya ruh yang ada dalam diri Yohanes Pembaptis itu adalah ruh yang dahulunya bersemayam dalam tubuh Elia, dapat ditarik kesimpulannya dari ayat Lukas 1 : 13 dan 17, yang masing-masing berbunyi: 13. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya (Zakaria): “Jangan takut, hai Zakaria, sebab doamu telah dikabulkan dan Elizabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. 17. Dan ia (Yohanes) akan berjalan mendahului dia (Yesus) dalam roh dan kuasa Elia.. . Ayat 17 di atas menunjukkan bahwa ruh yang ada dalam diri Yohanes itu adalah ruh yang dahulu bersemayam di dalam diri Elia. (Dalam Al-Quran, Yohanes Pembaptis disebut Yahya). Dialog-dialog di atas dengan jelas mencerminkan beredarnya kepercayaan akan reinkarnasi ketika itu. Pasti mereka berpikir tentang reinkarnasi ketika melakukan dialog itu. Sebab, kalau tidak, tentu mereka tidak akan bertanya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia (yang notebene sudah lama mati itu) harus datang dahulu?” Dan tentu pula mereka tidak akan menyebut-nyebut nama orang yang telah lama mati ketika ditanya Yesus, “Siapakah Aku ini?” Dapat saya terangkan di sini bahwa Elia itu adalah seorang nabi yang hidup di antara tahun 874 dan 852 sebelum Masehi dan selama hidupnya menentang penyembahan Baal, suatu gelar Semit primitif untuk Tuhan yang dilambangkan dengan tiang-tiang batu. Dialog yang terkutip dalam Matius (17:10-13) di atas agaknya dilakukan sehubungan dengan ramalan dalam Perjanjian Lama, Maleakhi 4:5, yang berbunyi: Sesungguhnya Aku akan mengutus Nabi Elia kepadamu menjelang datangnya Hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu.... Ayat itu secara implicit mengandung pengakuan tentang adanya hukum reinkarnasi, sebab Nabi Elia yang sudah lama meninggal dan diramalkan akan diutus ke dunia itu benar-benar dilahirkan kembali ke dunia melalui Elizabet istri Zakariah, yaitu sebagai Yohanes Pembaptis, menjelang dilahirkannya Al-Masih Isa a.s. Menurut sebuah buku, HERE AND HEREAFTER, susunan Ruth Montgomery, Lawcett Publications, Inc. Greenwich, Conn., Pengakuan, St. Augustine 1:6 berbunyi:

Bukankah dahulu aku pernah hidup di dalam badan lain atau di tempat lain, sebelum aku memasuki rahim ibuku? Pernyataan itu sejiwa dengan pertanyaan Nikodemus kepada Yesus dalam Yohanes 3:4: Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi? (Saya rasa sulitlah bagi para pengingkar reinkarnasi sekalipun untuk menafsirkan ayat di atas itu dalam arti bahwa kebangkitan rohani atau kebangkitan di alam rohlah yang dimaksud, tanpa merasa diri telah berbuat tak jujur terhadap dirinya sendiri). Juga Kitab Pistis Sophia, yang konon memuat ajaran-ajaran esoteris dari Yesus kepada Maryam Magdalena, mencatat hal sebagai berikut: Tetapi bila ia pernah berbuat dosa sekali, dua kali, atau tiga kali, mereka akan menolak jiwa itu, dan mengirimkannya kembali ke dunia sesuai dengan bentuk dosa yang telah diperbuatnya. Kutipan-kutipan di atas jelas merujuk kepada adanya ajaran reinkarnasi dalam agama Kristen ketika itu, bukan? Barangkali ada baiknya bila saya tambahkan hal berikut: Santo Petrus atau Petrus Simon pun, murid Yohanes Pembaptis dan Yesus, percaya akan kelahiran kembali secara fisik, sebab dalam Surat Pertamanya, 1:22-23 ia menulis: 22. Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguhsungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu; 23. Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal. Sekali lagi, kutipan di atas - terutama perkataan “Karena kamu telah dilahirkan kembali” jelas menunjukkan bahwa Petrus pun percaya akan kelahiran kembali secara harfiah. Ia pun tahu bahwa yang dilahirkan kembali itu adalah “benih yang tidak fana” atau, jelasnya, ruh. Ruh atau jiwa yang bersifat tidak fana tetapi kekal dan abadi itulah yang akan berlangsung hidup dan sewaktuwaktu dilahirkan kembali ke dunia dalam bentuk fisik. Menurut Sir Leslie D. Weatherhead, seorang ulama Kristen kenamaan dari City Temple, London, pada tahun 553 Masehi Muktamar Gereja Konstantinopel telah memutuskan untuk tidak menyetujui paham reinkarnasi, dan oleh karena itu, semua ayat yang menyinggung ajaran itu dikeluarkan dari Kitab Injil (meskipun ternyata masih ada beberapa ayat yang ketinggalan. penulis). Hal itu agaknya dilakukan, oleh karena ajaran reinkarnasi mereka anggap terlalu rumit bagi orang-orang yang baru masuk agama Kristen. Selain itu, agaknya mereka khawatir orangorang menyalahtafsirkan filsafahnya dan berpikir bahwa mereka dapat hidup sekehendak hati, karena tokh masih ada kesempatan menebus kesalahan-kesalahannya dalam masa hidup berikutnya. Meskipun demikian, konon banyak orang Kristen ternama yang secara terang-terangan menyokong gagasan reinkarnasi, seperti misalnya St. Francis dari Assisi, pendiri Orde Fransiskan, Franjois Marie Voltaire, Benyamin Franklin, Rapih Waldo Emerson, Henry Ford, dan Thomas Edison. Buku A World Beyond, yang telah. saya sebut-sebut dalam buku ini, menyatakan bahwa Yesus merupakan manusia terbesar yang pernah bereinkarnasi berulang-ulang sebelum ia terakhir kali dilahirkan sebagai Yesus. Dijelaskan dalam buku itu, bahwa Yesus adalah manusia biasa. Adapun yang membuatnya melebihi manusia-manusia lainnya, menurut penulisnya, Nyonya Ruth Montgomery, ialah karena dalam tubuh Yesus bersemayam jiwa Kristus.

Menurut Al-Quran, apa yang dinamakan penulis itu Kristus, agaknya adalah Ruh Kudus, sebagaimana dapat kita lihat dalam ayat-ayat berikut. Ayat Q. 2:87: ... dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. ... Dan Q. 5:110: ...”Hai Isa putera Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. . . . Selain itu, dapat saya tegaskan di sini bahwa apa yang disampaikan oleh Yesus itu adalah ajaran yang berasal dari Tuhan - bukan dari dirinya sendiri - melalui Ruh Kudus itu, sebagaimana dapat kita lihat dari Kitab Injil, Yohanes 14:10: .. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku. Dialah yang melakukan pekerjaannya Yohanes 12:49-50: Sebab Aku berkata-kata bukan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku. Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintahNya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepadaKu. Wahyu-wahyu yang senada dengan wahyu-wahyu di atas disampaikan pula kepada Nabi Muhammad s.a.w., sebagaimana dapat anda lihat dari ayat Q. 42:51-52 di bawah ini: 51. Dan tiadalah mungkin bagi manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu, atau dari belakang tirai, atau dengan mengirimkan seorang rasul untuk mewahyukan apa yang Ia kehendaki dengan seizin-Nya. Sungguh Ia Maha Tinggi, Maha Bijaksana. 52. Dan demikianlah telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) suatu ruh dari perintah Kami. ... Jika kita resapi baik-baik ayat-ayat Kitab Injil dan Al-Quran yang saya kutip di atas, maka dapatlah kita mengerti bahwa setiap kata “Aku” atau “Kami” yang keluar dari mulut seorang rasul pada saat-saat ia dalam keadaan sedang menerima wahyu Ilahi bukanlah merujuk kepada dirinya sendiri, melainkan kepada Yang mewahyuinya, yaitu Allah s.w.t. melalui Ruh Kudus (kecuali jika jelas dinyatakan bahwa yang dimaksudkan adalah rasul pengucap itu sendiri). Sebagaimana setiap manusia diciptakan Allah s.w.t. melalui rahim seorang ibu dengan jalan “meniupkan sebagian Ruh-Nya” ke dalam dirinya (Ayat Q. 32:9), begitu pula Yesus (Nabi Isa a.s.) diciptakan-Nya melalui seorang ibu (Maryam) dengan jalan “meniupkan sebagian Ruh-Nya ke dalam dirinya”, sebagaimana ternyata dari ayat Q. 21:91 berikut:

Dan (ingatlah Maryam) yang menjaga kesuciannya. Lalu Kami tiupkan sebagian dari Ruh Kami ke dalam dirinya, dan Kami jadikan dia dan puteranya suatu tanda bagi semesta alam. Perbedaannya dengan kita manusia biasa, ialah bahwa Yesus diciptakan melalui rahim seorang ibu tanpa didahului hubungan kelamin - dalam terminologi kedokteran disebut parthenogenesis (dari kata Yunani partheno, perawan, dan genesis, kejadian), suatu cara kelahiran

yang amat jarang terjadi di kalangan umat manusia - dan beliau adalah “seorang yang amat mulia di dunia dan di akhirat dan salah seorang yang didekatkan (kepada Allah)”, sebagaimana dinyatakan dalam ayat Q. 3:45 di bawah ini:

(Ingatlah) ketika Malaikat berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah memberimu berita gembira dengan suatu kalimat daripada-Nya, yang namanya Al-Masih, Isa, putera Maryam, seorang yang amat mulia di dunia dan di akhirat dan salah seorang yang didekatkan (kepada Allah); sedangkan kita hanyalah manusia biasa, dan dilahirkan secara biasa pula. Selaku manusia yang amat mulia demikian, Yesus menyampaikan kepada murid-muridnya ajaran Ilahi yang diterimanya melalui Ruh Kudus: Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. (Yohanes 3:7) Perkataan yang dicetak miring di atas sama sekali bukan merupakan suatu kiasan, melainkan suatu perkataan lugas yang merujuk kepada kelahiran kembali manusia secara fisik, karena merupakan penegasan jawaban terhadap pertanyaan yang sebelumnya juga diajukan secara lugas oleh Nikodemus (Yohanes 3:4): “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?.. Sekianlah, para pembaca yang budiman, apa yang dapat saya sajikan sebagai sumbangan pikiran kepada sesama umat beragama. Dari hal-hal di atas, dapatlah kita percaya bahwa baik agama Islam maupun agama Kristen, pada hakekatnya, mengajarkan reinkarnasi dalam Kitab-Kitab Sucinya. Akhirulkalam, dalam usaha menegakkan kembali ajaran Ilahi itu, izinkanlah saya mengutip doa yang terkandung dalam ayat Al-Quran 2:286, yang berbunyi: Ya Tuhan kami! Janganlah Kauhukum kami jika kami lupa atau membuat kekeliruan. Tuhan kami! Janganlah Kaubebani kami dengan beban yang berat seperti yang Kaubebankan kepada orang-orang sebelum kami Tuhan kami! Janganlah Kaubebankan kepada kami beban yang tidak dapat kami pikul. Hapuskanlah dosa-dosa kami. Ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami. Maka tolonglah kami melawan kaum yang ingkar. Amiin.

XVII. Bukti-bukti Penunjang
Untuk lebih meyakinkan para pembaca yang budiman bahwa reinkarnasi itu benar-benar ada dan merupakan sesuatu yang universal, maka dalam bab terakhir ini saya akan memuatkan kutipan: A. Salah satu bab dari terjemahan H.A. van Hien dari buku Wali Sanga, yang aslinya konon disusun dalam bahasa Jawa-Hindu, sekitar tahun 1426 Masehi, oleh para wali penyebar agama Islam pertama di Jawa. (Kutipan diperoleh dari Yayasan Idayu, Jakarta. Tidak lengkap). B. Artikel dari majalah WARNASARI terbitan Maret 1981 yang berjudul HIDUP sebelum HIDUP. C. Artikel (tidak lengkap) dari surat kabar BERITA BUANA tertanggal 23 Agustus 1979 yang berjudul DR. THORWALD DETHLEFSEN DARI JERMAN MENGENAI REINKARNASI (HASIL EKSPERIMEN DR. THORWALD DETHLFSEN SELAMA 10 TAHUN) Suatu pembuktian ilmiah empiris. D. Artikel dari majalah FEMINA tertanggal 29 September 1982 yang berjudul PERNAHKAH ANDA HIDUP SEBELUMNYA? Mari kita memulai dengan: A. Kutipan dari WALI SANGA DE WEDERGEBOORTE In het hoofdstuk “Het astraal lichaam” werd vermeld, dat de gees in den toestand van “Moksha”, dat is vrij van hartstochten, lusten en begeerten, moet zijn, voordat hij kan overgaan naar de prototype der aarde, gelegen in het eerste hemelgebied, terwijl in het hoofdstuk “Het vermogen van den wil” werd duidelijk gemaakt, dat indien de mensch sterft met een Karma als Kriyamana, dat is een Karma, waarvan de gevolgen zich openbaren in een volgend leven, de geest genoodzaakt zal zijn, wedergeboren te worden, ten einde de gevolgen van dat Karma te dragen en door boete dit te vernietigen. Hieruit bilijkt, dan indien de mensch sterft met een Karma als Kriyamana, hij niet in een toestand van Moksha kan komen, zoodat de geest genoodzaakt is, zoo dikwijls op de aarde herboren te worden, totdat hij als mensch sterft met een vereffend Karma. De wedergeboorte is dus een gevolg van de wet van het Karma, terwijl de opgedane kundigheden en ondervinding den mensch in de gelegenheid stelt, de kwade gevolgen van het Karma te voorkomen.... De wedergeboorte opent dus den slechten mensch den weg, om zijn vorig leven te beteren, een hooger leven te kunnen bereiken en een deugdzaam mensch te worden. Indien dit niet zoo was, zou hij voor altijd verloren zijn. De mensch, die vroeger deugdzaam was, zal daarentegen bij zijn wedergeboorte kunnen genieten niet alleen van zijn opgedane kundigheden en ondervinding in zijn vorig leven, maar ook van zijn goede karaktereigenschappen,waarinede hij uit het leven is gegaan.... De groote verscheidenheid van den zedelijken en verstandelijken aanleg der menschen, wijst reeds op een voorbestaan, daar zij het resultaat moet zijn van een ontwikkelingsproces. De ongelijke toestanden van de menschen, waarin de een het zeer goed, de ander het zeer slecht gaat, mogen dus niet aangemerkt worden als een onrechtvaardigheid Gods, maar als een natuurlijk gevolg van de ontwikkeling van den mensch. Indien dit niet het geval was, dan zou de mensch een werktuig zijn in Gods hand. Hoe zou men zoo lets kunnen denken van het Hoogste en Intelligentste Wezen van Waarheid, Goedheid en Liefde.

Voor hen, die reeds een vrij aanzienlijke hoogte van ontwikkeling hebben bereikt, wordt het geestelijk leven hoe langer hoe gunstiger, daar zij dan in het geestenverblijf een hooger sfeer bereiken. Om echter in den toestand van Mokhsa te komen, moet de mensch al zijn verplichtingen op de aarde hebben afgedaan en sterven met een beeindigd Karma. Indien evenwel de mensch zich door begeerte hecht aan een voorwerp of nog het veriangen naar jets koestert, zal hij worden wedergeboren, om die begeerte of dat verlangen te bevredigen, want begeerte en verlangen zijn de bindende vermogens van de wet van het Kanna. De mensch, die in een toestand van Moksha wenscht te komen, dient de begeerte en het verlangen naar lets uit te roeien; indien hij dit ernstig en met een vasten wil wenscht, zal hij slagen en de begeerte en het verlangen naar iets uit zijn derkvermogen verwiideren en hij wordt onverschillig naar de uitkomsten van zijn werk waardoor hij ophoudt Karma tee verwekken. Voor het beeindigen van het Karma is dus niet alleen een volkomen kennis van zichzelf nodig, doch men dient om geen nieuw Karma te scheppen, kwaad met goed te vergelden, in al zijn handelingen steeds goedheid, mededoogen en liefde tot den naaste te betrachten, anderen te helpen, de barmhartigheid te beoefenen en smart en verdriet gelaten te dragen …. De mensch gaat op zijn pad naar boven steeds voornit. Hoe langzaam dit ook gaat, geen stap doct hij achterwaarts, geen leed wordt hem daarbij gedaan, dan het leed, dat hij zichzelf berokkent, of hem wegens haat of afgunst door menschen wordt aangedaan. Naarmate hij zich oefent in deugdzaamheid, goedheid en liefde, zal ook zijn ontwikkeling vorderen en zijn lichaam zal die vormen aannemen, die de kenmerken zijn van een deugdzaam mensch. B. Kutipan dari WARNASARI terbitan Maret 1981 HIDUP Sebelum HIDUP Kini ilmu pengetahuan dalam abad ke-20 mencoba turut serta dalam memberikan dan memecahkan jawaban itu ... Kalau kita percaya bahwa ada hidup setelah apa yang disebut maut maka dapat pula kita bertanya: apakah kita juga sudah pernah hidup sebelum kita dilahirkan di bumi ini? Pertanyaan ini ada sangkut pautnya dengan pertanyaan yang sudah berabad-abad dikemukakan oleh manusia: dari mana kita ini asalnya, apa maksud hidup kita sekarang ini dan ke mana kita nanti pergi dari sini? Falsafah dan agama sudah berusaha menjawabnya dengan berbagai cara dan dalil. Kini ilmu pengetahuan dalam abad ke-20 mencoba turut serta dalam memberikan jawaban itu. Kali ini khusus saya singgung eksperimen-eksperimen yang dilakukan untuk mengetahui apakah kita pernah hidup di bumi ini sebelum kita dilahirkan. Salah satu landasan eksperimen itu ialah reinkarnasi dan karma. Kedua perkataan itu bagi mereka yang mengenainya tentu serta merta dihubungkan dengan artinya dalam agama Hindu dan Budha. Dalam melakukan eksperimen-eksperimen tersebut ada sarjana-sarjana yang memberikan arti kepada reinkarnasi sebagai suatu teori yang menyatakan, bahwa jiwa manusia memasuki jasadnya pada saat kelahiran (sebagai bayi) bersamaan dengan nafas yang pertama. Jiwa itu meninggalkan pula tubuh fana pada saat kematian, lalu menunggu di “suatu tempat” sampai dapat memasuki pula suatu tubuh manusia (bayi) lain. Perputaran (cyclus) ini berlangsung terus berkali-kali. Menurut agama Hindu, jiwa yang berinkarnasi itu dapat kembali memasuki tubuh binatang misalnya. Namun para sarjana tadi tidak menunjang teori ini.

Dalam perputaran reinkarnasi itu jiwa manusia memperoleh pengalaman-pengalaman yang baik maupun buruk dengan akibat-akibatnya yang disebut karma. Secara singkat karma dapat disebut sebagai hukum sebab dan akibat yang berlaku bagi tiap insan. Dengan teori reinkarnasi dan karma sebagai bahan, maka dalam suatu eksperimen yang dilakukan di Amerika Serikat digunakan teknik hypnotis “mundur” (regressive hypnosis). Dengan cara hypnotis ini seseorang dapat dibuat mengalami kembali kejadian-kejadian di masa kanakkanaknya, bahkan jauh ke belakang lagi dalam hidupnya sebelum ia dilahirkan sekali ini: Orang yang dijadikan “kelinci percobaan” dalam eksperimen ini menderita penyakit, limpa dan ginjal. Para dokter sudah menyatakan tidak sanggup lagi menyembuhkannya. Ia bersedia menjadi “kelinci percobaan” dalam eksperimen tersebut, karena katanya ia ingin mengetahui apakah penyakit yang menjadikan ia menghadapi maut itu ada hubungannya dengan karma dalam penghidupannya yang lampau. Dengan pengetahuan itu ia berharap dapat sembuh dari penyakitnya. Proses hypnotis dilakukan oleh seorang dokter yang terlatih dalam mencegah hal-hal yang dapat memberikan akibat buruk bagi yang bersangkutan. Dari eksperimen tersebut ternyata bahwa si “penderita” itu dapat ingat beberapa pengalaman dalam hidupnya yang sudah-sudah berturut-turut seperti berikut: 1. Ia pernah hidup sebagai anak muda bernama Bradley pada sekitar peralihan abad ke-20 ini di daerah timur laut Amerika Serikat dan meninggal karena sakit cacar air. 2. sebagai pemuda bernama Henry ia tewas dalam suatu pertempuran pada awal perang saudara di A.S. (1861-1865). 3. sebagai seorang bangsawan rendahan di Perancis dengan nama Philippe dan menjalani hukuman mati dalam revolusi Perancis (sekitar 1790). 4. sebagai pekerja pelabuhan di Inggris dengan nama Harry. Ia merasa senang dengan pekerjaan kasar itu pada awal pemerintahan Ratu Elizabeth (sekitar 1535). 5. sebagai pelaut Viking dengan nama Thor ia hidup di Norwegia sekitar tahun 1000. 6. sebagai seorang pendeta muda bernama Xando di Persia (Iran) sekitar tahun 625. Ia menguasai bahasa Sassani Pahlavi yang digunakan di negara tersebut pada masa itu. 7. sebagai seorang pemuda bernama Simeon ia hidup sekitar tahun 800 sebelum Masehi di suatu desa di daerah Laut Tengah bagian Timur. Juga ia ingat beberapa kehidupannya yang lain yang tidak begitu penting bagi eksperimen tadi. Selanjutnya dalam eksperimen itu ternyata bahwa saudara perempuannya yang sekarang ini, adalah saudara perempuannya juga waktu ia hidup di bagian Selatan A.S. sebelum perang saudara di negara tersebut dalam abad ke-19. Saudaranya itu juga adalah kenalannya sewaktu ia hidup di Inggris sebagai Harry dan di Norwegia sebagai Thor. Dan saudaranya itu juga menjadi ibunya sewaktu ia hidup sebagai pendeta Xando di Persia dan pula menjadi isterinya ketika ia bernama Simeon hidup di Laut Tengah bagian Timur kira-kira 2800 tahun yang lalu. Mengenai penyakit yang dideritanya pada saat dilakukan eksperimen itu dapat dilacaki sebagai berikut: sewaktu ia masih kanak-kanak dan hidup dengan nama Henry dalam masa perang saudara di A.S. ia mempunyai seorang kakak perempuan yang usianya beberapa tahun lebih tua. Waktu Henry berumur 12 tahun, kakaknya itu berbuat sesuatu yang tidak senonoh. Hal ini diketahui oleh Henry, tetapi ia berjanji tidak akan mengungkapkannya kepada siapa pun juga. Beberapa tahun kemudian kakak perempuannya itu berpacaran dengan seorang yang tidak disukai Henry. Untuk menyingkirkan calon iparnya itu, Henry membuka rahasia tentang perbuatan kakak perempuannya, yang kemudian membunuh diri karena merasa malu. Henry menyesal dengan perbuatannya itu, tetapi terlambat. Ia mati dalam suatu pertempuran perang saudara.

Seratus tahun kemudian mereka hidup pula dalam reinkarnasi sebagai kakak dan adik. Dalam usia 40 tahun kakak perempuannya itu mendapat sakit tumor yang harus dibedah. Namun pada malam hari sebelum pembedaan dilakukan, adik laki-laki itu berdoa dan mengatakan dengan ikhlas bersedia untuk mati asal kakaknya sembuh dari penyakitnya. Tiba-tiba, selagi masih berdoa, ia melihat suatu titik yang bercahaya terang. Benar juga, kakaknya sembuh seluruhnya setelah dioperasi. Kini “kelinci percobaan” itu berpendapat, bahwa ia menderita penyakit limpa dan ginjal sebagai akibat perbuatan-perbuatannya terhadap kakak perempuannya tadi. Ia telah mengkhianati kakaknya dengan membuka rahasia perbuatannya yang harus disembunyikan. Akibatnya kakaknya bunuh diri. Kemudian hutang karma ini dilunasinya dengan kesediaannya untuk mati asal kakaknya sembuh dari penyakit tumornya. Kesediaan untuk mati ini sebagai karma menimbulkan suatu keadaan dalam tubuhnya berupa penyakit limpa dan ginjal yang dapat menjurus ke lubang kubur. Namun dengan mengetahui dan menyadari perbuatan-perbuatannya yang sudah-sudah maka akhirnya penyakitnya sembuh. Dengan mengubah cara hidup dan berpikir ia menjadi sehat pula dan menjalankan penghidupannya lebih bijaksana. Eksperimen ini belum membuktikan kebenaran teori reinkarnasi dan karma, melainkan memberikan sekedar gambaran tentang kedua paham tersebut. Bila teori ini terbukti benar, maka akan nyatalah antara lain bahwa apa yang kita alami sekarang ini adalah akibat perbuatan kita dalam masa (hidup) lampau. Dan kita dapat sedikit banyak memberikan warna bagi hari depan (hidup) kita dengan perbuatan kita sekarang ini. Apa yang kita tabur sekarang akan kita tuai kelak. Masih diperlukan lebih banyak eksperimen lagi yang mendalam sebelum ilmu pengetahuan tiba pada suatu kesimpulan tentang hidup yang lampau dan reinkarnasi. Sekali-sekali terjadi “kelinci percobaan” mengatakan sesuatu selama hypnose yang setelah diselidiki, terbukti tidak benar. Ternyata ia telah membaca tentang suatu kejadian dalam sejarah. Peristiwa itu sangat mengesankan baginya dan tertanam dalam kesadaran bawahnya. Waktu dilakukan hypnose kejadian itu timbul seolah-olah sebagai pengalaman si “kelinci percobaan” itu sendiri. Di samping usaha ilmu pengetahuan dalam bidang reinkarnasi dan karma ini, tidak dapat dikesampingkan pernyataan bahwa ada orang yang telah mencapai tingkat demikian tingginya dalam kerohanian sehingga ia mampu “melihat” penghidupan-penghidupan yang telah lampau (reinkarnasi) serta karma seseorang tanpa menggunakan hypnose. (Hos Nurjahja) C. Kutipan dari BERITA BUANA tertanggal 23 Agustus 1979 DR. THORWALD DARI JERMAN MENGENAI REINKARNASI (HASIL EKSPERIMEN DR. THORWALD DETHLEFSEN SELAMA 10 TAHUN) Orang banyak berbicara, menulis, berpikir tentang reinkarnasi. Tapi apakah yang dimaksud dengan reinkarnasi itu? Sering dikatakan reinkarnasi itu terjadi bila ruh yang meninggalkan badannya dan hidup di “alam sana”, kemudian kembali mengisi badan jabang bayi di dalam kandungan ibu; ruh itu telah kembali ke dunia dengan “pakaian” baru. Juga sering terdengar bahwa suatu ruh berkali-kali kembali ke dunia, untuk mencapai kemajuan dalam perjalanannya menuju Pencipta Alam Semesta. Dunia merupakan sekolah hidup. Kalau orang “hidup baik”, tujuannya lebih cepat tercapai daripada orang yang “hidup tak baik” (terlepas dari apa yang sesungguhnya diartikan dengan hidup baik dan tidak baik itu). Yang belakangan ini harus lebih sering “mampir” di dunia untuk belajar lebih banyak lagi.

Begitulah kira-kira dalam garis-garis besarnya pendapat dalam bentuk populer dari sementara orang yang suka memperhatikan masalah reinkarnasi. Sesungguhnya Suatu Misteri Besar Tapi dalam membicarakan masalah tersebut orang sesungguhnya tidak (belum) mengetahui apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan ruh yang suka kembali ke dunia dalam pakaian baru itu. Secara ilmiah tidak ada rumus tentang ruh, kecuali fakta bahwa ruh itu berada di luar jangkauan panca indera; sehingga ruh itu sesungguhnya hanya hipotesa saja, seperti pengertian tentang Tuhan, tentang bathin, pikiran, kesadaran, dan sebagainya. Karena itu ada, karena kita hidup, karena kita sadar dan berpikir, maka kita beranggapan kita tahu apa yang dimaksud dengan ruh, Tuhan, bathin, dan sebagainya itu. Tapi kalau kita mau sedikit menyelami pengertian itu, kalau kita mau tahu lebih mendalam tentang apa, sih, ruh itu, maka timbullah pertanyaan-pertanyaan yang sulit terjawabkan. Misalnya saja, setelah orang meninggal, ruhnya (yang sesungguhnya kita terima sebagai suatu hipotesa saja) ke mana perginya? Ruh itu zatnya apa, bagaimana? Apakah ada hubungan dengan atom yang masih termasuk benda, atau dengan energi yang tidak termasuk benda? Setelah terlepas dari badannya, alam apakah yang menampung ruh itu, dan apakah pengaruh ruang dan waktu masih berlaku padanya. Misteri Alam yang Belum Terbongkar Tentang kesadaran, ke mana kesadaran itu pergi sewaktu orang tidur? Mengenai gejala tidur ini (yang bagi orang awam sama sekali tidak menimbulkan masalah apa pun, kecuali kalau ia terjangkit penyakit susah tidur) di Amerika ada beberapa universitas yang semenjak puluhan tahun menyelidiki secara ilmiah, dengan alat-alat ilmiah mutakhir, gejala tidur. Ribuan orang yang telah diselidiki mengenai apa yang mereka alami selama tidur. Dan apakah hasil yang dapat diperoleh? Para professor yang bersangkutan menarik kesimpulan setelah mengadakan penyelidikan secara ilmiah selama puluhan tahun bahwa: “Gejala tidur termasuk salah satu gejala yang paling misterius dalam kehidupan.” Nah, kalau tidur, yang setiap malam kita alami, yang menjadi sebagian yang perlu mutlak bagi kesehatan dan kelangsungan hidup kita, sudah merupakan misteri, apalagi ruh, Tuhan, bathin, dan sebagainya? Apalagi kalau mau menyinggung tentang masalah kembalinya ruh ke dunia dalam pakaian baru! Kiranya takkan ada seorang sarjana pun yang berani mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang jelas tentang hal-hal misterius itu. Akan tetapi, belakangan ini ada beberapa sarjana yang banyak berpikir ke arah kemungkinan adanya reinkarnasi itu. Dan yang paling berani di antara para ilmuwan itu adalah ahli psikiatri Jerman Dr. Thorwald Dethlefsen, yang dengan risiko akan kehilangan reputasinya berani menyatakan bahwa: REINKARNASI ADA! Berani Ambil Risiko Ahli psikiatri Jerman bernama Dr. Thorwald Dethlefsen, 10 tahun yang lalu dalam prakteknya melakukan dengan hipnose. Dalam eksperimennya itu, orang yang dihipnosenya bisa disuruh kembali pada waktu ia masih muda. Dalam keadaan itu, orang tersebut dengan lancar dapat menceritakan kejadian-kejadian pada waktu ia masih muda itu. Dalam salah satu eksperimennya Dr. Dethlefsen mencoba supaya orang yang dihipnosenya, seorang insinyur muda, mau menceritakan mengenai kelahirannya sendiri. Sebagian hasil dari eksperimen-eksperimennya yang sudah dilakukan selama 10 tahun itu ia berani (karena ada risiko bahwa ia akan kehilangan reputasinya) mengambil kesimpulan sebagai berikut: Kita hidup Lebih Dari Satu Kali. Reinkarnasi Ada!

Kasus Shanti Dewi Sebelum pecahnya Perang Dunia II, “Kasus Shanti Dewi” menjadi berita dunia dan banyak diperhatikan masyarakat dunia. Shanti Dewi, seorang gadis India, semenjak usia 4 tahun selalu merengek-rengek mengganggu orang tuanya dengan pernyataan-pernyataan bahwa ia sesungguhnya bukan bernama Shanti Dewi, tapi Ludgi. Dikatakannya pula bahwa Ludgi tinggal di desa Mutra, dan Shanti Dewi dapat mengemukakan berbagai keterangan tentang desa itu, sekalipun belum pernah ia meninggalkan desa tempat lahirnya. Dengan berkeras hati Shanti Dewi menyatakan bahwa di Mutra dalam hidupnya yang lalu ia menjadi isteri seorang laki-laki bernama Kedar Nath Chaubey, dan mempunyai tiga orang anak. Di India kepercayaan pada reinkarnasi sudah ada, tapi perhatian sedikit mungkin diberikan pada ceritacerita seperti yang dikeluarkan Shanti Dewi itu, karena mengingatkan kembali hidup-hidup yang lain dipandang orang sebagai pertanda buruk. Tapi Shanti Dewi tetap berpegang keras dan percaya kepada ceritanya itu. Karena ketika mencapai usia sebelas tahun ia masih tetap saja berbicara tentang Mutra dan Ludgi, orang tuanya memutuskan tidak ada salahnya untuk mencari keterangan mengenai benar tidaknya cerita-cerita Shanti Dewi itu. Masalahnya disampaikan kepada para pemimpin Universitas Bombay, yang kemudian diputuskan untuk mengirimkan sebuah regu penyelidik ke desa Mutra. Kisah Aneh yang Menggemparkan Untuk pertama kalinya Shanti Dewi mengadakan perjalanan ke luar desa tempat lahirnya. Di desa Mutra, Shanti Dewi ditutup mukanya dengan sepotong kain oleh anggota-anggota penyelidik universitas Bombay, tapi ternyata matanya (mata halusnya?) dengan mudahnya dapat menembus sepotong kain yang menutupinya itu. Buktinya, dengan tenang Shanti Dewi melangkahkan kakinya di jalan-jalan desa itu sambil menerangkan kepada para anggota regu penyelidik yang terdiri dari pria dan wanita itu, apa yang dapat mereka lihat di berbagai tempat. Tanpa ragu-ragu Shanti Dewi menuju sebuah rumah, yang menurut ceritanya adalah tempat tinggalnya dahulu sebagai Ludgi. Di pintu duduklah seorang tua yang segera dikenalnya sebagai kakak Ludgi, dan dengan orang tua itu Shanti Dewi mulai mengobrol dengan memakai logat setempat, sekalipun ia sendiri selama hidupnya hanya berbicara dalam bahasa Hindustani. Orang tua itu tidak kenal Shanti Dewi, tapi ternyata memang benar adalah kakak dari Ludgi, seorang wanita yang setelah melahirkan anaknya yang ketiga meninggal dunia. Juga, lain-lain penghuni rumah itu dengan tepat disebutkan nama mereka oleh Shanti Dewi dan kepada suami Ludgi yang ternyata benar-benar bernama Kedar Nath Chaubey ia dapat menceriterakan berbagai hal mengenai kehidupan kekeluargaan mereka dulu yang hanya diketahui suami dan isteri. Dengan mata terbelalak dan mulut ternganga “suaminya dari hidupnya dulu” itu hanya dapat menganggukngangguk saja, mendengar kisah yang menggemparkan karena memang benar sampai ke detaildetailnya yang kecil dari seorang gadis yang sama sekali tidak dikenalnya itu. Apakah ini dapat disebut reinkarnasi? Orang akan mengira bahwa kejadian seperti apa yang dialami Shanti Dewi itu, jarang sekali terdapat di dunia ini. Tetapi ternyata hal-hal aneh seperti itu banyak juga terjadi di mana-mana. Seorang sarjana Amerika bernama Ian Stevenson dalam waktu yang relatif singkat dapat menemukan di negara-negara seperti Cina, Peru, Jepang, Brazilia, Tibet, dan Libanon, sekian ratus kasus-kasus yang serupa dan yang sama-sama menggemparkan seperti kasus Shanti Dewi. Dalam waktu relatif singkat sarjana Amerika itu dapat menemukan enam ratus orang yang dengan jelasnya, tanpa dihipnose terlebih dulu, mengingat kembali kejadian-kejadian dalam hidup mereka yang dulu. Penyelidikan sarjana Amerika itu dipakai oleh Prof. Dr. H. van Praag dari negeri Belanda untuk menunjukkan bahwa pengalaman-pengalaman seperti yang terjadi pada Shanti Dewi itu,

mestinya terjadi juga di mana-mana di seluruh dunia. Dan berdasarkan suatu perhitungan ia berkata bahwa dalam sejarah manusia ini sudah tentu ada jutaan orang laki-laki dan wanita yang secara spontan dapat mengingat kembali kejadian-kejadian dalam hidup mereka yang dulu. Prof. tersebut, seorang ahli ternama, karenanya merasa yakin bahwa reinkarnasi itu tidak dengan begitu saja harus dimasukkan dalam golongan dongeng. Menurut Prof. van Praag, “Reinkarnasi merupakan suatu pikiran ilmiah yang didasarkan atas fakta-fakta yang kuat sekali”. Ia mengatakan bahwa kaum Budha dan Hindu tidak lagi berdiri sendiri dalam kepercayaan mereka pada reinkarnasi, karena semakin banyak orang penyelidik ilmiah mulai berpikir ke arah itu. Diperhitungkan bahwa kira-kira dua milyar orang, separoh dari seluruh penduduk dunia, yang percaya pada reinkarnasi. Prof. van Praag dapat menyebutkan serentetan nama yang mempesonakan dari pujanggapujangga besar pada masa lampau yang mendukung pikiran reinkarnasi itu, seperti Budha, Pythagoras, Socrates, Plato, Shakespeare, Leibnitz, Kant, Goethe, Franklin, mungkin Jesus juga, Dickens dan For. Apakah dengan demikian tidak terjadi pertentangan keras dengan tradisi Kristen, yang dari Injil mendapat kesadaran bahwa manusia hanya hidup satu kali di dunia ini? Orang-orang yang mengajukan pertanyaan ini umumnya para pemimpin agama yang mewakili gereja Kristen. Tapi pendapat suara ahli agama ini pun ditentang oleh mereka yang membela teori reinkarnasi. Mereka kemukakan alasan-alasan yang cukup menggemparkan. Mereka mengatakan bahwa gereja Katolik baru pada tahun 553 mengeluarkan larangan terhadap kepercayaan pada reinkarnasi. Sebelumnya, percaya pada reinkarnasi itu rupanya menjadi suatu hal biasa, dan pemimpinpemimpin gereja tingkat tinggi ketika itu bahkan mempunyai pendapat-pendapat yang tegas tentang hal itu. Demikianlah dapat ditemukan suatu pernyataan dari Hieronymus yang kudus itu yang berkata: “Ajaran tentang reinkarnasi sejak jaman yang paling jauh dalam masa lampau selalu diberikan kepada sejumlah orang pilihan sebagai suatu kenyataan yang tak boleh diungkapkan kepada rakyat banyak”. Tapi apakah dalam Injil, sekalipun tidak secara tegas, setiap pikiran ke arah reinkarnasi telah dibuang? Ini dibantah oleh antroposof Yohannes Hemleben, yang menunjuk bahwa dalam Wasiat Lama sudah dinyatakan bahwa Nabi Ilyas akan kembali ke dunia sebelum datangnya Messiah. Dan apakah yang dikatakan Yesus, menurut Evangeli Mattheus, mengenai “Yohan de Doper”? Yesus berkata, “Jika engkau mau menerimanya: Dialah Ilyas, yang bakal datang”. Ahli agama yang besar itu, Origines, tanpa tedeng aling-aling menyatakan: “Setiap manusia melalui hidup berkali-kali menuju ke arah kesempurnaan Itulah yang dikatakannya di antara banyak ucapannya tentang reinkarnasi. Kesimpulan ini, termasuk “menuju ke arah kesempurnaan”, sepenuhnya disetujui Dr. Dethlefsen yang berdasarkan hal pengalaman-pengalamannya dengan orang-orang yang dihipnosenya melihat berubahnya secara tiba-tiba pandangan hidupnya sendiri. “Hidup kita berkali-kali itu dalam siklus reinkarnasi”, sekarang diberikan kepada kita sebagai suatu cara untuk mendapat pengalaman dan membersihkan diri dari kekurangan-kekurangan kita. Proses ini, menurut pendapatnya, dapat diumpamakan sebagai “Pelajaran di sekolah dengan banyak kelas dengan kurikulum yang sudah ditentukan. Sekolah ini sama dengan keadaan alam dan dunia yang dihuni manusia. Kelas yang banyak itu sama dengan tahap-tahap perkembangan ruh manusia, kurikulumnya sama dengan nasib manusia, dan tujuannya adalah kesempurnaan manusia. Siapa yang mau belajar di sekolah ini, masih berada jauh dari tujuannya”. “Kalau ia mau mencapai tujuan itu, maka tak ada jalan lain baginya melainkan memulai dari kelas yang paling rendah. Kalau ia berbuat kesalahan-kesalahan, maka ia harus membahasnya

secara terus-menerus sampai dapat belajar memahami prinsip-prinsipnya. Setelah itu barulah dapat ia maju lagi selangkah”. Dengan jalan demikian, menurut Dethlefsen dan banyak pengikut ajaran reinkarnasi lainnya, kita harus mengalami serentetan hidup yang panjang, sebelum dapat memahami semua pelajaran hidup. Hanya, pendapat ahli psikiatri Jerman itu, dari satu segi yang vital, lebih berbobot daripada banyak orang yang sependapat lainnya, karena bukan hanya mengemukakan teori saja, tapi juga alasan yang berbau ilmiah. Menurut Dethlefsen: “Eksperimen-eksperimen saya dilakukan dengan siapa saja, terlepas dari apakah ia percaya kepada reinkarnasi atau secara a priori memandangnya sebagai omong kosong belaka, dari hasilhasilnya selalu sama. Karena itu saya telah memenuhi syarat-syarat yang terpenting dari ilmu pengetahuan kita, yaitu bahwa suatu eksperimen senantiasa harus dapat diulangi.” “Eksperimen-eksperimen itu saya lakukan setiap hari dan sama sekali tidak tergantung pada keadaan-keadaan yang luar biasa atau yang tidak wajar.” . . . (Bahan tulisan Peter Liefhebber dalam majalah Belanda “Accent”) D. Kutipan dari FEMINA tertanggal 29 September 1982 PERNAHKAN MANDY HIDUP SEBELUMNYA? Keluarga Seabrook sedang naik mobil di pinggiran kota Leeds, ketika Mandy, putri mereka yang umurnya belum lagi dua tahun, tiba-tiba menunjuk ke luar jendela mobil. “Lihat, Mama,” serunya gembira. “Di situ dulu Mama memasukkan aku di dalam tanah. Dan Mama hampir jatuh di atasku, ya?” Tepat pada saat itu mobil mereka sedang melewati pekuburan di mana saudara Mandy yang berumur lima bulan dikuburkan. Pada saat penguburan, di tepi liang lahat ibunya yang sedang gundah tergelincir di tanah yang licin. Saudara Mandy telah meninggal empat tahun sebelum Mandy dilahirkan. Mandy tidak pernah diceritakan tentang saudaranya yang telah meninggal itu, yang juga dinamakan Mandy. Tidak mungkin ia tahu tentang ibunya yang hampir tergelincir ke dalam liang lahat itu. Dan anak itu pun belum pernah diajak ke bagian kota tersebut. Aku telah kembali Aku Mandy kedua, katanya Ibu Mandy, Nyonya Gillian Seabrook, masih ingat benar peristiwa itu terjadi Minggu siang tahun 1974. “Ucapan Mandy membuatku gemeteran.” katanya. “Aku dan suamiku saling memandang dan kami betul-betul tidak tahu apa yang harus kami katakan. Kami merasa sangat kehilangan Mandy yang pertama, sehingga kami hampir tidak sanggup untuk membicarakan dia. Tetapi anehnya, Mandy kedua ini tahu tentang segalanya.” Makin hari makin jelas ternyata reinkarnasi itu ada Mandy tetap berkeras bahwa ia telah “melihat” upacara penguburan itu, sehingga Nyonya Gillian membawanya ke pekuburan di Hunslet, Leeds, untuk melihat apakah anak itu bisa mengenali kuburan saudaranya. Sungguh mengherankan ketika Mandy dengan mantap

menunjukkan jalan menuju suatu bukit dua kuburan lebih jauh dari tempat peristirahatan Mandy pertama. Tempat itu hanya ditandai dengan nomor. Gillian, yang masih bersedih atas kehilangan Mandy-nya yang pertama - yang meninggal karena kelainan pada jantungnya - mencoba menghilangkan pikiran yang mengerikan itu. Tetapi tiga tahun kemudian, ketika Gillian sedang menyiapkan makan siang di dapur, Mandy berlari-lari masuk dan menari-narik bajunya. “Mama, mengapa Mania menangis waktu aku meninggal dulu?” ia bertanya, Gillian, yang telah hampir melupakan peristiwa itu, menjawab, “Tapi engkau ‘kan belum meninggal, sayang!” “Oh, Mama ingat tidak, waktu aku masih kecil sekali,” kata Mandy. “Aku tidak dapat hidup lama karena aku kurang sehat. Sekarang aku sudah kembali. Aku Mandy nomor dua ...” Dengan lembut suami istri Seabrook menanyakan pada Mandy, apa yang diingatnya tentang “kehidupannya” di masa lalu. Cerita anak itu membuat mereka yakin bahwa ia tahu benar-benar tentang beberapa peristiwa yang terjadi semasa hidupnya Mandy almarhum. Sesudah Mandy yang pertama meninggal, Gillian mempunyai empat anak lagi: Wendy, Sean, John, si bungsu Mandy yang lahir pada bulan Mei 1972. “Kami memutuskan untuk menamakannya Mandy seperti almarhum kakaknya, karena ia begitu mirip dengan dia,” kata Gillian. Rambutnya lurus kecoklatan persis seperti kakaknya. Keduanya pun mempunyai mata yang sama mempesonakan: Biru, dengan biji mata yang hitam pekat.,, Gillian dan anggota keluarga yang lain sama berpendapat bahwa kematian Mandy yang pertama begitu menggoncangkan jiwa, sehingga mereka tidak pernah membicarakannya lagi. Memang, banyak kenangan yang sangat menyedihkan sehingga keluarga Seabrook berusaha untuk melupakannya - sampai Mandy kedua mengingatkan mereka kembali akan peristiwa-peristiwa itu. “Bagus ya, gelang yang diberikan Paman Patrick padaku?” kata Mandy pada suatu hari. “Saya senang akan bentuk kembangnya.” Gillian berusaha keras menahan perasaannya. Ketika para dokter menyatakan bahwa Mandy yang pertama hanya dapat hidup beberapa minggu lagi, kakak Gillian yang bernama Patrick membawakan anak itu hadiah berupa gelang perak di mana terukir kata-kata: “Untuk Mandy Sayang, dari Paman Patrick.” Gillian tidak ingat benar akan bentuk kembang itu, tetapi kemudian Patrick menyatakan bahwa apa yang dikatakan anak itu memang tepat - bahkan tentang bentuk salib yang terukir pada gelang itu. Tetapi bukankah Mandy kedua belum pernah melihat gelang itu, karena Mandy yang pertama tetap memakainya pada waktu ia dikubur? Saya akan kembali Gillian mengatakan bahwa Mandy mempunyai suatu kebiasaan yang membuat orang bingung dengan mengingatkan peristiwa-peristiwa di masa lalu secara tiba-tiba saja. Ketika umurnya enam tahun, ia berkata kepada ibunya, “Mama ingat ‘kan waktu aku meninggal, malamnya ada bintang yang bersinar terang sekali di langit?” Keluarga Seabrook mengingat-ingat kembali waktu itu. “Tiba-tiba aku teringat kembali,” kata Gillian. “Waktu itu aku akan menutup tirai jendela ketika entah bagaimana aku melihat sebuah bintang yang bersinar sangat terang di atas kebun. Aku memperhatikannya sungguh-sungguh, karena bintang itu begitu cemerlang dan begitu rendah. Tetapi selanjutnya aku tidak memikirkan hal-hal yang lain. Kemudian Mandy berkata padaku, “Itulah bintang saya. Itu tandanya bahwa saya akan kembali.”

Sekarang Mandy berumur sepuluh tahun. Ia seorang gadis sehat, lincah dan riang. Katanya “Aku ingat benar waktu aku jadi Mandy pertama. Tetapi aku tidak senang waktu orang-orang menangis waktu aku meninggal. Senang deh, kembali lagi, rasanya seperti aku sudah kenal pada Mama dan Papa. Mereka tidak asing lagi bagiku.” Kisah Kelly Williams Ketika Kelly Williams dilahirkan, satu-satunya penyesalan ibunya hanyalah mengapa neneknya, seorang wanita tua dan ramah bernama Nanny Wyatt, tidak ada lagi untuk melihat buyutnya itu. Nenek tua ini telah meninggal tujuh bulan sebelumnya dalam usia 89 tahun. Namun Diane Williams dan Clive, suaminya, kini yakin bahwa bagaimanapun juga Nanny Wyatt akan hidup terus - dalam diri Kelly. Waktu itu tahun 1978, ketika Kelly berumur tiga tahun, sewaktu keluarga itu yang tinggal di Lianelli, South Wales, pertama kali menyadari bahwa Kelly bisa mengingat banyak peristiwa yang terjadi bertahun-tahun sebelum ia dilahirkan. Suatu kali, Kelly berkata pada bibinya dengan pandangan mata yang jauh, “Tak ingatkah kau waktu aku suka memangkumu?” Mula-mula tak seorang pun memperhatikan hal itu. Tetapi Kelly kemudian menceritakan bagaimana rupa Bibi Pam - saudara Diane - sewaktu kecil. “Ia mengingatkan kembali akan gaya rambut Cleopatra yang dipakai Pam waktu berumur empat atau lima tahun, 20 tahun yang lalu,” kata Diane. “Tidak mungkin Kelly melihat foto Pam semasa kecil, karena kami tidak memilikinya.” “Kadang-kadang terasa mengerikan sekali, kalau dia sedang berbicara mengenai Nanny Wyatt. Ia akan menempatkan dirinya sebagai orang pertama, seakan-akan dia sedang bercerita tentang dirinya! Kelly pun mempunyai perhatian yang besar sekali akan pakaian-pakaian gaya Victoria yang mungkin dipakai Nanny Wyatt semasa gadis. Ia bisa menceritakannya secara terperinci, dan mengatakannya sebagai “pakaian yang kami kenakan dahulu”. “Kalau saya tanyakan dari mana ia memperoleh begitu banyak cerita, maka ia berkata, “Saya suka memperhatikan wanita-wanita di ballroom. Aku mengintip dari jendela, tapi tak seorang pun melihat aku.” Kata Diane. Kelly Cerewet ... seperti seorang anak kecil Diane juga mengatakan bahwa Kelly mempunyai banyak kebiasaan-kebiasaan kecil yang mengingatkannya akan Nanny Wyatt “Kelly seorang gadis yang rapi dan cerewet, dan dalam banyak hal persis seperti seorang nenek kecil,” kata Diane. “Seperti gadis-gadis kecil lainnya, ia suka bermain dengan tas-tas, tetapi tidak seperti lazimnya, isi dari tasnya selalu dalam keadaan rapi. Tas Nanny Wyatt selalu terisi rapi, dengan setiap benda pada tempatnya, sehingga hal itu selalu merupakan obsesi baginya. Dan bilamana Kelly duduk di kursi dengan sandaran tangan, maka ia akan meletakkan tasnya di antara kakinya dan sandaran kursi - persis seperti yang biasa dilakukan Nanny Wyatt.” Umur Kelly sekarang tujuh tahun. Ia seorang anak yang mempunyai kepercayaan diri yang besar, cerdik, dan bijaksana. Ia pun bisa berbincang-bincang dengan orang dewasa, seolah-olah mereka sebaya saja. “Kematian Nanny Wyatt merupakan kehilangan besar bagi saya. Tetapi semenjak Kelly mulai memperlihatkan ikatan yang gaib dengan nenek buyutnya ini, saya merasa yakin bahwa wanita itu masih tetap ada,” Diane menambahkan.

Kisah Nicola Peart Sejak usia dua tahun, putri Kathleen Peart yang bernama Nicola telah menyatakan bahwa ia pernah hidup di desa Haworth, West Yorkshire. Sekarang umur Nicola empat tahun, dan semakin lama ceritanya semakin cerah. Ceritanya dimulai ketika Nicola mendapat sebuah anjing-anjingan dengan tali yang panjang pada hari ulang tahunnya yang kedua. Ia berkata kepada ibunya, “Akan saya namakan dia Muff, sama seperti anjingku yang dulu.” Kathleen tersenyum dengan ramahnya. Mereka belum pernah mempunyai anjing yang bernama Muff sebelumnya, tetapi bukankah setiap anak suka berfantasi? Bagi seorang anak berumur dua tahun, Nicola termasuk, pandai berbicara. Dan waktu ia semakin akrab dengan Muff, ceritanya tentang apa yang pernah-dilakukannya “dulu”, semakin banyak dan makin terperinci. Nicola bersikeras - dan masih demikian terus - bahwa ia dahulu adalah anak laki-laki. Ia tidak ingat nama baptisnya, tetapi ia mengatakan- bahwa nama keluarganya adalah Benson. Nama ibunya adalah Elspeth, katanya, sedangkan ayahnya biasa dikenal dengan sebutan S.B. Ia juga punya seorang saudara laki-laki dan dua saudara perempuan - dan, tentu saja seekor anjing kesayangan bernama Muff. Nicola bercerita bahwa mereka tinggal di sebuah pondok dari batu berwarna kelabu, yang merupakan salah satu dari empat buah petak yang menghadap ke ladang gandum, dekat jalan kereta api di Haworth, dan merupakan tanah kelahiran Benson bersaudara. Aku melihat surga sebelum aku dilahirkan Nicola sering menceritakan dengan gamblang bagaimana ia bermain-main di jalan kereta dan melihat seorang laki-laki yang berjalan sambil mengayunkan lampu senter. Tak lama sesudah itu sebuah kereta api datang menderu di atas rel dan menabraknya. Ia dibawa ke rumah sakit, tak mampu lagi berjalan atau berbicara, dan ia pun meninggal. Katanya kepada Kathleen, “Saya sudah melihat surga sebelum saya dilahirkan, sebelum engkau menjadi mamaku yang baru.” Cerita Nicola begitu jelas dan meyakinkan, sehingga untuk membuktikan kebenarannya Kathleen memutuskan untuk membawa anak itu ke Haworth. Meskipun desa itu hanya berjarak kira-kira lima mil dari rumah mereka di Keighley, Kathleen hampir-hampir tersesat di daerah yang suram dan berangin itu. Akan tetapi Nicola, yang belum pernah ke daerah itu sebelumnya, dengan tenang menunjukkan jalan yang sepi dan hampir tak nampak pada ibunya. Ia berkata, “Aku tahu jalan-jalan karena Muff dan aku sering berjalan jalan ke daerah ini. “ Secara tak terduga mereka menemukan pondok dengan empat buah petak itu, yang letaknya persis seperti diceritakan oleh Nicola. Keadaan sekitarnya juga sama dengan apa yang diceritakan Nicola secara terperinci. Kathleen pergi ke gereja di desa itu untuk menjajaki apakah ia bisa menemukan keluarga Benson. Kepala desa itu mengatakan bahwa hampir mustahil baginya untuk menemukan lagi anggota keluarga Benson dalam daftar keluarga yang ada di situ, karena nama itu agak asing di desa itu. Namun demikian, pencaharian Kathleen akhirnya menemukan satu titik terang yang menarik: Pada tanggal 20 Juni 1875 tercatat kelahiran John Henry Benson. Nama orang tuanya tercatat sebagai Thomas dan Lucy Benson. Pekerjaan Thomas: Montir rel kereta api.

Mungkinkah Nicola cuma berfantasi? Nicola menceritakan begitu banyak kejadian, sehingga sulit dikatakan kalau ia hanya berfantasi, Kata Kathleen, “Banyak cerita Nicola yang belum terbukti, dan saya tidak mempunyai banyak waktu untuk meneruskan penyelidikan. Namun saya telah yakin bahwa memang pernah ada keluarga Benson yang tinggal di Haworth dan mereka ada hubungannya dengan kereta api. Carl Edon, Si Pilot Bomber Kalau biasanya anak laki-laki suka bermain jadi mata-mata, manusia angkasa luar, koboi atau serdadu, maka Carl Edon paling senang memegang peran sebagai pilot pesawat bomber Jerman. Akan tetapi orang tuanya yakin bahwa anak itu bukan hanya sekedar main-main saja, akan tetapi bahwa ia benar-benar menghidupi kembali sesuatu yang nyata. “Begitu anak itu bisa lancar berbicara, Carl suka menceritakan pada kami bahwa ia pernah menabrakkan pesawatnya melewati sebuah jendela.” kata ibunya, Valerie Edon. Keluarga Edon tinggal di Middlesbrough, Cleeveland. “Kami menganggapnya aneh, sebab anak itu tidak mempunyai minat akan kapal terbang, film perang, atau cerita-cerita petualangan macam apa pun. Waktu Carl menjadi lebih besar, ceritanya begitu terperinci dan ia menceritakannya dengan sangat meyakinkan, sehingga kami tidak dapat lagi menganggapnya sebagai khayalan belaka.” Kisah yang diceritakan Carl ialah bahwa ia turut dalam penerbangan pada masa Perang Dunia ke-II Katanya ia terdaftar dalam Luftwaffe, angkatan udara Jerman. Waktu itu umurnya 19 tahun dan ia meninggal dalam usia 23 tahun. Selanjutnya ia bercerita bahwa ia mempunyai seorang saudara laki-laki yang juga menjadi pilot dan meninggal tak lama sesudah dia. Carl menceritakan secara sangat terperinci bagaimana pesawatnya telah menghantam sebuah jendela rumah dan bagaimana ia keluar dari ruang kokpit dengan kaki yang terluka parah, sehingga kaki itu kemudian harus diamputasi. Katanya ia meninggal karena banyaknya luka-luka yang diperolehnya dalam kecelakaan itu. Ia telah membuat sebuah gambar dari ruang kokpit pesawatnya untuk orang tuanya, dan menjelaskan fungsi setiap alat dan tombol yang ada di situ. “Padahal ia belum pernah masuk ke dalam pesawat terbang.” kata Valerie. “Ia juga telah menggambarkan untuk kami tanda-tanda pangkat dan lencana tentara Jerman dengan sangat terperinci. Tidak mungkin ia tahu tentang hal ini begitu jelas tanpa sepengetahuan kami.” Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam kutipan B dan D di muka, yaitu pertanyaan apakah sebelum hidup kita sekarang ini kita telah pernah hidup di muka bumi, dapat kita peroleh dengan mudah dari Al-Quran, ayat 19:67, yang berbunyi: ‘Awalaa yadzkurul insaanu ‘annaa khalaqnaahu min qablu walam yaku syai’aa, yang artinya: Tidakkah manusia ingat bahwa sesungguhnya Kami telah (pernah) menciptakannya dahulu (sebelum ini) ketika ia tidak ada lama sekali? Wabillahit taufiq wal hidayat. Wassalam, Penulis

Daftar Nomor dan Nama Surah Dalam Al-Quran
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. Al Faatihah Al-Baqarah Ali Imran An-Nisaa Al-Maa'idah Al-An'aam Al-A'raaf Al-Anfaal Al-Bara'ah (At-Taubah) Yunus Hud Yunus Ar-Ra'd Ibrahim Al-Hijr An-Nahl Al-Israa Al-Kahfi Maryam Tha-Ha Al-Anbiyaa Al-Hajj Al-Mu'minuun An-Nuur Al-Furqaan Asy-Syu'araa An-Naml Al-Qashash Al-Ankabuut Ar-Ruum Luqman As-Sajdah Al-Ahzab Saba Faathir Yaa Siin Ash-Shafaat Shaad 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. Az-Zumar Al-Mu'min Fushshilat Asy-Syuura Az-Zukhruf Ad-Dukhaan Al-Jaatsiyah Al-Ahqaaf Muhammad Al-Fath Al-Hujurat Qaat Adz-Dzaariyaat Ath-Thuur An-Najm Al-Qamar Ar-Rahmaan Al-Waaqi'ah Al-Hadiid Al-Mujaadilah Al-Hasyr Al-Mumtahanah Ash-Shaff Al-Jumu'ah Al-Munaafiqun Al-Taghaabun At-Thalaaq Al-Tahrim Al-Mulk Al-Qalam Al-Haaqqah Al-Ma'aarij Nuh Al-Jin Al-Muzzammil Al-Muddatstsir Al-Qiyaamah Al-Insaan 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. Al-Mursalaat An-Nabaa An-Naazi'aat Abasa At-Takwir Al-Infithaar Al-Muthaffifiin Al-Insyiqaaq Al-Buruuj Ath-Thaariq Al-A'laa Al-Ghaasyiyah Al-Fajr Al-Balad Asy-Syams Al-Lail Adh-Dhuhaa Alam Nasyrah At-Tiin Al-'Alaq Al-Qadr Al-Bayiinah Al-Zalzalah Al-'Aadiyaat Al-Qaari'ah Al-Ashr At-Takaatsur Al-Humazah Al-Fiil Al-Quraisy Al-Maa'uun Al-Kautsar Al-Kaafiruun An-Nashr Al-Lahab Al-Ikhlas Al-Falaq An-Naas

Bacaan
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Al-Quran dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Quran, Departemen Agama R.I. Tafsir Al-Quran ‘lKarim, Mahmud Yunus Al-Quranu’l Karim - Bacaan Mulia, H.B. Yassin Tafsir Al-Quran, karya Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy Al-Qur’aan Terjemah Indonesia, karya Angkatan Darat R.I. Terjemah Al-Quran Secara Lafzhiyah, Yayasan Pembina Masyarakat Islam “ALHIKMAH”, Jakarta Terjemah & Tafsir AL-QUR’AN, Bachtiar Surin The Holy Qur’an, A. Yusuf Ali The Glorious Koran, Mohammed Marmaduke Pickthall

10. De Heilige Quraan, Soedewo 11. Everyman’s Encyclopaedia, J.M. Dent & Sons Ltd., London 12. Islamologi (Diinu’l Islam) Maulana Muhammad Ali M.A. LL.B. Daru’l Kutubal Islamiyah 13. Wali Sanga, De Javaansche Geheime Leer, samengesteld door De Negen Wali’s van Java, Vertaald en aangevuld door H.A. van Hien 14. I ‘itiqad Ahlussunnah Waljama’ah, H. Siradjuddin Abbas 15. Hidup Setelah Mati, H. Bey Arifin, terbitan PT. Kinta, Jakarta 16. Phaedo (The Dialogues of Plato), The Pocket Library 17. A World Beyond, by Ruth Montgomery, Fawcett Publications, Inc., Greenwich, Conn. 18. Here and Hereafter, by Ruth Montgomery, Fawcett Publications Inc., Greenwich, Conn. 19. Edgar Cayce on ATLANTIS, by Edgar Evans Cayce, Warner Paperback Library.

BIODATA Penulis bernama Emed Semedi, lahir di Subang, Purwakarta, Jawa Barat, tanggal 2 Januari 1917, dari keluarga Kusman Wiriaatmadja, Penilik Sekolah Singdanglaut, Cirebon, yang meninggal di Subang tahun 1932. Menikah tahun 1948 di Cikalongwetan, Bandung, dan mempunyai lima orang anak. Pendidikan sekolah: I. HIS (Hollandsch Inlandsche School), Cirebon, lulus tahun 1932; 2. MULO (SMP) Hospitaalweg, Jakarta, lulus tahun 1936; 3. MHS (Gouvernements Middelbare Handelsschool, SMEA) Jakarta, lulus tahun 1938; 4 PTT. bedrijfsambtenaren Cursus, Bandung, lulus tahun 1941. Pengalaman kerja: 1. Kantor Pos Makasar (Ujungpandang), 1941-1946; 2. Kantor Pusat PTT RI., Yogyakarta, 1946 - 1948; 3. Kantor Pos Besar, Jakarta, beberapa bulan tahun 1950; 4. Jawatan Imigrasi, Jakarta, 1950 - 1957 (pernah ditempatkan di Konsulat Jenderal RI., Hongkong, 1952 1953); 5. PT Bank Perdania, Jakarta, 1957 - 1975; 6. PT Pardic Jaya Chemicals, 1975 sampai ... Keterangan-keterangan lain: Menunaikan ibadah haji tahun 1979. Bukan anggota partai/ organisasi/perkumpulan politik, agama, kepercayaan, tarekat, Teosofi, dan sebagainya; hanya anggota Pengajian MHS, suatu perkumpulan ex-MHSers dari pra-Perang Dunia II. Tidak berpengalaman menulis buku atau artikel majalah/surat kabar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.