‫‪Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan‬‬ ‫‪Masyarakat Madani‬‬

‫‪MASYARAKAT MADANI YANG MANDIRI‬‬
‫‪DI‬‬

‫‪ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH‬‬ ‫‪DALAM MENATA KEHIDUPAN‬‬
‫‪LUHAK AGAM, MINANGKABAU, SUMATRA BARAT‬‬

‫‪PERANAN‬‬

‫: ‪Oleh‬‬ ‫‪H. Mas’oed Abidin‬‬

‫الحمد للله اللذي بعلث فلي المييلن رسلول منهلم يتللو‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل ل‬ ‫عليهم آي لاته ويزكيه لم ويعلمه لم الكت لاب والحكم لة وإن‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫كانوا من قبل لفي ضلل مبين ، ل إله إل الللله ول نعبللد‬ ‫إل إياه، مخلصين له الدين ولو ك لره الك لافرون. وأزك لى‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫صلوات الله وتس لليماته عل لى س ليدنا وإمامن لا، وأس لوتنا‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫وحبيبنا محمد صلى الله عليه وس للم وال له ورض لي الل له‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫عن أصحابه، ومن سار على ربهم إلى يوم الدين. أما‬ ‫بعد.....‬

‫.‪H‬‬

‫‪Mas’oed Abidin‬‬

‫1‬

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

MUKADDIMAH

M
anak nagari

embina perilaku beradat di Luhak Agam sudah menjadi kerja utama yang tak boleh dilalaikan sepanjang masa. Dalam kurun waktu yang panjang sudah tampak pada penyiapan sarana dalam kaum, surau dan lembaga pendidikan taratak dan nagari, dengan

dusun,

jangkauan utamanya membentuk masyarakat berperilaku sopan dan santun, memiliki akhlaq yang terpuji, hidup beradat dalam tatanan agama Islam yang shahih, dengan pemahaman syarak.
Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek, pangabek Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso, Malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso. pareso

Pembinaan terpadu masyarakat ini berawal dari rumah tangga dan lingkungan dengan menata kehidupan ba-surau memacu gerakan mencerdaskan umat, menanamkan akhlaq sesuai adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, syarak mangato adat memakai, seraya mengokohkan aqidah tauhid yang kuat, semata mengamalkan Firman Allah:

H.

Mas’oed Abidin

2

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

‫وَما كان ال ْمؤ ْمنون ل ِي َن ْفروا كافّلة فَل َلوْل َ ن َفلر ملن ك ُلل فِرقَلة‬ ً َ ٍ ْ ّ َ ُ ِ ُ َ َ َ ْ ِ َ َ ُ ِ ‫من ْهُم طائ ِفة ل ِي َت َفقهوا في الدين وَل ِي ُن ْذ ِروا قللوْمهُم إ ِذا رجعللوا‬ ٌ َ َ ْ ِ ِ ُ َ َ َ ْ َ َ ُ ّ َ ُ ِ ّ
122{ :‫}التوبة‬

. ‫إ ِل َي ْهِم ل َعَل ّهُم ي َحذ َرون‬ َ ُ ْ ْ ْ

“Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya --, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

MENYIKAPI PERUBAHAN ZAMAN
erubahan zaman hanya satu keniscayaan belaka. “inna

era global, yang seringkali membawa riak penetrasi dan bahkan infiltrasi kebudayaan luar, yang serta merta akan mengguyahkan pagar-pagar budaya anak nagari yang kurang pula kuat tertanam pada perilaku masyarakat anak nagari. Memang satu keniscayaan pula, ketika pemahaman dan pelaksanaan adat istiadat masyarakat luhak di alam Minangkabau dalam wilayah administrasi pemerintahan Provinsi Sumatera Barat, tidak lagi kukuh mengimplementasikan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah dalam kehidupan keseharian anak nagari, maka tidak pelak tersua jalan di alieh urang lalu, sukatan di pancuang urang panggaleh. Pengaruh globalisasi yang materialistic, seringkali mengabaikan kaidah-kaidah Islami dalam tatalaku
3

P

al-zamaan berubah

qad dan

istadara“, musim

bahwa

zaman

senantiasa satu

selalu

berganti

adalah

sunnatullah, alam takambang jadi guru. Perubahan itu hari ini kita amati sebagai satu arus kesejagatan dalam

H.

Mas’oed Abidin

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

masyarakat nagari, dimana sesungguhnya dalam masa sangat panjang kaidah syara’ telah menjadi pegangan hidup anak nagari – khususnya di Luhak nan tigo di Ranah Minang, seperi Luhak Agam, Tanah Data dan Limopuluah Koto --. Pengaruhnya kian terasa, ketika berembus pula angin kebebasan liberalistic tanpa menghiraukan lagi kawalan adat maupun agama, sehingga dirasakan ada upaya dikotomis memisahkan hidup kini yang serba kebendaan itu dengan hari esok yang dinilai khayali, telah berkecambahnya paham sekularistik yang menjadikan rapuh olah rasa anak nagari. Pergeseran itu semestinya diamati dengan cermat, karena akan berdampak kepada kinerja dan praktek pemerintahan, juga berakibat terhadap pengelolaan wilayah dan asset, serta berpengaruh kepada perkembangan norma dan adat istiadat di nagari, sehingga terlihat jelas perebutan prestise berbungkus materi lebih diminati daripada menghadirkan prestasi yang dapat dinikmati masa lama makin berkurang. Penetrasi kebudayaan global tidak amat mengherankan pula menampilkan kehidupan individualistic lebih kentara dibanding mengedepankan kepentingan masyarakat bersama. Akibatnya sangat dirasakan ketika idealisme kebudayaan Minangkabau menjadi sasaran cercaan, dan ketika pencapaian hasil kebersamaan (kolektifiteit) menjadi sangat tipis, dan rela ataupun tidak – the last but not lease – ikatan kekerabatan dalam budaya dan adat Minangkabau dirasakan mulai terancam. Maka “Kembali ke Nagari“, menurut hemat saya, semestinya harus lebih dititik beratkan kepada kembali ba-nagari1 dalam makna kebersamaan, mengawal prinsip-prinsip utama adat Minangkabau pada garis matrilineal, dengan pemeranan bundo kanduang (ibu dan bundo yang ditangan mereka terletak garis keturunan dalam sistim matrilinineal yang masih berlaku hingga saat ini, seperti dijelaskan perannya di dalam adat Minangkabau, bahwa bundo kanduang adalah “limpapeh rumah nan gadang,umbun puruak pegangan kunci, pusek jalo kumpulan tali, sumarak dalam nagari, nan gadang basa batuah.” Aplikasinya ada pada masyarakat Madani yang Islami ketika menempatkan perempuan menjadi ‘imaad al bilaad atau
H.

