Draft Proposal

ANALISIS KEBIJAKAN TENTANG PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA (PBKB) PADA SATUAN PENDIDIKAN SMP

Oleh : MULTAZAM NIM : 10701269004

PROGRAM STUDI PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN (S3) PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011

1

A. LATAR BELAKANG “ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi pada kerabat dan melarang berbuat yang keji, mungkar dan permusuhan. Dia mengajari kamu supaya mendapat peringatan”. ( QS An Nahl : 90 ) “ Hai orang-oarng yang beriman janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul, amanat-amanat yang di percayakan kepada kamu sedang kamu mengetahui”. ( QS AlAnfal:27) Menurut Paus Yohanes Paulus II (1994) bahwa untuk tegaknya suatu bangsa peran pendidikan budaya dan karakter bangsa sangat penting dan strategis menuju nilai-nilai hakiki hidup manusia yaitu keadilan sejati dan kesadaran cinta kasih yang terwujud dalam kepedulian yang tulus ikhlas dan pelayanan tanpa pamrih. Oleh karena itu melalui pendidikan sebagai sarana untuk membangkitkan budaya karakter bangsa yang dapat mengakselerasikan pembangunan sekaligus memobilisasi potensi domistik untuk meningkatkan daya saing bangsa, yaitu dalam bentuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Presiden Soekarno, semenjak kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945, telah menyatakan perlunya Nation and Character Building sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa. Kita semua menyadari pendidikan budaya karakter bangsa berperan sangat besar dalam mempertahankan eksistensi bangsa. Cukup banyak contoh empiris yang membuktikan bahwa budaya karakter bangsa berperan besar dalam mencapai tingkat keberhasilan dan kemajuan bangsa. Contoh pertama adalah Negeri Cina. Negeri ini bisa dikatakan tidak lebih makmur dibandingkan dengan Indonesia pada era tahun 1970. Namun, dalam waktu kurun kurang dari 30 tahun, dengan disiplin dalam kerja keras, Cina telah berhasil bangkit, dengan membangun budaya disiplin kerja 7 hari dalam seminggu dan menekan korupsi.

2

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan.

Intruksi Presiden (Inpres) No. I/2010 tentang Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa diupayakan untuk mengatasi kemandekan pendidikan moral. Alternatif lain yang banyak dikemukakan untuk mengatasi, paling tidak mengurangi, masalah budaya dan karakter bangsa yang dibicarakan itu adalah pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik.

Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat.

3

Hasil penelitian Monk (2005) dari Kingwood Middle Scool di Humble, Texas, tentang Lessons in Character telah menyimpulkan dampak positif terhadap siswa (1) memilikiki kepedulian sosial (2) rasa hormat terhadap guru (3) saling menghargai sesama teman (4) bertanggung jawab. Hasil penelitian Hill (2002),

tentang penanaman pendidikan budaya dan karakter bangsa menyimpulkan (1) siswa memiliki kejujuran dan loyal (2) memiliki pemikiran terbuka serta tidak suka memanfaatkan orang lain (3) sikap peduli terhadap orang lain maupun kondisi sosialnya (4) sadar hukum dan peraturan (50 disiplin dan tanggung jawab.

Kita pahami akhir-akhir ini kita bisa menyaksikan di media cetak maupun elektronik, semakin banyaknya pelajar ditingkat satuan SMP,SMA/SMK yang tidak dapat memanfaatkan waktu luangnya dengan baik, dan sering melakukan kegiatankegiatan negatif yang berakibat menurunya prestasi belajar. Hasil penelitian Indra, Haniman, dan Moeljohardjono (2000) tentang kenakalan remaja pelajar SMP,SMA, dan SMK di Surabaya memperoleh kesimpulan yakni: (1) 50 % siswa terlambat pergi dan pulang sekolah. Hal ini mengangap sesuatu yang wajar. (2) 5% merusak diri yang di tandai dengan pengguna obat terlarang. Sedangkan untuk kategori kenakalan seksual, menonton film biru (15,88%), mendatang panti pijat ( 13,74%), mencium pacar di tempat umum (10,96), hubungan sek pra nikah (2,65%). Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Pusat (2010), bahwa siswa SMP, SMA/SMK telah melakukan penyimpangan seksual dan tawuran (51%).

Persoalan budaya dan karakter bangsa tersebut, kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu mengenai berbagai aspek kehidupan. Persoalan yang muncul di masyarakat seperti kenakalan pelajar, korupsi, kekerasan, kejahatan seksual,

4

perusakan, perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupn politik yang tidak produktif, dan sebagainya. Persoalan ini selalu hadir dan menjadi menu keseharian kita lewat bergagai media cetak maupun elektronik.

Hasil penelitian Megawangi (2004) tentang perilaku pemimpin bangsa dan elite politik telah menyimpulkan (1) Pengabaian nilai-nilai moral (2) menurunya harkat dan martabat manusia ( Surabaya Post, 12 Maret 2005, hal. 5). Bila persoalan ini tidak teratasi, kehidupan berbangsa akan terganggu yang apada giliranya akan terjadi kehancuran bangsa. Berbagai alternatif penyelesaian diajukan seperti peraturan, undang-undang, peningkatan upaya pelaksanaan dan penerapan moral hukum yang lebih kuat.

Dalam rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Untuk mendapatkan wawasan mengenai arti pendidikan budaya dan karakter bangsa, peneliti perlu

mengemukakan pengertian istilah budaya, pendidikan, dan karakter. Pengertian yang dikemukakan di sini hanya secara teknis dan digunakan dalam mengembangkan pedoman ini. Budaya diartikan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan itu adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya. Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan itu digunakan dalam kehidupan manusia dan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, teknologi, seni, dan sebagainya. Manusia sebagai makhluk sosial menjadi penghasil sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan. Akan tetapi juga dalam interaksi dengan sesama manusia dan

5

alam kehidupan, manusia diatur oleh sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan yang telah dihasilkannya. Ketika kehidupan manusia terus berkembang, maka yang berkembang sesungguhnya adalah sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, ilmu, teknologi, serta seni. Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam

mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan adalah juga suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi

keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Pendidikan merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut ke arah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan masa mendatang. Keberlangsungan itu ditandai oleh pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, pendidikan adalah proses pewarisan budaya dan karakter bangsa bagi generasi muda dan juga proses pengembangan budaya dan karakter bangsa untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang. Dalam proses pendidikan budaya dan karakter bangsa, secara aktif peserta didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi, dan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang bermartabat. Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani

6

bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berangkutan. Artinya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial, budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah Pancasila. Jadi pendidikan budaya dan karakter bangsa haruslah berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Dengan kata lain, pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah

mengembangkan nilai-nilai Pancasila dan nilai-nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa yang bersumber dari Agama, Pancasila, Budaya, serta tujuan Pandidikan Nasional: (1) Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.(2) Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik,

7

hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara. (3) Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa. (4) Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Atas dasar pemikiran itulah, menurut peneliti bahwa pengembangan pendidikan budaya dan karakter sangat strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang. Namun pengembangan itu harus dilakukan melalui perencanaan yang baik.

B. Permasalahan

1. Identifikasi

Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat diidentifikasi dua masalah:

8

a. Bangsa Indonesia dikenal itu berkat karakter kita yang ramah, namun kenyataanya seiring dengan perkembangan jaman dan pengaruh globalisasi, masyarakat kita telah berobah 180%, dimana kekerasan, kriminalitas, budaya menang sendiri, acuh tidak acuh dan budaya memperkaya sendiri telah memasuki masyarakat indonesia. b. Tidak terkecuali dalam dunia pendidikan, penyakit masyarakat itu dengan mudah merambah hampir seluruh siswa-siswi kita. Misalnya, tawuran antar pelajar, pelajar mencuri, tidak jujur, membunuh orang tua dan lain sebagainya. Fenomena inilah peneliti sangat tertarik untuk mendalaminya untuk mengembalikan karakter bangsa.

2. Pembatasan

Penelitian ini dibatasi pada persoalan-persoalan kebijakan tentang pendidikan budaya dan karakter bangsa di satuan pendidikan Sekolah Menengah Pertama. Dalam fokus ini akan ditemukan persoalan yang mendasar di lapangan, dan memungkinkan untuk ditindaklanjuti dalam rangka untuk memperkuat dan membangun budaya bangsa yang berkarakter.

3. Perumusan masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah yang peneliti akan ajukan adalah: 1. Bagaimanakah Implementasi kebijakan pendidikan budaya dan karakter bangsa pada satuan pendidikan SMP? 2. Bagaimanakah efektifitas kebijakan pendidikan budaya dan karakter bangsa di satuan pendidikan SMP?

9

3. Apakah kebijakan pendidikan budaya dan karakter bangsa ini diterapkan dalam satuan pendidikan SMP?

C. Tujuan dan Manfaat

a.

Tujuan

Tujuan penelitian ini untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan sebagai berikut: 1. Mengetahui implementasi kebijakan pendidikan budaya dan karakter bangsa pada satuan pendidikan SMP. 2. Mengetahui efektifitas kebijakan pendidikan budaya dan karakter bangsa di satuan pendidikan SMP. 3. Apakah kebijakan pendidikan budaya dan karakter bangsa ini di terapkan dalam satuan pendidikan SMP.

b. Manfaat

Manfaat secara teoritis dan aplikasinya dari penelitian ini adalah diharapkan dapat memberikan sumbangan tentang pendidikan budaya dan karakter bangsa sehingga dapat: 1. mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius. 2. menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. 3. mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan.

10

4. mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

11

BAB II LANDASAN TEORI

1. Kebijakan Publik

Kebijakan publik merupakan

merupakan hal yang sangat penting untuk

diperhatikan. Karena di dalamnya kita bisa melihat seberapa besar komitmen pemerintah dalam mengapresiasi kepentingan warganya. Kebijakan publik sendiri tentunya menyangkut orang banyak yang dalam pembuatanya diperlukan kebijakan-kebijakan dari pemerintah agar tidak terjadi tumpang tindih kepentingan yang pada akhirnya hanya akan merugikan masyarakat. Kebijakan publik memiliki banyak makna yang dapat diklasifikasi kedalam beberapa variasi. Beberapa variasi yang dapat digunakan untuk memahami kebijakan salah satunya yang dipakai adalah dari aspek kedalaman yang mencangkup analisa kebijakan sebagai keputusan.

1.1 Analisa Kebijkan

Analisis

kebijakan adalah suatu kegiatan

guna menghasilkan dan

menyajikan informasi untuk memberi landasan penetapan kebijakan. Kebijakan yang tepat adalah yang disusun berdasarkan informasi informed decisions dasar

atau informed policy mutakhir yang relevan dan tepat, bukan atas bisikan atau sekedar perkiraan yang belum dicek kebenarannya.

William Dunn (1994) memberikan penjelasan bahwa analisis kebijakan adalah suatu disiplin ilmu social terapan yang menggunakan metode inquiri dan argumentasi berganda untuk menghasilkan dan mendayagunakan informasi

12

kebijakan yang sesuai

dalam suatu proses pengambilan keputusan yang

bersifat politis dalam rangka memecahkan masalah kebijakan. Ducan MacRae (1976) mengartikan analisis disiplin ilmu sosial terapan kebijakan sebagai suatu

yang mengutamakan argumentasi rasional

dengan menggunakan fakta-fakta untuk menjelaskan, menilai dan membuahkan pemikiran dalam rangka upaya tersebut tampaknya terlalu memecahkan masalah publik. Pengertian argumentasi rasional tentang

menjurus pada

kebijakan public yang dalam kenyataannya kebijakan public dan tidak pernah sepenuhnya

bertentangan dengan hakikat rasional. Jika rasio dan fakta

semata-mata yang berbicara, maka analisis kebijakan publik terlalu dianggap sebagai suatu gejala yang dapat dipecahkan melalui penggunaan pendekatan analisis yang rasional pula. Sedangkan deskripsi analisis kebijakan yang diberikan ES. Quade adalah sebagai berikut : Setiap jenis analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi dapat bagi para pengambil kebijakan di dalam menguji pendapat-pendapat mereka. Dalam analisis kebijakan, kata analisis digunakan dalam pengertian yang

paling umum. Kata tersebut secara tidak langsung menunjukkan penggunaan intitusi dan pertimbangan yang mencakup tidak dengan hanya pengujian kebijakan tetapi juga

pemecahan ke dalam komponen-komponennya,

merencanakan dan mencari sintesis atas alternatif-alternatif baru. Aktivitas – aktivitas wawasan ini meliputi terhadap penelitian problem untuk atau isu menjelaskan yang atau memberikan atau untuk

mendahului

mengevaluasi program yang sudah selesai. Beberapa analisis bersifat informasi yang berupa pemikiran keras dan telitii, sedangkan lainnya memerlukan data

13

yang

luas, sehingga dapat dihitung dengan proses matematika yang rumit

(muhajir, 2002). Berdasarkan uraian tersebut di atas ada beberapa kata kunci yang dapat digunakan untuk memahami pengertian analisis kebijakan, yaitu: 1. suatu prosedur untuk menghasilkan informas mengenai masalah

kemasyarakatan berikut tindakan pemecahannya. 2. 3. 4. 5. 6. 7. suatu rangkaian proses dalam menghasilkan kebijakan analisis kebijakan berorientasi pada problem solving. analisis kebijakan adalah ilmu yang mempelajari kebijakan dan prosesnya analisis kebijakan merupakan ilmu sosial terapan analisis kebijakan mendayagunakan dan menghasilkan informasi, dan analisis kebijakan berkaitan dengan pengambilan kebijakan.

Sehubungan uraian tersebut di atas maka tujuan analisis kebijakan adalah: menyajikan informasi tentang keadaan program yang dianalisis 1. 2. mengidentifikasi masalah yang ada dari program yang bersangkutan mendapatkan alternatif pemecahan dari masalah yang telah diindetifikasi.

1.2 Pendekatan Kebijakan Publik.

Dalam literatur analisis kebijakan, pendekatan dalam analisis kebijakan pada dasarnya meliputi dua bagian besar, yaitu pendekatan deskriptif dan pendekatan normatif. Pendekatan deskiptif ialah prosedur atau cara yang digunakan dalam ilmu pengetahuan ( baik ilmu pengetahuan murni maupun terapan) untuk menerangkan suatu gejala yang terjadi didalam masyarakat. Istilah yang

14

digunakan

oleh

Cohn(1986)

mengenai pendekatan deskriptif

ini ialah

pendekatan positif yang diwujudkan dalam bentuk upaya ilmu pengetahuan dalam menyajikan suatu State of the art, atau keadaan apa adanya dari suatu gejala yang sedang diteliti dan yang perlu diketahui oleh para pemakai. Menerangkan kebenaran tentang suatu gejala bukanlah merupakan hal

yang mudah karena gejala

yang terjadi

di dalam masyarakat selalu dapat

ditafsirkan secara subjektif, dan sangat bergantung kepada pandangan subjek yang sedang menyoroti gejala tersebut. Tujuan pendekatan deskriptif ini ialah mengemukakan kemasyarakatan penafsiran agar yang benar secara kesepakatan ilmiah umum mengenai mengenai gejala suatu

diperoleh

permasalahan yang sedang adanya kepada para pengambil keputusan. Tujuan dari pendekatan deskriptif dalam analisis kebijakan ialah agar para pengambil keputusan kebajikan. memahami permasalahan yang sedang disoroti dari suatu isu

Dunn (1993) menambahkan satu pendekatan lagi, yaitu pendekatan evaluatif yang maksudnya sama dengan pendekatan deskriptif, yaitu

menerangkan apa adanya tentang hasil dari suatu upaya yang dilakukan oleh suatu kegiatan atau program. Perbedaannya dengan pendekatan deskriptif

terletak pada penggunaan kriteria. Jika pendekatan deskriptif atau pendekatan positif dimaksudkan untuk menerangkan suatu gejala dalam keadaan tidak ada criteria, maka pendekatan evaluatif juga dimaksudkan untuk menerangkan

keadaan dengan menerapkan suatu kriteria atas terjadinya gejala tersebut. Gejala yang diterangkan oleh pendekatan evaluative ialah gejala yang

berkaitan dengan nilai dan pengukuran setelah dihubungkan dengan kriteria

15

yang sudah ditentukan sebelumnya. Dengan demikian, pendekatan evaluative lebih menekankan pada pengukuran sedangkan pendekatan deskriptif lebih menekankan pada penafsiran tentang terjadinya gejala yang bersangkutan. Pendekatan normative yang sering juga disebut pendekatan preskriptif merupakan upaya dalam ilmu pengetahuuan untuk menawarkan suatu norma, kaidah atau “resep” yang dapat suatu digunakan oleh pemakai dalam rangka

memecahkan

masalah. Tujuan

pendekatan

ini ialah

membantu

mempermudah para pemakai hasil penelitian dalam menentukan atau memilih salah satu dari beberapa pilihan cara atau prosedur yang paling efisien dalam menangani atau memecahkan suatu masalah. Dengan norma atau “resep”

tersebut diharapkan para pemakai hasil penelitian memperoleh manfaat yang lebih besar dari kegiatan penelitian dalam ilmu pengetahuan, khususnya dalam pemecahan masalah –masalah sosial atau kemasyarakatan. Pendekatan normatif dimaksudkan untuk membantu para pengambil

keputusan dalam bentuk pemikiran-pemikiran mengenai cara prosedur yang paling efisien dalam memecahkan suatu masalah kebijakan public. Pendekatan normatif dalam analisis kebijakan dimaksudkan untuk membantu para

pengambil keputusan tersebut dapat memecahkan suatu masalah

kebijakan.

Informasi yang normatif atau perskriptif ini biasanya berbentuk alternatif kebijakan sebagai hasil dari analisis data. Informasi jenis ini dihasilkan dari metedologi yang sepenuhnya bersifat rasional yang sesuai dengan argumentasi teoritis maupun data dan informasi. Informasi yang bersifat normatif ini oleh Penelaah Sektor Pendidikan ( Balitbang - Dikbud, 1986) disebut “informasi teknis” karena merupakan hasil analisis data berdasarkan informasi yang

berkaitan dengan suatu isu kebijakan yang sedang atau ingin disoroti.

16

Analisis kebijakan dapat digolongkan pada salah satu bentuk penelitian yang terutama menggunakan data sekunder ( Kemmerer 1994). Berhubung dengan penggunaan data sekunder tersebut, maka perlu dilakukan pengecekan secara sederhana terhadap kebenaran data tersebut. Dengan demikian kegiatankegiatan yang tercakup dalam analisis kebijakan meliputi suatu spektrum

kegiatan yang sangat luas dari penelitian sampai evaluasi program. Penelitian yang dimaksud disini adalah penelitian yang ditujukan untuk memberi kejelasan terhadap masalah-masalah yang ada atau diperhitungkan akan ada dikemudian hari. Kejelasan terhadap masalah meliputi diketahuinya gambaran lengkap dan terinci tentang suatu masalah, mengapa masalah tersebut terjadi sampai ke faktor-faktor yang berkaitan dengan terjadinya masalah. O. Jones ( dalam Islamy, 1984:93), ada 4 ( empat ) faktor yang perlu diperhatikan agar problem itu dapat menarik perhatian secara serius yaitu : 1. Dilihat dari peristiwanya sendiri, berapa banyak orang yang terkena pengaruh atau akibat peristiwa tersebut. Bagaimana persepsi orang terhadap peristiwa maupun akibat peristiwa-peristiwa itu ? Seberapa besar insentitas orang-orang yang dipengaruhi oleh peristiwa tersebut ? 2. Organisasi kelompok-kelompok; berapa jumlah anggota kelompok yang terkena akibat peristiwa; hubungan antara anggota dan pemimpin kelompok tersebut? Apakah tersedia tenaga staf yang profesional? Bagaimanakah

pemimpin-pemimpin itu dipilih? Seberapa besar otoritas yang mereka miliki? 3. Cara mencapai kekuasaan, apakah mereka yang terkena akibat peristiwa itu terwakili oleh mereka yang mempunyai posisi sebagai pembuat keputusan? Apakah mereka yang mempunyai posisi sebagai pembuat keputusan bersikap

17

simpatik pada mereka yang terkena akibat/pengaruh? Adakah dukungan dari mereka yang terkena pengaruh? 4. Proses kebijakan; apakah jenis hubungan antara pembuat kebijakan dan orangorang yang terkena pengaruh kebijakan tersebut? Hierarkis/Demokratis? Apakah syarat-syarat formal bagi pembuat kebijakan terhadap mereka yang dipengaruhi? Dan sebagainya.

1.3

Pengertian Pendidikan Karakter

Pembangunan Pancasila dan

karakter

yang merupakan UUD 1945 dilatar

upaya perwujudan belakangi oleh

amanat realita

Pembukaan

permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti : disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila; keterbatasan perangkat kebijakan

terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila; bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ; memudarnya kesadaran terhadap nilainilai budaya bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan melemahnya kemandirian bangsa ( Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 20102025). Untuk mendukung perwujudan cita-cita pembangunan karakter

sebagaimana diamanatkan dalam pancasila dan Pembukaan UUD 1945 serta mengatasi permasalahan kebangsaan saat ini, maka Pemerintah menjadikan

pembangunan karakter sebagai salah satu program prioritas pembangunan nasional. Semangat Pembangunan itu secara implisit ditegaskan dalam Rencana

Jangka Panjang

Nasional (RPJPN) tahun 2005-2015, dimana

pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi

18

pembangunan nasional,

yaitu “mewujudkan

masyarakat

berakhlak

mulia,

bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.” Terkait dengan upaya mewujudkan pendidikan karakter sebagaimana yang diamanatkan dalam RPJPN, sesungguhnya hal yang dimaksud itu sudah tertuang dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional (Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 UUSPN). Pendidikan Tahun 2003 tentang Sistem nasional berfungsi Pendidikan Nasional –

mengembangkan dan membentuk

watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam ragka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar

menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis secara bertanggung jawab. Dengan demikian, RJPN dan UUSPN merupakan landasan yang kokoh untuk melaksanakan secara operasional pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai prioritas program Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014, yang dituangkan dalam Rencana Aksi Basional Pendidikan Karakter (2010):

pendidikan karakter disebutkan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik – buruk,

memelihara apa yang baik dan mewujudkan sehari-hari dengan sepenuh hati. Atas dasar

kebaikan itu dalam kehidupan

itu, pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana

yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan ( habituation) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana (psikomotor). Dengan kata lain,

19

pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek “ pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga “merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action). Pendidikan karakter menekankan pada habit atau kebiasaan yang terus-menerus

dipraktikkan dan dilakukan Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia. Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki
20

kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku). Individu yang berkarakter adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya). Menurut David Elkind & Freddy Sweet (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut: “character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya. Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan

21

kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga atau

masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat

bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda. Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas (2010), secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial - kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam : Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and

kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development) Berdasarkan pada pengertian singkat yang melatari penulisan ini, banyak pihak menuntut adanya peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan

22

karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.

23

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Kegiatan ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Bogdan dan Taylor, 1975:5), riset yang lebih tertarik pada usaha untuk memahami bagaimana pengalaman hidup orang, menginterpretasikan fenomena/makna sosial serta mengeksplorasi konsep-konsep baru dalam mengembangkan teori-teori baru (Alston dan Bowles, 1998:9), riset yang lebih tertarik pada usaha untuk memahami bagaimana pengalaman hidup orang, dan biasanya berorientasi teoritis (Moleong, 2000). berupaya untuk Kegiatan ini menggunakan pendekatan kualitatif karena mengidentifikasi dan menggambarkan secara lebih

berkomprehensif mengenai pemahaman daerah tentang mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan, kebijakan dan strategi yang ditempuh daerah.

24

DAFTAR PUSTAKA

Abourjilie, C.2001.Developing Character for Classroom Success.Chapel Hill, NC : Character Development Group. Azra, Azyumardi.2000. Pendidikan Akhlak dan Budi Pakerti : Membangun Kembali Anak Bangsa. Makalah dalam Konvensi Nasional Pendidikan Tahun 2000.Jakarta:Universitas Negeri. Azra, Azyumardi.2002. Paradigma Baru Pendidikan Nasional Rekonstruksi dan Demokratisasi. Jakarta:Kompas. Benninga, J.S. & Wyne, E.A.1998. Keeping in Character. Phi Delta Kappan, 79,439445. Brooks, B.D. & Goble, F.G.1997. The Case for Character Education:The Role of the School in Teaching Values and Virtue. CA: Studio 4 Productions. Clark, Kate Stevenson.2009. Character Education : Handling Peer Pressure. New York:Chelsea House Publishing. Koesoema A, Doni.2007. Pendidikan Karakter : Strategi Mendidik Anak di Zaman Modern. Jakarta:PT Grasindo. Kosasih Djahari & Aziz.Wahab 1996. Dasar Konsep Pendidikan Moral. Jakarta : Dikti. Megawangi, Ratna 2003.Pendidikan Karakter untuk Membangun Masyarakat Madani. IPPK Indonesia Heritage Foundation Thabrani.1999. Moralitas dalam Pendidikan Islam .Malang:UMM Press

25

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful