You are on page 1of 6

Persepsi Mahasiswa Akuntansi Terhadap Etika Penyusunan Laporan Keuangan

I.

Pendahuluan Kemajuan ekonomi mendorong munculnya pelaku bisnis baru. Kondisi Ini memicu Persaingan bisnis yang cukup tajam. Pada umumnya, semua usaha bisnis berusaha untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Untuk mencapai tujuan itu, berbagai upaya dan tindakan dilakukan, bahkan banyak dijumpai pelaku bisnis melakukan tindakan-tindakan yang mengabaikan berbagai dimensi moral dan etika bisnis itu sendiri, termasuk profesi akuntansi. Untuk mengantisipasi hal itu, maka profesionalisme suatu profesi harus dimiliki oleh setiap anggota profesi, yaitu berkeahlian, berpengetahuan, dan berkarakter. Karakter menunjukkan personalitas seorang profesionalisme yang diwujudkan dalam sikap profesional dan tindakan etisnya (Machfoedz dalam Winarna dan Retnowati, 2004).

Di Indonesia, etika akuntan menjadi isu yang sangat menarik. Tanpa etika, profesi akuntansi tidak aka nada karena fungsi akuntansi adalah penyedia informasi untuk proses pembuatan keputusan bisnis oleh para pelaku bisnis. Terjadinya beberapa pelanggaran etika yang terjadi di Indonesia, baik yang dilakukan oleh akuntan public, akuntan intern, maupun akuntan pemerintah. Seharusnya hal seperti ini tidak akan terjadi jika setiap akuntan dan calon akuntan mempunyai pengetahuan, pemahaman dan dapat menerapkan etika secara memadai dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang akuntan yang professional.

Menurut Wyatt (2004) bahwa kelemahan yang terdapat pada akuntan adalah keserakahan individu dan korporasi, pemberian jasa yang mengurangi independensi, sikap terlalu lunak pada klien dan peran serta dalam menghindari aturan akuntansi yang ada. Wyatt menambahkan bahwa untukmenghindari hal-hal tersebut, akuntan pendidik seharusnya memberikan perhatian yang lebih besar dalam pendidikan akuntansi atas dua hal, yaitu apresiasi terhadap profesi akuntan dan apresiasi mengenai dilema etika (ethical dilemmas). Hal ini dapat dituangkan dalam bentuk

mata ajaran, metode pengajaran sampai ke penyusunan kurikulum yang berlandaskan nilai-nilai etika dan moral.

Tidak mengherankan jika Etika selalu menyoroti akuntan dalam menyajikan laporan Keuangan , Karena salah satu faktor yang masih harus ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas pelaporan keuangan di Indonesia adalah menyangkut etika dan sikap positif akuntan Indonesia. Dengan berbagai alasan dan tujuan baik benar atau salah terkadang penyajian laporan keuangan yang telah dibuat oleh akuntan menyimpang dari etika dan sikap positif seorang akuntan.

Menurut Warren et. al. (2005 : 3-5), ada tiga dasar bagi pelaku etis yaitu (1) Hindari pelanggaran etika yang kecil-kecil. Pelanggaran etis yang kecil-kecil kelihatannya tidak berbahaya. Sayangnya pelanggaran tersebut dapat menuntun kita kepada konsekuensi yang lebih besar pada suatu waktu. (2) Pusatkan perhatian pada reputasi jangka panjang. Salah satu karakteristik dari dilema etika adalah tekanan jangka pendek yang dihadapkan pada Anda. Dilema etika terjadi dari ancaman yang dinyatakan secara jelas maupun yang tersirat dimana bila Anda tidak berkompromi mungkin Anda akan menghadapi konsekuensi yang tidak diinginkan. Anda seharusnya menanggapi dilema etika dengan mengalihkan fokus reputasi jangka pendek ke reputasi jangka panjang. Reputasi Anda sangat berharga. Anda akan kehilangan efektifitas, jika reputasi Anda tercela. (3) Bersiaplah menghadapi konsekuensi yang kurang baik bagi diri Anda bila berpegang pada perilaku etis. Dalam organisasi yang tidak beretika, manager menghadapi masalah karier karena mereka tidak mampu mendukung manajemen untuk bertindak secara tidak etis. Karena itu dalam jangka pendek, perilaku etis sering kali dapat merugikan karier Anda. Oleh karena itu, pendidikan akuntansi perlu terdapat mata kuliah yang bermuatan ajaran moral dan etika yang sangat relevan untuk disampaikan kepada peserta didik. Terlepas dari dan bagaimana wujudnya, pendidikan etika telah diakui mempunyai peranan sangat penting dalam perkembangan profesi di bidang akuntansi, khususnya di Indonesia adalah untuk menghasilkan lulusan yang beretika dan bermoral tinggi. Dengan adanya akuntan yang beretika dan bermoral tinggi diharapkan tujuan dari laporan keuangan dapat tercapai, yaitu untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh penggunanya.

Sehingga dalam penyusunannya laporan keuangan akan terlepas dari perilaku manager yang cenderung akan menerapkan kebijakan akuntansi yang konservatif ataubahkan cenderung liberal, tergantung nilai pelaporan laba yang diinginkan. Hal ini merupakan dasar pemikiran dari manajemen laba. Seperti yang didefinisikan oleh Scott (1997) bahwa manajemen laba merupakan pilihan kebijakan akuntansi yang diambil oleh manager untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan dari manager belum tentu sejalan dengan kebutuhan pengguna laporan keuangan.

Laporan keuangan merupakan salah satu media yang digunakan untuk menghubungkan pihak-pihak yang berkepentingan dalam perusahaan. Dalam hal ini, pihak-pihak yang berkepentingan tersebut adalah para investor, dan para pemilik dari perusahaan itu sendiri. Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan memberikan informasi tentang kondisi keuangan perusahaan kepada para pembaca laporan keuangan, sedangkan bagi pemilik perusahaan merupakan sarana pertanggungjawaban manajemen atas pengelolaan sumber daya yang dimiliki perusahaan. Komponen-komponen yang terdapat di dalam laporan keuangan beserta penjelasan atas laporan keuangan tersebut diharapkan dapat memberikan input tersendiri bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. Salah satu bagian terpenting dan menjadi perhatian para pembaca laporan keuangan tersebut adalah tentang hasil kinerja operasional perusahaan yang tercermin dari laba yang dilaporkan. Perhatian yang besar terhadap pelaporan laba sering kali membuat pembaca laporan keuangan tidak memperhatikan prosedur atau proses yang digunakan untuk menghasilkan laporan tersebut. Proses penyusunan laporan keuangan di Indonesia didasarkan atas Standar Akuntansi Keuangan (SAK), dan SAK yang berlaku umum ini memberikan kesempatan kepada pihak manajemen untuk melakukan dan memilih metode akuntansi yang akan diterapkan dalam perusahaan. Keadaan ini akan mendukung pernyataan yang mengatakan bahwa pemilihan metode ini membuka peluang kepada manajemen untuk melakukan praktek manajemen laba (earning management). Pada saat ini, sistem peloparan keuangan khususnya yang ada di Indonesia masih kurang baik. Sistem pelaporan keuangan di Indonesia masih perlu diperbaiki untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan itu sendiri. Salah satu faktor penting untuk memperbaiki dan

meningkatkan kualitas laporan keuangan adalah menyangkut etika dan sikap positif akuntan itu sendiri.

Dengan adanya akuntan yang beretika dan bermoral tinggi diharapkan tujuan dari laporan keuangan dapat dicapai, yaitu untuk memberikan informasi yang yang dibutuhkan oleh penggunanya. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui persepsi mahasiswa mengenai kadar etika mahasiswa akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan untuk memenuhi kebutuhan pengguna laporan keuangan. Hasil dari penelitian ini diharapkan akan memberikan informasi kepada kalangan akademisi menganai kadar etika mahasiswa jurusan akuntansi untuk dijadikan dasar penyusunan kurikulum akuntansi. Selain itu juga memberikan informasi kepada Ikatan Akuntan Indonesia khususnya kompartemen akuntan pendidik mengenai etika mahasiswa akuntansi sebagai dasar menentukan kebijakan-kebijakan untuk meningkatkan mutu akuntan indonesia sehingga dapat meningkatkan kualitas pelaporan keuangan.

Atas dasar uraian yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini diberi judul PERSEPSI MAHASISWA AKUNTANSI TERHADAP ETIKA PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN. Ruang Lingkup Untuk menghindari adanya kesimpangsiuran lingkup pembahasan, maka dalam penelitian ini dibatasi pada masalah berikut ini: 1. Obyek Penelitian adalah Mahasiswa akuntansi tingkat bawah dan tingkat atas di Universitas Muria Kudus. 2. Penelitian ini mengkaji perbedaan persepsi mengenai manajemen laba, salah saji, costbenefit pengungkapan informasi, dan tanggung jawab kepada pemakai antara mahasiswa akuntansi tingkat bawah dengan mahasiswa tingkat atas.

1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka permasalahan pokok yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah :

a. Apakah terdapat perbedaan persepsi antara mahasiswa akuntansi tingkat bawah terhadap etika penyusunan laporan keuangan? b. Apakah terdapat perbedaan persepsi antara mahasiswa akuntansi tingkat atas terhadap etika penyusunan laporan keuangan?

I.3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah membuktikan secara empiris perbedaan persepsi dosen dan mahasiswa akuntansi terhadap etika penyusunan laporan keuangan. Adapun tujuan diadakan penelitian ini adalah : a. Untuk mengetahui perbedaan persepsi dosen akuntansi laki-laki dan perempuan mengenai etika penyusunan laporan keuangan. b. Untuk mengetahui persepsi mahasiswa akuntansi laki-laki dan perempuan mengenai etika penyusunan laporan keuangan.

I.4. Manfaat Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dikemukakan diatas, maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada berbagai pihak antara lain : a. Bagi peneliti, menambah khasana pengetahuan yang sangat berharga dalam hal persepsi dosen dan mahasiswa akuntansi terhadap etika penyusunan laporan keuangan. b. Bagi mahasiswa, memberikan sumbangan teorotis mengenai perbedaan persepsi etika penyusunan laporan keuangan terhadap mahasiswa akuntansi laki-laki dan mahasiswa perempuan. c. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan yang dimiliki masyarakat dalam hal ini mengenai persepsi mahasiswa akuntansi terhadap etika penyusunan laporan keuangan.