# PESAWAT ATWOOD

(LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR)
OLEH
I Putu Brama Arya Diputra
NPM. 0913022009
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2009
Lembar Pengesahan
Judul Percobaan : Pesawat Atwood
Tanggal Percobaan : 28 Oktober 2009
Tempat percobaan : Laboratorium Fisika Dasar
Nama : I Putu Brama A D
NPM : 0913022009
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Jurusan : Pendidikan Fisika
Kelompok : 1(satu)
Bandar Lampung, 28 Oktober 2010
Mengetahui
Satya Kumara
NPM. 0717041066
DAFTAR ISI
Halaman
Pengesahan ...................................................................................................... i
Daftar Isi .......................................................................................................... ii
Abstrak ............................................................................................................. iii
I. PENDAHULUAN ......................................................................... 1
Latar Belakang ............................................................................... 1
Tujuan Percobaan .......................................................................... 1
II. TEORI DASAR.............................................................................. 3
III. PROSEDUR PERCOBAAN ......................................................... 5
Alat dan Bahan .............................................................................. 5
Cara Kerja....................................................................................... 6
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN ........................ 8
Data Pengamatan ........................................................................... 8
Pembahasan.................................................................................... 9
V. KESIMPULAN .............................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
PESAWAT ATWOOD
Oleh :
I Putu Brama Arya Diputra
ABSTRAK
Pada percobaan ini kita melakukan suatu pembuktian dari hukum-hukum Newton
yaitu hukum I, II, dan III Newton serta menghitung besar momen inersia suatu benda
yang bergerak di sebuah pesawat atwood atau katrol. Di dalam melakukan percobaan
kita menggunakan alat percobaan atwood yang ditemukan oleh George atwood
(1746-1807), disini kita melakukan yaitu mendemonstrasikan peristiwa benda jatuh
dan analisis mengenai percepatannya.
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
bergerak dan membuktikan kebenaran dari hukum Newton I, II dan III.
Untuk menentukan besa kecilnya suatu gaya yang bekerja pada sebuah benda,
kita menggunakan pesawat atwood sebagai alat percobaan yang paling utama.
Suatu benda mempunyai sifat alamiah yaitu diam akan tetapi setelah Galileo
mengadakan percobaan ternyata pendapat tersebut berubah. Karena hal inilah
yang menjadi dasar-dasar hukum Newton yang sangat penting, maka mahasiswa
dalam hal ini dituntut untuk mencari hal-hal apa saja yang terjadi ketika suatu
benda bergerak mencontoh percobaan dari Galileo.
1.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini, yaitu :
1. Menyelesaikan soal-soal tentang gerak translasi dan rotasi dengan
menggunakan hukum II Newton.
2. Melakukan percobaan pesawat atwood untuk memperlihatkan berlakunya
hukum Newton dan menghitung momen inersia katrol.
II TEORI DASAR
Azas momen yang paling istimwa. Kekekalan momentum tidak berlaku pada gerak
dengan kecepatan-kecepatan tinggi. Mendefinisikasn kembali momentum sebuah
benda dapat membuat azas kekekalan momentum tetap berlaku dalam teori relativitas
khusus. Pernyataan dari hukum II Newton adalah bahwa gaya total pada sebuah
benda sama dengan laju perubahan momentumnya. Untuk memasukkan efek
relativistik, maka suatu kelonggaran harus dilakukan terhadap kenyataan
bervariasinya massa benda terhadap kecepatannya. (Ronald Gantreali, 1995).
Berat suatu benda adalah gaya yang disebabkan / gaya yang bekerja karena tarikan
bumi, gaya tarik bumi disebut gaya gravitasi. Bila hukum II Newton ditetapkan akan
diperoleh :
Dimana :
W : gaya berat (N)
m : Massa benda (kg)
g : Percepatan gravitasi (m/s
2
)
Persamaan ini menunjukkan hubungan kuantitatif antara berat dan massa. (Inany
Furoida, 1994).
g m W . ·
Sistem katrol licin dan tali ringan artiya katrol tidak berputar dan gaya tegang tali
sama besar. Misal me turun dengan percepatan a, maka persamaan gerak yang harus
dipenuhi untuk :
1 1 1
) 1 ( . . . . . . . m a m g m T m · − ·
( ) ( )
g
m m
m m
a
a m m g m m
m a m T g m m
.
) 2 ( . . . . . .
2 1
1 2
1 2 1 2
2 2 2 2
+

