KELUARGA GERILYA: KEBENARAN LEBIH TINGGI DARIPADA CINTA Hani’ah Pusat Bahasa Jakarta

Pendahuluan Keluarga Gerilya (Toer, 1949) adalah sebuah novel yang melukiskan seorang pemuda, Saaman, yang berhasil menjadi pahlawan justru karena ia otodidak. Novel ini menjadi istimewa karena merupakan antitesis dari novel yang melukiskan pemuda yang lemah akibat pendidikan orang tua yang tidak tulus, seperti Atheis dan Salah Asuhan. Hasan dalam Atheis adalah korban pendidikan ayahnya yang ingin menjadikannya anak soleh demi kepentingannya masuk surga, sedangkan Hanafi dalam Salah Asuhan adalah korban asuhan ibunya yang ingin menjadikannya lebih maju dari orang senegerinya demi kepentingannya menjulangkan nama. Kedua orang tua itu hanya memperalat anaknya untuk kepentingannya sendiri yang egoistis. Keluarga Gerilya yang berlatar aksi polisionil I ini mengetengahkan konflik internal keluarga. Di satu pihak, sang Ayah, Kopral Paijan, adalah serdadu Belanda yang setia, dan di lain pihak ketiga anak lelakinya (Saaman, Canimin, dan Kartiman) adalah pejuang kemerdekaan yang setia pada Republik. Konflik ayah dan anak-anaknya itu berakhir tragis, yaitu pembunuhan. Kopral Paijan oleh ketiga anaknya itu ketika ia memaksa anak-anaknya itu untuk mengikuti jejaknya bergabung dengan Belanda demi kelangsungan hidup keluarga. Seperti Arjuna dalam Bhagawadgita yang membunuh saudara-saudaranya demi menegakkan kebenaran, Saaman pun membunuh ayahnya demi tegaknya kebenaran. Ia tidak membunuh Kopral Paijan sebagai ayah tetapi sebagai pengkhianat bangsa. Jadi, kebenaran tidak mengenal cinta, bahkan kalau perlu cinta harus dikorbankan untuk membela kebenaran, demikian pesan moralnya. Tulisan ini mencoba mengungkapkan pesan moral novel yang bertema kepahlawanan ini lewat lakuan tokoh utamanya, Saaman, seorang pemuda yang berani mati demi kebenaran. Saaman: Otodidak yang Berhasil Membina Diri Obsesi Saaman sebagai pemuda adalah menjadi membela kebenaran. Saaman adalah bak sekuntum mawar yang muncul dari comberan. Ayahnya, Kopral Paijan, adalah serdadu Nica alias pengkhianat bangsa dan ibunya, Amilah, adalah pelacur atau buaya tangsi. Namun, Saaman tidak terpengaruh oleh keduanya. Saaman bahkan mampu menjadi diri sendiri, sehingga tidak mementingkan diri sendiri. Semua itu adalah hasil dari usahanya sendiri sebagai otodidak. Aku anak tangsi. Aku anak kolong yang tak keruan bapaknya. Aku kira dari kedua orang tuaku aku tak mendapat didikan apa-apa--selain yang buruk-buruk." "Oh--alangkah aneh. Dan pengajaran sekolah?" "MULO sore."

95

Dia juga bukan bapakku yang sejati. Saat yang ajaib pun datanglah. Kak Aman terlalu suka pada asinan. Maman. Mak. Sudah lama ini kupikirpikirkan. Kartiman berayah orang Ambon. Engkau tak setampang dengan Kopral Paijan. Dari cermin itu tampak olehnya Benni." "Dan tidak mendapat pendidikan dari ibu-bapak pula. mungkin aku anak Kopral Paijan. Ganti ia memeluk pemuda itu--sekali-kalinya yang ia pernah perbuat."Ya Allah. Engkau belikan uang itu untuk bawang. Ya. hanya serdadu kelas dua. Dan selalu kau ambil pakaian anak-anakmu yang lain dengan diamdiam--kaujual. Dan Saaman pun dilahirkan di dunia ini-. Salamah berayah orang Belanda Indo. 1962:116) Karena ibunya buaya tangsi. Dan aku tak merasa hina--sama sekali tidak. Ia pura-pura menunduk dan memperbaiki peniti kebayanya. anak MULO jadi tukang becak? "Apa salahnya? Karena aku tak mau jadi pengkhianat. Tapi engkau tidak mau peduli. Seringkali adikadiknya harus rela berkorban untuknya akibat perbuatan ibunya dalam mencintai dirinya. Dan aku tahu juga. (34) Saaman berasal dari lelaki yang paling dicintai ibunya. dan hanya Canimin yang mungkin merupakan anak Kopral Paijan. Ia meloncat. Karena. Dan pemuda itu membalas rangkulannya. Kulitnya kuning langsat dan matanya agak sipit. Dia anak Belanda Indo. "Dan mengapa jadi begitu?" "Aku mendidik diriku sendiri. Mak. "Barangkali bajuku yang tinggal satu-satunya diambil juga oleh emak. Dari cermin itu ia melihat mukanya memerah jambu. Dan itulah yang menyebabkan aku jadi tukang becak. pemuda Manado yang belum berpangkat. Bersitinjak Benni mendekatinya. Tapi keajaiban itu ada di dalamnya.(94) Oleh sebab itu. Tapi bapakmu? Tidak! Sama sekali tidak. "Kopral Paijan--kopral Nica. Dan dalam hatinya ada sesuatu yang hidup dan menyala. itu mungkin sekali. Saaman berayah orang Manado. Kalau aku memang punya persamaan dengannya. Kasihan! Dan Kak Aman belum pulang juga. Begini. Dan putusannya sudah kudapat. Dan Amah?--sama sekali tak menyerupai Kopral Paijan. cuka dan cabe rawit buat asinan. Dan ia pura-pura tidak tahu. Tampangmu sebagai tampang Ambon. Ia terus jua dengan pura-puranya. kopral Knil itu--bukan bapakmu sendiri. Tapi mata pemuda yang agak sipit itu--itulah yang membuat ia tergilagila padanya. Dan engkau--hitam seperti dandang." katanya. Dan ia menyandu pada sesuatu itu. Kulitnya agak putih. Ia tak tahu apa. "Aku tahu juga. Ia berdiri di depan cermin besar--di tangsi Makasar. engkau tak 96 . karena aku ada persamaan dengannya." "Ya". Dia juga tidak menyerupai Emak." (Toer. "Tapi. Tapi engkau?! Tidak." katanya pada diri sendiri. Sekali ini sungguh-sungguh terkejut--bukan pura-pura lagi. Samaan pun menjadi satu-satunya anak yang dicintai ibunya. Maman! Sudah jelas betul aku. Pikir saja sekarang--Kak Aman punya tampang Menado. Kak Amanlah satu-satunya anakmu yang kaucintai. Barang-barang itu jadi busuk akhirnya. barang-barang itu kausembunyikan di bawah ambin. semua saudaranya berasal dari ayah yang berbeda-beda. Akhirnya Benni mencium lehernya. Benni. atau mungkin sekali memang bapakku betul.

. Berkata lagi.. Ia adalah ayah dan sekaligus ibu bagi adik-adiknya yang masih kecil. Biarlah engkau puas. ‘Bagaimanapun juga buruknya keadaan kita." Saaman mengulangi dengan suara hampa. Lebih suci dari orang yang pulang naik haji dengan sorban setebal gendang. Tapi orang yang berjuang. Tapi adik-adikmu harus terus belajar—dan aku harus tinggal di Jakarta dengan engkau semua." Biarlah. Dan sekarang anak-anakmu jadi telanjang akhirnya." (125) Cintanya pada bangsanya itu pulalah yang membuatnya berani membunuh Kopral Paijan. "Korban itu terlalu besar. sudah lama aku pergi dengan kakakmu Mimin dan Maman masuk tentara di pedalaman." (77) Namun.(153) Saaman adalah pegawai menengah Kementerian Kemakmur-an. Dik Imah. ayahnya. "Ya." Direktur itu mengangguk-angguk mengerti. Biarlah. dan pemuda yang berumur dua puluh empat tahun ini. bodoh betul perbuatanmu itu. Hasan.. Kalau bukan karena itu. "Apa yang mendorong tuan membunuh bapak sendiri?" tanya direktur itu hati-hati. Karena--mereka itu mencari surga hanya untuk dirinya sendiri. Saaman tidak terpengaruh oleh kasih sayang ibunya yang berlebihan itu. Ia mampu menempatkan diri di tengah keluarga. adalah menyediakan surga untuk berpuluh juta manusia bangsanya. Mas Aman adalah seorang di antara mereka yang bersumpah akan menyerahkan jiwa raganya untuk tanah air dan bangsanya. "Saaman bin Paijan adalah anak seorang Kopral Knil Paijan bin Suto. Ya--Dik Imah--dan Mas Aman adalah seorang di antara beribu-ribu pemuda yang bertekad demikian pula. Sebagai sulung dari tujuh bersaudara. Dan orang yang membela tanah air dan bangsanya dari perbudakan adalah sesungguhnya lebih suci daripada orang yang belum pernah berdosa selama hidupnya. ia tidak terjun ke medan perang.ingat lagi. Kopral Paijan tidak dibunuh sebagai ayah tetapi sebagai antek Belanda yang memusuhi bangsanya." Ia diam sebentar untuk berpikir. Engkau kira Kak Aman akan bersenang hati kauperlakukan begitu. Lebih suci dari orang yang seumur hidupnya hanya bersembahyang kerjanya. Mas Aman rela--. kataku. Saaman mencurahkan seluruh jiwa dan raganya untuk membela negara dan bangsa yang dicintainya. tetapi perjuangan membela negara menuntutnya untuk menyamar sebagai tukang becak. harus belajar terus. adiknya yang telah dewasa. mak-“ (14) Sebagai pejuang yang konsekuen. Oleh sebab itu. “Mak. dan Imah. mengertilah aku sekarang--mengertilah aku sekarang mengapa jadi begitu. Hmmm." "Terlalu besar. aku sangat menghargai nasihat kak Aman.’ Jadi. Saaman merasa bertanggung jawab untuk kelangsungan hidup keluarga. Berkata. adalah kepala pasukan yang 97 . "Apa? Karena dia kopral Knil dan aku musuhnya Knil. Mimi. seperti Kartiman dan Canimin. Ambillah kebayaku yang tinggal satu-satunya itu.

sebagai anak ia berbakti pada ibu dan ayahnya. Kemudian ia lari masuk ke kamar mengurung diri. Kak Aman! Dan kalau Kak Aman yang menegurnya dia menyahut seperti orang yang tiada dikenalnya. aku tak menyangka engkau berfiil begitu. Dalam pemerintahan Republik. Kasihan. kehilangan kesabarannya." Tapi Saaman tidak menjawab. (129) Hal itu membuat pacarnya. Kartiman. "dia tidak mau menegurnya. Kopral Paijan. "Kau juga"." kata bapaknya. memaksa dirinya dan kedua adiknya. di kala Kak Aman jadi tukang becak. Dan dia pura-pura tak tahu saja. tak sekejap pun ia mau bertanya-tanya lagi padanya. dia! Oh. untuk mengkhianati kebenaran.pendiam. ketika ayahnya." Patimah menyambung pengaduannya. Ia mengadakan pasukan ini segera sesudah aksi polisi pertama. Tapi ia tak bisa masuk ke kamar. Dan selama itu ia menyamarkan diri sebagai tukang becak." Ia menunduk dan sekarang berkata kepada Zainab yang tak ada di depannya. Hatinya bebas dari pamrih dan dendam karena jiwa raganya telah diabdikan untuk sesamanya. Alangkah besar hinaan yang diterimanya dari perempuan yang dicintainya. Dipukulnya meja dengan kepalan hingga barang-barang militer di atas meja itu menggeletar sebentar." telunjuknya menudingnya dan ia--Canimin--mengangguk. dan sebagai warganegara ia berjuang membela bangsa. Canimin dan Kartiman. ayahnya itu dibunuhnya. "Maman!" teriak Paijan. 98 . "Kompeni butuh serdadu banyak sekarang. katanya. "Engkau jangan pura-pura pikun! Dan engkau juga. "Engkau harus teken serdadu. "Engkau tahu. "Kau boleh jadi kopral sampai mampus!" serunya garang. sekalipun dia bertemu dengan Kak Aman di tengah jalan. Zainab Juliati. seluruh kehidupan Saaman dicurahkan untuk membela kebenaran. Akhirnya melela pula kenangan dalam bayangan Kopral Canimin. Oleh sebab itu. Menjadi Pahlawan Saaman adalah seorang otodidak yang berhasil membina dirinya menjadi pemuda yang penuh tanggung. kehilangan pacar tidak membuat hati Saaman patah. untuk mengikuti jejaknya menjadi serdadu Belanda. Sebagai kakak ia mengasihi adik-adiknya. Ditendang-tendangnya pintu kamar itu. Dalam keadaan mabuk kopral Knil itu memburu. Dan aku heran mengapa Kak Aman mendapat gadis yang seperti engkau. Kemudian telunjuknya berpindah kepada Kartiman. pemuda penaik darah itu. Saaman dan ia sendiri menyabarkan bapaknya. malu dan memutuskan hubungannya. Saaman bin Paijan bekerja menjadi pegawai menengah dan terkenal aktif. cinta ibunya yang berlebihan terhadapnya juga tidak menjadikannya sombong." "Mas. Dengan kata lain. Mas. kasihan Kak Aman." (198) Namun. "Anak kuda. dia. Demikian juga halnya dengan sebagian besar dari anggota-anggota pasukannya--mereka adalah tukang becak belaka. "Kak Zainab. kau! Kau mau jadi pelopor juga? Ha ha ha! Tunggu anakku yang baik! Kau mau memberesi bapakmu sendiri? Tunggu.

Ingat! Ingat! Kalau tak kaukendalikan mulutmu. Canimin. Huse! Aceh sudah kalah. dan dituangkan minuman keras itu di mulut bapaknya. Seakanakan kata itu mengandung mukjizat. Patimah. dan Hasan mulai menyingkir dan memandang bapaknya dengan kejijikan tergambar pada paras mereka. Wiski! Pensiun." kata Saaman. "Pensiun! Bekpe" serunya riang. Hasan. Tarikan tangan Canimin dan kakaknya pun tak dibantahnya. engkau juga. Jepang sudah kalah! Huse! Wiski dan tangsi! Huse!" "Huse!" seru Saaman.kawan! Aku bisa angkat engkau ke batalyon. Sekali lagi. "Memang betul kata Mimin.. Dan bapak sudah dinas begitu lama.." Dan mukanya masih merah padam oleh wiski. Pensiun! Goyang kaki. Ia takut kalau barisan pemuda tiba-tiba datang dan tak mau percaya lagi padanya. Dan dengan mata berapi-api dipandangnya Saaman yang bisa menyenangkan hatinya." Dan oleh kesukaannya mukanya lebih merah. tentu. "Seri Baginda Ratu masih kaya. Dan Maman juga. Fatimah. Salamah. Dengan tegukan besar-besar pula." ia--Canimin--berkata bermanismanis. Salami. Sini ini daerah pemuda." katanya. rasai sendiri nanti! Tahu? Pasukan bambu runcing akan membinasakan kita semua. Dan dibinasakanlah seluruh keluarga itu--juga adik-adiknya yang masih kecil yang disayanginya. Huse-huse-huse!" Dan kelemahan lebih menguasai dirinya lagi. Salami. Nanti si Maman mau juga teken serdadu. "Dengan segala senang hati. Engkau harus." Saaman menuangkan wiski di gelas dapur penuh-penuh." kata Saaman. "He-e semua harus teken serdadu. Pak. "Pensiun!" seru Kopral Paijan sekali lagi. menyusulkan suaranya. Tegaknya mulai lesu. "Tentu. tahu? Aku suruh rajam engkau di sana!" Kemudian ia sendiri menarik bapaknya dari muka pintu itu. "Kita semua melindungkan diri di bawah mahkota. minum wiski lagi." Dan Saaman yang sudah pucat pasi mendengar ancaman bapaknya pada Kartiman itu segera menutup mulut bapaknya dengan tangannya. "Bekpe! Mari minum wiski. Tapi mereka tak berani mendekat. Kopral bukan pangkat sembarangan. "Pak. 99 . "Huse! Pensiun! Tangsi. Aman! Dan Mimin." Suaranya dan gerakannya kian lama kian lemah. Dan kopral Knil yang sudah dinas tiga puluh tahun itu meneguk dengan rakusnya. Salamah. Ha-ha-ha-ha. "Tentu saja. Saaman mengangguk. Panjang usia Baginda Ratu! Engkau semua mesti teken serdadu. Tuangkan wiski sesloki lagi." katanya. Ia terlalu ketakutan." "Huse. Kartiman." tertawa kopral Knil itu dan mulutnya menganga lebar dan nampaklah gigi kuningnya. Sekali lagi. Dan Kopral Paijan tak membantah. "Engkau juga teken serdadu. Dan kita pindah saja ke tangsi. Bekpe!!!" "Goyang kaki" seru Saaman menyenang-nyenangkan." ia berkata. Ia membiarkan dirinya dibawa lagi ke depan. Amilah juga. Huse. "Saaman. Canimin. Huse! Huse! Wiski. Aku sendiri sudah." "Tiga puluh tahun! Tiga puluh tahun tidak sebentar. "Huse!" ia. "Jangan berkata begitu keras. Habis sampai di dasarnya.

Saaman berbisik: "Bapak sudah mati jadi manusia sejati sekarang. Mari kita hormati." kata Saaman kelelahan. Paijan mabok oleh wiski baru." Kedua orang itu terdiam sekarang. Prajurit Kartiman di akhir hidupnya sangat menyesali perbuatannya itu. "Bapak meninggal dalam keadaan mabok--dalam keadaan senang. Seluruh isi rumah tak ada yang menolongnya. Dibiarkan Kopral Paijan menikmati puncak kegembiraannya. Akhirnya." "Ya--aku menyesal sekarang. "demkianlah hebatnya Revolusi.. "Aku tahu. Hari terang bulan." kata direktur itu kemudian." Ketiga kakak beradik itu pun pulanglah.(33) Demikian juga yang terjadi pada Saaman sehingga ia menerima hukuman mati yang dijatuhkan kepadanya. "Tuan. daging. Dan tak ada alasan bagi kita untuk bersedih hati. (46-48) Kendati pembunuhan itu mereka yakini sebagai benar. kue. rasa bersalah tetap menghantui mereka juga." kata Saaman mulai teratur. kalau dia dibambu runcing orang-". Dan sekarang ini--jiwa dan ragaku sendiri. sekiranya bapakmu jatuh ke tangan pasukan lain--akan lebih sengsara matinya. Dua kali lagi. "tuan menyesal. tak bergerak persis seperti hamba Nippon menyembah istana Tenno. kemudian berkata lagi. Akhirnya.Kemudian dia terhuyung-huyung jatuh di lantai. Kemanusiaanku kukorbankan. Kupaksa diriku menjalani kekejaman dan pembunuhan agar orang yang ada di bumi yang kuinjak ini tak perlu lagi berbuat seperti itu--agar mereka itu dengan langsung bisa menikmati kemanusiaan dan kemerdekaan. "Aku bilang." kata Saaman kacau. ia dan Saaman dan Kartiman membawanya ke tepi Ciliwung--di bawah jembatan." Ia dan Saaman dan Kartiman menundukkan kepala. . "Bekpe! Pensiun! Huse! seru kopral Knil itu pelan tak berdaya. "karena--karena aku manusia. coklat. Coba." "Tapi sesal tak pernah berguna. Air mata diusapnya. Kemudian ia tertidur setelah memuntahkan karunia Seri Baginda Ratu. jangan turutkan perasaanmu yang bukan-bukan itu. Sekali lagi.. Sudah jadi mayat dia." kata Kopral Canimin. Kopral Paijan menggelinding di lantai. Malam datang. Kemudian bangkai itu disepaknya ke air. Dan direktur itu masih juga berdiri menyaksikan jatuhnya butir-butir air itu. Dua titik air mata muncul di sudut-sudut mata Saaman bin Paijan. Kalau bapakmu sendiri menggabungkan diri dengan musuh dan musuh itu jualah yang mau membunuh kita-kita bersama--siapa lagi yang harus memberesi bapakmu kalau bukan engkau sendiri? Engkau harus berpikir begitu. berbagai macam wiski dengan baunya--karunia besar dari Seri Baginda Ratu. Dan Kartiman menembaknya dengan colt cap kuda pada kepalanya. Kemudian muntahlah dari mulutnya: nasi. Demikianlah paksaan yang kupaksakan pada diriku sendiri. Maman! Coba. Dan saksi tidak ada selain alam sendiri. Saaman menuangkan wiski ke mulut hamba Ratu yang setia itu. "Engkau prajurit yang baik dan berdisiplin. "Aku terlalu jahat bukan?" 100 . Hampir-hampir ia tak bergerak lagi." "Berbahagia orang yang sanggup menyesali perbuatannya.

Lihat! Ia bangun dari ambin--duduk membungkuk. Mungkin juga cuma satu butir. Pada Salamah.. Alang-kah ke-jam. tuan terlalu jahat dan tuan menyesal. sampai bejat bumi dia tetap Saaman yang memilih jalannya sendiri. Ia harus mau dibunuh. Tapi ingat--Aman tetap Aman. Dalam monolog-monolognya menjelang eksekusi tampak tekadnya untuk tetap bertahan menjalani hukuman matinya. Mulutnya bergerak. Dan ia belum lagi tahu berapa peluru harus menembusi dadanya. "Baik!" Peluru?--hehh" Ia tersenyum lagi.P. "Hukuman mati. Tapi saat-saat tenang dan sejuk biasanya menyembuhkan penyakit pikirannya itu. Dan bila ia ingat akan semua ini murunglah parasnya."(153) Berani Berbuat. adiknya yang sudah dewasa dan sudah diberinya izin untuk menikah kapan saja dia suka. Dan kadangkala parasnya senang berseri-seri dan tegas tergambar pada paras itu tantangannya pada dunia--seluruh dunia: "Aku senang karena telah mempergunakan hidupku sebagai yang sudah kutentukan sendiri. "Sudah lama aku tahu--peluru adalah karunia perjuangan. Pada Amilah. Ia tak tahu. "Membu-nuh ba-pak sen-di-ri. Kerap ia berpikir tentang keluarganya. (polisi militer) dan dijatuhi hukuman mati."Ya. Ini ia tahu betul. Ia harus mati.." katanya menantang. Antara sebentar dihentam-hentamkan kakinya pada lantai." "Ya. adiknya. segera ia bangun dari ambin mengambil air wudhu dan bersembahyang. . Kemudian terdengar suaranya. Dan berdengung-dengunglah sel itu. sesungguhnya aku menyesal. Yang diketahuinya betul ialah ini: ia harus mati. Mulutnya tersenyum mengejek dunia dan seluruh isinya." katanya meyakinkan dirinya sendiri." katanya lagi. Moga-moga jadi 101 . Bila pikirannya sudah terlalu ruwet.M. Baik sekali. dan adik yang diharapkan kelak jadi orang besar. "Aku tak mau gila. Pada Hasan yang bercitacita jadi jenderal." "Tapi tanah air takkan menyesali perbuatan ini. "Aku masih punya adik lelaki. Mereka itu membutuhkan pimpinan. emaknya. Atau enam." Dan ia tak takut sedikit pun pada segala akibat perbuatannya. Barangkali dua belas. Tadi sudah jatuhlah putusan hakim--hukuman mati. Tapi ia tak boleh memberikan tuntunannya pada adik-adiknya itu. Kadang-kadang ia melompat dan berbaring di kolong ambin berkasih-kasihan dengan jengkeriknya. Baik sekali. kendati adik-adiknya sangat membutuhkan dirinya. Berani Bertanggung Jawab Saaman pada akhirnya ditangkap oleh M." Dengan perkataan bersambung-sambung direktur penjara itu berkata. Ia harus dan harus mau dibunuh." Ia diam untuk memuasi senyumnya sendiri. Habis perkara. Pada adiknya Patimah yang tak jadi lulus dari S. "Tembaklah. Saat-saat itulah yang menghilangkan kekecewaan yang harus dipunyainya dalam hidupnya. Ia tidak boleh lebih lama hidup di tanah airnya sendiri. Pada Salami. Kemudian ia turun dari ambin dan berjalan mondar-mandir.

Tapi karena aku merasa bertanggung jawab atas segala perbuatanku-atas segala dosaku. "Cukuplah sudah. Struktur Lakuan Tokoh Saaman 102 ." "Itu setengah bunuh diri. O--jaman mendatang memberi banyak kemungkinan." (103--104) Hukuman mati itu dibutuhkan untuk menebus dosa-dosanya." kata Saaman. aku akan ditembak mati. "Saudara. yang adalah sebagai berikut. Ya. dan selama masih ada nafasku. Dan selama aku masih hidup. "Kalau jiwa sudah bertentangan dengan badan." Suara dari sel samping menyambung. Dan apa yang harus terjadi? Aku harus melindungi diriku." kata Saaman kepayahan. kalau perbuatan yang dijalankan jauh bertentangan dengan kesucian yang ada dalam cita-citanya--itulah tanda badan kita harus dibunuh untuk memenangkan jiwa.--dia sudah cukup banyak menjalani kekejaman. "Tapi apakah salahnya kalau Bapak menghindari sel maut itu?" "Tak ada salahnya. selama masih ada detik dan hari buatku." "Untukku. karena aku harus menjalankan kekejaman lagi. Aku memang tak mau. atau memukuli batu sampai jadi kerikil di Blambangan--kalau mungkin terjadi hal yang seperti itu--tahu? aku mesti melarikan diri. Cukuplah sudah." "Bapak masih muda--baru dua puluh empat. Kalau hukumanku diturunkan jadi hukuman buang--barangkali merauti daun nenas di Cilacap.--dan inilah yang aku tak mengerti. begitulah katanya. 1. Lebih dari lima puluh orang kubunuh--kuhancurkan sumber penghasilan keluarganya.jenderal dia kelak. ia pantang meminta grasi. Tapi aku masih ingin memperjuangkan hidupku. Aku pun melakukan pembunuhan banyak. Cukuplah sudah sampai di sini." kata suara dari sel samping itu. "Dosaku pun banyak. takkan mungkin dia mengajukan permohonan grasi. aku tak perlu lagi memperjuangkan hidupku. Dia bilang dia akan menjalani hukumannya dengan senang hati. Dan dia bilang juga. (119) Oleh sebab itu. aku serahkan semuanya itu kembali kepada Tuhan." (182) Justifikasi Semantik Lakuan Saaman Lakuan tokoh Saaman yang merupakan struktur teks Keluarga Gerilya dapat dijelaskan (erklaren) secara semiotis dengan struktur semantik teks (Greimas). Kalau hukuman mati diubah jadi hukuman buang--inilah yang mesti terjadi. Cukuplah. Tak mau lagi aku menjalankan kekejaman." (109) Hukuman mati baginya adalah pembersihan diri. waktu itu akan aku pergunakan untuk menyerahkan kembali segala-galanya pada Tuhan. Untuk memenangkan kesucian yang ada dalam cita-cita. "Dia bilang. Tidak boleh tidak.

Tapi aku mencoba juga menjadi Crito yang menawarkan kebebasan pada Sokrates. "Direktur penjara yang mendapat tugas mengurung Sokrates. Dan Sokrates adalah satu-satunya pesakitan yang mulia yang pernah menginjak penjaranya." katanya lagi." Saaman tersenyum hampa. "Rupa-rupanya. "Aku tahu juga tuan lebih tahu tentang hal itu. Dan tawaran itu ditolaknya. Dengan sikapnya itu ia adalah Sokrates kontemporer. Ya--aku ini semacam orang yang termasuk golongan Anytus."(145) 103 . Tahukah tuan apa yang terasa dalam hatiku sekarang?" Ia menentang Saaman dengan mata mengharap-harap. ia tidak mau meminta grasi yang dianjurkan direktur penjara karena itu berarti mengaku bersalah. "Hmmm. Struktur Kisahan Tokoh Saaman Situasi Awal Kecakapan berani dan tegar (penuh percaya diri) berani membunuh 50 orang musuh bangsanya Subjek Saaman Penentang Kopral Paijan (ayahnya) Transformasi Utama berani membunuh ayah yg menjadi antek Belanda Gemilang berani dibunuh (rela dihukum mati) demi keadilan Situasi Akhir berani dan tegar (penuh percaya diri) Refleksi: Sekali Berarti Sudah Itu Mati Saaman tidak hanya berani membunuh. Saaman menggeleng. Oleh sebab itu. Ya--sejarah berulang. Tuan. Sekalipun tawaran itu tawaran yang bijaksana." kembali ia memandang Saaman seperti menguji pengetahuannya.Pengirim cinta sesama (altruisme) Objek Bela bangsa Penerima Saaman Pembantu -rasakeadilan (anti penjajhan) 2. seperti semboyan Chairil Anwar “Sekali Berarti Sudah itu Mati”." Ia mengeluh. aku saat ini merasa seorang diri di dunia ini. tetapi juga berani dibunuh. Tuan mesti tahu siapa direktur penjara itu--. Ia memilih hukuman mati untuk menunjukkan bahwa ia benar. "Semua tawaran tuan kembalikan. "aku ini tidak lain daripada direktur penjara yang mengulangi apa yang telah dialami oleh direktur penjara dua ribu empat ratus tahun yang lalu.

kelompoknya. sedangkan Saaman yang otodidak berhasil menjadi pahlawan bangsa (patriot). 104 . Patriotisme Saaman itu muncul dari sikapnya yang altruistis dan berani." (148). "Sesungguhnya berbahagialah mereka yang berani menghadapi mautnya yang digalangnya sendiri.F. ia rela dihukum mati oleh penguasa yang menghukumnya. dan Saaman MULO). tetapi juga berani mati. Keluarga Gerilya juga menunjukkan bahwa bukan pendidikan sekolah yang membuat anak rusak. Penyesalannya melakukan pembunuhan menuntutnya untuk berbuat adil kepada dirinya dengan menolak tawaran untuk meminta grasi yang dianjurkan oleh direktur penjara kepadanya. Hanafi dalam Salah Asuhan menjadi sombong akibat dijauhkan dari adat dan agamanya oleh ibunya yang ingin terpandang di masyarakat dengan menjadikannya orang yang maju melebihi bangsanya. Novel yang bertema kepahlawanan ini cukup relevan untuk masa reformasi ini. Semua itu berkat keteguhannya pada kebenaran. baik di tengah keluarga maupun di dalam masyarakat. segala sikap dan tindakan Saaman adalah mewakili kebenaran yang mengatasi dirinya. Ketiga pemuda di atas cukup terpelajar (Hanafi lulusan HBS. Demi tanah air ia telah membunuh ayahnya berikut 50 orang pengkhianat. Ia tidak hanya berani hidup. Hasan dalam Atheis menjadi ambivalen (peragu) akibat diteror dengan siksa neraka demi menjadi anak soleh oleh ayahnya yang ingin masuk surga Sebaliknya. Hasan MULO. seperti kata direktur penjara. Evaluasi Saaman adalah pejuang yang konsisten dan konsekuen. hukuman mati itu diterimanya dengan ikhlas. Altruisme muncul dari kesadaran sebagai bagian dari keseluruhan dan keberanian muncul dari keyakinan akan kebenaran. Adikadiknya yang tidak berdaya dilindunginya dan ayahnya serta 50 orang yang berpihak pada musuh dibunuhnya. Kehidupannya dibaktikan untuk membela bangsanya dari penindasan Belanda dan kematiannya ditujukan untuk menebus dosanya telah membunuh pengkhianat bangsa. Kennedy di atas. Dengan demikian. tetapi ia mampu menempatkan diri. tetapi pengasuhan orang tua." (144) Relevansi Novel dengan tema kepahlawanan ini di satu pihak merupa-kan antitesis Salah Asuhan. Ibunya gila dan ayahnya pengkhianat bangsa. Sebagai konsekuensinya.Jadi. keluarganya. seperti pernyataan J. tetapi Hanafi dan Hasan yang diasuh oleh orang tuanya gagal menjadi manusia. Kedua novel itu menokohkan pemuda yang lemah akibat pengasuhan orang tuanya. bangsanya sehingga ia tercegah dari sikap mementingkan diri sendiri. Karena bagaimana pun "segala kekejaman dan kekejian datang dari mereka yang mempertahankan kedudukan perseorangan. Saaman dalam Keluarga Gerilya berhasil menjadi pahlawan bangsa karena bebas dari intervensi orang tua. karena mengajak kita sebagai warga negara untuk rela berkorban bagi negara. di lain pihak adalah antitesis Atheis. Yang dibutuhkan sekarang adalah keteladanan dan novel yang terbit tahun 1949 ini masih dapat mengisi kekosongan itu lewat pribadi Saaman yang luar biasa luhur budinya kendati berasal dari keluarga yang luar biasa amoralnya.

Bernard. Atheis. Empat Teori Kepribadian: Eksistensialis. 1986. XVI. Ringkasan Sejarah Filsafat. Toer. Akhdiat K. Jakarta: Tulus Jaya. Jakarta: Balai Pustaka. Aktualisasi Diri. Jakarta: Balai Pustaka. Abdul. Behavioris. 1990. 1994. Keluarga Gerilya. Cet. Psikoanalitik. 1928) Mihardja. Djakarta: NV Nusantara Toer. Yogyakarta: Kanisius Poduska. (Cet. Salah Asuhan.Daftar Pustaka Acuan: Bertens. XIV. I. Pramudya Ananta. Cet. 105 . K. 1990. Sumber: Muis. 1962.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful