Goenawan Mohamad

Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog

goenawanmohamad.com dagdigdug.com publikasi ulang (pdf) @ iv • mmix © hak cipta dilindungi oleh undang-undang

Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog

1

SEBUAH RUANG DENGAN DUA PERMUKAAN. DI ATAS TAMPAK SEBUAH KATIL TERTUTUP KAIN. DI BAWAH: SEBUAH GAWANGAN DENGAN BANDUL, SELEMBAR MORI DUA KACU YANG SUDAH SEBAGIAN DIBATIK, SEBUAH DINGKLIK, SEBUAH WAJAN DI ATAS ANGLO, SEBUAH TEPAS. SELEMBAR TAPLAK. BEBERAPA CANTING. SEBUAH BANGKU. DI LATAR BELAKANG BISA DITAMBAHKAN LAYAR, TEMPAT DIPROYEKSIKAN SATU ATAU BEBERAPA FOTO HITAM-PUTIH, DARI TAHUN 1945-AN. ATAU TAK PERLU APA-APA. PEREMPUAN ITU 33 TAHUN. NAMANYA SURTI. SENDIRI. __ BUNYI KECREK. Saya ingin bercerita panjang. Saya hanya bisa melakukannya jika saya sendirian, seperti sekarang, ketika rumah kosong. Saya ingin mengatakan tentang satu hal yang tak pernah bisa saya katakan dengan lurus. Saya selalu bingung di mana awalnya, di mana akhirnya. Barangkali semua cerita seharusnya demikian, tapi saya tahu saya harus memilih. Tidak gampang. Tidak gampang. Tapi mungkin lebih baik saya mulai dengan tiga ekor burung ini. Tiga sawunggaling. Lihat, mereka sudah terlukis pada kain mori itu, selembar tiruan corak Cirebonan, meskipun belum juga selesai. Sayalah yang membatiknya. Yang satu bernama Anjani, yang kedua bernama Baira dan yang ketiga Cawir. Supaya mudah diingat. Seperti dalam alfabet: A – B – C. Mereka-lah yang menemaniku selama ini. Tiap malam mereka hinggap di dahan pohon asam yang saya goreskan pada lembar mori ini seminggu sebelumnya. Ya, di sini. Lihat. Mereka hinggap sabar di dekatku, sejak empat hari sebelum suamiku ditembak mati.

Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog

2

Saya kira Anjani dan kedua temannya tahu. saya tak ingin membuat mereka merasa sungkan. Atau lebih baik saya katakan. melepaskan diri dari kain mori. saya kira saya toh masih bisa membatik lagi. tiap makhluk.Saya tak yakin apakah mereka melakukan itu karena merasa berutang budi. dan orang takut ditangkap. tiap jam tiga pagi – saat saya tertidur di dipan itu — mereka mengerahkan tenaga. Saya selalu merasa mendengar jendela dibuka hati-hati. Ini semua saya kerjakan karena saya harus mengisi waktu. Amat menyenangkan. Sudah dua belas hari lamanya tentara musuh menduduki kota ini. punya hak berjalanjalan. Kepada Baira warna biru laut Selatan. Saya percaya itu. Tapi sudahlah. Dan saya bersukur. Pendeknya ketiga ekor burung itu. dan Cawir mungkin ungu. Membatik itu membiarkan semuanya berjalan sendiri. dan terbang ke luar. Saya tidak mau menentukan waktu. Saya menyukai mereka. Jika itu terjadi. mengikuti pola. Mungkin canting itu yang mendatangkan mereka. kalau pun mereka tak mau kembali lagi. mereka bukan lagi sekedar garis dan titik yang keluar dari canting – gambar-gambar yang diam. mereka tak merasa asing. Kepada Anjani saya janjikan warna merah kembang sepatu. Tidak perlu. Buat apa? Membatik itu kesabaran. Seperti bercerita – tak jelas mana yang seharusnya awal. sudah dua belas hari lamanya pasukan gerilya mencoba menghalau mereka. Saya beruntung karena burung-burung ini ada di sini. Membiarkan daun- Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 3 . mana yang akhir. Malam seperti ini siapapun membutuhkan teman. seperti saya katakan tadi. tapi saya tak sepenuhnya bangun. Bukan saya. Saya bukan pembatik. Saya tahu mereka akan pulang sebelum matahari terbit. Lagipula. Mengapa pula mereka harus berutang budi kepada saya? Tak perlu. Sering saya terlalu capek dan tak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang tidak. dan sayap mereka berkebat. Saya cuma meletakkan cucuk canting ke kain. Saya tahu. di hari-hari seperti ini. Saya tidak tahu kapan kain ini akan selesai. Kamis yang lalu ada tembak menembak di utara pasar. Saya beruntung. saya ikhlas. dan orang merasa lebih baik tinggal di rumah. juga yang lahir dari canting kecil ini. menemaniku.

Baira? Saksi di hadapan siapa? Ya. saya juga tidak tahu. Ia akan . Dan itulah yang menyedihkan. SURTI DUDUK DI DINGKLIK. BUNYI KICAU BURUNG. burung datang. Lobang yang diterobos peluru itu biar saja begitu. membentuk diri jadi kawung atau parang rusak.daun muncul. Ia akan saya pakai sendiri. benar Baira. kata orang-orang tua. kematian suami saya bukan sesuatu yang spesial. jenazah suami saya tak dimandikan. tapi saya tak yakin Tuhan perlu saksi. Meskipun saya tak begitu yakin saya bisa menyimpulkan. BISA DITAMBAHKAN SUARA ABA-ABA. Saya tidak bisa mengatakan. Apa kau bilang. SUARA DERAP SEPATU PASUKAN BERBARIS. ya. LAMAT-LAMAT . PEREMPUAN ITU MENIUP CANTING. Bagi Tuhan tak ada yang luar biasa. Mungkin kalian perlu tahu. sudah saatnya saya perlu bicara sedikit tentang suami saya. kata mereka. Selama beribu-ribu tahun berjuta-juta orang sudah mengalaminya. dan kelak saya akan mewariskannya ke Nanik. SEBENTAR. Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 4 . Itu yang jadi saksi. Sudah saya janjikan pada Anjani. MAKIN LAMA MAKIN MENJAUH. dan baris-baris menjalani nasibnya. Benar. anak saya satu-satunya.jadi pengganti kain lama yang dipakai membersihkan darah dari kepala jenazah. yang menangkapnya sebagai musuh dalam perang – itu hal yang sama sekali tidak istemewa. Tidak perlu. Cawir. Dan mengapa pula Gusti Allah harus repot? Pada suatu malam seorang ditembak mati oleh seregu serdadu. Darah yang masih basah di pelipisnya itu hanya diusap agar tidak menutupi muka. atau jadi sebuah gambar daun pakis. Mereka bilang Tuhan. kain ini tak akan saya jual. CAHAYA MEREDUP.

Saya tak tahu apa yang terjadi setelah ia sampai di titian itu. ia berjalan melompati genangan air. Untuk mencari mimpi. dan di saat itulah mimpi datang. kakeknya telah menaklukkan para gendruwo. Ia memang kadang-kadang melakukan itu: mencari mimpi. “Aku akan mencari mimpi”. Ada tetangga yang melihatnya melewati titian dari batang nyiur di selatan itu. Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 5 . Dengan daun-daun. memberinya arah apa yang harus dilakukannya – jika ada yang dapat dilakukannya.BUNYI KECREK. berpamitan. Ia bilang mimpi selalu memberinya isyarat tentang sesuatu yang akan datang. di bawah pohon randu itu. hantu perempuan menutup wajahnya yang menakutkan. menjelang tengah malam ia akan menghilang dari kamar. Ia pernah mengatakan. Ia akan tertidur satu dua jam. Ia jarang sekali bercerita kepada saya apa yang terungkap dari mimpinya. begitulah yang dikatakannya. begitu katanya. Ia mengenakan baju cina hitam dan sebuah caping gembala bebek yang lebar. Maka saya tak begitu peduli ketika malam itu ia keluar rumah. CAWIR: “Dari ketinggian 500 meter aku lihat suamimu. dan berbaring di sana di atas sehelai lampit. Tapi suami saya tak pernah takut diganggu mahkluk halus. yang tebingnya menakutkan. Ia menjawab. Tapi malam itu Cawir terbang lebih awal. Ketika itu saya berbaring dalam keadaan demam. Begini. sebab selalu ada hantu – selalu ada sesuatu yang seperti wajah perempuan kesakitan bergantung-gantung di sebatang dahan pohon lengkeng. Sore tadi hari hujan. Ia menyeberangi titian itu. Melihat dia. yang dibelinya di Semarang. dari pintu belakang. “Karena orang itu akan mati sebelum hari Sabtu”. Aku bertanya kenapa ia berbuat begitu. terkadang lebih. Cawir-lah yang kemudian bercerita kepada saya. pergi ke sebuah sudut di kebun. Dengan kasutnya yang tua. ia tampak berjalan ke luar rumah. Empat hari sebelum suamiku ditembak mati di lapangan dekat markas itu. persisnya 15 jam setelah suami saya ditembak mati.

Aku tak tahu apakah mereka berdoa. Seperti mencari jejak. atau bersemadi. membentangkan sehelai tikar pandan. aku tak bisa melihat apakah mata mereka terpejam. Lalu kedua laki-laki itu duduk berjongkok. Suamimu tentu saja tak melihatnya. Di dasar makam itu. Dua tikungan setelah pohon rasamala yang besar itu. Makamnya tak jauh dari sini. sahut suamimu. “Oh. ada pinggiran dari pualam. Aku tak tahu berapa lama mereka begitu. Seseorang telah menunggunya di sana. sudah lama menunggu?” . Ia berbaring di atas tikar di atas bidang marmer itu. Banyak semak dan ilalang di sekitar itu. bidang itu tampak kosong. ikuti saya. Lalu ia berjalan ke arah kiri.Bulan kelihatan rendah. Di sudut Barat ada sebuah kuburan yang jauh lebih besar ketimbang yang lain. Lagi pula ia berjalan dengan mata melihat ke bawah. Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 6 . Pak. “Belum. Seperti kaligrafi yang kaku. patah-patah. si juru kuncil. Ia terletak di sebuah pondok beratap genting. ‘kan? Mari. Di dekat gunuk. Capingnya yang lebar menutupi pandangan ke atas. juru kunci makam”. Dari tempat aku hinggap. Nisannya tinggi bertuliskan huruf Arab. Dari ketinggian. Pak Jen baik-baik saja. Jalan tipis itu akhirnya sampai ke sebuah pintu gerbang besi yang rendah. Malam terasa makin gelap. Aku dengar ia bertanya kepada suamimu: “Pak Jen? Saya Kusno. Di balik gerbang itu kulihat sederet kijing yang retak dan berlumut. ia berhenti. Di situlah Kusno.” Mereka berjalan searah dengan sebuah parit. Kepala mereka tertunduk. Lalu suamimu menyiapkan diri. Hanya kulihat di langit bulan makin sudah jauh dari gunuk ketika juru kunci itu meninggalkan suamimu sendirian.

CAWIR: Aku sebenarnya tak yakin. suami saya. Sudah beberapa belas tahun ayah berhenti jadi mandor pabrik gula Pajarakan. telah merampok air irigasi punya petani. SURTI: Tapi dia ke sana. apa yang didapat suami saya dari mimpi? Beberapa hari lamanya saya bertanyatanya. Kami dikawinkan dengan cara sederhana tapi rasanya penting benar hari itu. Selama empat tahun ia dihukum karena dituduh menghasut-hasut buruh kereta api.BUNYI KECREK SURTI: Apa nama kuburan itu? Pekuncen Sunan Jero? CAWIR: Aku tak tahu. mau mencari mimpi. Ia memang kawan ayah. kata ayah tentang suami saya. “Ia orang pergerakan yang baik”. Mungkin karena ayah hanya bisa bicara tentang politik kepada anak-anaknya. Ia selalu dipanggil “Jen”. Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 7 . Saya ingat. Apa saya yakin suami saya mencari mimpi? Terus terang. tapi nama sebenarnya Marwoto. ketika umur saya sudah 20 dan dia 27. Kami menikah tak lama setelah ia keluar dari penjara di Tegal. ia ke luar dari penjara dan esok harinya datang ke rumah orang tua saya: tubuhnya yang tinggi tampak tipis. Aku kira suamimu juga tak tahu. Cawir. haruskah saya mendengarkan pertanyaan Cawir itu. saya tak kenal betul laki-laki itu. kepada diri saya sendiri. Itu tahun 1934. tapi ia masih suka bercerita tentang perlawanannya terhadap Belanda-Belanda perkebunan itu – yang menurut ayah. Apa yang didapatnya dari mimpi? SURTI: Ya. terutama sejak ibu meninggal. Saya hanya mengenalnya selama beberapa minggu sejak ia bebas dan sering bertamu ke rumah kami. sudah lama ia jadi kepala kantor lelang ikan. meskipun umur mereka berbeda seperempat abad. tapi matanya memandang tajam. Saya tak tahu kapan mereka berkenalan. Ayah menyukainya.

Ah. Dari Taman Siswa. Ketika kami menikah. setelah kami kawin? Saya tidak tahu. katanya. SURTI DUDUK. dan membuat ranting tempat ia nanti hinggap. Leleh malam ini tak begitu bagus. mereka diam. Sejak itu. Tapi kemudian pasukan Belanda datang lagi. Ia tak menterlantarkan anak isterinya. Apakah saya mengenalnya betul. Ia bekerja jadi pegawai adiministrasi sekolah Taman Siswa di dekat kantor wedana. Ia tak banyak bicara. Saya bersukur ia masih mau membeli batikan saya. Cawir tak yakin bahwa itu soalnya. tapi saya senang Nyah Oei masih mau membantu saya dengan mori yang sudah diolah. biarlah. Tampaknya ayah dan ibu saya tahu menantunya berdusta. Sampai Jepang datang. MENUTUPI PANGKUANNYA DENGAN TAPLAK MENGAMBIL CANTING DAN MENCELUPKANNYA KE DALAM MALAM. dan kota kami diduduki. Sampai kami bisa mengibarkan bendera Merah Putih di depan rumah. hanya ada seorang yang disebut sebagai kakaknya yang mendampingi. Kemudian saya tahu laki-laki itu bukan kakaknya. Sekarang saya ingat: saya tak pernah diperkenalkan kepada orang tuanya. Saya tambah rajin membatik. Dua orang pengobeng dari Pasar Pagi itu sudah jarang datang. Ia mengerti saya tak tertarik kepada soal-soal pergerakan. Malam ini saya akan menambah titik-titik pada sayap Cawir. Entah kenapa.Mas Jen berbeda. tapi tak tahu apa. Tapi mungkin juga ia mengira saya tak akan paham – meskipun saya lulus HIS dan dia tidak. tapi jauh di Sumenep. Tapi ia suami yang bertanggungjawab. Sampai kami punya Nanik. suami saya sering tak pulang. Tapi saya ingin membatik – saya takut sesuatu. Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 8 . Ia hanya bilang ayah dan ibunya masih hidup. LAMPU REDUP. suami saya tak menerima gaji lagi. Ia mencari mimpi. Saringannya sedikit rusak.

warnanya coklat gelap. entah ke mana. pelan. mungkin enam. Tak begitu jelas. aku melesat ke sini. hinggap di atas pokok nyamplung. Sebagian besar tertidur. Tetesan terakhir canting itu menyengat. Hanya dia dan seorang lakilaki yang bertopi baja yang tak membawa bedil.KETIKA TERANG PELAN-PELAN KEMBALI. Aku terbang lebih dekat. Mereka menyeberangi kali dari arah dusun nelayan di Timur Laut. unggas yang kelak akan berwarna merah kembang sepatu. Pasti banyak korban di tempat tentara pendudukan itu. Dari balik pedati-pedati pengangkut balok jati yang diparkir di lapangan bekas pabrik gula itu tampak tiga orang merangkak. Dari sana kuketahui. SURTI BERDIRI DI TENGAH PANGGUNG. Sebagian duduk. Surti memberiku nama Anjani. bermain kartu atau membaca. Lalu sebuah lagi. di bawah udara terbuka. Aku sebenarnya tak menyukai terbang malam – aku lebih menyukai hangat di sela-sela angin. Sawunggaling pertama. menyesakkan. Dan aku bisa melihat macam-macam. tapi aku tak mau melihat. BUNYI KECREK. dalam pakaian serdadu dan bersenjata. maju ke arah bangunan sekolah dengan halaman yang luas itu: di sana sejumlah laki-laki berkulit putih. seperti tanpa henti. mengenakan baju yang ditungu. Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 9 . Salah satu dari mereka seorang perempuan. ke arah yang tak tentu. Mungkin lima orang. Dari sini pula kemarin malam kulihat orang-orang itu bergerak. dan perintah dalam bahasa yang tak kukenal. Tapi aku tahu mereka bukan pencari ikan. lalu terdengar teriakan-teriakan kesakitan. Beberapa belas menit kemudian sebuah granat meledak. Tapi tiap lewat tengah malam. Mereka tak berbicara. Kanji pada mori itu masih kaku. satu demi satu. Beberapa saat senyap. Pucuk mahoni ini punya dahan dengan lengkung yang menyenangkan. membuat bivak. Ada lagu siul. marah. Cawir dan Baira biasanya sudah lebih dulu terbang. Yang kulihat hanya nyala mesiu dari laras bedil: tembakantembakan yang panik. Tiap jam 4 pagi. mereka – satu demi satu berangsur-angsur muncul di tebing Barat di tepi desa Milingan — semuanya berenam. aku tak betah melekat pada kain di gawangan.

BUNYI KECREK. Satu demi satu ketiga gerilyawan itu terjungkal. seperti biasa. aku cepat-cepat terbang pulang dan hinggap di dahan mempelam dekat dapur. Aku gugup. Cahaya matahari pucat. aku ngeri. Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 10 . Anjani? ANJANI: Aku tak melihatnya. dan dengan cepat bertengger di gawangan ini. Tapi pagi datang. ANJANI: Kau selalu percaya kepadanya. Kucoba menenangkan napas. SURTI: Mungkin Cawir tahu. Mereka lari membungkuk berbareng sekaligus. SURTI: Mengapa aku tak bisa percaya kepada Cawir? Mengapa saya tak bisa percaya? Empat jam setelah Anjani kembali. Kali ini mereka tak merangkak. Mereka rupanya tak melihat lima orang tentara Belanda berjaga di antara rumpun bambu petung yang lebat empat meter di luar halaman sekolah itu. Cawir muncul. Tapi mereka tak bisa jauh melangkah. Saya kepingin bertanya lebih jauh. Cawir hilang dari ruang ini. Ia kembali ke dalam gambar. SURTI: Kau tak lihat suamiku di sana. katanya. Serdadu-serdadu itu menembak. ke selatan dan timur. “Aku melihat suamimu”. sebelum masuk lewat jendela dan melekat ke kain mori kembali. samar-samar tampak tiga orang gerilya itu bergerak kembali dari sebelah semak-semak lima meter dari kedua sisi bivak.Bersama itu. Kali ini serentetan tembakan yang lebih teratur terdengar. meskipun kini sinar itu seperti memasuki langit yang makin kosong. BUNYI KECREK. Surti. Aku ingin tidur.

Saya selesaikan bagian isen-isen. Ia hanya berbantalkan sebuah bundelan — tampaknya setumpuk buku. waktu itu aku merasa sesuatu akan terjadi.Dan saya tertidur. Dia tetap tak mau. kembali di kuburan itu. Ia mengenakan baju surjan yang bergarisgaris gelap. suamimu. Surti. Tak lama kemudian. dan berbaring menelentang dengan mata terpejam. Aku tak tahu dari mana ia datang. Tapi aku tak tahu pasti. Saya mengantuk. Ia membungkuk memandanginya. aku sudah hinggap di atas pokok kamboja yang menaungi makam wali yang dihiasi kaligrafi patah-patah itu. yang amat rumit. Tapi Cawir tak juga hendak bercerita. tapi mungkin juga pakaian — yang menopang bagian atas lehernya. Dan ketika saya guritkan setitik malam di dekat paruhnya. hingga kepalanya setengah tegak. tiba-tiba. kulihat seorang perempuan muncul dari dalam gelap. Tak ada tikar pandan di bawah tubuhnya. Saya pandangi Cawir. Ia semampai dengan rambut yang dijalin panjang. kalau tidak dari rumah ini. Apakah perempuan itu sebuah mimpi? Aku kira tidak. Entah kenapa. Ia berdiri di sebelah Jen. sampai mata saya lelah. Kulitnya hitam manis. BUNYI KECREK CAWIR: Ketika esok malamnya Jen. Surti. Saya pun pura-pura tak peduli. suamimu. Ia mengenakan kain jlamprang dengan warna yang tampak tua. meneruskan batikan sampai menjelang pukul 12. Inilah ceritanya. Saya membujuknya. Ia mulai bersuara. menunggu. saya dengar ia menghela napas. seperti ada yang hendak dikatakannya. Saya menyerah. Tangan kanannya memegang sebilah keris yang masih disarungkan. Dan benar. saya duduk di dekat gawangan. BUNYI KECREK SURTI: Siapa dia? Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 11 . Kali ini ia tak ditemani juru kunci. Malamnya. tak kuketahui dari sisi kiri atau dari sisi kanan kijing. Sampai tengah hari.

Perempuan itu pun bersimpuh di depannya. lalu sebuah arloji saku. suami saya bangkit dari posisi berbaring dan duduk setengah bersandar ke kijing. katanya sambil memberikan kedua benda itu ke tangan Jen.” katanya lagi. dengan beberapa lobang luka di kepala dan di leher. Ia seperti tahu ia akan mati tertembak. Atau itu hanya pernyataan yang tak menjawab apa-apa. Tapi suamimu membukakan matanya. Aneh juga rasanya – tapi seluruh malam itu memang tak lazim.” Dan pada saat itulah seakan-akan tubuh perempuan itu terangkat dari tanah. sebelum berangkat ikut serangan. “Tak ada yang bisa menyelamatkan mayatnya?”. “Penduduk di dekat pantai kemudian hanya menjumpai jenazah Widi dan Jumhana terapungapung di muara. memandang dengan tajam. agaknya ke arah wajah perempuan itu. dan dari situ ia keluarkan sepucuk pistol Colt. perempuan itu menjawab. dan berkata dengan suara berat: “Seluruh wilayah ini berbahaya. “Ini yang ditinggalkannya untukmu”. BUNYI KECREK SURTI: Itukah jawabannya? CAWIR: Mungkin. Tentara Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 12 . Ia membuka tas pandan yang tadi disandangnya. Kudengar ia bersuara. Pelan-pelan perempuan itu menambahkan: “Tatam gugur sehari setelah ia berumur 23”.CAWIR: Aku tak pernah melihatnya. “Tak seorang pun tahu di mana mayatnya”. tanya Jen. SURTI: Ia mengatakan sesuatu? CAWIR: Aku tak tahu. “Itu pesannya kemarin malam. jelas tapi halus: “Aku tak bisa takut lagi”. Kata Cawir lagi. katanya lagi.

Mungkin itu yang membuat kamu tidak bahagia: selalu ada alasan. “Aku yang bersalah – aku meninggalkan anak muda yang mau mengorbankan semuanya.Belanda membuang mereka ke sungai. Kesepian itu mungkin juga berahi. ia setengah tersedu. Aku tak bisa memaafkan diriku: aku selalu memaafkan kamu. Ketika kamu mendekatkan tubuhku ke tubuhku buat pertama kalinya. Aku selalu melihat ada alasan dalam lakumu. “Kamu tua bangka yang merebut perempuan yang dicintainya. dan aku merasa tak punya siapasiapa lagi.” Jen terdiam. Kamu komandan gerilya yang ganjil. Entah kenapa aku terpikat oleh ketidak-bahagiaanmu itu. Kamu serakah dan tidak adil. aku memilih kamu. perempuan yang diharapkannya – sementara kamu sudah beranak-istri. Aku terhanyut. aku ingat kamu berkata: “Aku seorang pesimis yang tak bebas.” Jen terdiam. selalu ada tujuan.” Perempuan itu menutupi wajahnya dengan telapak tangan. yang harus membuat kita menang” – dan aku luluh. seorang yang seharusnya tak dilindungi siapapun lagi. “Aku tak bisa memaafkan diriku”. “Dia bilang kamulah orang yang paling dia benci.” Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 13 . “Kamu mau tahu apa yang dikatakan Tatam dalam perjalanan ke arah bivak Belanda itu?” Jen hanya diam. selalu ada tujuan. seorang yang semestinya mencegah hidup Tatam dan anak muda jadi cerita keberanian. seorang tua yang seharusnya mati.” Jen terdiam. “Tatam gugur dengan sakit hati.

Wilayah ini berbahaya. CAWIR: Ya. buat apa? Untuk mengingatkan bahwa aku juga harus mati? Aku tak akan menyimpannya seterusnya. Aku tak bisa melihat apa-apa. Ajaib. Kemudian aku dengar suaranya: “Tatam memberikan pistol dan arloji ini kepadaku. Aku tak melihat mereka lagi. BUNYI KECREK SURTI: Dan kau tak melihat mereka lagi. Untuk beberapa lama suamimu tetap saja tak berkata apapun. Surti. Surti. Aku ingin tidur. SURTI: Perempuan itu menangis? CAWIR: Tak jelas. Seluruh makam jadi putih sebagian dan biru-hitam sebagian. bahkan juga dahan kamboja di kakiku. Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 14 . Cawir. sebab aku seperti mendengarnya dari nisan-nisan lain yang mengisi ruang pemakaman. Ia meletakkan kepalanya ke lutut Jen dan Jen mengelus-elus rambut itu. Lalu kulihat suamimu mencabut keris yang ada di tangannya. Sebagian lain seakan-akan seperti dicelup nila: amat gelap. Aku tak akan bisa pergi. Sebagian ruang seakan-akan selembar kain mori pucat yang belum selesai dihiasi goresan pensil. bulan jadi hilang.BUNYI KECREK SURTI: Siapa perempuan itu? CAWIR: Aku tak tahu. tapi mungkin bukan. Biarkan aku tidur.” Pada saat itu kudengar suara sedu sedan – mungkin suara itu datang dari perempuan itu.

Menakutkan. Di tempat tidur saya membaui harum yang tak lazim di tubuhnya. dari mana harum itu. ataukah ia mandi dalam air kembang seperti kadang-kadang dilakukannya di dekat sungai. Baira? “Yang menemui mimpi. BUNYI KECREK Apa yang kau katakan. memotong-motong. melupakan sebagian-sebagian. KETIKA LAMPU PELAN-PELAN KEMBALI TERANG. “Semalam aku tidur di sebuah makam wali”. Tidur adalah mori putih yang menampung semuanya tanpa pola: garis-garis ruwet. suami saya pulang dari kepergian malamnya. LAMPU REDUP BUNYI KECREK LAMPU TERANG KEMBALI Tiga jum’at sebelum ia ditembak mati. Wajahnya pucat. “Dan mimpi itu datang. KITA LIHAT SURTI DUDUK DI SEBUAH BANGKU AGAK JAUH DARI GAWANGAN. Aneh.” “Mengapa menakutkan? Mengapa mimpi itu penting?” “Kami akan kalah. Kau katakan lagi.LAMPU REDUP. ukel naga yang ke sana ke mari. perempuan manakah yang baru ditidurinya. saya tak akan dapat jawab yang membuat hati tenang. akan membentuk mimpi. menyembunyikan. Tapi kita coba juga menceritakannya – dan kata-kata kita pun membentuk. Saya tahu.” Kau benar. katanya tanpa saya tanya. bahwa kita masih yakin bahwa mimpi itu tak berubah. Tapi saya tak mau bertanya. mimpi itu seperti pringgondani.” “Siapa ‘kami’?” “Gerilya” Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 15 .

Laut bergelombang. Tapi tiba-tiba saya jatuh terduduk. makin tak ingin saya kenal. Sambil berkata itu. “Bersimpuhlah!”. Menjelang fajar. tapi pelan sekali dan orang tua itu berseru. Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 16 . di samping saya. Jung itu bergerak mendekat ke pantai. Orang tua itu berkata lagi. Sesuatu memukul tubuh saya – ketika saya menengok. saya begitu mengantuk. Tapi salahkah dia? Saya mulai berpikir. halo. Saya merasa. Tiba-tiba dari telapak tangannya tiga burung mandar terbang. “Halo. Saya tertidur di dipan di luar kamar. suami saya.Tapi ia tak mau bercerita lebih lanjut. menyilaukan. dari balik teluk. hujan agak deras. Saya berdiri. Mengisi pola tiik-titik itu seperti tak habishabisnya. Saya diam. Saya harus membatik. di ancik-ancik yang agak tinggi. dengan sayap yang besar. bersiap menerimanya. Mungkin Jen tak bersalah. Tak bisa tidur. Yang akan mati berdiri di sisi yang berbeda – dan saya tak ada di sana. Melelahkan. Saya lari ke dekat ombak dan bereru. Ada sekitar 20 orang mendayungnya. Di paruh mereka ada biji nangka yang kuning mengkilap. berbaring di sebelahnya. katanya. melambailambai ke arah saya. halo”. menabrak burung-burung mandar yang datang itu. dan kau harus makan”. untuk banyak orang yang akan hidup. berjalan menuju gawangan. Hanya ada beberapa orang yang akan mati dalam perang ini. saya lihat seorang tua. Saya bangkit dari ranjang. saya lihat Baira muncul. atau dengan kata-kata semacam itu. “Akan kuberi kau tiga butir nangka yang manis. Tapi saya sakit hati. Ada rasa marah dalam hati. Ada sebuah teluk. saya tak termasuk dalam kelompok yang disebutnya sebagai “kami”. Saya kedinginan. menyerbu. Di bawah tiang utama. berjubah ungu gelap. Pada dinihari itu saya mulai lagi nyeceki. muncul sebuah jung panjang. Saya bersimpuh. Warnanya berapi-api. Tapi saya merasa berjalan jauh ke sebuah pesisir. Laki-laki di sebelah saya itu. sampai dinihari. Tiba-tiba. “Jangan bergerak”. ia meloncat.

Akan selalu ada orang yang berdiri mengamati kamarmu. Pada tanggal ke-14 bulan Puasa. “Akulah Jatayu.“Baira!”. Dipegangnya telapak tangan saya. Ombak makin besar. SUARA KECREK Aneh. Saya lihat jung itu bergerak menjauh. Sesuatu melukai sayapnya. “Apa yang kau lakukan?” Baira tak menjawab. dan saya terbangun. saya berteriak. Wajahnya sedih. dan orang tua berjubah ungu itu melambai-lambai. Saya peluk sawunggaling yang luka itu. saya lihat Baira jatuh. terdengar ia berkata. SUARA TRUK DAYANG DAN BERHENTI. Saya peluk Baira. Saya lihat sejenak ketiga burung mandar itu terpelanting – tapi segera sesudah itu. Semua orang merasa diawasi mata-mata musuh. Saya takut. Jen saya dapatkan berdiri di pintu kamar. Ia bertopeng: kepalanya tertutup sebuah kantung bantal dengan sepasang lobang pas pada matanya. Saya menjerit. Tapi mereka kugagalkan. Hujan makin lebat. Darah mengalir dari belikatnya. tapi seperti tak sampaisampai. Ketika saya ceritakan ini kepada suami saya. dan mereka Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 17 . Di udara itu ia bertempur. Saya lari ke arahnya. Matanya redup.” Saya menangis. burung yang menolong Sita”. tiga kali saya seperti melihat seorang lelaki berdiri di luar halaman rumah. Tapi saya tak tahu apa yang dikatakannya. Tapi aku tahu kau mau aku memakannya.” LAMPU REDUP. suami saya ditembak mati. Seminggu sebelum itu. ke tengah laut. dan saya tak akan lupa apa yang dikatakannya saat itu: “Kamu berikan tiga biji nangka yang amat manis kepadaku. orang yang mengenakan topeng. Aku harus pergi. supaya tak dikenali dan supaya kau tahu ada orang yang tak mau dikenali. memandangi kamar ini. LAMPU TERANG KEMBALI. “Mereka mengirimkan tiga peluru untuk membunuhmu. ia hanya mengatakan: “Kota ini ketakutan. Aku tak menyukainya.

seakan-akan tak sedang terjadi sesuatu yang luar biasa di sekitarnya. Saya menangis. Setengah jam mereka mencari. Malam sebelumnya sudah saya rasakan ada yang tak biasa sedang terjadi. Lewat tengah malam itu adalah senggama kami terakhir. dan teror itu topeng. Surti. Dari kamar tidur.berkeliaran di sekitarmu. Tapi ia seperti tak mau berhenti sampai saya menjerit dengan nikmat yang mengagetkan – dan ia berbisik: “Musuh ada di dekat rumah ini. tiga prajurit mengikat tangannya. Tapi mereka tak dapat menemukan suami saya. Persisnya. Saya juga tak tahu bagaimana ia bisa melarikan diri. Di dalam gelap pagi itu.” Tapi saya tak melihat khayal. Di bawah pohon asam kranji yang tua itu. lalu menghilang. tentara Belanda itu masuk. rahangnya tampak mengeras. Tapi saya lihat dia memandang saya dengan mata menyesali kenapa saya menangis. membuka semua lemari. tinggi. menyepak pintu ke arah dapur. ketika saya membuka pintu depan untuk mulai menyapu pekarangan. saya lihat dua orang tentara Belanda berdiri dengan senjata disiapkan di pagar halaman rumah kami. saya dengar bunyi sepatu-sepatu karet membuat langkah di jalan kecil tak jauh dari rumah kami. Suami saya pasti mendengarnya. Topeng itu teror. Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 18 . Saya peluk tubuhnya – ia berkeringat. menggebrak pintu ruang tempat suami saya menyendiri — sebuah kamar dengan gambar Bung Karno dan buku-buku. di depan pintu pada hari suami saya ditangkap. menggeledah. hanya semenit. pada tanggal ke-14 bulan Puasa. saya lihat orang bertopeng berdiri. Mereka mendobrak pintu kamar. hampir tak bergerak. Ia pucat pasi. dan sia-sia. sampai akhirnya orang bertopeng itu muncul lagi – kali ini di tengah rumah – dan ia menunjuk ke sudut kebun. Saya benar-benar melihat laki-laki itu memandangi kamar ini: tubuhnya kurus. mereka melihat Mas Jen duduk di bangku.” Pagi itu di depan pintu setelah pagar halaman. Pada pukul 7. Lima prajurit menariknya berdiri. topengnya putih. Saya berani bersumpah: ia muncul lagi sebentar.

burung sawunggaling datang dari sebuah benua yang terbelah. salah satu di antara mereka. “Suami nyonya orang komunis”. yang bertubuh kurus panjang. Kini saya bisa melihat matanya: mata itu bagus. lalu menunjuk ke tubuh yang berdarah itu: “Ada tiga lobang di kepalanya. Ia berbisik: “Bung Jen. Lihat. ditembak mati tadi malam. DALAM REMANG-REMANG KITA BISA LIHAT SURTI MEMBERSIHKAN CUCUK CANTING DENGAN SEHELAI IJUK. Menjelang senja hari ada tiga orang yang membawa pulang jenazah suami saya dengan sebuah dokar. suami Zus Surti. seorang yang tak hendak memperkenalkan diri dan hanya menyebut ia baru tiba dari Indramayu. Bulu-bulunya rusak. LAMPU MULAI TERANG.Ia dinaikkan ke dalam truk. LAMPU REDUP. Saya takut ia akan hilang dari mori ini. kata orang berkulit hitam itu. Ia berdiri miring di atas pola. Semuanya dirahasiakan. BUNYI KECREK. Mereka menyobek gambar Bung Karno dengan bayonet. MENGIPASI BARA PADA ANGLO. Yang kembali memasuki rumah kami justru beberapa orang Belanda dan seorang berkulit hitam. seakanakan hendak lenyap bersembunyi pada garis-garis parang yang gagal. Tiga butir peluru! Tiba-tiba saya teringat akan mimpi itu. dengan alis yang agak tebal. Paginya seorang datang. Saya tak tahu siapa yang merahasiakan dan kepada siapa kematian suami saya harus dirahasiakan. . tapi saya merasa. dan sejak itu ia tak kembali. Saya tak mengenal mereka. Lahar jadi cermin. adalah laki-laki bertopeng yang muncul ketika suamiku ditangkap. ada tiga butir peluru yang membunuhnya”. Dalam belahan itu ada lahar yang tiap pagi mengeras. Ia menunduk. Burung Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 19 . AGAR MALAM DALAM WAJAN ITU JADI CAIR KEMBALI. sayap Baira luka. BERSAMA BARA YANG MENYALA. Mungkin semua itu tak perlu. Saya menatapnya dengan tajam. Menurut nenek saya. tapi ia tak membalas tatapan saya.” Lalu orang itu pergi. mereka menggeledah dan mengambil buku-buku.

TELANJANG ATAU SETENGAH TELANJANG. Tiap kali kita memandangnya. PUTIH DIURAPI.sawunggaling adalah makhluk cermin. A-B-C harus lengkap. 4 Agustus 2008. Kalian lihat. dan kata-kata kita dipantulkannya kembali. gerak. bukan. LAMPU PADAM. Saya harus selesaikan ini. TERDENGAR SUARA KICAU BURUNG. Harus saya selesaikan. Mungkin itu sebabnya saya harus berhati-hati. Saya akan bersihkan saringan malam. Goenawan Mohamad • Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog 20 . KE BALIK PANGGUNG. Baira cacat? Saya harus memperbaikinya. IA BERJALAN MEMBELAKANGI PENONTON. saya akan pakai canting yang paling siap. DARI BALIK KATIL MUNCUL SESOSOK TUBUH LAKI-LAKI. wajah. LAMPU MULAI REDUP. __ Jakarta.