LAPORAN KASUS

FRAKTUR

Di susun Oleh : Dian I 11106031

SMF BEDAH RSUD DR.SOEDARSO FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PONTIANAK 2010

LEMBAR PENGESAHAN

Sebagai salah satu syarat kelulusan Kepaniteraan Klinik di SMF Bedah RSUD dr.Soedarso

Pembimbing

Mahasiswa

dr. Harry F, Sp.O.T

Dian NIM. I11106031

Pada saat kecelakaan OS mengaku tidak mengalami pingsan. b. tidak ada mual/muntah. Keluhan ini timbul sesaat setelah OS mengalami kecelakaan.BAB I Penyajian Kasus 1. Riwayat Penyakit Sekarang Orang Sakit (OS) datang ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr.1 Identitas  Nama  Jenis Kelamin  Umur  Agama  Pekerjaan  Alamat  Masuk RS : Tn. Selain itu OS juga mengeluh sesak. sesaat setelah terjatuh. H : Laki-laki : 41 Tahun : Islam :Swasta : Sui. Keluhan Utama Nyeri pada tangan kiri. Kunyit : 01-06-2011 Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 24-06-2011 1. OS mengaku tidak pernah sesak sebelumnya. OS terajtuh dengan posisi tengan kiri OS tertimpa tubuh OS pada dasar tanah. yaitu OS terajatuh dari pohon kelapa dengan ketinggian ± 10 meter. .Soedarso dengan keluhan nyeri pada tangan kiri sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. tidak ada nyeri perut.2 Anamnesis a. Tidak ada keluar cairan dari hidung dan telinagndan tidak sesak.

Darah (-) : Sekret (-). d. Riwayat Operasi OS belum pernah menjalani operasi sebelumnya. suara tambahan (-) : Tidak terdapat hematom. teratur. c. maupun luka robek : Konjungtiva anemis (-). Saat di R. Darah (-) : Tidak keterbatasan gerak .3 Pemeriksaan Fisik a. Sklera ikterik (-) : Sekret (-). Status Generalis  Kepala-Leher :  Kepala  Mata  Hidung  Telinga  Leher  Thorax :  Paru : o Inspeksi o Palpasi o Perkusi o Auskultasi : Bentuk dan Gerak Simetris : Stem fremitus kanan=kiri : Sonor diseluruh lapang paru : Suara dasar vesikuler. Riwayat Penyakit Dahulu Tidak pernah mengalami patah tulang (fraktur) sebelumnya.Soedarso. Tanda Vital  Keadaan Umum  Kesadaran  Tekanan darah  Nadi  RR : Tampak Sakit Sedang : komposmentis : 110/70 mmHg : 74x/menit.S Mempawah untuk mendapatkan pertolongan setelah kecelakaan. OS dibawa ke R.S Bhayangkara tagan kiri OS dibidai. isi cukup : 24x/menit b.Sebelum datang ke RSUD dr. 1.

. Nyeri tekan (-) : Timpani : Ictus cordis tak tampak : Ictus cordis tak teraba : Tidak pembesaran jantung : S1/S2 reguler.Capilary refille <2 detik.4 Status Lokalis  Look  Feel  Moving : terpasang perban pada lengan kiri. Jantung : o Inspeksi o Palpasi o Perkusi o Auskultasi  Abdomen :  Inspeksi  Auskultasi  Palpasi  Perkusi  Extremitas :  Ekstremitas Atas o Dextra : DOTS (-) o Sinistra : Status lokalis  Ekstremitas Bawah o Dextra : DOTS (-) o Sinistra : DOTS (-) : Tampak datar. bising jantung (-) 1.5 Pemeriksaan Penunjang  Darah Rutin  Photo Rontgen Kruris Sinistra AP-Lateral  Photo Rontgen Thorax 1. : Bising usus (+) : Hepar dan lien tak teraba. Radialis (+).6 Diagnosis  Fraktur tertutup 1/3 medial humerus. Tenderness (+). : Abnormalitas gerak (-) 1. Pembengkakan (+) : Ar.

1.1 Photo Rontgen Kruris AP-Lateral .7 Hasil Photo Rontgen Gambar 1.

10 Prognosis  Ad vitam  Ad functionam  Ad sanationam : ad bonam : dubia ad bonam : ad bonam .Gambar 1.8 Penatalaksanaan  IVFD RL 20 tetes/menit  Ketorolac drip  Cefotaxim 3x1gr  Jahit sementara  Fiksasi dan imobilisasi dengan spalk meliputi 2 sendi  Konsultasi Spesialis Ortopedi 1.2 Photo Rontgen Thorax 1.9 Tindakan Dilakukan tindakna ORIF pada tanggal 24-06-2011 Hasil 1.

BAB II Tinjauan Pustaka 2. rusak hebat atau hilangnya jaringan di sekitarnya Kominutif. segmental. 2.1 Derajat Fraktur Terbuka Derajat Luka Fraktur 1 Laserasi < 2 cm Sederhana. Tabel 2. fragmen tulang ada yang hilang . kontusio otot di sekitarnya Dislokasi fragmen jelas 3 Luka lebar.2 Klasifikasi a.1 Definisi Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Berdasarkan ada tidaknya hubungan antara tulang yang fraktur dengan dunia luar :  Fraktur tertutup  Fraktur terbuka : terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. dislokasi fragmen minimal 2 Laserasi > 2 cm.

serta kontaminasi derajat tinggi a.Kontaminasi minimal 2 .neurovascular. tranversal.Kontaminasi sedang 3 .Kerusakan jaringan lunak yang luas.Luka > 1cm . Jaringan lunak yang menutupi fraktur adekuat.Kerusakan jaringan lunak sedikit. meliputi stuktur kulit. otot. tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.Fraktur kominutif sedang .Fraktur sederhana. Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki.Luka < 1 cm Fraktur . tidak ada tanda luka remuk .Derajat 1 . dan. Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur yang terkontaminasi masif c. meskipun laserasi luas/flap/avulsi b. oblik. flap/avulse . Gambar 2.1 Fraktur Tertutup dan Fraktur Terbuka .Kerusakan jaringan lunak tidak luas. atau kominutif ringan .

Ujung fraktur 3. Hematom b. Berdasarkan garis frakturnya. Luka terbuka pada kulit 2.2 Fraktur Terbuka Keterangan : 1.Gambar 2. fraktur juga dapat dibagi menjadi  Fisura  Fraktur sederhana  Fraktur kominutif  Fraktur segmental  Fraktur dahan hijau (greenstick)  Fraktur impaksi  Fraktur kompresi  Fraktur Impresi  Fraktur patologis .

Patah tulang impaksi.Gambar 2.3 Tipe Fraktur Keterangan : A. kadang juga disebut inklavasi I. Fisura tulang disebabkan oleh cedera tunggal hebat atau oleh cedera terus-menerus yang cukup lama. Patah tulang komunitif oleh cedera hebat E. Patah tulang sederhana oblik/serong C. Patah tulang kompresi akibat kekuatan besar pada tulang pendek atau epifisis tulang pipa H. periosteum tetap utuh G. J. Patah tulang segmental karena cedera hebat F. Patah tulang dahan hijau “greenstick”. seperti juga ditemukan pada retak stress pada struktur logam B. Patah tulang sederhana tranversal/lintang D. Patah tulang impresi Patah tulang patologis akibat tumor tulang atau proses destruktif lain .

4 Klasifikasi Fraktur .Gambar 2.

korpus vertebra Sehubungan dengan patofisiologi dan perjalanan penyakitnya. patah tulang pada orang tua. Pola anatomis kejadian patah tulang dan penanganannya pada ketiga golongan umur tersebut berbeda. Pemendekan dapat ditoleransi karena pada anak terdapat percepatan pertumbuhan tulang panjang yang patah.Tabel 2. kemampuan penyembuhan anak lebih cepat dank arena itulah perpendekan serta perubahan bentuk akibat patah lebih dapat ditoleransi pada anak. Perubahan bentuk dapat ditoleransi karena anak mempunyai daya penyesuaian bentuk yang lebih besar. kolum femur lateral Tulang tengkorak Tumor diafisis humerus. yaitu patah tulang pada anak. patah tulang juga dibagi atas dasar usia pasien. Orang tua lebih sering menderita patah tulang pada tulang yang osteoporotik.2 Jenis Fraktur dan Contoh Tulang yang Terkena Jenis Fraktur Fisura Oblik Tranversal Komunitif Segmental Greenstick Kompresi Impaksi Impresi Patologis Contoh Tulang Diafisis Metatarsal Diafisis Metakarpal Diafisis Tibia Diafisis Femur Diafisis Tibia Diafisis radius pada anak Korpus vertebra thorakal XII Epifisi radius distal. orang dewasa lebih banyak menderita patah tulang pajang. sedangkan anak jarang menderita robekan ligament. . Selain itu. Penanganan patah tulang pada anak membutuhkan pertimbangan bahwa anak masih tumbuh. patah tulang pada dewasa. seperti vertebra atau kolum femur.

3 Diagnosis Diagnosis patah tulang juga di mulai dengan anamnesis. lihat. biasanya didapati keluhan nyeri meskipun patah tulang yang fragmen patahannya stabil. Dalam persepsi pasien trauma yang terjadi bisa dirasa berat meskipun ringan dan sebaliknya bisa dirasakan ringan meskipun sebenarnya berat. raba. adanya trauma tertentu. Patah tulang cakram epifisis dapat dibagi menjadi lima tipe. dan gerakkan.Satu bentuk patah tulang yang khusus pada anak adalah patah tulang yang mengenai cakram pertumbuhan (lempeng epifisis).4 Patah Tulang Lempeng Epifisis Klasifikasi Salter Haris 2. Pemeriksaan untuk menentukan ada atau tidaknya patah tulang terdiri atas empat langkah: tanyakan. Banyak patah tulang mempunyai cedera yang khas. tertumbuk. terputar. kadang tidak menimbulkan keluhan nyeri. seperti jatuh. Gambar 2. Pada pemeriksaan fisik mula-mula dilakukan inspeksi dan terlihat pasien kesakitan. Selain riwayat trauma. Patah tulang yang mengenani cakram epifisis ini perlu mendapatkan perhatian khusus karena dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan. mencoba melindungi anggota badannya yang patah. dan berapa kuatnya trauma tersebut. .

dan juga terdapat gerakkan yang tidak normal.terdapat pembengkakan. Pemeriksaan gerak persendian secara aktif termasuk dalam pemeriksaan rutin patah tulang. seperti komplikasi vaskuler dan neurologis dari patah tulang yang bersangkutan. Foto rontgen harus memenuhi beberapa syarat. Pada patah yang fragmennya mengalami dislokasi. untuk mencari kelainan lain seperti pneumotorakas. . terputar. yaitu letak patah tulang harus di pertengahan foto dan sinar harus menembus tempat ini secara tegek lurus karena foto rontgen merupakan foto gambar bayangan. pemendekan. Pemeriksaan khusus seperti CT scan kadang diperlukan. Bila diperlukan. Hal ini penting karena komplikasi tersebut perlu penanganan yang segera. gambaran garis patah biasanya jelas. Harus selalu dibuat dua lembar foto dengan arah yang saling tegak lurus. Pada tulang. dibuat foto yang sama dari bagian anggota gerak yang sehat sebagai perbandingan. Gerakan antarfragmen harus dihindari pada pemeriksaan karena dapat menimbulkan nyeri dan mengakibatkan cedera ringan. Selain pada anamnesis nyeri juga didapatakan papa palpasi. nyeri berupa nyeri tekan yang sifatnya sirkuler dan nyeri tekan sumbu pada waktu menekan atau atau menarik dengan hati-hati anggota badan yang patah searah sumbunya. panjang persendian proksimal maupun yang distal harus ikut di foto. Pada pemeriksaan radiologis dengan pembuatan foto rontgen ddua arah 90o didapatkan gambaran garis patahan. perubahan bentuk berupa bengkok. cedera otak. Pemeriksaan klinis untuk mencari trauma di bagian lain tidak boleh dilupakan. misalnya dalam hal patah tulang vertebra dengan gejala neurologis. Keempat nyeri ini didapatkan pada lokalisasi yang tepat sama.

2. umumnya tidak menimbulkan masalah. Cara yang termudah untuk memeriksa rotasi ini adalah dengan membandingkan rotasi anggota yang patah dengan rotasi anggota yang sehat. sedangkan angulasi yang tidak dalam bidang gerak sendi tidak akan mengalaminya. proses pernapasan (breathing). atau perpendekan. prinsipnya adalah mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi semula (reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan fraktur (imobilisasi). dan kum kontraktione. Pemendekan anggota yang patah disebabkan oleh tarikan tonus otot sehingga fragmen patahan tulang berada sebelah menyebelah. baru dilakukan penatalaksanaan pada fraktur itu sendiri. rotasi antara 2 fragmen tidak pernah terkoreksi sendiri oleh proses swapugar. ad peripheriam. dan sirkulasi (circulation). Bila sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi.4 Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada fraktur tetap dimulai dari penilaian jalan napas (airway). angulasi dalam bidang gerak sendi sampai kurang lebih 20-30 derajat akan dapat mengalami swapugar. . Reposisi yang dilakukan tidak harus mencapai keadaan sepenuhnya seperti semula karena tulang mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan bentuknya kembali seperti bentuk semula (remodeling/proses swapugar). Kelayakan reposisi suatu dislokasi fragmen ditentukan oleh adanya dan besarnya dislokasi ad aksim. Secara umum. melainkan harus diketahui dari pemeriksaan klinis. yang berupa rotasi. Untuk frakturnya sendiri. Ada tidaknya rotasi fragmen tidak dapat diketahui dari foto Rontgen. apakah terjadi syok atau tidak. Akan tetapi. Pemendekan anggota atas pada orang dewasa dan pemendekan pada anggota atas maupun bawah pada anak.

Contoh cara ini adalah fraktur costa. Imobilisasi dengan fiksasi Dapat pula dilakukan imobilisasi luar tanpa reposisi. dan kemudian diikuti dengan imobilisasi. Reposisi dengan traksi Dilakukan secara terus menerus selama masa tertentu. Cara ini dilakukan pada fraktur dengan otot yang kuat. . tetapi tetap memerlukan imobilisasi agar tidak terjadi dislokasi fragmen. Reposisi dengan cara manipulasi diikuti dengan imobilisasi Ini dilakukan pada fraktur dengan dislokasi fragmen yang berarti seperti pada fraktur radius distal. 3. kemudian pin baja tadi disatukan secara kokoh dengan batangan logam di luar kulit. 4. misalnya beberapa minggu.Macam-macam cara untuk penanganan fraktur : 1. Alat ini dinamakan fiksator ekstern. 2. fraktur clavicula pada anak. dan fraktur vertebra dengan kompresi minimal. Reposisi diikuti dengan imobilisasi dengan fiksasi luar Untuk fiksasi fragmen patahan tulang. Proteksi tanpa reposisi dan imobilisasi Digunakan pada penanganan fraktur dengan dislokasi fragmen patahan yang minimal atau dengan dislokasi yang tidak akan menyebabkan kecacatan di kemudian hari. 5. misalnya fraktur femur. Contoh cara ini adalah pengelolaan fraktur tungkai bawah tanpa dislokasi yang penting. digunakan pin baja yang ditusukkan pada fragmen tulang. Ini dilakukan pada fraktur yang bila direposisi secara manipulasi akan terdislokasi kembali di dalam gips.

Diberikan pula antibiotik profilaksis selain imunisasi tetanus.6. Selain itu. Ini dilakukan pada orang tua yang patahan pada collum femur tidak dapat menyambung kembali. . sesudah operasi tidak perlu lagi dipasang gips dan segera bisa dilakukan mobilisasi. humerus. Reposisi secara operatif diikuti dengan fiksasi patahan tulang dengan pemasangan fiksasi interna Ini dilakukan misalnya. Dalam hal ini. Reposisi secara non operatif diikuti dengan pemasangan fiksasi dalam pada tulang secara operatif Misalnya reposisi fraktur collum femur. Keuntungan reposisi secara operatif adalah bisa dicapai reposisi sempurna dan bila dipasang fiksasi interna yang kokoh. Kerugiannya adalah reposisi secara operatif ini mengundang resiko infeksi tulang. pada fraktur femur. Caput femur dibuang secara operatif dan diganti dengan prostesis. setelah tereposisi. pengelolaan fraktur terbuka perlu memperhatikan bahaya terjadinya infeksi. dilakukan pemasangan pen ke dalam collum femur secara operatif. lakukan fiksasi yang kokoh pada fragmen fraktur. Eksisi fragmen fraktur dan menggantinya dengan prosthesis Dilakukan pada fraktur collum femur. fiksasi dengan fiksator eksterna lebih baik daripada fiksasi interna. 7. tibia. yaitu perlu dilakukannya debridement yang adekuat sampai ke jaringan yang vital dan bersih. Fiksasi interna yang dipakai bisa berupa pen di dalam sumsum tulang panjang. bisa juga berupa plat dengan sekrup di permukaan tulang. atau lengan bawah. 8. Untuk menghindarinya perlu ditekankan disini pentingnya pencegahan infeksi sejak awal pasien masuk rumah sakit. Fragmen direposisi secara nonoperatif dengan meja traksi. baik infeksi umum (bakteremia) maupun infeksi terbatas pada tulang yang bersangkutan (osteomyelitis).

5 Komplikasi Komplikasi patah tulang dapat dibagi menjadi komplikasi segera. Tabel 2. distrofi refleks. neurogenik Komplikasi Dini .Lokal o Sendi : ankilosis fibrosa. gangrene.Umum o Rudapaksa multiple o Syok . komplikasi dini. dan komplikasi kemudian terjadi lama setelah patah tulang. komplikasi dini terjadi dalam beberapa hari setelah kejadian. kandung kemih (pada fraktur pelvis . osteoporosis pascatrauma. Pada ketiganya dibagi lagi masing-masing menjadi komplikasi local dan umum. Komplikasi segera terjadi pada saat terjadinya patah tulang atau segera setelahnya. thrombosis vena.Lokal o Kulit : abrasi. penetrasi o Pembuluh darah : robek o Sistem saraf : sumsum tulang belakang. emboli paru. saraf tepi motorik dan sensorik o Cedera otot o Organ dalam : jantung. . hemoragik. laserasi. sindrom kompartemen. paru. infeksi sebdi. hepar. ankilosis osal o Tulang : gagal taut/taut lama/salah taut. dan komplikasi lambat atau kemudian. limpa (pada fraktur kosta).2. osteomielitis umum o ARDS.3 Komplikasi Fraktur Komplikasi Segera .Lokal o Nekrosis kulit. tetanus Komplikasi Lama .

ruptur tendon o Saraf : kelumpuhan saraf lambat .gangguan pertumbuhan. patah tulang ulang o Otot/tendo : penulangan otot.Umum o Batu ginjal (akibat imobilisasi lama di tempat tidur) . osteomielitis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful