SEMIOTIKA: Pengantar Singkat

AG. Eka Wenats Wuryanta TIU: Mahasiswa setelah mengikuti perkuliahan diharapkan mampu memahami definisi, prinsip sejarah, pandangan dan metode dalam pembahasan semiotika, terutama yang berkaitan dengan praktik komunikasi TIK: Mahasiswa setelah mengikuti perkuliahan ini: 1. Mampu menceritakan prinsip awali dalam konteks semiotika 2. Mampu membedakan semiotika dan semiologi 3. Mampu menjelaskan sejarah semiotika 4. Mampu menjelaskan peran dan posisi tokoh kunci semiotika Semiotika atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah yang berasal dari kata Yunani semeion yang berarti ‘tanda’ atau ‘sign’ dalam bahasa Inggris itu adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Secara umum, semiotik didefinisikan sebagai berikut. Semiotics is usually defined as a general philosophical theory dealing with the production of signs and symbols as part of code systems which are used to communicate information. Semiotics includes visual and verbal as well as tactile and olfactory signs (all signs or signals which are accessible to and can be perceived by all our senses) as they form code systems which systematically communicate information or massages in literary every field of human behaviour and enterprise. (Semiotik biasanya didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal serta tactile dan olfactory [semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki] ketika tanda-tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia). Semiotika adalah ILMU TENTANG TANDA, atau Semiotika adalah sebuah cabang filsafat yang mempelajari "tanda", biasa disebut FILSAFAT PENANDA. Berasal dari kata Yunani semeion tanda dimana sesuatu dikenal. Setiap tindakan komunikasi dianggap sebagai pesan yang dikirim dan diterima melalui beragam tanda berbeda. Berbagai aturan kompleks yang mengatur kombinasi pesan-pesan ini ditentukan oleh berbagai KODE SOSIAL. Seluruh bentuk ekspresi – musik, seni, film, fashion, makanan, kesusasteraan- dapat dianalisis sebagai sebuah SISTEM TANDA.

(9) Dicent Symbol atau Proposition (proposisi) adalah tanda yang langsung menghubungkan dengan objek melalui asosiasi dalam otak.TOKOH SEMIOTIKA 2. harimau. (8) Rhematic Syimbol atau Symbolic Rheme. Tanda berupa lampu merah yang berputarputar diatas mobil ambulans menandakan ada orang sakit atau orang yang celaka yang tengah dilarikan ke rumah sakit. (10) Argument. . rambu lalu lintas. Mengapa kita katakan demikian. yakni tanda berdasarkan pengalaman langsung. Kata keras menunjukan kualitas tanda. yang secara langsung menarik perhatian karena kehadirannya disebabkan oleh sesuatu. Misalnya.” Orang itu berkata gelap sebab ia menilai bahwa ruangan itu cocok dikatakan gelap. yakni tanda yang merupakan inferns seseorang terhadap sesuatu berdasarkan alas an tertentu. semuanya adalah proposisi yang mengandung makna yang berasosiasi di dalam otak. (2) Iconic Sinsign. Misalnya. Misalnya. ”Pergi!” penafsiran kita langsung berasosiasi pada otak.1 Pragmatisme Charles Sanders Pierce Bahasa adalah suatu sistem tanda. Lantas kita katakana. peta dan tanda baca. yaitu: 1. (3) Rhematic Indexical Sinsign. Seseorang berkata. (6) Rhematic Indexical Legisign. mengapa seseorang bergata begitu. Kalau seseorang berkata. yakni kualitas sejarah yang dimiliki tanda. yakni tanda yang mempelihatkan kemiripan. Contoh : foto. Gelap. “Itu!” (7) Dicent Indexical Legisign. (5) Iconic Legisign. yakni tanda yang memberikan informasi tentang sesuatu. Otak secara otomatis dan cepat menafsirkan proposisi itu. karena ada asosiasi antara gambar dengan bendaa atau hewan yang kita lihat yang namanya harimau. (4) Dicent Sinsign. Signified (petanda) à Makna (1) Qualisign. tanda larangan yang terdapat dipintu masuk sebuah kantor. Padahal proposisi yang kita dengar hanya kata. Dengan demikian argument merupakan tanda yang berisi penilaian atau alas an. Signifier (penanda) à Materi 2. dan setiap tanda itu tersusun dari dua bagian. Contoh pantai yang sering merengut nyawa orang yang mandi disitu akan dipasang bendera bergambar tengkorak yang bermakna berbahaya. yakni tanda yang mengacu kepada objek tertentu. Kata-kata yang kita gunakan yang membentuk kalimat. diagram. Misalnya. yakni tanda yang menginformasikan norma atau hukum. dilarang mandi di sini. yakni tanda yang dihubungkan dengan objeknya melalui asosiasi ide umum. misalnya kata ganti penunjuk. yakni tanda yang bermakna informasi dan menunjuk sabjek informasi. Tentu saja penilaian tersebut mengandung kenenaran. dan seseorang segera menetapkan pilihan atau sikap. kita melihat harimau. ”mana buku itu?” dan dijawab. suaranya keras yang menandakan orang itu marah Atau ada sesuatu yang diinginkan. dan sementara kita pergi. Seseorang bertanya.

