Kami akan selalu ada jika anda tak pernah berhenti untuk berimajinasi.

Maka dari itu kirim karya anda berupa cerpen, esai, puisi, gambar, kata-kata liar ke gudang penyimpanan barang bekas kami di babebozine@ymail.com. Jika karya anda berupa hardcopy silahkan mampir ke sekretariat nomaden kami di Jalan Jawa VII No.36B.

2

ebo; bara ab n B

g

kas dala be
Entah apa yang terlintas dalam

m
atan an da ing

pikiran masing-masing dari kami waktu itu. Tiba-tiba ada seorang teman ngajak ngopi di suatu

tempat. Dan tanpa disadari kami telah membidani lahirnya sebuah konsep media cetak yang nantinya akan menjadi penampung timbunan imajinasi. Kamis 17 Juni 2011 Babebo lahir

diantarkan oleh senyuman dan tempo detak jantung yang tak teratur.Namun

secara tiba-tiba pula detak jantung kami berhenti, untuk sekedar bertrasmigrasi

ke alam imajinasi. Mungkin karena ketika itu kami ingin berkarya dalam suatu tema oleh imajinasi seputar fenomena sosial. lantas bagaimana kami bisa

yang sama. Pada akhirnya kami ingin berpergian ke alam itu dengan membawa olehmengkombinasikan antara fakta dan imajinasi. bukannya itu dua WC Umum yang media penerjemah imajinasi.

berbeda. Mungkin diawali dengan membaca realita kemudian menuangkan dalam

tapi tak semudah itu. ketika kami mencoba untuk membaca realita sosial, saat itu pula timbul ke-absurd-tan jika kami telah terinfeksi virus disleksia. sudahlah, kemampuan kami hanya sebatas fasilitas yang tersedia dalam imajinasi itu sendiri. maka dari itu kami butuh beribu kritik anda dalam bentuk imajinasi pula.

Jika nantinya anda bosan menunggu kapan Babebo akan terbit lagi, maka sediakanlah waktu senggang untuk berimajinasi seliar mungkin. Kemudian kirim imajinasi anda ke dapur redaksi imajiner kami.Kami akan berusaha tetap ada jika anda tak pernah berhenti untuk berkarya.

3

Umi Agustin Uleil Petrix Diyah A. Kalpika Dedy Supmerah Afwan Fathul Bahri DieKey LaliJiwo Widi Madjoe Berkarja Sadam Husaen Mohamad Aris Si Berang-berang Rizky Akbari S

4 5 6 10 14 18 21 22 25 28

4

lewat mata penipuan diawali tanpa ku sadari, tibatiba aroma hewani melompat dari semak diri mematikan laju pikiran segalanya akan terjadi atas dasar kesenangan

5

6

Tuna Identitas

8

10

11

12

I'ill be next to you... and you'll be right there to me... then, i'll say.. “first time i saw you... i don't think you were special... but now, i realized that you the one i want to grow old with.”

Artwork by: Dedi Supmerah dedigraphic@rocketmail.com

13

14

15

18

kehidupan televisi adalah kematian imajinasi lalu pembekuan jalur produksi kita menjadi alien di negri sendiri kita adalah amerika, kita m(alay)sia(al), kita cina, kita jepang kita adalah mereka, tapi mereka bukanlah kita

20

22

25 Perlawanan pada Wabah: Perlawanan pada Penjajah
-Arys Si Berang-berang(Aku tulis 'surat' ini di tahun itu) untuk Tarrou: hei Sahabat, lihatlah laut itu yang kita selami saat petang itu. -Rieux-

---- •••• ---ran, dalam Minotaur digambarkan dengan buram, maklum aku baru saja pulang menjelajah kota-kota di dataran Eropa. Ada tembok batu yang menjalar memanjang di sepanjang perbatasan. Pelabuhan yang sepi, dengan beberapa kapal yang terlanjur merapat. Pos-pos penjagaan diperketat, dengan dua orang bergantian mengawasi selama 12 jam penuh, kemudian diganti dua orang lain 12 jam berikutnya. Begitu seterusnya. Di dalam kota, trem-trem menyemburkan bau busuk. Orang-orang berlarian disamping dan belakang, mencoba menjangkau lajunya. Jika sempat mendekat, mereka melemparkan bunga. Tidak ada mobil lalu-lalang, juga tidak ada hewan peliharaan, di jalanan bahkan gang sempit. Angka-angka yang dikeluarkan pemerintah kota menunjukkan kepedihan. Menggunakan oven tua raksasa, pembakaran mayat mulai dilakukan sejak tanah pekuburan tidak mampu lagi menampung mayat yang tiap harinya bertambah. Sejak sampar menyerang, kota memang ditutup, sedikit yang datang atau keluar. Yang datang hanya bantuan logistik dari udara dan kematian. Sedangkan yang keluar hanya kabar, telegram, dan kematian. Sedangkan laut yang pernah kita selami itu, setelah sebelumnya kita datangi seorang pasien yang loteng rumah sempat kita pakai untuk meresmikan persahabatan kita, tetap sama. Tidak ada yang berubah. Mungkin hanya ombaknya, yang tampak bertambah kuat. Tadi aku bertemu Rambert, wartawan dari Perancis itu. Beberapa bulan ia mempertahankan kegigihan hatinya untuk keluar dari kota ini. Berkat bantuan Cottard yang memperkenalkannya dengan dua orang keturunan Spanyol, ia nyaris berhasil menyelinap ke luar kota. Lalu di suatu malam saat kau berinisiatif untuk membentuk tim sukarelawan medis demi membantu dokter sepertiku, ia berdamai pada dirinya sendiri. Ia 'memilih' untuk jadi warga kota Oran, sepertiku, sepertimu, dan seperti Cottard juga. Nampaknya ada satu orang lagi yang harus tampil disini, Pastur Paneloux. Aku ingat katakatanya, mengenai cinta Ilahi yang sukar, yang dapat berupa kehidupan yang sejahtera, juga sampar ini. Tentu saja aku sangsi, secara ilmiahpun itu tidak memadai. Seperti munculnya ribuan tikus yang mati di jalanan, datang menjemput wabah, lalu mengetok pintu-pintu rumah, dan pintu manapun.

O

26
Ketiga orang diatas, setelah sampar selesai, hanya Cottard yang mati. Ia mendadak gila! Menembaki orang-orang dan polisi. Bahkan anjing yang tidak sengaja terlihat dari kaca ruangan apartemennya. Bukankah kepahlawanan seperti ujarmu, selalu hampir saja diraih? Dan Cottard belumlah pantas jika disebut antagonis dalam cerita yang baru saja berlalu ini. Santoisasi terus berlangsung selama wabah menduduki kota, seperti penjajahan, yang merampas hak milik kita atas tanah, rumah-rumah, atas harta-benda, dan sialnya atas hak untuk hidup kita sendiri. Meskipun belum ada yang memilih untuk bunuh diri, namun mata penduduk jelas menyiratkan kesuraman yang teramat susah dipahami. Tapi pastur itu masih saja mengatakan bahwa itu cinta Ilahi. Sungguh, dengan segala kerendahan hati dan hormat, pandangan dunia yang ilmiah akan mementahkannya. Sebelum ini, kita hanya percaya pada renyah dan romantisnya hidup. Ada sedih, ada riang. Ada kegagalan, ada keberhasilan. Ada pedih, dan tentu saja ada harapan. Tapi sesekali kita juga harus mafhum, bahwa harapan bisa saja terlepas seutuhnya, -serta bahwa itu semua cuma bualan-. Porak-porandanya struktur biner tersebut menjadi bukti sahih bahwa wabah yang berkepanjangan hanya meninggalkan satu pesan: kebingungan. Ya, waktu istriku pergi berobat ke gunung, sebulan, dua bulan, sampai di masa-masa akhir perang dengan wabah ini, aku tak pernah menyangka kalau aku tak bahkan pernah merindukannya. Nyatanya ia meninggal terlebih dahulu di sana. Seperti Rambert yang bingung saat mengalami puncak kerinduan pada perempuannya di Perancis, lantas bergumam: jika nanti bertemu, siapakah yang asing, dia yang datang atau dia yang menunggu? “Bukankah hidup dalam situasi 'seperti ini' hanyalah membutuhkan pengetahuan dan kenangan?” Aku ulangi, kaum terjajah wabah seperti kita dan warga kota tidaklah terlalu buruk jika dibandingkan saat pastur Paneloux -dalam khotbahnya yang ramai- mengatakan, “wabah ini pantas diberikan pada kita,” bagaimana mungkin? Aku jelas mengingatmu, yang memberikan segenap daya-upaya untuk menghambat gerak wabah. Saat kita sudah sama-sama lelah di bulan Desember, tiba-tiba pastur meninggal. Ia juga terjangkit wabah. Padahal sebelumnya, ia sempat berkhotbah lagi, meski tidak seramai yang pertama. Pastur menyatakan dengan terang, bahwa dialog antar dirinya dengan seorang dokter -aku- musti dilaksanakan demi mencari jalan keluar
Uli el Pe /B trix

ab

eb

o

27
bagaimana wabah ini harus dihadapi. Oh, begitupun kau jelas mencatat ternyata kasih Tuhan saja tak cukup. Perlawanan harus dihadapi dari kenyataan. Demikian juga dengan ketidakmemadaian serum yang baru saja ditemukan. Aura 'kepahlawanan' yang memancar dari gerakmu, membuatku semakin merasa lelah. Aku menyadarinya saat kau jatuh dan menunjukkan dua gejala sekaligus dari wabah ini. Aku dan ibuku yang bergantian menjagamu, melihat kau bertahan dalam diam menghadapi sakit di tubuhmu sejak malam sampai pagi. Tiba-tiba aku ingat segala jenis percobaan dan upayaku berkeliling serta mendiagnosis wabah ini. Dan itu sungguh-sungguh membuatku lelah. Apa yang kita lakukan tak pernah memberikan hasil, korban terus berjatuhan. Grafik dalam statistik terus saja mencatat kenaikan korban jiwa. Siapapun! Meski telah memakai pelindung yang diberikan oleh pemerintah kota. Meski telah memakai suntikan yang baru aku pesan dari pusat kesehatan di luar kota. Meski telah menyimpan kegelisahan sendiri. Meski… Kaupun demikian, yang menginisiasi terbentuknya sukarelawan penanggulangan wabah… Setidaknya saat kau kalah dalam pertempuran tersebut, kehilangan nyawa, aku membuktikan sendiri bahwa tidak orang suci di kota-yang-terkena-wabah. Tentu saja juga tidak ada pahlawan. Tapi setidaknya aku juga membuktikan kata-katamu, yang mendasari kenapa aku menulis surat ini untuk dibaca warga kota: kalaupun kita harus bertempur, aku akan berdiri di samping korban, yang artinya aku tidak akan pernah mendukung wabah. Dan bagaimanapun, kau adalah salah satu yang bertahan paling akhir, walau tak pernah sampai 25 Januari.

Catatan Kecil:
i Cerpen yang mencoba untuk memberikan respon pada Sampar (judul asli La Peste ditulis oleh Albert Camus, alih bahasa oleh Nh. Dini). Seluruh karakter dan adegan dalam Cerpen ini diambil dari novel tersebut. ii Albert Camus dalam salah satu esainya, Minotaur, (kumpulan esai Summer) menerangkan dengan gamblang Kota Oran yang sedang berada di persimpangan hasrat. Termasuk segala pernak-pernik, aktualitas-semu, dan nafas kota yang sedang terengah-engah. Seperti yang ditunjukkan lewat deskripsi mendetail mengenai bagaimana sebagian warga kotanya begitu menggemari dansa, sekaligus tersiksa denga nilai-nilai 'estetis' di yang mengitari aktivitas tersebut. Saat para pertandingan tinju bawah-tanah ternyata tidak lagi menjadi pertarungan dua orang petinju, melainkan menjadi medan paripurna bagi hasrathasrat yang tidak pernah tuntas dipertontonkan di permukaan-tanah. Lebih-lebih, di awal esai tersebut Camus mengaku kota-kota di Eropa tidak semenarik Oran. iii Kejadian yang menjadi poin penting bagi sisi-gelap perlawanan terhadap wabah: saat wabah selesai, Cottard kehilangan pekerjaannya yaitu menyelundupkan warga yang ingin lari dari kota dan memperdagangkan barang-barang dari luar dengan harga tinggi di dalam kota. iv Kata-kata ini disimpulkan oleh Rieux ketika selesai bercakap dan membaca catatan Tarrou. v Khotbah Pastur Paneloux yang pertama, di awal-awal wabah sampar menjangkit Oran. vi Khotbah Pastur Paneloux kedua, wabah mencapai puncaknya. vii Pada umumnya para korban wabah Sampar, seperti yang ditulis Camus hanya menderita satu gejala, sampar paru-paru atau bengkak di sekujur tubuh. viii Tarrou, dalam catatan dan dalam suatu pembicaraan dengan Rieux. ix Tanggal itulah pemerintah kota menyatakan meredanya wabah Sampar. Dimana listrik mulai dinyalakan dengan semestinya, perbatasan kota mulai dibuka. Kereta dan kapal laut mulai keluar-masuk. Semuanya 'mengembalikan Oran seperti semula'.

28
Zine Babebo; Media Alternatif ataukah Media Perayaan Individualitas?
-Rizky Akbari SEra liberalisasi media saat ini membuat banyak sekali komunitas-komunitas, aktivis pers mahasiswa hingga para siswa menerbitkan media-media alternatif yang mencermati fenomena-fenomena yang tidak dilirik oleh media massa umum atau lebih dikenal sebagai media mainstearm. Media alternatif digunakan komunitas, pers mahasiswa dan juga siswa sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni media mainstream dan juga sebagai edukasi bagi para anggotanya dan lingkungan sekitarnya.

---- •••• ---ambat laun seiring perkembangan pesat teknologi membuat media alternatif yang dulunya berbentuk fotokopian –walau ada banyak juga yang sudah berbentuk cetak profesional layaknya media mainstream– sekarang berbentuk website dan juga blog. Tentunya ini merupakan kemajuan pesat buat para aktivis pers mahasiswa, komunitas dan juga para siswa. Namun ini bukan tanpa cela, media alternatif berbentuk website maupun blog ini membuat media alternatif yang berbasis komunitas tersebut kehilangan sisi komunitasnya dan cenderung menjadi personal. Apalagi tidak adanya sensor yang cukup ketat serta sifatnya yang instan membuat informasi yang disampaikan muncul dalam jumlah yang sangat banyak dan cenderung bersifat personal karena orang bisa bebas bicara apa saja dalam ruang maya. Era 90-an dimana media mainstream lebih memilih posisi 'aman' untuk menginformasikan berita-berita kebaikan pemerintah daripada membuka keborokan pemerintah Soeharto, membuat aktivis pers mahasiswa bergerak untuk membombardir masyarakat dengan membuka borok dan bobroknya pemerintahan melalui media alternatif. Puncaknya pada tahun 98 dimana Soeharto akhirnya lengser dan hancurnya rezim Orde Baru. Hal ini kemudian yang dijadikan momentum media-media mainstream untuk lebih leluasa untuk menjalankan tujuan menginformasikan berita kepada publik sejelas-jelasnya. Pers mahasiswa yang saat itu merupakan aktor dibalik turunnya Soeharto pun ikut merayakan kebebasan bermedianya. Dengan jaringan yang sangat kuat di tiap-tiap kota di Indonesia disertai dengan kemampuan menulis layaknya seorang wartawan, media pers mahasiswa kala itu dianggap sejajar dengan media mainstream dalam membicarakan masalah-masalah umum. Namun tak bisa dipungkiri bahwa; sebaik apapun media pers mahasiswa, jumlah terbitannya tak akan sanggup menandingi pers umum ditambah lagi masalah-masalah umum tersebut ditulis melalui kacamata mahasiswa. Muncul pertanyaan terbesar bagi pers mahasiswa kala itu; pers mahasiswa mau berperan di tingkat mana? Apakah hanya berperan ditingkat kampus alias lebih kepada masyarakat kampus dan sekitarnya ataukah lebih dari itu. Persoalan pers mahasiswa tersebut masih belum terjawab hingga sekarang. Keinginan kuat pers mahasiswa untuk diakui keberadaannya oleh negara terus diperjuangkan hingga sekarang, walau banyak pula yang tidak sepakat akan keinginan tersebut. Dhakidae pun pernah menulis tentang pers mahasiswa yang pesan intinya; “Kita seolah-olah seperti singa yang berteriak-teriak sendirian di cagar alam yang luas dan tak ada yang mendengarkan, tetapi tetap harus dipelihara karena itu harus ada”. Lepas dari permasalahan tersebut –mau kemana pers mahasiswa saat ini?– para aktivis pers mahasiswa yang telah 'lulus' banyak mendirikan komunitas-komunitas berbasis literer, contohnya KUNCI;

L

29

Kultural Studies Center di Yogyakarta, NASI PUTIH; Zine produksi kata dan gambar di Jember. Tak hanya sebuah media-media informatif saja yang disentuh dan digarap para mantan aktivis pers mahasiswa tersebut, Fanzine misalnya. Fanzine Brainwashed yang digarap Wendy Putranto (jurnalis dan Manager The Upstairs, Jakarta) pada tahun 1996 berisi tentang informasi musik-musik keras –Underground–, berbagi hobi serta dokumentasi komunitas band Jakarta dan dipublikasikan serta didistribusikan ke daerah-daerah lain tak hanya di Jakarta saja. Dari sini bisa kita lihat bahwasanya kemampuan menulis dan bermedia para aktivis pers mahasiswa sangat besar sehingga bisa melahirkan banyak bentuk media alternatif. Perlu untuk dipahami terlebih dahulu bahwasanya media alternatif bukanlah media umum layaknya Kompas, Tempo, Jawa Pos, Sindo dan sebagainya, media alternatif bisa dibilang merupakan media produk sebuah komunitas, yang notabene prinsipnya ekslusif dan terbatas. Ekslusif disini artinya media tersebut dari, oleh dan untuk komunitas dan juga 'biasanya' diproduksi dalam jumlah terbatas. Pada dasarnya media komunitas harus ada dan tetap ada hingga saat ini, mengapa demikian? Media komunitas merupakan bentuk perlawanan terhadap hegemoni informasi dan komunikasi yang dipraktekkan oleh korporasi media mainstream di era kebebasan informasi saat ini. Praktek bermedia yang tersentralisasi pada kepentingan modal merupakan sasaran perlawanan media komunitas. Perlawanan lainnya adalah kritik terhadap pola pengembangan komunitas yang cenderung top-down tanpa memperhatikan energi dan daya komunitas. Walaupun banyak dari media umum sekarang melirik para komunitas-komunitas atau juga kaum muda untuk ikut berpartisipasi dalam media tersebut, Kompas Muda, Deteksi pada Jawa Pos adalah contohnya. Media komunitas adalah media yang mengedepankan pola bottom-up dalam menghidupi komunitas. Dengan sistim partisipatif komunitas, media-media alternatif yang diproduksi tidak akan pernah mati karena semua berperan penting. Pendekatan komunikasi media komunitas adalah komunikasi partisipatif sebagai alternatif untuk membendung paradigima dominan (top down) atau dengan kata lain mengedepankan partisispasi basis komunitas dalam proses komunikasi. Dalam pendekatan partisipatif komunitas diharapkan mampu merancang standar dan prioritas yang khas untuk mengatasi masalah dalam komunitas. Komunikasi partisipatif setidaknya mampu mengembangkan identitas kultural, bertindak sebgai wahana ekspresi diri komunitas, menyediakan alat untuk mendiagnosa masalah, serta memfasilitasi artikulasi problem komunitas (Srinivas, 1991). Kemunculan zine juga mewarnai perkembangan media alternatif di Indonesia. Bentuknya yang luwes, cool, sporadis, tidak kaku serta lain daripada media yang diterbitkan oleh para aktivis pers mahasiswa yang cenderung berisi teori-teori melangit, intelektualitas tinggi yang sebenarnya tidak terlalu penting, ditambah lagi bentuknya yang kaku, formal dan sangat bergantung dana kampus membuat zine lebih banyak diminati. Sebenarnya tulisan-tulisan dalam media pers mahasiswa lebih bagus karena teknik penulisannya dan format tulisannya mirip dengan pers umum seperti laporan investigasi sedangkan pada zine lebih banyak berbentuk opini, artikel. Namun lagi-lagi paska reformasi 98' pers mahasiswa kehilangan tajinya kehilangan orientasinya, dan cenderung ikut arus membicarakan masalah politik dan berkonsentrasi untuk menghantam kekuasaan sehingga aspirasi masyarakat kampus tidak sepenuhnya terakomodasi, lalu ketika semua media umum sudah sangat lantang membicarakan politik dan menghantam kekuasaan, mau dibawa kemana media mahasiswa? Awal kemunculan zine di Indonesia sebenarnya terlambat dibandingkan kemunculannya di negaranegara kawasan Asia lainnya. Hal ini ditengarai karena masyarakat Indonesia jarang beropini sejak dini melalui sebuah tulisan dalam media, baik itu media alternatif maupun media umum. Awal kemunculan zine di Indonesia memang lebih banyak berisi tentang informasi musik, komunitas band-band metal dan underground baik lokal maupun internasional. Namun lambat laun zine berevolusi dan tidak lagi hanya berbicara tentang musik. Ada zine yang mengangkat profil Tan Malaka, tentang anti fasis-anti rasis, anarkisme, kiri, sosialisme, memuat tentang kondisi para buruh, pekerja, kaum termaginalkan, anti kapitalisme, dll. Intinya zine-zine yang diterbitkan merupakan propaganda-propaganda yang didalamnya diharapkan para pembaca dan pembuatnya bergerak, tidak statis dan merespon segala hal yang terjadi di

30
lingkungan modern sekitar kita. Zine tidak hanya berisi kata-kata/tulisan saja, melainkan ada gambar, ilustrasi-ilustrasi propaganda, komik propaganda, foto-foto sehingga diharapkan pembaca tidak akan merasa bosan ketika membacanya. Zine juga terdapat bermacam-macam jenis dan klasifikasi isu yang diangkatnya, sehingga membedakan zine personal –yang notabene merupakan media perayaan individualitas– dengan zine komunitas. Perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat zine-zine yang dulunya cetak fotokopian dan didistribusikan terbatas sekarang berbentuk pdf dalam sebuah website ataupun blog. Sistem distribusinya dan akses mendapatkan zine pun sangat mudah, tinggal meng-'googling' lalu mengunduh file pdf zine tersebut. Beberapa pembuat zine baik komunitas maupun personal menyebarkan zine-nya secara gratis, beberapa lagi tidak. Perkembangan teknologi tersebut membuat aktivitas para pembuat zine menjadi lebih ringan daripada ketika harus mencetaknya dalam bentuk hard copy. Disisi lain perkembangan teknologi ini –versi online zine– membuat turunnya zine versi cetak dimana proses partisipatif mulai dari membuat hingga mendistribusikan hingga evaluasi sangatlah berbeda. Zine versi online baik itu website ataupun blog tidak memiliki sensor yang ketat, sifatnya yang sangat instan dan selalu dituntut untuk berubah mengikuti derasnya arus informasi yang sangat cepat dan banyak ditambah lagi sistim komunikasinya pun berlangsung di ruang maya sehingga dialektika yang tercipta cenderung satu arah. Ruang maya pun menyajikan kebebasan berbicara, berpendapat bahkan merayakan individualitas yang begitu besar dan itu terjadi dengan cepat dan instan. Perkembangan tersebut tidak diikuti oleh zine versi cetak, entah mengapa disaat yang satu begitu massif tetapi yang satu lagi menjadi passif –zine versi online dengan zine versi cetak–. Terlepas dari perbedaan yang sebegitu besar antara media pers mahasiswa dengan zine. Kedua media tersebut adalah sama-sama media alternatif, sama-sama bergerak diluar media mainstream, sama-sama ekslusif, dan sama-sama melestarikan budaya literasi. Sama-sama bertujuan menciptakan dunia yang lebih baik lagi untuk saat ini dan untuk masa depan. Media alternatif menawarkan ide dari imajinasi-imajinasi liar, liyan untuk merubah pembaca agar peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Media pers mahasiswa dan zine terus menerus melakukan perubahan bentuknya, bukan karena mengikuti perkembangan zaman, namun lebih karena 'musuh' yang kita hadapai semakin banyak nan gaib. Alhasil tradisi tulis menulis harus terus dilanjutkan dan dikembangkan. ZINE BABEBO pun lahir dari para aktivis pers mahasiswa Jember sebagai bentuk perlawanan dan respon terhadap lingkungan Jember dan tentunya Indonesia. Dengan segala keterbatasan dan segala kontradiksinya, zine Babebo ini hadir dengan sesuatu yang sangat penting untuk para pembaca dan kami –si pembuatnya–. Sesuatu itu adalah tujuan, mungkin akan sangat tidak mungkin untuk merubah dunia saat ini, namun setidaknya kami mencoba membuat dunia lebih baik lagi dengan adanya zine ini. Entah itu berarti dimulai dari merespon fenomena di lingkungan sekitar kita atau hanya diam saja menunggu datangnya 'sang perubah'. Yang jelas kami akan selalu ada untuk jadi teman bermain dan melawan.

Referensi: - Media Alternatif Untuk Pengembangan Komunitas; Blog Andre Yuris. - Tentang zine di Indonesia; Sangkakalam.blogspot.com - ZINE, to change the world, it may not work but it surely is fine trying; Bandung Creative City Blog - Jurnal Karbon Tiga Belasan; Dibalik Media Alternatif, terbitan 07-01-2006 - Buku “Notes from Underground: Zines and Politics of Alternative Culture, World Zines”

Para Pekerdja:
Rizky Akbari S Widi Madjoe Berkarja Sadam Husaen Mohamad Diyah A. Kalpika DieKey LaliJiwo Afwan Fathul Bahry Umi Agustin Uliel Petrix Arys Si Berang-berang Dedi Supmerah Pamong imadjinasi Koerator imadjinasi Pengepoel ingatan lampaoe Penjelaras karja Penata boesana Penata rias Badan inteledjen imadjinasi Pemanis boeatan Penjoembang Karja I Penjoembang Karja II

Tentang kami:
Umi Agustin, Mahasiswa FISIP UJ yang aktif di UKPKM Tegalboto. Seorang pecinta warna merah dan hitam yang tinggal di ummiagustin@gmail.com. Sadam Husaen Mohammad atau biasa dipanggil Sodomi/Omi, tidak sengaja dilahirkan oleh orang tuanya di Lamongan pada tanggal 7 Februari 1993. Seorang yang suka bertanya, suka tidur, suka corat-coret dan hal yang mengganggu lainnya. Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Sastra (LPMS-Ideas) dan mencoba hadir dalam Zine Babebo. Bertempat tinggal di h u s a e n . s a d a m @ g m a i l . c o m d a n malaminihujan.blogspot.com DieKey LaliJiwo, Nama yang sama dengan Facebook Saya. Karena sangat benci pada pertemuan pertama yang penuh basa-basi. Kalau berkunjung ke FB saya, anggap saja kita sudah kenal lama. Uliel Petrix, Nama yang sama dengan Facebook saya. Seorang mahasiswa jurusan ilmu sejarah UJ yang aktif di LPMS-Ideas. Risky Akbari S, Lahir di Surabaya tahun 1986 adalah mahasiswa kimia Fak. MIPA-UJ. Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa ALPHA sejak tahun 2007, aktif pula di Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) dan menjabat Sekretaris Jendral (Sekjend) PPMI Kota Jember 2010-2012. Aktif menulis di media-media alternatif baik online maupun cetak. Aktif mengikuti diskusi, seminar dan pelatihan kreatif penulisan dan sedang mengandrungi isu-isu Lingkungan Hidup. Ikut mendirikan kelompok studi Tikungan Indonesia, Rumah Baca Tikungan Jember dan sekarang sedang aktif “berkesenian” bersama teman-teman BaBeBo. Dapat ditemui di black23sorrow@gmail.com atau di blog; doeh.dagdigdug.com. Diyah A. Kalpika, lahir 16 Juli hari senin kliwon pukul 20:20 WIB di tlatah Arga Bayu (Nganjuk.red). Kesukaan menggambar dimulai sejak TK nol besar, ketika pertama kali dikenalkan dengan pensil HB (awalnya digunakan sebagai serok upil, karena dirasa kurang asik buat ngupil akhirnya pensil tersebut dipakai untuk menggambar upil, nyapo weeeee, protes? Kethakiiii..!!). Aktif menulis sejak kelas 1 SD, dari menulis catatan pelajaran sekolah hingga resume catatan pelajaran sekolah. Menyandang gelar S3, saat ini sedang menempuh Snongnong. Sempat kuliah di Fakultas MIPA UNJEM jurusan Biologi ‘09 (sampai sekarang sih) . Buku kesukaan : komik TOP jl. Jawa, novel karangan Hilman, Parama Sastra Basa Jawa, dll. E-mail/fb : kalpikaningrum@gmail.com. Alamat kost : Jl. Jawa 7 / 22, Sumbersari - Jember. Motto : gunakan waktu untuk tidur selagi bisa tidur. Nb: jika ingin memberi saya hadiah, beri saya sepatu saja (ukuran ± 40 - 41) wkwkwkwkwkwk, GeJe.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful