PENDEKATAN EKONOMI POLITIK

Dosen : Prof. DR. Said Zainal Abidin

Mata Kuliah

RINGKASAN BAHAN

Bab 1 A Review of The Growth of Global Business
[ SEBUAH TELAAH MENGENAI PERTUMBUHAN BISNIS GLOBAL ]

Nyoman Rudana, SE
NPM 08.D.040

28 Oktober 2008

Magister Administrasi Publik Manajemen Pembangunan Daerah STIA LAN Jakarta

BAB I SEBUAH TELAAH MENGENAI PERTUMBUHAN BISNIS GLOBAL
Dunia sedang mengarah kepada keadaan tanpa batas bukan karena pemerintah mengijinkannya melainkan karena pemerintah tidak kuasa mencegahnya. 1. Perubahan Profil Bisnis Internasional 1.1. Perdagangan dan Teknologi Tumbuhnya bisnis internasional dapat dilihat dari dua perspektif : a. Perspektif perdagangan : dimulai dengan Yunani dan Portugis yang membawa Eropah unggul dalam perdagangan internasional di abad 16 dengan melakukan kolonisasi, serta Inggris yang mendominasi dunia melalui ekspansi dari kerajaannya. b. Pengembangan teknologi : ditandai dengan penemuan mesin seperti mesin uap, mesin cetak antara abad 14 – 16 dan alat transportasi di abad 19 yang semuanya berpengaruh besar terhadap pertumbuhan aktivitas bisnis internasional. Kedua perspektif tsb melalat belakangi cepatnya ekspansi bisnis di abad 20. Perang Dunia I merupakan puncak pencapaian baik teknologi maupun nasionalitas. Juga tidak hanya mengungkapkan bahwa kesejahteran berubah sejalan dengan pencapaian teknologi namun entuk masyarakat ikut berubah bersamanya. Paradigma mekanikal dari teknologi telah meningkatkan dengan pesat industrialisasi dan menciptakan masyarakat industri. 1.2. Pergeseran Dominasi Ekonomi Pertumbuhan perdagangan dan pencapaian teknologi tidaklah mutually exclusive, keduanya berkontribusi terhadap timbulnya negara industri modern. Namun Perang Dunia II memberikan stimulus terhadap percepatan perkembangan teknologi dakam bidang transportasi, komunikasi dan produksi barang – barang industri. Pasca PD ditandai dengan dominasi Amerika dalam ekspansi bisnis internasional, namun di tahun 1970, Eropah dan Jepang tumbuh sebagai kekuatan baru dalam perdagangan internasional, dengan eksport barang – barang Eropah( USD 88 juta ) mencapai dua kali dari Amerika Serikat. Lebih dari 20 tahun terakhir pergeseran pertumbuhan ekonomi mengarah kepada Asia Timur dan Tenggara. Perkembangan dalam perdagangan dunia tidak hanya membawa kemakmuran namun juga saling ketergantungan antar negara. Sejak tahun 1950 an, dengan investasi awal dari Aerika serta akses ke pasar Amerika, Jeoang berhasil mengembangkan ekonominya melalui pasar ekspor dengan produk berbiaya rendah.. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi berbagai masalah antara kedua negara dimana terjadi rasio perdagangan surplus- defisit antara kedua negara. Hal ini menyebabkan Jepang merelokasi bisnisnya ke wilayah Asia Timur dan tenggara, dengan tujuan mengembangkan industri dengan biaya pekerja ( labor cost ) murah untuk melayani pasar domestik dan internasional.

2

1.3 Pemikiran Ekonomi Ada tiga filosofi ekonomi yang membentuk perilaku ekonomi : 1. Merkantilisme : berkonsentrasi pada akuisisi kekayaan melalui maksimalisasi ekspor terhadap impor. Menciptakan dasar bagi pemikiran ekonomi dan kebijakan pemerintah bahkans ampai di abad ke 20.

2. Adam Smith ( 1776 ) , pendekatan klasik : menantang paham merkantilisme dengan
Penelitian terhadap alam dan penyebab kekayaan negara ( an Inquiry into the Nature and Causes of The Wealth of Nations ) . Pertumbuhan kekayaan negara melalui kompetisi pasar bebas menciptakan dasar bagi filosofi ekonomi Barat dan prinsip kapitalisme. Teori ini berbasis pada perdagangan komlementer ( saling melengkapi ).

3. David Ricardo ( awal abad 19 ), pendekatan neo klasik : pemikiran ekonomi dan
perdagangan dunia dengan teori keunggulan komparatif ( comparative advantage ). Kedua teori Adam Smith dan Davidb Ricardo merupakan teori perdagangan dari sisi pemasok ( supply side trade ). Negara A dapat berdagang dengan negara B bilamana mereka punya barang yang maisng – maisng butuhkan. Karl Max mengkritisi paham kapitalisme pasar bebas, dan pahamnya mempengaruhi reformasi sosial di masyarakat Barat sampai dengan abad 20. Depresi Besar di Amerika Serikat tahun 1930 an merupakan bukti dari teori Karl Marx tsb. John Maynard Keynes menulis tentang peran negara terhadap manajemen ekonomi, dimana pemerintah menentukan kesejahteraan ekonomi dan sosial melalui redistribusi pendapatan melalui kebijakan fiskal dan moneter. Munculnya ekonomi campuran membawa perbedaan tajam antara ekonomi mikro dari individu dan aktivitas bisnis komersial dengan makroekonomi dari kekuatan ekonomi nasional dengan melihat cara pemerintah mengeluarkan uang, sistem bank nasional serat pengendalian perdagangannya. 2. Perjanjian International Hancurnya kebijakan perdagangan di tahun 1930 akibat The Great Depression, pasca perang tahun 1940 – 1950 an yang memecah kekuatan Eropah dan menumbuhkan paham komunisme, menyebabkan Amerika mengambil alih pimpinan untuk menciptakan perjanjian multilateral untuk perdagangan dan keuangan. 2.1. IMF ( International Monetary Fund ) Sebelum PD I, perdagnagan dunia didasarkan berdasarkan standar emas, namun selama PD I, harga emas jatuh dan usaha mengembalikan harga emas tidak berhasil. Pada era Depresi Besar tahun 1930 an, Bank of England tidak berhasil mempertahankan nilai emas sehingga dibiarkan mengambang terhadap poundsterling. Konsekuensinya pertukaran mata uang antar negara yang berdasarkan harga emas menjadi sulit. Tahun 1944, melalui pertemuan di Bretton Wood di Amerika Serikat, proposal bersama John Maynard Keynes dan Harry White disetujui. Kosnepnya menciptakan organisasi kerjasama yang

3

permanen, yang kemudian disebut IMF untuk mensupervisi perjanjian keuangan internasional. Sistem ini mendorong konversi yang tak terikat antar mata uang untuk menciptakan nilai tukar yang jelas untuk setiap mata uang dan menghapus pembatasan dan praktek – praktek yang menghambat perdagangan. IMF mulai beroperasi Juli 1946 dengan anggota 39 negara. Sebagai bagian perjanjian Bretton Wood, tiap negara mensuplai dana ke IMF dengan mata uangnya sendiri, berdasarkan kuota yang ditentukan oleh bank sentral negaranya. 25% dari kuota dikonversi ke dalam emas. Tahun 1978, seiring dengan kebijakan mata uang mengambang Amerika Serikat, persyaratan kuota emas ditiadakan. Tahun 1998, anggota IMF menjadi 182, termasuk negara – negara bekas Russia. IMF tidak punya kekuatan mendikte perlilaku ekonomi anggotanya, namun ia memonitor dan memberikan arahan terhadap negara yang meminjam dari IMF. Dalam kerangka perjanjian pinjaman internasional, IMF berperan penting dalam memfasilitasi perdagangan internasional. Melalui pinjaman, IMF membantu mengatasi kemacetan ekonomi akibat masalah pertukaran kurs atau defisit neraca perdagangan. 2.2. GATT ( General Agreement on Tariff and Trade ( GATT ) GATT dimulai sebagai organsiasi sukarela di tahun 1947 dengan 23 negara dan sekarang berkembang menjadi 100 negara. Tujuannya mengembangkan serangkaian aturan untuk memandu negosiasi perdagangan. Pada negosasi perdagangan di Putarajn Uruguay ( Uruguay Round ) tahun 1986, di bawah GATT, negara – negara harus membuka batasan ekonomi doemstiknya dan menciptakan kerangka bagi perdagangan global. Akses perdagangan ke negara yang kurang berkembang yang menyebabkan pertumbuhan arus kapital yang pesat menyebabkan negara kurang berkembang rawan terhadap volatilitas keuangan internasional. Jadi walaupun GATT dapat terlibat ke dalam pengaturan penurunan tarif, negara-2 akhirnya cenderung memproteksi kepentingan dalam negerinya. Disini GATT kehilangan momentum untuk mengatasi kebijakan proteksionisme dan mengimplementasikan liberalisasi perdagangan. Oleh sebab itu GATT kemudian digantikan oleh WTO. 2.3. WTO ( World Trade Organization ) Di dalam WTO, negara – negara dapat membawa permasalahannya ke dalam panel untuk proses ajudikasi ( mendapatkan keputusan pengadilan ) namun mereka juga harus patuh terhadap rekomendasi yang diberikan oleh panel, atau mereka akan menghadapi sangsi dari partner dagangnya. Dalam WTO, adanya kesamaan hak menyebabkan negara – negara kecil mempunyai wadah untuk mendapatkan praktek perdagangan yang adil. Agenda WTO adalah inisiatif liberalisasi yang baru, yang akan mendorong kekuatan proteksionisme ke arah defensif. Terbentuknya NAFTA ( North American Free Trade Agreement ) merupakan pembentukan perjanjian regional sebagai reaksi terhadap WTO.

4

2.4. Perjanjian Multilateral terhadap Investasi OECD ( Organization for Economic Cooperation and Development ) Mengembangkan perjanjian investasi multilateral ( MAI / Multilateral Agreement on Investment ). MAI terbuka untuk semua negara OECD dan Eropah, dan menawarkan pendekatan multilateral yang sistematik untuk investasi. MAI tidak akan menghilangkan kekuasaanpengadilan domestik dalam pembuatan keputusan di area investasi, MAI juga menciptakan standar internasional dan melindungi investor dan investasinya dengan menawarkan perlakuan yang sama lintas batas negara. Dalam konteks investasi internasional yang berkembang pesat, MAI bertujuan memberikan perlindungan yang lebih besar terhadap investor lintas negara dalam negara tuan rumahnya terhadap diskriminasi dan menjamin aliran dana bebas lintas negara. Hal ini di lain pihak merupakan ancaman terhadap kedaulatan negara dimana hukum negara harus diselaraskan dengan standard internasional. 3. Pertumbuhan Perusahaan Transnasional 3.1 Periode Pertumbuhan Bisnis Terminologi MNC ( Multinational Company ) yang sering disebut dengan MNEs ( Multi National Enterprises ) mengacu kepada perusahaan yang berlokasi di satu negara dan mempunyai cabang di negara – negara lain, dengan kepemilikan parsial maupunb total. Tahun 1990 an, konsep ini digantikan dengan TNC ( Trans Nasional Company ), yang mendeskripsikan perusahaan yang mempunyai banyak pusat produksi dan manajemen di banyak negara. Karena ukuran dan kepemilikan asingnya, MNC di tahun 1970 – 1980 dianggap sebagai ancaman ekonomi dan politik. Mereka mampu mempengaruhi dan melanggar standar nasional yang menyangkut kondisi pekerja dan keamanan pabrik. 3.2 Perdagangan dan Investasi Pertumbuhan TNC mencerminkan perubahan bentuk dari bisnis internasional, dimana terjadi pergeseran dari dari perdagangan dengan negara asing dan mensuplai pasar asing ke arah relokasi ke negara lain untuk berkompetisidi pasar tsb maupun mengambil keuntungan dari biaya pekerja yang rendah untuk berkompetisi di pasar yang lain. Bila Amerika dan Eropah beroperasi di Asia terutama untuk tujuan marketing dan produksi, Jepang dan negara Asia Tenggara mempunyai keinginan yang sama untuk mengatasi restriksi perdagangan yang dilakukan oleh target marketnya. Jepang mencari peluang dari GSP ( Generalised System of Preferences ) yang dikeluarkan oleh OECD di tahun 1966, yang memberikan tarif rendah untuk masuk ke dalam pasar Asia tenggara. Tujuannya untuk mengatasi restriksi kuota terhadap impor barang – barang Jepang ke pasar Amerika , dengan cara memindahkan fasilitas produksinya ke negara – negara Asia Tenggara. Asia Tenggara sangat tergantung pada TNC trade dimana perdagangan di Asia Tenggara didominasi dengan intra firm trade ( perdagangan di dalam perusahaan ), dengan mayoritas bertumpu kepada industri elektronik.

5

Manakala negara Asia Timur Jauh ( Jepang, Taiwan, HK, Korsel ) sukses mengembangkan kemampuan industri manufakturnya ( mobil, baja, mesin, komputer, tekstil ), ekonomi negara Asia Tenggara snagat tergantung pada TNC. Produsen di Asia tenggara hanya mampun menjadi pemain regional, di sektor industri mobil, hal ini dimungkinkan karena kerjasama / joint venture dengan Toyota ( Kijang ) dan Mitsubishi ( Proton ). 3.3. Perubahan Fokus Dalam proses pertumbuhan perusahaan, terjadi perubahan dari ekspansi dari operasi domestik ke eksport dan akhirnya merelokasi cabang ke negara lain untuk ekspansi produksi serta pasar. Dalam proses ekspansi ke negara lain, faktor pengendalian terhadap keputusan di cabang serta standarisasi mutu produk menjadi penting. TNC berpandangan etnosentrik dimana mereka melihat bahwa cabangnya di negara lain merupakan perpanjangan dari bisnis dalam negerinya. Sejalan dengan waktu, pandangannya beubah menjadi polisentrik. Mereka menyadari adanya perbedaan pasar di seluruh dunia. Di Asia Tenggara, TNC berubah dari perdagangan berbiaya rendah ( low cost merchandising ) menjadi industri padat modal dan berteknologi tinggi. Aliran investasi asing, tidak hanya menjadi sumberb pertumbuhan industri namun juga pertumbuhan perdagangan. Singapore, menjadi kurang terintegrasi dengan negara Asia Tenggara dan Timur, dibuktikan dengan 96% dari FDI ( Foreign Direct Investment ) atau investasi asing langsung yang masuk ke Singapore tahun 1992 berasal dari Eropah, Amerika dan Jepang. Perdagangan global dewasa ini lebih didorong oleh pasar ( market driven ) dan respionsif terhadap kebutuhan customer ( customer need respionsive ) dimana perubahan menjadi faktor penentu dalam manajemen bisnis global. Seperti dikatakan oleh Kenichi Ohmae tahun 1990 : MNC merupakan pelayan dari pelanggan yang ’demanding’ ( banyak maunya ) di seluruh dunia. Pelangganlah yang menentukan ke mana perusahaan beroperasi, membuat dan memasarkan produk dan sehalan dengan proses ini, pelanggan membantgu perushaaan menciptakan ekonomi tanpa batas dimana angka pergagangan secara statistik menjadi tidak lagi bermakna. 4. Perubahan Paradigma 4.1. Dari Paradigma Poli-sentrik menuju ke Ekon-sentrik Tahun 1950 – 1970 merupakan periode produksi industri masssal dan pertumbuhan pasar produk konsumsi. Juga merupakan periode yang menakutkan dengan pembagian dunia menjadi demokrasi dan komunis. Perdagangan dunia didominasi oleh dunia politik ( Polisentrik ). Kesadaran politik dunia terkait dengan ekonomi, oleh karenanya negara diklasifikasikan menjadi negara berkembang dan kurang berkembang. Ada negara industri, negara industri baru, dan negara yang hampir menjadi negara industri baru ( near new industrialised countries ). Disini nampak bahwa Amerika dianggap sebagai negara terhebat di dunia bukan karena kekuatan militer atau sejarahnya namun karena ukuran dan kekuatan ekonominya.

6

Lebih dari 30 tahun, sejak runtuhnya tembok Berlin, penekanan hubungan internasional telah bergeser dari militer dan paradigma sosio lolitik kepada ekonomi ( ekon-sentrik ). Ekonomi menjadi topik utama pembicaraan politik di era perdagangan global ini. 4.2. Dari Paradigma Pertumbuhan Berdasarkan Negara ( Nation-State Growth ) kepada pertumbuhan yang didorong oleh pasar ( Market Driven Growth ) Pada paradigma pertumbuhan Nation-state, perdagangan luar negeri dinilai bermanfaat seoahnjang ia berkontribusi kepada pertumbuhan ekonomi nasional. Bila perdagangan luar negeri defisit, pemerintah melakukan proteksionisme. Namun sejalan dengan waktu, keterlibatan pemerintah dalam bisnis internasional berubah setelah kebijakan proteksionisme hanya menujadi penghalang pertumbuhan perdagangan globalnya. Paradigma pertumbuhan market – driven sekarang mendominasi pemikiran ekonomi, dimana pasarlah yang mendominasi produksi dan dalam dunia dengan sistem pemasaran terintegrasi, kesejahteraan ekonomi satu negara tergantung dari kesejahteraan negara lain. Contoh dapat dilihat dari negara Etopah Timur, Rusia, Cina, Vietnam, yang sistem politikanya diarahkan kepada sistem ekonomi berdasarkan kepada pertumbuhan market-driven. Di pasar, tidak ada superpower yang ada hanya pesaing dan pelanggan. Theodore Levitt mengatakan bahwa pendekatan MNC dalam mensegmentasi ekonomi domestik sudah kuno dan ada kebutuhan untuk menjadi kompetitif dalam pasar skala dunia. Perdagangan dunia menurunkan kendali negara terhadap perdagangan. Dalam ekonomi global, pemerintah pemerintah turun hampir seperti menjadi penonton saja. 4.3 Dari Paradigma Domestik menjadi Global Kenichi Ohmae tahun 19900 mengatakan : Tidak ada lagi istilah ’ luar negeri’ ( overseas ). Perbedaan antara bisnis domestik dan global menjadi kabur. Pertumbuhan perdagangan global membuat terbantuknya aliansi regional baru, baik politik maupun komersial seperti ASEAN, NAFTA, APEC. Konsekuensinya adalah penyebaran luas dari pendapatn dan kekayaan. Pemerintah pusat harus menurunkankan kendalinya dalam mengatur pajak perusahaan dan perseorangan. Ini merupakan dilema bagi pemerintah pusat , dimana perusahaan besar mempunyai shareholder dan pusat manajemen di seluruh dunia yang bisa mempengaruhi pemerintah dalam pembuatan kebijakan. Perdagangan global membawa dunia mengarah kepada peluang global dan aliansi global. 4.4. Dari Paradigma Pasif menjadi Dinamis. Pada paradigma ekonomi nasional dengan konsep kekayaan nasional, sumber daya nasional, perdagangan nasional, sekarang jarang digunakan. Konsekuensinya, teori perdagangan klasik Adam Smith dan teori neo klasik David Ricardo dengan perspektif pendekatan supply side juga dianggap ketinggalan jaman. Sekarang paradigma tsb digantikan oleh Paradigma dari sisi permintaan ( Demand - side Paradigm )atau market driven yang ditandai dengan : a. pergerakan yang cepat, tidak dapat diprediksi, dan tidak tertahan dari informasi dan keuangan. b. cepatnya perubahan dari permintaan pasar. Sejalan dnegan itu, teori daur hidup produk ( product life cycle ) digantikan oleh teori daur hidup permintaan ( demand life cycle ). Pemasaran produk di pasar ditentukan oleh timbul

7

tenggelamnya permintaan konsumen terhadap produk yang tergantung dari perceived value ( penilaian di benak konsumen ) terhadap suatu produk. Jadi produk sendiri tidak punya nilai intrinsik, hanya nilai konsumen., sehingga peran pemasaran sangat penting dalam membangun image produk di mata konsumen. 4.5. Dampak Perubahan Paradigma di negara Asia Tenggara. Negara Asia Tenggara beradaptasi cepat dengan perubahan -perubahan paradigma di atas, sejalan dengan kebutuhannya terhadap investasi asing. Kemampuannya mengakomodasi melalui pajak yang rendah dan pembatasan yang rendah terhadap perdagangan asing membuat Asia Tenggara negara yang menarik bagi TNC khususnya Jepang. Adanya permintaan dari negara Barat terhadap barang dari Asia Tenggara menyebabkan Asia Tenggara mampu mengekspor hasil produknya ke negara Barat. Ditambah dengan faktor kemampuan Jepang dalam memilih industri dimana mereka bisa berkompetisi dengan baik di pasar sasarannya melalui pengetahuan pasar dan spesialisasi. Jepang tidak melakukan pendekatan terhadap pasar Barat dengan analisa matematika, namun langsung mengarah kepada kebutuhan konnsumen akan produk yang berharga terjangkau, modern dan dapat diandalkan. Pemerintah negara Asia Tenggara mengikuti rekannya-rekannya di berbagai penjuru dunia dengan melakukan liberalisasi perdagangan dan memperluas aliansi regionalnya, sehingga Asia Tenggara mampu menarik minat TNC, karena mengubah peradigma dari rasional politik ke rasional ekonomi. Namun sayangnya perdagangan intra Asean tidak banyak meningkat dalam 20 tahun terakhir dengan peningkatan dari 17% di tahun 1970m menjadi 18% di tahun 1992. Hal itu karena pasar luar negeri yang lebih luas lebih memikat daripada pasar di antara negara ASEAN sendiri.

8