Mas’oed Abidin

4

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

tiang penyangga satu negeri. Hal ini hanya mungkin ujud ketika para perempuan hidup dengan kaedah adat dan akhlaq Islami, dengan aqidah tauhid yang kukuh. Generasi Minang mesti dibangun dengan mengamalkan saling menghormati akan adanya perbedaan, saling menghargai dalam bimbingan syarak mangato adaik mamakai dengan mengutamakan hidup seimbang, sadar luasnya bumi Allah, rajin mencari dengan modal tulang lapan karek (=tulang delapan karat (bhs.Ind), artinya dua tangan, dua bahu, dua kaki, dua pinggul) artinya berusaha yang menjadi asas mandiri bagi setiap anggota masyarakat maju dan madani yang Islami, senantiasa bertawakkal kepada Allah SWT, tidak boros serta sadar akan ruang dan waktu, dima bumi di pijak, di situ langik di jujuang, di sinan adaik ba pakai. Generasi Minangkabau mesti berbudi luhur – ber-akhlaq al karimah – dalam bertindak dan berbuat, untuk meraih kebahagiaan hidup dunia dan akhirat, dengan beriman dan bersilaturahim (interaksi) dalam tatanan masyarakat madani (civil society) yang Islami. Kaedah syarak (bersendikan Kitabullah dengan akhlaq Qurani) telah memberi motivasi dan mendorong mobiltas horizontal (hablum min an-naas) dan mobilitas vertical (hablum min Allah) kepada anak nagari di Minangkabau masa lalu dan mendatang untuk beramal inovatif sarat dinamika dan kreativitas. Adalah satu kenyataan belaka, bila saat ini lebih kurang 7 juta anak nagari ada di rantau yang tersebar diseluruh belahan dunia, dimana 25 % daripadanya menetap di wilayah Jadebotabek, dan hanya separoh saja yang ada di kampung halaman, lebih kurang 4,3 juta jiwa. Mestinya potensi yang potensial ini digali menjadi potensi riil membangun masyarakat Madani yang mandiri dan Islami di Kabupaten Agam dan di Minangkabau Sumatera Barat umumnya.

KONSEP TATA RUANG

YANG

JELAS

H.

Mas’oed Abidin

5

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

agari di Minangkabau berada di dalam konsep tata

N
bapakuburan.

ruang

yang

jelas.

Basasok

bajarami,

Balabuah

batapian, Barumah batanggo, Bakorong bakampuang, Basawah baladang, Babalai bamusajik, Bapandam

Ba-balai (balai ruang atau balai-balai adat) tempat musyawarah dan menetapkan hukum dan aturan “balairuang tampek manghukum, baaie janieh ba-sayak landai, aie janieh ikan-nyi jinak, hukum adie katono bana, hukum jatuah sangkjeto sudah”. Ba-musajik atau ba-surau tempat beribadah, tampek ba-lapa ba-ma’ana, tampek balaja al-Quran 30 juz, tampek mangaji shah jo batal.” Memang di surau tidak ada yang dapat di cari benda-benda (materi), sebagai terungkap di dalam Peribahasa Minangkabau, “bak batandang ka surau”, karena memang surau tak berdapur (Anas Nafis, 1996:464 -Surau-2). Namun di suaru kita dapat menggali bekal ilmu, hikmah dan kepandaian-kepandaian untuk mengharungi hidup di dunia, dalam mempersiapkan hidup di akhirat. Artinya, Surau adalah pusat pembinaan menjalin hubungan masyarakat yang baik (hablum-minan-naas) dan terpelihara ibadah dengan Khalik (hablum minallah). artinya Kedua tidak substansi semata ini berlaku kepada sepanjang masa, dimana terkait

bangunan fisik belaka, namun dapat di rancang ulang dalam bentuk restrukturisasi dan revitalisasi nilai-nilai syarak yang menjadi landasan dari syarak mangato adaik mamakai itu. Impementasinya tampak pada baju dipakai usang adaik dipakai baru. Konsep tata-ruang adalah salah satu kekayaan budaya yang sangat berharga di nagari dan bukti idealisme nilai budaya di Minangkabau, termasuk di dalam mengelola kekayaan alam dan pemanfaatan tanah ulayat.
“Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak, Nan bancah jadikan sawah, Mas’oed Abidin 6

H.

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

Nan munggu pandam pakuburan, Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak”.

Tata ruang yang jelas memberikan posisi peran pengatur, pemelihara. Pendukung sistim banagari yang terdiri dari orang ampek jinih, yang terdiri dari ninikmamak ( yakni penghulu pada setiap suku, yang sering juga disebut ninikmamak nan gadang basa batuah, atau nan di amba gadang, nan di junjung tinggi, sebagai suatu legitimasi masyarakat nan di lewakan.), alim ulama (juga disebut dengan panggilan urang siak, tuanku, bilal, katib nagari atau imam suku, dll dalam peran dan fungsinya sebagai urang surau pemimpin agama cerdik Islam. Gelaran ini lebih menekankan kepada pemeranan fungsi ditengah denyut nadi kehidupan masyarakat (anak nagari), pandai (dapat saja terdiri dari anak nagari yang menjabat jabatan pemerintahan, para ilmuan, perguruan tinggi, hartawan, dermawan), urang mudo (yakni para remaja, angkatan muda, yang dijuluki dengan nan capek kaki ringan tangan, nan ka disuruah di sarayo). Generasi Muda Minang sebenarnya adalah generasi pelanjut risalah menawarkan sunnah dengan hati-hati (tsiqat), memilih tema dan waktu di iringi keberanian jihad. Teguh prinsip dalam revolusi paradigma tauhid dan paradigma akhlaqul karimah melaksanakan ajaran Islam untuk meraih selamat. Gelombang revolusi keyakinan Aqidah dan Akhlaq2 yang dibawa oleh Muhammad SAW bertumpu kepada paradigma Laa ilaaha illa Allah (aqidah tauhid), artinya tiada yang berhak disembah kecuali hanya Allah adalah komitmen terhadap keesaan Allah dan menjadi wujud hubungan logis makhluk dengan Khalik (hablum min Allah dan hablum min an-nas), yakni penyerahan total kepada kedaulatan Allah.3 Setiap permintaan perlindungan kepada selain Allah, adalah terlarang. Berpijak kepada paradigma ini, manusia terbimbing dengan sikap tauhid (aqidah kokoh), kesabaran (teguh sikap jiwa), konsisten, ikhlas (motivasi amal ikhtiar), tawakkal (penyerahan diri secara bulat kepada kekuasaan Allah), sibghah identitas (iman dan
H.

Mas’oed Abidin

7

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

takwa) yang mesti dipunyai setiap masa, dalam menata sisi-sisi kehidupan menata kini dan masa depan. Tantangan besar hari ini adalah ulang masyarakat (replanting values) dengan nilai

berketuhanan dan berbudaya dalam satu mata rantai peradaban syari’at tadhamun al Islami ketengah peradaban manusia, menuju madaniyah (modern, maju, beradab), dan menjadi antitesis terhadap degradasi moral produk westernisasi dengan rancangan perilaku adat bersendi Kitabullah (wahyu Alqurani).

H.

Mas’oed Abidin

8

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

TANTANGAN GENERASI MINANGKABAU

S

eiring

perkembangan education) diminati guna

zaman, memproduk kerja, melalui

masyarakat SDM olah yang pikir

memerlukan pendidikan berkualitas (quality pasar

(intellectual quotient tinggi sebagai basis

knowledge), olah raga (tangguh, kuat, sehat fisik dan mental), olah hati (dengan iman yang benar sebagai basis dari emosional dan spiritual quotient), serta olah rasa (kearifan dan keseimbangan dari raso dibao naik dan pareso di bao turun salah satu akar budaya Minangkabau atau cultural based). Hal itu amatlah penting guna penciptaan duduak samo randah tagak samo tinggi dalam tata pergaulan masyarakat majemuk dan maju. Maka antara rumah tangga (rumah gadang kaum) dengan lingkungan surau, balai adat, pagar kampung dan nagari semestinya memiliki jalinan kuat dalam satu ikatan saling menguntungkan (symbiotic relationship) membina anak nagari. Masyarakat Minangkabau sangat akomodatif seiring pemahaman syariat dalam membentuk watak anak nagari dan kondisi ini telah menjadi pendorong masyarakat lebih maju dan sangat dinamis. Senyatanya inilah kekuatan lain untuk menyusun masyarakat Madani itu.
Diakui, daya saing generasi muda Minang saat ini makin melemah, mutu pendidikan kurang memadai, bekal keterampilan sangat sedikit, pengamalan agama dan syari’at kurang kompetitif, sikap entrepreneurship tidak berkembang, hubungan emosionalkultural generasi muda minang di rantau dan di ranah makin tipis. Hal itu
H.

disebabkan

nilai-nilai

positif

keminangan

tidak
9

Mas’oed Abidin

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

disosialisasikan,

daya

tarik

kampung

halaman

kurang

diperkenalkan kepada generasi muda, pendidika adat dan budaya Minang adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah tidak intensif. Perlu diyakinkan bahwa di tengah pergumulan hidup ada sunnatullah alam takambang jadi guru, dan ada kehidupan beradat sopan santun sesuai ajaran Rasulullah SAW. Bila pegangan ini sengaja dilupakan, mengikuti kurenah kebanyakan manusia merujuk kenikmatan indera (hedonistic) semata, niscaya laknat kesesatan akan timpa bertimpa. Kewajiban utama kita menyadarkan generasi Minang kembali kepada syari’at Islam, bahwa hati setiap muslim telah dihiasi iman yang benci kepada kekufuran, dosa dan maksiyat. Insyaallah, generasi Minang akan menjadi lebih kuat, berkecerdasan tinggi, menjadi umat utama (khaira ummah) dengan moralitas hidup berbangsa, cinta persaudaraan dan persatuan (ukhuwah), tidak

merendahkan satu golongan, tidak mencari kesalahan merusak diri dan kehormatan, teguh menciptakan ishlah perbaikan, menegakkan keadilan taat hukum, semuanya itu kekuatan besar merebut kejayaan4. Akhlaq mulia modal utama menapak alaf baru. Manakala nilai moral ini sudah pupus dari etnis Minang, pasti bangsa ini akan jadi manusia modern yang biadab.
Suatu individu atau kelompok yang kehilangan pegangan hidup, walau secara lahiriyah kaya materi tetapi miskin mental spiritual, akan terperosok kedalam tingkah yang tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan, dan akan menukar nilai kehidupan dengan sikap acuh, lucah, sadis dan hedonistic. Amat tragis, kalau generasi yang kehilangan pegangan hidup itu adalah kelompok etnis Minangkabau yang dikenal adatnya basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang disebut muslim pula.

Kurang perhatian kepada perusakan lingkungan moral dan akhlaq lebih merusak generasi dan bahayanya lebih parah dan perbaikannya sangat lama. Perusakan lingkungan moral hanya dapat diantisipasi dengan kuat berpegang tauhid.5 Menghindari bahaya pengrusakan moral hanya dengan konsekwen melaksanakan revolusi
H.

Mas’oed Abidin

10

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

paradigma dengan spirit adatnya bersendi syari’at, dan syari’at bersendi Kitabullah (Alqurani) dan teguh berdisiplin mengikuti perintah Allah. Arif akan adanya perubahan-perubahan dengan pandai

mengendalikan diri, agar jangan melewati batas.
“Ka lauik riak mahampeh, Ka karang rancam ma-aruih, Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh, Jiko mencancang, putuih–putuih, Lah salasai mangko sudah”.

Pemahaman mempunyai

syarak

menekankan diri),

kehidupan bekerja

dinamis, hati,

martabat

(izzah

sepenuh

menggerakkan semua potensi, tidak lalai tidak enggan. Tidak berhenti sebelum sampai. Tidak berakhir sebelum sudah. MENUJU MASYARAKAT MADANI adani mengandung kata maddana al-madaina (‫م لد ّن‬ َ َ

M
Masyarakat

‫ )المد َائن‬artinya, banaa-ha (‫ )ب َناها‬yakni membangun atau َ َ َ ِ َ hadhdhara (‫)حضللللر‬ ّ َ َ yaitu memperadabkan dan tamaddana (‫ )ت َم لد ّن‬artinya menjadi beradab -- yang َ َ nampak dalam kehidupan masyarakatnya berilmu (periksa,rasio), memiliki rasa (emosi) secara individu

maupun secara kelompok serta memiliki kemandirian (kedaulatan) dalam tata ruang dan peraturan-peraturan yang saling berkaitan.6 madani (‫ = الحض لرِي‬al hadhariyyu) adalah masyarakat ْ َ ّ berbudaya dan al-madaniyyah (tamaddun) yang maju, modern, berakhlaq dan memiliki peradaban melaksanakan ajaran agama Islam (syarak) dengan benar. Agama (Islam) tidak dibatasi ruang-ruang masjid, langgar, pesantren, majlis ta’lim semata, namun menata gerak kehidupan riil, tatanan politik pemerintahan, sosial ekonomi, seni budaya, hak asasi manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mewujudkan masyarakat yang َ hidup senang dan makmur (‫ = ت َن َعّم‬tana'ama) dengan aturan (‫قان ُوْن مد َن ِي‬ َ َ ٌ ّ = qanun madaniy) atau syarak mangato, adaik mamakai yang

H.

Mas’oed Abidin

11

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

melindungi hak-hak privacy, kepemilikan (perdata, ulayat) dan hak-hak sipil masyarakatnya. Disimpulkan bahwa masyarakat madani adalah masyarakat kuat agamanya, berpendidikan dan berpandangan kota (urban) meskipun mereka mendiami daerah nagari dan taratak (rural) seperti nampak jelas dalam tatanan masyarakat Madinah el Munawwarah dimasa hayat Nabi Muhammad SAW. Nilai dinul Islam melahirkan masyarakat proaktif menghadapi perubahan sebagai suatu realitas yang mendorong melakukan perbaikan kearah peningkatan mutu dengan basis ilmu pengetahuan (knowledge base society), basis budaya (culture base sociaty) dan agama (religious base society). Masyarakat tamaddun adalah masyarakat integratif secara sosial, politik, ekonomi ditengah pergumulan problematika sosial dan pribadi masyarakatnya. Dalam kehidupan Madani pada masyarakat Minang kehidupan maju beradat dan mengamalkan agama dengan landasan syarak basandi Kitabullah, luas pemahaman (tashawwur) mengenal alam keliling “Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang,
Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru”7, sehingga masyarakatnya mandiri menjaga rakyat

(suku), ulayat (pusako) dan pemerintahan (sako). Di dalam masyarakat Minangkabau hidup menjadi beradab (madani) dengan spirit
KEBERSAMAAN

(sa-ciok bak ayam sa-danciang

bak basi), sesuai pepatah “Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito”, diperkuat dengan
KETERPADUAN

(barek sa-pikua ringan sa-

jinjiang), dan “Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang ”8,

dengan menjaga tangga

MUSYAWARAH

(bulek aie dek pambuluah, bulek

kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-

H.

Mas’oed Abidin

12

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo” dan menjadi pengikat spirit

adalah

SIKAP

CINTA

KE

NAGARI,

direkat oleh pengalaman sejarah9,

melahirkan pemikiran konstruktif (amar makruf) dan meninggalkan pemikiran destruktif (nahyun 'anil munkar) melalui pembentukan tata cara hidup yang diajarkan syarak (agama Islam), yakni mandiri dengan self help, membantu dengan ikhlas karena Allah SWT (selfless help), dan saling bekerjasama membantu satu sama lain (mutual help), menjadi alas dasar membentuk masyarakat MADANI
YANG

MANDIRI dalam bimbingan AGAMA ISLAM (syarak).
“Pariangan manjadi tampuak tangkai, Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo Luhak rang mangatokan. Adat jo syarak jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban”.

Apabila

ajaran

syarak

berperan

sempurna,

akan

tampil

kehidupan masyarakat berperangai terpuji dan mulia (akhlaqulkarimah) sebagai cirri utama masyarakat Madani yang Islami.
“Tasindorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki, adaik jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi”.

1Sebenarnya, nagari dalam daerah Minangkabau, Sumatra Barat, seakan sebuah republik kecil yang mempunyai sistim demokrasi murni, pemerintahan sendiri, asset sendiri, wilayah sendiri, perangkat masyarakat sendiri, sumber penghasilan sendiri, bahkan hukum dan normanorma adat sendiri.

Maka, nagari di Minangkabau tidak sebatas pengertian ulayat hukum adat. Lebih mengedepan dan utama adalah wilayah

kesepakatan antar berbagai komponen masyarakat di dalam nagari . Sikap hidup ini, menjadi sumber pendorong kegiatan di bidang ekonomi. Tujuan utama untuk keperluan jasmani (material needs). Hasilnya tergantung kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup

H.

Mas’oed Abidin

13

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

tersebut berurat dalam jiwa masyarakat nagari. Dan bergantung pula kepada tingkat kecerdasan yang telah dicapai.

MORALITAS MASYARAKAT MADANI

manusia

S

ikap hati-hati sangat dituntut untuk meraih keberhasilan dengan kecerdasan serta memiliki wawasan kedepan, Di tengah persimpangsiuran free flows of words and image, bebas mulai bebas menyajikan apa saja baik dalam

penayangan media informasi elektronika di era kesejagatan. Perlu upaya sungguh-sungguh memeranfungsikan filter budaya

(tamaddun) dengan memakai takaran pantas dan patut, boleh dan tidak, dengan menguatkan ikatan ajaran adat dan agama (religi) dalam tata budaya masyarakat yang tidak semata bertumpu pada keinginan individual belaka. Salah menerjemahkan suatu informasi, berpengaruh bagi penentuan sikap dan pengambilan keputusan, terutama pada kondisi tidak menentu didorong sikap tergesa-gesa, dapat berdampak jauh terhadap keselamatan orang banyak dalam suatu tatanan masyarakat majemuk. Ajaran Islam sesuai Alquran, mengingatkan agar setiap muslim selalu berhati-hati dan tidak cepat mempercayai suatu berita yang sumbernya diragukan dan datang dari kelompok fasik yang suka memancing tumbuhnya kemelut. Sikap tabayun mesti selalu dipakai.

H.

Mas’oed Abidin

14

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

Meninggalkan tabayun memancing lahirnya tindakan zalim atau aniaya.

‫ياأ َي ّها ال ّذين ءامنوا إ ِن جاءك ُم فاسقٌ ب ِن َب َأ ٍ فَت َب َي ّنوا أ َن ت ُصيبوا‬ ُ ِ َ ْ َ َ ْ ُ َ َ َ ِ ُ ِ ْ َ َ َ ‫قَوْما ب ِجهال َةٍ فَت ُصب ِحوا ع َلى ما فَعَل ْت ُم ناد ِمين‬ ُ ْ َ ً َ َ َ ِ َ ْ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS. al-Hujurat : 6).

Kaderisasi generasi bertumpu pada strategi pendidikan, agar tidak lahir generasi lemah dalam aqidah dan ekonomi. Merosotnya peran kelembagaan adat dan syarak di Minangkabau terkait pada kurang berperannya lembaga pendidikan anak nagari dan lemahnya pagar adat dalam kekerabatan serta hilangnya daya saing pemuka adat membina anak nagari. Disini pokok permasalahan yang amat perlu diamati. Mendudukkan peran serta masyarakat memerlukan musyawarah dan mufakat. Kekayaan sangat berharga yang tersimpan didalam adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah mesti digerakkan menjadi kekuatan dasar bagi membangun daerah dan negara. Tugas kembali kepemerintahan nagari adalah mengimplementasikan adat dan syarak dalam kehidupan nyata bernagari. Mesti digerakkan upaya sungguh-sungguh menggali potensi dan asset nagari yang terdiri dari budaya, harta, manusia, dan agama anutan anak nagari. Apabila tidak digali, akan mendatangkan kesengsaraan baru bagi masyarakat nagari. Dimulai memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia, masyarakat nagari, kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada dalam diri masing-masing, yakni budaya taqwa dengan perbuatan yang benar. Kemudian observasinya dipertajam, daya pikirnya
H.

Mas’oed Abidin

15

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

ditingkatkan, daya geraknya didinamiskan , daya ciptanya diperhalus, daya kemauannya dibangkitkan. Upaya ini akan berhasil dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri.
“Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja. Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangko manjadi.”.

Tujuannya agar sampai kepada taraf yang mampu berdiri sendiri dan membantu nagari secara selfless help (mandiri), memberikan bantuan dari rezeki yang telah kita dapatkan tanpa mengharap balas jasa,

‫إل اب ْت ِغَ لاء وَج لهِ رب ّله‬ ِ َ ْ َ ‫ل‬

---

‫وَما لحد ٍ عن ْد َه ُ من ن ِعْمةٍ ت ُج لزى‬ ِ َ َ ْ َ َ ْ ِ َ ‫الع ْلى‬

"Pada hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas, tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang Maha Tinggi". (QS.al-Lail :19- 20)

Mendukung percepatan pembangunan di era otonomi daerah di Sumbar, sangat perlu disegerakan upaya upaya ;

1. Meningkatkan Mutu SDM anak nagari, dan memperkuat Potensi
yang sudah ada melalui program utama,

a. menumbuhkan SDM Negari yang sehat dengan gizi cukup,
meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama terapan),

b. mengokohkan pemahaman agama, sehingga anak negari menjadi
sehat rohani,

c. menjaga terlaksananya dengan baik norma-norma adat, sehingga
anak nagari menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).

d. Membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu
identitas yang tidak dapat ditolak dalam kembali kenagari.

H.

Mas’oed Abidin

16

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

2. Menggali potensi SDA di nagari, selaras perkembangan global
dengan memperkuat ketahanan ekonomi rakyat. Membangun kesejahteraan bertitik tolak pembinaan unsur manusia. Dari menolong diri sendiri kepada mutual help. Tolong-menolong adalah puncak budaya Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Berbagi pekerjaan (ta'awun) ajaran syarak.
"Bantu membantu, ta'awun, mutual help dalam rangka

pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses produksi, dan mempertinggi mutu, yang dihasilkan. Itulah taraf ihsan yang

hendak di capai.

3. Memperindah nagari dengan menumbuhkan contoh di nagari.
Indicator utama adanya moral “nan kuriak kundi, nan sirah sago,
nan baik budi nan indah baso”. Efisiensi organisasi dengan reposisi

dan

refungsionisasi

semua

pemeranan

fungsi

dari

elemen

masyarakat. Ketiga pengupayaan diatas menjadi satu konsepsi tata cara hidup. Sistem sosial dalam "iklim adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah", adalah membina negara dan bangsa keseluruhannya untuk melaksanakan Firman Ilahi ,

َ َ َ َ ِ ِ َ ‫واب ْت َغ فيما ءاتاك الل ّه الدار الخرة َ ول ت َن ْس ن َصيب َك من الد ّن ْيا‬ َ ُ َ َ ِ َ ِ َ َ ِ َ ّ ‫وَأ َحسن ك َما أ َحسن الل ّه إ ِل َي ْك ول ت َب ْغ ال ْفساد َ فللي الرض إ ِن‬ ِ ّ ِ ْ َ َ ُ َ َ َ َ ْ َ ْ ِ ْ ِ ‫الل ّه ل ي ُحب ال ْمفسدين‬ ّ ِ َ َ ِ ِ ْ ُ
"Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah
berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan)”. (QS.28, Al Qashash : 77)

Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan "nawaitu" dalam diri masing-masing, untuk membina umat dalam masyarakat di nagari harus diketahui pula kekuatan-kekuatan.

H.

Mas’oed Abidin

17

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

“Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo”.

Teranglah sudah, bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat nagari lahir dan batin, material dan spiritual pasti akan menemui disini iklim (mental climate) yang subur. Apabila pandai menggunakan dengan tepat akan banyak membantu usaha pembangunan itu. Melupakan atau mengabaikan ini, adalah satu kerugian. Berarti mengabaikan satu partner "yang amat berguna" dalam pembangunan masyarakat dan negara. Luhak Agam daerah yang indah, seakan qith’ah minal jannah fid-dun-ya, sepotong syorga yang menghiasi dunia. Betapa hinanya, bila negeri kaya jadi miskin dari kecintaan sesama. Optimisme banagari
Bingkisan

mesti
rajo

selalu

dipelihara,
Tuah

“Alah basabab

bakarih

samporono, Pandai

Majopahik,

bakarano,

batenggang di nan rumik”. Masyarakat Agam khususnya, dan Sumatra

Barat umumnya harus menjadi besar dan kuat dengan kecerdasan (rasyid) memiliki kearifan masa datang dan selalu berpegang kepada ajaran Alquran.

َ ُ َ ْ ِ ّ ‫واع ْل َموا أ َن فيك ُم رسول الل ّهِ ل َوْ ي ُطيعُك ُم فِ لي ك َثي لرٍ م لن ال َم لر‬ ‫ْ ل‬ ِ ِ ُ َ ِ ْ ْ َ ِ ‫ل‬ ‫ُ ل‬ َ َ َ ِْ ُ َ َ َ َ‫ل َعَن ِت ّم وَل َك ِن الل ّه حب ّب إ ِل َي ْك ُم اليمان وَزي ّن َله فِلي قُل ُلوب ِك ُم وَك َلره‬ ْ ْ ّ ّ ُ َ ‫إ ِل َي ْك ُم ال ْك ُفر وال ْفسوقَ وال ْعِصيان أول َئ ِك هُم الراشدون‬ َ ُ ِ ّ ُ َ َ ْ ُ ُ َ َ ْ ُ َ
“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benarbenarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus". (QS.49, al-Hujurat:7).

H.

Mas’oed Abidin

18

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

TUNTUNAN AKHLAQ DALAM ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH (AJARAN ISLAM)

A
menjadi

jaran Islam sangat banyak memberikan dorongan kepada sikap-sikap untuk maju. Kemajuan materi (madiyah) akan terpacu oleh akhlaq manusia yang menggenggam materi tersebut. Akhlaq adalah perangai yang berakar didalam hati sebagai anugerah dari Khalik Maha Pencipta. Makhluk

manusia mesti terikat erat dengan Khalik sang Pencipta. Akhlaq adalah jembatan yang mendekatkan makhluk dengan Khaliknya. Menjadi parameter menilai sempurna atau tidaknya ihsan Muslim itu. Melaksanakan agama sama artinya dengan berakhlaq sesuai dengan tuntunan agama Islam. Karena itu, agama bukanlah sebuah beban, melainkan adalah sebuah identitas (cirri, shibgah). Membebaskan diri dari ketentuan Maha Pencipta, atau membebaskan manusia dari nilainilai agama (seperti free of values yang banyak dipahami oleh masyarakat liberalistik) makhluk yang akan berakibat bahwa makhluk manusia tidak punya makna. Dengan demikian,

semestinya agama harus dilihat sebagai satu keperluan utama. Ajakan Rasulullah SAW, agar "jadilah kamu berilmu yang mengajarkan
ilmunya, atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an)", adalah anak kunci kemajuan peradaban manusia

(hadharah), mampu menjawab perubahan zaman, jika selalu diingat bahwa dibelakangnya ada satu peringatan keras, "sekali jangan kamu
menjadi kelompok keempat", yakni tidak mengikuti aktifitas keilmuan,

yaitu "tidak mengajar, enggan belajar, malas mendengar". Rasulullah SAW menyebutkan satu tugas risalahnya sebagai “Hanya aku diutus
untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (al Hadist). Pentingnya

akhlaq di ungkap banyak penyair (ahli hikmah)

“innama umamul

akhlaqu maa baqiyat, wa inhumu dzahabat akhlaquhum dzahabuu”,

yang di artikan, “tegak rumah karena sendi, sendi hancur rumah binasa. Tegaknya bangsa karena berbudi, budi hancur luluhlah bangsa”. Filosofi “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”di
Mas’oed Abidin 19

H.

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

Minangkabau, banyak menampilkan pepatah mengandung ajaran akhlaq, “Nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baiak budi, nan indah
baso”, artinya bahasa menunjukkan akhlaq bangsa. Akhlaq tidak dapat

dilupakan, walaupun sipelakunya sudah tiada. “Utang ameh buliah
dibaia, utang budi dibao mati”.

Kecanggihan Budaya Minang dalam Pendidikan Anak Dini Usia (PADU) di mulai dengan
JUJAI MENJUJAI,

sejak ratusan tahun lalu

telah di mulai di rumah gadang maupun di dalam nagari, tahu di kieh
jo di banding, arief di baying kato sampai. Modal Budaya ini telah

memberikan kontribusi dalam melahirkan tokoh-tokoh Minang baik di tingkat nasional,regional maupun internasional. Betapapun keperluan materi telah dapat dipenuhi, suasana hidup akan selalu hambar dan gersang manakala keperluan ruhanik (immaterial, spirituil) tidak diperhatikan. Manusia tanpa agama sama saja dengan makhluk yang bukan manusia. Disini keutamaan adat Minangkabau,yang bersendikan syariat Kitabullah (Alqurani). Perikehidupan tanpa bimbingan agama, artinya sama dengan peri kehidupan tidak berperikemanusiaan. Para Nabi dan Rasul yang diutus kepada manusia bertugas memberikan tuntunan akhlaq dalam semua perilaku kehidupan. Rujukan dari tuntunan akhlaq adalah wahyu Allah. Semua bimbingan yang terdapat pada semua kitabsuci samawi menekankan kepada terpeliharanya adab pergaulan antar manusia dan sesama makhluk. Tatanan adab pergaulan dimasud selalu di ikat dengan hubungan kasih (mahabbah) dengan Khalik Maha Pencipta, yang disebut dengan ibadah. Tuntunan akhlaq dan ibadah bukanlah semua perilaku pada seluruh tingkat sebatas teori, tetapi hubungan

pelaksanaan

kehidupan. Terlihat nyata dalam bentuk perilaku, contoh dan uswah yang ditinggalkan Rasulullah SAW, sesuai firman Allah menyebutkan,

‫ل َقد ْ كان ل َك ُم في رسول الل ّهِ أ ُسوَة ٌ حسن َة ل ِمن كان ي َرجو الللله‬ ِ ْ ُ ْ َ َ ْ َ ٌ َ َ َ َ َ ْ َ ّ ِ ُ َ ‫وال ْي َوْم الخر وَذ َك َر الل ّه ك َثيرا‬ ً ِ َ َ َ ِ ْ َ َ
H.

Mas’oed Abidin

20

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

“Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah hasanah), yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.33, al Ahzab : 21).

Meluasnya kemelut sosial, politik dan ekonomi yang dihadapi Negara, ikut menghantui umat terhadap malapetaka politik, moral, ekonomi, informasi dan budaya yang dipicu oleh kemerosotan akhlaq dan rohaniah individu anggota masyarakat, sedari pemimpin maupun rakyat yang mengikutnya. Kerusakan akhlaq adalah cerminan kepincangan pembangunan keperibadian (syahsiah) yang padu dan saling berkaitan antara sisi-sisi mental, sosial, fisik, emosi dalam satu tatanan kehidupan anak nagari, dan terkait pula dengan lemahnya sistem pendidikan sekular serta mengaburnya pencapaian tujuan pendidikan oleh para murabbi (guru). Menghadapi kondisi keumatan yang parah ini, wajib segera dibangun domain-domain kemanusiaan yang jadi satu dengan gerakan tarbiyyah Islamiyah dan menetapkan domain ruhiah atau domein rohaniah padu kedalam sistim pendidikan agar kerusakan akhlaq tidak menjadi lebih parah. Tugas utama kini, mencetak generasi unggul dengan iman dan taqwa, berpengetahuan beradat luas, dan menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta,

berakhlaq, adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Ketika pagar-pagar budaya impoten dan tipisnya penghormatan terhadap pemangku adat, alim ulama, cerdik pandai suluah bendang, mesti melaksanakan kewajiban utama membuka hati keluarga dan umat lebih luas, sehingga tubuh yang kasar dapat menerima percikan cahaya Ilahi yang lebih tinggi, dan manusia sadar bahwa tujuan hidup duniawi hanya alat untuk menuju akhirat yang kekal abadi. Dapat disimpulkan bahwa lemahnya bekalan agama dilapisan umat dan tipisnya pemahaman Islam akan berpengaruh didalam kehidupan. Persatuan lahiriyah tidak mampu menumbuhkan kebahagiaan mahabbah, cinta sesama. Di sinilah bermula sumber kehancuran.

H.

Mas’oed Abidin

21

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

Maka generasi Minangkabau mesti tumbuh dengan Iman yang kokoh. Kebejatan sosial, politik dan ekonomi yang menghimpit hari ini telah memberi satu konklusi bahwa keadaan itu terjadi karena usaha sadar manusia mengabaikan upaya penyepuhan jiwa (tazkiyah annafs) disertai kelalaian perbaikan watak (islah an nafs) di medan kehidupan. Maka, rumah tangga dan korong kampung berperan teladan, dengan kesabaran dan toleransi dalam hidup mesti jadi panduan. Pendidikan rohani membangun sumber daya manusia melalui penanaman nilai normative, aqidah dan budaya, adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, mengukuhkan nilai ibadah dan akhlaq dalam diri umat, seperti solat, zikir dan membuhul ikatan mahabbah yang semakin erat dari masa ke masa. Ikatan ukhuwah yang teguh adalah curahan rahmat Allah dan mengangkat posisi (darjah) dengan iman. Pendidikan ruhiyah mencakup aspek rawatan dan pengawalan (aspek treatment), melalui taubat,tazkirah, tarbiyah, tau’iyah, yang selalu ditopang oleh dua manazil atau sifat penting, yaitu ‘Rabbaniah dan Siddiqiah’10. Sifat Rabbaniah ditegakkan dengan benar diatas landasan pengenalan (makrifat) dan pengabdian (`ubudiah) kepada Allah melalui peningkatan ilmu pengetahuan, pemantapan pengajaran, pemberian nasihat, menanamkan akhlaq menyuruh yang ma’ruf (social support) dan mencegah dari yang munkar (social control). Siddiqiah mencakup enam jenis kejujuran (al-sidq): 1. kejujuran lidah, 2. kejujuran niat dan kemauan (sifat ikhlas), 3. kejujuran cita-cita (azam) dan keteguhan mencapainya, 4. kejujuran dengan apa yang diucapkan dan dijanjikan (al-wafa’), 5. kejujuran bekerja berprestasi dan berkarya (amal as-shalih), dan 6. kejujuran mengamalkan ajaran agama (maqamat al-din).
H.

Mas’oed Abidin

22

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

Ketika

kehidupan

manusia

kian

bertambah

modern

dan

peralatan teknologi semakin canggih, tidak dapat dibantah bahwa makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan dan tidak mudah dapat diselesaikan, kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT semata-mata. Umat perlu dihidupkan jiwanya menjadi satu umat yang mempunyai falsafah dan tujuan hidup (wijhah) yang nyata, memiliki identitas (shibgah), bercorak kepribadian terang (transparan) untuk ikut berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan. Satu susunan hidup masyarakat berjama’ah yang diredhai Allah yang dituntut oleh “syari’at” Islam, sesuai Adat basandi Syarak dan Syarak berusaha di urat masyarakat. Umat akan menjadi baik dan kembali berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu di kembalikan, maka semestinya bertindak atas dasar syarak dengan “Memulai dari diri sendiri, basandi Kitabullah, menjadi “satu aspek dari Sosial Reform”, yang tidak dapat diabaikan,yaitu

mencontohkannya kepada masyarakat lain", (Al Hadist). Inilah cara yang tepat. Keberhasilan gerakan adat dan syariat pengorganisasian (nidzam). Action planning di setiap lini adalah keterpaduan, kebersamaan, kesepakatan, dan keteguhan. Langkah awal dengan menghidupkan musyawarah, sesuai bimbingan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Allah menghendaki kelestarian Agama dengan kemampuan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak berlaku bersitegang. Generasi muda masa kini mesti memiliki ilmu, berasaskan ajaran Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan, “Iman nan tak buliah
ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek,

memerlukan

H.

Mas’oed Abidin

23

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

haluan nan tak buliah barubah”.

Generasi muda mesti memiliki

pemahaman luas dengan tasawwur (world view). Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi muda Minangkabau di Sumatra Barat selalu awas dan berhati-hati, “Bakato sapatah dipikiri, Bajalan salangkah maliek
suruik, Mulik tadorong ameh timbangannyo, Kaki tataruang inai padahannya, Urang pandorong gadang kanai, Urang pandareh ilang aka.”

Menghadapi

tantangan

kontemporer,

perubahan

tata

pergaualan dunia, generasi Minangkabau dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti memiliki sikap istiqamah (konsistensi) yang dalam fatwa adat disebutkan,

“Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, ilalang, Alang sapaham kacau nagari. Baburu kapadang data, Dek ribuik kuncang Kok tak Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang,

kajo barani pakai.

Dapeklah ruso balang

kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”.

Susah memungkiri bahwa nilai budaya Adat basandi syarak dan syarak basandi Kitabullah di Minangkabau adalah kehidupan berdemokrasi yang telah lama tumbuh subur di tengah masyarakat Sumatera Barat.

Memupuk sikap musyawarah dan taawun dengan keyakinan bahwa Allah Yang Maha Rahman selalu membukakan pintu berkah dari langit dan pemerintah bumi, menjadi kekuatan ampuh masyarakat bersama membangun kepercayaan rakyat banyak. Inilah inti

reformasi yang dituju dalam membangun Sumatera Barat baru abad

H.

Mas’oed Abidin

24

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

ini. Kita dapat mengamati proses globalisasi pada tingkat persaingan dunia dengan spesifikasi "kepercayaan" -- trust. Maka syarak bersendi kitabullah (agama Islam) menampilkan kemampuan menangkap tanda-tanda zaman bagi orang beriman yang mampu melihat -- perubahan sosial, politik dan ekonomi -- pada setiap saat dan tempat dengan optimisme keluar dari problematika sosial umat manusia. Apatisme adalah selemah-lemah iman (adh'aful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan hanya dapat dihilangkan dengan, • • • • mengerjakan segala sesuatu yang bisa dikerjakan, jangan fikirkan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan, apa yang ada sudah cukup untuk memulai sesuatu, jangan berpangku tangan dan menghitung orang yang lalu.

Konsep ini adalah amanat ajaran syarak basandi Kitabullah (agama Islam), agar memanfaatkan segala perubahan yang berhubungan dengan kehidupan dunia luar dan disekitarnya dengan kata kunci menghadapi perubahan sosial, politik dan ekonomi melalui tiga cara hidup , yakni, 1. bantu dirimu sendiri (self help), 2. bantu orang lain (self less help), 3. saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help), Ketiga adat konsep hidup ini mengajarkan untuk menjauhi

ketergantungan kepada pihak lain, artinya mandiri. Di sini peran utama basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK) yang tampak didalam pembentukan karakter (character building) anak nagari. Tentu saja melalui jalur pendidikan.

H.

Mas’oed Abidin

25

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

Generasi muda Sumatera Barat mesti meniru kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya,

P
H.

berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati oleh lingkungannya.

KHULASAH MENAMPILKAN PROGRAM UMATISASI
enerapan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di Minangkabau berkehendak kepada gerak yang utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin di raih dengan kerja sambilan, buah yang di petik, sesuai dengan bibit yang di tanam, demikian natuur-wet (sunnatullah, = undang-

undang alami). Dalam langkah da'wah, setiap muslim berkewajiban

melaksanakan tugas tabligh (menyampaikan), kemudian mengajak dan mengujudkan kehidupan beragama (bersyariat) di dunia (dinulharakah al-alamiyyah). Maka melibatkan semua elemen masyarakat di Minangkabau untuk menghidupkan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah menjadi tugas bersama "umat da'wah" menurut nilai-nilai Al-Qur'an –

َ َ ُ ‫وَل ْت َك ُن من ْك ُم أ ُمة ي َد ْعون إ ِلى ال ْخي ْرِ وَي َأ ْمرون بال ْمعْروف وَي َن ْهَوْن‬ َ ٌ ّ ْ ِ ْ َ ِ ُ َ ِ َ ُ ُ ُ َ ‫ع َن ال ْمن ْك َرِ وَأول َئ ِك هُم ال ْمفل ِحون‬ َ ُ ْ ُ ُ ُ ِ

Mas’oed Abidin

26

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran, 3 : 104 ).

Peran serta masyarakat yang di tuntut adalah Mengelola pembinaan anak nagari dengan peningkatan manajemen yang lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi. Melalui

peningkatan ini, sumber finansial masyarakat dapat di pertanggung jawabkan secara lebih efisien dan peningkatan kualitas pembinaan umat dapat dicapai. Segi organisasi anak nagari mesti lebih viable -dapat hidup terus, berjalan tahan banting, bergairah, aktif dan giat – menurut permintaan zaman, dan durable – yakni dapat tahan lama – seiring perubahan dan tantangan zaman. Ada beberapa tindakan yang mungkin dilakukan segera. Pertama. Melakukan introspeksi di kalangan kita sendiri. utama budaya Minangkabau masih dipertahankan. Kedua. Masing-masing berusaha mengambil inisiatif dan aktif untuk mengikat kembali tali ukhuwah, kekerabatan dan kekeluargaan di antara keluarga tanpa gembar-gembor, namun secara jujur dalam mengatasi satu dua persoalan di tengah umat yang kita pandu. Ketiga, Memelihara kesempatan-kesempatan yang ada dan mulai

dari kelompok yang terkecil, bahkan keluarga. Masihkah prinsip-prinsip

tersedia dalam melakukan tatanan kekerabatan di tengah "keluarga" kita, dengan memperbesar frekwensi pertukaran fikiran secara informal dalam berbagai masalah umat, dalam suasana jernih, tenang dan bersih serta tidak berprasangka.

H.

Mas’oed Abidin

27

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

Keempat, Berusaha mencari titik-titik pertemuan (kalimatin sawa) di antara kalangan kita, antara kalangan dan pribadi-pribadi para intelektual muslim (zu'ama), para pemegang kendali sistim ('umara), dan para ikutan umat utama, para ulama dan aktifis pergerakan baik tua maupun muda, dalam ikatan-iakatan yang tidak tegang dan kaku, karena kekuatan terletak pada keluwesan pikiran dan keteguhan prinsip. Kelima, Menegakkan secara sungguh dan bertanggung jawab Nizhamul Mujtama' (tata hidup bermasyarakat) diatas dasar aqidah Islamiyah dan Syari'ah, dengan memelihara mutu ibadah di kalangan umat utama, Mu'amalah (sosial, ekonomi, siyasah) dan Akhlaq (pemeliharaan tata nilai melelui pendidikan dan kaderisasi yang terarah) yang dikawal sejak dari rumah tangga, lingkungan (usrah) dan masyarakat (uswah). Usaha menghadapi tantangan kontemporer yang sedang

menjajah hati budi umat Islam kini khususnya di Minangkabau (Sumatra Barat), dapat di tampilkan beberapa agenda kerja, 1. Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif. 2. Menyebarkan budaya wahyu membimbing kemampuan akal. 3. Memperluas penyampaian fiqh Islam dalam aspek-aspek sosio politik, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan lain-lain. 4. Menghidupkan semangat jihad di jalan Allah. 5. Menguatkan peran bundo kandung (muslimat) yang telah berhasil membentuk sejarah gemilang Islam masa silam, untuk berperan ganda sebagai ibu dan pendidik di rumah tangga dan masyarakat Minangkabau. 6. Menggandakan bilangan ulama suluah bendang di nagari.

H.

Mas’oed Abidin

28

Peranan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam Menata Kehidupan Masyarakat Madani

7. Melahirkan pendakwah Rabbani melalui pembinaan pusat-pusat pengajian tinggi (ma’hadul ‘aliy) dan institut perkaderan Imamah dan Ulama suluah bendang di nagari. 8. Membentuk da’iya, imam khatib, para mu’allim dan tuangku di nagari-nagari pada saat kembali ke surau.  Memberikan bekal yang cukup melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai.  Membuatkan anggaran belanja yang memadai di daerahdaerah menjadi sangat penting di dalam mendukung satu usaha yang wajib.  Meningkatkan keselarasan, kesatuan, kematangan dan keupayaan mendalami budaya syarak (haraki Islami). 9. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan-gerakan yang merusak Islam dan ABSSBK. 10. Melahirkan masyarakat penyayang dengan kehidupan beradat sesuai ABSSBK. Bukittinggi - Padang, 21 Mei 2006.

H.

Mas’oed Abidin

29

1

Selama 21 tahun, telah terjadi banyak perubahan dalam sistim pemerintahan local -- Nagari di Minangkabau – menjadi desa (kelurahan) segaram dengan UU No.5 tahun 1979. Setelah reformasi, maka Perda No.9/2000 di Sumbar menetapkan Kembali Ke Pemerintahan Nagari sebagai peluang besar untuk penguatan dan masyarakat nagari di Minangkabau, Sumatra Barat. 2 Gerakan dakwah ini, terbukti telah mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat maju, melalui proses civilisasi yang beradab, dari gelap kepada terang (QS.14,Ibrahim:1) 3 Tiada sesuatupun yang berhak di sembah dan tidak ada pula tempat meminta pertolongan, kecuali semata hanya kepada Allah zat Yang Esa (QS.1,al-Fatihah: 5, juga QS.112, al-Ikhlas:1-5). 4 Lihat QS.49, al Hujarat : 7-13. 5 Nabi Muhammad SAW, mengingatkan perintah Allah Yang Maha Menjadikan “Janganlah berbuat perusakan (fasad) di bumi, Allah tidak suka kepada pembuat kerusakan” (Alquran). 6 Lihat Kamus Arab-Indonesia, Al Munawwir, Cet.XIV, Pustaka Progressif Surabaya, 1997, hal.1320. Lihat juga AlMunjid fi al-Lughah al-'Arabi'ah al-Mu'ashirah, Cet. I, Daarul Musyrif Bairut, 2000, hal. 1326-1327. 7 Alam ini tidak diciptakan dengan sia-sia. Di dalamnya terkandung faedah kekuatan, dan khasiat yang diperlukan untuk mempertinggi mutu hidup jasmani manusia dengan bekerja membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyak faedah dari alam dengan menikmati sambil mensyukurinya dan beribadah kepada Ilahi Yang Maha Kuasa. 8 Basalang tenggang, artinya saling meringankan dengan dukungan terhadap kehidupan dan “Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an”. 9 Bukti kecintaan kenagari ini banyak dalam ungkapan hujan ameh dirantau urang hujang batu dinagari awak, tatungkuik samo makan tanah tatilantang samo mahiruik ambun. 10 Hawwa, Syeikh Mohd Said, Muzakarah Fi Manazil al-Siddiqin Wa-al-Rabbaniyin, Dar al-Salam Li al-Tibaah, Kairo, 1987, hal 3-4, berkata ; ‫"اما الربانية فانها صديقية وزيادة فمبنى الصديقية على معرفة ال والعبودية له, اما الربانية فى مع ذلك علم وتعليم ونصيحة وشهادة على الخلق وحكم بما انزل ال‬ "....‫و امر بمعروف ونهي عن منكر‬

Bio Data

H. MAS’OED ABIDIN
Lahir Tanggal Dari Pasangan : : 11 Agustus 1935 di Kotogadang, Bukittinggi, H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar Imam Mudo dan Khadijah binti Idriss. Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM) Sumbar, Wakil Ketua MUI Sumbar Membidangi Dakwah, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar, Sekretaris Dewan Pembina ICMI Orwil Sumbar, Ketua Umum BAZ Prop. Sumbar, Anggota Majlis Pertimbangan Pendidikan (MPP) Prov. Sumbar. Alamat Sekarang : Jalan Pesisir Selatan V/496 Siteba Padang (KP - 25146), Fax : 0751-58401, Tel: 0751-52898. Buku yang sudah diterbitkan: 1. Islam Dalam Pelukan Muhtadin MENTAWAI, DDII Pusat, Percetakan ABADI, Jakarta - 1997. 2. Dakwah Awal Abad, Pustaka Mimbar Minang, Padang - 2000. 3. Problematika Dakwah Hari Ini dan Esok, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2001. 4. Suluah Bendang di Minangkabau, Pustaka Mimbar Minang, Padang.2002 5. Pernik Pernik Ramadhan, Pustaka Mimbar Minang, Padang 2003 mailto : masoedabidin@ yahoo.com

Jabatan Sekarang:

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful