HUBUNGAN POLA BERPIKIR LOGIS DENGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA

(Studi Kasus di SMA N 1 Rajagaluh Majalengka)

SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Pada Fakultas Tarbiyah Jurusan Matematika IAIN Syekh Nurjati Cirebon

R.A.FITRIYAH R NIM : 07450656

KEMENTRIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA INSTITIUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON 2011

HUBUNGAN POLA BERPIKIR LOGIS DENGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA

Oleh R.A.Fitriyah R NIM: 07450656

JURUSAN MATEMATIKA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) CIREBON 2011

IKHTISAR
R.A.Fitriyah R : Hubungan Pola Berpikir Logis dengan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas XII IPA SMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika di SMA Negeri 1 Rajagaluh, bahwa dalam pembelajaran dikelas lebih menekankan pada kecerdasan logis-matematis, yaitu dengan membiasakan anak menggunakan pola berpikir logis dalam setiap melakukan kegiatan belajarnya. Dengan berpikir logis diharapkan siswa mampu memahami konsep-konsep, melakukan refleksi, abstraksi, formalisasi, dan aplikasi. Namun tidak demikian yang terjadi di SMA Negeri 1 Rajagaluh, siswa kurang mampu memahami konsep-konsep, daya nalar siswa rendah, dan siswa kurang mampu menyelesaikan suatu permasalahan yang kompleks. Hal inilah yang menjadi permasalahan dalam penelitian penulis, adakah hubungan pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa. Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Rajagaluh, dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan pola berpikir logis siswa kelas XII SMA Negeri 1 Rajagaluh, mengetahui hasil belajar matematika siswa kelas XII di SMA Negeri 1Rajagaluh, dan mengetahui hubungan keduanya pada siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Rajagaluh. Metode penelitian skripsi ini yaitu dengan pendekatan kuantitatif berjenis korelasional. Populasi target dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA Negeri 1 Rajagaluh Kab. Majalengka yang berjumlah 305 siswa. Sampel dalam penelitian ini adalah satu kelas yaitu kelas XII IPA 2 yang berjumlah 36 siswa. Adapun teknik yang digunakan yaitu dengan menggunakan teknik purposive sampling, peneliti hanya mengambil 30 siswa dari 36 siswa untuk dijadikan sampel karena sudah representatif. Variabel dalam penelitian ini adalah pola berpikir logis dengan Hasil belajar matematika siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tes dan dokumentasi. Setelah data diperoleh, analisis data menggunakan uji korelasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pola berpikir logis yang dimiliki siswa tinggi dengan memperoleh nilai rata-rata 76,13. Hasil belajar matematika siswa menunjukkan kategori sangat baik berdasarkan skor rata-rata hasil belajar matematika siswa yaitu sebesar 81,73. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,876 menunjukkan hubungan yang sangat kuat. kemudian nilai koefisien korelasi dengan menggunakan analisis uji hipotesis diperoleh thitung = 9,610 sedangkan ttabel = 1,701. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa thitung > ttabel, maka berdasarkan kriteria uji H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya ada hubungan yang signifikan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa SMA Negeri 1 Rajagaluh.

HUBUNGAN POLA BERPIKIR LOGIS DENGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA

Oleh R.A.Fitriyah R NIM: 07450656

Menyetujui Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. Hj. Eti Nurhayati, M.Si NIP: 1959 1213 198603 2 001

Hj. Indah Nursuprianah,M.Si NIP: 19750402 200604 2 001

PENGESAHAN

Skripsi yang berjudul “Hubungan Pola Berpikir Logis dengan Hasil Belajar Matematika Siswa”, yang disusun oleh R.A. Fitriyah R, Nomor Induk Mahasiswa: 07450656, telah diujikan dalam sidang munaqosah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon, pada tanggal 19 Oktober 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada jurusan Tadris Matematika Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon.

Cirebon,

Oktober 2011

Mengetahui, Dekan Fakultas Tarbiyah, Ketua Jurusan Matematika,

Dr. Saefudin Zuhri, M.Ag NIP: 19710302 199803 1 002

Toheri, S.Si, M.Pd NIP: 19730716 200003 1 002

Penguji I

Penguji II

Reza Oktiana Akbar, M.Pd NIP: 19811022 200501 1 001

Toheri, S.Si, M.Pd NIP: 19730716 200003 1 002

NOTA DINAS Kepada Yth: Ketua Jurusan Tadris Matematika Fakultas Tarbiyah IAIN Syekh Nurjati Cirebon Di Cirebon

Assalamu’alaikum Wr.Wb Setelah melakukan pembimbingan, telaah, arahan, dan koreksi terhadap penulisan skripsi dari R.A.Fitriyah R, NIM 07450656 yang berjudul “Hubungan Pola Berpikir Logis dengan Hasil Belajar Matematika Siswa” (Studi kasus di SMA Negeri 1 Rajagaluh Majalengka). Kami berpendapat bahwa Skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada jurusan tadris Matematika IAIN Syekh Nurjati Cirebon untuk dimunaqosahkan. Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Cirebon,

Agustus 2011

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Dr. Hj. Eti Nurhayati, M.Si NIP: 1959 1213 198603 2 001

Hj. Indah Nursuprianah,M.Si NIP: 19750402 200604 2 001

PERNYATAAN OTENTITAS SKRIPSI

Bismillahirraahmanirrahim. Dengan ini saya, R.A.Fitriyah R menyatakan bahwa skripsi berjudul “Hubungan Pola Berpikir Logis dengan Hasil Belajar Matematika Siswa” ini beserta segala isinya adalah benar-benar karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika yang berlaku dalam kegiatan karya ilmiah. Apabila dikemudian hari ternyata bahwa dalam karya saya tersebut ditemukan hal-hal yang dapat dijadikan fakta atau bukti adanya unsur-unsur plagiat serta unsur-unsur yang tidak dibenarkan menurut aturan dalam penulisan karya ilmiah, maka saya siap menerima segala sanksi yang berlaku atau yang telah ditetapkan itu. Demikian pernyataan ini saya buat dengan kesadaran dan kejujuran.

Cirebon, ...Agustus 2011 Yang Membuat Pernyataan,

R.A.Fitriyah R NIM:07450656

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Cirebon, 03 Mei 1989. Ia adalah anak ke I dari pasangan Rd. Taofik Hidayat dan Tati Purwati. Tempat tinggal di Jl. Kibagus Rangin no.49 Ds. Tangkil Rt.03/ Rw.01 Kecamatan Susukan Kabupaten cirebon 45166. Latar Belakang Pendidikan 1. SD Negeri 1 Tangkil Tahun 2001 2. SMP Negeri 1 Ciwaringin Tahun 2004 3. SMA Negeri 1 Rajagaluh Tahun 2007 4. Sejak tahun 2007 melanjutkan kuliah di IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Fakultas Tarbiyah Jurusan Matematika.

PERSEMBAHAN
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah Subhanahu

Wata’ala sang pemilik Cinta & Kasih Sayang yang abadi pada hambaNya. Rasa bahagia yang saya rasakan tak lepas dari orang-orang yang sayang dan mendukung saya. Terutama Orang tua tercinta, Rd.Taofik Hidayat dan Tati Purwati serta Keluarga Besar Rd.H.Moh.Basar dan Sanawi Adi Waluyo yang selama ini telah memberikan & mengorbankan semuanya demi pendidikanku. Kepada Ayah dan Mamah tercinta, kasih sayang dan semua pengorbananmu yang saya rasakan sepertinya takkan pernah mampu untuk membalasnya dan tak ada sesuatu yang berharga yang bisa saya berikan kecuali dengan skripsi ini yaitu hasil pendidikanku selama ini. Semoga anakmu ini bisa menjadi anak yang berguna bagi keluarga, bangsa dan agama.Amiiin Kepada adik-adikku, Rd.Hadi Pramanto Wiratama dan Rd.Dita Prahesti Nurjanah, sahabat-sahabatku (Kapri, Tria, Nisa, Sri Maela, Vita) yang selalu menghibur dikala sedih, memberi motivasi dan selalu mendukung saya, saya ucapkan terimakasih. Saya sayang kalian semua.

MOTTO

Janganlah menunggu sampai berani, sebelum bertindak!

Jika engkau ingin cepat menemukan ilmu yang paling penting bagimu, cobalah melakukan hal baik yang biasanya enggan kau lakukan. Didalam melakukan yang tidak kau sukai itu, engkau akan menemukan pengertian baru yang akan membebaskanmu dari batasan-batasan pekerjaan yang kau sukai selama ini. Ingatlah. Tidak semua yang kau sukai itu berguna. Mario Teguh

Tentukanlah pilihan tindakan yang baik, tanpa bergantung kepada kualitas perasaan kita. Mario Teguh No action, no even. Budi Manfaat,M.Si

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi yang selalu memberikan rahmat kasih sayang, serta kekuatan dan keberkahan kepada penulis, sehingga dapat memudahkan penulis untuk mewujudkan skripsi ini. Shalawat serta salam yang melimpah semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam panutan semua umat, serta para keluarga, sahabat, tabi’in dan semoga sampai kepada semua umatnya. Berkat kehendak dan izin-Nyalah skripsi ini dapat diselesaikan sesuai rencana. Penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis menghaturkan terimakasih sebesar-besarnya atas segala bantuan yang diberikan dan semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberikan balasan yang setimpal atas kebaikan tersebut. Pada kesempatan ini, penulis secara khusus ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bpk. Prof. DR. H. Maksum Mukhtar, M.A, Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon. 2. Bpk. DR. Saefudin Zuhri, M.Ag, Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. 3. Bpk. Toheri, S.Si, M.Pd, Ketua Jurusan Tadris Matematika IAIN Syekh Nurjati Cirebon. 4. Ibu Dr. Hj. Eti Nurhayati, M.Si, Pembimbing 1 5. Ibu Hj. Indah Nursuprianah, M.Si, Pembimbing II 6. Bpk. Drs. H. A. Wahab Sudinata, MM.MH, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Rajagaluh 7. Bpk. Mastur, Guru Matematika SMA Negeri 1 Rajagaluh 8. Seluruh Dosen yang telah membimbing dan mentransfer ilmunya kepada penulis. 9. Seluruh Guru yang telah membimbing dan membantu penulis dalam melaksanakan penelitian

ii

10. Siswa-siswa kelas XII dan seluruh siswa SMA negeri 1 Rajagaluh Kab. Majalengka. 11. Sahabat-sahabatku seperjuangan di IAIN Syekh Nurjati Cirebon 12. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebut satu-persatu, mudah-mudahan Allah S.W.T membalas semua kebaikannya. Penulis menyadari tidak ada sesuatu yang sempurna kecuali Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga dalam skripsi penulis sadar karena masih banyak kekurangan yang terselip di sana sini, baik dari segi isi maupun teknik penyusunan penulisannya. Untuk itu dengan penuh lapang dada penulis harapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan dan kemajuan civitas akademika IAIN Syekh Nurjati Cirebon, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca.

Cirebon,

Agustus 2011

Penulis,

iii

DAFTAR ISI Halaman IKHTISAR KATA PENGANTAR .......................................................................... DAFTAR ISI ......................................................................................... DAFTAR TABEL ................................................................................. DAFTAR GAMBAR ............................................................................ DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................... i iii v vii viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ............................................................ B. Rumusan Masalah ...................................................................... C. Tujuan Penelitian ....................................................................... D. Manfaat Penelitian ..................................................................... E. Kerangka pemikiran .................................................................. F. Hipotesis Penelitian ................................................................... G. Sistematika penulisan ................................................................ BAB II LANDASAN TEORITIS A. Teori Kecerdasan Majemuk ...................................................... B. Pola Berpikir Logis ................................................................... C. Hasil Belajar Matematika ......................................................... BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................. B. Populasi dan Sampel Penelitian ............................................... C. Metode dan Desain Penelitian ................................................. D. Teknik Pengumpulan Data ....................................................... E. Instrumen Penelitian ................................................................. 31 31 33 34 34 9 11 24 1 3 5 5 5 7 7

iv

F. Teknik Analisis Data ................................................................ BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data .......................................................................... B. Analisis Data Penelitian ........................................................... C. Pembahasan .............................................................................. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ............................................................................... B. Saran ......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... LAMPIRAN

39

46 60 64

66 66 68

v

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 2.1 Lambang Permasalahan dan rumus Proposisi ........................ Tabel 3.1 Populasi Penelitian ................................................................. Tabel 3.2 Sampel Penelitian ................................................................... Tabel 3.3 Interpretasi Validitas .............................................................. Tabel 3.4 Interpretasi Reliabilitas .......................................................... Tabel 3.5 Klasifikasi Daya Pembeda Setiap Butir Soal ........................ Tabel 3.6 Interpretasi Indeks Kesukaran ............................................... Tabel 3.7 Interpretasi Nilai r ................................................................. Tabel 4.1 Indikator 1 ............................................................................. Tabel 4.2 Indikator 2 .............................................................................. Tabel 4.3 Indikator 3 .............................................................................. Tabel 4.4 Indikator 4 .............................................................................. Tabel 4.5 Indikator 5 .............................................................................. Tabel 4.6 Descriptive Statistics Pola Berpikir Logis .............................. Tabel 4.7 Pola Berpikir Logis ................................................................. Tabel 4.8 Kriteria Interpretasi Skor ........................................................ Tabel 4.9 Interpretasi Respon Siswa Terhadap Kemampuan Pola Berpikir Logis ................................................................. 55 18 32 33 36 37 38 39 44 47 48 49 51 52 53 54 55

Tabel 4.10 Descriptive Statistics Hasil Belajar Matematika Siswa ......... 57 Tabel 4.11 Hasil Belajar Matematika Siswa ............................................ 57 Tabel 4.12 Klasifikasi Hasil Belajar Matematika Siswa .......................... 58

vi

Tabel 4.13 Test of Normality Pola Berpikir Logis ................................. Tabel 4.14 Chi-Square Test Hasil Belajar .............................................. Tabel 4.15 Test of Homogeneity of Variances ....................................... Tabel 4.16 Tabel Anova .......................................................................... Tabel 4.17 Keberartian Koefisien Korelasi ............................................. Tabel 4.18 Hasil Perhitungan Uji Hipotesis ............................................

60 60 61 62 63 64

vii

TABEL GAMBAR Halaman Gbr 4.1 Perolehan Nilai Pola Berpikir Logis ..................................... Gbr 4.2 Perolehan Skor Hasil Belajar Matematika Siswa ................. 54 59

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Kecerdasan pada hakikatnya menduduki tempat yang begitu penting dalam dunia pendidikan. Namun seringkali kecerdasan ini dipahami secara parsial oleh sebagian kaum pendidik. Artinya sebagian besar sekolah lebih “menghargai” kecerdasan intelektual berupa angka (matematika) dan bahasa dibanding kecerdasan lainnya. Padahal setiap individu yang dalam hal ini siswa memiliki kecerdasan yang berbeda. Perbedaan tersebut meliputi perbedaan fisik, pola berpikir, dan cara-cara merespon/mempelajari hal-hal baru. Howard Gardner, Kecerdasan merupakan kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita, dan bukan tergantung pada nila IQ, gelar perguruan tinggi atau reputasi bergengsi. ( http://www.infed.org/thinkers/gardner.htm diunduh pada tanggal 27 Juli 2011 pkl 12.30 WIB) Howard Gardner memperkenalkan ke delapan jenis kecerdasan yang biasa disebut dengan kecerdasan majemuk (Multiple Intelligent) yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan Antar personal,kecerdasan intra personal, dan kecerdasan natural. Dari kedelapan jenis kecerdasan tersebut, kecerdasan logis-matematis lah yang banyak diadopsi disekolah dalam menilai kecerdasan anak didiknya. Kecerdasan logis-matematis adalah kemampuan dalam memahami hubungan-hubungan humanikal. Kata James (dalam Agus Efendi, 2005:143), bentuk kecerdaasan ini termasuk yang paling mudah distandarisasikan dan diukur. Bentuk kecerdasan tersebut biasanya dirujuk sebagai kecerdasan analitik dan saintifik.

2

Williard Quine, menurut Howard Gardner (dalam Agus Efendi, 2005:143), menunjukkan bahwa logika dilibatkan dengan pernyataan-pernyataan, sedangkan matematika dilibatkan dengan abstrak, entitas non-linguistik. Pada kehidupan sehari-hari dilingkungan awam sering terdengar suatu penilaian berupa pernyataan atau sebutan ‘logis’. Lawan katanya adalah ‘tidak logis’. Kata logis biasa diartikan dengan masuk akal atau dapat diterima akal sehat. Matematika dengan berbagai peranannya menjadikan matematika sebagai ilmu yang sangat penting. Salah satu peranan matematika adalah sebagai alat berpikir. Seperti yang dikatakan Ruseffendi (2006:94) bahwa matematika penting sebagai pembimbing pola pikir maupun sebagai pembentuk sikap. Selain itu, menurut Suherman (2003:19), “Matematika tumbuh dan berkembang karena proses berpikir, oleh karena itu logika adalah dasar untuk terbentuknya matematika”. Sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan Hendra Halomoan Sipayung dalam bukunya “Berpikir seperti filosof”, berpikir logis memiliki prinsip-prinsip yaitu prinsip identitas, prinsip kontradiksi, prinsip kemungkinan ketiga, dan prinsip cukup alasan. Prinsip-prinsip ini coba digali melalui sebuah ilmu yang disebut logika. Tujuan pembelajaran matematika di jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah untuk mempersiapkan dan membekali peserta didik/siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta kemampuan bekerjasama (Ibrahim dan Suparni, 2008:36). Dengan mempelajari matematika disekolah, diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan bernalar dan pola pikirnya, karena siswa akan termotivasi untuk selalu berpikir kritis dan logis. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Hasil belajar matematika yang akan diukur dalam penelitian ini yaitu aspek kognitif. Segi kognitif memiliki enam taraf yaitu meliputi pengetahuan, pemahaman, aplikasi, sintesis, dan evaluasi. Dengan demikian, segi

3

kognitif berhubungan erat dengan penalaran. Penalaran merupakan salah satu unsur berpikir logis, berpikir logis adalah suatu bentuk kegiatan akal yang tersusun secara sistematis untuk menyelidiki, merumuskan, dan menerangkan asas-asas yang harus ditaati agar orang dapat membuat suatu kesimpulan yang tepat, lurus, dan teratur. Berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan pada tanggal 27 Januari 2011 dan 31 Januari 2011 di SMA Negeri 1 Rajagaluh didapat hasil bahwa SMA Negeri 1 Rajagaluh merupakan salah satu sekolah yang mengadopsi kecerdasan logis-matematis dalam menilai kecerdasan siswanya, yang dilihat dari hasil belajar anak disekolah yang berupa angka. Yaitu dengan membiasakan anak menggunakan pola berpikir logis dalam setiap melakukan kegiatan belajarnya. Namun yang terjadi, siswa kurang mampu memahami konsep-konsep, daya nalar rendah, dan siswa kurang mampu menyelesaikan suatu permasalahan yang kompleks. Fenomena tersebut menimbulkan permasalahan yang memerlukan penelitian lebih komprehensif yakni apakah pola berpikir logis memiliki hubungan yang signifikan atau tidak dengan hasil belajar matematika siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka. B. Rumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah a. Wilayah Penelitian Wilayah penelitian dalam penelitian ini adalah psikologi belajar matematika, karena penelitian ini menganalisa hubungan pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa (studi kasus di SMA Negeri 1 Rajagaluh Majalengka). b. Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian menggunakan jenis kolerasi melalui pendekatan empiris, yaitu berdasarkan pada pengalaman yang diperoleh dari hasil temuan-temuan dilapangan.

4

c. Jenis Masalah Jenis masalah dalam penelitian ini adalah masalah kolerasional dimana untuk menganalisa hubungan pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa di SMA Negeri Rajagaluh Majalengka melalui suatu test kemampuan atau penalaran berupa soal-soal yang berkaitan dengan kemampuan berpikir logis. 2. Pembatasan Masalah Agar tidak terjadi kekaburan dalam memahami permasalahan penelitian dan agar penelitian yang dilakukan dapat mencapai tujuan yang diharapkan, maka penulis membatasi permasalahan penelitian sebagai berikut: Peneliti hanya akan melakukan penelitian mengenai hubungan kecerdasan logis matematis. Hasil belajar matematika siswa dilihat dari aspek kognitif yaitu diambil dari rata-rata nilai matematika siswa selama lima semester. Pola berpikir logis di ukur dengan indikator pola berpikir logis yaitu: pemahaman pengertian, kemampuan aplikasi, kemampuan analisis, kemampuan sintesis, dan kemampuan evaluasi. Penelitian ini dilaksanakan diSMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka, yaitu dikelas XII yang berjumlah 8 kelas dan dari jumlah kelas tersebut diambil satu kelas eksperimen yang berjumlah 30 siswa tahun ajaran 2008/2009. 3. Pertanyaan Penelitian Penelitian ini diarahkan untuk mencari hubungan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa. Karena itu pokok masalah penelitiannya dirumuskan kedalam bentuk pertanyaan-pertanyaan dibawah ini:

5

a) Bagaimana kemampuan pola berpikir logis siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka? b) Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka? c) Adakah hubungan pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika pada siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka?

C. Tujuan Penelitian Berdasarkan pertanyaan penelitian yang terdapat pada perumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk: a. Mengetahui kemampuan pola berpikir logis siswa kelas XII diSMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka . b. Mengetahui hasil belajar matematika siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka. c. Mengetahui hubungan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa pada siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Rajagaluh

Kabupaten Majalengka.

D. Manfaat Penelitian Untuk menyingkap ada tidaknya hubungan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa, sehingga guru mampu mengembangkan intelegensi yang dimiliki anak didiknya, dapat memotivasi siswa untuk selalu berpikir kritis dan logis dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu diharapkan siswa mampu meningkatkan hasil belajar matematikanya dengan kecerdasan yang dimilikinya.

E. Kerangka Pemikiran Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. John M. Keller (Mulyono Abdurahman, 2003:38) memandang

6

hasil belajar sebagai keluaran dari suatu sistem pemrosesan berbagai masukan yang berupa informasi. Berbagai masukan tersebut menurut Keller dapat di kelompokkan menjadi dua macam, yaitu kelompok masukan pribadi (Personal Input) dan kelompok masukan yang berasal dari lingkungan (environmental inputs). Salah satu masukan pribadi yaitu Intelligensi dan penguasaan awal. Gardner (Paul Suparno, 2004:17) mendefinisikan Intelligensi sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu seting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata. Hasil belajar yang dipengaruhi oleh Intelligensi dan penguasaan awal anak tentang materi yang akan dipelajari berarti sesuai dengan kapasitas intelligensi anak; dan pencapaian tujuan belajar perlu menggunakan bahan apersepsi, yaitu bahan yang telah dikuasai anak sebagai batu loncatan untuk menguasai bahan pelajaran baru. Ada dua jenis cara berpikir logis, yaitu berpikir induktif dan deduktif. Berpikir induktif dimulai dari hal-hal khusus kemudian ditarik kesimpulan secara umum. Dari hal-hal khusus diperoleh pengetahuan awal seorang anak yang kemudian dari pengetahuan awal yang telah didapatkan tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru. Berpikir induktif memberikan penguasaan awal pada peserta didik. Dengan penguasaan awal yang dimiliki siswa, siswa diharapkan mampu menyelesaikan suatu persoalan yang diberikan. Sehingga dengan penguasaan awal yang dimiliki siswa, siswa mampu meningkatkan hasil belajar matematikanya. Pola pikir adalah cara berpikir seseorang dalam mewujudkan ide/ pendapat/ rencana/ cita-citanya yang dalam pelaksanaannya dipengaruhi pula oleh perasaan / pandangannya ataupun sikap prilakunya ( attitude ) tentang sesuatu itu secara umum. Dengan kata lain pada suatu saat sikap seseorang itu dipengaruhi oleh perasaan atau emosinya. http://prajab2011.wordpress.com/konsepsi-dasar-polapikir/ diunduh tgl 03-11-2011 pkl 12.04 WIB.

Pola berpikir logis adalah Menjalankan asumsi-asumsi dasar yang kita yakini sebagai acuan dan referensi dalam merespon dan menginterpretasi berbagai

7

situasi, keadaan yang menjadi dasar bagi sikap, keputusan, dan tindakan kita menurut suatu pola atau logika tertentu. Hal tersebut dapat membentuk cara berpikir deduktif, proses berpikir yang menerapkan kenyataan-kenyataan yang bersifat umum kepada hal-hal yang bersifat khusus. (Budi Manfaat, 2010:108). Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan faktor dari luar siswa. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah pembentukan sikap. Seperti yang dikatakan Ruseffendi (2006:94) bahwa matematika penting sebagai pembimbing pola pikir maupun sebagai pembentuk sikap. Kebiasaan yang dilakukan berulangulang akan membentuk karakter anak dalam bagaimana berpikir, bagaimana berbuat, dan bagaimana bertindak sebagai perwujudan aplikasi pemahaman untuk menjawab segala bentuk kebutuhan dan persoalan yang dihadapinya. Jadi dengan pengetahuan yang didapatkan, penanaman konsep, keterampilan, dan pembentukan sikap siswa akan mampu menerapkan kenyataankenyataan yang bersifat umum menuju hal-hal yang bersifat khusus. Dari penjelasan diatas dapat diduga terdapat hubungan positif antara kemampuan berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa kelas XII IPA di SMA Negeri 1 Rajagaluh kabupaten Majalengka.

E. Hipotesis Penelitian Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran yang telah dipaparkan dimuka dan riset yang telah diakukan sebelumnya, peneliti mengajukan Hipotesis Penelitian: “ Terdapat hubungan sangat kuat antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa.”

F. Sistematika Penulisan Dalam skripsi yang berjudul “Hubungan pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa (Studi Kasus di SMA N 1 Rajagaluh Majalengka)” memuat 5 (lima) bab, yaitu BAB I Pendahuluan, BAB II Landasan Teori, BAB III

8

Metodologi Penelitian, BAB IV Hasil Penelitian, dan BAB V Penutup. Dalam BAB 1 Pendahuluan, memuat latar belakang masalah, perumusan masalah yang meliputi identifikasi masalah, pembatasan masalah dan pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, kerangka pemikiran, hipotesis penelitian dan sistematika penulisan. BAB II Landasan Teoritis, berisi uraian tentang hasil telaah teori yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. Konsep-konsep dalam judul penelitian diuraikan satu persatu secara rinci berdsarkan teori-teori yang sudah ada sebelumnya. Beberapa teori yang berhubungan tersebut dikutip dan dianalisa oleh penulis. Diakhir sub bab penulis memberikan kesimpulan yang merupakan analisa dari uraian dan kutipan-kutipan sebelumnya. BAB III Metodologi Penelitian, menjelaskan tentang metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu memuat tentang desain penelitian, populasi dan sampel penelitian, waktu dan tempat penelitian, instrumen penelitian, analisis data serta langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian. BAB IV Hasil penelitian dan pembahasan, memuat data tentang hasil penelitian yaitu berupa deskripsi data yang memuat tentang ada atau tidak adanya hubungan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa, analisis data yang memuat tentang uji normalitas, uji homogenitas serta uji hipotesis. BAB V merupakan kesimpulan dari penelitian dan saran.

9

BAB II LANDASAN TEORITIS

A. Teori Kecerdasan Majemuk Otak manusia adalah massa protoplasma yang paling kompleks yang pernah dikenal di alam semesta ini. Inilah satu-satunya organ yang sangat berkembang sehingga ia dapat mempelajari dirinya sendiri. Jika dirawat oleh tubuh yang sehat dan lingkungan yang menimbulkan rangsangan,otak yang berfungsi dapat tetap aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun. (Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, 2007:26) Fuller Torey (dalam Agus Efendi, 2005:126), otak adalah bagian tubuh tersulit untuk dipelajari. Masalah mengenai otak pun dijelaskan dalam alQur’an,”Dan mereka berkata:“Sekiranya kami mendengar dan memfungsikan ‘aql (qalbu dan otak) sungguh kami tidak akan termasuk ahli neraka.”(QS Al-Mulk, 67:10) sebuah hadisjuga mengatakan:”Kesempurnaan manusia itu terletak pada (kualitas) “aql-(qalb dan rasio)-nya.”(dalam Agus Effendi, 2005:127) Otak dibagi dalam tiga bagian dasar yaitu batang atau “otak reptil”, sistem limbik atau “otak mamalia,” dan neokorteks. Dalam neokortekslah semua kecerdasan yang lebih tinggi berada, yang membuat manusia unik sebagai spesies. Kecerdasan (intelligent) adalah suatu istilah umum yang ditunjukkan untuk menerangkan sifat pikiran yang meliputi sejumlah kemampuan untuk

mendapatkan apa yang diinginkan (tujuan) dengan cara positif (benar) dan berkelanjutan (proses), seperti kemampuan nalar, perencanaan, pemecahan masalah, berpikir, ide/gagasan, menggunakan bahasa dan belajar. (Lutfil Kirom, 2011:83). Dengan kata lain dapat kita katakan, bahwa kecerdasan adalah suatu potensi seseorang. Dikatakan potensial karena pada umumnya semua kapasitas kecerdasan pada seseorang bukanlah kecerdasan yang bersifat tunggal dan tiap orang memiliki kapasitas potensi berbeda sehingga setiap individu memiliki profil kecerdasan yang berlainan.

10

Pada tahun 1983 seorang psikolog dari Harvard University, Howard Gardner menyimpulkan ada delapan jenis kecerdasan yang dimiliki manusia yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal,

kecerdasan kinestetik, kecerdasan naturalis. Kedelapan jenis kecerdasan diatas dirumuskan dengan istilah Multiple Intelligences (Kecerdasan Ganda). Berikut akan dijelaskan mengenai jenis kecerdasan diatas. 1. Kecerdasan Linguistik Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini mencakup kepekaan terhadap arti kata ,urutan kata, suara, ritme dan intonasi dari kata yang di ucapkan.termasuk kemampuan untuk mengerti kekuatan kata dalam mengubah kondisi pikiran dan menyampaikan informasi. 2. Kecerdasan Logis-Matematis Ialah kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah. Ia mampu memikirkan dan menyusun solusi (jalan keluar) dengan urutan yang logis (masuk akal). Ia suka angka, urutan, logika dan keteraturan. Ia mengerti pola hubungan, ia mampu melakukan proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir deduktif artinya cara berpikir dari hal-hal yang besar ke hal-hal yang kecil. Proses berpikir induktif artinya cara berpikir dari hal-hal kecil kepada hal-hal yang besar. 3. Kecerdasan Visual dan Spasial Adalah kemampuan untuk melihat dan mengamati dunia visual dan spasial secara akurat (cermat). Visual artinya gambar, spasial yaitu hal-hal yang berkenaan dengan ruang atau tempat. Kecerdasan ini melibatkan kesadaran akan warna,garis,bentuk,ruang,ukuran, dan juga hubungan diantara elemen2 tersebut. Kecerdasan ini juga melibatkan kemampuan untuk melihat obyek dari berbagai sudut pandang. 4. Kecerdasan Musikal Adalah kemampuan untuk menikmati, mengamati, membedakan, mengarang, membentuk dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap ritme, melodi, dan timbre dari musik yang didengar. Musik mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan kemampuan matematika dan ilmu sains dalam diri seseorang. 5. Kecerdasan Interpersonal Ialah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi, dan perasaan orang lain. Peka pada ekspresi wajah, suara, dan gerakan tubuh orang lain dan ia mampu memberikan respon secara efektif dan berkomunikasi. Kecerdasan ini juga mampu untuk masuk kedalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap orang lain dan umumnya dapat memimpin kelompok.

11

6. Kecerdasan Intrapersonal Adalah kemampuan yang berhubungan dengan kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri. Dapat memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri, mampu memotivasi dirinya sendiri dan melakukan disiplin diri. Orang yang memiliki kecerdasan ini sangat menghargai nilai (aturan-aturan), etika (sopan santun), dan moral. 7. Kecerdasan Kinestetik Adalah kemampuan dalam menggunakan tubuh kita secara terampil untuk mengungkapkan ide, pemikiran, dan perasaan. Kecerdasan ini juga meliputi keterampilan fisik,dalam bidang koordinasi, keseimbangan, daya tahan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan. 8. Kecerdasan Naturalis Adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, mengungkapkan dan membuat kategori terhadap apa yang dijumpai dialam maupun lingkungan intinya adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta. Penjelasan mengenai kecerdasan majemuk diatas dimaksudkan sebagai pengenalan dan untuk mengetahui kecerdasan apa saja yang dimiliki setiap individu. Penjelasan diatas juga sebagai pengantar dalam pembahasan mengenai kecerdasan logis-matematis yang akan dibahas dalam sub bab selanjutnya. B. Pola Berpikir Logis Berpikir secara logis memiliki prinsip-prinsip. Prinsip-prinsip ini coba digali melalui sebuah ilmu yang disebut ilmu logika. Dimana logika sebagai sebuah ilmu pertama kali dikembangkan oleh filosof Yunani, Aristoteles, sekitar 2.300 tahun yang lalu. Logika merupakan studi penalaran (reasoning) dan tidak semua kegiatan berpikir itu adalah sebuah penalaran. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, disebutkan definisi penalaran, yaitu cara berpikir dengan

mengembangkan sesuatu berdasarkan akal budi dan bukan dengan perasaan atau pengalaman. Penalaran adalah proses dari akal manusia yang berusaha untuk mrnimbulkan suatu keterangan baru dari beberapa keterangan yang sudah ada (Surajiyo,et.al 2007:9). Berpikir adalah serangkaian proses mental yang beraneka ragam, seperti mengingat-ngingat kembali, berkhayal, menghitung, menghubungkan beberapa pengertian, menciptakan suatu konsep, dan masih banyak lagi. Menurut Budi Manfaat dalam bukunya Membumikan Matematika dari kampus ke kampung, Berpikir adalah bertanya, bertanya adalah mencari jawaban, dan mencari jawaban

12

adalah mencari sebuah kebenaran. Jadi tidak semua kegiatan berpikir itu merupakan suatu penalaran, penalaran merupakan suatu pengertian yang paling luas dan umum, mengacu pada pemikiran yang akhirnya akan membuat kesimpulan. William Alston (Surajiyo,et.al 2007:9) mendefinisikan, Logic is the study of inference, more precisely the attempt to devise criteria for separating valid from invalid inferences (Logika adalah studi tentang penyimpulan, secara lebih cermat usaha untuk menetapkan ukuran-ukuran guna memisahkan penyimpulan yang sah dan yang tidak sah). Alfred Cryril Ewing (Surajiyo,et.al., 2007:9) mengatakan, Study of the different kinds of propositions and the relations between them which justify inference (studi tentang jenis-jenis keterangan yang berbeda dan hubungan diantara mereka yang membenarkan kesimpulan). Sedangkan Irving M.Copy dalam karyanya Introduction to Logic menyatakan, “logika adalah penelaahan mengenai metode dan prinsip-prinsip yang digunakan untuk memperbedakan penalaran yang baik dalam arti benar dari penalaran yang jelek dalam arti tidak benar.” (Surajiyo,et.al., 2007:9). Menurut Aristoteles (Surajiyo,et.al., 2007:10), logika adalah ajaran tentang berpikir secara ilmiah membicarakan bentuk pikiran itu sendiri dan hukum-hukum yang menguasai pikiran. Berpikir dilaksanakan dengan perantara pengertian. Segala pengertian dapat dihubungkan satu dengan yang lainnya sehingga membentuk suatu pertimbangan. Jadi dapat disimpulkan bahwa Pelajaran logika difokuskan pada hubungan diantara pernyataan (statements). Dalam bahasa sehari-hari kita sering mendengar ungkapan serupa: alasannya tidak logis, argumentasinya logis, kabar itu tidak logis. Yang

dimaksud logis adalah masuk akal. Artinya, berpikir logis memiliki prinsipprinsip tertentu, sehingga hal tersebut perlu diketahui melalui ilmu logika. Mundiri, dalam bukunya yang berjudul “Logika” menyatakan makna benar dalam logika adalah persesuaian antara pikiran dan kenyataan. Jadi pikiran dan

13

perkataan adalah identik, tidak berbeda satu sama lain dan bukan tambahan bagi masing-masingnya. Pikiran adalah perkataan dan perkataan adalah pikiran. Berpikir logis adalah suatu bentuk kegiatan akal yang tersusun secara sistematis untuk menyelidiki, merumuskan, dan menerangkan asas-asas yang harus ditaati agar orang dapat membuat suatu kesimpulan yang tepat, lurus dan teratur. Berpikir logis bertujuan untuk menghindari pengambilan keputusan yang bisa diandalkan. Berpikir logis meliputi kemampuan pemahaman pengertian dari pengetahuan yang telah dimiliki, kemampuan aplikasi, kemampuan analisis, kemampuan sintesis, dan kemampuan evaluasi/menyimpulkan. Jadi pola berpikir logis adalah menjalankan asumsi-asumsi dasar yang kita yakini sebagai acuan dan refrensi dalam merespon dan menginterpretasi berbagai situasi, keadaan yang menjadi dasar bagi sikap, keputusan, dan tindakan kita menurut suatu pola atau logika tertentu. Wagiman (2009:114), inti penting dalam pembelajaran logika yaitu penguasaan asas-asas, bentuk, dan hukumhukum silogisme. Jadi dapat disimpulkan pola berpikir logis adalah cara berpikir sesuai dengan asas-asas, hukum-hukum sampai pada penyimpulan. Dalam aktivitas berpikir kita tidak boleh melalaikan patokan pokok yang oleh logika disebut Asas berpikir. Asas (Prinsip) adalah pangkal atau asal dari mana sesuatu itu muncul dan dimengerti. Maka “Asas Pemikiran” adalah pengetahuan dimana pengetahuan lain muncul dan dimengerti. Kapasitas asas ini bagi kelurusan berpikir adalah mutlak, dan salah benarnya suatu pemikiran tergantung terlaksana tidaknya asas-asas ini. Ia adalah dasar daripada pengetahuan dan ilmu. Asas pemikiran ini dapat dibedakan menjadi empat macam yang terdiri atas tiga asas dari Aristoteles dan satu asas dari George Leibniz. Yaitu: 1. Asas identitas (Principium identitas = qanun zatiyah) Asas identitas adalah dasar dari semua pemikiran dan bahkan asas pemikiran yang lain. Prinsip ini berbunyi: ”sesuatu itu adalah dia sendiri bukan lainnya”. Jika kita mengakui bahwa sesuatu itu Z maka ia adalah Z dan bukan A, B atau C. Bila kita beri perumusan akan berbunyi: “Bila proposisi itu benar maka benarlah ia”. (Mundiri, 2008:11) 2. Asas kontradiksi (principium contradictoris = qanun tanaqud) Prinsip ini mengatakan bahwa pengingkaran sesuatu tidak mungkin sama dengan pengakuannya. Jika kita mengakui bahwa sesuatu itu bukan A maka tidak mungkin pada saat itu ia adalah A, sebab realitas ini hanya satu

14

sebagaimana disebut oleh asas identitas. Dengan kata lain: Dua kenyataan yang kontradiktoris tidak mungkin bersama-sama secara simultan. Jika dirumuskan, akan berbunyi: “Tidak ada proposisi yang sekaligus benar dan salah”. (Mundiri, 2008:12) 3. Asas penolakan kemungkinan ketiga (principium exclusi tertii = qanun imtina’) Asas ini mengatakan bahwa antara pengakuan dan pengingkaran kebenarannya terletak pada salah satunya. Pengakuan dan pengingkaran merupakan pertentangan mutlak, karena itu disamping tidak mungkin benar keduanya juga tidak mungkin salah keduanya. Dengan kata lain:”sesuatu x mestilah p atau non-p tidak ada kemungkinan ketiga. Jika kita rumuskan berbunyi “Suatu proposisi selalu dalam keadaan benar atau salah”. (Mundiri, 2008:12) Disamping tiga Asas (prinsip) yang dikemukakan Aristoteles diatas, seorang filsuf Jerman Leibniz menambah satu prinsip yang merupakan pelengkap atau tambahan bagi prinsip identitas. 4. Asas cukup alasan (principium rationis sufficientis), yang berbunyi: “Suatu perubahan yang terjadi pada suatu hal tertentu mestilah berdasarkan alasan yang cukup, tidak mungkin tiba-tiba berubah tanpa sebab-sebab yang mencukupi”. Dengan kata lain,”adanya sesuatu itu seharusnya mempunyai alasan yang cukup, demikian pula jika ada perubahan pada keadaan sesuatu”. (Surajiyo,et.al., 2007:36). Ada dua jenis cara berpikir secara logis, induktif dan deduktif. Berpikir Induktif adalah cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Penalaran ini dimulai dari kenyataan-kenyataan yang bersifat khusus dan terbatas diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. (Mundiri, 2008:13). Penalaran induktif meliputi: pengenalan pola, dugaan, dan pembentukan generalisasi. Contoh: Perhatikan pola berikut ini! 1 = 1 + 3.0 4 = 1 + 3.1 7 = 1 + 3.2 10 = 1 + 3.3 13 = 1 + 3.4 16 = 1+ 3.5 Maka suku ke-n adalah: 1 + 3(n-1) = 3n-2. Barisan ini disebut barisan aritmetika. (Budi Manfaat, 2010:107)

15

Cara penalaran ini mempunyai dua keuntungan. Pertama, kita dapat berpikir secara ekonomis. Kedua, pernyataan yang dihasilkan melalui cara berpikir induksi tadi memungkinkan proses penalaran selanjutnya, baik secara induktif maupun deduktif. Secara induktif kita dapat menyimpulkan pernyataan tadi kepada pernyataan yang lebih umum lagi. Melanjutkan contoh tadi dari pernyataan “semua logam jika dipanaskan memuai”, dapat ditarik kesimpulan bahwa semua benda memuai jika dipanaskan. Berpikir deduktif adalah proses berpikir yang menerapkan kenyataan-kenyataan yang berlaku umum kepada hal-hal yang bersifat khusus. Kesimpulan yang dihasilkan dalam berpikir deduktif dimulai dari halhal umum menuju hal-hal khusus. (Budi manfaat, 2010:108) Contoh: Jumlah dua bilangan ganjil adalah bilangan genap. Jawab: Misalkan n dan m adalah bilangan bulat, maka 2m+1 dan 2n+1 masingmasing adalah bilangan ganjil. Kita jumlahkan: (2m+1)+(2n+1) = 2(m+n+1) Karena m+n+1 bilangan bulat, maka 2 (m+n+1) adalah bilangan genap. Jadi, jumlah dua bilangan ganjil adalah bilangan genap. (Ibrahim dan Suparni, 2008:3) Dalam Matematika, jenis penalaran deduktif berperan lebih besar daripada induktif. Dan hal ini seakan sudah menjadi kekhasan tersendiri (sifat alami) dari Matematika. Sehingga ada yang sampai mendefinisikan bahwa Matematika adalah sebuah pengetahuan deduktif. Kebenaran dalam matematika adalah kebenaran konsistensi, yang berarti bahwa kebenaran suatu pernyataan hanya didasarkan pada pernyataan sebelumnya. (Budi manfaat, 2010:108) Jadi, Kesimpulan berpikir deduktif jika secara logis benar memberikan tingkat kepastian kesimpulan yang sama dengan dasar

16

pemikiran. Sementara logika induktif, meskipun menggunakan semua peraturan logika hanya memberikan kesimpulan yang mungkin sekalipun dasar-dasar pemikirannya sudah pasti. Proposisi Proposisi adalah pernyataan dalam bentuk kalimat yang dapat dinilai benar dan salahnya. (Mundiri, 2008:54). Proposisi merupakan unit terkecil dari pemikiran yang mengandung maksud sempurna. Dalam logika dikenal adanya dua macam proposisi, menurut sumbernya, yaitu proposisi analitik dan proposisi sintetik. Proposisi analitik adalah proposisi yang predikatnya mempunyai pengertian yang sudah terkandung pada subyeknya, seperti: Mangga adalah buah-buahan. Kuda adalah hewan. Ayah adalah orang laki-laki. (Mundiri, 2008:55) Kata “hewan” pada contoh “kuda” adalah hewan’ pengertiannya sudah terkandung pada subyek ‘kuda’. Jadi predikat pada proposisi analitik tidak mendatangkan pengetahuan baru. Untuk menilai benar tidaknya proposisi serupa kita lihat ada tidaknya penentangan dalam diri pernyataan itu. (Mundiri, 2008:55) Proposisi sintetik adalah proposisi yang predikatnya mempunyai pengertian yang bukan menjadi keharusan bagi subyeknya, seperti: Gadis ini manis. pepaya itu gendut. Onassis adalah kaya raya. (Mundiri, 2008:56) Kata “manis” pada proposisi “gadis ini manis” pengertiannya belum terkandung pada subyeknya, yaitu ‘gadis’. Jadi kata ‘manis’ merupakan

17

pengetahuan baru yang didapat melalui pengalaman. Proposisi sintetik adalah lukisan dari kenyataan empirik maka untuk menguji benar salahnya diukur berdasarkan sesuai tidaknya dengan kenyataan empiriknya. Proposisi ini disebut juga proposisi a posteriori. Proposisi menurut bentuknya ada tiga macam, yaitu: Proposisi Kategorik, Proposisi Hipotetik dan Proposisi Disyungtif. (Mundiri, 2008:56) 1) Proposisi Kategorik Proposisi kategorik adalah tanpa adanya syarat, seperti: Hasan sedang sakit Anak-anak yang tinggal di asrama adalah mahasiswa Orang rajin akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang mereka harapkan. Proposisi kategorik yang paling sederhana terdiri dari satu term subyek, satu term predikat, satu kopula dan satu quantifier. Subyek adalah term yang menjadi pokok pembicaraan. Predikat adalah term yang menerangkan subyek. Kopula adalah kata yang menyatakan hubungan antara term subyek dan term predikat. Quantifier adalah kata yang menunjukkan banyaknya satuan yang diikat oleh term subyek. Misalnya: Sebagian manusia adalah pemabuk. Quantifier ada kalanya menunjuk kepada permasalahan universal, seperti kata: seluruh, semua, segenap, setiap, tidak satu pun; ada kalanya menunjuk kepada masalah partikular, seperti: sebagian, kebanyakan, beberapa, tidak semua, sebagian besar, hampir seluruh, rata-rata, [salah] seorang diantara...; [salah] sebuah diantara...; adakalanya menunjuk kepada permasalahan singular, tetapi untuk permasalahan singular biasanya quantifier tidak dinyatakan. (Mundiri, 2008:57) Adapun lambang permasalahan dan rumus proposisi sebagai berikut: proposisi yang mengandung pernyataan

18

Tabel 2.1 Lambang Permasalahan dan Rumus Proposisi Lambang A I E O Permasalahan Universal positif Partikular positif Universal negatif Partikular negatif Rumus Semua S adalah P Sebagian S adalah P Semua S bukan P Sebagian S bukan P (Mundiri, 2008:61) 2) Proposisi Hipotetik Proposisi hipotetik adalah proposisi yang antara bagian-bagiannya

terdapat hubungan dependensi (ketergantungan), oposisi, kesamaan, dan lainlain. Pada proposisi hipotetik kopulanya adalah jika, apabila, atau manakala yang kemudian dilanjutkan dengan ‘maka’, meskipun yang terakhir ini sering tidak dinyatakan. (Mundiri, 2008:69) Pada proposisi kategorik kopula menghubungkan dua buah term sedang pada proposisi hipotetik kopula menghubungkan dua buah pernyataan. Sebuah proposisi hipotetik, misalnya: ‘jika permintaan bertambah maka harga akan naik’ pada dasarnya terdiri dari dua proposisi kategorik ’Permintaan bertambah’ dan ‘Harga akan naik’. ‘Jika’ dan ‘maka’ pada contoh diatas adalah kopula,’permintaan bertambah’ sebagai pernyataan pertama disebut sebab atau actecedent dan ‘harga akan naik’ sebagai pernyataan kedua disebut akibat atau konsekuen. Jadi, proposisi hipotetik berbeda dari proposisi kategorik baik dalam materi maupun bentuknya. Hal tersebut bisa kita rumuskan sebagai berikut: a) Materi suatu proposisi hipotetik bukanlah subjek dan predikat, melainkan bagian-bagian yang diantaranya diterangkan terdapat hubungan. Yaitu bila A adalah B maka A adalah C, seperti: Bila Deris rajin ia akan naik kelas.

19

Jika tanaman sering diberi pupuk ia akan subur. Manakala seseorang dihina, maka ia akan marah. (Mundiri, 2008:70) b) Bentuk bukanlah identitas atau kebedaan yang diungkapkan oleh unsur penghubung (copula), melainkan suatu hubungan lain yang ditunjukkan oleh partikel-partikel konjungtif. Proposisi hipotetik hanya memuat sebuah penuturan. Yaitu bila A adalah B maka C adalah D, seperti: Bila hujan, saya naik becak. Bila keadilan tidak dihiraukan maka rakyat akan menuntut. Bila permintaaan bertambah, maka harga akan naik. (Mundiri, 2008:70) 3) Proposisi Disjungtif Proposisi disjungtif adalah dua bagiannya dihubungkan dengan kata “apabila”, “jika tidak”, dan lain-lainnya. Misalnya: Jika dunia berputar, dunia bergerak; apabila semalam hujan, jalannya pasti basah; jika suhu badannya tidak menurun, ia akan mati. Bagian yang diawali dengan “jika” disebut antecedent, bagian lainnya disebut consequent. (Poespoprodjo, 1999:176) Inferensi/Penyimpulan Ujung dari alur logika bermuara pada pembuatan inferensi

(penyimpulan). Secara umum inferensi dimaknai sebagai sebuah kesimpulan. Hal ini merupakan proses logis berupa penurunan sebuah proposisi (pernyataan). Pada pemahaman Aristoteles (Wagiman, 2009:115) inferensi dimaknai secara deduktif yang berarti sebuah kesimpulan yang diturunkan dari proposisi berupa premispremis. Penyimpulan secara garis besar terbagi dalam dua bentuk. Pertama, penyimpulan langsung. Kedua, penyimpulan tidak langsung. Penyimpulan langsung sering disebut dengan pembalikan dan penyimpulan tidak langsung sering disebut silogisme.

20

1. Inferensi Langsung Penyimpulan langsung (sering pula disebut pembalikan, karena dilakukan dengan cara membalikkan posisi term) dilakukan dengan cara menukarkan posisi yang tadinya Ts pada proposisi awal menjadi Tp pada proposisi yang kemudian. Sebaliknya yang tadinya Tp pada proposisi awal menjadi Ts pada proposisi yang kemudian. Adapun kopulanya haruslah tetap sama. Contoh: Sebagian sarjana adalah wanita Menjadi: Sebagian wanita adalah sarjana 2. Penyimpulan tidak langsung/Silogisme Silogisme adalah suatu bentuk formal dari deduksi yang terdiri atas proposisi-proposisi kategorik. Demi lahirnya konklusi maka pangkal umum tempat kita berpijak harus merupakan proposisi universal. Sedangkan pangkalan khusus tidak berarti bahwa proposisin-nya harus partikular atau singular, tetapi bisa juga proposisi universal, tetapi ia diletakkan di bawah aturan pangkalan umumnya. (Mundiri, 2008:100) a) Prinsip-prinsip silogisme 1) Prinsip persamaan (Principium convenientiae; the principle of convenience). Prinsip ini mengatakan, bahwa dua hal adalah sama, kalau kedua-duanya sama dengan hal ketiga. S = M = P, jadi S = P. 2) Prinsip perbedaan (principium discrepantiae; the principle of discrepancy). Prinsip ini mengatakan bahwa dua hal itu berbeda yang satu dengan yang lain, kalau yang satu sama dengan hal yang ketiga,sedang yang lain tidak sama. S = M ≠ P, jadi S ≠ P. (Wagiman, 2009:130)

21

Kedua prinsip silogisme diatas penerapannya dalam silogisme memerlukan dua prinsip lagi, artinya; kalau silogisme tidak memenuhi kedua prinsip penerapan itu, kebenaran konklusi silogisme tidak dapat dipastikan. Kedua prinsip penerapan itu ialah: 1) Prinsip distribusi (dictum de omni). Prinsip ini mengatakan, bahwa apa yang berlaku secara distributif untuk sesuatu kelas, yaitu berlaku untuk semua dan masing-masing anggotanya, berlaku untuk tiap-tiap anggotanya masing-masing. Contoh: “Semua pahlawan adalah orang berjasa.” (‘Orang berjasa’ berlaku untuk ‘semua pahlawan’ secara distributif.) “Kartini adalah pahlawan.” (‘Kartini’ adalah anggota kelas ‘pahlawan’). Jadi: “Kartini adalah orang berjasa.” (‘Orang berjasa’ juga berlaku untuk kartini.) 2) Prinsip distribusi negatif (dictum de nullo). Prinsip ini menyatakan, bahwa apa yang diingkari tentang sesuatu kelas secara distributif, juga diingkari pada tiap-tiap anggotanya masing-masing. Misalnya: “Toyota itu bukan sedan bermesin disel”. (Term, sedan bermesin disel’ diingkari tentang Toyota secara distributif). “Mobil Agam itu adalah sebuah Toyota”. (‘Mobil Agam’ adalah anggota kelas Toyota.) Jadi: “Mobil Agam itu bukan sedan bermesin disel.” (‘Sedan bermesin disel’ juga diingkari pada mobil agam’) (Wagiman, 2009:132) b) Hukum silogisme 1) Kedua premis (Premis Mayor dan Premis Minor) tidak boleh negatif. Contoh: Semua bunga bukan hewan Semua mawar bukan hewan

22

Jadi, semua Mawar bukan bunga Dari kedua premis yang negatif tidak dapat disimpulkan. 2) Kedua premis tidak boleh partikular Contoh: Sebagian pejabat tidak tenteram hatinya Banyak pegawai rendahan adalah tenteram hatinya Jadi, banyak pegawai rendahan bukan pejabat 3) Apabila salah satu premis negatif maka kesimpulannya juga harus negatif Contoh: Sebagian laki-laki tidak bekerja Semua laki-laki adalah manusia Jadi, sebagian manusia bukan laki-laki 4) Apabila salah satu premis partikular maka kesimpulannya juga harus partikular Contoh; Semua manusia normal adalah ingin makmur hidupnya Beberapa orang Indonesia adalah makmur hidupnya Jadi, beberapa orang Indonesia adalah mmanusia normal. 5) Salah satu Tm haruslah partikular Contoh: Banyak orang pintar adalah pelit Ahmadi adalah orang pintar Jadi, ahmadi adalah pelit (Wagiman, 2009:132) c) Bentuk, Susunan, dan Modus Silogisme Bentuk silogisme ditentukan oleh dua hal; susunan dan modus-nya. Berbicara tentang susunan (figura) silogisme berarti berbicara tentang kedudukan term M dalam kedua proposisi premis silogisme. (Soekadijo, 1997:47)

23

Susunan I : M – P S–P Jadi, S – P Keterangan : S = Subjek P = Predikat M = Middle/medium Term Susunan II : P – M S–M Jadi, S – P Contoh : Sirkel adalah bentuk bundar Segitiga itu bukan bentuk bundar Jadi, Segitiga itu bukan sirkel Susunan III : M – P M–S Jadi, S – P Contoh: Mahasiswa itu orang dengan tugas belajar. Ada mahasiswa yang orang bodoh. Jadi, Sebagian orang bodoh itu orang dengan tugas belajar. Susunan IV : P – M M–S Jadi, S – P Contoh : Influenza itu penyakit. Semua penyakit itu pengganggu kesehatan. Jadi, sebagian pengganggu kesehatan itu influenza. (Soekadijo, 1997:47-48) Apa yang disebut modus silogisme itu adalah kedua proposisi premis dalam silogisme itu tentu masing-masing berupa proposisi A, E, I, atau O, yaitu bentuk-bentuk proposisi menurut kuantitas dan kualitasnya. Fungsi proposisi A, E, I, O sebagai mayor dan minor premis silogisme itulah yang disebut modus silogisme. Jadi premis mayor itu dapat berupa proposisi A, E, I, atau O, demikian juga premis minornya. Dengan demikian ada 16 modus silogisme yang berupa

24

rakitan mayor dan minor menurut kualitas dan kuantitas proposisinya. Ke-16 modus silogisme itu sebagai berikut: Mayor: A A A A Minor: A E I O EEEE AEIO IIII AEIO OOOO AEIO (Soekadijo, 1997:48) Modus dan susunan silogisme itu bersama-sama menentukan bentuk silogisme. Misalnya: silogisme susunan I modus AA, susunan II modus IA dan seterusnya. Karena ada 16 modus dan 4 susunan silogisme, maka secara teori bentuk silogisme ada 64. Bentuk itu misalnya: Susunan I, modus AA sebagai berikut : Semua M = P (A) Semua S = M (A) Semua S = P (A) Susunan II, modus AO sebagai berikut: Semua P = M (A) Semua S ≠ M (O) Semua S ≠ P (O) (Soekadijo, 1997:47-48)

C. Hasil Belajar Matematika Belajar dapat dipahami sebagai berusaha atau berlatih supaya mendapat suatu pengetahuan dan kepandaian. Menurut teori psikologi klasik, belajar adalah all learning is a process of developing or training of mind. Kita belajar melihat objek dengan menggunakan substansi dan sensasi. Kita mengembangkan kekuatan mencipta, ingatan, keinginan, dan pikiran, dengan melatihnya. Hilgard dan Gordon (dalam Oemar Hamalik, 2008: 48-49) Belajar menunjuk ke perubahan dalam tingkah laku si subjek dalam situasi tertentu berkat pengalamannya yang berulang-ulang, dan perubahan tingkah laku tersebut tak dapat dijelaskan atas

25

dasar kecenderungan-kecenderungan respon bawaan, kematangan atau keadaan temporer dari subjek. Skinner (dalam Muhibbin Syah, 2003), seperti yg dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology: The Teaching-Leaching Process, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progressif. Chaplin (dalam Muhibbin Syah, 2003: 65) dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi: “...acquisition of any relatively permanent change in behavior as a result of practice and experience” (Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman). Rumusan keduanya adalah process of acquiring responses as a result of special practice (Belajar ialah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus). Benjamin S.Bloom (Mulyono Abdurrahman, 2003:38) ada tiga ranah hasil belajar, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut A.J.

Romiszowski, hasil belajar merupakan keluaran dari suatu sistem pemrosesan masukan. Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatan atau kinerja. Howard Kingsley (dalam Nana Sudjana, 2005:45) membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah. Gagne (dalam Nana Sudjana, 2002:45) mengemukakan lima kategori tipe hasil belajar yaitu (a) verbal information, (b) intelektual skill, (c) cognitive strategy, (d) attitude, dan (e) motor skill. Sementara itu Benyamin Bloom berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang hendak kita capai digolongkan / dibedakan bukan dipisahkan) menjadi tiga bidang, yakni (a) bidang kognitif, (b) bidang afektif, dan (c) bidang psikomotor.

26

1. Tipe hasil belajar bidang kognitif a. Tipe hasil belajar pengetahuan hafalan (knowledge) Pengetahuan hafalan dimaksudkan sebagai terjemahan dari kata “knowledge” dari Bloom. Cakupan dalam pengetahuan hafalan termasuk pula pengetahuan yang sifatnya faktual, disamping pengetahuan yang mengenai hal-hal yang perlu diingat kembali seperti batasan, peristilahan, pasal, hukum, bab, ayat, rumus, dan sebagainya. (Nana Sudjana, 2005:50) b. Tipe hasil belajar pemahaman (comprehention) Tipe hasil belajar pemahaman lebih tinggi satu tingkat dari tipe hasil belajar pengetahuan hafalan. Pemahaman memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti dari suatu konsep. (Nana Sudjana, 2005:50) c. Tipe hasil belajar penerapan (Aplikasi) Aplikasi adalah kesanggupan menerapkan, dan mengabstraksi suatu konsep, ide, rumus, hukum dalam situasi baru. Misalnya memecahkan persoalan dengan menggunakan rumus tertentu, menerapkan suatu dalil atau hukum dalam suatu persoalan. Jadi, dalam aplikasi harus ada konsep, teori, hukum, rumus. Dalil hukum tersebut, diterapkan dalam pemecahan suatu masalah (situasi tertentu). Dengan perkataan lain, aplikasi bukan keterampilan motorik tetapi lebih banyak keterampilan mental. (Nana Sudjana, 2005:51) d. Tipe hasil belajar analisis Analisis adalah kesanggupan memecah, mengurai suatu integritas (kesatuan yang utuh) menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang mempunyai arti, atau mempunyai tingkatan / hirarki. Analisi merupakan tipe hasil belajar yang kompleks, yang memanfaatkan unsur tipe hasil belajar yang kompleks, yang memanfaatkan unsur tipe hasil belajar sebelumnya, yakni pengetahuan, pemahaman, aplikasi. Analisis sangat diperlukan bagi para siswa sekolah menengah apalagi perguruan tinggi. (Nana Sudjana, 2005:51-52)

27

e. Tipe hasil belajar evaluasi Evaluasi adalah kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan judgment yang dimilikinya, dan kriteria yang dipakainya, tipe hasil belajar ini dikategorikan paling tinggi, dan terkandung semua tipe hasil belajar yang telah dijelaskan sebelumnya. (Nana Sudjana, 2005:52) 2. Tipe hasil belajar bidang Afektif Bidang afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Ada beberapa tingkatan bidang afektif sebagai tujuan dan tipe hasil belajar. Tingkatan tersebut dimulai tingkat yang dasar / sederhana sampai tingkatan yang kompleks. a. Receiving / attending, yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan dari luar yang datang pada siswa, baik dalam bentuk masalah situasi, gejala. b. Responding / jawaban yakni reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar. c. Valuing (penilaian) yakni berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala / stimulus tadi. d. Organisasi, yakni pengembangan nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk menentukan hubungan satu nilai dengan nilai lain dan kemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. e. Karakteristik nilai / internalisasi nilai yakni keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. (Nana Sudjana, 2005:53) 3. Tipe hasil belajar bidang Psikomotor Hasil belajar bidang psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan (skill), kemampuan bertindak individu (seseorang). Ada 6 tindakan keterampilan yakni: a. Gerak refleks b. Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar c. Kemampuan perseptual termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif motorik dan lain-lain. d. Kemampuan dibidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, ketepatan. e. Gerak-gerak skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks. f. Kemampuan yang berkenaan dengan non decursive komunikasi seperti gerakan ekspresif, interpretatif. (Nana Sudjana, 2005:54)

28

Hasil belajar yang diperoleh siswa adalah sebagai akibat dari proses belajar yang dilakukan oleh siswa, harus semakin tinggi hasil belajar yang diperoleh siswa. Proses belajar merupakan penunjang hasil belajar yang dicapai siswa. Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara konsisten berdasarkan logika deduktif. Matematika adalah ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar. Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan yang diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Namun demikian, pembelajaran dan pemahaman konsep dapat secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata maupun intuisi. (Budi manfaat, 2010:110). Matematika merupakan proses untuk menyelesaikan masalah dalam

bentuk angka. Proses pembelajaran matematika menjadi persoalan yang tentunya sangat menarik untuk didiskusikan baik oleh individu ataupun kelompok. Matematika juga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir logis individu yang mempelajarinya. Kita juga lihat di dalam kehidupan setiap harinya dimana banyak orang selalu berkutat dengan angka-angka baik itu uang, presesntase keberhasilan, penjumlahan dan lain-lain. Menurut Ibrahim dan Suparni dalam bukunya yang berjudul strategi pembelajaran matematika (2008:36) tujuan dari pembelajaran matematika adalah untuk membekali peserta didik/siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik/siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Seojadi mengungkapkan bahwa pendidikan matematika memiliki dua tujuan besar yakni bersifat formal dengan memberi tekanan pada penataan nalar individu serta pembentukan pribadi seorang individu dan tujuan bersifat material yang memberikan tekanan pada penerapan matematika serta kemampuan memecahkan masalah matematika.

29

Dari tujuan itu kita pahami bahwa matematika sangat penting menumbuh kembangkan berpikir logis pada kehidupan sehari-hari dalam mempelajari ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Johnson dan Myklebust (Mulyono Abdurrahman, 2003:252) “matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubunganhubungan kuantitatif dan keruangan, sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir”. Lerner (dalam Mulyono Abdurrahman, 2003:252) mengemukakan bahwa “matematika disamping sebagai bahasa simbolis juga merupakan bahasa universal yang memungkinkan manusia memikirkan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kuantitas”. Dan Kline (dalam Abdurrahman, 2003:252) juga mengemukakan bahwa matematika merupakan bahasa simbolis dan ciri utamanya adalah penggunaan cara bernalar deduktif, tetapi juga tidak melupakan cara bernalar induktif”. Pendapat lain dikemukakan Ibrahim dan Suparni (2008:5-6) bahwa “matematika adalah ilmu tentang pola dan hubungan, sebab dalam matematika sering dicari keseragaman seperti keterurutan, dan keterkaitan pola dari sekumpulan konsep-konsep tertentu atau model-model yang merupakan representasinya, sehingga dapat dibuat generalisasinya untuk selanjutnya dibuktikan kebenarannya secara deduktif”. Kemampuan berpikir logis erat kaitannya dengan hasil belajar siswa, yaitu kemampuan menemukan suatu kebenaran berdasarkan aturan, pola atau logika tertentu (Suriasumantri, 1990). Kemampuan ini perlu dikembangkan dalam pembelajaran matematika, karena dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan pemahaman matematika (Sumarmo, 1987; Priatna, 2003). Jadi dari berbagai pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa matematika disamping sebagai ilmu yang terstruktur yang berisikan simbolsimbol atau hal-hal yang abstrak dan deduktif, besaran dan konsep-konsep tetapi juga matematika adalah bahasa simbolis sekaligus bahasa universal yang dapat membantu manusia berpikir, memahami, dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Matematika juga merupakan sarana berpikir yang

30

membantu manusia untuk berpikir logis, dan berpikir kritis dalam menghadapi suatu permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian kemampuan berpikir logis dapat menjembatani pada peningkatan hasil belajar matematika siswa melalui pemahaman yang benar terhadap konsep-konsep matematika, begitupun sebaliknya, hasil belajar matematika dapat menjembatani seseorang untuk mampu berpikir logis.

31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian 1) Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMA N 1 Rajagaluh kabupaten Majalengka. Tepatnya di Jalan Raya Mutiara no.60 Telp.(0233) 510219 Rajagaluh Majalengka 45472. 2) Waktu Penelitian Waktu penelitian dilaksanakan mulai tanggal 01 Februari- 01 April 2011 yaitu dengan melakukan tes kemampuan logika yang disebar kepada seluruh sampel penelitian dan studi dokumentasi yang diambil dari nilai rata-rata raport siswa dari semester 1-5 untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa. B. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto,2006:130) sejalan dengan pendapat tersebut, Sudjana (2004:6) menyatakan bahwa “populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin hasil menghitung atau pengukuran kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya. Sedangkan menurut Riduwan (2002:54) Populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil pengukuran yang menjadi objek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 1 Rajagaluh Majalengka. Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII dengan jumlah siswa 305 siswa yang terbagi dalam delapan kelas. Adapun rincian jumlah siswa dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

32

Tabel 3.1 Populasi Penelitian No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kelas XII IPA 1 XII IPA 2 XII IPA 3 XII IPA 4 XII IPS 1 XII IPS 2 XII IPS 3 XII IPS 4 Jumlah Jumlah Siswa 38 36 36 37 40 39 42 37 305

2. Sampel Arikunto dalam Riduwan mengatakan ”Sampel adalah bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang diteliti). Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi.“ Teknik sampling yang penulis gunakan adalah sampel purposif. Menurut Burhan Bungin (2004:115) Teknik sampling digunakan pada peneliti-peneliti yang lebih mengutamakan tujuan daripada sifat populasi dalam menentukan sampel penelitian. Dengan demikian sampel purposif adalah sampel yang anggota sampelnya dipilih secara sengaja atas dasar pengetahuan dan keyakinan peneliti. Karena pengambilannya dilakukan berdasarkan sampel purposif, maka penulis hanya mengambil 30 siswa dari populasi, yaitu dari populasi kelas XII IPA 2 yang berjumlah 36 siswa. Dengan alasan, karena dipandang cukup representatif mewakili seluruh siswa. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel dibawah ini:

33

Tabel 3.2 Sampel Penelitian Kelas XII IPA 2 Jumlah Siswa 30

C. Metode dan Desain Penelitian a. Metode penelitian Penelitian ini bersifat empirik dengan menggunakan metode studi kasus, yaitu penyelidikan ilmiah untuk menyelidiki gejala sosial dengan menganalisis satu kasus secara mendalam langsung pada responden. b. Desain Penelitian Penelitian ini ingin mengetahui ada tidaknya hubungan pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa di SMA N 1 Rajagaluh, kemudian diberikan tes kemampuan logika untuk mengetahui kemampuan berpikir logis dengan studi dokumentasi untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa. Selanjutnya data yang diperoleh diolah dan dianalisis dengan tujuan penelitian sejalan dengan masalah penelitian yang digunakan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasi. Sedangkan desain penelitian dilakukan dengan tes terhadap seluruh responden yang dijadikan sampel dalam penelitian ini, dimana hasilnya dijadikan bahan (data) variabel X1, sedangkan sumber data X2 diperoleh dengan studi dokumentasi. Dari kedua data kelompok tersebut kemudian diolah untuk memperoleh kesimpulan tentang hubungan antara variabel X1 dengan variabel X2.

X1

X2

Keterangan: X1 : Pola berbikir logis X2: Hasil belajar matematika siswa : Hubungan yang terjadi

34

D. Teknik Pengumpulan data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan cara: 1. Tes Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. (Riduwan, 2006:57). Dalam penelitian ini penulis menggunakan Tes berupa tes kemampuan logika yang dimaksudkan untuk memperoleh data tentang kemampuan berpikir logis. 2. Dokumentasi Dokumentasi adalah ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter, data yang relevan penelitian. Dokumentasi dilakukan dengan mengambil literatur yang mendukung penelitian ini, yaitu untuk mengetahui hasil belajar matematika yang dicapai oleh siswa kelas XII IPA 2 SMA Negeri I Rajagaluh berupa nilai rata-rata raport dalam bidang studi matematika.

E. Instrumen Penelitian Menurut Sugiyono (2010:148) Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian hendaknya sudah teruji validitas dan reliabilitasnya. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes dan studi dokumentasi. Tes digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir logis dan studi dokumentasi digunakan untuk mengukur hasil belajar matematika siswa.

35

Sebelum instrumen digunakan dalam penelitian, maka instrumen tersebut terlebih dahulu diujicobakan. Ujicoba dimaksudkan untuk mengetahui gambaran tentang terpenuhi tidaknya syarat-syarat instrumen sebagai alat pengumpul data yang baik, sehingga instrumen itu dapat digunakan dalam penelitian. Hasil uji coba dianalisis untuk mengetahui validitas, reliabilitas, daya pembeda dan indeks kesukaran (untuk tes berpikir logis).

a. Uji Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat keshahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sudjana (2005: 369) mengungkapkan bahwa dalam pengujian validitas matematika, akan digunakan rumus koefisien korelasi product moment sebagai berikut:

rXY =

(N ∑ X

N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )
2

− (∑ X )

2

)(N ∑ Y

2

− (∑ Y )

2

)
(Iqbal Hasan, 2008:234)

Dengan

rXY = Tingkat validitas N = Banyaknya siswa X = Skor variabel butir soal Y = Skor total

Nilai rxy diartikan sebagai koefisien validitas sehingga interpretasi yang lebih rinci mengenai nilai rxy ini terbagi ke dalam kategori-kategori seperti yang dikemukakan oleh Guiford (dalam Suherman, 1990:147) dengan kriteria sebagai berikut:

36

Tabel 3.3 Interpretasi Validitas No 1 2 3 4 5 Nilai rxy 0,80 < rxy ≤ 1,00 0,60 < rxy ≤ 0,80 0,40 < rxy ≤ 0,60 0,20 < rxy ≤ 0,40 rxy ≤ 0,00 Interpretasi Validitas sangat tinggi Validitas tinggi Validitas sedang Validitas rendah Tidak valid

Adapun kriteria pengujian validitas sebagai berikut: Setelah didapat rhitung maka dibandingkan dengan rtabel dengan taraf kepercayaan 5% dan n sampel pada tabel kritik. Kriteria pengujian : jika rhitung > rtabel maka butir soal tersebut Valid. Misal analisis validitas butir soal ke 1, rhitung = 0,448 dan rtabel dengan taraf kepercayaan 5% dan n = 34 yaitu 0,339 maka butir soal ke 1 valid. Setelah dilakukan pengujian pada soal uji coba dengan menggunakan aplikasi Microsoft Excel 2007 dan selanjutnya hasilnya dianalisis diperoleh bahwa semua soal yang diujicobakan berjumlah 30 soal adalah semua valid. Soal yang valid digunakan sebagai soal tes pola berpikir logis. Perhitungan secara rinci dapat dilihat di lampiran.

b. Reliabilitas Suatu instrumen harus reliabel, mengandung arti bahwa instrumen tersebut cukup baik sehingga mampu megungkap data yang bisa dipercaya. Uji reliabilitas ini menggunakan rumus Alpha Crombach sebagai berikut:
2  k  ∑ σ b   1 − 2  r11 = σt   k − 1   

(Arikunto, 2002:171)

Dengan

r11 = Reliabilitas instrumen k = Banyaknya butir soal 2 b = Varians tiap butir soal t2= Varians total

37

Dimana,

2 b =

∑X2 −

(∑ X )
2

N

N

2 σT =

∑Y 2 −

(∑ Y )2
N

N

Adapun kriteria reliabilitas dalam penelitian ini menurut J.P Guilford (dalam Erman, 2003:139) adalah sebagai berikut:

Tabel 3.4 Interpretasi Reliabilitas No 1 2 3 4 5 Nilai r11 0,00 < r11 ≤ 0,20 0,02 < r11 ≤ 0,40 0,40 < r11 ≤ 0,60 0,60 < r11 ≤ 0,80 0,80 < r11 ≤ 1,00 Interpretasi Reliabilitas sangat rendah Reliabilitas rendah Reliabilitas sedang Reliabilitas tinggi Reliabilitas sangat tinggi

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan aplikasi AnatesV4 diperoleh harga reliabilitas sebesar 0,86. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa soal yang digunakan dalam penelitian ini memiliki reliabilitas tinggi. Hal ini sesuai dengan kriteria yang dikemukakan Guilford diatas. Perhitungan secara rinci dapat dilihat di lampiran.

c. Daya Pembeda Daya pembeda adalah suatu pernyataan untuk membedakan kelompok atas yaitu siswa yang mempunyai pola berpikir tinggi dengan kelompok bawah yaitu siswa yang mempunyai pola berpikir rendah. Suherman E., dkk (1990: 159) mengungkapkan bahwa untuk mengetahui daya pembeda soal menggunakan rumus sebagai berikut:

38

1. Tes Untuk daya pembeda tes, menggunakan rumus sebagai berikut:

Dp =

J BA − J BB J SA

Dengan : Dp = Daya pembeda J BA = Jumlah siswa kelompok atas yang menjawab soal itu benar J BB = Jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab soal itu benar JSA = Jumlah siswa kelompok atas Tabel 3.5 Klasifikasi Daya Pembeda Setiap Butir Soal Nilai DP DP ≤ 0,00 0,00 < DP ≤ 0,20 0,20 < DP ≤ 4,20 0,40 < DP ≤ 0,70 0,70 < DP ≤ 1,00 Kategori Sangat jelek Jelek Sedang Baik Sangat baik

Untuk menentukan kelompok atas dan kelompok bawah, penulis menggunakan aplikasi AnatesV4. Hasil perhitungan daya pembeda dari tiap butir soal dapat dilihat pada lampiran.

d. Indeks Kesukaran Untuk mengetahui sukar dan tidaknya suatu soal, penulis menggunakan rumus sebagai berikut: (Sumarna, 2004:21).

J BA + J BB IK = J SA + J SB
Dengan IK = Indeks kesukaran JBA = Jumlah siswa kelompok atas yang menjawab soal itu benar JBB = Jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab soal itu benar JSA = Jumlah siswa kelompok atas

39

Tabel 3.6 Interpretasi Indeks Kesukaran Nilai IK IK ≤ 0,00 0,00 < IK ≤ 0,30 0,30 < IK ≤ 0,70 0,70 < IK ≤ 1,00 IK ≤ 1,00 Kategori Terlalu sukar Sukar Sedang Mudah Sangat mudah

Indeks kesukaran atau tingkat kesukaran butir soal setelah dilakukan analisis terhadap hasil uji coba menggunakan aplikasi AnatesV4 adalah sedang, mudah, sangat mudah, sukar dan sangat sukar. Butir soal yang mempunyai indeks kesukaran sedang adalah butir soal 2, 3, 7, 9, 10, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 20, 21, 22, 24, 28, 29, dan 30. Butir soal yang mempunyai indeks kesukaran mudah adalah butir soal 5, 6, dan 8. Butir soal yang mempunyai indeks kesukaran sangat mudah adalah butir soal 1 dan 4. Butir soal yang mempunyai indeks kesukaran sukar adalah butir soal 11, 23, 25, 26, dan 27. Dan butir soal yang mempunyai indeks kesukaran sangat sukar adalah butir soal 18 dan 19. Perhitungan secara rinci lihat lampiran. F. Teknik Analisis Data Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data,data perlu dianalisis untuk menemukan jawaban atas permasalahan pokok yang telah dirumuskan. Data-data yang dimaksud adalah data kuantitatif yang berupa angka-angka yang menunjukkan skor setiap variabel. Untuk menganalisa suatu masalah diperlukan analisa tertentu yang sesuai denngan masalah. Masalah dalam penelitian ini adalah menguji ada tidaknya hubungan pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa kelas XII IPA SMA N 1 Rajagaluh majalengka. Sebelum menguji hipotesis tersebut, penulis perlu menguji prasyarat untuk dapat menganalisa data-data penelitian. Adapun langkah-langkah uji persyaratan analisa data adalah sebagai berikut:

40

1. Uji Normalitas Untuk melakukan pengujian tentang kenormalan data, diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: a) Mencari skor terbesar dan skor terkecil dari tes yang telah di berikan. b) Mencari nilai rentang (R), adapun rumus untuk mencari nilai rentang yaitu: R = Skor terbesar – Skor terkecil c) Mencari banyaknya kelas dengan rumus BK = 1 + 3,3 log n (Rumus Sturgess) d) Mencari nilai panjang kelas (i)

i=
e) Membuat tabel distribusi kelompok f) Menghitung nilai rata-rata dan mean

g) Menghitung simpangan baku dan standar deviasi

h) Menentukan batas-batas kelas interval i) Menghitung Z untuk batas kelas

j) Menentukan batas daerah dengan rumus menggunakan tabel luas daerah

dibawah lengkung normal dari 0 ke z k) Menghitung luas daerah untuk tiap interval yaitu selisih dari kedua 41 batasnya. Caranya adalah mengurangi bilangan batas atas dan batas bawah. l) Menghitung frekuensi yang diharapkan (fh) yaitu hasil kali antara 2 dengan N dengan luas dibawah kurva normal interval yang bersangkutan. m) Menghitung harga (chi kuadrat) dengan rumus

n) Membandingkan x2 hitung dan x2 tabel dengan cara membandingkan harga x2 tabel untuk taraf nyata α dengan derajat kebebasan (dk) = k – 3 dimana k adalah banyaknya kelas kriteria pengujiannya adalah: jika

(Riduwan, 2008:121-124). Dalam penelitian ini pengujian normalitas data dengan menggunakan aplikasi SPSS 17. 2. Uji Homogenitas Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui seragam tidaknya varians data variabel yang dijadikan objek penelitian. Adapun langkah-langkah: H0 = Data-data variabel penelitian tidak homogen Ha = Data-data variabel penelitian homogen a) Menghitung varians terbesar dan terkecil

Keterangan : = varians terbesar = Varians terkecil
42

b) Bandingkan nilai f hitung dengan f tabel db pembilang = n-1 db penyebut = n-1 Taraf signifikansi (α) = 0,05 Kriteria pengujian : Jika f hitung > f tabel, maka terima H0, artinya tidak homogen Jika f hitung < f tabel, maka tolak H0, artinya homogen (Riduwan, 2008:120)

3. Linieritas Data Pengujian linieritas data pada penelitian ini menggunakan aplikasi SPSS 17. Adapun langkah kerja yang dilakukan sebagai berikut: 1) Siapkan lembar kerja SPSS. 2) Buat definisi variabel kemudian isikan skor yang diperoleh masing-masing responden pada variabel-variabel yang akan diuji linieritasnya. 3) Klik menu Analyze, pilih Compare Means, lalu klik Means,sehingga muncul kotak dialog Means.

4) Klik Options pada kotak dialog diatas. 5) Check List Test for linearity pada kotak dialog Means Options diatas. Klik Continue. 6) Klik variabel X1, kemudian klik tombol > sehingga variabel X1 masuk ke kotak Dependent list. Klik variabel X2, kemudian klik tombol > sehingga varabel X2 masuk ke kotak Independent list. 7) Klik OK.
43

(Sambas Ali Muhidin dan Maman Abdurahman,2009:95-98) 4. Klasifikasi Nilai Tes Berpikir Logis dan Nilai Hasil Belajar Matematika Siswa Untuk menjawab subpermasalahan yang pertama dan yang kedua yaitu “ Bagaimana kemampuan pola berpikir logis siswa SMA Negeri 1 Rajagaluh kabupaten Majalengka?” dan “ Bagaimana hasil belajar matematika siswa SMA Negeri 1 Rajagaluh kabupaten Majalengka?”, maka data tes logika dan nilai hasil belajar matematika siswa dari hasil penelitian kemudian diklasifikasikan menjadi Sangat baik, Baik, Cukup, Kurang dan gagal. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam pengklasifikasian skor ini adalah sebagai berikut: 1. Menentukan skor rata-rata tes dan hasil belajar matematika. 2. Membuat tabel distribusi frekuensi skor tes dan skor hasil belajar matematika. 3. frekuensi skor yang diperoleh untuk setiap rentang skor tertentu dipresentasikan dan kemudian hasil yang diperoleh dibandingkan dengan skor rata-rata tes dan hasil belajar matematika. 5. Uji Analisis Korelasi a. Uji Kolerasi Setelah persyaratan analisis seperti uji normalitas, uji homogenitas, uji independen dan kelinearan regresi dipenuhi, maka dapat dilakukan uji

kolerasi. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa digunakan rumus korelasi product moment pearson sebagai berikut:

Keterangan:

= Tingkat Validitas = Skor variabel butir soal
44

n = Banyaknya data Setelah hasil perhitungannya, kemudian diinterprestasikan terhadap angka Indeks korelasi “r”. Product moment dengan cara sederhana, sebagaimana dijelaskan oleh Anas Sudijono (2003:180). Tabel 3.7 Interpretasi Nilai r Besarnya nilai r 0,80 – 1,00 0,60 – 0,80 0,40 – 0,60 0,20 – 0,40 0,00 – 0,20 Interpretasi Tinggi Cukup Agak cukup Rendah Sangat rendah (Suharsimi Arikunto, 2006:270)

b. Uji hipotesis menghitung K (derajat ada tidaknya korelasi) Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: H0 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa di SMA Negeri Rajagaluh Majakengka. Ha : Ada hubungan yang signifikan antara pola berpikir logis dengan

hasil belajar matematika siswa di SMA Negeri Rajagaluh Majakengka. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji dua pihak dan menggunakan rumus :

Keterangan: r: nilai koefisien korelasi n: jumlah sampel
45

Kriteria penolakan atau penerimaan hipotesis dengan taraf signifikansi 0,05 ialah: 1. Jika t hitung ≥ t tabel maka H0 ditolak dan Ha diterima 2. Jika t hitung ≤ t tabel maka H0 diterima dan Ha ditolak (Subana, 2005:173)

46

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Pelaksanaan pengumpulan data merupakan pekerjaan yang sangat penting dalam penelitian, karena itu harus dilakukan sebaik-baiknya agar kesimpulan yang ditarik sesuai dengan kenyataan. Deskripsi data hasil penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum mengenai penyebaran/ distribusi data, baik berupa ukuran gejala central, ukuran letak maupun distribusi frekuensi. Harga-harga yang akan disajikan setelah diolah dari data mentah dengan menggunakan metode statistik deskriptif, yaitu : harga rata-rata, simpangan baku, modus, median, distribusi frekuensi serta grafik histogram. Berdasarkan banyaknya variabel dan merujuk kepada masalah penelitian deskripsi data dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yakni : (1) Pola berpikir logis, (2) Hasil belajar matematika siswa. 1. Data Hasil Tes Tes kemampuan logika disebarkan kepada siswa untuk mengetahui kemampuan pola berpikir logis siswa. Data yang diperoleh merupakan variabel

bebas (X1). Tes tersebut terdiri dari 30 soal dan disebarkan kepada 30 siswa kelas XII IPA 2. Tes yang diberikan mencakup 5 indikator, yaitu 1) kesanggupan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah dengan pengetahuan yang dimiliki, 2) kemampuan siswa dalam menyimpulkan suatu permasalahan, 3) kemampuan siswa untuk memadukan konsep-konsep secara logis sehingga menjadi suatu pola yang baru, 4) kemampuan siswa dalam menganalisa suatu permasalahan, dan 5) kemampuan siswa dalam menguasai soal-soal yang berkaitan dengan matematika logis. Setelah data hasil tes diketahui kemudian dihitung nilai normalitas, homogenitas dan linieritasnya, yang kemudian data hasil tes kemampuan logika ini dikorelasikan dengan data hasil belajar. Data tes yang diperoleh di deskripsikan dan di interpretasikan berdasarkan persentase nilai yang diperoleh 47 siswa. Data tes siswa dapat dideskripsikan sebagai berikut: 1) Indikator : Kesanggupan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah dengan pengetahuan yang dimiliki Tabel 4.1 Indikator : Kesanggupan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah dengan pengetahuan yang dimilki. Item Soal dan Jawaban F Persentase skor Soal siswa 1 Ibuku mempunyai dua orang anak perempuan. Kemudian ibuku mempunyai kakak dan beranak dua, laki-laki dan perempuan. Maka anak perempuan dari kakak ibuku adalah? Jawaban : E (Sepupu) 2 Raul Gonzales dari spanyol, Steven Gerrad dari inggris dan Tachinardi dari jawa. Steven Gerrad dan Tachinardi bersahabat, mereka sedang berlibur ke borobudur, maka mereka sedang berada di? Jawaban: A (Indonesia) 3 43 – 12 + 7 – 23 – 8 = Jawaban : C (7) 29 96,66 28 93,33 29 96,66

4

Manakah yang menjadi pertama menurut abjad dari empat nama orang berikut ini! Jawaban: A (Munawar)

27

90

5

Manakah dari nama-nama dibawah ini yang tidak sekelompok? Jawaban: C (Kuas) Jumlah

26

86,66

139

463,31

Keterangan : Total siswa = 30

Dari hasil tabel 4.1 Menunjukkan bahwa siswa memiliki kemampuan menyelesaikan suatu permasalahan dengan kemampuan yang telah dimiliki dengan frekuensi siswa yang menjawab betul adalah 4,63% dengan presentase skor siswa sebesar 3,33% .
48

2) Indikator: Kemampuan siswa dalam menyimpulkan suatu permasalahan Tabel 4.2 Indikator kemampuan siswa dalam menyimpulkan suatu permasalahan Item Soal 6 Soal dan Jawaban F Persentase skor siswa Semua orang yang bertitel sarjana hidup dengan makmur. Sebagian orang yang bertitel sarjana melakukan usaha wirausaha. Jawaban: C (semua yang bertitel sarjana adalah wirausaha) Semua turis mempunyai paspor. Sebagian turis membawa kamera. Jawaban: B (sebagian turis yang membawa kamera mempunyai paspor) Semua siswa SMA Negeri I Rajagaluh pandai. Sebagian besar siswa SMA Negeri 1 Rajagaluh berasal dari keluarga kaya. 25 83,33

7

23

76,66

8

23

76,66

Jawaban: B (sebagian besar siswa SMA Negeri I Rajagaluh kaya dan pandai) 9 Semua pengusaha membayar pajak. Sebagian pengusaha dermawan. Jawaban: A (semua pengusaha yang dermawan membayar pajak) 10 Semua karyawan pabrik berangkat pagi. Sebagian pegawai mengendarai motor. Jawaban: C (semua karyawan yang mengendarai motor berangkat pagi) Jumlah Keterangan : Total siswa = 30

24

80

23

76,66

118

393,31

Dari hasil tabel 4.2 Menunjukkan bahwa siswa memiliki kemampuan menyimpulkan suatu permasalahan dengan frekuensi siswa yang menjawab betul adalah 3,93% dengan presentase skor siswa sebesar 3,33%.
49

3) Indikator: Kemampuan siswa untuk memadukan konsep-konsep secara logis sehingga menjadi suatu pola yang baru Tabel 4.3 Indikator kemampuan siswa untuk memadukan konsep-konsep secara logis sehingga menjadi suatu pola yang baru Item Soal 11 Soal dan Jawaban Pertanian yang tangguh akan mendukung industri yang kuat. SEBAB Petani yang naik penghasilannya akan menjadi pasaran yang kuat bagi barangbarang industri. Jawaban: B (pernyataan betul dan alasan betul, tetapi keduanya tidak menunjukkan hubungan sebab akibat) Kondisi yang paling penting dalam F 22 Persentase skor siswa 73,33

12

22

73,33

modernisasi pertanian adalah sikap hidup petani. SEBAB Petani adalah manajer usaha tani. Jawaban: A (Pernyataan betul, alasan betul dan keduanya merupakan hubungan sebab akibat) 13 Dalam forum diskusi, kedudukan para peserta dianggap seimbang. SEBAB Diskusi selalu mengarah ke suatu perdebatan yang objektif. Jawaban: B (pernyataan betul dan alasan betul, tetapi keduanya tidak menunjukkan hubungan sebab akibat) (1) Kedua remaja itu saling berpandangan. (2) Orang tua itu terkenal berpandangan luas. Proses pembentukan kata berpandangan dalam kalimat (1) berbeda dengan dalam kalimat (2). SEBAB Proses pembentukan kata berpandangan dalam kalimat (1) terjadi dari ber + pandangan dan kalimat (2) terjadi dari ber-an + pandang. 22 73,33

50

14

24

80

15

Jawaban: E (Pernyataan dan alasan keduanya salah) Pengakuan terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional erat hubungannya dengan segi politis. SEBAB Untuk membangkitkan semangat persatuan

23

76,66

dari ratusan suku bangsa di Indonesia, diperlukan satu bahasa persatuan yang dipahami dan dipakai oleh semua orang. Jawaban: A (Pernyataan betul, alasan betul dan keduanya merupakan hubungan sebab akibat) Jumlah Keterangan : Total siswa = 30 113 376,65

Dari hasil tabel 4.3 Menunjukkan bahwa siswa memiliki kemampuan untuk memadukan konsep-konsep secara logis sehingga menjadi suatu pola yang baru dengan frekuensi siswa yang menjawab betul adalah 3,76% dengan presentase skor siswa sebesar 3,33%.
51

4) Indikator: Kemampuan siswa dalam menganalisis suatu permasalahan Tabel 4.4 Indikator kemampuan siswa dalam menganalisis suatu permasalahan Item soal 16 Soal dan Jawaban Premis mayor : Semua orang yang hadir dalam pertemuan itu boleh menyatakan pendapatnya. Premis minor : Saya adalah salah satu orang yang hadir dalam pertemuan itu. Kesimpulan : Jadi saya boleh menyatakan pendapat saya. Jawaban: D (Jika kesimpulan salah) Premis mayor : Bambang Pamungkas adalah seorang pesebakbola yang bermain di liga premier Indonesia. Premis minor : Bambang Pamungkas adalah warga negara Indonesia. Kesimpulan : Sebab itu, setiap pesebakbola yang bermain di liga premier adalah warga negara Indonesia. Jawaban: D (Jika kesimpulan salah) Premis mayor : Semua tentara adalah orang yang gagah berani. F 22 Persentase skor siswa 73,33

17

21

70

18

22

73,33

Premis minor : Semua kelasi adalah orang yang gagah berani. Kesimpulan : Jadi, semua kelasi adalah tentara. Jawaban: D (Jika kesimpulan salah) 19 Premis mayor : Manusia adalah makhluk berakal budi. Premis minor : Sukirman adalah seorang manusia. Kesimpulan : Sebab itu, Sukirman adalah makhluk berakal budi. Jawaban: C (Jika premis minor salah) 20 Premis mayor : tidak ada manusia yang luput dari kematian. Premis minor : Mbah Marijan manusia yang sangat sakti. Kesimpulan : Sebab itu, Mbah Marijan yang sakti itu luput dari kematian Jawaban: D (Jika kesimpulan salah) Jumlah Keterangan : Total siswa = 30

24

80

22

73,33

52

111

369,99

Dari hasil tabel 4.4 Menunjukkan bahwa siswa memiliki kemampuan dalam menganalisis suatu permasalahan dengan frekuensi siswa yang menjawab betul adalah 3,7% dengan presentase skor siswa sebesar 3,33%. 5) Indikator: Kemampuan siswa dalam menguasai soal-soal yang berkaitan dengan matematika logis Tabel 4.5 Indikator kemampuan siswa dalam menguasai soal-soal yang berkaitan dengan matematika logis Item Soal dan Jawaban F Persentase soal skor siswa 21 Kontingen manakah yang memenangkan 18 60 separuh jumlah medali perunggu sebagaimana kontingen dari UGM memperoleh medali perak? Jawaban: C (UII) 22 Kontingen manakah yang memenangkan tiga 22 73,33 kali lipat medali perunggu sebagaimana kontingen dari UGM memperoleh medali perak? Jawaban: A (UGM) 23 Kontingen manakah yang memperoleh 20 66,66

24

25

26

27

28 29

30

seperlima dariseluruh jumlah medali perunggu? Jawaban: B (UNY) Dua kontingen manakah yang memperoleh medali emas sama dengan jumlah medali perak yang diperoleh kontingen dari UII? Jawaban: D (UGM-UNY) Jika terdapat dua kontingen lagi yang berkompetisi dan mereka hanya memperoleh 12 medali emas di antara mereka, berapakah medali perak dan perunggu yang diperoleh diantara mereka? Jawaban: D (55 perak dan 25 perunggu) Siapakah yang memiliki anjing berekor pendek? Jawaban: A (Mita) Siapakah yang memiliki kelinci berekor panjang? Jawaban: B (Budi) Siapakah yang memiliki anjing berekor buntat? Jawaban: B (Budi) Siapakah yang memiliki kucing berekor pendek? Jawaban: B (Budi) Siapakah yang memiliki kucing berekor panjang? Jawaban: C (Lulu) Jumlah

22

73,33

21

70

20

66,66

21

70

18 21

60 70

53

23

76,66

206

686,64

Keterangan : Total siswa = 30 Dari hasil tabel 4.5 Menunjukkan bahwa siswa memiliki kemampuan dalam menguasai soal-soal yang berkaitan dengan matematika logis dengan frekuensi siswa yang menjawab betul adalah 6,86 % dengan presentase skor siswa sebesar 3,33%. Adapun data-data yang diperoleh melalui perhitungan dengan

menggunakan SPSS 17, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.6
Descriptive Statistics Pola Berpikir Logis N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Variance

Pola berpikir logis Valid N (listwise)

30 30

60

90

76.13

7.727

59.706

Berdasarkan tabel 4.6 tersebut, banyaknya subyek dalam penelitian adalah 30 siswa. Dengan nilai minimum = 60, nilai maksimum = 90, dengan nilai rata-rata (mean) = 76.13. Simpangan baku (standar deviasi) = 7.727 yang menunjukkan selisih atau simpangan dari masing-masing skor, dan Variansinya = 59.706. Data hasil tes kemampuan logika atau tes kemampuan pola berpikir logis yang telah diberikan kepada siswa kelas XII IPA 2 SMA Negeri Rajagaluh Kabupaten Majalengka dihitung menggunakan software SPSS 17 untuk mengetahui frekuensi nilai tes berpikir logis siswa kelas XII IPA 2 SMA Negeri 1 Rajagaluh. Adapun hasil lebih rincinya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
54

Tabel 4.7 Pola berpikir logis
Frequency Valid 60 67 70 73 77 80 83 87 90 Total 2 3 3 5 5 4 4 3 1 30 Percent 6.7 10.0 10.0 16.7 16.7 13.3 13.3 10.0 3.3 100.0 Valid Percent 6.7 10.0 10.0 16.7 16.7 13.3 13.3 10.0 3.3 100.0 Cumulative Percent 6.7 16.7 26.7 43.3 60.0 73.3 86.7 96.7 100.0

Dari tabel 4.7 diketahui bahwa total siswa ada 30 siswa. Perolehan nilai tes pola berpikir logis juga dapat dilihat pada grafik histogram berikut:

55

Gambar 4.1 Perolehan nilai pola berpikir logis Untuk menjawab permasalahan yang pertama yaitu “ Bagaimana kemampuan pola berpikir logis siswa kelas XII IPA 2 di SMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka?” maka penulis memberikan kategori berdasarkan skor yang diperoleh siswa dari hasil data tes. Berdasarkan item no.1 yang diperoleh dari 29 responden, yaitu: 29/30 X 100% = 96,66% maka tergolong sangat kuat. Adapun Kriteria Interpretasi skor dapat dilihat pada tabel 4.8 dibawah ini: Tabel 4.8 Kriteria Interpretasi Skor Skor Interpretasi 0% - 20% Sangat lemah 21% - 40% Lemah 41% - 60% Cukup 61% - 80% Kuat 81% - 100% Sangat kuat ( Riduwan, 2008:89) Untuk item selanjutnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.9 Interpretasi Respon Siswa Terhadap Kemampuan Pola Berpikir Logis No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Skor 29 28 29 27 26 25 23 23 24 23 22 22 22 24 23 22 21 22 24 22 18 22 20 Prosentase 96,66 % 93,33 % 96,66 % 90 % 86,66 % 83,33% 76,66 % 76,66 % 80 % 76,66 % 73,33 % 73,33 % 73,33 % 80 % 76,66 % 73,33 % 70 % 73,33 % 80 % 73,33 % 60 % 73,33 % 66,66 % Keterangan Sangat kuat Sangat kuat Sangat kuat Sangat kuat Sangat kuat Sangat kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Cukup Kuat Kuat
56

24 25 26 27 28 29 30

22 21 20 21 18 21 23

73, 33 % 70 % 66,66 % 70 % 60 % 70 % 76,66 %

Kuat Kuat Kuat Kuat Cukup Kuat Kuat

Berdasarkan analisis Tabel 4.9, maka terdapat 6 item soal yang memiliki respon sangat kuat, 22 item pernyataan yang merespon kuat dan 2 item pernyataan yang merespon cukup. Artinya dapat diasumsikan siswa kelas XII IPA 2 SMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka memiliki pola berpikir logis yang kuat.
57

2. Data Hasil Belajar Matematika Siswa Data mengenai hasil belajar matematika siswa dapat dilihat dari nilai rata-rata raport selama 5 semester sebagai berikut: Tabel 4.10
Descriptive Statistics Hasil Belajar Matematika Siswa Std. N Hasil belajar MTK siswa Valid N (listwise) 30 30 Minimum Maximum 70 90 Mean 81.73 Deviation 5.037 Variance 25.375

Berdasarkan tabel 4.10 tersebut, banyaknya subyek dalam penelitian adalah 30 siswa. Dengan nilai minimum = 70, nilai maksimum = 90, dengan nilai rata-rata (mean) = 81.73. Simpangan baku (standar deviasi) = 5.037 yang menunjukkan selisih atau simpangan dari masing-masing skor, dan Variansinya = 25.375. Untuk perhitungan selengkapnya lihat lampiran 5.

Tabel 4.11 Hasil Belajar Matematika Siswa
Cumulative Frequency Valid 70 73 75 77 80 83 85 87 90 Total 1 1 2 3 8 3 7 2 3 30 Percent 3.3 3.3 6.7 10.0 26.7 10.0 23.3 6.7 10.0 100.0 Valid Percent 3.3 3.3 6.7 10.0 26.7 10.0 23.3 6.7 10.0 100.0 Percent 3.3 6.7 13.3 23.3 50.0 60.0 83.3 90.0 100.0

58

Dari tabel 4.11 diketahui total siswa ada 30 siswa. Untuk siswa yang mendapat skor 70 dan73 masing-masing sebanyak 3.3%, yang mendapat skor 75 sebanyak 6.7%, yang mendapat skor 77 sebanyak 10%, yang mendapat skor 80 sebanyak 26.7%, yang mendapat skor 83 sebanyak 10%, yang mendapat skor 85 sebanyak 23.3%, yang mendapat skor 87 sebanyak 6.7%, dan yang mendapat skor 90 sebanyak 10% didapat skor kumulatif sebanyak 100% dari 30 siswa. Untuk menjawab permasalahan yang kedua yaitu “ Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas XII IPA 2 SMA Negeri 1 Rajagaluh kabupaten Majalengka?” maka penulis memberikan kategori berdasarkan skor yang diperoleh siswa dari data hasil belajar (nilai rata-rata raport) siswa selama 5 semester.

Tabel 4.12 Klasifikasi Hasil Belajar Matematika Siswa

Skor 80 - 100 70 - 79 60 – 69 50 – 59 0 - 49 Jumlah

Klasifikasi Sangat baik baik Cukup baik Kurang Gagal

Frekuensi 23 7 0 0 0 30

Prosentase 76,66 % 23,33 % 0 0 0 100

(Muhibbin Syah, 2003: 221)

Berdasarkan dari Tabel 4.12 klasifikasi di atas diperoleh: a. Terdapat 23 siswa atau 76,66% mendapatkan nilai ketuntasan yang sangat baik. b. Terdapat 7 siswa atau 23,335 mendapatkan nilai ketuntasan yang baik. Perolehan skor hasil belajar matematika siswa juga dapat dilihat pada grafik histogram berikut:

59

Gambar 4.2 Perolehan skor hasil belajar matematika siswa Berdasarkan perolehan skor hasil belajar matematika siswa yang didapat dari nilai rata-rata raport siswa selama 5 semester menunjukkan kategori sangat baik. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 4.12. Sebelum menjawab pertanyaan yang ketiga yaitu “Adakah hubungan pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika pada siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka?” maka harus dilakukan uji korelasi terlebih dahulu, kemudian didapat nilai korelasi antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka.

60

B. Analisis Data Penelitian 1. Uji Pra-Syarat Untuk menganalisis suatu masalah diperlukan suatu masalah tertentu yang sesuai dengan masalah. Masalah dalam penelitian ini adalah ada tidaknya hubungan pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa. Untuk menguji hipotesis tersebut, diperlukan uji pra-syarat analisis data terlebih dahulu, yaitu: a) Uji Normalitas Berdasarkan hasil perhitungan dari nilai tes pola berpikir logis, kemudian diuji normalitas dengan uji Chi Square dan dibantu dengan program SPSS 17. Adapun data yang diperoleh sebagai berikut: Tabel 4.13
Tests of Normality Pola Berpikir Logis Kolmogorov-Smirnov Statistic Pola berpikir logis .111 df 30
a

Shapiro-Wilk Statistic
*

Sig. .200

df 30

Sig. .469

.967

a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance.

Dari Tabel 4.13 Chi-Square diatas, tampak nilai sig pada uji Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk lebih besar dari tingkat α yaitu 0.200 > 0.05 (untuk uji Kolmogorov-Smirnov) dan 0.469 > 0.05 (untuk uji Shapiro-Wilk) sehingga variabel pola berpikir logis yang diteliti mengikuti distribusi normal. Tabel 4.14 Chi-Square Test Hasil Belajar Matematika Siswa

Kolmogorov-Smirnov Statistic Hasil belajar MTK siswa a. Lilliefors Significance Correction .142 df 30

a

Shapiro-Wilk Statistic .957 df 30 Sig. .263

Sig. .128

61

Dari Tabel 4.14 Chi-Square diatas, tampak nilai sig pada uji Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk lebih besar dari tingkat α yaitu 0.128 > 0.05 (untuk uji Kolmogorov-Smirnov) dan 0.263 > 0.05 (untuk uji Shapiro-Wilk) sehingga variabel hasil belajar matematika siswa yang diteliti mengikuti distribusi normal. b) Uji Homogenitas Pengujian homogenitas data dalam penelitian ini menggunakan aplikasi software SPSS 17. Dari pengujian tersebut didapat output sebagai berikut: Tabel 4.15 Test of Homogeneity of Variances

Levene Statistic 1.139

df1 6

df2 21

Sig. .375

Dari tabel 4.15 tampak nilai sig. lebih besar daripada tingkat α yang digunakan (α = 0.05) atau 0.375 > 0.05, sehingga skor-skor pada variabel pola berpikir logis dan skor-skor pada hasil belajar matematika siswa menyebar secara homogen. c) Uji Independen dan Uji Kelinieran Regresi Dalam uji independen dan uji kelinieran regresi menggunakan rumus F,dengan pengambilan keputusan atau kriteria: a. Uji Independen Jika Fhitung ≥ Ftabel, maka terima Ha berarti ubahan bebas dependen. Ha : ubahan bebas dependen H0 : ubahan bebas independen b. Uji Kelinieran Regresi Jika Fhitung ≥ Ftabel, maka terima H0 berarti linier. Ha : tidak linier H0 : linier

62

Pengujian linieritas data dalam penelitian ini menggunakan aplikasi SPSS 17. Dari perhitungan tersebut didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 4.16 Tabel Anova

Sum of Squares Pola berpikir logis * Hasil belajar MTK siswa Between Groups (Combined) Linearity Deviation from Linearity Within Groups Total 358.095 1731.467 21 29 1373.371 1329.389 43.983 df 8 1 7

Mean Square F Sig. .000 .000 .910

171.671 10.067 1329.389 77.960 6.283 .368

17.052

Kriteria uji, apabila r (probability value/critical value) lebih kecil atau sama dengan (=) dari tingkat α yang ditentukan maka distribusi berpola linier. Dalam hal lainnya, distribusi tidak berpola linier. Berdasarkan hasil perhitungan dengan program SPSS diatas, tampak nilai r lebih kecil daripada tingkat α yang digunakan (α = 0.05) atau 0.000 < 0.05, sehingga variabel pola berpikir logis atas variabel hasil belajar matematika siswa berpola linier. d) Uji Korelasi Uji korelasi ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan ketiga yaitu “Adakah hubungan pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika pada siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka?”. Berdasarkan perhitungan uji korelasi dengan menggunakan software SPSS 17 dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa kelas XII SMA Negeri 1 Rajagaluh kabupaten Majalengka sebesar 0,876.

63

e) Pengujian Keberartian Koefisien Korelasi Pengujian keberartian koefisien korelasi dapat diketahui melalui aplikasi program SPSS. Kriteria yang digunakan adalah apabila nilai r lebih besar (>) dari nilai a tertentu maka H0 diterima, artinya tidak terdapat hubungan yang berarti antara variabel X1 dan variabel X2. Sebaliknya apabila nilai r lebih kecil (<) dari nilai a tertentu maka H0 ditolak, artinya terdapat hubungan yang berarti antara variabel X1 dan variabel X2. Dari hasil perhitungan pada kolerasi product moment yang telah dihitung melalui aplikasi SPSS. Outputnya adalah:

Tabel 4.17 Keberartian Koefisien Korelasi
Pola berpikir logis Pola berpikir logis Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Hasil belajar MTK siswa Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 30 .876
**

Hasil belajar MTK siswa 1 .876
**

.000 30 1

.000 30 30

Nilai ρ = 0.000 Berdasarkan hasil perhitungan dengan program SPSS diatas, tampak nilai ρ lebih kecil daripada tingkat α yang digunakan (yaitu 0,05) atau 0,000 < 0,05, sehingga H0 ditolak. Artinya terdapat hubungan yang berarti (signifikan) antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa.

2. Pengujian Hipotesis Uji hipotesis dilakukan setelah uji kolerasi karena dalam uji hipotesis digunakan rumus ttes atau t hitung. Permasalahan yang dirumuskan adalah: “ Adakah hubungan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa”.

64

Dengan hipotesis penelitian yang diajukan. Yaitu: H0 : ρ = 0, artinya tidak ada hubungan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa. H1 : ρ ≠ 0, artinya ada hubungan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa. Kriteria penolakan atau penerimaan hipotesis untuk taraf signifikansi α = 0.05 jika thitung ≥ ttabel maka H0 ditolak dan Ha diterima dan jika thitung ≤ ttabe maka H0 diterima dan Ha ditolak. Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan uji t dengan taraf signifikansi 0,05 dan dk = 28. Hasil perhitungan uji hipotesis dapat disajikan dalam tabe berikut: Tabel 4.18 Hasil perhitungan uji hipotesis N 30 r 0,876 thitung 9,610 ttabel 1,701

Dari tabel 4.18 diketahui nilai hitung t lebih besar dari nilai tabel t, sehingga nilai hitung t terletak di daerah penolakan H0. Artinya pernyataan yang menyebutkan : “tidak ada hubungan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa” ditolak. Berdasarkan hasil uji terhadap 30 siswa SMA Negeri 1 Rajagaluh diperoleh keterangan objektif bahwa terdapat hubungan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa.

C. Pembahasan Berdasarkan analisis data penelitian menunjukkan korelasi (rxy) sebesar 0,876 dengan ini maka terima Ha dan tolak H0. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa pada siswa kelas XII IPA 2 di SMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka. Korelasi pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa menunjukkan korelasi tingkat hubungan tinggi. Berdasarkan nilai koefisien

65

korelasi diperoleh sebesar 0,876. Berdasarkan uji hipotesis diperoleh thitung = 9,610 sedangkan ttabel = 1,701 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa thitung > ttabel, maka berdasarkan kriteria uji H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya ada hubungan yang signifikan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa SMA Negeri 1 Rajagaluh. Sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Suriasumantri (1990) bahwa kemampuan berpikir logis erat kaitannya dengan hasil belajar siswa, yaitu kemampuan menemukan suatu kebenaran berdasarkan aturan, pola, atau logika tertentu. Sebagaimana yang dikemukakan Howard Kingsley (dalam Nana Sudjana, 2005:45) bahwa hasil belajar meliputi (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Salah satu tujuan dari pembelajaran matematika itu sendiri adalah membekali peserta didik/siswa dengan kemampuan berpikir logis (Ibrahim dan Suparni, 2008:36). Jadi, kemampuan pola berpikir logis dapat menjembatani pada peningkatan hasil belajar matematika dan begitupun sebaliknya hasil belajar matematika dapat menjembatani seseorang untuk mampu berpikir logis.

66

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Hasil dari penelitianini yang sudah dibahas dari awal sampai akhir, maka disimpulkan: 1. Pola berpikir logis siswa menunjukkan kategori kuat/baik, hal ini berdasarkan skor rata-rata hasil tes dari 30 siswa SMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka kelas XII yaitu 76,13. 2. Hasil belajar matematika siswa kelas XII SMA Negeri 1 Rajagaluh Kab.Majalengka menunjukkan kategori sangat baik berdasarkan skor ratarata hasil raport selama 5 semester dari 30 siswa yaitu 81,73. Ini menunjukkan siswa mendapatkan nilai ketuntasan yang sangat baik. 3. Ada hubungan yang signifikan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa kelas XII SMA Negeri 1 Rajagaluh Kab.Majalengka. hal ini berdasarkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,876 menunjukkan hubungan tersebut sangat kuat. Dengan menggunakan uji analisis uji diperoleh thitung = 9,610 sedangkan ttabel = 1,701. Dengan demikian dapat dilihat bahwa thitung > ttabel maka berdasarkan kriteria uji H0 ditolak dan Ha diterima, artinya bahwa ada hubungan yang signifikan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa kelas XII SMA Negeri 1 Rajagaluh Kabupaten Majalengka. B. Saran 1) Bagi Guru Dengan mengetahui kemampuan, bakat dan kecerdasan yang dimiliki siswa, maka guru diharapkan untuk lebih mengkondisikan dan menyesuaikan pembelajaran sesuai model intelegensi siswa, agar siswa menjadi senang belajar karena bentuk pengajaran guru sesuai dengan intelegensi yang dimiliki siswa.

67

2) Bagi Siswa Dengan mengetahui hubungan pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa lebih mengasah kemampuan berpikir logis dengan banyak latihan soal-soal matematika. 3) Bagi SMA Negeri 1 Rajagaluh Kab. Majalengka Sebagai masukan dalam mengelola dan meningkatkan pola berpikir logis. Dengan mengetahui hubungan pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa maka diharapkan sekolah lebih meningkatkan kemampuan berpikir logis siswa. Hal ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam rangka pembinaan dan pengembangan sekolah. 4) Bagi Peneliti Peneliti agar lebih mengetahui ragamnya permasalahan yang ada disekitar dunia pendidikan. Sehingga penelitian ini diharapkan agar peneliti dapat menggali dan menambah wawasan ilmu pengetahuan yang lebih banyak lagi. Semoga penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wawasan ilmu pengetahuan dan sebagai bahan informasi serta referensi bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti kasus-kasus sejenis mengenai Hubungan Pola Berpikir Logis dengan Hasil Belajar Matematika Siswa.

68

DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Cetakan ke-2. Jakarta: PT Rineka Cipta. Ali Muhidin, Sambas dan Maman Abdurahman. 2009. Analisi Korelasi, Regresi, dan Jalur dalam Penelitian. Cetakan ke-1. Bandung: Pustaka Setia. Arikunto, Suharsimi. 2004. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Az-zumaro, Lutfil Kirom. 2011. Aktivasi Energi Doa dan Dzikir Khusus Untuk Kecerdasan Super (Otak + Hati). Jogjakarta: DIVA Press. Efendi, Agus. 2005. Revolusi Kecerdasan Abad 21. Cetakan 1. Bandung: Alfabeta. Hasan, Iqbal. 2008. Pokok-pokok materi statistika 1 (Statistik Deskriptif). Jakarta: Bumi Aksara. Hasan, Iqbal. 2008. Pokok-pokok materi statistika 2 (Statistik Inferensia). Jakarta: Bumi Aksara. http://www.infed.org/thinkers/gardner.htm diunduh pada tanggal 27 Juli 2011 pkl 12.30 WIB http://prajab2011.wordpress.com/konsepsi-dasar-pola-pikir/ diunduh tanggal 03 November 2011 pkl 12.04 WIB Ibrahim dan Suparni. 2008. Strategi Pembelajaran Matematika. Cetakan ke-1. Yogyakarta: Bidang Akademik UIN Sunan Kalijaga. Manfaat, Budi. 2010. Membumikan Matematika dari Kampus ke Kampung. Cetakan ke-1. Cirebon: Eduvison Publishing. Masidjo, Ign. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: KANISIUS. Mike Hernacki dan Bobbi De Porter. 2007. Quantum Learning. Cetakan ke 24, edisi 1. Bandung: KAIFA.

69

Mukhayat, T. 2004. Mengembangkan Metode Belajar Yang Baik Pada Anak. Yogyakarta: FMIPA UGM. Monty P. Satiadarma dan Fidelis E. Waruwu. 2003. Mendidik Kecerdasan (Pedoman bagi orangtua dan guru dalam mendidik anak cerdas). Jakarta: Pustaka Populer Obor. Mundiri. 2008. Logika. Edisi ke-1. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Poesproprodjo. 2007. LOGIKA SCIENTIFIKA: Pengantar Dialektika dan Ilmu. Cetakan ke-2. Bandung: Pustaka Grafika. Poesproprodjo. 1999. Logika Ilmu Menalar. Bandung: Pustaka Grafika. Prasetyono, Dwi Sunar. 2008. Bank Soal Terkini. Jogjakarta: DIVA Press. Priyatno, Duwi. 2010. Paham Analisa Statistik Data dengan SPSS. Jakarta: Mediakom. Riduwan. 2006. Dasar-Dasar Statistika. Cet.5. Bandung: ALFABETA. Riduwan. 2008. Belajar Mudah Penelitian : untuk Guru – Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung : ALFABETA. Ruseffendi, H.E.T. 2001. Evaluasi Pembudayaan Berpikir Logis Serta Bersikap Kritis dan Kreatif Melalui Pembelajaran Matematika Realistik. Soedjadi, R. 2004. PMRI dan KBK dalam Era otonomi Pendidikan. Buletin PMRI. Edisi 111, Januari 2004. Bandung: KPPMT ITB Bandung. Soekadijo, R. G. LOGIKA DASAR. 1997. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung : Tarsito. Sudjana, Nana. 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Cetakan ke 8. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Subana. 2000. Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah. Bandung: Pustaka Setia. Suherman, E dan Winata Putra, Udin S. 1993. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Jakarta: DEPDIKBUD.

70

Suherman, E dan Sukjaya, Yaya. 1990. Petunjuk Praktis Untuk Melaksanakan Evaluasi Pendidikan Matematika. Jakarta: Wijayakusumah. S. Fil, Wagiman. 2009. Pengantar Studi Logika. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher. Sipayung, Hendra Halomoan. 2009. Berpikir Seperti Filosof. Jogjakarta: ARRUZZ MEDIA. Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R & D). Cetakan 11. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. 2005. Statistika Untuk Penelitian.Bandung: Alfabeta. Suparno, Paul. 2004. Teori Intelegensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah. Yogyakarta: KANISIUS. Surapranata, Sumarna. 2004. Analisis, Validitas, Reliabilitas dan Interpretasi Hasil Tes. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Surajiyo, Sugeng Astanto dan Sri Andiani. 2007. Dasar-Dasar Logika. Cetakan ke-2. Jakarta: Bumi Aksara. Suriasumantri, Jujun. 2003. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada. EQ, Zaenal Mustafa. 2009. Mengurai Variabel Hingga Instrumentasi. Cetakan ke-1. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Lampiran 1 Kisi-kisi Instrumen Penelitian Hubungan Pola berpikir logis dengan Hasil Belajar Matematika Siswa

Pokok Masalah (Variabel Penelitian)

Rincian Masalah (Indikator Variabel)

Deskriptor

No.Item

Sumber

Jenis

Informasi Instrumen

Pola berpikir a. Kesanggupan logis siswa dalam menyelesaikan suatu masalah dengan pengetahuan yang dimiliki

1. Frekuensi menjawab/ menyelesaikan suatu masalah

1,2,3,4,5 Siswa . SMA kelas XII

Tes

b. Kemampuan siswa dalam menyimpulkan suatu permasalahan

2. Menyimpulkan 6,7,8,9, suatu persamaan 10

c. Kemampuan siswa untuk memadukan konsep-konsep secara logis sehingga menjadi suatu pola yang

3. Frekuensi dalam mengaplikasikan teori

11,12,13 ,14,15

baru

d. Kemampuan siswa dalam menganalisis suatu permasalahan

4. Frekuensi mengemukakan pendapat/meng analisis suatu masalah

16,17,1 8,19,20

e. Kemampuan siswa dalam menguasai soalsoal yang berkaitan dengan matematika logis a) pola dan hubungan logis b) perhitungan angka c) penalaran yang benar

5. Frekuensi mengerjakan/me nguasai materi logika

21,22,2 3,24,25 ,26,27, 28,29,3 0

Lampiran 2 Soal Uji Coba Tes Pola Berpikir Logis Hubungan Pola Berpikir Logis dengan Hasil Belajar Matematika Siswa LEMBAR SOAL Nama Sekolah : SMA Negeri I Rajagaluh

Mata Pelajaran : Matematika Kelas/ Semester : XII / II (Genap) Alokasi Waktu : 1 Jam Pelajaran Hari/ Tanggal :

Petunjuk: Untuk soal nomor 1 sampai dengan 5 terdiri dari pernyataan-pernyataan yang akan mengungkapkan kemampuan Anda dalam menyelesaikan suatu

permasalahan dengan kemampuan yang telah dimiliki. Bacalah baik-baik, kemudian pilihlah satu dari lima pilihan jawaban yang anda anggap benar. 1. Ibuku mempunyai dua orang anak perempuan. Kemudian ibuku mempunyai kakak dan beranak dua, laki-laki dan perempuan. Maka anak perempuan dari kakak ibuku adalah? a. Ipar b. Cucu c. Saudara d. Keponakan e. Bude

2. Raul Gonzales dari spanyol, Steven Gerrad dari inggris dan Tachinardi dari jawa. Steven Gerrad dan Tachinardi bersahabat, mereka sedang berlibur ke borobudur, maka mereka sedang berada di? a. Indonesia b. Inggris 3. 43 – 12 + 7 – 23 – 8 =.... a. 5 b. 6 c. 7 d. 8 e. 9 c. Spanyol d. Jerman e. Brazil

4. Manakah yang menjadi pertama menurut abjad dari lima nama orang berikut ini! a. Munawar b. Munawir c. Munawarman d. Munawirin e. munawirun

5. Manakah dari nama-nama dibawah ini yang tidak sekelompok? a. Pensil b. Pulpen Petunjuk: Untuk soal nomor 6 sampai dengan 10 terdiri dari pernyataan-pernyataan yang akan mengungkapkan kemampuan Anda dalam menyimpulkan suatu c. Kuas d. Ballpoint e. Spidol

permasalahan. Setiap soal terdiri dari dua pernyataan dan satu kesimpulan. Bacalah baik-baik pernyataan dan satu kesimpulan. Bacalah baik-baik pernyataan dan kesimpulan, kemudian pilihlah satu dari lima pilihan jawaban yang ada sesuai dengan aturan. 6. Semua orang yang bertitel sarjana hidup dengan makmur. Sebagian orang yang bertitel sarjana melakukan usaha wirausaha. a. semua wirausaha bertitel sarjana b. semua wirausaha yang hidupnya makmur bertitel sarjana c. semua yang bertitel sarjana adalah wirausaha d. semua sarjana yang hidupnya makmur adalah wirausaha e. semua sarjana yang wirausaha hidup dengan makmur 7. Semua turis mempunyai paspor. Sebagian turis membawa kamera. a. semua turis mempunyai paspor dan membawa kamera. b. sebagian turis yang membawa kamera mempunyai paspor. c. sebagian turis membawa kamera tidak mempunyai paspor. d. sebagian turis yang tidak membawa kamera mempunyai paspor. e. semua yang membawa kamera adalah turis

8. Semua siswa SMA Negeri I Rajagaluh pandai. Sebagian besar siswa SMA Negeri I Rajagaluh berasal dari keluarga kaya. a. semua siswa yang pandai adalah siswa SMA Negeri I Rajagaluh b. sebagian besar siswa SMA Negeri I Rajagaluh kaya dan pandai c. sebagian siswa yang kaya dan pandai adalah siswa SMA Negeri I Rajagaluh d. sebagian siswa SMA Negeri I Rajagaluh kaya dan kurang pandai e. semua siswa SMA Negeri I Rajagaluh pandai dan kaya 9. Semua pengusaha membayar pajak. Sebagian pengusaha dermawan. a. semua pengusaha yang dermawan membayar pajak b. sebagian pengusaha yang dermawan tidak membayar pajak c. pengusaha yang membanyar pajak adalah pengusaha yang dermawan d. pengusaha yang dermawan belum tentu membayar pajak e. membayar pajak tidak merupakan suatu keharusan bagi para pengusaha 10. Semua karyawan pabrik berangkat pagi. Sebagian pegawai mengendarai motor. a. semua karyawan yang berangkat pagi mengendarai motor b. sebagian karyawan mengendarai motor c. semua karyawan yang mengendarai motor berangkat pagi d. semua karyawan mengendarai motor e. semua karyawan tidak mengendarai motor

Untuk soal nomor 11 sampai 15 terdiri dari tiga bagian, yaitu pernyataan, kata sebab, dan alasan yang disusun berurutan. Karena itu, gunakan petunjuk berikut untuk memilih jawaban yang tepat. (a) jika pernyataan betul, alasan betul, dan keduanya merupakan hubungan sebab akibat (b) jika pernyataan betul dan alasan betul, tetapi keduanya tidak menunjukkan hubungan sebab akibat (c) jika pernyataan betul dan alasan salah (d) jika pernyataan salah dan alasan betul

(e) jika baik pernyataan maupun alasan keduanya salah

Soal: 11. Pertanian yang tangguh akan mendukung industri yang kuat. SEBAB Petani yang naik penghasilannya akan menjadi pasaran yang kuat bagi barangbarang industri. 12. Kondisi yang paling penting dalam modernisasi pertanian adalah sikap hidup petani. SEBAB Petani adalah manajer usaha tani. 13. Dalam forum diskusi, kedudukan para peserta dianggap seimbang. SEBAB Diskusi selalu mengarah ke suatu perdebatan yang objektif. 14. (1) Kedua remaja itu saling berpandangan. (2) Orang tua itu terkenal berpandangan luas.

Proses pembentukan kata berpandangan dalam kalimat (1) berbeda dengan dalam kalimat (2). SEBAB Proses pembentukan kata berpandangan dalam kalimat (1) terjadi dari ber + pandangan dan kalimat (2) terjadi dari ber-an + pandang. 15. Pengakuan terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional erat hubungannya dengan segi politis. SEBAB Untuk membangkitkan semangat persatuan dari ratusan suku bangsa di Indonesia, diperlukan satu bahasa persatuan yang dipahami dan dipakai oleh semua orang.

Berikut soal nomor 16 sampai 20 memilih jawaban menurut aturan dibawah ini : (a) jika kesimpulan benar (b) jika premis mayor salah (c) jika premis minor salah (d) jika kesimpulan salah (e) jika semuanya salah 16. Premis mayor : Semua orang yang hadir dalam pertemuan itu boleh menyatakan pendapatnya. Premis minor : Saya adalah salah satu orang yang hadir dalam pertemuan itu. Kesimpulan : Jadi saya boleh menyatakan pendapat saya. 17. Premis mayor : Bambang Pamungkas adalah seorang pesebakbola yang bermain di liga premier Indonesia. Premis minor : Bambang Pamungkas adalah warga negara Indonesia. Kesimpulan : Sebab itu, setiap pesebakbola yang bermain di liga premier adalah warga negara Indonesia. 18. Premis mayor : Semua tentara adalah orang yang gagah berani. Premis minor : Semua kelasi adalah orang yang gagah berani. Kesimpulan : Jadi, semua kelasi adalah tentara. 19. Premis mayor : Manusia adalah makhluk berakal budi. Premis minor : Sukirman adalah seorang manusia. Kesimpulan : Sebab itu, Sukirman adalah makhluk berakal budi 20. Premis mayor : tidak ada manusia yang luput dari kematian. Premis minor : Mbah Marijan manusia yang sangat sakti. Kesimpulan : Sebab itu, Mbah Marijan yang sakti itu luput dari kematian Petunjuk : Untuk soal nomor 21 sampai dengan nomor 30 adalah berdasarkan cerita yang saling berhubungan dan sebuah kesimpulan yang logis. Pilih salah satu kesimpulan yang logis dari lima pilihan jawaban yang ada sebagai kesimpulan dari pernyataan itu.

Soal : Dalam sebuah pekan olahraga mahasiswa tingkat provinsi yang diikuti lima perguruan tinggi, yakni UGM, UNY, UPN, dan STIKER, perolehan medali untuk tiga teratas adalah sebagai berikut: Perolehan Medali Kontingen Emas UGM UNY UII 33 72 27 Perak 21 8 60 Perunggu 63 20 36

Asumsikan bahwa setiap even memberikan medali emas, perak, dan perunggu tanpa hasil mengikat. 21. Kontingen manakah yang memenangkan separuh jumlah medali perunggu sebagaimana kontingen dari UGM memperoleh medali perak? a. UGM b. UNY c. UPN 22.Kontingen manakah yang memenangkan tiga kali lipat medali perunggu sebagaimana kontingen dari UGM memperoleh medali perak? a. UGM b. UNY c. UPN 23. Kontingen manakah yang memperoleh seperlima dariseluruh jumlah medali perunggu? a. UGM b. UNY c. UPN 24. Dua kontingen manakah yang memperoleh medali emas sama dengan jumlah medali perak yang diperoleh kontingen dari UII? a. UGM d. UGM-UNY d. UGM-UNY e. UNY-UII d. UGM-UNY e. UNY-UII d. UGM-UNY e. UNY-UII

b. UNY c. UPN

e. UNY-UII

25. Jika terdapat dua kontingen lagi yang berkompetisi dan mereka hanya memperoleh 12 medali emas di antara mereka, berapakah medali perak dan perunggu yang diperoleh diantara mereka? a. 70 perak dan 10 perunggu b. 65 perak dan 15 perunggu c. 60 perak dan 20 perunggu d. 55 perak dan 25 perunggu e. 50 perak dan 60 perunggu Tiga orang pecinta binatang, Mita, Budi, dan Lulu, masing-masing memiliki seekor anjing, kucing, dan kelinci dengan ekor buntat, ekor pendek, dan ekor panjang. Tidak ada binatang sejenis yang memiliki ekor sama. Ekor kucing Lulu sama dengan ekor kelinci Budi. Ekor kelinci Mita sama degan ekor kucing Budi. Anjing Lulu memiliki ekor panjang, dan kucing Mita memiliki ekor buntat. 26. Siapakah yang memiliki anjing berekor pendek? a. Mita b. Budi c. Lulu 27. Siapakah yang memiliki kelinci berekor panjang? a. Mita b. Budi c. Lulu 28. Siapakah yang memiliki anjing berekor buntat? a. Mita b. Budi c. Lulu 29. Siapakah yang memiliki kucing berekor pendek? a. Mita b. Budi c. Lulu d. Mita dan Budi e. Budi dan Lulu d. Mita dan Budi e. Budi dan Lulu d. Mita dan Budi e. Budi dan Lulu d. Mita dan Budi e. Budi dan Lulu

30. Siapakah yang memiliki kucing berekor panjang? a. Mita b. Budi c. Lulu d. Mita dan Budi e. Budi dan Lulu

Lampiran 3 DATA HASIL TES POLA BERPIKIR LOGIS Responden 1 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 NOMOR ITEM INSTRUMEN 2 21 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 3 22 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 4 23 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 5 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 6 25 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 7 26 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 8 27 0 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 9 28 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 10 29 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 11 30 1 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 12 1 27 0 21 1 18 1 25 0 18 1 22 0 21 1 22 1 23 1 24 1 24 1 24 0 25 1 23 1 20 13 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 14 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 15 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 Jumlah 16 17 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 18 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 19 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

16

1 1 17 1 0 18 1 0 19 1 1 20 1 1 21 1 0 22 1 1 23 1 1 24 1 1 25 1 1 26 1 0 27 1 1 28 1 1 29 1 0 30 1 1 Jumlah 24

1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 29 22

1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 28 18

1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 29 22

0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 27 20

1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 26 22

0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 25 21

1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 23 20

0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 23 21

1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 24 18

0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 23 21

1 22 0 25 1 20 1 22 0 22 1 23 1 24 1 25 1 26 1 23 1 23 0 26 0 20 1 26 1 23 22 23

1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 22 687

1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 22

1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 24

1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 23

1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 22

0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 21

1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 22

Lampiran 4
VALIDITAS TES POLA BERPIKIR LOGIS

Responden

NOMOR ITEM INSTRUMEN JUMLAH

1 20

2 21

3 22

4 23

5 24

6 25

7 26

8 27

9 28

10 29

11 30

12

13

14

15

16

17

18

19

Mega

1 0 1 0

1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0

1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1

0 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1

1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0

1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1

1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0

1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0

1 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0

0 0 0 0 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0

0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0

1 14 0 14 0 13 0 1 0 1 1 0 1 1

0

1

0

0

1

0

0

Dedi

0

0

1

1

1

1

0

Fitri 1 0 M.firi 0 Imas M 0 Ricci SN 0 Vika AF 0

0

0

1

1

0

0

0

0 18 1 15 1

1

1

1

0

0

0

0

1

0

1

0

0

1

0

0

0

1

0

0 17

1

1

0

0

0

0

Aan N 1 0 Heni Y 0 Dina fuji 0 Yanti 0 1

1 1 1 0 1 0 1 1

1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 1 0 1 1 1

1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0

1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1

1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0

1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0

1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0

1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0

1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0

0 17 1 1 0 1 0 10 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0

1

0

0

1

0

0

0

0 14 0 12 0

1

1

0

0

0

0

0

0

1

0

1

0

0

0

0

0

0

0

Iis Fatimah 0 0 1 Tina D 0 Nana S 0 Pipin S 0 Amalia 0 pipit P 0 Lilis S 0 Adesetya 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1

0 11 0 13 0 18 1 19 1 14 0 13 0 10 0 13

0

0

0

1

1

0

0

1

0

0

0

0

0

1

1

1

1

1

1

0

0

1

1

0

0

1

0

0

1

0

0

1

0

1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

1

0

Baitu N 0 linda DN 0 Siti M 0 Laely Z 0 Windi N 0 Siwi R 1 Yuni AA 0 Eki W 1 0 Gina S 0 Epa S 1 1 Sri RA 0

1 0 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1

0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1

1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1

1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1

0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0

0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0

1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0

0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 1 0 1 0 0 0

1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0

0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 14 0 1 0 0 1 0

0 12 0 16 0 20 0 10 0 10 0 15 1 14 0

1

1

0

0

0

0

0

1

0

0

1

0

1

1

0

1

1

0

1

0

1

1

0

0

1

0

1

0

0

0

0

0

1

1

0

1

0

0

0

0

1

0

0

0

0

1

0

0

0 18 0 15 1 13

0

1

1

1

0

0

1

1

1

1

0

0

0

1

0

0

1

0

Sri RP 0

1 1

0 0

1 1

1 0

0 1

0 0

0 0

0 0

0 0

0 0

0 1

0 8

0

0

1

0

0

0

Fitri Asih 0 0 0 Yusup 0 0 Suryadi 0 1 0 1 0

1 0 0 0 0 0

1 1 1 0 1 1

1 0 1 1 1 0

1 1 1 0 1 1

1 0 0 0 1 0

0 0 0 1 1 0

1 0 0 0 0 0

1 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0

0 0 0 9 0 0

0 10 0

0

0

0

1

0

0

1

1

0

1

0

0

0 11

0

1

1

1

0

0

JUMLAH 1

30 12

19 12

32 32

31 7

29 29

25 2

19 7

26 2

19 11

18 7

8 9

8 469

10

17

13

15

16

3

r hitung 0,998229201 0,988834746 0,998586492 0,998231762 0,997233999 0,995465841 0,989318967 0,995418482 0,991619013 0,988555268 0,955969089 0,958616632 0,967157779 0,986056795 0,973157422 0,981709354 0,984225937 0,869536138 0,697709295 0,974485641 0,971462671 0,998222812 0,947606966 0,995791976 0,821750787 0,947292619 0,812275906 0,971922719 0,946035233 0,959647837 r tabel 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 0,329 Keterangan VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID Varians 25,04901961 10,26470588 28,43226381 26,63458111 23,43761141 17,52673797 10,26470588 18,92424242 10,26470588 9,20855615 1,953654189 1,950980392 2,976827094 8,271836007 4,912655971 6,470588235 7,355614973 0,331550802 0,057040998 4,213903743 4,213903743 28,43226381 1,52228164 23,43761141 0,167557932 1,52228164 0,167557932 3,576648841 1,52228164 2,438502674 6104,634581

Lampiran 5 Data Hasil Belajar Matematika Siswa No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Semester 3 90 75 70 80 85 80 90 80 80 75 85 86 80 90 75 90 87 80 70 80 85 87 87 87 80 85 87 77 90 83 Rata-Rata 90,4 74,6 70 85 75,2 83,2 80 80 77 82,6 85 80,4 85,4 80 77 83,4 84,8 80,2 76,6 80,2 79,6 87 85 90 80,2 85 89,8 73,4 86,6 79,8

1 85 66 65 88 65 78 70 80 69 78 88 80 90 85 70 87 75 83 75 75 68 90 80 90 80 87 90 70 86 78

2 87 72 70 87 68 88 80 75 71 80 87 78 95 70 85 72 87 75 68 83 83 80 85 88 78 83 87 75 87 80

4 95 85 70 80 78 85 80 80 85 90 80 80 82 70 75 83 90 80 85 78 85 88 90 95 80 80 95 70 85 83

5 95 75 75 90 80 85 80 85 80 90 85 78 80 85 80 85 85 83 85 85 77 90 83 90 83 90 90 75 85 75

Lampiran 6
SKOR DATA DIBOBOT ================= Jumlah Subyek = Butir soal = Bobot utk jwban benar = Bobot utk jwban salah = Nama berkas: D:\XII IPA No Urt Bobot 22 1 23 12 18 16 22 17 15 14 12 6 10 11 21 21 15 11 11 16 12 18 19 10 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 No Subyek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 34 30 1 0 4.ANA Benar 22 23 12 18 16 22 17 15 14 12 6 10 11 21 21 15 11 11 16 12 18 19 10 Salah 8 7 18 12 14 8 13 15 16 18 24 20 19 9 9 15 19 19 14 18 12 11 20 Kosong 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Skr Asli 22 23 12 18 16 22 17 15 14 12 6 10 11 21 21 15 11 11 16 12 18 19 10 Skr

Kode/Nama Mega H... Dodi H... Fitri ... M.Firi... Imas M... Ricci SN Vika AF Aan Nu... Heni Y Dina F... Yanti Iis Fa... Tina D... Nana S... Pipin ... Amalia Pipit ... Lilis ... Adeset... Baity ... Linda ... Siti M... Laely ...

9 24 12 17 20 12 24 7 9 5 6

24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34

24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34

Windi Siwi R... Yuni A... Eki Wi... Gina S... Epa so... Sri Ra... Sri Ra... Fitri ... Yusup Suryadi

9 24 12 17 20 12 24 7 9 5 6

21 6 18 13 10 18 6 23 21 25 24

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

9 24 12 17 20 12 24 7 9 5 6

Lampiran 7
RELIABILITAS TES ================ Rata2= 14.62 Simpang Baku= 5.51 KorelasiXY= 0.75 Reliabilitas Tes= 0.86 Nama berkas: D:\XII IPA 4.ANA No.Urut Total 22 1 23 12 2 3 No. Subyek 1 2 3 Kode/Nama Subyek Mega Harum Dodi Hermawan Fitri Nur Anah Skor Ganjil 12 10 5 Skor Genap 10 13 7 Skor

18 16 22 17 15 14 12 6 10 11 21 21 15 11 11 16 12 18 19 10 9 24 12 17 20 12 24 7 9

4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32

4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32

M.Firi Hamdani Imas Mustaqimah Ricci SN Vika AF Aan Nurjanah Heni Y Dina Fuji R Yanti Iis Fatimah Tina Damayanti Nana Supriatna Pipin Suparjan Amalia Pipit Pitriani Lilis Suryani Adesetya N Baity Nurmusl... Linda Durotun Siti Maemunah Laely Zaqiroh Windi Siwi Rahmawati Yuni A. andani Eki Windiari Gina Sumiarti Epa sopiawati Sri Rahayu Af... Sri Rahayu Pu... Fitri Asih 7 5 8 8 4 5 10 5 7 9 6 12 4 4

9 6 13 6 7 8 5 1 5 7 9 9 7 4 5 9 7 10 11 6 4 14 7 10 11 6 12 3 5

9 10 9 11 8 6 7 5 5 4 12 12 8 7 6

5 6

33 34

33 34

Yusup Suryadi

2 2

3 4

Lampiran 8
KELOMPOK UNGGUL & ASOR ====================== Kelompok Unggul Nama berkas: D:\XII IPA 4.ANA No Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 No Subyek Kode/Nama Subyek 25 Siwi Rahmawati 30 2 1 6 14 15 28 22 Sri Rahayu Af... Dodi Hermawan Mega Harum Ricci SN Nana Supriatna Pipin Suparjan Gina Sumiarti Siti Maemunah 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 2 2 1 1 1 1 1 1 6 3 3 1 1 1 1 1 1 1 7 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 5 5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 6 6 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 7 7 1 1 1 1 1 1 6

Skor 24 24 23 22 22 21 21 20 19

Jml Jwb Benar

No No Urut Subyek 1 25 2 30

Kode/Nama Subyek Siwi Rahmawati Sri Rahayu Af...

Skor 24 24

8 8 1 1

9 9 1 -

10 10 1 1

11 11 1

12 12 1 -

13 13 1

14 14 1 1

3 4 5 6 7 8 9

2 1 6 14 15 28 22

Dodi Hermawan Mega Harum Ricci SN Nana Supriatna Pipin Suparjan Gina Sumiarti Siti Maemunah

23 22 22 21 21 20 19

1 1 1 1 1 1 8

1 1 1 1 1 6

1 1 1 1 1 7

1 1 1 4

1 1 1 1 5

1 1 1 1 1 6

1 1 1 1 1 1 8

Jml Jwb Benar

No No Urut Subyek 1 25 2 3 4 5 6 7 8 9 30 2 1 6 14 15 28 22

Kode/Nama Subyek Siwi Rahmawati Sri Rahayu Af... Dodi Hermawan Mega Harum Ricci SN Nana Supriatna Pipin Suparjan Gina Sumiarti Siti Maemunah

Skor 24 24 23 22 22 21 21 20 19

15 15 1 1 1 1 1 1 1 7

16 16 1 1 1 1 1 1 1 7

17 17 1 1 1 1 1 1 1 7

18 18 1 1 1 3

19 19 1 1 1 3

20 20 1 1 1 1 1 1 1 1 8

21 21 1 1 1 1 1 1 6

Jml Jwb Benar

No No Urut Subyek 1 25 2 3 4 5 6 7 8 30 2 1 6 14 15 28

Kode/Nama Subyek Siwi Rahmawati Sri Rahayu Af... Dodi Hermawan Mega Harum Ricci SN Nana Supriatna Pipin Suparjan Gina Sumiarti

Skor 24 24 23 22 22 21 21 20

22 22 1 1 1 1 1 1 -

23 23 1 1 1 1

24 24 1 1 1 1 1 -

25 25 1 1 1 1 1 -

26 26 1 1 1 1 1 -

27 27 1 1 1 1 1 1

28 28 1 1 1 1 1 1 1

9

22

Siti Maemunah

19

1 7

4

1 6

5

1 6

6

1 8

Jml Jwb Benar

No.Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9

No Subyek 25 30 2 1 6 14 15 28 22 Jml Jwb Benar

Kode/Nama Subyek Siwi Rahmawati Sri Rahayu Af... Dodi Hermawan Mega Harum Ricci SN Nana Supriatna Pipin Suparjan Gina Sumiarti Siti Maemunah

Skor 24 24 23 22 22 21 21 20 19

29 29 1 1 1 1 1 1 1 7

30 30 1 1 1 1 1 1 1 7

Kelompok Asor Nama berkas: D:\XII IPA 4.ANA No Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 No Subyek 18 12 23 24 32 31 11 34 1 1 1 1 1 1 1 5 2 2 1 1 2 3 3 1 1 1 1 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 7 5 5 1 1 1 1 1 1 6 6 6 1 1 1 1 4 7 7 1 1

Kode/Nama Subyek Lilis Suryani Iis Fatimah Laely Zaqiroh Windi Fitri Asih Sri Rahayu Pu... Yanti Suryadi

Skor 11 10 10 9 9 7 6 6 5

9 33 Yusup Jml Jwb Benar

No No Urut Subyek 1 18 2 12

Kode/Nama Subyek Lilis Suryani Iis Fatimah

Skor 11 10

8 8 1 1

9 9 -

10 10 1 -

11 11 -

12 12 -

13 13 1

14 14 -

3 4 5 6 7 8 9

23 24 32 31 11 34 33

Laely Zaqiroh Windi Fitri Asih Sri Rahayu Pu... Yanti Suryadi Yusup

10 9 9 7 6 6 5

1 1 1 5

1 1 2

1 1 3

0

1 1

1 1 3

1 1 1 3

Jml Jwb Benar

No No Urut Subyek 1 18 2 3 4 5 6 7 8 9 12 23 24 32 31 11 34 33

Kode/Nama Subyek Lilis Suryani Iis Fatimah Laely Zaqiroh Windi Fitri Asih Sri Rahayu Pu... Yanti Suryadi Yusup

Skor 11 10 10 9 9 7 6 6 5

15 15 1 1 2

16 16 1 1 2

17 17 1 1 2

18 18 0

19 19 0

20 20 1 1 1 3

21 21 1 1 1 3

Jml Jwb Benar

No Urut 1 2 3 4 5 6

No Subyek 18 12 23 24 32 31

Kode/Nama Subyek Lilis Suryani Iis Fatimah Laely Zaqiroh Windi Fitri Asih Sri Rahayu Pu...

Skor 11 10 10 9 9 7

22 22 1 1 1 1 -

23 23 -

24 24 1 1

25 25 1

26 26 1 -

27 27 -

28 28 1 1 -

7 8 9

11 34 33

Yanti Suryadi Yusup

6 6 5

4

0

2

1

1

0

2

Jml Jwb Benar

No.Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9

No Subyek 18 12 23 24 32 31 11 34 33 Jml Jwb Benar

Kode/Nama Subyek Lilis Suryani Iis Fatimah Laely Zaqiroh Windi Fitri Asih Sri Rahayu Pu... Yanti Suryadi Yusup

Skor 11 10 10 9 9 7 6 6 5

29 29 1 1 1 3

30 30 1 1 2

Lampiran 9
DAYA PEMBEDA ============ Jumlah Subyek= 34 Klp atas/bawah(n)= 9 Butir Soal= 30 Nama berkas: D:\XII IPA 4.ANA No Butir Baru 1 2 3 4 5 No Butir Asli 1 2 3 4 5

Kel. Atas 9 6 7 9 9

Kel. Bawah 5 2 4 7 6

Beda 4 4 3 2 3

Indeks DP (%) 44.44 44.44 33.33 22.22 33.33

6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

9 6 8 6 7 4 5 6 8 7 7 7 3 3 8 6 7 4 6 5 6 6 8 7 7

4 1 5 2 3 0 1 3 3 2 2 2 0 0 3 3 4 0 2 1 1 0 2 3 2

5 5 3 4 4 4 4 3 5 5 5 5 3 3 5 3 3 4 4 4 5 6 6 4 5

55.56 55.56 33.33 44.44 44.44 44.44 44.44 33.33 55.56 55.56 55.56 55.56 33.33 33.33 55.56 33.33 33.33 44.44 44.44 44.44 55.56 66.67 66.67 44.44 55.56

Lampiran 10
TINGKAT KESUKARAN ================= Jumlah Subyek= 34 Butir Soal= 30 Nama berkas: D:\XII IPA 4.ANA No Butir Baru 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 No Butir Asli Jml Betul 1 30 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 19 23 31 28 25 16 25 18 19 9 11 13 22

Tkt. Kesukaran(%) 88.24 55.88 67.65 91.18 82.35 73.53 47.06 73.53 52.94 55.88 26.47 32.35 38.24 64.71

Tafsiran Sangat Mudah Sedang Sedang Sangat Mudah Mudah Mudah Sedang Mudah Sedang Sedang Sukar Sedang Sedang Sedang

15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

15 15 16 3 5 14 16 22 7 17 8 10 9 15 13 23

44.12 44.12 47.06 8.82 14.71 41.18 47.06 64.71 20.59 50.00 23.53 29.41 26.47 44.12 38.24 67.65

Sedang Sedang Sedang Sangat Sukar Sangat Sukar Sedang Sedang Sedang Sukar Sedang Sukar Sukar Sukar Sedang Sedang Sedang

Lampiran 11

KORELASI SKOR BUTIR DG SKOR TOTAL ================================= Jumlah Subyek= 34 Butir Soal= 30 Nama berkas: D:\XII IPA 4.ANA No Butir Baru 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 No Butir Asli 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Korelasi 0.479 0.385 0.403 0.379 0.422 0.326 0.403 0.449 0.368 0.308 0.398 0.396 0.278 0.401 0.401 0.368 0.381 0.461 0.350 0.477 0.305 0.345 0.357 0.439 0.333 0.462 0.619 0.586 0.434 0.403 Signifikansi Sangat Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Sangat Signifikan Signifikan Sangat Signifikan Signifikan Signifikan Sangat Signifikan Sangat Signifikan Sangat Signifikan Signifikan Signifikan

Catatan: Batas signifikansi koefisien korelasi sebagaai berikut: df (N-2) 10 15 20 25 30 40 50 P=0,05 0,576 0,482 0,423 0,381 0,349 0,304 0,273 P=0,01 0,708 0,606 0,549 0,496 0,449 0,393 0,354 df (N-2) 60 70 80 90 100 125 >150 P=0,05 0,250 0,233 0,217 0,205 0,195 0,174 0,159 P=0,01 0,325 0,302 0,283 0,267 0,254 0,228 0,208

Bila koefisien = 0,000

berarti tidak dapat dihitung.

Lampiran 12
KUALITAS PENGECOH ================= Jumlah Subyek= 34 Butir Soal= 30 Nama berkas: D:\XII IPA 4.ANA No Butir Baru 1 2 3 4 5 6 7 8 No Butir Asli 1 2 3 4 5 6 7 8 a 0-19** 4+ 31** 2+ 174-b 0-4++ 3++ 1+ 1+ 3+ 16** 25** c 0-7-23** 1+ 28** 25** 3+ 1d 4--3++ 2+ 0-2+ 2++ 4++ 1e 30** 12+ 1+ 1+ 3+ 4++ 3+ * 0 0 0 0 0 0 0 0

9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

18** 4++ 6++ 11** 8515** 5++ 3+ 6++ 8++ 6++ 5++ 22** 14--24+ 10** 107+ 5++ 5--

8-3++ 9** 913** 56+ 5++ 3+ 5+ 10+ 5++ 4++ 3++ 7** 238+ 9** 15** 13** 2+

5++ 19** 104+ 3+ 15++ 5++ 5++ 9++ 5** 3+ 16** 4+ 6++ 8-8++ 4+ 7++ 4++ 7+ 23**

1-5+ 34+ 1-14++ 15** 16** 3** 314** 4++ 2+ 317** 8** 24+ 4++ 3+ 1-

23++ 6++ 6++ 922** 4++ 4++ 711+ 8++ 6++ 5++ 3++ 4+ 5++ 11104+ 4++ 6++ 3++

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Keterangan: ** : Kunci Jawaban ++ : Sangat Baik + : Baik - : Kurang Baik -- : Buruk ---: Sangat Buruk

Lampiran 13
REKAP ANALISIS BUTIR ===================== Rata2= 14.62 Simpang Baku= 5.51 KorelasiXY= 0.75 Reliabilitas Tes= 0.86 Butir Soal= 30

Jumlah Subyek= 34 Nama berkas: D:\XII IPA 4.ANA

Butir Butir D.Pembeda Baru Asli (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 44.44 44.44 33.33 22.22 33.33 55.56 55.56 33.33 44.44 44.44 44.44 44.44 33.33 55.56 55.56 55.56 55.56 33.33 33.33 55.56 33.33 33.33 44.44 44.44 44.44 55.56

T. Kesukaran Sangat Mudah Sedang Sedang Sangat Mudah Mudah Mudah Sedang Mudah Sedang Sedang Sukar Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sangat Sukar Sangat Sukar Sedang Sedang Sedang Sukar Sedang Sukar Sukar

Korelasi 0.479 0.385 0.403 0.379 0.422 0.326 0.403 0.449 0.368 0.308 0.398 0.396 0.278 0.401 0.401 0.368 0.381 0.461 0.350 0.477 0.305 0.345 0.357 0.439 0.333 0.462

Sign. Korelasi Sangat Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Sangat Signifikan Signifikan Sangat Signifikan Signifikan Signifikan Sangat Signifikan

27 28 29 30

27 28 29 30

66.67 66.67 44.44 55.56

Sukar Sedang Sedang Sedang

0.619 0.586 0.434 0.403

Sangat Signifikan Sangat Signifikan Signifikan Signifikan

Lampiran 14 UJI NORMALITAS SKOR TES POLA BERPIKIR LOGIS DENGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA

Case Processing Summary Cases Valid N Pola berpikir logis Hasil belajar MTK siswa 30 30 Percent 100.0% 100.0% N 0 0 Missing Percent .0% .0% N 30 30 Total Percent 100.0% 100.0%

Tests of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic Pola berpikir logis Hasil belajar MTK siswa .111 .142 df 30 30
a

Shapiro-Wilk Statistic
*

Sig. .200

df 30 30

Sig. .469 .263

.967 .957

.128

a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance.

Kriteria uji, apabila nilai r (probability value/critical value) lebih besar atau sama dengan (=) dari tingkat α yang ditentukan maka H0 ditolak ( Ali Muhidin, 2007:28) Berdasarkan hasil perhitungan dengan program SPSS diatas, tampak nilai r pada uji Kolmogorov-Smirnov (a) untuk variabel pola berpikir logis lebih besar dari pada tingkat α yang digunakan (yaitu 0,05) atau 0,200 > 0,05 dan Uji Shapiro-Wilk 0,469 > 0,05. dan untuk variabel hasil belajar matematika siswa pada Uji Kolmogorov-Smirnov (a) nilai r lebih besar dari tingkat α yang digunakan (yaitu 0,050 atau 0,128 > 0,05 begitupun pada uji Shapiro-Wilk nilai r lebih besar dari nilai α yang digunakan (yaitu 0,05) atau 0,263 > 0,05, Sehingga H0 ditolak. Artinya variabel pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa mengikuti distribusi normal.

Lampiran 15 UJI HOMOGENITAS

Test of Homogeneity of Variances

Pola berpikir logis Levene Statistic 1.139 df1 6 df2 21 Sig. .375

ANOVA Pola berpikir logis Sum of Squares Between Groups Within Groups Total 1373.371 358.095 1731.467 df 8 21 29 Mean Square 171.671 17.052 F 10.067 Sig. .000

Berdasarkan homogenitas antara pola berpikir logis (X1) dengan hasil belajar matematika siswa (X2) dengan menggunakan program SPSS, Uji Levence Statistic diperoleh nilai 1,139 dan sig. 0,375 > 0,05 maka H0 diterima dengan. Dengan demikian varian relatif sama atau tidak ada perbedaan yang signifikan.

Lampiran 16 UJI KELINIERAN REGRESI

Measures of Association R Pola berpikir logis * Hasil belajar MTK siswa .876 R Squared .768 Eta .891 Eta Squared .793

Pada tabel diatas terdapat R Square sebesar 0,891 dari koefisien korelasi (0,876). R Square disebut koefisien determinasi yang dalam hal ini hasil belajar matematika siswa. ANOVAb
Sum of Squares Pola berpikir logis * Hasil belajar MTK siswa Between Groups (Combined) Linearity Deviation from Linearity Within Groups Total 358.095 1731.467 21 29 17.052 1373.371 1329.389 43.983 df 8 1 7 Mean Square F Sig. .000 .000 .910

Pa da tabel ini terlihat bahwa nilai probabilitas nya atau sig. 0,000 < 0,05 hal ini menunjukk an model

171.671 10.067 1329.389 77.960 6.283 .368

regresi linier dapat digunakan. Berdasarkan hasil perhitungan dengan SPSS tampak nilai ρ lebih kecil dari pada tingkat σ yang digunakan (yaitu 0,05) atau 0,000 < 0,05, sehingga H0 ditolak artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa. Lampiran 17 UJI KORELASI

Correlations Pola berpikir logis Pola berpikir logis Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Hasil belajar MTK siswa Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 30 .876
**

Hasil belajar MTK siswa 1 .876
**

.000 30 1

.000 30 30

Berdasarkan uji korelasi antara pola berpikir logis (X1) dengan hasil belajar matematika siswa (X2) diperoleh korelasi 0,876. Berdasarkan ketetapan interpretasi diatas bahwa keeratan hubungan pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa sangat kuat.

Lampiran 18 UJI KEBERARTIAN KOEFISIEN KORELASI

Nilai ρ Correlations
Pola berpikir logis Pola berpikir logis Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Hasil belajar MTK siswa Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 30 .876
**

= 0.000

Hasil belajar MTK siswa 1 .876
**

.000 30 1

.000 30 30

Berdasarkan hasil perhitungan dengan program SPSS diatas, tampak nilai ρ lebih kecil daripada tingkat α yang digunakan (yaitu 0,05) atau 0,000 < 0,05, sehingga H0 ditolak. Artinya terdapat hubungan yang berarti (signifikan) antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa.

Lampiran 19 UJI HIPOTESIS

Correlations
Pola berpikir logis Pola berpikir logis Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Hasil belajar MTK siswa Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 30 .876
**

Hasil belajar MTK siswa 1 .876
**

.000 30 1

.000 30 30

Berdasarkan perhitungan dengan program SPSS tampak nilai ρ lebih kecil pada tingkat alpha yang digunakan (0,05) atau 0,000 < 0,05, sehingga H0 ditolak. Artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa.

Lampiran 20 Tabel DATA HASIL PENELITIAN HUBUNGAN POLA BERPIKIR LOGIS DENGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA X2 8100 4900 3600 6889 3600 5329 4900 5329 4900 6400 6400 6400 6889 5929 4489 5329 6889 4489 5329 5329 5929 6400 6889 7569 5929 5929 Y2 8100 5625 4900 7225 5625 6889 6400 6400 5929 6889 7225 6400 7225 6400 5929 6889 7225 6400 5929 7225 6400 7569 7225 8100 6400 7225

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

X 90 70 60 83 60 73 70 73 70 80 80 80 83 77 67 73 83 67 73 73 77 80 83 87 77 77

Y 90 75 70 85 75 83 80 80 77 83 85 80 85 80 77 83 85 80 77 85 80 87 85 90 80 85

XY 8100 5250 4200 7055 4500 6059 5600 5840 5390 6640 6800 6400 7055 6160 5159 6059 7055 5360 5621 6205 6160 6960 7055 7830 6160 6545

27 28 29 30

87 67 87 77

90 73 87 80

7569 4489 7569 5929

8100 5329 7569 6400

7830 4891 7569 6160

Jumlah 2284

2452

175620

201146

187668

Lampiran 21 UJI NORMALITAS DATA TES Dari data hasil penelitian didapat: Skor terbesar = 90 Skor terkecil = 60 Rentangan (R) = skor terbesar – skor terkecil = 90 – 60 = 30 Banyaknya Kelas (BK) = 1 + 3,3 log n = 1 + 3,3 log 30 = 1 + 3,3 (1,4771) = 1 + 4,874 = 5,874 ~ 6 Panjang Kelas (i) = Tabulasi data dengan tabel penolong X2 f.xi2

No.

Interval

F

Nilai Tengah (Xi)

f.xi

1 2 3 4 5 6 7

60 - 64 65 – 69 70 – 74 75 – 79 80 – 84 85 – 89 90 - 94 Jumlah

2 3 8 5 8 3 1 30

62 67 72 77 82 87 92 539

124 201 576 385 656 261 92 2295

3844 4489 5184 5929 6724 7569 8464 42203

7688 13467 41472 29645 53792 22707 8464 177235

Rata – rata (mean) dan simpangan baku (standar deviasi) • Rata-rata (Mean)

Simpangan Baku

Menentukan batas kelas Kelas Interval Skor kiri (-0,5) 59,5 64,5 69,5 74,5 79,5 84,5 89,5 Skor kanan (+0,5) 64,5 69,5 74,5 79,5 84,5 89,5 94,5

Ket : BK1 = 59,5 BK2 = 64,5 BK3 = 69,5 BK4 = 74,5

BK5 = 79,5 BK6 = 84,5 BK7 = 89,5 BK8 = 94,5 Nilai – nilai Z skor

Luas O – Z 0,4875;0,4429;0,3212;0,1026;0,1517;0,3531;0,4564;0,4911 Luas tiap kelas interval 0,4875 – 0,4429 = 0,0446 0,4429 – 0,3212 = 0,1217 0,3212 – 0,1026 = 0,2186 0,1026 + 0,1517 = 0,2543 0,1517 – 0,3531 = 0,2014 0,3531 – 0,4564 = 0,1033

0,4564 – 0,4911 = 0,0347

Frekuensi yang diharapkan (fe) 0,0446 x 30 = 1,338 0,1217 x 30 = 3,651 0,2186 x 30 = 6,558 0,2543 x 30 = 7,629 0,2014 x 30 = 6,042 0,1033 x 30 = 3,099 0,0347 x 30 = 1,041

TABEL Distribusi frekuensi yang diharapkan (fe) Dan frekuensi hasil pengamatan (f0) No Batas kelas Z Luas O - Z Luas Tiap Kelas Interval 1 2 3 4 5 6 7 8 59,5 64,5 69,5 74,5 79,5 84,5 89,5 94,5 -2,24 -1,58 -0,92 -0,26 0,39 1,05 1,71 2,37 0,4875 0,4429 0,3212 0,1026 0,1517 0,3531 0,4564 0,4911 ∑f0 = 30 0,0446 0,1217 0,2186 0,2543 0,2014 0,1033 0,0347 1,338 3,651 6,558 7,629 6,042 3,099 1,041 2 3 8 5 8 3 1 fe f0

Mencari Khi-Kuadrat (X2hitung)

Membandingkan X2hitung dengan X2tabel, dengan kriteria taraf kepercayaan 95%, dk = k - 3 = 7-3 diperoleh X2 tabel sebesar 9,488. Menentukan kesimpulan Jika X2hitung < X2tabel, tolak H0, maka data tersebut berdistibusi normal. Jika X2hitung ≥ X2tabel, terima H0, maka data tersebut berdistribusi tidak normal. Berdasarkan perhitungan diatas, diperoleh nilai hitung X2 = 2,303. Sedangkan nilai tabel X2 adalah X2
(1-α) (dk=k-3) =

X2(95%) (7-3) = X2(95%)(4) = 9,488. Dengan demikian nilai uji X2hitung

< nilai tabel X2, maka data skor tes berdistribusi normal.

Lampiran 22 UJI NORMALITAS DATA NILAI RATA-RATA RAPORT Dari data hasil penelitian didapat: Skor terbesar = 90 Skor terkecil = 70 Rentangan (R) = skor terbesar – skor terkecil = 90 – 70 = 20 Banyaknya Kelas (BK) = 1 + 3,3 log n = 1 + 3,3 log 30 = 1 + 3,3 (1,4771) = 1 + 4,874 = 5,874 ~ 6 Panjang Kelas (i) = Tabulasi data dengan tabel penolong No Interval f Nilai Tengah (xi) 1 2 3 4 5 6 7 70 - 72 73 – 75 76 – 78 79 – 81 82 – 84 85 – 87 88 – 90 1 3 3 8 3 9 3 71 74 77 80 83 86 89 5041 5476 5929 6400 6889 7396 7921 71 222 231 640 249 774 267 5041 16428 17787 51200 20667 66564 23763 xi 2 f.xi f.xi2

Jumlah

30

2454

201450

Rata – rata (mean) dan simpangan baku (standar deviasi) • Rata – rata (mean)

• Simpangan baku (standar deviasi)

Menentukan batas kelas Kelas Interval Skor kiri (- 0,5) 69,5 72,5 75,5 78,5 Skor kanan (+ 0,5) 72,5 75,5 78,5 81,5

81,5 84,5 87,5

84,5 87,5 90,5

Ket : BK1 = 69,5 BK2 = 72,5 BK3 = 75,5 BK4 = 78,5 BK5 = 81,5 Nilai – nilai Z Skor

BK6 = 84,5 BK7 = 87,5 BK8 = 90,5

Luas 0 – Z 0,4934; 0,4699; 0,3980; 0,2454; 0,0239; 0,2054; 0,3749; 0,4599 Luas tiap kelas interval 0,4934 – 0,4699 = 0,0235

0,4699 – 0,3980 = 0,0719 0,3980 – 0,2454 = 0,1526 0,2454 + 0,0239 = 0,2693 0,0239 – 0,2054 = 0,1815 0,2054 – 0,3749 = 0,1695 0,3749 – 0,4599 = 0,085 Frekuensi yang diharapkan (fe) 0,0235 x 30 = 0,705 0,0719 x 30 = 2,157 0,1526 x 30 = 4,578 0,2693 x 30 = 8,079 0,1815 x 30 = 5,445 0,1695 x 30 = 5,085 0,085 x 30 = 2,55

TABEL Distribusi frekuensi yang diharapkan (fe) Dan frekuensi hasil pengamatan (f0) No Batas kelas Z Luas O - Z Luas Tiap Kelas Interval 1 2 3 4 5 6 7 69,5 72,5 75,5 78,5 81,5 84,5 87,5 -2,48 -1,88 -1,27 -0,66 -0,06 0,54 1,15 0,4934 0,4699 0,3980 0,2454 0,0239 0,2054 0,3749 0,0235 0,0719 0,1526 0,2693 0,1815 0,1695 0,085 0,705 2,157 4,578 8,079 5,445 5,085 2,55 1 3 3 8 3 9 3 fe f0

8

90,5

1,75

0,4599 ∑f0 = 30

Mencari Khi-Kuadrat (X2hitung)

Membandingkan X2hitung dengan X2tabel, dengan kriteria taraf kepercayaan 95%, dk = k - 3 = 7-3 diperoleh X2 tabel sebesar 9,488. Menentukan kesimpulan Jika X2hitung < X2tabel, tolak H0, maka data tersebut berdistibusi normal. Jika X2hitung ≥ X2tabel, terima H0, maka data tersebut berdistribusi tidak normal. Berdasarkan perhitungan diatas, diperoleh nilai hitung X2 = 5,1877. Sedangkan nilai tabel X2 adalah X2
(1-α) (dk=k-3)

= X2(1-95%)

(7-3)

= X2(95%)(4) = 9,488. Dengan demikian nilai uji

X2hitung < nilai tabel X2, maka data nilai rata-rata raport berdistribusi normal.

Lampiran 24 UJI KORELASI Koefisien korelasi (∑X) = 2284 ∑XY = 187668 ∑X2 = 175620 (∑Y) = 2452 ∑Y2 = 201146 N = 30

Berdasarkan perhitungan uji korelasi, maka diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,876. Dan berdasarkan tabel interpretasi koefisien korelasi r terletak antara interval koefisien 0,80 – 1,00 dengan tingkat hubungan tinggi. Dengan demikian terdapat Korelasi yang signifikan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa.

Lampiran 25 UJI HIPOTESIS Hipotesis: H0 : tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa. Ha : terdapat hubungan yang signifikan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa. Rumus uji hipotesis:

Kaidah pengujian: Jika thitung ≥ ttabel, maka tolak H0 artinya signifikan Jika thitung ≤ ttabel, maka terima Ha artinya tidak signifikan Berdasarkan taraf signifikansi (α) = 0,05 dan n=30, uji satu pihak dk= n-2 = 30-2 = 28 diperoleh ttabel = 1,701. Artinya thitung > ttabel maka tolak H0. Jadi ada hubungan yang signifikan antara pola berpikir logis dengan hasil belajar matematika siswa.