·
+ · − ·
· − ·
Dan tegang tali didapat :
g
m m
m m
T .
2
2 1
2 1
+
·
(ganijanti Abi Saridjo, 2002)
Bila dua buah partikel berinteraksi, maka dikatakan bahwa tiap partikel mengerjakan
bekerja pada partikel itu sehubungan dengan momentumnya (Marcelo Alonso, 1994)
Supaya benda itu beragak maka harus terus menerus diberi gaya luar, baik itu tarikan
maupun dorongan. Tetapi setelah galileo mengadakan percobaan pendapat ini
berubah dan terkenallah prinsip Galileo atau lebih baku terkenal dengan Hukum I
Newton. Hukum Newton ini menunjukkan sifat benda yaitu sifat inersia, namun tidak
terdefinisi secara kuantitatif. Berdasarkan eksperimen dan dorongan intuitif Hukum I
Newton. Newton telah merumuskan Hukum II Newton yang mendefinisikan masa
secara kuantitatif serta memperlihatkan hubungan gaya gerak dengan gerak benda
secara kuantitatif pula.
(Tim Fisika Dasar FMIPA, 2005)
III PEROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan yaitu :
1. Pesawat atwood terdiri dari :
a. Tiang berskala R pada ujung
atasnya terdapat katrol P
b. Tali penggantung yang masanya
diabaikan
c. 2 beban m1 dan m2 berbentuk
silinder dengan masa yang sama
d. 2 Beban tambahan dengan masa
masing-masing m1 dan m2
2. Stop watch
3. Neraca teknis
4. Kertas grafis (milimeter)
M
1
T
2
T
2
M
2
M
2
M
1
P
Gambar 3.2 Stopwatch Gambar 3.3 Neraca Teknis
Gambar 3.1
3.2 Cara kerja
Adapun langkah-langkah dalam melakukan percobaan yaitu :
1. Menimbang M1 M2 dan m1 serta m2
masing-masing ujung tali. Kemudian menyelidiki apakah beban dengan M1
dan M2 saja sistem dapat diam dan juga bergerak lurus beraturan
3. Memasang genggaman G, penahan beban tambahan A dan penahan
beban M2 pada tiang skala, untuk menyelidiki apakah pesawat atwood
bekerja dengan baik melakukan percobaan sebagai berikut :
a.Memasang M1 pada genggaman G dan menggunakan pegas S
b. Menambah beban tambahan m1 pada M2
c.Menekan S maka M1 akan terlepas dari genggaman G dan bergerak ke
atas, sedangkan M2 besar dan m1 akan bergerak ke bawah. Jika pesawat
bekerja dengan baik, maka kedua beban akan dipercepat dan ketika M2
+ m2 melalui A, m1 akan terangka di A. selanjutkan sistem akan
bergerak lurus beraturan. Jika hal tersebut diatas tidak terjadi,
4. Memasang M1 pada genggaman G dan tambahkan m1 dan m2.
mencatat kedudukan C1 A dan B pada skala tiang
5. Melepaskan M1 dari G dengan menekan S mencatat tAB, yaitu waktu
yang diperlukan M2 (setelah m1 tersangkut pada A).
6. Mengganti m1 dengan M2. Melakukan percobaan seperti langkah 5
7. Mengubah jarak XAB dengan cara mengubah kedudukan B,
sedangkan kedudukan C dan A tetap
8. Mengubah sekali lagi jarak XAB seperti langkah ke 7 dan melakukan
lagi seperti langkah ke 5 dan langkah ke 6
9. Mengatur kedudukan A, B, C sebaiknya CA cukup besar sedangkan
AB dekat. Mencatat keudukan C dan A, memasang M1 pada G dan
11. Mengganti m1 dengan M2, melakukan lagi seperti pada langkah ke 10
12. Mengubah jarak XCA. Melakukan lagi seperti langkah ke 10 dan ke
11
13. Mengubah jarka seperti langkah ke 10 dan ke 11
IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Data Pengamatan
Adapun data dari hasil percobaan pesawat Atwood yaitu :
1. XAB = 50 cm
Percobaan M (+) tAb
1
2
3
10
10
10
0.56 S
0.72 S
0.66 S
Percobaan M (+) tAb
1
2
3
20
20
20
0.41S
0.47 S
0.53 S
2. X AC = 35 cm
Percobaan M (+) t AC
1
2
3
10
10
10
1.94 S
2.16 S
1.56 S
Percobaan M (+) t AC
1
2
3
20
20
20
1.53 S
1.18 S
1.47 S
Pembahasan
1. Setelah melakukan percobaan dan perhitungan ternyata
perbandingan I
teori
dan I
praktek

praktek selalu lebih besar dari I teori dan perbedaan tersebut pada setiap
percobaan semakin besar. Hal ini dikarenakan adanya kesalahan yang
cukup besar di dalam melakukan percobaan.
2. Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa momen inersia bergantung
pada masa, waktu dan percepatan gravitasi. Semakin besar massa maka
momen inersia juga akan semakin besar. Hasil percepatan yang diperoleh
sesuai dengan Hukum II Newton yaitu masa secara kuantitatif
memperlihatkan hubungan antara gaya gerak dengan gaya benda secara
kuantitatif.
3. Aplikasi pesawat atwood dalam kehidupan sehari-hari antara lain :
- Sebagai katrol untuk mengangkat barang-barang berat seperti
kotak kontainer
- Sebagai katrol (kerek timba) air sumur
- Sebagai alat peraga pesawat atwood didalam melakukan
percobaan
4. Kesalahan relatif pada percobaan ini berkisar antara 9-12%. Hal ini
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
- Kurangnya ketelitian dalam melakukan percobaan
- Adanya beberapa kesalahan dalam perhitungan
- Kecerobohan di dalam melakukan percobaan
V KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan :
1. Pesawat atwood memperlihatkan berlakukan hukum Newton dalam
pengoperasiannya
2. Faktor yang mempengaruhi momen inersia adalah beban gaya gravitasi,
percepatan dan jari-jari pesawat atwood.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi percepatan adalah beban gaya gravitasi,
momen inersia dan jari-jari pesawat atwood.
4. Jarak pemantulan A ke B berbanding terbalik dengan waktu tempuh dari A ke
B
DAFTAR PUSTAKA
Alonso Marcelo. (1994). Dasar-dasar fisika universitas. erlangga, Jakarta
Furnida Inany. (1994). Fisika-fisika dasar. gramedia pustaka utama, Jakarta
Granteau Ronald. (1995). Teori dan soal-soal fisika modern. Erlangga, Jakarta
Saridjo Ganijanti Aby. (2002). Mekanika gerak. Sinar Terang, Surabaya
Tim Fisika Dasar FMIPA. (2005). Penuntun Praktikum Fisika Dasar I. Unila, Bandar
Lampung
LAMPIRAN
PERHITUNGAN
I. Untuk XAB = 0,5 m dan m(+) = 0,01 kg
a. S
t t t
t 646 , 0
3
66 , 0 72 , 0 56 , 0
3
3 2 1
·
+ +
·
+ +
·
b.
S t t t t 2676 , 1 66 , 0 72 , 0 56 , 0
2 2 2 2
3
2
2
2
1
2
· + + · + + ·

c.
2
2 2
/ 396 , 2
646 , 0
5 , 0 . 2 2
s m
t
S
a · · ·
d.
m S 05 , 0 1 , 0 . 5 , 0 · · ∆
e.
( )
( )
( )
( )
S
n n
t n t
t 0471 , 0
1 3 3
646 , 0 3 2676 , 1
1
2
2 2
·

·

· ∆

f. ( ) ( ) ( )( )
2
1
2
2
3
2
2
2
/ 4 / 2
1
]
1

¸

∆ − + ∆ · ∆ t t S S t a
( )( ) ( )( ) [ ]
2
1
2
2 3 2 2
0471 , 0 646 , 0 / 5 , 0 . 4 05 , 0 646 , 0 / 2 − + ·
2
/ 2395 , 0 s m ·
g.
% 9 , 9 % 100
396 , 2
02395 , 0
% 100 · ·

· x x
a
a
KR
h.
2395 , 0 396 , 2 + · ∆ + · a a NT
i.
N
x R Mk I
teori
0001389 , 0
062 , 0 03615 , 0 .
2 2
·
· ·
j.
( ) [ ]
( ) [ ]
N
M M m a g M M m R I
praktek
0017446 , 0
086 , 0 085 , 0 01 , 0 396 , 2 / 8 , 9 085 , 0 086 , 0 01 , 0 062 , 0
/
2
1
2
2
1
2 1 1 2
2
·
+ + − − + ·
+ + − − + ·
II. Untuk XAB = 0,5 m dan m (+) = 0,02 kg
a. S
t t t
t 47 , 0
3
53 , 0 47 , 0 41 , 0
3
3 2 1
·
+ +
·
+ +
·
b. S t t t t 669 , 0 53 , 0 47 , 0 41 , 0
2 2 2 2
3
2
2
2
1
2
· + + · + + ·

c.
2
2 2
/ 526 , 4
47 , 0
5 , 0 . 2 2
s m
t
S
a · · ·
d.
m S 05 , 0 1 , 0 . 5 , 0 · · ∆
e.
( )
( )
( )
( )
S
n n
t n t
t 0346 , 0
1 3 3
47 , 0 3 669 , 0
1
2
2 2
·

·

· ∆

f. ( ) ( ) ( )( )
2
1
2
2
3
2
2
2
/ 4 / 2
1
]
1

¸

∆ − + ∆ · ∆ t t S S t a
( ) ( ) ( )( ) [ ]
2
1
2
2 3 2
2
2
0346 , 0 47 , 0 / 5 , 0 . 4 05 , 0 47 , 0 / 2 − + ·
2
/ 452 , 0 s m ·
g.
% 10 % 100
526 , 4
452 , 0
% 100 · ·

· x x
a
a
KR
h.
452 , 0 526 , 4 + · ∆ + · a a NT
i.
N
x R Mk I
teori
0001389 , 0
062 , 0 03615 , 0 .
2 2
·
· ·
j.
( ) [ ]
( ) [ ]
N
M M m a g M M m R I
praktek
00165 , 0
086 , 0 085 , 0 02 , 0 526 , 4 / 8 , 9 085 , 0 086 , 0 02 , 0 062 , 0
/
2
1
2
2
1
2 1 1 2
2
·
+ + − − + ·
+ + − − + ·
III. Untuk XAC = 0,35 m dan m (+) = 0,01 kg
a. S
t t t
t 886 , 1
3
56 , 1 16 , 2 94 , 1
3
3 2 1
·
+ +
·
+ +
·
b. S t t t t 8628 , 10 56 , 1 16 , 2 94 , 1
2 2 2 2
3
2
2
2
1
2
· + + · + + ·

c.
2
2 2
/ 196 , 0
886 , 1
35 , 0 . 2 2
s m
t
S
a · · ·
d.
m S 05 , 0 1 , 0 . 5 , 0 · · ∆
e.
( )
( )
( )
( )
S
n n
t n t
t 0346 , 0
1 3 3
47 , 0 3 669 , 0
1
2
2 2
·

·

· ∆

f. ( ) ( ) ( )( )
2
1
2
2
3
2
2
2
/ 4 / 2
1
]
1

¸

∆ − + ∆ · ∆ t t S S t a
( ) ( ) ( )( ) [ ]
2
1
2
2 3 2
2
2
0346 , 0 47 , 0 / 5 , 0 . 4 05 , 0 47 , 0 / 2 − + ·
2
/ 452 , 0 s m ·
g.
% 10 % 100
526 , 4
452 , 0
% 100 · ·

· x x
a
a
KR
h.
452 , 0 526 , 4 + · ∆ + · a a NT
i.
N
x R Mk I
teori
0001389 , 0
062 , 0 03615 , 0 .
2 2
·
· ·
( ) [ ]
( ) [ ]
N
M M m a g M M m R I
praktek
00165 , 0
086 , 0 085 , 0 02 , 0 526 , 4 / 8 , 9 085 , 0 086 , 0 02 , 0 062 , 0
/
2
1
2
2
1
2 1 1 2
2
·
+ + − − + ·
+ + − − + ·
IV. Untuk XAC = 0,35 m dan m(+) = 0,02 kg
a. S
t t t
t 393 , 1
3
47 , 1 18 , 1 53 , 1
3
3 2 1
·
+ +
·
+ +
·
b. S t t t t 894 , 5 47 , 1 18 , 1 53 , 1
2 2 2 2
3
2
2
2
1
2
· + + · + + ·

c.
2
2 2
/ 36 , 0
393 , 1
35 , 0 . 2 2
s m
t
S
a · · ·
d.
m S 05 , 0 1 , 0 . 5 , 0 · · ∆
e.
( )
( )
( )
( )
S
n n
t n t
t 11 , 0
1 3 3
393 , 1 3 894 , 5
1
2
2 2
·

·

· ∆

f. ( ) ( ) ( )( )
2
1
2
2
3
2
2
2
/ 4 / 2
1
]
1

¸

∆ − + ∆ · ∆ t t S S t a
( ) ( ) ( )( ) [ ]
2
1
2
2 3 2
2
2
11 , 0 393 , 1 / 35 , 0 . 4 05 , 0 393 , 1 / 2 − + ·
2
/ 0463 , 0 s m ·
g.
% 8 , 112 % 100
36 , 0
0463 , 0
% 100 · ·

· x x
a
a
KR
h.
0463 , 0 36 , 0 + · ∆ + · a a NT
i.
N
x R Mk I
teori
0001389 , 0
62 , 0 03615 , 0 .
2 2
·
· ·
( ) [ ]
( ) [ ]
N
M M m a g M M m R I
praktek
00326 , 0
086 , 0 085 , 0 02 , 0 36 , 0 / 8 , 9 085 , 0 086 , 0 02 , 0 062 , 0
/
2
1
2
2
1
2 1 1 2
2
·
+ + − − + ·
+ + − − + ·
TUGAS PENGETAHUAN
1. Sebutkan hokum II Newton !
2. Tuliskan secara matematis Hukum II Newton
3. Sebutkan arti lambing-lambang yang digunakan
4. Turunkanlah persamaan gerak yang menyatakan V dan X sebagai fungsi dari
waktu untuk percepatan tetap pada persamaan (4.1)
5. Tuliskan hokum III Newton dan ungkapkan artinya
6. Tuliskan besaran-besaran pada gerak rotasi yang analog (menggantikan
peranan) besaran-besaran pada gerak linier seperti kedudukan (x), kecepatan
linier (v), percepatan (a), massa (m), gaya (f), dan momentum linier (P).
7. Tuliskan hokum II Newton untuk gerak rotasi
8. Buktikan hukum II Newton untuk gerak rotasi
9. Buktikan rumus persamaan (4,5)
10. Tentukan momen inersia katrol diabaikan, bagaimana percepatan benda
tersebut?
Jawaban
1. Bunyi hukum I Newton
“Suatu benda akan terus dalam keadaan diam atau akan terus dalam keadan
2. Hukum II Newton secara matematis
m
f
a ·
3. Arti lambang : F : resultasn gaya (N)
a : Percepatan (m/s
2
)
m : Massa (kg)
4. Turunkan pertama gerak v dan x sebagai fungsi dari waktu untuk percepatan
tetap :
dt
dx
v ·
5. Hukum III Newton :
Kalau suatu benda melakukan gaya kepada benda lain, maka benda yang
keluar itu selalu akan melakukan gaya pula kepada benda yang pertama yang
sama besarnya, berlawanan dengan arah dan mempunyai garis kerja yang
sama”.
6. Besaran pada gerak rotasi yang analog dengan besaran pada gerak linier :
T : momen gaya (Nm), I : Momen inersia (kgm
2
)
X : Percepatan suduk (rad s
-2
), T : Tegangan Tali (N)
7. Hukum II Newton untuk gerak rotasi :
“Sebuah gaya yang tegak lurus pada lintasan partikel memberikan kecepatan
tangensial atau dalam rumus
( ) α . I I ·
8. Rumusa persamaan :
( )
( )
2
3 2 1
3 2 1
/
:
P I m m m
m m m
a
+ + +
+ +
Benda I : mg T −
1
: a m .
1
. . . . . . . . . (1)
Benda II :
2 2
T g m − : a m .
2
. . . . . . . . . (2)
Benda III : ( ) R T T
1 2
− :
R a I / .
. . . . . . . . . (3)
( )
1 2
T T − :
2
/ . R a I
1 2
T T − :
2
/ . R a I . . . . . . . . . (4)
Jumlahkan (1) dan (2)
a m T M
a m g m T
1 2 2
1 1 1
· −
· −
( ) ( ) a m m g m m T T
2 1 1 2 2 1
+ · − + −
( ) ( ) g m m a m m T T
b 1 2 1 2 1
− − − + −
. . . . . . . . . (5)
Subtitusikan (4) dan (5)
2
/ . R a I
( ) ( ) g m m a m m
1 2 2 1
+ − + ·
( ) g m m
1 2
− ( )
2
2 1
/ . R a I a m m + + ·

a g
R m m
m m
.
/ 1
2
1 2
1 2

,
_

¸
¸
+ +
+
·
9. Jika m m m · ·
2 1
maka
( )
a
m g m m
R I
2
/
1 2 2
− −
·
g
R I m
m m
a .
/
2
1 2

,
_

¸
¸
+ +

·
g
a
m m
R I m
,
_

¸
¸ −
· +
1 2 2
/ 2
( )
2 1 2
2
R
a
ma g m m
I
,
_

¸
¸ − −
·
2
2 mR I − ·
10. Jika momen inersia katrol diabaikan maka percepatan akan bertambah
TUGAS AKHIR
1.
Grafik antara XAB dan tAB setelah M
2

diberi beban tambahan m
1
Grafik antara XAB terhadap tAB setelah m
2
diberi beban tambahan m
2
.
berupa garis lurus. Hal ini disebabkan karea massa benda tetap dan waktunya juga
konstan.
3. Besar kecepatan M
2
saat diberi tambahan m
1
dan m
2
tAB
XAB
v ·
0,56
0,56 0,66
XAB (m)
tAB (s)
0,96
0,41 0,53
XAB (m)
tAB (s)
4. Grafik antara XAC dan tAC saat M
2
diberi beban tambahan mm
1
dan m
2
.
5. Besar Kec. M
2
dengan beban tambahan m
1
dan m
2

( )
2
tAC
XAB
V ·
6. Momen inersia katrol adalah :
I =
2
. R Mk
= 0,03615 – (0,62)
2
= 0,0001389 kgm
2
0,96
0,41 0,53
XAB (m)
tAB (s)
PERHITUNGAN
1.
n
T T T T
T
n
+ + + +
·
. . . . . . . .
3 2 1
2.
2 2
2
2
1
2
. . . . . .
n
t t t t + + + ·

3.
2
2
t
S
a ·
4.
1 , 0 5 , 0 x S · ∆
5.
( )
( ) 1
2
2

· ∆

n n
t n t
t
6. ( ) ( )
2
1
2
2
3
2
2
2
4 2
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸−
+ ∆

,
_

¸
¸
· ∆ t
t
s
S
t
a
7.
% 100 x
a
a
KR

·
a a NT ∆ + ·
Hitung I teori dan I praktik
I teori = MF . R
2
I pratek = ( )
2
1
2 1 1 2
2
1
]
1

¸

+ + − − + m m m
a
g
m m m R
2
/ 8 , 9 s m g ·
cm R 2 , 6 ·
gr M 85
1
·
gr M 86
2
·
gr m 10
1
·
gr m 20
2
·
gr MF 15 , 36 ·
Pembahasan
1. Bandingkan I teori dengan I praktek, jelaskan !
2. Hub momen inersia dengan hukum II Newton !
3. Aplikasi pesawat atwood !
XAB = 50 cm
Percobaan M (+) tAb
1
2
3
10
10
10
0.56 S
0.72 S
0.66 S
Percobaan M (+) tAb
1
2
3
20
20
20
0.41S
0.47 S
0.53 S
5. X AC = 35 cm
Percobaan M (+) t AC
1
2
3
10
10
10
1.94 S
2.16 S
1.56 S
Percobaan M (+) t AC
1
2
3
20
20
20
1.53 S
1.18 S
1.47 S