199

MUQODDIMAH

‫بسم ال الرحمن الرحيم‬ ‫توكلت علىال لحول ولقوة إل بال القوي العزيز الحميد‬ ‫المجيد‬ ‫الحمدل الذى انزل على عبده الكتب ولم يجعل له عوجا. قيما‬ ‫لينذر بأسا شديدا من لدنه و يبشر المؤمنين الذين يعملون‬ ‫الصلحت ان لهم اجرا حسنا. والصلة والسلم على محمد‬ ‫وعلى اهل بيته وعلى ازواجه وذريته‬
Amma ba’du Sebagaimana kenyataan bahwa perjuangan Negara Islam Indonesia ini terus berlanjut. Dari waktu ke waktu semakin menyebar. Dari kota sampai ke pedesaan. Dari desa hingga ke peloksok pedalaman. Dari generasi tua sampai ke generasi muda, ghirah perjuangan Negara Islam Indonesia semakin lama semakin menjadi tuntutan bagi umat Islam Indonesia. Pada saat ditulisnya "TABTAPENII DATANG"( Tanya Jawab Estapeta Pemimpin Negara Islam Indonesia Dalam Darurat Perang ) ini, NII belum de facto kembali. Dengan kondisi ini tidak bisa menjelaskan perundang-undangan secara merata kepada semua yang mengaku sebagai warga Negara Islam Indonesia. Maka, hal yang wajar jika masih banyak yang tidak mengetahui estapeta kepemimpinan yang sebenarnya setelah Imam NII yang tertangkap 4 Juni 1962. Sehingga keadaan seperti itu menimbulkan perbedaan pendapat diantara sebagian yang mengaku sebagai warganya.. Hal demikian pasti terjadi, selama tidak berpegang pada undang - undang estapetanya. Sebab itu, untuk mengetahui mana yang sebenarnya dan mana yang bukan, harus itu harus ditinjau dari sudut perundang -undanganya. Meskipun, dalam hati seseorang telah lama didapati keikhlasan untuk menerima "Bayyinaat (kejelasan)", namun karena kenyataannya bahwa kejelasan itu tidak datang sekaligus,

200

melainkan melalui proses bertahap, maka tidak mustahil jika pribadi-pribadi yang ikhlas itu masih terombang-ambing dalam menentukan kejelasan. "Kejelasan", tidak akan didapati tanpa ilmu. Dan ilmu tidak ditemukan bila tidak dicari dengan pendengaran, mata dan hati yang ikhlas. Perhatikan Firman Allah SWT.yang bunyiNya:

"Dan janganlah mengikuti apa yang engkau tak mempunyai pengetahuan tentang itu. Sesungguhnya pendengaran dan penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya". ___ (Q.S.17:36). Dari ayat itu diambil arti, tidak dibenarkan bila mengikuti sesuatu perbuatan tanpa dasar ilmu. Artinya, bahwa berbuat atau membicarakan sesuatu pun tidak boleh atas dasar ikutikutan. Ayat di atas juga melarang ikut-ikutan membicarakan masalah yang ia tidak mempunyai pengetahuan, atau mengemukakan pendapat yang kurang diyakini dasar hukumnya. Fitnah serta kepalsuan bisa berkembang akibat dari banyak yang mendengar tanpa penyelidikan dasar ilmu kemudian membicarakannya kepada yang lain, lalu dari yang lainnya itu didengar pula oleh yang ikut-ikutan. Kemudian yang ikut-ikutan itu membicarakannya lagi kepada yang lainnya sehingga tersebarlah kepalsuan dan perselisihan. Kita mesti berwaspada dengan "Yahudi" nya umat ini. Yakni, mereka yang dengan pongah mengaku berpegang teguh pada AL-Our'an, tapi prilaku kesehariannya persis seperti orang Yahudi yang digambarkan oleh Qur'an dalam surat 5:41-42. Mereka gemar mendengar-dengar berita dusta, larut dalam cerita-cerita orang, yang padahal orang itu pun belum pernah

201

Tabayyun dengan pimpinan yang haq (dahulu Rasul). Kemudian berita tersebut direka-reka dengan seribu perkiraan, ditambah lagi dengan kelancangan mereka merubah-rubah aturan. Hingga akhirnya berani menghembus-hembuskan slogan: "Kalau yang seperti ini kalian dapat terimalah, jika kalian diberi yang tidak seperti ini maka berwaspadalah !" Nah, bukankah kalimat-kalimat seperti di atas itu lama menjejali. Padahal jika mengungkap kata-kata berdasarkan hukum, melainkan karena ikut-ikutan kesinisan maka tidak mustahil akibat hembusan setan awalnya dimulai oleh kedengkian. telah tidak atau yang

Sebagai peringatan diri kita simak Firman Allah SWT.yang bunyi-Nya:

"(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang kamu tidak ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar". _ (Q.S.24:15).

"Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Robb kami), ini adalah dusta yang besar."__ (Q.S.24:16). “Dengan ini Allah memberikan suatu pelajaran kepadamu sekalian, agar kamu jangan ulangi lagi perbuatan semacam itu selamanya, jika kamu benar-benar beriman.” (Q.S.24:17).

202

Jalan bagi kita untuk mencegah diri terlibat kedalam kepalsuan, di antaranya harus siap meneliti dengan ilmu tentang apa yang diperselisihkan sehingga nyata adanya kejelasan yang mewujudkan persatuan. Adapun di antara modalnya yaitu "Jangan mendustakan yang belum diketahui dengan sempurna". Kenyataan telah terjadi adanya yang mencemoohkan "AtTibyaan" sedangkan melihatnya saja belum apalagi menelaahnya. Atau pura-pura sudah tahu akan Undang-Undang NII /MKT No.11. Padahal jangankan untuk sempurna memahaminya membaca sepintas saja belum. Tahu namanya juga baru dari orang lain. Jika tahunya baru sepotong sehingga belum sempurna kemudian berani ikut-ikutan menolak estapeta kepemimpinan NII, maka sama halnya dengan yang disitir oleh Allah dalam Al-Qur'an yang buni-Nya:

"Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasan. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu"._(Q.S.10:39). Adapun setelah penjelasan itu tiba maka terserah kebersihan hati masing-masing. Akankah ia menerima dengan lapang dada atau bahkan menolaknya (?) Penulis tidak akan kaget, bila ternyata setelah tulisan ini dibaca, masih juga terjadi penolakan dari pihak yang tidak suka, sebab jangankan undang-undang / MKT No.11 atau "AtTibyaan" atau juga "TABTAPENII DATANG", Al-Qur'an sendiri tidaklah diterima seluruh manusia. Sudah menjadi suratan, kapan saja kebenaran tiba maka umat pasti terbelah dua, antara yang menerima dan menolaknya (Q.S.2:213).

203

Perlu dikemukakan bahwa buku TABTAPENII DATANG ini yaitu edisi dua yang mengandung tambahan bagi edisi satu yang dikeluarkan pada Tanggal 12 Rabi’ul Awwal 1417 H. bertepatan dengan 28 Juli 1996 M. Dalam edisi satu itu isinya hanya terdiri dari 28 pertanyaan. Adapun dengan edisi dua ini semuanya menjadi 71 pertanyaan, serta ditambah dengan beberapa buah appendiks yang berisikan lampiran lampiran MKT yang berkaitan dengan estapeta kepemimpinan NII setelah Abdul Fattah Wirananggapati tertangkap pada awal tahun 1991. Tentu edisi dua ini sebagai revisi dari edisi satu, baik itu dalam hal penguraian maupun dalam hal penambahan ayat-ayatnya, juga perubahan bentuk logonya. Pertanyaan-pertanyaan dalam edisi satu garis besarnya hanya yang menjurus kepada estapeta pemimpin tertinggi dalam NII, Adapun edisi dua ini didahului pertanyaan - pertanyaan yang berkaitan dengan “ nilai Proklamasi Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1949”, serta ditambah dengan pertanyaan yang bertalian dengan penggantian pemimpin / Imam setelah Abdul Fattah Wirananggapati diberhentikan dari tugasnya oleh Dewan Imamah NII, tanggal 18 Januari 1997 M. Juga, diakhiri dengan pertanyaan mengenai sikap NII terhadap gerakangerakan Islam di luar Indonesia. Selain hal di atas itu perlu juga penulis menjelaskan bahwa dalam hal mengemukakan jawaban, tidak menggunakan istilah “hukum positip (yang berlaku dalam negara RI )”. Hal demikian mengingat ada kemungkinan pada suatu saat tulisan ini tidak hanya dibaca oleh yang sudah mengerti peristilahan hukum, melainkan juga oleh yang belum mengerti banyak istilah hukum, seperti halnya mereka hanya tahu bahwa sebaliknya dari kata positip ialah negatip, yang akibatnya timbul kesalahpahaman. Sebab itu supaya mudah dimengerti oleh semua lapisan, maka penulis menggunakan istilah yang sederhana, seperti halnya istilah “hukum-hukum kafir”. Dengan itu mudah

204

dimengerti, bahwa sebaliknya dari hukum-kukum kafir adalah hukum-hukum Allah Swt. Harap diketahui bahwa penulis menggunakan istilah “hukum - hukum kafir”, hal itu dimaksudkan supaya jelas bahwa segala hukum yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah itu adalah hukum yang dianut serta dipertahankannya oleh orangorang kafir, sehingga bisa disebut hukum -hukum kafir. Penggunaan istilah kafir mengacu kepada Qur’an surat 5 AlMaidah ayat 44 “...Barangsiapa yang tidak menghukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, mereka itu adalah orang-orang kafir.” Dalam Al-Qur-an tidak ada istilah hukum Islam, tapi yang ada ialah “hukum Allah” (Q.S.5:43, 60:10). Namun, umumnya orang menyebut “hukum Islam” , karena hukum tersebut bersumber dari Al-Qur’an dan dianut oleh kita umat Islam. Begitupun hukum-hukum yang bertentangan dengan hukumhukum Allah adalah “hukum-hukum Kafir”, sebab bersumber dari ideologi orang kafir, dianut dan dipertahankannya juga oleh orang-orang kafir. Semoga uraian "TABTAPENII DATANG" edisi dua yang penulis kemukakan dalam buku ini berguna bagi yang menghendaki kejelasan mengenai estapeta kepemimpinan Negara Islam Indonesia yang sedang dalam darurat perang ini . wakiil. Dzulqodah 1417 H. Jakarta,-----------------------23 Maret 1997 M. Hasbunaallaaha wani mal 3 13 Penulis ( Mufry )

205

TABTAPENII DATANG Edisi dua -----------1. Tanya: “Bagaimana bila ada yang mengatakan bahwa urusan kepemimipinan itu nanti saja belakangan , nanti juga pemimpin itu akan datang dengan sendirinya ?” Jawab: Perkataan semacam itu biasanya muncul dari satu di antara tiga keadaan seseorang: 1). Perkataan terkesan/bernada yang putus asa, yakni tidak mau susah banyak mikir. Padahal susah atau tidak susah, mikir atau tidak mikir, pada Hari Kiamat tiap diri akan didatangkan pimpinannya. Perhatikan Firman Allah yang bunyi-Nya: "(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya;dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya ditangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun". (Q.S.17:71). Berdasarkan ayat di atas itu, sadar atau tidak bahwa di bumi ada dua kepemimpinan. Yakni, jika diri tidak berada dalam kepemimpinan yang haq, berarti berada dalam kepemimpinan batal. Dengan itu sekalipun bagi yang tidak merasakan dalam suatu kepemimpinan maka kepadanya tetap akan didatangkan saksinya yaitu pemimpin, terlepas dari apakah itu yang bathal atau yang haq. Dalam Al-Qur’an surat 90 ayat 10 dinyatakan yang bunyinya : "‫"وهدينه النجدين‬

206

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”.Dengan itu jelas bila tidak dalam yang haq, berarti dalam bathal. Sehubungan dengan saksi di Akhirat, kita perhatikan lagi ayat yang bunyinya: “Dan bagaimanakah (jadinya) nanti jika diri tiap-tiap umat kami datangkan seorang saksi, dan kami datangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ?”_(Q.S.4 An-Nisa:41). Sebuah riwayat menerangkan bahwa Nabi Saw pernah berkata kepada Abdullah bin Mas’ud: “Bacakanlah Qur’an untukku !” Abdullah bin Mas’ud menjawab: Ya, Rasulullah, bagaimana aku membacanya untuk engkau, sedangkan Al-Qur’an itu turun kepada engkau ?” Nabi SAW menerangkan: “Aku ingin mendengarnya dari yang lain”. Kemudian Abdullah bin Mas’ud membacakan surat An-Nisa. Sesa’at sampai pada ayat di atas tadi (Q.S.4:41), Nabi Saw berkata:”Cukuplah sekarang !” Ketika Abdullah bin Mas’ud menolehnya, tampak air mata beliau berlinang-linang. Ada lagi riwayat yang menyebutkan bahwa ketika itu Nabi Saw menambahkan perkataannya : ”Sebagai saksi selama aku berada di tengah-tengah mereka...”. Dari keterangan tersebut itu dimengerti Bahwa Nabi Muhammad Saw akan menjadi saksi nanti di akhirat terhadap perbuatan umatnya sewaktu masih dipimpin olehnya, tetapi sesudah mereka ditinggalkan wafat oleh Rasulullah Saw, maka persaksian itu bukan haknya lagi. Pada hari kiamat kelak Nabi Saw akan dikejutkan oleh orang-orang yang sewaktu hayatnya Rasul s a w dipandang sebagai orang-orang yang tetap ta’at pada Hukum-Hukum Allah, tetapi sesudah Nabi s a w itu wafat, dan mereka itu menghadapi rupa-rupa cobaan ternyata dari perbuatan mereka itu diantaranya banyak didorong oleh nafsu duniawi, sehingga melanggar aturan-aturan Islam. Mengenai mereka itu kelak Nabi s a w akan berkata kepada Allah SWT sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Isas as:

207

“...aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada diantara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu”.-(Q.S.5:117). Lebih lanjut kita perhatikan ayat yang bunyinya: “Allah berfirman:”Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain ....”.-(Q.S.7:24). Dari ayat di atas itu dimengerti, disadari atau tidak bahwa di dunia ini terjadi permusuhan. Yaitu antara “Hizbullah (Q.S.5:56)dengan Hijbusyaithooan(Q.S.58:19), antara yang taat sepenuhnya terhadap hukum Allah dengan manusiamanusia yang mendurhakai-Nya. Pengertian mengenai “syaitan” yaitu suatu sifat bagi mahluk yang melanggar peraturan/hukum dari Allah, yakni yang terdiri dari jin dan manusia. Perhatikan Firman Allah SWT yang bunyi-Nya:

“Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan(dari jenis)manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (menyesatkan). Jikalau Robbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka kerjakan”._(Q.S.6:112). Dari ayat itu dipaham bahwa setiap manusia yang menentang berlakunya seluruh hukum Allah, maka adalah “syaitan” dan

208

jelas berada pada jalan thogut, terlepas dari apapun namanya, dan terus mengadakan kegiatan dengan saling membantu antara mereka. Dengan demikian jelas ada pemimpinnya. Dari ayat itu juga dipaham bahwa golongan syaitan dari jenis manusia itu adalah umum, artinya tidak mesti dengan nama yang khusus, tetapi bisa saja dengan sebutan yang sesuai dengan kondisi dan situasi jamannya. Dengan demikian dalam versi apapun namanya, baik itu mengatas-namakan Islam atau bukan, tetapi jika keberadaannya tidak memiliki ketegasan memihak kepada yang sepenuhnya ta’at terhadap Allah, maka tetap dalam kepemimpinan “syetan”! Dalam arti tidak memiliki “Furqoon”. Sebab, bagaimana akan bisa menjalankan hukum-hukum Allah, jika tidak ada pemimpinnya ? Satu contoh saja, yaitu dalam Qur’an surat 5 ayat 89 tertera mengenai “Kaffarat” bagi yang melanggar sumpah yang uraiannya ialah: a). Memberi makan sepuluh orang miskin yaitu dari makanan yang biasa diberikan kepada keluarga si pelanggar sumpah. b). Atau memberi pakaian kepada mereka (untuk sepuluh orang). c). Atau juga memerdekakan seorang budak (jaman sekarang ini bisa disetarakan kepada yang senilai dengan itu). d). Jika tidak sanggup melakukan yang sedemikian, hukuman/ kaffaratnya puasa selama tiga hari. maka

Dalam memutuskan hukum yang harus dipilih dari yang empat di atas itu haruslah ada hakim untuk mengadili dan menilai kemampuan yang sebenarnya dimiliki oleh si pelanggarnya. Tentu, bagi yang tidak punya pemimpin, maka memilihnya ditentukan oleh yang sesuai dengan keinginan dirinya. Sehingga: 1). Lapornya juga kepada dirinya sendiri.

209

2). Dihakimi oleh diri sendiri. 3). Divonisnya pun oleh diri sendiri, sehingga bisa dicari-cari mana yang enak atau ringan, walau dia mampu. Disitu pula setan menyelinap pada dirinya. Memang ringan tidak diketahui oleh orang lain, tetapi dimanakah letaknya nilai taubat serta keikhlasan diri untuk menjalankan hukum secara dhohir ? Pribadi mu’min tidak lepas dari kewajiban memiliki pemimpin. Apalagi untuk menjalankan hukum-hukum seperti “Hudud (Q.S.5:38), Qishas (Q.S.5:45), Jinayah (Q.S.24:2)”. Bisa tegaknya hukum-hukum itu jika tegak kedaulatan Islam. Bisanya tegak kedaulatan Islam jika didahului oleh adanya kepemimpinan yang “ Furqon.” Sebab itu bila tidak butuh dengan kepemimpinan sedemikian, bukanlah seorang Islam, sebab tidak menjalankan Qur’an surat 4 An-Nisa ayat 59). 2). Jelas, keluar dari yang belum paham tata-cara jihad dalam Islam. Mengapa ? Karena, perkataan ini muncul biasanya dari yang kelelahan mencari pemimpin. Apalagi jika yang diikuti selama ini adalah orang yang tidak tahu atau tidak mau tahu dengan aturan, berangan-angan melamunkan seorang pemimpin ideal. Akhirnya bergonta-ganti pimpinan, maka ujung ceritanya adalah kenyataan di atas: "Sudahlah tidak usah meributkan pimpinan, yang penting kerja saja !" Padahal jihad itu harus dibawah komando Imam (Pemimpin Negara). Para sahabat saja sampai terpaksa menunda pengurusan jenazah Rasul SAW. terlambat dua hari setengah, karena menunggu wujudnya kepemimpinan guna melakukan jihad fisabilillah. 3). Bisa juga perkataan di atas tadi itu timbul dari perasaan bahwa ibadahnya sudah sempurna atau tidak lagi mempunyai dosa, karena anggapan cukup dengan menjalankan ibadah puasa Bulan Ramadhan. Sehingga merasa tidak perlu adanya pemimpin. Hampir banyak yang hapal akan sabda Nabi Saw yang bunyinya:

210

‫من صام رمضفان إ يمانفا واحتسفابا غفرلفه ماتقفدم مفن ذنبفه.)متففق‬ .(‫عليه‬
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar keimanan dan tepat perhitungan waktunya, diampunilah baginya apa-apa yang terdahulu daripada dosanya.” (H.R.Bukhori-Muslim). Pengertian dari hadist di atas, yaitu dia berpuasa sesuai dengan aturannya, juga posisi dirinya berada dalam kepemimpinan yang terpisah dari kepemimpinan yang memusuhi hukum Islam. Umpama saja seorang guru kelas 2 S.D. IV berkata kepada muridnya: “Barangsiapa yang bisa menggambar mobil seperti gambar mobil ini maka akan memperoleh hadiah buku tebal ini”. Jelas, hadiah cuma diberikan kepada yang berhasil mengerjakannya dari murid kelas 2 S.D. IV. Jadi, tidak masuk akal kalau ada murid dari kelas atau sekolah lain menggambar mobil memperoleh hadiah buku tebal yang dijanjikan oleh guru kelas 2, S.D. IV tadi. Nabi SAW tidak mengemukakan adanya kewajiban berpuasa kepada para pengikut Abu Jahal cs. Karena itu, apa yang disabdakannya juga tidak ditujukan kepada yang masih mengabdikan dirinya bagi “Kebangsaan Quraiys Makkah” sehingga anti pemerintahan Islam di Madinah. Tidak ditujukan kepada yang anti terhadap negara yang didasari Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Tidak ditujukan kepada yang beriman akan sebagian ayat serta ingkar kepada sebagiannya. Tidak pula ditujukan kepada mereka yang menjadi alat pemerintahan yang anti terhadap hukum-hukum Al-Qur’an sehingga ikut terlibat menjegal tegaknya hukum Islam secara keseluruhan. Sungguh tidak ditujukan kepada mereka, sebab terhadap mereka yang sedemikian itu telah dinyatakan dalam Al-Qur’an diantaranya yaitu: Mereka adalah dzalim (Q.S.5:45), mereka adalah kafir (Q.S.5:44), mereka adalah fasik (Q.S.5:47), mereka adalah kafir yang sebenarnya (Q.S.4:150-151), mereka adalah yang mendzalimi diri mereka sendiri, dan tempat

211

mereka adalah Jahannam (Q.S.4:97), dan mereka adalah yang terputus segala amalannya karena membenci hukum-hukum Allah (Q.S.47:9). Dalam hadist di atas tadi disebutkan “didasari keimanan”, maka apakah bisa disebut beriman, jika terlibat membela tegaknya hukum-hukum jahiliyah(Q.S.5:50) ? Sedangkan banyak ayat yang menunjukkan bahwa tidak dinyatakan beriman sehingga menegakkan semua peraturan Allah (Q.S.5:68, S. 15:90-93). Selama belum kiamat, selama itu pula semua hukum-hukum Al-Qur’an menjadi kewajiban kita menegakkannya. Sebab itu, para “shoimiin (pelaku shoum)” harus dapat menempatkan dirinya pada wadah yang benar-benar tepat, sesuai dengan yang dipraktekkan oleh Nabi SAW , sehingga amalan Ramadhannya tidak terhapus, serta sesuai dengan yang dimaksud dalam “Tauhid”. 4). Perkataan di atas tadi muncul dari orang yang tidak mengerti tentang pentingnya nilai kepemimpinan dalam Islam. Bila menyusun Shaf tanpa harus mempertimbangkan dasar kepemimpinan, maka atas dasar apa penyusunan itu dilakukan ? Atas dasar inisiatip pribadi ? Ya, kalau pribadi bisa-bisa seribu pribadi jadi pemimpin, bahkan lebih dari seribu.... Bila dasarnya inisiatip maka ini jelas bukan logika rakyat Negara Islam yang mendasarkan dirinya pada keta'atan yang lengkap pada Alloh, Rosul dan Ulil Amri (S.4:59). Bagaimana bisa tertib kepemimpinan, kalau awalnya saja sudah tidak teratur, berjalan bagaimana kemauan sendiri sendiri ! Syarat berdirinya negara, salah satunya adalah adanya pemimpin. Jika syarat utama ini diabaikan/dianggap tidak mendesak, maka secara langsung orang yang berpendapat begitu, meruntuhkan negara itu sendiri. Jadi, perjuangan apa yang sedang disusun itu ?

212

Sepanjang sejarah sunnah, gerakan ummat itu muncul dari adanya pemimpin. Sebelum adanya kesatuan muslimin, baik itu di Makkah ataupun di Madinah, didahului adanya pemimpin. Menjawab pertanyaan di atas tadi, perhatikan lebih dahulu ayat-ayat di bawah ini:

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka untuk mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik."--(Q.S.57:16).

"Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa : "Hai kaumku, bukankah Robbmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik ? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Robbmu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku ?". -(Q.S.20:86). Dari kedua ayat di atas itu diambil arti, sebagai mukmin harus bisa bertahan dalam berpegang pada ketetapan Allah, meski waktu telah begitu lama melampauinya. Jika dikaitkan dengan lamanya diri mencari kejelasan pimpinan, sementara belum juga mendapatinya maka dalam hal itu tidak boleh berkata yang menyalahi dari ketetapan Allah, seperti halnya sudah tidak perlu adanya pemimpin.

213

Mestinya, jika diri sudah berusaha mencari pemimpin yang sebenarnya sedangkan belum juga didapati, maka berkatanya pun harus mengandung unsur perlu adanya pemimpin sehingga padanya didapat "nilai kesabaran". Perhatikan ayat yang bunyinya : "Dan di antara mereka kami jadikan pemimpin untuk memberi petunjuk dengan perintah kami pada waktu mereka sabar. Dan mereka yakin kepada ayat-ayat Kami." -(Q.S.32:24). Meskipun ayat di atas itu terkait dengan kisah Bani Israil, namun sejarah tadi termaktub dalam Al-Qur'an, maka sudah seharusnya segenap Ahlul Qur’an mengambil hikmah. Ayat di atas memberikan gambaran pada kita bahwa munculnya pemimpin sebagai kekuatan de fakto adalah hasil proses kesabaran yang panjang. Untuk jelasnya kita ulangi lagi ayat yang bunyinya:

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun(kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang fasik."__(Q.S.57:16). Ayat di atas itu mengingatkan kita bahwa setiap mukmin hendaknya bersegera menerima kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka. Jangan seperti Yahudi / Nasrani, di mana ketika datang kebenaran pada mereka, hati mereka bukan terbuka, malah menutup dan mengeras saking lamanya mereka berketerusan dalam kegamangan tanpa informasi. Ujung ayat

214

dijelaskan bahwa menolak kebenaran yang baru datang , dan tetap berpegang pada informasi lama yang gamang tadi akan menjadikan keliru dalam melangkah dan mengambil keputusan, jadilah orang fasik dalam pandangan-Nya. Naudzubillaahi min dzalik. Kembali kepada persoalan kita, penjelasan ini pun akan membelah ummat menjadi dua golongan : a). Yang dengan hati terbuka menerima perundang-undangan NII. b). Yang menutup dan mengeras, karena terpaut dalam kekuasaan dengan waktu yang lama mengambil keputusan diluar hukum tata aturan NII. Kepada yang enggan menerima hanya karena terlanjur lama berpegang pada "tradisi lisan" para tokoh mereka, cobalah bertanya pada diri, patutkah menamakan diri gerakan Negara Islam bila tidak ada dasar kejelasan kepemimpinannya ? Dan tahukah anda bahwa sikap keras hati menolak aturan itulah yang memperpanjang kemelut permusuhan dan saling membenci di antara umat ? Bukankah umat Nasrani pun terus menerus dalam permusuhan dan kebencian karena mereka melalaikan sebagian peringatan (Q.S.5/14) sebagaimana anda pun telah memisahkan NII dengan kesempurnaan aturannya ? Perang melawan hawa nafsu adalah jihad besar. Jika tidak bisa mengalahkannya, maka begitu datang kejelasan hukum, bukannya bersyukur dan membersihkan diri, tetapi malah berkelit-kelit mengikuti nafsu yang telah lama dalam keterlanjuran. Karena itu, terhadap mereka yang selalu menghindar dari kepemimpinan yang berdasarkan perundangundangan NII, maka tinggalkan saja, dan kita berpegang pada ayat yang bunyinya:

215

" Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang bertaqwa."-(Q.S.3:33). ----------------------------------------------------------------2. Tanya : “Apa sebab kenyataannya ummat Islam di beberapa belahan dunia sudah sekian lamanya dikuasai kepemimpinan diluar sistem Islam ?” Jawab : Dalam menjawab pertanyaan di atas itu, perlu penulis mengutarakan secara singkat kronologis jatuhnya kekuasaan umat Islam, yang darinya bisa diambil suatu kesimpulan dalam melangkah ke masa depan. Sejak Nabi Adam a.s dan Hawa diturunkan, maka terbentang dua jalan: a). Jalan menuju kepada Keridhoan Allah, dan b). Jalan kehendak Thogut / Syaitan. Dengan itu tidak ada yang ditengah-tengah. Hal demikian terus berlangsung sampai akhir jaman. Perhatikan ayat ayat yang bunyinya: “Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.-(Q.S.7:13). “Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”.-(Q.S.7:14). “Allah berfirman: Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”.- (Q.S.7:15).

216

Meskipun Iblis itu sudah terang-terangan mengeluarkan pernyataannya bahwa perjuangan / gerpolnya itu bertujuan agar akhirnya semua manusia keluar dari jalan Allah sehingga berpijak pada jalan thogut, juga dinyatakan oleh ayat disebutkan “Qoliilammaa tasykuruun”, sedikit yang bersukur (Q.S.3:78). Namun, disebabkan godaan itu datangnya dari kiri-kanan, depan dan belakang, yaitu dari segala aspek kehidupan (Q.S.7:16-17), maka tidak heran jika sebagian besar manusia itu terlena yakni tidak sadar telah dininabobokan oleh Iblis sehingga kepemimpinan yang sesuai dengan selera Iblis pun dijadikan ikutan ! Untuk tidak semua manusia terjerumus kepada kepemimpinan yang bernilai kehendak syaitan, diutuslah para nabi untuk mengkaunternya, sehingga tidak semua manusia terpedaya oleh Iblis. Jadi, yang menegakkan Al-Hak pun tetap berjalan walau dalam skala kecil atau masih dalam tekanan pemerintahan ‘Iblis’ atau ‘thagut’ alias syaitan dari jenis manusia. Memperhatikan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Nu’man (pada jawaban pertanyaan lain akan dikemukakan), bahwa sejak pemerintahan Nabi SAW sampai akhir dunia ini ada lima tahapan pemerintahan. Disini isinya disimpulkan: (1) Jaman “Nubuwwah”, yaitu pemerintahan yang dipegang oleh Nabi SAW. (2) Jaman Khalifah Nubuwwah, yaitu kekuasaan atau pemerintahan yang memakai “Minhaj (sistem)” kenabian. (3) Jaman “ ‘Ahdu ‘l-muluka l-‘aad” penguasa raja-raja yang “menggigit” dan kuat ( tata hukum di masyarakat masih menggunakan hukum Islam). (4) Jaman “ ‘Ahdu ‘l-muluka ‘l-jabbar”, yaitu penguasa diktator, ( di negara atau pun di dalam tata sosial masyrakat tidak lagi memakai hukum Islam).

217

5) Selanjutnya akan kembali lagi jaman khilafah (“ ’Ahdul ‘lkhilafah” berdasarkan “Minhaj Nubuwwah”). Lengkapnya hadist di atas itu akan dikemukakan dalam jawaban dari pertanyaan lain. Tahapan Pertama, Jaman Nubuwwah Untuk jaman Nubuwwah, Penulis di sini tidak perlu mengungkapnya karena pada masa-masa itu adalah masa awal kekuatan Islam dipimpin Nabi SAW yang semua telah memahaminya. Hanya untuk hal ini penulis akan menyampaikan “dua hadits Qudsi” yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah ra di bawah ini:

، ‫حدثنى ابراهيم بن منذرالحزمى .حدثنى محمد بن فليه . حدثنا أبففى‬ - ‫حدثنا حلل - عن عطاء بن يسير. عن أبى هريرة رضى ال عنففه‬ ‫عن النبى صلى ال عليه وسلم- قال: بين انا قا ئم - فاذا زمرة - حتى‬ ‫اذا عرفتهم - خرج رجل من بينى وبينهم . فقفال: هلفم . فقلفت ايفن ؟‬ ‫ف ف‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫قال: الى النففار والف ، مففا شففأنهم ؟ قفال: انهفم ارتففدوا بعففدك - علففى‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫ادبارهم القهرى ثم إذا زمرة ، حتى اذا عرفتهم خرج رجل من بينففى‬ ‫وبينهم فقال: هلم ! قلت اين ؟ قال: الى النار وال ، قلت مففا شففأنهم ؟‬ ‫ارتدوا بعففدك علففى ادبففارهم القهففرى فل اراه يخلففص منهففم ال مثففل‬ .‫همل النعيم‬
“Meriwayatkan kepadaku Ibrahim bin Mundzir Al-Hizami, meriwayatkan kepadaku Muhammad bin Fulaih, meriwayatkan kepada kami ayahku, meriwayatkan kepada kami Hilal, dari Atha’ bin Yasar, dari Abu Hurairah - ra - dari Nabi Saw bersabda: Tatkala aku dibangkitkan dari kubur, maka di sana segolongan manusia, hingga ketika aku mengenal mereka, maka keluar seorang diantaraku dan antara jama’ah itu, dia berkata: Marilah kita pergi, saya bertanya kemana ? Dia menjawab: ke neraka Demi Allah.

218

Aku bertanya: bagaimana keadaan mereka ? Allah berfirman: sesungguhnya mereka kembali murtad sepeninggalanmu, dengan belakangnya mereka menarik diri.. Kemudian di sana ada segolongan manusia, hingga ketika aku mengenal mereka, maka seorang keluar diantaraku dan antara golongan itu dia berkata: Marilah ! Saya berkata: Ke mana ? Dia menjawab: ke neraka Demi Allah. Saya bertanya: Bagaimana keadaan mereka ? Allah berfirman: Sesungguhnya mereka kembali murtad sepeninggalanmu, dan belakangannya mereka menarik diri. Maka tidak ditampakkan kepadaku. Dia lepas dari golongan itu kecuali seperti berhamburannya hewan-hewan piaraan.”

‫وقال احمد بن شبيب بن سعيد بن المسيب ، عن ابففى هريففرة رضففى‬ :‫ال عنه - انه كان يحدث ان رسول ال صلى ال عليففه وسففلم - قففال‬ ‫يرد على يوم القيامة رهففط مففن اصففحا بففى ، فيجلففون عففن الحففوض‬ - ‫فأقول: يارب ، اصحا بى ، فيقول: انك لعلم لك بما أحدثوا بعففدك‬ - ‫انهم اهتدوا على ادبارهم القهقرى‬ ( ‫)رواه البخارى‬
“Dan berkatalah Ahmad bin Syabib bin Sa’id Al-Habthi, meriwayatkan kepada kami ayahku, dari Yunus dari Shihab, dari Sa’id bin Musibi, dari Abu Hurairah ra bahwasanya ia meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: Akan datang kepadaku segolongan manusia laki-laki dari sahabat-sahabatku, mereka dihalau dari telaga, maka aku akan berkata: Wahai Rabb-ku mereka sahabat-sahabatku. Allah berfirman engkau tidak tahu apa-apa yang mereka kerjakan sepeninggalanmu, mereka kembali dengan belakangnya menarik diri (murtad).”

219

Memperhatikan hadits-hadits Qudsi di atas itu, kita tidak heran bila dewasa ini telah di dapat pemimpin- pemimpin yang luntur dari perjuangan Islam atau ulama yang menjual aqidah dengan memanipulasi pengertian dari ayat Qur’an dan Hadist, sehingga menjilat-jilat pemerintah kafir, sebab diantara para shabat Nabi Saw yang disebut oleh beliau “Ashaabii ( ‫اصحا بى‬ )” juga didapat yang murtad atau menyimpang dari haq sesudah ditinggalkan beliau wafat. Dari itu, satu-satunya pegangan kita ialah merujuk kepada Qur’an dan Sunnah (perjalanan ) Nabi Saw. Tahapan kedua, Jaman Khalifah ‘ala Minhaji Nubuwwah Arti dari “Khalifah ‘Ala Minhaji Nubuwwah” yaitu “Kekuasaan (pemerintahan) yang berjalan di atas jejak kenabian”. Khalifah ‘Ala Minhaji Nubuwwah dalam hadist dikatakan hanya tiga puluh tahun. Figur-figurnya pun disebutkan oleh Nabi SAW, ketika beliau meletakkan batu pertama pembangunan masjid di Madinah. Satu persatu, Rasulullah SAW memanggil empat sahabat besar. Mula-mula Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, selanjutnya Ali bin Abi Thalib. Lalu Nabi SAW bersabda: “ Mereka itu adalah Khalifah sesudahku”. Meskipun keruntuhan jaman Khalifah yang empat itu telah diramalkan, namun setiap kejadian, tentu ada sebabnya yakni sebagai prosesnya. Jatuhnya Khalifah Ustman bin Affan, karena adanya oknum yang tidak amanah atau adanya hasutan dari tokoh Yahudi seperti halnya Abdullah bin Saba, sehingga terjadi pemberontakan terhadap Ustman serta pembunuhan terhadap diri khalifah, dan eksesnya berbuntut sampai perlawanan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib. Sejarah menyebutkan bahwa kekalahan Khalifah Ali itu disebabkan karena adanya ketidaktaatan sebagian ummat kepadanya atau juga banyak sahabat besar yang ketika itu tidak pro Ali dan tidak juga pro Muawiyah, seperti halnya Ummul Mu’minin, Aisyah, Abdullah bin Umar, meski pada akhirnya

220

mereka menyesali, Aisyah menangis, Abdullah bin Umar berkata:”Tiada yang aku sesali dalam hidup ini selain aku tidak berpihak pada Khalifah Ali memerangi kaum pendurhaka itu”. Semua kejadian itu hanya merupakan sejarah. Artinya, kita tidak boleh berkecil hati dan terpaku berdiam diri. Sebab, apapun yang mereka perbuat, itu urusan mereka dengan Allah. Kita akan ditanya hanya dalam urusan kita sekarang, yakni kita tidak akan ditanya mengenai mereka. Perhatikan Firman Allah yang bunyi-Nya: “Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan”.- (Q.S.2:141). Dari ayat itu diambil makna diantaranya: (a) Bahwa tanggung jawab kita untuk menjalankan perintahperintah Allah secara sempurna, tidak terhalang oleh perbuatan orang-orang terdahulu baik itu dalam hal yang benar maupun dalam hal yang salah. (b) Apabila kita mengagumi beberapa orang yang terdahulu (salaf) kemudian satu waktu kita temui lagi lembaran sejarah yang menjelaskan perbuatan salah yang dilakukan oleh sebagian orang yang telah kita kagumi itu, maka kita tidak usah memoles-molesnya agar yang mereka lakukan itu tidak ada kesalahannya. (c) Perbuatan salah dari orang-orang yang terdahulu tidak boleh dijadikan rujukan untuk diulangi, dengan anggapan masa iya mereka bersalah. Rujukan seperti itu tidak menjamin diri kita menghadap Hisaban di Akhirat.

221

(d) Apabila kita mengetahui lembaran dari sejarah beberapa orang yang terdahulu itu telah melakukan beberapa kesalahan /pelanggaran, sedangkan dari sudut lain juga didapati banyak kebaikannya, maka tidak boleh mengungkit-ungkit kesalahannya dengan sama sekali menghilangkan jasa- jasa kebaikannya. Jadi, mestinya bahwa kebaikannya harus tetap kita abadikan dan dijadikan contoh teladan, adapun mengenai kesalahannya sekedar dijadikan pelajaran untuk tidak terulangi. Artinya, bahwa kesalahan dari orang yang terdahulu itu jangan dijadikan alat pembalas dendam. Sebab, akan merugikan diri, yakni bila sudah dendam, maka biasanya tidak bisa mengambil rujukan dari yang dilakukan oleh orang-orang yang didendaminya. Sedangkan dari figur-figur sejarah itu, dibalik kelemahan akan ada kehebatannya, terlepas dari benar atau salahnya. (e) Jika ada satu atau beberapa kegagalan perjuangan menegakkan Haq yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu, maka kita tidak boleh berhenti melanjutkannya dengan anggapan “orang dulu saja begitu apalagi kita”. Kita tidak akan dipinta pertanggungan jawab tentang mereka. Tahapan Ketiga, Jaman ‘Ahdu ‘l-muluka ‘l-aad (raja-raja) yang “menggigit” dan kuat) Pembunuhan terjadi terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib. Kemudian ummat memilih Hasan bin Ali sebagai penggantinya. Tidak lama kemudian Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Mu'awiyah, dengan syarat bahwa selanjutnya kepemimpinan harus dikembalikan kepada ummat. Namun, kenyataannya pada akhir-akhir usia Mu’awiyah, dia mengangkat Yazid, putranya sebagai penggantinya. Pada masa itu tidak bisa disebut jaman Khalifah Nubuwwah, sebabnya ialah: (a) Rasulullah SAW mengatakan bahwa Khalifah Nubuwwah itu hanya 30 Tahun.

222

(b) Mu’awiyah telah mengangkat putranya, pelanjutnya, dengan tangan besi.

Yazid sebagai

Jaman ini tepatnya disebut awal jaman kerajaan. Abdullah bin Umar tidak mau berbaiat kepada Mu’awiyah. Ketika ditanya olehnya, beliau menjawab; “Aku tidak mau berbaiat kepada raja”. Mu’awiyah mengakuinya dengan berkata : “Ya, aku raja yang pertama”. Sejarah mencatat karena dirinya mengangkat anaknya sebagai putra mahkota, sejak itulah kepemimpinan umat muslimin sampai beberapa abad dipegang oleh kekuasaan dari keturunan raja-raja ( ‘ahdu ‘l-muluka ‘laad). Perbedaan pokok antara sistem kepemimpinan yang didasari musyawarah dengan sistem kerajaan, ialah dalam hal penentuan kriteria penggantinya. Yaitu: (a) Kepemimpinan yang bersistemkan musyawarah seperti halnya yang terjadi pada pemerintahan sebelum kerajaan, maka kriterianya ditentukan oleh hasil musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi, yaitu orang-orang yang terpilih, karena masing-masing keahliannya dalam memahami permasalahan hukum serta tinggi kesetiaannya terhadap Hukum- Hukum Allah SWT. Sehingga tatkala mereka mengangkat seorang khalifah, maka yang diangkat itu adalah yang paling memenuhi persyaratan menurut syariat Islam. (b) Adapun pengangkatan sistem kerajaan maka kriterianya ialah putra raja, sehingga ditemui istilah “Putra Mahkota”. Kalau pun dimusyawarahkan lebih dulu, maka hasilnya tetap juga yang diangkat itu adalah turunan raja. Dan yang berhak musyawarahnya juga adalah keluarga kerajaan. Di sini penulis tidak akan menguraikan banyak kejadian pada masa kerajaan, sebab anda juga bisa membacanya dari berbagai buku sejarah. Yang penulis uraikan disini hanyalah analisa singkat mengenai kondisi akibat perubahan dari sistem

223

musyawarah menjadi sistem kerajaan. Antara lain sebagai berikut ini: (1) Kualitas Pemimpin Seada-Adanya, Putra Mahkota Pada masa-masa “ ‘ahdu ‘l-muluka ‘l-aad), kualitas pemimpin sudah demikian adanya, artinya tidak ada pilihan lagi karena dia sebagai anak raja yang sudah ditentukan menjadi pemimpin, walau pada dirinya tidak memiliki loyalitas yang tinggi terhadap hukum Islam. Sungguh pun dalam sejarah ada juga anak dari turunan raja yang hidup khusus dalam pendidikan agama serta penuh ketaatan terhadap agama, namun itu jarang terjadi. Yang jelas anak raja pada umumnya hidup dengan segala kemewahan, dalam suasana kerajaan yang didalamnya terlibat upacara-upacara yang diprogramkan tanpa memperhatikan qaidah-qaidah agama, sehingga mempengaruhi karakter atau mental anak-anak raja. Dengan itu tidak aneh bila di antara mereka tatkala menjadi raja, maka tindakannya itu adakalanya bertentangan dengan syariat Islam. Berbeda dengan Khalifah Nubuwwah, seorang pemimpin dipilih oleh hasil musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi, maka yang dicalonkan pun adalah orang-orang yang terpilih memenuhi kriteria sesuai dengan Islam. (2) Pengangkatan Aparat tidak Mengutamakan Kesetiaan terhadap Agama, Melainkan Kesetiaan Kepada Penguasa Apabila penguasa tertinggi tidak bermental Islam, maka akan mengangkat aparat bawahannya yang dasar utamanya ialah kesetiaan terhadap pribadi pemimpin tertinggi, bukan karena kesetiaan terhadap Islam. Akibat dari itu para aparat sedemikian pun akan mengangkat para bawahannya lagi ialah orangorang yang karena mengutamakan kesetiaan kepada penguasa dari pada kesetiaan terhadap Islam. Kesemuanya itu menyebabkan para petugas mentaati perintah raja / penguasa tanpa pertimbangan melanggar atau tidaknya terhadap hukum Islam. Dalam hal ini anda bisa baca sejarah bagaimana peristiwa penyerbuan kota Madinah yang dilakukan oleh tentara pimpinan

224

Muslim bin Uqbah yang ditunjuk oleh Yazid bin Mu’awiyah, atau “Peristiwa Karbala” yang sama terjadi pada awal kekuasaan Bani Umayyah. Bisa pula anda baca sejarah peritiwa pada awal berdirinya kekuasaan Bani Abbasyiah, ketika penyerbuan ke Damsyik, dengan menetapkan kebijaksanaan pemusnahan keluarga Bani Umayyah. (3) Konflik antara Penguasa dengan Para Ulama yang Teguh Pendirian pada Agama Konflik antara raja/penguasa dengan para ulama yang tidak mau mengikuti perintah raja karena dianggap tidak sesuai dengan hukum Islam, bisa terjadi akibat raja memaksakan kehendaknya . Contohnya dapat dibaca dalam sejarah yang terjadi kepada Imam Maliki, Hambali, Syafi’i, dan Hanafi yang berkali-kali dicambuk dan dipenjarakan. Tentu, sebaliknya itu tidak mustahil banyak juga ulama yang selalu menjilat penguasa, demi kesenangan duniawi. Sebab, ada hadistnya yang menyatakan bahwa adanya ulama “Syu (jahat)”. Kerjanya menjual “ayat” demi kesenangan duniawi. Ada hadistnya, berarti ada orang-orangnya. (4) Fungsi Ulama tidak Bisa lagi Menentukan Politik Negara Ulama tidak berfungsi lagi sebagai pemimpin yang menentukan politik pemerintah, melainkan hanya berfungsi sebagai guru. Sebab, sejak awal pergantian sistem dari kekhalifahan menjadi kerajaan, terjadi pembagian sistem kekuasaan. Yaitu, politik negara hanya dipegang oleh orangorang kerajaan / pemerintah. Adapun para ulama hanya berkuasa di bidang agama, dalam arti hanya yang mengenai ibadah mahdoh. Akibatnya, politik pemerintahan ditentukan menurut semaunya pihak raja yang didukung oleh mereka yang sudah diangkat oleh raja. Padahal pada masa Khalifah Nubuwwah bahwa ulama itu berfungsi sebagai pengendali politik negara. Buktinya, Abu Bakar ra., Umar bin Khattab, atau juga para shahabat yang lainnya, mereka adalah para ulama. Ya, kalau pemimpin

225

negara tidak ulama, dalam arti tidak berideologi Islam maka pasti langkahnya menyimpang dari Islam. (e) Pengembangan Islam Umumnya Tidak Melalui Tugas Resmi Perjuangan Pengembangan Islam tidak melalui misi perjuangan resmi, melainkan dengan kebudayaan dan perdagangan atau perorangan yang tidak ada kaitan dengan tugas kelembagaan. Darinya, banyak yang masuk Islam sedangkan tidak tuntas dalam pemahamannya mengenai Islam yang sebenarnya. Apabila berdagangnya selesai, para pedagang itu kembali lagi ke negerinya masing-masing, maka tinggallah orang-orang Islam yang mualaf itu sambil kehilangan tempat bertanya mengenai peribadahan atau tata cara kehidupan menurut Islam yang sebenarnya. Sehingga untuk memperolehnya dicari jalan sekenanya, Tidak ayal lagi bila tercampuri oleh isme-isme peninggalan agama yang sebelumnya. Begitu juga pengembangan Islam melalui kebudayaan, penyampaian Islam hanya yang pokok-pokoknya saja, tidak sampai kepada cara berpakaian secara Islam atau tata cara hidup yang Islami. Akibatnya, banyak yang masuk Islam, sedangkan budaya hidupnya masih bertentangan dengan kehidupan secara Islam. Contohnya, pada jaman media elektronik ini pun, sering orang berdakwah melalui seni budaya mengajak untuk berprilaku islami, sedangkan yang lagi berdakwahnya juga sambil bermaksiat alias tidak islami. Seperti halnya berjabatan tangan dengan selain muhrim, pakaian wanitanya terbuka aurat dan sebagainya. Akibatnya, orang awam beranggapan bahwa hal itu bukan maksiat, karena yang menyerukan supaya bertakwa kepada Allah juga begitu. Bayangkan kalau saja hal itu ditiru, maka jadilah berdakwah maksiat. Bagi para pendakwah pada masa kerajaan dahulu adalah wajar seandainya melakukan dakwah belum sepenuhnya berdakwah dengan cara yang islami, sebab kondisi perbukuan pada waktu itu belum maju seperti jaman media elektronik.

226

Jaman dahulu banyak orang yang buta hurup, jaman dulu belum banyak toko buku, dahulu belum banyak percetakan buku sehingga sulit didapat buku-buku terjemahan. Jaman dahulu orang sulit mengetahui arti ayat-ayat AlQur’an, karena hampir tidak ditemukan terjemahannya. Jadi, dimaklum andai berdakwah diselingi dengan budaya yang tidak islami sebab bukan kesengajaan, melainkan karena sempitnya wawasan pengetahuan. Sehingga tidak bisa disebut menyuruh kepada orang lain supaya benar, padahal yang menyuruhnya juga sambil tidak benar (maksiat) ! Berbeda dengan jaman dahulu. Dewasa ini jangankan bagi yang suka berdakwah, bagi yang biasa-biasa saja mudah untuk tahu mana batas aurat wanita, tahu apa yang disebut maksiat. Orang yang bukan Islam juga bisa baca hadist mengenai hukum berjabatan tangan dengan wanita selain muhrim dalam Islam. Sebab itu jika ada kiai yang terkenal di Indonesia ini kemudian berjabatan tangan dengan wanita terkenal pula lalu tidak dipermasalahkan oleh para pengikutnya, bahkan dikaguminya maka hal itu bukan karena kebodohan, melainkan tersirap oleh budaya ‘setan’ _ Saking kagum terhadap sang pemimpin, lalu menganggap kecil terhadap hukum Islam. Tujuan berdakwah atau memimpin ummat tentu supaya selamat dari api nereka. Maka, sungguh lihay setan menggoda (Q.S.7:16) sehingga ada orang yang ingin menyelamatkan orang lain, sementara dirinya tidak sadar berbuat maksiat yang bila ditiru oleh sebagian pengikutnya, maka kesananya bakal kena hisaban di Alam Mahsyar ! Ataukah memang setan telah membisikkan, ya, kalau bagi kiai pimpinan teratas sih ada kekhusushannya (?) (6 ) Upacara-upacara Dalam Istana Kerajaan Upacara-upacara dalam istana kerajaan, banyak yang bertentangan dengan Islam. Hal itu terjadi karena para raja umumnya selalu mengikuti tradisi-tradisi para raja yang

227

sebelumnya. Dalam sejarah memang tercatat ada pernah terjadi perubahan dalam istana kerajaan, yaitu ketika jaman Umar bin Abdul Azis berkuasa ( 99 - 101 H./ 717 -720 M.). Pada waktu itu dihilangkan upacara-upacara yang berbau maksiat di istana seperti tari-tarian atau nyanyi-nyanyian. Pemerintah Abdul Aziz diakui oleh sejarah sebagai Khalifah yang ke lima, karena sesudah menerima surat wasyiat (penunjukkan) dari Sulaiman, penguasa sebelumnya kemudian ia menyerahkannya kepada rakyat untuk dimusyawarahkan, tapi ketika itu rakyat menjawab bahwa jabatan khalifah harus dipegang oleh Umar bin Abdul Azis. Sayang, kekuasaan itu hanya berlangsung dua tahun setengah. Dirinya diracun hingga meninggal. Kemudian Pemerintahan berubah lagi menjadi kerajaan dengan tradisinya semula. Di dalam istana selalu ada ulama kerajaan, namun di istana juga ada kemaksyiatan. Dengan demikian rakyat awam menilai bahwa ulama besar juga tidak apa-apa (menyetujui), sehingga sikap ulama sedemikian itu dijadikan dalih oleh pribadi-pribadi masyarakat yang selalu mengikuti hawa nafsu. Akhirnya, ibarat air kali bila dari atasnya dikotori maka kebawahnya juga kotor sukar dibersihkannya. (7) Timbul Aliran-Aliran yang Kontras dengan Kegemaran Masyrakat Akibat ketidakpuasan terhadap kondisi masyarakat yang dianggap telah materialistis, juga tidak adanya kepercayaan kepada ulama / pembimbing yang ada, maka munculah aliran atau ajaran yang membedakan dari kebiasaan masyarakat sebagai pelarian dari ketidakpuasan itu. Bisa dibayangkan komplikasinya pemahaman suatu ajaran pada masa itu, yang mana begitu jauh dari perhubungan sehingga lambat dalam perjalanan, maka wajar bila aliran yang berbeda dengan masyarakat itu, terbagi kedalam banyak golongan. (8) Sebagai Tentara Dijadikan Propesi ( Pencaharian )

228

Akibat kemaksiatan dianggap sudah menjadi budaya, maka merajalela pula keinginan berhura-hura yang mengutamakan keduniaan dengan membelakangkan akhirat. Sehingga timbul pula pemikiran yang memisahkan antara “pekerjaan / propesi” dengan “ibadah”. Pengertian “ibadah” dibatasi hanya dalam hal ritual, seperti sholat, puasa, berhaji dsb., tidak dalam hal segala aspek kehidupan. Akibatnya, sebagai tentara juga dianggap terpisah dari ibadah. Sehingga siap menjadi tentara dari pihak manapun, asalkan memperoleh gaji yang dianggap memadai, atau kedudukan yang dianggap terhormat. Apabila seseorang telah siap menjadi serdadu dari pihak manapun, berarti siap melaksanakan perintahnya, tanpa memperhatikan nilai agama, tidak berpikir siapa dan mengapa orang harus ditangkap, tidak bertanya mengapa harus diperangi dan untuk apa memerangi. Prajurit yang sekuler itu tahunya cuma melaksanakan perintah dari yang menggaji , tidak mau tahu salah atau benar, perintah tangkap; ya, tangkap, perintah bunuh; ya, bunuh. Dengan itu timbullah istilah “ Prajurit tidak tahu benar atau salah”. Kondisi sedemikian 180 derajat berlainan dengan prinsip Islam sebagaimana pada jaman Nabi Saw. Bahwa sebagai tentara ialah ibadah membela penegakkan Hukum-Hukum Allah di muka bumi. Sehingga dinyatakan bahwa yang berperang bukan karena Allah, maka matinya masuk neraka. Contohnya, ada seseorang yang terbunuh dalam perang, sedang pada dirinya masih melekat harta rampasan (ghanimah), yang belum dibagikan, maka dinyatakan oleh Nabi SAW masuk neraka. Hal itu menunjukkan bahwa bagi yang menjadi tentara dengan tujuan kehidupan duniawi, jelas bukanlah ibadah. Dan kalau mati, maka matinya bukan dalam Islam. Begitu juga menjadi tentara yang karena terpaksa oleh wajib militer untuk memerangi negara Islam yang berdasarkan Qur’an dan Sunnah, maka tempatnya “Jahannam” (Q.S.4 Annisa:97). Setara dengan itu perhatikan hadits yang bunyinya:

229

‫ليس منا من دعا الى عصبيه.وليس من قاتل على عصبيه.وليس منففا‬ (‫من مات على عصبية )رواه ابو داود‬
“Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada kebangsaan. Dan bukan pula golongan kami orang yang berperang karena kebangsaan. Dan tidak juga termasuk golongan kami yang mati karena kebangsaan.” (HR.Abu Daud). Memang, dalam Islam sebagai tentara itu ada pembagian harta yang ditentukan oleh pimpinan, tetapi hal itu tidak dijadikan niat dan tujuan, melainkan hanya sekedar bantuan dalam bertugas. Sebab itu dalam Islam semuanya orang mukmin wajib menjadi tentara Islam, sehingga berperang menegakkan hukum-hukum Islam, kecuali bagi yang kondisinya sebagaimana dalam Al-Qur’an S.4 An-Nisa:98, S.48 AlFath:17. Awal Runtuhnya ‘Ahdu ‘l-Muluka ‘l-’Aad (1) Raja-Raja Menjadi Boneka Para Pemimpin Militer dan Para Menterinya Awal Runtuhnya Kerajaan Besar Abbasyiah didahului oleh raja-raja yang menjadi boneka pimpinan militer, juga para menterinya sehingga kewibawaan raja semakin menurun yang akhirnya raja itu hanya dijadikan simbul kekuasaan. Akibatnya, banyak pimpinan wilayah yang jauh dari pusat kerajaan tidak merasa diperintah atas nama kerajaan, melainkan oleh pribadipribadi pimpinan militer atau para menteri, Kondisi seperti itu sewaktu-waktu menimbulkan ketegangan antara mereka dengan para penguasa wilayah yang sukar untuk menghubungi raja. Mulai pada masa Al-Watiq Mutawakkil diikuti oleh dua puluh tujuh raja berturut-turut, raja-raja itu makin lama makin kurang kekuasannya. Hal itu disebabkan pada umumnya rajaraja yang berkuasa sesudah sekian abad kejayaan Bani Abbas yang tidak banyak menghadapi rongrongan dari dalam, menginginkan kesenangan-kesenangan seperti halnya berburu atau acara-acara yang tidak berkaitan dengan tugas

230

pemerintahan. Sehingga raja-raja itu cukup mempercayakan membuat keputusan-keputusan kepada para komandan militer atau para menterinya. Dapat dipaham hal itu terjadi karena para raja sejak kecil sudah biasa hidup dalam kesenangan, artinya tidak mau banyak menghadapi permasalahan. Disebabkan banyak tugas yang dipercayakan kepada para panglima militer atau para menterinya, maka raja-raja itu tidak mampu lagi mengkontrol situasi yang sebenarnya terjadi di beberapa wilayah. (2) Banyak Daerah yang Melepaskan Diri dari Kerajaan Besar Menjadi Kerajaan-Kerajaan Kecil Dalam menangani banyak permasalahan cukup ditangani oleh para panglima militer atau para menterinya. Sehingga rajaraja itu tidak banyak menguasai permasalahan yang harus diputuskan, hal itu menyebabkan berkurangnya pengaruh raja terhadap para gubernur / pimpinan daerah, Akibatnya, banyak daerah yang melepaskan diri menjadi banyak kerajaan yang merdeka, terpisah-pisah dengan tujuannya masing-masing. Dengan terpisah-pisahnya itu maka kekuatan militernya juga tidak bisa dipersatukan lagi. Dalam kondisi sedemikian itu kesempatan bagi bangsa Tar Tar yang dipimpin oleh Hulagu, cucu Jengis Khan tahun 1258 M. menyerbu ke kota Bagdad. Terjadilah pembantaian selama enam minggu 1.600.000 jiwa melayang dari jumlah penduduk 2000.000 jiwa. Disana sini tercium bau yang menyengat. Al-Mu’tashim keluar ditemani oleh tiga ratus pendukungnya menyerah tapa syarat kepada Hulagu, Hulagu memerintahkan agar mereka semua dibunuh. Sebagai akibatnya selesailah sudah lembaran sejarah Daulat Abbasyiah. Pusat ilmu pengetahuan Islam dihancurkan untuk sekian lamanya. (3) Kesempatan Pihak Barat dengan yang Lainnya Mengadukan antara Satu

231

Kerajaan yang besar (Imperium) lenyap. Yang ada tinggal beberapa kerajaan (daulat) yang kecil, terpisah-pisah sehingga terjadi persaingan. Hal demikian dijadikan kesempatan bagi pihak Barat (Kristen) untuk mengadu-dombakan satu dengan yang yang lain, dengan cara mendukung salah satu pihak yang sedang berselisih, sehingga terjadi perang antara sesama kerajaan. Bahkan tidak sedikit raja yang berebutan meminta bantuan dari raja-raja keristen untuk memukul kerajaan yang menjadi saingannya. Hal itu bisa dibaca dalam lembaran sejarah yang terjadi di Andalusia atau benua lainnya. Kita juga perhatikan sejarah mengenai kerajaan yang terjadi di Indonesia, yang bisa diadu-dombakan oleh Belanda. Akhir dari proses sejarah itu dimanfaatkanlah oleh pihak Barat untuk menjajah hampir seluruh dunia Islam. Bagi Bangsa Eropa (Kristen) sangat mudah mengalahkan kekuatan kaum muslimin. Hal itu bukan hanya disebabkan mental kaum muslimin yang loyalitasnya kepada duniawi yang siap menjadi tentara bayaran dari pihak manapun, tetapi juga akibat hilangnya Struktur Kepemimpinan Islam sebagaimana yang dipolakan Rosululloh Saw sebelumnya. Daulah ( Kerajaan ) Ustmaniah Pelindung bagi Kaum Muslimin di Negeri-Negeri Arab Belahan Timur dari Ekspansi Eropa Barat Suku Turki yang mengungsi dari Turkistan ke Kaukakus selatan membentuk gerakan yang bersifat kesukuan, hingga pemimpinnya Sulaiman meninggal dunia digantikan oleh putranya, Artheghul. Kemudian Artheghul diganti lagi oleh Ustman bin Artheghul, yang kemudian nama ini dijadikan sebagai simbul negara. Dipegang oleh Ustman ini, gerakan-gerakan yang bersifat kesukuan berubah menjadi gerakan kenegaraan dengan mengalahkan raja-raja yang menguasai Bizantium. Ustman digantikan oleh putranya, Orakhan pada tahun 726 H. Kemudian diperintah secara berturut-turut oleh yang

232

selanjutnya. Pada tahun 854 H. atau 1451 M. Daulah Ustmaniah diperintah oleh Muhammad II ( yang dalam sejarah dikenal Muhammad Al Fatih, sebab sudah berhasil menguasai Konstantinopel tahun 1453 M, sehingga lenyap Imperium Bizantium. Pada waktu negeri-negeri Arab dalam keadaan lemah, tidak mampu mengembalikan kejayaan masa lalunya. Dan Arab belahan timur nyaris runtuh. Sedangkan pada masa-masa itu adalah awal abad modern dan awal kebangkitan Barat (Renaissance). Maka, sewaktu Daulah Ustmaniah dipimpin oleh Salim I dipersiapkanlah ekspansi ke Mesir, Syam. Kemudian sebagian besar negara-negara Arab masuk kedalam pengakuan Daulat Ustmaniah dari abad ke XV hingga tahuntahun pertama abad ke XX Masehi. Sebagian penganalisa sejarah berpendapat bahwa Imperium tersebut menjadi pelindung bagi Kaum Muslimin di NegeriNegeri Arab. Sebab, di Jaman Daulah Ustmaniah itu kaum muslimin di negeri-negeri Arab masih bebas menjalankan hukum-hukum Islam, tetapi begitu Daulah Ustmaniah jatuh, dan kekuasaan diambil oleh imperialis Barat, maka diganti dengan hukum-hukum “kafir”. Sejak awal kebangkitan Barat dengan kemajuan persenjataannya, pihak Barat bermaksud ekspansi ke seluruh negeri Arab yang sudah terkoyak-koyak, namun terburu didahului oleh ekspansi dari keperkasaan Daulat Usmaniah yang ditakuti oleh pihak Barat pada waktu itu yang sebelumnya sudah menghancurkan kekuatan Eropa dengan lenyapnya Imperium Bizantium. Tahapan Keempat, Jaman “ ‘Ahdu ‘l-muluka ‘l-Jabbar” Jatuhnya Daulah (kerajaan ) Ustmaniah, proses utamanya adalah sama dengan jatuhnya Daulah Abbasyiah, hanya berbeda mengenai yang diakibatkannya: a). Para pimpinan / pembesar di beberapa wilayah Abbasyiah, mereka memisahkan diri dari Imperium tersebut kemudian

233

mendirikan kedaulatan tersendiri, merdeka dari segala penjajahan. Maka, begitu ibu kota Abbasyiah, Bagdad, diserbu oleh Bangsa Tar-Tar yang menghancurkannya, masih banyak daulah-daulah lainnya yang tegak berdiri sehingga tetap bisa memberlakukan hukum-hukum Islam di wilayahnya masingmasing. b). Sedangkan terhadap Daulat Ustmani para separatis Arab yang memberontak, kebanyakan akibat didasari kebangsaan yang diciptakan oleh Yahudi dan digembar-gemborkan oleh kaki tangan imperialis serta disebar-luaskan oleh orang-orang Freemasonry. Agen-Agen Yahudi menyusup kedalam tubuh pemerintahan dan organisai pemuda Turki. Sehingga para pemimpin organisasi pemuda Turki menjadi berbaju lain, menciptakan revolusi Turki untuk lepas dari misi Islam. Mereka memaksa pemerintah Turki melibatkan diri ke dalam perang dunia pertama dengan tanpa alasan yang logis dan terkait. Ketika Jerman dikalahkan, Turki pun menyerah kalah, melalui gencatan senjata Rodes pada tahun 1918 M. Dengan itu runtuhlah seluruh penjuru Arab, kemudian menjadi daerah kekuasaan Inggeris dan Perancis. Daerah Palestina pun diserahkan oleh Inggeris kepada Yahudi, lalu diproklamirkan menjadi Israel. Dengan runtuhnya Daulah Ustmaniah itu maka digantilah hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum bawaan dari kedua Bangsa Eropa itu. “ ‘Ahdu ‘l-muluka ‘l-Jabbar” yang di Indonesia Datangnya penjajahan asing pada mulanya melalui jalur perdagangan. Contohnya saja yang datang ke Indonesia, Belanda dan Portugal. Mereka membeli rempah-rempah di Indonesia kemudian menjualnya ke Eropa, sehingga meraih keuntungan yang besar. Dengan keuntungan besarnya, membuat mereka memiliki kekayaan yang mengalahkan kaum pribumi. Sehingga banyak kaum pribumi itu yang menjadi kuli atau pekerja keamanan bangsa asing tersebut yang bayarannya melebihi dari kebiasaan yang diberikan oleh orang kaya dari kaum pribumi.

234

Bisa dibayangkan andai katasaja, bila seorang bangsa asing mampu menggaji 10 orang centeng, maka bila seribu orang asing berarti bisa menggerakkan sepuluh ribu kaum pribumi sehingga bisa dijadikan tentara bayaran, yang pada akhirnya bisa mengalahkan kerajaan dari kaum pribumi sendiri. Itulah sebab utama, jika negeri Belanda yang penduduknya sedikit, dan negerinya tidak lebih besar dari Jawa Barat bisa menjajah Indonesia yang begitu luas dalam waktu sekian lama. Kaum pribumi yang masih bodoh menjadi tentara bayaran, siap diadukan dengan sesama pribumi, tentu bukan saja karena gaji, melainkan juga karena kebanggaan memperoleh pangkat serta pakaian seragam militer yang berbeda dari kaum pribumi. Bisa dipaham bahwa Islam yang melekat pada mereka itu cuma karena ikut-ikutan atau turunan, tanpa pengertian. Mereka menganggap bahwa tugas sebagai tentara itu hanya merupakan pekerjaan tanpa kaitan dengan kehidupan di Akhirat. Dengan itu mereka siap menyerang kerajaan dari kaum pribumi yang mayoritas pendduduknya beragama Islam. Sehingga lenyaplah Jaman “‘Ahdu ‘l-muluka ‘l-’aad” berganti dengan jaman “ ‘Ahdu ‘l-muluka ‘l-Jabbar” Yang mengakibatkan tidak berlakunya hukum Islam secara keseluruhan sampai pada saat ditulisnya tanya jawab ini. Setelah bangsa (asing ) penjajah itu berkuasa, lalu memberlakukan hukum-hukum yang mereka bawa dari negeri asalnya, dipaksakan di negeri jajahannya. Contohnya saja seperti halnya di Mesir dari Inggeris, di Aljajair dari Prancis. Begitu juga di negeri-negeri lainnya. Termasuk di Indonesia dari Belanda hingga diwariskan kepada jaman Pancasila. Memisahkan Sistem Pendidikan Langkah-langkah pokok yang ditempuh kaum penjajah dari Barat itu guna terus melemahkan umat Islam, yakni memisahkan sistem pendidikan agama dengan pendidikan

235

umum. Hal itu mengakibatkan perbedaan kondisi yang menonjol antara kedua sistem tersebut: 1). Kondisi Pendidikan Barat a). Pendidikan agama dalam pensensoran penguasa (mengenai kitab-kitab yang masuk), sehingga putus hubungan dari sejarah perjuangan Rasulullah Saw. Akibatnya, sebagian dari yang pendidikan agama buta terhadap politik Islam bahkan menganggap bahwa Islam itu tidak berpolitik. Kebanyakan menganggap bahwa Islam itu hanya pada batas sholat, berpuasa, zakat dan berhaji serta ritual yang hubungannya vertikal saja, dalam arti tidak menyangkut pemerintahan dan tata sosial bernegara. Sehingga bahwa urusan politik, Kepemimpinan dalam negara itu urusan dunia. Hal tersebut di atas terjadi karena sejarah Nabi Saw yang dipelajari dibatasi hanya sampai pada wawasan yang tidak menyangkut kewajiban berpolitik dalam menegakkan kedaulatan Islam. Sekalipun ada kitab yang berkaitan dengan kedaulatan Islam yang secara kebetulan lolos dari pensensoran, tidak banyak yang memahaminya, sungguh sukar untuk dikembangkannya. apalagi mempraktekannya. Jangankan terhadap kitab-kitab sedemikian, sedangkan kepada Al Qur’an saja, kebanyakannya masyarakat tidak tahu isinya. Kesemuanya terjadi akibat taktik penguasa asing guna melemahkan umat Islam supaya tidak bangkit membentuk Daulah Islamiyah. b). Pendidikan agama tidak diprogramkan sehingga banyak waktu terluang. Misalnya, murid belajar di pondok- pondok tidak diprogramkan ketentuan kapan waktu tamat belajar, hal itu mengakibatkan para santri menempuh belajar semaunya, bisa sebentar; bisa juga lama sekali. Ada juga yang semakin lama semakin menjadi kebanggaan, merasa bangga jika anaknya tinggal di pondok sampai sekian belas tahun, sementara qualitas belajar yang tidak diprogramkan itu, tidak bisa ditententukan oleh lamanya belajar.

236

Bagi pihak orang tua bisa saja menjadi kebanggaan karena anaknya tinggal di pondok sampai lima belas atau dua puluh tahun, tetapi dari segi politik penjajahan telah menenteramkan pihak penguasa. Sebab, masa muda yang penuh keberanian untuk berjihad melawan penguasa kafir, bisa habis terkurung oleh pondok, belum lagi waktu untuk beradaptasi dengan masyarakat, ditambah lagi dengan persiapan rumah tangga dan sebagainya. Kita tidak menyalahkan apa yang sudah terjadi, sebab itu adalah kenyataan proses sejarah sesuai dengan kondisi politik, serta kemajuan teknologi yang belum bisa mempercepat cara belajar seperti sekarang. Contohnya, jangan lagi lebih seratus tahun yang silam, pada tahun enam puluh (1960) an saja, penulis tidak melihat kitab-kitab tarjamahan seperti halnya: “Al Fiyah, Riyadussholihiin, Subulussalaam, Nailul authoor, Fat hul mu’iin, Ahkaamul sulthooniyah”dan sebagainya yang anak-anak sekarang mudah memahaminya. Adapun kita uraikan proses sejarah itu hanya sebagai wawasan guna menentukan langkah ke masa depan. c). Pelajaran yang berkaitan dengan agama terbatas dari wawasan informasi luar, karena terbatasnya media cetak yang masuk ke dalam pondok. Hal sedemikian mengakibatkan terbatasnya pula membuat analisa. Hasilnya, cukup mengikuti yang ada. Jelasnya, wawasan informasi cukup tergantung dari yang dikemukakan oleh guru-guru setempat. Dalam hal itu jelas tertinggal oleh yang berpendidikan umum (Barat). d). Pendidikan agama terpisah dari pengetahuan yang menunjang kedudukan dalam masyarakat. Misalnya, di pondok tidak diberikan pelajaran bahasa asing selain Arab. Sehingga begitu mereka keluar dari pesantren merasa tidak mampu berkomunikasi dengan dunia luar, tidak mampu menangkap berita dalam literatur bahasa kaum penjajah. Dengan itu tidak tahu pula situasi pemerintahan yang sebenarnya. Sedangkan kondisi demikian akan menentukan situasi politik selanjutnya.

237

2. Kondisi Pendidikan Umum ( Barat ) a). Dalam pendidikan umum ditanamkan pelajaran agama yang tidak semestinya. Ada kesenjangan untuk menggambarkan agama Islam dari satu sudut, agar orang mendapat bayangan yang tidak enak. Misalnya, orang Islam tidak dianjurkan tidak berinisiatip karena nasib sudah ditentukan. Atau banyak lagi yang diputar-balikkan dalam hal-hal agama Islam yang semuanya bisa menjadikan kaum pendidikan umum memandang agama Islam sangat negatip. Kalau ada yang masuk dalam ujian, kalau ditanyakan, maka menjawab sebagaimana yang diajarkan pada mereka. Hal demikian mengakibatkan kaum pendidikan umum kurang menghargai agama, tidak meyakini bahwa Islam sebagai pedoman hidup. b). Tamatan sekolah umum memperoleh penghidupan yang layak, karena yang pandai berbahasa asing (penguasa) adalah dihormati kedudukannya dan mudah mencari pekerjaan. Akibatnya, aparat pemerintahan didudukinya oleh yang sudah seirama dengan kaum pendidikan Barat yang diperkirakan memperkuat penguasa yaitu penjajahan. c). Sebaliknya, dalam masyarakat, pendidikan agama tidak dipandang penting tidak saja pandangan, tetapi tertanam gagasan jika seseorang mau maju dalam masyarakat ia harus memperoleh pendidikan Barat (umum). Hal demikian menurunkan percaya diri bagi keluaran pendidikan pondok (agama) untuk menempatkan posisi di atas kaum pendidikan Barat. Sekolah umum sangat sedikit, sehingga banyak murid yang jauh dari orang tua mereka, ditempatkan di asrama-asrama dengan pergaulan yang jauh pula dari lingkungan beragama. Mereka baru bisa mengetahui adanya yang sholat dan ngaji hanya kebetulan sewaktu pulang ke rumah orang tua mereka. Sedangkan kondisi seperti itu sungguh mempengaruhi jiwa mereka dikemudian hari.

238

Jaman Revolusi Pengusiran Penjajah Asing Penulis menggunakan istilah pengusiran penjajah asing, karena yang diusir oleh sebagian besar yang ngaku Islam itu bukanlah mengenai penerapan hukum-hukum kafir, melainkan cuma penjajahan bangsa asing. Sedangkan hukum-hukum kafir bawaan penjajah asing itu masih dipaksakan. Nah, yang memaksakan ini berarti sama dengan penjajah. Jadi, yang di usir itu asingnya, sedangkan penjajahnya tidak diusir atau tidak ditundukkan. Sebab itu penulis gunakan istilah “Jaman pengusiran pejajah asing” Tujuan berperang dalam Islam ialah untuk tegaknya hukumhukum Allah. Apabila sekedar berperang mengusir bangsa, maka hal itu namanya “Ashobiyah (kebangsaan)”, maka matinya bukan dalam Islam. Sebab itu dalam Islam bahwa yang disebut sebagai musuh itu bukan ditentukan oleh berbeda bangsa, melainkan ditentukan oleh penentangan terhadap hukum-hukum Allah SWT. Akan tetapi, mengapa sebagian dari yang mengaku muslim itu telah terperangkap dengan perang kebangsaan ? Sebabsebabnya yaitu tidak terlepas dari rentetan kondisi jaman kerajaan dan jaman penjajahan bangsa asing. yang selanjutnya pada jaman pengusiran penjajah asing kondisinya yaitu: a). Pihak pendidikan agama umumnya pada waktu itu beranggapan bahwa sebutan “musuh” , itu hanya ditujukan kepada kepada penguasa dari Eropa ( di Indonesia ialah Belanda atau “bule”) yang agamanya bukan Islam. Sedangkan terhadap orang-orang yang berpendidikan Barat, asalkan mereka beragama Islam maka tetap dijadikan kawan bahkan banyak yang dijadikan pemimpin, tanpa mempertimbangkan bagaimana ideologinya. Padahal itu jelas bertentangan dengan Islam (perhatikan Q.S.5:68, S.5:49, S.5:57).

239

b). Kaum berpendidikan Barat, meskipun “berideologi bukan Islam”, tetapi mengaku sebagai orang-orang Islam bahkan diantaranya ada yang suka mengerjakan sebagian dari ajaran Islam. Mereka menggunakan sentimental Islam supaya dipercaya oleh umat Islam. Mereka sadar tidak bisa membangkitkan semangat rakyat Islam tanpa bantuan lisan-lisan para ulama (dari pendidikan agama). Karena itu mereka mendekati para ulama Islam yang punya pengaruh di hadapan para santri-santrinya, dengan janji bilamana penguasa asing sudah terusir, maka akan ditegakkan hukum-hukum Islam. Para kiayi/ ulama itu umumnya mempercayai mereka, sehingga terus mengumandangkan semangat jihad fisabiilillaah kepada para santri serta rakyat meski dengan persenjataan yang seadaadanya. c). Para pendidikan barat memiliki wawasan sejarah mengenai kenegaraan, revolusi-revolusi yang sudah terjadi di luar negeri. Sehingga menguasai hukum-hukum ketatanegaraan. Dengan itu jauh sebelum terjadi revolusi fisik mengusir penjajah asing itu terlebih dulu mencanangkan program struktur kenegaraan serta perundang-undangan yang diikuti oleh penempatan orangorangnya. Walaupun keluar menggemakan selogan berjihad demi tegak hukum-hukum Islam, namun kedalam secara diamdiam mengatur trik- trik untuk tetap berlakunya hukum-hukum yang sesuai dengan ideologi mereka yaitu hukum-hukum warisan dari bangsa asing. Mereka umumnya mengusai bahasa penguasa, mengerti siaran radio luar negeri, informasi-informasi dari majalah / koran asing, lancar berkomunikasi dengan diplomat-diplomat asing. Hal demikian membuat percaya diri, serta dipercaya oleh rakyat menjadi pimpinan di kemudian hari setelah penjajahan asing terusir. d), Pihak pendidikan agama (para kiai) mengomando umat Islam mengangkat senjata, tetapi tidak mempersiapkan struktur kepemimpinan serta konsep perundang undangan. Mereka

240

mempercayakannya kepada para pemimpin dari pendidikan Barat. Beranggapan bahwa yang pintar-pintar dari pendidikan Barat juga beragama Islam, yang diperkirakan bila kekuasaan sudah diraih maka hukum Islam ditegakkan. Walhasil, para ulama yang mengusir penjajah asing itu, fungsinya hanya sebagai penggerak alias pekerja-pekerja revolusi, sedangkan hasilnya diserahkan kepada kaum pendidikan Barat. Akibatnya, begitu bangsa asing terusir, maka kaum sekuler pulalah yang memegang kekuasaan dan tetap saja hukum-hukum anutan kaum sekuler yang dipertahankan. Sesudah posisi pemerintahan dikuasai sepenuhnya, serta memperoleh simpati dukungan dari rakyat barulah berani “mencengkramkan kuku mereka”, dengan sikap menolak berlakunya hukum-hukum Islam. Dan hal ini telah terjadi di beberapa negara yang penduduknya mayoritas Islam yang pernah dijajah oleh bangsa asing. Perhatikan yang terjadi di Indonesia, sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945, kaum sekuler itu menyetujui berlakunya Piagam Jakarta, yaitu kewajiban menjalankan syariat Islam, tetapi tidak lama sesudah umat Islam ( Masyumi) menyambut proklamasi tersebut, maka dicoretlah delapan kata dalam piagam tersebut, tidak jadi memberlakukan Syariat Islam. Meskipun kaum penjajah dari bangsa asing itu sudah pergi, namun karena hukum-hukum peninggalan kafir itu masih diterapkan di kalangan umat Islam, maka jaman itu tetap disebut sebagai jaman “ ‘Ahdu ‘l-muluka ‘l-Jabbar”. Sebab, soal bangsa apa saja adalah sama, musuh atau bukan musuh ditentukan oleh penjegalannya terhadap hukum-hukum Allah. Sehinggga kemulian suatu bangsa juga ditentukan oleh ketaatan terhadap Allah SWT. ( Perhatikan Q.S.49 Al Hujuraat:13). Harus diakui bahwa kesemuanya itu akibat terlepasnya hubungan sejarah dari sejarah perjuangan yang dicontohkan

241

Nabi Saw. Sebelum Rasulullah Saw membentuk negara Islam di Madinah maka pertama kali ditentukan ialah pemimpinnya, artinya tidak sembarang orang dijadikan pemimpin, sehingga tidak bisa masuk manusia seperti Abdullah bin Ubay bin (pemimpin munafik) untuk menjadi pemimpin. Kemudian ditetapkan undang-undang berlakunya hukum Islam. Dan dipertahankannya bukan cuma dengan ngomong- ngomong di depan meja musuh, sambil ngopi bersama, tetapi dengan terus mengacungkan senjata (Q.8:12). Sehingga golongan yang berideologi diluar Islam tidak bisa menguasai negara ! Perhatikanlah, para shahabat besar jaman Nabi Saw, mereka adalah ulama dan mereka juga sebagai pimpinan militer Islam yang siap menguasai negara. Tidak berperang yang kemudian pimpinan negaranya dipercayakan kepada yang berjiwa “kebangsaan nasionalis (Quraiys) !” Memang, khusus di Indonesia ini pada Tahun 1934 sudah diadakan kongres yang memprogramkan terbentuknya pemerintahan / negara yang dicontohkan oleh Nabi Saw di Madinah, namun karena kondisi umat Islam sudah sekian abad terpisah dari sejarahnya, maka kebanyakan tidak bisa lagi menentukan mana kawan dan mana lawan, mana yang harus dijadikan pemimpin dan mana yang harus ditinggalkan. Akhirnya mereka terpedaya oleh politik kaum pendidikan Barat sehingga banyak yang ingkar dari kongres Tahun 1934 tersebut tadi. Mereka yang ingkar dari konsep hijrah, karena percaya bahwa hukum-hukum Islam itu nanti juga bisa ditegakkan dengan jalan parlemen hasil pemilihan umum di Daarul Kuffar, dan bakal menang sebab mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam. Dan pemimpin Indonesia juga bakal orang Islam. Hanya, tidak disadari bagaimana kalau nanti yang jadi pemimpinpemimpinnya itu berideologi sama dengan penjajah hanya berbeda warna kulit dari “bule” menjadi “sawo matang” !

242

Bisa dibayangkan sulitnya menentukan mana kawan dan mana lawan, sebab sebelum Tahun 1934 pun sudah ada segolongan kaum muslimin yang mengadakan kongres pada tahun 1927 di Surabaya. Sebagai ilustrasi bisa dibaca di bawah ini: “ Arsip kolonial dengan kode 261 / X / 28. Isi arsip melaporkan kongres N U di Surabaya 13 Oktober 1927 yang penuh dengan pidato-pidato yang menjunjung pemerintah Belanda sebagai pemerintah yang adil, cocok dengan Islam, dan patut dijunjung sepuluh jari. Sementara itu tokoh Islam yang menantang Belanda, (jelas yang dimaksud tokoh syarikat islam Pen.) menurut laporan itu, dicaci maki dan pantas dibuang ke Digul.” (Tempo, 26 Desember hal. 23, Jakarta, 1987). Tentu, ada yang ingin bertanya, “Apakah isi dari kongres sedemikian (13 Oktober 1927) itu tidak bertentangan dengan Qur’an surat 5 Al-Maidah ayat 51, yaitu melarang muslimin mengangkat pimpinan dari kaum Nashaaraa ?” Jelas, bertentangan ! Dan itu kenyataan sejarah. Kesimpulan, bahwa penyebab kenyataannya umat Islam di berbagai belahan dunia ini sudah lama dikuasai oleh kepemimpinan diluar sistem Islam, karena umat Islam terpisahkan dari sejarah perjuangan yang dicontohkan Nabi Saw, yaitu lepas dari Al-Qur’an dan Sunnah Saw. Tahapan Kelima, akan Muncul Lagi Jaman “Khilafah ‘ala Minhaji Nubuwwa Dalam jawaban yang telah lalu diungkapkan Kongres Partai Syarikat Islam Indonesia tahun 1934 yang menetapkan program azas yaitu menegakkan Negara Islam Indonesia yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Hal itu merupakan “embriyo” berdirinya Negara Islam Indonesia. Tetapi, barangkali proses sejarahnya harus panjang sehingga mengharuskan adanya ujian bagi setiap penegak “Al-Hak”, hal itu tersendat oleh banyaknya umat yang tertipu oleh golongan

243

nasionalis sekuler yang telah menyetujui Piagam Jakarta sehingga ummat Islam menyambut Proklamasi 17 Agustus 1945, tidak tahunya sehari sesudah itu, maka delapan kata yang tercantum dalam Piagam Jakarta itu dihapus (dikhianati) oleh kaum nasionalis sekuler. Akan tetapi, Allah akan menunjukkan jalan kepada yang sedang berjihad di jalan-Nya (Q.S.29:69 ) , maka terjadilah proses sejarah. Yaitu, sewaktu Belanda memaksa R I berunding, setelah agresi-agresinya, maka dalam beberapa kali perundingan itu para pemimpin nasionalis sekuler kalah, sehingga wilayah Republik Indonesia semakin menciut, yang akhirnya mengakui kedaulatan Belanda atas seluruh Hindia Belanda. Yang pada klimaknya diakhiri oleh “Pengibaran Bendera Putih” atas keputusan Rapat Dewan Menteri yang dipimpin oleh Sukarno. Dalam keadaan sedemikian setelah melalui beberapa proses maka diproklamasikanlah Negara Islam Indonesia pada tanggal 7 Agustus 1949, sebagai Khilafah (kekuasan / pemerintahan) di atas jejak Rasulullah Saw ( Khilafah ‘ala Minhaji Nubuwwah) yang sementara terjangkau di Indonesia. Dan merupakan embriyo bagi Khilafah sedunia. --------------------------------------------------3. Tanya : ”Berdasarkan apakah penunjuknya menurut Al-Qur’an dan Hadist Nabi Saw bahwa kita wajib menegakkan negara yang didasarkan kepada Al Qur’an dan Sunnah ?” Jawab : Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis mengambilnya dari tulisan yang sudah terdahulu dikemukakan dalam buku “Furqon di Indonesia”, lebih sepuluh tahun sebelum tulisan TABTAPENI DATANG, sebagaimana di bawah ini: 1). Menurut Ilmu Mantiq (logika )

244

Memperbincangkan istilah “Negara Islam ( yang didasarkan kepada AL Qur’an dan Sunnah Saw), untuk itu kita menoleh ilmu mantiq (logika). Padanya, bahwa “dilalah (penunjuk)”, garis besarnya terbagi dua: a). Dilalah lafdhiyah. yaitu bilamana penunjuk itu merupakan lafadh atau perkataan. b). Dilalah ghairu lafdhiyah. Yaitu bilamana si penunjuk itu bukan merupakan lafadh, tetapi merupakan isyarat, tandatanda, bekas-bekas dsb. Berdasarkan pengetahuan logika itu, maka mengenai pengertian (konsep) Negara Islam dalam Al Qur’an, sebagai penunjuknya itu ialah “isyarat” yang mana Kitabullah itu mengisyratkan bahwa kita harus menjalankan kewajibankewajiban antara lain: a). Menjalankan hukum pidana Islam (S.5 Al Maidah:38, 45. S.24 An nur:2. S.2 Al Baqoroh:178). b). Melaksanakan ibadah yang berkaitan dengan perekonomian, diatur oleh penguasa Islam, sehingga menyalur pada kebenaran Ilahi (S.9 At Taaubah:29). c). mempunyai kepemimpinan tersendiri sehingga tidak didikte oleh manusia yang setengah-setengah (fasik/ kafir) terhadap Islam (lihat S.5 Al Maidah:51, 57. S.7 Al Araf:3. S.3 Ali Imran:28. S.4 An nisa:144). d). Memiliki kekuatan militer tersendiri, umat berfungsi sebagai Tentara Islam (S.8 Al Anfal:60. S.4 An Nisa:71, 81). e). Wajib menumpas setiap kekuatan yang menentang tegaknya syariat Islam (S.8 Al Anfal:39, S.2 Al Baqarah:193, S.9 At Taubah:73, 173).

245

Dengan adanya kewajiban-kewajiban itu saja telah menunjukkan keharusan umat Islam memiliki kedaulatan sendiri. Yaitu “negara yang disandarkan kepada Al Qur an dan Sunnah Saw”, artinya yaitu negara Islam. Barusan kita menolehnya dari ilmu mantiq, kini kita tinjau pula dari sudut Ushul Fiqih yang bunyinya:

‫من باب ماليتم الوجوب البه فهو واجب‬
“Suatu kewajiban yang tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu hal, maka sesuatu hal itu menjadi wajib”. Yang dimaksud dalam kaidah di atas itu, yakni bahwa dalam menjalankan sesuatu kewajiban, sedangkan untuk bisa menyempurnakan kewajiban yang dituju itu harus menggunakan bentuk pekerjaan, maka menjalankan bentuk pekerjaan demikian itu wajib adanya. Contohnya, dalam hal wajib berwudhu untuk melakukan shalat. Sungguh kalau dicari dalam Al Qur’an tidak didapat ayat yang bunyinya secara saklek mewajibkan kita berusaha memperoleh air. Akan tetapi, kewajiban berpikir dan berbuat dengan ilmu dalam hal ini sudah jelas tidak perlu disebutkan. Sama maksudnya dengan kaidah di atas tadi, di bawah ini kita lihat lagi kaidah ushul yang bunyinya:

‫المربالشئ امربوسائله‬
“Memerintahkan sesuatu berarti memerintahkan pula seluruh perantara-perantaraannya”. Misalnya, memerintahkan naik rumah, hal itu berarti juga memerintahkan mentegakkan tangga, sebagai perantaraannya. Sesuatu perbuatan yang diperintahkan tidak akan terwujud kecuali dengan adanya perbuatan-perbuatan lain sebelumnya, atau alat-alat untuk mewujudkan perbuatan yang diperintahkan itu, maka perbuatan-perbuatan lain dan alat-alatnya disebut perantara (washilah) sebagai muqayyad.

246

Berdasarkan ilmu ushul itu pun maka mentegakkan negara / daulah Islamiyah itu hukumnya wajib. Sebab, bahwa Daulah Islamiyyah itu sebagai alat untuk kita bisa menterapkan hukumhukum Islam secara sempurna. Juga merupakan washilah yaitu perantara untuk mendhohirkannya. Seirama dengan qaidah mantiq dan qaidah ushul, maka Ilmu “Musthalah Hadits” menyatakan bahwa “hadits” ialah semua yang disandarkan kepada Nabi Saw., baik berupa “ qauliyah” (perkataan), “Fi’liyaliyah” (perbuatan) dan “Taqririyah” ( pengakuan). Penjelasannya sebagai berikut: a). Qauliyah ialah berupa perkataan, baik itu berupa perintah atau larangan, pun berita yang diucapkan Nabi. Artinya, merupakan lafadh, perkataan. b). Fi’liyah yaitu yang berupa perbuatan Nabi Saw. Pada point kedua ini dimengerti bahwa yang dinamakan “Hadist” Nabi SAW itu tidak semua berupa perkataan. Jadi, bila Nabi Saw itu tidak mengucapkan kata “Negara Islam” atau “Daulah Islamiyyah” tetapi bila nyatanya Nabi itu telah membentuk organisasi yang setara dengan “negara”, serta menjalankan hukum-hukum Islam yang berhubungan dengan kenegaraan / kekuasaan, maka mendirikan negara yang hukum-hukumnya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Saw adalah wajib bagi umat Islam mencontohnya. c. Taqririyah yaitu pengakuan Nabi Saw terhadap perbuatan sahabat yang diketahui oleh Nabi, tetapi Nabi Saw tidak menegur atau menanyakannya. Yang semuanya itu bersangkutan dengan beberapa hikmah dan hukum-hukum yang terpokok dalam Al-Qur’an. Dengan hal-hal yang dipraktekkan oleh Nabi Saw, jelas sekali bahwa adanya “negara Islam” didalam hadist, maka sebagai penunjuknya yaitu “perbuatan” Nabi Saw -- Yang mana telah membuat garis pemisah antara kekuatan militer

247

musyrikin dan militer Islam. Barisan Abu Jahal dan Abu Lahab memiliki prajurit bersenjata, maka Nabi pun menyusun dalam mengimbanginya ( Q.S.8:73). Rasul Saw telah bersikap tegas, siapa saja yang menyerang negara Madinah, maka dianggapnya sebagai musuh walau telah mengaku Islam ( Perhatikan Q.S.4:97 dan sikap Nabi terhadap Abu Abas sewaktu menjadi tawanan yang minta dibebaskan tanpa syarat). ---------------------------------------------4. Tanya: ”Bagaimana terhadap perkataan “Jangan dulu memikirkan mana pemimpin, jaga saja diri sendiri dan keluarga ?” Jawab: Terlebih dulu penulis kemukakan ayat yang bunyinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai (Perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”_ (Q.S.66:6). Dari ayat itu diambil arti bahwa menjaga diri sendiri itu kewajiban yang pokok. Di akhirat pun diri ditanggung jawab hanya oleh dirinya sendiri. Perhatikan ayat-ayat yang bunyinya:

“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangsakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anakanaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.”(Q.S.80.’Abasa:33-37 ).

248

Dengan ayat itu juga dipaham bahwa kewajiban menjaga keluarga itu soal kedua. Yang pertama adalah diri sendiri, artinya jika sudah diri sendiri baru keluarga. Untuk yang kedua ini bagi kita hanya sekedar usaha memelihara sebisa mungkin sesuai dengan batas kemampuan, adapun berhasil atau tidak hal itu bukan urusan kita. Perhatikan ayat-ayat yang bunyinya : “Dan Nuh berseru kepada Rabbnya seraya berkata : ”Ya, Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkaulah yang benar. Dan Engkau Hakim yang seadil-adilnya.”-(Q.S.11:45).

“Allah berfirman:”Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohan kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekatnya). Sesungguhnya aku memperingatkan kapadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang jahil”.”_(Q.S.11:46). Dengan ayat itu dimengerti bahwa soal keluarga artinya kalau mereka sudah tidak mau, kita tetap harus menjaga diri sediri, jangan sampai keluarga yang sudah tidak mau, lalu kita hanyut terbawa oleh keluarga. Tiap diri mu’min yang sudah baligh wajib menegakkan Hukum-hukum Allah secara keseluruhan, sama wajibnya dengan menjalankan Sholat yang lima waktu. Hanya menegakkan hulum-hukum Allah itu harus dengan bersamasama. Lihat petikan ayat di bawah ini yang bunyinya:

249

“...maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang datang kepadamu....” _ (Q.S.5:48). Menjalankan hukum-hukum Allah tidak bisa dengan cara bersendirian, melainkan harus dengan secara bersama-sama. Perintahnya juga “Kum”, yakni “kamu sekalian”. Dengan itu wajib ada pemimpinnya, yakni wajib memiliki pemimpin. Apabila seseorang tidak berada dalam kepemimpinan yang haq, berarti dalam yang bathil, jika masih dalam yang bathil berarti tidak menjaga diri dari neraka. Dengan demikian bahwa kita berada dibawah kepemimpinan NII adalah guna menjaga diri dari api neraka. Keluarga juga diajak supaya menjadi sama dengan kita, namun tentu harus melalui pertimbangan sesuai dengan situasi dan kondisinya. Dan seandainya diantara mereka ada yang tidak mau, ya, kita tetap menjaga diri dengan kata lain, terus berlaju tanpa mesti menunggu anggauta keluarga yang tidak mau, sebagaimana Nabi Nuh a.s. .Demikianlah makna menjaga diri sendiri. ----------------------------------------------------5. Tanya: “Bagaimana jawaban kita terhadap perkataan bahwa untuk kepemimpinan tunggu saja Imam Mahdi yang akan membereskan semua persoalan ?” Jawab : Dalam menjawab pertanyaan di atas itu, penulis akan mengemukakan tiga hadits di bawah ini:

‫عن عمران بن حصففين رضفي الف صففلى الف عليففه وسففلم لتفزال‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫طائفة من امتى يقاتلون على الحق ظففاهرين علففى مففن نففاوأهم حففتى‬ .(‫يقاتل اخرهم المسيح الدجال. )رواه ابو داود واحمد‬

250

“Dari Imran bin Hushain Radiyallahu ‘anhu, dia berkata: telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Akan terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang berperang atas kebenaran, mereka mengalahkan orang-orang yang memusuhi mereka, sehingga orang-orang terakhir dari mereka ini memerangi al-Masih Dajjal”. (H R. Abu Daud, No. 2484, bab Fi Dawamil Jihad. Imam Ahmad dalam Musnad)

‫عن جابر بن عبد ال رضى ال عليه وسلم يقول: لتزال طائفففة مففن‬ ‫أمتى يقاتلون على الحق ظاهرين الى يوم القيامة. قال: فينففزل عيففس‬ ‫ابفن مريفم عليفه السفلم فيقفول أمرهفم تعفال صفل لنفا فيقفول: ل إن‬ .( ‫بعضكم على بعض أمراءتكرمة ال هذه المة. )رواه مسلم‬
“Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama bersabda: ‘Terus menerus dari umatku ada sekelompk orang yang berpegang di atas dasar kebenaran, mereka itu selalu tampil dengan kebenaran sampai hari kiamat.” Kemudian beliau bersabda: “Maka Nabiullah Isa ‘alaihis salam turun, maka berkatalah pimpinan mereka (yakni pimpinan kelompok pejuang kebenaran itu) kepada Isa: “Kemarilah, pimpinlah kami menunaikan shalat”. Maka Isa menjawahb: “Tidak, sesungguhnya sebagian kalian atas sebagian yang lainnya sebagai pimpinan sebagai pemulyaan Allah terhadap umat ini.” (H.R Muslim). Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Abani hafizullah menerangkan:”Perkataan ‘pimpinan mereka’ di hadits ini yang dimaksud adalah Imam Mahdi Muhammad bin Abdullah ‘alaihis salam sebagaimana yang bisa dilihat dalam haditshadits lain.

‫عن عبد بن مغفل رضى الف عنففه قففال رسففول الف صففلى الف عليففه‬ ‫وسلم: يلبث الدجال ما شاء ال ، ثم ينزل عيسففى بففن مريففم مصففد قففا‬

251

‫بمحمففد وعلففى ملتففه وحكمففا عففد ل فيقتففل الففدجال . ) الطففبرانى فففى‬ ( ‫الكبير والبيهقى فى البعث‬
“Dari ‘Abdillah bin Mughoffal, radhiyallahu ‘anhu berkata: “ Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:’ Akan tinggal Dajjal di bumi sampai waktu yang dikehendaki Allah, kemudian turunlah Isa bin Maryam yang membenarkan Nabi Muhammad dan berada di atas millah (syari’at)nya dan sebagai hakim yang adil, maka beliau membunuh Dajjal." (At-Tabrani dalam Al-Kabir dan Al-Baihaqi dalam Al Ba’ts). Dari tiga hadits itu dipaham bahwa yang disebut “Imam Mahdi” yaitu yang datangnya pada akhir jaman sewaktu sudah mendekati hari kiamat, yaitu menjelang turunnya Nabi Isa as yang kemudian datang pula Dajjal. Sehingga bala tentara Imam Mahdi memerangi bala tentara Dajjal. Dan sejaman dengan turunnya Nabi Isa a.s. Sehingga akhirnya Nabi Isa as itu membunuh Dajjal itu. Kesimpulan dari tiga hadits di atas tadi bahwa akan datang Imam Mahdi pada akhir jaman, yakni sudah mendekati hari kiamat. Jadi, bahwa musuh Islam yang dihadapi oleh Imam Mahdi bukan lagi musuh yang seperti kita lihat sekarang. Musuh yang dihadapinya merupakan musuh yang berat yang tidak bisa dihadapi oleh kita sekarang. Kemudian Allah SWT menurunkan Nabi Isa as, maka tentu pemimpin muslimin yang menerimanya juga “bukanlah yang tidak ma’shum” seperti pemimpin kita sekarang. Begitu juga yang dijadikan musuhnya, sebagai alat penguji keimanan umat muslimin ditakdirkan oleh Allah dengan membawa keluar-biasaannya, yaitu Dajjal dan bala tentaranya, sesuai dengan kadar serta keseimbangannya. Allah Maha Bijaksana bahwa akan menguji umat muslimin dengan musuh (Dajjal) yang diberikan keluarbiasaan, maka akan mendatangkan pimpinan umat yang diberikan keluarbiasaan pula, yaitu Imam Mahdi dan kemudian diturunkan Nabi Isa as.

252

Kita tidak tahu kapan datangnya hari kiamat, atau kapan datangnya Dajjal yang disebutkan dalam hadits tadi. Imam Mahdi hanya akan mempertanggungjawabkan umatnya yang pada jaman menjelang kedatangan Dajjal mendekat hari kiamat, artinya Imam Mahdi tidak bertanggung jawab kepada kehidupan kita sekarang. Dengan itu seandainya anda tidak mau punya pimpinan Islam, karena anda mengandalkan datangnya Imam Mahdi, sedangkan kewajiban bagi Imam Mahdi itu nanti sejaman dengan datangnya Dajjal, juga datangnya Nabi Isa as, maka hal itu berarti anda sekarang tidak merasa diperintah Allah untuk memerangi musuh-musuh Islam pada jaman sekarang. Ataukah memang anda bersikeras ingin menunggu berperang melawan bala tentara Dajjal (?) Mestinya anda bersyukur ditakdirkan oleh Allah, hidup pada jaman sekarang, belum datang Imam Mahdi, musuh anda belum begitu berat seperti nanti pada jaman Imam Mahdi. Kita hidup sekarang, akan dipinta pertanggung-jawaban oleh Allah darihal kehidupan sekarang. Jadi, soal akan datangnya Imam Mahdi, hal itu urusan nanti, artinya anda tidak akan dipinta pertanggungjawaban soal Imam yang akan datang. Tegasnya, bahwa dengan adanya berita akan datangnya Imam Mahdi, maka kita tidak bisa lepas dari kewajiban kita untuk memiliki Imam /pemimipin pada waktu sekarang. ----------------------------------------------------------6. Tanya : “Timbul isyu dikalangan muslimin bahwa diantara mereka yang mengaku sebagai pejuang NII ada yang menyepelekan urusan syari’ah, seperti melalaikan sholat, malah ada yang tidak mewajibkan sholat sama sekali dengan alasan bahwa sekarang “masih di kurun Makkah”. Begitu juga dengan menutup aurat ( berbusana muslimah), sebagian mereka malah melarang isterinya menutup aurat, karena dianggapnya “belum wajib”. Bagaimana keadaan yang sebenarnya ?”

253

Jawab : Kembali kepada permasalahan pokok bahwa NII diproklamasikan sebagai wadah terlaksananya Hukum Islam, tempat dimana Islam dijadikan dasar segala sesuatu, negara dimana Al Quran dan hadits yang shohih dijadikan Hukum Tertinggi Hal demikian jelas terundangkan dalam Qonun Asasi Negara Islam Indonesia. Jadi bila ada yang mengaku sebagai warga NII, tetapi meremehkan syari’at apalagi sampai menganggap sholat tidak wajib, maka orang tersebut bukan saja keluar dari pangkuan negara, malah keluar dari Al Islam sama sekali. Bersama ini kami menegaskan kepada pembaca dimana pun mereka berada, bahwasa kami berlepas diri dari pengakuan palsu, mereka yang busuk hati, kotor lidah dan bengkok prilaku yang lisannya mengaku warga NII, tapi amal dan perbuatannya bertentangan dengan hukum hukum dasar dan undang undang NII itu sendiri. Ketahuilah dalam Tuntunan IV pasal 24 (Kitab Undang Undang Hukum Pidanan Negara Islam Indonesia), pada pasal yang berjudul Tarikush sholah (Orang yang meninggalkan sholat) tertera sebagai berikut : 1. Siapa yang meninggalkan sholat dengan beri’tiqad tidak mewajibkan salat, dijatuhi hukuman sebagaimana yang termaktub dalam pasal 23 ayat 1,2, dan 3. (diperlakukan sebagai orang yang murtad dari Al Islam) 2. Siapa yang sengaja meninggalkan salat dengan beri’tiqad bahwa sholat itu tidak wajib, maka Imam wajib memerintahkan salat. 3. Jika ia tidak mau menurut, ia dijatuhi hukuman berat (hukuman mati)

254

4. Orang yang meninggalkan shalat karena lupa atau tertidur, tidak ada hukumannya, hanya diwajibkan membayar shalatnya (sholat segera setelah dia ingat -pen) 5. Orang ‘abid (budak belian -tawanan perang dari front Darul Kuffar -pen) hukumannya setengah hukuman orang merdeka. Dari pernyataan di atas jelas bahwa yang meninggalkan sholat, bukannya dibiarkan terus berkoar mengaku berjuang atas nama NII, malah keberadaan dirinya sendiri, berada dalam posisi wajib bertaubat, segera shalat sebelum habis waktunya. Dan bila NII dalam keadaan de facto, hukum bisa berjalan dengan seluas luasnya dan sesempurna sempurnanya dalam Negara berjaya, tentu orang begini bukan dibiarkan dan diakui perjuangannya, malah bila tetap tidak mau bertaubat, mereka lah yang harus di hukum mati ! Adapun alasan mereka bahwa sholat baru diwajibkan di Madinah, adalah bohong dan tertolak di hadapan sejarah. Rosululloh dan para shahabat sudah melaksanakan sholat, sejak di kurun Makkah, walau sebagiannya dilakukan dengan bersembunyi. Dan NII tidak menganut sistem periodisasi mengenai ibadah mahdhoh Makkah - Madinah yang kemudian berdampak pada pengkotak kotakan hukum Islam. Bagi Negara Islam Indonesia, semua Hukum Islam wajib dilaksanakan, dan kita berjuang bukan untuk mendirikan negara Islam (karena sudah berdiri sejak tahun 1949 yang lalu), tetapi berjuang semaksimal mungkin agar seluruh hukum Islam yang telah diyakini wajib dijalankan itu, bisa berjalan dengan seluas luasnya dan sesempurna sempurnanya. Siapa yang tidak berkeyakinan demikian, maka dia tertolak sebagai warga negara berjuang Negara Islam Indonesia. Kewajiban sholat sudah diperintah langsung oleh Allah Swt, dan jelas ayatnya. Tidak usah nunggu diperintah oleh pemimpin. Begitupun ibadah mahdoh lainnya, yang sudah jelas nashnya,

255

wajib dikerjakan sehabis-habisnya kemampuan. Perhatikan petikan ayat yang bunyinya: “Dan bertakwalah kamu kepada Allah sepenuh kemampuan;...” Q.S.64:16). Dari ayat itu dipaham bahwa ukuran mengerjakan perintah-perintah dari Allah itu ialah “dengan semaksimalnya usaha” untuk bisa mengerjakannya. Satu contoh mengenai sholat, jika tidak bisa berdiri. boleh duduk, bila duduk juga tidak bisa, boleh berbaring, bila dalam berbaring lalu tidak bisa membaca Al-Fatihah, boleh cukup dengan takbir, jika tidak bisa mengucapkan takbir, boleh di hati saja. Tegasnya, kewajiban menjalankan sholat itu tidak hapus selama mata masih melek dan tidak gila (hilang ingatan ) atau tidak pikun. Karena itu diperjalanan diutamakan Qoshor, tidak ada air harus tayamum sesuai dengan kondisinya. Syari’at sudah menentukan kewajiban sholat sekalipun di dalam kendaraan, sehingga caranya pun disesuaikan dengan kondisi kendaraannya. Dengan demikian, bukan ditentukan oleh periode Makkah atau Madinah, melainkan ditentukan oleh baligh dan sadarnya ingatan, adapun caranya dilakukan dengan sepenuh kemampuan. Jadi, sekalipun anda sedang dirantai sambil dibaringkan oleh musuh, anda tetap diwajibkan shalat, gerakan anda menurut kemampuan diri, apa yang dibaca menurut kemampuan diri. Jika tidak diwajibkan demikian maka buat apa Allah dan Rasulnya menentukan tata-ta cara melakukan shalat dalam segala kondisinya ! Demikianlah makna ayat yang bunyinya: “ Dan bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sepenuh ( sehabis-habisnya daya) kemampuan;...” (Q.S.64:16). Dalam Islam menjalankan perintah Alloh ada yang tidak bisa dikerjakan secara sendirian, melainkan harus dengan bersamasama, seperti halnya hukum pidana Had, Qishos dan jinayah atau yang berkaitan dengan kenegaraan lainnya. Untuk

256

menjalankan hal itu harus memiliki syarat yaitu adanya pemimpin dan adanya (power) kekuatan sehingga adanya wilayah yang dikuasai secara de facto, artinya sekalipun adanya pemimpin, tetapi jika belum sampai pada adanya kekuatan untuk menjalankan hukum-hukum tersebut, karena wilayahnya terampas oleh musuh, maka kita dimaafkan Allah. Adapun untuk melakukan sholat atau memakai kerudung bagi wanita yang sudah mukallaf hal itu tidak musti nunggu perintah dari Imam, sebab ibadah sedemikian bisa dikerjakan oleh sendirian, tidak perlu adanya hakim atau pengawal, dan tidak ada yang berani menghalangi shalat, tidak ada yang berani memaksa membuka kerudung sekalipun di negeri Israel_ Yahudi, dan isteri-isteri thagut di Indonesia juga banyak yang pakai kerudung. Dan seandainya dilarang, maka apakah anda mau diam saja ? Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam sudah menyatakan bahwa bumi itu suci dan sebagai masjid (tempat sujud). Allah juga menyatakan bahwa bumi ini diwariskan kepada hambahamba-Nya yang shaleh. Dengan itu, sungguh bisikan dari ‘setan’ jika berpendapat sholat belum wajib dengan alasan berada di wilayah yang dikuasai musuh ! Maka, apakah muslimin yang berada di negeri Habsyi (keristen) pada waktu Nabi masih di Makah mereka tidak sholat ? Perhatikan sejarah bagaimana wawancara kaum mulimin di Istana Raja Habsyi. Juga, “Apakah para tawanan muslimin yang dibawa ke wilayah Imperium Romawi tidak melakukan Sholat ?” Sedang perang juga diwajibkan sholat. Sedang sakit juga diwajibkan sholat, walau sambil berbaring dengan bacaan semampunya. Sebab itu kembalilah kepada ayat Qur’an dan Sunnah, jangan sampai kena bisikan-bisikan yang menyesatkan ! Penulis mengingatkan hal di atas itu, sebab bahwa adanya berita mengenai orang yang mengaku warga NII, tetapi tidak sholat hal itu terjadi karena adanya beberapa sebab diantaranya yaitu:

257

1). Godaan setan dari segala arah. Sebagaiman disebutkan dalam ayat yang bunyinya: ”Kemudian aku akan mengecohkan mereka dengan mendatanginya dari muka, dari belakang, dari kanan dan kiri. Dan Engkau tidak akan menemui lagi kebanyakan mereka sebagai golongan orang-orang yang bersyukur.” (Q.S.7Al-A’raaf:17). Bilamana setan sudah tidak mampu menggoda seseorang dari segi jihadnya, juga dari segi mengorbankan hartanya, maka setan itu berusaha terus menggoda dari segi lain, misalnya dari berzina. Apabila dari segi berzina tidak bisa, maka menggoda lagi dari segi sholat. Pada mula-mulanya orang itu disibukkan dengan pekerjaannya, kemudian sholatnya dilambat-lambatkan, lama-lama timbul dalam pikirannya, biarlah sekali-sekali tertinggal, barangkali juga akan tertebus dengan jihad dan menginfakkan harta. Padahal bila sholat sudah ditinggalkan, maka setan gembira, sebab pada diri orang itu sudah didapat “nilai pembantah terhadap Allah”, sehingga sewaktu dirinya dihisab, tidak diperoleh sholat, maka kena siksa neraka, dengan itulah setan bergembira. Ingatlah, bagi setan itu bukan dari soal lama atau sebentarnya manusia itu di neraka, tapi yang penting targetnya tercapai. Akan tetapi, dasar setan itu memang pinter supaya manusia menyepelekan panasnya api neraka, maka bikin lagi argumentasi, “Yaah, menurut keterangan juga, selama masih mengaku Islam, pada akhirnya akan diampuni Allah, dan akan dicabut dari neraka (?)”. Sehingga godaan setan itu menghasilkan manusia yang menantang neraka, padahal ketika kena “petelan korek api” saja ia sudah menggerubug ! Atau dirinya lupa bila membuat pelanggaran yang kemudian dipanggil oleh pihak berwajib yang baru saja merupakan manusia, sudah jantung“dag-dig-dug” keringat dingin keluar, padahal itu belum sampai satu detik di dalam neraka, ia dilupakan setan bahwa satu hari di neraka itu sama dengan seribu tahun lamanya di dunia (Q.S.22 Al-Hajj:47).

258

Jika tidak tergoda oleh setan, tentu yakin bahwa meninggalkan sholat itu, berarti akan menghancurkan semua amalannya. Akan tetapi, disebabkan yang tergoda oleh setan itu bukan hanya satu orang, melainkan ada lagi temannya, maka begitu berkumpul, pada masing-masing dirnya bertanya, “Kok, bisa jadi kompak sudah hampir habis waktunya sholat, masih juga tidak ada yang mengingatkan, apa orang-orang pada lupa ? Biarlah aku juga mau pura-pura lupa”. Begitu bubar, waktu sholat sudah habis, tiba- tiba ada seorang yang memang sudah lama jadi ‘setan’ dari jenis manusia, coba-coba memancingnya dengan nyeletuk, “ Wah, semuanya pada lupa sholat ya ?” Disebabkan tidak ada yang menjawab dengan sungguh-sungguh, maka si ‘setan’ tadi itu punya kesempatan untuk memperhebat bisikan-bisikannya, dengan ungkapan, “Memang dalam kondisi Makkah ini belum waktunya sholat”. Nah, yang tadinya cuma karena malas sholat, tetapi setelah melihat kawannya juga sama, serta adanya ungkapan kata yang yang membolehkan tidak sholat, maka kemudiannya bukan lagi karena malas, melainkan memang meninggalkan sholat. Begitulah setan menggoda. Jika bukan setan yang menggoda, maka pasti tidak akan cari-cari alasan untuk meninggalkan sholat. Sebab, jelas hukumnya, jelas ayatnya, dan jelas hal itu diperintahkan sewaktu Nabi Saw masih di Makah, sewaktu Isra’ dan Mi’raj, sejarahnya mutawatir, bahwa di lorong-lorong sambil besembunyi di Makah, umat Nabi Saw melakukan sholat, Nabi juga ketika sholat di timpa kotoran onta oleh Abu Jahal, hal itu kejadiannya di Makkah. 2). Asalnya juga tidak pernah sholat, belum biasa sholat, hanya begitu mulai sedikit sadar terhadap Islam, terburu-buru dibai’at oleh yang mengatas-namakan NII, sementara belum melalui proses penilaian mengenai ketakwaannya terhadap Allah, sehingga suatu waktu bisa saja kembali lagi tidak sholat, sedang dirinya sudah merasa menjadi warga NII.

259

3). Adanya kesengajaan dari pihak musuh yang berusaha meruksak nama baik NII. Dalam hal ini penulis menyerukan kepada para mujahid untuk berhati-hati dan mari kita rapatkan barisan. Jangan khawatir, sebab, Sunnattullah pasti terjadi. Dalam Qur’an ada khusus surat ke-63 Al-Munafiquun, berarti orang munafik itu akan selalu ada. Yang Jelas NII tidak menganut prinsip “Makkah Madinah” dalam arti memisah misahkan mana yag wajib dan mana yang belum wajib. Al Quran adalah pedoman final, yang wajibnya tetap wajib hingga hari kiamat, demikian pula yang haramnya, tidak berubah, tetap haram di jaman manapun. Yang menjadi titik tolak perjuangan NII adalah melakukan Revolusi Islam, sehingga suasana keadaan dan tempat di wilayah Negara Islam Indonesia, stabil dan aman bagi terlaksananya hukum Islam secara luas dan sempurna. Jadi dari dulu pun (sejak 14 abad lalu), seluruh syari’at Islam “sudah wajib” dilaksanakan, hanya keterbatasan kemampuan manusianyalah sehingga hukum hukum tersebut “terlambat” dilaksanakan. Adapun masalah sholat, tidak harus menunggu aman dan stabil seperti pelaksanaan hukum jinayah. Dalam keadaan apapun, bahkan ketika sedang suasana terancam sekalipun sholat tetap wajib di laksanakan. Bukankah kita mengenal “Sholat khouf, sholat jama-qoshr, sholat bagi orang yang sakit. Ini menunjukkan bahwa sholat “mutlak” mesti dilakukan oleh setiap mukallaf, dalam keadaan dan situasi bagaimanapun . Di jaman Rosululloh Saw, dalam keadaan apapun wajib dilaksanakan, jadi tidak logis, kalau untuk sholat saja harus menunggu Daulah Islam berjaya dulu. Sekali lagi penulis tegaskan, bahwa revolusi Islam yang kita lakukan adalah perjuangan suci “Melaksanakan Seluruh Perintah Ilahi” Mengapa itu dilakukan ?? Karena kami meyakini kewajiban melaksanakannya ! 7. Tanya :

260

”Adakah benar mengenai perkataan, bila belum bisa menjalankan hukum jinayah Qishos Jinayah dan Hudud, maka tidak perlu adanya Imam yang didhohirkan, artinya bila sudah ada Imam, maka segala hukum seperti jinayah, qishos dan had mesti diberlakukan ? Jawab : Tidak benar ! Melainkan, yang benar yaitu bilamana kondisi dalam berperang atau sedang berada dalam wilayah yang sedang dikuasai musuh, maka tidak diperbolehkan melaksanakan hukum had (potong tangan). Artinya, bahwa dalam kondisi demikian , maka pelaksanaan hukum potong tangan itu harus ditunda. Jadi, bahwa tidak boleh dilaksanakannya hukum had itu bukan disebabkan belum didhohirkannya Iman, melainkan karena kondisi ketidakmampuan kaum muslimin untuk menguasai keadaan orang yang dikenai hukum potong tangan itu, bilamana dirinya membelot kepada musuh. Dengan demikian untuk melaksanakan hukum had itu, bila sudah di dalam wilayah yang sudah dikuasai dengan sepenuhnya (de facto). Abul Qosim Al-Khroqi dalam risalahnya meriwayatkan bahwa Bisyr bin Arthaah menangkap seorang tentara (mujahid) yang mencuri barang miliknya. Dia berkata:” Sekiranya aku tak mendengar sabda Rasulullah Saw, diwaktu perang, tangantangan tak boleh dipotong, pasti akan kupotong tanganmu”. (Diriwatkan oleh Abu Daud). Imam Ahmad, Ishak bin Ranaiwah, Azauza’i juga yang lainnya menentukan, bahwa hukum tidak boleh dilaksanakan di daerah yang dikuasai musuh. Khalifah Umar bin Khathab mengumumkan pelarangan terhadap pelaksanaan hukum dera di waktu perang. Dalam Perang Qodisiah, Abu Maljam ditemui sedang minum Khamar oleh Sa’ad bin Abi Waqqos, olehnya tidak dihukum dera, tapi diperinatkan kepada anak buahnya supaya

261

mengikat kedua kaki Abu Maljam. Sewaktu Abu Maljam melihat kuda-kuda dihalau untuk dipersiapkan menyerbu musuh, dan dirinya dikerumuni orang, Abu Maljam meminta kepada Ibna Hafsah supaya dilepaskan kakinya dengan janji, bilamana selesai berperang ia masih hidup, dirinya akan kembali untuk diikat kakinya. Apabila aku mati, kalian (yang melepaskan) terbebas dari pertanggungan jawaab mengenai diriku !” Begitulah ketegasan Abu Maljam. Setelah dilepaskan kainnya, kemudian maju menyerbu musuh. Ketika itu Sa’ad bin Abi Waqqos sedang luka-luka tidak memimpin perang, namun dinaikkan ke atas sebatang pohon, sambil mengawasi situasi berperang. Melihat hal itu, maka Abu Maljam melompat ke atas kuda Sa’ad, dengan bersenjatakan tombak, ia menerjang musuh dengan gesitnya, puluhan musuh terbunuh olehnya. Ada Malaikat ! teriak seorang shahabat. Sesudah tentara Islam mengalahkan musuh, Abu Maljam kembali mengikat sendiri kedua kakinya. Ibna Hafsah menanyakan mengenai Abu Muljam kepada suaminya. Sa’ad bin Abi Waqqos berkata:” Demi Allah, aku akan mendera orang yang memberi kemenangan kepada muslimin”. Abu Maljam lalu dibebaskan. Dari riwayat itu diketahui bahwa Daulah Islamiyah beserta Imamnya sudah ada yakni dhohir, meski hukum-hukum yang menyangkut pidananya itu tidak dijalankan, karena didaerah musuh, artinya masih dalam bahaya. Jadi, sebelum Ummat Islam berkuasa penuh, atau sebelum berlakunya hukum hukum pidana, maka yang pertama kali ialah dhohirnya Imam. Dan jelas sekali bahwa sebelum diturunkan hukum-hukum pidana, qishos, dan had itu, Imam yakni kepemimpinan Rosululloh Saw, juga negara Madinah sudah ada, artinya sebelum adanya kewajiban menjalankan hukum hukum pidana itu didahului dengan adanya Daulah Islamiyyah dengan imamnya. Secara akal pun dimengerti bagaimana bisa

262

berkuasa penuh, yakni memiliki wilayah yang sepenuhnya dikuasai, jika untuk mengadakan imamnya saja belum bisa. Yang dimaksud dengan Imam ialah pemimpin tertingginya. Bila pada jaman nabi Saw di Madinah ialah Rosulloh Saw. Dengan itu sebelum adanya perintah sholat juga hukum - hukum pidana, maka kewajiban memiliki Imam sudah ada, meski sedang berada di wilayah yang dikuasai musuh. Dengan demikian, sungguh terbalik alias salah, bagi orang yang mengatakan bahwa sholat itu baru wajib kalau sudah diperintah oleh Imam, begitu juga sungguh salah alias terbalik, bagi yang mengatakan tidak perlu adanya imam karena belum bisa menjalankan hukum jinayah, Qishos, had. ------------------------------------------------------------8. Tanya : “Dalam Kitab Ad Da’wah Ilalloh, Ali bi Hasan Al Atsari hal 89-96, dimana diantaranya Imam Ahmad pernah berkata bahwa yang dikatakan Imam ialah yang seluruh kaum muslimin berkumpul dibawah kepemimpinannya. Dimana masing masing mereka berkata : “Inilah dia Imam”. Maksudnya, tidak ada artinya mengangkat Imam bila seluruh muslimin tidak mengakui dia sebagai “Imam”. Dengan itu bagaimanakah pandangan pihak NII mengenai perkataan Imam Ahmad tersebut itu ?” Jawab: Orang terkadang lalai dalam mencermati sejarah. Hanya berpijak pada kata dan kata tanpa melihat konteks peristiwa, “di jaman apa kata kata tersebut diucapkan ?” Ucapan Imam Ahmad bin Hambal disampaikan di dalam wilayah Daulah Islamiyyah yang berjaya. Di tempat dimana Pemerintahan Islam eksis dengan segala persyaratannya. Dalam keadaan demikian, maka wajar saja apabila di saat kekuasaan

263

Islam tengah berlangsung, Ahlul Halli wal Aqdhi lengkap, begitu juga jajaran panglima militer yang mengawal negara, tiba tiba ada orang yang mengangkat diri jadi Imam, tanpa prosedur dan hukum yang berlaku. Ini kudeta namanya, dan bila dia punya pengikut yang mendukungnya dengan jalan sangka sangka. maka kelompok tadi dinamakan Ahlul Baghiyyah, wajar bila mereka dipaksa dengan kekuatan untuk kembali pada kebenaran, kembali mentha’ati kekuasaan yang tengah berlangsung dan diakui seluruh muslimin tadi. Bila kelompok ini malah menentang dan mengangkat senjata, maka menjadi kewajiban tentara Islam untuk memeranginya hingga mereka bertekuk lutut. Adapun ketika jutaan muslimin, rela diatur kekuasaan Darul Kuffar, keadaan dimana muslimin malah menjadi rakyat Kekuasaan Kafir, maka haruskah sebuah Negara Islam membiarkan posisi tertinggi negaranya kosong hanya karena menanti seluruh muslimin yang menjadi rakyat Darul Kuffar itu mengakuinya ???? Bagi kami yang tinggal berwali pada Negara Islam Indonesia, beribadah kepada Alloh dalam pangkuan negara yang menyatakan berlakunya hukum-hukum , mengambil Al Quran dan Hadits shohieh sebagai hukum tertinggi serta menerima semua perundang undangan negara dan keputusan pemerintah negara kami. Pandangan Imam Ahmad juga menjadi pijakan kami, tidak ada seorangpun dari warga negara Islam Indonesia yang tidak menyepakati kepala negaranya sebagai Imam mereka. Adapun muslimin yang berwali pada Republik Indonesia, tidak mengakui beliau sebagai Imam, hal itu tidak merisaukan kami, wajar saja mereka tidak mengakui kepala negara kami, sebab mereka tinggal di negara yang berbeda, berimam pada kepala negaranya ( Soeharto -1997) hidup di atas dasar negara selain Islam dan bersepakat menerima hukum Non Islam sebagai tata nilai mereka. Dan ketidak- mauan mereka untuk

264

mengakui keimaman di negara kami sama, atau bahkan muslimin di negara manapun, sama sekali tidak mempengaruhi jalannya tertib hukum di dalam Negara Islam Indonesia. Sebab keimaman ini berlaku hanya di dalam negara Islam Indonesia. Lain halnya bila yang terangkat adalah seorang khalifah untuk memimpin seluruh dunia, maka wajar bila untuk eksistensinya menuntut pengakuan seluruh muslimin yang ada di dunia ini. Dan untuk sa’at ini seorang khalifah untuk seluruh dunia belum ada, siapa yang sudah menyatakannya ? Jangankan kita yang masih dalam Darurat Perang. Saudi Arabia saja yang jelas jelas memiliki legalitas Quraisy, dan sudah berjaya sebagai sebuah daulah belum berani menyatakan dirinya sebagai khalifah dunia. Karena mengaku khalifah dunia, berakibat berhadapan dengan seluruh front kekafiran dunia. Dan mengaku sebagai khalifah secara otomatis memikul kewajiban mengurus seluruh nasib muslimin di muka bumi. Adakah kekuatan yang sanggup memikul beban ini sekarang ???? Dari itu garis besar haluan negara kami amatlah jelas dan berpijak pada kenyataan. Tanggung jawab pertama kami adalah memberlakukan syari’at Islam dengan seluas luasnya dan sesempurna sempurna di wilayah Negara Islam Indonesia, baru setelah itu kami akan berpartisipasi aktif dalam perjuangan Islam di dunia internasional menuju terciptanya khilafah Islamiyyah bagi seluruh alam. Bukan langkah khayal seperti yang diyakini beberapa kelompok sempalan, diri mereka sendiri masih bertekuk lutut menjadi warga negara Darul Kuffar, sudah dengan lantangnya mengaku diri sebagai khalifah bagi dunia Islam..... Mengenai ucapan Imam Ahmad itu adalah benar, bila diterapkan dalam kondisi umat Islam pada jaman Imam Ahmad, yakni ditujukan kepada kaum muslimin yang bernaung dalam Daulah Islamiyyah. Hal demikian tidak ditujukan kepada yang

265

namanya muslimin, tetapi berideologi bukan Islam, sehingga mempertahankan hukum-hukum kafir. ------------------------------------------------------9. Tanya : “Ada yang mengatakan bahwa selama sholat tidak dilarang, maka tidak perlu berperang. Bagaimanakah jawabannya ?” Jawab : 1). “Yang dituju oleh kita bukanlah berperang, tetapi bisa menjalankan hukum-hukum Islam secara kaffah, sehingga pula memperoleh Keridhoan Allah. Adapun menegakkan N I I sebagai prosesnya. Begitu juga berperang sebagai akibatnya, bila musuh berani menyerangnya. Jadi, berperang itu bukanlah tujuan, melainkan sekedar mempertahankan hak kita Negara Islam Indonesia ! 2). Jangankan orang-orang yang mengakukan beragama Islam (di antara penguasa RI ), orang yang tidak beragama Islam saja, baik sekarang maupun pada jaman Abu Jahal cs tidak mau melarang Sholat, asalkan Nabi beserta pengikutnya siap kompromi. Buktinya, Utbah, utusan Abu Jahal datang kedua kalinya, menawarkan toleransi ala sekuler untuk beribadah bersama-sama dengan bergiliran. Artinya, kaum kafir ( musuh Islam) tidak melarang shalat bahkan mau mengerjakan shalat, asal pihak Nabi Muhammad Saw juga melakukan penyembahan terhadap berhala (hukum-hukum) yang mereka jadikan anutan yang jelas bertentangan dengan ( “Diin”) hukum-hukum Allah. Disebabkan Nabi Saw menjawab dengan, “Aku tidak akan mengabdi (menyembah) kepada apa ( aturan / hukum) yang kamu (anut) sembah (Q.S.109:2)”, maka kaum musyrikin Quraiys itu merencanakan pembunuhan terhadap Nabi Saw sehingga berhijrah ke Madinah, yang kemudian kaum Quraiys itu berkali-kali memerangi Madinah. Kini tinggal anda bertanya, “Sudahkah diri bersikap seperti Nabi Saw, dalam arti memiliki garis (“Furqon”) ,yakni menyatakan berlakunya

266

hukum- hukum Islam, dengan menolak segala hukum, azas atau ideologi yang bertolak-belakang dengan hukum yang diturunkan Allah ? Kalau belum, maka wajar anda shalat, sambil tidak diperangi ! Sebabnya, ialah “Fatakuunuuna sawaa-an” (Q.S.4:89), artinya “maka kamu menjadi sama (dengan mereka).” yakni dalam satu pengabdian dengan mereka yang anti terhadap hukum-hukum Allah, secara keseluruhan. ---------------------------------------------10. Tanya : “Bagaimana tanggapan kita terhadap yang mengatakan bahwa hukum Islam itu bisa diganti dengan hukum buatan manusia sesuai dengan kondisinya, sedangkan di antara yang mengatakan itu seorang yang berpredikat kiai atau ulama ?” Jawab : 1). Yang mengatakan begitu berarti telah menganggap kedaulatan Allah di muka bumi itu bisa dikalahkan oleh manusia, atau menganggap bahwa hak Allah memerintah itu cuma untuk waktu dulu, sedangkan sekarang sudah tidak lagi. Sehingga bahwa Allah itu hanya sebagai simbul saja, tidak punya perintah dan tidak punya larangan atau sebagai tuhan yang netral, Adapun mengenai diucapkannya oleh seorang kiai atau ulama, tidak aneh sebab ada istilah “ ‘Ulama Syu’ “ yakni “ulama jahat” (bisa dilihat dalam banyak hadist), hal itu sudah menjadi tabiatnya. 2). Tidak heran, sebab jangan lagi kiai atau ulama, Nabi Adam saja pernah melanggar perintah Allah tergoda oleh Iblis. Nabi Yunus juga hampir-hampir abadi di dalam dalam perut ikan besar (Q.S.37:142 - 143), jika tidak segera taubat (Q.S.21:87). Jika demikian, bukan tidak mustahil hal yang sama bisa terjadi kepada ulama yang merasa bangga karena disanjung, bisa bermesraan dengan para ‘setan dari jenis manusia’ (Q.S.6:112) sehingga lupa pijakan.

267

3). Godaan setan dari segala segi kehidupan, dan segala macam perbuatan ( Q.S.7:17), sehingga mangsanya merasa sempurna dalam beribadah, tidak lagi punya dosa dan bersalah serta kelemahan dirinya. tidak sadar masih ada celah-celah yang bakal membukakan pintu neraka baginya. Yang menjadi target bagi setan menggoda ialah supaya manusia masuk neraka (Q.S.35:6), dengan bagaimana saja caranya, tidak mesti dari segi shalat, puasa Ramadhan yang pasti bagi kiai sudah kuat bahkan sejak kecil. Dengan demikian setan mencarinya dari perbuatan lain sebagaimana dalam pertanyaan di atas tadi, yakni kesetujuannya menggantikan hukum Islam dengan hukum-hukum Kafir. Jika sudah begitu berhasillah setan kepada targetnya. Kalau sudah dianggap berhasil membukakan jalan bagi mangsanya ke neraka, maka wajar jika setan tidak repot menggoda kiai yang dimaksudkan itu supaya meninggalkan shalatnya yang lima waktu atau ibadah mahdhoh lainnya. Sebab itu anda tidak usah heran ! Sama halnya anda juga tidak heran dengan orang kaya yang rumahnya diperkirakan cukup rapat dan kuat tidak bakal kemasukan maling. Tujuan maling masuk ke rumah itu “mengambil harta”. Sudah tentu tidak akan membobol pintu depan yang jelas ketat dikunci dengan segala perintangnya, juga tidak akan mendobrak jendela sebelah kiri yang pakai terali besi. Tidak bisa dari pintu depan dan jendela kiri, maka dicarilah dari pintu belakang. Bila dari pintu belakang tidak bisa juga, maka dicoba dari jendela kanan, tetapi bila ditemukan jalan yang lebih mudah, maka dicobanya sekalipun dari atas, yang penting bagi maling, harta itu bisa diambilnya. Target setan menggoda supaya manusia masuk neraka, maka sungguh lebih bodoh dari pada maling, jika setan menggoda kiai dari sudut itu-itu saja. Syaitan tidak lebih bodoh dari pada maling, sebab dengan “ngomong juga” yang bernada memperkuat berlakunya hukum-hukum kafir atau kebathilan hal itu akan menghapus semua amal. Perhatikan petikan ayat yang bunyinya:

268

”...dan kamu mempercakapkan (hal yang batil ) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu orang-orang yang hapus semua amal mereka di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi.”_(Q.S.9 At Taubah:69). Tidak aneh bila ada rumah yang diperkirakan rapat kuat, tapi kebobolan maling, karena pemiliknya lengah, merasa tidak ada lagi celah untuk bisa dibobol. Ada kesamaan dengan ulama yang mendukung pemerintah R I yang jelas membela tegaknya hukum-hukum kafir. Ulama yang seperti itu mengira hatinya sudah tidak terayu setan, baik dari jenis jin maupun manusia. Sekali lagi penulis katakan:”Anda tidak usah heran. Yang penting anda harus wapada terhadap setan-setan yang terus mengintai pada diri sampai ajal tiba”! 4). Merasa tidak berdosa dengan anggapannya bahwa hukumhukum kafir itu juga membawa kebaikan. Sebagaimana dalam petikan ayat yang menyebutkan: “...dan syaitan pun menampakkan kepada mereka kebaikan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S.6:43). Mereka yang tergoda oleh syaitan, mengukur kebaikan hanya dengan pandangan yang dikehendaki oleh kebanyakan manusia sehingga ikut disesatkan ( Q.S.6:116) Dengan itu bila ada pribadi ulama yang menyetujui berlaku hukum kafir di kalang umat Islam, dengan anggapannya sudah tidak bisa merobah lagi karena sudah dianggap baik oleh kebanyakan manusia, berarti ulama sedemikian itu tergoda syaitan. Untuk jelasnya bacalah hadist-hadist mengenai “Ulama Syu’ “. Yang menyebabkan berdosa, bukan dari hal ketidakmampuan merobahnya, melainkan dari hal menyetujuinya. Begitu juga yang menjadi nilai taqwa terhadap Allah, bukan dari hal “mampu” atau “tidak mampu” dan bukan dari hal banyak atau sedikitnya perbuatan (beramal), melainkan dari

269

ketaatan penuh dengan penyerahan diri kepada Allah SWT. Yakni, beramal karena Allah semata sehingga memiliki “nilai Ikhlash” (Q.S.98:5). Misalnya: a). Bila ada yang berjihad fisabiilillaah merobah hukumhukum kafir, tetapi jika niatnya tidak karena Allah maka bukan menjadi pahala, malahan jadi siksa. b) Bagi yang belum mampu ( masih dalam tahap berjihad ) merobah hukum-hukum kafir maka tidak berdosa, karena sebagai bukti ingkar darinya. Berbeda dengan yang menyetujui hukum-hukum kafir, hal itu mengandung arti pembantahan terhadap Allah, yaitu tidak bersedia diperintah Allah. Mati dalam keadaan itu adalah mati yang merugi. c). Penyebab hilang nilai ikhlash bukan karena sedikit atau banyaknya perintah Allah yang dibantah, melainkan karena nilai pembantahannya. Contohnya, Iblis diperintahkan Allah supaya bersujud kepada Adam as. Bentuk perintah hanya satu ialah “bersujud”, tidak ada selain dari itu, maka perintah yang dibantah juga cuma satu yakni “tidak mau bersujud”, namun tetap dilaknat. Bagi Allah tidak butuh Iblis bersujud, karena bila butuh bisa menciptakan milyaran makhluk yang seperti iblis yang sujud kepada Adam as. Dari itu diambil arti bahwa sedikit ( satu ayat) atau banyak perintah Allah yang dibantah, tetap saja menjadi dosa, karena menghapus nilai keikhlasan, artinya tidak mengakui keagungan yang memerintah, logikanya jika membantah perintah Allah berarti merasa dirinya tidak berhak diperintah Allah, atau menganggap Allah itu kecil. Sama halnya membantah Firman Allah yang bunyi-Nya: “Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hambaNya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”_ (Q.S.6 Al-An’aam:18).

270

Dalam ayat itu disebutkan “Yang Maha Bijaksana”. Yakni dalam menurunkan hukum-hukum untuk dijalankan oleh mu’minin. Dengan itu jika ada ulama yang setuju mengganti hukum-hukum Allah dengan hukum buatan orang-orang kafir, maka sungguh menghina kebijaksaan dari Allah. Seorang mu’min yang yang sudah menyerahkan dirinya untuk diperintah Allah, maka tidak akan menyepelekan perintah-Nya dalam bentuk apapun. Umpamanya saja seorang pesuruh yang diperintah mengambil sebutir salak oleh majikannya. Si pesuruh segera mentaatinya bukan dari hal sebutir salak, melainkan darihal “siapa yang memberikan perintahnya”. Si pesuruh yang tahu diri dan yakin terhadap otoritas (kekuasaan) majikannya, maka tidak akan banyak “cingcong”. Tidak berkata, “Daripada sebutir salak mendingan diganti dengan durian yang lebih berharga”. Tidak akan mengerjakan pekerjaan yang lebih sibuk untuk tidak mengambil sebutir salak, sebab sadar bahwa yang dinilai oleh majikan itu adalah nilai kepatuhannya. Menjadi pekerja berarti sudah menyiapkan diri diperintah sesuai dengan aturan-aturannya, sehingga tidak semau-maunya. Hanya pekerja yang licik, yang bila sedang di kantor melakukan apel sesuai dengan tata cara yang sudah ditentukan, kemudian melaporkan pekerjaan serta berjanji akan bekerja dilapangan sesuai dengan peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan, tetapi kenyataan dilapangan berbuat tidak sesuai dengan janji dan laporan yang ketika di kantor. Maka hal itu akan sama dengan kiai yang lagi sholat, “ruku” dan “sujud” serta “bacaannya” benar, tetapi sewaktu di masyarakat tidak sesuai dengan yang dijanjikan dan dilaporkannya ketika sholat, yakni tetap membantu para penegak hukum-hukum kafir. Rupanya sewaktu “shalat” memang dirinya merasa diperintah Allah, sedangkan sewaktu “tidak sholat” dia diperintah oleh syaitan dari jenis manusia. Sehingga mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka putuslah segala

271

amalannya ( Q.S.47:28). Kalau amalnya terputuskan, maka apa yang akan dibawa ke akhirat ? Begitulah lihainya setan menggoda sehingga banyak yang terlena, takutnya kepada manusia yang melebihi dari pada takut kepada Allah, sehingga terus menjilat pemerintah ‘Thogut’ yang sedang menang. -----------------------------------------------------------11. Tanya: “Mereka yang mengaku sebagai orang-orang Islam, tetapi memerangi kepemimpinan NII , maka matinya dalam keadaan menganiaya diri mereka sendiri, dari mana rujukkannya ?” Jawab : Menjawab pertanyaan- pertanyaan di atas itu, terlebih dulu kita perhatikan sejarah ketika Abu Abbas bin Abdul Muthalib satu-satunya anggauta yang selamat (hidup) dari sekian orang Islam yang ikut barisan Abu jahal, sehingga menjadi tawanan Perang Badar. Pada waktu itu Rasulullah Saw memutuskan bahwa semua tawanan dapat dibebaskan dengan diwajibkan kepada mereka dengan mengeluarkan tebusan termasuk juga Abu Abbas. Berkenaan dengan itu Abu Abbas berkata: ”Mengapa engkau memerintahkan aku supaya membayar tebusan hai Muhammad, sedang saya keluar dari Makkah karena terpaksa oleh kaum Quraiys, bukan dari kemauanku sendiri, dan engkau mengerti bahwa saya ini telah masuk Islam” ? Nabi menjawab:”Hai, pamanku saya tahu dan mengerti bahwa engkau keluar (berperang) terpaksa, dan saya mengerti juga bahwa engkau pamanku telah lama memeluk Islam, tetapi dalam hukum dhohir engkau harus mengeluarkan tebusan kepada saya, karena hanya Allah yang mengetahui keislaman engkau, sedang saya mesti menjatuhkan hukum sebagaimana nampaknya”. Setelah kita tahu sikap Nabi Saw terhadap tawanannya, maka kita perhatikan mengenai beberapa orang yang sudah masuk Islam di kota Makkah, tetapi tidak mau berhijrah menegakkan negara Islam di Madinah, kemudian dipaksa oleh

272

pemerintah Kebangsaan Quraiys Makkah untuk memerangi Pemerintahan Islam di Madinah, maka dalam perangnya itu mereka terbunuh. Berkenaan dengan itu turunlah ayat yang bunyinya:

“ Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri”. Para malaikat berkata:”Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu ?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburukburuknya tempat kembali”._(Q.S.4 An Nisa:97). Dalam kondisi perang tentu kalau tidak membunuh, maka akan dibunuh. Jadi, dalam perang diketahui mana musuh dan bukan musuh adalah ditentukan oleh posisi kepemimpinannya, apakah berada dalam kepemimpinan yang didasari oleh hukumhukum Allah, ataukah dalam kepemimpinan yang didasari oleh kebangsaan sebagaimana kaum musyrikin Quraisy atau oleh ideologi sekuler lainnya sehingga menjegal tegaknya hukumhukum Allah di muka bumi. Mereka yang memerangi Negara Islam Indonesia, dengan alasan terpaksa oleh gaji dan jabatan sama saja nilainya dengan yang telah dipaksa oleh para kaki tangannya ‘Abu Jahal’ hanya berbeda dalam versi. Sebab, jika bisa dipaksa oleh tugas (jabatan) atau gaji berarti setia kepada duniawi dengan durhaka terhadap Allah. Keterpaksaan sedemikian tidak dijamin di akhirat itu. Buktinya, biar dengan alasan terpaksa, tetap saja “masuk neraka”. Matinya “bukan untuk mengabdi kepada Allah, melainkan untuk duniawi” !

273

“Sekedar tugas dari manusia” dalam versi apapun tidak menjadi jaminan untuk tidak masuk neraka. Sebab, pada pokoknya sebagai mukmin adalah bertugas hanya kepada Allah SWT ( Al-Qur’an S.98:5, S.51:56) Bertugas kepada Allah berarti menjalankan hukum-hukum Allah, sedangkan memerangi Negara Islam Indonesia, berarti menjegal pelaksanaan hukum-hukum Allah SWT. Turut memerangi Negara Islam Indonesia, dengan alasan tidak mengetahui dasar-dasar kebenarannya, tidak juga menjamin keselamatan diri pada “Yaumal Hisab” (hari perhitungan). Sebab, Allah sudah memberikan sarana supaya menilai mana yang “Haq” dan mana yang dalam “kesesatan”. Perhatikan ayat yang bunyinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”._(Q.S.76 Al Insaan:2). Dengan ayat di atas itu tidak ada jaminan keselamatan di akhirat bagi yang memerangi Negara Islam Indonesia, walaupun ia berdalih bahwa kebenaran NII samar baginya. Sebab, semestinya sebelum dia memutuskan diri bergabung untuk memerangi NII, dia punya kewajiban menggunakan mata membaca dasar-dasar kebenarannya serta menggunakan telinga mencari informasi tentang Negara Islam dari gelilyawan yang sedang mempertahankannya. Seorang muslim haram menerima informasi sepihak bila suatu sa’at berhadapan dengan muslim lainnya dalam sebuah kasus. Apalagi kasus memerangi NII adalah “Kasus Darah” sedangkan urusan “Darah” adalah urusan pertama yang akan dihisab Alloh setelah sholat (Al Hadits). Semestinya seorang muslim merenung,“Mengapa ada saudaranya seagama yang rela mati membela negara Islam, sedang diri malah merasa tak bersalah

274

memberondong mereka yang berjuang untuk Negara Islam tadi ??? Mustinya bertanya, “ Mengapa diri berpihak pada pemerintah yang menolak berlakunya hukum-hukum Islam ???” Ya, mungkin mendengar dari para pemimpinnya, bahwa pejuang Negara Islam itu jahat, menyalahgunakan agama demi kepentingan politik semata, memanipulasi agama dsb dsb. Dari siapa berita ini keluar ? Dari pemerintah Yang menegakkan Hukum Alloh, atau dari Penguasa yang sejak pertama negaranya berdiri sudah mencoret kewajiban menjalankan hukum Islam ?? Tidakkah mereka tahu bahwa Quran mencap “Fasiq” terhadap siapa saja yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Alloh (S.5:47). Dan bukankah berita dari kaum Fasiqin tidak boleh diterima mentah mentah, melainkan mesti diselidiki terlebih dahulu ?!

“Wahai orang orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq yang membawa berita, maka periksalah dengan teliti berita itu (tabayyunkan pada fihak yang bersangkutan), agar kamu tidak menimpakan suatu mushibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya, jadilah kamu menyesal atas perbuatan itu” (S.49:6) Sikap terburu buru menuruti perintah komandan misalnya, padahal jelas yang diperangi adalah mereka yang merindukan tegaknya hukum Alloh, adalah sikap nekad yang berakibat fatal di akhirat. Perhatikan firman Alloh berikut ini :

“Sesungguhnya orang orang yang ingkar kepada ayat ayat Alloh (Tidak mau menegakkan hukum Alloh, malah mau saja diperintah oleh penguasa yang anti tegaknya hukum Islam) dan

275

membunuh para Nabi, tanpa alasan yang benar, dan membunuh para penegak keadilan ( hukum-hukum Allah), maka gembirakanlah mereka, bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih !” (S.3:21) Ingkar terhadap ayat Allah, sama artinya dengan yang tidak mau menegakkan hukum-hukum Allah, malah mau saja diperintah oleh penguasa yang anti tegaknya hukum-hukum Allah. Dari itulah penulis menyusun Tanya Jawab ini, supaya mata (penglihatan) yang diberikan Allah digunakan untuk menilai mana yang “Haq” dan mana yang “Dhool” (Sesat), agar kiranya tidak terulang lagi kasus ”terpengaruh informasi dari musuh Islam” seperti tahun 60-an dulu. Dimana banyak muslimin yang bukannya menyongsong mujahidin, malah mereka sendiri ikut menentangnya dengan mendukung pemerintah yang jelas menolak tegaknya hukum-hukum Allah. Jangan terulang oleh generasi muda Islam yang sekarang dan akan datang. Dan jangan sampai terjadi mati menganiaya sendiri (Q.S.4:97), korban perang melawan Negara Islam Indonesia ! Anda tetap tidak akan lepas dari bertanggung jawab di Alam Mahsyar jika hukum Islam tidak bisa anda jalankan secara kaffah ! -----------------------------------------------12. Tanya : “Apa yang mendasari kita optimis dalam memperjuangkan NII, meski menghadapi berbagai ujian rintangan, sedangkan kemenangan de facto ( Futuh ) belum tentu dialami oleh kita, karena terbatas usia dan kemampuan ?” Jawab: Yang menjadi dasar bagi kita optimis, ialah karena yakin bahwa perjuangan NII ini ialah satu perjuangan yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Dengan itu kita berada didalamnya berarti sudah bisa menjalankan tugas

276

dari Allah, sehingga tidak punya beban di akhirat sa’at dipinta pertanggungjawaban oleh-Nya tentang kewajiban menjalankan hukum-hukum Allah. Jadi, bahwa memperjuangkan NII ini “bukanlah karena” akan memperoleh kemenangan secara fisik (futuh) dengan kepastian dialami oleh kehidupan kita sekarang, melainkan karena keyakinan bahwa hal itu perintah dari Allah (Sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Saw). Sebab, bila tugas sudah dikerjakan, maka hasilnya diserahkan kepada Allah. Dan kita peroleh ganjarannya. Jelasnya, yang disebut “optimis” dalam hal ini ialah bebas dari beban dosa, dan adanya pahala yang abadi. Perhatikan yang terjadi pada umat Nabi Nuh a s, mereka diperintahkan oleh Allah membuat kapal di daratan yang sangat jauh dari laut. Jika tujuannya cuma supaya bisa menaiki kapal, mungkin diantara yang paling tua usianya berfikir bagaimana kalau keburu mati, atau kapan dan dari mana datangnya air. Kenyatannya pengikut Nabi Nuh a s tidak demikian. Melainkan, yakin bahwa setiap menjalankan perintah dari Allah pasti ada jalannya. Cepat atau lambat itu bukan soal. Sebab, jika kemenangan fisik atau berlayarnya kapal belum juga tercapai, sedangkan jasad keburu mati dalam menjalankan perintah Allah, maka itu juga sebagai jalan yakni mati dalam menjalankan Perintah Allah. Itulah yang disebut “Optimis (punya harapan)”, yakni “aman” di Hadapan Allah Swt ( Q. S.6 Al- An aam:82). Sama halnya dengan umat pada jaman Nabi Saw waktu jumlah mereka masih sedikit (beberapa orang) tentu menurut perhitungan di atas kertas, maka jumlah yang berberapa orang itu tidak akan bisa menguasai Makkah dan Madinah dalam tempo beberapa tahun. Sebab, selama tiga tahun berjuang baru menghasilkan tiga puluh lima orang, sedangkan usia Nabi itu sudah empat puluh tiga tahun. Maka, hitung saja 20 thn dibagi 3 thn = kira-kira 7, kemudian kali (x) 35 = 245 orang. Sedangkan

277

pada waktu jumlah umat muslimin itu baru 35 orang, penduduk Jajirah Arab sudah dua belas juta orang. Jika selama 20 tahun tentu bukan sebegitu lagi. Dengan itu tidak dimengerti jika dalam tempo dua 23 - 3 = 20 tahun akan bisa menguasai Makkah Dan Madinah. Akan tetapi, karena “tujuan pokok” bagi umat Nabi Saw itu mengabdi kepada perintah-perintah Allah, yang memiliki semua kekuasaan, maka soal akan bisa menguasai atau tidaknya terhadap Makkah atau Madinah itu soal kedua. Sebab, seandainya tidak sempat menguasai Makkah dan Madinah pun, maka tetap mereka memiliki pahala yang besar dari Allah SWT sehingga optimis. Yang menjadi nilai di Hadapan Allah SWT bukanlah menangnya, tetapi suksesnya menghadapi ujian. Perhatikan ayat yang bunyinya: “Maha suci Allah yang ditangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”._ (Q.S.67:1). “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”. (Q.S.67:2). Ayat yang pertama (Q.S.67:1) menerangkan bahwa yang memiliki segala kekuasaan adalah Allah. Bila dihubungkan dengan kapan akan menangnya Negara Islam Indonesia secara dhohir / de facto sehingga hukum Islamnya bisa dijalankan dengan sempurna, hal itu urusan Allah yang memiliki Kekuasaan terhadap segala sesuatu. Jadi soal soal kapan menangnya, atau akan dialami oleh dirinya atau tidak bukanlah persoalan. Ayat yang kedua (Q.S.67:2) menerangkan bahwa yang menjadi nilai bagi pribadi mukmin ialah kelangsungan mengemban tugas berjihad dijalan Allah, walau terus menerus menghadapi berbagai ujian. Jika hal itu dikaitkan dengan

278

perjuangan menegakkan Negara Islam Indonesia, maka bagi para mujahidnya akan tetap “optimis” meski terus menghadapi berbagai ancaman dari musuh dengan segala propokasinya. Sebab, dengan itu berarti sudah memperoleh kemenangan yang hakiki, yakni memperoleh kehidupan dan kematian dengan ketahanan menghadapi berbagai ujian akibat menegakkan negara yang didasari hukum-hukum Allah. Memperoleh ujian dalam menegakkan hukum-hukum Allah berarti juga memperoleh “nominasi” dari Allah untuk berlomba menentukan mana yang lebih tahan menghadapi ujian sehingga dicatat pula mana yang lebih tinggi nilainya. Bagi yang berjihad menegakkan kedaulatan Islam pasti menghadapi ujian (Perhatikan Q.S.2 Al-Baqorah:155, 214). Adapun perumpamaannya, yaitu bisa dimisalkan bila kita masuk kerja mencangkul tanah kepunyaan konglomerat yang luasnya ribuan hektar, tentu soal bisa segera diselesaikan atau tidaknya, bukanlah urusan kita sebagai tukang cangkul, melainkan urusan konglomerat yang punya modal besar _ Bisa saja jika konglomerat itu mau segera menyelesaikannya maka dengan tiba-tiba mendatangkan ribuan tukang cangkul. Jadi, bagi kita tukang cangkul yang dianggap sedikit ini sehingga banyak yang tidak mau menjadi teman bekerja, tidak bingung bagaimana kalau tidak bisa menyelesaikan tanah yang luasnya sekian ribu hektar yang memang bukan kuasa kita. Sebab, yang dibutuhkan oleh kita adalah kelangsungan menjadi pekerja dari konglomerat tanah itu sehingga punya gaji, maka kita bekerja sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh konglomerat itu. Dengan demikian “optimis”, punya jaminan darinya. Tentu, bagi yang kerjanya sedikit asal sesuai dengan peraturan, maka tetap memperoleh gaji. Akan tetapi walau kerjanya banyak, namun bila tidak sesuai dengan kehendak konglomerat, maka bukannya digaji, malah kena “damprat”. Yang dituntut itu ialah kerjanya. Adapun soal kapan beres, dan bisa atau tidaknya menyelesaikan tanah yang puluhan ribu hektar luasnya itu, adalah urusan konglomerat yang punya kekuasaan. Sungguh tidak tahu diri kalau tukang cangkul yang

279

keluar dari kerjanya, karena berpikir tidak akan bisa menyelesaikan tanah yang sekian puluh ribu hektar, padahal dia itu “sekedar tukang cangkul”, sedangkan tanah yang ribuan hektar itu bukan punya (kuasa) dia. Sebab itu bila dikaitkan dengan men-de facto-kan kembali N I I maka yang menjadi nilainya ialah, kelangsungan berjihad walau terus menghadapi ujian, sehingga sesuai dengan “liyabluwakum ayyukum ahsanu a’malaa”(Q.S.67:2). Dengan demikian kesimpulannya bahwa yang menjadi dasar bagi kita optimis memperjuangkan N I I, karena sesuai dengan Al- Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw, maka dengan memperjuangkan kemenangannya berarti menjalankan tugas mengemban “Hak” sehingga bebas dari beban di akhirat, di kala diri dipintakan pertanggung jawaban mengenai kewajiban menjalankan hukum-hukum Allah SWT secara keseluruhan. -----------------------------------------------13. Tanya : “Al-Qur’an surat 10 ayat 62 menyebutkan “ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Tapi, apa sebabnya ada yang sesudah memasuki perjuangan N I I ini merasa takut, sedangkan sebelumnya tidak takut ?” Jawab: Sebelum lanjut menjawab, terlebih dulu penulis kemukakan satu riwayat dari Umar bin Khattab Ra, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:”Sesungguhnya sebagian dari hamba Allah terdapat sekelompok manusia. Mereka itu bukan dari golongan Nabi, tidak pula dari golongan syuhada, akan tetapi para Nabi dan syuhada merasa iri atas kedudukan mereka di sisi Allah. Mereka berkata:’Hai Rasulullah, tolong beri tahu kami siapakah mereka itu ?’ Beliau berkata: ‘Mereka adalah satu kaum yang saling mencintai karena Allah, bukan atas dasar

280

hubungan rahim di antara mereka, dan juga bukan karena uang yang mereka berikan. Maka demi Allah..., sesungguhnya wajah mereka memancarkan cahaya, cahaya yang sangat terang. Mereka tidak merasakan takut ketika orang-orang lain merasa takut, dan mereka tidak merasa khawatir ketika orang lain merasakan kekhawatiran’. Kemudian beliau membacakan: ‘Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak pernah merasa takut dan tidak pula merasa khawatir’.(perhatikan Q.10:62)).” Dengan memperhatikan keterangan di atas itu, diketahui bahwa pengertian “tidak merasa takut” menunjukkan kepada kejadian nanti kelak di alam Mahsyar khusus bagi orang-orang yang digambarkan dalam sabda Nabi Saw, sewaktu Allah memperlihatkan neraka Jahannam, dan pintu taubat ditutup. Perhatikan Q.S.89 Al-Fajr:23-25). Mereka tidak merasa takut karena sudah melihat bukti jaminan tidak akan masuk neraka, dengan ditandai wajahnya yang memancarkan cahaya yang sangat terang. Misalkan, dalam sebuah antrian membeli tiket kereta api untuk mudik lebaran, jika anda sudah memiliki tiket, maka “merasa senang”, meskipun anda melihat orang lain bercucuran keringat karena berdesakan serta berebutan. Sudah menjadi fitrohnya manusia yang masih lemah tertindas, merasakan takut terhadap pihak yang sedang berkuasa (perhatikan Q.S.8:26). Nabi Musa juga takut terhadap Fir’aun (Q.S.26:14). Juga, Dalam surat 3 ayat 28 mukmin takut dalam arti fisik terhadap pemerintah musyrik, tetapi takutnya itu membuat kehati-hatian. Soal perasaan takut dalam arti fisik itu adalah fitroh manusia yang sedang menghadapi kekuatan musuh yang lebih besar. sebab itu bagi mukmin merupakan ujian. Perhatikan ayat yang bunyinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan kekurangan harta, jiwa

281

dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang - orang yang sabar.” _(Q.S.2 Al-Baqorah:155). Ayat di atas itu ditujukan kepada yang sudah memiliki garis pemisah dari sistem kepemimpinan yang bathal. Sehingga terbayang akan adanya konfrontasi fisik dengan kekuatan musuh. Turun ayat itu pun berkaitan dengan kondisi perang, dan ayat yang sebelum itu juga menerangkan keadaan orang yang terbunuh dalam perang mempertahankan Negara yang menyatakan berlakunya hukum-hukum Islam. Rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, terancam jiwa, hal itu dirasakan bilamana dalam situasi berperang, yaitu berada di front siap baku hantam dengan musuh, bukan waktu sehari dua hari, tapi bisa berminggu-minggu. Pada waktu berperang itu, meski yang dirumahnya ada terigu satu kwintal, korma sekarung, maka yang dimakan adalah ransuman, itu juga kalau masih tersedia, jika kehabisan maka bisa kelaparan. Dalam berperang itu tidak bisa berdagang artinya tidak bisa mencari nafkah, maka terasa tidak akan menambah harta, malah bisa-bisa mengurangi yang ada. Kesemuanya itu adalah hal yang ditakuti sebagai fitrahnya manusia. Sedangkan hal itu bisa terjadi bagi setiap mukmin yang lagi menghadapi musuh, seperti halnya yang sudah masuk ke dalam kepemimpinan NII sehingga terbayang bila satu waktu berhadapan secara fisik dengan kekuatan pemerintah Pancasila sebagai musuh utama bagi Negara Islam Indonesia. Itulah sebabnya kalau sudah masuk NII terasa takut, sedangkan sebelumnya tidak takut. Perhatikan Al-Qur’an surat 8 ayat 26.

“Dan ingatlah ( hai para muhajirin ) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekkah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah

282

memberi kamu tempat menetap (di Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.”_(Q.S.8:26). Perasaan takut adalah wajar, tetapi tidak boleh mendominasi pada diri, sebab ada lagi yang lebih ditakuti yaitu Allah. Perhatikan ayat yang bunyinya: “ Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya ( orang-orang musyrik). Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang-orang mu’min.”--(Q.S.3:175). Pengertian “janganlah kamu takut kepada mereka”, yaitu jangan mundur, jangan berhenti dari berjuang karena ditakuttakuti, sebab ada lagi yang paling ditakuti dari pada manusia yakni Allah. Jadi, kita maju itu bukan berarti hilang sama sekali dari rasa takut, melainkan memberanikan diri karena takut kepada Allah yang mana lebih kita takuti. Supaya lebih dipaham, ambil saja perumpamaan di bawah ini: Seandainya anda seorang diri di tengah jalan yang lebarnya cuma 3 meter, sebelah kiri dan kanannya ada jurang sedalam 50 meter, sedangkan jika maju ke depan ada ular, bila mudur ke belakang ada macan. Tentu, yang dipilih yaitu maju kedepan melawan ular walau ada rasa takut, sebab “risikonya belum pasti kena”, sekalipun kena juga “belum tentu total”. Berbeda dengan melawan macan, “tidak ada jalan untuk tidak kena, tidak ada jalan untuk selamat”. Tentu, maunya anda ular pun jangan ada, tapi apa boleh buat dari pada melawan “macan”. Sama halnya dengan menghadapi ‘setan-setan’ dari jenis manusia, belum tentu kena risiko, masih bisa dengan

283

menggunakan berbagai taktik, sekalipun kena maka risikonya belum pasti total, sebab bagaimanapun besarnya bentuk risiko akibat menghadap manusia, maka tidak akan lebih dari mati ! Hidup dan mati (Q.S.6:62) dalam keadaan membela tegaknya hukum-hukum Allah secara keseluruhan, berarti sesuai dengan Sunnah Rasulluh Saw, dan itulah kemenangan yang besar (perhatikan Q.S.9:111). Sedangkan yang melawan kepemimpinan Negara Islam Indonesia, sama dengan “membenci” wahyu yang diturunkan Allah sehingga putus semua amalnya (Q.S.47:9), dan berarti zholim melawan Allah, risikonya total yakni dicap “kafir (Q.S.5:44), “zalim” (Q.S.5:45), “fasik” (Q.S.5:47)”. Bilamana mati, maka Jahannam bagiannya (Q.S.4:97). Bila melawan terhadap hukum-hukum Allah, maka tidak ada jalan untuk bisa menghindar dari siksaan-Nya yang kekal. Seandainya selamat di dunia dengan segala kesenangannya, tetapi akhirnya juga masuk kubur dipinta tanggung jawab dari hal mengapa berani melawan Allah. Apakah menganggap kepada Allah itu lebih kecil kekuatan siksa-Nya daripada ancaman “kekuatan Pemerintah pancasila” ( ? ) Rasa takut bagi pejuang N I I yang sedang dalam gerilya wajar ada, tapi tidak boleh mendominasi diri, sebab jika rasa takut itu dituruti, tidak dibandingkan dengan rasa takut kepada Allah SWT, maka akan meruntuhkan nilai ujian. Sedangkan ujian dan sarananya itu sudah disiapkan oleh Allah yaitu dengan adanya orang-orang yang anti pengeterapan hukum-hukum Islam. Lihat petikan ayat di bawah ini:

“...dan apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka (orang-orang kafir, zhalim, fasik). Akan tetapi, Allah hendak menguji sebagian kamu dengan yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, tidak disiasiakan amal mereka, ”_(Q.S.47:4).

284

Dari petikan ayat itu dipaham bahwa adanya kekuatan musuh adalah merupakan “penguji kadar ketaatan”, apakah mau taat kepada mereka yang membenci hukum Islam atau mau taat kepada Allah. Bila akan tunduk kepada mereka tentu tidak akan ada rasa takut oleh musuh, hanya berarti memasabodohkan terhadap hukum-hukum Allah, maka risikonya berhadapan dengan siksa di Akhirat. Sedangkan jika taat kepada Allah, maka harus dibuktikan dengan menegakkan semua hukum Allah, risikonya punya musuh yang mengancam secara fisik dan pasti ada rasa takut. Mana yang mau dipilih ? Jelaslah bahwa untuk menjadi Tentara Islam Indonesia ini, modalnya bukanlah “tidak takut atau takut”, melainkan bahwa NII ini satu wadah kepemimpinan yang haq bagi umat Islam sementara di Indonesia ini. -----------------------------------------------14. Tanya : “Menurut penelitian, pada dasarnya iktikad sebagian besar yang mengaku Islam, setuju bilamana di Indonesia ini berlaku hukum Islam yang berkaitan dengan kenegaraan secara kaffah. Artinya, hanya pemerintah R I saja yang menjegalnya. Maka, apa sebabnya yang mengaku Islam itu belum bersatu ?” Jawab : Sebelum menyimpulkan jawabannya, terlebih dulu penulis mengungkapkan analisa mengenai posisi- posisi umat Islam di Indonesia. Pada dasarnya di muka bumi ini hanya ada dua jalan (Q.S.90:10), jika tidak ada pada yang Haq berarti pada jalan yang sesat ( “dholaalah” ). Namun, sesuai dengan pertanyaan di atas, maka di sini penulis menilainya dari sudut iktikad atau niat yang ada pada hati masing-masing, yang mana sudah sekian lama umat Islam terkotak-kotak sehingga belum ada kesatuan visi untuk satu langkah. Sebab itu secara umum, untuk sementara ini penulis menganalisanya berdasarkan kondisi yang saat ditulisnya buku ini NII belum de

285

facto kembali sehingga belum dikenal oleh setiap mu’min Indonesia. Dengan itu sementara ditulisnya buku ini penulis mengkategorikan posisi umat Islam Indonesia kedalam enam bagian : Posisi Yang Pertama Pertama, IKD (Islam Kodisi Dikaburkan). Hal tersebut mengakibatkan “pasip”. Mereka ini memiliki hati yang bersih, ikhlas, ta’at beribadah sehingga siap menjalankan perintahperintah Allah semaksimal kemampuan sesuai dengan ilmu yang sudah mereka ketahuinya. Mereka setuju bila seluruh hukum Islam itu berlaku, hanya tidak tahu jalan harus bagaimana caranya. Sebab, yang mereka tahu dan dijadikan rujukan hanyalah kenyataan yang ada sehingga merasa cukup dengan jenis kegiatan yang terlihat biasa. Umumnya mereka itu mengukur keikhlasan orang lain dengan keikhlasan dirinya sendiri. Sehingga percaya bahwa asal saja tokoh atau penguasa yang ngaku Islam di anggapnya tidak memusuhi Islam. Sehingga apa saja yang diomongkan oleh yang menjadi idolanya berpredikat tokoh Islam, itu pula yang dijadikan pegangannya. Mereka tidak tahu ukuran mana kawan dan mana lawan apalagi musuh Islam. Tahunya cuma taat pada penguasa sebab penguasa juga dianggap sudah Islam. Dengan demikian mereka mudah dikaburkan dari pengertian Islam yang sesungguhnya oleh para penguasa atau oleh para ulama yang menjadi alat penguasa, sehingga pasip tidak mencari pergerakan Islam, merasa cukup dengan menyerah kepada keadaan. Itulah sebabnya disebut “I K D”. Kepasippan mereka hanya karena dikaburkan, risalah yang hak pun belum sampai sehingga masih dalam kegelapan. Namun, bilamana suatu waktu risalah kebenaran itu sudah sampai kepada mereka, dan masih juga tidak merubah sikap, maka kegelapan itu akan menjadi kesesatan bagi diri mereka. Dan bisa jadi sebagaimana orang-orang yang keadaannya menganiaya diri sendiri ( Q.S.4 An Nisa:97).

286

Posisi Yang Kedua Kedua, I P I ( Islam Pola Ideal ) yang mengakibatkan kompromi. Yang pertama (IKD) pun sama kompromi hanya diam. Sedangkan yang kedua ini tidak tinggal diam, melainkan berusaha mencari wadah perjuangan dan memilihnya sesuai dengan “ideal” atau pemikirannya, bila perlu membentuknya yang baru. Disebabkan pilihan dasarnya ialah ideal, maka jelas wadah itu masih dalam sistem Pemerintah RI. Tentu, mereka yang masuk kedalam wadah-wadah yang mengatas-namakan Islam yang dilegalisir oleh Pemerintah RI itu macam-macam tujuan dan motivasinya. Namun, secara keseluruhan menggunakan pola ideal. Perjuangan “pola ideal” adalah turunan dari cara yang dilakukan oleh yang tidak setuju dengan keputusan kongres Partai Syarikat Islam Indonesia tahun 1934. Mereka bekerja sama dengan partai-partai selain Islam mengharap kemerdekaan yang tanpa berdirinya Negara Islam Indonesia, setelah itu secara pelan-pelan diganti oleh Islam. Pada awal diprolamirkannya NII, 7 Agustus 1949, mereka yang berpola ideal itu memihak kepada RIS daripada NII , sebab RIS itu didukung oleh Belanda dan negara-negara Barat untuk menandingi NII, sehingga RIS itu memiliki kekuatan yang lebih jauh dari pada NII. Yang berpola ideal itu memihak kemana yang dianggap lebih kuat. Perhatikan Ayat yang bunyinya: “(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” _ (Q.S.4 An Nisa:139).

287

Pola pikir ideal dalam hal ini, yaitu yang berjuang menurut cara yang dianggap ideal bagi dirinya. Dalam perjuangannya itu, berpikir mana yang enak, tidak ada risiko ancaman fisik dari musuh, bahkan dengan cara itu sebagiannya memperoleh imbalan gaji atau tunjangan lainnya dari pemerintah yang menjegal perjuangan tegaknya Daulah Islamiyyah. Tegasnya, bahwa perjuangan dengan pola ideal itu dalam bentuk kompromi. Sehingga terjadi interaksi antara mereka dengan aparatur pemerintah R I. Jelasnya, bawa perjuangan pola ideal itu ialah berjuang, tapi menurut cara yang dianggap enaknya. Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah:”Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersamamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri ; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.”_(Q.S.9 At-Taubah:42). Secara umum bahwa yang memasuki posisi kedua ini ialah karena berpola ideal, mencari enaknya, tetapi secara khusus banyak juga yang memasuki posisi kedua ini, didasari ijtihad yang diperolehnya, karena belum mengetahui atau belum memahami cara perjuangan yang sesungguhnya menurut Islam. Niat dan Iktikadnya ikhlas untuk membela Islam sesuai dengan wawasan yang diperolehnya sementara belum mengetahui yang lainnya yang lebih dimengerti olehnya, hal itu suatu yang dapat dimaklumi. Tentu, apabila suatu waktu datang wawasan keilmuan mengenai pemisahan antara haq dan bathil, maka dengan keikhlasannya itu akan segera menentukan sikapnya.

288

Tetapi, jika masih tetap saja begitu, tidak komitmen kepada yang hak maka persoalannya bukan lagi keihlasan, melainkan bisa terbawa kepada “Kamaa kafaruu fatakuunuuna sawaaan.”(Q.S.4:89). Posisi yang Ketiga Ketiga, I P K ( Islam Pola Kepuasan ), mengakibatkan “Emosi Temporer ( ET )”. Mereka yang ada dalam posisi IPK ada sebagiannya yang berkeinginan untuk menegakkan hukum Islam secara keseluruhan di bumi nusantara Indonesia ini. Mereka tidak mau seperti I K D yang berdiam diri menyerah kepada keadaan dengan mengandalkan tokoh-tokoh yang “ yes men” kepada pemerintah R I. Juga, tidak mau seperti I P I yang kegiatannya terikat resmi tercatat dalam birokrasi. Sebab itu umumnya mereka tidak percaya terhadap IPI yang dianggap selalu kompromi dengan pemerintah R I. Jelasnya, kegiatan I P K itu berdiri di luar organisasi yang resmi. Mereka tidak memiliki kepemimpinan yang resmi, umumnya merasa belum punya pemimpin. Pertemuan antara mereka atas dasar kesetiakawanan, artinya bukan atas dasar tugas dari pimpinan, karena itu kegiatan mereka pun informal dan insidental, yang umumnya sebatas informasi dan diskusi. Walaupun kegiatan mereka itu tidak resmi, juga tidak jelas posisi struktur kepemimpinannya, dalam arti sama, tidak ada bawahan dan atasan,dan tidak terdaftar dalam agenda birokrasi, namun I P K itu tetap berada dalam sistem pemerintah R I, sama halnya dengan IKD dan I PI. Adapun bedanya, I P K ini merasa “tidak puas” dengan sikap-sikap dari pemerintah RI yang dianggapnya tidak sesuai dengan norma-norma agama Islam. Misalnya, dekadensi moral, hak azasi, kolusi dalam birokrasi, azas tunggal, demokrasi yang tidak murni dsb. Mereka mengira bahwa hukum Islam bisa diberlakukan di Indonesia, tanpa penggantian sistem negara, dan mengira pula bahwa pemerintah R I juga bisa mematuhi kehendak umat Islam

289

bilamana umat Islam mengajukan tuntutannya. Sebab itu aktifitas yang menonjol dalam I P K itu ialah menggerakkan masa untuk mengambil perhatian penguasa agar mengabulkan tuntutannya. Disebabkan gerakan masa itu hanya sekedar protes sewaktu-waktu, dan tidak di bawah komando struktur yang riil, melainkan hanya didasari spontanitas, maka kelanjutannya pun hanya merupakan “emosi temporer”. Sebab, masa yang digerakkannya pun umumnya ialah masa yang terbakar hasutanhasutan secara spontanitas. IPK ini masih dalam sistem pemerintah R I. Adapun mereka mengadakan gerakan fisik seperti halnya demontransi, unjuk rasa, atau lebih dari itu membuat kerusuhan, semuanya cuma merupakan temporer. Hal demikian bisa dimisalkan kepada seorang anak yang sedang “ngambek” karena ayahnya tidak mengabulkan tuntutannya, maka si anaknya itu pergi dari rumah ayahnya, untuk sementara tinggal di rumah pamannya, sambil mengunjukkan aksinya dengan mengungkapkan macammacam perkataan sebagai rasa ketidakpuasannya supaya menarik perhatian ayahnya. Dengan aksi anaknya itu, bagi orang tuanya ada dua kemungkinan, yakni mungkin mengabulkan, tapi mungkin juga menolaknya tergantung situasinya. Seandainya tuntutan itu dikabulkan, maka si anak itu akan segera kembali ke rumah orang tuanya, tetapi sekalipun tuntutannya ditolak, maka pada akhirnya juga si anak itu tetap kembali kerumah ayahnya, cuma datangnya pelan-pelan, tidak segera berseri-seri. Tetapi, lamalama seperti biasa lagi bersama ayahnya. Sesudah itu bila ada lagi keinginnan atau persoalan, terjadi lagi “ngambek” yang seperti kebiasaannya yaitu “pergi” dan “kembali”. Begitu pula I P K ( Islam Pola Kepuasan), yang merasa berjuang yang katanya sebagai “presser group” terhadap pemerintah RI akhirnya tetap saja seperti begitu, merupakan “emosi temporer”, karena dalam sistem yang sama. Walaupun terlihatnya keras, namun tindakannya itu hanya sekedar

290

“ngambek”, yang tidak lepas dari sistem pemerintah RI. Dengan demikian IPK itu nilainya sama dengan I KD, dan IPI, yaitu ” yang mengambil golongan kafir sebagai pemimpin (lihat Q.S.4 An-Nisa 139). Dari yang emosi temporer itu ada kalanya yang berlebihan dengan seolah- olah ingin berperang, tetapi jika disodorkan kepada berperang yang sebenarnya dibawah komando Daulah Islamiyyah maka menghindar dengan mencari-cari alasan (perhatikan Q. S.4 An-Nisa:77 ). Apabila yang mereka lakukan itu, karena masih dalam kegelapan (ketidaktahuan) mengenai jalan perjuangan yang sebenarnya menurut Islam, artinya belum sampai kepada mereka risalah kebenaran Negara Islam Indonesia, maka secara iktikad dan niat mereka dapat dimaklumi. Akan tetapi, jika kepada mereka itu sudah datang “bayyinah”(penjelasan) mengenai Kebenaran N I I, tetapi masih saja mereka memihak Pemerintah R I, maka keadaan mereka sama halnya “kamaa kafaruu fatakuunuuna sawaa-an”(Q.S4:89). Atau bisa menjadi zhaalimii anfusihim (Q.S.4:94). Posisi yang Keempat Keempat, I.T.S.L.A. ( Islam Tujuan Sistem Lepas Aturan ), mengakibatkan B.P.(Banyak Pimpinan). Menyebutnya “sistem” karena mengatas-namakan NII (Negara Islam Indonesia), proklamasi 7Agustus 1949 yang mana N I I itu merupakan “sistem”. Adapun disebut “lepas aturan”, karena mereka menamakan dirinya NII, tetapi melepaskan aturannya. Artinya, tidak didasari undang-undang, seperti halnya mengenai pengangkatan pemimpin tertingginya. Pengangkatan pemimpin yang tidak berdasarkan undang-undang, yakni tidak sesuai dengan yang tercantum dalam Kanun Asasy dan PDB (Pedoman Darma Bhakti), maka mengakibatkan banyak pemimpin. Sebab, tanpa undang-undang, berarti siapa pun boleh merasa berhak diangkat dan mengangkat. Sebab itu tidak aneh bila dalam kondisi masih banyak yang tidak tahu aturan atau sengaja tidak

291

mau pakai peraturan, banyak yang masih binggung mengenai mana pemimpin N I I yang sesungguhnya. Sebab itu pula posisi mereka disebut “ ITSLA”. Sebenarnya, yang namanya negara pasti memakai peraturan negara, artinya kalau NII tidak pakai peraturannya, maka bukan NII dan bukan merupakan sistem. Namun, disebabkan secara umum mereka itu tetap mengakukan “sistem” dan tetap mengaku N I I, tidak mau kalau tidak disebut N I I atau sistem, maka penulis menyebutnya ITSLA (Islam Tujuan Sistem Lepas Aturan). Yakni, sistemnya “baru dalam tujuan”, belum merupakan sistem yang sebenarnya, karena lepas dari aturan. Biasanya jika pemunculan pemimpin tidak didasari undangundang, maka dasar pengangkatannya itu bisa ditentukan oleh bermacam-macam versi yang sesuai dengan kehendak masingmasing, sepertinya hubungan kekeluargaan, keakraban, ekonomi, jasa, nilai prestasi dan sebagainya, sehingga lain orang: lain pula penilaiannya serta kehendaknya. Sehingga tejadi banyak kelompok dan jalur, karena rujukannya ialah “kehendak”, sedangkan kehendak itu tidak ada batasannya, bisa berobah robah, tergantung masing-masing orangnya. Maka, akan terus saja menunggu-nunggu musyawarah, walau sudah berkali-kali musyawarah, sebab musyawarahnya juga tidak didasari undang-undang. Ya, kalau musyarah tidak didasari undang-undang, maka siapa juga bisa. Dan yang merasa tidak ikut musyawarah bikin lagi musyawarah, dengan alasan dulu tidak tahu, tidak diajak, dan tidak setuju, atau macam-macam alasan. Ditinjau dari sudut dan iktikad secara umum ITSLA itu untuk menegakkan NII. Akan tetapi, karena kemunculannya diawali oleh pengangkatan tanpa peraturan NII, yang mana tidak semua orang tahu akan aturan serta sejarah dan nilai hukum bagi tokoh tokoh N I I yang sudah menyerah kepada musuh, maka ITSLA itu tidak akan bisa menjadi NII yang sebenarnya, tanpa kembali kepada Kanun Azasy dan PDB.

292

Untuk kembali kepada undang-undang NII akan sulit, jika tidak didasari hati yang ikhlas karena Allah, sebab tidak semua yang kedatangan yang haq lalu menerimanya, melainkan ada yang menolaknya, karena sudah merasa cukup dengan ilmu yang ada pada mereka. Perhatikan ayat yang bunyinya: “Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keteranganketerangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan.”_(Q.S.40 Al-Mu’min). Akan tetapi, bagi yang hatinya ikhlas karena Allah, tentu begitu datang bayyinah, maka segera menyambutnya, sebab ingat kepada peringatan dari Allah SWT yang bunyi-Nya:

“Belumkah datang waktunya bagi orang -orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan supaya mereka jangan seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepada mereka kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.” (Q.S.57 Al-Hadiid:16 ) Posisi yang Kelima Kelima, I.S.P.A. ( Islam Sistem Pakai Aturan), menghasilkan pola “Tauhid” sehingga satu N I I satu pimpinan. Disebut “sistem” karena berpijak pada Proklamasi Negara Islam Indonesia, Proklamasi 7 Agustus 1949, yang mana NII itu merupakan sistem. Disebut “pakai Aturan”, karena dasar pengangkatan pemimpinnya merujuk kepada peraturan yang

293

tercantum dalam Undang- Undang N I I yaitu Qanun Azasy dan PDB (Pedoman Darma Bhakti) yang merupakan MaklumatMaklumat Komandemen Tertinggi, yang diantaranya MKT No:11 tahun 1959. Disebut “pola tauhid”, karena pola perjuangannya bukan didasari ketidakkepuasan, bukan pola ideal, dan bukan juga kehendak yang tanpa peraturan. Pengangkatan pemimpin/ Imamnya, bukan karena pandangan ekonomi, jasa, turunan, kekeluargaan, kesenioran dan sebagainya, melainkan didasari oleh nilai hukum “peraturan / perundang-undangan“ sehingga bersatu. Jelasnya, bahwa disebut “pola tauhid” karena berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Saw serta Undang-Undang NII. Rasulullah Saw membentuk negara (pemerintahan Islam di Madinah), membuat pula undang-undangnya. Dan ummat diwajibkan mentaatinya. Posisi yang Keenam Keenam, I.S.B.R. (Islam Sistem Baru Rencana), yang akibatnya “belum jadi”. Disebut “sistem” karena ingin membuat sistem dari yang sudah ada. Jadi, mereka juga ingin memisahkan diri dari sistem Pemerintah RI. Adapun disebut “B R”(baru rencana), karena secara hukum tidak memiliki sistem, hanya baru merencanakan. Sedangkan yang namanya baru rencana, berarti belum ada. Dengan demikian bila diri keburu mati, maka masih terlibat kepada pengeterapan hukum-hukum kafir. Mereka yang posisinya di ISBR ingin menjalankan hukum-hukum Islam secara kaffah, tetapi tidak mau dengan nama NII, melainkan dengan nama lain. Artinya, tidak merujuk kepada NII Proklamasi 7 Agustu 1949. Sebenarnya kalau untuk di “luar Indonesia”, memang harus merencanakan tegaknya Daulat Islam tidak usah merujuk kepada NII, artinya kalau bukan di wilayah yang sudah diadakan Daulah Islamiyyah. Sedangkan di Indonesia ini sudah diadakan Daulah Islamiyyah, yakni NII, pada tanggal 7 Agustus 1949 yang estapeta kepemimpinnannya juga terus

294

berlangsung sesuai dengan perundang-undangannya. Jadi, apabila ada lagi yang mengadakan selain itu, maka berarti “Bhughot”, dalam arti pemberontak terhadap N I I, proklamasi 7 Agustus 1949. Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1949 sudah jelas sebagai wadah penegak hukum-hukum Allah di Indonesia, sudah dibuktikan bukan saja oleh undang-undangnya, melainkan juga oleh prakteknya di beberapa daerah yang pernah dikuasai secara de facto. Sehingga N I I itu bukan merupakan rencana, melainkan sebagai negara (wadah ulil amri) yang sudah jadi. Sehingga pula merupakan bukti kebenaran (haq) yang wajib bagi ummat Islam Indonesia menjadi warganya. Sebab, jika tidak mengikuti kebenaran yang sudah ada, berarti posisi diri sedang menolak kebenaran, dan dengan itu terlibat dalam batil. Perhatikan petikan hadits yang bunyinya: “Dan siapa yang berbai’at pada suatu imam, yang telah menyanggupkan taatnya dan setia hatinya, harus ta’at jika dapat. Maka jika datang lain orang akan merebut kekuasaannya penggal leher orang yang merebut itu.” (HR. Muslim). Bagi yang memiliki iktikad / niat hati yang ikhlas guna menegakkan hukum-hukum Islam, sedang posisinya masih berada pada ISBR, karena belum mengetahui risalah penjelasan kebenaran N I I, proklamasi 7 Agustus 1949 adalah dimaklumi. Akan tetapi, bila suatu waktu datang kebenaran NII dengan segala penjelasannya, sedang dirinya masih saja di ISBR dan tidak mau beralih kepada NII, maka termasuk kepada yang disebutkan dalam ayat Al Qur’an yang bunyi:

295

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan supaya mereka jangan seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepada mereka kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”_(Q.S.57Al Hadiid:16). ---------------------------------------------------------------------15. Tanya : “Bisakah duduk dalam pemerintahan R I itu sebagai siasat, karena di dalam hati menolak ?” Jawab: Menjawab pertanyaan di atas itu kita perhatikan ayat yang berkaitan dengan siasat yang bunyinya:

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya ia lepas dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu dari siksa-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).”_ (Q.S.3 Ali ‘Imran:28).

“Katakanlah:”Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, Allah mengetahuinya. Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bunmi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.”_Q.S.3 Ali ‘Imran:29).

296

Pengertian dari ayat di atas tadi( Q.S.3:28) menerangkan tentang dibolehkannya kita mengakui kepemimpinan orangorang kafir, bilamana pengakuan itu didasari oleh keadaan terpaksa, atau rasa takut yang benar-benar tak dapat dielakkan karena tidak ada jalan keluar darinya, atau karena siasat dan perintah dari pemimpin (ulil amri) kita. Tentu pengakuan itu hanya pada batas lahir, tidak sampai ke hati. Sebab, sebelumnya sudah berbaiat kepada Ulil Amri Islam, untuk kita ini yakni kepemimpinan Negara Islam Indonesia. Pengertian ayat selanjutnya (Q.S.3:29), menjelaskan apa yang sebenarnya disembunyikan dalam hati orang-orang mu’min, yaitu “menolak” terhadap kepemimpinan orang-orang kafir. Juga, menerangkan bahwa apa yang “didhohirkan”, yakni menerima kepemimpinan musuh itu; apakah benar-benar terpaksa atau tidak, maka kedua hal itu diketahui Allah. Artinya, jika memang sungguh terpaksa, maka akan diampuni Allah. Akan tetapi, bakal menjadi dosa bila menerimanya atas dasar sesungguhnya, dalam arti tidak dalam keadaan terpaksa. Arti “kafir”, menurut bahasa yaitu menutup. Dalam istilah agama yaitu menutup atau menolak kebenaran yang datangnya dari Allah SWT. Jadi, disebut kafir itu tidak berarti yang menolak Islam secara keseluruhan saja, melainkan yang menerima sebagian dan menolak sebagian (Q.S.4:150-151) pun mereka kafir yang sebenarnya. Begitu juga yang tidak menghukum dengan hukum Allah ( Q.S.5:44 ) mereka juga kafir. Pemerintah RI jelas menolak berlakunya hukum-hukum Allah, dan berarti merupakan wadah kepemimpinan yang kafir terhadap hukum-hukum Allah. Dengan itu jelas sekali sebagai mu’min harus lepas (baro’ah) darinya. Namun, jika keadaan terpaksa, karena siasat maka dibolehkan. Hanya, dalam hal ini harus paham mengenai apa yang disebut “terpaksa” atau “siasat”. Kata “terpaksa” atau “siasat” mengandung unsur menerima atau melakukan, tetapi menolak dalam hati.

297

Siasat itu bermakna “tidak sesungguhnya”, artinya sikap ‘menerima’ kepemimpinan Kuffar itu hanyalah sekedar terpaksa, yakni tidak sesungguhnya . Dikatakan”, “tidak sesungguhnya” sebab sudah ada “yang sebenarnya” yakni kepemimpinan mukminin yang dia terima sepenuh hati. Bila ada orang yang berdalih bahwa keberfihakkannya pada kekuasaan Darul Kuffar adalah siasat, sedang pada sa’at yang sama ia tidak berada di bawah komando mukminin, maka hal demikian tidak memenuhi syarat siasat ! Tetapi “memang begitulah adanya”, dia hidup di bawah naungan Darul Kuffar ! Hal demikian bisa dimisalkan kepada seseorang yang berkata kepada penjahat bahwa dirinya tidak punya uang sambil menunjukkan isi saku kirinya, padahal didalam saku rahasianya ada uang, maka mengatakan tidak punya uang itu adalah siasat. Akan tetapi, bila memang didalam saku rahasianya juga tidak didapat uang, maka itu bukan siasat, melainkan sebenar tidak punya uang. Didalam Sunnah Nabi Saw setelah ditandatangani perjanjian damai (gencatan senjata), banyak yang melakukan siasat yaitu dhohirnya menghadap ke penguasa Quraiys Makah, tetapi hatinya komitmen kepada pemerintahan Islam di Madinah. Dari sunnah itu disimpulkan bisa duduk di pemerintahan RI sebagai siasat bila dengan syarat komitmen kepada NII, dalam arti duduknya itu demi keselamatan dan kelangsungan perjuangan NII sehingga dalam hal itu lebih menguntungkan NII daripada Pemerintah RI. -------------------------------------------16. Tanya : “Bagaimana menurut sunnahnya, wajib komitmen (berbaiat) kepada pemimpin negara / pemerintah yang haq meskipun hal itu berada di wilayah yang dikuasai musuh ?” Jawab :

298

Komitmen kepada kepemimpinan yang haq itu wajib, meski berada di wilayah yang dikuasai pemerintahan musyrik. Contohnya, Nabi Ibrahim, Nabi Zakaria, dan Nabi Musa, mereka dikejar-kejar oleh penguasa musyrik karena berada di wilayah pengusa musyrik. Kita mesti berada pada posisi yang haq dan syarat untuk itu harus berjihad menegakkannya. Sedangkan syarat berjihad guna menegakkannya itu ialah didahului dengan komitmen atau berbaiat (berjanji) untuk taat kepada kepemimpinannya. Ingat ! kalau untuk berbaiat itu menunggu dulu kepemimpinan yang haq itu berkuasa sehingga memiliki wilayah de facto (futuh), maka hal itu bukanlah berjihad, melainkan “cuma menunggu hasil”. Dan hal sedemikian (menunggu hasil) tidak didapat dalam Qur’an dan Sunnah. Bahkan sangat terhina !!! Sewaktu Nabi Saw masih di Makkah semua ummatnya berada di wilayah yang dikuasai Abu Jahal, mereka tidak berbaiat kepada Abu Jahal. Begitu juga yang berada di negeri Habsyi, tidak berbaiat kepada penguasa Habsyi. Ikatan berbaiatnya tetap berlanjut walau Nabi tidak di negeri Habsyi. Kewajiban berbaiat kepada kepemimpinan yang haq tidak mesti berada di wilayah de facto yang Haq. Buktinya, setelah ditanda-tangani Perjanjian Damai Hudaibiyah, pada akhir tahun kelima hijriyah, ada sekumpulan muslimin yang berada di wilayah kekuasaan pemerintah musyrik. Pada waktu itu Abu Abbas yang ditugaskan oleh Rasulullah Saw mengawasi kota Makah. Dari hari ke hari secara diam-diam jumlah mereka semakin bertambah. Bisanya hal itu diketahui, karena secara rahasia datang berbaiat masuk Islam diorganisir secara rahasia oleh yang ditugaskan di kota Makkah, karena mereka tidak boleh menuju Madinah. Abu Abbas sendiri tidak diketahui oleh penguasa Makah telah mengorganisir gerakan muslimin secara tersembunyi di wilayah Makah.

299

Mereka secara tersembunyi menyusun kekuatan, maka yang takut ketahuan oleh penguasa, lalu melarikan diri. Bagi yang bisa lolos tidak tertangkap, mereka berdiam diri di sebuah dusun yang bernama ‘ies, suatu daerah di tepi laut terletak antara Makah dan Madinah. Menurut perjanjian Hudaibiyah orang-orang Quraisy yang masuk Islam tidak boleh ke Madinah, sehingga menjelang Fathu Makah, jumlah mereka yang lari dari Makah sebanyak tiga ratus orang. Belum lagi yang tinggal di Makah bersama Abu Abbas. Hal demikian terjadi pada jaman Rasulullah Saw, berarti merupakan Sunnah Nabi Saw yang dijadikan dasar perjuangan bagi umat Islam dewasa ini. Banyak ayat yang melarang kita mengangkat pemimpin dari golongan yang anti hukum-hukum Allah. Dengan itu berarti kita dituntut komitmen kepada pemimpin yang haq. Bila tidak demikian berarti dalam posisi “Dholaalah (sesat)”. -------------------------------------------------------17. Tanya : “Apa yang menjadi dasar hukum bahwa kepemimpinan NII, 7 Agustus 1949 adalah satu-satunya yang haq bagi umat Islam Indonesia ?” Jawab : Lembaga kepemimpinan umat Islam Indonesisa PSI I (Partai Syarikat Islam Indonesia), pada tahun 1934 sudah mengadakan kongres. Dalam Program Azas menetapkan tujuan perjuangan Partai Syarikat Islam Indonesia menegakkan Negara Islam Indonesia yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Pada waktu itu ditetapkan pola hijrah fisik. Pada tahun 1935 Agus Salim mengajukan pencabutan prinsip hijrah. Maka, pada tahun 1936 diadakan kongres XXII (Juli), pecah, yang satu mengatas-namakan P S I I penyadar ; yang satu lagi tetap sebagai P S I I dengan sistem hijrah fisik. Selanjutnya pada tahun 1939, P S I I hijrah fisik itu pecah lagi. Yang satu menjadi P S I I Gapi (gabungan partai Islam)

300

dengan istilah hijrah batin saja. Yang satu tetap sebagai P S I I berprinsip hijrah fisik. Kemudian P S I I berprinsip hijrah fisik itu mendirikan Institut Suffah di Malangbong Jawa Barat sebagai pengkaderan bagi perjuangan fisik guna melaksanakan program azas waktu kongres tahun 1934. Waktu penjajahan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya menghadapi Inggeris dan Amerika, waktu itu Jepang menguasai beberapa negeri seperti Korea, Kamboja, Birma dan lainnya yang digempur. Dalam keadaan itu Jepang memberi kesempatan melatih para pemuda Indonesia. Kesempatan demikian dipergunakan oleh Institut Suffah yang dianggap oleh Jepang untuk kepentingan Jepang. Dengan demikian Institut Suffah berhasil melatih para siswanya, sehingga terbentuklah Tentara Sabiilillah dibawah komando PSII hijrah fisik. P S I I hijrah tetap bukan Masyumi, tetapi memanfaatkan wadah Masyumi yang direstui Jepang. Dengan itu S M Kartosuwirjo menjadi ketua Masyumi Jawa Barat. Sesuai dengan Kongres 1934 bertujuan mendirikan Negara Islam Indonesia yang berdasarkan Qur’an dan Sunnah, maka juli 1945 S M Kartosuwirjo mengusulkan kepada pimpinan pusat Masyumi untuk mendirikan N I I, Masyumi menolaknya. Akan tetapi, terhadap Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945 yang diprakasai oleh golongan Nasionalis sekuler yang ditanda-tanganioleh Sukarno dan Hatta, Masyumi merestuinya. Bisa jadi mereka (Masyumi) menolak usulan dari Kartosuwirjo, kemudian merestui Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, karena percaya kepada pihak nasionalis sekuler yang telah menanda-tangani perjanjian tertulis “Piagam Jakarta” yang didalamnya dicantumkan delapan kata yaitu “...dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemelukpemeluknya.” Dengan proklamasi tersebut di atas, maka tidak ada harapan lagi bagi umat Islam yang akan memproklamasikan Negara

301

Islam Indonesia. Satu-satunya yang masih bisa diharapkan bagi pihak Islam ialah dibuktikannya Piagam Jakata. Namun, kenyataannya malah sebaliknya dari itu, yakni sehari sesudah Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, delapan kata yang tercantum dalam Piagam Jakarta itu dihapus ! Sehingga lahirnya Republik Indonesia diawali dengan penghapusan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya ! Bisa saja beberapa alasan dimunculkan, tapi yang jelas ialah karena umat Islam itu sendiri sudah terpisah dari sejarah perjuangan Rasulullah sehingga rela ikut merestui / mengangkat orang-orang yang berjiwa sekuler sebagai pimpinan negara. Yang akhirnya begitu sehari sesudah berkuasa, kaum sekuler itu segera menghapus perjanjiannya -Rupanya umat Islam Indonesia sebelumnya tidak sadar bahwa tanda tangan kaum nasionalis sekuler dalam Piagam Jakarta itu sebagai usaha penipuan ! Jadi, sejak 18 Agustus 1945 atau satu hari sesudah proklamasi sudah tidak ada lagi wadah perjuangan untuk menegakkan yang haq. Piagam Jakarta yang tadinya oleh umat Islam dianggap sebagai “jembatan emas”, ternyata dikhianati oleh para pemimpin nasional sekuler alias kaum pendidikan Barat. Oleh karena itulah, sewaktu sebagian laskar Hizbullah di Jawa Barat melebur menjadi T N I (Tentara Nasional Indonesia), maka sebagian besar laskar Sabiilillah tidak mau menjadi TNI. Adalah wajar bila lasykar Sabiilillah (kader Suffah) tidak mau melebur menjadi T N I, karena kekhawartiran terlepas dari tujuan membela tegaknya hukumhukum Islam, yang mana TNI itu ialah tentara R I, sedangkan R I ( Republik Indonesia ) itu yang sudah menghapus kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya !

302

Dengan demikian,“lantas bagaimana cita-cita umat Islam Indonesia untuk selanjutnya ?” Tentu, terus mengadakan pengkaderan sambil berdo’a kepada Allah hingga memberikan Karunia-Nya agar jalan untuk menegakkan hukum-hukum-Nya tidak buntu. Kaum nasionalis sekuler yang telah mengingkari janji dengan mencoret delapan kata tersebut di atas tadi, kena balasan ‘Hukum Karma’ dengan dua kejadian ingkar janji oleh pihak Belanda, sebagaimana di bawah ini: 1). Perjanjian Linggarjati, 15 Maret 1947, Pemerintah R I mengakui berdirinya NIS (Negara Indonesia Serikat) yang wilayahnya Borneo (Kalimantan) dan Timur Besar, sehingga wilayah R I tinggal Sumatra, Jawa dan Madura. Meskipun dengan perjanjian itu jelas R I kalah, namun diingkari oleh Belanda dengan serangan (agresi ) Belanda ke-I, 21 Juli 1947, sebelum sampai ke Yogyakarta distop oleh PBB. 2). Akibat dari Agresi Belanda ke I itu terjadilah Perjanjian Renville ke I , 17 Januari 1948 yang isinya antara lain: * Pemerintah R I harus mengakui kedaulatan Belanda atas Hindia Belanda seluruhnya, sampai batas yang ditentukan oleh Belanda untuk menyelenggarakan kedaulatan ini kepada Negara Indonesia Serikat. * Dalam waktu tidak kurang dari 6 bulan, dan tidak lebih dari satu tahun sesudah ditandatangani, maka di berbagai daerah di Jawa, Sumatra dan Madura akan diadakan pemungutan suara, untuk menentukan apakah di daerah-daerah tersebut akan turut dalam Republik Indonesia atau masuk di bagian lain di dalam lingkungan Negara Indonesia Serikat. Peristiwa itu menyebabkan pada tanggal 10 - 11 Pebruari 1948 S M Kartosuwirjo mengadakan konferensi di Cisayong kab. Tasikmalaya, antara para tokoh Islam, ulama dan

303

organisasi Islam antara lain: Masyumi, GPII, Hizbullah dan Sabilillah. Dalam konferensi itu diputuskan antara lain: * Membubarkan Masyumi wilayah Jawa barat. * Membentuk Majlis Islam sebagai komite pemerintahan sementara. * Melebur Sabiilillah dan Hizbullah menjadi T I I ( Tentara Islam Indonesia ). Di beberapa daerah yang dikuasai T I I sudah bisa dilaksanakan hukum Islam seutuhnya. Secara de facto Jawa Barat praktis dibawah kekuasan T I I yang direncanakan semenjak Institut Suffaah. Walaupun pemerintahan sementara itu sudah de facto, namun belum diproklamasikan secara resmi menunggu situasi yang lebih tepat. Sementara menunggu waktu yang lebih tepat, maka sebelum waktu satu tahun dari Perjanjian Renville, tiba-tiba Belanda mengingkari janjinya lagi dengan agresi yang ke-II menyerang Yogyakarta. Sukarno dan Hatta menyerah, dengan sidang Dewan Menteri di Gedung Agung Yogyakarta memutuskan mengibarkan bendera putih. Kalau saja ada yang bertanya, ”Apa sebabnya sampai terjadi demikian kepada para pemimpin R I ?” Maka, mungkin saja bila ada yang menjawabnya, “ Itulah ‘Hukum Karma’ akibat dari mengingkari perjanjian dengan umat Islam Indonesia, yang mana sehari sesudah proklamasi itu pihak Nasionalis itu berani menghapus kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, sehingga proklamasi kemerdekaannya juga ikut lebur !” Sebelum Pengibaran Bendera Putih pun, nilai Proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia, 17 Agustus 1945 itu sudah lebur, karena mengakui lagi kedaulatan Belanda atas Hindia Belanda hal itu sama artinya dengan melenyapkan nilai “Proklamasi Kemerdekaan”

304

Sebab itu tibalah saatnya bagi umat Islam Indonesia memproklamirkan Negara Islam Indonesia yang didalamnya menyatakan bahwa hukum yang berlaku adalah hukum Islam. Dimulai dengan Bismillaaah ; diakhiri dengan Allahu Akbar ! Sebagai satu-satunya wadah kepemimpinan yang haq di Indonesia, karena proklamasinya memiliki nilai “Bara’ah”, yakni lepas dari sistem kepemimpinan yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah ! Di antara bunyi Proklamasi N I I itu di dapat kalimat “Hukum yang berlaku di dalam Negara Islam Indonesia ialah hukum Islam”. Kalimat tersebut adalah pernyataan “Bara’ah”, lepas dari sistem di luar Islam sehingga berarti: a). Tidak kompromi dengan musuh-musuh Islam. b). Siap menghadapi segala risikonya dalam menterapkan hukum-hukum Islam di Indonesia. c). Bagi yang memperjuangkan kemenangan N I I berarti menegakkan hukum-hukum Allah, dan tidak terlibat dari berlakunya hukum-hukum bawaan kafir Belanda yang terus dipertahankan oleh pemerintah R I, Pancasila ! Sewaktu Kaum Quraiys mengajak kompromi kepada Nabi Saw, beliau menolak secara tegas, sebagaimana disebutkan dalam ayat yang bunyinya: “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.” -(Q.S.109 Al-Kaafiruun:2). Pernyataan dalam ayat di atas itu mengandung arti “Bara’ah”, lepas dari sitem kafir. Sebab, arti secara luas bahwa “ tidak menyembah apa yang kamu sekalian sembah” yaitu “tidak mengikuti segala aturan / hukum yang dibuat oleh kaum kafir yang jelas bertolakbelakang dengan hukumhukum Allah”.

305

Akibat pernyataan (proklamasi) baro’ah yang dikemukakan oleh Nabi Saw, maka kaum musyrikin mengadakan rapat untuk membunuh Nabi itu sehingga terjadi pengepungan terhadap rumah pribadi Nabi Saw. Padahal sebelumnya itu penguasa Quraiys bersedia mengangkat Nabi Saw sebagai raja, menjadikan orang terkaya di kota Makah, dan mencarikan istri yang paling cantik seandainya Nabi Saw bersedia saling menyembah bergiliran. Pemerintah musyrikin jaman sekarang juga menyanjungnyanjung “Ulama Syu’(jahat)”, yakni ulama yang ‘mengekor’ kepada kehendak para penggede dari pemerintah R I, sehingga timbal balik dalam pengabdian atau penyembahan. Yakni, Ulama Syu’ membela hukum-hukum kafir dengan cara mendukung pemerintah R I, maka para pengayom hukum kafir pun sholat bersama dengan Ulama Syu’. Hal demikian berarti saling menyembah atau mengabdi ! Si kafir menyembah kepada apa yang disembah oleh ulama syu’; ulama syu’ juga menyembah kepada hukum-hukum kafir. Sehingga “menjadi sama” (perhatikan Q.S.4:89). Proklamasi Negara Indonesia, 7 Agustus 1949 mengandung nilai “Baro’ah” sesuai dengan statement yang dibacakan oleh Nabi Saw kepada kaum kafirin (Q.S.109:1-2). Sebab itu, sejak awalnya sudah memperoleh tekanan dari musuh-musuh Islam. Lumrah saja karena pemerintahan yang dipimpin Nabi Saw juga sebelum memiliki kekuatan yang bisa mengimbangi kekuatan kaum kebangsaan Quraiys, terus mengalami gempuran (Q.S.2:217) juga penangkapan jika diketahui (Q.S.18:20) oleh musuh. Di masa kebatilan melanda dengan berlakunya hukum-hukum jahiliyah (Q.S.5:50), kemudian diproklamasikan yang haq maka wajib setiap mu’min komitmen kepadanya. Sebab, jika tidak maka berada pada posisi yang batil dan terlibat dengan segala produk kebatilan.

306

Sewaktu Nabi Saw memegang kendali pemerintahan pernah mengikat perjanjian dengan kaum musyrikin Quraiys. Tetapi, begitu perjanjian itu dilanggar oleh pihak musyrikin, maka langsung Nabi Saw menyerang pemerintah Makah. Umat Islam Indonesia waktu membuat Perjanjian Piagam Jakarta dengan pihak nasionalis sekuler, belum memiliki pemerintahan tersendiri. Begitu sehari sesudah pihak nasionalis sekuler berkuasa dan melanggar janjinya, maka umat Islam Indonesia cuma mengelus dada, karena tidak punya proklamasi negara yang melindunginya. Alhamdulillaah, sejak 7 Agustus 1949 kita sudah punya Proklamasi Negara Islam Indonesia yang mencantumkan berlakunya hukum-hukum Islam. Sebagai “Baro’ah” sehingga tidak terikat dengan perjanjian-perjanjian sebelumnya, sehingga pula kita bisa bertindak terhadap mereka sesuai dengan Sunnah Nabi Saw. Perhatikan Firman Allah yang bunyiNya: “( Inilah pernyataan ) pemutusan perhubungan daripada Allah dan Rasul-Nya ( yang dihadapkan ) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian ( dengan mereka).”_(Q.S.9 At-Taubah:1). Mayoritas penduduk Indonesia memeluk Islam, pasti tidak semuanya yang berpegang pada sunnah Rasulullah Saw itu cuma dalam omongan atau dalam pengakuan, tetapi pasti ada yang dalam prakteknya. Sebab, sunnah itu bukan hanya ngomong, melainkan praktek / perbuatan. Sedangkan perbuatan Rasulullah itu akan tetap terulang oleh yang benar-benar mu’min. Perhatikan ayat yang bunyinya:

307

“Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.”_ (Q.S.33:62). Negara Islam Indonesia sudah merealisasi (membuktikan) isi proklamasinya dengan melaksanakan ayat-ayat Al - Qur’an di wilayah yang pernah dikuasainya, di antaranya: a). Menjalankan hukum pidana Islam (Q.S.5:38, 45. S.24:2. 2:178) b). Mempunyai kepemimpinan tersendiri sehingga tidak didikte oleh manusia yang setengah-setengah (fasik/kafir) terhadap Islam (Q.S.5:51, 57. S.7:3. S.3:28. S4:144). c). Memiliki kekuatan militer tersendiri umat berpungsi sebagai tentara Islam ( Q.S.8:60. S.4:71, 81 ). d). Menumpas setiap kekuatan yang menentang tegaknya syariat Islam ( Q.S.8:39. S.2:193. S.9:73, 123 ). Adakah kepemimpinan di Indonesia, sebelum N I I yang menjalankan ayat-ayat tercantum di atas ? Jelas, tidak ada ! Dengan demikian, itulah yang menjadi dasar bahwa N I I adalah satu-satunya wadah kepemimpinan yang haq di Indonesia. Dan bagi yang tidak berada di dalamnya berarti dalam batil, terlibat dalam pelaksanaan hukum-hukum jahiliyah (Q.S.5:50). Tidak ada jalan di tengah kecuali bagi yang raguragu (mudzabdzabiin). Dan yang ragu-ragu itu ialah yang tidak kesana ; tidak juga kemari, maka pasti dalam dholaalah alias sesat. Perhatikan ayat yang bunyinya: “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan orang-orang beriman dan tidak (pula) kepada golongan orang-orang kafir. Barangsiapa yang disesatkan Alah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan untuk memberi petunjuk) baginya.”_(Q.S.4 An-Nisaa:143).

308

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman. Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.”_(Q.S.58:140). --------------------------------------------------------18. Tanya : “Apa sebabnya umat Islam Indonesia meproklamasikan negara, 7 Agustus 1949 namanya Negara Islam Indonesia, tidak memakai nama yang mengarah kepada dunia ?” Jawab: 1). Adanya kenyataan bahwa umat Islam untuk bersatu belum bisa menjangkau sedunia, yang mana umat Islam di tiap-tiap negeri masih menghadapi persoalannya masing-masing. Sehingga belum bisa eksis, dalam arti belum bisa menguruskan umat Islam di negeri lain. Dengan kondisi sedemikian itu, maka untuk sementara waktu perjuangannya diserahkan kepada umat Islam dinegerinya masing-masing. 2). Sebelum tanggal 7 Agustus 1949, pada waktu itu di beberapa negara selain Indonesia belum muncul kepemimpinan Islam yang bersistem seperti jaman Khalifah Rasyidiin sebagaimana N I I. Dengan demikian para pencetus N I I belum mampu merekrut mereka yang masih samar-samar, masih bercampur-baur dengan kaum nasionalis sekuler yang bekerja sama dengan kaum penjajah dari Eropa guna lepas dari Daulah Ustmaniah. Jangankan untuk yang di luar negeri yang tidak sebulan sekali bertemu, dengan umat Islam di dalam negeri saja yang sering bertemu, sulit menilai ideologi mereka. Apalagi untuk diluar negeri, yang baru saja dikuasai Inggeris, Perancis, Italia dan Spanyol sehingga lepas dari dari Daulah Ustmaniah, serta bergejolaknya sekularisme di Turki dipimpin oleh Musthafa

309

Kamal Ataturk yang berpengaruh keseluruh negeri Islam. Sedangkan bagi ummat Islam yang di Indonesia tidak punya waktu lagi untuk menunggu mereka. 3). Sudah menjadi sunnattullah, dan ketetapan alam bahwa setiap perjuangan adalah melalui tahapan batas kemampuan, tidak bisa sekaligus. Juga diperintahkan oleh Allah SWT mempersiapkan kekuatan menurut kemampuan (Q.S.8:60). Sudah fitrahnya manusia dijadikan bertahap (Q.S.84:19), maka kemampuan jangkauan juangannya juga bertahap. 4). Memperhatikan ayat yang bunyi-Nya:

“Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak berbuat seperti itu, niscaya terjadi penindasan dan kerusakan yang besar di muka bumi.”_(Q.S.8 Al-Anfaal:73). Jelas sekali bahwa musuh itu saling tunjang - menunjang dalam memperkokoh kekuatan mereka guna bisa menguasai pihak Islam sehingga tidak berdaya untuk mempraktekkan Hukum-hukum Islam secara keseluruhan. Kita diwajibkan oleh Allah, bantu membantu mengimbangi kekuatan musuh. Ingat, bahwa yang disebut “kekuatan” untuk bisa menjalankan hukum-hukum Allah itu, sejak jaman Nabi juga adalah dengan adanya negara ; diawali oleh proklamasinya dan digariskan oleh undang-undang ; diperkuat oleh umat yang merupakan militer. Tegasnya, bahwa kekuatan menegakkan hukum Islam itu bukan ditentukan oleh luasnya dalam pengklaiman wilayah apalagi sedunia. Politik internasional sekarang pun mengakui bahwa tegaknya hukum dalam negara, meski kecil dijamin untuk berlakunya hukum.

310

Berbeda lagi dengan yang bukan negara, meski sekupnya sedunia, kalau bukan negara tetap saja tidak ditakuti oleh yang punya negara, sehingga tidak bisa menjalankan hukum di dalam negara. Dalam ayat (Q.S.8:73) di atas tadi kita diperintahkan bantu membantu itu untuk mengimbangi kekuatan musuh, yang mana musuh juga punya kekuatan dengan bantu membantu antara mereka dalam bentuk struktur kepemimpinan negara. Musuh yang dihadapi oleh Nabi Saw ialah musuh yang terdekat, seperti pemerintahan Quraiys Makah. Musuh memiliki struktur militer dari atas sampai kebawah, maka Nabi pun membuatnya. Musuh membuat aparatur pemerintahan dari atas sampai bawah, maka Nabi juga menyusunnya, sehingga mengimbangi kekuatan musuh. Jelas, dilakukan dalam sistem yang berbeda, sehingga benderanya juga beda. Adapun Nabi tidak menyebutkan secara resmi Negara Islam Madinah, karena kondisi waktu itu musuhnya juga tidak menamakan diri Republik Quraiys Makkah. Sebab itulah umat Islam Indonesia menamakannya Negara Islam Indonesia, karena musuhnya di Indonesia ini pada waktu itu telah memakai nama NIS (Negara Indonesia Serikat), ciptaan Belanda, yang kemudian RIS (Republik Indonesia Serikat) yang tanggal 17 Agustus 1950 menggantinya dengan nama R I (Republik Indonesia). 5). Rasulullah Saw diutus untuk seluruh alam, namun perjuangan itu diawali di Makah kemudian di Yasrib (Madinah). Pada permulaan Nabi di Madinah dibuatlah undang-undang (shahifat ) Madinah. Diantara undang-undang itu ada yang bunyinya:

‫وان يثرب حرام جوفها لهل هذه الصحيفة‬
“Sesungguhnya Yastrib dan lembahnya suci bagi warga shahifat ini.” (point 39).

‫...وانه من خرج امن ومن قعد امن بالمد ينة‬
“....Siapa saja yang keluar dari kota Madinah dan atau tetap tinggal di dalamnya aman....”.(point 47).

311

Pasti bahwa dicantumkannya nama Yasrib atau Madinah dalam undang-undang itu, karena ada kegunaannya. Di antaranya: a). Sebagai kejelasan tempat pemerintahan. Sebab, kalau tidak jelas tempatnya akan kemana orang berkirim surat atau mendatanginya. Seandainya pada undang-undang itu disebutkan “dunia” atau tidak disebutkan tempatnya, mungkin saja diluar Madinah ada yang berkata, “Dunia itu bulat, termasuk lautan dan seluruh daratan, kemana kita mau menghubunginya ?” Begitu juga Negara Islam Indonesia, nama Indonesia itu menunjukkan kepada tempat Pemerintahan Negara Islam, supaya semua tahu bahwa adanya di Indonesia. Misalkan, seorang anak yang sekolah di SMP Negeri 6 memberi alamat kepada kawannya yang di luar negeri, tentu tidak cukup dengan SMP Negeri 6, melainkan ditambah dengan Jakarta atau Surabaya. b). Kejelasan wilayah guna dijadikan basis perjuangan atau tempat mengkonsentrasikan kekuatan. Madinah ‫ مدينة‬berasal dari kata “diin ‫( ديفن‬aturan)”. Jadi, Madinah berarti tempat ‫ف‬ belakunya peraturan (Islam). Sehingga oleh Rasulullah dijadikan nama wilayah / kota yang sebelumnya bernama Yatsrib, sebagai tahapan pertama sehingga pengembangan selanjutnya diwajibkan kepada umat sesudah wafatnya Nabi Saw, termasuk kepada kita. Tentu perjuangan itu secara bertahap sebagaimana yang dipolakan oleh Rasulullaah Saw dengan memproklamasikan berlakunya hukum Islam di wilayah yang terjangkau. c). Supaya jelas mana yang didahulukan, serta jelas dari mana dimulainya. Bereskan dulu yang sedang dikerjakan, baru kerjakan yang lain (perhatikan Q.S.94 Alam Nasyrah:7). Yang namanya menanam padi saja jelas dari mana dimulainya, serta mana yang harus didahulukannya. Maka, apalagi berjihad menegakkan Kalimatillaahi hiyal ‘ulyaa !

312

----------------------------------------------19. Tanya : “Jika tadi disebutkan bahwa perjuangan itu harus dimulai dari yang terjangkau seperti di Indonesia, tidak usah sedunia dulu, maka mengapa tidak bisa memproklamirkannya untuk sekabupaten saja atau satu kecamatan ?” Jawab : 1). Wilayah yang dijajah oleh Belanda di Indonesia pada waktu itu seluas Indonesia. Maka, bila pada waktu itu umat Islam Indonesia tidak mengklaim wilayah se-Indonesia, misalnya cuma satu kabupaten, tentu masih banyak daerah yang tersisakan dan berarti umat Islam tidak mau bersatu. Sedangkan jauh sebelumnya, Umat Islam di Indonesia telah membentuk kesatuan politik guna menegakkan negara yang didalamnya memberlakukan hukum-hukum Islam. Hanya musuh Islam saja, pada waktu itu kolonial Belanda menyusupkan pengacau kedalamnya guna memecah belah persatuan sehingga timbulnya aliran yang menyimpang dari tujuan Islam. Namun demikian jihad tidak bisa berhenti karena adanya gangguan, maka pada tahun 1934 terjadilah kongres Partai Syarikat Islam Indonesia dengan keputusan bertujuan mendirikan Negara Islam Indonesia. Singkatnya jika yang dijajah se-Indonesia, maka direbutnya juga se- Indonesia. 2). Tidak seimbang dan tidak logis atau sungguh jauh dari jangkauan jika musuhnya menguasai wilayah se-Indonesia lalu kita memproklamasikannya cuma satu kabupaten, nanti bisabisa bakal banyak negara di Indonesia, sedangkan sebelumnya juga umat Islam di seluruh Indonesia sedang menuju persatuan. 3). Justru Umat Islam Indonesia memproklamirkan untuk seIndonesia ( NII ), guna mengimbangai (Q.S.8:73) kekuatan musuh sehingga terjangkau oleh kemampuan. Sehingga pula

313

akhirnya umat Islam se-Indonesia bisa dipersatukan dalam Negara Islam Indonesia. ----------------------------------------------------20. Tanya: “Di antara bunyi Proklamasi N I I didapat kata-kata “Kami ummat Islam Bangsa Indonesia”. Dari itu apa perbedaan antara pengertian jiwa kebangsaan yang disebut “ashobiyyah” dengan pengakuan sebagai bangsa ?” Jawab: Jiwa kebangsaan yang disebut ashobiyah ialah yang mengandung arti cinta terhadap satu bangsa, hanya karena sebangsa dengan dirinya, tanpa memperdulikan salah atau benar. Jadi, orang yang berperang membela kebangsaan (Ashobiyah), artinya bahwa yang menjadi dasar utama bagi dirinya berperangnya itu ialah karena bangsanya sedang berperang dengan bangsa lain, sehingga dirinya berpihak kepada bangsanya itu dengan tidak memperdulikan mana yang salah dan mana yang benar. Dalam arti lain bahwa berperang nya itu bukan karena membela kebenaran (hukum) dari Allah. Pengertiannya, meskipun bangsanya itu dalam posisi yang salah, namun tetap dibela, karena satu bangsa. Sebaliknya, walaupun dalam posisi yang benar (haq), namun karena tidak sebangsa, maka diperanginya. Itulah yang dimaksud “Ashobiyah”. Maka, pantaslah mereka yang telah berperang mengusir bangsa asing, merasa puas walau hasilnya masih saja hukumhukum kafir warisan bangsa asing. Hal itulah yang dimaksud oleh hadist mengenai yang mati karena Ashobiyah. Perhatikan sabda Nabi Saw:

‫ليس منا من دعا الى عصبيه.وليس من قاتل على عصبيه.وليس منففا‬ ‫)من مات على عصبية )رواه ابو داود‬
“Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada kebangsaan. Dan bukan pula dari golongan kami orang yang berperang karena kebangsaan. Dan tidak juga termasuk golongan kami yang mati karena kebangsaan.” (HR Abu Daud).

314

Adapun “pengakuan sebagai bangsa”, yaitu sekedar menyatakan diri sebagai salah satu dari bangsa yang ada. Hal sedemikian merupakan keharusan dengan tujuan menjelaskan. Sebab, tidak benar sebagai Bangsa Indonesia jika mengakukan dirinya Bangsa Belanda atau bangsa lainnya. Soal pengakuan sebagai bangsa diantara banyak bangsa dijamin keberadaannya. Sebagaimana dikemukakan dalam ayat yang bunyinya:

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”_(Q.S.49:13). Dari ayat di atas itu dimengerti bahwa adanya pengakuan sebagai bangsa supaya bangsa lainnya mengenal, atau bisa saling kenal mengenal adalah suatu kepastian. Dalam ayat itu disebutkan bahwa ukuran yang paling mulia adalah taqwanya kepada Allah. Dengan demikian tidak boleh salah atau benar adalah bangsa sendiri lalu dibela. Kalau asal bangsa sendiri biar salah lalu dibela, maka itulah Ashobiyah. ----------------------------------------------------------21. Tanya: “Apa sebabnya Proklamasi Negara Islam Indonesia, 7Agustus 1949 bukanlah proklamasi negara dalam negara ?” Dan harus bagaimanakah kita dalam mempertahankannya ? Jawab :

315

Menjawab pertanyaan ini, penulis akan menguraikan sebagian dari apa yang sudah dikemukakan dalam tulisan yang berjudul “Furqon di Indonesia", pada bagian terakhir yang ditulis pada bulan Mei 1986 M. dibawah ini: Hijrahnya Umat Islam Indonesia Menghadapi Rintangannya Memperhatikan surat Ali Imran ayat 28-30 . Juga, memperhatikan sejarah Nabi Saw bahwa pada jaman Nabi pun tidak semua pengikut Rasul itu dapat melakukan hijrah dalam bentuk teritorial, melainkan tetap mereka tinggal di daerah Mekah atau di wilayah lainnya, karena terpaksa ditugaskan Rasulullah Saw. Namun, dalam aqidah mereka hanya mengakui pemerintahan yang berdasarkan Islam di Madinah. Sejajar dengan itu, bila kondisi dan situasi dalam mengemban amanat dari Alloh SWT, mengharuskan tinggal di Indonesia, maka berdiamlah di Indonesia karena Indonesia pun bagian dari bumi tempat berbakti kepada Alloh. Kita mempunyai hak untuk menjadikan Indonesia tempat bersujud yang sebenarnya kepada Alloh. Juga, berhak membebaskan Indonesia dari kekuasaan yang menolak berlakunya hukum Islam secara kaaffah. Serta wajib mendepak manusia-manusia yang telah merampok hakhak kemerdekaan kita mengamalkan ketentuan Kitabullah. Kita mutlak di Indonesia ini memiliki garis pemisah dari kepemimpinan yang batil. Untuk itu perhatikan sekelumit sabda Nabi SAW:". . . Orang yang berhijrah (muhajir) yaitu yang pindah dari apa yang dilarang oleh Alloh. " (Hadist R. Bukhori). Cukup jelas bahwa yang menjadi titik tolaknya berhijrah itu, bukanlah meninggalkan tempat. Akan tetapi keharusan meninggalkan hal yang batil serta pindah kepada yang hak. Dalam kalimat lain yaitu beralih dari sturuktur thagut kepada yang berdasarkan "kebenaran Alloh SWT" atau ingkar dari pemerintahan yang bukan Islam kepada yang berpedoman hukum-hukum Islam. Oleh karena itu, bahwa umat Islam Indonesia pun pada dasarnya sudah melakukan “hijrah", yang mana telah meninggalkan struktur kolonial Belanda, pindah

316

kepada stuktur Negara Islam Indonesia (NII) yang berdasarkan kepada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW (lihat pasal 2, ayat 12 konstitusi NII). Umat Islam Indonesia telah menyatakan diri berhijrah (baro’ah-nya ) dari pemerintahan Belanda. Yang mana sebelum itu kolonialis tersebut telah mengambil alih kedaulatan dari kaum nasionalis sekuler Indonesia ketika pemerintahan Sukarno-Hatta mengibarkan bendera merah putih pada tanggal 19 Desember 1948 di Yogyakarta ". . . dia bersama banyak pemimpin lain termasuk Hatta, Syahrir dan Suryadarma memilih untuk mengibarkan bendera putih dan menyerah”(“Tempo”,20 Maret 1982 hal.15 ). Dengan pengibaran bendera putih itu, maka sejak saat itu juga secara de jure bahwa Proklamasi Kemerdekaan yang pernah diumumkan oleh Sukarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, pun telah bubar menyerah total sewaktu agresi Belanda, tanggal 19-121948 di Yogyakarta. Sebab itu, supaya kita mengetahui adanya proses yang merintangi NII, maka selanjutnya kita ungkap dalam penuturan berikut: 1). Kronologi Mengenai Hilangnya Nilai Proklamasi 17-81945 Sebenarnya, sebelum peristiwa 19 Desember 1948 pun telah terjadi dua kali penghianatan oleh para pemimpin RI itu terhadap nilai Proklamasi itu sendiri. Buktinya ialah: a). Bahwa sebagaian bunyi proklamasi 17-08-1945 "Menyatakan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia". Akan tetapi, tanggal 25 Maret 1947 dalam "Persetujuan Linggar Jati" mereka telah mengakui berdirinya "NIS" (Negara Indonesia Serikat) yang wilayahnya yaitu Borneo (Kalimantan) dan Timur Besar di bawah kekuasaan Belanda. Sehingga wilayah kekuasaan Republik Indonesia tinggal Sumatera, Jawa dan Madura.

317

b). Kemudian pada tanggal 17 Januari 1948, mereka itu menerima pula dasar-dasar persetujuan Renville ke I yang isinya antara lain: * Pemerintahan Indonesia harus mengakui kedaulatan Belanda atas Hindia Belanda seluruhnya, sampai batas yang ditentukan oleh Kerajaan Belanda untuk menyelenggarakan kedaulatan ini kepada Negara Indonesia Serikat. * Dalam waktu tidak kurang dari 6 bulan dan tidak lebih dari satu tahun sesudah ditandatangani, maka di berbagai daerah di Jawa, Sumatera dan Madura akan diadakan pemungutan suara, untuk menentukan apakah di daerah-daerah tesebut akan turut dalam Republik Indonesia atau masuk di bagian lain di dalam lingkungan Negara Indonesia Serikat. Dengan diterimanya dasar-dasar Perjanjian Renville itu, maka wilayah kekuasaan proklamasi kemerdekan Indonesia itu menjadi lebih kecil lagi (sampai batas demarkasi Van Mook). Jelas, ini penghianatan terhadap nilai proklamasi 17 Agustus 1945 oleh para pemimpinnya itu sendiri. Dengan mengakui adanya kedaulatan Belanda di bagian wilayah Indonesia, juga menyetujui diadakan pemungutan suara yang disodorkan Belanda bagi penentuan kedaulatan, berarti leyaplah nilai proklamasi kemerdekan seluruh bangsa Indonesia. Adanya penerimaan terhadap dasar-dasar dari kedua peristiwa perjanjian dengan Belanda itu, telah mengisyaratkan bahwa para pemimpin Republik Indonesia itu sudah tidak bertanggung jawab lagi terhadap proklamasinya. Sehingga bersedia didekte oleh kaum penjajah. Klimaks dari sejarah itu membuat kaum imperalis tesebut tadi berani menyerang dan menduduki ibu kota Yogyakarta. Dan membuatnya Republik Indonesia menyerah secara keseluruhan kepada Belanda. Dalam pada itu pemimpi-pemimpin Indonesia telah kehilangan muka. “Nasution malah menganggap peristiwa itu "puncak kehinaan” (“Tempo”, 20 Maret 1982,hal.13)”.

318

2). Lenyapnya Estapeta Kepemimpinan Mengenai RI Tentu mereka tidak usah merasa malu dan hina seandainya dalam keadaan itu masih ada estapeta kepemimpinan Sukarno kepada pelanjutnya. Akan tetapi, persoalannya lain lagi, karena mereka menginsafi kenyataan bahwa “Pengibaran Bendera Putih” di tempat kepresidenan itu adalah merupakan peristiwa yang secara total Republik Indonesia menyerah terhadap Belanda. Sehingga melenyapkan landasan estapeta kepemimpinannya. Baik de facto maupun de jure, setelah peristiwa 19 Desember 1948 Sukarno itu bukan lagi presiden yang mana telah menyerahkan Republik kepada Belanda. Memang, pada tanggal 22 Desember 1948 muncul PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) dalam pengasingannya yang diketuai oleh Syafrudin Prawiranegara, namun dalam kenyataannya pula diketahui bahwa PDRI itu tidak ada hubungannya dengan Sukarno. Yang mana Sukarno itu menganggap sepi tehadap PRDI. Sikap Sukarno sedemikian itu mungkin karena merasa tidak memberi mandat tentang dibentuknya PDRI. Hal itu diakui pula oleh syafrudin ". . . saya tidak pernah menerima mandat itu... (“Tempo”,21 Desember 1985 hal.13).” Juga, kita kutip keterangan yang bunyinya:"... Kami tidak pernah menerima pesan yang berisi mandat bagi Syafrudin untuk membentuk PDRI, "ujar Kolonel (pur) Kusnadi, salah seorang teknisi dan radio telegrafis kala itu. (“Tempo”,21 Desember 1985 hal.13)." Ringkasnya, PDRI diibentuk terutama inisiatif penuh tokoh-tokoh sipil di Sumatra Barat (“Tempo”21 Desember1985 hal.13).” Juga, seandainya Sukarno memberi mandat kepada Syafrudin tentang PDRI maka apakah yang akan dijadikan landasan struktural mengenai estapeta kepemimpinannya dari Sukarno ? Bukankah Sukarno bersama dewan menterinya telah frustasi, mementingkan keselamatan pribadi-pribadinya sehingga memilih pengibaran bendera putih sebagai tanda menyerah ? Tidakkah peristiwa pada 19 Desember 1948 dengan keputusan dari sidang Dewan Menteri pemerintahan Sukarno itu, merupakan penumbukkan yang ketiga kalinya terhadap

319

proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh pihak nasionalisnya itu sendiri sehingga Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 itu bubar ? Ingatlah ! ". . bahwa pada tanggal 19 Desember 1948 itu sidang di Gedung Agung Yogya memutuskan tidak memilih jalan gerilya (“Tempo”21 Desember 1985 hal.13).” Dengan Keputusan Sedemikian itu berarti tidak akan meneruskan perjuangan. Dengan itu pula maka jelas tidak ada estapeta kepemimpinan dari RI ke PDRI. 3). Menyerahnya PDRI Bagi pihak Nederland dalam menghadapi beberapa kesatuan gerilya yang telah siap melanjutkan perjuangan di luar kepemimpinan Sukarno, maka pihak Belanda itu bersedia membebaskan Sukarno-Hatta beserta tawanan-tawan lainnya untuk diajak berunding. Adapun dalam menghadapi perundingan tanggal 7 Mei 1949 antara Belanda dengan kaum nasionalis itu, maka ". . Sukarno memberi mandat kepada Moh. Roem untuk berunding dengan Van Royen di pihak Belanda, tidak dengan pengetahuan dan persetujuan PDRI. Padahal, baik de facto maupun de jure, Sukarno bukanlah presiden. Syafrudin menolak isi perundingan Roem-Royen itu. "Kami ingin agar Belanda mengundurkan diri dari seluruh Indonesia, dan bukan hanya dari Yogya, "ucap syarifudin. "Kalau PDRI yang berunding, pasti hasilnya lebih bagus. Tapi Bung Karno memang menganggap sepele PDRI (“Tempo”,21 Desember 1985 hal.13)." Ditambah pula "Sukarno mau berunding, sebenarnya hanya supaya dia cepat keluar dari tahanan, "Kata Syafrudin (Ibid hal.14).” Dengan sikap yang dilakukan Sukarno itu, telah membuktikan sejarah bahwa secara hukum ; baik formal maupun tidak, maka Sukarno tidak tahu-menahu mengenai PDRI. Dan logisnya bila dalam perundingan pada tanggal 7 Mei 1949 (Renville II ) itu, kubu nasionalis kelompok Sukarno tidak mengatas-namakan PDRI. Apalagi bahwa hasil perundingan pada waktu itu pihak Sukarno mengakui bertambah luasnya wilayah kekuasan Belanda yaitu Negara Indonesia Serikat (NIS). Yang mana secara tidak langsung berarti mengakui

320

bedirinya negara boneka tersebut itu di Indonesia. Sehingga wilayah kekuasaan Sukarno hanya di Yogyakarta dan beberapa kabupaten. Hal tersebut di atas itu berarti pula mereka masih mengakui Penjajahan Belanda atas Indonesia, dan mengakui bubarnya proklamasi kemerdekaan bagi seluruh Indonesia, yang timbal baliknya dari Belanda yaitu membiarkan para pemimpin Nasionalis kembali ke Yogyakarta, juga Belanda meninggalkan daerah itu. Padahal dengan ditinggalkanya Yogyakarta oleh kaum Imperalisme itu tidaklah mengandung arti kerugian bagi Belanda. Bahkan darinya mengandung arti kemenangan politik bagi kaum kolonialis tersebut di dunia Internasional. Sebab, di samping de facto maka secara yuridis formal pun kekuasaan tetap ditangan Belanda. Yang mana dari Isinya "Perjanjian Renville II" pun, secara tidak langsung bahwa kubu Yogya telah mengakui kembali “penjajahan Belanda atas Indonesia”. Sehingga hilang nilai kemerdekaan bangsa Indonesia beserta proklamasi 17 Agustus 1945 nya. Dan dengan diterimanya isi perundingan 7 Mei 1949 (statement Roem-Royen yang kedua) oleh pihak Sukarno, berarti pihak Yogya "tidak mengakui eksistensinya PDRI". Sehingga diambil manfaatnya oleh Belanda guna melumpuhkan gerilyanya PDRI yang mungkin tadinya bakal ngotot terhadap Belanda, tetapi menjadi lemah karena menghadapi kubu nasionalis pro Sukarno yang telah kembali ke Yogya, yang mana juga Sukarno itu memihak pada kehendak Belanda daripada ke PDRI. "saya tetap menyesalkan sikap Bung Karno dan Roem yang mestinya berpihak PDRI. Lebih menyakitkan lagi, perundingan Roem-Royen itu dilakukan di belakang kami, "kata Syarifudin. " (“Tempo”,21 Desember 1985 hal.14).” Pada mulanya para pemimpin kubu PDRI itu tidak akan menyerah terhadap kekuatan Sukarno itu di Yogyakarta "Semuanya tak mau kembali ke Yogya ( Ibid )." Akan tetapi, karena kubu PDRI itu memahami bahwa kekuatan dan pengaruh yang dimiliki Sukarno itu lebih hebat daripada Syafrudin, maka

321

PDRI tidak sanggup bersaing dalam menghadapi pentas politik kubu Yogya. Sebagaimana dinyatakan oleh Syafrudin: "Saya sepaham dengan pandangan saudara-saudara, tetapi jangan lupa bahwa dunia luar mengetahui siapa Sukarno - Hatta dan Balans Republik Indonesia lebih berat kepada beliau berdua. . . .(“BPSIM.1981, hal. 350 )." Dan akhirnya pada tanggal 13 Juli 1949 Syarifudin pun datang ke Yogyakarta menyerah kepada Sukarno. Maka, lenyap pula PDRI. Yang berkuasa di Yogyakarta ialah RI, negara pemberian Belanda yang dikepalai oleh Sukarno, sebagai rekayasa dari Belanda dalam Perundingan Renville II tanpa sepengetahuan PDRI, yang berarti RI Yogyakarta itu tidak mengakui eksistensi PDRI. Dengan itu berarti pula Sukarno “tidak mengakui adanya mandat kepada Syafrudin (PDRI)”, dibuktikan dengan tidak berpihak kepada PDRI. Artinya, Sukarno yang merasa berkuasa. Dengan demikian kembalinya Syafrudin ke Yogyakarta itu secara hukum bukanlah menyerahkan mandat, melainkan menyerah kalah. Sebab, tidak masuk akal menyerahkan mandat kepada yang tidak mengakui mandat. Menyerah kepada negara ‘boneka’ (RI pemberian Belanda yang wilayahnya cuma Yogyakarta dan beberapa kabupaten sekitarnya), maka yang ada tetap saja seperti itu. 4). Satu-satunya Jalan Bagi Umat Islam Indonesia Tiga kali peristiwa yaitu: Linggarjati (25 Maret 1947), Renville I(17 Januari 1948), dan pengibaran bendera putih di Yogyakarta (19 Desember 1948), yang mana Belanda telah memainkan api. Juga, para pemimpin nasionalis selalu mengikuti kehendak kaum kolonialis tersebut. Sehingga secara sadar atau tidak, mereka telah mempereteli proklamasi 17 Agustus 1945 hingga lenyap nilainya kemerdekaan Indonesia. Yang mana Indonesia itu bukan hanya batas Yogyakarta. Pada ketika itu tidak ada lagi jalur proklamasi kemerdekaan bagi seluruh Indonesia. Bahkan PDRI pun telah mengakui kembali ke kubu Yogya. Dan akhirnya mereka cukup puas dengan hasil "Persetujuan Renville II", dikasih oleh Belanda cuma "Yogyakarta". Dalam kekosongan seperti itu, tidak ada jalan

322

bagi umat Islam Indonesia selain perlawanan melalui jalur proklamasi 7 Agustus 1949. Yakni Negara Islam Indonesia (NII), yang memiliki "furqon". Sungguh jelas, bahwa pada waktu diproklamasikan Negara Islam Indonesia tersebut tidak ada negara merdeka di Indonesia. Yang ada hanyalah Negara Indonesia Serikat (NIS), sebagai negara boneka penjajah Belanda, serta RI Yogyakarta yang juga sebagai rekayasa dari Belanda, artinya bukan hasil proklamasi. Dengan demikian maka Proklamasi Negara Islam Indonesia bukanlah mendirikan negara dalam negara merdeka. Melainkan, yaitu mendirikan negara hasil merebut dari penjajahan Belanda.. Dikarenakan bahwa bunyi proklamasi Negara Islam Indonesia itu intinya menyatakan berlakunya hukum Islam, maka Belanda memandang proklamasi demikian itu sangat berbahaya bagi Belanda daripada lembaga pemerintahan Yogya yang memakai nilai-nilai hukum dari kolonial Belanda. Pada waktu itu Belanda rupanya memakai pula pribahasa "tak ada rotan akar pun jadi". Sama artinya bila Indonesia tidak sepenuhnya di bawah Nederland, maka biar Belanda menciptakan nama "Republik Indonesia Serikat" asalkan nilainilai hukum bawaan penjajahan itu tetap berlaku di Indonesia. Pihak Belanda memahami nilai ideologi musuh barunya ini. Bahwa kubu NII, 7 Agustus 1949 adalah lebih berideologis dibandingkan dengan musuh yang terdahulu. Belanda yakin bahwa terhadap NII tidak dapat disodorkan perjanjian semodel Linggarjati dan Renville. Kaum penjajah itu sadar bahwa untuk menghadapi NII tidak bisa dilawan oleh Belanda secara langsung. Konfrotasi Terhadap negara yang berazaskan agama yang dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia, berarti menanggung resiko perang yang berkelanjutan, dan merupakan kerugian bagi pihak Nederland. Rupanya kaum kolonial itu berpikir: bila maju akan sia-sia, bila mundur berarti kalah, dan NII bertegak menggilas hukum-hukum produk Belanda. Maka, sebagai jalan keluarnya dari persoalan itu digunakan kembali politik divide et impera, Nederland memecah -belah bangsa Indonesia menjadi dua Kekuatan yang bertentangan. Dan yang

323

satunya yakni kubu nasionalis (RI Yogyakarta) disokong oleh Belanda supaya menolak dan melawan terhadap NII. Terbuktilah hal diatas itu bahwa dalam tujuan menghancurkan jalur proklamasi 7 Agustus 1947 itu, Belanda berunding dengan pihak Nasionalis skuler pada tanggal 23 Agustus - 2 September 1949 dalam hal berdirinya apa yang mereka namakan Republik Indonesia Serikat (RIS), dengan selubung UNI Nederland - Indonesia yang mana dimaksudkan sebagai tandingan terhadap Negara Islam Indonesia agar pengaruh dan kekuatannya menyusut. Dan masyarakat yang awam terhadap agama, supaya banyak memihak negara ‘boneka’ hasil dari konsesus dengan Belanda, sehingga hukumhukum peninggalan kaum kafirin itu tetap berlaku di Indonesia. Kaum Nasionalis sekuler telah bersedia menerima pembentukan RIS oleh Belanda. Hal itu Merupakan bukti pula bahwa yang mereka namakan RI (17-08-1945) itu secara hukum sudah tidak ada lagi. Dan menyerah kepada Belanda.. Akhirnya, maka sejak itu bahwa musuh yang dihadapi oleh Belanda ataupun oleh kubu nasionalis sekuler hanyalah NII. Nyata sekali bahwa antara pihak imperialis dan golongan Nasionalis sekuler dalam menciptakan UNI Nederland Indonesia beserta RIS-nya adalah mempunyai tujuan yang sama ialah guna menghadapi perlawanan terhadap kubu NII, proklamasi 7 Agustus 1949, sehingga hukum Islam tidak bisa diberlakukan di Indonesia. 5). Sikap Kaum Borjuis dan Sikap Kaum yang Mengandalkan Partai-Partai Sebagai Wadah Perjuangan Tentu saja bagi kaum sukeler / borjuis pada waktu itu lebih condong memihak RIS daripada NII. Mereka memilih RIS, sebab di dalamnya itu mereka lebih mudah meraih posisi dalam jabatan yang sesuai dengan ambisi mereka, serta memperoleh berbagai bantuan sarana dari Belanda. Dan memang NII itu tidak cocok dengan ideologi kaum yang berpendidikan Barat umumnya pada waktu itu. Karena itu pula mereka memihak

324

RIS, walau titipan dari Belanda. Artinya, Bukan hasil merebut dari penjajah ! Selain kaum nasionalis sekuler pun pada saat itu ada lagi golongan yang berpredikat Islam, tetapi mereka masih mempercayai perjuangan dengan cara parlementer sehingga menganggapnya sebagai metoda perjuangan yang cocok dengan jaman modern. Mereka menyangka bahwa hukum -hukum Islam itu bakal bisa ditegakkan dengan adanya partai-partai yang memiliki wakil-wakilnya di parlemen pemerintah yang sudah jelas menghapus kewajiban umat Islam menjalankan hukum-hukum Islam.. Mereka tidak mau “Baro’ah”, tidak melepaskan diri dari pemerintahan yang tidak berdasarkan pada hukum Islam itu, mungkin karena tidak paham akan metoda perjuangan Nabi SAW, atau juga memang sengaja maunya begitu. Tegasnya mereka tidak berpegang pada furqon, dan mengira bahwa yang dinamakan kafir itu hanyalah bangsa Belanda. Sehingga berpihak kemana saja yang kuat yang didalamnya ada harapan bagi mereka memperoleh kedudukkan. . Atau memang sebenarnya mereka takut terhadap kaum nasionalis sekuler yang didukung oleh Nederland. Sehingga RIS itu dianggap lebih kuat (Q.S.4:139) daripada NII dari segi persenjataan. Atau sebab pula kelihaian syaithan menggoda agar manusia-manusia itu tidak merasa campur-aduk dalam kebathilan. Dengan godaan nafsu dari syaitan yang tidak terasa itu membuat mereka berjiwa penakut dan bersikap kecut. Mereka lupa terhadap kebesaran Alloh, sehingga tidak menyadari hakekatnya kemenangan di hadapan Alloh SWT. Mereka tidak memperhatikan mengenai hal "Dhoolimi anfusihim" (Q.S.4:97 ) perihal yang menganiaya diri mereka sendiri hingga terlibat dalam penerapan hukum-hukum thagut, dengan membantu langkah-langkah syaithan. Yakni ikut memberi pengaruh kekuatan bagi pihak yang mempertahankan tegaknya hukum-hukum kehendak syaithan, dan melawan negara yang berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullaah SAW.

325

Dengan ditandatanginya RIS pada tanggal 27 Desember 1949 di Nederland, maka secara Ideologi kaum penjajah itu memperoleh beberapa keuntungan besar di antaranya: a. Keuntungan dalam politik yaitu berhasil membuat perlawanan terhadap NII atas bantuan RIS sebagai bonekanya kaum penjajahan. b. Secara ideologi dapat menerapkan nilai-nilai hukum peninggalan mereka, dan berhasil menekan perjuangan Islam di Indonesia. Sehingga tidak mengembang ke seluruh Dunia pada waktu itu. c. Keuntungan moral bagi Belanda yaitu angkat kaki dari Bumi Indonesia, bukan karena kalah perang atau kedaulatannya direbut, melainkan dititipkannya melalui KMB (Konfrensi Meja bundar) pada tanggal 23 Agustus - 2 September 1949 di Nederland. Yang mana RIS itu kelahiran dari konsensus (KMBCHARTER). dengan Belanda. Yang Kita Tempuh Dewasa Ini Mereka berselimut demi kehormatan serta menutupi muka, dan menjaga tanggapan negatip dari dunia Internasional. Maka, akhirnya yang menamakan Republik Indonesia Serikat (RIS) itu telah mengganti nama dengan "Republik Indonesia (RI)" pada tanggal 17 Agustus 1950. Akan tetapi, walau tinta dapat dihapus ; buku dapat diganti. Namun "Sejarah tetap hanya satu kali" bahwa tahun 1950 tetaplah tahun 1950, dan bukan tahun 1945. Maka, pada dasarnya bahwa nama " R I " yang muncul tahun 1950 itu tidak lain hanyalah sebagai penjelmaan dari "RIS" kelahiran dari KMB, yaitu persetujuan (konsensus) dengan Belanda. Dengan demikian maka baik itu namanya RIS maupun RI yang mereka cantumkan pada tanggal 17-08-1950, tidak lain adalah negara boneka kolonial Belanda merupakan "tandingan" atau "pemberontak" terhadap Negara Islam Indonesia (7 Agustus 1949).

326

Mujahid-mujahid Islam di Indonesia telah memproklamirkan negara Islam itu pada tanggal 7 -08-49, berarti pada tanggal tersebut itu adalah tonggak sejarah berhijrahnya atau Baro’ah-nya umat Islam Indonesia dari struktur (penjajahan) pemerintahan yang bathil, serta beralih kepada yang berdasarkan kepada kebenaran Allah SWT. Tegasnya, bahwa pada ketika itu adalah mulai terjadinya "Furqon di Indonesia secara haqkiky", sebagai landasan idiil dalam memisahkan yang haq dari yang berlawanan dengannya. Pada tanggal itulah umat Islam Indonesia mendirikan kedaulatannya tersendiri secara formal. Mempunyai lembaga pemerintahan yang menyatakan berlakunya hukum Islam secara kaffah. Berdaulat dan syah sebagai lembaga ulil amri kita. Disertai pula landasan struktural dalam forum Internasional. Bunyi Proklamasi Negara tersebut di atas itu dimulai dengan kalimat "Bismillaahirahmaanirrahiim" merupakan pengakuan bahwa bumi kita Indonesia ini hak Alloh, dan hukum-hukum yang berlaku di dalamya harus sesuai dengan yang diturunkan oleh-Nya. Juga, ditutup dengan "Allohu Akbar" sebagai bukti pernyataan adanya umat yang bertekad mewujudkan hukum-hukum Islam, sekalipun konsekuensinya berhadapan dengan senjata musuh.. Adanya proklamasi demikian itu sebagai realiasi dari bisikan hati yang mengakui kebenaran Hukum-hukum Alloh. Dan menyakini bahwa tugas pokok adalah mengabdi kepada "Rabbul ‘Aalamiin". Sehingga siap menghadapi komponen apa pun yang merintanginya. Meskipun pada saat ditulisnya buku ini NII sedang tidak de facto, namun secara de jure lembaga negara tersebut itu sudah memiliki landasan hukum dalam Islam sebagai kelembagaan tempat berhijrahnya Umat Islam di Indonesia. Itu bukan merupakan konsep lagi, melainkan berbentuk realitas yang sudah bukti menjalankan hukum-hukum Islam di pelbagai daerah yang pernah dikuasainya secara de facto sebelum terdesak oleh pihak musuh.

327

Tidak ada lembaga kepemimpinan yang telah membuktikan adanya furqon di Indonesia selain daripada NII proklamasi 7 Agustus 1949. Sebab itu diri wajib komitmen menjadi warganya sebagai pernyataan berhijrah atau berbaro’ahnya dari struktur pemerintahan yang tidak berdasarkan Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Begitu juga sebagai penempatan diri, maka walaupun saat disusunnya tulisan ini lembaga Imamah kita ini sedang dalam keadaan terdesak sampai hukum pidana Islam-nya tidak bisa didhohirkan, namun jika sudah berbaiat kepada lembaga furqon tersebut itu, maka memohon kepada Alloh tidak terlibat dosa dari praktek-praktek hukum jahiliyah ala pancasila, bila diri mati setelah memasuki furqon ini. Soal de facto-nya hukum Islam adalah soal amaliyah kita berdasarkan ukuran kemampuan dalam menghadapi musuh. Adapun yang utama ialah berpijak pada nilai hukum Islam dalam persaksian Alloh. Sebab, bahwa menempatkan diri dalam furqon itu "tidak ada masttatho'tum". Tegasnya tidak bisa diukur dengan kemampuan, artinya bahwa semua juga harus melakukannya dalam kondisi bagaimanapun. Dan tiap diri itu pasti mampu bila mau. Resapkan dengan ketulusan hati bahwa beribadah menurut aqidah Islam itu, hubungannya tidak cukup antara pribadi dan Rabb-nya, melainkan harus berhubungan pula dengan kepemimpinan , yakni dalam bermasyarakat. Artinya, seseorang itu wajib melibatkan diri dalam kebersamaan (Q.S.3:103) sehingga merupakan pemerintahan. Sebagaimana umat zaman Nabi SAW, begitu pribadi-pribadinya menyadari adanya kebenaran Alloh, maka langsung pula menyatakan diri untuk ikut serta membela. Sehingga dapat mempertahankan Islam bersama-sama, makna lain yaitu berlembaga. Oleh karena itu, didalam Islam tidak ada hijrah cara diri pribadi, meski hanya dalam bentuk aqidah. Aqidah para pengikut Nabi itu adalah berada dalam ikatan kepemimpinan. Jelasnya yaitu satu dalam segalanya. Sebab, bila tidak demikian berarti diri termasuk didalam kebatilan. Islam adalah mencakup pelaksanaan hukum-hukumnya, tidak ditegakkan oleh pribadi.

328

Jadi, bagaimanakah pandangan kita terhadap ormas-ormas yang menamakan Islam, sedang di bawah dominasi pemerintah Pancasila ? Semuanya bila memungkinkan hanyalah dapat dijadikan alat sementara atau sarana bila dianggap perlu oleh sebagian dari kita sesuai dengan kondisi dan situasi lingkungan kita bergerilya. Dalam hal itu tidaklah menjadi prisip. Karena, yang namanya Islam dalam kelembagaan mereka itu baru dalam "konsep”, belum jadi. Apalagi bila hal itu campur-baur dengan rekayasa dari musuh. Islam dalam kelembagan NII bukan lagi konsep, tetapi sudah nyata dibuktikan oleh sejarah dengan melaksanakan peribadahan yang mahdhoh dan ghairu mahdhoh. Sehingga lembaga proklamasi 7 Agustus 1949 itu merupakan wadah perjuangan Islam secara Kaaffah. Bersamanya tidak didekte oleh kaum kafirin / fasikin versi apapun ! Jadi, secara undang-undang, kita ini sudah memiliki negara yang berdasarkan Qur’an dan Sunnah.. Dari itu tidak bertujuan merebut apa yang dinamakan Republik Indonesia, sejak 17 Agustus 1945 sebagai penjelamaan dari RIS. Kita telah berlepas diri darinya. “RI baru” itu jangan direbut, bila merebutnya berarti menyeburkan diri ke dalam sistem kepemimpinan di luar Islam, dan berarti rela didikte oleh musuh. R I yang sebenarnya secara de jure sudah lenyap oleh pengibaran bendera putih di Yogyakarta. Adapun yang harus kira rebut yaitu "Kemenangan NII secara de facto”, atau menzhohirkan kembali Negara Islam Indonesia, Proklamasi 7 Agustus 1949 selaku hak kita sehingga terjadinya “Futuh” ! Sekali kebenaran yang berdasarkan Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW diproklamirkan, maka sikap kita adalah wajib ( Fardhu ‘ain) mempertahankannya. Perjuangan NII bukanlah hanya hak seseorang yang menjadi oknumnya, melainkan hak umat Islam. SM. Kartosuwiryo tertangkap saat memimpin perjuangan. Dan "tidak Pernah" membubarkan kelembagaan NII. Sebab itu beliau siap dihadapkan ke muka regu tembak, tidak bersedia menandatangani teks perintah mencabut proklamasi, dan tidak menuruti perintah dari pemerintah pancasilais untuk menghentikan perjuangan. Begitulah bahwa

329

mempertahankan "furqon" wajib terus dilakukan sejalan dengan kemampuan kondisinya. Kini bagi beliau telah selesai menyadang tugas dari Alloh SWT. Maka, kita inilah selaku pelanjutnya. Jelas kita sambut dengan gembira karena merupakan kesempatan diri guna mencapai "Ridho Alloh". Dan wajib bersyukur bahwa kita masuh diberikan usia untuk menjual diri kepada Alloh, serta memiliki kejelasan berada di jalan Allah Swt. Satu kali yang "hak" dinyatakan berdiri, maka pada dasar sejarahnya tak dapat dihapuskan. Dari itu bagi yang tidak mengakui Proklamasi Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1949 itu, berarti tidak mengakui kebenarannya yang telah ada.. Atau selain itu termasuk pemecah ; perjuangan (mufarriq lil jama'ah). Cuma ada dua jalan (Q.S. 90 Al-Balad:10 ). Pengertianya bilamana posisi seseorang itu tidak berada pada jalan yang "hak", maka berarti berada pada jalan yang bathil. Selaras dengan itu bahwa lembaga “Imaamah”, yang diproklamasikan pada tanggal 7 Agustus 1949 itu adalah "satusatunya" wadah yang memisahkan yang hak dari kekuasaan yang bathal di Indonesia, juga sesuai dengan bunyi proklamasinya yang menyatakan berlakunya hukum Islam bagi seluruh Umat Islam Indonesia, maka bagi yang melawannya berarti di luar garis hijrah dan wajib ditumpas. Demikianlah "furqon di Indonesia". Allaahu akbar ! Begitulah keharusan kita mempertahan Negara Islam Indonesia ! ----------------------------------------------------------22. Tanya: “Yang dituju ialah hukum-hukum Al- Qur’an dan Sunnah Nabi Saw berlaku di kalangan masyrakat, berarti di negara. Dari itu apa sebabnya umat Islam tidak bisa merobah atau memperbaiki Negara R I sehingga hukum Islam berlaku secara totalitas di Negara RI ?” Jawab : 1). Pancasila yang sehari sesudah Proklamasi kemerdekaan adalah Pancasila versi baru yang disyahkan menjadi dasar

330

negara R I yang bersamaan dengan penghapusan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya. Dengan demikian bahwa pancasila dasar negara R I itu mengakibatkan tidak ada jalan bagi umat Islam menjadikan negara R I menjalankan hukum-hukum Islam. Artinya, tidak ada jalan untuk merobah negara RI supaya berlakunya hukum-hukum Islam. 2). Pancasila sebagai jiwa UUD 45 dicantumkan dalam pembukaannya sehingga menjadi norma dasar hukum Nasional. Pembukaan UUD 45 atau dasar negara Republik Indonesia itu tidak dapat dirobah, dalam arti lain yaitu tidak bisa diganti dengan yang lain. Silahkan baca satu diantara ketetapan MPRS. No. XX / MPRS / 1966. Tanggal 5 Juni 1966............................ .................................................................................................... c. Pembukaan UUD’45 sebagai pernyataan kemerdekaan yang terperinci, yang mengandung cita-cita luhur dari proklamasi kemerdekaan 17-8-1945 dan oleh karena itu tidak dapat diubah oleh siapapun juga, termasuk MPR hasil PEMILU, yang berdasarkan pasal’ dan pasal 37 UUD’45 karena mengubah isi pembukaan berarti pembubaran negara. Dengan demikian UUD 45 dan Pancasila itu merupakan yurisprudensi pokok sebagai konsiderant sehingga kedudukan hukumnya paling tinggi di dalam negara RI di atas hukumhukum lainnya sehingga menjadi sistem bagi RI. Jadi, kalau mengganti yurisprudensi pokok (UUD 45 dan Pancasila) berarti harus mengganti sistem. Mengganti sistem berarti membubarkan RI. 3). Bagi kita umat Islam bahwa hukum yang paling tinggi adalah hukum Al-Qur’an, karena datangnya dari Allah, mutlak harus dijalankan (Q.S.5:48). Sedangkan hukum tertinggi negara RI ialah UUD 45 dan Pancasila. Dengan itu bagi yang bermaksud menegakkan hukum-hukum Al-Qur’an didalam sistem negara RI berarti:

331

a). Menganggap nilai Al-Qur’an di bawah UUD 45 dan Pancasila. Hal itu jelas bertentangan dengan aqidah tauhid. b). Cuma lamunan jika pancasila yang menjadi jiwa UUD 45 merupakan sistem bisa diganti dengan Al-Qur’an (Islam) dalam negara RI. Sebab, secara hukum kalau bukan UUD 45 dan Pancasila, maka bukan lagi RI. c). Menganggap ajaran / hukum Islam bisa dirobah ditentukan atau dibatasi oleh undang-undang 45 dan pancasila, sehingga menganggap pula boleh berlakunya itu selama yang tidak bertentangan dengan pancasila. Dengan itu berarti dirinya setuju mengerjakan sebagian dan menolak sebagian (Q.S.15:91). 4). Menurut Islam, kita diwajibkan “Bara’ah” yakni lepas dari kepemimpinan yang sudah jelas menolak berlakunya hukumhukum Islam. Perhatikan ayat yang bunyinya: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”_(Q.S.15 Al-Hijr:94). 5). Menjalankan hukum-hukum Al-Qur’an berarti menta’ati perintah Allah adalah sama wajibnya dengan mengerjakan sholat yang lima waktu. Hal itu tidak boleh atas izin dari manusia karena merupakan kewajiban mutlak dari Allah. Sedangkan dalam sistem negara RI, bahwa semua hukum boleh berlaku hanya jika tidak bertentangan dengan pancasila. Dengan demikian wajib mutlak perintah Allah itu tidak bisa dijalankan di dalam negara RI pancasila. Dari lima point di atas itu disimpulkan bahwa umat Islam tidak bisa memperbaiki R I supaya memberlakukan hukum Islam secara keseluruhan, sebab RI yang sehari sesudah Proklamasi Kemerdekaan itu bukan lagi merupakan negara yang dasarnya bisa diganti dengan Islam.

332

----------------------------------------------------23. Tanya : “Dari penjelasan telah lalu dimengerti bahwa UUD 45 dan Pancasila itu sebagai yurisprudensi pokok atau sumber hukum tertinggi di dalam R I, sehingga merupakan sistem Negara R I, sehingga pula tidak bisa dipisahkan antara R I dengan UUD 45 dan pancasila, tetapi apa sebabnya masih ada saja yang kelihatannya penasaran sehingga rame-rame berkampanye lima tahun sekali dengan menganggap sebagai sarana pemilihan pimpinan Islam ?” Jawab: Tidak semua mengerti ! Dari itu penulis kemukakan lima kategori penyebab adanya yang penasaran, juga penyebab rame-rame berkampanye lima tahun sekali PEMILU di negara Pancasila: 1). Ada yang tidak paham wawasan sejarah pancasila, dikiranya pancasila yang sehari sesudah 17 Agustus 1945 itu masih saja seperti pancasila yang sebelum penghapusan delapan kata dalam Piagam Jakarta. Mereka mengira bahwa dengan ideologi pancasila itu masih ada peluang untuk menegakkan hukum-hukum Al-Qur’an. Padahal negara yang ideologinya sudah pancasila itu berarti tidak ada tempat bagi Islam. Mereka tidak tahu bahwa ketuhanan dalam pancasila itu adalah tuhan yang tidak punya rasul, tidak pernah melarang dan tidak memerintah. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Ali Murtopo(mantan menpen. RI ) ialah tuhan demokratis. 2). Ada yang tidak mengerti hukum, mengira bahwa undangundang yang keluar dari badan legislatip ( DPR RI ) bisa menggantikan yurisprudensi pokok atau merobah sistem negara. Padahal sesungguhnya undang-undang yang dibuat oleh DPR RI itu cuma merupakan Diktum bisa berlaku selama tidak bertentangan dengan undang-undang (yurisprudensi) pokok yang merupakan konsiderant. Artinya, selama tidak bertentangan dengan sistem negara. Sedangkan sistem negara RI itu di antaranya ialah menjadikan pancasila sebagai dasar

333

negara, yang telah menghapus kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya. 3). Banyak yang sudah tahu wawasan sejarah pancasila dan perundang-undangan di Indonesia. Kategori yang ketiga ini adalah orang-orang pintar, mengerti permasalahan yang sesungguhnya. Adapun mereka buat keramaian kampanye, itu dalam rangka berusaha menjadi anggauta DPR, atau karena kepentingan tersendiri yang bersifat duniawi dalam arti luas. Mereka juga sadar, bahwa menghadapi jatah kursi yang tidak berkampanye saja sudah jauh untuk mengimbanginya, apalagi menghadapi semuanya. Tapi, yang penting ialah dirinya dulu jadi anggaota DPR, dengan itu berebutlah untuk memiliki nomor calon jadi. 4). Ada yang tidak mau tahu masalah dan tujuan, yang tahu ialah perintah dari atasan, atau dari yang mereka idolakan. Jelasnya, percaya kepada yang di atas, atau simpati kepada yang diidolakan. Mereka ikut rame-rame hanya karena perintah. 5). Banyak yang terbawa situasi dan kondisi, dalam arti lain tertarik arus. Kategori yang terakhir ini tidak ada motip lain kecuali secara kebetulan ikut rame-rame sekedar hiburan pesta bergambar seragam. Dengan maksud yang seperti itu, maka selalu mengikuti warna lingkungan di mana mereka berada. Dan kategori terakhir ini, adalah yang paling banyak sehingga yang paling meramaikan. --------------------------------------------24. Tanya: “Apa sebabnya menegakkan kebenaran harus ada baro’ah atau proklamasinya ?” Jawab: 1). Memperhatikan ayat yang bunyinya:

334

“ Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabbmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orangorang musyrik.”_( Q.S.6 Al-An’aam:106 ). Dari ayat itu diambil arti: a). Adanya kewajiban menjalankan hukum-hukum (wahyu) Allah. Sedangkan hukum-hukum Allah itu tidak bisa dijalankan oleh sendirian, melainkan harus dengan bersama-sama disertai adanya kekuatan secara fisik yang sekiranya musuh tidak berani mengganggunya. Dengan demikian harus dengan pernyataan / proklamasi sehingga diketahui oleh semua yang berkehendak menegakkan hukum-hukum Allah dan siapa pula yang menentangnya, sehingga jelas siapa kawan dan siapa lawan. Sebab itu bunyi proklamasi NII di antaranya menyebutkan bahwa hukum yang berlaku di Negara Indonesia ialah Hukum Islam. b). Wajib berpaling dari kaum musyrikin . Dikaitkan dengan ayat di atas tadi ialah yang tidak mengikuti hukum-hukum Allah. Sebab itu ada istilah musyrik hukum, menyekutukan hukum, separoh dipakai, separoh lagi diambil dari hukum kafir. Jadi, pengertian musyrik itu cakupannya luas. Kita diperintah berpaling dari mereka, artinya diperintahkan mengambil sikap sehingga tidak terlibat dengan perbuatan mereka. Tentu, dalam mengambil sikap demikian harus ada garis pemisah yang jelas. Yakni, dengan pernyataan baro’ah atau proklamasi. 2). Makna dari proklamasi yaitu berlepas diri atau “Bara’ah” dari mereka yang durhaka terhadap hukum-hukum Allah, sedangkan berlepas diri dengan sebuah pernyataan / proklamasi merupakan kewajiban. Perhatikan ayat yang bunyinya: “Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.”_( Q.S.26:216).

335

Mereka yang menghapus delapan kata dalam Piagam Jakarta, juga menjegal usaha-usaha berlakunya hukum -hukum Islam di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, hal itu jelas suatu pendurhakaan terhadap umat Islam Indonesia. Sebab itu umat Islam berlepas diri, yakni memproklamirkan Negara Islam Indonesia yang menyatakan bahwa hukum yang berlaku di Negara Islam Indonesia ialah hukum Islam. Komitmen dengan proklamasi NII, 7 Agustus 1949 supaya diri dinilai oleh Allah bahwa kita tidak terlibat dengan sistem pemerintahan RI yang menjalankan hukum-hukum yang bertolak belakang dengan hukum-hukum Allah. Sehingga dengan itu tidak terlibat daripada dosa pelaksanaan hukumhukum kafir. Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Malahan kaum Nuh itu berkata:” Dia cuma membuat-buat nasihat saja”. Katakanlah: “Jika aku membuat nasihat-nasihat itu, maka akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat”. _(Q.S.11 Huud:35). Bila mereka sudah menyatakan menolak hukum-hukum Allah serta menghina kita, maka kita harus tetap berbuat dengan membalas pernyataan mereka. Perhatikan Firman Allah yang bunyi-Nya: “Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejek sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).”__(Q.S.11 Huud:38).: Tegas sekali bila mereka sudah menolak kebenaran dari Allah, maka kita harus berlepas diri dari mereka. Perhatikan Firman Allah yang bunyi-Nya:

336

“Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: ”Bagiku pekerjaanku, Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan”.” (Q.S.10 Yunus:41). Dengan ayat di atas jelas bahwa berlepas diri bukan hanya dalam hati, melainkan harus dengan pernyataan / proklamasi yang kebalikan dari mereka. Demikianlah sebabnya bahwa untuk menegakkan kebenaran harus didahului dengan proklamasinya. ----------------------------------------------25. Tanya: “ Ada yang mengatakan bila tegaknya Daulat Islam didahului oleh Baro’ah yakni proklamasinya, maka akan menimbulkan ekses revolusi yang menimbulkan kegoncangan diri. Dengan itu bagaimana jawabannya ?” Jawab : 1). Penumbangan terhadap sesuatu kekuasaan di manapun bisa menimbulkan ekses revolusi yang kadarnya sesuai dengan bentuk revolusinya. Hal demikian bukan saja antara yang haq dan yang batil, melainkan juga antara batil melawan batil. Sebagai contoh, anda juga bisa memperhatikan bagaimana revolusi Perancis, juga revolusi Bolsyevik, 1917 (Rusia). Logikanya antara sesama ideologi yang bukan Islam pun terjadi revolusi, maka bagaimana tidak akan terjadi revolusi antara yang haq melawan yang batil ? Jadi, sekalipun orang akan menghindar dari revolusi, maka revolusi itu akan datang, sebab di dunia ini tempat pertarungan ideologi. Perhatikan Firman Allah yang buyi-Nya:

337

“Allah berfirman :”Turunlah kalian semua. Sebagian kalian menjadi musuh yang lain. Bagi kalian di muka bumi ada tempat kediaman dan perbekalan sampai waktu yang telah ditetapkan.”(Q.S.7Al-A’raaf:24). Dari ayat di atas itu diambil makna bahwa di dunia ini tidak terlepas dari adanya pertikaian antara barisan yang ta’at sepenuhnya kepada Allah dengan barisan yang mengikuti kehendak Iblis, dengan itu pada klimaksnya terjadilah revolusi. Sebab, sesuai dengan janjinya, iblis akan terus bergerak memproduksi ‘setan-setan’ dari jenis manusia guna menantang barisan yang benar-benar taat kepada Allah SWT. Dengan itu jika pihak mukmin tidak menyerah kepada barisan Iblis, maka cepat atau lambat akan terjadi revolusi. Sekarang tinggal diri bertanya, “Apakah mau rela menyerah dibawah hukum-hukum yang sesuai dengan kehendak ‘setan’, sehingga di akhirat juga dicap sebagai pengikut setan dari jenis manusia” ? “Ataukah mau melawan setan dari jenis manusia, meski terjadi ekses revolusi ? “ Tentu, bagi pihak yang dibarisan Allah akan menjawabnya, “biarlah ekses revolusi di dunia, ketimbang ekses revolusi di akhirat ! 2). Dalam Islam bahwa berperang itu untuk mempertahan diri, artinya jika pihak luar Islam berjanji tidak akan menyerang, maka pihak Islam dilarang menyerang. Umat Islam Indonesia memproklamasikan diri yakni baro’ah dari kekuasaan penjajahan Belanda yang kembali ke Indonesia. Hal demikian itu hak kita yang sebagai mayoritas Islam guna bisa menjalankan hukum-hukum Islam. Jadi, kita ini bukan mau menyerang, melainkan mempertahankan hak kita. Dengan demikian bahwa timbulnya ekses revolusi, hal itu diakibatkan dari mereka yang menyerang terhadap kita. Namun demikian kita harus siap menghadapinya. Sebab, walaupun kita tidak menghadapi ekses revolusi, kita ini tetap akan menghadapi kemungkinan adanya siksaan yang tidak khusus menimpa

338

kepada orang-orang zalim saja. Artinya, jika berdiam diri, maka akan menghadapi siksaan, yaitu ekses revolusi yang paling mengerikan, sepetinya api Jahannam yang abadi. Berkaitan dengan itu perhatikan ayat yang bunyinya: “Dan peliharalah dirimu dari bala bencana yang tidak saja akan menimpa orang-orang yang bersalah diantara mu sematamata. Dan ketahuilah banwa Allah itu amat keras tindak hukuman-Nya.” (Q.S.8 Al-Anfaal:25). Ayat di atas itu memperingatkan kepada kita untuk mawas diri terhadap siksaan, terlepas itu di dunia atau pun di akhirat kelak. Artinya, jika kita berdiam diri tidak memproklamasikan suatu baro’ah (pelepasan diri) dari kezhaliman maka terlibat dalam pembatahan terhadap hukum-hukum Allah, maka bisa jadi akan menimpa pada diri suatu siksaan yang melebihi dari “ekses revolusi di dunia”, yaitu Jahannam (Q.S.9:81) “Asyaddu Har-raa” (yang sangat panas ). Adapun mengenai kegoncangan diri, hal itu adalah risiko dari keberadaan diri pada jalan yang haq. Dan pada diri mereka yang berada pada jalan yang batil juga bisa terjadi. Sebab, pada dasarnya, yakni fitrohnya semua manusia tidak mau mengalami kegoncangan diri. Tetapi, kegoncangan itu terjadi, maka apa sebabnya ? Jawabnya ialah, “yang berada dalam kebatilan didorong oleh syetan, sedangkan yang berada pada yang haq didorong oleh Iman yaitu takut ditimpa oleh kegoncangan yang melebihi dari segala kegoncangan yang terjadi di dunia. Bagaimanapun besarnya kegoncangan dalam rangka ta’at kepada Allah, tidak lebih daripada mati, yang kemudian diterima kepada Allah. Sedangkan bagi yang dirinya lehahlehah karena rela melihat kafir-kafir menjegal hukum-hukum Islam sehingga posisi dirinyanya terlibat pada jalan setan, maka mau kemana lagi matinya ???

339

Mengenai kegoncangan diri, Allah berfirman yang bunyiNya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk ke dalam syurga, padahal belum pernah datang kepadamu malapetaka yang pernah diderita oleh orang-orang yang terdahulu dari kamu ? Mereka menderita kesengsaraan, kemelaratan, goncangan-goncangan dahsyat, sampai Rasul dan orang-orang beriman disampingnya menanyakan: “Bilakah datangnya pertolongan Allah ?” Ingatlah ! Sesungguhnya pertolongan Allah selalu dekat.” (Q.S.2 Al-Baqarah:214). Kegoncangan yang dimaksud oleh ayat di atas itu ialah dalam rangka mempertahankan keberadaan Daulah Islamiyyah, yakni dalam menghadapi serangan fisik dari mereka yang anti hukum-hukum Islam. Kaum muslimin pada jaman Nabi Saw tangguh menghadapi kegoncangan Perang Akhzaab yang mana tentara Islam hanya berjumlah 3000 orang dengan kehabisan makanan (setelah ada pemboikotan dari Yahudi Banu Nadzir), menghadapi 12.000 tentara kebangsaan Quraiys Makah yang penuh dengan segala persediaan. Di dalam sejarah umat Islam, tentara Islam selalu berjumlah yang sedikit dalam melawan kebathilan dibanding dengan musuhnya itu. Sudah ketentuan bahwa yang jumlahnya sedikit itu akan lebih goncang daripada yang jumlahnya lebih bayak apalagi berkali-kali lipat. Dengan demikian timbul pertanyaan,” apa sebabnya orang mukmin yang sedikit itu berani ?” Jawabnya yaitu: a). Bahwa mati atau hidup menghadapi kegoncangan, tetapi jika dalam rangka menegakkan hukum-hukum Allah, maka kegoncangan diri itu dijadikan sebagai proses untuk masuk surga sebagaimana dalam ayat di atas tadi (Q.S.2:214). b). Mengalami kegoncangan atau tidak pada diri, tetapi jika masa bodoh terhadap hukum-hukum Allah, maka akan

340

mengalami kegoncangan yang tiada tara dahsyatnya, yakni di Alam Mahsyar, sehingga segalanya tidak berguna lagi kecuali kepatuhan diri terhadap hukum-hukum Allah selagi di Dunia. Ekses revolusi yang sebenarnya ialah di Alam Mahsyar sebagai Hari hisaban (hari perhitungan diri).

-------------------------------------------------------26. Tanya: “Bilamana hukum Islam secara keseluruhan diberlakukan di Indonesia, maka apakah tidak bertentangan dengan sikap toleransi terhadap pemeluk agama-agama selain Islam ?” Jawab: Jelas hal itu tidak bertentangan ! Bahkan memelihara toleransi beragama. Sebab-sebabnya antara lain yaitu: 1). Dengan berlakunya hukum pidana Islam tidak ada pengurangan terhadap ajaran-ajaran agama selain Islam. Sebab, di dalam ajaran -ajaran agama selain Islam tidak didapat ajaran yang bertentangan dengan hukum pidana Islam, artinya tidak didapat ajaran yang berupa tata sosial masyrakat yang bertentangan dengan hukum pidana Islam. Sama halnya dengan hukum pidana dari KUHP- Pancasila tidak mengurangi ajaran agama-agama selain Islam, misalnya Kristen, Hindu, Kongfucu dan lainnya. Berbeda dengan Islam yang ajarannya memiliki hukum Pidana, dengan itu jika yang diberlakukannya hukum pidana dari KUHP-Pancasila, maka cepat atau lambat tidak bisa dihindarkan untuk tidak terjadi pertikaian diantara bangsa Indonesia. Sebabnya yaitu umat Islam merasa tidak diperbolehkan mengamalkan ajaran agama Islam !

341

2). Penduduk Indonesia adalah mayoritas Islam, jika dipaksa menterapkan hukum yang bertentangan dengan ajaran Islam, maka sampai kapan juga tidak akan aman, hal itu akan mengganggu sikap teleransi. Sebab, umat Islam merasa dinodai yaitu dipaksa meninggalkan ajaran Islam. Kalau pada waktu dulu perhatian umat Islam terhadap usaha pengeterapan hukum Islam tidak menjiwai setiap orang yang beragama Islam, hal itu disebabkan kondisi mereka tidak paham apa itu Islam. Akan tetapi, kini telah berubah seiring dengan bertambah majunya media informasi seta kemajuan berfikir, sehingga semakin lama semakin semakin kritis terhadap keyakinannya. Akhirnya, pada tiap dirinya bertanya, ” Mengapa aku tidak mengamalkan Al-Qur’an, dipaksa untuk tidak menjalankan perintah-perintah Allah, bagaimana nanti pertanggung jawabanku di Hadapan Allah, dan mengapa aku rela sebagai mayoritas dianggap kalah oleh golongan minoritas, mengapa aku tidak merasa dosa berdiam diri dijalan thogut ?” Seribu satu pertanyaan akan muncul pada diri umat Islam yang yakin bawa di dunia ini hanya sebagai jalan dalam bertugas kepada Allah, dan akan ditanya pula oleh Allah SWT. Dari sekian banyak pertanyaan yang mengendap pada tiap kalbu mu’min itu akhirnya akan menjadi kesatuan yang bangkit menuntut haknya. Umat Islam tidak bisa dipaksa oleh golongan minoritas supaya tunduk untuk menjalankan hukum-hukum yang memepetkannya ke api jahannam ! Juga, tidak bisa dipropagandai oleh orang -orang yang telah menjual ayatayat Allah. Jadi, satu-satunya untuk mewujudkan toleransi beragama ialah tegaknya Negara Islam Indonesia. Allahu Akbar ! 3). Arti toleransi antar agama yaitu saling menghormati agama masing-masing, yakni tidak mengganggu pengamalan ajaran masing-masing. dalam ayat dinyatakan yang bunyinya:

342

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thagut dan beriman kepada Allah, maka sesunggunya ia telah berpegang kepada tali buhul yang amat kuat ayang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui.”_(Q.S.2 AlBaqarah:256 ). Tidak ada dalam sejarah bahwa umat Islam memaksa yang beragama bukan Islam supaya masuk Islam, atau menghalangi peribadahan mereka. Sejarah menyaksikan bahwa Kalifah Umar bin Khattab telah memerintahkan membangun gereja bagi orang-orang kriten. Tidak pernah terjadi dalam Daulah Islamiyyah pemaksaan terhadap yang bukan beragama Islam, apalagi seperti yang dilakukan oleh para penguasa kristen pada jaman Ratu Isabella di Spanyol, memaksa orang Islam supaya masuk kristen dengan segala macam penyiksaan. Dengan itu tidak tepat jika mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam ini dihalangi menjalankan hukum Islam secara utuh, karena alasan mengganggu toleransi beragama, sedangkan berlakunya hukum Islam tidak mengurangi pelaksanan ajaran agama selain Islam. 4). Umat Islam tidak bisa disakiti atau dikhianati untuk selamanya sehingga tidak bisa mengamalkan ajaran Islam secara kaffah. Generasi Islam mendatang akan lebih pintar dan lebih waspada daripada generasi sebelumnya, tidak bisa lagi ditipu atau dibodohi, sebab telah berpengalaman dengan mempelajari sejarah masa lalunya, serta bertambahnya wawasan Daulah Islamiyyah. Dengan demikian sekalipun dijegal dengan berbagai cara, namun selama Daulah Islamiyyah belum tegak maka tetap revolusi Islam akan melanda ! Dan yang merintanginya adalah termasuk yang anti toleransi.

343

Tegasnya, bahwa yang tidak setuju terhadap mayoritas beragama Islam menjalankan hukum-hukum Islam itulah yang tidak toleransi terhadap sesama umat beragama ! -------------------------------------------------27. Tanya: “Ada yang mengatakan bahwa sebagian ulama salaf (terdahulu) tidak berusaha menggantikan pemerintahan yang dipimpin oleh raja-raja yang zalim. Bila itu benar, maka apa sebabnya ?” Jawab : Sebab, bahwa pemerintah kerajaan pada masa dahulu itu adalah memberlakukan hukum-hukum Islam di masyarakat Islam. Para penguasa pada jaman ulama salaf itu membela Islam, dalam arti memberlakukan hukum Islam. Tidak didapat dalam sejarah pada masa - masa itu raja - raja yang berani melarang berlakunya hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sebab itu para ulama salaf juga tidak ada yang menyerukan perlawanan terhadap raja-raja. Banyak terjadi konflik antara -pihak raja-raja dengan para ulama salaf, tetapi hal itu merupakan tindakan pribadi-pribadi raja, dalam arti tidak karena penggantian hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum kafir. Berbeda dengan jaman ‘Ahdu ’l-muluka ‘l-jabbar seperti dewasa ini, hukum yang berlaku di negara dan masyarakat Islam bukan hukum-hukum Islam lagi. Dengan itu tuntutan umat Islam sekarang di setiap negeri adalah terwujudnya kembali khilafah (kekuasaan) berdasarkan Minhaj Nubuwwah. Adapun untuk di Indonesia sudah terwujudkan, hanya tinggal memperkuat kembali dalam segala bidang sehingga memperoleh kemenangan secara de facto yang yang menyeluruh secara utuh. ------------------------------------------------------28. Tanya:

344

“Apa dasarnya bahwa Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1949 akhirnya akan memperoleh kemenangan de fakto, sedangkan Nabi Saw menerangkan bahwa ummat Islam akan berpecah-pecah menjadi tujuh puluh tiga golongan ?” Jawab : 1). Allah berfirman yang bunyi-Nya:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-arang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah( keadaan ) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah(janji) itu, maka mereka itulah orang-orang fasik.”_(Q.S.24 An-Nuur:55). Dari ayat di atas itu dipaham bahwa untuk memperoleh kekuasan (kemenangan de facto/ Futuh)dari Allah akhirnya bakal dicapai. Hanya, soal kapan waktunya tidak ditentukan, sebab dalam ayat itu disebutkan “minkum” (di antara kamu) yakni sebagian dari orang-orang beriman Dikaitkan dengan perjuangan NII hal itu mengandung arti bahwa kemenangan (futuh) perjuangan NII tidak mesti dialami oleh yang sedang memperjuangkannya, melainkan bisa juga oleh generasi penerusnya. Akan tetapi bisa juga kekuasaan itu dialam oleh kita jika Allah mengizinkannya, sebab Allah Maha berkuasa.

345

Dan apabila kekuasaan itu belum juga diperoleh, karena kita terburu tutup usia, maka tetap bersyukur bahwa kita telah menunaikan tugas, yakni mengestapetkan perjuangan kepada generasi penerus dari kita. Tidak rugi, sebab yang dituju yaitu kita bisa beramal saleh, sehingga ada nilai ibadah kepada Allah. Para mujahid terdahulu yang benar-benar ikhlas pada hakekatnya sudah berhasil memiliki nilai ibadah berhijrah dan berjihad sehingga menjadi amal saleh. 2). Masa kejayaan dan kekalahan dipergilirkan oleh Allah. Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Jika kamu menderita luka-luka (pada perang Uhud), maka (musuhmupun) menderita luka-luka yang sama sepeti itu. Masa kejayaan itu Kami pergilirkan di antara manusia, karena Allah hendak menunjukkan bukti; siapa yang dapat disebut mukmin, dan siapa pula yang gugur di antaramu yang dapat disebut syuhada. Namun Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Q.S.3 Ali Imran: 140). Dengan ayat di atas itu diketahui bahwa dibalik kekalahan, maka akan ada kemenangan, artinya tidak selamanya dalam kekalahan. Contoh sejarah, banyak yang terjadi, seperti halnya Daulah Bani Umayah yang ibu kotanya di Damaskus sudah menjadi kekuatan di dunia, tetapi akhirnya cuma berkuasa sembilan puluh tahun. Padahal bila dilihat dari keperkasaannya sebelum ditumbangkan oleh pemberontakan Abbasyiyah, tentu orang berpikir mana mungkin ada gerakan yang bisa melenyapkan imperium bani Umayah. Hal itu baru satu contoh dan banyak lagi contoh-contoh lainnya. Apalagi bagi Negara Islam Indonesia yang bukan merupakan pemberontak, melainkan negara paroklamasi hasil merebut dari penjajah Belanda, sehingga memiliki landasan hukum di forum

346

Internasional. Pada akhirnya semua bangsa yang menjungjung tinggi hukum akan mengakui NII sebagai negara yang syah yang diberontak oleh RIS (yang merupakan negara boneka imperialis Belanda), yang telah mengganti nama dengan RI. Generasi Bangsa Indonesia mendatang pun yang mengerti hukum tidak rela bernaung dibawah negara pemberontak hasil rekayasa Belanda. Ditinjau dari sudut patriotik sejati, sebagai bangsa Indonesia tidak akan mau negerinya terus menjadi negara hasil rekayasa bangsa asing dengan KMB-nya. Jelasnya, bahwa pada akhirnya bangsa Indonesia dari semua lapisan mereka tidak rela bernaung dalam negara yang tidak memiliki dasar hukum proklamasinya, yang mana sudah diserahkan kepada Belanda dengan Perjanjian renville ke -I yang disusul dengan pengibaran bendera putih oleh dewan menterinya di gedung agung Jogyakarta,19 Desember 1945. Apalagi bagi umat Islam Indonesia yang telah menjual diri kepada Allah SWT dengan cara memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia, sebagai baro’ah-nya, jelas tidak berdiam diri, melainkan bergerak dengan segala daya. Dengan itu yakin pada akhirnya NII memperoleh kemenangan de facto. Perhatikan ayat- ayat di bawah ini yang bunyinya: “Dan Kami hendak memberi kurnia terhadap mereka yang tertindas di negeri itu: hendak menjadikan mereka menjadi pemimpin, begitu juga sekaligus menjadi pewaris.” (Q.S.28 AlQashas:5).

“ Lalu Kami pusakakan kepada kaum yang pernah tertindas, negeri-negeri Timur dan Barat yang telah Kami berkahi. Dengan demikian terlaksanalah Kalimat Allah yang mulia yang dijanjikan-Nya kapada Bani Israil disebabkan kesabarannya.

347

Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat oleh Fir’aun dan kaumnya dan sekaligus apa yang telah mereka bangun.” Dari kedua ayat itu diambil arti: a). Bahwa kemenangan akan diperoleh setelah melalui proses adanya “kesabaran” dalam menghadapi penindasanpenindasan akibat dari keteguhan untuk menjalankan semua perintah Allah. b). Bahwa kemenangan secara de facto (berkuasa menguasai wilayah, hal itu tidak ditujukan kepada pribadi-pribadi, melainkan kepada kelembagaan. Artinya, bahwa banyak dari sebagian Bani Israil yang tertindas, tetapi mereka tidak sempat mengalami berkuasa, karena terburu tutup usia. Namun, sebagian dari yang masih hidup atau turunan dari mereka tetap menjalankan kesabaran, yakni terus mengadakan perlawanan terhadap kerajaan Fir’aun. Dengan kesabaran sedemikian itulah akan diperoleh kemenangan dalam bentuk menguasai wilayah bagi Bani Israil yang masih hidup serta terus berjuang dengan “kesabaran”. Dikaitkan dengan para penegak hukum-hukum Allah sebagaimana yang terjadi di Indonesia ini, yakni yang sudah dilakukan oleh para mujahid NII, yang mana dari sebagian mereka telah “menjadi Syuhada”, pribadi-pribadi mereka tidak mengalami kemenangan dalam bentuk menguasai wilayah secara de facto, namun mereka sudah menjalankan kesabaran yang menjadi syarat bagi kemenangan NII secara de facto bagi generasi pelanjutnya. Hal demikian sudah menjadi ketentuan Allah, bahwa Sunnattullah tidak berobah ( Q.S.35 Fathir:43). Jadi, walaupun sebagian dari tentara Islam Indonesia itu sudah mengalami desersi menyerah, namun sebagiannya lagi atau para pelanjutnya tetap menjalankan kesabaran dengan terus mengadakan gerilya untuk perlawanan selanjutnya. Hal itu sabagaimana umat jaman terdahulu, dibalik banyak yang mundur, banyak juga yang terus bertahan dengan kesabaran.

348

Sebab, bahwa yang diikuti oleh yang sebenarnya mujahid itu bukanlah oknum atau pribadi-pribadinya pemimpinnya, melainkan kelembagaan atau kenegaraannya. Sebagaimana para pengikut nabi-nabi dahulu pun tidak mengikuti pribadi-pribadi mereka yang mundur, melainkan mengikuti misi kenabiannya. Sunatullah tetap berjalan, bahwa yang terus menjalankan kesabaran tetap akan bermunculan. Perhatikan Firman Allah SWT yang bunyi-Nya:

“Berapa banyak nabi-nabi yang turut berperang, serta ikut dengannya begitu banyak pengikut-pengikutnya, namun mereka tidak merasa lemah karena musibah yang menimpa di jalan Allah, tidak lesu dan tidak mau menyerah kepada musuh. Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Q.S.3 Ali Imran 146) Nyata, bawa yang disebut sebagai “orang-orang yang sabar”, bukanlah orang yang diam menyerah kepada keadaan, tetapi orang yang terus mengadakan perlawanan. Bukan juga orang-orang yang hanya berdo’a minta tolong dari lepasnya penekanan kekuatan kaum kafir, sedangkan dirinya tidak memiliki kepemimpinan yang baro’ah dari pemerintahan yang menentang tegaknya hukum-hukum Allah. Jadi, bahwa sabar yang dimaksud oleh ayat itu ialah orang-orang yang tidak menyerah atau tidak berhenti melawan kekuatan yang menjegal hukum-hukum Allah. Ada ayatnya, berarti ada kebuktiannya. itulah Sunnattullah, sehingga kemenangan pada akhinya pun akan ada kebuktiannya. Itulah salah satunya yang menjadi dasar bahwa kemenangan NII secara de facto pada akhirnya akan diperoleh. Sudah dimengerti bahwa syarat untuk memperoleh kemenangan itu harus melalui penindasan akibat kegigihan jiwa memperjuangkan kebenaran, sehinggga terbukti adanya kesabaran dalam menghadapi penindasan. Dengan demikian penulis serukan kepada musuh-musuhnya NII, “ Jangan

349

mengira bahwa dengan banyaknya tekanan fisik yang tuan-tuan lakukan terhadap warga NII itu akan membuat NII kalah atau mundur ! Tidak ! Bahkan hal demikian akan menjadi bukti adanya kesabaran bagi warga NII, dan dengan kesabaran itu menjadikan syarat kemenangan bagi warga Negara Islam Indonesia ! Memperhatikan petikan ayat Qur’an surat 3 ayat 140 . “...Masa kejayaan itu Kami pergilirkan diantara manusia. karena Allah hendak menunjukkan bukti: siapa yang dapat disebut mukmin, dan siapa pula yang gugur di antaramu yang disebut syuhada...” , maka apa yang yang disebutkan oleh ayat Qur’an itu pasti akan terbukti. Jadi, bila sekarang N I I masih dalam penekanan musuh, maka hal itu hanya merupakan proses sejarah supaya kita bisa membuktikan diri sebagai mukmin, dan supaya di antara kita pada saatnya ada yang disebut mati syahid. Dengan demikian bagi kita bukan berpikir kapan menangnya, melainkan dari hal sampai tahapan berapakah pengorbanan diri dalam memperjuangkannya sehingga memperoleh sebutan mukmin dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Soal kemenangan secara de facto / Futuh, pasti akan terjadi, meski di antara pribadi kita tidak semua mengalami, karena terburunya tutup usia. Maka. generasi pelanjut dari kita akan memperolehnya, itu adalah sama saja. Yang menjadi nilai bagi diri kita di Hadhirat Allah ialah ketangguhan kita dalam menegakkan hukumhukum-Nya. 3). Pernyataan Nabi Saw mengenai tahapan kekuasaan pasti terbukti, seperti yang diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir:

‫كنا قعودا فى مسجد رسفول الف صفلى الف عليفه وسفلم وكفان بشفير‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫رجوليكف حديثه فجاء أبوثعلبة فقال: يابشير بن سعد أتحفظ حففديث‬ ‫رسول ل ال صلى الف عليففه وسففلم ففى المفراء ؟ فقفال حديففة: انفا‬ ‫ف ف‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫احفط خطبته فجلس ثعلبة الحشنى فقال حديفة: قال رسول ال صففلى‬ ‫الف عليففه وسففلم: )1( تكففون النبففوة فيكفم ماشففاء الف ان تكففون ثففم‬ ‫ف‬ ‫يرفعها إذا شاء ان يرفعها. )2( ثم تكون خلفة على منهففاج النبففوة‬

350

‫فتكون ماشاء ال ان تكون ثم يرفعهففا اذا شففاء ان يرفعهففا. )3( ثففم‬ ‫تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء ال ان يكون ثففم يرفعهففا اذا شففاء ان‬ ‫يرفعها. )4( ثم تكون ملكا جبريا فتكون مفا شفاء الف ان تكفون ثفم‬ ‫ف‬ .‫يرفعها اذا شاء ان يرفعها. )5( ثم تكون خلفة على منهاج النبوة‬
Yang artinya: “Suatu ketika kami sedang duduk-duduk di Masjid Rasulullah saw, sementara itu Basyir adalah seorang laki-laki yang tidak banyak bicara. Datanglah Abu Tsa’labah, kemudian ia berkata: “Wahai Basyir bin Sa’ad apakah engkau hapal hadits Rasulullah saw, tentang para penguasa ?” Hudzaifah kemudian tampil seraya berkata,” saya hapal khutbahnya.” Maka Abu Tsa’labah al-Khasyni duduk, mendengarkan Hudzaifah berkata: Bersabda Rasulullah saw: (1) Nubuwwah (‘ahdu’n-Nubuwwah, ed.) tetap berada di antara kalian selama Allah menghendaki, kemudian jika mau, ia akan mencabutnya. (2) Kemudian akan datang khilafah berdasarkan pada Minhaj Nubuwwah (‘ahdu ‘l-khilafatu ‘r-rasyidin) selama Allah menghendakinya, dan jika Ia menghendaki niscaya ia mencabutnya. (3) Selanjutnya akan berlangsung masa penguasa (raja-raja) yang “menggigit” dan kuat (‘ahdu ‘l-muluka ‘l-’aad ) selama Allah menghendakinya, dan akan mencabutnya sampai Ia menghendakinya. (4) Lantas akan ada penguasa tiran (diktator) (‘ahdu ‘lmuluka ‘l-jabbar) selama dikehendaki Allah, dan Ia akan mencabutnya kalau Ia menghendakinya. (5) Seterusnya akan muncul lagi masa khilafah (‘ahdu ‘lkhilafah berdasarkan Minhaj Nubuwwah.” ( Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal ).

351

Dari bunyi hadist yang tertera di atas itu, jelas pada akhirnya akan ada pemerintahan sebagaimana pada jaman Khalifah yang empat, yakni yang bersistem kepada pemerintahan Nabi Saw. Apabila anda benar-benar mengkaji sistem Negara Islam Indonesia,7 Agustus 1949, maka ditemukan bahwa pemerintah Negara Islam Indonesia itu mengacu kepada Minhaj Nubuwwah. 4). Adapun mengenai umat Islam pecah menjadi 73 golongan, kita perhatikan dua bunyi hadits di bawah ini:

‫افترقت اليهود والنصارى على ثلث وسبعين فرقة كلها فى النار إل‬ ‫واحدة. قالوا من هي يا رسول ال ؟ قال: هم الذين على مثل ما أنا‬ .‫عليه اليوم وأصحابى‬ ( ‫.) اخرجه ألترمدي و الطبراني‬
“Akan berpecah belah Yahudi dan Nashara menjadi 72 golongan dan akan berpecah umatku menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali satu. Shahabat bertanya: Siapakah mereka ya Rasulullah ? Beliau menjawab: mereka itu adalah orang-orang yang mengikuti aku dan para shahabat lakukan hari ini.” (HR. Tirmidzi dan Thabrani).

:‫عن عفوف بففن مالفك قفال: قفال رسفول الف صففلى الف عليففه وسفلم‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫ف ف‬ ‫ف‬ ‫لتففترقن امفتى علفى ثلث وسفبعين فرقفة ، واحفدة فىالجنفة وثنتفان‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫وسبعون فىالنار. قيل يارسول ال مفن هفم ؟ قفال: الجماعفة. )رواه‬ .(‫ابن ماجه‬
“Dari ‘Auf bin Malik ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu golongan masuk surga dan tujuh puluh dua golongan masuk neraka”. Beliau ditanya: “Ya Rasulullah, siapakah satu golongan itu ?”. Beliau menjawab: “AL-Jama’ah”. (HR Ibnu Majah).

352

Dari hadits di atas itu diambil tiga kesimpulan : Pertama, dalam hadits itu disebutkan “yang masuk syurga (selamat) hanya satu, artinya bahwa yang lurus “tetap ada”. Dengan demikian pada akhirnya golongan yang mengikuti jejak Nabi Saw dan para shahabatnya itu akan eksis, yakni akan memperoleh kemenangan. Kedua, dinyatakan bahwa yang selamat itu ialah jama’ah, dan yang disebut jama’ah itu ialah golongan yang mengikuti jejak Nabi Saw dan para shahabatnya. Untuk menilai golongan manakah yang pada waktu ini bisa disebut sebagai yang mengikuti jejak Nabi Saw dan para shahabatnya, tentu harus mengetahui apa yang dilakukan oleh Nabi Saw beserta para shahabatnya, seperti diantaranya yaitu: (1) Sudah baro’ah / proklamasi berlepas diri dari struktur pemerintahan yang bertolak-belakang dengan hukum-hukum Allah Swt. (2) Sudah bantu membantu menyusun (Q.S.8:73) kekuatan (Q.S.8:73) militer dalam struktur kepemimpinan tersendiri sehingga jelas, tidak samar dalam menentukan mana kawan dan mana lawan. (3) Membuat undang-undang pemerintahan (Piagam Madinah) serta mempertahankannya dengan kekuatan senjata, sehingga terjadi “yaqtuluuna wa yuqtaluun” (Q.S.9:111). Dengan tiga point itu saja, jika jujur maka harus diakui bahwa golongan yang mengikuti jejak Nabi Saw dan para shahabatnya, untuk di Indonesia ini ialah umat Islam yang mempertahankan Proklamasi Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1949 dengan segala pengorbanannya hingga sampai sa’at ini. Sebab, bahwa yang disebut mengikuti jejak Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya itu, bukan

353

cuma dalam ngomong tanpa perbuatan (Q.S.61:2), bukan hanya menyampaikan hadits-hadits kepada yang lain sedang diri tidak melakukannya, bukan juga mengamalkan hadits- hadits dengan dipilih yang enaknya saja. Melainkan, bahwa yang disebut mengikuti jejak ( sunnah) Nabi itu ialah yang dalam praktek, sehingga nyata dirasakan oleh diri dirasakan pula oleh musuhmusuh Islam sehingga pula bagi ‘setan-setan’ pun terasa adanya “Asyid daa-u ‘alal kuf-fari (Q.S.48:29). Semua sudah tahu bagaimana hukumnya bagi yang sudah tahu adanya perintah-perintah dari Allah, tetapi tidak menjalankannya. Sebab itu bahwa yang disebut “Sunnah” Nabi Saw itu, bukan cuma mengemukakan hadits, tetapi mempraktekkan apa yang diperbuat Nabi Saw. Dalam hadits itu bahwa golongan yang selamat hanya satu, yakni yang mengikuti jejak Nabi Saw dan para shahabatnya hanya satu golongan. Dengan itu sungguh tidak berdasar, jika untuk mempraktekkan Sunnah nabi Saw itu harus menunggu semua golongan bersatu. Umat Islam pada jaman Rasulullah Shalallahu ‘alai wassallam adalah golongan minoritas, artinya dalam memproklamasikan kedaulatan Islam tidak menunggu yang golongan banyak yang mana masih dalam kegelapan. Hal demikian telah menggentarkan dunia yang bukan Islam pada waktu itu. Sebab itu umat Islam Indonesia pun tidak menunggu seluruh umat Islam di mana pun yang tidak bercita-cita untuk Islam, artinya kita tidak bisa menunggu mereka yang ngaku berargama Islam, tetapi ideologinya bukan Islam. Ketiga, dalam Al-Qur’an surat 2 Al-Baqarah ayat 214 dinyatakan yang bunyinya:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk ke dalam syurga, padahal belum pernah datang kepadamu

354

malapetaka yang pernah diderita oleh orang-orang yang terdahulu dari kamu ? Mereka menderita ke sengsaraan, kemelaratan, goncang-goncangan dahsyat, sampai rasul dan orang-orang yang beriman besertanya menanyakan; “Bilakah datangnya pertolongan Allah ?” Ingatlah ! Sesungguhnya pertolongan Allah selalu dekat.” (Q.S.2 Al-Bqarah:214). Dalam hadits yang dikemukakan tadi di atas bahwa yang masuk syorga itu hanya satu, yakni mereka yang mengikuti jejak Nabi Saw dan para shahabat yang hidup bersamanya. Adapun dalam ayat di atas itu mengingatkan kita, “Jangan menyangka akan masuk syurga sebelum mengalami penderitaan seperti orang-orang yang terdahulu.” Dengan itu tinggal anda bertanya, “ Golongan umat Islam manakah di Indonesia yang menderita akibat menegakkan Daulah Islamiyyah seperti yang diungkapkan oleh ayat di atas ?” Jawabnya, “Jelas mujahid-mujahid Negara Islam Indonesia !” Apa sebabnya ? Jawabnya, “Karena sudah terbukti melakukan yang sama dengan yang dipraktekkan oleh Nabi Saw dan para shahabat yang hidup bersama beliau, yakni memproklamirkan Negara Islam yang didalamnya menyatakan berlakunya hukum Islam sehingga resikonya memperoleh gempuran dari pihak yang anti penerapan hukum Islam secara keseluruhan, dan terjadilah penderitaan sebagaimana dalam Qur-an Surat 2 AlBaqarah ayat 214 !” Dengan demikian, “Untuk masa kini golongan manakah yang berhak memperoleh sebutan “Salafy” sebagai orang-orang yang meniti jejak generasi terdahulu ? Jawabnnya, “Sungguh itulah para mujahid Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1949 !” Demikianlah dasar-dasarnya bahwa Negara Islam Indonesia pada akhirnya akan memperoleh “Nashrullah” kemenangan de fakto. -------------------------------------------------------29. Tanya : “Kebenaran N I I sudah jelas, nyata dasar-dasar hukumnya berdasarkan Nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw, tapi apa

355

sebabnya masih saja ada beberapa tokoh yang sudah dianggap mengerti kepada agama Islam, tetapi masih mencela-cela NII ? ” Jawab : Penyebabnya, antara lain yaitu: 1). NII-nya belum menang. Jadi, sekalipun dalam hati mereka mengakui bahwa NII itu memiliki nilai kebenaran berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, tetapi jika mereka menganggap NII tidak bakal menang, maka mereka tidak bakal memihak nya. Bahkan ikut mencelanya hingga memperoleh nilai dari Pemerintah RI. Perhatikan ayat-ayat yang bunyinya: “(yaitu) orang-orang yang memilih orang-orang kafir menjadi pemimpinnya dengan mengenyampingkan orang-orang yang beriman. Apakah mereka mengharap kekuatan. Sesungguhnya kekuatan itu hanyalah kepunyaan Allah.”(Q.S.4 Annisaa’:139). “ Mereka mengulas kata:”Andaikan kita kembali ke Madinah, tentu orang-orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah di sana.” Padahal kekuatan itu hanyalah kepunyaan Allah, kepunyaan Rasul-Nya, dan kepunyaan orang-orang mukmin. Namun orang-orang munafik tidak mengetahui.” (Q.S.63:8). Kaum munafik pada jaman Nabi Saw mereka mengetahui kebenaran yang dibawa Rasul Saw, mereka langsung melihat Nabi Saw serta mukzizatnya, tetapi mereka tetap mengoceh. Padahal mereka berada di wilayah yang dikuasai oleh Daulah Islamiyyah, tentu jika yang berada di wilayah yang dikuasai kafir bukan lagi munafik, melainkan kafir. Maka, apalagi sekarang yang dikuasai Daulah kafir, dan NII-nya sa’at ditulisnya tanya jawab ini belum berkuasa. Dengan demikian

356

untuk komitmen kepada NII tidak cukup dengan mengerti mengenai kebenarannya, tetapi harus disertai kesiapan menjual diri kepada Allah (Q.S.9:111). 2). Disesatkan setan. Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah mengaku beriman kepada apa-apa yang telah diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu ? Mereka hanya mau berhukum kepada hukum Thagut, sekalipun mereka sudah diperintahkan untuk mengingkarinya. Setan hendak menyesatkan mereka sejauh-jauhnya.” (Q.S.4 Annisaa’:60 ). Mereka yang dikemukakan oleh ayat diatas itu adalah orangorang yang sudah ngerti akan kebenaran, pada waktu itu masih ada Nabi Saw, langsung melihatnya, permasalahan agama sungguh jelas tidak jadi persoalan, karena Nabi masih ada, tetapi tetap berhtakim kepada Thogut. Hal itu sama saja dengan sekarang yang sudah tahu dan ngerti hukum-hukum Allah, tetapi yang dibelanya hukum Thogut. Artinya, tidak aneh bila sekarang didapati yang mengerti bahwa kebenaran NII itu sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi membela pemerintah RI karena setuju dengan hukum-hukum thogut. Sekedar mengerti sedangkan tidak sadar bahwa dirinya berhadapan dengan setan dari jenis jin dan manusia, maka bisa disesatkan setan ! 3). Sudah menjadi ketentuan adanya yang menyembunyikan yang haq, sedangkan mereka mengetahuinya. Perhatikan ayat yang bunyinya: “Orang-orang yang telah kami beri kitab, mengenal Muhammad seperti mengenal anaknya sendiri. Tetapi sebagian

357

mereka menutup kebenaran itu, mengetahuinya.” (Q.S.2 Al-Baqarah:146).

padahal

mereka

Didalam hati mengakui kebenaran yang sudah diketahuinya, tapi pada dhohirnya tidak mengakuinya, bahkan mencelanya demi kepentingan pribadinya. Ada ayatnya, berarti ada orangnya. 4). Merasa cukup dengan pengetahuan yang ada pada mereka. Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada ) mereka dengan membawa keteranganketerangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan.” (Q.S.40 Al-Mukmin:83). Mereka yang digambarkan oleh ayat di atas itu ialah orangorang yang sudah merasa cukup dengan ilmunya. Artinya, karena merasa sudah lebih pintar, maka merasa gengsi bila diberikan penjelasan, sehingga mencari-cari jalan untuk menyalahkannya, padahal dirinya sudah mengetahuinya. 5). Cenderung kepada duniawi sehingga mendustakan ayat-ayat Allah. Perhatikan ayat-ayat yang bunyinya:

“Dan bacakanlah kepada mereka berita yang mengagumkan tepatnya berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayatayat kami, kemudian dia berpantang mempercayainya, lalu dia dihubungi rapat oleh setan untuk menggodanya. Sehingga ia menjadi sesat.” (Q.S.7 Al-A’raaf:175).

358

“Jika Kami kehendaki, tentu Kami dapat mengangkat derajatnya. Namun dia ketagihan kesenangan dunia, dan mengikuti hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya seperti anjing. Bila kamu halau, dia menjulurkan lidahnya, atau jika kamu biarkan iapun mengeluarkan lidahnya juga. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Ceritakanlah cerita ini, semoga mereka berpikir.” (Q.S.7:176). Sebagian penafsir mengatakan ayat ini berkaitan dengan Abu Amir bin Nu’man, seorang rahib yang menjalankan kesederhanaan dan kesalehan. Ketika Nabi Saw datang ke Madinah ia merasa posisinya tersaingi, ia mencoba menyusun kekuatan untuk menyerang Nabi. Upayanya gagal. Ia mengetahui kitab suci (tahu bahwa Muhammad Saw sebagai nabi terakhir), tetapi ia terpedaya karena memiliki posisi tinggi di tengah kaumnya. Sebagian penafsir berpendapat bahwa ayat ini merujuk kepada Umayah bin Ubay Al-Tsaqafi. Ia banyak membaca kitab suci yang lama. Ia tahu bahwa di negeri Arab akan dibangkitkan seorang Rasul. Ia berharap dirinyalah Rasul itu. Pernah dia mau masuk Islam, tetapi mengurungkannya. Ia banyak menulis puisi yang memuja kebesaran Allah, menceritakan hari pembalasan dan mengajarkan kebaikan. Ketika puisi-puisi itu dibacakan di depan Nabi Saw. Beliau bersabda, ”Puisinya mukmin, hatinya kafir”. Meskipun turunnya kedua ayat ini berkaitan dengan sebagian orang-orang alim pada jaman Madinah, namun ayat ini menjelaskan mengenai Bal’am seorang ulama yang bertugas dalam pemerintahan. Ia telah berhasil dalam tugasnya di bidang do’a untuk kesejahteraan tentara dan raja. Tetapi ketika sampai berita bahwa Nabi Musa dan para pengikutnya akan menyerang, pejabat-pejabat elit pemerintahan datang menemui Bal’am,

359

kemudian memerintahkan berdo’a untuk kekalahan Musa dan para pengikutnya, ia keberatan dan berkata, “Musa dan para pengikutnya itu orang-orang saleh. Aku terlarang mendo’akan kecelakaan atas mereka”. Para penggede dari pemerintah itu mendesak dengan jaminan hadiah yang besar dan ancaman kehilangan kedudukan yang tinggi. Akhirnya Bal’am menyerah, ia mulai berdo’a. Tetapi, setiap berdo’a untuk kekalahan Musa, dari mulutnya keluar untuk kemenangan Musa. Ketika berdo’a untuk kejayaan penguasa, malah yang keluar untuk kehancuran penguasa. Akhirnya ia berkata, ”Lidahku tidak bisa berdo’a selain yang tadi. kalau aku berdo’a untuk kekalahan mereka, do’aku tidak akan dikabulkan. Aku punya nasihat. Aku tunjukkan kepada kalian cara untuk menghancurkan mereka. Allah membenci zina, jika mereka berjina, mereka akan binasa. Kirimkan wanita-wanita kepada mereka. Mudah-mudahan dalam perjalanan mereka berzinah dan sesudahnya, mereka binasa”. Akhir dari ayat di atas tadi (Q.S.7:176) menyebutkan, ”...Kisahkanlah kisah-kisah itu supaya mereka berpikir”. Hal itu menunjukkan bahwa orang alim / ulama yang seperti Bal’am itu tetap ada. Pertama kali terlihat alim konsisten kepada keulamaannya, tetapi manakala disodorkan kepada mereka suatu kedudukan (kenikmatan duniawi), maka ia hantam juga para penegak hukum-hukum Allah. Coba renungkan, sebelum mengucapkan do’a, Bal’am yakin sekali bahwa Musa dan para pengikutnya itu pada berada pada jalan Allah, dibuktikan lagi dengan dirinya tidak bisanya mengucapkan do’a untuk mencelakakan barisan Nabi Musa as. Dengan demikian sungguh tidak heran jika dewasa ini didapat ulama yang sudah tahu risalah kebenaran NII, namun tetap membantu pihak pemerintah RI, pengayom hukum-hukum Thogut . Inti dari Firman Allah (Q.S.7:175-176) di atas tadi, supaya kita tidak boleh terpedaya dengan sikap orang alim /ulama yang sudah terbius oleh rayuan para elit daulah kafir, atau oleh ulama

360

yang takut kalah pengaruh kehilangan wibawanya, akibat keterlanjuran mencela risalah kebenaran yang kita sampaikan. Kita harus tabah, sebab selama kita belum memperoleh kemenangan (futuh), selama itu pula ulama sedemikin itu akan mencela kita. Untuk itu camkan petikan ayat yang menjelaskan bahwa diantara sifat mujahid ialah “...laa yakhaafuuna laumata laa-im (...tidak takut terhadap kecaman orang).”(Q.S.5:54). 6). Bisa ditakut-takuti oleh syaitan dari jenis jin dan manusia sehingga tidak takut kepada Allah Swt. Perhatikan ayat yang bunyinya: "Sesungguhnya mereka itu hanyalah syaitan yang mengancam kamu agar takut kepada pemimpin-pemimpinnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Q.S.3:175). Akibat rasa takut yang mendominasi diri terhadap barisan thogut, sehingga takut dianggap tidak memihaknya, maka keluarlah ungkapan -ungkapan yang bernada memojokkan pejuangan NII, meski dalam hatinya mengakui kebenarannya. Demikianlah di antara penyebab dari adanya mereka yang sudah mengerti mengenai kebenaran NII, tetapi tidak berpihak kepada NII. --------------------------------------------------------30. Tanya: “Dari beberapa ayat yang dikemukakan dalam jawaban telah lalu diambil arti bahwa yang sekedar mengetahui kebenaran serta berpredikat ulama, tidak mutlak menjamin dirinya untuk berpegang kepada kebenaran yang sudah mereka ketahuinya. Maka, bagaimanakah kaitannya dengan Qur’an surat 35 Faathir ayat 28 ?” Jawab: Sebelum lanjut, perhatikan dulu bunyi ayatnya di bawah ini:

361

“Dan diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warna (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba - hamba-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S.35 Faathir:28). Ayat di atas itu menambahkan kejelasan ayat yang sebelumnya (Q.35:27), yaitu mengenai kejadian alam yang telah diciptakan Allah Swt. Jadi, istilah “Ulama” yang dimaksud oleh ayat di atas itu ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah sehingga hidupnya ditujukan untuk taat kepada Allah, karena setiap geraknya didasari dengan penuh rasa takut kepada-Nya. Keyakinan demikian bukan dalam waktu temporer, melainkan dalam setiap saat. Diantaranya yaitu: 1). Membayangkan Besarnya Allah Swt Mengetahui kekuasaan Allah itu bukan cuma di mulut, tetapi meresap kedalam jiwa. Dilihatnya bintang berkelip,maka terasa tidak sekecil bumi yang ia tempati. Dibayangkannya bila dilihat dari bintang yang berkelip-kelip itu, pasti bumi ini tidak terlihat dan seolah tidak ada. Jika bumi sudah tidak telihat maka dimanakah letaknya diri, dan mau kemanakah selain kepada Allah Swt ? Bagi yang merasakan kekuasaan Allah, tidak bingung di mana letaknya neraka. Sebab, dengan api matahari yang besarnya 1200.000 kali besarnya bumi juga sudah cukup untuk tidak bertanya dari mana datang apinya. Dibandingkan dengan besarnya matahari maka jangan lagi jumlah manusia dari satu bumi, andaikan dengan setumpukan manusia yang besarnya sepuluh kali bumi juga, maka api neraka tidak akan padam. Bagaimana kalau besarnya api itu dibandingkan lagi dengan

362

milyaran matahari yang disebut bintang-bintang karena jauhnya itu ? 2). Yakin Dibangkitkan Kembali Tidak ragu bahwa jasad yang sudah menyatu dengan tanah akan dibangkitkan kembali dalam dimensi lain, sebab dari tanah tandus disiram hujan (Q.S.22:5) juga bisa tumbuh dengan subur, dari yang tidak ada menjadi ada, apalagi jiwa yang tadinya sudah ada. Dibangkitkan dari kubur pasti dalam dimensi lain, sebab akan menjalani alam lain, sehingga sesuai dengan kondisinya. Menghadapi alam yang abadi maka kondisinya juga harus tahan untuk abadi. Allah menciptakan tiap binatang sesuai dengan kondisi tempatnya. Contohnya, ular dalam bentuk panjang tidak diberi kaki, karena tempatnya di rumpun atau semak belukar, maka dijadikan kulit perutnya kuat sehingga tahan sesuai dengan tempatnya, bila hidupnya lama berganti kulitnya. Tikus rumah kondisinya berbeda dengan tikus besar (hitam), karena kondisi tempatnya juga berbeda. Dimensi jasad kita selagi di bumi ini berbeda dengan dimensi sesudah dibangkitkan dari kubur, karena keadaan tempatnya yang akan kita diami juga berbeda lagi. Perhatikan ulat di ranting merayap menggelikan, tetapi bila sudah waktunya harus berganti tempat, maka istirahat menjadi kepongpong, bisa hidup tanpa makan, kemudian bergantilah segalanya, sesuai dengan kondisi alam kehidupan barunya. Yang asalnya dilihat paling menggelikan menjadi indah dipandang mata. Yang tadinya menggeliat-geliat di ranting dan daun menjadi mampu terbang dari bukit ke bukit. Lebih dari itu bertransmigrasi sekaligus dengan ribuan yang sejenisnya, melalui perjalanan yang tidak tergapai oleh semua jenis binatang yang melata. Padahal sebelum melalui proses kepongpong, binatang yang paling kecil pun bisa menggigitnya.

363

Manusia, satu-satunya mahluk di bumi yang paling diistimewakan, sebagai “khayawaanun naatiq (hewan yang berbicara)”, tentu proses untuk kepindahannya juga ditentukan sesuai tugas manusia. Bila sudah diistirahatkan (jasadnya dimatikan), akan dirubah dimensinya sesuai dengan keadaan medan yang harus dijalaninya. Di alam sana bukan lagi jasad manusia yang sekali kena benturan langsung bengkak atau mati tidak hidup lagi. Di dunia bisa mati karena dimensinya diciptakan untuk sementara. Ribuan ulat menjadi kepongpong melekat di dedaunan dan ranting pada lokasi yang berjauhan, antara satu ulat dengan yang lainnya tidak saling mengenal. Akan tetapi, bila sudah dalam bentuk kupu-kupu, maka bisa berkonvoy merupakan kumpulan berarak yang sungguh memanjang menuju dalam satu tujuan. Terlepas dari bagaimana cara komunikasinya sehingga bisa demikian, tapi yang jelas ialah suatu alami yang diciptakan Allah. Dengan itu apalagi kepada manusia yang tadinya juga sudah diberikan perintah dan larangan, maka di manapun tempatnya masing-masing diri itu dikuburnya, kepastian dari Allah akan pula dikumpulkannya di Alam Mahsyar. 3). Sadar Sedang Dalam Rekaman Yang merasakan adanya kekuasaan Allah, merasa bahwa nyawanya diciptakan Allah, dan akan menghadap kepada-Nya. Merasakan bahwa dirinya yang setiap detik sedang masuk dalam komputer yang tak terlihat sehingga semuanya tercatat (Q.S.36:12) Direkam oleh tape rekorder yang disediakan pada diri sehingga semua kata bakal terungkapkan ( Q.S.36:65). Sehelai daun saja dilihat oleh Allah (Q.S.6:59), maka apalagi dirinya yang akan dipinta pertanggung-jawaban oleh Allah. Yakni, tidak ada satu ucapan yang terliwatkan didalam video akhirat. Tidak akan tanya dengan cara apa merekam gerak -gerik dan suara tiap manusia, didunia saja kepada manusia telah diberikan

364

sedikit ilmu, yakni dengan kemajuan teknologi, sehingga seseorang bisa mendengar ucapan dari yang lainnya walau terhalang oleh belahan bumi, semua unsurnya diciptakan Allah. Rekaman diri bisa dirasakan dengan mentafakuri adanya “eter” pada diri, terasa tapi tak nampak. Seperti halnya pikiran-pikiran yang melintas di hati, dengan cepat dilupakan dan tampak seolah-olah pikiran tersebut telah tiada, dianggap tidak ada lagi. Tetapi setelah masa yang lama akan dilihatnya kembali dalam bentuk mimpi, atau akan diucapkannya dalam keadaan histeris atau gila, tanpa sadar yang diucapkannya itu. Adakalanya seseorang yang sewaktu dalam keadaan sadar, dia lupa kepada nama seseorang yang pernah menjadi kawannya semasa ia masih kecil, meski terus berusaha mengingatnya, sehingga direka-reka olehnya. Tetapi, sewaktu mimpi bertemu dengannya, dirinya diberitahukan oleh bekas kawannya itu tentang nama yang sebenarnya. Sebaliknya dari itu, dalam keadaan sadar, kita tak pernah mengingat-ingat seseorang yang sudah lebih dua puluh tahun tidak bertemu, karena antara kita dengannya tidak pernah ada hubungan apa-apa, kecuali sekedar kenal sepintas, tetapi kenapa satu waktu kita pernah bermimpi bertemu dengannya sehingga teringat apa yang pernah kita lihat dan kita dengar mengenai dirinya ? Jelas, bahwa ingatan atau akal bukanlah yang kita rasa atau yang dilihat saja, melainkan mempunyai wujud lain yang berdiri sendiri. Itulah barangkali ahli ilmu pengetahuan menyebutnya “eter”. Atau juga mungkin alat perekam diri yang tidak kita lihat (wallaahu ‘alam). Kembali kepada rekaman diri kita kelak di akhirat, buat saja perumpamaannya. Yaitu, bila anda memiliki satu perangkat perekam suara yang didalamnya tersimpan mengenai ucapanucapan anda yang berkaitan dengan kasus anda di sidang pengadilan, maka selama perangkat rekaman itu dikuasai oleh anda, alat itu tidak akan mengeluarkan suara kata yang tidak anda inginkan. Akan tetapi, bilamana milik anda itu sudah disita oleh petugas dari pengadilan, maka walaupun mulut anda bungkam seribu basa, namun ucapan-ucapan anda itu terus

365

keluar melalui perangkat rekaman diri anda. Begitupun di alam mahsyar, rekaman diri bukan lagi dalam kuasa kita, walaupun mulut tertutup, namun tetap keluar suara kita. Perhatikan ayat yang bunyinya: "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka. Tetapi tangannya yang berbicara dengan Kami dengan disaksikan oleh kakinya berkenaan dengan apa-apa yang telah mereka lakukan.” (Q.S.36:65). 4). Merasakan Dekat dengan Allah Jika anda memegang gundu (kelereng), maka pasti seluruh yang ada pada gundu itu terkuasai, dan semuanya yang ada pada gundu bisa dilihat, karena diri anda sangat besar, sedangkan gundu kecil. Sebab itu, disebut dalam hadist bahwa Allah lebih dekat daripada urat leher, artinya bahwa kekuasaannya meliputi segalanya, semua manusia di bumi belahan mana pun tidak lepas dari kekuasaan-Nya. Merasa dekat dalam hal ini bukanlah hanya dalam omongan, melainkan dalam jiwa yang dibuktikan dengan sikap keseharian. Satu perumpamaannya, jika ke rumah anda kedatangan seorang pembesar yang anda yakini sungguh berkuasa menentukan bahagia atau tidaknya diri anda, tentu sikap anda di rumah itu akan selalu hati-hati dalam segala hal, karena anda sedang dekat dengan pembesar anda itu. Bagi hamba-hamba Allah, yakni “Ulama” yang disebutkan dalam Qur’an surat 35 ayat 28 tadi di atas, merasa dekatnya kepada Allah bukanlah sewaktu-waktu, melainkan setiap sa’at, sehingga segala apa yang akan dilakukannya itu, maka terlebih dulu ingat aturan yang ditetapkan Allah. Terasa pada dirinya tidak ada satu detik yang tidak terekam oleh pandangan Allah, dengan direkam itu berarti besar atau kecil pelanggaran maka akan kena pemeriksaan. Dengan demikian bahwa merasakan dekatnya kepada Allah itu bukanlah cuma sewaktu-waktu, sehingga rasa takutnya juga bukan sewaktu- waktu. Jelasnya, bukan seperti

366

yang sewaktu melakukan sholat ia takut kepada Allah, tetapi bila sedang bertemu dengan pejabat dia tidak takut kepada Allah, sehingga kelakuannya sama dengan pejabat, diajak begini mau; diajak begitu mau. Seperti halnya bila diajak maksiat (melecehkan ) terhadap kukum-hukum Allah bukannya sedih, tapi malah jadi kebanggaan, maka ulama sedemikian itu kebalikannnya dari yang disebutkan dalam Qur’an Surat 35 ayat 28 tadi. 5). Mengerti dan Yakin terhadap Rezeki di Akhirat Yang mengerti kekuasaan Allah, maka tidak ragu dari mana datangnya buah-buahan di alam “Jan-naatinna’iim” (syurga yang penuh kenikmatan), sebab buah apel yang ada di bumi pun tidak diketahui dari mana asalnya, yakni meskipun berkali-kali ditanam dan berkali-kali berbuah dari tempat yang sama, namun jika tanahnya terus digali, maka di bawahnya tidak ditemui buah apel. Ya, itu pasti alam bumi, di syurga pun pasti alam yang ada di syurga. Sebab, pasti alam di manapun Allah yang menciptakannya. Kita tidak ragu, sebab pasti alam diciptakan sesuai dengan kehendak-Nya. Kelapa ditanam di daerah yang cocok dengan kondisinya, maka akan tumbuh mengeluarkan kelapa pula dan di dalamnya ada airnya. Walau dari sekian milyar buah kelapa yang airnya dibuang tidak dimanfaatkan, namun tetap Allah menentukan bahwa tiap air kelapa, baik itu yang akan diminum maupun yang dibuang, tetap diisi air kelapa. Allah tidak rugi dengan air kelapa yang kebanyakannya tidak dimanfaatkan manusia. Sungguh tidak ragu, terhadap air susu (Q.S.47:15) yang disediakan di syurga. Yang dibuang saja dibuatkan maka apalagi yang dikehendaki oleh hamba-hamba yang sewaktu di dunia berbakti kepada-Nya. Itu sebagai satu perumpamaan saja, banyak lagi yang tidak disebutkan di sini. 6). Yakin akan Balasan Sesuai dengan Perbuatan Pasti alam satu biji rambutan yang melalui proses tanam di bumi akan mengeluarkan ribuan buah rambutan; pasti alam buah

367

jeruk, mengeluarkan buah jeruk. Begitu juga pasti alam kepada manusia sudah ditentukan Allah, bila sudah melalui proses kubur(mati), maka yang asalnya membantah kepada-Nya, tetap ada nilai siksaan akibat pembantahannya. Begitu juga yang taat kepada-Nya, tetap ada nilai pahala dari ketaatan kepadanya. Pasti alam di dunia satu biji kurma ditanam bisa menjadi ribuan kurma, dan bila dari setiap biji ditanam lagi bisa tak terkira hasilnya. Maka, pasti alam akhirat pun dari sekian tahun hidup didunia dengan penuh ketaatan kepada Allah akan menghasilkan kenikmatan yang tak terkirakan, yakni yang abadi. Artinya, bagi Allah itu mudah, yakni jika kenikmatan di dunia ini tidak habis-habisnya, bakan semakin bertambah, maka kenikmatan di akhirat pun sebagai ganjaran. Begitu juga mengenai bentuk siksaan di akhirat, mudah bagi Allah menyediakannya. 7 ). Yang Dituju Keridhoan Allah Yang yakin akan adanya hari pembalasan, maka tidak perlu gengsi dalam pandangan manusia manapun, tidak butuh dicatat sejarah sedang dirinya dalam pembatahan terhadap Allah. Sebab, bagaimanapun termasyhurnya di dunia serta sejarah dirinya, maka dunianya juga bakal kiamat. Tidak ragu terhadap kiamat. Buktinya, lapisan ozon yang asalnya tidak rusak, sekarang sudah sobek yang menurut penelitian sudah seluas wilayah Indonesia. Bagaimana jika semakin lama ? Kesimpulannya Sungguh jelas bahwa yang dimaksud dengan “ulama” pada ayat di atas tadi (Q.S.35:28) bukanlah yang hanya memiliki ilmu agama, sedangkan hatinya cuma kepada kesenangan duniawi, seperti kepada kedudukan serta kemasyhuran dalam pandangan manusia sehingga lupa akan tempat kembali; alias lupa terhadap hari perhitungan dari Allah. Melainkan, bahwa yang dimaksud dengan ulama dalam ayat itu ialah orang yang mengetahui kekuasan dan kebesaran Allah yang ditafakurinya, baik itu yang bisa dilihat oleh mata maupun yang hanya bisa

368

dipahami oleh penganalisaannya yang hasilnya dimasukkan kedalam jiwanya. Untuk menutup jawaban ini, perhatikan petikan ayat yang bunyinya: “...Janganlah kamu terpedaya oleh kehidupan oleh kehidupan dunia ini, dan jangan pula (penipu) setan memperdayakan kamu terhadap menta’ati Allah.” (Q.S.31:33). Dari bunyi petikan ayat itu dimengerti bahwa siapa saja, jika dirinya sudah tertipu dengan kesenangan duniawi, yakni lengah terhadap tempat kembali ke alam mahsyar, maka satu saat bisa tergoda oleh syaitan. Perlu dipaham bahwa yang dimaksud kehidupan dunia ini, bukan hanya dalam ukuran materi / kebendaan saja, melainkan juga, termasuk gengsi, gila hormat, ingin dipuji-puji, ingin tercatat dalam sejarah, dan sebagainya. Buktinya, tidak sedikit orang tadinya terlihat alim, tapi suatu sa’at membuat kesalahan, tapi ngotot tidak mau mengakui kesalahannya karena takut tercatat didalam sejarah, maka disadari atau tidak olehnya, hal itu telah tergoda oleh kehidupan duniawi. Yakni, takut kesalahannya tercatat dalam sejarah. Padahal jika dirinya ingat sepenuhnya ke Alam Mahsyar, tidak perlu takut oleh catatan sejarah di dunia, sebab semua manusianya juga akan ledis termasuk sejarahnya. Berbeda lagi bagi yang konsetrasinya kepada kekuasaan Allah, maka tidak akan mengutamakan duniawi dengan menomor-duakan tanggung jawab kepada Allah. Tidak perlu bela diri dengan berbelit-belit supaya dinilai bersih, sebab bagaimanapun berbelit, tidak mau dicatatat dalam sejarah, maka rekaman diri tidak bisa dipungkiri di Hadapan Allah. Laa Ilaaha ilallaah, tidak Rabb kecuali; tidak ada yang dituju melainkan kepada Allah. Jadi, apapun yang terjadi, tidak ada persoalan bagi pribadi mu’min, asalkan dalam menjalankan

369

-perintah-perintah Allah. Demikianlah “ Ulama” yang sesuai dengan Qur’an surat 35 Faathir ayat 28. ----------------------------------------------------31. Tanya: “Ada sebagian para penggede dari pemerintahan RI yang apabila membaca Al-Qur’an didahului dengan Isti’adzah, yakni mengucapkan, ”Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”, tetapi apa sebabnya mereka masih saja mempertahankan hukum-hukum kafir, seakan-akan belum memperoleh perlindungan dari Allah ?” Jawab: Sebelum menjawab lebih lanjut, perhatikan dulu tiga ayat di bawah ini: “Apabila kamu membaca Al-Qur’an hendaklah kamu meminta pertolongan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (Q.S.16:98). “sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya.” (Q.S.16:99).

“Kekuasaan syaitan itu terbatas hanya pada orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin, dan orang-orang yang mempersekutukan Tuhan dengan dia.” (Q.S.16:100). Penjelasannya: 1). Kalimat “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”, yang dimaksud dalam Al-Qur’an bukan hanya dalam pengucapan, melainkan harus dalam praktek. Sebab, jika cuma dalam ucapan alias kata-kata maka tidak bedanya dengan yang sedang dalam berpuisi atau bersandiwara. Misalnya, seorang wanita berkata kepada seorang pria, ”Aku berlindung

370

padamu” ! Akan tetapi, bila hal itu diucapkan hanya karena keadaan formalitas sandiwara, sedangkan sebelum atau sesudahnya si wanita tersebut berlindung atau menyerahkan dirinya kepada lelaki lain, maka tentu ucapannya itu bukanlah suatu permintaan yang mesti dikabulkan. Bagaimana tidak disebut lelucon atau sandiwara, jika seseorang yang mengatakan berlindung kepada Allah, sedangkan dirinya lagi menginjak-nginjak hukum Allah, serta membela hukum-hukum kehendak setan alias thogut. Maka. pastas saja bila membaca cetakan hurup Al-Qur’an sedang isinya dienyahkan atau diambil sekedar yang bisa dianggap menguntungkan. Sungguh hal itu diambil arti bahwa sadar atau tidak, maka kesehariannya juga bersama-sama dengan setan. 2). Dalam ayat yang ke-dua (Q.S.16:99) diambil arti “bahwa godaan setan itu tidak mempan kepada orang-orang yang beriman dan menyerahkan dirinya kepada Allah”. Pengertian menyerahkan diri kepada Allah, yakni diri diserahkan kepada Allah, artinya bahwa tujuan hidupnya ditujukan untuk menjalankan perintah-perintah Allah serta meninggalkan yang bertolak- belakang dengan hukum-hukum Allah. Dengan demikian bahwa pengertian “berlindung kepada Allah” yaitu menyerahkan diri kepada Allah, yang dibuktikan dengan mamatuhi ketentuan dari-Nya. Yang berlindung dengan sebenarnya berarti menyerahkan diri kepada yang dipinta melindungi, berarti pula ta’at kepada yang melidungi. Al-Qur’an mengungkapkan, ” Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan menyerahkan diri kepada Rabbnya.” Artinya, bahwa pada sa’at mengucapkan “Isti’adzah” itu, loyalitas (keta’atan) diri hanya kepada Allah dengan dibuktikan menegakkan hukum-hukum Allah, serta ingkar dari hukum-hukum kehendak setan. Jika tidak demikian, maka Isti’adzah-nya palsu, atau cuma olokolokkan, atau juga hanya merupakan puisi. Atau mungkin

371

sekedar terpaksa ada undangan dari ‘babe’. Atau mungkin juga supaya bisa nongol di layar TV dilihat oleh anak bini ! Sekali lagi, bukan berlindung jika tidak ta’at ; bukan ta’at jika tidak menyerahkan diri. Satu misal, seorang gadis yang menyerahkan diri kepada kekasihnya dengan dibuktikan adanya ta’at, dalam arti kesetiaan yang sepenuhnya kepada kekasihnya itu, maka tidak akan tergoda oleh pemuda lain. Kekasihnya juga bersedia melindunginya. Berbeda lagi dengan seorang gadis yang dalam perkataannya berlindung kepada si jejaka, sedang prakteknya ia setia kepada pemuda yang menjadi musuh besarnya si jejaka tadi, maka si jejaka itu tidak akan memperdulikan omongan si gadis, sebab tahu bahwa ucapan si gadis itu cuma memperolok-olokan, atau sebagai tipuan untuk mengelabuhi para pengikut si jejaka. 3). Dalam ayat yang ketiga (Q.S.16:100) diambil arti bahwa bagi yang mengambil ‘setan’ sebagai pemimpinnya serta mempersekutukannya dengan Allah Swt, tidak memperoleh perlindungan dari godaan setan. Yang dimaksud menyekutukan Allah pada ayat itu ialah menyatukan ketaatan antara ketaatan terhadap Allah dengan ketaatan terhadap pemimpin dari pengemban hukum-hukum yang bertentangan dengan hukumhukum Allah. Contohnya, sholat dan shaum Ramadhan serta ibadah mahdhoh lainnya dikerjakan, tetapi menta’ati juga perintah dari ‘dedengkot’ kaum sekuler dalam rangka memberangus usaha tegaknya hukum-hukum Allah. Dengan mensyarikatkan kea’atan itu maka sebagian perintah Allah dikerjakan sebagian lagi dibantah, yakni diganti dengan hukum-hukum thagut (setan) ! Sadar atau tidak, maka sikap sedemikan itu posisi dirinya dalam kepemimpinan ‘setan’ ! Hal itu sesuai dengan pernyataan setan (Q.S.7:16-17) akan menggoda dari semua arah, atau dari segala aspek kehidupan. Jadi, walaupun pada setiap hari raya Islam mengucapkan Isti’adzah, serta ngomong mari amalkan Al-Qur’an, tetap saja membela hukum pidana dari KUHP-Pancasila warisan kolonial

372

asing yang jelas bertentangan dengan Al-Qur’an.Sebab, menyerahkan dirinya bukan kepada Allah, melainkan kepada kedudukan atau kepada UUD 45 dan Pancasila. Demikianlah sebabnya bahwa ada sebagian dari penggede pemerintah RI yang bersila sambil komat-kamit Isti’adzah, tetapi tetap saja menolak pengeterapan hukum Islam secara kaffah di bumi Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Sebab itu, bahwa Isti’adzah yang sebenarnya ialah Isti’adzah yang didahului oleh Bara’ah, melepaskan diri dari ideologi yang sesuai dengan kehendak Thogut / setan. -----------------------------------------------32. Tanya: “Pada bulan Agutus tahun 1962 sebagian besar tokoh NII menandatangani “Ikrar Bersama” yang secara dhohir telah menyerah kepada musuh. Dengan itu atas dasar apa kita mesti terkait dengan NII ?” Jawab: Yang menyerah itu adalah sebagian dari oknum pimpinan NII. Artinya, bukan semuanya, tetapi sebagiannya, sehingga masih ada estapeta kepemimpinan NII. Dengan itu sekalipun sudah banyak oknum yang keluar dari NII, namun selama nilai kepemimimpinannya masih ada, maka kita wajib terkait dengannya. Dalam hal ini kita perhatikan apa yang dialami oleh Ali bin Abi Thalib setelah banyak ummat yang meninggalkannya, pada suatu subuh Ali bin Abi Thalib melihat tentaranya yang ada diperkemahan jumlah tinggal sekitar 1000 orang lagi, Khalifah Ali tetap teguh tidak goyah, bahkan pada akhir hayatnya mengatakan:” Tiada artinya perintah bila tidak ditaati. Biarlah mereka pergi, cukup Allah dan Rasul-Nya bagiku”.

373

Dari perkataan Ali r.a itu jelas bagi kita juga bahwa yang menjadi keterkaitan kita terhadap NII itu karena nilai kebenarannya. Dengan itu seandainya pun tinggal sendiri lagi, namun jika masih memiliki nilai segai pelanjutnya, artinya tidak batal dari tugasnya, maka diri tetap terkait dengan kepemimpinan NII. Apalagi ditambah dengan aparat NII yang tidak menyerah kepada musuh, melainkan karena pada waktu dulu itu putus hubungan, sehingga tidak tahu keadaan yang sesungguhnya. Sejalan dengan jawaban ini kita perhatikan ayat yang bunyinya:

“Hai orang -orang yang beriman, (kewajiban) kepadamu ada pada dirimu, tidaklah orang yag sesat memberi madharat kapadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.5 AlMaidah:105). Dari ayat di atas itu diambil arti bahwa kita lepas tanggung jawab terhadap perbuatan mereka yang telah menyimpang dari tujuan kebenaran. Kita tetap berkewajiban melanjutkan perjuangan tegaknya Daulah Islamiyyah, meski hanya tinggal berberapa orang lagi. Perhatikan ayat yng bunyi-Nya: “ Tetapi hanya satu rumah saja yang Kami dapati wargawarganya terdiri dari orang-orang yang patuh kepada Allah.” {Q.S.51 Adz-Dzaariyaat:36). Ayat di atas itu menggambarkan bahwa keterkaitan terhadap pemimpin itu ditentukan dengan masih adanya nilai kepemimpinan yang hak, dan bukan ditentukan oleh sedikit atau banyaknya pengikut. Jadi, walaupun pengikutnya cuma ada satu

374

keluarga, namun jika itu benar memiliki legalitas sebagai pemimpin maka wajib diri terkait kepadanya. Allah tidak butuh kepada manusia banyak. Di Hadzirat Allah Swt, tidak bisa mengelak bila tidak komitmen kepada pemimpin yang Haq, dengan alasan pengikutnya sedikit atau karena banyaknya yang menyerah kepada kepemimpinan musuh. Demikianlah yang menjadi dasar keterkaitan kita kepada kepemimpinan NII, meskipun sebagian dari komandan T I Inya banyak yang menyerahkan diri kepada Thogut. ---------------------------------------------------33. Tanya : “Ada yang mengatakan bahwa N I I itu sudah terpecahpecah. Adakah itu benar dan bagaimanakah yang sesungguhnya ?” Jawab: Tidak benar ! Tegaknya NII berdasarkan undang-undang. Dengan undang-undang itu, tidak berpecah-pecah. Melainkan, tetap bersatu, yang pemerintahannya berjalan menurut dasar yang ditetapkan dalam “Kanun Azasy”, dan sesuai dengan pasal 3. dari Kanun Azasy tadi, sementara belum ada Parlemen(Majlis Syuro), segala undang-undang ditetapkan oleh Dewan Imamah dalam bentuk maklumat-maklumat yang ditandatangani oleh Imam. Perhatikan dua petikan ayat di bawah ini: “Dan berpegang teguhlah kamu dengan tali (batas ketentuan) Allah secara bersama-sama dan jangan bercerai-cerai...” (Q.S.3:103). “Hai orang-orang beriman ! Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil Amri dari (golongan) kamu....” (Q.S.4:59). Berpegang teguh dengan batas ketentuan dari Allah, dikaitkan dengan surat An-Nisaa’ ayat 59 yakni taat kepada Allah serta ulil amri minkum yaitu kepemimpinan umat Islam. Wadah

375

kepemimpinan umat Islam untuk sementara di Indonesia ini yaitu Negara Islam Indonesia (NII). Dari Al-Qur’an surat 3 Ali Imran ayat 103 dan surat An-Nisaa’ ayat 59 disimpulkan bahwa yang berpegang dengan undang-undang itu tetap bersatu, dan yang bercerai-cerai itu yang tidak berundang-undang. Dan yang tidak berundang-undang itu bukanlah NII, walau mengakunya sebagai warga NII. Adapun yang mengatakan NII telah berpecah-pecah, karena tidak menilai undang-undangnya, melainkan melihat dari adanya beberapa kelompok yang mengatas-namakan NII. Padahal bagaimanapun banyaknya yang mangatas-namakan NII, tetapi jika sumber kepemimpinannya itu tidak berdasarkan kepada peraturannya, sebagaimana dalam Kanun Azasy dan PDB (Pedoman Dharma Bhakti), maka bukanlah NII. Adapun sebab terjadi banyaknya kelompok yang mengklaim NII di antaranya ialah: 1). NII yang sesungguhnya berdasarkan undang-undang belum memperoleh kemenangan secara de facto, sehingga belum banyak dikenal oleh seluruh umat Islam Indonesia. 2). Banyak yang belum memahami nilai kepemimpinan dalam Islam, juga belum tahu perundang-undangan serta wawasan sejarah NII yang sebenarnya. Sebab itu dalam jawaban yang lalu disebutkan adanya ITSLA (Islam Tujuan Sistem Lepas Aturan). 3). Adanya orang-orang yang sudah tahu perundang-undangan mengenai kepemimpinan NII, tetapi demi tujuannya, tetap tidak mau kembali kepada undang-undang walau mengatasnamakan dirinya NII.

--------------------------------------------------------34. Tanya:

376

“Bagaimana bila ada yang berkata bahwa Pedoman Darma Bakti (PDB) itu bikinan manusia, bisa saja membuat sebagian kita pusing atau berbeda-beda menafsirkannya sehingga kita pecah, sebab itu kembali saja kepada Al-Qur'an dan Sunnah ? “ Jawab: 1). Justru kita berpegang pada pedoman (undang-undang) tersebut itu supaya kita tidak pusing, kecuali jika bagi yang belum bisa memahaminya. Atau juga bagi yang sudah memahami serta mengakui kebenaran yang dikandung undangundang itu sedang hatinya berat menerimanya. Itu satu di antara penyakit hati ; mengaku kebenaran cuma didalam hati menolak dalam sikap. Ada dua penyebab bagi yang menafsirkannya menyalahi dari penafsiran yang sebenarnya, yaitu: (a). Kurangnya wawasan dalam hal yang berhubungan dengan undang-undang itu. (b). Wawasan cukup, tapi tidak ikhlas mengaku kebenarannya, sehingga tidak jujur dalam mengemukakannya. Point yang kedua (2) ini biasanya terjadi pada orang yang takut dengan undang-undang itu dirinya tergeser. Atau juga gengsi serta malu jatuh wibawa karena sudah terlanjur mempertahankan pendapatnya. Jadi, yang membuat umat pecah-belah itu bukan undang-undangnya. Melainkan, jika bukan faktor ketidakngertian, tentu sebab ketidakikhlasan sang penafsirnya. Perhatikan ayat di bawah ini yang bunyinya: "Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya." (Q.S.26:197). Pada ayat di atas itu terdapat "Ismun nakirah ‫." علمؤا‬ Yakni, ulama bersifat umum. Jadi, bukan ditujukan kepada

377

ulama Bani Isroil saja, melainkan orang yang sudah mengerti. Berkaitan dengan itu kita lihat lagi ayat yang bunyinya:

"Sesungguhnya kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayatayat Allah."--(Q.S.6:33). Asbaabunnuzul dari ayat itu menerangkan bahwa para pentolan musyrikin seperti Abu Jahal, Abu Syofyan dan Akhnas dalam hati mereka membenarkan bahwa Muhammad itu sebagai Nabi. Namun mereka menyembunyikan hal itu di hadapan para pengikutnya, karena takut masing-masing kedudukannya jatuh. Artinya, jika ketahuan oleh para pengikutnya niscaya akan didepak dari masing-masing kepemimpinannya. Atau jika terus terang mengakui kenabian Muhammad Saw, berarti para pentolan yang bangsawan itu akan dipimpin oleh Muhammad yang asalnya penggembala domba. Memang, ayat itu ditujukan kepada para pentolan Quraisy seperti Abu Jahal dan Abu Syofyaan serta Akhnas yang jelas tidak sholat dan tidak berpuasa Ramadhan, juga mereka sudah mati. Akan tetapi, kesombongan serta dengki dari sifat iblis tidak berhenti sampai sekarang. Iblis sudah berikrar untuk menyesatkan manusia dari segala segi kehidupan (Q.S.7:16-17) sehingga seseorang tidak menyadarinya. Menuntun ummat keluar dari undang-undang Ulil Amri yang hak sungguh suatu kebathilan, sedangkan perbuatan bathil itu merusak shalat. Sebab itu, waspadalah terhadap pintu masuknya Iblis ! Tujuan Iblis ialah supaya manusia masuk neraka (Q.S.35:6). Caranya berbeda-beda tergantung kondisi manusianya. Bisa saja dari segi sholat dan puasa seseorang tidak tergoda, tapi dalam menghilangkan keangkuhan dan gila hormat tidak mampu, yang

378

akibatnya terus membohongi ummat sehingga ummat tidak tahu dasar hukum pemimpinnya;dituntun kepada kepalsuan atau digiring kepada anggapan belum adanya pemimpin. Sungguh berani jika infaqnya diambil sedangkan belum ada pemimpinnya, atau tidak berdasarkan hukum. Bagaimanakah pertanggungan jawabnya nanti di Akhirat ? Padahal pihak thogut alias ‘Setan’ saja punya pemimpin. Apalagi dalam Islam sebelum Khadizah, Abu Bakar serta Ustman bin Affan menginfaqkan harta mereka, juga sebelum Yassir dan Sumayyah dibunuh dan Bilal bin Raba'ah disiksa musuh, kesemuanya itu sudah ada kejelasan pemimpinya. 2). Justru dengan berpegang pada undang-undang itu supaya kita tidak berbeda-beda. Sebab, di dunia manapun tidak ada undang-undang yang dibuat supaya di antara para pemegangnya berbeda-beda dan berpecah-belah. 3). Justru pula kita harus berpegang pada undang-undang (PDB) itu karena kita berpegang kepada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW. Contohnya: (a). Dalam Al-Qur'an ada ayat yang memerintahkan kita supaya menta'ati "Ulil Amri (para pemegang urusan)" yaitu pemimpin atau majlis kepemimpinan. Artinya, kita diperintahkan menta'ati peraturan/undang-undang yang ditetapkannya. Jadi, untuk kita berpegang pada Al-Qur'an itu kita wajib juga berpegang pada undang-undang, yang untuk NII yaitu Qanun Azasy, PDB dan Strafrecht. Berkaitan dengan undang-undang, kita perhatikan ayat yang bunyinya: “Dan (bagi)orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Robbnya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka

379

menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.”._(Q.S.42:38). Dari ayat itu kita diwajibkan bermusyawarah. Hal itu berarti kewajiban merujuk kepada undang-undang. Sebab, undangundang itu juga hasil musyawarah. Dengan demikian musyawarah itu ada batasannya. Diantaranya: (1). Harus sesuai dengan undang-undang, karena jika tidak demikian, akan kacau, semua bisa ngaku telah bermusywarah. Dan bisa-bisa hasil rekayasa “Thogut (musuh)” pun diakukan sebagai hasil musyawarah. (2). Yang dimusyawarahkan itu ialah yang belum ada dalam undang-undang. Sebab, jika yang sudah ada dalam undangundang, misalnya masalah kepemimpinan selalu diperdebatkan, maka tidak akan habis-habisnya sehingga tidak akan kerja-kerja. (b). Al-Qur'an mewajibkan kita bersatu, diungkapkan dalam ayat yang bunyinya: sebagaimana

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-cerai, ....)._(Q.S.3:130) Dari ayat itu dimengerti bahwa umat itu bisa bersatu apabila berpegang pada "Hablulloh", garis yang ditentukan Alloh, yaitu al-Quran dan sunnah Nabi SAW. Sebagai bukti, pada awal berdirinya negara Islam di Madinah umat Islam yang minoritas dan terus menghadapi berbagai gangguan fisik dari dalam ataupun luar, namun tetap bersatu sebab semua umat berpegang pada undang undang (piagam/undang undang Madinah) sehingga seragam, baik itu dalam hal kepemimpinan maupun dalam penentuan mana musuh dan mana bukan. Dengan demikian bisa disimpulkan secara hukum bahwa yang disebut berpecah-belah itu mereka yang tidak berundangundang (inkonstitusional). Perhatikan sabda Nabi SAW:

380

‫ان امتي لتجتمع علىضللة ان ال ليجتمففع امففتى علىضففللة لففن‬ .‫يجمع امتى ال علىهداى. رواه الترمدى‬
"Sesungguhnya ummatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Sesungguhnya Allah tidak menyatukan ummatku atas kesesatan. Tidak akan bersatu ummat kecuali dalam petunjuk ( Hudaan). [HR.Tirmidzi] Yang disebut "Hudaan ‫ " هداى‬yaitu petunjuk. Dan yang disebut petunjuk itu ialah Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW, atau perbuatan Nabi seperti halnya membuat undang-undang negara di Madinah. Nabi Muhammad SAW membuat UndangUndang Negara Islam, ummat diwajibkan menta'atinya. Sebab, apa artinya ber ulil amri jika tidak taat kepada undangundangnya. Jadi, yang tidak taat pada undang-undang negara yang berazaskan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW., merekalah yang tidak berpegang pada Sunnah (Hudaan). (c). Bagian akhir dalam undang-undang pemerintahan Nabi di Madinah disebutkan antara lain:

....‫وانه ليحول هذا الكتاب دون ظالم او اثم‬
“Sesungguhnya tidak ada orang yang akan melanggar ketentuan {undang-undang) tertulis ini kalau bukan penghianat dan pelaku kejahatan”. Dengan itu jelas ummat Nabi SAW diwajibkan berpegang pada undang-undang pemerintahan Islam di Madinah yang pada waktu itu. Jadi, bahwa kita juga berpegang pada UndangUndang negara yang berdasarkan Qur’an dan Hadist Shohih, mencakup didalamnya semua Maklumat hasil musyawarah Dewan Imamah NII itu karena kita berpegang pada Sunnah Nabi SAW. Dalam semua perkumpulan atau kelembagaan, orangorangnya bisa bersatu apabila semuanya konsisten pada perundang-undangan atau peraturannya. Misalnya, dalam

381

permainan bola saja dari setiap negeri bisa bersatu dalam satu kompetisi, karena semua berpegang pada peraturan main bola. Sebaliknya, meskipun cuma dalam satu kampung, namun jika sebagian ada yang tidak mau berpegang pada peraturan main bola, maka tidak akan jadi main bola yang sebenarnya, melainkan main bola bohongan. Sama halnya dengan itu, bisa disebut NII apabila memakai perundang-undangan NII. Bisa bersatu di dalamnya jika semua pakai aturan-aturannya. Antara lain yaitu PDB. Kesimpulannya, bahwa berpecah-belah itu, karena tidak berpegang pada satu rujukan (undang-undang). Yaitu, ingat pada negara tapi lupa pada peraturannya, ingat pada ayat jihad lupa kewajiban taat pada pada undang-undang yang dikeluarkan oleh ulil amri (Dewan Imamah), maka terjadilah berfirqoh - firqoh (cerai-berai). Perhatikan Firman Allah SWT yang bunyi-Nya:

"Dan di antara orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani", ada yang telah kami ambil perjanjian mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan."--(Q.S.5:14). -------------------------------------------------35. Tanya: “Ada yang mengatakan, sejelek-jeleknya hasil musyawarah, dan pengangkatan Adah Jaelani Tirtapraja pada Tahun 1978 itu di Tangerang adalah hasil musyawarah. Tapi, apa sebabnya hal itu tidak bisa dinyatakan sebagai musyawarah NII ? ”

382

Jawab: Musyawarah bisa disebut baik, apabila musyawarah itu sesuai dengan undang-undang. Tetapi, karena yang menamakan musyawarah NII, Mahoni 1978 di Tangerang itu bertentangan dengan undang-undang NII, maka pengangkatan Adah Jaelani Tirtapraja sebagai Imamnya itu bukan saja tidak baik, melainkan juga secara hukum bukanlah musyawarah NII yang sebenarnya dari Proklamasi 7 Agustus 1949. Bila ada yang mengatakan baik, maka itu hanyalah menurut tinjauan dari pribadi dan bukan menurut dasar hukum NII. Sebab-sebabnya antara lain yaitu: 1). Menurut Qanun Azazy (UUD NII) Bab IV Pasal 2 "Imam dipilih oleh Majlis Syuro dengan suara paling sedikit 2/3 dari pada seluruh anggota.". Dan menurut Bab II Pasal 4 ayat 1 "Majlis Syuro terdiri atas wakil-wakil rakyat ditambah dengan utusan golongan-golongan menurut ditetapkan dengan undangundang.". Sedangkan mereka yang mengatas-namakan musyawarah pengangkatan Imam NII, Mahoni, 1978 Tangerang itu, para pelakunya bukan wakil-wakil rakyat NII juga bukan utusan golongan-golongan, melainkan adalah pribadi-pribadi dalam arti tidak berhak mengangkat Imam NII. 2). Sejak Proklamasi 7 Agustus 1949 sampai ditulisnya TABTAPENII DATANG ini NII dalam keadaan Darurat Perang sehingga belum ada Parlemen (MajlisSyuro) yang seperti dalam Bab II Pasal 4 ayat 1 tadi. Dengan keadaan demikian berlaku Undang-Undang Pasal 3 ayat 2, "Jika keadaan memaksa, hak Majlis Syuro boleh beralih kepada Imam dan Dewan Imamah." Sedangkan mereka yang mengatas-namakan Musyawarah 78, Mahoni, Tangerang itu bukanlah para anggota Dewan Imamah, melainkan terdiri dari sebagian tokoh yang telah melarikan diri dari Medan Perang atau datang menyerahkan diri ke pihak musuh. 3). Menurut Bab XV Perubahan Kanun Azazy Pasal 34 dalam hal, "Cara Berputarnya Roda Pemerintahan." Pasal 1; "Pada

383

umumnya roda Pemerintahan NII berjalan menurut dasar yang ditetapkan dalam "Kanun Azasy", dan sesuai dengan fasal 3 dari "Kanun Azasy", sementara belum ada Parlemen ( Majlis Syuro ), segala undang-undang ditetapkan oleh Dewan Imamah dalam bentuk Maklumat-Maklumat yang ditandatangani oleh Imam". Adapun bunyi Maklumat yang ditetapkan oleh Dewan Imamah Yang tercantum dalam Maklumat Komandemen Tertinggi (MKT) No.11 di antaranya yaitu: "K.P.S.I.dipimpin langsung oleh Imam -- Plm. T.APN.I.I.. Jika karena satu dan lain hal, ia berhalangan menunaikan tugasnya, maka ditunjuk dan diangkatnyalah seorang Panglima Perang, selaku penggantinya, dengan purwabisesa penuh.". "Calon pengganti Panglima Perang Pusat ini diambil dari dan diantara Anggota-Anggota K.T., termasuk didalamnya K.S.U. dan K.U.K.T., atau dari dan diantara para Panglima Perang, yang kedudukannya dianggap setaraf dengan kedudukan Anggota-Anggota K.T.". Berdasarkan undang-undang itu. maka yang berhak dipilih sebagai Panglima Perang Pusat (Imam) dalam Darurat Perang (sementara belum ada Parlemen) harus diambil dari AKT (Anggota Komandemen Tertinggi), termasuk didalamnya K.S.U.(Kepala Staf Umum) dan KUKT (Kuasa Usaha Komandemen Tertinggi) atau yang setaraf dengan A.K.T.. Sedangkan Musyawarah 1978, Mahoni, Tangerang tidak sesuai dengan undang-undang tersebut diatas tadi. Antara lain : (a). Bukan saja karena kebanyakan yang ikut bermusyawarah itu orang-orang yang tidak berkedudukan setaraf dengan A.K.T., tetapi mereka juga adalah yang sudah keluar dari NII (meninggalkan Imam di Medan Jihad).

384

(b). Yang diangkat oleh mereka sebagai Imam NII adalah Adah Jaelani Tirtapraja yang sudah desersi, keluar dari NII; menyerahkan diri kepada Pemerintah RI. Dengan itu dia tidak lagi menjadi A.K.T.. Kesimpulannya, Musyawarah 1978 Mahoni, Tangerang itu tidak memakai undang-undang NII. Terbukti : (1). Bab IV Pasal 12 Ayat 2 : "Imam dipilih oleh Majlis Syuro dengan suara paling sedikit 2 / 3 daripada seluruh anggota". Sedangkan pada kondisi darurat perang ini belum ada Majlis Syuro (parlemen). (2). Bab IV Pasal 13 Ayat 3: "Didalam hal-hal yang amat memaksa, maka Dewan Imamah harus selekas mungkin mengadakan sidang untuk memutuskan Wakil Imam Sementara." Sedangkan yang hadir pada musyawarah itu bukan anggota-anggota Dewan Imamah. Dan seandainya yang hadir pada waktu itu para anggota Dewan Imamah, maka mereka tidak berhak bermusyawarah mengangkat Imam, karena undang-undang pasal 13 ayat 3 itu berlaku sebelum dikeluarkan MKT No. 11.tahun 1959 tentang calon pengganti Panglima Tertinggi. Sedanglan calon pengganti Panglima Tertinggi yang tercantum dalam MKT. No.11 tersebut itu masih ada dan tinggal satu. Disebabkan tinggal satu yaitu KUKT, maka KUKT itulah yang menjadi Panglima Perang Pusat (Imam) tanpa pemilihan lagi. Dengan demikian apabila ada pengangkatan Imam diluar undang - undang itu, maka adalah "ilegal". Artinya posisi kepemimpinan hasil pertemuan Mahoni di atas, sama sekali diluar ketentuan hukum NII. Dengan demikian, bagaimana mungkin orang yang diangkat berdasarkan ketentuan Non NII, bisa "Syah" memimpin Negara Islam Indonesia ??? (3). Bab IV Perubahan Kanun Azasy Pasal 34, "Cara Berputarnya Roda Pemerintahan", Ayat 1 yang dituangkan kepada Maklumat Komandemen Tertinggi No.11 mengenai penggantian Imam dalam Darurat Perang, singkatnya

385

menerangkan bahwa yang mengangkat dan yang diangkat sebagai Imam itu harus setaraf dengan A.K.T.. Sedangkan musyawarah 1978 Mahoni, Tangerang itu para pelakunya bukanlah yang setaraf dengan AKT, dan yang diangkatnya juga bukan anggota AKT lagi. Melainkan, yaitu Adah Jaelani Tirtapraja bekas AKT, sebab telah melaporkan diri kepihak musuh sewaktu Imam SMK belum tertangkap. Bernegara berarti berhukum dan berarti pula berundangundang. Maka, bermusyawarahnya juga mesti berdasarkan undang-undang dari negara itu. Jika sekedar mengaku telah bermusyawarah tanpa undang-undang negara, maka siapapun bisa. Cuma, jadi pemimpin apa namanya ? Sebab, bila aturannya dari Persatuan Pencak Silat, ya, pemimpin Persatuan Pencak Silat. Begitu juga jika aturannya dari pribadi-pribadi maka hasilnya juga jadi pemimpin pribadi-pribadi. Kemudian bila yang aturannya dari pribadi-pribadi itu diakukan sebagai pemimpin negara, maka hasil musyawarah seperti itu bukan hanya "tidak baik melainkan juga ngawur" _ Negara, sedangkan aturannya dari pribadi, makabisa-bisa banyak sekali yang mengatas-namakan negara Islam di Indonesia. Jika hal demikian masih saja dianggap baik maka waspadalah jangan kena ayat ".... dan syaitan pun menampakkan kepada mereka kebaikan apa yang selalu mereka kerjakan." ( Q.S. 6:43 ). ----------------------------------------------------36. Tanya: “Ada yang mengatakan bahwa literatur informasi mengenai menyerahnya sebagian besar pimpinan TII itu hanya dari yang diterbitkan oleh media cetak pihak luar NII. Dengan bagaimana menanggapi perkataan itu ?” Jawab:

386

Dari tahun 1961 - 1962 hingga saat ditulisnya TABTAPENI DATANG edisi pertama (1996 ) baru 34 (tiga puluh empat tahun), artinya para saksi mata, juga sebagian para pelaku sejarahnya banyak yang masih hidup. Jadi, mengenai informasi bahwa mereka menyerah itu, bukan saja dari media cetak yang diterbitkan oleh pihak luar NII, melainkan juga yang menjadi pokok ialah dari para saksi mata dan dari sebagian para pelakunya, serta dari kenyataan apa yang mereka yang lakukan. Dengan demikian sekalipun tidak dari yang diterbitkan oleh lawan pun, tapi jika memang itu ada kebuktiannya menurut saksi mata atau dari sebagian para pelaku sejarah, baik itu dari yang menyerah maupun dari yang tidak menyerah, melainkan karena terputus hubungan, atau juga dari photo-photo mereka, maka hal itu merupakan bukti sejarah. Kalimat bisa dibuat - buat dan diputar-putar, tetapi bagaimana mengenai dengan photo - photo mereka ? Umpamanya anda membaca berita di koran mengenai pohon kelapa bercabang tiga, sebelum anda mengeceknya, boleh anda percaya atau tidak percaya, Tetapi jika anda membaca lagi koran yang memuat photo pohon kelapa bercabang tiga serta orangorang yang menontonnya, maka masihkah anda tidak percaya ? Ataukah untuk mempercayai itu anda harus terlebih dulu menerbitkan koran sediri yang memuat berita pohon kelapa bercabang tiga ? Tentu tidak ! Jika anda percaya bahwa sekarang ini di Pakistan ada seorang priya tertinggi di dunia yang tingginya dua setengah meter. Hal itu bukan karena anda sudah bertemu dengannya, tetapi karena anda melihat photonya sedang berdiri bersama Kaisar Hirohito di Jepang. Dan anda juga tidak perduli siapa yang mencetak photonya. Dengan photonya cukup anda mempercayainya. -----------------------------------------------------37: Tanya:

387

”PDB - MKT No.11 adalah undang-undang produk. Dan undang-undang itu dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan kondisi. Jika kondisi tidak memerlukannya, bisakah dikembalikan kepada UUD (Kanun Azasy), yang mana dalam Kanun Azasy disebutkan bahwa Imam dipilih oleh Majlis Syuro (Bab IV Pasal 12 Ayat 2) ?” Jawab: Justru dikeluarkannya MKT No.11, tahun 1959 itu karena NII dalam Darurat Perang yang kondisinya tidak bisa menjalankan Bab IV Pasal 2 (Pengangkatan Imam oleh Majlis Syuro). Karena itu, sungguh tidak masuk akal, jika pengangkatan Imam oleh MKT No.11 (Undang-undang Produk) tidak bisa dijalankan sedangkan oleh Kanun Azasy Bab IV Pasal 12 Ayat 2 bisa dijalankan ! Sebab, adanya MKT No.11,tahun1959 mengenai calon pengganti Imam selaku K.P.S.I. sebagai jalan keluar untuk berpegang kepada Kanun Azasy yang kondisinya belum ada Majlis Syuro (parlemen), karena dalam darurat perang. Dengan demikian kita menjalankan MKT No.11, tahun 1959 sebagai undang-undang produk dari Kanun Azasy itu berarti menjalankan Kanun Azasy. Logikanya tidak bisa disebut kembali kepada Kanun Azasy jika tidak mau menjalankan MKT No.11 dalam hal pengangkatan Imam, yang mana Kanun Azasy itu sudah menuangkannya kepada MKT No.11 sebagai undangundang didalam kondisi Darurat Perang. Harus dipahami bahwa MKT No.11 mengenai pengangkatan Imam itu sebagai persiapan menjaga kemungkinan bila satu saat sebagian besar anggota Dewan Imamah akan gugur atau juga tidak berfungsi karena berhalangan dalam keadaan bahaya perang. Memang, untuk menjalankan undang-undang produk harus sesuai dengan kondisinya. Artinya, jika masih bisa dijalankan

388

maka wajib kita berpegang dengannya. Dan ada yang tidak bisa dijalankan, maka boleh meninggalkannya. Seperti halnya mengenai persenjataan yang objeknya selalu mengalami perubahan ( dulu belum ada AK 47 dan M 16). Berbeda halnya dengan estapeta kepemimpinan Imam. Karena hal itu yang bersangkutan dengan keutuhan negara dan persatuan ummat, merupakan hal prinsip dan orangnya masih ada serta utuh, kita tidak bisa meninggalkannya. Sebab, kita diwajibkan taat kepada hukum semaksimal kemampuan (Q.S. 64:16). Perhatikan Qaidah Usul : "Sesuatu yang tidak dapat dijangkau keseluruhannya jangan ditinggalkan keseluruhannya.". Dari Qaidah Usul itu diambil arti, "Jika ada peraturan yang tidak bisa dijalankan karena kondisinya, maka kita tidak boleh meninggalkan yang bisa dijalankan". -------------------------------------------------------------37. Tanya: “Ada yang mengatakan bahwa pengangkatan pemimpin itu harus didasari beberapa kriteria, maka bagaimanakah kaitannya dengan MKT.No.ll ?” Jawab: Sudah pasti hal itu mesti didasari kriteria. Tetapi, semua kriteria tidak boleh diluar peraturan. Sebab, dalam peraturanperaturan itu sudah mengandung kriteria. Justru dengan peraturan (MKT.No.ll tahun 1959 ) itu supaya pengangkatan pemimpin tidak keluar dari kriteria yang sudah ditentukan. Semua pemimpin negara manapun memiliki kriteria, tetapi semua kriteria itu tetap dalam lingkup peraturan negara. ----------------------------------------------------38. Tanya: ”Bukankah Undang-undang itu bisa dirubah ?” Jawab: Betul undang-undang itu bisa dirubah, tetapi harus oleh yang berhak untuk merobahnya. Yaitu oleh Majlis Syuro. dan

389

dalam keadaan darurat perang boleh oleh Dewan Imamah (lihat pasal 3 ayat 1 dan 2 Kanun Azasy). Sebab, jika undang-undang boleh dirubah oleh yang bukan haknya menurut undang-undang itu berarti boleh oleh siapa saja sehingga mengundang kekacauan. Dan kekacauan itu musuhnya undang-undang atau negara ! ---------------------------------------------------------39. Tanya : “Bolehkah yang menyerahkan diri kepada musuh pada tahun 1962 atau sebelumnya itu disebut sebagai ijtihad ?” Jawab: 1). Adanya ijtihaad itu apabila menghadapi masalah yang tidak didapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah, maka diputuskan dengan ijtihaad, dan keputusan itu tidak menyimpang dari Qur'an dan Sunnah. Adapun kabur dari medan perang meninggalkan Imam kemudian datang kepada musuh menyerahkan diri serta menyatakan setia kepada mereka itu, jelas melanggar hukum Al- Qur'an dan Sunnah Rasul Saw. 2). Dibolehkan ijtihad hanya untuk kebaikan dalam arti tidak boleh bertentangan dengan hukum Islam. Sedangkan meninggalkan Imam, kemudian melaporkan diri kepada musuh jelas itu melanggar baiat dan jelas sekali melangggar Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW. 3). Jika lari dari medang perang, meninggalkan Imam dengan dalih ijtihad karena terdesak, maka dimana letak pembelaan terhadap pimpinan dan perjuangan dengan pengorbanannya ? 4). Jika kabur dari medan perang dengan meninggalkan Imam dan banyak kesatuan prajurit bawahannya dibenarkan dengan dalih ijtihad, sedangkan hal itu jelas merusak "Jihaad", maka bagaimana bisa dikatakan tidak melanggar Qur'an ?

390

5). Apabila melarikan diri dari medan perang kemudian menyerahkan senjata kepada musuh dibolehkan dengan dalih ijtihad terdesak, maka apa artinya ancaman hukum bagi para pelaku "Firror" pada "Perang Uhud" dan Perang Akhzaab" ? Pada Perang Akhzaab, Khandak dan Perang Hunain pun terdesak. Padahal larinya mereka itu bukan ke pihak musuh. Maka, bagaimanakah bagi mereka yang telah meninggalkan Imam di medan perang sehingga Imam tertangkap Tanggal 4 Juni 1962 ? 6). Bila setiap terdesak oleh musuh kemudian dibolehkan menyerahkan diri dengan dalih ijtihad, maka tidak relevan dengan harapan "Mati Syahid" dan tidak relevan pula dengan ayat yang bunyinya: "Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.".__(Q.S.4:74). Bagaimana akan syahid kalau setiap terdesak lalu menyerah ?? 7). Jika setiap terdesak kemudian boleh menyerahkan diri kepada musuh, maka tidak ada artinya menegakkan "Hak". Dan selamanya tidak akan tegak "Kebenaran", jika setiap terdesak lalu menyerah. Lagi pula apa artinya begitu lama menyusun kekuatan dengan banyak pengorbanan, jika akhirnya boleh menyerahkan diri kepada musuh ? Dengan tujuh point di atas itu saja cukup, bahwa kabur meninggalkan medan perang itu "bukanlah ijtihad". Apalagi jika hal itu dilakukan oleh para komandan yang bisa mempengaruhi banyak prajurit. Perhatikan ayat di bawah ini : "Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah : "Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)" Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggung jawabannya.

391

"Katakanlah : "Lari itu sekali kali tidak berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian, atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja" __ (S.33:15-16)

"Dan berapa banyak nabi nabi yang berperang bersama sejumlah besar pengikutnya yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu (Tidak pernah turun stamina jihadnya -pen) dan tidak pula menyerah kepada musuh. Allah menyukai orang orang yang shabar (seperti itu) __ (S.3:146) Kesimpulannya, ijtihaad hanya berlaku dalam hal yang tidak ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Artinya, yang tidak ada dalilnya secara Qoth’i(putus). Adapun murtad dari jihad (medan perang) Islam, bukanlah ijtihaad, sebab sudah jelas dalilnya. -----------------------------------------------40. Tanya: “Bagaimana terhadap perkataan bahwa kembali kepada undang-undang nanti saja bilamana sudah ada kekuatan ?” Jawab: 1). Kalau begitu ada kesamaannya dengan umat Tholut yang apabila sudah ditunjukkan, maka menolaknya kecuali sedikit. Perhatikan ayat-yat di bawah ini: “Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nantidiwajibkan berperang kamu tidak akan berperang.´ Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di

392

jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami ?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.” “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang banyak ?” (Nabi mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberi pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui.” “Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, telah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Robbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun;tabut itu dibawa oleh Malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang beriman.” (Q.S.2:246-248). Kesimpulan dari ayat-ayat itu menggambarkan pendapat di atas tadi serta jawaban dari yang berhak menunjukkan pemimpin. Pada ayat 248 di atas disebutkan ada “Baqiyyatun” _Peninggalan Nabi Musa as. Sama halnya dengan MKT. No.ll Tahun l959 mengenai estapeta pemimpin Negara Islam Indonesia sebagai peninggalan Dewan Imamah, akan ada saja yang menolaknya. Dengan memperhatikan ayat -ayat tersebut diatas tadi, maka tidak usah heran jika selalu ada yang berkilah dalam hal

393

menolak kepemimpinan yang berdasarkan undang-undang. Itu adalah Sunnatullah sebagaimana yang disitir oleh ayat-ayat Al Qur’an di atas tadi. Jadi, tinggal pilih saja mau kemana diri ? Apakah mau terus berjalan tanpa dasar hukum yang jelas, sehingga tidak sadar mengikuti langkah-langkah syaitan(?). Atau kembali kepada peraturan ? 2). Apabila harus nanti, berarti sekarang belum ada negara, sedangkan adanya negara itu adanya undang-undang. Sebagaimana Sunnah Nabi SAW, sebelum adanya negara terlebih dulu dimulai oleh adanya undang-undang. Sebelum adanya ummat terlebih dulu adanya pemimpin, yakni bisa dinamakan ummat bilamana ada pemimpinnya. Atau dalam Sunnah Nabi SAW, sebelum berdirinya negara Islam di Madinah ditentukan dulu pemimpinnya, sehingga Abdullah bin Ubay bin Salul (tokoh munafik) tidak bisa menjadi pemimpin negara Madinah. Dalam hal perkawinan saja, orang berpegang pada peraturan yang dibuat sebelumnya, maka dimanakah letaknya “akal” yang berpendapat kembali kepada undang-undang / peraturan nanti saja ? 3). Tidak bisa disebut kekuatan jika tanpa undang-undang. Ali bi Abi Thalib berkata: “Kebathilan yang yang tersusun/ terorganisir bisa mengalahkan yang hak yang tidak terorganisir”. Pengertian tersusun / terorganisir berarti berundang -undang atau berpegang pada aturan-aturan. 4). Kata-kata “bilamana sudah punya kekuatan”, berarti belum jelas kapan punya kekuatan, dan mungkin sampai diri masuk kubur tidak mengalami punya kekuatan. Dengan itu sungguh merugi, bila yang dituju untuk punya kekuatan belum terjadi sedangkan diri dalam firqoh, posisi diri di luar peraturan sudah terjadi. Yakni, mengharap kekuatan yang tidak dialami dengan meninggalkan kepemimpinan berdasarkan hukum yang sudah bukti.

394

5). Dalam Islam yang paling diutamakan itu ialah bukan adanya kekuatan secara fisik, melainkan posisi diri dalam hak yaitu berpegang pada nilai hukum. Kalau untuk berpegang pada yang hak itu harus menunggu dulu adanya kekuatan, maka tidak jadi jihadnya, karena apa artinya mesti menegakkan hak jika yang hak / nilai hukum itu tidak dipegang dengan alasan belum ada kekuatan. Ummat Nabi SAW dimulai oleh beberapa orang, seperti Khadijah, Ali, Abu Bakar, Ustman dan lainnya . Tentu, kalau yang diutamakan itu kekuatan secara fisik, bisa jadi mereka tetap dalam barisan jahiliyah, karena yang kuat pada waktu itu ialah barisan jahiliyah. Disitulah letaknya bahwa berada pada sabiilillaah, yakni mengemban perintah Allah harus “Ibda binnafsik”(mulai dari diri sendiri), artinya tidak perlu menunggu dulu adanya kekuatan. Sebab, seandainya sepuluh milyar manusia masuk neraka, lalu seorang diri tidak masuk, maka jelas yang seorang diri itu tidak akan menyesal ! Dari keempat point itu disimpulkan bahwa pendapat “kembali kepada undang-undang itu nanti saja apabila sudah ada kekuatan”, itu cuma khayal atau pemikiran tanpa dasar hukum, akibat ketidak-ngertian atau juga sebagai akal-akalan dari pada sama sekali tidak mengelak. ------------------------------------------------41. Tanya: “Seandainya pada waktu dulu para komandan TII itu terus bertahan, maka apakah mereka tidak akan habis sehingga tidak ada sisanya yang sampai kepada kita sekarang ?” Jawab: 1). Sebelum menjawab lebih lanjut, kita lihat ayat di bawah ini yang bunyinya:

395

"Maka mengapa tidak ada umat-umat sebelum kamu orangorang yang mempunyai keutamaan yang melarang dari pada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa."_ (Q.S.11:116). Menurut ayat di atas itu bahwa sisa pembawa "Kebenaran" dari orang-orang terdahulu itu tidak akan habis. Itu adalah jaminan dari Allah SWT. Dengan demikian meskipun banyak yang menyerahkan diri atau yang terus bertahan, maka sisa dari mereka itu tetap ada dan terus berkembang. Jadi, soal pelanjut pada masa yang akan datang itu soal yang kedua. Adapun soal pertama bagi si pembawa "Kebenaran " itu ialah harus “beristiqomah” menunaikan tugas yang sedang dihadapi pada waktu itu, jangan desersi(meninggalkan tugas). 2). Sewaktu ummat Nabi Musa as dikejar-kejar oleh tentara Fir'aun sampai ke tepi laut, secara perhitungan akal tentu akan habis karena kedua belah pihak sudah saling melihat. Tetapi, umat Nabi Musa as bertahan sehingga datang pertolongan Allah, terbelahnya Laut Merah. Jelas, secara perhitungan akal, bertahan akan habis, tapi nyatanya malah menang. Begitu juga pada Perang Akhzaab, tentara Nabi 3000 orang dalam keadaan habis persediaan makanan. Sedangkan kekuatan musuh berjumlah 12.000 orang dengan persenjataan lengkap dan persediaan makanan yang cukup guna menunggu waktu. Secara perhitungan akal dengan ditunggu waktu saja pihak muslimin bakal kalah, karena didahului oleh kelaparan dan tidak bisa mengadakan perlawanan. Sebab itu pihak Quraiys cukup dengan menunggu waktu. Akan tetapi, pihak muslimin tetap bertahan maka datang pertolongan dari Allah, datangnya angin tofan yang dingin dan menyapu perkemahan serta

396

perbekalan pihak musuh. Sehingga tentara Akhzaab (sekutu) itu panik kemudian meninggalkan Madinah. 3). Bentuk pertolongan (angin taufan dingin bercampur hujan deras) dari Allah itu tidak diduga dari semula. Maka, sungguh salah yang beranggapan bahwa bila dulu (tahun 1961 _1962) para komandan TII itu tidak menyerahkan diri kepada musuh akan habis. Anggapan akan habis dan tidak sampai kepada kita sekarang, itu hanya dari otak alias akal-akalan menutupi kesalahan. Padahal jika hujjah didatangkan cuma dari otak, maka otak lain pun bisa menjawab. Yakni, bila kepada umat Nabi Musa pertolongan itu berbentuk terbelahnya laut, dan kepada kaum muslimin dalam Perang Akhzab datangnya angin topan. maka kepada para komandan TII, jika waktu itu terus bertahan, mungkin PKI dihancurkan bukan tahun 1965, tapi tahun 1963. Atau mungkin ada bentuk pertolongan lain yang tidak diduga. Dan tentu pelanjutnya juga bukan yang sambil diuber-uber lagi, melainkan semua umat Islam Indonesia sudah dalam keadaan menang (Futuh). Dengan uraian dari point-point di atas tadi, jelaslah bahwa kita tidak boleh berpikir cuma dengan otak, melainkan harus pakai Qur'an dan Sunnah (perjalanan Nabi SAW). Sungguh, sejarah telah berlalu. Tetapi, supaya Allah memberi pertolongan pada masa yang akan datang, kita tidak boleh menutupi kesalahan pada masa lalu sehingga tidak dijadikan pelajaran. Allah telah menjelaskan bahwa sejarah merupakan pelajaran untuk berpikir, (Q.S.7:176). Berkaitan dengan jawaban ini kita lihat ayat yang bunyinya :

"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan

397

mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencitai-Nya, yang bersikap lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orangorang kafir, yang berjihad di jalah Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas {pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." _(Q.5:54). Dengan ayat di atas itu sudah menjadi ketetapan dari Allah, setiap ada yang murtad pasti ada gantinya. Karena itu jangan mengandai-andai. Jangan mendahului ketetapan dari Allah. Dan jangan murtad dari perjuangan itu dijadikan jasa kebaikan. Bahkan harus menyadari bahwa nilainya sangat rendah di Hadapan Allah, maupun di hadapan manusia. Dalam hal ini perhatikan petikan ayat yang bunyinya: “....dan jika kamu berpaling niscaya Dia (Allah) akan mengganti (kamu dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)”._(Q.S.47:38). Berdasarkan petikan ayat di atas itu bahwa pengganti dari yang berpaling, sudah menjadi ketetapan Allah, dan kualitasnya lebih tinggi dari yang sudah berpaling. --------------------------------------------------------42. Tanya: “Ada yang mengatakan bahwa tahun 1962 itu ”Perjanjian Hudaibiyah". Bisakah hal itu dibenarkan ?” Jawab: Permulaannya tersebar kata "Hudaibiyah" dalam kalangan TII, setelah banyak komandan mereka yang menyerahkan diri ke pihak musuh. Sedangkan pada waktu itu sebagian prajurit TII terus bertahan tidak mau menyerah. Dilain pihak, sebagian eks pimpinan mereka yang dekat dengan penguasa RI mengadakan

398

propaganda kepada bekas anak buah mereka supaya ikut turun meletakkan senjata dan menyerahkan diri ke Pemerintah RI. Disebabkan kondisi hubungan informasi dengan pimpinan pusat (Imam) hampir terputus, maka sulit bagi sebagian prajurit TII untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi. Dalam kondisi pasukan yang terpisah-pisah serta putus hubungan berita dari pusat itu, maka kondisi demikian dimanfaatkan oleh sebagian eks komandan mereka untuk menghembuskan isue "Hudaibiyah" atau gencatan senjata. Pada umumnya prajurit TII itu tidak menyadari bahwa berita "Hudaibiyah" itu sebagai tipuan supaya mereka mau turun dengan membawa masing-masing persenjatannya. Sebenarnya sebagiannya akan bertahan bersemboyan "Yuqtal au Yaghlib" (Q.S.4:74), jika bukan karena tipuan yang dilontarkan oleh sebagian bekas pimpinan mereka atau oleh adanya selebaran yang ditandatangani oleh Dodo Muhammad Darda. Secara analisa ada dua kemungkinan sebab dimunculkannya isu "Hudaibiyah". Yaitu: 1). Ada yang tujuannya supaya pasukan TII itu turun gunung mengikuti jejak pimpinan yang sudah menyerah sehingga pimpinan itu dianggap masih berwibawa. 2). Ada yang tujuannya supaya terkesan dimata prajurit TII bahwa para komandan itu bukanlah menyerah atau kalah mental melainkan karena adanya "Hudaibiyah" atau gencatan senjata. Untuk menilai apakah itu benar "Hudaibiyah", maka bandingkan saja dengan Perjanjian Damai Hudaibiyah yang sebenarnya terjadi pada zaman Nabi SAW. Diantaranya ialah: (a). Mulai diajukannya permintaan "Perjanjian Damai Hudaibiyah" yakni gencatan senjata di Hudaibiyah (suatu tempat di dekat kota Makkah) adalah dari pihak Musyrikin Quraisy, karena gentar menghadapi tentara muslimin yang

399

sudah berbaiat (Q.S.48:10, 18) bertekad untuk menggempur kota Makkah. Artinya, pihak muslimin adalah pihak yang di papan atas, sedangkan pihak musrikin Quraisy adalah pihak yang tertekan. (b). Tentara Nabi Saw tidak dilucuti dari persenjataannya. Artinya, tetap keberadaannya sebagai tentara Islam yang mengawal kedaulatan negara Islam secara de fakto. (c). Pemerintahan Nabi SAW tetap diakui secara de fakto (dhohir). Artinya, tidak diserbu atau dikejar-kejar oleh pihak Quraisy, yakni sesuai dengan peraturan gencatan senjata pada zaman sekarang dimanapun. (d). Para pimpinan atau para komandan militer Nabi SAW tidak membuat pernyataan setia mengabdi pemerintahan musyrikin Quraisy, serta tidak mencaci-maki negara Islam di Madinah. Yaitu tidak seperti dalam "Ikrar Bersama", 1 Agustus 1962 yang ditandatangani oleh sebagian para eks pimpinan TII. Bisa saja mereka dipaksa. Tapi, itu akibat didahului oleh menyerahkan diri kepada musuh, sehingga musuh bisa memaksanya. Berdasarkan empat point itu saja, jelas bahwa pada tahun 1962 itu bukanlah "Perdamaian Hudaibiyah". Dengan demikian jika ada yang memaksakan bahwa tahun 1962 itu sebagai "Perjanjian Damai Hudaibiyah", maka secara tidak langsung mencoreng sejarah Perjanjian Damai Hudaibiyah". Naudzubillaahi min dzalik ! -------------------------------------------43. Tanya: “Bagaimana jika menyerahkan diri kepada musuh, Tahun 1962 itu sebagai siasat perang ? “ Jawab :

400

Untuk menjawab pertanyaan di atas itu kita perhatikan AlQur'an Surat 8 ayat 16 yang bunyinya:

"Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) diwaktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam dan sangat buruklah kediamannya itu."_(Q.S.8:16). Pada ayat di atas itu didapat kalimat "kecuali berbelok untuk (siasat) perang." Pengertiannya, yaitu diperbolehkannya mundur jika hal itu merupakan manuver guna memukul balik serangan musuh. Tegasnya, ialah mundur teratur guna bisa meneruskan perlawanan sampai datang pertolongan dari Allah. Dengan itu mesti memanfaatkan kekuatan yang ada, baik personal maupun persenjataan.Jadi, bukannya untuk angkat tangan dihadapan musuh, dan meletakkan senjata untuk diambil oleh musuh. Itu bukan memanfaatkan kekuatan yang ada, tapi meluluhkan pasukan yang tersisa. Pada ayat itu juga didapat kalimat "atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain". Yang dimaksud pasukan lain ialah pasukan yang berada pada garis belakang atau pasukan yang posisinya terpisah darinya untuk kemudian bisa bersama-sama mengadakan perlawanan kembali. Sedangkan yang mereka lakukan pada tahun 1962 itu bukanlah menggabungkan diri kepada pasukan yang masih bertahan, tetapi malah sebaliknya yakni berbelok ke pihak musuh kemudian mempengaruhi yang lainnya untuk menyerahkan diri ke pihak musuh pula. Dengan demikian bahwa kejadian pada tahun 1961 -1962 jelas bukan siasat

401

perang. Dan itu memang perbuatan mereka bertentangan dengan al-Quran surat 8 ayat 16 tersebut di atas. --------------------------------------------------------44. Tanya : "Bagaimana jika Ikrar Bersama, 1 Agustus 1962 itu diniatkan sebagaimana yang terjadi pada Amar bin Yasir ?" Jawab : Adanya Ikrar Bersama 1 Agustus 1962 akibat dari pada pelakunya itu setelah menyerahkan diri dengan sengaja mendatangi musuh, yang akhirnya pihak musuh menyodorkan kepada mereka supaya menandatangani pernyataan secara tertulis untuk dijadikan bukti sejarah. Tidak bedanya dengan yang sholat ashar kehabisan waktunya karena ia sengaja tidur pada waktu ashar sehingga jika bangunnya pada waktu maghrib, hal itu merupakan pelanggaran sebab didahului oleh kesengajaan. Amar bin Yasir tidak bisa di sebut menyerahkan diri kepada musuh, karena tidak sengaja mendatangi pihak musuh melainkan dia di tangkap. Jadi, apa yang diucapkannya kepada musuh bisa di sebut terpaksa(Q.S.16:106). Kasus Amar bin Yasir berbeda dengan kasus para mantan pimpinan/komandan TII pada tahun 1962, seperti halnya ikrar bersama. Hal itu tidak bisa di sebut keadaan terpaksa, sebab sudah didahului oleh perbuatan sengaja mendatangi musuh yang akibatnya pihak musuh pun menyuruh menandatangani Ikrar Bersama. Walau akibatnya sama, tetapi penyebabnya berbeda. Yang akan dimintai pertanggungjawabannya di Akhirat ialah penyebabnya, bukan akibatnya. Begitu pun terhadap yang masih mengikutinya sama akan dipinta pertanggungjawaban (lihat Q.S.25:29).

402

Sebab itu sebagai patokan untuk diikuti supaya diri tidak terbawa sesat, harus berdasarkan hukum, bukan karena figur seseorang. Dan jangan mengikuti perasaan / nafsu yang senantiasa realatip (berbeda-beda), melainkan harus berpegang pada nilai hukum sehingga bisa dipertanggungjawabkan di Akhirat. -----------------------------------------------------45. Tanya : "Ada yang mengatakan bahwa "At-Tibyan" Yang ditulis oleh Abdul Fattah Wirananggapati itu menjelek-jelekan sebagian para pelaku sejarah NII, adakah itu benar ?" Jawab: "Tidak benar !" Melainkan, menjelaskan sejarah. Sebab, yang dikutip dalam Risalah At-Tibyan itu hanya sebatas sejarah yang berhubungan dengan para pelaku sejarah NII. Artinya, tidak berkaitan dengan yang bersifat pribadi. Menjelaskan kenyataan sejarah merupakan keharusan, apalagi selaku pimpinan NII, sehingga di dapat kejelasan. Dalam Al-Quran disebutkan : ".... maka ceritakanlah (kepada mereka ) kisah-kisah itu agar mereka berfikir."__(Q.S.7:176). Dari ayat tersebut dapat disimpulkan : 1). Sejarah itu tidak bisa ditutup-tutupi untuk selamanya. Cepat atau lambat akan terbuka. Jadi, sekalipun sebagian orang berusaha menutupinya, namun sebagian lagi akan mengungkapnya. Sebab, Alloh juga memerintahkan untuk menceritakan sejarah. Dalam ayat lain disebutkan : "Dan sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal."__ (Q.S.12:111).

403

Berdasarkan ayat di atas itu, berarti bahwa yang tidak mau mengetahui sejarah, maka dirinya tidak bisa mengambil pelajaran. Dengan demikian dirinya bisa ditipu oleh yang memutar-balikkan sejarah. Selain itu juga tidak di sebut menggunakan akal bila mencari kebenaran tanpa mau mengetahui sejarah. Percuma saja menutup-nutupi sejarah, karena sejarah hanya bisa ditutupi untuk sementara tidak untuk selamanya. Misalnya, bila ada di antara penguasa Bani Umayah yang bisa menutupi sejarahnya, itu hanya bisa pada masa kekuasaannya. Tetapi bisa terbuka sesudah kekuasaannya digantikan oleh yang lainnya, seperti oleh Bani Abbasyiah. Begitupun untuk penguasa selanjutnya. Sejarah suatu Daulah berkaitan dengan kenegaraan, tidak bisa ditutupi. Karena, sudah di tulis oleh semua bangsa dan disimpan di mana-mana. Oleh karena itu, percuma saja jika menutup-nutupi sejarah negara. Harus disadari bahwa mengungkapkan sejarah negara, pasti besrkaitan dengan para pelakunya. Alloh melarang kita untuk mengikuti orang yang berbuat dosa (Q.S.76:24), tentu untuk mengetahui perbuatan dosa mereka itu, kita harus tahu apa yang mereka lakukan. Hal itu bisa diketahui melalui penjelasan sejarah. 2). Seseorang bisa berfikir secara objektif apabila mau memperhatikan sejarah. Seperti halnya para ahli hadits, untuk bisa mengetahui shohih atau dhoifnya suatu hadits, maka dirinya harus tahu sejarah asal usul hadits termasuk perawinya. Begitupun mengetahui sejarah yang sudah diperbuat oleh para mantan pimpinan / komandan TII, seperti halnya menyerahkan diri kepada musuh serta mendatangani Ikrar Bersama 1 Agustus 1962, maka generasi penerus NII akan bisa menilai dan menentukan sikap berdasarkan pengetahuan, yakni sejarah NII dan perundang-undangannya.

404

Dengan mengetahui At-Tibyaan (tulisan Abdul Fattah Wirananggapati), maka akan tahu pelanjut kepemimpinan pusat NII yang sebenarnya setelah Imam Asy-Syahid S.M. Kartosuwiryo. Dan mengetahui pula adanya yang memunculkan kepemimpinan di luar Undang-Undang NII. Guna memahami pihak mana yang sesuai dengan undangundang NII dan mana yang bertentangan dengannya, atau dengan Al-Quran, maka Risalah At-Tibyan itu menjelaskan pula sebagian dari perbuatan para pelaku sejarah NII yang telah melanggar Al-Quran dan Undang-undang NII(melakukan desersi). Diadakan pendengaran dan penglihatan (Q.S.76:2) guna bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah sehingga tidak terkecoh oleh yang menutupi sejarah guna kepentingan "Hawaahu (nafsunya)”. Memang, At-Tibyaan memuat lampiran "Ikrar Bersama", 1 Agustus 1962 yang didalamnya tercantum sederetan nama dengan tandatangan para pelakunya, yang kemudian tentu bisa dibaca oleh generasi seterusnya. Namun, Allah berfirman yang bunyi-Nya:

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikan(kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka

405

sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan."_(Q.S.4:135). Dari ayat itu kita dituntut untuk berlapang dada, berkepala dingin sehingga menjadi saksi yang adil meskipun terhadap orang tua sendiri. Artinya, dalam hal ini kepada siapa pun yang telah menyerahkan diri kepada musuh, maka kita tidak boleh menutup-nutupi sejarahnya. Jika tidak demikian berati hawa nafsu telah menguasai diri. ----------------------------------------------------46. Tanya: “Bisakah pengakuan terhadap pemimpin itu sekedar atas pertimbangan jasanya yang terdahulu atau pernah membina kita kepada keislaman diri ?” Jawab : 1). Menjawab pertanyaan demikian terlebih dulu kita lihat petikan ayat yang bunyinya: "...sebenarnya Allah Dia-lah yang melimpahkan ni'mat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar".__ (Q.S.49/17). Dengan memperhatikan petikan ayat di atas itu, jelas yang menunjukkan kita ke jalan yang haq, pada hakekatnya ialah Allah SWT. Tidak didapat dalam sejarah Rasul SAW bahwa pengakuan terhadap pemimpin itu didasari karena jasa dalam pembinaan atau dakwahnya. Bila ukurannya demikian, bisabisa jika ada seratus pendakwah yang diidolakan, maka ada seratus pemimpin yang masing-masing diangkat oleh masingmasing yang mengidolakannya. Atau oleh masing-masing yang merasakan jasa-jasanya. Pengakuan terhadap pemimpin merupakan hak. Maka, tidak boleh atas dasar jasanya terhadap kita dalam bentuk apapun. Sama saja dengan "hak pengakuan" seorang anak terhadap bapaknya. Bilamana si anak itu dari kecil hingga dewasa diurus

406

oleh orang lain, maka hak pengakuan dan waris serta kewajibankewajiban si anak terhadap ayahnya tetap tidak putus, walau ayahnya itu dianggap tidak berjasa membesarkan si anak tadi. Untuk berpegang pada yang “Haq” tidak bisa dihadang oleh “jasa” seseorang yang telah diberikan terhadap kita. Berkenaan dengan “jasa”, perhatikan ayat-ayat Al-Qur'an mengenai sebagian dialog antara Nabi Musa dengan Fir'aun: "Fir'aun menjawab: "Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga)kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggalbersama kami beberapa tahu dari umurmu." _ (Q.S.26:18).

"Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas jasa"._(Q.S.26:19). "Berkata Musa: “Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf”._(Q.S.26-20). 2). Kepemimpinan adalah hak yang menyangkut pemerintahan dengan sendirinya menyangkut kepada peraturan. Jadi, tidak bisa ditentukan oleh berjasa atau tidak berjasa, melainkan ditentukan oleh peraturan sehingga memiliki azas legalitas. Contohnya, Rosululloh SAW telah mengangkat Usamah bin Zaid menjadi Panglima Perang pada usia 17 tahun, sedangkan yang menjadi prajuritnya diantaranya Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Tentu jika ditinjau dari segi jasa terhadap Daulah Islamiyah maka kedua sahabat besar itu yang lebih tinggi daripada Usamah. Akan tetapi, karena eksistensi pemimpin itu tidak ditentukan oleh jasa melainkan ditentukan

407

oleh legalitas, maka sekalipun Abu Bakar dan Umar bin Khattab itu adalah lebih berjasa tapi jika tidak diangkat oleh yang berhak maka bukanlah pemimpin, keadaannya tetap di bawah komando Usamah bin Zaid yang umurnya di bawah 20 tahun. Negara tegak di atas undang-undang/peraturan, karena itu tidak bisa di atas kehendak pribadi atau kemauan individu. Dari itu semua possisi kepemimpin dan tugas yang dijalankan harus berdiri di atas azas legalitas. Artinya atas dasar aturan mana dia diberi tampil memegang tanggung jawab. Tampil tanpa dasar aturan, sungguh bertentangan dengan tertib hukum NII. Apalagi jika sikap itu dilakukan oleh yang telah melarikan diri meninggalkan medan jihad, yaitu meninggalkan imam NII. Jelas ini merupakan sikap tidak menghargai undang-undang. Sikap tidak proporsional itu, sama sekali tidak sesuai dengan kapasitas yang diakuinya sebagai pemimpin negara Islam Indonesia. Inilah namanya sikap semena-mena terhadap hukum, seakan-akan negara ini milik kakeknya yang diwariskan kepadanya. Maukah anda menerima kehadiran seorang Pemimpin yang sejak awal tampilnya saja sudah melanggar hukum hukum dasar NII ?? Kalau saja dasarnya adalah jasa, maka hal itu berbenturan dengan petikan ayat yang bunyinya: ".... Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum), maka hapuslah amalannya, dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi."( Q.S. 5 : 5 ). Dari ayat itu, bisa di ambil arti bahwa amalan (jasa) yang baik akan hapus apabila pada akhirnya diingkari. Sebagaimana halnya yang tadi berjihad fi sabilillah, tetapi kemudian menyesali diri. ----------------------------------------------------------

408

47. Tanya : “Bagaimana jika di antara para mantan pimpinan / komandan TII yang telah berbalik dari NII itu, kemudian bertaubat bolehkah menjadi aparat lagi ?” Jawab : Ya, boleh apabila cara bertaubatnya itu sesuai dengan ketentuan hukum Al-Quran, antara lain sebagai berikut : 1). Harus memperbaiki dan menjelaskannya. Lihat Firman Allah yang bunyi-Nya:

"Kecuali yang mereka telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan(kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang." ( Q.S. 2 : 160 ). Pada ayat itu disebutkan "mengadakan perbaikan". Dengan demikian harus kembali kepada azas legalitas. Jadi, apabila yang berbalik dari NII kemudian taubat/kembali kepada NII, maka harus dibuktikan dengan taat kepada peraturan/ undangundang NII, sehingga terjadi perbaikan. Sebab, tidak di sebut mengadakan perbaikan dari kesalahan jika tidak berada dalam aturan NII. Mengaku mengadakan perbaikan dengan tetap melanggar aturan NII, sama saja dengan mengadakan perbaikan di tubuh RI ! Sebab pada kenyataannya, orang orang yang mengatasnamakan NII tanpa merujuk pada undang undangnya, dari hari ke hari terus menjegal langkah NII yang berpihak atas aturan. Dan siapa yang diuntungkan dengan akibat ini, jelas pemerintahan Thoghut.

409

Sejarah mencatat ketika Ateng Jaelani Setiawan (Panglima TII Jawa Barat) yang menyerahkan diri kepada musuh, serta membocorkan rahasia perjuangan N I I pada Tahun 1961, kemudian pada Tahun 1975 diakui lagi kedudukannya, yaitu dicantumkan dalam struktur kepemimpinan oleh Danu Muh.Hasan cs dengan alasan sebagai jalan bertobat, lalu membaiat sebagian dari para bekas anak buahnya. Maka, bagaimanakah kejadiannya akhirnya ? Ya, ketika diinterogasi, dia itu bukan cuma menceritakan si anu-si anu, melainkan juga membukakan skema dari struktur yang mereka buat itu. Itulah akibat dibaiat oleh yang sudah mengkhianati baiatnya. Padahal oleh akal yang sederhana saja dimengerti, bahwa yang posisinya masih sebagai pengkhianat, yakni tidak bertobat melalui prosedur hukum, maka tetap sebagai pengkhianat dan wajar jika berkhianat. Artinya, secara hukum bahwa setiap pesngkhianat, jika tidak bertobat menurut prosedur hukum (Q.S.4:64) maka tetap sebagai pengkhianat. Dari itu sebelum segalanya terlambat, harus kembali menetapi undang-undang N I I, itulah jalan bertobat serta bukti diri sebagai warga Negara Islam Indonesia yang bertanggung jawab. Kita jadi bertanya tanya "... Benarkah mereka telah taubat dan melakukan perbaikan ?" Padahal dari akibat tindakan mereka tetap RI juga yang diuntungkan !! Ini taubat atau malah merealisasikan janji terhada Thoghut ?? Dari itu sebelum segalanya terlambat, kembalilah menetapi undang undang NII, itulah jalan bertaubat serta bukti bahwa anda benar benar warga negara Islam yang bertanggung jawab. Bukankah dalam bai'at, anda mengatakan: "Saya sanggup menerima hukuman dari ulil Amri Negara Islam Indonesia, sepanjang keadilan Hukum Islam, bila saya ingkar dari bai'at yang saya nyatakan ini". Lantas mengapa sekarang malah

410

hukum itu yang ditarik tarik, supaya lentur sesuai dengan nafsu sendiri ??? “Negara” berarti didalamnya undang-undang. Maka, siapapun yang menjadi pemimpinnya harus memiliki legalitas. Dengan itu, bagi yang telah meninggalkan jabatan dengan desersinya dari NII dan menyesali diri dengan Ikrar Bersamanya, kemudian masuk lagi lalu semaunya mengaku jabatannya itu masih seperti yang dulu berarti anggapannya negara itu punya dirinya sendiri. Berbalik dari NII berarti meninggalkan tugasnya, berarti pula sudah tidak ada lagi dengan semua jabatan dalam NII. Jadi, kalau masih mengaku-ngaku, itu sama halnya dengan tidak tahu malu, atau panjang angan-angan. Firman Alloh SWT : "Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaithan telah menjadikan mereka mudah(berbuat dosa), dan memanjangkan angan-angan mereka." ( Q.S. 47 : 25 ). Dalam Al-Quran surat 2 ayat 160 tadi tadi disebutkan "menjelaskan". Dengan itu yang bertaubat harus berani mengakui secara terbuka bahwa diri telah bersalah, dan siap menjelaskan mana yang salah dan mana yang benar, dan jangan menutup-nutupi dirinya supaya dianggap benar, sebab jika tidak dijelaskan bisa-bisa perbuatan salah itu masih di anggap benar dan bisa ditiru oleh generasi penerusnya. Sungguh aneh untuk mendapatkan pengampunan dari presiden RI saja mereka bersedia menyatakan diri bersalah, tersesat, dan mereka rela menjatuhkan martabat NII demi kesempurnaan "taubat" mereka terhadap "Thoghut".Tetapi ketika diseru untuk bertaubat yang sebenarnya, kembali ke pangkuan Daulah Islamiyah mereka tidak mengakui kesalahannya, tidak merasa menyesal bahwa tindakannya terdahulu(taubat pada thoghut).

411

Sungguh telah menyengsarakan bathin segenap mujahid yang istiqomah. Mengapa mereka malu mengaku kesalahannya sehingga berkilah bahwa itu "perjanjian damai Hudaibiyah" ? Apakah gengsi mereka lebih besar dari harkat NII yang telah mereka jatuhkan ? Ataukah mereka tidak mengira bahwa pada akhirnya Alloh akan membuktikan sebenarnya apa yang telah mereka lakukan ? Jika bertaubat dari perbuatan disersi/menyerahkan diri kepada musuh (RI) atau juga berbalik dari NII itu tidak dijelaskan sebagai perbuatan salah/dosa maka darinya tidak ada nilai taubat. Inti dari bertaubat adalah mengakui diri telah bersalah. Dengan demikian jika yang sudah berbalik dari NII itu, kemudian menutup-nutupi perbuatan salahnya atau memanipulasi sejarahnya dengan berbagai macam ungkapan, maka hal itu bukanlah bertaubat, tetapi malahan memperbanyak kesalahan seperti halnya: (a) Memanipulasi sejarah Perjanjian Perdamaian Hudaibiyah yang sebenarnya. (b) Memfitnah Imam/melemparkan kesalahan diri kepada Imam. Perhatikan firman Alloh : "Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata."( Q.S. 4 : 122 ). (c) Merusak citra Daulah Islamiyah (NII).

(d) Membohongi umat dengan mengaburkan sejarah NII (menyerahkan diri kepada musuh, diakukannya sebagai perjanjian damai “Hudaibiyyah”).

412

(e) Takut kehilangan pengaruh atau posisi sehingga berkelitkelit dalam menanggapi hal-hal yang dianggap bakal menurunkan gengsinya. Kesemuanya itu bisa terjadi, karena taubat tanpa adanya perbaikan, yaitu tidak berpegang pada proses hukum dan tanpa adanya menjelaskan terhadap kesalahan. Sehingga karena awalnya tidak lurus maka kesananya melenceng lebih jauh. Padahal semestinya berterus terang menyatakan, bahwa diri telah berdosa/telah berbalik dari NII. Dan siap diatur oleh pimpinan NII yang sebenarnya, dan siap pula menerima undang-undangnya. 2). Harus datang kepada pimpinan NII yang sah dengan mengakui dirinya bersalah. Perhatikan petikan ayat yang bunyinya: "....Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad) lalu memohon ampun kepada Allah , dan Rasul pun memohon ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."__ (Q.S.4:64). Ayat di atas itu menjelaskan mengenai yang bertahkim bukan kepada Rosul Saw, menyadari atas kesalahan, maka datang kepada Rasul Saw yang mana sebagai pimpinan. Dalam aturan ketertiban sudah menjadi ketentuan, misalnya bila ada karyawan yang sudah meninggalkan tugasnya, apalagi dengan cara melarikan diri, maka jika akan kembali lagi keperusahaan tempat semula bertugas, pasti diwajibkan terlebih dulu menghadap pimpinan perusahaan itu tanpa peduli siapa orangnya asalkan memiliki dasar legalitas.

413

Lebih-lebih dalam pemerintahan Negara Islam Indonesia yang kaitannya dengan kemashlahatan ummat yang sungguh banyak, tidak begitu saja muncul tanpa peraturan. Komandan TII itukan dulu, tapi bila sudah desersi, apalagi berbalik keluar dari perjuangan NII, tentu jangankan jadi pimpinan, jadi prajuritnya saja mesti pakai prosedur hukum. NII adalah milik semua ummat Islam, tidak pandang dalam generasi manapun dilahirkannya. Didalamnya siapapun bisa menjadi pemimpinnya asal melalui jalur hukum/ undang-undang. Jadi, bisa saja yang pada tahun1962 masih di dalam kandungan kemudian menjadi pemimpin, sedangkan yang sebelum tahun 1962 sudah menjadi pemimpin, tapi kemudian menjadi yang dipimpinnya. Ingat, langkah gerak para pimpinan/panglima akan menjadi arah bagi jutaan ummat. Karenanya satu "Penyesalan" saja dilakukan pimpinan, hasilnya akan membengkak sejumlah ummat yang mengikutinya. Sejarah menjadi bukti, betapa citra NII, wibawa perjuangan bahkan semangat menjadi lumpuh, akibat ulah gerak "Pena" beberapa puluh orang figur komandan, yang bersaksi bahwa apa yang sudah dilakukannya itu salah, sesat dan menyimpang dari hukum Islam ! Sebuah persaksian palsu yang mengguncang keyakinan prajurit dibelakang mereka. Begitu "Ikrar Bersama", 1 Agustus 1962 ditandatangani, rakyat yang bersimpati pada perjuangan mereka ikut juga merasa bersalah atas sekian tahun dukungan mereka. Tentara Islam gamang menentukan arah berikutnya. Akhirnya mereka pun turun, mundur dari gelanggang perang mengikuti jejak para pemimpin yang telah kembali ke “pangkuan” pemerintah yang tidak bersistem Islam. Jika kemudian mereka bangkit kembali hendak memimpin ummat, tanpa terlebih dulu meampertanggungjawabkan langkah fatal mereka sebelumnya, maka akan terjadi ganjalan sejarah sebagai berikut:

414

(a). Mereka yang pertama mengomandani Perang Perlawanan, tetapi berikutnya mereka berikrar bahwa langkah yang lalu itu keliru, salah bahkan sesat, menyimpang dari ajaran Islam. (b). Selanjutnya mereka lagi yang mengajak ummat kembali melakukan perlawanan. Tidakkah ini jadi pelajaran bagi orang yang berpikir ? Mana yang benar dari jejak mereka ? Apakah ketika keliru dan mengajak yang lain menyerahkan diri kepada musuh, atau ketika merasa benar dan mengajak lagi melawan ? Persoalan ini harus jelas dahulu, agar tidak jadi kesamaran di hari mendatang. Kemudian apa jaminannya bahwa mereka tidak akan berbalik lagi menganggap jika ajakan kedua ini tidak keliru dan salah seperti mereka menyesali ajakan yang pertama ? Lain persoalannya bila mereka berani secara jantan mengakui bahwa penyesalan dahulu itu "salah" dan tidak diembeli katakata "Perjanjian Damai Hudaibiyah", kemudian bertobat menjalani proses hukum. Jika tidak demikian berarti tidak mau taubat. Ringkasnya, bahwa bagi yang telah berbalik dari NII kemudian bertaubat, bisa kembali menjadi aparat NII, jika bertobatnya itu sesuai dengan proses hukum, serta memperoleh rehabilitasi (pembersihan nama baik) dari pemimpin yang syah menurut undang undang. ----------------------------------------------48. Tanya: ”Bagaimana kalau nanti yang tanpa undang-undang itu kemudian mereka menang ?” Jawab: 1). Kata-kata "kalau menang" adalah hal lamunan atau belum pasti. Yakni, di awang-awang. Dan dalam kenyataan sejarah ada pihak yang tadinya dianggap lebih unggul untuk meraih

415

kemenangan, tapi pada akhirnya kalah. Contohnya, Khalifah Ali bin Abi Thalib, sesudah mengalahkan barisan Ummul Mukminin Aisyah ra (dalam Perang Jamal), kemudian menghadapi kekuatan Muawiyah (dalam Perang Syiffin). Pada awal perang dimulai, kekuatan Muawiyah terdesak sedangkan Ali unggul. Tetapi, setelah beberapa proses kejadian, maka ahirnya Muawiyah yang menang. Meskipun pihak Muawiyah adalah pihak yang menang, namun tetap sejarah mencatat bahwa dia ilegal (pemberontak). Buktinya, yaitu Khalifah Ali memeranginya. Pada subuh hari sewaktu Khalifah Ali mengetahui bahwa sebagian pengikutnya telah meninggalkan perkemahan dan dilihatnya tinggal seribu orang lagi, maka Khalifah Ali berkata: "Biarlah mereka pergi, cukup bagiku Allah dan Rasulnya". Dari Ucapan Khalifah Ali itu diambil makna: (a). Bahwa pengakuan terhadap Haq itu bagi pribadi mukmin tidak ditentukan oleh sedikit atau besarnya dukungan. Artinya, tidak ditentukan oleh bakal "kalah atau menang". (b). Nyata, pihak Muawiyah yang menang, maka Ali tetap tidak mengakuinya. Pengertiannya, kepada yang sudah jelas menang saja, Ali tidak mengakuinya, maka apalagi kepada yang baru "kalau menang". 2). Dalam Islam bahwa soal bagaimana "kalau menang", itu soal belakang. Adapun yang didahulukan ialah soal "HAQ". Ini yang nomor satu ! Memilih pemimpin dengan kriteria "kalau - kalau menang" bukanlah watak seorang mukmin ! Ingat, kaum munafiqin pun tidak mau bergabung dalam barisan Nabi Saw, karena dianggap tidak bakal menang atau bakal kalah. Perhatikan Firman Allah yang bunyi-Nya:

416

"Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orangorang yang lemah daripadanya". Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." _ (Q.S.63:8). Duhai, seandainya dahulu kala semua manusia munafiq, maka tentu tidak ada sejarah para nabi yang awalnya sedikit pengikutnya, yang dikira oleh orang-orang munafiq "tidak bakal menang". Juga, bila semua manusia maunya cuma bakal menang, niscaya tidak ada ummat Nabi SAW yang sesudah tiga tahun berdakwah jumlahnya cuma tiga puluh lima orang tetap bertahan sedangkan penduduk Jazirah Arab sudah belasan juta orang. Tetapi Alhamdulillah, Alloh kuatkan Al Islam ini melalui tangan tangan mukminin yang tangguh dan kukuh berpihak pada Haq, tak peduli seberapapun jumlah mereka, tidak gentar sebanyak apapun musuh mereka ! Semua kecil dalam pandangan mereka, cuma Alloh saja Maha Akbar ! Merekalah kaum yang dicintai Alloh, yang tidak lemah karena bencana di jalan Alloh, tidak lesu dan tidak menyerah kepada musuh ( perhatikan Q.S.3:146). Dari sini kita mendapat kesimpulan bahwa kejayaan Islam akan diberikan Alloh SWT kepada mu’min yang kuat mental, bukan pada mereka yang lemah hati, kerjanya cuma berandai andai sambil menebak nebak siapa kiranya nanti yang bakal menang !! Bahasa "Bagaimana kalau menang", berarti menangnya belum jadi dan entah kapan bakal menangnya. Bisa juga diri keburu mati belum juga menang, sebab nyatanya masih "kalau menang". Dengan demikian bagi yang mengikuti jalur kepemimpinan tanpa undang-undang, karena pikirannya "kalau-

417

kalau menang", maka bisa empat kali lipat dalam kekalahan. Yaitu: (a). Kalah di hadapan manusia, karena nyatanya sedang kalah. Adapun bahasa kalau menang, menangnya itu belum terjadi. (b). Kalah dalam nilai, karena menangnya itu baru kalau, yang sudah jelas adalah rugi dalam nilai. Yakni, tidak menempati posisi yang Haq, yaitu di luar aturan sehingga ilegal. Sesuatu yang tidak beraturan mengandung ketidakjelasan, dan hal itu bertentangan dengan Haq. (c). Kalah dalam "niat", beramal bukan karena ibadah, melainkan bertujuan ingin menang, sehingga tidak memiliki nilai keikhlasan di sisi Allah. (d). Kalah dalam hujjah, karena tidak berdasarkan pada hukum atau perundang-undangan yang jelas cuma sekedar ikut ikutan tanpa didasari pengetahuan. Sedangkan pendengaran dan penglihatan dan hati semua itu akan diminta pertanggungjawaban.(Perhatikan Q.S.17:36). Dengan uraian di atas dapat disimpulkan, yaitu percuma saja menang dihadapan manusia sedangkan kalah dihadapan hukum Allah. Itu sungguh kerugian yang abadi. Apalagi menangnya baru "kalau". -----------------------------------------------------49. Tanya: “Ada yang berpendapat, apabila pemerintahan sudah dirampas musuh maka harus mengadakan kembali Daulah. Sehubungan dengan itu maka bagaimanakah dengan estapeta kepemimpinannya ?” Jawab: Nilai Proklamasi Negara Islam Indonesia 7Agustus 1949 hanya wilayahnya yang dikuasai musuh, tetapi nilai proklamasi serta nilai estapeta kepemimpinannya tetap utuh. Nyatanya:

418

1). Tatkala Imam disergap dalam keadaan sakit, diperintahkan pindah dari pembaringannya ke tandu yang baru dibuatkan, maka Imam tidak mengikuti perintah tersebut. Terhadap perintah itu, Imam menjawab: "Jika saya bergeser dari tempat ini, berarti saya menyerah. Tidak ada kamusnya dalam perjuangan Islam menyerah. Sekarang saya tidak berdaya, karena itu terserah anda mau diapakan saya." Dengan jawaban sedemikian, maka Imam itu dipindahkan dari pembaringannya. Kemudian diboyong oleh musuh. Dengan sikap Imam sedemikian itu, maka bukanlah menyerah, melainkan tertangkap. Dan sejak tertangkap, 4 Juni 1962 itulah "berhalangan menunaikan tugasnya". Dan estapeta kepemimpin beralih sesuai dengan MKT No.11 tahun 1959. 2). Sebelum Imam NII tertangkap, Dewan Imamah mengeluarkan Undang-Undang tahun 1959 yang isinya antara lain:Darurat Perang yang tercantum dalam MKT No.11 " K.P.S.I. dipimpin langsung oleh Imam _ Plm. T. APN.I.I. Jika karena satu dan lain hal, ia berhalangan menunaikan tugasnya, maka ditunjuk dan diangkatnya seorang Panglima Perang, selaku penggantinya, dengan purbawisesa penuh. " "Calon pengganti Panglima Perang Pusat ini diambil dari dan diantara Anggauta-Anggauta K.T., atau dari dan diantara para Panglima Perang, yang kedudukannya dianggap setaraf dengan kedudukan Anggauta-Anggauta K.T." Dengan undang-undang itu meskipun Imam tertangkap, namun estapetanya tetap belangsung. Jadi, begitu Imam berhalangan menunaikan tugasnya, tertangkap, diboyong musuh, maka kepemimpinannya beralih kepada yang

419

memiliki jabatan yang tercantum dalam undang-undang (MKT No 11) di atas itu. 3). Washiat Imam tahun 1959, di hadapan para Panglima\ prajurit antara lain: "Jika Imam berhalangan, dan kalian terputus hubungan dengan Panglima dan yang tertinggal hanya prajurit petit saja, maka prajurit petiti harus sanggup tampil jadi Imam". Dari wasyiat itu diambil arti, jika hubungan terputus dengan Imam atau dengan yang tercantum dalam undang-undang (MKT. No.ll Tahun 1959) mengenai estapeta Imam, maka sekalipun yang ada itu cuma prajurit petit, dia berhak menjadi Imam. Kepemimpinan NII tetap berlangsung, beralih kepada yang lain sesuai dengan dasar hukum yang telah ditetapkan. Adapun soal mengadakan Daulat Islam, menjawab pertanyaan di atas tadi, kita perhatikan apa yang diuraikan oleh Said Hawa dalam Kitab Al-Islam (jilid 2 halaman 400). Disebutkan bahwa tempat hidup ummat Islam itu ialah seluruh bumi Allah. Disebabkan bahwa bumi itu milik Kerajaan Allah (Q.3:189), dengan demikian ummat muslimin itu sebagai Ahli (Hamba) Allah (Q.S.24:55, S.21:105). Karena itu jelas seluruh bumi ini diwariskan kepada manusia yang shaleh, yaitu mesti dipelihara dan diatur serta diambil manfaatnya oleh manusia-manusia yang taat kepada Allah. Dengan demikian bahwa bumi itu asalnya bumi Islam (Darul Islam). Menurut Said Hawa (Al-Islam juz dua halaman 402) daarul Islam ada 5 macam : 1. 2. 3. 4. Daerah Islam yang adil 1- ‫دارالعدل‬ Daerah Islam yang bughot Daerah Islam yang sudah bid’ah Daerah Islam yang murtad

‫دارالبغيي‬ 3- ‫دارالبدعة‬ 4- ‫دارالردة‬
2-

420

5. Daerah Islam yang sudah dirampas kafir

‫دارالمسلوبة‬

‫ه‬Selanjutnya dalam kitab yang sama juz 2 halaman 403- 404:

‫وإذا ففرض أنفه لتوجفد دار عفدل بفأن ليكفون خليففة المسفلمين ثفم‬ ‫ليحكم بالسفلم وشفرائعه وليلفتزم النفاس بفه ، فعنفدئذ تصفبح دار‬ ‫السل كلها دار ردة أوبدعة أو فسوق ، وفي هذه الحالففة يجففب علففى‬ ‫المسلمين عامة وعلى أهل الحل والعقد خاصة فريضففة إقامففة المففام‬ ‫والجهففاد معففه حففتى ترجففع أرض السففلم كلهففا فتصففبح دار عففدل‬ ‫وليصح أبدا وليجوز أن يبقى المسلمون ساعة واحففدة بل خليفففة أو‬ .‫إمام ، وبل دار ينفذ فيها حكم السلم‬
“Apabila sudah tidak ada Daarul Adli (daerah Islam yang adil), karena tidak ada khalifah muslimin, serta tidak berlaku hukum Islam, maka daerah itu jadi Daarul Riddah, bid’ah atau fasik. Dalam keadaan ini wajib kepada segenap muslimin umumnya dan kepada Ahlul Halli wal Aqdi khususnya mengangkat Imam, serta berjihad besertanya sehingga bisa mengembalikan bumi Islam yang semua daerahnya menjadi daerah adil. Sebab, tidak boleh(haram) bagi muslimin sekalipun satu jam jika tanpa khalifah atau imam, atau tidak punya daerah yang mengarah kepada hukum Islam.”.

‫أما في حالة كون دارالسلم غير دار عدل ، فأول واجب‬ ‫علىالمسلمين أن‬ ‫يوجدوا دار العدل ، وأن يقيموا خلفتهم ثم يبدأوا عملهم بإعادة دار‬ ‫السلم كلها إلى حظيرة دار العدل ، فيسقطون الحكومات المرتد‬ ‫والظالمة والمبتدعة ، ويحاربون الحكومات الكافرة ، ويحررون‬ .‫الرض السليبة‬
“Bilamana daerah Islam tidak /belum adil maka wajib kepada muslimin mengadakan wilayah yang dikuasai, dengan cara mengangkat khalifah / Imam untuk muslimin. Mulailah

421

usahanya untuk mengembalikan daerah Islam sehingga hadirnya Daarul Adli, dengan menjalankan hukuman terhadap orang-orang yang murtad, dholim dan yang bid’ah dan memerangi hukum kafir dan membebaskan daerah “maslubah” (terjajah)”. Kesimpulan dari keterangan di atas: (a) Apabila muslimin belum punya Imam, maka wajib mengangkat Imam. (b) Meskipun sudah ada yang melaksanakan pengangkatan Imam, tetapi jika tidak ada pelanjutnya, maka masih tetap dituntut kewajiban mengangkat Imam. (c) Apabila sudah ada pengangkatan Imam serta masih ada pelanjutnya (estapetanya) maka haram mengangkat lagi Imam. (d) Apabila sudah terjadi pengangkatan Imam yang pertama, tetapi sesudah itu kita tidak tahu pelanjutnya, maka wajib kembali mengangkat Imam dengan catatan jika kemudian hari kita tahu ada pelanjutnya maka wajib bergabung dengan pelanjutnya dari yang pertama itu. Yang jelas, ummat muslimin Bangsa Indonesia sebelum Tahun 1949 (dalam bentuk Pemerintah Negara Islam) pun sudah melaksanakan kewajiban mengadakan daulat (“Ijaaduddaulah”) dengan cara mengangkat Imam. Dengan demikian segenap ummat Islam Bangsa Indonesia wajib bergabung atau berjihad beserta Imam atau pelanjutnya, tidak boleh mengadakan lagi. Sebab, kalau membuat lagi berarti “Tafarruq” (berpisah ) dari yang haq. Sedangkan tidak bergabung dengan yang haq, berarti berada dalam posisi yang bathal. Apabila sudah ada yang haq, maka sesudah yang haq itu adalah yang bathal. Perhatikan hadits yang bunyinya:

،‫...ومن بايع إماما فأعطاه صفقة يده وثمرة قلبه فليطعه إن استطاع‬ .( ‫فإن جاء اخر ينازعه فاضربوا عنق الخر. )رواه مسلم‬

422

“D ------------------------------------------------50. Tanya: “Apa perbedaannya antara ambisi kepemimpinan dengan kewajiban menyatakan sebagai pemimpin ?” Jawab: Pemimpin Islam berkewajiban menyatakan dirinya selaku pemimpin. Sebagaimana Rasulullah juga menyatakan: Bahwa aku adalah Utusan Allah (Anaa Muhammad dur rasulullah). Berdasarkan itu, jika seseorang yang sudah jelas memiliki legitimasi selaku pemegang estapeta kepemimpinan kemudian selalu tampil menjelaskan fungsinya kepada ummat yang belum tahu, maka itu adalah suatu yang Hak (kebenaran). Dan sama sekali bukan ambisi, melainkan kewajiban. Beda pengertiannya antara "ambisi" dan "kewajiban". Misalnya, Seorang juru tik mengaku-ngaku sebagai sekertaris atau berusaha menampilkan supaya diangkat jadi sekertaris, hal itu berarti berambisi. Akan tetapi, lain lagi dengan yang sudah bukti memiliki legalitas selaku sekertaris, apabila menjelaskan kepada para pegawai yang belum tahu, maka itu adalah suatu kewajiban. Begitu juga seorang pemimpin menyatakan dirinya selaku pemimpin, maka itu adalah kewajiban. Sebab, jika seorang pemimpin tidak mau menyatakan dirinya sebagai pemimpin, berarti tidak bertanggung jawab. Lagi pula bagaimana ummat bisa melaksanakan S.4:59 dan 85 jika mereka tidak diberitahu siapa pemimpinnya ??! Karena itu, sekedar "Watawasshou bil Haq" dalam mencari Kebenaran Ilaahi, janganlah mengikuti bisikan setan yang selalu menjurus kepada buruk sangka. Bisa jadi ada seorang Imam (pemimpin), tapi akhirnya menjadi ambisi kepemimpinan, bila kemudian hari terus

423

berkeinginan menjadi pemimpin, walaupun dirinya sudah melanggar sesuatu yang prinsip. Misalkan saja, dirinya telah bersalah, tetapi berusaha menutup-nutupi kesalahannya dengan maksud agar tidak jatuh dari posisinya sebagai pemimpin. Nah, menutupi-nutupi kesalahan dengan maksud demikian itu namanya ambisi untuk terus menjadi pemimpin. Sungguh, yang tadinya haq ( Sah )sebagai pemimpin, tetapi akhirnya menjadi bathal, hal itu bisa saja terjadi. Sebab, bahwasanya syaitan yang terdiri dari jenis jin dan manusia itu akan terus menggoda sampai “Syakaraatul maut” dari segala aspek kehidupan, (perhatikan Q.S.4:135). ----------------------------------------------------------51. Tanya: “Ada yang mengatakan bahwa turun, menyerahkan diri kepada musuh itu sebagai perintah Imam. Bila itu benar, bagaimanakah sikap kita terhadap perintah itu ?” Jawab: 1). Sabda Nabi saja bisa menjadi dho'if bila bertentangan dengan ayat, apa lagi sekedar perkataan Imam. Seandainyapun benar Imam berkata demikian, maka "perintah" itu batal demi hukum ! Perhatikan Q.S.47:35. 2). Perintah menyerah, hal itu bertentangan dengan amanat Imam tahun 1959 di hadapan para panglima dan prajurit. Yaitu: "Apabila Imam memerintahkan menyerah, maka tembaklah sebab ia Iblis". 3). Imam memerintahkan menyerah itu bertentangan dengan kenyataan, sebab nyatanya Imam itu adalah tertangkap di Medang Perang, setelah beberapa panglimanya berkhianat, datang ke pihak musuh. 4). "Sekiranya” ada yang meyakini bahwa Imam memerintahkan menyerah kepada musuh, maka berpeganglah kepada:

424

(a). Al-Qur'an Surat 3 ayat 144 yang bunyinya:

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul . Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang ? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."_(Q.S.3:144). Maksud dari ayat itu, sekalipun Nabi SAW yang apabila terbunuh di medan perang, maka tentara Islam tidak boleh berhenti mengadakan perlawanan. Yakni, tidak boleh kembali kepada sistem pemerintahan jahiliyah, melainkan harus menentukan lagi pemimpin baru untuk melanjutkan perang. Dengan ayat di atas tadi "seandainya" sewaktu di medan perang, Imam memerintahkan menyerahkan diri ke pihak musuh, maka perintah itu melanggar Al-Qur'an. Dan berarti "gugur tugasnya" sebagai Imam. Dan dosa menta'atinya. Kita berjuang bukan karena pemimpin, melainkan karena perintah Allah. Apabila pemimpin itu mengajak kepada kesesatan, tidak perlu diikuti, sebab kelak di "Jahannam" dia akan berlepas diri (Q.S.2:166, Q.S.14:21, Q.S.40:48). Dari itu, tidak ada jaminan di Hadirat Allah, bila kita berhenti dari berjihad, karena mengikuti pemimpin atau para komandan yang pada kabur menyerahkan diri ke pihak "Jahiliyah". (b). Sabda Nabi SAW yang bunyinya: "Barangsiapa memerintahkan kamu dengan durhaka, maka janganlah kamu menta'atinya ". perbuatan

425

Yang pertama wajib dita'ati ialah perintah Allah dan RasulNya. Perintah dan larangan dari Allah ada dalam Al-Qur'an, wajib jadi pegangan. Begitupun Sunnah Nabi Saw wajib diikuti, Seperti halnya mempertahankan wujudnya kedaulatan negara Islam berdasarkan Qur'an dan Hadist Shohih, serta berpegang pada undang-undangnya sebagaimana yang dicontohkan Nabi terhadap Undang-Undang Madinah. Adapun menta'ati perintah Ulil Amri, pemimpin atau Imam Negara Islam Indonesia, selama perintahnya itu tidak melanggar Qur'an dan Sunnah serta undang-undang dari Negara tersebut. Dengan itu seandainya Imam memerintahkan untuk menyerahkan diri kepada musuh, maka tidak boleh mengikutinya. Jika mengikutinya sama dalam kedurhakaan diri terhadap perintah Allah SWT. Dalam amanat Imam pun disebutkan, apabila Imam memerintahkan menyerah maka tembaklah sebab ia Iblis. Tentara Islam Indonesia wajib mentaati perintah Panglima Tertinggi, bukan karena pribadi S.M.Kartossuwiryo-nya, melainkan karena jabatannya. Karena itu bila memerintahkan menyerahkan diri kepada musuh , berarti sudah melanggar baiatnya dan berarti pula lenyap jabatannya. Dengan tiga point diatas itu, maka terlepas dari adanya perintah Imam atau tidak adanya perintah darinya, bahwa menyerahkan diri kepada musuh itu adalah suatu pelanggaran terhadap baiat. 5). Pada tanggal 4 Juni 1962, Imam itu dalam keadaan sakit, tidak berdaya sehingga tertangkap kemudian diboyong oleh musuh. Maka, sejak itu Imam berhalangan dari menunaikan tugasnya. Juga sejak sa'at itu pula tugas sebagai KPSI (Komando Perang Seluruh Indonesia) langsung beralih kepada yang tercantum dalam Maklumat Komandemen Tertinggi atau dengan washiat Imam tahun 1959.

426

Dengan demikian semenjak tertangkap 4 Juni 1962 itu, SM Kartosuwiryo tidak berhak mengeluarkan perintah apapun atas nama Negara. Sebab, dengan undang-undang /MKT No.11 itu tugas memerintahnya bukan lagi pada dirinya. Dengan undang-undang itu, maka apapun yang dilakukan oleh SM Kartosuwiryo sejak berhalangan sampai dihadapkan ke pengadilan RI, semuanya itu tidak mewakili Pemerintah Negara Islam Indonesia. --------------------------------------------------------52. Tanya: “Bagaimana kaitannya antara MKT No. 11 tentang Estapeta Panglima tertinggi dengan amanat Imam di hadapan para panglima tahun 1959 dalam point 5 ?” Jawab: Sebelum lanjut menjawab pertanyaan di atas itu, kita kemukakan dulu bunyi amanat Imam Tahun 1959 dalam point 5. Yaitu, "Jika Imam berhalangan, dan kalian terputus hubungan dengan panglima, dan yang tertinggal hanya prajurit petit saja, maka prajurit petiti harus sanggup tampil jadi Imam". Kalimat "harus sanggup tampil jadi Imam", mengacu kepada kegigihan berjuang dan kesanggupan bertanggung jawab. Artinya, sanggup memimpin perjuangan tanpa menunggu panglima yang belum ditemukan. Kalimat di atas bukanlah sebagai pijakan dasar bagi estapeta kepemimpinan dalam arti jabatan formal kenegaraan secara permanen. Bisa dibayangkan bila dalam satu pertempuran ada seratus orang prajurit terputus hubungan dengan panglima, kemudian dengan alasan washiat Imam tadi, sebulan kemudian mereka keluar menemui teman-temannya dan masing-masing mendakwakan diri sebagai "Imam". Akan bagaimanakah jadinya negara ini ?

427

Bila ini dijadikan pijakan tanpa disertakan undang-undang lagi, maka tiap orang yang berhati bengkok serta pintar memanfaatkan kesempatan punya alasan untuk tampil jadi Imam. Kalau ditanya apa dasar keimaman anda ? Lalu dengan enteng menjawab "dulu saya pernah terpisah dari panglima". Bisakah kita menerima kenyataan ini ? Ingat ! Imam (awal) bicara begitu, di hadapan yang sudah dianggap mengerti aturan, bukan di depan manusia awam yang buta aturan negara. Jika kita kembalikan kepada Al-Qur'an surat Al-Anfaal ayat 16, bahwa yang terpisah dari kesatuan pasukan punya kewajiban untuk bergabung. Artinya, menginduk kepada barisan terpimpin yang masih tersisa, bukan sekonyong-konyong tampil ingin memimpin. Jadi, "kesanggupan tampil jadi Imam" itu berlaku sebelum bergabung / berjumpa dengan "Shaf" yang berdasarkan aturan. Namun, begitu Shaf / barisan terpimpin ditemukan, ia harus bergabung padanya. Jika demikan baru akan terpelihara kesatuan komando di atas aturan negara yang memberikan hak legalitas kepemimpinan. ------------------------------------------------------53. Tanya: “Adakah contohnya dari Nabi SAW tentang pengangkatan pemimpin berdasarkan aturan (maklumat) ?” Jawab: Jelas ada ! Tentu versinya sedikit berbeda, karena kondisi perangnya juga berbeda. Akan tetapi, nilainya sama dan tujuannya juga sama, yakni guna kelancaran dalam menghadapi darurat perang. Contohnya, sewaktu menghadapi Perang Mu'tah yang pertama, Rasulullah Saw mengumumkan pengangkatan Zaid bin Haritsah sebagai Panglima Perang. Kemudian

428

memaklumkan juga sederetan nama calon pengganti Panglima Perang sebagai estapeta pimpinan, sehingga apabila pimpinan itu syahid tidak perlu musyawarah selama calon yang tercantum dalam maklumat itu masih ada. Dalam maklumat itu disebutkan oleh Nabi Saw, bahwa jika Zaid bin Haritsah tewas, maka tampilah Ja'far bin Abi Thalib memegang komando. Jika Ja'far bin Abi Thalib tewas, maka tampillah Abdulah bin Rawahah memegang komando dan jika Abdulah bin Rawahah tewas maka pimpinan diserahkan kepada ummat (musyawarah). Kenyataannya hal itu terjadi selagi Abdullah bin Rawahah yakni orang yang tercantum dalam peraturan itu masih ada, maka tidak diadakan musyawarah. Sunnah Rasul seperti dalam maklumat itu benar terjadi dan menjadi kenyataan. Maka, sudah sepatutnya kita mencontohnya sebagaimana yang dilakukan oleh ummat zaman Nabi Saw. Hal itu terlepas dari apakah untuk pimpinan pusat atau bukan, sebab pada jaman Nabi itu yang menjadi pimpinan pusat ialah Nabi SAW sendiri. Dengan demikian Sunnah (yang dicontohkan oleh Rasul SAW) itu berlaku bagi pimpinan pusat (tertinggi), atau bagi semua jenjang kepemimpinan pada saat sekarang. Maklumat Komandemen Tertinggi No.11, tahun1959 yang dikeluarkan oleh Dewan Imamah NII strateginya yaitu guna kehati-hatian dalam menampilkan calon Imam dalam darurat perang. Juga, faedahnya ialah guna persatuan dan mencegah perselisihan. Dari itu jika ada yang mengadakan kepemimpinan di luar aturan, maka merekalah yang membuat perselisihan. -------------------------------------------------54. Tanya: “Bagaimana tanggapan kita terhadap perkataan bahwa kondisi medan perang antara Tahun 1961 - 1962, pihak T I I itu dalam keadaan terjepit, seandainya orang yang sekarang

429

hidup dalam generasi mereka serta menjadi T I I, tentu akan menyerah seperti mereka, ikut meninggalkan Imam ?” Jawab: 1). Dalam baiat T I I pada point 3 disebutkan “sanggup berkorban dengan jiwa, raga dan nyawa. Kemudian dalam point 5 Yaitu sanggup membela pemimpin Negara Islam Indonesia. Dengan baiat sedemikian mestinya yang dipermasalahkan bukan dari hal kondisi terjepit atau tidak terjepit, melainkan mengapa tidak membuktikan baiat dengan bersedia mengorbankan nyawa. Sebab, bagimanapun terjepitnya, tetapi jika nyawa yang menjadi taruhannya, maka tidak ada istilah menyerah. Perang Akhzaab pun terjepit, begitu juga ummat Nabi Musa as sampai di Laut Merah, mereka terjepit, tetapi karena nyawa yang dipertaruhkan maka tidak menyerah. 2). Yang akan diselamatkan itu adalah orang-orang beriman. Perhatikan Firman Allah yang bunyi Nya: “Kemudian kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orangorang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami meyelamatkan orang-orang beriman’’.(Q.S.10:103). Yang dimaksud “beriman” pasti yang tidak ragu-ragu (Q.S.49:15). Yakni, tidak ragu bahwa jaminan keselamatan di Akhirat itu melebihi dari segalanya, sehingga tekadnya dibunuh atau menang(Q.S.4:74), atau juga siap membunuh dan dibunuh (Q.S.9:111). Berkaitan dengan itu pehatikan lagi ayat di bawah ini:

“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara

430

mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merobah (janjinya), ”.S.33:23). Dengan keterangan di atas itu jelas bahwa tidak semua orang akan menyerah kepada musuh (thagut), sebagaimana ada ayatnya berarti ada orangnya, yang tidak mengubah pendirian, meski “yuqtaal (dibunuh)” risikonya. Masih dalam point ini perhatikan pula ayat yang di bawah ini yang bunyinya: “Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan menyerahkan diri kepada Rabbnya,”(Q.S.16:99). Pada ayat di atas itu disebutkan bahwa godaan syetan itu tidak mampu terhadap orang beriman dan menyerahkan diri kepada Allah SWT. Pengertian menyerahkan diri kepada Allah, artinya segala apa yang dilakukannya hanya untuk mengabdi kepada Allah, dalam setiap saat sampai akhir hidupnya. Jika dikaitkan dengan prilaku T I I, maka hal itu bukan cuma ketika berbaiatnya, atau pada permulaan bertempur yang penuh kegemilangan, melainkan juga terus bertahan di medan perang sewaktu menghadapi tekanan sampai ada ketentuan mati atau menang, sehingga hidup atau matinya itu diserahkan untuk Allah. Sehingga tidak pula menyerahkan diri kepada musuh, yakni tidak tergoda oleh syetan, dalam arti tidak terjadi padanya “Syu’ul Khatimah”. Ada ayat yang menjelaskan bahwa tidak semua mu’min bakal mulus, melainkan ada yang tergoda di tengah perjalanan. Akan tetapi, banyak juga ayat yang menjelaskan mengenai pribadi-pribadi mu’min yang tujuan hidupnya untuk Allah, sehingga mengharapkan “mati (yahid)” di medan jihad, sehingga tidak tunduk kepada musuh. Ada ayatnya, pasti ada orangnya.

431

3). Pribadi mu’min tidak boleh membuat vonis atau memutuskan yang belum terbukti. Artinya, jangan membuat prasangka (Q.S.49:12), apalagi bila hal itu ditujukan untuk mencari-cari pembelaan diri. 4). Yang menjadi pegangan bagi pribadi mu’min bukanlah prasangka, tetapi Firman Allah Swt. Banyak ayat yang menggambarkan mental mu’min, sekali melangkah ke medan Jihad berarti sudah menjual jiwa kepada Allah, ada ayatnya berarti banyak kenyataannya. Jangan melihat yang menyerah kepada musuh saja, tidak siap mati. Tetapi perhatikan juga yang sesuai dengan ayat-ayat Allah. Contohnya, tentara Islam yang dipimpin Thariq bin Jiyad. Begitu sampai di daratan, langsung semua kapalnya dibakar. Sehingga yang jumlahnya cuma 12.000 orang, siap melawan tentara Roderick yang berjumlah 200.000 orang. Musuh yang begitu besarnya bisa dikalahkan. Hal demikian tidak akan terjadi jika tentara Islam tidak “siap mati”. 5). Pada Tahun 1961 - 1962, sebagian dari T I I juga sungguh siap mati sehingga tidak menyerah kepada musuh. Sebagian “Syahid”, sebagian lagi kehilangan jejak, putus hubungan ditinggal oleh kawannya atau komandannya. Dan sebagiannya lagi karena ditipu dengan istilah ‘Perjanjian Hudaibiyah’. Yang jelas, yaitu sesuai dengan ayat, jika sebagian menyerah maka sebagiannya lagi tidak menyerah. Dengan demikian sungguh ngawur bagi yang mengatakan seandainya orang sekarang (kita) hidup pada masa generasi mereka, menjadi T I I akan menyerah kepada musuh ! Sebab, masih ada jalan untuk mengatakan, “tidak termasuk kepada yang menyerah, melainkan termasuknya kepada yang mati Syahid, atau tertipu oleh komandan, sehingga putus hubungan, sehingga pula darinya “tidak memiliki nilai menyerah kepada musuh”. 6). Jika meneliti ayat-ayat Al-Qur’an mengenai yang berjihad fisabiilillah masih banyak yang tidak menyerah daripada yang

432

menyerah kepada musuh, artinya bahwa yang kabur dari medan juang itu golongan yang paling sedikit dan disebutnya kaum munafik. Mereka dicap dalam sebagai “firor”, yakni yang melarikan diri, meninggalkan Nabi di medan tempur, karena sudah terbukti. Maka, sungguh lancang bagi yang mencap generasi (kita) sekarang bakal menyerah kepada musuh, sedangkan hal itu belum terbukti ! Tanggapan kita terhadap mereka yang selalu mengira- ngira dengan kalau-kalau seperti di atas tadi itu adalah akibat dari kedengkian, karena kehabisan hujjah, atau mencari-cari alasan sebagaimana yang diungkapkan oleh petikan ayat di atas tadi.

----------------------------------------------------------55. Tanya: “Kalau begitu siapakah yang memegang estapeta kepemimpinan NII dalam darurat perang setelah Imam awal tertangkap tanggal 4 Juni 1962 ?” Jawab: Guna menjawab pertanyaan di atas itu kita lihat terlebih dulu bunyi undang-undang di bawah ini: "K.P.S.I.dipimpin langsung oleh Imam __ Plm.T. APN.II.jika karena satu dan lain hal, ia berhalangan menunaikan tugasnya, maka ditunjuk dan diangkatnyalah seorang Panglima Perang, selaku penggantinya, dengan purbawisesa penuh." "Calon pengganti Panglima Perang Pusat ini diambil dari dan diatara Anggauta- Anggauta K.T., termasuk didalamnya k.S.U. dan K.U.K.T., atau dari dan diantara para Panglima Perang, yang kedudukannya dianggap setaraf dengan kedudukan Anggauta-Anggauta K.T."

433

Calon pengganti Panglima Perang Pusat yang tercantum dalam MKT No.11 di atas itu, setelah Imam (awal) berhalangan, tinggal satu lagi yaitu K.U.K.T (Kuasa Usaha Komandemen Tertinggi), karena yang lainnya sebagian sudah gugur dan sebagian lagi telah meninggalkan tugasnya atau desersi dari NII. Disebabkan calon pengganti Imam yang tercantum dalam undang-undang itu tinggal satu lagi yakni K.U.K.T., maka KUKT itulah yang langsung menjadi Imam tanpa adanya pemilihan dari manapun. Hal itu bukan saja karena calonnya tinggal satu lagi, melainkan juga karena undang - undang sebelumnya, mengenai pemilihan Imam dalam Darurat Perang sudah dituangkan kedalam MKT No.11.tahun 1959. Dengan demikian sekalipun dalam keadaan darurat sehingga Dewan Imamah tidak berfungsi karena anggautanya banyak yang gugur, maka penggantian Imam tetap berlangsung. K.U.K.T. yang satu itu ialah Abdul Fatah Wirananggapati. Adapun Imam NII pengganti Abdul Fattah Wirananggapati, yakni sejak Tanggal 8 Ramadhan 1417 H (18 Januari 1997). yaitu Ali Mahfuzh. Hal itu berdasarkan MKT. No.5 Tahun 1997 (diuraikan pada jawaban mendatang). --------------------------------------------------56. Tanya: “KUKT, Abdul Fatah Wirananggapati dipenjarakan oleh musuh dalam tahun 1953, kemudian dibebaskan pada tahun 1963. Maka, bagaimanakah hubungannya dengan MKT No. 11 yang dikeluarkan pada tahun 1959 ?” Jawab: Harus diperhatikan bahwa yang ditunjuk oleh peraturan itu bukanlah ditujukan kepada pribadinya, melainkan terhadap "jabatannya", yaitu Anggauta-Anggauta K T, termasuk didalamnya KSU, dan K.U.K.T.. Dengan itu bilamana salah seorang dari yang jabatannya setaraf dengan AKT(Anggaota Komandemen Tertinggi) itu pernah ditawan musuh dari tahun

434

1953 - 1963, maka undang-undang itu tetap berlaku kepada jabatannya. Ya, bisa saja bila selama K.U.K.T. itu dalam tawanan musuh, maka fungsinya diambil alih oleh yang lain yang jabatannya setaraf dengannya atau oleh atasannya yaitu (Imam). Dan kalaupun ada, perlu pembuktian sejarah - tetapi dengan hal itu tidak berarti jabatannya hilang. Jabatan K.U.K.T. adalah jabatan negara, diangkat oleh negara. Karena itu, hanya dengan keputusan dari negara itulah bisa dipecatnya. Yang hilang itu hanyalah fungsinya, karena sedang berhalangan. Secara logika bisa dibuatkan satu misal, yaitu bilamana seorang sekretaris telah berhalangan tidak dapat melakukan pekerjaan karena dirinya kena musibah, artinya tidak disengaja. Lalu tugas-tugasnya itu diambil oleh orang lain atau oleh direkturnya. Kemudian suatu sa'at perusahaan itu mengeluarkan peraturan / maklumat mengenai calon-calon pengganti direkturnya. Sedangkan ketentuan sebagai calon pengganti direktur menurut aturan itu di antaranya temasuk dari "jabatan sekretaris". Tentu, dalam hal jabatan sekertaris itu tidak mesti ditujukan kepada siapa orangnya, tetapi yang pokok adalah yang memiliki jabatan sebagai sekertaris. Adapun dirinya masih dalam musibah, itu adalah pribadinya dan bukan jabatannya. Seandainya sewaktu sekretaris dalam musibah itu, konon ada lagi seseorang atau beberapa orang yang diangkat menjadi sekretaris, maka tinggal berunding saja mana yang memadai jadi direktur. Akan tetapi, jika kenyataannya sesudah sekretaris yang kena musibah tadi itu bebas kembali ke perusahaannya, sedangkan di perusahaan itu tidak ada yang muncul selain dirinya, maka terlepas dari ada atau tidak ada lagi pengangkatan selain dirinya, tentu sekretaris yang telah bebas itu berhak menjadi direktur. Sebab, ketentuan mengenai pengganti direktur yang disebutkan dalam Maklumat itu adalah kepada jabatannya (sekretaris), dan bukan kepada pribadinya.

435

Kembali kepada MKT No.11 yaitu mengenai calon-calon pengganti Imam. Dalam maklumat itu tidak ditentukan tentang waktunya penggantian, melainkan "jika ia berhalangan menunaikan tugasnya". Disebabkan waktunya tidak ditentukan, maka sekalipun MKT No.11 dikeluarkan pada waktu K.U.K.T.sedang ditawan oleh musuh, namun pelaksannannya bisa pula terjadi sesudah K.U.K.T. dibebaskan oleh musuh. Ya, tidak selamanya yang ditawan; akan selamanya ditawan, mungkin akan lama dan mungkin akan segera bebas dengan izin Allah. Jadi, logis jika MKT No.11 mengenai penggantian Imam dengan mencantumkan calon-calonnya yang diambil dari yang jabatannya setaraf dengan A.K.T., termasuk didalamnya K.S.U.dan KUKT, walau maklumat itu dikeluarkannya sewaktu K.U.K.T.masih ditawan musuh. Sebab, undang-undang itu bukan kepada pribadi orangnya, melainkan terhadap jabatan K.U.K.T.-nya. Dan yang menjadi K.U.K.T. itu pada waktu itu ialah Abdul Fatah Wirananggapati. ---------------------------------------------------------57. Tanya: “Apakah tidak mungkin bila sewaktu KUKT itu ditawan lalu ada lagi yang diangkat menjadi KUKT, sehingga KUKT itu tidak satu ?” Jawab: Dalam Islam itu, kita diwajibkan menentukan hukum dengan kenyataan atau dengan yang sudah bukti. Dengan itu kita pun bertanya, mana buktinya ada pengangkatan K.U.K.T., sewaktu K.U.K.T. ditawan dari tahun 1953 - 1963 selain daripada dirinya ? Kalau ada, maka mesti dibuktikan dengan fakta sejarah mengenai apa yang pernah dilakukan olehnya dalam tugas KUKT. Jika tidak berani muncul apalagi ummat telah mencarinya, maka berarti tidak bertanggung jawab terhadap Allah Swt., juga ummat dan Negara. Dan berati juga telah menggugurkan jabatannya atau desersi.

436

Sekiranya masih saja ada yang berkata : “Ya, pengangkatan itu ada, cuma sekarang orangnya entah dimana adanya..., entah sudah mati atau belum, nanti dicari dulu, mungkin merahasiakan dirinya”. Maka, harus kita jawab lagi dengan pertanyaan, “ Mengapa mesti mencari dulu yang belum pasti, bukankah dia yang mesti merasa bertanggung jawab hingga memberi penjelasan terhadap ummat, apalagi ummat telah mencarinya” ? “Mengapa mencari Imam yang sudah tidak mau tampil di kala ummat ingin mendapat konfirmasi kebenarannya ?” Kalau ada Imam (pemimpin) yang maunya bersembunyi alias tidak mau bangkit memimpin, maka tidak ubahnya dengan ular yang menunggui harta karun, yakni oleh orang lain tidak boleh dimanfaatkan, sedang bagi dirinya pun tidak bermanfaat ! Begitu pun bagi yang terus menunggu Imam belum jelas adanya, berarti tidak menjalankan Qur'an surat An-Nisa ayat 59, yang mewajibkan Ummat taat pada pemimpin. Sebab, selama menunggu-nunggu itu, selama itu pula tidak punya pemimpin. selama itu juga potensi jihadnya tak tersalurkan dengan benar. Dalam Islam menentukan pemimpin tidak boleh dengan jalan dikira-kira, tidak jelas legalitasnya, tidak dibuktikan wujud orangnya. Memang, dalam keadaan darurat ini, tidak setiap diri kita gampang bertemu dan mengetahui tempat tinggalnya pemimpin karena masalah sekuriti. Tetapi, setidaknya mesti diketahui mengenai dasar-dasar keberadaan sebagai pemimpin, sehingga ummat bisa menentukan mana pemimpin yang sah dan mana yang tidak sah. Pada zaman Rasulullah s.a.w. pun tidak semua ummat dengan mudah bisa bertemu dengan Nabi s.a.w.(pemimpin), karena tempat tinggalnya jauh dari jangkauan mereka, tetapi data-data kerasulannya itu sungguh jelas. Contohnya sebagai berikut :

437

1). Nama 2). Jabatan 3). Pungsi/Tugas 4). Diangkat 5). Keterangan legitimasi

: Muhammad bin Abdullah. : Nabi yang terakhir. : Utusan Allah. : Oleh Allah SWT. : Dicantumkan dalam Al-Qur'an.

Kesimpulannya, jika tidak ada bukti, berarti tidak ada pengangkatan lagi. Dan seandainya ada bukti, tetapi yang diangkat itu kini orangnya tidak muncul atau karena sudah mati, maka langsung saja kita komitmen kepada yang sudah jelas ada. Kita wajib berpegang pada Kaidah : "Fahkum biddhowaahir". Yakni, berhukum dengan yang nyata. Karena, setiap yang "tidak nyata" tidak bisa dipertanggungjawabkan di Hadirat Allah Swt. --------------------------------------------------------58. Tanya: “Apakah setelah KUKT Abdul Fatah Wirananggapati bebas dari penjara musuh pada tahun 1963, pada waktu itu juga menyatakan dirinya sebagai pemegang estapeta kepemimpinan NII ?” Jawab: Abdul Fatah Wirananggapati diangkat sebagai K.U.K.T pada Tahun 1953 dan pada tahun itu juga tertangkap di Jakarta setelah kembali dari Aceh melantik Daud Bereuh selaku Panglima Wilayah V TII Cik Di Tiro. Mendekam selama sepuluh tahun di Nusakambangan, membuat dirinya tidak banyak dikenal oleh warga NII apalagi dalam hal jabatan KUKT-nya. Lebih-lebih pada masa itu banyak yang tidak memahami perundang-undangan NII sehingga umumnya tidak tahu siapa sebenarnya pelanjut dari Imam sesudah S.M.Kartosuwiryo. Kondisi secara umum pada waktu itu jangankan orang

438

memikirkan perundang-undangan NII, bahkan terhadap NII-nya saja sudah dianggap hancur lebur. Sesudah Imam S.M.K. tertangkap, 4 Juni 1962 kemudian disusul oleh adanya "Ikrar Bersama" yang dilakukan oleh sebagian besar mantan pimpinan / komandan T.I.I. dalam hal sumpah setia terhadap UUD 45 dan Pancasila serta menyesali diri, dan mencaci maki perjuangan NII, maka sungguh sulit pada tahun-tahun itu untuk memastikan siapa yang bisa diajak bicara tentang kelanjutan perjuangan NII. Sebab, terbetik pandangan bahwa para pemimpinnya saja sebagian besar sudah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi serta mencaci-maki NII dengan pernyataan tertulis, maka apalagi prajurit bawahannya serta masyarakat umum. Dalam kondisi sedemikian itu membutuhkan proses waktu untuk menjelaskan estapeta kepemimpinan NII, karena tidak mungkin menjelaskan estapeta kepemimpinan NII jika orang yang akan dipimpinnya juga belum ditemukan. Juga, tidak tepat bila menjelaskan estapeta kepemimpinan NII kepada mereka yang sudah menyesali diri mengenai keterlibatan dalam perjuangan NII, serta mengakui kesesatannya, sehingga menjatuhkan martabat NII. Tentu, pada waktu itu masih ada pribadi-pribadi yang masih berkeinginan melanjutkan perjuangan NII, tetapi karena mereka sudah terpencar serta bercampur dengan sebagian yang sudah kompromi dengan penguasa RI, maka sukar bagi Abdul Fatah Wirananggapati mencari mereka yang masih setia terhadap perjuangan NII. Kondisi pada waktu itu hanyalah kecurigaan atau saling ketidakpercayaan antara mereka. Contohnya, sesudah Imam S.M. Kartosuwiryo tertangkap, waktu itu di Jawa Tengah masih ada pasukan sekitar 100 orang yang dipimpin oleh Ismail Pranoto yang tetap mengangkat senjata, terus mengadakan perlawanan sesuai dengan amanat Imam Tahun 1959. Tetapi, begitu ketahuan oleh bekas kawan-

439

kawannya kemudian dibujuk oleh tipuan bahwa di kota telah ada “Cease Fire” (gencatan senjata). Disebabkan mereka tidak mengikuti bujukan demikian maka akhirnya diultimatum oleh para pembujuk itu, bila tidak menyerah akan digempur. Dan nyata bahwa pasukan yang dipimpin Imail Pranoto itu dikejarkejar. Bukan saja oleh TNI, melainkan juga dibantu oleh bekasbekas TII. Setelah pengejaran terhadap pasukan Ismail Pranoto, maka sisa dari pasukan itu terus bergerilya dan pimpinannya diambil alih oleh Kastolani, karena Ismail Pranoto pindah ke Yogya mencari dukungan di daerah tersebut. Selanjutnya pada Awal Tahun 1965, Ismail Pranoto mengutus Hanif dan Safri (Salman Farisi) kepada Kastolani dengan pesan bahwa Ismail Pranoto akan berangkat ke Sumatra untuk mengusahakan tempat di sana sebagai basis baru untuk bergerilya. Pada Tahun 1967 pasukan yang dipimpin Kastolani tinggal 12 orang lagi yang terdiri dari delapan orang militer dan empat orang sipil. Mereka sudah bertekad dengan pribahasa sekalipun menjadi “monyet” (hidup di hutan), tetap tidak akan menyerah. Hanya, mereka tidak mengetahui keadaan yang sesungguhnya. Di saat-saat sedemikian itu datanglah dua utusan dari Kadar Solihat yaitu Khaeruddin salah seorang bekas komandan Kompi TII Kebumen, yang satunya ialah Abdullah. Khaerudin memberitahukan masih adanya kekuatan Kahar Muzakar di Sulawesi serta Daud Beureh di Aceh, juga di Jawa Barat Siliwangi separuhnya sudah NII. Dengan kalimatkalimat itu Kastolani dan Zaenal Asikin merasa pasukannya akan diperintahkan untuk pindah tempat bergerilya ke luar Jawa. Utusan Kadar Solihat itu menjanjikan ada tiga pilihan tempat bergerilya: 1). Apakah mau di Sulawesi. 2). Apakah mau di Aceh. 3). Atau mau di Jawa Barat. Tertipu oleh informasi demikian maka Kastolani menuruti Khaeruddin, kemudian mengirimkan empat orang personilnya

440

yang sipil dengan diantar oleh Khaeruddin ke Jawa Barat. Setelah satu minggu perjalanan dengan menginap di beberapa tempat, lalu sesuai dengan yang sudah ditentukan dijemput di stasion kereta api Bandung oleh Fajri seorang bekas komandan Resimen TII Banyumas. Fajri dan Khaeruddin yang telah bersekongkol dengan Kadar Sholihat, membawa mereka ke Jalan kancra, yakni ke rumah Kadar Sholihat. Keempat orang itu mengikutinya dengan maksud dalam rangka bergerilya mencari kawan-kawan seperjuangan yang dalam dugaan sedang menyusun kekuatan di kota. Tetapi, karena tidak tahu mana yang masih setia terhadap NII dan mana yang sudah menyerah kepada musuh, maka secara tidak disadari ketika masuk kerumah Kadar Sholihat (mantan komandan resimen TII ); ketika itu juga masuk dalam perangkap musuh. Kemudian setelah seminggu lamanya berada di rumah tersebut, mereka dibawa oleh Kadar Sholihat, dan dikatakan kepada mereka akan dibawa ke Tasikmalaya. Mereka tidak curiga akan ditangkap, walau dibawa ke Brigif 13, karena informasi sebelumnya bahwa Siliwangi separuhnya sudah NII, juga yang membawanya yaitu Kadar Sholihat. Baru menyadarinya bahwa mereka ditangkap oleh musuh, yaitu sewaktu mereka melakukan sholat dikawal oleh anggota T N I dengan senjata otomatis. Sementara itu pasukan Kastolani yang di Jawa Tengah belum tahu adanya kejadian yang menimpa kepada empat orang anak buahnya yang di utus ke Jawa Barat. Tujuh belas hari sesudah kedatangan Abdullah dan Khairuddin atau setelah empat orang sipil tadi ditangkap musuh, datang lagi Khaeruddin mengantar Kadar Sholihat bersama Sam’un bekas komandan kompi TII di Jawa Barat, disertai tiga orang T N I yang menyamar dengan berpakaian preman yang sebelumnya tidak diketahui oleh Kastolani bahwa pada masing-masing pinggangnya terselip pistol.

441

Sewaktu berlangsung pembicaraan, Kastolani bertanya kepada Kadar Sholihat, Apakah hal ini tidak menggunakan sarana musuh (maksudnya tidak diketahui musuh ). Dalam hal ini Kadar Sholihat meyakinkan bahwa mereka akan dimutasikan dalam rangka melanjutkan perjuangan. Kastolani percaya akan hal itu karena mengingat pesan dari Ismail Pranoto yang berusaha menyediakan tempat di Sumatra, dan inilah dianggap sebagai hasilnya. Selain itu juga Kastolani percaya bahwa Siliwangi sudah banyak yang NII, sehingga tidak curiga ketika diperintahkan naik ke pik up oleh Kadar Sholihat. Dengan itu delapan TII termasuk Kastolani, bersama kelima orang penjemput itu meninggalkan Brebes. Kastolani baru sadar bahwa dirinya sudah tertipu, tatkala mobil yang mereka tumpanginya itu memasuki markas Brigif 13 Galuh, Tasikmalaya Jawa Barat. Sungguh jelas pada tahun-tahun itu sangat susah untuk saling percaya, sebab kawan dan lawan amat samar. Pernah seseorang bertanya langsung kepada Abdul Fatah Wirananggapati mengenai keadaan pertama-tama setelah keluar dari penjara Nusakambangan, "Mengapa bapak tidak segera menyusun ?" beliau menjawab : "Siapa yang bisa saya percayai pada waktu itu ?" Sekarang semakin dimengerti jawaban beliau, setelah kita membaca buku "Tantangan dan Jawaban" ungkapan oleh seorang Pelda purnawirawan Ukon Sukandi, dia pernah bertugas sebagai intellijen TNI yang berhasil menyusup ke tubuh TII bahkan sempat diangkat sebagai Wakil Panglima KW Jakarta. Pada buku itu dia menyiratkan bahwa, Warga dan aparat TII di kota Bandung dan Jakarta tahun 1955 saja bisa dikatakan sudah fifty fifty. Setengahnya TII tulen sedang hampir setengahnya lagi adalah susupan lawan. Wajar bagi Abdul Fatah Wirananggapati yang memahami bahwa N I I yang pernah

442

terjebak jaring lawan, maka beliau berhati hati sekali untuk memainkan peran dan fungsinya. Dalam kondisi sedemikian, langkah pertama yang bisa ditempuh oleh Abdul Fattah Wirananggapati, yaitu mengadakan pendekatan kepada masyarakat secara bertahap sehingga ditemukan kader-kader baru atau warga NII. Juga, berusaha menemukan personil TII yang masih utuh terlepas dari nilai kompromi dengan musuh. Adapun langkah kedua, yaitu menjelaskan kelanjutan perjuangan serta estapeta pimpinan NII kepada yang ingin mengetahuinya. Sebab, masalah estapeta kepemimpinan NII pada awal kebangkitannya , cuma bisa dijelaskan kepada yang sudah benar-benar diketahui berkeinginan memahaminya. Dengan itu sangat terbatas. Hal demikian karena adanya beberapa faktor di antaranya ialah: 1). Kebanyakan ummat tidak memiliki wawasan mengenai perundang-undangan NII. Atau tidak menganggap penting, sehingga mereka mengakui pemimpin itu cuma berdasarkan idolanya masing masing atau ikut-ikutan. . 2). Kebanyakannya tidak memahami nilai hukum mengenai yang sudah mundur dari NII, sehingga masih dianggap sebagai pimpinan. 3). Adanya sebagian eks pimpinan TII yang tidak sadar dalam monitoring serta arahan dari pemerintah RI, sehingga terpancing memunculkan kepemimpinan, dengan tidak berdasar pada peraturan NII. 4). Banyak eks tokoh TII yang tidak mengakui kesalahan dalam hal "desersi" dari NII, sehingga yang sebenarnya menyerahkan diri kepada musuh, malah disebutnya sebagai "Hudaibiyah".

443

5). Banyaknya eks pimpinan TII yang tidak mau taubat menurut prosedur hukum (tidak mau mengeterapkan Q.S.4:64), sehingga menyepelekan Abdul Fatah Wirananggapati bahkan menjegal langkahnya. Hal itu berjalan sampai beliau ditangkap kembali oleh Pemerintah RI pada tahun 1975, kemudian dipenjarakan di Bandung. Selama Abdul Fatah Wirananggapati mendekam dalam penjara dari tahun 1975 sampai tahun 1983, selama itu pula terjadi perpecahan yang besar dalam tubuh ummat yang mengatas-namakan NII. Hal itu terjadi karena hilangnya rujukan mengenai kepemimpinan, sehingga ummat terbagi kedalam banyak kelompok yang tiap kelompok punya langkahnya masing-masing, sehingga terjadi benturan-benturan paham mengenai siapa pemimpin yang sebenarnya harus dita’ati. Akibat saling mengklaim pemimpin, padahal masing-masing tidak memiliki dasar undang-undang, akhirnya terjadi tuduh menuduh serta bughat membughatkan. Klimaknya terjadilah pembunuhan terhadap yang dianggap bughat atau indisipliner, seperti halnya terhadap Jaja Sujadi, Rusli, Bahrowi, Ajid dan banyak lagi yang lainnya. Di saat-saat ummat bingung menentukan kepemimpinan yang sebenarnya sehingga ada yang menganggap "tidak perlu punya pemimpin - yang penting berjuang", maka tahun 1983 sesudah Abdul Fattah Wirananggapati. bebas dari penjara, beliau memberikan penjelasan-penjelasan yang intinya, yaitu "Bahwa estapeta kepemimpinan NII yang sebenarnya mesti berdasarkan undang-undang / MKT No.11 tahun 1959". Akan tetapi, karena Abdul Fatah Wirananggapati itu baru keluar dari tawanan dan dianggap masih sedikit pengikutnya, maka bagi yang maunya berpihak kepada banyaknya pengikut, mereka dengan cepat menolak penjelasan darinya. Lebih dari itu dikarenakan mereka tidak bisa menolak dengan hujjah, maka

444

ada sebagiannya yang melemparkan fitnah dengan tuduhan ambisi kepemimpinan, serta lainnya. Sebaliknya dari yang di atas itu, bagi yang berjihad ingin berdasarkan ilmu (Q.S.17:36) dan berkehendak dipimpin oleh pemimpin yang keberadaannya didasari hukum / peraturan, maka menyambut dengan gembira terhadap penjelasan mengenai estapeta kepemimpinan yang berdasarkan undangundang. Hal itu didasari ayat yang bunyinya: "Dan janganlah kamu seperti mereka yang berpecah-belah dan berselisih, sesudah tanda bukti yang jelas datang kepada mereka Dan bagi mereka adalah siksaan yang berat." _(Q.S.3:105). Guna memenuhi kebutuhan ummat dalam memahami nilai undang- undang, maka Abdul Fatah W., pada tahun 1987 menulis "At-Tibyaan" yang artinya penjelasan. Sungguh, apa yang diperbuat oleh Abdul Fatah Wirananggapati sebagai Imam NII adalah sesuai dengan batas kemampuan dirinya yang tidak terlepas dari proses kondisi dan situasi serta tidak luput dari berbagai rintangan. Jadi, bila penjelasan itu sampai kepada anda belum lama, atau baru sekarang saja, maka itu hanya merupakan proses sejarah diri kita semua, karena masingmasing diri punya sejarahnya. Jadi, bila terlambat, tidak harus bertanya atau protes "mengapa kita terlambat ?" Sebab, termasuk diri anda juga harus menjawabnya ! Tentu, jika hati suci, maka akan menjawabnya,”biarlah masih mendingan terlambat daripada terliwatkan sama sekali “ ! ----------------------------------------------------59. Tanya: “Apa sebabnya ketidaksukaan seseorang terhadap pemimpin tidak menjatuhkan legitimasi pemimpin ?”

445

Jawab: Sebab, suka atau tidak suka adalah relatif, yakni berubahubah. Bisa saja sekarang tidak suka, tetapi besok suka. Dan itu juga tergantung kepada orangnya. Lain orang;lain lagi kesukaannya. Seandainya, legitimasinya pemimpin itu bisa dijatuhkan oleh ketidaksukaan seseorang, maka selamanya tidak akan ada persatuan dan terus perpecahan. Kapan saja akan ada yang tidak suka terhadap pemimpin, walau semula telah diakuinya. Tetapi, di balik yang tidak suka itu, banyak juga yang suka. Dari itu legitimasi pemimpin tidak jatuh oleh adanya ketidaksukaan seseorang. Dalam sejarah terjadi pengangkatan Pemimpin/panglima, pada Perang Mu'tah yang kedua, yaitu terhadap diri Usamah bin Zaid yang diangkat oleh Nabi Saw. Pada waktu itu usia Usamah baru 17 tahun. Sedangkan di antara yang menjadi prajuritnya banyak dari kalangan shahabat yang senior seperti halnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Sehingga pada waktu itu ada yang mengira bahwa Nabi Saw telah salah memilih. Pada mulanya banyak yang menyepelekan Usamah, karena kemudaannya sehingga dianggap kurang pengalaman, dibanding dengan para shahabat yang senior. Akan tetapi, karena Usamah itu memiliki legitimasi sebagai pemimpin, yakni diangkat oleh Panglima Tertinggi yaitu Nabi SAW, dengan itu suka atau tidak suka terhadap Usamah, maka legitimasi kepemimpinannya tidak jatuh oleh ketidaksukaan dari siapapun. Dan umat pun tetap menta'atinya -------------------------------------------------------60. Tanya: “Apa sebabnya pemimpin tidak mesti Ideal ?” Jawab: 1). Sebab, yang pertama dituntut itu, yakni "ada"nya, dan bukan bagusnya dulu.

446

2). Sebab, jika menunggu dulu hadirnya pemimpin ideal, baru diri siap untuk taat, maka sampai kapan kita harus menunggu ? Sedangkan berlalu waktu tanpa ada pemimpin yang jelas, karena mengikuti kehendak hati, hal itu berarti melanggar Qur'an surat 4 ayat 59 yang mewajibkan adanya pemimpin untuk ditaati. Berikutnya dalam Qur'an surat 2 ayat 257, tidak berada dalam kepemimpinan yang haq, berarti di bawah kepemimpinan Thagut. Relakah diri menjadi Ashabuth Thogut, sehingga tiap detik identik dengan Ashabuth Thagut ? Siapkah niat anda dicatat bahwa anda mau dipimpin itu bukan karena Allah, melainkan karena bila tercapai ideal anda ? 3). Sebab, ideal tidak dijadikan ukuran oleh Nabi sebagai syarat kepemimpinan. Sekalipun secara fisik, budak hitam yang kepalanya seperti kismis, misalnya, dia wajib ditaati bila berpijak pada azas legalitas, dan selama perintahnya tidak menjurus pada makshiat. Dari tiga point di atas, syaratnya pemimpin bukan ideal atau tidak, tetapi: (1). Apakah dirinya memiliki landasan hukum dalam menduduki posisi tersebut ? (2). Apakah program perintahnya tidak menyimpang dari Hukum-Hukum yang sudah digariskan Allah Swt ? Jika ternyata dia memiliki legalitas dan memerintah pada yang benar kemudian diri tidak mau taat dengan alasan kurang ideal, maka berlindunglah pada Allah dari syetan, sebab jelas pikiran tadi dihembuskan syetan untuk mencegah anda berada pada posisi yang benar. Menolak pemimpin yang jelas di-Nash dalam aturan, adalah sifat orang Yahudi, (lihat Al-Qur'an S.2:247, kasus Thholut. Ideal berasal dari kata "ide" = fikiran. Pemimpin ideal bermakna pemimpin yang cocok dengan fikiran/ide/anganangan. Ideal menurut si A belum tentu sama dengan ideal

447

menurut si B, sebab tiap orang punya kriteria dan cita-cita tentang ideal menurut pandangannya masing-masing. Bila harapan otak belaka yang dijadikan rujukan, maka 1000 manusia tentu bisa seribu keinginan dan cita-cita, begitu pula seribu cita-cita tentang figur pemimpin menurut kehendaknya masing-masing. Bila keinginan yang harus diikuti, sampai kapan pun tidak akan bisa berhenti, sebab siapa yang bisa membatasi cita-cita dan pikirannya ?? Dari itu diadakan "undang-undang". Dengan itu konsekwensi logisnya, harus ada kesediaan diri untuk membatasi keinginan kita sesuai dengan aturan yang berlaku. Sekarang tinggal diri relakah membatasi keinginanan guna taat pada undang-undang ?

----------------------------------------------------------61. Tanya: “Bagaimana jika tidak memihak kepada yang manapun karena diri menunggu mereka berishlah terlebih dulu ?” Jawab: Sebelum lanjut kita lihat ayat yang bunyinya: "Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat."__ (Q.S.49:10). Ayat di atas itu mengandung perintah supaya mengishlahkan mereka yang berselisih. Adapun syarat pokok bagi yang mengishlahkan yaitu:

448

1). Apabila posisi dirinya sendiri tidak termasuk yang sedang berselisih, melainkan sudah memiliki kejelasan (bayaan). Sebab, yang mengishlahkan ialah yang sudah punya pegangan atau peraturan/undang-undang. Sehingga bisa menjelaskannya pula kepada yang sedang berselisih untuk sama-sama kembali kepada undang-undang supaya tidak berselisih, karena timbulnya perselisihan itu akibat adanya yang melenceng dari undang-undang. Dengan itu tidak bisa disebut mengishlahkan jika diri sendiri belum ada kejelasan dalam kepemimpinan, artinya masih termasuk yang mesti diishlahkan. 2). Apabila memiliki kekuatan, untuk memaksa yang sedang berselisih itu supaya tunduk kepada undang-undang. Sebab, tidak setiap yang sudah memahami keterangan yang jelas itu kemudian berpegang padanya tanpa adanya pemaksaan dari suatu kekuatan. Dengan memperhatikan point yang kedua itu, maka selama yang haq belum memiliki kekuatan, maka selama itu pula ada peluang bagi mereka yang tidak menta’ati undang-undang guna mengikuti hawa nafsunya masing-masing atau merasa gengsi karena dari keterlanjurannya, sehingga terus berselisih, meskipun mereka sudah memahami penjelasannya. Perhatikan Firman Allah Yang bunyi-Nya

"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang berceraiberai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa."__ (Q.S.3:105). Dari ayat itu dimengerti bahwa tidak setiap yang sudah didatangkan penjelasan kemudian menerimanya. Dengan demikian jika anda berdiam diri tidak memihak kepada salah satu kepemimpinan karena akan terus menunggu mereka terlebih dulu bersatu, berarti tidak sadar terhadap kewajiban

449

menyelamatkan diri anda ketimbang orang lain.

yang

semestinya

didahulukan

Dari ayat itu juga diketahui bahwa yang bercerai-berai dan berselisih itu, karena tidak mau berpegang kepada "keterangan yang jelas", yakni "Nash" yang menjadi rujukan semua pihak, baik itu berupa ayat Al-Qur'an maupun Hadist atau juga undangundang negara yang didasari Hukum-Hukum Islam. Jadi, tidaklah disebut bersatu bagi yang tidak berpegang pada satu rujukan. Dengan demikian bahwa yang disebut bersatu dalam kepemimpinan NII pun hanyalah yang berpegang pada undangundangnya. Sungguh merugi, jika menunggu semuanya bersatu lebih dulu sehingga diri tidak memihak kemanapun sedangkan anda sudah tahu ada salah satunya yang benar, yakni berdasarkan peraturannya. Bagaimanakah jika pada dirinya masing-masing itu didapati faktor luar sehingga mereka tetap becerai-berai, sebagaimana yang dikemukakan dalam ayat tadi di atas ? Bisakah dijadikan jaminan bagi diri anda ? Siapakah yang harus lebih dulu selamat dari "Hisaban di Akhirat", diri anda ataukah mereka yang tetap bercerai-berai ? --------------------------------------------62. Tanya: “Bukankah mukmin dilarang tersengat dua kali pada lobang yang sama, maka bagaimanakah dengan Abdul Fattah Wirananggapati berulang kali dipenjarakan ?” Jawab: Barangkali pertanyaan ini lahir dari interpretasi sabda Nabi Saw yang bunyinya:

‫ليلدغ المؤمن من جحرمرتين‬
”Jangan sampai disengat seorang mukmin dari suatu lobang sampai dua kali”.

450

Sabda Nabi Saw di atas itu berkaitan dengan tertangkapnya mata-mata musuh yang bernama Abu Izzah setelah Perang Uhud sewaktu Nabi Saw berada di Hamra-ul Asad. Abu Izzah pernah ditawan oleh tentara Islam di Badar, ketika itu dibebaskan atas permintaan sendiri kepada Nabi Saw, lantaran tidak dapat membayar uang tebusan atas dirinya, dan berjanji tidak akan mngulangi perbuatannya, tidak akan memusuhi Islam dan kaum muslimin, lalu diampuni dan dilepaskan oleh Nabi, kemudian ia dapat kembali ke Makkah. Tetapi, sesampai di Makkah ia mengulangi kejinya yang lama, memperolok-olokkan dan mengejek Islam dengan sya’ir-sya’irnya yang tajam, dan pernah mengatakan yang tidak-tidak terhadap pribadi Nabi Saw. Sebab itu, setelah ia ditangkap oleh seorang tentara Islam (menurut riwayat oleh Ashim bin Tsabit) dan dihadapkan kepada Nabi, maka oleh beliau diputuskan “ harus dibunuh” Setelah ia mendengar keputusan sedemikian, lalu memohon ampun dan menangis- nangis dihadapan Nabi, dan berjanji seperti yang sudah, yaitu tidak akan memusuhi Islam. Tetapi semuanya ditolak oleh Nabi Saw , dengan sabdanya: “Tidak, demi Allah, jangan sampai kamu menyapu kedua jambangmu di Makkah sambil berkata, ”Aku telah menipu Muhammad sampai dua kali”. Penggal batang lehernya, hai ‘Asshim !”. Dan dikala itu Nabi Saw bersabda pula:

‫ليلدغ المؤمن من جحرمرتين‬
“Jangan sampai disengat seorang mukmin dari suatu lobang sampai dua kali”. Dengan perintah tersebut seketika itu dipenggallah batang leher Abu ‘Izzah oleh “Asshim bin Tsabit, dan matilah ia. Dengan riwayat itu bahwa hadist di atas tadi kaitannya dengan 3 hal: 1). Pihak musyrikin (thogut) yang ditangkap, sedang pihak mukminin yang menangkap.

451

2). Pihak mukmin tidak boleh memberi ampun untuk kedua kalinya terhadap yang sudah berulang kali mencaci kedaulatan Islam. 3) Terhadap pengalaman pahit, pihak mukmin harus menjadikannya sebagai pelajaran, yakni jangan mengulangi perbuatan yang sudah tahu kerugiannya, dalam arti secara sengaja, atau karena keinginan diri. Nah, kalau hal ini dikaitkan dengan dipenjarakan oleh musuh, maka apakah dipenjara itu sebagai keinginan ? Jawabnya, jelas bukan !!! Jika bukan kesengajaan atau keinginan maka dipenjarakan itu tidak relevan dengan hadist di atas tadi. Berkaitan dengan uraian ini perhatikan Firman Allah yang bunyi-Nya: “Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” (Q.S.18 Al Kahfi:20). Juga petikan ayat yang bunyinya :

"...‫"...وليزالون يقاتلونكم حتى يردكم عن دينكم ان استطاعوا‬
Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup....(Q.S.2:217). Dari ayat-ayat itu diketahui sudah menjadi Sunnattullaah selama pihak mukmin masih lemah, tapi tidak tunduk terhadap sistem kafir, maka selama itu pula dalam ancaman fisik dari pihak pemerintahan musyrik. Contohnya, ummat yang dipimpin oleh Rasul Saw berkali-kali diserang oleh kekuatan pihak musyrikin, sehingga berkali-kali pula menanggung risiko

452

dengan berbagai macam pengorbanan. Bisa jadi jika seseorang berperang sampai dua kali, maka “kena risikonya dua kali”, tetapi jika perangnya empat kali, bisa jadi resikonya juga “lebih dua kali”. Berbeda lagi bagi yang satu kali berjihad langsung kapok, wajar jika tidak kena lagi resikonya, sebab yang begitu tidak sesuai lagi dengan ayat yang bunyinya:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu ? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilalkah datangnya pertolongan Allah ?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. - (Q.S.2:214). Sungguh jelas bahwa pengertian “jangan seorang mukmin disengat dari suatu lobang sampai dua kali” bukan dalam hal ditimpa risiko dari berjihad fiisabiilillah. Lihatlah sejarah yang terjadi pada sebagian ulama terdahulu seperti halnya terhadap Abu Hanifah dan lain-lainnya yang berulang kali masuk penjara karena menegakkan hak. ------------------------------------------------------63. Tanya: “Imam Negara Islam Indonesia adalah manusia biasa, artinya tidak maksum, tidak mutlak terus benar, suatu waktu tergoda oleh syaitan sehingga bersalah yang mengakibatkan dirinya batal dari kepemimpinannya, dengan demikian mana lagi penggantinya ?” Jawab: Apabila Imam batal dari kepemimpinan NII, maka penggantinya diambil dari diantara mereka yang kedudukannya setaraf dengan para A.K.T. sebagaimana yang tercantum dalam

453

MKT. No.ll Tahun 1959, atau dari anggauta Dewan Imamah yang diangkat oleh Imam sebelum dirinya batal dari kepemimpinannya. Dalam hal ini perhatikan ayat di bawah ini:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah dia wafat atau dibunuh kamu berbalik kebelakang (mundur) ? Barangsiapa yang berbalik kebelakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.(Q.S.3:144). Dengan ayat itu kita diperintahkan kokoh, artinya tetap berjihad berpegang pada hukum / peraturan. Sebab, yang diwajibkan kepada kita oleh Allah Swt ialah mengikuti hukum dan bukan mengikuti pribadi seseorang karena figurnya. Dengan demikian bila Imam itu batal dari keimamannya, maka ummat tetap wajib mengikuti pemimpin yang berhak menggantikannya sesuai dengan peraturannya. Sebagai gambaran, aturan dalam sholat berjama’ah, apabila imamnya batal, maka yang tampil sebagai penggantinya ialah salah seorang makmum dari barisan terdepan, kemudian semua makmum yang dibelakangnya wajib mengikuti penggantinya. -----------------------------------------------------64. Tanya: “Atas dasar apakah seseorang itu harus merubah pengakuan terhadap pemimpin yang semula diakuinya, bila kemudian ternyata bahwa yang selama ini diakuinya bukanlah pimpinan yang haq ?” Jawab: Pada saat ditulisnya tanya jawab ini, Negara Islam Indonesia belum defakto kembali, maka tidak setiap ummat bisa

454

segera tahu siapa sebenarnya pemimpin tertingginya. Untuk itu kita merujuk kepada perkataan Nabi Ibrohim kepada kaumnya sebagaimana yang diceritakan dalam Al-Qur'an yang bunyinya: "Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhan ku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:"Saya tidak suka kepada yang tenggelam".__ (Q.S.6:76).

"Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". (Q.S.6:77). "Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuahanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan".(Q.S.6:78). Sesudah kepada mereka ditunjukkan pengetahuan mengenai sebenarnya tuhan yang dasarnya lebih kuat sehingga lebih dimengerti dari yang sebelumnya, maka kepada mereka diwajibkan merobah pengakuan yang mereka anut, yakni dari matahari kepada Tuhan yang sebenarnya yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehubungan dengan kisah yang dikutip dari Al-Qur'an itu, maka dalam mengakui sebenarnya pemimpin kita ini, harus berdasarkan pengetahuan yang sudah kita serap sekarang. Adapun bila kemudian hari ada lagi penemuan baru tentang pengetahuan yang kita peroleh mengenai siapa sebenarnya pemimpin yang mesti diakui, maka kita harus siap mengakuinya. Sebab, kejadian yang dikisahkan dalam Al-Qur'an

455

itu akan menjadi bahan berpikir bagi yang beriman terhadap Allah (perhatikan Q.S.12:111). Kesimpulan jawaban, bahwa yang menjadi dasar kewajiban merobah pengakuan terhadap pemimpin, yaitu setelah mengetahui ilmu yang lebih dimengerti dari pada yang semula dalam hal penentuan mengenai "pemimpin yang sebenarnya”, ------------------------------------------------65. Tanya: “Apa sebabnya K.U.K.T., Abdul Fatah Wirananggapati tertangkap di Jakarta Tahun 1953 sepulang melantik Daud Beureh, sebagai Panglima Wilayah V T I I Cik Di Tiro ?” Jawab: Karena terjerat jaring rencana lawan yang telah lama digelar sejak dua tahun sebelumnya (1951 ), terhadap NII secara keseluruhan, sehingga pada tahun-tahun itu yang tertangkap di Jakarta bukan hanya Abdul Fatah W., melainkan juga Sohby, kolonel TII, Wakil Komandan Komando Wilayah I Sunan Rahmat. Seorang Sersan Mayor TNI, Ukon Sukandi yang bertugas sebagai intel dengan nama samaran Sukarta, seperti dipaparkan dalam buku "TANTANGAN DAN JAWABAN", oleh Matia Madjiah. Pada Tahun 1951 Ukon Sukandi memperoleh informasi adanya bekas komandan/tokoh TII, dari Batalion Kalipaksi yang berkedudukan di Garut, bernama Ali Murtado, yang melemah semangat tempurnya dan kembali ke kota (daerah pendudukan TNI). Kemudian Ukon Sukandi merebut simpatinya dengan bermacam-macam kebaikan. Akhirnya, setelah melalui beberapa proses semacam testing, maka Ukon Sukandi menyimpulkan bahwa Ali Murtado dapat dimanfaatkan tenaganya bagi kepentingan dinas intelijen TNI. Lewat Ali Murtado, dia berhasil menipu aparat NII, Sujai yang memiliki jabatan di tingkat pusat, dia adalah pamannya Ali

456

Murtado. Ini dilakukan dengan cara mengirimkan bantuan berupa uang dan pakaian dan alat-alat tulis berikut surat-surat kabar, serta surat pribadi dari Ali Murtado yang menerangkan keberadaanya di Jakarta. Sujai terkecoh dengan kemurahan hati palsu ini, segera mengirimkan surat balasannya. Dan menyatakan akan mengusulkan kepada Panglima Wilayah I, Agus Abdullah agar Ali Murtado ditetapkan sebagai petugas khusus di Jakarta. Dua hari kemudian datang surat penetapan dari Komandan Divisi I Sunan Rahmat TII, Agus Abdullah yang menetapkan dan mengangkat Ali Murtado sebagai Kepala Pos Hubungan Wilayah I dan berkedudukan di Jakarta. Dengan lancarnya pengiriman surat-surat, telah menarik perhatian Komandan Divisi I / R TII, Agus Abdullah, kemudian kemudian melaporkannya kepada Imam SM Kartosuwiryo, yang selanjutnya memerintahkan Agus Abdullah untuk meningkatkan hubungan dan kegiatan di Jakarta, dan kalau mungkin dibentuk Perwakilan Pemerintah NII di Jakarta. Akhirnya, Agus Abdullah mengirimkan surat perintah kepada Ali Murtado untuk menyusun personalia guna mengisi jabatan-jabatan dalam Perwakilan Pemerintah NII di Jakarta.

at dari Agus Abdullah tersebut segera dibahas oleh Ukon Sukandi bersama komandan itelijen TNI, Letnan Muda Satiri dan Komandan Seksi I KMKB- DR, Lettu Suhadi. Dengan persetujuan Seksi I KMKB-DR (Komando Militer Kota Besar - Djakarta Raya), segera Ukon Sukandi dan Ali Murtado menyusun personalia Perwakilan Pemerintah NII sebagya menanam padi saja jelas dari mana dimulainya, serta mana yang harus didahulukannya. Maka, apalagi berjihad menegakkan Kalimatillaahi hiyal ‘ulyaa !

----------------------------------------------ya :

457

tadi disebutkan bahwa perjuangan itu harus dimulai dari yang terjangkau seperti di Indonesia, tidak usah sedunia dulu, maka mengapa tidak bisa memproklamirkannya untuk sekabupaten saja atau satu kecamatan ?” Jawab : 1). Wilayah yang dijajah oleh Belanda di Indonesia pada waktu itu seluas Indonesia. Maka, bila pada waktu itu umat Islam Indonesia tidak mengklaim wilayah se-Indonesia, misalnya cuma satu kabupaten, tentu masih banyak daerah yang tersisakan dan berarti umat Islam tidak mau bersatu. Sedangkan jauh sebelumnya, Umat Islam di Indonesia telah membentuk kesatuan politik guna menegakkan negara yang didalamnya memberlakukan hukum-hukum Islam. Hanya musuh Islam saja, pada waktu itu kolonial Belanda menyusupkan pengacau kedalamnya guna memecah belah persatuan sehingga timbulnya aliran yang menyimpang dari tujuan Islam. Namun demikian jihad tidak bisa berhenti karena adanya gangguan, maka pada tahun 1934 terjadilah kongres Partai Syarikat Islam Indonesia dengan keputusan bertujuan mendirikan Negara Islam Indonesia. Singkatnya jika yang dijajah se-Indonesia, maka direbutnya juga se- Indonesia. 2). Tidak seimbang dan tidak logis atau sungguh jauh dari jangkauan jika musuhnya menguasai wilayah se-Indonesia lalu kita memproklamasikannya cuma satu kabupaten, nanti bisabisa bakal banyak negara di Indonesia, sedangkan sebelumnya juga umat Islam di seluruh Indonesia sedang menuju persatuan. 3). Justru Umat Islam Indonesia memproklamirkan untuk seIndonesia ( NII ), guna mengimbangai (Q.S.8:73) kekuatan musuh sehingga terjangkau oleh kemampuan. Sehingga pula akhirnya umat Islam se-Indonesia bisa dipersatukan dalam Negara Islam Indonesia. ----------------------------------------------------18. Tanya:

458

“Di antara bunyi Proklamasi N I I didapat kata-kata “Kami ummat Islam Bangsa Indonesia”. Dari itu apa perbedaan antara pengertian jiwa kebangsaan yang disebut “ashobiyyah” dengan pengakuan sebagai bangsa ?” Jawab: Jiwa kebangsaan yang disebut ashobiyah ialah yang mengandung arti cinta terhadap satu bangsa, hanya karena sebangsa dengan dirinya, tanpa memperdulikan salah atau benar. Jadi, orang yang berperang membela kebangsaan (Ashobiyah), artinya bahwa yang menjadi dasar utama bagi dirinya berperangnya itu ialah karena bangsanya sedang berperang dengan bangsa lain, sehingga dirinya berpihak kepada bangsanya itu dengan tidak memperdulikan mana yang salah dan mana yang benar. Dalam arti lain bahwa berperang nya itu bukan karena membela kebenaran (hukum) dari Allah. Pengertiannya, meskipun bangsanya itu dalam posisi yang salah, namun tetap dibela, karena satu bangsa. Sebaliknya, walaupun dalam posisi yang benar (haq), namun karena tidak sebangsa, maka diperanginya. Itulah yang dimaksud “Ashobiyah”. Maka, pantaslah mereka yang telah berperang mengusir bangsa asing, merasa puas walau hasilnya masih saja hukumhukum kafir warisan bangsa asing. Hal itulah yang dimaksud oleh hadist mengenai yang mati karena Ashobiyah. Perhatikan sabda Nabi Saw:
‫ليس منا من دعا الى عصبيه.وليس من قاتل على عصبيه.وليس منا من مات علففى عص فبية )رواه‬ ‫)ابو داود‬

“Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada kebangsaan. Dan bukan pula dari golongan kami orang yang berperang karena kebangsaan. Dan tidak juga termasuk golongan kami yang mati karena kebangsaan.” (HR Abu Daud). Adapun “pengakuan sebagai bangsa”, yaitu sekedar menyatakan diri sebagai salah satu dari bangsa yang ada. Hal sedemikian merupakan keharusan dengan tujuan menjelaskan.

459

Sebab, tidak benar sebagai Bangsa Indonesia jika mengakukan dirinya Bangsa Belanda atau bangsa lainnya. Soal pengakuan sebagai bangsa diantara banyak bangsa dijamin keberadaannya. Sebagaimana dikemukakan dalam ayat yang bunyinya:

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”_(Q.S.49:13). Dari ayat di atas itu dimengerti bahwa adanya pengakuan sebagai bangsa supaya bangsa lainnya mengenal, atau bisa saling kenal mengenal adalah suatu kepastian. Dalam ayat itu disebutkan bahwa ukuran yang paling mulia adalah taqwanya kepada Allah. Dengan demikian tidak boleh salah atau benar adalah bangsa sendiri lalu dibela. Kalau asal bangsa sendiri biar salah lalu dibela, maka itulah Ashobiyah. ----------------------------------------------------------19. Tanya: “Apa sebabnya Proklamasi Negara Islam Indonesia, 7Agustus 1949 bukanlah proklamasi negara dalam negara ?” Dan harus bagaimanakah kita dalam mempertahankannya ? Jawab : Menjawab pertanyaan ini, penulis akan menguraikan sebagian dari apa yang sudah dikemukakan dalam tulisan yang berjudul “Furqon di Indonesia", pada bagian terakhir yang ditulis pada bulan Mei 1986 M. dibawah ini:

460

Hijrahnya Umat Islam Indonesia Menghadapi Rintangannya Memperhatikan surat Ali Imran ayat 28-30 . Juga, memperhatikan sejarah Nabi Saw bahwa pada jaman Nabi pun tidak semua pengikut Rasul itu dapat melakukan hijrah dalam bentuk teritorial, melainkan tetap mereka tinggal di daerah Mekah atau di wilayah lainnya, karena terpaksa ditugaskan Rasulullah Saw. Namun, dalam aqidah mereka hanya mengakui pemerintahan yang berdasarkan Islam di Madinah. Sejajar dengan itu, bila kondisi dan situasi dalam mengemban amanat dari Alloh SWT, mengharuskan tinggal di Indonesia, maka berdiamlah di Indonesia karena Indonesia pun bagian dari bumi tempat berbakti kepada Alloh. Kita mempunyai hak untuk menjadikan Indonesia tempat bersujud yang sebenarnya kepada Alloh. Juga, berhak membebaskan Indonesia dari kekuasaan yang menolak berlakunya hukum Islam secara kaaffah. Serta wajib mendepak manusia-manusia yang telah merampok hakhak kemerdekaan kita mengamalkan ketentuan Kitabullah. Kita mutlak di Indonesia ini memiliki garis pemisah dari kepemimpinan yang batil. Untuk itu perhatikan sekelumit sabda Nabi SAW:". . . Orang yang berhijrah (muhajir) yaitu yang pindah dari apa yang dilarang oleh Alloh. " (Hadist R. Bukhori). Cukup jelas bahwa yang menjadi titik tolaknya berhijrah itu, bukanlah meninggalkan tempat. Akan tetapi keharusan meninggalkan hal yang batil serta pindah kepada yang hak. Dalam kalimat lain yaitu beralih dari sturuktur thagut kepada yang berdasarkan "kebenaran Alloh SWT" atau ingkar dari pemerintahan yang bukan Islam kepada yang berpedoman hukum-hukum Islam. Oleh karena itu, bahwa umat Islam Indonesia pun pada dasarnya sudah melakukan “hijrah", yang mana telah meninggalkan struktur kolonial Belanda, pindah kepada stuktur Negara Islam Indonesia (NII) yang berdasarkan kepada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW (lihat pasal 2, ayat 1-2 konstitusi NII).

461

Umat Islam Indonesia telah menyatakan diri berhijrah (baro’ah-nya ) dari pemerintahan Belanda. Yang mana sebelum itu kolonialis tersebut telah mengambil alih kedaulatan dari kaum nasionalis sekuler Indonesia ketika pemerintahan Sukarno-Hatta mengibarkan bendera merah putih pada tanggal 19 Desember 1948 di Yogyakarta ". . . dia bersama banyak pemimpin lain termasuk Hatta, Syahrir dan Suryadarma memilih untuk mengibarkan bendera putih dan menyerah”(“Tempo”,20 Maret 1982 hal.15 ). Dengan pengibaran bendera putih itu, maka sejak saat itu juga secara de jure bahwa Proklamasi Kemerdekaan yang pernah diumumkan oleh Sukarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, pun telah bubar menyerah total sewaktu agresi Belanda, tanggal 19-12-1948 di Yogyakarta. Sebab itu, supaya kita mengetahui adanya proses yang merintangi NII, maka selanjutnya kita ungkap dalam penuturan berikut: 1). Kronologi Mengenai Hilangnya Nilai Proklamasi 17-8-1945 Sebenarnya seorang pejabat tinggi NII- menjadi jalan bagi menggelindingnya kepercayaan dari pejabat tinggi NII yang lain. Bapak Agus Abdullah sebagai panglima KW Jawa Barat pun ikut ikutan percaya, dengan menyandarkan alasan "Karena Pak Sujai pun sudah percaya". Jika seorang Panglima KW sudah memberikan rekomendasi kepercayaan, maka bisa dimengerti bila Imam pun akhirnya ikut mempercayai "musuh yang menyusup" tersebut, Kesimpulannya, bahwa tertangkapnya Kolonel TII Sohby juga KUKT, Abdul Fatah Wirananggapati Tahun 1953 itu, bukanlah kekeliruan pribadi, melainkan adalah kekeliruan secara menyeluruh, akibat awalnya menyepelekan prosedur hukum terhadap yang sudah "desersi (kabur dari medan perang)" dipercaya kembali. Berpikirkah tuan-tuan bahwa itu peringatan dari Allah Swt. Tapi, mengapa penyimpangan dari prosedur hukum itu terulang kembali, yaitu Ateng Jaelani Setiawan yang pada Tahun 1961-

462

1962 menghianati perjuangan NII, kemudian pada Tahun 1975 ditempatkan kembali dalam stuktur kepemimpinan yang tuan tuan setujui ? Sehingga sejarah mencatat bahwa pada Tahun 1977 dia kembali melaporkannya kepada musuh dengan membeberkan skemanya. Kemenangan secara fisik bukan hanya dari satu tahap perjuangan, melainkan dari beberapa tahapan proses perjuangan. Akan tetapi, disebabkan tujuan pertama bagi kita ini ialah memperoleh Ridha Allah, maka sebagai syariatnya tidak boleh meninggalkan ayat Allah, termasuk mengenai hal cara bertobat (Q.S.4:64). Sebab, bahwa kemenangan secara fisik (“ Futuh”) bukan kita yang menentukan, artinya belum tentu kita alami, mungkin saja kita keburu mati. Jadi, sungguh merugi jika mengharap kemenangan fisik sedangkan telah meninggalkan ayat Qur’an, sehingga begitu mudah mempercayai orang yang katanya sudah bertobat, sedangkan tidak jelas saluran hukumnya, kepada siapa dia datang dan oleh siapa saja dia diadilinya ? -------------------------------------------------------66. Tanya: “Bagaimana tanggapan dari Dewan Imamah NII terhadap petikan wawancara Abdul Fattah Wirananggapati yang dimuat dalam Majalah Ummat halaman 25 terbitan tanggal 9 Desember 1997 ?” Jawab : Untuk mengetahuinya baca saja surat tanggapannya di bawah ini:

463

464

465

67. Tanya : “Kesimpulan surat tanggapan dari Dewan Imamah NII tanggal 22 Desember 1996 terhadap petikan wawancara Abdul Fattah Wirananggapati dalam Majalah Ummat tanggal 9 Desember 1996, Dewan Imamah memutuskan di antaranya yaitu membatalkan tugas wajib sucinya terhadap Abdul Fattah Wirananggapati. Dengan demikian siapakah Imam NII pengganti Abdul Fattah Wirananggapati itu ?” Jawab: Segera setelah Dewan Hakim memutuskan vonis yakni diberhentikan dari tugasnya sebagai Imam NII, dan diterima keputusan itu oleh Abdul Fattah Wirananggapati, terbukti ketika ditawarkan kesempatan untuk membela diri, beliau tetap menerima kebersalahan dirinya tanpa memerlukan pembelaan lebih lanjut. Maka Dewan Imamah secara bersungguh sungguh dan penuh tanggung jawab pada hari itu juga, bermusyawarah untuk memilih dan mengangkat Imam Negara Islam Indonesia.

466

Akhirnya dengan suara bulat dengan idzin Alloh pada tanggal 9 Ramadhan 1417 H / 18 January 1997 Ali Mahfudz secara resmi memikul wajib suci sebagai Imam Negara Islam Indonesia. Semoga Alloh menangurahi rahmat yang melimpah atasnya sehingga dipandaikanNya melaksanakan amanah ummat / rakyat Negara Islam Indonesia, Aamiin. Lebih jelas silahkan lihat Maklumat Komandemen Tertinggi No. V tahun 1997. (Appendix D) 68. Tanya: “Bagaimanakah tanggapan kita terhadap ummat Islam yang berada di wilayah selain Indonesia, bila mereka mendirikan negara yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw ?” Jawab: Kita mendukung perjuangan Islam dimanapun mereka berada, dan bertekad untuk menjalin kerja sama dan persaudaraan baik dengan negara Islam berjaya maupun yang masih berjuang menunaikan wajib sucinya. Sebab dalam perhubungan tingkat negara itulah Khilafah Islamiyyah diupayakan untuk kembali hadir di muka bumi. Inilah jalan yang realistik menuju tegaknya Khilafah ‘Ala Minhaji Nubuwwah. Tidak seperti yang dibayangkan sementara kelompok, sejak pertama berjuang sudah mentargetkan perjuangannya pada keIslaman yang mendunia, sementara komunitas muslimin di tempat asalnya sendiri masih dibelenggu sistem thoghut yang mesti dijauhi dan diingkari (S.16:36, S.39:17, S.4:60). Persoalan adanya dua Negara Islam atau lebih di dunia ini memang sudah sejak lama menjadi perbincangan para ‘ulama, ada yang melarang ada juga yang membolehkannya. Kedua dua alasan mereka bisa diterima, hanya saja berawal dari titik pandang yang berbeda. Yang pertama, melarang karena melihatnya daru sudut ideal, dan mengacu pada fatwa para ulama terdahulu yang hidup di sa’at khilafah Islamiyyah masih ada, sedang yang ke dua, berani membolehkan karena berpijak pada kenyataan dimana hari ini dimana pasca imperialisme

467

Nashrani, negeri negeri Muslimin dijajah bangsa bangsa Barat dan terkotak kotak menurut penjajahnya masing masing. Sehingga dalam proses perjuangan kemerdekaannya tentu bukan merupakan kejayaan yang final yang memungkinkan untuk langsung memproklamasikan diri sebagai khilafah bagi seluruh dunia Islam. Bukankah memikul tugas khilafah bagi dunia diperlukankekuatan yang cukup untuk berhadapan dengan suluruuh kuffar di muka bumi ???? Bagaimana mungkin menyatakan diri sebagai khalifah dunia, sedangkan kenyataan yang masih banyak negeri negeri muslimin yang terjajah, dan itu menjadi tugas khalifah untuk membebaskannya. Sedangkan pasca revolusi, diperlukan waktu untuk memulihkan kekuatan negara merdeka tersebut guna memikul tugas suci berikutnya: “Mengembangkan Islam ke seluruh bumi”. Dari itu ditengah tengah perjuangan menebus kekalahan pertempuran dengan Republik Indonesia, disa’at garis demarkasi NII susut sedemikian rupa, sehingga mengubah pola perjuangan menjadi suatu bentuk gerilya di tengah tengah wilayah musuh, kami mengharap dengan penuh du’a kepadaNya : Semoga saudara saudara Mujahidin Fi sabilillah di negeri manapun dirahmati Alloh dan dipandaikanNya memikul wajib suci, sehingga segera bisa membebaskan negerinya dari cengkraman Hukumah Jahiliyyah, menjadi sebuah Daulah Islamiyyah yang ‘adil dan kuat, dicintai rakyat dan disegani Darul Kuffar karena ketangguhannya (S.8:60). Kembali pada masalah adanya “Pro dan Kontra atas dua Imamah / kepala negara Islam di muka bumi”, kita kutipkan pandangan para ulama dan alasan alasannya : DR. A Hasymy Kalau dalam soal, bahwa kaum muslimin adalah satu ummat, tidak ada selisih pendapat; semua ahli ulama dan ahli hukum

468

(Fuqoha) Islam sejak dahuli hingga sekaranghanya ada “satu Ummat Islam”. Mengenai Negara Islam, apakah hanya satu Negara Islam atau boleh banyak terjadi perbedaan pendapat. Ada ulama islam yang berpendapat bahwa seluruh Negeri Islam harus tersusun menjadi satu negara, dan kepala negaranya haruslah satu orang dan bergelar Kholifah. Ada pula ulama dan ahli hukum Islam yang berpendapat, bahwa dalam keadaan darurat Negara Islam boleh banyak dan demikian pula kepala negaranya. Adapula ulama dan ahli hukum Islam yang berpendapat bahwa dalam keadaan normal pun boleh banyak Negara Islam boleh banyak yang masing masing dipimpin oleh seorang kepala negara. Dalam hal ini DR. A Hasymi lebih condong pada pendapat para ulama diantaranya Muhammad Izzat Duruzah yang mengatakan bahwa Negara Islam boleh banyak. Hanya DR. A Hasymi berpendapat bahwa antara negara negara Islam yang banyak itu haruslah dijalin satu hubungan ketat yang berlandaskan “Ukhuwwah Islamiyyah”, sehingga dengan demikian, walaupun pada lahirnya Negara Islam nampak banyak tapi pada hakikatnya adalah satu. Karena itu Negara Islam yang sifatnya sejagat (internasional) boleh berbentuk dalam Perserikatan Negara Negara Islam atau Ad Dualul Islamiyyah Al Muttahidah. Hubungan yang ketat antar Negara Islam antara lain dengan cara menerapkan ajaran Islam dalam negara, tauhid yang sama dan kewajiban Ukhuwwah Islamiyyah yang tidak boleh ditawar lagi. Persoalan yang timbul antar negara Islam akan mudah diselesaikan karena sama sama berideologi dan bercita cita Islam. Kalaupun terjadi perselisihan antar negara Islam itu, tidak akan sukar menyelesaikannya karena Islam yang menjadi

469

sumber berdirinya negara tadi menyuruh mereka untuk kembali menta’ati Alloh dan Rosul, sehingga dengan demikian antar negara Islam itu akan kokoh menjadi satu negara yang padu (Lihat Dimana letaknya Negara Islamhal 279 -287 dengan perubahan kalimat seperlunya tanpa merubah maksud penulis) Abu Hasan Al Mawardi : Penulis Al Ahkamush Shulthoniyyah : Apabila terlantik dan terbai’at dua imam dalam dua negeri maka dua duanya tidak syah, karena tidak boleh ada dua imam untuk satu ummat dalam masa satu waktu, sekalipun ada sebagian orang yang membolehkannya (Ahkamush Shulthonuuyah hal 9) Kamal bin Abu Shorif Beliau penulis buku Al Musamaroh, ahli hukum terkemuka bermadzhab syafi’i : Tidak boleh diangkat imam lebih dari satu orang, karena Sabda Rosululloh : Apabila telah diangkat dua orang khalifah maka bunuhlah orang yang terakhir. Dan perintah membunuh ini boleh dipertimbangkan, seperti penegasan penegasan beberapa ulama. Kalau yang terakhir ini berkepala batu, maka dia dipandang sebagai pendurhaka (bughot) , dan kalau tidak ada jalan lain, boleh dibunuh. Adapun pengertiaannya adalah dilarang banyak Imam, karena dengan banyaknya Imam menghilangkan maksud dari adanya Imam itu sendiri yakni mempersatukan ummat Islam dan menghindari fitnah (Al Musamarah) Shiddiq Hasan Khan Bahadur Seorang ‘ulama Pakistan dalam kitabnya : Ar Raudhan An Nadiyyah, menulis sebagai berikut : Apabila imamah Islamiyyah harus dipegang oleh satu orang dan segala urusan kembali kepadanya, sesuai keadaan di zaman shahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in, maka hukum menurut syari’at, setelah tetap

470

pembai’atan terhadap orang yang pertama, maka bunuh orang yang ke dua (yang mencoba menampilkan diri, atau tampil dengan dukungan sebagian orang) bila dia tidak mau mundur dengan sukarela. Adapun setelah Islam berkembang dan daerah wilayah tersebar luas, maka telah sama diketahui bahwa tiap tiap negeri negeri Islam telah diangkat seorang Imam atau Sulthon, yang masing masing memerintah dalam wilayah kekuasaannya. Karena itu tidak ada halangan bagibanyaknya imam dan sulthon. Dan penduduk negeri yang bersangkutan wajib tha’at kepada Imam yang telah diangkat itu. Apabila diangkat lagi dalam negeri yang telah ada imam itu, diangkat lagi seorang imam yang lain. Maka Imam baru itu harus dibunuh bila tidak bersedia mengundurkan diri. Dan tidak wajib bagi muslimin di luar kekuasaan negeri itu untuk thaat kepada Imam. sebab terpaut dengan jauhnya jarak dan tidak sampainya amr kepada mereka bahkan tidak mengetahui hidup dan matinya imam itu sendiri. Karena membebankan tha’at dalam keadaan demikian, adalah satu beban yang tidak mungkin terpikul. Sesungguhnya penduduk Cina dan India tidak mengetahui siapa yang memimpin negeri Maghribi apalagi memungkinkan ketha’atan kepadanya. Karena itu sadarlah akan hal yang demikian, yang mana sesuai dengan kaidah dan syari’ah dalil yang mengarahkannya kesitu. Anda tidak usyah menghiraukan pendapat yang lain, karena perbedaan wilayah Islam di zaman permulaannya dengan keadaan dewasa ini amatlah nyata, lebih terang daripada matahari di siang bolong. Dan orang yang membantah kenyataan ini, tidak layak diladeni dengan hujjah, karena pendapatnya tidak logis. Abdul Qodir Audah

471

Apabila Islam telah mewajibkan agar kaum muslimin menjadi satu ummat yang mempunyai satu negara, maka “hukum wajib” ini menuntut supaya wilayah negara Islam meliputi semua negeri negeri muslimin di seluruh dunia. Dasar pokok Islam adalah syari’at dunia,bukan lokal. Islam datang untuk seluruh dunia, bukan untuk setengah dunia. Untuk semua manusia bukan untuk sebagiannya. Islam adalah syari’at internasional, bukan hanya untuk satu kaum, bukan hanya untuk satu bangsa, bukan hanya untuk satu benua. Islam adalah syari’at alam semesta yang ditujukan kepada muslim dan bukan muslim. Tetapi tatkala kenyataan tidaklah semua manusia beriman dengannya, sehingga tidak mungkin memberlakukan hukum syari’at atas mereka, maka keadaan waktu hanya mengijinkan menjalankan syari’at Islam dalam negeri negeri yang berada di bawah kekuasaan kaum muslimin. Demikianlah, bahwa pelaksanaan syari’at Islam bertautan rapat dengan kekuasaan dan kekuatan kaum muslimin. Karena itu, tiap wilayah kaum muslimin menjadi luas, maka luas pulalah wilayah kekuasaan syari’at. Dan ketika wilayah kekuasaan kaum muslimin menjadi sempit,maka sempit pulalah kekuasaan syari’at. Peristiwa zaman dan keadaan daruratlah yang membuat syari’at Islam menjadi syari’at lokal, sekalipun pada mulanya dan dasar pokoknya adalah syari’at dunia. Dari keterangan di atas jelas kita bisa maklumi, mengapa terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ahli ilmu. Bagi kamu, mujahidin yang tengah berjuang merebut kembali wilayah Islam yang kini tergusur oleh Republik Indonesia. Kami yang berjuang mempertahankan hukum Islam

472

yang telah diproklamasikan sebagai hukum yang berlaku di negara kami. Terus berdu’a kepadaNya dan memberi dukungan moral kepada segenap pejuang di negeri manapun, atau bahkan setiap pemerintah Islam di negeri mana saja adanya agar tetap beristiqomah menunaikan wajib sucinya sesuai dengan keadaan dan tempat masing masing. Kami tidak akan berpicik hati, menyalahkan keadaan banyaknya Negara Islam atau hadirnya pejuang pejuang Islam yang ingin memerdekakan negaranya dan berlaku syari’at Islam di wilayah yang mereka kuasai. Alih alih kita sendiri tidak bisa berbuat banyak di negeri mereka, maka mereka yang mampu dan mau berkiprah di negeri itu, mari kita dukung dan du’akan. Sebab awal perubahan dunia, tidak lepas dari kestabilan suatu negara dan kemauan politik pemerintahnya. Betapapun sholeh dan waro’nya seorang ‘alim, berfatwa dimasjid tentang wajibnya berdiri satu kholifah untuk seluruh negeri, tetapi jika pemerintah yang berkuasa di negeri tersebut tidak mau melakukan langkah politik untuk itu, maka tetap saja keadaan tidak akan berubah. Para Ulama Salafi di Negeri Saudi Arabia, getol menyerukan bahwa ketha’atan dan bai’at hanya wajib diberikan pada kholifah, dan kholifah itu berdasarkan nash yang shohih haruslah berasal dari quraisy. Namun kalau raja Saudi Arabiya tidak mau mengambil langkah politik dan tanggung jawab sebagai Kholifah dunia, maka apa yang terjadi ? Saudi tetap saja Saudi dengan wilayah kekuasaannya seperti itu, dengan sistem pemerintahannya yang berdasarkan sistem kerajaan. Bagi kami, gerilyawan Negara Islam Indonesia, negara bukanlah tujuan final ibadah kami kepadaNya. Negara hanyalah alat untuk menegakkan hukum Alloh di wilayah yang bisa dikuasai negara itu. Sehingga bila kelak Alloh mentaqdirkan NII berjaya, maka segera setelah negara Islam ini mampu mentabilisasi diri, telah berdiri dengan kokohnya ke luar dan

473

kedalam. Maka menjadi kewajiban NII untuk ikut serta berpartisifasi aktif menggalang kerja sama dengan seluruh Negara Islam yang ada untuk bahu membahu meretas jalan menuju khilafah Islamiyyah ‘alamiyyah. Ketika khilafah telah tegak, maka pada masa itulah komando muslimin di muka bumi tersentral di tangan seorang khalifah, hanya pengelolan administrasi dan kesejahteraan sajalah yang didesentralisasi untuk memudahkan pengelolaannya. 69. Tanya : “Bagaimana dengan pendapat bahwa kholifah itu harus dari Quraisy ?” Jawab : Itu bukan pendapat tetapi sebuah hadits nabi yang shohih, kami membenarkan hadits itu, sebab di sa’at Khilafah tegak untuk seluruh bumi, maka sentral pemerintahan yang paling tepat adalah di Makkah, sehingga setahun sekali muslimin di seluruh bumi bisa datang ke ibu kota khilafah Islamiyyah untuk menerima fatwa fatwanya ketika menunaikan ibadah haji ke tanah suci tersebut. Sehingga dengan demikian kesatuanpaduan ummah dengan mudah terus terjaga, begitu pula dengan kedekatan hati Ummah pada khalifahnya. Jadi sepantasnya para ulama yang mengaku paling ‘salaf’ sendiri itulah yang harus giat menasihati raja dan aparat kerajaan Saudi Arabia untuk segera memikul tugasnya menjadi Kholifah Dunia dan mengirimkan pasukan ke seluruh wilayah dunia untuk menegakkan hukum Islam. Apakah tugas ini sudah dilakukan para ulama salafi di dalam negeri Saudi Arabia ? Kami di Indonesia, akan sangat mendukung usaha para ulama salafiuntuk menggugah kaum Quraisy agar segera kembali pada wajib sucinya, sementara disini kami pun berusaha dengan istiqomah menunaikan wajib suci, ialah hak

474

dan kewajiban tiap tiap mujahid, menggalang Negara Karunia Alloh, Negara Islam Indonesia. Jadi tidak logis bila ada ulama yang melarang larang perjuangan Islam yang bersifat negara, dengan alasan Imam itu harus seorang kholifah dan kholifah itu harus Quraisy. Sementara larangan ini hanya digembar gemborkan di sini sehingga memberi keuntungan kepada fihak musuh/thoghut. Sedangkan di Saudi Arabia sendiri mereka tidak mendorong para aparat kerajaannya untuk segera menunaikan wajib sucinya membela seluruh muslimin di dunia ini. 70. Tanya : “Apakah NII anti terhadap manhaj Salafi ?” Jawab : Sejak mula diproklamasikan NII menjadikan Islam sebagai asas negara dan menjadikan Al Quran dan Hadits shohieh menjadi hukum tertinggi yang berlaku di negara kami. Bagi seluruh warga NII Al Quran dengan penafsirannya yang benar, Al Hadits dengan keshohihannya adalah seutama utama ilmu yang harus dijunjung tinggi, dipelajari, Karena itulah tulang punggung negara kami. Bila Para Ulama salaf yang hidup di tiga kurun terbaik, yakni masa Nabi dan shahabat, masa tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in semuanya berada di wilayah Darul Islam, tidak ada seorang pun dari ulama salaf di jaman itu yang rela menjadi warga Darul Kuffar. Sekalipun para Imam Madzhab Ahlus Sunnah itu disiksa dan dipenjara oleh pemerintah Islam ketika itu, tidak ada seorang pun yang berfikir untuk keluar dari pangkuan Daulah Islamiyyah dan lari ke wilayah Darul Kuffar dan merelakan diri diperintah oleh Thoghut. Dari itu kami berkeyakinan, tidak mungkin bisa mengikuti jejak salaf, bila diri masih jadi warga Darul Kuffar, sebab mana sunnahnya ? Mana teladannya dari tiga kurun terbaik yang

475

dijaminkan Nabi Saw ? Nabi dan shahabat sampai hijrah meninggalkan Darul Kuffar membangun Madinah, Ad Daulatul Islamiyyah di bumi Yatsrib, sehingga tidak logis mengaku salafi, hanya sekedar menela’ah kitab kitab salaf sementara membiarkan diri dikuasai hukum jahiliyyah. Jadi mesti difahami, bahwa apa yang dilakukan gerilyawan Negara Islam Indonesia adalah berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan wilayah Islam hingga menjadi tempat yang aman dan stabil untuk memberlakukan Hukum Islam di dalamnya. Menegakkan Al Quran dan Hadits shohih sebagai hukum tertinggi. Bila ini yang menjadi harapan ulama terdahulu, maka upaya ini pula lah yang tengah kami jalankan. Namun demikian, bisa dimengerti apabila banyak diantara para ulama yang salah menilai gerakan perjuangan NII, ini diakibatkan adanya fihak fihak tertentu yang direkayasa musuh yang juga mengakukan dirinya sebagai NII. Lahirlah dimana mana “Jama’ah NII” dengan gerakannya yang banyak bertabrakan dengan hukum hukum syari’at Islam. Padahal kalau orang mau mengerti dengan kalimat “Jama’ah NII” saja orang mesti sudah bisa membaca kepalsuannya. Sebab NII bukanlah jama’ah seperti yang dimengerti sebagian orang. NII adalah satu negara lengkap dengan perundang undangan dan pemerintahannya.