P. 1
BA.bab 2 Sambungan

BA.bab 2 Sambungan

3.75

|Views: 8,426|Likes:
Published by anon-729621

More info:

Published by: anon-729621 on Oct 27, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

Sambungan

14

BAB 2
SAMBUNGAN
2.1 Sambungan keling, rivet Umumnya mesin terdiri dari beberapa bagian yang disambung menjadi sebuah mesin yang utuh. Sambungan keling umumnya diterapkan pada jembatan, bangunan, ketel, tangki, kapal dan pesawat terbang. Ada 2 kategori pada pembebanan sambungan keling, yaitu : • • Beban Sentris Beban Eksentris

Sambungan

Tetap / mati

Tidak Tetap / dapat di lepas (buka)

Keling (rivet) Las (weld) Pasak (spie)

Baut (nut)

1.

Beban Sentris, centrist load

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

15

D P

B P

C

A

Gambar. 2.1 Beban sentries

Gambar diatas, dua buah plat disambung dengan satu deret paku keling. Biasanya dalam perhitungan diasumsikan bahwa seluruh paku keling akan mendapat tegangan yang sama, ya atau tidak …..? Yang sebenarnya terjadi, plat dibagian B dan C akan mengalami perpanjangan yang besar, karena memikul hampir seluruh beban P. Plat dibagian A dan D mengalami perpanjangan yang kecil karena beban yang dipikul relatif kecil. Karena mengalami perubahan panjang yang tidak sama : paku keling yang terletak diujung akan mendapat beban yang paling besar, paku keling berikutnya lebih kecil.

2.1.1

Pemasangan paku keling • Tidak terlalu berdekatan dan berjauhan jaraknya.

d

min. 3 d

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

16

Jika jarak antar paku terlalu besar dapat terjadi buckling. Jarak maksimum biasanya adalah 16 x tebal plat.

Jarak dan pusat paku keling dengan sisi plat tidak boleh terlalu kecil, sebab dapat terjadi kegagalan.

2.1.2

Tegangan pada paku keling Kegagalan yang dapat terjadi pada sambungan keling diantaranya :

Geseran pada paku keling

Tegangan tarik pada plat

Tekanan pada plat

Karena sambungan keling banyak dipakai pada ketel dan tangki, maka perlu diketahui tegangan yang terjadi pada silinder berdinding tipis yang mendapat tekanan dalam,  diameter    dinding  > 10    Analisa tegangan pada silinder berdiding tipis : Asumsi yang digunakan adalah bahwa distribusi tegangan sepanjang tebal dinding adalah sama dan merata.

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

17

Dari gambar (a).kesetimbangan gaya horizontal :
π

∫ p sin θrdθ = 2σ
o

tt

t

tegangan pr ∫ sin dθ = 2σ t t
o

π

π pr (− cosθ o = 2σ t t

2 pr = 2σ t t → σ t =

pr t

dalam arah longitudinal (aksial) : lihat gambar (c) :

σ at (π 2r ) = πr 2 p
gaya aksial

gaya yang bekerja pada tutup silinder

σa =

pr 2t

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

18

σt

P σt (a) σt (b)

σa

t P r σa (c) Gambar. 2.2 Tegangan pada silinder berdinding tipis.

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

19

contoh : Diketahui diameter paku keling = 31 mm

Plat tebal 19 mm

Tebal 13 mm (plat penyambung)

C B A
210 mm 210 mm

C B A

Buatl perhitungan gaya yang menyebabkan terjadinya kegagalan yang mungkin terjadi. Hitung besarn efisiensi sambungan jika sambungan ini digunakan pada tangki silindris berdiameter 1500 mm, dan tentukan besar tekanan dalam yang diizinkan.

Kekuatan bahan ; ( baja pelat ) Tarik :

σ ut

= 380 N/mm 2

Tekan : σ uc = 650 N/mm 2 Kekuatan paku : ……… Geser : τ = 300 N/mm 2 Factor keamanan yang digunakan = 5

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

20

Penyelesaian : (a). Tegangan tarik pada pelat di penampang A – A : F = 380 ( 210 – 31 mm) x 19 mm 5

F = 258476 N (b). Geseran pada paku, terdapat 9 penampang yaitu 4 di B – B, 4 di C – C dan 1 di A – A. Luas penampang yang mengalami tegangan geser : A =

π (31mm) 2 = 754,77 mm 2 4
300 x 9 x 754,77 5

F =

F = 407574,80 N (c). Tekanan paku terhadap plat, di B – B dan C – C kegagalan terjadi pada plat Utama, di A – A terjadi pada plat penyambung. Luas permukaan yang mengalami tekanan adalah : A = 4 x 31 mm x 19 + 31mm x 13 mm = 2759 mm 2 B-B dan C-C F = (d). 650 x 2759 5 A–A = 358670 N

Tegangan tarik di B – B dan geseran di A – A : Luas penampang yang mengalami tegangan tarik , A = (210 mm – 2 x 31 mm) x 19 mm A = 2812 mm 2 F = 380 300 (2812) + (754,77) 5 5

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

21

F = 258998,2 N (e). Tegangan tarik di B – B dan tekanan di A – A : F = 380 650 (2812) + (31 mm x 13 mm) 5 5

F = 266102 N (f). Tekanan di B – B dan C – C dengan geseran di A – A : F = 650 300 (4 x 31 mm x 19 mm) + (754,77) 5 5

F = 351566,2 N (g). Tegangan tarik pada plat yang tidak berlubang : F = 380 (210 mm x 19 mm) 5

F = 303240 N (h). Efisiensi sambungan F = ( I ). P = F = r F 258476 N = = 1,64 r (750)( 210) mm 2 258476 = 85,24 % 303240

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

22

2.

Beban Eksentris, Eccentrics Load Bila beban yang bekerja pada sistem paku keling adalah eksentris maka harus diperhitungkan pula pengaruh teori atau momen yang terjadi. Misalkan suatu sambungan keling mendapat momen Pe. Titik O adalah titik berat dari sekelompok paku keling tersebut.

e
P/N R1
P/N

F1 F2

e

P/N

P
P/N

P
Gaya akibat beban P

F1

F2

R3 P/N o R3 F3 P?N F3

Gaya Resultan (R)

Gaya akibat momen Pe

Menentukan titik berat (kesetimbangan) : y
A2 A3 A4 y A1 A5

G

A = luas penampang paku keling. luas penampang paku keling A1, A2, ….tidak perlu sama.

x

x

Maka lokasi G (titik berat) adalah ; ………….. ……………… ….(Shigley Jilid 1 Hal. 407)
Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

23

A1.X1 + A2.X2 + A3.X3 + A4.X4 + A5.X5 X = A1 + A2 + A3 + A4 + A5 A1.y1 + A2.y2 + A3.y3 + A4.y4 + A5.y5 y = A1 + A2 + A3 + A4 + A5 = =

∑ Ai. Xi
i

n

∑ Ai
i

n

∑ Ai. yi
i

n

∑ Ai
i

n

Hubungan antara momen Pe dengan gaya-gaya F1, F2, ……… M = Pe = (F1.r1) + (F1.r1) + (F2.r2) + (F2.r2) + (F3.r3) + (F3.r3) + ……… Besarnya gaya yang dialami oleh tiap paku keling tergantung pada jaraknya terhadap c.g. : paku yang terletak paling jauh dari c.g mengalami beban yang terbesar sebaliknya paku yang terdekat dengan c.g mengalami beban yang paling kecil, oleh karena itu : F1 F2 F3 = = F1 F2 F3 dari kedua persamaan tersebut diatas, maka :

M.r n Fn = r 1 2 + r 1 2 + r 2 2 +r 2 2 + r 3 2 + r 3 2 + r 4 2 + r 4 2 …

Contoh (1) :
Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

24

250

Diketahui : diameter paku = 16 mm

Ukuran dalam mm. 10 15 Tentukan : P =16 KN a. gaya resultan tiap paku keling. b. Tegangan geser maksimum pada paku keling. c. Tekanan maksimum yang disebabkan oleh paku. 200 d. Tegangan lentur kritis pada batang akibat momen.

C O D

B 60 60 A

75

75

50

300

penyelesaian : Titik berat O dari sistem paku keling dapat ditentukan berdasarkan simetris : Fc” C FC’ FC rC M FD” FD D FD’ FA” FA rD O V rA A FA’ rB FB’ B FB” FB

V = 16 KN
Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

25

M = 16 x (425) = 6800 N.m rA = rB = rC = rD = r = (60) 2 + (75) 2 = 96 mm

Gaya geser pada paku karena adanya gaya lintang : FA” = FB” = FC” = FD” = F = V 16 = = 4 KN N 4

Gaya geser pada paku akibat Momen : FA” = FB” = FC” = FD” = F = (a). Gaya-gaya resultan : FA = FB = 21 KN FC = FD = 13,8 KN (b). Paku A dan B memikul gaya yang paling besar : τ = F A 6800 Mr M = = = 17,7 KN 4(96) 4r 2 4r

τ

21x1000 = π (16) 2 4 = 104 MN / m 2

τ ( c).

Oleh karena kanal lebih tipis dari pada plat Utama, maka tekanan yang terbesar adalah terhadap kanal, luas permukaan yang mendapatkan tekanan : A = td = (10). (16) σ = = 160 mm 2

F (21).(1000) = = 131 MN / m 2 A 160

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

26

(d).

Tegangan lentur kritis pada batang terjadi pada penampang yang sejajar dengan sumbu y dan melalui paku A dan B. Pada penampang tersebut, momen lentur yang terjadi : M = 16 (300 + 50) = 5600 N.m

Momen inersia pada penampang ini : I = I batang - 2 ( I batang + (r 1 ) 2 A )

15(200) 15(16)3 = -2( + (60) 2 (15)(16) ) 12 12 = 8,26 x 10 6 mm 4

r =60 200 16 15

maka :

σ =

(5600).(100) Mc = (10 3 ) (8,26)(106 ) I

σ = 67,8 MN / m 2

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

27

2.2.

Sambungan baut ( Bolt ) dan ulir pengangkat (Screw). Untuk memasang mesin, berbagai bagian harus disambung atau diikat untuk menghindari gerakan terhadap sesamanya. Baut, pena, pasak dan paku keling banyak dipakai untuk maksud ini. Tapi ada pula penyambungan dengan cara pengelasan, pres dan sebagainya.

2.2.1

Terminologi baut

Ket :

1. Sudut ulir 2. Puncak ulir luar 3. Jarak bagi 4. Diameter inti dari ulir luar 5. Diameter luar dari ulir luar 6. Diameter dalam dari ulir dalam 7. Diameter luar dari ulir dalam Gambar. 2.3 Terminologi baut.

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

28

Geometri ulir (standart Inggris) yang umum dipakai. Ulir Standar ( American National atau Unified ) dan ulir ISO (International Standard Organization ) mempunyai sudut ulir 60°.

P/8 Pitch (P) 60° rata /bulat

d

dm dr

keterangan :

d

= diameter utama

dm = diameter puncak dr = diameter minor P = jarak puncak ulir Ulir Persegi → biasanya dipakai pada dongkrak dan mesin frais.

P/2

P

P/2 d dr

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

29

Berdasarkan hasil pengujian tarik terhadap batang berulir, didapatkan bahwa : suatu

batang tanpa ulir yang berdiameter d, ( dimana d =

dm + dr ) mempunyai kekuatan 2

tarik yang sama dengan batang berulir dengan dimensi d, dm dan dr. Luas penampang batang tanpa ulir berdiameter d tersebut disebut At.

Ulir Unified

5" - 18 UNF 8

ulir halus

ulir per in diameter utama = 5 in 8

Ulir Metrik (ISO) :

M 12 x 1,75

picth = 1,75 mm

diameter Utama = 12 mm metrik

Tabel. 2.1 Luas bidang - bidang tegangan. Garis tengah baut (d) Luas bidang tegangan A (mm) M6 20,1 M8 36,6 M10 58 M12 84,2 M16 157 M20 245 M24 352 M30 561

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

30

2.2.2

Ulir pengangkat, power screw Ulir pengangkat dipakai pada permesinan untuk mengubah gerakkan angular menjadi gerakkan linier, contohnya pada mesin bubut dan dongkrak mobil. Gambar skematis dari pemakaian ulir pengangkat seperti dibawah ini : dimensi ulir pengangkat : F

ψ
P

mur F/2 F/2

Bentuk ulir dapat terjadi bila sebuah lembaran berbentuk segi tiga digulung pada sebuah silinder, pada gambar 2.4. Dalam pemakaian, ulir selalu bekerja dalam pasangan antara ulir luar dan ulir dalam. Ulir pengikat pada umumnya mempunyai profil penampang berbentuk segi tiga sama kaki. Jarak antara satu puncak dengan puncak berikutnya dari profil ulir disebut jarak bagi. d

πd2

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

31

Gambar. 2.4 Bentuk dasar sebuah ulir. Ulir tersebut mendapat gaya tekan F. Diperlukan hubungan untuk torsi yang dibutuhkan untuk menaikan atau menurunkan beban. Misalkan kita ambil satu ulir yang dipanjangkan untuk satu putaran.

µ.N

F

F

 πdm

P πdm

µ.N

Mengangkat beban

Menurunkan beban

Gaya gesek, µ N : bekerja berlawanan arah dengan arah gerakan. Untuk menaikan Beban : Σ FH = P - N sin ψ - µN cos ψ = 0 Σ Fv = F + µN sin ψ - N cos ψ = 0 Untuk menurunkan beban : Σ FH = - P - N sin ψ + µN cos ψ = 0 Σ Fv = F - µN sin ψ - N cos ψ = 0 dengan mengeliminasikan N, maka : Untuk menaikan beban :

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

32

P =

F (sinψ + µ cosψ ) cosψ − µ sinψ

Untuk menurunkan beban : P = F ( µ cosψ − sinψ ) cosψ − µ sinψ

Penyebut dan pembilang dibagi oleh cos ψ dan dengan menggunakan hubungan tan ψ =

 πdm

maka :  + µ) πdm µ 1− ( ) πdm  ) πdm µ 1+ ( ) πdm dm ), maka : 2

F( P =

F (µ − ( P =

Dengan menggunakan hubungan T = P (

T = (

Fdm  + πµdm ( ) ………….……………(1) 2 πdm − µ

T = torsi yang dibutuhkan untuk mengatasi gesekan dan mengangkat beban . Untuk menurunkan beban : T = Fdm πµdm +  ( ) ……………………..…(2) 2 πdm − µ

(Torsi ini dibutuhkan untuk mengatasi sebagian dari gesekan pada waktu menurunkan beban). Dapat terjadi bahwa, beban besar atau gesekan kecil, sehingga beban akan turun
Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

33

dengan sendirinya dan menyebabkan ulir berputar dengan sendirinya, dalam hal ini T ≤ 0. Jika T > 0 pada persamaan (2) maka ulirnya di sebut “ self-locking “. Untuk “ self-locking “ :

πµdm ≥  (

πµdm  )≥ πdm πdm

µ ≥ tan ψ untuk ulir pengangkat ini dikenal istilah “efisiensi “ jika µ = 0 → To = (torsi hanya untuk menaikan beban) Efisiensi : e = To F = T 2πT F ... (pers.1) 2π

Untuk menaikan Beban : T = Fdm  + πµdm secα ( ) 2 πdm − µsecα

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

34

contoh (2) : Pada sebuah batang Cantilever : (Secara Matematis) Diketahui : P = 10 ton = 10.000 kg

a = 18 cm b = 30 cm Ditanya : (a). r (resultan) (b). Momen (M) P
1 2 4

Baut 1,2,3 dan 4 = M12 x 1,75

a
3

a

b

(a). Agar batang P tidak melengkung / bengkok ke bawah, maka diberi gaya momen. M = Gaya x jarak M = P ( b + ½.a ) Mencari titik momen / titik berat dari sekelompok baut (cancroids) : Free body diagram. y 1 G y 3 4 2 → M = P x L

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

35

O x

x

x =

( x1. A1) + ( x 2. A2) + ( x3. A3) + ( x 4. A4) A1 + A2 + A3 + A4 ( y1. A1) + ( y 2. A2) + ( y3. A3) + ( y 4. A4) A1 + A2 + A3 + A4

y =

catatan : x i dan y i adalah jarak dari masing-masing titik pusat baut. mencari harga x dan y pada jarak yang telah ditentukan : x1 =0 cm y 1 = 18 cm y 2 = 18 cm y3 =0 y4 =0 cm cm

x 2 = 18 cm x 3 = 18 cm x4 =0 cm

luas penampang masing-masing baut ( A ) : A1 = A2 = A3 = A4 =

π 2 (d ) 4
3,14 2 (12 ) 4

=

= 113,04 cm 2 Jadi harga : x = 9 cm y = 9 cm 1 r1 18 G r2 y 2

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

36

y= 9

r3 x =9 18

r4

x

mencari luas segi tiga dengan menggunakan Dalil Phytagoras : jadi : x = 9 atau (18 – x)

A2 =

B2 + C 2

y=9 r4

y =9

r1

r3 x=9

y =9 r3 = r4

x = 9 atau (18 – x)

r1 = r2 = r3 = r4 = =

92 + 92 81 + 81

= 12,72 cm

(b). Momen (M) :

M = P(9+b) M = 10.000 kg ( 9 cm + 30 cm ) M = 39.000 kg.cm

1 ton = 1000 kg 10 ton = 10.000 kg

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

37

Latihan dan contoh soal : 1. 10 mm 15 mm
15

2 1 3
8 8 mm 80 mm

P = 2500 lb

Baut yang digunakan : baut 1 = M12 dan baut 2 & 3 = M15, dengan diberi pembebanan P sebesar 2500 pound (lb). Tentukanlah Resultan masing-masing baut dan Momen yang terjadi.
( jawab : M = 103737 Kg.mm)

2.

Diketahui : Berat Crane P = 65 lb Baut 1&2 = M10 x 1,25 Baut 3&4 = M15 x 1,25 a = 25 mm b = 60 mm c = 300 mm c Tentukan : (a). R (b). M 65 mm 250 mm

P a b a

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

38

3. P = 0,5 kg 5 mm 2 3

350 mm

25 25 mm

Sebuah gantungan celana (kait) di bautkan pada sebuah papan. Panjang dari gantungan tersebut adalah 350 mm, dimana gantungan ini akan digantung sebuah celana LEVIS 999 yang beratnya 0,5 kg pada 3 buah baut yang diameternya berbeda. Hitunglah momen yang terjadi pada ketiga baut tersebut. Catatan : Baut 1 & 2 = M8 dan Baut 3 = M 5

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

39

2.3

Sambungan las, welded Macam - macam sambungan las :

60 °

60 °

45 °

“ Butt atau grove weld “ h = tinggi leher las penguat / kekuatan

A

F h tinggi leher h

F

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

40

Tegangan normal rata-rata yang terjadi pada las : σ =

F h

Tinggi h tidak termasuk penguat. Penguat tersebut berguna untuk menutupi cacat-cacat pada las, penguat tersebut juga menimbulkan kosentrasi tegangan di A apabila terjadi beban Fatique ( lelah ), penguat tersebut perlu diratakan.

Lap joints :

 F

Leher

leher

F

h h

luas permukaan leher = 0,707 h  metoda yang umum dipakai adalah bahwa kegagalan terjadi karena tegangan geser pada permukaan leher melebihi batas yang di izinkan. Tegangan geser rata-rata : τ = Parallel fillet weld :

F 1,414h

h

F h las

F

Gambar. 2.5 Sambungan bermomen.
Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

41

karena ada 2 bagian yang di las, maka luas permukaan leher las = (2). (0,707 h  ) 1,414 hl tegangan geser rata-rata τ = F 1,414hl

Puntiran pada sambungan Las :

F

Reaksi pada kantilever selalu terdiri dari garis lintang V dan Momen M, akibat gaya lintang timbul tegangan geser primer : τ“ = V A

Momen yang terjadi akan menimbulkan tegangan geser sekunder atau torsi, τ“ = Mr J

r adalah jarak dari titik berat terhadap titik pada las. A adalah luas penampang leher dari seluruh las J adalah momen inersia polar terhadap titik berat

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

Sambungan

42

Bentuk Las

Penampang Leher

Lokasi G x =0

Momen inersia dalam persatuan lebar leher d3 Ju = 12

d G y b

A = 0,707 hd

y = d /2

d y x

A = 1,414 hd

Nofriady Handra – Buku ajar elemen mesin

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->