binatang. sebuah kata apa saja. sedang konsepnya adalah patanda (signified).00 dan sampai di Jakarta pukul 07. 1976. bukan koleksi unsure yang ditentukan oleh materi.50 (kalau tidak telat). yakni signifier (penanda) dan signified (petanda). atau konsep.2. atau bunyi-bunyian. penanda adalah “bunyi yang bernakna” atau “coretan yang bernakna”. bukan menyatakan sesuatu dengan sebuah nama. Umpamanya saja. Menurut Saussure. misalnya. Petanda adalah gambaran mental. tetapi system itu ditentukan oleh perbedaannya. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda ( signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). maka kata tersebut pasti menunjukan tidak hanya suatu konsep yang berbeda (distinct concept). Suara-suara baik suara manusia. menurut Saussure. 2001:39) memberikan contoh lain yang kini sangat popular. seperti dua sisi dari sehelai kertas. isi) ini oleh Gleason (Pateda. Yang penting adalah fungsinya yang dibatasi aturan-aturan permainannya. bahasa berisi system nilai. hanya bisa dikatakan sebagai bahsa atau berfungsi sebagai bahasa bilamana suara atau bunyi tersebut mengekspresikan. Dua unsure ini tidak bisa dipisahkan sama sekali. 2001:180) “Penanda dan petanda merupakan kesatuan. Pemisahan hanya akan menghancurkan ‘kata’ tersebut. menyatakan. Dengan kata lain. Dalam permainan catur. dalam Ahimsa-Putra. Jadi petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens. Jadi. dan setiap tanda itu tersusun dalam dua bagian. Untuk membedakan antara farm (bentuk. 2001:35). namun juga suara yang berbeda (distinc sound). Jadi meskipun antara penanda dan petanda tampak sebagai entitas yang terpisah-pisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen tanda. papan dan biji catur itu tidak terlalu penting. pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image). wadah) dan content (isi) ini Saussure (Ahimsa-Putra. Form dan Content.2 Teori Tanda Ferdinand De Saussure Signifier dan Signified. Hari selasa berikutnya kita . 1994:35) diistilahkan dengan expression dan content. Pada hari senin. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier). Saussure membandingkan farm dan content atau substance itu dengan permainan catur. Ambil saja. satu berwujud bunya dan yang lain berwujud ide. Yang cukup penting dalam upaya menangkap hal pokok pada teori Saussure adalah prinsip yang mangatakan bahwa bahasa itu adalah suatu system tanda. Memang demikianlah wujudnya. pengertianpengertian tertentu. yakni kereta api.” kata Saussure. Jadi. Istilah farm (bentuk) dan content (materi. bahasa itu merupakan suatu system tanda (sign). kita tahu bahwa di Stasiun Bandung ada kereta api Parahyangan Bandung-Jakarta yang berangkat dari Bandung pukul 05. atau menyampaikan ide-ide. pikiran. Setiap tanda kebahasaan. kita naik kereta ini ke Jakarta. penanda adalah aspek material dari bahasa : apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca.

asosiasi spontan. dan disebut langue. suatu kesatuan sistematis dari konvensi yang memang perlu untuk komunikasi objek itu tidak tergantung dari materi tanda yang membentuknya. dan tindakan yang sejalan dengan itu. yang memberikan pada suatu kata distinctive form-nya. khususnya dalam teori wacana. Langue dan Parole. realiasi aturan-aturan. kekacauan itu dapat hilang bila semua keragaman tersebut dapat dicarikan suatu objek sosial yang murni. bagimana suatu kata itu memperoleh ‘makna’-nya? Atas pertanyaan ini Saussure memberikan jawaban yang lain yang biasa diberikan pada masa itu. atau bentuk khasnya. 1976:2-3) sebagai dua pendekatan lnguistik yang pada gilirannya nanti dapat menunjang pemikiran Recoeur.” misalnya dapat diucapkan secara belainan oleh individu-individu yang berbeda. Padahal. apa sebenarnya yang membuat suatu kata berbeda dalam phonic dan conceptual form-nya? Dengan kata lain. dibedakan menurut suaranya dengan kata salam dan malam. sedangkan wadahnya – yaitu kata sinkronisasi sebagai bagian dari sebuah system bahasa –tetap sama (Ahimsa-Putra 2001:40) Lalu persoalaanya adalah. dan sebagainya. karena relita itu sekaligus bersifat fisik. Yang bervariasi kata Saussure. adalah “ the phonic and psychological ‘matter”’. namun secara konseptual kata tersebut dibedakan dengan buku. yang dengan sendirinya merupakan linguistik individual. Juga susunan gerbong dan jumlahnya.naik lagi kereta ini ke Jakarta. Saussure dianggap cukup penting oleh Racoeur karena ia-lah yang meletakan dasar perbedaan antara langue dan parole (Recoeur. dan mungkin juga diberi makna yang berbeda. dan kita katakana kita naik “kereta api yang sama” walaupun gerbong dan lokomotifnya boleh jadi sama sekali sudah berbeda. Apa yang “tetap” disini-sehingga kita lalu mengatakan “kita naik kereta api yang sama” tidak lain adalah “wadah” kereta api tersebut. lingustik disibukkan oleh usaha mencari sebabsebab perkembangan bersejarah dalam perubahan ucapan. Saussure mulai dengan sifat bahasa yang “ berbentuk jamak dan beragam”. fisikologos. kertas. kata “sinkronisasi. yang pada pandangan pertama tampak bagaikan suatu relita yang tak dapat dikelompokan-kelompokan. dan juga social. Menurut Saussure. baik gerbong maupun lokomotifnya. psikis. tutur Barthes. individual.” kata Barthes. Hal ini pun diakui Roland Barthes (1996:80) yang menyatakan bahwa “konsep (dikotomis) langue/parole sangat penting dalam pemikiran Saussure dan pasti telah membawa suatu pembaruan besar pada linguistik sebelumnya.” Ketika itu. terdapat parole yang mencakup bagian bahasa yang sepenuhnya bersifat individual (bunyi. Kata kalam. kata tersebut tetaplah satu dan sama. Begitupula halnya dengan kata-kata . katanya lagi. . “kita seakan-akan tidak akan menemukan kesatuan didalamnya. Disamping itu. pena. Walaupun demikian. sementara isinya berubah. tidak lain adalah differensiasi sistematis yang ada antara setiap kata dengan kata-kata yang lain. dan kombinasi tanda-tanda yang terjadi sewaktuwaktu). karena kereta api tersebut bisa saja berganti setiap harinya. tinta. misalnya. Untuk mengembangkan dikotomi yang terkenal itu.

Dalam konsep Saussure. harus dianggap sebgai system (Bartens. menurut Barthes. Selain itu.” katanya. tidak juga dapat mengubahnya. langue dimaksudkan bahasa sejauh merupakan milik berasama dari satu golongan bahasa tertentu. seperti permainan yang mempunyai aturan-aturan sendiri: orang tidak dapat menggunakannya kecuali setelah mempelajarinya. Alwasilah (1993:77) menyebut lanuge sebagai totalitas dari kumpulan fakta atau bahasa. sebab dibidang ini kekhususan bahasa perancis tidak mudah diterjemahkan oleh bahasa-bahasa lain.” katanya. menurut Saussure. tidak direncanakan sendiri : itulah sisi sosial dari Langage. sama sekali bukan tindakan. untuk mengerti permainan catur. Dalam pengertian umum. 1998: 107). Langage mengacu kepada bahasa pada umumnya yang terdiri atas langue dan parole (Bertens. 1993:77). Yang termasuk dalam tanda bahasa atau kode ini adalah apa yang oleh para ahli disebut fonem. namun pembawaan ini mesti dikembangkan dengan lingkungan dan stimulus yang menunjang. tidak . langue adalahabstraksi dan artikilasi bahasa pada tingkat sosial budaya. ia harus mengikuti keseluruhan perjanjian itu. seperti juga sebuah simponi yang tidak sama dengan cara dibawakannya dalam sebuah konser oleh orkes tertentu (dengan segala kekurangannya seumpamanya) . yaitu “satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukka kontras makna” (Kridalaksana. sedangkan parole merupakan ekspresi bahasa pada tingkat individu (Hidayat. 1988:243) Apa yang dinamakan Langue itu. Langue ini ada dalam benak orang. 2001:55-56) atau “satuan bunyi terkecil yang berfungsi untuk membedakan arti” (Muliono. Sebagai sistem sosial. umpamanya. bukan hanya abstraksi-abstraksi saja. produksi masyarakat itu bersifat otonom. langue (system bahasa) dan parole (kegiatan ujaran) terpaksa kita mengambil alih istilah-istilah yang diberikan oleh buku Saussure sendiri. 2001:182). Orang bisu pun sama memiliki langage ini. mereka membatasi diri pada langue saja (Bertens. Singkatnya. namun disebabkan. Individu tidak dapat membuarnya sendiri. Akibatnya langue melebihi semua individu yang berbicara bahasa itu. guna menjelaskan hal tersebut. hal itu harus merupakan perjanjian bersama. gangguan fisiologis pada bagian tertentu maka dia tidak bisa bicara secara normal. Dalam pandangan Barthes (1996:81) apa yang disebut langue itu adalah langage dikurangi parole : “Itu adalah suatu institusi sosial dan sekaligus juga suatu sistem nilai. langue. 2001:181-182). yakni bahasa sebagai langue dapat dibandingkan dengan main catur. 1996:23). “apabila orang ingin berkomunikasi. Langue adalah sesuatu yang berkadar individual dan juga sosial universal. 2001:182). Langue dimaksudkan sebagai cabang linguistik yang menaruh perhatian pada tanda-tanda (sign) bahasa atau ada pula yang menyebutnya sebagai kode-kode (code) bahasa (Kleden-Probonegoro. ia mengemukan perandingan yang lalu menjadi terkenal. langage adalah bahasa pada umumnya. Jika ahli-ahli linguistik menyelidiki bahasa. Language adalah suatu kemampuan bahasa yang ada pada setiap manusia yang sifatnya pembawaan. Alwasilah.Saussure membedakan tiga istilah dalam bahasa Prancis : langage.

Kalau langue bersifat sinkronik dalam arti tanda atau kode itu dianggap baku sehingga mudah disusun sebagai suatu system. Demikian pula bahasa. menurutnya. Atau merubah aturan untuk menggerakan kuda. parole juga dapat dipandang sebagai subjek menampilkan kombinasikombinasi tadi. bahan dari mana bahasa itu terdiri. sesuai dengan realita yang digunakan dalam komunikasi . Permainan catur merupakan suatu sistem relasi-relasi dimana setiap buah catur mempunyai fungsinya. melainkan aturan-aturan yang berlaku bagi nada-nada tersebut. Dan system itu dikontribusikan oleh aturan-aturannya. Karena adanya keberulangan inilah. Yang pening dalam bahasa adalah aturan-aturan yang mengkonstitusikannya. Barthes mencontohkan busana. Kalau unit dasar langue adalah kata. kata Saussure. maka unit dfdasar parole adalah kalimat. gading. Yang penting ialah unsur-unsurnya dalam hubungan satu sama lain. plastik). tidak memberikan kontribusi sedikitpun untuk pengertiannya. maka parole adalah living dpeech. Kalau langue bersifat kolektif dan pemakaiannya “tidak disadari” oleh pengguna bahasa yang bersangkutan. asal usulnya permainan catur itu tidak relevan untuk memahami permainan itu sendiri. Juga. Menurut Barthes. karena merupakan aktivitas kombinatif ini pula.” kata Barthes. Menambah atau mengurangi jumlah buah catur berarti mengurangi system secara esential. “justru hal itu dapat dicatat. Tentunya. 1999a:89). tidak mempunyai peranan. Aspek kombinatif ini mengimplikasikan bahwa parole tersusun dari tanda-tanda yang identik dan senantiasa berulang. Maksudnya. dalam bahasa Tionghoa sebagai bahasa. umpamanya. setiap tanda bias menjadi elemen dari langue. Itu. dalam busana yang tertulis artinya digambarkan oleh suatu majalah mode dengan bantuan bahasa yang diucapkan-dapat dikatakan bahwa disini tidak ada parole: busana yang “digambarkan” tidak pernah sesuai dengan realisasi individu aturan-aturan dalam mode. Yang penting adalah relasirelasi dan oposisi-oposisi yang membentuk system itu. Orang bilang. merupakan suatu kesatuan sistemik tanda dan aturan : itu adalah langue dalam keadaan yang murni. yaitu bahasa yang hidup atau bahasa sebagaimana terlihat dalam penggunaanya. Jika langue mempunyai objek studi sistem. berarti mengubah seluruh sistem. maka parole boleh dianggap bersifat diakronik dalam arti sangat terikat oleh dimensi waku pada saat terjadi pembicaraan. Selai itu. disini perlu dibedakan tiga system yang berbeda. . parole merupakan bagian dari bahasa yang sepenuhnya individual (Budiman.perlu dikaetahui bahwa permainan itu berasal dari parsi. maka parole terkait dengan tindakan individual dan bukan semata-mata sebentuk kreasi. atau tanda atau kode. Dan. Juga dari mana buah-buah catur itu dibikin (kayu. dalam jalur seniologis itu ada kemungkinan bahwa perbedaan yang dbuat Saussure diubah. melainkan bentuk saja. Bahasa itu bukan substansi. Sebaliknya. Pertama-tama parole dapat dipandang sebagai kombinasi yang memungkinkan subjuk (pnutur) sanggup menggunakan kode bahasa untuk menggungkapkan pikiran pribadinya. kata dia. maka parole lebih memperhatikan factor pribadi pengguna bahasa.

tidak mungkin ada Langue tanpa parole. Misalnya menyelidiki perkembangan bahasa Indonesia (dulu bahasa Melayu) yang dimulai dengan adanya prasasti di Kedukan Bukit sampai sekarang. studi diakronis bahasa Inggris mungkin mengalami perkembangan dimasa catatan kita yang paling awal sampai sekarang ini. penting untuk disadari bahwa deskripsi sinkronis pada dasarnya tidak terbatas pada analisis bahasa-bahasa “mati” (usang). Tak ada manfaatnya mempelajari evolusi atau perkembangan salah satu unsure bahasa. 1995:46). Menurut Bertens. 2001:184-185). dan parole pada tartan komunikasi dengan kata-kata. Yang dimaksud dengan diakronis adalah “menelusuri waktu” (Bertens. Menurut Saussure. Dengan demikian telah dibuka jalan untuk studi yang kemudian disebut “strukural”. linguistik harus memperhaikan sinkronis sebelum menghirukan diakronis. Dapatlah kita katakana bahwa studi ini bersifat vertical. dan dilain pihak abstraksi yang menyatu pada setiap langue dikonkretkan disini dalam bentk bahasa tertulis: mode pakaian (tertulis) adalah langue pada tataran komunikasi pakaian. Oleh sebab itu. terlepas dari systemsistem dimana unsur itu berpfungsi. Synchronic dan Dichronic. . Saussure berpendapat bahwa penyelidikan sinkronis harus mendahului penyelidikan diakronis. Linguistik tidak saja mengesampingkan semua unsure ekstra lingual. Bartens (2001:184) menyebut “sinkronis” sebagai “bertepatan menurut waktu”. itu tidak berarti bahwa Saussure menolak penyelidikan diakronis tentang bahasa (Bartens. Yang dimaksud dengan sinkronis sebuah bahasa adalah deskripsi tentang “keadaan tertentu bahasa tersebut (pada suatu “masa”) (Lyoans.” melainkan dari kelompok pengambil keputusan yang dengan sadar mengembangkan kode.Berkaitan dengan ini. atau mungkin meliputi jangka waktu tertentu yang lebih terbatas. Atau dengan kata lain. Dengan demikian linguistik sinkronis mempelajari bahas tanpa mempersoalkan urutan waktu. asalkan ada cukup ketrangan yang dilestarikan dalam naskah-naskah yang telah sampai kepada kita. Jadi. studi diakronis atas bahasa tertentu adalah deskripsi tentang perkembangan sejarah (melalaui waktu). Salah satu dari banyak perbedaan konsep dan tata istilah paling penting yang diperkenalkan ke dalam linguistik oleh Saussure adalah perbedaan antara studi bahasa sinkronis dan diakronis (perbedaan itu kadang-kadang digambarakan dengan membandinkan “deskriptif “ dan “historis”. linguistik diakronis ialah subdisiplin linguistik yang menyelidiki perklembangan suatu bahasa dari masa ke masa. linguistik melepaskan juga objek studinya dari dimensi waktu. misalnya menyelidiki bahasa Indonesia yang digunakan pada tahun 1965. yang memungkinkan hal tersebut (adanya langue sebelumperwujudan parole) kali ini terterima. menurut saussure. Kedua istilah ini berasal dari kata Yunani khonos (waktu) dan dua awalan syn dan dia masingmasing berarti “bersama” dan “melalui”. Linguistik komparatif-historis harus membandingkan bahasa-bahasa sebagai system-sistem. seperti ang dikutip Barthes (1996:82). 2001:184). Perhatian ditujukan pada bahasa sezaman yang bersifat horizontal. adalah diastu pihak bahasa mode tidak datang dari “masa yang berbicara. system terlebih dahulu mesti dilukiskan tersendiri menurut prinsip sinkronis. misalnya.

(3) fungsi konatif. dan “karpet” – kata “kucing” menghasilkan rangkaian yang membentuk sintagma (kumpulan tanda yang beurut secara logis). penyandi pesan. 2. Maka satu elemen tertentu-kata “kucing”. Jika kita mengambil sekumpulan tanda “seekor kucing berbaring diatas karpet”. pengungkap keadaan pembicara. melalui cara ini “kucing” bias dikatakan memiliki hubungan paradigmatik (hubungan yang saling menggantikan) dengan “singa” dan “anjing”/ Hubungan paradigmatic terssebut. pembuka. seperti dipaparkan John Lechte. sedangakan yang kedua berarti adanya masalah dalam upaya menjaga hierarki satuan-satuan linguistik. yang hilang adalah hubungan kesamaan. pengungkap keinginan pembicara yang langsung atau segera dilakukan atau dipikirkan oleh sang penyimak. Menurut Jakobson. Pada yang pertama. adalah penekanannya pada dua aspek dasar struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metator retoris (kesamaan). sedangkan pada yang kedua adalah kesinambungannya. atau “karpet”. pengacu pesan. “atas”. Kini digabungakan dengan kata “seekor”. penggantian tersebut bersifat fleksibel. (5) fungsi fatis. Pengubahan ini terbukti tidak mempengaruhi hubungan sintagmatik.Syntagmatic dan Associattive. selain pertukaran dua kata benda.3 Linguistik Struktural Roman Jakobson Roman Jakobson adalajh salah satu dari beberapa ahli linguistik abad kedua puluh yang pertama kali meneliti secara serius baik pembelajaran bahasa maupun bagaimana fungsi bahasa bias hilang seperti yang berlangsung pada afasia (Lechte. berarti memahami bagiamana kerussakan pada bagian pemilihan dan substansi-kutub metaforis-atau dalam gabungan dan kontektualisasi –kutub metonimia. bahasa itu memiliki enam macam fungsi (Sudaryanto. . Memahami bagaiman berbagai bentuk afasia mempengaruhi fungsi bahasa. bagaimana garis x dan garis y dalam sebuah sistem koordiant. penerang terhadap sandi atau kode yang digunakan. Hubungan-hubungan ini terdapat pada ata-kata sebagai rangakaian buinyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep. misalnya menajdi bermakna sebab ia memeang bias dibedakan dengan “seekor”. Cobley dan jansz (1999:16-17) memberi contoh sederhana. atau antara sintagmatik dan paradigmatic. 2001:108). (paradigmatic). 1990:12) yaitu: (1) fungsi referensial. pembentuk. bias saja kata “kucing” diganti dengan “anjing” karena keduanya memiliki hubungan paradigmatic. dan metonimia (kesinambungan). Pemikiran awalnya yang penting. berbaring”. (4) fungsi metalingual. menurut cobley dan Jansz. Sejauh tetap memenuhi syarat hubungan sintagmatik. “di”. Yang pertama memperlihatkan ketidakmampuan pada tingkat metalinguistik. pemelihara hubungan atau kontak antara pembicara dengan penyimak. (2) fungsi emotif. Sekaranga kita lihat bagaimana seekor kucing dikombinasikan dengan elemen-elemen lainnya. haruis selalu sesuai dengan aturan sintagmatiknya. “berbariong”. Misalnya. dan (6) fungsi puitis.

Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. Jakobson menidrikian lingkungan linguistic ddi Moskow dan terpengaruh oleh Huseserel. Meskipun begitu. Dalam artikelnya yang terkenal Linguistiuk and Poetics. Cirri pembeda yang penting disitu adalah suara (voice). dalam Ahimsa-Putra. yakni perbedaan-perbedaan antar tanda yang masih dapat saling menggantikan (petit. Jakobson menerangkan adanya adanya fungsi bahasa yang berbeda. sehingga akibatnya. 2001:56). meskipun cirri-ciri itu tidak ditangkap atau diketahui. (c) merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana-dengan distinctive features yang mana-yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainnya. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lain. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya cirri pembeda dalam tanda-tanda tersebut. Jakobson adalah salah seorang dari teoretikus yang pertama-tama berusaha menjelaskan proses komunikasi teks sastra. Lewat pemaparan Lecthe (2001:107). (b) memberikan suatu cirri menurut features tersebut pada masing-masing istilah.-langit mulut. Langkah-langkah analisis structural atas fonem yang dilakukan oleh Jakobson antara lain (Ahimsa-Putra. bukan bunyi sengau (nazal). fungsi fatis (5) sejajar dengan faktor kontak (awal komunikasi). Keduanya bukan huruf hidup. Telaah bahasa menjadi kunci dalam upaya memahami sastra dan folklore (cerita rakyat). dan fungsi puitis (6) sejajar dengan faktor amanat atau pesan. disebutkan pada tahun 1914 Jakobson memasuki fakultas historiko-fisiologis di Universitas Moskow dan masuk bagian bahasa di Jurusan Slavia dan Rusia.Setiap fungsi bersejajar dengan factor pundamental tertentu ynng memungkinklan bekerjanya bahasa. fenomenologi Husserl cukup penting dalam membentuk pemikirannya saat ia berusaha melihat hubungan antara “bagian” dengan “keseluruhan” dalam bahasa dan kultur. (d) menentukan perbedaan antar tanda yang penting secara pragmatis. dan ini dilakukan dengan mengetahui cirri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan cirri-ciri suara yang lain. fungsi emotif (2) sejajar dengan faktor pembicara. keduanya memiliki cirri-ciri positif dan negatif tersebut. 1977. bkan pula dental. bukan bilabial. 2000:15) Adresser (pengirim) mengirimkan suatu message (pesan) kepada seorang adresseyang dikirim). pesantersebut memerlukan context (konteks) yang yang . Misalnya saja /c/ dan /j/ dalam pancang dan panjang. fungsi metalingual (4) sejajar dengan faktor sandi atau kode. Fungsi referensial (1) sejajar dengan faktor konteks atau referen. yang merupakan factor-faktor pembentuk dalam setiap jenis komunikasi verbal (Segers. fungsi konatif (3) sejajar dengan faktor pendengar yang diajak berbicara. Pada 1915. 2001:56): (a) mencari distinctive features (cirri pembeda yang membedakan tanda-tanda kebahasaaan satu dengan yang lain. Agar operatif. Keduanya adalah konsonan yang diartikulasikan dengan meletakan bagiantengah lidah pada langit. Fonem /c/ tidak bersuara (-voiced) sedang fonem /j/ bersuara (+voiced). cirri-ciri itu tidaklah menjelaskan perbedaan diantara keduanya (Ahimsa Putra. unit-unit yang bermakna. 2001:56).

Pada pesan itu sendiri merupakan fungsi puitik bahasa (Sergers. Seseorang dapat mengimajinasikan bahwa dalam bacaan. Sgers melihat. tetapi muncul juga pada dalam artikel surat kabar. (Jakobson. Sebuah sintagma merujuk kepada hubungan inpraesentia antara satu kata dengan kata-kata yang lain. Bentuk ini berbeda dengan sarana referensial bahasa. 2001:54). strata emotif yang paling murni dalam bahasa dapat terlihat dalam bentuk kata seru. suatu code kode) secara penuh atau paling tidak sebagian. atau . Apabila kita menganalisis bahasa dan segi keterangan yang dianutnya kita tak dapat membatasi pengertian informasi pada aspek kognitif untuk menunjukan kemarahan atau sikap ironisnya. 1990. Fungsi emotif dibentang secara nyata dengan tanda seru dan teasa pada seluruh ucapan : baik pada tataran bunyi. dan sebagainya (Jakobson. tetapi padanan kalimat-kalimat).maupun melalui peran sintaksis (kata-kata itu bukan komponen. maupun leksikal. sehingga dipahami oleh yang dikirim dan dapat diverbalisasikan. menurut Jakobson. tidak terbatas pada teks sastra khususnya dan pada karya seni umumnya. 2000:16). dan akhirnya. Analisa jakobson atas bahasa mengambil ide dari Sussure yang mengatakan bahwa bahasa atau struktur bahasa bersifat differensial ( differential) atau membedakan. atau dikatakan juga “merupakan fungsi dari ekspresi pemikiran bahasa puitik” (Berger. Fungsi puitik itu kerap didefinisikan oleh Jakobson sebagain “seperangkat (einstellung) yang menrah pada pesan secaraa terpusat(Segers. dengan jelas memberi tambahan informasi dan tentu saja perilaku verbal ini tak bisa disamakan dengan kegiatan non semiotic nutritive seperti “makan jeruk”. Disebutkan. suatu saluran fisik dan hubungan psikologis antara penmgirim dan yang dikirim.menunjukan pada (…). 2000a:208). gramatikal. sesungghnya Jakobson telah . ceramah. dalam Segers. dikutip Segers. itilah sintagmatik selalu diperlawankan dengan paragmatik.fungsi puitik bsertumpu pada orientasi spesifik pembaca kearah pesan. memungkinkan keduanya memasuki dan berada dalam komunikasi (Jakobson. jika perhatian hanya diarahkan pada pesan itu sendiri. 2000:16). pesan-pesan juga memiliki fungsi-fungsi emotif dan refeernsial. salah satu fungsi dari pesan-pesan adalah penggunaaan alat-alat literature sebagai metafora dan metonimi . 2000:16). 1935. Memang didalam linguistic pasca-Saussure. suatu contact (kontak). misalnya dalam studi sejarah. Baik melalui pola bunyi (skuen bunyi aneh atau bahkan bunyi-bunyi yang tidak biasa). Menurut Jakobson (Berger. 1996:71). Jakobson memberi contoh : “Tut! Tut!” kata McGinty: ucapan yang lengkap dari tokoh conan Doyle ini terdiri dari dua kata onomatope suara orang mengisap sesuatu. bagi pengirim dan yang dikirim (atau dengan kata lain bagi pembuat kode dan pemakna kode). 2000:16).menunjukan pada 1935 bahwa fungsi puitik atau estetik. 2000a:208). fungsi puitik dengan fungsi referensial (suatu deskripsi tentang situasi-situasi tertentu dalam sejarah). Rien UT. misalnya. Pembbedaan atau differensiasi tersebut berlangsung melalui dua sumbu sintagmatis dan paradigamatis (ahimsa-Putra. Fungsi puitik dapat dijumpai dalam semua proses komunikasi verbal. yang dirangsang oleh kualitas0kualitas tertentu pesan itu.

Karena tuturan selalu diekspresikan sebagai suatu rangakai tanda-tanda verbal dalam dimensi waktu. pemikiran pokoknya ia tuangkan dalam beberapa karya tulis. juga diakui lanigan yang mengatakan “seperti halnya Jakobson. dengan perluasan ini. Bartens (2001. antara lain lewat dua karyanya yang terbaik. eksponen penerpan strukturalisme dan semiotika pada studi sastra. Setelah kembali ke perancis.5 Semiologi dan Mitodologi Roland Barthes Roland Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang getol memprakkan model linguistic dan semiologi Saussure. Ia juga intelektual dan kritikus sastra prancis yang ternama. Whitfield (1963). dan language: As Introduction (1970). 2001:4).4 Metasemiotika Louis Hjelmeslev Louis Hjemslev dikenal sebagai penerus yang berpengaruh (Masinambow. dan expression substance dan content substance pada pihak lain. Ia berpendapat bahasa adalah sebuah system tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakattertentu dalam waktu tertentu. sambil mengajar tentang sosiologi tanda. 2001:17). Maka. 1999a:110-111). symbol dan representasi .208) menyebutkan sebagai tokoh yang memainkan peran sentral dalam strukturalisme tahun 1960-an dan 70an. Setelah mengajar bahasa dan sastra Prancis di Bukares (Rumania) dan Kairo (Mesir. terj. bahwa baik expression maupun content mempunyai komponen form pada substance sehingga terdapat expression form dan content form pada satu pihak. didalam ujaran atau tindak tutur tertentu. 2. ia mengajar di Ecole des Hautes Etudes en Sciences socials. tempat pertemuannya algirdas Julien Greimas. diperoleh gambaran bahwa sebelum expression form terbentuk. Ia mengajukan pandangan ini dalam Writing Degree Zeeo (1953. Pakar linguistic dan semiotika ini lahir di Denmark pada tahun 1899.antara suatu satuan garmatikal dengan satuan-satan yang lain. Ia membagi tanda kedalam expression dan content dua istilang yang sejajar dengan signifier dan signified dan Saussure. dan meninggal pada tahun 1966. Inggris 1977) dan Critical Essays (1964. 1988:124-128. yang kemudian diterjemahkan oleh francis J. terdapat bahan tanpa bentuk (amorphous matter atau purpot) 2. 2000d:iii) ini. Inggris 1972). Prolegomena to Theory of Language (1943). Dari seksi keenam Ecole Practique des Hautes Etudes. Kurniawan. Hjemslev mengembangkan system dwipihak (dyadic system) yang merupakan cirri system Saussure (Masinambow. terj. maka relasi-relasi sintagmatik kadang kala disebutkan juga sebagai relasi-relasi linear (Budiman. ia bekerja untuk Centre Nasional de RecherceSchientifique (pusat nasional untuk penelitian ilmiah). Hjemslev adalah salah satu tokioh linguistic yang berperan dalam pengembangan smiologi pasca-Saussure” (lanigan. misalnya. Namun konsep tersebut dikembangkan lebih lanjut dengan penambahan.

kita menemukan suatu tema di dalam cerita. suatu proses yang mirip dengan yang terlihat dalam retorika tentang tanda mode. Tahun 1980 ia meninggal pada usia 64 tahun. Dalam proses pembacaan. 2000:145-149): kode hermeneutic (Kode tekai-teki). lihat pula indriani. Jika sejumlah konotasi melekat pada suatu nama tetentu. 2. yang oleh bartens (2001:210) pantas disebut sebuah buku dengan judul cukup aneh.6 The Name . buku ini merupakan salah satu contoh bagus tentang cara kerja Barthes. Disini ia menganalisis sebuah novel kecil yang relative kurang dikenal. akibat ditabrak mobil di jalanan Paris sebulan sebelumnya. buku ini ditulis Barthes sebagai upaya untuk mengeksplisitkan kode-kode narasi yang berlaku dalam suatu naskah realis. Perlu dicatat bahwa Barthes menganggap denotasi sebagai konotasi yang paling kuat dan paling “akhir”. Dalam penilaian John Kecthe (2001:198). Di dalam narasi ada suatu kesinambungan antara pemunculan suatu peristiwa teka-teki dan penyelesauiannya didalam cerita.7 Semiotika Revolusioner dan Semanalisis Julia Kristeva Julia Kristeva menggunakan istilah intertekstualitas ( intertextuality) untuk menjelaskan hubungan semantik dan dialog di antara dua ucapan. dua karya. kode proaretik (logika tindakan).Umberto Eco – of the Rose Dalam pendekatan sistem tanda. mungkin juga kebohongan. Contoh: Representasi tatanan rambut seorang artis yang tampil di panggung adalah mungkin bentuk kesadaran. Kode tekai-teki merupakan unsure struktur yang utama dalam narasi tradisional. Pada 1976. Dalam bukunya yang terkenal.kolektif serta kritik semiotika. pemmbaca menyusun tema suatu teks. kode simbolik. kode semik (makna konotatif). Kode semik atau kode konotif banyak menawarkan banyak sisi. Bahwa pada prinsipnya satu bentuk representasi (fakta) adalah sesuatu yang hadir namun menunjukkan bahwa sesuatu di luar dirinyalah yang dia coba hadirkan. dua konteks waktu ini . dan kode ghomik atau kode cultural yang membangkitkan suatu badan pengetahuan tertentu. . berjudul Sarrasine. Honorte de Balzac. dua budaya. dua ungkapan. Lima kode yang ditinjau Barthes adalah (Lechte. Barthes diangkat sebgai professor untuk “semiologi literer” di College de france. Kode Hermeneutik atau kode tekai-teki berkisar pada harapan pembaca untuk mendapatkan “kebenaran” bagi pertanyaan yang mencul dalam teks. Ia melihat bahwa konotasi kata atau frase tertentu dalam teks dapat dikelompokkan dengan konotasi kata atau frase yang mirip. Umberto Eco sebagaimana dijelaskan oleh Yasraf (2003). Barthes berpendapat bahwa sarrasine ini terangkai dalam kode rasionalisasi. Jika kita melihat suatu kumpulan satuan konotasi. S/Z (1970). mengatakan semiotika adalah berkutat pada segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta. ditulis oleh sastrawan Prancis abad ke -19. dua teks. 2. 2001:196.

yang di dalamnya terjadi dialog antara subjek penulis. 36. Di sisi lain.. Superreader. makna konotatif) serta pada pihak lain dialektik antara teks dan pembaca. yang di dalamnya “. hlm. di dalam sebuah wacana pertukaran semiotis. Tanda-tanda yang berasal dari konteks masa lalu (Abad Pertengahan) berinteraksi dengan tanda-tanda yang berkembang dalam konteks masa kini (pengarang lain).Intertekstualitas. 2.9 Dekonstruksi dan “Semiotics of Chaos“ Jacques Derrida Pemikiran Derrida dalam menjawab kegelisahan tentang perlunya sebuah pemikiran alternatif. atau kepada makna 'lain' dari teks dan logika.. dialektik antara tatatan mimetik (istilah Pierce: tataran kebahasaan. Ruang tekstual adalah sebuah ruang tiga dimensi atau kordinat yang abstrak. Basil Blackwell. 1997:62) Dalam bukunya Semiotic of Poetry (1978). menurut Kristeva adalah sebuah ruang tekstual ( textual space). 1989. dekonstruksi diartikan sebagai sebuah pembelaan kepada the other. .. 2. pembaca dan teks-teks lain yang berasal dari luar (eksterior) sebuah teks.berbagai ucapan ( utterance) yang berasal teksteks lain saling silang-menyilang dan menetralisir satu sama lainnya ( Julia Kristeva. Tidak ada sebuah ungkapan atau karya pun yang kosong dari dimensi intertekstual ini. 68). Di dalam ruang tekstual itulah terjadi semacam pertukaran tanda ( exchange of signs) (Ibid.8 “Superreader” Michael Riffaterre Semiotika adalah yang disebut para ahli: “a dialectic between text and reader”. makna denotatif) dan tataran semiotik (istilah Pierce: tataran mitis. Dengan kata lain. Derrida menawarkan teori dekonstruksi yang begitu identik dengan filsafat posmodernisme. Mereka yang berkeberatan dengan teori dekonstruksi sebagai bentuk intellectual gimmick (tipu muslihat intelektual) yang tidak berisi selain permainan kata-kata. yang mungkin hanya dipahami dengan referensi lain diluar teks (Taum. Kesulitan akan muncul bila terdapat penyimpangan gaya. hlm. Kemunculan teori dekonstruksi yang anti-metode ini mendapat tanggapan serius dari berbagai ilmuwan. sebuah pembebasan. London. Kelompok ini diharapkan dapat mengungkap potensi semantik dan pragmatik dari pesan teks melalui stilistika. Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art. Riffaterre mendeklarasikan bahwa sebuah puisi mengatakan sesuatu yang berbeda dari makna yang dikandungnya.). gagasan yang membela perbedaan di dunia yang tengah dihantui ancaman penyeragaman seperti yang terjadi saat ini. yakni sintesis pengalaman membaca dari sejumlah pembaca dengan kompetensi yang berbeda-beda.

Kode – kode budaya (culture codes) 17. Bahasa tertulis. Bidang semiotika ini sendiri bisa berupa proses komunikatif yang tampak lebih alamiah dan spontan hingga pada sistem budaya yang lebih kompleks19 bidang yang bisa dipertimbangkan sebagai bahan kajian ilmiah Semiotika menurut Eco (1979:9-14). kode rahasia (written languages. Retorika (rhetoric) . Kode – kode musik (musical codes) 9.Terapan Singkat Semiotika Komunikasi Ada sejumlah bidang terapan semiotika. Komunikasi rabaan (tactile communication) 4. Teks estetik (aesthetic texts) 18. Semiotika binatang (zoomsemiotic) 2. alfabet tidak dikenal. Sistem objek (system of objects) 14. Pada prinsipnya jumlah bidang terapan semiotika tidaklah terbatas. Tanda – tanda bauan (olfactory signs) 3. Paralinguistik (paralinguistics) 6. antara lain : 1. Bahasa alam (natural languages) 12. Komunikasi visual (visual communication) 13. Kinesik dan proksemik (kinesics and proxemics) 8. Semiotika medis (medical semiotics) 7. Teori teks (text theory) 16. Bahasa – bahasa yang diformalkan (formalized languages) 10. secret codes) 11. Struktur alur (plot structure) 15. Komunikasi Massa (mass comunication) 19. unknown alphabets. Kode – kode cecapan (code of taste) 5.

2004. Winfried. Alex. Indiana University Press:Indiana . Semiotika Komunikasi. Handbook of Semiotics. 1999.Daftar Pustaka Sobur. Rosda Karya:Bandung Nort.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful