Istilah disfungsi seksual menunjukkan adanya gangguan pada salah satu atau lebih aspek fungsi seksual (Pangkahila

, 2006). Bila didefinisikan secara luas, disfungsi seksual adalah ketidakmampuan untuk menikmati secara penuh hubungan seks. Secara khusus, disfungsi seksual adalah gangguan yang terjadi pada salah satu atau lebih dari keseluruhan siklus respons seksual yang normal (Elvira, 2006). Disfungsi seksual adalah gangguan di mana klien mengalami kesulitan untuk berfungsi secara adequate ketika melakukan hubungan seksual. Sehingga disfungsi seksual dapat terjadi apabila ada gangguan dari salah satu saja siklus respon seksual.

Siklus respon seksual

Menurut (Kolodny, Master, Johnson, 1979) 1. Fase Perangsangan (Excitement Phase)

Perangsangan terjadi sebagai hasil dari pacuan yang dapat berbentuk fisik atau psikis. Kadang fase perangsangan ini berlangsung singkat, segera masuk ke fase plateau. pada saat yang lain terjadi lambat dan berlangsung bertahap memerlukan waktu yang lebih lama.

Pemacu dapat berasal dari rangsangan erotik maupun non erotik, seperti pandangan, suara, bau, lamunan, pikiran, dan mimpi.

Kenikmatan seksual subjektif dan tanda-tanda fisiologis keterangsangan seksul: pada laki-laki, penis yang membesar (peningkatan aliran darah yang memasuki penis); pada perempuan, vasocongestion (darah mengumpul di daerah pelvis) yang mengakibatkan lubrikasi vagina dan pembesaran payudara (putting susu yang menegak).

2. Fase Plateau

Pada fase ini, bangkitan seksual mencapai derajat tertinggi yaitu sebelum mencapai ambang batas yang diperlukan untuk terjadinya orgasme (periode singkat sebelum orgasme).

3. Fase Orgasme

Orgasme adalah perasaan kepuasan seks yang bersifat fisik dan psikologik dalam aktivitas seks sebagai akibat pelepasan memuncaknya ketegangan seksual (sexual tension) setelah terjadi fase rangsangan yang memuncak pada fase plateau.

Pada laki-laki, perasaan akan mengalami ejakulasi yang tak terhindarkan yang diikuti dengan ejakulasi; pada perempuan, kontraksi di dinding sepertiga bagian bawah vagina.

4. Fase Resolusi

atau situational. Selain itu gangguan ini dapat bersifat generalized (menyeluruh). Disfungsi seksual bias bersifat lifelong (seumur hidup) atau acquired (didapat). yang terjadi hanya dengan mitra-mitra atau pada waktu-waktu tertentu tetapi tidak dengan mitra-mitra lain atau pada waktu-waktu lainnya. sedangkan acquired mengacu pada gangguan yang dumulai setelah aktivitas seksual seseorang relative normal. Lifelong mengacu pada kondisi kronis yang muncul diseluruh kehidupan seksual seseorang. .Pada fase ini perubahan anatomik dan faal alat kelamin dan luar alat kelamin yang telah terjadi akan kembali ke keadaan asal. Menurunnya keterangsangan pasca-orgasme (terutama pada lakilaki) Sehingga adanya hambatan atau gangguan pada salah satu siklus respon seksual diatas dapat menyebabkan terjadinya disfungsi seksual. yang terjadi setiap kali melakukan hubungan seksual.

No Tipe Gangguan Laki – Laki Perempuan 1. Nafsu / Hasrat seksual .Kategori Disfungsi Seksual Ikhtisasi terhadap kategori-kategori DSM-IV untuk disfungsi seksual seperti terlihat pada table dibawah ini.

Gangguan nafsu seksual hipoaktif (nafsu kecil atau sama sekali tidak ada untuk melakukan hubungan seksaul) Gangguan nafsu seksual hipoaktif (nafsukecil atau tidak ada nafsu seksual) 2. . Gangguan aversi seksual (aversi dan penghindaran terhadap seks). 3. Rangsangan Gangguan aversi seksual (aversi dan penghindaran terhadap seks).

Rasa nyeri/sakit .Orgasme Gangguan ereksi pada laki-laki (kesulitan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi penis). Gangguan rangasangan seksual pada perempuan (kesulitan untuk mencapai atau mempertahankan lubrikasi atau respons pembesaran vagina). 4.

seperti ejakulasi dini pada laki-laki dan vaginismus hanya terjadi pada perempuan. gangguan-gangguan seksual dengan versi-versinya hampir sama. Pada kedua jenis kelamin.Hambatan orgasme pada laki-laki Ejakulasi dini. Hanya ada beberapa gangguan yang spesifik. . Dispareunia (nyeri yang berhubungan dengan aktivitas seksual) Vaginismus (spasme otot vagina yang mengganggu penetrasi penis). Dispareunia (nyeri yang berhubungan dengan aktivitas seksual) Hambatan orgasme pada perempuan.

Gangguan Nafsu seksual hipoaktif The Diagnostic and Statistical Manual-IV memberi definisi dorongan seksual hipoaktif ialah .A. Masing-masing gangguan ditandai oleh sedikitnya atau tidak adanya minat terhadap seks yang menimbulkan masalah dalam suatu hubungan. Jika di antara faktor tersebut ada yang menghambat atau faktor tersebut terganggu. maka akan terjadi ganggaun dorongan seksual (GDS) (Pangkahila. 2007). Dorongan seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu hormon testosteron. Ganggun Nafsu/Hasrat Seksual Dua gangguan merefleksikan maalah-masalah yang terkait dengan nafsu darisiklus respon seksual. berupa: 1. kesehatan tubuh. faktor psikis dan pengalaman seksual sebelumnya.

Gangguan Aversi seksual Perasaan tidak suka yang konsisten dan ekstrim terhadap kontak seksual atau kegiatan serupa itu. perasaan bersalah. dan pengalaman seksual yang tidak menyenangkan (Pangkahila. Pada usia 40-60 tahun. Pada dasarnya GDS disebabkan oleh faktor fisik dan psikis. 2006).berkurangnya atau hilangnya fantasi seksual dan dorongan secara persisten atau berulang yang menyebabkan gangguan yang nyata atau kesulitan interpersonal. . dorongan seksual hipoaktif merupakan keluhan terbanyak. Minat terhadap kegiatan atau fantasi seksual yang sangat kurang yang mestinya tidak diharapkan bila dilihat dari umur dan situasi kehidupan orang yang bersangkutan. stres yang berkepanjangan. antara lain adalah kejemuan. Diduga lebih dari 15 persen pria dewasa mengalami dorongan seksual hipoaktif. 2.

B. Gangguan Rangsangan Seksual Gangguan ereksi pada laki-laki: ketidakmampuan sebagian laki-laki untuk mencapai atau mempertahankan ereksi penis sampai aktivitas seksual selesai dan keadaan ini terjadi berulang kali. Disfungsi ereksi (DE) berarti ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk melakukan hubungan seksual dengan baik (Pangkahila. 2007). . Gangguan rangsangan seksual pada perempuan: ketidakmampuan sebagian perempuan untuk mencapai atau mempertahankan lubrikasi vagina dan respons keterangsangan seksual yang membuat vagina membesar sampai aktivitas seksual selesai dan keadaaan ini terjadi berulang kali.

C. Penyebab fisik dapat dikelompokkan menjadi faktor hormonal. Pada dasarnya DE dapat disebabkan oleh faktor fisik dan faktor psikis. faktor neurogenik. Gangguan Orgasme . faktor vaskulogenik. Faktor psikis meliputi semua faktor yang menghambat reaksi seksual terhadap rangsangan seksual yang diterima. Sedang disfungsi ereksi sekunder berarti sebelumnya pernah berhasil melakukan hubungan seksual. dan faktor iatrogenik (Pangkahila. faktor psikis hampir selalu muncul dan menyertainya (Pangkahila. 2007). Walaupun penyebab dasarnya adalah faktor fisik. tetapi kemudian gagal karena sesuatu sebab yang mengganggu ereksinya (Pangkahila. 2006).Disfungsi ereksi disebut primer bila sejak semula ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan seksual tidak pernah tercapai. 2007).

Hambatan orgasme dapat disebabkan oleh penyebab fisik yaitu penyakit SSP seperti multiple sklerosis. dan kejemuan terhadap pasangan. . tapi sensasi erotiknya tidak dirasakan. 1. Pria yang mengalami hambatan orgasme tetap dapat ereksi dan ejakulasi. Penyebab psikis yaitu kecemasan. perasaan takut menghamili. Fitur-fitur gangguan orgasme meliputi: Keterlambatan atau tidak terjadinya orgasme yang persisten atau berulang kali terjadi menyusul fase perangsangan seksual normal.Disfungsi orgasme adalah terhambatnya atau tidak tercapainya orgasme yang bersifat persisten atau berulang setelah memasuki fase rangsangan (excitement phase) selama melakukan aktivitas seksual. dan lumbal sympathectomy. parkinson.

ED merupakan ketidakmampuan mengontrol ejakulasi sampai pasangannnya mencapai orgasme. Untuk menentukan seorang pria mengalami ED harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: ejakulasi terjadi dalam waktu cepat. 2. tidak dapat dikontrol. Ketidakmampuan ini bukan lebih menjadi bagian menjadi penentu bagi gangguan lain (misalnya: gangguan suasan perasaan. Gangguan ejakulasi Ejakulasi dini (premature ejaculation) Ada beberapa pengertian mengenai ejakulsi dini (ED). kognitif) dan bukan disebabkan karena efek-efek fisiologis obat atau pengalahgunan obat. Berdasarkan waktu. kecemasan. ada yang mengatakan penis yang mengalami ED bila ejakulasi terjadi dalam waktu kurang dari 1-10 menit. tidak dikehendaki oleh yang .Distres yang signifikan atau kesulitan interpersonal karena ketidakmampuan ini. paling sedikit 50 persen dari kesempatan melakukan hubungan seksual.

Ejakulasi terhambat Berlawanan dengan ED. maka pria yang mengalami ejakulasi terhambat (ET) justru tidak dapat . ED merupakan disfungsi seksual terbanyak yang dijumpai di klinik.bersangkutan. yaitu penyebab psikis dan penyebab fisik. Pria dengan 5-HT rendah mempunyai ejaculatory threshold yang rendah sehingga cepat mengalami ejakulasi. Survei epidemiologi di AS menunjukkan sekitar 30 persen pria mengalami ED. serta mengganggu yang bersangkutan dan atau pasangannya (Pangkahila. Ada beberapa teori penyebab ED. 2006). Penyebab fisik berkaitan dengan serotonin. 2007). Penyebab psikis ialah kebiasaan ingin mencapai orgasme dan ejakulasi secara tergesa-gesa sehingga terjadinya ED (Pangkahila. melampaui DE. yang dapat dibagi menjadi dua bagian.

selama. tetapi sebagian tetap tidak dapat mencapai ejakulasi dengan cara apapun. dan trauma psikoseksual yang pernah dialami. Gangguan nyeri Seksual Sexual pain disorder adalah nyeri genital yang berulang kali terjadi. misalnya fanatisme agama sejak masa kecil yang menganggap kelamin wanita adalah sesuatu yang kotor. Sebagian besar ET disebabkan oleh faktor psikis. Tetapi pada umumnya pria dengan ET dapat mengalami ejakulasi dengan cara lain. Dalam 10 tahun terakhir ini hanya 4 pasien datang dengan keluhan ET. misalnya masturbasi dan oral seks. .mengalami ejakulasi di dalam vagina. baik yang dialami oleh laki-laki maupun perempuan sebelum. atau setelah hubungan seksual. D. takut terjadi kehamilan.

. Vaginismus adalah spasme (kejang urat) pada otototot di pertiga luar vagina. buah pelir. Fitur-fitur dyspareunia meliputi: Nyeri genital yang terkait dengan hubungan seksual baik pada laki-laki maupun perempuan. yang terjadi diluar kehendak.Dyspareunia adalah rasa nyeri/sakit atau perasaan tidak nyaman selama melakukan hubungan seksual. yang mengganggu hubungan seksual. yang persisten atau berulangkali terjadi. atau kelenjar prostat dan kelenjar kelamin lainnya. dispareunia hampir pasti disebabkan oleh penyakit atau gangguan fisik berupa peradangan atau infeksi pada penis. dan keadaan ini berulang kali terjadi. Pada pria. Distress yang signifikan atau kesulitan interpersonal karena ketidakmampuan ini. Ini berarti terjadi penularan infeksi melalui hubungan seksual yang terasa sakit itu. saluran kencing. Salah satu penyebab dispareunia ini adalah infeksi pada kelamin.

Spasme itu tidak disebabkan oleh gangguan lain (misalnya: gangguan somatisasi). yang mengganggu hubungan seksual. Etiologi Disfungsi Seksual Pada dasarnya disfungsi seksual dapat terjadi baik pada pria ataupun wanita. Fitur-fitur vaginismus meliputi: Spasme (kejang urat) pada otot-otot di sepertiga luar vagina. kecemasan. yaitu: . etiologi disfungsi seksual dapat dibagi menjadi dua kelompok. dan keadaan ini bersifat persisten atau berulang kali terjadi. yang terjadi di luar kehendak. Distres yang signifikan atau kesulitan interpersonal karena spasme ini. dan bukan disebabkan oleh efek-efek fisiologis obat atau penyalahgunaan obat. kognitif). dan bukan disebabkan secara eksklusif oleh efek-efek kondisi medis secara umum.Nyeri tidak disebabkan secara eksklusif oleh vaginismus atau kekurangan lubrikasi dan bukan bagian yang lebih menjadi penentu bagi gangguan lain (misalnya: gangguan suasana perasaan.

Faktor fisik yang sering mengganggu seks pada usia tua sebagian karena penyakit-penyakit kronis yang tidak jelas terasa atau tidak diketahui gejalanya dari luar. bagian-bagian badan tertentu atau fisik secara umum. 2006). Makin tua usia makin banyak orang yang gagal melakukan koitus atau senggama (Tobing. .. 2006). 1998). Bagian tubuh yang sedang terganggu dapat menyebabkan disfungsi seksual dalam berbagai tingkat (Tobing. Kadang-kadang penderita merasakannya sebagai gangguan ringan yang tidak perlu diperiksakan dan sering tidak disadari (Raymond Rosen. et al.a) Faktor fisik Gangguan organik atau fisik dapat terjadi pada organ.

Dalam Product Monograph Levitra (2003) menyebutkan berbagai faktor resiko untuk menderita disfungsi seksual sebagai berikut: Gangguan vaskuler pembuluh darah. menurunnya testosteron dalam darah (hipogonadisme) dan hiperprolaktinemia. Gangguan neurologis seperti pada penyakit stroke. Faktor lain seperti prostatektomi. misalnya gangguan arteri koronaria. Gangguan anatomi penis seperti penyakit peyronie (penis bengkok). antara lain diabetes melitus. dan obesitas. alkohol. merokok. Gangguan hormonal. Penyakit sistemik. . multiple sklerosis. hipertensi (HTN). hiperlipidemia (kelebihan lemak darah). Faktor neurogen yakni kerusakan sumsum belakang dan kerusakan saraf.

Kondisi fisik terutama organorgannya masih kuat dan normal sehingga jarang sekali menyebabkan terjadinya disfungsi seksual (Tobing. 2006). benzodiazepin. antara lain: barbiturat. lithium. sebagian besar disfungsi seksual disebabkan faktor psikoseksual. b) Faktor psikis Faktor psikoseksual ialah semua faktor kejiwaan yang terganggu dalam diri penderita. selective serotonin seuptake inhibitors (SSRI). tricyclic antidepressant (Tobing. Pada orang yang masih muda. 2006). anxietas (kecemasan) yang menyebabkan disfungsi seksual. Gangguan ini mencakup gangguan jiwa misalnya depresi. .Beberapa obat-obatan anti depresan dan psikotropika menurut penelitian juaga dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi seksual.

penderita akan mengalami problema psikis. 2000). Richard. 1992. kurangnya pengetahuan tentang seks. oleh karena itu perlu penatalaksanaan yang baik dan ilmiah. yang selanjutnya akan memperburuk fungsi seksualnya. Disfungsi seksual pria yang dapat menimbulkan disfungsi seksual pada wanita juga ( Abdelmassih. Pangkahila. Penyebab dan Penanganan Disfungsi Seksual Disfungsi seksual baik yang terjadi pada pria ataupun wanita dapat dapat mengganggu keharmonisan kehidupan seksual dan kualitas hidup. 1992). 2006. et al. . 2001. R. dan keluarga tidak harmonis (Susilo. Basson..Tetapi apapun etiologinya. trauma hubungan seksual. 1994. Masalah psikis meliputi perasaan bersalah.

serta perbedaan persepsi antara pasien dan dokter terhadap apa yang diceritakan pasien. Diantara yang paling sering terjadi adalah pasien tidak dapat mengutarakan masalahnya semua kepada dokter. serta pelatihan jasmani). alat bantu seks. 1994. Pangkahila. 2000). 1991): Membuat diagnosa dari disfungsi seksual Mencari etiologi dari disfungsi seksual tersebut Pengobatan sesuai dengan etiologi disfungsi seksual Pengobatan untuk memulihkan fungsi seksual. Richardson. Pada kenyataannya tidak mudah untuk mendiagnosa masalah disfungsi seksual.Prinsip penatalaksanaan dari disfungsi seksual pada pria dan wanita adalah sebagai berikut (Susilo. Banyak pasien dengan disfungsi seksual membutuhkan konseling seksual dan terapi. tetapi hanya sedikit yang peduli (Philips. . 2001. obatobatan. yang terdiri dari pengobatan bedah dan pengobatan non bedah (konseling seksual dan sex theraphy.

Psikologi Abnormal. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terapi atau penanganan disfungsi seksual pada kenyataanya tidak mudah dilakukan. Durank. dimana masalah disfungsi seksual pada pria dapat menimbulkan disfungsi seksual ataupun stres pada wanita. diakibatkan oleh faktor medis atau psikologis. Baik itu dilakukan sendiri oleh seorang dokter ataupun dua orang dokter dengan wawancara keluhan terpisah (Barry.Oleh karena masalah disfungsi seksual melibatkan kedua belah pihak yaitu pria dan wanita. Buku kedua. sehingga diperlukan diagnosa yang holistik untuk mengetahui secara tepat etiologi dari disfungsi seksual yang terjadi. 2006. Meski keluhan ini umumnya dikeluhkan . Mark dkk. maka perlu dilakukan dual sex theraphy. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Dispareunia adalah rasa nyeri yang terjadi saat hubungan seksual. sehingga dapat dilakukan penatalaksanaan yang tepat pula. begitu juga sebaliknya. Hodges. 1987).

dispareunia terutama berawal dari gangguan fisik. Dispareunia dianggap sebagai keluhan yang cenderung lebih merupakan masalah fisik ketimbang masalah emosional. selama atau setelah melakukan hubungan seksual dan tidak disebabkan oleh karena vagina yang kering atau vaginismus. Pada sebagian besar kasus. Perlu diketahui bahwa vaginismus ringan seringkali disertai dengan dispareunia. Secara klinis sulit untuk membedakan vaginismus dengan dispareunia oleh karena vaginismus sendiri dapat terjadi secara sekunder akibat dispareunia. namun beberapa pria juga mengeluhkan hal yang sama.oleh kaum wanita. . diagnosis dispareunia ditegakkan bila pasien mengeluhkan adanya nyeri genitalia yang bersifat menetap atau berulang sebelum. Bentuk ekstrim dari kelainan fisik yang menyebabkan dispareunia adalah kontraksi otot dasar panggul wanita secara berlebihan yang disebut sebagaivaginismus Merujuk konsensus DSM-IV (American Psychiatric Association 1994). kecuali bila memang sudah dapat dibuktikan dengan jelas.

Gejala pada wanita Saat terjadi rasa nyeri. Rasa nyeri sudah dapat terjadi saat pemeriksaan fisik berupa ‘vaginal toucher’.Penting dipastikan apakah keluhan dispareunia sudah merupakan keluhan yang dirasakan sejak awal kehidupan seksual. Penyebab dispareunia . merupakan keluhan yang terus menerus atau bersifat situasional. Meskipun sumber rasa nyeri sudah diperbaiki (bekas luka episiotomy). penderita masih saja merasakan adanya rasa nyeri oleh karena memang memori perasaan nyeri saat hubungan seksual tersebut sangat sulit dihilangkan. Hal yang perlu ditentukan adalah apakah nyeri yang terjadi terasa di bagian luar (superfisial) atau di bagian dalam (profunda). Bila vagina kering dan tidak mengalami dilatasi. penderita dispareunia akan kehilangan gairah dan kegembiraannya. proses penetrasi menjadi sulit dan menimbulkan nyeri berlebihan. Lubrikasi dan dilatasi vagina tidak terjadi. terdapatnya faktor psikologi yang berperan dalam keluhan rasa nyeri ini harus sudah ditentukan sebelum memberikan terapi.

endometriosis. infeksi traktus urinarius). trikhom onas. . trikomoniasis. sehingga introitus vagina menjadi relatif sempit untuk satu proses penetrasi normal (kadangkadang diperberat dengan adanya pembentukan jaringan parut). xerosis (kekeringan vagina. khlamidia.Dikenal sejumlah penyakit yang dapat menyebabkan dispareunia. antara lain infeksi(kandidiasis. terutama pada keadaan pasca menopause). Dispareunia dapat pula diakibatkan oleh mutilasi genitalia wanita.[1]tumor. infeksi saluran air seni bagian bawah. pembentukan jaringan parut (pasca episiotomi) dan tumor ovarium. servik atau tuba falopii (antara lain organisme mycopalsma /kandidiasis . klamydia. endometriosis. bakteri coli). penyebab fisik yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan bersanggama adalah infeksi vagina. PENYEBAB FISIK DISPAREUNIA Oleh karena adanya sejumlah keadaan fisik yang dapat menyebabkan rasa nyeri saat aktivitas seksual maka harus dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik yang baik terhadap penderita dispareunia. Pada wanita.

Kekeringan vagina juga terlihat pada sindroma Sjögren's . Pada pasien laki-laki dengan sistitis interstisialis. Saat ini dispareunia diduga kuat merupakan gejala utama dari penyakit yang dikenal dengan nama Sistitis Interstisialis.Selain infeksi. suatu gangguan autoimune yang ditandai dengan gangguan pada kelenjar eksokrin penghasil saliva dan air mata. defisiensi Estrogen merupkan penyebab utama keluhan seksual. Pada masa pasca menopause. kekeringan vagina juga dapat terjadi pada masa laktasi Terapi radiasi yang diberikan pada penderita keganasan dalam panggulmenyebabkan atrofi dinding vagina sehingga mudah mengalami cedera. kelainan anatomis berupa caruncula hymenalis dapat pula menyebabkan dispareunia. penderita mengeluh adanya nyeri dan ketidak nyamanan pada daerah perut bagian bawah pasca aktivitas seksual. Pada keadaan ini. nyeri dapat terjadi saat ejakulasi dan terasa di ujung penis. .

Akibat aktivitas seksual atau masturbasi yang mengebunggebu dapat menyebabkan cedera ringan pada frenulum dan ini dapat menyebabkan rasa nyeri. nyeri terjadi pada hari berikutnya berupa nyeri mengejang pada otot dasar panggul. Sistitis intersitisialis ini juga dapat menyebabkan keluhan sering buang air kecil atau inkontinensia (ngompol). Urethritis atau prostatitis dapat menyebabkan adanya rasa sakit atau ketidak nyamanan saat genitalia mengalami stimulasi. Prostatitis.Pada wanita. Penyebab fisik pada pria Pada lelaki. Infeksi gonorrhoe kadang-kadang juga menyebabkan rasa pedih selama ejakulasi. faktor fisik penyebab ketidaknyamanan hubungan seksual dirasakan pada daerah testis atau glan penis segera setelah ejakulasi. atau infeksi kandung kemih dan vesikula seminalis menimbulkan rasa gatal panas seiring dengan ejakulasi. Diagnosa Banding . sebagaimana yang terjadi pada wanita.

Dyspreunia profunda atau nyeri panggul ( seringkali terjadi pada kasus endometriosis. Atrofi vulva atau vagina ( umumnya terjadi pada masa pasca menopause) 3. Keluhan nyeri berupa rasa panas atau pedih. penyakit radang panggul atau kongesti ). pelekatan organ panggul. Beberapa jenis subtipe dari dispareunia : 1. Vulvar vestibulitis ( sering terjadi pada masa pre menopause ) 2. kista ovarium. Sindroma vulvar vestibulitis (VVS) adalah jenis vulvodynia tersering yang menyerang wanita pada masa premenopause.Keluhan dispareunia pada wanita (vulvodynia) dapat dibagi menjadi 3 jenis :  Nyeri vulva (nyeri pada orifisium/pintu masuk vagina) Nyeri vaginal Nyeri di bagian dalam (‘deep pain’/profunda)   Sering kali yang ditemukan adalah kombinasi dari 3 jenis diatas. Perasaan iritasi atau terbakar dapat menetap .

selama beberapa hari pasca aktivitas seksual dan ii dapat menyebabkan depresi. Penyakit ini ditandai dengan adanya rasa nyeri hebat saat terjadi penterasi pada introitus vaginae dan adanya rasa tegang pada vestibulum. Pemeriksaan laboratorium lain yang harus dilakukan adalah pemeriksaan adanya infeksi bakteri atau virus serta melakukan pemeriksaan seksama pada daerah vulvovaginal untuk melihat adanya daerah atrofi. Tidak terdapat rasa nyeri tekan pada daerah sekitar vulva. dengan melakukan tekanan melingkar didaerah vestibulum untuk menemukan daerah dengan rasa nyeri. diperkirakan mengenai 10 – 15% pasien ginekologi. Diagnosa ditegakkan dengan ‘ cotton swab test’. Diperkirakan hal ini berhubungan dengan berbagai faktor etiologi :  Infeksi human papilloma virus. Angka kejadian VVS cukup tinggi. VVS terlihat sebagai lesi kemerahan yang kecil-kecil dan banyak didaerah vulva (seperti sariawan). . candidiasis berulang atau vaginosis bakterial berulang.

penderita cemas akan terjadinya rasa nyeri sehingga terjadi reflek kondisi spasmodik setiap kali gairah seksual muncul Atrofi vaginal sering terjadi pada wanita pasca menopause. Defisiensi estrogen menyebabkan berkurangnya lubrikasi vagina sehingga terjadi nyeri akibat gesekan antara vagina dengan penis saat terjadi aktivitas seksual. Pada situasi ini juga terjadi gangguan otot sekitar vaginae (m. Beberapa penderita bahkan juga menyebutkan adanya nyeri profunda atau nyeri panggul saat penetrasi seksual dilakukan. nyeri terjadi saat penetrasi dan terasa di vagina bagian depan. Terapi Pemberian terapi dispareunia melalui beberapa tahapan:   Anamnesa yang cermat Pemeriksaan fisik terutama pemeriksaan panggul antara lain untuk melihat sumber keluhan atau .sfingter vaginae) berkaitan dengan nyeri vulva yang menahun tersebut   Faktor neurologis ( hiperplasia neural vestibular) Faktor psikologis.

aktivitas seperti diatas dapat menyebabkan terjadinya lubrikasi alamiah dan dilatasi vagina sehingga mengurangi gesekan saat melakukan penetrasi seksual.  Pasien memasukkan sendiri penis pasangannya untuk dapat mengendalikan penetrasi.   Hilangkan sumber rasa sakit (bila mungkin) Berikan lubrikan yang larut air sebelum aktivitas seksual. Disarankan untuk menggunakan cairan pelembab kulit sebagai bahan lubrikan sebanyak 2 sendok teh pada penis dan pintu masuk vagina. Pada pasangan seksual dimana pasangan wanita dipersiapkan untuk aktivitas penetrasi seksual kedalam vagina. Hendaknya pasangan melakukan aktivitas untuk menggairahkan kehidupan seksual seperti misalnya mandi bersama dan kebersamaan ini tidak selalu berakhir dengan hubungan seksual atau menggunakan gambar-gambar /video seksual.  .melihat apa yang dapat menyebabkan timbulnya rasa nyeri.  Menjelaskan secara rinci pada pasien apa yang terjadi termasuk menjelaskan lokasi dan penyebab timbulnya rasa nyeri.

The spasms close the vagina. Causes Vaginismus is considered a disorder of sexual dysfunction. hal ini disarankan pada mereka yang menderita nyeri di bagian dalam akibat penyakit panggul : Penetrasi vaginal maksimal terjadi bila pasien telentang dengan paha terangkat dan menempel erat pada dada dan betis bersandar pada bahu pasangannya. Vaginismus Vaginismus is an involuntary spasm of the muscles surrounding the vagina. . pasangan laki berada diatas pasien dengan kedua kaki berjajar dengan kaki pasangan wanita. Penetrasi vagina minimal terjadi bila pasien telentang dan kedua kaki dalam keadaan lurus serta menempel pada tempat tidur. including past sexual trauma or abuse. It has several possible causes. Menyarankan untuk melakukan aktivitas seksual yang mengurangi kedalaman penetrasi.

Vaginal pain is common during sexual intercourse or an attempted pelvic exam. Exams and Tests A pelvic exam can confirm the diagnosis of vaginismus. A medical history and complete . Symptoms   Vaginal penetration during sex is difficult or impossible. this does not mean the woman cannot become sexually aroused. Women with varying degrees of vaginismus often develop anxiety regarding sexual intercourse. However. The condition causes penetration to be difficult and painful. or a history of discomfort with sexual intercourse. The exact number of women who have this problem is unknown. Many women may have orgasms when the clitoris is stimulated. or even impossible. Vaginismus is an uncommon condition. Sometimes no cause can be found.psychological factors.

physiology. and can gradually include more intimate contact.physical exam is important to rule out other causes of pain with sexual intercourse (dyspareunia). Outlook (Prognosis) When treated by a specialist in sex therapy. Such exercises include pelvic floor muscle contraction and relaxation (Kegel exercises). and behavioral exercises. . Such therapy should involve the partner. and common myths about sex. success rates are generally very high. This includes information about sexual anatomy. the sexual response cycle. Treatment Treatment involves extensive therapy that combines education. ultimately resulting in intercourse. This should be done under the direction of a sex therapist or other health care provider. counseling. Vaginal dilation exercises are recommended using plastic dilators. Educational resources should be provided.

Philadelphia. Medical Director. Vorvick.Possible Complications Vaginismus may lead to unsatisfying sex activity and tension in intimate relationships. In: Kronenberg HM. Fava M. In: Stern TA. Massachusetts General Hospital Comprehensive Clinical Psychiatry. Polonsky KS. MD. When to Contact a Medical Professional If you have pain associated with intercourse or difficulties with successful vaginal penetration. Sexual disorders and sexual dysfunction. References Bhasin S. Williams Textbook of Endocrinology. Pa: Mosby Elsevier. Sexual dysfunction in men and women. contact your health care provider. Biederman J. Shafer LC. MEDEX Northwest Division of Physician Assistant . Philadelphia. eds. 11th ed. 2008:chap 19. Melmed S. Rosenbaum JF. 1st ed. Rauch SL. eds. Update Date: 7/23/2010 Updated by: Linda J. 2008:chap 36. Pa: Saunders Elsevier. Basson R. Larsen PR.

A.Studies. Also reviewed by David Zieve.. University of Washington. School of Medicine. MHA.M.D. Inc . MD.A. Medical Director.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful