Hipertensi Emergensi dengan Transient Ischemic Attack pada Pasien Laki – laki dengan Riwayat Hipertensi Tak Terkontrol

dan Faktor Risiko Merokok.
Dibuat oleh: Heryu Prima,Modifikasi terakhir pada Mon 30 of Aug, 2010 [16:19] Highlighted words: transient ischemic attack Abstrak: Hipertensi emergensi ditandai dengan tekanan darah yang sangat tinggi (>220/140 mmHg) yang disertai kelainan/kerusakan organ target yang bersifat progresif. Pada umunya hipertensi emergensi terjadi pada pasien yang tidak atau lalai minum obat antihipertensi. Hipertensi dapat terjadi pada orang yang mempunyai kebiasaan merokok karena nikotin dalam rokok mampu untuk merangsang pelepasan epinefrin yang dapat memacu peningkatan tekanan darah. Pada kasus ini, pasien laki - laki 67 tahun didiagnosis dengan hipertensi emergensi dengan transient ischemic attack dan faktor risiko pasien yang dapat digali adalah pasien mempunyai kebiasaan merokok. Keyword: hipertensi emergensi, rokok, nikotin, transient ischemic attack

History: Pasien laki – laki berusia 67 tahun datang dengan keluhan pusing dan lemes. Pada hari masuk rumah sakit, pasien merasa kesulitan bergerak saat bangun tidur dan tidak bisa berbicara secara jelas, keluhan ini dirasakan tiba – tiba, sebelumnya belum pernah mengalami peristiwa yang sama. Pasien tidak mengeluhkan nyeri dada, sesak napas, pandangan kabur, muntah, atau kejang. Pasien tidak mengalami penurunan kesadaran. Buang air kecil mengompol saat tidur. Buang air besar tidak dapat ditahan dan selalu pakai pampers. Pasien mempunyai riwayat hipertensi namun tidak dalam pengobatan rutin sehingga tekanan darah tidak terkontrol. Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit lain yang berhubungan dengan keluhannya. Anggota keluarga tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit serupa. Pasien mempunyai kebiasaan merokok. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan keadaan umum lemah, kesadaran compos mentis, GCS E4V5M6, tekanan darah 230/100 mmHg, nadi 56 x / menit, respirasi16 x / menit, suhu 36°C, pemeriksaan status generalis dalam batas normal. Hasil pemeriksaan laboratorium darah lengkap dan kimiawi dalam batas normal.

Diagnosis: Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis dengan hipertensi emergensi dengan Transient Ischemic Attack.

Terapi: Penatalaksanaan pada kasus ini dengan infus RL 16 tpm, herbesser 5 mg/jam dengan syringe pump (jika tekanan darah tidak turun herbesser dinaikkan menjadi 7 mg/jam), O2 4 liter / mnt, silac 1 ampul / 24 jam (bolus), injeksi ratan 2x1 ampul, ISDN 3x1, aspilet 2x1, amlodipine 10 mg 1x1, valsartan 1x1, dan captopril 3x50 mg (tergantung tekanan darah).

Diskusi: Salah satu penyebab hipertensi yang dapat digali pada pasien ini adalah merokok. Merokok merupakan faktor resiko terjadinya hipertensi. Zat – zat kimia beracun, seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok, masuk kedalam aliran darah dan merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri, mengakibatkan proses aterosklerosis dan hipertensi.

Namun pada perokok berat tekanan darah akan berada pada level tinggi sepanjang hari. Derajat konstriksi tergantung pada peningkatan tekanan darah. bila tekanan darah sistemik menurun. Hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi. Dengan demikian. . Hal ini berbahaya karena pembuluh serebral tidak dapat berdilatasi atau berkonstriksi dengan leluasa untuk mengatasi fluktuasi dari tekanan darah sistemik. aneurisma bisa pecah. pembuluh serebral akan menjadi vasodilatasi. Batas atas tekanan darah sistemik yang masih dapat ditanggulangi oleh autoregulasi ialah 200 mmHg untuk tekanan sistolik dan 110-120 mmHg untuk tekanan diastolik. berarti perokok sering mengalami hiperglikemi (kelebihan gula dalam darah). terjadi vasokonstriksi. endotelin-I. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Kesimpulan: Pada kasus ini. endotelial menunjukkan fungsi dualistik. Sebaliknya. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI: Jakarta. Selain kerusakan organ di atas juga kerusakan kronis syaraf dan perubahan perilaku. Sifat ini secara simultan mengekspresikan dan melepaskan zat-zat vasokonstriktor (angiotensin II. sewaktu orang marah atau mengejan. tromboksan A-2. Kerusakan organ pada otak yang terjadi berupaTransient Ischemic Attack. seperti lipoprotein. dan radikal superoksida) serta vasodilator (prostaglandin dan nitrit oksida). Hipertensi yang tidak terkontrol merupakan salah satu penyebab terjadinya hipertensi emergensi. Otak bereaksi terhadap nikotin dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin (adrenalin). Pada keadaan normal. dan peningkatan permeabilitas untuk makromolekul. Hipertensi yang kronis merupakan salah satu penyebab terjadinya disfungsi endotelial dari pembuluh darah. selain itu pernafasan dan detak jantung akan meningkat. Tekanan darah akan tetap pada ketinggian ini sampai 30 menit setelah berhenti mengisap rokok. Walaupun terjadi penurunan tekanan darah sistemik sampai 50 mmHg. Bila tekanan darah meningkat cukup tinggi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Kondisi ini akan mempercepat terjadinya aterosklerosis. aliran darah ke otak tetap konstan. adhesi lekosit. terjadi krisis hipertensi yang disertai kerusakan organ pada otak (hipertensi emergensi). Ketika tekanan darah sistemik meningkat. fibrinogen. autoregulasi arteri serebral masih mampu memelihara aliran darah ke otak tetap normal. Hanya dalam beberapa detik nikotin sudah mencapai otak.Nikotin dalam tembakau adalah penyebab meningkatnya tekanan darah segara setelah isapan pertama. Oleh karena itu. tekanan darah juga akan menurun dengan perlahan. Akibat disfungsi endotel. Akibatnya. Akibatnya. Faktor-faktor ini menyebabkan dan mencegah proliferasi sel-sel otot polos pembuluh darah secara seimbang. nikotin diserap oleh pembuluh – pembuluh darah amat kecil di dalam paru – paru dan diedarkan ke aliran darah. dan immunoglobulin. Secara langsung setelah kontak dengan nikotin akan timbul stimulan terhadap kelenjar adrenal yang menyebabkan lepasnya epineprin (adrenalin). Hipertensi pada pasien ini mengakibatkan kerusakan organ target pada otak. Keseimbangan antara sistem antagonis ini dapat mengontrol secara optimal fungsi dinding pembuluh darah. terjadi hiperemia. Hal ini akan mengakibatkan iskemik serebral. Nikotin dalam rokok mampu meningkatkan tekanan darah. pembuluh serebral menjadi vasospasme (voasokonstriksi). bila terjadi kenaikan tekanan darah sistemik maka tekanan perfusi pada dinding kapiler menjadi tinggi. Orang normal mempunyai suatu sistem autoregulasi arteri serebral. Bila terjadi penurunan tekanan darah sistemik maka tekanan perfusi ke jaringan otak tidak adekuat. Nikotin secara tidak langsung menyebabkan pelepasan dopamin dalam otak yang mengontrol kesenangan dan motivasi. Bila tekanan darah sistemik meningkat. Nikotin mendesak pengeluaran insulin dari pankreas. edema. akan menyebabkan hialinisasi pada lapisan otot pembuluh serebral. dan kemungkinan perdarahan pada otak Pada hipertensi kronis dapat terjadi mikroaneurisma dengan diameter 1 mm. agregasi trombosit. Lepasnya adrenalin merangsang tubuh melepaskan glukosa mendadak sehingga kadar gula darah meningkat dan tekanan darah juga meningkat. Referensi: Alwi & Nasution. Seperti zat – zat kimia lain dalam asap rokok. Pada lonjakan tekanan darah sistemik. modifikasi gaya hidup dengan menghentikan kebiasaan merokok diharapkan dapat mencegah terjadinya hipertensi emergensi. pembuluh serebral akan berkonstriksi. proliferasi selsel otot polos pembuluh darah. diameter lumen pembuluh darah tersebut akan menjadi tetap. 2006. Mikroaneurisma ini dikenal dengan aneurisma dari Charcot-Bouchard dan terutama terjadi pada arteria lentikulostriata. Sebaliknya. Edisi IV. Sementara efek nikotin perlahan-lahan menghilang. Setelah merokok dua batang saja maka baik tekanan sistolik maupun diastolik akan meningkat 10 mmHg. Aterosklerosis memegang peranan yang penting untuk terjadinya stroke infark atau transient ischemic attack (TIA) yang bersifat sementara dan reversibel.

et. PAPDI.). A. Daerah Istimewa Yogyakarta. Kab.al. (Ed. Harrison's Principles of Internal Medicine. United States of America. 2007. Edisi IV. Kasper DL. Panduan Pelayanan Medik. The Seventh Report of the Joint National Committee on JNC 7 express. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Bagian Ilmu Penyakit Dalam. RSUD Panembahan Senopati. 266. Chapter 264. NIH Publication No. Yogiantoro. Edisi III. Edisi III.Chobanian. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI: Jakarta. Program Profesi. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI: Jakarta. . Soegondo. Panduan Pelayanan Medik. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI: Jakarta Penulis: Heryu Prima. dkk. Inc. 035233. Braunwald E. 2003. Bantul. 2008. The McGraw-Hill Companies.V. Rani. Fauci AS. 2008. Seventeenth Edition. 2008.