You are on page 1of 12

PENDIDIKAN DALAM ISLAM

Dalam bahasa Indonesia kata pendidikan merupakan kata jadian yang berasal dari kata didik
yang diberi awalan pe dan akhiran an yang berarti proses pengubahan sikap dan tatalaku
seseorang dalam usaha mendewasakan manusia. Pendidikan merupakan proses mengubah
keadaan anak didik dengan berbagai cara untuk mempersiapkan masa depan yang bai baginya.
Dalam bahasa Arab kata tarbiyah mempunyai pengertian yang lebih luas dan lebih cocok dipakai
untuk kata pendidikan dalam bahasa Indonesia, karena terasa lebih luas cakupannya yakni bukan
sekedar memberikan ilmu pengetahuan dan membina akhlak tetapi mencakup segala aspek
pembinaan kepribadian anak didik secara utuh.
Menurut Abdur Rahman al-Bani pendidikan memiliki 4 unsur yaitu :
1. Menjaga dan memelihara Iitrah anak menjelang dewasa (baligh)
2. Mengembangkan seluruh potensi
3. Mengarahkan seluruh Iitrah dan potensi menuju kesempurnaan
4. Melaksanakannya secara bertahap
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan dalam hal
ini ialah pendidikan Islam meliputi unsur-unsur memelihara dan mengembvangkan potensi atau
Iitrah anak didik secara bertahap sesuai dengan perkembangannya.
Menurut Abdullah yasin, Islam mengutamakan 4 jenis pendidikan sebagai berikut :
1. Pendidikan Jasmani
2. Pendidikan Akal
3. Pendidikan akhlak
4. Pendidikan Kerohanian
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan di atas, maka pendidikan akhlak merupakan salah satu
bagian pendidikan dalam Islam yang sangat diperlukan agar anak memiliki akhlak yang baik.
Akhlak yang baik dari seorang anak akan melahirkan generasi yang baik pula, yaitu generasi
muda atau remaja yang taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua dan memperhatikan hak-
hak bagi sauadara muslim yang lain.

D. PENGERTIAN DAN METODE PEMBINAAN AKHLAK KARIMAH

Secara linguistik, kata akhlak atau al-akhlak berasal dari bahasa Arab bentuk jama` dari kata
Khulkun yang artinya budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat (Hamzah: 1996).
Sedangkan Imam Al-Gazali (dalam Abudin Nata : 1996) mengemukakan bahwa akhlak adalah
siIat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan baik dan buruk,
dengan gampang dan mudah tanpa menimbulkan pemikiran dan pertimbangan.
Kata 'Karimah' secara gramatikal berasal dari kata karuma-yakrumu-kariimun yang artinya
mulia atau luhur. Oleh karena itu yang dimaksud dengan kata akhlak karimah adalah siIat,
watak, perangai atau perilaku baik dan luhur yang bersumber dari nilai-nilai ajaran akhlak Islam.
Dalam Islam tidak tidak diragukan lagi bahwa kaidah serta batasan dalam mengerjakan baik dan
buruk telah tertera dalam nash-nash syariah (al-Qur`an dan hadits). Di dalam kaidah akhlak ada
istilah dawaIi (dorongan) dan mawani (larangan). DawaIi merupakan sebuah daya dorong bagi
setiap individu untuk melaksanakan akhlak dengan baik dan benar dan mawani adalah perkara
yang membuat setiap individu terlarang untuk melakukan akhlak yang buruk.
Gambaran jelas tentang akhlak yang baik telah tercatat dalam al-Qur`an dan hadits sebagaimana
yang dilakukan oleh nabi besar kita Muhammad SAW yang harus dijadikan contoh teladan yang
ideal. Gambaran ini harus dijadikan pedoman bagi orang tua dalam mendidik dan membina
akhlak remaja sebab pendidikan dan pembinaan akhlak dalam keluarga akan berjalan dengan
baik apabila orang tua sebagai pembimbing utama dapat menjadi panutan dengan memberikan
contoh tauladan melalui pembiasaan-pembiasaan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-
hari.
Pembiasaan-pembiasaan perilaku seperti melaksanakan nilai-nilai ajaran agama Islam
(beribadah), membina hubungan atau interaksi yang harmonis dalam keluarga, memberikan
bimbingan, arahan, pengawasan dan nasehat merupakan hal yang senantiasa harus dilakukan
oleh orang tua agar perilaku remaja yang menyimpangI dapat dikendalikan.Pola pendidikan
dapat diupayakan melalui proses interaksi dan internalisasi dalam kehidupan keluarga dengan
menggunakan metode yang tepat seperti yang dikemukakan an-Nahlawi (dalam Dahlan : 1992)
bahwa metode pendidikan dan pembinaan akhlak yang perlu diterapkan oleh orang tua dalam
kehidupan keluarga adalah sebagai berikut :

1. Metode hiwar (percakapan)
2. Metode kisah
3. Metopde mendidik dengan amtsal (perumpamaan)
4. Metode mendidik dengan teladan
5. Metode mendidik dengan pembiasaan diri dan pengalaman
6. Metode mendidik dengan mengambil ibroh (pelajaran) dan mau`idhoh (peringatan)
7. Metode mendidik dengan targhib (membuat senang) dan tarhib (membuat takut)
Menurut Al-Ghazali (dalam Abul Quasem : 1988) menjelaskan bahwa perubahan dan
peningkatan akhlak dapat dicapai sepanjang melalui usaha dan latihan moral yang sesuai, untuk
itu maka dalam mewujudkan akhlak yang baik dapat dilakukan dengan menggunakan dua
metode akhlak sebagai berikut : (1) pengalaman (al-tajribah) dan (2) latihan diri (riyadhah).
Materi yang diberikan pada para remaja dalam pendidikan akhlak sebaiknya tidak terlepas dari
ruang lingkup akhlak Islami yang mencakup berbagai aspek seperti yang dikemukakan Hamzah
(1996) diantaranya : akhlak terhadap Allah (hablum minallah), akhlak terhadap manusia (hablum
minannas), akhlak terhadap alam semesta (hablum minal a`lam) dan akhlak terhadap diri sendiri
(hablum minnaIsi).



1. Peranan ibu bapa adalah amat penting dalam memberikan perhatian yang
serius terhadap anak-anak mereka. Ibu bapa mestilah memperhatikan setiap
gerak-geri atau pergerakan anak-anak mereka. Ibu bapa hendaklah
sentiasa mengetahui dan mengenal pasti masalah yang dihadapi oleh anak
mereka serta sanggup meluangkan masa untuk mengatasai masalah
tersebut. Ibu bapa juga seharusnya mengetahui rakan-rakan anak mereka
dan sentiasa memastikan anak-anak mereka berkawan dan bergaul dengan
mereka yang mempunyai kedudukkan moral yang baik. Selain itu ibu bapa
hendaklah menghabiskan sebahagian daripada masa seharian bersama anak-
anak mereka dengan memberikan keyakinan, keberanian, mewujudkan
sikap positiI terhadap masalah, emosi dan keputusan. Selain itu tingkatkan
penghayatan anak-anak terhadap agama, nilai-nilai murni, motivasi, melatih
anak cara bersopan, prinsip-prinsip akauntabiliti, tepati janji,
berketerampilan, menunjukkan keperibadian yang mulia, amanah, sanggup
menerima kelemahan diri serta meneroka potensi anak. Ibu bapa hendaklah
menjadi role model kepada anak.
2. Pendekatan akademik. Ini boleh dilakukan dengan menambahkan aktiviti-
aktiviti berteraskan akademik dan separa akademik seperti kegiatan ko-
kurikulum di sekolah. Begitu juga dengan perubahan-perubahan teknik-
teknik pengajaran seperti penggunaan komputer, video, bantuan alat
pandang dengar dan teknik pengajaran luar kelas.
3. Mewujudkan sistem perundangan di sekolah. Peruntukan undang-undang di
peringkat sekolah boleh menimbulkan rasa takut di kalangan pelajar
sekolah, di samping mengurangkan beban dan tanggungjawab pihak
sekolah dan pihak ibu bapa dalam pengawasan disiplin.
4. Penguatkuasaan Undang-Undang oleh pihak berkuasa seperti polis. Bidang
kuasa polis yang sedia ada perlu digunakan oleh pihak pentadbir sekolah
dalam mendisiplinkan pelajar-pelajar. Pihak pentadbir hendaklah
mengambil kesempatan dengan merujuk masalah pelajar ini kepada pihak
polis.
5. Langkah-langkah pencegahan yang bersesuaian hendaklah diadakan seperti
kaunseling di peringkat sekolah. Kaunseling di peringkat sekolah adalah
penting dalam membantu remaja mengatasi masalah mereka. Program ini
akan lebih bermakna sekiranya kaunselor-kaunselor yang berkelayakan dan
berpengalaman dilantik dalam memantapkan pelaksanaan dan keberkesanan
kaunseling tersebut.
6. Persatuan Ibu Bapa dan Guru (PIBG) perlulah memainkan peranan yang
penting. Pertemuan yang lebih kerap antara ibu bapa, penjaga dan guru
perlu diadakan khasnya bagi pelajar-pelajar yang bermasalah. Ibu bapa
seharusnya menerima teguran daripada guru dengan sikap terbuka dan
positiI. PIBG jangan lah jadi umpama 'KUCING TAK BERGIGI, TIKUS
LOMPAT TINGGI-TINGGI
Kesimpulan
Pelbagai langkah boleh diambil dan dilaksanakan, tetapi apa yang lebih penting: ibu bapa
mestilah memainkan peranan dan tanggungjawab dalam mengatasi masalah keruntuhan
akhlak di kalangan remaja. Dengan kata lain, walau apapun langkah yang diambil oleh
mana-mana pihak, tanpa kerjasama daripada ibu bapa, nescaya gejala ini sukar diatasi.




O


Mengikut, Imam al-Ghazali beliau mentakriIkan pendidikan itu sebagai "mengeluarkan perangai
buruk yang ada pada manusia dan menyemaikan perangai dan siIat yang baik." Dari sini,
dapatlah kita lihat bahawa pendidikan itu bersiIat dalaman bertujuan untuk melahirkan
insan yang sempurna dan berakhlak mulia. Ianya juga bertujuan untuk menghasilkan
perubahan positiI kepada pembentukan pemikiran dan tindakan seseorang individu yang
seterusnya akan membolehkannya berIungsi dengan sempurna dalam masyarakat atau
ruang lingkup kegiatannya sama ada di alam persekolahan, pekerjaan, rumah
tangga atau sebagainya.


http://zuliadin.wordpress.com
Mari kita teliti makna ayat quran di bawah ini,
`Orang-orang beriman yang diikuti zuriat keturunannya dalam keadaan beriman, Kami
hubungkan (himpunkan) zuriat keturunannya itu dengan mereka (di dalam syurga) dan (dengan
itu) Kami tidak akan mengurangi sedikitpun dari pahala amal-amal mereka. Setiap manusia
terikat dengan amal-amal yang dikerjakannya $urahal-Turayat
Jika dikaji, pendidikan mengikut acuan Islam adalah perkara terpenting dalam kehidupan kita
sebagai seorang muslim. Daripada kesempurnaan pendidikan secara Islam inilah akan lahir
insan-insan yang berakhlak terpuji dan menjadi hamba hanya kepada Allah semata-mata.
Firman Allah :
- = ' ~ = - ' - ~ ) - (
Dan tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadat kepadaKu
( az- Zaariyaat ayat 56 )
Bermulanya pendidikan didalam Islam ialah ketika seseorang itu hendak mencari pasangan
hidupnya. Kita dituntut supaya mencari muslimah yang menjaga agamanya sebagi pilihan
pertama agar senang bagi kita mencorakkan rumahtangga kita mengikut kehendak Allah.
Sesudah berkahwin kita dituntut pula agar mendidik isteri kita dengan perkara-perkara Iardhu
dan juga sunat samada kita mendidiknya sendiri atau menghantar isteri kita ke kelas-kelas
agama.
Sebagai orang Islam kita, diwajibkan untuk mendidik zuriat keturunan kita dengan didikan dan
cara kehidupan Islam. Dengan asas keIahaman agama kita dan isteri kita yang kuat maka ianya
akan membantu proses untuk mendidik anak-anak kita ke arah yang Islam kehendaki. Inilah
didikan yang paling utama yang dikehendaki oleh Islam.
Ramai diantara kita terkeliru dengan maksud pendidikan itu sendiri. Ada yang menganggap
apabila menghantar anak-anak ke sekolah maka tugasan mereka telah selesai. Apa yang
selebihnya dibebankan seluruhnya kepada guru. Segala kesalahan atau kekurangan yang ada
pada anak-anak mereka maka gurulah yang akan disalahkan sepenuhnya.
Ramai di antara ibubapa hanya ingin tahu, anak-anak mereka mesti berjaya dalam pelajaran
dengan cemerlang, mesti mendapat tempat di universiti dan seterusnya memperolehi pekerjaan
yang hebat, berpangkat besar dengan gaji yang lumayan. Mereka tidak peduli walaupun
sekiranya akhlak anak-anak mereka hancur asalkan matlamat material mereka tercapai. Ini
kerana matlamat pendidikan dalam pemikiran yang sesetengah ibubapa mahukan melalui sekolah
itu, jelas berpandukan kepada material sahaja. Mereka hanya berkehendakkan kejayaan dunia
semata-mata tanpa disertai kejayaan akhirat.
Mereka terlupa bahawa anak-anak adalah amanah daripada Allah yang mana ketika mereka
dihadapkan kepada Allah pada hari kiamat nanti, mereka akan ditanya tentang amanah mereka
ini. Mereka sebenarnya telah mengkhianati amanah Allah dengan mencorakkan kehidupan
zuriat-zuriat mereka dengan corak Yahudi, Nasrani dan Majusi kerana menolak ataupun
mengabaikan pendidikan berteraskan Islam, seperti..
Sabda Rasulullah :
$etiap bayi yang lahir itu dalam keadaan fitrah ( beragama Islam). Oleh itu terpulanglah
kepada kedua ibu bapanya samada ingin menfadikannya Yahudi, Nasrani atau Mafusi
Hadis riwayat Bukhari
Didikan ibubapa akan dapat dilihat hasilnya setelah 15 tahun. Inilah umur bagi remaja yang
dikatakan sedang mencari-cari identiti mereka. Bergembiralah bagi ibubapa yang berjaya
menerapkan identiti Islam kepada anak-anak mereka. Akan tetapi sekiranya identiti mereka yang
kita terapkan ialah selain dari identiti Islam maka hasilnya akan pasti mereka mengikut identiti
samada Yahudi ataupun Nasrani ataupun Majusi. Dan agak malang bagi ibubapa kerana apabila
kerosakan telah berlaku, maka ianya teramat sukar untuk dibaikpulih.
Kesan kerosakan akhlak ini juga tidak terbatas kepada ibubapa remaja tersebut sahaja akan tetapi
ianya akan membarah dan merebak masuk ke dalam masyarakat juga. Ini berdasarkan kepada
statistik jenayah yang dilakukan oleh remaja semakin hari semakin meningkat naik. Inilah hasil
dari kepincangan pendidikan kepada anak-anak yang telah dilakukan puluhan tahun dahulu.
Dahulu gejala bohsia dan bohjan mewarnai kehidupan remaja. Kemudian gejala membuang anak
pula mengambil tempat. Pesakit AIDS dahulu amat sedikit bilangannya tetapi sekarang, ada
persatuan untuk menjaga kebajikan anak-anak pesakit AIDS menandakan bilangan pesakit itu
semakin bertambah. Datang pula gejala pil kuda, estacy dan pelbagai jenis pil khayal dalam
kehidupan remaja ini.
Terbaru, gejala merempit oleh remaja-remaja tidak kira lelaki ataupun perempuan.Walaupun
gejala mat rempit atau samseng jalanan ini telah lama bertapak akan tetapi sekarang ini mereka
lebih berani lagi dengan melakukan ragut dan samun. Bahkan ada mangsa yang terbunuh
disebabkan perbuatan mereka. Jika ada yang menyekat maka mereka akan menyerang balas
dengan kumpulan mereka.Dan lebih menyedihkan lagi hampir kesemua gejala-gejala ini
dipelopori oleh remaja Islam.
Seperti yang telah disebutkan tadi, inilah hasil daripada kegagalan umat Islam mendidik anak-
anak mereka mengikut acuan dan kehendak Islam. Ada ibubapa yang tidak berilmu ditambah
dengan teramat sibuk dengan agenda dunianya sehingga anak-anak menjadi terabai. Ada juga
yang berilmu tetapi sibuk dengan aktiviti luar. Ada yang berilmu akan tetapi ilmunya itu tidak
diamalkan. Mereka datang ke majlis-majlis ilmu tetapi segala ilmu itu disimpan hanya untuk
dirinya sahaja. Tidak dikembangkan hatta kepada keluarganya.
Inilah antara penyebab-penyebab utama yang menyumbang kepada kelemahan sistem
pendidikan Islam disamping pengaruh rakan-rakan remaja itu dan juga hiburan yang melampau.
Hancurnya akhlak Islam akan menyebabkan Islam juga turut dipandang hina .
Mempunyai akhlak yang jelek walaupun kaya, pintar dan tampan akan tetap dipandang hina
bukan sahaja oleh Allah malahan manusia keseluruhannya berbanding dengan mereka yang
mempunyai akhlak Islam yang terpuji walaupun mereka itu miskin dan hodoh
Akhlak terpuji seperti akhlak rasulullah s.a.w yang mendapat didikan secara langsung dari Allah
telah membawa sinar rahmat dan kemuliaan kepada bangsa arab jahiliyyah yang suatu masa
sebelum itu dipandang hina kerana akhlak kebinatangan yang mereka miliki. Akhlak dari al-
Quran itu dijadikan amalan oleh rasulullah dalam kehidupan sehariannya. Baginda pula tidak
hanya mengamalkannya untuk dirinya sahaja malahan dikembangkan pula kepada sahabat-
sahabat baginda dengan didikan dari al-Quran itu.
Manakala sahabat-sahabat baginda pula mengembangkannya pula kepada ahli keluarga dan
kepada masyarakat mereka. Mereka saling bersaing sesama mereka untuk mengamalkan didikan
rasulullah itu. Diturunkan pula didikan ini kepada tabiin dan tabiin-tabiin.Begitulah seharusnya
kita menyambung corak pendidikan Islam ini kepada zuriat kita dan juga masyarakat berterusan
sehingga kiamat.
Malangnya rantaian pendidikan Islam ini terputus kerana kita umat Islam zaman sekarang tidak
bersungguh-sungguh untuk mengamalkannya dalam kehidupan kita. Ditambah pula dengan ilmu
yang sangat kurang maka kita terus menjadi malas dan lesu untuk menyambung rantaian ilmu
ini. Lebih menyedihkan lagi didikan akhlak Islam ini telah diambil dan diamalkan oleh musuh
Islam sekaligus memperlihatkan akhlak mereka lebih terpuji berbanding kita.
Dinukilkan di dalam sebuah buku tulisan orang Kristian yang menyarankan agar ibubapa perlu
merotan anak-anak mereka dan menggantung rotan di dinding rumah mereka sebagai peringatan
kepada anak-anak mereka. Hal ini sebenarnya telah dinyatakan oleh rasulullah lebih 1400 tahun
dahulu. Tetapi berapa ramai diantara kita yang mengamalkannya? Sayang, mutiara ilmu yang
kita miliki, kita tidak bersungguh untuk memeliharanya dan mengamalkannya tetapi diambil dan
diamalkan oleh kaum lain pula.
Sekarang hasil daripada terputusnya rantaian pendidikan Islam itu telah kita lihat dihadapan mata
kita sendiri. Walaupun begitu kita masih perlu untuk memperbaikinya biar sesukar manapun
perjuangan kita untuk melakukannya. Kita mesti bersatu menggerakkan kesedaran atas nama
Islam untuk sama-sama mendidik remaja-remaja ini agar kembali kepada Islam. Gerakan ini
seharusnya bermula dari diri kita. Sebagai ketua keluarga hendaknya diperbaiki dahulu akhlak
kita agar dapat menjadi contoh dan tauladan kepada keluarga.
Tambahkan ilmu dalam diri kita agar segala perkara yang kita lakukan adalah berdasarkan
ilmu.Biarpun sedikit sahaja masa yang dapat diperuntukkan untuk ilmu tetapi lakukanlah dengan
istiqomah. Bersahabatlah kita dengan anak-anak remaja kita.Jangan hanya tahu menyalahkan
mereka tanpa menyiasat punca sebenar kerosakan mereka yang mungkin berpunca dari kesilapan
kita.
Kurangkanlah kesibukan mengejar dunia sehingga mengabaikan tanggungjawab kita dalam
mendidik anak-anak.Hantarlah anak-anak kepada guru-guru agama sekiranya kita tidak mampu
untuk mendidik mereka.Letakkanlah mereka dalam suasana Islam agar mereka dipelihara Allah.
Bagi mereka yang mempunyai ilmu yang cukup, ilmu itu seharusnya disebarkan dengan lebih
bersungguh-sungguh kepada keluarga dan akhirnya kepada masyarakat.Hanya dengan didikan
Islam sahajalah yang dapat menyelamatkan diri, keluarga dan masyarakat kita dari kecelakaan
dunia dan api neraka Allah di akhirat nanti.
Firman Allah
- - ' - ~' - - ~ ' ~ -- ' - - ' - ' - ' - ~ ' - = ' = = '
~ =' = ~' ~ ~ - ' ' ~ - - ~ - - - ' ~ ~ ) (
Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka yang
mana bahan bakarnya adalah dari manusia dan batu-batu yang diatasnya ialah malaikat-malaikat
yang kasar lagi keras sikapnya, tidak menderhakai Allah pada apa yang Dia perintahkan kepada
mereka dan mereka kerjakan apa yang disuruhkan. (Tahrim ayat 6)
Marilah sama-sama kita merenung akan musibah yang telah dan sedang melanda umat Islam
hasil dari kelemahan kita untuk mendaulatkan ilmu Islam. Janganlah kita memarakkan lagi
malapetaka ini dengan bersikap berkecuali dengan apa yang sedang berlaku kerana Allah tidak
mengecualikan sesiapapun apabila menurunkan balaNya.


http://www.Iikrahislam.com/dakwah/krisis-identiti-remaja-muslim/

Kerohanian (akhlak remaja)
Menurut ilmu psikologi, remaja akan mendepani krisis identiti bermula apabila sampai umur
baligh. Menurut Imam SyaIie,baligh lelaki pada umur 12 tahun dan perempuan pada umur 10
tahun. Proses remaja mula mencari identiti mereka. Krisis ini boleh dikatogerikan sebagai
normal. Remaja lelaki mula bergaya seperti lelaki dewasa. Kalau dulu hanya sabun dan syampu
kini ditambah dengan deodoran dan minyak wangi. Apatah lagi remaja perempuan,mungkin
cuba untuk meniru penampilan si ibu dan kakak. Lipstik,maskara dan barang perhiasan mula
menjadi barang kehendak mereka. Mereka mula belajar membuat keputusan sendiri. Mula ingin
lari dari kekangan ibu bapa. Ingin bebas bersama Iantasi dan dimensi hidup mereka sendiri.
Bebas;berbuat apa sahaja, bebas;ke hulu dan ke hilir,bebas;memilih jalan hitam atau putih.
Kerana itu Islam mengajar pendidikan atau tarbiyah yang terpundak ke atas ibu bapa atau
penjaga. Islam menyuruh ibu bapa merotan anak mereka yang meninggalkan solat apabila genap
umur sepuluh tahun. Islam juga menyeru ibu bapa memberi pendidikan agama yang awal kepada
anak-anak mereka bermula sebelum lahir hingga mereka dewasa. Kesibukan ibu bapa memenuhi
keperluan hidup mereka dan anak-anak memberi kesan kepada remaja muslim hari ini dalam
aspek akhlak dan akidah.
Maka Syeikh YusuI Al Qadrawi menyeru remaja muslim hari ini untuk memahami Islam secara
shahih. Menjadi kewajipan ke atas remaja Muslim memahami Islam secara dengan keIahaman
yang sebenar serta mendalaminya. Pemimpin dan masyarakat kita berusaha untuk
mengurangkan apa yang ada dalam Islam dan mengeluarkan perkara asas dan hukum-hukum
agar sesuai dengan gaya hidup mereka. Mereka mahukan Islam tanpa Ijtihad,Islam tanpa hudud.
Mahukan Islam tanpa poligami. Islam tanpa daulah dan undang-undang. Daulah dan Agama itu
berbeza seperti yang dilaungkan oleh puak sekularisme. Paling parah apabila yang halal menjadi
haram dan yang haram menjadi halal.
Adalah menjadi kewajipan ke atas setiap remaja muslim memahami Islam dengan keIahaman
yang baik. Tetapi bukan bermakna kita harus meninggalkan proIesion kejuteraan ,perubatan,
ekonomi dan undang-undang, kemudian menumpukan masa untuk membaca kitab-kitab hadis,
kitab sirah, usul dan sebagainya sepenuh masa. Namun, cukup sekadar yang diperlukan di dalam
memahami agamanya. Ilmu yang dapat menjernihkan akidah,membetulkan ibadah, menyuluh
jalan agar mematuhi halal dan haram, membezakan larangan dan suruhan serta membina jati diri
remaja muslim yang sejati. Sebagai contoh,hukum-hukum solat dan bersuci perlu dipelajari dan
diIahami dengan baik supaya sempurna dan sahnya ibadat yang kita lakukan. Begitu juga
hukum-hukum asasi yang lain. Perkara yang menyedihkan,realiti remaja kita yang masih tidak
tahu mengucap syahadah apatah lagi solat dan puasa.
Remaja yang membawa risalah dakwah pula serta mempunyai Iikrah yang jelas perlu berusaha
untuk menjana prestasi cemerlang dalam bidang akademik. Menjadi qudwah sehingga orang
awam dapat mengambil iktibar bahawa beragama bukanlah menjadi penghalang kepada
kecermelangan akademik.
Tidak dinaIikan pendidikan sekarang menjahilkan remaja Muslim kita. Pendidikan yang gagal
untuk membina jati diri, akidah dan akhlak. Remaja kini hanya lebih banyak mengenal tokoh
Eropah melebihi sejarah Islam, mengenal Napoleon melebihi nabi Muhammad dan mengenal
kebangkitan Perancis melebihi Pembukaan Kota Mekah. Remaja Muslim perlu menyuburkan
kembali semangat menuntut ilmu. Menyuburkan kembali siIat ketekunan yang hilang pada orang
Islam sekarang. Moga kita tidak terus lemas dalam arus duniawi.
Pepatah arab ada berbunyi ' ilmu tanpa amal ibarat, pokok tanpa buah. Persoalan yang patut
kita Iikir kembali,adakah cukup sekadar kita memahami, mendalami dan mempelajari sahaja
ilmu agama hatta ilmu duniawi sekalipun. Bayangkan seorang pelajar Perubatan hanya
menamatkan pengajian di universiti selama lima tahun dan kemudian hanya duduk di rumah
setelah tamat belajar tanpa bekerja. Sia-sia bukan?. Maka, adakah Islam memerintahkan kita
supaya menjadi ahli IalsaIah sahaja dan cukup ilmu agama sekadar memenuhi otak tanpa gerak
kerja?.Justeru, perlunya kepada beramal dengan ilmu-ilmu yang diperolehi. Melalui pesan Imam
Ghazali;ilmu tanpa amal gila,dan amal tanpa ilmu tidak menjadi.