Tiraikasih website http://kangzusi.

com/

Karya : Achdijat Karta Mihardja

Atheis

Sumber DJVU : BBSC Ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih website http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/ http://dewikz.byethost22.com/ http://ebook-dewikz.com/ http://tiraikasih.co.cc/ http://cerita-silat.co.cc/

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

Riwayat Hidup Achdiat Karta MIhardja lahir di Cibatu, Garut, 6 Maret 1911. Tahun 1932 tamat dari Algemene Middelbare School "bagian Al di Solo. Ia juga mempelajari mistik (tarikat) aliran Kadariyah Naksabandiah dari Kiyai Abdullah Mubarak yang terkenal juga dengan nama Ajengan Gedebag. Kecuali itu belajar filsafat pada pater Dr. Jacobs S.J., dosen pada Universitas Indonesia, dalam Filsafat Thomisme. Tahun 1943 ia menjadi anggota redaksi Bintang Timur merangkap redaktur mingguan Peninjauan (bersama Sanusi Pane, Armin Pane, PF Dahler, Dr. Amir dan Dr. Ratulangi). Tahun 1937 pembantu harian Indie Bode dan Mingguan Tijdbeeld dan Zaterdag, juga sebentar bekerja di Aneta. Tahun 1938 jadi pimpinan redaksi tengah-bulanan Penuntun Kemajuan. Tahun 1941 jadi redaksi Balai Pustaka, sejak saat itu tumbuh minatnya kepada kesusastraan. Tahun 1943 menjadi redaksi dan penyalin di kantor pekabaran radio, Jakarta. Tahun 1946 jadi pimpinan umum mingguan Gelombang Zaman dan setengah mingguan berbahasa Sunda Kemajuan Rakyat. Tahun 1948 kembali jadi redaksi di Balai Pustaka. Pada tahun 1949 terbitlah roman Atheis-nya ini. Tahun 1951 bersama-sama Sutan Takdir Alisjahbana dan Dr. Ir. Sam Udin mewakili PEN Club Indonesia menghadiri Konperensi PEN Club International di Lausanne, Switserland. Saat itu ia juga mengunjungi Negeri Belanda, Inggris, Prancis, Jerman Barat, dan Roma. Tahun 1952 berkunjung ke Amerika dan Eropa Barat dengan tugas dari Dep. PP&K untuk mempelajari soal-soal pendidikan orang dewasa (termasuk penerbitan bacaan-bacaannya) dan 'university extension courses'. Kesempatan ini digunakan juga untuk mempelajari seni drama di Amerika Serikat. Tahun 1956 selama setahun

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

memperdalam bahasa Inggris serta sastranya di Sydney University dalam rangka Colombo Plan. Tahun 1960 menjabat Kepala Inspeksi Kebudayaan Djakarta Raya dan memberi kuliah pada FS-UI tentang Kesusastraan Indonesia Modern. Tahun 1961 menjabat sebagai Lektor Kepala pada Australian National University di Canberra, mengajar sastra Indonesia Modern dan bahasa Sunda. Sampai sekarang ia masih tinggal di Australia. Roman Atheis ini salah satu karya terpenting yang lahir dari tangan Achdiat K. Mihardja. Pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat kita yang terus berubah menjadi tema sentral roman ini. Masalah-masalah itu sampai sekarang masih relevan, walaupun roman ini telah berusia lebih 30 tahun dan telah mengalami cetakan yang ketujuh. BP—1.0021—90 ISBN 979 — 407 — 185 — 4 ATHEIS ATHEIS Roman oleh ACHDIAT K. MIHARDJA BALAI PUSTAKA Jakarta 1990 Perum Penerbitan dan Percetakan BALAI PUSTAKA BP No. 1725 Hal pengarang dilindungi undang-undang Cetakan kesatu — 1949

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

Cetakan — 1953 Cetakan — 1957 Cetakan — 1960 Cetakan — 1969 Cetakan — 1976 Cetakan — 1981 Cetakan — 1983 Cetakan — 1986 Cetakan — 1989 Cetakan — 1990 808.83 Mih

kedua ketiga keempat kelima keenam ketujuh kedelapan kesembilan kesepuluh kesebelas

Mihardja, Achdial K.

a Atheis : Roman / oleh Achdiat K Mihardja - cct -- Jakarta : Balai Pustaka, 1990 232 hal. : ilus. ; 21 cm. -- (Seri BP no. 1725) 1. Ceritera Roman. 1. Judul. II. Seri. ISBN 979 — 407 — 185 — 4 Perancang kulit: Supriyono Gambar dalam oleh S. Sutikho Kata Pengantar

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

Roman Atheis mengetengahkan perkembangan yang tipikal bagi masyarakat Indonesia sejak permulaan abad kedua puluh, yakni pergeseran gaya hidup yang tradisional ke gaya hidup yang modern. Pergeseran itu membawa serta perselisihan dan bentrokan antara paham-paham yang lama dengan yang baru, terjadi khususnya di lapangan sosial budaya dan politik. Perkembangan di dalam masyarakat itu tidak luput meninggalkan pengaruhnya kepada pengalaman batin manusia. Keresahan batin di tengah-tengah bergeloranya pertentangan paham di zaman penjajahan Belanda dan Jepang menjadi pokok perhatian roman ini. Atheis kini mengalami cetakan yang kesembilan. Hal itu menandakan betapa besar sambutan masyarakat pembaca kita terhadap karangan penulis terkenal Achdiat K. Mihardja. Kecuali itu, kita boleh berkesimpulan, bahwa penyajian tema dan struktur roman itu telah memenuhi harapan orang banyak akan hasil sastra yang bermutu. Balai Pustaka merasa gembira dapat menerbitkan kembali roman ini. Balai Pustaka Scanned book (sbook) dan pembuatan EBOOK ini hanya untuk pelestarian buku dari kemusnahan. DILARANG MENGKOMERSILKAN atau hidup anda mengalami ketidakbahagiaan dan ketidakberuntungan Bagian I Apa artinya sesal, kalau harapan telah tak ada lagi untuk memperbaiki segala kesalahan? Untuk menebus segala dosa?

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

Akan tetapi hilangkah pula sesal, karena harapan untuk menebus dosa itu telah hilang? Ah, bila demikian halnya, barangkali takkan seberat itu segala dosa menekan jiwa Kartini. Tapi tidakkah malah sebaliknya? Bahwa semakin hilang harapan, semakin berat pula sesal menekan? Sempoyongan Kartini keluar dari sebuah kamar dalam kantor Ken Peitai. *) Matanya kabur terpancang dalam muka yang pucat. Selopnya terseret-seret di atas lantai gedung yang seram itu. Tangan kirinya berpegang lemah pada pundak Rusli yang membimbingnya, sedang saya memegang lengan kanannya. Perempuan malang itu amat lemah dan lesu nampaknya, seolah-olah hanya seonggok daging layaknya yang tak berhayat diseret-seret di atas lantai. Serdadu-serdadu dan opsir-opsir Kenpei Jepang berkerumun-kerumun di gang-gang dan di ruangan-ruangan yang kami lalui. Semuanya kelihatannya sangat lesu juga. Serupa onggokan-ong-gokan daging juga yang tak berdaya apa-apa pula. Ada juga yang masih tertawa-tawa, seakanakan tidak mau dipandang sebagai onggbkan daging yang tak berdaya. Akan tetapi terdengar tertawanya itu dibikin-bikin. Dua minggu yang lalu mereka itu masih merasa dirinya singa yang suka makan daging. Kini telah menjadi daging yang hendak dimakan singa. Mereka telah hancur kekuasaannya oleh tentara Sekutu dan Rusia. Ya, sic transit glofia mundi! Di dunia tiada yang tetap, tiada yang kekal, tiada yang abadi. Segala-gala serba berubah, serba bergerak, serba tumbuh dan mati. Yang abadi hanya yang Abadi, yang tetap hanya yang Tetap, yang kekal hanya yang Kekal. Tapi apakah yang demikian itu manusia tidak

Berbuat jasa atau dosa terhadap sesama hidupnya. Kepalanya tunduk. sudah meninggal dunia? Kepada Tuhan? Karena Tuhan adalah sumber segala cinta. sedang waktu *) Polisi Militer Jepang tetap. . bila ia telah berjasa.com/ mengetahuinya. harus menyatakan sesalnya. sebab abadi. Terseok-seok Kartini berjalan. pabila orang terhadap siapa ia berbuat dosa itu sudah tidak lagi. Berpikir-pikir seperti saya jugakah singa-singa sekarang sudah menjadi onggok-onggok daging itu? Selop Kartini terseret-seret terus di atas lantai. Merasa bahagia. bahwa manusia ditetapkan oleh yang Abadi. Hidung terbenam dalam saputangan yang basah karena air mata. Terlalu terpukau rasanya oleh berita yang baru terdengar dua-tiga menit yang lalu itu. Bahwasanya manusia hidup di tengah-tengah sesama mahluk-nya. Akan tetapi kepada siapakah ia harus menebus dosanya. adalah pengertian ukuran. Terutama Kartini. yang melarang manusia berbuat dosa terhadap sesama mahkluk-nya? Tapi bagaimana caranya? yang .. Menebus dosa terhadap siapa ia berbuat dosa. Dan ukuran ditetapkan oleh manusia jua..Tiraikasih website http://kangzusi.. pengertian waktu. kekal itu adalah Hidung terbenam dalam saputangannya yang basah. Kami bertiga tidak berkata apa-apa. Padahal manusia beranggapan. Alon-alon Rusli membimbing perempuan yang lemah itu.

sekalipun hanya berkedip-kedip kecil seperti lilin tengah malam yang sedang tercekik lambat-lambat oleh gelita. Meminta cara oleh karena hidup di dunia ini berarti menyelenggarakan segala perhubungan lahir-batin antara kita sebagai manusia dengan sesama mahluk kita.. bahwa berbuat dosa itu adalah suatu perbuatan yang dilarang? Tapi bagaimana pula caranya? Sesungguhnya. setepat-tepatnya.tidak! Bahkan lima menit yang lalu masih ada api harapan bernyala dalam hati Kartini.. Kini harapan itu sudah mati sama sekali. semua itu meminta cara. jika kami berdua tidak menopangnya. Dan penyelenggaraan semua perhubungan itu meminta cara. Tak ada lagi pegangan baginya. dengan Alam beserta Pencintanya. Kami meninggalkan gedung yang seram itu. tapi pun sepraktis-praktisnya dan semanfaat-manfaatnya bagi kehidupan segenapnya. Rupanya badan .. Cara yang sebaik-baiknya.Tiraikasih website http://kangzusi. Terhuyung-huyung masih Kartini... seadil-adilnya.. Habis tak berbekas.. Hampir terjatuh-jatuh Kartini ketika ia turun dari tangga gedung itu. Harapannya telah hilang sama sekali.com/ Kepada manusia-manusia lain? Karena manusia-manusia itu sama sependirian. Demikian saya berpikir sambil menopang Kartini yang lemas terseok-seok itu. Hasan ternyata telah meninggal dunia. Kami menginjak halaman. Hilang menipis seperti uap. Tergores-gores tanah bekas selop yang diseret-seret. Sejak lima menit yang lalu. Beberapa menit yang lalu hal itu baru diketahui oleh Kartini. seindah-indahnya. Satu jam yang lalu.

kalau Hasan masih ada. Mereka merunduk kembali. makin menindas. berpuasa. apabila ia menggontai ke sebelahku. Tapi sejurus kemudian muka-muka kuning yang bermata sipit itu berpaling lagi dengan tak acuh. Tak ada lagi orang. Malah sebaliknya! Makin membesar. Selaku orang sakit oleh seorang juru rawat. serba kabur seperti di dalam mimpi. Bercucuran air matanya. kepada siapa? Kepada siapa? Dan sesal tiada berkurang karena bertanya demikian itu. makin menekan. Tapi sekarang?! Sekarang?! Bersembahyang. kepada siapa ia hendak memperlihatkan sesalnya yang begitu berat menekan jiwanya selama itu. Suaranya menggores tajam dalam hatiku seperti suara paku di atas batu tulis. segala sesalnya akan mudah diperbaikinya.com/ Hasan yang lemah berpenyakit tbc itu tidak sanggup mengatasi segala siksaan algojo-algojo Kenpei yang kejam itu. akan tunduk dan taat kepada segala perintahnya.Tiraikasih website http://kangzusi. Ia seakan-akan berpijak di atas dunia yang tidak dikenalnya lagi. segala dosanya akan ditebusnya. masih hidup di sampingnya. Saya mengintil di sampingnya. Kapan tewasnya? Entahlah. kosong. seolah-olah baru sekali itu mereka mendengar jeritan yang pedih itu. Sekali-kali kupegang lengannya. Hampa. Ya. . Di mana ia dikubur? Entahlah. bertapa? Akan leburkah segala sesal? Tiba-tiba Kartini menjerit-jerit. akan lebih berbakti kepadanya. Serdadu-serdadu dan opsir-opsir Kenpei Jepang yang berke-rumun-kerumun di muka gedung itu menoleh semuanya ke arah kami dengan agak kaget sedikit. Pendek kata. Alangkah mudahnya. demikianlah Kartini ditopang dan dibimbing oleh Rusli. Kartini akan lebih setia kepadanya.

bahkan sampai tiga rupiah?! Karena itu di samping menganggur saya menyatut.. sebab bagaimanakah orang akan bisa hidup dengan menganggur. ketika itu sudah memuncak sampai dua rupiah Ciang Jepang. Seperti biasa saya suka berpegang kepada kesan pertama." ujarnya ketika ia sudah duduk di hadapanku. untuk melipurkan segala kesedihannya. maka itu bagiku seperti ilham . "Ya. Ketika itulah perkenalanku mulai dengan seorang laki-laki yang memerlukan datang pada suatu sore ke rumahku. begitulah katanya.. tapi kemanusiaan lama. tapi rupanya kesempatan baru sekarang mengizinkan. Rusli berdaya upaya untuk membujuk-bujuknya." Bagian II Ketika itu saya lagi menganggur.com/ seakan-akan masing-masing meneruskan lagi pertanyaan dalam hati: nasib apakah yang akan kita dapati sekarang? Belum seminggu yang lalu pemerintahnya telah menyerah kalah kepada kekuatan kaum Sekutu dan Rusia. umur manusia singkat. lupakanlah segala kesedihanmu itu dengan lebih giat lagi bekerja. Bekerja untuk kemanusiaan.Tiraikasih website http://kangzusi. Tapi ah. Dengan payah iamengemukakan pendapatnya seolah-olah akan banyak faedahnya sebagai pelipur. Kalau kesan pertama itu baik. kalau harga beras yang dulu hanya 6 sen satu liter.. "Sudah lama saya ingin berkenalan dengan Saudara. dikatakan menganggur sebetulnya tidak begitu benar.. Kartini menangis terisak-isak.. Tin.

Simpatik semata-mata. "Ya. Ia melancarkan percakapanku seperti ilham melancarkan pena pengarang.. Mungkin kesan demikian itu disebabkan oleh karena seluruh sikapnya dan segala perkataannya melukiskan minat dan hormat terhadap diriku sendiri. ah entahlah saya selalu ingin berkenalan dengan orang yang telah banyak berpengalaman hidup.. maka tentulah saja tidak mengherankan benar." "Bagaimana?" tanyaku agak heran." "Ada apa sih?" Saya bertanya demikian itu dengan penuh harapan baik. kalau tak lama kemudian kami sudah bergaul seperti dua orang yang sudah lama bersahabat-an. sesungguhnya Saudara. karena . bahwa keriangan lebih terdengar dalam bunyi suaraku itu daripada rasa keheranan. karena merasa dirinya dibutuhkan dan dianggap penting oleh orang lain. dan juga orang-orang yang bersangkutan dengan dia. yang nanti akan .com/ bagi seorang pengarang. Dan kesan pertama dari laki-laki muda itu simpatik. "Tiada lain. (tapi baiklah saya ceritakan sekarang saja. . Ia bernama Hasan . Ternyata. sudah lama saya berharapharap akan adanya sesuatu kesempatan untuk berkenalan dengan Saudara. bahwa itu sebetulnya bukan nama benarnya. Tapi terasa olehku. Dengan perkenalan yang dimulai dengan cara demikian.. Memang bunyi suaraku pun seperti langgam suara orang yang riang dan bangga.Tiraikasih website http://kangzusi. bahwa ia segera mencurahkan seluruh kepercayaannya kepadaku.

Dan sebagai seorang pencari. Maklumlah ia berpenyakit dada. Artinya ia bukan seorang ahli pikir atau penyelidik yang radikal. Anwar dan lain-lain melainkan mereka itu mempunyai nama yang lain sekali. Dari gerak-gerik dan ucapan-ucapannya nampak. Rusli. rupa dan tampang Hasan pun biasa saja. Hanya badannya kurus. nama-nama benarnya diganti dengan nama lain). Tapi itu hanya kesan saja. Seperti biasanya pada malam hari. maka ia selalu terombang ambing dalam kebimbangan dan kesangsian. ia memakai mantel gabardin hijau tua yang tertutup lehernya. Seperti misalnya kepadaku sendiri. 2 Baru satu bulan saya berKenalan dengan Hasan. Sakit-sakit rupanya. bukanlah Kartini. Dia seorang pencari. merk . Baginya agaknya cukuplah sudah. sederhana.com/ ternyata kepada kita dari sebuah naskah yang diberikannya kepada saya. Kepalanya bertopi vilt hitam. yang sanggup menyelami dan memeriksa hal-hal yang menjadi soalnya itu sampai kepada akar-akarnya. Tapi suatu kesan pula. dan karena kurus itulah maka nampaknya seperti orang agak yang tinggi. kemudian aku tahu bahwa ia berpenyakit tbc). kalau dia dalam mencari itu banyak bertanya-tanya kepada orang-orang yang dianggapnya lebih tahu daripada dia. bahwa dia itu ada yang secfang diperjuangkan dalam batin. bahwa ia bukan seorang pencari yang baik. (Memang.Tiraikasih website http://kangzusi. Seperti namanya pula. Pada suatu malam datang lagi ia ke rumahku. Mata dan pipinya cekung. Tapi biasa saja di dalam suatu cerita Dichtung und Wahrheit seperti yang dibikin Hasan itu.

Hasan melihat saja kepadaku. Dan sambil melemparkan topinya ke atas sebuah kursi. Saya ingin sekali pertolongan dan nasehat Saudara. yang kira-kira seratus lembar folio banyaknya. dan penuh harapan saya mudah-mudahan Saudara mau menolong memeriksanya dan menerangkan segala kekurangannya. ketika ia sudah duduk di hadapanku dan membuka tali portefeuille itu. maka ia mengangguk dengan tertawa kecil. selaku seorang murid yang sedang diperiksa hitungannya. "Karangan siapa? Karangan Saudara?" Dengan agak heran bercampur kagum saya memandang ke dalam mukanya yang tersenyum-senyum itu. Celaka. Dan sebagai jawaban. karena saya ini seorang yang sangat besar punya hasrat untuk mengarang. saya ini seorang yang sungguh celaka. Kubaca-baca sedikit. Di bawah ketiaknya terkepit sebuah portefeuille. entah karena merasa megah. tapi tak ada sama sekali bakat atau kepandaian untuk itu. Mukanya makin pucat karena warna mantel dan topinya itu.com/ Borsalino." . Ia tersenyum. Itulah maka saya bawa karangan ini sekedar suatu percobaan. Demikianlah beberapa menit. "Apa itu?" tanyaku. Kuambil lima lembar yang paling atas. berkatalah ia. sambil memandang kepada kertas yang tertimbun di atas meja itu. Tapi akhirnya. "Sebetulnya bung. duduklah ia. lantas mengeluarkan dari dalamnya setumpukan kertas.Tiraikasih website http://kangzusi. "Karangan?!" kataku seraya membaca beberapa baris. entah karena malu. tempat surat-surat. atas pertanyaanku.

tegasnya oleh pembaca yang banyak jumlahnya.Tiraikasih website http://kangzusi. "Yang penting sih tidak ada. yang segar dan subur tumbuhnya berkat tanah dan hawa yang . bersembunyi di balik hijau pohon-pohon jeruk Garut.com/ "Kenapa Saudara ingin mengarang?" "Tidak. Akan tetapi justru karena jawaban yang demikian itulah. Apakah ada sesuatu hal demikian itu?" Hasan tersenyum lagi. Jadi semacam "autobiographical novel". Semalam-malaman itu saya baca naskah Hasan itu sampai tamat." Saya mengerti. karena kalau SaudaTa ingin mengarang tentu ada sesuatu yang menurut pikiran Saudara amat penting untuk diketahui oleh orang lain. seolah-olah berkatalah ia dalam hatinya. begitu saja. Hasan terlalu perendah hati untuk memberi jawaban yang lain bunyinya. untuk orang lain. terletak sebuah kampung." "Saya bertanya begitu itu." katanya kemudian dengan lembut setelah ia beberapa jurus hanya tersenyum saja. Inilah naskahnya. Rupanya ceritanya itu sebuah "Dichtung und Wahrheit" dengan mengambil sebagai pokok lakon dan pengalaman Hasan sendiri. Bagian III Di lereng gunung Telaga Bodas di tengah-tengah pergunungan Priangan yang indah. maka saya merasa lebih tertarik lagi oleh karangannya itu. "Alangkah bodohnya pertanyaanmu itu!" Saya agak malu melihat senyumnya. "artinya. Ini pun hanya sekedar belajar saja.

berpindah-pindah saja tempat tinggalnya.Tiraikasih website http://kangzusi. Yang kecil yang jauh lebih besar jumlahnya dari yang besar. adalah kepunyaan penduduk yang "santana". Di antara rumah-rumah kecil dan rumah-rumah besar dari batu itu. Sudah sedari kecil jalan hidup ditempuhnya dengan tasbeh dan mukena. Kampung Panyeredan namanya. Rumah-rumah demikian itu yang jumlahnya lebih banyak daripada rumah-rumah batu. Kampung itu terdiri dari kurang lebih dua ratus rumah besar kecil. Iman Islamnya sangat tebal. Ayah dan ibuku tergolong orang yang sangat saleh dan alim. seperti *) Kepala Sekolah Dasar (SD).*) Dengan pensiunnya yang besarnya hanya enam puluh rupiah. Tidak ada yang lebih nikmat dilihatnya daripada orang yang sedang bersembahyang. Mula-mula sebagai guru-bantu di kota Tasikmalaya. ada lagi beberapa rumah yang dibikin dari "setengah batu". Sebelum pensiun. artinya yang mempunyai tanah barang sehektare dua hektare. sampai pada akhirnya ia dipensiun sebagai manteri guru di Ciamis. sedang ke atasnya dari dinding bambu biasa. artinya lantainya dari tegel tapi dindingnya hanya sampai kira-kira seperempat tinggi dari batu. Ia seorang pensiunan manteri guru. Raden Wiradikarta. ke Banjar. ke Tarogong dan beberapa tempat kecil lagi. dan yang besar ialah milik petani-petani "kaya" (artinya yang mempunyai tanah kurang lebih sepuluh hektare) yang di samping bertani. . bekerja juga sebagai tengkulak-tengkulak jeruk dan hasil bumi lainnya. lantas pindah ke Ciamis.com/ nyaman dan sejuk. Di salah sebuah rumah setengah batu itulah tinggal orang tuaku. ia bisa hidup sederhana di kampung itu. adalah kepunyaan buruh-buruh tani yang miskin.

bersujud. Pada suatu hari ketika Ayah masih menjadi guru bantu di Tasikmalaya.com/ tidak ada pula yang lebih nikmat bagi penggemar film daripada menonton film bagus." Rupanya perkataan Ayah itu laksana jari yang melepaskan cangkolan gramopon yang baru diputar. Apa perlunya ia merobah nama dan memakai sorban. Kakak rupanya belum punya guru? Kalau begitu sayang sekali. beribadat dengan tidak memakai bimbingan seorang guru adalah seperti seorang penduduk desa dilepaskan di tengah-tengah keramaian kota besar seperti Jakarta atau Singapur. Tiga malam Haji Dahlan menginap di rumah orang tuaku. Memang baik Ayali maupur Ibu. maka mereka tidaklah mampu untuk melaksanakan pelayaran ke tanah suci. seorang haji dari Banten. ia kedatangan tamu. kita bisa mengucapkan usali sampai awesalam. rupanya tidak pernah menjadi pertanyaan baginya. Ujung cita-cita mereka mau menjadi haji. tapi tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh. "Kakak lihat adik selalu memetik tasbeh. Ayah berkata kepada Haji Dahlan. "O. sebab "piring hitam" bersorban itu lantas berputar dengan segera. Tapi oleh karena kurang mementingkan soal mencari kebendaan.Tiraikasih website http://kangzusi. Haji Dahlan. kalau kita tidak mempunyai pedoman untuk menempuh jalan yang paling . Ia akan tersesat. begitulah nama orang itu sesudah memakai sorban. sepulang berjumat dari mesjid. Pada hari kedua. akan tetapi apa faedahnya. Tak ubahnya dengan seorang supir yang tahu jalankan mobil. sambil duduk-duduk dan minum-minum di tengah rumah. masih famili dari Ibu. karena sesungguhnya Kak. Dulunya ia bernama Wiranta. Ya. bisa membungkuk. kedua-duanya keturunan keluarga yang alim pula.

Kak? Yang kita perlukan terutama isinya. bukan? Tapi biarpun begitu. maka sareat. Akan sempurnakah makanan itu kalau tidak berbungkus? Kan tidak.. hakekat dan makrifat. Sareat yaitu ibarat bungkus. bukan?" . Kak?" Banyajc sekali serta penuh dengan semangat Haji Dahlan menguraikan pendapatnya tentang agama Islam. Kita tidak mungkin dapat mutiara kalau tidak punya kafal dan tidak punya tenaga serta pedoman untuk mendayung serta menyelam ke dalam segara.. (Kadangkadang haji Dahlan mengucapkannya kafal.Tiraikasih website http://kangzusi. lebih baik saya ambil kiasan yang lebih tepat. Itulah maka sareat dan tarekat perlu kedua-duanya. tarekat yaitu. Bukan begitu. "Terima kasih. "Mutiara itu makrifat-hakekat. meneruskan. pakai f.. Sareat yaitu kapal. ialah tarekat. Dan Ayah segera mengisi lagi cangkirnya dengan air teh yang kuning kemerah-merahan ke luar dari cerek poci. minum. Kiasan mutiara misalnya.. Betul tidak.. isi pun tidak akan sempurna kalau tidak berbungkus. tujuan kita. "Apa arti bungkus kalau tidak ada isinya. malah tetapi kadang-kadang juga dikatakannya tetafi). Alhasil semuanya perlu ada dan perlu kita jalankan bukan? Kapal tidak akan ada artinya kalau kita tidak ada tenaga untuk mendayungnya dan tidak ada pula t edoman melancarkan ke jalan yang benar." kata Haji Dahlan. Ambil saja mentega atau minyak samin. tarekat. semuanya itu sama-sama perlu bagi kita. Atau pisang ini? (sambil mengupas sebuah pisang ambon yang sebesar lengannya). Tenaga dan fedoman kita untuk mendayung kafal dan kemudian menyelam ke dasar segara untuk mengambil mutiara itu." Haji itu berhenti sebentar. Oleh karena itu.com/ dekat dan paling benar untuk sampai kepada tujuan kita.tapi ah.

Bukan begitu. seperti tadi adik sudah katakan. artinya sareat. "Nah sekarang kita lihat diri Kakak. betapa asyiknya Ayah mendengarkan. Banyak tertawa. Barulah kita bisa sampai kepada makrifat dan hakekat. tarekat pun perlu. Yang masih aku ingat pula ialah janggutnya yang meruncing ke depan seperti janggut kambing benggala. bersila. bukan? Tapi pedoman. rupanya Kakak belum punya. < Ketika itu aku masih kecil. baru kira-kira enam tahun. Mutiara tidak akan bisa kita dapati. Kak? Padahal. . kemudian sesudah dewasa seringkah kudengar dari mulut Ayah sendiri. Dan tentu saja aku tidak mengerti apa-apa tentang percakapan Ayah dan Haji Dahlan itu. dan badannya agak condong ke depan. Jadi pun tarekat. Kakak sudah punya bukan? Yaitu aturan sembahyang yang Kakak jalankan tiap hari lima kali. Telunjuknya bergerak-gerak di atas tikar yang didudukinya membikin lingkaran-lingkaran dan bentuk-bentuk lain yang tak berbekas. makrifat dan hakekat itu.com/ Ayah mendengarkan dengan sungguh-sungguh. sebab dengan tidak ada pedoman. semua-muanya sama perlunya. Betapa mungkin! Dan kalau sekarang aku seolah-olah mengulangi lagi uraian Haji Dahlan itu." kata Haji Dahlan melanjutkan. sebetulnya hanya kukira-kirakan saja begitu. dan banyak bertanya: bukan?! di belakang hampir tiap kalimat. Duduknya rapi. Jadi sekali lagi. Rasanya takkan berbeda jauh uraian Haji *Dahlan itu dari apa yang kemudian suka dikemukakan oleh Ayah kepadaku. Tapi yang masih ingat sekali. sebab tentang soal-soal sareat.Tiraikasih website http://kangzusi. Sambil bercakap ia suka mengelus-elus janggutnya. yaitu tarekat. tarekat. ialah caranya Haji Dahlan bercerita. kapal tentu akan terkatung-katung. "Kapal. bukan?" Aku masih ingat.

. Tetapi sebaliknya. maka Ayah sudah bisa mengambil keputusan untuk turut berguru pada kiyai Mahmud di Banten. 2 Sebulan kemudian ayahku memecahkan celengannya. Ayah sendiri seperti seorang murid yang takut dipandang bodoh. sesudah mangkok dua kali ditambah dan piring kecilnya sudah penuh dengan abu dan puntung-puntung rokok. dan dengan uang yang ada di dalamnya itu berangkatlah ia ke Banten bersama-sama dengan ibu. dan biarpun banyak bertanya "bukan?". yaitu seorang guru tarekat atau mistik yang digurui oleh Haji Dahlan.com/ Ayah mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Kemudiaij disahuti pula oleh suara "eueueu" juga dari kerongkongan ayah. Depan masing-masing sebuah mangkok besar berisi kopi tubruk. yang segera disusul pula oleh ucapan "alhamdulillah". Kadang-kadang suara seropot itu disusul oleh suara sendawa "eueueu". Ia duduk bersila menghadap Haji Dahlan yang duduk di atas sehelai kulit kambing. Padahal rupanya banyak juga yang tidak dapat dimengerti oleh Ayah. Sekali-sekali kalimat Haji Dahlan terputus oleh suara bibir yang menyeropot air kopi yang masih panas. atau justru karena banyak bertanya "bukan?". sedang gondok lakinya naik ke atas serentak dengan lehernya yang memanjang. Haji Dahlan sangat lancar bicaranya. seperti seorang guru yang masih hafal pelajarannya. seraya tak ada hentinya memetik-metik tasbeh hitam. Jarang-jarang Ayah mengemukakan sesuatu pertanyaan. tak berani bertanya sesuatu. Pendek kata.Tiraikasih website http://kangzusi.

oleh karena aku tidak beradik lagi. Kemudian. Subuh-subuh benar mereka sudah berangkat dari rumah hendak memburu kereta api yang paling pagi.Tiraikasih website http://kangzusi. Dan sesudah aku didoai. tapi yang masih hidup cuma aku sendiri. Lantas dibujuk-bujuk dengan uang setali yang gilanggemilang. bergelemprang suaranya menepuk ketenangan masa subuh yang masih sunyi. Aku terbangun oleh keributan orangorang yang berkemas-kemas. ialah menolong anak yatim. ketika masih kecil. dipungutnya seorang anak yatim dari seorang pamanku. Baik Ayah maupun Ibu merasa sangat bahagia dengan anak pungutnya itu. melainkan juga oleh karena dengan demikian. Bukan karena sekarang mereka itu seolah-oleh mempunyai seorang anak lagi. . rajin-rajinlah mengaji.com/ Aku. ketika aku menangis mau ikut tapi tidak boleh. begitulah nama anak itu. baru berumur satu tahun. Nanti engkau dikirim oleholeh ya. ketika ibunya meninggal. mereka itu sudah berbuat sesuatu yang diwajibkan oleh agama. .. Masih ingat aku. masih ingat hari berangkatnya. Jangan lupa. Ayah dan Ibu takkan lama. berangkatlah mereka diiringi suara ayam yang sudah ramai berkokok. Suara Ibu dan Ayah memerintah ini itu kepada Siti dan Nata kedua bujang kami. Mau apa?. Kadang-kadang piring seng jatuh. "Jangan nakal ya Nak. Sebetulnya anak Ayah ada empat orang. Fatimah. Ketika mau berangkat Ayah berkata. Lantas segeralah diambil oleh orang tuaku. yang banyak anaknya dan baru saja ditinggalkan mati oleh istrinya." Kepalaku diusap-usapnya. Yang lain mati.

Sahadat. Tapi biarpun begitu aku tidak menjadi anak yang manja. maka penderitaan mereka itu sematamata dipandang sebagai suatu percobaan Tuhan yang berat sekali. selawat dan kulhu. Dan kalau bukan keluarga yang alim. Malah sebaliknya. Berat nian penderitaan kedua orang tuaku itu. yang harus diatasinya dengan segala ketawakalan hati. begitu juga fatehah aku sudah hafal dari masa itu."*) Dan rupanya saja pada orang yang sudah gemar bersem *) Kesusahan hidup mendorong kita sembahyang. Karena itulah mereka menjadi lebih alim lagi.com/ Seperti telah dikatakan tadi. Juga nyanyi puji-puji kepada Tuhan dan Nabi. Pada usia lima tahun aku sudah dididik dalam agama. Tapi oleh karena memang sudah dididik dari mulai kecil di dalam suasana keagamaan. mungkinlah mereka itu akan tersesat mencari pelipur lara di daerah yang tidak baik. Aku sudah mulai diajari mengaji dan sembahyang. ibuku sudah biasa menyuruh aku menghafal ayat-ayat atau surat-surat dari Alquran. sebagai sepasang suami-istri yang masih muda. Entahlah. Sebelum tidur. "nood" itu Orang tuaku sangat cinta kepadaku dan Fatimah.Tiraikasih website http://kangzusi. benar juga rupanya kata pepatah Belanda "in de nood leert men bidden. menambah mereka makin rajin bersembahyang. ketiga kakakku itu semuanya telah meninggal ketika masih kecil. aku merasa bahwa aku adalah seorang anak yang mau menurut kata orang tua dan amat sayang serta hormat kepada mereka. . bahyang seperti pada ayah dan ibuku.

Dan biasanya ibu mendongeng itu sambil berbaring-baring dalam tempat tidur. tolong! Ini Asan! Ini Asan! Aduh panas! Aduh panas!" Aku merasa takut. Insyaallah Nak. "Tidak Nak. Menggigil ketakutan. tidak! Tidak usah engkau takuttakut. Dan dalam fantasiku itu kelihatan ibu mengulurkan tangannya hendak menolong. tapi tidak bisa. "Di neraka anak yang nakal itu akan direbus dalam kancah timah yang bergolakgolak. ibu-bapaknya pun tidak bisa. setengah memeluk aku. Dalam khayalku sebagai anak kecil. Mesti selalu turut kepada perintah Ayah dan Ibu^ kepada orang-orang tua. Ibu doakan kau semoga selalu selamat dunia akhirat. yang tidak mau bersembahyang akan masuk neraka. Dibujukbujuknya aku. Merapatkan badanku kepada badan Ibu yang sedang mendongeng itu. ya kepada ibuku. Ibu. Ibu memeluk aku lebih rapat lagi sambil berbaring. seolah-olah aku sudah betul-betul pernah melihat neraka. Sekarang aku merasa aneh." begitu selalu kata ibu.Tiraikasih website http://kangzusi. Maka terpaparlah di atas layar itu bayangan-bayangan khayalku tentang peristiwaperistiwa dalam neraka. kenapa tidak kepada ayahku. Terbayang-bayang olehku kedua belah tangan kecilku menadah ke atas minta tolong kepada ibuku. asal engkau jangan nakal. "Ibu. Dan aku menengadah dengan mataku lurus melihat ke para-para tempat tidur seperti melihat layar bioskop." .com/ Selain daripada itu banyak aku diberi dongeng tentang surga dan neraka. "Anak yang nakal. sebelum aku tidur. dan mesti rajin bersembahyang dan mengaji. Tidak ada yang bisa menolongnya. Aku menjerit. Ia berbaring di sampingku. segala dongeng itu alangkah hidupnya.

Tertawa kemalu-maluan. Dan kalau Ayah dan Ibu berzikir. sedang pakaian Ayan biasa saja. Aku berdiri di belakang Ayah. Dan kenalan-kenalan itu lantas memuji aku. "Sekarang ia sudah bisa sembahyang. tapi kadangkadang timbul perasaan heran. Dibawanya sebagai oleh-oleh sehelai kain dan sebuah pici kecil untukku. semua itu aku masih ingat. juragan! Tidak seperti Den Asan. "Ini San. Diceritakan tentang diriku kepada tiap kenalan. dan kepalaku melenggok-lenggok seperti wayang. di samping Ibu. Di langgar banyak anak-anak yang seperti aku juga turut . Ya." kata Ayah. Pada suatu hari Ayah pulang dari pasar. maka aku pun turut berzikir pula. Aki' masih ingat ketika aku mulai 'belajar sembahyang." kata Ayah sambil memberikan barang pakaian itu. seolah-olah aku sudah menjadi seorang santri yang sudah besar.Tiraikasih website http://kangzusi. Masa bulan puasa aku ikut sembahyang terawih di langgar. "Bagus Den! Bagus! (dan kepada anaknya sendiri) Nah. mengapa' Ibu berpakaian mukena yang pelik begitu. untuk sembahyangmu. terutama pula ketika Ayah menyebut aku kiyai kecil. Megah dan bangga pula. Segera kupakai dengan sangat riangnya." Ayah dan ibu pun sangat bangga. Sambil menyembah kuterima barang itu.com/ Maka ditekannya badanku kepada badannya dengan sangat mesra. lihatlah Idris! Den Asan sudah pintar sembahyang! Kau mesti contoh dia! Jangan cuma suka main kelereng saja! (kepada ayah) Kalau si Idris nakal saja." Hidungku kembang.

Tiraikasih website http://kangzusi. bila dilihatnya. aku sudah rajin berpuasa. "Orang rajin berpuasa akan masuk surga. Nata. Siti suka sekali mendongeng. dipendem di dayeuh Mekah. Sedang Siti bininya masih seorang keponakan dari kiyai Bajuri. maka babu dan bujang pun terdiri dari sejodoh orang-orang yang alim juga. Apa artinya kata-kata "Arab" (?) itu sampai kini aku tidak tahu. Walaupun masih kecil. mau bocor. bahwa aku hampir tak tahan lagi. Sampai sekarang lagu-lagu itu aku masih hafal. lakinya pernah belajar mengaji di sebuah pesantren.com/ sembahyang dengan ayahnya. selalu tamat sampai magrib. Demikian selanjutnya sampai sebulan peiuh. Yang paling hafal ialah yang berbunyi begini: Allahumaini a'udubika minalikolbi Iwabinapsihi alaihi marjago Kanjeng Nabi. yang mengajar di pesantren Nata itu. . Sebelum sembahyang kami menyanyikan dulu lagu-lagu pujian kepada Tuhan dan Nabi Junjungan kita." begitulah selalu kata Ibu. dan sebagai biasanya pandai pula ia mendongeng. dan kadang-kadang sekarang pun hatiku suka pula menyanyikan lagu-lagu itu dengan tiada bermaksud apa-apa. Aku seakan-akan bergantung kepada bibirnya. Untuk harmoni di dalam rumah tangga. ramana Gusti Abdullah Ibu Siti Aminah. Dan tentu saja yang biasa didongengkannya itu dongeng yang hidup subur di antara para santri itu.

jatuhlah ia untuk sekian kalinya ke dalam godokan timah. Ia merangkak-rangkak. Orang yang tidak pernah berbuat dosa dalam hidupnya akan mudah saja melalui jembatan itu seakan-akan ia berjalan di atas jalan aspal. Darahnya bercucuran dari tiap luka." kata Siti selanjutnya. sebab pisau itu tajamnya seperti sehelai rambut dibelah tujuh. Dan tiap kali ia terpeleset. Tapi biarpun begitu tidak ada cerita yang lebih berkesan dalam jiwaku yang masih hijau itu daripada cerita-cerita yang plastis tentang hukuman-hukuman neraka yang harus diderita oleh orang-orang yang berdosa di dalam hidupnya di dunia. minta tolong. Berkali-kali ia akan jatuh. dan ia akan selalu terpeleset.com/ mendengarkan. Seluruh badannya penuh dengan luka-luka seperti diiris-iris karena harus menarik-narik dirinya di atas jembatan pisau itu. "orang yang banyak dosanya di dunia ini akan merangkak-rangkak seperti siput di atas seutas benang yang tajam. "harus melalui sebuah jembatan pisau yang sangat tajam. jatuhlah ia ke dalam godokan timah di bawahnya." kata Siti. maka sampailah ia ke depan pintu gerbang surga. Mulai lagi ia mencoba menyeberangi jembatan tersebut. Kalau su&ah tidak tahan lagi. lebih tajam dari sebuah pisau cukur." Jembatan pisau itu terbentang di atas godogan timah yang panas mendidih. "Akan tetapi.Tiraikasih website http://kangzusi. tidak ada yang bisa menolongnya." "Mati ia?" . "Mereka. Sesudah menyeberangi jembatan itu. Terutama sekali kalau Siti menceritakan Abunawas dan Raja Harun Al-rasyid. berengsot-engsot. Maka merangkaklah ia terus sambil menjerit-jerit kesakitan. Tapi ia mesti merangkak terus.

(dan seperti biasa ia berkata dengan suara yang penuh kepastian. maka aku sangat taat menjalankan perintah Ayah dan Ibu tentang agama. lidah Raden Asan akan didudut dari kerongkongan. kecuali yang jahat. Kalau Raden Asan suka mencuri. Hewan apa saja. . nyawanya terus hidup untuk menjalani siksaan kubur. Yang jahat harus kita bunuh. nanti si nasi-nasi kecil itu akan menggoreng Raden Asan. Kalau Raden Asan suka mengumpat orang lain." sahut Siti. Raden Asan akan disiksa kembali oleh kuda itu. seolah-olah ia sendiri sudah pernah berengsot-engsot di atas jembatan pisau itu). Dan kalau Raden Asan suka makan nasi goreng.com/ 'Tidak mati." (Memang gemar sekali aku makan nasi goreng). Kalau Raden Asan suka menyiksa hewan." "Dimakannya?" "Ya! Dimakan oleh nasi-nasi kecil itu seperti ulat-ulat makan buah mangga. Dongeng-dongeng Siti itu sangat berkesan dalam jiwaku. Sebagai anak kecil aku sudah dihinggapi perasaan takut kepada neraka. Nasi biasa saja. Itulah maka Raden Asan tidak boleh menyiksa hewan. maka segeralah aku diperingatkan kepada hukuman dan siksaan dalam neraka. nanti di neraka kuda itu akan membalas dendam. Dan siksaan kubur itu ada bermacam-macam. Disepak-sepak dan digigitnya. Itulah maka Raden Asan jangan suka makan nasi goreng. kuda misalnya. "tidak mati. sebab orang yang sudah jatuh ke dalam neraka itu tidak bisa mati lagi.Tiraikasih website http://kangzusi. dan kalau aku lengah sedikit saja. Itulah. seperti juga halnya dengan dongeng-dongeng Ibu. nanti tangan Raden Asan akan dipotong dua-duanya.

seolah-olah ada yang hendak diucapkannya tapi tidak terlahirkan. ketika aku sudah dewasa dan kebetulan ber-pakansi ke Panyeredan.com/ Makin besar. ketika Ayah mendengar dari mulutku sendiri. oleh karena untukku kelulusan itu berarti hanya suatu kejadian yang sudah bisa kuramalkan dari semula. dan dongeng-dongeng tentang neraka itu tidak luntur. Dan melalui sinar matanya itu seolah-olah mengalirlah perasaan kasih-sayang yang mesra yang berlimpah-limpah tercurah dari hatinya ke . Masih ingat pula. bila dibandingkan dengan bahagia yang dirasainya ketika ia mendengar permintaanku untuk turut menganut ajaran ilmu tarekat yang dipeluknya? Beberapa jurus ia memandang kepadaku. Akan tetapi apa artinya bahagia dulu-dulu itu. bahkan seolah-olah suatu hal yang bagiku dengan sendirinya harus begitu. agaknya bagi Ayali. Masih ingat pula-. 4 Pada suatu hari. ia diam saja. Ketika itu mungkinlah bahwa Ayah merasa lebih berbahagia dari padaku sendiri. makin rajinlah aku melakukan perin tali agama.aku. berkatalah aku kepada Ayah. berita yang sangat menggembirakan tentang kelulusanku dalam ujian tamat sekolah Mulo. ketika baru-baru ini aku diterima bekerja di kantor gemeente *) Bandung.Tiraikasih website http://kangzusi. bolehkah saya turut pula memeluk ilmu yang Ayah dan Ibu anuti?" Ayali sangat riang nampaknya mendengar permintaan itu. Alangkah bahagia Ayali nampaknya ketika itu. "Ayah. Rupanya karena sangat terharu atau terlalu bahagia. maka beberapa jurus lamanya. melainkan malah makin menempel terus dalam hatiku.

siang malam tiada lain yang Ayah dan Ibu pohonkan kepada Tuhan Rabulizati keselamatanmu lahir batin. Aku tunduk terharu. ialah kekuatiran kalaukalau dalam menempuh jalan hidup yang penuh dengan godaan dan bencana ini engkau akan tidak tahan. maka berkatalah ia. Maka ber-linanglah air mata Ibu. bahwa aku sekarang sudah dewasa. pekerjaan sudah punya.Tiraikasih website http://kangzusi. Terasa tangan yang terletak di atas bahuku itu bergetar. tangan Ayah bergerak-gerak tak keruan seolah-olah ia hendak memeluk aku. "kau sekarang sudah cukup dewasa. syukurlah engkau sudah ada niat yang suci begitu. atheis 3 25 Ibu di dapur segera diberi tahu tentang niatku itu." Sambil berkata demikian itu." katanya seraya meletakkan tangannya di atas bahuku. telah hilanglah segala rasa kekua-tiran yang selama ini kadangkadang suka menekan dalam hatiku. Dan bergetar pula suaranya. "Ya anakku. mengelus-elus rambutku seperti aku masih kecil. maka segala kekuatiran dan ketakutan Ayah dan Ibu itu hilanglah sudah. anakku. Dengan suara bergetar. Insyaallah anakku.com/ dalam hatiku. sudah tidak bisa lagi dielus-elus seperti dahulu. dunia akherat. Tapi rupanya ia insyaf. Sesungguhnya dengan niatmu yang suci itu. tinggal pegangan yang utama dalam . "Nah. oleh karena engkau belum mempunyai senjata yang kuat. Akan tetapi. Air-mata mendesak ke kerongkongan." (menyapu air mata dengan ujung kebayanya). "Syukurlah anakku. Sekolah sudah tamat. kalau engkau sudah turut memeluk tarekat yang Ayah dan Ibu peluk juga. *) Kotapraja. Aku duduk bersila di hadapan Ayah. Tunduk.

bahwa aku memang sudah punya seorang "calon". Padahal mereka itu tidak tahu. soal-soal hidup lainnya. Maklumlah kota Bandung. oleh karena aku tahu betul. . Malah mereka tidak diam pada soal agama saja. Sedang "calon"ku adalah orang biasa saja. artinya orang yang keturunan "raden"." begitulah kata Ibu. Ya kawin! "Sudah cukup pula umurmu untuk mengambil seorang teman hidup. Mengerti aku. kau sudah bekerja sebagai "juragan komis". bahwa orang tuaku itu takut kalau-kalau aku akan menjadi buaya atau akan tersesat ke jalan pelacuran. Dan itu sekarang kau sudah minta sendiri. "dan syarat-syaratnya pun sudah ada. Ibu dan Ayali mengucap syukur alhamdulillah!" (kepada ayah) "Bapa! Kapan kira-kira kita bisa mengantar anak kita ini menghadap kepada guru kita di Banten?" "Nanti kita hitung-hitung dulu waktunya yang baik. Hanyalah aku selalu ragu-ragu untuk menceritakannya kepada orang tua itu. apa yang menjadi idaman mereka tentang perkawinanku. (padahal aku baru menjadi "klerk"). Banyak lagi kata-kata yang mengharukan hatiku dari mulut kedua orang tuaku itu. Untuk memuliakan niatku yang dianggap suci itu. sampai-sampai kepada soal kawin. maka malam itu Ibu mengadakan kenduri untuk Syech Abdul Kadir Jaelani.com/ agama yang masih harus kaulaksanakan." sahut Ayah. Mereka selalu bercita-cita.Tiraikasih website http://kangzusi. Aku tunduk saja. bahwa aku harus kawin dengan seorang keturunan menak.

ke Mulo *) di Bandung. ya mula-mula memang aku merasakannya amat berat.com/ Dan sebagai biasa. bahwa aku akan tertimpa oleh hukuman-hukuman dunia akherat apabila aku melalaikan kewajiban-kewajiban itu. ialah pamanku. aku seolah-olah sudah merasa diriku seorang manusia baru. Perasaan demikian itu dulu pun pernah ada padaku. Akan tetapi perasaan sekarang ini ada berlainan dari perasaan dulu. Demikian selalu kata Ayali. makin rajinlah aku melakukan ibadat. diadakan dulu pembacaan riwayat Syech Abdul Kadir Jaelani dari kitab "Manakib". sebab ri^vayat itu dibaca sambil dinyanyikan dalam sajak Dandanggula dan sebagainya). yaitu ketika aku baru meninggalkan kampung halamanku pindah sekolah ke kota besar. dan karena biasa menjadi ringan. oleh karena aku selalu ingat kepada wejangan-wejangan Ayali. maka sebelum kenduri. Dengan masuk ke daerah mistik itu. yang telah menginjak dunia dan alam baru. Sesungguhnya manusia baru.Tiraikasih website http://kangzusi. Tentu saja berlainan. menjadi berat kalau tidak menjalankannya. Tapi sedikit-sedikit menjadi biasa. balikan kemudian malah menjadi sebaliknya. Ketika itu pun aku merasa diriku sebagai seorang manusia baru. Berat. yang membacanya itu (sebetulnya menyanyikannya. Hukuman-hukuman gaib akan menimpa dirimu semasih kamu hidup di dunia ini juga. Sejak aku menganut ilmu mistik seperti Ayali dan Ibu itu. Sekarang ditambah lagi dengan kewajiban-kewajiban yang berat yang diperintahkan oleh ajaran mistik yang baru kuanuti itu. Terutama pula. Dan sebagai biasa pula. karena dulu itu aku tidak menghadapi sesuatu hal . Mang Saca.

ada mengancam siksaan-siksaan gaib di belakangnya. walaupun sekali-sekali ada pula suatu hal yang membual dari dalam hatiku *) Meer Uitgcbrcid Lager Onderwijs . Angan-angan inilah yang kadang-kadang membikin aku berbuat agak demonstratif dan propagandistis* . Megah. yang .setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dulu perasaan megah itu sering nampak ke luar sebagai demonstrasi kepintaran misalnya kepintaran bahasa Inggris dan sebagainya. Jerman dan pelajaran-pelajaran lainnya.com/ yang gaib seperti sekarang.Tiraikasih website http://kangzusi. ke tempat orang-orang yang masih "kosong" dalam hal menjalankan agamanya. ke sekolah tempat aku akan belajar bahasa Inggris. Perasaan "sempurna" itu membikin aku berangan-angan ingin menginsyafkan orang lain akan kebaikan dan kebenaran ilmu tarekat yang kupeluk itu.. Perancis. Seakan dari sebuah tempat yang lebih tinggi aku melihat ke bawah. Sedang sekarang perasaan megah itu terdesak oleh suatu perasaan yang lebih bersuara dalam hatiku. kalau kurang sungguh-sungguh aku menjalankannya.. berupa sesuatu perbuatan yang boleh dibilang hampir demonstratif sifatnya. tetapi sekarang demonstrasi itu tidak ada. Dulu aku terutama dilimpahi dengan perasaan yang megah. yang suci. ialah perasaan bahwa aku harus lebih berhati-hati lagi dalam menjalankan kewajibanku. yaitu bila aku merasa diriku seolah-olah sudah menjadi seorang-orang yang sudah sempurna dalam hal berbakti kepada Tuhan. oleh karena aku telah meningkat ke sekolah yang lebih tinggi.

Baginya tak akan ada rahasia lagi. maka ada juga beberapa pertanyaan yang kuajukan kepada guru itu. bahwa ucapan guruku itu benar. Karena selalu mendapat jawaban begitu. Apa lagi oleh karena pada waktu itu juga seringkah datang surat dari Ayali yang selalu . Bekerja sajalah yang rajin untuk ilmu kita itu. perbanyaklah berpuasa dan kurangi tidur. yang ada muridmuridnya. Pada suatu hari datanglah guruku dari Banten ke Bandung. lnsyaallah nanti pun segala-gala akan menjadi terang. rajinrajinlah saja menjalankan segala perintah yang telah kuajarkan kepadamu itu!" Demikianlah jawaban guruku itu selalu. untuk menguraikan soal-soal agama (tidak jarang pula disertai dengan mengejek orang-orang yang berpendirian lain). Kegiatanku kupertambah. tak akan ada perkataan "wallahu 'alam" itu. perbanyaklah berzikir. Sesungguhnya. Memang sudah menjadi kebiasaannya untuk sewaktu-waktu berkeliling ke tempat-tempat dan kota-kota. "lnsyaallah. perbanyaklah bertawadzuh." begitulah katanya selalu. lnsyaallah. maka aku pun tidak mau bertanya lagi. Pada suatu pertemuan di rumah salah seorang ihwan yang sebagai biasa sengaja diadakan sesudah bersama-sama melakukan sembahyang magrib dan isa. Aku percaya.Tiraikasih website http://kangzusi. hanya rohani yang suci '» bisa meningkat kepada tingkatan makrifat dan hakekat.com/ Kadang-kadang pula aku tidak bisa menyembunyikan kebencian kepada orang-orang yang tidak saleh dan kurang iman. Demikianlah ia berkunjung ke Bandung untuk mengunjungi murid-muridnya itu. "nanti pun akan terbuka segala rahasia yang sekarang masih gelap itu. tetapi selalu dapat jawaban begini. Untuk yang rajin beribadat dan melakukan segala perintah ajaran ilmu kita.

Kawankawan sekantor banyak yang bertanya-tanya. lebih-lebih oleh karena sekarang sudah memeluk suatu ilmu yang sungguh luhur. Begitulah seterusnya sampai empat puluh kali. dari pergaulan hidup biasa.com/ mengandung peringatan begini bagiku. "Kenapa kiyai kita makin pucat saja. Aku pernah mandi di kali Cikapundung sampai empat puluh kali selama satu malam dari sembahyang isa sampai subuh. Tiap kalinya aku mencemplungkan diri ke dalam air. ya?!" . Aku pernah mengunci diri dalam kamar. Kalau sudah kering mesti lekas mencemplungkan diri lagi ke dalam air. tiga hari tiga malam lamanya. dan sesudah itu lekas ke luar dari dalam air. menyelam ke dalam. Sangat pucat mukaku seperti yang kurang darah. berhati-hatilah engkau dalam laku hidupmu. anakku. membiarkan tubuh menjadi kering lagi dengan tidak boleh mempergunakan handuk. Janganlah engkau berbuat sesuatu yang bertentangan atau melanggar ajaran-ajarannya. Pada dewasa itu aku agaknya sudah sampai kepada puncak kegiatanku dalam menjalankan perintah agama. Ingatlah akan akibat-akibatnya dunia akherat!" 5 Demikianlah kutempuh jalan hidup di kota ramai seperti Bandung itu dengan tidak menyimpang dari perintah-perintah agama dan mistik. yang suci. lalu duduk di pinggir kali. tidak bercakap-cakap sama orang lain. tidak tidur. Maka dengan demikian tentu sajalah aku makin terasing dari dunia ramai. Aku pernah berpuasa sampai tujuh hari tujuh malam lamanya. Pekerjaan kantor pun seringkah terbengkalai.Tiraikasih website http://kangzusi. yang murni. "Asan. dengan tidak makan.

Memang hari pun sudah jam satu lebih.com/ Lidah yang berolok-olok menjawab. Karena itulah. Bukan itu saja. kedua orang itu berdiri beberapa jurus melihat ke kiri ke kanan. Pada saat itu masuklah seorang lakMaki muda dari pintu besar ke dalam ruangan. Dokter melihat tanda-tanda penyakit tbc pada paru paru yang sebelah kanan. Ruangan di muka loket-loket yang berderet itu sudah tipis orang-orangnya. Seorang demi seorang meninggalkan loket setelah diladeni." kata mereka. bahwa paru-paruku sudah tidak sehat lagi. sehingga harus dirawat di rumah sakit. Setelah masuk. bahwa aku harus lekas kawin. hingga pada akhirnya hanya tinggal satu orang saja lagi. Ia diiringi oleh seorang perempuan. Sepasang selop merah berkeletak di belakangnya. "Itu!" kata si laki-laki muda itu sambil menunjuk ke loketku. Yang masih berderet di muka loketku hanya beberapa orang saja lagi. membaca merek-merek yang bertempel di atas loket-loket. Sebulan kemudian aku boleh pulang ke rumah.Tiraikasih website http://kangzusi. Aku asyik meladeni mereka. oleh karena paru-paru itu belum luka. diayunkan . ialah oleh karena pada suatu hari aku jatuh sakit.' Bagian IV Loket bagian jawatan air dari Kotapraja tidak begitu ramai seperti biasa. "Naik ke atas. Dengan langkah yang tegap ia bergegas menuju loketku. yang paling payah lagi bagiku. Dan di sana ternyatalah. Ekor yang terdiri dari orang-orang itu makin pendek. maka aku harus dirawat. Untung bagiku.

. Terkejut aku sejenak. Orang penghabisan sudah kuladeni. Ia tidak berbaju jas. "Saya baru pindah ke Kebon Manggu 11. tapi (tiba-tiba) astaga. ditaburi dengan bunga melati kecil-kecil yang lebih putih nampaknya di atas latar yang merah. Badannya lampai tapi penuh berisi. ketika aku melihat perempuan yang melenggoi-lenggoi di belakangnya itu. Mungkin ia lebih tua. tapi pakaian dan lagak-lagunya mengurangi umurnya.. "Sekarang Tuan. Kainnya batik Yogya yang juga berlatarkan putih. bukan?!" . Laki-laki itu kira-kira berumur dua puluh delapan tahun. tidak berdasi. Kening di atas pangkal hidungnya bergurat." kataku. Tahi lalat di atas bibirnya dan rambutnya yang ikal berlomba-lombaan menyempurnakan kecantikannya itu. Tuan! ... Hampir-hampir aku hendak berseru." sahut laki-laki itu sambil bertelekan dengan tangannya di atas landasan loket. Hidungnya bangir dan matanya berkilau seperti mata seorang wanita India. "O minta pasang?" "Betul. serta pantas dan bersih. Kukira Rukmini. matanya menyinarkan intelek yang tajam. Parasnya cantik. Tapi . Ia memakai kebaya merah dari sutra yang tipis. Wanita itu nampaknya tidak jauh usianya dari dua puluh tahun.com/ oleh kaki kuning langsep yang dilangkahkan oleh seorang wanita berbadan lampai... tanda banyak berpikir.Tiraikasih website http://kangzusi." (sejurus ia menatap wajahku)" . Pakaiannya yang terdiri dari sebuah pantalon flanel kuning dan kemeja creme... Parasnya tampan. ini kan Saudara Hasan.

Tahu-tahu kita sudah tua." "Di sini? Sukurlah . Mengalir seakan-akan rasa persahabatan yang sudah lama itu membawa kenangan kembali dari hati ke hati melalui jembatan tangan yang bergoyang-goyang turun-naik seolah-olah menjadi goyah karena derasnya aliran rasa itu. tidak mengira kita akan berjumpa lagi ya. "An! Tentu saja aku tidak lupa? Masa lupa! Ini kan Saudara Rusli?" (riang mengeluarkan tangan ke luar loket untuk berjabatan). memang (mengangguk-angguk) memang sudah lama sekali ya? Sudah berapa tahun?" "Saya rasa tidak kurang dari lima belas tahun. -. Astaga (menggeleng lagi kepala)! Sudah lama kita tidak berjumpa ya? Sejak kapan?" "Saya rasa sejak sekolah HIS *) di Tasikmalaya dulu. . Saat itu pula dua badan yang terpisah oleh dinding. sudah bersambung oleh sepasang tangan kanan yang erat berjabatan." "Ya. Sejak itu kita tidak pernah berjumpa lagi. siapa?" "Lupa lagi?" (tersenyum) "Masa lupa? Coba ingat-ingat!" Kutegas-tegas lagi.. ." "Memang. . Kepalaku seakan-akan turut tergoncangkan. Di mana sekarang?" "Di sini. baru seminggu pindah dari Jakarta.Tiraikasih website http://kangzusi. "Astaga. ya. menggelenggeleng sambil berkata. lantas menegas-negas wajah orang itu." (sahutku agak tercengang. dan saudara . lima belas tahun (berkecak-kecak dengan lidah) bukan main lamanya ya! Tak terasa waktu beredar. bukan?" *) Hollands Inlandse School = Sekolah Rakyat dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya.com/ "Betul.

" sahut mulut dari balik loket itu dengan tegas. ini Saudara Hasan. Sejenak aku agak ragu-ragu untuk menyambutnya. Akan tetapi sekilat kemudian dengan tidak kuinsyafi lagi. Aku sudah tabah mencatat seperti seorang jurutulis pegadaian yang sudah biasa meladeni' beratus-ratus rakyat kecil yang butuh uang." bisikku dalam mulut. Kartini (menoleh kepada perempuan itu). Sebentar kemudian urusan minta pasang air sudah selesai. adikku. dan sedetik dua detik hanya kutatap saja tangannya yang terulur itu." Dengan senyum manis Kartini berkisar dari belakang ke samping Rusli.Tiraikasih website http://kangzusi." "datanglah ke rumahku. lantas dengan mengerling wajahku diulurkannya tangannya yang halus itu ke dalam loket." "O ya. memang tuan rumah dulu yang harus memberi selamat datang kepada orang baru. "Hasan. "Saya pun begitu." "Baik. teman sekolahku dulu. "Kartini." "Sasakgantung 18. ya. insyaallah. di mana rumah Saudara?" . tapi baiknya saudara dulu datang ke rumahku. "Sangat kangen saya kepada Saudara." (memungut potlot yang jatuh) "Baik. "Eh perkenalkan dulu.com/ Kami tertawa. Tin! Tin! Perkenalkan. tangan perempuan yang halus itu sudah bersilaturahmi dengan tanganku yang kasar." kata Rusli sambil melipatkan sehelai formulir yang harus dibawanya ke loket keuangan untuk membayar uang jaminan di sana.

ini kan ada dalam daftar: Kebon Manggu 11. Nanti kita ngo-brol. Kami banyak bersama. selalu kami bersama. dan apabila aku sembahyang. tak mungkin aku mengatakannya perasaan apa. . bahwa padaku ada lagi sesuatu yang agak lebih daripada hanya perasaan gembira saja semata-mata. main gundu di pekarangan orang. tapi pun juga oleh karena kami bertetangga. entahlah. Semua permohonan pasang air kumasukkan ke dalam buku yang spesial untuk itu. terasa olehku bahwa ada suatu perasaan yang. terasa jantungku sedikit berdebur ketika mataku bertemu dengan matanya.com/ "Datanglah nanti sore. Akan tetapi aneh sekali. ya. sebab terlalu banyak makan rujak Guga bersama-sama). Agak karib juga kami berteman. kalau saudara sempat. bukan saja oleh karena satu kelas. Kartini mengangguk sambil tersenyum. Sepak bola di alun-alun. Rusli itu adalah seorang kawanku ketika kecil. Hanya dalam dua hal kami tidak pernah bersama-sama. Yang tegas saja ialah bahwa aku merasa gembira seperti tiap orang yang bertemu dengan seorang sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa. Akan tetapi biarpun begitu harus kukatakan." Dengan gembira mereka berpisah dengan aku. Datanglah kira-kira setengah lima begitu!" "Insyaallah! Di mana rumah saudara itu? Oya. yaitu kalau Rusli berbuat nakal.Tiraikasih website http://kangzusi. memungut buah kenari yang banyak tumbuh di tepi jalan raya. sambil bekerja demikian itu. Aku mengangguk kembali agak kemalu-maluan. Entahlah. Begitu juga dengan permintaan penyetopan air yang kumasukkan ke dalam buku lain yang khusus untuk itu saja. Kubereskan buku-buku. Malah sakit pun pernah bersama-sama.

Beradu pula pandanganku untuk kedua kalinya dengan pandangan Kartini. sedang Rusli untuk mengganggu khatib tua yang tuli atau untuk memukul-mukul bedug. Kebetulan dengan tidak bermaksud apa-apa. tapi masih sempat tersenyum sedikit. Rusli dan Kartini sudah sampai ke ambang pintu ke luar. Terasa darah tersirap ke muka. lewatlah lagi Rusli dan Kartini pulang dari loket keuangan. Oleh karena itu barangkali dunia ini baru akan bisa aman dan damai. Bung!" seru Rusli sambil mengangkat tangannya yang kanan. kalau penduduknya hanya terdiri dari kanak-kanak melulu. Senyum tak sengaja rupanya. biarpun begitu masih juga kami bisa bergaul dengan karib. kalau aku sedang berdiri hendak melakukan rakaat pertama. Ia lekas membuang mukanya ke depan. Dan kalau kami bersama-sama pergi ke mesjid." sahutku. Pada saat itulah pula Kartini menoleh ke belakang. "Sampai nanti sore. aku mengangkat kepala dari buku yang sedang kutulis. aku dipeluknya dari belakang. tapi anehnya.com/ Orang tuaku melarang nakal. Aku tunduk. Sekali ini rupanya Kartini merasa agak malu. dikili-kilinya telingaku. Memang anak-anak belum merenggangkan satu dari yang lainnya lantaran sikap hidup yang berlainan. Tapi cukup .Tiraikasih website http://kangzusi. Orang tua Rusli tak peduli. Maka untuk ketiga kalinya aku bertemu pandang lagi dengan dia. Dan tak jarang pula aku sendiri diganggunya dalam sembahyang. kami berdua sangat berbedaan tabiat. maka aku untuk sembahyang. menyuruh sembahyang. Kartini mengangguk sedikit. Sesungguhnya. "Ya. melepas pandangan ke arah pintu itu. menabik. Sedang aku asyik menulis dalam buku permintaan pasang air.

Ali. Kulit mukanya seperti seorang Jepang.com/ untuk meninggalkan kesan yang tak mudah akan hilang dari hatiku. Bung!" Nampaknya Rusli belum mandi. "Saya baru saja beres-beres rumah. Hampir tertabrak aku oleh sebuah mobil yang tiba-tiba datang dari tikungan jalan Pungkur. Tapi baru sekarang aku mendengar bahwa dia mempunyai adik perempuan. .Tiraikasih website http://kangzusi. . Dot-doot! Untung lekas mengelak. peduli apa sama dia sih!" Tapi biarpun begitu. Bung supir memaki-maki. 2 Sambil mendayung ke Gang Kebon Manggu. adiknya. Tepat jam setengah lima seperti telah dijanjikan. Aku masuk. hatiku tidak mau diam juga. barangkali istrinya. "Sepedanya kunci saja. bertanyatanya-lah aku dalam hati. "Silakan duduk. Kartini! Tegas sekali ia menyebut namanya tadi. "Siapakah sebetulnya dia itu? Rusli bilang. Saudara!" Rusli menegur dengan ramah ketika dilihatnya aku masuk halaman menyenderkan sepeda kepada tembok." ujarnya. Bung!" Pintu menggerit dibuka Rusli. . "Ah Saudara? Silahkan masuk. Tidak sukar mencari nomor sebelas itu. Tapi ah. Peduli apa! Tapi menyelinap pula bayangan wajah yang cantik itu ke muka mata batinku. aku tiba di rumah Rusli.

" Maka sejurus kemudian kami berdua sudah asyik menceritakan lakon masing-masing semenjak berpisahan lima belas tahu» yang lalu. atau kalau ada malah lebih suka rokok kawung saja. ia lantas mengunjungi sekolah dagang di Jakarta. hanya sampai kias tiga. Dan selama empat tahun itu ia banyak belajar tentang soal-soal politik. tempo-tempo berdagang kecil-kecilan. Memang sebagai pemuda yang berjuang untuk cita-cita politiknya. yang lantas disodorkannya kepadaku.Tiraikasih website http://kangzusi.com/ Rokok sebungkus keluar dari kantongnya. Saya lebih suka menggulung sek saja. Bukan hanya dengan jalan banyak membaca buku-buku politik saja. Begitulah keterangan Rusli. ' Rusli bercerita. siap untuk dicapit jari-jari pindah ke bibir. oleh karena sebagai seorang pemuda bujangan ia tidak mempunyai banyak kebutuhan. Nafkah dicarinya dengan jalan bekerja sebagai buruh pelabuhan atau sebagai sopir taksi. Setelah partai tersebut dilarang dan banyak pemimpin-pemimpinnya ditangkap. Beberapa batang meloncor dari bungkusan. oleh pergerakan politik. maka Rusli menyingkir ke Singapura. Sebagai seorang pemuda yang berkobar-kobar semangat kebangsaannya. oleh karena ia lantas tertarik. Sambil bercerita kami merokok terus. Bung! Saya sendiri tidak begitu suka merokok sigaret. soal mencari nafkah itu agak berkisar ke belakang. Soal nafkah memang tidak menjadi soal berat bagi Rusli." Tapi tidak tamat. Di kota besar itu ia banyak bergaul dengan kaum pergerakan dari segala bangsa. Empat tahun Rusli hidup di Singapura. ia masuk anggota salah satu partai politik. akan tetapi juga banyak bergaul dengan orang-orang pergerakan internasional. bahwa setelah tamat dari sekolah rendah di Tasikmalaya. Pergaulan macam begitu mudah . "Mari merokok.

Kemudian ia pindah ke Jakarta." tanyaku setelah Rusli habis bercerita. Macam-macam aliran dan stelsel.. Boleh saya lihat dalamnya?" 'Tentu saja! Silahkan!" (berdiri juga). . (berdiri)." "O ya.Tiraikasih website http://kangzusi. Dan kalau cukup perhatian. memang rumah ini besar.. dan pada akhirnya pindah pula ke Bandung. Itulah maka saya ambil rumah ini yang agak besar. "Ah biasa saja. serta ideologiideologi politik dipelajarinya dengan sungguh-sungguh. terutama sekali ideologi Maccisme. "Wali ini terlalu besar bagi satu orang .. . Dari Singapura Rusli pindah ke Palembang. saya lupa tanyakan. saya Uk-Sft. banyak menulis di surat-surat kabar dengan memakai nama samaran. menulis-nulis untuk surat-surat kabar dengan harapan tentu bahwa surat-surat kabar itu sanggup membayar honorarium. Dindingnya setengah tembok setengah gedek. Lantainya tegel. tapi eh." (menggulung-gulung rokok kawungnya) "jual-jual sedikit." sahut Rusli sambil menunjuk ke dapur yang masih sunyi dan dingin. saya pun akan mencoba-coba buka kursus bahasa Inggris. Demikian juga serambi belakang yang akan dipakai tempat mengajar oleh Rusli. Di sana ia sambil berdagang. Seperti kebanyakan rumah di kota dingin seperti Bandung. .com/ sekali dijalankan di suatu kota "internasional" seperti Singapura. serambi muka ditutup dengan kaca. atau . "Dan di sini apa yang kaukerjakan. dan kamarnya ada tiga buah.?" "Kaulihat sendiri. apa kau ini masih bujangan.

kucoba membelokkan percakapan kepada soal lain. siapa sebetulnya? Kusangka istrimu. pikirku dengan sedikit gembira. bahwa Rusli itu sudah bisa menjenguk ke dalam hati sanubariku melihat apa isinya pada saat itu. "Jambangan sebagus ini. Aku makin gugup. sehingga jatuh jambangannya Berdering-dering suaranya. ." Kami duduk kembali ke tempat tadi di serambi muka.Tiraikasih website http://kangzusi. Kemudian aku merasa malu terhadap dia. Mau memungut semua pecahan-pecahai itu satu per satu dari lantai seraya bersungut-sungut mengutuk diriku sendiri. "Kenapa saudara amat gugup?" katanya sambil pergi ke belakar mengambil saDU. harapan apa? Kabur-kabur rasanya masih. tapi ia cuma tertawa saja. Nampaklah perasaanku itu kepada Rusli? Entahlah. "Jadi bukan istrimu?" Makin jelas terasa olehku kegembiraan dalam hatiku yang seolah-olah terhela oleh sesuatu harapan mau melepas bebas ke luar. Sesuatu harapan. Kata-kata minta maaf berhamburan dari mulut ku. "Yang tadi bersama-sama kau itu. sesungguhnya! Tapi . . "Belum punya bujang juga?" "Belum." "Istriku?" (tertawa).com/ O jadi dia belum kawin." kataku sambil menjangkau sebual jambangan bunga di atas sebuah rak. pecah di atas lantai. ya. Tapi segeralah aku bertanya lagi. seolah-olah menjerit kesakitan. seakan-akan sudah pasti bagiku. rak itu tersinggung oleh tanganku. dia baru datang besok. Dan untuk menyembunyikan semua itu. . Tapi dalam kegugupan. Rusli terbenam dalamnya.

" katanya. Setelah beres kembali. kami duduk lagi. lekas padam. Aku merasa tenteram lagi. San?" Maka mulailah lagi acara Kartini. tapi semua itu dengan sepintas lalu saja. . "Tidakkah wajah si Aminah itu hampir serupa dengan Kartini. dan Rusli menggulung-gulung lagi rokok kawungnya. melainkan Rusli sendiri. sebab pada akhirnya kembalilah lagi kami kepada kenang-kenangan pada jaman kami masih kecil di Tasikmalaya. Rusli pandai sekali bercakap-cakap supaya sesuatu hal menjadi sangat menarik hati dengan jalan banyak mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang disela-selakan di antara obrolannya. "Sedikit basah daun kawung ini. Pada akhirnya percakapan itu kembali pula kepada Kartini. Mau menyapu. soal hujan. "Dia mau memperbaiki kesalahannya dengan jalan mau menyapu sendiri Aku makin malu. tiba-tiba meloncat kepada Kartini dengan pertanyaan. Rusli tersenyum mengerti.com/ Kuburu dia. ketika ia menceritakan seorang teman sekolah perempuan dulu yang sering diperolok-olokkannya.Tiraikasih website http://kangzusi. Dari soal rumah meloncat ke soal hawa. Lekas kurebut sapu dari tangannya. Bukan aku yang memulai. soal musim duren. seolah-olah pikirnya. Tidak kurang dari sepuluh batang rokok kawung yang telah digulung Rusli selama kami ngobrol itu. Kami bercakap-cakap lagi.

bahwa memang sebenarnya aku itu ingin • tahu. gadis remaja yang masih sekolah Mulo. Kukira kau hanya berolok-olok saja. Arab itu sudah tua. Ibunya memaksa kawin dengan si Arab tua itu. Rus!" Dengan berkata begitu aku membikin isyarat dengan tangan. Panjang lebar ia menceritakan riwayat Kartini. "Kauperkenalkan dia kepadaku tadi sebagai adikmu. seolah-olah mau memperlihatkan bahwa hal itu adalah suatu hal yang tidak penting bagiku. tujuh puluh tahun lebih umurnya. San?" (matanya memicing sebelah). Ternyata. semata-mata untuk mencari keuntungan belaka. "Betul-betul tidak?" "Tidak!" sahutku dengan agak tegas. bahwa isyarat-isyarat itu sangat setengah-setengah sehingga rupanya jelas bagi Rusli. sedang Kartini baru tujuh belas. Dan seolah-olah tak acuh akan reaksiku itu. maka gadis itu terpaksa keluar dari sekolahnya. sebab setahuku kau tidak pernah mengatakan punya adik seorang perempuan. San? Kau kan selama ini selalu ada di Bandung?! Di mana kau simpan kedua belah matamu itu?!" Aku hampir tidak sabar lagi ingin mengetahuinya. Betul tidak. Tapi ketika kulihat Rusli tersenyum-senyum.Tiraikasih website http://kangzusi. bahwa Kartini itu telah dipaksa kawin oleh ibunya dengan seorang rentenir Arab yang kaya. baru naik ke kelas dua. 'Tidak! Sekali-kali tidak.com/ "Masa kau belum tahu. Dan entah bagaimana jalannya tapi berhasillah agaknya kepada si . Tapi karena dipaksa kawin. terasa olehku darah naik ke kuping." "Kupikir kau ini agaknya ingin sekali mengetahui siapa dia itu. maka berceritalah Rusli. Akan tetapi terasa benar olehku.

Mungkin dalam mata orang-orang yang kolot dan . sesudah kawin dengan Arab tua itu (notabene sebagai istri nomor empat) seakan-akan dijebloskan ke dalam penjara. Sekali-kali tidak.com/ Ibu itu untuk menggaruk sedikit dari kekayaan si Arab kikir itu: tanah dua bau dan rumah satu. yaitu stelsel kapitalisme. Ya bung. "Barangkali bagi Saudara. Kartini dan ibunya itu "diborong" oleh si Arab tua itu. Rusli masuk kamar dulu dan setelah kembali dengan seikat daun kawung baru. tapi di balik semua itu tidak ada kejahatan apa-apa.Tiraikasih website http://kangzusi." kata Rusli. karena ia sebagai seorang gadis remaja yang masih suka berplesiran dan belajar dalam suasana bebas. yaitu rumah di Lengkong Besar yang sekarang didiami oleh Kartini. Maka tidak mengherankan. Dan kalau dikatakan orang bahwa ia sudah "jatuh". karena tidak biasa. kemudian setelah ia lepas dari "penjara Timur kolot" itu segera menempuh cara hidup yang kebarat-baratan. Dan tidaklah mengherankan pula agaknya. Desas-desus pula. ia melanjutkan. Ia mulai belajar politik. "Tapi itu hanya propokasi lidah busuk saja. Itulah maka Kartini sekarang telah menjadi seorang wanita pejuang yang insyaf dan sadar untuk menentang stelsel itu. kalau Kartini setelah ibunya meninggal dunia. kalau ia yang sudah mengicip-icip pelajaran dan didikan modern sedikit-dikit. karena harus hidup secara wanita Arab dalam kurungan. segera melarikan diri dari kungkungan si Arab tua itu. pengalamannya yang pahit itulah telah membikin dia menjadi seorang Srikandi yang berideologi tegas dan radikal. Jadi bukan karena memang dasar budinya jahat. Alangkah malangnya bagi Kartini. maka jatuhnya itu semata-mata dilantarankan oleh sesuatu stelsel yang buruk. cara hidupnya demikian itu agak menyolok mata.

yang tidak tercapai oleh otak dan pengetahuanku. . Belum lama. termasuk juga sawah yang dua bau dan rumahnya yang dibelikan si Arab itu sekarang semuanya jatuh kepada Kartini. betul itu dia! bisikku dalam hati.Tiraikasih website http://kangzusi. "Nah itu datang dia!" Astaga. ia pun sudah pecat imannya. makin keras hatiku berdebur. Ia cinta sama Kartini. atau mungkin pula hal itu adalah suatu tinjauan politik yang tinggi." (tiba-tiba bangkit dari kursinya). "Untung." kata Rusli setelah ia ke belakang sebentar untuk kencing. ibunya yang serakah itu sekarang sudah meninggal. Itulah maka Kartini selalu mencari perlindungan kepadaku dan orang-orang lain yang agak rapat kepadanya . Itu benar! Bukan begitu. . aku tidak mengerti. apa yang dimaksudkan oleh Rusli itu.com/ konservatif. Tapi akan kesimpulan Rusli itu yang menghubungkan semuanya kepada stelsel kapitalisme. baru saja kira-kira delapan bulan yang lalu. Dari jauh sudah jelas garis-garis dan bentuk bagian-bagian tubuh Kartini yang penuh berisi itu. ia seolah-olah seorang wanita yang sudah pecat imannya. makin dekat badan yang kuning lampai itu menghampiri. Tidak mengerti. Entahlah. Apa etika feodal? Apa etika burjuis? Mendengar kata-katanya pun baru sekali itu aku. Mungkin kesimpulannya itu dicari-cari saja. karena Kartini adalah seorang anak tunggal. memanjangkan leher melihat ke luar jendela. tapi dari etika feodal dan etika burjuis. . Dan segala kekayaannya yang lumayan itu. Terharu juga aku mendengar riwayat Kartini yang dipaksa kawin itu. Memang. Tapi sulitnya baginya ialah oleh karena ada seorang keponakan si Arab tua itu yang selalu mengganggunya dan mengancamnya dengan bermacammacam ancaman. . Bung?" Aku tidak menjawab.

tapi tepat sederhana.Tiraikasih website http://kangzusi. Ia memakai kebaya crepe warna kuning mengkilap. sekali langkah kelihatan. Dadanya membusung ke depan.com/ Aduh." "O kalau begitu si setan itu mesti lekas-lekas sajalah duduk. artinya demikian rupa hingga dalam ia melangkah." . tidak dilebih-lebihkan. "Tidak terlalu sore saya datang?!" tanya Kartini tersenyum. menurut ukuranku. kalau kita sedang mengumpat setan. Segala-galanya serba modern. sekali lagi tertutup oleh kainnya. Rusli bergegas membuka pintu. "Ah tidak. Kakinya meloncat dari tangga ke ambang pintu. Bibirnya merah dengan lipstick dan pipinya memakai rouge yang tidak terlalu merah. "Hallo Tin! Mari." sahut Rusli tertawa menjawab pertanyaan Kartini tadi. mari masuk!" Rusli sangat ramah dan gembira. seakanakan tidak ada yang ditakutinya. Terlalu ramali. betisnya yang kuning langsep itu seolah-olah tilem-timbul. Pada dadanya sebelah kiri terlukis sekuntum bunga aster berwarna nila dengan tiga helai daunnya yang hijau tua. terpijaklah ekornya. Sehelai kain leher yang panjang dari sutera hijau muda yang berbunga-bunga merah membelit kendur pada lehernya." malah benar kata orang. betapa persis ia menyerupai "dia"! Sekilas pikiran itu timbul dalam hatiku. Air mukanya penuh kesadaran. supaya jangan terpijak lagi ekornya. Kainnya jelamprang yang dipakaikan secara "gejed mulo". "Tidak terlalu sore toh?" Kartini mengulangi lagi pertanyaannya setelah ia berjabatan tangan dengan kami. Aku berdiri di samping kursi dengan sikap hormat yang terasa agak kaku. Matanya lincah berkilau-kilau-an.

mempersilahkan aku duduk di atas kursi sebelahnya. "Lihat saja muka saya ini." jawab Kartini. Agak heran melihat tingkah-lakunya itu. Aku mundur beberapa langkah. Kartini mengipas-ngipas mukanya dengan sebuah kipas kecil dari ebonit. Kursi itu kursiku sendiri. lalu meneliti mukanya dalam sebuah kaca kecil yang ada di dalamnya. ." kata Rusli. Tapi entahlah. "Di kamarku ada kaca besar." katanya ia menengadah dari kursinya ke dalam wajahku dengan air muka berseri-seri dan dengan gerak tangan seperti serimpi. Dibukanya tasnya." kata Rusli. Saudara." kata Rusli. kenapa tidak boleh! Tak usah kuhantarkan toh?" sahut Rusli berolok-olok. 'Tentu saja. Demikian juga Rusli. Dengan sebuah puderdons lantas diratakannya lagi bedaknya yang sedikit retak-retak oleh keringat. Bung. "Agak panas sore ini. Terlalu bebas. menurut ukuranku. maaf. kipasnya lebih cepat. "O. Aku lantas duduk. Sangat bebas. biarpun begitu sesaat kemudian seluruh perhatianku telah terpaku kepada wajah perempuan yang sedang tertawa itu.Tiraikasih website http://kangzusi. "Silahkan. "Boleh saya?" tanya Kartini bangkit. Wangi bedak dan minyak berombak-ombak masuk hidungku.com/ Dan dengan berkata begitu dijatuhkannyalah badannya ke atas kursi yang paling dekat kepadanya seraya tertawa-tawa.

si Rusli ini cuma tersenyum-senyum sendirian saja. "Aku tidak sesat toh?" Senyum memancar dari wajahnya. Sungguh bebas ia! Terlalu bebas. Heran. Batang ke sekian belas.Tiraikasih website http://kangzusi. kecewa. mencela. takkan tersesat!" jawab Kartini tertawa sambil menghilang ke dalam kamar.. menurut ukuranku. Jangan takut. "Jadi kita pergi?" ia bertanya memandang Rusli. Menoleh aku kepada Rusli yang sedang runduk menggulung-gulung rokok kawungnya. seperti ada yang lucu atau menggembirakan. Baru-sekali itu aku berada dalam keadaan yang menimbulkan perasaan-perasaan yang tidak tentu bagiku: heran. . sayang. sehingga kainnya tersingkap sedikit ke atas memperlihatkan betis yang mengemas kuning.. pikirku. Udara berombak lagi membawa wangi "Soir de Paris". Mimpikah aku? Atau bagaimana ini? . Aku tidak mengucap apa-apa.. Sejurus kemudian terdengar lagi suara selop berketepok kembali keluar dari kamar. Dan dengan "permisi tuan" yang segera disusul oleh "silakan nyonya" dan deritan kursi yang digeserkan di atas tegel. Tahu jalan. Bermacammacam perasaan simpang siur dalam hatiku. Aku tercengang-cengang saja melihat semua itu. Kaki kanannya bersilang di atas yang kiri. Ia masuk ke kamar. curiga tapi pun juga gembira. Kamar seorang laki-laki bujangan. Ya. juga gembira.com/ "Aku sudah besar. Kartini lewat di belakang kursiku. Dan pusat ombak semerbak itu segeralah duduk di atas kursinya lagi.

Mau ke mana mereka. gembira karena ada harapan untuk memperbaiki sikapku yang kurang hormat itu. sedang tangannya membawa tempat sabun dan sebuah gelas berisi sebuah sikat gigi. "Saya permisi pulang saja. Rupanya nampak kepada Rusli. Dan sambil menarik-narik jari melebarlah bibirku seolah-olah hendak tertawa atau ada yang hendak kukatakan. memadamkan rokoknya dalam asbak. pikirku. bukan? Masih sore toh?" Aku mengangguk." sahut Rusli.ang baru datang. Wali. atheis 4 41 "E-e-eeh. "Ah tentu saja Saudara Hasan mau duduk-duduk sebentar sampai saya selesai mandi dan berpakaian. Tapi tiada suara yang keluar. terasa darah membakar telinga lagi. ini mau pergi. maka lekaslah ia berkata dengan senyuman yang ramah dan lagu yang setengah membujuk." kataku. "Apa ini? Masa tidak menghormati tamu yang baru datang? Or. dan untuk memperbaiki lagi suasana." kata Rusli. "Saudara-saudara bercakap-cakaplah saja dulu. karena merasa . Rusli kemudian masuk kamarnya.Tiraikasih website http://kangzusi. Dan sejurus kemudian bangkitlah ia dengan permisi hendak mandi dulu. itu tidak bagus dong!" Aku agak malu." katanya pula.com/ "Tentu saja. Hidung bergerak tak keruan. barangkali mengganggu mereka. bahwa aku malu karena ucapannya itu. dan segera keluar lagi me-nyelampaikan handuknya di atas bahu.

" "O dekat. "Silakan Tuan!" Aku tertegun sejenak. Ia lebih suka rokok kawung atau sek. "Sudah satu jam kira-kira." "Di mana?" (sebetulnya aku sudah tahu dari Rusli tadi. sedikit terperanjat. "Saya terlalu banyak merokok. pikirku. "Rumah Tuan di mana?" "Dekat. Sungguh perempuan aneh dia." kata Kartini." jawabku sekedar jangan terus bungkem saja. ketika mereka datang ke kantorku? Tapi mungkin juga Kartini tidak menaruh perhatian). Kemudian Kartini mengeluarkan satu pak sigaret dari tasnya lantas disodorkannya kepadaku. Timbul lagi perasaan heran dalam hatiku." Beberapa jurus hening.Tiraikasih website http://kangzusi. "Saya di Lengkong Besar 27." katanya pula sambil meno-kok-nokok sebatang rokok di atas meja. memasukkan rokoknya ke dalam mulut.com/ "Tuan sudah lama?" tiba-tiba Kartini bertanya." sahutku. sebab bukankah tadi siang telah kukatakan kepada Rusli. karena pikiranku sudah melayang-layang tak tentu lagi. "Saudara Rusli tidak suka merokok sigaret. Di Jalan Sasakgantung 18. Hening lagi beberapa jurus. "Tuan tidak merokok barangkali. bukan saja bebas tapi pun merokok pula. dan rasanya dia pun tahu alamatku. . Saya pun tidak jauh dari sana.

Sangat indah cara wanita muda itu menjepit sigaretnya dengan telunjuk dan jari tengahnya yang runcing itu. hanya mengangguk saja dengan setengah tertawa setengah melongo. cara mengeluar-masukkan sigaretnya ke bibir yang merah itu dan terutama pula lenggaklenggik tangannya yang berirama seperti serimpi. apakah aku merasa girang. melenggok-lenggok seperti serimpi pula. melainkan tetap asyik melihat asap rokoknya yang sekarang sengaja ditiupnya bulatbulat dari mulutnya. Mendesir suaranya dari mulutnya kalau ia meniup serimpiserimpi asap itu. atau bagaimana. Kadangkadang serimpi-serimpi halus kebiru-biruan itu ditiupnya alonalon. Tak mengira seujung rambut pun. Agaknya Kartini senang bermain-main dengan asap itu.com/ Dinyalakannya sigaret itu sendiri. Maka berpencaranlah mereka. bergelut-gelut di udara tak berketentuan. langsing-1 ampai. Tidak menoleh ia ketika mengucapkannya itu. atau heran. atau sangsi." Agak tercengang aku mendengar suara tiba-tiba itu. . dan udara berombak-ombak menyebarkan paduan wangi dari sigaret dan "Soir de Paris". Hampir tak kedengaran.Tiraikasih website http://kangzusi. aku tidak tahu benar. bahwa aku akan mendapat undangan semacam itu dari mulutnya. Asap panjang-panjang mengelu dari ujung sigaret. Aku memandangnya dari samping. Hanya terasa olehku bahwa hatiku sudah tak tentu lagi. Entahlah. Indah sekali hidungnya yang bangir *) itu ditilik dari samping! Sungguh perempuan cantik ia! "Datanglah sekali-sekali ke rumahku. Sebentar kemudian berkepul-kepullah sudah asap dari mulutnya. Maka aku pun tidak menjawab dengan tegas.

Aku sudah dikenal orang sebagai seorang alim dan saleh. agama pun memperkenankan bohong. San.Tiraikasih website http://kangzusi. Dan terutama sekali: apa akan kata orang nanti. Maka jawabku pun tegas. Dan ingatlah kita sudah lama berpisahan. Tapi tidak mengapa." jawabku sekedar alasan yang kucari-cari. Apa kata orang nanti? Dan memang aku pun tidak suka menonton. mengapa tidak mau ikut? Filmnya bagus. sebab berteriak di muka Kartini aku tidak berani.mancung." "Saya ada urusan lain mesti ke rumah Paman. atau diajak oleh seorang perempuan. karena aku tidak suka menonton. tidak biasa berbohong. ikutlah!" kata Rusli setengah berteriak dari dalam kamar yang ditutupkan pintunya." Makin banyak teman. Ia sudah selesai mandi dan sedang berpakaian. Aku merasa terpaksa berbohong demikian. dan tiba-tiba kelihatan duduk di bioskop bersama-sama .com/ "Dan sekarang? Tuan toh akan ikut juga menonton?" "Menonton?" Belum pernah aku menonton bersama-sama dengan seorang perempuan. kalau memang perlu untuk keselamatan agama dan sesama hidup. Marilah untuk malam ini kita sama-sama bersuka-ria. Clark Gable pegang peranan utama. "Ah tidak!" "Sayang. Apalagi oleh seorang perempuan asing yang baru saja kukenal seperti Kartini *) . itu." "Ya. Aku berbohong. Gone with the wind. Entah terdengar atau tidak oleh Rusli. Didikan keagamaanku tidak sesuai dengan sifatsifat keriahan dan keduniawian macam menonton bioskop itu. makin gembira.

Aku terbang ke kamar mandi mengambil air wudu. walhamdulillahi kasiran.. meluncurlah rasanya seluruh jiwaku ke dalam ketiadaan yang tak berbentuk tak berbatas. Akan tetapi itu hanya untuk beberapa detik saja. Terkejut aku. Dan perempuan macam apa lagi! Macam Kartini! Perempuan yang terlalu modern. . Seluruh jiwa kupusatkan ke hadirat Ilahi. Tapi makin keras aku berusaha.com/ dengan seorang perempuan yang bukan muhrim.. tidak boleh.. Allah Akbar! Allahu Akbar! Bertelungkup kedua belah tanganku di atas jantung. Allahu Akbar! Allahu Akbar! alalfalah! Hayya alassolah . Hilang juga Kebon Manggu.. Tapi muncul kantor kotapraja. Allahu Akbar kabiran. makin keras bayangannya menempel dalam pikiran. Kupejamkan mataku. Hayya alalfalah! Hayya Bergetarlah rasa jiwaku dalam menadahkan tanganku ke atas. 3 Sampai di rumah Magrib menyambut aku dengan tabuh. Kebon Manggu kudesak lagi supaya hilang.mungkin harus disangsikan pula kesusilaannya. .. Sejurus kemudian aku sudah terbenam dalam suasana kesucian. Segala pancaindera kututup. Dibawanya aku pindah lagi ke Kebon Manggu 11. dan..Tiraikasih website http://kangzusi... sebab sesaat kemudian dengan tiada kuinsyafi lagi pikiranku sudah melantur-lantur lagi. Tidak! Aku tidak mau. Keras-keras kuucapkan.

com/ Laksana dalam bioskop agaknya.. Padahal seluruh hidupnya tidak lain daripada melakukan perbuatan-perbuatan yang berbarengan. Detik ini scene di kamar mandi. Jengkel. dari scene*) ke satu meloncat ke scene lain. Bersimpuhlah aku membaca ayat attahiyat awal dalam rakaat kedua. merupakan untaian scene ke scene. Scene ke scene seolah tak ada pertaliannya. Tetapi sebentar cuma. hari ini scene di Bandung. Sadar lagi aku bahwa aku sedang sembahyang. Aku tidak bisa mengekang pikiran dan khayal dan kenangan yang licin seperti belut itu menobros lagi. di pasar baru. Sungguh kosong ucapan orang. Begitulah .. Tiga kali kubaca: subhanahu robbial a'la! Hilanglah pula aku. melantur-lantur lagi pikiranku. Astaga. seakan-akan tak ada pertaliannya satu sama lain. padahal tali hidup mempertali-kannya. Allahu Akbar! Bersujudlah aku. seakan-akan tak ada saat peralihan. bahwa katanya manusia itu tidak bisa berbuat sesuatu berbarengan dengan perbuatanperbuatan lain. di Jakarta dan sebagainya. kening bertemu dengan lapik. di bioskop dan sebagainya. detik tadi di jalan raya. muncullah tiba-tiba dari ketiadaan wajah Kartini dengan senyumnya berseri-seri. karena sekarang aku bersembahyang tidak seperti biasa. lusa mungkin di Surabaya. besok di Garut. Maka dengan tak kuinsyafi pula. padahal tali cerita menghubungkannya. membentang dari scene lahir ke dunia sampai ke scene masuk lobang kubur . detik nanti di warung kopi.. Demikian pulalah hidup seharihari.Tiraikasih website http://kangzusi. Maka terbayang-bayanglah lagi segala peristiwa tadi di kantor kira-kira jam satu siang. tampil ke muka mata batinku. hanyut ke dalam ketiadaan.

. Hilang semua. selain ruang yang terang-terang kabur. Aku bersujud sambil ngelamun. apakah ruang itu. Malah tiba-tiba meloncatlah ke jaman kira-kira sepuluh tahun yang lalu. bahwa Kartini itu sangat sama rupanya dengan Rukmini. wajah Rukmini. .Tiraikasih website http://kangzusi. Pun diriku sendiri sudah hilang tenggelam ke dalam ketiadaan. Pendek kata manusia itu *) adegan adalah suatu dunia yang ramai. apakah waktu apakah apa. . Maka seakan-akan suatu "perbuka" dari Tuhan. Demikianlah keadaan dalam rakaat ketiga. aku tidak tahu. tak berbatas tak berbentuk. . Khayal dan pikiran sudah mati. Tiada nampak apa-apa lagi keoadaku'. Tapi entahlah. A'udzubillah! begini? Kenapa sembahyangku sampai melantur Merajuk-rajuk aku dalam hati..com/ pikirku. Lihat saja aku sendiri. Hanya aku tahu. ke Kebon Manggu lagi. karena hati dan pikiran kita sedang bulat menghadap ke hadirat Ilahi.. Bahkan tak terasa olehku bahwa badan dan segala anggotanya bergerak-gerak melakukan segala gerakan sembahyang Magrib. bahwa itulah sembahyang yang dianggap sembahyang yang sempurna. Kupusatkan lagi seluruh jiwaku ke hadirat Tuhan yang Maha Esa. Scenescene tak ada lagi. insyaflah aku. Semua berlaku dalam ketidakinsyafan. Tapi tak lama kemudian aku sudah berpindah lagi ke alam nyata. Sekilas mengkilat di muka mata batin wajah "dia". Tadi siang bertemu dengan Rusli sambil memegang potlot. tapi pun sambil kagum juga akan keindahan hidungnya dan akan kecantikan wajahnya. Tadi duduk berhadap-hadapan dengan Kartini sambil merasa heran melihat tingkah-lakunya. Maka hilanglah lagi segala ke dalam ketiadaan.

com/ bahwa mungkin karena itulah. Makin lama bertambah cepat. Lailaha illallah! Lailaha illallah! Berzikir. napas kutahan-tahan. makin cepat. makin keras. tapi ringan terasa seluruh badanku. dalam tawadzuh pun alangkah sukarnya bagiku untuk memusatkan seluruh jiwa ke hadirat Yang Maha Esa. (Tidakkah mungkin dunia tempat kita hidup ini pun sedang "terbang" juga. berzikir . dan jika ia tidak berputar lagi. Makin lama makin cepat zikirku.. Berhenti aku dengan berzikir. Tapi setali tiga uang. . Kuambil tasbeh yang terletak di sampingku. Dari alat menghitung sudah berganti menjadi alat pengatur irama. lantas bertawadzuh. karena ia berputar.Tiraikasih website http://kangzusi. sehingga pada akhirnya serasa terbanglah juga diriku. maka kalimat "lailaha illallah" itu pun sudah tak tentu lagi kedengarannya. Semua pancaindera kututup lagi erat-erat. Ringan seperti orang yang baru turun dari korsel. Duduk bertekun. dengan sendirinya akan jatuh? Ke mana?). Seperti dalam sembahyang juga. melainkan terus duduk bersila di atas lapik. Selesai sembahyang aku tidak lantas ke luar.. ringan terapung-rapung laksana bersayap. Pusing kepalaku. Lantas berzikirlah aku. tapi makin lama makin cepat sehingga terbanglah pada akhirnya. Dagu menekan kepada kerongkongan. seperti kincir kapal udara layaknya: mula-mula berputar lambat-lambat. Pikiran dan khayal membawa lagi scene-scene seperti tadi. sudah berubah menjadi "eha-eha" Tasbeh pun sudah tak keruan juga berputarnya. Dan dalam kecepatan dzikir yang memuncak itu. Demikianlah pula dengan diriku dalam berdikir. dan seluruh jiwa kupusatkan lagi ke hadirat Ilahi. maka aku merasa tertarik kepada Kartini itu.

" Pun dalam sembahyang Isa aku banyak terbawa melantur oleh pikiran dan khayal. Akan tetapi seperti dengan musim duren atau dengan air laut yang pasang-surut. "Makanlah duluan." kata bibi dari kamar sebelah. Nak. demikianlah pula halnya dengan permintaan orang-orang yang mau menumpang kepadanya: kadang-kadang sampai ada lima enam orang. Ia menjadi janda sejak lima belas tahun terahir ini. sebagai penambah-nambah 'nafkah. Maka sesudah selesai keluarlah aku dari kamar dengan hati yang agak kesal. aku memberi bayaran yang lebih besar dari biasa. Sampailah kepada suatu tanda-tanda bikinan manusia: suara beduk Isa yang dipukul orang di langgar. dan tak ada kepunyaannya selain daripada rumah yang didiaminya sekarang itu.. tetapi kadang-kadang pula hanya satu-dua. Bibi adalah seorang janda yang telah berusia kira-kira lima puluh tahun. Selain menerima orang-orang indekos. maka ia menerima anak-anak sekolah atau bujangan-bujangan yang sudah bekerja numpang padanya. Aku tinggal pada bibi itu sejak bersekolah di Mulo. Aku tahu. Dan sejak tiga bulan ini.. Oleh karena itulah maka sekedar untuk menolongnya.Tiraikasih website http://kangzusi. waktu mengalir terus. hanya aku sendiri yang tinggal kepadanya.. Dalam pada itu. .'Sekedar untuk turut makan. mengumpulkan tenaga baru guna membulatkan lagi seluruh jiwa rohani kepada Tuhan.. "Usali fardu Isa. Aku tunduk kepada disiplin.com/ Sekali-sekali aku menarik napas panjang. bahwa keadaan hidup bibiku itu sangat sukar. Berdiri lagi.. mengucap.

Terpaparlah di atas para-para bayangan kenangan kepada peristiwa-peristiwa pada kira-kira setahun yang lalu. ialah ketika aku masih "volontair" atau magang di kantor kotapraja ("herdines*) model baru". Ia pun masih bersembahyang. bibi sangat rajin beribadat. Seakan-akan cecak-cecak itu sengaja mau memperingatkan aku kepada dua soal hidup yang terpapar serentak di muka mataku. Mempertahankan hidup diri sendiri dan mempertahankan hidup sejenis. Hanyut lagi aku dalam kenangan kepada permulaan aku berkenalan dengan gadis itu." sahutku melangkah ke sebuah kursi malas di sudut serambi tengah.com/ bibi itu membikin juga kue-kue yang dijual oleh Pak lngi. "Biar Bi. Ketika itu aku ditimpa oleh suatu kesedihan yang rupanya takkan berbeda dengan kesedihan Sri Rama ketika ia mengetahui. Tadi ketika sembahyang. Berbaring menengadah ke para-para dengan berbantal tangan. Mungkin karena kesukaran-kesukaran itu. kudesak sekeras-kerasnya dua wajah wanita yang hampir serupa itu. seorang pedagang yang rajin. Ketika itu Rukmini dipaksa kawin oleh orang tuanya. Ce-cak-cecak berkejar-kejaran. Bercerecek suaranya.Tiraikasih website http://kangzusi. Maka hilanglah seolah-olah cecak-cecak dengan dua macam soal hidup itu. saya tunggu bibi saja. Ada yang bere-but-rebutan nyamuk atau kupu-kupu kecil. ada juga yang ber-cumbu-cumbuan. . Dengan lesu kuhempaskan diri ke atas kursi malas itu. ketika ia menyuruh aku makan duluan itu. Tapi sekarang kupersilakan ia muncul dengan leluasa dalam mata batinku. bahwa kekasihnya Dewi Sinta diculik oleh Rahwana.

Pendek kata." . *) maksudnya: "herendienst" = kerja paksa tanpa bayaran di jaman VOC Lambat-laun kami itu diikat oleh tali cinta. Bibimu bukan saja dihina oleh seluruh famili wedana itu tapi juga sesudah kekayaannya habis dihisap oleh si menak itu. Cita-citanya sama dengan aku. suka sekali bercakap-cakap dan pandai pula bersolek. Pernah Haji Kosasih berkata begini (menurut pengaduan Rukmini kepadaku). Ingatlah Bustom. Rukmini adalah seorang anak Haji Kosasih.Tiraikasih website http://kangzusi. Tapi alangkah malangnya bagi kami. karena orang tuanya sama sekali tidak setuju dengan percintaan kami itu. ia tetap rajin melakukan sembahyang. percintaan kami pada akhirnya menjadi korban daripada pertentangan antara dua kias. tapi aku belum berani bilang apa-apa kepada mereka) tentu tak akan menyetujuinya. kias feodal dan kias burjuis. ia tidak kaku dalam pergaulan. Orang tua Rukmini tidak mau anaknya dikawinkan dengan seorang "menak".com/ menurut istilah Rusli. seorang wedana yang kemudian dilepas itu. Tapi biarpun bersekolah Katolik. yaitu seorang pedagang besar di kota Bandung. "Jangan Nak. ketika tadi kuceritakan hal riwayat itu kepadanya). Memang orang tuaku pun (kalau mereka tahu. jangan engkau berangan-angan hendak kawin dengan seorang keturunan "raden" atau "menak". Ia baru saja tamat sekolah kepandaian putri yang diselenggarakan oleh missie. Memang perasaan keagamaan pada gadis itu sangat tebal. (Begitulah menurut istilah Rusli. ia dibuang begitu saja. oleh karena orang disuruh kerja dengan tidak digaji). mau mengabdi dan memajukan agama kita. selalu riang dan ramah. Walaupun begitu. berpuasa dan lain-lain lagi perintah agama Islam.

bercita-cita supaya aku mengambil istri dari kalangan "Raden" pula. Bi. Itulah maka aku memohon kepada ayah.Tiraikasih website http://kangzusi. Berbulan-bulan aku terhuyung-huyung seperti mendukung beban yang berat. lalu bangkit. sedang mengantuk menunggu kami makan. Serasa kiamatlah sudah bagiku. Tiada pegangan lagi bagiku yang berupa harapan untuk hidup bahagia di dunia fana ini." sahutku terkejut. Si Minah. . "Belum juga makan. Sejak itu lamalah aku merasa diriku laksana mobil yang maju tak bersupir. seakan-akan petunjuk Tuhan. bahwa agama yang kupeluk itu tidak memberi pelipur yang kuinginkan dalam kesedihan yang menguasai seluruh jiwaku itu. ketika perkawinan kekasihku itu dilangsungkan. San?" "Belum. babu kecil berumur dua belas tahun. supaya aku dibolehkan turut memeluk ilmu tarekat atau mistik yang dianutnya itu. timbullah ilham padaku untuk mencari pelipur hati dalam agama yang lebih mendalam." ajak bibi. seraya pergi ke serambi belakang. Terasa olehku.com/ Sebaliknya orang tuaku pun. kalau tidak tiba-tiba terdengar suara bibi yang keluar dari kamarnya. Bahkan hampir-hampir aku hendak jatuh sakit lagi. Kuikuti dia dengan hati yang lebih suka ngelaniun terus daripada dengan perut yang minta isi. Rasanya aku akan terus hanyut ke dalam kenangan. karena selalu didesak-desak dan dibujukbujuk maka Rukmini pun lantas mau juga dikawinkan kepada seorang saudagar dari Jakarta. Pada akhirnya. "Mari kita makan dulu. Pada saat itulah.

"Kenapa sedikit amat makannya. "Pijat kakiku.com/ "Hai Minah!" Bibi membentak sambil bertepuk tangan. lidah menjadi tebal dan geraham menjadi besi. di Singapura. Sehabis makan. Tapi riwayat Rusli itu tidak begitu berkesan kepadaku. sebab terasa belum ngantuk. Lampu kunyalakan. sebab ingin berbaring-baring sambil merokok. Bi! Tadi disuguhi kue-kue di rumah teman!" jawabku berbohong. gigi serasa menjadi panjang. bila dibandingkan dengan riwayat Kartini yang kudengar tadi juga . Maka terbayang-bayanglah lagi segala apa yang diceritakan oleh Rusli tadi. "Ada kucing. Makan sirih. Kedua belah kakinya dilunjurkannya. Kusiakkan kelambu.Nya?! Ada kucing?! Aku tidak begitu nafsu makan. di Jakarta. "Sudah kenyang. di Palembang. karena kebetulan tidak banyak lauk-pauknya. San?" tanya bibi dengan perasaan seakan-akan agak malu. Enak merokok sesudah makan. Padahal aku tidak boleh banyak merokok. Dari kamar makan aku terus saja masuk ke kamar tidur. sunaya hilang kantukmu!" perintahnya kepada si Minah yang baru habis makan. Entahlah. bibi lalu duduk seperti biasa di atas dipan di serambi tengah. menipis hilang seperti kata-kata pidato yang kosong. "Bangun!" Si Minah bangun terperanjat. Asap berkepul-kepul dari mulut. tak berkesan apa-apa. Riwayat Rusli yang begitu banyak pengalamannya.Tiraikasih website http://kangzusi.

ia sudah menjadi istri orang lain.. Kubuka salah satu lacinya.. Tapi biarpun begitu. yang membukakan pintu hatiku untuk mengeluarkan lagi segala perasaan yang sudah lama kusimpan dalamnya. Tiba-tiba terkilatlah pula pertanyaan dalam hatiku. "Tidak mungkinkah ini suatu kemurahan Tuhan jua?" Sungguh sudah sama kedua orang itu. Aneh. berbaring lagi setengah duduk. mengambil sebuah album dari dalamnya. tiba-tiba aku diperkenalkan dengan seorang wanita yang persis dia? Tidakkah ini berarti bahwa Kartini itu pengganti Ruk? Mengkilat pertanyaan-pertanyaan itu dalam hati. dan tidak pula aku berusaha untuk memberi jawaban kepada pertanyaan kilat itu. Kutaruh lagi album itu ke dalam laci meja tulis. Tapi tiba-tiba kulemparkan lagi. Tapi mengapa sebetulnya maka begitu? Pernah pertanyaan itu terkilat dalam hati. Kucium potret itu. Tidak boleh.. Rakhmat-Nya berkat kerajinan beribadat? Suatu bukti yang harus meyakinkan aku akan keluhuran ilmu tarekat yang kuanut itu? Bukankah aku sedang berkial-kial dalam kesedihan karena ditinggalkan oleh Ruk. Agak lama kutatap potret Rukminf. Sudah mati bagiku.Tiraikasih website http://kangzusi. * Persis dia. tidak mudah aku melupakan "dia". pikirku. membuka-buka album. Maka meloncatlah aku dengan tiba-tiba dari tempat tidurku. aku tidak tahu. Kemudian albumnya kupeluk dan kutekan dengan mesra ke dada. bergegas ke meja tulis. Kemudian kembali *ke tempat tidur.com/ dari mulut Rusli. Entahlah. . potret itu seolah-olah sebuah anak kunci bagiku.

Aneh. Menjelma kembali dalam diri Kartini. Aku tidak boleh banyak merokok. Ya. dan jalan Ruk kurang lincah. kurang bebas.com/ Maka berpindahlah lagi kenanganku ke Kebon Manggu 11. Lantai dekat tempat tidur sudah penuh dengan abu. Setelah reda batukku. kutatap rokok yang masih bernyala itu. Kunyalakan lagi rokok sebatang. Bedanya hanya karena Ruk tidak mempunyai tai lalat di atas bibirnya. Ya. Sebentar menyelinap perasaan takut melihat puntung itu. Kuburan yang sekali-sekali kukunjungi pada saat kalau aku merasa terlampau rindu kepadanya. Sungguh sama kedua orang itu! Terutama sekali tertawanya. berhubung dengan jawaban yang kuberi sendiri kepada pertanyaan itu. Memang Ruk tidak memberi kesan yang modern seperti Kartini. mengapa kusimpan juga? Untuk apa? Padahal telah kutetapkan dalam hatiku sendiri. kadang-kadang sangat rindu aku kepadanya. ( Tapi kini Rukmini seolah-olah sudah hidup kembali.Tiraikasih website http://kangzusi. Akan tetapi hanya sekilat saja. tapi malam itu seperti tak peduli larangan dokter itu bagiku. jawabku. entahlah. Tak kan beda rasanya dengan rindu tiap orang yang ditinggalkan mati oleh kekasihnya. Kubuang rokok yang baru seperempat terhisap itu ke lantai. setelah puntung kesatu kubuang. karena . Tiba-tiba aku batuk-batuk. Sebab. mati____ Tertawa juga aku. bahwa Ruk sudah mati bagiku. Terselak kerongkongan karena asap sigaret. Ingat kepada album tadi. Dan kuburan Ruk itu ialah album itulah. Aku tertawa dalam hati. kan tiap orang yang mati itu harus mempunyai kuburannya. takut kebakaran.

ketika terpikir olehku bahwa mustahillah aku akan bisa jatuh cinta kepada seorang wanita yang begitu mondain*) seperti Kartini. tak tahan lagi aku! Aku menjadi sebal dan mual. bahwa puntung itu jatuh di tengah-tengah tegel yang dingin. kupeluk guling. bila kukupas benci kepada si tua bangka itu. ialah ketika mengkilat pikiran dalam hati. Berontak terhadap si Arab tua itu. pikirku. ialah bahwa pada saat ini si rentenir itulah manusia yang paling aku benci. kalaukalau aku akan jatuh cirtfa kepada Kartini itu. Tapi perasaan yang ganjil itu hilang sudah pada saat itu juga. jijik. Bukan hanya karena ia suka makan riba. Gadis yang jelita dan tidak berdosa itu harus menjadi korban. jauh dari sesuatu benda yang bisa terbakar. Jijik. tidak mau. atau benci karena ia sudah mengambil Kartini sebagai istrinya yang nomor empat? Entahlah! Tapi yang pasti kutahu.Tiraikasih website http://kangzusi. Sambil berbaring-baring demikian itu. Benci kepadanya. mengalir secepat listrik ke dalam otak mencipta pikiran-pikiran yang kemudian memalukan rasa keagamaanku. Aneh. dibaktikan kepada seorang tua bangka. manakah yang paling berat: benci karena perasaan agamaku tersinggung oleh karena si rentenir itu suka makan riba. Hatiku berontak. Entahlah. Tibatiba khayal membentangkan di muka mata batinku bayangan sesuatu scene. .com/ kulihat. tapi pun juga (atau terutama juga) karena ia pernah mengawini Kartini. yang suka makan riba itu?! Kupejamkan mataku. jijik! Hampir berteriak aku dalam hati. Secepat perasaan takut itulah pula agaknya yang pernah juga timbul dalam hatiku. tak tahulah aku. menyusukkan kepala ke bawah bantal: Aku tidak mau mengingatnya. Biarpun begitu kadang-kadang tersembul pula sesuatu nafsu dari gua hitam sanubariku.

Masih terdengar olehku tadi perkataan Rusli. Dari kamar sebelah terdengar pintu berderit. Bangkit aku." Kalimat-kalimat Rusli itu masih jelas terdengar dalam telingaku. *) Kedunia-duniaan. Aku merokok lagi. Dia seorang perempuan terpelajar yang baik pula sifat tabiatnya.. Tapi mana bisa Rusli membawa dia ke jalan yang baik?! Rusli sendiri harus "diislamkan" dulu. Sebentar kemudian suara berkumur-kumur.?" .Tiraikasih website http://kangzusi. Dan sekarang kucoba bawa dia ke arah jalan yang baik. Malam sudah sunyi benar. Lalu duduk depan meja. krrrlok. Tidakkah ia tadi berani berolok-olok secara tidak senonoh yang sebetulnya sangat menghina perasaan keagamaanku dengan bertanya. Dia sendiri harus dibangunkan dulu. Masih jelas. "Aku telah angkat dia dari rawa kebusukan. Radio punya tetangga sudah bung-kem. dibimbing ke arah keagamaan. .com/ Aku merajuk-rajuk.. disambung dengan suara curahan air dari mulut ke dalam sebuah tempat ludah: krrlok." kata Rusli tadi. Sekarang kucoba bangkitkan perhatiannya kepada perjuangan politik kita. seperti suara cetus korek api yang kukorekkan di dalam sunyi itu untuk menyalakan lagi sebatang sigaret. Hanya dari jauh sekali-sekali kedengaran suara tuter mobil sayup-sayup menembus ke dalam kamarku. Guling kutendang ke sudut kanan. "Belumkah saudara kenyang juga dengan sembahyang tiap hari lima kali itu? Belum dikabulkan juga segala permohonanmu itu oleh Tuhan . "Ke arah jalan yang baik.

tapi musim sembahyang ia membawanya ke bioskop.com/ Haha! Hendak membawa Kartini ke arah jalan yang baik. Tidak. itulah satu-satunya arti bioskop. ialah mesti orangorang yang alim.. seolah-olah aku menjawab pertanyaan yang berarti perintah dari guruku itu. Beberapa jurus aku termangu-mangu saja. itu adalah pewajibanku. Kurenung-renungkan "perintah gaib" itu sehingga bulatlah sesuatu tekadku. satu-satunya jalan yang baik bagi ummat ialah jalan Allah. Ada-ada saja. Asap sigaret berkepul-kepul. arti film. kalau ada orangnya yang harus membawa dia kembali ke jalan yang baik. seakan-akan suara guruku. yang saleh. "Hai Hasan! Tidakkah itu kewajibanmu?" Aku terkejut.w. Ya bulat-bulat! seolah-olah lambang bagiku. Girang rasa hatiku seperti seorang pemuda yang baru mengambil putusan yang optimistis. Memang. bukan jalan bioskop. Mukaku berseri-seri seperti muka danau menyambut matahari pagi. Kuhisap-hisap rokok. tempat kapir-kapir memberi contoh bercium-ciuman.. mencari kebaikan di tempat kebusukan. Jalan inilah yang harus ditempuh oleh Kartini. Kiyai Mahmud. . melingkar-lingkar ke atas. Sesungguhnya. yang kudengar itu. jalan agama yang telah dirintis oleh Rasul-Nya.a. Ya. berpeluk-pelukan atau berzinah . yang rajin beramal ibadat.. tempat kebusukan. Lambang tekad hatiku yang sudah bulat sebulat-bulatnya untuk sesuatu maksud yang akan kujalankan.Tiraikasih website http://kangzusi. bulat-bulat. bukan macam si Rusli itu. Nabi Muhammad s.

dua-duanya akan kubawa ke jalan yang baik. supaya diberi-Nya aku taufik dan hidayat untuk menjalankan kewajibanku sebagai seorang ummat Islam terhadap sesama hidupnya yang tersesat. kataku dalam hati dengan tegas. Maka tak lama kemudian aku pun dengan penuh perasaan khidmat kepada Tuhan sudah asyik-masyuk melakukan sembahyang "taat". Maka lekas-lekaslah aku pun mengusap muka seraya berbisik: Astagfirullah! Astagfirullah! Malam sudah sangat sunyi. Berkali-kali ku tinju-tinju telapak tangan yang kiri. kalau aku berubah duduk di atas kursi. .. Dua belas kali. Jam bertiktak di ruang tengah. Cecak-cecak bercerecek. Mengambil air wudu ke kamar mandi. Bersorak rotan. neng... ke jalan agama! Dua-duanya! Seluruh jiwaku serasa penuh dengan tenaga dan semangat berjuang. Kadang-kadang dari kamar sebelah terdengar pula suara bibi berkeluh. rasaku sadar akan yang hendak Tapi teringatlah segera olehku. bahwa agama melarang orang berperasaan takabur. Aku lekas bangkit.. Mimpi ditagih hutang rupanya. .. Dengan khusuk aku memohon kepada Tuhan Rabbulizzati. Mesti! Mesti! Aku mesti bikin mereka kewajibannya sebagai orang-orang Islam! Seolah-olah jendral agama menundukkan kapir-kapir. Neng. sedang mulut kukatupkan erat-erat seperti biasanya orang yang penuh semangat berjuang. atau rugi kuekuenya tidak laku.com/ Ya.Tiraikasih website http://kangzusi.neng . .

Melancarlah sepedaku didorong optimisme. besok. Aku mendayung terus. Dan dengan ringan kuletakkan badanku kembali ke atas tempat tidur.Tiraikasih website http://kangzusi. Hatiku penuh harapan dan kesanggupan. seakan-akan dua abad desak-mendesak mau menyatakan hasilnya. Mereka membawa raket. atau seakan-akan hasil jiwa terkungkung tidak mau kalah suaranya oleh hasil jiwa yang . 4 Esok harinya sehabis sembahyang Asar. rupanya mau main tennis di lapang "Swarha". Besok. sudah mengalir di tepi jalan. mandi dalam cahaya matahari yang hendak pamit. Orang" orang yang hendak main sport atau plesiran ke Pasar Baru. Delmandelman berkeleneng-ke-leneng. berbelok ke Sumedang. aku sudah mendayung lagi ke Kebon Manggu. jalan Pangeran Hari itu baik sorenya. maka bangkitlah aku dari lapik. menuju ke jalan Karang Anyar. Melihat itu aku tersenyum: Aku ada pekerjaan yang lebih penting daripada memukul-mukul bola. serta sambil mengusap muka. Di jalan Raden Dewi aku berpapasan dengan seorang pemuda naik sepeda yang dibonceng oleh seorang pemudi. maka masuklah aku ke alam mimpi. alun-alun atau Braga. kata hatiku. seolah-olah tidak mau kalah oleh suara tuter mobil-mobil yang menyusul atau berpapasan dengan mereka. Menilik arahnya. aku mulai! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Dengan tasbeh berbelit di antara jari-jariku.com/ Dengan "Allahu Akbar" yang bergema dari lubuk hatiku. Jalan-jalan sudah mulai ramai setelah sepi dari kira-kira jam setengah tiga sampai setengah lima.

kalau menurut bentakan bung kusir tadi. tersenyum-senyum saja. Aku pura-pura tak mendengar. Sepeda-sepeda berkerining-kerining. mem-bikin-bikin sikap seakan-akan kemarahan bung kusir itu bukan dialamatkan kepada diriku. Indahnya sore membikin aku lebih gembira lagi. begitulah . barangkali dia sekarang ada di sana. berpikir terus. Kartini tidak tinggal di sana. Anak yang nakal sudah membawa bakat untuk menjadi orang yang jahat. Lebih-lebih lagi karena aku tahu betul. Tapi bagaimanakah caranya nanti aku mengislamkan mereka itu? pikirku sambil mendayung. Maka aku pun mendayung terus. kenapa itu harus kupikirkan sekarang. Sedetik dua detik timbul perasaan curiga dalam hatiku terhadap Rusli itu. suci. Memang siapa yang tidak akan menaruh kecurigaan kalau ia tahu.com/ merdeka. tapi siapa tahu. bahwa Rusli itu adalah seorang anak yang nakal ketika masih kecil.Tiraikasih website http://kangzusi. bagaimana aku mesti mulai? Tapi agak ragu. Tuhan tentu ada di sampingku. lincah melancar-lancar di antara hasil dua abad itu. Hampir ketabrak delman. Insyaallah. bahwa Rusli seorang bujangan yang sudah lebih dari dewasa. Ya. bersahabatan dengan seorang janda muda yang begitu bebas dalam gerak-geriknya. "Jangan ngelamunBung?!" bentak bung kusir. untuk keperluan ini itu barangkali. Dan agaknya di antara ribuan manusia yang berkeliaran di jalan-jalan itu tidak ada seorang pun yang seperti aku mau menundukkan kapir-kapir. Bagaimana nanti saja. Ning-neng! Ning-neng! Untung aku lekas mengelak. Tapi ah. sebab maksudku baik. Atau "ngelamun" terus. akan adakah Rusli di rumahnya? Dan juga Kartini? Aku tahu.

di mana Rusli itu memilih tempat tinggalnya? Bukankah di gang yang banyak rumah-rumah pelacuran? Sebetulnya aku merasa malu untuk masuk gang itu. Dan lihatlah saja. melalui pundaknya yang tetap tegak mengarah ke depan. karena masih siang. Ning-neng! Ning-neng! Aduh hampir ketabrak lagi.Tiraikasih website http://kangzusi. "Ah tidak! Mau jalan-jalan saja!" "Kami hendak ke Bojongloa! Ada perlu!" teriak Rusli. Sesaat kemudian terdengarlah orang berseru-seru dari delman yang dalam pada itu sudah meliwati aku dengan sangat cepatnya. akan tetapi ketika kulihat. Napas kuda sudah terasa di atas pundak. Tapi ya. sambil melemparkan pandangnya yang marah dari matanya yang melotot. Aku tak acuh. tentu tidak akan. pikirku selanjutnya. maka kujawablah dengan cepat. Bung?" teriak bung kusir. Curiga terus kepada Rusli. ketika aku memandangnya. Kudengar seorang laki-laki penumpang membentak dari delman yang menyisir melalui sepedaku. melainkan bersama-sama Kartini. Ning-neng! Ning-neng! Sekarang aku hati-hati. mencurigakan apa-apa. Kartini mengangguk. Dan ketika kulihat. Pendeknya sekurang-kurangnya anak yang nakal demikian tidak akan begitu baik kesusilaannya. "Borong jalan. lekas sedikit ke pinggir.com/ kata ayah dulu. Kemudian ia . bahwa Rusli tidak sendirian. Mendayung terus. "San! San! Mau ke mana?!" Mau ke rumahmu! Begitulah setadinya aku mau menjawab. maka tampaklah Rusli menoleh ke belakang dengan wajahnya berseri-seri.

Tiraikasih website http://kangzusi. "Insya Allah!" sahutku. Kartini mengangguk ringan disertai senyum. air sudah jalan sejak tadi pagi! Terima kasih!" Di perapatan Pangeran Sumedang dan Pungkur. tapi Rusli pergi. delman Rusli berbelok ke jalan Karang Anyar. . melihat kepadaku yang mengintil di belakang delatheis 5 57 man.. karena sudah masak kuidam-idamkan akan berkunjung ke rumah Rusli sore itu.com/ tersenyum-senyum saja. seperti anak kuda mengintil di belakang biangnya. menabik kembali secara orang Arab.. membawa sesal dan kecewa. Entah di mana. " Sepedaku melancar terus ke arah Tegallega. "Kapan ke rumahku lagi?" teriak Rusli pula. "Besok sore ada di rumah?" tanyaku kembali. "Besok sore? . Ada! Datanglah! O ya. meninggalkan semangat yang riang. mau "mengislamkan"nya. ya!" seru Rusli mengangkat tangan kanannya selaku seorang kepala stasiun menyuruh keretanya berangkat. sebab sebetulnya sore itu aku sudah mau berkunjung lagi ke rumahnya. Apa harus kujawab. 5 Malam itu aku merasa kecewa.. "Sampai besok.

Kecewa hatiku berteman sekarang dengan curiga. Jam menunjukkan pukul sebelas. . Seperti kanak-kanak yang nakal. . yang hendak melakukan sesuatu perbuatan yang busuk lantas mengajak teman-temannya yang lain yang seperti dia nakalnakal juga. ? Menggigil aku. tapi tidak kawin. Pernah kudengar teman-teman sekantorku bercerita tentang apa yang dinamakan mereka "cinta merdeka" yang katanya banyak dilakukan oleh orang-orang Barat. Bibi sebagai biasa sudah masuk kamar dari jam sepuluh. berseru-seru. Maka beramai-ramailah mereka itu bersorak-sorak. Lain tidak. Mungkin Rusli dan Kartini pun . sebab biasanya ia pasang radionya itu sampai lagu penutup terdengar. seolah-olah masing-masing mau saling atasi suaranya dengan teman-temannya yang lain. Radio di sebelah sudah bungkem dari jam delapan tadi. berteriak-teriak.Tiraikasih website http://kangzusi. Hidup demikian berarti bagiku berzinah. Hatiku makin sebal. Malam sudah sunyi benar sehingga kadang-kadang kudengar napasku sendiri. Aku makin jengkel dan curiga. membikin kue-kue yang akan dijajakan oleh Pak Ingi pada siangnya. sebab esoknya ia harus sudah bangun pagi-pagi benar. Seolaholah mereka itu sudah menjadi laki-bini. . tapi karena sunyi itu makin ramailah terdengar suara bermacam-macam di dalam hatiku. Rupanya tetangga yang empunya itu sakit. Dan entahlah. Dan katanya antara orang-orang Indonesia pun kebiasaan itu sudah mulai berjangkit. Aku masih berbaringbaring di atas kursi malas di tengah rumah. artinya lakilaki dan perempuan bisa hidup bersama seperti suami-istri. Malam sunyi. perasaan pun agaknya seperti kanak-kanak juga.com/ Dan kenapa mereka itu selalu bersama-sama saja.

Tiraikasih website http://kangzusi. seolah-olah segala perasaan itu masuklah kembali ke dalam jiwaku bersama air teh yang ku teguk. Riuh! Pa Curiga sedang bicara. Mas Dongkol memberengut seperti jeruk masam. di bawah lampu. seakan-akan dengan harapan supaya segala perasaan yang mengganggu itu akan hilang tertuangkan dari kalbuku seperti air teh dari dalam poci itu. Segar rasanya. Empo Marah membentak-bentak dan merentak-rentak kakinya dengan menyingsingkan kainnya sedikit ke atas.com/ Demikianlah agaknya di dalam hatiku itu. Tapi sebentar kemudian terganggu lagi oleh perasaan-perasaan tadi itu. merajuk-rajuk. kalau aku bergerak. Melangkah aku ke meja yang ada di tengah ruangan. Minumlah aku beberapa teguk. bahkan seakan-akan sudah seperti di rapat besar agaknya. meludah-ludah. Riuhnya rapat besar dalam hatiku itu ditingkah lagi oleh ramainya sorak rotan. kadang-kadang suaranya ber-desis-desis berbisik. Ramailah lagi rapat besar. Berbaring lagi. menyikut ke kiri menyikut ke kanan. Panas rasanya dalam dadaku. Nona Kecewa berkecakkecak dalam mulutnya sambil menggigit-gigit ujung saputangannya. tegas suaranya. Aku melangkah lagi ke kursi malas. Jam bertiktak. Dengan keras aku mau mematikan segala perasaan itu supaya jangan bersuara lagi. sedang Siti Cemburu menggaung-gaung seperti anjing melolong-lolong di malam purnama. Seekor kecuak terbang dari bawah poci. matanya berkedip-kedipan atau memicing sebelah. Cecak bercerecak. seperti pernah aku mematikan suara Netty atau Annie Landow atau Bing Crosby dengan . Kutuangkan air teh ke dalam cangkir.

Tepat jam dua belas malam. memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya mereka itu dikembalikan ke jalan yang lurus. Lenyaplah sudah segala anganangan dan niatku tadi untuk mencoba meyakinkan kedua orang itu untuk menempuh jalan agama yang benar. sore esoknya aku sudah mendayung lagi menuju Kebon Manggu. Mengkilatlah ilham dalam hatiku: Perbanyaklah ibadatmu. Maka dengan tak terasa lagi berlinanglah air mata. Bergaul dan merapati mereka. Menggigil lagi seluruh badanku. Cita-cita itu telah kuke-sampingkan. Demikianlah putusanku malam itu. cinta merdeka! Berzinah itu! A'udzubillah! Kuusap mukaku. Aku hanya akan mendoa saja diam-diam dari jauh.com/ hanya memutarkan sebuah knop saja. Jauhkanlah hendaknya aku dari perbuatan-perbuatan yang sesat seperti yang dijalankan oleh Rusli dan Kartini itu. Cinta merdeka! Rusli dan Kartini. supaya dijauhkan-Nya dari segala noda dan dosa. yang benar. Tapi suara hati bukan suara radio. Gelisah aku. Maka pada malam itu kuambil putusan tidak akan bertemu lagi dengan Rusli dan Kartini. Memang. supaya kedua orang itu diberi nur Ilahi. aku melakukan lagi sembahyang "taat". agar mereka tahu menempuh jalan yang benar. aku memohon kepada Tuhan Subhanahu Wataala. berpindah niat atau pendirian .Tiraikasih website http://kangzusi. Aku hanya akan memperbanyak ibadatku saja untuk mereka. terlalu berbahaya bagiku. manusia itu kadang-kadang bisa meloncat dari ujung ke ujung. Dengan penuh khidmat. ketika aku dengan segenap jiwaku bersujud memohon ke hadirat Tuhan. 6 Tapi. berguling-guling di atas kursi malas.

karena dalam gang yang sempit itu banyak sekali anak-anak yang sedang bermain-main. oleh karena katanya sering-sering kita tidak tahu. sepedaku harus berbelok-belok. Aku yakin akan hal ini. Dengan melotot sedikit kepada anak yang memegang tali layang-layang itu aku melanjutkan perjalananku. . karena tali yang lain mengirisnya dari rambutku sehingga aku terpaksa turun. Tapi sepeda tidak kunaiki lagi. bahwa manusia itu selalu harus awas dan waspada dalam memperjuangkan sesuatu dalam batinnya. Apakah itu sebetulnya? Perjuangan pikiran? Perjuangan perasaan? Perjuangan kemauan? Ingatlah aku akan kata guruku. Bukankah mistik itu jalan yang sesingkat-singkatnya untuk bersatu dengan Tuhan? Begitulah kata guruku. Sepedaku melancar didorong oleh keyakinan suci.com/ dengan sangat tiba-tiba. Tapi kenapakah sebetulnya bisa begitu? Hasil "perjuangan batin". Hanya orang yang bermaksud suci selalu berada dalam bimbingan Tuhan. melainkan mengambil jalan terobosan. Tidak mengambil jalan kemarin. Sebuah jeruk hijau disepak-sepak oleh kaki-kaki kecil yang belasan itu jumlahnya. Seakan-akan suatu lambang bagiku sebagai seorang mistikus untuk selalu mengambil jalan yang singkat. Maksudku suci. Kualami sendiri dengan mistik. Jalan yang pendek memang tidak selamanya jalan yang mudah. Masuk gang tersebut. pikirku. Dan tak ada dua meter kemudian piciku jatuh. Tali layang-layang hampir mengait kepada daguku. bahwa aku berada dalam bimbingan Tuhan.Tiraikasih website http://kangzusi. Dan oleh karena itu aku yakin pula. yaitu melalui Gang Awiwulung. bahwa kita sudah disesatkan oleh bimbingan setan.

sedang giat beraksi. Oleh karena itu aku bisa mengobrol lagi dalam hatiku. jangan sampai tergoda atau tersesat ke jalan yang sesat. Sekurang-kurangnya harus kuberi nasihat. memang tidak baik putusanku tadi malam itu. dua kongkiren. Sampailah aku ke rumah Rusli. bahwa kita sebagai orang Islam diwajibkan untuk membawa semua ummat kepada jalan yang baik. padahal bukankah guruku pernah berkata. Dan bukankah kata guru pula. Selain kedua perempuan itu juga Mang Aman. adu cericis. bandrek dan lain-lain. itu adalah kewajibanku. bahwa kita boleh bergaul dengan siapa saja. Sekarang giliran para penjual pisang goreng. Ma Ciah dan Bi Unah. . asal kita harus tetap kuat. Tapi di sini aku tidak terganggu oleh mereka itu. Di gang ini pun ada lagi segerombolan anak-anak yang lain. Mereka sudah mulai benah-benah. Aku disesatkan setan tadi malam itu. pikirku. Bale-bale tempat pisang goreng dijajakan. Mereka harus kuislamkan. bajigur. apabila tusuk besinya membolak-balikkan pisangpisang yang berbaju tepung.com/ Tukang-tukang jualan sayuran dan tukang-tukang loak yang biasa berderet-deret di tepi gang itu. sudah pada pulang. sudah siap sedia untuk meneruskan perjuangannya sehari-hari yang sudah bertahuntahun itu dijalankannya. Ya. sudah ditutupi dengan daun pisang. Sebentar kemudian aku sudah sampai ke tikungan Kebon Manggu.Tiraikasih website http://kangzusi. wajan besi di atas api sudah merupakan sebuah kawah minyak yang bercericis-cericis suaranya. Memang mereka pun tidak sebanyak anak-anak di gang Awiwulung itu. sekurangkurangnya harus memberi nasihat kepada orang-orang yang telah tersesat menempuh jalan yang haram seperti Rusli dan Kartini itu? Ya. sebab mengapakah aku harus takut bergaul dengan Rusli dan Kartini. Dan di sampingnya.

Tidak ada lapad-lapad atau gambar Mekah dengan Kaabah di tengah-tengah seperti yang menghiasi kamarku.Tiraikasih website http://kangzusi. "Tapi permisi dulu ya. saya belum mandi. Aku duduk seraya membebaskan mata melihat-lihat keadaan di dalam serambi muka itu. . bahwa sepedaku itu tidak akan dicuri orang. Hanya satu stel kursi. Tidak banyak perkakas rumahnya di serambi itu. Melangkah ke bawah salah-satunya. Kesan itu diperkuat pula oleh sebuah kalender yang kadang-kadang bergelebar-gelebar alon-alon tertiup angin kecil bergantung di sebelah kiri dari meja itu dan sebuah rak di sebelah kanan yang penuh dengan buku-buku. Aku masuk sesudah mengunci sepeda. dan sebuah dipan rapat pada dinding dekat sebelah kiri yang ditilami dengan sehelai kain batik." Sambil tertawa badan berkimono itu menghilang ke belakang. di bawahnya: Friedrich Engels. kubaca. Wah sekarang saya bisa berkecimpung di kamar mandi. Aku berdiri ingin tahu siapa sebetulnya pigu-rapigura itu. Pada dinding bergantung pula beberapa pigura yang melukiskan potret orang-orang yang tidak kukenal. yang bila menilik buku-buku dan tempat tinta yang ada di atasnya menunjukkan bahwa meja itu dimaksudkan untuk dipakai sebagai meja tulis. tempat aku duduk. bahwa aku akan berhasil dalam "mengislamkan kapir modern" itu. Sekarang segala-gala sudah beres teratur.com/ Ia menyambut kedatanganku dengan membukakan pintu. "Silakanlah duduk!" kata Rusli dengan ramali. Ia memakai kimono coklat. Dan seperti perasaanku. Selanjutnya di sudut kanan sebuah meja kecil dengan sebuah kursi makan di belakangnya. Maka dengan kepastian demikianlah wajahku berseri-seri menyambut sambutan Rusli itu kembali. seperti itulah pula perasaanku.

" Demikianlah wejangan Ayali. Tapi lebih baik lagi. Tidak jauh dari potret itu tergantung sebuah lagi potret seperti itu. pikirku. Banyak bukunya. berhati-hatilah engkau dalam hal bacaan." Maksud Ayah itu terutama mengenai buku-buku cabul yang biasa menimbulkan nafsu birahi yang buruk pada orang-orang muda yang membacanya. melainkan pun juga terhadap buku-buku tentang agama Kristen yang banyak disebarkan oleh Zending dan Missie. "Lebih baik bacalah buku-buku yang mengandung teladan bagi keselamatan hidupmu dunia-akhirat.com/ Entahlah. Buku-buku kapir semuanya. kalau aKu berhadapan dengan buku. bahwa tentunya tidak ada tentang agama Islam. Dari potret itu aku melangkah ke rak buku dekat meja tulis. pikirku. Dan wejangan Ayali itu tidak pernah kulupakan. Tiba-tiba teringat aku kepada ucapan Ayah. pikirku berolok-olok sambil tersenyum sendirian. berjanggut kaya-raya. Belum pernah pula aku mendengar nama tersebut. kalau kau sering membaca Kitab Suci Alquran. "San. yang bisa merusak imanku sebagai ummat Muhammad.Marx. tapi buku-buku apa semuanya? Banyak bahasa Inggris juga. Kubaca di bawahnya: Kari . Mungkin kakek si Rusli. pikirku. Seorang petani Belanda yang kaya raya barangkali. Banyak buku-buku yang tak baik kaubaca. tapi dari awalnya sudah bisa kupastikan. tatkala aku masih sekolah dulu. Ingin aku mengetahuinya. aku tidak tahu siapa Friedrich Engels itu. Kata Ayali. Tapi bukan terhadap buku-buku cabul demikian saja Ayali memperingatkan aku itu. Maka .Tiraikasih website http://kangzusi. terutama surat Yasin pada tiap malam Jumat.

Sungguh bagus film itu! Bukan main! Dari mulai sampai habis seakan-akan satu kali pun aku tidak mengejapkan mata. Kulit mukanya yang agak kasar itu sekarang menjadi halus nampaknya karena memakai "Hazeline Snow". sambil menying-sring ke dalam saputangannya. Masuk angin rupanya ia. Bung. kenapa aku harus merasa sayang. "sayang tadimalam saudara tidak turut nonton. kelihatan Rusli menuju kursi seraya bersin-bersin. Sangat segar nampaknya Rusli. Begitu pula perkataan "sayang" yang diucapkan oleh Rusli itu sama sekali tidak terasa olehku. setelah kami duduk.bercampur dengan wangi sabun Lux semerbak dari seluruh badannya yang sekarang memakai piyama yang masih rata seterikanya. hanya karena tidak menonton bioskop saja. "Wah sayang. malah hanya menimbulkan asosiasi pikiran kepada rambutnya saja yang lengket karena tebalnya pomade. tidak menyahut apa-apa.com/ sekarang pun aku sama sekali tidak merasa tertarik oleh bukubuku "kapir" itu sehingga satu pun tak ada yang kujamah. Hanya hidungnya sedikit merah. Maka ucapan "mataku seperti lengket" dari mulut Rusli itu pun." kata Rusli pula. Tidak terpikir olehku. . "Sayang. Wangi pomade dan hazeline. Malah sedikit memper-kutuki "racun agama" itu. Mataku seperti lengket kepada film itu!" Aku diam saja.Tiraikasih website http://kangzusi. karena memang tidak pernah aku merasa tertarik oleh bioskop. Rambutnya mengkilap karena pomade." tiba-tiba kudengar Rusli berada di belakangku. Aku menoleh dari rak buku. Aku lantas kembali duduk di atas kursi tadi.

pikirku. Dan Rusli bukan radio. .com/ "Saya kagum melihat kecakapan dan kemajuan manusia! Sampai sedemikian pandainya mencipta. Mula-mula tentang pemain-pemainnya. aku pun mulai tertarik juga oleh ceritanya itu. berkat kecakapan Rusli bercerita. Meloncat-loncat. sehingga aku yang mula-mula beku terhadap film itu. sekarang turut pula tertawa kalau Rusli tertawa. Biarpun begitu. Tapi hatiku tetap beku saja. kemudian tentang tekniknya.Tiraikasih website http://kangzusi. lalu tentang scene-scene yang indah atau yang penuh ketegangan. Tapi terlambat. Aku buang-buang waktu saja. Mula-mula aku berbuat demikian itu hanya sekedar untuk menghormati tuan rumah saja. Rusli sudah mulai dengan ceritanya. Lebih baik aku mulai saja dengan pembicaraan tentang agama. tidak ada knop untuk menyetopnya. tentang pemain-pemainnya lagi. Maka berhamburanlah kata-kata pujian dari mulutnya tentang film tersebut. aku tidak bisa berdiam diri seperti sebuah arca dari batu. "Bagaimana ceritanya?" Saat itu pula aku merasa menyesal sekali. Padahal maksudku datang ke sana. Entahlah. Akan tetapi lama-lama." sambung Rusli. ialah hendak "mengislamkan" dia. dan turut membilang "hebat" kalau Rusli menceritakan keindahannya. sehingga terjatuhlah seakan-akan suatu pertanyaan dari ujung lidahku. Ia menggulung-gulung rokok kawung lagi. aku pun turut mengangguk-angguk atau menggeleng-geleng kepala seraya lidah berkecak-kecak seperti orang yang heran atau yang kagum. bahwa dengan pertanyaan tersebut akan terpaksalah aku mendengarkan seluruh lakon yang akan diceritakan oleh Rusli itu. karena sejurus itu juga terpikirlah olehku. Pandai benar Rusli bercerita.

betapa hebatnya ciptaanciptaannya seperti kapal terbang. dan seterusnya. bersorak dalam hati. Seperti kucing yang sabar menunggu-nunggu kesempatan untuk menyergap tikus yang sedang diintainya. Tapi dalam pada itu aku tetap meruncingkan pula telingaku untuk maksud kunjunganku itu. Aku merasa tertarik oleh cara Rusli mengupas demikian itu. tak putus-putusnya Rusli merokok." kata Rusli menutup ceritanya yang persis habis bersama dengan rokok kesekian batang yang dimati-kannya puntungnya di atas tempat abu. . supaya pembicaraan berbelok ke rel lain. Habis sebatang menggulung lagi yang lain. Tapi persis ketika Rusli sudah tamat menceritakan film itu. Sampai sedemikian tenaga khayal dan pikirannya untuk mencipta sesuatu.com/ Dalam ia bercerita. listrik dan lain-lain. ke rel agama. setengah kesempatan yang tiba. "Manusia itu nyata sangat pandai. maka kesempatan itu datanglah. Itu hanya baru berupa film. Inilah Keluarlah kata-kata dari mulutku sebagai pembukaan untuk memukul Rusli dengan agama. Tapi cobalah pikirkan. Alhamdulillah. radio." Ha! pikirku. tapi yang sebetulnya merupakan cetusan-cetusan jiwa yang meletus ke luar dari "kesadaran bawah" (seperti menurut istilah Rusli) dari para pelakunya. Sungguh lokomotip yang rakus ia! Kepandaian Rusli terutama terletak dalam melukiskan dan mengupas watak para pelakunya dan dalam mengemukakan perkara kecil-kecil yang muskil. setelah hampir jemu aku mendengarkan. "Aku betul-betul kagum. demikianlah agaknya aku menunggununggu kesempatan untuk memindahkan wesel.Tiraikasih website http://kangzusi.

hanya tersenyum-senyum saja. Ujarnya. menyingsring lagi ke dalam saputangannya. Rusli tidak menjawab. "Dan saya yakin. Rupanya membikin waktu untuk berpikir dulu? Sambungnya. bahwa dalam udara yang tidak terlihat ini. entah sepuluh tahun lagi. tidak ada seorang pun yang mengira. sambil menggulung-gulung lagi sebatang rokok baru. tapi seolah-olah tak acuh akan perkataan barusan itu. mungkin sekali dalam udara atau disebut .Tiraikasih website http://kangzusi. bahwa apa yang tidak bisa dilihat itu." kataku sambil menggeser kursiku lebih dekat kepada Rusli. berkat kepandaian seorang otak besar. tapi sekali kelak akan ketemu juga seperti listrik pada puluhan tahun yang lalu itu.com/ "Ya. Dan berpegang kepada kenyataan ini. dia mengacok! pikirku. bila dibandingkan dengan kepandaian Tuhan yang menciptanya." Rusli berhenti sebentar." Dengan tak kusangka-sangka. "Ucapan gila barangkali dalam telinga Saudara. bahwa pada suatu saat. bisa diambil dari udara ini lantas digunakan untuk keperluan manusia." Astagfirullah. tapi apa artinya kepandaian manusia itu. entah seratus tahun lagi. Beberapa jurus kemudian. sehingga ia akan sanggup menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati. Ini suatu bukti. kepandaian dan pengetahuan manusia itu akan sedemikian majunya. "Jadi. belum berarti tidak ada. dua ribu tahun lagi. entah seribu. yaitu Edison yang termasyhur itu. bukan? Tapi segila itu sebetulnya tidak! Kita pikirkan saja begini: seratus atau dua ratus tahun yang lalu. kita lanjutkan pikiran kita. barulah ia berkata lagi. mungkin masih banyak lagi halhal yang pada saat ini belum diketahui orang. Mukanya tetap tenang. bahwa di dalam udara yang tidak terlihat ini (tangannya menggapai-gapai) ada listrik yang kemudian.

bahwa manusia itu sekali kelak akan bisa menemui unsur-unsur yang belum ditemuinya di udara sekarang ini. Pada saat sekarang manusia belum sampai kepada pengetahuannya untuk mengetahui benar-benar. Dari unsur-unsur apa terjadinya nyawa itu? Tentu dari unsur-unsur yang sangat halus pula yang demikian halusnya." Aku sebetulnya tidak mengerti. apakah sebetulnya nyawa itu. masih banyak unsur-unsur yang belum diketahui oleh orang (berhenti lagi sebentar). bahwa segala apa yang ada di dunia ini mengalami sesuatu proses kimia. unsur-unsur mana akan ternyata bisa kita ambil dan gunakan untuk membikin nyawa manusia?" "Hahaha! Hahaha!" Tiba-tiba terbahak-bahak aku tertawa. sebetulnya saya harus mulai dengan menyatakan. Akan tetapi tidak mungkinkah bahwa sekali kelak manusia itu akan bisa juga membikin sesuatu alat yang bisa digunakan untuk memeriksa dan mengetahui benar-benar tentang Keadaan dan hakekat nyawa itu? Tahu akan unsurunsurnya dan bagaimana proses kimianya dan sebagainya? Nah. O ya. Dengan menggunakan ilmu kimia atau ilmu pisah kita akan bisa mengetahui semua bagian-bagian atau unsur-unsur yang menjadikan seorang manusia itu. katanya. Entahlah. aku yang selama itu diam saja.Tiraikasih website http://kangzusi. "Juga manusia adalah sesuatu benda yang terdiri dari bermacam-macam unsur kimia. Segala perobahan itu sebenarnya berarti perobahan kimia.com/ juga "ether" ini. tidak mungkinkah pula. yang dengan sendirinya mengalami juga proses kimia. sehingga pada saat sekarang belum ada sesuatu alat bikinan manusia yang bisa memotretnya atau melihatnya seperti dengan sebuah mikroskop. tiba-tiba karena . tapi kubiarkan saja dulu Rusli bicara terus. Kita baru bisa mengatakan. bahwa nyawa itu sangat halus. berarti berlakunya proses kimia.

karena mau menyamai Tuhan Maha Pencipta. Tuhan tidak ada. Wright. Orang macam begitu itu adalah orang yang kufur. kalau dibandingkan dengan perasaan keagamaan yang sangat tertusuk. bahwa dunia dan kemanusiaan lebih berhutang budi kepada mereka daripada kepada orang-orang yang mentertawakan itu. yang murtad. adalah orang yang miring otaknya. Beberapa jurus aku tidak bisa mengucapkan apa-apa. bahwa juga Pasteur." "Saya tertawa. Saudara!" A'udzubilah! seperti geledek ucapan Rusli itu menyambar kepalaku. tapi kemudian ternyata. Akan tetapi itu tidak seberapa. "oleh karena bagiku manusia yang berangan-angan mau membikin nyawa. tapi tentu saja bukan mentertawakan kalimatnya barusan itu. Aku merasa sangat tersinggung dalam harga diriku. "tapi kita jangan lupa. "Saudara ketawa. Perkataan "kolot" terasa seperti batu berdentar kepada batu kepalaku. melainkan juga oleh karena aku . kemasukan setan. yang durhaka." jawabku. dalam hidupnya itu mula-mula ditertawakan orang juga. Bukan saja karena terlalu tercengang oleh ucapan Rusli yang tak ku-sangka-sangka itu.com/ kalimat Rusli yang penghabisan ini menjadi cetusan ketawa yang hebat." "Ah mengapa Saudara berkata begitu? Itu pikiran kolot. Dan sebetulnya bukan harus tertawa saya tadi itu. Edison dan lain-lain raksasaraksasa ahli pikir dan ahli ilmu pengetahuan yang besar-besar itu." kata Rusli dengan mata yang riang tapi bercampur sedikit heran. melainkan harus menangis. Stevenson. Tapi Rusli nampaknya tenang saja walaupun ia turut tertawa juga.Tiraikasih website http://kangzusi.

bukan sekali-kali maksud saya untuk menyinggung hati Saudara. yang ditaruhnya di atas meja. Sebentar kemudian Rusli kembali lagi dari belakang dengan dua gelas berisi air teh dalam kedua belah tangannya. barangkali agar menenteramkan hatiku. sebagai seorang tamu. bangkitlah ia minta permisi hendak ke belakang dulu. Dan pertempuran antara pikiran dan nafsu amarah itu rupanya terbayang pada mukaku dan kelihatan oleh Rusli. tapi suara nafsu masih berteriak-teriak juga. Gila dia! Kapir dia! Murtad dia! pikirku. Dan memang tidak baik aku. sehingga berkatalah Rusli dengan suara yang mengandung sesal. Hampir-hampir keluar kata-kata pikiran itu. Maka kemarahanku pun menjadi reda sedikit. marah kepada tuan rumah. Begitulah suara pikiran. beberapa jurus aku memberengut saja. Marah benar aku dalam hati. apalagi menyinggung kepercayaan Saudara^sekali-kali itu bukanlah maksud saya. satu untuk dia dan satu lagi untukku. bahwa dengan marah-marah aku tidak akan bisa mencapai maksudku. Tapi lama-lama insyaflah aku. Terdengar benar olehku bahwa Rusli sungguh-sungguh menyesal hatinya.com/ mesti menahan amarahku.Tiraikasih website http://kangzusi. "O maaf Saudara. sehingga perkataannya tadi itu bisa kupandang sebagai suatu kekhilafan lidah yang tidak diinsyafi benar olehnya. serasa dibakar dalamnya tiada hawa. Tanganku kaku menggeserkan tempat abu. Entahlah. Pergilah ia." Merendah sekali suara Rusli itu seperti matahari yang dalam pada itu sudah merendah pula hendak terbenam di belakang gunung. . Sesak rasa dadaku.

Saya heran sebab tidakkah itu suatu penghianatan terhadap agama leluhur sendiri?" Rusli tersenyum. Maaf saja Bung. saya pun tidak marah. Memang banyak sekarang orangorang atheis." Rupanya Rusli ingin melanjutkan pembicaraan kami tentang agama itu. "Ah tidak mengapa." sahutku. Ia tersenyum saja. Rupanya sering ia berdebat tentang agama dengan orang-orang lain yang dijumpainya di dalam hidupnya yang penuh pengalaman itu. yang saya kenal dari kecil sebagai keturunan orang-orang muslimin. Katanya. bahwa sedikit banyaknya aku merasa tersinggung hatiku. karena sesungguhnya tidak masuk di hati saya. Saudara." "Ah tidak mengapa. janganlah Saudara sampai salah faham. seolah-olah perkataan seperti yang kuucapkan itu bukan sekali itu didengarnya. . sampai bisa menjadi seorang kafir yang tidak percaya lagi kepada adanya Tuhan. mengapa Saudara harus minta maaf? Saya tadi hanya merasa agak heran. "Masa kita ngobrol seperti di tanah Arab. sebab kalau tidak." ujarnya dengan ramah seraya mendahului menyeropot airnya.Tiraikasih website http://kangzusi. menyeropot pula airku. Tapi yah. kafir! Atau dengan kata asing disebut juga atheis. Atau mungkin juga karena ia merasa terlalu menyesal akan ucapannya tadi itu. sehingga tidak cukuplah ia minta maaf dengan sekali saja. "Ya.com/ "Mari minum Bung." Tenang saja Rusli berkata demikian itu. begitulah nasib orang bujangan. bagaimana mungkin orang seperti Saudara. sedang dia tahu. Setelah beberapa kali kami meneguk air masing-Ynasing. eh di gurun pasir saja. mengapa tidak meloncat kepada soal lain. Rusli mengulang lagi minta maaf. "Jadi sekali lagi Saudara. Tidak percaya lagi kepada Tuhan atau agama. hanya teh melulu.

selain daripada perbedaan yang berupa ada dan tidak adanya kepercayaan kepada Tuhan?" Aku berpikir. membikin aku agak gelisah." Diputar-putarnya rokoknya di antara bibirnya. "Tidak. pernah Saudara memikirkan lebih dalam lagi tentang perbedaan antara manusia dengan hewan itu." "Barangkali mau pakai gula?" "Tidak. membuang potongan-potongan tembakau yang melengket pada bibirnya. a = b. Karena itulah.Tiraikasih website http://kangzusi. Rusli memandang dengan mata yang tajam ke dalam wajahku. Asap berkepul-kepul. Cukup begini saja. "Ya tentu ada lagi perbedaannya." "Ha! Itu bagus! Saudara bisa berpikir rasionil. Maka kataku. "Bagaimana? Enak tehnya? Tidak terlalu pahit?" katanya menentang.b = c .a = c. Ditariknya hisapan dua kali." . manusia itu ialah mahluk yang percaya kepada Tuhan. Sikap Rusli yang tenang dan senyuman yang samar-samar itu malah membikin aku menjadi gelisah dan jengkel. Meludah-ludah kecil. Aku agak ragu-ragu. "Bagi saya. tapi melanjutkan. Terasa tajamnya.com/ Senyuman yang samar-samar itu disertai dengan pandangan mata yang mengerling ke dalam wajahku. orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan agama itu. "Bagi saya. O ya. berpikir secara logis. maka manusia yang tidak percaya kepada Tuhan berarti sama dengan hewan. Kenapa tidak konsekwen berpikir rasional? (berhenti sebentar). tak ada bedanya dengan binatang.." Tersenyum lagi dia.

Karena itu manusia yang tidak berpikir adalah sama dengan hewan. "Tentu susunan tubuhnya." sahutku. bahwa Rusli belum habis bicaranya. makin tinggi ia derajatnya sebagai mahluk." Rusli tersenyum. Begitulah." Tapi dengan tidak memberi kesempatan kepadaku untuk berpikir. Kakinya yang kiri bergoyang-goyang di atas yang kanan. "Jadi dengan sendirinya. bukan?" Aku mengangguk dengan mengira-ngirakan. atau . Manusia itu adalah mahluk yang berpikir.com/ "Ha. "Tidak ada lagi? Coba pikir-pikir lagi. Bukan begitu?" Aku mengangguk lagi. Tegasnya. makin banyak dan makin cerdas orang berpikir. bukan?" Aku mengangguk. "Tapi barangkali masih ada lagi yang Saudara anggap sebagai anasir yang membedakan manusia dari hewan?" Aku berpikir lagi.Tiraikasih website http://kangzusi. sambungnya. "Ha! Benar itu! Begitulah juga kata agama. Hewan tidak berpikir. "manusia bertangan. bagus itu! Jadi rupanya Saudara pun pernah memikirkan soal itu. "Marilah kita turutkan lagi jalan pikiran Saudara yang algebrais*) tadi itu. Apa lagi perbedaan itu?" "Akal dan pikiran. yaitu bahwa manusia itu adalah mahluk yang mengandung perasaan peri kemanusiaan dan pertimbangan susila. makin jauh jaraknya daripada hewan. "Saudara lupa yang paling penting." sahutku. berkaki. Tapi dengan agak ragu-ragu. mencari.

kita pikirkan dan selidiki perbandingan-perbandingan kekuatan antara satu golongan dengan lain golongan. bukan? Dan agama hanyalah salah satu dari bentuk-bentuk kehidupan . adalah pikiran tadi itu. Pernahkah Saudara turut memikirkan soal-soal hidup yang sebanyak itu?" Sambil bertanya demikian. Sesungguhnya. Sifat-sifat inilah yang paling penting di samping akal pikiran tadi itu. yang sarat dengan bermacammacam soal yang minta diselesaikan.. Wah terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. matanya terasa lagi menancap tajam di atas kepalaku." sahutku. ideologi dengan ideologi. satu kias dengan lain kias. maka dialah manusia yang paling tinggi derajatnya. seluk-beluk ekonomi.**) kalau kata orang Belanda. hidup ini adalah suatu gudang yang maha besar. atau bangsa dengan bangsa. Belum lagi kita percakapkan perbedaan-perbedaan antara manusia dengan manusia. Saudara lihat. Dan alat yang terpenting yang ada pada manusia untuk menguakkan tumpukan soal-soal itu agar terdapat kebenaran. "Tidak.m Manusia yang paling tinggi akal pikirannya dan yang paling dalam perasaan peri kemanusiaan dan pertimbangan susilanya atau gewetennya itu. seluk-beluk masyarakat. Saudara. menggelengkan kepala. Belum pula *) Secara aljabar. "Padahal alangkah banyak soal-soal hidup itu. Coba renungkanlah hal-hal ini dengan seksama oleh Saudara.com/ geweten. bahwa soal perbedaan manusia dengan hewan saja. **) Hari nurani. Kebenaran dan kesempurnaan tersembunyi di dalam timbunan soal-soal itu seperti berlian dalam timbunan rumput dan sampah yang berbukit-bukit besarnya. sudah begitu banyak segi dan coraknya.. agama dengan agama. dan sebagainya.Tiraikasih website http://kangzusi.. politik .

seolah-olah capek ia meluncurkan pertanyaan-pertanyaan itu. dan kadang-kadang malah bertentangan. Tapi sebentar kemudian meluncurlah lagi kata-katanya seperti anak-anak panah dari busurnya. tapi agama Islam mengharamkannya. sedang bagi umat Islam binatang itu sangat enak untuk dibikin gulai.com/ yang banyak itu. seperti antara agama Islam dan Hindu. Agama Hindu memandang sapi sebagai binatang yang suci. padahal agama sudah beribu-ribu tahun dipeluk manusia? Mengapa ketidakadilan dan kelaliman malah sekarang makin merajalela saja? Ingatlah . "Sudah terpikirkan oleh * Saudara. atau mungkin juga karena ia mau memberi waktu kepadaku untuk meresapkan apa yaag dikatakannya itu. Kenapa begitu? Kenapa agama Hindu yang memuja sapi sebagai suatu binatang yang suci sampai bisa mempunyai kasta manusia yang ditindas dan dihina seperti kasta-kasta paria dan kasta sudra oleh kasta-kasta lainnya? Selanjutnya apakah tidak ada dasar-dasar yang sama pada pelbagai macam agama itu?" Rusli diam sebentar. Agama Kristen tidak mengharamkan babi. Pertanyaan pula. mengapa misalnya dunia dan kehidupan ini selalu kacau saja.Tiraikasih website http://kangzusi. kenapa misalnya negara-negara yang beragama Kristen pada jaman sekarang lebih maju daripada negaranegara atau bangsa-bangsa yang memeluk agama Islam? Kenapa dulu Islam maju. Barangkali Saudara belum pernah juga memikirkan. sekarang tidak? Kenapa agamaagama itu timbulnya di Asia? Kenapa di dunia ini ada bermacam-macam agama? Kenapa tidak cukup satu agama saja? Padahal tiap agama mengakukan dirinya untuk segenap manusia? Kenapa perbedaan-perbedaan agama itu sangat banyak. yang masing-masingnya mempunyai soalsoalnya sendiri yang sama-sama minta dikupas dan diselesaikan oleh kita.

ketika Rusli menguraikan bahwa agama dan Tuhan itu adalah ciptaan manusia sendiri. Ia insyaf. hidup di dunia ini adalah laksana sebuah gudang yang maha besar. Sesungguhnya Saudara. Malah ditanyakannya juga. Akan tetapi biarpun begitu. Dan pada hematku. Maka sikapku pun tiada lain daripada hanya mendengarkan saja segala uraian Rusli itu. yang berarti juga kesempurnaan hidup yang sejati. yang penuh dengan 1001 macam soal yang minta diselesaikan oleh kita. hasil . yang semuanya harus kujawab dengan menggelengkan kepala. Ia akan turut memecahkan soal-soal hidup tadi menurut kecakapan atau kepandaiannya.Tiraikasih website http://kangzusi. maka pada akhirnya timbullah semacam perasaan kurang harga diriku terhadap dia. bahwa tiap soal yang sudah dipecahkan membawa kita lebih dekat kepada kebenaran. aku tidak selamanya menyetujui segala uraiannya. Banyak lagi Rusli mengemukakan soal-soal yang ditanyakannya kepadaku. Ia akan merasa turut bertanggung jawab akan keselamatan seluruh kehidupan semua umat manusia yang sama-sama hidup di kolong langit ini. yang berada di luar daerah hidup kita di dunia yang nyata ini. tiap orang yang betul-betul insyaf akan tugas kewajibannya sebagai suatu mahluk yang hidup di dunia ini akan sungguhsungguh mengutamakan dulu soal-soal hidup inilah daripada soal-soal lain. Pernahkah soal-soal hidup itu menjadi pikiran Saudara?"Untuk kesekian kalinya aku menggelengkan lagi kepalaku. Apalagj. apakah aku sudah pernah menyelidiki dan mempelajari "politik agama" yang dijalankan oleh pemerintah kolonial asing yang beragama Kristen terhadap bangsa kita yang beragama Islam? Entahlah mungkin karena Rusli begitu banyak bertanyatanya. sebagai kataku tadi.com/ kepada imperialisme dan bahaya fascisme yang menyeringai hendak menyergap kemanusiaan.

tapi entahlah. Akan tetapi tak lama kemudian aku sudah seperti kemarin lagi. seakan-akan sudah ada prasangka padaku." sahutku. menghilang ke belakang pintu kamar mandi. . ketika Rusli menguraikan hal itu. oleh karena berkali-kali Rusli menegaskan.Tiraikasih website http://kangzusi. San?" tanya bibi. bahwa jika pun aku mendebatnya. Diganggu oleh bermacam-macam pikiran.com/ atau akibat dari sesuatu keadaan masyarakat dan susunan ekonomi pada suatu jaman. Pun juga." 7 Sampai di rumah. aku terus bergegas ke kamar mandi. Apalagi oleh perasaan takut yang bukan-bukan. bahwa "kita harus pandai meneropong soal-soal hidup itu dengan akal dan pikiran yang bebas lepas. Bi. keluar dari kamar mandi. Bunyi tabuh telah menghilang. Rusli toh sudah bersedia dengan jawabannya. "Dari rumah teman. Tak lama kemudian aku pun berazan pula. Tak sanggup memusatkan pikiran dan seluruh jiwa ke hadirat Ilnhi. Pikiran dan penglihatan kita tidak boleh dikaburkan oleh fanatisme atau dogma. Langgam dan irama Arab membawa aku ke alam suci. Hatiku berontak. Bergemalah seolah-olah suara orang di langgar itu ke dalam kamarku. Allahu Akbar! alalfalah! Allahu Akbar! Hayya alalfalah! Hayya Mendayu-dayu suara orang berazan di langgar yang tak jauh letaknya dari rumahku. ketika aku masih mendayung di jalan Raden Dewi. "Dari mana. seraya menciprat-cipratkan air dari muka dan lengannya. aku tidak mau mendebatnya.

biarpun bercampur jengkel. bahwa aku harus banyak bergaul dengan orang-orang macam . dan orang-orang lain yang tidak sependirian dengan engkau adalah murtad dan kapir. dengan pikiran dan penglihatan yang tidak boleh dibikin kabur oleh fanatisme dan dogma. Malu pula akan anganangan semula untuk "mengislamkan" Rusli.Celaan inilah yang sangat mengganggu hatiku.com/ Mendenging-denging lagi suara Rusli yang mengatakan. yang di balik keramahannya itu sebetulnya ada menaruh celaan yang terasa sekali olehku. Mencela ia (atau terasa olehku ia mencela). Dalam kefanatikan demikian kau tidak lepas dari perbuatan atau sikap dan anggapan-anggapan yang tidak adil terhadap sesama mahluk. Malu. Kukernyitkan keningku. bahwa kita harus pandai meneropong soal-soal hidup ini dengan pikiran yang bebas lepas. Tapi payah. Aku pun merasa malu sedikit akan diriku sendiri.Tiraikasih website http://kangzusi. sampai tutup rukuk penghabisan. bahwa pekerjaan itu mengatasi tenagaku. Tapi ah. terbayang-bayanglah wajah Rusli. Sungguh besar pengaruh percakapan dengan Rusli itu kepada keadaan jiwaku sekarang. celaan yang mungkin hanya ada dalam perasaan dan khayalku belaka. oleh karena ternyata. "Dalam kefanatikanmu kau sudah terbelenggu oleh dogma yang tidak memungkinkan kaumelihat dunia dan hidup dari pelbagai sudut. Sungguh malu aku. seakan-akan matanya yang tajam itu melihat sampai ke dasar hatiku." Allahu Akbar! Selesai rukuk kedua. apa bedanya? Yang penting ialah terasa' atau tidaknya olehku sendiri. Padahal engkau menepuk-nepuk dada seolah-olah engkau manusia utama. ketika Rusli berkata. Dalam aku bersujud. karena aku selalu terdesak dalam perdebatan dengan dia itu. kepala dan dadaku ramai terus. Mata kupejamkan erat-erat. dari pelbagai segi. Aku berdiri lagi.

seakan-akan kata hati bisa bungkem juga dengan akal begitu. Allahu Akbar! . Dalam pada itu aku sudah bertekun sambil bersila di atas pelapikan. "bukanlah agama meliputi hidup. banyak bercakap-cakap dan bertukar pikiran tentang bermacam-macam soal hidup. "Bagiku. saudara renungkan benar tidaknya. biarpun menjengkelkan. memang ternyata lebih banyak pengalaman dan pengetahuannya tentang soal-soal hidup dari padaku. Dur! Dur! Dur! Torok-tok! Dur! Tabuh di langgar membunyikan Isa. pikiranku pun selalu sudah melayang-layang lagi terbang menurutkan kehendak hati. Aku berdiri lagi." Begitulah katanya tadi. meliputi ekonomi. yang dipandangnya hanya salah satu daripada bentuk-bentuk kehidupan yang banyak ragamnya itu." begitulah katanya tadi. Nasihat demikian hanya bisa diucapkan oleh seorang yang menganggap dirinya Jebih tinggi daripadaku. bahkan pun juga tentang soal-soal agama.Tiraikasih website http://kangzusi. Seperti biasa kututupi seluruh panca indera. diam-diam harus kuakui juga. Tapi ya. Akan tetapi segala usaha itu sia-sia belaka. Aku bertawadzuh. Demikian pula mata kupejamkan erat-erat. melainkan hidup meliputi agama. Laksana burung yang tidak mau diikat dalam sesuatu kurungan. seperti pula halnya hidup meliputi politik. seakan-akan mata khayalku akan menjadi buta juga karenanya. mencoba lagi memusatkan seluruh jiwa rohani ke hadirat Yang Esa. bahwa Rusli itu. sosial dan sebagainya. sedang lidah kulipatkan. Hendaknya pandangan saya ini.com/ dia.

com/ Keras aku mengucapkan nama Tuhan itu pada tiap kali aku berubah sikap. "Minah! Minah! Bikin sambel tomat!" Seperti kemarin malam setelah makan aku terus saja masuk kamar. Akibat dari sesuatu keadaan masyarakat dan susunan ekonomi pada sesuatu jaman yang tidak sempurna. Seakanakan Rusli telah memberi sesuatu kaca mata yang lain kepadaku untuk meninjau dunia dengan cara lain. makin kacau rasanya. Dari mulai ada. "Agama dan Tuhan adalah bikinan manusia. Tapi sekarang? Kepuasan telah berganti dengan kehampaan. "Kemarin kau makan sedikit. dengan maksud seperti'biasa terkandung dalam jawaban semacam itu. ada apa gerangan. sekarang pun sedikit juga. Nanti bibi bikinkan sambel tomat dulu untukmu. Kata Rusli tadi.Tiraikasih website http://kangzusi. Perasaan hampa dan gelisah itu menemani aku terus sampai ke meja makan. Tapi tak lama kemudian melantur-lantur lagi pikiran itu." sahutku singkat. lantas berbaring di atas tempat tidur. supaya timbul lagi nafsu makanmu. Nak? Sakitkah engkau?" "Ah tidak. Dan seperti kemarin pula aku segeralah hanyut lagi dalam arus ngelamun. Malam kemarin dulu aku masih bisa sampai kepada suatu kepuasan hati dan kepada suatu harapan. Keras-keras pula nama Tuhan itu kuucapkan dalam hati. "Tapi lesu amat nampakmu. dan harapan telah berubah menjadi kekecewaan. Keras-keras. . Sekarang malah makin simpang siur. Bi." "Tidak usah Bi!" Tapi dalam pada itu bibi sudah berseruseru. Kadang-kadang dunia serasa akan berubah bagiku. supaya bisa mengatasi suara hati dan pikiran.

memukul-mukul. dari tanam-tanaman yang tidak tumbuh di atas tanah. menyebarkan maut. dewa-dewa. Semua itu hebat. dahsyat. dari ikan yang hidup di dalam air. ditimpa banjir yang dahsyat. semua ini bukan pekerjaan manusia. mambang. dari burungburung yang beterbangan di udara. dan lain-lain. setan-setan. tapi mesti pekerjaan sesuatu mahluk yang lebih berkuasa daripada manusia. bahwa aku tidak boleh membenarkan pikiran Rusli itu tapi terasa pula olehku. ialah bahwa soal itu sudah menjadi soal juga bagiku. dan lain-lain itu. Semua itu seakan-akan sesuatu tenaga gaib menyuruh aku berzikir dalam hati menghadap lagi ke hadirat Tuhan. pendek kata dari segala apa yang ada di dalam alam. seperti setan. Dan manusia merasa kecil menghadapinya. Di tepi laut ia melihat ombak bergulunggulung." Terasa olehku. kadang-kadang gunung meletus memuntahkan api dan lahar. yang jelas dan nyata sekarang. memecah di pantai.com/ manusia itu sudah harus berhadapan dengan alam. Maka pikirnya. yang sebelum itu tidak pernah menjadi masalah pikiran padaku.Tiraikasih website http://kangzusi. dengan tak sadar aku telah menyusukkan tanganku ke bawah bantal. jari-jariku sudah memetiknya. Dan dengan otomatis pula. bahwa pikiran-pikirannya itu salah. membasmi ke kiri ke kanan. Dan dengan demikian timbullah kepercayaan kepada dewa-dewa. Ia harus hidup dari alam. Tapi biar bagaimanapun juga. Maka dibikinnyalah dengan khayalnya makhlukmakhluk yang berkuasa itu. Tapi secepat tasbih . Dalam berkelana mencari makanan-makanan itu ia sering ditimpa hujan yang lebat. Dalam berpikir-pikir begitu. mengambil tasbih yang baru saja kususukkan ke bawahnya. bahwa sementara ini tak ada alasan-alasan yang kuat padaku untuk membuktikan.

Cukuplah dengan satu saja. Malah entahlah apa yang akan terjadi tadi. Dan kalau pikiran kita itu lantas direnungkan oleh orang lain. "Dalam benua-benua yang tidak begitu hebat alamnya." Masih terasa olehku. God atau Yahwe.com/ berlerai-lerai di antara jari-jariku. kalau Rusli tidak lekas berkata begini dengan halus dan ramah sekali. di sana. "Tentu saja Saudara Hasan tidak akan membenarkan pendapat saya itu. Dalam hal ini kita tidak boleh mendesakdesakkan pikiran kita kepada orang lain." begitulah keterangan Rusli tadi. betapa pastinya seolah-olah keyakinan Rusli yang terlihat dari caranya ia berkata. Yahwe atau Allah. Itu bergantung semata-mata kepada pikiran dan khayal masing-masing. dewa hujan. untuk masing-masing manusia berlain-lainan rupanya dan sifatsifatnya. Padahal Tuhan itu. dewa kawah. dewa gunung. manusia tidak membutuhkan dewadewa yang banyak jumlahnya. kepada . Itu saya dapat mengerti dan hargai. Timbullah agama yang mengandung kepercayaan kepada adanya hanya satu Tuhan. Paling-paling kita hanya boleh mengemukakan pikiran kita sendiri. dewa laut dan sebagainya. di mana manusia hanya menghadapi ketenangan dan kesunyian lautan pasir dengan bulannya yang terang-benderang dan binatangbinatangnya yang bertaburan di langit yang tiada melakukan pekerjaan lain daripada hanya berkedip-kedip saja sepanjang malam. dan memang tak usah Saudara Hasan menerima segala apa yang saya katakan itu. Masih kelihatan olehku. "seperti di tanah-tanah yang banyak serta luas-luas padang pasirnya.Tiraikasih website http://kangzusi. baik namanya Allah. seperti dewa api. yaitu yang disebutnya Tuhan. di daerah-daerah yang tenang-tenteram demikian itu alamnya. bahwa hatiku memberontak terhadap uraian Rusli itu. secepat itu pula aku terus berpikir-pikir.

" begitulah Rusli selanjutnya. Inilah agaknya. sambil tangannya menggulung-gulung rokoknya. Masih terbayang-bayang wajah Rusli yang tenang itu. jangan picik. Kebenaran bukan . membikin aku tenang kembali. Perkataan-perkataan Rusli itu. serta dengan suara yang selamanya tenang. terutama sekali oleh karena rupanya ia berhati-hati benar. Kalau tidak. Sesungguhnya. tidak boleh pula kita memaksakannya. harus kuakui. seperti demikian pula halnya dengan . apalagi dogmatis atau fanatik yang sempit. membelakangi aku. sangat lesu rasaku. yang membikin aku tidak pernah merasa bosan. bahwa Rusli itu adalah orang yang sangat pandai berbicara. jauh dari segala perasaan sentimen. melainkan untuk diyakinkan". kita harus selalu bersikap luas. supaya segala apa yang diuraikannya itu jangan sampai menyinggung hati orang lain. seolah-olah benda-benda itu ber-sembunyi-sembunyi takut mengganggu aku dalam keasyikan termenung-menung. aku berbaringbaring saja dalam tempat tidurku. sedang mataku terpancang ke bawah lemari di sudut kamar. maka lekas-lekaslah diperbaikinya dengan kata-kata yang lembut dan ramah. Sepasang sepatu dan sepasang sandal buruk berderet di bawahnya. Sesungguhnya.untuk dipaksakan. Entahlah. tapi tidak berputar lagi. Dan kalau ketahuan bahwa ada ucapannya yang menyinggung hati. 'Tak usah juga saudara menerimanya. Sambil mengenang-ngenang semua itu. maka itu sudah suatu keuntungan bagi kita. Ku-' peluk guling.Tiraikasih website http://kangzusi. "Kalau saya berkata. bahwa agama pun adalah suatu hal yang relatif. yang diucapkannya dengan amat tenang sekali. Tasbih masih berbelit di antara jari-jariku. biarpun tidak selamanya aku setuju dengan pikiran-pikirannya itu.com/ siapa kita mengemukakan pikiran kita itu.

yang kapir! Demikianlah seakan-akan hatiku mencetus dengan tiba-tiba. bebas dari segala ketidakadilan dan tindasan.Tiraikasih website http://kangzusi. yang bebas dari segala kemiskinan. Artinya begini. karena tidak ada lagi kesengsaraan dan kemiskinan itu. Kulemparkan tasbih. Nah. Aku tidak percaya! Tidak boleh percaya! Tentulah saja semua uraiannya itu diambilnya dari buku-buku bikinan orangorang yang murtad. bahwa sekali kelak. bebas dari segala ketakutan. bebas dari segala kesengsaraan. bahwa agama dan Tuhan itu akan tidak ada lagi. bahwa agama dan Tuhan itu adalah akibat dari keadaan hidup manusia yang tidak sempurna. Tak perlu lagi ia kenada pertolongan sesuatu yang disebutnya "Maha Pengasih" atau "Maha Pemurah" untuk mengangkatnya dari jurang kesengsaraan atau kemiskinan. di mana ia sudah merasa sempurna dan senang keadaannya. yang penuh dengan kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi. apabila hidup manusia itu sudah sampai kepada tingkatan kesempurnaan. maka pada saat itulah manusia tidak akan butuh lagi kepada adanya agama. semua ini mengandung arti. yaitu apabila manusia sudah sampai kepada puncak kemajuannya. Apakah mungkin manusia itu sekali kelak mencapai sesuatu keadaan yang sempurna itu? Entahlah. oleh karena segala kebutuhannya lahir batin sudah bisa terpenuhi di dunia ini. . lantas berjalan-jalan hilir-mudik dalam kamar. Aku merasa gelisah memikirkan segala uraian Rusli itu. Berarti pula. yaitu apabila segala kebutuhannya lahir batin sudah bisa terpenuhi semuanya.com/ segala apa yang ada di dunia ini. Maka bangkitlah aku. tidak perlu lagi ia minta-minta tolong kepada sesuatu Tuhan atau Yahwe atau apa saja. karena berpikir-pikir demikian itu dada dan pikiran serasa panas.

Panas rasanya dalam kamar itu.. Selidikilah dan pelajarilah saja dulu. "Mau ke mana. Kupakai pici. Padahal malam Bandung cukup sejuk. Rupanya karena dingin. Lampunya sudah ditiup. San?" tanya bibi dari kamarnya. Tukang bajigur masih dikerumuni oleh beberapa orang langganannya. tukang jualan pisang goreng baru beres-beres hendak pulang. cari hawa. ditingkah oleh suara laki-laki yang mendehemdehem dari dalam rumah. suara lain tersisip-sisip juga menyelinap ke dalam kesadaran seperti pelembungan-pelembungan air merembes dari bawah ke atas.com/ Akan tetapi sekeras-kerasnya hatiku bersuara demikian. Aku mendehem kembali sebagai pemberian tahu. bahwa akulah yang berjalan itu. Rupanya ia masih punya harapan akan lewat delman yang kosong ke sana yang kusirnya suka jajan. Di perapatan Pungkur Pasundan belum sunyi benar. dan api dalam tungkunya sudah dicurahi air. Nyi Icih.Tiraikasih website http://kangzusi.. beberapa dari mereka duduk merunduk berselimutkan kain pelekatnya. Dan rupanya mereka itu pedagang-pedagang kecil hasil bumi. ketika terdengar olehnya aku membukakan pintu depan dan menguncinya kemudian dari luar. . Di dalam amat panas. Mereka minum-minum seraya ngobrol tentang harga kentang dan tentang perempuan. Tukang jualan kacang tanah masih kedip-kedip lampunya. 8 Aku tak tahan lagi diam dalam kamarku. lalu keluar. "Jalan-jalan dulu Bi." Krikil berkerecek di bawah bakiakku memecah kesunyian malam! Anjing menggonggong sebentar dari halaman tetanggaku.

Langkah kupercepat sedikit. Lewat di sana aku membungkuk-bungkuk saja ke arah Lengkong Besar. Nyanyi dan dendang mendayu-dayu dari mulut perempuan-perempuan yang merokok. Aku tetap tak acuh. Kulihat muka putih menyeringai sambil mengisapisap sigaret. "Mampir dulu dong. Aku menoleh sebentar. 'Tidak mampir dulu. Di bawah sinar lampu yang ditutupi dengan kertas hijau dan kertas merah.com/ Tapi yang masih ramai ialah di warung kopi Nyi Cioh. Tiap cubit dan cium dibuntuti oleh tertawa yang berderai-derai dibikin ekstra nyaring. tenteng kacang. Tapi jengkel pula. "Ehm! Ehm!" kudengar seorang perempuan mendehemi aku* dari belakang deretan stoples-stoples itu. . Gigi mas bersinar dari mulutnya. ada penyair yang menamakan tertawa demikian itu "tertawa berlian". Kata orang. goreng sale pisang." kata yang lain pula. Aku merasa agak takut. Dari jauh sudah terdengar tertawa beberapa perempuan yang lebih nyaring lagi kedengarannya di dalam kesunyian malam. tersembunyi di belakang stoples-stoples yang berisi kue bolu. duduklah beberapa pasang turunan Adam dan Hawa sedang asyik memainkan proloog untuk sesuatu lakon yang akan membawanya ke alam bebas antara bumi dan langit. Aku tak acuh. Entah kenapa disebut berlian. kalau menurut telingaku tertawa demikian itu lebih memper kepada suara kuda meringkik. koya dan lain-lain.Tiraikasih website http://kangzusi. "Kenapa intan hatiku itu-begitu suram malam ini?" tegur kupu-kupu satu lagi sambil menonjol ke luar warung kecil itu. kekasihku?" ujar kupu-kupu yang lain.

Artinya "Ah berlianku rupanya sudah lupa lagi kepada si kembang kampung dari gunung ini. 'Tuan! Tolong saya!" katanya terkapah-kapah. 'Tuan! Tunggu dulu!" Suaranya makin mendekat. . terdengarlah di belakangku seorang-orang yang setengah lari menyusul. Aku berjalan terus sampai suara yang tertawa-tawa ramai itu hanya sayup-sayup saja lagi terdengar di belakangku. Mereka tertawa-tawa lagi. pikirku setengah lari. karena tak mustahil mereka itu mengejar aku. 'Tentu saja. lebih takut lagi. Mau apa dia.com/ Lagi korban-korban sepanjang pendapat Rusli. sebab gang itu lebih gelap daripada jalan besar.Tiraikasih website http://kangzusi. pikirku. 'Tuan! Tuan!" seninya. Perempuan itu makin cepat jalannya. mana mau berlian berteman batu dari kali. Tentu salah seorang kupu-kupu itu! Tapi mengapa ia ketakutan? . Maka aku pun percepat lagi langkahku. Aku terkejut dan setengah takut. Tiba-tiba persis dekat simpangan ke Gang Asmi." kata perempuan yang mula-mula menegurku tadi itu. Dan seketika itu juga ia sudah terdengar terengah-engah hanya semeter lagi agaknya daripadaku. Atau hanya pura-pura saja? Aku merasa takut. kapitalisme. Mau belok ke Gang Asmi.. Ia lari malah. . Suara seorang perempuan. Aku makin takut." sambung temannya.

"Di warung kopi itu barusan. Tuan!" "Di mana?" bercampur heran. Dan aku pun menoleh juga. Demikian juga aku. di manakah aku pernah mendengar suara perempuan itu. "Serdadu mabuk. Tuan!" Dan dengan perkataan itu ia sudah berada di sampingku. harus kuakui. Saya lari. manggil-manggil saya. bahwa perempuan itu adalah perempuan yang sopan. Saya lewat di sana. Ber-kali-kali ia menoleh ke belakang sambil terus berjalan menyesuaikan cepatnya dengan langkahku. Biarpun begitu. Hanya. kenapa ia berani berjalan malam-malam sendirian? Ia memakai mantel putih dari flanel. Dan setelah cukup meminta maaf kepadaku. maka dia pun agak tenang kembali nampaknya. maka bungkemlah dia. karena katanya ia sudah "mengganggu" dan membikin aku terkejut. bahwa serdadu-serdadu itu ternyata tidak terus mengejar dia. dalam hati. aku tidak berani menegasnegas rupanya. Ia berjalan terus di sampingku. menyanyi-nyanyi tak karuan. apabila kami persis berjalan di bawah lampu.com/ Sangat ketakutan ia rupanya. . Tapi setelah dilihatnya. Dari perkataannya dan begitu pula dari tindakannya selanjutnya. tiba-tiba dari warung kopi keluar dua orang serdadu Belanda." Sambil bercerita itu ia berkali-kali menoleh ke belakang.Tiraikasih website http://kangzusi. Kutegasi semuanya itu. "Ada apa?" tanyaku agak cemas "Serdadu mabuk. hanya di dalam kami berjalan sambil bungkem itu. dan kepala serta telinganya ditutupi dengan sebuah "driehoek" yang dibikin dari sutra merah yang berkembang-kembang putih. aku terus bertanya-tanya.

Tiba-tiba perempuan itu membelah sunyi dengan beitanya. Nya!" "Ah maaf saja. pikirku. eh tuan yang sudah saya berkenalan di rumah Saudara Rusli tempo hari? O ya." Ha. saya tidak lekas mengenal tuan. betul Tuan! Tapi. bolehkah saya turut jalan bersama tuan sampai ke rumah?" "Rumahnya di mana?" Aku elakkan bertanya rumah "nyonya" atau rumah "nona" karena aku tidak tahu. bahwa pernah aku bercakapcakap dengan seorang perempuan yang suaranya persis seperti dia. 'Tuan. kenapa seriang itu aku! Maka terjatuhlah pertanyaan dari lidahku. saya ingat sekarang. Dan juga karena tuan sekarang memakai piyama. "Lengkong Besar 27. tuan kan Tuan Hasan." . maaf saja. lekaslah aku mengelak sebentar ke belakang sebatang pohon di tepi jalan. karena malam kurang terang.Tiraikasih website http://kangzusi.com/ Sayup-sayup teringat olehku. oleh karena tidak pernah aku berjalan bersama-sama dengan seorang perempuan tengah malam yang sunyi senyap senerti itu. ya. ya. Takut ada kenalan di dalamnya. bukanlah tuan itu tuan. kalau saya tidak keliru. tapi eh. apa dia itu. sekarang aku tahu! Hampir-hampir bersorak aku! Entahlah. Apalagi dengan seorang perempuan yang sama sekali asing bagiku. "Nyonya kan nyonya Kartini?" "Ya. Ketika ada sebuah delman yang lewat. Tapi dalam pada itu aku merasa gelisah juga. . bukan?" "Betul.

stelsel kapitalisme. tujuan Rusli pun bukan mengemukakan kepandaian dan pengetahuannya. Maaf saja. karena gelap. sosialisme. salah seorang kawan "sefaham" di Gang Yuda.com/ "Ya begitu juga saya. Biarpun Kartini bukan anggota partai mereka. komunisme dan lain-lain. Hanyalah yang mengunjunginya biasanya orang-orang itu juga. karena sangat jelas dan mudah difahami. "Bagaimana menarik juga semua itu untuk nyonya?" . tapi ia sering diajak oleh Bung Rusli untuk menghadiri pertemuanpertemuan semacam itu.Tiraikasih website http://kangzusi. maka mereka mengobrolkan tentang stelsel . Dari mana nyonya malam-malam begini?" "Dari Gang Yuda. Rusli biasanya berlaku. dan soal-soal yang dipercakapkan adalah soal-soal ideologi politik atau kejadian-kejadian sehari-hari yang penting. Begitulah kata Kartini. feodalisme. artinya tidak secara rapat atau secara kursus. juga oleh orang-orang yang tidak begitu terpelajar. dan nyonya pakai kudungan dan mantel. sebagai pembicara yang terpenting. Tidak pernah ia berlagak-lagak memakai perkataan-perkataan asing." Maka berceritalah Kartini bahwa malam itu ia pergi ke sebuah pertemuan di rumah Bung Sura. Itulah maka penerangannya pun sangat jelas seperti gelas. Dengan cara demikian. melainkan semata-mata untuk memberi penerangan tentang cita-cita politik yang dianutnya. Akan tetapi segala-galanya dengan secara mengobrol saja. Memang. Orang suka sekali mendengarkan uraian-uraiannya. Sebetulnya pertemuan-pertemuan itu biasa saja tidak bersifat apa-apa yang khas. Saya pun tidak segera mengenal nyonya.

maka aku pun merasa lebih bebas pula.Tiraikasih website http://kangzusi." Sejak Kartini berbicara begitu bebas terhadapku tentang pertemuan-pertemuan tadi itu. bahwa perempuan itu jangan tergantung kepada kaum laki-laki. Maka baik sekali kalau Saudara pun suka datang sekali-sekali mengunjunginya. Tadi pun ada seorang kawan yang mau mengantarkan saya ke rumah. pikirku. Banyak saya ambil pelajaran dari obrolanobrolan mereka itu. supaya aku memanggilnya saudari saja. "Menjawab pertanyaan Saudara tadi itu (menoleh sebentar Kartini kepadaku) pertemuan-pertemuan semacam itu sangat menarik bagi saya. itulah kakak saya. Tapi tadi ia masih asyik memberi penerangan-penerangan." sahutnya sedikit tertawa." Perempuan istimewa dia. dan memang suatu pendirian saya juga. Dan mengapa ia tertawa? Bagaimana . bahwa sakit saya tidak seberapa dan saya akan naik delman. oleh soal-soal politik. Bung Rusli. Biasanya kakak saya yang selalu mengantarkan saya pulang. Dan mengapa ia berani berjalan malam-malam sendirian? Keheran-anku itu kunyatakan juga kepadanya. pikirku agak heran. "Ah saya tidak mau mengganggu mereka (bersemangat). Bung Rusli. Dan sekarang ditambah lagi oleh permintaannya. Tapi sayang delman tidak ada. Sayang tadi saya merasa pening kepala. Tidak banyak perempuan yang tertarik oleh soal-soal macam begitu." "Siapa kakak saudara itu?" "Eh. Entahlah dalam hati kecilku aku merasa bahagia. sehingga saya minta pulang duluan. tapi saya tolak. Rusli bercerita lain tentang diri Kartini itu.com/ "Ah kenapa Saudara bilang 'nyonya'? Panggil sajalah 'saudari'. Saya bilang.

Dan tatkala tangan Kartini mengayun ke bawah lagi setelah mengikatkan sapu tangan kepada lehernya. Tidakkah mungkin perempuan itu adik Rusli seayah atau barangkali seibu? Atau mungkin juga adik tiri? Memang aku tidak mengetahui keluarga Rusli itu sampai kepada segala selukbeluknya. bahwa perempuan itu adiknya. Kamj berjalan terus. Tapi kemudian di rumahnya Rusli menceritakan lebih jauh tentang riwayat Kartini itu. Pun aku sekarang merasa dingin.Tiraikasih website http://kangzusi. bersentuhanlah tangan kami. Rupanya Kartini mau mengucapkan "maaf tapi perkataannya itu seakan-akan tercangkol pada lidahnya. Apalagi oleh karena aku hanya berpakaian piyama yang tipis saja. ada sesuatu naluri yang agak terbangkitkan oleh wangi minyak itu. Rusli memperkenalkan Kartini itu sebagai adiknya pula. "Dingin ya. seperti alam sekeliling kami. Mula-mula sekali. ketika «ku pertama kali bertemu dengan mereka di muka loketku. Tangannya membenar-benar kain kepalanya. ketika sapu tangan itu terayun dari sakunya ke leher.com/ sebetulnya pertalian Kartini dengan Rusli itu." kata Kartini. tapi tidak seperti hati dan pikiran. Kartini mengambil saputangan dari saku mantelnya lantas ditutupkannya lebih rapat lagi. Sebentar menggeletar jiwaku seakan ada aliran listrik mengaliri seluruh tubuh. Adakah ketika itu dikatakan oleh Rusli bahwa Kartini itu bukan adiknya? Adakah? Seingatku tidak. . Bungkem. sambil menggigil. Dan entahlah. Angin utara meniup. Dan ketika itu tidak dikatakan olehnya. Kuingat-ingat sebentar percakapan dengan Rusli tentang diri Kartini itu. Meresap dari hidung sampai ke hati. karena hanya suara yang tak tertentu terdengar dari bibirnya. Wangi "Soir de Paris" terhambur.

entah karena gembira habis jualannya. Dan ketika maQ mengambil tikungannya. Pun jalan besar ini sudah tidur. bersiulsiul. Mereka itu berdendang-dendang. Untunglah aku masih dapat menyangga badannya yang hendak jatuh itu. Aku sudah membungkuk-bungkuk. Sampai di perapatan Pungkur Lengkong Besar. karena rugi dagangnya. seolah-olah segan mengganggu kesunyian alam. pekiknya. . maka mobil itu terlalu ke pinggir. "O maaf Saudara.Tiraikasih website http://kangzusi. Tiba-tiba dari tikungan Tuindorp. Kakinya terpelecok dan tangannya menggapai-gapai di udara mencari pegangan. sambil bungkem. dan pada saat delman itu lewat lekaslah aku membuang muka dan meminggir. Rodanya yang sudah goyah dan jalan yang tidak begitu rata menarikan kedua lampunya naik-turun. Kadangkadang berketepuk-ketepuk dari jauh suara kuda delman mendatang dengan suara bel kecil berkerincing-kerincing di atas kepala kuda itu. purapura ada yang kucari. sehingga dengan menjerit ketakutan. mungkin juga untuk menghiburkan hatinya. Aduh. datanglah sebuah mobil sedan. Lampunya menyorot besar. Tumpah seluruh cahayanya kepada kami. entah supaya jangan terlalu sunyi di jalan. Sekali-sekali kami bertemu dengan tukang gado-gado atau tukang bandrek yang sudah habis jualannya." kata Kartini sambil lekas berdiri tegak melepaskan dirinya dari pelukan tanganku itu. Kartini meloncat ke pinggir persis jatuh ke hadapanku. pulang.com/ Kami berjalan terus. Aku serasa ditelanjangi. dan seketika itu juga badan yang lampai itu sudah berada dalam pelukan kedua belah tanganku. kami berbelok ke kiri menempuh jalan Lengkong Besar.

karena aku sudah beradu kulit dengan seorang perempuan yang bukan muhrim? Entahlah. .. sehingga seketika itu aku tidak insaf benar tentang apa yang sebetulnya telah terjadi. Bergeseran pula pipi yang harum dan halus itu dengan pipiku.. . Malukah aku. eh. . Sesungguhnya. .. belum pernah hatiku berdegup demikian. . karena peristiwa itu begitu cepat terjadinya. atau menyesal atau malah cemas. saya . ketika dia dengan kepalanya bersandar di atas dadaku. Kami berjalan terus dengan tak mengucap apa-apa lagi. belum pernah aku mengalami peristiwa yang sehebat itu. Tapi tak lama kemudian berkatalah pula Kartini sambil . Tapi tiba-tiba membayanglah wajah ayah di muka mata hatiku. Tajam matanya mencela aku.. . Memang hebat benar pengaruh-pengaruh yang bekerja atas diriku pada malam itu: kesunyian malam. sakit Saudara? Saya. Hatiku berdegup tak keruan. Belum pernah aku merasa dihinggapi perasaan yang demikian dengan sehebat itu. Maka makin keraslah pula hati bertalu-talu. ketika ia mau bangkit kembali dari pelukanku. suara setan yang hendak membawa aku ke jalan yang jahat. seolah-* olah ada suara gaib. " Aku tidak bisa lanjut. Tapi sejurus kemudian kataku patah-patah. Masih terasa pula rambut yang berombak-ombak dan wangi itu berkisar ke atas daguku.eh.Tiraikasih website http://kangzusi. "Eh. ketika dia hendak jatuh terlentang ke dalam pelukanku. harum bedak dan minyak wangi dan selanjutnya masih terasa benar di ujung jari-jari dan telapak kedua belah tanganku keempukan buah dada Kartini.com/ Aku melongo saja. Maka dengan tak insaf kuusaplah muka seraya berbisik dalam hati: astagfirullah aladim.

.." kata Kartini dengan suara yang mesra. seakan-akan direnggutkan dari mimpi. "Mi! Mimi! Buka pintu!" Lantas mengetuk-ngetuk pada kaca pintu." sahut Kartini sambil menyodorkan tangannya untuk berjabatan. "Ah terima kasih. "Selamat malam dan terima kasih. Sudah terlalu malam." 'Tidak mampir dulu?" "Biarlah lain kali saja. "Mari masuk!" Aku ragu-ragu." jawabku dengan hati yang lebih teguh. seraya menarik tangannya dari genggaman tanganku yang erat itu. Sebentar aku tegak ragu untuk menyambutnya. » Sebentar kemudian. Berdiri saja di luar pagar sambil memegang pintu yang sudah doyong*) itu. saya akan menanti di sini sampai Saudara sudah masuk ke rumah. "Nah itu rumah saya!" "O itu?!" sahutku. Menderit suaranya.Tiraikasih website http://kangzusi. (agak ragu). Mengangguk sedikit. "Mari!" kata Kartini pula sambil tersenyum ramah.. . kami pun sudah sampai ke pintu halamannya yang segera dibuka oleh Kartini sendiri. sambil berseru-seru. Condong karena sudah tua.. Masuklah saja Saudara. sambil berseruseru terus.com/ menunjuk ke arah sebuah rumah berkaca yang terang dalamnya.. lalu bergegas ke rumahnya. "Baiklah. tapi. tahu-tahu aku sudah menggenggam tangan yang halus kuning itu dengan erat. karena sudah tua.

seperti terpesona. membikin segar segala. dengan badanku terpotong dua: dari perut ke kaki enak . Aku berbaring-baring di atas kursi-kursi." Dan kemudian dengan suara yang makin melandai kepada bisik yang mesra. Hawa pagi sejuk. "Kebaikan Saudara akan saya simpan dalam hati saya seumur hidup. ke rumah Bung Rusli! Datanglah sering-sering ke sana.. ber-gontai-gontai dari serambi tengah melangkah ke pintu depan. dan baru sadar. sambil menyanggulkan rambutnya yang lepas terurai ke atas bahunya.Tiraikasih website http://kangzusi. Aku termangu-mangu saja. dan dengan suara yang setengah berbisik berkatalah ia. tak "Ada yang saya lupa." "Ke rumah kakak Saudara?!" "Ah ya. Hari Minggu. sudah lari ia ke rumahnya. Sinar matahari condong masuk ke dalam melalui jendela dan tingkap-tingkap. tapi dengan kusangka-sangka bergegaslah ia kembali ke pagar.'?!" "Ya! Lekas buka pintu!" Sejurus kemudian nampaklah si Mimi yang hanya memakai kutang dan kain sarung yang diikatkan di atas dadanya." Dan sebelum aku sempat memberi jawaban apa-apa.. Jendela-jendela dan tingkap-tingkap kaca di serambi muka kubuka luas-luas. Dengan menguap sekali pintu dibukanya. aku lupa saja. lalu masuk. Kartini melangkah hendak masuk.. "Datanglah sering-sering ke rumah kakak saya." katanya sambil menghampiri aku. "Nyonya.com/ Dari dalam terdengar suara seorang perempuan berseru pula. saya pun hampir tiap sore datang. ketika lampu di rumah Kartini padam.

dari perut ke atas dalam teduh.Tiraikasih website http://kangzusi. Sejak malam Rabu itu. Dipakainya. aku seolah-olah terombang-ambing di antara riang dan bimbang. melainkan boleh jadi juga ditambah pula dengan kebimbangan dan kerawanan hati itulah. jadi empat hari yang lalu. Kuambung rambutnya yang ikal dan wangi itu. Sesudah itu kubimbing tangannya. Aduh. Kenapa dalam malam yang sedingin itu. Riang aku. aku jalan-jalan ke luar dengan hanya berpakaian piyama yang tipis saja sehingga aku masuk angin? Akan tetapi yang membikin aku sakit itu. yang sedikit banyaknya mempengaruhi juga pikiran dan pendirianku. apabila aku teringat-ingat kepada segala pemandangan dan pendirian Rusli. melompat-lompat di atas dan di sekitar kakiku. mungkin juga bukan karena masuk angin saja. Hari Rabu dan Kamis aku tidak masuk kantor." bisiknya dengan mesra. "Kebaikan budi Saudara akan saya simpan dalam hati saya seumur hidup.com/ hangat dalam sinar surya. alangkah alimnya nampak mukanya. Lalat-lalat bermain-main. Enak juga rupanya bermain-main dalam sinar matahari pagi itu. Sekarang aku lebih banyak lagi bersunyi-sunyi. Tapi bimbanglah aku. mengunci dari dalam kamar. sebab dengan acetosal satu tablet pun masuk angin itu sudah bisa hilang. Persis Rukmini dia! . atau bila di kantor tidak suka lagi bertamu ke meja orang lain untuk mengobrol. Kuberikan kepadanya sebuah mukena yang masih baru. kubawa dia ke rumahku. Salahku sendiri juga. apabila terkenang-kenang kepada Kartini yang sejak malam itu makin mengikat hatiku saja.

Bung!" Aku bangkit terperanjat." sahutku membenar-benar taplak meja. berbentuk keris mengkilap pada dasinya seperti sepatunya pada kakinya. bahwa mungkin sekali Rusli sudah tahu tentang apa yang telah terjadi pada malam Rabu itu. nampaklah Rusli sedang tertawa-tawa. "Selamat pagi. Bung?" tegurnya. ke jalan Tuhan. bagaimana keadaan Saudara?" Aku merasa agak gelisah. 'Terima kasih. sambil masuk. Seperti biasa ia sangat rapi dan necis pakaiannya. "Apa kabar. Tunduk ia ketika kucium.com/ 'Terima kasih. Bung?" Ia bertanya sambil menarik sebuah kursi. "Asyik ngelamun. Saudara sudah membawa saya ke jalan yang benar.Tiraikasih website http://kangzusi. Saudara." Dan sambil berkata demikian itu memandanglah ia ke dalam mukaku dengan penuh rasa bahagia dan terima kasih. Malu. Sebaliknya. Sebuah peniti mas. hanya tertawa-tawa saja selaku tiap orang yang dikejutkan orang lain dalam ngelamun. Kucium dia pada keningnya. "Baik-baik saja. seolah-olah orang lain itu tahu apa yang sedang kulamunkan. Tapi sementara itu juga kupersilakan Rusli duduk. Aku tidak menjawab. Rusli membuka percakapannya dengan "formaliteiten" yang sudah biasa dilakukan oleh orang-orang yang untuk pertama kali datang berkunjung ke rumah orang lain. karena sebentar melintas dalam pikirku. Tapi lebihnya dari biasa terletak pada sehelai sapu tangan fantasi dari sutra merah yang terjepit oleh sebuah vulpen tersusuk pada saku atas baju gaberdinnya warna abu-abu. Bukan main terkejutnya aku! Dan ketika aku menoleh ke tangga. .

Mulailah kami bercakap-cakap tentang soal-soal biasa saja. sampailah Rusli kepada maksudnya. "cat dindingnya creme." katanya sambil memutarkan kepalanya ke kiri.Tiraikasih website http://kangzusi. "Sebetulnya saya datang ke sini. jadi hari ini. ingin menari-nari ingin berjingklak-jingklak seperti kanak-kanak. enak untuk mata. selain dari ingin tahu rumah Saudara dan sebagai "contra bezoek"." "Jadi saudara tidak usah sewa?" "Bukan! Saya menumpang pada bibi itu. Tempo hari kan kita sudah berjanji akan datang ke rumahnya. (ke atas) sayang paraparanya bukan dari eternit. Pada akhirnya. kapankah kita berdua mau ke sana." kataku dengan suara dan sinar mata serupa anak kecil yang diajak nonton oleh ayahnya. "Baik. (kembali memandang kepadaku) berapa sewanya?" "Bibi punya. juga mau mengajak Saudara ke rumah saudara Kartini. Saya bilang besok." "O!" mengangguk-angguk. pabrik Iris punya. Bisa? Ia tentu akan kecewa kalau hanya saya sendiri yang datang." Serasa hendak pecah dadaku. Dan segala keinginanku itu tentu terbaca pada wajahku oleh Rusli. Dan kemarin dia tanya. karena keriangan mendengar ajakan Rusli itu. Tapi mudah-mudahan saja Saudara akan bisa pergi. (ke bawah) tapi wah tegelnya bagus mengkilap.com/ "Enak benar rumah ini. "Kita pergi sekarang?" . (ke kanan) jendelanya tepat memberi pemandangan yang lapang ke Gunung Tangkuban Perahu. Serasa ingin bersorak-sorak aku. dengan tidak berunding dulu dengan Saudara.

" "Baik. melainkan Rusli yang akan membawa aku ke alam bahagia. maka aku pun tidak merasa kaku lagi terhadap dia. "Minah! Bikinkan kopi untuk tamu!" Aku bergegas ke dalam." "Minah! Minah! Kopi tak usah lagi bikin!" kataku dari dalam. Dan pikiran yang selama itu dipusingkan oleh soal-soal yang pernah dikemukakan oleh Rusli. piyama sudah berganti dengan pantalon. Siul kecil membarengi gerakgerikku di muka kaca. Seringan bulu ayam rasa badanku. sekarang sudah tidak ada lagi. Bung! Kita kan akan segera berangkat. Sangat riang aku melangkah. bisik hatiku dalam berjalan. Rusli pun sudah bukan Rusli yang tadi lagi." (bangkit dan berseru). sekarang! Kemarin saya janjikan kira-kira jam 9 atau setengah sepuluh akan datang. Soal Tuhan seolah-olah sudah tidak menjadi soal lagi bagiku. Sudah bukan Rusli si kapir lagi. Segar dan giat gantinya. Kelesuan yang selama itu menekan jiwaku. Lekaslah berpakaian. "Untukku jangan bikin susah apa-apa. Dan karena rupanya Rusli itu tidak tahu tentang malam Rabu itu. . Kami berjalan kaki.com/ "Ya. Rasa-rasanya Dia huruf besar itu sudah terdesak oleh si dia huruf kecil. Matahari nampaknya sudah bukan matahari yang tadi lagi. Dia ingin aku datang ke rumahnya. terapung-apung oleh kegembiraan. baju jas dan dasi. mengambil jalan Sasakgantung. sekarang agaknya longsor melompong.Tiraikasih website http://kangzusi. Sebentar kemudian.

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

"Ada!" sahut si Mimi, ketika kami sudah sampai di rumah Kartini. "Nyonya ada di belakang!" Dan babu montok itu lari ke berakang untuk memberitahu dengan mengambil jalan di pinggir rumah. Buah pantatnya ter-longgok-1 onggok dalam berlari. Tapi pada saat itu juga, Kartini sudah menjenguk dari dalam rumah ke serambi muka. "O mari! Mari masuk," tegurnya dengan ramah seraya membukakan pintu. Pintu terbuka, meluncurlah pancaran senyum dan tawa. Kami berjabatan tangan, dan dengan tidak menunggu dipersilakan dulu, kulihat Rusli sudah duduk di atas sebuah dipan tauteuil yang besar model Kero. Aku ditariknya untuk mengambil tempat di sebelahnya, sedang Kartini kemudian duduk di atas salah sebuah kursinya dari stelan Kero itu. Aku sedikit kagum melihat perkakas rumah yang serba modern dan serba mengkilap itu. Semuanya merupakan stelan satu sama lainnya. Dan agaknya satu .stel pula dengan penghuninya, pikirku. Stelan fauteuil tempat kami duduk itu ada di bagian kanan dari serambi, dengan dipan yang kami duduki, rapat pada dinding, sehingga aku dan Rusli mempunyai pemandangan sepenuhnya kepada seluruh ruangan. Tempat "strategis", kata Rusli. Rapat pada dinding sebelah kananku, berdiri sebuah piano. Sedang di sudut dekat pintu kamar depan, ada sebuah meja teh yang berkaca. Di dalamnya terlihat stelan servis teh buatan Tsyeko Slowa-kia, dan di sudut lain lagi sebuah radio Phillips. Kartini duduk membelakangi pintu yang ke serambi tengah, berhadap-hadapan dengan kami. Ia berpakaian piyama dari sutra yang terdiri dari sebuah blus model kozak yang berwarna hijau muda dan celana yang warna kopi. Sandalnya dari kulit

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

beranyam merah putih. Rambutnya yang ikal dibelah dari kiri ke kanan dan sanggulnya bertonggok lepas di atas tengkuk. Sebagai biasa bibirnya merah dengan lipstick dan pipinya dengan rouge, tapi tidak berlebih-lebihan. "Mari merokok!" (riang tersenyum menyodorkan sebuah selapa dari perak bakar yang berisi sigaret Mascot dan cerutu. Kemudian sambil bangkit), "Kopi susu atau coklat?" "Saya kopi susu," jawab Rusli. "Dan Saudara?" Bertemu pandangannya denganku. Aku tunduk sejenak. "Saudara?" (Kartini mengulangi pertanyaannya tadi; aku gugup). "Saudara mau minum apa?" "Saya eh..... saya coklat kopi.....eh kopi coklat." Mendengar itu Rusli tiba-tiba meletus dalam tertawa terbahak-bahak. Juga Kartini tertawa, terutama karena melihat Rusli tertawa dengan mulut ternganga-nganga seperti orang yang hendak diperiksa amandelnya. Aku bingung, sebab tidak mengerti, tapi akhirnya turut juga tertawa sambil pungak-pinguk seperti seorang anak sekolah yang ditertawakan kawan-kawannya, karena di belakang punggungnya diganteli kertas "boleh pukul". "Maksud Saudara Hasan barangkali kopi susu," kata Rusli setelah reda tertawanya. "Ah bukan, maksud saya seperti Saudara Rusli juga, coklat susu." 'Tapi saya kopi susu," kata Rusli pula. "Ya itulah, saya juga kopi susu saja."

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

Dengan masih tertawa-tawa, Kartini menghilang ke belakang, memberi perintah kepada si Mimi. Tidak berapa lama kopi susu, dan kue-kue sudah keluar dibawa si Mimi. "Mari saudara-saudara! Cicipi!" Kartini mau mengedarkan kue-kuenya, tapi dicegah oleh Rusli, "Biarlah saja, Tin! Nanti kami ambil sendiri. Janganlah kita kaku-kaku seperti kaum feodal yang kolot! (kepada saya) Mari, Bung! Kita hantam!" Ternyata, bahwa Kartini sebagai nyonya rumah sangat pandai menggembirakan para tamunya. Sambil minum-minum dan makan kue, kami bercakap-cakap tentang hal-hal yang sehari-hari saja. Dan entahlah, seolah-olah telah dirundingkan lebih dahulu, maka dalam percakapannya dengan aku, Kartini dan Rusli itu mengambil sikap yang sama, mereka sangat berhati-hari rupanya, supaya jangan sampai mereka membicarakan soal-soal yang bisa menimbulkan perasaan yang kurang senang bagiku atau perbedaan yang mungkin menganggu suasana hari Minggu itu. Itulah rupanya, menyimpang dari kebiasaan, maka mereka pun hanya bercakap-cakap tentang soal-soal sehari-hari saja. Pada suatu saat berkatalah Rusli, "Cobalah Tin, main piano v sebentar. Saudara Hasan belum pernah mendengar kau main." "Ah tidak bisa," kata Kartini agak malu-malu. "Sebentar saja," kata Rusli pula. Kartini menggeleng-gelengkan kepalanya. "Malu," katanya. Tapi bisa kulihat bahwa dalam hatinya ia sebetulnya mau, malah merasa megah diminta main itu. Jari-jarinya menokokno-kok tangan kursinya. Dan hidungnya kembang, sedang matanya nampak bersinar. Tapi seperti biasanya dengan

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

orang yang diminta memperlihatkan kepandaiannya, maka ia pun menunggu sampai permintaan itu agak mendesak dulu. "Masa malu? Malu sama siapa sih?" kata Rusli pula. "Malu sama saya sendiri," jawab Kartini. Wajahnya melenggok-lenggok seolah-olah dilenggoKkan oleh senyumnya. "Sebentar saja, Tin," desak Rusli pula. Maka terasalah sudah agaknya oleh Kartini, bahwa batas sudah hampir dilalui antara tahan harga terus dan mengabulkan. Sebab katanya, "Main lagu apa, ya?" "Lagu apa saja. Ini sekedar menghormat kawan kita yang sudah lama tidak bertemu." Rusli tertawa sambil melirik ke arahku. Aku sudah tak tentu lagi dalam gerak-gerikku, entah karena malu, entah karena riang, entah bagaimana. "Baiklah!" (tiba-tiba Kartini bangkit sambil tertawa. Kemudian seraya melangkah ke piano) "Untuk menghormat tamu dan Saudara kita yang baru." Serasa terayun aku ke langit dalam kebahagiaan ketika aku mendengar ucapan Kartini itu. Ia lantas duduk depan piano membelakangi kami. Tutup piano membuka-buka lembaran buku musik. dengan setengah dibukanya. Lantas

"Lagu apa ya?" tanyanya pula seraya menoleh ke arah Rusli. Bertanya begitu itu rupanya lebih untuk menghilangkan kegugupan hatinya daripada untuk mendapat sesuatu jawaban. Ketika menoleh, sanggulnya mengayun di atas pundaknya.

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

"Entahlah, tanya Saudara Hasan saja," sahut Rusli (ibu jarinya terungkit menunjuk kepadaku dengan tiada menoleh, abu jatuh dari sigaretnya), "ini kan untuk menghormat dia!" Maka terasalah olehku darahku terserap ke kuping. Aku sama sekali "buta huruf datam hal musik. Paling-paling tahu lagu keroncong Kemayoran, atau Es Lilin. Memang aku tidak pernah merasa tertarik oleh musik dan seni Barat, yang kuanggap sebagai "buah kebudayaan kapir", yang mudah membikin kita pecat iman seperti anak-anak jaman sekarang yang suka sekali berdansa-dansa dan berpelukpelukan di muka mata umum. "Ayo Saudara! Mau lagu apa?" tanya Rusli, ketika dilihatnya aku termangu-mangu saja. Berlainan dengan aku, Rusli ternyata adalah seorang penggemar musik dan seni umumnya. "Ah kita ambil lagu yang mudah saja," kata Kartini setelah dilihatnya aku diam saja. Maka mulailah ia menarikan jari-jarinya di atas piano. Kukunya yang kemerah-merahan dengan cutex bergerakgerak seperti buah lobi-lobi yang masak berlompat-lompatan. Wals Strauss "Donau Wellen" mengalun membuai-buai jiwa Kartini. Badannya turut mengalun pula dalam irama lagu itu. Rusli mendengarkan dengan khusuk. Matanya dipejamkannya. Seperti orang yang sedang bertawadzuh saja, pikirku. Bagus! Bagus! Bis!" kata Rusli sambil bertepuk tangan, ketika Kartini selesai dengan mainnya. Aku turut bertepuk juga. Turut berseru juga, "Bagus! Bagus! Bis! Bis!"

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

Beberapa lagi lagu lain dimainkan oleh Kartini. Semuanya yang ringan-ringan saja. Artinya menurut pendapat Rusli. Kartini belum sanggup memainkan yang berat-berat. Menurut pendapat Rusli juga. Sesudah main piano, kami lantas beromong-omong lagi. Juga dalam hal musik dan seni umumnya, Rusli ternyata mempunyai pengetahuan dan pemandangan yang luas. Apa yang kuanggap sebagai buah "kebudayaan kapir", oleh Rusli disebut buah "kebudayaan burjuis", yang katanya, dengan sendirinya akan hilang apabila masyarakat kapitalis sekarang sudah berganti menjadi masyarakat sosialis. Sebab, katanya pula, seperti cabang-cabang kebudayaan lainnya seni dan musik pun adalah hasil masyarakat. Masyarakatnya kapitalis, kebudayaannya pun kapitalis. Demikian selanjutnya. Begitulah kata Rusli. Dan., .aku tidak begitu mengerti akan uraiannya itu. Terlalu tinggi teori itu bagiku. Tapi kata Rusli pula, oleh karena masyarakat sosialis itu sekarang belum ada pada kita, sehingga belum mungkin ada keseni-an yang dihasilkan oleh masyarakat demikian, maka sebagai seorang penggemar musik, musik burjuis pun bisa dinikmatinya. Bisa kulihat pada matamu yang kaupejamkan tadi itu, kataku dalam hati. Kartini permisi pergi dulu ke belakang, mau menyediakan makanan. Kira-kira jam satu, maka masuklah kami ke ruangan tengah untuk makan. "Wah makan besar!" kata Rusli, dan matanya dibelalakkannya melihat sebuah meja yang penuh dengan tidak kurang dari sepuluh macam makanan. Dan karena bentuk meja itu bundar, maka keluarlah pula ucapannya, "Konperensi meja bundar ini!"

malah lebih penuh lagi yaitu pada pesta perkawinan haji Mukti. marilah kita gempur. Yang satu makan seperti proletar yang lapar. dan di antara piring-piring dan gelas-gelas itu ditaburkan bunga-bunga gerbera dan aster yang berwarna merah dan kuning yang disela dengan daun-daun pengantin hijau tua. Bukan penuh saja. Dan dengan garpunya mulailah ia mengambil sepotong paha ayam. warna merah putih berkotak-kotak pinggirnya. maka dengan mengangguk sedikit kepadaku (sebelah kirinya) dan kemudian kepada Rusli (sebelah kanan). yang satu lagi seperti .com/ "Makan nasi meja bundar!" Kartini menyahut. Aku merasa kecil melihat meja yang penuh dan beres teratur itu. Demikian pula serbet-serbetnya yang masih dalam lipatan. Setelah kami duduk semuanya. Piring. "Ya. Dan anjurannya itu tidak bisa dikatakan tidak berhasil. Sambil bersenda gurau ia menganjurkan supaya kami makan sekenyang-kenyangnya. Kartini pandai sekali menyusun mejanya. Taplaknya putih bersih. tapi indah pula. Di tengah-tengah meja dengan dilingkungi oleh piring-piring makanan terletak sebuah jambangan yang penuh pula dengan bunga-bunga aneka warna. baru dari benatu. "Ayo! Jangan malu-malu!" katanya pula kepadaku. Pada meja makan pun Kartini memperlihatkan kecakapannya untuk menyenangkan hati tamu-tamunya." kata Rusli. nyata berlidah dan berperut yang sama. Kami tertawa semua. Satu kali ada kulihat meja yang penuh seperti itu. sendok dan gelas rapi dan beres teratur pada tempatnya. akan tetapi tidak disusun seindah dan semodern seperti meja Kartini ini. Kartini mempersilakan kami mulai makan.Tiraikasih website http://kangzusi. sebab baik si atheis Rusli maupun si Muslimin Hasan.

Sendok dan garpu serasa tidak terangkat lagi olehku. Mungkin pada Rusli karena memang sudah biasa makan seperti proletar lapar. tapi tiba-tiba terdiamlah aku. karena mulutnya masih penuh dengan bihun goreng. "Ya. memang Ka Pinglah yang paling enak. dan banyak lemaknya. Mendesak ke dalam kerongkongan. Rusli dan Kartini makan terus. Hanya sebentar-sebentar meluncur kata-kata pujian akan enaknya sesuatu. setelah hampir kenyang. Seperti mulut kuda penuh 'rumput.com/ fakir miskin yang terlantar." sahut Kartini tertawa. bahwa si Mimi itu pandai sekali masak. 'Tidak mengira saya. "memang ini pun dipesan dari restoran Wang Seng. Perasaan mual dan sebal tiba-tiba timbul dalam dada. Sekonyong-konyong tanganku bergetar. Tunduklah aku beberapa jurus selaku bertafakur. Wang Seng? Restoran Wang Seng?! Mataku terpancang kepada daging yang ada di atas nasiku. Mendesak ke atas.Tiraikasih website http://kangzusi. Bihun ini serasa dari Ka Ping saja. Mau melemparkan semua makanan yang ada di dalamnya. demikian pula bibirku. Pening kepalaku. Tidak terlihat rupanya oleh mereka apa yang sedang kurasai. Demikianlah. Kami tidak begitu banyak bicara karena terlalu asyik makan. Kemerah-merahan warnanya. Bagaimana pendapatmu?" . maka tiba-tiba berkata Rusli." Aku turut tertawa juga." Agak susah Rusli mengucapkan pujiannya itu. tapi padaku terutama ialah disebabkan oleh karena aku sudah berhari-hari ditinggalkan mati oleh nafsu makan yang sekarang seolah-olah hidup kembali dan mau menyusul kerugiannya. 'Tapi di antara restoran-restoran Cina itu.

. Nya! Tuan mabok!" katanya gugup seperti ada kebakaran.. Beberapa detik aku masih bisa bertahan-tahan juga. "Kenapa Saudara? Kenapa?!" tanyanya dengan sangat cemas ketika dilihatnya aku sedang muntah-muntah.Tiraikasih website http://kangzusi. Maka muntahmuntahlah aku di sana... Lari ke belakang.com/ "Memang. Aku sangat pucat. Dekat pintu ke dapur.. Sekurang-kurangnya bihunnya! Sungguh tidak kalah!" Dan dengan berkata begitu.apa namanya itu?. makin mencekik.. lalu dijejalkannya lagi ke dalam mulutnya.. Kepala dan dada condong . "Ya. Tangan kiriku bertopang kepada tembok sedang yang kanan menekan dada. sehingga bihun-bihunnya itu bergantungan dari mulutnya. Bangkitlah aku dengan sekonyongkonyong.. restoran apa katamu tadi?" "Wang Seng!" sahut Kartini tertawa. Lekas mereka memburu ke belakang. tapi ah makanan si. akan tetapi makin lama makin mendesak. Lari dengan menekan dada dengan tangan kiriku. Kartini tidak mengacuhkan si Mimi. Rusli menyodok lagi dengan sendoknya bihun dari piringnya. "Tuan mabok. Akan tetapi pada saat itu pula mendesaklah dengan lebih hebat lagi perasaan mual ke kerongkonganku. seperti janggut. Kartini dan Rusli sangat terkejut melihatku itu.. Ke kamar kecil. lalu lari. ya! Restoran Wang Seng! Rupanya tidak kalah sama Ka Ping.. si Mimi menabrak nyonyanya. sehingga pada akhirnya aku tak tahan lagi. Memburu ke kamar kecil. tapi lekas memburu kamar kecil.

Dalam pada itu Kartini sudah lari ke kamar depan. Rusli menolong aku dengan memijat-mijat pundakku dari belakang. sedang memanjangkan lehernya menjenguk ke dalam kamar kecil dari depan pintu. O-o! O-o! Berkali-kali aku muntah. Kartini lari ke dapur. "Coba minumlah dulu Saudara. Tin!" kata Rusli. setelah sepatuku dicopotinya. Rusli memijat-mijat terus. mengambil sendiri air teh panas. Hampir menabrak lagi si Mimi yang dengan wajah yang ingin tahu tapi takut-takut. Rusli sambil Dengan tangan gemetar aku meneguknya." kata mendorongkan gelasnya ke bawah mulutku. Terus menyerbu ke dapur. berkatalah aku setengah berbisik. Aku menjatuhkan diri ke atas kasur. "Baringkan saja dulu di sini. 'Tolong ambilkan air panas. Kartini gugup.com/ ke atas lubang kloset. Rusli mengangkat kedua belah kakiku. lantas berkumur-kumur beberapa kali. Dan kemudian seraya menyapu air mata dan keringat dari muka. mengambil sebuah botol eau decologne yang kemudian diciprat-cipratkannya ke atas sehelai saputangan. . Lekas dibawanya kembali ke kamar kecil. Kartini tak acuh. Lalu sapu tangan itu diletakkan di atas hidungku. sambil memberes-bereskan tempat tidur dengan sapu lidi dan menepuk-nepuk bantal dan guling. O-o! O-o! Aku muntah-muntah lagi." katanya kepada Rusli. Kartini bergegas ke kamarnya. "Maafkanlah saya!" Sempoyongan aku dibimbing ke luar oleh Rusli.Tiraikasih website http://kangzusi.

Bukankah kita tadi menyebut-nyebut nama restoran Wang Seng?" "Ya." "Ya. Kedua-duanya masih heran serta bertanya-tanya." bisik Kartini sayu. Kemudian diusap-usapkannya tangannya itu ke atas kening rambutku. Yang ada. Kudengar Kartini sangat menyesal. "Mungkin Saudara Hasan itu mengira. Kemudian kupejamkan mata." kata Rusli dengan tenang. Dia memang bukan "ahli restoran"." bisikku sambil menggeserkan saputangan itu sedikit ke bawah dari hidungku. bahwa masakan-masakan yang kita makan tadi itu dipesan dari sebuah restoran Cina. ya. Lalu keluarlah ia. Kubuka mata sejenak. "Biarlah ia berbaring-baring dulu. apa sebetulnya yang menyebabkan aku muntah-muntah dengan sangat tiba-tiba itu. Rusli dan Kartini tidak meneruskan makannya. Restoran Wang Seng kan tidak ada. Bibir terasa bergetar sedikit. Kemudian kupejamkan lagi. Sebentar menyalalah sesalan yang tajam dalam mataku. Mereka duduk-duduk saja lagi seperti tadi di serambi muka.com/ 'Terima kasih. Tapi kita kan cuma berolok-olok saja. Diciprat-cipratkannya lagi minyak wangi itu ke atas telapak tangannya sebelah kiri. duduk lagi di atas fauteuil. hanya restoran Wangsa. kata Kartini. Dan merasa malu katanya terhadapku. Memandang sebentar ke dalam mata Kartini. Disangkanya Wang Seng itu . aku mengerti tapi Bung Hasan tidak tahu. Memang tadi pun mereka sudah hampir selesai. Pada akhirnya kata Rusli. "Kukompres dulu keningnya dengan eau'de cologne".Tiraikasih website http://kangzusi. Lalu keluar. takkan lama pun ia akan baik kembali. mungkin. Lesu dan pudar terasa sinarnya. Sayup-sayup kudengar mereka bercakap-cakap. 'Tidurlah saja dulu Saudara.

com/ betul-betul sebuah restoran Cina. saya merasa malu terhadap Saudara berdua. lalu dibimbingnya aku ke dipan tempatku tadi. Maaf! Saya sudah bikin onar. Gembira dan . Serasa hendak pecah lagi dadaku. maka menonjollah sudah aku dari kamar. Kulihat Kartini." "Lagi pula saya pun tahu. Tak usah Saudara minta-minta maaf. Ia memandang dengan lembut kepadaku.. malah membikin aku bertambah gugup saja." "O maaf saja Saudara. Masa aku. Saudara? Bukan?!" Kartini dan Rusli terperanjat melihat aku itu. Sebaliknya. 'Terima kasih! Terima kasih Saudara!" (menjatuhkan diri ke atas dipan). "Jadi tadi itu betul-betul bukan dari restoran Cina?! Bukan?! Sungguh-sungguh bukan?!" "Ah masa saya mau menipu Saudara? Saya pun tahu. Saya menyesal... Sesungguhnya. Saya terburu-buru." • Aku sangat gugup. 'Tak usah Saudara merasa malu apa-apa (senyum).. Aku bisa mengerti kau berolok-olok saja..." Belum juga habis Kartini bicara. sayalah yang harus minta maaf." Aku tunduk. Bukan maksud saya . bahwa saudara seorang yang alim. Sarat dengan perasaan gembira dan terima kasih. Masa kupesankan makanan dari sebuah restoran Cina. Padahal itu Wangsa. Sekali lagi. Kataku dengan sangat gembira. "Jadi tadi itu bukan dari restoran Cina. Kartini lekas memburu.Tiraikasih website http://kangzusi. Dan ketenangan yang terbaca pada muka Rusli... bahwa Saudara Hasan itu seorang kiyai.. janganlah berkurang-kurang memaafkan aku.

Seperti kendaraan yang bermacam-macam itu di atas aspal. Panas tergenang. guru-guru. Tidak terlalu cepat. Delman berkelenengkeleneng. naik mobil. Aku mendayung dengan tenang. mobil berdedot-dedot. aap!"*) Aku tidak suka kepada keriuhan dan keramaian seperti itu. lewat Ban-ceuy. "Urat nadi masyarakat burjuis di Bandung. Fongersku sudah hafal jalan. tidak pula terlalu alon-alon. komis-komis. semuanya naik sepeda. Melancar sepedaku di atas jalan Merdeka Lio. Delman. klerek-klerek. kejalan Landraad. Ke kelopak mata yang terasa panas. dari referendaris ke atas atau opsir-opsir. bersimpang siurlah pula bermacam-macam suara di udara." kata Rusli. Apalagi di jalan Braga. Dan seringkah pula terdengar "Hallo Piet" atau "dag zus!" dari belakang stang stirnya. Alangkah ramainya di jalan. Membikin keadaan lebih ramai lagi. sepeda berkerining-kerining. Hanya tuan-tuan besar. Oleh karena itu aku tidak mengambil jalan Braga.com/ terima kasih yang mendesak ke atas. yang segera disambut dengan "hallo!" kembali atau kadang-kadang pula dengan "hou je kop. karena jalannya mudun. oleh karena kantor-kantor dan sekolah-sekolah semuanya baru bubar.Tiraikasih website http://kangzusi. melainkan membelok ke kanan. Bagian V Hari Sabtu kantor-kantor pemerintah hanya bekerja sampai jam satu siang. mobil demmo dan yang sangat banyak ialah sepeda. Bermacam-macam kendaraan simpang-siur. Anak-anak sekolah. terus ke alun-alun. Aku tak usah banyak mendayung. .

Maka di antara orang-orang yang beratus-ratus berjalan di atas trotoir itu. tempat Rusli dan Kartini berdiri. Lihat-lihat toko. "Ya. Kemudian barulah dengan cepat-cepat aku lari menyeberang ke trotoir. "Mari kita sama-sama jalan. terdengarlah tiba-tiba dari tepi jalan orang berseru-seru. "Baik. dan kami berdiri seperti serumpun pohon-pohon di tengah-tengah arus sungai. . nampaklah kepadaku wajah Rusli berseri-seri dengan tangan melambai-lambai memanggil aku. "San! Saudara Hasan!" Segeralah aku menoleh ke arah suara itu. Tersentak pula aku turun. Beberapa mobil dan delman kubiarkan lewat dulu. hari Sabtu kami pulang pukul satu. Orang yang lalu berdesak-desak. Dan di belakang dia kelihatan pula wajah *) "Diarr lu monyet!" 99 Kartini." ajak Rusli. Dompet proletar palingpaling cuma sanggup borong kacang goreng. "Jalan terus!" perintah seorang agen polisi." "Borong?" "Ah tidak." (tertawa). Dari mana?" "Jalan-jalan saja.Tiraikasih website http://kangzusi." sahutku. sedikit tersembunyi di belakang orang-orang yang ber-jubel-jubel itu.com/ Sampai di depan mesjid. cuma lihat-lihat saja. Cit-cit-cit! Fongers berhenti dengan tersentak.

berhenti untuk melirik sebentar dengan ekor matanya ke arah Kartini. "Mari kita sedikit makan-makan dan minum-minum. aku pun sekarang menunggu saat dipaksa. marilah kita.." "Kenapa? Ada apa sih di rumah?" "Ya.." 'Terima kasih. Sepeda terseret-seret. "Ini rejeki. saya mesti lekas pulang. Tersenyum-senyum sambil melirik ke arah Kartini. "Mari Saudara. Lain tamu lagi." Seperti Kartini. 'Teruskan bicaramu!" bentak istrinya. Seorang tamu laki-laki berbisik-bisik dengan kawannya seraya ter-senyum-senyum. Rejeki tidak boleh ditolak. Sampai depan sebuah restoran.com/ Hupla! Sepeda kuangkat ke atas trotoir.. Menyinggung sepedaku. Tapi karena terlalu ramai mereka toh menyinggung kami.Tiraikasih website http://kangzusi. ketika mau main piano tempo hari. melenggak-lenggok ke kiri ke kanan mengelak-elak jangan sampai bertabrakan dengan orang-orang berpapasan atau menyusul kami. Sepeda hampir jatuh dan aku ditarik terus. melihat kami masuk. Rusli mengajak aku masuk. seorang laki-laki yang setengah putih rambutnya.. Kami berjalan terus. tanganku ditarik oleh Rusli." ajak Kartini. Tamu-tamu yang sedang makan atau minumminum mengangkat dulu kepalanya. bukan?" Dan serentak dengan ajakan itu. yang rupanya sedang mencoba meyakinkan istrinya. . Itu kan kata agama. Kami masuk. bahwa ia benci kepada perempuan-perempuan yang modern.

" kata Rusli.Tiraikasih website http://kangzusi. "Kau di sini? (menunjuk ke arah seorang pemuda yang datang hampir). dengan kereta api pukul 12. Saudara Anwar. Kulitnya kuning seperti kulit orang Cina dan matanya pun agak sipit.com/ Kami mengambil tempat di sudut yattg mejanya agak jauh terpisah dari tamu-tamu lain oleh deretan meja-meja yang masih kosong. Kepada Rusli diceritakannya. Jongos memburu dengan sebuah menu dan bloknot dalam tangannya. bahwa ia hendak pindah ke Bandung. Ia agak terkejut. "Kapan datang?" tanya Rusli pula. Rambutnya belum bercukur dan pakaiannya sekumal pakaian kerja seorang montir. itu melayang dari sudut Rusli melihat ke kiri ke kanan seperti induk ayam mendengar suara ganjil. Maka sebentar kemudian tangan kedua orang itu sudah berentak-rentakan. Kapan datang?" Dari jauh pemuda itu sudah menjulurkan tangannya selaku orang buta yang minta jalan." sahut pemuda itu sambil menarik sebuah kursi yang paling dekat. "Baru saja. Mungkin ia keturunan Cina atau Jepang. tapi sejurus kemudian meriaklah dalam wajah sinar gembira bercampur heran. Sambil tertawa ia berjabatan dengan kami. seniman anarkhis dari Jakarta. "HaiRus!" Tiba-tiba terdengar seruan belakang ke sudut tempat kami. "Perkenalkan dulu. Ia berkumis kecil seperti sepotong sapu lidi masuk ter dan janggutnya jarang-jarang seperti akar yang liar. . Ia pemuda yang cakap rupanya.

Dan Anwar lekas menoleh dulu ke arah orang-orang yang turut tertawa itu. maka segeralah bonnya dikasihkan kepada jongos. Suka tertawa. Jilatan matanya itu tidak menyenangkan hatiku. "Saya sudah minta sate ayam dua puluh tusuk dan gadogado. yang sedang tunduk membaca daftar makanan.Tiraikasih website http://kangzusi. yang selama itu dengan sabar berdiri di belakang Kartini. Kadang-kadang ia berdiri untuk memperlihatkan sesuatu sikap atau gerak yang berhubungan dengan apa yang sedang diceritakannya itu. kami bercakap-cakap lagi. Dan sambil bicara itu mulutnya selalu menggigit kayu tusuk gigi. tapi entahlah. Ada pula orang-orang . Jilatan mata orang pelacuran. zus." Matanya menjilat lagi. Dalam bercakap-cakap itu kulihat dia berkali-kali melirik dengan ekor matanya ke arah Kartini." katanya. aku kurang merasa senang dengan kehadiran dia itu. Anwar ternyata seorang periang. Bicaranya keras. Sambil menunggu makanan." kata Anwar sambil menjangkau sebuah tusuk gigi dari dalam gelas kecil yang berada di depan hidungku. dan sambil menggigit potlot siap sedia untuk menulis pesanan. Walaupun tampang mukanya sangat simpatik. Tentu saja para tamu lainnya pada menoleh kepadanya. Setelah Kartini selesai menulis segala pesanan kami. "Saudara-saudara mau apa?" tanya Kartini tiba-tiba. kalau Anwar menceritakan sesuatu yang lucu. mengangkat kepalanya. "Minumnya buat saya kopi es susu. Aku makin tidak senang. sambil mengangkat sebentar tangannya ke atas secara menabik. Kini mengenai tujuannya rupanya.com/ "Aku sudah bosan di Jakarta. Ada yang turut tertawa. Ia menceritakan peng-alaman-pengalamannya selama ia berpisah dengan Rusli.

kalau Bapa dengan berpakaian kebesaran model kuno itu dipayungi oleh seorang opas? Kenapa Bapa mesti dipayungi orang lain? Payung toh satu barang yang ringan. "Satu kali aku pernah menempeleng seorang bujangku!" (begitulah ia bercerita). Kadang-kadang aku pun suka pula turut tertawa tergelakgelak. weg met dat mensonterende feodalistisch gedoe*) (membanting tusuk giginya). Tapi kadang-kadang pula aku merasa aneh melihat gerak geriknya yang luar biasa itu. pikirku. tidakkah Bapa merasa diri seperti seorang raja dari ketoprak. dus. Bagaimana pendapat Saudara? (kemudian menoleh kepada Kartini). You miss Tini. Telah kularang dia bersembah jongkok terhadap siapa pun juga. "Pa. "Kutempeleng dia. karena dia tidak mau menurut perintahku. kutempeleng bujangku itu sehingga dia melongo saja. bisa Bapa pegang sendiri. kau tahu Rus. Seorang feodal. .Tiraikasih website http://kangzusi. seperti paduka tuan feodal itu juga. bukan? Nah. Yang lain-lain pun tertawa. Tersenyum." Anwar tertawa. Mengapa seorang bujang yang karena membikin sembah saja harus ditempeleng? Sungguh aneh orang ini. karena merasa terganggu oleh cara Anwar bercerita itu. Hanya aku tersenyum saja. semua itu sangat lucu. Maka pada saat itulah. di depan paduka tuan feodal itu. Pa!" (menoleh kepadaku). Jadi seorang fe^dalis nomor wahid. Tapi pada suatu hari kulihat dia membikin sembah terhadap seorang wedana. "Nee zeg. lain kali lagi saya terang-terangan berkata begini kepada ayahku sendiri. dengan terang-terangan kukatakan begini kepadanya. what's your opinion? It is ridicu-lous. En weet je.com/ yang mengangkat hidungnya atau membuang mukanya. Ayahku. karena tidak melihat kelucuannya. Dalam mata saya. dia seorang bupati.

" Mereka makan sangat gelojoh. Diseret lagi sebuah meja yang lain. nona Tini? Lucu bukan-) 1 Sungguh badut-badutan melulu.Tiraikasih website http://kangzusi. "Ha! Gado-gadoku datang!" teriak Anwar. Bung!" Rusli yang masih menguyah kerupuk Palembang. "Coba keluarkan dulu rokoknya. Jangan seperti kapitalis yang harus makan makanan kaum proletar. nietwaar?***). Rupanya ia seorang pegawai Pamong Praja model kuno. setelah jongos selesai. "Ayo. bukan? . Kehormatan. kita mulai saja. katanya. Rupanya karena memang ia yang paling lapar. Mendelik-delik seperti mata ikan gurami. dalam mata saya. Pada hal dat is toch gewoon badutisme. Meja terlalu kecil. "Marilah kita makan seperti buruh tani yang kelaparan"." kata Rusli. sebab makannya pun paling cepat pula selesainya. kata Anwar sambil mengaduk-ngaduk gado-gadonya dengan sendok dan garpunya. merogoh dulu pak sigaret baru dari dalam kantongnya. seorang tamu mendelik-delik matanya. "Ya. Sesungguhnya. Dengan lincah jongos menaruh segala makanan dan minuman yang dipesan.com/ isn't it?**) (mengedip). semua itu sangat lucu. Terutama Anwar. sambung Rusli. ** ***! *) Basmilah kebiasaan feodal yang merendahkan martabat manusia itu ) bagaimana pendapatmu. Dari sebuah meja lain. Ia makan seperti kuda.

seraya mengelus-elus zat yang hitam itu kepada batang sigaret yang hendak dirokoknya itu." "Ah kau ini berkata seperti orang yang mengigau saja War. "Ah. "Madat. Hatiku memberontak.Tiraikasih website http://kangzusi.com/ "Ini sudah habis!" sambung Anwar. namun ketika mendengar ucapan Anwar itu aku tidak bisa mengekang perkataan "audzubillah" itu. . sambil mengerling sekilat ke arahku. Kami bertiga memperhatikan tingkah laku Anwar itu. Maka aku pun bertanyalah. Ingin berdebat dengan orang istimewa itu. sambil memasukkan suapnya yang penghabisan. "Apa arti perkataan saudara itu?" "Zeer eenvoudig!"*) Tuhan itu madat!" 'Tuhan madat?" tanyaku pula. Orang istimewa. kenapa kamu heran-heran? Ini kan Tuhan yang kuulasulaskan kepada sigaretku." pikirku. Biarpun sudah banyak perobahan padaku sejak berkenalan dengan Rusli dan Kartini. bahwa Tuhan itu madat bagi manusia?" "Audzubillah. "Apa itu?" tanya Rusli. "Kenapa mengigau? Bukankah itu perkataan Marx? Bukankah Marx berkata. Anwar mengambil satu batang dari rokok Rusli. sambil meramas bungkus rokok yang sudah kosong yang lalu dibantingnya ke lantai. Kemudian dari kantongnya sendiri diambilnya sebuah tube kecil. Pemadat juga ia rupanya. pikirku." sahut Anwar. kawan ini." kata Rusli. sekalipun cuma dalam hati.

* ) "Dalam pikiranku yang sedalam-dalamnya akulah Tuhan. Bukan begitu. "Kalau menurut saya. yang sering pula kita dengar juga. Atau kiasan lain lagi. Banyak lagi 'kiasankiasan' yang bermacam-macam bunyinya. Dan bersama Kloos aku berkata. Suatu kiasan seperti misalnya kiasan yang sering kita dengar. Dan memang ada yang hendak kukatakan. Sudut bibirku bergetar.com/ "Ya. madat! Artinya menurut kata Marx (menepuk lengan Rusli). ialah bahwa Tuhan itu adalah cahaya atau obor di dalam kehidupan yang serba gelap ini. Tapi ucapan itu hanya suatu kiasan semata-mata. Dan kiasan yang diambil oleh Marx itu tidak kurang tepatnya ialah Tuhan itu (atau persisnya Marx itu bilang "agama"). bahwa agama itu adalah madat bagi manusia." nyit seperti orang yang tersinggung hatinya. 'Tuhan itu adalah aku sendiri (telunjuknya sendiri menusuk dadanya). Menganggap dirinya Tuhan pula! Aku makin tidak mengerti. Ik ben een god in het diepst van mijn gedach-ten *). Gila orang ini. Bung?" Rusli tersenyum. pikirku. ialah bahwa Tuhan itu adalah tiang pegangan bagi manusia dalam kehidupannya. bahwa agama itu adalah madat bagi manusia. seolah ada sesuatu yang hendak kukatakan. tapi tidak keburu." sambung Anwar. . karena tersela oleh Rusli yang segera berkata. . "Memang Marx pernah berkata. " (tangannya melambai seperti seorang raja opera stambul terhadap rakyatnya). Dilihatnya rupanya keningku menger *) Mudah sekali. Rusli melirik ke arahku. Apa itu artinya?" .Tiraikasih website http://kangzusi. Meneguk kopi susunya.

antara kursi-kursi dan mejameja. ia melihat ke arah jongos yang lincah melenggok-lenggok cji. sehingga orang-orang pada kaget. Sesungguhnya. Manusia dalam keadaan serba kekurangan. Prasangka. Tuan!" kata memegang gelasnya depan mulutnya. "Itu tiada lain artinya ialah bahwa seperti halnya dengan madat. maka aku pun sekarang kurang berani untuk membantah sesuatu teori atau pendapatnya. bahwa Rusli "lebih tahu" dari-padaku. lain kali saya akan berbisik. Tidak membantah apa-apa. tegasnya ciptaan atau bikinan manusia juga.. memburu ke arah kami. Dan mungkin pula.zus kaget? Terlalu keras barangkali suara saya? Maaf saja' zus." "Hai jongos! Minta air teh satu ya!" teriak Anwar tiba-tiba. sudah bertambah dalam mencekam dalam jiwaku. Hffff! Hffff! "Sampai kaget saya. karena di dalam pergaulan akhir-akhir ini yang makin erat itu. perasaan kurang harga diri terhadap dia sudah bertambah besar padaku." Sambil berkata demikian itu.com/ Rusli sangat tenang suaranya. Suatu sumber untuk melupakan segala kesedihan dan penderitaan dalam dunia yang tidak sempurna ini. seperti biasanya kalau ia sedang menguraikan sesuatu soal. Tuan?" "Ha! Zie je! (memukul meja sambil melihat kepada Kartini). janganlah kita lupakan. Kemudian seolah-olah tak peduli akan orang-orang sekelilingnya. . Maka aku pun cuma mendengarkan saja.Tiraikasih website http://kangzusi. Kata Rusli selanjutnya. Kartini tertawa. "Ah. "Minta air teh. bahwa (seperti tempo hari saya uraikan kepada saudara) agama dan Tuhan adalah hasil atau akibat dari sesuatu masyarakat yang tidak sempurna. Tuhan atau agama itu adalah satu sumber pelipur hati bagi orang-orang yang berada dalam kesengsaraan dan kesusahan. . ia mengisap rokoknya dengan helaan napas panjang.

Tiraikasih website http://kangzusi. Anwar mengepul-ngepulkan asap dari rokoknya. pada hakekatnya sama saja. tidakkah sudah tiba waktunya kita pulang?" tanya Kartini seolah-olah menghitunghitung bahwa saat itulah yang setepat-tepatnya untuk menyetop perdebatan. Terasa olehku Kartini memandang aku. Kedua-duanya hanya kiasan semata." katanya mengungkitkan dagunya ke arah perempuan gemuk yang baru masuk diiringi oleh suaminya. dengan kiasan madat dari Marx. "Jadi pada hemat saya" begitulah Rusli mulai lagi pembicaraannya tadi. Rupanya perhatiannya sudah berpindah kepada tamu-tamu yang keluar-masuk. "Tapi sementara itu." kata Anwar. air teh satu gelas! Lekas!" Jongos bergegas ke belakang. "kiasan tiang atau obor yang biasa kita dengar itu.com/ Toh suaraku juga---- masih kufang keras juga! Ia bertanya (kepada jongos). Tapi kami pergi duluan saja ya!" ujar Rusli. ya. Tapi sementara itu pikiranku masih terikat juga kepada keterangan Rusli tadi itu. "O. montok seperti Mae West. saudara-saudara. Selingan air teh itu berlangsung beberapa menit. Tapi besok atau lusa mungkin aku datang ke . "Di mana kau menginap?" "Sementara ini di rumah seorang paman di Kaca-kaca Wetan. "Aku mesti tunggu air tehku dulu. Ya. "Lihat. Bagaimana pendapat Saudara?" Aku tidak menjawab.

"Ali right! Ali right! (setengah menyanyi sambil jari-jarinya menokok-nokok meja). Sekarang kami pergi duluan. sejak aku bertemu dengan Rusli dan Kartini." sahut Rusli berolokolok. maka kami pun minta diri dari Anwar. Makin hari makin rapatlah pergaulan kami bertiga. politik. seperti aku tidak kenal kau saja. sambil mengedipkan matanya sebelah.Tiraikasih website http://kangzusi. Misalnya olehku sendiri tidak terasa bahwa sudahlah empat bulan lalu. . Dan ketika kami hampir sampai di ambang pintu ke luar. Rumahmu kan besar. "Hai Rus! Bonku sudah dibayar juga toh?" "Ah. bukan?" "Boleh! sahut Rusli pula. Tak kenyangkenyangnya seperti imperialisme mau menjajah terus. Seakan-akan tak kenyangkenyangnya menelan hari. Hai jongos! Mana air tehku?" Bagian VI Waktu beredar terus. Tapi waktu tidak terasa berlalu oleh orang yang seluruh perhatiannya terikat kepada sesuatu hal atau soal. baik soal-soal kemasyarakatan. bualan tahun. bertambah banyaklah aku tertarik oleh uraian Rusli yang suka sekali membawa aku berpikir tentang pelbagai soal hidup. ya. Dan bertambah rapat. ekonomi dan lain-lain yang selama itu tidak pernah menjadi soal bagiku. Bersama koporku tentu." Setelah selesai semua bon dibayar oleh Rusli. "Baiklah! (bangkit). mau menguasai terus . berteriaklah pula Anwar.com/ rumahmu.

sebab seperti kata Rusli tempo hari. apalagi cara bertengkar seperti orang polemis atau agitator yang suka menyerang mendadak dan mengejek.com/ "Padahal itu pun tidak kurang-kurangnya dari soal-soal agama". Tidak pernah merata pada suatu saat yang sama. Cara memberi nasehat seperti seorang kiyai kepada santrinya dengan menakut-nakuti dengan siksaan kubur dan lain-lain.Tiraikasih website http://kangzusi. Makin banyak aku mencurahkan perhatian kepada soal-soal baru. Demikian perhatian dan pikiran sekarang tumpah seluruhnya kepada soal-soal yang dibawakan oleh Rusli. Rusli selalu berpegang pada semboyannya. bahwa lambat-laun aku bertambah berat dipengaruhi oleh Rusli. kata Rusli selalu. yang sebetulnya memang tidak pernah menjadi soal bagiku. Memang sebagai seorang propagandis ulung. "sebab seluruh hidup manusia diliputi oleh soal-soal tersebut. Dari mulai kecil. Ditaburkan beras di sudut utara. semuanya memburu ke sudut selatan. Ditaburkan ke sudut selatan. makin kurang aku menaruh perhatian kepada soal-soal agama dan mistik. Memang sesungguhnya perhatian manusia itu laksana sekelompok ayam di dalam kandang. Manusia mempunyai soal-soal yang harus dikupasnya dan diselesaikannya. semua itu tidak pernah dipakainya. di samping berperasaan perikemanusiaan. Dan haruslah kuakui. semuanya membum ke sudut utara. Tempat lain kosong. aku menjalankan agama dengan tidak pernah bersoal-soal. Sukses Rusli itu terutama letaknya pada caranya ia berbicara dan mengemukakan pendapatnya. bahwa dengan cara yang ." Aku sekarang mulai merasa menjadi manusia. yang dikemukakan oleh Rusli. tanda yang terutama bagi manusia itu ialah berpikir.

artinya empat bulan yang lalu segala jejak dan ucapanku selalu kusesuaikan dengan "pendapat umum".com/ selalu disertai senyuman. kalau Kartini tidak ada. Aku selalu berhati-hati jangan sampai menjadi noda dalam pandangan umum. . Geli juga kalau aku memikirkan. bahwa tiap orang itu dipengaruhi dan ditetapkan oleh pendapat dan nilai-nilai yang berlaku di antara golongannya atau kiasnya sendiri). yaitu bahwa semua itu sebetulnya tidak akan berlangsung dengan begitu lancar. Dalam keadaan demikian. dan pernah pula berapa kali pergi nonton bioskop. bahwa di atas semua itu ada lagi yang paling penting. alias "kias alim-ulama" itu. bahwa empat bulan yang lalu aku masih mengelak ke belakang sebatang pohon tepi jalan untuk menyembunyikan diri terhadap sebuah delman atau mobil yang lewat. ke restoran. orang lebih mudah dibikin yakin daripada dengan cara mendesak-desak yang kasar. Terasa sekali betapa besarnya perubahanku dibanding dengan dulu. seperti pernah aku mencintai Rukmini dulu. Pengaruh Rusli sebetulnya melalui Kartini sebagai katalisator.Tiraikasih website http://kangzusi. maka tiap gerak dan ucapanku selalu ku timbang-timbang dulu dengan insyaf: Apa akan kata dia? Akan marahkah dia? Sukakah dia pada potongan bajuku ini? Dan sebagainya. terutama dengan pendapat para alim-ulama. Dulu. Tapi sekarang pandangan umum itu sudah tidak begitu kuhiraukan lagi. (Benar kata Rusli. Sekarang aku sudah tidak malu lagi berjalanjalan dengan Kartini. Bagiku sekarang lebih penting pendapat Kartini. Akan tetapi harus kuakui pula. Suara bahwa aku mencintai Kartini. Suara hatiku yang mula-mula hanya sayup-sayup terdengar makin hari makin jelas. bahkan ke pasar.

Maka ketika ada seorang lakilaki datang menggoda dia." Pernah pula aku membayangkan apa yang terkandung dalam hatiku terhadap Kartini kepada bibi itu." katanya pada suatu hari kepadaku. Di antaranya bibiku sendiri. harus tahu hidup. kalau. Yang mengerti tentu hanya tersenyum saja. bahwa tabah dan berani itu tidak berarti bahwa aku tidak . Ketika ia masih perawan. banyak di antara kenalankenalan-ku yang geleng-geleng kepala. Sebagai seorang gadis yang sudah mengangkat berahi. "San. "Ah. Bibi itu pun hanya tersenyum saja. kenapa aku yang alim dan saleh itu tiba-tiba bisa berubah demikian. Dia hanya tersenyum. Tegas katanya. tidak boleh bergerak sama sekali. orang tuanya terlalu keras mengajar. Tempuhlah jalan hidup dengan hati yang tabah dan berani.com/ Takkan heran rasanya. Dibawa lari seperti seekor burung yang sudah lama menunggu kurungannya terbuka. Tapi itu tidak berarti bahwa kau tidak usah berhati-hati. Petot atau bercacat masih bisa laku. Dan seperti yang kulihat maka yang mengerti itu ialah orang-orang tua yang telah banyak berpengalaman hidup." Perempuan tua itu lantas menceritakan masa mudanya.Tiraikasih website http://kangzusi. • Tapi sang suami yang pertama itu kemudian ternyata tidak setia (barangkali karena itulah bibi itu selalu memperingatkan aku. Tidak seperti anak perempuan yang ibarat uang perak sudah hilang harganya kalau cacat sedikit. tidak akan bunting. Begitulah kata bibi. kau seorang laki-laki yang sudah dewasa. Lagi pula engkau seorang laki-laki. ia malah makin keras "dibui". mudah saja ia terpikat dan dibawa lari. "engkau masih muda. Dan laki-laki itu seperti duit benggol.

Dan sekarang ia sangat rajin melakukan ibadatnya. Si bibi itu lantas lari dari dia. Bimbang. meringankan sekali tindak tandukku dalam pergaulan dengan Kartini dan Rusli. kira-kira begitulah.com/ usah berhati-hati). Sungguh banyak pengalaman bibiku itu. karena serasa masih ada sesuatu yang menjadi penghalang antara Kartini dan aku itu. bagaimanakah sebetulnya perhubungan Rusli dengan Kartini itu. '* Rajin dengan mengambil suatu dalil Nabi sebagai semboyannya: Sembahyanglah seperti kau ini akan mati besok. Lari. dengan tidak mengandung perasaanperasaan yang lebih mendalam dari cuma perasaan persahabatan saja? Ah nonsens. Akan tetapi segala gerak-gerik kedua orang itu tidak seperti kakak beradik.Tiraikasih website http://kangzusi. Akan tetapi malangnya. Akan tetapi. Malu. Seringkali aku bertanya-tanya dalam hati. Semacam dua orang bersa-habatan. Akan tetapi biarpun begitu. bahwa Kartini itu adalah adiknya. . Enam kali ia berganti suami. yang tidak merintang-rintangi atau mencela jejakku itu. Karena itu lantas turut bekerja membantu-bantu rumah tangga pada seorang waknya yang suaminya menjadi wedana. tapi tidak mau kembali ke rumah orang tuanya. aku tidak percaya akan adanya persahabatan demikian. sehingga ia terpaksa lari lagi dari sana. dan Rusli memang pernah berkata. Sikap bibi yang mengerti itu. Seperti dua orang "ber-sahabatan"? Ya. si wedana itu kemudian menggoda dia. Mereka banyak anaknya sehingga sungguh dibutuhkan benar pertolongan bibi itu. sampai kini aku masih berada dalam kebimbangan hati. mungkinkah ada persahabatan antara seorang laki-laki bujangan dengan seorang janda muda. Kartini mengakukan dirinya adik Rusli. Baru pada usia setengah abad ia mulai ingat kepada mukena dan tasbeh.

Dan meja yang dilingkungi kawan-kawan itu pun . pengaruh Rusli. membelai-belai lagi hatiku. serambi belakang tempat mereka berkumpul itu masih kosong. bahwa tali asmara tidak bisa dihilangkan begitu saja.Tiraikasih website http://kangzusi. sehingga cemburuku itu lantas berbalik menjadi perasaan kasih yang lebih mesra lagi. Dalam keadaan demikian aku ingin sekali melepaskan diri dari cengkeraman pergaulan kedua orang itu. Kartini pun rupanya sudah merasa pula apa yang terkandung dalam hatiku itu. Terbayang-bayang olehku. Kadang-kadang ia suka pula membikin aku cemburuan. Tak sanggup menyembunyikan api yang menyala di belakangnya. Pendek kata. Bagian VII Di rumah Rusli sudah banyak "kawan-kawan" berkumpul ketika aku bersama Kartini datang ke sana. yang kotor. Akan tetapi ternyatalah. Satu stel kursi rotan. bahwa persahabatan semacam itu tentu tidak lepas dari perbuatan-perbuatan yang keji. Setengah jam yang lalu. Dalam saat-saat demikian. Akan tetapi Kartini bukan seorang wanita yang sudah banyak pengalamannya. kalau ia tidak bisa membujuk-bujuk. terutama terhadap Rusli. beberapa kursi makan dan sebuah bangku yang panjang sekarang sudah diduduki kawankawan. makin tumbuh cintaku kepadanya. yang haram. Dan melalui dia. maka aku pun selalu berdaya upaya untuk menyembunyikan perasaan cemburuanku itu. dan makin besar pula pengaruhnya atas diriku.com/ Kadang^adang aku merasa sebal memikirkannya. Akan tetapi kadang-kadang serasa dari kaca kulit mukaku ini. makin lama aku bergaul dengan dia.

di antaranya tiga orang wanita. Ia ternyata sudah dua hari itu pindah ke rumah Rusli. Ada yang berdiri hendak menyodorkan kursi. menyambut kami dengan ramah-tamah. Mulutnya menggigit sebuah pisang goreng. dan Bung Ramli yang juga turut hadir pada pertemuan itu. Ketiga kawan ini adalah bekas pegawai pemerin* tah jajahan. Kartini mencari tempat dekat ketiga wanita itu. Tentang riwayat hidup mereka telah kuketahui dari T»___«? Bung Suma adalah bekas agen pel-polisi.Tiraikasih website http://kangzusi. Kawan-kawan yang lain sudah kukenaj. "Bapa kita semua. mereka sudah biasa datang ke rumah Rusli. kepada Kartini dan aku. karena ketika dimarahi oleh seorang atasannya yaitu seorang komisaris Belanda.*) Sepuluh tahun yang lalu ia dilepas. * Bung Mitra. Dan komisaris itu ditempelengnya. Ketiga wanita dekat Kartini itu adalah istri Bung Yahya. yang duduk di sebelahnya. yang menggeserkan kursinya sedikit ke pinggir untukku. Dua belas orang." kata Rusli memperkenalkan seorang laki-laki yang kira-kira 38 tahun umurnya. sedang aku diberi kursi di samping Anwar. "Ini Bung Parta dari Garut.com/ sekarang sudah "diduduki" pula oleh cangkir-cangkir yang berisi kopi manis dan beberapa stoples kue-kue. Senyum gadis yang senang karena dipuji cantik. di antaranya Bung Suma. Bung Gondo dan Bung Bakri. ada pula yang duduk saja tapi tertawa riang. . ia melawan karena tidak merasa salah." Sambil berjabatan tangan Bung Parta tersenyum-senyum.

Bung Gondo adalah bekas guru HIS. kembali menjadi pokrol bambu. Ia pandai sekali berpidato. Sebagai propagandis dan demagog rupanya sukar mencari bandingannya. pedagang kecil. pokrol bambu. Akan tetapi kemudian ia bertukar haluan. Sebelum menjadi opmaker ia pernah menjadi wartawan.Tiraikasih website http://kangzusi. Dan Bung Bakri dulunya pernah menjadi pegawai SS*) Tapi ketika ia turut memimpin pemogokan VSTP**) di tahun 1922 ia dilepas. ia sudah turut berjuang di kalangan Serikat Islam. dan pada akhirnya masuk sebuah percetakan. Rusli. (Begitulah ia bercerita pada malam itu). Tapi di antara kawan-kawan itu tidak ada yang melebihi pengalaman Bung Parta itu. suatu tenaga yang luar biasa bagi SI. belajar mengezet. Ketika masih berumur kira-kira 17 tahun. kemudian setelah rugi dagangnya. Dan tidak ada pula yang melebihi keradikalannya." Ia sekarang menjadi seorang pamong Taman Siswa.com/ sehingga ompong. Sekarang Bung Suma menjadi sopir otobis dan memimpin gerakan sopir-sopir. sampai kini. Ia terpengaruh oleh aliran sosialisme radikal yang ketika itu baru mulai merembes ke . Sekarang ia menjadi opmaker di salah sebuah percetakan yang besar serta memimpin kaum buruh percetakan. oleh karena ia tidak merasa senang untuk (seperti katanya sendiri) "meracuni anak-anak kita dengan pelajaran dan pendidikan kolonial. politie (bahasa Belanda) = polisi lapangan yang bergerak di luar kota. Ia kemudian minta lepas dari jabatannya. kemudian menjadi opmaker.

Di atas podium ia lantas minum di muka hadirin yang kebanyakannya terdiri dari orang-orang Islam yang berpuasa. Tapi Bung Parta berteriak-teriak dan memaki-maki kembali. Tentu saja hadirin berteriak-teriak serta memakimaki. malah ada juga yang melempar-lempar dengan apa saja yang bisa dilemparkannya ke podium. ia berbaring di suatu ruangan dengan dua orang yang benjol-benjol pula kepalanya. karena bukan "tinju puasa". sebab kepalanya benjol-benjol kena tinju halayak yang katanya nyata *) Staatspoorwegen = Jawatan Kereta Api **) Vereniging van Staatspoor en Tram Personeel = Serekat Sekerja para pegawai Kereta api dan Tram.. cengklong beterbangan ke arah kepala Bung Parta. Seminggu Bung Parta harus berobat di rumah sakit.Tiraikasih website http://kangzusi.. Dan lucunya. tongkat. walaupun sedang berpuasa. masih kuat memukul. Begitulah ceritanya dengan berkelakar. Sebuah cengklong kena kepala seorang wakil polisi yang sedang berseru-seru dan menggedor-gedor di atas meja. Dan tinjunya tentu lebih keras. Dalam menceritakan peristiwa yang lucu itu. karena tinju balasan dari Bung Parta sendiri. Maka Serikat ditentangnya dengan sekeras-kerasnya.. kawan-kawan sampai riuh tertawa. Islam lantas Pernah ia berpidato di salah sebuah rapat umum yang diadakan pada bulan puasa. kerikil. Sandal. Perempuan terpingkal-pingkal sambil menutupi mulut dengan sapu tangan.com/ tanah air kita Indonesia. "Bagus Bung! Bagus!" Tapi sedang orang-orang pada riuh itu. menyuruh rapat bubar. tangannya lekas menjangkau lagi sebuah pisang goreng yang lekas . Anwar berkali-kali bertepuk tangan seraya berseru-seru. kata Bung Parta.

Ketika kembali ke tanah air. tapi seorang Negro tidak boleh sekalipun orang hitam itu misalnya menjabat pangkat pro-fessor.com/ dijubalkannya ke dalam mulutnya. Bung Parta bisa menginap di hotel tempat orang-orang kulit putih menginap. yang harus hidup di gubug-gubug. Kemudian ia menjadi kelasi dari sebuah kapal Rotterdamsche Lloyd. yang berkeluyuran dalam pakaian compang-camping depan tokotoko pakaian yang mentereng. lain kali untuk spreekdelict. Begitulah cerita Bung Parta. ke Australia. selaku tukang copet yang bertindak pada saat riuh dan ribut. ia menceburkan diri dalam pergerakan non-koperasi. yan§ menderita kelaparan dan kekurangan di tengah-tengah kekayaan kaum kapitalis yang bertimbun-timbun banyaknya. Di New York ia melihat nasib orang-orang Negro yang mempunyai kedudukan sosial yang rendah sekali. Ia turut aktif bergerak di kalangan serikat buruh perkapalan yang corak internasional. Bung Parta pandai sekali bercerita lucu.Tiraikasih website http://kangzusi. Sesungguhnya. Di samping itu nasib kaum buruh yang hidup di teratak-teratak dan gubug-gubug pula. lebih rendah daripada orang-orang kulit putih berwarna lainnya. Sebagai kelasi ia pernah belajar mengelilingi dunia. Tiongkok. atau karena tindakan-tindakan lain yang melanggar artikel "Haret" . Jepang. Di New York misalnya. Juga menarik sekali nasib kaum penganggur yang berjutajuta jumlahnya. Eropah dan sampai pula ke Amerika. ia turut pula memelopori pemogokan-pemogokan tersebut. dan turut juga melopori pemogokanpemogokan di kalangan mereka. Beberapa kali ia masuk bui atau dipanggil oleh PID*) Kali ini untuk persdelict. Di jaman VSTP mogok.

Lantas pada datang berkerumun mengerumuni Bung Parta. maka oleh kawan-kawannya Bung Parta dipandang sebagai "bapa" mereka. oleh kebebasan jiwa mereka. jengkel kepada mereka. Malah-sekali-sekali jengkel. Karena pengalamannya yang begitu banyak dan keteguhan hatinya yang begitu kuat. Terutama sekali. tapi hanya untuk sementara saja.Tiraikasih website http://kangzusi. karena baru saja kawin dengan seorang perempuan berasal dari sana. Kadang-kadang aku merasa kecil terhadap orang-orang yang telah begitu banyak pengalamannya itu. Memang ia hidup semata-mata untuk berjuang mengejar cita-cita dan ideologinya. Seperti santrisantri mengerumuni kiyai atau wartawan-wartawan mengerumuni pembesar yang akan diinter-view. . Tapi Bung Parta tetap teguh dalam pendiriannya. Teguh seperti gunung batu. bahwa di rumah Rusli itu ada Bung Parta. Politieke Inlichtingen Diensl = Jawatan Penyelidik dari buku undang-undang hukum pidana Hindia Belanda. Mencium kabar seperti semut-semut mencium bau gula. oleh keberanian mereka.com/ *) Politik. kadang-kadang merasa malu atau gelisah dan tidak senang. Sekarang ia tinggal di Garut. Sore itu kawan-kawan berkumpul di rumah Rusli itu sebetulnya secara kebetulan saja. karena mereka sangat berlainan dalam segala-galanya dengan aku. Bermacam-macam perasaan menguasai seluruh jiwaku di tengah-tengah kawan-kawan itu. Jengkel pada diriku sendiri. Mereka telah mencium kabar. Dalam keradikalannya. karena aku tidak seperti mereka. Akan tetapi pada umumnya aku tertarik oleh percakapanpercakapan mereka itu.

Tapi rupanya cara demikian itu belum cukup juga bagi Anwar.Tiraikasih website http://kangzusi. Pendeknya pada malam itu pusat perhatian semua ialah Bung Parta. tiba-tiba mendapat perdebatan dari Anwar. Dengan tegas ia berkata pada akhirnya bahwa "tekniklah Tuhan kita". Anwarlah yang paling keras tertawa. Dia sendiri menjangkau lagi pisang goreng. Bagi Anwar hal itu agaknya kurang menyenangkan hatinya. . Dan Bung Parta ternyata lebih berat menderita "penyakit bicara" daripada Rusli. tapi semuanya hanya mengangguk-angguk saja seperti mandor onderneming*) terhadap administraturnya. Rusli telah berkisar sedikit ke belakang. Ia mau lebih mendapat perhatian umum. Ucapan itu sangat berkesan dalam hatiku. Berusaha untuk menjadi pusat. Ditambah juga ia pandai sekali berkelakar dan melucu. Kalau Bung Parta mengemukakan sesuatu teori. Kadang-kadang pula memaksa-maksa dirinya melucu. Barangkali juga memang ia-mau mengemukakan pendapatnya secara jujur.com/ Kalau pada pertemuan-pertemuan lain Rusli yang biasanya menjadi "dalang". Sudah biasa ia menjadi pusat perhatian orang. kemudian kepada Kartini dan kawan-kawan lainnya. maka pada sore itu jabatan terhormat itu telah seratus persen diserahkan kepada Bung Parta. maka Anwarlah pula yang mempersilakan orang-orang lain meminum kopinya atau mengambil kue-kuenya. Pendeknya. Bung Parta yang selama itu tidak pernah didebat orang. Anwarlah yang paling dulu berseru: Betul! Betul! Dan kalau Bung Parta menyeropot kopi manisnya. Perdebatan itu mencetus ketika Bung Parta menguraikan arti teknik di jaman modern ini. Kalau Bung Parta melucu. Aku menoleh ke arah Rusli.

aku mau mendebat atau sekurangkurangnya mau bertanya. barangkali ucapan itu memang benar. Yang ada ialah teknik. bahwa Tuhan itu buku. kalau mereka sudah pernah mengemukakan pendapat.com/ Aku sebetulnya mau membantah. Stalin dan lain-lain? Sesungguhnya. politik atau apa saja. Lenin. siapa tahu." Begitulah kata Bung Parta menegaskan lagi uraiannya. kenapa mereka sendiri pun tidak mau menyelidiki lebih kritis ucapan-ucapan lain seperti ucapanucapan Marx. *) perusahaan perkebunan . maka pikiran-pikiran dan pertanyaan-pertanyaanku hanya sampai di dalam hati saja. Hanya kukuku menggaruk-garuk dempul kursi makin dalam. ekonomi. Dan itulah Tuhan kita! Sebab tekniklah yang memberi kesempatan hidup kita. listrik. Mungkin besok atau lusa akan dikemukakannya pula. "Tuhan itu tidak ada. Dan apa salahnya. Ya. Apakah mereka itu pun sudah menjadi dogmatis seperti aku dulu terhadap dalil-dalil agama? Tiadakah timbul hasrat dalam hati mereka untuk menyusul lebih dalam soal itu? Kalau mereka suka mencemoohkan orang-orang agama dengan mengatakan bahwa orang-orang alim itu dogmatis.Tiraikasih website http://kangzusi. Barangkali sudah dipikirkan dalam-dalam oleh mereka. Entahlah. akan tetapi ketika melihat Rusli dan Kartini yang nampaknya setuju dengan ucapan Bung Parta itu. kalau mereka berpendapat. bahwa Tuhan itu madat. bahwa Tuhan itu teknik. suka mengunyah-ngunyah dalil-dalil Alquran tapi tidak diselidiki benar tidaknya. akan tetapi pengalamanpengalaman yang pahit dalam perdebatan dengan mereka itu. mengunci mulutku erat-erat. kenapa sekarang aku harus hiraukan benar.

" Kawan-kawan pada kaget mendengar suara itu." sahut Bung Parta. apa artinya alat kalau tidak ada manusia? Kalau tidak ada aku? Yang harus mempergunakannya? Apa gunanya mesin-mesin. kalau tidak ada tangan yang menjalankannya? Oleh karena itu. Memang. "Tidak!" seru Anwar tiba-tiba. kabur-kabur. Tuhan itu adalah aku sendiri. tegas konkret. Tapi Tuhan samar-samar. 'Tapi bagi kami. Begitu pula teknik bagi kami. manusia. melambunglambung ke daerah yang tak tercapai oleh akal. "Tidak! Teknik itu cuma alat. kalau pendapat saudara begitu. "Betul kata saudara itu : "cuma alat".com/ Bermacam-macam perasaan . bagiku. Dengan tangkas sambil tertawa Bung Parta menjawab. Dua lusin mata menentang wajah Mongol yang bulat kekuning-kuningan itu. yang tegas-tegas daripada kepada yang kabur- . tapi Anwar tangkas lagi berkata.Tiraikasih website http://kangzusi. persis seperti teknik. Dan karena kami lebih suka pada yang kongkretkongkret. kan Tuhan pun hanya cuma alat bagi orang-orang yang percaya kepadanya. Tuhan itu hanya alat. Tapi sejurus kemudian kedua lusin mata itu sudah berpindah lagi arahnya. yang tidak ada bagi kami. Alat yang memberi kesempurnaan bagi hidup manusia. "Betul. Teknik nyata. adalah "alat" jua. bukan teknik dan mesin-mesin. Dus apa bedanya? Tak ada toh selain daripada yang satu lebih nyata. Betul tidak?' Orang-orang pada mengangguk. tapi kalau menurut saya. Sekarang mengarah ke wajah pelaut yang kehitam-hitaman terbakar dan setengah bopeng itu. Tapi baik teknik maupun Tuhan. lebih kongkret daripada yang lain." "Baiklah. Alat yang katanya memberi keselamatan dan kesempurnaan kepada hidup manusia. ke daerah yang gaib-gaib. wajah Bung Parta.

kalau ia tidak mempergunakan alat yang utama untuk kesempurnaan hidupnya. samar-samar. cuma teknik yang ada." sela Rusli. Bukan Tuhan. Sedang apa artinya. gaib. Ya. yang bisa memberi kesempurnaan hidup kepada manusia. "Ya. maka kami pilih alat teknik yang utama daripada alat yang samar-samar seperti Tuhan itu. apabila manusia mau mengejar kesempurnaannya. Hanyalah bagi saya. (Bung Parta mengangguk-angguk ke arah Rusli) tentu saja. manusia pun tidak akan banyak artinya. Itulah maka bagi kami. manusia yang bisa mempergunakan akal pikirannya dan yang mengutamakan perasaan peri kemanusiaannya sebagai dasar hidupnya. yaitu alat teknik itulah! Alhasil.com/ kabur." "Ya! (angguk kembali dari Rusli) sebab keluhuran dan kemajuan teknik akan menghancurkan kemanusiaan. yang gaib-gaib dan samar-samar. Dalam hal ini kita sama sekali tidak bertentangan faham. dengan tidak usah kita bercekcokan tentang apa Tuhan itu teknik ataukah "aku" seperti kata bung tadi. Tuhan kabur.Tiraikasih website http://kangzusi. tidak jelas. Oleh karena itu pula tekniklah yang harus kita kuasai sebagai alat. kalau tidak ada kita manusia. apabila itu dipergunakan oleh misalnya kaum imperialis untuk menindas kias-kias dan bangsa-bangsa lain. Tuhan tidak ada. yang berpikir dan berperikemanusiaan. maka bagi saya manusia dan teknik seolah-olah tidak bisa lepas satu sama lainnya. bukan Tuhan dengan men-doa-doa dan minta-minta atau membaca-baca kulhu." "Artinya manusia dalam arti yang sesungguh-sungguhnya." "Memang. alat itu tetap tidak ada artinya. fatehah atau sahadat beberapa ratus kali." . kita tidak tahu!" "Tapi bagi saya.

Saya sendiri tidak sudi ngelamun atau diajak ngelamun. yang kongkret. atau mencemoohkan "Tuhan itu teknik"? atau mencemoohkan aku? Tapi Bung Parta rupanya sangat setuju dengan "cemoohan" Anwar itu. Marah sama Bung Parta. Tertawanya begitu aneh. Dia pun tertawa. Tapi kemudian sambungnya sambil tertawa. apakah dia mencemoohkan modin yang memukul beduk itu.Tiraikasih website http://kangzusi.Dia tertawa. pendeknya soal nasib kita sebagai bangsa. Hanya aku cuma tersenyum-senyum lagi. seperti soal kebodohan kita yang masih gelap diliputi awan buta huruf. Kami kaget. soal-soal yang nyata. Soal Tuhan dan lain-lain yang gaib-gaib itu saya serahkan kepada orang-orang tukang ngelamun. Lebih baik kita curahkan segenap pikiran dan perhatian kita kepada soal-soal yang berarti mati hidup bagi kita. Semua tertawa. Dus basta!" "Dur! Dur! Dur! Tabuh di langgar berbunyi untuk sembahyang Magrib. Kusangka Anwar membentak Bung Parta. itulah yang terpenting bagi kita. sehingga tidak bisa kupastikan.com/ "Betul itu!" sahut Bung Parta. "Kita kan lebih baik mempelajari teknik daripada memukul beduk? Memuja teknik daripada memuja Tuhan. "Diam!" teriak Anwar tiba-tiba. "Dan selanjutnya tak usah kita bikin ribut dan membuang-buang waktu tentang perkara yang tidak penting seperti soal Tuhan itu. tidak mengerti apa yang harus diketawa-kan . Bukan begitu Bung?" (menoleh kepadaku).

Tiraikasih website http://kangzusi. . Lampu mulai dipasang. Penontonpenonton mengalir dari ruangan melalui pintu-pintu "bahaya" keluar." Kira-kira setengah dua belas bioskop bubar. Dan dalam berjejal demikian Kartini erat sekali memegang tanganku. Orang mendorong-dorong. yang kongkret. Persis pada saat orang-orang alim di langgar berbuih-buih mengucapkan kalimat-kalimat Arab kuno yang tidak dimengertinya. Berjejal-jejal depan pintu gerbang yang terlalu sempit. mendesak-desak. Tentang soal-soal yang nyata.com/ Empat bulan yang lalu aku masih meloncat dari kursiku mendengar tabuh berbunyi itu. Di bioskop perhatianku tidak genap. Mereka terus beromong-omong. Kesan perdebatan antara Anwar dan Bung Parta tadi itu tidak lepas sama sekali oleh permainan Dorothy Lamour dan Ramon Novarro dalam "Pagan Love Song. Tapi sekarang aku tetap saja terpaku pada kursiku. menghimpithimpit. memanggil umat untuk memuja Tuhan. Dari langgar terdengar orang berazan. Baru jam setengah sembilan aku dan Kartini bangkit dan ber-pamit pergi duluan. Persis pada saat mulai padamnya api perdebatan antara Anwar dan Bung Parta. Persis pada saat soal Tuhan lenyap dari ruangan perhatian kawan-kawan. seperti potongan-potongan kayu dan sampah-sampah depan pintu air.» lekas-lekas bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu. yang masuk akal. sebab hendak nonton bioskop. Tetap juga terhadap tertawaan orang yang mentertawakan modin yang melakukan kewajibannya itu.

Tiraikasih website http://kangzusi. Takut kalaukalau dipandang kurang senonoh. Terdengar suaraku sangat riang. Mencari bangku yang bagus letaknya. ketika sudah bebas dari aliran manusia yang berdesak-desak itu. Kartini diam sebentar." sahutku. Jadi kami tidak berbelok ke jalan Pasar Baru dan alun-alun. "Boleh saya bawakan?" ujarku dengan galant. Tapi aku tidak berani. ." jawabku. Memang aku pun sebetulnya ingin mengemukakan usul tersebut kepada Kartini. Kartini memberikan mantelnya. "Kita jalan terus saja." Kami berjalan berdampingan. "Kita duduk-duduk dulu?" usulnya pula. Kartini mengusulkan. hawanya enak sejuk. Sambil berjalan kami membicarakan film yang baru kami lihat itu. melainkan mengambil jalan terus." "Baik.com/ "Heheh!" kata Kartini melepaskan napas panjang. Sejuk membelai muka. ya! (Kartini menghirup hawa) Kita jalan kaki saja ya. "Kita jalan-jalan saja dulu. "O baik. "Di sana!" kata Kartini. Sampai di muka park tersebut. Bulan memandang tenang dari langit. Angin malam menyongsong kami dijalan besar. Kuselampaikan berlipat dua di atas lenganku. Kami masuk park. jalan Landraad dan Pieterspark. Sudah biasa aku menurutkan segala usulnya. Tidak Kang!" "Ya baik!" sahutku. dan angin tidak berapa. ya. Mantel Kartini tidak dipakai. Terang bulan lagi! (kepada kusir yang menawarkan delmannya). menunjuk ke arah bangku kosong di bawah sebatang pohon pisang kipas. "Sangat segar. Sampai di perapatan Kompa. melalui jalan Suniaraja.

Bangkubangku yang dekat kosong semua. Segera disusul pula oleh suara seorang perempuan lagi yang menjeritjerit dan menangis-nangis minta ampun. Mungkin juga kepada jiwa Kartini. "Naaah! Kowe lonte! Hai jangan lari!" Kami sangat terkejut. Membikin bulan hidup. Tak sanggup aku melukiskan keindahan malam itu. Jernih seperti piring emas muda yang baru digosok. "Lonte! Lonte! Masih berani juga kamu menyelundup!" Kedua laki-laki itu ternyata agen polisi. Kabur-kabur terlihat di atas tiap bangku itu dua tubuh melekat. "Kejar itu yang satu lagi!" Dan suara laki-laki yang geram itu segera disusul oleh bunyi sepatu berat berketepok-ketepok di malam sunyi. Bulan sangat indahnya.Tiraikasih website http://kangzusi. "Kowe tidak mau tahu undang-undang negeri. "Ampun Tuan! Ampun!" suara perempuan menjerit. berisi. terasa benar olehku pengaruh yang gaib menimpa jiwaku. Ia duduk bersilangkan tangan di atas dada. Tapi biarpun begitu. Awan kecil-kecil bertitiktitik di bawahnya bergerak-gerak. menengadah ke langit menatap bulan. aku pun sudah duduk di samping Kartini. Hanya tiga bangku yang sedikit jauh letaknya. Hampir bulat benar. Mereka membentakbentak seperti anjing galak menggonggongi pencuri. hah? Ayo ikut! Binatang jalang!" . Sayang aku bukan penyair. Ia pun terpukau juga agaknya oleh keindahan bulan itu. ke arah suara geram itu datang membentak dengan tiba-tiba.com/ Maka tak lama kemudian. yang masing-masing berjauhan pula letaknya satu sama lain. Menoleh ke belakang. rv'ami hanya berdua orang saja di sana.

com/ Kedua orang perempuan itu menangis terhisak-hisak." kata Kartini setengah dalam mulut. Mereka berjalan terus. "Korban kapitalisme! Mereka sampai-sampai menjual kehormatannya. pindah ke dunia nyata yang pahit. Tapi mereka tidak apa-apa. Kedua agen polisi itu tidak habis-habisnya membentakbentak dan mendorong-dorong dan menendang-nendang kedua mangsanya itu. menegas-negas sambil berjalan terus. menginjak lorong park yang terang bermandi cahaya. agen-agen polisi itu menoleh kepada Kartini. yang tak henti-hentinya menangis. Kartini agaknya asyik dengan sesuatu pikiran. Kurang ajar! gerutuku dalam hati. "Lagi orang-orang yang malang. Mengeluh ia serta sambungnya. karena tak sanggup mencari sesuap nasi. Oleh peristiwa yang tiba-tiba itu aku seakan-akan direnggutkan dari dunia mimpi yang indah. menuju ke arah kami. Ketika lewat di bangku kami. aku tidak tahu apa. Masih nasib perempuan-perempuan tadi itu? Masih masyarakat yang bobrok itu? . Karena masyarakat terlalu bobrok. Beberapa jurus sunyi antara kami berdua.Tiraikasih website http://kangzusi. Mereka keluar dari bawah bayang pohon-pohon yang gelap. Dan kedua mangsanya terhisakhisak terus. Entahlah. tak sanggup memberi pekerjaan yang halal kepada orang-orang yang malang itu! (mendesis-desis suaranya). Yang satu menyorotkan lampu senternya ke muka kami. Mendorong-dorong terus. Cih! Massssyyarakat bobrok kaya gini. Tak lama kemudian kulihat dua badan berpakaian kehitamhitaman digiring oleh kedua orang polisi itu. Mana jaminan hidup untuk warganya!" Aku melenguk saja.

ketika saya masih sekolah." Hening lagi. Kutekan-te-kan supaya jangan sampai terdengar oleh Kartini. "Bulan ini juga yang menyaksikan saudara dalam park ini dulu?" Pertanyaan itu yang diucapkannya dengan suara yang lembut itu. "Kenapa saudara tanya begitu?" "Ah tidak apa-apa. Wajahnya yang cantik itu pudar putih dalam cahaya bulan.Tiraikasih website http://kangzusi. Menengadah lagi ke langit. "Saudara! Bolehkah saya bertanya sedikit?" Dengan tidak mengangkat kepalanya dari sandaran bangku Kartini menoleh kepadaku seraya tersenyum lembut. Lantas dengan tidak bermaksud apa-apa yang insaf. Kataku dengan sadar. dengan suara yang lembut merayu-rayu. "Malam?" "Siang." sahut Kartini." ujarku pula. "Apa saudara?" . membikin aku sayu dan sentimentil. bertanyalah pula aku. Terasa bahwa dalam pertanyaan itu ada tersimpul sesuatu yang membikin hatiku berdegup agak deras. Kartini menyandarkan kepalanya ke atas sandaran bangku.com/ Tapi tiba-tiba kudengar ia bertanya. "Dulu saya agak sering juga duduk-duduk di sini. Akan tetapi pertanyaan itu seakan-akan memberi keberanian pula kepadaku untuk membukakan hatiku lebih lebar lagi. Sekali-sekali juga malam. Henine pula sebentar. "Sering saudara dudukduduk di sini?" Terkejut aku mendengar pertanyaan itu.

com/ Melihat ketenangan Kartini itu aku menjadi agak kaku." "Pelindung?" .. agak tak acuh malah). Maka seolah-olah sepatah demi sepatah kata-kataku yang sudah berkumpul di ujung lidahku itu. entahlah. seakan-akan mau mundur kembali karena pertanyaan "kenapa" itu. bahwa kami adalah kakak-beradik.. berjatuhan kembali ke dalam hati. dan dia seperti kakak saya. Pendeknya akibatnya sama: lidahku menjadi berat seperti dari timah. atau malu bercampur takut. Maka terjatuhlah sebuah pertanyaan dari mulutku. Dia orang baik. Tapi sebetulnya aku itu bukan takut. "Kenapa Saudara. tidakkah lebih baik kita saling tegur dengan nama saja? Perkataan "saudara" itu agak kaku rasanya. Betulkah dia itu kakakmu?" '"Ah memang kami suka mengemukakan kepada orang lain. Maka kata-kata yang tadi sudah berjatuhan ke dalam hatiku itu. tak usah pakai "saudara" lagi. eh pandangan saudara terhadap Saudara Rusli?" "Terhadap dia? (tetap tenang. Sebentar aku tunduk. Alangkah gembiranya aku dengan usul Kartini itu. Itu oleh karena memang saya merasa seperti adiknya. (diam sebentar). Dan . naik berkerumun ke ujung lidah.. kawan baik (kemudian sambil menegakkan dirinya). Kenapa?" "Ah tidak. sahutku lambat-lambat. seakan-akan sudah pada berloncatan lagi ke atas. berdesak-desak mau keluar paling dulu. tapi eh.. (duduknya lebih tegak lagi). tapi segera berkatalah pula. Dan bolehkah kupanggil saudara "San" saja?" (tersenyum lagi).Tiraikasih website http://kangzusi. bukan? Panggillah saya "Tin" saja.. "Bagaimana sebetulnya tali kekeluargaanmu dengan Bung Rusli itu. keadaanku adalah samar-samar antara malu dan takut. Dan dia adalah pelindungku. "Bagaimana peman .

tidak kepercayaanku terhadap mungkinnya persahabatan "kakak-beradik" itu. Saudara itu betul-betul adiknya. Kepalanya terkulai lagi di atas sandaran bangku. lebih dekat lagi kepadaku. maka agaknya terasalah pula oleh Kartini bahwa perkataanku itu timbul dari dasar hati yang cemburu." Mungkin karena suaraku agak cynis. Ah inginlah aku mendengar nama kasihku itu dari mulutmu.com/ Maka diceritakannyalah kepadaku apa yang telah kudengar dulu dari Rusli tentang riwayat hidupnya. Menjadi sinis. kenapa mesti marah?" "Syukurlah kalau tidak marah." Aku tetap tidak percaya akan perhubungan "kakak-beradik" itu dengan tiada perasaan-perasaan lain yang mengikat kedua hati mereka. Menatap bulan. agaknya membikin aku menjadi pahit. tentang ancaman dan gangguan dari keponakan Arab tua itu. hanyalah sebagai kakak-beradik semata-mata. Cahaya perak . Tapi ternyata bukan. "Marah San?" "Ah tidak. "Jadi perhubungan dengan Bung Rusli itu." "Belum cukup dari mulut kakakmu Rusli?" Entahlah. Maka herankah. Kenapa tidak suka memanggil aku Tin atau Tini? (lembut). Pada akhirnya berkatalah ia. Sebab ia berkisar duduknya.Tiraikasih website http://kangzusi. seraya katanya setengah berbisik. karena barusan kau bilang "saudara" lagi kepadaku. Badan lampai itu bersandar lagi. Kukira marah. Berbahagia juga rupanya Rusli dengan adiknya seperti Saudara ini. kalau dalam hatiku timbullah semacam api cemburu terhadap Rusli? "Saya kira.

" bisiknya sambil mengeluh ringan.. sedih agaknya. Padanya perjuangan seolah-olah sudah tidak menjadi jalan atau syarat lagi. "kalau aku tahu bahwa untuk dia hanyalah perjuangannya yang menjadi tujuan hidupnya. Harap-harap cemas seperti seorang pengarang muda menunggu putusan redaksi. "Jadi kau tidak mencintai dia. Ia hanya menatap lurus ke dalam wajahku dengan sinar mata yang mesra. "Kau tidak mengerti aku. Aku tunduk seolah-olah ada yang kupelajari di atas tanah dekat kakiku. Bila aku mengangkat kepala lagi serta menoleh kepada Kartini..com/ berbanjiran menggenangi wajahnya. Kutatap dia dari samping. Mengapa tidak suka memanggil aku Tin.Tiraikasih website http://kangzusi. melainkan sudah menjadi tujuan semata-mata. San?" ujarnya tiba-tiba dengan tidak menoleh kepadaku." Mengeluh ia. Tak ada yang lebih dicintainya daripada ideologie dan cita-cita politiknya. Tapi sebaliknya. . Sunyi beberapa jurus. "Rupanya kau cemburu kepada dia. aku sangat riang. Seolah-olah berkata hatinya':. Terlalu riang untuk menginsyafi benar akan alasan yang dikemuka-kan oleh Kartini itu." bisiknya pula. Mengapa belum juga mengerti engkau?! Maka berdegap deguplah lagi hatiku seperti tadi. Kartini tidak menjawab. menatap bulan. Makin lama. Rupanya ia kecewa dengan kepahitanku itu. maka kulihat dia masih menengadah ke langit. Tin?" Suaraku harap-harap cemas. "Bagaimana aku bisa mencintai dia.

Tapi kini aku bukan lagi hanya bercinta saja.. aku pun sudah merasa menjadi seorang manusia baru lagi. "Lindungilah daku. Dunia pun sudah berganti pula bagiku. tak ada yang kekal. mengapa para nabi besar seperti Budha. mengalir terus. Bagian VIII Memang benar kata Rusli. bahwa hidup itu adalah untaian perubahan. Sejak malam di taman itu.dan dengan tidak terinsyafi lagi olehku". Muhammad. tak ada yang diam. bergerak terus. maka badan yang lampai itu tiba-tiba kurentakkan. Dan itulah agaknya yang disebut bahagia sejati: bercinta dan dicintai. Panta rei. Sesungguhnya. selalu menganjurkan cinta dan kasihsayang di antara sesama makhluk. tapi pun tahu. seperti kata Herakleitos. Jezus..com/ makin keras. Memberi harapan. Dengan merasakan sedalam-dalamnya akan kebahagiaan sejati itu.. . bahwa aku dicintai kembali. melainkan berganti-ganti. Bibir sama bibir bertemu dalam kecupan yang mesra. Makin riang. maka mengertilah aku. sehingga jatuhlah ke dalam pelukanku. meletakkan kepalanya di atas dadaku." bisiknya. Makin indah. Memberi bahagia.Tiraikasih website http://kangzusi. Dan melekat panas dalam pelukan yang erat. dan pada jaman modern sekarang ini Gandhi. Sebab bukankah... berubah-ubah terus. sudah kasih-mengasihi.. alangkah bahagianya bercinta. apabila seluruh umat sudah cinta-mencintai.

tidakkah hal itu pun hanya untuk sementara saja. sebab harus mengalami pula hukum undang-undang alam "selalu berganti. bahwa keadaan itu bisa tercapai di dalam sesuatu "heilstaat" atau "kerajaan Tuhan" menurut istilah Kitab Injil. Akan tetapi akan mungkinkah dunia semacam itu terlaksanakan? Mungkinkah surga bahagia yang sejati. selalu berganti. bisa tercapai di dunia ini? Dengan lain perkataan mungkinkah sifat iri. Tapi sesuaikah itu dengan kenyataan. yang sempurna. akan berarti bahagia yang lebih sejati. ialah bahwa aku sekarang sudah berganti keadaan. lebih sempurna. dengki dan benci hapus sama sekali dari kamus dunia ini? Para nabi tersebut menganjurkan syarat mutlaknya kepada manusia. antara aku dan Kartini. dan utama itu.Tiraikasih website http://kangzusi.com/ itu berarti bercinta dan dicintai kembali. selalu bergerak? Jadi pun apabila andaikata "heilstaat" atau kerajaan Tuhan" itu sudah tercapai. Tapi biar bagaimanapun juga yang nyata kini. dan Marx mendorongkannya pula ke depan sebagai humanisme serta memberi keterangan dan alasan-alasan yang bersifat ilmu pengetahuan dan filsafat. bahwa keadaan kasih-mengasihi dan cintamencintai di antara seluruh umat itu. selalu berubah" itu? Entahlah. bahwa di dunia ini segala-gala selalu berubah. seperti keadaanku sekarang ini? Aku yakin. berkasih dan dikasihi kembali? Bukankah keadaan demikianlah yang disebut bahagia sejati. daripada keadaanku sekarang. sebab keadaanku sekarang hanya berarti cinta-mencintai dan kasih-mengasihi antara cuma dua orang saja. Keadaan bahagia sejati. . lebih utama.

yang tidak sanggup menempuh jalan hidup yang nyata ini. Kalau dulu aku hidup di . Sampai di mana benarnya pendapat itu. ke alam gaib.Tiraikasih website http://kangzusi. Dulu tak ada padaku kegiatan untuk mencari kemajuan di lapangan hidup di dunia yang fana ini. sangat berpengaruh kepada pendirianku sekarang. Makin hari makin berkurang perhatianku ke arah dunia yang baka. yang kekal. Aku (seperti kata Rusli) mengelakkan hidup yang nyata. berubah-ubah terus. ke Tuhan. ke arah dunia di balik . Itulah maka (menurut pendapat Rusli pula) nonsens orang mengatakan bahwa orang Indonesia itu "mistisch aangelegd". aku tidak bisa menetapkannya.com/ Tak ada di dunia ini yang diam. yang tidak memberikan kebahagiaan kepada manusia. apabila keadaan masyarakatnya bobrok dan primitif seperti keadaan masyarakat bangsa Indonesia. bahwa "tuduhan" Rusli bahwa orang yang suka kepada mistik itu adalah seorang "pelarian" yang lemah jiwanya. Dan itu adalah akibat dari kebobrokan yang merajalela dalam masyarakat feodal dan kolonial yang primitif. Itu (kata Rusli pula) hakekah mistik: lari dari dunia yang nyata. Hanyalah harus kuakui. di alam akhirat. Segala langkah hidupku ditujukan semata-mata ke arah hidup di dunia yang baka. Lari ke alam baka. karena masyarakatnya terlalu bobrok. melainkan banyak yang merasa terpaksa dirinya mencari hiburan di dalam mistik.dalam ketenangan hati seperti air di danau. maka sekarang air itu seakan-akan sudah mendesah-desah penuh dinamik seperti air di sungai gunung. Orang Indonesia bukan berbakat mistik. yang memaksa manusia yang lemah jiwanya lari dan mencari pelipur di dalam mistik. Tiap orang dari bangsa apa saja mudah berbakat mistik". melainkan berganti-ganti terus. Begitulah pendapat Rusli.

apabila uangku cukup. bahwa menolong orang-orang miskin itu reaksioner. Sembahyang hanya kadang-kadang saja lagi kulakukan. Dan tidak muntah-muntah atau merasa jijik lagi kalau makanmakan di restoran Cina. Puasa sama sekali sudah kupandang suatu perbuatan yang sesat. Dan kalau dulu aku suka memberi uang kepada fakir miskin. Dan dalam hal ini pengaruh Kartini besar sekali. aku masih suka beriri hati atau cemburuan kepada Rusli. sebab kita menahan-nahan mendalamnya dan meluasnya kebencian orang terhadap . Tapi banyak juga buku yang kupinjam dari Rusli sendiri. Dalam cintaku. sekarang seolah-olah menjadi suatu kebiasaan bagiku: mencari buku-buku politik di toko-toko buku twedehan atau pada tukang-tukang loak. maka sekarang aku rajin membaca buku dan bertukar pikiran dengan Rusli atau kawan-kawan lain. Sekali-sekali juga. melakukan sembahyang. kalau Kartini memuji atau mengagumi kepandaian Rusli. kita memperlambat jatuhnya kapitalisme? Memperlambat. bahkan pada akhirnya berubahlah sama sekali perhatianku itu. maka sekarang aku tidak merasa segan-segan lagi mengusir orang-orang minta-minta. Kini rajinlah sekali aku belajar.Tiraikasih website http://kangzusi.com/ kubur. Seperti lima-enam bulan yang lalu aku sangat rajin beribadat. puasa dan lain-lain. dari akherat ke dunia yang nyata kembali. apalagi kalau hari Jumat pulang dari mesjid. kubeli yang baru. yaitu apabila aku merasa terlalu berat tertimpa oleh tekanan kesedihan yang tak terpikul lagi oleh batinku. Apa yang dulu tidak pernah terjadi. karena dengan perbuatan demikian itu kata Marx. Sebab. bukankah kata Mara. Dan iri serta cemburu inilah yang memberi dorongan yang luar biasa kepadaku untuk belajar dengan rajin.

ialah dengan maksud supaya kebencian rakyat terhadap susunan masyarakat dan pemerintahan Czar itu lebih meluas dan mendalam lagi.Tiraikasih website http://kangzusi. Artinya kalau aku membanding-banding keadaan diriku sekarang dan setengah tahun yang lalu. pikirku. kurasai benar perobahan jiwa dan pendapatku. Jadi kenapa aku pun harus memberi apa-apa kepada fakir miskin Indonesia itu. 2 Pernah kukatakan. Oleh karena kami suka datang ke rumah Rusli. Di dalam kebahagiaanku berkasih-kasihan dengan Kartini itu ada suatu gangguan yang bagiku laksana pasir di atas nasi putih yang sedang kunikmati. Pendeknya. Dan teoriku itu dibenarkan oleh praktek yang nyata. belum lagi sempurna. maka mau tak mau dengan Anwar pun terpaksalah kami bergaul .com/ susunan masyarakat sekarang yang harus dirombak menjadi masyarakat sosialis untuk kemudian meningkat lagi ke masyarakat komunis yang "serba sempurna" itu. Anwar rapat bergaul dengan Rusli. malah serumah dengan Rusli. Juga Lenin di masa kekuasaan Czar. Maksudku adanya Anwar dalam pergaulan kami. Bila hal itu baru hanya berlangsung di antara dua orang saja seperti halnya antara aku dan Kartini maka bahagia semacam itu belum lagi cukup. pernah melarang kawan-kawan seperjuangannya memberikan bantuan kepada rakyat yang tertimpa oleh bahaya kelaparan. bahwa bahagia sempurna hanya bisa tercapai apabila seluruh umat manusia cihta-meneintai dan kasih-mengasihi. sehingga mudah timbul pemberontakan untuk menggulingkan kekuasaan dan susunan masyarakat yang bobrok itu.

sejak mulai berkenalan di restoran dulu.Tiraikasih website http://kangzusi. Tapi di samping itu. entahlah. Harus dirombak semuanya. harus dihancurkan. karena menurut hematnya. sampaisampai kepada sikapnya mengemukakan dirinya sebagai Tuhan. mungkin pula semuanya. cemburu? Entahlah mungkin salah satunya.com/ dengan agak rapat juga. Selalu ada semacam penghalang di antaraku dengan dia itu. yaitu jilatan matanya kepada Kartini dan segala gerak-geriknya. baik talitemali yang berupa adat-istiadat yang dipandangnya hanya untuk menjamin kekuasaan kias feodal dan kolonial melulu. Akan tetapi. yang dipandangnya "agama borjuis". Ia suka sekali mendesak-desakkan kehendak atau pendapatnya . sekalipun tidak bisa dengan pasti kukatakan. sehingga dengan demikian agama Islam tidak menolak sesuatu masyarakat di mana dalamnya ada golongangolongan kaum kaya dan kaum miskin. terhadap Anwar itu. Mungkin juga hal itu dilantarankan. tak ada yang benar. agama Islam itu menyetujui adanya "perdagangan merdeka" dan "persaingan merdeka" yang memungkinkan bertumpuknya kekayaan dalam cuma beberapa tangan saja. iri. Apalagi segala tali-temali yang dipandangnya mengikat diri dan pribadi individu. tidak pernah aku menaruh perasaan simpati kepadanya. karena kesan pertama daripada dia kepadaku sudah menimbulkan perasaan yang tidak enak. maupun tali-temali yang diadakan oleh agama Islam. Untuk dia seolah-olah tak ada yang baik. apakah yang menjadi penghalang itu: benci. Semua pendapatnya itu barangkali masih mungkin kuhargai. dengki. apabila ia tidak mengambil sikap dan cara yang suka menyinggung hati atau mencolok mata orang lain. ialah caranya ia mengambil sikap terhadap segala sesuatu di dalam pergaulan hidup. yang terutama merenggangkan hatiku dari dia itu.

Tidak mengira. Kang!" kata Anwar sambil merebut kendali dari tangan kusir serta menyuruhnya duduk di belakang bersama-sama aku. bahwa sekalipun cara mengemukakannya itu tidak begitu menyenangkan hati.com/ sendiri. Anwar dan aku. dijemput dengan sebuah delman yang sengaja dikirim oleh ayahku ke halte Wanaraja. sukarlah rasanya bagiku untuk menolaknyiL Dan selanjutnya harus kuakui pula. namun apabila ada sesuatu permintaan daripadanya. namun pendapat-pendapat Anwar itu tidak semuanya kutolak. kira-kira lima kilometer ke atas. bahwa aku hendak menengok orang tuaku di Panyeredan. . tak diinsyafinya agaknya. paling benar. Beberapa hari yang lalu. Banyak juga yang pada hematku ada benarnya. Dalam segala hal ia selalu agresif. bahwa Anwar mau ikut. walaupun aku tidak begitu membukakan hati untuk dia itu. "Biarlah aku jadi kusir. paling penting. bahwa kebenaran itu terlalu besar untuk dimonopoli oleh hanya seorang saja. Dengan delman itu kami dibawa ke kampung Panyeredan.Tiraikasih website http://kangzusi. Tentu saja orang "mudah" seperti aku sukar menolak permintaannya itu. Bagian IX Kami. Akan tetapi. dan mengemukakan dirinya sendiri seolah-olah dialah saja yang paling pintar. kalau Rusli menamakan Anwar itu seorang individualis anarkhis. selalu polemis. Pendeknya tepat juga. aku bercerita kepada Anwar. apabila oleh seorang orang macam Anwar. entahlah. Aku mengatakannya begitu saja dengan tiada maksud apa-apa.

" Kusir tertawa seraya katanya. Tuan!" . "Masa dimakan semua.Tiraikasih website http://kangzusi. Hampir terpelecok. Busa bercipratan dari mulutnya. Tersentak-sentak kuda menahan cepatnya. Tapi sebaliknya aku cemas-cemas menahan napas. sehingga ia lari cepat-cepat di atas aspal.com/ Sepanjang jalan Anwar memegang kendali. pikirku keheran-heranan. "Banyak juga. "Kebon siapa ini. sesudah kudanya berhenti. War!" teriakku. "Kebon Haji Kosasih." "Kalau begitu ia kenyang makan jeruk. Kakinya bergelosor di atas aspal.Tuan!" "Ah jangan sebut Tuan. "Banyak kebon haji itu?" sambung Anwar. sir?" ia bertanya. Tiba-tiba Anwar menyetop kudanya. Orang-orang yang lewat beterbangan ke pinggir seperti ayam ketakutan. "Pelan-pelan. Anwar tertawa gembira. sambil menunjuk ke sebuah kebon jeruk tepi jalan yang lebat buahnya dan sudah banyak yang kuning. Dicambuknya kuda berkali-kali. kalau Anwar melarikan kudanya seperti Caesar mengejar tentara Cleopatra. "Hus! Husss!!!" teriak Anwar dan kakinya memijak-mijak bel seperti seorang drummer yang bermain lagu hot. dong! Bung saja! Bung Anwar! Begitu namaku! Ya!" Kusir heran bercampur malu. Takut delman akan terbalik atau menabrak tukang jualan sirop. Mau apa tiba-tiba menyetop.

dan dengan satu langkah saja ia dengan kakinya yang panjang seperti Uncle Sam. semua sama. dalam tidak beraturan dan tidak berketetapannya. Demikian juga aku. Artinya dijual sedang buahnya masih kecil. Dengan beberapa langkah ia sudah tiba ke pinggir pagar kebun jeruk itu." "O kalau begitu." "Bukan lagi. "Babah yang punya modal. Dan ini pun sudah dijual. sama-sama manusia. Sekarang sudah kepunyaan tengkulak haji Ramli. "Heheh.com/ "Ah Tuan lagi. Si tengkulak-tengkulak itu sebetulnya hanya kaki tangan dari Cina yang punya modal itu." "Si A Heng? Siapa si A Heng itu?" tanya Anwar pula. tahu! Saya sama bung kusir sama anak jajahan. Ia menganggap dirinya Tuhan. atau sebenarnya kepunyaan si A Heng. Dijualnya dengan harga borongan kepada tengkulaktengkulak. jadi sama-sama saudara. Tuan lagi! Tidak ada Tuan. Memang kadangkadang aku heran akan pendirian Anwar itu. "Untuk apa haji itu tanam jeruk banyak-banyak?" tanya Anwar pula. Dalam pada itu Anwar sudah loncat dari delman dan mengembalikan kendalinya kepada kusir. tapi kenapa ia menganggap orang-orang lain sebagai "sesamanya"? Barangkali ia mau konsekwen dalam arti anarkhismenya. yang menyuruh tengkulaktengkulaknya memborong jeruk-jeruk dari daerah ini dengan jalan dikemplang tadi itu. tentu saja untuk dijual." Kusir tertawa heran. semua saudara. Seringkah ia tidak konsekwen. sudah ada di dalamnya memetik buah- .Tiraikasih website http://kangzusi. kadang-kadang malah masih berupa bunga. jeruk itu bukan kepunyaan haji itu lagi. "Dikemplang" kata orang di sini. Entahlah.

Kusir melongo saja keheran-heranan. karena tidak melarang pedagang merdeka. Ternyata ia seorang menantu kiyai Hamid. kemudian sambil mengupas yang paling besar. Bung kusir tidak ikut makan sama sekali. "Curi dan curi ada dua macam. konkirensi merdeka yang bisa mengakibatkan bertimbunnya kekayaan dalam . "Nah! Makanlah!" katanya sambil melimpahkan buah-buah jeruk dari kantong-kantong baju dan celananya ke dalam delman.Tiraikasih website http://kangzusi. Sebentar kemudian Anwar sudah kembali lagi dengan semua kantong bajunya dan celananya serta kedua belah tangannya penuh dengan buah jeruk. Dinamakannya "agama burjuis". sir!" Sepanjang jalan Anwar makan jeruk. "Toh kapitalis punya!" (menggerutu). "Aku tiru kaum kapitalis yang membuang kopi di sungai Ama-zone!" Begitulah katanya. Tidak kurang dari lima buah habis dimakannya.com/ buah jeruk dengan semena-mena seolah-olah kebun itu kepunyaannya sendiri. "Mencuri dari penindas halal!" Di sini Anwar memperlihatkan lagi tidak konsekwennya. "Jalan. Agama Islam dicelanya. "Kugaras kapitalisme!" katanya. seolaholah mau membenarkan tindakannya. sedang aku tertawa. yang mengharamkan makanan curian. Bung!" ujar Anwar. Yang sedikit masam dibuangnya begitu saja.

Berseru-seru dia. menonjol pula dari kamarnya. Fatimah menyelinap di antara Ayah dan Ibu ke depan. adik pungutku. seorang teman baru. Anwar menyambutnya secara internasional dengan tangan sebelah. Ayah duluan." Ayah mengulurkan tangannya hendak bersalaman. Pada tangan kirinya berayun-ayun sebuah sinduk sayur. memancarkan sinar matahari pagi dari masing-masing wajahnya. Tapi kalau ia mencela "perdagangan merdeka". Anwar mengangkat bahu melihat aku membikin sembah. Ketiga orang itu memburu ke halaman. diiringi oleh Ibu. Anwar masih terus mengunyah-ngunyah jeruknya. Begitu pula terhadap Ibu dan Fatimah. yaitu dengan membikin sembah dulu. maka bangkitlah dia dengan segera sambil mencopot kacamatanya.Tiraikasih website http://kangzusi. tapi kenapa dirinya sendiri tidak? Itukah barangkah akibat pendiriannya yang menganggap dirinya Tuhan? Sedang aku berpikir-pikir demikian itu. Ibu! Ini anakmu datang!" Ibu menonjol dari dapur. "Tim! Tim! Ini kakakmu datang!" Fatimah. Ayah sedang membaca kitab "Illya Ulum Adin" di serambi muka.com/ beberapa tangan kapitalis saja. Kursi-kursi dan meja di tengah rumah lekas . Pa. aku dan Anwar. Aku lekas membungkuk-bungkuk bersalaman secara Sunda dengan Ayah dan Ibu. "Anwar. kenapa ia tidak mencela "pencurian merdeka" seperti yang dilakukannya itu? Kenapa agama Islam dicelanya. Semuanya kemudian masuk rumah. Bila dilihatnya kami datang. "Bu. ketika delman berhenti di muka rumahku. Kedua orang tua itu merasa heran melihat cara Anwar itu.

"bagus sekali ini!" Kami sekalian tertegun pula mendengar kekaguman Anwar itu. Ayah di atas sebuah kursi kulit model kuno yang hitam besar di bawah jam. Di ambang pintu antara serambi muka dan ruangan tengah. Apa saja yang teringat lebih dulu. "Ya (senyum) pinggirannya! Sayang dipakai bingkaian lapad! Nanti kubikin sebuah gambar yang bagus sekali untuknya: lukisan seorang tengkulak. meloncat-loncat.. Misalnya: bagaimana kau sehat-sehat saja? Jam berapa kau berangkat dari sana? Penuh di kereta api? Bagaimana dengan bibimu? etc.. Seperti galibnya di antara orang-orang yang sudah lama tidak bertemu. Cepat dan lincah segala gerak geriknya itu. meluncur lebih dulu dari ujung lidah. dan seperti biasa juga bersila. Kemudian menghilang ke dapur.. maka percakapan kami pun tidak beres teratur. Melihat juga ke atas. Tertawa setengah-setengah. Sebentar kemudian kami sudah duduk di ruangan tengah.Tiraikasih website http://kangzusi.jeruk! Haha!" Aku turut tertawa. kaki tangan kapitalis imperialis yang sedang memeras. "Kau bilang bagus juga?" tanyaku. Terpancang matanya.com/ diberes-bereskannya. Ibu di atas dipan seperti biasa bersimpuh. Ayah dan Ibu tersenyum-senyum tak mengerti. "Aduh!" katanya seperti yang kagum. melihat sebuah pigura bergantung di atas pintu. Dan seperti biasanya pula. Kami masuk ke ruang tengah. . Anwar tertegun sebentar.. Anwar dan aku masing-masing di atas sebuah kursi kayu depan meja makan. orang tuaku pun banyak sekali bertanya-tanya. etc.

"Kedua-duanya manusia juga toh? Dan kedua-duanya anak jajahan juga. Tentu akan menyinggung hati orang tuaku. Ayah segeralah mengubah sikapnya terhadap Anwar. Saya benci kepada sebutan feodal itu! Saya bukan Aom!" Ayah dan Ibu tercengang-cengang mendengar selaan Anwar itu. ditanyakannya terlebih dahulu tentang orang tuanya. Tapi kenapa kubawa juga dia ke sini? Maka kubelokkan saja percakapan kami ke lain soal. *) bapa kira.Tiraikasih website http://kangzusi.." sambung Anwar. Aku tahu dia seorang anarkhis. Seolah-olah baginya Anwar itu dengan tiba-tiba sudah menjadi seorang manusia lain. Juga jeruk yang kuning-kuning. Setelah ayah dan ibu cukup mengetahui tentang keadaan diriku dan lain-lain yang menarik perhatiannya. Dur! Dur! Dur! . Saya tidak mau disebut Aom." "Ah kenapa tiba-tiba bilang Aom? (sela Anwar memotong kalimat ayah). "Siapa orang tua Anak?" "Ayah saya seorang bupati pensiun. "Apa bedanya anak bupati dengan anak Madhapi atau anak Pak Kromo. maka berpalinglah Ayah kepada Anwar. Merasa jengkel pula terhadap diriku sendiri. Dan seperti galibnya pula.. Mendengar keterangan dari Anwar itu. Tidak merdeka sama sekali!" Aku merasa sedikit jengkel karena sikap dan ucapan-ucapan Anwar itu.com/ Dalam pada itu Fatimah sudah menyajikan minuman dan kue-kue serta pisang raja yang besar-besar di atas meja.. "Maaf saja Aom." jawab Anwar.

Setelah kami bersalin memakai piyama." "Silakan!" sahut Anwar. di sana!" (menunjuk ke depan). "Sini Kak!" kata gadis yang lincah itu. bujang ayah menjinjing kopor kami dari ruangan tengah ke kamar. Pa Emad. Jilatan mata seperti pertama kali kulihat dijilatkannya ke dalam wajah Kartini dulu. "Ah." kata Fatimah pula. ya. Anwar menjilat dengan ekor matanya. "Asar ini. Kemudian Anwar pun bangkit. seraya membukakan pintu kamar depan. maka pergilah kami ke kamar mandi.com/ "Alhamdulillah!" kata ayah. Aku dan Ibu sudah bangkit. berdiri sambil menepuk-nepuk abu dari kain pelekatnya. Anwar dengan menggigit sikat gigi dan . Fatimah makin malu. Anwar dan aku mengikuti Fatimah ke kamar depan. "Tim! Tim!" Ibu memanggil. "Ah ini kan beres. Makin gugup. Matanya menjilat lagi. duduk terus sambil mengotrekkan korek api untuk rokoknya. "Kama'r untuk kakakmu dan tamu sudah beres?" "Sudah. Agak malu-malu Fatimah itu. Seolah-olah ia berdiri setengah telanjang depan Anwar. Menggeliat sedikit. Wajahnya meleng-gak-lenggik seperti daun sirih ditiup angin kecil. Zus!" kata Anwar. Malu-malu tapi kemayu seperti tiap gadis di hadapan seorang tamu lakilaki muda yang baru dikenalnya.Tiraikasih website http://kangzusi. Mari kita melakukan kewajiban kita dulu. segala berantakan. dan kepadaku dalam bahasa Belanda: "Di mana kamar kita?" "O. Bu!" sahut Fatimah memburu dari dapur.

Tapi dari kaca itu kulihat ia memperhatikan aku dengan saksama. sambil mencipratcipratkan air dari sisirnya. Terasa suara ejekan pahit tajam menusuk hatiku. "Dalam lingkungan pergaulan dengan Bung Rusli. Seakan-akan tak acuh. Lalu bersembahyang Asar. Bung?" ujarnya sejurus kemudian. menyisir terus. masuklah Anwar sambil bersiul-siul lembut. Menyisir. Tengah aku bersembahyang. Sebentar ia memandang aku dalam wajahku. Bersiul terus. "Kau sembahyang juga. "Aku sembahyang sekedar jangan menyinggung hati orang tuaku saja. "Tidakkah engkau main sandiwara dengan dirimu sendiri." sahutnya. Tertegun ia. Mana pendirianmu? Itulah yang kunamakan sandiwara dengan diri sen- . Aku kembali duluan ke kamar. Kartini dan kawan-kawan lain tidak'pernah sembahyang. Menjadi saleh. nampaknya ia masih berdiri sambil menggelenggelengkan kepalanya. dan kemudian sambil mengangkat bahunya melangkah ia ke depan sebuah kaca besar. Bung?" tanyanya sebentar kemudian. "Aneh? Kenapa aneh?" Anwar tidak menjawab. Tapi sekarang.Tiraikasih website http://kangzusi.com/ dengan handuknya diikatkan pada kepalanya seperti destar haji. oleh karena kau berada dalam lingkungan orang-orang alim. dengan mendadak kau tiba-tiba menjadi orang alim. "Main sandiwara?" "Ya! Main sandiwara!" jawabnya sambil berputar 180 ke arahku." "Aneh. Dan ketika aku melakukan awe-salam. yang bergantung di atas sebuah meja kecil. Siulnya berbunyi lagi. Menyisir terus.

Kepada hatiku! Tapi tenang saja kujawab." "Itulah yang kubenci. karena terpaksa. itulah kelemahan Saudara. Dan kalau dicela. ya. Konsekwen berterus terang. Ditujukan semua kepadaku. Mengelabui mata sendiri. Sebab maksudku bukan mau menyakiti hati orang lain.com/ diri. sebab dengan begitu sudah hilanglah kepribadian kita. bahwa aku bermain sandiwara dengan diriku sendiri. Saya berpendirian lain.Tiraikasih website http://kangzusi. Itu salah yang menerimanya saja. main sandiwara. Berderaidaerai seperti peluru dari mulut mitralyur." Peralihan "aku" menjadi "saya" dan "engkau" menjadi "saudara" terasa benar dalam hatiku. Selalu mau menyesuaikan diri kepada keadaan lingkungan. Dan terhadap siapa pun juga. Tapi biarpun begitu. Itu yang kubenci. dan menipu dirisendiri. sekalipun lingkungan itu bertentangan dengan pendirian sendiri. Tidak setia pada pendirian sendiri. persoonlijk-heid kita. itu pun bukan salah saya." Berderai-derai kata-kata itu keluar dari mulutnya. Dan berterus terang yang konsekwen itu bertentangan dengan main pura-pura." "Ya. Mereka sudah tua. Kalau berterus terang itu menyakiti hati orang lain. main menipu diri sendiri. Tapi itu terpaksa. Maksudku hanya berterus terang saja. sebab selalu mau tiru-tiru orang lain saja." "Tapi aku tidak mau menyakiti hati orang lain. "Memang aku pun tahu. aku masih menjawab juga: . Saya mau berterus terang dalam segala hal. Main pura-pura. Anwar nyata merasa kecewa. Apalagi orang tuaku sendiri. cuma mengangkat bahu sambil menjawab. Oportunis.

Entahlah. Bersiul-siul lagi ia. Tapi dengan tidak kuinsafi benar benda itu tiba-tiba sudah berada lagi dalam tanganku kembali. Jengkel dan malu aku. Anwar setengah duduk di atas meja kecil depan jendela dengan kakinya yang kiri berjengket di atas lantai. Seolah-olah aku bukan-orang yang sudah dewasa. Tunduk saja di atas tempat tidur dengan kedua belah kakiku berjuntai ke bawah.com/ "Ya. Aku tunduk lebih berat lagi ke lantai. seolah-olah tak akan kupakai lagi. Dituduh "bersandiwara dengan diri sendiri". Walaupun aku mentenang-tenangkan hatiku. Tasbeh yang ada dalam tanganku. atau mungkin juga. atau dengan cara lain yang menyinggung hati orang lain!" Anwar diam. Membuang pandangan lepas ke luar jendela. namun perkataan Anwar dan seluruh sikapnya itu. tapi dalam hidup ini segala-gala meminta cara.Tiraikasih website http://kangzusi. Terbayang-bayang sudah dalam mata hatiku. Tapi jengkel juga. aku merasa malu dikatakan "menipu diriku sendiri". membikin aku agak bimbang. Aku pun tidak berkata apa-apa lagi. Dalam hatiku. seolah-olah kulihat lubang yang dalam di bawah kakiku. . kususukkan ke dalam saku. malah karena ia merasa terlalu "benar" untuk berdebat terus dengan aku. Sikap berterus terang yang baik tidak identik dengan kurang ajar. Bukan orang yang "berkepribadian". Menekan benar semua itu kepada jiwaku. karena perkataanku itu barangkali meresap juga ke dalam hatinya. Anwar sedang menceritakan peristiwa ini kepada kedua orang itu. Tapi terutama sekali malu terhadap Kartini dan Rusli.

membungkus diri dalam selimut. katanya. ia menolak. sehingga linggis menjadi palu. Salat taat. stoples. Aku tidak bisa memejamkan mata. Menghilanglah ia ke dalam kamar. setelah kenyang makan. Dalam sinar lampu minyak tanah yang samar-samar. aku belum juga tidur. barulah kami pun mencari tempat tidur masing-masing. Hanya menguap makin sering. puntung rokok dan kulit pisang. Aku beromong-omong terus dengan Ayah. Ibu dan Fatimah. Pada akhirnya kudengar dia berzikir. Hati dan pikiran mengait ke Bandung. Ke Lengkong Besar. Anwar lantas bermohon diri hendak mencari bantalnya. Di kamar samping kudengar Ayah bersembahyang. Fatimah membereskan dulu meja yang penuh dengan mangkok. Kira-kira pukul dua belas. Kira-kira pukul sepuluh. ketika aku masuk. Rupanya belum pernah ia mendengar orang berzikir sekeras itu. Maklum hawa malam di gunung. D^n ketika tak sengaja kusinggung punggungnya dengan sikut maka memanjanglah arit itu menjadi linggis. Aku merayap ke sampingnya. Anwar sudah mendengkur.com/ 2 Malam itu. Duduklah ia. Lailaha illallah! Lailaha illallah! Makin lama makin cepat. Tiba-tiba Anwar bangun terperanjat.Tiraikasih website http://kangzusi. Makin cepat makin keras. Anwar merongkol seperti arit. Baru sekali ini aku meninggalkan Kartini. . Tangannya memeluk bantal di bawah kepalanya. Sedikit pening kepala. Kemudian melompat dari tempat tidurnya selaku ada kebakaran. Ditanya mau minum aspirin.

Entahlah.Tiraikasih website http://kangzusi. Gunung Guntur merunduk kehitam-hitaman di bawah beribu-ribu titik-titik cemerlang pada lengkungan hitam cakrawala. .. Meruncingkan telinga. tampak berpuluh-puluh lampu berkelip-kelipan kecil seperti ceka-ceka. Aneh dia. Sejurus kemudian aku sudah berdiri di samping Anwar meninjau ke bawah. pikirku." kataku. Kudengar Anwar berdehem. Malam itu malam jernih. membuka pintu. Kubuang pandanganku ke arah barat-laut." Mendengar itu kusiakkan lekas selimut. "Mau kencing? Di bawah meja ada pispot." sahutnya pula seraya menutup pintu di belakangnya. Ke arah Lengkong Besar.. kutegur dia. "Aduh Bung (suara kagum) betapa bagus itu lampu-lampu di kejauhan. lantas keluar.. Bung?" "Keluar dulu." sahutnya. "Mau ke mana. Bung!" "Ah bukan. Alangkah indahnya gunung itu merunduk laksana dirundung rindu. Rindu keoada "orang Lengkong Besar". Ke arah kota Bandung. menunjuk ke arah sekumpulan lampu-lampu yang berkelip-kelip di kejauhan itu. serasa hanyutlah aku turut mengalun dengan arus romantik. ke pedaratan. "Itu kampung Wanaraja. Sebentar kemudian kudengar pula dia berkata. bulan tidak ada. Mau apa dia malam-malam keluar. barulah ia dengan menguap dan menggeliat pergi ke nintu.. Aku duduk. melihat keindahan alam itu. Setelah ketemu. Bintang bertaburan di langit.com/ kakinya berseok-seok di atas lantai mencari kedua belah sandalnya. Tapi ketika ia memutar knop pintu. meluncur ke laut rindu. "Dan itu kampung Sadang!" (menunjuk pula ke sekumpulan lagi).

Apalagi ketika ia sekonyong-konyong tertawa meringkikringkik sendirian. Alangkah indahnya. Lemah lunak. bahwa dendamku adalah mulia. bahwa benciku adalah suci. supaya Laut Merah melingkup kembali. Tapi apakah mengejeknya itu karena ia barangkali benci dan cemburu kepadaku. ketika dikejar-kejar oleh tentara Firaun. pabila Soma Dewi turut bersolek menyinarkan cahaya wajahnya berseri-seri menerangi alam semesta. dendang puspa tindasan dendam.. ketahuilah." jiwanya kauracuni dengan keindahan Aku heran. karena aku menjadi romantis itu. Dan dengan kedua belah tangannya tertadah ke langit. bahwa dalam tertawanya itu terdengar suara ejekan dan sindiran kepada diriku sendiri. terimalah lagu himpitan benci. seperti Nabi Musa bermohon rahmat selamat kepada Tuhan. sebab rindu kepada Kartini? Atau mungkinkah juga karena ia sebagai seorang seniman modern. Suci mulia. karena 'lah luluh wajahmu." Mendengar suaraku yang sayu dan romantis itu. "O Soma Dewi! Terimalah nyanyi kelana ini. O Soma Dewi.. Kelana Putra yang benci kepadamu! Benci. buta dan lupa akan dunia nan nyata.. karena O Dewi.. meloncatlah Anwar tiba-tiba ke halaman. Akan tetapi segeralah terasa olehku. (agak terharu. maka berkatalah Anwar dengan suara yang gemetar dan mengejutkan hatiku. suara sedikit gemetar) sayang bulan tidak ada.Tiraikasih website http://kangzusi. Mereka mengembara di alam mimpi. Dunia nan nyata dengan masyarakatnya nan bobrok penuh ketidakadilan. mengalun di alun lamun. Tapi O Dewi. hatiku penuh belas kasihan kepada insan nan memujamu. malah agak takut-takut mendengar Anwar itu. tidak suka .. O Dewi nan membikin insan menjadi madznun karena memuja dikau.com/ "Bagus malamnya. karena dikaulah. Dengan insan nan lemah lunak.

begitulah katanya tempo hari. Tapi biarpun begitu. dan dingin pula. Maka sahutku: Baik! Keluarlah kami dari halaman. dijawab oleh Anwar. karena malam gelap buta. Tertegun kami. sebab pernah ia dulu berterus terang kepadaku. Tak lama kemudian kudengar ia mengajak aku jalan-jalan sedikit. "Siapa itu?!" suara geram itu mengulang lebih keras. Aku makin takut. bahwa katanya romantik ftu: telah menghancurkan bangsa kita. karena ia membenci romantik. Kecuali jengkerik dan katak yang bernyanyi-nyanyi dan kadang-kadang suara celepuk berkueuk dari jauh. Dan kami pun tidak berkata-kata. Sepi seluruh alam. "Saya!" . Bukan main! Kudengar suara geram itu dengan tiba-tiba datang dari sebuah gubug kecil yang samarsamar hitam kelihatan di tepi lorong. Aku sebetulnya segan-segan. Tapi dengan suara yang tetap. "Siapa itu?!" Aku terkejut. Dua "tik" itulah yang telah meruntuhkan bangsa kita. karena si dua "tik" itulah yang telah membawa bangsa kita lari dari dunia yang nyata. barangkali mungkin kedua-duanya. Tapi untuk menolak pun kurasa kurang pada tempatnya sebagai tuan rumah. tidak lebih mungkinkah bahwa ejekan Anwar itu dilantarankan oleh karena cemburu kepadaku? Lebih daripada oleh karena ia benci romantik? Entahlah.com/ kepada romantik dan hal-hal yang sentimentil? Mungkin sekali. Hatiku terasa berdegup dalam kerongkongan. Romantik dan mistik. Lantas berjalan di lorong kecil yang biasa disebut jalan rondaan.Tiraikasih website http://kangzusi. tak ada lagi yang terdengar. sehingga dunia yang nyata itu berabad-abad dikuasai dan diperas madunya oleh bangsa-bangsa asing.

. melainkan balik saja lagi ke rumah. "Saya kira.. seraya mundur dua tiga langkah dengan agak malu-malu hormat. Tanganku sudah bergerak hendak mencegat Anwar supaya jangan didekati orang-orang itu. bahkan suaranya agak membentak. Rupanya mereka itu melihat pakaian Anwar. eh. Tapi seketika itu juga Anwar sudah berhadap-hadapan dengan mereka.. Beberapa jurus kemudian. Dan bersama bentakan itu. juragan!" sahut orang yang geram tadi itu. sambil bertanya.Tiraikasih website http://kangzusi.." Aku memburu. "Bung saja! Saya Bung Anwar.. Karena itulah mereka itu menjadi hormat. maaf saja raden! Bapak tidak . Aku sedikit gentar. bahwa yang dihadapi mereka itu bukanlah orang yang jahat. eh kami ronda. dan ini Bung Hasan. tentu seorang "menak" atau orang yang berpangkat." "O Den Hasan ini! Aduh raden. juragan... yang memberi tanda kepada mereka. anak Pak Wiradikarta. tapi Anwar lantas menghadapi kedua orang yang datang itu.com/ "Saya siapa? Dan mau ke mana malam-malam?!" "Di situ siapa?!" tanya Anwar kembali dengan tidak gentar sedikit pun. "Siapa kamu?" "Kami ronda. "Kamu tak usah tanya-tanya!" bentak suara geram itu kembali.." "Ah jangan bilang juragan!" sela Anwar. "Hai kamu siapa! Kenapa kamu tidak mau bilang!" Anwar mendahului orang-orang itu dengan suara membentak. tapi malah sebaliknya.. kelihatanlah dalam cahaya bintang-bintang tubuh seorang laki-laki yang besar tinggi ke luar dari gubug itu diiringi oleh seorang laki-laki lagi.bukan juragan.. "Saya..

Dengan sendirinya bapa-bapa ini tidak usah menongkrong lagi kedinginan menjaga gubug kecil ini. Itu kan terlalu picik." kata Anwar. haha (tertawa).Berilah rakyat kemakmuran. berilah mereka mobil . . Banyak maling dan bongkar. ya dengan sendirinya banyak maling. .Tiraikasih website http://kangzusi. Bapa dan Pak Ahim ini. Sangat hormat mereka.. Den!" "Tentu saja. . Mungkin lebih banyak tidak mengerti daripada mengerti. yaitu sekarang. setengah membentuk." Ronda-ronda itu mengerti tak mengerti. Ya Den. membungkuk-bungkuk menganggukangguk.. berilah mereka pakaian. dapat giliran pada tiap malam Jumat. Raden." Berkali-kali orang-orang itu minta maaf. dengan sekaligus saja maling-maling itu akan pada lenyap semuanya. Bapak kira orang sembarang saja.com/ tahu. Mereka bersalaman dengan kami. maaf saja.. lihatlah. "Dikiranya maling dan rampok itu akan pada lenyap karena diadakan ronda. ronda itu mengulurkan kedua belah tangannya. kalau rakyat pada miskin semua. Haha!. "Eh. Tapi kedua orang kampung itu sama sekali tidak mengerti. "Jangan bilang Raden!" kata Anwar pula. Tidak kira raden.. sungguh tidak aman akhir-akhir ini. Itulah maka biarpun bapak ini suda tua tapi bapa pun masih ikut-ikut juga meronda bergiliran dengan kawan-kawan sekampung yang lain. Sambil berkali-kali minta maaf." katanya lagi. "Maklum Den jaman sekarang banyak sekali maling.

" Pak Artasan dan Pak Ahim sangat gembira. Masing-masing mendapat delapan batang. Raden! Terima kasih! sambil menganggukngangguk dan membungkuk-bungkuk. Dengan amat riang masing-masing mengambil satu batang. "Tak usah bungkuk-bungkuk!" kata Anwar. Dibikin oleh Tuhan dari tanah. "Jangan pergi!" kata Anwar. biarlah bapa duduk di atas dingklik itu saja. .Tiraikasih website http://kangzusi. "Biasa saja! (kepadaku).com/ Dalam pada itu kukeluarkan rokok dari kantong." Karena dipaksa maka pada akhirnya Pak Ahim pun lantas duduk di sebelah Anwar. menurut dongeng agama. lalu kusodor-kan kepada Pak Artasan dan Pak Ahim (begitulah nama mereka). di samping Pak Ahim. "Terima kasih. Semua itu samarsamar masih bisa kulihat dalam cahaya bintang yang beriburibu berkedip-kedipan di langit hitam. Tapi ia tidak tenang hatinya. lepas. "Tidak boleh Bapa malu-malu. Memangnya kita ini le Roi soleil?! Raja matahari?!" Tak lama kemudian kami masuk gubug Anwar hendak duduk di atas sebuah bale-bale panjang dari bambu." "Di sini!" perintah Anwar. Tapi seperti ayam disergap anjing Pak Ahim loncat dari tempat duduknya. Kainnya yang tidak diikat dengan sabuk. Kita sama-sama manusia. menarik Pak Ahim pada lengannya. Tapi dengan royal kutumpahkan rokok itu semuanya dari bungkusannya. sehingga kakinya hampir terjerat olehnya. "Ah.

dari bawah ke mulut. hidung masing-masing menjadi merah. ternyata bukan saja pandai membentak." kata Anwar kepadaku dalam bahasa Belanda. mau turut saya ke Bandung?" tanya Anwar. aku tidak tahu. sehingga sampai ke kampung. Pak Artasan. Juga ia menceritakan pengalaman-pengalamannya ketika kecil yang sangat lucu. "Pak. Aku sangat suka mendengarkan orang kampung yang sederhana itu mendongeng. tapi juga pandai mendongeng. Di sampingku duduk Pak Artasan. Keempatnya merokok. suara geram yang tadi menakutkan aku itu. Pak Artasan agaknya pungak pinguk saja. Acapkali kami meletus dalam tertawa yang berderai-derai di malam sunyi. dan Pak Ahim yang lebih muda baru delapan kali. Den! Anak saya ada selusin. . Api merah kecil bergiliran turunnaik dari mulut ke bawah. Setahu aku Chaplinlah yang paling terkenal. masih kecil-kecil semuanya. dan membikin anjing-anjing di kampung menggonggong-gonggong. seperti si Piet mendengar si Husin ngomong Sunda. "Di negeri yang merdeka ia bisa mengembangkan bakatnya yang lucu itu sebagai seorang Bernard Shaw atau Pallie-ter. Tak lama kemudian kami berempat sudah ramai bercakapcakap.Tiraikasih website http://kangzusi." Siapa kedua badut yang lucu itu. Pak Artasan sudah kawin empat belas kali. Tiap kali dihisap." Menurut keterangannya. "Ah berabe. "Sayang orang ini anak jajahan.com/ Aku pun sudah duduk juga di atas bale-bale Anwar. Dongengdongeng si Kabayan dan Abunawas banyak dikenalnya. suara geram tadi itu. Mendengar Anwar berbahasa Belanda itu.

dan.com/ Anwar merasa heran mendengarnya.. Ia mati.. Raden!" Pak Artasan menjawab dengan suara yang tidak kalah yakinnya dari suara Anwar..Tiraikasih website http://kangzusi. yang belum bercerai dengan dia. "Ya. "Tidak ada dedemit atau hantu!" "Sungguh mati. kecuali yang sekarang. ya! Dari kebodohan juga! Dari kebodohan dan.. tapi segeralah katanya. "Bukan dongeng!" "Ya! Ahim pernah melihatnya!" .. Sekali membikin garis dari atas ke bawah yang membentang hanya sedikit saja lamanya. ya! Ya. Raden!" kata Pak Ahim seolaholah mau turut meyakinkan Anwar." Begitulah cerita Pak Artasan. Embah Jambrong itu adalah dedemit atau hantu yang berkuasa di kuburan Garawangsa. karena diminta kawin oleh Embah Jambrong. "Itu bukan dongeng!" "Memang itu bukan bohong. Bini Pak Artasan semuanya sudah kawin lagi dengan lakilaki lain. "Ini adalah semacam "verkapte prostitutie"*) satu akibat lagi dari kapitalisme.. Hilang lagi ditelan kelam yang hitam. seirama dengan kata-kata yang keluar dari mulut Anwar itu.." Api kecil merah berdansa-dansa. sebab meninggal. ya dan nafsu kawin juga! Tentu nafsu kawin juga! Pendeknya akibat dari masyarakat yang bobrok. Juga nomor tujuh kecuali. "Nyi Emeh sangat aneh matinya. "Ah bohong itu!" kata Anwar. Dari kapitalisme dan feodalisme!" "Dari kebodohan juga?" tanyaku.

Dan bukan saya saja. Tingginya setinggi pohon kelapa. tapi banyak lagi kawan-kawan di kampung ini yang sudah pernah melihat Embah Jambrong itu. ia tidak akan bisa sembuh lagi.. setelah pagi harinya mencari kayu bakar di kuburan Garawangsa. Den! Nyi Emeh itu pada suatu hari jatuh sakit. sehingga saya terpaksa mencari obat pada beberapa dukun. Dan menurut Pak Dja'i." "Ah bohong itu! Bohong! Aku tidak percaya! Tidak! Tidak mau percaya!" Api kecil merah itu tiga kali membikin garis di udara hitam." "Ia melihatnya dari dalam sebuah gendi...." "Bohong! Itu bohong! Itu tahyul saja! Masa ada macam begitu! Haha!" Tertawa Anwar. yang saya panggil juga.. saya pernah melihatnya. dan. Pak Artasan.Tiraikasih website http://kangzusi. menakutkan sekali.com/ "Memang. Tertawanya seperti seorang guru yang mendengarkan muridnya sedang berbohong.. "Bagaimana rupanya?" "Uuh. dukun sakti dari kampung Segara. Tapi tidak ada yang bisa menyembuhkannya. bahwa bini Bapak itu mati karena mau dikawin oleh hantu itu?" "Begini. katanya.. Juga janggutnya. Sakitnya makin hari makin keras. Dan sesungguhnya esok harinya Nyi Emeh itu lantas mati. "Eh." "Ah bohong itu dukun! Bagaimana ia tahu." "Bagaimana?" . Den! Mukanya seperti singa. sebab Embah Jambrong sudah mengawininya.. bagaimana Bapak tahu. Rambutnya panjang.

Raden. tidak turut bicara selama itu. saya ingin tahu di mana si Jambrong itu!" kata Anwar kemudian mengorekkan korek api hendak menyalakan rokok baru.. mendengar perkataan Anwar itu." "Pak Artasan sendiri melihatnya juga?" "Tidak. Si dukun itu. "Kalau betul ada.." "Bagaimana sakitnya?" "Katanya melilit-lilit. Kalau dapat serangan.. seakan-akan ususnya itu diramasramas dan dililit-lilitkan kayak sepotong kain oleh tukang cuci. dalam kepala?" "Dalam perut. sebab tidak tahu jampenya.( mengisap-isap dulu rokoknya karena belum menyala benar) atau . Cuma dukun saja yang bisa melihatnya.*)" "Nah. itulah yang bohong. "Eh sakit apa istrimu Pak Artasan?" tanyaku. atau seakan-akan tidak mau ia aku turut campur dalam percakapannya itu. Orang lain tidak bisa.. "Dalam perut? Dalam dada atau . nampaklah Pak Artasan dan Pak Ahim dengan muka keheran-heranan dan agak takut. bohong! (api kecil merah melesat ke tanah). Ia berguling-guling di atas tikar dan memijat-mijat perutnya. ia tidak tahan lagi..com/ "Dari muka air yang ada dalam gendi itu.Tiraikasih website http://kangzusi." "Panas badannya?" . Semua itu tahyul saja! Bohong melulu! Tidak ada si Jambrong itu!" Aku diam saja. Dari cahaya korek api itu. apa yang terasa oleh binimu itu?" tanya Anwar pula seolah-olah pertanyaanku itu kurang jelas. "O ya.

tapi mereka takut sama dokter. tapi. kira-kira begitu. begitulah selamanya. sebetulnya saya sendiri tidak melihat.... . Potverdorie.. Kau masih ingat juga Ahim. Tapi bagaimana menurut orang-orang yang katanya sudah melihatnya itu? Di mana si Jambrong itu?!" . anarchisten desnoods!**)Seperti aku yang tidak mau terikat lagi oleh apa saja yang bisa mengikat jiwaku sebagai individu. we moeten van deze halve karbouwen mensen maken. kita semua harus menjadi anarkhis.Wat'n toestand . zeg! Wat'n toestand . Segala kepercayaan dan ketahyulan yang menggelapkan pikiran kita (kepada Pak Ahim yang duduk di sampingnya). di mana Bapak melihat si Jambrong itu?!" "Eh. Raden!" "Berapa lama ia sakit?" "Kalau bapa tidak lupa lagi. Harus membasmi segala norma dan ikatan yang membelenggu hidup kita sebagai manusia. mereka itu seharusnya membawanya ke dokter. intellectualisten..Tiraikasih website http://kangzusi. bukan?" "Ah. dari kegelapan ke dunia terang.Alles en overal nog Middeleeuws onder ons volk! *) Itu harus kita brantas lekas-lekas! Segala ketahyulan pada bangsa kita itu! Revolusi jiwa! Revolusi dari kebodohan kepada kepintaran. pertengahan Ruwah ia mulai sakit dan meninggal kira-kira akhir bulan Sawal. Dan memang. Dan mahal lagi! Verdomd! Beroerd. Dan dokter pun begitu jauh.. eh.." kata Anwar kepadaku dalam bahasa Belanda. echte individualisten." "Nah you see." Sorry. Mereka tidak melihat sendiri (kembali kepada Pak Ahim). Eh . kalau begitu itu kan penyakit tipus.com/ "Seperti dibakar..

. Kalau begitu cobalah kita cari si Jambrong itu. Mau lihat giginya berapa meter. Wah kebetulan sekali sekarang kan malam Jumat juga. penuh dengan keheranan. Den?" "Entah. Dan tidak pada sembarangan waktu bisa bertemu. "Hai mau ke mana?" seruku sambil bangkit. yang kelihatan pohon kiaranya *) yang hitam besar!" sahut Pak Artasan sambil menunjuk kepada suatu umplukan pohon-pohon yang kehitam-hitaman kelihatan tak jauh dari sana. Saya ingin ketemu dengan hantu gila itu." "Malam Jumat? Sekarang malam apa?. Tapi memang Anwar adalah orang yang istimewa. Dan Pak Artasan dan Pak Ahim pun saling tanya. Pak Artasan dan Pak Ahim agak cemas-cemas. sebab bagaimana kalau semua itu terdengar oleh Emban Jambrong itu? "Di mana kuburan Garawangsa itu?" tanya Anwar pula." "Kapan saja?" "Pada malam Jumat atau malam Selasa. "Sebentar!" teriak Anwar kembali. ." sahutku sambil duduk lagi. "O itu? Dekat ya! Tunggu dulu!" Lari ia. Kami bertiga termangu-mangu saja.com/ "Di kuburan Garawangsa.Tiraikasih website http://kangzusi. dan dari tertawanya terdengar suara kesombongan. "Mau apa dia? Mau ke mana Raden itu. "Itu tuh. Mau apa dia.. pikirku. Halia!" Anwar tertawa.. Aku merasa bahwa sikap Anwar itu sedikit keterlaluan.

com/ Sunyi beberapa jurus. Wajah tembaga berkisut-kisut karena masuk hari ke luar hari kena panas. Cari si Jambrong. Tapi tak lama kemudian. Anwar mencetrek-cetrekkan lampunya. terang gelap. menyorotkan lampunya dari tepi lorong ke dalam gubug. "Ayo. pikirku. Barulah aku bisa melihat muka Pak Artasan dan Pak Ahim itu dengan tegas. Ayo. siapa mau ikut?" Sunyi beberapa jurus. . Aku diam saja. Terang gelap. bahwa si Jambrong itu tidak ada. kena hujan. siapa ikut?" Anwar mengulang. duduk tak mengucap apaapa. Demikianlah pula kata Pak Ahim. "Ah saya takut.Tiraikasih website http://kangzusi. Sinar derita dari matanya ditambah dengan sinar kebodohan. dan kemudian mereka melihat kepadaku. tiba-tiba kelihatan dari arah rumah orang tuaku cahaya lampu senter meng-kilat-kilat. Muka Pak Artasan dan Pak Ahim tilem timbul. "Mari. "Mari!" kata Anwar. Dan tak lama pula mengkilatlah cahaya itu ke dalam gubug kami. Den?" "Ke kuburan itu. "Ke mana. Saya mau ketemu dengan dia!" Gila kawan ini. Saling pandang. Itu semua bohong saja. "Kenapa takut?! Nanti saya perlihatkan. menggores-gores seperti sebatang kapur tulis yang besar di udara hitam. Persis type orang tani biasa di kampung. siapa mau ikut? Kita cari si Jambrong itu!" Lampunya menyoroti seluruh gubug kecil itu. Raden!" jawab Pak Artasan terus terang. Tak ada istimewanya.

. kenapa kita takut-takut Kang Asan? Ayo kita pergi bersama-sama. "Dicaplok satu." Aku merasa gelisah. sekalipun sangat segan.. Pak Ahim bangkit serta menyelubungkan kain sarungnya kepada badannya. menyorot ke sana. Mengerti. kenapa kadang-kadang ada orang yang takut sama kue cucur. "Mari Pak Ahim! Mari Pak Artasan! (bangkit) Mari kita bersama.com/ "Mari. Bukan berdasar perhitungan yang sehat lagi. bahwa si Jambrong itu tidak ada. pikirku. menyorot ke sini. Aneh. tapi tidak ikut pun malu sama Anwar. kalau tidak berani sampai di kuburan itu. bahwa takut seperti itu berdasarkan hayal semata-mata.Tiraikasih website http://kangzusi. supaya bisa menyaksikan. orang ini tadi paling berani membentak dengan suaranya yang geram. yang bermain-main dengan lampu senternya. atau perempuan yang takut melihat celana laki-laki. dicaplok semua!" sambungnya. tapi jangan terhadap setan atau hantu.. tapi bangkit juga. Maka aku pun menjadi berani. "Iya. Mengerti aku sekarang. kalau. (terbayang-bayanglah di mata batinku." Sambil berkata-kata demikian. seperti halnya . Pak Artasan rupanya masih agak takut-takut. turut saja sampai ke dekatnya. Ikut kurang berani dan tidak ada gunanya. Anwar sedang bercerita tentang "keberanianku" kepada Kartini dan Rusli). Dan bagaimana nanti. tak usah takut-takut!" Aku sudah berdiri di samping Anwar. Tidak menjawab. Tapi kenapa sekarang ia paling takut?! Rupanya saja terhadap manusia ia tidak takut.

berkali-kali aku menoleh ke belakang. . Kedip-kedip kelihatan cahaya rokok kedua orang itu di tepi lorong. entahlah makin lama makin takut saja aku.Tiraikasih website http://kangzusi. Maka berjalanlah kami berempat meninggalkan gubug. Belalang. Anwar dengan lampu senternya paling depan. Batangbatang pohon dan semak belukar yang kena cahaya itu seakan-akan hidup sejenak." sahutku. Kuburan itu sudah di depan. Sengaja agaknya untuk menakut-nakutkan kami. Terasa olehku. menyolok-nyolok ke*depan. seraya katanya. cihcir. tapi kau ikut. toh. Silinder cahaya yang keputih-putihan seperti air beras. "Baiklah. Maka kami pun lantas berjalan lagi." kata Pak Ahim. jangkrik dan katak diam sebentar seketika cahaya mengkilat ke tempatnya. Anwar berjalan sambil menyanyi-nyanyi atau bersiul-siul. Sekonyongkonyong Pak Artasan tertegun. Pak Artasan dan Pak Ahim menunggu. "Raden.bermandi cahaya sejurus. Aku tidak mau dipandang pengecut oleh kawanku itu. kemudian mati lagi ditelan hitam. ke kiri ke kanan menembus hitam malam. saya sampai sini saja. Empat lima menit kira-kira kami berjalan. Sekali-sekali lampunya dimatikannya agak lama. .com/ dengan orang yang takut mengendarai mobil." Ia menunjuk ke pohon kiara yang kira-kira seratus meter lagi jauhnya dari kami. Dan berhasil juga! Sebab. Silakan Raden saja yang masuk. Bung?" "Tentu. karena mobil itu loncer stirnya dan sebagainya. "Saya pun sampai sini saja. bahwa keberanianku itu keberanian "bikinan". Sambil berjalan.

aku sangat takut. Entahlah.com/ Anwar berdendang-dendang menyanyikan lagu "The Pagan Love Song". tidak insyaf benar aku. Tidakkah . Hati berdegup. Tadi aku takut kepada suara yang geram itu. seperti alang-alang di tengah padang. "melainkan hantu yang telah merupakan diri kawannya itu. Aku rapat berjalan di sampingnya. melainkan siluman yang merupakan diri Anwar untuk membawa aku ke dunia siluman seperti yang diceritakan dalam dongeng babuku itu dulu? Bukankah Mak Ioh dulu menceritakan pengalaman ayahnya. karena tiba-tiba aku teringat kepada suatu dongeng yang pernah kudengar ketika kecil dari babuku. yang diajak oleh seorang kawannya menangkap ikan malam-malam di sungai Cimanuk. Terang gelap. Tidakkah mungkin. terang getep itu. ternyata bahwa kawannya bukan kawannya. Sangat takut. Ingat kepada dongeng itulah yang membikin aku berkalikali menegas-negas muka Anwar dari samping. Sesungguhnya.Tiraikasih website http://kangzusi. Kaki menjadi lemas. mengapa berkali-kali aku menoleh ke belakang. bahwa orang yang di sampingku ini pun bukan Bung Anwar. Kutegas-tegas dalam keadaan yang terang gelap. Terasa lutut bergetar. sekarang malah ingin aku ditemani oleh pemiliknya. Menoleh lagi ke belakang ke arah Pak Artasan dan kawannya. Makin dekat ke kuburan itu rhakin berat terasa olehku perasaan takut menindas jiwaku. Lampu senternya digerak-gerakkannya seperti orang menyapu-nyapu ke kiri ke kanan. terang gelap. karena Anwar bermain-main terus dengan lampunya itu. tapi ketika ia tengah malam itu sudah berada di pinggir sungai itu. Kadang-kadang pula aku memandang Anwar dari samping.

sebab harus meninggalkan lorong "rondaan" itu. Kami berhenti sebentar. "Sudah sampai kita!" katanya. Anwar menyorot-nyorot lagi dengan lampunya ke tempat yang seram itu. Gigi mulai gemeletuk seperti kanak-kanak . lemas sekali seluruh tubuhku. Serasa terpaku kakiku. Bertaburan seperti bintang-bintang. aku makin takut. melainkan hantu juga yang mengajak aku ke tempat tinggalnya.com/ mungkin Anwar ini pun bukan Anwar yang sebenarnya. Ia menunjuk ke arah beribu-ribu kelip-kelip dan kunangkunang yang bertaburan di atas semak-semak. pikirku. Serasa tak bertulang lagi badanku. makin berat terasa olehku langkah kakiku. untuk menempuh jalan setapak di antara semak-semak. Kukira apa. pohon-pohon dan juga pohon kiara yang besar dan rindang itu disorotinya dengan lampunya. Seekor burung hantu yang beberapa saat yang lalu masih ber-kueuk-kueuk. "Mari kita masuk. Melihat tempat yang seram itu. Tapi masih terseok-seok juga kakiku. seakan-akan langit sudah pindah ke bumi. Serasa hilang segala daya tenaga. Aku segan-segan. Lutut terasa makin gemetar. Hanyut dalam arus takut. Hati berdegup makin keras. Lemas.Tiraikasih website http://kangzusi. Kelelawar beterbangan ketakutan melihat cahaya yang tiba-tiba itu. "Lihat Bung! Lihat itu! (Anwar tiba-tiba memadamkan lampunya) lihat betapa indahnya itu!" Bukan main aku terkejut. Anwar menyalakan lagi lampunya." kata Anwar. terbang dan menghilang entah ke mana. Semak-semak. yaitu kuburan Embah Jambrong itu? Berat.

seolah-olah Anwar melihat kepadaku dengan belas kasihan. Tak lama kemudian Anwar datang memburu. Bung! Kenapa lari?!.com/ kedinginan mandi subuh. Ketiga-tiganya pucat semua. larilah aku sekonyong-konyong dari sana.. melainkan. Hati berdegup makin keras. Sandalku copot terpelanting ke dalam semak-semak. Tidak ada hantu. Tapi seketika itu juga cahaya lampu senter Anwar sudah menyoroti tubuhku yang lari pon tang. "Kenapa tiba-tiba lari? Ada apa? Ada si Jambrong? Aku tidak lihat apa-apa. Lari seolah-olah badanku bersayap. Membikin kaku dalam lari. "Tidak mungkinkah ini pun bukan Anwar. Tidak ada si Jambrong. Maka karena sorotan yang terang benderang itu. Malu. . Lari meninggalkan Anwar." Maka dengan tak insyaf lagi. aku pun insyaflah kembali. Lari sekuat tenaga. Terasa sekali olehku." Aku tidak menyahut apa-apa.. Bung! Kenapa lari!?----" Maka aku pun berhenti. Dan keringat dingin keluar lagi. Tapi mereka sudah lari juga beberapa meter. Daging pipiku bergetar pula. lalu menyoroti wajah kami bertiga. seperti juara-juara estafette yang mendahului lari sebelum kawan-kawannya sampai ke tempatnya.panting itu. Dalam pada itu aku sudah hampir sampai di tempat Pak Artasan dan Pak Ahim tadi. "Hai. Insyaf pula karena Anwar terus berseruseru.Tiraikasih website http://kangzusi. Terpelanting seperti lumpur kering dari roda mobil yang jalan seratus kilometer.. Tiba-tiba mengkilatlah lagi pertanyaan dalam hatiku. Seolah-olah beduk di langgar pindah ke dalam dadaku. Bayanganku besar bergerak di hadapanku.

Tiraikasih website http://kangzusi. Ketika kami lewat. Capung-capung aan kupu-kupu beterbangan. tidak mungkin tinggi keseniannya?). Anwar . bermain-main dengan tak ada kesusahan hati sedikit pun. 3 Esok harinya kami kesiangan. segar-segar melompat-lompat di sekitar induknya. Seorang gembala lewat. Rupanya sudah asyik mencari makan. Dan kesungguhan mencari makan itu. Kalau tidak. Bayangan pepohonan sudah tegas hitam. bahwa makin berat orang mencari nafkah.com/ Penuh belas kasihan selaku tiap pemberani melihat kepada si penakut. setelah berpapasan dengan kami. Beberapa ekor biri-biri dan kambing-kambing sedang makan rumput di tegalan tepi jalan." kata Anwar. menggiring kerbaunya tiga ekor. Sudah sekian derajat. Melompat-lompat. "Mari kita pulang saja. makin jauh pula ia terasing dari kesenian? Bahwa dengan demikian maka suatu bangsa kapitalis yang berat mengejar materi. rupanya seperti juga halnya pada manusia. Seperti anak gembala itu. Hendak mencari sandalku. terasa olehku bahwa aku seorang penakut. bersuara seperti panggil-memanggil: be-be-beee! Anak-anaknya bersihbersih. ia pun hanya mengira-ngira saja. Matahari sudah scpenggalah tingginya. binatang-binatang itu pun menoleh ke arah kami. kalau menurut ahli ilmu bintang. Ya. seperti demikian pula halnya dengan kanakkanak manusia. tidak mengizinkan dengan cara sambil bersiul-siul atau bernyanyi-nyanyi (Bolehkah kita mengambil kesimpulan. Burung-burung sudah tidak begitu ramai lagi bernyanyi. Artinya kalau ia membawa alat pengukurnya. Kami berangkat lagi ke tempat kuburan Garawangsa.

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

menyepak salah satunya, sehingga binatang besar itu meloncat ke depan, diiringi oleh tertawaan Anwar yang riang. Bocah angon itu tertawa kaku keheran-heranan. Untung sandalku belum ada yang mengambil. Kedua belahnya masih ada di antara semak-semak. Yang kiri berjauhan dari yang kanan, seolah-olah dilangkahkan oleh orang yang jauh langkahnya. Agak basah, karena air embun. "Aku ingin melihat kuburan itu," kata Anwar, sesudah aku memakai lagi sandalku. "Tadi malam tidak begitu jelas." Maka kami pun lantas menyimpang dari jalan rondaan itu, menempuh jalan setapak yang kiri kanannya penuh dengan semak-semak sahara dan alang-alang yang liar. Sebentar kemudian kami sudah berada di bawah pohon kiara yang rindang hitam itu. Alang-kah sejuknya keadaan di sana itu. Tanahnya basah, karena hujan tertahan dalam humus yang tebal. Belukar dan pohon-pohon yang lain tumbuh dengan liar. Persis di antara akar kiara yang besar-besar itu, di atas tanah yang bersih tidak berumput, adalah dua batu besar yang bertentangan letaknya, yang nyata merupakan batu kuburan, yang satu di ujung kepala, yang satu lagi di ujung kaki. Panjangnya kuburan itu kira-kira ada dua meter lebih* Dekat nisan sebelah kepala, ada sebuah pendupaan, yang penuh berisi dengan abu dan ruhak arang. Basah. Di samping itu, sebuah tempurung yang seperempatnya berisi air. Air hujan rupanya. "Inilah kuburan si Jambrong itu!" kata Anwar dengan bertopangkan tangan di pinggang. "Hai Jambrong! Ini kami! Dua putra Embah yang ingin melihat wajahmu yang kata orang seperti muka singa galak itu! Coba, muncullah di depan kami! Kami tunggu kedatanganmu! Haha!" Anwar tertawa. Aku tertawa kecil. Entahlah, sekarang aku sama sekali tidak merasa takut lagi. Terutama pula, barangkali

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

karena tertawa itu sangat berpengaruh juga kepada jiwaku. Sangat berpengaruh untuk menghilangkan segala perasaan takut. Tapi biarpun begitu, sama sekali "jernih" perasaanku itu tidak. Sebab, entahlah, cara Anwar berseru dan "menantang" Embah Jambrong, demikian itu, membikin aku malah sangat gelisah dalam hati. Gelisah, bukan takut!. Setelah Anwar merasa cukup melihat-lihat kuburan itu, dan setelah dirasainya cukup pula memanggil-manggil Embah Jambrong yang tidak muncul juga itu, maka kami pun meninggalkan tempat istimewa itu. Sebelum berangkat, pendupaan disepak dulu oleh Anwar. Berhamburan abunya. Semut tanah dengan telornya putih-putih kecil yang beratusratus jumlahnya berlari-larian sim-pang-siur di atas tanah bekas tempat pendupaan itu. Ribut agaknya seperti satu kota mendapat serangan udara. Sampai di rumah Anwar bertanya kepadaku, "Bagaimana, tidakkah timbul suatu pikiran padamu?" Aku tidak mengerti. "Tidakkah menjadi soal bagimu, kenapa tadi malam kau begitu takut, sedang sekarang tidak?" Aku tersenyum. Memang hal itu sedang menjadi pikiran bagiku. Memang terasa benar perbedaan perasaanku sekarang dengan tadi malam. Seperti siang dan malam. Tapi kenapa sebetulnya begitu? Padahal tempat itu itu-itu juga. Kuburan itu-itu juga. Dan tadi malam kami berempat orang, sedang sekarang cuma berdua. Alhasil, menurut pikiranku, tiada lain yang menjadi sebab aku takut itu, ialah oleh karena tadi malam gelap. Dalam keadaan gelap orang menjadi takut. Tapi sebaliknya, dalam keadaan terang, orangtidak takut.

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

Kukemukakan pendapatku itu kepada Anwar. Dia mengangguk.,* Tapi bertanya pula ia, "Tapi kenapa sebetulnya, kita menjadi takut karena gelap?" Aku tidak lekas-lekas menjawab. Berpikir dulu. Tapi sebelum* sampai aku kepada suatu jawaban, berkatalah pula ia "Karena, dalam gelap kita tidak tahu apa-apa! Tidak tahu! Yang menu bikin kita takut, (hujan ludah dari bibirnya, karena terlalu gembira ia agaknya bisa mengemukakan jawaban yang tidak cepat terdapa^ olehku). Memang takut itu adalah dua macam: kesatu, yang berdasarkan tidak tahu, dan kedua, yang berdasarkan tahu. Yang berdasarkan tidak tahu, misalnya takut nama si Jambrong itulah, atau sama jin, hantu, peri dan lain-lain. Dan takut yang berdasarkan tahu, ialah misalnya takut mendekati orang yang berpenyakit longpes. Tapi apakah sebetulnya tahu itu? Dan apakah tidak tahu?" Ia membiarkan aku mencari jawaban lagi. Tapi tak lama kemudian ia sendiri lagi yang menjawab. Katanya, "Tahu adalah berarti, bahwa kebenarannya tidak bertentangan dengan akal dan pikiran. Di luar itu adalah "pengetahuan tambahan". Aku maksudkan begini: Sifat manusia itu adalah mau tahu semua. Kalau ia tidak tahu semua dibikinnya sendiri "kira-kira"; dibikin hayaT; dibikinnya hypothese kalau menurut istilah ilmu pengetahuan atau dibikinnya kepercayaan seperti hal-hal yang gaib dalam agama. Dan kira-kira, hayal, hypothese dan kepercayaan itu adalah hanya "penambah" semata-mata kepada pengetahuannya yang terbatas itu. Penambah yang dibikinnya sendiri. Penambah untuk menenteramkan nafsunya ingin.tahu semua itu. Itulah maka manusia itu maha pencipta. Maha pencipta juga dari maha pencipta yang dianggapnya Maha Pencipta. Mengerti?! (menatap ke dalam wajahku seperti seorang guru). Kumaksudkan, juga pencipta dari Tuhan. Tegasnya Tuhan itu

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

adalah ciptaan manusia sendiri, yang dicipta-kannya sebagai tambahan kepada pengetahuannya yang terbatas itu. Mengerti?!" (menatap lagi seperti guru). Aku merengut saja. Berlainan lagi agaknya keterangan Anwar ini dari Rusli tentang soal "Tuhan bikinan manusia" itu. Begitulah pikirku. Patut, kawanku ini suka mengemukakan, bahwa Tuhan itu adalah dia sendiri. Tapi biarpun berlainan keterangan Rusli dan Anwar itu, biarpun yang satu menyatakannya sebagai "akibat dari jiwa manusia dalam keadaan masyarakat yang tidak sempurna" dan yang satu lagi sebagai "penambah pengetahuan dalam nafsu mau tahu semua", namun kedua-duanya adalah sama kesimpulannya, ialah bahwa Tuhan itu adalah bikinan manusia sendiri. Dan sesudah kualami pengalaman dengan "peristiwa Embah Jambrong" itu^setelah kualami perbedaan perasaan yang timbul karena perbedaan keadaan malam dan siang, gelap dan terang, atau tidak tahu dan tahu, maka harus sangsikah terus aku akan kebenaran kesimpulan kedua kawan itu? Bagian X Kereta api merayap-rayap, seakan-akan segan ditumpangi orang-orang atheis seperti kami. Dan ketika jalannya makin naik, maka seolah-olah keluarlahl keringatnya, mendesah-desah mengeluarkan uap dan asap, seakan! akan berat nian dadanya turun-naik memeras segenap tenaganya! untuk maju terus.

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

Aku duduk merunduk di sudut gerbong. Sedang Anwar takl tentu lagi duduknya. Berpindah-pindah saja seperti lalat. KebetulJ an sekali kereta itu agak lowong. Tiga hari kami berpakansi di Panyeredan. Sekarang hendalJ pulang kembali ke Bandung, Aku terus merunduk saja. Hilang riang. Memang, bagaimana! mungkin hatiku bisa riang, jika seluruh jiwaku masih terpukaii oleh kejadian-kejadian yang timbul tadi malam antara aku dari Ayah. Semalam-malaman (malam penghabisan di Panyeredan! aku tidak bisa menutup mata lagi barang sejenak. Kejadian itu ter-J lalu hebat memukul jiwa, sehingga aku merasa sakit. Aku tahu, bahwa kedatangan kami di Panyeredan itu hendaki membawa bahagia seperti biasa. Tapi ini sebaliknya, bahagia yangl selama itu meliputi rumah setengah tembok itu, sekarang sudah' pergi meninggalkan ayah dan ibuku. Pergi, seolah tamu lama tidak berpamitan dulu. Ketenangan hati kedua orang tua itu kini sudah goncang, di-goncangkan oleh angin ribut kekecewaan, kecemasan, kesedihan. Kini insyaflah aku, betapa tersayat-sayatnya rasa hati ibu dan ayah oleh perkataan-perkataan tadi malam. Kini terasa benar olehku, betapa tidak bijaksananya aku bercekcokan dengan ayah tadi malam. Sesungguhnya, serasa remuk jiwaku kini. Remuk, karena rasa sesal menyayat-nyayat, rasa sedih mengiris-iris. Tadi malam, di dalam perdebatan yang hangat, di dalam nafsu bertengkar faham, seakan-akan aku tidak berhadapan dengan ayah, melainkan dengan seorang lawan yang harus'kutundukkan dan kubikin insyaf akan kesalahan

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

fahamnya. Aku mendesak-desak, seakan-akan kebenaran adalah monopoliku sendiri. Dan ayah yang salah. Dalam keadaan demikian, maka dengan sendirinya, aku menolak kata-kata nasihat dari ayah, betapa pun baik maksudnya. "Sekarang saya sudah dewasa," kataku, "sudah cukup matang untuk mempunyai pendirian sendiri dalam soal-soal hidup. Ayah tidak boleh memaksa-maksa lagi kepada saya dalam hal pendirian saya. Juga dalam pendirian saya terhadap agama." Dan entahlah, walaupun saya masih sangsi akan kebenaran teori-teorinya Rusli dan Anwar tentang "Ketuhanan bikinan manusia" itu namun dalam reaksi terhadap desakan-desakan ayah yang seperti biasa memuji aliran tarikat dan mistik pada umumnya, maka ku tumpahkan segala teori Rusli dan Anwar itu. Seolah-olah semua teori itu orisinil pendapatku sendiri. Seolah-olah aku, sudah menjadi atheis pula. Atheis mutlak seperti kedua kawan itu. Agaknya, tak ada pukulan yang lebih hebat bagi ayah daripada ucapan-ucapan itu. Sekarang terasa benar olehku, betapa kejamnya perkataanku itu terhadap ayah dan ibu yang selama itu selalu megah akan diriku sebagai anaknya yang "alim" dan "saleh". Kereta api berdesah-desah terus. Anwar berpindah-pindah terus. Dan aku ngelamun terus. Terbayang-bayang lagi wajah ayah dan ibu yang penuh dengan kesedihan. Kulihat ibu sedang melakukan sembahyang Magrib. Air matanya berlinang. Titik ke atas pangkuannya, membasahi mukenanya, tembus panas sampai ke atas kulit lututnya.

Merayap-rayap seperti seekor lipan menaiki tebing. ayah dan ibu pun sudah ada jalan sendiri. sambil berbisik-bisik membaca ayat dari Alquran. ialah mendoakan semoga engkau di jalan hidup ini bertemu dengan keselamatan lahir batin. Memang. gemetar. baiklah kita berpisahan jalan saja. Rel mengkilap dalam tikungan. Bergetar-getar. Lambat-lambat tiang tilpon tepi jalan lalu. Lokomotip-nya berat menghela napas. Kereta api sudah lewat puncak Nagreg. sehingga pandanganku seakan-akan menembus kaca yang tidak rata. sedang aku tunduk duduk di atas kursi dengan kedua belah tanganku berlipat di atas pangkuanku. beriak-riak. yang menjalankan sesuatu yang dianggapnya memang kewajibannya terhadap anaknya. Pohon-pohon tak bergerak. ayah dan ibu pun hanya berbuat sekadar sebagai orang tua saja. Maka dijamahlah kepalaku oleh ayah dengan tangannya yang kanan. Hanya sekianlah yang ayah dan ibu selalu pohonkan dari Tuhan kami. Hawa bergetar di atas rumput yang kering ke kuning-kuningan. seperti pikiranku yang meluncur terus kepada peristiwa-peristiwa pada malam . Ibu menangis. Jadi baiklah kita bernapsi-napsi saja menempuh jalan masing-masing. Kau sudah mendapat jalan sendiri. Matahari membakar bumi. "Kalau begitu. Sawah-sawah dan kolam-kolam. seperti turut lesu dengan aku. Ia meluncur cepat. karena teriknya matahari. dunia akherat. Lesu. gemerlapan seperti kaca. Suaranya terputus-putus. malas-malas agaknya berjalan.Tiraikasih website http://kangzusi.com/ Kereta api merayap-rayap menaiki punggung gunung Nagreg. Mulai menurun ke pedataran Bandung." Agak menusuk rasanya perkataan "Tuhan kami" itu bagiku.

.. karena bisa menghindarkan segala kepahitan yang sekarang harus kuderita itu? Kuderita bersama-sama dengan orang tuaku juga.pernah kuutarakan tempo hari kepada Anwar.Tiraikasih website http://kangzusi. Tak jemu-jemunya seolah-olah menghitung kilometer. Terus terang sekali-kali tidak identik dengan kurang ajar atau sombong. kebijaksanaan tidak usah hilang karena pendirian terus terang seperti itu. mengapa aku tidak bersandiwara saja? Mengapa aku harus berterang-terangan memperlihatkan sikapku yang telah berubah itu terhadap agama? Karena Anwar tidak setuju dengan sikap bersandiwara itu! Dengan sikap "huichelarij" seperti katanya. Tak mungkin agaknya lepas dari himpitan pengaruhnya. Kereta api meluncur pesat.. pertengkaran pendirian. betapa mungkin! Peristiwaperistiwa itu terlalu hebat bagi jiwaku. mengeluarmasukkan manusia ke dalam perutnya. Kadungora. menghitung tiang tilpon. tak kuketahui sudah lewat. Leuwigoong. Ya. Dan alangkah hebatnya pertengkaran itu! Pertengkaran faham. Lokomo-tipnya sangat gelojoh. Tapi tidakkah ada kalanya bersandiwara itu lebih baik dan bijaksana daripada berterus terang? Tidakkah dalam hal dengan orang tuaku itu pun lebih baik? Lebih baik.. Baru sekali ini aku bertengkar dengan orang tua... Sesungguhnya* sikap jujur dan terus terang terhadap diri sendiri itu tidak usah berarti harus bersikap demikian juga terhadap orang lain. Tidak identik dengan harus menyakiti hati orang lain. Tapi ah. Cicalengka. Aku merunduk saja di sudut wagon. Nagreg. seperti kalau tak salah. Tegasnya.com/ penghabisan di Panyeredan itu. Lebakjero. pertengkaran kepercayaan. . Tak kenyang-kenyangnya seakan-akan menelan balok demi balok di bawah relnya.

tidak sanggup menjaga hati orang lain. tidak mau mengukur keadaan dan suasana.com/ Ah. Memang. Tiba-tiba aku tersentak bangun dari lamunanku. cara itu alangkah pentingnya di dalam hidup.Tiraikasih website http://kangzusi. Kembali pula aku ke dalam arus ngelamun. kasihan orang tuaku yang sudah condong ke kubur itu! Pada masa tuanya mereka masih harus mendapat pukulan yang begitu getir. bahwa gadis itu sebenarnya hanya seorang saudara sepupu bagiku. semua itu bukan maksudku untuk melukai hati orang tuaku sendiri. Tak mungkin rasanya aku bisa kawin dengan dia. Sesungguhnya. Kuperlihatkan karcisku. Dan notabene dari anaknya sendiri! Sedang sebabnya cuma karena aku tidak bisa bijaksana. oleh cara yang kurang ajar. "Mengapa pula mereka itu menyuruh aku kawin dengan Fatimah? Memang aku tahu. Dan setelah dibolak-baliknya. bukan seorang adik sekandung. Tapi oleh karena dia itu dari kecil bersama-sama hidup dengan aku. "Baru naik?" tanyanya. Mencela sikapku yang sudah lalu. Hanyut lagi. Tapi maksud baik bisa hilang sama sekali oleh cara yang tidak baik. anak seorang menak . maka karcis itu pun segera dikembalikannya dengan tidak diapaapakan. oleh cara yang tidak bijaksana. maka sudah tak terasa lagi olehku. Dan sebentar kemudian. Demikianlah aku bercakap-cakap sendiri di dalam hati. pici putih dan pakaian hitam itu hilanglah dari mataku menyeberang ke lain gerbong. Intermezzo habis. Kulihat kondektur mengulurkan tangannya minta karcis. bahwa dia itu bukan adik sekandungku. Dulu orang tuaku itu pernah juga mendesak-desakkan seorang gadis.

Kereta api bercuit-cuit.dalam hal agama dan mistik ayah sangat fanatik. Tapi hanya sebentar saja.com/ kepadaku. membelokkan pikiranku sebentar dari Panyeredan. Terbayang-bayanglah wajah Kartini. Aku tolak. bahwa. Soal kawin itulah pula yang mula-mula menimbulkan percekcokan mulut. Terus lincah. bahwa Rukmini itu sudah ada penggantinya. setelah mereka tahu. Tapi kenapa sampai merembet-rembet kepada soal agama? Memang. Tajam seperti suara sesal dalam hatiku. Makin merunduk aku duduk di sudut gerbong. sehingga aku merasa terpaksa harus menerangkan pendirian' dan pikiran tentang soal perkawinan. Tajam suaranya. yaitu Kartini. Sebetulnya tempatnya . Tapi kenapa harus merembet-rembet sampai kepada soal kepercayaan dan agama? Kenapa harus kuceritakan peristiwa tentang kejadiankejadian di sekitar Embah Jambrong dengan menegaskan. bahwa itulah yang mempertebal keyakinanku? Bahwa semua yang gaib-gaib dan tidak dapat dibuktikan itu adalah ciptaan khayali manusia belaka dalam sesuatu keadaan jiwanya? Bahkan itu cuma penambah belaka kepada pengetahuan manusia yang terbatas itu? Kenapa aku harus berterus-terang begitu? Padahal aku tahu. Haur Pugur sudah lewat. Segeralah aku pun kembali kepada peristiwa-peristiwa di Panyeredan itu. halte kecil sesudah Cicalengka. Aku masih terus merunduk di sudut. Dan sekarang? Rupanya orang tuaku itu mau mencoba lagi mengawinkan aku dengan gadis yang disetujuinya. karena cintaku sudah disita oleh Rukmini. aku merasa diserang ketika itu oleh ayah. Anwar sebaliknya.Tiraikasih website http://kangzusi. terus berpindah-pindah.

" Bila dilihatnya aku masih terus merupakan sebuah karung beras. Bosan bersiul. Bukan begitu. Kadang-kadang pindah ke gerbong lain. anak bertentangan faham dengan orang tua. Kemudian berpindah-pindah dari satu tempat ke lain tempat. Meludah ke luar atau me-negas-negas keadaan halte yang sedang disinggahi. Kadang-kadang lengannya menjulur ke luar jendela seperti ular: jajan goreng oncom. menyanyi. "Ah kom nou. Sudah habis jajanannya. mengobrol dengan orang-orang yang tidak dikenalnya. Dan kalau tidak keburu ditegur oleh tukang rem. Jelas-jelas ia menyanyi. tapi hanya sebentar ia duduk di sana. bahwa manusia maju terus. Dan lagunya selalu lagu "Carolina's Moon". maka katanya. kepalanya ke luarmasuk jendela saja seperti burung jam kukuk. Ia sangat suka turun-naik di bordes. sebab itu adalah suatu tanda. masa soal begitu saja sudah menjadi pikiran benar. "jangan tuan!" maka bisa jadi kereta api yang meluncur itu akan merayap kembali seperti tadi. sambil menggeserkan rokok kawungnya dari sudut mulutnya . Kan sudah biasa. Bosan mengobrol. mengobrol. Kalau duduk kembali di sampingku.com/ ialah di sampingku. "Di Timur matahari mulai bercahya. Pak Haji?" (menupuk paha manusia haji di sebelah kirinya). seolah-olah di tempatnya sendiri banyak paku. Haji kakek-kakek yang ditanya itu tersenyum-senyum saja. Bangun dan berdiri kawan semua! Marilah mengatur barisan kita! Segala pemuda Indonesia. bersiul-siul kecil. Atau berdiri di atas bordes beromong-omong dengan tukang rem sambil mencoba-coba memutar stang remnya. Lagunya lagu "Di Timur matahari". Itu malah harus menggembirakan.Tiraikasih website http://kangzusi.

melainkan kepada Pak Haji semuanya. "Terlalu lama bangsa kita diinjak-injak. Nietzsche! Heerlijk!vDer Uebermensch! Nietzsche.Tiraikasih website http://kangzusi. tidak jatuh kepadaku. Anwar bersiul-siul lagi. Lenin! Lihat juga pada Nietzsche. wat zult gij betekenen zonder mij! (menepuk-nepuk dada). yang berani berkata kepada Sang Surya. harus berkembang!" Tajam lagi ia menatap ke dalam wajahku. melalui barisan gigi yang sudah tidak komplit lagi. harus hidup. apa arti kamu. tapi mengangguk juga. tapi pun juga oleh orang-orang tuanya sendiri. ada?! Begitulah mestinya kita semua! Uebermensch! (membusungkan dada). sehingga hujan ludah yang disemburkan oleh semangat dari mulutnya. yang berani merombak.com/ yang kiri ke kanan. Vooral Nietzsche! Ya ya. Untung Anwar duduk dengan mukanya ke arah lokomotip. Bukan begitu? (matanya tajam menatap ke dalam wajahku). kalau aku tidak. "Dan tahu Bung. bukan saja oleh bangsa lain. Lihat juga pada Marx. Kalau ia menurutkan pendirian ayahnya. kalau mereka mau nongkrong saja tunduk kepada kehendak orang tuanya (menggeliat dengan kedua belah tangannya menjulur ke atas). Nee zeg. bahwa orang tua itu tidak selamanya benar. Sudah bersiul. wahai bintang raya. Lihat saja kepada Nabi Muhammad! Ayahnya biadab. tidak akan ada agama Islam. Uebermenschen semuanya!" . Bakunin dan lain-lain. ya Nietzsche. berkata lagi kepadaku. kita sekarang harus menjadi pahlawan semuanya. menentang. Gij grote ster. Uebermenschen. menghancurkan untuk kepentingan kepribadian kita sebagai manusia yang harus maju. Pak Haji tidak mengerti. apa yang harus kita insyafi sebagai pemuda perintis jalan? Tidak tahu? Ialah. Sesungguhnya. Mana bisa mereka menjadi penganjur dunia yang begitu hebat.

menepuk paha Pak Haji lagi. . Kewajiban kitalah. bahwa orang tua itu harus selalu benar. Dadaku serasa lapang kembali. tidak baik kita beranggapan. "O dia punya?" (memetik lagi sebuah. Kebenaran bukan monopoli orang tua. Dan sesudah berteriak begitu. yang masih menonjol ke luar jendela. agak bersinar kembali rasanya wajahku. No my boy. sehingga banyak orang melihat kepadanya.com/ Anwar berkata setengah berteriak. maka menjangkaulah tangan Anwar memetik sebuah rambutan yang tersembul ke luar dari sebuah keranjang di kolong bangku. "Boleh toh satu!" katanya. serasa baru turun dari kereta api yang berjubel-jubel menginjak halaman stasiun yang luas. menunjuk kepada seorang lakilaki bungkuk yang tersaruk-saruk jalannya seperti serdadu mabok hendak pergi ke w c. "Heerlijk zeg! Gestolen vruchten smaken inderdaad zoet!*) Si Macan lagi ni! (mulutnya mengunyahngunyah).Tiraikasih website http://kangzusi. Pak Haji menonjol ke luar jendela." Mendengar semua kata-kata Anwar itu. "Punya Pak Haji toh?" "Punya itu!" sahut Pak Haji. yang sedang mengupas rambutan itu dengan giginya. seolaholah baginya lebih baik matanya kemasukan pecahan arang dari lokomotip daripada kehujanan ludah. sebagai pemuda perintis. untuk mencari kebenaran yang betul benar. Bersinar kembali seakan-akan kaca arloji yang penuh dengan abu tiba-tiba ditiup abunya. Pak Haji menarik badannya dari jendela lalu mengangguk kepada Anwar. melainkan disediakan untuk segenap kemanusiaan. dan kemudian kepadaku kembali).

Sudah putuskah tali yang kuat itu? . Kaca arloji sudah penuh dengan abu kembali. belum pernah aku sebimbang itu.. ibarat banjirlah pertengkaran antara aku dengan orang tuaku itu! Banjir yang mengamuk! Banjir yang meninggalkan segala-gala berantakan dan rusakrusak. Suram lagi seperti semula.. Dari kecil seakan-akan tali kasih mengikat jiwa orang tua kepadaku. Betapa mungkin. seperti kawat-kawat tilpun putus dilantarankan oleh suatu pertempuran yang hebat? Aku merunduk lagi. betapa mungkin kata-kata dari mulut Anwar itu bisa mengembalikan keriangan hatiku lagi dengan cepat.com/ Tapi biarpun begitu. . Dan sekarang?..Tiraikasih website http://kangzusi. Dari kecil aku selalu menjadi pusat kemegahan orang tua. Alangkah bedanya kesaktian kata-kata Anwar tadi di kereta api. . Memang. 2 Tidak tetap langkahku. Putus sesudah pertengkaran faham yang begitu hebat? Putus. Ah. ketika malam itu kira-kira pukul tujuh aku berjalan ke rumah Kartini di Lengkong. sehingga bukanlah suatu perkara yang gampang untuk melipurkan kesedihan itu. perselisihan antara aku dan ayah itu terlalu dalam berkesan dalam hatiku. Kucurahkan segala isi hatiku. dan kata-kata Kartini sekarang. Sungguh sakti kata hati seorang kekasih sebagai pelipur lara. Jarum di dalamnya berdetik-detik dengan irama kebimbangan.. Segala kata-kata Anwar tadi itu hanya sebentar saja pengaruhnya. Hati dan pikiran tidak tetap. ketika ditanya mengapa aku begitu sedih. kalau sinar matahari pun tidak sanggup mengeringkan tanah-tanah basah bekas banjir dengan sekaligus! Dan sesungguhnya.

Tiraikasih website http://kangzusi. Oleh karena ita maka di sini tidak akan kuceritakan tentang kebahagiaanku dengan Kartini dalam hari-hari kami. . Pulang setelah ada sesuatu yang menetapkan hatiku. demikian pula tekadku sekarang menuju ke suatu tujuan yang pasti. Dan segala-gala terasa olehku berlaku dengan sangat cepatnya. Maka mulailah halaman-halaman baru dalam hidupku. Padahal Rama dan Sinta (atau supaya lebih "modem" bunyinya) Romeo dan Yulia. Atas permintaan Kartini aku pindah ke rumahnya di Lengkong Besar.com/ Sebimbang aku berjalan ke Lengkong Besar. seperti pernah pula bertemu dalam dirinya Lenin dan Kroepskaya atau Louis XVI dan Maria Antoinette. Memang. Pulang setelah tiga jam kurang-lebih aku dibuai-buai dalam kemesraan berkasih-kasihan dengan kekasihku itu. bertemu kembali dalam diriku dan Kartini. yaitu kawin selekas mungkin dengan Kartini. Masih terdengar suara kekasihku yang lembut dan mesra "aku mau". Bagian XI Kami kawin dengan sangat sederhana. seringan aku kemudian pulang. Sebagai "perayaan'! cuma diadakan sekedar makan-makan di antara kawankawan. hidup sebagai sepasang penganten yang sedang melaksanakan segala cita-cita lahirbatin. seperti jasadku dengan tetap menuju ke rumahku. Aku tidak mau menginjak daerah romantik. ketika aku menanyanya dalam pelukan. setelah ada putusan yang membulatkan tekadku.

April.. aku pun suka menghitung waktu. matahari.. banyak sekali kejadian-kejadian dalam tempo kurang lebih empat puluh bulan itu. sehingga genap menjadi tahun. Bulan ditambah-tambahnya. Mei. lantas "diam"? 1 Oktober! Kuhitung dengan jari: Februari. gerak terus. Memang. Banyak. Maret. sebab tidakkah dunia pun seperti gundu yang berputar pula. Di antaranya yang penting-penting ialah: 1. 2. Untuk "diam". Tak bosan-bosannya pula alam menyuruh dunia. Kusobekkan satu halaman dari kalender. dan seterusnya. bergerak terus. Rusli menjadi "catut besar" . yang pada akhirnya akan habis putarannya.. tiga tahun setengah kira-kira sejak 12 Februari 1941.Tiraikasih website http://kangzusi. planet-planet berputar-putar terus.. pemerintah Hindia-Belanda tekuklutut kepada kekuasaan balatentara Dai Nippon dengan tidak memakai syarat apa-apa. Lagi satu bulan umurku tambah. Dan alam membantu manusia dalam kesukaannya.com/ Bagian XII Waktu beredar terus. Manusia suka menghitung waktu dan seluruh hidupnya dikuasai oleh waktu. mengalir terus.. Lagi satu bulan dunia lebih dekat pada saatnya untuk "diam". Panta rei. bulan. Minggu dikumpulkannya menjadi bulan. Dan tak bosan-bosannya manusia menghitungnya. adakah sesuatu yang diam? Adakah sesuatu yang tidak berubah? Tidakkah semua itu berubah-ubah terus? Juga kepercayaan manusia? Juga keadaan sesuatu bangsa? Juga kekuasaan sesuatu stelsel? Sebagai manusia.. Hari dijumlahnya menjadi minggu. Juni. bintang-bintang. Sejak aku kawin dengan Kartini.

maka aku tetap curiga terhadap Anwar itu. ialah bahwa dia akan berbuat yang lebih buruk lagi dari itu sebagai akibat juga dari tidak adanya batas yang tegas tadi itu. Sungguh banyak kejadian-kejadian di dalam tempo empat puluh bulan itu. radio dan barisan propaganda. menggodamnya sampai hancur. Mussolini dan sepatu Tennoo Heika. karena orang yang suka mencuri benda orang lain. di antaranya Bung Gondo masuk polisi rahasia Jepang sebagai "pembantu" Kenpei. karena kedapatan membikin suatu plagiat gambar. Bagiku hal itu tidak mengherankan. supaya melindungi gerakan di bawah tanah dari Bung Rusli c s . 4. dan pada akhirnya memuncak pada mencetusnya api peperangan: Perang Dunia II. supaya bisa mengongkosi dan membiayai "gerakannya di bawah tanah" melawan faseisme Jepang. untuk pada akhirnya (melihat gelagatnya. dan tidak suka aku melihat istriku bergaul dengan dia. yang mengaduk-aduk dan menginjak-injak benua Eropah dan Asia dengan sepatu Hitler. tegasnya yang tidak menetapkan batas yang tegas antara "lupunya" dan "guapunya". Itulah.com/ dengan maksud. 3. yang makin hari makin hebat. Dan yang aku kuatirkan sangat. Perang Dunia II yang menyapu berstti negara-negara kecil dari muka bumi ini. kawan-kawan lain menginfiltrasi badan-badan Jepang lainnya yang penting. Anwar menggoncangkan dunia seniman. beberapa kawan. 5.Tiraikasih website http://kangzusi. makin genting. . bersama-sama dengan Uncle Sam yang mengikat dan mencekik leher ketiga diktator itu dengan "Stars and Stripes"nya. Juga kejadian-kejadian yang seolah-olah mau menyesuaikan diri dengan kejadian-kejadian di dalam politik dunia. akan mudah pula mencuri hasil rohani atau pikiran orang lain. sekarang pun sudah mulai) mempersilakan palu arit Rusia menebang kaki-kaki tersebut. di antaranya memasuki juga pers. dengan maksud infiltrasi.

Tiraikasih website http://kangzusi. Memang. Karena itu. sehingga aku sekarang telah putus pengharapan.com/ Dan seperti kepercayaanku makin hari makin tipis terhadap kemungkinan akan adanya sesuatu perdamaian dunia yang meliputi segenap manusia di seluruh jagat. Aku duduk-duduk di atas fauteuil di serambi muka. fantasi tidak lari ke cita-cita lain. Tapi yang sekarang telah hilang keindahannya oleh kenyataan-kenyataan. Sedang aku sangat asyik bercita-cita. tempat aku empat tahun yang lalu mula-mula mengagumi diri Kartini dalam piyamanya yang modern itu. maka aku pun tidak mau melihat meja makan dengan sebelah mata. Dan payahnya. Aku baru saja pulang dari kantor. kata apa lagi yang lebih tepat untuk melukiskan keadaanku sekarang di dalam perkawinanku dengan Kartini? Hebat! Genting! Sehingga akibatnya penyakitku dalam paruparu terasa lagi. aku kehilangan nafsu makan. Cita-cita yang dibikin indah oleh fantasi. tidak memindahkan keindahan ke cita-cita baru. Untuk kesekian kalinya aku mendengar dari si Mimi. Dia sangat cantik. Aku batuk-batuk lagi. . maka makin hari makin tipislah pula kepercayaanku akan kejujuran cinta Kartini terhadap diriku. bahwa "nyonya pergi". oleh karena manusia akan tetap subyektif dalam memberi arti hak dan keadilan dengan menyesuaikan kepada kepentingankepentingan masing-masing. bukan sekali itu aku mendapatkan Kartini tidak ada di rumah kalau aku pulang dari kantor. Hebat! Genting! Ya. telah kehilangan segala cita-cita. sangat ramah dan sangat lincah dalam meladeni aku dan Ruslj. segala keindahan. Jadi bukan satu kali itu saja.

Ditulis oleh ayah kepadaku. Terlalu mencekik. selekas itu pula ia membuka surat yang kemudian dibacanya. Kemeja kubuka lehernya. Surat itulah pangkal mula perselisihan dan percekcokan yang terus menerus antara kami. Dan maksudnya. Dasi berbelit lepas di atas dada. sejak hari "terkutuk" itu yaitu kira-kira sembilan bulan yang lalu rumah tangga kami sudah menjadi suatu neraka sungguh-sungguh bagiku. Selekas Kartini membungkuk untuk memungut buku itu. Umpatan-umpatan ayah itulah rupanya yang sangat menyakiti hati Kartini. Luka seakan-akan hati Kartini untuk selama-lamanya. Ia memberes-bereskan juga beberapa buku yang berantakan di atas mejaku. Dalam surat itu diajukan pula sekali lagi diri Fatimah. salah-satu buku tersinggung jatuh ke bawah. Dengan tak tersengaja. Surat itu sebetulnya surat yang sudah lama umurnya. atau dari lidah buruk siapa didengarnya.Tiraikasih website http://kangzusi. Ya. Tangan meramas-ramas bulan September yang baru kusobekkan itu. Panas. dan . dengan mengemukakan pula keburukan-keburukan yang mengenai diri Kartini. Pada hari itu. Terbuka lembaran-lembarannya. Pangkal mula neraka yang sekarang sedang membakar aku. dari jempol mana diisapnya. Mencela dengan terlalu tajam.com/ Sangat lesu aku duduk di atas fauteuil itu. ketika aku lagi berada di kantor Kartini sedang membenah-benah kamar. Lesu karena amarah terlalu mendesak. dan melongsorlah dari dalamnya sebuah amplop surat yang telah terbuka. Hanya jas sudah kugantungkan pada kapstok di kamar tidur. yang entahlah. Aku belum berganti pakaian. mencela perkawinanku dengan Kartini. yang katanya dengan "sabar masih menunggu-nunggu" aku. yang bertanggal kurang lebih tiga tahun yang lalu.

Dari Fatimah aku mendengar. Kemudian aku datangi dia di rumah bibi. Dalam surat anonim itu aku difitnah telah "diketemukan" dalam sebuah hotel Tionghoa dengan Fatimah. telah menjadi celaka bagi perhubungan hidupku sebagai suami-istri dengan Kartini. Sebab walaupun Kartini pada prinsipnya (artinya menurut pengakuannya sendiri) tidak mau percaya dan tidak mau menaruh sesuatu penghargaan kepada sebuah surat buta.Tiraikasih website http://kangzusi. Tapi rupanya saja dalam keteledoranku. Surat itu sudah lama aku lupakan. bahwa ia telah aku bakar atau aku sobek-sobek. bahkan aku mengira. maka datanglah ia ke kantorku. Entahlah peristiwanya telah menjadi begitu. kalau tidak ada apinya. semenjak pertengkaran faham dengan aku. oleh karena ada sesuatu yang harus disampaikannya kepadaku mengenai keadaan ayahku. boleh dibilang tidak berhasil benar." Sebenarnya. Kali ini surat anonim. memang harus kuakui. Juga surat. Rupanya ia tiada berani atau tidak mau datang ke rumahku. namun rupanya ia berpegang pula kepada pribahasa "tidak ada asap. Tapi. bahwa keadaan orang tuaku (terutama ayah) sangat buruk. dan kemudian diperburuk lagi oleh perkawinanku dengan Kartini (tentang hal ini tentu saja tidak diceritakan . Seminggu menginap di rumah bibi di Sasakgantung. Ialah begini: Pada suatu hari Fatimah datang ke Bandung. Peristiwa surat ditambah lagi dengan suatu peristiwa lain pula. kusimpan surat itu dalam buku tadi itu. bahwa ada sesuatu "kejadian" antara Fatimah dan aku itu.com/ yang kata ayah "sesungguhnya perempuan yang sederajat dan setingkat" untuk menjadi jodohku. Segala daya upayaku untuk meyakinkan Kartini tentang kebohongan fitnahan tersebut.

supaya aku sebagai seorang anak yang harus berhutang budi kepada orang tuanya. Fatimah menasihatkan. Memang. Mungkin tidak melihat. bahwa seorang individualis. tapi entahlah. ada suatu suara dalam hatiku yang mengatakan bahwa surat anonim itu Anwarlah yang menulisnya. kalau kupikir lagi. Tapi aku tidak menghiraukan suara hati itu. yang tidak mengadakan batas-batas yang tegas antara lupunya dan kupunya tidak mungkin melakukan perbuatan buruk seperti menulis surat anonim itu? Mengapa tidak mungkin. aku berada dalam perselisihan dengan orang tuaku. kalau aku pikirkan lagi. . seorang anarkhis seperti dia. Rupanya ia melihat kami. pun aku sangat mudah naik darah. bahwa seakan-akan ada suatu tembok di antara dia dan aku. Jadi mengapa ia harus lari kepada cara pengecut. sekalipun itu istriku.com/ dengan tegas oleh Fatimah. walaupun yang diejekkannya itu adalah sesuatu pendirian orang tua yang kutentang pula. kenapa tidak. karena aku pikir. mau mengubah sikap. kalau ada orang lain. Diperburuk pula. oleh karena aku seolah-olah makin menjauhkan diri dari orang tua. Entahlah. tapi aku mengerti). yang berani mengejek-ejek atau menghina mereka. maka marahlah aku. menulis surat kaleng? Tapi ah. naluri buruk akan lebm mudah menguasai jiwanya. ya. tapi ia tidak turun malah menabik pun tidak. Sejak peristiwa surat-surat itu. Akan tetapi sebaliknya. Sekali aku bawa Fatimah ke sebuah restoran. bahwa Anwar itu suka pada yang berterus terang.Tiraikasih website http://kangzusi. rupanya Kartini selalu merasa. Ia sangat mudah tersinggung hatinya. bahwa dengan dasar hidup dan sikap hidup yang begitu kacau dan goyah seperti dasar dan sikap hidup Anwar itu. tapi mungkin juga pura-pura saja tidak melihat. Pada saat itu Anwar lewat dalam sebuah delman.

maka api neraka sudah sampai kepada puncaknya. Dan entahlah. bahwa orang itu tak lain tak bukan adalah Anwar sendiri. Kutempeleng Kartini. . Sampai-sampai suka lupa. Dengan hilangnya kepercayaan dan timbulnya kecurigaan antara kami. segala pergaulan apabila dasarnya yang mutlak. Jam menunjukkan hampir pukul tiga. apalagi antara suami dengan istrinya. Dengan lambat-lambat aku makan. Kupanggil si Mimi. Memang hancurlah segala perhubungan. kalau aku mendengar "ringkikan kuda" seperti itu. Amat berat rasanya aku mengangkat sendok dan garpuku. Besar kecurigaanku. .Tiraikasih website http://kangzusi. yaitu kepercayaan sudah tidak ada lagi. kalau Kartini mencari orang tempat mdncurahkan kesedihan atau kejengkelan hatinya.com/ Ejekan Kartini itu biasanya disertai dengan tertawa kecil yang mencetus dari mulutnya seperti anak kuda meringkik. Herankah. ya bahkan antara bangsa dengan bangsa. Dalam keadaan demikian maka tidak mengherankan pula. tapi tentu saja bagi Kartini pula. seorang putus harapan? Aku bangkit dari fauteuil. bukan saja bagiku merupakan suatu neraka. seorang pesimis. Keadaan rumah tangga yang penuh dengan ketegangan dan perkelahian itu. apabila aku sekarang sudah tidak mengenal keindahan lagi dalam hidup di dunia ini? Kalau aku sekarang sudah menjadi seorang defaitis. Hancur perhubungan antara sahabat dengan sahabat. Kucoba makan. antara kenalan dengan kenalan. tak tahan lagi aku. sehingga ia menjerit.

"Pagi-pagi. betul Tuan. Tertawa kecil. Maka aku pun membentak. Tapi gambar itu tidak terlihat olehku. "Seringkah tuan itu datang ke sini?" "Sering?" tanya si Mimi kembali dengan heran." sahut si Mimi agak takut-takut. Kepala tunduk serta mata terpancang kepada gambar bunga-bunga di atas tutup sangku. Si Mimi berdiri depan meja seraya memandang kepadaku." Kukunyah nasi dengan alon-alon. "Apa kerjanya?" tanyaku sebentar kemudian. Ragu-ragu.Tiraikasih website http://kangzusi. hampir seperti "ringkikan kuda" yang biasa kudengar dari mulut Kartini. Si Mimi menoleh. mengipas lalat dengan serbet dari piringku. Si Mimi tertawa kecil. Hati dan pikiran penuh dengan bayangan-bayangan lain. kalau aku sedang berada di kantor?" "Sering juga." Aku merenung sejenak. lalu melangkah kembali. Kuangkat kepala. sambungku. . ketika aku tersadar oleh suara langkah si Mimi yang hendak pergi ke belakang. Tuan. Tidak sampai terwujud dalam batinku. dengan hayal-hayal lain." "Jadi nyonya pergi dengan Tuan Anwar?" "Ya.com/ "Mimi. "Nanti dulu!" seruku. seolah-olah bersedia-sedia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan kuajukan kepadanya. "Kenapa tertawa?" "Tidak. dari pukul berapa nyonya pergi?" "Kira-kira pukul sepuluh.

.. Tapi biarpun begitu. "Eh Mimi.. Gramopon Aku tidak mau meneruskan perkataan itu.. tidakkah engkau sering disuruh pergi ke luar beli ini atau itu oleh nyonya. mendesak ke kerongkongan. supaya kedua orang itu leluasa bisa ber. Perasaan mual menyelekit dalam hati." Jarum gramopon diam tersentak lagi.com/ "Kenapa?! (suara keras) Kenapa kamu tertawa?!" "Tuan tanya apa kerjanya. Ingin aku bertanya terus... menahan nasi yang baru kutelan. karena aku sudah berseru lagi. kalau..." Aku terdiam lagi. tapi tertegun lagi. Tapi pun si Mimi mukanya tanda tanya semata.Tiraikasih website http://kangzusi.. . "Pergilah!" kataku kepada si Mimi yang berdiri makin cemas. Saya kan banyak di belakang. "Eh Mimi. Si Mimi adalah seorang janda. dalam hatiku seolah-olah tersentak diam.?" Ragu aku sebentar. saya tidak tahu. tentu saja omong-omong.. Si Mimi sudah melangkah hendak pergi. Memandang si Mimi dengan muka bertanya. Ingin aku bertanya: tidakkah kedua orang itu pernah masuk ke dalam kamar tidur? Tidakkah Mimi disuruh pergi ke pasar atau pergi ke tempat lain yang agak jauh dari rumah. Tahu apa artinya pergaulan antar seorang laki-laki dan seorang perempuan berempat mata ada di dalam rumah yang sunyi. entah tentang apa.. tidakkah. terbayang-bayang sudah dalam hayalku apa yang dimaksud dalam perkataan itu...

Aku tidak mampir dulu. Sunyi yang agaknya pedih bagi Kartini. "Ini San kubawakan oleh-oleh." Kemudian suara kuda bertelepuk di atas aspal disertai suara bel berkeleneng. "Angkat ini semua!" kataku kepada si Mimi. ini sengaja kubelikan dari Ka Ping!" Aku diam saja.. Terasa rupanya perkataanku yang tajam itu. tapi sinarnya sangat tajam. yang menegur dengan manis. Pipi terasa gemetar. "Salamlah saja kepada Bung Hasan. Mataku terpicing sedikit. Dalam pada itu pintu depan sudah terdengar menggeret dibuka orang. karena sudah lat. Dan sejurus kemudian di belakangku sudah mengalun suara Kartini. "Kenapa tidak menjadi pelayan saja di sana?!" Kartini tercengang. tapi panas bagiku. Api amarah panas membakar dalam dada/ Sunyi terbentang antara kami berdua.. Kemudian dengan sangat lambat-lambat lambat-lambat dan hati-hati selaku seorang juru rawat yang membuka pembalut luka — Kartini maju ke depan menarik kursi yang di sebelah kananku dari kolong meja.Tiraikasih website http://kangzusi.com/ Kudengar di luar suara Anwar berseru.. lalu dengan pelan-pelan pula duduk . hanya mengerling sekilat ke arah Kartini dengan tidak memandang mukanya.O kau sudah selesai makannya! (dilihatnya si Mimi mengangkat piring-piring). Dan otomatis hidungku terangkat sedikit. Tapi tambullah*) saja San. Maka meloncatlah dari ujung lidahku dengan suara yang tajam menyeripit udara. Aku pun tak bergerak. Beberapa jurus ia diam berdiri di sampingku. Tajam seperti pisau cukur menyerit daging.

ia sejurus kemudian sudah berada di hadapanku. menggarut kulit si Mimi sedikit untuk menancap kemudian di atas hati Kartini. Kartini tunduk sambil menguntal-untal sapu tangannya dengan kedua belah tangannya.Tiraikasih website http://kangzusi. "Mimi!" teriakku dengan tiba-tiba. San?" tanyanya sejurus kemudian dengan suara lembut. Ia duduk dengan menelekankan lengan kanannya di atas pinggiran meja. "Kau marah. Bertumpuk berimbun di sana. Sunyi lagi beberapa jurus. Sanggulnya lepas dalam lari. Karena si Mimi. Mukaku masih masam nampaknya'. sehingga Kartini sangat terkejut. yang dalam pada itu sudah kembali diamdiam ke belakang. Dan sambil membenarkan sanggulnya kembali. tapi sedikit pucat ia memandang kepadaku dari samping. tidak muncul juga. "Kenapa tidak kau angkat terus ini?! Lu cuma bisa ngeloyor saja seperti lonte?!" Dengan gugup dan tangan gemetar si Mimi bergegas-gegas membereskan piring-piring dengan tidak mengucapkan kata sepatah. "Mimi! Mimi! Lu goblok! Tuli! Tidak dengar?!" Si Mimi memburu ketakutan dari dapur.com/ di atasnya setelah meletakkan tas dan segala oleh-olehnya di atas meja. Darahnya . Menggeledek. Perkataan yang tajam itu seolah-olah artak panah yang meluncur dari busurnya. Aku tidak menjawab. Air matanya mendesak ke atas. sehingga serasa gondok aku. aku bertambah marah lagi. Dengan tenang. Terbendung seolah-olah segala perkataan di tengah-tengah kerongkongan.

Aku meneguk air. Pintu berdentar. dan makin keras pula berku-tuk-kutuk. bergegas pula ke pintu. Beberapa jurus. dengan badan! Sejurus lamanya. Air matanya tak terbendung lagi. Oleh karena pintu tidak dibuka jua. Mendengar suara kunci itu. sehingga para tetangga pada menonjol dari rumahnya dengan wajah yang penuh kecemasan. Tapi rupanya. Lebih keras lagi dari tadi. maka aku pun agak tenang kembali. . Kutendang-tendang pula dengan sepatu.Tiraikasih website http://kangzusi. Bangkitlah ia dengan tersentak. aku lekas bangkit. mendorong-dorongnya. "Buka! Buka!" Terdengar olehku dari dalam kamar suara tersedu-sedu. Kugedor-gedor lagi.com/ terserap ke atas. Api cemburu tiba-tiba menyala lagi. Lebih berat dari tadi. Lebih hebat! Dengan tinju. dengan kaki. makin terdengar. dan setelah tangannya menjangkau tasnya dari meja. Bangkit pula aku. aku sudah menubruk ke dalam seperti seekor harimau yang sudah lapar mau menyergap mangsanya. habis segelas. seolah-olah menyebrot dari luka yang dalam di dalam hati Kartini yang terkena. maka aku pun lantas kembali ke kursi lagi. Kutumbuk-tumbuk dengan kedua belah tinjuku. Kartini membiarkan saja aku menggedorgedor demikian. Kembali lagi ke pintu. Akan tetapi cuma untuk beberapa jurus saja. seraya berteriak-teriak. maka pada akhirnya pintu dibuka juga. bergegaslah ia ke kamar tidur. meluap dari kelopaknya. tapi sudah terkunci dari dalam. Krrek-krrek! Dikuncinya. oleh karena makin lama. bahwa aku makin marah. Maksudku agar reda amarahku. Kuputar-putar knopnya. Baru saja pintu itu setengah terbuka. Tar! Tar! Kutempeleng Kartini.

Menghitung detik demi detik dengan cermat. karena jam tidak berhati. karena takut akan kembali lagi nanti hujan dan angin yang ganas itu. Hari sudah hampir pukul sebelas malam. Menjerit-jerit minta ampun! Seluruh badanku bergetar! Seluruh badanku panas! Panas terbakar api amarah! Api amarah yang menjolak-jolak ke luar dengan sinar mataku. Dia masuk ke kandangnya. Tak terasa olehnya cepat atau lambatnya waktu. meniup dengan derasnya. berkaok-kaok. Sudah sunyi benar. Pada waktu itu seakanakan bagiku kereta waktu menaiki gunung yang berat mendaki. Seluruh alam tenang seolah-olah sedang tidur. Kujambak rambutnya! Kurentakkan dia dengan sekuat tenaga. Maka tak terdengarlah lagi dahandahan berderak-derak atau jeritan daun-daun yang mengiris sunyi. Dingin meresap tembus ke dalam tulang sendi.com/ "Aduh!" pekiknya. dengan suaraku membentak-bentak. 2 Jam bertiktak di dinding. sambil menutup pipinya yang kanan dengan tangannya. sekarang seolah-olah telah puas dengan hasil pekerjaannya. . Mungkin juga. Hawa dingin menyelinap ke dalam dari sela-sela di bawah pintu dan tingkap-tingkap berkaca. seperti biasanya pada malam setelah hujan lebat. Tidak demikian halnya dengan aku yang sedang berdiri di bawahnya melihat jarum panjang dan jarum pendek masingmasing menunjuk angka 7 dan 11. Kepalanya berden-tar kepada daun pintu. sehingga ia jatuh tersungkur ke lantai. dengan teratur. Angin di luar yang tadi sebelum hujan. karena capek sehabis dipukul dicambuk tadi oleh angin dan hujan.Tiraikasih website http://kangzusi.

Dari jam ke pintu. biarpun ditutupi dengan tingkap-tingkap berkaca. maka terasalah lagi dadaku sakit dan batukbatuk. Sunyi nampaknya. Kepala terkulai lemah. Uap dari napasku membikin bulatan pada kaca seperti pupur yang ditotolkan dengan puderdons. Aku batuk-batuk. sambil menyenderkan badan kepada senderan fauteuil. Pukul 11 kurang 10 menit. sedang mata kabur-kabur melihat ke kejauhan yang tiada tentu. sudah pergi sejak pukul 4. Lampu yang diselubungi pula dengan kain biru. "Ke mana dia?" tanyaku dalam hati. Halsduk yang -mengikat leher kubenarkan. Aku mengintai ke jalan raya. Di luar pintu hitam.com/ Sambil batuk-batuk aku melangkah ke tingkap kaca yang ditutup dengan tirai renda." pikirku. Hanya lampu jalan. tiap kali aku habis bertengkar dengan Kartini. seraya melangkah ke fauteuil. Pergi atau lebih tepat menghilang. menerangi samar-samar keadaan jalan Lengkong Besar itu. Tiada orang yang lewat.Tiraikasih website http://kangzusi. yang diselubungi dengan selubung hitam. Dari pukul 8 tadi hujan. Sedang dia. terbayang di atas kaca pintu. "Kenapa dia belum pulang?" Menoleh lagi aku kejam. Dan gelap pula. supaya lebih rapat menutupi di atas baju piyamaku. lalu mengintai ke luar. Entahlah. berkaca di atas danau-danau kecil di atas aspal. Kusiakkan tirai. Mengeluh berat. Rumah-rumah sudah pada tutup semuanya. yang masih bergumpal-gumpal di angkasa seperti samudera awan yang mengancam dengan ge-lombang-gelombangnya yang hitam kelabu. Amat dingin di serambi muka itu. Juga pada takut rupanya oleh mendung dan kabut yang masih menguasai seluruh angkasa. "Ah salahku juga. karena aku sedang mandi. dengan tidak setahuku. Kukatupkan kedua belah tangan di atas . Bintang tak nampak satu pun di angkasa.

"Salahku juga!" Bergemalah lagi seolah-olah suara hatiku itu. Serasa habis ludes segala perasaan bahagiaku sekarang. yang alim dan saleh. "Mengapa aku sekarang begitu mudah naik darah?" Ya.com/ pangkuan. dan di tepi kolam itu dengan setengahnya berdiri di atas air. . yang bersama-sama dengan aku mengamalkan segala perintah agama. Menabung uang untuk bekal di hari tua. terpencil juga dari citacitaku semula. setiap kali aku habis bertengkar. terlalu lekas mengayun tangan atau menghamburkan kutuk. mestilah aku ditimpa oleh perasaan sesal yang mendalam. mendirikan sebuah langgar kecii. terpencil dari orang tuaku. atau beromong-omong dengan mereka tentang soal-soal agama. Memelihara ternak. Mendidik anak-anak kami dalam suasana keagamaan. alangkah kurusnya badanku sekarang. Ya. Tulang dengkul memonclot tegas di bawah stripstrip celana piyamaku. bahwa aku terlalu lekas marah. Pendeknya. Dan sekarang sudah terpencil aku dari cita-citaku semula itu. Alangkah lainnya jalan riwayat yang kutempuh selama ini. cita-cita yang persis seperti jalan hidup yang ditempuh oleh ayahku sekarang. Cita-citaku semula: Rukmini di sampingku sebagai seorang istri yang sejati. memelihara ikan mas dan mujair. Terpencil dari istriku. Hidup sederhana dalam lingkungan rumah tangga yang tenang.Tiraikasih website http://kangzusi. Serasa terpencil sendirian aku hidup di dunia kini. membeli rumah dan halaman dengan sedikit kebun dan sawah di luar kota. tempat aku bersembahyang bersamasama dengan orang-orang sefaham. mestilah aku mengakui. Kalau sudah pensiun. Sudah terasing sama sekali. Di halaman rumah membikin sebuah kolam.

botol-botol. Melayang lagi mataku ke jam. seperti pernah aku menyebutnya. alangkah mudahnya seolah-olah cita-citaku terhadap Rukmini itu berpindah kepada Kartini. yang masih cermat berdetik-detik di atas dinding. kulihat piano. Tiba-tiba aku batuk-batuk. Kartini adalah seperti belahan terung dari Rukmini "almarhum".bila kuingati betapa sederhananya lukisan cita-cita yang berupa Kartini dalam mukena dan rumah di kampung dengan langgarnya itu. Mata batinku berputar menyinggahi perabot-perabot rumah tangga di ruangan tengah. Terkenang-kenang lagi olehku cita-cita yang pernah kukandung ketika untuk pertama kalinya aku jatuh cinta kepada Kartini. Menengadah aku ke para-para. meja toilet dengan ples-ples. Pada dinding bergantungan potret-potret bintang film Amerika. Pukul 11 kurang 5 menit.tertawa pahit . di serambi belakang dan di dalam kamar tidur: meja makan. rouge. dan minyak-minyak wangi. berbarengan dengan jam berbunyi sebelas kali. Aku melirik ke kiri. bupet. dressoir. Dan karena itu. Menyeringai seolah-olah potret Greta Garbo yang setengah telanjang itu. Hampir terdengar hati tertawa .com/ Aku tersenyum pahit. Dia adalah "titisan" Rukmini. frigidair.Tiraikasih website http://kangzusi. cepu-cepu yang penuh dengan bedak. Kosong seperti batuk kodok. Menoleh ke kanan radio. lemari makan. Aku batuk terus. bantal-bantal hias yang indah-indah di atas dipan yang halus. tapi ada juga gambar Beethoven dan potret Marx di sela-selanya. . Tapi alangkah banyaknya pula perbedaan antara cita-citaku semula itu dengan kenyataan sekarang.

Hendak kuambil rokok sebatang. aku harus berhati-hati benar. kata dokter. Gelisah. tapi tiba-tiba kutarik tangan kembali." begitulah nasihat dokter selanjutnya. dinasihatkannya. Tak ada musik yang bagus. Minyak ikan harus kuminum. Juga air kapur. Dokter menasihatkan aku. Tapi aku menolak sebab kurasa cukuplah dirawat di rumah saja. Bangkit lalu melangkah ke radio. Tapi. Enam bulan yang lalu aku telah diperiksa lagi oleh dokter berhubung dengan dadaku. sebab stasion luar negeri sudah dibikin "bungkem" dengan segel yang dilak pada tiap pesawat radio oleh Jepang. Kartini belum juga pulang. Terutama sekali makananku harus diutamakan yang banyak mengandung zat-zat yang kuat.Tiraikasih website http://kangzusi. karena aku tahu bahwa menurut keterangan dokter sendiri paru-paru belum luka. "janganlah suami nyonya itu sampai mendapat kesusahan atau keruwetan pikiran. Pendek kata. supaya dirawat di rumah sakit. Dan kepada Kartini yang menemani aku. Belum pernah terjadi semacam itu. Dan yang berani bikin rusak segel itu akan berurusan dengan Kenpeitai. Tangan mengusai-usai rambut. daging. Tak! Padam! Kembali aku ke fauteuil. aku dengan setengah berbaring mengap-mengap di atas fauteuil. Bercuit-cuit pada tiap stasion yang terlanggar. Jarum gelombang berputar dari angka ke angka. Semuanya stasion dalam negeri. "Dan yang paling utama nyonya.com/ Setelah batukku reda kembali. Aku tidak boleh merokok. Telor. Duduk. sedapat-dapat mesti dijadikan makanan sehari-hari. bayam. Teringat aku kepada larangan dokter. Barangkali ada musik bagus. Tak! Kunyalakan. tomat. menarik napas dengan sangat berat. Hati . Susu tiap-tiap hari jangan sampai lewat. Menjangkau cepu sigaret. Aku mulai betul-betul cemas. supaya ia baik-baik menjaga diriku. stasion "hoso kyoku". berat tubuhku jangan sampai menjadi mundur.

" Nasihat dokter itu masih aku ingat benar-benar. Minggu yang lalu cuma 47 kilo lagi. Pernah badanku berat 58 kilo. Aku makin gugup. mendehem-dehem. Menunjukkan pukul 11 lebih Tiba-tiba aku tidak bisa berpikir lagi. Kuraba pipiku: cekung. Membakar seperti sore tadi. Kulihat tangan dan jari-jariku. Beberapa jurus kemudian. atau selaku pengarang yang kehilangan inspirasi. selama film itu putus. terus. harus tenang dan tenteram. bahwa keadaan badanku makin lama makin buruk. Jam berdetik seperempat. . Tapi sekarang mulai dengan scene baru. Takut.Tiraikasih website http://kangzusi. Timbul lagi bermacam-macam pikiran.com/ dan pikirannya jangan banyak terganggu. seperti dalam ruangan bioskop. seolah-olah film yang putus tadi itu sudah selesai tersambung lagi. kacau. selaku orang yang sakit kepala. lantas menjambaknya. Terdiam seolah-olah pikiran dengan sekonyong-konyong. Gelap di dalam kepalaku. Tulang bersalut kulit semata-mata. seolah-olah ada yang gatal dalam kerongkongan. Scene yang membakar aku kembali. Dan keadaan demikian itu kadang-kadang menguasai jiwaku dengan perasaan takut yang tak terhingga. seperti film yang sudah tua putus di tengah-tengah cerita. Simpang siur. Jangan banyak susah atau jengkel. seolah-olah aku berdiri di tepi lubang yang dalam ternganga di hadapanku dengan tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Terasa benar olehku. Kuramas-ramas kepala dengan kedua belah tangan mengusai-usai rambut. berjalanlah lagi dengan agak teratur lagi. Aku tersenyum pahit.

Plup! Pintu lekas kututup kembali. Tak peduli nasihat dokter! Tak peduli mati! Dan seolah-olah tangan berbalapan dengan pikiran.. Jalan-jalan di luar untuk menenangkan pikiran. dan sebentar kemudian asap sudah ber-kepul-kepul dari mulutku. Kuputarkan. Batukbatuk lagi. Terpancang lagi mata melihat cepu rokok. Es kukulum dalam mulut. lalu terseok-seok hendak ke kamar tidur. Sampai di muka pintu kamar tidur. Tidak bisa diam aku duduk di atas fauteuil itu. pada saat aku sedang duduk menunggu-nunggu . mencari es. Berkikir kulitku seperti kulit ayam. Tapi di ruangan tengah. tak peduli. "Aku tidur saja. Kulihat lampu masih terayun-ayun. Aku tidak bisa duduk lagi. Lupa memadamkan lampu depan dan di ruangan tengah. Aku gelisah. pusing kepalaku.. Kunyalakan. seraya bangkit. Tidak berani aku! Melangkah lagi ke feateuil. Celana piyamaku berkibar sebentar dan garden melembung seperti layar kapal. Knop pintu kupegang. Ah. Pusing. Rasa gatal dalam kerongkongan hilang sedikit. Krrk! Kukunci. .com/ Terbayang-bayang lagi dalam hayalan Kartini bersama Anwar. Pintu terbuka sedikit. Mau keluar. jari-jariku sudah mencapit sebatang sigaret dari cepu itu. Untung masih ada.Tiraikasih website http://kangzusi. Bersama si Anwar pada malam ini. Mau membunuh hayal yang mendesak-desak ke muka mata batinku itu. Demikianlah aku duduk meromok beberapa jurus di sudut fauteuil. kubuka dulu fri-gidair. seakan-akan tanganku mengepal sepotong es lilin. Dingin. aku merokok. Sejuk melengser ke dalam kerongkongan." pikirku.. Kujatuhkan badan ke atas fauteuil. aku melangkah kembali. Syiiit! Angin dingin menyeripit ke dalam. Lemas rasanya.

Mengumpulkan segala tenaga. Tapi tangan segera bertopang kepada dinding. Dengan payah seperti babi hutan yang luka berat. lampu mereng mencong..com/ Setelah lampu depan kumatikan. menahan badan yang hendak jatuh.Tiraikasih website http://kangzusi. Aku hendak jatuh. tapi . Ehm! Ehm! Kudehemkan dahaknya! Kutadahkan dengan saputangan... Dan .. Kaki kuseret-seret ke kamar tidur.. Tapi. Untung aku masih sadar. Pusing! Pusing! . Payah sangat. Napas berat. jatuh tersungkur ke lantai. Darah bertetesan dari bibir jatuh ke lantai. Dengan bersender lemas kepada dinding. Dengan susah payah sampailah juga ke depan pintu kamar. meja. Aduh! pekikku. sedang yang kanan mengepal sebuah saputangan yang kutadahkan depan mulut. tiba-tiba batuk-batuklah lagi aku dengan sangat hebatnya. Sekonyong-konyong terasa olehku dahak dalam kerongkongan. Ohho! Ohho! Aku batuk terus. tapi terlalu lekas. Pintu terbuka dengan tersentak. Tapi ketika tangan hendak memutarkan knopnya. Batukku serasa menjadi longsor. Kuseretseret badan yang lemas itu di atas lantai. Mendesing-desing suara tak tentu dalam telinga. apa yang kulihat itu?! Berputar segala di muka mataku. Tangan sudah menjangkau knop pintu. Hilang serasa lantai di bawah kakiku. Kudorong daun pintu dengan seberat badanku.. seakan-akan menjaga jangan sampai pecah dadaku. sehingga aku hilang keseimbangan badan. Tangan kiri menekan dada. Lemari. terseok-seok lagi aku ke tempat knop lampu tengah. aku menyadarkan diri. aku merangkak-rangkak hendak mencapai tempat tidur. Keringat keluar. Badan yang telah lemah terpingkalpingkal oleh kerasnya hawa batuk yang kosong.

Crat! Tepat mengenai sasarannya. Melayang di udara. Rubuhlah seketika itu juga tubuh yang segar bugar itu! Tumbang laksana pohon di tebang.. 3 Syiiit! .. lari ke mana?! kuperbuat?! . Berkeresek dalam semak-semak.. mengenai urat lehernya. Maksud sekarang telah tercapai.. Puas aku! Dendam telah kubalas! Mampus dia sekarang! Si pengkhianat! Si penggoda istri orang lain! Si pemecah belah! Antara aku dan istriku! Antara aku dan orang tuaku! Si penyebar pikiran* pikiran yang berbisa! Si anarkhis! Si nihilis! Si individualis! Si pengacau! Kutendang.. Mati dia! Mampus dia! Darah meleleh pada pisau.com/ sebentar kemudian lantai sudah laksana langit suram penuh dengan bintang-bintang merah . mengkilap pisau belati yang kucabut secepat kilat dari sarungnya. Kubuang lekas. Jatuh di kebun orang.?! Apa yang harus Menyerahkan diri kepada polisi? Atau lari?! Tapi ah. Bertetesan dari ujungnya. kusepak badan yang berlumui^n darah tak bernyawa lagi itu! Aku puas dengan pembalasanku itu! Tiada sesal sedikit pun! Tiada belas seujung rambut! Tapi sekarang . Mengkilap seperti sebilah kaca yang runcing melepas dalam sinar matahari.. . Dan darahnya berkerolok-kerolok masuk ke dalam kerongkongan hawa. Berguling-guling dia di atas tanah seperti kerbau yang sekarat... Terpejam mataku! Tepat menancap di atas lehernya. Tekad telah terlaksanakan.Tiraikasih website http://kangzusi.

Berkali-kali pula mengusap muka. Kuusai-usai rambut. Napas panjang melepas dari dadaku. Alhamdulillah! bisik hatiku. Kuramasramas kepala dengan kedua belah tanganku. karena kerasnya pe-nyakitku.Tiraikasih website http://kangzusi.. . Hayal terbawa nafsu. Mungkin juga hayal. Siksa akhirat terbayang-bayang. aku berbaring terus dalam tempat tidur. Badan terasa sakit dan lemas. Mata dan telinganya sedekat bayangan kita. Kartini belum juga pulang. Berkali-kali menarik napas panjang. Alhamdulillah! Itu hanya hayal belaka. Maka terbayang-bayanglah pula wajah Ayah. Aku mengucap beribu syukur alhamdulillah. teringat kepada "pembunuhan" barusan itu! Terdengar lagi suara ayah yang menginsyafkan aku. Menggigil lagi aku. Kini hari sudah pukul lima sore. Sejak kemarin malam. bahwa aku hanya menjadi "pembunuh" di dalam hayal. Kau durhaka! Melanggar hukum Tuhan! Belum cukupkah juga kau berdosa?! Harus kauperberat juga siksa dan azab yang akan menimpa dirimu?" Menggigil aku ketakutan. Dan sebelum itu.com/ Tangan polisi merangkum dunia. siksaan dunia akan menimpa juga. Lapang terasa dada. Untung darah hanya sedikit keluar. sambil mengacungkan telunjuknya ke atas. Aku berputus asa . Berkatalah ia dengan suara yang geram.. Astagfirullah haladim! Astaghfirullah haladim! Dua tiga kali aku mengucapkan "istigfar". "Ingatlah anakku! Ingatlah! Kau telah berbuat dosa! Dosa yang keji! Membunuh orang! Mencabut nyawa orang lain yang bukan hakmu. Mengucap syukur .

"O Tuhan. Tapi kedua peristiwa itu pada hakekatnya sama. karena ia tidak mau menolong si pembunuh ayahnya itu masuk surga. Hamlet tidak jadi membunuh. minta ampun kepada Tuhan untuk segala dosanya. Hamlet tidak jadi membunuh. Terbayang-bayang di muka mata batinku ujung pedang anak raja itu yang sudah siap untuk ditusukkan ke dalam punggung pamannya yang lalim itu. Ya. oleh karena ia percaya. Padahal antara Shakespeare dan aku ini .. Berdosa terhadap orang tua sendiri. karena aku takut akan masuk neraka. terhadap Tuhan yang selama ini sudah kuabaikan segala perintahnya. Tapi tak jadi.. ampunilah segala dosa hamba-Mu ini!" Air mata terasa panas meleleh di atas pipi. Jadi untuk apa ia menolong si pembunuh itu masuk surga? Kubandingkan halku dengan adegan Hamlet itu. bahwa si paman itu akan langsung masuk surga.. ialah kedua-duanya terpengaruhi oleh kepercayaan kepada alam di balik kubur. Prince of Denmark. Berbisik hatiku. apabila dibunuh sedang sembahyang. yang telah membunuh ayahnya untuk merebut mahkota dan prameswarinya. Kususukkan kepalaku di bawah bantal. Berdosa terhadap Tuhan Yang Mahakuasa. Sekonyong-konyong aku teringat kepada Hamlet. yaitu ibu Hamlet sendiri. Lama aku terbaring demikian. juga terhadap diri Kartini. oleh karena pamannya itu ketika itu sedang melakukan sembahyang. ketika ia hendak membalas dendam kepada pamannya. yang terlalu bengis kuperlakukan. Jatuh ke sprei. Sedang aku tidak mau membunuh.com/ al-hamdulillah. ciptaan Shakerpeare.Tiraikasih website http://kangzusi. Teringat kepada adegan. karena aku merasa sudah terlalu berat berdosa. Berdosa .

. Entah karena sudah lewat waktunya. saya tamat membaca naskah Hasan itu.com/ terbentang jaman yang tidak kurang dari lima ratus tahun jaraknya. Dongeng-dongeng tentang siksaan dalam neraka. banyak berputus asa. Dan tiap kali aku batuk itu. namun pada akhirnya ia menjelma juga sebagai seorang pahlawan yang berani meluluskan tekadnya. Terbentang di antaranya jaman rasionalisme. terasa olehku seolah-olah suara tanganku mengetuk pintu kubur. yang ditimpakan oleh Tuhan kepada tiap orang yang melanggar hukum-hukumnya. Biarlah aku tetap penakut. Biarlah Hamlet lebih kuat dari aku. entah karena saya terbelenggu oleh isi naskah tersebut. membalas dendam kepada yang lalim. dan tidak* sanggup mengambil putusan dengan segera. jaman intelektualisme jaman teknik. Aku tidak mau seperti Hamlet. babuku dulu. yang biarpun ia banyak ragu-ragu. Aku batuk-batuk lagi.. maka biarpun . Lubang kubur ternganga di hadapanku lagi. Dengan tiada takut ini itu.Tiraikasih website http://kangzusi. Tapi tidak! Aku tidak mau menjadi pembunuh. Penakut terhadap siksa dan azab.. Terbayang lagi wajah ayah. Pamannya dibunuhnya juga pada akhirnya. Bagian XIII Neng-neng-neng! Persis pukul tiga malam. Dan kemudian kembali pula dongeng-dongeng Ma Ioh. Aku menggigil. Serasa kecil diriku dibandingkan dengan Hamlet.

Kusimpan naskah itu baik-baik dalam laci meja tulisku. selarut itu. namun saya tidak merasa Setamat membacanya. Rusli dan Anwar. . mendukung soal-soal yang rupanya saja telah menguasai seluruh jiwanya.Tiraikasih website http://kangzusi. Sambil memutar kunci laci itu. Terharu. bahwa orang yang kurus cekung dan sakit tbc itu. sedemikian rupa sehingga ia tidak lepas dari akibat-akibatnya yang buruk yang mengenai kesehatan badannya. Saya renungkan sebentar isi naskahnya itu.com/ malam sudah mengantuk. Rusli dan Kartini. bahwa saya pun sanggup untuk mempengaruhi Hasan yang bimbang itu. Jelas kepadaku. dengan orang-orang yang dalam naskahnya ini diberi nama Kartini. Dalam pada itu ingin sekali saya berkenalan juga dengan orang-orang yang ada di sekitar pergaulannya itu. saya beberapa jurus termangumangu saja. Hasan itu terdampar-dampar pula oleh perasaanperasaan cemburu dan kompleks-kompleks lain terhadap Anwar. Lebih mudah dibawa mengalun oleh gelombang perasaan daripada dibawa mengorek-ngorek sesuatu soal oleh pikiran sampai habis kepada dasarnya yang sedalam-dalamnya. Dan soalsoal itu agaknya tetap menjadi soal baginya dengan tidak bisa mengambil sesuatu penyelesaian yang menenteramkan jiwanya. Saya sanggup mempengaruhinya seperti orang-orang yang diceritakannya dalam naskahnya itu. bahwa di samping bimbang karena belum ada keyakinan yang teguh perihal kepercayaannya terhadap Tuhan. Tak mengira sedikit pun. Saya sanggup membimbingnya ke arah sesuatu tujuan menurut faham saya sendiri. Dan ia sangat romantis sifatnya. yakinlah saya.

Duduklah ia baru. . Sedang mantelnya. tidak dibukanya. seperti ada yang dipikirkannya dulu. Saya mempersilakannya duduk. mulailah dia bercerita. Setelah saya bertanya "apa kabar" dan lain-lain lagi yang mengenai hal-hal sehari-hari. Saya perhatikan dengan penuh belas kasihan. sehingga dagunya hampir terbenam dalamnya.." Terdiam dia. dia menarik-narik jari-jarinya yang kurus itu satu demi satu. Tidak dihabiskannya kalimatnya itu. Dan seperti yang sudah-sudah topi hitamnya itu setengah dilemparkannya ke atas kursi di sampingnya. "saya merasa takut. setelah saya biarkan dia duduk merunduk beberapa jurus. Juga pada malam hari lagi. Ditarik-tarik nya sehingga berbunyi berketak-ketak. Belum pernah saya melihatnya demikian. Dengan bergetar tangannya. Wajahnya yang cekung itu pucat sekali nampaknya. Masih agak gugup dia." katanya dengan lemah. Gugup dia nampaknya. Saya merasa seperti. Memang malam itu sangat berbeda nampaknya. Hals-duknya mengikat lehernya dengan erat. Tapi sejenak ia berdiri saja di ambang pintu.com/ Beberapa hari kemudian Hasan datang lagi ke rumahku. "Entahlah Saudara. sambil menutupi mulutnya dengan tangan kanannya yang setengah dikepalkan. Berdehem-dehem ia. "Kenapa Saudara?" tanya saya dengan lembut. Jadi juga memakai mantelnya yang hijau tua dan topi viltnya yang hitam itu. "Duduk Saudara!" kataku untuk kedua kalinya. "Kenapa takut?" .Tiraikasih website http://kangzusi. seperti yang sudah-sudah juga. .

Dari siapa Saudara tahu saya atheis?" "Dari isi naskah Saudara. "Saya merasa.Tiraikasih website http://kangzusi." Saya tertawa itu setengah dibuat-buat dengan maksud. bahwa .. lantas katanya.. 'Tidak boleh kita membiarkan diri kita dikungkung oleh perasaan yang demikian." Dia diam." sambungku. "Dan sebetulnya. Batuk-batuk sebentar. Diam lagi dia beberapa jurus. Hanya kuperhatikan gerak-geriknya lebih teliti lagi. Merunduk lagi seperti bunga yang layu. Tiba-tiba setelah dia batuk-batuk lagi sedikit berkatalah dia. ." "Hahaha! (tiba-tiba saya tertawa). Tangannya bergerak-gerak lagi tak tentu. Mukanya pucat dan suram! Sangat suram. supaya jiwa yang agaknya telah patah itu menjadi tegak kembali. . Kenapa saudara begitu pesimis." "Atheis? (tiba-tiba bunga layi» itu tegak kembali). "Kenapa Saudara bilang bahwa seorang atheis tidak boleh berperasaan takut?" . kan?!" "O ya?!!" Mengheos suaranya seperti hembusan uap kereta api yang menghilang.com/ Ia mengangkat kepalanya. Memandang sejenak ke dalam mukaku.. bahwa umurku ini takkan lama lagi . Saudara sebagai seorang atheis tidak boleh berperasaan takut. "Ah itu hanya perasaan Saudara yang lesu saja.. Merupakan kontras dari lampu yang berseri-seri di atas kepalanya. Saya pun tidak berkata apaapa lagi.

. Tapi rupanya dia tidak berpikir. Takut neraka! Dan memang neraka itu ada." . Sebentar kemudian berkatalah saya dengan suara yang tenang. Saudara! Ada! (Suaranya naik lagi)..Tiraikasih website http://kangzusi. Jari-jarinya bergetargetar.. tidak berpikir tentang ucapanku itu.com/ "Itu kan logis! (mengerling sedikit ke dalam matanya yang penuh dengan pertanyaan). ia mengatupkan kedua belah tangannya di atas pangkuannya." Saya tidak lanjutkan bicaraku. Memberi kesempatan kepadanya untuk berpikir. baik yang berupa rahmat dan anugerah.. "Sebagai atheis Saudara sendiri tentu tidak percaya. Sambil menunggu-nunggu jawaban saya. bahwa saya ini atheis! Saya bukan atheis! Tidak pernah menjadi atheis ! Karena... bunga layu itu dengan tiba-tiba sudah berobah menjadi seekor ular cobra yang tegak mendesis-desis hendak menggigit.... "Jangan! Janganlah sekali lagi Saudara mengatakan. Seorang atheis tidak percaya kepada adanya Tuhan. berpeluk-pelukan seperti orang-orang yang kurus-kurus berpeluk-pelukan karena kedinginan. sebab dengan tidak mengubah sikapnya dia bertanya.. Cuma saya lihat pada sinar matanya hasrat untuk mengetahui benarbenar bagaimana pendapat saya tentang hal itu. "Saudara percaya pada neraka?" Pertanyaan itu tidak kusangka-sangka sama sekali. maupun yang berupa siksaan.(hening beberapa jurus. bukan?" Rupanya karena perkataan "atheis" itu. Jadi dengan sendirinya ia menyangkal akan adanya hukum-hukum Tuhan. kemudian dengan suara merendah) karena saya takut. sehingga beberapa jurus saya tak menyahut apa-apa. Atau lebih tepat lagi.

com/ Cetusan semangat yang tiba-tiba itu memberi kesimpulan kepada saya. mengapa dia tadi bertanya. maka dia bertanya itu.. Atau mungkin juga memancing uraian dari saya yang bisa meyakinkan dia. Dia sedemikian takutnya. apakah saya percaya kepada neraka. mungkin cuma karena ingin mencocokkan pendapatnya itu dengan pendapat saya. Entahlah! Maka saya pun bungkam saja.. .Tiraikasih website http://kangzusi. bahwa neraka itu sebetulnya tidak ada. karena penyakitnya itu? Karena ia merasa sudah lebih dekat lagi ke lubang kubur? Dan merasa banyak dosa?. supaya dia bisa merasa agak tenteram dan tidak takut-takut lagi. bahwa kelesuannya yang berat itu rupanya saja disebabkan oleh karena dia sangat berat ditekan oleh perasaan takut terhadap neraka. tapi kemudian dengan tidak menunggu jawabanku yang tegas. sehingga dia marah disebut seorang atheis. Memberi kesempatan kepada dia untuk melanjutkan bicaranya. Dengan demikian. Tidak! Tapi pun juga tidak seperti yang kadang-kadang kita dengar dari mulut kiyai-kiyai modern. Padahal dalam lingkungan Rusli dan Kartini (artinya menurut naskahnya yang kupandang "Dichtung und Wahrheit" itu) baginya tidak ada yang lebih senang daripada dipandang sebagai orang sefaham dengan mereka. Mungkinkah dia menjadi sangat takut itu.. bahwa neraka itu memang ada. di akhirat. malah seolah-olah mau meyakinkan saya. 'Tapi saya percaya itu (begitulah sambungnya dengan suara yang merendah lagi) bukan seperti yang biasa diperdengarkan oleh kiyai-kiyai kolot. ialah bahwa neraka itu adalah di balik kubur. dia sendiri sudah mengemukakan pendapatnya. Maksudnya. Aku agak heran. seperti memang jelas juga dari bagian terakhir dalam naskahnya itu.

keinginan yang gila-gila.Tiraikasih website http://kangzusi. hayal. bahwa hari kemarinnya dia bertemu dengan seorang bekas teman sekolahnya dulu di Mulo. Tingkatan sadarbawah itu tidak terbatas. Di antara kedua tingkatan itu ada suatu batas yang disebut "sensor" atau juru periksa (begitulah Hasan menguraikan lagi uraian guru itu).com/ bahwa neraka itu bukan di akhirat. dan yang teratur saja bisa tembus ke atas sehingga kita menjadi insyaf. melainkan di dunia ini juga. di dalam hidup ini juga. yang lain-lain didesak kembali ke daerah sadar-bawah. hayal. Maka berceritalah dia. Dan semua pikiran. Tidak! Saya percaya bahwa neraka adalah di antara hidup dan mati itu. Tegasnya di dalam kita sekarat. Saudara?" tanya saya dengan penuh perhatian. yang teratur. Cuma pikiran-pikiran yang logis. penuh dengan 1001 macam pikiran. keinginan dan lain-lain di dalam daerah sadar-bawah itu semuanya mau muncul ke daerah tingkatan sadar-atas. sang "sensor" itu. pelik-pelik. perasaan. Akan tetapi tidak bisa. oleh karena ada juru. yang logis. yang « sekarang sudah menjadi guru pada sekolah rendah. yang buruk-buruk bercampur-baur dengan yang baik-baik. di atas jembatan di antara hidup dan mati. Itulah neraka!" "Bagaimana itu persisnya. bahwa sensor itu lengah. yaitu di dalam kita berjuang dengan malaikalmaut. hayal. atau . sehingga kita tidak insyaf akan pikiran-pikiran dan hayal-hayal atau keinginan-keinginan yang didesak itu. Akan tetapi ada kalanya juga. Pikiran perasaan. guru itu menguraikan soal psychoa-nalyse Freud dengan tingkatan-tingkatan sadarbawah dan sadar-atasnya. perasaan. periksa. Dalam bercakap-cakap dengan Hasan. keinginan dan lain-lain yang bermacammacam corak dan isinya.

"uraian temanku itu cukup jelas dan meyakinkan. "Dan kata temanku itu. Selama bercerita itu dia berkali-kali batuk. Di kala tidur misalnya. sensor itu sama sekali tidak ada." pada waktu kita sedang sekarat. karena lengahnya polisi dan douane. segala macam hayal.Tiraikasih website http://kangzusi. Kita kadang-kadang mengigau. sensor itu hilang pula pada masa kita sakit keras. Bukankah dalam mimpi itu kita sering melihat atau melakukan perbuatan-perbuatan yang aneh. yang gila." Aku mengangkat bahu. yang pelik." katanya selanjutnya. 'Tapi." Aku menyela. "Sudah Saudara pelajari sendiri teori Freud itu dengan membaca buku-bukunya sendiri?" Jawaban "belum" keluar dengan agak ragu dan malu-malu. Biarpun begitu. . Untung selamanya menutup mulutnya dengan sapu tangannya. seperti kaum penyelundup bisa menyelinap. biarpun begitu. artinya mengucapkan apa-apa yang tak terperiksa lagi oleh akal pikiran kita. sehingga banyak pikiran. saya selalu melengoskan muka sedikit. sehingga banyaklah pikiran-pikiran atau hayal-hayal dan keinginankeinginan yang tidak pada tempatnya bisa tembus ke atas. sedang sakit keras dan sebagainya. Dan paling hebat lagi. hayal dan sebagainya yang bukan-bukan banyak menobros ke daerah sadar-atas. yaitu berupa mimpi. pendeknya yang tidak masuk di akal kita yang sehat? Selain daripada waktu tidur. "Saut-saktu sensor lengah itu misalnya kalau kita sedang tidur." begitulah Hasan melanjutkan bicara.com/ tidak begitu keras melakukan penjagaannya. ialah pada saat kita sedang sekarat. dan dia meneruskan. sehingga saya bisa berpikir terus atas dasar teori itu." Sampai di sini Hasan terdiam sebentar dalam uraiannya itu.

tolonglah aku! Tolonglah aku!" Ia menangis seperti kanak-kanak." Diam lagi dia. berkatalah ia seperti mengigau. akan mencambuk.Tiraikasih website http://kangzusi. Terutama sekali perasaanperasaan yang hingga sekarang bisa didesak oleh sensor ke daerah sadar-bawah seperti perasaan-perasaan berdosa atau "gewetenswroeging." Dia diam lagi." Dan. menyiksa aku dalam sekarat.. Tapi lama sebelum ia menarik napas penghabisan. alangkah panasnya ini! Seribu tahun aku harus menempuh api yang panas ini! Seribu tahun aku sudah . supaya dia mempelajari lagi teori Freud itu dan membaca sendiri buku-bukunya. Jauh. Ampun! Hamba sudah tak tahan lagi! Aduh. Matanya terpancang atas meja seolah-olah ada yang dilihat di atasnya. "pernah menyaksikan seorang-orang yang sedang sekarat. Sangat takut nampaknya dia. Orang itu paling lama satu jam sekaratnya." sambungnya sebentar kemudian. "Aduh Tuhan. serta dengan matanya terbelalak ke atas. tiba-tiba berkatalah ia seraya berat sekali menghela napas dengan dadanya yang turunnaik.. Tapi menarik juga bagiku untuk mengetahui betapa pengaruh pengetahuan setengah-setengah atas pribadi seseorang.. ampunilah dosa ham-ba-Mu ini! Aduh.com/ pikiran dan lain-lain yang bukan-bukan akan muncul semuanya ke daerah sadar-atas.. Mengeluh berat. Ingin saya menasihatkan lagi. Tapi jauh agaknya tinjauannya itu. Dan sambil meng-aduh-aduh terus. "Saya merasa sangat banyak dosaku. karena beratnya yang harus diderita olehnya." Aduh Tuhan! "Ampunilah hambaMu ini. Dan segala perasaan di sekitar dosaku itu kelak akan muncul semuanya. entah ke alam mana.. "Dan temanku itu. Menarik-narik lagi jari-jarinya dengan tidak mengangkat tangannya dari pangkuannya.

"Dan saya sangat takut. "Sakit dadaku terasa lagi. Lesu sekali. berkecipak terus supaya jangan mati aku tenggelam!" Nah. Saya ambilkan air. Dia mengangguk lemah. dan matanya dipejamkannya sebentar.Tiraikasih website http://kangzusi. Agak hebat kali ini. Ingin saya menerangkan kepadanya tentang adanya suntikan morfin yang bisa." tanyaku. Kepalanya terkulai. Sangat kasihan saya melihatnya...menghilangkan rasa sakit dan menimbulkan mimpi yang indah-indah.. Jadi bagaimana saya bisa disebut atheis. Dadanya turun-naik. "Saudara sakit rupanya. yang akan menimpa diriku juga?!" Batuk-batuk lagi dia. Habis batuk dia sangat capek nampaknya. dus ilmu pengetahuan membenarkan adanya neraka." sambungnya lagi. Ia bimbang lagi nampaknya. Diminumnya. Kalau suntikan itu disuntikkan kepada orang yang sedang sekarat. . waktu yang cuma beberapa menit itu. dirasai oleh orang sedang sekarat itu seolah-olah beribu tahun. kalau saya takut akan adanya neraka?! Akan adanya siksaan Tuhan. Begitulah kata temanku. Apa yang harus saya perbuat untuk melipurkan kebimbangan dan ketakutannya itu? Ternyata dia sudah menjadi "korban" lagi dari orang yang dianggapnya "lebih tahu".. guru itu.. sambil menekan dadanya dengan tangannya sebelah kanan. seolah-olah lehernya tak bertulang. Sungguh kasihan dia. Hasan diam lagi.com/ menempuh lautan! Harus berenang. Duduknya seperti orang pesakitan yang sedang menunggu putusan hakim." ujarnya dengan suara lemah.? "Jadi pun ilmu jiwa.

Karena itulah pula. bahwa tak lama lagi saya sendiri pun akan mengalami segala apa yang diceritakan oleh temanku kemarin itu. yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Kemudian sembuh. malah kawin lagi dengan gadis muda. yang mengatasi segala kewajiban lain. maka kita harus memandang hidup ini sebagai satu-satunya soal yang terpenting di dunia ini. soal neraka dan lain-lain itu.." Dengan banyak kata-kata saya coba hiburkan lagi jiwa yang telah patah itu. Tegaklah! Tempuhlah hidup ini dengan keberanian seperti layaknya untuk seorang muda seperti saudara. soal hidup itulah yang harus kita lebih pentingkan daripada soal mati. Terasa olehku. Masih kuat bekerja. Ya dengan kata-kata. sudah putuslah "Yah . Masih kuat. yaitu "hidup". yang paling penting. Soal mati dan neraka tak pernah merupakan soal dalam "hidup kita sebelum lahir". hidup itu adalah satu kewajiban yang paling utama. "Sesungguhnya Saudara. karena kepatahan jiwanya itu pun disebabkan oleh kata-kata pula. Seperti harapannya. Dan soal hidup itu menurut pikiran saya. Oleh sebab itu maka menurut hemat saya-.Tiraikasih website http://kangzusi. Saya tahu seorang kenalan yang juga pernah diserang penyakit itu. Dia tahu "hidup. Dan sekarang dia sudah lebih enampuluh umurnya. ialah mencari kesempurnaan diri kita untuk . Tuhan telah menghidupkan kita di dunia ini.. kita dilahirkan ke dunia ini dengan satu tugas kewajiban yang maha penting.." "Kenapa Saudara pesimistis? Janganlah Saudara berkata begitu. Karena itulah... Saudara masih muda..com/ Sangat sedih dia nampaknya. Penyakit saudara bukan penyakit yang tidak bisa diobati. Dan sangat takut pula. (berat dia mengeluh). Berbulan-bulan ia dirawat di sanatorium. dan karenanya bukan lagi soal dalam "hidup kita sesudah mati".

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

kesempurnaan segenap kemanusiaan di dalam segala perhubungannya: perhubungan dengan sesama mahluknya, perhubungan dengan alam sekelilingnya, perhubungan dengan YangMaha'Esa, Pencipta-nya. Dan last but not least, juga perhubungan dengan dirinya sendiri. Memang kadang-kadang kita suka lupa akan perhubungan terakhir ini. Padahal itu pun sama pentingnya, harus sempurna juga. Pribadi kita pun berhak mendapat perhatian sepenuhnya dari kita, sebab pribadi kita pun harus hidup, harus sempurna. Kita suka lupa, bahwa kadang-kadang kita harus berhadapan dengan diri kita sendiri. Dan sekali-sekali malah harus bertengkar dengan dirisendiri. Harus mengeritik diri-sendiri. Begitulah Saudara pun harus menyempurnakan perhubungan saudara dengan diri saudara sendiri. Pada saat ini misalnya, saudara harus menegur, mengeritik dan mencela diri sendiri, karena saudara sudah tersesat mengesampingkan soal hidup yang lebih penting itu untuk memberi tempat kepada soal-soal yang bukan soal bagi kita dalam alam hidup kita sekarang ini. Tegasnya, saudara sudah menempatkan sesuatu soal yang tidak bisa kita selesaikan pada tempat yang seharusnya kita kasihkan kepada ^"'-soal yang sewajibnya kita selesaikan". Hasan mengernyitkan keningnya. Berpikir dia agaknya tentang segala perkataanku itu. Saya lanjutkan, "Saya namakan soal-soal seperti soal neraka dan lain-lain itu soal yang tidak bisa kita selesaikan, tegasnya soal itu ada di luar kekuasaan kita untuk menyelesaikannya, malah tentang seluk-beluknya yang sebenarnya pun tidak sanggup kita mengetahuinya. Jadi jangan dikata untuk menyelesaikannya." Hasan mengangguk-angguk lemah. Hampir tak kelihatan. Setujukah dia dengan pendapatku itu?

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

Karena dia tidak bertanya apa-apa, maka saya lanjutkan pula, "Dan apa yang harus menjadi pedoman bagi kita dalam usaha menyempurnakan perhubungan kita ini? Bagi saya, pedoman itu adalah rasa kemanusiaan semata-mata. Rasa kemanusiaan-yang berpokok lagi pada rasa sayangmenyayangi, kasih-mengasihi, cinta-mencintai antara sesama mahluk di dunia ini. Sesungguhnya, saudara, perikemanusiaan dengan kasih-mengasihi, sayang-menyayangi dan cintamencintai itu adalah dasar hidup yang terutama, yang abadi, yang harus hidup subur dalam hati tiap-tiap kita. Dan dengan itu sebagai pedoman dan sebagai dasar, kita gunakan alat penyempurnaan yang paling utama, ialah akal dan pikiran yang sehat." Hasan diam saja, seakan-akan tak acuh. Memang dia mungkin tak acuh, karena rupanya saja segala perkataanku itu sudah dianggapnya sebagai "kue basi" baginya, sebagai pendapat yang sudah lama diketahuinya. Jadi bukan pikiran yang memberi tinjauan baru kepadanya dalam menghadapi soalnya. Kesan ini terasa benar olehku. Dan memang bukanlah usaha atau maksud saya untuk memberi tinjauan baru kepadanya dalam soalnya, oleh karena soalnya itu bukan suatu soal yang bisa kita selesaikan. Jadi segala kata-kata saya itu tidak lain maksudnya hanyalah untuk membelokkan pikirannya kepada soal-soal yang lebih manfaat untuk direnungkan dan diselesaikan, oleh karena soal-soal ini ada "di dalam daerah kekuasaan kita" untuk menyelesaikannya. "Dalam naskah Saudara, Anwar pernah berkata, bahwa salah satu sifat manusia itu ialah "selalu ingin tahu semua". Bukan begitu, Saudara?" Hasan mengangguk lagi. Masih lemah seperti tadi.

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

"Nah, dengan akal pikiran yang terbatas itu, manusia insyaf, bahwa ia tak mungkin bisa mengetahui semua-muanya rahasia yang ada di sekeliling soal "hidup" atau soal "ada" itu. Dalam keadaan demikian itu maka dibentuknya bermacammacam "penambah" kepada kekurangan pengetahuannya itu, ialah seperti disebut oleh Anwar berupa hayal, kepercayaan, tahyul, hypotese dan lain-lain." "Masih kue basi!" seakan-akan kata Hasan yang masih duduk merunduk dengan agak tak acuh itu pada wajahnya. Sambungku pula dengan mata terpancang kepada kepalanya yang tunduk dengan belahan rambutnya yang lurus, "Semua pendapat Anwar itu benar. Sekalipun dinamakan "ilmu pengetahuan" atau "we-tenschappelijk" 'atau "filsafat", kekuasaan otak manusia dan akalnya itu tetap terbatas. Ia tidak akan bisa menyelami segala rahasia "ada" dan "hidup" ini sampai kepada segala seluk-beluknya, dengan tiada mempergunakan "penambah-penambah" tadi itu. Jadi daerah kepercayaan, hayal, hypotese dan lain-lain itu akan tetap ada di dalam daerah "pengetahuan manusia." Hasan batuk-batuk lagi. Agak hebat lagi. Saya lekas mengambil air lagi ke belakang, untuk mengelakkan batuknya. Sesudah reda kembali saya tanya, "Barangkali saudara mau berbaring dulu di kamar?" Ia menggelengkan kepala. "Biarlah saja, (suaranya setengah berbisik). Teruskan saja sau-~dara bicara. Sangat senang saya mendengarkan." Saya merasa senang juga mendengar anjuran itu. Maka saya lanjutkan pula. Dengan insyaf saya sengaja mengadakan semacam "afleidings-manoeuvre" untuk membelokkan perhatiannya. Maka ujarku, "Seperti telah saya katakan tadi,

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

akal dan pikiran itu adalah alat yang paling utama untuk digunakan dalam menyelesaikan soal-soal hidup di sini, di dunia ini, artinya di daerah sebelah sini dari kubur. Dan soalsoal inilah hendaknya kita pandang lebih penting daripada soal-soal di balik kubur atau di "pintu kubur" seperti "sekarat" itu. Soal-soal hidup di dunia inilah minta penyelesaian dan kita harus bisa menyelesaikannya, karena soal-soal itu berada dalam daerah kesanggupan kita dengan menggunakan akal, pikiran, budi serta tenaga dan kemauan kita. Sesungguhnya saudara, kenyataan atau "werkelijkheid" itu, kalau menurut saya, adalah hidup di sini ini. Saya tahu, bahwa banyak manusia mengu-nyah-ngunyah soal "kenyataan" atau "realiteit" itu. Ya, ada yang mengemukakan faham, bahwa hidup yang nyata ini adalah cuma bayangan dari "kenyataan" yang sebetulnya. Dan macam-macam lagi pendapat orang yang semuanya hypotese pula, "penambah" pula kepada kekurangan pengetahuan akal pikirannya yang terbatas itu, yang pada hakekatnya hanya kompensasi semata-mata kepada nafsunya "ingin mengetahui semua" itu. Akan tetapi bagi saya, orang-orang yang demikian itu adalah laksana anjing dari dongeng lama, yang melepaskan tulang yang nyata dari mulutnya, karena mau mencaplok bayangan di atas permukaan air. Mereka mengesampingkan soal-soal yang nyata ini seperti soal-soal politik, ekonomi, sosial, kebudayaan dan lain-lain untuk soal-soal lain yang bukan-bukan. Sebetulnya mereka itu telah menghianati kewajibannya yang telah diberikan Tuhan kepadanya, ialah hidup. Hidup, yang mengandung arti pula, menyelesaikan segala soal-soalnya, menyempurnakan segala perhubungan." Mungkin karena kias anjing itu, Hasan mengangkat sedikit kepalanya yang terkulai itu seolah-olah lehernya bertulang

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

lagi. Matanya yang suram itu bersinar sedikit dan melihat sebentar ke dalam mataku. "Ada sebuah sajak (sambungku pula) yang pernah saya baca dalam sebuah buku yang begini bunyinya: O hellevrees, op heemlen zich verheugen! Een ding tenminste is vast. Dit leven vliedt. Een ding is vast, en al de rest een leugen. De bloem, die bloeide eens, gaat voor goed te niet. Satu perkara yang pasti, katanya, yaitu bahwa hidup ini akan habis riwayatnya. Inilah yang pasti dan lain-lainnya hanyalah "bohong" semata-mata. Sampai menetapkannya sebagai "bohong" atau dusta, saya tidak mau. Tapi bahwa kita bisa mengetahuinya, tidak bisa membuktikannya atau memeriksanya dengan akal dan pikiran, dengan pancaindera dan segala tenaga yang serba "kasar", itu adalah benar. Karena itulah maka semua itu masuk daerah kepercayaan, hayal atau hypotese, atau menurut istilah mistik, masuk ke dalam daerah "pengalaman gaib." Kecuali kiasan anjing tadi itu, rupanya bagi Hasan segala uraian-ku ini tidak begitu berkesan. Tapi saya tidak putus harapan. Saya tetap akan berusaha, supaya jiwa yang sudah patah dan sangat ketakutan itu akan tegak kembali. Dan satusatunya jalan ialah "afleidings-manoevre" tadi itu. Kuulangi lagi, "Dengan ini saya hanya mau menyatakan kepada saudara, bahwa di samping soal-soal kepercayaan serta yang gaib itu, banyak lagi soal-soal yang minta diselesaikan, yang wajib kita selesaikan, dan yang lebih sanggup kita menyelesaikannya."

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

Dalam mengatakan kalimat terakhir ini saya memandang lagi ke dalam wajah Hasan. Tapi ia sedang tunduk lagi, sehingga kulihat lagi belahan rambutnya yang lurus itu seperti saluran air disoroti cahaya bulan. "Soal-soal hidup seperti ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan dan sebagainya itu, kita kunas, kita selidiki, kita periksa sedalam-dalamnya, seluas-luasnya, dengan pikiran yang tajam, yang cerdas dan kritis, sehingga kita tidak lekas percaya begitu saja kepada sesuatu ucapan seorang teman seperti misalnya teman saudara yang menceritakan tentang teori Freud tadi itu. Lebih baik kita pelajari sendiri dengan sungguh-sungguh teori tersebut dari buku-buku Freud sendiri dengan memperluas pula pengetahuan kita tentang ilmu jiwa pada umumnya. Hasan mengangguk lemah. Menyetujui agaknya anjuranku itu. "Pada masa kini misalnya, kita sedang berada di tengahtengah satu soal hidup yang maha hebat, yaitu di tengahtengah perang dunia yang maha dahsyat. Soal ini seharusnya minta segenap perhatian seluruh ummat manusia jadi juga minta perhatian saudara dan saya, oleh karena perang yang sehebat itu dengan senjata dan alatalat teknisnya yang begitu dahsyat, mengancam kehidupan seluruh ummat. Memang soal perang dan damai itu adalah soal hidup yang maha penting. Jauh lebih penting daripada soal neraka di balik kubur atau di pintu kubur. Sampai sekarang manusia selalu diancam oleh bahaya peperangan. Seluruh sejarah kemanusiaan menunjukkannya. Akan tetapi apa yang menjadi pokok alasan dari segala macam peperangan itu? Soal ini harus bisa kita kupas supaya bisa lekas menyelesaikannya.

Agak tegak sekarang. mereka itu malah mau perang. Memang.com/ Hasan mengangguk lagi dengan lemah seperti tadi. tidak akan mungkin mempunyai anggota-anggotanya yang ingin damai. sebetulnya sudah berarti satu tanda.kepada gerak-gerik jiwa dan pikiran serta tingkah laku manusia dalam hidupnya. mau berontak. Kalau sifat ini kita hidup-hidupkan dan nyalanyalakan sehingga menjadi kuat untuk menentang tiap nafsu mau perang?! Itu sudah berupa satu usaha yang berharga ke arah perdamaian. Saya yakin. mau menggulingkan penindas-penindasnya. asal manusia mau memenuhi syarat-syaratnya untuk mengadakan perdamaian yang kekal. dalam masa kita ditindas oleh suatu bangsa penjajah yaitu penjajah Jepang. bahwa saudara ada mempunyai sesuatu pokok pikiran tentang soal itu. saya pun seperti saudara ada mempunyai sesuatu pikiran tentang soal perang dan damai itu. bahwa perang itu bisa dihindarkan. Baiklah. kalau penduduknya hanya terdiri dari kanakkanak melulu'. Kemudian membenarkan duduknya.Tiraikasih website http://kangzusi. karena di samping itu. yang . menyelidiki terus. seperti sebelum itu oleh penjajah Belanda. Dalam masyarakat jajahan tidak mungkin ada suasana damai. Mulai tertarikkah ia oleh uraianku ini? "Ada saya baca dalam naskah saudara itu. bahwa 'dunia baru akan damai. Tapi itu tidak cukup. Mengemukakan pernyataan begitu. Bahwa keadaan masyarakat itu besar sekali pengaruhnya-. Tapi bukan di tanah-tanah jajahan saja suasana damai itu tidak akan ada. Jadi Saudara harus berpikir terus. tapi pun juga di negara merdeka. bahwa manusia adalah juga "hasil" masyarakatnya sendiri. Bahkan sebaliknya. kalau saudara sudi mengupasnya terus dengan berpegang kepada pokok pikiran tersebut. Keadaan demikian misalnya dalam masa kita sekarang ini. Masyarakat yang penuh ketidakadilan dan penindasan. kita tidak boleh melupakan.

menggeleng sedikit.com/ masyarakatnya bercorak kias-kias yang saling tindas. Batuk-batuk seperti tadi. keadaan hatiku itu terasa juga oleh Hasan sendiri. Dengan demikian. seraya memungut topinya dari kursi di sebelahnya. Baiklah saya permisi saja dulu. jangan susah-susah (bangkit. Akan berhasilkah segala usaha saya itu? Saya menoleh kepadanya. maka berusaha ke arah perdamaian itu tidak hanya harus berupa pendidikan orang-orang saja. bahwa pertanyaanku itu hanya sekedar pertanyaan "kehormatan" saja." sahutnya tersenyum. agak hebat.Tiraikasih website http://kangzusi. Memang itulah pula maksudku. "Ah tidak. dan hanya berdasar atas keadilan semata-mata.sedikit. melainkan juga harus berupa perbaikan keadaan dan susunan masyarakat. "Jadi mau pulang saja?" . yang harus bebas dari segala hal yang berbau penindasan." "Saudara terlalu sakit. Maka ketika sudah reda kembali. Menggeliat seperti orang yang sakit pinggang. Hanya dan semata-mata dalam keadaan dan susunan masyarakat demikianlah kita bisa hidup dalam keadaan yang damai. "Saudara sakit rupanya. Menggeliat ia." Terasa oleh saya. "Ah. Tidak dengan hati yang tulus dan rela. Tidakkah lebih baik berbaring-baring saja dulu dalam kamarku?" Terasa oleh saya. terima kasih Saudara. dan mau pulang? Tiba-tiba batuk-batuk lagi dia. aku pun bertanya pula seperti tadi. Dan rupanya saja. karena terlalu lama duduk. karena lututnya agak lemah). di mana ketidakadilan masih merajalela dengan hebatnya." kata saya pula. sebab katanya. bahwa saya telah jauh membawa Hasan menyimpang dari soal neraka dan hal-hal yang gaib-gaib itu. ialah membawa dia kembali kepada dunia yang "nyata" ini. Sudah kesalkah dia.

biarlah lain kali saja. tentulah saya akan mendengarnya atau mengetahuinya dari surat kabar atau dengan jalan bagaimana saja____ Dalam pada itu saya telah berusaha untuk berkenalan dengan Kartini. permisi saja. orang yang berada dalam keadaan jiwa yang demikian! Segala kemungkinan bisa terjadi atas dirinya. Maklumlah. . sebab sejak "malam Freud" itu." Ia melangkah ke pintu. Sampai kini sudah kurang lebih ada dua bulan. dan pemandangan Saudara itu. Rusli dan Anwar." "Ali. Senyumnya mengalun samar-samar. kalau-kalau ada apa-apa yang terjadi dengan dirinya. Hasan tidak pernah muncul-muncul lagi ke rumah saya. Saya merasa heran. lebih baik saudara jangan datang malam-malam. bahwa bilamana ada apa-apa yang "hebat" atas diri kawan yang malang itu. dan tidak lama kemudian keheranan itu malah menjadi suatu kecemasan. 3 Saya merasa heran. Ternyata. Akan tetapi agak terlipurkan juga kekuatiranku itu oleh pikiran.Tiraikasih website http://kangzusi. Cemas dan kuatir. bersatu dengan hitam malam gelap dalam gang yang sempit itu. Sejurus kemudian." terima kasih atas segala "Sebetulnya kita belum membicarakan naskah saudara itu. Muka pucat itu mengangguk lemah. bahwa Kartini telah bercerai dengan Hasan.com/ "Ya. Saya hantarkan sampai ke tangga. maka mantel dan topi hitam itu sudah hilang. "Lain kali." ujarku ketika ia mau pergi. suatu kekuatiran.

Pada hemat saya. bahwa Hasan itu tentu sudah meninggal.com/ Dan yang sangat menyedihkan hati saya. Dia pasti akan mati. Bukan main saya terkejut. bahwa tidak mau saya banyak meng-ubah-ubahnya.b. Tapi rupanya Kartini tidak insyaf akan hal itu. alangkah baiknya kalau saya sekarang luluskan permintaan Hasan beberapa bulan yang lalu itu untuk memeriksa naskahnya itu.Tiraikasih website http://kangzusi. ketika mendengar kabar sedih itu. Kenapa sebetulnya maka ia sampai ditangkap Kenpei? 4 Dengan pikiran. maka saya seringkah teringat lagi akan naskah karangannya itu. karena hatiku tidak mengizinkannya. Badannya yang berpenyakit t. Akan tetapi biarpun begitu. Dalam sekilat saja saya mengerti. Untuk itu haruslah saya mencari keterangan-keterangan yang lebih lengkap dan tegas tentang . dari Kartini pula saya dengar bahwa Hasan sudah. bahwa Hasan takkan mungkin bisa mengatasi segala siksaan dan penderitaan dalam cengkeraman kuku polisi militer Jepang yang kejam itu. pikirku. dua perkara harus saya jalankan mengenai naskah itu: Pertama: Saya sendiri akan membubuhi beberapa bagian sebagai bagian penghabisan yaitu yang akan melukiskan pengalaman-pengalaman Hasan yang terakhir sebelum ia masuk siksaan Kenpei. Nampaknya ia masih mengandung harapan juga. kalau tidak dirundingkan dulu dengan Hasan sendiri. bahwa ia akan segera bertemu kembali dengan bekas suaminya itu.c itu tentu akan hancur dalam kekejaman itu. sebulan ini ditahan oleh Kenpei. sedang kawan itu sekarang menurut saya tentu sudah meninggal. Saya insyaf.

sangat besar kepercayaannya kepada saya untuk mencurahkan segala isi hatinya. supaya karangannya betul-betul merupakan suatu karangan yang bersifat "Dichtung und Wahrheit. Pendek kata. maka dalam tiga minggu selesailah sudah pekerjaan saya." Kedua: "stijl aku" yang dipakai dalam naskah itu akan saya robah menjadi "stijl dia" saja.com/ apa-apa yang telah dialami oleh Hasan selama akhir-akhir itu. 5 Setelah saya pergi ke sana-sini mencari keterangan yang selengkap-lengkapnya tentang diri Hasan selama aKhir-akhir itu. padahal bukan di Panyeredan tempat tinggal ibunya itu). Bagian-bagian berikutnya ini ialah suatu lukisan dari kejadian-kejadian di sekitar diri Hasan. dan meminta keterangan yang cukup kepada orangorang yang pada masa itu pernah bergaul atau berhubungan dengan Hasan. ke mana ia pernah pergi. saya sebut saja Panyeredan. Saya akan mengunjungi tempat-tempat. Banyak sekali keterangan yang saya dapat dari Kartini sendiri. yang akan saya usahakan supaya bisa selesai dalam sebulan ini. sampai-sampai saya pergi pula mengunjungi tempat kediaman ibunya di kampung Panyeredan itu (ya. Demikian rencana saya terhadap naskah itu. saya akan berusaha supaya sedapat mungkin saya bisa memberi lukisan yang tidak begitu banyak menyimpang dari kejadian-kejadian yang sebenarnya tentang pengalaman-pengalaman Hasan itu. .Tiraikasih website http://kangzusi. yang saya susun dengan mempergunakan bahan-bahan keterangan dan lainlain sebagai hasil penyelidikan saya. yang untunglah.

.. bahwa masih ada seorang famili di Padalarang.Ke rumah Partinah. aku tidak begitu kenal rapat dengan bibi itu. Asal pergi saja dulu dari sana. karena. ketika Kartini menyelinap diam-diam meninggalkan rumahnya." pikir Kartini. Ia ingat.Tiraikasih website http://kangzusi. kesannya kurang baik juga tentu .... menjinjing sebuah tas pakaian. menjinjing tas .. Hasan lagi ke belakang. Dan kalau sekarang datang ke sana. sambil tunduk jalannya.. Kx mana ia hendak pergi? Belum tahu ia. aku malu. Akan ke sana sajakah ia? Naik kereta api penghabisan? "Tapi ah.Ke rumah Rusli! Sekali-kali tidak boleh aku pergi ke sana. ah. dengan pakaiannya. Tidakkah itu nanti malah akan berarti mau mematikan api dengan minyak? Sekalipun Anwar sudah tidak tinggal lagi di sana!" Demikianlah Kartini berjalan. tapi karena ada semacam "permusuhan" antara ibuku dan keluarga ayahku. seorang teman sekolahku dulu. . Maksudnya.. "Biarpun ia masih seorang bibi dari padaku.. setelah berkelahi dengan Hasan. seraya merenung-renung. yaitu seorang saudara sepupu dari mendiang ayahnya. yang sekarang menjadi guru dan berumah sendirian? Tapi aku sudah lama tidak pernah datang lagi kepadanya.com/ Bagian XIV Sore itu. supaya menyingkiri api amarah yang berkobar-kobar di antara dia dan suaminya itu. Kartini dengan bersedih hati lalu meninggalkan rumahnya.

sedang ia berjalan dan merenung-renung demikian itu. Kang!" * Sebetulnya kakinya merasa lemas. Ketika menoleh dilihatnya Anwar. Ia berjalan terus. seperti biasanya jawaban yang demikian itu malah makin menimbulkan hasrat untuk mengetahui lebih lanjut. Tertawa-tawa seperti bulan purnama tertawa terhadap dunia yang hitam kelam. yang melangkahkan kakinya di samping Anwar. ditepuklah bahunya dari belakang. "Kenapa?" tanya Anwar pula. 'Tidak. Tiba-tiba. menceritakan dengan terputus-putus . Kartini menjadi sangat bingung. Akan tetapi. Nya?" lagi seorang kusir menawarkan kendaraannya. Dan Kartini didesak-desaknya supaya menceritakan apa yang telah terjadi itu. yang tertawa-tawa dalam keriangriangan. "Ah tidak apa-apa. Terlalu terkejut ia. dan kemudian malah merasa cemas. 'Tidak!" jawab Kartini pula. Akan tetapi.Tiraikasih website http://kangzusi. kalau-kalau Hasan akan memergokinya bahwa ia bersama-sama lagi dengan Anwar. karena ia tidak tahu hendak ke mana ia sebetulnya. "Delman. Apalagi pada Anwar. Takut pula. ia berjalan jua. Mereka berjalan terus. entahlah. yang sudah menjadi sifatnya untuk mendesak-desak." sahut Kartini pendek dengan maksud hendak mengelakkan pertanyaan Anwar selanjutnya. seakan-akan ada daya yang lebih kuat daripada perasaan takut itu. dan Kartini pun pada akhirnya berterus terang saja.Nya?" tanya seorang kusir. tapi Kartini menjawab "tidak" juga. "Mau ke mana kau ini?" Kartini tidak segera menjawab.com/ "Delman.

ketika mereka lewat ke sebuah restoran kecil. yang berupa kecemburuan Hasan terhadap Anwar. Tin?" ujarnya sebentar kemudian. Kartini dan Anwar duduk." Sepuluh menit yang lalu Kartini tentu akan menolaknya. Jongos memburu dari belakang sebuah bupet. sambil menjengketkan kaki belakang dari . Dengan terputus-putus Kartini bercerita. maulah juga ia diajak Anwar masuk restoran itu.Tiraikasih website http://kangzusi. supaya kita bisa bercakap-cakap dengan lebih tenang. dan kadang-kadang berbisik-bisik. Mereka masuk. Kursi-kursi dan meja-meja laksana sedang tidur. "Nah. aku coklat susu saja. tidak punya uang. dan ada tempat di situ yang agak tersembunyi. Dan kau apa. maka seolah-olah terdorong oleh sikap yang sudah "nekat". Cuma dirahasiakannya dengan kukuh tentang alasannya.com/ tentang peristiwa yang baru terjadi itu. Dan memang tujuan masih belum terdapat juga oleh Kartini. Masih tidak tahu juga ia mau ke mana. karena ragu-ragu atau takut-takut terdengar oleh orang-orang yang berpapasan jalan atau yang seiring jalannya dengan mereka. "Kau mau minum apa?" Anwar bertanya setelah mereka duduk." kata Anwar. 'Tapi aku terus terang saja. Dan bersama telunjuknya. akan tetapi sejak ia berterus terang menceritakan hal ihwal dirinya itu. Dua kursi menggerit ditarik di atas lantai. Dengan teliti ia mempelajari daftar makanan itu. "Marilah kita minum-minum dulu. Kebetulan restoran itu masih kosong. matanya menyusur namanama makanan dan harga-harganya di atas sebuah daftar makanan yang sudah kumal.

Tuan! Minumnya apa?" "O ya. seperti kuda yang melompat." "Ik wel! Aku agak lapar. "Lapis legit. ya!" Jongos mengangguk-angguk.com/ kursinya. "Mintakan kopi susu es saja untuk saya. kopi susu es dan coklat susu satu! Juga pakai es ya! Dan itu gado-gado. Tuan?" "Bukan! Onde-onde! Itu yang bundar-bundar seperti gundul 'saudara tua' kita. lalu menghilang ke belakang. Tin? Aku mau nasi gulai. lalu melangkah ke lemari kaca." *) Jongos tertawa tertahan. "Hai jongos! Coba minta kue-kue ini!" (menunjuk. "Kue-kuenya?" "Saya tidak mau makan apa-apa. sedang matanya berputar dalam kelopaknya. seolah-olah mau menyapu seluruh ruangan dengan sinarnya. jangan lupa pakai gula bumbunya. takut ada spion Jepang yang mendengar. ya! O ya. menunggingkan kaki belakangnya. dengan kuku telunjuknya menokok kaca)." Anwar berdiri. . jangan lupa! Kerupuk juga! Campur emping. ya!" sambung Anwar. "Dan bikinlah satu piring nasi gulai. Hanya mau minum saja. seraya mengipas-ngipas mukanya dengan sapu tangannya. satu piring gado-gado juga! Bumbunya kasih gula supaya sedikit manis ya!" "Baik. "Pakai sambal yang pecTas ya! Dan* acar. yang masih penuh dengan makanan dan kue-kue dalamnya." sahut Kartini lemas. Kau toh ada uang cukup.Tiraikasih website http://kangzusi. sambil berputar kembali melihat kepada jongos.

" Maka Kartini pun mulailah lagi bercerita. Rupanya ia takut tergelincir lidahnya.. Hati-hati ia bercerita. kalau-kalau ia terlalu terus terang.com/ Anwar kembali duduk. kalau tidak sangat hebat. termangu-mangu saja sejenak sambil menggigit kuku. "Coba Tin. Tin! Kenapa kau sampai mau melarikan diri. sehingga ia duduk dengan perutnya menekan kepada pinggir meja." *) Penjajah Jepang menamakan dirinya "saudara tua" bangsa Indonesia. Matanya melotot. "Ceritamu belum habis.. Tangan kanannya bermainmain dengan cangklongnya. Takut menceritakan. "Apakah itu perbuatan seorang gentleman?! Cih!. Kartini rupanya sedang melantur-lantur dengan pikirannya entah ke mana. Dan ketika ia menceritakan kejadian itu.Tiraikasih website http://kangzusi. (plak! menepuk meja lagi). teruskan ceritamu tadi itu. Kaki kursinya yang belakang dijengketkannya lagi ke atas. Ini tentu hebat soalnya. . bahwa yang menjadi tujuan perasaan cemburu pada Hasan itu justru Anwar sendiri. sedang kedua belah sikutnya terpancang di atas daun meja. '7erlalu zeg! Bakeru!" *) Plak! Menepuk meja. Tapi tak mungkin agaknya menyembunyikan peristiwa "siksaan" yang dilakukan oleh Hasan terhadap dirinya. Tak usah sampai melarikan diri. Bertengkaran kan soal biasa antara suami-istri. maka bum! Menggodamlah kepalan Anwar di atas meja. Apa maksudmu sekarang?!" Kartini tidak menjawab. Ia sedikit ragu-ragu. Giginya berderik-derik..

com/ "Kalau aku. Bahkan menghasut seluruh wanita untuk berontak terhadap nasibnya yang dikungkung oleh kaum laki-laki. sedang perempuan tidak boleh *) Kata pemaki-maki dan memperkutuki sesuatu dalam bahasa Jepang. yang katanya. "Buat apa lama-lama hidup dalam neraka? Kita harus membikin hidup ini seperti sebuah surga. Menghasut Kartini terhadap Hasan. Kursinya berungkitungkit. yang membikin enak bagi kaum laki-laki saja. disapunya lekas dengan telapak tangannya). Untuk apa lamalama hidup bersama seorang laki-laki yang membikin hidupmu menjadi suatu neraka jahanam! Cih! (ludahnya menyebrot ke atas meja. kawin dengan lebih dari seorang laki-laki. atau cangklongnya menokok-nokok daun meja. Sorry!" Kartini tidak menyahut apa-apa^Tapi Anwar bercerita terus. karena api semangatnya yang berkobar-kobar) tak usah kau kembali ke dalam neraka jahanam itu! Bahkan sebaliknya. Ia sebetulnya sudah bukan bercerita biasa lagi. melainkan menghasut melulu. Tangannya menggulung-gulung sapu tangannya. lebih baik aku putuskan segala perhubungan dengan dia! Ceraikan dia! Verdomd!" Kartini diam saja. Dan sambil bercerita itu ia tidak diam. kau harus memberi contoh dan memelopori penghancuran ikatan-ikatan peraturan yang sewenang-wenang seperti peraturan-peraturan kawin itu. "Oleh karena itu. Atau kakinya beredeg-edeg.Tiraikasih website http://kangzusi. daripada dihina begitu. sudah membikin peraturanperaturan kawin yang berat sebelah. yang melulu diadakan oleh kaum laki-laki dengan tidak dirundingkan . (keras. seperti dibolehkannya kawin dengan lebih dari satu perempuan.

Seperti tak berkemauan apa-apa lagi ia layaknya. Sehabis makan dan minum-minum. Artinya Anwar yang berbicara. barangkali karena ia sama sekali tenggelam dalam kebingungan maka keluarlah putusan itu secara intuitif saja.05. yang tadi sebetulnya sudah ditolaknya sendiri. Tapi tak lama kemudian. Tapi katanya kemudian. Membawa makanan dan minuman yang dipesan di atas sebuah baki yang besar. Jongos datang. Lihat saja sekarang sudah pukul 5. aku hendak ke bibiku di Pada-larang. sedang kereta itu berangkatnya persis pukul 5. .Tiraikasih website http://kangzusi. Segeralah baki itu menjadi kosong. meja itu pun menjadi kosong. "Kalau masih bisa." Kartini kecewa tak kecewa. ia masih bingung. melainkan masih duduk-duduk terus. Memang. Kartini hanya minum saja. Sebanyak Anwar mengeluarkan kata-kata dari mulutnya tadi. mereka tidak lantas pergi dari restoran itu. Belum ada sesuatu keputusan yang diambilnya. sambil bercakap-cakap lagi. Lesu saja kelihatannya seperti orang yang sedang sakit berpuasa. Kukunya menggarut-garut di atas meja. 'Tidak bisa lagi.com/ dulu dengan kaum perempuan. Kereta api yang penghabisan sudah berangkat. Dan sekarang hendak ke mana engkau sebetulnya?" Kartini tidak bisa menjawab segera. Tunduk saja beberapa jurus." Entahlah. sebanyak itu pula ia sekarang memasukkan gado-gado dan lain-lain ke dalam mulutnya. dan meja menjadi penuh. dan perut Anwar menjadi penuh.

Ia sama sekali tidak berdaya apa-apa lagi. Tuan!" kata jongos Amat. ketika Anwar setengah membujuk setengah mendesak mengusulkan." sahut Amat.Tiraikasih website http://kangzusi. Maka akan tibalah dia ke tempat mana tenaga itu menariknya." sahut Anwar. ditarik ke sini. 'Tin. "Aku pun cuma perlu satu. Sesudah mengisi buku tamu. Bung?" "Sini. Kartini yang tiada tahu tujuan hendak ke mana. maka tenaga itulah yang menguasai dia. kamar ada. Tidak berkuasa lagi untuk menguasai kemudi dirinya sendiri. Dan kalau ada sesuatu tenaga yang lebih kuat daripadanya menghela dia ke arah sesuatu jurusan. Lampu-lampu sudah mulai dinyalakan. Ia didesak ke sana. supaya tidak memancar ke atas atau ke pinggir. . Tersungkur-sungkur. Dan semuanya ditutupi dengan sebuah selubung hitam atau biru. tempat Kartini sedang duduk di atas sebuah kursi. Tuan. (dan kepada Amat) Di mana kamar itu. tiada bedanya dengan seorang-orang yang berada di tengah-tengah lautan manusia yang berdesakdesak. Demikianlah layaknya Kartini. Tersentak-sentak.com/ Dan dalam kebimbangannya itu. Hari sudah mulai gelap. Anwar lantas kembali lagi ke serambi muka dari penginapan itu. "Kamar kosong kebetulan masih ada satu. agar besok paginya Kartini bisa terus berangkat dengan kereta api yang paling pagi ke Padalarang. supaya malam itu ia menginap saja di sebuah penginapan dekat stasiun. menunggu.

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

Anwar dan Kartini mengikuti Amat. Melalui deretan kamarkamar yang bernomor. Seperti di rumah penjara, maka dari beberapa kamar mengintai dari belakang jendela yang berjerajak orang-orang yang ingin tahu siapa yang lewat. Dari beberapa kamar lain terdengar orang bercumbu-cumbuan seperti dalam kamar pengantin. "Ini Tuan," kata Amat. Setelah mereka sampai depan kamar 8 Amat membuka pintu. "Silakan Tuan." Anwar segera masuk, tapi Kartini segan-segan. Hawa apek mendupak hidungnya. "Masuk, Tin!" kata Anwar sambil melihat-lihat keadaan di dalam kamar itu. Setengah gelap dalamnya karena lampunya seperti lampu-lampu yang lain ditutupi dengan selubung hitam. Kartini masih berdiri saja depan pintu, selaku seorang raden ayu melihat kamar jongos yang kotor. "Masuklah!" kata Anwar pula, menarik tangan Kartini. Kartini masuk agak tersentak. Trak! Kunci diputar. "Kenapa dikunci, War?" Dengan cemas tangannya 204 Kartini melihat kepada Anwar, yang

belum melepaskan anak kunci, yang baru diputarkannya itu. 'Tak usah!" ujar Kartini pula. Trak! Anak kunci berputar kembali dalam lubangnya. Tak jadi pintu dikunci. Hanya ditutup saja. Kartini lantas menaruh tas pakaiannya di sisi dinding, yang penuh ditempeli dengan bermacam-macam gambar. Ada

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

gambar propaganda "tanam jarak" dan "perajurit ekonomi" alias "ro-musha" dan ada juga beberapa kartu pos bergambar yang melukiskan sebuah gereja tua di Eropa di samping potret-potret bintang film yang setengah telanjang. Sesudah tasnya ditaruhnya di sisi dinding, Kartini lantas duduk di atas sebuah kursi yang sudah goyah depan sebuah meja kecil yang politurnya sudah kehitam-hitaman, karena daki yang tebal. Beberapa lingkaran bekas gelas panas merupakan gelang-gelang putih di atasnya. Seperti gelanggelang dari tulang layaknya. Selain daripada meja dan kursi yang sudah goyah itu, dalam kamar itu adalah sebuah tempat tidur tua yang komplit dengan kelambunya yang tua pula. Warnanya sudah kehitam-hitaman, menyatakan bahwa ia sudah lama tidak bertemu dengan tukang cuci. Berlubanglubang lagi. Berbentuk telor-telor kecil lubangnya itu. Pada suatu tempat malah bisa masuk tinju. Di kolong tempat tidur itu agak ke tengah, kelihatan sebuah pispot, yang sudah kekuning-kuningan dalamnya. Hawa apek memualkan hati Kartini. Di atas tempat tidur itu Anwar lantas duduk, setengah dibelakangi oleh Kartini yang duduk tak bergerak di atas kursi. 'Terima kasih, War," kata Kartini setelah mereka beberapa jurus berdiam diri. "Untuk apa?" tanya Anwar menegakkan dirinya dari duduknya yang setengah berbaring itu. "Karena kau telah mengantarkan aku ke sini." Dengan tiada menjawab apa-apa, Anwar tiba-tiba meloncat dari tempat tidurnya ke arah tempat Kartini. Memegang Kartini pada bahunya dari belakang. Kartini mengelak sedikit dengan tidak berkisar duduknya.

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

Anwar terdiam beberapa jurus, tapi tak lama kemudian berkatalah pula ia dengan suara yang agak aneh baginya, karena tidak biasa selembut itu suaranya. Tanyanya, "Kau masih cinta sama dia Tin?'-' Kartini tidak menjawab. Hening beberapa jurus. Di luar terdengar bakiak orangorang berkelatrak-keletrak di atas lantai. Di kamar samping suara orang-orang mengobrol dan tertawa-tawa. Suara lakilaki dan perempuan. Anwar memandang Kartini dari atas. Matanya bersinar harapan. "Masih cinta, Tin?" Tanyanya pula. Lebih lembut suaranya. Kartini tunduk saja. Matanya terpancang kepada lingkaranlingkaran putih di atas meja, bekas gelas-gelas panas itu. "Kulihat hidupmu sama sekali tidak berbahagia," kata Anwar pula. Suaranya masih aneh seperti tadi. Malah sekarang hampirhampir meningkat kepada suara yang penuh dengan belas kasihan. "Kau tidak bahagia. Benar atau tidak, Tin?" JCartini masih tidak menjawab juga. "Aku tahu, bahwa keadaanmu tidak mungkin bahagia . . . ." Hening lagi beberapa jurus. Di luar bakiak-bakiak masih berkeletrak-keletrak. Orangorang masih pada bolak-balik ke kamar mandi. Bermacammacam suara simpang-siur keluar dari macam-macam kerongkongan, laki-laki, perempuan-perempuan, tertawatawa, ngomong-ngomong.

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

Anwar melepaskan tangannya dari bahu Kartini. Melangkah dari belakang ke depan serta duduk kemudian di atas meja kecil itu. Kartini berkisar sedikit dengan kursinya ke belakang. Mengge-rit suara paku menggores lantai. Linu, mengiris hati. Maka dengan banyak bergerak-gerak dengan tangan dan telunjuknya, serta dengan suara yang biasa lagi, Anwar mengulangi lagi hasutan-hasutan yang tadi di restoran pernah dikeluarkannya, "Kenapa kau tidak mau membebaskan diri dari neraka semacam itu? Kenapa kau masih saja suka dibelenggu oleh suatu ikatan yang terkutuk seperti perkawinan itu? Tidak terasakan olehmu, bahwa kau, fihak perempuan, menjadi budak di dalamnya, sedang suamimu, fihak laki-laki, berlaku seperti seorang raja yang kejam, yang ganas, yang menempeleng? Tidakkah itu suatu hinaan yang nista bagi dirimu? Cih! Menempeleng perempuan! Seperti tak ada saja laki-laki untuk dijadikan lawan! (diam sebentar). Tin! Tin! Tidakkah itu suatu hinaan besar bagi dirimu? Ya, bagi kaum wanita seluruhnya!" Kartini dengar tak dengar. Diam saja. Tak ada agaknya sedikit nafsu padanya untuk berbicara. Mungkin juga tak ada nafsu untuk mendengarkan. Akan tetapi Anwar ngomong terus. "Ah, mana cita-citamu hendak menjunjung derajat kaum ibu itu? Mana, Tin? Mana? .... Kau sendiri suka dihina demikian oleh seorang laki-laki yang menganggap dirinya punya hak mutlak untuk menghina dan menyiksa kau dengan sewenangwenang. Tiada lain hanya karena ia dilindungi oleh tali perkawinan yang terkutuk itu. Padahal apa arti tali itu, kalau tali yang lebih kuat, yaitu tali cinta sudah tidak ada lagi? Atau -----atau masih ada tali cinta itu padamu, Tin?"

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

Anwar diam lagi sebentar. Menunggu jawaban yang masih diharap-harapkannya juga. Akan tetapi Kartini masih diam saja. Bermacam-macam pikiran simpang-siur dalam kepalanya. Tunduk lagi ia. "Kau Tin, sebagai seorang wanita yang maju, yang mengerti, yang terpelajar, harus bisa memberi contoh. Harus bisa menentang ketidakadilan seperti yang kauderita sekarang itu! Ceraikan laki-laki yang kejam itu! Bikin surga baru dari hidupmu ini!" Tiba-tiba Anwar tertawa. Tertawa mengejek. "Hahaha! Ya, ya, aku mengerti sekarang. Kau rupanya masih percaya, bahwa perempuan yang sabar itu akan dianugerahi surga kelak di dalam kubur. Halia! Abad ke-20 harus sudah membikin perhitungan dengan ketaliyulan seperti itu. Ketahyulan yang sengaja dibikin oleh kaum laki-laki, supaya bini-bininya tetap sabar, supaya dia sendiri bisa berlaku sekehendak hatinya, mengambil dan menceraikan bininya menurut sekehendak hatinya pula! Insyaflah Tin! Insyaflah!" Anwar diam lagi sebentar. Mengeluarkan cangklongnya dari saku belakang celananya. Diisi dengan tembakau. Kemudian dengan tiba-tiba sekali, melonjaklah ia dari mejanya, lalu berdiri lebih rapat di muka Kartini. "Jangan, Tin! Jangan kembali lagi kepada si kejam itu! Runtuhkan nerakamu itu! Bikin surga baru! (dan dengan suara yang merendah menjadi lembut). Surga baru dengan aku!" Agak cemas Kartini. Mengangkat kepalanya. Memandang ke dalam wajah Anwar, yang matanya menyala-nyala penuh api keberanian. Kartini takut. Tapi ia menahan-nahan dirinya supaya tetap tenang. Ujarnya, "War, saya merasa terlalu

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

lemas dan letih. Saya ingin tidur. Dan besok pagi-pagi benar harus sudah bangun." Anwar tidak segera menjawab. Agak kecewa rupanya ia akan reaksi Kartini terhadap cintanya itu. Ia gugup. Dan untuk menghilangkan kegugupannya itu, dinyalakannya cangklongnya. Dihisap-hisapnya. Berkerolok-kerolok suara hisapannya dalam cangklongnya. Kemudian dengan membuang korek apinya, ia memandang lagi ke dalam wajah Kartini, seraya katanya, "Silakan, Tin. Tempat tidurmu sudah menunggu." Sambil berkata demikian, ia membungkuk dengan hormat dibikin-bikin. Membungkuk selaku seorang hamba istana di zamani abad ke-I6 terhadap raja "matahari" Louis XIV. Tertawa ia. Tapi Kartini malah makin gelisah saja. 'Tidak terlalu lat untukmu?" tanya Kartini, seraya hendak bangkit, tapi segera tertunduk kembali, karena didengarnya Anwar berkata, "Aku pun hendak tidur di sini juga, Tin." "Di sini? Di sini di mana?!" tanya Kartini kaget-kaget cemas. "Di sini! (suara pasti, menunjuk dengan cangklongnya ke arah tempat tidur). Sudah kubilang tadi sama jongos, bahwa kamar inntntuk dua orang: aku dengan istriku." Kartini melongo saja. Makin keheran-heranan bercampur cemas. Ragu-ragu, "Kau berolok-olok toh . . ." "Sesungguhnya, Tin! Kenapa berolok-olok?!" Ia lebih mendekati lagi kepada Kartini dengan matanya menyala-nyala seperti tadi. Membungkuk ia seperti hendak mencium pipi Kartini. "Kau gila, War!" kata Kartini setengah berteriak, sambil mengelakkan mulut Anwar yang sudah memoncong itu.

seraya memicingkan matanya sebelah.Tiraikasih website http://kangzusi. Seluruh badannya seakan-akan sudah dibakar oleh api berahi. Dadanya turun-naik. jatuh tersinggung. tapi Kartini bergerinjal-gerinjal seraya mengancam. Dipegangnya tangan Kartini. "War! Anwar. Maka ditariknya tangan Kartini. tiba-tiba dilepaskan kepada betinanya. Tin! Aku cinta kepadamu! Cinta sejak mulai kukenal engkau! Dan itu pun tentu kautahu juga. Dilihatnya Anwar bersinarsinar matanya seperti mata singa yang hendak menerkam. Tapi Kartini lekas berdiri mengelak. yang dalan1 pada itu sudah mundur ke sudut. War? Awas aku akan menjerit minta tolong!" Tapi nafsu berahi Anwar terlalu kuat untuk memperhatikan segala ancaman Kartini itu. Ya aku cinta! Aku cinta!" (suaranya bergetar karena api berahi). Anwar makin bernafsu. insyaflah akan dirimu! Sedadah engkau!" Setengah menangis suara Kartini. Tapi Anwar sudah melonjak rapat ke depan Kartini. Tapi licin seperti belut Kartini bisa melepaskan dirinya serta melompat keluar dari sudut . lalu pinggangnya dipeluknya lagi. dan pinggang yang lesu itu sudah dipeluknya dengan tangannya yang sebelah lagi. "Memang aku tergila-gila kepadamu. Kartini menjadi sangat takut. Kursi menggelotrak. memandang lurus ke dalam mata Kartini yang takut-takut itu.com/ Anwar lurus kembali dengan tersenyum masam. "Kenapa kau begitu. Dan pada saat itu pula kedua belah tangannya tiba-tiba hendak merangkum badan Kartini yang sudah lemas itu. dibarengi oleh suara cangklong yang terjatuh juga di atas lantai. sehingga terkurunglah ia seakan-akan di sana. Bernafsu seperti gurila yang terlalu lama terkurung.

Meloncat ke dalam sebuah delman yang kebetulan lewat ke sana. Orang-orang. di jaman yang lalu kota itu seolah-olah mulai berdandan. Bang! Lekas!" Kusir mencambuk kudanya. Kota Bandung tidak seperti tiga tahun yang lalu. riang terang seperti jambu-jambu api yang makin lama makin terang untuk berbaur pada akhirnya menjadi suatu lautan cahaya yang benderang..Tiraikasih website http://kangzusi. Tar! Tar! Kuda lari di atas aspal dalam malam yang sunyi. seakan-akan manusia bersedia-sedia untuk mulai berjuang membantu Ormuzd. dewa gelap.com/ yang sempit itu. lalu lari keluar. ketika kereta api dari Cibatu masuk. meninggalkan Anwar dalam kamar yang tidak berani terus mengejar keluar kamar. Pada senja hari yang indah seperti itu. mobil-mobil dan kendaraan-kendaraan lain bergerak-gerak. laksana ikan-ikan kecil yang bergerak-gerak di atas dasar . tangannya yang kiri menjewang tas pakaiannya dari lantai. Lampu-lampu listrik di jalan-jalan. Matahari sedang mengundurkan diri. Ke tepak-ketepak! ketepok-ketepok! Seirama dengan tepukan hati Kartini. Ia bergegas keluar hotel. pelan-pelan dan hati-hati seperti pencuri yang hendak menghilang ke dalam gelap.. Ke jalan. di toko-toko dan di rumah-rumah mulai dipasang.. Bagian XV Stasiun Bandung sudah samar-samar diselimuti oleh senja. "Kebon Manggu. dalam perjuangannya yang abadi melawan Ahriman. Kartini bergegas-gegas terus dengan menjinjing tasnya seperti orang yang hendak memburu kereta api. Di mana-mana bola-bola lampu sudah bernyala. dewa terang. Dengan cepat seperti tukang copet.

sehingga tak ada cahaya yang memancar ke pinggir atau ke atas. depan toko-toko yang bermandi cahaya. menyiakkan Fongers. karena wajahnya ditutupi dengan tudung telingkup. di atas aspal hitam itu. yang ragu-ragu pula menyinarkan cahaya kecantikannya. ketika kereta api masuk stasiun sore itu. Tak ada lagi toko-toko yang bermandi cahaya. . Ahriman agaknya sudah bisa melumpuhkan semangat Ormuzd. Willys mengkilap-kilap di atas aspal. Lampunya bergerak-gerak di dalam gelap seperti bola-bola biru menari-nari. melainkan hanya ke bawah saja. bahwa kota Bandung yang mendapat julukan "Paris pulau Jawa". Benar kata orang. Kebaya merah. Tapi lain dulu lain sekarang. Tak ada lagi kendaraankendaraan yang bersim-pang-siur itu. Bandung sekarang seolah-olah sedang berkabung. Lampu-lampu itu pun diselubungi dengan sebuah selubung dari timah sari yang dicat hitam. Kini tak ada lagi lampu-lampu yang terang-benderang itu. Ford. ke atas jalan aspal.com/ segara cahaya. terlihatlah cahaya bulat-bulat seperti bulan purnama yang sedang pudar cahayanya. Tak berani lagi Ormuzd berpesta di kota Bandung. Erskine. Truk-truk yang penuh dengan serdadu-serdadu Jepang mundar-mandir terbang dengan bergemuruh di atas jalan. Beberapa lampu yang jauh-jauh jaraknya terpencil yang satu dari yang lain. stelan gabardin. yang rupanya lekas-lekas hendak pulang. Raleigh. mulai hidup dari jam 6 sore.Tiraikasih website http://kangzusi. Humber dan "mobil-mobil cap kuda" ke pinggir. Dan di sana. Selain truk-truk dan mobil-mobil Jepang yang tidak begitu banyak itu ada juga beberapa delman. sepasang-sepasang. Packard. Tidak demikian halnya. seperti ragu-ragu agaknya memberikan cahayanya. susul-menyusul di atas trotoir. rok kuning. laksana putri Timur. beriring-iring berpapasan.

Tangannya yang menjinjing tas itu melengket. ia pun bergegas-gegas meninggalkan gedung stasiun. Di atas tangga ia berdiri sebentar. Tas pakaian dijinjingnya. Ia terseok-seok terus. melihat ke kiri ke kanan. karena keringat. ia tidak lagi berumah di Lengkong Besar.*Dan kuli tidak ada lagi.Tiraikasih website http://kangzusi. Mencari delman atau becak. Hasan lekas-lekas turun. Dan bersama itu bahunya turun-naik seperti neraca.com/ seperti burung-burung di kala senja buru-buru mencari sarangnya. Sebetulnya ia merasa terlalu lemah dan lemas untuk menempuh jalan ke rumahnya di Tegallega itu. melainkan pindah ke Tegallega"). ngeeeooong! . Terseok-seok ia berjalan. dan mantelnya diselampaikan di atas pundaknya. jalan-jalan itu boleh dibilang sepi sama sekali. terdengarlah tiba-tiba sirene berbunyi. dari tangan kanan ke kiri. Pakaian dalam tasnya serasa sudah menjadi batu semuanya. Kecuali kendaraan-kendaraan tersebut. (Sejak ia bercerai dengan Kartini. Tapi satu dua delman yang ada di halaman sudah diambil orang lain. Karena itu tasnya berpindah-pindah saja. Karena itu Hasan terpaksa berjalan kaki dengan harapan mudahmudahan saja di tengah jalan akan bertemu dengan delman atau becak kosong. Maklumlah. akhir-akhir ini seringkah ada bahaya udara.06) kereta api masuk stasiun.36 (menurut jam Jepang sudah pukul 8. Seperti semua penumpang yang lain. Persis pada persimpangan jalan Suniaraja. Ngeeeoooooong. Jadi sudah mulai gelap. Hari makin gelap. Berkali-kali tersusul oleh orang-orang lain yang lebih cepat jalannya. dari tangan kiri ke kanan. Persis pukul 6.

Tiraikasih website http://kangzusi. Radio umum sudah bungkem juga. Tiap mata mencari lobang perlindungan yang paling dekat. Bung! Lekas berlindung!" teriak seorang keibodan**) dengan picinya dari anyaman bambu. Tidak jadi masuk.com/ "Kusyu keiho! Kusyu keiho!"*) teriak orang-orrng yang pada lari mencari lobang perlindungan. seperti suara gaang dalam tanah yang tiba-tiba berhenti karena mendengar langkah orang. Dengan menyeret-nveret mantelnya yang menyapu jalan. Tiap hati berdebar-debar. Ia bergegas ke sebuah lobang perlindungan yang tidak jauh letaknya dari sana. Sirene menggaung-gaung terus. Seperti ayam-ayam takut elang. jatuh ke bawah. Tiap kaki lari cepat. "Kusyu keiho! Kusyu keiho!" sambung seorang laki-laki yang berteriak-teriak dengan menggunakan sebuah corong pengeras suara. Mencari perlindungan lain. Ia naik sepeda lari ke sana ke mari dengan corong depan mulutnya. Mantelnya mengge-losor dari bahunya. Tapi dilihatnya sudah terlalu penuh. Yang satu lari ke sini. dan memegang senapan dari kayu. Lari ia tidak berani. Hasan bingung. Mati serentak. seperti seekor burung ganjil yang besar patuknya. Dan lampu-lampu sudah padam semua. Napasnya mengkrak-mengkrik. Hasan bergegas lagi mencari perlindungan lain. Orang-orang pada ribut. "Ayo. Dan mobil-mobil serta kendaraan-kendaraan lain sudah . yang satu lari ke sana. Takut akan paru-parunya. Dipungutnya. seolah-olah tertiup semuanya oleh napas sirene yang berputar-putar di udara seperti kincir.

Mas Karto yang lupa akan kusyu keiho lekas membuang rokok kreteknya. Daripada minta-minta kepada Tuhan supaya pada selamat semuanya. . radioradionya. Hasan didorongdorongnya dari belakang. Bungkam. "Kok. ini kok mengepooool saja. Gedung-gedungnya mati. lampu-lampunya. Baru hanya takut mati. Bok Karto mengomel. Hasan sudah berada dalam perlindungan lain.com/ berlindung di tepi-tepi jalan yang tersembunyi tidak terlihat dari udara. sehingga ia tersonggok-songgok makin menyusuk *) Bahaya Udara. wong tua tidak tahu aturan. Ya. Mati. Jalan-jalan mendadak sepi. rumah-rumahnya mati. Hitam. tokotoko-nya mati. Akan tetapi tidak dernikian halnya dengan orang-orangnya.Tiraikasih website http://kangzusi. seorang keibodan yang kerjanya sehari-hari menjadi benatu. kaya bocah cilik saja. **) Penjaga keamanan kampung ke dalam lobang yang gelap itu. nah! Emangnya kita mesti mati semua!" (cara membentak ala Jepang berhamburan dari mulut si Amin). "Masuk terus!" perintah si Amin. mati semua-muanya. Orang-orangnya tidak mati. "Hai! Buang itu rokok! Tidak tahu tidak boleh merokok. Us!" Kemudian bibir perempuan tua itu kernyat kernyit membaca surat fatehah dan kulhu dengan maksud supaya jangan ada bom jatuh ke sana. "Duduk semua!" perintah si Amin pula. mobil-mobilnya mati semua.

Dan dalam ketakutan itu segala dongeng-dongeng dahulu ketika »kecil tentang neraka. jin dan lain-lain itu hidup kembali dalam khayalnya. Dan tiap muka tak bersinar. Ia pun takut mati. karena ia merasa. Masing-masing orang dengan pikirannya sendiri-sendiri. bahwa penyakit paru-parunya sudah makin berat lagi. malaikat. apa bedanya keadaan mereka itu dengan tikustikus yang takut kucing. Memang. atau anak-anak ayam yang takut elang? Mungkin bedanya cuma. Tapi entahlah. Dan dalam ketakutan itu. seperti daun pisang didiang. seperti dalam kuburan. Hasan pun mengucap syukur. Dan orang-orang sudah pada bungkem semuanya. makin hidup pula khayalnya. Hasan merenung-renung. Krikkrik. Makin hidup khayalnya. Asap rokok tidak baik bagi orang tbc. Tapi tiap hati berdenyut seirama: takut mati. Dengan seluruh jiwanya bersujudlah ia kembali kepada Tuhan memohon- . karena kita tidak mengerti bahasa kucing atau bahasa ayam. Berdenyut seirama pula: mohon selamat kepada Tuhan. Mungkin. krik-krik. layu. Hanya sekali-sekali jangkerik mengerik-kerik di bawah bangku perlindungan. Sirene sudah tidak berbunyi lagi. Sebentar kemudian sunyi senyaplah dalam lobang perlindungan itu. Perasaan demikian itu sudah bukan perasaan yang akhir-akhir ini makin sering mengganggu dia. karena mas Karto tidak merokok lagi.Tiraikasih website http://kangzusi. ia merasa bahwa ia hanya sesuatu mahluk yang kecil sekali. yang tidak berdaya apa-apa. seperti mayat dalam kuburan. Sekali-sekali terdengar juga suara bibir Bok Karto mendesis-desis membaca kulhu dan fatehah. makin takut ia. karena ayam atau kucing tidak berdenyut hatinya minta selamat kepada Tuhan. Dan makin takut ia. itu tidak bisa kita kontrol.com/ Hasan duduk di samping Mas Karto.

. Menghawatirkan. Seminggu yang lalu Hasan mendapat telegram dari Garut yang ditandatangani oleh Fatimah. makin tenteramlah ia merasa dalam hatinya. Tiada lama. Sebagai seekor burung yang kedinginan. Timbullah lagi bayangan-bayangan yang melukiskan peristiwa-peristiwa berat dalam hari-hari yang baru lalu itu.Tiraikasih website http://kangzusi. maka perasaan takutnya makin menipis dalam hatinya. Dan Hasan diminta datang. Hasan duduk merunduk di dalam lobang itu. dan sore itu juga berangkatlah ia dengan kereta api yang penghabisan ke halte Wana-raja untuk terus ke Penyeredan dengan naik delman. Lupa ia akan segala ucapan dan ajaran Rusli tentang tidak adanya Tuhan. Di sana diterangkan. Bahkan ia sekarang merasa lebih dekat lagi kepada Tuhan. dan sekarang di dalam lobang itu. bahwa harapan sudah putus sama sekali. berkat kerasnya ia memohon pertolongan Tuhan.com/ mohon kepada-Nya. bahwa Raden Wira sakit keras. Oleh karena itulah maka ibu Hasan menyuruh Fatimah pergi ke Garut menelegram Hasan. Kemarin dokter telah dipanggil dari kota Garut dan dia menyatakan. bahwa Raden Wira sudah sangat repot sakitnya. supaya ia selamat jangan kena bom. Makin keras ia memohon pertolongan kepada Tuhan. Maka Hasan pun hari itu juga minta perlop dari kantornya. sekalipun tidak berarti. Akan tetapi ia termenung-menung terus. supaya ia lekas baik dari sakitnya. bahwa keadaan penyakit Raden Wira itu sangat berat. Sampai di sana ternyatalah.

Tiraikasih website http://kangzusi. Harus baik-baik menjaganya. Mukanya pucat lesi.com/ Pada saat Hasan tiba. Hampir tak dikenalnya lagi ayahnya itu. Kulit mukanya kerisut-kerisut dan sinarnya pudar. kebetulan sekali dokter dari Garut baru saja selesai memeriksa Raden Wira. Alon-alon seraya berjengketjengket. lalu duduk di atas sebuah kursi yang ada di sampingnya. Hasan mendekati tempat tidur ayahnya. Memang sehari-harian itu Raden Wira berkali-kali jatuh pingsan. Amat lesu dan amat tua nampaknya. kira-kira pada pukul 5 sore. Biarpun ditutupi dengan kain batik yang panjang tapi nampaklah kepada Hasan. bahwa tubuh yang tua itu sekarang sudah sangat kurus sekali. Sampai pada ketiak. Ketika Hasan masuk kamar ayahnya.J Dadanya turun-naik. Ia berbaring telentang dengan mukanya lurus ke atas. Mata Hasan menyusur dari wajah ayahnya yang sakit itu ke seluruh badannya. Dengan sayu Hasan menatap wajah ayahnya. Selaku lampu senter mata Hasan menyusur terus. Dari dokter itu Hasan mendengar lagi keterangan. Matanya dan pipinya cekung. seluruh badannya ditutupi dengan sehelai kain batik yang panjang. Dari badan yang kurus kecil itu kepada bantal dan guling yang . Pembuluh-pembuluh darah tegas sekali seperti sungai-sungai dalam peta. bahwa penyakit ayahnya sangat berat. Mulutnya ternganga sedikit. kebiru-biruan di atas warna kulit tangannya yang pucat itu. Rambut dan janggutnya yang tidak terurus lagi itu sudah menjadi putih sama sekali seperti rambut Tagore. Raden Wira masih menutup matanya. Dari lengan bajunya tersembul kedua belah tangannya kurus kering terkatup di atas dadanya. Di antara jari-jarinya terselampai sebuah tasbeh yang panjang hitam.

"Astagfirullah . ya Tuan?!" Hasan terbangun. Dari atas meja. Sebentar kemudian sudah sunyi lagi dalam perlindungan yang gelap itu.. Dos dibukanya: selaku membuka dos korek api. Tiba-tiba Hasan menutupi mukanya dengan kedua belah tangannya. Dari bawah bantal putih itu kelihatan tersempii sebuah buku kecil merah: buku suci Surat Yasin. Dan sejurus kemudian terdengarlah keluhan yang berat melepas dari dadanya mengisi seluruh lobang. lalu ditaruhnya lagi di atas meja.Tiraikasih website http://kangzusi. Dalam sekejap mata Hasan sudah pindah lagi dari kamar ayahnya yang sakit itu ke lobang perlindungan kembali. Masing-masing kembali lagi pada pikirannya sendirisendiri. seolah-olah tidak mau ia melihat sesuatu yang ada di depannya. ketika terdengar di sampingnya suara berat dari Mas Karto yang bertanya itu. Di atas meja itu kelihatan beberapa botol kecil dan sebuah dos beretiket. "Mengapa begini lama. Kedua belah matanya dipejamkannya. Dari kitab suci itu mata Hasan menyusur terus ke atas meja kecil yang ditutupi dengan taplak kain batik yang melukiskan peta dunia dengan tulisan pada pinggirannya "selamat pakai". Di bawah tempat tidur itu kelihatan juga sebuah pedupaan yang masih berkepul-kepul asap kemenyan. Ditutupnya lagi.com/ bersarung putih bersih. kedua senter kecil itu menyusur terus ke bawah tempat tidur yang setengahnya kelihatan dari kursi Hasan oleh karena sepreinya tidak panjang." .. Suaranya mendesis-desis lagi. Etiket itu dibacanya "Raden Wira 3 kali sehari satu puder". Bok Karto asyik lagi membaca kulhu dan alfatihah. "Kenapa si bapa ini cekcok saja!" bentak Bok Karto yang masih asyik membaca-baca kulhu dan alfatihah.

.!" Mengeluh lagi Hasan. Menutupi lagi mukanya dengan tangannya mengusai-usai rambutnya.. janganlah kauganggu aku dalam imanku. "Kau pembunuh ayahmu! Kau pembunuh ayahmu!" Mendesis-desis Menuduh! suara itu dalam hatinya. ialah peristiwa ketika Raden Wira membuka matanya yang lesu. Tangannya menggapai-gapai memberi isyarat kepada Hasan.com/ Orang menyangka. "Kau seorang anak yang durhaka! Seorang anak yang berdosa! Seorang anak yang membunuh ayahnya! Ya.. keluhan orang pun agaknya mudah berjangkit. Dengan menangis tersedu-sedu duduklah ia di atas .Tiraikasih website http://kangzusi. Hasanlah yang paling takut di antara mereka itu. memandang sejenak ke dalam wajah Hasan yang baru dilihatnya itu. Memukul-mukul benaknya. Memandang sejenak untuk menutup kembali. pembunuh! Kau pembunuh! Kau . tapi kemudian berkata setengah berbisik dan terputus-putus. . Dan setelah orang lain reda kembali. Maka dengan menangis terhisak-hisak Hasan pun meninggalkan kamar ayahnya. maka berkeluhlah lagi Hasan. supaya meninggalkan kamarnya. .pula mengeluh seperti Hasan. "Janganlah engkau dekat-dekat kepadaku . Tapi ia tak mau jauh dari kamar itu. Maka orang-orang lain pun turut. agar mudah kutempuh perjalananku ke hadirat-Nya Lambat-lambat ayahnya mengeluarkan kata-katanya itu dengan terputus-putus dan hampir tak kedengaran. Tapi seperti halnya dengan tertawa.. Mendakwa! Terbayang-bayang lagi di dalam mata batinnya peristiwa yang sangat sedih itu. Bergiliran.

Ayahmu cuma ingin tenang menghadapi Tuhan. bahwa selama itu ia telah membikin ayahnya menderita berat. bersender kepada salah sebuah tiang yang menahan atap perlindungan itu. Ayahnya sudah tak ada lagi. laksana burung lepas dari kurungan. Tapi air matanya merembes di antara celah kelopaknya. karena tak tertahan lagi penderitaannya memikirkan pendirianmu yang sesat! Kamu telah ingkar dari agamamu sendiri! Kamu telah pecat dari imanmu kepada Tuhan! Telah murtad! Kafir! Atheis!" Mendesing-desing suara itu..Tiraikasih website http://kangzusi." Tapi dengan demikian kesedihan Hasan itu malah makin menjadi-jadi. Berat benar dakwaan yang selalu terdengar dalam hati kecilnya itu.. Makin lesu ia duduknya. berhubung dengan perselisihan faham yang mengenai kepercayaan agamanya itu. Pedih rasa hatinya bukan terutama oleh karena ia diusir akan tetapi oleh karena insyaflah ia. Sudahlah jangan menangis. menghardik dan mencela habis-habisan.com/ sebuah kursi dekat pintu yang sengaja tidak ditutupkan eraterat olehnya. Ia akan segera sembuh kembali. Hasan memejamkan matanya lagi. "Kamu telah berdosa! Ayahmu sampai mati. Tak lama kemudian terdengarlah olehnya suara napas penghabisan terhembus dari dalam kamar ayahnya .. Tidak berani ia melihat apa-apa lagi. Nak. Hayat telah terbang meninggalkan raga. "Tidak apa-apa. Ibunya mencoba melipurkan kesedihan Hasan itu dengan beberapa ucapan seperti kepada kanak-kanak. seolah-olah dalam lobang perlindungan yang gelap itu ada seorang yang berdiri di depan Hasan. .

Batuk-batuk lagi ia sebentar. Dalam batuk-batuk demikian itu. Dan bagi Hasan mulailah terasa sangat dingin. Hasan batuk-batuk. tapi kenapa dia membenci orang yang berpendirian lain?" Tapi cuma sayup-sayup suara itu terdengar dalam hati Hasan. ia menyinggung sedikit kepada Mas Karto. "Sampai sejauh itu kekejamanmu?! Kamu kan tahu. Dirapatkannya leher mantelnya. Hanya suara Bok Karto masih terus berdesis-desis. Malam makin gelap. . Dan sekilas cuma. Hampir tak terdengar. bahwa ayahmu itu seorang tua yang alim. sehingga Hasan bisa berlindung sedikit di belakangnya. Dan sambil bersilangkan tangan depan dadanya. yang taat kepada Tuhan?" "Kejam?! Kejam kejam?! Tidakkah fanatisme ayahku sendiri yang menghukum dia?! Bukankah selalu ia berkata. Mendesing-desing lagi. Hasan menggigil kedinginan. Oleh karena itu.com/ Angin malam menyisir dingin ke dalam perlindungan. mendesak Hasan lagi. duduklah ia makin merunduk lagj. "Lo gimana ini sih!" bentak Bok Karto lagi kepada suaminya.Tiraikasih website http://kangzusi. Kemudian hening lagi. bahwa agama memerintahkan kepada umatnya supaya saling cintamencintai. mendesak-desak saja! Kiranya aku ini ikan peda yang misti berdempet-dempet di desak-desak? Geser dikit sana! Mas Karto menggeser sedikit. Untung. di sampingnya sebelah kanan duduk Bah Kim Long seorang Cina yang badannya gemuk. Entah berapa ribu kali kulhu sudah dibacanya. maka lekaslah mantelnya dipakainya yang selama itu digunakannya sebagai bantal duduk di atas bangku dari bambu itu.

sehingga ia meninggal karenanya. mulai sekarang kita berpisauan jalan saja. Kemudian tempat kuburannya di atas sebuah bukit kecil.Tiraikasih website http://kangzusi. yang tidak sehat lagi otaknya?! Itu cuma kesombongan! Tahu!" Mendesing-desing semua itu! Memusingkan kepalanya. Tanah muda agak merah yang baru dipacul dengan dua papan yang . sehingga berani bermulut lancang. jin. Menutup lagi matanya dengan kedua belah tangannya. seolah-olah kau ini orang yang paling pinter. bahwa Tuhan yang dipujanya itu tidak ada! Bahwa yang ada itu hanya khayal manusia belaka. menyatakan kepada ayahmu yang kau tahu menjunjung tinggi nama Tuhan. Tidakkah itu berarti. si Anwar itulah yang menyesatkan daku! . mambang dan lain-lain. tapi aku sendiri pun bodoh. seakan-akan bayangan batin bisa mati dengan menutupi mata jasmaninya..com/ Maka terbayang-bayanglah lagi peristiwa dahulu." Hasan makin gelisah lagi duduknya. "Tapi kau sebagai seorang anak harus menghormati orang tuamu sendiri. di bawah sebatang pohon kemboja yang masih muda. bahwa kamu itu sudah menganggap kepada orang tuamu sebagai orang-orang yang mimpi. Ya.. karena aku selalu mudah dipengaruhi dan tak sanggup membikin keyakinan sendiri yang kukuh kuat!" Tegaslah terbayang-bayang kemudian tubuh ayahnya yang tak berhayat lagi telentang di hadapan mata batinnya. Ya. Kesombonganmu sudah melukai hatinya. Aku bodoh. "Ya. Muncullah lagi kenangan kepada kejadian di kuburan Emban Jambrong. ketika ayahnya berkata kepadanya. seperti juga halnya dengan hantu. itu cuma kesombonganmu belaka! Sombong. "Baiklah. yang paling tahu..

maka Tuhan pun akan habislah riwayatnya. Kalau Tuhan betul bikinan khayal manusia. minotaurus dan lain-lain. Fatimah masih ada. mungkin akan lampus juga dari dunia ini? Mengapa tidak mungkin? Apalagi kalau kita melihat gelagatnya sekarang. Tidakkah manusia itu pun seperti mahluk-mahluk lainnya pula. Ayahnya kini tak ada lagi. yang sudah tidak ada lagi jenis atau keturunannya pada jaman sekarang? Dan bukankah manusia pun. kalau mahluk yang dinamai "manusia" itu sekali kelak sudah tidak ada lagi dari dunia ini.Tiraikasih website http://kangzusi. menurut ilmu pengetahuan adalah termasuk suatu jenis binatang juga? Jenis binatang yang menyusui? Dan andai kata. Terang. bahwa Tuhan pun akan . seperti kata Rusli dan Anwar. mengkilatlah suatu pikiran yang terang dan tegas dalam hati Hasan. Tiba-tiba seperti halilintar menggores langit. jenis manusia itu pada suatu saat sudah lampus sama sekali dari dunia seperti mammouth dan minotaurus. Dan di antara kedua papan tetengger itu bunga rampai bertaburan. terang sekali seakan-akan pikirannya. seakan-akan sinar ilham yang terang benderang menyiakkan tabir gelap dalam jiwa yang bimbang. Hasan menyapu air matanya. bahwa sekarang sudah banyak binatangbinatang yang sudah lampus.com/ terpancang bertentang-tentangan dalam tanah. yang tiada hentinya menunjukkan umat manusia yang saling bunuh. apakah dengan hal itu berartilah pula. seperti mommouth. masih hidup. saling basmi terus-menerus?! Dan tidakkah ilmu pengetahuan menunjukkan. "Ayah sudah tidak ada lagi. ibu. Pada yang satu tertulis dengan ter hitam dalam huruf Arab: nama Raden Wira dan tanggal meninggalnya. Sedang dekat tetengger kaki sebuah pedupaan. Berpikirlah ia. misalnya saja binatang-binatang dari jaman prasejarah. Menyingsring-nyingsring ke dalam sapu tangannya. Tapi aku.

bahwa Tuhan itu akan terus ada? Terus ada sebagai Pencipta Alam Semesta yang tidak turut pula lampus bersama dengan lam-pusnya jenis manusia. . kenapa hal ini sampai tidak terpikirkan olehku dulu?!" Tiba-tiba Hasan menegakkan dirinya. seperti halnya juga dengan aku. Perempuan tua itu segera diam sebentar dengan desis-desisnya." dan lain-lain. Gemas ia! Maka terbayangbayanglah lagi wajah Anwar dengan jilatan matanya yang penuh dengan nafsu berahi terhadap istrinya. yang selama itu bersilang di atas dadanya. biarpun ayah sudah meninggal? Jadi dengan sendirinya.com/ habiskah riwayatnya. si Anwar dan si Ruslilah yang sudah menyesatkan daku! Mereka yang membikin aku berbentrokan dengan ayahku sendiri! Ya. bahwa Tuhan pun akan turut tidak ada lagi bersama-sama dengan jenis manusia itu? Tidakkah malah lebih masuk di akal. ucapan yang mengatakan bahwa Tuhan itu adalah bikinan manusia.. Tapi tangannya berkepal. "Ya. ibu dan Fatimah yang masih terus ada dan hidup. Kedua belah tangannya. tapi sejurus kemudian terus lagi ia dengan. Tidak boleh aku terima! Ya. mereka yang terkutuk! Mereka yang harus kuhancurkan!" Tangan Hasan yang kurus kering itu berkepal-kepal dan me-ninju-ninju pahanya sendiri. dan giginya-berderik-derik. Hasan kembali lagi kepada sikap seperti bermula. melainkan meluruskan pinggangnya dengan membusungkan sedikit dadanya. selaku orang yang merasa terdesak-desak mau menyiakkan khalayak ke pinggir. Dalam gerak-geriknya itu ia sedikit menyinggung lagi Mas Karto yang berkisar lagi duduknya mendesak Bok Karto. Tidak bersender lagi kepada tiang. . Melengkung lagi pinggangnya. kini menganjur lepas. "allahuma ssoliala . tidak bisa aku terima. Terbayangbayang lagi khayal tentang perhubungan Anwar dengan .Tiraikasih website http://kangzusi.

Tapi dengan sekuat tenaga ia mau menenangkan hatinya. seorang anak yang murtad. memang aku sudah bersalah. berada di atas gumpalan mega. aku terima segala dosaku. Serasa terbakar oleh api neraka! Berputar-putar segala dalam kepalanya. "Ya.. Etc.Tiraikasih website http://kangzusi.. .com/ istrinya di belakang punggungnya. Maka Pada akhirnya dengan tak diinsyafi. tidak dengan diinsyafinya lagi sudah berderai-derai di atas pipinya. Air matanya yang selama itu ditekan-tekannya.?" "Bagaimana hendak kutebus dosaku? Bagaimana hendak kubuktikan kesalahan hatiku terhadap segala perbuatanku terhadap ayahku itu? Bagaimana. "Bagaimana hendak kutebus dosaku? Di manakah ayahku sekarang? " Pernah Hasan melihat gambar Yesus yang dilingkari kepalanya dengan bulatan cahaya. etc.." Tak tahan lagi ia. "Si Anwar! Cih!" Panas rasanya dalam dadanya. .... seorang pembu . Serasa-rasa mau lari ia! Entah ke mana! Serasa-rasa mau menjerit-jerit pula! Entah untuk apa! Terasa olehnya air mata mencekik lehernya.. berjatuhan ke atas pangkuannya.?" . pi langit. kalau ia sedang di kantor. sayup-sayup terbayang-bayanglah pula ayahnya pun perada di atas gumpalan mega seperti itu. Memang aku adalah seorang anak yang durhaka... Beberapa kali ia menarik napas panjang.

Hasan teringat lagi kepada Tuhan. Bersoal-soal Hasan dalam hatinya sendiri. Makin lama. Demikianlah seperti cecak di belakang sebuah jeruk Bali yang kuning matang. Ia batuk-batuk lagi. Tapi belum juga "aman kembali". Dan tiap kali ia batuk menimbulkan perasaan yang kurang enak dan gelisah kepada orang-orang yang berada dalam lobang itu. Terasa olehnya. Berkali-kali ia batuk lagi. Tasbeh dipetik-petik terus. maka leher mantelnya ditariknya lebih ke atas lagi.. Makin lama.Tiraikasih website http://kangzusi. bahwa ia makin pucat. kalau ia sedang berzikir. Maka sekarang pun berzikirlah pula ia dalam hatinya. Bergema suaranya dalam lobang. Ditambah lagi dengan angin dingin yang tajam menyisir ke dalam lobang.. Pada yang satu seolah-olah takut ketularan oleh penyakit Hasan. Dalam pada itu dunia sudah satu jam lagi bertambah tua. makin cepat: Allahu Allahu Allah. sehingga kepalanya tenggelam di dalamnya. Ia mencengkungkan lagi badannya lebih menyusuk di belakang Babah Kim Long yang amat gemuk itu. Pada .com/ Demikianlah beberapa jurus. Mungkin ia hanya ber-desis-desis dalam hatinya saja. Persis seperti dulu ia biasa berlaku. Hasan berlindung di belakang Bah Kim Long itu. jari-jari Hasan sudah memetik-metik lagi tasbeh yang pernah dipegang oleh ayahnya ketika ia melepaskan napas penghabisannya. Sudah capek rupanya. Pada akhirnya dengan tak diinsyafi benar. Batuknya kosong. Sungguh tidak enak dingin itu terasa oleh Hasan. Karena angin amat derasnya. Makin sunyi dalam perlindungan. Malam makin dingin. makin cepat. Bok Karto sudah tidak berdesis-desis lagi. Mungkin juga ngantuk... Kosong seperti suara batuk dalam kaleng. Bersujud lagi ia dalam hatinya kehadirat-Nya dengan ketaatan dan kemesraan seperti dulu.

tangannya yang sedang memegang sisig mencakar muka sang babah juara tidur itu. Hanya Bah Kim Long yang tak acuh.. Karena tercakar mukanya demikian barulah Bah Kim Long mengangkat tulang dan dagingnya yang 90 kilo itu beratnya. sehingga mereka akan jatuhkan bomnya ke sana. Kecuali Bah Kim Long yang masih mendengkur.. ngeeeooongng .. Tiba-tiba: ngeeeoongng. Hanya bagi Hasan semua itu tidak memberi perbedaan perasaan benar.... Ada Tuan! Ada! Mari ikut saja Tuan!" .. Menghirup udara nyaman di luar. orang-orang bangkit serempak dari duduknya. Ngeeooongngng. ^ Dan seolah-olah atas suatu komando. karena ia sudah terjatuh ke dalam mimpi. Lampu-lampu yang dibatasi itu.Tiraikasih website http://kangzusi. Tiap hati merasa lega kembali.. Seolah-olah bersorak karena riangnya. 2 "Satu kamar untuk satu orang?! .com/ yang satu lagi seolah-olah batuknya itu akan terdengar oleh musuh. Terseok-seok ia melanjutkan perjalanannya . Ia sudah mulai mendengkur. Dan jeruk Bali itu baru bangun terperanjat.. ketika Bok Karto dalam gelap tersandung kakinya dan dalam mencari sesuatu pegangan supaya jangan jatuh. serempak terang kembali. lalu bergontai-gontai keluar lobang sambil berkutukkutuk dalam mulut. karena cepah merah mencofengi mukanya yang kuning itu. Alhamdulillah! Tiap napas lega lagi.

Orang-orang masih pada ribut. Hasan duduk dengan kepalanya terkulai. . Tuan. Memang Hasan merasa terlalu lesu. Terseok-seok menyeret kakinya. Tuan?" Hasan mengangguk lemah. karena baru saja kembali dari lobang perlindungan. Karena itulah maka ia masuk ke sebuah penginapan yang tidak jauh letaknya dari tempat perlindungan itu. bercampur pula dengan suara langkah kaki-kaki berketepak-ketepok di atas lantai. menggelebruk atau menggeret." kata Amat sambil menaruh tas Hasan di atas meja yang dihadapinya. Sangat berbahaya bagi penyakit dadanya. seakan-akan baru mendaki ia ke atas sebuah bukit. selesu Hasan berjalan. Capek benar ia.com/ Hasan mengikuti jongos Amat yang menjinjing tas pakaiannya. Trak! Lampunya dinyalakan.Tiraikasih website http://kangzusi. Mengeluh berat. dan sekali-sekali suara pintu ditutup dan dibuka. Bisa pakai. Suaranya bercerecet-cerecet seperti di pasar burung. "Bisa tuan pakai kamar ini? Yang lain tidak ada lagi. Ia menjatuhkan diri ke atas sebuah kursi yang sudah goyah." (lalu pergi keluar). "Ini Tuan punya kopor. Selincah jongos itu bergerak. "Nah ini kamarnya. Sudah penuh semuanya. terlalu lemah untuk terus pulang ke rumahnya. yang berangka 8 di atas daunnya yang sudah kumal dan retak-retak catnya. "Permisi sebentar. Apa lagi angin malam yang dingin itu sangat tajam mengiris kulit. Tuan. Masuk." kata Amat sambil membuka pintunya. Suara perempuan bercampur dengan suara laki-laki.

Agak heran ia rupanya. Kemudian jongos yang lincah itu hendak keluar lagi. Amat keluar.Tiraikasih website http://kangzusi. bahwa buku itu harus ditaroh di atas tas pakaian yang dihadapinya. "Tarohlah saja dulu di sana. menoleh dulu ia sebentar dengan ekor matanya ke arah Hasan. ia menoleh kembali ke arah Hasan. Tapi kadang-kadang terdengar juga orang tertawa berderai-derai. Tidak lama Amat sudah kembali pula mengepit sebuah buku besar: buku tamu yang harus diisi oleh Hasan. "Ini bakiak dan air teh." kata Hasan lesu. Tuan. Tapi sampai di depan pintu. Dari gerak matanya dan mimik wajahnya. "atau kalah main rupanya!" (Amat suka sekali main keplek dengan teman-temannya supir atau tukang beca). Uapnya putih tipis laksana sutra meriak-riak di atas air yang jernih kekuning-kuningan warnanya. "Sakitkah ia?" pikirnya. Hasan masih merasa terlalu lesu untuk bicara. seraya katanya dengan mimik yang penuh arti serta . Sebentar kemudian Amat masuk lagi ke kamar Hasan membawa sepasang bakiak dan semangkok air teh panas. Sebelum menutup pintu. melihat Hasan merunduk saja itu. Amat mengerti. Suaranya hampir berbisik." kata Amat. di sisi tas pakaian. Maklumlah mereka itu semuanya tamu-tamu penginapan. Bakiak ditaruhnya di bawah kursi dan air teh di atas meja. Hasan mengangguk. Hampir semuanya orang-orang itu menjinjing atau men-gendong kopornya. yang dibawanya turut mengumpat ke dalam perlindungan.com/ Pada umumnya orang-orang itu masih murung dalam tekanan takut.

meninggalkan Hasan seorang diri. "Kalau perlu ada banyak. Kemudian hening kembali. mengangkat bahu. Tuan. Dan kemudian pula1 suara letusan tertawa dari dua mulut. Baru cerai dari lakinya. Orang-orang di luar tidak riuh lagi. Lantas membuka tasnya. Tuan?" Hasan menggelengkan kepala. Mengambil piyama. Menggeliat sedikit. Kemudian suara laki-laki. Hasan membuka mantelnya.com/ memegang knop pintu. Jari-jarinya bertepuk-tepuk di muka mulutnya yang melongo. Mantelnya kemudian dipakainya lagi. Lalu pergi.Tiraikasih website http://kangzusi. "Karena kalah maen. Mau yang muda ada. Menggeliat lagi. Selain dari itu lehernya diikat pula dengan halsduknya. Bakiak menggantikan sepatu. Menguap beberapa kali. Malah ehm. Mau laki-laki ada. ada yang baru Tuan. sepatunya. Begitu pula kaos kakinya tidak dicopotnya. Suara kecil menghihi-hihi berbaur dengan suara besar menghaha-haha. 'Tidak!" kata Hasan dengan pendek. Dipakainya. Dia begini Tuan!" (mengajukan jempolnya). Tangan kirinya bergerak-gerak memberi isyarat kesal. Amat tertawa agak kemaki-maluan. Tidak perlu dipijat. Beberapa sudah dikunci. ia mengharap akan bisa tidur nyenyak. Dengan begitu. Di kamar sebelah terdengar seorang perempuan bernyanyi kecil. Menguap. 'Tuan sakit rupanya. Sudah pada masuk ke kamarnya masing-masing. Mau perempuan ada. bajunya. Mau yang tua ada. tidak ada nafsu dia!" pikirnya. . Baru saja datang dari kampung.

" Hasan termenung sebentar. tanggal 15 Februari. maka dengan tak ada maksud tertentu dibuka-bukanyalah lagi lembaranlembaran buku tebal itu. pedagang.. Namanya pun bermacam-macam... Begitu pula dengan tanda tangannya. Setelah beres ia mengisi segala keterangan. Anwar? Anwar dan istri? . Ada yang jelas bisa dibaca ada yang seperti tumpukan kayu bakar.. ada yang mereng-mencong seperti tulisan juru tulis pegadaian atau dokter. Bertanya-tanya dalam hatinya: "Anwar? . kamar nomor 8... tidak ragu! Tapi kenapa ditulisnya "dengan istri" itu? Setahuku ia belum kawin. yang sangat lepas. Duduk lagi di atas kursinya. untuk beberapa malam.. Memang ia adalah orang* yang mempunyai pendirian yang aneh. Tapi . ia hendak mengisi buku tamu dulu. ada Tan Tjong Seng. ada Bafagih. Ya. ada Tatang. hendak ke Tasikmalaya. Suka rupanya ia membaca-baca apa yang tertulis dalamnya itu. atau rumpunan rumput.com/ Tapi sebelum meletakkan badannya di atas tempat tidur. betapa bermacam-macamnya pikiran dan soal-soal yang memusingkan kepalanya masing-masing! Wah! Hasan membuka-buka terus seperti seorang gadis membuka-buka sebuah album teman sekolahnya. aku tidak ragu lagi. Ada Rivai. Masih bujang.. Ya ini tulisan Anwar? Tan datangan Anwar! Ya. dan banyak lagi. Buku tamu dibuka-bukanya. dari Jakarta. ya barangkali. tentang soal-soal . Kalau diketahui.. Ada yang bagus seperti tulisan guru sekolah rendah. ya ya mungkin itu mungkin sekali. Nama pakai Achmad atau Mohammad paling banyak.Tiraikasih website http://kangzusi. Tiba-tiba terpancanglah matanya kepada suatu nama yang tertulis di atas halaman bani dengan huruf yang bagus: "Anwar dengan istri. terlalu lepas.

dan seniman pula. bahwa pada umumnya perempuan-perempuan itu terpaksa harus menjual dirinya untuk mencari sesuap nasi semata-mata. Hasan menggigil. karena tiap kali ia harus bersandiwara. "seorang terpelajar seperti dia. belum tersepuh dengan segala kepalsuan yang ada pada apa yang dinamakan peradaban atau kesusilaan yang pura-pura suci itu!" Begitulah katanya. "Bagaimana mungkin. "Dat is het echte leven!" katanya." begitulah pikirnya. anak seorang administratur dari salah sebuah onderneming?" Terdengar lagi dari kamar sebelah perempuan dan laki-laki tadi tertawa. melainkan tentu hanya merasa sebal belaka? Dan dalam kepalsuan justru ada pada cabo-cabo itu. "itulah hidup yang sebenarnya! Lepas-bebas. Anwar itu dulu ketika di HBS*) dipecat dari sekolahnya. sampai bisa berpendapat sepicik itu? Tidakkah terinsyafi olehnya penderitaan-penderitaan yang harus dialami oleh kurbankurban masyarakat itu? Kurban-kurban masyarakat yang sudah begitu jauh jatuhnya ke dalam jurang kesengsaraan? Tidakkah terinsyafi olehnya. tidak mungkin bisa merasakan kenikmatannya. karena ia berbuat yang tidak senonoh dengan seorang gadis Belanda. Dan cetusan tertawa itu menimbulkan sesuatu lukisan dalam khayal Hasan: Anwar dengan seorang perempuan itu. Masih ingat pula Hasan tentang pendapat Anwar yang mengenai soal percabulan. Bukankah kata Rusli.Tiraikasih website http://kangzusi. Bahwa mereka itu sesungguhnya korban stelsel kapitalisme yang terkutuk itu. Sembarang perempuan jalang saja barangkali.com/ perempuan dan kesusilaan. pura-pura cinta . seperti kata Rusli? Bahwa mereka itu. Menggeleng-geleng kepalanya. yang setiap malam harus meladeni kadang-kadang sampai belasan orang laki-laki yang pada melepaskan nafsu-hewaninya.

com/ untuk membangkitkan hawa nafsu si pembelinya itu. Melihat pintu yang sudah tua itu. Angka 8 seolah-olah mengambung-ngembung di atas air yang keruh kehijauhijauan. sebetulnya masih ada lagi yang juga merupakan Saksi Mutlak seperti Tuhan dan aku itu. apa sebetulnya yang dimaksudkan dengan het leven itu?!" *) Hogere Burger School = Sekolah Menengah Atas. bahwa Dia bersama aku turut pula menyaksikan segala yang pernah atau sedang terjadi dalam kamar ini. Hasan mengangkat kepalanya. maka itu berarti pula. aku tidak mengerti. Catnya sudah kumal. Dan hidup semacam itu yang penuh dengan kekotoran dan kepalsuan itu. Tapi tidak. Kejujuran yang pada dasarnya ada dalam tiaptiap hati manusia. betapa tuanya sudah pintu itu. Cuma yang di muka ditulis dengan cat." tentu sudah banyak pengalaman sudah banyak penglihatanmu! Sudah banyak yang telah kau saksikan!" Maka seolah-olah menyahutlah pintu itu. "Banyak. Hasan hanyutlah dengan khayal seperti kanak-kanak lagi yang bercakap-cakap dengan sesuatu benda.Tiraikasih website http://kangzusi. maka dalam hal ini. . selain daripada melalui diriku ini. ialah kejujuran yang ada dalam hati orang-orang yang bersangkutan. Dilihatnya. berbintik-bintik. retak-retak. Nampak pula kepadanya. "Kau sudah tua amat. banyak sekali yang telah kusaksikan selama hidupku ini! Dan kalau Tuhan itu betul Maha Mengetahui. Alhasil. tapi pun juga penuh dengan kesedihan dan kesengsaraan. oleh si Anwar dianggap sebagai "het echte leven!" Entahlah. maka Tuhan itu melihat juga melalui kejujuran hati manusia. tak adalah Saksi Mutlak selain daripada Tuhan dan aku sendiri. Menatap pintu. bahwa pada daun pintu itu ada lagi angka 8 seperti pada bagian mukanya. Dengan demikian. sedang yang ini hanya dengan kapur biasa saja." katanya dalam hati kepada pintu itu.

... Meramalkan taufan akan mengamuk! Tinjunya menepuk meja "Gila dia! Zinah dia! .. Tanggal 15 Februari!" Hasan menggigit potlot yang baru dipakainya. "Siapa perempuan itu?.. tidak bernyawa. kenapakah manusia suka membikin kedua Saksi Mutlak itu menjadi seperti aku juga. 15 Februari?! Jadi dua bulan yang lalu kira-kira?!" Tiba-tiba buku dikatupkannya. Orang-orang semacam Anwar! Ya.. Tapi ah. Tapi kenapa tidak Kenapa tidak mungkin?! Kenapa tidak mungkin?!" . 'Tanggal 15 Februari!. hanya Tuhan dan kejujuran hati manusialah yang bisa dianggap sebagai dua-duanya saksi mutlak dalam tiap-tiap kejadian yang mengenai dirinya sendiri.... Pak! Nyamuk menguingnguing ketakutan. potlot di antara giginya..Tiraikasih website http://kangzusi. He . Mendung hitam-hitam bergayut tiba-tiba pada wajah Hasan. Berkeluh ia sambil mencela orang-orang yang suka berzinah....?" Mengeluh Hasan... Tapi mungkinkah itu? Mungkinkah?! (menderu-deru dalam kepalanya) "Mungkinkah? mungkin?! Mungkinkah? . suatu benda yang mati...com/ Cuma alangkah sayangnya karena aku ini hanya berupa sepotong benda yang tidak berhayat.... sehingga tidak bisa aku berlaku seperti saksi yang hidup. Berputarputar.. yang tiada hidup. Maka karena demikian. kembalilah ia kepada Anwar.. mengeluarkan keluhan pintu itu. seakan-akan ia mewakili pintu.

Melihat jongos masuk. Berbalik ia. Berdiri. "Hai Bung!" Amat terkejut. lalu lekas-lekas mengepit bukunya hendak pergi... Diam beberapa jurus. Giginya berderik-derik.. Di kamar sebelah terdengar lagi suara orang-orang tertawa. Sedikit ragu.com/ Gemetar seluruh badannya." kata Hasan.. . Amat berdiri sedikit^elisah. Menggigit potlotnya lagi. "Ada yang mau saya tanyakan kepadamu. Amat masuk hendak mengambil buku tamu kembali.Tiraikasih website http://kangzusi. makin sesak dadanya. Tidak lanjut bicaranya. setelah jongos dibiarkannya beberapa jurus berdiri di depannya. Darahnya yang tadi beku itu sekarang seolah-olah bergolak-golak. Tak tahan lagi ia. mendidih berceridisceridis seperti air dalam kancah. Makin riuh. Membikin Hasan makin pusing. Menggaruk pipinya dengan telunjuknya." Tertegun Hasan.. Tangannya yang lemah itu serasa menjadi kuat. Heran bercampur takut.. Merasa takut. Buku segera dikasih-kannya kepada Amat. Tapi baru saja dua langkah didengarnya Hasan berseru. Sambil mengangguk menjilat ekor matanya ke dalam wajah Hasan yang mendung itu. "Ada yang. yang kukunya lebih panjang dari kuku jari-jari yang lain. "Terima kasih. Kuat lagi." kata Amat mengangguk. Mengernyit keningnya. Bukunya hampir menggelosor hendak jatuh. Hasan agak tersedar kembali.. Panas. Menimbulkan bayang-bayang khayal yang makin jelas.

Mendesis-desis bibirnya.. "Anwar? Tanggal 15 Februari .?" Amat mengernyitkan keningnya.. seperti ayam sedang minum. Lehernya memanjang seperti hendak bercukur jenggot..... kamar delapan.. "Lima belasss Anwarrr.. Katanya buruburu.. yang sedang dipidatokan oleh orang yang belum biasa berpidato di muka umum...... selaku anak kecil yang belajar mengaji alip-ba-ta... Kamar 8 .. Hasan menjangkau buku-buku dari kepitannya.Tiraikasih website http://kangzusi. Mengingat-ingat.com/ Pada akhirnya berkatalah pula Hasan. "Nah.. ... seolah-olah takut lupa lagi.. Tibatiba berseri-seri seperti anak sekolah mendapat jalan untuk menyelesaikan sesuatu hitungan yang sulit. "Barangkali (ragu) barangkali.. "O tentu! Tentu! Tentu saya Mengingat-ingat. Engkau barangkali masih ingat kepada orang yang menandatangani ini?" Jongos membungkuk sedikit ke atas buku-tamu itu... Tapi apa yang diingat-ingatnya itu sebetulnya ia tidak tahu. Pebruawarri .!" kata Hasan seraya mengetuk-ngetuk dengan potlotnya ke atas nama "Anwar"... Agak cepat ia bisa mendapatkan halaman yang dicarinya. Dikepitnya lembaran itu dengan telunjuk dan ibu-jari tangan kirinya... Gemetar lembaran itu seperti selembar pidato. Membaca alon-alon." Menengadah sebentar.. Ia mengernyitkan lagi keningnya.masih ingat engkau barang dua bulan yang lalu... Dibukanya.?" Lambat-lambat telunjuknya menyuruh huruf-huruf.

Potongan badannya langsing seperti. maunya tetap bercerita. Tuan! (mengacungkan lagi jempolnya). Tuan! Ia begini. Di atas bibirnya ada sebuah tai lalat (tak! ujung kuku telunjuknya mengetik di atas bibirnya).. Tuan! Ya. terloncatlah juga suatu pertanyaan dari mulutnya. Mengeluh berat. Tuan. Serasa gondok ia dalam kerongkongannya. Rambutnya ikal "mengombak banyu" (tangannya melukiskan ombak). Sekali bercerita. ya. Dalam pada itu Hasan melenguk saja seperti si pungguk kena pukul. ia terlalu cantik buat dia!" Lincah sekali tangan dan mata Amat bergerak-gerak.Tiraikasih website http://kangzusi. "Istrinya sangat cantik. Ia sangat pandai bercerita dan suka sekali bercerita. Tidak sangsi lagi ia! "Kartini perempuan itu! Kartini! Istriku!" Tapi biarpun "Tidak sangsi lagi" itu.com/ ingat. saya ingat. ia begini. Sungguh mati. "Bagaimana pakaian perempuan itu?" "Wah tentu saja itu pun saya masih ingat juga! Pakaiannya pun begini. selincah lidahnya juga. seakan-akan mau melongsongkan sedikit jalan hawa dari dadanya.. Amat memang pernah jadi tukang jual obat keliling). Tuan! (mengacungkan lagi jempolnya). Habis deh! . Berceritalah Amat tentang segala apa yang telah dilihat dan didengarnya. Tuan!" (mengangguk-n ganggu k). Dan matanya. wah hebat! Berkilau-kilau seperti biduri (kelima jarinya kembang-kempit). (kedua belah tangannya membikin lukisan seperti biola di udara).. Tuan! (mengajukan jempolnya). (Sebelum menjadi jongos. Pendek kata.

'Tapi entahlah. kedua belah tangannya sudah berkepal-kepal. Tuan?!. bukan begitu Tuan? Uang tidak ada tenaganya! Uang Jepang sih..Tiraikasih website http://kangzusi.. Bibirnya rapat terkatup..... saya kurang mengerti." Hasan masih melengguk saja... Maklum sekarang uang "kompos". Sutra kuning dengan sebuah bunga merah yang besar dibordelkan di atas dadanya sebelah kiri. memanggil delman. entah... Sekali mendengarkan tetap mendengarkan.. Begitulah seolah-olah perjanjian antara kedua orang itu... Pipinya bergeletar... Tuan. lalu pergi dengan delman itu Tuan?!....... Apa yang kemudian terjadi. Amarah sudah .. Beberapa jurus kemudiah pergi juga ia dengan clela-clili seperti kucing yang tidak hasil mencari daging. Tapi dengan tidak diinsyafinya.. Tuan.. Tuan! Wah berapa harganya sekarang ya?! Rasanya paling sedikit toh masih 800 rupiah (setengah berbisik lagi).Aduh.." Bum!!! Cukuplah! Hasan sudah yakin! Tidak syak lagi! Tapi sekali bercerita.. kainnya bukan main... Perempuan itu kedengaran memekik-mekik dan menyentak-nyentak dan tak lama kemudian ia keluar menjinjing tas pakaiannya. "Jawa Baru". Dan Sang Arjuna. si lakinya itu amat kumal!..com/ Wah dibanding dia. Sebab saya tiba-tiba mendengar dalam kamar itu cekcok. bergegas ke jalan besar.! Dan kebayanya. ke mana.. tetap bercerita.

. Bergegas terus.. Tiba-tiba jongos disiakkannya ke pinggir... di kamar ini! Kamar 8!" Bum!!! Hasan tak tahan lagi... Seperti kucing garong yang hendak menerkam mangsanya. Cepat! Cepat! "Kaubiarkan begitu saja? Kaubiarkan begitu saja? Tidakkah kau merasa terhina?! Kaubiarkan begitu saja?! Kau. Panas seluruh badannya.. Ia bergegas terus dengan dadanya berat turun-naik. setengah lari ke luar hotel.. badannya seolah-olah mengembung tinggi.. Gelap! Gelap tiba-tiba bagi Hasan.... bakiak yang copot dari kakinya. ke atas trottoir...... Mungkin perempuan itu pun perempuan yang punya laki juga..... Tidak melihat ke kiri ke kanan.com/ menjadi-jadi dalam hatinya..?!" . Tidak perduli apa yang dilaluinya. Tidak melihat apa-apa lagi.. Ia seperti didorong oleh suatu tenaga yang gaib.. Segala serba kabur. "Dan mereka berdua itu telah menghina engkau dalam kamar ini juga..Tiraikasih website http://kangzusi. ia bangkit dengan tiba-tiba. Kau. Dengan menepuk meja. lalu bergegaslah ia ke luar.. Ia menjadi kuat untuk berjalan cepat. Kau.. mereka sedang bercumbucumbuan. dalam n alam yang setengah gelap... Mual! Sebal! Hahaha! Ihi-ihi! Terdengar lagi tertawa laki-laki dan perempuan di kamar sebelah.. Bergegas. Bergegas. yang menguasainya seluruhnya. ke jalan besar ... ya. Berkelatak suara.. Ya..

com/ Suara itu mendesing-desing seperti radio tidak tepat kena stasiun. ngeeeooognng.... ngeeeooong .Tiraikasih website http://kangzusi. Tanda bahaya udara. Atas nama semua itu kau harus membalas dendam! Harus kauhancurkan si pelanggar hukum semua itu...! . memukul-mukul seperti cambuk memukul kuda.." Hasan lari terus! Lari terkapah-kapah! Napasnya mengapmengap...?! Kaubiarkan begitu saja?" Makin cepat makin bergegas! Cepat! Cepat! "Kaubiarkan begitu saja . ngeeeooongng.. "Sedang Hamlet si Tukang Sangsi itu...?! Sudah lupa akan ajaran agama... Tapi ia lari terus.. Hasan agak mengeram larinya.. Sirene tiba-tiba berbunyi..."Kusyu Keiho! Kusyu Keiho! Lampu! Lampu Padam!" ngeeeooongng. Hasan sudah lupa akan dirinya sendiri... akan ajaran Tuhan.. Ia bergegas terus! Bergegas terus! "Kaubiarkan begitu saja . ngeeeoooongng. Kesusilaan . pada akhirnya membalas juga! Karena tak mau ia dihina-hina! To be or not to be! To kill or not kill! And he kills! He kills! And you?! You?!" Ngeeooogng. "Kaubiarkan begitu saja...... lupa apa yang ada sekelilingnya. akan ajaran Kemanusiaan.?! "Kusyu Keiho! Kusyu keiho!" Seorang keibodan berteriak-teriak sambil lari ke sana ke mari dengan corong pengeras suara.. "Kau harus membalas dendam! Hancurkan dia! Basmi dia!" Mendesing-desing terus suara itu! Berputar-putar solah-olah bumi.

Memukul-mukul terus... Badan yang lemah itu berguling-guling sebentar di atas aspal. la bergegas terus.. Tidak peduli orang-orang pada berlindung. Orang-orang berlari-larian mencari perlindungan. lampu-lampu semuanya padam. Peluru senapan menembus daging pahanya sebelah kiri. Gelita turun menyelimuti kota. Gelap! Gelap baginya! Ia bergegas terus. tak henti-hentinya seperti bedug pada malam Lebaran. Tidak peduli ada bahaya udara.. Kemudian dengan bibir melepas kata "Allahu Akbar". maka ia pun larilah lagi. Hasan tertegun sebentar... "Mata-mata ya! Mata-mata ya! Orang jahat! Bekeru!" -oo0dw0ooo- . meleleh di atas betisnya. tar! tar! aduh! Hasan jatuh tersungkur.. bermandi darah. tak bergerak lagi . Sunyi senyap. Tapi dilihatnya masih ada orang-orang yang. Mau berlinduna^A^dc bimbang. mengacaukan pikirannya. Suara sirene sudah tidak terdengar lagi. mengaburkan telinganya. "Kaubiarkan begitu saja?! Kaubiarkan begitu saja?" Makin gencar serasa bumi berputar-putar bagi Hasan. Dadanya dibakar terus oleh api amarah yang menjolak-jolak ke atas. Tiba-tiba .. Dalam gelap gelita .. Ia jatuh pingsan.Tiraikasih website http://kangzusi. Lari terus! "Kaubiarkan begitu saja? Kaubiarkan begitu saja?!" Mendesing-desing lagi suara itu dalam kepalanya... seperti suara lebah-lebah yang mengerumuni sirop.com/ Rrrrttt..lari.. Darah mengalir dari lukanya. yang menyalakan matanya. Darah menyebrot dari pahanya.

com/ .Tiraikasih website http://kangzusi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful